X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Walet Hitam Jilid 12

Cerita Silat Mandarin serial si teratai merah seri ke 2, Si walet hitam jilid 12 karya Kho Ping Hoo

Si Walet Hitam Jilid 12

Lo Sin tersenyum untuk menghibur hati kekasihnya itu. “Jangan khawatir, Ing-moi. Ayah ibuku memang tadinya bermaksud melamarmu, mengapa mereka tidak setuju? Bahkan terus terang saja, aku sendirilah yang tadinya tidak setuju ketika mereka melamar kau.”

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

“He?!?” Lee Ing memandang dengan mata terbuka lebar dan mulut cemberut hingga dalam pandangan mata Lo Sin ia nampak makin cantik dan makin manis!

“Memang, aku bahkan menjadi marah,” kata pula Lo Sin sambil tertawa. “Aku tidak suka dijodohkan dengan puteri Nyo peh-peh oleh karena pada waktu itu hatiku telah tercuri oleh seorang gadis!”

“Apa katamu?” Lee Ing makin marah.

“Hatiku telah tercuri oleh gadis yang berdiri di bawah pohon dengan pakaian basah kuyup!”

Lenyaplah sinar kemarahan dari wajah Lee Ing, terganti oleh senyum yang membuat wajahnya kemerah-merahan. “Sin-ko, kau harus memberi pelajaran ilmu silat padaku,” katanya kemudian.

Dan karena memang Lo Sin menganggap bahwa ilmu kepandaian Lee Ing masih jauh daripada mencukupi untuk menjaga diri, maka ia lalu mulai mengajar silat kepada gadis itu. Ia mulai mengajarkan gerakan pertama dari ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut dan ia tidak ragu-ragu lagi untuk menurunkan ilmu pedang luar biasa ini kepada Lee Ing biarpun dulu ia telah disumpah oleh orang tuanya bahwa ia tidak boleh menurunkan ilmu pedang itu kecuali kepada isteri atau anaknya kelak!

Dengan perbuatan ini, Lo Sin ternyata telah bertekad bulat untuk mengambil Lee Ing sebagai isterinya, biarpun seluruh dunia akan menentangnya! Ia tidak takut akan ancaman Nyo Tiang Pek dan tidak takut pula kalau-kalau kedua orang tuanya melarang ia berjodoh dengan gadis ini! Memang, kekerasan dan kenekatan hati Lo Sin ini adalah warisan dari Ang Lian Lihiap yang terkenal memiliki hati keras dan keteguhan iman. Kalau telah menghendaki sesuatu, maka segala rintangan akan diterjang dan diberantas!

Berhari-hari mereka hidup di dalam hutan, berlatih silat dan bersendau-gurau. Pek-liong-ma juga senang tinggal di hutan yang banyak mempunyai rumput-rumput hijau yang gemuk untuknya itu. Akan tetapi, biarpun hubungan kedua anak muda ini mesra sekali, namun mereka selalu menjaga diri dan membatasi hati mereka sehingga tidak mau melanggar batas-batas kesusilaan. Mereka terlampau gagah untuk dapat dikuasai oleh nafsu-nafsu buruk dan rendah.

Mereka tidak tinggal di tempat yang tertentu dalam hutan itu dan setiap hari berpindah tempat mencari tempat yang lebih indah dan menyenangkan. Pada suatu hari mereka tiba di sebelah timur hutan itu tiba-tiba mereka mendengar suara orang bertempur.

Ketika Lo Sin dan Lee Ing cepat memburu ke tempat itu, mereka terkejut sekali oleh karena melihat bahwa yang bertempur itu adalah Bwee Hwa si Garuda Mata Emas dan Hek Li Suthai. Kim-gan-eng Bwee Hwa sedang didesak keras sekali oleh kedua pedang Hek Li Suthai hingga keadaan gadis itu dalam bahaya. Pedang yang bersinar hijau dan hitam di kedua tangan to-kouw itu telah mengurung rapat dan Bwee Hwa hanya dapat menangkis dan mengelak sambil mundur dalam keadaan terjepit!

Lo Sin lalu melompat dengan pedang di tangan dan sekali ia bergerak, maka kedua pedang Hek Li Suthai telah ditangkis! Melihat datangnya orang yang membantunya, Bwee Hwa lalu mundur dan alangkah girangnya ketika melihat bahwa yang membantunya adalah Ouw-yan-cu Lo Sin, si Walet Hitam! Dan lebih girang lagi ketika ia melihat Lee Ing berdiri di situ.

Serta merta gadis ini lalu lari menghampiri Lee Ing dan memeluknya sambil menangis! Lee Ing heran sekali melihat gadis ini nampak sedih dan menangis, maka ia lalu balas memeluk dan menghiburnya.

Kemudian keduanya lalu berdiri memandang ke arah Lo Sin yang menghadapi Hek Li Suthai yang menjadi marah sekali karena ternyata olehnya bahwa yang menolong Bwee Hwa adalah putera Ang Lian Lihiap yang sudah dikenal kelihaiannya itu! Dan di bawah pohon, di belakang Hek Li Suthai, berdiri si kakek buntung Bong Cu Sianjin yang lihai!

“Ouw-yan-cu! Bagus sekali kau datang mengantarkan jiwa!” teriak Hek Li Suthai dengan marah sekali dan dengan sikap mengancam, akan tetapi ia tidak berani sembarangan bergerak atau menyerang.

Sementara itu ketika mendengar nama ini, Bong Cu Sianjin melangkah maju dengan penuh perhatian. “Hm, inikah putera Ang Lian Lihiap yang tersohor?” katanya sambil tersenyum memandang rendah.

Bagaimana tiba-tiba saja Hek Li Suthai dan Bong Cu Sianjin bisa berada di situ dan bertempur dengan Kim-gan-eng Bwee Hwa?

Ternyata bahwa setelah mendengar dari Yap Bun Gai akan perjanjian mengadu kepandaian di puncak Hoa-mo-san tiga bulan kemudian, Bong Cu Sianjin lalu mengajak Hek Li Suthai untuk mengunjungi kawan-kawan dan mencari pembantu untuk menghadapi Ang Lian Lihiap dan suaminya yang lihai itu. Juga Lui Tik Kong menyatakan hendak mencari bala bantuan dari orang-orang pandai yang dikenalnya dan Bi Mo-li yang tidak dapat berpisah dari Tik Kong, lalu ikut pergi dengan pemuda itu.

Kebetulan sekali ketika mereka bertemu dengan Bwee Hwa yang sedang berjalan mencari suhunya. Melihat Kim-gan-eng, tanpa banyak cakap lagi Hek Li Suthai lalu menyerangnya dan terpaksa Bwee Hwa melakukan perlawanan sengit. Semenjak mendapat latihan-latihan dari suhunya, memang kepandaian Bwee Hwa telah maju pesat.

Apalagi pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan dengan Hek Li Suthai dan kawan-kawannya membuat ia berlaku hati-hati dan dapat menjaga diri dengan baik hingga walaupun ia selalu didesak hebat, namun sebegitu jauh Hek Li Suthai belum berhasil merobohkannya! Sementara itu, Bong Cu Sianjin tidak mau merendahkan diri untuk ikut menyerbu, betul bahwa Hek Li Suthai seorang diripun akan sanggup merobohkan Kim-gan-eng.

Kini melihat bahwa putera Ang Lian Lihiap datang menolong Bwee Hwa, Bong Cu Sianjin memandang dengan penuh perhatian dan berkata kepada Hek Li Suthai, “Ceng Hwa, seranglah dia dan jangan khawatir, aku melihat dari sini.”

Biarpun sudah maklum akan kelihaian Lo Sin, namun Hek Li Suthai tidak mau menunjukkan rasa takut, maka sambil berseru nyaring ia lalu memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat. Harus diingat bahwa to-kouw ini telah menerima latihan ilmu silat yang lebih tinggi dari Lan Bwee Niang-niang, maka serangannya pun hebat sekali, jauh lebih hebat daripada ketika ia bertempur melawan Lo Sin di hujan badai dulu itu.

Namun Lo Sin menyambut serangannya dengan tenang saja. Pemuda ini mempergunakan pedang pusakanya yang disebut Kim-hong-kiam atau Pedang Burung Hong Emas yang mengeluarkan sinar kuning keemasan lalu memainkan ilmu pedangnya yang luar biasa.

Biarpun sepasang pedang Hek Li Suthai itu menyambar-nyambar merupakan dua buah sinar hijau dan hitam dengan hebat dan garang, namun dengan sebatang pedangnya ia dapat menangkis dengan baik dan kuat hingga tiap kali pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Hek Li Suthai, to-kouw itu merasa betapa telapak tangannya tergetar.

Lo Sin kali ini tidak mau memberi hati kepada lawannya dan ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya bagian menyerang hingga sebatang pedang di tangannya itu berkelebat bagaikan seekor naga sakti mengamuk. Belum juga mereka bertempur tigapuluh jurus. Hek Li Suthai sudah terdesak hebat dan terpaksa mengerahkan segala ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dari desakan ini.

Bong Cu Sianjin merasa kagum sekali melihat kelihaian pemuda itu, maka ia lalu berseru, “Ceng Hwa, kau mundurlah dulu. Biar aku tangkap tikus kecil ini!”

Lega hati Hek Li Suthai mendengar perintah susioknya, karena memang ia telah mengeluarkan peluh dingin pada dahinya menghadapi rangsekan yang membuatnya tidak berdaya itu.

Sementara itu, ketika melihat bahwa kakek buntung itu mengajukan diri dengan tabah dan berani sekali, Lo Sin lalu menyimpan kembali pedangnya. “Bong Cu Sianjin, kebetulan sekali. Aku telah lama ingin menyaksikan kelihaian kedua kakimu!” katanya dengan tenang dan memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan kaki yang kabarnya lihai sekali itu.

Kalau Bong Cu merasa girang dan juga heran melihat keberanian Lo Sin, Lee Ing dan Bwee Hwa sebaliknya merasa khawatir sekali. “Sin-ko, hati-hatilah, kakinya lihai sekali!” seru Lee Ing memperingatkan Lo Sin agar pemuda ini suka mempergunakan pedang menghadapi kakek buntung itu.

Akan tetapi Lo Sin hanya tersenyum dan menjawab, “Aku tidak tega untuk menghadapinya dengan pedang, Ing-moi.”

Jawaban ini membuat alis Bong Cu Sianjin seakan-akan berdiri karena marahnya. Ia merasa dianggap rendah dan dihina oleh Lo Sin, maka sambil menggeram keras ia lalu melangkah maju dan mengirim serangan dengan tendangan kakinya yang mengeluarkan angin keras.

Lo Sin maklum akan kelihaian lawan, maka ia tidak berani berlaku sembrono, bahkan menghadapinya dengan hati-hati sekali. Ia mempergunakan kelincahan dan keringanan tubuhnya untuk berkelit cepat dan membalas dengan serangan kilat yang tidak kalah hebatnya.

Menyaksikan ginkang pemuda ini yang tinggi, diam-diam Bong Cu Sianjin terkejut sekali. Selama berpuluh tahun setelah kedua lengannya buntung, Bong Cu Sianjin setiap hari melatih kedua kakinya hingga kehebatan kedua kaki ini tidak kalah dengan kedua lengan tangannya dulu ketika masih belum buntung. Bahkan kini tenaga kakinya hebat sekali dan ia telah berhasil melatih kakinya sedemikian rupa hingga ujung kakinya dapat digunakan untuk menotok jalan-jalan darah lawan.

Tiap kali ia menendang, bukanlah merupakan tendangan biasa yang hanya mempergunakan tenaga besar belaka, akan tetapi selalu tendangannya itu mengarah urat-urat kematian atau bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Juga ia dapat memainkan kedua kakinya sedemikian rupa hingga kakinya dapat menendang dari belakang, depan dan kanan kiri. Bahkan ia dapat melompat tinggi sambil menendang dari udara, atau ia dapat menendang hingga kakinya itu mengarah kepala lawan.

Menghadapi ilmu tendangan yang luar biasa dan yang agaknya tiada keduanya ini, Lo Sin diam-diam merasa terkejut sekali. Bukan kosong belaka kebesaran nama Bong Cu Sianjin dan ilmu tendangannya yang benar-benar membuat Lo Sin terpaksa harus berlaku hati-hati sekali.

Melihat betapa tendangan-tendangannya tak berhasil mengenai lawan yang muda dan tangguh ini, Bong Cu Sianjin menggereng hebat karena penasaran dan marahnya. Ia lalu merubah gerak kakinya dan kini ia melancarkan gerakan tendangan yang dinamai Jian-liong-tiam-jiauw atau Ribuan Naga Mengulur Kuku. Tendangannya dilakukan dengan kedua kaki yang susul menyusul hingga serangan itu datang bagaikan hujan mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Lo Sin.

Melihat serangan hebat ini, diam-diam hati Lee Ing berdebar cemas dan ia lalu memegang tangan Bwee Hwa erat-erat. Juga Bwee Hwa merasa khawatir sekali, sungguhpun semenjak tadi tiada habisnya ia mengagumi kepandaian Lo Sin, bukan main hebatnya sepak terjang putera Ang Lian Lihiap ini, pikirnya. Ke dua orang gadis itu memandang dengan mata tanpa berkedip ke arah perkelahian yang hebat itu.

Diserang secara demikian, Lo Sin terkejut sekali. Ia merasa betapa akan sukarnya untuk mengelakkan diri dari serangan kedua kaki yang bertubi-tubi ini, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu ia telah mempergunakan ginkangnya dan tubuhnya mencelat ke atas. Akan tetapi, bukannya kaget, bahkan Bong Cu Sianjin lalu tertawa girang dan kedua kakinya cepat mengejar dan kini tendangan-tendangan ditujukan ke atas menjaga turunnya tubuh pemuda itu.

Agaknya sudah tidak ada jalan lagi bagi Lo Sin untuk menghindarkan diri dari bahaya maut. Akan tetapi, tidak kecewa Lo Sin mendapat gemblengan sepenuh hati dari kedua orang tuanya dan ia telah menerima pula pelajaran ginkang yang tinggi dari ibunya, yaitu warisan ilmu ginkang dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan.

Melihat datangnya kedua kaki yang menyambar ke arah dirinya, tiba-tiba tubuh Lo Sin berjungkir balik di tengah udara, kaki ke atas dan kedua tangan ke bawah. Ia lalu menyambut ujung kaki lawannya yang menyambar dari bawah itu dan yang didahului oleh angin tendangan keras.

Lo Sin mengerahkan lweekangnya dan dengan tangannya ia menotol ujung kaki yang datang menyambar hingga ia terdorong oleh tenaga tendangan itu dan tubuhnya melayang kembali ke atas. Berkali-kali Lo Sin turun dan menotol ujung kaki hingga tubuhnya melayang lagi tanpa menderita luka.

Pemandangan ini sungguh indah dan mentakjubkan hingga Lee Ing dan Bwee Hwa memandang dengan melongo. Juga Hek Li Suthai diam-diam merasa kagum sekali dan memuji dalam hatinya. Rasa penasaran di dalam hatinya karena dikalahkan oleh Lo Sin, kini menjadi menipis oleh karena memang pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

Sementara itu, dari atas, tubuh Lo Sin menyambar-nyambar naik turun sambil meminjam tenaga tendangan lawan hingga seolah-olah ia merupakan seekor burung besar yang menyambar-nyambar turun dan kedua kaki Bong Cu Sianjin merupakan dua ekor ular yang mencoba untuk menggigit burung yang menyambar turun itu.

Dan dari atas, Lo Sin melihat betapa kedua kaki lawannya itu bergerak bagaikan dua batang tongkat besar yang lempeng menyerang ke atas. Tiba-tiba ia mendapat kenyataan hahwa seluruh kaki itu, dari ujung sampai pangkalnya, yang paling lemah adalah bagian sambungan lutut. Maka ia lalu menotol ujung kaki lawan yang menyambar lagi dan mengenjot tubuhnya jauh dari situ lalu turun di atas tanah.

Bong Cu Sianjin memburu sambil berteriak. “Jangan lari!”

“Siapa yang lari?” jawab Lo Sin sambil menyambut serangan lawannya lagi.

Kini Lo Sin sambil membalas dengan serangan pukulan dan tendangan yang semua ditujukan ke arah lutut Bong Cu Sianjin. Memang sukar menghadapi lawan buntung yang tidak diketahui gerak geriknya. Jika menghadapi seorang lawan yang berlengan, kita dapat mengikuti dan menduga gerakan lawan itu dari pundaknya yang bergerak lebih dulu sebelum melakukan serangan.

Akan tetapi oleh karena Bong Cu Sianjin tidak berlengan dan tidak melakukan serangan dengan tangan, maka pundaknya tidak bergerak hingga Lo Sin tidak dapat menduga cara-cara ia bergerak melakukan serangan. Kini pemuda itu mendapatkan akal dan memusatkan seluruh serangan pembalasan ke arah lutut lawan hingga Bong Cu Sianjin menjadi sibuk juga.

Kini ia tidak dapat mendesak seperti tadi oleh karena serangan-serangan Lo Sin ke arah sambungan lututnya itu berbahaya sekali dan ia harus menjaga sekuatnya agar sambungan lututnya jangan sampai kena terpukul. Dari paha, betis, sampai ke jari kakinya ia tidak takut menghadapi pukulan, akan tetapi sambungan lututnya kalau sampai terpukul dan terlepas sambungannya, berarti ia akan mendapat celaka.

Pertempuran menjadi makin hebat karena keadaan mereka kini seimbang. Kalau saja Lo Sin mempergunakan pedangnya, agaknya Bong Cu Sianjin takkan dapat tahan lama, akan tetapi pemuda itu merasa malu untuk mempergunakan senjata apalagi setelah tadi ia menyatakan bahwa ia tidak tega menghadapi Bong Cu Sianjin dengan senjata.

Sedangkan sekarang, biarpun ia telah mengetahui letak kelemahan lawannya, namun oleh karena Bong Cu Sianjin benar-benar kosen, ia tidak berdaya untuk mendesaknya apalagi hendak merobohkannya.

Lee Ing dan Bwee Hwa yang melihat betapa Lo Sin tidak terdesak hebat lagi, merasa lega, akan tetapi mereka tetap merasa khawatir dan bingung karena tidak berdaya menolong kawan ini. Tadinya Bwee Hwa hendak maju membantu, akan tetapi Lee Ing menahan tangannya sambil berbisik.

“Sin-ko tidak mau dibantu. Kalau dia sendiri tidak minta dibantu, kita tidak boleh turun tangan.”

Akan tetapi tidak demikian dengan Hek Li Suthai. Melihat betapa kini susioknya tidak dapat mendesak lawan bahkan keadaan mereka berimbang dan saling menyerang dengan hebatnya, ia lalu melompat maju dan berkata. “Susiok, biar kita bersama menangkap anjing ini.”

Tiba-tiba Lo Sin tertawa bergelak dan merasa bahwa kedatangan Hek Li Suthai itu menguntungkannya. Oleh karena dikeroyok dua dan Hek Li Suthai mempergunakan sepasang pedang hijau hitamnya yang lihai, maka ia tidak malu untuk cepat-cepat menarik keluar pedangnya dan kini ia mengamuk dengan pedang Kim-hong-kiam di tangan.

Kini ia tidak mau berlaku setengah hati lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian gerakan menyerang yang paling hebat, yakni Naga Sakti Mandi di Api. Gerakan pedangnya bagaikan bunga api menjilat-jilat atau cahaya kilat menyambar-nyambar, menimbulkan hawa panas yang keluar dari hawa pedang dan ia mengurung kedua lawannya dengan sinar pedangnya yang lihai itu.

Bong Cu Sianjin kini terkejut sekali, demikian Hek Li Suthai. Biarpun keadaannya masih sanggup mempertahankan diri, namun permainan pedang ini benar-benar hebat dan mengerikan. Kalau saja yang menghadapi permainan pedang Lo Sin bukannya Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai, maka pasti keduanya sudah sedari tadi kena dirobohkan.

Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai yang berilmu tinggi itu merasa sangat penasaran dan terus mempertahankan diri dengan ulet dan nekad. Akan tetapi setelah bertempur menghadapi ilmu pedang sakti ini sampai seratus jurus, mereka tidak dapat menahan lagi. Keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka dan pandangan mata mereka telah berkunang-kunang.

“Ouw-yan-cu! Ibumu telah berjanji hendak bertanding dengan kami di puncak Hoa-mo-san pada bulan ketiga, kalau kau memang berani, datanglah pada waktu yang ditentukan!” kata Bong Cu Sianjin sambil melompat berjumpalitan ke belakang!

Hek Li Suthai juga hendak melompat keluar dari kurungan pedang Lo Sin, akan tetapi tiba-tiba pedang Lo Sin telah bergerak sedemikian cepat sehingga kedua lengan tangannya tergores pedang dan mengeluarkan darah dan kedua pedangnya itu terlepas dari pegangan!

“Ha-ha-ha, Hek Li Suthai! Biarlah kali ini aku memberi kesempatan padamu. Lain kali kubikin buntung kedua lenganmu seperti susiokmu itu!”

“Walet Hitam! Biarlah lain kali aku membalas dendam ini di puncak Hoa-mo-san,” kata Hek Li Suthai sambil menahan marahnya dan memungut pedangnya, sedangkan luka goresan pedang di kedua tangannya mengeluarkan banyak darah ketika ia mengikuti Bong Cu Sianjin melarikan diri situ dengan perasaan marah, malu mendongkol dan penasaran!

Pertemuan dengan Lo Sin ini lebih menguatkan niat Bong Cu Sianjin untuk pergi mencari bala bantuan oleh karena ia maklum bahwa dengan adanya Lo Sin ini, pihak Ang Lian Lihiap menjadi lebih kuat!

Lo Sin lalu menghampiri Bwee Hwa yang menjura kepadanya dan berkata. “Terima kasih, taihiap. Kalau tidak ada kau dan adik Lee Ing yang membantu, tentu saat ini Kim-gan-eng hanya tinggal namanya saja.”

Ia lalu memeluk Lee Ing dengan terharu sekali dan ketika ia teringat akan nasib Lee Ing dan keadaan orang tua kedua pemuda pemudi ini, tiba-tiba Bwee Hwa menangis sambil mengeluh. “Lee Ing… sungguh kasihan sekali kau....”

Lee Ing terkejut sekali. “Eh, eh, enci Bwee mengapa kau ini? Mengapa kau menyusahkan keadaanku? Ada apakah?”

Juga Lo Sin menjadi tidak enak hati dan berkata. “Nona, kau datang dari manakah dan hendak ke mana?”

“Lo-taihiap belum lama ini aku telah bertemu dengan Nyo lo-enghiong dan juga bertemu dengan ibumu.”

Terkejutlah Lee Ing dan Lo Sin mendengar ini. “Bagaimana keadaan mereka?” mereka berdua bertanya dengan suara hampir berbareng.

Dengan masih menahan tangisnya, Bwee Hwa lalu menceritakan betapa ia ikut dengan Kong Liang dan Mei Ling ke rumah Nyo Tiang Pek dan bahwa pendekar itu masih marah sekali bahkan mengancam hendak membunuh Lo Sin dan Lee Ing apabila mereka dapat bertemu dengan kedua anak muda ini!

Mendengar ancaman ayahnya ini, Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis sambil mengeluh. “Ayah... ayah… sekejam itukah hatimu kepadaku…..?”

Bwee Hwa memeluk pundak Lee Ing dan ikut menangis, sedangkan Lo Sin lalu berkata menghibur. “Tenangkanlah hatimu, Ing-moi. Akulah yang akan bertanggung jawab terhadap semua ini. Dan bagaimana dengan ibu, nona? Bagaimana sikap ibu setelah mendengar ucapan Nyo-pehpeh itu?”

“Ibumu marah sekali dan kalau sampai kedua pendekar tua itu bertemu muka, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi! Ibumu bahkan menyatakan bahwa oleh karena ayah Lee Ing membencimu dan mengancam hendak membunuh, maka ibumu juga tidak rela kalau… kalau kau berjodoh dengan Lee Ing....”

Mendengar ini, Lee Ing memekik ngeri dan roboh pingsan dalam pelukan Bwee Hwa!

“Lee Ing.... Lee Ing… ah, ampunkan aku, taihiap... aku telah gila! Lee Ing... mengapa mulutku begini lancang....?” Bwee Hwa memeluk tubuh Lee Ing dan menangis dengan bingung.

Lo Sin merasa terharu sekali dan ia lalu menggunakan kepandaiannya untuk menotok pundak Lee Ing dan membuat gadis itu siuman kembali. Ketika sadar dari pingsannya dan melihat Lo Sin berlutut di dekatnya, Lee Ing mengeluarkan keluhan dan menubruk pemuda itu, memeluknya lalu menangis terisak-isak.

“Sin-ko.... aku lebih rela mati ditanganmu daripada daripada mati oleh ayah atau oleh ibumu....”

Lo Sin mendekap kepala kekasihnya pada dadanya dan pemuda inipun tidak dapat menahan pula air matanya yang keluar menitik turun ke atas pipinya.

“Jangan begitu, Ing-moi. Mana kegagahanmu? Mana sifatmu yang gembira dan hatimu yang tabah? Tidak pantas kau bersikap begini, Ing-moi. Apakah tiba-tiba kau menjadi seorang gadis yang lemah dan penakut? Di sini masih ada aku, Ing-moi, dan mati-hidup kita akan selalu bersama!”

Ucapan ini membuat Bwee Hwa merasa terharu sekali, akan tetapi bagaikan api yang disiram air, tiba-tiba lenyap pula keraguan dan kehancuran semangat yang tadi mempengaruhi Lee Ing. Ia melepaskan diri dari pelukan dan berkata dengan gagah.

“Terima kasih, Sin-ko. Hampir saja aku tersesat oleh kelemahan sendiri. Kau benar! Biar mereka semua membenci kita. Biar mereka semua mengutuk memusuhi kita. Kita akan hadapi bersama, mati atau hidup!”

Melihat kasih sayang yang demikian besar antara kedua orang muda itu, diam-diam Bwee Hwa merasa kagum dan amat terharu dan mengingatkan ia kepada Kong Liang yang gagah dan tampan. Tak terasa pula tangannya lalu meraba-raba dan mengusap-usap pedang pemberian Kong Liang yang tergantung di pinggangnya.

Lo Sin yang melihat hal ini dan matanya yang tajam lalu mengenal pedang itu. “Hei! Bukankah yang kau bawa itu pedang panjang paman kecil Kong Liang?” teriaknya dengan heran.

Juga Lee Ing yang sudah kering pula air matanya itu lalu maju memeriksa. “Betul, betul, akupun kenal pedang ini! Lihat di gagangnya terukir huruf Kong dan Liang! Cici yang baik, bagaimana pedangnya bisa terjatuh dalam tanganmu?" tanyanya sambil memandang heran pula.

Dihujani pertanyaan dari kedua muda mudi ini, tiba-tiba wajah Bwee Hwa menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. “Cici… Lian Hwa menukarkan pedangku dengan… pedang ini,” katanya sambil menundukkan kepala.

Lee Ing yang tadi bersedih, menangis, bahkan sampai jatuh pingsan, kini tertawa dan memeluk dan menciumi Bwee Hwa! Gadis ini girang sekali dan sambil menepuk-nepuk pundak Bwee Hwa ia berkata. “Ah, bagus sekali, cici! Kau memang cocok menjadi isteri paman kecil Kong Liang! Kiong-hi, kiong-hi (Selamat, selamat)…!”

Juga Lo Sin lalu menjura dan berkata, “Kiong-hi, kiong-hi!”

Mereka bertiga lalu bercakap-cakap dengan girang dan baik Bwee Hwa maupun Lo Sin terpengaruh oleh sikap Lee Ing yang sungguh-sungguh mengherankan, karena gadis ini telah bisa tertawa dan bersendau gurau dengan gembira sekali! Diam-diam Lo Sin merasa kagum karena ia lagi-lagi melihat persamaan yang luar biasa dalam tabiat kekasihnya ini dengan sifat ibunya, Ang Lian Lihiap!

Dan ia merasa bersyukur sekali karena ia sendiri pun tidak suka melihat sifat seorang gadis yang terlampau mudah berputus asa dan berduka. Kemudian, setelah menyatakan janjinya bahwa iapun akan berusaha membujuk kedua orang tua Lee Ing dan Lo Sin agar mereka suka berdamai, Bwee Hwa lalu melanjutkan perjalanannya mencari suhunya dan meninggalkan kedua anak muda itu.

Setelah Bwee Hwa pergi, Lee Ing dan Lo Sin teringat lagi akan keadaan orang tua masing-masing dan diam-diam mereka merasa khawatir juga. Mereka agaknya mengetahui perasaan masing-masing tanpa mengeluarkan kata-kata dan sampai malam tiba, keduanya tidak banyak bicara.

Hawa malam itu dingin sekali hingga beberapa kali Pek-liong-ma meringkik-ringkik kedinginan. Lee Ing dan Lo Sin lalu mengumpulkan ranting kering dan membuat api unggun. Mereka tadi telah keluar dari hutan itu dan kini berada di luar hutan yang indah dan penuh dengan bunga-bunga.

Malam itu terang sekali biarpun bulan muncul seperempat bagian saja. Udara bersih dan hawa sejuk sekali. Mereka sengaja keluar dari hutan oleh karena di dalam hutan itu banyak nyamuk yang mengganggu mereka.

Setelah api unggun menyala, keduanya lalu duduk di dekat api. Keadaan malam yang dingin dan sunyi itu membuat mereka yang sedang merasa berduka menjadi makin terharu. Betapapun juga mendengar bahwa kedua orang tua mereka bermusuhan, bahkan keduanya tidak menyetujui hubungan mereka itu membuat keduanya tidak dapat banyak bicara dan merasa seakan-akan mereka ditinggalkan berdua saja di dunia yang ramai ini.

Memang, mereka telah bertekad untuk melawan segala rintangan dan telah bersumpah di dalam hati masing-masing untuk saling bersetia dan membela, akan tetapi di malam yang dingin dan sunyi ini mereka tiba-tiba teringat akan kebaikan orang tua mereka.

Terutama sekali Lo Sin. Pemuda ini teringat kepada ayah ibunya dan kalau ia memikirkan cerita Bwee Hwa bahwa ibunya yang marah itu tidak rela membiarkan ia menjadi suami Lee Ing, membuat ia berulang kali menghela napas. Dengan tubuh lemas ia duduk memeluk lutut di dekat api unggun itu. Tiba-tiba sentuhan jari tangan Lee Ing yang halus itu pada pundaknya membuat ia sadar dari lamunan.

“Sin-ko, apakah sekarang kau yang kehilangan ketenangan dan keteguhan hatimu? Aku ada di sini, jangan kau bersedih.”

Mendengar ucapan kekasihnya ini, makin perih rasa hati Lo Sin. Gadis ini demikian cantik jelita, demikian gagah, dan dengan sepenuh hati mencintainya. Gadis manakah lagi yang dapat melebihi Lee Ing? Dan ibunya hendak melarangnya berjodoh dengan gadis ini!

Tiba-tiba Lo Sin menjatuhkan dirinya dan rebah telungkup di atas rumput yang hijau dan lunak. Ia membenamkan muka di dalam pelukan kedua lengan dan menahan kepedihan hatinya. Melihat keadaan pemuda itu, Lee Ing merasa terharu dan gadis inipun lalu menubruk tubuh Lo Sin dan merebahkan kepalanya pada punggung pemuda itu.

“Sin-ko, kalau kau merasa berat sekali dan tidak sanggup membantah kehendak orang tuamu, biarkanlah aku merantau sampai di mana saja nasib membawaku. Aku tidak sudi kalau harus menikah dengan bangsat Lui Tik Kong itu dan hatiku akan hancur lebur dan mungkin sekali aku takkan dapat tahan untuk hidup lebih lama lagi apabila kau meninggalkan aku. Akan tetapi, daripada aku menghancurkan kebahagiaanmu, lebih baik aku mengundurkan diri!” Dan gadis ini menangis terisak-isak di atas punggung Lo Sin.

Lo Sin mengangkat mukanya dari pelukan lengannya. Tanpa bergerak atau bangkit ia menjawab. “Jangan kau bicara seperti itu, adikku. Apakah kau masih tidak percaya kepadaku? Apapun yang akan terjadi, aku tetap mencintamu dan akan membelamu, dan untuk itu aku telah bertekad menghadapi siapa juga, bahkan menghadapi Nyo-pehpeh atau ibuku sekalipun.”

Mendengar ucapan ini, Lee Ing merasa girang dan terharu. Sambil merebahkan pipinya di punggung Lo Sin, ia berbisik, “Sin-ko, kau baik sekali, Sin-ko....”

Pada saat itu terdengar ringkik Pek-liong-ma dan disusul oleh ringkik kuda lain. Lee Ing dan Lo Sin terkejut. Ketika Lee Ing menengok dan memandang ke belakang, ia berseru.

“Sin-ko, lihat! Ada kuda lain di dekat Pek-liong-ma!” Sambil berkata demikian gadis ini melompat berdiri.

Lo Sin juga bangun dan berdiri, memandang kuda yang berdiri di depan Pek-liong-ma itu dengan heran sekali. Kuda siapakah malam-malam datang di tempat ini? Ketika mereka berdua berlari mendekati, kuda itu sedang mencakar-cakar tanah dengan kaki depannya hingga seakan-akan mengangguk-angguk dan memberi hormat kepada Pek-liong-ma, tiada ubahnya seseorang memberi salam kepada sahabatnya. Pek-liong-ma meringkik perlahan dan keduanya mengembang kempiskan hidung seakan-akan mencium-cium.

Melihat kuda berbulu hitam yang cukup baik itu Lee Ing merasa suka sekali. Kuda itu tiada penunggangnya dan ia masih dipasangi sela dan kendali. Ketika Lee Ing memegang kendalinya ternyata kuda itu jinak sekali, tanda bahwa ia adalah kuda peliharaan yang baik.

Lee Ing dan Lo Sin memandang ke sekeliling, akan tetapi tidak kelihatan ada orang di sekitar tempat itu. Kalau ada orang tentu ia akan dapat melihat api unggun yang mereka nyalakan di tempat ini. Maka keduanya merasa heran sekali mengapa kuda itu tiada penunggangnya dan bisa sampai ke situ sendiri. Kuda itu datangnya dari arah utara, di mana terdapat sebuah hutan cemara yang liar.

Karena tidak melihat ada seorangpun di sekitar tempat itu, Lee Ing lalu menambatkan kendali kuda itu di dekat Pek-liong-ma dan ia bersama Lo Sin lalu kembali ke dekat api unggun. Lo Sin minta supaya Lee Ing tidur dan beristirahat dan ia yang akan menjaganya, akan tetapi gadis ini tidak dapat tidur.

Bagaimana ia dapat tidur dengan pikiran penuh persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya dan juga memikirkan keadaan ayah ibunya dan orang tua Lo Sin? Gadis ini bahkan lalu menambahkan kayu bakar pada api unggun itu dan mengajak Lo Sin bercakap-cakap tentang pertempuran yang hendak diadakan di puncak Hoa-ma-san pada bulan tiga.

“Tentu saja kita harus pergi ke sana,” kata pemuda itu dengan suara tegas. “Mereka itu adalah musuh-musuh orang tua kita, maka tidak dapat tidak kita harus membela orang tua kita, betapapun mereka ini marah kepada kita.”

Lee Ing merasa setuju dan mengingat bahwa mereka akan menghadapi lawan-lawan yang amat tangguh, Lee Ing lalu mencabut pedangnya dan berlatih pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Lo Sin. Pemuda ini memberi petunjuk-petunjuk dan mereka berlatih dengan rajin.

Lo Sin girang mendapat kenyataan bahwa gadis itu mendapat kemajuan pesat dan ternyata bahwa Lee Ing mempunyai otak yang tajam dan cerdik hingga mudah mengingat bagian-bagian yang sulit dan penting dari ilmu pedang yang luar biasa ini.

Tanpa terasa lagi mereka berlatih silat sampai pagi! Dan setelah mendengar ayam hutan berkeruyuk dan burung-burung pagi berkicau, Lee Ing menghentikan latihannya dengan lelah dan mengantuk sekali sehingga ketika ia merebahkan diri di atas rumput yang kering oleh karena api unggun itu mengusir embun yang mendekat, ia terus saja tidur pulas!

Melihat keadaan Lee Ing ini, Lo Sin tersenyum geli. Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh rasa kasih sayang dan kasihan. Kemudian ia sendiri duduk bersila di dekat api dan bersamadhi untuk melepaskan lelahnya. Ketika matahari telah naik tinggi, Lee Ing terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat dengan enaknya dan melihat bahwa tubuhnya diselimuti mantel oleh Lo Sin.

Ketika ia menengok, ia mendapatkan pemuda itu masih duduk bersila tanpa bergerak dan dengan mata terpejam, maka maklumlah ia bahwa pemuda kekasihnya itu sedang beristirahat, akan tetapi dalam keadaan duduk itu biarpun tubuh dan pikiran Lo Sin “tidur”, ia masih sadar dan suara sedikit saja sudah cukup untuk menyadarkan Lo Sin dari samadhinya. Maka ia lalu bangun duduk dengan perlahan dan menggigil, karena biarpun matahari sudah naik tinggi, namun kabut embun masih tebal dan api unggun telah padam sejak lama tadi.

Ketika ia menengok ke arah kuda Pek-liong-ma, ternyata bahwa kuda hitam itu masih berdiri di situ dan kedua ekor kuda itu membanting-banting kaki depannya seakan-akan tidak sabar sekali melihat betapa kedua majikan mereka masih belum berangkat membawa mereka berlari! Mereka telah merasa bosan berdiri dan menanti sampai semalam suntuk.

Biarpun Lee Ing bergerak dengan hati-hati dan perlahan, namun tetap saja Lo Sin dapat mendengarnya dan pemuda ini membuka mata samhil tersenyum dan bertanya. “Kau sudah bangun? Enakkah tidurmu?”

“Ah, aku terlalu sekali, Sin-ko, tidur sepanjang malam dan membiarkan kau berjaga terus sampai siang!”

“Kau baru tidur setelah fajar menyingsing, mana bisa disebut sepanjang malam? Dan kebetulan sekali tadi datang sendiri makanan pagi untuk kita.”

Lee Ing terheran. “Makanan pagi datang sendiri?”

Lo Sin tersenyum dan dengan tangan kirinya ia mengambil seekor kelinci dan memegang pada telinganya tinggi-tinggi ke atas. “Lihat ini, tadi pagi datang dan berkata. Tangkaplah aku untuk sarapan pagi!”

Lee Ing tertawa geli dan tiba-tiba melihat kelinci yang gemuk itu perutnya mulai berkeruyuk lapar. Cepat-cepat ia lalu menguliti kelinci itu, sedangkan Lo Sin lalu membuat api. Sambil bersendau gurau keduanya lalu memanggang daging kelinci yang bergajih itu dan segera tercium bau sedap daging panggang. Keduanya lalu makan dengan sedap dan enaknya.

Melihat keadaan mereka, orang yang melihat mereka malam tadi berduka, tentu akan merasa terheran-heran. Mereka ini memang orang-orang muda berbahagia dan, tak ada kedukaan yang dapat membuat mereka murung sepanjang waktu. Kuda hitam itu ternyata seekor kuda yang baik dan kuat hingga keduanya merasa girang sekali.

Oleh karena sudah biasa dan kenal dengan Pek-liong-ma, maka Lee Ing lalu minta agar Lo Sin yang menunggang kuda hitam itu sedangkan dia sendiri lebih suka menunggangi Pek-liong-ma yang jinak dan menurut serta mengerti segala perintah yang dikeluarkannya.

“Sin-ko, mari kita melanjutkan perjalanan melalui hutan sebelah timur itu, barangkali saja kita akan dapat bertemu dengan pemilik kuda hitam ini. Betapapun juga, tak enak sekali kalau kelak kita bertemu dengan pemiliknya dan dituduh menjadi pencuri kuda!”

Lo Sin setuju dan sehabis makan pagi, mereka lalu naik kuda dan memasuki hutan cemara itu. Akan tetapi, baru saja mereka tiba di luar hutan tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi lima orang penunggang kuda yang melarikan kuda mereka cepat sekali. Lo Sin dan Lee Ing menahan kuda masing-masing dan menanti kedatangan mereka.

Ketika kelima orang penunggang kuda itu sudah datang dekat, maka ternyata oleh Lee Ing dan Lo Sin bahwa mereka ini adalah serombongan pemburu yang bertubuh tinggi besar dan kuat. Mereka ini membawa senjata-senjata lengkap. Busur dan anak panah tergantung di punggung, pedang di pinggang kiri, di pinggang kanan tergantung tali-tali yang kuat sedangkan tangan mereka memegang tombak panjang yang tajam dan runcing.

Ketika mereka melihat kuda yang ditunggangi oleh Lo Sin, segera mereka membentak nyaring. “Itu kuda Bu-ko!”

Seorang diantara mereka yang tertua lalu menuding dengan tombaknya kepada Lo Sin dan berseru. “Hai! Maling kuda, berani sekali kau mencuri kuda kawan kami! Hayo lekas turun dan serahkan kembali kuda itu kepada kami, baru kami mau memberi ampun.”

Kalau Lo Sin masih bersikap tenang menghadapi tuduhan ini, Lee Ing sebaliknya menjadi marah sekali dan ia lalu majukan Pek-liong-ma kehadapan pemburu itu dan balas membentak. “Orang hutan yang kasar! Jagalah sedikit lidahmu dan jangan sembarangan kau memaki orang! Kau kira kami takut kepada orang-orang hutan seperti kalian ini?”

Pemburu-pemburu itu memang orang-orang kasar yang tidak biasa memakai banyak peradatan. Kini melihat sikap Lee Ing dan mendengar makian gadis manis ini, mereka menjadi marah. Pemimpin pemburu itu lalu maju dan membentak,

“Gadis kurang ajar! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Biar aku bikin kau terpelanting dari kudamu, baru kau tahu rasa!” Sambil berkata demikian, ia majukan kudanya dan cepat memutar balik tombaknya dan menggunakan gagang tombak untuk mendorong Lee Ing jatuh dari kudanya!

Tentu saja kemarahan Lee Ing meluap. Ia membiarkan gagang tombak itu meluncur sampai dekat, dan tiba-tiba ia miringkan tubuh di atas kudanya dan cepat menangkap gagang tombak itu lalu menyendalnya keras-keras!

Pemburu itu adalah seorang yang hanya mengandalkan tenaga besar saja. Kini ia mempergunakan tenaga dan karena dorongannya mengenai tempat kosong dan kemudian ditarik dengan tiba-tiba dan keras oleh Lee Ing, tidak ampun lagi ia terbawa oleh tarikan itu dan tubuhnya melayang dari atas kuda!

Lee Ing mentertawakan. “Pemburu kasar! Kau lihat siapakah yang terpelanting dari kuda?”

Empat orang pemburu lainnya menjadi marah sekali dan dengan tombak terangkat mereka menghampiri Lee Ing, seakan-akan mereka sedang menyerang seekor harimau betina. Akan tetapi, dengan tenang Lee Ing mencabut pedangnya dan menanti serangan mereka, sementara Lo Sin hanya memandang saja dengan siap sedia membantu Lee Ing apabila gadis berada dalam bahaya. Melihat gerakan empat orang itu, Lo Sin tidak mengkhawatirkan keadaan Lee Ing.

Tiba-tiba sambil berseru keras, empat orang itu majukan kuda dan berbareng menusuk dengan tombaknya, hendak menyate tubuh Lee Ing dengan empat batang tombak mereka! Lee Ing berseru keras dan menggerakkan pedangnya yang diputar sedemikian rupa hingga dengan mengeluarkan suara keras, tahu-tahu keempat tombak itu telah terpotong kepalanya.

Dan selagi keempat orang pemburu itu merasa terkejut sekali, tahu-tahu mereka merasa tubuh mereka diangkat dari kuda dan dibanting ke atas tanah. Ternyata bahwa yang melakukan hal ini adalah Lo Sin dan sambil menarik tubuh pemburu-pemburu itu dan membantingnya ke atas tanah ia berseru.

“Orang-orang kasar berhati kejam!”

Tentu saja hal ini membuat semua pemburu itu merasa terkejut dan ketakutan. Mereka maklum bahwa mereka sedang menghadapi dua orang pandai, maka segera mereka berlutut minta ampun, bahkan kepala pemburu yang menyangka bahwa Lo Sin dan Lee Ing adalah perampok-perampok besar, lalu berkata. “Tai-ong, mohon jiwi ampunkan jiwa kami yang tidak berharga!”

Melihat sikap mereka yang kini ketakutan itu, Lo Sin tersenyum dengan hati merasa geli. Ia lalu berkata, “Kalian bangkitlah! Kami bukan perampok-perampok seperti yang kalian kira, juga bukan maling kuda. Lain kali, hendaknya kalian bisa berlaku lebih sabar dan sebelum kalian bertindak dengan kekerasan, selidikilah dulu duduknya persoalan! Kami sama sekali tidak mencuri kuda hitam ini. Malam tadi ketika kami berada di padang rumput, tiba-tiba kuda ini datang dari arah hutan cemara ini. Oleh karena inilah maka kami berdua sengaja hendak memasuki hutan untuk mencari pemilik kuda hitam. Tidak tahunya kalian datang-datang memaki dan menyerang.”

Mendengar ini, tidak saja mereka merasa menyesal dan minta maaf, akan tetapi mereka juga terkejut sekali. “Taihiap tadi bilang bahwa kuda ini datang dari hutan cemara?” sambil berkata demikian, pemimpin pemburu itu memandang ke arah hutan cemara dengan mata terbelalak dan muka pucat.

“Kalau tidak salah, karena kuda ini memang lari dari jurusan ini.”

“Celaka, jangan-jangan Bu-ko menjadi korban Hek-koai-coa!”

Mendengar ucapan ini, kawan-kawannya juga menjadi pucat dan sikap mereka ketakutan. “Siapakah Hek-koai-coa ini?” tanya Lee Ing. “Agaknya kalian takut sekali kepadanya. Apakah ia seorang penjahat besar?”

“Bukan, lihiap, Hek-koai-coa bukan nama julukan orang, akan tetapi benar-benar seekor siluman ular hitam yang dahsyat!”

Terkejutlah Lee Ing dan Lo Sin mendengar keterangan ini. “Di mana adanya ular itu?” tanya Lo Sin.

“Di dalam hutan inilah!” jawab kepala pemburu.

“Hayo kalian antar kami ke tempat ular jahat itu!”

Karena maklum bahwa Lo Sin dan Lee Ing memiliki kepandaian tinggi, maka dengan girang para pemburu itu lalu mengantar kedua orang muda itu memasuki hutan cemara. Di sepanjang jalan kepala pemburu itu menuturkan tentang ular yang ditakutinya itu.

Menurut penuturannya, ular itu adalah seekor ular bersisik hitam yang besar dan yang telah banyak makan orang, hingga tidak saja merupakan gangguan bagi para pemburu bahkan ular itu apabila telah lama tidak makan orang, berani menyerang kampung-kampung yang berdekatan dengan hutan!

Telah berulang kali para pemburu dan orang-orang kampung berusaha mengusir atau membunuhnya, akan tetapi, usaha ini bukannya berhasil, malahan setiap kali mereka menyerbu, selalu jatuh korban di pihak mereka!

“Ular itu benar-benar jahat dan lihai,” katanya kepada Lo Sin dan Lee Ing, “sisiknya demikian keras hingga ia tidak dapat dilukai dengan senjata tajam!”

Masih banyak lagi kata-kata yang menyeramkan diucapkan oleh pemimpin pemburu itu. Untung saja bahwa Lee Ing dan Lo Sin memang memiliki hati yang luar biasa tabahnya, hingga kalau tidak, tentu sebelum bertemu dengan ular itu, mereka telah merasa takut dan ngeri!

Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara. “Kaaak.... kaaak.... kaaak…!” Suara ini nyaring sekali hingga bergema di seluruh hutan.

“Nah, itu dia!” bisik kepala pemburu dengan wajah pucat dan ketika Lee Ing memandang kepada mereka yang telah menahan kuda, ternyata bahwa ke lima orang pemburu yang tinggi besar itu telah menggigil seluruh tubuhnya! Lo Sin dan Lee Ing lalu majukan kuda masing-masing dan menghampiri arah suara yang keras dan yang bunyinya seperti suara burung gagak itu.

Ketika mereka tiba di tikungan sebelah depan, maka terlihatlah oleh mereka Hek-koai-coa yang diceritakan oleh pemburu-pemburu tadi. Ular itu memang besar sekali dan panjangnya tidak kurang dari empat tombak. Kulitnya bersisik hitam dan mengkilat karena cahaya mata hari.

Pada saat itu, ular hitam yang besar itu sedang berjemur di atas cabang pohon cemara yang tinggi. Tubuhnya membelit cabang itu dan kepalanya tergantung ke bawah, bergerak-gerak ke kanan kiri sambil mengeluarkan bunyi berkakak itu.

Setelah melihat ular itu, Lo Sin dan Lee Ing tahu bahwa ular itu adalah ular biasa, hanya memang besar sekali dan nampaknya liar dan ganas. Ketika binatang itu melihat dua orang muda menghampiri tempatnya, kepalanya berhenti bergerak dan ia memandang kepada mereka tanpa bergerak dan dari mulutnya keluar lagi teriakan-teriakan dahsyat itu.

Kuda hitam yang ditunggangi Lo Sin meronta-ronta dan hendak kabur, akan tetapi Lo Sin cepat melompat turun dan menambatkan kuda itu erat-erat pada sebatang pohon cemara. Pek-liong-ma meringkik-ringkik marah, akan tetapi kuda yang telah dilatih menghadapi segala macam bahaya ini tidak nampak takut bahkan marah sekali seakan-akan hendak melawan suara jahat yang datang dari atas pohon itu.

Lee Ing merasa agak ngeri melihat ular yang besar dan panjang itu, akan tetapi hatinya juga gembira menghadapi pertempuran ini. Gadis ini dengan sikap garang lalu melompat turun dari atas kudanya pula dan sambil berdiri di dekat Lo Sin, ia mencabut pedangnya dan berteriak ke atas.

“He, siluman ular hitam! Lekaslah kau turun untuk menerima kematian!”

Ular itu berada di tempat yang tinggi sekali dan melihat sikap kedua orang yang agaknya tidak takut sama sekali kepadanya itu, ia menjadi ragu-ragu dan tetap diam tanpa bergerak sambil memandang dengan sepasang matanya yang merah. Hanya lidahnya yang runcing dan merah itu saja yang bergerak keluar masuk dari mulutnya.

Pek-liong-ma berlari ke dekat kuda hitam dan kuda ini tetap meringkik-ringkik sambil mencakar-cakar tanah dengan kedua kaki depannya. Lo Sin tetap tenang saja dan ia tersenyum melihat lagak Lee Ing, karena ia maklum bahwa betapapun juga, gadis ini merasa ngeri dan jijik.

Ketika melihat betapa ular itu diam saja tidak bergerak, Lee Ing menjadi marah. Ia memungut sebuah batu kerikil dan dilemparkannya batu itu ke arah kepala ular yang menggantung ke bawah. Lemparannya tepat sekali, akan tetapi tiba-tiba kepala ular itu mengelak ke samping hingga batu yang hendak membentur kepalanya itu mengenai tempat kosong. Kemudian ia mendesis dan dari mulutnya keluar uap hitam.

“Awas, Lee Ing, ular itu beracun dan lihai juga! Ia mulai marah!” kata Lo Sin.

“Aku tidak takut padanya!” jawab Lee Ing, biarpun ia merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Ia mengambil sebuah batu kecil lagi dan melontarkan sepenuh tenaga ke arah kepala ular itu.

Kali ini ular itu tidak mengelak, bahkan ia lalu membuka mulutnya yang lebar dan cepat sekali ia menggigit batu itu yang terus ditelannya. Melihat hal ini, bukan main terkejutnya Lee Ing dan baru ia percaya bahwa ular itu memang lihai.

Sementara itu, binatang yang merasa betapa dirinya diganggu itu, menjadi marah juga dan mulai turun dari cabang pohon itu. Turunnya aneh sekali bukannya merayap melalui batang pohon seperti ular lain, akan tetapi ia menggantung diri makin ke bawah hingga kepalanya mencapai cabang pohon yang lebih rendah.

Kemudian ia menggigit cabang itu dan melepaskan tubuhnya yang masih melingkar di atas dan demikianlah, cabang demi cabang ia turuni dengan cepat sekali hingga akhirnya ia tiba diatas tanah dengan mengeluarkan suara berdebuk keras dan tanah mengebulkan debu, menandakan bahwa tubuhnya itu berat sekali.

Setelah ular itu tiba di atas tanah di depan mereka, barulah tampak nyata bahwa ia memang besar dan panjang sekali. Melihat ini, Lee Ing lalu melompat ke belakang tubuh Lo Sin. Lo Sin yang maklum bahwa ular ini berbahaya sekali, lalu mencabut pedangnya dan berdiri dengan tenang akan tetapi waspada.

Tiba-tiba ular itu mendesis lagi dan uap hitam menyambar ke arah Lo Sin. Pemuda ini cepat melompat jauh ke samping sambil membetot tangan Lee Ing...

Selanjutnya,