X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Teratai Merah Jilid 08

Cerita Silat Mandarin serial Si Teratai Merah Jilid 08 karya Kho Ping Hoo

Si Teratai Merah Jilid 08

22. Sio-cia Cantik Peniup Suling
Setelah berkelit dan menangkis serangan lawan dalam beberapa jurus, berdebar kagetlah hati Cin Han. Ia berseru keras dan meloncat ke belakang tiga tombak lebih sambil berseru, “Tahan, Thio-taihiap!”

Thio Lok heran dan berdiri tegak. Cin Han menjura dengan hormat. “Maaf, Thio taihiap, kenalkah taihiap kepada Ang Lian Lihiap?”

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Thio Lok menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab. “Pernah kumendengar namanya, tapi belum pernah bertemu, maka aku tidak kenal.”

Cin Han terheran. Tadinya ia menyangka bahwa setidaknya orang she Thio ini tentu saudara seperguruan dengan Han Lian Hwa si Teratai Merah, tapi ternyata orang she Thio ini bahkan tidak kenal. Ia hendak mencoba pula lalu bertanya. “Dan kenalkah kau kepada Sian-kiam Koai-jin Ong Lun?”

Thio Lok memandangnya tajam lalu berkata, “Dia adalah susiokku, ada apakah?”

Cin Han makin heran karena agaknya murid keponakan ini tidak menghormati paman gurunya, maka ia menjawab. “Tidak apa-apa, pantas saja ilmu pedangmu hampir sama dengan ilmu pedang murid dari Sian-kiam Koai-jin.”

“Apa hubungannya hal itu dengan permainan kita? Lihat, semua orang memandang kita, hayo kita lanjutkan permainan kita.”

Cin Han memandang. Betul saja, semua mata memandang ke arah mereka dengan heran dan tak senang. Maka ia segera siap dan berkata, “Nah, silakan menyerang lagi, Thio-taihiap.”

Thio Lok segera membuka serangannya lagi, kini lebih hebat, Cin Han sengaja hanya menangkis dan berkelit saja. Serangan yang jarang ia lakukan pun hanya serangan-serangan tidak berbahaya saja. Ia berbuat ini untuk melihat sampai di mana batas kepandaian orang ini dan sampai di mana persamaan permainan pedangnya dengan Ang Lian Lihiap pendekar wanita yang menjadi kenangannya itu.

Ternyata Thio Lok, walaupun keuletan dan kekuatannya melebihi Han Lian Hwa, namun ilmu pedangnya masih jauh di bawah permainan gadis itu. Ilmu pedang dari Ang Lian Lihiap mempunyai banyak sekali perubahan-perubahan ganjil dan tak tersangka sungguhpun dasarnya juga sama dengan ilmu pedang Thio Lok ini ialah dari cabang Thai-san.

Tentu orang aneh Ong Lun itu telah mengadakan perubahan dan menciptakan sendiri ilmu pedangnya yang diturunkan kepada Ang Lian Lihiap, pikirnya sambil menangkis serangan Thio Lok yang makin gemas dan marah. Thio Lok merasa penasaran sekali mengapa pedangnya yang sudah berhasil membuat ia jarang menemui lawan selama beberapa tahun, kini sama sekali tidak berdaya menghadapi anak muda yang tampak lemah ini.

“Kurasa sudah cukup Thio-taihiap,” kata Cin Han sambil mengelak sebuah tikaman dan mengalah dengan bertindak mundur.

Tapi tidak tersangka sama sekali si Naga Hijau berteriak lagi dan meloncat maju menubruk, lalu langsung pedangnya menyambar dengan tipu Rajawali Mencengkeram Kelinci. Serangan ini berbahaya sekali, dari meja ketua Kwie-coa-pai terdengar seruan tertahan.

Tapi Cin Han tak pantas disebut murid Beng San Siansu yang sudah menerima dan mengisap sari pelajaran Hwie-liong-kiam-sut kalau ia dapat dijatuhkan orang dengan tipu dan keadaan yang baru sedemikian saja. Ia bersuit keras dan sekali pedang serta tubuhnya bergerak, dengan tipu Siang-liong-po-in atau Naga Dewa Membuka Awan ia berhasil berkelit dan memunahkan serangan Thio Lok dan berbareng mengirim tendangan kilat ke arah pergelangan tangan lawan.

Thio Lok terkejut sekali, tapi ia tak berdaya dan tak sempat berbuat sesuatu. Pergelangan tangannya tertendang dan pedang yang dipegangnya terlempar ke udara. Namun Cin Han dengan cepat sekali meloncat ke atas, dan sebelum pedang itu turun kembali, ia telah menyambarnya dengan tangan kiri, lalu meloncat turun dengan tenang. Ia mengangsurkan pedang itu kepada Thio Lok yang masih berdiri terheran.

“Terima kasih bahwa kau telah berlaku murah dan mengalah, Thio taihiap,” katanya.

Thio Lok menerima pedangnya dengan wajah merah. Ia hendak marah, tapi melihat ketua Kwie-coa-pai telah datang menghampiri dengan tersenyum-senyum, ia lalu menjura kepada Cin Han dan berkata keras, “Memang nama Hwee-thian Kim-hong bukan nama kosong. Aku mengaku kalah, Lo-taihiap,” katanya.

Cin Han merendahkan diri. “Lihai sekali!” demikian seruan terdengar dari para tamu yang menyambut kemenangan Cin Han dengan tepukan dan sorakan.

Hong Su menghampiri Cin Han dan memimpin tangan anak muda ini ke mejanya. Ketua ini tidak memperdulikan lagi kepada Thio Lok agaknya, dan orang she Thio ini dengan menundukkan kepala berjalan kembali ke tempat duduknya.

“Sungguh hehat sekali kau ini, Lo-taihiap,” kata Hong Su memuji, dan Cin Han makin heran melihat betapa ketua itu kini sangat peramah dan penuh hormat, sedangkan sebutan untuk dirinya telah diganti pula, kini ia disebut taihiap!

Tie Bong Hwesio mengisikan arak dalam sebuah cawan besar dan mengangsurkan cawan itu kepada Cin Han dengan membungkuk. “Lo-taihiap, pinceng kagum sekali padamu. Ilmu pedangmu sungguh hebat dan tanpa bertempur pinceng sudah mengaku kalah. Harap taihiap sudi menerima tanda hormat pinceng dengan secawan arak!”

Melihat penghormatan dari seorang hwesio tua sebesar ini, Cin Han buru-buru bangun berdiri dan menerima dengan kedua tangannya. Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa cawan itu seakan-akan menempel dengan tangan hwesio itu dan sukar sekali diambil.

Ia maklum bahwa hwesio kepala gundul itu sedang mencoba tenaganya dan hendak mempermainkannya. Maka diam-diam ia mengerahkan semua tenaga dalam ke arah tangannya dan sambil berkata, “Lo-suhu, terima kasih atas budi kebaikanmu!” ia menggunakan tangannya mencabut cawan itu. Ia melihat betapa kedua lengan hwesio itu bergemetar dan akhirnya terpaksa hwesio itu melepaskan cawan ke tangan Cin Han.

“Sungguh kau seorang pemuda yang luar biasa Lo-taihiap.” Hwesio itu memuji dan duduk kembali ke kursinya sambil menyusut beberapa tetes arak yang tadi tumpah ke tangannya.

Si Bayangan Iblis tampaknya girang sekali melihat hal ini, dan ia mengangkat kursinya mendekat Cin Han. Wajahnya berseri-seri ketika ia bertanya, “Lo-taihiap, bolehkah kami mengetahui nama guru taihiap yang mulia?”

Ketika Cin Han menyebut nama Gwat Liang Tojin, Hong Su mengangguk-anggukkan kepala dan Tie Bong menjulurkan lidahnya. “Oo, tidak tahunya taihiap adalah murid dari Kong-hwa-san! Pantas saja begitu lihai!”

Pada saat itu Lie Thung datang menghampiri Cin Han dan menyerahkan baju luarnya, kemudian dengan perlahan sekali bekas bajak yang kini menjabat pangkat kepala bagian penyelidik dalam perkumpulan itu mendekati ketua Kwie-coa-pai dan berbisik. Kwie-eng-cu Hong Su tampak terkejut dan segera berdiri.

“Saudara-saudara, ada urusan penting. Silakan berkumpul di kamar dalam dan kau juga dipersilakan ikut, Lo-taihiap.”

Semua orang yang duduk di meja itu, yakni kedua pengemis aneh, hwesio, bekas pembesar, Thio Lok dan juga Lie Thung, berdiri dan beramai-ramai masuk ke ruangan sebelah dalam. Cin Han tadinya ragu-ragu, tapi melihat Lie Thung mengangguk kepadanya, terpaksa ia ikut juga. Mereka menuju ke sebuah kamar yang terletak di bagian paling dalam.

Kamar itu terhias gambar-gambar indah, merupakan kamar tamu dan di tengah-tengah terdapat sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi. Atas isyarat Hong Su, semua orang mengambil tempat duduk. Kemudian ketua itu, setelah memandang mereka seorang demi seorang dengan paras muka bersungguh-sungguh, berkata kepada Cin Han.

“Saudara Lo yang gagah. Sebagai seorang baru tentu kau masih belum mengerti akan hal-hal kami, maka terlebih dulu biarlah kuuraikan secara singkat padamu. Kami yang duduk di sini adalah pendiri dan pengurus perkumpulan kami Kwie-coa-pai. Perkumpulan kami mendapat tunjangan dari rakyat dan pemerintah karena maksud dan tujuan perkumpulan kami adalah untuk melindungi rakyat dan membela pemerintah.

“Kami mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh propinsi dan membuat gerakan membasmi para penjahat pengacau pemerintah dan pengganggu rakyat. Kita orang-orang kasar yang hanya mengandalkan tenaga untuk membuat jasa mengapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk berbuat sedikit kebaikan dengan mengusir segala sumber kekacauan? Maka, melihat kepandaian dan kejujuranmu, kami suka sekali menerimamu sebagai seorang saudara seperjuangan. Bagaimana pendapatmu, saudara Lo?”

Lo Cin Han biarpun memiliki kepandaian tinggi, namun ia masih sangat muda dan boleh dikata ia buta politik. Ia hampir tidak mengerti sama sekali tentang keadaan sebenar dari pemerintah bangsa Boan yang pada waktu itu menjajah seluruh permukaan bumi Tiongkok. Iapun tidak tahu sama sekali betapa para pembesar Boan dan para pembesar bangsa Han yang berjiwa rendah telah menjalankan penghisapan dan penindasan kepada rakyat.

Ia tidak menyangka sedikitpun juga bahwa Kaisar Boan yang cerdik, licin dan penuh tipu muslihat itu sedang mengadakan gerakan adu domba di antara para hohan yang mengancam kedudukannya. Maka kini melihat keadaan perkumpulan Kwie-coa-pai dan mendengar pembicaraan ketua perkumpulan itu, ia merasa kagum dan tertarik sekali. Seakan-akan dibangunkan semangat kepahlawanannya dan iapun ingin sekali menyumbangkan tenaganya guna rakyat dan negara.

“Hong lo-enghiong,” jawabnya kemudian. “Para saudara di sini ternyata adalah orang-orang berjiwa besar yang membuat aku kagum sekali. Mana aku yang muda dan bodoh ini dapat disamakan dengan saudara-saudara? Tentu saja aku bersedia membantumu dalam usaha yang baik ini, karena memang telah menjadi kebiasaanku untuk membasmi penjahat dan pengacau keamanan rakyat.”

Semua orang di situ merasa gembira sekali mendengar jawaban ini. Kemudian Hong Su menyatakan bahwa barusan dari para penyelidiknya ia mendapat berita bahwa malam nanti gedung Pangeran Coa Kok Ong akan diserbu penjahat, dan penjahat-penjahat itu kabarnya terdiri dari beberapa orang yang berkepandaian tinggi.

“Cuwi enghiong,” kata Hong Su sambil memandang kawan-kawannya, “sekali ini kita menghadapi perkara besar karena diantara para penyerbu itu terdapat juga Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas!”

Terdengar seruan kaget dan Cin Han heran mengapa nama itu demikian berpengaruh, bahkan ia melihat wajah Thio Lok yang biasa tenang itu menjadi pucat. Dua pengemis aneh itu saling pandang dan tertawa. Si bongkok lalu berkata,

“Hm, dia juga datang? Kami berdua pernah menguji kepandaiannya dan dengan kepandaian kami digabungkan menjadi satu maka baru dapat melayaninya. Baiknya di sini kita dibantu Lo Cin Han taihiap, maka kita tidak perlu berkhawatir lagi.”

“Sebenarnya, siapakah Garuda Kuku Emas ini?” tanya Cin Han yang tidak dapat menahan keinginan tahunya lebih lama lagi.

“Kau belum pernah mendengar namanya?” kata Tie Bong Hwesio. “Ia adalah murid dari Kang-lam-taihiap Kam Hong Tie dan kepandaiannya tinggi sekali.”

“Murid Kang-lam-taihiap Kam Hong Tie? Kalau ia murid pendekar itu, mengapa kalian menyebut dia seorang jahat?” tanya Cin Han karena ia telah mendengar betapa gurunya memuji-muji nama Kam Hong Tie sebagai seorang pendekar gagah berani yang berbudi dan bijaksana.

Tie Bong Hwesio tidak bisa menjawab, tapi Hong Su mewakilinya dengan cepat, “Ah, kau rupanya belum banyak merantau ke timur, saudara Lo. Memang Kang-lam-taihiap Kam Hong Tie adalah seorang locianpwe yang gagah perwira. Dan muridnya inipun tadinya seorang hiap-kek yang budiman. Namun, entah apa sebabnya, ia berubah dan kini menjalankan pekerjaan sesat dan terkutuk. Ia mengacau rakyat dan negara, membunuh orang tidak berdosa dan melakukan segala macam perbuatan jahat mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi.”

Cin Han mengangguk-angguk. “Kalau ia begitu jahat, harus kita tentang. Baik serahkan saja dia kepadaku, barangkali aku masih dapat melawannya.”

Setelah membagi-bagi tugas menjaga dan menghadapi datangnya musuh malam nanti, Hong Su lalu mengajak kawan-kawannya untuk terlebih dahulu menjumpai pangeran itu dan mengatur siasat selanjutnya. Beramai-ramai mereka menuju ke gedung pangeran yang letaknya hanya beberapa lie dari situ.

Cin Han kagum ketika masuk ke halaman gedung mentereng dan indah dan mempunyai taman bunga yang luas pula. Ketika masuk, yang mula-mula menarik perhatiannya ialah bunyi suling yang merdu tertiup angin. Suara itu datangnya dari arah taman bunga di belakang gedung.

“Hrn, Coa-siocia masih saja bersenang-senang meniup sulingnya, tak tahu hahwa bahaya besar mengancam di atas kepala,” Hong Su berkata dengan tersenyum.

Lam Beng Sun bekas pembesar itupun tersenyum dan berkata, “Memang Coa-siocia selalu gembira dan suara sulingnya memang merdu tiada bandingnya di seluruh daerah ini.”

Pangeran Coa Kok Ong yang bertubuh tinggi dan berkumis seperti kucing menyambut mereka dengan wajah gembira. Ternyata di ruang tamu telah duduk seorang yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya gagah sekali. Pakaiannya menunjukkan bahwa iapun seorang pembesar dan melihat sikap Pangeran Coa yang agaknya sangat menghormatinya, dapat diduga bahwa ia tentu seorang pembesar yang tinggi juga pangkatnya.

Setelah mempersilakan mereka duduk, Pangeran Coa Kok Ong lalu memperkenal tamunya yang bersikap tinggi hati itu. Ternyata ia adalah Biauw Su Hai yang berpangkat ciang-bu atau kapten dari pasukan penjaga keamanan kota raja dan menjadi panglima kepercayaan kaisar. Maka segera Lam Beng Sun dan semua orang gagah, kecuali Cin Han, menyatakan hormat mereka terhadap Biauw Su Hai yang mereka sebut Biauw-ciangkun.

Kemudian mereka diberi tahu bahwa Biauw-ciangkun telah diterima lamarannya dan kini menjadi calon mantu Pangeran Coa atau tunangan Coa-siocia yang tiupan sulingnya terdengar tadi.

Ketika mendengar tentang adanya bahaya penyerbuan, Biauw Su Hai tertawa bergelak-gelak dan berdiri menepuk-nepuk dada. “Saudara-saudara tidak perlu demikian sibuk. Ada aku di sini, masa menghadapi beberapa gelintir maling kecil itu saja harus demikian berhati-hati?”

Tapi Lam Beng Sun berkata hati-hati, “Kami percaya bahwa Biauw-ciangkun pasti dapat memukul mundur mereka, tapi berhati-hati lebih baik, dan lagi, kiranya tidak perlu Biauw-ciangkun sendiri yang menghadapi penjahat-penjahat kecil itu. Serahkanlah saja kepada Hong Su bengcu dan kawan-kawannya pasti beres.”

Biauw Su Hai tertawa keras. “Kau benar, Lam-twako. Kau benar!”

Cin Han merasa sebal sekali melihat kecongkakan dan kekasaran kapten itu. Ingin sekali ia tahu betapa tinggi kepandaian kapten dogol ini. Tapi ia diam saja tidak ikut bicara sampai Hong Su mengajak mereka pulang.

Malamnya, baru saja jam delapan, Hong Su mengajak kawan-kawannya yang telah siap dengan pakaian ringkas dan senjata masing-masing. Cin Han diharuskan menjaga di taman bunga belakang gedung. Thio Lok di taman bunga depan, Tie Bong Hwesio, Liok Sin Tat, Kok Pin dan Hong Su sendiri terbagi-bagi menjaga di atas genteng sambil bersembunyi.

Karena harus menjaga taman bunga yang luas, maka Cin Han berjalan-jalan di dalam kebun itu, mengagumi bunga-bunga yang sedang mekar di dalam taman dan di dalam empang kecil yang penuh dengan ikan emas terlihat beberapa bunga teratai merah. Ia teringat kepada Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa, gadis yang belum pernah meninggalkan lubuk hatinya itu. Diam-diam ia menghela napas.

Tiba-tiba di taman yang sunyi terdengar suara orang bercakap-cakap. Cin Han merasa heran dan terkejut karena sejak tadi ia berlaku waspada dan tidak dilihatnya seorangpun memasuki taman itu. Maka segera ia dengan hati-hati menghampiri ke arah suara itu mendatang.

Ternyata bahwa orang-orang yang bicara itu berada di dalam sebuah bangunan kecil yang mungil dan indah sekali, agaknya sengaja dibangun di ujung taman itu untuk tempat mengaso. Kini terdengar jelas olehnya suara percakapan itu.

Yang berbicara adalah dua orang wanita dan menurut kata-kata yang diucapkan, ternyata mereka adalah seorang majikan dan bujangnya. Cin Han menyembunyikan diri ketika terdengar bujang itu menyebut “Siocia”. Ia dapat menduga bahwa wanita di dalam bangunan kecil itu tentu puteri pangeran sendiri, yakni Coa-siocia yang tadi telah meniup suling demikian merdunya.

Tapi hatinya ingin sekali melihat wajah puteri itu, pula ia berpendapat bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk minta gadis itu supaya masuk ke dalam gedung dan sekali-kali jangan keluar pada malam ini. Maka ia memberanikan diri dan berdiri menanti di luar pintu.

Ia mendengar siocia yang berada di dalam menangis terisak-isak dan pelayannya dengan suara pilu menghiburnya. Karena ingin tahu, Cin Han melangkah maju dan mendekati pintu. Kini terdengar olehnya suara di dalam berkata keras,

“Tidak, A-bwee, tidak! Lebih baik aku mati saja. A-bwee, pergilah ke kamarku, di laci meja riasku ada sebuah botol kecil, ambillah dan bawa ke sini...! Cepat, A-bwee…”

“Tidak, siocia, jangan begitu! Masih ada jalan lain, nona.”

“Jalan lain yang mana? Watak ayah kukuh dan keras… dan orang she Biauw si jahanam kasar itu… ia berpengaruh… ah… jangan membantah, A-bwee… ambillah botol itu…”

Terdengar A-bwee menangis tersedu sedan. “Saya tidak sanggup, siocia, saya tidak… tidak mau…”

“Kau tidak mau ambilkan?? Baik, tinggal saja di sini, aku akan mengambil sendiri!”

“Jangan, nona… jangan… tolong…” A-bwee menjerit!

Cin Han terkejut dan hendak menolak daun pintu, tapi pada saat itu, daun pintu terbuka dari dalam dan hampir saja ia bertubrukan dengan seorang yang berlari keluar. Baiknya Cin Han cepat memiringkan tubuhnya, dan orang itu karena terkejut, kakinya terkait ambang dan terhuyung ke depan akan jatuh.

Cin Han berlaku sebat dan dengan tangan kiri ia menangkap lengan orang itu untuk mencegahnya jatuh. Tapi, setelah orang itu berdiri, Cin Han cepat-cepat melepaskan pegangannya dan wajahnya merah, hatinya berdebar.

Ternyata orang itu adalah seorang gadis muda yang cantik sekali dan kini tengah memandangnya dengan sepasang mata yang indah dan jeli bagaikan mata burung Hong. Mulut yang kecil dengan bibir merah itu menggigil dan bergerak-gerak, tapi untuk sejenak gadis itu tidak dapat berkata-kata. Cin Han mengangkat tangan dan menjura,

“Nona, maafkan aku…”

“Kau… kau siapakah? Mengapa berani memasuki tempat ini?” Akhirnya siocia itu dapat juga membuka mulut bertanya.

“Aku ditugaskan oleh Hong Su lo-enghiong untuk menjaga taman ini. Kuharap siocia suka masuk saja ke dalam gedung dan jangan keluar-keluar untuk semalam hari ini, karena berbahaya sekali.”

Coa Giok Lie memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. Ia tertarik oleh sikapnya yang sopan-santun, dan terutama sulaman burung Hong di dada anak muda itu membuatnya kagum. Ketika pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Cin Han, ia menundukkan kepala dan kulit mukanya merah padam.

“A-bwee! Hayo kita masuk!”

Dari balik pintu itu muncul keluar seorang perempuan muda yang masih menyusut air mata dari pipinya. Ia memandang Cin Han dengan heran dan penuh curiga, kemudian menuntun tangan siocianya, “Marilah, siocia.”

Sebelum mereka pergi, Cin Han maju selangkah dan menjura lagi, “Siocia, maafkan aku. Maksudmu itu kurang benar, siocia. Di dunia ini tidak ada persoalan yang tidak dapat dibikin beres. Jalan pendek dan sesat itu hanya bisa dilakukan oleh seorang bodoh dan picik, dan saya yakin siocia bukan termasuk golongan orang-orang demikian.”

Coa Giok Lie memandang Cin Han dengan marah, sepasang mata yang indah itu seakan-akan mengeluarkan api, bagaikan mata burung rajawali yang mengintai kurbannya. Kemudian tanpa bicara apa-apa, ia membalikkan tubuh dan lari masuk ke dalam gedung.

Cin Han menghela napas dan melanjutkan perjalanannya meronda di taman bunga itu. Ia tidak menyangka bahwa Coa Kok Ong mempunyai seorang gadis yang demikian cantiknya! Seumurnya belum pernah ia melihat wanita secantik itu. Begitu lemah lembut, halus gerak-geriknya, tubuhnya bergoyang lemas bagaikan pohon Yang-liu tertiup angin, dan mata itu!

Diam-diam Cin Han membandingkan gadis itu dengan bayangan Han Lian Hwa yang tidak pernah meninggalkan alam pikirannya. Baginya, gadis perkasa itu lebih menarik dan sikapnya yang gagah mendatangkan rasa kagum dan perindahan darinya, tetapi mengenai kecantikan dan sifat halus kewanitaan, harus ia akui bahwa Coa Giok Lie siocia ini masih menang jauh. Tiba-tiba ia merasa malu kepada diri sendiri. Mengapa ia harus memikirkan gadis itu?

23. Tuduhan Pengkhianat Bangsa.
Pada saat itu terdengar bunyi suitan keras. Cin Han tahu bahwa itu adalah tanda dari kawan-kawannya bahwa musuh telah tiba. Suitan itu datang dari atas genteng, maka Cin Han segera mengayun tubuhnya ke atas genteng. Dengan berlari cepat ia menuju ke wuwungan tengah, dan di situ ia melihat sepasang pengemis sedang bertempur melawan seorang pemuda baju hijau yang bersilat dengan pedang panjang.

Sekilas saja tahulah Cin Han bahwa permainan pemuda itu lihai sekali, dan sepasang pengemis itu hanya dapat menangkis dan berkelit saja. Liok Sin Tat menggunakan selendang merahnya yang hebat, dan Kok Pin menggunakan senjata joan-pian lemas yang menyerupai cambuk.

Sebenarnya permainan senjata kedua pengemis ini sudah mencapai tingkat yang tinggi juga, tapi ternyata pemuda baju hijau itu lebih hebat gerakan-gerakannya. Cin Han dapat menduga bahwa pemuda itu tentu murid Kam Hong Tie yang disebut orang Garuda Kuku Emas. Pantas saja ia disegani, kiranya ilmu pedangnya memang luar biasa.

Cin Han melihat sekeliling. Ternyata bahwa semua kawan-kawannya sedang bertempur. Hong Su si Bayangan Iblis sedang bertempur melawan seorang yang bertubuh kecil ramping. Cin Han sekali lagi merasa terkejut karena permainan pedang lawan Hong Su sangat hebat. Dan ketika ia melihat lebih tegas, ia dapat menduga bahwa orang itu tentu seorang wanita. Tapi permainan pedangnya agaknya tidak di sebelah bawah dari Garuda Kuku Emas.

Ketua Kwi-coa-pai yang bersenjata sepasang siang-kek, semacam tombak pendek bercagak, bermain dengan cepat dan kuat sehingga lawannya tidak dapat terlalu mendesak, tapi sebaliknya si Bayangan Iblis yang terkenal gagah perkasa itupun tidak dapat berbuat banyak!

Cin Han mengerutkan jidat dan ia cemas sekali. Masih banyakkah lawan-lawan lihai ini? Selagi ia hendak membantu sepasang pengemis mengeroyok Garuda Kuku Emas yang mendesak kedua pengemis itu, tiba-tiba terdengar seruan panjang dan muncullah seorang yang bersenjatakan baju luar yang digulung!

Orang yang datang ini sudah tua dan brewokan, tapi ketika ia menyerbu dan mengeroyok Hong Su, Cin Han merasa kagum melihat betapa baju luar yang digulung dan dipakai sebagai senjata itu sungguh lihai dan hebat sekali. Sabetan baju itu mendatangkan angin menderu dan teringatlah Cin Han akan cerita gurunya dulu bahwa di dunia persilatan terdapat seorang hiap-kek yang terkenal dengan sebutan Ciu-sian Kong Sin Ek dan yang mempunyai senjata luar biasa, yakni baju luarnya!

Dengan majunya Dewa Arak Kong Sin Ek itu, maka segera Hong Su terdesak mundur. Tapi pada saat itu juga, tampak Thio Lok melayang naik dan membantu sepasang pengemis menggempur Garuda Kuku Emas sehingga keadaan mereka kini berimbang.

Cin Han hendak meloncat membantu Hong Su, tapi ia melihat bayangan orang tinggi besar berkelebat memasuki gedung! Ia mengurungkan niatnya membantu Hong Su, dan secepat kilat ia mengejar bayangan tadi yang pasti bermaksud jahat. Tapi ternyata bayangan itu bergerak cepat sekali sehingga ketika Cin Han mengejar ke dalam gedung, bayangan itu telah lenyap.

Ia memandang tajam ke kiri, dan tiba-tiba dari kamar di ujung kanan ia mendengar suara orang. Dengan gerakan Naga Sakti Mengejar Awan ia meloncat ke arah kamar itu dan dengan berpok-sai ia menggantungkan kedua kaki di balok melintang. Dari lobang di atas jendela ia dapat mengintai ke dalam.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa kamar itu adalah kamar Coa-siocia dan pada saat itu terdapat pemandangan yang membuat ia hampir berteriak marah! Coa-siocia berdiri angkuh dan matanya yang seperti mata burung Hong itu memandang hina kepada seorang hwesio tua tinggi besar yang berdiri di hadapannya dengan toya di tangan! A-bwee tampak berlutut dan menutupi muka karena takut.

Cin Han tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dari keadaan mereka ia dapat tahu bahwa hwesio penjahat itu tentu sedang memaksa dan menanyakan sesuatu yang tidak dijawab oleh Coa-siocia. Diam-diam Cin Han kagum sekali melihat keberanian nona yang lemah lembut itu. Melihat nona cantik itu berdiri bagaikan seorang ratu memandang rendah seorang penjahat!

Dengan gerakan Naga Sakti Memutar Ekor Cin Han meloncat dan membalikkan tubuh, terus meloncat ke kamar melalui jendela yang didorongnya dengan tangan kiri. “Pendeta cabul jangan mengganggu anak gadis orang!” teriaknya dan dengan gemas ia menggunakan kepalan kanan memukul.

Hwesio itu cepat berkelit dan Cin Han memandang ke arah sepasang mata yang sangat tajam. Tapi ia heran melihat wajah hwesio yang tampaknya alim dan agung. Hwesio itu meloncat keluar dengan cepat sekali, dan Cin Han mengejar sambil berteriak, “Hwesio jahat hendak lari ke mana?”

Hwesio itu memutar toyanya dan segera Cin Han merasakan angin toya menyambar dadanya. Ia meloncat ke samping dan berbareng mencabut keluar pedangnya. Mereka segera bergebrak seru dan ternyata ilmu pedang Cin Han yang luar biasa itu sebentar saja sudah dapat mendesak dan membuat hwesio itu sibuk menangkis.

Kalau ia mau, agaknya tidak sukar bagi Cin Han untuk mengirim serangan maut, tapi karena ia tadi melihat wajah hwesio ini bukan seperti orang jahat, maka ia tidak tega membunuhnya dan timbul kekhawatirannya membunuh orang baik-baik. Pada saat ia hendak menyudahi pertempuran itu dan membuat lawannya tidak berdaya, sebuah bayangan orang berkelebat datang dibarengi bentakan halus nyaring,

“Jangan sibuk, suheng, aku datang membantumu!” dan bayangan ini segera menggerakkan pedangnya.

Cin Han menangkis keras untuk membabat pedang lawan baru ini, tapi ketika kedua pedang beradu, tidak saja pedang lawan tidak terbabat buntung, bahkan ia merasakan tenaga besar membuat pedangnya sendiri terpukul! Ia heran dan terkejut sekali, tetapi pada saat itu, lawannya berseru kaget dan meloncat mundur.

“Kau...??” lawannya yang ternyata seorang wanita muda itu bertanya ragu.

Cin Han memandang dan… ternyata yang berdiri didepannya bukan lain ialah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa. “Moi… Lihiap… kaukah ini?” tanyanya gagap.

Lian Hwa memandang tajam dan mulutnya mengejek, “Hm… jadi kaupun menjadi pembela, menjadi anjing penjilat? Kau?? Ah... tidak kusangka....” terdengar helahan napas mengandung isak, kemudian pendekar wanita itu mengertak gigi. “Baiklah! Biar saat ini kita tentukan, siapa yang harus mampus di ujung pedang!”

“Nanti dulu, lihiap… agaknya...”

“Jangan banyak cerewet!” Lian Hwa membentak.

“Agaknya... ada salah paham... aku bingung…”

“Ah! Alasan palsu. Suheng, hayo kita basmi anjing ini!”

“Moi-moi!!” Cin Han berteriak pilu.

“Pengkhianat! Gunakan pedangmu, bukan mulutmu!” Dan Ang Lian Lihiap dengan gemas dan marah sekali menggerakkan pedangnya menusuk.

Cin Han terpaksa menangkis, tapi segera ia merasakan betapa banyak kemajuan yang diperoleh gadis ini. Gerakan-gerakannya demikian lincah dan cepat hingga harus ia akui bahwa ginkang atau ilmu ringankan tubuh dari gadis ini bahkan berada di atas kepandaiannya sendiri. Maka sudah tentu saja ilmu pedang Sian-liong-kiam-hwat pelajaran aseli dari Sian-kiam Koai-jin Ong Lun yang dimainkan oleh gadis itu makin hebat dan lihai saja.

Pula terasa olehnya dalam benturan pedang bahwa tenaga lweekang dari gadis itu sudah jauh lebih maju daripada ketika bertempur dengannya dulu. Kini, ditambah lagi dengan permainan toya dari hwesio yang cukup lihai, tentu saja kedua lawan ini merupakan lawan yang tangguh.

Baiknya ia sudah mencangkok sari pelajaran dari Beng San Siansu dan sudah mahir mainkan Hwie-liong-kiam-sut, maka ia dapat menutup dirinya dengan sinar pedangnya sehingga tidak mungkin terluka, biarpun dirinya dikurung toya dan pedang yang dimainkan hebat bagaikan disulap menjadi ratusan mengeroyok dirinya. Cin Han mengakui bahwa kalau saja ia tidak menguasai Hwie-liong-kiam-sut, jangankan dikeroyok, melawan Ang Lian Lihiap sendiri saja pasti ia akan kalah.

Kini ia menjadi bingung dan serba salah. Diluar kehendaknya, ia sekali lagi bertempur melawan Ang Lian Lihiap. Bahkan ia dianggap pengkhianat. Apakah artinya semua ini? Tapi Lian Hwa tidak menghendaki perundingan, tidak sudi mendengarkan pembelaannya, maka ia menindas kesedihan dan kebingungannya, lalu mengertakkan gigi dan memusatkan perhatiannya di ujung pedang.

Setelah bertempur limapuluh jurus lebih, ia dapat memunahkan semua serangan dan keadaan mereka berimbang. Lian Hwa dengan nekat dan mati-matian terus menyerang, sedangkan Hwat Kong Hwesio, suheng gadis itu, sudah mulai mengeluarkan keringat. Tiba-tiba datang pula seorang yang gerakannya cukup gesit, tapi orang ini bukan hendak mengeroyok, bahkan dengan tergesa-gesa bersuit keras.

“Ah, mengapa harus mundur? Aku belum puas kalau belum membunuh pengkhianat ini.” Terdengar Ang Lian Lihiap mengeluh kepada suhengnya.

“Sudahlah, sumoi. Hayo kita pergi!” Dan Hwat Khong mendahuluinya meloncat mundur.

Cin Han juga meloncat mundur dan menanti dengan pedang di tangan. Lian Hwa menuding dengan pedang ke arahnya. “Pengkhianat she Lo! Biar kau hidup sampai besok malam untuk menyesali pengkhianatanmu!” Kata-kata ini dibarengi pandangan mata yang penuh sinar kebencian tapi yang dihiasi dengan dua butir air mata menitik turun di sepanjang pipinya.

“Lihiap, dengarlah dulu...”

Tapi Ang Lian Lihiap, dan suhengnya sudah meloncat pergi. Cin Han hanya menghela napas berulang-ulang, kemudian ia meloncat ke atas genteng untuk menemui kawan-kawannya. Ternyata Hong Su si Bayangan Iblis mendapat luka ringan di pundaknya.

Ketika ketua Kwi-coa-pai ini bertempur melawan Ang Lian Lihiap, keadaan mereka seimbang, tapi setelah datang Ciu-sian Kong Sin Ek si Dewa Arak, ia mulai terdesak dan ujung pedang Lian Hwa melukai pundaknya. Gadis itu melihat lawan sudah terluka, lalu meninggalkannya untuk membantu suhengnya, sedangkan Hong Su terus bertempur melawan Kong Sin Ek.

Sedangkan sepasang pengemis dengan bantuan Thio Lok ternyata telah berhasil membuat Garuda Kuku Emas menjadi sibuk juga. Melihat kekuatan penjagaan yang demikian besar, akhirnya si Garuda Kuku Emas yang memimpin penyerangan ini memberi perintah mundur.

Cin Han menghampiri Thio Lok. “Saudara Thio, tahukah kau siapa penyerang wanita yang bertempur melawan Hong Su lo-enghiong tadi?”

Thio Lok menggelengkan kepala.

“Ia adalah saudara seperguruan dengan kau,” kata Cin Han.

“Apa katamu?” Thio Lok terkejut dan heran.

“Ia adalah murid Sian-kiam Koai-jin Ong Lun yang disebut orang Ang Lian Lihiap.”

“Oo, begitukah?” dan heran sekali, orang she Thio itu menjebirkan bibir seakan-akan mengejek. Maka Cin Han tak sudi berkata apa-apa lagi hanya merasa heran sekali mengapa saudara seperguruan ini agaknya saling membenci.

Walaupun di dalam hati merasa sangat penasaran dan penuh kecurigaan akan kebersihan orang-orang yang ia bela tapi Cin Han tak banyak cakap. Ia hanya berlaku waspada dan mengambil keputusan untuk menyelidiki sendiri keadaan orang-orang yang ia anggap “gagah dan patriotik” ini.

Kalau kawan-kawannya ini benar-benar orang baik-baik, mengapa Ang Lian Lihiap dan murid Kam Hong Tie sampai memusuhinya? Mungkin juga Garuda Kuku Emas itu bisa tersesat. Tapi apakah Ang Lian Lihiap juga berlaku sesat dan buta? Ah, ia tidak percaya. Dan mengapa ia disebut pengkhianat oleh Han Lian Hwa?

“Cuwi,” tiba-tiba Hong Su berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Musuh yang datang kali ini sangat kuat. Baiknya kita masih dapat memukul mundur mereka. Tapi, kurasa besok malam mereka tentu datang lagi dan pasti mereka membawa lebih banyak kawan. Maka, kuharap Thio taihiap dan Tie Bong Lo-suhu sekarang juga pergi mengundang beberapa kawan dari Kie-ciu.”

Kedua orang itu mengatakan baik dan langsung berangkat menuju ke selatan. Pada saat itu, dari bawah meloncat naik seseorang dan ketika dilihat, ternyata dia adalah Biauw Su Hai yang memegang sebuah golok besar di tangan. Sikapnya sombong sekali.

“Bagaimana, cuwi?” tanyanya, “Sudah kaburkah semua penjahat tadi? Sayang golokku tidak kebagian sedikit darah. Aku menjaga di dalam kamar khawatir kalau-kalau ada penjahat yang memasuki kamar calon mertuaku!”

Biarpun agaknya gemas, Hong Su menceritakan juga kepada kapten ini tentang datangnya musuh tadi. Di depan seorang kepercayaan kaisar, ia tidak berani berlaku kurang ajar. Tapi Cin Han tak dapat menahan muaknya, dan dengan suara mengandung sindiran ia berkata.

“Sayang sekali Biauw-ciangkun tidak muncul tadi. Kalau ciangkun ada di sini, tentu. Hong Su lo-enghiong takkan terluka. Sayang sekali. Biauw-ciangkun muncul setelah semua lawan sudah pergi!”

Biauw Su Hai memandangnya dengan marah, lalu tanpa berkata apa-apa ia meloncat turun kembali. Kedua pengemis tertawa ha-ha-hi-hi melihat keadaan ini. Semua lalu turun dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Pada keesokan harinya, sore hari, Thio Lok dan Tie Bong Hwesio datang dengan dua orang hwesio lain. Cin Han yang duduk diam dalam kamarnya, hanya mendengar suara mereka bercakap-cakap, tapi ia tidak ada nafsu untuk keluar menemui mereka.

Setelah hari menjadi gelap, Hong Su mengetuk pintu kamarnya, dan ketika pintu dibukanya, ketua perkumpulan Kwi-coa-pai itu memesan agar mulai jam sembilan nanti ia suka bersiap dan berjaga di posnya yang kemarin juga, yakni di dalam taman bunga belakang. Cin Han menyanggupi dengan sabar tak banyak cakap.

Kurang lebih jam delapan ia sudah keluar dari kamarnya dan menuju ke taman belakang. Tapi ketika sampai di ruang tengah dan mendengar suara orang bercakap-cakap di dalam kamar, ia tiba-tiba mendengar suara orang yang agaknya telah dikenalnya. Maka diam-diam ia meloncat naik ke atas genteng dari celah-celah genteng itu mengintip ke dalam.

Bukan main kagetnya ketika ia melihat bahwa dua tamu yang diundang itu tak lain ialah Bong Lam Hwesio dan Bong Gak Hwesio, kedua hwesio dari Pek-lian-kauw yang dulu pernah mengeroyok Gwat Liang Tojin gurunya! Semua pengurus Kwi-coa-pai berada di situ mengadakan perundingan. Pada saat itu ia melihat Bong Lam Hwesio mencabut golok dan bangun berdiri, diikuti oleh Bong Gak yang juga menyambar toya.

“Apa kau bilang?” teriak Bong Lam kepada Hong Su. “Hwee-thian Kim-hong berada di sini? Ia musuh kami!”

Hong Su berdiri dan memberi tanda kepada dua orang itu supaya berlaku tenang. Kemudian ia bertanya bagaimana asal mulanya maka terdapat dendam permusuhan di antara mereka.

“Tahukah kalian? Ia adalah murid Gwat Liang dan Gwat Liang itu adalah suheng dari Ong Lun yang menjadi musuh keturunan kami. Pendeknya, Pek-lian-kauw telah bersumpah untuk membasmi mereka ini, terutama Ang Lian Lihiap karena ia itu adalah murid Ong Lun!” kata Bong Gak dengan suara marah tertahan.

Lam Beng Sun yang sebenarnya menjadi perantara untuk mengumpulkan orang-orang gagah dan memusuhi para patriot-patriot bangsa, ikut menyatakan pendapatnya dengan suara tenang.

“Saya harap jiwi suhu berlaku tenang dan bijaksana dalam hal ini. Pada waktu ini, teristimewa malam hari ini, kita menghadapi lawan-lawan yang tangguh, dan kita membutuhkan bantuan dari luar. Sedangkan Hwee-thian Kim-hong benar-benar merupakan tenaga bantuan yang berharga. Maka, menurut pendapatku yang bodoh, biarlah jiwi jangan jumpai dia dulu, tunggu kalau bahaya dan ancaman musuh sudah dihalau pergi, mudah saja melakukan balas dendam. Pula kawan-kawan yang saya datangkan dari Barat mungkin beberapa hari lagi tiba di sini untuk menggabung kepada kita dan memperkuat kedudukan kita. Sabarlah, jiwi suhu.”

Biarpun Lam Beng Sun hanya seorang biasa saja, namun besar sekali pengaruhnya, karena dialah yang memegang kunci keuangan yang mengalir dari istana kaisar untuk membiayai para orang gagah yang dapat dipikat dan ditarik menjadi orang yang pro kaisar. Maka usulnya ini tak seorangpun berani membantahnya.

Cin Han yang mendengar semua ini merasa sesak napasnya! Ah, ia telah terjeblos ke dalam gua ular berbisa! Ia telah membantu orang-orang jahat, telah membantu Pek-lian-kauw dan Kwi-coa-pai yang ternyata bermaksud jahat. Baru insaflah dia akan kesalahannya, sungguhpun masih belum dimengerti mengapa Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya menyerang Pangeran dan mengapa pula Pek-lian-kauw dan Kwi-coa-pai membela pangeran ini.

Betapapun juga, kini ia yakin bahwa pihak Ang Lian Lihiap yang malam ini akan datang menyerang pula adalah pihak yang benar. Hal ini ia yakin setelah melihat macamnya orang-orang di pihak pangeran. Ia marah sekali dan besar sekali hasratnya untuk mendobrak pintu dan menerjang semua orang itu, tapi perasaan ini ditahannya karena ia merasa takkan ada faedahnya menghadapi sekian banyak orang-orang yang berkepandaian tinggi.

Maka ia meloncat pergi dengan maksud meninggalkan tempat itu agar dapat membantu rombongan Ang Lian Lihiap kalau mereka datang. Tapi tiba-tiba, entah apa yang menggerakkan, kakinya menyeleweng dan menuju ke atas kamar Coa Giok Lie. Tepat sekali pada saat ia tiba di atas kamar dan mengintai ke dalam, dilihatnya siocia itu telah mengikat dan menyumpal mulut A-bwee!

“A-bwee, menyesal sekali hal ini harus kulakukan, karena kalau tidak, kau tentu akan menggagalkan maksudku dengan menghalanginya atau berteriak-teriak. Keputusanku sudah tetap. Tak perlu aku hidup lebih lama di dunia ini. Ayah mabok pangkat dan harta, dikelilingi bangsa penjahat, bahkan lamaran manusia macam orang she Biauw itupun diterimanya agar ia mudah mendapat kedudukan. Sekarang jiwa sekeluarga kami terancam. Orang-orang jahat menghendaki jiwa kami. Ah, ini semua salah ayah sendiri. Air mataku tak dianggapnya. Sayangnya kepada anaknya telah luntur. Maka, A-bwee, untuk apa aku hidup lebih lama lagi untuk menderita hidup di samping orang she Biauw itu?”

Cin Han melihat Giok Lie mengambil sebuah botol kecil dari atas meja, membuka tutup botol dan mengeluarkan dua butir obat lalu memasukkan obat yang berwarna hitam itu ke dalam cangkir terisi air. Kemudian, setelah berdongak ke atas dan menyebut. “Ibu, selamat tinggal, ibu…” ia mengangkat cangkir itu ke mulutnya.

Tapi sebelum bibirnya dapat mengecup pinggir cangkir, tiba-tiba sebuah batu kecil melayang dan “prak!” cangkir itu pecah dan jatuh ke atas lantai. Isinya tumpah keluar dan Giok Lie mendekap dadanya dengan terkejut. Kedua matanya bersinar marah ketika ia melihat Cin Han masuk ke kamarnya.

“Siocia, kenapa kau tetap ingin mati bunuh diri? Tak malukah kau?” suara Cin mengandung penasaran.

“Malu? Mana lebih malu menjadi bini Biauw Su Hai? Ah, kau tak tahu… mengapa pula kau halang-halangi maksudku? Kau pernah menolongku ketika penjahat-penjahat itu datang. Apakah… apakah kali ini kau hendak membuatku hidup sengsara?”

Sebelum ia dapat menjawab, tiba-tiba dari luar terdengar suara bentakan. “Bangsat kurang ajar! Berani betul kau masuk kamar tunanganku. Hayo keluar untuk terima binasa!”

Giok Lie memegang lengan Cin Han. “Celaka! Itu suara bajingan she Biauw! Kau pasti akan mendapat celaka… koko… kau… lekas kau pergi, larilah sebelum terlambat…”

Tapi Cin Han ragu-ragu karena ia khawatir kalau-kalau gadis ini tetap akan bunuh diri nanti apabila ia pergi meninggalkannya. Di luar kamar terdengar banyak orang mendatangi dan sebentar kemudian pintu kamar Giok Lie diketuk keras-keras.

“Giok Lie! A-bwee!! Hayo buka pintu.... cepat!”

“Ah, ayah juga datang… bagaimana ini baiknya, koko? Ah, daripada aku mendapat malu, maka bunuhlah aku lebih dulu, kemudian terserah padamu, hendak lari atau mengadu jiwa. Tapi bunuhlah aku… namaku akan tercemar… bunuhlah...” Giok Lie mencoba untuk merebut pedangnya, tapi Cin Han memegang lengannya.

“Nona! Jangan takut. Kalau memang kau berjanji tidak akan bunuh diri, serahkanlah semua ini kepadaku. Aku akap melindungimu. Tunggu di sini, hendak kubereskan mereka semua.” Kemudian dengan sekali mengayunkan tubuh Cin Han melesat keluar dari jendela sambil memutar pedangnya.

Begitu tiba di luar, ia dikeroyok, tapi dengan mempergunakan ilmu pedang Hwie-liong-kiam-sut, sebentar saja ia berhasil membabat patah toya berikut sebuah lengan Bong Gak Hwesio. Namun kepungan makin rapat, diantaranya Hong Su juga menyerangnya sambil memaki.

“Hem, Hwee-thian Kim-hong, kau manusia tak mengenal budi. Kami memperlakukan kau baik-baik, tapi sebaliknya kau bahkan mau mengganggu gadis orang. Sungguh bagus perbuatanmu.”

Cin Han sambil bersilat memperdengarkan suara ejekan. “Kwi-eng-cu! Tadinya aku mengagumi kalian karena mataku seakan-akan buta. Kini aku tahu siapa kalian ini, dan dapat terduga olehku mengapa kalian menggabung dengan bangsat-bangsat gundul dari Pek-lian-kauw. Pendeknya, kalian mau apa? Biarkan aku pergi dari sini dengan aman, atau aku membuka jalan darah.”

Kata-kata Cin Han disambut dengan serangan-serangan hebat. Payah juga Cin Han melayani semua ini, karena sesungguhnya, biarpun kepandaiannya cukup tinggi, namun ia menghadapi enam orang yang kesemuanya memiliki kepandaian istimewa.

Kok Pin yang memiliki ginkang yang tinggi dapat memainkan joan-piannya dengan baik sekali, dibarengi permainan ang-kin merah dari Lok Sin Tat yang telah terkenal kelihaiannya. Tie Bong Hwesio kemarin malam tak sempat ikut bertempur karena ditugaskan menjaga pintu belakang kalau-kalau ada musuh menyerobot, tapi kini hwesio yang mahir sekali ilmu lweekangnya itu ikut mengeroyok dengan sebatang tongkat besi di tangan.

Juga Thio Lok yang memang membencinya, tampak memutar pedangnya dengan gerakan yang mengingatkan Cin Han akan ilmu pedang Ang Lian Lihiap. Dan pada saat itu ia berkenalan pula dengan sepasang siang-kek dari Hong Su. Semua itu masih ditambah lagi dengan adanya Bong Lam Hwesio dengan goloknya yang memainkan Pat-kwa-to-hwat yang dulu pernah ia rasakan kelihaiannya. Sungguh yang bukan ringan.

Tapi Cin Han bagaikan seekor banteng terluka, ia bergerak lincah dan gesit sekali. Pedangnya Kong-hwa-kiam menyambar-nyambar bagaikan naga terbang mengeluarkan suara ngaungan nyaring yang menyeramkan. Tubuhnya lenyap digulung sinar pedangnya dan menerobos ke sana ke mari diantara sekian banyak senjata yang mengurungnya.

Melihat bahwa biarpun mengeroyok dengan enam orang masih juga belum dapat membinasakan pemuda itu, Tie Bong Hwesio merasa penasaran dan malu. Ia menggereng keras dan goloknya melesat ke arah Cin Han, berusaha menerobos gulungan sinar pedang.

Serangan ini dilakukan dengan tenaga penuh, maka Cin Han yang sedang sibuk menangkis banyak serangan-serangan lihai itu, hanya sempat menowel lengan Tie Bong agar golok itu melejit ke samping. Namun, tenaga dalam hwesio itu cukup hebat hingga biarpun gerakan goloknya agak mencong karena towelan itu, namun masih saja mengancam pundaknya.

Dalam keadaan terdesak Cin Han menggunakan tangan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga. Tangkisan tangan ke arah golok ini kalau bukan seorang ahli yang melakukan, sangat berbahaya, karena mana kuat kulit dan daging dipakai menangkis golok yang keras dan tajam.

24. Maafkan . . . Aku Yang Ceroboh!
Gerakan ini disebut Burung Garuda Mengibas Sayap dan tangkisan itu lebih menyerupai sampokan ke arah pinggir golok. Namun biarpun Cin Han dapat menyelamatkan pundaknya, masih saja lengan kirinya mendapat luka dan mengalirkan darah.

Tapi dengan mengertak gigi Cin Han menubruk maju dan “bres!” ujung pedangnya memasuki perut Bong Lam Hwesio yang tak sempat menangkis lagi. Dengan berteriak keras hwesio itu roboh mandi darah.

Untuk sesaat para pengeroyoknya terkejut dan mundur, tapi mereka maju mendesak pula. Biarpun Cin Han masih gesit dan kuat, namun ia telah terluka dan pengeroyoknya masih bersemangat dan berusaha keras membinasakannya, maka anak muda itu menjadi sibuk juga. Tiba-tiba terdengar suitan keras dan beberapa bayangan orang berkelebat di atas genteng.

“Mereka datang!” teriak Hong Su dan lima orang yang mengeroyok Cin Han segera meninggalkan anak muda itu untuk menyambut penyerang-penyerang yang telah datang.

Cin Han bernapas lega, dan terasa kini betapa sakit dan perihnya tangannya yang terluka. Tapi tiba-tiba ia teringat bahwa Biauw Su Hai yang ia benci itu tadi tidak ikut mengeroyok. Kemanakah perginya jahanam itu? Ia menjadi khawatir akan keselamatan Giok Lie, maka segera ia loncat menuju ke kamar gadis itu.

“Tidak, aku tidak mau pergi. Kau pengecut besar, seharusnya kau bantu mereka menghalau musuh. Pergi dari sini, pergi!!”

Mendengar bentakan Giok Lie dan bujukan-bujukan Biauw Su Hai yang hendak membawa pergi gadis itu dengan alasan bahwa keadaan sangat berbahaya Cin Han menjadi marah sekali.

“Pengecut!” teriaknya dan ia meloncat memasuki kamar dari jendela.

“Eh, bangsat kecil, kau belum mati?” teriak Su Hai dan Coa-siocia menjerit kecil ketika melihat tangan Cin Han berlumuran darah.

Cin Han mengangkat pedangnya menangkis datangnya golok besar yang menyambarnya. Segera mereka berkelahi mati-matian. Tenaga orang she Biauw itu sesungguhnya besar sekali, ditambah pula goloknya yang berat membuat serangan-serangannya berbahaya dan mematikan. Tapi bagi Cin Han, kapten ini merupakan makanan lunak.

Dengan kelincahannya ia dapat menghindarkan diri dengan mudah dan balas menyerang secepat kilat. Baru saja bertempur belasan jurus, pedangnya telah berhasil melukai pundak kapten itu yang roboh mandi darah. Tapi Cin Han juga merasa sangat lemah dan pening karena banyak mengeluarkan darah dari lukanya. Ia melapangkan dadanya dan menarik napas dalam-dalam sambil bersandar ke tembok.

Coa Giok Lie siocia memburu dan memegang lengannya. “Kau luka?”

Cin Han hanya mengangguk dan Giok Lie segera menggunakan saputangan sutera membungkus tangan kiri Cin Han. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang berbaju putih meloncat masuk dengan pedang di tangan. Melihat Biauw Su Hai merintih-rintih di lantai, ia berkata, “Nah, inilah orangnya.”

Lalu dengan sekali sabetan, kepala orang she Biauw itu terpisah dari tubuhnya. Dengan cekatan sekali ia sambar rambut kapten itu dan membawa kepala Biauw Su Hai ke jendela. Dari situ ia berteriak. “Nyo-toako, anjing Biauw telah kubereskan. Ini kepalanya, terimalah!”

Dan kepala itu lalu dilemparkan keluar. Kemudian ia membalikkan tubuh dan memandang ke arah Cin Han dan Giok Lie dengan mata beringas. Coa Giok Lie hampir mengeluarkan teriakan kaget. Ternyata orang itu adalah seorang wanita muda yang sangat cantik, tapi pada saat itu wajah yang cantik itu merah padam dan kedua mata yang jeli seakan-akan mengeluarkan api.

Cin Han membuka matanya. “Lan-moi....” katanya perlahan.

“Siapa sudi kau sebut adik!” Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa membentak. “Pengkhianat rendah. Angkat pedangmu untuk terima binasa.”

Cin Han tersenyum lemah, “Kau mau bunuh padaku? Bunuhlah… memang aku telah salah sangka dan tersesat. Kau wanita gagah, patriot sejati, aku hanya orang rendah yang buta dan bodoh. Bunuhlah!”

Han Lian Hwa mengertak gigi. “Jangan banyak cerewet. Hayo angkat senjatamu. Demi Tuhan… kutusuk dadamu dengan pedang ini, hayo.... hayo lawan!!”

Giok Lie mendengar dengan heran dan ia merasa penasaran sekali melihat Cin Han dihina tapi tak mau melawan. Maka ia memegang lengan pemuda itu. “Koko, mengapa kau tidak melawan dia? Lawanlah, masakah kau kalah oleh perempuan galak ini? Kau dihina, koko lawanlah, kalau kau tidak mau, biar aku wakilnya!”

Dan Giok Lie mencoba untuk mengambil pedang Kong-hwa-kiam dari tangan Cin Han. Gadis yang lemah lembut ini karena gemas melihat Cin Han dihina dan dimaki, telah melupakan kelemahan sendiri. Sikap ini membuat Cin Han malu dan bangunlah semangatnya. Ia memandang Han Lian Hwa dengan sayu lalu berkata perlahan,

“Ang Lian Lihiap… kau tidak memberi kesempatan padaku untuk menerangkan dan membela diri. Kau salah sangka, nona. Aku bukan pengkhianat seperti yang kau kira....”

“Kau berada di sini, di sarang para pengkhianat bangsa. Masih saja tidak mau mengaku? Mana ada maling mau mengaku? Dan kau… agaknya anak keluarga Coa penjual negara ini... kekasihmu! Mau berkata apa lagi? Nah terimalah pedangku!” Dengan hebat Lian Hwa menutup kata-katanya dengan sebuah serangan kilat.

Cin Han menangkis dan segera ia sibuk menangkis dan berkelit menghindarkan diri dari serbuan Ang Lian Lihiap yang nekad dan marah itu. Sedikitpun ia tidak balas menyerang!

Diam-diam Lian Hwa mengakui bahwa ilmu pedang Cin Han jauh lebih hebat daripada dulu dan ia maklum bahwa ia bukanlah lawannya, tapi ia penasaran sekali mengapa pemuda itu tidak mau balas menyerang? Karena penasaran ia menjadi marah dan malu, merasa dirinya dipandang rendah sekali.

Ia malu karena perempuan yang kelihatannya mesra sekali hubungannya dengan Cin Han itu berada di situ dan melihat jalannya pertempuran. Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa perempuan itu sama sekali tidak pandai bersilat dan tentu saja tidak tahu bahwa Cin Han dalam pertempuran itu selalu mengalah. Dalam pandangan Giok Lie, Cin Han selalu terdesak, maka diam-diam ia meraba-raba ke arah dinding.

Biarpun Cin Han dapat menggunakan ilmu pedangnya yang lihai untuk menjaga diri, tapi karena ia sudah terluka dan lagi karena jiwanya merasa tertekan serta kesedihan membuat pikirannya bingung, maka gerakannya tak selincah biasanya.

Maka pada satu saat Ang Lian Lihiap berhasil melukai pundak kirinya dan darah mengalir lagi membasahi bajunya dan membuat burung Hong di dadanya seakan-akan mengalirkan darah! Cin Han terhuyung-huyung mundur dan Giok Lie maju memeluknya dan menariknya ke arah dinding.

Lian Hwa dengan napas terengah-engah berdiri memandang ke ujung pedangnya yang menjadi merah karena darah pemuda itu. Tidak terasa olehnya, dua butir air mata membasahi pipinya, tapi ia menahan perasaannya dan membentak, “Hayo jangan bersembunyi di balik baju kekasihmu! Majulah, biar seorang diantara kita mati di ujung pedang!”

Tiba-tiba Giok Lie memekik. “Kau…. kau perempuan kejam!”

Lian Hwa menjadi marah dan meloncat maju. Tapi tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding di belakang Giok Lie terbuka! Gadis itu dengan cepat menarik lengan Cin Han memasuki pintu rahasia itu, dan ketika Lian Hwa mengejar, pintu itu cepat sekali tertutup pula seperti sebelum terbuka dengan tak tersangka itu.

Lian Hwa menggunakan pedang Sian-liong-kiam membacok, tapi ternyata di balik dinding itu terdapat daun pintu besi yang sangat tebal. Lian Hwa membanting-banting kakinya dan memaki, “Perempuan siluman! Hayo buka dan biarkan kupenggal leher laki-laki pengkhianat itu!” Berkali-kali ia membacok pintu besi itu dengan pedang sampai tangannya merasa panas. Akhirnya ia menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan menangis.

Pertempuran di luar kamar berjalan dengan seru dan hebat. Tapi di pihak penyerang ditambah seorang tosu yang lihai, ialah Pek Siong Tosu, ketua Hoei-san-pai, termasuk golongan anti kaisar. Maka, karena di pihak Kwi-coa-pai telah kacau oleh perlawanan Cin Han tadi, mereka tak dapat menahan desakan para penyerang, dan setelah Hong Su dan kedua pengemis menderita luka-luka, mereka melarikan diri.

Sebenarnya yang dikehendaki jiwanya oleh rombongan penyerang anti kaisar ini tak lain ialah Biauw Su Hai dan Lam Beng Sun. Yang pertama itu dibenci karena ia adalah kepercayaan kaisar dan terkenal kejam serta telah membinasakan banyak orang gagah. Sedangkan orang she Lam telah dikenal sebagai seorang penghasut yang licin dan banyak berhasil dalam hasutan dan bujukannya terhadap banyak orang gagah sehingga mereka itu berbalik pikiran akibat pengaruh hasutan dan pengaruh sogokan harta dan uang.

Karena Biauw Su Hai terbunuh oleh Lian Hwa dan Lam Beng Sun juga terbunuh oleh rombongan itu, sedangkan para kauwsu penjaga telah lari pergi, maka Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang memimpin serbuan itu, mengajak kawan-kawannya pergi. Tapi Lian Hwa tidak kelihatan di situ sehingga semua orang menjadi bingung lalu mencari-cari dengan terpencar.

Ke manakah perginya Ang Lian Lihiap? Sebetulnya, tadi setelah Cin Han diselamatkan dan dibawa pergi melalui pintu rahasia oleh Coa Giok Lie siocia, pendekar wanita itu merasa penasaran sekali. Hatinya telah kecewa dan sedih melihat kenyataan bahwa pemuda yang dikagumi itu kini telah tersesat dan menjadi pengkhianat, kini ditambah pula melihat Coa Giok Lie demikian mencinta pemuda itu bahkan berhasil melarikannya, hatinya seakan-akan dipotong-potong pedang tajam.

Rasa sayangnya terhadap Cin Han yang ada sejak dulu di dalam hatinya kini berubah rasa benci, ya, benci sekali hingga kehendak satu-satunya kini hanya ingin membunuh. Biarpun ia sendiri tidak tahu apakah ia akan sanggup membunuh pemuda itu karena tadi baru melukai pundaknya saja ia sudah merasa dadanya perih dan sakit karena iba hati!

Tapi, mengingat pula bahwa kini mungkin gadis yang membawa lari Cin Han itu tengah merawat pundak yang terluka oleh tusukannya tadi, ah, tak kuat menahan hatinya yang bergelora dan tinggal berpangku tangan saja. Ia harus membunuh Cin Han, membunuh perempuan itu, dan kalau perlu membunuh diri sendiri!

Dengan hati-hati dan cermat diperiksanya seluruh dinding dan tiang. Akhirnya dapat juga olehnya rahasia pintu itu, ialah sebuah lukisan harimau yang tergantung di dinding. Diputar-putarnya lukisan itu dan tiba-tiba dengan mengeluarkan suara keras pintu rahasia itu terbuka.

Lian Hwa meloncat masuk sambil siap dengan pedang di tangan. Jalan rahasia itu merupakan sebuah terowongan yang menembus tanah di bawah taman. Ia terus maju merayap dan tahu-tahu terowongan itu membawanya keluar dari pekarangan dan sampai di hutan kecil di belakang gedung.

Dengan bernafsu Lian Hwa maju terus. Ia mencari-cari, tapi keadaan di sekeliling hutan sunyi saja. Ia maju terus ke tengah. Tiba-tiba dilihatnya cairan warna hitam tertimpa cahaya bulan. Diperhatikannya benda cair itu. Darah! Hatinya berdebar dan rasa iba menusuk hatinya.

Darah Cin Han! Sekali lagi air matanya menitik keluar dari pelupuk mata. Ia membungkuk mengamat-amati jejak kaki yang menyatakan bahwa orang-orang yang dikejarnya lari ke arah utara. Setelah berlari lagi beberapa lamanya di sepanjang lorong kecil dalam hutan itu, ia melihat sebuah pondok bambu di tengah hutan, dan ketika ia datang mendekat, terdengar olehnya suara orang bicara.

Hatinya panas lagi ketika ia mendengar suara Giok Lie. Ingin sekali ia menerjang membuka pintu pondok dan menyerang, tapi tiba-tiba ia mendengar suara Cin Han berkata-kata. Ia jadi ingin tahu apakah yang mereka bicarakan, maka dengan diam-diam ia memasang telinga mendengarkan dari luar.

“Kau bilang dia itu Ang Lian Lihiap? Ah, pernah aku mendengar nama ini disebut orang sebagai seorang pendekar wanita berhati mulia. Tapi mengapa ia, demikian kejam dan jahat?”

“Dia tidak jahat, nona. Dia benar-benar wanita gagah yang berhati mulia,” terdengar Cin Han menjawab dengan suara lemah.

“Tapi… mengapa dia begitu membencimu?”

Terdengar Cin Han mengeluh dan menarik napas dalam. “Ia salah paham… dan karena kebodohanku sendiri…”

“Koko, aku merasa seakan-akan kau ini kakakku sendiri. Aku bukan orang luar lagi, maka berterus teranglah, koko… kau… kau, cinta pada Ang Lian Lihiap, bukan?”

Ketika Lian Hwa mendengar ini dadanya berdebar-debar dan ia mengertak giginya menekan gelora hatinya. Ia memasang telinga baik-baik, tapi tidak terdengar jawaban Cin Han.

“Koko, kau cinta padanya,” terdengar Giok Lie berkata lagi, “hal ini mudah diketahui, ketika ia hendak membunuhmu kau menyerah saja seakan-akan bagimu senang mati di tangannya. Tapi, mengapa sebaliknya ia begitu membencimu? Ada salah paham apakah diantara kau dan dia?”

Kembali terdengar Cin Han menghela napas. “Semua salahku sendiri. Aku memang bodoh, mudah saja tertipu oleh Hong Su si Bayangan Iblis! Kusangka benar belaka pengakuan mereka bahwa mereka membentuk perkumpulan untuk membasmi pengacau dan penjahat yang mengganggu rakyat. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa mereka ini adalah pengkhianat-pengkhianat dan penjilat kaisar. Siapa dapat mengira? Bahkan Thio Lok si Naga Hijau yang masih ada hubungan saudara seperguruan dengan Ang Lian Lihiap sendiri, terdapat pula di situ, Tentu saja ketika mereka minta pertolonganku untuk membantu melindungi ayahmu dari serangan penjahat-penjahat yang datang, aku tidak menolaknya. Ternyata yang datang bukanlah penjahat-penjahat, sebaliknya adalah Ang Lian Lihiap dan para pendekar kang-ouw. Aku tertipu tapi betapapun juga, aku tidak pernah melakukan kejahatan....”

“Tidak, Cin Han koko, kau bukan penjahat. Kau bahkan telah menolongku dari si jahanam Biauw itu… biarpun ayah termasuk golongan penjilat kaisar juga, hal ini kuakui, tapi aku sebagai anaknya belum begitu jahat untuk tak dapat membedakan mana penjahat mana orang baik. Biarlah, kalau aku bisa berjumpa dengan Ang Lian Lihiap, akan kujelaskan kepadanya bahwa kau putih bersih tak ternoda dosa… Ah, kasihan kau, koko, semua orang memusuhimu. Pihak Pek-lian-kauw dan Kwi-coa-pai pasti akan mencari-carimu untuk membalas dendam, sedangkan Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya tetap akan mengejar-kejarmu sebagai seorang pengkhianat.”

Lian Hwa mendengarkan semua percakapan itu dengan tubuh gemetar. Ia terharu sekali. Ia merasa telah berlaku sewenang-wenang terhadap Cin Han. Dan Giok Lie demikian baik, demikian lemah lembut, tidak seperti dia, wanita kasar dan kejam. Tiba-tiba ia tersedu dan segera ditahannya tangis yang telah menerjang keluar dari dadanya, tapi suara isaknya telah keluar dari kerongkongannya.

Cin Han yang mendengar suara di luar ini lalu mengumpulkan tenaga dan meloncat keluar. Ia masih dapat melihat Han Lian Hwa lari pergi dengan cepat sambil menangis. “Lian-moi..! Adik Lian... berhentilah...?” Ia lari mengejar, tapi gerakan Ang Lian Lihiap cepat luar biasa hingga sebentar saja ia telah lenyap ditelan malam gelap.

Sementara itu terdengar suara Giok Lie memanggil-manggil, maka Cin Han segera lari ke pondok. “Lihat, koko, barang ini melayang masuk dari jendela,” kata gadis itu sambil memperlihatkan sehelai kain putih.

Cin Han mengambil sutera itu dengan dan membaca tulisan darah di atas sutera putih yang berbunyi, “Maafkan aku yang ceroboh.”

Di bawah itu terlukis bunga teratai. Tulisan dan lukisan itu terang sekali dibuat dengan darah! Cin Han memandang sutera itu dengan terharu. Tiba-tiba Giok Lie memegang lengannya. “Koko, dia… dia cinta padamu.”

Cin Han menengok dengan pandangan bodoh dan sedih.

“Lihat koko. Kain ini adalah potongan ujung baju, dan tulisan ini ditulis dengan darah. Tentu ia merasa menyesal sekali telah melukaimu maka ia menggigit ujung jarinya untuk menulis surat ini!”

Cin Han makin terharu. Kalau benar pendekar wanita itu menyesal dan cinta padanya, mengapa ia lari pergi? Karena merasa sedih ditambah lukanya terasa lagi karena ia mengeluarkan tenaga ketika lari tadi, kepalanya menjadi pening, matanya berkunang-kunang dan ia terhuyung-huyung hampir jatuh.

Baiknya Giok Lie segera memburu dan gadis itu memeluknya lalu membawanya ke pembaringan. Dengan sangat teliti Giok Lie merawat luka Cin Han, mencuci dan membalut pundak dan lengan yang luka itu, hingga dua hari kemudian Cin Han merasa tubuhnya segar kembali, biarpun lengan kiri dan pundaknya masih agak sakit karena lukanya belum kering betul.

Baiknya ia selalu membawa obat luka buatan gurunya yang dapat menghentikan jalannya darah dan mencegah masuknya racun dalam luka. Ia merasa berterima kasih sekali atas kebaikan hati gadis itu yang menganggapnya sebagai kakak sendiri.

Setelah badannya kuat kembali, pertama-tama yang dilakukan ialah menyelidik di gedung Pangeran Coa Kok Ong. Ia mendapat keterangan bahwa selain orang-orang she Biauw dan Lam Beng Sun si dorna, keluarga Coa semua tidak ada yang diganggu oleh rombongan penyerang. Tapi karena takut, Pangeran Coa berikut keluarganya semua pindah ke kota raja di mana mereka mempunyai sebuah gedung pula.

Tidak ada diceritakan orang tentang kehilangan Coa siocia. Agaknya Coa Kok Ong hendak merahasiakan tentang lenyapnya gadis itu untuk menjaga nama. Mendengar bahwa orang tuanya telah meninggalkan dirinya, Coa Giok Lie menangis sedih.

“Adikku yang baik, jangan kau bersedih. Ayahmu baru kemarin berangkat, marilah kita susul saja pasti kita akan dapat mengejarnya.” Cin Han berkata dengan suara menghibur.

Giok Lie mengangkat mukanya dengan girang. “Kau mau mengantarku, koko?”

Cin Han mengangguk dan gadis itu segera menyusut kering air matanya. Karena Giok Lie memakai beberapa perhiasan berharga, maka mudah saja mereka mendapatkan dua ekor kuda bagus yang mereka tukar dengan emas perhiasan. Maka berangkatlah mereka naik kuda mengejar rombongan Coa Kok Ong.

Biarpun tidak pandai ilmu silat, namun Coa Giok Lie biasa naik kuda, bahkan boleh dikatakan pandai, karena sejak kecil ia suka sekali naik kuda dan permainannya ini dituruti saja oleh ayahnya yang memanjakannya. Hal ini ternyata menguntungkan mereka pada saat itu, karena mereka dapat dengan cepat melakukan pengejaran.

Setiap kali memasuki sebuah kota dan kampung, Cin Han bertanya tentang rombongan Pangeran Coa kepada penduduk di situ, maka tahulah ia bahwa rombongan itu tidak dapat berjalan cepat karena membawa kereta yang diduduki anggauta keluarga wanita. Maka ia mengajak Giok Lie mempercepat larinya kuda. Pada keesokan harinya menjelang senja, mereka dapat mengejar rombongan pangeran itu dalam sebuah hutan.

Tapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa rombongan itu tengah diserbu oleh segerombolan perampok. Terdengar jeritan minta tolong dari kaum wanita. Suara beradunya senjata tambah menyeramkan suasana. Pengawal-pengawal dengan nekad mengangkat senjata dan mencoba membela majikan mereka dari serangan penjahat. Giok Lie berseru kaget ketakutan.

Cin Han meloncat turun dari kuda, “Siocia jangan bergerak. Tunggu saja di sini, biar aku menolong keluargamu!”

Kemudian ia lari secepat terbang ke tempat pertempuran itu. Datangnya pemuda pendekar ini mengacaukan para perampok. Di mana saja bayangan Cin Han berkelebat di situ tentu terdengar pekik kesakitan dan tubuh seorang anggauta perampok jatuh terguling.

Karena tidak mau membinasakan banyak orang, Cin Han hanya menggunakan tangan kosong dan bergerak bagaikan seekor garuda menyambar-nyambar dengan Hun-kin-coh-kut yakni ilmu pukulan putuskan otot lepaskan tulang, sehingga sebentar saja para perampok jatuh rebah bergulingan, bertumpuk-tumpuk dan mulut mereka merintih-rintih.

Cin Han melihat ke arah kereta. Dilihatnya bahwa Pangeran Coa Kok Ong dan isterinya telah rebah di atas tanah dan seorang penjahat sedang mengangkat golok dan mengayunkan itu ke arah leher Coa Kok Ong. Jarak antara tempat berdirinya dengan penjahat itu terpisah lima tombak lebih, maka untuk dapat menolong ayah Giok Lie, pendekar muda itu memungut batu kecil dan mengayunkannya ke arah lengan penjahat.

Dengan menjerit kesakitan penjahat itu melepaskan goloknya dan menggunakan tangan kiri meraba-raba lengan kanan sambil merintih-rintih. Bagaikan kilat menyambar, Cin Han meloncat datang dan mengirim tendangan. Penjahat itu terlempar jauh dan jatuh tak bergerak lagi.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Anjing dari mana berani datang mengacau?”

Bentakan ini diikuti berkelebatnya golok besar menyambar ke leher Cin Han. Tapi Cin Han berkelit dan mengayun kakinya menendang. Ternyata penyerangnya gesit juga dan dapat meloncat ke samping menghindari tendangan. Cin Han mengerling dan melihat bahwa penyerangnya adalah seorang tinggi kurus berwajah kejam.

Tenaga orang itu besar dan goloknya berwarna merah dan basah oleh darah! Cin Han melayaninya dengan tenang dan gesit. Pada saat itu ia melihat Giok Lie lari mendatangi dan menuju ke kereta sambil berteriak-teriak memanggil ayah-ibunya, lalu menubruk dua tubuh yang rebah di atas tanah itu. Cin Han terkejut sekali.

“Kau bunuh mereka?” bentaknya kepada penyerangnya.

“Ha-ha! Dan sebentar lagi kuantar kau menyusul mereka!”

Cin Han marah sekali mendengar sindiran yang sombong ini, kaki kirinya diayun lagi dengan seruan keras. Lawannya mencoba berkelit dan menangkis dengan tangan kiri, tapi tendangan ini hebat sekali dan dilakukan dengan sepenuh tenaga karena gemas. Dengan menjerit ngeri kepala perampok itu terlempar jauh dan jatuh berdebuk tidak berkutik lagi karena tulang iganya patah-patah dan mati seketika itu juga!

Selanjutnya,