X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 03

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api episode Sekte Teratai Putih Jilid 03 karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 03

Karya : Stevanus S P

DENGAN diantarkan Ong Heng, mereka masuk sebuah kamar dalam rumah sederhana berdinding tanah liat itu. Kamar itu gerah karena jendela-jendelanya ditutup rapat semua. Seluruh anggota keluarga agaknya berkumpul dalam kamar itu, di sekitar pembaringan, di mana terbaring seorang anak lelaki berumur tujuh tahun yang wajahnya pucat, sedang tertidur.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Soh Piao mendekati pembaringan dan meraba jidat anak itu, lalu berbisik kepada Ong Heng, "Tidak terlalu panas."

Isteri Ong Heng yang tidak kalah kuyu dengan Ong Heng menerangkan, "Panasnya memang tidak seberapa. Yang aneh, setiap kali sadar dia hanya mengeluarkan kata-kata kebencian kepada Tuan Sebun dan Jenderal Wan dengan suara seorang lelaki dewasa berlogat daerah lain. Dia kemasukan arwah."

"Arwah itu galak sekali, tidak dapat ditaklukkan." sambung kakak perempuan si Sakit.

Liu Yok tiba-tiba berkata, "Roh yang di dalam aku lebih berkuasa dari roh-roh penguasa dunia ini...."

Orang-orang menoleh kepada Liu Yok, kata-kata itu kedengarannya sombong sekali. Tapi Soh Piao langsung melihat lagi ciri-ciri khas ajaran Thai-cin-kau dalam kata-kata Liu Yok. Agama Thai-cin-kau sudah masuk ke Cina dari arah barat sejak abad tujuh. Kaisar Siu-cong dari Dinasti Tong juga pengikut agama itu.

Di Jepang, pengikut-pengikut Thai-cin-kau dibasmi oleh Sho-gun le-haru Tokugawa (1737 - 1786) karena dianggap agama asing yang membahayakan negara. Pengikut-pengikut Thai-cin-kau Jepang banyak yang kabur ke Cina atau Korea untuk mendapatkan kebebasan memeluk keyakinan seraya menyebarluaskan ajarannya sekaliannya. Di Cina tidak dibasmi namun pengikutnya sedikit sekali.

Ketika itulah ruangan kamar itu tiba-tiba dikejutkan suara bentakan dari mulut bocah yang tertidur itu. Membentak Liu Yok. "Diam, anjing pincang! Diam!"

Suaranya memang suara seorang lelaki dewasa yang parau dan berlogat asing. Aneh juga, anak itu tadinya tertidur pulas dan tentunya tidak mendengar kata-kata Liu Yok, tetapi sekarang tiba-tiba berteriak begitu mengejutkan. Keruan orang-orang yang berkerumun di seputar pembaringannya berhamburan menjauh, termasuk Soh Piao yang paling kaget karena baru kali ini dia mengalaminya.

Anak laki-laki itu duduk di pembaringannya, membelalakkan matanya dan ada sesuatu yang begitu jahat memandang dari belakang matanya. Sepasang tangannya membentuk cakar yang menegang, siap merobek siapapun yang mendekat, air liur deras bercucuran dari mulutnya.

Ia menuding Liu Yok. "Anjing pincang, jangan ikut campur atau kau menyesal seumur hidupmu! Kami punya kekuatan di langit, di bumi, di bawah bumi, di mana saja dan tidak bisa kau lihat!"

Ketenangan Liu Yok mengherankan Soh Piao dan yang lain-lainnya. Bahkan Liu Yok bisa tertawa ringan sambil bertanya, "Wah, rupanya kau sudah melucuti kedokmu, ya?"

"Diam! Coba mendekat atau kami robek tubuhmu!" anak itu mencengkeram tepi ranjang dan menggoncang-goncang-kannya dengan dahsyat.

Sebab saat itu Liu Yok justeru mendekat ke pembaringan, sehingga Soh Piao memperingatkan, "Hati-hati, Adik Yok."

Sementara si anak kecil itu makin kalap, "Berhenti, jahanam! Berhenti! Aku akan mencukil biji matamu dan mengun-nyahnya! jangan mendekat!"

Tetapi ancaman itu tidak menghentikan langkah Liu Yok.

"Hei, berhenti! Ini peringatan terakhirku!" Tetapi Liu Yok justeru dengan sigap menangkap pergeiangan kaki anak itu, maka meraunglah anak itu dengan suaranya yang aneh, "Bangsat, kau membakar kami! Kau membakar kami! Lepaskan!"

Dan serentetan caci-maki yang membuat pendengar-pendengarnya bergidik semua. Namun Liu Yok tidak melepaskan pegangannya. Entah berapa kali anak itu meneriakkan "panas" dan "terbakar" sambil menggeliat-geliat dan mendesis-desis dan mengeluarkan air liur. Serangkaian caci-maki dan ancaman dilontarkan ke arah Liu Yok, namun nyatanya tidak berhasil mengapa-apakan Liu Yok. Beberapa kali anak itu hendak mencakar muka Liu Yok, namun setiap kali menarik kembali tangannya dengan gentar kalau terbentur pandangan mata Liu Yok.

Kata Liu Yok kemudian, bernada perintah dan penuh wibawa, "Kawanan Thian-peng (tentara langit) terkutuk, tinggalkan anak ini!"

Anak itu menjerit dan menghempaskan punggungnya ke pembaringan, lalu memejamkan mata dan membungkam. Liu Yok melepas pegangannya. Kedua orang tua anak itu buru-buru menubruk, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil namanya. Ong Heng dengan wajah cemas menempelkan telinga ke dada anaknya untuk menemukan detak jantungnya. Isteri Ong Heng juga hampir saja mendamprat Liu Yok sebagai pembunuh, namun dampratan yang sudah siap meluncur itupun ditelan kembali karena suaminya berkata,

"Dia masih hidup. Jantungnya berdenyut kuat dan normal, tidak kacau seperti sebelumnya."

Liu Yok kini memegang jidat anak itu, "Ia akan baik kembali."

Soh Piao memandang peristiwa di depannya itu dengan setengah mengerti setengah tidak. Yang jelas pandangannya kepada Liu Yok beranjak naik beberapa derajat. Pemuda cacat yang bicaranya polos itu ternyata memiliki keistimewaan yang baru ditunjukkan sekarang.

Soh Piao kemudian bertanya, "Adik Yok, bagaimana rencana kita mengunjungi reruntuhan perkampungan leluhurmu? Jadi atau tidak?"

Sebelum Liu Yok menjawab, Ong Heng menukas kaget, "Tuan-tuan akan pergi ke reruntuhan Liu-keh-chung?"

"Betul. Kenapa?"

"Orang-orang jahat yang menyihir anakku itu agaknya berteduh di tempat itu. Yang ganjil, sudah bertahun-tahun di sekitar tempat ini tidak ada anjing serigala, tetapi semalam di tempat itu ada suaara serigala bersahut- sahutan. Entah datang dari mana."

"Juga seekor burung gagak besar yang beterbangan di atas kampung ini." sambung isteri Ong Heng.

Itu bukan “alamat baik." kata mertua perempuan Ong Heng.

Namun Liu Yok menjawab ringan saja, "Langkah kita tidak boleh didekte oeh alamat baik atau alamat buruk atau letak bintang-bintang atau tingkah laku hewan-hewan. Kita manusia adalah raja ciptaan. Kita ditetapkan memerintah semua mahluk, bukan sebaliknya."

Isteri Ong Heng hendak membantah, namun Ong Heng mencegahnya dengan gelengan kepala. Masalah keyakinan memang hak pribadi masing-masing.

Kemudian Soh Piao mengulangi pertanyaannya tadi. "Adik Yok, kita jadi pergi ke sana atau tidak?"

Liu Yok mengangguk mantap. "Tentu saja. Bahkan harus ke sana, mungkin kita bisa berbicara dengan orang-orang di tempat itu."

Lalu berangkatlah mereka meninggal kan rumah Ong Heng menuju ke rumah keluarga Liu yang sudah jadi reruntuhan. Soh Piao, meskipun mahir silat, ternyata melangkah dengan dibebani perasaan tegang karena tidak bisa menduga bagaimana nanti sikap orang-orang yang bakal ditemuinya direruntuhan perkam pungan itu. Menurut orang-orang di kampung tadi, pendatang-pendatang itu bersikap memusuhi Keluarga Sebun. Sedang kan Liu Yok yang berjalan di samping Soh Piao, berjalan begitu tenang dan gembira.

Tidak lama kemudian, tibalah mereka di reruntuhan perkampungan itu, sebuah tempat yang teduh di lereng perbukitan, penuh ditumbuhi cemara diselang-seling dengan kelompok-kelompok belukar. Liu Yok gembira melihat tempat leluhurnya itu. Dibayangkan perkampungan itu, meskipun tidak sebesar dan semegah puri Ke luarga Sebun di Pek-him-nia yang seolah-olah sebuah kota di atas bukit, namun perkampungan itu nampak begitu nyaman dan tenteram menghadap kota Lok- yang dan lembah sekitarnya.

Ketika Liu Yok mulai melangkahi reruntuhan pintu gerbang perkampungan, dia diperingatkan oleh Soh Piao, "Hati-hati, Adik Yok."

Namun langkah Liu Yok tidak terhambat sedikit pun, "Ah, kita kan datang bukan untuk berkelahi? Buat apa begitu berprasangka seolah-olah ada musuh mengintai di mana- mana?"

"Sikap itu baik, Adik Yok. Sayangnya tidak semua orang bersikap seperti itu. Banyak yang justeru bersikap senang mencelakakan orang lain, tidak peduli pihaknya benar atau salah. Negara yang paling cinta damai pun pasti punya angkatan perang, punya polisi, punya penjara, benar tidak? Berhati-hati tidak ada jeleknya."

Liu Yok tidak ingin berbantah lagi. Dan langkah kedua sahabat itu terhenti, karena dari balik reruntuhan tiba-tiba muncul empat orang laki-laki bersenjata. Tampang, perawakan, usia maupun dandanan mereka tidak sama, yang "seragam" pada diri mereka adalah sorot mata yang penuh luapan kebencian, bahkan terhadap orang yang belum dikenal sekalipun.

"Berhenti!" bentak yang tertua sambil mengacungkan pedangnya. Soh Piao dan Liu Yok berhenti. Soh Piao sebenarnya hendak memancing orang orang itu dalam tanya-jawab, supaya ia bisa mengetahui siapa mereka dan apa maksud mereka datang di sekitar kota Lok-yang, justru pada saat Keluarga Se-bun di ambang hari yang demikian penting.

Namun Liu Yok sudah mendahului menjawab orang-orang itu dengan sikap yang begitu bersahabatnya "Selamat siang, saudara- saudaraku, apakah kalian baik-baik semuanya? Apakah keluarga kalian di rumah juga baik-baik dan sehat semuanya?"

Sikap ramah Liu Yok dibalas dengan bentakan garang orang tadi, "Itu bukan urusanmu! Sebutkan siapa diri kalian dan kenapa datang ke sini!"

Kembali Lui Yok yang menjawab, "Aku bernama Liu Yok, dari bukit Pek-him-nia di dekat kota Se-shia. Dan temanku ini orang sini saja, namanya Soh Piao. Sekarang sukakah saudara-saudara memperkenalkan nama saudara-saudara?"

Soh Piao tidak menaruh harapan terhadap upaya perdamaian Liu Yok itu, namun ia diam dulu dan membiarkan Liu Yok yang menghadapi orang-orang itu. Ternyata orang-orang itu memang tidak bergeming sedikit pun terhadap keramahan Liu Yok. Mereka tidak menggubris pertanyaan Liu Yok dan malahan menyodorkan pertanyaan berikut, "Dan apa maksud kedatangan kalian kemari?"

Sama seperti mereka tidak bergeming oleh keramahan Liu Yok, begitu juga keramahan Liu Yok tidak terpengaruh sama sekali oleh sikap penuh permusuhan dari orang-orang itu. Kata Liu Yok sambil tersenyum manis. "Agaknya saudara-saudara ini lebih suka bertanya terus daripada menjawab. Baiklah. Aku datang karena tempat ini dulu adalah tempat leluhurku. Tetapi aku tidak mengusir kalian, kalian boleh berteduh di sini kalau suka."

Orang-orang bersenjata itu saling berbisik beberapa saat, lalu orang tertua yang memegang pedang itu bertanya, "Kau mengaku berasal dari Se-shia. Apa hubunganmu dengan Keluarga Sebun di Se-shia?"

"Ibuku bernama Sebun Giok. Kakak-tiri ibuku adalah Sebun Beng di Lok-yang."

Muka orang-orang bersenjata itu memberingas, sikap bermusuhan mereka bertambah kental. "Jadi kau adalah keponakan Sebun Beng? Jadi calon pengantin perempuannya Jenderal Wan Lui itu adalah saudara sepupumu?"

Tiba-tiba udara di tempat itu bergetar oleh sebuah suara yang keras, kering dan serak, "Tahan bocah pincang itu. Yang satunya lagi silakan pergi!"

Soh Piao dan Liu Yok serempak menoleh ke arah asal suara itu, dan mereka tercengang melihat orangnya. Itulah seorang lelaki bungkuk, berjubah longgar hitam, rambutnya terurai dan menutupi sebagian besar wajahnya namun hidungnya yang amat besar itu menyembul di sela-sela rambutnya, sepasang telapak kakinya yang tak bersepatu itu kelihatan lebar dan berjari panjang-panjang, mencengkeram dahan di mana dia "hinggap" seperti burung. Pendek kata, orang itu sedikit sekali persamaannya dengan manusia, sebaliknya banyak sekali persamaannya dengan burung gagak.

Setelah mendapat perintah, orang-orang bersenjata itu melangkah maju untuk meringkus Liu Yok. Namun orang-orang itu bersikap hati-hati karena melihat Liu Yok kelewat tenang, mereka menyangka Liu Yok seorang jagoan tingkat tinggi.

Sedang Soh Piao tahu kalau Liu Yok tidak becus silat setengah jurus pun, karena itulah Soh Piao buru-buru menempatkan diri di depan Liu Yok untuk melindungi. Katanya kepada orang-orang bersenjata itu, "Kalian takkan dapat menyentuh tamu keluarga Sebun di Lok- yang ini tanpa melangkahi mayatku dulu."

Orang aneh yang nangkring di atas pohon itu pun tertawa kembali keras-keras, dan sekarang dia bukan cuma mirip burung gagak melainkan presis burung gagak. Orang bisa bingung melihatnya, yang nongkrong di pohon itu manusia yang mirip burung gagak, ataukah burung gagak yang mirip manusia?

Soh Piao agak bergidik, la merasakan ada semacam hawa yang jahat menyungkup tempat itu. Namun ia tidak akan surut dari tekadnya untuk melindungi Liu Yok. Diam-diam Soh Piao menyesal bahwa tadi ia tidak membawa pedangnya, karena menyangka keadaan begitu tenteram, lagipula ia bepergian tidak jauh dari Lok-yang. Kini ia terpaksa bersiap-siap untuk berkelahi dengan tangan kosong menghadapi empat lawan bersenjata yang belum diketahui seberapa tinggi ilmunya.

Tiba-tiba Liu Yok menepuk pundak Soh Piao dari belakangnya, sambil berkata dengan tenang, "Saudara Soh, biarkan aku tetap di sini seperti kemauan mereka. Barangkali sobat- sobat di tempat ini ingin berbicara banyak dengan aku."

Soh Piao garuk-garuk kepala tanpa menjawab. Orang-orang bersenjata yang sedang maju dengan langkah mengancam itu pun berhenti melangkah lalu saling pandang dengan keheran-heranan. Sementara Soh Piao berkata kepada Liu Yok, "Adik Yok, mereka bukan teman, apalagi saudara. Mereka beritikad jahat, buktinya sudah kita lihat pada anaknya Ong Heng."

"Ah, masa iya? Aku percaya manusia diciptakan untuk bersahabat dan bersaudara, tidak terkecuali sobat-sobat di tempat ini. Lebih baik berbicara daripada berkelahi."

"Adik Yok, orang-orang jahat ini mengundangmu bukan untuk berbicara, bahkan mungkin kau akan disumpal mulutmu sehingga tidak dapat berbicara. Kau akan dijadikan sandera untuk menyusahkan Pamanmu, barangkali kau sendiri akan disiksa. Kau mau menyusahkan Pamanmu?"

Jawab Liu Yok kalem, "Kalau benar mereka berniat begitu, aku akan menasehati sobat- sobat ini bahwa perbuatan macam itu tidak baik..."

Soh Piao jadi kehabisan akal, "Adik Yok, pokoknya demi tanggung jawabku terhadap Pamanmu, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendirian di sini."

"Sebaiknya Kakak pulang saja ke Lok-yang, percuma berlama-lama di tempat ini, hanya menimbulkan pertengkaran saja. Aku tetap ingin di sini untuk berbincang dengan mereka. Seandainya Kakak dapat mengalahkan mereka pun, aku tetap ingin di sini."

Soh Piao tidak tahu lagi harus kagum ataujengkel, mungkin juga campuran dari kedua-duanya. Dilihatnya kebulatan tekad itu terpancar kuat dari sepasang mata Liu Yok, tidak mungkin sikap itu diubah lagi. Akhirnya Soh Piao berkata kepada orang-orang bersenjata itu, "Baiklah, karena kemauan temanku sendiri, dia akan aku tinggalkan di sini, bukan karena takut kepada kalian. Tetapi perhatikan baik-baik peringatanku, seujung rambut saja kalian menciderai temanku ini, kami akan mengejar kalian sekalipun bersembunyi di lubang semut. Kami punya ribuan sahabat yang siap membantu di seluruh pelosok negeri!"

Belum habis kata-kata Soh Piao, orang di atas pohon itu kembali memperdengarkan tertawanya yang lebih mirip burung gagak, katanya, "Orang she Soh, rupanya kau terlalu bangga akan majikanmu Se-bun Beng, ya? Ancamanmu boleh menakutkan orang lain, tetapi tidak menakutkan aku seujung rambut pun. Sebab aku bisa terbang di atas kepala Sebun Beng tanpa dia sendiri mengetahuinya!"

Lalu orang itu melompat ke atas sambil mengembangkan lengan-lengannya. Soh Piao hampir-hampir tidak percaya ketika melihat orang itu tidak segera jatuh ke tanah, melainkan terus melayang-layang di udara, bahkan yang kemudian terlihat di udara itu adalah seekor burung gagak besar yang berkaok-kaok. Orang itu mampu mengubah dirinya menjadi burung gagak.

Soh Piao memucat melihat demonstrasi ilmu gaib tingkat tinggi itu. Sedang keempat orang bersenjata itu menjanjikan wajah bangga sambil menatap Soh Piao, seolah-olah ingin bertanya, "Nah, bisa apa kau di depan guruku yang berilmu demikian tinggi?"

Namun orang-orang bersenjata itu kecewa karena tidak menemukan kesan kagum di wajah Liu Yok. Liu Yok memang ikut menengadah sambil memandang burung gagak jadi-jadian, namun wajahnya justru nampak prihatin, dan orang-orang bersenjata itu bisa mendengar desisnya, "Sudah baik-baik jadi manusia, kenapa senang jadi burung segala?"

Sementara itu Soh Piao sudah beranjak meninggalkan tempat itu. Ia tahu mengukur kemampuan sendiri, seandainya bersikeras akan membawa Liu Yok juga belum tentu mampu mengalahkan orang-orang berilmu gaib itu. Lebih bijaksana kalau Sebun Beng cepat diberitahu.

Sementara Liu Yok sendiri kemudian duduk santai di atas sebuah batu di bawah pohon, dan berkata kepada orang-orang bersenjata yang mengawasinya dengan tegang, "Saudara- saudara, alangkah santai dan enak pembicaraan kita seandainya senjata-senjata itu dimasukkan ke sarungnya."


Soh Piao melangkah terburu-buru ingin segera sampai ke kota, tetapi sialnya ketika melewati kampung tukang tenun tadi, penduduk kampung mencegatnya, di antaranya nampak Ong Heng. Soh Piao jadi heran karena orang-orang ini kelihatannya bersuka-cita, tidak lagi ketakutan. Begitu melihat Soh Piao, serempak mereka menyongsong, mengerumuni dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi. "Di mana Tuan Muda Liu?"

"Kenapa tidak bersama-sama Tuan Soh?"

Agar pertanyaannya tidak berkepanjangan, Soh Piao berbohong saja, "Tuan Muda Liu agaknya masih suka di reruntuhan perkampungan leluhurnya itu. Kenapa?"

Orang-orang pun bungkam semua. Mereka tahu di reruntuhan itu ada orang-orang yang menakutkan itu, kenapa Yok malah tinggal di sana? Kenapa Soh Piao meninggalkannya? Sebaliknya Soh Piao sendiri heran melihat sikap orang-orang kampung itu. "Ada apa sebenarnya?"

"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Anakku sembuh," kata Ong Heng.

Soh Piao cuma mengangguk-angguk dan berkata basa-basi karena ingin cepat meninggalkan tempat itu, "Oooo, syukurlah. Sekarang maafkanlah aku, aku harus cepat- cepat sampai ke kota..."

Lalu ia pun menerobos kerumunan orang-orang itu dengan mendesak-desak-kan tubuhnya, kemudian ia melangkah dengan setengah berlari sampai ke rumah Sebun Beng di kota Lok-yang. Kedatangannya yang bermandikan keringat dan wajahnya yang tegang itu tentu saja mengejutkan orang-orang seisi rumah, apalagi tidak bersama-sama Liu Yok.

"Saudara Soh, kenapa?"

“Kenapa tidak bersama Tuan Muda Liu?"

Soh Piao tidak menggubris pertanyaan orang-orang itu, melainkan langsung bertanya, "Di mana Tuan Sebun? Aku harus berbicara dengannya sendiri."

"Sedang di taman belakang, mengobrol dengan Tuan Tong, sahabatnya dari se-cuan itu."

Maka Soh Piao langsung menuju ke sana. Sebun Beng yang sedang berbincang santai dengan sahabatnya sejak muda, Tong Gin-yan, dikejutkan oleh kedatangan Soh Piao yang tergopoh-gopoh.

"He, kenapa, saudara Soh?"

Soh Piao tiba-tiba berlutut di depan Sebun Beng, dan ini membuat Sebun Beng gelisah karena sikap ini tidak lazim. Didengarnya suara Soh Piao terengah-engah, "Tuan, saya minta maaf, saya patut dihukum. Saya tidak dapat mengajak Saudara Liu Yok kembali."

"Kenapa dengan dia?"

"Dia ditahan oleh sekelompok orang tak dikenal yang sekarang berada di reruntuhan perkampungan Liu-keh-chung."

Jantung Sebun Beng serasa berdentang, namun ia berusaha untuk tetap tenang, "Coba ceritakan..."

Soh Piao pun mulai menceritakannya. Sementara dia berbicara, anggota-anggota keluarga yang lain mulai berdatangan untuk ikut mendengarkan, baik yang tinggal di Lok- yang maupun yang dari Se-shia.

Usai Soh Piao bercerita, Sebun Giok mengertakkan gigi dan berkata, "Aku akan memaksa orang-orang itu dengan pedangku untuk membebaskan anakku..."

Cepat Sebun Beng menahan pundak adik perempuannya itu, "Jangan gegabah, Adik Giok. Orang-orang jahat itu bukan orang-orang sembarangan. Bukankah tadi sudah kau dengar cerita Soh Piao bagaimana pemimpin mereka sanggup mengubah diri menjadi burung gagak? Kita berhadapan dengan sekelompok orang yang tidak sekedar mengandalkan otot dan ketrampilan berkelahi, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu gaib tingkat tinggi..."

“Tetapi Liu Yok adalah darah dagingku, Kakak Beng..." sahut Sebun Giok dengan mata berkaca-kaca.

"Aku mengerti, Adik Giok. Aku pun bertanggung jawab atas keselamatan dirinya. Kita berangkat bersama-sama!"

Auyang Hong yang juga berada di situ, sudah menggenggam erat gagang pedangnya meskipun belum dicabut dari sarungnya. Dari mulutnya terluncur kata-kata gagah bak pendekar ulung, "Ah, seandainya Paman Sebun setuju, aku pasti sudah menyerbu ke sana dan membuat orang-orang jahat itu mengutuk hari kelahirannya sendiri. Pedangku ini sudah haus darah!"

Dan serentetan kata-kata dahsyat lainnya, namun tidak ada yang memperhatikannya sebab orang-orang sedang sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke reruntuhan perkampungan Liu-keh-chung di luar kota.

Orang-orang itu belum berangkat, ketika di atas rumah tiba-tiba terdengar suara burung gagak berkaok-kaok. Mula-mula orang kurang memperhatikannya, sampai Soh Piao mendengarnya dan berseru, "Itulah si burung siluman! Burung jadi-jadian!"

Orang-orang pun berlarian ke halaman dan melihat ke atas. Mereka melihat seekor burung gagak besar sedang terbang berputar-putar sambil berkaok-kaok. Beberapa orang pegawai Sebun Beng yang mempercayai tahyul, diam- diam sudah merasa cemas dan membaca doa- doa penolak malapetaka. Mereka masih percaya kata-kata orang tua bahwa burung gagak melambangkan kematian, kedatangannya tidak membawa alamat baik.

Sebun Beng sendiri belum tahu harus berbuat apa, meskipun Soh Piao di sebelahnya berkata, "Burung gagak itu jadi-jadian. Dia sebenarnya adalah manusia yang memimpin orang-orang jahat di reruntuhan Liu-keh-chung. Aku lihat dia melompat ke langit dan langsung terbang karena berubah bentuk..."

Sebun Beng masih ragu-ragu menerima kata- kata Soh Piao itu. Tetapi Tong Gin-yan kemudian berkata, "Saudara Sebun, tiba-tiba aku ingat seorang tokoh Pek-lian-kau (Agama Teratai Putih) dari Pak-cong (sekte utara) yang sudah lama menghilang, kabarnya untuk mendalami ilmu jahatnya. Tidak ada yang tahu namanya, dia hanya dikenal julukannya sebagai Hek-wa-koai (Siluman Gagak Hitam), satu dari empat tokoh unggulan Pek-lian-kau golongan Pak-cong."

Disebutnya "Pek-lian-kau" bagaikan sepercik cahaya yang menerangi pikiran Sebun Beng. Calon menantu Sebun Beng, Wang Lui, adalah orang yang sangat dibenci oleh Pek-lian-kau, karena dia pernah menimbulkan kerusakan besar dalam tubuh Pek-lian-kau. Ketika itu Pek-lian-kau sedang mengadakan upacara tahunan di Kuil Hong-kak-si di Hong-yang, dan dalam upacara itu mereka hendak menyembelih Pangeran Hong-lik (nama Pangeran Kian-liong sebelum naik tahta) untuk dijadikan tumbal "kebangkitan kembali Kerajaan Beng".

Wang Lui berhasil menyelamatkan Pangeran Hong Lik dan mengacaukan Pek-lian-kau, itulah akar dendam Pek-lian-kau terhadap Wan Lui. Kini Pek-lian-kau agaknya telah mengundang jagoannya yang tersembunyi, Hek-wa-koai, untuk mengacau jalannya pernikahan Wan Lui.

Apa yang dikatakan Tong Gin-yan tentu saja dinilai jauh lebih tinggi dari perkataan Soh Piao, biarpun yang dikatakannya sama. Maklum, Tong Gin-yan adalah ketua sebuah perserikatan rahasia yang punya banyak sekali "orang bawah tanah" di mana-mana. Ia mengetahui banyak hal yang tidak diketahui umum.

Karena itulah Sebun Beng tidak ragu-ragu lagi mendongak ke atas dan berteriak kepada burung gagak itu, "Saudara Hek-wa-koai, aku persilakan turun dan jadilah tamu yang normal! Kita bisa ber bicara baik-baik!"

Burung gagak itu berkoak panjang seolah menjawab seruan Sebun Beng, lalu melayang turun dan hinggap di atas bubungan rumah. Matanya yang bersinar jahat itu menatap orang- orang di bawahnya. Sesuatu yang terasa gaib dan jahat segera terasa menudungi tempat itu, dan matahari yang sudah bergeser ke barat membuat suasana itu lebih terasa lagi.

"Turunlah, sobat, dan tunjukkan ujud aslimu, kata Sebun Beng.

Burung gagak di atas atap itu hanya berkaok keras sambil berlompatan ke kanan kiri, tidak menggubris kata-kata Sebun Beng.

"Turunlah, sobat..." ulang Sebun Beng sabar.

"Bagaimana kita bisa berbicara dengan baik, kalau kau hanya berkoak-koak saja? Kami belum pernah belajar bicara bahasa burung gagak."

Lagi-lagi burung jadi-jadian itu cuma berkoak dan berlompatan.

Auyang Hou berteriak, "Kurang ajar siluman ini, dia benar-benar kelewat memandang ringan kepada kita! Ambil tangga! Biar aku sembelih dia!"

Rupanya dia ingin pamer kegagah-beraniannya di depan orang banyak. Namun karena ia belum mampu melompat ke atas genteng, terpaksa dia menyuruh orang mengambilkan tangga.

"Kakak Hou, kenapa tidak melompat saja?" tanya Bwe Gin-liong seolah-olah tidak sengaja. Akibatnya ia mendapat pelototan gusar dari Auyang Hou yang merasa dipermalukan. Cepat-cepat Bwe Gin-liong bersembunyi ke belakang punggung neneknya.

Orang yang membawa tangga sudah datang, dan tangga itu langsung disandarkan ke tepian atap. Auyang hou pun bersiap-siap untuk naik. Sebenarnya dia berharap agar ada orang yang sungguh-sungguh mencegahnya, tetapi ternyata tidak ada, semuanya membiarkan tindakannya. Auyang Hou malu untuk melangkah surut, diapun menaiki tangga.

Sebun Beng cuma berkata, "Hati-hati, A-hou." Namun diam-diam Sebun Beng juga menyiapkan sebutir Tiat-tan (kelereng besi) yang siap digunakan setiap saat.

Sebelum Auyang Hou sampai di puncak tangga, tiba-tiba burung itu berkaok begitu nyaring dan mengejutkan, lalu terbang menyambar ujung tangga bagian atas. Ternyata burung itu berkekuatan raksasa, ia mendorong ujung tangga itu sehingga tangga itupun roboh selagi ada Auyang Hou di tengah-tengahnya. Auyang Hou pun benar-benar menghayati pepatah sudah jatuh tertimpa tangga".

Ketika beberapa pegawai Sebun Beng hendak membantu membangunkan Auyang Hou, Auyang Hou menolak untuk dibantu meskipun pinggangnya sakit. Ia mengacungkan pedangnya ke atas sambil tertatih-tatih berdiri, teriaknya, "He, hewan jadi-jadian! Turunlah kemari dan aku akan membuatmu jadi sate!"

Baru saja kata-kata itu selesai, burung itu tiba-tiba menukik turun bagaikan kilat dengan paruh yang tertuju ke mata Auyang Hou. Semua yang melihat terkejut. Auyang Hou apalagi, dengan gugup dia memiringkan tubuh kanan untuk menghindar, sehingga tangan kanannya yang memegang pedang itu malahan tertutup peluangnya untuk balas menyerang.

Melihat cara Auyang Hou mengelak itu, Sebun Beng menarik napas. Pengetahuan beladiri yang begitu sederhana saja tidak dipahami oleh keponakannya itu, tetapi bualannya saja setinggi langit. Kemudian Auyang Hou memutar pundak dan membabat dengan pedangnya, namun burung gagak itu terbang berputar ke sebelah kiri dan menyambar lagi. Melihat caranya burung gagak itu begitu cerdik memilih sudut serangannya, yaitu memilih arah yang menyulitkan pedang Auyang Hou, terang burung im memang lain daripada yang lain.

Kali ini ia menyerang dengan paruh dan cakar-cakarnya sekaligus. Paruh berhasil dihindari oleh Auyang Hou, namun cakarnya berhasil menggores pundak pemuda itu sehingga berdarah, ditambah kibasan sepasang sayapnya yang bertenaga besar sehingga Auyang Hou terjengkang.

Orang-orang kembali berseru kaget, apalagi burung itu terus menyambar lagi ke arah Auyang Hou dan kali ini kecillah kemungkinannya untuk menghindari. Paruh dan kedua cakarnya sekaligus ke muka Auyang Hou.

Kali ini Sebun Beng tidak membiarkan keponakannya kena bencana, ia menyambitkan kelereng besinya menghantam rusuk burung gagak itu. Burung gagak itu boleh saja bertenaga hebat, namun kelereng besi Sebun Beng membuatnya terpental beberapa langkah ke samping. Burung itu rebah sesaat, dan ia harus dua kali mengulangi lompatannya untuk dapat berdiri tegak lalu terbang, sorot matanya memancarkan semacam kebencian bercampur gentar ke arah Sebun Beng sebelum terbang menghilang di cakrawala.

Auyang Hou nampak berwajah pucat, bahkan bibirnya pun agak putih, kali ini ia tidak menolak lagi ketika ada orang-orang yang memapahnya bangun, la masih belum mampu berbicara karena kagetnya.

Sebun Beng ikut mendekati dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Nak?"

Auyang Hou cuma bisa mengangguk-angguk. "Yang penting segeralah mengobati luka-luka di pundakmu, jangan sampai menjadi bengkak. Siapa tahu kuku-kukunya beracun."

Sebun Beng kemudian berkata kepada Tong Gin-yan, "Saudara Tong, maukah menemaniku ke reruntuhan perkampungan itu sekarang?"

Tong Gin-yan mengangguk mantap tanpa mempedulikan langit yang mulai gelap, “Dengan senang hati, Saudara Sebun."

Sebun beng lalu menoleh kepada Sebun Giok, "Adik Giok..."

Sebun Giok menukas sambil mengangkat pedangnya yang masih dalam sarungnya, "Aku ikut. Aku ibu Liu Yok."

Maka berangkatlah mereka bertiga. Tong Gin-yan dan Sebun Giok membawa pedang, sedangkan Sebun Beng membawa tongkat besinya yang terkenal.


Tak peduli betapapun ramahnya sikap Liu Yok, ia tetap saja diborgol. Kemudian keempat orang bersenjata yang menungguinya itupun membuat api unggun untuk menghangatkan badan, sekaligus membakar daging binatang buruan. Liu Yok sendiri lalu dibiarkan terkantuk-kantuk bersandar pohon. Beberapa saat orang-orang itu memang heran melihat ketenangan Liu Yok, namun kemudian tidak mempedulikannya lagi.

Tiba-tiba obrolan mereka terhenti ketika mereka mendengar suara daun kering terinjak, mereka meraih senjata masing-masing sambil bersiaga. Mereka sudah terbiasa hidup dalam kecurigaan, tidak satu hari pun mereka lewati tanpa kesiapan untuk membunuh atau dibunuh, itulah sebabnya mereka iri melihat Liu Yok tawanan mereka malah dapat tidur dengan wajah yang damai.

Suara langkah itu makin dekat, lalu muncullah guru mereka, Hek-wa-koai. Kali ini sang guru tidak meluncur turun dengan gagah dari udara sambil berkaok-kaok, melainkan berjalan lambat dengan ayunan lengan yang nampaknya kesakitan. Setelah terjangkau cahaya api, terlihatlah titik-titik darah di sudut mulutnya, agaknya habis muntah darah meskipun tidak banyak.

Murid-muridnya yang biasanya sangat memuja dan membanggakan guru mereka, kini hampir-hampir tidak percaya akan pemandangan itu. Guru mereka terluka. Terimpikan pun belum pernah. Hek-wa-koai menggeram mengejutkan murid-muridnya, "Jangan melongo saja. Kita tinggalkan tempat ini secepatnya. Bawa tawanan itu!"

"Pindah ke mana?"

"Ke tempat Pek-coa-sin (Malaikat Ular Putih) Oh Jiang. Jalannya kalian sudah tahu bukan?"

Orang-orang itu segera bergegas. Liu Yok dibangunkan dengan kasar lalu diseret-seret seperti hewan mau dibawa ke pasar saja. Sementara Hek-wa-koai melihat persiapan orang-orang itu sambil sesekali terbatuk-terbatuk keras. Beberapa saat kemudian, setelah semuanya siap, salah seorang berkata kepada Hek-wa- koai, "Kami sudah siap, Suhu."

Hek-wa-koai melambai ke arah muridnya yang bertubuh paling kekar, "Gendong aku."

Tanpa banyak bicara, murid itu menitipkan lembing pendeknya dan bungkusan pakaiannya kepada temannya, lalu dia sendiri menggendong Hek-wa-koai. Rombongan kecil itupun bergegas meninggalkan tempat itu, menembus kegelapan malam. Api unggun dibiarkan tetap menyala.

Tidak lama setelah mereka pergi, Sebun Beng bertiga tiba di dekat api unggun itu. Mereka tidak menemukan apa-apa kecuali bekas-bekas kehadiran orang-orang yang menawan Liu Yok, seperti sisa-sisa makanan.

"Agaknya Hek-wa-koai sudah membawa pergi orang-orangnya..." kata Tong Gin-yan prihatin. "Tetapi aku perhitungkan belum jauh. Aku yakin Hek-wa-koai terluka oleh sambitan kelereng besimu tadi, Saudara Sebun."

Sebun Beng mengertakan gigi dan mengepal tinjunya. Tokoh masyarakat Lok-yang yang terkenal sabar ini nampak nya hatinya mulai disentuh api amarah. "Kita kejar mereka!"

"Baik."

"Aku dan Adik Giok akan mengelilingi kota ke arah timur, Saudara Tong ke arah barat."

"Baiklah." Merekapun berpencaran menyusuri arahnya masing-masing.

Sementara itu Hek-wa-koai dan orang-orangnya sudah sampai ke sebuah tempat belukar yang sama sekali jauh dari tempat kediaman manusia. Selama perjalanannya, Hek-wa-koai yang digendong itu tidak berbicara sama sekali, sering napasnya tersengal-sengal. Murid-muridnya juga tidak banyak bertanya, karena sudah tahu arah yang dituju.

Di tempat sunyi itu, anehnya terdapat juga sebuah petak kebun tanam-tanaman obat luas, dan di tengah-tengahnya berdiri sebuah gedung yang megah dengan temboknya yang tinggi dan pintunya tertutup rapat. Di depan pintunya tergantung dua rentengan lampion kertas yang bergorang goyang kena angin, goyangannya membuat bayangan pohon-pohon di sekitarnya seolah-olah hantu menari.

Salah seorang murid Hek-wa-koai mengetuk pintu dengan gagang goloknya. Pintu dibuka, dan muncullah seorang lelaki bertubuh tinggi dan gemuk yang mulutnya masih berkomat-kamit mengunyah makanan. Bajunya terbuka memperlihatkan dadanya yang berbulu, ia mengenakan celana hitam dan ikat kepala hitam. Sikapnya sama sekali tidak ramah kepada orang-orang yang baru datang, "Kalian datang lagi besok saja. Sekarang sudah larut malam dan Tabib Jiang sudah tidur!"

Terus ia hendak menutup kembali, pintu itu, namun Hek-wa-koai menggeram dari balik punggung penggendongnya, "Bangsat, congkak benar lagakmu. Kami tidak mencari Tabib Jiang, kami mencari Pek-coa-sin Oh Jiang!"

Si Gemuk itu terkejut mendengar suara Hek-wa-koai itu. Ia lalu menajamkan matanya untuk mengenali siapa yang digendong, lalu tanyanya ragu-ragu, "Paman Gurukah yang di situ?"

"Ya. Ini aku. Gurumu ada di rumah?"

Sikap tidak ramah Si Gemuk seketika berubah menjadi sikap yang sangat hormat, "Maafkan aku, Paman, aku tidak melihat Paman tadi. Aku kira orang minta diobati. Silakan masuk, Paman."

Hek-wa-koai cuma menggeram dan memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk masuk. Si gemuk heran ketika me lihat Liu Yok yang diborgol dan diseret-seret itu. "Paman, siapakah orang ini?"

Sahut Hek-wa-koai, "Keponakan Sebun Beng yang dari Se-shia."

Tempat itu tidak jauh dari kota Lok-Yang di mana nama Sebun Beng begitu disegani. Maka Si Gemuk pun terkejut mendengar jawaban Paman Gurunya, "Wah, Paman menculiknya?"

"Kamu takut?"

Si Gemuk menggaruk-garuk perutnya, "Wah, bagaimana ya? Yang jelas bisa mendatangkan kesulitan."

"Omong kosong. Kesulitan apa? Sampai saat ini pun Sebun Beng pasti masih bingung tentang apa yang akan dilakukan nya. Kita di atas angin, kita yang pegang kendali, kita yang menentukan aturan permainannya."

"Tetapi Paman kelihatannya... terluka?"

Hek-wa-koai jadi tidak sabar menghadapi Si Gemuk yang banyak bertanya ini. "Sudah! Panggil gurumu keluar!"

Si Gemuk membawa tamu-tamunya ke dalam. Murid-murid Hek-wa-koai serta; Liu Yok ditinggalkan di ruangan depan, sedang Hek-wa-koai terus masuk ke ruangan yang lebih dalam. Ia tidak digendong lagi, karena merasa malu kalau kelihatan begitu lemah di depan saudara-seperguruannya yang bakal dijumpainya.

Ia menunggu di sebuah ruangan yang bersih dan berbau harum. Sambil mengamat-amati ruangan itu, Hek-wa-koai diam-diam membatin, "Hemm, bedebah itu rupanya berusaha tampil sebagai orang terhormat di tengah-tengah masyarakat, rumahnya diatur begini bagus untuk memberi kesan sebagai orang baik-baik. He-he-he, seandainya orang-orang tahu ilmu yang dianutnya, orang akan jauh lebih ketakutan kepadanya daripada kepadaku. Aku hanya suka daging mayat sebagai syarat ilmuku, sedang dia suka makan anak-anak kecil hidup-hidup..."

Selagi dia berpikir-pikir demikian, tiba-tiba tersibaklah tirai pintu, dan muncullah seorang yang berpenampilan sama sekali bertolak belakang dengan Hek-wa-koai, meskipun usianya kurang lebih sama. Hek-wa-koai bungkuk, sedang orang ini tegap dan tampan dalam usianya yang hampir setengah abad. Muka Hek-wa-koai tertutup rambut yang gembel dan berbau dan hanya hidung besarnya yang, kelihatan, orang ini berambut tersisir rapi dan dikuncir seperti umumnya lelaki jaman itu.

Hek-wa-koai berbau apek, orang ini wangi. Hek-wa-koai berjubah hitam kedodoran dan bertelanjang kaki memamerkan sepasang telapak kakinya yang lebar seperti cakar burung, orang ini berjubah putih bersulam dengan kaki tertutup sepatu warna putih pula. Orang ini benar-benar menimbulkan kesan orang sesuci-sucinya.

Begitu melihat Hek-wa-koai, ia tertawa dan berkata, "Wah, malam ini aku mendapat pasien istimewa. Sakit apa kau, Si Nomor Empat? Tergesa-gesa mencaplok ikan sehingga durinya melintang di tenggorokanmu? Atau menggigit batu karena disangka roti yang empuk?"

Hek-wa-koai merasa sedang disindir. "Jangan mengejek. Aku benar-benar membutuhkan tempat yang aman untuk menyembuhkan lukaku!"

"Siapa yang melukaimu? Sebun Beng?"

Hek-wa-koai hanya menggeram. Si jubah putih Pek-coa-sin Oh Jiang mengejek melihat kebungkaman Hek-wa-koai Mao Pin. "Baru tahu rasa sekarang, ya? Berulang kali aku katakan bahwa kita baru akan bertindak serempak kalau Si Nomor Satu dan Si Nomor Dua sudah datang, jadi kita komplit berempat. Tetapi kau sudah tidak sabaran dan meremehkan peringatanku, kau bertindak sendiri dan beginilah akibatnya. Rupanya kau sudah mengira ilmumu sendiri tanpa tandingan lagi, ya?"

"Aku tidak butuh nasehat! Aku butuh tempat istirahat dan obat!"

"Nanti kalau Sebun Beng kemari dan menanyakanmu, harus aku jawab bagaimana?"

Mao Pin menjadi tegang sesaat, lalu berkata dengan gusar sambil menggebrak meja, "Kalau perlu kau boleh mempersembahkan batok kepalaku kepadanya di atas sebuah nampan, supaya kau mendapat hadiah besar darinya dan boleh ikut men jilati pantatnya!"

Si Jubah Putih Oh Jiang tertawa sambil mengelus jenggotnya, "Lho, begitu saja kok marah? Aku kan cuma bercanda?"

"Sudah! Aku boleh menitipkan diriku di sini atau tidak? Orang hampir mampus kok diajak bercanda, apa kau ingin aku mampus benar-benar?"

"Ikuti aku."

"Di luar ada empat muridku dan seorang tawanan."

"Suruh ikut kita sekalian."

Tuan rumah kemudian membawa orang orang itu masuk sebuah ruang pemujaan di hajaman belakang. Digesernya sebuah patung dewa di tengah-tengah ruangan itu, di belakangnya ternyata ada sebauh pintu. Tuan rumah mendahului masuk, nampak tubuhnya semakin lama semakin rendah, karena ia ternyata menapaki sebuah tangga batu yang menurun. Yang lain mengikutinya.

Mereka berjalan di sebuah lorong bawah tanah yang suasananya sungguh berbeda dengan di ruangan tamu tadi. Di lorong ini tidak ada bunga-bunga harum dalam vas, melainkan bau anyir darah yang membusuk, bahkan sayup-sayup terdehgar suara bocah-bocah merengek atau menangis ketakutan. Namun suara-suara itu seperti terhalang dinding yang tebal.

Liu Yok tidak dapat menahan rasa mualnya, segumpal air kecut dari perutnya dimuntahkannya. Namun ia tidak dapat berhenti melangkah karena terus didorong- dorong dan diseret-seret. Sementara Hek-wa-koai Mao Pin bertanya, "Jadi inikah tempat yang kau jadikan tempat menyimpan bocah-bocah yang akan kau santap dan kau jadikan bahan-bahan obatmu?"

Oh Jiang tertawa bangga. "Ya."

"Bagaimana kalau ada orang mendengar teriakan-teriakan bocah-bocah itu dari atas permukaan tanah? Orang lewat misalnya?"

"Di atas adalah kebun obat yang luas kepunyaanku, tidak ada orang lewat kecuali orang-orangku. Di Lok-yang ini aku terkenal sebagai tabib yang berhati mulia."

"Iblis kau, Si Nomor Tiga."

Oh Jiang cuma tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Percakapan itu menambah mual Liu Yok. Mereka kemudian melewati terali-terali besi di mana di dalamnya ada anak-anak berwajah ketakutan yang dirantai. Ketika melewati sebuah terali kosong, Oh Jiang berkata kepada rekannya, "Kau bisa menitipkan tawananmu di situ."

"Asal jangan kau lupa. Dia hakku."

"Jangan kuatir. Aku tidak akan memasaknya menjadi obat atau memakannya. Aku tidak suka merugikan teman."

Liu Yok lalu dimasukkan kamar berterali yang masih kosong itu, pintunya ditutup dan dirantai dari luar, lalu ia ditinggalkan sendirian. Sementara itu, setelah Oh Jiang menempatkan Mao Pin dan orang-orangnya disebuah tempat yang aman, Oh Jiang lalu meninggalkan mereka. Kembali ia meninggalkan dunia bawah tanahnya untuk tampil di dunia orang normal sebagai seorang tokoh amat terhormat.

Begitu dia keluar dari ruang pemujaan, langsung dia disongsong oleh muridnya yang gemuk dan suka makan itu. "Guru... Guru.... Sebun Beng..."

Oh Jiang menampar mulut muridnya sambil berkata dengan gusar, "He, bocah dungu, berapa kali harus kukatakan agar kau mengendalikan mulutmu? Itu bisa mencelakakan penyamaran kita di tempat ini..."

Muridnya memprotes sambil mengusap-usap mulutnya, "Tetapi aku tadi mendengar Guru sendiri menyebut Sebun Beng dengan sebutan si Sebun Beng..."

"Jangan kau samakan aku dengan dirimu, kerbau dungu! Aku bisa mengendalikan mulutku sesuai dengan situasi, bukan seperti kau yang bocor mulut ke mana-mana! Masyarakat Lok-yang dan sekitarnya menghormat bedebah itu seperti menghormati dewa, karena itu agar kita aman di sini, selalu sebutlah nama si bedebah itu dengan hormat. Mengerti?"

Si murid cuma garuk-garuk kepala sambil mengangguk-angguk. Sementara gurunya bertanya lagi, "Nah, kau mau bilang apa tadi? Ada apa dengan si bedebah Sebun Beng?"

"Beliau menunggu Guru di ruang tengah..."

"Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau dia mendengar kata-kataku tadi, bagaimana?" Oh Jiang langsung menurunkan suaranya sehingga seperti bisikan.

Lalu ditinggalkannya muridnya sendirian, sementara si murid berbisik-bisik sendiri, "Ada baiknya juga mengendalikan mulut, tua bangka keparat! Guru bedebah!"

Sementara itu Oh Jiang sudah masuk keruang tengah dan melihat Sebun Beng serta Sebun Giok duduk menunggu. Kakak beradik tiri itu serempak bangkit ketika melihat keluarnya si tuan rumah. Oh Jiang pun bersikap seramah-ramahnya dan sehormat-hormatnya, meskipun sudah tahu maksud kedatangan Sebun Beng toh tetap pura- pura bertanya, "Oh, kiranya Tuan Sebun dan..." ia menatap Sebun Giok tetapi tidak berani meliarkan mata ke tubuh nyonya yang masih montok itu, demi martabatnya.

Cepat-cepat Sebun Beng memperkenalkan, "Tuan Oh, ini adalah adikku Sebun Giok, dari Se- shia."

Oh Jiang pun bersikap amat hormat, "Selamat datang di Lok-yang, Nyonya."

Sebun Giok membalas hormat dengan wajah tetap murung.

"Silakan duduk," kata Oh Jiang dengan ramah. "Kedatangan Tuan berdua dilarut malam ini tentu mengejutkan saya. Apakah ada anggota keluarga Sebun yang jatuh sakit? Saya bersedia membantu sekarang juga."

"Oo, tidak. Tuan Oh, malahan aku yang minta maaf karena barangkali telah mengganggu Tuan Oh yang sudah beristirahat..."

"Oo, tidak, tidak. Saya belum tidur. Saya biasa bekerja sampai larut malam, bahkan kadang-kadang sampai pagi, untuk meramu obat- obatan dan sebisa-bisanya mencari obat-obat baru. Habis kalau siang hari tidak sempat, terlalu sibuk melayani orang-orang yang berobat."

Sebun Beng memuji tanpa basa-basi, "Aku sungguh kagum kepada Tuan Oh yang siang malam bekerja bagi kesejahteraan sesama. Sungguh masyarakat Lok-yang dan sekitarnya beruntung dengan adanya orang semacam Tuan."

"Oo ya, dari tadi saya belum mengetahui keperluan Tuan Sebun dan Nyonya Sebun datang kemari."

"Tuan Oh, kedatanganku tidak ada sangkut- pautnya dengan obat-obatan. Ini tentang seorang keponakanku yang diculik orang."

Oh Jiang pura-pura terkejut, "Hah? Keponakan Tuan yang mana?"

"Anak tertua dari adikku ini, namanya Liu Yok. Diculiknya di reruntuhan perkampungan keluarga Liu."

Oh Jiang menepuk pegangan kursi keras-keras sambil memperlihatkan sikap marah, "Kurang ajar! Penculik tidak tahu diri! Tuan, seluruh masyarakat Lok-yang dan sekitarnya termasuk saya, berdiri di pihak Tuan! Katakanlah apa yang bisa saya, lakukan untuk membantu Tuan!"

"Terima kasih, Tuan Oh. Sore tadi pemimpin penculik berani datang ke rumahku untuk menunjukkan kehebatan sihirnya, dia datang dalam wujud seekor burung gagak besar. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kau dari Sekte Utara yang tidak kuketahui namanya, tetapi julukannya adalah Hek-wa-koai. Aku berhasil melukainya dengan kelereng besiku. Kalau dia datang kemari untuk berobat, aku mohon Tuan menyerahkannya kepada kami..."

"Tentu! Tentu! Orang sekurang ajar itu, seandainya Tuan tidak memintanya pun saya akan menyerahkannya kepada Tuan. Dia takkan lolos dari tangan saya!"

"Terima kasih, Tuan Oh. Tetapi aku mohon agar Tuan jangan menanganinya sendiri, sebab orang itu amat berbahaya. Lebih baik kalau Tuan memberitahu kami saja."

"Baiklah, Tuan Sebun."

Sebun Beng lalu bangkit dari kursinya, diikuti Sebun Giok. "Kalau begitu, Tuan Oh, biar kami berpamitan dulu. Terima kasih atas kesediaan kerjasama Tuan."

"Ah, jangan berkata begitu, Tuan Sebun. Siapa orang di sekitar Lok-yang ini yang tidak ingin membalas budi kebaikan Tuan?"

Tabib Oh Jiang dengan ramahnya mengantar sampai ke depan pintu. Namun setelah ia menutup pintunya kembali, dia tertawa dingin dan menggeram, "Sebun Beng, keluargamu akan menjadi tumbal kebangkitan kembali Pek-lian- kau..."

Sebun Beng sendiri, biarpun saat itu sudah larut malam, terpaksa Sebun Beng mengkesampingkan rasa sungkannya dengan membangunkan beberapa sahabat baik yang dimintai keterangan. Di suatu tempat di luar kota Lok-yang, Sebun Beng bertemu kembali dengan Tong Gin-yan dan langsung bertanya, "Bagaimana hasil penyelidikanmu, Saudara Tong?"

"Aku sudah menghubungi orang-orang sindikat bawah tanah. Biasanya mereka punya mata dan kuping di mana-mana, tetapi kali ini mereka hanya dapat memberikan keterangan yang nyaris tidak membantu."

"Keterangan yang bagaimana, Saudara Tong?" Sebun Giok bertanya mendahului kakaknya.

"Beberapa orang hanya mengatakan bahwa mereka melihat beberapa orang aneh datang ke Lok-yang dan sekitarnya. Namun mereka sendiri tidak terlalu menggubris. Maklum, Lok- yang adalah kota ramai yang terletak di jalan raya antar propinsi, setiap harinya ratusan orang yang datang dan pergi, tidak mungkin mengamati-amati mereka. Tetapi aku sudah minta kepada kawan-kawan bawah tanah itu untuk lebih memperhatikan orang-orang yang ada tanda-tanda Pek-lian-kau."

"A-yok..." Sebun Giok merintih lirih memanggil nama anaknya.

Sebun Beng merangkul pundak adiknya dan menghiburnya, "Tetaplah tabah dan kuat, Adik Giok. A-yok akan kita ketemukan!"

"Mudah-mudahan bukan setelah jadi mayat..."

"Jangan mengutuk, Adik Giok."

Mereka lalu berjalan balik ke kota Lok-yang dengan perasaan berat. Tong Gin-yan mencoba meringankan beban hati kakak beradik itu dengan berkata, "Kemungkinan besar orang- orang Pek-lian-kau itu menculik A-yok hanya untuk mengajukan suatu tuntutan kepada kita. Mungkin dalam waktu dekat, merekalah yang akan menghubungi kita."

Namun Sebun Giok tetap kuatir, "Tetapi kabarnya orang-orang Pek-lian-kau adalah penyembah-penyembah setan, mereka sering menyembelih manusia dalam acara keagamaan mereka..."

Soal ini Tong Gin-yan tidak bisa membantah. Bagaimana kelakuan orang-orang Pek-lian-kau dalam menjalankan kepercayaan mereka, memang sudah menjadi rahasia umum. Perkara hilangnya Liu Yok ternyata tidak menjadi penghalang untuk tetap dilangsungkannya upacara pernikahan Wan Lui dan Sebun Hong-eng, meskipun tidak bisa diharapkan suasana akan segembira seandainya Liu Yok ada di antara mereka.

Upacara perkawinan dipimpin seorang imam Agama Thai-cin-kau, sesuai dengan agama yang dianut Wan Lui. Wan Lui tadinya adalah pemeluk agama orang-orang Portugis yang berpangkalan di Makao sejak tahun 1516. Untuk perkawinannya, mestinya memanggil seorang imam Portugis dari Makao, tetapi Kaisar Kian-liong menyatakan keberatannya yang berlandaskan politik. Sebab Wan Lui adalah orang dekat Kaisar, orang penting dalam pemerintahan, maka Kaisar kuatir pemberkatan pernikahan itu akan menjadi jalan masuk buat Portugis untuk menanamkan pengaruhnya diistana.

Wan Lui menuruti keberatan Kaisar, maka dia pun memutuskan upacara pernikahannya akan dilakukan menurut Agama Thai-cin-kau, yang sebenarnya serumpun dengan agama orang-orang Portugis namun sudah tidak tercium "bau asingnya karena sudah masuk Cina sejak abad 7, jaman Dinasti Tong. Bahkan Kaisar Siu-cong dari Dinasti Tong adalah pemeluk agama itu.

Thai-cin-kau jadi tidak berbeda dengan agama-agama lain yang datang dari luar namun sudah mempribumi, seperti Hud-kau, Hwe-kau atau Tiau-yang-kau. Pemeluk Thai-cin-kau amat sedikit, terbatas di kawasan barat-laut. Maka imam Thai-cin-kau untuk pernikahan Wan Lui itu harus didatangkan dari Tun-hong, sebab di Lok-yang tidak ada pemeluk Thai-cin-kau seorang pun.

Hari itu, upacara pemberkatan berlangsung khidmat, lalu dilanjutkan dengan perjamuan. Perjamuan itu adalah tempat bertemunya tokoh-tokoh masyarakat kota Lok-yang dan sekitarnya. Tokoh silat, tokoh pemerintahan dan sebagainya. Di antaranya nampak Tabib Oh Jiang yang bersikap sangat ramah kepada siapa pun.

Auyang Hou juga sibuk mendekati dan memperkenalkan diri kepada orang-orang yang dikenalnya sebagai pendekar, tanpa lupa memperkenalkan julukannya sebagai Siau-pek-him (Beruang Putih Kecil) sambil membawa- bawa nama pamannya.

Sementara Bwe Gin-liong mengincar sasaran lain. Ia melihat Gubernur Sun hadir bersama anak-isterinya. Puteri Gubernur yang bernama Su Pek-lian itu sungguh gadis cantik yang menarik perhatian orang-orang. Bwe Gin-liong yang tampan dan halus gerak-geriknya berhasil mendekati gadis itu, mengajaknya berkenalan dan berbincang-bincanglah mereka di satu meja, meskipun gadis itu tetap didampingi ibunya. Maka dari mulut Bwe Gin-liong pun mengalihlah kalimat-kalimat dari buku-buku yang pernah dipelajarinya secara tergesa-gesa, untuk menunjukkan bahwa dirinya "cukup terpelajar".

Perjamuan itu dimeriahkan oleh pertunjukan akrobat kelas satu, undangan Gubernur Sun sebagai sumbangannya. Nenek Sebun juga hadir dalam perjamuan itu, duduk dengan angkuh di salah satu kursi kehormatan. Dalam diri nenek tua itu sebenarnya sedang timbul pertentangan hebat antara dua perasaan. Di satu pihak dia iri dan benci melihat begitu hebat perjamuan pernikahan anak Sebun Beng, padahal Sebun Beng sering ia remehkan dengan sebutan "si jongos".

Di lain pihak nenek itu sadar pula bahwa dia dihormati orang-orang karena dianggap sebagai Ibunya Sebun Beng, seandainya tidak, tak ada orang yang menggubrisnya. Nenek Sebun menaruh harapan besar ketika melihat cucu kesayangannya tengah mencoba mendekati puteri Gubernur Sun. "Mudah-mudahan kelak A-liong berhasil mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari Si Kacung Liu Beng..."

Dan Nenek Sebun boleh merasa lega bahwa Liu Yok sedang diculik orang. Seandainya tidak, alangkah malunya melihat Si Pincang itu hilir-mudik di tengah-tengah perjamuan sebagai anggota keluarga keluarga Sebun dari Se-shia. Bahkan nenek itu berdoa mudah-mudahan cucunya yang satu itu sudah disembelih oleh orang-orang Pek-lian-kau.

Ketika itu, sesuai dengan adat, yang duduk di ruang perjamuan hanyalah Si Mempelai pria yang berjubah dan bertopi merah, dengan hiasan kembang-kembang kain sutera merah pula. Sedang Si Mempelai wanita berada di ruang pengantin bersama pelayan-pelayannya.

Wan Lui yang tampan itu mukanya sampai merah karena berulang kali menerima ajakan minum arak dari para tetamu. Adalah hal biasa di tempat itu, bahwa seorang pengantin pria pada malam pertamanya justru tidak menyentuh isterinya, sebab harus digotong ke kamar pengantin dalam keadaan mabok.

Wang Lui dengan gembira menerima ajakan minum dari sahabat-sahabat kembarnya, Tong San-hong dan Tong Hai-long, masing-masing tiga cawan. Kepada Tong Hai-long, Wan Lui punya hubungan khusus. Kedua pemuda itu dulunya adalah saingan asmara dalam memperebutkan Sebun Hong-eng, dan akhirnya Wan Lui-lah yang berhasil mempersuntingnya, meskipun mengenal lebih belakangan. Kehadiran Tong Hai-long dalam perjamuan itu mencairkan ganjalan masa lalu, malah kini keduanya terikat persahabatan yang lebih erat.

Acara saling menyuguh arak antara dua pendekar muda kenamaan itu tentu saja menarik banyak perhatian para hadirin. Auyang Hou tidak melewatkan peluang itu. la cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya untuk mendekati kedua pendekar muda itu dengan langkah yang gagah, jubahnya melambai. Ia sengaja melangkah melewati tengah-tengah ruangan yang dikosongkan dari meja dan kursi, tempat untuk pertunjukan-pertunjukan tadi. Dengan melewati tempat kosong, mau tak mau perhatian orang akan tertarik kepadanya.

Tiba di dekat Wan Lui dan Tong Hai-long, ia berkata dengan nada gagah dibuat-buat, suaranya keras supaya didengar semua orang, "Bagus! Bagus! Saudara Tong, siapa yang menjadi sahabatmu akan menjadi sahabatku juga! Kita para pendekar muda haruslah bersatu membasmi kaum durjana! Saudara Wan, aku pun menyuguhimu tiga cawan arak!"

Wan Lui sama sekali belum pernah mengenal Auyang Hou. Tadi ketika melihat Auyang Hou melangkah menyeberangi ruangan kosong di tengah, ia menyangka Auyang Hou sebagai seorang anggota rombongan akrobat yang akan menyuguhkan nomor pertunjukan berikutnya, sebab Auyang Hou melangkah dengan gaya seorang bintang panggung. Bedanya, Auyang Hou tidak diiringi tetabuhan gembreng dan tambur.

Namun karena Auyang Hou sudah mendekatinya dan bersikap "kelewat sahabat" maka Wan Lui tidak tega mengecewakannya. Dengan ramah ia menjawab, "Terima kasih banyak. Saudara ini adalah..."

Jawaban Auyang Hou adalah jawaban yang sudah dilatihnya berpuluh kali sambil melihat bayangannya sendiri di cermin, di Se-shia, "Aku Auyang Hou, teman-teman memberi aku julukan Siau-pek-him yang menjadikan aku merasa malu saja. Aku adalah keponakan dari ayah mertuamu, Saudara Wan. Ibuku adalah..."

Begitulah Auyang Hou panjang-lebar menjelas-jelaskan siapa dirinya dan keluarganya, jangan sampai pendengar-pendengarnya tidak tahu. Wan Lui menunggu Auyang Hou selesai bicara sambil mengangguk- angguk dan pura-pura tertarik. Celakanya, makin Wan Lui memperhatikan, makin tidak selesai-selesai omongan Auyang Hou.

Ketika itulah seorang pengawal gubernuran masuk tergopoh-gopoh untuk berlutut menghormat di depan Gubernur Sun, lalu membisikkan sesuatu ke kuping Sang Gubernur. Wajah Gubernur berubah, buru-buru dia meninggalkan tempat duduk nya untuk mendekati dan membisiki Wan Lui. Adegan itu tentu saja menarik perhatian orang-orang seisi ruangan. Semua orang berhenti bercakap-cakap dan menatap kedua orang itu.

Kemudian Wan Lui berdiri dan berkata, "Tuan-tuan, saya minta dengan hormat agar Tuan-tuan mempersiapkan diri, sebab Sri Baginda berkenan hadir di sini!"

Keruan orang-orang itu menjadi gempar. Perjamuan itu benar-benar menjadi perjamuan amat bermartabat karena kehadiran Kaisar Kian-liong sendiri di situ. Benar-benar Keluarga Sebun di Lok-yang mendapat kehormatan besar.

Sementara itu, Wan Lui, Gubernur Sun dan Sebun Beng telah melangkah berendeng menuju ke pintu. Orang-orang diperjamuan juga berdiri semuanya sambil merapikan pakaian masing- masing. Sebelum Wan Lui bertiga mencapai pintu, dari luar malah sudah melangkah masuk seorang pemuda berpakaian rapi namun tidak mewah, dengan tangan memegang kipas lebar. Diiringi dua lelaki tegap.

Orang-orang di ruangan itu tentu takkan tahu kalau pemuda itu adalah Kaisar, seandainya Wan Lui tidak berlutut dan berseru, "Ban-swe! Ban-swe...!"

Selanjutnya,