X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Teratai Merah Jilid 09

Cerita Silat Mandarin serial Si Teratai Merah Jilid 09 karya Kho Ping Hoo

Si Teratai Merah Jilid 09

25. Penyerangan Sarang Kwi-coa-pai
Cin Han memandang sekeliling, tetapi semua perampok yang masih hidup sudah melarikan diri, gentar melihat kehebatan sepak terjangnya. Beberapa belas perampok rebah berguling-guling dan merintih-rintih. Di pihak rombongan pangeran, hanya tinggal empat orang pengawal yang masih hidup, tetapi sudah hampir mati lemas kelelahan.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Cin Han segera menghampiri Giok Lie. Hatinya terharu melihat gadis itu memeluki tubuh ibunya yang rebah mandi darah dan sudah mati di dekat kereta. Nyonya tua itu telah mati karena bacokan golok pada lehernya!

Tiba-tiba Coa Kok Ong menggerak-gerakkan tubuhnya. Cin Han cepat menghampiri dan menotok pundak kiri orang tua itu untuk menghentikan jalan darah ke arah dada yang terluka sehingga pangeran itu tidak menderita sakit terlalu hebat. Tetapi melihat keadaannya, diam-diam Cin Han maklum bahwa jiwanya takkan tertolong lagi.

Giok Lie lari dan menubruk ayahnya. “Ayah....!”

Coa Kok Ong memandang puterinya. “Kau… Giok Lie…?” ia lalu memandang Cin Han yang berjongkok di dekatnya. “Hwee-thian Kim-hong...? Kau yang menolong kami? Terima kasih… janganlah kepalang kau menolong tolonglah juga anakku ini... lindungi ia... aku serahkan Giok Lie… kepadamu...!”

Dan pangeran itu menghembuskan napas terakhir diikuti pekik Giok Lie yang lalu jatuh pingsan. Cin Han dengan tidak sungkan lagi memijit urat leher gadis itu sehingga terdengar ia menjerit perlahan dan sadar dari pingsannya lalu menangis sedih, dihibur oleh kata-kata halus dari Cin Han.

Setelah memesan kepada empat pengawal yang masih hidup itu untuk mengurus semua jenazah dan minta bantuan orang-orang kampung yang dekat dengan hutan itu, Cin Han dan Giok Lie naik kuda dan pergi dari situ.

Sebenarnya Giok Lie amat berat hatinya meninggalkan jenazah orang tuanya tanpa menanti sampai dikebumikan, namun ia maklum bahwa Cin Han tidak aman berada di tempat itu, di daerah yang dikuasai Kwi-coa-pai. Maka dengan sedih ia ikut pemuda yang telah dipercayai ayahnya untuk menjadi pelindungnya.

Kalau ia teringat ucapan terakhir dari ayahnya bahwa dirinya telah di“serahkan” kepada Cin Han, ia merasa seluruh mukanya panas, hatinya berdebar-debar dan ia tidak berani memandang wajah Cin Han.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di rumah Gan Keng Hiap, paman dan guru pemuda itu. Cin Han lalu menuturkan pengalamannya dan riwayat Giok Lie. Paman dan bibinya merasa terharu mendengar nasib gadis cantik itu, maka ketika Cin Han minta pertolongan mereka untuk menerima Giok Lie yang sebatang kara tinggal di situ, mereka tidak ragu-ragu berkata,

“Siocia, jangan sedih. Biarlah kami berdua menjadi pengganti orang tuamu.”

Giok Lie menubruk dan memeluk nyonya Gan sambil menangis tersedu-sedu. Sejak saat itu ia menyebut ayah dan ibu kepada suami-isteri Gan yang budiman itu. Dari Gan Keng Hiap, Cin Han mendengar akan keadaan pemerintah di saat itu. Kini dia tahu akan siasat kaisar yang sangat licin, yaitu siasat mengadu domba untuk melemahkan semangat pemberontakan rakyat Tiongkok yang tertindas.

Ia kini tahu peranan apakah yang dipegang oleh Kwi-coa-pai dan Pek-lian-kauw sebagai pelopor barisan pro kaisar. Ia kini dapat menduga bahwa Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya yang menyerbu gedung Pangeran Coa Kok Ong adalah golongan anti kaisar. Maka ia menyesal sekali mengapa ia demikian bodoh hingga mudah saja tertipu oleh Lie Thung dan Hong Su ketua Kwi-coa-pai itu.

“Cin Han, kau adalah keturunan seorang berjiwa besar, dan kau sudah seperti anakku sendiri,” kata sasterawan tua itu bersemangat, “maka agaknya arwah orang tuamu akan tersenyum bangga jika kali ini kau dapat menyumbangkan tenaga dan kepandaianmu demi kepentingan rakyat dan negara.

"Ketahuilah, kaisar lalim yang menjajah negeri kita ini sedang berusaha untuk menghancurkan atau sedikitnya mengurangi tenaga para patriot yang anti pemerintahannya. Ia menggunakan siasat mengadu domba dan menghasut para cerdik pandai dan para orang gagah untuk memihak kepadanya. Ia tidak segan-segan menggunakan tipu-tipu keji dan pengaruh emas dan perak.

“Dan yang menjadi tulang punggung kaisar penghisap rakyat itu dalam hal ini terutama adalah para dorna-dorna bejat moral yang menggunakan Pek-lian-kauw dan Kwi-coa-pai kedua perkumpulan iblis itu. Maka, jangan gentar, anakku, kau pergilah dan carilah hubungan dengan orang-orang gagah untuk membasmi mereka ini.”

Cin Han kagum sekali mendengar kata-kata pamannya yang bersemangat. Tidak disangkanya bahwa pamannya, seorang ahli sastera yang lemah itu, ternyata bersemangat sebagai seorang pahlawan bangsa dan mencinta tanah airnya. Ia menghaturkan terima kasih, kemudian setelah mengaso dua hari, ia minta diri dari paman dan bibinya.

Bibinya berkata, “Hati-hatilah dalam perantauanmu, Han. Dan... kau sudah cukup umur dan… dan… kulihat gadis itu...”

Gan Keng Hiap tertawa bergelak. “Betul juga kata bibimu. Anak itu walaupun keturunan pangeran penyokong kaisar, tapi kulihat selain pandai ilmu sastera, juga berwatak baik… dan cantik. Kalau kau suka…”

Cin Han menundukkan kepala dan seluruh wajahnya memerah. Tiba-tiba ia teringat Ang Lian Lihiap dan kedua matanya menjadi basah. Maka tanpa menjawab lagi ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mengapa, Han? Apa kau tidak setuju?” tanya bibinya.

“Adik Giok Lie cukup berbudi, cukup berharga untuk diriku yang rendah ini....” kata Cin Han cepat-cepat.

“Apa barangkali hatimu sudah terisi orang lain?” tanya pamannya.

Cin Han makin terdesak dan bingung, akhirnya dapat juga ia mencari alasan. “Siok-hu, perkara ini kurasa baik dibicarakan kelak saja. Sebagaimana siok-hu telah pesan tadi, aku menghadapi urusan besar yang bukan ringan dan yang berbahaya. Maka dalam keadaan begini, siapakah yang mau meributkan urusan kawin?”

Gan Keng Hiap dengan ketawa memukul kepalanya sendiri dan mencela isterinya, “Dasar kau yang mulai dulu. Dia benar, biarlah, hal ini kita tunda dulu, kelak masih banyak waktu untuk diurus!”

Ketika berpamit kepada Giok Lie, Cin Han merasa malu untuk memandang muka gadis itu akibat usul paman dan bibinya. Maka ia tidak melihat betapa mata gadis itu merah karena tangis dan ia hanya mendengar Giok Lie berkata halus, “Pergilah dan semoga kau bertemu dan berbaik kembali dengan dia, koko.”

Ia heran mendengar suara Giok Lie mengandung isak, tapi ketika ia angkat muka memandang, ternyata gadis itu telah memutar tubuhnya dan lari masuk ke kamar. Ia hanya dapat mengangkat pundak dan menarik napas dalam. Sungguh baginya, wanita-wanita muda mempunyai watak yang ganjil dan tidak mudah dimengerti!

Tempat pertama-tama yang dituju oleh Cin Han adalah Hun-kap-teng, tempat di mana perkumpulan Kwi-coa-pai berada. Ia merasa sangat penasaran kepada Hong Su dan kawan-kawannya yang telah menipunya sehingga dalam pandangan Ang Lian Lihiap ia telah menjadi seorang pengkhianat bangsa! Ia hendak membalas dendam dan membasmi sarang Ular Iblis itu untuk membersihkan namanya.

Tapi alangkah kecewa dan menyesalnya ketika ternyata bahwa sarang perkumpulan itu kosong, gedung besar itu sudah ditinggalkan dan tidak nampak bayangan seorangpun anggauta Kwi-coa-pai. Ia pergi ke rumah makan di mana ia berjumpa dengan Lie Thung dahulu, tapi rumah makan itu telah diurus oleh orang baru. Dengan putus asa ia pergi mencari kamar dan menyewa sebuah kamar di hotel Liang-an.

Malam hari itu ia masih merasa penasaran, lalu keluar dengan diam-diam dari jendela. Ia berjalan di atas genteng dan pergi menyelidik ke bekas gedung perkumpulan. Lama ia menanti di atas genteng itu. Tetapi ternyata ia tidak menanti dengan sia-sia, karena lama kemudian dari jurusan timur berkelebat bayangan orang.

Ketika tiba di situ, ia melihat tiga orang hwesio dan yang dua tak lain ialah kedua pengemis, si bongkok dan si kate! Kelima orang itu gesit sekali gerakannya dan ringan kakinya, lebih-lebih ketiga hwesio itu, sehingga diam-diam Cin Han terkejut dan mengeluh karena di pihak Kwi-coa-pai telah datang orang-orang begini pandai untuk membantu. Mereka meloncat turun dan memasuki kamar besar. Si pengemis bongkok memasang sebuah lilin.

Cin Han diam-diam mengintai dari atas genteng. Mereka berlima duduk mengelilingi meja, seakan-akan ada yang mereka nantikan. Benar saja, belum lama mereka duduk, terdengar suitan nyaring. Sin Tat si bongkok membalas suitan itu dan sekejap kemudian seorang bertubuh tinggi meloncat turun memasuki kamar itu. Cin Han melihat bahwa yang masuk itu adalah Hong Su si Bayangan Iblis sendiri, ketua dari Kwi-coa-pai!

Ketiga hwesio itu saling memberi hormat dengan Hong Su dan ketua ini melayaninya dengan penuh hormat. Kemudian Hong Su bertanya kepada Kok Pin si pengemis kate. Cin Han tidak begitu mendengar pertanyaan ini, hanya ia tahu bahwa Hong Su menanyakan seseorang.

“Ia benar-benar kembali, sekarang di hotel Liang-an,” jawab si kate.

Jawaban ini membuat Cin Han terkejut. Sudah tahukah mereka ini bahwa ia datang mencari mereka? Kemudian orang-orang dalam kamar itu bangun dari tempat duduk mereka dan berjalan keluar. Dengan cepat sekali mereka meloncat naik ke atas genteng dan berlari-larian bagaikan terbang. Cin Han masih terus mengikuti jejak mereka.

Seperti yang ia duga mereka itu menuju ke hotel di mana ia bermalam! Ia menjadi marah sekali dan selagi ia hendak meloncat keluar dan membentak mereka, tiba-tiba dari belakang hotel itu meloncat naik dua orang yang bersenjata pedang yang segera menyerang keenam orang itu!

Perkelahian terjadi ramai karena walaupun dikeroyok enam, kedua orang itu tidak terdesak. Ilmu pedang mereka lihai sekali dan sebentar saja mereka berhasil mematahkan semua serangan dari enam orang itu.

Cin Han merasa gatal tangan dan biarpun ia tidak kenal siapa adanya kedua orang itu, namun karena yang mengeroyok adalah musuh-musuhnya, maka ia mencabut Kong-hwa-kiam dan menyerbu bagaikan naga muda menyambar.

Keenam orang Kwi-coa-pai itu terkejut. Mereka sudah mengenal kelihaian anak muda itu, dan biarpun ketiga hwesio kawan-kawan Hong Su belum pernah bertempur melawan Cin Han, namun gerakan-gerakan pedang, pemuda itu cukup menginsyafkan mereka akan kehebatan kiam-sut dari Hwee-thian Kim-hong! Mereka ini merasa keder juga menghadapi Cin Han dan dua orang kosen itu, maka atas tanda suitan Hong mereka meloncat ke belakang dan melarikan diri!

Cin Han hendak mengejar, tetapi kedua orang itu berkata, “Tidak perlu dikejar, masih banyak waktu untuk membasmi mereka!”

Cin Han menahan kakinya dan ketika ia hendak menanyakan nama mereka, kedua orang itu hanya tertawa dan meloncat pergi di dalam gelap! Melihat orang itu tidak suka bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, Cin Han hanya menggerakkan pundak dan meloncat memasuki kamarnya.

Di dalam kamarnya ia melihat sehelai kertas, di atas meja yang berisi tulisan : “Sarang Kwi-coa-pai pindah ke Lam-hu-teng dan kedudukannya sangat kuat. Tunggu serbuan kawan-kawan pada malam limabelas.”

Surat itu tidak ditanda-tangani, tetapi Cin Han dapat menduga bahwa yang menulis tentu dua orang tadi. Ia dapat juga menduga bahwa dua orang gagah tadi tentu golongan anti kaisar dan kawan-kawan Ang Lian Lihiap. Malam limabelas ialah lusa malam dan Lam-hu-teng terletak di selatan, pikirnya. Kalau berkuda, maka dua hari tentu ia sampai di sana.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, Cin Han mencari seekor kuda yang kuat dan melarikan kuda itu menuju ke Lam-hu-teng. Karena kuda itu kuda murah, maka ia tidak berani memaksanya untuk membalap, takut kalau-kalau mogok di tengah jalan, karenanya ia sering berhenti dan membiarkan kudanya beristirahat.

Hal ini memperlambat perjalanannya, sehingga pada hari keduanya, ia memasuki kota Lam-hu-teng pada waktu hari sudah gelap. Ia mendapat kamar di sebuah penginapan.

Ketika ia memasuki kamar dan membuka jendelanya karena hawa dalam kamar itu agak panas, sehelai kertas melayang masuk kamar dari jendela. Cin Han memungut kertas itu yang ternyata berisi lukisan peta kota dan yang menunjukkan di mana letaknya sarang Kwi-coa-pai!

Ia merasa girang sekali melihat bahwa orang-orang sehaluan sedang membantunya, tapi ia penasaran juga mengapa mereka itu tidak mau datang menjumpainya dengan berterang. Agaknya mereka masih mencurigaiku, pikirnya.

Setelah ganti pakaian dan tidak ketinggalan lukisan burung Hong menghias dada, Cin Han meloncat ke atas genteng menuju ke sarang Perkumpulan Ular Iblis sebagaimana yang tersebut di dalam surat tadi. Ketika tiba di tempat yang dimaksud, ia heran dan bimbang karena tempat itu ternyata adalah sebuah kelenteng besar. Apakah perkumpulan jahat itu bersarang di tempat suci ini? Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati.

Gesit laksana kucing ia meloncat tanpa mengeluarkan suara ke bagian belakang. Tiba-tiba dari sebuah kamar di bawah ia mendengar suara mendesis-desis. Suasana sunyi sekali, maka suara itu terdengar nyata. Suara itu tidak keras, tapi kecil dan tajam menyakitkan telinga.

Cin Han menggunakan gerakan Naga Sakti Menembus Awan, meloncat turun dari bubungan ke tiang yang melintang di atas jendela kamar itu, kemudian dengan sekali berjumpalitan, ia mengaitkan kakinya ke tiang itu dan tubuhnya bergantung ke bawah. Ia telah bergerak dengan gerakan Ular Emas Lilitan Ekor. Dari situ ia dapat mengintai ke dalam kamar dengan leluasa sekali.

Ia melihat di dalam kamar itu terdapat belasan orang duduk mengelilingi sebuah meja besar. Mereka diam tidak bersuara dan tidak bergerak sedikit juga, bagaikan patung-patung. Hanya seorang saja diantara mereka, yaitu Hong Su ketua Kwi-coa-pai, yang tampak bergerak perlahan, mengikuti gerakan-gerakan seekor ular hitam yang melingkar bulat di tengah meja, dengan kepala dan leher tegak ke atas dan bergoyang-goyang bagaikan menari.

Suara mendesis-desis tajam tadi keluar dari mulut ular yang mengembang-kempiskan lehernya. Semua orang dalam ruangan itu memandang dengan wajah tegang ke arah Hong Su yang menghadapi ular itu dan yang berusaha menjinakkan binatang buas itu. Tapi ketua Kwi-coa-pai ini menghadapi ular itu dengan senyum simpul, agaknya dia sudah biasa dengan permainan ini!

Cin Han memperhatikan orang-orang yang mengelilingi meja itu. Ia meiihat Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan, sepasang pengemis aneh Kok Pin dan Liok Sin Tat, Tie Bong Hwesio, tiga hwesio yang ia lihat bersama kedua pengemis kemarin dulu, dan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya, tetapi yang kesemuanya kelihatan terdiri dari orang-orang ahli silat.

Ketika ia memandang ke arah Hong Su, ternyata ketua ini telah mengeluarkan sepotong bambu dan memegangnya di tangan kiri. Lalu ia menjulurkan kepala mendekati ular itu dan mengeluarkan suara desisan meniru-niru bunyi ular. Ular itu menjadi marah, dan sekali membuka mulut maka keluarlah uap hitam kehijau-hijauan dari mulutnya! Uap racun itu menyambar ke arah Hong Su.

Si Bayangan Iblis ini cepat memiringkan kepalanya dan menggunakan bambu itu untuk menutup kepala ular. Tapi ular hitam itu biarpun tubuhnya besar ternyata dapat mengelak dengan gesit dan ia membalas menyerang. Kepalanya meluncur merupakan senjata berbisa dan menyambar ke arah leher Hong Su!

Si Bayangan Iblis memperdengarkan suara ketawa mengejek dan mengulur tangan kanan lalu menggunakan dua jarinya hendak menjepit leher ular itu! Tapi karena ular itu tiba-tiba melengkungkan lehernya, maka jari tangan Hong Su tidak dapat menjepit dengan tepat pada bagian lehernya, tetapi agak ke bawah di bagian perut.

Ular itu menggerakkan ekornya, menyabet ke atas mengarah kepala Hong Su dan berbareng leher dan kepalanya yang masih bebas itu bergerak membalik dengan mulut terbuka lebar hendak menggigit lengan Hong Su yang memegang perutnya! Serangan ini berbahaya sekali dan semua orang berseru kaget, bahkan Cin Han yang berada di luar juga merasa terkejut melihat kelihaian ular itu.

Tapi pada saat itu terlihat bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu kepala dan ekor ular hitam yang menyerang Hong Su itu telah hancur dan tubuhnya terkulai lemas, bergantung di tangan Hong Su yang masih menjepit perut ular! Semua orang memandang kepada seorang laki-laki bopeng yang dengan tenang mengebut-ngebutkan saputangannya.

Orang itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan wajahnya belang-belang bagaikan kedok, kulitnyapun hitam dan bolong-bolong bekas penyakit cacar, sedangkan hidungnya menjungat ke atas sehingga ia kelihatan selalu berdongak ke atas. Semua orang memuji ketangkasannya karena dengan sekali kebut saja, kain yang lemas halus itu telah dapat menghancurkan kepala dan ekor ular tadi.

Diam-diam Cin Han kagum juga dan ia mengeluh karena kali ini ia akan berhadapan dengan seorang yang benar-benar merupakan lawan berat. Tetapi Kwi-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis memandang tamunya dengan senyum dingin dan jelas kelihatan air mukanya membayangkan tidak senang hati.

“Oei Koai-hiap sungguh lihai, tapi sayang ular lambang perkumpulanku telah mati dan tidak mudah dicari gantinya. Sayang aku tidak segagah Oei Koai-hiap untuk dapat mencari pengganti ular perkumpulanku....” Hong Su mengeluh dan suaranya penuh penyesalan.

Orang yang buruk mukanya itu ialah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Kepalan Delapan. Ia selain terkenal berkepandaian tinggi, juga terkenal mempunyai adat yang aneh, maka ia disebut Koai-hiap. Ketika mendengar keluhan Hong Su, hidungnya yang berdiri ke atas itu mengeluarkan suara ejekan dan sambil memutar-mutar saputangannya ia berkata, suaranya nyaring dan tinggi.

“Dibantu tidak menerima bahkan menyesal, beginilah adat dunia. Di luar ada musuh kuat bahkan bermain-main dengan ular berbisa, beginilah kelakuan orang-orang ceroboh. Aku kenal ularmu itu, Hong-pai-cu, bukankah itu disebut Ouw-kwi-coa atau Ular Iblis Hitam yang hanya terdapat di daerah barat? Kau agaknya lebih sayang ular itu daripada jiwamu, dan aku telah salah tangan membunuh kekasihmu itu. Biarlah, kucarikan gantinya.” Oei Gan berjalan ke pintu.

Diam-diam Cin Han terkejut karena ternyata orang aneh itu telah tahu bahwa ia bersembunyi dan mengintai di luar. Hong Su buru-buru mengejar. “Tidak usah, Koai-hiap. Biarlah yang sudah mati biar mati, tapi kita sedang menghadapi perkara besar, janganlah kau pergi!”

“Ha-ha. Urusanmu bukan urusanku. Perkaramu bukan perkaraku. Aku datang hanya ingin berkenalan dan coba-coba kepandaian orang-orang gagah yang kau katakan jahat dan telah menjadi musuh-musuhmu. Tapi aku telah salah tangan dan aku paling benci mempunyai hutang. Sekarang boleh dikata aku berhutang kepadamu. Hutang seekor ular Ouw-kwi-coa. Harus kubayar secepat mungkin.”

Sambil berkata demikian ia mengepal-ngepal saputangan tadi menjadi bulat dan tiba-tiba ia menimpukkan kain itu keluar jendela. Cin Han melihat datangnya kain bulat itu cepat sekali bagaikan sebuah pelor besi ke arah tubuhnya yang bergantung, tentu saja ia merasa terkejut sekali. Tapi ia segera menahan napas di dadanya dan menggunakan tenaganya meniup ke arah pelor kain itu yang segera kehilangan tenaga luncurannya dan melayang ke bawah merupakan sehelai saputangan.

Oei Gan tertawa bergelak-gelak. “Eh, tuan-tuan yang gagah perkasa. Ada tamu lihai datang, kenapa tidak segera disambut? Sebetulnya tamu yang datang ini cukup berharga untuk dipakai mengukur tenaga, sayang hutangku belum lunas. Nah, sampai ketemu lain kali!” Kemudian tanpa menoleh ia meloncat pergi dari situ.

Hong Su dan kawan-kawannya kini tahu bahwa di luar ada orang mengintai, maka mereka segera mengambil senjata masing-masing dan meloncat keluar. Cin Han mendahului mereka meloncat ke atas wuwungan dengan Kong-hwa-kiam di tangan.

Baru saja kakinya menginjak genteng, telinganya dapat menangkap suara angin senjata rahasia yang menyambar dari tiga jurusan ke arah leher, dada dan lambungnya. Cin Han mengulur kedua tangan untuk menangkap dua batang piauw yang menyambar dada dan lambung, sedangkan piauw yang menyambar lehernya ia kelit.

Pada saat itu datang pula menyambar tiga batang piauw. Ia mengayun tangan menyambit dengan kedua piauw yang ditangkapnya tadi dan lemparannya tepat mengenai piauw yang datang menyambar sehingga semua senjata rahasia terpukul jatuh ke atas genteng.

“Hong Su manusia iblis, jangan berlaku pengecut! Keluarlah terima binasa!” teriak Cin Han gemas.

Sembilan orang meloncat ke depannya, dan Hong Su berada di depan sendiri sambil memegang sepasang siang-kek di kedua tangan berkata marah.

“Hm, kukira siapa, tidak tahunya Hwee-thian Kim-hong si burung Hong mau mampus dan penculik anak gadis orang! Kebetulan sekali. Banyak tamu datang dan aku tidak mempunyai hidangan istimewa. Sekarang ada burung Hong datang karena bosan hidup, mari kawan-kawan! Kita tangkap burung ini dan dipanggang dagingnya!”

“Manusia tak tahu malu!” Cin Han memaki dan sesaat kemudian Kong-hwa-kiam di tangannya telah menyambar-nyambar dan mengeluarkan cahaya putih berkilauan karena ia mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yaitu Hwie-liong-kiam-sut.

Hong Su yang maju berbareng dengan Kok Pin dan Liok Sin Tat sepasang pengemis, segera terdesak hebat. Kawan-kawan yang lain segera maju mengepung Cin Han dan sebentar saja delapan orang, kecuali tiga hwesio gundul itu, telah mengeroyoknya. Pengepungnya terdiri dari jagoan-jagoan dan cabang-cabang atas yang semuanya memegang senjata mustika, maka dapat dibayangkan betapa lihai dan berbahayanya mereka itu.

Tapi, kali ini Cin Han mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, ia memainkan Hwie-liong-kiam-sut dengan baik dan cermat sehingga tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedangnya yang baru anginnya saja sudah sangat tajam mengiris kulit. Inilah kehebatan ilmu pedang ciptaan Beng San Siansu yang telah dimiliki Cin Han lebih dari tiga perempat bagian.

Pada saat itu terdengar suitan nyaring dan lima orang meloncat naik ke atas genteng. Seorang diantaranya yang bertubuh kecil ramping, langsung menerjang kepungan dan membantu Cin Han. Pedangnya berkelebat cepat dengan gerakan-gerakan aneh sehingga sebentar saja pengeroyok Cin Han menjadi kacau balau dan terbagi menjadi dua rombongan.

Cin Han melihat bahwa yang datang itu bukan lain adalah Ang Lian Lihiap, maka tidak terkira besarnya rasa girang dalam hatinya. Ia memperhebat gerakan pedangnya dan karena sekarang yang mengurungnya telah terbagi dua, gerakan pedangnya yang menyerang secara hebat akhirnya berhasil juga.

26. Habis Gelap Terbitlah Terang
Dengan tipu Naga Terbang Mengejar Mustika, Kong-hwa-kiam nya berkelebat dibarengi tendangan ke arah Hong Su, serangan ini hebat karena tipu gerakan pedang itu sudah sangat lihai dan berbahaya, ujung pedang meluncur maju mengarah dada orang dengan cepat dan sedikit terputar, ditambah lagi dengan tendangan yang dilakukan dengan ilmu tendangan Siauw-cut-wi, yakni tendangan berantai yang jika dapat dikelit lalu terus disusul dengan tendangan kaki lain bertubi-tubi dengan cepat dan berat.

Sungguhpun Hong Su dijuluki orang Bayangan Iblis dan sangat gesit gerakannya sehingga dapat juga ia mengelit tusukan pedang Cin Han, tapi pada gerakan tendangan ke tiga ia tidak sempat berkelit lagi sehingga pergelangan tangannya tertendang dan sebatang tombak cagaknya terpental ke atas.

Ia merasakan lengannya sakit sekali dan sebelum ia dapat meloncat pergi, ujung Kong-hwa-kiam telah menyambar dan membacok pundaknya! Si Bayangan Iblis, ketua Kwi-coa-pai menjerit ngeri dan ia jatuh menggelundung ke bawah dari atas genteng.

Empat kawan Lian Hwa yang ikut datang itu ternyata adalah Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek, Pek Siong Tosu, Ciu-san Kong Sin Ek dan Hwat Kong Hwesio suheng dari nona itu. Mereka berempat juga telah bertempur melawan tiga hwesio dan sebagian orang yang tadi mengeroyok Cin Han.

Tiba-tiba Kong Sin Ek berseru, “Saudara-saudara! Tahan dulu!” Semua orang yang sedang bertempur mendengar seruan yang keras sekali ini merasa heran dan menahan senjata masing-masing.

“Bukankah sam-wi suhu ini Sam Lojin dari Ki-lee?” tanya Kong Sin Ek kepada tiga hwesio yang tadi bertempur dengan kawan-kawannya.

Ketiga hwesio membalas bertanya, “Dan congsu bukankah Ciu-sian enghiong Kong Sin Ek?”

“Ha-ha! Kita bertempur melawan orang sendiri!” Si Dewa Arak berkata keras. “Tapi maaf, sam-wi suhu, mengapa sam-wi yang hidup penuh damai dan bahagia di kelenteng Kok-sin-bio, bisa sampai di sini dan membantu para anjing penjilat kaisar lalim ini?”

“Eh, congsu jangan sembarangan menuduh!” jawab seorang daripada tiga orang tua gagah dari Ki-lee itu. “Kami tidak ada hubungan dan tidak kenal dengan kaisar yang mana juga. Kami datang karena mendengar bahwa murid Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, yang disebut Ang Lian Lihiap, katanya melanjutkan keganasan suhunya dan mengumpulkan kawan-kawan untuk membasmi habis semua anggauta perkumpulan Kwi-coa-pai dan Pek-lian-kauw!

“Kami bertiga walaupun tidak ada hubungan dengan kedua perkumpulan ini, namun kami tidak bisa bersamadhi dengan hati tenteram mendengar bahwa orang-orang hendak mengandalkan kegagahan dan membasmi orang-orang lain bagaikan membunuh semut saja. Terpaksa kami turun tangan membela yang lemah dan tertindas sebagaimana telah menjadi tugas bersama yang mau menyebut diri orang-orang kang-ouw!”

“Ha-ha! Tidak salah kata orang bahwa kaisar lalim ini memang cerdik dan licin sekali. Sam-wi telah terbujuk orang. Perkumpulan Kwi-coa-pai dan Pek-lian-kauw bukanlah perkumpulan-perkumpulan bersih sebagaimana yang kebanyakan orang kira. Kedua perkumpulan ini telah makan suapan dan kini menjadi kaki tangan para dorna untuk memeras rakyat dan mengadu dombakan para enghiong di seluruh Tiongkok. Masih belum sadarkah sam-wi?”

“Tutup mulutmu yang kotor!” Tiba-tiba Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan meloncat maju dan memaki Kong Sin Ek. “Akulah anggauta Pek-lian-kauw. Jangan kau sembarangan memburukkan nama perkumpulanku dihadapan lain orang! Hinaanmu ini harus dibalas dan dicuci dengan darah. Tapi karena anggauta Pek-lian-kauw yang ada malam ini hanya aku seorang sedangkan di pihakmu banyak, maka aku mewakili Pek-lian-kauw untuk menantang kalian. Beranikah engkau dan kawan-kawanmu ini datang ke Gunung Hong-lai-san pada nanti musim chun malam ke limabelas untuk menentukan siapa diantara kita yang lebih unggul?”

“Baik, baik! Bagi kami mau sekarang boleh juga, kalau kau tidak berani sekarang, mau nanti malam ke limabelas bulan satu musim chun boleh saja. Kami pasti datang, tapi jangan kau main-main dan diam-diam meninggalkan tempat itu!”

Thio Lok mendengar sindiran ini merasa gemas sekali, tapi karena lawan demikian banyak dan semuanya lihai, ia hanya mengeluarkan suara jengekan dari hidung lalu memutar tubuhnya hendak pergi.

“Eh, eh, nanti dulu,” tiba-tiba Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa meloncat menghalangi jalannya. “Bukankah kau ini yang bernama Thio Lok dan bukankah benar seperti kata orang bahwa kau adalah murid dari Khai Sin Susiok?”

“Benar, aku adalah murid tunggal dari Khai Sin Tosu, apa hubungannya dengan kau?”

“Ah, mengapa begitu? Guruku Ong Lun adalah supekmu sendiri dan kau terhitung masih adik seperguruan dengan aku biarpun usiamu lebih tua.”

“Kau? Hm, siapa yang mempunyai saudara seperguruan dengan kau? Guruku pun tidak mempunyai murid keponakan macammu ini.”

“Kurang ajar! Mengapa Khai Sin Susiok mempunyai murid macam ini? Saudara, sekali lagi kuperingatkan bahwa kau bertindak salah sekali telah menjadi anggauta Pek-lian-kauw! Gurumu akan marah kalau tahu akan hal ini!”

“Ha-ha-ha!” tiba-tiba Thio Lok yang biasanya bermuka masam itu tertawa geli. “Guruku sendiri menjadi pengurus Pek-lian-kauw, masa ia akan marah? Ah, sudahlah, barangkali otakmu miring, seperti gurumu yang gila itu!”

Mendengar gurunya yang tercinta dimaki orang, naiklah darah Lian Hwa. Ia mencabut Sian-liong-kiam dan menusuk dengan cepat sekali kepada Thio Lok. Thio Lok menangkis dan mereka saling menyerang dengan sengit. Orang tua gagah dari Ki-lee yang paling tua meloncat untuk memisah mereka, tapi Ang Lian Lihiap membentaknya,

“Aku bertempur dengan sute sendiri, ada hubungan apa dengan kau?”

Terpaksa hwesio ini meloncat mundur. Lian Hwa maju lagi dan menyerang dengan menggunakan ilmu silatnya yang aneh. Biarpun kepandaian mereka didapat dari satu cabang, namun karena gerakan-gerakan Lian Hwa adalah ciptaan Ong Lun sehingga mengalami banyak perobahan serta mempunyai keistimewaan-keistimewaan tersendiri, maka sebentar saja Thio Lok terdesak hebat dan hanya dapat menangkis saja.

Pada jurus keduapuluh empat, tiba-tiba pedang Lian Hwa dapat melukai paha Thio Lok yang roboh tidak berdaya. Lian Hwa akan menyusul dengan satu tusukan mematikan, tapi tiba-tiba Hwat Kong Hwesio membentak,

“Sumoi, jangan!!” Dan Lian Hwa yang sudah biasa mentaati perintah suhengnya, mengurungkan tusukannya.

“Biarlah peristiwa ini akan dapat menyadarkanmu,” kata Hwat Kong dengan sabar kepada Thio Lok. “Karena, kalau betul kau murid Khai Sin Susiok, kaupun terhitung suteku sendiri.”

Thio Lok sambil memegang-megang pahanya yang berdarah, memandang mereka dengan benci dan marah. “Tak usah banyak cakap, kalau memang kalian berani, tidak perlu mengandalkan banyak tenaga untuk menghina seseorang, datanglah saja pada saat yang ditentukan di tempat kami!”

Hwat Khong Hwesio menghela napas. “Dasar kau mencari mampus sendiri.”

Sementara itu Kong Sin Ek menjura kepada ketiga Lojin dari Ki-lee itu. “Sam-wi, maafkan kami yang telah mengganggu malam ini. Harap saja sam-wi dapat insyaf bahwa sebenarnya sam-wi telah kena dibujuk orang. Nah, sampai ketemu lagi, sam-wi suhu.”

Kong Sin Ek dan kawan-kawannya, berikut Cin Han yang mendapat isyarat mata dari Lian Hwa supaya ikut meninggalkan tempat itu dan menuju ke kelenteng di luar kota. Ketika mereka sedang berjalan, Lian Hwa sengaja berjalan di sebelah Cin Han dan dengan perlahan dan halus berkata. “Cin Han twako, kau sudah memaafkan aku?”

Cin Han tersenyum. “Aku yang salah dan aku yang minta maaf padamu, Lian-moi.”

Lian Hwa diam saja dan mukanya menjadi merah. Kemudian, tiba-tiba ia bertanya, “Dia ada di mana, twako?”

“Dia…? Siapa…??”

“Siapa lagi? Tentu Coa-siocia kawan baikmu itu…”

“Oh… dia… dia kini menjadi anak Gan-siokhu.”

Kemudian dengan ringkas Cin Han menceritakan betapa sengsara keadaan Coa Giok Lie yang ditinggal mati oleh orang tuanya.

Fajar telah menyingsing ketika mereka tiba di kelenteng Khun-lim-bio yang diketuai oleh seorang hwesio kenalan Hwat Kong. Semua orang segera beristirahat. Pada sore harinya, setelah mengaso sehari, Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas mengundang semua kawan berkumpul di ruang belakang, yaitu di tempat berlatih silat, untuk diajak berunding.

Setelah semua orang duduk, Nyo Tiang Pek murid pendekar Kam Hong Tie ini sambil memandang wajah Cin Han berkata, “Cuwi sekalian, sekarang kita tidak perlu ragu-ragu lagi akan keadaan saudara Lo Cin Han yang tadinya mencurigakan. Ternyata ia benar-benar terkena tipu orang Kwi-coa-pai dan boleh dikata ia sehaluan dengan kita.”

Sambil berkata begini ia mengerling ke arah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa yang tahu arti kerlingan ini, maka dengan menggigit bibir ia berdiri membuat pengakuan.

“Saudara Cin Han. Biarlah dihadapan semua enghiong ini aku mengaku padamu bahwa sebenarnya akulah orangnya yang tadinya mencurigaimu, kukira kau… kau juga menjadi… pengkhianat!”

Cin Han memerah muka. “Ah, sudahlah jangan dipercakapkan lagi hal ini yang hanya membuat aku malu saja. Semua adalah salahku sendiri, mudah saja tertipu orang…”

“Kau benar, saudara Cin Han. Biarlah kali ini menjadi pelajaran dan menambah pengalamanmu agar lain kali jangan mudah terbujuk pula,” kata si Garuda Kuku Emas dengan suara tetap.

“Nah, sekarang, baiklah kita membicarakan tentang tantangan Thio Lok untuk datang ke sarang Pek-lian-kauw pada malam kelimabelas musim chun nanti.”

Kong Sin Ek berdiri dan berkata, “Aku pernah mendengar tentang bukit Hong-lai-san ini yang mempunyai banyak tempat-tempat yang dipasang jebakan dan rahasia sehingga menjadi tempat yang berbahaya, sekali. Tidak kusangka bahwa tempat ini telah digunakan oleh Pek-lian-kauw sebagai sarang pusat. Sebelum sampai saat tantangan itu, kurasa lebih baik kita pergi melakukan penyelidikan dulu.”

“Bagaimana kalau kita berenam pergi menyelidiki?” usul Pek Siong Tosu.

Nyo Tiang Pek biarpun masih muda tapi sudah banyak merantau dan ia berhati-hati sekali, maka mendengar usul Pek Siong Tosu ini ia menggeleng-gelengkan kepala. “Memang harus dilakukan penyelidikan, tetapi jangan semua pergi, hal ini kurang leluasa. Kita harus memilih seorang diantara kita yang cukup berkepandaian untuk pergi melakukan penyelidikan.”

“Ada satu hal yang penting juga,” Hwat Khong Hwesio berkata dengan suara sabar. “Bukankah pedang kebesaran dari kerajaan Beng-tiauw juga kabarnya terjatuh di tangan kaum Pek-lian-kauw? Kalau mungkin, sambil menyelidiki sarang mereka sekalian mencari pedang itu, karena pedang itu kalau berada di tangan mereka, dapat mereka gunakan untuk menipu dan membujuk para hohan untuk memihak mereka dengan mengatakan bahwa mereka berniat membangun kerajaan lama kembali dan merobohkan kerajaan Boan, padahal merekalah yang menjadi kaki tangan pemerintah Boan.”

Semua orang mengangguk-anggukkan kepala mendengar keterangan yang berharga dan penting ini.

“Tugas penyelidikan ini tidak ringan....” kata Nyo Tiang Pek.

“Siapakah yang pantas pergi?” tanya Kong Sin Ek.

“Bagaimana kalau aku pergi?” tiba-tiba terdengar suara Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa. Yang lain-lain saling memandang.

“Kepandaian lihiap aku yang tua sudah mengetahuinya. Lihiap paling tinggi kepandaiannya dalam hal ginkang hingga pekerjaan ini memang tepat sekali,” kata Kong Sin Ek.

“Tetapi sumoi kurang pengalaman,” bantah Hwat Khong Hwesio biarpun dia juga sudah yakin akan kelihaian sumoinya itu.

Pek Siong Tosu memegang-megang jenggotnya yang putih dan panjang. “Menurut pendapatku, memang Lihiap boleh dipercaya dan boleh diharapkan akan berhasil. Kurasa selain Lihiap atau Nyo-taihiap sendiri, tidak ada orang lain yang lebih cocok. Tapi Nyo-taihiap perlu mengumpulkan kawan-kawan lain untuk menghadapi Pek-lian-kauw karena pinto tahu betul betapa lihainya pengurus-pengurus Pek-lian-kauw, jangan dikatakan lagi ketuanya yaitu Bong Cu Sianjin!”

Cin Han dengan mata tajam memandang Nyo Tiang Pek. Dia maklum bahwa biarpun masih muda, orang she Nyo ini agaknya menjadi pemimpin golongan anti kaisar ini, dan orangnya pun sangat hati-hati.

Nyo Tiang Pek menghela napas dan memandang Lian Hwa. “Biarlah aku sendiri saja yang pergi melakukan penyelidikan.”

“Eh, mengapa? Kau tidak percaya padaku?” tegur Lian Hwa dan Cin Han mendengar Lian Hwa menyebut si Garuda Kuku Emas itu dengan “kau” saja, hatinya berdebar cemburu.

“Bukan tidak percaya, tetapi aku khawatir kau akan mendapat bencana.”

Cin Han melihat ujung bibir Hwat Khong Hwesio bergerak mengarah senyum. “Bagaimana kalau kalian berdua yang pergi? Yang seorang bertugas menyelidik dan yang Iain bertugas mencari pedang kerajaan.” Hwat Khong Hwesio mengusulkan.

Yang lain-lain hanya saling memandang dan kedua mata Lian Hwa memandang kepada Cin Han dengan mengandung pertanyaan mengapa pemuda itu berdiam diri saja.

Cin Han segera berdiri. “Kalau Lihiap pergi, Nyo-taihiap tidak tega sedangkan kalau Nyo-taihiap yang pergi, maka pekerjaan di sini terbengkelai. Maka, biarlah aku yang bodoh menawarkan diri untuk pergi melakukan kedua tugas itu.”

“Kau??” Hwat Khong Hwesio tidak tahan pula untuk tidak membuka mulut. “Saudara muda, jangan kau main-main, sarang Pek-lian-kauw itu berbahaya sekali dan kau masih begini muda.”

“Tapi lo-suhu tadi mendengar sendiri bahwa sumoi-mu dipilih, sedangkan menurut pandanganku, aku tidaklah lebih muda daripada Lihiap!”

Hwat Khong tersenyum mendengar jawaban kekanak-kanakan ini, dan dia hanya berkata, “Kalau dia lain lagi…”

“Akupun pernah mendengar nama Hwee-thian Kim-hong, dan agaknya sicu baru saja muncul di kalangan kang-ouw telah membuat nama besar, maka tentang kepandaian tidak perlu disangsikan lagi. Tapi, kuharap sicu berhati-hati, karena dalam hal ini lain lagi dengan jika kita menghadapi para bajak biasa saja. Pek-lian-kauw penuh orang-orang lihai dan sungguh berbahaya....” Kong Sin Ek memperingatkan. “Memang kalau Lihiap atau Nyo-taihiap aku lebih merasa tenang hati karena terus terang saja aku yang tua ini tunduk betul terhadap kepandaian mereka.”

Nyo Tiang Pek sendiri tidak berkata apa-apa, hanya ia memandang Cin Han dengan tajam seakan-akan hendak mengukur tenaga dan kepandaian orang, tapi Cin Han tampak lemah-lembut, lebih lagi karena pada saat itu dia telah memakai baju luar yang lebar, baju seorang sasterawan.

“Bagaimana pendapatmu, adikku?” akhirnya ia bertanya kepada Lian Hwa.

Gadis ini dengan tersenyum memandang wajah Cin Han lalu menjawab pertanyaan Nyo Tiang Pek. “Nyo-twako, kepandaianmu aku sudah tahu dan pernah pula kita mencoba tenaga. Tapi saudara Lo ini orang baru dan kita belum mengenal tentang kepandaiannya. Bagaimana kalau kau mencobanya lebih dulu untuk kemudian memutuskan apakah dia cukup kuat untuk dipercayai tugas berat ini?” Sambil berkata begini, ia memandang wajah Cin Han dengan mata lucu dan mulut tersenyum.

Cin Han mengerti bahwa gadis ini sedang mengeluarkan sifat nakalnya. Tapi diam-diam Cin Han makin tidak senang melihat betapa akrab agaknya hubungan antara Lian Hwa dengan Nyo Tiang Pek. Maka ia ingin mendapat kepastian dan mulai bersikap biasa terhadap Lian Hwa, yaitu ia tidak menyebut “lihiap” lagi, tetapi menyebut “adik” dan tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia telah lama kenal kepada gadis itu. Dengan tenang ia berkata,

“Sudahlah, adik Lian, mengapa kau hendak mempermainkan aku? Mana aku berani mencoba tenaga dengan Nyo-taihiap? Jangan-jangan aku akan terluka hebat dan lenyaplah harapanku untuk membantu kalian menyelidiki Pek-lian-kauw!”

“Eh, eh, siapa yang mempermainkan kau, Han-ko? Mereka ini belum tahu kelihaianmu, maka biarlah kau dicobanya agar semua mengerti sampai di mana tingkat kepandaianmu.”

Semua orang heran sekali melihat sikap dan mendengar pembicaraan mereka, lebih-lebih Hwat Khong Hwesio, ia memandang wajah sumoinya dengan mata terbelalak, sedangkan si Garuda Kuku Emas menekan perasaan hatinya yang tidak enak.

“Eh, sumoi, jadi kau sudah kenal baik dengan saudara Cin Han? Belum pernah kau ceritakan padaku sedikit juga tentang dia!”

Sumoinya tersenyum manis. “Sudah dua kali aku bertempur melawan Han twako! Dan kedua kalinya aku tidak berdaya sedikit juga. Yang pertama kali pedangku terampas, yang kedua kali ia melawan dengan tangan kosong.”

Semua orang memandang kepada gadis itu dengan mata menyatakan tidak percaya, sementara itu Cin Han memerah muka dan mencegah gadis itu mengobrol lebih lanjut.

Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa berdiri dan mencabut pedangnya. “Kalian tidak percaya? Nah, saksikanlah sendiri!” Kemudian ia meloncat ke tengah ruang bermain silat dan melambaikan tangannya kepada Cin Han. “Twako, hayo kita main-main.”

Cin Han memang sudah mendapat pikiran untuk memperlihatkan kepandaiannya agar tidak dipandang sebelah mata oleh semua hohan, juga ia melihat gerakan Lian Hwa demikian ringan dan gesit bagaikan seekor burung walet yang sesungguhnya jauh jika dibandingkan dengan dahulu, maka timbul kegembiraannya untuk mencoba-coba kepandaian gadis itu. Maka ia berdiri dan menjura kepada semua orang.

“Cuwi harap maafkan siauwte.” Dan orang tidak melihat ia membuat gerakan, tapi tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke depan Lian Hwa. “Moi-moi jangan melukai aku lagi,” katanya perlahan kepada Lian Hwa yang tiba-tiba tertusuk hatinya mendengar ucapan ini.

Melihat gadis itu seakan-akan tertampar mukanya dan kini kedua matanya menjadi merah, Cin Han merasa menyesal sekali mengapa ia mengingatkan kembali hal itu, maka buru-buru ia menyambung kata-katanya. “Maafkan mulutku yang lancang, lukaku dulu tidak berarti, hanya tergores sedikit di kulit pundak!”

Ang Lian Lihiap tersenyum manis dan menarik sekali dalam pandangan Cin Han, dan terdengar olehnya merdu sekali ketika gadis itu berkata, “Twako, selama hidup aku takkan dapat melupakan peristiwa itu, dan selama hidup aku takkan dapat memaafkan kebodohanku itu.”

“Tidak… tidak, moi-moi, aku hanya main-main.” Cin Han buru-buru berkata.

Lian Hwa tersenyum lagi dan berbisik, “Twako, kau memang berhati mulia.”

Sementara itu, semua orang yang ingin melihat sebuah pertempuran adu tenaga yang menarik, tentu saja heran sekali melihat mereka berdua hanya bercakap-cakap perlahan yang tidak terdengar oleh mereka.

“Eh, eh, ini mau adu tenaga atau adu lidah?” Kong Sin Ek berkata sambil tertawa.

Ang Lian Lihiap tersenyum lagi. “Awas, twako, perlihatkan kegesitanmu dan lawanlah aku dengan tangan kosong!” Lian Hwa lalu menggunakan Sian-liong-kiam di tangannya menyerang hebat.

Cin Han dengan cepat membuka dan melempar baju luarnya sehingga baju dalam yang terlukis burung Hong indah itu membuat ia tampak cakap dan gagah sekali. Serangan Lian Hwa dikelit cepat dan sebentar kemudian tidak nampak bayangan mereka, tergulung sinar pedang yang dimainkan oleh Lian Hwa secara hebat.

Sian-liong-kiam-hwat ciptaan Ong Lun sesungguhnya jarang tandingannya, tapi Cin Han yang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa serta otak yang cerdik sudah dapat menyelami ilmu pedang itu sehingga ia dapat berkelit sambil balas menyerang ke arah pergelangan tangan lawan untuk mencoba merampas pedang.

Namun Lian Hwa sekarang bukanlah Lian Hwa yang dulu ketika bertempur dengan dia di atas rumah Gan Keng Hiap. Ang Lian Lihiap yang sekarang sudah menerima latihan dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan.

Kini melihat Cin Han ternyata jauh lebih lihai daripada dulu, diam-diam ia kagum sekali, maka ia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang dipelajari dari Song Cu Ling, kedua kakinya seakan-akan tidak menginjak tanah lagi. Pedang di tangan kanan dimainkan dengan ilmu-ilmu paling lihai dari Ilmu Pedang Naga Dewa sedangkan tangan kirinya masih bergerak dipakai menotok jalan darah.

Biarpun Cin Han lihai, namun menghadapi serangan hebat ini, ia menjadi sibuk juga. Diam-diam ia terkejut dan berbareng kagum melihat kemajuan Lian Hwa.

Kini barulah Hwat Khong, Kong Sin Ek, Pek Siong Tosu, dan Nyo Tiang Pek sendiri tahu akan kehebatan pemuda itu dan diam-diam mereka menarik napas dalam, karena sedikitpun mereka tidak menyangka bahwa pemuda sekolahan yang kelihatan lemah-lembut itu ternyata demikian lihai.

27. Pedang Beng-tiauw di Sarang Musuh

Pada saat itu Lian Hwa menggunakan serangan dengan tipu Naga Dewa Sambar Harimau, pedangnya berkelebat menyerang dada Cin Han, ketika Cin Han berkelit dan membalas mengulur tangan kanan untuk mengetok lengan Lian Hwa supaya pedangnya terlepas, tiba-tiba Lian Hwa menggunakan jari tangan kiri menotok pundaknya. Hampir saja pundaknya tertotok, maka buru-buru ia meloncat ke belakang berjumpalitan tiga kali udara dan turun di tempat yang tiga tombak jauhnya dari gadis itu sambil tersenyum,

“Aduh!! Kau hebat sekali. Lian-moi! Aku menyerah kalah!”

Lian Hwa memasukkan pedang di sarung pedangnya, menggunakan ujung lengan baju menyusut keringat dari jidat dan berpaling kepada kawan-kawannya sambil tersenyum pula, “Nah, lihatlah! Tidakkah kepandaian Hwee-thian Kim-hong berada jauh di atas kepandaianku?”

“Lihai… lihai…” kata Hwat Khong yang masih terheran-heran.

“Hebat sekali. Aku tua bangka menjadi gatal tangan karena gembira. Hayo, sicu, layani aku sebentar, akupun ingin sekali merasakan sendiri kelihaianmu!” kata Kong Sin Ek sambil berdiri dan menghampiri Cin Han.

Cin Han tahu bahwa Kong Sin Ek si Dewa Arak ini mempunyai tenaga lweekang yang sempurna, maka untuk membuat orang tua ini tunduk, ia harus mengeluarkan tenaga dalamnya juga. Ia segera menjura dan berkata halus.

“Kong lo-enghiong sungguh membuat siauwte malu dengan pujian ini. Tapi siauwte tahu bahwa perkenalan akan menjadi makin erat setelah mengukur tenaga kawan, maka siauwte tentu tidak berani menolak permintaan lo-enghiong. Hanya hati-hatilah, jangan berlaku kejam terhadap siauwte!”

Kong Sin Ek tertawa bergelak-gelak. “Terhadap aku jangan sungkan-sungkan lagi, sicu, aku bukan orang luar. Hayo keluarkan pedangmu biar aku mencobanya.”

Orang she Kong ini melepaskan jubah luarnya dan sekali menyentakkan lengannya maka jubah itu meluncur merupakan sebatang toya keras! Inilah keistimewaan Kong Sin Ek yang dengan sebuah baju luar telah menjagoi berpuluh tahun lamanya!

Cin Han tahu bahwa jika ia menggunakan pedang, maka menghadapi senjata istimewa yang bisa menjadi keras dan dapat juga menjadi lemas itu ia hanya dapat melawan dengan serangan-serangan berbahaya yang dapat melukai lawan, maka ia tidak mau menggunakan pedang.

Sedangkan kalau bertangan kosong, biarpun belum tentu ia dapat dikalahkan, namun hal itu merupakan penghinaan terhadap orang tua gagah itu. Setelah berpikir sejenak, ia memungut baju luarnya yang tadinya dilemparkan ke sudut dan memegang baju itu pada ujungnya.

“Biarlah siauwte mencontoh perbuatan lo-enghiong dan mencoba-coba belajar atau memetik satu dua macam tipu pukulan lo-enghiong yang sudah terkenal kelihaiannya.”

Kong Sin Ek memandangnya dengan kagum karena ia dapat menerka bahwa pemuda itu tentu seorang ahli lweekeh juga, kalau tidak, tidak mungkin ia berani menggunakan baju itu sebagai senjata. Tetapi diam-diam ia merasa lebih unggul, karena baju luarnya terbuat daripada kain yang tebal dan kuat dan memang khusus dibuat untuk senjata, sedangkan baju luar pemuda itu terbuat daripada sutera tipis dan lemas!

Tetapi ia sebagai seorang jujur tidak dapat tinggal diam, lalu berkata, “Kau lihai, sicu, tapi apakah bajumu itu tidak terlalu tipis?”

“Biarlah, lo-enghiong, bukankah kita hanya main-main saja?”

Setelah saling menjura tanda hormat, Kong Sin Ek berseru, “Awas!” dan senjatanya yang luar biasa itu menyambar merupakan toya, menyabet ke arah pinggang Cin Han.

Pemuda ini mengebutkan bajunya yang juga menjadi keras untuk menangkis senjata lawan, tapi karena baju itu kalah keras, maka terpental. Tapi segera Cin Han merobah tenaganya sehingga baju itu menjadi lemas terus diputarkan mengait baju Kong Sin Ek, dibarengi tubuhnya meloncat ke atas melewati senjata lawan, terus menggunakan tenaga membetot!

Gerakan yang cepat dan tidak tersangka ini hampir saja berhasil dan Kong Sin Ek mengeluarkan seruan kaget. Belum pernah ia bertemu tandingan seperti ini. Tetapi ia sudah berpengalaman sehingga dapat berlaku tenang.

Ia segera mengatur tenaganya sehingga bajunya pun menjadi lemas dan baju Cin Han yang mengait dengan sendirinya lalu terlepas. Demikianlah, mereka saling serang dengan hebat, baju mereka sebentar menjadi toya, sebentar menjadi cambuk dan gerakan mereka mengeluarkan suara angin. Namun, Kong Sin Ek biarpun sudah mengeluarkan semua kepandaiannya, belum juga ia dapat mendesak Cin Han. Ia merasa penasaran dan heran sekali.

Kemudian Cin Han menggunakan kedua tangan memegang tengah-tengah bajunya dan kedua ujung baju ia mainkan sedemikian rupa sehingga merupakan permainan siang-kiam atau sepasang pedang yang hebat. Tentu saja Kong Sin Ek dapat pula bermain seperti ini, tapi karena gerakan-gerakan Cin Han sangat aneh dan tipu-tipunya tidak terduga perubahannya, sebentar saja ia terdesak mundur.

Cin Han mengalah dan mengendurkan serangannya, tapi Kong Sin Ek sudah merasa puas. Ia meloncat mundur dan berkata, “Ahh, memang kau pantas disebut Hwee-thian, Kim-hong, sicu. Gerakan-gerakanmu seperti burung Hong menyambar-nyambar saja. Aku sungguh kagum dan takluk.”

Cin Han buru-buru menjura, “Terima kasih, lo-enghiong. Kau orang tua sudah berlaku murah kepada yang muda dan sudah mengalah.”

Nyo Tiang Pek adalah murid Kang-lam Taihiap Kam Hong Tie yang tersohor kegagahannya. Maka diam-diam ia terkejut juga melihat kelihaian Cin Han dan berbareng merasa malu sendiri mengapa tadi mereka memandang rendah pemuda itu. Ia merasa gembira mendapat seorang kawan baru yang kosen ini, tapi sebagaimana halnya seorang ahli silat, hatinya belum puas kalau ia belum mencoba sendiri.

Maka ia meloncat ke depan Cin Han dan memegang lengan pemuda itu dengan tersenyum girang. “Ah, saudara Lo. Bukan main kau ini. Sikapmu lemah lembut seperti seorang kutu buku tulen, tapi tidak tahunya ilmu silatmu hebat sekali. Maaf, saudara Lo, tadi aku sendiri tidak memandang sebelah mata kepadamu. Kebodohan ini kuakui, harap kau maafkan.”

Melihat kejujuran ini, Cin Han pun merasa girang sekali dan membalas dengan ucapan kata-kata merendah.

“Bukan aku tidak percaya kepadamu, saudara Cin Han,” kata Nyo Tiang Pek, “tapi kau sungguh membuat aku kagum. Selama bertahun-tahun aku berkelana, menjelajah empat penjuru, belum pernah aku menemukan orang semuda kau dengan kepandaian setinggi ini. Aku tadinya merasa kagum sekali melihat Ang Lian Lihiap yang kuanggap masih terlampau muda untuk memiliki kepandaian setinggi yang dimilikinya, tapi kau ternyata lebih lihai, jauh melampaui dugaanku semula.”

“Ah, kau terlalu memuji, Nyo-taihiap.”

“Jangan menyebut aku taihiap, sebut saja twako, karena Lian-moi juga menyebutku demikian. Sudah sepatutnya karena aku lebih tua darimu. Saudaraku yang baik, kau ini murid siapakah?”

“Suhuku yang pertama adalan Gwat Liang Tojin.”

“O, ya?? Dia adalah kawan baik guruku,” kata Nyo Tiang Pek gembira.

“Juga suhuku itu suheng dari Ong Lun lo-enghiong almarhum,” kata Cin Han.

Lian Hwa memandang heran tetapi gadis itu diam saja. “Guruku kedua adalah Beng San Siansu.”

“Apa? Dewa pedang itu masih hidup?” tanya Pek Siong Tosu heran.

“Entahlah. Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan beliau,” jawab Cin Han terus terang. “Aku berguru kepadanya dengan perantaraan kitab.”

“Ah, pantas kau lihai sekali, saudara Lo. Menurut kata guruku Kam Hong Tie, Beng San Siansu tidak terlawan ilmu pedangnya dan guruku sendiri menganggapnya jago golongan tua yang lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Mari, saudara, puaskan hatiku yang ingin sekali melihat ilmu pedang ciptaan Beng San Siansu.”

Cin Han tidak sungkan-sungkan lagi, ia mencabut Kong-hwa-kiam dan menjura kepada mereka.

“Biar kita berdua main-main sebentar!” seru Nyo Tiang Pek gembira dan ia mencabut pedang Ceng-lun-kiam dari pinggangnya.

Kong Sin Ek dan Pek Siong Tojin juga merasa gembira sekali karena mereka tahu akan kelihaian ilmu pedang Nyo Tiang Pek. Mereka tahu, bahwa mereka akan menyaksikan dua macam ilmu pedang yang lihai dan jarang terlihat.

Kedua jago muda itu segera bersilat saling menyerang. Nyo Tiang Pek adalah murid Kam Hong Tie yang berilmu tinggi. Tentu saja kiam-hoatnya pun hebat dan tenaga dalamnya terlatih sempurna. Pula ia banyak pengalaman bertempur.

Tapi Cin Han pun bukanlah seorang ahli pedang biasa. Ia seorang pemuda yang telah digembleng oleh tangan ahli, bahkan telah mewarisi Ilmu Pedang Naga Terbang, sehingga ilmu pedangnya boleh dikata pada masa itu jarang mendapat lawan.

Pedang Ceng-lun-kiam di tangan Nyo Tiang Pek dapat diumpamakan seekor burung garuda menyambar-nyambar, mengeluarkan angin dingin dan gerakannya cepat sekali. Tapi pedang Kong-hwa-kiam di tangan Cin Han tidak kalah hebatnya, lembut dan indah bagaikan burung Hong terbang tapi cepat kuat dan ganas bagaikan naga sakti mengamuk!

Telah puluhan jurus mereka bersilat dan menurut pandangan orang-orang yang melihat mereka mengukur tenaga, ilmu pedang mereka sama kuatnya dan sama bagusnya, karena pedang Nyo Tiang Pek merupakan gulungan sinar hijau dan pedang Cin Han merupakan gulungan sinar putih.

Tetapi bagi Cin Han dan Tiang Pek sendiri, mereka diam-diam tahu sampai di mana keunggulan lawan. Cin Han maklum bahwa ia masih kalah sedikit dalam hal tenaga dan keuletan, tetapi Nyo Tiang Pek maklum bahwa ilmu pedangnya masih kalah jauh dari pemuda ini, dan jika Cin Han tidak berlaku mengalah, pasti ia mudah saja digulingkan!

Cin Han sendiri mengerti akan kelemahan-kelemahan ilmu pedang lawannya, tapi mengingat bahwa Nyo Tiang Pek adalah pendekar ternama dan pendiri atau pelopor gerakan perjuangan meruntuhkan pemerintah penjajah, mana ia tega untuk menjatuhkannya. Maka gerakan pedangnya lebih banyak bersifat menjaga diri daripada menyerang.

Tiba-tiba terdengar Nyo Tiang Pek tertawa dan ia meloncat mundur. “Sudah, sudah! Aku menyerah, saudara Lo! Benar kata suhu dulu bahwa Hwie-liong-kiam-sut ciptaan Beng San Siansu adalah nomor satu tingkatnya di dunia ini.”

“Ah, kau merendah, Nyo-twako. Tenaga dan ke uletanku masih kalah jauh,” jawab Cin Han merendah.

Nyo Tiang Pek makin suka melihat pemuda yang lihai ini ternyata pandai membawa diri dan tidak sombong karena kepandaiannya.

“Bagaimana, twako, kini kau mau memberikan tugas itu padanya atau tidak?” tanya Lian Hwa dengan wajah berseri.

Nyo Tiang Pek tersenyum. “Melihat kepandaiannya, sekarang ini selain dia tidak ada orang lain yang pantas melakukan tugas berat ini.”

Mereka lalu berunding dan Kong Sin Ek yang sudah agak kenal akan keadaan Bukit Hong-lai-san, memberi keterangan-keterangan dan nasihat-nasihat kepada Cin Han.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Han berangkat menuju ke sarang Pek-lian-kauw di bukit Hong-lai-san. Pada malam hari kedua sampailah ia di kaki bukit itu. Bukit Hong-lai-san adalah sebuah bukit kecil yang tertutup penuh oleh pohon siong tua dan di sana-sini tampak pohon liu yang melambai-lambaikan ranting karena tiupan angin. Pohon-pohon siong tua yang besar-besar pada malam hari itu tampak bagaikan raksasa-raksasa hitam berdiri megah di bawah sinar bulan purnama.

Cin Han memperkuat tali pengikat kaki dan pinggangnya. Ia membuka baju luarnya dan meloncat ke atas sebatang pohon besar untuk menyimpan bajunya itu. Ketika ia mau meloncat turun, tiba-tiba ia melihat sinar api di tempat jauh. Api itu bergerak-gerak dan ia dapat menduga bahwa itu tentu sebuah obor yang dipegang orang. Ia meloncat turun dan lari ke arah api yang dilihatnya dari atas pohon itu.

Ketika Cin Han melalui tempat yang agak gelap karena bayangan pohon tiba-tiba kakinya terlibat oleh sesuatu. Ia cepat meloncat ke samping, tetapi terlambat. Tali yang dipasang orang di jalan dan yang menyangkut kakinya itu telah tertarik dan bunyi hiruk-pikuk di balik pohon mengejutkan hatinya.

Dengan gesit Cin Han meloncat ke atas pohon. Tetapi pada saat itu juga datang anak panah berhamburan menyerang tempat ia berdiri tadi. Dan tak lama kemudian, datanglah dua orang berlari-lari dengan obor di tangan. Dua orang itu bertubuh tegap. Tangan kiri memegang obor dan tangan kanan memegang golok. Yang seorang adalah hwesio.

“Eh, Lo-sam, tidak ada bekas apa-apa di sini! Mengapa tali jerat tertarik?” tanya hwesio itu kepada kawannya.

Yang ditanya mengangkat pundak. “Sudah dua kali terjadi seperti ini. Kalau binatang yang melanggarnya, pasti bangkainya telah menggeletak di sini terkena anak panah. Tetapi di sini tiada bekas apa-apa! Hm, barangkali setan yang penasaran datang mengganggu bukit ini.”

“Jangan mengacau, kawan. Bukankah para Lo-suhu sudah memesan agar mulai sekarang kita harus menjaga bukit ini dengan hati-hati! Para pemberontak sudah berkumpul dan kabarnya nanti lain bulan malam ke limabelas mereka akan menyerbu ke sini! Siapa tahu malam ini mereka mengirimkan orang berkepandaian tinggi datang menyelidik!”

Orang yang disebut Lo-sam menengok ke sana ke mari dengan wajah takut, tetapi ia memberanikan hatinya dengan mengangkat obor tinggi-tinggi dan mengayun-ayunkan goloknya.

“Siapa orangnya berani memasuki tempat ini? Biar setan sekalipun, ia takkan dapat keluar dengan selamat. Pula, kawan-kawan kita menjaga gunung ini dari delapan penjuru. Tidak mungkin orang dapat masuk tanpa terlihat.”

Hwesio itu hendak menjawab, tetapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika tahu-tahu di dalam sinar obor tampak seorang pemuda berdiri di depan mereka! Entah dari mana datangnya dan sejak kapan sudah berada di situ! Sebelum ia dapat memperpanjang rasa kagetnya, jari tangan kiri Cin Han sudah menotok iganya, membuat ia jatuh dengan lemas dan tak bergerak lagi!

Lo-sam yang pandai juga bersilat, segera mengayunkan goloknya membacok, tetapi entah bagaimana, sekali bergerak saja pemuda itu telah merampas goloknya. Ia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali dan karena takutnya ia membuka mulut hendak berteriak.

Tapi “plok!” tangan Cin Han menampar tulang rahangnya dan mulut yang sudah terbuka itu tidak dapat tertutup pula, hanya “a-a-u-u!” seperti orang gagu! Cin Han memegang lengan Lo-sam sambil mengancam.

“Kalau ingin hidup, berilah keterangan sejelasnya kepadaku!” Kemudian ia menepuk pipi Lo-sam yang segera dapat menggerakkan mulutnya kembali, berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Jangan mencoba berteriak! Katakan padaku siapa yang berada di bukit ini dan mereka kini sedang berbuat apa.”

Lo-sam tahu bahwa pemuda ini tentu orang asing yang belum pernah datang ke situ, maka ia ingin menggunakan nama besar Pek-lian-kauw untuk menakut-nakuti.

“Ampun, hohan, saya hanya seorang penjaga dan peronda biasa. Bukit ini adalah milik perkumpulan Pek-lian-kauw yang besar. Pada saat ini para locianpwe sedang berpesta. Katanya orang-orang gagah dari selatan datang, juga para jagoan dari Kwie-coa-pai hadir. Harap hohan jangan mengganggu tempat ini, tinggalkan saja, karena kauw-cu kami bersahabat dengan orang-orang gagah di semua kalangan kang-ouw.”

“Jangan banyak ngobrol!” Cin Han membentak. “Jawab pertanyaanku dengan singkat. Di mana disimpannya pedang kerajaan Beng-tiauw?”

“Bagaimana saya bisa tahu, hohan? Saya hanya orang rendah, tak tahu apa-apa. Mungkin di gudang pusaka…”

“Nah, sekarang antar aku ke gudang pusaka itu.”

“Ampun, hohan. Ketahuilah bukit ini penjaganya berlapis sembilan. Saya dan suhu ini adalah penjaga pertama bagian timur. Naik ke atas, satu lie dari sini terdapat penjaga lapis kedua, demikian selanjutnya tiap satu lie ada penjaga sampai sembilan lapis! Maka tidak mungkin saya dapat mengantar hohan naik, karena saya tidak diperkenankan melewati penjaga lapis kedua yang tingkatnya lebih tinggi dari saya.”

“Tidak bohongkah kau?”

“Siauwte yang hina tidak berani membohong, hohan.”

Cin Han menggerakkan tangannya dan Lo-sam kena ditotok jalan darahnya. Seperti kawannya yang masih rebah di tanah, iapun jatuh tak berdaya. Biarpun pikiran dan perasaannya masih terang, tapi tidak kuasa menggerakkan tubuh atau mengeluarkan suara.

“Ingat, jika kalian tidak ditolong, dalam waktu dua belas jam kalian tentu akan mati. Tunggulah, aku pasti membebaskanmu jika keteranganmu tadi benar.”

Setelah berkata demikian, Cin Han lari ke atas dengan cepat dan hati-hati. Benar saja seperti keterangan Lo-sam tadi, kira-kira satu lie jauhnya ia maju, tampak orang-orang berjaga dengan obor di tangan. Tapi dengan mudah saja Cin Han dapat melewati mereka ini dengan jalan meloncat dari pohon ke pohon. Demikianpun pada tempat penjaga ketiga sampai kelima, ia dapat lewat dengan menggunakan ilmu lari cepat dan ringankan tubuh.

Tapi pada penjagaan keenam, ia mulai menghadapi kesulitan. Penjaga di bagian keenam ini adalah orang-orang anggauta Pek-lian-kauw sendiri yang terhitung golongan ahli silat. Di baju mereka terlukis gambar teratai putih dan kesemuanya memegang pedang. Di tiap penjuru terdapat tiga orang penjaga.

Cin Han berlaku amat hati-hati. Ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar dan dari situ mengintai ke bawah. Tiga orang penjaga berjalan hilir mudik sambil bercakap-cakap. Melihat sikap dan gerakan mereka, Cin Han tahu bahwa ia tidak dapat menggunakan kecepatannya seperti tadi untuk menerobos, karena banyak kemungkinan penjaga-penjaga itu akan melihatnya, pula setelah tiba di situ ternyata pohon-pohon mulai berkurang.

Kemudian ia mendapat akal. Tanpa mengeluarkan suara ia melompat ke bawah di bagian yang gelap dan agak jauh dari situ lalu memilih batu-batu kecil sebagai pengganti senjata rahasia. Kemudian ia naik lagi ke atas pohon tadi.

Ia mengayun tangannya dan seorang di antara yang tiga itu tiba-tiba berteriak dan jatuh tidak berdaya. Lehernya telah terpukul batu yang tepat menghantam jalan darah Koan-goan-hiat. Kedua kawannya meloncat ke samping dan ketika dua buah batu kecil menyambar ke arah mereka, mereka dapat mengelak dengan menggulingkan diri di atas tanah.

Cin Han mematahkan dahan pohon dan melempar itu jauh ke bawah. Kedua orang penjaga itu mendengar suara dahan jatuh segera memburu ke bawah pula. Kesempatan ini digunakan oleh Cin Han untuk menerobos naik melalui tempat penjaga yang kini telah kosong.

Tapi ia segera menghadapi penjagaan lapis ketujuh. Penjagaan mulai dari sini keras sekali. Tembok yang tingginya tidak kurang dari empat tombak mengelilingi puncak bukit. Dan di atas tembok tampak penjaga-penjaga dengan senjata di tangan berjalan hilir mudik.

Cin Han tidak melihat jalan masuk lain kecuali melompat naik ke tembok itu. Maka ia melompat ke atas dengan cepat. Baru saja kakinya menginjak tembok, lima buah senjata rahasia terbang menyambar kepala, leher, dada, pusar dan lututnya. Ia mengelak ke kiri sambil menggunakan sebelah kakinya menendang piauw yang paling bawah sehingga piauw itu terpental kembali ke arah penyerangnya. Tetapi penyerangnya dapat mengelak dengan mudah.

“Hai! Manusia dari mana berani lancang memasuki tempat penjagaanku?” Penjaga itu membentak sambil menyerang dengan sebuah tombak yang ada kaitannya.

Cin Han tidak menjawab, hanya berkelit ke samping dan sekali kakinya terayun tombak itu terlepas dari pegangan penjaga itu. Pada saat itu, tiga orang penjaga yang lain lari-lari mendatangi dengan golok dan pedang terangkat tinggi-tinggi. Cin Han tidak mau membuang-buang waktu maka dicabutnya Kong-hwa-kiam dan sekali putar saja, semua senjata pengepungnya terpotong.

Tentu saja musuh-musuhnya terkejut sekali. Cin Han meloncat ke sebelah dalam dan empat orang penjaga itu tidak berani mengejar karena sudah tidak bersenjata lagi, pula mereka harus mentaati perintah atasan. Penjaga di bukit Hong-lai-san diatur berlapis-lapis sampai sembilan lapis. Makin ke atas, penjagaan makin keras dan para penjaganya pun makin lihai. Mereka ini bertugas menghalang-halangi musuh yang menerjang masuk.

Jika musuh dapat melewati sebuah penjagaan, ini berarti musuh itu kepandaiannya lebih tinggi daripada para penjaga di bagian itu, maka akan sia-sia belaka jika mereka ini terus mengejar dan meninggalkan pos masing-masing. Mereka harus mendiamkan saja agar musuh itu dilawan oleh penjaga-penjaga berikutnya yang lebih kuat.

Sedangkan mereka harus bersiap untuk mencegat musuh itu kalau keluar nanti. Juga aturan ini diadakan untuk mencegah musuh menggunakan tipu “memancing harimau meninggalkan goa”. Dengan demikian, tiap pos penjagaan selalu tidak pernah ditinggalkan....

Selanjutnya,