X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 10

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Ke 6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 10 Karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 10

YANG datang paling akhir adalah Si Pendek Kecil yang dalam pertempuran atau upacara gemar mengenakan topeng Dewa Mo Sui. Itulah Thai Yu-tat, Si Wakil Ketua Cabang. Meski Siau Hok-to sengaja mengirim terlambat undangan pertemuannya kepada wakilnya yang dicurigainya bicara merugikan di hadapan Hwe-cu (Ketua Umum), ternyata Thai Yu-tat datang tidak terlambat, meskipun datang paling akhir.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Begitu datang, Si Pendek Kecil berjenggot panjang ini langsung lebih dulu memberi hormat kepada Hong Pai-ok, namun waktu ia memberi hormat kepada Siau Hok-to, ia menyindir, “Hampir saja aku tidak datang di pertemuan ini, Kakak Siau. Undangannya datang terlambat sekali, entah disengaja entah tidak. Kalau disengaja, orang yang sengaja memperlambat pengiriman undangan itu pasti kecewa sekali melihat aku ternyata tidak terlambat.”

Hati Siau Hok-to panas, namun ia menahan diri dan berusaha agar wajahnya kelihatan tetap tenang. Katanya, “O, begitu? Kalau begitu, aku akan menegur orang suruhanku yang membawa undangan pertemuan untukmu itu. Maklumlah, Saudara Thai, utusan-utusan jaman sekarang memang banyak yang kurang ajar. Kalau disuruh, bukannya menjalankan urusan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya, malahan suka menambah-nambah atau mengurang-ngurangi demi kepentingannya sendiri.”

Dengan kata-kata itu, Siau Hok-to balas menyindir Thai Yu-tat yang oleh Siau Hok-to disuruh menghadap Hwe-cu, tetapi agaknya menjelek-jelekkan Siau Hok-to di depan Hwe-cu karena Thai Yu-tat sendiri ingin menggantikan Siau Hok-to sebagai ketua cabang di Lam-koan.

Pertengkaran agaknya akan berlanjut, seandainya Hong Pai-ok tidak segera berkata, “Apakah sudah berkumpul semua?”

“Sudah, Kakak Hong.”

“Kalau begitu, kita bisa mulai. Aku ingin laporan lengkap tentang kejadian di Lam-koan!”

“Bukankah laporan lengkapnya sudah kusampaikan sendiri di hadapan Hwe-cu?” sergah Thai Yu-tat dengan nada agak memprotes. Ia yang sudah jauh-jauh menemui Hwe-cu, jadi merasa kalau laporannya kepada Hwe-cu diabaikan.

Yang menjawab adalah Siau Hok-to, “Saudara Thai, Kakak Hong ingin laporan yang lebih sungguh- sungguh, yang belum ditambah atau dikurangi.”

“Siapa yang....” tanya Thai Yu-tat dengan gemas, tetapi terpotong oleh suara Hong Pai-ok yang menukas keras,

“Siapa yang akan menceritakan padaku kejadian yang sesungguhnya?”

“Biarlah aku, Kakak Hong. Aku kan ketua cabang.”

“Kedudukanmu sebagai ketua cabang sedang dipertimbangkan kembali, Saudara Siau. Tetapi baiklah kau yang bercerita.”

“Terima kasih.”

Siau Hok-to pun mulai bercerita, diawali dari upacara penerimaan anggota baru yang ternyata kesusupan dua orang 'semilir angin” yaitu Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong. Disusul peristiwa-peristiwa berikutnya di mana akhirnya kedua “semilir angin” itu tersingkap kedoknya karena kegelisahan kedua agen kerajaan itu sendiri.

Tetapi kematian Nyo In-hwe yang misterius masih belum mampu dijelaskan dengan memuaskan oleh Siau Hok-to. Namun untuk menimbulkan kesan bahwa sebagai ketua cabang ia “tidak selalu gagal” dan “ada sedikit prestasi” maka Siau Hok-to menceritakan juga dalam laporannya,

“...namun karena kewaspadaan orang-orang kami, maka gerakan rahasia anjing-anjing Manchu itu tercium juga oleh kami. Dan kami mulai mengambil tindakan. Pertama-tama kami ringkus anjing Manchu yang menyamar sebagai tukang mi-pangsit, namanya Pang Hui-beng. Lalu aku titipi 'mata ketiga' padanya tanpa dia sadari dan dia kami lepas lagi.

Melalui ia kami dapat melihat siapa saja orang-orang yang ditemuinya, jadi bisa kuperkirakan siapa di antara orang-orang itu yang adalah anjing Manchu. Lalu salah satu pentolan anjing Manchu itu, yang namanya Oh Tong-peng, datang ke toko obatku untuk mintakan obat bagi kedua anak buahnya. Kedua anak buahnya adalah orang-orang yang menyusup ke dalam organisasi kita. He-he-he... benar-benar seperti ular mencari gebuk.

Kuberi obat pelemah syaraf, agar kedua anjing Manchu itu makin terbuka terhadap cengkeraman gaib kekuasaan kita. Tetapi entah kenapa, yang kena hanya satu, yang namanya Lo Lam-hong. Sekarang anjing Manchu yang namanya Lo Lam-hong ini jadi anjing peliharaan kita yang jinak kepada kita namun buas terhadap orang lain, disuruh menggigit teman-temannya sendiri pun tidak akan menolak. He-he-he. Tetapi entah kenapa yang namanya Kui Tek-lam, yang menginap di rumah Saudara Nyo In-hwe, lolos dari ramuan pelemah syarafku itu.

Meski demikian, bisa dibilang kalau kita unggul. Bahkan dua anjing Manchu lagi berhasil aku serang dengan kekuatan gaib. Yang menyamar sebagai tukang mi-pangsit itu sekarang sudah kehilangan ingatan dan tiap hari menari berkeliling kota Lam-koan. Satunya lagi lumpuh, bisu, sekaligus kehilangan ingatannya. Kakak Hong, keadaan di sini tidak segawat yang Kakak dengar dari laporan terdahulu yang dibawa Saudara Thai.”

“Sayang, soal kematian Saudara Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu justru masih tetap gelap.”

Thai Yu-tat pura-pura geleng-geleng kepala sambil menarik napas. Tujuan perkataannya ialah agar Hong Pai-ok tidak terlalu terkesan oleh kesuksesan Siau Hok-to. Siau Hok-to melirik dengan mendongkol ke arah wakilnya itu, namun sebelum ia berkata-kata pun, Hong Pai-ok telah mendahuluinya,

“Soal kematian Saudara Nyo dan Ang, rupanya memang sulit disingkap, dengan cara gaib sekalipun. Aku sudah mencobanya tadi, dan belum menemukan petunjuk.”

Siau Hok-to lalu ingat keadaan Hong Pai-ok yang compang-camping dan babak belur tadi, rupanya keadaan macam itu karena usahanya menembus tirai misteri kematian Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu. Keadaan babak belur macam itu cukup dikenal oleh orang-orang yang bermain-main dengan kekuatan-kekuatan dari dunia yang gelap seperti Siau Hok-to.

Yaitu akibat dari kegagalan mencari keterangan dari dunia gaib, bahkan membuat gusar penghuni-penghuni dunia gaib. Hong Pai-ok tadi tergolong ringan keadaannya kalau dibandingkan nasib yang dialami Nyo In-hwe dan Ang Bwe-cu yang tubuhnya terobek-robek.

“Apakah Nyo In-hwe membuat gusar para dewa, seperti dugaan Kang Liong?” Siau Hok-to bertanya-tanya dalam hati. “Tetapi dalam perkara apa dia sampai membuat gusar para dewa?”

Sementara Hong Pai-ok bertanya kepada orang-orang dihadapannya, “Siapa di antara kalian yang mempunyai dugaan atau perkiraan tentang kematian Nyo In-hwe? Aku tidak peduli dugaan atau perkiraan itu gaib atau alamiah biasa. Barangkali bisa menemukan penyebab kematian Saudara kita itu.”

Thai Yu-tat yang pertama meraih kesempatan menjawab itu untuk kembali melemahkan posisi Siau Hok-to sebagai ketua cabang, “Kakak Hong, aku rasa memang Saudara Nyo menjadi korban kemarahan para roh junjungan kita. Mungkin karena selama ini kita kurang memberi sesajian yang memuaskan para hulubalang di langit itu.”

Secara terselubung Thai Yu-tat menuduh Siau Hok-to telah lengah menjalankan kewajiban rohani- nya terhadap dunia gaib, meskipun barangkali sukses mengelola organisasinya dalam urusan-urusan duniawi.

Kang Liong yang diam sedari tadi, sekarang angkat bicara, “Kakak-kakak yang terhormat, aku rasa pendapat Kakak Thai memang ada benarnya. Barangkali kematian Kakak Nyo dijadikan peringatan keras oleh para sesembahan kita agar kita lebih mempererat hubungan dengan sumber kekuatan sejati kita yaitu penguasa-penguasa di langit.”

“Nah, benar tidak omonganku?” Thai Yu-tat semakin berani karena merasa mendapat dukungan, “Dalam hal ini, rasanya Kakak Siau yang paling bertanggung jawab.”

“Maaf, Kakak Thai.” Kang Liong menukas. “Rasanya ini bukan kesalahan satu orang, tetapi kesalahan kita semua.”

Hong Pai-ok mengangkat tangannya, menyuruh semuanya diam, lalu ia berbicara, “Saudara Thai dan Kang mungkin benar. Sesaji kita kurang berkenan. Aku bisa membuktikannya. Tadi sebelum pertemuan ini dimulai, aku berkeliling Kota Bunga Persik kalian dan aku merasakan betapa kekuatan gaib di tempat ini sangat sedikit. Ketika aku mencoba berkomunikasi dengan pelindung-pelindung tempat ini, beberapa di antara mereka mengaku semakin lemah dan minta diijinkan pergi dari sini.”

“Padahal baru beberapa hari yang lalu kami selenggarakan pemujaan besar dengan sesajian yang banyak di altar utama.” kata Siau Hok-to.

“Tetapi mungkin tidak lengkap. Pakai korban manusia atau tidak?” tanya Hong Pai-ok seperti mendesak.

Sahut Siau Hok-to, “Soal korban manusia, kami menyelenggarakannya setahun sekali.”

“Kurang! Bahkan itu sangat kurang!” kata Hong Pai-ok. “Di cabang-cabang lain menyelenggarakannya sebulan sekali, saat bulan purnama. Bahkan ada cabang yang menyelenggarakan sebulan dua kali, saat purnama dan saat bulan mati. Di pusat, bahkan kami selenggarakan setiap hari! Itulah sebabnya kami benar-benar merasakan kehadiran para panglima langit dan tentara langit.

"Dan karena kalian demikian kendor menyelenggarakan korban manusia, maka tadi ketika aku berkeliling tempat ini, aku tidak merasakan adanya kekuatan gaib yang besar di tempat ini. Bahkan ketika aku berkomunikasi dengan beberapa penghuni tempat ini, aku dengar di antara mereka ada yang sudah tidak betah tinggal di tempat ini!”

Tokoh-tokoh Pek-lian-hwe cabang Lam-koan itu pun bungkam semua. Mereka bukannya tidak merasakan adanya semacam kemerosotan dalam kekuatan gaib yang mereka pelihara dan “pasang” di kota itu. Bahkan mereka telah menculik dan menyembelih korban-korban manusia yang diperlukan, seperti ibu yang mengandung tujuh bulan, anak lelaki umur tujuh tahun, anak kembar dan sebagainya, yang menimbulkan kegemparan beberapa waktu yang lalu.

Tetapi rasa-rasanya para anggota “balatentara langit” mulai dari “jenderal” sampai “prajurit” semakin ogah-ogahan menolong mereka. Seakan-akan mahluk-mahluk gaib itu merasa ada sesuatu yang ditakuti sedang datang ke Lam-koan itu.

Siau Hok-to merasa, sejak mimpinya melihat cahaya gemilang dari langit dulu, disusul dengan retaknya patung Dewa Cahaya yang terbuat dari batu giok itu, retak tanpa penyebab yang jelas, kehebatan penyembuhannya juga mulai merosot. Dulu tidak pernah ada pasien yang mengeluh penyakitnya tidak sembuh setelah diobati olehnya, sekarang ia dengar banyak yang mengeluh “Tabib Siau sudah tidak sehebat dulu”.

Thai Yu-tat yang sehari-harinya memimpin suatu rombongan akrobat dan topeng monyet yang biasanya menyedot banyak penonton karena “jimat penglaris” nya, dan pada setiap kesempatan ia selalu mengumandangkan ajaran-ajaran Pek-lian-kau kepada penonton-penontonnya, meski secara terselubung, sekarang mulai merasakan sepinya penonton dan seretnya pemasukan. Jimatnya agaknya sudah kurang manjur lagi.

Kang Liong merasa wibawanya yang ditopang kekuatan gaib itu mulai runtuh pelan-pelan. Phui Se-san yang dulu nujumnya hampir selalu tepat, sekarang mulai dikritik banyak langganan-lamanya, dianggap nujumnya banyak yang meleset. Dan semua tokoh-tokoh Pek-lian-hwe harus mengakui dalam hati akan kemerosotan gaib mereka.

Akhirnya Siau Hok-to lah yang berkata, “Mungkin Kakak Hong benar.”

“Bukan mungkin benar, tetapi pasti benar!” sanggah Thai Yu-tat menjilat atasannya. “Kakak Hong pasti benar!”

Siau Hok-to mendongkol, namun menahan diri untuk tidak bertengkar dengan wakilnya itu. Ia ingin terlihat sebagai “pemimpin yang baik” di mata Hong Pai-ok. Katanya, “Kita akan adakan upacara besar, dengan korban manusia besar-besaran! Kita akan kembalikan kekuatan kita!”

Hong Pai-ok kelihatan puas, “Itu baru langkah tepat. Kemudian harus ada langkah lain.”

“Kami siap mendengar segala petunjuk Kakak Hong.” kata Thai Yu-tat, merendah di hadapan utusan pusat itu, namun sikapnya sudah amat yakin kalau dirinyalah yang bakal ditunjuk menjadi ketua cabang menggantikan Siau Hok-to.

Hong Pai-ok berkata, “Anjing-anjing Manchu itu tidak boleh berkeliaran terus. Mereka terlalu berbahaya, hidung mereka terlalu tajam, padahal di kota inilah kita menyembunyikan ribuan pucuk senjata api dan mesiu serta peluru-pelurunya yang merupa- kan harapan kita untuk perjuangan di masa datang. Kalau sampai tercium oleh anjing-anjing Manchu itu....”

Siau Hok-to mendapat kesempatan untuk memamerkan prestasinya, “Aku ingatkan lagi kepada Kakak Hong, bahwa Si Bangsat Kian-liong itu hanya mengirimkan enam orang kemari, mungkin karena dianggapnya keenam orang itu sudah hebat betul. Tetapi tiga di antara mereka sudah di tangan kita. 5atu sudah secara total kita kuasai, satu kita bikin gila, satu lagi kita bikin lumpuh, bisu dan kehilangan ingatan.”

“Sisanya?” tanya Hong Pai-ok.

“Sudah tidak berani muncul lagi. Mungkin mereka sudah mencawat ekor terbirit-birit pulang ke kandang mereka di Pak-khia. Melapor kepada Si Jahanam Kian-liong.”

“Tetapi mungkin juga bisa saja mereka masih di kota ini, bersembunyi sambil menantikan datangnya bala bantuan yang lebih kuat.” kata Hong Pai-ok.

“Menurut Kakak Hong, apa yang harus kita perbuat tentang diri mereka?”

“Memancing mereka keluar dari persembunyian mereka dan menangkap mereka.”

“Bagaimana cara memancingnya?”

“Kita akan atur sebuah sandiwara di kota ini. Kang Liong sebagai hakim kerajaan, aku perintahkan, buatlah gerakan seolah-olah kau menangkap beberapa tokoh Pek-lian-hwe di kota. Bahkan umumkan bahwa tokoh-tokoh yang ditangkap itu akan dihukum mati. Kalau mendengar kabar ini, anjing-anjing Manchu itu tentu akan muncul dari persembunyiannya dan menjumpai Saudara Kang Liong. Mungkin mereka akan menunda pelaksanaan hukuman mati, mereka berkepentingan menanyai lebih dulu tokoh Pek-lian-hwe yang tertangkap, menanyai soal tempat penyimpanan senjata-senjata api itu.”

“Akal hebat! Akal sempurna!”

Thai Yu-tatlah yang pertama kali mendukung gagasan itu. “Kakak Hong, sudah lama kudengar kau adalah gudangnya segala siasat yang cemerlang! Hari ini kusaksikan sendiri bahwa berita itu memang benar!”

Kata-kata menjilat lainnya masih akan berhamburan, kalau tidak Im Yan-kong, Si Pemegang Keuangan, habis sabarnya. Dalam organisasi, Im Yan-kong adalah pendukung setia Siau Hok-to, ada sedikit kong-kalikong dalam urusan keuangan organisasi yang diselewengkan. Ia tidak senang melihat usaha Thai Yu-tat menjatuhkan ketua cabangnya sendiri. Selama Ini la menahan kejengkelannya, dan kail Ini ia tidak dapat bersabar lebih lama lagi, ejeknya,

“Kakak Thai, Kakak juga terkenal sebagai ahli memanfaatkan setiap kesempatan lho!”

Thai Yu-tat mendengus, “Kenapa? Tidak suka aku memuji-muji Kakak Hong?”

Begitulah, Thai Yu-tat dengan cerdik “mengarahkan” serangan kata-kata Im Yan-kong tadi seolah-olah menyerang Hong Pai-ok. Keruan Im Yan-kong kelabakan, dengan ketakutan ia menatap Hong Pai-ok sambil berkata geragapan, “Kakak Hong, kata- kataku tadi tidak bermaksud....”

“Tidak apa-apa.” potong Hong Pai-ok dingin. Ia sebenarnya senang menikmati kata-kata jilatan Thai Yu-tat, dandalam hatinya sudah semakin cenderung untuk menunjuk Thai Yu-tat sebagai ketua cabang Lam-koan menggantikan Siau Hok-to.

Pada gilirannya nanti, cabang Lam-koan di bawah pimpinan Thai Yu-tat akan merasa berhutang budi kepadanya, dan mungkin bisa menjadi pendukung Hong Pai-ok untuk naik tingkat di jajaran kepemimpinan pusat. Tak terduga “kenikmatan” dijilat itu dibuyarkan oleh kata-kata Im Yan-kong, sedikit banyak timbul rasa tidak senangnya kepada Im Yan-kong.

Im Yan-kong bisa merasakannya, meskipun Hong Pai-ok mengatakan “tidak apa-apa” namun sorot matanya yang kejam menyiratkan lain di mulut lain di hati. Im Yan-kong jadi takut sendiri. “Kakak Hong, aku benar-benar tidak bermaksud....”

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Urusan sekecil itu tidak ada artinya buat aku. Sekarang lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi. Siapa yang setuju gagasanku tadi?”

Thai Yu-tat mendukung dengan bersemangat, Im Yan-kong juga ikut mendukung, untuk “memperbaiki” kesalahannya yang tadi. Yang lain- lainnya pun nampaknya ikut-ikutan saja.

Kang Liong kemudian bertanya, “Kakak Hong, lalu siapa yang harus kutangkap?”

“Di antara kalian, siapa yang kira-kira sudah dicurigai oleh anjing-anjing Manchu itu sebagai tokoh-tokoh Pek-lian-hwe?”

Tokoh-tokoh Pek-lian-hwe itu saling menoleh, kemudian Siau Hok-to berkata dengan agak ragu-ragu, “Nampaknya diriku sudah dicurigai. Pemimpin kawanan anjing Manchu, yang bernama Oh Tong-peng, pernah datang ke toko obatku. Memintakan obat bagi dua orang yang dikatakan sebagai dua pegawainya, dia sendiri mengaku sebagai saudagar, tetapi aku tahu pasti dua orang yang dimintakan obat itu pastilah dua anak buahnya yang diselundupkan ke dalam organisasi kami. Anak buahnya yang langsung meminum obat itu, Lo Lam-hong, langsung jatuh ke bawah pengaruh kami, dan sekarang menjadi anak buah kami. Karena itu, Oh Tong-peng pastilah sudah mencurigai aku. Biar Saudara Kang pura-pura menangkap aku.”

Kang Liong menatap Hong Pai-ok, minta persetujuan. Hong Pai-ok mengangguk. “Jalankan saja. Laporkan setiap perkembangan kepadaku di sini.” Pertemuan itu pun kemudian dibubarkan.


Matahari mengintip dari balik bukit-bukit di sebelah timur. Cahaya emasnya yang masih malu- malu membuat permukaan Sungai Se-kiang yang berliku itu memantulkan cahaya keemasannya sehingga seperti sehelai pita emas raksasa yang digelar di antara lekuk-lengkung pegunungan, tetapi bagian-bagian sungai yang terlindung bayang-bayang tebingnya masih gelap. Cahaya matahari pagi juga menyapu pucuk-pucuk pepohonan di perkebunan yang luas di luar kota Lam-koan.

Giam Lim dan keluarganya bangun pagi-pagi seperti umumnya orang-orang desa. Namun Giam Lim tidak ingin mengusik Liu Yok sebagai tamunya, yang disangkanya masih tidur. Maka dia pun memberi tahu anak-anaknya agar tidak ribut.

Sedangkan kepada isterinya, ia berkata, “Cepatlah memasak, sehingga ketika tamu kita bangun nanti, sarapan sudah tersedia. Aku akan memeriksa pagar, kalau-kalau dirusak oleh babi hutan atau monyet.”

Pengrusakan pagar dan tanaman kebun penduduk adalah perkara rutin di desa itu, karena letaknya yang dekat hutan di mana kawanan besar babi hutan dan monyet sering menyerbu mencari makan. Di dalam kebun sendiri ada hama lain yang tak kalah merugikan, yaitu tikus-tikus tanah yang bersarang di dalam tanah dalam jumlah ribuan karena sudah beranak cucu di situ bertahun-tahun.

Setiap kerusakan biasanya langsung diperbaiki meskipun malam berikutnya bakal dirusak lagi. Sebab orang- orang desa yang rajin-rajin itu tidak mau membiarkan kerusakan makin parah kalau didiamkan saja. Begitu pula yang akan dilakukan Giam Lim pagi itu.

Isterinya menjawab, “Tamu kita sebenarnya sudah bangun, bahkan bangunnya jauh lebih pagi dari kita. Tadi waktu aku melewati kamarnya di dekat dapur, kudengar dari balik pintu dia sedang bersenandung perlahan.”

“Bersenandung?”

“Ya. Suaranya tidak indah, senandungnya juga biasa saja, namun jiwa ini rasanya jadi tenteram sekali. Aneh, belum pernah kurasakan pagi sedamai ini.”

Giam Lim tersenyum mendengar ucapan isterinya itu, namun diam-diam ia mengakui dalam hati, bahwa suasana pagi itu memang terasa agak berbeda dari biasanya. Biasanya kampung itu juga bersuasana tenang, namun pagi ini suasana damainya seperti berlipat ganda. Entah apa sebabnya.

“Sudahlah, aku pergi dulu.” Giam Lim menyambar seonggok tali rami di sudut rumah untuk membetulkan pagar-pagar. Tetapi sebelum sampai keluar dari pekarangan rumahnya, ia sudah dihadang anak-anaknya yang menunjukkan telur-telur ayam dari kandang.

“Ayah! Ayah! Aneh, pagi ini ayam-ayam kita bertelur jauh lebih banyak dari biasanya. Dan telurnya bagus-bagus, tidak ada yang membusuk satu pun. Sudah kami teropong semuanya.”

Giam Lim agak tercengang, namun ia tidak segera menghubungkan kejadian itu dengan perkataan Liu Yok kemarin, perkataan yang seperti menyuruh ayam-ayam untuk bertelur lebih banyak. Kata-kata itu dianggap oleh Giam Lim hanya sebagai basa-basi seorang tamu yang menyukai hidangan tuan rumahnya.

Sementara Sang Anak sudah menambahkan laporannya, “Bahkan Si Coklat yang sudah lama tidak bertelur, sekarang bertelur lagi!”

“Sudah, sudah. Sekarang simpan baik-baik telur-telur itu. Dalam beberapa hari ini kita butuh banyak persediaan untuk menjamu tamu kita.”

Kemudian Giam Lim meneruskan langkahnya hendak memeriksa pagar ladangnya. Untuk itu ia harus melewati pohon-pohon kebunnya. Sambil melangkah di lorong-lorong di antara tanaman-tanaman itu, Giam Lim masih berpikir-pikir soal ayam-ayam yang tiba-tiba saja meningkat produksi telur-telurnya itu.

Tetapi kemudian, sambil melangkah, dia pun mulai melihat dan tertarik sesuatu yang dilihatnya di tanah. Di atas tanah yang masih sedikit basah oleh air embun itu, nampak jejak-jejak kecil yang banyak sekali. Jejak-jejak kaki tikus. Bahwa banyak tikus tanah yang “berkerajaan” di bawah tanah di kebun itu, Giam Lim dan penduduk desa lainnya sudah tahu.

Dan itu sangat merugikan sebab banyak tanaman bawah tanah seperti kentang dan umbi-umbian lainnya juga digerogoti dari bawah tanah. Jejak kaki tikus-tikus di pagi hari bukanlah perkara aneh. Tetapi pagi ini, yang aneh adalah jejak itu sangat banyak dan semuanya menuju ke satu arah, yaitu ke luar perkebunan itu.

Susah-payah Giam Lim harus menentang akalnya sendiri untuk membayangkan tikus-tikus tanah itu seperti digerakkan suatu kekuatan untuk keluar meninggalkan lubang-lubang bawah tanah mereka dan berbaris ke satu arah, meninggalkan ladang-ladang itu, tanpa seekor pun yang menyeleweng ke kiri atau ke kanan untuk keluar dari barisan. Tidak ada “jejak penyelewengan” itu.

Giam Lim garuk-garuk kepala tak mengerti. Perginya tikus-tikus tanah itu tentu saja suatu keuntungan besar buat para peladang, namun caranya sungguh tidak masuk akal. Giam Lim berjongkok, berlutut dan menempelkan kupingnya di tanah, ia bisa menangkap suara lemah anak-anak tikus yang mencicit di sarangnya.

Anak-anak tikus itu pasti kelaparan karena ditinggalkan ayah ibunya begitu saja, sedangkan mereka belum bisa berjalan sendiri untuk ikut “pengungsian” besar-besaran itu. Anak-anak tikus itu akan habis sendiri nanti. Giam Lim berdiri kembali, dan bergumam sendiri, “Pagi ini saja sudah ada peristiwa aneh....”

Ia pun meneruskan langkahnya ke bagian pinggir ladang yang berbatasan dengan hutan. Bagian yang biasanya pagarnya dirusak kawanan babi hutan dan monyet. Sampai di sana, dilihatnya tidak ada pagar yang rusak sedikit pun, apalagi tanaman-tanamannya. Juga tidak sedikit pun ada jejak kehadiran babi hutan atau monyet semalam.

Yang kelihatan di situ malahan dua orang lelaki, para peladang tetangga Giam Lim. Mereka kelihatan sedang berbicara dengan wajah sungguh-sungguh. Giam Lim melangkah mendekati mereka sambil berkata, “Ada apa, A-hong, A-iai?”

Yang bertubuh kurus dan kulitnya kecoklatan berkata, “Kakak Lim, heran. Pertama-tama kulihat jejak tikus.”

Dan seterusnya, yang ternyata persis sama dengan yang Giam Lim lihat, begitu pula sama dengan peladang yang satu lagi. Kemudian laporan itu dilengkapi keterangan bahwa pagar sepanjang pinggir hutan itu tidak ada kerusakan sedikit pun, dan tidak ada jejak hewan-hewan perusak.

“Ya, itu juga yang kualami....” Giam Lim menimpali. “Aneh ya?”

“Tikus-tikus itu barangkali takut ular.”

“Mustahil. Pernah juga tikus-tikus itu didatangi ular, namun kalau demikian pasti larinya berpencaran dan jejaknya bisa dilihat di tanah. Ini seperti berbaris rapi ke satu arah. Lagipula tidak mungkin ular muncul serempak di tempat seluas ini.”

“Ya memang aneh. Tetapi kalau begini terus, aku jadi bisa membayar hutang-hutangku yang sekarang menumpuk, dan meningkatkan kesejahteraan keluargaku.”

“Mungkin yang Maha Kuasa berbelas kasihan kepada kita.”

Mereka kemudian berpisahan, kembali ke rumah masing-masing. Tiba di rumahnya, Giam Lim menceritakan kepada isterinya yang terheran-heran mendengarnya.

“Benar ada kejadian begitu?”

“Benar. Aku pun sulit percaya, teman-teman juga sulit percaya. Tetapi kenyataannya demikian?”

“Ya sudahlah, yang penting menguntungkan.”

“Tamu kita sudah bangun?”

“Sarapan sudah hampir siap, tetapi agaknya A-yok masih asyik bersenandung di kamarnya. Coba kau yang bangunkan dia.”

Giam Lim melangkah mengendap mendekati pintu kamarnya Liu Yok. Ditempelkannya kupingnya ke pintu, dan ia memang mendengar suara senandung lirih, semacam nyanyian yang dilakukan dengan sepenuh hati, sehingga biarpun suara Liu Yok tidak merdu, terasa menyentuh kedalaman hati Giam Lim yang terdalam. Giam Lim mencoba menangkap kata-kata dalam senandung lirih itu.

“....kuasa-Mu termasyhur di seluruh bumi. Keagungan-Mu lebih tinggi dari lapis-lapis langit, mulut bayi dan anak-anak mendendangkan-Mu. Pemerintahan-Mu teguh tak tergoyahkan, membungkam musuh-musuh-Mu. Kupandang langit ciptaan-Mu, bulan dan bintang yang Kau pasang, dan apakah aku sehingga Kau selalu mengingatku? Siapa aku sehingga Kau pelihara aku? Tetapi Kau angkat aku hampir setara dengan-Mu. Kau mahkotai aku dengan keagungan dan kehormatan. Kau beri aku kuasa atas alam raya, seluruh ciptaan-Mu Kautundukkan kepadaku. Semua mahluk di padang belantara di lautan dan di angkasa. O, Kekasih, aku mabuk dan tergila-gila oleh Pesona-Mu.”

Giam Lim pernah mendengar nyanyian-nyanyian indah. Kalau ia masuk ke kota Lam-koan dan lewat di rumah-rumah makan ternama di kota itu, dari luar akan terdengar nyanyian bagus mengalun dari dalam, sebab memang umum rumah-rumah makan menyediakan pemusik-pemusik dan penyanyi-penyanyi handal untuk bisa menarik langganan lebih banyak. Lagu yang didukung teknik menyanyi dan bermain musik yang baik, didukung penjiwaan yang memadai.

Tapi senandung Liu Yok yang tanpa iringan musik bahkan suaranya agak sumbang itu, alangkah bedanya. Setiap kali kata “aku” dalam senandung itu mengandung rasa syukur, terima kasih yang keluar bukan saja dari pengertian tapi dari alam bawah sadar si luar pengertian. Dan setiap kata “Kau” diucapkan begitu hormat, tunduk, kagum, cinta, bahkan tergila-gila!

Giam Lim seolah sedang menguping sepasang kekasih yang sedang berkasih-kasihan, namun cinta kasih antara “aku” dan “Kau” ini berjuta-juta kali lebih besar dari cinta sepasang kekasih yang pernah dikenal dalam dongeng-dongeng macam Sam-pek Ing-tai sekalipun. Tangan Giam Lim yang sudah terangkat hendak mengetuk pintu itu pun tertahan, tidak jadi mengetuk. Berjingkat-jingkat Giam Lim menjauhi pintu sambil geleng-geleng kepala.

“Sudah mau keluar kamar?” tanya isterinya di samping dapur.

“Biarkan dia keluar kamar kapan saja, semau nya. Kita jangan mengganggunya.”

“Lho, sedang apa dia di kamar?”

“Kedengarannya bercakap-cakap dengan seseorang yang amat dia cintai.”

“Lho, padahal dia sendirian di kamar itu. Jangan-jangan dia... wah, gawat ini.”

“Apa yang kau pikirkan, isteriku?”

“Kalau orang bercakap-cakap sendiri, bukankah itu namanya... gila?”

“Entahlah. Tetapi seandainya A-yok itu gila, dialah orang gila yang paling menyenangkan dan paling tidak berbahaya. Aku pun mau kalau gilanya seperti dia. Kelihatannya bahagia sekali.”

Isteri Giam Lim agak cemberut. “Lalu sarapannya diapakan? Didiamkan sampai dingin di meja?” Agaknya wanita ini sedikit tersinggung, seolah-olah suaminya masih kurang bahagia bersamanya.

Giam Lim dapat menangkap gerak hati isterinya, dan dia pun tertawa, “Tentu saja aku pun berbahagia sekarang, punya isteri pintar masak seperti kau. Tetapi nyanyian A-yok tadi rasanya memang lain, bukankah tadi pagi pun kau mengakui kalau hatimu merasa damai mendengarnya? Aku mengakui itu memang betul, dan itulah sebabnya aku tidak cemburu kepadamu.”

Sekarang isteri Giam Lim ikut tertawa, “Iya, iya. Nah, sekarang sarapan pagi ini mau diapakan?”

Ketika itulah Liu Yok muncul di pintu dapur, wajahnya sangat cerah seperti matahari, katanya, “Kakak Giam Lim dan Enso (Kakak Ipar Perempuan) sangat baik kepadaku. Tentu saja takkan kusia-siakan sarapan yang sudah kalian sediakan. Kebetulan perutku juga sudah keroncongan.”

Begitulah, pihak tamu dan Tuan Rumah sama-sama bersikap terbuka dan akrab, maka suasanya jadi enak dan tidak canggung sama sekali. Liu, Yok segera pergi ke sumur untuk mandi, sementara isteri Giam Lim menata meja. Tak seperti biasanya, isteri Giam Lim melakukannya sambil bersenandung. Tetapi Giam Lim tidak cemburu, ia memang merasakan suasana rumah yang tenteram sehingga dia pun ikut-ikutan bersenandung.

Tidak lama kemudian, makan pagi pun siap dan orang-orang yang akan menikmatinya sudah melingkarinya. Ketika Giam Lim mempersilakan, semuanya segera menikmati hidangan itu. Giam Lim duduk berseberangan meja dengan Liu Yok. Wajah Liu Yok kelihatan tenteram dan amat cerah, bahkan entah perasaan Giam Lim sendiri atau bukan, wajah itu kelihatan memancarkan semacam cahaya yang lembut. Tidak menyolok sekali, namun bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka.

Sambil menikmati hidangan beramai-ramai, Giam Lim kemudian memberanikan diri bertanya, “A-yok, agamamu apa?”

Jawaban Liu Yok di luar dugaan, “Aku tidak beragama.”

Giam Lim tercengang sampai berhenti mengunyah, matanya melebar. “Lha tadi di dalam kamar itu, kau sedang apa?”

“Mengobrol.”

“Mengobrol sendiri?”

“Tidak. Kalau mengobrol sendiri kan namanya gila? Padahal aku tidak gila.” ketika Liu Yok berkata sampai di sini, isteri Giam Lim berdebar-debar hatinya. Jangan-jangan Liu Yok mendengar perkataannya tadi?

Sementara Giam Lim terus bertanya, “Kalau tidak mengobrol sendiri, terus dengan siapa? Di kamar itu kan tidak ada siapa-siapa lagi?”

“Ada. Sahabatku. Meski dia tidak terlihat.”

Bulu tengkuk Giam Lim agak meremang, ia menoleh kiri kanan, ingin melihat “sahabat Liu Yok” itu, namun tidak kelihatan apa-apa. “Sahabatmu itu... di mana dia sekarang?”

“Di dalam sini.” sahut Liu Yok sambil memegang dadanya sendiri.

Giam Lim merasa tidak mampu melanjutkan percakapan, maka ia meneruskan makannya. Tetapi serangkaian kejadian langka yang berturut-turut terjadi pagi itu, seperti ayam-ayam yang bertelur jauh lebih banyak dari biasanya, tikus-tikus tanah yang pergi, hewan-hewan perusak yang tidak datang, tidak bisa ditahan lama-lama oleh Giam Lim dalam hatinya. Ia pun menceritakannya kepada Liu Yok.

Mendengar itu, ternyata jawaban Liu Yok ternyata tidak istimewa, jawabannya kurang lebih sama dengan agamawan-agamawan dari golongan, apapun juga, “Itu bagus. Berterima kasihlah kepada Yang Maha Kuasa.”

“Kami, penduduk desa ini, mungkin akan mempertimbangkan untuk membangun sebuah kuil pemujaan di desa ini, sebagai tanda terima kasih kami. Di desa ini belum ada satu tempat pemujaan pun.”

“Kalian sudah punya kuil pemujaan yang baik, kalau kalian sadari dan kalian mau.”

“He, di mana?”

“Diri kalian sendiri itulah kuil pemujaan, di mana Yang Maha Kuasa sangat mengingini untuk berdiam.”

Giam Lim dan isterinya tidak mengerti, sementara anak-anak lebih menggubris makanan yang di atas meja daripada mendengarkan percakapan orang-orang tua ini. Karena Giam Lim kembali tidak mengerti perkataan Liu Yok, maka percakapan kembali jadi buntu. Dan waktu percakapan dilanjutkan juga, yang diomongkan ialah perkara-perkara ringan. Namun dalam hati Giam Lim berkembang rasa penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang Liu Yok dan keyakinannya.

“Mudah-mudahan ia cukup lama tinggal di sini, jadi aku ada kesempatan untuk banyak bertanya kepadanya. Tetapi aku akan minta agar ia menerangkan dengan pelan-pelan dan sabar, jangan menggunakan istilah-istilah yang susah dimengerti.” tekad Giam Lim dalam hatinya.

Ketika matahari sudah agak tinggi, Kui Tek-lam pun muncul di rumah itu, sambil berkelakar, “Wah, kedatanganku terlambat. Meja sudah bersih dan makanan sudah lenyap ke dalam perut semua. Saudara Liu, bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?”

Liu Yok menjawab, “Nyenyak sekali. Saudara Kui, dari mana kau?”

Sahut Kui Tek-lam, “Saudara Liu, ada kawanku yang harus Saudara tolong. Dia menunggu di suatu tempat.”

Sahut Liu Yok, “Sebenarnya Saudara Kui sendiri pun perlu disembuhkan.”

“Lho, aku?”

“Ya.”

Dengan wajah terheran-heran, Kui Tek-lam menepuk-nepuk badannya sendiri sambil berkata, “Aku ini sehat kok. Apanya yang perlu disembuhkan?”

“Jiwamu.”

Seandainya yang bicara itu bukan Liu Yok, yang bagi Kui Tek-lam adalah “penolong dalam mimpi”, mungkin sekali Kui Tek-lam akan tersinggung, sebab sama saja ia dibilang sakit jiwa. “Saudara Liu, kau tidak maksudkan aku... aku... gila bukan?”

“Tidak. Sakit jiwa belum tentu gila lalu menari-nari di jalan raya tanpa celana. Tetapi dalam jiwanya masih tersembunyi sesuatu yang tidak beres. Kemarahan, ketakutan dan sebagainya.”

“Aku tidak marah kepada siapa-siapa.”

“Kepada orang-orang Pek-lian-hwe?”

“Ya... itu... marah juga, tapi sedikit.”

“Tetapi marah kan?”

“Wajar saja, kan mereka musuh?”

“Selama Saudara Kui menganggapnya wajar, Saudara belum bisa disembuhkan.”

Kui Tek-lam agak jengkel. Kedatangannya itu disuruh Oh Tong-peng untuk menjemput Liu Yok agar menyembuhkan Cu Tong-san. Malah Kui Tek-lam yang dibilang sakit jiwa.

Liu Yok tertawa melihat air-muka Kui Tek-lam. Ia bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Kui Tek- lam sambil berkata, “Jangan marah, Saudara Kui, nanti penyakit jiwamu tambah parah. Sekarang antar aku ke tempat temanmu itu.”

Kui Tek-lam menarik napas lega, “Saudara Liu mau menyembuhkannya?”

“Bukan aku, tetapi Temanku yang berdiam di dalam aku.”

Mendengar jawaban itu, Kui Tek-lam membatin, “Nah, terbukti siapa yang sakit jiwa sekarang?”

Namun bibirnya tidak berkata apa-apa lagi. Bersama-sama Liu Yok, mereka berjalan menuju ke tempat di mana Cu Tong-liang berada. Mereka melewati ladang-ladang penduduk yang terbentang luas dengan seribu satu macam tanaman pangan. Terlihat indah karena perkebunan itu bertingkat-tingkat di lereng pegunungan.

Kui Tek-lam agak takut mengajak bicara Liu Yok, takut kalau Liu Yok bicara aneh-aneh yang tak bisa dilayaninya. Tetapi ternyata Liu Yok bicara soal biasa, seperti keindahan alam pegunungan, keramah-tamahan keluarga Giam Lim, dan kemudian menanyakan tugas Kui Tek-lam sebagai agen pemerintah kerajaan di Lam-koan itu.

Kui Tek-lam menerangkannya secara garis besar saja, tidak terperinci, bukan takut Liu Yok akan berkhianat melainkan takut kalau Liu Yok yang kelewat jujur ini tanpa sengaja akan membocorkannya ke telinga musuh. Toh kelihatannya Liu Yok sudah puas akan jawaban yang garis besar itu.

Tiba-tiba wajah Liu Yok berkerut, dan ia berhenti melangkah, sehingga Kui Tek-lam ikut berhenti dan memandang dengan heran. Mereka sedang di sebuah jalan setapak di pinggir hutan dan belum sampai ke tujuan, bahkan masih jauh.

“Kenapa Saudara Liu?”

Liu Yok tiba-tiba mendorong pundak Kui Tek-lam keras-keras sambil berkata tegang, “Saudara Kui, cepat berlari sebisa-bisamu untuk menemui teman-temanmu dan cegahlah mereka melakukan tindakan yang mencelakakan diri sendiri!”

“Lho, saat ini teman-temanku sedang....”

“Cepat! Jangan terlambat!” kali ini Liu Yok berteriak sampai Kui Tek-lam kaget.

Kui Tek-lam tidak tahu apa yang terjadi, namun sikap Liu Yok yang begitu sungguh-sungguh membuatnya tak berani ayal-ayalan lagi. Segera ia ayun sepasang kakinya secepat-cepatnya menuju ke tempat teman-temannya.

Sedangkan Liu Yok tidak bisa berlari secepat Kui Tek-lam. Ia justeru masuk ke dalam hutan, menjauhi jalan setapak, mencari tempat yang rindang untuk... tidur! Namun dalam tidurnya nampak wajahnya berkerut-kerut seakan menghadapi masalah berat.

Kui Tek-lam tiba di tempat teman-temannya bersembunyi. Waktu itu Oh Tong-peng, seperti biasa, sedang menjalankan pengamatan di Lam-koan. Sedang Cu Tong-liang yang disantet orang Pek-lian-hwe itu ditunggui oleh Thiam Gai seorang diri.

Seperti hari-hari sebelumnya, Thiam Gai merawat temannya itu dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan. Meskipun saban-saban la dapati celana temannya itu basah, entah di bagian belakang atau di bagian depannya, maka Thiam Gai tidak ragu-ragu mencopoti pakaian temannya itu untuk membersihkan tubuhnya, membuang kotorannya, mencuci pakaiannya dan kemudian memakaikan pakaian kering pada temannya. Semuanya dilakukan tanpa rasa kesal.

Sementara Cu Tong-liang sementara diperlakukan demikian, diam saja tak bergerak-gerak, lemas tak bertenaga. Pagi itu setelah membersihkan dan memakaikan pakaian bersih kepada “momongan”nya itu, Thiam Gai duduk bersantai sambil menunggu kembalinya entah Oh Tong-peng entah Kui Tek-lam. Ia juga berwaspada terus kalau-kalau ada kaki tangan Pek-lian-hwe yang mencium jejak sampai ke situ, meski tempat itu sepi sekali.

Tiba-tiba di luar terdengar suara seekor burung gagak yang keras dan mengejutkan Thiam Gai. Dengan tangkas ia melompat keluar dan melihat ke sekitarnya. Tidak nampak seorang pun kecuali semak belukar dan reruntuhan gedung-gedung model Eropa di tempat itu. Namun ketika ia menengadah, dia lihat seekor burung gagak terbang berputaran di atas tempat persembunyiannya, dan berkaok-kaok keras.

Thiam Gai merasa kupingnya tidak enak mendengar suara itu, bahkan samar-samar merasakan bulu kuduknya meremang, meskipun saat itu matahari sedang bercahaya gemilang di ufuk timur. Thiam Gai lalu mengambil batu dan melempar burung gagak itu. Si burung gagak berkoak kaget dan terbang lebih tinggi, tetapi turun kembali dan tatapan matanya yang tajam berpengaruh itu memandang Thiam Gai.

Thiam Gai merasa seluruh kulit tubuhnya dirambati semacam aliran dingin yang lembut, namun tidak tahu apakah itu. Ia cuma memungut lagi sebutir batu dan menghalau burung itu. Burung itu terbang menghilang ke angkasa. Thiam Gai menghembuskan napas lega, namun sepercik kejengkelan tak juga hilang dari hatinya dan membuatnya jadi merasa tidak nyaman.

Ketika ia kembali melangkah masuk, hidungnya langsung disongsong bau yang sudah dihapalnya dalam beberapa hari terakhir ini. Bau kotoran manusia yang dihasilkan oleh Cu Tong-liang, itu artinya Cu Tong-liang sudah buang air besar lagi dalam duduknya, padahal Thiam Gai baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan pakaiannya dan menggantikannya dengan pakaian bersih.

“O, Langit, berilah aku kesabaran tambahan lagi untuk mengurus momongan besar ini....” keluh Thiam Gai dengan suara agak keras, meluapkan kesalnya. Sesabar-sabarnya ia, sekarang merasa jengkel juga. Kejengkelan sedikit karena dikejutkan burung gagak tadi, sekarang bertambah besar dengan tugas yang dihadapinya. Bukan tugas di medan tugas, tetapi tugas menceboki, mencuci pakaian kotor, mengganti pakaian.

Sambil menggerutu, ia mulai bekerja. Makin menggerutu, kejengkelannya makin menyesak di rongga dadanya, dan makin besar kejengkelannya, makin banyak gerutuannya, makin banyak gerutu, makin besar lagi kejengkelannya.

Namun ia bersihkan juga tubuh rekannya yang sedang tak berdaya itu, bahkan tak bisa mengingat diri sendiri, sebab mata Cu Tong-liang hanya menatap kosong ke depan. Thiam Gai lalu mencuci pakaian kotor dan langsung menjemurnya di luar, kemudian pakaian yang kering mulai dipakaikan, terdengar suara “breet” dan “brooot” dari pantat Cu Tong-liang dan bau busuk kembali menyengat di seluruh ruangan. Kalau biasanya buang air cukup sekali sehari, hari ini rupanya ia sedang sakit perut.

Kejengkelan Thiam Gai pun meledak. Ia berteriak, sekerasnya, tak peduli apakah bakal ada yang mendengar atau tidak. Ia memukul-mukul lantai sampai tinjunya berdarah. Kutuknya, “Persetan dengan bayi tua ini. Biarkan saja tubuhnya kotor dan berbau sepanjang hari. Kalau Oh Tong-peng atau Kui Tek-lam merasa keberatan, biar mereka yang menggantikan tugasku!”

Lalu ia keluar dari ruangan, berjalan hilir-mudik di udara terbuka dengan hati yang terasa panas. Ia tidak menggubris lagi Cu Tong-liang. Kesabarannya dan belas-kasihannya selama, ini, entah kemana lenyapnya. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba aliran udara dingin yang lembut yang dirasakannya tadi, kembali dirasakannya. Thiam Gai tidak menyangka apa-apa, dan menganggap itu hanyalah sentuhan angin pagi di kulitnya.

Dan kemudian, serentetan pikiran pun menyerbu benaknya, “Saudara Cu sudah tidak berdaya apa-apa, mengurus diri sendiri pun tidak mampu lagi. Makin lama ia hidup, makin menderitalah dia. Aku sebagai sahabatnya, tidak boleh membiarkan penderitaan ini berkepanjangan....”

Pikiran yang muncul mendadak itu kedengarannya begitu masuk akal, begitu bersahabat, seolah-olah demi kepentingan Cu Tong-liang. Toh Thiam Gai kaget sendiri demi mendapati dirinya berpikir demikian. Ia menampar jidatnya sendiri dan buru-buru membantah pikiran itu, “Apakah aku sudah gila, sampai berpikiran untuk menghabisi nyawa teman sendiri?”

Namun pikiran pertama tadi, yang kelihatannya seperti pikiran Thiam Gai sendiri, muncul kembali dengan alasan yang lebih kuat, “Bukan membunuh teman, tetapi justeru menolong teman dari penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaan yang lebih buruk dari kematian. Aku sendiri tentu akan memilih mati daripada mengalami demikian. Cu Tong-liang, Pang Hui-beng dan Lo Lam-hong sendiri pun akan memilih untuk mati apabila mereka masih punya sisa kesadaran untuk memilih sendiri nasibnya. Ya, kematian akan menolong. Justeru aku amat kejam kalau membiarkan Saudara Cu begini terus....”

Pikiran Thiam Gai dibanjiri dengan gencar oleh pikiran untuk “menolong” Cu Tong-liang itu, sampai akhirnya ia berpendapat bahwa Cu Tong-liang memang perlu “dibebaskan” dari penderitaannya. Ia pun membulatkan pikiran itu, lalu melangkah masuk kembali ke dalam rumah, berjongkok di sebelah Cu Tong-liang, dan berkata,

“Saudara Cu, kau yang paling tahu bahwa aku begitu menyayangimu. Entah kau sadar atau tidak, Langit jadi saksiku, bahwa dalam beberapa hari ini aku membuang kotoranmu tanpa jijik, bahkan ketika aku sedang makan. Aku membersihkan tubuhmu, membersihkan pakaianmu, mengenakan pakaian bersih kepadamu. Aku menyuapimu makan.

Saudara Cu, seorang ibu kepada bayinya sendiri pun barangkali tidak setelaten aku terhadap kau. Tapi karena aku sangat menyayangimu, aku tidak tahan melihatmu dalam keadaan seperti ini lebih lama lagi. Mati tidak, hidup juga tidak, cuma teronggok terus seperti sebuah boneka. Karena itu, Saudara Cu, aku tidak akan membiarkanmu menderita lebih lama, aku akan membebaskan dari penderitaanmu.

Aku tetap menyayangi, Saudara Cu, aku mau saja tetap membersihkan kotoranmu dan merawat dirimu, asalkan dirimu masih ada harapan disembuhkan. Sayang, harapan itu tidak ada dan terlampau dibuat-buat atau diada-adakan oleh Kakak Oh atau Saudara Kui. Karena itu, daripada penderitaanmu berlarut-larut, aku sebagai teman setia akan membebaskanmu, Saudara Cu, selamat jalan.”

Setelah “pidato selamat jalan” untuk Cu Tong- liang yang entah bisa mendengar entah tidak itu, Thiam Gai mengerahkan tenaga ke jempol tangan kanannya dan siap menekan jalan darah kematian di dada Cu Tong-liang. Bahkan Thiam Gai sendiri mempercayai ketulusan hatinya sendiri, buktinya, ia siap melakukan “pembebasan sukma” itu dengan air mata berlinangan.

Saat tangannya mulai bergerak itulah Kui Tek-lam melompat masuk melalui tangan Thiam Gai sambil berseru, “Saudara Thiam! Apa yang akan kau lakukan?”

Thiam Gai geragapan, tak langsung bisa menjawab. Pikirannya yang sudah bertekad bulat “menolong” Cu Tong-liang itu sekarang goyah kembali setelah kemunculan Kui Tek-lam.

“Saudara Thiam, mau kau apakan teman kita ini?” Kui Tek-lam bertanya pula, sambil melepaskan tangan Thiam Gai. “Kau ingin membunuhnya?”

Thiam Gai menarik napas, sahutnya, “Jangan pakai istilah 'membunuh' Saudara Kui, aku bertujuan membebaskan dirinya dari penderitaan.”

“Apa pun istilahnya, itu adalah melenyapkan nyawa orang lain yang bukan hak kita.”

“Saudara Kui, apakah kau sampai hati melihat teman baik kita ini terus-terusan hidup seperti boneka begini? Tidak tahu apa-apa....”

“Dia akan sembuh.”

“Ah, harapan kosong itu terlalu diada-adakan. Untuk menipu diri sendiri saja.”

“Tidak, Liu Yok yang mampu menghancurkan pekerjaan-pekerjaan jahat kaum Teratai Putih itu sedang menuju kemari. Kau lupa? Bukankah kemarin malam sudah kuberitahu kalau Liu Yok sudah tiba di kota ini?”

Thiam Gai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba dia pun merasa heran terhadap dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba pikiran untuk “membebaskan sukma” Cu Tong-liang itu begitu saja membanjiri pikirannya dan ia serta-merta melaksanakannya? Pikiran membunuh seorang teman adalah sesuatu yang berat, apalagi antara teman karib seperti Thiam Gai dan Cu Tong-liang.

Seandainya pikiran itu muncul, pasti Thiam Gai akan mempertimbangkannya dalam waktu yang cukup lama sebelum sampai pada kebulatan tekad, mungkin selama masa itu akan ada kegelisahan. Tetapi ini benar-benar aneh, pikiran itu muncul demikian saja dan Thiam Gai merasa dirinya seperti didikte atau dituntun untuk melakukannya begitu saja tanpa pikir panjang.

“Saudara Thiam, kau bosan merawat teman kita?”

Hati Thiam Gai tersentuh, ia menarik napas, “Tidak. Aku selalu senang melakukan sesuatu buat sahabat karib. Tetapi... pikiran untuk membunuh Saudara Cu tadi benar-benar muncul begitu saja.”

“Tentu sudah lama kau memikirkannya.”

“Tidak. Sungguh.”

“Itu bukan sifatmu, Saudara Thiam. Sifatmu lebih memikirkan masak-masak suatu rencana sebelum bertindak.”

“Kau menuduhku, Saudara Kui?”

“Tidak. Yang kumaksudkan, mungkin kau sudah terkena pengaruh Pek-lian-hwe juga. Seperti Lo Lam-hong, Pang Hui-beng dan Cu Tong-liang sekarang, bukankah mereka juga tidak dalam kepribadian mereka sendiri sekarang?”

Thiam Gai menarik napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mengomentari sepatah pun perkataan Kui Tek-lam itu.

“Sekarang bagaimana perasaanmu?” tanya Kui Tek-lam.

“Rasanya tiada sesuatu yang berubah pada diriku.”

“Masih ada keinginan untuk membunuh Saudara Cu?”

“Masih ragu-ragu.”

“Tadi kau tidak ragu-ragu....”

“Sebelum kau datang, aku juga ragu-ragu, Saudara Kui. Tetapi pikiran untuk membunuh Saudara Cu itu terus membanjiri pikiranku dan keragu- raguanku hilang. Sekarang setelah bertemu dengan- mu, Saudara Kui, keragu-raguanku datang lagi.”

“Baiklah, Saudara Thiam, aku percaya bahwa Pek-lian-hwe sedang menyerang kita dengan sesuatu pengaruh. Pertahankan pikiranmu untuk tidak membunuh Saudara Cu. Aku harus pergi lagi untuk menjemput Liu Yok yang tadi kutinggalkan di tengah jalan.”

“Ya, ya, aku akan mengukuhkan jiwaku agar tidak terombang-ambing oleh pikiran yang merugikan.”

“Kau pasti mengalami sesuatu pagi ini.”

Thiam Gai mengangguk, dan secara singkat menceritakan tentang burung gagak tadi. Mendengar itu, Kui Tek-lam menarik napas. Berhadapan dengan Pek-lian-hwe benar-benar jauh berbeda dengan menghadapi organisasi bawah tanah lainnya. Dengan penguasaan ilmu gaib orang-orang Pek-lian-hwe, maka hal-hal yang tidak masuk akal pun bisa terjadi dan harus diwaspadai.

Tetapi Kui Tek-lam lega bahwa Liu Yok sudah tiba di Lam-koan. Bukankah tadi ketika Liu Yok menyuruhnya untuk mendahului- nya membuktikan ketajaman firasat Liu Yok akan apa yang sedang terjadi dikejauhan? Dan ketika Kui Tek-lam tiba di tempat itu, nyatanya Thiam Gai hampir saja membunuh Cu Tong-liang seandainya tidak dicegah Kui Tek-lam.

Timbul harapan di hati Kui Tek-lam, bahwa teman-temannya akan sembuh oleh “kesaktian” Liu Yok. Seandainya Kui Tek-lam tadi sempat mendengar Giam Lim bercerita ayam yang bertelur lebih banyak, tikus yang berbaris keluar dari sarang bawah tanah mereka dan meninggalkan perladangan dan sebagainya, tentu ia akan lebih yakin.

Begitulah, dengan keyakinan bahwa Thiam Gai sudah lepas dari pengaruh keinginan memmbunuh Cu Tong-liang, meski agaknya belum lepas sama sekali, Kui Tek-lam lalu pergi meninggalkannya untuk menyongsong kembali Liu Yok yang tadi ia tinggalkan di tengah jalan. Dan Kui Tek-lam pun mengurut dadanya sendiri ketika menemui Liu Yok sedang tidur pulas di bawah sebuah pohon rindang di dekat sebuah perladangan penduduk.

“Saudara Liu, Saudara Liu.” Kui Tek-lam membangunkannya sambil memanggil-manggil.

Liu Yok pun menggeliat bangun sambil menguap. Bahkan sebelum Kui Tek-lam berkata apa-apa, ia sudah lebih dahulu berkata, “Ayo kita teruskan perjalanan.”

Sambil mulai melangkah, Kui Tek-lam merasa perlu membuat semacam “laporan kerja” kepada Liu Yok, katanya, “Saudara Liu, ternyata perasaanmu benar. Ketika aku tiba di sana, temanku hampir saja membunuh temanku yang lain, yang justeru baru hendak dimintakan kesembuhan darimu.”

Jawaban Liu Yok enteng saja, “Ya, tetapi temanmu yang tadi dilanda pikiran untuk membunuh itu sampai sekarang belum bersih sama sekali dari pikiran itu. Hanya saja untungnya, pikiran itu sudah jauh lebih lemah. Tapi kita harus cepat-cepat sampai ke sana juga.”

Kui Tek-lam merasa heran bahwa Liu Yok sepertinya sudah tahu selama tidur pulas tadi. Namun ia mulai agak terbiasa dengan keluar-biasaan Liu Yok, dan ia pun berjalan di sampingnya tanpa berkata apa pun.

“Mungkin benar kata Jenderal Wan Lui kepadaku.” Kui Tek-lam membatin dalam hatinya. “Liu Yok ini adalah manusia yang dikaruniai kemampuan gaib tanpa belajar, kemampuan yang menghancurkan kemampuan gaib jahat secara otomatis. Seperti air terhadap api yang kodratnya memang saling mematikan.”

Kui Tek-lam pun melangkah bersemangat. Ia sudah membayangkan begitu tiba di dekat Cu Tong- liang nanti, Liu Yok akan segera berkomat-kamit membaca mantera sambil mengusap-usap tubuh pasiennya, lalu sembuhlah Cu Tong-liang.

Ternyata setelah itu Liu Yok sampai direruntuhan rumah model Eropa tempat agen-agen kerajaan itu menyembunyikan diri, dan melihat keadaan Cu Tong-liang, Liu Yok tidak segera melakukan yang sudah dibayangkan oleh Kui Tek-lam. Liu Yok malah minta ditunjukkan di mana ia bisa mendapat air.

“Di belakang rumah ini ada sebuah sungai kecil yang airnya jernih, air dari pegunungan.” sahut Thiam Gai. “Tetapi tebingnya licin, biar aku yang ambil.”

Liu Yok mencegah, “Biar aku ambil sendiri. Mulai saat ini, perawatan Saudara Cu ini biarlah menjadi urusanku.”

“Saudara Liu, air itu mau untuk apa?” tanya Kui Tek-lam, sambil membayangkan air itu akan dimanterai lalu dipercik-percikkan ke tubuh Cu Tong- liang. Jawaban Liu Yok ternyata jauh dari bayangan Kui Tek-lam.

“Untuk membersihkan tubuh dan pakaiannya.”

Sejak terakhir kalinya Cu Tong-liang buang kotoran dalam celana tadi, peristiwa yang membuat Thiam Gai dilanda pikiran untuk “membebaskan”nya, memang Cu Tong-liang belum sempat dibersihkan, sehingga waktu Liu Yok tiba di situ suatu bau yang kurang sedap dari kotoran manusia yang mulai mengering memenuhi ruangan itu.

Mendengar jawaban itu, Kui Tek-lam bertanya, “Lalu... kapan Saudara Liu hendak mulai menyembuhkannya?”

“Jangan salah paham, bukan aku yang menyembuhkan.”

“Lho, lalu siapa?”

“Temanku yang berdiam di dalam aku.”

Kui Tek-lam menarik napas sambil menggerutu dalam hati, “Nah, mulai aneh-aneh lagi omongan orang ini.”

Tetapi Kui Tek-lam harus mulai menyesuaikan diri dengan Liu Yok, ia berkata, “Baiklah. Kapan teman Saudara yang berdiam di dalam Saudara itu hendak mulai menyembuhkan temanku ini?”

“Waktunya terserah Dia.” kata Liu Yok kalem. “Tetapi pastilah Dia suka, sebab Dia memang sudah dilantik untuk itu, dan aku pun dilantik oleh Dia untuk tugas yang sama dalam hubungan ketergantungan sepenuhnya dengan-Nya.”

Kui Tek-lam menggaruk-garuk tengkuknya sambil saling memandang dengan Thiam Gai, lalu tanyanya kepada Liu Yok, “Tidak bisakah Saudara Liu menyuruh temanmu itu.”

“O, tidak, tidak bisa. Bukan aku yang menyuruh Dia, tetapi Dialah yang menyuruhku. Dan sekarang ini, menurut perintah-Nya dalam hati nuraniku, aku harus cari air untuk membersihkan tubuhnya dan mencuci pakaiannya.”

Begitulah, Liu Yok lalu bangkit mencari air dan kemudian membersihkan tubuh Cu Tong-liang, persis yang dilakukan Thiam Gai sebelumnya. Ketika Liu Yok pergi mengambil air, Thiam Gai bertanya kepada Kui Tek-lam,

“Bagaimana ini, Saudara Kui? Dia diharapkan datang jauh-jauh dari Lok-yang untuk menyembuhkan Saudara Cu, Pang dan Lo, bukan untuk sekedar merawat dan membersihkan orang sakit yang aku sendiri pun bisa melakukannya. Jangan-jangan kabar tentang kemampuan hebatnya itu hanya kabar burung belaka?”

“Aku pun merasa bahwa dia tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, Saudara Thiam, tetapi... aku percaya kepadanya. Dan hati-hati, jangan membicarakan dirinya meskipun dia sedang tidak ada, atau sedang tidur, sebab barangkali saja dia tahu.”

“Ah, apa iya?”

“Sudahlah, biarkan dia berbuat semau-nya, kita lihat saja perkembangannya.”

“Eh, Kakak Oh kok belum kembali juga ya? Sudah setengah hari lebih ia pergi.”

“Kemana perginya dia?”

“Seperti biasa, ke kota. Untuk mencari berita-berita baru.”

“Tenang saja. Dia orang yang kelewat tangguh untuk ditundukkan dengan cara kasar maupun dengan cara gaib. Ia pasti tidak apa-apa.”

Setelah malam tiba, barulah Oh Tong-peng kembali ke tempat persembunyian itu. Wajahnya nampak berkeringat dan berlapis debu, kerut-kerut tegang terlihat di kulit wajahnya, namun demikian la tidak lupa lebih dulu memberi salam kepada Liu Yok, “Selamat bergabung dengan kami, Saudara Liu.”

Liu Yok menanggapi dengan ramah, “Terima kasih. Tentunya ini adalah Kakak Oh. Tadi Saudara. Kui dan Thiam sudah menceritakan tentang Kakak.”

Oh Tong-peng pun sudah mendengar tentang calon menantu Gubernur Ho-lam yang tidak sok dan rendah hati ini, maka Oh Tong-peng berani juga berkelakar, “Saudara Kui dan Thiam menceritakan diriku kepadamu itu hal-hal yang baik atau yang jelek?”

“Semua manusia punya sisi baik dan jelek sekaligus.” sahut Liu Yok.

Selama berbicara dengan Liu Yok, Oh Tong-peng mengamat-amati tampang dan potongan Liu Yok, dan ternyata memang tidak terlihat tanda-tanda yang menonjol sedikit pun. Liu Yok “terlalu biasa” dan di masyarakat di satu kota saja bisa diketemukan ribuan orang seperti itu. Kalau mau disebut sesuatu yang istimewa dari dirinya, barangkali hanyalah sorot matanya yang lembut dan hangat serta jernih.

“Pantas dulu Kui Tek-lam meninggalkannya di Lok-yang, karena Liu Yok dianggap sebagai orang yang kurang cocok untuk medan tugas yang keras di Lam-koan ini.” Oh Tong-peng membatin. “Mudah-mudahan kehadirannya di sini untuk membantu, bukan untuk merintangi atau menjadi beban....”

Selanjutnya,