X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Walet Hitam Jilid 11

Cerita Silat Mandarin Serial Si Teratai Merah Seri Ke 2, Si Walet Hitam Jilid 11 Karya Kho Ping Hoo

Si Walet Hitam Jilid 11

“Eh, eh, mengapa kau tidak jadi menyerang?” tanya Ang Lian Lihiap dengan heran.

“Lihiap, cabutlah pedangmu. Aku bersedia menerima pengajaran darimu!” jawab Kok In.

Dan tiba-tiba Ang Lian Lihiap tersenyum manis. Tak disangkanya bahwa perwira muda yang seperti raksasa dan yang kasar sekali sikapnya ini memiliki sifat gagah dan yang merasa sungkan untuk menyerang seorang yang bertangan kosong!

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

“Kalau aku yang tua menghadapi yang muda dengan pedang di tangan, bukankah berarti aku terlalu menekan padamu? Maju seranglah dan jangan ragu-ragu. Belum tentu kau akan dapat merobohkan Ang Lian Lihiap yang bertangan kosong!”

Tentu saja Kok In yang berwatak jujur menjadi marah sekali oleh karena ia menganggap bahwa pendekar wanita ini terlalu memandang rendah kepadanya! Ia lalu melangkah maju dan menyerang dengan hebat.

Memang lihai sekali gerakan raksasa muda ini. Tidak saja tenaganya yang besar membuat pedangnya yang berat itu meluncur cepat, sambil mendatangkan angin bersiutan, akan tetapi juga ia memiliki ginkang yang cukup hebat sehingga nampak mengagumkan sekali betapa seorang yang mempunyai tubuh tinggi besar itu dapat bergerak sedemikian lincahnya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuh Ang Lian Lihiap lenyap dari depan matanya! Ia hanya melihat berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu pendekar wanita itu telah lenyap. Kok In maklum bahwa lawannya memiliki ginkang yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia dapat menduga cepat.

Dengan teriakan ganas ia lalu memutar tubuh sambil menyabet dengan pedangnya dan betul saja, Ang Lian Lihiap tadi telah melompat ke belakangnya dan kini cepat mengelak ketika pedang yang panjang dan berat itu menyambar pinggang!

Can Kok In kini berlaku hati-hati dan memainkan pedangnya dengan tenang dan teratur. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan menggunakan jurus ilmu pedang Kun-lun-pai yang paling lihai dan tak terduga gerakannya.

Tubuhnya berputar-putar cepat, dan pedangnya merupakan seekor naga sakti yang bergerak-gerak dan menyambar-nyambar ke arah tubuh lawan. Ujung pedangnya terus menerus mengejar bayangan putih yang berkelebat ke sana ke mari itu.

Diam-diam Ang Lian Lihiap merasa kagum. Tidak memalukan atau mengecewakan raksasa muda ini menjadi murid Lui Siok Tojin yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau saja ia tidak memiliki ginkang yang telah dilatih sempurna, akan sukarlah baginya untuk dapat menghadapi raksasa muda ini dengan hanya berkelit saja.

Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal sekali karena kecepatan dan keteguhannya dan melihat gerakan Can Kok In, maka dapat diduga bahwa pemuda tinggi besar ini memang sudah memiliki sedikitnya tujuh bagian dari Kun-lun-kiam-hwat. Makin lama menghadapi pemuda raksasa ini, makin kagumlah hati Ang Lian Lihiap.

Dan ia makin tidak tega untuk melukai pemuda ini. Ia hanya mempergunakan kecepatannya untuk mengelak dari setiap serangan sehingga karena gerakan Ang Lian Lihiap berputar-putar, di sekeliling tubuh Kok In sehingga memaksa pemuda inipun berputar-putaran, maka lambat-laun Kok In merasa pusing sekali!

Akan tetapi, pemuda raksasa ini agaknya memiliki daya tahan raksasa pula dan hatinya pun keras tidak mudah menyerah. Biarpun napasnya telah tersengal-sengal dan keringat telah mengucur membasahi mukanya yang lebar hingga pandangan matanya berkunang, namun ia tetap menyerang hebat dan tidak mau mengaku kalah.

Akhirnya, ia tidak kuat lagi dan tubuhnya terhuyung-huyung dan berputaran karena peningnya, lalu ia roboh terduduk di atas tanah sambil memejamkan mata. Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat Ang Lian Lihiap berdiri dengan tenang di depannya.

Ia tadinya menyangka bahwa pendekar wanita ini tentu akan mentertawakannya, akan tetapi ternyata Ang Lian Lihiap sama sekali tidak mentertawakannya, bahkan pendekar wanita itu berdiri memandang dengan kagum.

Kalau saja Ang Lian Lihiap mentertawakannya, tentu Kok In akan merasa penasaran dan marah, akan tetapi oleh karena pendekar wanita itu sama sekali tidak mengejek atau mentertawakannya, bahkan memandangnya sambil tersenyum kagum, maka ia buru-buru bangun berdiri dan menjura sambil mengangguk-anggukkan kepala berulang-ulang.

“Hebat, hebat! Ang Lian Lihiap memang hebat sekali, dan benarlah kata suhu bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang melebihi kegagahan Ang Lian Lihiap! Siauwte Can Kok In yang goblok telah mendapat pengajaran dan mohon maaf sebesarnya atas kelancangan siauwte!”

Setelah berkata demikian, perwira muda yang bertubuh seperti raksasa itu lalu melompat pergi setelah menjura sekali lagi sebagai penghormatan terakhir.

“Can-ciangkun! Sampaikan salamku kepada gurumu!” teriak Ang Lian Lihiap.

“Akan siauwte perhatikan!” terdengar jawaban Can Kok In dari jauh.

Ang Lian Lihiap menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh seorang pemuda luar biasa, pikirnya. Dan dengan munculnya Can Kok In, pandangannya terhadap para perwira barisan pemerintah yang tadinya rendah, menjadi berubah. Ternyata bahwa di mana-mana terdapat orang pilihan pikirnya.

Setelah menanti sampai tiga hari, akan tetapi belum juga ada berita dari suaminya dan Lo Sin yang dinanti-nanti tidak kunjung pulang, Ang Lian Lihiap menjadi hilang kesabarannya. Ia tidak biasa berada di rumah seorang diri dan kalau Lo Sin pergi saja, ia sudah merasa sunyi walaupun masih ada suaminya yang mencinta dan sering berkelakar.

Kini kedua-duanya, kedua orang yang tersayang, pergi meninggalkan rumah, maka ia merasa makin sunyi dan tidak betah. Ia merasa menyesal mengapa ia tidak mau ikut pergi dengan suaminya mencari Lo Sin.

Akhirnya Ang Lian Lihiap tidak dapat menahan lagi. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk suami atau puteranya apabila seorang di antara mereka pulang dan memesan kepada pembantu rumah tangganya untuk menjaga rumah dan memberi surat itu kepada anak atau suaminya. Kemudian, Ang Lian Lihiap membawa buntalan pakaian dan menunggang kuda meninggalkan rumahnya, mencari suami dan anaknya!

Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa tiba di Bong-kee-san dan dengan cepat mereka bertiga mencari tempat tinggal Nyo Tiang Pek. Kong Liang dan adiknya sudah sering datang ke tempat ini, maka mereka lalu langsung pergi ke rumah kepala kampung Nyo.

Kedatangan mereka disambut oleh Giok Lie dan alangkah girangnya nyonya ini ketika melihat Mei Ling. Datang-datang, Giok Lie lalu menubruk dan memeluk Mei Ling sambil menangis sedih.

“Tenanglah, cici, kami telah tahu semua akan urusanmu dan kami memang sengaja datang untuk mendamaikan urusan ini.”

Dalam tangisnya yang sedih terisak-isak. Giok Lie tak dapat mengeluarkan suara, hanya menggeleng-geleng kepalanya. Bwee Hwa memandang kepada nyonya ini ibu dari Lee Ing yang telah menjadi sahabat baiknya, walaupun baru satu kali bertemu. Diam-diam Bwee Hwa merasa heran dan kagum betapa seorang wanita cantik jelita yang begini lemah lembut dan halus dapat memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

Sebelum mereka sempat bercakap-cakap, bahkan Bwee Hwa pun belum diperkenalkan oleh Kong Liang dan adiknya kepada Giok Lie, tiba-tiba Nyo Tiang Pek muncul dari dalam rumah. Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling ketika melihat Nyo Tiang Pek. Kalau bertemu di jalan, tentu mereka tak mengenalnya lagi.

Demikian besar perubahan yang terjadi pada diri pendekar ini. Tubuhnya menjadi kurus pucat dan rambut kepalanya awut-awutan tak terpelihara, bahkan pakaiannyapun kusut dan agaknya sudah beberapa hari tidak diganti. Yang menakutkan adalah sepasang matanya. Kalau dulu mata ini tajam dan berbentuk gagah, kini memandang sayu dan kadang-kadang seperti ada api bernyala-nyala di dalamnya.

“Nyo-twako!” seru Kong Liang sambil memberi hormat.

Juga Mei Ling cepat memberi hormat. “Twako, kau kenapakah? Kau begini kurus dan pucat. Sakitkah kau?”

Ditanya demikian oleh Mei Ling, Nyo Tiang Pek menghela napas dan menggelengkan kepala. “Kalian baik-baik sajakah?” katanya membelokkan pertanyaan Mei Ling, kemudian ketika melihat Bwee Hwa, ia bertanya, “Dan nona ini siapakah?”

Mei Ling lalu memperkenalkan Bwee Hwa kepada Nyo Tiang Pek dan isterinya. Kim-gan-eng lalu memberi hormat dengan sopan santun.

“Kalian datang dari mana?” tanya Nyo Tiang Pek dengan acuh tak acuh dan sikap serta suaranya menyatakan bahwa ia tidak gembira menerima orang-orang yang tadinya amat disayanginya itu.

“Nyo-twako, kedatanganku bersama Mei Ling ini tidak lain karena mendengar tentang urusamu dan Lian Hwa Suci. Kami datang untuk mendamaikan urusan ini dan…”

“Cukup!” tiba-tiba Nyo Tiang Pek membentak keras. “Jangan sebut-sebut lagi nama keluarga Lo di depanku. Aku tidak sudi mendengarnya.”

“Nyo-twako!” jerit Mei Ling dan kembali terdengar isak tangis Giok Lie.

“Nyo-twako, kuharap kau sudi bersabar dan mendengarkan bicaraku,” kata pula Kong Liang. “Segala hal bisa diurus dengan baik, apalagi kalau urusan itu terjadi antara kau dan Lo-twako yang sudah demikian lama menjadi sahabat baik, bahkan seperti saudara sendiri. Kesalahan dapat diurus dan diperiksa siapa yang benar siapa yang salah dan…”

“Diam…!!” Tiba-tiba Nyo Tiang Pek bangkit dari kursinya dan berdiri sambil mendelikkan matanya kepada Kong Liang.

“Nyo-twako!” Mei Ling berseru dengan penasaran sekali.

“Kaupun diam!! Pendeknya, aku melarang siapa saja menyebut nama mereka di depanku dan kalau kau tetap hendak melanggar laranganku, lebih baik kau keluar dari rumah ini!”

Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling. Tak mereka sangka bahwa Nyo Tiang Pek menjadi marah sedemikian rupa dan kebenciannya terhadap Ang Lian Lihiap sekeluarga agaknya telah memuncak.

“Toako, kedatangan kami ini bukannya hendak membela atau memenangkan mereka, akan tetapi hendak mendamaikan urusan.”

“Sudahlah, jangan kau lanjutkan bicaramu!” kata pula Nyo Tiang Pek yang menahan keras bergolaknya api di dalam dadanya. “Kalian ini tahu apa?? Enak saja bicara mau mendamaikan urusan dan tahukah kalian urusan apa yang hendak kau damaikan? Apalagi yang harus didamaikan?

“Si bangsat muda she Lo itu telah membikin malu, menghina dan mencemarkan nama keluargaku! Bahkan bangsat besar itu kemudian memikat hati anakku dan membawanya lari bersama! Anakku yang semenjak kecil taat patuh kepada orang tua, yang kudidik dengan susah payah, yang menjadi pengharapanku satu-satunya, telah membelakangi ayahnya dan rela pergi minggat bersama bangsat muda itu!

"Ya, ya, baru sekarang kalian tahu dan menjadi pucat mendengar ini! Anakku telah melarikan diri dengan pemuda keparat yang menodai nama keluargaku dan apalagi yang harus didamaikan??”

“Dengarkan, kalau sampai Lo Sin dan Lee Ing bertemu dengan aku tua bangka yang rendah ini, pasti akan kuhabiskan nyawa keduanya! Ya kalian boleh memberitahukan hal ini kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang gagah perkasa, aku tidak takut! Kuulangi lagi, kalau sampai kedua setan itu bertemu dengan aku, akan kuhabiskan nyawa mereka, atau aku sendiri yang akan mampus di tangan mereka!”

Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek mengepalkan tinjunya dan berdiri dengan dada turun naik dan dari kedua matanya keluar air mata!

Kong Liang dan Mei Ling berdiri saling memandang dengan muka pucat sekali, sedangkan tangisnya Giok Lie makin keras saja hingga Mei Ling lalu memeluknya dan ikut menangis.

Bwee Hwa merasa kedua kakinya gemetar ketika melihat kemarahan hebat ini. Belum pernah ia melihat orang marah sedemikian hebat dan mengingat bahwa orang ini adalah Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang kegagahannya telah menggegerkan dunia persilatan ketika ia masih muda, Bwee Hwa menjadi takut dan gentar.

Akan tetapi, ia merasa penasaran mendengar betapa ayah yang murka ini menjadi begitu mata gelap dan telah mengeluarkan ancaman untuk membunuh Lee Ing puteri tunggalnya sendiri, maka tanpa terasa pula ia berkata dengan perlahan.

“Lo-cianpwe, Lee Ing tidak bersalah. Pemuda busuk bernama Tik Kong itu...”

“Tutup mulutmu!!”

Tiba-tiba Nyo Tiang Pek yang sudah marah itu merasa seakan-akan api di dalam dadanya ditambah minyak dan sambil membentak ia lalu menepuk kursi yang tadi didudukinya. Kursi itu tidak hancur, akan tetapi keempat kakinya masuk ke dalam lantai sampai habis tak kelihatan pula! Inilah tenaga lweekang yang hebat sekali hingga Bwee Hwa yang kena dibentak menjadi pucat.

“Beritahukan kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, kalau mereka berdua tidak mencari putera mereka yang jahat dan membawa pula Lee Ing untuk dihadapkan keduanya di depanku, untuk menerima keputusan dan hukumanku, selamanya aku tidak mau berdamai dengan mereka!” Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek masuk ke dalam rumah dengan marah.

Melihat keadaan ini, tidak ada lain jalan bagi Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa, selain meninggalkan tempat itu. Giok Lie memeluk Mei Ling dan menangis sambil berbisik. “Adikku, dan kau juga Kong Liang, serta kau pula, nona, harap kalian maafkan suamiku. Kasihan dia... dia menderita kedukaan besar, maaf....”

Melihat keadaan Giok Lie, lenyaplah kemarahan yang tadi mendesak di dada ketiga orang muda karena sikap Nyo Tiang Pek. Mereka tidak dapat menyelami hati Nyo Tiang Pek dan tak dapat merasakan pula penderitaan pendekar tua itu, tetapi mereka terharu melihat sikap Giok Lie yang terang sekali tertekan hebat batinnya itu.

Sambil memeluk Giok Lie, Mei Ling berkata, “Tidak apa, cici, sudah selayaknya kami yang muda-muda menerima marah dari Nyo-twako. Kalau ia sudah menjadi sadar kembali, tentu ia akan menyesal.”

“Terima kasih, Mei Ling… terima kasih…”

Mereka bertiga lalu meninggalkan nyonya yang sedang berduka itu. Setelah ketiga tamunya pergi dengan hati marah Giok Lie berlari masuk ke kamar suaminya, siap untuk menegur sikap suaminya, yang amat tak pantas itu. Akan tetapi, ketika melihat Nyo Tiang Pek duduk di atas pembaringan dengan wajah pucat dan pipi basah air mata, nyonya ini tidak jadi marah. Bahkan lalu menubruk suaminya. Nyo Tiang Pek merangkul isterinya dan air matanya makin deras mengalir keluar.

Giok Lie maklum sepenuhnya akan derita, yang membuat suaminya hancur hatinya. Ia tahu, bahwa suaminya merasa malu, kecewa, menyesal, sedih, tercampur aduk menjadi satu dan semua ini lalu memperkuat kekerasan hatinya, hingga ia berlaku panas dan keras.

Siapa orangnya yang takkan hancur hatinya menghadapi peristiwa yang memalukan itu? Anak sedang dirayakan hari kawinnya tahu-tahu datang kekacauan yang dilakukan oleh Lo Sin dan yang memburukkan nama calon mantu mereka, kemudian bahkan anak dan calon mantu lari berkejaran.

Kemudian, ternyata bahwa calon mantunya itu terpukul hampir mati oleh Lee Ing, sedangkan Lee Ing bahkan membela Lo Sin dan agaknya mencinta pemuda itu hingga keduanya lari bersama.

Sebenarnya, Nyo Tiang Pek bukanlah seorang yang buta atau terlalu bodoh hingga ia membela Tik Kong mati-matian. Akan tetapi, karena tidak melihat bukti-bukti kejahatan Tik Kong dan pula karena pemuda yang pandai mengambil hati itu telah mendatangkan kepercayaan sepenuhnya, maka Nyo Tiang Pek belum tahu bahwa Tik Kong adalah seorang pemuda jahat.

Pula, biarpun ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun ia segera melenyapkan keraguan itu, karena ia telah terlanjur memilih pemuda itu sebagai menantunya, maka ia tidak berani membayangkan kenyataan ngeri bahwa ia telah salah pilih dan memberikan anak tunggal yang disayangnya itu kepada orang jahat.

Pada saat kedua orang suami isteri itu masih terbenam dalam kesedihan, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara orang berseru keras. “Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek! Kau keluarlah menemui pinto!”

Suara ini terdengar keras sekali dari dalam rumah hingga Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie maklum bahwa orang yang datang itu tentu seorang berilmu tinggi, maka keduanya dengan cepat lalu menghapus air mata dan berlari keluar. Untuk beberapa lamanya Nyo Tiang Pek memandang kepada orang yang berada di luar rumah dan ia tidak kenal siapa adanya pertapa itu. Orang itu adalah seorang tosu tua yang rambutnya telah putih, akan tetapi mukanya masih segar kemerah-merahan.

Tosu ini memegang sebuah tongkat bambu dan berdiri dengan sepasang mata memandang tajam kepadanya. Di belakang tosu ini masih terdapat dua orang tosu lain yang juga sudah tua serta di punggung masing-masing terdapat pedang panjang.

“Nyo Tiang Pek, pinto datang hendak merasai pukulanmu Gin-san-ciang seperti yang telah kau jatuhkan kepada murid keponakan pinto itu!” kata tosu ini dengan suara marah.

Nyo Tiang Pek merasa heran sekali. Ia seperti pernah bertemu dan mengenal muka tosu ini akan tetapi ia lupa lagi bila dan di mana. Giok Lie yang memperhatikan pakaian ketiga orang tosu itu, lalu berbisik, “Bukankah mereka itu tosu-tosu dari Kun-lun-san?”

Teringatlah Nyo Tiang Pek. ”Kalau aku tidak salah sangka, yang berdiri di depan adalah Lui Siok Tojin dari Kun-lun-san. Betulkah?”

Tosu itu memang betul Lui Siok Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang terkenal dan ia ini bukan lain, ialah guru dari Can Kok In, perwira raksasa muda yang gagah itu! Lui Siok Tojin datang bersama dua orang adik seperguruannya oleh karena ia merasa marah sekali mendengar tentang terbunuhnya seorang tosu yang menjadi murid Kun-lun-san, yakni tosu yang telah terbunuh oleh Lui Tik Kong di dusun hingga pedang Ceng-lun-kiam pemberian Nyo Tiang Pek tertinggal di tubuh tosu yang terbunuh itu.

Dan oleh karena tosu itu terbunuh dengan pukulan Gin-san-ciang dan pedang Ceng-lun-kiam, maka tentu saja semua orang menjatuhkan tuduhan kepada Nyo Tiang Pek. Biarpun tidak mempunyai hubungan erat dengan Lui Siok Tojin, akan tetapi selamanya Nyo Tiang Pek mengindahkan tokoh ini dan tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.

Maka sudah tentu saja ia heran sekali mendengar ucapan tosu, itu. Akan tetapi, pada saat itu, hati Nyo Tiang Pek sedang panas urusan puterinya, sedangkan pikirannya pun menjadi gelap, maka kesabarannya pun lenyap, terganti oleh sifat berangasan dan mudah marah.

Rasa malu yang dideritanya karena gagalnya perkawinan, anaknya, membuat ia menganggap bahwa setiap orang memandangnya dengan penuh ejekan dan penghinaan dan kini kedatangan tosu-tosu yang tiba-tiba menuduhnya tidak karuan inipun tentu saja menambah kemarahan hatinya.

“Nyo Tiang Pek, kalau bukan pinto sendiri Lui Siok Tojin yang datang, dari pihak kami Kun-lun-pai siapa lagi yang akan sanggup menghadapimu? Kau terkenal ahli Gin-san-ciang yang lihai dan bertangan maut!”

“Lui Siok Tojin! Aku berhadapan dengan seorang anak kecil atau dengan seorang tua yang telah miring otaknya? Mengapa kau datang-datang menghinaku?”

Lui Siok Tojin marah sekali dan menuding dengan tongkat bambunya. “Orang she Nyo! Membunuh dan melukai orang tak berdosa dengan kejam adalah perbuatan rendah, akan tetapi mengingkari perbuatan sendiri dan berpura-pura suci bersih adalah perbuatan yang lebih rendah lagi. Kau membunuh seorang murid keponakanku yang tak berdosa, namun masih berpura-pura lagi. Sungguh rendah dan memalukan!”

Bukan main marahnya Nyo Tiang Pek mendengar ini. Sambil berseru ia menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat dalam sebuah lompatan indah dan turun di depan tosu itu. “Lui Siok Tojin! Jangan sembarangan membuka mulut! Apa kau kira aku takut padamu?”

“Ha, ha, ha! Anjing kalau terinjak ekornya akan tampak sifat aslinya! Majulah, majulah! Memang pinto ingin sekali mencoba Gin-san-ciang mu yang lihai!”

Dalam keadaan biasa, tentu Nyo Tiang Pek akan mencari tahu persoalannya lebih dahulu sebelum bertindak, akan tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, ia tidak perduli akan segala sebab-sebab yang membuat tosu itu datang-datang marah kepadanya. Ia hanya menganggap bahwa orang telah menghinanya dan penghina itu perlu dihajar! Maka dengan berseru marah, Nyo Tiang Pek lalu maju memukul!

Lui Siok Tojin adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, maka dengan mudah ia lalu mengelak dan membalas menyerang dengan tongkat bambunya. Tongkat ini biarpun hanya terbuat daripada bambu dan kecil sekali, justeru bentuknya yang kecil dan ringan itu membuat tongkat itu menjadi sebuah senjata penotok yang lihai sekali!

Tongkat itu diputarnya cepat dan sebentar saja tongkat itu telah melakukan serangan bertubi-tubi mengarah jalan darah di tubuh Nyo Tiang Pek! Si Garuda Kuku Emas merasa terkejut dan marah karena tongkat itu benar-benar berbahaya sekali. Dalam pertempuran kurang lebih sepuluh jurus saja hampir ia kena tertotok, maka sambil berseru keras ia lalu memukul dengan ilmu Gin-san-ciangnya yang luar biasa!

Lui Siok Tojin tahu akan kehebatan ilmu pukulan ini, maka cepat ia mengelak, akan tetapi terlambat! Angin pukulan Gin-san-ciang masih menyerempet pundak kanannya hingga ia merasa betapa pundak dan lengannya menjadi kesemutan dan hampir saja tongkat bambunya terlepas!

Pada saat itu, Giok Lie melompat ke dekat suaminya untuk mencegah Nyo Tiang Pek menurunkan tangan kejam. Melihat gerak lompatan nyonya ini, bukan main terkejutnya hati Lui Siok Tojin, oleh karena memang gin-kang dari Giok Lie lihai sekali, bahkan lebih tinggi tingkatnya dari ilmu gin-kang Nyo Tiang Pek sendiri!

Sebetulnya, kalau ia mau, pada saat Lui Siok Tojin terhuyung karena terserempet angin pukulan Gin-san-ciang, mudah saja bagi Nyo Tiang Pek untuk menyusul dengan pukulan maut, akan tetapi betapapun sedang marahnya, ia masih ingat dan tidak mau sembarangan membunuh orang.

Lui Siok Tojin merasa bahwa ia masih belum dapat menandingi Nyo Tiang Pek, apalagi di situ ada isteri pendekar itu yang agaknya memiliki ilmu silat tinggi juga, maka ia lalu menjura dan berkata, “Orang she Nyo! Tiga bulan lagi pinto minta pengajaran darimu!”

Setelah berkata demikian, tosu itu pergi, diikuti oleh kedua adik seperguruannya yang tidak berani sembarangan bergerak tanpa perintah dari Lui Siok Tojin.

“Lui Siok Tosu, tunggu dulu dan minta penjelasan!” kata Giok Lie.

Akan tetapi, sambil berjalan terus dan hanya menengok dengan kepala, Lui Siok Tojin berkata. “Penjelasan apalagi? Tanya saja kepada suamimu yang gagah!” Lalu ia mempercepat larinya meninggalkan Bong-kee-san!

Giok Lie menghela napas panjang dan berkata, “Celaka benar, datang lagi orang mencari permusuhan! Heran sekali, siapakah orangnya yang membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan menggunakan Gin-san-ciang?”

Nyo Tiang Pek tidak menjawab, hanya bertindak perlahan memasuki rumah. Pikirnya juga ruwet sekali. Dulu ketika ia dan Cin Han serta Lian Hwa dengan banyak orang yang gagah lagi menyerbu ke puncak Hoa-mo-san untuk mengadakan pertandingan dengan pihak Pek-lian-kauw, Lui Siok Tojin itupun ikut datang pula, bukannya dengan maksud membantunya atau membantu pihak musuh, akan tetapi hanya berusaha mendamaikan dan mencegah pertempuran, dan ternyata kemudian tidak berhasil.

Dan semenjak itu, ia tidak pernah mengadakan hubungan dengan Kun-lun-pai. Mengapa tosu ini datang-datang menuduhnya membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan pukulan Gin-san-ciang?

“Jangan-jangan anak kita yang durhaka itu yang melakukannya,” katanya perlahan.

Giok Lie memandang dengan penasaran. Sinar matanya menyangkal keras dan ia lalu menjawab. “Tak mungkin! Aku lebih menduga bahwa ini tentu perbuatan Lui Tik Kong!”

Nyo Tiang Pek menggeleng kepalanya. “Biarpun ia mempelajari Gin-san-ciang, namun belum cukup pandai untuk dapat digunakan memukul mati seorang anak murid Kun-lun-pai,” katanya.

“Suamiku, kau terlalu membela Lui Tik Kong,” isterinya mencela.

Nyo Tiang Pek membalas pandangan isterinya. “Dia dimusuhi semua orang tanpa salah dan kita sudah memilihnya sebagai calon mantu, kalau bukan kita yang membela, siapa lagi?”

Giok Lan hanya menghela napas panjang dan sedih karena dia sendiri sebetulnya juga bingung dan ragu-ragu menghadapi persoalan yang menyangkut diri Tik Kong itu. Ketika Kong Liang dan Mei Ling diikuti oleh Bwee Hwa cepat menuju ke Tit-lee untuk memberitahukan hasil kunjungan mereka di rumah Nyo Tiang Pek itu kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, mereka kebetulan sekali bertemu dengan Ang Lian Lihiap yang hendak mencari suami dan puteranya.

Dengan hati-hati sekali Kong Liang dan Mei Ling lalu menceritakan pengalaman mereka dan di dalam penuturannya ini, seringkali Kong Liang menghibur Ang Lian Lihiap yang mendengar dengan wajah pucat.

“Harap cici suka bersabar,” kata Mei Ling juga dalam usahanya menghibur dan menyabarkan Ang Lian Lihiap, “pada saat itu Nyo-twako benar-benar sedang marah sekali hingga sukar untuk mengajaknya bicara.”

Tiba-tiba Ang Lian Lihiap tertawa keras dan agaknya ia mengeluarkan semua hawa amarah melalui suara ketawa ini. Bwee Hwa memandang dengan kagum semenjak pertemuan tadi. Telah lama sekali ia mendengar nama Ang Lian Lihiap dan kini melihat orangnya, ia merasa kagum sekali. Dari sikap dan sinar matanya saja, sudah dapat diduga dengan mudah bahwa nyonya ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.

“Nyo Tiang Pek, kau memang terlalu dan sesat,” katanya, kemudian sambil memandang kepada Kong Liang dan Mei Ling ia berkata. “Mudah saja ia menuduh Lo Sin melarikan anaknya. Anakku takkan berwatak serendah itu. Nyo Tiang Pek terlalu menghina anakku, apa dia kira hanya dia sendiri yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan gagah? Hem, Tiang Pek, Tiang Pek! Seandainya kau berikan juga anak perempuanmu kepadaku untuk dijodohkan dengan Lo Sin, aku takkan sudi menerimanya. Aku sendiri yang melarang Lo Sin mendekati anakmu!”

“Cici mengapa begitu? Lee Ing jangan dibawa-bawa, anak itu tidak bersalah apa apa,” kata Mei Ling.

Juga Bwee Hwa tak tahan untuk tidak ikut berkata. “Toanio, Lee Ing adalah seorang gadis yang baik budi dan gagah.”

Mendengar semua kata-kata ini, Ang Lian Lihiap makin cemberut. “Betapapun baiknya gadis she Nyo itu, ia akan menjadi rusak karena terlalu dibanggakan ayahnya yang sesat. Nyo Tiang Pek telah melemparkan anak sendiri ke langit dan menjajarkan dengan bintang-bintang, sedangkan ia merendahkan derajat anakku sampai serendah tanah lumpur. Apa sih hebatnya gadis she Nyo itu? Lihat saja, aku akan dapat mencarikan jodoh untuk anakku yang seratus kali lebih cantik dari pada gadis she Nyo itu dan seribu kali lebih gagah dan pandai.”

Kong Liang dan Mei Ling melihat betapa Lian Hwa mulai gemas dan marah, tidak berani membuka mulut lagi. Mereka berdua sudah mengenal baik watak Ang Lian Lihiap yang kalau sedang baik dan sabar, mau mengalah terhadap siapapun juga, akan tetapi kalau sedang marah, hatinya yang keras sukar sekali ditundukkan dan ia tidak takut kepada siapapun.

“Eh, nona ini siapakah?” tiba-tiba Lian Hwa bertanya sambil memandang Bwee Hwa setelah marahnya agak reda, seakan akan ia baru melihat gadis itu.

Dengan sikap manis dan penuh hormat, Bwee Hwa memperkenalkan diri dan Mei Ling lalu menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan Bwee Hwa. Mendengar bahwa gadis ini bukan lain ialah Kim-gan-eng yang telah terkenal juga, Ang Lian Lihiap memandang kagum.

Sekali pandang saja, ia merasa suka kepada gadis yang manis dan bersikap gagah ini, dan ia teringat akan masa mudanya. Walaupun ia tidak menjadi perampok akan tetapi ia juga merantau dan malang melintang di dunia kang-ouw, menjatuhkan banyak orang-orang gagah hingga nama Ang Lian Lihiap terkenal sekali.

“Siapakah gurumu, nona?” tanyanya.

“Suhu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan,” jawab Bwee Hwa.

“Pernah aku mendengar nama ini, aku tetapi sayang aku belum mendapat kehormatan untuk bertemu muka dengan dia,” kata Lian Hwa mengingat-ingat.

Melihat betapa cicinya sudah menjadi sabar kembali, Mei Ling lalu mengajak dia pergi menjauhi Kong Liang dan Bwee Hwa, minta agar supaya kakaknya itu beserta Bwee Hwa suka menanti sebentar.

Ang Lian Lihiap merasa heran melihat sikap Mei Ling yang hendak bermain rahasia-rahasiaan ini, akan tetapi sambil tersenyum ia menurut saja ketika Mei Ling menarik tangannya dan mengajaknya ke bawah sebatang pohon yang tak jauh dari situ letaknya.

“Cici, ada satu hal yang amat menggirangkan. Cici sudah melihat Bwee Hwa itu dan bagaimana pendapat cici?”

“Dia cantik dan gagah,” kata Ang Lian Lihiap dengan ragu-ragu karena tiba-tiba ia timbul dugaan bahwa tentu Mei Ling hendak mengusulkan perjodohan antara Kim-gan-eng itu dengan puteranya Lo Sin.

Wajah Mei Ling girang mendengar pujian Lian Hwa ini, maka ia lalu berkata lagi. “Cici bagaimana kalau gadis itu dijodohkan dengan... engko Kong Liang?”

“Apa…?” Lian Hwa benar-benar tercengang karena tidak menyangka, kemudian bayangan ragu yang tadi menyelimuti wajahnya, terganti oleh seri gembira. “Kong Liang…”

“Benar, ketahuilah, cici, keduanya sudah saling suka…” kemudian dengan suara bisik yang ramai seperti yang hanya dapat dilakukan oleh dua orang wanita yang sedang membicarakan urusan orang lain sambil berbisik-bisik, Mei Ling menceritakan kepada Lian Hwa tentang pengalaman malam hari itu ketika Kong Liang terluka senjata berbisa dan ditolong oleh Bwee Hwa. Lian Hwa mendengarkan dengan tersenyum-senyum gembira, kemudian ia berkata. “Baiklah, aku setuju sekali! Biarlah aku akan sekalian mencari-cari di mana adanya Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, agar aku dapat mengajukan lamaran untuk Kong Liang.”

Mei Ling menjadi girang sekali dan kedua orang wanita cantik ini tertawa-tawa. Dari jauh Kong Liang dan Bwee Hwa melihat keadaan mereka ini, ikut tersenyum gembira dan beberapa kali mereka saling bertukar pandang. Mereka berdua menduga-duga apakah yang sedang dibicarakan oleh Mei Ling dan Ang Lian Lihiap itu hingga perlu menjauhkan diri dan merahasiakannya dari mereka.

Tiba-tiba Bwee Hwa yang cerdik itu dapat menduganya. Apalagi yang perlu dirahasiakan oleh Mei Ling kepada mereka selain perkara perjodohan? Bwee Hwa lalu menundukkan mukanya yang berubah merah dan ia tidak berani lagi menatap pandang mata Kong Liang.

Ang Lian Lihiap dan Mei Ling kembali ke tempat itu dengan muka gembira, dan melihat betapa Bwee Hwa menundukkan mukanya yang kemerah-merahan diam-diam Lian Hwa mengagumi kecerdikan gadis ini yang agaknya telah tahu akan apa yang dirundingkannya dengan Mei Ling tadi. Sebaliknya, Kong Liang memandang mereka dengan penasaran karena ia tidak diikutkan dalam perundingan itu.

Lian Hwa lalu menghampiri Bwee Hwa dan memegang tangannya, kemudian tanyanya halus, “Bwee Hwa, kita telah menjadi sahabat-sahabat baik yang sepaham, maka harap kau suka menjawab pertanyaanku dengan terus terang saja.”

Bwee Hwa tidak berani memandang wajah Lian Hwa, hanya sambil bertunduk ia mengerling dan tersenyum.

“Berapakah usiamu tahun ini?”

Dengan suara hampir tidak terdengar oleh orang lain, Bwee Hwa menjawab, “Duapuluh tahun.”

“Dan dari Mei Ling aku mendengar bahwa kau tidak mempunyai orang tua lagi. Maka kau anggaplah aku sebagai wakil orang tua atau cicimu sendiri. Bwee Hwa, kami semua suka sekali kepadamu dan bagaimana pikiranmu apabila kita mengikat tali perhubungan lebih erat lagi?”

Bwee Hwa adalah seorang gadis yang cerdik dan tentu saja ia telah maklum apa yang dimaksudkan oleh Ang Lian Lihiap yang bicara terus terang ini, akan tetapi, mana ia berani menyatakan perasaan hatinya? Ia menjadi makin malu dan tidak berani bergerak, bahkan dalam kebingungan dan malunya, keringat sampai keluar membasahi dahinya!

Melihat keadaan ini, Kong Liang yang masih belum mengerti, lalu menegur Ang Lian Lihiap. “Suci, sebenarnya apakah artinya semua ini? Kau seakan-akan bicara dengan bahasa rahasia!”

Tiba-tiba Mei Ling memandang kepada kakaknya dengan tertawa geli, hingga Kong Liang menjadi heran dan Lian Hwa juga ikut tertawa.

“Anak bodoh! Lebih baik aku berterus terang saja. Aku mempunyai usul dan pikiran untuk merangkapkan jodoh antara kau dan Bwee Hwa, bagaimana pendapatmu?''

Kong Liang menjadi bengong dan warna merah menjalar di seluruh mukanya. “Ini... ini… terserah kepada cici saja…” katanya gagap dan memandang kepada adiknya dengan mata mendelik akan tetapi sinar matanya mengandung pernyataan terima kasih yang besar sekali!

Ang Lian Lihiap tersenyum girang. “Bwee Hwa seperti juga engkau, Kong Liang telah yatim piatu dan boleh dibilang akulah yang menjadi wakilnya. Bagaimana pendapatmu tentang pinangan ini?”

“Toanio…” jawab Bwee Hwa.

“Jangan menyebut aku toanio, sebutlah saja dengan cici, bukankah kita telah menjadi orang sendiri?”

Bwee Hwa makin jengah dan malu. “Cici…” katanya perlahan sekali, “kau.... kau baik sekali dan terima kasih atas kebaikan kalian ini... akan tetapi, hal itu… aku harus bertanya kepada suhu karena suhu adalah seperti orang tuaku sendiri....”

Lian Hwa tersenyum. “Tentu saja, Bwee Hwa. Tentu saja harus mendapat perkenan dari gurumu, akan tetapi hal itu kurasa tak perlu disangsikan lagi. Aku mendengar bahwa Pat-chiu Koai-hiap adalah seorang gagah dan budiman, maka sudah tentu dia ingin sekali melihat muridnya berbahagia. Bagiku yang terpenting adalah perasaan hati kalian berdua, kau dan Kong Liang, orang lain hanyalah ikut bergembira belaka dan ingin melihat kalian hidup berbahagia. Maka, sebelum aku bertemu dengan suhumu, apabila kalian berdua tidak berkeberatan, aku ingin melihat kalian bertukar pedang sebagai tanda persetujuan hati masing-masing!”

Tentu saja Bwee Hwa dan Kong Liang merasa malu dan tidak berani bergerak. Melihat hal ini, Mei Ling menjadi kasihan sekali dan ia lalu menghampiri Kong Liang dan berkata, “Koko, kalau kau tidak setuju, jangan biarkan aku mengambil pedangmu!” Setelah berkata demikian, gadis ini lalu mengambil pedang dan sarung pedang yang tergantung di pinggang Kong Liang.

Pemuda ini merasa berdebar dan girang dan sama sekali tidak mencegah adiknya mengambil pedang itu! Kemudian, dengan pedang di tangan, Mei Ling lalu menghampiri Bwee Hwa yang masih berdiri diam sambil menundukkan kepala. Mei Ling lalu memberikan pedang Kong Liang pada gadis itu yang diterima tanpa berani memandang.

“Adikku yang manis, pedangmu harus diberikan kepada dia!” bisik Mei Ling kepadanya.

Dan dengan tangan gemetar Bwee Hwa lalu melepaskan pedangnya dan diberikannya kepada Mei Ling yang segera membawanya kepada Kong Liang. Kedua orang anak muda itu setelah bertukar pedang lalu memakai pedang itu di pinggang masing-masing dan wajah mereka merah sekali.

Setelah itu, Bwee Hwa lalu berkata kepada Ang Lian Lihiap dengan terharu. “Cici yang mulia, sungguh besar sekali budi kalian terhadap aku yang bodoh dan hina. Sekarang aku mohon diri karena aku hendak mencari suhu.”

Lian Hwa mengangguk-anggukkan kepala. “Memang kau harus selekasnya menemui suhumu dan kalau mungkin memberi kabar kepadaku di mana dia berada agar aku dapat pula menjumpainya. Agaknya akan sukar bagiku untuk mencari perantau aneh itu!”

Setelah berpelukan dengan Mei Ling dan bertukar kerling dengan Kong Liang, Bwee Hwa lalu cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan. Setelah Bwee Hwa pergi, baru Kong Liang berani buka mulut.

“Mei Ling, kau benar-benar nakal dan suka menggoda orang!”

“Eh, eh! Bilang saja seperti apa yang dibisikkan hatimu. Jangan bicara lain di mulut lain di hati!” tegur adiknya.

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar hatimu berkata "Mei Ling terima kasih atas bantuanmu‟ akan tetapi mulutmu pura-pura menegur lagi!”

Lian Hwa tertawa dan Kong Liang dengan gemas berkata. “Awas kau! Sekarang juga akan kubuka rahasia hatimu kepada suci!”

Terbelalak mata Mei Ling memandang kakaknya. “Rahasia? Rahasia apa?”

“Apalagi kalau bukan rahasia tentang kau menyamar menjadi laki-laki!”

Mendengar ini, merahlah wajah Mei Ling karena malu.

“Eh, eh, anak-anak. Kalian sedang bicara apakah?” tanya Lian Hwa.

“Cici, jangan percaya padanya. Mulutnya memang usil dan jahat!” kata Mei Ling sambil cemberut.

“Siapa usil dan jahat? Kalau tidak ada Yap Bun Gai yang menolong kau dan Bwee Hwa, apakah kita akan dapat bergirang pada saat ini? Dan kalau tidak ada kau yang menolong pemuda gagah itu, apakah dia tidak akan mendapat celaka?”

Lian Hwa makin tertarik hatinya mendengar nama Yap Bun Gai disebut oleh Kong Liang, maka ia lalu mendesak kepada pemuda itu untuk menceritakan pengalaman mereka. Kong Liang dengan girang lalu menceritakan tentang kebaikan dan pertolongan Bun Gai, bahkan tentang cara Mei Ling menolong dan membela pemuda itu. Mei Ling mendengarkan ini semua dengan menundukkan mukanya dan kini dialah yang tidak berani berkutik.

Setelah mendengar cerita itu dan melihat betapa Kong Liang memberi isyarat mata ke arah Mei Ling, Lian Hwa lalu memandang kepada gadis itu dan bukan main girang hatinya. “Baiklah,” katanya, “kalau aku sudah bertemu dengan suamiku, akan kubicarakan hal ini kepadanya. Aku sendiripun setuju kepada pemuda yang baik hati itu, sayangnya dia muncul di tengah-tengah pihak mereka yang jahat!”

“Suci, emas murni tidak takut karat, dan bunga teratai tidak takut kena lumpur!” Kong Liang berkata dalam pembelaannya sehingga diam-diam Mei Ling merasa berterima kasih kepada kakaknya itu yang membela Bun Gai.

“Ya, ya, aku tahu,” jawab Lian Hwa. “Memang tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku melainkan melihat kalian berdua mendirikan rumah tangga yang penuh kebahagiaan.” Kata-kata terakhir ini diucapkan dengan suara mengharukan karena pendekar wanita ini teringat akan puteranya.

Kemudian kakak beradik itu menyatakan bahwa merekapun hendak membantu mencari Cin Han dan Lo Sin dan oleh karena tidak diketahui di mana adanya kedua orang itu, maka mereka lalu mengambil keputusan untuk mencari sambil berpencar Kong Liang dan Mei Ling mencari ke utara dan Lian Hwa mencari ke timur.

Setelah Lian Hwa pergi, Mei Ling dengan gemas lalu mendekati kakaknya dan hendak dicubitnya sambil berseru. “Kau lancang dan kurang ajar!”

Sambil tertawa-tawa Kong Liang berlari cepat dan kemudian berkata, “Adikku yang baik, mengapa kau tidak bicara seperti hatimu?” Ia membalas menggoda. “Kalau menurut suara hatimu, kau seharusnya berlutut dan menghaturkan terima kasih kepadaku!”

Demikianlah, kedua kakak beradik yang bahagia itu bersendau gurau di sepanjang jalan dalam perantauan mereka mencari jejak Lo Sin atau Cin Han.


Lo Sin melarikan diri dari depan Nyo Tiang Pek yang marah sekali kepadanya, sedangkan Lee Ing mengikutinya sambil menangis terisak-isak. Setelah berlari jauh dan memasuki sebuah hutan pohon siong, Lo Sin berhenti dan Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu sambil mengeluh, “Ayah… ayah…”

Lo Sin segera memeluk pundak Lee Ing dan berkata perlahan. “Ing-moi, tenangkanlah hatimu dan jangan bersedih. Ayahmu sedang marah, maka kemarahan telah membuat pikirannya gelap. Biarlah kelak kalau ayahmu sudah sadar, tentu ia akan menjadi baik kembali. Untuk sementara waktu, biarlah kita menjauhkan diri dan jangan kau khawatir, bukankah masih ada aku yang melindungi dan mencintamu?”

Mendengar kata-kata ini, terhibur juga hati Lee Ing dan gadis ini lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Pada saat itu, terdengar bunyi ringkik kuda dan sebentar juga Pek-liong-ma telah muncul di situ sambil berlari congklang.

“Lihat Pek-liong-ma juga tidak mau berpisah dari kita!” Keduanya lalu bangun berdiri dan memeluk kuda yang menjadi sahabat baik itu.

“Sayang sekali bahwa Tik Kong terlepas lagi dari tangan kita!” kata Lo Sin dengan gemasnya.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam hutan yang ternyata besar sekali dan di sebelah dalam terdapat banyak pohon-pohon yang mempunyai buah-buahan hingga mereka girang sekali karena di dalam hutan ini mereka tidak usah khawatir kekurangan makanan. Juga banyak sekali binatang-binatang hutan yang dapat diburu dan dimakan dagingnya.

Lo Sin lalu menceritakan tentang semua pengalamannya hingga Lee Ing makin jelas dan mengerti tentang kejahatan Tik Kong. Gadis ini merasa menyesal sekali bahwa ayahnya telah tertipu dan terpikat oleh pemuda jahat itu.

“Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu,” kata Lo Sin dengan sejujurnya. “Aku sendiri kalau belum mengetahui tentang segala perbuatannya, apabila bertemu muka dengan Tik Kong yang berwajah tampan dan bersikap menarik itu, tentu akan tertipu dan terpikat. Pemuda itu memang pandai membawa diri dan mempunyai muka palsu yang sama sekali tidak mencerminkan keadaan hatinya.”

“Akan tetapi, semenjak pertama kali bertemu aku sudah mempunyai rasa tidak suka dan benci kepadanya,” kata Lee Ing. “Juga aku tahu bahwa ibupun kurang suka kepadanya, hanya sayangnya, ibu selalu menurut kehendak ayah tanpa membantah sedikitpun.”

“Memang sudah seharusnya demikian!” kata Lo Sin.

Lee Ing memandangnya dengan tajam. “Apa katamu? Sudah seharusnya demikian, bagaimana maksudmu?”

“Sudah seharusnya seorang isteri menurut kehendak suaminya.”

Tiba-tiba Lee Ing berdiri lurus, mengedikkan kepalanya dan mendelikkan mata. “Enak saja kau bicara! Apakah perempuan dianggap patung saja yang hanya boleh mengangguk dan menurut segala macam kehendak laki-laki? Apakah segala macam kehendak suami, biarpun tidak pantas dan tidak benar harus diturut saja dan isteri tidak boleh membantah sedikitpun, bagaikan seekor lembu yang dituntun pada hidungnya? Ah, dasar kaupun laki-laki! Dan laki-laki biasanya hendak menang sendiri saja, hendak enak sendiri, hendak diturut segala kehendaknya!”

Lo Sin tersenyum. “Aku tidak hendak menang sendiri saja, Ing-moi, juga tidak hendak enak sendiri atau diturut segala kehendakku. Aku bukan laki-laki seperti itu, Ing-moi!”

Pandangan mata Lee Ing melembut. “Lebih baik kau jangan bersifat seperti itu, karena akupun bukan seorang perempuan yang mau dijadikan boneka yang hanya bisa mengangguk dan berkata. “Baik, tuan besar!”

Tiba-tiba Lo Sin memandang kepada gadis itu dengan mata berseri dan ia tertawa bergelak. “Ing-moi… ha-ha-ha! Kalau sudah begini, kau sama betul dengan ibuku! Ha-ha-ha! Sama-sama keras hati, liar dan tak mau ditundukkan.”

Merah muka Lee Ing mendengar ini. “Memang ibu jauh lebih baik daripada aku, akan tetapi, ia terlampau lemah dan mengalah!”

“Akan tetapi ibuku sangat mencintai ayahku, biarpun ia tukang membantah. Bahkan tidak jarang setelah bersitegang, ibu menyatakan kesalahannya dan menurut kata-kata ayah!”

“Apa kau kira akupun tahuku hanya membantah dan sekehendakku sendiri saja? Akupun mempunyai pikiran!”

Kembali Lo Sin tertawa, ia merasa gembira sekali melihat watak dan sifat-sifat gadis ini yang benar-benar seperti ibunya. Keras hati, panas, dan bergelora, akan tetapi memiliki kehalusan budi, penuh kegembiraan hidup seperti kuda liar yang indah!

“Sin-ko, bagaimana kalau... kalau orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita?” tiba-tiba Lee Ing bertanya dengan suara sedih. “Ayahku terang tidak menyetujui, biarpun aku berani menanggung bahwa ibu tentu setuju dan kalau orang tuamu juga tidak setuju, bagaimanakah akan jadinya dengan nasib kita...?”

Selanjutnya,