X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 04

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api episode Sekte Teratai Putih Jilid 04 karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 04

Karya : Stevanus S P

GWAN-SWE" atau "Selaksa Tahun" adalah kata penghormatan hanya buat Kaisar. Bahkan Sebun Beng dan Gubernur Sun juga terlambat berlutut, sebab mereka belum mengenali wajah Kaisar Kian-liong sebelumnya. Mereka pun menyerukan "Ban-swe".

Orang-orang di ruangan itu lebih terlambat lagi, namun mereka berlutut juga meskipun tidak serempak dan ikut-ikutan menyerukan "Ban-swe".

Melihat sambutan yang begitu sungguh-sungguh, Kaisar Kian-liong malah bersikap santai, "Eh, apa-apaan ini? Aku tidak datang sebagai raja, tetapi sebagai tamu biasa untuk mengucapkan selamat kepada seorang sahabat. Silakan bangun semua, Tuan-tuan."

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Orang-orang pun bangkit dan duduk di kursinya, namun suasananya sudah tidak bisa seperti semula. Semua orang jadi menahan diri. Kemudian Wan Lui bertegur-sapa pula dengan dua lelaki yang mengiringi Kaisar, "Terima kasih pula atas kehadiran Saudara Im dan Saudara Gui."

Kedua orang itu bersikap sama hormatnya kepada Wan Lui, "Kami mengucapkan selamat untuk hari bahagiamu, Saudara Wan."

"Terima kasih."

Kedua pengiring Kaisar itu bukan orang- orang sembarangan, biarpun mereka tampil sama sederhananya dengan Kaisar. Yang pertama berusia empat puluhan tahun, jidatnya lebar dan pundaknya tegap, namanya Im Ho- sek, jabatannya di istana ialah Komandan Ci-ih Wi-kun (Pasukan Pengawal Jubah Ungu). Yang kedua bertubuh ramping dengan mata setajam rajawali, bernama Gui Han-seng, Komandan Gi-cian Si-wi (Bayangkari Pengawal Raja).

Melihat kedua orang itu datang bersama-sama, Wan Lui sebenarnya merasa heran. Im Ho-sek dan Gui Han seng adalah dua orang yang saling tidak cocok dalam banyak hal, tidak jarang mereka bertengkar sengit satu sama lain. Kenapa justru mereka berdua yang diajak oleh Kaisar? Mungkinkah dengan mengajak mereka berdua dalam perjalanan, Kaisar hendak merukunkan kedua pembantunya itu?

Selain itu, dalam hatinya Wan Lui mengkhawatirkan keselamatan Kaisar selama berada di Lok-yang itu. Saat itu kota Lok-yang sedang kurang aman, bahkan Wan Lui sudah mendengar kalau orang-orang Pek-lian-kau yang anti pemeritah itu juga gentayangan di sekitar Lok-yang. Sikap suka keluyuran dari Kaisar Kian-liong itu dimilikinya sejak ia masih bernama Pangeran Hong-lik. Dan agaknya diwarisinya dari kakeknya, Kaisar Khong-hi, yang juga suka keluyuran di istana sejak masih disebut Pangeran Hian-hua.

Juga dari ayahnya, Kaisar Yong-ceng, ketika masih bernama Pangeran In-ceng. Biarpun saat itu Kaisar Kian-liong dikawal orang-orang setangguh Im Ho-sek dan Gui Han-seng, Wan Lui tetap menganggap kehadiran Kaisar secara terbuka di Lok-yang itu mengundang resiko.

Begitulah, Kaisar diberi tempat duduk paling terhormat di sebelah timur dalam ruang perjamuan itu. Setelah duduk, Kaisar lalu berkata kepada Wan Lui, "Saudara Wan, aku membawa hadiah yang mudah-mudahan menyenangkan hatimu, dan juga menyenangkan hati Tuan Sebun."

"Tuanku terlalu baik kepada hamba." kata Sebun Beng sungkan.

Kaisar bertepuk tangan dua kali, maka dari luar pun masuk dua orang lelaki kekar yang memikul sebuah kotak besar. Kotak itu segera diletakkan di tengah-tengah ruangan.

Para tamu sudah tidak sabar ingin melihat apa isi kotak itu, mereka sudah membayangkan, bingkisan dari seorang Kaisar tentu hebat sekali. Mungkin sebentar lagi ruangan itu akan menjadi terang benderang oleh cahaya intan- permata yang tak ternilai harganya.

"Buka," perintah Kaisar kepada kedua kuli tadi.

Kotak pun dibuka dan isinya dikeluarkan, dan orang-orang terkejut karena isi kotak adalah seorang manusia yang terbelenggu. Masih lumayan kalau tampangnya menarik, ini adalah manusia yang tidak keruan tampangnya dan tubuhnya memancarkan bau apek karena jarang mandi. Karena "hadiah" Kaisar ini bukan lain adalah Hek-wa-koai Mao Pin, tokoh Pek-lian-kau yang dalam beberapa hari ini membikin pusing Keluarga Sebun.

Wan Lui tercengang karena belum mengenalnya, "Tuanku, siapa orang ini?"

Kaisar Kian-liong menjawab kalem, "Namanya Hek-wa-koai Mao Pin, tokoh Pek-lian-kau golongan Pak-cong. Dulu mereka menculik aku, sekarang aku yang menculiknya."

Para tamu pun gempar. Pek-lian-kau adalah sebuah golongan bawah tanah yang selalu memusuhi pemerintah Manchu dan bercita-cita mendirikan kembali Kerajaan Beng. Kotak pun dibuka dan isinya dikeluarkan,dan orang-orang terkejut karena isi kotak adalah seorang manusia yang terbelenggu. Namun bagi Keluarga Sebun, kemunculan orang ini punya arti yang lain. Sebab Hek-wa- koai Mao Pin inilah yang menculik Liu Yok.

Orang lain yang paling terkejut dalam ruangan itu adalah Tabib Oh Jiang. Di Lok-yang dan sekitarnya dia dikenal sebagai seorang tokoh terhormat, padahal dia juga pentolan Pek-lian-kau. la kaget, sebab Mao Pin disembunyikan di ruang bawah tanah di rumahnya, dan tahu-tahu sekarang rekannya itu sudah muncul sebagai tawanan di situ dalam keadaan terbelenggu, tidakkah itu berarti kalau kediamannya sudah diobrak-abrik oleh Kaisar Kian-liong dan orang-orangnya? Oh Jiang mulai berkeringat dingin, hebatlah akibatnya kalau kedoknya terlucuti. la mulai memutar otak untuk mencari jalan keluar sebaik-baiknya.

Sebun Giok tidak dapat mengendalikan diri. Ia saat itu mengenakan pakaian pesta dan tentu saja tidak membawa pedangnya, namun dia mendekati Auyang Hou dan mencabut pedang di pinggang Auyang Hou, lalu menerjang ke arah Hek-wa-koai yang terbelenggu sambil menjerit, "Manusia siluman, di mana anakku?"

Sebun Beng cepat-cepat melompat menghalangi adiknya. itu, "Adik Giok, jangan gegabah!"

"Biarkan aku membalas siluman ini!"

Tiba-tiba dari ambang pintu masuk terdengarlah suara lunak, "Jangan membalas, Ibu. Aku selamat."

Liu Yok terpincang-pincang memasuki ruangan, wajahnya damai dan matanya jernih. Pakaiannya masih pakaian yang dipakai beberapa hari yang lalu ketika ia diculik, tentu saja sudah kusut. Wajahnya juga kusut dan pucat, namun tidak mengurangi kedalaman sorot matanya. Menghamburlah Sebun Giok memeluk anaknya. Sebun Beng ikut mendekati dan menanyakan keadaan keponakannya itu.

"Siapakah yang menolongmu, Nak?"

Dengan sikap polos Liu Yok menunjuk Kaisar Kian-liong sambil berkata, "Sobat itulah yang menyerbu tempatku ditawan, bersama kawan-kawannya membebaskan orang-orang yang tertawan di situ."

Cepat-cepat Sebun Giok menepis telunjuk Liu Yok yang menuding Kaisar itu. "Jangan kurang hormat, A-yok. Tahu kah kau siapa beliau?"

"Tadi sewaktu menolongku, ia tidak menyebut namanya."

"A-yok, penolongmu adalah Sri Baginda Kian-liong sendiri."

Orang-orang menyangka A-yok akan kaget lalu kelabakan memberi hormat sambil menyanjung puja, ternyata tidak. Ternyata Liu Yok cuma tercengang sedikit, lalu membungkuk sedikit tanpa berlutut sambil berkata, "Semoga Pencipta Langit dan Bumi memberkahi Tuanku. Terima kasih."

Atas sikap itu, Kaisar Kian-liong malah kelihatan senang. Katanya. "Aku senang mendapat kawan sejati seorang lagi, setelah selama ini hanya punya seorang, Wan Lui. Sobat Liu, maukah kau duduk di sebelahku, agar kita bertiga dapat duduk berdekatan dan berbicara lebih akrab?"

Itulah undangan luar biasa. Seorang Kaisar mengundang seorang pemuda tak dikenal, dengan pakaian yang begitu sederhana dan sudah agak bau pula! Toh Liu Yok menjawab tanpa sungkan, "Terima kasih, Tuanku."

Lalu tanpa sungkan sedikit pun, Liu Yok menuju ke arah kursi di sebelah kursi Kaisar. Wajahnya biasa saja, tidak menunjukkan rasa bangga, menganggap hal biasa kalau manusia ramah kepada manusia. Langkahnya terhambat sejenak karena Auyang Hou menyongsongnya di tengah-tengah ruangan lalu memeluknya, sambil berusaha mencucurkan air matanya, Auyang Hou juga berkata, "Oooo, Kakak Yok! Kakakku! hampir mati aku memikir kan keselamatanmu! Syukurlah Kakak selamat!"

Seingat Liu Yok, belum pernah adik tirinya ini bersikap begini hangat. Di Se-shia dulu malah sering adik ini menyuruh nya atau membentak-bentaknya. Kini menghadapi sikap adiknya ini, Liu Yok berpikir, "Mungkin selama aku diculik beberapa hari, barulah muncul rasa persaudaraannya..."

la pun menepuk-nepuk pundak Auyang Hou sambil berkata, "Sudahlah, Adikku. Bukankah aku kembali dengan selamat?"

Bwe Gin-liong tidak mau kalah ambil bagian dalam adegan dramatis itu. Dia pun berlari ke tengah ruangan untuk memeluk Liu Yok dan memamerkan air matanya. Setelah meredakan "kerinduan" kedua adiknya, Liu Yok benar-benar menempati kursinya di sebelah Kaisar Kian-liong sendiri. Tanpa canggung, tanpa kurang hormat, tapi juga tidak silau.

Sementara itu Kaisar Kian-liong telah menuding Hek-wa-koai yang terbelenggu itu, "Orang jahat ini ternyata disembunyikan di rumah seorang tokoh terhormat Lok-yang yang ternyata gadungan, karena dia sebenarnya seorang gembong Pek-lian-kau! Orang yang kelihatannya suka mengobati, padahal suka memakan daging anak-anak hidup-hidup...!"

Hadirin tercengkam oleh keterangan Kaisar itu. Apalagi ketika Kaisar menyapukan pandangannya ke wajah-wajah di ruangan itu, begitu pula Liu Yok ikut melihat berkeliling.

"...dan orang itu hadir pula di sini dengan berkedok sebagai seorang tamu terhormat!" kata-kata Kaisar itu menggemparkan orang- orang. Mereka saling berpandangan untuk mencari siapa yang dimaksud.

Tabib Oh Jiang alias Pek-coa-sin (Malaikat Ular Putih) segera mengambil keputusan bulat, la sadar Liu Yok akan mengenali wajahnya, maka ia tidak ingin terlambat bertindak. Orang-orang di ruangan itu pun dikejutkan oleh jerit Sun Pek-lian, Puteri Gubernur, sebab Oh Jiang tiba-tiba menyergapnya. Dengan satu tangan Oh Jiang menelikung tangan puteri gubernur itu di punggungnya, tangan lainnya memegang belati yang juga ujungnya didekatkan ke leher gadis itu.

Semua orang di ruangan itu terkejut, kecuali Kaisar Kian-liong serta Liu Yok yang memang sebelumnya sudah tahu siapa sebenarnya orang di balik kedok tabib terhormat itu.

"Tuan Oh, apa yang kau lakukan terhadap puteriku?" tanya Gubernur Sun kaget.

Oh Diang terkekeh seram, wajah yang biasanya mirip wajah dewa penuh welas asih itu, sekarang menyeringai beringas seperti iblis yang dahaga akan darah segar. Kata Oh Diang, "He, orang-orang Lok-yang yang tolol-tolol, hari ini aku berterus terang kepada kalian, bahwa aku memang anggota Pek-lian-kau, aku adalah seorang pecinta tanah air bangsa Han yang rindu melihat negeri ini terbebas dari injakan orang-orang Manchu! Tetapi rupanya di kota ini terlalu banyak penjilat orang Manchu!"

"Tuan Oh..." Sebun Beng melangkah mendekati, namun langkahnya terhenti karena Oh Diang telah berteriak, "Berhenti! Atau kau ingin melihat leher anak perempuan ini berlubang oleh pisauku?"

"Tuan Oh, kita bisa berbicara baik-baik..."

"Mundur lima langkah semua!" bentak Oh Diang.

Semua orang menjauhi Oh Diang dan puteri gubernur sebagai tawanannya. Se-bun Beng juga ikut mundur, namun dengan gerak tak kentara ia sudah menjumput sebutir kelereng besi dari kantongnya. Yang tidak segera mundur adalah Auyang Hou. la pasang kuda-kuda dengan muka diangker-angkerkan sambil menggenggam gagang pedangnya. Karena semua orang sudah mundur, Auyang Hou jadi kelihatan menyolok sendiri, dadanya makin membusung.

Melihat itu, Gubernur Sun lah yang paling kelabakan. Cepat-cepat ia menarik mundur Auyang Hou sambil memohon, "Sobat, sudilah mengingat keselamatan anakku."

Auyang Hou berlagak kesal ketika ditarik mundur itu, katanya kepada Pek-coa-sin Oh Jiang, "Untung buatmu bahwa Tuan Gubernur mencegah aku. Kalau tidak, kau hanya akan keluar dari ruangan ini sebagai potongan- potongan daging dan tulang!"

Ancaman seram itu pernah didengar oleh Auyang Hou ketika dia melihat pertengkaran antara dua jagoan di kota Se-shia, lalu sekarang Auyang Hou menirukannya. Tak terduga Oh Jiang tidak gentar, malah menyeringai sambil menatap tajam ke arah Auyang Hou, "Kau menarik perhatianku sejak semula, anak muda. Lain waktu mudah-mudahan kita berjumpa lagi."

Wajah Auyang Hou kontan memucat menghadapi ketajaman mata Oh Jiang dan mendengar kata-katanya. Kali ini untuk mundurnya ia tidak perlu lagi diseret-seret oleh Gubernur Sun. Sementara itu, hati Oh Jiang sebenarnya tegang juga. Ia sadar di ruangan itu banyak jagoan tangguh. Yang sudah kelihatan adalah Sebun Beng, Wan Lui, Tong Gin-yan dan anak- anak kembarnya, kedua pengawal Kaisar dan entah siapa lagi.

Meskipun ia berperisaikan puteri gubernur, namun dia sadar bahwa setitik kelengahan saja di pihaknya akan memberi peluang lagi lawan-lawan untuk berbalik meringkusnya. Itulahs ebabnya cengkeramannya atas puteri gubernur tidak mengendor, sedikit pun, matanya tajam mengawasi gerak-gerik orang seluruh ruangan.

Ruangan yang berisi begitu banyak orang, sekarang sunyi senyap. Dicengkam ketegangan. Lalu terdengarlah suara Oh Jiang kepada Gubernur Sun, "He, kau orang Han yang menjadi penjilat bangsa Manchu! Aku memerintahkan kau melepaskan ikatan temanku itu, dan biarkan dia mendekat kemari!"

Gubernur Sun lebih dulu menoleh kepada Kaisar Kian-liong. Setelah Kaisar mengangguk, barulah Gubernur membuka ikatan-ikatan Hek-wa-koai Mao Pin. Hck-wa-koai pun langsung bergabung dengan Oh Diang. Begitu dekat Oh Jiang Mao Pin berbisik, "Aku minta maaf, Nomor Tiga, gara-gara aku tempatmu diserbu dan diobrak-abrik anjing-anjing Manchu."

Sahut Oh Jiang sambil tetap menatap waspada orang-orang di sekelilingnya, "Ini akibat ketidaksabaranmu menunggu kedatangan Si Nomor Satu dan Si nomor Dua untuk bertindak bersama-sama. Kau terlalu yakin bahwa Hek-wa Pian-hoa-sut (Ilmu Merubah Diri Cagak Hitam) mu dapat menanggulangi semua persoalan. Nyatanya tidak. Malah bikin susah aku."

"Sekali lagi, maafkan aku."

Sementara kedua gembong Pek-lian-kau ini berbisik-bisik, di antara orang-orang belum ada yang berani bertindak. Sebun Beng yang sudah sejak tadi menggenggam kelereng besi pun belum mendapat peluang menyerang tanpa resiko membahayakan Sun Pek-lian, sebab kedua gembong Pek-lian-kau itu kelewat waspada, kelewat hati-hati berlindung di balik sandera mereka.

Kemudian Oh Jiang berkata kepada rekannya, "Sekarang, selamatkan dirimu dengan Pian-hoa-sut dan terbanglah keluar!"

Ternyata, biarpun mereka dari golongan sesat, ada juga rasa setia kawan mereka. Sahut Hek-wa-koai Mao Pin dengan tegas, "Tidak, aku tidak mau pergi sendirian. Kalau harus mampus, kita mampus bersama!"

"Kau bawa Co-jin (Boneka Rumput)?" Hek-wa-koai mengangguk. "Untunglah ketika anjing-anjing Manchu tadi menangkapku, mereka tidak mencurigai benda itu dan membiarkannya tetap di tubuhku.

"Bagus. Di kantongku juga ada, ambillah, kedua tanganku harus tetap menguasai gadis ini."

Hek-wa-koai mengeluarkan sebuah boneka rumput setinggi sejengkal dari kantong bajunya sendiri, dan ia mengeluarkan benda serupa dari kantong Oh Jiang. Boneka-boneka itu adalah perlengkapan sihir kaum Pek-lian-kau. Melihat boneka-boneka itu, Wan Lui segera dapat menebak apa yang akan diperbuat oleh gembong-gembong Pek-lian-kau itu. Wan Lui punya banyak pengalaman dengan itu.

Sementara Hek-wa-koai membaringkan kedua boneka itu di lantai, di bawah tatapan orang-orang yang belum tahu Hek-wa-koai akan berbuat apa. Lalu mereka melihat Hek-wa-koai mengeluarkan selembar kertas kuning bertuliskan huruf mantera, dikibaskannya sehingg-menyala sendiri sambil mulutnya berkomat-kamit.

Di tengah-tengah ruang tertutup itu aba-tiba terbit angin dingin entah dari-mana. Banyak topi para hadirin tersapu jatuh, dan para wanita menjerit kaget. Dan orang-orang seolah bermimpi ketika melihat boneka-boneka rumput yang terbaring itu tiba-tiba bangkit berdiri dan membesar menjadi wujud manusia dengan pedang di tangan mereka!

Orang-orang di ruangan itu takjub, sementara Oh Jiang tertawa terbahak-bahak dan dengan pongah berkata, "Tuan-tuan, jangan kaget, ini hanya permainan kecil kami. Permainan yang bahkan bisa dilakukan oleh orang-orang Pek-lian-kau yang tingkatannya paling rendah sekalipun!"

Orang-orang berpedang yang berasal dari boneka rumput itu sudah bergerak-gerak hidup dan menakutkan. Angin dingin menusuk kulit yang di dalam ruangan itu pun berputar semakin kencang. Namun di tengah-tengah peristiwa membingungkan itu, tiba-tiba Liu Yok berkata dengan didengar semua orang, "He, segenap tentara langit, kalian hanyalah debu tanah!"

Selesai kata-kata Liu Yok itu, angin dingin dalam ruangan itu mendadak sirna entah ke mana. Dua manusia jadi-jadian itu rebah ke tanah dan kembali ke asalnya sebagai boneka-boneka rumput yang; panjangnya tidak lebih dari sejengkal.

Sirna pula kecongkakan kedua pentolan Pek-lian-kau itu. Wajah mereka berubah hebat. Tak terasa Oh Jiang menggeser tubuhnya, sedikit keluar dari belakang tubuh puteri gubernur yang disanderanya, untuk melihat lebih jelas, benarkah ilmunya telah dipunahkan?

Peluang yang amat tipis itu tidak disia-siakan Sebun Beng. Lengannya terayun secepat kilat dan berdesinglah kelereng besinya ke pundak Oh Jiang. Oh Jiang kaget dan menggerakkan belati untuk menangkis kelereng besi itu Berhasil, namun karena gerakannya yang tergesa-gesa itu maka tenaganya tidak tersalur maksimal, baik kelereng besi maupun pisau belatinya sama-sama mencelat dan runtuh ke tanah. Oh Jiang sendiri terhentak dua langkah ke belakang, menimbulkan jarak dengan puteri Gubernur.

Oh Jiang terkejut. Sekali tawanannya lepas dari tangan, kedudukannya benar-benar berbahaya. Karena itulah meskipun keseimbangannya belum baik benar, ia memaksa diri untuk menyerobot maju demi membekuk kembali tawanannya. Tetapi sekali ini ada sesosok tubuh yang dengan gesit menyelinap di antara dirinya dengan Puteri Gubernur.

Bayangan yang menyelinap ini bahkan langsung hendak menangkap lengan Oh Jiang. Orang itu adalah Tong Hai-long. Oh Jiang dengan gusar memutar per- gelangan lengannya sambil balas berusaha balik mencengkeram lengan lainnya, bahkan tangannya yang satu "masuk gelanggang" pula.

Beberapa saat keempat lengan itu seperti empat ekor ular yang berusaha saling membelit dan mematuk, sampai Oh Jiang tidak sabar lagi lalu mengaktifkan kakinya dengan sebuah sapuan ke depan. Tak terduga Tong Hai-long juga berpikir sama, ia juga menyapu ke depan dengan kakinya.

Dua kaki beradu kerasnya tulang kering, dan tulang Oh Jiang yang sudah tua itu tidak dapat menandingi tulang Tong Hai-liong. Maka Oh Jiang pun terlompat sambil mengangkat satu kakinya yang kesakitan. Tong Hai-long tidak memberi kesempatan dan terus merangsek maju.

Sementara itu, Hek-wa-koai lah yang sekarang berusaha meneruskan niat rekannya tadi untuk meringkus kembali Sun Pek-lian Si Puteri Gubernur guna dijadikan "tiket" keluar dari ruangan itu. Namun Hek-wa-koai dihadang Tong San-hong, saudara kembar Tong Hai-long. Begitulah, perjamuan pernikahan itu jadi "meriah" dengan terjadinya hal-hal yang sama sekali di luar susunan acara itu.

Kalau tadi para tamu sudah disuguhi tontonan akrobat dan tari- tarian, lalu orang Pek-lian-kau "menyumbang acara" mengubah boneka rumput jadi manusia kini "tontonan" terikutnya adalah dua pasang perkelahian sungguh-sungguh antara dua pentolan Pek-lian-kau dengan sepasang saudara kembar dari Tiau-im-hong.

Masih beruntung buat kedua orang Pek-lian-kau itu, bahwa tokoh-tokoh lain dalam ruangan itu masih menjaga martabat dengan tidak ikut mengeroyok. Meskipun demikian, kedua tokoh Pek-lian-kau itu sama-sama merasa bahwa harapan untuk keluar dari ruangan itu dengan selamat adalah makin tipis.

Liu Yok melihat perkelahian itu dengan wajah murung. Perkelahian itu sendiri berjalan dengan dahsyat, karena orang-orang yang berkelahi memiliki ketangkasan dan ketrampilan tempur yang di atas rata-rata.

Tabib Oh Diang, sesuai dengan julukannya sebagai Malaikat Ular Putih, benar-benar hebat dalam memperagakan kelenturan tubuhnya yang luar biasa, seolah-olah tubuh dan bagian- bagian tubuhnya hanyalah seutas tali yang tidak bertulang dan bisa ditekuk kemana saja. Kadang-kadang ia menghindari serangan dengan cara meliukkan tubuh dan memunculkan serangan balasan dari sudut yang tidak terduga.

Menghadapi cara bertempur seperti itu, Tong Hai-iong yang biasanya berangasan dan ingin main gempur saja, sekarang harus berhati-hati. Namun demikian serangan-serangan anak muda ini tetap dahsyat seperti gelombang lautan yang menerpa tak putus-putusnya. Ia tidak segan-segan mengajak musuhnya main keras lawan keras, dan Oh Jiang-lah yang jeri sendiri karena tadi tulang keringnya sudah "mencicipi" kerasnya tulang Tong Hai-long.

Sementara Hek-wa-koai Mao Pin juga menghadapi lawan berat, Tong San-hong yang tenang dan gigih seperti puncak gunung batu, sesuai dengan namanya. Memang Tong San- hong tidak kelihatan seberingas saudara kembarnya kalau bertempur , juga tidak banyak menyerang, namun ia kokoh luar biasa dan segala jurus-jurus Hek-wa-koai yang kejam pun jadi tumpul terbentur pertahanan Tong San-hong yang rapat dan diperhitungkan baik-baik.

Dan apabila Tong San-hong balas menggempur, maka gempurannyakan seperti puncak gunung batu yang runtuh ke arah korbannya. Tangan dan kakinya berat dan keras, membuat Hek-wa-koai sering menyeringai kesakitan apabila menangkisnya.

Menonton kegagahan saudara kembar yang sebaya dengannya itu, Auyang Hoi. diam-diam merasa rendah diri. Alangkah jauh bedanya dengan dirinya. Namun sudah tentu dia tidak ingin menunjukkan kekagumannya. Ia berdiri tegap bersilang tangan di tepi gelanggang dengan wajah dingin, pura-pura tidak kagum terhadap kehebatan Tong San-hong dan Tong Hai-long.

Namun demikian serangan-serangan anak muda ini tetap dahsyat seperti gelombang ikutan yang menerpa tak putus-putusnya. Yang tidak sanggup berpura-pura lebil lama lagi adalah gembong-gembong Pek-lian-kau yang merasakan langsung kehebatan pemuda kembar itu. Kedua gembong itu berpikiran sama, bahwa kalau melulu mengandalkan daging dan tulang mereka untuk diadu keras dengan daging dan tulang anak-anak muda yang berkelahi seperti macan-macan terluka itu, mereka takkan menang. Menyadari hal itu- kedua gembong Pek-lian-kau ini mula berpikir untuk menggunakan ilmu hitam mereka.

Tong Hai-iong yang berkelahi melawan Oh Jiang itu mulai merasa gerakan lawannya lebih lamban. Mula-mula Tong Hai-long menyangka bahwa melambatnya gerakan lawan itu karena kelelahan lawannya, ternyata ia memang cuma benar separoh. Karena melambatnya segala gerak-gerik Oh Jiang itu selain karena berkurangnya tenaga, juga karena ia memecah konsentrasinya untuk menerapkan ilmu gaibnya. Mulutnya mulai berkomat-kbmit, dan matanya bersinar aneh.

Awalnya Tong Hai-long tidak merasakan perubahan itu, sampai ia mulai merasa bahwa tatapan mata Oh Jiang mulai menanamkan pengaruh tertentu ke dalam jiwanya. Setiap kali terjadi adu pandangan, Tong Hai-long merasakan jiwanya terguncang lalu semangatnya merosot sedikit. Berulang kali terjadi adu pandangan mata, dan semangat Tong Hai-long mulai runtuh perlahan-lahan.

"Apa yang terjadi dengan diriku?" Tong Hai-long heran terhadap diri sendiri. Belum pernah ia mengalami, bahwa memulai suatu pertempuran, lalu di tengah jalan tiba-tiba semangatnya kedodoran. Semangatnya adalah semangat gelombang lautan yang selalu menggelora, bukan semangat krupuk yang kena embun malam.

Belum lagi masalah itu teratasi, sudah muncul masalah berikutnya. Tong Hai-long tiba-tiba merasa di kedua pundaknya seperti dibebani batu, dan di kupingnya ada yang terus- menerus membisikinya, "Kau pasti kalah. Kau pasti kalah. Perlawananmu sia-sia...."

Buat orang awam, jalannya pertempuran masih kelihatan seperti semula, tidak ada perubahan. Namun buat jago-jago sekaliber Sebun Beng, Tong Gin-yan, Wan Lui dan juga jago pengawai Kaisar yang bermata tajam, mereka mulai melihat ketidak-wajaran pertempuran antara Tong Hai-long dengan Oh Jiang, Hanya saja, di mana letak ketidakwajarannya, mereka tidak dapat mengetahuinya.

Yang paling gelisah sudah tentu Tong Gin-yang, ayah Tong Hai-long. Demi martabatnya, tidak mungkin baginya ikut masuk gelanggang untuk mengeroyok Oh Jiang. Namun seandainya ia tidak tahu malu dan memberi petunjuk kata-kata dari luar gelanggang pun, dia tidak tahu petunjuk apa yang akan diberikan. Masalahnya terlalu asing buatnya.

Dengan cemas Tong Gin-yan melihat semua gerakan Tong Hai-long seolah-olah berat di sebelah kanan, tidak seimbang, seolah-olah anaknya itu bertempur sambil memikul sebuah karung pasir di pundak kanannya, padahal kenyataannya tidak kelihatan apa-apa dipundak kanannya. Begitu pula langkah kanannya selalu lebih berat dari langkah kirinya, seperti ada yang membebani. Ketika Tong Gi-yan memperhatikan lingkaran pertempuran yang satu lagi, beban pikirannya bertambah. Dia melihat Tong San-hong dalam menghadapi Hek-wa-koai juga bertempur dengan ganjil.

Tong Gin-yang tahu benar watak seteguh gunung dari Tong San-hong, dan watak itu terbawa-bawa pula kedalam cara bertempurnya, la diam dan penuh perhitungan, tidak pernah kehilangan kecermatan biarpun menghadap bahaya yang dahsyat. Dalam pertempuran, ibaratnya kalau ujung pedang musuh belum dekat benar ke kulitnya belum lah dihiraukan benar. Nyalinya besar, serangan sehebat apa pun dihadapinya sedingin puncak gunung batu.

Tapi melihat anaknya bertempur kali ini, sungguh membuat Tong Gin-yan tidak habis mengerti. Tong San-hong sering kelihatannya begitu tergesa-gesa dan tidak cermat. Seringkah serangan lawan masih begitu jauh, ia sudah cepat-cepat menghindar sehingga sering salah langkah dan sering hampir masuk perangkap lawan.

Tong Gin-yan tahu bahwa anaknya itu juga manusia biasa yang bisa melakukan kekeliruan atau ketidak-cermatan, tetapi Tong San-hong melakukan kekeliruan dan ketidak-cermatan yang begitu banyak dan terus berulang dalam waktu yang pendek adalah tidak masuk akal.

Tong Gin-yan hampir tidak percaya bahwa yang sedang berkelahi dengan Hek-wa-koai itu adalah anaknya yang bernama Tong San-hong. la geleng-geleng kepala melihat anaknya tergesa-gesa menangkis sebuah serangan yang masih jauh, sehingga tangkisannya malah luput. Lalu anaknya menyerang, namun serangannya melenceng begitu jauh dari sasaran, sehingga seandainya tidak ditangkis atau dihindari pun tidak apa-apa.

"Apakah A-san sedang tidak enak badan?" demikian Tong Gin-yan bertanya-tanya dalam hati. Ayah ini tidak mengetahui kalau Tong San-hong pun sudah jatuh ke bawah pengaruh ilmu gaib yang diterapkan Hek-wa-koai, meskipun jenis ilmunya berbeda.

Ketika pertempuran dimulai, Tong San-hong sempat memperhatikan tinggi tubuh lawannya, panjang tangan-tangannya dan panjang kaki-kakinya. Ia dapati lawan itu sekepala lebih pendek darinya karena bungkuk, sedang panjang lengan-lengannya kurang lebih sama dengan panjang lengan-lengannya sendiri. Demikianlah, sebagai seorang yang cermat ia membuat perhitungan cermatnya atas anatomi lawannya sebagai bekalnya memasuki gelanggang.

Mula-mula jalannya pertempuran seperti yang diperhitungkannya. Tong San-hong dapat terus mendesak lawan. Tetapi lama-kelamaan Tong San-hong merasa aneh bahwa tubuh lawannya makin tinggi, makin besar, tangan-tangan dan kaki-kakinya juga bertambah panjang sebanding dengan melarnya tubuhnya. Sedikit demi sedikit. Perhitungan Tong San-hong jadi ketinggalan jaman.

Tong San-hong memang mengetahui adanya sejenis ilmu bernama Tho-pi-kang yang bisa membuat lengan mulur sampai satu setengah kalinya, namun belum pernah ia mendengar kalau ada ilmu untuk membesarkan seluruh tubuh sehingga seolah-olah menjadi raksasa. Toh kenyataannya sekarang dia menghadapinya. Hek-wa-koai yang pada pertempuran tingginya sekepala lebih rendah dari Tong San-hong, sekarang menjadi sekepala lebil' tinggi.

Anehnya lagi, orang-orang lain di luar gelanggang melihat ukuran tubuh Hek-wa-kaoi tetap seperti semula, tetap lebih pendek dari Tong-san-hong. Jadi para penonton pun heran melihat Tong San-hong menangkis ke atas sambil mendongak, sedangkan lawannya hanya memukul ke arkh pundak. Menangkis apa?

Auyang Hou yang semula kagum kepada saudara kembar itu, sekarang diam-diam mengejek di dalam hati, "Hem, putera-putera kembar Ketua Hwe-liong-pang ini ternyata juga cuma begini saja kemampuannya. Coba aku yang di tengah gelanggang...."

Ia tidak merasakan betapa Tong San-hong makin bingung menghadapi musuh yang sekarang tingginya sudah setengah kali tinggi tubuhnya, dengan wajah yang selebar tampah.

Di luar gelanggang Wan Lui berdesis kepada Tong Gin-yan, "Paman Tong, saudara San-hong dan Saudara Hai-long agaknya menghadapi kesulitan."

Tong Gin-yan cuma mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya, menyalurkan kegelisahan hatinya. Yang tegang juga Sebun Beng, Kaisar Kian-liong dan lain-lainnya. Kini mata yang kurang ahli pun akan bisa melihat betapa sepasang saudara kembar ini benar-benar dalam kesulitan.

Sampai tiba-tiba terdengar suara Liu Yok, "Ini tidak betul. Ini tidak boleh terjadi!"

Sebun Beng dan lain-lainnya menoleh kepada Liu Yok dengan pandang mata penuh tanda- tanya. "Kenapa, A-yok?' tanya Sebun Beng.

Sahut Liu Yok, "Orang-orang Pek-lian-kau itu main keroyok!"

Keruan orang-orang menjadi kaget. "Main keroyok? Bukankah mereka satu lawan satu?"

"Tidak! Kedua orang Pek-lian-kau itu dibantu kawan-kawan mereka!"

Sebun Beng melihat ke gelanggang, dan melihat bahwa yang ada di gelanggang itu tetap empat orang tadi. Tong Hai-long melawan Oh Jiang, Tong San-hong melawan Mao Pin. Tidak terlihat apa yang oleh Liu Yok dikatakan "kawan-kawan mereka" itu. Kata Sebun Beng kemudian, "A-yok, jangan mengada-ada. Kita semua memang memprihatinkan keadaan saudara kembar itu, dan sedang memikirkan jalan keluar yang terbaik. Tetapi jangan mengkhayal."

Sebun Giok cepat-cepat menukas, "Kakak Beng, aku mengenal A-yok sejak kecil. Ia akan mengatakan persis seperti yang dilihat dan didengarnya."

"Tetapi, Adik Giok, ia mengatakan ada pengeroyokan di tengah gelanggang. Padahal yang tinggal di tengah gelanggang ya tetap keempat orang tadi. Kita harus bersikap adil, biarpun terhadap musuh. Tidak boleh menuduh sembarangan."

Liu Yok berkata, "Tetapi aku benar-benar melihat pengeroyokan. Tabib gadungan itu dibantu mahluk cebol yang mukanya penuh bulu, sebesar monyet. Mahluk itu sering melompat ke atas pundak kanan Saudara Hai-long, atau memegangi lengannya atau memeluk kaki kanannya, sehingga gerak-gerik Saudara Hai-long sangat terganggu."

Kata-kata ini mengherankan semua orang di sekitar gelanggang, sebab tidak seorang pun melihat mahluk yang dikatakan Liu Yok itu. Dan Liu Yok tetap saja melanjutkan bicaranya tanpa menghiraukan sikap orang- orang, "Saudara San-hong juga dikeroyok seorang yang bertubuh jangkung, ada ekornya, orang itu tangannya sebentar-sebentar mengusap ke mata Saudara San-hong."

Penjelasan Liu Yok hakekatnya malah tambah membingungkan, sebab yang lain tidak melihat apa yang dilihat Liu Yok. Di saat penuh keragu-raguan itu lah Wan Lui berkata, "Ayah, omongan Saudara Liu Yok jangan dianggap omong kosong. Ingat, yang dihadapi kedua saudara Tong itu adalah orang-orang Pek-Iian-kau yang merupakan sahabat mahluk-mahluk alam gaib. Aku pernah bertempur mati-matian dengan seorang lawan yang ternyata hanyalah orang-orangan kertas. Aku juga pernah melihat mendiang Pangeran In Tong menyerbu ke perkemahan Pek-lian-kau dan melihatnya berkelahi dengan sengit sekali dengan lawan yang tidak terlihat."

Biarpun Wan Lui sudah ikut bicara, pendengar-pendengarnya masih setengah percaya setengah tidak. Namun Tong Gin-yan yang sangat menguatirkan anak-anaknya, menggunakan kesempatan itu untuk bertindak. Dia lalu membentak ke arah gelanggang pertempuran, "Berhenti!"

Betapa bandelnya Oh Jiang dan Mao Pin, bentakan Tong Gin-yan mengguncang jantung mereka, dan memaksa mereka berlompatan mundur. Tong Hai-long dan Tong San-hong juga berlompatan mundur sambil mengusap keringat mereka.

Oh Jiang tertawa, dingin dan mengejek, "Bagus. Setelah kalian mendengarkan kebohongan bocah pincang itu, kalian mencari-cari alasan untuk mengeroyok kami. He-he-he, ternyata kalian memang tidak tahu malu. Tetapi kalau memang itu kehendak kalian, ayo, silakan maju semua mengeroyok kami. Biar tersebar luas beritanya pendekar-pendekar macam apa kalian ini!" Dengan kata-kata tajam itu Oh Jiang berusaha mengingatkan martabat orang-orang di pihak Sebun Beng supaya tidak maju.

Sahut Tong Gin-yan, "Menurut sobat kecil Liu Yok, kalian tidak jujur. Kalian dibantu mahluk-mahluk tidak terlihat."

Serempak Oh Jiang dan Mao Pin menoleh ke arah Liu Yok dengan pandangan kebencian dan kemarahan. Sikap itu membuktikan bahwa mereka mengakui tuduhan Tong Gin-yan tadi. Namun kedua gembong Pek-lian-kau itu ternyata tidak tahan menatap mata Liu Yok yang jernih dan lembut tanpa rasa permusuhan sama sekali terhadap mereka. Dari mata yang lembut itu seperti mengalir kekuatan dahsyat yang keluar dari ruang-terdalam jiwa Liu Yok, sesuatu yang menyilaukan kedua tokoh Pek-lian-kau itu.

Kedua tokoh Pek-lian-kau itu lebih tenang menghadapi Tong Gin-yan. Kata Oh Oiang sambil tertawa mengejek, "Benar-benar tuduhanmu ngawur, Ketua Tong. Kau sebagai ketua sebuah perserikatan besar benar-benar tidak tahu malu, pura-pura mempercayai tuduhan palsu itu untuk mendapat alasan memasuki gelangang menolong anak-anakmu. He-he-he, mari, mari, siapa saja yang ingin masuk ke gelanggang untuk mengeroyok kami, silakan. Tidak usah malu-malu, juga tidak usah membuat alasan yang mengada-ada."

Tong Gin-yan terbungkam. Urusan pengeroyokan yang dikatakan Liu Yok tadi memang sulit dibuktikan, meskipun ia mempercayai kejujuran Liu Yok. Sekias terpikir oleh Tong Gin-yan, ia akan menyuruh kedua anaknya keluar dari gelanggang, lalu ia sendiri yang akan masuk gelanggang untuk menghadapi kedua pentolan Pek-lian-kau itu sekaligus, dengan demikian ia tidak mengorbankan martabatnya sebagai pendekar.

Ketika itulah Liu Yok sudah melakukan lagi yang aneh di mata kebanyakan orang. Ia tiba-tiba menuding Tong Hai long dan membentak, "Kau mahkluk cebol berbulu, enyah dari sini dan jangan mengacau lagi!"

Semua orang pun heran. Liu Yok menuding dan membentak ke arah Tong hai-long, namun Tong Hai-long jelas tidak cebol dan tidak berbulu, malahan tegap dan tampan. Entah siapa yang dihardiknya? Namun Tong Hai-long sendiri merasakan suatu perubahan. Tiba-tiba ia merasa semacam beban berat yang semula menekan pundak kanannya, lenyap begitu saja, dan dia merasa lega sekali.

Kemudian Liu Yok menuding juga ke arah Tong San-hong, "Dan kamu setan jangkung berekor, enyah juga kamu!"

Tong San-hong pun merasakan perubahan. Kabut tipis di depan mata yang mengganggu penglihatannya, tiba-tiba saja jernih karena kabut itu lenyap. Udara jadi begitu lega di sekitarnya. Orang-orang tidak melihat apa-apa, namun melihat perubahan wajah Tong Hai-long dan Tong San-hong yang tadinya murung menjadi cerah, mereka tahu bahwa sesuatu memang telah terjadi. Dan orang-orang yang pernah mendengar kisah-kisah gaib tahu bahwa sesuatu yang terjadi itu bukan di "alam kita" melainkan di "alam mereka".

Semangat si kembar she Tong itu kembali berkobar, mereka siap mengganyang lawan mereka. Namun Liu Yok berkata, "Tuan-tuan dari Pek-lian-kau, tidakkah lebih baik Tuan-tuan mengajak berdamai orang lain? Itu lebih baik daripada berkelahi."

Kedua tokoh Pek-lian-kau itu bimbang. Terhadap Liu Yok mereka marah dan benci, namun juga tidak mengerti dan ada tercampur sedikit rasa gentar. Ada kekuatan yang lebih tinggi dalam diri pemuda pincang itu, kekuatan yang lebih kuat dari dunia kelam yang mereka serap selama ini.

Namun semangat balas dendam belum sirna dari ruangan itu, justru dari Gubernur Sun yang tadi puterinya hampir saja menjadi korban, "Tidak bisa! Hukum harus ditegakkan! Kalian adalah anggota golongan pemberontak, kalian harus ditangkap dan dihukum berat!"

Tetapi Liu Yok menggeleng-gelengkan kepala, dengan berani dia membantah Gubernur, "Tuan Gubernur, buat apa terus mengingat-ingat kesalahan orang lain? Apakah kita sendiri tidak pernah bersalah? Kalau kedua teman dan Pek-lian-kau ini berjanji sungguh-sungguh akan menghentikan kegemaran mereka merugikan orang, kenapa tidak kita beri kesempatan? Kenapa harus menghukum, seolah-olah kita ini paling bersih dan paling suci?"

Itulah "tontonan" langka. Seorang bocah desa yang begitu sederhana berani mendebat seorang Gubernur di hadapan umum! Sebun Beng sampai tersipu-sipu kaget, merasa tidak enak terhadap Gubernur Sun atas kelakuan keponakannya Wajah Gubernur Sun juga tidak keruan, merasa agak kehilangan muka. Tetapi dia juga tidak berani sembarangan bertindak karena Kaisar Kian-liong sendiri bersikap sangat baik terhadap Liu Yok.

Akhirnya Gubernur berlutut di depan Kaisar Kian-long sambil berkata, "Tuanku, hamba mohon sudilah Tuanku memutuskan persoalan ini."

Kaisar berkata bijaksana, di satu pihak tidak mau mengecewakan Liu Yok sebagai sahabat barunya di lain pihak tidak boleh membuat Gubernur Sun kehiangan muka di depan orang sekian banyak, "Saling berdamai dan melupakan kesalahan adalah baik, tetapi hukum, bagaimanapun tidak sempurnanya, juga harus ditegakkan. Kalau tidak, orang-orang akan membuat hukum sendiri-sendiri dan hidup seperti hewan-hewan dalam rimba. Aku menawarkan dari sobat-sobat dari Pek-lian-kau, menyerahlah, dan pengampunan kalian akan dipertimbangkan."

Kedua pentolan Pek-lian-kau itu melihat ke sekeliling mereka dengan gelisah, dan mereka mendapati diri mereka berada dalam lingkaran orang-orang semacam Sebun Beng, Tong Gin-yan, Wan Lui, Si Kembar Tong Hai-long dan Tong San-long, kedua pengawal Kaisar yang mestinya juga bukan manusia-manusia sembarangan melihat mata mereka yang melancarkan rasa percaya diri yang tebal, mereka ibarat tembok besi yang tidak mungkin dijebol dengan kekerasan. Dan untuk menggunakan ilmu gaib pun mereka ragu-ragu. Di ruangan itu ada Liu Yok yang tidak becus silat sejurus pun namun begitu gampang membuyarkan ilmu gaib mereka hanya dengan kata kata.

Oh Jiang pun tersudut kepada sesuatu kenyataan yang pahit namun harus diterima. Katanya kepada Mao Pin, "Maaf, Nomor Empat, aku akan menyerah. Aku tidak mau mati konyol!"

Mao Pin menjawab, "Aku juga menyerah saja, supaya kau tidak kesepian di sel."

Kaisar Kian-liong mengangguk-angguk, "Bagus. Kalian akan diperlakukan baik selama di kurungan. Masih ada tempat di negeri ini, bagi mereka yang mau berbalik dari jalannya yang salah."

Gubernur Sun kurang puas, ia ingin menggantung orang-orang itu di lapangan, sebenarnya, tetapi Kaisar sendiri sudah memutuskan dan ia tidak berani bertindak bertentangan dengan keputusan itu. Ia lalu memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk membelenggu dan membawa orang-orang Pek-lian-kau itu ke penjara.

Wan Lui memberi petunjuk kepada seorang perwira gubernuran, "Taburkan darah hewan-hewan hitam seperti anjing hitam, kucing. hitam, ayam hitam dan sebagainya ke dinding sel mereka. Kalau tidak, dengan ilmu gaib mereka, orang-orang Pek-lian-kau itu akan menganggap penjara yang bagaimana pun rapatnya seperti tanah lapang saja."

"Baik, Panglima."

Meskipun perjamuan pernikahan sudah terganggu oleh keributan tadi, toh diteruskan juga sampai selesai.


Malam harinya, ketika hampir seluruh kota Lok-yang terlelap oleh dinginnya udara, sesok tubuh yang sekujur tubunya terbalut pakaian hitam kecuali sepasang matanya, melompat kelur dari tembok belakang gedung gubernuran. Lompatannya ringan sekali. Gedung gubernuran itu sebenarnya terjaga ketat, karena Kaisar Kian-liong menginap didalamnya, penjagaan bukan saja oleh pengawal-pengawal berseragam dari pihak gubernuran, tetapi juga pengawal-pengawal pribadi Kaisar yang menjaga gedung itu di sekitarnya dalam penyamaran.

Pengawal-pengawal itu ada yang menyamar sebagai pengemis yang tidur di emperan toko di seberang gedung gubernuran, ada yang menyamar sebagai penjual mi pang-sit pikulan di ujung jalan dan sebagainya. Tetapi sosok bayangan yang melompat keluar dari tembok belakang gubernuran itu agaknya tahu benar di mana titik-titik penjagaan, sehingga dia dapat menghindari tempat-tempat penjagaan.

Seterusnya orang itu bergerak cepat dan ringan di atas atap rumah-rumah penduduk, langsung menuju ke bangunan penjara. Tidak lama kemudian, tembok tinggi penjara itu sudah kelihatan di depan mata. Kadang- kadang nampak bayangan penjaga bersenjata yang hilir-mudik di atas tembok.

Si Sosok Hitam itu menunggu beberapa saat dengan mendekam di balik sebuah wuwungan atap, sambil mengawasi sekitarnya dengan waspada. Setelah terasa aman, dia pun meluncur ke depan seolah-olah hendak menabrakkan dirinya ke tembok, dan ketika tinggal satu meter dari tembok, ia menjejak tanah dan melambung tinggi, melewati tembok penjara dan mendarat di sebelah dalam tembok dengan jatuhnya yang hampir tanpa suara.

Dua orang perajurit penjaga memergokinya, namun orang berkedok itu langsung menyambarnya seperti elang menyambar anak- anak ayam. Kedua perajurit itu belum sempat bersuara apa-apa ketika tengkuk mereka masing-masing mendapat pukulan pinggiran telapak tangan yang begitu cepat. Kedua perajurit itu langsung menggelosor jatuh.

Orang itu dengan tangkas menyembunyikan tubuh prajurt-prajurit pingsan itu ke tempat gelap salah satu dari prajurit disandarkannya kembali dengan jalan dipencet urat jin-tiong- hiatnya yang terletak diantara bibir dan hidung, dipencet dengan jempol. Perajurit itu segera sadar kembali, dan langsung disodori pertanyaan, "Di sel mana kedua orang Pek-lian-kau itu dikurung?"

Prajurit itu demikian ketakutan, sehingga ia langsung menjawab, "Barak sebelah timur, lorong nomor dua, sel nomor empat dari mulut lorong."

"Mereka berdua dijadikan satu?"

"Benar."

"Terima kasih. Selamat bermimpi."

Pengantar tidur buat prajurit itu bukanlah dongeng kancil mencuri timun, melainkan sebuah jotosan ke rahangnya. Orang berkedok itu lalu mengendap-endap di bawah bayangan barak-barak penjara itu, menghindari penjaga-penjaga. Tiba di barak timur, dia melompat ke atas atapnya dengan ringan, lalu dicarinya sel yang dimaksud dengan memperhitungkan arahnya dari atas genteng. Setelah merasa tiba di atas sel yang dituju, ia berjongkok dan membuka genteng.

Ketika ia mencopot selembar genteng dengan hati-hati, terasa genteng itu agak licin karena basah oleh sesuatu cairan. Orang itu mencium bau anyirnya darah, meskipun hidungnya tertutup selapis kedok. Orang itu tertawa dalam hati, "Agaknya orang-orang Lok-yang tahu benar caranya mencegah agar orang-orang Pek-lian-kau tidak kabur dengan ilmu gaibnya."

Genteng dibuka, dan ia melihat di dalam sel kedua tokoh Pek-lian-kau itu meringkuk tidur, tidak diborgol. Tempat itu tidak terlalu gelap sebab ada sedikit cahaya dari ujung lorong. Orang berkedok itu membuka genteng lebih banyak, sampai cukup lebar untuk dilewati tubuhnya meluncur turun. Tanpa suara sama sekali, sehingga tidak membangunkan tidur kedua gembong Pek-lian-kau yang nyenyak itu.

Orang itu tidak membuang waktu, tahu-tahu jari telunjuk dan jari tengahnya telah dirangkapkan seperti ujung sebuah lembing, dan ujung kedua jari itu rata, berbeda dengan orang-orang kebanyakan di mana jari tengah tentu lebih panjang dari jari telunjuk. Dengan kedua jari yang dirangkapkan itulah dia menotok urat-urat di leher Oh Jiang yang sedang tidur. Kena telak. Oh Jiang hanya menggelepar sedetik dan mengeluarkan suara mengerang lembut, habis itu dia pun pindah ke alam maut.

Namun Hek-wa-koai Mao Pin agaknya terbangun. Begitu melihat orang berkedok itu Mao Pin terkejut, "Kau...."

Hanya itu yang sempat diucapkannya, sebab orang berkedok itu sudah meluncurkan dua jarinya untuk menotok ke leher Moa Pin, agaknya orang berkedok ini hendak memperlakukan Si Siluman Gagak Hitam ini sama dengan rekannya, Malaikat Ular Putih yang sudah duluan berangkat ke alamnya para malaikat dan siluman.

Namun Mao Pin ternyata berhasil menggulingkan diri ke samping sambil berteriak, "Penjaga! Tolong! Tolong, ada pembunuh!"

Dari ujung lorong pun terdengar derap kaki para penjaga bergerak ke tempat itu. Orang berkedok itu kaget. Celaka kalau sampai ia tertangkap dan kedoknya terbuka. Lima belas pengawal masih bisa dihadapinya, tapi bagaimana kalau seratus penjaga di tempat itu keluar semua?

Lebih celaka lagi, tujuannya datang ke situ hanya terlaksana separuh. Ia bermaksud membungkam selama-lamanya Oh Jiang dan Mao Pin, ternyata yang sempat dibunuhnya barulah Oh Jiang, sedangkan Mao Pin sempat terbangun dan akan memberi perlawanan yang pasti tidak ringan.

Derap kaki para penjaga semakin dekat, orang berkedok itu harus mengakui kenyataan. Tubuhnya tiba-tiba melejit ke atas, melalui lubang di genteng yang dibuatnya tadi. Kabur.

Sementara Mao Pin juga tidak melewatkan kesempatan bagus untuk kabur itu. Tadinya dia tidak bisa ke mana-mana karena seluruh genteng dan dinding selnya dilabur darah hewan hitam yang dijadikan "penangkal tradisional ilmu hitamnya. Namun kini di atas ada lubang besar. Mao Pin lalu membaca man- teranya lalu melompat ke arah lubang itu. Sesaat kemudian di kesunyian malam ada suara burung gagak yang semakin lama semakin menjauh.

Sementara Mao Pin dengan mulus terbang ke dalam alam bebas, Si Orang Berkedok menghadapi kesulitan untuk pergi dari situ. Tanda bahaya sudah berbunyi di seluruh sudut penjara, para penjaga bangun dan bersiaga di berbagai arah. Terdengar teriakan-teriakan mereka.

"Itu orangnya, berlari-lari di atas atap!"

"Cegat dari atas tembok!"

"Mana tangga?"

"Hei, bung, menyerahlah!"

Sudah tentu orang berkedok itu enggan untuk dibekuk mentah-mentah, malahan ia mempercepat larinya. Maka orang itu pun dihujani panah, baik dari bawah atap maupun dari tembok penjara yang letaknya lebih tinggi dari atap-atap. Orang itu melambung tinggi dan bersalto, melewatkan anak-anak panah di bawahnya.

Tetapi para penjaga terus memanah. Dan orang berkedok itu berdebar kencang ketika melihat di antara para penjaga itu ada yang membawa senapan buatan Portugis. Di abad delapan belas itu, senjata itu masih merupakan sesuatu yang dahsyat, meskipun yang dijual negara-negara barat kepada negara-negara timur adalah persediaan lama yang sudah ketinggalan jaman.

Waktu itu, bedil-bedil di Cina masih yang ujungnya berbentuk terompet, agar mudah untuk mengisikan bubuk mesiu memadatkannya dengan kawat panjang berujung bulat lalu pelurunya yang berbentuk kelereng besi itu dimasukkan pula dari arah moncong, barulah bagian belakang senapan diberi sumbu. Sedang negara-negara Eropa di abad delapan belas itu senapan-senapannya sudah model baru, yang mesiu maupun pelornya dimasukkan dari belakang dan tanpa sumbu lagi.

Ketertinggalan dalam hal persenjataan itu memang disengaja oleh negeri-negeri barat untuk melestarikan penguasaan mereka atas negeri-negeri timur. Namun orang berkedok itu sadar, bahwa bedil yang modelnya sudah ketinggalan dua ratus tahun itu pun tetaplah senjata yang berbahaya.

Orang berkedok itu membungkuk,tangannya mencopot beberapa lembar genteng, dan sedetik kemudian genteng-genteng itu sudah menyambar pemegang-pemegang senapan yang sedang sibuk mengisi senapan mereka. Mereka pun terjungkal berjatuhan.

Demikianlah orang berkedok itu mengamuk hebat dalam usahanya untuk meloloskan diri. Namun karena dia hanya sendirian, betapa pun mulai kewalahan juga, la semakin bingung dihujani panah dari segala arah, dan suatu ketika ada juga panah yang menyerempet lengan atasnya.

"Panah terus! Panah terus!" komandan penjara memerintah. "Dia sudah terluka!"

"Panggil bantuan dari tangsi terdekat!"

Orang berkedok itu mendengar teriakan- teriakan itu, dan sadar bahwa kalau bantuan benar-benar datang, maka dia akan seperti ikan masuk jaring. Karena itu semakin hebatlah usahanya meloloskan diri. Suatu ketika dia lalu melancarkan "hujan genteng" ke bagian yang dianggapnya makin lemah, menyusul tubuhnya sendiri dilontarkan ke arah itu secara untung-untungan.

Perajurit-perajurit di bagian itu sedang kacau menangkis genteng-genteng, maka berhasillah orang berkedok itu menembus kepungan. Selanjutnya, dengan gerakan-gerakan lompat yang cepat dan ringan, dia menghilang ke dalam kegelapan. Sudah tentu para prajurit tidak ada yang mengejarnya.

Biarpun sudah aman dari kejaran, orang berkedok itu belum berani menunjukkan arah larinya yang sebenarnya, sengaja ia memberi arah yang menyesatkan lebih dulu. Ia ke selatan, setelah cukup jauh barulah ia kembali menyulundup masuk ke gedung-gubernuran di mana Kaisar Kian-liong menginap!


Suasana dalam keluarga Sebun Beng di Lok- yang tentu saja masih diwarnai suka cita. Perjamuan pernikahan yang tadinya dibayang- bayangi mendung kesedihan karena hilangnya Liu Yok dan ancaman pengacau orang-orang Pek-lian-kau, ternyata kemudian berubah dengan kembalinya Lui Yok dan diiringkusnya dua gembong Pek-lian-kau. Malahan pernikahan itu sendiri memperoleh kehormatan besar karena hadirnya Kaisar Kian-liong sendiri.

Orang-orang Lok-yang tidak henti-hentinya membicarakan peristiwa besar itu. Si kembar Tong San-hong dan Tong hai-long menjadi buah bibir karena kegagahan mereka menghadapi gembong-gembong Pek-lian-kau. Tetapi nama Liu Yok pun mulai disebut-sebut.

Yang kelabakan adalah Auyang Hou. jauh-jauh dari Se-shia dia datang ke Lok-yang untuk "mengangkat nama" tetapi belum ada yang menyebut-nyebut namanya. Malahan nama Lui Yok disebut-sebut jauh lebih sering. Auyang Hou pun memutar otak untuk menemukan cara bagaimana agar dirinya pun ikut terkenal.

Namun sebuah berita lain menyebar di Lok-yang, yaitu berita tentang pembobolan penjara oleh seorang berkedok. Komandan penjara dengan gemetar melaporkan peristiwa itu kepada Gubernur Sun. Namun Gubernur nampaknya malah menyembunyikan kegembiraan mendengar kematian orang yang pernah menyandera puterinya itu. Ia malahan menepuk-nepuk pundak Si Komandan penjara sambil mengatakan. "Jangan takut. Tidak apa-apa. Cuma lain kali saja bekerja lebih baik, ya?"

Komandan itu meninggalkan gedung gubernuran dengan perasaan heran, kenapa Gubernur Sun yang biasanya galak itu sekarang begitu baik hati? Ia tidak dihukum apa-apa. Tidak dirangket, tidak diturunkan pangkatnya, tidak dipotong gajinya. Kemudian Gubernur menghadap Kaisar Kian-liong dan melaporkannya dengan sikap pura-pura prihatin.

Mendengar laporan itu, Kaisar menarik napas dan berkara, "Aku merasa bahwa gerakan kaum Pek-lian-kau yang seolah muncul kembali dimana-mana itu bukanlah kebetulan saja. Sepertinya terencana. Dan ulah mereka di Lok-yang ini pun agaknya adalah salah satu mata rantai rencana mereka. Buktinya, ada yang berusaha membunuh mereka untuk membungkam mulut mereka, meskipun hanya berhasil satu. Entah siapa orang berkedok itu?"

Im Ho-sek mengangguk-angguk menyetujui kata-kata junjungannya. Sedang Gui Han-seng, pengawal Kaisar yang satunya, berkata, "Tuanku, ijinkanlah hamba mengajukan pendapat."

"Silakan, Komandan Gui."

"Menurut hamba, orang berkedok itu tidak lain adalah tokoh Pek-lian-kau yang tingkatnya lebih tinggi. Mereka membunuh Oh Jiang agar tidak membocorkan rahasia jaringan Pek-lian-kau."

Sebelum Kaisar menjawab, Im Ho-sek sudah mengomentari, "Ah, agaknya Saudara Gui belum kenal benar watak orang-orang Pek-lian-kau. Biarpun mereka itu tersesat dan menyembah setan, tetapi mereka satu sama lain terikat sumpah untuk saling membela, terutama golongan Pak-cong (sekte utara). Buktinya kemarin, Mao Pin tidak mau melarikan diri meninggalkan Oh Jiang menghadapi bahaya sendirian. Jadi orang berkedok itu pastilah bukan orang Pek-lian-kau, dia mungkin sekali orang luar Pek-lian-kau yang memanfaatkan jasa-jasa Pek-lian-kau."

"Siapa?" Gubernur Sun terkesiap.

Im Hok-sek tertawa dingin, "Saya tidak berani menyebut nama, Tuan Gubernur. Siapa yang berbuat, biarlah dia merasa sendiri."

Lalu matanya menatap Gui Han-seng, sehingga Gui Han-seng menjadi gusar, "Saudara Im, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menuduh aku?"

"Lho, siapa yang menuduh? Saudara Gui kok jadi merasa sendiri?"

"Sudah! Jangan bertengkar!" Kaisar Kian-liong cepat-cepat menengahi kedua pembantunya itu.

Sudah lama Kaisar prihatin akan ketidak-rukunan antara kedua panglimanya itu. Kaisar mengajak kedua-duanya dalam perjalanannya, dengan harapan akan berhasil merukunkan mereka, ternyata sampai saat itu kedua panglima itu masih saja seperti anjing dan kucing.

Yang berbahaya dari permusuhan mereka, adalah karena kedua-duanya berbeda suku dan masing-masing dengan pandangan sempit membanggakan sukunya masing-masing. Im Ho-sek adalah orang Manchu, sedang Gui Han-seng adalah orang Han. Pertikaian mereka bisa merembet jadi pertikaian antar suku yang membuat kekaisaran itu berantakan.

Kaisar sendiri berdarah campuran Manchu dan Han. Sejak kakek buyutnya, Kaisar Sun-ti, agaknya penguasa singgasana itu sudah mengadakan politik perkawinan campuran untuk mengikat bangsa Han dan Manchu sebagai satu bangsa. Kakek-buyut Kian-liong, yaitu Sun-ti, beristeri seorang wanita Han, puteri dari Thong To-lai, melahirkan Pangeran Hian-hua yang kelak naik tahta dengan sebutan Kaisar Khong-hi, kakeknya Kian-liong.

Jadi mulai Kaisar Khong-hi saja sebenarnya negeri itu sudah diperintah seorang raja yang setengah Manchu-setengah Han. Kemudian ibu Kaisar Kian-liong sendiri adalah juga wanita Han. Itulah sebabnya tuding-menuding yang berdasarkan kesukaan selalu membuat Kian- liong risau.

Kata Kaisar Kian-liong kemudian kepada kedua panglimanya, "Lebih baik kalian bersiap-siap. Kita akan pergi ke penjara untuk melihat keadaan..."

Selanjutnya,