X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Teratai Merah Jilid 06

Cerita Silat Mandarin serial Si Teratai Merah Jilid 06 karya Kho Ping Hoo

Si Teratai Merah Jilid 06

16. Lolos Dari Hadangan Kepala Bajak
Cin Han tertawa geli dan dengan gembira ia mendayung perahunya menurut aliran air Sungai Yan-ce, tak memperdulikan teriakan-teriakan kaum bajak. Tapi kembali ia terkejut.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Ternyata Lie Thung tak mau menyerah kalah demikian saja. Kepala bajak yang cerdik ini segera memerintah perahu-perahunya untuk bergerak mengejar di tengah sungai. Dan Cin Han tahu akan maksudnya. Tidak semua pinggir sungai dangkal.

Jalan satu-satunya hanya membalap secepat mungkin untuk mendahului perahu-perahu itu. Maka berlombalah mereka. Setelah berlomba beberapa lama, Cin Han maklum bahwa ia takkan menang. Ombak yang diterbitkan oleh perahu-perahu di tengah itu lari ke pinggir dan menghambat kelajuan perahunya. Ia takkan menang kalau perahu-perahu bajak itu tidak ditahan majunya.

Memang Cin Han berhati tabah dan juga otaknya cerdas sekali. Diam-diam ia memesan kepada Lo Ciang untuk mendayung perahu secepat mungkin setelah ia beraksi nanti. Lalu ia menggerakkan perahunya mendekati perahu yang bergerak paling depan. Setelah perahu terpisah beberapa tombak jauhnya, Cin Han menggerakkan tubuhnya meloncat ke atas perahu bajak.

Dengan teriakan-teriakan riuh rendah bajak-bajak itu menyerangnya. Tapi Cin Han hanya berkelit dan berloncat-loncatan ke sana ke mari di atas perahu sehingga keadaan di atas perahu menjadi kacau. Dari perahu itu Cin Han meloncat lagi ke perahu lain sehingga sebentar saja anak buah kelima perahu itu memusatkan perhatian mereka kepada Cin Han yang sedang mengamuk dan mengacau.

Dengan demikian maka Lo Ciang dengan aman dan senang dapat mendayung perahunya melewati kepungan tanpa terlihat oleh seorang bajakpun. Lie Thung melihat Cin Han mengacau, dengan marah meloncat ke perahu di mana Cin Han berada dan tombaknya siap di tangannya.

Tapi Cin Han tiba-tiba beseru keras, “Tai-ong, kau sudah kalah. Lihat itu perahuku sudah dapat keluar dari kepunganmu!”

Lie Thung terkejut dan semua bajak memandang. Baru sadar mereka bahwa perahu kecil yang dikejar-kejar itu telah lolos. “Hm, kau cerdik, anak muda. Tapi aku belum kalah karena kau masih berada di sini, baru kau dapat disebut memenuhi syarat pertama.”

“Oh, begitukah?” mata Cin Han mengerling ke sekelilingnya, ternyata ia telah dikepung oleh puluhan bajak laut bersenjata lengkap. Tiba-tiba ia meloncat menerjang dan dua orang bajak yang mengangkat golok menghadangnya dapat dibikin terpelanting.

“Maaf dan selamat tinggal, Tai-ong!” kata Cin Han yang menyambar sebuah meja kayu. Dengan sekali tekan, meja itu pecah berantakan merupakan beberapa keping papan. Kemudian ia lari ke pinggir perahu, melemparkan sepotong papan ke air, diikuti oleh tubuhnya yang melayang ke bawah.

Anak muda itu mempergunakan ilmu ginkangnya yang terlatih sempurna, ia menggunakan ujung kakinya menotol papan yang tadi dilemparkan dan kini terapung di atas air hingga tubuhnya kembali melayang ke atas. Sebelum tubuhnya turun, ia melemparkan potongan papan kedua jauh di depan, diikuti tubuhnya berkelebat cepat, turunnya di atas papan kedua itu, lalu meloncat naik ke atas.

Demikian, dengan gerakan dan loncatan Capung Bermain di Air ia berhasil meloncat ke atas perahunya sendiri dengan selamat. Semua bajak melihat hal ini dengan mata terbelalak. Setelah Cin Han tiba di perahunya sendiri, terdengar sorakan kawanan bajak menyatakan kagumnya. Lo Ciang terheran-heran melihat penumpangnya sudah kembali ke perahu, tapi ia tak banyak cakap, hanya terus mendayung sekuat tenaga.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang. Cin Han dan Lo Ciang menengok, ternyata dari perahu-perahu bajak itu diturunkan sebuah sampan yang didayung oleh seorang dan sedang mengejar mereka. Ternyata pengejar itu bukan lain adalah Lie Thung sendiri.

Cin Han kagum juga melihat tenaga kepala bajak itu yang mendayung perahu kecil dengan cepat hingga sebentar saja sudah dekat dengan perahunya. Tapi Cin Han tak mau mengalah, iapun menggunakan tenaganya mendayung hingga perahunya melaju cepat. Betapapun juga, perahu bajak itu lebih cepat karena bentuknya yang runcing dan dayungnya yang lebih sempurna.

Mendadak Lie Thung berseru keras, “Awas panah!”

Cin Han kaget dan berpaling. Ternyata kepala bajak itu melepaskan anak panah yang berekor panjang sekali bagaikan ular menyambar. Anak panah itu tepat menancap di badan perahunya dan Cin Han merasa betapa perahunya agak tergoncang. Ketika ia memperhatikan, ternyata anak panah itu diikat dengan tambang yang kuat, hingga kini perahunya seakan-akan tertangkap oleh Lie Thung yang memegang tambang itu dengan, tertawa bergelak-gelak.

“Ha-ha! Kau hendak lari ke mana, anak muda? Kau baru lulus dalam ujian pertama, yang kedua belum kau laksanakan.”

Cin Han merasa kagum dan juga gemas. “Tai-ong, bukan maksudku hendak kabur karena takut padamu. Sebenarnya aku tidak suka mengadu tenaga dengan kau yang pasti akan memperbesar rasa permusuhan darimu saja. Sedangkan kita sama sekali tak pernah bermusuhan. Tapi, karena kau memaksa, apa boleh buat, mari kita mendarat.”

“Bagus, itu baru suara laki-laki,” kata Lie Thung yang lalu mengikatkan tambang itu ke perahunya dengan kuat didayungnya perahu ke pinggir, sehingga perahu Cin Han terbawa pula. Cin Han membiarkan saja perahunya ditarik seperti kerbau ditarik hidungnya.

Dengan tindakan lebar Cin Han ikut Lie Thung menuju ke markasnya, di mana telah menanti berpuluh-puluh orang bajak yang menyambut mereka dengan sorak ramai sebagai pujian kepada Lie Thung yang dianggap telah dapat menangkap Hwee-thian Kim-hong. Di tengah-tengah halaman yang lebar di mana mereka berkumpul, telah didirikan sebuah panggung segi empat yang tingginya kurang lebih satu tombak. Panggung ini memang khusus didirikan untuk tempat mengadu silat dan latihan.

Lie Thung meloncat ke atas panggung dengan gerakan gesit dan ringan. Cin Han kagum melihat gerakan Katak Meloncat Keluar Empang yang cukup sempurna itu. Iapun tidak mau kalah dan mendemonstrasikan kegesitannya meloncat ke atas panggung dengan gerakan Naga Sakti Menembus Awan.

“Nah, Tai-ong, harap jangan membuang waktu lebih lama, karena perjalananku masih jauh. Dengan cara bagaimana aku harus memenuhi syarat kedua ini?”

“Aturan lama takkan kurobah, tidak ditambah tidak dikurangi,” jawab Lie Thung. “Asalkan kau dapat melayani permainan tombakku selama tigapuluh jurus, maka berarti kau menang.”

Cin Han tersenyum dan memandang tombak pusaka dari lawannya yang sudah siap di tangan. Tombak itu agak pendek daripada tombak biasa, ujungnya tidak runcing agak besar membulat dan mata tombak sampai ke tangkai seluruhnya terbuat daripada logam hitam kehijau-hijauan dan tampaknya berat.

“Aku sudah siap, nah mulailah dengan seranganmu, Tai-ong.”

“Bukan maksud peraturan itu untuk menghadapi tombakku dengan tangan kosong. Keluarkan senjatamu, anak muda.”

“Tak perlu, Tai-ong. Kita bukan hendak mengadu nyawa, tapi hanya untuk bermain-main saja, bukan? Asal aku dapat melayanimu tigapuluh jurus, beres, bukan? Nah, seranglah.”

“Hm, jangan menyesal kalau tombakku tak bermata.”

“Tombakmu boleh tak bermata, tapi aku mempunyai dua mata yang cukup awas kiraku.”

Lie Thung berkata marah, “Kau cari mampus sendiri!”

Dengan gerakan hebat ia maju menusuk dengan tombaknya. Ujung tombak itu menyambar dan Cin Han melihat betapa ujung tombak itu meluncur dengan gerakan terputar ke arah dadanya.

“Jurus pertama!” ia berseru dan mengelakkan tusukan itu dengan cepat.

Lie Thung melihat tusukannya dikelit demikian mudah, meneruskan serangan tombaknya dengan memutar tangkai tombak dan menggunakan gagangnya menghantam ke arah kepala lawan dengan gerakan Raja Monyet Ayun Toya ialah menggerakkan ilmu silat toya yang lihai. Baiknya Cin Han mengenal gerakan ini, maka ia tidak mau berlaku gugup, dan berkelit sedikit sambil berlaku waspada.

Benar seperti dugaannya, pukulan itu hanya gertakan belaka, karena tiba-tiba tombak terputar lagi dan kini ujungnya yang tumpul dengan gerakan memutar dari kiri menyambar ke arah lambungnya. Serangan ini tak mudah dikelit, maka sambil berseru, “Aya!” Cin Han menggunakan tenaga ginkangnya menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya meloncat ke atas secepat kilat.

Namun ujung tombak demikian cepat datangnya sehingga ia merasakan angin serangan tombak telah meniup ke arah kakinya! Ia tidak sempat berkelit lagi, maka dengan berani sekali ia menggunakan ujung kakinya menotol ke arah leher tombak dan meminjam tenaga serangan lawan ia meloncat ke atas dan berpok-sai (berjumpalitan) di udara.

Kemudian, ketika tubuhnya menyambar turun dengan kaki di atas kepala di bawah, ia membuka lengannya lalu membikin gerakan menyerang dengan kedua lengan ke arah tubuh Lie Thung. Kepala bajak menjadi terkejut melihat gerakan Cin Han yang aneh itu dan cepat-cepat ia menangkis dengan tombaknya.

Tapi anak muda itu sebenarnya hanya menggertak saja agar lawannya tak sempat menyerang lagi, maka ketika Lie Thung membuat gerakan menangkis, ia segera meloncat turun agak jauh dan berkata sambil tertawa.

“Sudah berapa juruskah aku dapat melayanimu tadi, Tai-ong?”

Lie Thung tak menjawab, hanya berseru marah, “Lihat tombak!” Lalu ia maju sambil memainkan Ilmu Tombak Delapan Dewa yang sangat diandalkan, karena jarang ada orang yang dapat melawan ilmu tombak ini. Apalagi kalau lawannya itu bertangan kosong. Di dalam ilmu tombak ini terdapat gerakan-gerakan yang tak tersangka-sangka dan banyak sekali perobahannya, kedua ujung tombak menyerang berganti-ganti.

Namun dengan enak saja Cin Han dapat menghindarkan tiap serangan. Tubuhnya berkelebat kian ke mari, menyusup di antara ratusan bayangan ujung tombak bagaikan seekor kupu-kupu bermain-main di antara kembang-kembang mawar.

Para anggauta bajak dengan kagum melihat jalannya pertempuran, dan tak terasa mengeluarkan lidah karena kagum ketika mereka melihat betapa anak muda itu mempermainkan kepala bajak yang mereka segani. Tubuh pemuda itu tak tampak lagi, hanya bayangan biru berkelebatan cepat sekali.

Setelah menghitung bahwa serangan dari Lie Thung kepadanya sudah lebih dari tigapuluh jurus, maka Cin Han meloncat ke belakang dan berseru, “Tahan!!”

Lie Thung berdiri memandangnya dengan muka merah. “Apa apa?” tanyanya marah.

“Tai-ong, syaratmu tadi mengatakan bahwa aku harus melayanimu selama tigapuluh jurus. Tapi seranganmu tadi sudah lebih dari empatpuluh jurus, mengapa kau masih saja menyerang?”

Lie Thung tak menjawab hanya membentak, “Jangan banyak mulut! Terima serangan maut ini!” Dan ia maju pula mendesak dengan tombaknya.

Cin Han merasa penasaran sekali. Ternyata kepala bajak ini berwatak tak mau kalah dan harus diberi sedikit hajaran. Dengan seruan, “Baik kalau begitu!” ia mencabut Kong-hwa-kiam dan balas menyerang.

Sebetulnya ia masih cukup kuat untuk melawan dengan tangan kosong saja, tapi karena permainan tombak Lie Thung juga lihai, rasanya akan sukar baginya untuk menjatuhkannya cepat-cepat.

Melihat permainan pedang lawannya demikian aneh dan cepat, Lie Thung merasa bingung dan sebentar saja ia terdesak mundur. Dengan nekat ia menusukkan tombaknya ke arah dada lawan dengan tipu Giok-tai-wie-yauw atau Ang-kin Kumala Melibat Pinggang. Jurus ini hebat sekali, tapi Cin Han dengan lincahnya meloncat ke samping dan dari samping membabatkan pedangnya ke arah tangan kanan lawan dan berbareng mengirim tendangan ke lambung yang tak terjaga.

Karena serangan balasan ini tak terduga dan cepat sekali, Lie Thung berseru kaget dan untuk menolong tangannya terpaksa melepaskan tombaknya dan untuk menghindarkan diri dari tendangan Cin Han, terpaksa pula menggunakan gerakan Keledai Berguling dan tubuhnya dijatuhkan terus bergulingan menjauhkan diri. Untung baginya Cin Han tidak mengejarnya, maka ia berdiri degan wajah merah.

“Sungguh nama Hwee-thian Kim-hong bukan nama kosong belaka. Aku mengaku kalah.”

Cin Han tergesa-gesa membalas dan memberi hormat. “Tai-ong sudah berlaku murah dan mengalah. Sekarang siauwte mohon diberi kebebasan dan melanjutkan perjalanan.”

Lie Thung mengerutkan alisnya. “Perjalanan dari sini ke timur tidak mudah. Kau tentu akan banyak mendapat gangguan, maka biarlah beberapa orangku mengantarmu sampai di tempat tujuan.”

“Ah, terima kasih atas kebaikanmu, tapi tak usah merepotkan, karena siauwte memang sengaja berpesiar menambah pengalaman. Adapun tentang gangguan, bagaimana nanti saja, kuserahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa.”

Lie Thung kurang senang mendengar ucapan ini. Ia menganggap anak muda ini terlampau menyombongkan diri. “Kalau begitu biarlah kau bawa kartu namaku, karena semua kawan di sepanjang Sungai Yang-ce sudah kenal padaku dan tentu mereka dengan memandang mukaku takkan mau mengganggumu lagi.”

Namun Cin Han adalah seorang pemuda yang baru saja turun dari tempat penggemblengan. Tubuhnya kuat hatinya tabah, pula ia merasa rendah kalau harus menggunakan nama orang lain untuk menyelamatkan diri. Maka dengan halus ia menampik pula. Sungguhpun merasa penasaran, namun Lie Thung diam saja, hanya berkata, “Selamat jalan.”

Tapi Lo Ciang yang berada di situ dan mendengar akan usul baik yang ditolak Cin Han diam-diam mendekati Lie Thung dan mohon diberi sebuah kartu nama. “Biarpun kongcu ini tidak membutuhkan kartu nama, tapi aku yang tua dan lemah ini memerlukan sekali untuk dipakai sebagai jimat pelindung.”

Dan Lie Thung dengan tertawa memberinya sehelai. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu, perahu Lo Ciang yang terpanah itu segera diganti oleh Lie Thung dengan sebuah perahu kecil yang masih baru. Tentu saja Lo Ciang girang bukan kepalang dan berkali-kali menyatakan terima kasih sambil terheran-heran,

“Selama hidup baru kali ini bertemu dengan kaum sungai telaga yang baik hati, bukannya merampok bahkan memberi hadiah.”

Kemudian ternyata bahwa kartu nama Lie Thung benar-benar merupakan bintang pelindung dan karena Lo Ciang selalu memperlihatkan kartu itu kepada setiap pengganggu, Cin Han menjadi terlepas dari gangguan bajak. Diam-diam ia mengakui kebenaran Lo Ciang yang sudah minta kartu nama itu. Kalau tidak ada kartu nama Lie Thung, tentu ia mengalami banyak pertempuran yang hanya akan memperlambat perjalanannya.

Demikianlah setelah berganti-ganti perahu dan berlayar hampir tiga bulan, akhirnya sampai juga ia di kota Tiong-bie-kwan. Dengan mudah ia dapat mencari Gan Keng Hiap dan menyerahkan surat peninggalan ayahnya.

Gan Keng Hiap dan isterinya merasa terharu sekali dan ikut menangis ketika mendengar akan kematian Lo Sun Bi dan isterinya. Kemudian ia berkata dengan suara ramah dan halus.

“Hiante, biarlah yang sudah pulang ke alam asal tak perlu disedihkan lagi. Kau tinggallah saja di sini, kami juga tidak punya anak, maka bolehlah kau anggap aku dan isteriku ini sebagai pengganti orang tuamu. Dan sebagaimana pesan ayahmu, kau rajin-rajinlah belajar ilmu surat di sini.”

Lo Cin Han merasa terharu sekali. Dalam pertemuan pertama saja ia sudah merasa suka sekali kepada orang tua dengan isterinya yang kedua-duanya ramah tamah dan halus tutur sapanya itu. Tanpa ragu-ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dengan terharu.

Gak Keng Hiap adalah seorang sasterawan yang pandai dan isterinya juga puteri seorang bangsawan yang pandai akan ilmu surat dan kerajinan tangan. Mereka merupakan pasangan yang setimpal dan cocok sekali, hanya sayang sekali mereka tidak mempunyai keturunan.

Nyonya Gan Keng Hiap biarpun sudah berusia kurang lebih limapuluh tahun, namun wajahnya dan tubuhnya masih membayangkan bekas seorang wanita yang sangat cantik dan terpelajar. Cin Han merasa heran melihat bibinya ini sering termenung seakan-akan merasa khawatir dan sedih.


Waktu berjalan sangat pesat dan tak terasa pula ia sudah tinggal di rumah pamannya setahun lebih. Dengan rajin ia belajar menulis dan membaca, tapi tak pernah alpa pula ia melatih ilmu silat seorang diri pada waktu-waktu tertentu.

Pada suatu senja ketika ia sedang berlatih ilmu silatnya, tiba-tiba terdengar suara orang memuji dengan girang, “Ah, bagus sekali kau tidak melupakan pelajaran silatmu.”

Cin Han cepat berpaling dan alangkah gembiranya setelah ia melihat siapa orangnya yang berbicara itu. Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata girang, “Suhu!”

Gwat Liang Tojin membangunkan muridnya dan memegang pundak muridnya yang tersayang itu sesaat lamanya. Kemudian ia mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang sambil mengangguk-angguk dan memandang pakaian Cin Han. Pemuda itu diam-diam mengerling ke arah pakaiannya dan ia maklum bahwa pakaian itu menarik perhatian suhunya, karena sudah lama sejak ia ikut pamannya mempelajari ilmu surat, ia berpakaian sebagai seorang pelajar pula.

Lenyap sifat-sifat dan kegagahan seorang ahli silat dari pakaiannya yang menunjukkan keahliannya sebagai seorang sasterawan. “Bagus, muridku. Bagus, memang inilah yang terbaik. Makin rapat kau sembunyikan kepandaian silatmu, makin baik. Ha, ha.”

“Suhu, teecu girang sekali suhu datang. Marilah kuantar menemui pamanku!”

Gwat Liang Tojin mengangkat tangan kanannya dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tak usah, tak usah, aku tak mau membikin repot. Sebenarnya, kedatanganku ini kebetulan saja, Cin Han. Dalam perantauanku, aku kebetulan lewat tempat ini dan pula ada sesuatu yang agak penting juga.”

“Teecu sebenarnya sudah sangat rindu kepada suhu.”

“Ha, anak baik. Baru juga setahun lebih,” kata pendeta itu sedangkan di dalam hati ia girang sekali mendengar pernyataan muridnya itu dan diam-diam iapun mengakui betapa rindunya kepada murid yang sangat disayangnya itu. Tapi tiba-tiba wajahnya menunjukkan kesungguh-sungguhan.

“Muridku, dalam beberapa hari ini kau harus berhati-hati. Pamanmu mungkin dalam bahaya.”

Cin Han terkejut. “Gan siok-hu dalam bahaya? Apa maksudmu, suhu?”

“Kedatanganku sebetulnya juga ada hubungannya dengan hal ini, dan baiklah jangan kau menanyakan sesuatu. Jika bahaya ini sudah lewat, kau tentu akan mendengar sendiri pokok persoalannya dari paman dan bibimu. Tapi jangan kau cemas, Han, aku takkan berada jauh dari sini dan akan selalu mengawasi dan menjaga.”

Cin Han tak berani mendesak, tapi bagaimanapun juga, hatinya sangat bingung penuh rasa khawatir. Tiba-tiba dari dalam rumah tampak orang menuju ke halaman belakang di mana mereka berada.

“Sampai jumpa lagi, muridku,” kata Gwat Liang Tojin dan sekali berkelebat lenyaplah tubuhnya di balik pagar. Diam-diam Cin Han mengagumi gerakan gurunya yang sungguhpun sudah lanjut usianya namun masih gesit dan cepat sekali.

Ternyata yang datang adalah pamannya, Gan Keng Hiap. Mereka bercakap-cakap seperti biasa, dan dengan suara yang seakan-akan tak disengaja, Cin Han membelokkan percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan apakah pamannya itu mempunyai musuh di luaran.

“Musuh? Ah, dari mana kau mendapat pikiran aneh ini, anakku? Aku seorang lemah dan tak pernah berselisih dengan orang lain, pula aku tidak berani berkelahi. Siapa yang memusuhi orang seperti aku?”

Semenjak saat itu Cin Han berlaku hati-hati sekali menjaga rumah pamannya, tapi malam hari itu tidak terjadi sesuatu. Pada malam hari kedua, pada kurang lebih jam sepuluh dan ia sedang duduk bersamadhi sambil berjaga, telinganya mendengar suara kaki menginjak genteng rumah.

17. Musuh Sasterawan Tua Cacat!
Ia kaget sekali karena suara itu demikian perlahan yang menunjukkan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh tamu malam itu. Dengan tenang Cin Han memadamkan lampu dan mencabut pedang Kong-hwa-kiam yang selama ini disembunyikan saja dalam bungkusan pakaiannya, kemudian ia meloncat keluar jendela terus mengayun tubuh ke atas genteng.

Sebelum ia dapat melihat di mana adanya tamu malam itu, tiba-tiba ia merasakan angin pukulan datang dari samping dibarengi bentakan perlahan.

“Jangan kau ikut-ikut dan merintangi maksudku, pergilah!”

Tapi Cin Han berlaku sebat. Dengan miringkan tubuh ia dapat mengelakkan sampokan tangan orang itu dan ia barengi meloncat ke belakang untuk memperhatikan lawannya. Ia kaget dan heran sekali. Yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki setengah tua yang beroman muka mengerikan.

Orang itu mukanya penuh cambang bauk dan rambutnya yang panjang terurai tak terurus sama sekali, sedangkan tubuhnya mengenakan baju dan celana pendek dari kulit harimau, kakinya tak bersepatu, ia lebih menyerupai orang hutan yang masih liar.

“Hei, siapakah kau dan apa maksudmu malam-malam datang mengganggu?”

“Ha, ha, anak muda. Kau dapat menangkis doronganku, terhitung orang pandai juga. Sayang usiamu yang muda, pergilah jangan merintangi maksudku. Kau jangan ikut-ikut, jangan turut campur.” Suara orang itu parau dan menyeramkan.

“Enak saja kau berbicara, kawan,” kata Cin Han dengan berani. “Aku termasuk penghuni rumah ini dan kau datang hendak mengganggu keamanan rumahku, dan kau katakan aku tak boleh ikut campur? Mana ada aturan macam ini? Hayo mengaku saja, siapa kau dan apa maksudmu datang malam-malam ini? Kalau kau tidak mengaku, jangan mengatakan aku keterlaluan kalau pedangku tak mengenal ampun.”

Sepasang mata orang itu memandangnya. Karena bulan bercahaya suram-suram maka Cin Han tidak dapat melihat dengan jelas, hanya tampak seakan-akan dari sepasang mata itu mengeluarkan cahaya. Ia tidak tahu bahwa orang itu memandangnya dengan kagum.

“Kau anak kecil tahu apa? Jangan turut campur!” Sambil berkata demikian orang itu menggerakkan tubuhnya meloncat ke bawah tanpa memperdulikan lagi kepada Cin Han. Pemuda itu penasaran dan marah sekali, ia mengayunkan pedangnya dan melompat mengejar lalu mengirim sebuah tusukan sambil berteriak, “Awas pedang!”

Orang itu berkelit cepat dan berteriak kaget ketika pedang Cin Han menyerempet pundaknya dan hampir saja melukainya. Ia tidak menyangka pemuda itu demikian lihai.

“Tahan!” serunya marah. “Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Gan Keng Hiap?”

Cin Han tersenyum mengejek. “Kau mau tahu sekarang? Dengar baik-baik, Gan Keng Hiap adalah pamanku, dan aku menjadi pelindungnya!”

“O, begitu? Ha, ha! Kau sombong, anak muda, sungguhpun kuakui bahwa ilmu pedangmu tidak jelek. Mari-mari, majulah, mari kita main-main sebentar, takkan terlambat bagiku untuk mengambil nyawa orang she Gan itu sebentar lagi.”

Mendengar kata-kata ini Cin Han menjadi marah sekali. “Mudah saja, lebih dulu aku akan mengambil kepalamu!” Maka iapun menyerang dengan hebat. Pedang Kong-hwa-kiam diputar cepat mengeluarkan sinar berkilauan dan mengeluarkan angin dingin.

“Bagus juga kiam-hwat mu!” Orang aneh itu berkelit dan ia makin kagum saja melihat permainan pedang pemuda itu.

Biarpun Kong-hwa-kiam-sut yang dimainkan Cin Han sangat luar biasa dan gerak-geriknya cepat melebihi burung kepinis, namun ternyata orang aneh itu lebih hebat lagi gerakan-gerakannya. Ia berkelit ke sana ke mari, menerobos di antara sinar pedang yang mengurungnya, dan kadang-kadang membalas menyerang dengan pukulan atau tendangan berbahaya.

Cin Han mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, tapi setelah bertempur seratus jurus, ia mulai terdesak. Ia kalah ulet dan kalah tenaga. Pada saat ia terdesak sekali menghadapi tendangan beruntun dari orang aneh itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Ong Lun, kau orang tak tahu diri!!”

Dan tampak bayangan putih berkelebat di depan Cin Han untuk menahan serbuan orang aneh itu. Cin Han meloncat mundur dengan hati girang karena yang datang itu bukan lain ialah Gwat Liang Tojin, gurunya.

“Ha, ha, ha! Aku tadi sudah merasa curiga terhadap anak muda ini. Memang ilmu pedangnya mengingatkan aku akan engkau orang tua,” tamu malam yang aneh itu tertawa bergelak-gelak.

Gwat Liang Tojin menudingnya dan berkata dengan suara tetap. “Ong Lun! Kau tahu betapa besar rasa sayangku kepadamu. Kau sudah kuanggap adik kandungku sendiri, bahkan kita sudah saling bersumpah untuk bersetia kawan. Tapi kau yang selalu kukagumi, ternyata tak lain hanya seorang lemah, seorang pengecut.”

“Gwat Liang suheng, mengapa kau begitu marah? Mungkin sutemu ini seorang lemah, ini kuakui, tapi mengapa kau menyebutku pengecut?”

“Bukankah itu disebut lemah dan rendah bila seorang hohan menjadi mata gelap hanya karena wanita? Dan bukankah pengecut sekali bila seorang gagah berilmu tinggi memusuhi seorang sasterawan lemah tak berdosa hanya karena seorang perempuan? Ah, Ong Lun, Ong Lun… kau harus malu!”

“Sasterawan lemah? Tak berdosa? Suheng, kau belum tahu duduknya perkara. Orang she Gan itulah yang pantas disebut orang tak tahu malu. Ia menggunakan wajah tampan dan kedudukan sebagai seorang sasterawan untuk memikat hati wanita yang kucinta. Aku sudah menderita dan menahan gelora hatiku untuk puluhan tahun, tapi hatiku makin menderita, suheng. Kalau aku belum mengirim orang she Gan itu ke neraka, hidupku akan makin tersiksa saja.”

“Betulkah kata-katamu ini?” Suara Gwat Liang membayangkan keragu-raguan.

“Tentu saja betul…”

“Bohong!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah. Ternyata yang berteriak itu adalah nyonya Gan Keng Hiap yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka di atas genteng yang diucapkan dengan keras. “Itu bohong belaka! Belum pernah aku mencinta kepada Sian-kiam Koai-jin Ong Lun. Memang aku kagum dan berhutang budi padanya, tapi aku tak pernah cinta padanya. Aku kawin dengan Gan Keng Hiap karena akupun cinta padanya, bukan karena pikatan. Ah, Ong-taihiap, kenapa kau jadi begitu? Rambut kita sudah putih, tapi masih jugakah kau mendendam? Kalau kau mau bunuh suamiku, bunuhlah aku lebih dulu!” Kemudian nyonya Gan Keng Hiap berlutut di atas lantai sambil menangis sedih.

Wajah Ong Lun Sian-koam Koai-jin yang tadinya tegang dan keras, kini tiba-tiba melunak dan ia menghela napas berulang-ulang.

“Ong Lun Taihiap, aku Gan Keng Hiap ada di sini, kalau taihiap masih penasaran, inilah aku, bunuhlah kalau itu kehendakmu!” terdengar suara Gan Keng Hiap berteriak-teriak pula dari bawah.

Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa menggunakan sepasang matanya yang tajam itu mengerling ke sana ke mari bagaikan seekor harimau yang terkurung. Lalu tiba-tiba ia tertawa keras, tapi suara tawanya itu seakan-akan menggemakan suara tangis yang keluar dari hati sanubarinya.

“Ha, ha, ha, ha!!! Memang aku orang rendah tiada guna. Memang aku manusia menanti ajal. Orang tak tahu diri, tak tahu malu. Pantas saja semua orang membenci. Wanita yang kutolong dan kucinta membalas membenci. Suheng yang seperti kakak sendiri juga membenci. Sudah sepatutnya, sudah sepatutnya! Biarlah, Gan Keng Hiap, kalau di dunia ini aku tak dapat menuntut balas, nanti di akhirat tentu aku akan mencari padamu!” kemudian orang aneh itu segera berkelebat pergi secepat kilat.

“Ong Lun sute, tunggu!!”

Panggilan Gwat Liang Tojin penuh suara iba. Tapi bayangan yang sudah jauh itu hanya menjawab, “Maaf, suheng!”

Dan malam kembali sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis nyonya Gan Keng Hiap di bawah genteng.

“Nah, tugasku selesai, muridku. Sekarang aku hendak pergi.”

“Tapi suhu, siapakah orang gagah tadi? Ilmu silatnya tinggi dan hebat, dan mengapa ia memusuhi siok-hu?” tanya Cin Han yang masih berdebar dan bingung menghadapi peristiwa yang baru terjadi.

“Dia adalah Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, orang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya. Ia telah mengangkat saudara dengan aku dan kami pernah sama-sama mempelajari ilmu silat tinggi. Tapi ia berwatak ku-koai (aneh) dan suka membawa mau sendiri. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang baik dan berhati emas serta luhur budinya. Tentang urusannya dengan siok-humu itu, aku tak tahu jelas, lebih baik kau tanya saja kepada mereka yang bersangkutan. Nah, sekarang aku pergi muridku. Jaga dirimu baik-baik.”

“Terima kasih, suhu, selamat jalan.”

Gwat Liang Tojin mengebutkan lengan bajunya dan tubuhnya berkelebat di malam gelap. Malam itu Cin Han tidak mau mengganggu paman dan bibinya yang masih tenggelam dalam kesedihan dan keharuan, tapi pada keesokan harinya, terpaksa ia membuka rahasia bahwa yang datang menolong malam tadi adalah suhunya.

Gan Keng Hiap suami isteri menyesal sekali mengapa Gwat Liang Tojin tidak diminta turun dan berkenalan. Kemudian Cin Han dengan ingin tahu sekali bertanya tentang urusan pamannya dengan Sian-kiam Koai-jin Ong Lun. Sambil menghela napas panjang Gan Keng Hiap mengangguk ke arah isterinya dan berkata.

“Kau tanya sajalah kepada bibimu.”

Dan bibinya mulai bercerita tentang masa mudanya ketika berjumpa dengan Ong Lun.


Nyonya Gan Keng Hiap ketika masih gadis bernama Pui Sin Lan. Ayahnya adalah Pui Hok Thian, seorang pembesar menjabat pangkat ti-hu di kota Bian-touw Karena keadaan di Tiongkok pada waktu itu sangat tidak aman dan kekacauan timbul di mana-mana sebagai akibat kelaliman Raja.

Dan semua pembesar dan alat pemerintah hidup dengan jalan korupsi, dan memeras rakyat, dan pembesar yang adil selalu bahkan dimusuhi oleh para koruptor hingga kedudukannya terdesak, maka Pui Hok Thian yang mempunyai jiwa bersih, mengundurkan diri.

Ia mengajukan surat rekes untuk meletakkan jabatan dengan alasan kesehatan, setelah mendapat ijin dengan mudah karena pembesar atasannyapun lebih suka melihat ia berhenti, ia berkemas dan membawa isteri dan anaknya pulang ke kampung asal.

Ternyata atasannya menaruh curiga padanya dan takut kalau-kalau di belakang hari bekas ti-hu yang jujur ini akan membongkar segala rahasianya. Maka diam-diam ia menyewa beberapa orang perampok kejam untuk mencegat perjalanan Pui Hok Thian dan membunuh semua keluarganya.

Demikianlah, ketika rombongan Pui Hok Thian melalui sebuah hutan yang liar dan besar, tiba-tiba sebatang anak panah melayang cepat dan menancap di kereta yang mereka duduki. Tukang kereta dan beberapa orang pengawal dengan cemas mencabut golok membuat persiapan.

Muncullah beberapa belas orang perampok yang dikepalai oleh seorang tinggi besar bersenjata siang-to. Perampok itu tanpa bertanya-tanya lagi segera menyerbu dan pertempuran berjalan dengan sengitnya.

Melihat bahwa pengawal-pengawal itu hanya berkepandaian biasa saja, kepala rampok hanya melihat saja betapa anak buahnya beraksi. Tiba-tiba ia melihat Pui-siocia di dalam kereta. Memang Pui Siok Lan adalah seorang gadis yang cantik sekali dan ia terkenal sebagai kembang kota Bian-touw usianya pada waktu itupun baru enambelas tahun.

Kan Beng kepala rampok yang disewa oleh pembesar jahat itu mengilar melihat kecantikan gadis itu dan timbul niat jahatnya. Dengan sekali loncat ia berada di dekat kereta dan membuka tendanya.

Pui Siok Lan menjerit kaget dan takut. Melihat perampok tinggi besar dan bengis itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, ia segera mencabut sebuah pisau belati kecil penjaga diri dan menggunakan senjata kecil itu menusuk tangan penjahat. Tapi Kan Beng hanya tertawa menyengir dan sekali sentil dengan jari tangannya, pisau itu terlepas dari pegangan Pui-siocia.

Gadis itu hendak lari dan meloncat dari tempat duduknya, tetapi Kan Beng lebih cepat dan sebelum Pui-siocia dapat lari, tangannya telah terpegang oleh kepala rompok itu. Dengan sekali sentak tubuh yang kecil ramping itu berada dalam pelukannya dan ia meloncat dari kereta untuk membawa nona itu pergi lebih dulu.

Tiba-tiba pada saat itu terdengar jeritan-jeritan kesakitan dari beberapa orang perampok roboh tak berkutik lagi. Ternyata seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk. Tubuhnya bagaikan burung rajawali berkelebat ke sana ke mari. Di mana saja ia sampai tentu terdengar jeritan ngeri dan seorang penjahat roboh terguling.

Tiba-tiba pemuda itu melihat Pui-siocia dalam pondongan Kan Beng. Ia berseru keras dan nyaring dan tahu-tahu tubuhnya sekali loncat telah sampai di depan Kan Beng. Kan Beng pun berseru marah. Ia melepaskan Pui Siu Lan dari pondongan dan mencabut golok kembarnya. Tapi pemuda itu melawannya dengan tangan kosong.

Sungguhpun siang-to di tangan Kan Beng merupakan sepasang golok yang lihai dan berbahaya sekali, namun dengan lima kali gebrakan saja sepasang golok itu terpental dari tangan Kan Beng dan sebuah tendangan kilat, menamatkan riwayat kepala perampok itu.

Melihat kegagahan pemuda itu, sisa-sisa perampok tanpa diperintah lalu lari tunggang-langgang. Berkat ketangkasan pemuda itu, Pui Hok Thian sekeluarga tertolong dan selamat, hanya dua orang pengawal mendapat luka-luka berat akibat bacokan golok.

Pui Hok Thian berterima kasih sekali dan menanyakan nama penolong mereka. Ternyata penolong yang gagah berani itu adalah Siang-kiam-enghiong Ong Lun si pedang dewa. Dengan merendah Ong Lun balas memberi hormat dan ia lalu mengantar pembesar jujur itu pulang ke kampung.

Semenjak itu, Ong Lun merasa bahwa hatinya telah tercuri oleh nona cantik yang ditolongnya. Pula, Siu Lan orangnya ramah-tamah dan tidak malu-malu maka pemuda itu makin tertarik. Beberapa bulan semenjak terjadinya peristiwa itu, pada suatu malam rumah Pui Hok Thian didatangi penjahat. Mereka terdiri dari tiga orang dan bukan lain ialah suheng dan kawan-kawan Kan Beng yang terbunuh mati.

Untung bagi keluarga Pui, pada waktu hal ini terjadi, Ong Lun masih berada di kampung itu, tinggal di sebuah hotel. Maka ketika seorang peronda memberi tahu padanya bahwa rumah keluarga Pui diserang penjahat, secepat kilat ia lari ke sana dan berhasil mencegah terjadinya pembunuhan.

Ketika ia tiba di rumah itu, ia melihat dua orang penjahat tengah mengamuk dan dikeroyok oleh penduduk kampung yang mengerti ilmu silat. Tapi orang-orang kampung itu bukan tandingan ke dua penjahat itu hingga telah ada beberapa orang yang menjadi korban. Dengan berseru keras Ong Lun menyerang mereka dan memerintahkan orang-orang kampung mundur.

“Hai, orang-orang dari manakah berani main gila di depan Sian-kiam Ong Lun?” bentaknya.

“Ha, jadi kaukah yang membunuh suteku Kan Beng? Kebetulan, memang kamu yang kucari. Hutang nyawa harus dibalas dengan nyawa!” teriak seorang kate kecil yang menjadi suheng Kan Beng dan bernama Tie Lok si Kerbau Kate Tanduk Besi. Kemudian kedua orang itu mengeroyok Ong Lun.

Ternyata kedua orang itu berkepandaian lumayan juga hingga akhirnya Ong Lun menjadi gemas dan mencabut Sian-liong-kiam. Setelah bersenjatakan pedang pusaka, maka dalam beberapa jurus saja kedua lawannya telah terbunuh mati. Ong Lun meloncat turun untuk menemui Pui Hok Thian. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapatkan Pui Hok Thian suami isteri menangis sedih,

“Siok-hu, apa yang telah terjadi? Apakah Lan-moi…..”

“Celaka, taihiap… adikmu… Siu Lan diculik penjahat....”

Tanpa membuang waktu lagi Ong Lun meloncat keluar dan naik ke atas genteng. Ia menduga bahwa penjahat yang membawa lari Siu Lan tentu pergi ke sebelah hutan yang terletak beberapa belas lie dari kampung itu. Maka ia menggunakan ilmunya berlari cepat mengejar.

Betul sebagaimana yang ia duga, gadis itu dilarikan penjahat ke hutan itu. Ketika ia memasuki hutan beberapa lie dalamnya, tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang bicara dan kuda meringkik. Ia berjalan perlahan dan mengintai. Ternyata di sebuah lapangan rumput terdapat banyak orang sedang duduk mengelilingi api.

Mereka adalah perampok-perampok yang berwajah kejam. Kurang lebih ada duapuluh orang yang duduk di situ, dan seorang yang agaknya menjadi pemimpin, bertubuh tinggi kurus dengan wajah pucat, duduk di tengah-tengah lingkaran. Di depannya kelihatan nona Siu Lan yang duduk menangis, menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Melihat keadaan nona yang dicintanya, ingin sekali ia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan mengamuk orang-orang yang dibencinya itu, tapi kecerdikannya mencegah kehendak ini. Kalau aku mengamuk, maka akan berbahayalah keadaan Siu Lan, pikirnya.

Maka ia menahan sabar dan tetap mengintai. Ternyata mereka itu hendak bermalam di hutan dan besok pagi Siu Lan hendak dibawa pulang ke sarang perampok oleh kepala perampok kurus itu.

Tak lama kemudian kepala perampok menyeret Siu Lan yang meronta-ronta ke dalam sebuah tenda yang telah dipasang di bawah pohon Siong besar. Ong Lun menggerakkan tubuhnya dan bagaikan burung ia meloncat ke atas pohon. Kemudian, tanpa mengeluarkan sedikitpun suara, ia meloncat ke belakang tenda yang dipasang seperti kemah itu.

Ia mendengar kekasihnya menangis dan memaki-maki, maka tak sabar lagi ia menggunakan Siang-liong-kiam menusuk kain kemah. Sekali putar tenda itu robek lebar dan ia menerjang masuk.

Kepala perampok itu duduk sambil minum arak dengan mangkok besar yang dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang lengan Siu Lan yang menangis sambil memaki-maki.

Kepala perampok itu terkejut bukan main melihat seorang pemuda memasuki tenda dengan tiba-tiba maka ia segera menggerakkan tangan menimpuk. Mangkok yang ditimpukkan itu dengan mudah dikelit oleh Ong Lun dan ia meloncat menerjang.

Kepala perampok telah menyambar ruyungnya dan menangkis, tapi tangkisan itu membuat ruyungnya terbelah dua. Sebelum ia dapat berteriak atau lari, Sian-liong-kiam yang sangat tajam itu telah berkelebat dan kepalanya terpisah dari tubuhnya.

“Ong Lun taihiap!” Siu Lan berseru girang dan lari menghampiri, setelah sampai di depan pemuda itu, karena girangnya telah tertolong dari bahaya yang lebih hebat daripada maut itu, ia memekik dan meloncat memeluk leher Ong Lun.

Dengan terharu Ong Lun memeluk tubuh yang dikasihi itu, tapi ia terkejut sekali melihat bahwa Siu Lan telah jatuh pingsan dalam pelukannya. Ia segera memondong tubuh nona yang telah lunglai itu dan meloncat keluar dari kemah.

Sementara itu, para perampok yang mendengar beradunya ruyung dengan pedang, memburu ke dalam kemah. Bukan main kaget mereka melihat kepala perampok sudah mati konyol dengan kepala terpisah dari tubuh. Mereka ribut-ribut dan memburu keluar, tapi Ong Lun dan Siu Lan telah pergi jauh dari situ.

Karena fajar sudah hampir menyingsing, maka Ong Lun tidak berani terus melanjutkan perjalanannya, memondong seorang gadis keluar dari hutan sepagi itu. Maka ia lalu menurunkan tubuh Siu Lan di atas rumput hijau dan memanggil-manggil namanya.

Siu Lian masih saja pingsan. Gadis itu terlalu banyak menderita ketakutan dan tekanan batin hebat. Ong Lun lalu menanggalkan kain ikat kepalanya dan membasahi kain dengan air anak sungai yang mengalir tak jauh dari situ. Dengan kain basah ia menghapus-hapus jidat dan leher Siu Lan.

Perlahan-lahan gadis itu sadar kembali dan untuk sesaat ia memandang sekeliling dengan heran. Tapi ketika matanya bertemu dengan Ong Lun, ia bangkit duduk lalu menangis kembali dengan sedih.

“Sudahlah, Lan-moi, jangan bersedih. Bahaya telah berlalu dan kau selamat.”

“Ah, terima kasih, taihiap, lagi-lagi kau sudah menolong jiwaku yang tak berharga ini.”

“Dan lagi-lagi kau panggil aku taihiap. Bukankah kita ini seperti kakak dan adik?”

Siu Lan menunduk kemalu-maluan. “Baiklah, mulai sekarang aku menyebut koko padamu. Bagiku, kau lebih berbudi daripada seorang kakak aseli.”

Ong Lun merasa betapa merdunya ucapan ini dan ia memandang gadis itu dengan penuh rasa kasih. Tapi Siu Lan yang masih berhati kanak-kanak tidak tahu akan pandangan ini. Ia hanya balas memandang dengan kagum dan hatinya bangga mempunyai seorang kakak yang demikian gagah perkasa dan yang telah lama ia kagumi.

“Koko sudah berbulan-bulan kami kenal padamu tapi belum pernah kau ceritakan riwayatmu. Aku masih lelah, maka baiklah kita mengobrol dulu di sini. Tempat ini begini sunyi dan nyaman. Coba kauceritakan sedikit riwayatmu, atau… apakah itu kau rahasiakan?” ia mengerling sambil tersenyum.

Ong Lun tersenyum pula. Pada saat itu hatinya merasakan sesuatu yang luar biasa dan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Hatinya seakan-akan menyaingi kenyamanan hawa pagi.

“Tidak, adikku. Bagiku tiada rahasia. Ayahku bernama Ong Tat dan dulu pernah menjabat pangkat residen. Tapi seperti juga ayahmu, ia bosan memegang jabatan yang penuh kekotoran itu, lalu minta berhenti. Tidak tahunya ia difitnah oleh kawan sejawat hingga ia terpaksa lari ke Sin-kiang. Di daerah yang liar ini ayah berjumpa dengan ibuku, seorang wanita Han yang lahir di Sin-kiang dan puteri seorang ahli pedang yang menjadi pendiri dari cabang Thai-san. Dan di situ pulalah aku terlahir, dididik ilmu silat oleh kakek dan ibuku. Kakekku masih mempunyai dua orang murid, yakni Hun Beng dan Kai Sin. Setelah tamat belajar silat, aku diusir oleh kakekku…”

“Diusir? Kesalahan apakah yang kau perbuat, koko?”'

Ong Lun tertawa. “Bukan begitu maksudku, Lan-moi. Aku bukan diusir karena salah, tapi diusir untuk pergi merantau dan meluaskan pengalaman.”

“O, begitu. Dan masih adakah semua keluargamu itu sekarang?”

“Masih, masih tetap di sana. Selama merantau empat tahun, sudah dua kali aku pulang dan mereka sehat-sehat saja, bahkan kedua suteku juga sudah tamat belajar dan sudah turun gunung.”

“Tentu banyak pengalaman-pengalaman yang menarik hati dan menyenangkan telah kau alami.”

“Memang banyak. Tapi pengalaman yang paling menarik terjadi di sini.”

“Di sini?”

“Ya, karena di sini aku mendapat seorang adik seperti kau.”

18. Dampak Cinta Tak Terbalas.
Wajah Siu Lan memerah. “Ah, jangan memuji, kakakku yang baik. Apakah kau tidak mempunyai saudara kandung?”

Ong Lun menggelengkan kepala.

“Nah, itulah sebabnya maka kau suka sekali mendapat seorang adik. Dan akupun senang mempunyai seorang kakak seperti kau. Kalau saja dari dulu kita bersama, tentu kawan-kawanku tidak akan ada yang berani mengganggu padaku.”

Demikianlah mereka mengobrol dengan gembira dan lupa waktu. Dalam kegembiraannya, Ong Lun bahkan menyanyikan sebuah lagu yang membuat Siu Lan sangat gembira. Kemudian mereka berjalan pulang dengan bergandengan tangan.

Pui Hok Thian suami isteri sangat girang melihat puterinya selamat. Lebih-lebih nyonya Pui, semalam penuh ia tak dapat tidur dan menangis terus. Kini melihat anaknya kembali dengan wajah berseri-seri ia menangis lagi dan memeluk anaknya.

“Aah, kau ini aneh dan lucu. Siu Lan hilang, kau menangis, sekarang dia sudah kembali, kau juga menangis lagi! Bagaimana sih maksudmu ini?” tegur suaminya.

Isterinya menyusut air mata dan merengut padanya. “Anak hilang kau hanya bisa bingung tak berbuat apa-apa. Tangisku malam tadi dan sekarang lain lagi, jangan kau anggap sama!”

“Apanya yang lain? Apakah lagunya yang lain? Atau air matanya yang berbeda?”

“Aah, sudahlah. Kau laki-laki tahu apa tentang tangis dan air mata!”

Siu Lan dan Ong Lun saling memandang dan tertawa geli melihat pertengkaran lucu ini. Pui Hok Thian dan isteri tiada habisnya menghaturkan terima kasih kepada anak muda itu. Nyonya Pui menegur suaminya.

“Sudah berkali-kali aku bilang, lebih cepat Siu Lan keluar pintu lebih baik. Kalau ia sudah berada di rumah suaminya, tentu takkan terjadi hal-hal yang mencemaskan ini…”

Hok Thian melotot pada isterinya sambil mengerling kepada Ong Lun. Dengan isyarat ini ia menegur isterinya mengapa urusan rumah tangga semacam ini diucapkan di depan seorang luar.

Ong Lun merasa akan maksud isyarat ini dan dengan hati berdebar khawatir ia berpamit kembali ke hotelnya. Siu Lan keluar pintu? Siu Lan dikawinkan? Ah, ia merasa betapa ucapan-ucapan ini seakan-akan merupakan ujung pedang beracun menembus jantungnya. Perih dan sakit.

Tidak, tidak, kalau. Siu Lan kawin, maka ia sendirilah yang jadi suaminya. Ia harus menjumpai gadis itu dan menyatakan dengan terus terang. Malam ini aku harus menjumpainya, demikian ia mengambil keputusan.

Malam itu terang bulan. Ong Lun berdandan rapi dan berangkat menuju ke rumah keluarga Pui. Keadaan sudah sunyi, tapi ia tahu benar di mana tempat tidur gadis itu karena dengan diam-diam sudah berkali-kali jika waktu malam ia tak dapat tidur dan rindu kepada Siu Lan, ia pergi dan duduk di luar jendela gadis itu sambil melamun! Tapi belum pernah ia mengganggu atau mengetuk daun jendelanya walaupun hatinya sangat ingin.

Dengan perlahan ia menghampiri jendela dan mengetuk. Terdengar suara Siu Lan seakan-akan menahan teriakan. Segera Ong Lun memanggil karena ia tahu bahwa gadis itu tentu menyangka ada orang jahat lagi.

“Lan-moi!” ia memanggil perlahan.

Siu Lan membuka daun jendela. “Oh, kau, koko? Ada apa malam-malam…?”

“Stt.” Ong Lun memberi isyarat agar gadis itu jangan berisik, lalu minta ia keluar kamar.

Siu Lan mengangguk dan keluar dari pintu belakang. Mereka berjalan berendeng di dalam kebun belakang. “Koko, agaknya ada sesuatu yang penting sekali?” tanya Siu Lan sambil memandang wajah orang.

Ong Lun berhenti dan memegang pundak Siu Lan, seakan-akan untuk menetapkan hatinya yang bergoncang keras. “Moi-moi… aku… tadi aku mendengar ibumu berkata bahwa kau akan… dikawinkan… Maka… aku… terus terang, aku cinta padamu, Lan-moi dan… dan aku akan melamar kau untuk menjadi isteriku…”

Siu Lan memandangnya dengan mata terbelalak heran. Kemudian wajahnya yang cantik menjadi pucat lalu berubah merah dan sebentar pula ia menangis terisak-isak sambil menjatuhkan diri di atas rumput di mana ia duduk menangis sedih.

“Eh, Lan-moi, kau… kau kenapa?” tanya Ong Lun yang ikut duduk sambil memegang lengan Siu Lan.

“Kasihan kau… koko…. tak kunyana sama sekali bahwa perasaanmu terhadap aku sedemikian. Kukira kau hanya mencinta seperti cinta seorang kakak kepada adiknya seperti… perasaanku kepadamu perasaan cinta seorang adik kepada kakaknya…”

“Jadi… jadi kau tidak setuju…?”

Siu Lan memandangnya tajam sambil menggunakan saputangan menghapus air mata dari pipinya. “Koko, ketahuilah. Telah semenjak kecil aku ditunangkan, tunanganku adalah seorang she Gan dan… dan siang tadi ayah ibuku menetapkan bahwa hari perkawinanku dimajukan bulan depan nanti. Bu… bukan aku tidak menghargai perasaanmu, tapi… ah, apa yang harus kuperbuat? Coba kau pertimbangkan sendiri keadaanku…!”

“Kau sudah bertunangan? Akan kawin bulan depan…” Wajah Ong Lun menjadi pucat seperti mayat, harapan sebesar gunung dalam hatinya pecah berantakan membuat dadanya terasa panas dan kepala pening. Ia memegang kepalanya yang rasanya seakan-akan terputar, matanya menjadi gelap dan tak tahan menerima pukulan batin ini. Tubuhnya lemah lunglai dan ia jatuh terjerembab di atas rumput!

Siu Lan kebingungan. Sambil menangis sedih ia menggoyang-goyang tubuh Ong Lun yang pingsan. “Koko… koko…”

Beberapa butir air mata gadis itu jatuh menimpa hidung dan pipi Ong Lun dan pemuda itu sadar kembali dari pingsannya. Ia merasa sedih dan malu. Ia menyatakan cintanya kepada seorang gadis yang telah bertunangan, kepada seorang gadis yang berhati suci dan menganggap ia sebagai kakak sendiri! Ia telah salah sangka.

Ternyata Siu Lan terlalu suci untuk mencinta padanya seperti cinta seorang wanita kepada seorang pria! Ah, ia malu! Malu sekali! Tiba-tiba tangannya bergerak dan pedang Sian-liong-kiam telah terhunus!

Perasaan halus seorang wanita ternyata lebih cepat lagi. Siu Lan menubruk padanya, “Jangan, koko, jangan…! Ah, laki-laki gagah perkasa yang kukagumi… demikian pengecutkah kau? Mau bunuh diri? Buang pedangmu, buang!!”

Dengan tenaga luar biasa ia terkam tangan Ong Lun dan pemuda itu bagaikan seorang hilang pikiran membiarkan saja pedangnya dirampas dan dilempar ke bawah oleh Siu Lan. Ia mendekap mukanya dan air mata mengalir dari cela-cela jarinya.

“Lan-moi… mari… marilah kita pergi … kita minggat saja dari sini, hidup berdua…”

Siu Lan berdiri marah. “Tidak! Kau anggap aku ini seorang macam apa? Tak malukah kau kalau aku melakukan hal yang demikian itu? Takkan cemarkah nama kita untuk selama-lamanya? Tidak!”

Tiba-tiba Ong Lun juga marah. “Baik! Kalau begitu, biarlah kau kawin dengan mayat orang she Gan itu! Akan kucari padanya, dan akan kubunuh, coba kau bisa berbuat apa!”

Siu Lan mengangkat kepala dan bertolak pinggang. “Hem, begitukah? Baik, bunuhlah dia! Bunuhlah calon suamiku pilihan orang tuaku itu, dan kaupun akan melihat mayatku. Kewajibanku untuk ikut suamiku, ke mana saja ia pergi, biar ke neraka sekalipun!”

Mendengar dan melihat ucapan dan sikap Siu Lan yang nekat dan menantang itu, Ong Lun merasa jiwanya hancur lebur, hatinya terasa sakit dan perih, dan ia menundukkan kepala. Rasa marahnya lenyap terganti rasa duka dan patah hati. Kemudian dengan kaki limbung ia meninggalkan Siu Lan yang duduk menangis sedih.


Semenjak saat itu, watak Ong Lun berubah. Kalau tadinya ia merupakan seorang pemuda tampan dan manis budi bahasanya, kini ia tak menghiraukan dirinya lagi. Badan, muka, dan pakaiannya kotor didiamkan saja, ia tidak memperhatikan lagi makan tidurnya dan wataknya menjadi kasar dan aneh. Pakaiannya compang-camping dan kotor tak pernah diganti, rambutnya terurai ke mana-mana tak terurus.

Namun penderitaan batinnya tak membuat lupa akan tugasnya sebagai seorang pembela keadilan atau seorang hiap-kek yang dermawan. Hanya, kalau dulu ia banyak memberi ampun kepada orang-orang jahat yang bertobat, sekarang ia tak mengenal ampun lagi. Semua orang jahat yang bertemu dengan dia tentu dibunuhnya tak mengenal kasihan lagi.

Maka sebentar saja julukannya Sian-kiam atau Pedang Dewa ditambahi orang menjadi Sian-kiam Koai-jin yakni Manusia Aneh Pedang Dewa. Keganasan Sian-kiam Koai-jin terhadap penjahat-penjahat mendatangkan bibit permusuhan yang hebat dengan perkumpulan agama rahasia Pek-lian-kauw atau Perkumpulan Agama Teratai Putih, ketika pada suatu hari ia membunuh lima orang anggauta Pek-lian-kauw yang sedang menipu rakyat untuk mengeduk uang dengan memberi pertunjukan ilmu gaib.

Peristiwa itu terjadi di kota Tiang-bun. Ketika Ong Lun berada di kota itu dan pada suatu hari berjalan di depan sebuah kelenteng kosong, ia melihat banyak orang berdiri mengelilingi lima orang yang berpakaian putih dan di dada masing-masing tersulam gambar teratai putih di atas air biru. Mereka ini adalah dua orang perempuan muda dan tiga orang laki-laki yang sedang mempertunjukkan ilmu sulap dan sihir.

Ketika Ong Lun mendekat, beberapa orang penonton menjauhkan diri dari pengemis muda yang kotor menjijikkan ini. Tapi Ong Lun tak perduli dan melongok ke dalam kalangan. Ia melihat orang laki-laki yang tertua, agaknya pemimpin rombongan itu, memegang sebuah pedang tajam dan berkata dengan suara keras.

“Cuwi yang terhormat. Cuwi sekalian telah menikmati pertunjukkan ilmu sulap dan silat yang menyatakan betapa gaibnya ilmu dari agama kami. Cuwi sekalian juga bisa masuk menjadi anggauta dan memiliki semua kepandaian aneh-aneh ini, asalkan cuwi suka menderma limapuluh tail perak tiap orang.”

Sambutan orang-orang atas pernyataan ini bermacam-macam. Ada yang setuju, ada yang tidak percaya dan mencela, walaupun celaan itu tak dikeluarkan terang-terangan.

“Cuwi-cuwi sekalian, sekarang kami akan memberi pertunjukan yang belum pernah kalian lihat seumur hidup, sebagai bukti betapa saktinya dewa-dewa yang dipuja di perkumpulan kami. Pernahkah kalian melihat orang menghilang? Nah, dewa-dewa kami akan memperlihatkan kesaktian dan melenyapkan beberapa orang anak.”

Kelima orang Pek-lian-kauw itu berjalan mengitari lapangan dan mata mereka mencari-cari. Kemudian masing-masing memilih seorang anak kecil dan dengan pikatan sebungkus kurma, anak-anak itu mau dan menurut saja diajak masuk ke dalam kalangan. Pemimpin rombongan itu tertawa dan berkata kepada para penonton.

“Cuwi, lihatlah lima orang anak-anak mungil ini. Kami akan minta kepada dewa-dewa kami untuk memperlihatkan kesaktiannya dan membuat anak-anak ini dan kami berlima lenyap. Jangan khawatir, anak-anak ini takkan terganggu apa-apa. Nah, awas, saksikanlah!”

Ong Lun merasa curiga, tapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, kelima orang itu masing-masing telah mengeluarkan sebuah benda bulat dan mereka membanting benda itu di luar lingkungan mereka berlima. Terdengar ledakan keras dan benda-benda yang meledak itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sekali sehingga sekejap saja mereka dan anak-anak itu tertutup asap dan lenyap dari pandangan mata.

Tiba-tiba dari dalam gumpalan asap hitam itu terdengar suara tertawa seperti suara iblis tertawa dan para penonton tercengang mendengarkan suara pemimpin rombongan itu.

“Cuwi anak-anak ini hendak dipinjam sementara oleh dewa-dewa kami, dan siapa yang ingin menebus kembali, harus mendermakan uang seribu tail untuk tiap orang anak dan mengantar uang itu di hutan Siong-lim pada nanti jam dua belas!”

Semua penonton semenjak ledakan tadi telah mundur dan setelah asap membuyar mereka melihat bahwa lima orang Pek-lian-kauw bersama lima orang anak-anak itu betul-betul lenyap tak meninggalkan bekas! Mereka bingung dan terdengar jerit tangis orang-orang tua anak-anak itu.

Semua orang tidak tahu bahwa pemuda pengemis yang berpakaian compang-camping dan kotor menjijikkan tadi juga turut lenyap dari situ! Sebenarnya apakah yang terjadi? Benar-benarkah orang-orang Pek-lian-kauw itu pandai menghilang? Hanya seorang saja yang dapat menjawab, ialah Ong Lun.

Ketika orang-orang tadi sedang bingung dan takut, Ong Lun bahkan mendekat dan memandang penuh perhatian. Samar-samar ia melihat lima bayangan berkelebat di belakang asap hitam dan dengan gerakan cepat sekali mereka lari ke arah utara. Ong Lun dengan diam-diam lari menggunakan ilmunya berlari cepat. Ia dapat mengejar mereka dengan mudah dan mengikuti jejak mereka.

Ternyata kelima orang Pek-lian-kauw itu lari masuk ke dalam hutan Siong-lim di mana terdapat sebuah pondok kecil tempat persembunyian mereka. Ketika mereka seorang membawa seorang anak dan kini anak-anak itu diam saja tak berteriak atau bergerak. Ia makin heran ketika melihat betapa anak-anak itu bagaikan dalam keadaan tidur atau pingsan.

Ia dapat menduga bahwa kelima penjahat itu tentu telah menggunakan obat-obat bius terhadap anak-anak itu. Ong Lun tak dapat mengendalikan napsu marahnya lagi. Ia mencabut Sian-liong-kiam yang disembunyikan dipunggungnya lalu meloncat dari atas pohon siong tepat di hadapan kelima orang itu. Tentu saja mereka menjadi terkejut bukan main.

“Bangsat rendah, penculik hina! Hayo kembalikan anak-anak itu, baru tuan besarmu mau mengampuni jiwa anjing kalian!” dampratnya.

Makian ini membuat anggauta Pek-lian-kauw yang termuda menjadi naik darah. Perempuan itu segera menuding kepada Ong Lun dan memaki. “Cis, budak pengemis hina dina! Tak tahukah kamu sedang berhadapan dengan siapa? Buka dulu matamu!”

“Ha, ha, ha! Tentu saja tuanmu sudah tahu. Kalian adalah gerombolan liar dari Pek-lian-kauw. Mungkin orang lain takut mendengar nama gerombolanmu, tapi aku, Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, biar kau tambah orang-orangmu seratus lagi, aku orang she Ong tak gentar sedikit juga!”

Kelima orang Pek-lian-kauw itu diam-diam merasa tulang punggung mereka seperti tersiram air dingin mendengar nama Sian-kiam Koai-jin! Nama ini sudah cukup terkenal sebagai tukang basmi dan algojo para penjahat yang tak mengenal kompromi lagi! Buru-buru pemimpin rombongan itu, Liok Bu Tiat si Kaki Baja, mengangkat kedua tangan dan menjura dengan menghormat sekali.

“Maafkan kami sebesar-besarnya, Ong taihiap. Kami telah buta tak melihat Gunung Thai-san menghadang di depan mata. Kalau dengan tak sengaja kami bertindak salah terhadap taihiap, mohon taihiap suka memberi maaf dan pandanglah muka sucouw kami!”

Ong Lun tertawa geli. “Mengapa muka sucouwmu kalian bawa-bawa ke mari? Aku tidak kenal dia. Kalian tanya kesalahanmu? Apa yang kalian lakukan dengan anak-anak itu? Kalian menculik anak-anak kampung dan mencoba memeras rakyat, masih hendak bertanya kesalahan lagi?”

Walaupun merasa marah karena sucouwnya dihina orang, namun Liok Bu Tiat masih menyabarkan diri karena ia tahu akan kelihaian orang ini, maka ia menjura lagi, “Ong taihiap, sepanjang pengetahuan dan ingatanku, perkumpulan kami belum pernah bermusuhan denganmu dan kami juga belum pernah membuat taihiap mengalami rugi. Maka mohon taihiap suka mengindahkan persahabatan ini dan mohon jangan mengganggu kami. Kelak kami akan melaporkan perihal kebaikan hati taihiap kepada sucouw kami dan mengundang taihiap datang minum arak wangi.”

“Apa? Setelah menculik dan memeras rakyat tak berdosa, kamu hendak membujuk-bujuk dan menyuap aku?? Jangan banyak cerewet, lekas keluarkan dan bebaskan anak-anak itu!” Kedua mata Ong Lun sudah mulai merah.

Tan Bwee Loan perempuan muda berdarah panas yang belum banyak mendengar nama Sian-kiam Koai-jin, tak dapat menahan sabar lagi. “Twako, untuk apa berdebat dengan anjing kotor ini? Tak perduli dia ini Koai-jin atau Jauw-koai (Setan Iblis), apakah kita berlima tak dapat membikin mampus padanya?”

“Bagus!” teriak Ong Lun marah dan pedang Sian-liong-kiam berkelebat bagaikan kilat.

Tan Bwee Loan menangkis, tapi pedang dan lehernya hampir berbareng terbabat putus! Demikianlah kehebatan Sian-liong-kiam dan kelihaian ilmu pedang dari Ong Lun si Manusia Aneh!

Empat kawan Bwee Loan bergidik melihat darah yang menyembur keluar dari lobang leher kawan itu. Tapi mereka tidak diberi kesempatan untuk memperpanjang keheranan dan kengerian mereka. Pedang pusaka di tangan Ong Lun berkelebat lagi menyambar-nyambar dan biarpun keempat orang Pek-lian-kauw itu berkepandaian lumayan juga, namun dalam beberapa belas jurus saja keempat-empatnya telah roboh mandi darah dan tak bernyawa pula!

Ong Lun tertawa bergelak-gelak, dan segera ia menolong anak-anak itu dan mengantar kembali ke kampung. Dengan siraman air anak-anak itu dapat siuman kembali dari pengaruh obat bius. Perbuatan hebat ini membuat nama Sian-kiam Koai-jin makin ditakuti kaum penjahat dan disegani orang-orang kalangan kang-ouw, tapi sebaliknya membuat Ong Lun dibenci hebat oleh kaum Pek-lian-kauw.

Semenjak itu, sudah berkali-kali Ong Lun berkelahi dengan jago-jago dari Pek-lian-kauw yang datang membalas dendam. Dalam pertarungan hebat dan mati-matian, Ong Lun yang berkepandaian tinggi selalu mendapat kemenangan. Maka kaum Pek-lian-kauw makin benci padanya dan mereka selalu berdaya upaya untuk membalas dendam!

Beberapa tahun kemudian, kalangan kang-ouw tak mendengar lagi namanya dan orang-orang menyangka bahwa Sian-kiam Koai-jin Ong Lun tentu tewas menjadi korban pembalasan kaum Pek-lian-kauw. Padahal sebenarnya Ong Lun telah didatangi oleh sahabatnya yang ia anggap sebagai kakak sendiri, yakni Gwat Liang Tojin yang membujuknya untuk bertobat dan belajar menyucikan diri dengan bertapa dan mempelajari ilmu batin.

Berkat bujukan-bujukan suheng yang ia indahkan ini, diam-diam ia pergi bertapa ke puncak Gunung Kim-ma-san. Dengan bertapa dan mengasingkan diri, selama berpuluh-puluh tahun ia tidak ikut mencampuri urusan dunia. Tapi ketika ia mendapat seorang murid yang bernama Han Lian Hwa, maka teringatlah ia kepada Siu Lan dan timbul kembali dendam dan sakit hatinya kepada Gan Keng Hiap.

Akhirnya ia tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia pesan kepada muridnya untuk tinggal berlatih silat di Bukit Kim-ma-san itu, lalu pergi mencari rumah Siu Lan di kota Tiong-bie-kwan, di mana ia bertempur melawan Cin Han dan bertemu pula dengan Gwat Liang Tojin yang lebih dulu telah melihatnya di tengah jalan dan tahu akan maksudnya.

Setelah mendapat kegagalan bahkan menerima pukulan-pukulan batin, Ong Lun cepat kembali ke tempat pertapaannya. Mulai saat itu, ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendidik murid tunggalnya, yakni Han Lian Hwa yang kemudian dijuluki orang Ang Lian Lihiap yang lihai dan beradat ku-koai seperti gurunya! Akhirnya Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa meninggal dunia di tempat pertapaannya setelah berpesan kepada muridnya untuk membalaskan sakit hatinya pada Gan Keng Hiap!

Demikianlah, setelah bibinya menuturkan sedikit riwayat pertemuannya dengan Ong. Lun, maka mengertilah Cin Han akan maksud orang aneh tadi. Diam-diam ia merasa kasihan kepada Sin-kiam Koai-jin yang ia kagumi karena ilmu silatnya yang tinggi.

Cin Han makin memperhebat ketekunannya belajar ilmu surat, juga ia rajin sekali melatih ilmu silatnya karena semenjak bertanding melawan Ong Lun ia maklum akan kerendahan kepandaian sendiri. Pada suatu hari di musim dingin, ketika ia sedang membaca buku tentang Lo-cu, ia mendengar suara orang batuk-batuk di luar rumah.

Cin Han tergerak hatinya dan ia segera bertindak keluar. Ternyata yang mengeluh dan batuk-batuk itu adalah seorang pengemis tua yang berdiri menggigil dan menggunakan kedua tangan menekan dada sambil batuk-batuk hebat sekali. Tubuh orang itu kurus dan hanya terbungkus baju rombeng tipis.

Selanjutnya,