X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 09

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Ke 6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 09 Karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 09

KUI TEK-LAM termenung mendengar kata-kata Oh Tong-peng itu. Teringatlah ia akan mimpinya, ketika ia dikerubut mahluk-mahluk seram, lalu ditolong Liu Yok dalam pakaian perangnya yang bercahaya. Kui Tek-lam tidak pernah menganggap serius mimpi itu, meskipun malam pada waktu ia bermimpi itu ia justeru mengalami kejadian luar biasa.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Yaitu bisa tidur pulas sampai pagi setelah beberapa malam sebelumnya tidurnya dirampas mimpi buruk yang sama terus-menerus. Kui Tek-lam menganggap bahwa mimpi itu terjadi sekedar karena ia terlalu memikirkan “seandainya di sini ada Liu Yok” di dalam jiwanya yang terdalam.

“Tetapi mimpiku tentang Lo Lam-hong tenggelam di telaga hitam, dan Pang Hui-beng yang berjalan ke arah telaga itu.” pikirnya.

Kui Tek-lam mengangkat wajahnya menatap Oh Tong-peng, “Menurut Kakak Oh, tindakanku membatalkan mengajak Liu Yok itu suatu kesalahan?”

“Aku tidak sedang mendakwamu, Saudara Kui. Aku sendiri, sebelum mengalami kejadian pahit yang menimpa anak buahku, pasti akan sependapat denganmu, Saudara Kui. Seandainya aku yang kebagian untuk mampir ke Lok-yang untuk menjemput Liu Yok, dan melihat pribadi Liu Yok yang kata Saudara Kui dia itu tidak bisa silat sejurus pun, tidak bisa berbohong sedikit pun dan penuh welas asih, maka aku pun akan mengambil sikap seperti Saudara Kui. Meninggalkan Liu Yok. Tetapi kalau Jenderal Wan sendiri, jenderal yang kenyang pengalaman menghadapi kaum Teratai Putih dengan segala ilmu gaibnya, menganjurkan Liu Yok ikut bersama kita, tentu anjuran itu ada alasannya. Tentu Liu Yok ini ada apa-apanya.”

Thiam Gai mengangguk-angguk, katanya menyambung, “Aku masih ingat kata-kata Jenderal Wan ketika berpesan kepada kita sebelum kita berangkat. Katanya, Liu Yok ini punya pembawaan istimewa, ilmu gaib Pek-lian-kau yang bagaimanapun hebatnya, runtuh dan buyar berantakan begitu saja di depannya. Jenderal Wan juga pernah bercerita secara pribadi denganku, katanya Liu Yok ini orang aneh. Orang yang hampir-hampir meniadakan batas antara kejadian dalam mimpi dengan kejadian di alam nyata.”

“Jadi?”

Oh Tong-peng berkata kepada Kui Tek-lam, “Terpaksa kau harus kembali ke Lok-yang untuk menjemput Liu Yok kemari, Saudara Kui?”

“Aku siap menjalankan perintah, tetapi apa hubungannya dengan kesembuhan teman-teman kita?”

“Bukankah Liu Yok itu membikin berantakan ilmu-ilmu gaib Pek-lian-hwe? Dan bukankah penderitaan ketiga teman kita ini adalah gara-gara ilmu gaib Pek-lian-hwe?”

“O...” Kui Tek-lam menampar perlahan jidatnya sendiri. “Baiklah, besok aku berangkat.”

“Naik kapal dulu mudik ke hulu, sampai ke Han- lim. Dari Han-lim menempuh perjalanan darat ke Lok-yang.”

“Baik.”

“Jadi rencana pertama Kakak Oh, yaitu menyembuhkan teman-teman kita, adalah dengan mendatangkan Liu Yok kemari?” tanya Thiam Gai.

“Ya.”

“Lalu rencana ke dua, perwujudannya bagaimana?”

“Aku sendiri akan menghubungi perwira-perwira kerajaan di koia ini.”

“Hati-hatilah, Kakak Oh. Tidak mustahil di antara mereka banyak yang sudah menjadi kaki tangan Pek-lian-hwe.”

“Tentu saja aku akan berhati-hati, aku akan melakukan penjajagan diam-diam lebih dulu sebelum mulai menghubungi orang-orang itu. Aku tidak mau menyodorkan leher untuk mereka bekuk.”

“Lalu tugasku?” tanya Thiam Gai.

“Mudah-mudahan kau tidak menganggap tugasmu ini yang paling remeh, Saudara Thiam. Tugasmu menjaga Saudara Cu.”

Ternyata Thiam Gai mengangguk ikhlas. Setelah pembagian tugas itu selesai, percakapan mereka beralih ke soal-soal yang lebih ringan. Tanpa ujung pangkal, tiba-tiba saja Kui Tek-lam menyodorkan sebuah pertanyaan kepada Oh Tong-peng,

“Kakak Oh, apakah kau mempercayai makna mimpi?”

Oh Tong-peng, perwira pasukan pribadi Kaisar Kian-liong, pasukan terbaik di seluruh wilayah kerajaan, yang sudah pernah menghadapi seribu satu macam kasus, sekarang agak kebingungan meng- hadapi pertanyaan “ringan” Kui Tek-lam itu. Soal mimpi. Soal yang oleh banyak orang dianggap sekedar “kembangnya tidur”.

Beberapa saat Oh Tong-peng mengerutkan jidatnya, lalu menjawab ragu-ragu, “Entahlah. Aku bahkan tidak mengenal diriku sendiri, apakah aku mempercayai tanda-tanda melalui mimpi atau tidak.”

“Kenapa, Kak?”

“Dulu ketika aku berusia remaja, masih belasan tahun. Pernah ada suatu mimpi yang kuingat sampai sekarang. Aku bermimpi berjalan lewat di depan rumah paman ke empatku, di mana Kakekku tinggal. Aku lihat rumah itu banyak tamu keluar-masuk, banyak karangan bunga, banyak tirai-tirai putih. Dan beberapa hari kemudian Kakekku meninggal dunia, padahal tidak sakit apa-apa. Saat itu aku mempercayai mimpi itu ada maknanya, tetapi kemudian semakin bertambah usiaku, dan kualami ribuan mimpi, bahkan yang aneh-aneh dan seram-seram. Namun semuanya tak bermakna.”

“Itulah sebabnya Kakak katakan antara percaya dan tidak percaya?”

“Ya. Dan lebih banyak tidak percaya.”

Thiam Gai menimbrung, “Saudara Kui, kenapa tiba-tiba kau tanyakan soal ini?”

“Terus terang saja, pada malam di waktu Nyo In-hwe terbunuh, aku mimpi. Kemudian kemarin malam, sebelum Saudara Pang Hui-beng.... mendapat musibah seperti itu, aku juga bermimpi.”

“Kau anggap mimpi-mimpi itu semacam isyarat, begitu?”

Kui Tek-lam ragu-ragu untuk menjawab secara tegas, dan jawabannya pun akhirnya seperti mengambang, “Aku pun pernah mengalami ribuan mimpi yang tidak ada artinya sama sekali. Tetapi mimpi-mimpiku yang dua ini, bolehlah dianggap sama bobotnya dengan mimpi Kakak Oh ketika masih remaja dulu, menjelang meninggalnya Kakek dari Kakak Oh.”

Oh Tong-peng tertawa, “Pintar kau cari teman agar mimpi-mimpimu itu tidak menjadikanmu dianggap mengkhayal atau tukang mimpi.”

Thiam Gai menegakkan punggungnya dan berkata, “Saudara Kui, coba ceritakan mimpi-mimpi itu.”

Oh Tong-peng yang berusaha mengendorkan suasana, yang sedari tadi tegang terus, mencoba berkelakar, “Waduh, lagaknya seperti ahli nujum yang hebat.”

Thiam Gai tertawa, “Bukannya aku mau berlagak, tetapi... barangkali saja kita dapatkan sesuatu dari cerita mimpi Saudara Kui.”

Kui Tek-lam agak sungkan-sungkan juga pada mulanya, tetapi setelah didesak-desak, lagipula Kui Tek-lam sendiri juga merasa perlu melegakan perasaannya dengan menceritakannya, maka dia pun ceritakan dua mimpi itu. Selesai bercerita, ia berkata, “Nah, seperti itulah....”

“Bagaimana pendapatmu?” tanya Oh Tong-peng kepada Thiam Gai.

“Menurutku, mimpi yang pertama itu, mimpi di mana Saudara Kui dikerubut siluman-siluman topeng lalu ditolong oleh Liu Yok yang bercahaya sekujur tubuhnya, adalah mimpi karena Saudara Kui kelelahan setelah beberapa malam tidak bisa tidur. Kelelahan, bercampur ingatan mendalam akan Liu Yok yang Saudara Kui tinggalkan di Lok-yang.”

“Tetapi malam itu aku berhasil tidur nyenyak sampai pagi, sampai tidak mendengar apa-apa ketika Nyo In-hwe terbunuh.”

Thiam Gai menjawab ringan, “Mudah saja menerangkan ini. Orang mimpi buruk, otomatis akan sulit tidur. Orang mimpi bagus, otomatis tidurnya nyenyak. Bahkan aku pernah melihat Saudara Cu tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sendiri dalam tidur nyenyaknya.”

“Tentang mimpi ke dua?”

“Mimpi Lo Lam-hong tenggelam di dalam bubur hitam dan Pang Hui-beng melangkah mendekati telaga?”

“Ya.”

Kali ini Thiam Gai kelihatan berpikir sebentar. “Mimpi yang ini barangkali diakibatkan kecemasan Saudara Kui akan nasib Saudara Lo dan Pang. Saking cemasnya lalu bermipi, begitulah. Aku juga sering.”

“Misalnya?”

“Waktu aku punya hutang kepada Komandan Lim di Pak-khia, padahal sehari sebelum saatnya membayar aku sedang tidak punya uang sama sekali. Malamnya aku bermimpi Komandan Lim berubah menjadi raksasa berkepala tiga dan bertangan enam, mendatangi rumahku.”

Kui Tek-lam menarik napas, agak jengkel, namun ia tahu Thiam Gai bukankah pakar dalam soal- soal seperti itu. Kalau didesak untuk menjawab, malahan akan berlagak pakar dan jawabannya bakal ngawur.

Sementara Oh Tong-peng tertawa mendengar cerita Thiam Gai itu, tanyanya. “Lalu bagaimana?”

“Esoknya kujelaskan baik-baik kepada Komandan Lim bahwa aku belum bisa melunasi hutangku, eh, ternyata Komandan Lim bilang tidak apa-apa sambil dengan ramah menepuk-nepuk pundakku.”

Oh Tong-peng menyambung sambil tertawa, “...lalu malamnya kau mimpi Komandan Lim tampil bagaikan dewi welas asih yang menunggang bunga teratai dan memberi berkat kepadamu?”

Kali ini Kui Tek-lam mau tidak mau ikut tertawa, sedang Thiam Gai cuma nyengir. Oh Tong-peng membaringkan tubuhnya di pojok ruangan, sambil berkata, “Lebih baik kita tidur sekarang. Yang mau mimpi mimpilah, tapi tolong mimpinya yang bagus-bagus saja, apalagi kalau berkenaan denganku.”

Lalu ia pun menguap, memejamkan mata, dan beberapa saat kemudian terdengarlah dengkurnya. Thiam Gai pun berkata kepada Kui Tek-lam. “Saudara Kui, besok kau harus menempuh perjalanan jauh ke Lok-yang untuk menjemput Liu Yok. Karena itu, tidurlah dan segarkan tubuh serta pikiranmu. Biar aku yang berjaga sambil mengawasi Saudara Cu.”

Tanpa sungkan-sungkan Kui Tek-lam segera membaringkan diri, namun untuk segera tidur ia memang mengalami kesulitan. Sulit tidur membayangkan tiga sahabat karibnya yang mengalami nasib lebih mengenaskan dari kematian.

Lo Lam-hong yang berubah jadi boneka hidup di tangan musuh, Pang Hui-beng yang berjalan keliling kota sambil menari dan menyanyi tanpa ingat dirinya, lalu Cu Tong-liang yang tergeletak lumpuh dan bisu, sepanjang hari matanya cuma menatap hampa tanpa bergerak-gerak.

Namun kantuk itu akhirnya datang juga, dan ia mulai tertidur. Untung mimpi dikerubut siluman- siluman berwajah topeng itu tidak datang. Sebaliknya, ia malah bermimpi berlayar di sungai dan melihat pemandangan indah sepanjang sungai, lalu bertemu dengan Liu Yok, lalu mimpi bersama-sama Liu Yok berjalan-jalan di atas air.

Tidurnya berakhir ketika sorot matahari menerobos jendela dan jatuh tepat di matanya. Ia pun terbangun, dan melihat Oh Tong-peng daan Thiam Gai sudah bangun lebih dulu.

“Kau pasti bermimpi lagi, kulihat wajahmu tersenyum-senyum dalam tidur....” sapa Thiam Gai.

“Benar, aku bermimpi.” jawab Kui Tek-lam sekalian mengolok-olok Thiam Gai. “Aku mimpi semua orang yang meminjamkan uang kepadaku, tiba-tiba membebaskan aku dari utang-utangku.”

“Enak betul.”

“Sayangnya cuma mimpi.”

“Tetapi dalam kenyataan pun aku tidak pernah getol berhutang seperti kau...” kata Kui Tek-lam kepada Thiam Gai sambil tertawa.

“Sudahlah....” Oh Tong-peng menengahi kedua bawahannya itu. “Saudara Kui, sebaiknya kau segera bersiap-siap untuk berangkat. Mudah-mudahan hari ini ada kapal yang menuju Han-lim.”

Kui Tek-lam pun segera mencari tempat mandi umum di pinggiran kota. Habis mandi, ia cari warung untuk makan, kemudian melangkah menuju ke dermaga masih dalam pakaian pinjamannya yang kedodoran. Tak ketinggalan topi rumputnya untuk menyamarkan wajahnya. Dermaga di tepi Sungai Se-ho itu sudah sibuk sejak pagi, Kui Tek-lam tanya ke sana kemari tentang kapal yang berlayar mudik, kalau bisa yang langsung sampai ke Han-lim.

Ternyata kapal itu tidak ada. Yang ada adalah kapal yang tidak sampai ke Han-lim, dan untuk ke Han-lim harus berganti kapal lain, kalau ada. Kapal yang bakal ditumpanginya itu pun ternyata berangkatnya nanti tengah hari, sebab akan mengangkut berkarung-karung daun teh yang saat itu belum tiba di dermaga. Terpaksa Kui Tek-lam harus menunggu.

Sementara menunggu, Kui Tek-lam duduk- duduk tanpa pekerjaan di sebuah tanggul dermaga, duduk bergoyang kaki dengan air sungai di bawah kakinya. Hidungnya diterpa bau amis ikan, namun tidak asin, sebab ikan di sungai pedalaman berbeda dengan yang di lautan. Hiruk-pikuk orang di dermaga tidak digubrisnya.

Sambil duduk, Kui Tek-lam melihat tukang-tukang perahu yang hilir-mudik antara tepian dengan kapal-kapal yang tak bisa merapat, mengangkut orang dan barang. Melihat tukang-tukang perahu itu, hati Kui Tek-lam masygul, teringat akan Lo Lam-hong yang dulu menjemputnya di dermaga ini juga dengan menyamar sebagai tukang perahu. Tak terasa tinjunya mengepal menyalurkan kegeramannya,

“Entah dengan cara apa bangsat-bangsat Pek-lian-hwe itu membuat Saudara Lo jadi semacam boneka hidup yang bisa mereka peralat semaunya seperti itu.”

Tetapi selain kemarahannya, sebagai seorang yang terbiasa memecahkan masalah dengan pikiran, Kui Tek-lam juga mulai memikirkan bagaimana Lo Lam-hong sampai bernasib demikian, la ingat-ingat dan urut-urutkan peristiwa-peristiwanya sejak semula. Mula-mula ia dan Lo Lam-hong menyelusup masuk Pek-lian-hwe dan menjalani serangkaian ritual penerimaan anggota baru di “Kota Bunga Persik” yang letaknya dirahasiakan.

Upacara penerimaan anggota yang tadinya mereka jalani dengan perasaan tak percaya, ternyata menghasilkan akibat yang semula tak terpikir oleh Kui Tek-lam maupun Lo Lam-hong. Mereka berdua tiba-tiba saja jadi “langganan” mimpi seram yang anehnya sama, dan kepribadian asli mereka seperti dirongrong untuk ditukar dengan suatu kepribadian asing yang seolah mendesak hendak menguasai.

Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong berdua dapat bertahan, meskipun mereka jadi kurang tidur, mengalami tekanan batin yang berat seolah-olah menjepit kepala, dan akibatnya kondisi jasmani mereka pun merosot drastis. Sampai Oh Tong-peng menemukan “jalan keluar” dengan minta obat kepada Tabib Sjau yang terkenal di Lam-koan, seorang tabib yang menurut keyakinan Oh Tong-peng pastilah bukan anggota Pek-lian-hwe, lalu Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong pun mendapat kiriman obat dari Oh Tong-peng.

Kui Tek-lam tidak meminumnya, dan ia pun waras sampai hari itu. Lo Lam-hong meminumnya, karena sudah tidak tahan beberapa malam sulit tidur, dan akibatnya, Lo Lam-hong pun jadi boneka hidup di tangan Pek-lian-hwe.

“Aku merasa pasti, bahwa penyebab Saudara Lo jadi demikian pastilah obat itu....” kata Kui Tek-lam gusar dalam hati. “Entah apa yang masih menahan Kakak Oh untuk tidak membekuk Tabib Siau dan memaksanya menyerahkan obat pemunahnya.”

Namun Kui Tek-lam pun maklum, perhitungan Kakak Oh-nya itu berbelit-belit, tidak main tabrak saja. Mungkin disamping ingin menyembuhkan anak buahnya yang kena teluh, Oh Tong-peng juga harus memikirkan jalan untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan ke pundaknya, yaitu menemukan tempat penyimpan lima ribu pucuk senjata api kepunyaan Pek-lian-hwe. Kui Tek-lam sebagai anak buahnya terpaksa hanya ikut dalam rencana atasannya.

Baru saja Kui Tek-lam memikirkan Tabib Siau Hok-to, tiba-tiba sekilas sudut matanya menangkap sosok tubuh Siau Hok-to di antara hillr mudiknya orang-orang di dermaga itu. Kui Tek-lam memperhatikannya lebih cermat, dan la tidak salah lagi. Memang itu Siau Hok-to.

Benjolan sebesar mata uang yang ditengah-tengah jidatnya itu adalah ciri khas yang jarang dimiliki orang, yang membuatnya berjulukan “Tuan Mata Tiga” (Sam-gan Sian-seng). Tetapi hanya segelintir orang yang tahu, bahwa julukan itu lebih disebabkan oleh kemampuan sihirnya yang disebut “sihir mata ketiga” daripada karena benjolan di jidatnya itu.

Kegeraman membara di jantung Kui Tek-lam, melihat tampang orang ini. Seandainya menuruti emosinya, ingin rasanya menerkam Siau Hok-to dan membenamkannya ke sungai saat itu juga. Namun mata Kui Tek-lam yang tajam segera melihat, bahwa Siau Hok-to ternyata tidak sendirian di tempat itu. Ia membawa banyak pengawal ternyata, hanya saja pengawal-pengawalnya itu tidak terang-terangan melainkan menyamar di antara orang-orang di dermaga.

Biarpun mereka menyamar, tapi Kui Tek-lam yang sudah terbiasa dalam “permainan” macam itu dengan mudan dapat mengenalinya. Salah seorang “pengawal” Siau Hok-to bahkan tidak jauh dari Kui Tek-lam, menyamar sebagai seorang yang sedang duduk memancing namun agaknya belum mendapat seekor ikan pun.

“Hem, kedudukan Siau Hok-to dalam Pek-lian-hwe cabang Lam-koan pastilah cukup penting. Kalau tidak, tidak akan dia membawa pengawal sebanyak ini. Hampir sepuluh orang. Entah dia hendak menyambut seseorang, ataukah hendak bepergian?!” Kui Tek-lam bertanya-tanya dalam hatinya.

Dilihatnya Siu Hok-to cukup gelisah hilir-mudik di dermaga. Kadang-kadang membalas tegur sapa orang-orang yang mengenalnya. Siau Hok-to memang dikenal sebagai seorang tabib yang baik hati di Lam-koan.

Tidak lama kemudian, dari arah timur, nampak sebuah kapal berukuran sedang di atas air sungai sedang melaju mendekati dermaga. Kapal itu bercat merah seluruhnya, di geladaknya ada rumah-rumahan yang bertirai warna merah pula. Di kedua lambung kapalnya, sederetan kuli pendayung bersama-sama menggerakkan dayung dalam satu irama, menurut tambur yang ditabuh oleh seseorang di buritan kapal.

Kalau perlahan irama tambur, perlahan pula gerak para pendayung, kalau cepat iramanya, cepat pula gerakan para pendayung. Saat mendekati dermaga, gerakan para pendayung makin lambat. Perahu mewah itu kelihatannya adalah kapal pribadi, dan kedatangannya menarik perhatian orang-orang di dermaga sebab kapal itu belum pernah kelihatan di Lam-koan.

Kapal itu makin merapat, dan karena bukan kapal besar maka agaknya akan bisa merapat ke daratan. Yang menarik adalah sikap Siau Hok-to yang tergopoh-gopoh mendekati kapal itu, menyongsong.

Kui Tek-lam jadi tertarik pula, “Entah orang macam apa yang dinanti oleh tabib bangsat itu. Mungkin tokoh Pek-lian-hwe dari tingkatan yang lebih tinggi.”

Tirai rumah-rumahan di atas kapal itu disingkapkan, seorang melangkah keluar dari dalamnya. Seorang bertubuh amat gemuk namun kelihatan keras ototnya, seperti karung pasir raksasa. Tampang orangnya sendiri beralis tebal bersambung seperti sepasang ulat bulu yang menempel di jidatnya, dan berewoknya kaku seperti sikat kakus sehingga menutupi mulutnya. Matanya besar.

Orang ini mengenakan jubah hitam mulus tanpa warna lain. Dan begitu ia memunculkan dirinya, maka orang-orang di seluruh dermaga itu seolah-olah dicekam oleh semacam perbawa gaib yang baik atau jahatnya pengaruh itu susah ditentukan. Kui Tek-lam yang berada puluhan meter dari orang itu pun merasakan getaran aneh seolah terpancar dari orang itu.

Kui Tek-lam mencoba menarik kesimpulan dalam hatinya, “Tentu ini tokoh Pek-lian-hwe dari tingkat yang lebih tinggi. Mungkin sekali kedatangannya ada hubungannya dengan kematian Nyo In-hwe. Hem, aku bisa merasakan pengaruh jahat yang kuat yang terpancar dari dirinya, mungkin punya ilmu siluman yang lebih dahsyat dari tokoh-tokoh di Lam-koan.”

Siau Hok-to sendiri kelihatan bersikap begitu hormat kepada orang itu. Mereka bercakap-cakap sebentar setelah orang itu menginjak daratan, tentu saja Kui Tek-lam tak bisa mendengar apa yang mereka lakukan, namun mimik wajah mereka kelihatan bersungguh-sungguh.

Kemudian dari atas kapal bercat merah itu juga diturunkan sebuah joli yang dipikul dua orang. Joli yang juga bercat merah dan bertirai merah. Orang itu naik ke dalam joli, kemudian menuju ke arah kota dengan Siau Hok-to berjalan di samping tandu. Orang-orang Pek-lian-hwe yang menyamar dan mengawasi dermaga itu pun satu-persatu menghilang.

Kui Tek-lam menyaksikan semuanya itu namun tak bisa berbuat apa-apa. “Seandainya aku tidak sedang ditugaskan untuk menjemput Liu Yok, aku ingin membuntuti orang itu dan mengetahui siapa dirinya.”

Sementara itu, kapal kecil yang akan ditumpanginya mudik, meskipun takkan sampai di Han-lim melainkan harus menyambung dengan kapal lainnya, nampaknya masih lama berangkatnya. Barang muatan yang akan dibawanya belum kelihatan ujudnya di dermaga. Tempat duduk Kui Tek-lam mulai panas oleh cahaya matahari karena tidak ada pelindungnya, maka Kui Tek-lam pun bangkit meninggalkan tempatnya berganti ke tempat yang lebih teduh.

Dengan tatapan mata yang kosong, Kui Tek-lam mengawasi kapal-kapal berbagai ukuran yang datang maupun yang pergi. Sampai suatu kali tiba-tiba dilihatnya sebuah kapal besar dari arah barat berhenti di depan dermaga, lalu penumpang-penumpang maupun barang-barangnya didaratkan dengan perahu-perahu kecil.

Dan mata Kui Tek-lam pun terbelalak, serta-merta kantuk dan rasa jemunya terusir lenyap, karena ia melihat seseorang melompat dari perahu ke daratan. Seorang yang justru sedang hendak dijemputnya. Liu Yok. Terlihat pemuda itu berpakaian jubah berwarna coklat cerah yang modelnya sederhana dan kainnya pun biasa, ikat pinggangnya kain coklat tua, rambutnya yang dikuncir tidak memakai hiasan apa-apa.

Yang dibawanya pun hanya sebuah bungkusan kain warna biru tua, mungkin isinya tidak lebih dari dua atau tiga pasang pakaian. Ia sendirian, tanpa teman. Sungguh kalau orang melihat tampang dan dandanan Liu Yok yang seperti itu akan sulit mempercayai kalau orang ini adalah calon menantu Gubernur Ho-lam yang kaya raya.

Dengan wajah berseri dan mata berkilat-kilat ramah, Liu Yok melangkah di antara orang ramai di dermaga. Kadang-kadang tubuhnya terhuyung karena didesak atau didorong orang-orang, namun suasana yang sumpeg itu tidak mampu mengubah wajahnya yang teduh jadi ikut-ikutan beringas seperti umumnya orang-orang di pelabuhan. Bahkan, meski dengan susah payah ia menyempatkan diri menolong seorang wanita tua yang jatuh dan hampir terinjak-injak.

Kui Tek-lam sejenak terpesona menatap wajah itu. Lalu melompat, menyusup di antara orang-orang ke arah Liu Yok. Langsung disambarnya tangan Liu Yok, “Saudara Liu....”

Liu Yok pun agaknya masih mengenali Kui Tek-lam yang pernah mampir ke Lok-yang dulu, dan nampak lega melihat Kui Tek-lam selamat, “Saudara Kui, aku lega melihatmu selamat. Beberapa kali aku memimpikan Saudara di dalam bencana, itu yang mendorong aku datang kemari....”

Kui Tek-lam merasa tersentuh hatinya. Omong soal mimpi kalau bersama Thiam Gai boleh jadi hanya akan ngawur saja, tetapi omongan Liu Yok mendapat bobot yang lain di kuping Kui Tek-lam. Dulu ketika Wan Lui memberitahu Kui Tek-lam bahwa Liu Yok adalah seorang yang “hidup di dua dunia” dan “membuat antara dunia kasar dan dunia mimpi seolah tak ada batasnya”, Kui Tek Lam kurang percaya.

Bahkan waktu Kui Tek-lam ketemu sendiri dengan orangnya di Lok-yang, ia makin kecewa melihat Liu Yok, dan dianggapnya Liu Yok tidak layak diikut sertakan dalam tugas rahasia di Lam-koan itu. Namun setelan beberapa pengalaman Kui Tek-lam sendiri, yang sulit dicerna akal, juga pengalaman teman-temannya, Kui Tek-lam mulai berubah pandangannya terhadap Liu Yok. Mulai menganggap barangkali kata-kata Jenderal Wan Lui tentang Liu Yok dulu “ada benarnya”.

Sekarang begitu bertemu, Liu Yok langsung bicara soal dunia mimpi, Kui Tek-lam pun bertanya. “Apa saja yang Saudara Liu mimpikan tentang aku?”

Sahut Liu Yok, “Suatu kali kulihat Saudara Kui dikeroyok mahluk-mahluk siluman yang wajahnya seperti topeng, aku ingin menolong tetapi cuma mampu melihat dari kejauhan sambil melihat tanpa daya. Tiba-tiba kulihat guruku datang mendekatiku, menyuruhku menolongmu, tetapi aku merasa takut dan tidak mampu meskipun ingin. Lalu guruku masuk ke dalamku, aku mendapat kekuatan untuk mengobrak-abrik barisan siluman itu.”

Kui Tek-lam menarik napas. Itulah mimpi Kui Tek-lam pada malam terbunuhnya Nyo In-hwe itu. Malam untuk pertama kalinya Kui Tek-lam dapat tidur nyenyak sampai pagi, setelah bermalam-malam sejak ia ikut upacara di “Kota Bunga Persik” itu ia tak mampu tidur nyenyak. Malam yang nyaman bagi Kui Tek-lam, sebaliknya malam bencana buat Nyo In-hwe.

Namun Kui Tek-lam tertarik akan perkataan “guru” dalam kata-kata Liu Yok tadi. Umumnya langsung orang membayangkan guru silat. Kui Tek-lam jadi heran, Liu Yok ini katanya membenci ilmu silat dan kekerasan, kenapa punya guru pula?

“Guru? Guru silat, maksud Saudara Liu?”

“Bukan. Guruku itu malah mengajari aku, kalau wajahku dipukul dari sebelah kanan, biarkan dipukul lagi dari sebelah kiri.”

“Guru aneh....” pikir Kui Tek-lam dalam hatinya.

“Untung aku tidak punya guru seaneh itu. Kalau punya guru macam itu, tentu sekarang aku sudah tidak punya gigi karena rontok dipukul lawanku tanpa membalas.”

Jawaban Liu Yok tentang gurunya tadi membuat Kui Tek-lam kehilangan selera untuk membicarakan “guru aneh”-nya Liu Yok itu. Meskipun mengakui bahwa Liu Yok adalah “jagoan di dunia mimpi”.

Liu Yok dan Kui Tek-lam kemudian berjalan bersama-sama meninggalkan dermaga itu. Sambil berjalan, sekali waktu Liu Yok menengadah ke langit dan bergumam, “Seperti kota-kota lain, udara kota Lam-koan ini pun kotor.”

Kui Tek-lam ikut-ikutan menengadah dan heran melihat langit berwarna biru bersih dengan matahari di tengah-tengahnya. Langit seperti ini kok dibilang kotor? “Kotor?”

“Ya. Kotor dengan kuasa-kuasa jahat yang berkeliaran bebas, bahkan dimanjakan dengan sesaji oleh orang-orang bodoh karena disangka dapat menolong.”

Kui Tek-lam menggaruk-garuk pahanya tanpa menjawab, sambil melangkah terus. Ia tidak mampu mengikuti jalan pikiran Liu Yok. Kemudian, sambil berjalan dan bercakap-cakap meskipun Kui Tek-lam sering tidak mengerti, suatu masalah muncul di hati Kui Tek-lam.

Liu Yok ini orangnya sangat jujur, tidak mampu berdusta kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang bermaksud jahat sekalipun. Kalau Liu Yok dikumpulkan bersama agen-agen kerajaan, jelas akan membahayakan agen-agen kerajaan itu, bisa-bisa agen-agen itu dengan mudah bisa ditemukan oleh orang-orang Pek-lian-hwe.

Maka Liu Yok ini harus dicarikan tempat yang lain. Ketika Kui Tek-lam memikir-mikir tempat untuk Liu Yok, tiba-tiba teringatlah akan sebuah rumah pedesaan di luar kota Lam-koan namun tidak jauh dari kota, rumah di tengah-tengah hamparan ladang penduduk. Kui Tek-iam memutuskan untuk, mengajak Liu Yok ke situ.

Menjelang sore, tibalah mereka di tempat itu. Kebetulan Si Tuan Rumah yang bernama Giam Lim juga baru pulang dari ladangnya. Begitu melihat Kui Tek-lam memasuki halaman rumahnya, ia langsung menyongsong tergopoh-gopoh sambil berseru, “Tuan Perwira, ke mana saja Tuan pergi semalam? Aku kuatir terjadi apa-apa atas diri Tuan,”

Kui Tek-lam tertawa, “Kuatir akan keselamatanku, atau kuatir bajumu yang kupinjam ini tidak bakal kembali kepadamu?”

“Ah, Tuan, tentu saja aku lebih mencemaskan keselamatan Tuan. Soal pakaian, bukankah jubah biru Tuan Kui yang dititipkan aku itu jauh lebih bernilai dari pakaian kumuhku yang Tuan pinjam?”

“Terima kasih.”

Pandangan Giam Lim beralih kepada Liu Yok, tanyanya, '“Dan Tuan yang ini...?”

Liu Yok memberi hormat lebih dulu sehingga Giam Lim tergopoh-gopoh membalasnya. Liu Yok memperkenalkan diri, “Namaku Liu Yok, jangan panggil aku Tuan. Lebih baik panggil saja A-yok seperti yang lain-lainnya, agar lebih akrab dan lebih enak suasananya, sebab aku akan tinggal di sini beberapa hari.”

“Apakah... Tuan Liu ini juga seorang perwira kerajaan?”

“Bukan, karena itu kumohon Kakak memanggilku A-yok saja. Aku pun dulu seorang peladang dan peternak biasa di lereng bukit Pek-him-nia di Se-shia di Propinsi Kam-siok.”

Keramahan Liu Yok “mencairkan” kecanggungan Giam Lim si orang dusun yang menganggap orang-orang kota selalu lebih hebat. Maka dia pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Baiklah, A-yok, kau begini tulus, aku senang berteman denganmu!”

Giam Lim lalu mempersilakan tamu-tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara menyeberangi halaman, terlihat hamparan luas ladang penduduk yang bisa dipandang melalui pagar bambu yang rendah. Matahari yang sudah rendah di ufuk barat menyapukan sisa-sisa cahaya ke. emasannya di pucuk-pucuk pepohonan sementara di tempat-tempat gelap dekat hutan di kaki pegunungan sudah terlihat kunang-kunang beterbangan. Pemandangan yang terjadi tiap pergantian dari siang ke malam.

“Aku jadi ingat kampung halamanku di Se-shia....” kata Liu Yok sambil melangkah perlahan.

“Apakah tempat tinggalmu juga seperti ini, A-yok?” tanya Giam Lim yang sudah berani bersikap akrab kepada Liu Yok.

“Keadaan alamnya berbeda sedikit. Wilayah selatan ini banyak pegunungan dan banyak sungai-sungainya dengan tebing-tebing terjal di kiri kanan, yang puncak-puncaknya tinggi menembus awan. Di tempat asalku, tempatnya banyak yang rata dan berupa padang rumput tak terkirakan luasnya. Pencaharian penduduknya juga berbeda, kalau di sini banyak yang bersawah-ladang, di tempatku banyak yang memelihara ternak. Sampai ribuan ekor jumlahnya.”

Kemudian Kui Tek-lam dan Liu Yok dipersilakan membersihkan diri di sebuah sumur di tengah ladang. Sementara tuan rumah dan keluarganya sibuk menyiapkan perjamuan kecil-kecilan. Buat orang desa yang polos seperti Giam Lim, didatangi tamu dari kampung sebelah saja sudah merupakan kegembiraan besar, apalagi kali ini tamunya dari tempat yang jauh, dan yang seorang adalah perwira kerajaan pula. Giam Lim punya sepuluh anak dan yang sulung sudah berusia lima belas tahun sehingga bisa membantu menyembelih ayam.

Ketika Kui Tek-lam dan Liu Yok sudah selesai membersihkan diri, Giam Lim mengajak mereka minum teh sebentar di ruangan tengah, sampai isterinya memberitahu bahwa masakan sudah siap. Giam Lim bangkit mempersilakan, “Nah, Tuan Kui dan A-yok....”

Tetapi Kui Tek-lam menukas, “Saudara Giam, anggap aku saudaramu dan jangan lagi panggil 'Tuan' kepadaku. Perlakukan aku dan Saudara Liu dengan adil.”

“Tetapi Tuan adalah seorang perwira.”

“Aku sedang menyamar, dan panggilanmu kepadaku bisa membuka penyamaranku, lagipula membuatku merasa canggung.” sahut Kui Tek-lam. Sambil melanjutkan, tetapi hanya dalam hati “...kalau kuberi tahu kau bahwa di depanmu ada calon menantu guberbur di Ho-lam sekaligus ipar dari Jenderal Wan Lui, jenderal tangan kanannya kaisar, kau bakal semaput mendadak.”

Giam Lim terdesak, dan akhirnya ia pun berkata, “Baiklah, Saudara Kui.”

Kui Tek-lam tertawa, “Nah, kalau sudah begini, barulah aku tidak akan sungkan-sungkan lagi menggasak semua hidangan yang kau sediakan, Saudara Giam.”

Liu Yok ikut tertawa. “Apakah memang itu tujuanmu ingin dianggap akral oleh Kakak Giam, Saudara Kui?”

“Ya... antara lain.”

Mereka pun mulai pesta kecil itu dalam suasana akrab. Anak Giam Lim yang banyak itu pun ikut mengerumun meja dan makan dengan ributnya, isteri Giam Lim ikut makan juga meski sambil berulang kali menertibkan anak-anaknya.

Dalam suasana kekeluargaan yang akrab demikian, sulit bagi Kui Tek-lam dan Liu Yok untuk tidak makan banyak. Apalagi Kui Tek-lam yang siang harinya tidak makan karena harus di dermaga, makannya hanya pagi hari saja. Tanpa sungkan-sungkan ia comot sana comot sini, namun hal itu malah memuaskan tuan rumah dan keluarganya.

Suatu kali, sambil menggerogoti sepotong paha ayam goreng, Kui Tek-lam memuji, “Enak. Bumbunya pas. Nyonya Giam, anda benar-benar ahli masak nomor satu di Lam-koan dan sekitarnya.”

“Itu dari ayam peliharaan kami sendiri. Saudara Liu, kau tidak mencicipinya?”

“Perutku hampir penuh, namun baiklah aku mencicipinya juga. Oh, perut yang beruntung.”

Giam Lim dengan bangga menerangkan, “Semua yang ada di meja ini adalah hasil ladang dan kandang ternak kami sendiri, tidak ada yang beli dari luar. Kecuali garam. Bahkan bumbu-bumbu pun kami buat sendiri.”

“Oh, itu bagus.”

“Tetapi belakangan ini, hasil ladang kami agak menurun. Ada hama tikus dan babi hutan yang sering menyerang tanaman-tanaman kami.”

Liu Yok menunda makannya sebentar, lalu katanya dengan bersungguh-sungguh, “Kapan hewan-hewan perusak itu datang?”

“Babi hutan biasa datang malam-malam. Kalau tikus, kapan saja. Bahkan mereka membuat liang di ladang kami dan beranak cucu di liang itu. Kurang ajar mereka.”

Kata Liu Yok, “Mulai detik ini, hewan-hewan itu takkan mengganggu ladang Kakak Giam Lim lagi. Juga ladang-ladang orang lain di seluruh desa ini. Tikus-tikus yang sudah bersarang di tanah ladang akan pergi sekarang juga.”

Semua yang ada di sekeliling meja makan itu tercengang mendengar kata-kata Liu Yok, heran mendengar Liu Yok bicara seolah-olah ia rajanya hewan-hewan yang bisa memerintahkan hewan-hewan semaunya.

“Maksudmu....” kata Giam Lim ragu-ragu. “Maksudmu, A-yok, malam ini kau akan menjaga ladang-ladang penduduk di sini dan menghalau binatang-binatang perusak itu?”

Isteri Giam Lim menyambung. “Rasanya tidak perlu, Saudara Liu. Sebab itu berarti Saudara harus semalaman berjaga di ladang, tidak tidur, dan karena ladang-ladang penduduk desa ini begitu luas maka belum tentu Saudara Liu bisa menjaga seluruhnya. Di jaga di sini, lolos di sebelah sana.”

Liu Yok menatap suami isteri itu, “Siapa bilang aku mau berjaga semalaman di ladang? Malam ini, tentu saja aku tidur nyenyak sambil sukmaku menyerap kekuatan dari tahta-Nya.”

Kalimat terakhir tentang “sukma yang menyerap kekuatan dari tahta-Nya” itu tetap saja tak dimengerti oleh orang-orang lain, apalagi oleh Giam Lim dan keluarganya, sedang oleh Kui Tek-lam yang lebih banyak membaca buku saja tidak dimengerti. Maka yang bisa dibicarakan hanyalah kalimat sebelumnya.

Tanya Kui Tek-lam, “Bukankah tadi Saudara Liu bilang, mulai detik ini hewan-hewan itu tak akan mengganggu? Bukankah itu berarti Saudara Liu akan menjaga ladang penduduk di sini?”

“Tidak, aku tidak perlu berbuat begitu. Hewan-hewan itu takkan mengganggu karena kita, mahluk termulia yang mewakili Sang Maha Pencipta, sudah mengucapkannya.”

“Hanya mengucapkan dan tidak perlu tindakan apa-apa?”

“Ya.”

“Masa iya?”

“Mengucapkan sudah merupakan suatu tindakan di jagad sukma yang akibatnya akan segera terasa di jagad raga. Apa yang kularang di jagad raga, terlarang juga di jagad sukma. Apa yang kuijinkan di jagad raga, diijinkan juga di jagad sukma.”

Kui Tek-lam menarik napas sambil memijit pelipisnya, “Yah, mudah-mudahan hewan-hewan itu tidak merusak lagi.”

“Bukan mudah-mudahan, tetapi pasti. Jadilah sedemikian.”

“Iya, iya....” Kui Tek-lam mengiyakan tetapi sebenarnya masih bingung.

Sementara orang-orang masih bingung oleh perkataan Liu Yok, Liu Yok sendiri malahan menaikkan sebelah kakinya ke bangku, dengan santai menggerogoti potongan ayam goreng di tangannya sambil berkata pula, “Ayam yang baik, kau sudah rela mengorbankan diri untuk mengisi perutku. Mulai besok biar teman-temanmu bertelur dua kali lipat banyaknya, ya?”

Giam Lim hanya menyeringai. Ia anggap kata-kata itu hanyalah sekedar basa-basi dari seorang tamu yang dipuaskan oleh hidangan Si Tuan Rumah.

Sementara itu Kui Tek-lam telah berkata, “Kakak Giam, terima kasih buat pestamu yang luar biasa sore ini. Kalau boleh, aku ingin menitipkan Saudara Liu ini selama beberapa hari di sini.”

“Kami sangat senang menerima Saudara Liu di sini, bahkan mau tinggal seterusnya juga boleh.”

“Terima kasih. Sekarang aku mohon pamit dulu, aku harus menemui teman-teman lebih dulu. Jangan sampai mereka gelisah.”


Sementara itu, orang yang disambut oleh Siau Hok-to di dermaga tadi sekarang sudah tiba di rumah Siau Hok-to. Langsung dipersilakan masuk ke ruang tamu dengan penuh kehormatan.

Ketika orang itu melangkah masuk ke rumah Siau Hok-to, secara tidak bisa dimengerti udara dalam ruangan tiba-tiba menurun sedikit suhunya. Seolah ada udara dingin yang ikut mengalir masuk membuat beberapa orang menggigil seram tanpa tahu sebab-sebabnya. Anjing peliharaan Siau Hok-to tiba-tiba saja melompat ketakutan, menjauh, lalu menggonggong Sang Tamu dari kejauhan dan kemudian melolong panjang menyeramkan.

Semua tanda-tanda itu mengisyaratkan kepada Siau Hok-to sebagai pimpinan Pek-lian-hwe cabang Lam-koan, bahwa tamunya yang menjadi utusan Hwee-cu (Ketua Pusat) ini memang tidak main-main. Kehadiran seakan diikuti suatu balatentara gaib yang tak terlihat mata kasar. Siau Hok-to yang sudah biasa main gaib-gaiban itu pun sekarang merasa gentar hatinya.

Tamunya ini bernama Hong Pai-ok dan dalam organisasi menduduki posisi yang diberi istilah Tau-sing-hoa (Yang Kepalanya Berbunga), suatu posisi yang tidak memiliki kedudukan di tempat atau cabang tertentu, melainkan bebas bepergian ke mana saja dia diutus oleh ketua umum, dan kekuasaannya di atas para kepala cabang seperti Siau Hok-to.

Sambil menikmati hidangan teh sebagai ucapan selamat datang, di ruangan tamunya Siau Hok-to, Hong Pai-ok tajam mengawasi ruangan itu. Dilihatnya syair-syair ciptaan Kaisar Khong-hi terpajang di dinding, juga sebuah meja altar yang umum terdapat di hampir semua rumah di daratan Cina, dengan patung atau gambar tiga pahlawan Sam-kok yaitu Lau Pi, Kuan Kong dan Thio Hui.

Melihat hiasan-hiasan kamar itu, Hong Pai-ok mengangguk-angguk sambil memuji, “Samaran yang bagus, Saudara Siau, Dengan demikian orang takkan tahu kalau kau adalah tokoh Pek-lian-hwe di Lam- koan.”

Hong Pai-ok mengatakan demikian, karena Pek-lian-hwe adalah sebuah organisasi bawah tanah yang menentang Man-chu dan membenci segala sesuatu yang “berbau” Manchu. Padahal Kaisar Khong-hi yang syairnya dipajang di ruangan itu adalah Raja Manchu, kakek dari Kaisar Kian-liong yang bertahta jaman itu. Selain itu, pemasangan patung tiga pahlawan Sam-kok yan disusun normal di altar, juga dipuji sebagai selubung penyamaran yang berguna.

Susunan normal ialah patung atau gambar Lau Pi di tengah, kemudian Koan Kong dan Thio Hui di kanan-kirinya, tetapi orang Pek-lian-hwe biasanya menyusun Koan Kong yang di tengah, barulah Lau Pi dan Thio Hui di sebelah- menyebelahnya. Tetapi yang di rumah Siau Hok-to itu diatur normal secara biasa, bukan menurut cara Pek-lian-hwe.

Namun Siau Hok-to tidak begitu senang akan kata-kata Hong Pai-hok itu, tak lain karena Hong Pai- hok hanya menyebutnya sebagai “tokoh Pek-lian-hwe di Lam-koan” dan tidak menyebutnya sebagai “ketua cabang”.

Dengan halus Siau Hok-to mencoba “mengingatkan” Hong Pai-ok, “Kakak Hong, karena samaran inilah maka para anjing Manchu yang berkeliaran di kota ini bahkan tidak tahu kalau aku adalah ketua cabang di sini.”

Kata-katanya terhenti karena Hong Pai-ok sudah menukas sambil menggoyang-goyang tangannya, “Tidak, jangan lagi sebut-sebut tentang ketua cabang itu. Hwe-cu sudah menerima laporan lengkap tentang keadaan di sini, dan terus terang saja Hwe-cu agak kecewa mendengar hasil kerjamu yang kedodoran di sini. Bahkan sampai Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu mati. Karena itu, posisi ketua cabang diputuskan untuk dikosongkan dulu. Ini keputusan Hwe-cu sendiri. Siapa pengisi jabatan itu yang akan datang, aku dilimpahi wewenang oleh Hwe-cu untuk menunjuk dan mengangkatnya.”

Siau Hok-to merasa geram dalam hati, namun sudah tentu tidak berani menunjukkan isi hatinya terang-terangan di hadapan Hong Pai-ok. Cuma dalam hatinya ia mengutuk Thai Yu-tat, wakilnya, yang disuruhnya membawa laporan kepada Hwe-cu,

“Bangsat benar manusia cebol she Thai itu. Dia hanya kusuruh menceritakan sekedarnya keadaan di sini kepada Hwe-cu, tetapi entah apa yang dikatakannya di hadapan Hwe-cu sehingga Hwe-cu sampai mengeluarkan keputusan semacam ini. Hem, mestinya sudah sejak dulu kuwaspadai monyet cebol itu, yang agaknya memang mengincar posisiku sebagai ketua cabang. Keparat!!”

Dalam hati berpikir demikian, namun di luarnya ia pura-pura rela. Katanya. “Apa yang dipikirkan dan direncanakan Hwe-cu tentu baik dan sempurna. Aku, biar tanpa kedudukan sekalipun, rela untuk tetap mengabdi sampai terwujudnya cita-cita kita. Mengusir anjing-anjing Manchu kembali ke luar perbatasan dan tegaknya kembali dinasti Beng!”

“Bagus. Sekarang kumpulkan semua perwira bawahanmu di “Kota Bunga Persik dan aku malam ini akan berbicara di sana, atas nama Hwe-cu. Hanya Perwira Kipas Putih, Kutub Merah, Penggiring Kuda dan Tongkat Merah yang berkumpul. Bawahan- bawahan seperti Saudara Malam, Sandal Jerami atau Palang Pintu Besi tidak usah.”

“Baiklah, Kakak Hong. Pertemuan malam nanti... eh, apakah... apakah,...”

“Apa yang mau kau katakan?”

“Apakah Kakak Hong akan sekalian menunjuk dan mengangkat ketua cabang yang baru?”

“Itu urusanku.”

Siau Hok-to mengumpat dalam hati, namun ia benar-benar keder untuk membantah perintah Hong Pai-ok. Ia segera menyuruh orang kepercayaannya untuk menyebar undangan pertemuan kepada pembantu-pembantu terdekatnya.

Khusus undangan untuk Thai Yu-tat yang dicurigainya telah menjelek-jelekkan dirinya di hadapan Sang Ketua Umum, Siau Hok-to sengaja mengirim undangannya agak terlambat. Agar Thai Yu-tat datang terlambat dan mendapat nilai yang buruk di mata Hong-pai-ok sebagai “orang pusat”.

“Antar aku lebih dulu ke 'Kota Bunga Persik' kalian, Saudara Siau.”

“Bukankah pertemuan baru dimulai menjelang tengah malam nanti?”

“Ya, tetapi aku ingin di sana dulu, untuk bersemedi dan memuja dewa kita. Dan kalau mungkin, aku juga ingin menghubungi arwah Saudara Nyo In-hwe untuk mengetahui penyebab kematiannya.”

“Baik, Kakak Hong. Mari kuantar.”

Ternyata “Kota Bunga Persik” itu terletak persis di sebelahnya toko obat Siau Hok-to. Sebuah tempat yang luas dikelilingi tembok tinggi, berbentuk empat persegi. Sekelilingnya dikelilingi rumah-rumah penduduk yang sebenarnya adalah “perajurit- perajurit” Pek-lian-hwe yang terpercaya, sebagai samaran.

“Tinggalkan aku sendirian.” perintah Hong Pai-ok setelah berada di tempat sepi itu. Di bangunan yang besar, lengkap dengan tempat-tempat yang merupakan tahapan-tahapan penerimaan seorang anggota baru dalam suatu upacara.

Mulai dari “pintu merah” lalu “jembatan golok”, “lingkaran semesta” sampai ke “altar bunga merah” tempat anggota-anggota baru disumpah dan diwajibkan menaruh tiga puluh enam kutukan atas diri sendiri apabila melanggar sumpah.

Namun saat itu Hong Pai-ok sendirian di tempat itu, di tempat sebesar itu, setelah Siau Hok-to meninggalkannya. Selain hening, juga gelap, karena saat itu hari sudah gelap namun di tempat itu tidak sebatang lilin pun dinyalakan. Dalam kegelapan yang memang akrab dengan dirinya itulah Hong Pai-ok berjalan-jalan.

Pertama-tama ia bersujud di depan patung dewa sesembahan Pek-lian-hwe, patung Dewa Api dan ibunya Si Ibu Abadi Tak Berasal-usul. Ia menggumamkan mantera pujaan dalam bahasa Persia kuno, kemudian berjalan perlahan-lahan mengelilingi tempat itu. Memeriksa bagian-bagiannya, terutama tempat-tempat yang ada sangkut-pautnya dalam rangkaian upacara.

Kelihatannya Hong Pai-ok hanya berjalan biasa perlahan-lahan, namun ia sedang memeriksa tempat itu bukan hanya dengan mata jasmaninya (yang tak banyak hasilnya karena tempat itu gelap), melainkan juga dengan batinnya. Yang diperiksa juga bukan cuma keadaan fisik tempat-tempat itu, melainkan juga tingkat kegaibannya.

Dan ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluh sendiri, “Inilah kecerobohan orang- orang di Lam-koan Ini. Bagaimana mungkin sampai tempat-tempat penting ini tidak ada penjaga-penjaga gaibnya yang kuat dan berjumlah banyak? Dan hanya penjaga-penjaga gaib yang kecil-kecil dan lemah? Pantas kalau kedodoran, sampai Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu terbunuh.”

Lalu Hong Pai-ok duduk bersila dalam kegelapan, mulutnya berkomat-kamit membaca mantera, dan tiba-tiba dari mulutnya keluar suara seorang perempuan, “Hong Pai-ok, tolong kami sebelum kami hangus jadi abu karena terbelenggu di tempat ini, tidak bisa pergi ke mana-mana, sedang yang lain-lainnya sudah pergi. Bahkan balatentara langit yang kami harap-harapkan tidak datang-datang juga, entah kenapa mereka di perjalanan kemari.”

Berikutnya mulut Hong Pai-ok bersuara lagi, namun kali ini suara Hong Pai-ok sendiri yang keluar, bertanya, “Siapa Anda?”

“Aku penguasa daun-daunan, yang ditugaskan untuk membantu Siau Hok-to menghasilkan kesembuhan bagi orang-orang sakit yang datang kepadanya. Hi-hi-hi, tentu saja kesembuhan yang mendatangkan kerat bagi orang-orang itu, dan akhirnya mereka akan makin ketagihan dan menjadi budak-budak dari Tuan kita, hi-hi-hi....” suara perempuan itu terdengar lagi, dari mulut Hong Pai-ok.

Dan suara yang keluar dari mulut Hong Pai-ok berubah lagi, masih suara perempuan namun lebih halus, jelas merupakan pribadi yang berbeda, “Dan aku adalah ratu dari angkasa sebelah barat yang di sini dipuja sebagai Bu-seng Lo-bo (Ibu Abadi Tanpa Asal-usul). Tugasku adalah menguasai semua bentuk ramalan atau nujum dan mengatur agar apa yang diramalkan itu terlaksana, sehingga orang-orang mempercayaiku dan menghamba kepadaku. Tetapi aku butuh bantuan, dan bantuan itu tidak datang-datang juga. Bahkan belakangan ini....”

Dan Si “Ratu Angkasa dari Barat” itu pun menangis terisak, tangis ketakutan yang memelas, lewat mulut Hong Pai-ok. Dan ketakutan yang sama menjalar ke dalam hati Hong Pai-ok sendiri. Kalau “ratu angkasa” yang juga dipuja sebagai “Ibu abadi” itu pun begitu putus asa, kesulitan sedahsyat apakah yang menghadangnya?

Suara dari mulut Hong Pai-ok sekarang berubah menjadi suara seorang laki-laki yang setengah serak setengah menggeram, namun bukan, suara Hong Pai-ok, “Sudah, percuma kita bersikap lemah. Percayalah, bala bantuan akan datang dan kita akan menang.”

Disambung suara Si “Penguasa Daun-daunan” tadi, “Hong Pai-ok, percepat datangnya bantuan, atau lepaskan kami agar pergi dari sini.”

Ratapan dan keluhan pribadi-pribadi tak terlihat itu membingungkan Hong Pai-ok. Tanyanya, “Apa yang mengancam kalian?”

Si “Ratu Angkasa” menjawab, “Selama ini kami mengendalikan orang-orang di Lam-koan melalui tokoh-tokoh masyarakat yang kami mainkan seperti wayang boneka di tangan kami. Tetapi tiba-tiba saja ada kekuatan lain yang menyusup, membuat cengkeraman kami atas orang-orang itu mengendor, sulit dipertahankan. Selain itu, saluran kekuatan dari teman-teman di langit juga mulai tersendat-sendat. Kami makin lama makin lemah.”

“Tidakkah Anda bisa menyebut apa atau siapa yang menyebabkan demikian?” desak Hong Pai-ok.

“Rasanya ini... musuh lama kami sejak ribuan tahun. Dia... datang ke kota ini dalam tubuh seorang manusia.” keluh Si “Ratu Angkasa”. “Kami sudah berkelahi dengannya dan....”

Suara di mulut Hong Pai-ok tiba-tiba berubah menjadi geram laki-iaki tadi, “Jangan kecil hati, teman! Kau bicara seolah-olah semuanya sudah tak tertolong lagi. Kita akan menang!”

“Aku hanya teringat dulu, ketika aku dari langit dihempaskan ke dalam debu dan jubah kemuliaanku ditukar dengan kain berkabung.” keluh Si “Ratu Angkasa”.

“Takkan terulang. Kita akan bertahan di sini, dan teman-teman kita pasti datang!”

“Sudahlah, jangan bertengkar.” Hong Pai-ok menengahi. “Apa kalian tahu apa yang dialami oleh Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu? Bagaimana mereka terbunuh dan siapa pembunuhnya?”

Tiga macam suara yang tadi berbicara melalui mulut Hong Pai-ok, kini mendadak bungkam semua. Tak satu pun menjawab pertanyaan Hong Pai-ok. Hong Pai-ok mengulang pertanyaannya, “Tidakkah Anda dengar aku bertanya? Sudikah kalian menjawabku?”

Bukannya memperoleh jawaban, tiba-tiba tubuh Hong Pai-ok malah diterpa oleh suatu kekuatan tak kelihatan, dihempaskan ke lantai. Lalu diangkat dan dihempaskan lagi, berulang-ulang. Angin dingin bertiup di ruangan itu, dan baju Hong Pai-ok pun dirobek-robek sampai hampir telanjang. Semua yang melakukan itu tetap tidak terlihat.

Hong Pai-ok pun terbanting-banting, dan merintih-rintih, namun dengan suaranya sendiri, “Ampun... ampun... kalau kalian tidak mau menjawab, tolong jangan menyiksaku.”

Permohonan ampun itu sia-sia, tubuhnya terus saja dibanting-banting dan dirobek-robek pakaiannya, bahkan kulitnya mulai berdarah dan entah darimana datangnya, muncul bekas-bekas cakaran di permukaan kulitnya. Hong Pai-ok pun menangis melolong-lolong seperti anak kecil.

Sampai tiba-tiba dari mulut Hong Pai-ok sendiri keluar bentakan keras yang sangat berwibawa, lebih berwibawa dari tiga suara yang semula, “Hentikan! Kalian ingin menghancurkan tempat tinggalku?”

Hempasan-hempasan keras dan cakaran-cakaran ganas oleh mahluk-mahluk tak terlihat itu pun berhenti. Hong Pai-ok terengah-engah di lantai, pakaiannya hancur, kulitnya berdarah, tetapi suara dari mulutnya sangat berwibawa karena bukan suaranya sendiri, “Katakan apa yang terjadi dengan Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu!”

Ratapan Si “Ratu Angkasa” terdengar lagi dari sela-sela bibir Hong Pai-ok, “Tolong... jangan paksa kami menceritakannya. Ini... menyangkut martabat... Maharaja Yang Bercahaya sendiri…”

Sunyi sekian lama, hanya terdengar engah napas Hong Pai-ok. Kemudian Hong Pai-ok dengan bersusah-payah mencoba untuk duduk. Hatinya masygul, mau “cari info” tentang kematian Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu dari alam gaib, tak terduga pertanyaannya itu malah menimbulkan kemarahan penghuni-penghuni alam gaib sehinga ia babak belur.

Untung “penghuni” Hong Pai-ok lebih berwibawa sehingga dapat menghentikan penganiayaan lebih lanjut. Terpaksa pertanyaan tentang kematian misterius kedua tokoh Pek-lian-hwe di Lam-koan itu tak terjawab.

Sementara itu, karena saat itu sudah menjelang tengah malam, maka Siau Hok-to pun muncul kembali di tempat itu sambil membawa lilin. Kemudian menyalakan lilin-lilin di tempat itu sehingga tidak segelap semula. Ia terkejut melihat keadaan Hong Pai-ok yang berantakan.

“Kakak Hong....” desahnya tertahan.

Hong Pai-ok menggoyang-goyang tangan sambil berkata, “Jangan banyak omong. Cepat carikan jubah pinjaman dulu untukku, sebelum orang lain berdatangan dan melihat keadaanku seperti ini.”

Siau Hok-tok bertubuh kurus dan tidak begitu tinggi, sedangkan Hong Pai-ok tinggi dan gemuk, terang Siau Hok-to tidak mungkin meminjamkan pakaiannya kepada Hong Pai-ok. Tetapi ia ingat sesuatu, “Kakak Hong, Bukankah Kakak membawa pakaian lain selain yang ini? Bagaimana kalau kuambilkan satu?”

“Iya, iya. Cepat.”

Siau Hok-to pun muncul kembali di tempat itu sambil membawa lilin. Kemudian menyalakan lilin-lilin di tempat itu sehingga tidak segelap semula, la terkejut melihat keadaan Hong Pai-ok yang berantakan. Untung “Kota Bunga Persik” itu letaknya memang bersebalahan persis dengan rumah Siau Hok-to di mana Hong Pai-ok menginap.

Maka Siau Hok-to pun cepat kembali ke rumahnya. Namun sebetulnya Siau Hok-to punya niat tersembunyi, ia ingin punya kesempatan menggeledah barang-barang bawaan Hong Pai-ok, siapa tahu ada suatu rahasia tersembunyi yang bisa diintipnya, terutama dalam rangka mempertahankan kedudukannya sebagai ketua cabang di Lam-koan. Kalau terang-terangan tentu tidak berani, maka ya inilah kesempatannya.

Ternyata, waktu ia menggeledah bungkusan bawaan Hong Pal-ok tidak ditemukannya apa yang diharapkannya. Secarik kertas catatan pun tidak ada. Yang ada ya hanya pakaian-pakaiannya. Dan selama ia menggeledah, Siau Hok-to merasa seolah-olah ada sepasang mata sedang mengawasinya tajam-tajam, namun kalau ia menoleh, tidak dilihatnya apa-apa.

“Hem...” desah Siau Hok-to sambil mengusap tengkuknya. “Aku dijuluki Si Tiga Mata dan punya ilmu Mata Ketiga yang bisa melihat jauh melewati jangkau- an kedua mataku, tetapi sekarang Si Tiga Mata ini tidak mengawasi tetapi agaknya sedang diawasi....”

Karena yang diharapkannya tidak ditemukan, cepat-cepat ia ambil satu setel pakaian Hong Pai-ok untuk dibawanya kepada Hong Pai-ok. Baru saja ia melangkah keluar dari kamar yang ditempati Hong Pai-ok, didengarnya dari ruang bawah tanah lolong tangis anak perempuannya yang dipasung di situ. Sayup-sayup terdengar kata-katanya,

“Ooo, Raja Langit Yang Perkasa, lepaskan hamba dari sini, biarkan hamba pergi sebelum hangus jadi abu.”

Orang yang mendengarnya pasti akan bergidik, apalagi di malam sunyi seperti itu, namun tak ada tetangga-tetangga Siau Hok-to yang bisa mendengar nya. Karena ruang bawah tanah itu agak dalam, sehingga orang-orang di rumah Siau Hok-to sendiri hanya bisa mendengarnya sayup-sayup.

Setiap kali mendengar rintihan anaknya satu-satunya itu, sebagai ayah, hati Siau Hok-to tersentuh juga. Tetapi hatinya sudah dilapisi lapisan-lapisan ketamakan dan kehormatan sebagai tabib yang hebat, sehingga lapisan-lapisan di hatinya itu membuat sentuhan-sentuhan di hatinya makin tidak terasa. Setiap kali ia hanya bisa mohon maaf kepada anaknya dalam hatinya,

“Maaf, Nak, Ayah tidak sengaja membuatmu menderita seperti itu. Dulu ketika Ayah mempelajari Ilmu pengobatan gaib, sungguh tak terpikir Ayah bahwa yang diminta jadi tumbal sebagai harga untuk semuanya itu adalah dirimu. Kau terkatung-katung antara keadaan hidup tidak mati juga tidak, sementara Ayah hidup enak dan dihormati orang.”

Namun Siau Hok-to tak berdaya mengubah nasib itu. Perjalanan hidupnya seperti sebuah lorong panjang yang tujuannya hanya searah, tidak ada pilihan lain. Suka atau tidak suka, menyesal atau tidak, itulah yang harus dijalaninya. la pun kembali ke “Kota Bunga Persik” dan menyerahkan pakaian kepada Hong Pai-ok.

Hong Pai- ok cepat-cepat ganti pakaian. Siau Hok-to yang di dekatnya, sambil mengamat-amati pakaian Hong Pai-ok yang robek-robek, juga berpikir, apa yang sudah terjadi dengan Si Kakak Hong ini? Namun ia tidak berani bertanya-tanya kalau Hong Pai-ok tidak menceritakannya sendiri. Dan Hong Pai-ok tidak menceritakannya.

Kemudian mulailah tokoh-tokoh Pek-lian-hwe di Lam-koan berdatangan lewat pintu rahasia. Pertama-tama yang muncul adalah Si Pendeta Gadungan Ui-kong Hwesio, yang berkedudukan sebagai “perwira kipas putih” (di waktu damai) sekaligus “perwira kutub merah” (di waktu pertempuran) nomor satu.

Ia memberi hormat kepada Hong Pai-ok dan Siau Hok-to, kemudian mengambil tempat duduknya dan diam tak berkata-kata sambil menunggu yang lain-lainnya. Pertemuan itu diadakan di sebuah ruangan kecil di belakang ruang pemujaan. Menyusul muncul “kutub merah” merangkap “kipas putih” nomor dua, Phui Se-san Si Bekas Tukang Masak di istana kerajaan itu.

Disusul “pentung merah” alias pemegang keuangan, seorang yang bertubuh ramping, nampaknya pesolek sekali biarpun laki-laki, umurnya kira-kira empat puluh lima tahun. Namanya Im Yan- kong. Di tangannya, keuangan Pek-lian-hwe bertambah makmur. Ia memang tidak bisa bersilat sehingga tidak pernah diikut-sertakan dalam pertempuran.

Namun karena kesetiaannya mengabdi organisasi, ia berhasil masuk dalam jajaran segelintir kecil Orang yang mendapat kedudukan menentukan arah organisasi di Pek-lian-hwe cabang Lam-koan.

Lagipula, ia punya kemahiran khusus, pintar bicara dan merayu orang-orang kaya di Lam-koan sehingga mereka mau merogoh kantong untuk menyumbang (tentu saja tidak pernah dikatakan kepada Si Penyumbang bahwa sumbangannya untuk sebuah organisasi bawah tanah yang menentang pemerintah kerajaan).

Sehingga kas Pek-lian-hwe cabang Lam-koan mengembang terus. Pimpinan-pimpinan cabang lainnya juga menutup mata meskipun tahu kalau Im Yang-kong ini sedikit menyelewengkan sumbangan-sumbangan itu untuk kepentingan pribadi. Toh jasanya lebih besar dari kesalahannya.

Lalu Kang Liong, yang di Lam-koan dikenal sebagai “hakim yang baik hati”, namun sebenarnya sikap munafiknya itu hanya untuk mengambil hati rakyat Lam-koan, apabila kelak Pek-lian-hwe bergerak terang-terangan mengerek bendera pemberontakan, diharapkan akan mendapat banyak pengikut.

Bukan hanya di Lam-koan, di setiap kota ada tokoh-tokoh Pek-lian-hwe yang berperanan sebagai “orang-orang baik hati” ini. Kedudukan Kang Liong dalam Pek-lian-hwe cabang Lam-koan adalah “kutub merah” merangkap “kipas putih” nomor empat. Yang nomor tiga sudah almarhum, yaitu Nyo In-hwe...

Selanjutnya,