Kemelut Tahta Naga Jilid 12 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 12

Karya : Stevanus S P

Wajah In Te mau tak mau agak menegang mendengarnya. Sedangkan Kam Hong Ti melanjutkan,

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
"In-heng, terus terang saja, aku terlibat langsung dalam pencurian Surat Wasiat Kaisar Khong Hi, ayahanda In-heng, mengubah huruf dalam Surat Wasiat itu, sehingga ketika Surat Wasiat dibacakan, In-heng tersingkir dan In Ceng yang naik tahta. Memang Ni Keng Giau-lah yang menggerakkan pena mengubah surat itu, namun akupun ikut berdosa karena aku adalah anggota regu kecil yang disuruh In Ceng untuk masuk ke ruang Han-lim-pong, mengambil dan kemudian mengembalikan lagi surat itu ke tempatnya setelah diubah Ni Keng Giau. Padahal dalam Surat Wasiat itu namamulah yang tercantum, In-heng. Aku telah membuat kerugian besar buatmu, karena ketololanku dulu, In-heng."

Habis mengucapkan itu, Kam Hong Ti merasa lega sudah. Dan dia sekarang siap untuk dicaci-maki atau dihukum oleh Pak Kiong Liong atau In Te. Tapi Kam Hong Ti jadi heran ketika melihat kedua orang di hadapannya itu nampak tenang-tenang saja. Memang mereka menarik napas beberapa kali, tapi tidak nampak kehilangan kendali diri.

"Kalau Kam-heng ingin berbaik hati, aku hanya ingin tanya satu soal lagi yang selama ini masih menjadi pertanyaan di hatiku," Pak Kiong Lionglah yang berkata.

"Silahkan, Lo-cian-pwe. Aku akan sejujur-jujurnya kepada Lo-cian-pwe berdua untuk mengurangi beban rasa bersalahku."

"Terima kasih. Bisakah Kam-heng menjelaskan, bagaimana caranya Sian-hong (Kaisar terdahulu) meninggal dunia?"

"Saat terjadinya itu, aku tidak ada di samping In Ceng. Hanya saja tiba-tiba Kudengar kabar dari Pak-khia kalau Sribaginda Khong Hi diumumkan wafat karena penyakitnya. Antara pengubahan Surat Wasiat dan wafatnya Sian-hong itu ada selisih waktu yang cukup lama. Jadi aku tidak tahu menahu bagaimana cara meninggalnya Sian-hong."

Pak Kiong Liong dan In Te hampir bersamaan menarik napas panjang. Aneh juga perasaan mereka. Mereka bertanya, namun malahan merasa lega kalau Kam Hong Ti menyatakan tidak tahu. Rupanya, dalam hati mereka ada rasa segan dan hormat kepada Kang-lam Thai-hiap yang jujur ini, dan mereka lega karena kehilangan alasan untuk bertempur dengan Kam Hong Ti. Coba Kam Hong Ti menjawab bahwa ia terlibat langsung dalam mengakhiri riwayat Kaisar Khong Hi, tentu Pak Kiong Liong dan In Te bagaimanapun juga akan turun tangan.

Kata In Te kemudian, "Itu yang namanya takdir, Kam-heng. Ayahanda sudah mengatur agar aku yang menggantikannya, namun dia tetap manusia biasa yang tak kuasa menentukan yang bakal terjadi di masa depannya. Pengaturannya sudah rapi, namun yang terjadi ternyata lain. Kakanda In Ceng-lah yang akhirnya bertahta. Itu takdir, Kam-heng, tak perlu merasa bersalah secara berlebihan."

"Terima kasih kalau Lo-cian-pwe dan In-heng memaafkan aku. Tapi kekeliruan tindakanku telah menimbulkan bencana yang tidak kecil. Pembantaian di Hong-hua-lau, pemusnahan Siauw-lim-si di Siong-san, penumpasan Hwe-liong-pang, dan entah berapa ribu lagi korban-korban lain. Kekejaman itu karena In Ceng bertahta, dan In Ceng bertahta antara lain karena dukunganku, tak mungkin hati kecilku mengingkari hal ini. Segala bencana itu adalah buntut dari ketololanku beberapa tahun yang lalu. Karena itu, kesalahanku barulah impas jika aku sudah bisa memperbaikinya dengan tindakan nyata, langsung ke akar masalahnya!"

Alis Pak Kiong Liong berkerut. "Maksudmu, Kam-heng?"

Sahut Kam Hong Ti sambil mengepalkan tinjunya. "Siapa yang menyalakan api yang menimbulkan kerusakan, dia juga yang harus memadamkannya!"

Pak Kiong Liong dan In Te rambah kaget. Namun sebelum mereka sempat minta penjelasan lebih lanjut, tiba-tiba di langit sebelah utara terdengar suara ledakan, dan nampak kembang api yang membentuk garis asap berwarna putih dengan latar belakang langit biru.

Melihat itu, Kam Hong membungkuk hormat sekali lagi, dan berkata, "Cukup melegakan hari ini aku bisa bertemu dengan Lo-cian-pwe dan In-heng. Kawan-kawanku sudah melepaskan isyarat untuk memanggilku. Aku mohon diri." Tanpa menunggu jawaban lagi, tubuh Kam Hong Ti dengan cepatnya berkelebat bagaikan kilat.

Setelah tubuh Kam Hong li tidak kelihatan lagi, bertanyalah In Te kepada Pak Kiong Liong, "Paman, apa maksudnya dengan kata-kata tadi?"

"Aku khawatir, dia akan cepat-cepat merobohkan tiang rumah yang lama, sebelum tiang rumah yang baru terpasang cukup kuat. Kalau begitu, rumahnya sendiri bisa ambruk."

In Te mengangguk-angguk. "Tidakkah kita bisa mencegahnya, setidak-tidaknya untuk sementara?"

"Sulit sekali. Pertama, mereka berpendirian kuat. Kedua, kita sulit untuk bisa mengikuti terus sepak-terjang mereka yang serba terselubung. Ketiga, mereka didera oleh perasaan bersalah karena dulu ikut mendukung Yong Ceng, lalu mereka ingin memperbaiki kesalahan itu secepat-cepatnya. Mereka anggap, apa yang akan mereka lakukan sekarang adalah semacam tindakan penyelamatan bagi umum."

"Jadi?"

"Biarkan saja mereka merobohkan tiang lama. Kita harus cepat-cepat menyiapkan dan menegakkan kuat-kuat tiang yang baru!"

In Te paham kiasan itu. Artinya, biarkan Kam Hong Ti dan kawan-kawannya "menebang" Kaisar Yong Ceng si tiang lama itu, dan Pak Kiong Liong akan menyokong dan menyiapkan Pangeran Hong Lik untuk mengambil alih tongkat kepemimpinan sebelum "rumah ambruk". Jadi semacam pembagian kerja dengan kelompok Kam Hong Ti. Sedih juga In Te kalau mengingat bahwa betapapun juga Kaisar Yong Ceng adalah kakaknya, namun memang tak boleh berkuasa lebih lama lagi sehingga korbannya akan semakin banyak berjatuhan.

"Sekarang, mari kita ke Pak-khia secepatnya. Gerakan merobohkan tiang lama dan menegakkan tiang baru harus serempak, jangan memberi kesempatan kepada pengacau-pengacau ambisius mengail di air keruh selagi ada kekosongan kekuasaan biarpun cuma sebentar."

"Bagaimana dengan ketiga anak yang minggat itu?"

"Apa boleh buat, kita lupakan mereka dulu demi sesuatu yang jauh le bih penting. Lagipula, toh mereka akan tetap saling kontak dengan saudara-saudara dari Hwe-liong-pang. Tidak terlalu berbahaya."

* * * *

Seorang lelaki berusia kira-kira empatpuluh tujuh tahun, bertubuh tegap, bentuk wajahnya agak persegi, dengan hidung yang besar dan jenggot pendek, berjalan memasuki sebuah desa di hamparan kaki pegunungan Kiu-liong-san. Ketika berjalan memasuki desa, dibukanya caping bambunya yang melindungi dari panas tengah hari, digunakan untuk mengipas-ngipas tubuhnya.

Sekali ia menoleh ke belakangnya, ke jalan panjang yang baru saja dilalui nya. Lalu tertawa dingin sambil mengejek dalam hati. "Hem, anak-anak ingusan dan keledai-keledai tolol Hwe-liong-pang itu mau berlagak menjadi pahlawan-pahlawan. Mana bisa kalian menangkapku? Mengikuti aku saja kalian tidak becus. Tentu sekarang kalian sedang kebingungan kehilangan jejakku lagi, hem...."

Orang itulah yang di kota Tan-liu pernah memperkenalkan diri kepada Wan lui dengan nama In Kiu liong. dan mengaku "seperjuangan dengan Pak Liong liong". Namun kemudian di tengah perjalanan dari Tan-liu ke Hang-ciu ketika membuntuti rombongan Ni Keng Giau, In Kiu Liong mendadak memisahkan diri dari Wan Lui dengan pergi diam-diam.

Dalam perjalanan selanjutnya yang dilakukannya sendirian, tiba-tiba kini In kiu Liong di desa di kaki pegunungan kiu-liong-san itu. Sebuah desa penghasil semangka bermutu tinggi. In kiu Liong segera tertarik melihat semangka-semangka yang dijual di pinggir jalan, apalagi di antaranya ada yang sudah dibelah sehingga kelihatan dagingnya yang merah segar.

Saat itu adalah tengah hari, dimana matahari tengah panas-panasnya bersinar. Apalagi sehabis berjalan jauh, maka selera In kiu Liong segera dibangunkan oleh semangka- semangka itu. Ia membelokkan langkah kepada seorang penjual semangka di bawah sebuah pohon, dan minta dibelahkan satu semangka.

Sesaat kemudian, ia sudah begitu lahap menikmati segarnya daging semangka, sampai airnya menetes-netes membasahi bajunya di bagian dada.Sambil makan dicobanya bercakap- cakap dengan si penjual.

"Pak, apa nama pegunungan yang kelihatan di sana itu?"

Si penjual semangka beberapa kejap menatap pegunungan itu dengan pandangan benci, dan menjawab singkat, "Kiu-liong-san."

Sebaliknya In Kiu Liong tiba-tiba tersenyum. Nama pegunungan itu menimbulkan minatnya, sebab sama dengan nama yang sedang dipakainya saat itu. Kiu Liong. Timbul pula semacam pikiran, daripada berkelana kesana kemari sambil diuber-uber banyak musuh, rasanya lebih baik bersembunyi dipegunungan itu sambil mempertinggi ilmunya dan merencanakan langkah-langkah untuk masa depannya. Kenapa tidak? Ambisinya takkan kunjung terwujud, kalau ia terus-terusan hidup seperti binatang liar yang setiap detiknya sekedar memperpanjang umurnya dari ancaman pemburu-pemburu.

"Aku harus mulai mencari tempat berjejak yang pasti," tekadnya dalam hati.

Selagi hendak bertanya lebih banyak lagi, tiba-tiba dilihatnya penjual itu menampilkan wajah benci dan menatap ke ujung jalan desa. In Kiu Liong jadi tertarik dan ikut-ikutan menoleh ke arah yang sama. Dari arah itu muncul sepuluh orang lelaki yang semuanya membawa senjata, berpakaian ringkas dan bertampang kasar. Tapi pemimpin rombongan itu selalu berusaha menampilkan senyum ramah di wajahnya, sayangnya sambil memanggul tombak panjang yang menakutkan orang.

Mereka mendekati warung buah-buahan yang paling ujung. Pemimpin kelompok mendekati penjualnya sambil berkata dengan suara seramah-ramahnya, "Selamat siang, Paman Phui. Sehat-sehat saja?"

"Ya," si penjual menjawab singkat dan terpaksa.

"Ya syukurlah. Kudengar kebun buah Paman bagus panenannya ya? Jadi kalau lima tahil perak kurasa tidak berat buat Paman."

Dengan muka cemberut hebat, si penjual langsung membayar tanpa banyak cingcong. "Terima kasih, Paman. Warungmu dijamin aman dan tertib dibawah perlindungan kami," semakin ramah sikap pemimpin orang-orang bersenjata itu sambil mengantongi uangnya. "Kudoakan juga agar dagangan Paman laris."

Warung demi warung didatangi rombongan itu, dan semuanya membayar "sumbangan keamanan" yang dalam waktu singkat telah memadatkan kantong uang orang-orang itu.

Penuh perhatian In Kiu Liong memperhatikan gerak-gerik orang-orang bersenjata itu, namun tidak berbuat apa-apa. Setelah orang-orang itu pergi dengan kantong uang yang sarat, barulah In Kiu Liong bertanya kepada penjual semangka, "Siapa orang-orang itu?"

"Berandal-berandal gunung Kiu-liong-san."

"Berapa mereka minta tiap bulannya?"

"Dari desa ini saja sedikitnya tigaratus atau empatratus tahil yang mereka dapatkan, belum dari desa-desa lain. Ada empatpuluh delapan kampung di sekitar pegunungan Kiu-liong-san yang harus membayar kepada mereka secara tetap, dibawah ancaman mereka."

In Kiu Liong mengangguk-angguk sambil membayangkan betapa "sungai uang" mengalir ke sarang bandit-bandit itu. "Tentunya mereka punya kekuatan yang cukup, sehingga berani melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang syah. Benar begitu?"

"Hampir seribu bandit bersarang di lereng selatan pegunungan itu. Semuanya mahir bertempur dan tega bertindak kejam terhadap siapapun yang menentang mereka."

"Akhirnya kutemukan juga sejengkal tanah untuk berpijak untuk meraih cita-citaku!" pikir In Kiu Liong yang tiba-tiba saja merasa gembira. "Seribu orang calon perajurit-perajurit setiaku." Tapi kebembiraannya cuma dalam hati, sedang wajahnya nampak biasa-biasa saja. "Apakah yang memanggul tombak tadi adalah pemimpin mereka?"

"Bukan. Pemimpin mereka adalah tiga orang yang menamakan diri Sam-liong (tiga naga). Mereka hampir tak pernah keluar dari sarang mereka, sebab segala urusan di luar sarang sudah cukup lancar dijalankan oleh anak buah mereka."

"Hem, Sam-liong..." kembali In Kiu liong membatin. "Tiga orang calon jenderalku. Besar juga nyali mereka. Apakah di dekat-dekat sini tidak ada pos terntara kerajaan. sehingga para bandit berani mengganggu desa-desa itu di siang bolong?"

"kota yang paling dekat dengan tempat ini ialah Kim-teng. Di sana adu pasukan yang dipimpin Cung-peng Siau Gin-heng. Tapi payah. Tentara Kerajaan yang gagah-gagah ini tak pernah bertindak terhadap bandit-bandit itu, entah kenapa, keluhan kami tidak pernah di gubris oleh Siau Cong-peng."

In Kiu Liong tertawa dalam hati ketika mendengar itu. la dapat mencium adanya persekongkolan antara pimpinan tentara di Kim-teng dengan gerombolan bandit di Kiu-liong-san. Mungkin semacam perjanjian "bagi hasil" atau semacamnya. In Kiong Liong membayar harga semangka yang dimakannya, lalu ia berjalan meninggalkan desa itu. Arahnya pasti kini, yaitu ke arah gunung yang nampak tidak terlalu jauh itu.

Tidak lama kemudian, ia tiba dikaki gunung. Dijumpainya di situ sebuah papan batu besar yang ditancapkan di tanah. Di permukaan papan batu terukir huruf "Kiu-liong-ce". Memperhatikan halusnya dan indahnya ukiran huruf dipapan batu itu, In Kiu Liong diam diam membatin, "Pembuat tulisan ini tentu Bandit yang juga seninam. Entah dia termasuk gerombolan Kiu-liong san atau tidak. Kalau ya, aku harus berhati hati. Otot-otot yang kasar tapi berotak bebal tak perlu aku khawatirkan. Tapi otak cemerlang yang barangkali ada di antara gerombolan itu, jelas lebih berbahaya. Aku mesti berhati-hati."

Ketika ia mengangkat mukanya untuk menatap ke pegunungan itu. Dilihatnya ada sebuh jalan kecil seperti sehelai pita amat panjang yang ditebarkan di tubuh pegunungan. Berbeilit-belit dan kadang-cadang nampak terputus karena tertutup oleh lautan pepohonan yang lebat. Kemudian In Kiu Liong naik ke gunung itu dengan langkah yang mantap diantara deretan pepohonan dikiri dan kanan yang membentuk lorong yang beralas lunaknya daun-daun kering yang tebal di tanah.

Tiba di pinggang bukit, dua orang bandit menghadang jalannya. Berbeda dengan bandit-bandit yang sedang “dinas luar”, maka bandit yang di gunung ini justru berpakaian cukup rapi dan sikap lakunya-pun terjaga "dengan baik menurut ukuran para bandit.

"Maaf, tuan," kata salah seorang penghadang dengan sopannya. "Bolehkah kami tanya siapa diri tuan, dan apa keperluan tuan mengunjungi tempat kami ini?”

“Bandit sekolahan” pikir In Kiu Liong. Karena merasa dirinya cukup kuat untuk menaklukkan kawanan bandit itu, iapun menjawab terang-terangan, “Aku akan memimpin kalian, untuk memimpin dalam suatu perjuangan yang jauh lebih berharga daripada sekedar mengemis didesa-desa.”

Wajah kedua penghadang itu berubah hebat mendengarnya. Serempak mereka mundur untuk bersiaga dengan sejata masing-masing. Yang satu memegangi pedang besar, yang satu lagi membawa tombak berujung bolak-balik depan belakang. Senjata-senjata yang tidak umum itu menunjukkan kalau kedua penghadang itu bukan pesilat kelas kambing, dan tentunya “pangkat” mereka dilingkungan bandit agak tinggi juga.

In Kiu Liong tersenyum melihat sikap kedua penghadangnya itu, “Kalau aku berani kemari untuk mengambil alih pimpinan atas kalian, itu artinya aku yakin akan kekuatanku. Apa tidak lebih bijaksana kalau kalian datang saja ke atas, bilang kepada Sam-liong bahwa pimpinan baru sudah datang, lalu mereka siapkan sambutan kehormatan yang sepantasnya?"

Kedua bandit itu meluap darahnya. Gerombolan mereka cukup ditakuti, sampai Panglima di Kim-teng pun bisa mereka ajak "bagi hasil". Kini tiba-tiba muncul seorang yang tidak keruan dari mana datangnya, yang datang-datang terus hendak menjadi pemimpin. Tapi kedua bandit itupun ragu-ragu, sampai dimana kehebatan ilmu orang ini sehingga berani bersikap begini sombong? Kedua bandit itu bertukar pandangan sekejap, dan diam-diam sepakat untuk bicara mengulur waktu sambil menunggu datangnya tenaga tambahan. Tak lama lagi tentu ada rekan yang akan lewat tempat itu.

Salah seorang lalu menjawab, "Di tempat ini, segala sesuatu ditentukan oleh Toa-ce-cu (pemimpin pesanggrahan tertua), kami tidak berani mengambil keputusan sendiri. Kami akan menyampaikan niat tuan kepada Toa-ce-cu, tapi menurut kelaziman, perkenalkanlah kami membawa kartu nama tuan ke atas."

In Kiu Liong menyeringai, "Wah, sudah lama aku tidak peduli segala macam tetek-bengek macam itu. Karena itu, aku tidak membawa satu lembar pun kartu nama."

"Kalau begitu, silahkan tuan turun gunung untuk menulis dulu satu lembar kartu nama. Asalkan syarat ini dipenuhi, kami tidak keberatan memberi sambutan yang selayaknya."

Sebetulnya In Kiu Liong sudah hampir habis kesabarannya dan ingin menerjang saja ke atas gunung. Tapi mendadak dalam pikirannya terlintas niat untuk sedikit pamer ilmu, untuk menggoncangkan jiwa para bandit agar mau tunduk kepadanya. Karena itu, diapun menjawab sambil tertawa, "Baiklah. Aku ambil kartu namaku sebentar ya?"

Lalu In Kiu Liong melangkah balik ke kaki gunung. Kedua bandit Kiu-liong-san itu tercengang, tak menyangka akan begini gampang memukul mundur si tamu tak diundang itu hanya dengan suatu alasan kecil yang mereka karang sendiri. Setelah ln Kiu Liong tak kelihatan, kedua bandit itu saling pandang sekejap, lah, bersama-sama tertawa terbahak-bahak.

"Dasar pembual! Pertamanya saja kukira kepandaiannya setinggi langit, sehingga berani membual dengan mulut selebar itu! Kiranya begitu melihat kita tidak gentar, diapun mundur teratur, Sayang dia jembel yang tidak punya apa-apa. Kalau tidak, jangan harap kita biarkan pergi begitu saja sebelum kita kuras bersih isi kantongnya."

"Jembel saja jembel sinting. Mungkin dia kehabisan uang di perjalanan, tapi malu untuk mengemis atau mengumpulkan sisa makanan. Lalu dia datang kemari dengan membawa lagak seorang berilmu tinggi. Ha-ha-ha dia belum tahu macam apa tempat yang dia datangi itu."

"Hah?"

"Lho, ada apa?"

"Dia naik lagi kesini. Nampaknya... membawa sesuatu...."

Memang ln Kiu Liong yang tadi sudah pergi, kini naik kembali. Kali ini tidak berjalan perlahan-lahan, tetapi dengan langkah kaki hampir seperti terbang cepatnya. Tangan kirinya mendekap sebuah papan batu putih sepanjang satu meter, lebar setengah meter, tebalnya sejengkal. Cukup berat untuk orang lain, tapi nampaknya ringan saja buat In Kiu Liong. Beberapa detik kemudian, ketika ia tiba kembali di hadapan kedua bandit itu, kelihatan napasnya masih wajar dan tidak terengah-engah hanya ada beberapa titik keringat di jidatnya.

"Ini, sudah kubawakan kartu namaku. Silahkan kalian membawanya untuk ditunjukkan kepada Sam-liong," In Kiu Liong tertawa sambil menjatuhkan papan batu yang berdebum karena beratnya. "Maaf kalau kartu namaku kurang praktis."

Memang semakin kurang ajar si "jembel sinting" ini, sebab Sam-liong (tiga naga) digantinya jadi Sam-jong (Tiga cacing). Tetapi kedua bandit penghadangnya bukan marah, malah terlongong kaget dengan wajah pucat. Betapa tidak? Karena "kartu nama" itu ternyata adalah potongan tugu nama di kaki gunung yang terbuat dari batu granit. Tapi telah dipatahkan sedemikian rupa sehingga yang terbawa hanyalah dua huruf paling atas, "Kiu- liong", yang dijadikan kartu nama itulah.

Begitulah si "jembel yang kehabisan uang" itu sekaligus telah menunjukkan kekuatan pukulan dengan memotong tugu itu, kekuatan tenaganya ketika membawa potongan tugu itu ke atas dengan begitu ringan, dan ilmu meringankan tubuh karena telah berhasil bolak- balik ke kaki gunung dalam tempo begitu singkat. Seganas-ganasnya kedua bandit Kiu- liong-san itu, mereka sadar akan mampus kalau masih nekat merintangi si "jembel" itu.

"Kenapa melongo saja?" kata ln-kiu Liong sambil tertawa. "Tadi kalian minta kartu nama, nah, aku bawakan. Aku she In dan namaku memang kiu liong, sama dengan nama gunung ini. Nah, bawalah kartu namaku menghadap pemimpin-pemimpin kalian yang bakal tergusur!"

Kedua bandit itu sudah rontok nyalinya. "Baik... baik..." mereka menjawab dengan gugup. Setelah saling pandang sejenak, lalu mereka terpaksa harus menggotong "kartu nama" yang istimewa itu.

Karena jalanan di lereng itu terus menanjak, maka menggotong batu seberat itu tentu saja makan tenaga, biarpun berdua. Setiap berjalan belasan langkah, kedua bandit itu meletakkan sebentar bawaan mereka untuk mengusap usap keringat sambil terengah-engah. Lalu mengangkat lagi hanya untuk maju belasan langkah dan berhenti lagi, begitulah seterusnya.

In Kiu Liong terus mengikutinya sambil bersiul-siul riang. Kedua bandit itu amat mendongkol, tapi tidak berani berbuat apa-apa. Setelah mereka merasakan sendiri betapa beratnya "kartu nama" itu, mereka harus mengakui betapa hebat tamu tak diundang yang tadi sanggup membawanya dengan sebelah tangan sambil berlari secepat terbang.

Akhirnya malah In Kiu Liong sendiri yang jadi tidak sabar oleh lambatnya perjalanan itu. Katanya, "Kalian bawa terus sampai ke atas, aku akan jalan dulu!"

Kepala kedua bandit itu dilompatinya, lalu melesatlah In Kiu Liong ke atas gunung. Kedua bandit yang sudah kepayahan menggotong "kartu nama" itupun merasa dibebaskan, lalu menjatuhkan potongan tugu itu ke tanah. Sesaat mereka mengusap-usap keringat sambil memperbaiki napas mereka yang ngos-ngosan.

"Kita dalam bahaya," kata yang seorang. "Lebih baik bunyikan isyarat ke atas gunung, agar semuanya bisa bersiap siap menghadapi si jembel sinting itu!"

"Jembel dan sinting, tapi mungkin juga amat berbahaya."

"Bukan mungkin, tapi pasti!"

"Cepat bunyikan isyarat!"

Seorang dari mereka menuju ke balik sebuah pohon besar yang sudah diberi tanda. Di balik pohon itu ada seutas tali yang kalau tidak diperhatikan benar-benar akan sulit dibedakan dengan akar yang berjulnran dari atas pohon. Ketika tali itu ditarik, sebuah lonceng kecil di pos penjagaan berikutnya akan berbunyi. Dan pos itu meneruskan isyarat ke pos-pos berikutnya sampai ke sarang secara berantai.

Sarang bandit segera sibuk menyiapkan diri. Maklum, sudah bertahun-tahun mereka hidup aman dan tak pernah mendengar isyarat bahaya. Kini isyarat bahaya berbunyi, tentunya ada hal yang cukup gawat.

Untuk sampai ke "benteng" kaum berandal, In Kiu liong masih harus melewati tiga pos lagi. Namun semuanya bisa dilewati dengan gampang dengan membabak-belurkan bandit bandit di situ. Dalam tindakan ini, In Kiu liong menahan diri untuk tidak mengumbar nafsu membunuhnya yang sudah mendarah daging, la tidak membunuh seorang pun, agar kawanan bandit itu kelak tidak membencinya sebagai pimpinan.

Sampai di atas gunung, In Kiu-Liong tercengang melihat sarang gerombolan itu. Tadinya ia mengira akan menemui sekumpulan bangunan yang acak-acakan, asal jadi, kotor dan biasanya juga bau air kencing di mana-mana. Ternyata gambaran yang didapatinya keliru. Sebab yang dilihatnya sekarang adalah bangunan besar yang keindahannya menyaingi puri para bangsawan. Bisa disimpulkan kalau kawanan berandal itu cukup punya kekayaan, sehingga bisa membangun kediaman seperti itu.

Tetapi di depan bangunan indah itu ada ancaman yang tidak bisa diremehkan. Di depan bangunan ada lapangan luas nama lapangan luas itu jadi kelihatan sempit karena ribuan berandal bersenjata sudah memenuhi lapangau itu. Di tengah-tengah mereka ada kursi yang bisa digotong, diduduki tiga orang pimpinan berandal yang disebut Sam-liong.

Melihat persiapan sehebat itu. agaknya bunyi isyarat bahaya tadi telah tafsirkan begitu hebat oleh kawanan berandal itu. Namun para berandal terkejut ketika melihat yang muncul dari kaki gunung itu cuma seorang lelaki setengah umur, sendirian dan tak bersenjata. Inikah "bahaya" itu? Tapi terlihat wajahnya yang persegi dan matanya yang tajam berkilat-kilat itu rasanya memang memancarkan kelebihan orang ini.

Tenang sekali In Kiu Liong melangkah ke tengah lapangan sambil tersenyum-senyum, sehingga berewoknya yang kelabu itu bergerak-gerak sedikit. Katanya langsung, tanpa tedeng aling-aling, "Aku tahu kalian tentu tidak suka pembicaraan yang bertele-tele, tapi lebih suka langsung membuktikan kekuatan sebagai penentu keputusan terakhir. Itu bagus. Akupun sama seperti kalian."

"Siapa kau?" gelegar suara pimpinan tertua yang duduk di kursi tengah, la bernama Goh Kun dan berjulukan Ang-mo-liong (Naga Rambut Merah). Tubuhnya nampak tinggi besar biarpun sedang duduk, rambutnya yang terurai maupun jenggotnya memang berwarna merah berbaju pendek dari kulit macan tutul. Sambil duduk dengan sebelah kaki dinaikkan kursi, tangan lainnya memegangi toya Long-ge-pang (toya gigi serigala) dari besi. Salah satu ujung toya dihiasa deretan-deretan gigi besi yang rapat. Senjata dan perawakannya saja sudah mengerikan.

"Namaku ln Kiu Liong." sahut In kiu Liong. "Cocok untuk menjadi penguasa pegunungan Kiu-liong-san!"

Para berandalpun mendadak tertawa riuh-rendah, seakan-akan disuguhi pertunjukan lawan yang amat lucu. Namun si "pelawak" itu nampak tenang-tenang saja, tak menggubris sikap mengejek para berandal. Ketika suara tertawa mereda, barulah In Kiu Liong melanjutkan.

"Kalian boleh tertawa sepuas kalian. Aku tahu kalian menganut hukum rimba, hukum yang kuanggap paling adil dan paling masuk akal. Siapa yang terkuat, dialah yang menjadi pemimpin. Nah, aku datang untuk menunjukkan bahwa akulah yang terkuat."

Bagian akhir kalimat itu tenggelam suara tertawa para berandal yang menggelegar kembali, bahkan ada yang sampai terbungkuk-bungkuk memegangi perut atau mengalirkan air mata.

"Lumayan juga nyali badut ini. Bahan lawakannyapun tidak basi." kata si pemimpin kedua. Tiat-kak-liong (Naga Berkaki Besi) Hong Tong Peng yang gemuk pendek namun nampak sepadat batu karang. "Ada gunanya dia datang, untuk mengendorkan syaraf-syaraf kita." Lalu diapun ikut terkekeh-kekeh sambil mengetuk-ngetukkan senjatanya ke lantai. Senjatanya adalah sebuah gada Kim-kong-co yang berpenampang segi delapan, nampak berat sekali.

In Kiu Liong malah ikut-ikutan tersenyum. Namun begitu mendapat kesempatan, kata-katanyapun menyakitkan hati, "Memang, untuk menghindari kekalahan, sungguh bijaksana kalau kalian menghindari tantanganku dan cuma mentertawakan saja. Tertawa memang aman."

Kali ini para berandal menjadi marah, terutama para pimpinannya harus menjaga pamor mereka di anak-buah mereka. "Toako, lama-lama badut ini menjemukan dan tidak lucu lagi, biar anak-anak mengusirnya," usul To-cai-liong (Naga Banyak Hutang) He Seng Boan, si pemimpin ketiga, la berpakaian perlente dan berwajah tampan, namun wajahnya selalu nampak murung sehingg cocoklah dengan julukannya.

Goh Kun mengangguk menyetujui usulnya. Dengan gerakan tangannya, ia memberi isyarat kepada dua orang yang berdiri di belakang kursinya. Dua orang bertubuh raksasa itu adalah pengawal-pengawal pribadinya. Mereka maju ke tengah lapangan, menghampiri In Kiu Liong. Tubuh mereka yang besar itu sengaja agak dibungkukkan cara berjalan mereka juga agak dibuat buat, untuk memberi dampak menyeram kan terhadap lawan mereka.

"Badut sinting, kau pilih untuk pergi sendiri, atau harus kami yang melemparmu dari puncak gunung ini?" geram salah satu raksasa itu. Sedang yang satu lagi telah menggerak gerakkan pundak untuk melemaskan otot- ototnya. In Kiu liong menjawab seenaknya, "Aku pilih jadi pemimpin kalian, tidak mau pergi."

Bicara bolak-balik cuma "jadi pemimpin" saja pokok pembicaraannya, keruan ketiga orang pimpinan berandal itu jadi mendongkol karena ada yang akan meng"kudeta" mereka. Sedangkan sepasang raksasa itupun merasa diremehkan, gertakan mereka seperti tidak digubris. Dengan gerak serempak mereka menerkam dari kanan, ke arah kedua lengan In Kiu Liong. Kena. Lalu keduanya berteriak keras keras sambil mengerahkan tenaga, berusaha melemparkan ln Kiu Liong.

Namun kedua raksasa itu terkejut, karena mereka seolah-olah menghadapi sebuah tugu besi yang tertanam jauh ke dasar bumi. Jangan lagi mau melemparkan, untuk menggoyahkan sedikit saja tidak bisa. Mereka berteriak serempak untuk kedua kalinya dan mengeluarkan tenaga lebih hebat. Begitu hebatnya, sampai salah salah seorang dari mereka mengeluarkan suara yang keras dari pantatnya, berbau pula, dan segera nampak celananya di bagian bawah-belakang menjadi lengket.

Tapi mereka tetap tak berhasil menggoyahkan In Kiu Liong. Justru bau busuk dari pantat itulah yang "menggoyahkan" In Kiu Liong, la menggoyangkan pundaknya keras-keras sambil mengangkat sepasang tangan untuk balas mencengkeram lengan kedua raksasa itu. Maka bukan In Kiu Liong yang terlempar, malahan sepasang raksasa itu yang "terbang" dua detik sebelum mendarat konyol di bumi.

Para berandal terkejut melihat hal ini. Kini mereka semua sadar bahwa tanda bahaya yang dibunyikan tadi ternyata bukan hal yang berlebihan. Goh Kun mulai menurunkan sebelah kakinya yang tadi dinaikkan kursi. Ketawa cengengesan di muka Hok Tong Peng menghilang. Sedangkan wajah He Seng Boan semakin murung, seolah-olah para penagih hutang sudah berbaris di depannya dengan membawa rekening masing-masing.

"Cincang dia!" Goh Kun memerintah kan anak-buahnya.

Bagaikan banjir yang menyerbu tanah rendah, kawanan berandal bersenjata itu serempak menyerbu ke arah In Kiu Liong. Pimpinan tertinggi mereka bukan cuma memerintahkan "tangkap", tapi "cincang".

In Kiu Liong sadar, menghadapi musuh sebanyak itu, tempat terbuka bukanlah gelanggang yang bisa memberinya keuntungan. Tiba-tiba ia melompat tinggi, melompati kepala para berandal dan ia justru melesat ke bagian dalam "puri" para bandit itu. Bukannya berlari menjauhi, malah masuk ke dalam. Ini diluar perhitungan para berandal. Para berandal mengejar dengan penasaran. Mereka berpencaran, memeriksa setiap sudut-sudut dan lorong-lorong di sarang berandal yang mirip sebuah kota kecil di atas gunung itu.

"Bangsat itu pasti sudah miring otaknya. Bukan keluar, malah ke dalam. Dia sama saja dengan ikan masuk jaring!"

"Giring ke suatu sudut sampai tidak bisa lari lagi!"

Mula-mula memang In Kiu Liong tidak melawan, ia cuma berlari-lari berbelok-belok di antara lorong-lorong dan halaman-halaman di dalam markas berandal yang bersimpang- simpang itu. Se kali muncul, lalu menghilang. Siasatnya itu membuat kawanan berandal harus memecah-mecah diri dalam kelompok-ke lompok yang makin lama makin kecil. Ada yang mengejar di sini, yang lain menghadang di sana.

Setelah para berandal berpencaran, mulailah In Kiu L.iong balas menyerang secara bergerilya. Ia masih muncul dan menghilang seperti semula, namun kini setiap munculnya sambil merobohkan ke lompok demi kelompok. Tapi ia masih menunjukkan "kebaikan hati" dengan tidak membunuh seorangpun. la tidak mau calon anak-buahnya itu berkurang jumlahnya karena tangannya sendiri.

Kacaulah kawanan berandal itu menghadapi siasat In Kiu Liong. Kalau satu kelompok disergap dan kelompok lain datang membantu, maka si penyergap menghilang, dan sesaat kemudian sudah muncul di tempat lain untuk mengobrak-abrik kelompok lain. Ketiga orang pimpinan berandal tidak ikut main "petak-umpet", melainkan cuma menunggu di aula karena mereka percaya bahwa anak buah mereka sudah lebih dari cukup untuk membereskan pengacau itu. Mereka tinggal menunggu anak buah mereka akan datang menghadap sambil menjinjing batok kepala pengacau itu.

Ketika mereka mendengar langkah-langkah mendekati aula, ketiga pimpinan bandit itu bertukar senyuman. Yakin akan segera mtendengar laporan keberhasilan anak buah mereka. Namun alangkah kagetnya mereka ketika melihat yang muncul adalah si badut sinting" itu. Sambil tertawa-tawa dan berkata,

"Asyik juga bermain-main dengan calon perajurit-perajuritku. Sayangnya mereka masih terlalu bodoh untuk bertindak taktis dalam menyudutkan lawan, kelak aku harus sabar mengajari mereka. Eh, kalian bertiga tidak ikut main?"

Si Naga Rambut Merah Goh Kun bangkit dari kursinya dengan muka yang menyeramkan, sambil menjinjing senjatanya. Tanyanya, "Bangsat, sudah kau apakan saja orang-orangku?"

"Jangan khawatir, tidak ada yang kubunuh satupun," sahut In Kiu Liong. "Aku ingin punya anak buah orang-orang hidup, bukan mayat-mayat."

"Apa tujuanmu dengan melakukan tindakan gila ini?"

"Lho, apakah tadi aku masih bicara kurang jelas? Tapi baiklah kuulangi lagi, aku akan memimpin kalian. Supaya kalian tidak menghabiskan umur sekedar dengan menjadi bandit-bandit kelas teri yang merampoki penjual-penjual semangka, melainkan bisa menjadi pemimpin-pemimpin dalam susunan pemerintahan yang bakal kudirikan! Kalian akan menjadi pembesar-pembesar terhormat!"

"Lawakan yang berbahaya!" dengus He Seng Boan.

"Bualan macam apa lagi ini, yang kau obrolkan di hadapan kami? Kau pikir setelah berhasil lolos dari anak buah kami, terus otomatis menjadi pemimpin kami? Kalahkan dulu kami bertiga!" Si Naga Kaki Besi Hok Tong Peng juga sudah siap tempur dengan gada Kim-kong-conya.

In Kiu Liong tertawa, "Itu jelas. Mana bisa menjadi pemimpin kalau tidak bisa mengalahkan kalian? Majulah bertiga sekaligus, aku takkan mentertawakan calon panglima-panglimaku sendiri!"

Goh Kun tak kuasa lagi menahan kemarahannya. Tubuhnya yang berukuran raksasa itupun bergerak bagaikan sebuah bukit yang longsor, mengguncang udara di ruangan itu. Toya Long-ge-pangnya terayun datar ke pinggang In Kiu Liong dengan gerakan Oh-liong- boan-jiu (Naga Hitam Membelit Pohon).

In Kiu Liong berkelit mundur dengan gesit, membiarkan toya itu lewat dulu di depan tubuhnya. Dan sebelum toya yang berat itu sempat menyerang kembali dalam gerakan balik, In Kiu Liong tiba-tiba menciutkan jarak dan mendesak rapat ke arah lawannya secepat angin puyuh. Berbareng dengan kedua tangannya terulur untuk mencengkeram ke pundak Goh Kun.

Gerakan In Kiu Liong memang mengejutkan, tapi Goh Kun juga bukan keroco yang bisa ditundukkan dalam sekali gebrakan. Ia mundur, toyanya ditegakkan di depan dada, sambil melakukan tendangan ke perut In Kiu Liong yang tengah mendesak maju Dengan perhitungan kakinya lebih panjang dari tangan lawannya, Goh Kun berharap kakinya akan kena ke sasaran lebih dulu. Sementara toyanya masih menunggu terciptanya kembali ruang gerak yang menguntungkan.

In Kiu Liong tertawa panjang Cengkeraman ke pundak dibatalkan, tapi cuma dibatalkan separoh. Satu tangan menebas langsung ke tulang kering kaki Goh Kun yang menendang, dan satu tangan lainnya tetap meluncur ke depan dengan melewati pertahanan toya Goh kun.

Geraknya serba cepat dan Goh Kun tak mampu membuat perubahan untuk mengimbanginya. Terdengar ia berteriak kesakitan ketika tulang keringnya kena pukulan, bersamaan dengan robeknya baju kulit macan dibagian pundaknya karena kena cengkraman In Kiu Liong. Ia mundur sempoyongan, sakit campur kaget.

Hok Tong Peng dan He Seng Hoan kaget melihat apa yang dialami pemimpin tertua mereka. Kalau dalam suatu pi-bu (pertandingan silat), tentu Goh Kun sudah dinyatakan kalah. Namun kali ini bukan pi-bu, melainkan perebutan kepemimpinan atas kawanan berandal Kiu-liong-san. Si pemimpin kedua dan ketiga itupun serempak maju dengan senjata masing-masing.

Goh Kun sendiri mulai sadar, sendirian saja takkan mungkin menang melawan si "badut sinting" ini. Maka dengan mengorbankan harga dirinya, ia membiarkan saja kedua adik seperguruannya ikut membantu.

Begitulah, gada Hok Tong Peng dan tombak He Seng Boan segera ikut mengisi arena, memperketat jaring-jaring maut yang hendak mencoba membinasakan si "badut sinting". Yang satu adalah senjata berbobot berat yang berdaya-penghancur luar biasa, yang lain adalah tombak yang mematuk-matuk lincah secepat lidah ulat. Ditambah toya Long-ge-pang Goh Kini yang segera menderu bagaikan prahara.

Cuma kali ini, ketiga pemimpin berandal itu ketemu batunya. Biasanya, salah satu saja dari mereka sudah cukup ditakuti. Kini mereka maju bertiga dengan senjata, menghadapi sesosok hantu yang leluasa bergerak semannya di sela- sela sambaran senjata-senjata mereka.

ln Kiu Liong memang begitu lincah, licin, senantiasa lolos dari kejaran senjata lawan- lawannya. Namun ia tidak menghindar terus, sekali-sekali ia pamer kekuatannya yang berlandas Liong-siang-kang (Tenaga Naga dan Gajah), dan sering mengejutkan Goh Kun maupun Hok Tong Peng yang biasa membanggakan kekuatan itu.

“Lumayan, kalian pantas juga menjadi pembantu-pembantu dekatku” kata In Kiu Liong sambil tertawa “Nah, menyerah tidak?”

Napas ketiga lawannya sudah ngos-ngosan, lagi pula sudah basah kuyup dengan keringat, tapi terus menyerang tanpa menggubris kata kata In Kiu Liong.

"Oh, kalian benar-benar bandel. Rupanya aku harus menghajar kalian lebih keras!" dengus In Kiu liong yang mulai jengkel. Lalu gerakannyapun meningkat lebih agresif, ketika toya Liong-ge-pang dan gada Kim-kong-co hendak menggencetnya remuk dari dua arah, ln Kiu Liong berguling lalu melejit secepat kilat. Tahu-tahu ia sudah berada di belakang He Seng Boan kedua tangannya berhasil menyusup ketiak kiri dan kanan He Seng Boan dari belakang.

Pemimpin ketiga dari kiu-liong-san itu merasa tenaganya mendadak lenyap, sehingga tombaknya jatuh ke lantai. Berikutnya ia merasa tubuhnya terangkat dan melayang deras, menubruk meja kursi di pinggir arena meja-kursinya berantakan, kepalanya sendiri benjol dan berkunaug-kunang. Beberapa saat lamanya dia cuma bisa terbaring lemas dan kesakitan di antara kepingan-kepingan kayu reruntuhan meja kursi.

Hok Tong Peng meraung, gadanya menghantam ke punggung In Kiu Liong. Tapi In Kiu Liong berkelit secepat hantu, dan tahu-tahu malah berhasil merebut gada itu. Hok Tong Peng menendang dengan tendangan mautnya yang membuahkan julukan Tiat-kak-liong baginya, namun ia buru-buru menarik tendanganya ketika In Kiu Liong menyong-songkan gada rampasannya tepat ke arah tulang kering Hok Tong Peng. Penarikan tendangan karena panik itu menjadikan Hok Tong Peng kehilangan keseimbangan sehingga jatuh terguling.

In Kiu Liong tertawa dingin sambil melemparkan gada rampasan itu kearah tembok. Senjata berujung tumpul itu menancap di tembok seringan pisau menancap di batang pisang. Bahkan disekitarnya tidak menimbulkan retakan tembok, menandakan betapa terpusatnya tenaga In Kiu Liong ketika melemparkannya. Hok Tong Peng terbelalak pucat. Latihan sepuluh tahun lagipun belum tentu ia bisa melakukan seperti yang di lakukan ln Kiu Liong. Kalau dilempar gada sehingga menjebol tembok, mungkin bisa, tapi tidak menancapkannya semulus itu.

Di arena tinggal Goh Kun yang belum menyerah, masih mengayun-ayunkan senjatanya dengan sengit. Tapi gerak toyanva tiba-tiba terhenti, sebab tepat di sebelah ujung toyanya yang bergerigi. In Kiu Liong telah berhasil mencengkeramnya erat-erat. Entah bagaimana gerakannya, Goh Kun tak sanggup menangkapnya dengan mata. Kini yang dilakukannya hanyalah berusaha menarik kembali toyanya, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya sampai mukanya merah padam dan otot otot jidatnya menggeliat-geliat seperti cacing. Tapi ia tak bisa menarik senjata nya yang seolah-olah tertindih gunung.

"Mengajak adu tenaga, Jite? Ayolah kita bandingkan kekuatan kita," kata In Kiu Liong. Agaknya dia sudah merasa pasti akan menjadi pemimpin nomor satu di Kiu-liong-san, maka Goh Kun sudah dipanggilnya Jite (adik kedua).

Tenaga Goh Kun memang hebat. Tapi kehebatan tenaganya itu cuma bisa membuat toya Long-ge-pang itu sedikit menggeliat dan agak melengkung bengkok, tapi tak bisa lepas dari tangan In Kiu Liong yang cuma menggunakan satu tangan. Sedangkan sepasang telapak tangan Goh Kun sampai berdarah.

"Nah, Jite, sekarang cicipilah ilmu yang lain dari Toakomu ini," kata In Kiu Liong pula.

Goh Kun terkejut ketika merasa tongkatnya tiba-tiba jadi sedingin es. Beberapa saat Goh Kun masih nekat memegangi, tapi hawa dingin itu merembes masuk telapak tangan terus naik ke lengan sampai lengannya terasa kaku. Kalau sampai ke jantung, bakal mampuslah Goh Kun. Akhirnya Goh Kun tidak tahan lagi. la lepaskan pegangannya, kemudian melompat mundur dengan tubuh agak menggigil.

"Aku menyerah......." desisnya, lalu dilanjutkan dengan suara amat terpaksa,".. Toako....."

Kalau Goh Kun saja sudah menyerah, mau tidak mau Hok Tong Peng dan He Seng Boan ikut-ikutan menyerah pula, dan mengakui "kakak" yang baru itu, yang usianya sebetulnya malah lebih muda dari Hok Tong Peng. Dengan demikian Hok Tong Peng dan He Seng Boan pun ikut "turun pangkat" menjadi si ketiga dan si keempat.

Memang begitulah "hukum"nya kalangan rimba hijau, kaum penganut "kekuatan adalah kekuasaan" itu. Setidak-tidaknya hal ini jadi lebih menyederhanakan persoalan yang biasanya menghinggapi perguruan-perguruan aliran lurus yang berpegang kepada gengsi perguruan. Kalau orang-orang aliran lurus ka lah dalam suatu pertempuran, mereka langsung mengaitkannya dengan "nama baik" entah pribadi entah perguruan, lalu timbul dendam berlarut-larut, tidak jarang diwariskan sampai beberapa generasi.

Tapi di kalangan rimba hijau, kalah ya sudah, berarti akan diperintahkan orang yang mengalahkannya dan persoalannya pun beres. In Kiu Liong tertawa puas mendengar pernyataan takluk ketiga pimpinan berandal itu. Langkah pertamanya berhasil baik. Mudah-mudahan begitu pula langkah langkah berikutnya, sampai ke singgasana.

* * * *

Sejak In kiu Liong memimpin gerombolan Kiu liong-san, mulai diaturnya gerombolan itu. Bukan untuk ditertibkan agar tidak mengganggu penduduk, melainkan penertiban ke dalam agar lebih tangguh. Dan semakin tangguh justru akan semakin ditakuti, dan semakin meningkatkan "sumber penghasilan" mereka, kawanan berandal dikelompok-kolompokkan sepuluh-sepuluh orang, lalu tiap kelompok sepuluhan dijadikan satu kelompok seratusan.

Dengan demikian, susunan mereka lalu terasa seperti susunan sebuah pasukan, bukan lagi gerombolan liar. Apalagi setelah tiap kelompok sepuluh maupun kelompok seratus ditunjuk komandannya masing-masing. Kecuali itu, latihan-latihan yang teratur mulai dijalankan. In Kiu Liong amat berambisi agar "modal awal"nya itu meningkat mutunya, agar kelak dapat digunakan untuk mendukung ambisinya.

Selain itu, In Kiu Liong dan ketiga bekas pemimpin lama mulai menundukkan gerombolan-gerombolan berandal lain di sepanjang pegunungan Kiu-liong-san yang selama ini masih "berdaulat". Dalam waktu yang tidak lama, semua gerombolan itu sudah disatukan dibawah pimpinan In Kiu Liong, karena tidak ada yang mampu melawannya. Demikianlah, sebelum menjadi Kaisar di Pak khia sesuai dengan ambisinya, setidak-tidaknya sekarang In Kiu Liong lebih dulu menjadi "kaisar berandal" di Kui liong san.

Pada suatu pagi , di jalanan pegunungan yang menanjak, nampaklah seorang menunggangi kudanya pelan-pelan kemarkas berandalanya In Kiu Liong ia seorang lelaki berusia kira-kira limapuluh tahun, gemuk, sehingga kudanya agaknya kepayahan. Ia berpakaian sipil, namun sebenarnya dialah Siau Gin Heng, Panglima di kota Kim-teng, yang selama ini menjadi “rekan usaha” gerombolan Kiu-liong-san dalam perjanjian “bagi hasil” dalam memeras rakyat disekitar pegunungan Kiu-liong-san. Kota Kim-teng sendiri tidak jauh letaknya dari Kiu-liong-san.

Hari itu Siau Gin Heng mendaki Kiu-liong- san dengan wajah muruh. Kawanan berandal di pos-pos penjagaan agaknya sudah mengenal panglima ini, sehingga mereka membiarkannya lewat. Ahirnya tibalah Siau Gin Heng di markas gerombolan Kiu-lion-san yang megah itu. Tidak lama kemudian, ia sudah berhadapan muka dengan empat pemimpin Kui liong mui.

ketika ia diberitahu bahwa Kiu-liong-san sudah punya “kakak tertua” yang baru, Siau Gin Heng memberi selamat namun acuh tak acuh. Ia tak peduli perubahan atau pergeseran dalam pimpinan Kiu-lion-san, yang pentik bagian keuntungannnya dibayarkan semestinya. Cuma kedatangannya hari itu bukan untuk mengurus bagian keuntungan, melainkan urusan lain.

Tangannya nampak bergetar ketika mengangkat cawan tehnya, sehingga beberapa percik teh mengenai bajunya. Ini menandakan ia sedang dalam perasaan gugup yang hebat. Seteluh minum, Siau Gin Heng langsung dengan pembukaan yang bernada geram,

"Entah mulut usil siapa yang telah melaporkan tentang diriku ke ibukota Pak-khia. Kemarin di Kim-teng datang orang-orang dari Pak-khia yang agaknya hendak menyelidiki dan membongkar kerja-sama kita selama ini. Kita akan celaka."

Goh Kun tertawa, "Siau Cong-peng, hanya soal begitu saja kok gugup? Paling-paling orang Pak-khia itu hanya main gertak agar kebagian rejeki. Sodorkan ke bawah hidungnya seratus atau duaratus tahil, uangnya kita pikul bersama, nah, pasti orang-orang itu akan menjadi jinak lalu pulang ke Pak-khia untuk melaporkan bahwa kerjamu beres. Apa susahnya?"

Siau Gin Heng menarik napas, "Kalau segampang itu penyelesaiannya, buat apa aku terbirit-birit sampai kemari? Aku sudah coba menyuap mereka, ternyata mereka tidak tergiur sedikit pun."

"Cong-peng, barangkali kau memberi terlalu sedikit?"

"Tidak. Aku tawarkan sampai seribu tahil dan mereka tidak goyah. Aku jadi mundur teratur dan tidak berani lagi bersikap terlalu menyolok. Sedangkan orang-orang Pak-khia itu bertekat akan menyelidiki sampai tuntas, kenapa rakyat sekitar Kiu-liong-san ini mengeluh, sampai suaranya terdengar di Pak-khia. Kata pelapor itu, keluhan mereka tak pernah aku gubris..... nah, celaka tidak?"

Sunyi senyaplah ruangan itu untuk beberapa saat. Keempat pimpinan Kiu-liong-san itu mulai merasa bahwa urusannya memang cukup gawat. Kalau sampai kecurangan Siau Gin Heng terbongkar, lalu dia dipecat, barangkali akan digantikan orang lain yang belum tentu bisa diajak "kerja sama". Dan gerombolan Kiu-liong-san akan mendapat susah juga, bahkan mungkin akan digempur dengan kekerasan sehingga angkat kaki dari situ, meninggalkan harta karun yang sudah mereka tumpuk bertahun-tahun.

"Kalau orang Pak-khia itu tidak mau diajak damai, kita gorok saja lehernya!" Hok Tong Peng tiba-tiba berkata keras sambil menggebrak pegangan kursinya. Sifatnya yang berangasan membuat ia gampang-gampangan saja dalam mengusulkan pemecahan persoalan.

"Jangan bertindak segegabah itu, Sam-te," kata In Kiu Liong. "Kalau utusan-utusan itu tidak kembali ke Pak-khia, tentu pemerintah pusat akan curiga lalu menyuruh menyelidiki. Akhimya akan lebih banyak lagi orang Pak-khia yang sampai ke sini, itu berarti kesulitan kita bertumpuk-tumpuk. Memangnya kita sudah siap menghadapi pemerintah pusat secara terbuka?"

"Tapi kalau kita biarkan saja, mereka juga menyulitkan kita!" Hok Tong Peng masih penasaran.

"Aku memang menganggap, kalau tidak bisa diajak damai ya kita bunuh saja." kata In Kiu Liong ringan, seolah-olah tidak sedang membicarakan nyawa manusia. "Tapi caranya itu. Sam-te, jangan kasar. Jangan sampai menimbulkan kesan dibunuh, jangan sampai kematiannya malah mengundang lebih banyak lagi orang Pak-khia berdatangan kemari."

"Caranya bagaimana. Toako?"

"Cara yang terperinci belum bisa kutentukan sekarang, aku harus tahu lebih dulu apa saja yang dikerjakan orang-orang Pak-khia itu selama ini. Setelah itu, baru bisa kurancangkan siasatnya."

Siau Gin Heng menjawab, "kerja mereka ya mengelilingi desa-desa wilayah operasi kalian, menanyai penduduk dan penduduk dengan bersemangat langsung menceritakan keluhan-keluhan mereka," wajah Siau Gin Heng kelihatan sedih sebentar, “dan kalau laporan tentang diriku sampai ke Pak-khia. Maka kalian akan kehilangan seorang rekan yang penuh pengertian dan bisa diajak kerja-sama." Dengan nada suara dan mimik mukanya. Siau Gin Heng berjuang Keras menimbulkan rasa haru pemimpin-pemimpin kiu-liong-san itu.

"Siau Cong-peng, tahukah kau kemana mereka pergi selanjutnya, dan kapan waktunya itu yang lebih penting, bukan yang sudah-sudah."

"Oh. menurut rencana, besok pagi mereka akan ke Pek-hi-tin."

"Mereka bawa pengawal?"

"Sepuluh orang yang tampaknya cukup tangguh."

In kiu Liong mengangguk-angguk lalu menoleh kepada ketiga bekas pimpinan lama. "Ada di antara kalian yang bisa menunjukkan jalan dari Kim-teng Pek-hi-tin? Dengan melihat tempat yang bakal dilalui itu, barangkali akan muncul gagasanku untuk memecahkan soal ini."

Kali ini He Seng Boan yang menjawab, karena dialah yang paling sering keluyuran mencari perempuan-perempuan desa yang cantik-cantik, "Aku hapal luar kepala, Toako. Sepuluh li setelah ke luar dari Kim-teng melalui jalan besar, jalan lalu bercabang dengan jalan kecil melewati lereng pegunungan. Kemudian lewat sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil Pek-hi-kang."

Tiba-tiba In Kiu Liong menukas kata-kata He Seng Boan, "Si-te, cobalah ceritakan terperinci tentang jembatan dan sungai itu."

"Itulah sebuah jembatan kayu kira-kira selebar satu depa, antara ujung satu dengan ujung lain ada limapuluh depa, tingginya dari permukaan sungai ada lima belas tombak."

"Airnya deras tidak? Bagaimana dengan tebingnya?"

"Deras, sebab ditempat dibuatnya jembatan itulah sungai menyempit. Tebingnya curam dan..."

In Kiu Liong tiba-tiba tertawa dan perkata, "Kalau orang-orang Pak-khia itu lewat jembatan dan tiba-tiba jembatnya roboh lalu mampus di sungai, akan nampak seperti pembunuhan atau kecelakaan?"

Wajah murung Siau Gin Heng mendadak merjadi cerah, la menepuk-nepuk pahanya sendiri. "Bagus, bagus. Cemerlang sekali gagasanmu, Toa-san-cu. Aku mengucapkan selamat bahwa sahabat-sahabat baikku di Kiu-liong-san mendapat pimpinan baru yang berotak cemerlang." Lalu tertawalah ia dengan riangnya.

Sambil tersenyum bangga, In Kiu L.icng menghirup tehnya, lalu bertanya, "Eh, omong-omong sejak tadi Cong-peng belum menyebut nama orang-orang Pak-khia itu. Karena aku pernah lama tinggal di Pak-khia, barangkali saja pernah kukenal mereka."

"Yang satu sudah berusia setengah abad, namun nampaknya malah amat menghormati kepada yang lebih muda. Yang tua itu bernama Koh Hian Hong."

In Kiu Liong menganguk-angguk sambil bergumam, "Pantas. Dia memang seorang pegawai Hou-po Ceng-tong (Kantor Keuangan), di Pak-khia. Karena sikapnya yang kolot dan sok suci, maka biarpun teman-teman seangkatannya sudah naik pangkat dan kaya-raya, dia sendiri masih melarat terus. Pantas Cong-peng tidak bisa menyuapnya. Tetapi ilmu silatnya lumayan juga."

"Saking sucinya, dagingnya akan menjadi berkah bagi ikan-ikan di sungai Pek-hi-kang," komentar He Seng Boan disambut suara tertawa semua orang.

Semenara Siau Gin Heng melanjutkan, ".... yang muda bernama Kiu Thian Cu. Wajahnya sungguh istimewa, memancarkan semacam kewibawaan yang menindih orang, terutama sorot matanya yang sulit ditentang. Ditambah sepuluh pengawal yang kuceritakan tadi."

Mendengar nama Kiu Thian Cu itu, berkerutlah alis In Kiu liong, ia kelihatan memutar otak. Nama itu belum pernah didengarnya, namun ada perasaan bahwa nama itu tidak sembarangan. ada sesuatu yang hebat dibalik nama itu, entah apa.

"Siau Cong-peng, supaya kau bebas dari kecurigaan dalam peristiwa itu. sebaiknya besok kau ikut bersama rombongan itu. Pada saat kedua orang Pak-khia itu terjerumus ke sungai. Cong-peng harus kelihatan panik dan pura-pura mau menolong. Para pengawal mereka yang melihat tindakan Cong-peng, dan Cong-peng takkan dicurigai."

"Baik sekali. Toa-san-cu. Mari kita minum arak untuk keberhasilan rencana ini!"

* * * *

Matahari masih dalam perjalanan awal dalam menyusuri busur langit yang menjadi garis edarnya sehari-hari. Sinarnya dari timur masih miring rendah, belum sepenuhnya mampu mengusir kabut di atas kota Kin-teng maupun pegunungan Kiu-liong-san yang menjadi latar belakang kota ini.

Namun sebuah rombongan berkuda telah keluar dari pintu gerbang kota Kim-teng. Yang berkuda paling depan adalah Kui Thian Cu dari Pak-khia yang ingin mendengar sendiri keluhan rakyat di sekitar pegunungan Kiu-liong-san. la berumur sekitar duapuluh tahun, berwajah lebar dengan sepasang alis yang melengkung panjang seperti sepasang naga, matanya seperti sepasang mutiara hitam yang berkilat tajam berwibawa. Jubahnya dari kain satin biru, dengan sebatang pedang berjuntai di pinggang kirinya.

Di kiri kanannya tapi agak kebelakang, adalah Koh Hian Hong dan Siau Gin Heng. Setelah itu di belakang mereka barulah para pengawal berkuda. Baik pengawal yang dibawa sendiri oleh Kui Thian Cu, maupun pengawal-pengawal Siau Gin Heng sendiri dari Kim-teng.

Sambil berkuda, Siau Gin Heng sering melirik ke arah beberapa pucuk bedil sundut yang dibawa oleh para pengawal Kui Thian Cu. Senjata api di jaman Kaisar Yon Ceng (1722-1735) itu masih termasuk barang langka, pasukan di Kim-teng belum mempunyainya sepucuk pun. Hanya di ibukota-ibukota propinsi sajalah yang sudah dibentuk regu-regu bersenjata api, itupun tidak banyak jumlahnya. Maka dengan melihat perlengkapan para pengawal Kui Thian Cu ini, Siau Gin Heng bisa menduga kalau Kui Thian Cu agaknya benar benar tokoh penting di Pak-khia. Tapi kok belum pernah terdengar namanya?

"Masih jauhkah desa Pek-hi-tin dari sini?" tiba-tiba Kui Thian Cu bertanya sambil menoleh kepada Siau Gin Heng.

"Kira-kira lima belas li, tai-jin," sahut Siau Gin Heng hormat.

"Sudah tujuh desa kudatangi, dan semuanya mengeluh tentang ulah berandal-berandal Kiu-liong-san yang seenaknya saja memeras rakyat," kata Kui Thian Cu. "Kenapa kau belum bertindak menolong penduduk, Cong-peng?"

"Karena aku harus bertindak dengan rapi, tidak gegabah, dan harus menghitung dulu kekuatan lawan," lancar Siau Gin Heng mengeluarkan dalih yang sudah disiapkan sejak lama. "Dengan mempertaruhkan nyawa, pernah aku sendirian menyelundup ke Kiu-liong-san untuk menaksir kekuatan para bandit. Dan aku sadar, tidak mungkin menghadapi mereka secara kekerasan dengan mengandalkan perajurit bawahanku..."
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Jilid 12

Kemelut Tahta Naga II Jilid 12

Karya : Stevanus S P

Wajah In Te mau tak mau agak menegang mendengarnya. Sedangkan Kam Hong Ti melanjutkan,

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
"In-heng, terus terang saja, aku terlibat langsung dalam pencurian Surat Wasiat Kaisar Khong Hi, ayahanda In-heng, mengubah huruf dalam Surat Wasiat itu, sehingga ketika Surat Wasiat dibacakan, In-heng tersingkir dan In Ceng yang naik tahta. Memang Ni Keng Giau-lah yang menggerakkan pena mengubah surat itu, namun akupun ikut berdosa karena aku adalah anggota regu kecil yang disuruh In Ceng untuk masuk ke ruang Han-lim-pong, mengambil dan kemudian mengembalikan lagi surat itu ke tempatnya setelah diubah Ni Keng Giau. Padahal dalam Surat Wasiat itu namamulah yang tercantum, In-heng. Aku telah membuat kerugian besar buatmu, karena ketololanku dulu, In-heng."

Habis mengucapkan itu, Kam Hong Ti merasa lega sudah. Dan dia sekarang siap untuk dicaci-maki atau dihukum oleh Pak Kiong Liong atau In Te. Tapi Kam Hong Ti jadi heran ketika melihat kedua orang di hadapannya itu nampak tenang-tenang saja. Memang mereka menarik napas beberapa kali, tapi tidak nampak kehilangan kendali diri.

"Kalau Kam-heng ingin berbaik hati, aku hanya ingin tanya satu soal lagi yang selama ini masih menjadi pertanyaan di hatiku," Pak Kiong Lionglah yang berkata.

"Silahkan, Lo-cian-pwe. Aku akan sejujur-jujurnya kepada Lo-cian-pwe berdua untuk mengurangi beban rasa bersalahku."

"Terima kasih. Bisakah Kam-heng menjelaskan, bagaimana caranya Sian-hong (Kaisar terdahulu) meninggal dunia?"

"Saat terjadinya itu, aku tidak ada di samping In Ceng. Hanya saja tiba-tiba Kudengar kabar dari Pak-khia kalau Sribaginda Khong Hi diumumkan wafat karena penyakitnya. Antara pengubahan Surat Wasiat dan wafatnya Sian-hong itu ada selisih waktu yang cukup lama. Jadi aku tidak tahu menahu bagaimana cara meninggalnya Sian-hong."

Pak Kiong Liong dan In Te hampir bersamaan menarik napas panjang. Aneh juga perasaan mereka. Mereka bertanya, namun malahan merasa lega kalau Kam Hong Ti menyatakan tidak tahu. Rupanya, dalam hati mereka ada rasa segan dan hormat kepada Kang-lam Thai-hiap yang jujur ini, dan mereka lega karena kehilangan alasan untuk bertempur dengan Kam Hong Ti. Coba Kam Hong Ti menjawab bahwa ia terlibat langsung dalam mengakhiri riwayat Kaisar Khong Hi, tentu Pak Kiong Liong dan In Te bagaimanapun juga akan turun tangan.

Kata In Te kemudian, "Itu yang namanya takdir, Kam-heng. Ayahanda sudah mengatur agar aku yang menggantikannya, namun dia tetap manusia biasa yang tak kuasa menentukan yang bakal terjadi di masa depannya. Pengaturannya sudah rapi, namun yang terjadi ternyata lain. Kakanda In Ceng-lah yang akhirnya bertahta. Itu takdir, Kam-heng, tak perlu merasa bersalah secara berlebihan."

"Terima kasih kalau Lo-cian-pwe dan In-heng memaafkan aku. Tapi kekeliruan tindakanku telah menimbulkan bencana yang tidak kecil. Pembantaian di Hong-hua-lau, pemusnahan Siauw-lim-si di Siong-san, penumpasan Hwe-liong-pang, dan entah berapa ribu lagi korban-korban lain. Kekejaman itu karena In Ceng bertahta, dan In Ceng bertahta antara lain karena dukunganku, tak mungkin hati kecilku mengingkari hal ini. Segala bencana itu adalah buntut dari ketololanku beberapa tahun yang lalu. Karena itu, kesalahanku barulah impas jika aku sudah bisa memperbaikinya dengan tindakan nyata, langsung ke akar masalahnya!"

Alis Pak Kiong Liong berkerut. "Maksudmu, Kam-heng?"

Sahut Kam Hong Ti sambil mengepalkan tinjunya. "Siapa yang menyalakan api yang menimbulkan kerusakan, dia juga yang harus memadamkannya!"

Pak Kiong Liong dan In Te rambah kaget. Namun sebelum mereka sempat minta penjelasan lebih lanjut, tiba-tiba di langit sebelah utara terdengar suara ledakan, dan nampak kembang api yang membentuk garis asap berwarna putih dengan latar belakang langit biru.

Melihat itu, Kam Hong membungkuk hormat sekali lagi, dan berkata, "Cukup melegakan hari ini aku bisa bertemu dengan Lo-cian-pwe dan In-heng. Kawan-kawanku sudah melepaskan isyarat untuk memanggilku. Aku mohon diri." Tanpa menunggu jawaban lagi, tubuh Kam Hong Ti dengan cepatnya berkelebat bagaikan kilat.

Setelah tubuh Kam Hong li tidak kelihatan lagi, bertanyalah In Te kepada Pak Kiong Liong, "Paman, apa maksudnya dengan kata-kata tadi?"

"Aku khawatir, dia akan cepat-cepat merobohkan tiang rumah yang lama, sebelum tiang rumah yang baru terpasang cukup kuat. Kalau begitu, rumahnya sendiri bisa ambruk."

In Te mengangguk-angguk. "Tidakkah kita bisa mencegahnya, setidak-tidaknya untuk sementara?"

"Sulit sekali. Pertama, mereka berpendirian kuat. Kedua, kita sulit untuk bisa mengikuti terus sepak-terjang mereka yang serba terselubung. Ketiga, mereka didera oleh perasaan bersalah karena dulu ikut mendukung Yong Ceng, lalu mereka ingin memperbaiki kesalahan itu secepat-cepatnya. Mereka anggap, apa yang akan mereka lakukan sekarang adalah semacam tindakan penyelamatan bagi umum."

"Jadi?"

"Biarkan saja mereka merobohkan tiang lama. Kita harus cepat-cepat menyiapkan dan menegakkan kuat-kuat tiang yang baru!"

In Te paham kiasan itu. Artinya, biarkan Kam Hong Ti dan kawan-kawannya "menebang" Kaisar Yong Ceng si tiang lama itu, dan Pak Kiong Liong akan menyokong dan menyiapkan Pangeran Hong Lik untuk mengambil alih tongkat kepemimpinan sebelum "rumah ambruk". Jadi semacam pembagian kerja dengan kelompok Kam Hong Ti. Sedih juga In Te kalau mengingat bahwa betapapun juga Kaisar Yong Ceng adalah kakaknya, namun memang tak boleh berkuasa lebih lama lagi sehingga korbannya akan semakin banyak berjatuhan.

"Sekarang, mari kita ke Pak-khia secepatnya. Gerakan merobohkan tiang lama dan menegakkan tiang baru harus serempak, jangan memberi kesempatan kepada pengacau-pengacau ambisius mengail di air keruh selagi ada kekosongan kekuasaan biarpun cuma sebentar."

"Bagaimana dengan ketiga anak yang minggat itu?"

"Apa boleh buat, kita lupakan mereka dulu demi sesuatu yang jauh le bih penting. Lagipula, toh mereka akan tetap saling kontak dengan saudara-saudara dari Hwe-liong-pang. Tidak terlalu berbahaya."

* * * *

Seorang lelaki berusia kira-kira empatpuluh tujuh tahun, bertubuh tegap, bentuk wajahnya agak persegi, dengan hidung yang besar dan jenggot pendek, berjalan memasuki sebuah desa di hamparan kaki pegunungan Kiu-liong-san. Ketika berjalan memasuki desa, dibukanya caping bambunya yang melindungi dari panas tengah hari, digunakan untuk mengipas-ngipas tubuhnya.

Sekali ia menoleh ke belakangnya, ke jalan panjang yang baru saja dilalui nya. Lalu tertawa dingin sambil mengejek dalam hati. "Hem, anak-anak ingusan dan keledai-keledai tolol Hwe-liong-pang itu mau berlagak menjadi pahlawan-pahlawan. Mana bisa kalian menangkapku? Mengikuti aku saja kalian tidak becus. Tentu sekarang kalian sedang kebingungan kehilangan jejakku lagi, hem...."

Orang itulah yang di kota Tan-liu pernah memperkenalkan diri kepada Wan lui dengan nama In Kiu liong. dan mengaku "seperjuangan dengan Pak Liong liong". Namun kemudian di tengah perjalanan dari Tan-liu ke Hang-ciu ketika membuntuti rombongan Ni Keng Giau, In Kiu Liong mendadak memisahkan diri dari Wan Lui dengan pergi diam-diam.

Dalam perjalanan selanjutnya yang dilakukannya sendirian, tiba-tiba kini In kiu Liong di desa di kaki pegunungan kiu-liong-san itu. Sebuah desa penghasil semangka bermutu tinggi. In kiu Liong segera tertarik melihat semangka-semangka yang dijual di pinggir jalan, apalagi di antaranya ada yang sudah dibelah sehingga kelihatan dagingnya yang merah segar.

Saat itu adalah tengah hari, dimana matahari tengah panas-panasnya bersinar. Apalagi sehabis berjalan jauh, maka selera In kiu Liong segera dibangunkan oleh semangka- semangka itu. Ia membelokkan langkah kepada seorang penjual semangka di bawah sebuah pohon, dan minta dibelahkan satu semangka.

Sesaat kemudian, ia sudah begitu lahap menikmati segarnya daging semangka, sampai airnya menetes-netes membasahi bajunya di bagian dada.Sambil makan dicobanya bercakap- cakap dengan si penjual.

"Pak, apa nama pegunungan yang kelihatan di sana itu?"

Si penjual semangka beberapa kejap menatap pegunungan itu dengan pandangan benci, dan menjawab singkat, "Kiu-liong-san."

Sebaliknya In Kiu Liong tiba-tiba tersenyum. Nama pegunungan itu menimbulkan minatnya, sebab sama dengan nama yang sedang dipakainya saat itu. Kiu Liong. Timbul pula semacam pikiran, daripada berkelana kesana kemari sambil diuber-uber banyak musuh, rasanya lebih baik bersembunyi dipegunungan itu sambil mempertinggi ilmunya dan merencanakan langkah-langkah untuk masa depannya. Kenapa tidak? Ambisinya takkan kunjung terwujud, kalau ia terus-terusan hidup seperti binatang liar yang setiap detiknya sekedar memperpanjang umurnya dari ancaman pemburu-pemburu.

"Aku harus mulai mencari tempat berjejak yang pasti," tekadnya dalam hati.

Selagi hendak bertanya lebih banyak lagi, tiba-tiba dilihatnya penjual itu menampilkan wajah benci dan menatap ke ujung jalan desa. In Kiu Liong jadi tertarik dan ikut-ikutan menoleh ke arah yang sama. Dari arah itu muncul sepuluh orang lelaki yang semuanya membawa senjata, berpakaian ringkas dan bertampang kasar. Tapi pemimpin rombongan itu selalu berusaha menampilkan senyum ramah di wajahnya, sayangnya sambil memanggul tombak panjang yang menakutkan orang.

Mereka mendekati warung buah-buahan yang paling ujung. Pemimpin kelompok mendekati penjualnya sambil berkata dengan suara seramah-ramahnya, "Selamat siang, Paman Phui. Sehat-sehat saja?"

"Ya," si penjual menjawab singkat dan terpaksa.

"Ya syukurlah. Kudengar kebun buah Paman bagus panenannya ya? Jadi kalau lima tahil perak kurasa tidak berat buat Paman."

Dengan muka cemberut hebat, si penjual langsung membayar tanpa banyak cingcong. "Terima kasih, Paman. Warungmu dijamin aman dan tertib dibawah perlindungan kami," semakin ramah sikap pemimpin orang-orang bersenjata itu sambil mengantongi uangnya. "Kudoakan juga agar dagangan Paman laris."

Warung demi warung didatangi rombongan itu, dan semuanya membayar "sumbangan keamanan" yang dalam waktu singkat telah memadatkan kantong uang orang-orang itu.

Penuh perhatian In Kiu Liong memperhatikan gerak-gerik orang-orang bersenjata itu, namun tidak berbuat apa-apa. Setelah orang-orang itu pergi dengan kantong uang yang sarat, barulah In Kiu Liong bertanya kepada penjual semangka, "Siapa orang-orang itu?"

"Berandal-berandal gunung Kiu-liong-san."

"Berapa mereka minta tiap bulannya?"

"Dari desa ini saja sedikitnya tigaratus atau empatratus tahil yang mereka dapatkan, belum dari desa-desa lain. Ada empatpuluh delapan kampung di sekitar pegunungan Kiu-liong-san yang harus membayar kepada mereka secara tetap, dibawah ancaman mereka."

In Kiu Liong mengangguk-angguk sambil membayangkan betapa "sungai uang" mengalir ke sarang bandit-bandit itu. "Tentunya mereka punya kekuatan yang cukup, sehingga berani melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang syah. Benar begitu?"

"Hampir seribu bandit bersarang di lereng selatan pegunungan itu. Semuanya mahir bertempur dan tega bertindak kejam terhadap siapapun yang menentang mereka."

"Akhirnya kutemukan juga sejengkal tanah untuk berpijak untuk meraih cita-citaku!" pikir In Kiu Liong yang tiba-tiba saja merasa gembira. "Seribu orang calon perajurit-perajurit setiaku." Tapi kebembiraannya cuma dalam hati, sedang wajahnya nampak biasa-biasa saja. "Apakah yang memanggul tombak tadi adalah pemimpin mereka?"

"Bukan. Pemimpin mereka adalah tiga orang yang menamakan diri Sam-liong (tiga naga). Mereka hampir tak pernah keluar dari sarang mereka, sebab segala urusan di luar sarang sudah cukup lancar dijalankan oleh anak buah mereka."

"Hem, Sam-liong..." kembali In Kiu liong membatin. "Tiga orang calon jenderalku. Besar juga nyali mereka. Apakah di dekat-dekat sini tidak ada pos terntara kerajaan. sehingga para bandit berani mengganggu desa-desa itu di siang bolong?"

"kota yang paling dekat dengan tempat ini ialah Kim-teng. Di sana adu pasukan yang dipimpin Cung-peng Siau Gin-heng. Tapi payah. Tentara Kerajaan yang gagah-gagah ini tak pernah bertindak terhadap bandit-bandit itu, entah kenapa, keluhan kami tidak pernah di gubris oleh Siau Cong-peng."

In Kiu Liong tertawa dalam hati ketika mendengar itu. la dapat mencium adanya persekongkolan antara pimpinan tentara di Kim-teng dengan gerombolan bandit di Kiu-liong-san. Mungkin semacam perjanjian "bagi hasil" atau semacamnya. In Kiong Liong membayar harga semangka yang dimakannya, lalu ia berjalan meninggalkan desa itu. Arahnya pasti kini, yaitu ke arah gunung yang nampak tidak terlalu jauh itu.

Tidak lama kemudian, ia tiba dikaki gunung. Dijumpainya di situ sebuah papan batu besar yang ditancapkan di tanah. Di permukaan papan batu terukir huruf "Kiu-liong-ce". Memperhatikan halusnya dan indahnya ukiran huruf dipapan batu itu, In Kiu Liong diam diam membatin, "Pembuat tulisan ini tentu Bandit yang juga seninam. Entah dia termasuk gerombolan Kiu-liong san atau tidak. Kalau ya, aku harus berhati hati. Otot-otot yang kasar tapi berotak bebal tak perlu aku khawatirkan. Tapi otak cemerlang yang barangkali ada di antara gerombolan itu, jelas lebih berbahaya. Aku mesti berhati-hati."

Ketika ia mengangkat mukanya untuk menatap ke pegunungan itu. Dilihatnya ada sebuh jalan kecil seperti sehelai pita amat panjang yang ditebarkan di tubuh pegunungan. Berbeilit-belit dan kadang-cadang nampak terputus karena tertutup oleh lautan pepohonan yang lebat. Kemudian In Kiu Liong naik ke gunung itu dengan langkah yang mantap diantara deretan pepohonan dikiri dan kanan yang membentuk lorong yang beralas lunaknya daun-daun kering yang tebal di tanah.

Tiba di pinggang bukit, dua orang bandit menghadang jalannya. Berbeda dengan bandit-bandit yang sedang “dinas luar”, maka bandit yang di gunung ini justru berpakaian cukup rapi dan sikap lakunya-pun terjaga "dengan baik menurut ukuran para bandit.

"Maaf, tuan," kata salah seorang penghadang dengan sopannya. "Bolehkah kami tanya siapa diri tuan, dan apa keperluan tuan mengunjungi tempat kami ini?”

“Bandit sekolahan” pikir In Kiu Liong. Karena merasa dirinya cukup kuat untuk menaklukkan kawanan bandit itu, iapun menjawab terang-terangan, “Aku akan memimpin kalian, untuk memimpin dalam suatu perjuangan yang jauh lebih berharga daripada sekedar mengemis didesa-desa.”

Wajah kedua penghadang itu berubah hebat mendengarnya. Serempak mereka mundur untuk bersiaga dengan sejata masing-masing. Yang satu memegangi pedang besar, yang satu lagi membawa tombak berujung bolak-balik depan belakang. Senjata-senjata yang tidak umum itu menunjukkan kalau kedua penghadang itu bukan pesilat kelas kambing, dan tentunya “pangkat” mereka dilingkungan bandit agak tinggi juga.

In Kiu Liong tersenyum melihat sikap kedua penghadangnya itu, “Kalau aku berani kemari untuk mengambil alih pimpinan atas kalian, itu artinya aku yakin akan kekuatanku. Apa tidak lebih bijaksana kalau kalian datang saja ke atas, bilang kepada Sam-liong bahwa pimpinan baru sudah datang, lalu mereka siapkan sambutan kehormatan yang sepantasnya?"

Kedua bandit itu meluap darahnya. Gerombolan mereka cukup ditakuti, sampai Panglima di Kim-teng pun bisa mereka ajak "bagi hasil". Kini tiba-tiba muncul seorang yang tidak keruan dari mana datangnya, yang datang-datang terus hendak menjadi pemimpin. Tapi kedua bandit itupun ragu-ragu, sampai dimana kehebatan ilmu orang ini sehingga berani bersikap begini sombong? Kedua bandit itu bertukar pandangan sekejap, dan diam-diam sepakat untuk bicara mengulur waktu sambil menunggu datangnya tenaga tambahan. Tak lama lagi tentu ada rekan yang akan lewat tempat itu.

Salah seorang lalu menjawab, "Di tempat ini, segala sesuatu ditentukan oleh Toa-ce-cu (pemimpin pesanggrahan tertua), kami tidak berani mengambil keputusan sendiri. Kami akan menyampaikan niat tuan kepada Toa-ce-cu, tapi menurut kelaziman, perkenalkanlah kami membawa kartu nama tuan ke atas."

In Kiu Liong menyeringai, "Wah, sudah lama aku tidak peduli segala macam tetek-bengek macam itu. Karena itu, aku tidak membawa satu lembar pun kartu nama."

"Kalau begitu, silahkan tuan turun gunung untuk menulis dulu satu lembar kartu nama. Asalkan syarat ini dipenuhi, kami tidak keberatan memberi sambutan yang selayaknya."

Sebetulnya In Kiu Liong sudah hampir habis kesabarannya dan ingin menerjang saja ke atas gunung. Tapi mendadak dalam pikirannya terlintas niat untuk sedikit pamer ilmu, untuk menggoncangkan jiwa para bandit agar mau tunduk kepadanya. Karena itu, diapun menjawab sambil tertawa, "Baiklah. Aku ambil kartu namaku sebentar ya?"

Lalu In Kiu Liong melangkah balik ke kaki gunung. Kedua bandit Kiu-liong-san itu tercengang, tak menyangka akan begini gampang memukul mundur si tamu tak diundang itu hanya dengan suatu alasan kecil yang mereka karang sendiri. Setelah ln Kiu Liong tak kelihatan, kedua bandit itu saling pandang sekejap, lah, bersama-sama tertawa terbahak-bahak.

"Dasar pembual! Pertamanya saja kukira kepandaiannya setinggi langit, sehingga berani membual dengan mulut selebar itu! Kiranya begitu melihat kita tidak gentar, diapun mundur teratur, Sayang dia jembel yang tidak punya apa-apa. Kalau tidak, jangan harap kita biarkan pergi begitu saja sebelum kita kuras bersih isi kantongnya."

"Jembel saja jembel sinting. Mungkin dia kehabisan uang di perjalanan, tapi malu untuk mengemis atau mengumpulkan sisa makanan. Lalu dia datang kemari dengan membawa lagak seorang berilmu tinggi. Ha-ha-ha dia belum tahu macam apa tempat yang dia datangi itu."

"Hah?"

"Lho, ada apa?"

"Dia naik lagi kesini. Nampaknya... membawa sesuatu...."

Memang ln Kiu Liong yang tadi sudah pergi, kini naik kembali. Kali ini tidak berjalan perlahan-lahan, tetapi dengan langkah kaki hampir seperti terbang cepatnya. Tangan kirinya mendekap sebuah papan batu putih sepanjang satu meter, lebar setengah meter, tebalnya sejengkal. Cukup berat untuk orang lain, tapi nampaknya ringan saja buat In Kiu Liong. Beberapa detik kemudian, ketika ia tiba kembali di hadapan kedua bandit itu, kelihatan napasnya masih wajar dan tidak terengah-engah hanya ada beberapa titik keringat di jidatnya.

"Ini, sudah kubawakan kartu namaku. Silahkan kalian membawanya untuk ditunjukkan kepada Sam-liong," In Kiu Liong tertawa sambil menjatuhkan papan batu yang berdebum karena beratnya. "Maaf kalau kartu namaku kurang praktis."

Memang semakin kurang ajar si "jembel sinting" ini, sebab Sam-liong (tiga naga) digantinya jadi Sam-jong (Tiga cacing). Tetapi kedua bandit penghadangnya bukan marah, malah terlongong kaget dengan wajah pucat. Betapa tidak? Karena "kartu nama" itu ternyata adalah potongan tugu nama di kaki gunung yang terbuat dari batu granit. Tapi telah dipatahkan sedemikian rupa sehingga yang terbawa hanyalah dua huruf paling atas, "Kiu- liong", yang dijadikan kartu nama itulah.

Begitulah si "jembel yang kehabisan uang" itu sekaligus telah menunjukkan kekuatan pukulan dengan memotong tugu itu, kekuatan tenaganya ketika membawa potongan tugu itu ke atas dengan begitu ringan, dan ilmu meringankan tubuh karena telah berhasil bolak- balik ke kaki gunung dalam tempo begitu singkat. Seganas-ganasnya kedua bandit Kiu- liong-san itu, mereka sadar akan mampus kalau masih nekat merintangi si "jembel" itu.

"Kenapa melongo saja?" kata ln-kiu Liong sambil tertawa. "Tadi kalian minta kartu nama, nah, aku bawakan. Aku she In dan namaku memang kiu liong, sama dengan nama gunung ini. Nah, bawalah kartu namaku menghadap pemimpin-pemimpin kalian yang bakal tergusur!"

Kedua bandit itu sudah rontok nyalinya. "Baik... baik..." mereka menjawab dengan gugup. Setelah saling pandang sejenak, lalu mereka terpaksa harus menggotong "kartu nama" yang istimewa itu.

Karena jalanan di lereng itu terus menanjak, maka menggotong batu seberat itu tentu saja makan tenaga, biarpun berdua. Setiap berjalan belasan langkah, kedua bandit itu meletakkan sebentar bawaan mereka untuk mengusap usap keringat sambil terengah-engah. Lalu mengangkat lagi hanya untuk maju belasan langkah dan berhenti lagi, begitulah seterusnya.

In Kiu Liong terus mengikutinya sambil bersiul-siul riang. Kedua bandit itu amat mendongkol, tapi tidak berani berbuat apa-apa. Setelah mereka merasakan sendiri betapa beratnya "kartu nama" itu, mereka harus mengakui betapa hebat tamu tak diundang yang tadi sanggup membawanya dengan sebelah tangan sambil berlari secepat terbang.

Akhirnya malah In Kiu Liong sendiri yang jadi tidak sabar oleh lambatnya perjalanan itu. Katanya, "Kalian bawa terus sampai ke atas, aku akan jalan dulu!"

Kepala kedua bandit itu dilompatinya, lalu melesatlah In Kiu Liong ke atas gunung. Kedua bandit yang sudah kepayahan menggotong "kartu nama" itupun merasa dibebaskan, lalu menjatuhkan potongan tugu itu ke tanah. Sesaat mereka mengusap-usap keringat sambil memperbaiki napas mereka yang ngos-ngosan.

"Kita dalam bahaya," kata yang seorang. "Lebih baik bunyikan isyarat ke atas gunung, agar semuanya bisa bersiap siap menghadapi si jembel sinting itu!"

"Jembel dan sinting, tapi mungkin juga amat berbahaya."

"Bukan mungkin, tapi pasti!"

"Cepat bunyikan isyarat!"

Seorang dari mereka menuju ke balik sebuah pohon besar yang sudah diberi tanda. Di balik pohon itu ada seutas tali yang kalau tidak diperhatikan benar-benar akan sulit dibedakan dengan akar yang berjulnran dari atas pohon. Ketika tali itu ditarik, sebuah lonceng kecil di pos penjagaan berikutnya akan berbunyi. Dan pos itu meneruskan isyarat ke pos-pos berikutnya sampai ke sarang secara berantai.

Sarang bandit segera sibuk menyiapkan diri. Maklum, sudah bertahun-tahun mereka hidup aman dan tak pernah mendengar isyarat bahaya. Kini isyarat bahaya berbunyi, tentunya ada hal yang cukup gawat.

Untuk sampai ke "benteng" kaum berandal, In Kiu liong masih harus melewati tiga pos lagi. Namun semuanya bisa dilewati dengan gampang dengan membabak-belurkan bandit bandit di situ. Dalam tindakan ini, In Kiu liong menahan diri untuk tidak mengumbar nafsu membunuhnya yang sudah mendarah daging, la tidak membunuh seorang pun, agar kawanan bandit itu kelak tidak membencinya sebagai pimpinan.

Sampai di atas gunung, In Kiu-Liong tercengang melihat sarang gerombolan itu. Tadinya ia mengira akan menemui sekumpulan bangunan yang acak-acakan, asal jadi, kotor dan biasanya juga bau air kencing di mana-mana. Ternyata gambaran yang didapatinya keliru. Sebab yang dilihatnya sekarang adalah bangunan besar yang keindahannya menyaingi puri para bangsawan. Bisa disimpulkan kalau kawanan berandal itu cukup punya kekayaan, sehingga bisa membangun kediaman seperti itu.

Tetapi di depan bangunan indah itu ada ancaman yang tidak bisa diremehkan. Di depan bangunan ada lapangan luas nama lapangan luas itu jadi kelihatan sempit karena ribuan berandal bersenjata sudah memenuhi lapangau itu. Di tengah-tengah mereka ada kursi yang bisa digotong, diduduki tiga orang pimpinan berandal yang disebut Sam-liong.

Melihat persiapan sehebat itu. agaknya bunyi isyarat bahaya tadi telah tafsirkan begitu hebat oleh kawanan berandal itu. Namun para berandal terkejut ketika melihat yang muncul dari kaki gunung itu cuma seorang lelaki setengah umur, sendirian dan tak bersenjata. Inikah "bahaya" itu? Tapi terlihat wajahnya yang persegi dan matanya yang tajam berkilat-kilat itu rasanya memang memancarkan kelebihan orang ini.

Tenang sekali In Kiu Liong melangkah ke tengah lapangan sambil tersenyum-senyum, sehingga berewoknya yang kelabu itu bergerak-gerak sedikit. Katanya langsung, tanpa tedeng aling-aling, "Aku tahu kalian tentu tidak suka pembicaraan yang bertele-tele, tapi lebih suka langsung membuktikan kekuatan sebagai penentu keputusan terakhir. Itu bagus. Akupun sama seperti kalian."

"Siapa kau?" gelegar suara pimpinan tertua yang duduk di kursi tengah, la bernama Goh Kun dan berjulukan Ang-mo-liong (Naga Rambut Merah). Tubuhnya nampak tinggi besar biarpun sedang duduk, rambutnya yang terurai maupun jenggotnya memang berwarna merah berbaju pendek dari kulit macan tutul. Sambil duduk dengan sebelah kaki dinaikkan kursi, tangan lainnya memegangi toya Long-ge-pang (toya gigi serigala) dari besi. Salah satu ujung toya dihiasa deretan-deretan gigi besi yang rapat. Senjata dan perawakannya saja sudah mengerikan.

"Namaku ln Kiu Liong." sahut In kiu Liong. "Cocok untuk menjadi penguasa pegunungan Kiu-liong-san!"

Para berandalpun mendadak tertawa riuh-rendah, seakan-akan disuguhi pertunjukan lawan yang amat lucu. Namun si "pelawak" itu nampak tenang-tenang saja, tak menggubris sikap mengejek para berandal. Ketika suara tertawa mereda, barulah In Kiu Liong melanjutkan.

"Kalian boleh tertawa sepuas kalian. Aku tahu kalian menganut hukum rimba, hukum yang kuanggap paling adil dan paling masuk akal. Siapa yang terkuat, dialah yang menjadi pemimpin. Nah, aku datang untuk menunjukkan bahwa akulah yang terkuat."

Bagian akhir kalimat itu tenggelam suara tertawa para berandal yang menggelegar kembali, bahkan ada yang sampai terbungkuk-bungkuk memegangi perut atau mengalirkan air mata.

"Lumayan juga nyali badut ini. Bahan lawakannyapun tidak basi." kata si pemimpin kedua. Tiat-kak-liong (Naga Berkaki Besi) Hong Tong Peng yang gemuk pendek namun nampak sepadat batu karang. "Ada gunanya dia datang, untuk mengendorkan syaraf-syaraf kita." Lalu diapun ikut terkekeh-kekeh sambil mengetuk-ngetukkan senjatanya ke lantai. Senjatanya adalah sebuah gada Kim-kong-co yang berpenampang segi delapan, nampak berat sekali.

In Kiu Liong malah ikut-ikutan tersenyum. Namun begitu mendapat kesempatan, kata-katanyapun menyakitkan hati, "Memang, untuk menghindari kekalahan, sungguh bijaksana kalau kalian menghindari tantanganku dan cuma mentertawakan saja. Tertawa memang aman."

Kali ini para berandal menjadi marah, terutama para pimpinannya harus menjaga pamor mereka di anak-buah mereka. "Toako, lama-lama badut ini menjemukan dan tidak lucu lagi, biar anak-anak mengusirnya," usul To-cai-liong (Naga Banyak Hutang) He Seng Boan, si pemimpin ketiga, la berpakaian perlente dan berwajah tampan, namun wajahnya selalu nampak murung sehingg cocoklah dengan julukannya.

Goh Kun mengangguk menyetujui usulnya. Dengan gerakan tangannya, ia memberi isyarat kepada dua orang yang berdiri di belakang kursinya. Dua orang bertubuh raksasa itu adalah pengawal-pengawal pribadinya. Mereka maju ke tengah lapangan, menghampiri In Kiu Liong. Tubuh mereka yang besar itu sengaja agak dibungkukkan cara berjalan mereka juga agak dibuat buat, untuk memberi dampak menyeram kan terhadap lawan mereka.

"Badut sinting, kau pilih untuk pergi sendiri, atau harus kami yang melemparmu dari puncak gunung ini?" geram salah satu raksasa itu. Sedang yang satu lagi telah menggerak gerakkan pundak untuk melemaskan otot- ototnya. In Kiu liong menjawab seenaknya, "Aku pilih jadi pemimpin kalian, tidak mau pergi."

Bicara bolak-balik cuma "jadi pemimpin" saja pokok pembicaraannya, keruan ketiga orang pimpinan berandal itu jadi mendongkol karena ada yang akan meng"kudeta" mereka. Sedangkan sepasang raksasa itupun merasa diremehkan, gertakan mereka seperti tidak digubris. Dengan gerak serempak mereka menerkam dari kanan, ke arah kedua lengan In Kiu Liong. Kena. Lalu keduanya berteriak keras keras sambil mengerahkan tenaga, berusaha melemparkan ln Kiu Liong.

Namun kedua raksasa itu terkejut, karena mereka seolah-olah menghadapi sebuah tugu besi yang tertanam jauh ke dasar bumi. Jangan lagi mau melemparkan, untuk menggoyahkan sedikit saja tidak bisa. Mereka berteriak serempak untuk kedua kalinya dan mengeluarkan tenaga lebih hebat. Begitu hebatnya, sampai salah salah seorang dari mereka mengeluarkan suara yang keras dari pantatnya, berbau pula, dan segera nampak celananya di bagian bawah-belakang menjadi lengket.

Tapi mereka tetap tak berhasil menggoyahkan In Kiu Liong. Justru bau busuk dari pantat itulah yang "menggoyahkan" In Kiu Liong, la menggoyangkan pundaknya keras-keras sambil mengangkat sepasang tangan untuk balas mencengkeram lengan kedua raksasa itu. Maka bukan In Kiu Liong yang terlempar, malahan sepasang raksasa itu yang "terbang" dua detik sebelum mendarat konyol di bumi.

Para berandal terkejut melihat hal ini. Kini mereka semua sadar bahwa tanda bahaya yang dibunyikan tadi ternyata bukan hal yang berlebihan. Goh Kun mulai menurunkan sebelah kakinya yang tadi dinaikkan kursi. Ketawa cengengesan di muka Hok Tong Peng menghilang. Sedangkan wajah He Seng Boan semakin murung, seolah-olah para penagih hutang sudah berbaris di depannya dengan membawa rekening masing-masing.

"Cincang dia!" Goh Kun memerintah kan anak-buahnya.

Bagaikan banjir yang menyerbu tanah rendah, kawanan berandal bersenjata itu serempak menyerbu ke arah In Kiu Liong. Pimpinan tertinggi mereka bukan cuma memerintahkan "tangkap", tapi "cincang".

In Kiu Liong sadar, menghadapi musuh sebanyak itu, tempat terbuka bukanlah gelanggang yang bisa memberinya keuntungan. Tiba-tiba ia melompat tinggi, melompati kepala para berandal dan ia justru melesat ke bagian dalam "puri" para bandit itu. Bukannya berlari menjauhi, malah masuk ke dalam. Ini diluar perhitungan para berandal. Para berandal mengejar dengan penasaran. Mereka berpencaran, memeriksa setiap sudut-sudut dan lorong-lorong di sarang berandal yang mirip sebuah kota kecil di atas gunung itu.

"Bangsat itu pasti sudah miring otaknya. Bukan keluar, malah ke dalam. Dia sama saja dengan ikan masuk jaring!"

"Giring ke suatu sudut sampai tidak bisa lari lagi!"

Mula-mula memang In Kiu Liong tidak melawan, ia cuma berlari-lari berbelok-belok di antara lorong-lorong dan halaman-halaman di dalam markas berandal yang bersimpang- simpang itu. Se kali muncul, lalu menghilang. Siasatnya itu membuat kawanan berandal harus memecah-mecah diri dalam kelompok-ke lompok yang makin lama makin kecil. Ada yang mengejar di sini, yang lain menghadang di sana.

Setelah para berandal berpencaran, mulailah In Kiu L.iong balas menyerang secara bergerilya. Ia masih muncul dan menghilang seperti semula, namun kini setiap munculnya sambil merobohkan ke lompok demi kelompok. Tapi ia masih menunjukkan "kebaikan hati" dengan tidak membunuh seorangpun. la tidak mau calon anak-buahnya itu berkurang jumlahnya karena tangannya sendiri.

Kacaulah kawanan berandal itu menghadapi siasat In Kiu Liong. Kalau satu kelompok disergap dan kelompok lain datang membantu, maka si penyergap menghilang, dan sesaat kemudian sudah muncul di tempat lain untuk mengobrak-abrik kelompok lain. Ketiga orang pimpinan berandal tidak ikut main "petak-umpet", melainkan cuma menunggu di aula karena mereka percaya bahwa anak buah mereka sudah lebih dari cukup untuk membereskan pengacau itu. Mereka tinggal menunggu anak buah mereka akan datang menghadap sambil menjinjing batok kepala pengacau itu.

Ketika mereka mendengar langkah-langkah mendekati aula, ketiga pimpinan bandit itu bertukar senyuman. Yakin akan segera mtendengar laporan keberhasilan anak buah mereka. Namun alangkah kagetnya mereka ketika melihat yang muncul adalah si badut sinting" itu. Sambil tertawa-tawa dan berkata,

"Asyik juga bermain-main dengan calon perajurit-perajuritku. Sayangnya mereka masih terlalu bodoh untuk bertindak taktis dalam menyudutkan lawan, kelak aku harus sabar mengajari mereka. Eh, kalian bertiga tidak ikut main?"

Si Naga Rambut Merah Goh Kun bangkit dari kursinya dengan muka yang menyeramkan, sambil menjinjing senjatanya. Tanyanya, "Bangsat, sudah kau apakan saja orang-orangku?"

"Jangan khawatir, tidak ada yang kubunuh satupun," sahut In Kiu Liong. "Aku ingin punya anak buah orang-orang hidup, bukan mayat-mayat."

"Apa tujuanmu dengan melakukan tindakan gila ini?"

"Lho, apakah tadi aku masih bicara kurang jelas? Tapi baiklah kuulangi lagi, aku akan memimpin kalian. Supaya kalian tidak menghabiskan umur sekedar dengan menjadi bandit-bandit kelas teri yang merampoki penjual-penjual semangka, melainkan bisa menjadi pemimpin-pemimpin dalam susunan pemerintahan yang bakal kudirikan! Kalian akan menjadi pembesar-pembesar terhormat!"

"Lawakan yang berbahaya!" dengus He Seng Boan.

"Bualan macam apa lagi ini, yang kau obrolkan di hadapan kami? Kau pikir setelah berhasil lolos dari anak buah kami, terus otomatis menjadi pemimpin kami? Kalahkan dulu kami bertiga!" Si Naga Kaki Besi Hok Tong Peng juga sudah siap tempur dengan gada Kim-kong-conya.

In Kiu Liong tertawa, "Itu jelas. Mana bisa menjadi pemimpin kalau tidak bisa mengalahkan kalian? Majulah bertiga sekaligus, aku takkan mentertawakan calon panglima-panglimaku sendiri!"

Goh Kun tak kuasa lagi menahan kemarahannya. Tubuhnya yang berukuran raksasa itupun bergerak bagaikan sebuah bukit yang longsor, mengguncang udara di ruangan itu. Toya Long-ge-pangnya terayun datar ke pinggang In Kiu Liong dengan gerakan Oh-liong- boan-jiu (Naga Hitam Membelit Pohon).

In Kiu Liong berkelit mundur dengan gesit, membiarkan toya itu lewat dulu di depan tubuhnya. Dan sebelum toya yang berat itu sempat menyerang kembali dalam gerakan balik, In Kiu Liong tiba-tiba menciutkan jarak dan mendesak rapat ke arah lawannya secepat angin puyuh. Berbareng dengan kedua tangannya terulur untuk mencengkeram ke pundak Goh Kun.

Gerakan In Kiu Liong memang mengejutkan, tapi Goh Kun juga bukan keroco yang bisa ditundukkan dalam sekali gebrakan. Ia mundur, toyanya ditegakkan di depan dada, sambil melakukan tendangan ke perut In Kiu Liong yang tengah mendesak maju Dengan perhitungan kakinya lebih panjang dari tangan lawannya, Goh Kun berharap kakinya akan kena ke sasaran lebih dulu. Sementara toyanya masih menunggu terciptanya kembali ruang gerak yang menguntungkan.

In Kiu Liong tertawa panjang Cengkeraman ke pundak dibatalkan, tapi cuma dibatalkan separoh. Satu tangan menebas langsung ke tulang kering kaki Goh Kun yang menendang, dan satu tangan lainnya tetap meluncur ke depan dengan melewati pertahanan toya Goh kun.

Geraknya serba cepat dan Goh Kun tak mampu membuat perubahan untuk mengimbanginya. Terdengar ia berteriak kesakitan ketika tulang keringnya kena pukulan, bersamaan dengan robeknya baju kulit macan dibagian pundaknya karena kena cengkraman In Kiu Liong. Ia mundur sempoyongan, sakit campur kaget.

Hok Tong Peng dan He Seng Hoan kaget melihat apa yang dialami pemimpin tertua mereka. Kalau dalam suatu pi-bu (pertandingan silat), tentu Goh Kun sudah dinyatakan kalah. Namun kali ini bukan pi-bu, melainkan perebutan kepemimpinan atas kawanan berandal Kiu-liong-san. Si pemimpin kedua dan ketiga itupun serempak maju dengan senjata masing-masing.

Goh Kun sendiri mulai sadar, sendirian saja takkan mungkin menang melawan si "badut sinting" ini. Maka dengan mengorbankan harga dirinya, ia membiarkan saja kedua adik seperguruannya ikut membantu.

Begitulah, gada Hok Tong Peng dan tombak He Seng Boan segera ikut mengisi arena, memperketat jaring-jaring maut yang hendak mencoba membinasakan si "badut sinting". Yang satu adalah senjata berbobot berat yang berdaya-penghancur luar biasa, yang lain adalah tombak yang mematuk-matuk lincah secepat lidah ulat. Ditambah toya Long-ge-pang Goh Kini yang segera menderu bagaikan prahara.

Cuma kali ini, ketiga pemimpin berandal itu ketemu batunya. Biasanya, salah satu saja dari mereka sudah cukup ditakuti. Kini mereka maju bertiga dengan senjata, menghadapi sesosok hantu yang leluasa bergerak semannya di sela- sela sambaran senjata-senjata mereka.

ln Kiu Liong memang begitu lincah, licin, senantiasa lolos dari kejaran senjata lawan- lawannya. Namun ia tidak menghindar terus, sekali-sekali ia pamer kekuatannya yang berlandas Liong-siang-kang (Tenaga Naga dan Gajah), dan sering mengejutkan Goh Kun maupun Hok Tong Peng yang biasa membanggakan kekuatan itu.

“Lumayan, kalian pantas juga menjadi pembantu-pembantu dekatku” kata In Kiu Liong sambil tertawa “Nah, menyerah tidak?”

Napas ketiga lawannya sudah ngos-ngosan, lagi pula sudah basah kuyup dengan keringat, tapi terus menyerang tanpa menggubris kata kata In Kiu Liong.

"Oh, kalian benar-benar bandel. Rupanya aku harus menghajar kalian lebih keras!" dengus In Kiu liong yang mulai jengkel. Lalu gerakannyapun meningkat lebih agresif, ketika toya Liong-ge-pang dan gada Kim-kong-co hendak menggencetnya remuk dari dua arah, ln Kiu Liong berguling lalu melejit secepat kilat. Tahu-tahu ia sudah berada di belakang He Seng Boan kedua tangannya berhasil menyusup ketiak kiri dan kanan He Seng Boan dari belakang.

Pemimpin ketiga dari kiu-liong-san itu merasa tenaganya mendadak lenyap, sehingga tombaknya jatuh ke lantai. Berikutnya ia merasa tubuhnya terangkat dan melayang deras, menubruk meja kursi di pinggir arena meja-kursinya berantakan, kepalanya sendiri benjol dan berkunaug-kunang. Beberapa saat lamanya dia cuma bisa terbaring lemas dan kesakitan di antara kepingan-kepingan kayu reruntuhan meja kursi.

Hok Tong Peng meraung, gadanya menghantam ke punggung In Kiu Liong. Tapi In Kiu Liong berkelit secepat hantu, dan tahu-tahu malah berhasil merebut gada itu. Hok Tong Peng menendang dengan tendangan mautnya yang membuahkan julukan Tiat-kak-liong baginya, namun ia buru-buru menarik tendanganya ketika In Kiu Liong menyong-songkan gada rampasannya tepat ke arah tulang kering Hok Tong Peng. Penarikan tendangan karena panik itu menjadikan Hok Tong Peng kehilangan keseimbangan sehingga jatuh terguling.

In Kiu Liong tertawa dingin sambil melemparkan gada rampasan itu kearah tembok. Senjata berujung tumpul itu menancap di tembok seringan pisau menancap di batang pisang. Bahkan disekitarnya tidak menimbulkan retakan tembok, menandakan betapa terpusatnya tenaga In Kiu Liong ketika melemparkannya. Hok Tong Peng terbelalak pucat. Latihan sepuluh tahun lagipun belum tentu ia bisa melakukan seperti yang di lakukan ln Kiu Liong. Kalau dilempar gada sehingga menjebol tembok, mungkin bisa, tapi tidak menancapkannya semulus itu.

Di arena tinggal Goh Kun yang belum menyerah, masih mengayun-ayunkan senjatanya dengan sengit. Tapi gerak toyanva tiba-tiba terhenti, sebab tepat di sebelah ujung toyanya yang bergerigi. In Kiu Liong telah berhasil mencengkeramnya erat-erat. Entah bagaimana gerakannya, Goh Kun tak sanggup menangkapnya dengan mata. Kini yang dilakukannya hanyalah berusaha menarik kembali toyanya, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya sampai mukanya merah padam dan otot otot jidatnya menggeliat-geliat seperti cacing. Tapi ia tak bisa menarik senjata nya yang seolah-olah tertindih gunung.

"Mengajak adu tenaga, Jite? Ayolah kita bandingkan kekuatan kita," kata In Kiu Liong. Agaknya dia sudah merasa pasti akan menjadi pemimpin nomor satu di Kiu-liong-san, maka Goh Kun sudah dipanggilnya Jite (adik kedua).

Tenaga Goh Kun memang hebat. Tapi kehebatan tenaganya itu cuma bisa membuat toya Long-ge-pang itu sedikit menggeliat dan agak melengkung bengkok, tapi tak bisa lepas dari tangan In Kiu Liong yang cuma menggunakan satu tangan. Sedangkan sepasang telapak tangan Goh Kun sampai berdarah.

"Nah, Jite, sekarang cicipilah ilmu yang lain dari Toakomu ini," kata In Kiu Liong pula.

Goh Kun terkejut ketika merasa tongkatnya tiba-tiba jadi sedingin es. Beberapa saat Goh Kun masih nekat memegangi, tapi hawa dingin itu merembes masuk telapak tangan terus naik ke lengan sampai lengannya terasa kaku. Kalau sampai ke jantung, bakal mampuslah Goh Kun. Akhirnya Goh Kun tidak tahan lagi. la lepaskan pegangannya, kemudian melompat mundur dengan tubuh agak menggigil.

"Aku menyerah......." desisnya, lalu dilanjutkan dengan suara amat terpaksa,".. Toako....."

Kalau Goh Kun saja sudah menyerah, mau tidak mau Hok Tong Peng dan He Seng Boan ikut-ikutan menyerah pula, dan mengakui "kakak" yang baru itu, yang usianya sebetulnya malah lebih muda dari Hok Tong Peng. Dengan demikian Hok Tong Peng dan He Seng Boan pun ikut "turun pangkat" menjadi si ketiga dan si keempat.

Memang begitulah "hukum"nya kalangan rimba hijau, kaum penganut "kekuatan adalah kekuasaan" itu. Setidak-tidaknya hal ini jadi lebih menyederhanakan persoalan yang biasanya menghinggapi perguruan-perguruan aliran lurus yang berpegang kepada gengsi perguruan. Kalau orang-orang aliran lurus ka lah dalam suatu pertempuran, mereka langsung mengaitkannya dengan "nama baik" entah pribadi entah perguruan, lalu timbul dendam berlarut-larut, tidak jarang diwariskan sampai beberapa generasi.

Tapi di kalangan rimba hijau, kalah ya sudah, berarti akan diperintahkan orang yang mengalahkannya dan persoalannya pun beres. In Kiu Liong tertawa puas mendengar pernyataan takluk ketiga pimpinan berandal itu. Langkah pertamanya berhasil baik. Mudah-mudahan begitu pula langkah langkah berikutnya, sampai ke singgasana.

* * * *

Sejak In kiu Liong memimpin gerombolan Kiu liong-san, mulai diaturnya gerombolan itu. Bukan untuk ditertibkan agar tidak mengganggu penduduk, melainkan penertiban ke dalam agar lebih tangguh. Dan semakin tangguh justru akan semakin ditakuti, dan semakin meningkatkan "sumber penghasilan" mereka, kawanan berandal dikelompok-kolompokkan sepuluh-sepuluh orang, lalu tiap kelompok sepuluhan dijadikan satu kelompok seratusan.

Dengan demikian, susunan mereka lalu terasa seperti susunan sebuah pasukan, bukan lagi gerombolan liar. Apalagi setelah tiap kelompok sepuluh maupun kelompok seratus ditunjuk komandannya masing-masing. Kecuali itu, latihan-latihan yang teratur mulai dijalankan. In Kiu Liong amat berambisi agar "modal awal"nya itu meningkat mutunya, agar kelak dapat digunakan untuk mendukung ambisinya.

Selain itu, In Kiu Liong dan ketiga bekas pemimpin lama mulai menundukkan gerombolan-gerombolan berandal lain di sepanjang pegunungan Kiu-liong-san yang selama ini masih "berdaulat". Dalam waktu yang tidak lama, semua gerombolan itu sudah disatukan dibawah pimpinan In Kiu Liong, karena tidak ada yang mampu melawannya. Demikianlah, sebelum menjadi Kaisar di Pak khia sesuai dengan ambisinya, setidak-tidaknya sekarang In Kiu Liong lebih dulu menjadi "kaisar berandal" di Kui liong san.

Pada suatu pagi , di jalanan pegunungan yang menanjak, nampaklah seorang menunggangi kudanya pelan-pelan kemarkas berandalanya In Kiu Liong ia seorang lelaki berusia kira-kira limapuluh tahun, gemuk, sehingga kudanya agaknya kepayahan. Ia berpakaian sipil, namun sebenarnya dialah Siau Gin Heng, Panglima di kota Kim-teng, yang selama ini menjadi “rekan usaha” gerombolan Kiu-liong-san dalam perjanjian “bagi hasil” dalam memeras rakyat disekitar pegunungan Kiu-liong-san. Kota Kim-teng sendiri tidak jauh letaknya dari Kiu-liong-san.

Hari itu Siau Gin Heng mendaki Kiu-liong- san dengan wajah muruh. Kawanan berandal di pos-pos penjagaan agaknya sudah mengenal panglima ini, sehingga mereka membiarkannya lewat. Ahirnya tibalah Siau Gin Heng di markas gerombolan Kiu-lion-san yang megah itu. Tidak lama kemudian, ia sudah berhadapan muka dengan empat pemimpin Kui liong mui.

ketika ia diberitahu bahwa Kiu-liong-san sudah punya “kakak tertua” yang baru, Siau Gin Heng memberi selamat namun acuh tak acuh. Ia tak peduli perubahan atau pergeseran dalam pimpinan Kiu-lion-san, yang pentik bagian keuntungannnya dibayarkan semestinya. Cuma kedatangannya hari itu bukan untuk mengurus bagian keuntungan, melainkan urusan lain.

Tangannya nampak bergetar ketika mengangkat cawan tehnya, sehingga beberapa percik teh mengenai bajunya. Ini menandakan ia sedang dalam perasaan gugup yang hebat. Seteluh minum, Siau Gin Heng langsung dengan pembukaan yang bernada geram,

"Entah mulut usil siapa yang telah melaporkan tentang diriku ke ibukota Pak-khia. Kemarin di Kim-teng datang orang-orang dari Pak-khia yang agaknya hendak menyelidiki dan membongkar kerja-sama kita selama ini. Kita akan celaka."

Goh Kun tertawa, "Siau Cong-peng, hanya soal begitu saja kok gugup? Paling-paling orang Pak-khia itu hanya main gertak agar kebagian rejeki. Sodorkan ke bawah hidungnya seratus atau duaratus tahil, uangnya kita pikul bersama, nah, pasti orang-orang itu akan menjadi jinak lalu pulang ke Pak-khia untuk melaporkan bahwa kerjamu beres. Apa susahnya?"

Siau Gin Heng menarik napas, "Kalau segampang itu penyelesaiannya, buat apa aku terbirit-birit sampai kemari? Aku sudah coba menyuap mereka, ternyata mereka tidak tergiur sedikit pun."

"Cong-peng, barangkali kau memberi terlalu sedikit?"

"Tidak. Aku tawarkan sampai seribu tahil dan mereka tidak goyah. Aku jadi mundur teratur dan tidak berani lagi bersikap terlalu menyolok. Sedangkan orang-orang Pak-khia itu bertekat akan menyelidiki sampai tuntas, kenapa rakyat sekitar Kiu-liong-san ini mengeluh, sampai suaranya terdengar di Pak-khia. Kata pelapor itu, keluhan mereka tak pernah aku gubris..... nah, celaka tidak?"

Sunyi senyaplah ruangan itu untuk beberapa saat. Keempat pimpinan Kiu-liong-san itu mulai merasa bahwa urusannya memang cukup gawat. Kalau sampai kecurangan Siau Gin Heng terbongkar, lalu dia dipecat, barangkali akan digantikan orang lain yang belum tentu bisa diajak "kerja sama". Dan gerombolan Kiu-liong-san akan mendapat susah juga, bahkan mungkin akan digempur dengan kekerasan sehingga angkat kaki dari situ, meninggalkan harta karun yang sudah mereka tumpuk bertahun-tahun.

"Kalau orang Pak-khia itu tidak mau diajak damai, kita gorok saja lehernya!" Hok Tong Peng tiba-tiba berkata keras sambil menggebrak pegangan kursinya. Sifatnya yang berangasan membuat ia gampang-gampangan saja dalam mengusulkan pemecahan persoalan.

"Jangan bertindak segegabah itu, Sam-te," kata In Kiu Liong. "Kalau utusan-utusan itu tidak kembali ke Pak-khia, tentu pemerintah pusat akan curiga lalu menyuruh menyelidiki. Akhimya akan lebih banyak lagi orang Pak-khia yang sampai ke sini, itu berarti kesulitan kita bertumpuk-tumpuk. Memangnya kita sudah siap menghadapi pemerintah pusat secara terbuka?"

"Tapi kalau kita biarkan saja, mereka juga menyulitkan kita!" Hok Tong Peng masih penasaran.

"Aku memang menganggap, kalau tidak bisa diajak damai ya kita bunuh saja." kata In Kiu Liong ringan, seolah-olah tidak sedang membicarakan nyawa manusia. "Tapi caranya itu. Sam-te, jangan kasar. Jangan sampai menimbulkan kesan dibunuh, jangan sampai kematiannya malah mengundang lebih banyak lagi orang Pak-khia berdatangan kemari."

"Caranya bagaimana. Toako?"

"Cara yang terperinci belum bisa kutentukan sekarang, aku harus tahu lebih dulu apa saja yang dikerjakan orang-orang Pak-khia itu selama ini. Setelah itu, baru bisa kurancangkan siasatnya."

Siau Gin Heng menjawab, "kerja mereka ya mengelilingi desa-desa wilayah operasi kalian, menanyai penduduk dan penduduk dengan bersemangat langsung menceritakan keluhan-keluhan mereka," wajah Siau Gin Heng kelihatan sedih sebentar, “dan kalau laporan tentang diriku sampai ke Pak-khia. Maka kalian akan kehilangan seorang rekan yang penuh pengertian dan bisa diajak kerja-sama." Dengan nada suara dan mimik mukanya. Siau Gin Heng berjuang Keras menimbulkan rasa haru pemimpin-pemimpin kiu-liong-san itu.

"Siau Cong-peng, tahukah kau kemana mereka pergi selanjutnya, dan kapan waktunya itu yang lebih penting, bukan yang sudah-sudah."

"Oh. menurut rencana, besok pagi mereka akan ke Pek-hi-tin."

"Mereka bawa pengawal?"

"Sepuluh orang yang tampaknya cukup tangguh."

In kiu Liong mengangguk-angguk lalu menoleh kepada ketiga bekas pimpinan lama. "Ada di antara kalian yang bisa menunjukkan jalan dari Kim-teng Pek-hi-tin? Dengan melihat tempat yang bakal dilalui itu, barangkali akan muncul gagasanku untuk memecahkan soal ini."

Kali ini He Seng Boan yang menjawab, karena dialah yang paling sering keluyuran mencari perempuan-perempuan desa yang cantik-cantik, "Aku hapal luar kepala, Toako. Sepuluh li setelah ke luar dari Kim-teng melalui jalan besar, jalan lalu bercabang dengan jalan kecil melewati lereng pegunungan. Kemudian lewat sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil Pek-hi-kang."

Tiba-tiba In Kiu Liong menukas kata-kata He Seng Boan, "Si-te, cobalah ceritakan terperinci tentang jembatan dan sungai itu."

"Itulah sebuah jembatan kayu kira-kira selebar satu depa, antara ujung satu dengan ujung lain ada limapuluh depa, tingginya dari permukaan sungai ada lima belas tombak."

"Airnya deras tidak? Bagaimana dengan tebingnya?"

"Deras, sebab ditempat dibuatnya jembatan itulah sungai menyempit. Tebingnya curam dan..."

In Kiu Liong tiba-tiba tertawa dan perkata, "Kalau orang-orang Pak-khia itu lewat jembatan dan tiba-tiba jembatnya roboh lalu mampus di sungai, akan nampak seperti pembunuhan atau kecelakaan?"

Wajah murung Siau Gin Heng mendadak merjadi cerah, la menepuk-nepuk pahanya sendiri. "Bagus, bagus. Cemerlang sekali gagasanmu, Toa-san-cu. Aku mengucapkan selamat bahwa sahabat-sahabat baikku di Kiu-liong-san mendapat pimpinan baru yang berotak cemerlang." Lalu tertawalah ia dengan riangnya.

Sambil tersenyum bangga, In Kiu L.icng menghirup tehnya, lalu bertanya, "Eh, omong-omong sejak tadi Cong-peng belum menyebut nama orang-orang Pak-khia itu. Karena aku pernah lama tinggal di Pak-khia, barangkali saja pernah kukenal mereka."

"Yang satu sudah berusia setengah abad, namun nampaknya malah amat menghormati kepada yang lebih muda. Yang tua itu bernama Koh Hian Hong."

In Kiu Liong menganguk-angguk sambil bergumam, "Pantas. Dia memang seorang pegawai Hou-po Ceng-tong (Kantor Keuangan), di Pak-khia. Karena sikapnya yang kolot dan sok suci, maka biarpun teman-teman seangkatannya sudah naik pangkat dan kaya-raya, dia sendiri masih melarat terus. Pantas Cong-peng tidak bisa menyuapnya. Tetapi ilmu silatnya lumayan juga."

"Saking sucinya, dagingnya akan menjadi berkah bagi ikan-ikan di sungai Pek-hi-kang," komentar He Seng Boan disambut suara tertawa semua orang.

Semenara Siau Gin Heng melanjutkan, ".... yang muda bernama Kiu Thian Cu. Wajahnya sungguh istimewa, memancarkan semacam kewibawaan yang menindih orang, terutama sorot matanya yang sulit ditentang. Ditambah sepuluh pengawal yang kuceritakan tadi."

Mendengar nama Kiu Thian Cu itu, berkerutlah alis In Kiu liong, ia kelihatan memutar otak. Nama itu belum pernah didengarnya, namun ada perasaan bahwa nama itu tidak sembarangan. ada sesuatu yang hebat dibalik nama itu, entah apa.

"Siau Cong-peng, supaya kau bebas dari kecurigaan dalam peristiwa itu. sebaiknya besok kau ikut bersama rombongan itu. Pada saat kedua orang Pak-khia itu terjerumus ke sungai. Cong-peng harus kelihatan panik dan pura-pura mau menolong. Para pengawal mereka yang melihat tindakan Cong-peng, dan Cong-peng takkan dicurigai."

"Baik sekali. Toa-san-cu. Mari kita minum arak untuk keberhasilan rencana ini!"

* * * *

Matahari masih dalam perjalanan awal dalam menyusuri busur langit yang menjadi garis edarnya sehari-hari. Sinarnya dari timur masih miring rendah, belum sepenuhnya mampu mengusir kabut di atas kota Kin-teng maupun pegunungan Kiu-liong-san yang menjadi latar belakang kota ini.

Namun sebuah rombongan berkuda telah keluar dari pintu gerbang kota Kim-teng. Yang berkuda paling depan adalah Kui Thian Cu dari Pak-khia yang ingin mendengar sendiri keluhan rakyat di sekitar pegunungan Kiu-liong-san. la berumur sekitar duapuluh tahun, berwajah lebar dengan sepasang alis yang melengkung panjang seperti sepasang naga, matanya seperti sepasang mutiara hitam yang berkilat tajam berwibawa. Jubahnya dari kain satin biru, dengan sebatang pedang berjuntai di pinggang kirinya.

Di kiri kanannya tapi agak kebelakang, adalah Koh Hian Hong dan Siau Gin Heng. Setelah itu di belakang mereka barulah para pengawal berkuda. Baik pengawal yang dibawa sendiri oleh Kui Thian Cu, maupun pengawal-pengawal Siau Gin Heng sendiri dari Kim-teng.

Sambil berkuda, Siau Gin Heng sering melirik ke arah beberapa pucuk bedil sundut yang dibawa oleh para pengawal Kui Thian Cu. Senjata api di jaman Kaisar Yon Ceng (1722-1735) itu masih termasuk barang langka, pasukan di Kim-teng belum mempunyainya sepucuk pun. Hanya di ibukota-ibukota propinsi sajalah yang sudah dibentuk regu-regu bersenjata api, itupun tidak banyak jumlahnya. Maka dengan melihat perlengkapan para pengawal Kui Thian Cu ini, Siau Gin Heng bisa menduga kalau Kui Thian Cu agaknya benar benar tokoh penting di Pak-khia. Tapi kok belum pernah terdengar namanya?

"Masih jauhkah desa Pek-hi-tin dari sini?" tiba-tiba Kui Thian Cu bertanya sambil menoleh kepada Siau Gin Heng.

"Kira-kira lima belas li, tai-jin," sahut Siau Gin Heng hormat.

"Sudah tujuh desa kudatangi, dan semuanya mengeluh tentang ulah berandal-berandal Kiu-liong-san yang seenaknya saja memeras rakyat," kata Kui Thian Cu. "Kenapa kau belum bertindak menolong penduduk, Cong-peng?"

"Karena aku harus bertindak dengan rapi, tidak gegabah, dan harus menghitung dulu kekuatan lawan," lancar Siau Gin Heng mengeluarkan dalih yang sudah disiapkan sejak lama. "Dengan mempertaruhkan nyawa, pernah aku sendirian menyelundup ke Kiu-liong-san untuk menaksir kekuatan para bandit. Dan aku sadar, tidak mungkin menghadapi mereka secara kekerasan dengan mengandalkan perajurit bawahanku..."
Selanjutnya,