X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 02

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Ke 6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 02 Karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 02

KEMUDIAN, baru saja pikirannya ini melayang ke rumah judi Hong-kui, tahu-tahu malahan sudah datang surat undangan yang isinya penuh hormat, dari Majikan Hong-kui sendiri. Bahkan disertakan tukang tandunya dan tandunya sekalian di depan rumah penginapan. Tanpa pikir panjang, Kui Tek-lam pun memenuhi undangan itu.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Duduk dalam tandu dengan gaya senyaman mungkin, Kui Tek-lam berpikir, “Mungkin Ma Liang-beng mundur teratur setelah mendengar taripku, tidak sanggup kehilangan separuh dari harta bapaknya. Hem, sekarang yang penting, di hadapan Majikan Hong-kui, aku harus bersikap sesuai dengan perananku. Seorang buronan yang selalu curiga karena menyembunyikan sesuatu yang penting. Mudah-mudahan ini akan cukup menarik perhatian pihak Pek-lian-hwe.”

Meskipun tirai tandu tertutup (karena Kui Tek-lam ingin sempurna peranannya sebagai buronan), tetapi Kui Tek-lam tetap dapat melihat keluar tandu, karena tirai jendela tandu yang terbuat dari kain ringan itu sering tersingkap-singkap oleh angin. Sampai Kui Tek-lam melihat seorang tukang pangsit sedang duduk terkantuk-kantuk di atas dingkliknya di belakang pikulannya. Agaknya karena tidak ada pembeli.

Namun Kui Tek-lam tertawa dalam hatinya, sebab ia tahu pasti kalau Si “tukang pangsit” ini tidak pernah mengantuk selama bertugas. Di bawah lindungan topi rumputnya yang rombeng itu, mata Si Tukang Pangsit tetap setajam mata elang mengawasi sekitarnya. Dan Kui Tek-lam juga tahu kalau pikulan pangsit yang kelihatan terbuat dari bambu hitam itu pernah menggulung habis belasan penjahat bernama besar.

Dengan tangan kanan, Kui Tek-lam menyingkap sedikit tirai jendela tandu, dan tangan kirinya menunjukkan jempo! kirinya kepada Si Tukang Pangsit, isyarat yang artinya, “Semuanya serba lancar”.

Si Tukang Pangsit mengangguk, meski gerak anggukannya dibuat seperti gerakan orang mengantuk. Begitulah Kui Tek-lam dan Si Tukang Pangsit bertukar isyarat tanpa diketahui orang lain. Tirai jendela tandu pun tertutup kembali.

Jalanan mulai menanjak. Agaknya, meskipun rumah judi Hong-kui terletak di “kota bawah” Lam- koan, tetapi rumah tinggal Sang Majikan Hong-kui sendiri ada di “kota atas”, bagian kota yang tinggi dan mendapat sinar matahari dan mendapat pemandangan yang bagus, baik ke arah sungai maupun ke arah pegunungan.

Daerah tempat tinggal orang-orang terpandang di Lam-koan dengan rumah-rumahnya yang besar-besar dan halamannya yang luas-luas. Rupanya “kota bawah” adalah tempatnya Majikan Hong-kui mengeruk keuntungan dari para setan judi, sedangkan “kota atas” adalah tempatnya menikmati keuntungan itu dalam hidup sehari-hari yang seperti pangeran.

Mereka masuk ke halaman berumput hijau dari sebuah rumah luas bergaya setengah Cina setengah Barat, dengan pot-pot bunga yang besar-besar berjajar mengapit jalan setapak berlapis lempengan-lempengan batu. Diam-diam Kui Tek-lam membatin, “Di wilayah selatan yang dekat dengan kota Makao yang diduduki Portugis selama berabad-abad, bangunan bergaya Portugis lalu banyak ditiru orang berduit. Berbeda dengan kota-kota di pedalaman yang masih bergaya tradisional…”

Di halaman depan Majikan Hong-kui sendiri menyambut tamunya. Tampangnya seperti rata-rata kaum saudagar di wilayah selatan. Gemuk, memakai jubah satin, memegang pipa candu yang belum tentu dinikmati tetapi hanya untuk sekedar bergaya mengikuti mode saja. Para pemadat tidak nanti bertubuh sesegar ini.

Begitu Kui Tek-lam keluar dari tandu, Majikan Hong-kui menyambutnya dengan sikap amat hormat, “Terima kasih atas kedatangan Tuan Kui. Tuan Kui sudah sudi membuang waktu untuk mengunjungi pondok reyotku…”

Sebagai “buronan”, Kui Tek-lam menunjukkan sikap waspada yang agak kelewatan dengan menoleh kiri kanan dengan mata tajam. Melihat itu, Majikan Hong-kui tertawa dan berkata, “Jangan kuatir, Tuan Kui. Biarpun aku bukan orang berpangkat apa-apa, tetapi aku berusaha menjadi tuan rumah yang baik dengan menanggung keselamatan tamuku.”

Kui Tek-lam mengangguk-angguk, lalu sikapnya pun mengendor. “Aku senang undanganmu, Tuan…”

“Namaku Nyo In-hwe…”

“…Oh, aku berbahagia Tuan Nyo sudi mengundang aku, meskipun Tuan sudah tahu siapa diriku. Orang-orang Tuan pasti sudah memberitahu Tuan tentangn diriku…”

Nyo In-hwe tertawa tersipu, “Maaf, Tuan. Kalau tindakanku mungkin mengesalkan hati Tuan dengan menyuruh orang-orang mengawasi pendatang- pendatang baru yang menonjol di Lam-koan ini…”

“Buat apa?”

“Emm… semacam tindakan… berjaga-jaga, begitulah.”

“Tuan punya musuh?”

Nyo In-hwe tertawa, “Lebih tepat disebut saingan, maklum, orang dagang. Tetapi bukan musuh seperti yang diartikan di kalangan Tuan, kalangan persilatan....”

“Aku dari dunia yang berbeda, Tuan Nyo. Aku tidak bisa sedikit pun berdagang. Daganganku ya... dagang tanpa modal itulah...” Kui Tek-lam tertawa, sebab istilah “dagang tanpa modal” adalah istilah “halus”nya orang-orang di jalan hitam.

Nyo In-hwe ikut tertawa, lalu memberi hormat sekali lagi, “Tuan Kui, aku mohon maaf karena aku sudah mengesalkan Tuan dengan menyuruh orang membayangi Tuan. Sudilah Tuan memaafkan.”

“Tidak jadi soal. Aku sudah melupakan soal kecil itu.”

“Tuan Kui ini sungguh berdada lapang. Dan setelah aku mengetahui sedikit tentang Tuan Kui, melalui orangku, aku langsung merasa bahwa Tuan Kui ini bukan musuh, tetapi justru teman yang bisa diandalkan. Tentu saja kalau Tuan mau bersahabat dengan saya....”

“Aku ini merasa tidak pantas bersahabat dengan Tuan Nyo, tokoh masyarakat yang terhormat....”

“Nanti Tuan Kui akan tahu siapa aku. Tetapi sekarang, janngan biarkan jamuan sederhana yang kusediakan menjadi dingin, mari, Tuan Kui, silakan masuk....”

Berjalan berdampingan dengan tuan rumahnya, Kui Tek-lam melangkah ke dalam rumah. Mau tidak mau Kui Tek-lam kagum juga melihat kebesaran dan kemegahan rumah itu. Ia pikir Lam-koan ini benar- benar kota kecil yang makmur, sebab di Ibu Kota Pak- khia saja tidak banyak rumah sebesar ini, kecuali kediaman para pembesar.

Tetapi jumlahnya dengan yang di Lam-koan kalah jauh. Ketika masuk ke dalam rumah, kekaguman Kui Tek-lam bertambah-tambah. Ruang-ruang dalam rumah besar itu terasa dingin hawanya karena lantai berlapis pualam dari Eropa.

Nyo In-hwe mengajak temannya naik ke tingkat dua, dan tempat yang akan dijadikan tempat perjamuan itu adalah sebuah balkon setengah terbuka dengan pemandangan terbuka ke arah selatan, timur dan barat. Karena letak rumah itu di “kota atas maka dari balkon itu kelihatanlah aliran Sungai Se-kiang sampai jauh, dermaga Lam-koan, dan punggung-punggung bukit yang mengapit batang sungai. Angin semilir yang segar terasa di seluruh ruangan.

Kui Tek-lam diam-diam membatin, “Hem, kalau hasil rumah judi Hong-kui bisa menopang kehidupan semewah ini, aku tidak percaya. Orang she Nyo ini pasti punya tambang uang yang selainnya rumah judi Hong-kui, mungkin yang ada sangkut pautnya dengan Pek-lian-hwe. Inilah yang harus kuselidiki…”

“Silakan duduk, Tuan Kui…”

“Terima kasih…”

Meja perjamuan berbentuk bulat, penuh berbagai macam makanan sedap. Kui Tek-lam mempersilakan tuan rumahnya duduk di sebelah timur, tempat yang secara adat dianggap paling terhormat, namun Nyo In-hwe ganti mempersilakan Kui Tek-lamlah yang menempati kursi itu. Setelah saling menawarkan dan saling menolak mereka bersepakat untuk sama-sama menghadap ke luar balkon, jadi sama-sama mengambil posisi di utara dan berdampingan menghadap ke selatan.

Diam-diam Nyo In-hwe heran dalam hatinya, “Kalau Kui Tek-lam ini bandit seperti laporan orang-orangku, nyata dia bandit kelas tinggi yang agak terpelajar juga. Kelihatan dari caranya menanggapi semua peng- hormatanku. Hem, harus berhasil kukorek keterangan dari mulutnya, apa yang menyebabkan dia ka bur dari utara sampai ke selatan ini....”

Begitulah, dua orang duduk makan semeja dengan menghamburkan kata-kata ramah, namun menyimpan niat untuk saling menyelidiki. Tetapi sampai beberapa saat lamanya, kedua belah pihak tidak memperoleh keterangan apa-apa tentang lawan bicaranya, karena kebanyakan basa-basi.

Akhirnya Nyo In-hwe lah yang tidak sabar. Ia ingin melempar umpan yang lebih merangsang, agar Kui Tek-lam lebih membuka diri. Nyo In-hwe ingat pesan dari atasannya dalam organisasi rahasia, agar hati-hati menghadapi orang luar ini dan tidak sembarangan menawarinya jadi anggota organisasinya. Tetapi Nyo In-hwe ternyata punya sikap sendiri, untuk lebih cepat mengetahui tujuan dan bobot Kui Tek-lam, haruslah dirangsang dengan umpan yang lebih menarik.

Kalau cuma kata-kata basa-basi saja, bisa jadi semalam suntuk pun takkan mendapat keterangan apa-apa. Nyo In-hwe juga punya prinsip, kalau toh kelak terbukti keliru memasuk kan orang ke dalam organisasinya, penyelesaiannya gampang saja, bunuh orangnya.

Karena itulah, Nyo In-hwe tiba-tiba berkata, “Tuan Kui, makin bicara denganmu rasanya makin cocok. Barangkali karena latar belakang kita yang sama....”

Kui Tek-lam pura-pura kaget, “Maksud Tuan Nyo?”

“Rasanya sudah tiba saatnya aku bicara terus-terang kepada seorang sahabat sepertimu, Tuan Kui. Aku pun dahulunya adalah pedagang tanpa modal seperti Tuan, modalku ya hanya sebatang golok…”

“Ah, Tuan Nyo....”

“Betul. Itulah sebabnya aku bersimpati kepadamu, Tuan Kui. Dan sebagai sahabat, kalau boleh aku memberikan nasehat…”

“Dengan senang hati aku mendengarkan, Tuan Nyo....”

“Tuan Kui, ikuti jejakku. Setelah kita memperoleh cukup banyak dari usaha tanpa modal, kenapa terus-terusan membahayakan diri dengan tetap berkecimpung di dalamnya? Lebih baik keluar dari dalamnya, lalu mulai masuk dalam kehidupan orang-orang terhormat dan menikmati jerih-payah kita. Mumpung Tuan Kui sendiri masih muda....”

“Tuan Nyo, darimana Tuan tahu aku sudah memperoleh cukup banyak dari usaha tanpa modalku?” ketika mengucapkan ini, Kui Tek-lam berusaha menegangkan wajahnya, seolah-olah yang dikatakan Nyo In-hwe itu tepat mengenai sesuatu yang seharusnya ia sembunyikan. Kui Tek-lam berusaha menimbulkan kesan itu sebab ia tahu, kalau dirinya “punya sesuatu yang berharga”, barulah pihak Pek-lian-hwe akan ada perhatian kepadanya.

Nyo In-hwe tertawa, menuangkan arak buat tamunya dan berkata, “Gampang saja menebaknya, Tuan Kui. Tuan diuber oleh tiga orang anjing Kaisar, jauh dari Pak-khia, tentunya yang Tuan ambil bukan sekeping dua keping perak....”

Kalau buru-buru mengiakan tentu Nyo In-hwe malah akan curiga, maka Kui Tek-lam justru sebaliknya berusaha ingin menyangkal tetapi tidak punya kata-kata. “Tuan Nyo, aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Tuan Kui, kita sudah mulai merasa cocok sebagai sahabat, kenapa masih mencoba berpura- pura terhadapku? Aku tidak punya maksud apa-apa dengan usulku tadi, kecuali untuk kebaikanmu sendiri... apakah Tuan tidak bosan terus di kejar-kejar anjing-anjing Kaisar ke sana kemari?”

Kui Tek-lam dengan lihai menunjukkan mimik putus asa, sambil geleng-geleng kepala dan menarik napas berulang kali. Lalu ditenggaknya araknya dengan cepat.

Nyo In-hwe tertawa dalam hati, nampaknya umpannya mengena. Ia tuangkan secawan arak lagi. “Bagaimana, Tuan Kui?”

“Memang rasanya bosan juga diuber-uber terus. Tadi tidak sempat menikmati hasil kerja keras dengan pertaruhan nyawaku....”

Nyo In-hwe merasa tepat untuk maju selangkah lagi. “Apa sebenarnya yang Tuan Kui ambil dari anjing-anjing Kaisar itu?”

“Hal ini belum bisa kukatakan kepada Tuan Nyo.”

“Baiklah, baiklah. Sebagai sahabat, tidak pantas aku mengorek sesuatu yang ingin Tuan Kui rahasiakan. Tidak jadi soal kalau Tuan Kui tidak suka mengatakan kepadaku, namun pertimbangkanlah nasehatku tadi.”

“Tuan Nyo, kau baik hati. Aku benar-benar mempertimbangkannya. Namun rasanya di seluruh Tiong-goan ini tidak ada sedikit pun tempat untuk kakiku berpijak. Bayangkan sudah sejauh ini aku kabur sampai hampir ke sudut paling selatan dari negeri ini, toh jejakku tercium juga oleh anjing-anjing Kaisar itu. Nasehatmu menarik, Tuan Nyo, tetapi sulit dilaksanakan.”

“Kau keliru kali ini, Tuan Kui. Di kota Lam-koan ini, uang begitu berkuasa, sehingga hitam bisa jadi putih dan putih jadi hitam. Tempat ini adalah sorga bagi orang-orang buruan yang tidak punya tempat di tempat-tempat lain. Di sini bandit-bandit bisa disulap jadi tokoh-tokoh terhormat yang hidup tenteram sampai hari tua.”

“Apa iya?”

“Tentu saja. Akulah contohnya. Dan masih ada beberapa contoh lain, tetapi aku tidak berani menyebutkan namanya terang-terangan.”

“Lalu anjing-anjing Kaisar yang memburu aku itu?”

“Mereka gampang diurus. Kalau bisa diurus secara baik-baik, mereka akan kembali ke Pak-khia sambil mengantongi sedikit oleh-oleh buat anak isteri mereka, dan melaporkan kepada atasan mereka bahwa tugas mereka sudah selesai. Tetapi kalau tidak bisa diurus secara baik-baik... ya artinya mereka itu akan cari penyakit. Mereka akan hilang di Lam-koan ini, kalau tidak jadi makanan cacing dalam tanah, ya jadi orang hilang ingatan yang menari-nari telanjang bulat di jalan raya dan tidak ingat siapa-siapa lagi, bahkan tidak ingat dirinya sendiri.”

Kui Tek-lam merinding. Ingat hal serupa yang pernah dikatakan oleh Lo Lam-hong ketika ia baru datang ke Lam-koan ini. Sekaligus menggumpal juga kemarahan Kui Tek-lam. Tetapi sudah tentu ia tidak akan membiarkan rekan-rekannya sendiri yang menyamar sebagai petugas-petugas kerajaan yang sedang memburunya itu “diurus secara tidak baik-baik”.

“Bagaimana, Saudara Kui?” desak Nyo In-hwe, sekarang dia sudah mengubah sebutan “tuan” menjadi “saudara” yang lebih akrab.

Kui Tek-lam mulai merasa bahwa lawan bicaranya itu mulai kehilangan kesadaran, dan dalam keadaan seperti itu, justru Kui Tek-lam seperti mengulur-ulur persoalan sehingga lawannya tidak sabar lagi. “Aku berterima kasih, Tuan Nyo, tetapi...”

“Sebentar. Bagaimana kalau sebutan 'tuan’ yang terlalu resmi dan merenggangkan jarak ini diganti saja dengan 'saudara' biar kedengaran lebih akrab? Atau kalau Saudara Kui mau, boleh panggil Kakak Nyo kepadaku.”

“Terima kasih, Kakak Nyo. Suatu kehormatan besar bagiku. Aku benar-benar ingin mempertimbang- kan nasehat Kakak, berilah waktu beberapa hari. Bukankah kiamatnya dunia ini bukan besok pagi?”

Ternyata dalam “permainan” adu kesabaran ini, Nyo ln-hwe yang kalah sabar. Dan dia mulai nekad menyodorkan umpan yang lebih “merangsang” lagi. Tiba-tiba saja dia mengangkat cawan araknya yang dijepit dengan jari telunjuk dan jempol, sementara jari tengahnya berada di pantat cawan, katanya, “Saudara Kui, wajahmu kelihatan pucat!”

Kui Tek-lam bersorak dalam hati. Sebelum la bertugas, ia dibekali sedikit pengetahuan tentang Pek-lian-kau dan Pek-lian-hwe oleh Jenderal Wan Lui sendiri, antara lain beberapa isyarat rahasia yang biasa digunakan oleh orang orang Pek-lian-kau maupun Pek-lian-hwe untuk saling berkomunikasi, atau mencari tahu orang yang di hadapannya itu kawan atau lawan.

Dan cara Nyo ln-hwe memegang cawan serta kata-katanya itu adalah isyarat rahasia itu, yang intinya menanyakan Kui Tek-lam itu “orang sendiri” atau bukan. Kui Tek-lam mengetahuinya, dan kalau ingin dianggap “orang sendiri”, haruslah la mengangkat cawan dengan cara yang sama, tetapi dengan tangan kiri, sambil menjawab, “Wajahku pucat, tetapi semangatnya merah menyala”.

Harusnya demikian, tetapi Kui Tek-lam masih ragu-ragu, kalau dia akhirnya diterima di dalam Pek-lian-hwe, kemudian ada isyarat rahasia lain yang tidak terjawab, bukankah akan ketahuan kalau dia itu petugas kerajaan yang berusaha menyusup dan dia akan disantet sehingga “berlari-lari telanjang bulat dijalanan”, suatu yang masih lebih mengerikan dari kematian? Begitulah, susah payah Kui Tek-lam mencari “pintu masuk” ke dalam Pek-lian-hwe, dan sekarang setelah “pintu” itu ada di depannya, dia malah ragu-ragu melangkah memasukinya.

Ia cuma menjawab samar-samar, “Pernah kulihat isyarat macam itu di utara.”

“Saudara Kui tahu kalau ini sebuah isyarat rahasia?”

“Ya.”

“Bagaimana tahunya?”

“Karena pernah dalam sehari saja aku diajak orang seperti itu sampai empat lima kali. Karena aku tidak bisa menjawabnya, ya semuanya berlalu begitu saja tanpa ada sangkut-paut denganku. Tak terduga sekarang di Lam-koan aku lihat Kakak Nyo memperagakan isyarat rahasia itu.”

“Dalam pengalaman Saudara Kui ketemu isyarat ini di utara dulu, Saudara anggap kawan atau lawankah orang-orang yang memperagakan isyarat rahasia ini?”

“Karena aku tidak tahu-menahu urusannya, ya aku tidak menjawab. Dan aku tidak bersangkut-paut. Artinya, bukan kawan ya bukan lawan.”

Kui Tek-lam berharap mudah-mudahan “kejujuran”nya itu “mendapat nilai” di mata pihak Pek-lian-hwe. Dan sekarang ia sudah pasti kalau Nyo In-hwe ini adalah orang Pek-lian-hwe. Mungkin bukan hanya orang biasa, melainkan tokoh yang agak penting.

Nyo In-hwe mengangguk-angguk, tidak ada alasan untuk tidak mempercayai perkataan Kui Tek-lam itu. Selanjutnya mereka melanjutkan makan minum seperti biasanya, dan Nyo In-hwe sempat menyinggung bahwa pihaknya atau organisasi-organisasinya bisa membuat alias menyulap Kui Tek-lam dari “buronan” menjadi “tokoh terhormat” yang tidak perlu diuber-uber lagi.

Bahkan usaha dagangnya bisa berkembang pesat di Lam-koan yang strategis itu. Tetapi Nyo In-hwe belum menyebutkan Pek-lian-hwe secara terang-terangan, ia baru menyebutnya “teman-temanku”. Kui Tek-lam pura-pura tertarik dan mencatat semua yang penting dalam benaknya.

Dua jam kemudian, Kui Tek-lam berpamitan pulang ke penginapannya. Sebagaimana datangnya, perginya pun Kui Tek-lam diantar dengan joli. Malam harinya Nyo In-hwe menghadap atasannya dalam organisasi rahasianya, melaporkan pembicaraannya dengan Kui Tek-lam.

“Orang itu ternyata belum mau bicara tentang apa yang telah dilakukannya sehingga diuber-uber anjing-anjing Kaisar. Rupanya nalurinya benar-benar naluri orang-orang dari Jalan Hitam, yang selalu kuatir kalau barang rampokannya dirampok oleh pihak lain lagi.”

“Hem, lalu?”

“Terpaksa aku lempar umpan yang lebih merangsang. Meski aku tidak menyebut terang-terangan nama Pek-lian-hwe kita, tetapi aku mencoba mengiming-iming dia dengan kehidupan yang tenteram di bawah payung organisasi rahasia kita. Bahkan aku cobakan isyarat rahasia 'muka pucat hati merah menyala' kita, dia katanya pernah melihat isyarat itu tetapi tidak tahu dari pihak mana, dan tidak tahu menjawabnya. Kelihatannya dia menjawab dengan sesungguhnya.”

“Lalu?”

“Dia kelihatannya memperhatikan ajakanku, tetapi belum mengambil kepastian. Mungkin belum yakin apakah kekuatan organisasi kita benar-benar bisa melindunginya, sehingga juga belum berani mempertaruhkan harta rampokannya.”

Orang atasan Nyo In-hwe dalam organisasi rahasia itu pun tertawa, “Saudara Nyo, sekarang aku tugaskan kau untuk menarik dia masuk ke organisasi kita.”

“Lho, kemarin Tuan bilang.”

“Kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang. Kemarin aku belum tahu dia punya apa yang berharga untuk kita, tetapi sekarang kita sudah tahu dan aku rasa menguntungkan kalau dia masuk organisasi kita.”

“Lho, jadi....”

“Ya, hari ini aku sudah terima laporan dari orang-orangku yang kusuruh mencuri dengar dari pembicaraan anjing-anjing Kaisar itu. Ternyata yang dicolong si orang she Kui ini memang tidak tanggung-tanggung, yaitu lima ribu pucuk senjata api yang dibeli pemerintah kerajaan. Senjata-senjata itu dilabuhkan di bandar Hang-ciu, namun orang she Kui itu bekerja sama dengan orang dalam dan berhasil menggondol kabur lima ribu pucuk senapan, si orang dalam itu sudah tertangkap dan sekarang sudah jadi setan tak berkepala.”

“Lima ribu pucuk? Astaga, sama dengan yang kita kumpulkan bertahun-tahun. Pantas anjing-anjing Manchu kelabakan senjata-senjata itu lepas dari tangan mereka. Ini bisa mempersenjatai sebuah pasukan besar.”

“Ya, dan ada kelebihan satu lagi.”

“Apa?”

“Senjata-senjata api ini modelnya lebih baru dari kepunyaan kita. Pertama, lebih pendek sehingga dapat dioperasikan satu orang saja. Kedua, yang ini mesiunya maupun pelurunya diisikan dari belakang, bukan dari moncong laras. Jadi sudah model yang terbaru.”

“Orang-orang Portugis di Makao sudah memilikinya sejak bertahun-tahun yang lalu.”

“Ya, tetapi mereka tidak mau menjualnya kepada kita, juga kepada Pemerintah Manchu, takut kalau membahayakan mereka sendiri. Karena itulah bangsat-bangsat Manchu itu membelinya bukan dari Portugis, tetapi dari bangsa kulit putih lain yang menjadi musuh Portugis. Bangsa kulit putih yang sekarang menguasai kepulauan rempah-rempah di selatan.”

“Hebat, Tuan sudah tahu semuanya.”

“Cuma belum tahu tempatnya menyembunyikan senjata-senjata itu. Anjing-anjing Kaisar itu pun belum tahu tempatnya, dan itulah yang membuat mereka begitu bernjafsu menangkap Kui Tek-lam. Tetapi kita harus mendapat Kui Tek-lam lebih dulu, dialah petunjuk ke arah simpanan senjata itu!”

“Aku mulai mengerti. Kita tarik dia ke organisasi kita, agar dia mau memberi tahu kita.”

“Ya, tawarkan kepadanya keamanan, masa depan yang bagus, pokoknya apa saja. Bahkan yang tidak kita punyai pun tawarkan kepadanya.”

“Lho, tidak dipunyai kok ditawarkan.”

“Ya. Kalau sudah masuk organisasi kita, kan lebih gampang mengatur dia? Segala tawaran dan janji kita, tidak wajib kita memenuhinya, bukan?”

“Baik.”

“Lakukan secepatnya.”

“Harus hati-hati, jangan sampai dia curiga. Dia kelihatannya curiga kepada siapa pun. Maklum, buronan.”

“Gunakan So-hun-liam (mantera pengikat sukma) yang pernah kuajarkan kepadamu.”

“Baik. Boleh juga aku tahu perkembangan tentang... keluarga Ma?”

“Ah, semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana kita. Memang semula si gembrot Ma Liang-beng kepingin macam-macam, tetapi peringatan kecil yang kita kirimkan membuatnya tidak berani macam-macam lagi.”


Ketika Kui Tek-lam masuk ke kamar penginapannya, ia terkejut melihat seseorang sudah berada di tempat tidurnya tanpa melepas sepatunya yang butut. Namun kejutnya segera hilang setelah melihat yang ada di tempat tidur itu adalah Lo Lam-hong, rekannya, si tukang perahu gadungan.

“Saudara Lo...” desis Kui Tek-lam, tetapi kata-kata berikutnya dia tahan lebih dulu. Dengan gerakan bagai kilat, dia membuka jendela dan menjenguk keluar. Dengan gerakan secepat itu, Kui Tek-lam yakin, kalau ada orang yang menguping di luar, tentu takkan bisa menghindarkan diri. Tampaknya Kui Tek-lam teringat pengalamannya dengan Si Muka Tikus.

Sedangkan Lo Lam-hong tenang-tenang saja berkata, “Tenanglah, Saudara Kui, tidak ada yang mengawasi kita. Memang, kemarin ada Si Muka Tikus yang membayangimu, dan hari ini orang yang membayangimu sudah diganti dengan seorang yang menyamar sebagai ahli nujum tunanetra di seberang penginapan ini. Tadi ketika kau pergi dan kembali dari rumah Nyo In-hwe, aku menggunakan kesempatan untuk masuk ke kamarmu dan menunggumu di sini.”

Kui Tek-lam sendiri malah belum tahu bagaimana tampang “pengawas”nya setelah Si Muka Tikus digebah ketakutan-ternyata malahan Lo Lam-hong yang memberitahu. Kui Tek-lam merasa lega juga, itu suatu bukti kalau dirinya tidak dibiarkan saja menyelonong masuk ke mulut musuh sebagai umpan, tetapi ada “tali” yang mengikatnya. Bukan umpan sembarang umpan, tetapi umpan di ujun tali yang setiap saat bisa ditarik atau diselamatkan dari caplokan musuhnya.

“Apa yang ingin kau katakan, Saudara Lo?”

“Hanya sedikit. Teman-teman kita telah sengaja membocorkan keterangan palsu ke pihak musuh, keterangan palsu, yang menyebutkan bahwa kau mencuri lima ribu pucuk senjata api dari pelabuhan Hang-ciu dengan kerjarsama dengan orang dalam, dan orang dalam itu sudah ketahuan dan dipenggal kepalanya. Lima ribu pucuk senjata itu dibeli oleh pemerintah kerajaan dari bangsa kulit putih yang menguasai kepulauan rempah-rempah di selatan, bangsa kulit putih saingan Portugis. Begitu yang kami sengaja bocorkan ke kuping lawan. Keteranganmu kepada Nyo In-hwe harus cocok dengan keterangan palsu yang sampai ke kuping musuh. Kau belum memberi keterangan lain yang tidak cocok dengan yang ini kan?”

“Belum, karena belum ada rinciannya. Takut tidak cocok.”

“Bagus, sekarang kau sudah punya rinciannya dan katakanlah seperti itu. Oh, kau sudah berhasil menjadi anggota Pek-lian-hwe?”

“Belum. Mereka tentu tidak gegabah menarik sembarangan orang yang baru dikenal sebagai anggota mereka. Tetapi kalau pendekatan yang menyerempet-nyerempet soal itu, Nyo In-hwe sudah menampakkannya.” Secara singkat Kui Tek-lam menceritakan kepada Lo Lam-hong tentang pembicaraannya dengan Nyo In-hwe tadi.

“Lalu jawabanmu, Saudara Kui?”

“Terus terang saja, aku memang agak gentar untuk memasukinya begitu saja. Pertama, kuatir mereka curiga bahwa aku memang 'semilir angin' yang hendak diselundupkan ke 'peternakan kuda mereka, kalau aku cepat-cepat menerimanya. Kedua, aku tidak malu mengaku bahwa nyaliku memang bergetar, mengingat mereka adalah organisasi rahasia yang berkecimpung dalam banyak ilmu gaib yang menyeramkan, seperti membuat orang jadi gila dan sebagainya. Aku seperti akan terjun ke suatu dunia yang sangat asing bagiku.”

Istilah “semilir angin” biasa digunakan orang-orang Pek-lian-kau maupun Pek-lian-hwe untuk menyebut petugas kerajaan atau polisi. Dan istilah “peternakan kuda” adalah kode untuk organisasi mereka sendiri. Sebelum Jenderal Wan Lui menugaskan orang-orang terpilihnya, bahkan sangat terpilih, untuk membongkar kekuatan Pek-lian-hwe diwilayah selatan, ia sudah membekali orang-orangnya dengan istilah-istilah rahasia yang biasa digunakan kaum Pek-lian-kau atau Pek-lian-hwe itu.

Di antara kaum Pek-lian-kau Pak-cong (Sekte Utara), istilahnya sudah banyak yang diganti karena mereka sadar banyak kode rahasia mereka yang sudah diketahui oleh Wan Lui, sejak Wan Lui berhasil menyusup ke dalam Pek-lian-kau dan keluar kembali (Baca Kemelut Tahta Naga II).

Namun Pek-lian-kau Lam-cong (Sekte Selatan) yang lebih suka menyebut diri “hwe” (organisasi) daripada “kau” (agama) ini, belum merasakan ancaman seperti di utara, sehingga mereka masih memakai kode-kode rahasia yang lama. Ditambah dengan hubungan buruk antara Golongan Utara dan Golongan Selatan biarpun berasal dari satu sumber, Golongan Utara sengaja membiarkan Golongan Selatan “kena batunya” oleh para “semilir angin” alias agen-agen pemerintah.

Golongan Pak-cong masih dendam karena Lam-cong tidak mau membantu Pak-cong ketika dulu mengadakan kekacauan di Ibu Kota Pak-khia di jamannya Kaisar Yong-ceng almarhum (Kemelut Tahta Naga I). Dengan demikian, soal istilah tidak jadi masalah besar buat agen-agen kerajaan yang disuruh oleh Jenderal Wan Lui itu.

Namun Lo Lam-hong mengerti bahwa rekannya sekarang menghadapi masalah baru. Dan ia bersyukur rekannya itu berterus terang menyebut masalahnya ketakutan menghadapi sesuatu yang asing, apalagi berbau gaib. Lo Lam-hong tahu benar rekannya ini bernyali besar, benar-benar pemberani dan bukannya diberani-beranikan. Kadang-kadang sampai rekan-rekannya sendiri pun cemas melihat tindakannya yang terlalu nekad.

Lo Lam-hong juga cemas, karena pada awal kedatangan Kui Tek-lam di Lam-koan, rekannya ini sudah menunjukkan sikap memandang remeh Pek- lian-hwe, menganggap ilmu gaib Pek-lian-hwe sudah tidak sehebat Pek-lian-kau golongan Pak-cong, dan sebagainya. Lo Lam-hong menguatirkan rekannya itu kena batunya dan mengalami bencana, misalnya sakit ingatan tak tersembuhkan.

Kini mendengar rekannya terang-terangan menyatakan kekuatirannya, Lo Lam- hong malahan lega, dia berharap rekannya ini jadi akan lebih berhati-hati. Tetapi dia pun sadar, saat itu Kui Tek-lam tidak butuh dituduh atau disalah- salahkan, melainkan diteguhkan kembali hatinya. Dan memang itulah yang dilakukan Lo Lam-hong.

“Saudara Kui, kemisteriusan Pek-lian-hwe memang akan menjadi bencana bagi orang yang gegabah, tetapi kalau kita bersikap lebih hati-hati dan tidak memandang rendah mereka, kita akan selamat. Yang penting adalah keteguhan pikiran. Ketidak- teguhan hati adalah makanan empuk buat ilmu-ilmu gaib.”

Kui Tek-lam mengangguk-angguk, “Terima kasih, Saudara Lo. Kalau Nyo In-hwe menawari aku sekali lagi, aku akan menerimanya.”

“Teguhkan hatimu, Saudara Kui. Dengan memasuki Pek-lian-hwe tidak berarti kau putus hubungan dengan kami. Kita akan tetap berhubungan.”

Kui Tek-lam mengangguk-anggik. Sementara Lo Lam-hong punya rencana sendiri dalam hatinya. Tiba-tiba di samping rumah penginapan itu terdengar suara ketokan bambu yang biasa dibawa tukang-tukang mi-pangsit. Lo Lam-hong pun segera pergi, keluar lewat jendela dan melompat tembok dan lenyaplah di kegelapan malam. Kui Tek-lam menutup jendelanya, memadamkan lilin dan berbaring menenteramkan hati, membulatkan tekad.


Beberapa hari kemudian, Kui Tek-lam “bentrok” dengan “anjing-anjing Kaisar” di rumah judi Hong-kui kepunyaan Nyo In-hwe. Bentrokan itu membuat Kui Tek-lam dengan mimik ketakutan menemui Nyo In-hwe di rumahnya, minta perlindungan. Tentu saja Nyo In-hwe menerimanya karena memang inilah yang diharapkannya.

“Saudara Kui, diamlah di sini sampai keadaan di luar sudah aman. Senangkan dirimu di sini. Nanti biar kusuruh orang-orangku mengambil barang-barangmu yang ketinggalan di penginapan.”

Kui Tek-lam pura-pura mengepalkan tinju dengan gusar. “Keterlaluan anjing-anjing Kaisar itu, tidak bosan-bosannya mereka mengintai setiap langkahku.”

“Tenanglah, Saudara Kui. Kau aman tinggal di sini.”

“Tetapi, Kakak Nyo, tidakkah ketenteraman keluargamu bakal terguncang kalau anjing-anjing Kaisar yang rakus itu mencium jejakku bersembunyi di sini?”

“Semuanya gampang dibereskan, Saudara Kui. Kami berpengalaman membereskan anjing-anjing yang lebih galak dari tiga ekor yang sedang memburumu itu, Saudara Kui.”

“Bagaimana Kakak akan membereskan mereka?”

“Dengan cara baik-baik dulu, kalau berhasil ya syukur, kalau tidak berhasil ya pakai cara lain yang lebih menyakitkan.”

Kui Tek-lam lega. Bagaimanapun ia tidak ingin rekan-rekannya yang berperanan sebagai pemburu buronan itu celaka, dan mereka pasti akan menerima “cara baik-baik” yang disusulkan pihak Pek-lian-hwe dan akan mengantongi banyak uang malah. Meskipun mereka akan tetap di Lam-koan, sampai tugas menemukan gudang senjata kaum Teratai Putih ini ketemu.

Malam harinya, Nyo In-hwe mengadakan perjamuan khusus buat Kui Tek-lam, dan baru malam itulah Kui Tek-lam melihat seluruh keluarga Nyo In-hwe. Isteri Nyo In-hwe berusia sekitar tiga puluh lima tahun dan nampak terpelajar, begitu pula kedua anaknya yang masing-masing berusia lima belas dan delapan tahun.

Menurut Nyo In-hwe sendiri, anak-anaknya itu dipanggilkan guru sastra, masih ditambah guru berkebangsaan Portugis yang datang dari Makao sebulan dua kali lewat sungai, untuk belajar membaca dan menulis Latin bersama anak-anak hartawan-hartawan Lam-koan lainnya.

Melihat keluarga yang nampak begitu ideal, Kui Tek-lam membatin, “Kalau Nyo In-hwe tidak mengaku sendiri, sulit menduga keluarga macam ini kepala keluarganya adalah bekas tokoh golongan hitam. Hem....”

Kui Tek-lam pun bersikap manis, ketika kedua anak perempuan Nyo In-hwe memberinya hormat dan memanggilnya “Paman Kui”. Sementara dalam hatinya Kui Tek-lam membatin, “Sinar mata kedua anak ini begitu jernih, mereka tidak tahu menahu dengan perbuatan busuk bapaknya. Suatu kali bila kejahatan Pek-lian-hwe ditumpas, anak-anak manis ini tidak boleh mengalami hal-hal yang buruk, secara lahir maupun batin.”

Demikianlah, belum-belum Kui Tek-lam sudah mendapat “beban” dalam hati. Ketika hari mulai malam, Nyo ln-hwe mengajak Kui Tek-lam ke ruangan perpustakaan untuk berbicara empat mata. Ruangan perpustakaan yang jarang dimasuki karena buku-buku di situ yang diatur model barat juga hanya untuk pajangan, sekedar untuk gengsi atau mode. Bahkan ada buku-buku bahasa asing juga, dengan huruf-huruf latin.

Di ruangan itu, Nyo In-hwe bertanya, “Saudara Kui, apakah niatmu untuk bergabung dengan kami itu sudah tetap?”

Kui Tek-lam menjawab, “Aku belum tahu nama organisasi rahasia yang Kakak ikuti, tetapi aku sudah pikirkan selama beberapa hari, bagaimanapun juga lebih baik kalau aku punya teman-teman di bawah suatu payung organisasi yang kuat, daripada sendirian diuber-uber seperti kelinci di padang belantara.”

“Keputusan yang bijaksana, Saudara Kui. Jadi Saudara belum tahu apa nama organisasi yang Saudara masuki ini?”

“Belum...” Kui Tek-lam berbohong dengan gaya amat meyakinkan.

“Baiklah, karena Saudara Kui sudah memutus- kan untuk bergabung, Saudara harus mengetahuinya. Kami ini sebenarnya bukan organisasi rahasia biasa, sekedar persamaan kepentingan saja, bukan seperti itu. Di antara kami ada ikatan sumpah mati hidup karena persamaan kepercayaan, suatu kepercayaan kuno dari negeri Persia. Apa kira-kira Saudara Kui sudah mendapat gambaran?”

Kalau berlagak tidak tahunya keterlaluan, tentu akan janggal juga. Mengakunya buronan hebat kok tidak tahu apa-apa, maka Kui Tek-lam pura-pura menebak namun sengaja dikelirukan sedikit, “Dulu waktu aku masih malang-melintang di utara, aku dengar tentang suatu agama rahasia yang disebut Tiau-yang-kau (Agama Penyembah Api), apakah....”

“Hampir tepat. Kepercayaan yang kami anut adalah cabang dari Tiau-yang-kau, namanya Pek-lian-kau.”

Kui Tek-lam harus pura-pura kaget, “Ah, agama yang dibenci oleh anjing-anjing Manchu?”

“Betul.”

Kui Tek-lam menarik napas, “Sudah sering aku mendengar, dan diam-diam aku mengagumi keberanian orang-orang Pek-lian-kau. Belum pernah ada kelompok agama ataupun organisasi rahasia mana pun yang bernyali besar berani membuat kekacauan besar di Ibu Kota Pak-khia, dan menculik Putera Mahkota Hong-lik yang sekarang bertahta dengan nama Kaisar Kian-liong. Bahkan di buku sejarah juga tercantum jasa Pek-lian-kau mengusir penjajahan Mongol dan mendirikan dinasti Beng. Bukankah raja dinasti Beng yang pertama, Kaisar Hong-bu, juga adalah seorang bekas hulu-balang Pek-lian-kau?”

Kui Tek-lam bersikap demikian menggebu-gebu dan antusias, sehingga mengesankan Nyo In-hwe. Kata Nyo ln-hwe kemudian, “Nah, Saudara Kui, bagaimana setelah kautahu bahwa kami ini musuh pemerintah Manchu? Takut?”

Kui Tek-lam menjawab dengan gagah, “Bergabung atau tidak bergabung dengan Pek-lian-kau (sengaja Kui Tek-lam salah sebut “kau” dan bukan “hwe”) toh aku sendiri juga musuhnya para anjing Kaisar itu. Lebih baik bergabung.”

Nyo In-hwe mengangguk puas. “Kalau Saudara sanggup, akulah yang akan menjadi penanggungrnu, sebab setiap anggota baru haruslah ada penanggungnya seorang anggota lama yang terpercaya.”

“Terima kasih, Kakak Nyo! Mimpi pun belum pernah bahwa aku akan menjadi anggota organisasi para pecinta tanah air yang terhormat ini, yang membuat kaisar-kaisar Manchu dari Sun-ti, Khong-hi, Yong-ceng sampai Kian-liong tidak nyenyak tidurnya.”

“Simpan dulu kegembiraanmu, Saudara Kui, aku akan sedikit meluruskan pengertianmu tentang organisasi yang bakal kau masuki ini. Memang antara kami dan... teman-teman kami di utara itu satu sumber, tetapi harap Saudara ketahui bahwa sudah ratusan tahun antara Utara dan Selatan mengambil jalan sendiri-sendiri.”

Dan panjang lebar Nyo In-hwe menjelaskan tentang perbedaan Pak-cong dan Lam-cong, yang sebenarnya sudah diketahui Kui Tek-lam. Toh Kui Tek- lam berlagak memperhatikannya benar-benar dan terus mengangguk-angguk.

“....nah, itulah kami, Saudara Kui.” Nyo ln-hwe menutup penjelasannya.

“Tidak jadi masalah buatku, Kakak Nyo. Mungkin motifku masuk Pek-lian-hwe agak rendah, agak diwarnai kepentingan pribadi, tidak semulia motif kalian yang berusaha mengenyahkan Manchu dari bumi Tiong-goan, tetapi ketahuilah, aku benar-benar gembira bisa bergabung. Semua ini karena jasa-jasa Kakak Nyo.”

“Untuk itu, Saudara Kui, kau harus menyatakan sumpah setiamu kepada Ratu Langit, ibunda dari sesembahan kami Dewa Api Ahusta. Dalam suatu upacara yang benar-benar suci.”

“Tidak jadi soal, Kakak Nyo. Aku memang tidak punya agama, agama apa pun sama saja.”

“Tidak sama!” suara Nyo In-hwe tiba-tiba meninggi, mengejutkan Kui Tek-lam. “Agama kami jauh lebih unggul dari agama-agama cengeng lainnya yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang! Agama kita mengajarkan keberanian berkorban dan mengorbankan apa saja, dengan demikian roh kami kelak bisa diterima di pangkuan Bu-seng Lo-bo (Ibu Abadi Tanpa Asal-usul)!”

Kui Tek-lam memang agak kaget melihat sikap Nyo In-hwe, tidak menduga kalau Pek-lian-hwe di selatan yang konon sudah “duniawi” itu masih juga punya pengikut macam Nyo In-hwe yang begitu fanatik memegang keyakinannya dan tidak mau kalau keyakinannya disejajarkan dengan agama-agama lain.

“Maafkan kata-kataku, Kakak Nyo, aku harus belajar agama lebih lanjut dari Kakak.”

“Tidak apa-apa, asal diingat saja satu hal. Yakini dan teguhkan ajaran Pek-lian-kau di jiwamu, yang bisa disingkat hanya dalam sepatah kalimat, berani mengorbankan diri sendiri maupun orang lain demi Ratu Langit dan anak laki-lakinya, Dewa Ahusta! Mengerti? Tanpa tekad seperti itu, mustahil kita bisa mengusir Manchu dari bumi Tiong-goan.”

“Mengerti, Kak.”

“Tanggal lima belas nanti, kebetulan ada upacara penerimaan anggota baru. Tahun ini, hanya ada sepuluh calon anggota baru, karena ketatnya penyaringan. Bersyukurlah, kau akan berkesempatan mengabdi kepada Ratu Langit dan Dewa Ahusta.”

“Aku mengerti, Kak.”

“Nah, kau sebagai salah satu calon anggota, harus jujur kepada kami.”

“Tentu saja, Kak.”

“Nah, ceritakan persoalannya sampai kau diuber-uber anjing-anjing Kaisar itu!”

Kui Tek-lam pura-pura menarik napas, “Kalau dipikir-pikir, aku memang kurang perhitungan. Mengincar sesuatu yang tadinya kusangka menguntungkan, tak terduga malah membuat aku jadi buronan tanpa sempat menikmati jerih-payahku.”

Lalu berceritalah dia tentang “mencuri lima ribu pucuk senjata api pesanan pemerintah Manchu” itu. Tepat seperti yang “dibocorkan” kawan-kawan Kui Tek-lam ke kuping tokoh-tokoh Pek-lian-hwe.

Nyo In-hwe pun mengangguk-angguk puas. Cerita Kui Tek-lam cocok sampai hal yang sekecil-kecilnya yang sudah didengarnya dari atasannya dalam Pek-lian-hwe, dan atasan Nyo In-hwe itu mendengarnya dari mata-mata yang mencuri dengar pembicaraan antara “anjing-anjing Kaisar”.

Tanpa mata-mata itu menyadari bahwa para “anjing Kaisar” itu sebenarnya tahu kalau sedang disadap dan mereka pun bocorkan keterangan palsu yang akan memperlancar Kui Tek-lam menyelundup ke dalam organisasi rahasia Pek-lian-hwe.

Kemudian mulailah Nyo In-hwe mengajarkan tata-cara upacara tanggal lima belas kelak. Kui Tek-lam mendengarkan namun sambil menjaga hatinya sendiri agar tidak percaya. Ia masih ingat pesan Lo Lam-hong, ketidak-teguhan hati akan jadi makanan empuk buat ilmu-ilmu gaib. Selama Nyo In-hwe berbicara, dalam hatinya Kui Tek-lam berkata, “Omong kosong segala tahyul ini.”


Hari itu tiba. Kui Tek-lam agak berdebar-debar juga. Namun ia berharap hari ini setidaknya dia akan mendapati dua hal : pertama, tempat yang digunakan untuk upacara penting itu. Ke dua, ia akan melihat wajah-wajah dari tokoh-tokoh Pek-lian-hwe di kota Lam-koan, wajah-wajah yang sehari-harinya berkedok sebagai tokoh-tokoh terhormat masyarakat Lam-koan namun sebenarnya penga-nut-penganut kepercayaan keji yang tidak segan-segan mengorbankan manusia.

Kui Tek-lam akan berangkat dari rumah Nyo In-hwe. Ia sudah melihat Nyo In-hwe mengenakan dandanan yang agak istimewa. Dandanan seorang panglima perang model kuno, dan membawa sebuah bungkusan besar dari kain hitam, entah apa isinya. Diam-diam Kui Tek-lam membatin.

“Kalau dia jalan di tempat ramai dengan pakaian seperti itu, pastilah dikira anak wayang yang hendak pentas di panggung.”

Tetapi Nyo In-hwe berangkat lebih dulu, dengan joli tertutup. Kemudian Kui Tek-lam juga diangkut dengan joli tertutup. Ternyata ada sebuah peraturan keparat yang membuat Kui Tek-lam kecewa bukan main, sebab peraturan itu memusnahkan harapan Kui Tek-lam untuk mengetahui tempat upacara itu berlangsung. Soalnya, Kui Tek-lam diharuskan memakai penutup mata dari kain' tebal berwarna hitam, masih ditambah dikerudungi lagi dengan kantong kain hitam yang sama tebalnya dengan penutup mata.

Dengan demikian, sepanjang perjalanan Kui Tek-lam cuma bisa merasakan goyangan jolinya dan suara langkah para pemikul tandu, tetapi tidak tahu dibawa ke mana. Sebentar naik, sebentar turun, belok kanan, belok kiri, belok kanan lagi.

“Bukan mustahil memang sengaja diputar-putar dulu supaya aku bingung...” geram Kui Tek-lam dalam hati.

Tetapi akhirnya berhenti juga setelah perjalanan lebih kurang setengah jam. Seseorang menyingkap tirai tandu dan berkata, “Kuda Kui Tek- lam, sudah tiba di peternakan kuda.”

“Kuda?” gerutu Kui Tek-lam dalam hati. “Kurang ajar. Aku dianggap kuda.”

Tetapi dia pun mendengar di kanan-kirinya para “kuda” dipanggil, jadi agaknya memang itu istilah untuk calon-calon anggota baru. Disesuaikan dengan sebutan “peternakan kuda” untuk organisasi dan “penggiring kuda” untuk anggota lama yang bertugas mencari anggota baru.

“Para kuda boleh melepas tutup mata.”

Kui Tek-lam lah yang paling cepat melepas tutup matanya sebab ingin cepat-cepat melihat tempat apa itu dan bagaimana tampang orang-orangnya. Dan ia melihat suatu halaman luas berbentuk bujur sangkar, temboknya tinggi. Ada pintu besar yang terbuka di satu sisi, dan sebuah pintu lain yang tertutup di sisi yang berseberangan. Saat itu matahari tepat di atas langit dan Kui Tek-lam tidak tahu mana timur mana barat, mana utara mana selatan.

Kemudian Kui Tek-lam memperhatikan orang- orangnya. Ada lebih kurang lima puluh orang di situ, semuanya memakai seragam tentara model dinasti Beng lengkap dengan topi besinya. Mereka berjajar tegap di bawah kaki tembok, ada yang memegang senjata api. Tetapi jangan harap mengenali wajah mereka, sebab semuanya mencat wajahnya dengan warna-warna hitam, putih, merah dan biru dengan berbagai corak, bahkan akan sulit ditebak laki-laki atau perempuan.

Selain itu, Kui Tek-lam melihat dua orang lelaki, umur tiga puluh tahun yang juga sedang celingukan sambil memegangi kain hitam bekas penutup mata. Agaknya mereka juga “kuda-kuda baru” seperti Kui Tek-lam. Merasa ada teman, Kui Tek-lam melangkah mendekati dengan wajah ramah, siap berbincang-bincang atau saling memperkenalkan diri, dan kedua orang itu pun siap menyambutnya.

Tetapi langkah Kui Tek-lam terhenti ketika seorang perwira yang wajahnya digambar seperti wajah Sun Go-kong Si Kera Putih Sakti membentak keras, “Sesama kuda dilarang saling bicara satu sama lain! Harap tata tertib ditaati, atau bakal terkutuk tiga puluh enam keturunan!”

Kui Tek-lam dan kedua “kuda baru” lainnya terdiam. Terpaksa mereka hanya berdiri, tak tahu harus berbuat apa, entah sampai kapan. Orang sebanyak itu di tempat itu, ternyata tak satu pun buka mulut. Suasananya memang jadi mencekam, tetapi Kui Tek-lam berusaha untuk tidak terpengaruh suasana itu.

Pikirnya, “Hem, Pek-lian-hwe, kalian boleh bikin orang takut dengan permainan yang kekanak-kanakan ini. Tetapi kami, prajurit- prajurit sandi terbaik yang langsung di bawah perintah Baginda Kian-liong, takkan mudah rontok nyali kami di dalam suasana seperti ini.”

Kemudian dari pintu gerbang yang terbuka, berdatanganlah para “kuda” yang lain, semuanya naik tandu, semuanya ditutup matanya, dan Kui Tek-lam yakin pasti mereka juga sudah diajak “putar-putar kota” dulu seperti dirinya. Dan dilihat dari pakaian mereka, nampak kalau mereka dari berbagai kalangan, ada orang kaya, ada pengemis, ada yang usianya baru dua puluh tahunan, ada yang sudah di atas lima puluh, ada yang kelihatannya bisa silat dan ada yang nampaknya tidak mampu bersilat sama sekali.

Tetapi kalau orang yang sudah tersaring masuk Pek-lian-hwe, teranglah mereka “punya sesuatu” yang bakal menguntungkan Pek-lian-hwe. Mungkin di antara para “kuda” itu ada seorang yang pandai berdagang, atau punya kedudukan strategis di pemerintahan, atau yang lainnya lagi.

Yang mencengangkan Kui Tek-lam adalah ketika melihat di antara salah satu “kuda” itu ternyata adalah... Lo Lam-hong. Ketika turun dari tandu dan membuka tutup matanya dan melihat Kui Tek-lam, Lo Lam-hong mengedipkan satu matanya.

Karena adanya peraturan tidak boleh bicara, Kui Tek-lam hanya menyatakan rasa terima kasihnya kepada sahabatnya itu hanya dengan sorot matanya. Hatinya bertambah lega, setidak-tidaknya ia tidak sendirian lagi di tengah-tengah sarang para pemuja Dewa Api ini.

Seorang perajurit berwajah coreng-moreng mengabsen para “kuda” yang sudah hadir. Semuanya sepuluh orang dan sudah lengkap. Lalu ia memberi isyarat agar pintu gerbang tempat masuknya para “kuda” tadi ditutup dan dipalang dari dalam.

Kini yang terbuka adalah pintu yang diseberangnya. Muncul sepuluh orang berwajah coreng-moreng pula, namun tidak berseragam prajurit dinasti Beng. Masing-masing membawa nampan yang di atasnya ada seperangkat pakaian terlipat.

“Para kuda mengenakan pakaian upacara!” teriak si “perwira” berwajah kera Sun Go-kong.

Kui Tek-lam dan sembilan orang lainnya pun mencopot pakaian mereka, bukan di tempat tertutup melainkan di tengah-tengah halaman itu juga. Mula-mula Kui Tek-lam menyangka, cukup kalau pakaian luarnya saja yang dicopot dan pakaian dalamnya tidak usah. Ternyata peraturannya tidak begitu.

Gertak Si Perwira berwajah Sun Go-kong, “Harus telanjang bulat dan mengenakan pakaian upacara! Kalian dianggap mati dan hidup lagi hanya untuk mengabdi Ratu Langit dan Dewa Ahusta!”

Keruan Kui Tek-lam dan beberapa orang “kuda” yang terpelajar lainnya jadi kelihatan kikuk. Tetapi Lo Lam-hong memberi contoh rekannya, tanpa ragu-ragu mencopot seluruh pakaiannya dan cepat-cepat mengenakan pakaian upacaranya. Kui Tek-lam pun dengan serba canggung dan tergesa-gesa mengikuti jejak rekannya itu, saking gugupnya sampai ia hampir terbalik mengenakan celana upacaranya.

Katanya dalam hati, “Untunglah... kami bersebelas semuanya sesama lelaki, jadi dapat mengurangi rasa sungkan... tetapi... di antara prajurit- prajurit lenong itu, siapa tahu ada juga perempuannya? Dengan muka dicoreng-moreng begitu, lelaki atau perempuan susah dibedakan.”

Toh dengan gerak serba canggung, akhirnya Kui Tek-lam berhasil mengenakan pakaian upacara itu, selesainya berpakaian hampir bersamaan dengan “kuda-kuda” lain. Pakaian upacara itu ternyata hanyalah sepotong celana belacu putih yang buatannya asal-asalan, seperti yang biasa dipakai dalam keluarga yang sedang berkabung.

Dan sehelai baju yang dari belacu putih juga, namun dengan pundak kanan serta lengan kanan terbuka. Ditambah dengan kain merah untuk mengikat kepala, sepatu jerami menggantikan sepatu-sepatu para “kuda”. Masih ada satu peraturan lagi, yaitu pipa celana sebelah kiri harus digulung naik sampai ke lutut, sehingga celananya jadi panjang pendek.

“Aneh-aneh saja.” gerutu Kui Tek-lam dalam hati.

Si Perwira berwajah Sun Go-kong berteriak pula, “Berbaris satu-satu, siap-siap memasuki Kota Bunga Persik!”

Kota Bunga Persik adalah tempat tiga pahlawan legendaris sejarah kuno, Lau Pi, Kuan Kong dan Thio Hui mengangkat saudara. Sudah tentu sekarang di Lam-koan ini yang dimaksud Kota Bunga Persik hanyalah kiasan, mungkin ingin mengisyaratkan betapa memasuki Pek-lian-hwe sebagai anggota sama bobotnya dengan sumpah angkat saudara ketiga tokoh sejarah itu.

Para “kuda” pun berbaris satu-satu. Kebetulan Lo Lam-hong ada di belakang Kui Tek-lam, sehingga sempat membisiki rekannya, “Ingat. Jangan gentar, tetapi juga jangan memandang remeh. Lakukan semuanya seolah-olah bersungguh-sungguh.”

Untuk mengurangi ketegangannya, Kui Tek-lam coba berkelakar. Ia menjawab dengan berbisik pula, tanpa menoleh, “Terima kasih, Kuda Lo Lam-hong.”

“Jangan main-main.”

Matahari sudah miring dan tidak lagi di tengah-tengah langit, dengan demikian Kui Tek-lam mulai dapat menentukan kiblat. Tadi ia masuk dari arah timur, dan sekarang ia akan memasuki “Kota Bunga Persik” dari arah timur pula.

Pintu gerbang yang tertutup sejak tadi, kini pintunya dipentang lebar. Si Perwira berwajah kera sakti Sun Go-kong memimpin para “kuda” memasuki pintu gerbang “Kota Bunga Persik” itu, dari dalam “kota” terdengar suara gong dan tambur ditabuh lambat-lambat, berusaha menimbulkan suasana magis.

Di belakang pintu yang baru saja dibuka, ternyata ada tembok tinggi yang berfungsi sebagai sekesel, penghalang pandangan dari luar, tembok itu dilukis indah dan didominasi gambar teratai putih dan api yang menyala garang. Iring-iringan “kuda” dipimpin membelok ke sebelah kanan agar tidak menabrak tembok. Mereka melalui sebuah lorong yang dindingnya berlukis seribu satu dewa, siluman atau mahluk-mahluk gaib pujaan Pek-lian-kau, yang semuanya tidak dikenal dalam legenda pribumi.

Mereka sampai ke depan sebuah meja besar, meja pendaftaran. Petugas di belakang meja pendaftaran itu berdandan seperti salah satu bintang setan, dengan wajah tertutup topeng seram. Yang dimaksud pendaftaran bukan dalam arti untuk memperkenalkan diri secara nyata, sebab hal itu sudah diketahui sebelum para “kuda” itu mendaftar. Pendaftaran di sini hanya bermakna simbolis. Pertanyaannya sudah ditentukan dan jawabannya sudah ditentukan pula.

“Kuda” yang paling depan ditanya oleh petugas pendaftaran, “Siapa kau?”

Si “kuda” menjawab dengan sikap khidmat, “Aku tidak punya masa lalu, yatim-piatu, tak punya orang tua, adik, kakak. Aku mohon kau menjadi saudaraku.”

“Kenapa?”

“Siapa memasuki Gerbang Merah, masa lalunya terbakar habis api suci.”

Orang itu pun diijinkan lewat dan memasuki sebuah ruangan lain di sebelah meja pendaftaran. Lalu “kuda” berikutnya dalam antrian itu ditanyai pertanyaan yang sama dan menjawab hal yang sama. Tidak peduli seseorang masih punya keluarga belasan orang jumlahnya, dia tetap harus menjawab seperti itu.

Dia berubah jadi sebatang kara begitu melewati “Gerbang Merah”. Ini adalah persiapan batin untuk menelan mentah-mentah dan tunduk tanpa syarat kepada ajaran inti Pek-lian-kau, sanggup berkorban maupun mengorbankan orang lain, biarpun keluarga dekatnya sendiri.

Kui Tek-lam yang antriannya agak di belakang, diam-diam gusar juga mendengar tanya jawab macam itu. Inilah penjungkir-balikan tradisi leluhur yang harus memuliakan orang tua dan keluarga. Di sini malahan keluarga dan orang tua dianggap sudah tidak ada karena “hangus” oleh “api suci” segala. Namun Kui Tek-lam tetap menahan diri. Dia pun siap mengucapkan kata-kata yang sama, meski menolak dalam hatinya.

Waktu tiba giliran Kui Tek-lam, dia pun ditanyai, dan menjawab menurut aturan. Kui Tek-lam pikir tidak apa-apa berbohong, pokoknya dia berhasil menyelundup Pek-lian-hwe dan menghancurkan organisasi ini dari dalam, begitu tekadnya. “Toh cuma omongan.” pikirnya.

Tak terduga, setelah la mengucapkan yang dianggapnya “cuma omongan” itu, ia merasa ada angin dingin yang meniup tengkuknya, hanya sedetik, kemudian ada rasa tidak enak dalam hatinya. Entah kenapa. Setelah melewati meja pendaftaran.

Kui Tek-lam bersama “kuda-kuda” terdahulu berada di sebuah ruangan tertutup, menunggu sampai yang lain juga selesai melewati tahap pertama upacara penerimaan anggota baru Itu. Selama itu, suara gong dan tambur di luar masih terdengar terus tanpa berhenti.

Meski Nyo In-hwe sudah menceritakan garis besar jalannya upacara kepada Kui Tek-lam, namun ceritanya belum terperinci benar. Mungkin Nyo In- hwe sengaja menyembunyikan sedikit untuk menjadi “kejutan” bagi Kui Tek-lam. Nyo In-hwe menyimpan harapan agar upacara yang bersuasana magis dan sedikit seram itu bakal menghapus kalau-kalau di pikiran Kui Tek-lam ada pikiran untuk menyeleweng atau mengkhianati Pek-lian-hwe.

Setelah semua “kuda” terkumpul di ruangan itu, pintu berikutnya dibuka, dan Si Perwira berwajah Sun Go-kong memberi petunjuk dengan lagu suara seperti orang bersyair, “Jembatan golok menguji ketulusan hati. Yang hatinya menyimpan ketidak-tulusan, akan jatuh ke lautan golok dan terpotong jadi tiga puluh enam bagian, terkutuk oleh Ratu Langit!”

Salah seorang “kuda” nampak memucat wajahnya, agaknya mulai terpengaruh suasana. Di dalam antrian, ia mendapat nomor tiga. Di belakang pintu berikutnya, ada sebuah ruangan besar, tetapi seberapa besarnya sulit diperkirakan. Sebab ruangan itu penuh kabut, asap dupa dan suasananya remang-remang sekali, tidak ada jendela yang memasukkan cahaya matahari. Di seluruh ruangan itu bergema mantera bernada rendah. Dan satu meter dari lantai ada kabut tebal, sehingga orang-orang yang berjalan di lantai akan kelihatan berjalan di atas mega.

Di dekat dinding kiri dan kanan, berderet orang-orang yang berdandan dan bertopeng bermacam- macam siluman dan dewa. Merekalah yang menyuarakan mantera dari balik topeng mereka. Yang agak menyeramkan, di sebelah kiri nampak ada tiang gantungan tinggi dengan sesosok tubuh tergantung-gantung di talinya. Kui Tek-lam tahu kalau yang tergantung itu hanya orang-orangan seukuran manusia sungguhan, yaitu boneka yang didandani seperti seorang hwesio Siau-lim. Itulah lambang dari seorang pengkhianat. Toh banyak “kuda” yang mulai terpengaruh suasana.

Kui Tek-lam juga pernah mendengar dari atasannya, Jenderal Wan Lui, dalam upacara-upacara seperti ini di utara, sering ada peserta upacara yang benar-benar kesurupan oleh roh dewa atau siluman yang diperankannya. Jadi misalnya orang yang mengecat wajahnya menjadi wajah Sun Go-kong, atau memakai topengnya atau dandanannya, tiba-tiba saja bcrtingkah-laku seperti tokoh yang diperankannya dan melakukan suatu perbuatan yang sehari-harinya tidak mampu dilakukannya.

Tepat di hadapan para “kuda”, ada tangga kayu delapan belas tingkat yang nampak remang-remang dalam kabut. Di atas tangga, kelihatannya seperti ada jembatan sempit, hanya selebar telapak tangan yang menjulur ke dalam kabut dan tidak kelihatan ujungnya. Orang di antrian terdepan mulai mendaki tangga, lalu melewati tangga sempit itu. Orang kedua juga.

Orang ke tiga yang sudah gugup dan panik sejak semula, sangat ketakutan oleh kata-kata si “muka Sun Go-kong” tentang “yang menyimpan ketidak-tulusan akan jatuh ke lautan golok”, tidak dapat menghindari gilirannya. Dengan telapak tangan dingin dan basah keringat, ia mulai menaiki tangga itu, dan mulai meniti jembatan sempit itu. Kabut begitu tebal sehingga tidak kelihatan yang di depan maupun di bawah.

Karena hatinya goyah terus, ketenangan dan keseimbangannya pun terganggu. Kakinya tergelincir dan jatuh ke bawah, ke dalam kabut. Tidak panjang teriakannya, pendek, saja, dan tidak terdengar apa- apa lagi. Tak ada “kuda” yang tahu apa yang dialaminya di dalam kabut di bawah jembatan itu.

Selanjutnya,