X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Walet Hitam Jilid 15

Cerita Silat Mandarin Serial Si Teratai Merah Seri Ke 2, Si Walet Hitam Jilid 15 Karya Kho Ping Hoo

Si Walet Hitam Jilid 15

Ketika Pat-chiu Koai-hiap minta penetapan hari pertemuan kedua pengantin, Kong Liang menjawab dengan hormat. “Mohon dimaafkan sebanyaknya, Oei Koaihiap, siauwte masih mempunyai urusan yang penting sekali dan yang harus segera diselesaikan. Setelah itu, barulah siauwte dapat menentukan hari pernikahan itu.”

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Oei Gan memandang heran. “Urusan apakah?”

Maka Kong Liang lalu menceritakan tentang perjanjian hendak mengadakan pertandingan di puncak Hoa-mo-san dengan pihak Bong Cu Sianjin, dan dalam kesempatan ini, Cin Han lalu berkata kepada Oei Gan.

“Mengingat bahwa kita orang sendiri, maka besar harapan kami bahwa Koai-hiap akan suka membantu.”

“Hmm...... memang telah kuketahui keburukan adat Bong Cu Sianjin, bahkan aku pernah melepaskan Nyo-siocia dan muridku dari ancaman Hek Li Su-thai. Baiklah, tentu saja aku akan membantu karena memang sudah lama sekali tulang-tulangku yang tua ini ingin merasai beberapa gebukan yang berarti dari lawan-lawan tangguh. Setelah berhasil menghancurkan kejahatan di puncak Hoa-mo-san, baru membicarakan urusan hari perkawinan. Bagus, bagus!”

Demikianlah, dengan gembira mereka bercakap-cakap sambil makan minum dan pertemuan ini banyak memulihkan kegembiraan hati Nyo Tiang Pek. Penuturan Oei Gan lebih membuka kedua matanya akan kejahatan dan kecurangan Lui Tik Kong, pemuda yang disangkanya baik-baik itu.

Sebelum hari menjadi gelap Oei Gan berpamit dan pergi meninggalkan Bong-kee-san. Adapun Ang Lian Lihiap berdua suaminya dan kedua saudara kembar Kong Liang dan Mei Ling, bermalam di rumah Nyo Tiang Pek sampai sepekan lebih, dan setiap hari mereka bercakap-cakap gembira karena memang mereka telah merasa rindu sekali.

Seakan-akan tidak akan habisnya percakapan mereka, terutama sekali Giok Lie dan Lian Hwa yang merasa berbahagia sekali mendengar kenyataan betapa anak mereka saling mencinta demikian mesranya sehingga rela berkorban nyawa.

Lo Sin dan Lee Ing setelah mendapatkan lagi kuda mereka, lalu melanjutkan perantauan. Mereka tadinya melarikan diri dari hadapan Ang Lian Lihiap yang sedang marah dan ketika Lee Ing dan Lo Sin telah pergi jauh, teringatlah mereka kepada kedua ekor kuda yang masih ditinggalkan di Lok-sin-chung, maka pada malam harinya mereka lalu kembali ke kampung itu untuk mengambil kuda mereka.

Setelah menjelajah berbagai kota dan desa, akhirnya kedua anak muda itu tiba di sebuah kota yang bernama Hai-kun. Keadaan kota ini ramai dan makmur. Lee Ing lalu minta kepada Lo Sin untuk berhenti di kota itu dan mereka segera mencari kamar dalam sebuah rumah penginapan.

Para pelayan hotel menyambut mereka dengan penuh hormat, karena dari pakaian dan sikap kedua orang muda ini, mereka tahu bahwa keduanya adalah orang-orang gagah yang melakukan perjalanan. Dan oleh karena pelayan mengira bahwa mereka adalah suami-isteri, maka katanya dengan hormat.

“Ji-wi ingin menempati kamar besar, sedang, atau kecil?”

“Sediakan dua buah kamar yang sedang saja,” kata Lee Ing.

Pelayan itu memandang heran. “Dua...... Toanio, kami ada sebuah kamar yang besar, bersih dan lengkap.”

Lee Ing memandangnya tajam dan tak senang. “Sediakan dua kamar, dengarkah kau? Dua, kataku!” Sambil berkata demikian, Lee Ing mengangkat tangan kanannya. Ia memperlihatkan dua buah jarinya.

Maka mengertilah pelayan itu bahwa ia telah salah kira dan bahwa kedua orang ini bukanlah suami-isteri. Ia lalu tersenyum dan menjura dengan sikap hormat. "Baiklah, baiklah, siocia.”

Sebutannya terhadap Lee Ing juga berubah sehingga gadis ini diam-diam tertawa geli. Juga Lo Sin tersenyum melihat hal ini. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka duduk di ruang depan memandang taman bunga yang diatur indah menarik di depan rumah penginapan itu. Lo Sin lalu memesan kepada pelayan agar supaya membelikan makanan dan mengantarkan ke ruang depan.

Keadaan yang bersih dan hawa yang nyaman di tempat itu membuat keduanya merasa senang. Mereka melupakan hal-¬hal yang lalu dan bercakap-cakap tentang kota-kota dan tempat-tempat indah yang pernah mereka kunjungi, menceritakan pengalaman masing-masing.

Pada saat mereka bercakap-cakap, dari luar hotel itu datang masuk lima orang yang berpakaian seperti pegawai negeri. Kelima orang itu ketika diberi tahu bahwa orang yang mereka cari adalah kedua anak muda itu, menjadi girang dan buru-buru mereka menghampiri Lo Sin dan Lee Ing. Melihat kedatangan mereka ini, Lo Sin dan Lee Ing lalu bangkit berdiri dengan pandang mata heran.

“Maaf ji-wi eng-hiong,” kata seorang di antara ke lima pegawai negeri itu. “Kami adalah pesuruh-pesuruh dari Ong-taijin untuk menyampaikan surat undangan ini. kepada ji-wi.”

Dengan heran sekali Lo Sin menerima dan membaca surat undangan itu yang isinya meminta dengan hormat dan sangat supaya kedua pendekar perantau yang kebetulan bermalam di hotel itu sudi datang mengunjunginya!

“Siapakah Ong-taijin ini?” tanya Lo Sin kepada mereka.

“Ong-taijin adalah ti-hu dari kota ini,” jawab pesuruh itu.

Karena bunyi surat itu amat sopan dan baik, maka Lo Sin dan Lee Ing merasa tidak enak untuk menolaknya, maka mereka lalu berangkat mengikuti ke lima orang pesuruh itu yang juga bersikap amat hormat kepada mereka.

Memang, Ong-taijin adalah ti-hu dari kota Hai-kun, seorang setengah tua yang terpelajar, bersikap halus dan ramah tamah. Dia adalah seorang berpangkat yang baik hati dan disuka oleh penduduk Hai-kun karena selain terkenal ramah tamah, juga adil. Memang Ong-taijin bukan seorang pembesar yang menindas rakyat dan bukan pula seorang pegawai yang suka korup, karena ia memang telah kaya sebelum menjabat pangkat ini.

Telah beberapa pekan ini, kota Hai-kun menderita gangguan, perampok-perampok yang lihai. Perampok ini hampir tiap malam mengirim beberapa orang anggautanya yang lihai untuk mengganggu kota dan selain melakukan pencurian yang amat berani, juga mereka tidak segan-segan untuk mengganggu anak bini orang!

Ong-tihu telah mengerahkan segenap kekuatan dan penjagaan untuk mengusir dan melawan perampok-perampok ini, akan tetapi ternyata bahwa para perampok ini memiliki ilmu silat tinggi, terutama sekali kepalanya yang telah membunuh banyak penjaga keamanan kota itu dengan golok besarnya.

Oleh karena inilah maka penduduk Hai-kun tidak berdaya dan terpaksa mereka mengalah. Sehingga para perampok itu dengan leluasa dan enaknya tiap malam datang mengambil barang berharga dari rumah-rumah di kota Hai-kun. Dan yang lebih menggemaskan lagi, tiga hari dimuka sebelum mendatangi sebuah rumah untuk merampok, para penjahat itu telah memberi tanda lebih dulu, yakni dengan lukisan sebatang golok besar di tembok rumah tersebut!

Tidak seorangpun melihat siapa yang melukiskan golok besar ini, karena perbuatan ini dilakukan sendiri oleh kepala rampok itu yang amat lihai. Kepala rampok ini memilih rumah mana yang harus didatangi dan pada tiga hari kemudian, anak buahnya yang akan datang dan merampok. Tiga hari yang lalu, tembok rumah Ong-tihu sendiri menjadi kurban dan di situ terdapat lukisan golok besar yang mengerikan!

Ong-tihu menjadi bingung, karena ia tidak mengkhawatirkan tentang harta bendanya yang hendak dirampok, akan tetapi mengkhawatiran keselamatan rumah tangganya karena ia maklum akan kekurangajaran para perampok itu, sedangkan di dalam rumahnya terdapat anak, gadisnya bernama Ong Lan Im yang cantik jelita dan tersohor menjadi kembang kota Hai-kun.

Ong-tihu lalu memerintahkan kepada semua pembantunya untuk mencari pembantu dan pertolongan orang-orang gagah. Maka ketika Lo Sin dan Lee Ing yang bersikap gagah itu bermalam di hotel, pembantunya dapat melihat mereka dan segera memberi laporan kepada Ong-tihu yang cepat-cepat membuat surat undangan itu. Tadinya dia sendiri hendak datang menjemput, akan tetapi ia khawatir kalau-kalau ada mata-mata perampok yang melihat hal ini.

Ketika Lo Sin dan Lee Ing memasuki halaman rumah gedung yang indah dan besar itu, mereka disambut oleh Ong-tihu sendiri. Melihat keadaan Lo Sin dan Lee Ing yang selain tampan dan cantik juga kelihatan gagah sekali, maka dengan girang Ong-tihu lalu maju menjura, kemudian ia memegang tangan Lo Sin dan dengan ramah tamah dan sopan-santun ia mempersilakan keduanya masuk ke ruang dalam.

Setelah tiba di ruang dalam, isteri Ong-tihu juga keluar menyambut Lee Ing dan dalam hal keramah-tamahan, wanita ini tidak kalah dengan suaminya sehingga Lee Ing tidak merasa malu-malu lagi.

“Ji-wi tentu heran sekali melihat betapa aku yang tidak kenal dengan kalian datang-datang mengirim surat undangan itu. Besar sekali rasa terima kasih kami bahwa ji-wi sudi memenuhi undangan ini,” kata Ong-tihu.

“Memang kami berdua merasa terkejut dan heran, taijin.”

“Sebetulnya, tidak lain kami mohon pertolongan ji-wi karena sesungguhnya keluarga kami, sedang dalam bahaya besar.”

Lo Sin dan Lee Ing makin terkejut, dan segera bertanya bahaya apakah yang mengancam keselamatan keluarga ti-hu itu.

Setelah menghela napas berulang-ulang, ti-hu itu lalu menceritakan betapa di Hai-kun timbul kekacauan yang diperbuat oleh serombongan perampok yang lihai dan bahwa kini rumahnya telah dijadikan calon korban.

“Aku tidak takut kalau mereka hanya mengambil hartaku, karena bagiku hal ini tidak amat penting. Akan tetapi aku khawatir kalau-kalau mereka itu akan mengganggu jiwa keluargaku.”

Kemudian dengan panjang-lebar Ong-tihu menceritakan seluruh peristiwa yang menyedihkan, betapa para perampok yang kurang ajar itu suka mengganggu anak-bini orang, bahkan telah banyak penjaga ditewaskan oleh kepala perampok.

“Siapakah nama kepala perampok itu, taijin?” tanya Lee Ing dengan penasaran sekali.

“Kami tidak tahu siapa namanya, hanya karena ia menggunakan senjata golok besar dan selalu menggambarkan golok besar di tembok rumah calon korban, maka kami menyebutnya Toa-to-ong (Raja Golok Besar). Bukan saja keluargaku yang akan berterima kasih sekali apabila ji-wi sudi menolong, bahkan seluruh penduduk Hai-kun akan berterima kasih kepada ji-wi,” kata pula Ong-tihu dengan suara memohon.

Semenjak tadi, Lee Ing dan Lo Sin telah menjadi marah sekali kepada penjahat-penjahat itu, maka tentu saja mereka menyanggupi dengan sepenuh hati.

“Jangan khawatir, taijin. Karena malam ini penjahat-penjahat itu akan datang ke sini, biarlah kami berdua akan menangkapnya,” kata Lee Ing dengan suara gagah.

“Benar kata adikku ini, taijin. Aku tangung bahwa malam ini semua penjahat yang berani datang, akan roboh di tangan kami!” kata Lo Sin pula.

Mendengar ini, Ong-tihu dan Ong-hujin tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut hingga kedua anak muda itu menjadi terkejut sekali dan buru-buru mengangkat bangun mereka.

“Ah, urusan sekecil ini janganlah terlalu menyusahkan hatimu, taijin,” kata Lo Sin.

Dengan girang sekali Ong-tihu mengeluarkan hidangan dan menjamu kedua orang tamunya.

“Mohon tanya siapakah nama ji-wi yang mulia?” tanya pembesar itu.

“Siauwte bernama Lo Sin dan ini adalah adikku Lee Ing. Kami berdua semenjak kecil sudah bertemu dengan orang-orang jahat, maka sudah seharusnya pula kalau kali ini kami mencoba untuk mengusir penjahat yang mengganggu kota ini.”

Melihat sikap dan ketenangan tamunya yang biarpun masih muda akan tetapi kelihatan gagah ini, kedua suami isteri Ong itu merasa girang dan lupalah mereka akan ancaman penjahat yang malam hari itu hendak datang.

Lo Sin dan Lee Ing berjanji bahwa mereka tidak akan kembali ke hotel dan malam itu akan berdiam di gedung Ong-tihu. Pembesar bahkan lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kamar dan untuk mengambil buntalan pakaian dan dua ekor kuda Lee Ing dan Lo Sin yang masih berada di hotel!

Di dalam percakapan mereka yang menggembirakan tuan rumah karena baik Lo Sin maupun Lee Ing memang pandai bergaul dan pandai membawa diri, tiba-tiba Ong-tihu melihat suling bambu yang terselip di punggung Lo Sin.

“Taihiap, agaknya kaupun suka sekali akan kesenian!” katanya sambil menunjuk suling di punggung Lo Sin. “Alangkah akan senangnya kami kalau taihiap sudi meniup suling itu barang selagu untuk kami.”

Merahlah wajah Lo Sin mendengar permintaan ini. “Ah, taijin, janganlah kau membikin malu kepada siauwte saja. Kepandaian siauwte meniup suling tidak ada artinya sama sekali dan hanya dapat meniupkan beberapa nada sumbang saja.”

Lee Ing yang sudah minum beberapa cawan arak wangi sehingga timbul kegembiraannya, ingin sekali membanggakan kepandaian main suling dari kekasihnya itu, maka katanya. “Sin-ko, mengapa kau malu-malu? Benar, Ong-hujin, kakakku ini pandai sekali meniup suling! Sin-ko, janganlah mengecewakan hati tuan rumah dan aku sendiripun sudah lama sekali ingin mendengar tiupan sulingmu!”

Melihat sikap Lee Ing yang manja, Lo Sin tidak tega untuk mengecewakan hatinya dan merusak kegembiraannya, maka ia lalu mencabut sulingnya dan berkata kepada Ong-tihu. “Mohon taijin dan hujin tidak mentertawakan tiupan suling kampungan ini!” Kemudian ia menempelkan ujung suling di bibirnya dan mulai meniup suling itu.

Mula-mula ia hanya meniup nada untuk membiasakan bibirnya yang telah lama tidak meniup suling, kemudian ia mulai memainkan lagu yang terkenal, yakni lagu Gembala dan Dewi, sebuah lagu rakyat yang digubah di jaman Dinasti Han barat pada masa Kaisar Bu Tee berkuasa. Lagu ini memang indah dan merdu serta disukai oleh kalangan rakyat baik tingkatan rendah maupun tingkat tinggi.

Suami isteri Ong mendengar suara suling ini saling memandang dan kemudian mendengarkan dengan amat kagum dan terharu karena tiupan suling ini benar-benar indah dan dilakukan penuh perasaan sehingga mereka berdua merasa seakan-akan menjadi muda kembali dan terbayanglah segala pengalaman di waktu muda yang penuh madu bahagia!

Juga Lee Ing memandang wajah Lo Sin dengan mesra dan kagum, seakan-akan ia menggantungkan diri pada bibir pemuda yang meniup suling itu dan perasaannya ikut dibawa melayang oleh suara suling!

Tiba-tiba terdengar suara lain yang juga amat merdu sekali. Suara ini datangnya dari dalam rumah dan ternyata adalah suara yang-kim (semacam kecapi) yang dimainkan dengan indah pula. Yang-kim ini dimainkan dengan lagu yang sama, mengiringi alunan suara suling hingga merupakan paduan suara yang amat menakjubkan karena merdu dan indahnya.

Lo Sin mendengar juga suara ini dan tiupan sulingnya makin merdu dan penuh perasaan. Ong-tihu dan isterinya, juga Lee Ing, makin tertarik dan kagum. Setelah Lo Sin selesai meniup lagu itu dan melepaskan suling dari bibirnya, ia berkata kagum.

“Bagus betul suara yang-kim itu!”

Akan tetapi, Ong-tihu berdiri dan menjura kepada Lo Sin. “Apakah artinya suara yang-kim itu jika dibandingkan dengan kehebatan tiupan sulingmu? Taihiap, kau benar-benar ahli meniup suling. Hebat dan indah sekali!” Juga Ong-hujin mengucapkan pujian.

“Ong-hujin, siapakah yang memainkan yang-kim seindah itu?” tanya Lee Ing kepada tuan rumah.

“Dia adalah anakku yang bodoh,” jawab Ong-hujin mendahului suaminya. “Lan Im adalah anak bodoh yang bisanya hanya memainkan yang-kim.”

“Ah, puterimu pandai sekali, hujin. Mengapa tidak disuruh dia keluar dan berkenalan dengan aku?” kata Lee Ing.

Ong-hujin lalu masuk ke dalam dan tak lama kemudian ia keluar pula bersama seorang gadis yang usianya sebaya dengan Lee Ing dan yang memiliki kecantikan luar biasa! Pantas saja ia disebut bunga kota Hai-kun! Lee Ing memandang kagum dan segera menyambutnya dengan pegangan tangan mesra.

Juga Lo Sin memandang dengan kagum karena gadis ini benar-benar cantik jelita dan lemah-lembut. Gerakannya demikian halus dan sikapnya malu-malu sehingga gadis ini sama sekali tidak berani memandang ke arah Lo Sin dan hanya menundukkan kepala saja ketika diperkenalkan.

“Ong-siocia, kau benar-benar pandai main yang-kim dan kau cantik jelita seperti bidadari!” Lee Ing memuji dengan terus terang dan memandang kagum.

“Lihiap, dibandingkan dengan engkau, aku tidak lebih hanya seekor kelinci dan kau seekor harimau!” jawab Lan Im dengan suaranya yang lemah-lembut dan perlahan.

Pada saat mereka bercakap-cakap gembira, tiba-tiba Lo Sin mengangkat tangannya dan Lee Ing juga mendengar suara kaki di atas genteng! Biarpun tuan rumah dan anak isterinya tidak dapat mendengar suara kaki ini, namun mereka menjadi pucat karena dari wajah kedua orang tamunya, mereka maklum bahwa tentu terjadi sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara di atas genteng. “Ha-ha-ha, bagus sekali, Ong-tihu! Puterimu memang cantik jelita dan pandai! Pantas betul menjadi isteri tai-ong (panggilan untuk kepala rampok). Dengarlah, Ong-tihu, kami diperintah untuk memberitahukan kepadamu bahwa besok pagi-pagi sekali, kau harus mengantarkan puterimu itu ke rimba sebelah selatan. Tidak boleh dikawal, hanya cukup naik tandu dipikul oleh dua orang saja.

“Kalau kau penuhi permintaannya ini, maka selanjutnya kami tidak akan berani mengganggu Hai-kun karena kota ini dianggap sebagai kota sendiri. Akan tetapi kalau kau menolak, kami akan mengambil puterimu dengan paksa dan kota ini akan dihancurkan!”

Bukan main terkejutnya Ong-tihu mendengar ini. Dengan tubuh menggigil ia berkata. “Orang gagah yang berada di atas! Mengapa Tai-ong menghendaki demikian? Kalau kalian mau ambil harta bendaku, ambillah, akan tetapi janganlah kalian mengganggu keluargaku.”

“Bodoh! Siapa yang hendak mengganggu? Puterimu bahkan akan mendapat kehormatan besar menjadi isteri Tai-ong! Nah, besok sebelum matahari naik tinggi, kami tunggu kedatangan puterimu dan awas jangan sampai terlambat!”

Terdengar kaki orang meninggalkan genteng dan Lee Ing cepat bergerak hendak melompat dan mengejar, akan tetapi tiba-tiba tangan Lo Sin memegang pundaknya.

“Sin-ko, mengapa kau menahanku? Biar aku seret mereka ke sini!” seru Lee Ing marah, akan tetapi Lo Sin menggelengkan kepala.

Juga Ong-tihu dan nyonya serta puterinya yang telah ketakutan itu merasa heran mengapa kedua orang tamunya yang dianggapnya gagah itu tidak bergerak membela mereka.

“Aduh, celaka… bagaimana baiknya ini?” Ong-tihu mengeluh sedangkan Ong-hujin beserta puterinya menangis sedih.

“Ong-taijin, jangan kau bersusah hati, siauwte telah mempunyai sebuah rencana yang baik sekali,” kata Lo Sin.

Semua orang memandangnya penuh harapan. “Begini rencanaku,” kata pula Lo Sin sambil memandang Lee Ing. “Besok kita antarkan Ong-siocia ke rimba dan tepat sebagaimana yang mereka kehendaki.”

“Apa?” Ong-tihu dan nyonya berseru marah sedangkan Lee Ing memandang heran.

“Sabar,” kata Lo Sin tersenyum. “Siauwte belum habis bicara. Yang akan pergi bukanlah Ong-siocia akan tetapi adikku ini. Biarlah adikku menggantikan Ong-siocia dan duduk di atas tandu, sedangkan aku sendiri akan menjadi seorang pemikul tandunya!”

Maka mengertilah mereka. Lee Ing tersenyum dan berkata. “Sin-ko, apakah kau begitu tega hati untuk mengurbankan adikmu ini kepada kepala rampok?”

Ia sebenarnya hanya berkelakar dan menggoda Lo Sin, akan tetapi hal ini tidak diketahui oleh Ong-siocia. Gadis ini lalu berkata dengan suara tetap sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.

“Tidak, tidak! Lihiap tidak boleh dikorbankan hanya untuk kepentingan dan keselamatanku!”

Lee Ing tersenyum dan Lo Sin berkata. “Siocia, jangan kau perdulikan adikku yang nakal ini! Kami tidak bersombong, akan tetapi kalau kami kehendaki, mudah saja untuk menangkap kedua penjahat yang berada di atas genteng tadi.”

“Dua…?” kata Ong-tihu yang tidak tahu dan mengira bahwa yang datang hanya seorang saja.

“Ya, mereka tadi datang berdua. Akan tetapi, kalau kami menangkap mereka, maka kami tidak dapat menangkap kepalanya. Oleh karena itu, lebih baik besok kami berdua mendatangi sarang mereka dan sekalian membasmi kepala berikut ekornya!”

Malam hari itu, Lee Ing dan Lo Sin bersiap-siap, sedangkan seluruh keluarga Ong tidak dapat tidur karena betapapun juga, mereka masih mengkhawatirkan keselamatan kedua orang muda itu dan bagaimana kalau seandainya usaha mereka gagal? Bukankah berarti bahwa dua orang itu akan mengantar kematian belaka, dan selanjutnya keadaan keluarga Ong beserta semua penduduk kota akan terancam bencana yang lebih hebat?

Pada keesokan harinya, Lee Ing naik sebuah tandu yang tertutup dengan tirai hijau. Ong-tihu menyuruh seorang pegawainya yang bertubuh kuat untuk memikul tandu itu, berdua dengan Lo Sin. Pagi-pagi benar mereka berangkat ke hutan yang dimaksudkan.

Kedatangan mereka ini disambut oleh rombongan perampok dan mereka lalu membawa Lo Sin dan kawan-kawannya ke dalam hutan. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang mukanya penuh cambang bauk, menyambut mereka sambil tertawa bekakakan.

Inilah Giam Sui, kepala rampok yang mendapat julukan Toa-to-ong si Raja Golok Besar! Sebatang golok tergantung di pinggangnya dan ia nampak gagah serta garang dengan pakaiannya yang terlalu mewah bagi seorang perampok.

“Bagus, bagus! Pengantinku sudah datang!” katanya dengan suara girang. Sambil berkata demikian, perampok ini melangkah maju hendak menyingkap tirai, akan tetapi Lo Sin lalu maju di depannya dan berkata.

“Apakah aku berhadapan dengan Toa-to-ong sendiri?”

Terbelalak mata raja perampok itu memandang anak muda pemikul tandu yang berani ini. “Siapa lagi yang patut dijuluki Toa-to-ong selain aku?” bentaknya dan hendak melangkah maju lagi.

“Maaf, tai-ongya!” kata Lo Sin sambil tersenyum. “Sudah menjadi kebiasaan kita bahwa seorang mempelai laki-iaki menjemput calon isterinya dengan emas kawin! Kalau kau belum memberi emas kawin, kau tidak berhak membuka tirai tandu ini!”

Giam Sui tertawa bergelak. “Ha-haha! Jadi kau mewakili Ong-tihu? Bagus, bagus! Coba sebutkan, berapakah banyaknya mas kawin yang dimintanya?”

“Hanya satu saja!” jawab Lo Sin.

Kepala perampok itu terheran. “Satu apa? Benda apakah yang dimintanya?”

“Hanya sebuah saja, yakni sebuah kepala!”

“Sebuah kepala? Ha-ha-ha! Kepala babi, kepala lembu, atau kepala apa?” tanyanya tanpa curiga.

“Bukan, tai-ong, yang diminta adalah kepalamu!” jawab Lo Sin.

Merahlah muka perampok itu mendengar ucapan. ini. “Keparat, kau sudah ingin mampus barangkali!” Sambil berkata demikian, ia melompat maju sambil memukul keras ke arah dada Lo Sin dan tangan kirinya menarik tirai tandu.

Lo Sin berkelit cepat dan tiba-tiba dari dalam tandu itu melompat keluar seorang gadis cantik yang membentak keras. “Kepala perampok busuk! Serahkan dulu kepalamu!”

Sambil berkata demikian, Lee Ing mencabut pedangnya dan menyerang hebat! Serangan ini dilakukan dengan hati gemas dan pedangnya menyambar ke arah leher Giam Sui. Kepala rampok itu cepat mengelak, akan tetapi gerakan Lee Ing demikian cepatnya sehingga sebagian rambutnya kena terbabat putus!

Bukan main terkejutnya kepala perampok ini karena tidak mengira bahwa mempelai perempuan ini demikian gagahnya. Ia lalu mencabut golok besarnya lalu menyerang Lee Ing dengan gerakan yang mendatangkan angin saking kerasnya.

Giam Sui ini adalah anak murid Bu-tong-san yang murtad dan tersesat. Ilmu kepandaian goloknya lihai sekali dan jarang ia menemui tandingannya. Akan tetapi sekarang ia berhadapan dengan Lee Ing, puteri Nyo Tiang Pek yang tersohor, maka begitu Lee Ing memainkan pedangnya dengan gerakan gin-kangnya yang tinggi dan cepat, segera ia terdesak hebat.

Melihat betapa kepandaian kepala perampok itu tidak akan membahayakan keadaan Lee Ing, maka Lo Sin tidak membantu. Para anak buah perampok melihat betapa mempelai perempuan berani menyerang kepala mereka dan melihat betapa pemikul tandu itu berani pula menghina, lalu serentak maju mengurung.

Melihat keadaan yang mengkhawatirkan ini, kawan Lo Sin yang tadi memikul tandu menjadi ketakutan, akan tetapi Lo Sin segera melangkah maju dan berkata. “Kalian mundur! Hayo mundur!”

Sambil berkata demikian, ia menggerakkan kedua tangannya dan siapa yang dekat segera terdorong sampai menubruk kawan-kawannya dan jatuh tunggang langgang. Melihat kekuatan yang luar biasa ini, para kawanan perampok menjadi terkejut dan marah. Mereka lalu mencabut senjata dan maju mengeroyok. Lo Sin berseru keras dan ketika tubuhnya berkelebat, maka terdengar pekik di sana-sini dan tubuh para anggauta perampok roboh bergelimpangan.

Golok-golok besar kecil terlempar ke udara dan para perampok yang kena dirobohkan itu tidak dapat bangun pula, melainkan melolong-lolong sambil memijit-mijit tangan kaki mereka yang terkena pukulan atau tendangan Lo Sin. Keadaan menjadi kacau balau dan para perampok dengan jerih lalu mengundurkan diri dari pemuda yang gagah itu.

Sementara itu, ketika Lee Ing memainkan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Lo Sin, tak kuatlah Giam Sui bertahan lebih lama lagi. Ia terdesak hebat dan gerakan goloknya menjadi kacau-balau.

Lee Ing tidak mau memberi hati, dan ketika gerakan golok lawan agak terlambat, cepat sekali pedangnya menyambar dan sambil berseru keras kepala rampok itu roboh dengan lengan tangan terbabat putus. Ia roboh pingsan dan goloknya terbang entah ke mana.

Bukan maih terkejutnya para perampok melihat hal ini dan mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda pemudi pendekar itu, minta diampuni jiwa mereka.

“Kalian ini laki-laki yang masih muda dan kuat, mengapa mengambil jalan sesat? Mulai sekarang, robahlah jalan hidupmu dan jadilah orang baik-baik. Jangan kalian berani mengganggu penduduk kota dan desa lagi. Kalau lain hari kalian sampai melakukan kejahatan lagi dan bertemu dengan kami, jangan mengharap kalian akan mendapat ampun!” kata Lo Sin dengan sikap mengancam.

Setelah memberi ancaman kepada sisa-sisa penjahat, Lo Sin lalu mengajak Lee Ing dan pemikul tandu itu untuk kembali ke Hai-kun, dan di sepanjang jalan tiada hentinya pemikul tandu itu menuturkan sepak-terjang sepasang pendekar itu hingga para penduduk merasa girang sekali, dan mereka mengikuti Lo Sin dan Lee Ing sampai di gedung Ong-tihu.

Pembesar ini menyambut mereka dengan segala kehormatan dan ketika ia mendengar penuturan pemikul tandu tentang kehebatan sepak-terjang Lo Sin dan Lee Ing, saking terharunya Ong-tihu sambil menangis memeluk Lo Sin. Juga Ong-hujin dan Lan Im memeluki Lee Ing sambil menangis karena girang. Terutama Lan Im merasa kagum melihat Lee Ing dan gadis ini memandang Lo Sin dengan penuh perasaan terima kasih dan kagum.

Ketika Lo Sin membalas memandang mata gadis cantik itu, terkejutlah dia karena sinar mata gadis itu mengandung penuh pernyataan hati yang hanya dapat dimengerti oleh dia yang terpandang.

Dengan hati kurang enak, Lo Sin lalu berpamit kepada kedua orang tua itu untuk kembali ke hotel karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan. Ong-tihu terkejut mendengar ini.

“Taihiap, mengapa begitu? Kau dan adikmu harus tinggal dulu beberapa hari di sini agar memberi kesempatan kepada kami untuk menyatakan terima kasih kami!” Demikian juga Ong-hujin mencegah dan menahan mereka.

“Ong-taijin,” kata Lo Sin, “Pekerjaan yang kami lakukan itu semata-mata hanyalah tugas kewajiban kami sebagai orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian dan sama sekali tidak perlu dibalas dengan terima kasih. Setiap orang mempuyai tugas di bidang masing-masing dan kalau kami dihujani terima kasih dan pembalasan budi, hal itu hanya akan menodai tugas kami.”

Ong-tihu merasa kagum mendengar ini dan sebetulnya iapun bukan semata hendak membalas dan menyatakan terima kasih, akan tetapi diam-diam mempunyai maksud lain! Ia melihat betapa pemuda ini selain tampan dan sopan-santun, juga gagah perkasa dan kalau saja ia dapat mengambil mantu pemuda ini, ia tidak akan merasa penasaran selama hidupnya!

“Taihiap, kata-katamu memang benar dan sebetulnya akupun tidak berhak menahan ji-wi di sini. Akan tetapi, bagaimana kalau anak buah perampok itu datang melakukan pembalasan kepada kami? Siapa yang akan membela kami apabila ji-wi sudah pergi meninggalkan kota ini? Setidaknya, tinggallah di sini barang tiga hari lagi, agar hati kami dan semua penduduk Hai-kun menjadi tenang dan tenteram.”

“Sin-ko, permintaan Ong-taijin ini pantas dan kurasa tiada buruknya kalau kita tinggal dua atau tiga hari lagi di sini,” kata Lee Ing sehingga terpaksa Lo Sin menghela napas dan tidak dapat menolak lagi!

Keluarga Ong menjadi girang sekali, bahkan Lan Im memeluk Lee Ing dengan girang dan menarik gadis itu untuk bermalam di kamarnya bersama dia! Sikap keluarga Ong amat baiknya sehingga diam-diam Lo Sin dan Lee Ing merasa girang dan berterima kasih, dan mereka merasa kerasan tinggal di rumah gedung yang besar dan indah itu.

Lan Im menjadi kawan baik mereka dan tidak jarang gadis ini bersama Lo Sin dan Lee Ing bercakap-cakap di dalam taman, bahkan kadang-kadang Lan Im bermain yang-kim mengiringi suara suling Lo Sin!

Pada suatu senja, ketika mereka bertiga berada di dalam taman, Lo Sin mainkan suling dan Lan Im mainkan yang-kim, tiba-tiba datang Ong-hujin yang mengajak pergi Lee Ing karena ada sesuatu yang penting hendak dibicarakan. Lo Sin yang merasa sungkan dan malu berada berdua saja dengan Lan Im yang sinar matanya menyatakan perasaan hatinya yang mesra, lalu mengundurkan diri ke dalam kamarnya.

Ketika tidak lama kemudian Lee Ing keluar dari gedung dan menuju ke taman, ia mendapatkan Lan Im duduk seorang diri sambil melamun. Mereka bercakap-cakap sebentar dan kemudian Lee Ing dengan muka merah dan mata berapi-api lalu mencari Lo Sin di dalam kamarnya.

Ia menjenguk ke dalam dan melihat Lo Sin yang berpakaian seperti seorang pelajar sedang duduk membaca buku yang banyak terdapat di gedung itu. “Hm, memang kau pantas betul tinggal di gedung ini. Biarlah, aku besok pergi seorang diri. Selamat tinggal!” kata Lee Ing.

Lo Sin terkejut sehingga buku yang dipegangnya jatuh dari tangannya. “Ing-moi!” katanya, tetapi Lee Ing pergi dengan cepat. Ia lalu melompat dan mengejar Lee Ing yang sudah masuk ke dalam kamar sendiri.

“Ing-moi, tunggu dulu!” katanya, akan tetapi dengan muka merengut dan marah sekali, Lee Ing berdiri membelakanginya. “Eh, eh, Ing-moi! Apakah yang telah terjadi? Tiada hujan tiada angin kau mengamuk dan marah-marah!”

Akan tetapi Lee Ing tidak menjawab, tangan kanan menggerakkan ujung jari mengusap sebutir air mata yang menitik turun di atas pipinya dan tangan kiri dikepal untuk menyatakan kegemasannya.

“Ing-moi, ibuku juga seringkali marah-marah tidak karuan, akan tetapi selalu ia mengatakan segala urusan dengan terang-terangan hingga apa saja dapat diurus dengan baik. Kalau kau diam saja, bagaimana aku bisa tahu apa yang mengganggu pikiranmu?”

Lee Ing cepat membalikkan tubuh dan memandang wajah Lo Sin dengan mulut yang masih cemberut. Pemuda itu nampak cakap sekali dalam pakaian pelajar hingga sebagian besar nafsu marah di hati Lee Ing melenyap!

Kemudian, ia menuturkan bahwa tadi ia dipanggil oleh Ong-hujin yang menyatakan bahwa keluarga Ong itu bermaksud mengambil Lo Sin menjadi mantunya dan dijodohkan dengan Lan Im. Hal ini saja sudah membuat Lee Ing merasa tidak enak hati, akan tetapi ketika ia menuju ke taman dan bertemu dengan Lan Im gadis cantik itu tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia mencintai Lo Sin!

Lan Im menganggap bahwa Lee Ing adalah adik Lo Sin, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menyatakan perasaan hatinya ini! Tentu saja Lee Ing tidak dapat marah-marah kepada gadis yang tidak tahu apa-apa itu, dan semua kemendongkolan dan kemarahannya ditumpahkan kepada Lo Sin seorang!

Pemuda ini terkejut sekali mendengar penuturan Lee Ing, kemudian ia menghela napas. “Ing-moi, ingatkah kau mengapa aku kemarin dulu mengatakan keberatan untuk tinggal di sini? Aku telah dapat menduga hal ini dari sinar mata Ong-siocia.”

“Bukankah senang sekali dicintai oleh seorang seperti Lan Im? Cantik jelita, pandai main yang-kim, kaya raya, mau apalagi? Sin-ko, kau terima sajalah pinangan mereka dan biar aku merantau seorang diri!”

Lo Sin tersenyum. Ia maklum bahwa hati Lee Ing, berkata lain, maka ia lalu memegang kedua tangan gadis itu dan berkata. “Ing-moi, tidak ada wanita di dunia ini yang melebihi kau! Kita minggat saja malam ini agar jangan sampai menghadapi kesulitan terlebih jauh!”

Dan pada keesokan harinya, ketika pelayan datang hendak menyediakan air dan makan pagi, ternyata kedua orang muda itu telah pergi dari situ dan hanya meninggalkan sepotong kertas yang ditulisi dengan dua huruf berbunyi: “Terima kasih!”

Tentu saja hal ini membuat keluarga Ong menjadi kecewa sekali, terutama nona Lan Im.


Kurang lebih dua bulan kemudian, pada suatu pagi yang cerah, delapan orang dengan ilmu berjalan cepat mendaki Bukit Hoa-mo-san. Mereka ini bersikap gagah sekali dan kalau orang mengenal mereka, maka ia tentu takkan merasa heran mengapa orang-orang ini nampak demikian gagah.

Dan ilmu lari cepat mereka demikian tinggi sehingga melalui jalan yang demikian sukar, berbatu-batu, di sana-sini menghalang batu karang dan banyak jurang-jurang yang dalam akan tetapi mereka berlari bagaikan berjalan di atas jalan rata yang enak saja!

Yang berjalan terdepan adalah sepasang suami isteri berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Yang wanita berpakaian serba putih, akan tetapi pada rambutnya yang masih nampak gemuk dan indah halus itu terhias setangkai bunga teratai merah, pedang yang gagangnya dironce benang emas nampak tergantung pada punggungnya, langkahnya tetap dan kuat akan tetapi ringan sekali, sepasang matanya membayangkan keberanian dan kegembiraan yang luar biasa.

Inilah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa, si Teratai Merah yang namanya amat terkenal di kalangan kang-ouw, dihormati kawan disegani lawan! Di sisinya berjalan suaminya yang masih nampak cakap dan gagah, dengan kumis dan jenggot teratur rapi dan terawat, tubuhnya tegap berisi dan sinar matanya tajam tapi bibirnya membayangkan kelembutan hati.

Juga pada punggungnya tersembul gagang pedang. Laki-laki gagah perkasa ini adalah Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han si Burung Hong Terbang yang kegagahannya bahkan mengatasi isterinya sendiri!

Di belakang mereka nampak sepasang suami isteri lain yang usianya sebaya, juga nampak gagah perkasa. Yang wanita sungguhpun telah berusia hampir empatpuluh tahun, akan tetapi sikapnya masih lemah-lembut dan tubuhnya langsing sekali, dengan kulit mukanya yang putih halus dan sikapnya yang agung itu orang akan mengira bahwa ia baru berusia duapuluh tahun ke atas.

Akan tetapi langkah kakinya mengagumkan orang karena ginkangnya ternyata telah amat tinggi sehingga rumput yang diinjaknya seakan-akan tidak rebah! Pada pinggangnya sebelah kiri tergantung sebatang pedang pendek dengan ronce-ronce hijau.

Inilah Coa Giok Lie yang masih sumoi (adik seperguruan) dari Ang Lian Lihiap. Di sebelahnya berjalan suaminya, yakni Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas, tokoh persilatan yang menggemparkan kalangan kang-ouw belasan tahun yang lalu! Sungguhpun Nyo Tiang Pek nampaknya lebih tua dari Lo Cin Han raut mukanya seakan-akan dibayangi kedukaan, namun pendekar ini masih nampak gagah perkasa.

Di belakang dua pasang suami isteri yang lihai ini, masih nampak empat orang lain yang tidak kalah gagahnya. Mereka ini adalah Song Kong Liang yang cakap dan Song Mei Ling adiknya yang cantik jelita itu, sepasang saudara yang berkepandaian tinggi, cucu dan murid pendekar wanita tua Song Cu Ling!

Nampak juga Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Tangan Delapan yang bermuka lucu dan aneh itu, bersama muridnya yang cantik manis, yakni Kim-gan-eng si Garuda Bermata Emas!

Kalau ada orang yang mengenal mereka dan melihat mereka mendaki Bukit Hoa-mo-san, tentu orang itu akan berdiri bengong saking kagumnya melihat betapa orang-orang gagah itu mendaki bukit dengan demikian cepat dan mudahnya...

Selanjutnya,