X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Teratai Merah Jilid 07

Cerita Silat Mandarin serial Si Teratai Merah Jilid 07 karya Kho Ping Hoo

Si Teratai Merah Jilid 07

19. Jodoh Tidak Akan Kemana!
“Lopek, kau rupanya sakit. Masuklah dan mengasolah di dalam. Di luar dingin sekali.” Cin Han mempersilakan orang itu dengan suara kasihan.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Pengemis itu berpaling memandangnya dengan heran dan Cin Han tak terasa mundur dua tindak ketika melihat sinar mata orang itu yang tajam dan mengeluarkan cahaya kuat. Pengemis itu heran karena selama ia menjadi pengemis belum pernah ia menemukan seorang pemuda seramah ini.

“Terima kasih, kongcu. Terima kasih.” Suaranya gemetar dan tubuhnya lemas ketika ia melangkah masuk.

Cin Han memegang lengannya dan menuntunnya masuk. Karena paman dan bibinya agaknya sedang tidur siang, maka ia lalu mengambil guci arak dan mangkok, lalu menyuguhkan arak kepada orang tua itu. Tamunya dengan lahap sekali minum arak sampai tiga mangkok, baru wajahnya yang tadinya membiru tampak agak merah dan dinginnya berkurang.

“Terima kasih, kongcu. Kau sungguh baik. Jarang menemukan orang seperti kau pada jaman seburuk ini. Terima kasih.” Ia berdiri dan berjalan terseok-seok ke arah pintu.

“Tunggu dulu, lopek!” Cin Han lari ke kamarnya dan keluar lagi membawa seperangkat pakaian. “Ini, pakailah, lopek, lumayan untuk menahan dingin.”

Pengemis itu memandangnya tajam lalu mengulurkan tangan menerima pakaian itu. Tapi Cin Han merasa terkejut karena tekanan tangan yang menerima pakaian itu berat sekali, seakan-akan tangannya tertindih barang yang ribuan kati beratnya. Terpaksa ia mengerahkan tenaga lweekangnya untuk menjaga tekanan itu dan wajah pengemis itu berseri-seri, jidatnya tampak beberapa butir keringat. Agaknya ia telah terlampau banyak menggunakan tenaga dalam keadaan sakit.

Masih saja ia memandang wajah dan tubuh Cin Han dengan tajam, sambil bibirnya bergerak-gerak, “Inilah orangnya, tak salah lagi, inilah…” Dengan jari-jari gemetar ia mengeluarkan sebuah kitab lapuk dari dalam baju rombengnya.

“Inilah, kongcu. Terimalah kitab ini. Bukan kitab sembarang kitab, tapi sudah tak berguna bagiku, aku tua dan lemah tinggal menanti ajal. Kau masih muda, dasarmu baik, tubuhmu kuat, hatimu putih, pelajarilah kitab ini. Kelak kalau ada jodoh sampaikan hormatku yang terakhir kepada pencipta kitab ini dan katakan bahwa aku sudah cukup tersiksa, sudah cukup menderita, sudah cukup terhukum. Hanya kau seorang yang berjodoh memiliki kitab ini, aku sudah mencari berkeliling belasan tahun… terimalah…!”

“Tapi, lopek, siauwte tidak menghendaki upah atau balasan untuk perbuatanku tadi. Orang hidup sudah selayaknya tolong-menolong…”

“Nah, itulah, maka aku berikan kitab ini padamu. Kalau kau tidak suka, simpan saja, asal jangan sampai terjatuh ke dalam tangan orang lain. Kalau kau suka itu tandanya jodoh, boleh kau pelajari!”

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi pengemis itu keluar dari situ, dan Cin Han masih memegang kitab itu dengan tercengang. Ia heran ketika membaca huruf tertulis di luar kitab itu yang berbunyi:

“Hwie-liong-kiam-sut” Sebuah buku pelajaran Ilmu Silat Pedang Naga Terbang. Siapakah pengemis tadi? Darimana ia mendapatkan kitab ini? Cin Han memburu keluar, tapi pengemis itu sudah lenyap dari pandangan mata. Ia menghela napas. Banyak orang aneh di dunia ini. Kalau ia kagum dan heran melihat Ong Lun, si Manusia Aneh Pedang Dewa, kini ia heran pula melihat pengemis itu dan menduga bahwa pengemis itupun tentu seorang hiap-kek yang mengasingkan diri.

Ia memasuki kamarnya dan membalik-balik halaman kitab itu. Ternyata buku tebal itu memuat pelajaran ilmu silat dan pedang yang aneh sekali. Beberapa kali ia membaca kalimat pertama dan mencoba membayangkan gerakan-gerakan yang disebutkan di situ tapi ia masih belum mengerti.

Dengan tak sengaja ia membalik beberapa lembaran terakhir dan di situ terdapat gambar-gambar dan peta-peta untuk gerakan kaki dan tangan yang dilukis dengan teratur sekali. Hatinya mulai tertarik dan dibacanya sekali lagi kalimat pertama sambil mengukur dengan gambar. Kini mengertilah ia dan ia bersilat meniru pelajaran itu.

Hampir ia berteriak girang karena kitab itu menggandung sari pelajaran ilmu silat yang luar biasa. Gerakan-gerakannya aneh dan terdapat pecahan-pecahan dan gerak-gerak tipu yang menyesatkan lawan. Di belakang kitab itu tertulis nama penciptanya:

Beng San Siansu. Berdebar rasa hati Cin Han. Beng San Siansu? Pernah Gwat Liang Tojin, gurunya itu bercerita bahwa gurunya mempunyai seorang supek yang mengasingkan diri dan berilmu tinggi sekali. Dan orang suci itu ialah Beng San Siansu. Sayang supek itu tak mau menerima murid.

Jadi kitab yang dipegangnya ini ciptaan Beng San Siansu, kakek gurunya sendiri? Segera ia berlutut dan sambil memegang tinggi kitab itu ia berbisik, “Terima kasih, sukong, dan teecu akan menjunjung tinggi ilmu yang sukong ciptakan ini.”

Semenjak saat itu, Cin Han rajin mempelajari isi kitab dan berlatih silat dan pedang dari Hwie-liong-kiam-sut itu. Selama setahun ia belajar dengan rajin dan karena ia memang sudah mempunyai dasar yang dalam, pula gerakan-gerakan Hwie-liong-kiam-sut seakan-akan memperlengkap ilmu pedang yang telah dipelajarinya dari Gwat Liang Tojin, maka cepat ia dapat memainkan ilmu itu dengan sempurna.

Tanpa merasa, ia mendapat kemajuan pesat sekali, bahkan di kitab itu terdapat pelajaran-pelajaran mengatur napas dan memperdalam ilmu lweekang. Sudah tentu Cin Han seakan-akan merupakan harimau tumbuh sayap, kepandaiannya mencapai tingkat tinggi sekali di luar pengetahuan sendiri. Ia tidak insaf bahwa kepandaian kiam-sutnya sekarang tidak berada di sebelah bawah gurunya sendiri.

Kemudian, karena merasa rindu sekali kepada gurunya, ia minta ijin dari paman dan bibinya untuk pergi menengok Gwat Liang Tojin. Ketika ia sampai di Bukit Kong-hwa-san, dari jauh ia melihat suhunya berkelahi dikeroyok oleh dua orang hwesio.

Hwesio pertama bersenjata golok dan hwesio kedua bersenjata toya. Hwesio kedua tak berapa tinggi kepandaiannya, tapi hwesio yang memegang golok lihai sekali gerakan-gerakannya hingga Gwat Liang Tojin yang sudah tua tampak terdesak hebat dan berbahaya keadaannya. Cin Han berseru keras dan lari secepat terbang sambil menghunus pedangnya.

“Suhu, teecu datang membantu!” teriaknya dan pedangnya berkelebat menyambar hwesio yang bersenjata golok. Dua senjata beradu dan masing-masing terpental karena hebatnya tenaga kedua pihak.

“Hati-hati, Cin Han, goloknya lihai! Kau lawan yang ini saja!!”

“Biarlah, suhu. Bereskan yang satu itu, Teecu masih sanggup meladeni pemotong babi ini.”

Maka bertempurlah mereka dengan hebat. Mula-mula Cin Han menggunakan ilmu pedang Kong-hwa-kiam-sut yang ia pelajari dari Gwat Liang Tojin, tapi ia segera terdesak. Ilmu golok Pat-kwa-to-hwat dari hwesio itu sungguh lihai sekali.

“Ha, ha! Anak kecil yang masih bau tetek. Suhumu masih tidak kuat melawanku, apalagi kau. Sudah bosan hidupkah kau?” ejeknya dan goloknya bergerak makin cepat.

Cin Han teringat ilmu pedang Hwie-liong-kiam-sut yang belum lama dipelajarinya. Ia merobah gerakan pedangnya dan sekejap kemudian pedangnya berputaran dengan gerakan-gerakan aneh.

Hwesio itu terkejut. Dalam empat gebrakan saja pedang Cin Han sudah dapat menyambar ujung jubahnya dan membuat jubah itu robek. Ia berkelahi lebih hati-hati dan kini ia tak berani memandang ringan.

Sementara itu Gwat Liang Tojin sudah berhasil merobohkan lawannya yang bersenjata toya. Ia terburu-buru hendak menolong dan membantu muridnya, tapi ketika ia berpaling dan melihat jalannya pertempuran, hampir ia berseru kaget. Ternyata pedang Kong-hwa-kiam dimainkan sedemikian hebat dan aneh oleh muridnya hingga hwesio itu terdesak sekali dan lebih banyak menangkis dengan goloknya daripada menyerang! Bagaimana muridnya bisa selihai itu?

Diam-diam Gwat Liang Tojin mencurahkan perhatiannya dan memperhatikan gerakan-gerakan Cin Han. Ia makin heran dan terkejut, karena sepanjang ingatannya yang dapat bermain pedang seperti itu hanya supeknya Beng San Siansu.

Pada saat golok hwesio dibacokkan ke arah kepala Cin Han dalam gerakan tipu Harimau Putih Ulur Cakar, Cin Han memiringkan tubuh dan ketika golok itu bergerak dan diteruskan menusuk ke arah lehernya, ia memalangkan pedangnya dan menempel golok lawan.

Biasanya kalau dua senjata tajam sudah bertemu dan saling tempel demikian itu, kedua pihak lalu mengerahkan tenaga dan mengadu kekuatan lweekang untuk mempertahankan kedudukannya, siapa yang lebih kuat ia akan menang. Tapi dengan heran sekali Gwat Liang Tojin melihat betapa muridnya bahkan dengan seruan keras telah menggerakkan pedangnya menggeser golok sehingga memperdengarkan suara nyaring!

Golok dan pedang terlepas dan kedua senjata itu meluncur ke masing-masing lawan. Tapi Cin Han melanjutkan gerakannya yang aneh. Sambil meloncat ke kanan ia memutarkan pedangnya ke leher lawan dengan tak terduga dan cepat sekali. Hwesio itu berseru kaget tapi ia cukup gesit untuk mengangkat goloknya menangkis sekuat tenaga.

Ternyata gerakan Cin Han tadi ialah tipu Burung Dewa Pentang Sayap dan merupakan sebuah daripada banyak gerakan tipu dari ilmu silatnya. Pedangnya berhenti setengah jalan dan dengan gerakan Hwee-liong-pok-sim atau Naga Terbang Menyambar Hati tiba-tiba ujung pedangnya mengarah dada lawan!

Lawannya terkejut sekali dan memutarkan goloknya menangkis, tapi karena gerakan tangkisan ini dilakukan dalam keadaan terdesak sekali, maka lambung kanannya jadi terbuka. Saat itu digunakan dengan baik oleh Cin Han yang mengirim pukulan dengan tangan kiri. Buk!

Dan hwesio itu terpukul lambungnya oleh kepalan Cin Han. Sungguhpun ia masih berdiri karena bhesi kakinya sangat kuat, namun setelah menerima pukulan itu ia berteriak ngeri dan goloknya terlepas dari tangan. Tangan kirinya meraba lambung dan dari mulutnya mengalir darah segar!

Dalam marahnya Cin Han hendak menambahkan satu tusukan, tapi tiba-tiba Gwat Liang Tojin meloncat menepuk bahunya. “Sudah cukup muridku, jangan sembarangan membunuh orang.”

Kemudian ia berkata kepada hwesio yang masih berdiri merintih-rintih itu. “Kalian dari Pek-lian-kauw memang keterlaluan. Pinto sebenarnya belum pernah bermusuhan dengan kalian, tapi tanpa alasan dan tanpa tanya-tanya lebih dulu, kalian datang-datang menghendaki jiwa pinto. Nah, biarlah kali ini merupakan pelajaran bagi kalian dan lain kali jangan membikin ribut dan memusuhi orang yang tidak berdosa. Pergilah dan bawa temanmu itu!”

Hwesio itu menahan sakit, sepasang matanya memandang Gwat Liang Tojin lalu kepada Cin Han dengan marah dan gemas. “Biarlah lain waktu kita berjumpa pula!” Lalu dengan terhuyung-huyung ia menghampiri kawannya yang roboh merintih-rintih karena luka di pundaknya oleh Gwat Liang Tojin tadi, kemudian mereka berdua berjalan saling bergandengan dengan sukar menuruni Bukit Kong-hwa-san.

“Siapakah mereka itu, suhu?” tanya Cin Han.

Gwat Liang Tojin menghela napas. “Mereka adalah jagoan dari Pek-lian-kauw, pemain toya tadi adalah Bong Gwat Hwesio dan pemain golok yang lihai tadi adalah suhengnya bernama Bong Lam Hwesio. Mereka ini sebenarnya pengurus-pengurus yang berkedudukan tinggi dalam partai Go-bi, tapi entah mengapa mereka terpikat dan membela perkumpulan Pek-lian-kauw.”

“Tapi mengapa Pek-lian-kauw memusuhi suhu?”

“Ah, ini semua gara-gara Ong Lun, dari Pek-lian-kauw telah banyak anggauta dan jagoan yang tewas di tangan Ong Lun. Sekarang Ong Lun telah pergi mengasingkan diri entah di mana, mereka itu tak dapat mencari Ong Lun, maka karena mereka tahu bahwa aku adalah kakak angkat manusia aneh itu, mereka lalu datang menanyakan. Aku tidak tahu di mana tempat bertapa Ong Lun, tapi mereka tidak percaya bahkan lalu menyerangku, tentu dengan maksud agar Ong Lun mendengar tentang penyerangan ini dan keluar dari tempat persembunyiannya untuk membela dan menuntut balas.”

Sekali lagi Gwat Liang Tojin menghela napas. “Hampir saja maksud mereka membunuhku berhasil, tadi. Baiknya kau cepat-cepat datang, muridku. Tapi aku melihat gerakan ilmu pedangmu sangat aneh. Kalau tidak salah, itulah Hwie-liong-kiam-sut dari Beng San Supek.”

Cin Han cepat-cepat memberi hormat. “Maaf suhu, teecu tidak memberi tahu lebih dulu kepada suhu. Sebenarnya memang yang teecu mainkan untuk melawan Bong Lam Hwesio tadi adalah Hwie-liong-kiam-sut ciptaan Beng San Siansu.” Lalu dengan cepat ia menceritakan bagaimana ia mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang itu yang telah dipelajarinya selama setahun lebih.

Mendengar penuturan muridnya itu, Gwat Liang Tojin merasa girang sekali. Ia memegang pundak muridnya, “Sungguh kau beruntung, muridku. Beng San Supek selamanya tidak mau menerima murid. Maka sungguh kau berjodoh untuk memiliki ilmu Hwie-liong-kiam-sut yang mujijat itu.”

Cin Han senang mendengar kata-kata gurunya. Ia berdiam di atas bukit Kong-hwa-san kurang lebih setengah bulan, kemudian atas perintah suhunya yang hendak mulai merantau pula ke barat, ia pulang menuju ke rumah pamannya Gan Keng Hiap di Tiong-bie-kwan.

Dalam perjalanan pulang ini, Cin Han bertemu dengan seorang pemuda yang menarik perhatiannya. Pemuda itu berwajah tampan sekali dan sikapnya jenaka. Karena menuju ke satu jurusan maka Cin Han berkenalan dengan pemuda yang mengaku bernama Han Lian dari Kie-cu, Ciat-kang.

Setelah berkenalan mereka merasa saling cocok dan melanjutkan perjalanan bersama-sama. Cin Han mengaku seorang sasterawan karena melihat bahwa Han Lian juga seorang anak pelajar. Di tengah perjalanan mereka kemalaman di hutan dan bermalam dalam sebuah kelenteng tua dan digoda oleh dua orang nikouw cabul.

Baiknya Cin Han berlaku waspada dan dapat menolong kawannya serta membunuh kedua nikuow itu tanpa diketahui Han Lian bahwa semua itu dialah yang mengerjakan. Kemudian mereka berpisah dan pada malam berikutnya, ketika Cin Han sedang duduk membaca buku, ia mendengar suara kaki menginjak genteng rumah dengan ringan dan gesit sekali. Ia memadamkan lampu dan meloncat ke atas.

Ternyata yang berhadapan dengannya ialah… Han Lian, kawan seperjalanan itu yang kini sudah berubah menjadi seorang gadis cantik jelita bernama Han Lian Hwa seorang wanita gagah yang terkenal dengan sebutan Ang Lian Lihiap, si Teratai Merah.

Gadis ini disebut si Teratai Merah karena ia selalu memakai sebuah perhiasan rambut indah yang berbentuk setangkai teratai merah di kepalanya. Kedatangan gadis perkasa ini bermaksud membunuh Gan Keng Hiap, karena ternyata bahwa gadis ini bukan lain adalah murid tunggal dari Sin-kiam Koai-jin Ong Lun!

Tentu saja Cin Han membela pamannya dan dalam pertempuran yang hebat sekali akhirnya ia berhasil mengalahkan Ang Lian Lihiap. Karena jengkel dan gemas gadis itu hendak membunuh diri tapi dapat dicegah oleh Cin Han hingga gadis itu jatuh pingsan.

Kemudian Gan Keng Hiap dan isterinya menceritakan tentang asal dan sebab mengapa Ong Lun mempunyai dendam sakit hati kepada mereka. Mendengar penuturan mereka, hati Han Lian Hwa, menjadi tawar dan kecewa. Ia menganggap gurunya yang telah meninggal dunia itu keterlaluan. Maka ia meninggalkan tempat itu dengan sedih dan malu.

Ia malu kepada Cin Han, pemuda yang menarik hatinya itu. Sebelum berpisah dengan Cin Han, ia meloloskan teratai merah dari emas dan permata itu dari rambutnya dan membantingnya di depan Cin Han lalu pergi dengan cepat. Cin Han memanggil-manggilnya, tapi ia tak perduli, bahkan mempercepat tindakan kakinya.


Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa berlari cepat meninggalkan pemuda yang memanggil-manggilnya. Pemuda yang merebut hatinya, pemuda yang telah mengalahkannya, pemuda yang menggemaskan, yang ia benci tapi yang membuat ia mengucurkan air mata mendengar panggilannya!

Setelah berlari jauh, ia menetapkan hatinya yang menggelora. Ia penasaran sekali. Semenjak turun gunung dan ditinggal mati gurunya yang tercinta, Ong Lun taihiap, belum pernah ia mendapat malu dan dikalahkan orang.

Ia ingat pengalaman-pengalamannya ketika bersama-sama suhengnya, Hwat Kong Hwesio, menggemparkan kalangan kang-ouw dengan menjatuhkan banyak orang-orang pandai dan ahli-ahli silat ternama. Maka dengan cepat sekali nama Ang Lian Lihiap naik ke atas, dikagumi kawan disegani lawan.

Tapi sungguh tidak disangka bahwa ia harus jatuh dalam tangan Cin Han, pemuda yang dikiranya hanya seorang pelajar lemah, yang disangkanya hanya pandai dalam kesusasteraan saja itu! Memalukan sekali! Dan datangnya ke tempat Cin Han pun tidak mengandung maksud baik. Ia datang hendak membunuh Gan Keng Hiap, paman Cin Han yang ternyata seorang manis budi, lemah lembut dan berhati baik!

Ah, ia malu. Malu kepada Cin Han yang menjatuhkan, malu kepada Gan Keng Hiap dan nyonya karena ia datang hendak membunuhnya, dan malu kepada mendiang gurunya karena ternyata ia tak dapat melaksanakan pesannya terakhir. Demikianlah dengan hati sedih dan penasaran Han Lian Hwa berjalan terus, tak perduli ke mana sepasang kakinya membawanya.

Hari telah senja ketika ia memasuki sebuah kampung kecil. Tiba-tiba di luar kampung yang sunyi ia mendengar suara anak-anak tertawa. Ketika ia menengok, tampak dua orang anak-anak, seorang laki-laki seorang perempuan, tengah berkejar-kejaran. Anak lelaki itu membawa setangkai kembang yang dipegang tinggi di atas kepala dan anak perempuan itu mencoba merampasnya.

“Kembalikan kembangku!” kata anak perempuan itu marah.

“Coba ambillah!” anak laki-laki tertawa sambil lari dikejar oleh kawannya.

Mereka berkejar-kejaran mengitari pohon-pohon. Gerakan mereka cepat dan ringan sekali hingga diam-diam Lian Hwa terkejut. Tak disangkanya bahwa anak-anak itu mempunyai kepandaian ginkang yang istimewa. Ia memandang dengan kagum.

Ternyata anak perempuan itu kalah cepat dan tak berhasil merampas kembali kembangnya. Lalu ia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis. Lian Hwa merasa kasihan dan gemas kepada anak laki-laki yang menggoda itu. Ia meloncat mendekati dan berkata dengan suara keren kepada anak laki-laki itu,

“Hayo kembalikan kembangnya. Tak malu anak lelaki menggoda anak perempuan!”

Anak itu memandangnya. Ternyata ia adalah seorang anak laki-laki berumur kurang lebih tujuh tahun berwajah putih bundar tampan sekali, sepasang matanya seperti bintang pagi penuh kegembiraan dan kejenakaan.

“Aduh galak benar cici ini!” katanya. “Coba tolong kauambilkan kembang ini untuk Mei Ling!” tantangnya.

Han Lian Hwa menjadi gemas. Ia meloncat mengejar, tapi anak laki-laki itu melesat pergi dengan gesit. Terpaksa Lian Hwa menggunakan ginkang dan kesebatannya untuk menubruk dan mengulurkan tangan hendak menangkapnya.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara keras dan entah dari mana datangnya, seekor kerbau datang dan hendak menubruk anak laki-laki itu. Di belakang kerbau itu tampak banyak orang kampung mengejarnya sambil berteriak-teriak, “Kerbau gila! Kerbau gila!”

Anak laki-laki itu sudah hampir terpegang oleh Lian Hwa, tapi tiba-tiba ia berkelit ke kanan. Malang baginya, sebelah kakinya menginjak batu licin, maka tak terhindarkan lagi ia jatuh di atas rumput. Dan pada saat itu kerbau yang mengamuk telah datang dekat hendak menubruknya.

Lian Hwa terkejut. Secepat kilat ia menggeser kakinya dan ketika kerbau itu menurunkan kepala dan dengan mata merah hendak menanduk anak itu, Lian Hwa mengayunkan kakinya menendang ke arah kaki depan.

“Krak!” dan kerbau itu jatuh bersimpuh karena kaki depannya patah tulangnya. Ia menguak-uak serem dan Lian Hwa menjadi kasihan mendengar rintihannya, maka ia segera mencabut pedangnya dan mengirim satu tusukan ke arah belakang kaki depan yang menembus ke jantung binatang itu. Seketika itu juga kerbau gila itu mati.

Anak laki-laki biarpun baru saja terlepas dari bahaya maut namun tidak memperlihatkan wajah takut. Ia tertawa-tawa dan mengangkat tingi-tinggi ibu jarinya.

“Cici hebat, cici jempol!”

Setelah menerima kembali kembangnya, gadis cilik itu tertawa lagi, sepasang lesung pipit manis menghias pipinya kanan kiri. “Cici, hayo ke rumah kami,” katanya dengan suaranya yang merdu. Karena merasa senang melihat kedua anak itu dan dalam hati heran melihat anak-anak yang luar biasa dan bukan seperti anak kampung biasa ini, Lian Hwa menurut saja kedua tangannya digandeng oleh mereka dan ditarik pergi.

Mereka memasuki sebuah rumah gedung dan begitu melangkah ambang pintu, kedua anak itu berteriak-teriak, “Nenek! Nenek!! Keluarlah, ada cici datang…”

“A-mei…. A-kong…! Darimana kalian! Dan cici yang mana kalian maksudkan?” terdengar suara nyaring dari dalam. Belum habis suara menggema, orangnya tahu-tahu sudah berada di depan Lian Hwa, hingga gadis ini kagum sekali, melihat ginkang yang luar biasa ini.

20. Murid Dewi Tanpa Bayangan
Ternyata yang berdiri di depannya adalah seorang perempuan tua dan bongkok, tubuhnya kecil kurus dan rambutnya sudah putih semua. Kedua anak itu memeluk dan memegang lengannya. Ang Lian Lihiap maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang berilmu, maka segera menjura dalam-dalam untuk memberi hormat.

“Silakan duduk, nona.”

Dan tanpa diminta, kedua anak itu segera menceritakan pada neneknya tentang perebutan kembang dan betapa Lian Hwa menolong Kong Liang dari bahaya. Nenek itu memandang tajam kepada Lian Hwa.

“Siocia ini dapat merebut kembang dari tanganmu?” tanyanya kepada anak laki-laki itu.

“Tentu saja, nek. Ia cepat sekali, dan kalau saja nenek lihat betapa mudahnya ia menundukkan kerbau gila itu!” Ia Mengangkat jempolnya.

Neneknya makin memperhatikan Lian Hwa, lalu tiba-tiba ia minta kembang itu dari Mei Ling dan berkata kepada Lian Hwa. “Nona, cobalah kau ambil kembang ini dari tanganku,” dan ia mengangkat kembang itu tinggi-tinggi di atas kepala.

Tentu saja Han Lian Hwa heran sekali melihat lagak nenek ini. Gilakah ia? Ia hanya tersenyum saja dan tidak berani bergerak.

“Hayo cobalah, aku ingin melihat kegesitanmu,” kata nenek itu tidak sabar.

Maka mengertilah Lian Hwa akan maksud nenek itu. Karena ruangan itu lebar, maka ia lalu berdiri, dan setelah menjura dan berkata, “Maaf!” ia berkelebat untuk merampas kembang dari tangan nenek itu.

Tapi ia hanya melihat bayangan putih lewat secepat kilat disampingnya dan nenek itu lenyap dari pandangan matanya. Selagi ia bingung, tiba-tiba terdengar suara nenek itu di belakangnya, “Aku di sini, nona!”

Lian Hwa cepat memutar tubuhnya dan ia menubruk ke arah tangan yang memegang kembang itu, tapi sekali lagi ia kehilangan nenek itu yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya pula. Berkali-kali ia menubruk, untuk kesekian kalinya ia gagal. Dan yang terakhir sekali karena gemas, Lian Hwa menggunakan tenaga angin pukulannya memukul ke arah tangan yang memegang kembang agar kembang itu terlepas jatuh. Tapi ia hanya mendengar nenek itu berseru,

"Aya!” dan beberapa butir kelopak kembang rontok, ke bawah, tapi nenek itu menghilang lagi.

Lian Hwa cepat memutar tubuhnya, tapi ternyata nenek itu tidak ada di belakangnya. Ia menengok ke sana ke mari, tapi ternyata orang tua itu tidak tampak di situ. Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kong Liang dan Mei Ling tertawa-tawa gembira.

“Nenek, turunlah, nek!”

Dan Lian Hwa melihat nenek itu ternyata sedang enak-enak duduk di atas balok yang melintang di bawah langit-langit rumah dengan kembang masih di tangannya! Nenek tua itu menggerakkan tubuhnya dan melayang turun bagaikan sehelai daun kering. Han Lian Hwa tunduk betul-betul. Ah, tak disangkanya di dunia ini banyak orang pandai. Baru saja ia dikalahkan oleh Cin Han dan kini ia tak berdaya menghadapi seorang nenek tua yang bongkok!

Ia telah berlaku sombong dan jumawa, menyangka bahwa diri sendiri terpandai tiada lawannya. Ah, seperti seekor katak dalam sumur saja. Maka ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Maaf subo, teecu berlaku kurang ajar. Mohon subo sudi menerima teecu yang bodoh sebagai murid.”

Ia mengangguk-angguk beberapa kali. “Siocia, jangan merendahkan diri. Kepandaianmu sungguh hebat. Aku orang tua bodoh mana berani menganggap kau sebagai murid? Aku tak mempunyai kepandaian apa-apa.”

Tapi Han Lian Hwa tetap tak mau bangun. “Kalau subo tidak sudi menerima teecu sebagai murid, maka biarlah teecu terus berlutut di sini takkan berdiri lagi.”

Kedua anak itu tertawa cekikikan. “Ah, sungguh keras watakmu dan kuat kemauanmu. Jangan begitu nona, bangunlah.” Nenek itu menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat bangun kepada Lian Hwa.

Tapi Lian Hwa mengerahkan tenaganya dengan ilmu Benteng Besi Berakar ia membuat tubuhnya berat dan untuk dapat mengangkatnya membutuhkan tenaga ribuan kati! Tapi ketika nenek itu berkata sekali lagi. “Bangun!” tubuhnya terangkat juga dalam keadaan masih berlutut!

Kedua anak itu kagum dan bersorak gembira. Nenek tua menurunkan tubuh Lian Hwa dan menghela napas. “Apa boleh buat, biarlah kau belajar lagi satu atau dua macam kepandaian.”

Lian Hwa girang sekali, ia segera berdiri dan memeluk kedua anak kecil itu dengan gembira.

“Tapi sebelumnya kau harus menuturkan riwayatmu dan siapa gurumu, jangan sekali-kali kau bohong,” kata nenek itu dengan suara keren.

Han Lian Hwa lalu menceritakan riwayatnya. Ketika mendengar bahwa ia adalah murid tunggal Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, nenek itu mengangguk-angguk.

“Tak heran kau begini lihai, tak tahunya, kau murid orang aneh itu. Dalam hal ilmu pedang aku tidak dapat mendidikmu, barangkali aku masih harus menerima petunjukmu. Tapi kurasa Ong Lun belum tentu dapat mengalahkan aku dalam ilmu ginkang dan lweekang. Biarlah kau perdalam kedua ilmu ini di sini.”

Dan Ang Lian Lihiap menghaturkan terima kasih dengan girang sekali. Belakangan ia mendengar bahwa gurunya yang baru ini adalah seorang lihiap-kek yang pada puluhan tahun yang lalu telah membuat nama besar dan tidak kalah terkenalnya oleh Ong Lun si Manusia Aneh. Tapi nasibnya buruk sekali karena suaminya meninggal dunia ketika ia mempunyai seorang anak laki-laki.

Wanita gagah ini, yang bernama Song Cu Ling dan dijuluki orang Dewi Tanpa Bayangan, mendidik puteranya hingga menjadi seorang ahli silat pula. Tapi, dasar nasib Dewi Tanpa Bayangan sangat buruk, anak lelaki inipun meninggal dunia karena penyakit menular, demikianpun anak menantunya. Mereka ini meninggalkan sepasang anak kembar, ialah Kong Liang dan Mei Ling.

Tentu saja Song Cu Ling yang sudah menjadi nenek merasa sedih sekali, dan ia mendidik kedua cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya ia mengasingkan diri di kampung kecil itu, hanya bercita-cita untuk menggunakan sisa hidupnya yang tak seberapa lama lagi untuk mendidik kedua cucunya dengan ilmu silat yang tinggi.

Karena memang telah mempunyai dasar ilmu silat yang lihai, ditambah otaknya yang cerdik dan kerajinannya yang luar biasa dalam waktu tiga bulan saja ginkang dan lweekang Lian Hwa sudah maju pesat sekali.

“Muridku,“ kata Dewi Tanpa Bayangan pada suatu hari, “terus terang saja, kini semua dasar ilmu ginkang dan lweekang telah kau pelajari semua, tinggal kau latih saja dan kau perdalam dengan penuh kerajinan. Aku tak mempunyai kepandaian apa-apa lagi untuk diajarkan padamu. Tapi dua kepandaian itu, biarpun kau menghadapi lawan yang kepandaian silatnya lebih tinggi, kiranya cukup untuk kau gunakan sebagai pelindung karena kegesitan dan tenaga dalam yang sempurna menambah keuletanmu. Kau takkan mudah dijatuhkan lawan, betapa tinggipun kepandaian lawan itu. Syarat satu-satunya ialah, berlatih terus dengan rajin.”

Han Lian Hwa berlutut dan dengan suara pilu berkata, “Subo, jika boleh, ijinkanlah teecu tinggal lebih lama bersama-sama subo dan kedua adik ini karena teecu juga seorang sebatang kara, dan teecu sayang sekali kepada adik Kong Liang dan Mei Ling.”

Song Cu Ling tersenyum sedih dan menggeleng-gelengkan kepala. “Kau masih muda dan tugas hidupmu masih luas. Biarpun kau hanya seorang wanita, tetapi tenagamu sangat dibutuhkan oleh rakyat dalam keadaan sekacau ini. Bantulah mereka yang sengsara dan mereka yang tertindas, karena mereka ini membutuhkan bantuan orang-orang kuat seperti kau, muridku.”

Karena pendirian nenek itu sudah tetap, terpaksa dengan sedih Lian Hwa berpamit setelah lebih dulu memeluk dan menciumi kedua anak yang mungil itu. Di kelak kemudian hari si kembar ini akan menjadi sepasang hiap-kek yang menggemparkan dunia persilatan.


Pada zaman itu, kaisar yang menduduki singgasana dan memerintah daratan Tiongkok, keturunan Boan, telah beberapa kali diserbu oleh orang-orang gagah, hohan-hohan yang berjiwa patriot dan yang ingin membangun kembali pemerintahan sendiri. Maka kaisar yang cerdik itu lalu menggunakan siasat mengadu domba.

Ia menyebarkan para durna untuk mengobral uang perak dan emas menyogok sana-sini mengumpulkan orang-orang gagah dan mengadu partai itu, sehingga di antara jagoan-jagoan di dunia persilatan terpecah dua, yakni golongan yang anti kaisar dan golongan yang pro kaisar. Golongan yang pro kaisar mendapat pangkat dan kekayaan serta diberi julukan “pahlawan” dan “pengawal”.

Dengan tipu muslihat yang licin, kaisar berhasil memecah belah persatuan kalangan kang-ouw. Di antara orang-orang yang menjadi pengawalnya, terdapat pula gerombolan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) dan Kwi-coa-pai (Perkumpulan Ular Setan). Pek-lian-kauw dipimpin oleh seorang hwesio bergelar Bong Cu Sianjin, sedangkan Kwi-coa-pai dipimpin oleh Kwie-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis.

Dengan adanya dua perkumpulan yang dipimpin oleh dua orang yang berilmu tinggi ini, maka kedudukan golongan yang pro kaisar sangat kuat dan membantu para durna dan pembesar keparat bertindak sewenang-wenang dan memeras rakyat jelata.

Semenjak pertemuannya dengan Han Lian Hwa yang lari dan hanya meninggalkan bunga teratai merah dari emas, Cin Han merasa seakan-akan hatinya ikut terbawa oleh gadis itu. Ia merasa hidupnya sunyi dan menjadi tidak kerasan lagi tinggal di rumah pamannya. Tiap hari ia termenung sambil memandang teratai emas berwarna merah yang sering ia pegang-pegang.

Ke manakah perginya nona gagah perkasa yang ia kagumi itu? Ia kagum dan tertarik sekali melihat kehebatan sepak terjang, kegagahan dan kecantikan Ang Lian Lihiap. Ia rindu sekali kepada pendekar wanita itu dan makin mendalam perasaannya kalau ia teringat betapa ia hidup sebatang kara dan kesunyian meliputi kehidupannya.

Sebulan kemudian, ia tidak dapat menahan lagi gelora perasaannya yang tertekan. Maka ia memaksa diri berpamit kepada Gan Keng Hiap suami-isteri untuk pergi merantau. Tadinya paman dan bibinya sangat menahan kehendaknya ini, bahkan bibinya menangis dengan sedih. Tapi Cin Han berkata,

“Telah, bertahun-tahun saya menerima budi dan pelajaran yang sangat berharga dari paman dan bibi, maka biar sampai mati saya takkan dapat melupakan budi ini. Sesungguhnya saya senang sekali tinggal di sini dengan paman berdua, tapi sebagaimana pesan suhu pada saya setelah saya tamat belajar kesusasteraan dari siok-hu, saya harus dapat mempergunakan tenaga dan kepandaian saya untuk rakyat. Apa artinya memiliki kepandaian kalau kepandaian itu tidak digunakan?”

Gan Keng Hiap menarik napas dalam. Ia teringat akan keadaan sendiri. “Kau betul, Han. Memang kalau dipikir-pikir, aku telah bertahun-tahun dengan susah payah belajar kesusasteraan, menempuh ujian dan menjadi seorang sasterawan dan sekarang aku hanya diam saja tidak mempergunakan pengertian dan kepandaianku itu, seakan-akan aku telah mengubur semua itu.

"Akan tetapi, lihatlah anakku. Lihatlah apa yang dikerjakan oleh orang-orang terpelajar itu? Mereka merebut kedudukan tinggi dan kepandaiannya menulis hanya digunakan semata-mata untuk dua macam maksud rendah.

“Pertama, mereka menggunakan kepandaian menulis surat permohonan sebaik-baiknya untuk menjilat-jilat dan mengambil hati para pembesar atasan. Kedua, mereka menggunakan kepandaian menulis fitnah sejahat-jahatnya untuk mencelakakan rakyat dan orang-orang yang mereka peras. Inilah sebabnya maka aku lebih suka bersembunyi menjadi seorang yang tidak mempunyai guna…” Kembali orang tua terpelajar ini menghela napas.

“Tapi Cin Han lain lagi keadaannya," menyambung isterinya, “ia seorang pemuda bun-bu-coan-jai yang ahli dalam ilmu silat dan ilmu surat.”

Gan Keng Hiap mengangguk-anggukkan kepala. “Memang demikian. Cin Han memang sudah sepatutnya meluaskan pengalaman dan menggunakan dua macam kepandaian itu untuk berbakti kepada rakyat kita. Biarpun kami sangat berat melepasmu, Han, tapi demi kepentinganmu sendiri, terpaksa kami memberi persetujuan akan maksud merantau ini. Hanya pesanku, anakku, janganlah kau lupakan kami orang-orang tua ini...”

“Dan hati-hatilah, Han jaga dirimu baik-baik…” pesan bibinya.

Cin Han sangat terharu akan kebaikan hati kedua orang tua itu. Maka ketika ia meninggalkan mereka, mau tidak mau ia merasa sedih juga. Pada suatu hari, dalam perantauannya, Cin Han tiba di kota Hun-kap-teng. Kota ini ramai, toko berderet-deret dan beberapa rumah penginapan besar merangkap rumah makan berdiri gagah di pingggir jalan raya.

Cin Han senang sekali melihat keadaan kota yang bersih dan makmur itu. Sambil menikmati pemandangan toko-toko di kanan kiri jalan, Cin Han menuju ke sebuah rumah penginapan yang mewah.

“Selamat siang kongcu,” seorang pelayan menyambut dengan senyumnya. “Kongcu membutuhkan kamar? Kami mempunyai beberapa kamar kosong yang indah.”

Cin Han mengangguk senang kepada pelayan yang peramah itu. Tapi sebelum memilih kamar, ia diharuskan memasuki kantor dulu, dan pengurus kantor ternyata tidak seramah pelayan tadi.

“Kongcu bernama siapa, datang dari mana dan hendak ke mana? Apa maksud kedatangan ke kota ini?”

Cin Han mengerutkan kening sambil memandang wajah pengurus hotel yang kurang ajar itu. Ternyata pengurus itu lebih menyerupai seorang jagoan. Tubuhnya tinggi besar, pakaiannya seperti seorang jago silat dan sebatang golok tergantung di dinding belakang mejanya. Tapi pada saat Cin Han memandangnya, ia tengah tunduk memandang buku catatan dan tak memperhatikan tamunya, seakan-akan pertanyaannya tadi keluar dengan begitu saja dari mulutnya.

“Apa artinya ini?” tanya Cin Han. “Aku datang hendak menyewa kamar bukan seorang pencuri ayam yang datang membuat pengakuan!”

Pengurus, hotel itu menggerakkan kepalanya yang besar dan memandang tamunya dengan heran. Ia tidak menyangka akan ada orang seberani itu. “Hemm, kongcu orang luar daerah ini, ya? Ketahuilah, semua tamu yang memasuki kota ini harus mendaftarkan nama dan alamat lebih dulu. Kalau tidak, bukan hanya mendapat kamar, tapi bahkan ada kemungkinan ditangkap!”

“Apa? Ditangkap? Kenapa dan oleh siapa?”

Pengurus tinggi besar itu menjadi marah. Ia berdiri dengan mengepal tinju lalu bentaknya keras, “Jangan banyak tanya! Beritahukan nama dan jawaban semua pertanyaanku tadi, kalau tidak, pergi saja dari sini!”

Tentu saja Cin Han tidak dapat menahan panas hatinya mendengar dampratan ini. Ia bertolak pinggang dan memandang tajam. “Hmm, kau ini bangsa perampok atau pengurus hotel? Pangkatmu apa maka begitu galak dan sombong? Rumah ini dibangun untuk penginapan umum, dan tuan besarmu datang menginap bukannya tidak bayar uang sewa. Sekarang aku tidak sudi menjawab pertanyaanmu dan tidak sudi pergi, habis kau mau apa?” tantangnya dengan gemas.

Pengurus itu marah sekali. “Bangsat kurang ajar! Kau minta dihajar!” Ia mengangkat kepalan tangannya yang sebesar buah kelapa muda itu dan mengayunkan ke arah pipi Cin Han.

Tapi pemuda itu hanya memiringkan kepala dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke arah siku orang yang memukul itu. Terdengar jerit kesakitan dan lengan kanan orang tinggi besar itu menjadi lumpuh, tergantung tidak berdaya di sisi tubuhnya! Ternyata sambungan siku orang itu telah terlepas.

“Bagus sekali!” tiba-tiba terdengar seruan seorang tinggi besar bercambang bauk yang memasuki ruangan itu. “Siapa berani mengacau di sini?” Dan tanpa bertanya lagi ia menyerang Cin Han dari belakang.

Cin Han mendengar sambaran angin pukulan yang hebat juga itu berlaku gesit. Ia meloncat ke samping dan memutar tubuhnya. Si tinggi besar yang sudah maju lagi hendak mengulangi serangannya, tiba-tiba berdiri dan berseru dengan girang.

“Eh, eh, tidak tahunya Hwee-thian Kim-hong yang berada di sini! Selamat datang, selamat datang, sobatku!”

Cin Han memperhatikan orang tinggi besar bercambang bauk itu. Akhirnya ia teringat juga. Ternyata ia adalah Lie Thung si Iblis Sungai Yang-ce dari kampung Kwan-lian-chung yang dulu menjadi kepala bajak dan pernah mencegatnya. “Eh, kaukah ini, Lie-tai-ong?”

“Hush, jangar menyebut tai-ong (raja, sebutan kepala bajak) lagi padaku. Aku telah mencuci tangan dan menjadi orang baik-baik,” katanya tersenyum dan menarik tangan Cin Han diajak duduk di kursi dekat meja di sudut.

Pelayan yang terlepas sambungan sikunya tadi mendekati mereka dan berkata sambil menyeringai kesakitan. “Maafkan saya, Kongcu, saya tidak tahu bahwa kongcu adalah sahabat dari Lie-taihiap.”

Lie Thung memandangnya marah, lalu berdiri dan dengan beberapa ketukan dan usapan ia memulihkan tulang siku pelayan itu. “Nah, biar pengalaman tadi menjadi pelajaran bagimu agar matamu lebih terbuka dan dapat melihat barang aseli atau tiruan. Pergilah dan sediakan hidangan untuk Lo enghiong ini.”

Cin Han merasa senang melihat keadaan Lie Thung yang tampaknya benar-benar telah mencuci tangan dari pekerjaannya membajak. Ia lalu bertanya tentang pekerjaan Lie Thung. Bekas kepala bajak itu tertawa senang.

“Pekerjaanku? Ah, aku menjadi anggauta perkumpulan pembasmi orang jahat. Aku menebus dosaku yang sudah-sudah dan belajar menjadi seorang patriot pembela negara dan rakyat dengan jalan membantu memusnahkan orang-orang jahat dan berbahaya.”

“He! Ada perkumpulan seperti itu di sini? Ah, hebat sekali.” Cin Han berseru kagum, lalu dia menanyakan lebih lanjut.

Dengan panjang lebar Lie Thung menceritakan tentang perkumpulannya. “Perkumpulanku bernama Kwi-coa-pai dan mempunyai sejumlah anggauta yang hanya terdiri dari orang-orang gagah di seluruh propinsi Tiongkok. Bengcu kami adalah seorang yang gagah perkasa dan jarang ada tandingannya di jaman ini. Kau belum mendapat kamar? Jangan sibuk, kawan, mari ikut aku ke tempat kami, di sana kami menyediakan banyak kamar dan tempat bagi kawan-kawan dan orang-orang gagah seperti kau.”

“Ah, biarlah Lie-twako, jangan bikin repot saja.” Cin Han mencegah, tetapi di dalam hati dia sangat kagum melihat kejujuran dan keramahtamahan bekas raja bajak ini.

“Tentu saja aku tidak berani memaksamu. Tapi kebetulan malam ini bengcu kami merayakan hari she-jitnya yang kelimapuluh delapan, maka di sana diadakan sedikit perayaan. Dan kini semua hohan ternama telah berkumpul di sana. Kau yang masih muda ini apakah tidak ingin menggunakan kesempatan ini untuk berjumpa dan berkenalan dengan mereka?”

Cin Han berpikir bahwa memang ini kesempatan yang baik untuk meluaskan pengalaman dan melihat serta berkenalan dengan orang-orang gagah, maka ia akhirnya menyetujui dan menerima ajakan Lie Thung.

Sementara itu, pengurus rumah penginapan itu sudah datang pula dengan diikuti beberapa orang pelayan membawa bermacam-macam hidangan dan si pengurus sendiri mengatur hidangan di atas meja. Cin Han heran juga melihat betapa Lie Thung agaknya berpengaruh di kota itu, maka sambil makan ia memandang bekas bajak ini dengan curiga. Agaknya Lie Thung tahu bahwa dirinya dicurigai kawan barunya, maka sambil menyumpit sepotong daging yang dimasukkan ke mulut dan dikunyah dengan nikmatnya, ia berkata,

“Saudara Lo, aku tadi lupa memberitahukan kepadamu bahwa rumah penginapan dan rumah makan ini, seperti halnya dengan beberapa buah rumah penginapan besar yang lain di kota ini, semua adalah milik perkumpulan kami. Dan ketahuilah, sebuah dari pada tugas-tugasku ialah sebagai pengawas rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan ini.”

Cin Han mengangguk-anggukkan kepala. Ah, demikian kayakah Perkumpulan Ular Setan (Kwi-coa-pai) ini? Diam-diam ia makin kagum saja.

“Ketahuilah, saudaraku, perkumpulan kami karena tugasnya melindungi rakyat dan penduduk kota, maka banyak orang bersimpati dan memberi sumbangan besar sehingga kami tidak merasa khawatir akan keadaan kas perkumpulan kami.”

Sehabis makan maka Cin Han ikut Lie Thung menuju ke tempat perkumpulan Kwi-coa-pai. Ternyata tempat itu merupakan sebuah gedung yang besar sekali sehingga Cin Han ragu-ragu dan terkejut.

“Kau kagum, kawan?” kata Lie Thung bangga. “Jangan kaget, memang gedung ini bekas milik Pangeran Goei Tek Kong yang karena jasa-jasa perkumpulan kami lalu diserahkan kepada kami. Kini ditinggali oleh bengcu kami dan orang-orang gagah luar daerah yang datang ke kota ini dipersilakan bermalam di sini.”

Gedung besar dan mewah itu terletak di pinggir kota dan di depan gedung terdapat taman bunga yang luas dan mempunyai sebuah telaga kecil penuh bunga teratai. Memang indah sekali gedung itu dan di atas pintu gerbang terdapat papan nama dengan tulisan gagah: “Kwi Coa Pai”.

Ketika mereka berdua memasuki pintu gerbang, ternyata dalam gedung sudah berkumpul banyak sekali orang. Mereka adalah orang gagah yang menjadi anggauta atau sahabat-sahabat baik anggauta perkumpulan itu.

Para anggauta Kwi-coa-pai, seperti juga Lie Thung, dapat dilihat dan dibedakan dengan adanya sebuah sabuk pinggang bergambar ular hitam yang diikatkan di pinggang masing-masing. Tadinya Cin Han tidak memperhatikan sabuk yang melilit pinggang Lie Thung, tapi setelah melihat banyak orang memakainya, maka mengertilah ia.

Semua orang yang duduk berkumpul di satu ruangan tampaknya orang-orang yang ahli dalam ilmu silat, karena bentuk-bentuk badan mereka yang kuat, mata yang tajam dan gerak-gerik yang gesit. Banyak mata memandang ke arah Cin Han ketika ia memasuki ruangan itu mengikuti Lie Thung. Ia langsung dibawa ke sebuah meja bundar besar di mana duduk berkumpul beberapa orang tua dan terpisah dari yang lain-lain.

21. Tamu Kehormatan Penjilat Kaisar Lalim
Seorang tua yang duduk di tengah memakai baju hitam, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya lemah lembut tapi sepasang matanya tajam bagaikan pisau dan jika ia memandang orang seakan-akan sinar matanya menembus dan menikam jantung.

Usianya kurang lebih enampuluh tahun, di pinggangnya juga terdapat sabuk ular hitam, empat orang lain yang duduk di dekatnya semuanya beroman aneh dan menyeramkan. Seorang di antara mereka adalah seorang hwesio gundul tapi berpakaian mewah sekali, tubuhnya gemuk pendek dan mukanya selalu tersenyum mengejek.

Orang kedua dan ketiga berpakaian seperti pengemis karena baju yang mereka pakai semua compang-camping, bahkan yang seorang, yakni yang punggungnya bongkok, hanya memakai sepatu sebelah! Orang keempat kelihatannya seperti seorang sasterawan, demikianpun pakaiannya, dan ia tampaknya paling mewah di antara semuanya juga ia mendapat tempat duduk di kanan orang tua baju hitam itu, agaknya paling dihormat.

Lie Thung langsung menghadap orang tua baju hitam itu memberi hormat. “Bengcu-ya, siauwtee datang memperkenalkan enghiong ini, ialah Hwee-thian Kim-hong yang meskipun muda usianya tapi telah terkenal karena kepandaiannya yang tinggi.”

Jadi inikah kepala perkumpulan yang disebut sangat lihai itu? Demikian pikir Cin Han dan ketika bengcu itu berdiri, maka Cin Han segera menjura memberi hormat.

“Silakan duduk, taihiap,” suara Bengcu itu nyaring dan tinggi seperti suara orang perempuan. “Kami girang sekali mendapat kehormatan dengan kunjunganmu ini. Mari kuperkenalkan dulu dengan para locianpwe ini.” Ia menunjuk kepada para tamu yang duduk di situ dan memperkenalkan mereka seorang demi seorang.

Ternyata hwesio ini bukan lain adalah Tie Bong Hwesio, seorang ahli silat cabang Bu-tong yang terkenal. Pengemis pertama yang bertubuh pendek kecil bernama Kok Pin bergelar Hoa-gu-jie si Kerbau Belang. Pengemis yang bongkok, bernama Lok Sim Tat bergelar Si Iblis Bongkok. Orang yang seperti sasterawan adalah bekas pegawai kota raja bernama Lam Beng Sun yang dulu memegang pangkat tinggi dan juga menjadi kepercayaan menteri durna Long Ong.

Mendengar bahwa orang-orang itu bukanlah orang sembarangan, maka Cin Han merasa gembira dapat berkenalan dengan mereka maka katanya, “Siauwte yang muda dan bodoh merasa terhormat sekali dapat bertemu muka dengan para locianpwe yang ternama. Dan mohon tanya nama serta julukan yang mulia dari lo-enghiong sendiri.”

Bengcu itu tertawa bergelak-gelak, “Tidak heran sicu belum mengenal padaku. Aku orang tua tak berguna disebut Kwi-eng-cu Hong Su.”

Cin Han terkejut mendengar nama ini. Dulu gurunya pernah menyebut nama ini sebagai seorang gagah yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya. Maka diam-diam ia memperhatikan Kwi-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis itu. Memang pantas dengan julukannya.

Bengcu yang tua itu biarpun wajah dan tubuhnya tidak ganjil, tapi sepasang matanya benar-benar seperti mata iblis saja! Setelah beberapa kali sinar matanya bertumbuk dengan sinar mata Bengcu itu, Cin Han bergidik dan segera menundukkan mukanya.

Kemudian Hong Su si Bayangan Iblis dengan tertawa ramah segera memerintahkan Lie Thung untuk mengantar Cin Han ke kamar yang terindah, dan memesan pemuda itu agar nanti malam menghadiri pesta di ruang belakang. Pesta dimulai jam tujuh. Cin Han menyatakan kesanggupannya dan setelah mengucapkan terima kasih ia pergi mengikuti Lie Thung dan mendapat kamar yang mewah.

Lie Thung tak dapat lama menemaninya karena katanya ia masih banyak tugas. Maka Cin Han lalu merebahkan diri di atas pembaringan yang bersih dan indah. Ia heran melihat keadaan perkumpulan yang serba mencurigakan ini. Tapi karena ternyata bahwa para tamu tadi terdiri dari orang-orang ternama maka iapun tak berani menyangka sesuatu. Hanya dalam hatinya ia menetapkan hendak mencari keterangan lebih jelas lagi tentang Perkumpulan Ular Setan ini.

Jam tujuh malam, di ruang belakang dari gedung bekas istana pangeran yang kini menjadi markas besar perkumpulan Kwi-coa-pai itu, sangat ramai. Ribuan lilin dan obor membuat tempat itu menjadi terang cemerlang dan indah sekali. Tamu-tamu yang memenuhi tempat itu jauh lebih banyak daripada siang tadi.

Cin Han dari jendela kamarnya dapat mendengar suara mereka yang bicara, riuh-rendah, riang-gembira dan dengan dialek yang campur-aduk menandakan bahwa para tamu itu datang dari beberapa propinsi. Ia segera berdandan. Seperti biasa, ia mengenakan baju dalam sutera bersulamkan burung Hong indah buatan ibunya.

Di luar baju itu, ia mengenakan pakaian luar yang biasa dipakai oleh pelajar sastera hingga ia tampaknya sebagai seorang sasterawan muda. Ia tidak lupa untuk membawa Kong-hwat-kiamnya, juga ia sembunyikan dalam baju di belakang punggung, tertutup oleh baju sasterawan yang lebar dan longgar.

Ketika ia bertindak keluar dari kamar, dari depan Lie Thung mendatangi dengan wajah berseri-seri. Pakaiannya pun mewah sekali dan ia kelihatan gagah.

“He, laote kenapa kau masih belum ke sana? Semua tamu sudah berkumpul. Bahkan ada tambahan acara yang menarik hati sekali. Para locianpwe berkenan mendemonstrasikan keahlian mereka. Hayo, jangan kau ketinggalan. Pertunjukan bagus sekali yang akan kita lihat nanti.”

Mereka menuju ke ruang belakang. Ruang ini sangat luas dan nyaman karena terbuka dan mendapat hawa langsung dari taman bunga di belakang gedung. Kurang lebih seratus orang tamu duduk berkelompok mengelilingi meja yang penuh hidangan.

Meja ketua Kwi-coa-pai paling besar dan ditilami kain tenun berwarna merah. Yang menemani dia duduk, selain empat orang tua yang siang tadi sudah dijumpai Cin Han, masih ada seorang lagi yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan nampaknya gagah sekali dengan bajunya yang berwarna biru bersulamkan naga warna hijau.

Melihat kedatangan Cin Han, si Bayangan Iblis menepuk tangan dan tertawa girang. “Eh, Lo-sicu. Silakan duduk sini.”

Cin Han merasa agak disanjung ketika melihat betapa banyak mata para tamu memandangnya. Ia maklum bahwa tidak sembarang orang diminta duduk di mejanya oleh ketua besar itu. “Lo-enghiong, siauwte menghaturkan selamat dan semoga lo-enghiong dikurniai usia panjang dan tubuh sehat,” kata Cin Han hormat.

“Ha-ha-ha! Terima kasih,” Si Bayangan Iblis berdiri dan membalas hormatnya., “Eh, hampir aku lupa, sudahkah sicu kenal dengan Thio-taihiap?”

Si baju biru itu berdiri dan baru Cin Han tahu bahwa orang itu sangat tinggi, wajahnya membayangkan kekejaman dan tak sedikitpun senyum membayang di muka yang gelap itu. Namun dengan hormat ia menjura dan dibalas oleh Cin Han. Hong Su memperkenalkan mereka berdua dengan bangga.

“Ini adalah Thio Lok taihiap yang bergelar si Naga Hijau dari selatan.” Kemudian tangannya menunjuk ke arah Cin Han, “Dan ini adalah Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han, yang meskipun masih muda tapi telah menggemparkan sungai telaga.”

Mendengar sebutan Hwee-thian Kim-hong, mata Thio Lok untuk sesaat memancar ke arah wajah Cin Han, tetapi tanpa berkata apa-apa dia duduk kembali. Cin Han juga mengambil tempat duduk di meja kehormatan.

“Lo Cin Han sicu,” kata Hong Su dengan ramah. “Sebelum kau datang tadi, lohu dengan para enghiong di sini telah mengadakan persetujuan untuk saling mempertunjukan ilmu silat masing-masing agar terbuka mata kita. Bagaimana pikiranmu, Lo-sicu?”

Cin Han tersenyum girang. “Memang hal ini baik sekali, siauwte tentu setuju sekali dan akan siauwte perhatikan untuk menambah pengetahuan yang dangkal.”

“Ha-ha! Lo-sicu, siapakah yang tidak mengenal nama Hwee-thian Kim-hong? Jangan kau terlalu merendah. Lohu bahkan mohon bantuanmu untuk membuka pertunjukan ini dengan memperlihatkan ilmu silatmu!”

“Ah, lo-enghiong, mana siauwte yang muda berani memperlihatkan kebodohan di hadapan para locianpwe?” jawab Cin Han merendah.

Para jagoan tua yang duduk di situ merasa suka melihat kesopanan dan kehalusan tutur sapa Cin Han, maka sebentar saja mereka berbicara dengan asyik dan gembira. Tapi Thio Lok si Naga Hijau dari Selatan tampaknya tak begitu suka kepada Cin Han, atau agaknya memandang rendah pemuda sasterawan itu!

Hidangan yang serba lezat dikeluarkan dan keadaan makin ramai gembira, bahkan di meja-meja para muda terdengar suara senda gurau disertai tertawa-tawa setengah mabuk. Di meja ketua perkumpulan Ular Setan juga kelihatan gembira sekali. Hoa-gu-ji Kok Pin pengemis kate bertanding minum arak dengan Iblis Bongkok Lok Sin Tat. Kedua pengemis ini sama-sama kuat dan mereka telah minum belasan cawan tanpa berhenti.

Tiba-tiba Tie Bong Hwesio mencela kedua kawan baiknya, “Kalau kalian berdua mabok-mabokan kalian menghabiskan arak dan tidak ingat kepada yang muda-muda, memalukan sekali! Pantasnya kalian menawarkan arak kepada kedua sicu ini.” Ia mengangguk ke arah Cin Han dan Thio Lok.

Lam Beng Sun si bekas pembesar yang pada malam itu mengenakan bekas baju kebesarannya dan tampak keren sekali, segera mengambil guci-guci arak dan mengisi cawan Cin Han dan Thio Lok sampai penuh. “Hayo, Thio-taihiap, jangan sungkan-sungkan. Kau yang menjadi orang sendiri jika berlaku sungkan-sungkan, maka Lo-sicu ini sebagai orang baru akan lebih sungkan lagi.”

Thio Lok menghaturkan terima kasih dan mengangkat cawan araknya, diikuti oleh semua orang dengan gembira. Tapi Cin Han bukanlah seorang ahli minum, maka baru tiga cawan saja ia sudah merasa mual.

Melihat kawan-kawan lain kurang kuat minum, kedua pengemis itu menyatakan kecewanya. Tiba-tiba karena teringat lagi bahwa sekarang sudah tiba saatnya untuk membuka pertunjukan silat, Hong Su si Bayangan Iblis mendapat akal, untuk memancing kedua pengemis itu.

“Jiwi congsu, kulihat kalian memang sama kuatnya dalam hal minum arak. Tapi kami ingin sekali melihat siapa di antara jiwi yang lebih cepat minum. Baiknya sekarang diadakan taruhan.”

“Taruhan apa? Aku hanya punya kutu baju beberapa belas ekor di pakaianku,” kata Kok Pin si kate.

“Dan aku hanya mempunyai sebelah sepatu lapuk. Kalau aku kalah, si Kerbau Belang boleh memilikinya,” kata si Iblis Bongkok.

“Untuk apa sepatu hanya sebelah? Merepotkan saja,” bantah si kate.

Kwie-eng-cu Hong Su tertawa bergelak. “Bukan itu taruhannya! Aku akan mengisi sepuluh cawan arak wangi di atas meja dan masing-masing boleh minum lima cawan. Yang kalah cepat harus lebih dulu membuka pertunjukan silat di tengah-tengah ruangan ini. Bagaimana, setujukah kalian?”

Sambil berkata demikian, Si Bayangan Iblis mengeluarkan seguci arak simpanan. Ia membuka tutup guci dan menuang isinya di dalam sepuluh buah cawan, harum dan wangi arak itu memenuhi ruangan. Tentu saja kedua setan arak itu mengilar sekali. Hidung mereka segera dapat membedakan dan mengenal arak baik.

“Setuju, setuju!” teriak mereka berbareng dan tanpa menanti jawaban, mereka menubruk maju, tangan mereka menyambar secawan arak dan menuangkan isinya ke dalam mulut.

Segera terdengar arak menggelogok di kerongkongan mereka dan sepuluh cawan arak itu cepat sekali habis dalam waktu yang sama cepatnya. Kalau orang bukan ahli silat dan matanya tidak terlatih, pasti takkan melihat dengan tegas bila dan bagaimana kesepuluh cawan arak itu dihabiskan, demikian kecepatan tangan mereka bergerak.

“Ha-ha-ha! Dasar kalian ini yang seorang iblis arak, yang seorang lagi setan arak! Kalian sama-sama menang. Maka keputusannya adalah dua-duanya harus berbareng mempertunjukkan kepandaian untuk membuka hiburan ini. Hayo, jiwi mulailah, nanti kalau sudah selesai pertunjukanmu, akan lohu beri hadiah lima cawan arak wangi lagi!”

Kedua pengemis aneh itu tertawa senang lalu Lok Sin Tat memimpin tangan kawannya yang kate menuju ke tempat bermain silat yang memang sudah disediakan di tengah-tengah ruangan itu.

Semua tamu ketika melihat bahwa pertunjukan silat akan segera dimulai, lalu menunda pembicaraan mereka. Ruangan menjadi diam dan sunyi, semua mata ditujukan ke arah si Iblis Bongkok yang memimpin tangan si Kerbau Belang dan kedua-duanya tertawa ha-ha-hi-hi tak acuh dengan pandangan para tamu.

Sesampainya di kalangan tempat bersilat, Lok Sin Tat si Iblis Bongkok segera melepaskan sabuk merah yang mengikat pinggangnya. Kalau semua pakaiannya compang-camping, adalah sabuk sutera itu kelihatan bersih dan baru, dan setelah terlepas dari pinggang ia menyentakkan tangan ke depan.

Sabuk yang terlipat itu melayang ke depan bagaikan ular merah dan ternyata panjangnya tidak kurang dari sepuluh kaki. Setelah ujung sabuk sutera melayang sampai lempeng, Lok Sin Tat menggerakkan tangan menarik, dan aneh sekali, sabuk itu bergulung sendiri dengan rapi.

“Hayo, kau keluarkan permainanmu!” teriaknya tertawa kepada pengemis kate.

Kerbau Belang yang bertubuh pendek kecil itu tertawa bergelak dan menjawab, “Mari kita main bersama. Kau gunakan penangkap lalatmu yang merah itu dan aku menjadi lalatnya. Cobalah kau tangkap aku!”

“Mari bertaruh!” kata si Iblis Bongkok tertawa. “Kalau kau sampai tertangkap, lima cawan arakmu harus diberikan padaku!”

“Bagus! Dan kalau sampai tidak dapat tertangkap, arakmu harus diberikan padaku,” jawab si kate yang lalu meloncat menjauhi kawannya dengan gerakan jumpalitan ke belakang. Tubuhnya ringan sekali sehingga diam-diam Cin Han terkejut melihat ginkang yang tidak boleh dipandang rendah itu.

Lok Sin Tat mengeluarkan seruan dan ketika tangannya bergerak, sabuk yang tergulung itu melayang ke atas dan turunnya bergerak-gerak hidup bagaikan naga, ketika ia menggerakkannya lagi, maka sutera itu merupakan kembang yang indah bergerak-gerak di udara lalu buyar pula.

Sebelum ujung sabuk mengenai tanah, ia menggerakkan tangannya lagi dan ujung sabuk meluncur ke depan, kini menuju ke arah pengemis kate yang sementara itu sudah mengambil sebuah kursi dan duduk di atasnya dengan tenang.

Melihat datangnya ujung sabuk sutera ke arahnya, ia tertawa dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke samping. Ujung sabuk seakan-akan hidup dan tahu-tahu telah melibat kaki kursi dan ketika sabuk disendal balik, kursi itu terbawa terbang ke arah si Iblis Bongkok yang menerimanya dengan tangan kiri lalu dilemparkan ke samping.

“Bagus!” katanya memuji kawan kate yang gesit itu. Ia lalu menggerakkan sabuknya lagi dan tak lama kemudian sabuknya merupakan sinar merah yang berputar-putar, terus mengejar ke mana saja pengemis kate itu bergerak.

Para tamu bertepuk tangan riuh-rendah memuji. Memang pada saat kedua orang itu bermain-main, tampak pemandangan yang indah sekali. Selendang merah itu melambai-lambai dan menyambar-nyambar mengeluarkan angin bagaikan seekor naga terbang berlenggak-lenggok.

Dan si kate berkelebat ke sana ke mari diantara sinar merah itu bagaikan seekor kupu-kupu putih yang terbang dikejar. Gerakannya ringan dan gesit sekali, sehingga sebegitu lama, biarpun sinar merah mengepungnya dari segenap penjuru, tetap tidak dapat menangkapnya.

Cin Han juga memandang kagum. Ia maklum betapa lihainya kedua orang itu. Ia tahu juga bahwa betapapun halus dan lemas adanya sehelai selendang sutera, namun di tangan si Iblis Bongkok yang menggunakannya dengan tenaga lweekang yang tinggi, maka selendang yang lemas itu dapat merupakan sebuah senjata yang sangat lihai dan berbahaya.

Kalau sampai ujung selendang dapat melibat kaki atau badan si kate, tentu Kerbau Belang itu takkan dapat melepaskan diri lagi. Tapi ia kagum sekali melihat gerakan-gerakan si kate yang demikian lincahnya sehingga tidak memungkinkan selendang itu menangkapnya. Sungguh satu pertunjukan yang menarik dan berbareng menunjukkan betapa tinggi kepandaian kedua orang itu.

Tiba-tiba sinar selendang merah lenyap dan si kate juga menghentikan gerakan-gerakannya. Keduanya berdiri berhadapan dengan saling pandang, kemudian si Iblis Bongkok tertawa bergelak. “Lo-heng, kepandaianmu makin tinggi saja,” ia memuji.

Kok Pin tertawa. “Kau menyindir, Lok-ko. Aku setengah mampus harus menghindarkan diri dari Hong-ang-kin mu yang lihai.”

“Tapi aku tak dapat menangkapmu, maka biarlah arakku boleh kau minum.”

Dengan gembira ia memegang tangan kawannya lalu berdua kembali ke meja ketua. Semua orang bertepuk tangan memuji.

“Ah, benar-benar kalian hebat,” memuji ketua Kwie-coa-pai. “Patut dikagumi dengan sepuluh cawan arak!” Maka mereka lalu minum-minum lagi dengan gembira.

Si Bayangan Iblis berdiri. “Nah, sekarang lohu minta dengan hormat sukalah Lo-sicu meramaikan pesta ini dengan sedikit pertunjukan,” katanya kepada Cin Han.

“Betul, betul! Harap sicu jangan menampik.” Si kate ikut mendesak.

“Harap saja yang lain bermain dulu, karena siauwte yang muda tidak berkepandaian apa-apa maka biarlah siauwte bermain paling akhir.” Cin Han menolak halus.

“Rupanya saudara Lo malu-malu, biarlah aku mendahuluinya,” kata Thio Lok sambil berdiri.

Tetapi si Bayangan Iblis mengangkat tangannya. “Thio-taihiap punya ilmu pedang yang tiada tandingan, lohu harap permainan taihiap dipertunjukkan nanti saja agar dapat menutup pesta ini dengan pertunjukan yang terindah.”

Cin Han merasa heran karena sungguhpun ketua Kwie-coa-pai itu nyata sekali sangat menghormat dan mengindahkan orang she Thio itu, tapi sebaliknya bicara seakan-akan kepada orang sebawahannya.

“Atau, bagaimana kalau Thio-taihiap dan Lo-enghiong ini main sama-sama?” usul Lam Beng Sun si bekas pembesar dengan suaranya yang halus.

Mendengar usul ini, mata Hong Su bersinar gembira. “Bukankah kau juga ahli bermain pedang, sicu? Kalau begitu baik sekali, silakan kalian berdua bermain pedang, tentu indah dipandang. Tapi, agaknya Lo sicu tidak membawa pedang, biarlah lohu memberi pinjam padamu.”

Cin Han buru-buru mencegah. “Siauwte sudah membawa pedang, tapi siauwte mana berani bermain dengan Thio-taihiap?” ia mengerling kepada Si Naga Hijau itu.

Thio Lok memandang kepadanya dan bibirnya mengandung senyum sindir. “Tidak apa, saudara Lo, biarlah kita main-main sebentar.” Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, Thio Lok menggerakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke tengah lapangan adu silat dengan tipu Naga Sakti Sambar Mustika, satu gerakan yang indah sekali hingga ia disambut dengan tepukan tangan.

Cin Han mendongkol juga melihat kejumawaan orang she Thio itu, maka ia berdiri dari kursinya dan membuka baju luarnya dengan perlahan. Maka kelihatanlah kini bajunya sutera putih yang bersulamkan burung Hong emas sedang terbang menempuh awan biru di bagian dadanya.

Dengan tergantinya pakaian yang ringkas dengan sulaman yang indah hidup itu, ia tampak gagah dan tuan rumah serta tamu-tamunya tercengang melihat anak muda yang cakap dan sopan-santun tapi yang kini kelihatan keren dan gagah itu. Juga ketua Kwie-coa-pai melihat pedang Kong-hwa-kiam yang tergantung di punggung dengan wajah girang.

Ketika Cin Han sedang bingung harus menaruh di mana baju luarnya yang masih dipegangnya, tiba-tiba Lie Thung datang menghampiri dan menerima bajunya itu. Bekas bajak ini berbisik perlahan,

“Hati-hati, kawan, orang she Thio itu adalah komandan kelas satu di perkumpulan kami, hanya bengcu saja yang lebih kuat dari padanya. Ia memang bertugas mencoba tenaga kawan-kawan baru, pedangnya lihai sekali!”

Cin Han mengangguk untuk menyatakan terima kasihnya. Hm, jadi ia hendak dicoba? Ia mengerling ke arah meja ketua dan dilihatnya semua muka di meja itu berseri-seri dan gembira.

Cin Han tidak mau kalah muka dengan sengaja ia memperlihatkan kegesitannya dan dengan gerakan Burung Walet Menyambar Kupu-kupu, ia meloncat berjumpalitan dengan kedua lengan terbuka. Ketika tubuhnya tiba di atas lapangan, berjumpalitan tiga kali dari atas dan menurunkan kakinya dengan ringan bagaikan burung, tepat berhadapan dengan Thio Lok. Tentu saja aksinya ini mendatangkan tepuk tangan yang hebat sekali dan Thio Lok memandangnya dengan mata bersinar merah.

“Thio-taihiap, aku harap kau suka berlaku murah kepadaku,” kata Cin Han.

“Tak perlu kiranya kau sungkan-sungkan dan merendahkan diri, saudara Lo, kepandaianmu belum tentu berada di bawahku,” jawab Thio Lok, lalu tanpa banyak cakap lagi si Naga Hijau mencabut pedangnya.

“Silakan, saudara Lo,” katanya kepada Cin Han sambil memasang kuda-kuda dengan tipu Naga Sakti Mendekam.

Cin Han lalu mencabut Kong-hwa-kiam dari sarungnya dan memasang kuda-kuda Burung Hong Hinggap di Cabang, dan berkata, “Silakan, Thio-taihiap!”

Thio Lok melihat Cin Han sungkan-sungkan untuk menyerang lebih dulu, segera memajukan kaki dan mengirim serangan pertama dengan tusukan pedang ke arah paha Cin Han dan terus melayangkan pedangnya itu untuk menyabet kedua kaki. Gerakan ini adalah pancingan untuk menggempur pasangan kuda-kuda lawan dan untuk melihat perkembangan selanjutnya dari gerakan lawan.

Cin Han ingin mencoba tenaga si Naga Hijau, maka ia tidak berkelit, hanya setelah pedang lawan berada dekat, ia menangkis ke samping. Dua pedang beradu dan Cin Han merasa telapak tangannya sedikit tergetar, maka tahulah ia bahwa lawannya memiliki tenaga yang tidak lemah.

Sebaliknya Thio Lok lebih berlaku hati-hati karena ternyata tangkisan tadi membuat lengannya kesemutan! Maka ia segera berseru keras dan menyerang dengan hebat dan cepat....

Selanjutnya,