X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 23

Cerita Silat Mandarin : Serial Perserikatan Naga Api seri ke 5, Sekte Teratai Putih Jilid 23 karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 23

Karya : Stevanus S P

KARENA mereka melangkah dengan cepat, mereka segera tiba di pinggang gunung. Mereka harus berhati-hati, sebab di beberapa tempat terlihat orang-orang Pek-lian-kau bergerombol-gerombol, berjaga-jaga. Sedang di tempat-tempat yang sulit tidak dijaga oleh manusia biasa, pihak Pek-iian-kau mempercayakan penjagaan kepada "tentara gaib" mereka.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Tetapi suatu saat, Sebun Beng dan rombongannya bertemu juga dengan sekelompok anggota Pek-lian-kau yang berjaga, yang jumlahnya sepuluh orang. Rupanya orang-orang itu semula bersembunyi di balik pepohonan, kemudian mereka berlompatan keluar menghadang Mo Hwe dan kawan-kawan barunya.

"Siapa?" bentak salah seorang dari penghadang-penghadang itu, agaknya adalah kepala kelompok penjaga.

Sebun Beng sudah hendak menjawab, tetapi Mo Hwe mendahului menjawab sambil melangkah maju, "Aku seperti mengenal suara Liong-tau (Kepala Naga) Cong Tiat-jiu dari Tai-goan?"

Orang yang berbicara tadi terkejut, karena dia pun mengenal suara Mo Hwe, biarpun tempat itu gelap bukan main karena cahaya bulan purnama tertahan oleh rapatnya pepohonan. "Cong.... eh, Mo Hwe?" tukas Cong Tiat-jiu tergagap-gagap. Hampir saja ia menyebut "Cong-cu" kepada Mo Hwe, tetapi teringat bahwa Nyo Jiok Si Cong-cu yang baru telah mengeluarkan peraturan agar siapa pun yang menemukan Mo Hwe harus menangkapnya atau membunuhnya, kalau merasa tidak mampu haruslah melapor. Mo Hwe dinyatakan sebagai buronan Pek-lian-kau.

"Ya, aku Mo Hwe. Jangan lagi panggil aku sebagai Cong-cu, sebab aku bukan Cong-cu Pek-lian-kau lagi. Bahkan andaikata kedudukan Cong-cu disodorkan lagi kepadaku, aku akan menolaknya mentah-mentah."

Sementara itu, Liong-tau Tiat-jiu masih kebingungan menentukan sikap, begitu pula kesembilan orang anak buahnya. Maklum, mereka dulunya anggota-anggota Pek-lian-kau Utara yang setia kepada Mo Hwe, tahu-tahu kemarin malam mereka digempur dan ditaklukkan oleh orang-orangnya Nyo Jiok, dan sekarang mereka diperintah oleh Nyo Jiok. Rasa penasaran akan kekalahan Pek-lian-kau Utara belum pernah padam dari dada mereka, tetapi mereka juga ketakutan kalau membantah maka mereka akan kena teluh oleh ketua Nyo Jiok dan "team dukun"nya.

Dalam keragu-raguan itu, mereka mendengar suara Mo Hwe, "Minggirlah, aku tidak mau bertindak keras terhadap orang-orang yang pernah menjadi kawan-kawanku...."

Cong Tiat-jiu dan kawan-kawannya jadi serba salah. Sahut Cong Tiat-jiu, "Kakak Mo, Kakak tahu sendiri bagaimana akibatnya bagi kami kalau tidak melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kami. Prajurit-prajurit gaib akan mengejar kami terus, tak ada tempat sembunyi bagi kami, tak ada kemungkinan lolos...

"Siapa bilang?"

"Apa... apa maksud Kakak Mo?"

"Siapa bilang tidak ada kemungkinan lolos? Buktinya adalah aku sendiri yang saat ini masih hidup. Padahal semalam aku dikejar-kejar bukan saja oleh para Thian-peng tetapi oleh para Thian-ciang juga."

"Kakak Mo tentu berbeda. Kakak Mo punya ilmu penangkal yang tinggi, tetapi kami ini...."

"Aku lolos bukan oleh ilmu penangkalku, sebab saat itu ilmuku sudah tidak sanggup membendung gelombang serangan gaib. Aku lolos karena belas kasihan Yang Maha Kuasa. Aku ikut terlindung oleh perlindungan yang melingkupi kekasih-kekasih-Nya, dan para Thian-ciang itu tidak bisa mendekat."

Cong Tiat-jiu saling pandang dengan kawan-kawannya', keheranan. Tak sengaja salah seorang anak buah Cong Tiat-jiu berdesis, "pantas..."

Hanya berdesis, tetapi karena tempat itu sangat sunyi, maka desisnya jelas kekuping semua orang di situ.

"Pantas apanya?" tanya Mo Hwe.

Orang yang ditanya tidak langsung menjawab, namun menatap Cong Tiat-jiu sebagai pimpinannya. Mohon persetujuan. Cong Tiat-jiu masih ragu-ragu, akhirnya dia menjawab sendiri, "Pantas dini hari tadi beberapa Pak-siau-jin (Pemukul Orang Kecil, maksudnya dukun) kami tewas karena secara mengerikan di depan altar mereka. Tubuh mereka seperti dirobek-robek binatang buas. Cong-cu yang baru mencoba menutupi-nutupi peristiwa itu, namun tersebar luas juga. Seluruh orang yang berkumpul di Puncak In-hong merasa tegang karena sebagian besar tidak tahu apa yang menyebabkan demikian."

"Kau tahu tidak?" tanya Mo Hwe.

Cong Tiat-jiu cuma menggeleng. "Baiklah aku beritahukan. Kemarin malam para Pak-siau-jin dikerahkan oleh Nyo Jiok untuk menggunakan ilmunya membunuh aku, bahkan dengan pertolongan para Thian-ciang. Tetapi sudah aku ceritakan tadi, para Thian-ciang gagal membunuhku, agaknya mereka marah, sudah terlanjur haus darah dan membunuh pengundang-pengundangnya sendiri, yaitu para Pak-siau-jin. Nah, kawan-kawan, itulah sifat roh-roh yang kalian sembah. Mereka ingin memperbudak kalian, dan apabila marah akan menghancurkan kalian sendiri. Sebab itu aku menganjurkan kalian tinggalkan Pek-lian-kau sebelum menjadi korban kemarahan dewa-dewamu sendiri. Jangan takut. Jangan menganggap dewa-dewa itu sebagai yang Maha Kuasa."

Cong Tiat-jiu agaknya mulai percaya. Antara lain disebabkan melihat Mo Hwe masih hidup, padahal semalam ia benar-benar melihat para Pak-siau-jin benar-benar mengerahkan segala sesaji yang bahkan dengan melukai tubuh mereka sendiri untuk mengerahkan "armada langit" menyerang Mo Hwe, nyatanya malahan para Pak-siau-jin itu sendiri banyak yang mati tadi pagi.

Menurut cara berpikir orang Pek-lian-kau yang juga sudah meresap di hati Cong Tiat-jiu, tidak bisa tidak Mo Hwe agaknya "sudah menemukan dewa baru yang lebih kuat". Karena itu semangat Cong Tiat-jiu tiba-tiba menyala, teringat teman-temannya yang tewas semalam, ketika menghadapi serbuan orang-orang Lam-cong. Karena itu pula ia tiba-tiba berani mengambil sikap,

"Cong-cu, kami siap mendukungmu merebut kembali kedudukanmu yang sah! Dan masih akan ada banyak teman yang akan mendukung kita, asal ada yang mengawalinya!"

Namun semangat berkobar-kobar itu menyurut ketika melihat Mo Hwe geleng-geleng kepala dan berkata, "Tidak. Kedatanganku untuk urusan lain. Aku tidak mau lagi menjadi ketua Pek-lian-kau biarpun semua orang mendukung aku, bahkan setelah urusan ini selesai, aku tidak mau lagi ada sangkut-paut antara diriku dan Pek-lian-kau selama-lamanya. Aku hanya menganjurkan kalian keluar dari Pek-lian-kau. Tidak ada yang kalian peroleh dari Pek-lian-kau kecuali menambah dosa. Coba renungkan kata-kataku."

Cong Tiat-jiu nampak termangu-mangu, sementara Mo Hwe berkata, "Sekarang biarkan kami lewat. Sebentar lagi kalian akan melihat bagaimana Pek-lian-kau dengan cita-cita gilanya dan upacara-upacara biadabnya terhapus dari muka bumi."

Cong Tiat-jiu dan orang-orangnya agaknya memang tidak sepenuh hati mengikuti kepemimpinan Nyo Jiok. Ditambah dengan hasutan Mo Hwe, mereka akhirnya benar-benar berniat minggat dari Pek-lian-kau, meskipun untuk melaksanakan niat itu haruslah menunggu waktu yang tepat.

Sedangkan Sebun Beng dan rombongannya pun meneruskan langkah tanpa dihalang-halangi oleh Cong Tiat-jiu dan teman-temannya tadi. Tetapi tidak semua rintangan bisa dilalui segampang itu, hanya dengan bujukan beberapa patah kata. Makin ke atas, yang ditugaskan untuk menjaga adalah orang-orang yang makin dipercaya oleh Nyo Jiok Si Ketua Baru.

Karena itu, ada waktunya bahwa perkelahian harus terjadi. Untung juga, biarpun rombongan Sebun Beng hanya empat orang, namun mereka terdiri dari orang-orang sekaliber Sebun Beng, Wan Lui, Sun Cu-kiok dan Mo Hwe, sehingga musuh-musuh dapat dibereskan dengan cepat, meskipun setiap saat Sebun Beng berpesan sungguh-sungguh,

"Jangan dibunuh. Cukup dibuat tidak berdaya saja."

Menjelang tengah malam, mereka sudah dua pertiga perjalanan ke Puncak In-hong setelah melalui sekian rintangan yang gaib maupun yang biasa. Sepanjang perjalanan itu, Sun Cu-kiok sudah gelisah bukan main, sangat menguatirkan keselamatan adiknya.

Dalam ruang penyekapannya, Sun Pek-lian, adik Sun Cu-kiok, sudah pasrah nasib saja. Dari celah-celah dinding kayu ia bisa melihat bulan purnama yang semakin tinggi, dan itu artinya hidupnya tinggal dalam hitungan jam. Selama dalam tawanan, perasaannya terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan.

Kadang-kadang harapannya melambung, lalu terhempas dalam keputus-asaan kembali. Tetapi kemudian Sun Pek-lian justru menjadi kuat jiwanya, menunggu saat-saat ia bakal disembelih sebagai tumbal "perjuangan" Pek-lian-kau, ia justru bersikap amat tenang. la justru dalam keadaan amat mengantuk menjelang tengah malam itu, dan ia ingin merasakan tidur nyenyak, barangkali untuk terakhir kalinya.

Tetapi sebelum kesadarannya amblas sama sekali, sebuah tangan yang lembut menepuk pundaknya sehingga ia tergagap bangun. Begitu matanya terbuka, dilihatnya seorang pemuda tampan dengan wajah berseri-seri berdiri di hadapannya. Berhadapan dengan orang-orang Pek-lian-kau yang garang-garang Sun Pek-lian tidak gugup, namun berhadapan dengan si tampan ini membuat gadis itu gugup juga. Begitu siuman, yang pertama kali dilakukan Sun Pek-lian adalah membenahi rambutnya!

"Si... siapa kau?"

Pemuda di hadapannya itu menjawab kalem. "Aku calon Kakak iparmu."

Sun Pek-lian melongo. Gembira campur kecewa. Gembira karena akhirnya pertolongan baginya datang juga, dan kecewa karena pemuda yang menggetarkan hatinya ini agaknya adalah pacar dari Kakak Sun Pek-lian sendiri.

"Kakak... masuk dari mana?" tanya Sun Pek-lian heran karena melihat satu-satunya pintu di ruangan itu masih tertutup, dan masih dirantai.

Liu Yok menggandeng tangan Sun Pek-lian melangkah ke pintu, sahutnya, "Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Kita harus cepat-cepat keluar dari sini."

"Tetapi di luar banyak penjaga."

"Kawan-kawanku sudah mengurus mereka."

"Kakak bersama kawan-kawan Kakak?"

"Ya."

Kemudian Sun Pek-lian melihat bagaimana Si Calon Kakak ipar ini mendorong pintu dengan ringan sehingga rantai-pintunya jatuh, lalu melangkah keluar dengan santai, tanpa sembunyi-sembunyi.

Namun Sun Pek-lian menahan langkahnya karena melihat orang-orang Pek-lian-kau yang bersenjata lengkap masih berjaga-jaga di sekitar rumah kayu itu. Ada yang berjalan-jalan hilir-mudik, ada yang duduk bergerombol, tetapi yang jelas semuanya waspada mengawasi gubuk "penyimpanan" Si Calon Tumbal yang mahal itu.

"Ayolah, kenapa?" Liu Yok menarik tangan Sun Pek-lian.

"Penjaga-penjaga itu...." Sun Pek-lian berdesis takut.

Liu Yok menjawab, "Biarpun kita lewat di depan hidung mereka, mereka takkan melihat kita."

"Mereka tidak pingsan dan tidak buta, mereka sadar dan melek..."

"Ya. Tetapi panca-indera mereka ditutup oleh kawan-kawanku."

Sun Pek-lian tidak paham benar kata-kata Si Calon Kakak ipar ini, namun ia tidak melawan lagi ketika digandeng pergi meninggalkan tempat itu. Mereka lewat saja di dekat penjaga-penjaga itu, dan alangkah herannya Sun Pek-lian melihat penjaga-penjaga itu sama sekali tidak menggubris mereka. Yang mengobrol tetap mengobrol padahal mata mereka melotot lebar.

"Apakah mereka ini sebenarnya kawan-kawan.... calon Kakak iparku seperti yang dikatakannya tadi?" Sun Pek-lian menduga-duga. "Kawan-kawannya menyamar sebagai orang Pek-lian-kau?"

Setelah Liu Yok dan Sun Pek-lian jauh dari situ, sekelompok orang Pek-lian-kau datang ke tempat itu. Mereka dipimpin sendiri oleh Nyo Jiok yang sekarang menjadi ketua Sekte Utara, didampingi Si Cebol Ai Kong yang menggendong sapu kawat bajanya, wakil ketua Sekte Selatan. Para penjaga berdiri dengan sikap hormat untuk menyambut.

Dengan angker Nyo Jiok berkata, "Waktunya hampir tiba, keluarkan Si Tumbal."

Kepala regu penjaga menjawab, "Baik, Cong- cu."

Lalu ia menuju ke pintu sambil merogoh kunci dari kantong bajunya, namun begitu berdiri di depan pintu, ia tertegun, wajahnya memucat. Ia melihat rantai pintu sudah jatuhke tanah, meski pintunya masih tertutup. Sikapnya mengherankan Nyo Jiok, "Ada apa?"

Yang ditanya tidak segera menjawab, malah celingukan menatap kawan-kawannya, sehingga Nyo Jiok mengulangi pertanyaannya dengan lebih keras, "Ada apa?"

Penjaga itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mendorong pintu bangunan kayu itu sehingga terpentang, memperlihatkan isinya yang kosong. Lalu ia menjawab takut-takut, "Tawanan itu hilang, Cong-cu...."

Bukan cuma Nyo Jiok dan orang-orang yang baru datang itu yang terkejut, tetapi para penjaga yang di tempat itu pun terkejut mendengar kata-kata rekannya itu. Salah seorang berkata, "Belum setengah jam yang lalu aku meniliknya, dan gadis itu masih ada!"

Sementara itu, dengan wajah memancarkan kegusaran, Nyo Jiok telah melangkah maju mendekati penjaga yang membuka pintu tadi, "Bangsat, kerja kalian benar-benar gegabah! Bagaimana kalian bisa menjelaskan hilangnya tawanan itu?"

Si Penjaga dengan takut-takut bergeser menjauhi Nyo Jiok dengan punggung menempel dinding bangunan kayu, "Cong-cu, ini benar- benar tidak masuk akal. Kami benar-benar tidak lengah, tidak mengantuk, kami awasi setiap sudutnya, kami periksa tawanan itu satu jam sekali. Dan seperti kata kawanku tadi, beberapa saat yang lalu tawanan itu masih ada, tetapi sekarang sudah tidak ada... kami... benar-benar tidak bisa menerangkannya kenapa jadi begini."

"Kau harus mampus!" Nyo Jiok sudah menyiapkan pukulan maut ke arah penjaga yang malang itu.

"Tahan!" seru Ai Kong.

Nyo Jiok menoleh kepada Ai Kong, "Ada apa?"

“Ketua Nyo, harap jangan lupa bahwa orang-orang yang menjaga di sini adalah anak buahku, orang-orang Lam-cong, kalau mereka bersalah, akulah yang berhak menghukum mereka!"

"Kalau begitu, hukumlah mereka. Mereka telah menghilangkan tawanan!"

Di luar dugaan Ai Kong menjawab, "Aku yakin hilangnya tawanan itu bukan kesalahan mereka."

Nyo Jiok kaget, "Apa maksud kata-katamu itu, Saudara Ai?"

Ai Kong bukan seorang yang suka berbelit-belit dalam bicara, begitu juga kali ini, "Ketua Nyo, semua orang sudah tahu selisih pendapat yang tajam antara kau dan aku perihal tawanan itu. Kau ingin menyembelihnya begitu saja, sedang bagi aku rasanya lebih bermanfaat kalau tawanan itu tetap hidup dan digunakan untuk memeras Gubernur Ho-lam. Bisa menghasilkan uang. Tetapi sebelum kesepakatan kita tercapai, rupanya kau sudah tidak sabar dan diam-diam menculik tawanan itu, lalu sekarang kau pura-pura marah-marah dan hendak menghukum anak buahku. Hem, sandiwara itu sungguh kasar!"

Nyo Jiok tidak menyangka kalau Ai Kong melontarkan tuduhan macam itu. Dengan gusar ia menuding orang-orang yang berjaga-jaga di sekitar tempat itu, sambil berkata kepada Ai Kong, "Saudara Ai, matamu masih sehat bukan? Bukankah kau sendiri yang memasang orang-orangmu untuk menjaga tempat ini, dan aku sudah mengalah dengan mempercayakan penjagaan kepada orang-orangmu? Kenapa sekarang berbalik menuduh aku?"

Ai Kong tidak kalah tangkas menjawab, "Memang orang-orangkulah yang menjaga tawanan, tetapi inilah justru bagian dari siasat licikmu agar kau bisa melakukan kejahatan tanpa jejak, agar kau bisa cuci tangan kalau dituduh. Sebab orang-orangku memanglah tidak begitu mahir dengan hal-hal gaib seperti orang-orangmu, tentulah orang-orangmu sudah mengambil tawanan itu dengan cara-cara siluman. Bukankah kau punya teman orang-orang Jepang yang pintar masuk ke dalam tanah? Tentu sudah kau suruh mereka untuk melakukan ini!"

"He, hilangnya tawanan itu adalah karena ketidak-becusan orang-orangmu, kenapa malah balik menyalahkan aku?"

Namun berhadapan dengan Ai Kong yang berangasan itu, kata-kata Nyo Jiok tidak berhasil meredakan amarahnya. Tangan Ai Kong meraih ke gagang sapu kawat baja yang mencuat di belakang pundaknya, sekejap kemudian senjata anehnya itu sudah tergenggam di tangannya. Bentaknya, "Ketua Nyo, aku ingin mencoba berbicara baik-baik sekali lagi, katakan sejujurnya, di mana kau taruh tawanan itu?"

"Ai Kong, tindakan sikapmu ini sebenarnya hanya untuk menutupi kecurangan pihakmu sendiri? Akulah yang pantas bertanya kepadamu, kemana kau pindahkan tawanan itu tanpa sepengetahuanku?"

Ai Kong menjadi gusar, ia melangkah maju sambil menggerakkan sapu kawat bajanya. Melihat kemarahan bekas sekutunya ini, mau tak mau Nyo Jiok gentar juga. Maklum, separuh lebih dari orang-orang yang ada di Puncak In-hong saat itu adalah orang-orangnya Ai Kong. Bukan itu saja, orang-orangnya Ai Kong memiliki banyak senjata api yang takj tertandingi oleh pihak Nyo Jiok kalau; terjadi bentrokan.

Meskipun di pihak Nyo Jiok ada banyak sekali ilmu gaib, namun di pihak orang- orang Lam-cong juga bukan anak-anak kemarin sore dalam hal! perkara-perkara gaib, meskipun mereka tidak mendalaminya setekun orang-orang Pak-cong.

Karena itulah, melihat kemarahan Ai Kong, buru-buru Nyo Jiok berkata, "Baiklah, Saudara Ai, harap redakan kegusaranmu. Persoalan ini jangan sampai meretakkan hubungan kita, sesama pejuang untuk tegaknya kembali dinasti Beng. Kita akui saja kenyataan bahwa tawanan itu memang hilang, tidak usah saling tuduh, lebih baik kita mulai berusaha mencarinya di sekitar Puncak In-hong ini. Barangkah dia melarikan diri, dan kita masih bisa mengejarnya.”

Ai Kong pun menahan diri. Ia membawa pesan rahasia dari ketua Sekte Selatan, agar Sekte Utara dapat dipersatukan kembli tetapi dengan pihak selatan sebagai pimpinan tentu saja. Bentrokan dengan Nyo Jiok tidak menguntungkan rencananya, itulah sebabnya ia menahan diri agar tidak sampai bentrokan dengan Nyo Jiok.

Tetapi kalau pembunuhan diam-diam terhadap Nyo Jiok, itu lain soal, Ai Kong dengan senang hati akan menyetujui hal itu dan bahkan mendukungnya. Biarpun berangasan, Ai Kong punya otak juga, itulah sebabnya ia bisa memanjat naik ke kedudukan nomor dua di Pek-lian-kau Selatan, sebagai wakil ketua.

Otaknya berputar sejenak, lalu muncullah akalnya untuk memecahkan persekutuan Nyo Jiok dengan para Ninja yang dipinjam Nyo Jiok dari kelompok "pecinta tanah air" yang bersembunyi dalam istana Kaisar Kian-liong. Ai Kong berharap, kalau Nyo Jiok retak dengan jago-jago dari seberang itu dan juga dengan kelompok "pecinta tanah air" itu, Nyo jiok akan lebih lemah dan lebih gampang "disetir" oleh Sekte Selatan.

Maka Ai Kong pun ganti haluan, tidak lagi mengacung-acungkan sapu kawat bajanya melainkan menggendongnya kembali. Lalu katanya, "Baiklah, kita tidak boleh kehilangan akal sehat karena peristiwa ini. Aku percaya orang-orangku sudah lakukan tugas mereka sebaik-baiknya, toh tawanan itu hilang juga. Maka aku mencurigai suatu pihak."

"Siapa?"

"Orang-orang Jepang yang kau undang ikut membantu menyingkirkan Mo Hwe itu. Bagaimanapun mereka adalah orang luar, kesediaan mereka membantu penyatuan Pek-lian-kau kita tentu ada pamrihnya. Bukankah kelompok istana di belakang mereka itulah yang pernah mengkhianati Pek-lian-kau dalam kerja-sama semu merampok batangan-batangan emas dan ibu kota itu?

Dalam peristiwa itu mereka makan nangkanya Pek-lian-kau yang kena getahnya. Mereka yang merampas emasnya yang sekarang disembunyikan di mana tanpa pernah kita lihat uiudnya, sedang kitalah yang diburu-buru anjing-anjing Manchu karena menyembunyikan emas-emas itu. Nah itu tandanya mereka tidak tulus bukan'?"

"Jadi, maksud Saudara Ai..."

"Yang mencuri tawanan itu pastilah mereka. Lagipula mereka bisa menghilang dan berjalan dalam tanah segala, kemungkinan besar merekalah yang berhasil mengelabuhi orang-orangku yang berjaga di sini."

"Lalu...."

"Kita gempur mereka, tunggu apa lagi? Bagaimanapun juga, mereka adalah orang luar, bukan saudara-saudara seperjuangan kita. Omong kosonglah kalau kelompok istana yang menyewa mereka itu mengaku pecinta tanah air, buktinya sudah dua kali mengkhianati kita. Memang kemarin mereka membantu kita menggusur Mo Hwe, tetapi malam ini biar mereka terima upah pengkhianatan mereka!"

Nyo Jiok yang lebih licik dan Ai Kong itu mencium suatu maksud tersembunyi di belakang tawaran Ai Kong itu. Namun ia pura-pura mengangguk-angguk setuju dan berkata dengan lirih, "Aku sependapat denganmu, Saudara Ai. Meski mereka pernah membantu kita, namun tidak tulus, namun mereka adalah duri dalam daging kita. Tetapi aku harap jangan sampai ribut-ribut, biarlah aku bereskan mereka secara diam-diam dengan ilmu gaib."

Hati Ai Kong melonjak kegirangan. "Kapan akan kau lakukan?"

"Malam ini juga, seperti katamu tadi, tunggu apa lagi? Tetapi karena sasaran serangan ilmu gaib kita kali ini adalah sasaran alot, aku minta dukunganmu, Saudara Ai, aku mohon kau menertibkan orang-orangmu agar jangan menimbulkan kecurigaan orang-orang Jepang itu. Sementara aku akan berada di Pek-lian-tai (Panggung Teratai Putih)."

Panggung Teratai Putih adalah sebuah tempat yang letaknya terpencil, tempatnya Nyo Jiok melakukan kegiatan sihirnya. Itu bukannya panggung biasa, melainkan dengan tumbal- tumbal manusia di bawah setiap tiang-tiangnya, yang dipercaya akan menambah keangkeran panggung tersebut.

Nyo Giok dan Ai Kong pun berpisah menuju ke tempatnya masing-masing, setelah berpesan kepada pengikut masing-masing agar merahasiakan rencana itu. Tapi mereka tidak tahu, sesosok bayangan bersembunyi di belakang pohon dan mendengarkan percakapan tadi. Setelah tempat itu sepi kembali, bayangan itu pun mengendap hati-hati di belakang semak belukar, meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Nyo Jiok sendirian sudah tiba di panggung Pek-lian-tai, panggung yang semalam juga digunakannya untuk mengirim serangan kepada Mo Hwe namun gagal tanpa ia ketahui sebab-sebabnya. Ia mulai menyalakan lilin-lilin, mengatur sesaji, membaca mantera, mengibarkan bendera-bendera bertulisan gaib. Lalu ia duduk bersila di tengah panggung, terus-menerus membaca mantera, tubuhnya bergetar.

Dari kolong meja sembahyang ia mengambil sebuah guci, dibukanya tutup guci itu dan dikeluarkannya seekor kura-kura kecil dari dalamnya. Punggung kura-kura itu ditempelinya kertas jimat yang sudah ditulisi dengan tanggal lahir dan nama dari sasarannya. Andaikata Ai Kong melihat tanggal lahir dan nama siapa yang dituliskan di situ, tentu Ai Kong akan gusar bukan kepalang, sebab itulah tanggal lahir dan nama Ai Kong!

Nyo Jiok menyeringai menatap kura-kura itu, lalu ditaruhnya kura-kura itu kembali ke dalam guci kecil itu. Ditaruhnya guci itu di hadapannya, sementara Nyo Jiok duduk bersila. Dipegangnya sebuah pedang-pedangan kayu yang juga ditempeli kertas kuning bertulisan, ditudingnya guci berisi kura-kura itu berulangkali sambil berulang-kali pula mengucapkan kutuk-kutuknya. Kura-kura dalam guci itu nampaknya semakin gelisah.

Sementara itu, pimpinan kelompok Ninja menjadi gusar ketika dibisiki oleh salah seorang anak buahnya yang tadi sempat mencuri dengar pembicaraan Nyo Jiok dan Ai Kong di dekat rumah penyimpanan tawanan yang kosong itu. Kelompok Ninja di Puncak In-hong itu jumlahnya paling sedikit, hanya tiga puluhan orang, namun mereka juga bukan orang-orang yang asing dengan ilmu gaib.

Setelah mendengar laporan orangnya itu, Si Pemimpin Kelompok tidak tinggal diam. Ia mengajak seluruh anak buahnya untuk melindungi diri dengan mantera penangkal. Selain itu, Si Pemimpin Kelompok tidak cuma sekedar berlindung tetapi juga merencanakan, serangan balasan. la mulai memanterai sebuah boneka, dengan jarum terjepit di jari-jarinya ia siap-siap untuk menusuk-nusuk boneka itu.

Tentu saja yang diserangnya adalah Nyo Jiok. Demikianlah, bekas sekutu-sekutu yang kemarin malam masih begitu kompak bersama-sama mendongkel Mo Hwe, kini saling menyerang. Ai Kong ketika itu sedang berbaring-baring di baraknya, sambil membayangkan Nyo Jiok sedang meneluh para Ninja itu. Ia tersenyum sendiri membayangkan rencananya itu sedang "berjalan lancar".

Ia merasa udara dalam ruangan itu semakin panas, lalu ia perintahkan seorang anak buahnya untuk membuka pintu-pintu dan jendela. Tapi udara panas terus meningkat juga, sampai keringat Ai Kong bercucuran. Biarpun Ai Kong ini orangnya agak "telat" tetapi mulai merasa curiga juga. Udara di Puncak In-hong itu sangat dingin meskipun di siang hari, apalagi saat itu adalah malam hari. Maka hawa panas itu sungguh terasa tidak wajar.

Ketika ia hendak bangkit dari pembaringannya, tiba-tiba terasa lehernya tercekik. Saat itulah ia sadar, desisnya, "Nyo Jiok keparat...."

Dua orang anak buahnya yang berjaga di luar pintu cepat-cepat masuk, dan terkejut melihat Ai Kong tengah mengelepar sekarat di atas pembaringannya dengan lidah terjulur keluar dan mata melotot. Seperti sedang dicekik tetapi tidak kelihatan siapa yang mencekiknya.

"Hu-cong-cu...." desis kedua pengawal itu tanpa tahu harus berbuat apa. Mereka tahu apa yang terjadi, pemimpin mereka sedang diserang secara gaib namun tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka cuma mendengar Ai Kong berdesis sebelum ajalnya,

"Tumpas Nyo Jiok dan orang-orangnya..." habis memberikan amanat terakhirnya itu, tubuh Ai Kong berkelejat keras beberapa kali, lalu nyawanya amblas dengan mata melotot dan lidah terjulur keluar.

"Hui-cong-cu... desis kedua pengawal itu tanpa tahu harus berbuat apa. Kedua pengikutnya berkeringat dingin dekat pembaringan itu, kata yang seorang, "Kita harus berbuat apa?"

"Laporkan saja kepada Tau-siang-hoa (bunga di atas kepala salah satu "pangkat" dalam Pek-lian-kau yang cukup tinggi) Bun Leng-po."

Bun Leng-po alias Bun Jiat-pang (Bun Si Tongkat Maut) adalah orang kedua di bawah Ai Kong dalam rombongan yang diberangkatkan ke Puncak In-hong itu. Kepada orang inilah orang-orang Lam-cong yang sedang bingung kehilangan pemimpin itu melapor.

Di panggung Pek-lian-tai, sambil menyeringai kejam Nyo Jiok mencekik leher kura-kura kecil itu dengan dua jarinya. Ketika dirasanya kura-kura itu sudah mati di tangannya, puaslah hatinya, ia yakin Ai Kong sudah dapat dibereskannya. Ia sendiri bukan tidak tahu kalau bantuan pihak Lam-cong itu ada pamrih tersembunyinya, yaitu ingin menguasai seluruh Pek-lian-kau dan Nyo Jiok bakalan hanya menjadi "ketua boneka" yang dikendalikan dari selatan.

Nyo Jiok tidak mau sekedar jadi boneka, maka malam itu ia bertindak lebih dulu membereskan Ai Kong. Dengan perasaan puas ia bangkit dari duduknya, hendak meninggalkan tempat itu sambil bersiap-siap untuk pura-pura mengucapkan "ikut berduka cita" kepada orang-orang Lam-cong yang sedang kehilangan pimpinan.

Ketika itu Nyo Jiok belum bangkit sepenuhnya, baru sebelah telapak kakinya yang tertumpu tanah, tiba-tiba Nyo Jiok menyeringai karena merasa dadanya sangat nyeri seperti ditusuk jarum, bahkan ribuan jarum. Nyo Jiok terperanjat. Sebagai seorang ahli ilmu gaib, ia segera mengenalinya sebagai sebuah serangan gaib.

Seandainya Nyo Jiok punya cukup waktu, tentu ia akan berhasil menelusuri dan mengenali jenis dan asal-usul serangan itu. Tapi saat itu Si Penyerang agaknya emoh memberi kesempatan kepada Nyo Jiok.

Di baraknya, bertubi-tubi Si Pemimpin Ninja menusukkan jarumnya ke arah tubuh boneka kain di tangannya sambil menggumamkan mantera kutukannya. Suara manteranya meninggi ketika sebuah tusukan telak dihunjamkan ke dada boneka itu.

Bersamaan di panggung Pek-lian-tai Nyo Jiok rebah menggelepar dan menggeliat, beberapa kali kakinya masih menyepak-nyepak membuat berantakan sesajian di sekitarnya. Kemudian dengan mata membelalak penasaran, arwahnya pun terbang meninggalkan tubuhnya.

Begitulah, dalam waktu satu malam, baik kaum Pak-cong maupun kaum Lam-cong yang berkumpul di Puncak In-hong itu sama-sama kehilangan pimpinan. Dan karena suasana saling mencurigai belum lenyap di antara mereka sehubungan dengan hilangnya Su Pek-lian, maka kecurigaan kedua belah pihak pun berkobar dengan hebat oleh kematian misterius Ai Kong dan Nyo Jiok itu.

Kedua belah pihak saling menuduh dan saling menyangkal, dan akhirnya senjatalah yang berbicara. Begitulah malam itu yang seharusnya menjadi malam pengorbanan darah untuk arwah para leluhur dinasti Beng menjadi malam pertempuran darah yang dahsyat karena baik kaum Pak-cong maupun kaum Lam-cong tidak dapat lagi mengendalikan kemarahan.

Bun Leng-po alias Bun Jiat-pang di hadapannya orang-orang Lam-cong yang berkumpul di sekitar gubuk tempat ditaruhnya mayat Ai Kong, berteriak sengit sambil mengacungkan sepasang tongkat besinya,

"Ternyata orang-orang Pak-cong memang orang-orang yang tidak tahu membalas budi kebaikan kita! Kita sudah menolong mereka menyingkirkan si ketua tidak becus Mo Hwe, tetapi mereka malah menyembunyikan gadis tawanan itu untuk keuntungan mereka sendiri. Dan karena Hu-cong-cu Ai Kong mengetahui siasat busuk mereka, maka mereka tidak segan-segan meneluh Hu-cong-su sehingga mati! Teman-teman, orang-orang tidak kenal budi ini, enaknya kita apakan?"

Dengan hati yang menyala, orang-orang Lam-cong itu bertetiak-teriak bersahut-sahutan. "Beri pelajaran pahit kepada mereka!"

"Mereka punya dewa-dewa pelindung, kita punya bedil!"

"Tumpas mereka untuk membalaskan sakit hati Hu-cong-cu!"

Dan sebagainya. Dan Bun Jiat-pang tidak menunggu sampai hati orang-orangnya menjadi dingin dan tawar kembali, melainkan langsung menggerakkan orang-orangnya.

Demikianlah, di bawah cahaya purnama yang bulat sempurna, dua kaum se-asal-usul itu kembali saling gempur dengan hebat. Mengulangi ketololan mereka bertahun-tahun yang lalu di Kuil Hong-kak-si, ketika itu mereka memperebutkan Pangeran Hong-lik yang kini sudah menjadi Kaisar Kian-liong.

Karena kedua belah pihak dalam keadaan marah, maka jatuhnya korban-korban jiwa pun berlangsung dengan cepat. Tetapi pihak Lam-cong yang berjumlah jauh lebih banyak, juga punya regu-regu bersenapan yang terlatih baik, tanpa kesulitan berarti dapat segera menyapu orang-orang Pak-cong.

Selain itu, ternyata banyak orang-orang Pak-cong yang tidak sungguh-sungguh bertempur sepenuh hati membela Nyo Jiok. Sebagian dari orang-orang Pak-cong agaknya berhasil dipengaruhi oleh Mo Hwe yang diam-diam kembali ke puncak itu bersama Sebun Beng dan lain-lainnya, dan orang-orang Pak-cong yang dipengaruhi Mo Hwe itu pun kabur tercerai-berai. Yang gigih membela Nyo Jiok pun akhirnya ikut tercerai-berai karena tidak tahan menghadapi tekanan orang-orang Lam-cong yang ganas dan dirasuk kemarahan.

Dengan demikian, pertempuran malam itu berlangsung singkat dengan kemenangan bagi orang-orang Lam-cong. Orang-orang Lam-cong pun kemudian pergi meninggalkan Puncak In-hong tu saja dengan membawa jenazah Ai Kong.

Maka ketika Sebun Beng, Wan Lui dan Mo Hwe serta Sun Cu-kiok tiba di Puncak In-hong, mereka tidak melihat lagi orang hidup di pihak Pek-lian-kau, melainkan hanya mayat-mayat yang bertumbangan di sana-sini. Mereka berkeliling untuk mencari orang hidup yang bisa ditanyai, namun tidak ada orang hidup lagi. Yang hidup sudah pergi dan yang mati ditinggal begitu saja.

Keruan saja Sun Cu-kiok jadi gelisah memikirkan nasib adiknya, la putar-putar ke sana-sini, memeriksa bangunan-bangunan kayu yang didirikan orang-orang Pek-lian-kau di tempat itu, namun bayangan adiknya tidak nampak sedikit pun, hidup atau mati.

"Mungkinkah Adikku dibawa oleh orang-orang Lam-cong?"

Mo Hwe yang masih merasa bersalah karena dulu dialah yang menculik Sun Pek-lian, menjawab, "Kalau benar demikian, Nona Sun, akan kupertaruhkan nyawaku untuk menyusul dan menyelamatkan Adik Nona."

Tetapi Sebun Beng berkata, "Firasatku mengatakan lain. Aku merasa justru Adik Nona sudah tiba di tempat yang aman sekarang."

"Dengan pertolongan siapa?"

"Mungkin... Liu Yok."

"Tapi bukanlah Liu Yok sedang bersiap-siap untuk tidur ketika kita hendak berangkat tadi..." debat Sun Cu-kiok, namun kalimatnya itu melemah di bagian akhirnya, sebab ia sudah belajar sebuah kenyataan yang aneh bahwa "Liu Yok yang tidur lebih berbuat banyak daripada Liu Yok yang siuman".

Sebun Beng tersenyum mengamati perubahan wajah Sun Cu-kiok yang berangsur-angsur tenang. Sementara Wan Lui belum tenang benar, "Kalau benar Nona Sun Pek-lian sudah diselamatkan, berarti baru sebagian persoalan yang selesai. Masih ada dua persoalan yang aku tangani."

"Apa saja?"

"Pertama, aku ditugasi Kaisar untuk menggulung sebuah komplotan dalam istana yang bekerjanya sangat rapi. Begitu rapinya komplotan itu, sehingga di istana hampir tidak terasa kehadirannya sama sekali, tetapi justru di luar istana barulah terasa kalau mereka tahu banyak sekali rahasia istana dan mereka bertindak berdasar itu. Itulah sebabnya untuk melacak komplotan itu, aku memulainya dari luar istana, bukan dari dalam istana sendiri."

Semuanya mengangguk-angguk, sementara Wan Lui melanjutkan, "Kedua, soal hilangnya batangan-batangan emas itu. Aku harus menemukannya kembali."

Mo Hwe tiba-tiba berkata, "Jenderal Wan, aku bantu kau menyederhanakan persoalannya. Kedua persoalan itu sebenarnya satu, bukan dua. Komplotan dalam istana itu jugalah yang merampok batangan-batangan emas itu. Kalau kau gulung komplotan itu, akan kau temukan juga emas itu. Seperti maling yang tertangkap, tinggal tanyai saja di mana dia sembunyikan barang colongannya."

"Bagaimana kau tahu, Saudara Mo?"

"Dulu ketika aku masih menjadi ketua Pek-lian-kau Utara, komplotan istana itu pernah menghubungi aku, diajak bersama-sama merampok emas itu. Ternyata itu bukan kerjasama yang jujur. Pihak kami hanya dijadikan sasaran untuk mengalihkan perhatian petugas-petugas pemerintah yang mengawal emas itu, sedang komplotan itulah yang benar-benar menikmati emasnya. Kamilah yang diuber-uber."

Wan Lui mengangguk-angguk, sebab keterangan Mo Hwe cocok dengan keterangan anak buahnya dari pasukan sandi. "Jadi Saudara Mo tahu siapa Komplotan istana itu?"

"Tidak tahu."

"Lho, katanya pernah berhubungan..."

"Ya, mereka yang menghubungi kami, tetapi tidak secara terang-terangan. Mereka berkedok. Tetapi ada ciri yang aku temukan pada orang yang menghubungi kami itu, sebuah tahi lalat besar di punggung tangannya."

"Apa lagi?" desak Wan Lui.

"Sudah, hanya itu."

Wan Lui menarik napas. "Baiklah, betapapun aku berterima kasih kepadamu."

Ketika rembulan sudah bergeser ke barat, Sebun Beng dan rombongannya meninggalkan Puncak In-hong...

Selanjutnya,