X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 17

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Ke-5, Sekte Teratai Putih Jilid 17 Karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 17

Karya : Stevanus S P

DENGAN geram Sebun Beng menghempaskan orang itu ke tanah. Orang itu agaknya begitu kesakitan akan hempasan Sebun Beng tadi, sehingga tidak sempat menggunakan ilmu menghilangnya atau amblas-buminya. Ia menggeloser kesakitan di tanah seperti cacing di abu panas.

Saat itu Sebun Beng sebenarnya sedang mencemaskan Liu Yok dan Sun Cu-kiok yang tidak juga kembali. Apakah mereka juga sudah kepergok musuh dan sekarang sedang mengalami kesulitan di tempat yang jauh? Tiba-tiba Sebun Beng menjadi lega ketika melihat dari kejauhan muncul dua sosok bayangan di gelapnya malam.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Yang seorang adalah sosok ramping seorang gadis yang gampang dikenali, meskipun berpakaian model laki-laki dusun pegunungan. Yang seorang berjalan terpincang-pincang. Merekalah Sun Cu- kiok dan Liu Yok, masing-masing membawa cukup banyak kayu bakar.

Melihat mereka, Sebun Beng berteriak memperingatkan, "A-Yok, Nona Sun, jangan mendekat, tetap di situ! Di sini berbahaya!"

Liu Yok dan Sun Cu-kiok berhenti melangkah, meskipun heran juga melihat Sebun Beng maupun Wan Lui hanya berdiri sambil menyapukan pandangan ke sekitar mereka dengan waspada namun tidak terlihat siapa- siapa. Mereka percaya, sebab mereka melihat Thia To-sai tergeletak, nampaknya sudah mati.

Hati Liu Yok tergerak "Perkenalan" nya dengan Thia To-sai baru satu hari, namun sudah terasa ada hubungan dari hati ke hati dengan orang itu. Kini melihat Thia To-sai tergeletak, Liu Yok tidak bisa tinggal diam. Ia memang berhenti sejenak karena seruan Sebun Beng tadi, tetapi lalu melangkah maju kembali ke arah tubuh Thia To-sai.

"Saudara Liu, berbahaya!" Sun Cu-kiok memegang lengan, Liu Yok untuk menahan langkahnya.

Sesaat hati Liu. Yok terguncang. Baru saja ia "menunggui" Sun Cu-klok mandi di sungai, meskipun membelakangi namun bermacam- macam pikiran mesum sempat juga 'melintas benaknya, meskipun tidak masuk dan menguasai pikirannya. Kini dirasanya kelembutan telapak tangan gadis itu di lengannya, sebagai lelaki normal, Liu Yok berdebar juga.

Namun kecemasan akan Thia To-sai lebih menguasai hatinya, ia merenggutkan lengannya dari pegangan Sun Cu-kiok sambil berkata, "Berbahaya atau tidak, aku harus memeriksa orang itu."

Sun Cu-kiok pun jadi nekad, "Kalau begitu, baiklah. Aku bersamamu."

Maka keduanya pun melangkah terus mendekati api unggun, tidak menggubris peringatan Sebun Beng tadi. Keruan Sebun Beng jadi kelabakan, teriaknya, "Hati-hati. Musuh bisa muncul dari dalam tanah, dari udara, mengubah diri jadi pepohonan dan batu-batuan."

"Apa iya?"

Begitu kata-kata Liu Yok itu diucapkan, dari dalam tanah bermuncullan sosok-sosok tubuh berpakaian serba hitam dengan kedok hitam dengan berbagai senjata, begitu pula beberapa orang yang semula "mencair dengan udara" tiba-tiba saja bermunculan, dan beberapa buah pohon dan batu gadungan berubah jadi manusia.

Jumlah mereka ada kira-kira dua belas orang. Di antaranya kelihatan yang menyerang Wan Lui dengan Kusarigama tadi, yang kehilangan lembing oleh Sebun Beng pun ikut bersiaga. Apa yang tidak diketahui oleh Wan Lui dan Sebun Beng ialah, bahwa munculnya orang-orang itu dari persembunyian gaib mereka adalah di luar kehendak mereka sendiri.

Begitu Liu Yok mengucapkan perkataan "apa iya"nya tadi, para Ninja yang bersembunyi di dalam tanah tiba-tiba merasa seperti ditarik keluar ke atas permukaan tanah dengan paksa, yang menghilang tiba-tiba kehilangan selubung gaib mereka, begitu pula yang menyamar sebagai pohon atau batu.

Percuma mereka mencoba bertahan dengan ilmu gaib mereka, ilmu gaib mereka tiba-tiba lumpuh tak berdaya oleh perkataan yang keluar dari jiwa yang sangat jernih dan tidak mengandung niat permusuhan sama sekali. Karena kemunculan mereka yang sama sekali tidak direncanakan itulah, maka mereka muncul dalam posisinya sendiri-sendiri, bukan posisi gabungan untuk mengepung lawan-lawan mereka.

Mereka celingukan saling melihat dengan teman-teman mereka, barulah berlompatan mengatur posisi. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, dan kenapa ilmu gaib mereka tiba-tiba sirna. Apalagi mereka, bahkan Liu Yok sendiri juga tidak tahu sebabnya sampai demikian.

Sementara Sebun Beng dan Wan Lui malahan berpikir lain. Mereka menyangka bahwa lawan-lawan itu memang ingin bertempur dengan cara "normal" makanya muncul dari perlindungan mereka. Sebun Beng dan Wan Lui tidak tahu kalau para Ninja itu munculnya terpaksa, sebab Ninjitsu (Ilmu Ninja) mereka mendadak buyar berantakan tanpa diketahui sebab-sebabnya.

Tongkat besi Sebun Beng sudah lenyap siang tadi, ketika dihujani batu, namun sekarang di tangannya ada sebatang lembing rampasan. Namun Sebun Beng agaknya masih tidak tega menghujamkan ujung lembing itu ke daging lawan, karena itu dipatahkannya ujung lembing itu dengan tebasan telapak tangannya yang kuat dan telak, sehingga sekarang yang di tangannya hanyalah sebatang tongkat kayu hitam pengganti besinya.

Sementara di tangan Wan Lui ada rantai Kusarigama yang juga rampasan. Wan Lui pernah juga bermain senjata rantai Lian-cu-tui (Bandul Rantai Besi) meskipun hanya dalam latihan dengan sesama perwira, namun belum pernah memegang senjata rantai dengan ujung-ujungnya yang berbeda. Bola besi di ujung yang satu, sabit di ujung yang lainnya. Toh Wan Lui tidak mau pusing dengan itu, ia sudah siap memainkan hanya boJa besi disalahsatu ujung rantai.

Meskipun begitu, Sebun Beng masih mencoba mencari jalan damai, "Sobat-sobat yang berkedok, antara pihak kami dan pihak kalian tidak pernah terlibat urusan permusuhan apa pun. Tujuan kalian membunuh tawanan kami untuk membungkam mulutnya sudah tercapai, buat apa kita masih harus berkelahi?"

Ucapan itu sebenarnya tidak disetujui Wan Lui. Wan Lui ingin menangkap salah satu dari orang-orang ini untuk dikorek mulutnya sebagai pengganti Thia To-sai yang mati. Namun Wan Lui bungkam saja, karena tidak ingin bertentangan secara terbuka dengan mertuanya.

Ternyata memang para Ninja itu tidak paham sedikit pun bahasa Cina, maka tawaran damai Sebun Beng itu tidak ubahnya angin lalu saja di kuping mereka. Dimulai dengan aba-aba bahasa Jepang dari pemimpin mereka, para Ninja itu mulai bersiap-siap menyerang. Sedetik kemudian dua orang menyerang Wan Lui, mereka masing-masing bersenjata pedang panjang yang gagangnya dipegangi dengan dua tangan.

Mereka menyerang dari dua sudut yang berbeda. Wan Lui bergerak tangkas, sambil menghindar ke samping dia membandring ke arah lambung salah seorang lawannya. Bola besinya meluncur pesat di ujung rantai. Lawan yang diincar itu menurunkan pedangnya setinggi rusuk untuk menangkis.

Ternyata gerak Wan Lui yang pertama tadi hanyalah gerak tipu belaka, sebab begitu pedang turun maka Wan Lui menyentakkan rantai bandringnya sehingga membelit pergelangan lawannya berikut gagang pedangnya, terus disentakkan mendekat untuk dijotos. Lawan terdorong ke samping, tinju Wan Lui menghajar rusuknya sehingga orang itu pingsan seketika.

Begitulah, Wan Lui bertindak serba cepat dan tidak tanggung-tanggung karena ia kuatir lawan-lawannya nanti "keburu menghilang". Wan Lui tidak tahu, bahwa saat itu seandainya lawan-lawannya kepingin menghilang pun tidak bisa. Dan tanpa ilmu gaib-gaiban, ketrampilan tempur orang-orang itu sungguh bukan tandingan Wan Lui yang amat tangguh, murid dari Pak-k-iong Liong yang amat terkenal pada jamannya.

Apalagi para Ninja yang berhadapan dengan Sebun Beng, yang lebih lihai dari Wan Lui menantunya. Maka belasan orang Ninja itu tak bisa segera memastikan kemenangan atas dua orang lawan mereka.

Sementara orang-orang itu berkelahi, Lui Yok lewat di tengah-tengah mereka, hendak mendekati tubuh Thia To-sai yang ingin diperiksanya. Sun Cu-kiok yang mencemaskan Liu Yok namun mengerti tidak akan bisa mencegah keinginan Liu Yok, terpaksa ikut sebagai "pengawal" di sampingnya.

Pemimpin kaum Ninja itu agaknya mulai melihat Liu Yok dan Sun Cu-kiok sebagai sasaran empuk yang kalau diserang barangkali bisa mengacaukan perhatian Sebun Beng dan Wan Lui yang demikian tangguh. Karena itu, Si Pimpinan kelompok pun mulai memberi aba- abanya dalam bahasa yang tidak dimengerti Sebun Beng berdua.

Dua orang Ninja melompat keluar dari gelanggang pertempuran, dan langsung menyerbu bagaikan kilat ke arah Liu Yok dan Sun Cu-kiok sambil memekik dan mengangkat tinggi-tinggi pedang mereka, memenuhi perintah pimpinan mereka.

Sebun Beng dan Wan Lui terkejut, mencemaskan keselamatan Liu Yok meskipun Liu Yok didampingi Sun Cu-kiok yang juga berilmu tangguh. Tetapi Sebun Beng dan Wan Lui tidak dapat serta-merta menolong Liu Yok, sebab lawan-lawan mereka secara bersamaan juga memperketat serangan mereka.

Dua orang yang ditugaskan membunuh Liu Yok itu sudah tiba di depan Liu Yok, dan pedang mereka sudah siap menabas turun dengan kekuatan dahsyat. Namun tiba-tiba gerakan mereka terhenti, wajah mereka meskipun hanya kelihatan matanya namun menampakkan air muka kegentaran yang dahsyat, sepasang mata mereka membelalak ketakutan menatap Liu Yok. Lalu mereka melangkah perlahan-lahan, dan tiba-tiba saja mereka membalikkan tubuh lalu kabur terbirit-birit di gelapnya malam.

Liu Yok heran, apakah wajahnya sendiri telah berubah menjadi sangat menakutkan, sehingga orang-orang itu kabur? Tak terasa Liu Yok meraba wajahnya. Begitu pula Sun Cu-kiok, sungguh-sungguh tak mengerti bahwa orang- orang itu tiba-tiba berlaku demikian. Sebun Beng juga heran, Wan Lui juga, para Ninja juga, namun tak satu pun dari mereka punya jawabannya.

Sementara itu, di gelanggang pertempuran, Sebun Beng dan Wan Lui semakin menguasai lawan-lawan mereka. Semakin banyak dan semakin sering lawan mereka yang jungkir balik atau terbanting-banting oleh tongkat kayu di tangan Sebun Beng atau rantai berbandul di tangan Wan Lui atau bahkan sekedar kena kaki mereka.

Tetapi belum ada seorang pun yang tewas. Sebun Beng dan Wan Lui setelah bergaul sekian lama dengan Liu Yok agaknya mulai sedikit "ketularan" watak Liu Yok yang penuh belas kasihan. Mereka membikin babak-belur lawan mereka namun tidak pernah mau menggunakan kesempatan untuk "membereskan" sekalian.

Bahkan sambil bertempur, Sebun Beng juga sudah berulang kali menyerukan "gencatan senjata" tapi sayangnya omong annya tidak dimengerti lawan-lawannya yang orang Jepang itu, dan perkelahian pun berlangsung terus. Demikianlah "duet" antara bapak mertua dan menantu itu "juga berlangsung terus.

Sementara Liu Yok sudah memeriksa Thia To-sai dan merasa amat sedih menemui bahwa orang itu sudah menemui ajal. Desisnya parau, "Dia mati pada saat setitik terang kehidupan mulai menyentuh hatinya yang selama ini dalam kegelapan."

Sun Cu-kiok tidak tahu harus menghibur dengan kata-kata yang bagaimana, tetapi hatinya pun tersentuh bahwa Liu Yok begitu bersedih untuk seseorang yang baru dikenalnya satu hari.

Dalam pada itu, kawanan Ninja makin berantakan oleh amukan Sebun Beng dan Wan Lui. Namun Sebun Beng dan Wan Lui masih terheran-heran juga, kenapa dalam keadaan terdesak, kaum Ninja itu tidak menggunakan ilmu gaib mereka untuk menghilang atau masuk ke dalam tanah? Kenapa mereka tetap saja meladeninya dalam pertempuran "normal" sampai babak belur?

Ketika itulah Liu Yok berdiri dan ber kata, "Kenapa kalian senang memakai jalan kekerasan? Lihat, satu korban sudah jatuh. Apakah kalian menginginkan bertambahnya korban?"

Kedengarannya ganjil juga di tengah-tengah suasana penuh nafsu kekerasan demikian ada orang berpidato tentang perdamaian. Tapi yang terang, semangat saling membunuh di tengah-tengah gelanggang pertempuran itu tiba-tiba melorot dan kemudian buyar entah ke mana. Itu terjadi pada kedua pihak.

Baik Wan Lui maupun Sebun Beng mendahului melompat keluar dari gelanggang, dan lawan-lawan mereka pun tidak merangsek lagi. Mereka hanya saling berpandangan kecapaian.

Liu Yok kembali mengambil prakarsa, katanya kepada kawanan Ninja itu, "Nah, pergilah kalian. Rawat luka-lukamu dan hiduplah damai dengan siapa saja."

Kawanan Ninja itu tadinya tetap saja mengamuk meskipun Sebun Beng sudah berseru mengajak berdamai berulang-ulang. Bisa dimaklumi karena bahasanya berbeda. Namun bahasa yang digunakan Liu Yok kini juga sama dengan bahasa yang digunakan Sebun Beng, meskipun logatnya berbeda.

Tetapi kali ini kawanan Ninja itu seperti jatuh di bawah perbawa yang tidak mereka kenal sendiri, sehingga mereka menurut saja. Mereka pun mengeloyor pergi, menyusul dua teman mereka yang sudah kabur lebih dulu.

Sebun Beng, Wan Lui dan Sun Cu-kiok sudah tidak heran lagi. Kalau Lui Yok bisa berkata kepada semut dan semut itu "mengerti", apalagi kepada sesama manusia meskipun berbeda bangsanya dan bahasanya.

Namun Wan Lui agaknya masih keberatan membiarkan orang-orang itu pergi begitu saja. Katanya, "Saudara Liu, aku harus menangkap salah seorang dari mereka, untuk membongkar sebuah komplotan dalam istana yang membahayakan negara. Aku hanya akan menanyainya, tidak menyiksanya." Lucu juga, Wan Lui seorang jenderal kesayangan Kaisar yang begitu berkuasa, kali ini seolah-olah memohon kepada Liu Yok.

Liu Yok bertanya, "Apakah Saudara Wan mengerti bahasa mereka, sehingga bermaksud menanyai mereka?"

"Aku akan membawanya ke istana, di antara orang-orangku ada yang mengerti bahasa Jepang."

"Saudara Wan seorang panglima, kalau ingin bertindak apa-apa tidak perlu minta ijin kepadaku. Tetapi kalau aku boleh berpendapat, sekedar berpendapat tanpa maksud menghalangi tugas-tugas Saudara Wan, janganlah sesuatu yang tidak baik itu dibalas dengan sesuatu yang tidak baik pula, nanti kehidupan manusia di dunia ini semakin rusak karena orang-orang semakin tidak mempercayai. Orang-orang nanti akan saling berhubungan yang nampaknya baik hanya untuk saling mengintai kesempatan bagi diri sendiri atau mencari kelengahan lawan. Komplotan istana itu barangkali memang jahat, tetapi jangan menghadapinya dengan cara yang sama jahatnya, menangkap dan memaksa bicara. Lebih baik kita percaya, setidak-tidaknya belajar mempercayai, bahwa sesuatu yang jahat itu takkan dapat bertahan lama, takkan bisa bertahan cahaya kebenaran."

Wan Lui garuk-garuk kepala mendengar "ceramah" itu. Kedengarannya terlalu ganjil dan terlalu "jauh di langit" dibandingkan keadaan yang sedang dihadapi Wan Lui di bumi yang penuh kelicikan dan keserakahan serta kekejaman ini. Tetapi toh Wan Lui ternyata tidak berani mengabaikan nasehat itu, meskipun sebenarnya kalau mau dia masih sempat mengejar dan menangkap salah seorang Ninja tadi.

Bukankah Liu Yok sendiri bilang sekedar menganjurkan dan tidak akan menghalangi tindakannya? Toh Wan Lui tidak beranjak dari tempatnya. Ia lebih suka duduk dan merenungi kata-kata Liu Yok itu. Kata-kata yang sebenarnya sesuai dengan keyakinan agama yang dianut Wan Lui, namun sedikit sekali dipraktekkan oleh Wan Lui karena tugas-tugasnya menuntut beberapa hal "praktis" sehingga keyakinan hati-nurani terpaksa dikesampingkan.

Mereka kemudian menguburkan tubuh Thia To-sai. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Setelah matinya Thia To-sai, mereka jadi berempat kembali, dengan tujuan yang belum berubah, yaitu ke tempat upacara tahunan kaum Pek-lian-kau untuk membebaskan Nona Sun Pek-lian, adik Sun Cu-kiok.

Sedang buat Wan Lui ada pekerjaan sampingan, yaitu mencoba melacak jejak sebuah komplotan yang merampas batangan-batangan emas milik pemerintah kerajaan, yang Wan Lui yakini bahwa komplotan itu didalangi dari istana. Meskipun Wan Lui bertekad akan belajar menuruti anjuran Liu Yok untuk tidak "menggunakan yang jahat untuk menandingi yang juga jahat", tetapi tujuan yang dipikulnya sendiri oleh Kaisar itu tidak dapat diubah.

Makin dekat ke Pegunungan Kiu-liong-san, Wan Lui memperingatkan teman-teman seperjalanannya, bahwa kemungkinan besar mereka sudah diawasi orang-orang Pek-lian-kau. Mereka masih saja menyelusuri jalan pegunungan yang sepi, jarang bertemu tempat kediaman orang.

Tengah hari di hari perjalanan keempat itu, tiba-tiba mereka menjumpai sesuatu di tengah jalan. Yaitu dua mayat manusia yang sama-sama berbaju hitam, tetapi baju hitamnya berbeda satu sama lain. Yang satu baju hitam dari ubun-ubun kepala sampai ke kaki* kakinya memakai sepatu yang bagian jempolnya terbelah, jelas itulah pakaian kaum Ninja seperti yang semalam bertempur dengan Sebun Beng dan Wan Lui.

Mayat yang satu lagi juga berbaju hitam namun tanpa kedok, dada baju sebelah kirinya bersulan sekuntum teratai putih. Itulah tanda anggota Pek-lian-kau. Melihat posisi kedua mayat itu, agaknya mereka mati sampyuh dalam perkelahian. Mayat mereka tergeletak miring dan saling berhadapan. Pedang Si Ninja menembus tubuh si anggota Pek-lian-kau, sebaliknya lembing pendek si anggota Pek-lian-kau juga menembus pinggang Si Ninja.

Di sekitar mereka juga acak-acakan, seperti baru saja ada perkelahian dahsyat antara dua kelompok manusia, banyak tetesan darah. Di sekitar gelanggang juga bergeletakan beberapa boneka sepanjang sejengkal. Boneka-boneka itu pun bisa dibagi dua golongan, sebagian boneka rumput yang bisa dikenali khas Pek-!ian-kau. Boneka-boneka lainnya dari kain hitam.

Liu Yok menggeleng-geleng kepala melihat keadaan tempat itu, "Mudah-mudahan masih tersisa cukup banyak manusia di bumi ini yang percaya bahwa penyelesaian persoalan tidak harus dengan senjata."

Sementara Wan Lui agaknya tertarik kepada boneka-boneka kain hitam itu. Dipungutnya sebuah, lalu dibolak-baliknya.

"Apa yang menarik perhatianmu, A-Lui?" tanya Sebun Beng.

"Boneka-boneka kain hitam kecil ini diketemukan oleh anak buahku di tempat terjadinya perampokan emas itu."

"Dugaanmu?"

"Makin jelas sekarang gambarannya. Yang merampas emas itu agaknya memang bukan pihak Pek-lian-kau, meskipun di tempat perampokan itu terdapat bendera Jit-goat-ki dan Pek-lian-ki yang sengaja ditinggalkan. Perampok-perampok itu adalah komplotan yang menyewa tenaga dari Jepang ini.

Kebetulan kaum Ninja juga punya kemahiran yang mirip dengan orang Pek-lian-kau, yaitu menghidupkan boneka-boneka. Kini, antara komplotan itu dan Pek-lian-kau agaknya bermusuhan."

"Jadi kita agaknya terlibat dalam permainan segitiga?"

"Ya. Kita adalah salah satu dari tiga pihak yang bermain itu."

"Bagaimana dengan mayat-mayat ini?"

Bagaimanapun juga, meski tidak di-anjur-anjurkan oleh Liu Yok, namun Se-bun Beng dan Wan Lui tidak tega kalau mayat sesama manusia itu malam nanti bakal dicabik-cabik hewan-hewan liar. Maka mereka berempat pun mulai menggali lubang di tanah untuk memakamkan mereka. Habis itu mereka mencuci tangan di sebuah sungai kecil dan mulai duduk menikmati bekal mereka.

Selagi mereka menikmati bekal, tiba-tiba dari arah depan terlihat ada seseorang melangkah datang. Seorang yang memakai caping, memakai mantel, dan menjinjing pedang. Sambil melangkah mendekat, orang yang dari depan itu memanggil-manggil, "Paman Beng! Kakak Yok!"

Semuanya tercengang karena orang itu ternyata adalah Auyang Hou, yang beberapa hari yang lalu hilang begitu saja dari rumah kediaman Kwa Cin-beng. Kini tiba-tiba muncul secara mengejutkan di tengah pegunungan ini.

Begitu dekat, Auyang Hou tidak lupa juga memberi hormat kepada Wan Lui dan Sun Cu-kiok, "Jenderal Wan! Nona Sun! Selamat ketemu lagi!"

Bagaimanapun menjemukannya Auyang Hou sebagai pembual dan pakaian serta lagaknya yang sok pendekar terkenal itu, namun Wan Lui dan Sun Cu-kiok ikut menguatirkan keselamatannya juga ketika Auyang Hou hilang. Dan kini mereka ikut senang juga ketika melihat Auyang Hou sudah kembali.

Tegur-sapa berlangsung dengan hangat, lalu Auyang Hou pun duduk di antara mereka. Sambil berbicara, ia tidak melepaskan caping lebarnya, seolah-olah menyembunyikan sosok wajahnya terutama sorot matanya dari tatapan menyelidik orang-orang di hadapannya.

"Kamu bikin bingung saja...." kata Sebun Beng, seperti menyesali, tetapi juga kentara kalau lega. "Siapa sebenarnya yang menculikmu?"

"Hui-heng-si Nyo Jiok."

Tokoh nomor dua Pek-lian-kau Sekte Utara?"

"Ya."

Bagaimana kamu sampai bertemu dengan dia?"

"Yah, malam itu aku kegerahan di dalam kamar. Lalu aku keluar sebentar untuk cari angin di belakang bukit. Tiba-tiba saja dia muncul, hendak meringkus aku. Aku melawan, tetapi dia menggunakan ilmu-gaib sehingga aku pun tertangkap."

Semua orang begitu lega melihat Auyang Hou kembali dalam keadaan utuh, sehingga tak seorang pun yang ingat, bahwa malam saat hilangnya Auyang Hou itu cuacanya justru begitu dingin. Sehingga pengakuan Auyang Hou tentang "kegerahan di dalam kamar" itu agak' ganjil, namun tidak ada yang ingat.

"Lalu kau hendak dibawa ke mana?"

"Dia tidak mengatakannya kepadaku. Tetapi dari percakapan Nyo Jiok dengan beberapa orang Pek-lian-kau bawahannya, aku mendengar kalau aku hendak dibawa ke Puncak In-hong di Pegunungan Kiu-liong-san. Untuk apa, aku tidak tahu pasti. Namun berulangkah aku mendengar kata-kata tentang Upacara Pengorbanan Manusia."

Keruan Sun Cu-kiok jadi gelisah karena adiknya masih di tangan orang-orang Pek-lian-kau. Ia beringsut maju dan bertanya, "Saudara Auyang apakah juga mendengar berapa hari lagi upacara keji itu akan dilangsungkan?"

"Waduh, soal waktunya aku tidak mendengar mereka menyebut-nyebutnya, Nona."

Kemudian Liu Yok juga bertanya, tetapi pertanyaannya jauh menyimpang dari apa yang sedang dibicarakan, "Adik Hou, kenapa caping dan mantel itu kau pakai lagi? Bukankah kau pernah berkata, bahwa benda-benda itu membawa pengaruh buruk bagimu? Membuatmu ingin mencabut pedang untuk menumpahkan darah?"

Auyang Hou tersentak kaget, tanpa sadar duduknya beringsut menjauhi Liu Yok, barulah menjawab, "Sekarang... sekarang benda-benda ini... sudah tidak ada pengaruhnya apa-apa, Kakak Yok. Aku memakai caping untuk menahan panas matahari di siang hari. Bukankah kalian berempat juga membawa caping? Sedang mantel ini untuk selimut di malam hari, dan pedang ini untuk berjaga-jaga kalau ketemu hewan yang berbahaya..."

Liu Yok masih kurang puas akan jawaban itu. Desaknya, "Bukankah benda-benda itu sudah kau buang dan kauinjak-injak di tempat di mana kau berkelahi dengan orang-orang Tiong-gi Piau-hang itu? Bagamana kau mendapatkannya kembali?"

Auyang Hou semakin gelagapan, tak menduga Liu Yok bisa bertanya secermat itu. Ada sesuatu yang terpancar dari diri Liu Yok yang membuat Auyang Hou gentar. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang dalam diri Auyang Hou gentar. "Aku.... mengambilnya lagi..." sahut Auyang Hou tergagap-gagap.

"Mengambilnya lagi? Katanya kau diculik Nyo Jiok, lalu dibawa menuju ke Kiu-liong-san? Padahal arah ke Kiu-liong-san itu tidak sama dengan arah tempat di mana kau membuang benda-benda itu. Apakah benar kau diculik?"

"Tentu saja aku diculik. Mana aku berani membohongi Paman Sebun Beng, Kakak Yok, Jenderal Wan dan lain-lain nya?" suara Auyang Hou melengking tinggi, penasaran.

Liu Yok tidak membantah lagi karena menghindari pertengkaran, tetapi bukan berarti ia lalu menerima saja semua penjelasan Auyang Hou. Nalurinya yang paling halus seolah memberi peringatan, ada yang tidak beres dengan Auyang Hou ini.

Ternyata bukan hanya Liu Yok, melainkan juga Sebun Beng, Wan Lui dan Sun Cu-kiok juga merasakan sesuatu. Betapa simpang-siurnya dan kedodorannya penjelasan Auyang Hou itu. Toh Sebun Beng terus bertanya juga, "Baiklah, kalian jangan bertengkar. A-Hou, aku bertanya, kenapa sekarang kau sendirian dan tidak lagi bersama-sama penculikmu?"

Jawaban Auyang Hou sudah dalam perkiraan semua orang, "Ketika Nyo Jiok lengah, aku berhasil kabur daripadanya. Tak terduga di sini bertemu dengan Paman berempat."

"Jalan ini adalah jalan pegunungan yang nyaris tanpa cabang atau simpangan, kau bisa muncul di sini, kalau demikian apakah Nyo Jiok juga membawamu lewat sini?"

Auyang Hou cuma mengangguk. Sun Cu-kiok kembali bertanya, "Saudara Auyang, apakah Saudara tidak mendengar sedikit-sedikit tentang adikku Sun Pek-Iian yang diculik itu?"

Jawaban Auyang Hou benar-benar menggelisahkan, "Ya, memang adik Nona Sun itulah salah satu korban yang direncanakan."

"A-hou!"' bentak Sebun Beng gusar, karena jawaban itu dianggapnya tidak bijaksana dan mengguncangkan hati Sun Cu-kiok. Namun sudah terlanjur terluncur dari bibir, dan tak dapat ditarik lagi.

Benar juga, Sun Cu-kiok jadi gelisah, ia makan cepat-cepat lalu berdiri mengebas-ngebaskan debu pakaiannya sambil berkata, "Paman Sebun, Jenderal Wan, Anda berdua sudah mendengar sendiri bahaya yang mengancam adikku. Kita tidak boleh berlambat- lambatan dalam perjalanan ini."

Ternyata Sebun Beng dan Wan Lui tidak membantah. Mereka pun berkemas, tak lama kemudian sudah berjalan kembali. Sebun Beng sempat menarik lengan Auyang Hou ke samping, lalu berbisik dengan gusar di kuping keponakannya itu,

"Lihat, akibat kata-katamu. Menghadapi manusia-manusia licik macam orang-orang Pek-lian-kau haruslah tetap tenang, namun kamu telah menghancurkan ketenangan di hati Nona Sun dengan mulutmu yang gegabah itu."

"Tetapi memang kenyataannya begitu, Paman..."

"Diam."

Ketika Pamannya menjauh daripadanya, Auyang Hou tertawa dingin di bawah caping bambunya sambil membatin, "Hem, memang tugasku adalah menimbulkan kegelisahan, kepanikan, bahkan pertengkaran dalam rombongan kecil ini. Sambil menyelidiki kelemahan apa yang bisa di gunakan untuk menghancurkan kekuatan Liu Yok si pincang yang luar biasa ini."

Demikianlah, lima orang ini berjalan terus. Atau lebih tepatnya, Sun Cu-kiok lah yang berjalan dengan tergesa-gesa dan keempat orang lainnya cuma mengikutinya. Bahkan ketika matahari mulai tenggelam dan jalan pegunungan yang mereka lalui mulai remang-remang, Sun Cu-kiok nampaknya belum mau berhenti juga. Karena kasihan akan kegelisahan gadis itu, Sebun Beng dan Wan Lui serta Liu Yok tidak menganjurkannya berhenti, melainkan mengikutinya saja.

Tetapi akhirnya Sun Cu-kiok sendirilah yang mengajak berhenti. Bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena kasihan melihat bagaimana Liu Yok dengan kakinya yang tidak sempurna itu melangkah di jalanan yang terjal, meskipun Liu Yok sendiri tidak mengeluh atau minta dikasihani.

Karena mereka masih juga belum menjumpai rumah seorang penduduk pun di pegunungan sunyi itu, maka lagi-lagi mereka harus bermalam di tempat terbuka. Kebetulan pula di tempat itu, di balik pohon besar, ada sebuah kolam kecil tempat hewan-hewan liar biasa mendapatkan air minumnya.

Kolam kecil itu permukaannya penuh dengan ranting-ranting kering terapung dan daun-daun kering juga, ketika ranting-ranting dan daun-daun kering itu disingkirkan, tempat itu cukup layak untuk membersihkan tubuh yang kotor oleh keringat dan debu.

Maka bergantianlah mereka mandi. Ketika tiba giliran Sun Cu-kiok, gadis itu nampak ragu- ragu menatap Liu Yok. Di bawah cahaya api unggun yang mulai dinyalakan, tidak jelas binar matanya itu bermaksud apa. Liu Yok yang ditatap terguncang juga hatinya.

Beberapa saat Sun Cu-kiok ragu-ragu, sampai akhirnya ia berkata dengan wajah jengah, "Saudara Liu, aku juga ingin membersihkan badan. Tetapi tempat dibalik pohon itu gelap, aku kuatir..."

"Kuatir ada harimau, serigala atau ular?"

"Tidak. Hewan-hewan besar itu tidak aku takuti, aku sanggup membunuh seekor harimau biarpun hanya bersenjata batu. Aku justru jijik kalau ada semacam cacing atau lintah."

Wan Lui tertawa mendengarnya. "Jangan kuatir, Nona Sun. Aku baru saja mandi dari sana, dan tidak ada cacing, lintah atau kelabang."

"Syukurlah. Tetapi... aku minta tolong Saudara Liu.... untuk.... untuk...." Sun Cu-kiok tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Mendadak saja ia menjadi geragapan malu.

Liu Yok sudah bisa menebak kelanjutan kata-kata itu, dan ia mengeluh dalam hatinya. Pasti Sun Cu-kiok akan minta ditunggui selagi membersihkan diri, meskipun tentu saja Liu Yok harus menungguinya dengan membelakangi.

Agaknya setelah peristiwa kemarin, Sun Cu-kiok mempercayai Liu Yok benar-benar pria terhormat yang sanggup menjaga kepercayaan. Selama Sun Cu-kiok mandi, Liu Yok disuruh tidak menoleh ya benar-benar tidak menoleh. Gara-gara itulah Sun Cu-kiok merasa Liu Yok yang paling pantas untuk "tugas berat" itu.

Dan memang bagi Liu Yok, seorang pemuda yang normal, pekerjaan itu berat. Meskipun ia harus membelakangi Sun Cu-kiok selama Sun Cu-kiok mandi, dan ia tidak punya mata di punggungnya, toh angan-angannya jadi mengembara tak terbatas. Liu Yok yang selama ini belajar mengendalikan angan-angan dan pikirannya, tiba-tiba sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa angan-angannya sama saja dengan angan-angan lelaki-lelaki lain kalau mendapatkan "umpan" merangsang dari luar.

Angan-angannya bergolak. Tidak ada yang tahu, bahwa kemarin malam Liu Yok hampir-hampir tidak tidur karena gelisah menenangkan dan membersihkan kembali angan-angannya. Tak terduga sekarang ia akan mendapat "tantangan" kembali. Tetapi ia tidak tega melihat tatap mata penuh permohonan di mata Sun Cu-kiok. Tanpa berkata-kata, ia bangkit, mengikuti langkah Sun Cu-kiok menghilang di balik pepohonan yang rapat.

Sebun Beng dan Wan Lui bertatapan beberapa saat, menahan komentar dari mulut mereka sampai mereka berdua, Liu Yok dan Sun Cu-kiok-benar-benar lenyap dari pandangan dan diperkirakan sudah tidak bisa mendengar omongan mereka.

"Tugas berat, atau mengasyikkan?" desis Sebun Beng sambil menahan senyumnya. "Barangkali kedua-duanya." Sebun Beng dan Wan Lui sama-sama menahan tertawa mereka agar tidak terdengar oleh Sun Cu-kiok dan Liu Yok.

Auyang Hou nampaknya tidak mengacuhkan pembicaraan itu, nampaknya saja sedang sibuk menyodor-nyodorkan kayu kering ke dalam api, namun sebenarnya dia mendengarkan juga, dan sebuah gagasan melintas lewat di benaknya. Sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh Nyo Jiok.

Kemudian dilihatnya Pamannya menarik napas sambil berkata seperti orang berdoa, "Mudah-mudahan ini akan menjadi awal keberuntungan bagi Adikku, Sebun Giok."

Wan Lui yang sedikit banyak juga mengetahui riwayat pahit Sebun Giok, ikut mengangguk-angguk sambil mendukung, "Mudah-mudahan. Sudah cukup Bibi Giok menderita. Juga akan menjadi kuat, keberuntungan besar bagi Saudara Liu Yok kalau menjadi menantu Guberbur di Ho-lam"

"Ah, barangkali kau berangan-angan terlalu jauh, A-lui. Nanti kalau tidak terwujud akan kecewa lho."

"Ayah, apa salahnya berangan-angan tinggi asal masih lurus? Kalau penglihatan mataku tidak salah, aku melihat ada benih cinta di mata Nona Sun kepada Liu Yok. Aku memperhatikannya."

"Kalau benar, alangkah beruntungnya Liu Yok. Dicintai seorang puteri Gubernur yang cantik, pintar dan anak seorang berkedudukan. Tapi apakah Gubernur Sun bisa menerima calon menantu seperti Liu Yok? Orang dari pelosok pedalaman yang cacad, kerjanya mencari kayu..."

"Kalau cinta Nona Sun tidak bertepuk sebelah tangan, aku akan mendukungnya. Aku akan ikut mempengaruhi Gubernur Sun agar menerima Saudara Liu. Bahkan aku juga akan memohon agar Sri Baginda Kian-liong ikut campur pula. Ternyata Sri Baginda merasa sangat cocok dengan Liu Yok."

Sebun Beng cuma mengangguk-angguk sambil menarik napas beberapa kali. Tiba-tiba ada rasa haru yang bergejolak di hatinya. Selama ini ia selalu merasa prihatin akan nasib adik-perempuannya, biar hanya adik tiri berlainan ibu. Kini Sebun Beng berharap bahwa Sebun Giok pun akan memasuki masa cerah dalam kehidupannya, terangkat martabatnya oleh Liu Yok.

Namun Sebun Beng tiba-tiba terkejut sendiri, "Ah, aku berangan-angan terlalu jauh....'' sekali lagi ia memperingatkan dirinya.

Sementara itu, Sun Cu-kiok dan Liu Yok sudah kembali bergabung ke dekat perapian itu. Sun Cu-kiok kelihatan segar dan cerah, sementara Liu Yok nampak pendiam. Hanya ketika melihat Auyang Hou terlalu banyak menaruh api ke api unggun, Liu Yok berkomentar, "Jangan di-boros-boroskan kayunya, A-hou. Api itu harus menyala sampai pagi lho."

Menjelang tengah malam, suara percakapan sudah semakin sering diselingi suara mulut menguap karena mengantuk. Auyang Hou bahkan sudah mendahului terbang ke alam mimpi dengan bersandar sebuah batu besar, berkerudung mantelnya dan memeluk pedangnya. Capingnya tetap tidak dilepasnya meskipun tidur.

Suasana tiba-tiba menjadi tegang, ketika terdengar suara aum harimau mendekat. Sesuatu yang mestinya sudah mereka perhitungkan, mengingat bahwa tempat-tempat berair seperti kolam kecil tempat mereka mandi itu biasanya menjadi tempat persinggahan hewan-hewan liar untuk minum.

"Ada harimau menuju kemari...." desis Sun Cu-kiok tegang. "Seandainya golokku masih ada...."

Tiba-tiba saja Sun Cu-kiok menghentikan kata-katanya, lalu dengan penuh sesal memandang Liu Yok. Seolah-olah meminta maaf dengan sorot matanya atas kata-katanya itu. Entah sejak kapan Sun Cu-kiok merasa perlu belajar menenggang rasa dengan Liu Yok, dan ia tahu kalau Liu Yok tidak suka manusia tergantung kepada benda-benda berbau permusuhan seperti golok dan sebagainya.

Liu Yok pun agaknya mengerti bahwa Sun Cu-kiok menahan kata-katanya demi dia. Maka dia pun tidak lagi "berkhotbah" panjang-lebar melainkan hanya tersenyum ramah kepada Sun Cu-kiok dan alangkah bahagianya Sun Cu-kiok melihat sikap itu!

Semuanya berharap agar harimau yang terdengar suaranya itu tidak mendekat, namun kenyataannya suara harimau itu makin mendekat. Bahkan tidak lama kemudian terdengar suara semak-semak gemerasak terinjak kaki si Raja Hutan, dan dalam kegelapan pun terlihat sepasang mata yang mencorong dan semakin dekat.

Wan Lui sudah memungut sepotong batu besar ke dekatnya, namun Liu Yok tenang-tenang saja dan malahan berkata, "Jangan kuatir. Mereka itu tidak akan mencaplok penguasanya."

"Penguasanya? Siapa?" tanya Sun Cu-kiok heran.

"Kita. Siapa lagi kalau bukan kita, manusia?" jawaban Liu Yok sambil menggerogoti sepotong daging bakar binatang buruan. "Kemari, sobat. Kami masih ada sedikit makanan buatmu." kata Liu Yok kepada hewan besar itu, bahkan sambil melambai.

Harimau itu mengaum sekali lagi menggetarkan lereng-lereng pegunungan yang sepi itu, lalu berjalan mendekati Liu Yok, membuat setiap orang yang melihatnya jadi tegang. Tetapi semua orang pun tercengang ketika melihat hewan itu mendekam merapat di samping Liu Yok dan dengan jinaknya menaruh kepalanya di paha Liu Yok. Ia bahkan makan daging bakar langsung dari telapak tangan Liu Yok.

Beberapa saat tidak ada yang bersuara, masih tegang. Apalagi karena harimau itu masih mengaum beberapa kali, meskipun masih tetap bersikap jinak. Ketegangan pun pelan-pelan mengendor ketika Sebun Beng mulai ikut mengusap kepala binatang itu, dan ternyata binatang itu tidak marah. Sun Cu-kiok juga ingin mengusapnya, tetapi belum berani.

Begitulah, malam itu mereka lewati bersama seekor "sahabat yang tidak diundang" yang ternyata ikut tidur di situ semalam-malaman. Hewan itu bahkan menyediakan tubuhnya untuk dijadikan bantal oleh Liu Yok.

Auyang Hou sebelum tengah malam tadi sempat tidur lebih dulu, sekarang justru bangun dan melek ketika semuanya tertidur. Ia ingat akan tugas yang dibebankan Nyo Jiok kepadanya, yaitu mencari kelemahan dari keistimewaan Liu Yok itu.

Ternyata orang-orang Pek-lian-kau Sekte Utara lebih gentar kepada seorang bernama Liu Yok yang tidak bisa apa-apa dalam hal silat, daripada terhadap Jenderal Wan Lui yang memimpin ratusan jagoan tangguh yang menjadi anggota pasukan rahasia Kaisar Kian-liong, atau terhadap Sebun Beng yang punya nama besar sebagai pendekar.

Sambil menatap tubuh Liu Yok di seberang api unggun yang mulai meredup sinarnya, Auyang Hou dimasuki pikiran, "Liu Yok sedang tidur pulas saat ini, begitu pula yang lain-lainnya. Kalau aku bacok dia dengan pedangku, rasanya tidak memerlukan bacokan kedua untuk menghabisi nyawanya. Lalu aku bisa pergi begitu saja tanpa ada yang mengetahuinya..."

Sayangnya, "bantal hidup" Liu Yok itu tidak ikut tidur, melainkan terus melek. Kadang-kadang memang harimau itu meletakkan kepalanya di tanah, di lain waktu mengangkat kembali kepalanya untuk menatap ke sekitarnya sambil lidahnya mengusap-usap sekitar mulutnya seraya menggeram lirih kadang-kadang.

Auyang Hou jadi gentar. Harimau itu bukan lagi sekedar harimau biasa di bawah pengaruh Liu Yok yang aneh itu. Mata lelaki Auyang Hou sempat hinggap juga ke arah Sun Cu-kiok yang sedang tidur pulas. Gadis itu tidur miring-menghadap api unggun yang mulai meredup seakan memang sengaja membiarkan cahaya api menimpa wajahnya yang cantik untuk dinikmati Auyang Hou.

Tubuhnya menggiurkan meskipun terbungkus pakaian lelaki butut penyamarannya. Dalam tidurnya, wajahnya mengulum senyuman bahagia, entah apa yang membuatnya bahagia dalam mimpinya.

Darah Auyang Hou seakan berdenyut lebih cepat, ia menelan ludahnya. Bagaimanapun, pikiran pertamanya ketika dulu bertemu dengan gadis itu di kota Han-king, adalah kekaguman, bahkan sempat muncul pikiran untuk mempersuntingnya.

Auyang Hou tambah terpesona ketika Sun Cu-kiok mendesah dan menggeliat dalam tidurnya, lalu mengubah posisi tubuhnya sehingga bagian pinggang ke atas menelentang menghadap langit. Agaknya enak dipandang dengan cara tidur seperti itu. Tiba-tiba Auyang Hou mendengar Liu Yok mengigau dalam tidurnya.

"Tidak, Nona Sun! Kita... kita belum menjadi suami isteri yang resmi. Tidak boleh kita lakukan ini. Tidak, Nona...."

Auyang Hou mengerutkan alisnya, agaknya iri. Gerutunya dalam hati, Kurang ajar. Si Pincang ini rupanya mendapat mimpi yang mengasyikkan tentang diri Sun Cu-kiok."

Tiba-tiba Liu Yok pun geragapan bangun dari tidurnya. Melihat ke sekitarnya, lalu mendesah lega sebab yang dialaminya tadi ternyata hanyalah di alam mimpi. Meskipun kalau buat lelaki lain mungkin malah akan menggerutu kecewa kenapa hanya terjadi dalam mimpi.

Melihat Auyang Hou masih berjaga, Liu Yok bertanya, "Tidak tidur, Adik Hou?"

Sejak Liu Yok berusaha mengorek keterangan tentang caping dan mantel yang dipakai Auyang Hou itu, Auyang Hou merasa kurang senang bicara panjang lebar dengan Liu Yok. Maka kali ini pun dia hanya menjawab pendek, "Ya."

Namun Liu Yok kemudian bangkit dan melangkah ke arah kolam kecil di balik pepohonan, padahal saat itu adalah menjelang dini-hari yang dinginnya bukan main. Karena ingin tahunya, Auyang Hou tidak tahan untuk tidak bertanya, "Ke mana, Kak?"

Liu Yok menghentikan langkah, nampak tersipu sedikit dan serbasalah, karena Liu Yok bukanlah orang yang sanggup berbohong. Tapi untuk menjawab terus terang juga malu. “Membersihkan diri." akhirnya Liu Yok cuma menjawab samar-samar.

Auyang Hou langsung menghubungkannya dengan kata-kata Liu Yok dalam mimpinya tadi, dan juga sikap tersipu Liu Yok ketika menjawab. Kesimpulan Auyang Hou, Liu Yok telah mengalami pengalaman wajar bagi lelaki-lelaki bujangan umumnya. Mimpi basah.

Itu hal wajar bagi setiap lelaki bujangan, namun buat Auyang Hou yang tengah dikuasai pengaruh jahat untuk mencari kelemahan Liu Yok, kelemahan dari bermacam-macam keistimewaan Liu Yok yang ditakuti oleh orang-orang Pek-lian-kau, maka Auyang Hou tiba-tiba merasa mendapat setitik celah kelemahan itu.

"Hemm, kiranya Si Pincang itu juga tidak sesetia dan sesuci yang aku duga selama ini. Omongannya saja muluk-muluk. Ternyata pikirannya juga sampai dikotori pengalamannya dengan wanita."

Tidak lama kemudian, terlihat Liu Yok melangkah datang kembali, dengan wajah murung dan kecewa sehingga Au-yang Hou heran. Ketika Liu Yok duduk kembali dekat api unggun itu, Auyang Hou mulai memancing-mancingnya, "Tidak tidur lagi, Kak?"

Liu Yok duduk memeluk lutut dan merenungi api unggun. Ia cuma menggeleng satu kali. "Kakak kelihatannya kecewa?"

Liu Yok bungkam saja, dan Auyang Hou mengartikan kebungkaman itu sebagai jawaban "ya".

"Kalau Kakak bersedia, Kakak boleh menceritakannya kepada saya. Mungkin saya bisa ikut membantu dengan pikiran." kata Auyang Hou begitu sopan, sambil beringsut mendekati Liu Yok, namun tidak terlalu dekat. Sebab ada sesuatu dari dalam pribadi Liu Yok yang tidak tertahankan oleh Auyang Hou, atau lebih tepatnya, oleh sesuatu yang ada di dalam diri Auyang Hou.

Liu Yok menarik napas. Dulu adiknya ini seakan malu mengenalnya, malu mem punyai kakak tiri yang cacad dan bisanya hanya mencari kayu bakar. Lalu perlahan-lahan terjadi perubahan sikap, jadi lebih baik. Kemudian setelah Auyang Hou diculik Nyo Jiok, dan sekarang "di-ketemukan" kembali, Liu Yok merasa Auyang Hou ini agak asing. Ada sesuatu yang asing dalam diri Auyang Hou.

Ketika ditanya soal caping dan mantel saja, jawabnya berbelit-belit tidak keruan seperti menyembunyikan sesuatu. Namun kini, ketika Liu Yok sendiri dalam keadaan geliah, rasanya ia membutuhkan seseorang untuk berbagi rasa. Bagaimana pun istimewanya dan anehnya Liu Yok, dia masih tetap manusia yang membutuhkan sesamanya. Dan kini sesama yang siap menampung uneg-uneg itu sudah ada di depannya.

Adik tirinya sendiri. Tidak peduli betapa masih ada kabut tanda-tanda yang menyelubungi adik tirinya itu. Juga tidak peduli bahwa yang'akan dike-mukakannya kepada Auyang Hou barangkali akan terdengar aneh, tidak bisa diterima oleh Auyang Hou yang tergolong "biasa".

Sahut Liu Yok, "Angan-anganku sudah tercemar." "Oleh siapa?" tanya Auyang Hou pura-pura tidak tahu, meskipun sebenarnya sudah tahu karena tadi ia sudah mendengarkan igauan mimpi Liu Yok.

Ternyata Liu Yok menjawab dengan jujur, meskipun dengan menyembunyikan nama Sun Cu-kiok demi menjaga nama baiknya, "Selama ini aku menjaga baik-baik angan-anganku, alam bawah sadarku, tempat tinggalku "aku" yang sejati, agar tetap bersih dan suci. Tiba-tiba saja angan-angan kotor itu menyelonong masuk ke alam bawah sadarku sehingga aku bermimpi...." Secara tiba-tiba Liu Yok menghentikan kata-katanya, agak rikuh juga, "...sehingga... sehingga... harus membersihkan diri."

Auyang Hou menjawab tenang, "Aku tahu."

"Kau tahu?"

Auyang Hou merasa tidak ada ada perlunya berbohong kepada Liu Yok, di depan tatap mata Liu Yok demikian bening. Lagipula jawabannya akan menjadi batu loncatan untuk pancingan-pancingan berikutnya, "Ya. Aku tahu. Tadi Kakak mengigau, menyebut nama seorang gadis dan dalam, igauan itu Kakak berka…”

Liu Yok mengibaskan tangannya, menyuruh Adiknya berhenti berbicara. "Sudahlah. Kalau kau sudah mendengarnya, tidak perlu kau teruskan kata-katamu. Aku akui, memang adegan kotor itulah yang terjadi dalam angan-anganku..."

"Tidak perlu Kakak menyesalinya secara berlebihan. Itu wajar saja, aku kira semua pemuda mengalaminya. Aku juga, bahkan sudah berkali-kali."

"Tidak. Mungkin dianggap biasa buat orang yang ingin terus hidup di dataran rendah selera kedagingan. Tetapi itu tidak biasa buat orang yang sedang mendaki menuju Kota Benteng Jiwani, apalagi yang sedang menuju ke Bukit Suci di tengah-tengah Kota itu. Yang aku alami tadi menandakan bahwa ternyata masih ada sampah Dataran Rendah yang mengikuti aku sampai ke Bukit Suci..."

"Omonganmu ruwet, Kak." tukas Auyang Hou terang-terangan. Ia memang ditugasi oleh Nyo Jiok di bawah pengaruh sihir Nyo Jiok, untuk menyelidiki kekuatan Liu Yok. Dan ia takkan bisa melaporkan apa-apa kepada Nyo Jiok kalau dia pun tidak mengerti apa yang didengarnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa itu "dataran rendah selera kedagingan" dan "kota benteng jiwa" dan "bukit di tengah kota segala".

"Oh, maaf..." kata Liu Yok. "Maksudku, bukannya selama ini tidak ada hal-hal jahat yang masuk ke dalam jiwaku. Ada. Karena mata dan telingaku normal, banyak hal bisa masuk ke dalam jiwa, namun dengan mudah aku bisa mengusirnya keluar kembali. Sehingga jiwaku seperti sebuah kota benteng yang kokoh, yang isinya tetap terjaga bersih. Tetapi kali ini, sesuatu 'jahat telah masuk lebih dalam dari sekedar jiwa, sudah masuk hati-nuraniku, alam bawah sadarku, sampai muncul dalam mimpi. Alangkah memalukannya. Aku sadar betapa rapuhnya aku ternyata...."

Kali ini Auyang Hou sudah agak bisa mengerti, meskipun seumur hidupnya dia tidak berminat kepada hal-hal semacam ini. Kali ini terpaksa harus belajar, karena ia ditugaskan oleh Nyo Jiok. "Tugas belajar" yang jauh dari minatnya. "Itu hal biasa, Kak. Meskipun timbul dalam hati kita suatu keinginan berbuat jahat, asal kita bisa mengendalikannya dan tidak sampai berbuat jahat, kita menang!"

"Tidak. Keinginan itu biarpun baru timbul, kita sudah kalah. Kita bisa berbuat jahat dalam hati dan tidak sampai berujud perbuatan, namun itu tetap sama jahatnya dengan sudah melakukannya. Sebab diri kita sendiri yang sejati itu adalah yang di dalam. Pada suatu saat suatu keinginan tidak baik mengotori jiwa kita, itu sudah melakukan. Bukankah manusia adalah pelita jagad?"

Auyang Hou juga tidak berminat mendengarkannya, namun ia tidak bermaksud menghentikan pembicaraan. Sebab ia berharap nantinya dalam pembicaraan itu akan terungkap rahasia keistimewaan Liu Yok.

"Terus bagaimana, Kak?" hanya itu yang ditanyakan Auyang Hou sebab sesungguhnya ia tidak bisa menangkap sepenuhnya kata-kata Liu Yok, dan memang tidak berminat.

Kata Liu Yok, "Makin banyak kotoran dalam jiwa kita, makin redup pelita jagad itu, dan berarti juga makin jauh dari lukisan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa."

Auyang Hou mulai menangkap ujung dari bahan pembicaraan yang dikehendakinya. Cepat ia menyergapnya, "Oh, kalau begitu, makin banyak kotoran dalam jiwa seseorang, makin dia tidak berkuasa terhadap binatang, alam dan sebagainya?"

"Ah, hal-hal ajaib macam itu hanyalah hadiah tambahan, yang kalau kurang hati-hati malahan bisa menyeret kita ke dalam kesombongan karena merasa bisa melakukan hal-hal yang hebat. Yang terutama, kita dipimpin petunjuk-petunjuk melalui hati-nurani kita untuk makin lama makin kembali serupa-tetapi-tidak setingkat dengan Sang Pencipta, karena dulu-dulunya memang demikian.

Tetapi benar juga katamu tadi, makin banyak kotoran dalam jiwa seseorang, makin ia tidak berkuasa terhadap alam, binatang dan sebagainya. Jiwa seperti kota benteng, makin banyak kotoran makin banyak tembok pertahanannya yang ambruk sehingga akhirnya menjadi belukar."

Auyang Hou tertawa dalam hati, "Oh, bagus, Liu Yok. Kalau begitu aku harus membuat kotoran dalam jiwamu semakin banyak, sehingga kau akan semakin lemah, semakin lemah, dan akhirnya takkan ada bedanya dengan manusia biasa. Tanpa keistimewaan apa-apa...."

Lalu tanpa sengaja Auyang Hou melirik ke arah Sun Cu-kiok yang masih tidur dalam posisi yang indah itu. Posisi yang pasti akan membangkitkan jiwa seni dari seorang pematung barangkali. Pikirnya, "Gadis ini akan kuubah menjadi sampah-jiwanya."

Kemudian Liu Yok masih banyak berbicara lagi, menumpahkan isi hatinya, tetapi Auyang Hou tidak lagi mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, sebab sudah didapatinya apa yang diingininya. Apalagi memang omongan Liu Yok tidak gampang dimengerti. Istilahnya saja sudah aneh-aneh, apalagi hubungan antara istilah-istilah aneh itu.

Keesokan harinya, setelah orang-orang dalam rombongan itu membersihkan diri, kemudian makan pagi sekedarnya, mereka pun melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, Liu Yok bersikap agak mengambil jarak dengan Sun Cu-kiok.

Kalau Sun Cu-kiok berjalan di depan, Liu Yok sengaja memperlambat langkahnya sehingga jadi berada di ekor rombongan. Kalau Sun Cu-kiok menunggu Liu Yok untuk berjalan bersama- sama di belakang, Liu Yok malah melangkah melewati Sun Cu-kiok sehingga jadi di depan.

Auyang Hou diam-diam memperhatikannya, dan mengejek dalam hatinya, "He-he-he, Si Pincang ini ingin menjaga Kota Benteng Jiwanya dari sampah, tetapi aku justru akan mengirim' banjir sampah ke dalam pikirannya. Akan kulihat, dia nanti masih bisa aneh-aneh lagi apa tidak."

Begitulah. Untuk mewujudkan rencananya, sekarang justru Auyang Houlah yang mencoba mendekati Sun Cu-kiok. Mula-mula Sun Cu-kiok merasa sebal juga didekati pemuda yang dikenalnya sebagai pembual besar ini. Kuatir kalau diajak membual tanpa tujuan. Namun ternyata tidak.

Ternyata Auyang Hou mampu membawakan diri dengan baik, tidak membual sebab rupanya tahu hal itu akan memuakkan Sun Cu-kiok. Auyang Hou memilih bahan pembicaraan yang tepat untuk menarik perhatian Sun Cu-kiok, yaitu "berita samar-samar" tentang Sun Pek-lian. Maka keduanya pun jadi bercakap-cakap dengan asyik sambil berjalan.

"Benarkah mereka sama sekali tidak menyebut-nyebut siapa yang akan dikorbankan dalam upacara keji itu, Saudara Auyang?"

"Memang tidak ada penyebutan nama. Mudah-mudahan manusia-manusia yang akan dikorbankan tidak hanya satu, dan hendaknya Nona Sun Pek-lian itu tidak akan ikut dikorbankan."

"A-Hou!" Sebun Beng yang berjalan beberapa langkah di depan itu menegur keponakannya sambil menoleh, la tidak suka Auyang Hou menambah kegelisahan Sun Cu-kiok dengan cerita-cerita yang belum tentu benar.

Auyang Hou tidak menyahut, tetapi Sun Cu-kioklah yang menyahuti Sebun Beng, "Paman Sebun, biarlah aku mendapat sedikit keterangan, biarpun kabur dan tidak jelas, daripada tidak sama sekali. Kalau tidak tahu sama sekali, justru aku akan gelisah karena membayangkan hal-hal yang menakutkan. Biarlah Saudara Auyang memberikan sedikit gambaran."

"Nona Sun, A-hou dibawa oleh Nyo Jiok baru sampai di tengah jalan sudah kabur, belum sampai ke Kiu-liong-san. Jadi dia belum tahu bagaimana keadaan di Kui-liong-san, di tempat berkumpulnya orang-orang Pek-lian-kau itu."

"Tetapi Saudara Auyang sudah mendengar percakapan orang-orang Pek-lian-kau yang berpapasan dengan Nyo Jiok tentang upacara yang bakai diadakan. Dari percakapan-percakapan itu bisa didapat sedikit gambaran."

"Nona, gambaran itu dicampuri kesimpulan- kesimpulan A-hou sendiri yang barangkali bisa meleset."

"Biarlah, Paman. Daripada tidak mendengar apa-apa."

Akhirnya Sebun Beng pun memang tidak berkuasa mencegah. Ia membiarkan Sun Cu-kiok mendengar apa saja dari Auyang Hou. Kemudian Auyang Hou mengatakan sesuatu yang menarik, "Ketika aku melarikan diri dari cengkeraman Nyo Jiok, ada dua orang anggota perempuan Pek-lian-kau."

"Eh, Pek-iian-kau ada perempuannya juga?"

"Tentu saja, Nona. Bukankah Pek-lian-kau itu suatu kepercayaan? Penganutnya bermacam-macam, lelaki,-perempuan, tua-muda, dewasa kanak-kanak, bisa silat atau tidak, jemaah biasa maupun yang aktif bergerak melawan pemerintah. Tentu saja ada pengawal-pengawal perempuan dalam Pek-lian-kau. Bahkan perempuan-perempuan ini lebih berbakat dalam hal melepas guna-guna membunuh musuh dari jarak jauh. Dukun-dukun perempuan Pek-lian-kau ini dikenal dengan nama Pa-siau-jin (Penyiksa Orang Kecil), karena mereka bisa membuat orang sedesa kena wabah, bisa membuat sawah-ladang sedesa habis oleh hama, dan sebagainya."

"Nampaknya Si Pembual ini jadi tahu banyak tentang Pek-lian-kau..." pikir Sun Cu-kiok bertambah yakin. "Saudara Au-yang, lalu bagaimana ketika Saudara hendak melarikan diri tetapi bertemu dengan dua anggota perempuan Pek-lian-kau?"

"Aku melawan mereka dan merobohkan mereka, mereka tidak sempat menggunakan ilmu gaib mereka. Sebelum aku pergi, aku sempat merampas kalung yang mereka pakai."

Diam-diam Sun Cu-kiok membatin, kok Saudara Auyang ini juga belajar jadi tukang jambret? "Kalung? Buat apa?"

"Kalung itu adalah tanda keanggotaan setiap laskar wanita Pek-lian-kau. Aku ambil satu, siapa tahu barangkali bisa berguna untuk menyelundup masuk ke Puncak In-hong di Kiu-liong-san yang dijaga amat ketat."

"Saudara Auyang tadi bilang, kalung itu hanya dipakai anggota laskar wanita Pek-lian-kau?"

"Ya. Kaum lelakinya memakai tanda yang lain."

"Kalau begitu, tentu kalung itu takkan ada gunanya buat Saudara Auyang. Saudara Auyang kan laki-laki?"

"Ya, tentu saja."

"Kalau Saudara Auyang tidak keberatan, biar kalung rampasan itu buat aku saja. Barangkali saja setibanya di Puncak In-hong nanti aku akan mendapat kesempatan untuk menyusup masuk, menyelamatkan adikku, dengan menyamar sebagai laskar wanita Pek-lian-kau."

Auyang Hou bersorak dalam hatinya, karena memang inilah yang dikehendakinya. Tetapi ia masih pura-pura mencemaskan Sun Cu-kiok, "Nona, Puncak In-hong penuh dengan penjagaan ketat. Berbahaya sekali untuk...."

Tetapi Sun Cu-kiok sudah tidak sabar, "Kalau bukan aku yang harus mempertahankan nyawa bagi saudaraku satu-satunya itu, lalu siapa lagi?"

Akhirnya Auyang Hou memberikan juga kalung itu kepada Sun Cu-kiok. Sebuah kalung perak berbentuk tertatai. Yang melihat serah-terima kalung itu hanyalah Wan Lui, yang tidak terlalu menggubrisnya. Wan Lui menganggap hal itu tidak ada artinya untuk rencana keseluruhan. la menganggap Sun Cu-kiok tetap bisa "dikendalikan" biarpun sudah punya "karcis" untuk masuk sendirian ke Puncak In-hong.

Sedang Sebun Beng dan Liu Yok yang berjalan belasan langkah di depan mereka, tidak tahu menahu apa yang diperbincangkan Sun Cu-kiok dan Wan Lui, juga tidak melihat berpindah-tangannya kalung itu, sekalipun sambil melangkah mereka juga menoleh ke belakang sekali-kali, melihat ke arah anggota-anggota rombongan kecil yang jalannya terpencar-pencar itu.

Auyang Hou merasa rencananya berjalan cukup lancar, lalu katanya kepada Sun Cu-kiok perlahan, supaya tidak didengar oleh yang lain-lainnya, "Lebih baik Nona pakai kalung itu, daripada nantinya jatuh dan hilang."

Ada semacam perbawa menyertai kata-kata Auyang Hou, yang membuat Sun Cu-kiok mematuhi anjuran itu. Begitulah, kalung itu segera tergantung di leher Sun Cu-kiok, meskipun bandulnya tersembunyi di balik bajunya.

Merasa bahwa langkah pertama dari rencananya telah berjalan dengan sukses, Auyang Hou tidak lagi terlalu berdekatan dengan Sun Cu-kiok. Kuatir menimbulkan kecurigaan Wan Lui yang selalu menganalisa dengan cermat setiap hal-hal yang agak berlebihan, sesuai dengan kebiasaannya sebagai komandan rahasia di istana.

Juga kuatir menimbulkan kecurigaan Liu Yok yang agaknya memiliki kepekaan alamiah yang tinggi terhadap hal-hal gaib, padahal kalung yang Auyang Hou berikan kepada Sun Cu-kiok itu bukan lagi kalung biasa, melainkan salah satu peralatan ilmu gaib Pek-lian-kau. Kata-kata Auyang Hou tentang kalung yang dirampasnya dari seorang laskar wanita Pek-lian-kau tadi hanyalah bohong belaka...

Selanjutnya,