X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 04

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api seri ke-6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 04 karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 04

Di bagian arena yang lain, Si Kipas Putih Keempat yang menyerbu dari arah lain. Juga langsung ketemu tandingan setimpal. Si Kipas Putih Keempat ini bersenjata sepasang pedang pendek, dan jagoan Thian-te-hwe yang melawannya bersenjata tiat-koai, pentung bengkok yang tajam ujungnya.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Karya Stevanus S P

Semua orang dari kedua belah pihak sudah ketemu tandingannya masing-masing. Kui Tek-lam juga sudah ketemu lawan, seorang anggota biasa Thian-ombing. Dalam keadaan biasa, tentu Kui Tek-lam dengan mudah akan merampungkan lawannya dalam satu dua jurus, namun karena Kui Tek-lam ingin menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya, dia sengaja melawan orang itu berlama-lama.

Dilihatnya Lo Lam-hong juga sudah mendapatkan “pasangan berlatih”nya. Cocok disebut pasangan berlatih daripada lawan, karena kedua agen pemerintah itu seolah-olah memang seolah-olah hanya berlatih saja, lebih tepat lagi disebut “melatih”.

Makin lama pertempuran berlangsung, makin terasa semangat haus darah mengental di udara tempat itu. Perasaan Kui Tek-lam yang tajam dapat merasakannya, dan ia berusaha bertahan untuk tidak terseret ke suasana yang tidak sehat itu. Kui Tek-lam tetap berpegang pada pendiriannya, bahwa berhadapan dengan musuh pun tidak perlu menjadi seperti hewan buas dan kehilangan kemanusiaannya.

Namun pengaruh dari luar, maupun dari dalam (dan yang dari dalam ini yang diherankan Kui Tek-lam), terasa begitu kuat mendesak-desak, berusaha merebut kehendaknya secara total. Yang dialami Lo Lam-hong kurang lebih sama. Ada musuh tak terlihat dalam diri mereka sendiri yang jauh lebih berbahaya dari musuh dari luar yang memegang golok.

Suasana semangat haus darah yang semakin menebal itu agaknya tidak bisa dilepaskan dari ulah orang-orang Pek-lian-hwe sendiri. Sambil bertempur, berulang kali mereka mengeluarkan teriakan yang memuja roh-roh pujaan mereka sekaligus mengutuk lawan-lawan mereka dengan kutukan-kutukan yang menegakkan bulu-roma. Ada juga yang tidak berteriak-teriak, melainkan terus-menerus menggumamkan mantera bernada rendah. Mau tidak mau itu mempengaruhi suasana. Membentuk suasan menjadi magis.

Mungkin Kui Tek-lam, Lo Lam-hong maupun orang-orang Thian-te-hwe akan merasa semakin seram seandainya mereka tahu bahwa sebagian besar dari orang-orang Pek-lian-hwe itu sudah keadaan setengah kerasukan, kesadaran mereka semakin kabur, dan mereka bertempur dengan mata terpejam atau setengah terpejam dengan mulut terus menggumamkan mantera. Hanya saja, ekspresi setengah kesurupan itu masih terlindung oleh topeng-topeng mereka.

Orang-orang itu sendiri, biarpun matanya terpejam atau setengah terpejam, ternyata bisa bertempur dengan hebat, jauh lebih hebat dari yang bisa mereka lakukan dalam keadaan sadar. Senjata musuh yang datang dari arah mana saja, dapat ditangkis, dielakkan, kemudian mereka balas menyerang.

Menghadapi orang-orang Pek-lian-hwe yang bertarung begitu ganas, kecuali Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong yang memang hanya anggota gadungan, mau tidak mau orang-orang Thian-te-hwe harus mengimbanginya dengan ganas pula, sebab mereka tidak mau tergilas lumat. Orang-orang Thian-te-hwe seolah-olah kerasukan, sedangkan orang-orang Pek-lian-hwe bukan lagi seolah-olah tetapi memang betul kerasukan, meski belum semuanya.

Dengan demikian semangat pembunuhan dan kekejaman semakin menebal menekan setiap orang yang terlibat dalam pertempuran di tepi sungai itu. Termasuk Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong yang bertahan mati-matian agar kepribadiannya tidak larut dalam suasana, toh pertahanan kedua agen pemerintah itu rontok segumpal demi segumpal, perlahan-lahan mereka larut dalam suasana.

Sekarang di antara orang-orang Pek-lian-hwe sudah ada yang memasuki tingkat lebih tinggi dalam kesurupannya. Seorang yang bertubuh tinggi besar namun mengenakan topeng wanita cantik, tiba-tiba bernyanyi merdu sekali dengan suara sepenuhnya suara wanita, merdu tetapi menegakkan bulu roma. Gerak tempurnya tiba-tiba menjadi gemulai, tetapi bertambah dahsyat berkali lipat.

Seorang yang lain mengeong-ngeong seperti kucing, bahkan mencakar pula, dan seorang lainnya lagi memekik-mekik seperti kera. Lawan-lawan dari ketiga orang yang makin kesurupan itulah yang langsung merasakan akibatnya. Mereka segera dirobohkan, dan bukan sekedar dirobohkan saja melainkan juga dihancurkan tubuhnya, diiringi nyanyian merdu bercampur suara kucing dan jeritan monyet.

“Biadab!!” caci orang-orang Thian-te-hwe melihat nasib ketiga kawan mereka.

Tetapi cacian tidak menghentikan ulah orang-orang Pek-lian-hwe. Keseimbangan pertempuran segera terguncang dengan berkurangnya tiga orang Thian-te-hwe, apalagi kemudian Si “Siluman Wanita”, Si “Siluman Kucing” dan Si “Siluman Monyet” segera mencari korban-korban baru.

Sementara yang kesurupan total semakin banyak. Arena itu segera jadi ajang pembantaian yang mengerikan, dan yang terbantai semuanya adalah orang-orang Thian-te-hwe. Ilmu gaib Pek-lian-hwe, bagaimanapun, tak tertandingi oleh kemampuan tempur “normal” dari orang-orang Thian-te-hwe.

Di atas kapal, Si Hulubalang Ke Delapan dari Thian-te-hwe, Kian Kim-hou, secara “normal” silatnya selapis lebih tinggi dari Si “Dewa Mo Sui” dari Pek-lian-hwe. Apa mau dikata, jalannya perkelahian justru “tidak normal” karena campur-tangannya kekuatan-kekuatan tak terlihat “undangan” orang-orang Pek-lian-hwe. Tubuh yang tiba-tiba menggigil kedinginan, konsentrasi yang sulit dipusatkan, penglihatan-penglihatan palsu, mengganggu seluruh orang-orang Thian-te-hwe tidak peduli pimpinan atau anak buah.

Itu pula yang dialami Kian Kim-hou, makin lama makin terasa, sehingga suatu kali ia harus terima nasibnya di ujung garuk besi Si “Dewa Mo Sui”. Perutnya robek oleh garu besi lawannya, lalu oleh lawannya yang kecil pendek itu “dicongkel” mencebur ke sungai. Waktu tubuh Kian Kim-hou terjun ke sungai, nyawanya sudah tidak ikut lagi bersama tubuhnya.

Begitu pula orang-orang Thian-te-hwe lainnya, bernasib sama, tertumpas habis tanpa sisa sesuai dengan perintah Si “Dewa Mo Sui” yang berkedudukan sebagai Hu-san-cu untuk cabang Lam-koan. Orang nomor dua.

Kui Tek-lam sendiri dalam keadaan sadar ketika ia berhasil menendang roboh lawannya, kemudian entah digerakkan kekuatan dari mana, ia gunakan pentung kayu hitamnya untuk menggebuki puluhan kali tubuh lawannya dengan kejam. Bahkan setelah lawannya tidak bergerak pun, Kui Tek-lam pun masih menggebuk belasan kali sambil berteriak-teriak buas.

Tetapi ketika sepercik kesadaran berpijar di benaknya, dia terkejut sendiri dan menghentikan tindakannya. Bahkan dengan bingung dia seolah bertanya kepada dirinya sendiri, “Gila! Apa yang sudah kulakukan ini?”

Kata-katanya itu diucapkan cukup keras, untungnya ditenggelamkan oleh suara hiruk-pikuk anggota-anggota Pek-lian-hwe yang tengah berpesta ala binantang buas itu. Kalau terdengar oleh orang-orang itu, tentu Kui Tek-lam akan mulai dicurigai.

Kui Tek-lam memang agak kehilangan kendali selelah menyadari apa yang dilakukannya atas lawannya, ia masih saja berbicara dengan keras, “Tidak mungkin aku yang melakukan ini! Tidak mungkin! Aku manusia, bukan binatang yang suka mencabik-cabik daging korbannya! Bukan aku yang melakukannya!”

Begitulah, setelah tadi jatuh ke bawah kendali semangat membunuh yang dahsyat, sekarang Kui Tek-lam jatuh ke bawah kendali yang lain, yaitu semangat rasa bersalah yang terus menerus menuduhnya. Terombang-ambing antara dua arus, Kui Tek-lam merasa kepalanya hampir meledak.

Untung Lo Lam-hong segera mendekatinya dan berdesis dari balik topengnya, “Kendalikan dirimu, Saudara Kui, kita masih di tengah-tengah musuh dan jangan sampai mereka curiga.”

Kata-kata ini seperti air dingin yang diguyurkan ke atas kepala Kui Tek-lam. Kesadarannya cepat mengambil alih kembali, tetapi guncangan perasaannya belum terpuaskan. Ia menunjuk korbannya tadi dan berkata dengan suara lebih perlahan, “Aku membunuhnya seperti binatang. Bahkan saat dia sudah mati, aku masih menggebukinya belasan kali. manusia macam apa aku ini?”

Lo Lam-hong berdesis, “Aku juga mencacah tubuh lawanku. Tetapi kita bicarakan kelak. Jangan di sini. Berbahaya.”

Ketika itu memang banyak orang Pek-lian-hwe yang sudah sadar dari kesurupannya, dan mereka tentu akan curiga kalau melihat Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong bercakap-cakap, apalagi kalau mendengar apa yang mereka percakapkan.

Hasil akhir dari pertempuran itu ternyata menakjubkan. Pihak Thian-te-hwe tertumpas habis, sebaliknya Pek-lian-hwe dengan “pasukan kesurupannya” tidak berkurang satu pun, bahkan tidak ada yang terluka biar seujung rambut. Kui Tek-lam yang sudah agak tenang, diam-diam membatin,

“Kalau Pek-lian-hwe punya puluhan ribu orang macam ini, yang bisa bertempur hebat dalam keadaan kesurupan, sungguh mereka bisa membahayakan kerajaan. Mereka akan jadi lawan berat tentara kerajaan yang terlatih sekalipun.”

Si “Dewa Mo Sui” memerintahkan orang-orangnya untuk menguras isi kedua perahu besar Thian-te-hwe itu. Ternyata isinya adalah dua karung daun candu. Kemudian mayat orang-orang Thian-te-hwe dinaik-naikkan ke kedua kapal itu, lalu kapalnya dibakar.

Esok hatinya, kapal-kapal itu tenggelam bersama mayat-mayat hangus di dalamnya, yang terapung-apung di permukaan air tinggal beberapa potong kayu hangus.

Setelah berada kembali di kamarnya, di rumah Nyo In-hwe, Kui Tek-lam benar-benar susah tidur, meskipun fisiknya sebenarnya sangat kelelahan dan menuntut istirahat yang cukup. Jiwanya bergolak dengan berbagai perasaan. Gusar, tetapi gusar kepada siapa?

Gusar kepada entah kekuatan darimana yang membuat dia jadi buas terhadap sesama, biarpun itu lawan dalam pertempuran. Tetapi kekuatan yang dijadikan sasaran kegusaran itu tidak berwujud, tidak tahu di mana tempatnya, bahkan mungkin dalam dirinya sendiri.

Kui Tek-lam tiba-tiba merasa sangat kecewa kepada dirinya sendiri, yang begitu mudah larut dalam suasana, sehingga melakukan kekejaman seperti orang-orang Pek-lian-hwe yang sedang kesurupan. Dalam kegelapan kamarnya, Kui Tek-lam menangis diam-diam. Air matanya yang banyak meleleh ternyata tidak membuat ganjalan hatinya mencair, malah membuatnya semakin sedih. Sedih kehilangan diri sendiri.

“Apakah aku tadi juga kesurupan?” ia tanya dirinya sendiri. “Ah, tidak, rasanya masih ada setengah kesadaranku tadi. Mungkin hanya agak terpengaruh suasana.”

Begitulah, karena tidak suka istilah “kesurupan” maka Kui Tek-lam menukarnya dengan istilah “terpengaruh suasana”. Kelelahan lahir batin membuat Kui Tek-lam akhirnya terlena juga ke alam mimpi. Dalam mimpinya Kui Tek-lam merasa tenteram berada di sebuah ruangan, dan ia ingat ruangan itu.

Itulah ruangan rumahnya ketika ia masih kecil sampai menjadi pemuda remaja, sebelum ia mendaftar menjadi perajurit kerajaan. Rumah tempat ia dilahirkan dan tumbuh, di mana ia kenal setiap sudutnya, bahkan dalam mimpi itu dilihatnya juga ayah ibunya, adik-adiknya.

Tiba-tiba ia mendengar suara musik yang merdu, samar-samar seperti pernah mendengar musik itu. Itulah musik yang dimainkan ketika upacara penerimaan anggota baru dulu, cuma bedanya kalau, dalam upacara dulu lagunya menimbulkan suasana seram, sekarang sebaliknya. Dalam mimpi itu Kui Tek-lam merasa kuping dan hatinya dibelai lembut oleh nyanyian tak dikenal dalam bahasa Persia Kuno itu.

Tak terasa Kui Tek-lam ikut bersenandung meskipun tidak tahu kata-katanya. Ia membuka pintu dan melihat keluar, dan nampak mega berwarna pelangi yang indah di langit. Di atas mega itu melayang seorang dewi cantik jelita yang sedang bernyanyi merdu, ia melambai kepada Kui Tek-lam dan ikut bernyanyi. Si dewi di atas mega, Kui Tek-lam di bumi.

Ibu Kui Tek-lam berusaha menarik Kui Tek-lam masuk kembali ke dalam rumah, namun ia yang sedang bernyanyi bersama dewi di atas awan pelangi itu pun tidak menggubris ajakan ibunya. Bahkan pegangan tangan ibunya dikibaskannya.

Si dewi jelita menuruni tangga awan, mendekati Kui Tek-lam dan alam bawah sadar Kui Tek-lam melonjak gembira. Menyambut sang dewi dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Ibu Kui Tek-lam nampaknya keberatan dan menghalangi di pintu, namun tidak berhasil menghalang-halangi pasangan itu masuk ke dalam rumah.

Keduanya bersama-sama ke dalam rumah, menyanyikan beberapa lagu pujaan yang dikarang orang-orang Pek-lian-hwe untuk sesembahan mereka. Aneh, dalam keadaan sadar Kui Tek-lam tentu tidak menyukai lagu itu, tetapi dalam mimpinya pesona sang dewi yang turun dari mega berwarna pelangi telah membuatnya menyukai lagu itu. Sampai terdengar pintu diketuk dari luar.

“Itu kawanku yang datang, bukalah pintunya.” rengek sang dewi lembut sambil memeluk dan menyandarkan diri ke lengan Kui Tek-lam.

Kui Tek-lam beranjak membuka pintu, dan kaget melihat yang di depan pintu adalah seseorang yang wajahnya persis wajah topeng yang dipakainya tadi. Di belakangnya banyak mahluk setengah manusia setengah srigala, setengah monyet, setengah kucing, setengah kura-kura.

Kui Tek-lam berusaha menutup pintu kembali, tetapi si muka topeng berusaha mendorongnya masuk. Dorong-mendorong pintu terjadi, Kui Tek-lam sambil menahan pintu berteriak kepada si dewi, “Bantu aku! Ada siluman hendak masuk rumah!”

Si dewi enak-enak saja duduk sambil menjawab. “Biarkan mereka masuk. Mereka kawan-kawanku.”

“Tidak! Mereka kawanan siluman!”

“Mereka kawan-kawanku!”

“Bukan, mereka....”

“Ya, mereka kawan-kawanku dan kau harus mengijinkannya masuk!” suara merdu sang bidadari sekarang tidak terdengar lagi, yang terdengar adalah lengkingannya yang seram.

Dan ketika Kui Tek-lam menengok “bidadari”nya itu maka nampaklah mata indah sang bidadari sekarang tertarik ke atas dan berubah jadi sepasang mata merah menyala menakutkan, hidungnya yang kecil mancung berubah jadi melengkung, rambutnya yang hitam jadi putih campur hijau dan sekaku ijuk, lidahnya terjulur panjang, taringnya keluar, kuku-kuku tangannya memanjang hitam.

Perubahan dahsyat dari si bidadari yang mulanya mempesona Kui Tek-lam itu mengejutkan. Apalagi ketika lidahnya yang terjulur panjang itu melibat leher Kui Tek-lam, mencekiknya, sehingga Kui Tek-lam megap-megap sulit bernapas. Ingin berteriak juga tidak bisa. Ia terdorong, dan pintu terbuka, kawanan mahluk yang wajahnya seperti topeng namun bukan topeng, menyerbu masuk.

Kui Tek-lam bergulat sengit dengan mereka. Ia lihat kedua orang tuanya dan adik-adiknya pun masuk ke kamar terdalam, Kui Tek-lam meneriakinya tanpa keluar suaranya. Ia mencapai pintu tempat keluarganya berlindung dan berdiri di ambang pintu, mempertahankan pintu dari serbuan si siluman betina berlidah panjang dan konco-konconya.

Ruang tengah rumahnya berubah jadi arus sungai yang deras, yang hendak menyeret Kui Tek-lam, Kui Tek-lam bertahan dengan berpegang erat-erat di ambang pintu ruang terdalam di mana orang tua dan adik-adiknya berlindung. Ruang terdalam itu terangkat oleh air, jadi seperti perahu yang terombang-ambing, air naik makin tinggi dan Kui Tek-lam hampir tenggelam.

Tubuhnya badan kuyup. Tiba-tiba ia melihat di seberang arus deras itu ada seorang berdiri, tidak jelas wajahnya, dan kaum siluman kabur ketakutan menghindari orang itu. Kui Tek-lam berteriak, kali ini keluar suaranya, lalu ia jatuh dari pembaringannya dan sadar dari tidurnya. Tubuhnya memang basah kuyup, namun bukan oleh air banjir melainkan oleh keringatnya sendiri yang rupanya terperas.

Dan ketika ia mencium bau pesing dari bagian bawah tubuhnya, Kui Tek-lam sadar bahwa ia bukan cuma berkeringat, bahkan ngompol! Seorang lelaki dewasa, perajurit istana yang terpilih dari yang pilihan-pilihan, ngompol! Dan termenung-menung gentar, tidak berani melanjutkan tidurnya. Tidak pula berani menoleh ke arah topeng kayu pemberian Nyo In-hwe ditaruhnya di meja!


Pada saat yang sama. Tetapi berjarak ribuan li dari tempat beradanya Kui Tek-lam saat itu, yaitu di kota Lok-yang, ibu kota Propinsi Ho-lam, di rumah keluarga Sebun, Liu Yok juga menggeragap bangun dari mimpinya yang membuatnya berkeringat dingin.

Liu Yok baru saja bermimpi melihat Kui Tek-lam, itu agen pemerintah suruhan Jenderal Wan Lui yang pernah mampir ke Lok-yang namun kemudian pergi lagi tanpa mengajak Liu Yok, seperti dihanyutkan air deras dan mengangkat tangannya memohon pertolongan. Tetapi baru Liu Yok hendak berusaha menolongnya, ia sudah siuman.

Liu Yok termenung sampai fajar, dan akhirnya mengambil keputusan esok paginya bahwa ia akan ke Lam-koan tanpa ditunda-tunda lagi. Ketika ia utarakan kepada keluarganya, keluarganya tidak terlalu heran lagi ketika tahu Liu Yok berbuat demikian “hanya” karena bermimpi yang oleh kebanyakan orang dianggap hanya sebagai kembangnya orang tidur.

“Lam-koan itu jauh dari sini, dan kau belum pernah ke sana....” komentar pamannya. Sebun Beng, pemilik rumah itu. “Apakah kau perlu kutemani?”

“Tidak usah, aku yakin tidak akan tersesat.” sahut Liu Yok yakin. “Mungkin aku harus ke Kui-lim dulu, lalu dari sana naik kapal menyusur sungai ke Lam-koan.”

Ibunya, Sebun Giok, berpesan sambil menggenggam telapak tangan anak laki-lakinya itu, “Jaga baik-baik dirimu, Nak. Ingat, kau sekarang tidak bebas lagi, kau ada ikatan pertunangan dengan Nona Sun, puteri Gubernur Ho-larn, kalau sampai ada apa-apa....”

Seperti biasa, Liu Yok menjawab tenang, “Penjagaku tidak pernah tidur, Ibu. Ibu tenang-tenang saja di rumah dan jangan cemaskan aku. Dengan Nama itu di bibirku, aku melebihi orang yang berangkat bersama balatentara yang besar.”


Kembali ke Lam-koan. Di sebuah rumah yang tidak menyolok sekali, tidak ada istimewanya dengan ribuan rumah-rumah lain di Lam-koan, juga ada seorang lain lagi yang terkejut oleh mimpinya. Ia adalah pimpinan Pek-lian- hwe cabang Lam-koan yang oleh bawahannya dikenal dengan julukan Sam-gan Sianseng (Tuan Mata Tiga).

Nama aslinya Siau Hok-to, berusia sekitar setengah abad, kurus, tampang pedagang kecil, dengan sebuah benjolan kecil di tengah-tengah jidatnya yang menyerupai mata ketika. Entah karena benjolannya itu, atau karena ilmu gaibnya yang disebut Sam-goan Hoat-sut (Ilmu Sihir Mata Ketiga) yang membuatnya dijuluki Tuan Mata Tiga.

Ada juga yang berpendapat bahwa benjolan kecil di tengah-tengah jidat itu adalah tanda orang-orang yang mempunyai ilmu mata ketiga. Sehari-harinya ia menyelubungi kegiatannya sebagai San-cu (Komandan Gunung alias Kepala Cabang) Pek-lian-kauw di Lam-koan dengan pura-pura membuka sebuah toko obat kecil-kecilan.

Malam itu, setelah toko obatnya tutup, ia kumpulkan lima orang pembantu terdekatnya di rumahnya, untuk merundingkan tentang firasatnya itu. Kelima orang yang diundang itu masing-masing adalah Hu-san-cu (wakil kepala cabang) yang pendek kecil dan kalau beroperasi suka memakai topeng dewa Mo Sui. Namanya Thai Yu-tat, kerja sehari-harinya ialah mengelola suatu kelompok akrobat dan topeng-monyet yang sering dipanggil untuk menghibur di mana-mana.

Di balik topeng Mo Sui itu ternyata ada wajah yang agak kekanak-kanakan, meski ada jenggot tiga jalur menghiasi wajahnya. Jenggot tiga jalur itu agak menolongnya, sebab seandainya tidak ada jenggotnya itu, dengan wajahnya yang kekanak-kanakan dan tubuhnya yang kecil, ia bisa dianggap kanak-kanak betulan, padahal usianya lima puluh tahun lebih.

Kalau orang melihat penampilan sehari- harinya, orang takkan menduga bahwa Thai Yu-tat ini dalam operasi-operasi Pek-lian-hwe sanggup membantai lawan dengan bengis dan mata tak berkedip. Dalam pertunjukan akrobatnya, dia malah sering jadi badut yang membuat penontonnya gembira atau terbahak-bahak geli, terutama anak-anak.

Yang empat lainnya adalah “Perwira Kipas Putih” yang merangkap “Kutub Merah”. Bertugas sebagai “Kipas Putih” alias mengurus administrasi dalam keadaan damai, dan menjadi “Kutub Merah” alias pengorganisir tindakan kekerasan, bila diperlukan. Jumlah pejabat macam ini ada empat orang untuk cabang Lam-koan.

Yang pertama, seorang hwesio yang hidupnya jauh dari ajaran Buddha, gemuk, gondrong, matanya besar seperti harimau, jubahnya selalu kedodoran. Namanya Ui kong Hwesio. Seorang buddhis gadungan, sebab aslinya ia adalah penganut ajaran Pek-lian-kau yang merasuk sampai ke tulang sum-sumnya.

Kipas Putih merangkap Kutub Merah kedua adalah seorang tukang masak paling terkenal di Lam-koan, mengaku bekas juru masak istana kaisar, namun orang sulit mendebatnya kalau sudah mencicipi kelezatan masakannya. Namanya Phu Se-san. Pernah buka restoran, tetapi restorannya lalu bangkrut karena pada suatu hari ada seorang tamu menemukan potongan kuping manusia dalam mangkuk supnya. Sekarang jadi penganggur, toh tetap ayem-tentrem saja karena sebagai pejabat Pek-lian-hwe ia tidak perlu mati kelaparan.

Yang ke tiga adalah Nyo In-hwe. Yang ke empat Kang Liong, wajahnya ber- wibawa karena sehari-harinya ia dikenal sebagai “hamba keadilan” alias hakim di kota itu. Masyarakat mengenalnya sebagai “penyayang rakyat” yang dihormati.

Kelima orang itulah yang berkumpul di rumah Siau Hok-to malam itu, yang letaknya di toko obatnya. Karena pertemuan itu adalah intern antara tokoh-tokoh teras Pek-lian-hwe cabang Lam-koan, mereka berkumpul tanpa topeng mereka.

“Nah, Kakak Siau, ada urusan apa Kakak memanggil kami berkumpul?” tanya Ui-kong Hwesio sambil gelegekan kekenyangan. Umurnya lebih tua dari Siau Hok-to, namun harus memanggilnya Kakak karena kalah kedudukan, dan itulah peraturan organisasi.

Siau Hok-to Si Tua Mata Tiga menjawab langsung tanpa berbelit-belit lagi, “Aku memperoleh firasat kemarin malam.”

“Firasat?”

“Ya, dalam bentuk mimpi.”

Kelima pembantu Siau Hok-to kenal kekuatan batin pemimpin mereka itu, dan mereka tidak berani meremehkan kata-kata Siau Hok-to. Si pemimpin cabang ini bahkan bisa “menitipkan” mata ketiganya kepada seseorang tanpa orang itu tahu kalau “dititipi” dan Siau Hok-to bisa ikut melihat apa saja yang dilihat oleh orang yang ketitipan itu.

“Firasatnya baik atau buruk?” tanya Phui Se-san si mantan tukang masak.

“Aku belum berani gegabah mengartikan baik atau buruk, tetapi rasanya kita sedang kedatangan 'sesuatu' dari utara.”

“Sesuatu itu musuh atau teman?”

“Aku merasakan bahayanya.”

“Mungkinkah anjing-anjing Manchu sudah tahu persiapan kita, dan mereka mendahului menyerang dengan mengirim pasukan?” tanya Nyo In-hwe.

Kang Liong tertawa dingin, “Aku pejabat pemerintah. Kalau akan ada gerakan resmi dari mana pun di tempat ini, pasti aku mengetahuinya. Setidak-tidaknya orang-orangku-yang terbesar di mana-mana memberitahu. Tetapi aku tidak mendengar kabar apa-apa.”

Ui-kong Hwesio menukas, “Kita perlu bersiap- siap. Hwe-cu (pemimpin organisasi) harus diberi tahu, jangan sampai kita dimakan habis tanpa perlawanan karena tidak bersiap-siap. Kalau perlu, orang-orang kita bisa dikerahkan untuk menghadang.”

Ia menghentikan kata-katanya, ketika dilihatnya Si Tuan Mata Ketiga menggoyang-goyangkan tangan sebagai isyarat agar lain-lainnya berhenti bicara. Setelah keadaan sunyi, barulah Siau Hok-to berucap, “Dalam firasatku, aku tidak mendapat tanda-tanda sebuah pasukan. Mata batinku tidak melihat bendera-bendera, kuda-kuda perang dan sebagainya. Ini bukan pasukan. Yang datang ini hanya satu orang.”

“He? Satu orang?” serempak kelima orang pembantunya menegaskan, tercengang.

“Ya, satu orang. Tetapi ada api yang menyala dahsyat di depan langkahnya. Api yang....”

“Ah, itu pasti dewa junjungan kita yang datang untuk membantu kita!” Thai Yu-tat Si Kecil berseru kegirangan sambil menepuk pahanya. Sepasang kakinya bergoyang-goyang riang, kalau duduk kakinya tidak sampai ke tanah karena pendeknya.

Alasan yang agak masuk akal, karena Pek-lian-hwe tidak lain tidak bukan adalah Pek-lian-kau Sekte Selatan yang merupakan pecahan Tiau-yang-kau (Agama Pemuja Api) dari Persia, yang memandang api sebagai perwujudan dewa mereka.

Ternyata Siu Hok-to menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku merasa yang sedang datang kepada kita ini adalah sesuatu yang bermusuhan, sesuatu yang… ah, sudahlah!”

Hampir saja tercetus dari mulutnya perkataan “sesuatu yang lebih berkuasa dari kita, bahkan dari dewa-dewa kita”, namun Siau Hok-to sempat menahan mulutnya. Perkataan seperti itu bisa melunturkan keyakinan pengikut-pengikutnya dan merugikan diri sendiri.

“Kakak Siau, bagaimana Kakak memastikan yang sedang mendatangi kita adalah musuh?” tanya Nyo In-hwe.

“Dalam mimpi itu, aku melihat altar Dewa Ahusta di Kota Pohon Persik terbakar habis!” Akhirnya tercetus juga kata-kata yang mengguncangkan keyakinan anak buahnya sendiri itu, dari mulut Siau Hok-to.

Kelima pembantunya terkejut. Altar Dewa Api yang terletak di “Kota Pohon Persik”, istilah rahasia untuk tempat suci mereka yang letaknya tersembunyi di kota Lam-koan itu (karena Pek-lian-kau adalah agama terlarang oleh pemerintah Manchu). Suatu tempat suci yang diyakini sebagai sumber kekuatan batin semua anggota Pek-lian-hwe di cabang Lam-koan itu. Sekarang mendengar “musibah dalam mimpi” itu, mau tidak mau hati mereka tercekat.

“Siapa orang itu?” tanya Kang Liong.

“Tidak tahu.”

“Kakak tidak melihat wajahnya agar kelak bisa mengenalinya?”

“Tidak. Mataku silau melihat wajahnya yang berkilat seperti matahari.”

“Astaga, alamat apa ini?”

Si wakil kepala cabang Thai Yu-tat mencoba membesarkan hati rekan-rekannya, “Jangan melihat segala-galanya dari sisi yang buruk. Lihat juga sisi baiknya. Kita patut bersyukur bahwa Kakak Siau mendapatkan firasat itu, itulah tandanya Dewa Api junjungan kita memberi peringatan agar kita bersiap-siap menyambut musuh. Bukankah ini patut kita syukuri?”

Siau Hok-to mendukung, “Betul kata Adik Thai ini. Sekarang dengarkan perintahku.”

Kelima pembantu Siau Hok-to itu pun memperbaiki sikap mereka, siap mendengarkan perintah pemimpin cabang mereka.

Kata Siau Hok-to, “Yang pertama dan terutama, kumpulkan semua perwira kita untuk mengadakan sembahyang besar di “Kota Pohon Persik' besok tengah malam. Dan aku perintahkan Kipas Putih Pertama untuk menyiapkan korbannya. Anak lelaki umur tujuh tahun persis.”

“Siap, Kakak Siau!” sahut Ui-kong Hwesio gagah, meskipun tahu agak sulit dalam waktu yang begitu singkat harus menemukan seorang anak laki-laki umur tujuh tahun.

“... yang kedua, aku memerintahkan keempat perwira Kipas Putih untuk mulai memasang tirai-tirai gaib di semua jalan masuk ke kota ini. Ambil korbannya dari luar kota, jangan dari dalam kota, nanti menimbulkan kecurigaan orang.”

“Baik!” kali ini keempat perwira Kipas Putih menjawab serempak.

Tirai gaib yang dimaksud adalah dengan mengubur manusia di tengah jalan dan orang-orang yang melewati jalanan itu akan jatah ke bawah kekuatan mantera orang-orang Pek-lian-kau. Korbannya adalah manusia-manusia yang punya syarat tertentu.

“Yang ke tiga, awasi anggota-anggota baru. Siapa tahu di antara mereka ada 'semilir angin' yang menyelundup masuk.”

“Baik, Kakak Siau.”

“Sekaranng kalian boleh pergi, kecuali Adik Nyo In-hwe. Aku ingin bicara empat mata.”

Orang-orang itu pun memberi hormat dan meninggalkan tempat itu, kecuali Nyo In-hwe sendirian. Mereka berbincang lama tentang lima ribu pucuk senjata api curian dari Hang-ciu itu.


Pagi yang cerah itu, seorang hwesio berwajah lemah lembut berjalan-jalan di sebuah perkampungan nelayan sederhana di pinggiran kota Lam-koan, jauh dari keramaian kota. Di antara rumah-rumah kayu yang sederhana, beberapa di antaranya berupa rumah panggung karena letaknya terlalu dekat dengan sungai Se-kiang, jadi berjaga-jaga kalau air sungai meluap.

Di antara rumah-rumah ada halaman-halaman tempat jala dijemur dan diperbaiki, perahu-perahu yang ditelungkupkan, dan ikan yang dijemur. Bau anyir ikan dan asinnya garam bercampur-aduk. Hwesio itu berjalan dengan santun dan membalas hormat beberapa penduduk yang memberi hormat, meskipun hwesio itu belum dikenal di tempat itu.

Seorang nelayan setengah tua namun bertubuh masih kekar, meninggalkan pekerjaannya dan mendekati Si Hwesio, memberi hormat sambil berkata, “Bapak, apa yang Bapak cari di sini?”

Si Hwesio menjawab dengan salehnya, “Apakah Tuan penduduk desa ini?”

“Ya. Aku dilahirkan di sini dan tumbuh di sini juga, kelak ingin dikubur di sini juga. Ada apa, Bapak?”

“Kenal semua penduduk tempat ini?”

“Bapak Pendeta mencari seseorang?”

Si Hwesio menjawab dengan salehnya, “Kemarin, ketika aku bersamadhi sambil berpuasa tiga hari lamanya. Aku lihat ada dua buah bintang jatuh ke perkampungan nelayan ini. Di kitab-kitab kuno, kudapati arti dari mimpi itu ialah di desa ini akan muncul dua orang besar yang bakal menguasai negeri. Seorang anak lelaki berumur tujuh tahun, seorang lagi masih dalam kandungan ibunya yang berumur tujuh bulan. Apa di desa ini ada anak lelaki umur tujuh tahun dan wanita yang sedang mengandung tujuh bulan?”

Si Nelayan agak percaya bualan Si Hwesio, tanyanya lebih lanjut, “Bapak katakan akan jadi orang besar. Akan jadi apakah mereka?”

“Menurut takdir dewa-dewa, ada dua orang dari desa nelayan ini yang bakal menjadi orang mulia di negeri ini, tetapi aku tidak tahu akan jadi apa mereka kelak. Entah jadi jenderal, gubernur, atau.... barangkali bahkan raja....”

“Raja?” Si Nelayan menelan ludahnya.

“Ya, raja. Jangan heran. Bukankah Si Maharaja pendiri dinasti Song itu asalnya juga cuma perajurit rendahan Tio Goan-in? Bukankah Jenghis Khan yang menguasai sepertiga dunia ini asalnya juga cuma bocah gembala di padang rumput Mongolia? Bukankah Yang Mahamulia Kaisar Hong-bu, pendiri dinasti Beng yang jaya, asalnya juga cuma seorang pendeta melarat dari kuil Hong-kak-si di Hong-yang? Dewa-dewa bebas menentukan siapa yang akan dijadikan raja di bumi ini.”

Semula Si Nelayan ragu-ragu mendengar omongan Si Hwesio, curiga jangan-jangan Si Hwesio cuma ingin menjebaknya dengan membual tentang “calon kaisar” agar dapat menangkapnya, sebab hal itu bisa dipandang sebagai pendurhakaan terhadap pemerintah Manchu yang sekarang sedang berkuasa? Tetapi pikiran lain menyelinap di benak Si Nelayan,

“Tidak ada alasannya hwesio ini mencoba menjebakku, kenal pun tidak, dan daerah ini pun aman selama bertahun-tahun sehingga tidak mungkin mata-mata pemerintah berkeliaran sampai ke sini. Hem, alangkah beruntungnya orang yang kejatuhan bintang itu, tidak bisa tidak, keberuntungan itu harus jatuh ke keluargaku. Sudah bertahun-tahun aku hidup melarat tanpa masa depan yang menentu, siapa tahu ada di antara anak-anakku yang kejatuhan bintang.”

Demikianlah, tiba-tiba timbul niat Si Nelayan untuk “mengakali” para dewa. Cara berpikir yang umum dalam tradisi turun-temurun, bahwa para dewa pun bisa diakali. Bukankah setiap menjelang tahun baru, orang-orang yang memuja Dewa Dapur akan mengoleskan madu ke bibir arca Si Dewa Dapur.

Katanya apabila dewa itu naik ke langit untuk memberi “laporan tahunan”nya kepada Yang Maha Kuasa, laporan tahunan tentang keluarga yang ditempatinya itu, Si Dewa Dapur akan memberi laporan yang baik-baik saja tentang keluarga itu, yang manis-manis saja seperti madu sebab bibirnya kan sudah diolesi madu?

“Bapak Pendeta, kalau sudah ketemu orang itu, lalu akan Bapak apakan mereka?”

“Aku bukan dewa, aku tidak bisa mempercepat atau memperlambat takdir. Tetapi setidak-tidaknya bisa memberkati dan mendoakan orang-orang beruntung itu supaya, terlindungi dari siluman-siluman jahat.”

“Bapak Pendeta, rasanya... rasanya... orang-orang yang Bapak Pendeta katakan itu ada di... keluarga saya....”

“Hah? Jangan main-main, ini menyangkut masa depan negeri ini, juga menyangkut kehendak para dewata lho!”

Si Nelayan sudah nekad, demi masa depan gemilang keluarganya, kehendak dewata pun boleh dibengkokkan. Dan bohongnya tidak tanggung-tanggung lagi, “Ya, saat ini isteriku sedang hamil... tujuh bulan. Ia mengandung anakku yang ke enam belas. Pagi tadi ia bercerita kepadaku, bahwa semalam ia bermimpi memakan buah persik, tiba-tiba dari dalam buah persik itu keluar seekor naga emas kecil yang masuk ke mulutnya dan tertelan ke perutnya.

"Begitu pula anak lelakiku... eh, maaf, Bapak Pendeta, tahun ini umurnya pas tujuh tahun, dan dia memiliki kewibawaan lebih dari anak-anak sebayanya. Kalau bermain jadi kaisar-kaisaran, kawannya yang mana saja pasti menyembahnya dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya kalau anak lain yang dijadikan Kaisar, anak itu tidak lama akan sakit cukup lama, kalau sudah disembahyangi barulah sembuh. Anakku tidak pernah begitu....”

Si Hwesio agaknya juga tidak curiga kalau sedang dibohongi, dipikirnya, siapa berani main-main dengan “takdir dewata”? Katanya, “Kalau begitu ya kebetulan sekali. Aku ingin bertemu dengan isterimu dan anak laki-lakimu yang kau ceritakan itu.”

“Baik, baik. Rumahku yang diujung itu, silakan menuju ke sana. Aku akan mendahului, selain agar isteriku menyiapkan sambutan yang layak, juga agar aku bisa lebih dulu mencari anak laki-lakiku yang dimaksud itu. Maklum, dia suka bermain-main dengan teman-temannya agak jauh.”

Lalu tanpa menunggu Si Pendeta setuju atau tidak, Si Nelayan langsung berlari mendahului. Sampai di rumahnya, ia kumpulkan keluarganya, diberinya “briefing” dalam penyambutan Si Hwesio nanti. Isterinya dipesan wanti-wanti agar mengaku semalam mimpi tentang “buah persik yang keluar naga emas kecilnya” itu, dan anaknya yang nomor sebelas, dipesan agar mengaku berumur tujuh tahun, padahal sudah delapan setengah tahun. Untung tubuhnya agak kerdil karena kurang gizi, jadi bisa menopang kebohongannya. Ia juga dipesan agar bercerita tentang “bermain kaisar-kaisar-an” tadi.

Semua petunjuk singkat itu ditutup dengan ancaman galak dari Si Kepala Rumah-tangga, “Ini menyangkut masa depan keluarga kita, apakah keluarga akan terangkat derajatnya ke kemuliaan tertinggi di negeri ini, ataukah bakal melarat terus seperti ini! Itulah sebabnya, siapa saja yang tidak menghiraukan petunjukku tadi, aku tidak akan menyayanginya lagi, tidak peduli keluarga sendiri! Mengerti?”

Semua anggota keluarganya mengangguk-angguk patuh. Sementara Si Hwesio sudah tiba di depan pintu, karena rumah Si Nelayan memang tidak jauh letaknya dari tempat memperbaiki jala tadi. Singkat kata, hwesio itu diterima di keluarga itu. Keluarga itu sudah punya lima belas anak dan yang sekarang dalam perut ibunya yang “makan buah naga emas” adalah calon nomor enam belas.

Si Hwesio berkemak-kemik membara doa, berlagak memberkati. Dan ketika Tuan Rumah menawarkan Si Hwesio yang mengaku sebagai pengembara untuk bermalam, Si Hwesio pura-pura sungkan tetapi akhirnya mau juga. Si Hwesio “pembawa berkah” mendapat kamar terbaik meski berdinding papan berlantai tanah.

Pembawa berkah? Ternyata tidak, sebab hwesio ini hanya pengikut gadungan Buddha, sebaliknya adalah penyembah Ahusta yang ganas, yang ajarannya jauh dari ajaran Buddha. Hwesio ini bukan lain adalah Ui-kong Hwesio, Si Hwesio gadungan “perwira” Pek-lian-hwe yang ditugaskan mencari seorang anak lelaki umur tujuh tahun untuk dibakar hidup-hidup di kuil tersembunyi Pek-lian-hwe demi Dewa Api.

Sedang Si Wanita hamil akan dikorbankannya untuk tumbal “tirai gaib” yang menurut perintah Si Tuan Mata Tiga Siau Hok-to harus dipasang di sekitar Lam-koan untuk menyambut “musuh dalam mimpi” Si Tuan Mata Tiga.

Ketika malam tiba, Si Hwesio sudah masuk duluan ke dalam kamarnya, mengakunya kepada Si Tuan Rumah “untuk berdoa”. Ketika Tuan Rumah mengintip dari celah-celah dinding papan, ia lihat memang Ui-kong Hwesio sedang bersila dan mulutnya berkomat-kamit.

Si Nelayan yang mencoba mengkorupsi “takdir dewata” itu menyangka Si Hwesio benar-benar sedang berdoa untuk keberuntungan keluarganya, ia tidak tahu bahwa hwesio gadungan pemuja Dewa Api itu sebenarnya sedang menerapkan ilmu gaibnya.

Maka malam itu mendung yang tebal tiba-tiba saja muncul di atas kampung nelayan itu. Disertai tiupan angin yang dingin dan kencang sampai membuat pasir beterbangan, tidak satu pun penduduk kampung itu yang berada di luar rumah.

Lebih jauh, suatu suasana aneh yang membuat orang-orang jadi sangat mengantuk pun menguasai setiap rumah di kampung nelayan itu. Dengan demikian seluruh penghuni kampung nelayan itupun tertidur lelap, kecuali Ui-kong Hwesio sendiri. Sementara di kejauhan terdengar lolong panjang anjing liar yang menegakkan bulu roma.

Dalam suasana seperti itulah Ui-kong Hwesio keluar dari kamarnya, di rumah nelayan miskin itu. la keluar dengan sikap biasa saja, tidak mengendap-endap, tidak meredam bunyi langkahnya, terlalu percaya diri bahwa seluruh penghuni rumah itu sudah pulas semua dipengaruhi ilmunya. Dan nyatanya memang demikian.

Tanpa takut-takut ia membuka kamar-kamar yang lain. mengambil Si Wanita dan Si Anak lelaki yang katanya umur tujuh tahun, keduanya dimasukkan masing-masing ke sebuah kantong besar hitam. Dan keduanya tetap pulas meskipun diperlakukan seperti itu, begitu juga penghuni rumah yang lain.

Ui-kong Hwesio menyeringai, memanggul dua kantong besar hitam itu di kedua pundaknya, lalu keluar dari rumah itu dan berjalan kembali ke kota Lam-koan. Semuanya dilakukan tanpa sembunyi-sembunyi dan melewati jalan besar. Tanpa takut diketahui orang sebab ia yakin pengaruh ilmu sihirnya sudah melelapkan seisi kampung.

Ketika mulai memasuki kota Lam-koan, mau tidak mau ia harus berhati-hati. Tempat-tempat yang dilalui tidak lagi di bawah cengkeraman ilmu sihirnya, terutama “Kota Bawah” di mana sepanjang malam berlangsung macam-macam kegiatan maksiat. Di sini selalu ada orang-orang yang berkeliaran sepanjang malam sampai pagi, dan Ui Kong Hwesio tidak mau seorang pun dari mereka melihatnya.

Untung wihara kediaman Ui-kong Hwesio letaknya dekat pinggiran kota. Itulah sebuah wihara kecil yang dihuni hwesio-hwesio gadungan yang berjumlah lima orang, semuanya adalah tokoh-tokoh Pek-lian-hwe. Sebuah wihara yang di aula depannya memasang arca Buddha berwajah welas-asih, tetapi di ruang rahasia bawah tanahnya memasang arca Dewa Api berwajah ganas.

Ke tempat itulah Ui Kong Hwesio menghilang bersana kedua tawanannya. Rasanya, tak seorang pun melihatnya. Entahlah dengan Si Tukang Pangsit di ujung lorong yang duduk terkantuk-kantuk di atas dingkliknya, dekat pikulan pangsitnya yang agaknya kurang laku malam itu.

Namun, begitu Si Hwesio menghilang ke dalam kuil, Si Tukang Pangsit pun tiba-tiba mengangkat wajahnya dan terlihatlah pandangan matanya yang tajam, sama sekali tidak kelihatan seperti orang mengantuk. Gesit sekali ia menyembunyikan pikulan pangsitnya ke sebuah tempat yang gelap, lalu ia sendiri mengendap mendekati kuil kecil.


Kampung nelayan itu gempar. Si Nelayan yang tadinya merasa mampu “membohongi dewa” sekarang menangis melolong- lolong, tidak peduli tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang brewokan. Kalau cuma kehilangan jalanya atau perahu penangkap ikannya, ia takkan sesedih itu, tetapi sekarang kehilangan tiga orang, isterinya, anak laki-lakinya dan bayi dalam kandungan isterinya.

Anak-anakriya yang berjubel seperti anak-anak marmut itu pun ikut menangis, mereka kelaparan dan sedih kehilangan ibu mereka. Yang sudah agak besar coba menghibur adik-adik mereka, atau coba memasak makanan seada-adanya.

Para tetangga yang sama miskinnya dengan mereka coba menolong sebisa-bisanya, menghibur, memasakkan, dan kaum lelakinya berpencaran ke sekitar kampung untuk mencari kedua orang yang hilang itu. Ada juga kaun wanita yang pergi mengantar sesaji ke kuil Dewi Tin-hau yang menghadap ke arah sungai Se-kiang, memohon pertolongan Sang Dewi Laut itu, siapa tahu kedua orang yang hilang itu dibawa lari lewat sungai. Demikianlah, kampung itu jadi sibuk.

Menjelang tengah hari, ketika semua usaha nampaknya sia-sia, suatu gagasan muncul di antara orang-orang kampung yang berkerumun itu. “Kita minta tolong kepada Hakim Kang di kota!” Yang dimaksud adalah Hakim Kang Liong.

“Kita orang-orang miskin, mana mungkin digubris oleh kaum pembesar macam dia?”

“Tetapi aku dengar, Hakim Kang ini orangnya berhati mulia. Tidak jarang dia memenangkan kepentingan rakyat kecil, tidak doyan suap. Kita bisa mengadu kepadanya.”

“Apa iya? Apa betul ada pejabat yang begitu jujur dan patuh hatinya awet menduduki jabatannya? Biasanya kalau terlalu jujur kan cepat mencelat kena sepak rekan-rekannya sendiri, atasannya atau bawahannya? Yang awet biasanya yang sama korupnya dengan lain-lain.”

“Anggap saja Hakim Kang ini sebuah perkecualian.”

“He, kita ini jadi mengadu Hakim Kang atau tidak?”

“Melaporkan orang diculik biasanya ke kepala keamanan, bukan ke hakim,”

“Aku tahu, kepala keamanannya rakus uang. Seandainya kita orang sekampung ini mengumpulkan seluruh uang milik kita ditaruh di hadapannya, belum tentu dia sudi melirik persoalan kita.”

“Jadi?”

“Ya laporkan saja sama Hakim Kang yang baik hati itu, nanti Hakim Kang kan bisa mendesak kepala keamanan sebagai sesama pejabat, dan tentu Si Kepala Keamanan tidak akan bisa berbantah kalau yang meminta adalah Hakim Kang.”

“Ayo berangkat ramai-ramai, agar kita diperhatikan.”

Orang-orang itu pun berangkat beramai-ramai, mengiringkan Si Pelayan miskin yang masih saja menangis sedih. Yang berangkat hanyalah para pria dewasa, sementara para wanita dengan semangat gotong-royong menolong anak-anak yang ditinggalkan sebisa-bisanya, atau berdoa di kuil terdekat.

Ketika melewati kampung-kampung lain, dan orang-orang dari kampung-kampung yang dilewati diberitahu apa yang terjadi, banyak yang bergabung dengan iring-iringan itu. Sebagian karena rasa setiakawan, sebagian sekedar ingin ikut “nonton ramai-ramai”.

Rombongan jadi berjumlah hampit dua ratus orang. Ketika memasuki kota Lam-koan, tentu saja iring-iringan itu jadi menarik perhatian. Banyak pedagang kecil di pinggir jalan buru-buru menyingkir, menyangka akan terjadi keributan.

Ketika tiba di gedung pengadilan, ternyata rombongan yang datang untuk mengadu bukan hanya yang datang dari kampung nelayan itu. Melainkan ada rombongan lain. Rombongan yang lain itu datang dari sebuah kampung yang letaknya agak di pedalaman, tidak di tepi lalu-lintas air yang ramai, mengiringi seorang ibu yang menangis karena kehilangan anak kembarnya sekaligus. Kembar lelaki-perempuan.

“Bagaimana bisa terjadi?”

Sudah tentu ibu yang sedang dalam kesedihan mendalam itu tidak bisa menjawab, orang satu rombongannyalah yang menjawab, “Peristiwanya begitu aneh, sepertinya ada kekuatan-kekuatan siluman ikut campur dalam urusan ini. Kampung kami dalam keadaan terang benderang di siang hari bolong, tapi mendadak mendung tebal menutup matahari sehingga jadi sangat gelap, angin meniup kencang dan dingin. Orang-orang berlarian masuk rumah karena mengira akan ada taufan. Tahu-tahu cuaca normal kembali, setelah itu barulah seorang ibu di kampung kami menangis karena tidak menemukan anak-anak kembarnya. Seisi kampung dikerahkan mencari kedua anak itu, sampai ke pinggir sungai dan ke bukit, tetap tidak ketemu.”

“Kalau di kampung kami, pelakunya seorang hwesio.”

Kedua rombongan itu bertukar cerita dan mereka pun langsung terikat oleh rasa kesetia-kawanan karena persamaan nasib. “Bertahun-tahun kota Lam-koan dan sekitarnya aman tenteram, tetapi sekarang rupanya mulai kurang aman!”

“Ya, banyak penculik berkeliaran!”

“Bukan sembarangan penculik, mungkin kelompok orang-orang pemuja siluman, buktinya para penculik itu bisa mendatangkan awan hitam dan angin segala. Orang macam apa mereka kalau bukan para pemuja siluman?”

“Ya, dan hwesio di kampungmu itu pun pasti gadungan.”

“Itu jelas.”

“Kenapa pintu gedung pengadilan belum dibuka?”

“Tadi sudah kami gedor.”

Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata itu, terdengar suara berkeriut keras ketika sepasang daun pintu yang besar, tebal dan bercat merah itu terpentang. Beberapa perajurit dan pembesar sipil tingkat bawahan muncul. Orang-orang di luar langsung hendak menyerbu masuk ke halaman dalam, tetapi beberapa perajurit memalangkan tombaknya, menghalang-halangi. Dari belakang perlindungan pera-jurit-perajurit itu, seorang sipil rendahan membentak,

“Siapa yang hendak mengadukan perkaranya? Apakah semua orang sebanyak ini?”

Si Nelayan miskin dan Si Ibu yang kehilangan anak kembarnya menjawab bersamaan.

Si Pembesar rendahan berkata, “Ternyata yang punya urusan cuma dua orang, kenapa yang mengantar orang sebanyak ini? Kalau dua orang ini yang punya urusan, ya mereka saja yang menghadap Yang Mulia Hakim Kang, selebihnya menunggu di luar!”

Dari rombongan ibu yang anak kembarnya diculik muncul seorang lelaki, “Tuan, Kakak perempuan saya ini masih amat sedih hatinya, tidak dapat bicara dengan lancar. Saya harus mendampinginya masuk ke dalam.”

“Ya, nelayan yang kehilangan isterinya yang sedang mengandung dan anaknya itu juga masih gagap bicaranya karena sedih, kalau tidak ada yang mendampinginya, dia tidak bisa menerangkan dengan jelas kepada Yang Mulia.”

Niat itu didukung oleh orang-orang yang berkerumun padat di depan pintu gedung pengadilan. Dan jumlah orang-orang itu pun bertambah-tambah, sebab banyak orang-orang di jalanan yang bergabung. Pedagang kecil yang menitipkan dulu dagangannya lalu ikut berdesakan untuk tahu apa yang sedang terjadi, orang lewat, orang dari rumah-rumah di sekitar gedung pengadilan.

Dan seorang penjual mi-pangsit pikulan yang menyelinap pula ke tengah-tengah orang-orang itu. Semalam ia tidak mendapat hasil apa-apa ketika coba-coba mengintai wihara kecil di pinggiran kota itu, dan sekarang rasa penasaran masih tersisa di hatinya.

Si pembesar bawahan Hakim Kang tidak berani ambil resiko menentang kemauan orang sebanyak itu, meskipun di pihaknya ada sepuluh orang serdadu. Ia mengijinkan kedua penngadu itu masuk, didampingi orang-orang yang akan membantunya bicara kepada hakim.

Dan rombongan pengantar juga diperbolehkan masuk sampai ke halaman. Sebab kalau mereka dibiarkan terus di depan gedung, mereka meng- hambat jalanan karena banyaknya. Begitulah, dari halaman mereka bisa mengikuti percakapan antara Hakim Kang Liong dan kedua pengadu itu.

Duduk di belakang mejanya, Hakim Kang mulai bertanya, “Apa yang akan saudara-saudara adukan?”

Kedua pengadu pun bergantian mengemukakan perkaranya masing-masing, karena masih sering diselingi isak tangis, maka para pendamping ikut bicara.

Hakim Kang yang berwajah welas-asih itu mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk, katanya, “Saudara-saudara ini sebetulnya salah alamat. Melaporkan orang diculik itu bukan kepada hakim, tetapi kepada kepala keamanan, sebab hakim seperti aku ini tidak punya kekuasaan sedikit pun untuk mengerahkan perajurit. Yang di bawah wewenangku hanyalah beberapa petugas pengadilan yang sangat terbatas jumlahnya, kemampuannya dan wewenangnya.”

“Yang Mulia, kami tahu ini. Tetapi kami tidak berani menghadap kepada Tuan Komandan, sebab... sebab... beliau orangnya sulit ditemui....” sahut seseorang, yang terlalu sungkan untuk mengatakan terang-terangan bahwa kalau sampai berurusan dengan kepala keamanan tentu uangnya akan diperas habis-habisan.

Hanya segelintir orang di Lam-koan, yang tahu kalau Kang Liong ini sebenarnya adalah tokoh Pek-lian-hwe yang punya garis perjuangan merobohkan pemerintahan Manchu. Mendengar keluhan orang itu tentang kepala keamanan, Hakim Kang mendapat kesempatan untuk menaburkan sedikit bibit kebencian di hati orang-orang Lam-koan itu, bibit kebencian yang diharap bisa merembet dan menyebar ke mana-mana sehingga kelak kota Lam-koan akan menjadi salah satu basis Pek-lian-hwe dalam gerakan pemberontakannya.

Katanya, “Ah, keterlaluan kalau sampai seorang pembesar sulit ditemui rakyat yang harus diusahakan kesejahteraannya. Kalau tidak mendengar sendiri dari rakyat, memangnya mau mendengar dari siapa? Dari pembesar-pembesar bawahannya yang hanya cari muka dan laporannya tidak sesuai dengan kenyataan karena terlalu banyak polesannya?”

Gerutuan Hakim Kang yang bernada membela rakyat kecil itu kontan disambut dengan tepuk-tangan sebagian besar orang yang berkumpul di halaman gedung. Sementara Si Tukang Mi-pangsit yang bukan lain adalah samaran dari Pang Hui-beng, agen kerajaan, diam-diam merasakan adanya nada menghasut, membakar emosi orang banyak, dalam kata-kata Hakim Kang itu.

Timbul setitik kecurigaannya kepada hakim itu. Namun Pang Hui-beng belum ikut berbuat apa-apa, ia cuma ikut apa yang diperbuat orang lain. Orang bersorak, dia pun bersorak, orang mengepalkan tinju, di pun mengepalkan tinju.

Hakim Kang tidak ingin kelihatan terlalu menyolok dalam usahanya menanamkan bibit kebencian di hati rakyat Lam-koan, kebencian kepada pemerintah kerajaan. Maka ia segera bertanya, “Nah, saudara-saudara, aku akan membawa perkara saudara-saudara itu ke pembesar lain yang lebih berwenang. Mudah-mudahan mereka mau mendengarkan aku.”

Ketika itu sebagian dari orang-orang yang berkerumun sudah terpesona oleh kepribadian Hakim Kang, dan mereka bersiap-siap bubar dari tempat itu dan mempercayakan segala sesuatunya ke tangan Sang Hakim “berhati mulia”.

Namun di tengah-tengah kerumunan orang itu, Pang Hui-beng merencanakan sesuatu. Pang Hui-beng ingin menggunakan kesempatan mumpung orang-orang berkumpul sebanyak ini dan terikat rasa senasib, sesuatu yang tidak terjadi di setiap hari, untuk menggerakkan orang-orang ini membongkar salah satu tempat yang ia curigai sebagai salah satu “pos rahasia” Pek-lian-hwe. Yaitu kelenteng kecil yang semalam diselidikinya tanpa hasil, kegagalan Pang Hui-beng lebih banyak disebabkan karena kelenteng itu diselimuti sesuatu yang gaib.

Sekarang Pang Hui-beng berbisik-bisik kepada orang-orang tentang kelenteng kecil di pinggir kota itu. Kebetulan orang-orang dari kampung nelayan itu juga sudah diberi cerita oleh Si Nelayan yang berduka itu bahwa penculiknya seorang hwesio. Maka hasutan Pang Hui-beng itu mendapat tanah yang subur.

Kaum nelayan yang biasanya memang ceplas-ceplos itu, sekarang ada yang berteriak, “Yang Mulia, sebelum penculiknya kabur, ijinkan kami menggeledah kelenteng kecil di pinggir kota itu!”

Kang Liong kaget, sudah tentu ia tahu kalau kelenteng itu adalah “sarang” dari rekannya yang menyamar jadi hwesio, Ui kong Hwesio, salah satu “Perwira Kipas Putih” Pek-lian-hwe cabang Lam-koan. Dan tentu saja Kang Liong akan berusaha melindunginya, “He, apa sangkut-paut kelenteng itu dengan penculikan-penculikan ini?”

“Penculik di kampung nelayan itu adalah seorang hwesio, Yang Mulia.”

“Ada puluhan kelenteng Buddha di Lam-koan ini, dan ratusan pendetanya, kenapa hanya kelenteng di pinggir kota itu yang hendak kalian geledah?”

Pang Hui-beng berteriak dari tengah-tengah kerumunan, “Karena semalam ada seorang melihat seorang hwesio masuk ke dalamnya dengan memanggul dua bungkusan besar kain hitam yang bentuknya seperti manusia!”

Umpan itu langsung mendapat sambutan gemuruh dari orang-orang, terutama orang-orang dari kampung nelayan. “Benar! Jangan boang-buang waktu sehingga penculik-penculik itu keburu kabur dan menyembunyikan barang buktinya!”

Kang Liong panik, tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah arus masa itu. Sebenarnya ia bisa saja mengerahkan anggota-anggota Pek-lian-hwe untuk menyelamatkan salah satu pos rahasia mereka itu, namun itu berarti orang-orang Pek-lian-hwe harus muncul terang-terangan di muka umum, padahal mereka belum siap bertarung secara terbuka dengan kekuatan pemerintah.

Ternyata “jalan keluar” yang ditawarkan Pang Hu-beng itulah yang lebih cocok dengan “selera” orang-orang kalangan bawah itu, apalagi mereka sedang banyak temannya, sehingga urusan “pukul dulu bicara urusan belakang” mendapat dukungan. Begitulah rombongan orang-orang itu pun meninggalkan gedung pengadilan begitu saja, menuju ke kelenteng kecil tak bernama di pinggiran kota.

“Celaka....” Kang Liong mengeluh dalam hati. Sebagaimana Pang Hui-beng mulai mencurigai Kang Liong, dari arah sebaliknya, Kang Liong juga mulai mencium adanya “semilir angin” alias agen pihak kerajaan yang menghasut di antara orang-orang itu. Ia ingat mimpi kepala cabang Pek-lian-hwe tentang datangnya musuh. Mungkin ini adalah bagian kecil dari musibah yang diramalkan dalam mimpi itu.

Kang Liong cepat-cepat masuk ke dalam, kemudian menyuruh salah seorang petugas di gedung pengadilan itu, yang ternyata adalah salah satu “prajurit” Pek-lian-hwe. Orang itu disuruhnya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang buruk seperti pakaian orang-orang tadi, menyusup di antara orang-orang tadi untuk mengetahui siapa “penggerak” gerombolan itu.

Begitulah, dalam kelompok orang-orang yang sedang menuju ke kelenteng kecil di pinggir kota itu keselusupan orang-orang dari pihak-pihak yang bertentangan. Pang Hui-beng dari pihak kerajaan, dan dua orang suruhannya Kang Liong. Kelenteng kecil itu tidak jauh dari gedung pengadilan, maka orang-orang pun segera sampai kesana.

“Ini dia tempatnya!” teriak Pang Hui-beng.

Dua orang suruhan Kang Liong memperhatikan Pang Hui-beng diam-diam. Sementara orang-orang mulai hendak bergerak menyerbu ke dalam kelenteng itu, tetapi orang Pek-lian-hwe yang berada di tengah-tengah kerumunan itu bukan hanya dua orang suruhan Kang Liong, melainkan ada juga yang lainnya yang bukan anak buah Kang Liong. Orang Pek-lian-hwe yang bukan anak buah Kang Liong inilah yang masih mencoba menyelamatkan kelenteng itu.

“Tunggu!” teriak salah satu dari mereka. “Kalau kita merusak dan menginjak-injak tempat suci, apakah tidak akan kena kutuk?”

Beberapa orang menjadi ragu-ragu, tetapi Pang Hui-beng kembali membakar keberanian orang-orang. “Ah, tempat suci yang sudah dijadikan kedok untuk perbuatan maksiat, pastilah sudah kehilangan tuahnya! Serbu saja, habis perkara! Takkan ada yang kena kutuk! Dewa-dewa di pihak kita, kita yang sedang membasmi kejahatan!”

Orang-orang pun kembali bergerak-gerak seperti beras ditampi, sambil berteriak-teriak gusar. Orang-orang mulai mencari balok yang besar untuk disodok-sodokkan ke pintu kelenteng yang dipalang dari dalam...

Sebelumnya,
Selanjutnya,