X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 05

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api seri ke 6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 05 karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 05

PANG HUI-BENG sebenarnya tidak sabar melihat lamanya usaha mendobrak pintu itu. Ingin ia melompati tembok, lalu membuka palangnya dari dalam, tapi hal itu berarti ia membuka kedoknya sendiri.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Yang bisa dilakukannya, ia pura-pura ikut menyodokkan balok itu bersama-sama orang lain, namun ia menyalurkan kekuatannya meskipun tidak dengan menyolok. Maka dalam dua sodokan lagi, terpentanglah pintu depan kuil itu. Orang-orang menyerbu masuk.

“Tangkap penculik!”

“Hancurkan sarang penjahat yang berkedok tempat suci ini!”

“Bakar!”

“Jangan dulu! Temukan dulu orang-orang yang diculik!”

Namun begitu orang-orang itu melangkah masuk, pintu tertutup sendiri, lalu di halaman rumah itu tiba-tiba berhembus angin amat dingin sehingga keadaan jadi gelap-gulita biarpun di siang hari bolong.

Orang-orang berteriak-teriak panik, memejamkan mata sebab debu dan pasir beterbangan naik. Dan sekalipun mata sudah ditutup tetapi kulit wajah tidak terselamatkan dari tusukan pasir terbang yang membuat perih. Bahkan anginnya menghebat sehingga kayu-kayu yang agak besar pun mulai terangkat dan seolah menggebuki orang-orang itu.

Dalam keadaan seperti itu, orang-orang Pek-lian-hwe yang menyusup di antara orang-orang itu pun menakut-nakuti orang-orang dengan teriakan mereka. “Kita akan binasa di sini kalau tidak cepat-cepat keluar!”

“Ya! Ini tempat suci yang tidak boleh diterobos semaunya saja!”

“Ayo keluar!”

“Pintunya terkancing, tak bisa dibuka!”

“Celaka! Dewa-dewa benar-benar mengutuk kita! Melawan kita!”

Namun Pang Hui-beng semakin yakin bahwa tempat ini benar-benar salah satu pos rahasia Pek-lian-hwe. Kemampuan gaib untuk mendatangkan angin semacam ini adalah salah satu ciri khas Pek-lian- hwe di Utara maupun Pek-lian-hwe di Selatan ini.

Pang Hui-beng tidak mau kehilangan kesempatan untuk membongkar tempat ini dengan memanfaatkan orang-orang kalap ini. Maka Pang Hui-beng juga takkan membiarkan orang-orang ini menjadi kalap ketakutan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk orang-orang itu, Pang Hui-beng tiba-tiba ingat cerita atasannya, Jenderal Wan Lui.

Ketika jenderal kesayangan Kaisar Kian-liong itu menceritakan pengalamannya ketika menyusup ke tengah-tengah orang-orang Pek-lian-kau dulu, cerita yang disengaja dibekalkan kepada para bawahannya yang akan bertugas di Lam-koan. Menurut cerita Jenderal Wan, kebanyakan ilmu gaib Pek-lian-kau maupun Pek-lian-hwe bisa dibuyarkan dengan menyiramkan darah hewan-hewan berbulu hitam.

Entah kuda hitam, sapi hitam, kambing kita, anjing hitam, kucing hitam, ayam hitam, pokoknya yang serba hitam. Namun di tempat dan waktu itu sudah tentu tidak ada benda itu di situ, tetapi Pang Hui-beng ingat petunjuk lain dari jenderalnya. Gigit lidah sedikit sehingga berdarah, lalu semburkan darahnya bersama ludah.

Itulah yang bisa dilakukan saat itu, dan Pang Hui-beng melakukannya. Angin tiba-tiba mereda, Pang Hui-beng kegirangan dan berteriak kepada orang-orang, “Jangan kuatir, teman-teman! Gigit sedikit lidah kalian dan ludahkan darahnya ke segala arah!”

Orang-orang Pek-lian-hwe di antara orang-orang itu terkejut. Mereka makin yakin bahwa “Si Tukang Pangsit” ini bukan orang sembarangan, melainkan orang yang mengerti mematahkan ilmu gaib Pek-lian-hwe, entah sampai di mana mengertinya. Memang tidak semua ilmu gaib Pek-lian-hwe bisa dipatahkan hanya dengan meludahkan darah. Beberapa ilmu tingkat tinggi seperti “ilmu mata ketiga” misalnya, tidak akan punah hanya dengan cara ini.

Sementara, beberapa orang mulai mempraktek kan petunjuk Pang Hui-beng tadi. Dan mulailah orang-orang meludah-ludah darah ke sana kemari, dan angin aneh itu pun reda. Beberapa orang masih menggosok-gosok matanya yang tadi kelilipan pasir, atau minta tolong teman untuk meniupkan pasir dari matanya.

Pang Hui-beng membangkitkan semangat orang-orang itu, “Lihat, ternyata segala macam ilmu siluman tidak mempan terhadap kita, karena niat baik kita diberkahi Yang Kuasa! Ayo maju terus!”

Kobaran api semangat yang dinyalakan Pang Hui-beng itu ditambahi “minyak” oleh beberapa orang, terutama sanak-keluarga dari orang-orang yang diculik. “Benar! Yang Maha Kuasa di pihak kita! Ayo kita geledah sarang penculik ini!”

Begitulah Pang Hui-beng berhasil menunggangi semangat “main hakim sendiri” itu untuk tujuannya sendiri. Orang-orang itu menerobos ke bagian dalam kuil. Namun di aula, di mana ditaruh arca Buddha dan para bodhisatwa yang digunakan sebagai kedok oleh penghuni-penghuni kuil itu, orang-orang tidak berani melakukan perusakan. Bahkan beberapa orang yang cukup “beragama” menyempatkan sedetik untuk menghormat Buddha meski agak tergesa-gesa.

Orang-orang itu lalu masuk melalui lorong-lorong di kiri kanan ruang sembahyang, dengan beringas mereka mengobrak-abrik perabotan kuil itu. Bahkan sampai ke dapur, kakus, gudang dan lain-lain tempat juga tidak luput dari amukan massa.

Tetapi orang-orang itu tidak melihat satu batang-hidung pun dari penghuni-penghuni kuil itu. Namun mereka yakin bahwa kuil Itu memang sudah menjadi “sarang penculik”, sebab di bagian belakang kuil mereka menemukan patung kecil Dewa Api Ahusta yang ukirannya bergaya Persia. Kemarahan orang-orang itu jadinya masih kurang tersalur, maka ketika ada seorang yang berteriak, menganjurkan untuk membakar, maka yang lain-lainnya pun bersorak setuju.

Tentu saja anggota-anggota Pek-lian-hwe yang ada di tengah-tengah orang-orang itu tidak ikut setuju, namun mereka yang cuma beberapa gelintir itu merasa tidak berdaya mencegah langkah orang banyak yang tengah beringas itu. Bisa-bisa mampus dicincang.

Tetapi mereka juga semakin memperhatikan Pang Hui-beng yang mereka curigai sebagai “semilir angin”. Dengan kode-kode rahasia satu sama lain, orang-orang Pek-lian-hwe yang di antara orang banyak itu menetapkan untuk “memberi perhatian lebih” kepada Pang Hui-beng.

Begitulah. Orang-orang itu menumpuk-numpuk banyak perabotan kayu di dalam kuil, lalu menyalakan nya, setelah itu mereka berlarian keluar. Sekejap kemudian kuil kecil tak bernama itu sudah menjadi api unggun raksasa, dan orang-orang yang marah itu menyorakinya.

Tetapi Pang Hui-beng kecewa. Ia tidak sedikit pun berhasil menemukan sesuatu yang berarti untuk menyingkap selubung Pek-lian-hwe. Patung Dewa Api kecil yang sudah diremuk dan diinjak-injak massa itu sama sekali tidak memiliki nilai keterangan. Orang banyak yang sedang menyoraki nasib sial kuil kecil itu, berlarian bubar ketika sebuah pasukan pemerintah berlari-lari mendekati.

Pang Hui-beng ikut bubar, memasuki sebuah lorong. Seseorang berlari-lari di sebelahnya, dan Pang Hui-beng tidak terlalu menggubrisnya, toh di gang itu ada belasan orang lagi yang sedang berlari-lari menghindari serdadu kerajaan.

Di suatu tempat yang dirasa aman dari kejaran serdadu pemerintah, orang-orang pun berhenti berlari, bersandar tembok sambil terengah-engah memperbaiki napas. Pang Hui-beng pun pura-pura Ikut terengah-engah, meski sebagai perajurit istana pilihan, lari seperti tadi tidak berarti apa-apa baginya.

“Sudah pergikah serdadu-serdadu itu?”

Seseorang menjengukkan kepalanya dengan takut-takut di mulut gang, lalu melapor kepada kawan-kawannya dalam gang, “Sudah tidak kelihatan satu pun orangnya.”

“Mungkin mereka lebih sibuk dengan api, sebelum merambat ke rumah-rumah lain di sekitar kuil.”

“Eh, ke mana kira-kira kaburnya kawanan penculik itu?”

“Mungkin mereka sudah tahu kita akan mendatangi mereka, lalu mereka kabur duluan.”

“Tetapi benarkah kuil itu adalah sarang penculik?”

“Agaknya benar. Kalau penghuni kuil itu tidak bersalah, kenapa mereka kabur ketakutan? Kalau tidak bersalah, tidak perlu lari bukan?”

“Ya. Alasan kedua, kenapa dalam sebuah kuil Buddhis ada patung aneh itu?”

“Lalu bagaimana kira-kira nasib orang-orang yang diculik itu?”

“Kita kasihan kepada mereka, dan sebisa-bisa akan membantu menemukan mereka. Kalau kita lihat atau dengar sesuatu yang mencurigakan, kita harus saling memberi tahu.”

“Bagaimana dengan caranya? Kita bertempat tinggal di kampung yang berbeda-beda.”

“Pokoknya hubungi saja kampung nelayan dan kampung tempat anak-kembar itu diculik.”

“Benar. Kita orang-orang kecil ini harus tolong-menolong satu sama lain. Kalau tidak, siapa akan menolong kita?”

“Ya. Selama ini keadaan aman tenteram, sekarang kenapa tiba-tiba ada penculikan segala?”

“Mungkinkah.., ada suatu golongan penyembah setan akan mengadakan upacara pengorbanan manusia seperti beberapa tahun yang lalu?”

“Entahlah. Yang penting, kita harus saling membantu. Meski belum ada keluarga kita yang jadi korban, tetapi kita tidak akan menunggu itu terjadi, dan mudah-mudahan penculik-penculiknya segera tertangkap.”

Begitulah, dengan kesepakatan untuk saling menolong, orang-orang itu berpisahan satu sama lain. Pang Hui-beng diam-diam senang juga. Ia jadi memperoleh dua “stasiun berita”, yaitu di kampung nelayan dan kampung tempat anak kembar yang diculik itu. Ke tempat-tempat itulah semua keterangan akan “bermuara”, meski untuk menggunakannya Pang Hui-beng masih harus menyaringnya lagi.


Malam harinya, selesai “berjualan mi-pangsit” berkeliling, suatu pekerjaan yang sesungguhnya hanya untuk menyelubungi maksudnya yang sebenarnya, yaitu mengamat-amati keadaan dan untuk tetap mengadakan hubungan rahasia dengan teman-temannya di tempat-tempat tertentu. Seperti dengan Kui Tek-lam, Lo Lam-hong, Oh Tong-peng dan kedua pengiringnya.

Mi-pangsit bikinan Pang Hui-beng ini, Pang Hui-beng sendiri bahkan tidak doyan. Maka bisa ditebak kalau orang lain pun jarang yang doyan. Itulah sebabnya Pang Hui-beng selalu pulang larut malam di rumah kecil yang disewanya di tengah kota bawah Lam-koan dengan dagangan yang hampir tidak berkurang dan akan menjadi basi keesokan paginya.

Tetapi Pang Hui-beng tidak peduli, karena memang bukan itulah tujuannya. Begitu pula malam itu, selesai keliling kota, Pang Hui-beng memikul pikulannya memasuki gang gelap berbau air kencing, gang tempat rumah sewaannya berada. Sengaja ia memilih tempat macam itu untuk mengamankan samarannya. Hidup di kalangan bawah menghasilkan lebih banyak keterangan tentang berbagai situasi.

Namun begitu melangkah di tikungan gang, sebatang pentung tiba-tiba menyambar kepalanya. Deru ayunan pentung itu berat, menandakan penyerangnya bertenaga kuat. Dalam keadaan antara mati hidup demikian, Pang Hui-beng tidak dapat terus berpura-pura sebagai penjual mi-pangsit yang tak berdaya, atau kepalanya bakal retak.

Maka dengan cepat Pang Hui-beng menunduk dan menaruh pikulannya, dan menyurut mundur lewat bawah bambu pikulan dengan gerakan mirip kura-kura menyurutkan kepala.

Sambaran pentung itu cepat, tetapi penghindaran Pang Hui-beng lebih cepat lagi. Pentung itu hanya menghantam bagian tengah bambu pikulan mi-pangsit, dan ternyata bambu pikulan Itu bukan bambu biasa. Bambu itu tidak patah, melainkan mementalkan pentung yang menimpanya sehingga penyerang dengan pentung itu hampir saja mementung mukanya sendiri.

Kemudian ternyata penyerang Pang Hui-beng tidak satu orang. Di depannya kelihatan bayangan dua orang, yang satu memegang pentung dan yang sudah menyerangnya tadi, yang satu lagi kelihatannya memegang senjata sejenis rantai, jenis senjata yang agak merepotkan di malam gelap itu. Kemudian di belakangnya muncul pula dua orang. Satu senjata pentung pula, satu lagi memegang sepasang belati.

Pang Hui-beng jadinya terjepit di tengah-tengah gang sempit itu. Ia tidak tahu seberapa kekuatan ke empat orang itu, maka ia tidak mau ambil resiko. Dengan gerak cepat, Pang Hui-beng merenggut kayu pikulan mi-pangsitnya, lepas dari pikulannya. Lalu ia berdiri dalam posisi bersiaga yang dapat mengawasi ke dua arah, dengan punggung merapat ke salah satu dinding pembatas gang. Pikulan bambu dipegang dengan dua tangan agak di tengah-tengah.

“Ikut kami!” geram Si Pembawa Rantai. “Siapa kalian? Dan kenapa aku harus ikut kalian?”

“Jangan banyak cakap. Lakukan saja perintah kami!”

“Tidak.”

“Kalau begitu, kami akan bertindak keras kepadamu!”

“Semau kalianlah....”

Dua pemegang pentung bergerak serempak dari dua arah, seolah mereka digerakkan hanya oleh satu otak. Dan serangan mereka pun menutup kemungkinan atas-bawah. Yang satu mengemplang kepala, yang lain menyerampang sebatas lutut.

Di gang sempit itu, di mana kalau dua orang berjalan kaki berpapasan haruslah keduanya memiringkan tubuhnya supaya bisa lewat, penghadang-penghadang Pang Hui-beng itu sudah memperhitungkan akan menjepit Pang Hui-beng dari arah depan dan belakang, cuma mereka melupakan satu arah yang masih terbuka buat Pang Hui-beng, yaitu atas.

Dan arah inilah yang diarah Pang Hui-beng untuk meloloskan dirinya. Begitu serangan datang, sekuatnya ia jejakkan kaki ke tanah, kemudian kedua kakinya terpentang menahan tembok di kiri kanannya sehingga tubuhnya sekarang di atas lawan-lawannya. Berbareng dengan kayu pikulannya yang sekarang ganti mementung ke kepala lawan-lawannya.

Salah seorang lawan juga melompat ke atas dan mementangkan kaki menahan tembok, dengan rantainya ia hendak melibat leher Pang Hui-beng dari arah belakang, sebab posisinya ada di belakang Pang Hui-beng.

Pang Hui-beng tidak meiihat namun mendengar deru angin serangan lawannya, dan caranya menghindar adalah memerosotkan tubuhnya kembali ke bawah tembok. Sambil meluncur turun, kayu pikulannya juga menyodok ke belakang lewat ketiak tanpa melihat. Namun ujung kayu pikulannya tepat menyodok ke tengah-tengah dari sepasang kaki lawan yang terpentang itu, alias tempat di mana “pusaka” kaum lelaki tersimpan.

Orang itu meraung kesakitan dan terbanting jatuh ke tanah, menggeloser di tanah sambil merintih-rintih dan sepasang telapak tangan mendekap selangkangannya. Sudah tentu ia tidak bisa lagi ambil bagian dalam pertempuran.

Namun pertempuran tetap berlangsung tanpa dia. Masih ada dua pemegang pentung dan satu pemegang sepasang belati yang siap mencelakakan Pang Hui-beng bila ada kesempatan. Tetapi prajurit pilihan dari istana yang menyamar sebagai bakui mi-pangsit ini ternyata memang kelewat tangguh buat ketiga lawannya yang salah menghitung kekuatannya. Apalagi, Pang Hui-beng dengan suatu lompatan bak belalang, berhasil mengubah posisinya.

Kini tiga sisa lawannya itu tidak berada di dua arah, melainkan berkumpul di satu arah di gang sempit itu sehingga lebih gampang dihadapi. Karena sempitnya gang, maka di pihak lawan tidak bisa maju serempak semuanya. Paling banyak hanya dua, dan yang satu harus “antri” di belakang. Dan karena tidak ada satu pun dari tiga lawan itu yang mampu melompat seperti Pang Hui-beng tadi, maka posisi itu tidak berubah.

Kini Pang Hui-beng menggerakkan kayu pikulannya bagaikan toya dan menggempur dengan sengit. Ia bernafsu meringkus setidak-tidaknya seorang dari ketiga lawannya itu, agar bisa ditanyai tentang rahasia-rahasia Pek-lian-hwe. Begitulah ia mendesak dengan sengit. Begitulah, menurut anggapan Pang Hui-beng secara teori ilmu silat, ia merasa sudah unggul di atas angin. Ia merasa sudah berhak membayangkan perolehan kemenangan yang gemilang, dan semangatnya pun berkobar.

Cuma saja Pang Hui-beng lupa satu hal. Berurusan dengan orang-orang Pek-lian-hwe atau Pek-lian-kau, berarti berurusan tidak hanya dengan perkara-perkara yang kelihatan oleh mata wadag, melainkan juga berurusan dengan hal-hal yang bersangkut-paut erat dengan alam gaib yang tidak terlihat oleh mata wadag kebanyakan orang. Alam yang sering disebut “alam tidak nyata” padahal sama nyatanya dengan alam yang tertangkap mata wadag.

Demikianlah, penyerang Pang Hui-beng yang secara teori silat tidak mendapat tempat di garis depan karena sempitnya gang itu, ternyata tidak tinggal diam. la mengeluarkan guntingan-guntingan kertas kuning dari dalam bajunya. Helai-helai kertas kuning yang sudah digunting dalam bermacam-macam bentuk mahluk hidup. Ada manusia, dan kerbau, ular, naga, bahkan salah satu helaian kertas itu digunting dalam bentuk kuda sembrani, juga ular bersayap. Sepintas seperti hasil karya anak kecil yang lagi senang-senangnya bermain gunting dan kertas.

Orang itu berkemak-kemik membaca doa, “mahluk-mahluk” dari guntingan kertas itu dipegang di kedua telapak tangannya, lalu tiba-tiba kertas- kertas itu menyala dan dalam sekejap menjadi abu, entah dari mana apinya. Abu-abu itu ditebarkannya di langit yang kelam.

Biarpun Pang Hui-beng sedang menghadapi dua lawan, tetapi perbuatan orang ketiga yang berada di belakang kedua lawannya yang lain itu tidak lepas dari pandangannya. Sekilas dilihatnya cahaya api, lalu abu kertas yang ditaburkan ke udara.

Hati Pang Hui-beng bercekat, sadar bahwa lawan-lawannya siap melakukan “sesuatu yang aneh”, dan sekaligus ia juga mulai tahu kalau lawan-lawannya Itu pastilah orang-orang Pek-lian-hwe. Mungkin malam ini mereka bertindak sebagai kelanjutan dari peristiwa siang tadi, di mana Pang Hui-beng menjadi penggerak orang-orang yang membakar pos rahasia Pek-lian-hwe itu.

Namun Pang Hui-beng tidak gentar. Pikirnya, “Kalau bangsat-bangsat Pek-lian-hwe ini mau aneh-aneh, aku pun masih punya senjata penangkal yang manjur. Ludah berdarah.” Meski ia tahu bahwa dengan “ilmu ludah berdarah”nya maka dalam beberapa hari mendatang, lidahnya akan banyak menderita luka-luka kecil semacam sariawan yang bakal mengganggu kenikmatan makannya.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba angin malam yang semula bertiup biasa-biasa saja, mulai meningkat semakin kencang dan semacam dingin mengiris kulit, debu dan dedaunan kering di tanah mulai terangkat. Pang Hui-beng tertawa mengejek, “Hem, kalian sudah membuka kedok kalian sendiri, bahwa kalian adalah bangsat-bangsat Teratai Putih. Dan kalian belum jemu juga mengulang-ulang permainan kalian yang tidak ada gunanya ini?”

“Lihat sajalah, anjing Manchu!” geram salah seorang lawannya. Istilah “anjing Manchu” biasa digunakan oleh penentang-penentang pemerintah terhadap orang- orang yang bekerja bagi pemerintah.

Pang Hui-beng panas hatinya. Tiba-tiba ia kerahkan semangatnya dan serangan dengan kayu pikulannya meningkat tajam secara mendadak. Kedua lawannya yang sama-sama bersenjata pentung, yang dalam kemahiran silat memang jauh di bawah Si “Semilir Angin” Pang Hui-beng, segera saja kedodoran dalam serangan maupun pertahanan mereka.

Dalam suatu gebrakan, salah seorang dari mereka kehilangan pentungan yang mencelat ke udara, lepas dari tangan, karena perge-langan tangannya kena sabetan kayu pikulan Pang Hui-beng yang mencongkel dari bawah ke atas. Pada gebrakan berikutnya, lawan Pang Hui-beng yang seorang lagi kena gebuk dengkulnya sehingga ia langsung jatuh berlutut karena sebelah kakinya tidak lagi mampu menahan bobot tubuhnya.

Pang Hui-beng sudah di ambang kemenangan. Menurut teori silat. Tetapi suatu yang bukan dari teori silat pun muncul di gelanggang dan menghambat kemenangan Pang Hui-beng. Yaitu angin yang semakin tajam dan kencang itu, yang dirasakan hanya oleh Pang Hui-beng saja, namun tidak oleh lawan-lawannya.

Namun Pang Hui-beng masih meremehkannya. Masih percaya keampuhan “ludah berdarah”nya. Dan ketika ia sudah merasa cukup terganggu oleh angin itu, ia benar-benar menggigit sedikit lidahnya dan meludahkannya ke udara. Ternyata urusan gaib yang dihadapinya kali ini tidak sama dengan yang dihadapinya di kelenteng pos rahasia Pek-lian-hwe itu.

Angin dingin dan kencang tidak segera reda, bahkan di depan Pang Hui-beng tiba-tiba saja muncul seorang lelaki berbaju kuning dan bersenjata pedang, entah darimana datangnya, yang langsung saja menempur Pang Hui-beng dengan sengit. Yang membuat Pang Hui-beng mau tidak mau jadi bergidik, ialah ketika melihat wajah orang yang menjadi lawan barunya itu.

Wajah itu bukan wajah sesuatu yang hidup. Wajah itu seolah-olah hanyalah selembar kertas yang digambari sepasang mata dan hidung serta mulut oleh seorang anak kecil yang baru belajar menggambar. Dan wajah semacam itu bukan topeng, melainkan wajah asli “lawan” Pang Hui-beng ini.

Dan ternyata lawan-lawan Pang Hui-beng yang terdahulu, yaitu lawan-lawan yang “normal”, sepenuhnya mempercayakan perlawanan kepada “orang” baru berbaju kuning yang entah dari mana datangnya itu. Buktinya mereka mundur menjauhi gelanggang sambil membawa kawan mereka yang cidera tadi, dan mereka membiarkan Si Baju Kuning bertarung dengan Pang Hui-beng sendirian.

Perkelahian berlangsung sengit, pedang melawan pikulan bambu saling menyambar dengan cepat dan bertenaga. Mulanya Pang Hui-beng menyangka, biarpun lawan baru ini bertampang ganjil, tetapi hanyalah manusia biasa. Ia beranggapan begitu, sampai ia temukan beberapa keganjilan selain wajahnya. Pertama, kalau orang normal bergerak-gerak beberapa menit saja pastilah akan keluar keringatnya.

Ternyata orang ini tidak berkeringat sama sekali, kalau orang-orang normal bertarung sepuluh gebrak saja, setidak-tidaknya pasti terdengar dengus napasnya, tetapi orang ini tidak, bahkan agaknya ia tidak bernapas! Ketiga, orang baju kuning itu seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh daya tarik bumi, sering ia terapung-apung di udara kosong seperti berjejak di atas tanah saja.

Maka Pang Hui-beng pun mulai ragu-ragu, lawannya ini manusia, atau hantu? Dan Pang Hui-beng mulai menyadari, memahami, memaklumi, kenapa kedua orang rekannya sesama perajurit sandi istana yang berhasil menyusup masuk ke dalam Pek-lian-hwe, yaitu Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong, menceritakan pengalaman ganjil mereka dengan nada bersungguh-sungguh, tidak berkelakar.

Meskipun demikian, Pang Hui-beng yang bernyali besar itu tidak menjadi gentar. Ia memang sudah siap mental. Sejak berangkat dari Pak-khia, ia sudah diberi pesan oleh Jenderal Wan Lui, atasannya, bahwa berurusan dengan kaum Teratai Putih berarti akan berurusan juga dengan hal-hal aneh yang tidak masuk akal.

Begitulah, namun Pang Hui-beng tetap tidak gentar. Untuk membesarkan hatinya sendiri, ia membentak keras-keras, “Entah kau ini manusia atau siluman, aku tetap akan menghajarmu!”

Dan kenyataannya sungguh tidak gampang menghajar lawan yang aneh ini. Meski lawan Ini sering kena gebukan karena ilmu silatnya tidak karuan, tetapi tubuhnya seakan-akan karung beras. Gebukan-gebukan keras Pang Hui-beng tidak berbekas sedikit pun di tubuhnya, setiap kali ia melompat bangkit kembali dan menyerbu dengan garang. Dengan geraknya yang tidak keruan, gerak yang sekedar melompat-lompat dan menyabet-nyabetkan pedang nya secara ngawur tetapi amat berbahaya.

Suatu ketika, Pang Hui-beng berhasil menyapukan kayu pikulannya mendatar menerpa pinggang orang itu. Sangat telak, dan Pang Hui-beng mengerahkan seluruh kekuatannya. Dan sesuatu yang membuat seluruh tubuh Pang Hui-beng meremang pun terjadilah. Kayu pikulan Pang Hui-beng melintas lewat dan memutuskan pinggang orang itu, namun terdengar suara seperti kertas dirobek.

Pang Hui-beng merasa aneh, tetapi lega, karena ia sudah memotong tubuh lawannya itu jadi dua meskipun tidak dapat menjelaskannya kenapa kayu pikulannya yang tumpul itu bisa memotong tubuh orang. Sekarang, betapapun besarnya nyali Pang Hui- beng, toh semangatnya terguncang juga. Sebab tubuh musuh yang terpotong itu, bagian atas dan bagian bawahnya ternyata bertempur sendiri-sendiri melawan Pang Hui-beng.

Potongan atas, pinggang ke atas dengan pedang ditangannya, melayang-layang di udara dan tetap menyerang dengan ganas. Sementara potongan bawahnya juga menendang-nendang dengan gencar. Sekarang, betapa pun besarnya nyali Pang Hui-beng, toh semangatnya terguncang juga. Sebab tubuh musuh yang terpotong itu, bagian atas dan bagian bawahnya ternyata bertempur sendiri sendiri. Mau tak mau Pang Hui-beng berkeringat dingin.

Waktu ia semakin kebingungan menghadapi lawan yang tidak bisa dibunuh itu, Pang Hui-beng mau tidak mau harus kembali mencoba semburan ludah berdarahnya. Namun ia tidak ingin lidahnya hancur sendiri karena digigiti sendiri terus, maka ia gigit ujung jari tangan kirinya sendiri sampai berdarah, dan darahnya dikemut dalam mulut, lalu pada suatu kesempatan disemburkan ke kedua “potongan orang” itu.

Pang Hui-beng bersorak dalam hati ketika melihat kedua potongan jatuh ke tanah, dan menyusut menjadi bentuk aslinya yaitu guntingan kertas kuning yang terpotong dua. Namun kelegaan Pang Hui-beng tidak berumur lebih dari dua detik. Angin dingin dan kencang yang tadi sudah mereda, tiba-tiba sekarang berjangkit kembali.

Baru saja Pang Hui-beng mengedipkan mata melindungi matanya dari pasir yang beterbangan, tahu-tahu ia sudah mendapat lawan baru. Bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus. Dan yang tiga ini adalah kuda, kerbau dan ular besar, tidak ada manusianya satu pun. Ketiga hewan di gang sesempit itu benar-benar merepotkan Pang Hui-beng.

Maka kembali ia memeras tenaga habis-habisan menghadapi tiga mahluk itu. Ia harus sering melompat dan mementang kakinya menjejak tembok-tembok gang, sampai kakinya lama-lama terasa pegal juga. Dan ia tambah repot ketika tahu bahwa baik ular maupun kuda itu bisa terbang menyambar atau melompat tinggi.

Tidak bisa tidak, akhirnya Pang Hui-beng harus kembali menggigit ujung telunjuk dan menyemburkan ludah lagi. Ketiga mahluk jadi-jadian itu pun kembali ke ujud asal berupa guntingan-gun-tingan kertas kuning. Namun tenaga Pang Hui-beng sudah terkuras hampir habis.

Saat itulah tiga anggota Pek-lian-hwe tadi sudah menyerang, bahkan mereka menggunakan kabut beracun yang membuat Pang Hui-beng sempoyongan. Dan ia harus melepaskan kayu-pikulannya ketika sebuah pentung lawannya menghantam pergelangan tangannya, dan pentung kedua menghantam tengkuknya dan merampas kesadarannya. Pang Hui-beng jatuh pingsan, setelah lebih dulu tenaganya diperas habis-habisan oleh “mahluk-mahluk kertas” dan kabut beracun lawannya.

Keempat anggota Pek-lian-hwe itu, termasuk seorang yang tadi terpukul selangkangannya saling berpandangan. Seorang menggunakan kakinya menyentuh tubuh Pang Hui-beng untuk memastikan Si “Semilir Angin” ini benar-benar pingsan.

“Ia pingsan.”

“Memang itu yang dikehendaki San-cu (komandan gunung). Ayo kita bawa dia kepada San-cu.”


Malam itu Pang Hui-beng yang pingsan itu digotong ke rumah pemimpin cabang Pek-lian-hwe di Lam-koan itu, yaitu Siau Hok-to yang sehari-harinya dikenal masyarakat sebagai pemilik toko obat yang ramah tamah kepada siapa pun. Namun di kalangan intern Pek-lian-hwe, Si Pemimpin cabang ini juga dijuluki Sam-gan Siang-seng atau Tuan Bermata Tiga.

Pertama karena adanya benjolan kecil di tengah- tengah jidatnya yang mirip “mata ketiga” itu, dan kedua karena ilmu gaib Sam-gan Hoat-sut (Sihir Mata Ketiga) yang dikuasainya. Dengan ilmu sihirnya itu, Siau Hok-to bisa “menitipkan” mata ketiganya kepada orang lain tanpa disadari oleh orang itu, dan melalui “mata ketiga” itu dia bisa “ikut melihat” apa pun yang dilihat oleh orang yang dititipi itu.

Pang Hui-beng yang pingsan itu pun digotong orang-orang Pek-lian-hwe tersebut ke kediaman Siau Hok-to. Dibawa langsung ke sebuah ruangan rahasia. yang bersuasana magis. Semalam suntuk Pang Hui-beng yang tidak sadar itu digarap menurut serangkaian acara gaib, dipasangi “mata ketiga”. Menjelang dini hari, Siau Hok-to memerintahkan orang-orangnya agar kembali membawa Pang Hui-beng keluar rumah dan meletakkannya kembali di tempat di mana ia dihadang.

Tetapi Siau Hok-to berpesan kepada orang-orangnya, “Hati-hati, jangan sampai kelihatan orang dan menimbulkan gelombang keributan lagi. Cara kerja yang kasar dari Ui-kong Hwe-sio dan Phui Se-san ketika menculik calon korban, sudah cukup memusingkan aku. Jangan sampai muncul masalah baru.”

Orang-orang itu mengiakan pesan itu dengan sungguh-sungguh, kemudian dalam suasana berkabut di pagi yang sangat dini itu, mereka menggotong tubuh Pang Hui-beng lalu menaruhnya di gang tempat perkelahian semalam, dan ditinggalkannya begitu saja.

Dinginnya embun sisa malam membuat Pang Hui-beng sadar sebelum ada orang melewati gang itu. Ia menggeliat duduk, memijit-mijit tengkuknya dan pelipisnya, dan merasa heran menemukan dirinya masih berada di arena perkelahian semalam. Heran karena orang-orang Pek-lian-hwe semalam ternyata hanya membuatnya pingsan tetapi tidak mengapa-apakannya.

Pang Hui-beng lalu mengambil kesimpulan sendiri, “Mungkin mereka hanya menghajarku sebagai peringatan agar tidak menghasut orang-orang Lam-koan melawan Pek-lian-hwe. Mereka tidak ingin aku mati, sebab kalau mayatku ditemukan akan menimbulkan kemarahan orang-orang Lam-koan. Dan kemungkinan pula mereka belum tahu kalau aku adalah agen kerajaan. Kalau mereka tahu, mustahil mereka membiarkan tubuhku tetap utuh setelah jatuh ke tangan mereka.”

Tak terpikir oleh Pang Hui-beng tentang “penitipan mata ketiga” segala, tidak peduli ia sudah mendapat beberapa petunjuk tentang golongan Teratai Putih itu dari atasannya, Jenderal Wan Lui. Pang Hui-beng cuma merasa di tengah-tengah jidatnya ada sesuatu yang tidak enak, membuatnya risih, namun ketika ia meraba ke tempat itu ternyata tidak ada apa-apanya. Ia gosok-gosok dengan kuat, tetapi perasaan risih ini tidak hilang juga.

Akhirnya Pang Hui-beng bosan sendiri, ia bangkit sambil menggerutu, “Ah, nanti lama-lama juga hilang sendiri.”

Ia bangkit dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu, sambil memikir-mikir rencananya, “Mulai besok, aku harus ganti penyamaran, bukan tukang jual pangsit lagi. Juga ganti bentuk wajah. Tetapi untuk hari ini aku masih harus menyamar sebagai tukang pangsit, kalau-kalau kawan-kawanku kebingungan mencari aku. Dan nanti malam harus aku kumpulkan kawan- kawanku di tempat biasanya, memberitahu perkembangan terbaru, siapa tahu Kui Tek-lam atau Lo Lam-hong bisa mencium di mana beradanya orang-orang yang diculik itu.”

Hari itu Pang Hui-beng tetap berkeliling kota sebagai tukang pangsit, namun dengan lebih berhati-hati. Perkara sesuatu yang merisihkan yang seolah-olah bersembunyi di bawah kulit di tengah-tengah jidatnya, ia tidak menghiraukannya betul. Ia sempat menghubungi Lo Lam-hong, Kui Tek-lam serta Oh Tong-peng dan kedua bawahannya yang lain, mengajak mereka bertemu nanti malam untuk bertukar informasi dan mengatur langkah bersama.

Sementara, seharian itu toko obat kepunyaan Siau Hok-to hanya ditunggui Nyonya Siau saja. Siau Hok-tonya sendiri mengurung diri di ruangan pemujaannya, tidak makan tidak minum, dan di pelupuk matanya tergambar apa saja dan siapa saja yang ditemui Pang Hui-beng hari itu.

Sayang, apa yang mereka bicarakan tidak bisa ikut didengar oleh Siau Hok-to, ia hanya bisa melihat orang-orang yang ditemui Pang Hui-beng itu berkomat-kamit mulutnya. Ilmu sihir Siau Hok-to memang hanya “mata ke tiga” dan bukan “kuping ke tiga”.

Dalam semedinya Siau Hok-to melihat wajah-wajah yang juga dilihat Pang Hui-beng, bahkan seandainya Pang Hui-beng sedang terpejam. Karena Pang Hui-beng berkeliling kota Lam-koan, tentu saja wajah yang dilihatnya jadi banyak sekali. Sikap Pang Hui-beng kepada siapa pun juga nampak wajar, tidak patut dicurigai, sehingga Siau Hok-to sulit menentukan yang mana di antara wajah-wajah itu yang agen kerajaan alias “semilir angin”.

Tetapi Siau Hok-to mencurigai seseorang pemuda berjubah biru yang keluar dari sebuah rumah besar yang dikenalinya sebagai rumah Nyo In-hwe. Si Pemuda itu terlihat melalui “mata ketiga”nya yang dititipkan kepada Pang Hui-beng nampak berbicara agak lama dan dengan mimik bersungguh-sungguh dengan Pang Hui-beng.

Jelas pembicaraan mereka tidak sekedar perkara mi-pangsit antara penjual dan pembeli. Juga seorang tukang perahu di dermaga kota Lam-koan, dan seorang lelaki setengah baya bertubuh tegap. Siau Hok-to mengingat-ingat wajah-wajah itu.

Sore harinya Siau Hok-to beristirahat, tetapi tetap dalam keadaan berpuasa, tidak makan dan tidak minum, untuk menjaga “hubungan” dengan “mata ketiganya”. Menjelang malam, ia bersembahyang di altar dewa-dewanya kaum Teratai Putih, lalu kembali bersemedi untuk ikut melihat apa yang dilihat Pang Hui-beng.

Kebetulan waktu itu Pang Hui-beng sedang beristirahat di rumah sewaannya setelah seharian berjualan mi-pangsit, ia terbaring di dipan kayu di kamarnya berbantalkan lengan-lengannya, sehingga yang dilihat oleh Siau Hok-to di ruang semedinya ya hanyalah cecak-cecak yang berkejaran di langit-langit kamar Pang Hui-beng.

Namun Siau Hok-to menunggu dengan sabar, yakin bahwa suatu saat kelak “mata ketiga”nya yang “dititipkan” ke Pang Hui-beng itu akan melihat sesuatu yang berarti. Ternyata Pang Hui-beng juga tidak ingin tidur-tiduran terus sampai pagi, ia sudah berjanji untuk bertemu dengan kawan-kawannya tengah malam nanti di tempat pertemuan yang dulu, kuburan Portugis yang sudah tidak dipakai lagi di luar kota.

Ketika mendengar tanda waktu menjelang tengah malam di kejauhan, ia pun bangkit, cepat mengenakan pakaian ringkas berwarna gelap dan menyelinaplah ia di antara lorong-lorong kota Lam- koan, menuju ke kuburan tua itu.

Tiba di tempat yang dituju, belum seorang pun dari kawannya yang muncul di situ. Ia duduk sendirian di kegelapan, di antara nisan-nisan yang bertulisan latin yang sebagian besar sudah rusak, patung-patung malaikat gaya Eropa dan salib-salib yang juga sudah banyak yang ambruk atau miring.

Kuburan itu sudah tidak terpakai sejak lima puluh tahun yang lalu, ketika orang-orang Portugis ramai-ramai meninggalkan kota Lam-koan, mengungsi ke Makao, karena orang-orang Pek-lian-hwe melalui gerakan bawah tanahnya menyebarkan rasa kebencian kepada orang-orang asing.

Yang datang kemudian adalah Oh Tong-peng Si Pimpinan operasi rahasia di Lam-koan itu, bersama dua orang bawahannya. Pang Hui-beng berdiri untuk memberi hormat, “Selamat malam, Kakak Oh.”

“Lama menunggu aku?”

“Tidak juga. Saudara Kui Lo juga belum datang.”

Namun kedua orang yang ditunggu itu pun segera muncul berturut-turut. Dengan demikian sekarang lengkaplah enam orang agen kerajaan yang ditugaskan Jenderal Wan Lui ke Lam-koan itu. Ditugaskan untuk menemukan dan menghancurkan simpanan gudang senjata kaum Teratai Putih golongan selatan alias Pek-lian-hwe.

“Nah, katakan apa yang mau kaukatakan, sehingga kau kumpulkan kami di sini.” peringah Oh Tong-peng sebagai pimpinan.

Pang Hui-beng menceritakan soal penculikan, dan juga soal ia dihadang malam-malam di gang dan harus berhadapan dengan beberapa mahluk jadi- jadian dari kertas kuning. “...untungnya setelah aku dipukuli pingsan, aku tidak diapa-apakan. Aku dibiarkan saja tergeletak di gang itu sampai pagi.” demikian Pang Hui-beng mengakhiri laporannya.

Karena Pang Hui-beng belum tahu apa yang diperbuat orang-orang Pek-lian-hwe atas dirinya sewaktu ia tidak sadar, maka ia masih berani berkata “untungnya” pada penutupan laporannya. Namun Lo Lam-hong yang berpikiran cermat itu bertanya, “Saudara Pang, kapan waktunya engkau pingsan dan kapan waktunya engkau siuman?”

Pertanyaan itu terdengar sarat dengan nada kesungguhan. Pang Hui-beng ini sifatnya agak mirip Kui Tek-lam, mungkin karena usianya bisa dibilang sebaya. Yaitu sifat bernyali besar, agak memandang kelewat enteng segala urusan, dan keduanya agaknya punya pandangan yang sama terhadap Lo Lam-hong yang sekitar delapan sembilan tahun lebih tua dari usia mereka berdua. Yaitu semangat Lo Lam-hong terlalu bersungguh-sungguh memikirkan segala sesuatunya “sehingga cepat tua” kata mereka.

Begitu pula kali ini Pang Hui-beng menanggapi kesungguhan Lo Lam-hong dengan ringan, “Saudara Lo, apa sangkut-pautnya antara lamanya aku pingsan dengan...”

“Ada sangkut-pautnya. Berapa lama kau tidak sadarkan diri?”

Pang Hui-beng masih saja cengengesan, “Aku kira tidak perlu kita membesar-besarkan soal kehebatan orang-orang Teratai Putih, Jangan-jangan kita bukan mati oleh pedang, tetapi oleh ketakutan?”

“Saudara Pang, jawab saja pertanyaan Saudara Lo!” tiba-tiba Kui Tek-lam berkata dengan nada tidak sabar. “Jangan terlalu mengandalkan otak kita, yang tidak selalu bisa memecahkan persoalan menghadapi orang-orang Pek-lian-hwe!”

Nada suara Kui Tek-lam mengagetkan Pang Hui-beng. Di antara anggota-anggota regu kecil itu, yang paling sering berkelakar adalah antara Kui Tek-lam dan Pang Hui-beng karena sifatnya paling cocok, kini mendengar Kui Tek-lam berkata dengan nada amat bersungguh-sungguh yang jauh dari ramah, sungguh kuping Pang Hui-beng sendiri sulit mempercayainya.

Memang sudah sejak sore tadi Pang Hui-beng merasa heran kepada rekannya ini. Tadi sore ketika ia menghubungi Kui Tek-lam di rumah Nyo In-hwe, Pang Hui-beng sudah merasa heran melihat Kui Tek-lam yang tidak bertemu dalam dua hari saja wajahnya nampak bertambah tua beberapa tahun, nampak lelah tetapi bukan lelah secara fisik melainkan secara batin. Dan malam ini, sejak bertemu dengan Pang Hui-beng, tidak sepatah kata kelakar pun keluar dari mulutnya, tidak seperti biasanya.

Pang Hui-beng menarik napas, meng-kesampingkan sikap bermain-mainnya dan menjawab pertanyaan Lo Lam-hong tadi, “Kira-kira menjelang waktu Macan (istilah untuk menyebut waktu antara jam tiga sampai jam lima dinihari) sampai pertengahan waktu Kelinci (lima sampai tujuh) baru aku siuman.”

“Wajarkah Pang Hui-beng, seorang perwira terpilih dari para pilihan dibarisannya jago-jago Sribaginda, pingsan selama itu?” Lo Lam-hong mulai melontarkan masalahnya.

Kini semuanya tahu apa yang dipikirkan Lo Lam-hong. Tetapi sesuai dengan watak Pang Hui-beng, ia masih mencoba memperingan masalahnya, “Rasanya, dengan daya tahan tubuhku, seandainya aku pingsan pun tidak akan melebihi setengah jam. Tetapi kenapa aku tidak sadar selama itu? Jawabannya mudah, mungkin karena aku lelah di siang harinya, maka selama itu aku sebenarnya pingsan bercampur tidur.”

“Selama kau tidak sadar itu, bisa jadi pihak Pek-lian-hwe tidak membiarkan dirimu. Mereka mungkin sudah mengerjakan sesuatu atas dirimu.” kata Lo Lam-hong.

“Aaah...” sahut Pang Hui-beng dengan sikap meremehkan sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajahnya sendiri, seperti mengusir lalat yang mau hinggap ke hidungnya. “Tidak perlu menduga-duga hal-hal yang buruk, tidak perlu membesar-besarkan.”

“Berhadapan dengan orang-orang sesat macam kaum Teratai Putih, pikiran Saudara Lo itu bukan sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan!” kembali Kui Tek-lam menukas dengan perkataannya yang tidak ramah.

“Saudara Kui, apa yang harus kukatakan? Seandainya benar orang Pek-lian-hwe mengerjakan sesuatu atas diriku, mana aku tahu, karena aku sedang tidak sadar?”

“Dalam keadaan tidak sadarmu itu, apakah kau bermimpi sesuatu?” tanya Lo Lam-hong.

Hampir-hampir Pang Hui-beng tertawa, apa hubungannya urusan ini dengan mimpi? Tetapi sudah tentu ia tidak berani tertawa terang-terangan di depan rekan-rekannya yang sedang strees ini supaya tidak jadi onar, ia jawab dengan lagak bersungguh-sungguh, “Tidak, tidurku pulas sekali, mungkin seandainya aku bermimpi, aku tidak dapat mengingatnya lagi, sebab hampir tiap malam aku bermimpi namun aku tidak punya kebiasaan mengingat-ingat mimpiku.”

“Apa tidak terasa sesuatu perubahan pada dirimu? Sesuatu yang... tidak biasa, begitu?”

Pang Hui-beng ingat perasaan tidak enak di tengah-tengah jidatnya, di antara kedua matanya, namun ia tetap bertahan dalam sikapnya untuk “tidak membesar-besarkan masalah”, maka dia pun menggeleng.

Sedari tadi Oh Tong-peng diam saja. Itu adalah kebiasaannya sebagai pimpinan, membiarkan para bawahannya saling mengeluarkan isi hati masing-masing sebebasnya, sehingga sebagai pimpinan ia bisa menduga keadaan mental anak buahnya. Malam ini, ia tidak menangkap kelakar antara anak buahnya seperti biasanya, melainkan justru ketegangan.

Khususnya pada diri Lo Lam-hong dan Kui Tek-lam, kelihatannya urat-syaraf kedua orang itu sudah sedemikian tegangnya sehingga cukup dengan sedikit “tarikan” saja urat-syaraf kedua orang itu bisa putus. Ini mengherankan Oh Tong-peng. Semua anak buahnya adalah orang-orang bernyali besar, bahkan seandainya ada ujung pedang ditempelkan di kulit leher mereka, mungkin mereka masih bisa bercanda.

Namun kini mereka berdua kelihatan begitu tegang, begitu mudah marah dan tidak sabaran, bahkan antara Pang Hui-beng dan Kui Tek-lam yang biasanya begitu akrab. Kebetulan Lo Lam-hong dan Kui Tek-Iamlah yang diselundupkan masuk menjadi anggota Pek-lian-hwe, bahkan sudah melalui upacara penerimaan anggota di “Kota Bunga Persik” dan mengambil sumpah di depan “altar bunga merah” yang mereka jalani.

Sekarang Oh Tong-peng menduga, mungkin kedua bawahannya itu sudah menemukan petunjuk tentang gudang senjata Pek-lian-hwe itu? Mungkinkah pula muncul masalah lain yang membuat otak mereka “kelebihan muatan” sehingga jadi tegang? Karena itu Oh Tong-peng memutuskan untuk mengkesampingkan Pang Hui-beng dulu, dan lebih dulu mendengarkan Lo Lam-hong atau Kui Tek-lam. Supaya mereka berdua lega lebih dulu.

Dengan suaranya yang berat dan perlahan, Oh Tong-peng mulai memasuki pembicaraan, “Saudara Lo dan Saudara Kui, aku merasakan ada beban berat di pikiranmu. Bisa kalian katakan?”

Kedua anak buahnya itu malahan bertukar pandangan dengan gelisah. Oh Tong-peng kemudian secara bijaksana mencairkan suasana resmi antara atasan-bawahan, “Kita ini meskipun dalam ikatan tugas, tetapi , sehari-harinya sudah seperti keluarga sendiri. Beban satu orang dipikul bersama. Saudara Lo dan Saudara Kui, apa yang membuat kalian sulit berbicara?!”

Pang Hui-beng yang lebih tidak sabaran, malahan sudah langsung ke masalahnya, “Apakah kalian sudah menemukan petunjuk tentang senjata-senjata api simpanan Pek-lian-hwe itu?”

Bersamaan Lo Lam-hong dan Kui Tek-lam menarik napas berat sambil geleng-geleng kepala.

“Lho....”

“Kakak Oh, bahkan aku sering kehilangan kepribadianku sendiri...” keluh Kui Tek-lam.

Pendengar-pendengarnya tercengang, Oh Tong-peng beringsut pada tempat duduknya. “Maksudmu bagaimana?”

Kui Tek-lam mulai berkisah, “Ketika aku mengikuti upacara kelompok bangsat-bangsat itu di tempat yang mereka namai 'Kota Pohon Persik' aku lakukan apa saja yang termasuk bagian upacara itu, termasuk mengucapkan sumpah dan memberi hormat kepada dewa-dewa keparat kaum Terat... ter... ter....”

Tiba-tiba saja rahang Kui Tek-lam menjadi kaku dan tubuhnya menjadi kejang-kejang, tak bisa meneruskan bicaranya. Teman-temannya terkejut, menyangka Kui Tek-lam terkena serangan gelap senjata beracun, mereka berloncatan mengitari Kui Tek-lam dalam posisi melindungi, menghadap ke berbagai arah dalam sikap siaga, sementara Oh Tong-peng merangkul Kui Tek-lam dan mencoba memeriksa tubuhnya.

Namun malam terlalu gelap di kuburan lama itu, dan orang-orang itu sengaja bertemu dalam kegelapan untuk menjaga jangan sampai terlihat dari kejauhan. Namun demi keselamatan Kui Tek-lam, Oh Tong-peng menaruh tubuh Kui Tek-lam lebih dulu, lalu mengeluarkan batu apinya.

Dan dengan menggunakan rumput-rumputan kering di tanah yang ditumpuk, ia menyalakan, api, lalu menaruh ranting-ranting kecil ke atas api sehingga apinya makin besar. Ia tidak peduli seandainya musuh ada di sekitar tempat itu dan melihat cahaya apinya, keselamatan Kui Tek-lam harus diutamakan.

Setelah cukup terang, ia mulai memeriksa tubuh Kui Tek-lam, membuka bajunya dan membolak-balik tubuhnya, tetapi tidak sedikit pun ditemukan tanda-tanda serangan beracun, bahkan yang paling lembut, semacam Bwe-hoa-ciam (Jarum Bunga Sakura) atau bahkan yang lebih lembut lagi seperti Gu-mo-ciam (Jarum Bulu Kerbau).

Toh Kui Tek-lam tetap saja kejang-kejang dan megap-megap, bahkan mukanya mulai membiru perlahan-lahan, seperti ada tangan tak terlihat yang mencekiknya. Oh Tong-peng jadi panik, jidatnya sampai berkeringat meskipun malam itu udaranya dingin. Ia mengurut-urut dan memijat-mijat sebisa-bisanya, tetapi keadaan Kui Tek-lam tidak membaik.

Sementara keempat anak buah Oh Tong-peng yang mengawasi ke empat penjuru, juga tidak melihat jejak siapa pun, maka mereka mulai berbalik untuk mengurusi Kui Tek-lam rekan mereka. Mereka tidak tahu bahwa ketua cabang Pek-lian-hwe di Lam-koan, Siau Hok-to, mendapat keuntungan besar begitu wajah-wajah mereka menghadap ke arah api.

Di ruang semedinya, Siau Hok-to bisa “ikut melihat” apa pun yang dilihat Pang Hui-beng yang ia “titipi” mata ketiga, dengan demikian Siau Hok-to dapat melihat juga pertemuan agen-agen kerajaan di kuburan lama Portugis itu. Tetapi karena gelapnya, Siau Hok-to juga cuma bisa melihat sosok- sosok bayangan hitam dengan garis-garisnya yang kabur dan hampir membaur dengan gelapnya malam.

Setelah Oh Tong-peng menyalakan api, kelihatanlah semua wajah orang-orang yang berkumpul itu. Tak tertahan Siau Hok-to pun terkekeh-kekeh sendirian di ruang semedinya, “He-he-he... anjing-anjing Manchu ini mau coba-coba main gila dengan Pek-lian-hwe, sebentar lagi mereka akan mengalami hal-hal ajaib yang tidak ketahuan ujung pangkalnya sampai otak mereka pecah.”

Sementara itu, sekian lama Oh Tong-peng mengurut dan memijat tanpa hasil, sampai tiba-tiba dari mulut Kui Tek-lam keluar suara yang asing, “Bangsat, kau selalu saja ikut campur!”

Habis itu, napas Kui Tek-lam yang tersengal-sengal itu normal kembali secara berangsur-angsur. Wajahnya yang biru menjadi kemerah-merahan lagi, dan tidak kejang-kejang lagi. Semua yang mengerumuninya lega, sekaligus juga merinding mendengar suara asing yang keluar dari mulut Kui Tek-lam tadi.

Siapa yang dituduh sebagai “bangsat yang selalu saja ikut campur” oleh suara asing tadi? Apakah Oh Tong-peng yang memijat-mijat dan mengurut-urut? Dugaan macam itu rasanya terlalu tidak meyakinkan.

Sementara Kui Tek-lam telah duduk tanpa dibantu siapa-siapa, nampak sehat kembali. Ia mengatur napasnya, di matanya nampak sejenak ada kebimbangan, namun kemudian nyala tekad berpijar di mata itu.

“Aku tetap harus menceritakan keadaanku kepada kalian, tidak peduli hantu dari topeng kayu itu mengancamku terus.”

“Hantu dari topeng kayu?” Pang Hui-beng tercengang.

Kui Tek-lam cuma mengangguk, namun Lo Lam-hong menjelaskannya lebih terang, “Ketika kami berdua diterima sebagai anggota Pek-lian-hwe, kami masing-masing diberi sebuah topeng dari kayu dengan wajah seram. Kami terima saja, kami anggap topeng itu tidak ada apa-apanya, sekedar dipakai kalau kami sedang diikutkan beroperasi seperti beberapa malam yang lalu. Memang ada anggota-anggota Pek-lian-hwe yang menganggap topeng itu bisa menambah kekuatan, keberanian dan perlindungan dari dewa-dewa yang mereka percayai. Kami semula menganggap remeh kepercayaan mereka. Ternyata....”

“Ternyata kenapa? Teruskan!”

Lo Lam-hong menarik napas dulu, baru melanjutkan, “Ternyata justru melalui topeng yang sudah diisi kekuatan gaib itulah pentolan-pentolan Pek-lian-hwe itu mengendalikan anggota-anggotanya. Begitu topeng itu di dekat kami, segera kami merasa ada pribadi lain, kehendak lain, pikiran lain, perasaan lain yang mencoba mendesak, membantah, bahkan menguasai pribadi kami yang sejati.”

“Tandanya?”

“Entah yang kualami ini sama atau tidak dengan yang dialami Saudara Kui, tetapi penolakanku atas penguasaan oleh pribadi asing itu membuat aku tersiksa oleh mimpi-mimpi buruk yang sama dan berulang-ulang setiap malam, bahkan kadang-kadang saluran napas seperti tercekik beberapa menit. Persis yang dialami Saudara Kui tadi. Itulah yang membuat aku sangat sedikit tidur dalam beberapa malam ini.”

“Yang kualami sama.” Kui Tek-lam melengkapi penjelasan itu. “Dalam mimpi, entah berapa kali aku didatangi mahluk yang wajahnya persis wajah topeng yang kumiliki itu.”

Sekarang Pang Hui-beng dan lain-lainnya bisa sedikit meraba penyebabnya, kenapa dalam beberapa hari saja Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong kelihatan cepat tua. Seperti sifatnya yang angin-anginan, Pang Hui-beng mengusulkan, “Kalau begitu, kenapa susah- susah? Buang atau musnahkan saja topeng yang sudah dimanterai orang Pek-lian-hwe itu.”

“Atasan-atasan kami di Pek-lian-hwe pasti akan segera mengetahuinya dan menanyakannya.”

“Kalau begitu, buat topeng kayu lainnya yang mirip. Bahkan persis.”

“Aku sudah mencoba beberapa kali untuk melakukan seperti yang kau katakan itu, Saudara Pang. Tetapi gagal.”

“Bagaimana gagalnya?”

“Ada-ada saja. Misalnya, waktu hendak membakar topeng itu, tiba-tiba ada orang datang. Di lain kali, baru aku pegang topeng itu, leherku seperti tercekik, seperti tadi itu. Dan macam-macam lagi.”

“Kalau begitu, memang topeng itu ada setannya.”

Oh Tong-peng memijit-mijit pelipisnya, memikir kan penderitaan kedua anak buahnya buahnya yang disuruhnya menyelundup masuk ke dalam Pek-lian- hwe itu. Hasil belum diperoleh, masalah besar sudah muncul lebih dulu. Apa yang dialami Kui Tek-lam maupun Lo Lam-hong itu bisa mendorong kedua perwira istana pilihan ini menderita tekanan batin yang makin berat, dan tidak mustahil keduanya bisa jadi gila.

Celakanya, Oh Tong-peng tidak tahu bagaimana memecahkan masalahnya. Ini bukan perkara adu jotos atau adu ke-trampilan memainkan pedang atau adu taktik uan adu ketajaman otak. Ini sudah menyangkut perkara-perkara gaib yang asing buat Oh Tong-peng, tidak peduli sudah dibekali beberapa petunjuk oleh Jenderal Wan.

Dalam keadaan seperti itu, tak terasa oleh Oh Tong-peng berdesah, “Seandainya pemuda yang bernama Liu Yok, yang diceritakan Jenderal Wan itu ada di sini... sini....”

Sementara di pihak Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong merasa sedikit lega, setelah dapat menceritakan sedikit pengalaman mereka. Tidak peduli betapa aneh pengalaman mereka, dan entah yang mendengarnya percaya atau tidak.

“Bagaimana kalau kita minta pertolongan “orang pintar untuk menyembuhkan Saudara Kui Saudara Lo?” Pang Hui-beng mengusulkan jalan keluar seperti umumnya orang-orang di kampung kalau menjumpai penyakit yang aneh-aneh.

Kata pepatah, kalau seorang sedang tenggelam di sungai yang deras, sehelai jerami pun akan dipegangi erat-erat, diharapkan pertolongannya. Begitu juga usul Pang Hui-beng itu ibarat “sehelai jerami” bagi kelompok orang yang sedang kebingungan itu.

“Siapa orangnya?” berbarengan Kui Tek-lam dan Lo lam-hong menoleh ke arah Pang Hui-beng. Mereka berdua sudah jemu tiap malam kurang tidur karena disiksa mimpi buruk dan sesak napas yang tidak ketahuan asal-usulnya.

Pang Hui-beng menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Wah, kalau soal siapa orangnya.... aku memang belum tahu. Aku harus mencarinya dulu.”

“Aku kenal seorang di Lam-koan ini!” kata Oh Tong-peng tiba-tiba.

“Siapa?”

“Seorang pemilik toko obat yang toko obatnya berseberangan jalan dengan rumah yang kusewa selama ini di Lam-koan. Perkenalanku dengan pemilik toko obat ini baru beberapa hari, baru sejak aku di Lam-koan dan menyamar sebagai saudagar hasil bumi. Aku tahu dari kata orang-orang, katanya Si Pemilik Toko Obat itu juga pintar mengobati macam- macam penyakit. Dari penyakit biasa sampai penyakit yang aneh-aneh.”

“Ooo, aku tahu orangnya!” sambung Pang Hui-beng bersemangat. “Aku juga pernah berjualan mi-pangsit dengan pikulanku di depan toko obatnya. Orang-orang Lam-koan memanggilnya Tabib Siau. Tetapi....”

“Tetapi kenapa?”

“Orang itu pintar menyembuhkan orang, tetapi anak perempuannya sendiri makin parah gilanya dan tidak sembuh-sembuh juga.”

“Kau tahu itu?”

“Dengar-dengar dari orang, Kakak Oh. Katanya anak perempuan Si Pemilik Toko Obat itu sudah saatnya kawin tetapi tidak kawin-kawin juga, lalu menderita tekanan jiwa, makin lama makin parah sehingga sekarang sering menari-nari di jalanan tanpa pakaian.”

Salah satu agen kerajaan yang selalu bersama-sama dengan Oh Tong-peng, yang bernama Cung Tong-iiong, tiba-tiba tertawa dan berkata, “Wah, beberapa hari ini aku menyewa rumah di depan toko obat itu, kenapa belum sekali pun mataku beruntung menyaksikan adegan itu?”

Pang Hui-beng ikut tertawa, bahkan Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong yang sedang tertekan pun ikut menyeringai. Sahut Pang Hui-beng, “Aku sendiri juga agak rajin mangkal dengan pikulan mi-pangsitku di depan toko obat itu, setelah mendengar desas-desus itu, tetapi juga belum beruntung melihatnya biar satu kali. Belakangan kuketahui dari orang-orang, bahwa anak perempuan itu sekarang dikurung di sebuah ruangan tertutup bawah tanah. Tidak boleh keluar, karena sekali keluar akan bikin malu orang tuanya.”

“Wah, jadi Tabib Siau yang kesohor bisa menyembuhkan orang, ternyata tidak mampu menyembuhkan anaknya sendiri?” tanya Oh Tong-peng.

“Kabarnya begitu, Kakak Oh.”

“Tetapi aku tetap harus menghubunginya, siapa tahu dia bisa menyembuhkan Saudara Kui dan Saudara Lo...” jawab Oh Tong-peng. “Atau sedikitnya bisa mengatakan kepadaku, menunjukkan tabib lain mana yang bisa dimintai tolong.”

Kui Tek-lam berkata dengan nada berat, “Aku minta maaf, Kakak Oh, tugasku belum kelihatan hasilnya sedikit pun, masalah sudah muncul karena kelemahanku.”

“Aku juga.” Lo Lam-hong pun ikut minta maaf.

Namun Oh Tong-peng ikut menggoyangkan tangannya sambil berkata, “Jangan menuduh dan menyalahkan diri sendiri, itu akan tambah meruntuh kan jiwa kalian sama sekali. Yang terjadi bukan karena kelemahan kalian, melainkan karena musuh yang kita hadapi kali ini kelewat aneh. Bahkan aku kagum kalian masih bisa bertahan, masih bisa berpikir dan bertingkah-laku waras.”

“Antara kami dan alam kegilaan rasanya tinggal selangkah lagi.” kata Lo Lam-hong.

“Kuatkan jiwa kalian.”

Mereka kemudian berpisah setelah memadam kan api yang dibuat Oh Tong-peng tadi.

Sementara Pang Hui-beng sambil melangkah pulang, menggaruk-garuk tengah-tengah jidatnya yang merasa masih saja gatal-gatal tanpa tahu sebabnya. Namun ia tidak berpikir terlalu jauh tentang gatal-gatal itu, malah yang dipikirkannya adalah kedua temannya, Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong yang mulai kena dampaknya berurusan dengan Pek-lian-hwe.

Di ruang semedinya, Siau Hok-to tertawa dingin. Biarpun ia hanya melihat namun tidak mendengar melalui “mata ketiga” yang “dititipkan” kepada Pang Hui-beng itu namun ia merasa pihaknya untung besar malam itu berhasil melihat wajah enam orang agen kerajaan yang menyamar dan beroperasi di Lam-koan itu.

Salah seorang dikenalnya sebagai pemuda yang menumpang di rumah Nyo In-hwe, seorang lagi dikenalnya sebagai orang yang menyewa rumah tepat berseberangan dengan toko obatnya....

Selanjutnya,