Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 11 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 11

Karya : Stevanus S P

Orang yang disuruh itu tadinya mengira Liong Ke Toh sudah tidur, ternyata bangsawan tua itu masih belum tidur, la masih nampak berbincang dengan mimik sungguh-sungguh dengan Toh Hun, orang kepercayaannya yang tidak pernah jauh dari sisinya.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Ketika pengawal yang hendak melapor itu mengetuk pintu, pembicaraanpun berhenti. Tanya Liong Ke Toh ke arah pintu, "Siapa?"

Dari luar pintu si pengawal menjawab, "Ampun, ong-ya, hamba telah lancang menghadap tanpa dipanggil. Hamba salah seorang pengawal Ong-ya yang hendak melapor."

Liong Ke Toh saling pandang sekejap dengari Toh Hun, terlihat si bangsawan tua mengangguk. Lalu Toh Hun yang melangkah ke pintu untuk membukakanya. Dan Toh Hun mengenal memang salah satu pengawal anggotanya yang berdiri di hadapan pintu.

Si pengawal diantar masuk, dan sambil berlutut di hadapan Liong Ke Toh diapun menyampaikan laporan tentang si "arwah" tadi berikut pesan-pesannya. Aneh, mendengar laporan itu Liong Ke Toh malahan tampak gembira dan bertukar senyuman dengan Toh Hun. Seolah mereka mendengar kabar dari sesuatu yang sudah lama mereka nanti-nantikan.

"Baik." kata Liong Ke Toh selesai mendengar laporan itu. "Kembalilah ke tempat tugasmu!"

Setelah pengawal itu pergi, Liong Ke Toh tersenyum kepada Toh Hun dan berkata, "Pastilah dia orang Pek-lian-kau (agama Teratai Putih), membawa jawaban dari kontak-kontak kita beberapa bulan yang lalu. Tidak heran kalau datang dan perginya mereka begitu aneh, sebab mereka memang terkenal gemar bermain-main hoat-sut (ilmu gaib), bahkan mereka bisa berhubungan dengan arwah-arwah."

"Apakah Ong-ya benar-benar akan menemuinya di kuil Ting-kang-bio nanti tengah malam?" tanya Toh Hun.

Liong Ke Toh menggeleng. "Tidak, terlalu besar resiko keselamatan jiwaku kalau sampai bertemu langsung dengan kawanan tukang santet itu. Sebab aku adalah Pamanda Kaisar, sedangkan orang-orang Pek-lian-kau itu konon memendendam suatu cita-cita untuk mengusir semua orang Manchu dan mendirikan kembali Kerajaan Beng. Jadi aku tidak mau bertemu dengan mereka, biarpun aku ingin memanfaatkan tenaga mereka kali ini."

Mendengar itu, tanpa sadar Toh Hun mengusap keringat dingin di jidatnya. Kalau majikannya tidak mau bertemu sendiri dengan mereka, apakah dirinya yang akan disuruh? Benar juga, apa yang dikhawatirkan pun datang.

Kata Liong Ke Toh, "Jadi kau saja yang ketemu mereka, ya? Jangan takut, asal kau bawakan hadiah yang cukup berharga, mereka takkan membunuhmu. Mereka juga butuh duit kan? Jangan takut."

"Ya... ya....." sahut Yoh Hun agak dipaksakan.

Liong Ke Toh berdiri, mengelilingi meja dan mendekat khusus untuk menepuk nepuk pundak Toh Hun. "Jasa yang kuminta saat ini dari mereka, ialah membunuh Pangeran Hong Lik. Beritahu saja kepada mereka arah perjalanan rahasia Hong Lik yang sedang meninggalkan istana dengan menyamar. Itu saja. Kau tahu arah perjalanan Hong Lik bukan?"

"Ya. Ya."

"Berangkatlah sekarang. Ini hampir tengah malam. Jangan takut, jangan takut. Orang-orang Pek-lian-kau itu tahu kapan saatnya memusuhi kita, dan kapan saatnya menurut kepada kita karena mengharapkan uang kita. Dan inilah saatnya kita dan mereka sejalan. Berangkatlah."

Toh Hun tidak terlalu terhibur mendengar kata-kara itu. la tetap tidak yakin, apakah nyawanya benar-benar akan tetap terjamin kalau sampai ke tengah-tengah orang-orang Pek-lian-kau yang membenci orang-orang pemerintah Manchu itu? Lebih ngeri lagi, orang- orang dikenal sebagai ahli-ahli ilmu gaib. Tetetapi Toh Hun tak bisa melawan perintah Liong Ke Toh, sebab kalau sampai rencana Liong Ke Toh sukses, toh diri Toh Hun akan ikut terangkat juga.

Terpaksa Toh Hun lalu mempersiapkan diri untuk berangkat. Dengan memakai pakaian ringkas, ia juga sekantong uang emas sebagai hadiah bagi Pek-lian-kau. Tak lupa dibawanya sepasang senjata andalannya yang disilangkan di punggung, yaitu sepasang Hou-thau-kau (kaitan kepala macan). Lalu diapun tinggalkan gedung Cong-peng-hu. Secara diam-diam, sebab urusan yang sedang dijalankannya itu adalah urusan amat rahasia yang bisa gawat kalau sampai diketahui orang lain. Ini adalah usaha untuk membunuh seorang Putra Mahkota dengan "pinjam" tangan pihak Pek-lian-kau.

Ia berjalan mengendap-endap sampai ke tembok kota, lalu tembok kota Hang-ciu dilewatinya dengan memanjat menggunakan tali berkaitan. Para penjaga tembok kota agak lengah dalam menjalankan tugas, sebab mereka sedang berkerumun dari keasyikan bercerita tentang kematian Ni Keng Giau yang masih jadi "berita hangat" di kota itu.

Maka Toh Hun dapat melewati tembok kota dengan lancar. Di luar tembok kota, suasana gelap sekali. Toh Hun tidak tahu pasti letak kelenteng Tin-kang-bio, pesan orang Pek-lian-kau lewat para penjaga hanya menyebutkan "sebelah timur". Maka Toh Hun lalu melangkah saja ke arah timur.

Kira-kira dua atau tiga li dari kota, suasana makin sepi dan gelap. Kelap kelip lampu rumah penduduk yang tadinya masih terlihat satu dua biji, sekarang tak terlihat satupun Namun saat itulah Tih Hun melihat di tepi sebuah hutan ada sebuah lampion kertas berkedip-kedip. Toh Hun menduga pihak Pek-lian-kau sudah menaruh seorang penyambut di tempat ini, maka dengan langkah lebar diapun mendekati lampion itu.

Tetapi semakin dekat dengan lampion itu, langkahnya semakin ragu-ragu, apakah matanya yang salah lihat atau bagaimana? Tidak kelihatan adanya orang orang di pinggir hutan itu. Lalu, siapa yang memegangi lampion itu? Dengan jantung berdegup lebih kencang, Toh Hun memaksakan diri untuk mendekati lampion itu, sambil membesar-besarkan hatinya sendiri,

"Orang-orang Pek-lian-kau memang gemar menakut-nakuti orang dengan permaianan mereka yang aneh-aneh. Tapi permaianan mereka kali ini cuma mainan anak kecil, lampion itu pasti digantung dengan benang hitam sehingga tidak kelihatan di malam segelap ini, apalagi di pinggir hutan."

Hanya, setelah dekat benar dengan lampion itu, sia-sia matanya yang tajam itu menemukan benang hitam yang tadinya ia bayangkan. Lampion itu benar-benar tergantung-gantung diudara kosong. Dengkul Toh Hun mulai gemetar. Rasanya lebih suka ia ketemu lima belas orang bandit bersenjata, daripada menghadapi kejadian tak masuk akal macam ini. Seandainya tidak mengingat tugasnya, lebih suka tentunya ia kabur sekencang-kencangnya dari tempat itu.

Lampion itu tiba-tiba mulai bergoyang, lalu berjalan melayang. Toh Hun ragu-ragu, tapi akhirnya mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengikuti lampion itu, mengikuti "penunjuk jalan"nya yang aneh itu. "Teori benang hitam" yang semula diyakininya, kini berantakan tanpa dasar lagi. Lampion itu melayang di sepanjang tepi hutan, berbelok-belok dan melewati tempat-tempat yang ting gi dan rendah. Tidak mungkin digerakkan dengan benang, tapi agaknya oleh angin dingin tajam yang terus-menerus melewati mereka.

Terpaksa Toh Hun ikut terus, sambil dalam hatinya mohon perlindungan kepada sembarang dewa atau sembarang malaikat, agar dilindungi dari roh-roh tersesat. Akhirnya "mereka" sampai ke sebuah tepian sungai yang ditumbuhi ilalang air. Di situ tertambat sebuah perahu kecil yang ada gubuknya. Di dalam gubuk perahu itu terlihat cahaya api berkelap-kelip.

Lampion hantu itu masuk ke perahu. Toh Hun bimbang beberapa saat, haruskah ia mengikuti "pemandu"nya itu? Jangan-jangan di dalam perahu itu sudah menungguh seorang tukang perahu tak berkepala? Tetapi akhirnya dengan keringat dingin di punggungnya, Toh Hun masuk juga ke dalam perahu itu.

Syukurlah, dalam perahu itu tidak ada tukang perahu tak berkepala segala. Tak ada siapa-siapa kecuali sebuah lampion lain yang tergantung di ujung atap gubuk perahu. Sedang lampion "penyambut" tadi sudah raib entah kemana.

"Apakah aku harus mendayung sendiri?" pikir Toh Hun sambil jelalatan matanya mencari dayung. Bukan dayung yang diketemukannya, tapi cuma dua helai kertas. Satu kertas kuning bergambar coretan-coretan yang tidak dipahami Toh Hun, tapi Toh Hun tahu itulah "hu" atau "kertas jimat". Sedang sehelai kertas lainnya bertuliskan pesan singkat, "Bakarlah Hu."

Toh Hun benar-benar membenci "cara penyambutan" macam itu, tapi apa boleh buat. Tanpa menuruti petunjuk petunjuk Pek-lian- kau, tidak mungkin bisa menemui mereka. Terpaksa dengan jari-jari telunjuk dan jempol yang gemetar, ia jepit kerta jimat itu, didekatkan ke lubang atas lampion penerang perahu.

Begitu "hu" itu habis terbakar, mendadak ada angin kencang yang amat dingin menghembus berputar di sekitar perahu itu. Hampir saja Toh Hun roboh telentang, tapi cepat-cepat berpegangan bibir perahu. Lalu secara naluriah, kedua tangannya berpindah cepat ke gagang sepasang senjatanya, lalu melompat ke ujung perahu untuk melihat "siapa" kiranya si pengganggu itu.

Ternyata tidak terlihat siapa-siapa. Angin itu bertiup keras dan mengiris kulit, tapi anehnya cuma di sekitar perahu itu. Toh Hun melihat rumput-rumput air dalam jarak lebih dari empat langkah ternyata hanyalah bergoyang pelan, terhembus angin malam yang wajar saja. Angin yang menggoncang perahu itulah yang tidak wajar.

Dan perahu itupun tiba-tiba bergerak maju membelah air, seolah didayung delapan orang sekaligus, namun "para pendayung" itu tidak kelihatan. Di dalam gubuk perahu, Toh Hun duduk diam tak berkutik, basah kuyup oleh keringat dingin.

Perahu itu menyusuri tepian sungai agak lama, dan berhenti di suatu tepian landai yang ada lampionnya lagi. Toh Hun sudah tidak kaget lagi ketika melihat lampion iniipun terkatung- katung di udara kosong. Cahayanya tidak kuning kemerah-merahan seperti api yang umum, tapi kuning kehijau-hijauan.

Toh Hun melompat ke daratan dan mengikuti lampion itu, yang melayang sendiri seperti yang tadi. "Mereka" menuju ke suatu tanjakan bukit. Di kaki bukit itu nampak ada sesosok tubuh berdiri, diterangi sepasang lilin yang diletakkan di tanah, di depan kedua kakinya.

Legalah Toh Hun melihatnya, menganggap sebentar lagi setidaknya dia akan bertemu dengan manusia biasa. Namun setelah dekat, nyatalah "dia" yang menunggu di kaki bukit itu cuma sesosok orang-orangan kertas seukuran orang biasa, "la" didandani seperti seorang Kaisar dari jaman Kerajaan Beng namun semuanya terbuat dari serba kertas. Wajah patung kertas itu nampak tersenyum ramah sekali, namun di bawah cahaya kehijau-hijauan dari lampion "pengantar"nya, wajah itu jadi menyeram kan sekali buat Toh Hun.

Di antara sepasang lilin, ada sebuah pai (papan arwah) yang bertuliskan "Sri baginda Cong-ceng, Kaisar Agung Dinasti Beng". Dari tulisan yang digoreskan di tanah, "Berlututlah." Toh Hun bisa memaklumi seperti itu. Pendiri dinasti Beng ialah Cu Guan ciang yang kemudian bertahta dengan sebutan Kaisar Hong bu, dan sebelumnya dia adalah tokoh Pek-lian-kau, memimpin Pek-lian-kau sebagai ujung tombak perjuangan mengusir kekuasaan Mongol.

Kemudian kaisar kaisar keturunan Cu Goan-ciang tak ada yang peduli kepada Pek-lian-kau, bahkan pernah ada yang bermaksud menumpasnya. Namun Pek-lian kau tetap setia kepada dinasti Beng. karena merasa sebagai "penanam saham" terbesar. Di jaman pemerintahan Manchu itu, Pek-lian-kau beroperasi sebagai gerakan bawah tanah yang tetap ingin memulihkan berkuasanya dinasti Beng.

Toh Hun maklum, namun ia bergidik ketika mengingat bahwa Kaisar Cong-ceng dulu mati dengan menggantung diri, yang menurut kepercayaan maka Tiausi-kui (arwah orang mati gantung diri) itu akan selalu berkeliaran penasaran. Kini, dihadapan patung kertas Kaisar Cong Ceng, Toh Hun ragu ragu untuk menaati perintah berlutut itu.

"Perintah gila gilaan ini tidak termasuk dalam perjanjian," geram Toh Hun. Sebagai orang Manchu lebih-lebih. Toh dirinya tak mau mengorbankan kebanggsaannya dengan berlutut kepada patung seorang raja bangsa Han yang mati dengan cara sesat dan hina. Maka Toh Hun lalu menyimpang, patung itu untuk langsung mendaki ke tanjakan bukit, la menduga, kuil Tm-kang-bio mungkiri ada di puncak buku atau di lerengnya.

Baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar di belakangnya ada suara kresak- kresek kertas yang terus mengikuti langkahnya. Toh Hun menoleh, dan ia hampir semaput karena kagetnya. "Kaisar Cong Ceng" ternyata berjalan mengikutinya, cara berjalannya bergoyang-gontai seperti layangan putus. Menyusulnya, bahkan lalu menghadang di hadapan Toh Hun, masih tetap dengan wajahnya tersenyum seram.

Toh Hun melangkah menyamping lalu lari ke atas bukit. Tetapi jailangkung itu terus memburunya, dan lagi-lagi menghadang di hadapannya. Kini Toh Hun benar-benar mandi keringat dingin. Nampaknya ia takkan lepas dari gangguan si jailangkung ini sebelum menuruti permintaannya. Apa boleh buat. Ia berlutut menyembah, dan ketika bangun kembali melanjutkan langkahnya, maka si jailangkung tak mengganggunya lagi.

Kuil Tin-kang-bio memang ada di atas bukit, sebuah kuil setengah roboh, lumutan, kotor karena lama tak dikunjungi orang. Namun malam itu ada cahaya api unggun di halaman kuil. Toh Hun dengan ragu-ragu mendekati pintu kuil, apa lagi yang akan dilihatnya di halaman kuil itu?

Tiba-tiba dari halaman kuil terdengar suara tertawa dan kata-kata yang ramah„ "Masuklah. Jangan takut!"

Kali ini benar-benar suara manusia. Toh Hun lebih dulu membenahi diri, agar jangan nampak ketakutan atau morat-marit, setelah itu barulah ia melangkah ke halaman kuil itu dengan langkah yang gagah. Dilihatnya di tengah halaman kuil itu ada api unggun berkobar besar. Dan yang menjumpainya benar-benar manusia, bukan lagi "lampion hantu" atau "perahu setan" atau bahkan "Kaisar Cong Ceng".

Orang itu berdandan seperti imam To, namun warna jubahnya tidak lazim. yaitu merah tua. Selain itu, di seluruh jubahnya dihiasi huruf dan lambang-lambang aneh yang tak dikenal Toh Hun. ia cuma menduganya sebagai mantera-mantera sihir. Di sampingnya ada meja penuh benda-benda seperti sesajian, lilin, pedang kayu, setumpuk kertas "Hu", kaca pat-kwa, batok kulit kura-kura, bilah-bilah bambu bernomor dan sebaginya.

Si imam sendiri adalah seorang lelaki berusia limapuluh tahun, kurus, namun pandangannya tajam menusuk sehingga Toh Hun diam-diam bergidik ngeri. Tapi ia tertawa terkekeh dan berusaha ramah ketika bertanya, "Bagaimana? Senang atau tidak dengan perjalanan tadi?"

Dengan berlagak gagah sambil menduduki sebuah peti kayu, Toh Hun menjawab, "Boleh juga permaianan sulapmu.”

Si imam tiba-tiba membentak. “Jangan duduk di situ!"

Toh Hun terlompat dengan wajah pucat karena kagetnya. Setelah degup jantungnya mereda, ia bertanya, "Kenapa?"

"Itu peti penyimpanan jimat-jimatku! Gara-gara ada di bawah pantatmu, biarpun cuma sebentar, aku terpaksa harus mengadakan upacara penyucian kembali!"

"Maaf.... maaf!" Toh Hun tersipu-sipu.

"Duduk di sana!" bentak si imam sambil menunjuk ke sebuah tunggul pohon bekas disambar petir.

Sebagai kepala pengawal pribadi Pamanda Kaisar, tentunya Toh Hun bukan pesilat kelas kambing. Namun setelah berturut-turut dipameri peristiwa ganjil, rasa takut terhadap Pek-lian-kau menguasai jiwanya. Ketika sampai ke kuil itu, kegarangannya sudah susut amat ba nyak. Maka biarpun dibentak-bentak oleh imam itu, dia menurut dan "jinak" saja, tdk berani marah.

Setelah duduk, si imam berkata dengan bengis, "Jangan kau anggap apa yang kau alami tadi cuma seperti sulapan di pinggir jalan! itu adalah ilmu sakti Pek-lian-kau! Bahkan aku sanggup membunuh siapapun dari jarak jauh dengan ilmuku, termasuk kau! Percaya tidak?"

"Percaya... percaya...."

"Sebetulnya, karena pihakmu adalah orang-orang Manchu yang telah merebut negara kami, Kerajaan Beng, aku harus membunuh kalian! Tetapi kali ini pihak kami mau menjawab isyarat Liong Ke Toh, tidak lain karena ingin tahu apa yang kalian maui?"

Dengan harapan agar dapat cepat-cepat pergi dari situ, Toh Hun menjawab langsung tanpa tedeng aling-aling. "Liong Ong-ya minta agar kalian membunuh Pangeran Hong Lik!"

"Hah? Putera Mahkota?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Kenapa harus tahu? Asal kalian berhasil mendapatkan nyawa Pangera Hong Lik, lalu kami bayar hadiahnya beres bukan?"

"Hem. kau merendahkan Pek-lian-kau. Kau sangka kami ini hanya sekelompok pembunuh bayaran yang mau saja disuruh-suruh asal dibayar? Kau keliru! Kami adalah kelompok pejuang yang punya cita-cita besar! Kalau kami bekerja-sama dengan pihak lain, kami harus tahu apa tujuannya yang sejelas-jelasnya!"

Toh Hun bingung. Apakah persaingan sengit antara Liong Ke Toh dan Pangeran Hong Lik yang selama ini masih tersimpan di balik dinding istana, kini harus dibeber kepada pihak yang sama sekai bukan sahabat, hanya sekutu sementara? Bagaimana kalau beritanya sampai menyebar luas dan menimbulkan kegoncangan? Sesaat lamanya Toh Hun cuma membungkam.

Melihat itu. si imam tertawa dingin, "Kalau tidak mau dengan persyaratan kami, minggatlah sekarang juga Tak usah mengharap bekerja-sama dengan kami. Tapi ingat, heh…heh-heh….tadi kau sudah terlanjur membuka mulut tentang niat si tua bangka Liong Ke Toh untuk menyingkirkan Hong Lik. Berarti rahasia kalian sudah di tangan kami. Berita ini tentu akan menarik cukup banyak pendengar kalau kami teriakan di pasar-pasar atau di simpang-simpang jalan. Begitu ya?"

Sekarang Toh Hun tidak cuma berkeringat dingin, bahkan mulai menggigil pelan, la merasa marah, takut, karena terjebak. Ancaman si imam itu berarti, mau tidak mau kerja-sama harus diteruskan, tapi pihak Pek-lian-kau lah yang menetapkan syarat-syaratnya.

Tapi, kalau diteruskan, belum-belum pihak Pek-lian-kau sudah minta syarat yang begitu berat. Yaitu ingin mengetahui latar-belakang niat Liong Ke Toh untuk membunuh Pangeran Hong Lik. Padahal di dalam komplotan Liong Ke Toh sendiripun sedikit yang tahu niat itu.

"Bagaimana?" si imam tiba-tiba membentak sehingga Toh Hun berjingkat. "Sekali melangkah, jangan harap pihakmu bisa mundur lagi!"

"Baik...," akhirnya Toh Hun nekat ambil putusan sendiri.

"Nah, katakan."

"Singkat saja, Ong-ya dan Pangeran Hong Lik saling membenci. Ong-ya khawatir kalau kelak Pangeran Hong Lik menggantikan ayahandanya bertahta, maka Ong-ya akan mengalami kesulitan hebat. Itu saja."

"Hem, kalau Hong Lik sudah mati, apakah Liong Ke Toh lalu punya calon sendiri yang dijagokan? Atau dia sendiri yang mau mengincar tahta biarpun sudah hampir masuk kubur?"

"Soal ini, maaf, Ong-ya belum pernah mengatakannya kepadaku. Harap kau maklumi, aku biarpun dipercaya tetapi cuma pesuruh, tidak mungkin tahu semua yang dirancang dalam pikiran Ong-ya."

Penjelasan itu masuk akal, dan Toh Hun lega melihat si imam mengangguk angguk. "Baik, syarat pertama ini kuanggap cukup terpenuhi. Artinya, ini kerjasama sederajat. Bukan antara si pemesan dengan si pembunuh bayaran. Sebab kami ini kaum bercita-cita, bukan tukang kepruk upahan, paham?"

"Ya. Paham. Terus bagaimana? Sanggup tidak?" tanya Toh Hun penuh perasaan harap-harap cemas. Kalau imam itu tidak menyanggupi, mampuslah pihaknya. Sudah terlanjur membuka semua “kartu" ternyata kerja-samanya batal.

Untunglah, si imam menunjukkan sikap cukup berminat, biarpun belum langsung mengiakan. "Pihakmu minta kami membunuh Pangeran Hong Lik, apakah berarti kami harus menerjang ke istana?"

"Oh, tidak. Ong-ya takkan mengajukan permintaan yang begitu tak masuk akal. Saat ini adalah peluang terbaik untuk membunuh Hong Lik, sebab dia sedang mengembara di luar istana, bahkan jauh dari Ibukota Pak-khia. Menyamar, dan dengan jumlah pengawal yang tak seberapa."

"Baik. Rasanya kami sanggup," jawaban si imam memberi harapan kepada Toh Hun. "Tetapi ada syarat lain, yang biarpun bukan syarat terpenting, namun kalau mau dibilang tidak penting kok ya penting juga." Ketika mengucapkan ini, lenyaplah keangkeran si imam, dan sikapnyapun berganti cengar-cengir.

Dengan penuh kemengertian, Toh Hun menurunkan bungkusan dari punggungnya. Diletakkan di tanah lalu dibuka, segera nampak potongan-potongan emas yang berkilauan di bawah cahaya api unggun.

"Berapa?" tanya si imam sambil menyipitkan matanya.

Diam-diam Toh Hun mentertawakannya dalam hati, "Ngakunya kaum yang bercita-cita, bukan pembunuh bayaran dan sebagainya, tapi begitu melihat emas, terus mukanya seperti anjing melihat tulang. Hem, ternyata emas kami lebih sakti dari ilmu gaibnya."

Dalam hatinya membatin demikian, namun wajahnya tak menampilkan kesan itu. Dengan amat sopan Toh Hun menjawab, "Limaratus tahil. Kalau pihakmu berhasil membunuh Hong Lik, kami tambah limaratus tahil lagi."

"Hi-hi-hi, memang mahal harga batok kepala seorang Putera Mahkota, tapi juga tidak sembarangan orang bias melaksanakan tugas ini. Tapi kami pasti sanggup!"

"Jadi, sepakat?"

"Sepakat. Nah, tahu tidak kemana Hong Lik pergi dalam penyamarannya?"

"Kemungkinan besar memasuki wilayah sekitar pegunungan Kiu-liong-san, tepatnya kami sendiri tidak tahu, tapi kalian kan bisa menyebar orang untuk mencari jejaknya? Sebulan yang lalu, ada utusan rakyat kecil dari sekitar Kiu-liong-san yang menghadapnya dan melaporakan penderitaannya, maka diduga keras Hong Lik berangkat ke sana. Pengawalnya sedikit, tapi tangguh."

Si imam tiba-tiba tertawa dengan nada mengejek, "Hem, berapa orang saja, sedikit atau banyak, buat ilmu gaibku tak ada masalah. Mereka semua bisa kubuat gila dengan ilmu saktiku!"

"Kalau begitu, uang muka ini ku tinggalkan. Dan aku mohon diri lebih dulu."

"Tunggu. Masih ada urusan lain!"

"Urusan apa lagi?"

"Tentang dirimu sendiri!"

"Hah, ada apa dengan diriku?"

"Bukankah waktu tadi kau naik kemari, kau sudah bersujud kepada badan halusnya Sribaginda Cong Ceng?"

"Ya, demi bisa lepas dari gangguan jailangkung itu."

"Apa kau bilang? Jailangkung? Jangan sembarangan dengan mulutmu! Yang kau sembah tadi benar-benar badan halus Sribaginda Cong Geng! Junjungan kami para patriot Kerajaan Beng!"

"Ya…Ya.... maaf...." sahut Toh Hun gugup. "Memang aku sudah memberi hormat jai... eh, Sribaginda agar diperkenankan lewat. Dan aku sudah diijinkan lewat."

Mendadak terlihat tubuh si imam kejang-kejang beberapa kali, matanya terbalik sehingga yang nampak tinggal putihnya, tubuhnya bergetar keras, dari mulutnya keluar air liur banyak sekali. Tanpa pikir panjang lagi Toh Hun melompat dan berlari ke arah pintu keluar.

Tetapi tubuh si imam melompat dan menghadang di depan pintu, dengan sepasang tangan terjulur ke depan seolah mau mencekik Toh Hun. Apa, yang membuat Toh Hun ngeri ialah Ketika melihat sepasang kaki si imam ternyata tidak menempel di tanah, melainKan terpisah kira-kira sejengkal dari tanah Itu artinya si imam mengapung di udara, seperti lampion-lampion tadi.

Tidak peduli Toh Hun adalah jagoan tangguh, menghadapi kejadian ini dia tidak punya sisa keberanian lagi. Dengkulnya mulai bergetar keras ketika ia melangkah mundur sambil terbata-bata. "To-tiang (bapak imam), aku... aku.... minta maaf.... aku.... aku...."

Dari mulut penuh liur si imam terdengar suara menggeram, yang oleh Toh Hun dikenali sebagai bukan suara si imam lagi. Suara seorang lelaki yang sama sekali lain, bergetar seram dan dunia seberang kubur, "Tidak bisakah kau bersikap dan hormat kepada seorang Kaisar? Akulah Kaisar Cong Ceng, ahli waris syah dari negeri yang sekarang di kangkangi orang Manchu macam kau! Akulah Kaisar Cong Ceng! Berlutut!"

Toh Hun bertindak melebih perintah itu. Oleh "Kaisar Cong Ceng" cuma disuruh berlutut, tapi Toh Hun bahkan berlutut sambil kencing di dalam celana. "Hamba..... mohon ampun! Hamba mohon Sribaginda mengampuni hamba!"

Suara dari mulut si imam, suara tak dikenal, terdengar lagi, "Kau sudah menyembahku! Sudah memanggilku Sri-baginda! Kau sudah menjadi hambaku baik di dunia yang sekarang maupun di dunia yang akan datang!"

Dan mendadak tubuh si imam yang terapung itu seperti dibanting mendadak ketanah, kejang-kejang lagi sebentar, dan keadaan si imam lalu pulih seperti semula. Cuma nampak lemas sekali dan basah kuyup dengan keringat. Ketika melihat Toh Hun menyembah-nyembah, dia heran, "He, apa yang sedang kau lakukan?"

Sambil tetap menyembah-nyembah. Toh Hun menjawab dengan suara pelan "Ampun, Sribaginda... hamba tidak akan menentang kehendak Sribaginda."

Si imam tercengang semakin heran "Apa? Kau panggil aku Sribaginda!" lalu ia bangkit sambil menepuk-nepu debu dari jubahnya.

Toh Hun yang mulai agak tenang, mengangkat kepalanya, dan dilihatnya imam itu mulai pulih ke dalam keadaannya yang wajar. Agaknya arwah yang baru saja "meminjam mulut"nya telah pergi. Sambil mengusap-usap keringat dijidatnya, Toh Hun bertanya, "Oh, kau! Kau sudah.... sudah tidak kerasukan lagi?"

Pertanyaan itu langsung saja membuat si imam tahu apa yang sudah terjadi baru saja. Ia tertawa terkekeh. "Oh, jadi kau baru saja bicara dengan arwah Sribaginda? Tidak usah heran. Di antara ribuan anggota Pek-lian-kau Sekte Utara, menyampaikan pesan-pesannya. Apa saja yang Sribaginda sabdakan?"

Masih dalam cengkamari kengerian, Toh Hun tidak berani berbohong, "Sribaginda menganggapku sebagai abdinya! Apakah berarti aku.... aku harus ke dunianya sekarang?"

Sikap imam itu mendadak berubah menjadi ramah sekali. la bangunkan Toh Hun dari berlututnya, lalu menepuk-nepuk pundaknya, "Benar begitu? Kalau benar, mulai detik ini kau sudah termasuk sebagai kawan seperjuangan kami! Kau harus merasa bangga, sebab tidak semua orang bisa diterima dalam Pek-lian-kau kami dengan cara seistimewa kau tadi. Dipilih langsung oleh Sribaginda! Apalagi mengingat bahwa kau adalah seorang Manchu!"

"Ah, kawan seperjuangan yang bagaimana?"

"Lho, kok kawan seperjuangan bagaimana, ya kawan seperjuangan dalam usaha memulihkan kembali Kerajaan Beng!"

Sungguh Toh Hun amat tidak siap untuk itu. Dia yang sudah punya kedudukan mapan dalam istana, sekarang harus menjadi "kawan seperjuangan" gerombolan tukang sihir ini? Kecuali itu, sebagai orang Manchu, haruskah menumbangkan kerajaan bangsanya sendiri untuk membautu cita-cita kaum yang membenci bangsanya ini?

Melihat sikap Toh Hun yang ragu-ragu, si imam tiba-tiba menjadi bengis. "Kau ragu-ragu? Keberatan?"

"Aku.... aku...."

"Kau keberatan bukan?! Ya?!" si imam makin galak sikapnya. "Keberatan berarti menentang kemauan Sribaginda Cong Ceng! Dalam sisa umurmu, jangan harap kau lepas dari kejaran perajurit-perajurit gaib Kerajaan Beng! Baik perajurit-perajurit yang masih berujud manusia hidup maupun perajurit-perajurit dari dunia lain!"

"Perajurit-perajurit dari dunia lain" itulah yang membuat Toh Hun bergidik. Tapi, bergabung dengan Pek-lian-kau dalam perjuangan merobohkan pemerintah Marichu bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam sedetik dua detik. Ia bungkam kebingungan.

"Masih ragu-ragu? Oh, aku tahu, barangkali kau tidak percaya adanya perajurit-perajurit Kerajaan Beng dari dunia lain ya?" gertak si imam. "Baiklah. Sekarang akan segera kau lihat mereka!" Sambil berkata demikian, si imam sudah menghampiri mejanya dan mengambil selembar Hu.

Tetapi Toh Hun buru-buru berteriak mencegah, "Jangan! Jangan!"

"Ooo.... kau takut melihat perajurit perajurit gaib yang menjadi kawan-kawan seperjuanganku? Baik, baik. Bagaimana kalau kupanggilkan Ni Keng Giau saja? Barangkali dia kenal baik denganmu."

"Jangan! Jangan! Aku percaya!"

Si imam meletakkan kembali kertas Hu itu, lalu berkata dengan bengis, "Kalau begitu, kau tidak bisa ingkar lagi bahwa mulai detik ini kau adalah abdi Kerajaan Beng! Jangan harap bisa melepaskan diri, sebab kau sudah dipilih sendiri oleh Sribaginda!"

Toh Hun mengeluh dalam hati. Alangkah bangganya bisa menjadi "orang pilihan Sribaginda" asalkan "Sribaginda nya” masih hidup, tetapi ini "Sribaginda"nya sudah mati hampir seratus tahun yang lalu. Tapi ia memang tersudut, setidaknya untuk sementara waktu. Ia cuma berjanji diam-diam dalam hati, secepatnya akan segera dicarinya hwe-shio yang lihai mengusir setan, untuk membebaskan diri dari kejaran "perajurit-perajurit gaib".

Sementara itu si imam terus berkata menekan, "Kau akan tetap di dalam istana, namun harus bekerja bagi kepentingan kami. Harus! Sebulan sekali akan ada orang kami yang menghubungimu, menerima kabar-kabat penting dari dirimu, sekaligus memberi perintah-perintah untukmu. Jangan coba-coba berkhianat, atau kutenung kau dari jarak jauh sehingga kau mampus karena isi perutmu digerogoti ulat! Aku bisa melakukannya dengan gampang, sebab aku sudah punya catatan hari kelahiranmu, shiomu, bahkan bintang pelindungmu. Paham?"

"Paham. Paham."

"Baik pergilah,jangan bilang siapa-siapa!"

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Toh Hun tinggalkan kuil lumutan di puncak bukit itu. Mula-mula langkahnya masih tegap, sebab malu juga ia kalau sampai lari terbirit-birit. Tiba di luar kuil, entah benar-benar atau hanya perasaannya sendiri, ia merasa ada orang yang mengikutinya di kegelapan.

Tapi ketika ia menoleh, tidak ada apa-apa. la mempercapat langkah, tapi suara langkah yang mengikutinya itu terus terasa dibelakangnya. Maka larilah ia secepat-cepatnya ke arah kota Hang-ciu. Menerjang semak-semak, tak peduli sering jungkir-balik sehingga babak belur, namun ia terus lari. Sambil kencing di celana.

Tiba di pintu kota yang tertutup karena masih malam, ia memukul-mukul pintu dan berteriak-teriak minta dibukai. Namun sebelum pintu dibukakan, ia sudah roboh pingsan di depan pintu, karena takut campur lelah. Ketika ia sadar kembali, ia sudah ada di atas pembaringan di sebuah ruangan di gedung Cong-peng-hu Ketika matanya terbuka, dilihatnya langit-langit ruangan, dan ketika sedikit memiringkan kepalanya, dilihatnya wajah Liong Ke Toh tersenyum-senyum didampingi seorang tabib.

"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"

"Ya!" sahut Toh Hun lirih.

Liong Ke Toh tersenyum dan menepuk pundak Toh Hun satu kali. Katanya, "Cepatlah sembuh, sebab sekarang kaulah satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk selalu berhubungan dengan mereka. Sebab mulai sekarang kau sudah saling mengenal dengan mereka."

Toh Hun terkesiap, lalu pingsan kembali.

* * * *

Cerah fajar menyiram seluruh kota Hang- ciu. Namun kabut tipis sisa malam masih belum lenyap sepenuhnya, dan seolah menyaring cahaya keemasan yang sebenarnya berlimpah bagi kehidupan. Maka muncullah garis-garis emas tebal dan tipis dari sela-sela kabut itu.

Jalanan-jalanan di kota mulai sibuk, terutama oleh para pedagang kecil yang harus bergegas memulai kerja, agar rejekinya tidak keburu direbut orang lain. Pak Kiong Liong pun melangkah bergegas, namun bukan untuk rebutan rejeki. la memasuki cabang jalan yang menuju ke rumah penginapan yang disewanya, wajahnya nampak keruh. Begitu sampai di penginapan lalu masuk ke kamarnya, dijumpainya In Te yang wajahnya sama kisruhnya dengan pamannya, dan langsung menyambut dengan pertanyaan,

"Bagaimana?"

"Tidak ketemu. Anak-anak bengal itu pasti sudah meninggalkan kota ini sejak tadi malam. Ah, benar-benar orang-orang muda yang cuma menuruti emosinya saja tanpa menyadari bahayanya."

In Te semakin gelisah. Baginya Tong San Hong, Tong Hai Long dan Se-bun Hong-eng sudah dirasakannya seperti keponakan-keponakannya sendiri. Kini ketiga orang muda itu pergi tanpa pamit, dan ini sangat mencemaskan Pak Kiong Liong maupun ln Te.

"Seharusnya mereka tidak perlu ikut mendengar laporan tentang munculnya kembali Kakanda In Tong. Begitu mendengar, mereka tak dapat menahan diri lagi dan langsung minggat tanpa pamit untuk mengejar Kakanda In Tong. Mereka khawatir, kalau harus berpamitan akan kita cegah. Benar-benar tak punya perhitungan mereka itu."

"Sama gegabahnya ketika mereka nekat mencoba membunuh Ni Keng Giau. Padahal saat itu Ni Keng Giau sedang dikawal orang-orang macam Sat Siau Kun, Suma Hek-long dan sebagainya."

“Sekarang bagaimana, paman?"

"Terpaksa harus kita tinggalkan kota ini untuk menyusul mereka. Hari ini juga, mumpung masih pagi"

Kemudian Pak Kiong Liong dan In Te mulat berbenah untuk pergi. Namun, baru saja mereka selesai mengikatkan bungkusan bekal mereka di Pinggangg, di luar penginapan itu mendadak terdengar derap kaki banyak orang, disertai teriakan. "Pak Kiong Liong dan In Te! Menyerahlah, kalian sudah dikepung!"

Pak Kiong Liong sejenak mengerutkan alisnya, namun lalau tersenyum sambi! berkata, "Wah, rupanya Kang Bun-hou sudah menyiapkan sebuah upacara meriah untuk mengantar Keberangkatan kita."

Tetapi ln Te nampak lebih tegang, tidak setenang pamannya itu. Pamannya masih bisa senyum-senyum menghadapi situasi macam itu, karena ilmu silatnya memang amat tinggi, namun bagaimana dengan dirinya sendiri yang berilmu silat pas-pasan saja? Memang, sejak ia kabur dari Jing-hai dan bersembunyi ditempat orang-orang Hwe-liong-pang, In Te juga sudah mencoba mematangkan ilmu silatnya namun apa yang bisa dicapai hanya dalam beberapa bulan?

Pak Kiong Liong rupanya memahami pikiran In Te, dan ia membesarkan hannya. "Jangan berjauhan denganku. Kiia akan main kucing-kucingan dengan mereka.”

Setelah itu, ia mematahkan sebatang gagang sapu panjang sepanjang satu meter untuk digunakan sebagai senjata. Sebenarnya Pak Kiong Liong membawa pedang juga, namun setiap kali menghadapi tentara kerajaan dalam keadaan yang dianggapnya tidak begitu gawat. Pak Kiong Liong selalu tidak tega menggunakan pedang untuk bersungguh-sungguh membunuh mereka.

Pak Kiong Liong adalah bekas panglima yang mencintai perajurit-perajurit seperti ayah mencintai anak-anaknya. Dan perasaan itu tak gampang hilang, biarpun sudah bertahun-tahun menjadi buronan, tak jarang diburu oleh "anak-anak"nya sendiri.

Sedangkan In Te akan tetap menggunakan pedangnya. Ilmunya belum cukup tinggi untuk berbelas-kasihan kepada perajurit-perajurit yang akan menangkapnya.

Sementara itu, telah terdengar suara pintu depan ditendang, lalu derap langkah para perajurit membanjir masuk halaman penginapan, Pak Kiong Liong menarik tangan In untuk melompat keluar dari jendela, hendak menyeberangi halaman belakang.

Tetapi bersamaan dengan itu, belasan perajurit bersenjata bedil-sumbu telah muncul dari halaman samping, langsung mengambil posisi membidik sambil berteriak, "Berhenti!"

Kerapian gerak para perajurit itu tidak lepas dari hasil latihan oleh Ni Keng Giau selama ini. Sayang juga sang pelatih sendiri sudah tak bisa menyaksikan hasil latihannya dipraktekkan, karena sudah meninggal dalam kekecewaannya yang amat mendalam. Tanpa peduli gertakan itu. Pak Kiong Liong melesat sambil menyeret In Te. Namun sambil memperhitungkan bahwa dua detik lagi bedil-bedil itu akan meledak setelah sumbunya disulut.

Benar, tepat pada saat moncong-moncong bedil itu menyemburkan peluru, sekuat tenaga Pak Kiong Liong mengenjotkan kakinya untuk melayang naik keatas genteng sambil menarik In Te. Peluru-peluru hanya berdesing di bawah kaki mereka, terus menghantam dinding belakang.

Karena tembakan pertama luput, para perajurit jadi sibuk mengisi kembali bedil-bedil mereka yang panjang-panjang. Mengisi bubuk peledak lewat moncongnya. memadatkannya dengan sepotong kawat panjang berujung bulat. memasang sumbunya lagi. Mengisikan pelurunya yang berbentuk kelereng besi. dan semua itu memakan waktu. Tidak heran, ketika senapan siap kembali orang-orang yang mau dtembak sudah lenyap.

Pak Kiong Liong dan ln Te bagaikan terbang di atas atap. Namun penggerebekan itu dipimpin sendiri oleh Kang Bun-hou. dibantu beberapa pengawal kepercayaan Liong Ke Toh yang harus mengawasi apakah benar Kang Bun-hou bersungguh-sungguh melakukan pekerjaannya atau tidak. Untuk dilaporkan ke Pak-khia.

Kang Bun-hou si panglima Hang-ciu sudah membuat perhitungan ke arah mana saja kira-kira Pak Kiong-liong dan In Te akan melarikan diri. Tempat-tempat yang diperhitungkan itupun sudah dijaga. Karena itulah kedua buronan kelas kakap itu tidak dapat begitu saja dapat lepas dari pemburu-pemburunya.

Belum lama Pak Kion Liong dan In Te kabur lewat atap, tiba-tiba dari balik bumbungan atap didepannya muncul sederetan moncong senapan. Ketika pelatuk-pelatuk ditarik, kembali butir-butir besi panas itu berdesingan. untung Pak Kiong Liong masih sempat menarik In Te secepatnya merosot turun dari atas, dan tiba disebuah lorong sempit. Selamat, untuk sementara.

Tapi dimulut lorong, bahaya yang sama sudah menanti pula. Pak Kiong Liong mengeluh dalam hati. seandainya tidak dibebani keselamatan In Te. tentu sepak terjangnya akan lebih leluasa. Tetapi keselamatan In Te mau tidak mau adalah tanggungannya. Kesempatan berpikir hanya satu detik kurang, dan ia tiba-tiba melemparkan tubuh ln Te kebalik dinding, dan sebelum para perajurit sempat berganti kejapan mata, tubuh Pak Kiong Liong sendiri telah melompat bagaikan harimau menerjang kawanan perajurit dengan gerak melengkung ke atas.

Para perajurit tak sempat membidik lagi dan langsung menembak saja, namun Pak Kiong Liong meluncur datar di atas lintasan peluru. Ketika tongkat bekas gagang sapunya diayunkan dengan perkasa, maka perajurit-perajurit yang menyumbat lorong pun bertumbangan babak belur. Perajurit-perajurit lain berdatangan, tapi Pak Kiong Liong menerjang rapat tanpa memberi kesempatan mereka menggunakan bedil. Terlibatlah ia dalam perkelahian sengit dengan para perajurit yang memenuhi jalanan di sekitar penginapan itu.

Kang Bun-hou tahu betapa tangguh buronan kali ini, karena itu jumlah pasukan yang ditugaskannya kali inipun tidak tanggung-tanggung. Pak Kiong Liong sampai tidak dapat memperkirakan berapa banyak perajurit yang harus dihadapinya. Pak Kiong Liong bertempur sambil berlari-lari di jalanan, terus diburu para perajurit.

Sepanjang jalan, entah berapa banyak pula yang dirobohkan oleh tongkat bekas gagang sapunya. Mereka yang bersenjata jarak jauh seperti bedil atau panah, tak diberinya kesempatan untuk beraksi, sebab Pak Kiong Liong terus menyusup dekat di antara mereka, tidak membiarkan mereka mengambil jarak yang agak panjang.

Bekas jenderal tua itu benar-benar menjadikan dirinya seperti seekor naga di lautan. Sebentar menyelam, sebentar muncul untuk mengamuk. Tadi ia bilang kepada In Te akan main kucing-kucingan, ternyata lebih tepat disebut "naga-nagaan". Tapi, seperti kekang yang dipasang olehnya sendiri, Pak Kiong Liong berusaha tidak membunuh seorangpun dari perajurit-perajurit Hang-ciu itu.

Ilmunya yang amat tinggi memungkinkan pengendalian diri macam itu. Maka, biarpun korbannya berceceran di tiap sudut dan lorong, tidak ada di antara mereka yang mati. Kalau cuma benjol-benjol, keseleo atau pingsan, semuanya kebagian. Para perajurit agaknya harus merasa "beruntung" mendapat lawan seperti ini.

Tetapi juga penasaran, masa mereka yang berjumlah ribuan itu tak bisa berkutik terhadap seorang kakek ubanan, yang mestinya tinggal menikmati nyamikan sambil duduk di kursi goyang? Kalau dikejar lenyap, tahu-tahu muncul lagi di tempat lain untuk beraksi. Dicegat sana, muncul lagi di sini. Dijepit di tempat sempit, mengamuk membubarkan pengurungnya sebelum melenyapkan diri.

Pak Kiong Liong sendiri kalau mau bisa segera melarikan diri. Tapi sengaja ia berputar-putar untuk mengalihkan perhatian para perajurit dari In Te, agar In Te sendiri menemui hambatan sekecil-kecilnya untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya Pak Kiong Liong tidak cepat-cepat menghilang, melainkan seperti sengaja mengajak para perajurit main petak- umpet.

Kang Bun-hou yang memimpin sendiri operasi itu, merasa amat mendongkol, merasa dipermainkan oleh Pak Kiong Liong. Namun dalam hatinya ia kagum juga melihat ilmu silat maupun taktik jempolan bekas panglima jaman Kaisar Khong Hi itu. Dia juga sadar kalau Pak Kiong Liong belum bersungguh-sungguh mengeluarkan semua ilmu silatnya, masih seperti seorang kakek yang bercanda dengan cucu-cucunya yang nakal.

"Kalau dia benar-benar mengeluarkan ilmunya, kabarnya tangannya bisa mengeluarkan hawa amat panas yang menghanguskan," pikir Kang Bun-hou. "dan kabarnya pula yang bisa menandinginya di seluruh negeri tinggal satu orang, Kim Seng Pa masih ada Pun-bu Hwe-shio dari Siauw-lim-si dan Tong Lam Hou dari Hwe-liong-pang, namun kedua tokoh ini sudah almarhum sekarang."

Meskipun begitu, Kang Bun-hou tak berani kelihataan kurang bersungguh-sungguh dalam usaha menangkap Pak Kiong Liong. Yang bernafsu menangkap Pak Kiong Liong sebenarnya adalah Liong Ke Toh yang masih di Hang-ciu, namun Kang Bun-hou yang disuruh. Dan Kang Bun-hou tidak berani menolak permintaan Pamanda Kaisar itu. Tengah "petak-umpet" itu berlangsung seru, mendadak terlihat ada kobaran api di kejauhan.

"Tangsi utara terbakar!" teriak beberapa perajurit yang berlari-lari datang dari arah kebakaran. Sebagian perajurit yang harus menangkap Pak Kiong Liong terpaksa ditarik untuk membantu memadamkan api. Namun, beberapa saat kemudian, datang lagi laporan-laporan kepada Kang Bun-hou dari beberapa jurusan.

"Tangsi selatan terbakar!"

"Tangsi timur terbakar!"

"Tangsi barat terbakar!"

"Gudang perbekalan terbakar!"

Kang Bun-hou kaget mendengarnya kebakaran yang terjadi berturut-turut di tempat-tempat penting itu pasti bukan suatu kebetulan belaka, tapi kesengajaan. Maka sibuklah ia membagi pasukannya kesana kemari. Ada yang tetap berusaha menangkap Pak Kiong Liong, ada yang harus memadamkan api di berbagai arah, bahkan ada yang harus memperkuat penjagaan di Cong-peng-hu, di mana Pamanda Kaisar menginap. Kalau sampai Liong Ke Toh terluka biarpun seujung rambut, hebatlah akibatnya bagi Kang Bun-hou.

Di pecah-pecahnya pasukan membuat Pak Kiong Liong merasa mengendornya tekanan, dan ia siap untuk menghentikan permaianan itu. Tetapi ia heran, siapa yang telah melepaskan api yang seolah-olah jadi menolongnya secara tidak langsung itu? Cepat ia menerjang, menerobos kepungan para perajurit yang menipis jumlahnya. Dalam sekejap Pak Kiong Liong berhasil lolos, lalu melompat ke atap rumah dan melesat bagaikan seekor burung, ke arah luar kota Hang-ciu.

Para perajurit bersenjata bedil dan panah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya, tapi hasilnya hanyalah menimbulkan kerusakan lebih hebat pada atap rumah-rumah penduduk. Pak Kiong Liong sendiri melesat bagaikan anak panah dan semakin menjauh. Namun mendadak ia merasa di sampingnya ada orang lain yang berlari sama kencangnya dengan dirinya. Pak Kiong Liong terkejut, mengira seorang jagoan tangguh dari pihak musuh telah mengejarnya.

Tetapi orang itu tidak menyerangnya, cuma bergerak menjajarinya, seolah mengajak Pak Kiong Liong berlomba dalam ilmu meringankan tubuh saja. Dan alangkah herannya Pak Kiong Liong merasakan betapa orang itu tidak ketinggalan sejengkalpun dari dirinya, menanda kan ketinggian ilmunya.

Selama ini, Pak Kiong Liong tak lepas dari rasa bangga, terpengaruh oleh sanjungan kaum persilatan yang menyebut hanya ada empat tokoh di lapisan tertinggi dunia persilatan dijaman itu. Pak Kiong Liong sendiri, Kim Seng Pa,Tong Lam Hou, dan Pun-bu Hwe-shio. Karena Tong Lam Hou dan Pun-bun Hwe-shio sudah meninggal, maka Pak Kiong Liong merasa tinggal dirinya dan Kim Seng Pa sebagai tokoh puncak dunia persilatan. Bahkan Kam-hui To-jin dari Bu-tong-pai, rasanya juga masih selapis lebih rendah dibawah mereka berdua.

Tiba-tiba saja kini di Hang-ciu ia ketemu seorang yang mampu menandinginya, setidak- tidaknya dalam ilmu meringankan tubuh. Lebih mencengangkan lagi ketika melihat tampang dan dandanan orang itu sama sekali tidak istimewa. Bajunya model kampung, tubuhnya kurus, warna rambutnya memberi petunjuk bahwa usianya tidak lebih setengah abad, satu generasi di bawah Pak Kiong Liong. Sayang mukanya tidak terlihat karena ditutupi secarik kain kedok.

Sambil tetap melayang cepat tanpa mengurangi tenaganya, orang berkedok itu malah masih sempat berkata, "Lo-ciangpwe (panggilan hormat kepada angkatan yang lebih tua dalam dunia persilatan), tenanglah, Pangeran In Te sudah aman di luar kota!"

"Siapakah tuan?" tanya Pak Kiong Liong, sementara dalam hatinya timbul setitik rasa percaya terhadap orang berkedok yang belum dikenalnya itu.

"Nanti setelah tiba di luar kota, akan kuperkenalkan diriku kepada Lo-cianpwe!" sahut si kedok.

Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu kemudian lebih terlibat dalam "lomba lari" yang membuat takjub para perajurit yang melihatnya dari bawah. Para perajurit seolah melihat dua ekor burung merpati jempolan yang sedang diadu cepat terbangnya.

Sudah lama Pak Kiong Liong merasa "kesepian" dalam soal silat, kesepian sendiri di atas tanpa "teman bermain" yang memadai. Tetapi hari itu tiba-tiba gairahnya timbul, seperti anak-anak mendapatkan mainan baru. Karena itu, sambil tertawa ia berkata, "Sobat, hebat sekali ilmu meringankan tubuhmu. Bagaimana kalau kita tidak usah terburu keluar kota, tapi melihat-lihat kota Hang-ciu dulu?"

Selagi mengucapkan kalimat yang tidak panjang itu, sudah belasan atap rumah yang tinggi rendahnya tidak sama telah mereka lintasi bagaikan kilat. Orang berkedok itu menangkap adanya tantangan dalam ajakan itu. "Melihat-lihat kota Hang-ciu" yang berarti memperbandingkan ilmu meringankan tubuh. "Penyakit" kaum persilatan yang tak bisa disembuhkan ialah keinginan membandingkan ilmunya sendiri dengan ilmu orang lain.

Orang berkedok itu tertawa sambil menjawab, "Sungguh suatu kehormatan bagiku, bersama-sama menikmati kota Hang-ciu dengan Lo-cian-pwe. Dengan senang hati, Lo-cian-pwe!"

Mulailah "tamasya dalam kota" yang luar biasa itu. Keduanya seolah mampu merubah diri menjadi angin yang berhembus lewat begitu saja di atas atap-atap rumah. Berbelok selicin belut, melambung, melejit, tidak jarang memanjat pagoda-pagoda yang tinggi untuk terus meluncur dengan gerak-gerak akrobatik menakjubkan.

Para perajurit yang mestinya mengejar, kini malah jadi penonton yang asyik. Mereka sekarang "tahu diri" tak mungkin berhasil menangkap orang-orang selihai itu, maka buat apa lagi susah-susah? Lebih enak menonton, mengomentari, menjagoi dan bertaruh. Kota Hang-ciu mendapat hiburan gratis hari itu.

Perajurit-perajurit yang disuruh memadamkan api pun jadi lengah dari tugasnya. Ember-ember diletakkan dulu, dan mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk menonton pertandingan luar biasa itu.

Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu dalam waktu singkat berhasil mengelilingi kota Hang-ciu satu putaran, dalam keadaan tetap sejajar. Tetapi diam-diam Pak Kiong Liong harus mengakui kalah dalam hati. Dalam lari itu, dia berada di lingkaran yang lebih dalam dari lawannya, kalau dihitung-hitung sebenarnya menempuh jarak yang lebih pendek dan seharusnya dapat meninggalkan lawannya. Tapi toh cuma bisa sejajar, itu berarti lawannya lebih unggul.

Alangkah herannya Pak Kiong Liong menjumpai kenyataan itu, juga merasa malu sendiri. Bertahun-tahun ia merasa "kesepian" di puncak persilatan karena merasa tak ada tandingannya. Dan kini, seorang yang satu generasi dibawahnya telah muncul dengan ilmu yang bukan saja menyamai, bahkan melampauinya.

Namun sebagai seorang berdada lapang, tak setitikpun muncul rasa dengki di hatinya, malah ada perasaan gembira. "Memang beginilah seharusnya. Kalau tiap generasi dunia persilatan bisa lebih baik dari generasi sebelumnya, barulah bisa ilmu silat berkembang kearah kejayaannya. Tapi kebanyakan tokoh-tokoh tua tidak rela digantikan yang muda-muda, takut bergeser, lalu malah menghambat perkembangan orang- orang muda dengan cara yang kadang-kadang kekanak-kanakan."

Tak terasa, sampailah kedua pelomba itu ke tembok kota. "Bagaimana kalau kita keluar kota sekarang, Lo-cian-pwe?"

"Baik."

Begitu Pak Kiong Liong menjawab setuju, tubuh orang berkedok itu tiba-tiba melambung tinggi keatas tembok kota. Karena tembok itu terlalu tinggi untuk dilompati sekaligus, di tengah luncurannya, orang berkedok itu membuat gerak berputar sehingga mendapat tambahan tenaga lontaran ke atas. Maka seperti tanpa bobot saja, orang itupun mendarat ringan di atas dinding kota.

Sedangkan Pak Kiong Liong terus meluncur kedepan, seolah hendak menabarak tembok kota, namun setelah dekat dia melompat dan melangkahlah ia di permukaan tembok kota yang tegak lurus itu seolah berjalan di lantai datar saja. Gerakan macam ini sebenarnya terhitung biasa dan gampang dipahami teorinya. Asalkan ada ancang-ancang yang cukup, hampir semua pesilat bisa berjalan beberapa langkah di permukaan tembok yang tegak lurus dengan gerakan cepat.

Tapi kalau melihat yang dilakukan Pak Kiong Liong, penganut teori itu mungkin akan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bukan saja Pak Kiong Liong sanggup melangkah sampai ke puncak yang jaraknya ada puluhan langkah, tapi Pak Kiong Liong juga melakukannya dengan langkah agak perlahan! Itu artinya ancang-ancang tadi cuma "basa-basi" belaka, kini dia melangkah naik tanpa sepenuhnya mengandalkan lari acang-ancang lagi.

Para perajurit yang menontonnya tiba-tiba bersorak menggemuruh atau bertepuk tangan. Sebagian lagi cuma melongo sampai mulutnya kemasukan lalat. Sementara kedua pelomba itu sudah menghilang di bagian luar dinding kota Hang- ciu. Ketika sudah belasan li meninggalkan dinding kota, Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu melihat In Pe berdiri di sebuah tempat belukar yang sepi. Maka Pak Kiong Liong dan orang berkedok itupun melambatkan lari mereka dan akhirnya berhenti.

Sambil mengusap keringatnya, Pak Kiong Liong berkata dengan agak terengah, "Tunas-tunas baru telah muncul untuk menggantikan pohon-pohon tua yang mulai keropos dimakan umur. Bagus, sobat, aku mengaku kalah."

In Te pun kemudian memberi hormat kepada orang berkedok itu. "Tadi belum sempat kuucapkan terima kasih kepadamu, Tuan. Sebab setelah Tuan menolongku, lalu buru-buru masuk kembali ke dalam kota. Sekarang, terimalah rasa terima kasihku."

"Jadi kau pula yang melepaskan api dalam kota, sobat?" tanya Pak Kiong Liong.

"Kawan-kawanku," sahut orang berkedok itu singkat.

Pak Kiong Liong kemudian menagih janji, "Sobat, agaknya sekarang tiba saat yang kau janjikan sendiri untuk memperkenalkan dirimu."

Orang itu membuka kedoknya, dan muncullah seraut wajah yang kira-kira lebih tua sedikit dari In Te. Kira-kira empatpuluh lima tahun. Namun wajah di balik kedok itu sungguh tidak pantas menjadi wajah pendekar, lebih cocok menjadi tampang seorang penderita penyakit panas kelas berat. Kurus, kulitnya kuning pucat, kumis dan jenggotnya jarang-jarang serta serabutan. Hanya sepasang matanyalah yang berkilau cemerlang dan bersorot tajam. Hampir-hampir Pak Kiong Liong dan In Te tidak percaya bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang demikian tinggi, bahkan sampai Pak Kiong Liong pun mengaku kalah.

"Namaku adalah Kam Hong To," kata orang itu.

Pak Kiong Liong dan In Te terkejut berbareng. Nama itu bukan nama kecil berarti, namun itulah nama seorang pendekar yang amat dihormati di wilayah Kang-lam (sebelah selatan Sungai Besar).

"Kang-lam Thai-hiap?" tegas Pak Kiong Liong yang langsung menyebut gelar pendekar kenamaan itu.

"Ah, sebutan yang diberikan oleh para sahabat itu malah terlalu membebaniku. Aku tidak berani membanggakannya dihadapan Lo-cian-pwe dan Pangeran."

Pak Kiong Liong menarik napas, ada sesuatu yang terusik dalam hatinya. Kam Hong Ti adalah sahabat Kaisar Yong Ceng ketika keduanya masih sama-sama muda. Ketika itu Kiasar Yong Ceng masih menyamar sebagai seorang pendekar pengembara di dunia persilatan, dan berhasil bersahabat dengan banyak pendekar Kang-lam yang di kemudian hari dimanfaatkan sebagai pendukung merebut tahta.

Soal inilah yang menjadi pertimbangan Pak Kiong Liong, lebih dari soal tinggi rendahnya ilmu silat Kam Hong Ti. Di masa putera-putera Kaisar Khong Hi berebut tahta dulu, Kam Hong Ti termasuk kubunya Pangeran In Ceng, yang berarti menjadi lawan Pak Kiong Liong yang mendukung Pangeran In Te. Banyak tahun sudah lewat, sekarang entah bagaimana sikap Kam Hong terhadap pemegang tahta?

Rasa was-was Pak Kiong Liong timbul, ketika mendengar Kam Hong tiba-tiba berkata, "Lo-cian-pwe dan Pangeran, pertemuan kita kali ini juga ingin kugunakan sebagai..."

Saat itulah In Te menukas dengan cepat, "Harap Kam-heng ketahui, aku sudah bukan bangsawan atau pangeran ataupun apapun lagi, namun sebagai warga biasa seperti orang-orang lain. Maka jangan lagi memanggil aku dengan sebutan Pangeran."

Kam Hong Ti tercengang mendengar kata-kata itu. Sesaat ia ragu-ragu, benarkah In Te benar-benar telah meninggalkan kedudukannya, yang berarti juga meninggalkan arena perebutan tahta? Atau cuma pura-pura minggir, dan kelak kalau melihat kesempatan terbuka lalu terjun kembali? Namun kemudian Kam Hong Ti bertekat, bagaimanapun kedudukan In Te sekarang, Pangeran atau bukan, dia tetap harus melepaskan ganjalan hatinya yang telah dipendamnya bertahun-tahun.

"Baiklah. Kau masih pangeran atau sudah bukan pangeran lagi, aku tetap wajib harus minta maaf kepadamu," kata Kam Hong Ti, dan tiba-tiba ia membungkuk hormat dalam-dalam kepada In Te.

In Te terkejut. "Apa-apaan ini, Kam-heng?"

"In-heng, dulu karena mataku buta tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, aku telah bersahabat dengan kakak ke empatmu, In Ceng, yang sekarang menduduki tahta. Karena kepandaiannya bersandiwara dan menyusun kata-katanya yang bagus, aku pun terjerat ikut dalam komplotannya dan mendukung usahanya merebut tahta. Ah, benar-benar buta aku waktu itu. Dan sekaranglah kusadari betapa keliru langkahku yang dulu itu."

Sambil tersenyum, In Te berkata, "Sudahlah, Kam-heng. Dalam kehidupan yang menyediakan banyak pilihan ini, siapa orangnya yang tidak pernah melakukan kesalahan? Seandainya dulu aku yang berhasil naik tahta, barangkali karena kelemahan dan kebodohanku, sekarang aku juga sudah mengecewakan banyak orang."

Kam Hong Ti menarik napas, beban berat rasa bersalah di dalam hatinya belum terlepas sama sekali. "Ijinkan aku menyelesaikan kata-kataku, In-heng. Aku dulu bukan sekedar pendukung biasa bagi si licik In Ceng, namun pendukung yang membabi-buta sehingga berhasil dibujuk ikut serta dalam suatu tindakan curang, yang amat merugikan In-heng serta seluruh kekasiran, seluruh pencinta keadilan...."
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 11

Kemelut Tahta Naga II Jilid 11

Karya : Stevanus S P

Orang yang disuruh itu tadinya mengira Liong Ke Toh sudah tidur, ternyata bangsawan tua itu masih belum tidur, la masih nampak berbincang dengan mimik sungguh-sungguh dengan Toh Hun, orang kepercayaannya yang tidak pernah jauh dari sisinya.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Ketika pengawal yang hendak melapor itu mengetuk pintu, pembicaraanpun berhenti. Tanya Liong Ke Toh ke arah pintu, "Siapa?"

Dari luar pintu si pengawal menjawab, "Ampun, ong-ya, hamba telah lancang menghadap tanpa dipanggil. Hamba salah seorang pengawal Ong-ya yang hendak melapor."

Liong Ke Toh saling pandang sekejap dengari Toh Hun, terlihat si bangsawan tua mengangguk. Lalu Toh Hun yang melangkah ke pintu untuk membukakanya. Dan Toh Hun mengenal memang salah satu pengawal anggotanya yang berdiri di hadapan pintu.

Si pengawal diantar masuk, dan sambil berlutut di hadapan Liong Ke Toh diapun menyampaikan laporan tentang si "arwah" tadi berikut pesan-pesannya. Aneh, mendengar laporan itu Liong Ke Toh malahan tampak gembira dan bertukar senyuman dengan Toh Hun. Seolah mereka mendengar kabar dari sesuatu yang sudah lama mereka nanti-nantikan.

"Baik." kata Liong Ke Toh selesai mendengar laporan itu. "Kembalilah ke tempat tugasmu!"

Setelah pengawal itu pergi, Liong Ke Toh tersenyum kepada Toh Hun dan berkata, "Pastilah dia orang Pek-lian-kau (agama Teratai Putih), membawa jawaban dari kontak-kontak kita beberapa bulan yang lalu. Tidak heran kalau datang dan perginya mereka begitu aneh, sebab mereka memang terkenal gemar bermain-main hoat-sut (ilmu gaib), bahkan mereka bisa berhubungan dengan arwah-arwah."

"Apakah Ong-ya benar-benar akan menemuinya di kuil Ting-kang-bio nanti tengah malam?" tanya Toh Hun.

Liong Ke Toh menggeleng. "Tidak, terlalu besar resiko keselamatan jiwaku kalau sampai bertemu langsung dengan kawanan tukang santet itu. Sebab aku adalah Pamanda Kaisar, sedangkan orang-orang Pek-lian-kau itu konon memendendam suatu cita-cita untuk mengusir semua orang Manchu dan mendirikan kembali Kerajaan Beng. Jadi aku tidak mau bertemu dengan mereka, biarpun aku ingin memanfaatkan tenaga mereka kali ini."

Mendengar itu, tanpa sadar Toh Hun mengusap keringat dingin di jidatnya. Kalau majikannya tidak mau bertemu sendiri dengan mereka, apakah dirinya yang akan disuruh? Benar juga, apa yang dikhawatirkan pun datang.

Kata Liong Ke Toh, "Jadi kau saja yang ketemu mereka, ya? Jangan takut, asal kau bawakan hadiah yang cukup berharga, mereka takkan membunuhmu. Mereka juga butuh duit kan? Jangan takut."

"Ya... ya....." sahut Yoh Hun agak dipaksakan.

Liong Ke Toh berdiri, mengelilingi meja dan mendekat khusus untuk menepuk nepuk pundak Toh Hun. "Jasa yang kuminta saat ini dari mereka, ialah membunuh Pangeran Hong Lik. Beritahu saja kepada mereka arah perjalanan rahasia Hong Lik yang sedang meninggalkan istana dengan menyamar. Itu saja. Kau tahu arah perjalanan Hong Lik bukan?"

"Ya. Ya."

"Berangkatlah sekarang. Ini hampir tengah malam. Jangan takut, jangan takut. Orang-orang Pek-lian-kau itu tahu kapan saatnya memusuhi kita, dan kapan saatnya menurut kepada kita karena mengharapkan uang kita. Dan inilah saatnya kita dan mereka sejalan. Berangkatlah."

Toh Hun tidak terlalu terhibur mendengar kata-kara itu. la tetap tidak yakin, apakah nyawanya benar-benar akan tetap terjamin kalau sampai ke tengah-tengah orang-orang Pek-lian-kau yang membenci orang-orang pemerintah Manchu itu? Lebih ngeri lagi, orang- orang dikenal sebagai ahli-ahli ilmu gaib. Tetetapi Toh Hun tak bisa melawan perintah Liong Ke Toh, sebab kalau sampai rencana Liong Ke Toh sukses, toh diri Toh Hun akan ikut terangkat juga.

Terpaksa Toh Hun lalu mempersiapkan diri untuk berangkat. Dengan memakai pakaian ringkas, ia juga sekantong uang emas sebagai hadiah bagi Pek-lian-kau. Tak lupa dibawanya sepasang senjata andalannya yang disilangkan di punggung, yaitu sepasang Hou-thau-kau (kaitan kepala macan). Lalu diapun tinggalkan gedung Cong-peng-hu. Secara diam-diam, sebab urusan yang sedang dijalankannya itu adalah urusan amat rahasia yang bisa gawat kalau sampai diketahui orang lain. Ini adalah usaha untuk membunuh seorang Putra Mahkota dengan "pinjam" tangan pihak Pek-lian-kau.

Ia berjalan mengendap-endap sampai ke tembok kota, lalu tembok kota Hang-ciu dilewatinya dengan memanjat menggunakan tali berkaitan. Para penjaga tembok kota agak lengah dalam menjalankan tugas, sebab mereka sedang berkerumun dari keasyikan bercerita tentang kematian Ni Keng Giau yang masih jadi "berita hangat" di kota itu.

Maka Toh Hun dapat melewati tembok kota dengan lancar. Di luar tembok kota, suasana gelap sekali. Toh Hun tidak tahu pasti letak kelenteng Tin-kang-bio, pesan orang Pek-lian-kau lewat para penjaga hanya menyebutkan "sebelah timur". Maka Toh Hun lalu melangkah saja ke arah timur.

Kira-kira dua atau tiga li dari kota, suasana makin sepi dan gelap. Kelap kelip lampu rumah penduduk yang tadinya masih terlihat satu dua biji, sekarang tak terlihat satupun Namun saat itulah Tih Hun melihat di tepi sebuah hutan ada sebuah lampion kertas berkedip-kedip. Toh Hun menduga pihak Pek-lian-kau sudah menaruh seorang penyambut di tempat ini, maka dengan langkah lebar diapun mendekati lampion itu.

Tetapi semakin dekat dengan lampion itu, langkahnya semakin ragu-ragu, apakah matanya yang salah lihat atau bagaimana? Tidak kelihatan adanya orang orang di pinggir hutan itu. Lalu, siapa yang memegangi lampion itu? Dengan jantung berdegup lebih kencang, Toh Hun memaksakan diri untuk mendekati lampion itu, sambil membesar-besarkan hatinya sendiri,

"Orang-orang Pek-lian-kau memang gemar menakut-nakuti orang dengan permaianan mereka yang aneh-aneh. Tapi permaianan mereka kali ini cuma mainan anak kecil, lampion itu pasti digantung dengan benang hitam sehingga tidak kelihatan di malam segelap ini, apalagi di pinggir hutan."

Hanya, setelah dekat benar dengan lampion itu, sia-sia matanya yang tajam itu menemukan benang hitam yang tadinya ia bayangkan. Lampion itu benar-benar tergantung-gantung diudara kosong. Dengkul Toh Hun mulai gemetar. Rasanya lebih suka ia ketemu lima belas orang bandit bersenjata, daripada menghadapi kejadian tak masuk akal macam ini. Seandainya tidak mengingat tugasnya, lebih suka tentunya ia kabur sekencang-kencangnya dari tempat itu.

Lampion itu tiba-tiba mulai bergoyang, lalu berjalan melayang. Toh Hun ragu-ragu, tapi akhirnya mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengikuti lampion itu, mengikuti "penunjuk jalan"nya yang aneh itu. "Teori benang hitam" yang semula diyakininya, kini berantakan tanpa dasar lagi. Lampion itu melayang di sepanjang tepi hutan, berbelok-belok dan melewati tempat-tempat yang ting gi dan rendah. Tidak mungkin digerakkan dengan benang, tapi agaknya oleh angin dingin tajam yang terus-menerus melewati mereka.

Terpaksa Toh Hun ikut terus, sambil dalam hatinya mohon perlindungan kepada sembarang dewa atau sembarang malaikat, agar dilindungi dari roh-roh tersesat. Akhirnya "mereka" sampai ke sebuah tepian sungai yang ditumbuhi ilalang air. Di situ tertambat sebuah perahu kecil yang ada gubuknya. Di dalam gubuk perahu itu terlihat cahaya api berkelap-kelip.

Lampion hantu itu masuk ke perahu. Toh Hun bimbang beberapa saat, haruskah ia mengikuti "pemandu"nya itu? Jangan-jangan di dalam perahu itu sudah menungguh seorang tukang perahu tak berkepala? Tetapi akhirnya dengan keringat dingin di punggungnya, Toh Hun masuk juga ke dalam perahu itu.

Syukurlah, dalam perahu itu tidak ada tukang perahu tak berkepala segala. Tak ada siapa-siapa kecuali sebuah lampion lain yang tergantung di ujung atap gubuk perahu. Sedang lampion "penyambut" tadi sudah raib entah kemana.

"Apakah aku harus mendayung sendiri?" pikir Toh Hun sambil jelalatan matanya mencari dayung. Bukan dayung yang diketemukannya, tapi cuma dua helai kertas. Satu kertas kuning bergambar coretan-coretan yang tidak dipahami Toh Hun, tapi Toh Hun tahu itulah "hu" atau "kertas jimat". Sedang sehelai kertas lainnya bertuliskan pesan singkat, "Bakarlah Hu."

Toh Hun benar-benar membenci "cara penyambutan" macam itu, tapi apa boleh buat. Tanpa menuruti petunjuk petunjuk Pek-lian- kau, tidak mungkin bisa menemui mereka. Terpaksa dengan jari-jari telunjuk dan jempol yang gemetar, ia jepit kerta jimat itu, didekatkan ke lubang atas lampion penerang perahu.

Begitu "hu" itu habis terbakar, mendadak ada angin kencang yang amat dingin menghembus berputar di sekitar perahu itu. Hampir saja Toh Hun roboh telentang, tapi cepat-cepat berpegangan bibir perahu. Lalu secara naluriah, kedua tangannya berpindah cepat ke gagang sepasang senjatanya, lalu melompat ke ujung perahu untuk melihat "siapa" kiranya si pengganggu itu.

Ternyata tidak terlihat siapa-siapa. Angin itu bertiup keras dan mengiris kulit, tapi anehnya cuma di sekitar perahu itu. Toh Hun melihat rumput-rumput air dalam jarak lebih dari empat langkah ternyata hanyalah bergoyang pelan, terhembus angin malam yang wajar saja. Angin yang menggoncang perahu itulah yang tidak wajar.

Dan perahu itupun tiba-tiba bergerak maju membelah air, seolah didayung delapan orang sekaligus, namun "para pendayung" itu tidak kelihatan. Di dalam gubuk perahu, Toh Hun duduk diam tak berkutik, basah kuyup oleh keringat dingin.

Perahu itu menyusuri tepian sungai agak lama, dan berhenti di suatu tepian landai yang ada lampionnya lagi. Toh Hun sudah tidak kaget lagi ketika melihat lampion iniipun terkatung- katung di udara kosong. Cahayanya tidak kuning kemerah-merahan seperti api yang umum, tapi kuning kehijau-hijauan.

Toh Hun melompat ke daratan dan mengikuti lampion itu, yang melayang sendiri seperti yang tadi. "Mereka" menuju ke suatu tanjakan bukit. Di kaki bukit itu nampak ada sesosok tubuh berdiri, diterangi sepasang lilin yang diletakkan di tanah, di depan kedua kakinya.

Legalah Toh Hun melihatnya, menganggap sebentar lagi setidaknya dia akan bertemu dengan manusia biasa. Namun setelah dekat, nyatalah "dia" yang menunggu di kaki bukit itu cuma sesosok orang-orangan kertas seukuran orang biasa, "la" didandani seperti seorang Kaisar dari jaman Kerajaan Beng namun semuanya terbuat dari serba kertas. Wajah patung kertas itu nampak tersenyum ramah sekali, namun di bawah cahaya kehijau-hijauan dari lampion "pengantar"nya, wajah itu jadi menyeram kan sekali buat Toh Hun.

Di antara sepasang lilin, ada sebuah pai (papan arwah) yang bertuliskan "Sri baginda Cong-ceng, Kaisar Agung Dinasti Beng". Dari tulisan yang digoreskan di tanah, "Berlututlah." Toh Hun bisa memaklumi seperti itu. Pendiri dinasti Beng ialah Cu Guan ciang yang kemudian bertahta dengan sebutan Kaisar Hong bu, dan sebelumnya dia adalah tokoh Pek-lian-kau, memimpin Pek-lian-kau sebagai ujung tombak perjuangan mengusir kekuasaan Mongol.

Kemudian kaisar kaisar keturunan Cu Goan-ciang tak ada yang peduli kepada Pek-lian-kau, bahkan pernah ada yang bermaksud menumpasnya. Namun Pek-lian kau tetap setia kepada dinasti Beng. karena merasa sebagai "penanam saham" terbesar. Di jaman pemerintahan Manchu itu, Pek-lian-kau beroperasi sebagai gerakan bawah tanah yang tetap ingin memulihkan berkuasanya dinasti Beng.

Toh Hun maklum, namun ia bergidik ketika mengingat bahwa Kaisar Cong-ceng dulu mati dengan menggantung diri, yang menurut kepercayaan maka Tiausi-kui (arwah orang mati gantung diri) itu akan selalu berkeliaran penasaran. Kini, dihadapan patung kertas Kaisar Cong Ceng, Toh Hun ragu ragu untuk menaati perintah berlutut itu.

"Perintah gila gilaan ini tidak termasuk dalam perjanjian," geram Toh Hun. Sebagai orang Manchu lebih-lebih. Toh dirinya tak mau mengorbankan kebanggsaannya dengan berlutut kepada patung seorang raja bangsa Han yang mati dengan cara sesat dan hina. Maka Toh Hun lalu menyimpang, patung itu untuk langsung mendaki ke tanjakan bukit, la menduga, kuil Tm-kang-bio mungkiri ada di puncak buku atau di lerengnya.

Baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar di belakangnya ada suara kresak- kresek kertas yang terus mengikuti langkahnya. Toh Hun menoleh, dan ia hampir semaput karena kagetnya. "Kaisar Cong Ceng" ternyata berjalan mengikutinya, cara berjalannya bergoyang-gontai seperti layangan putus. Menyusulnya, bahkan lalu menghadang di hadapan Toh Hun, masih tetap dengan wajahnya tersenyum seram.

Toh Hun melangkah menyamping lalu lari ke atas bukit. Tetapi jailangkung itu terus memburunya, dan lagi-lagi menghadang di hadapannya. Kini Toh Hun benar-benar mandi keringat dingin. Nampaknya ia takkan lepas dari gangguan si jailangkung ini sebelum menuruti permintaannya. Apa boleh buat. Ia berlutut menyembah, dan ketika bangun kembali melanjutkan langkahnya, maka si jailangkung tak mengganggunya lagi.

Kuil Tin-kang-bio memang ada di atas bukit, sebuah kuil setengah roboh, lumutan, kotor karena lama tak dikunjungi orang. Namun malam itu ada cahaya api unggun di halaman kuil. Toh Hun dengan ragu-ragu mendekati pintu kuil, apa lagi yang akan dilihatnya di halaman kuil itu?

Tiba-tiba dari halaman kuil terdengar suara tertawa dan kata-kata yang ramah„ "Masuklah. Jangan takut!"

Kali ini benar-benar suara manusia. Toh Hun lebih dulu membenahi diri, agar jangan nampak ketakutan atau morat-marit, setelah itu barulah ia melangkah ke halaman kuil itu dengan langkah yang gagah. Dilihatnya di tengah halaman kuil itu ada api unggun berkobar besar. Dan yang menjumpainya benar-benar manusia, bukan lagi "lampion hantu" atau "perahu setan" atau bahkan "Kaisar Cong Ceng".

Orang itu berdandan seperti imam To, namun warna jubahnya tidak lazim. yaitu merah tua. Selain itu, di seluruh jubahnya dihiasi huruf dan lambang-lambang aneh yang tak dikenal Toh Hun. ia cuma menduganya sebagai mantera-mantera sihir. Di sampingnya ada meja penuh benda-benda seperti sesajian, lilin, pedang kayu, setumpuk kertas "Hu", kaca pat-kwa, batok kulit kura-kura, bilah-bilah bambu bernomor dan sebaginya.

Si imam sendiri adalah seorang lelaki berusia limapuluh tahun, kurus, namun pandangannya tajam menusuk sehingga Toh Hun diam-diam bergidik ngeri. Tapi ia tertawa terkekeh dan berusaha ramah ketika bertanya, "Bagaimana? Senang atau tidak dengan perjalanan tadi?"

Dengan berlagak gagah sambil menduduki sebuah peti kayu, Toh Hun menjawab, "Boleh juga permaianan sulapmu.”

Si imam tiba-tiba membentak. “Jangan duduk di situ!"

Toh Hun terlompat dengan wajah pucat karena kagetnya. Setelah degup jantungnya mereda, ia bertanya, "Kenapa?"

"Itu peti penyimpanan jimat-jimatku! Gara-gara ada di bawah pantatmu, biarpun cuma sebentar, aku terpaksa harus mengadakan upacara penyucian kembali!"

"Maaf.... maaf!" Toh Hun tersipu-sipu.

"Duduk di sana!" bentak si imam sambil menunjuk ke sebuah tunggul pohon bekas disambar petir.

Sebagai kepala pengawal pribadi Pamanda Kaisar, tentunya Toh Hun bukan pesilat kelas kambing. Namun setelah berturut-turut dipameri peristiwa ganjil, rasa takut terhadap Pek-lian-kau menguasai jiwanya. Ketika sampai ke kuil itu, kegarangannya sudah susut amat ba nyak. Maka biarpun dibentak-bentak oleh imam itu, dia menurut dan "jinak" saja, tdk berani marah.

Setelah duduk, si imam berkata dengan bengis, "Jangan kau anggap apa yang kau alami tadi cuma seperti sulapan di pinggir jalan! itu adalah ilmu sakti Pek-lian-kau! Bahkan aku sanggup membunuh siapapun dari jarak jauh dengan ilmuku, termasuk kau! Percaya tidak?"

"Percaya... percaya...."

"Sebetulnya, karena pihakmu adalah orang-orang Manchu yang telah merebut negara kami, Kerajaan Beng, aku harus membunuh kalian! Tetapi kali ini pihak kami mau menjawab isyarat Liong Ke Toh, tidak lain karena ingin tahu apa yang kalian maui?"

Dengan harapan agar dapat cepat-cepat pergi dari situ, Toh Hun menjawab langsung tanpa tedeng aling-aling. "Liong Ong-ya minta agar kalian membunuh Pangeran Hong Lik!"

"Hah? Putera Mahkota?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Kenapa harus tahu? Asal kalian berhasil mendapatkan nyawa Pangera Hong Lik, lalu kami bayar hadiahnya beres bukan?"

"Hem. kau merendahkan Pek-lian-kau. Kau sangka kami ini hanya sekelompok pembunuh bayaran yang mau saja disuruh-suruh asal dibayar? Kau keliru! Kami adalah kelompok pejuang yang punya cita-cita besar! Kalau kami bekerja-sama dengan pihak lain, kami harus tahu apa tujuannya yang sejelas-jelasnya!"

Toh Hun bingung. Apakah persaingan sengit antara Liong Ke Toh dan Pangeran Hong Lik yang selama ini masih tersimpan di balik dinding istana, kini harus dibeber kepada pihak yang sama sekai bukan sahabat, hanya sekutu sementara? Bagaimana kalau beritanya sampai menyebar luas dan menimbulkan kegoncangan? Sesaat lamanya Toh Hun cuma membungkam.

Melihat itu. si imam tertawa dingin, "Kalau tidak mau dengan persyaratan kami, minggatlah sekarang juga Tak usah mengharap bekerja-sama dengan kami. Tapi ingat, heh…heh-heh….tadi kau sudah terlanjur membuka mulut tentang niat si tua bangka Liong Ke Toh untuk menyingkirkan Hong Lik. Berarti rahasia kalian sudah di tangan kami. Berita ini tentu akan menarik cukup banyak pendengar kalau kami teriakan di pasar-pasar atau di simpang-simpang jalan. Begitu ya?"

Sekarang Toh Hun tidak cuma berkeringat dingin, bahkan mulai menggigil pelan, la merasa marah, takut, karena terjebak. Ancaman si imam itu berarti, mau tidak mau kerja-sama harus diteruskan, tapi pihak Pek-lian-kau lah yang menetapkan syarat-syaratnya.

Tapi, kalau diteruskan, belum-belum pihak Pek-lian-kau sudah minta syarat yang begitu berat. Yaitu ingin mengetahui latar-belakang niat Liong Ke Toh untuk membunuh Pangeran Hong Lik. Padahal di dalam komplotan Liong Ke Toh sendiripun sedikit yang tahu niat itu.

"Bagaimana?" si imam tiba-tiba membentak sehingga Toh Hun berjingkat. "Sekali melangkah, jangan harap pihakmu bisa mundur lagi!"

"Baik...," akhirnya Toh Hun nekat ambil putusan sendiri.

"Nah, katakan."

"Singkat saja, Ong-ya dan Pangeran Hong Lik saling membenci. Ong-ya khawatir kalau kelak Pangeran Hong Lik menggantikan ayahandanya bertahta, maka Ong-ya akan mengalami kesulitan hebat. Itu saja."

"Hem, kalau Hong Lik sudah mati, apakah Liong Ke Toh lalu punya calon sendiri yang dijagokan? Atau dia sendiri yang mau mengincar tahta biarpun sudah hampir masuk kubur?"

"Soal ini, maaf, Ong-ya belum pernah mengatakannya kepadaku. Harap kau maklumi, aku biarpun dipercaya tetapi cuma pesuruh, tidak mungkin tahu semua yang dirancang dalam pikiran Ong-ya."

Penjelasan itu masuk akal, dan Toh Hun lega melihat si imam mengangguk angguk. "Baik, syarat pertama ini kuanggap cukup terpenuhi. Artinya, ini kerjasama sederajat. Bukan antara si pemesan dengan si pembunuh bayaran. Sebab kami ini kaum bercita-cita, bukan tukang kepruk upahan, paham?"

"Ya. Paham. Terus bagaimana? Sanggup tidak?" tanya Toh Hun penuh perasaan harap-harap cemas. Kalau imam itu tidak menyanggupi, mampuslah pihaknya. Sudah terlanjur membuka semua “kartu" ternyata kerja-samanya batal.

Untunglah, si imam menunjukkan sikap cukup berminat, biarpun belum langsung mengiakan. "Pihakmu minta kami membunuh Pangeran Hong Lik, apakah berarti kami harus menerjang ke istana?"

"Oh, tidak. Ong-ya takkan mengajukan permintaan yang begitu tak masuk akal. Saat ini adalah peluang terbaik untuk membunuh Hong Lik, sebab dia sedang mengembara di luar istana, bahkan jauh dari Ibukota Pak-khia. Menyamar, dan dengan jumlah pengawal yang tak seberapa."

"Baik. Rasanya kami sanggup," jawaban si imam memberi harapan kepada Toh Hun. "Tetapi ada syarat lain, yang biarpun bukan syarat terpenting, namun kalau mau dibilang tidak penting kok ya penting juga." Ketika mengucapkan ini, lenyaplah keangkeran si imam, dan sikapnyapun berganti cengar-cengir.

Dengan penuh kemengertian, Toh Hun menurunkan bungkusan dari punggungnya. Diletakkan di tanah lalu dibuka, segera nampak potongan-potongan emas yang berkilauan di bawah cahaya api unggun.

"Berapa?" tanya si imam sambil menyipitkan matanya.

Diam-diam Toh Hun mentertawakannya dalam hati, "Ngakunya kaum yang bercita-cita, bukan pembunuh bayaran dan sebagainya, tapi begitu melihat emas, terus mukanya seperti anjing melihat tulang. Hem, ternyata emas kami lebih sakti dari ilmu gaibnya."

Dalam hatinya membatin demikian, namun wajahnya tak menampilkan kesan itu. Dengan amat sopan Toh Hun menjawab, "Limaratus tahil. Kalau pihakmu berhasil membunuh Hong Lik, kami tambah limaratus tahil lagi."

"Hi-hi-hi, memang mahal harga batok kepala seorang Putera Mahkota, tapi juga tidak sembarangan orang bias melaksanakan tugas ini. Tapi kami pasti sanggup!"

"Jadi, sepakat?"

"Sepakat. Nah, tahu tidak kemana Hong Lik pergi dalam penyamarannya?"

"Kemungkinan besar memasuki wilayah sekitar pegunungan Kiu-liong-san, tepatnya kami sendiri tidak tahu, tapi kalian kan bisa menyebar orang untuk mencari jejaknya? Sebulan yang lalu, ada utusan rakyat kecil dari sekitar Kiu-liong-san yang menghadapnya dan melaporakan penderitaannya, maka diduga keras Hong Lik berangkat ke sana. Pengawalnya sedikit, tapi tangguh."

Si imam tiba-tiba tertawa dengan nada mengejek, "Hem, berapa orang saja, sedikit atau banyak, buat ilmu gaibku tak ada masalah. Mereka semua bisa kubuat gila dengan ilmu saktiku!"

"Kalau begitu, uang muka ini ku tinggalkan. Dan aku mohon diri lebih dulu."

"Tunggu. Masih ada urusan lain!"

"Urusan apa lagi?"

"Tentang dirimu sendiri!"

"Hah, ada apa dengan diriku?"

"Bukankah waktu tadi kau naik kemari, kau sudah bersujud kepada badan halusnya Sribaginda Cong Ceng?"

"Ya, demi bisa lepas dari gangguan jailangkung itu."

"Apa kau bilang? Jailangkung? Jangan sembarangan dengan mulutmu! Yang kau sembah tadi benar-benar badan halus Sribaginda Cong Geng! Junjungan kami para patriot Kerajaan Beng!"

"Ya…Ya.... maaf...." sahut Toh Hun gugup. "Memang aku sudah memberi hormat jai... eh, Sribaginda agar diperkenankan lewat. Dan aku sudah diijinkan lewat."

Mendadak terlihat tubuh si imam kejang-kejang beberapa kali, matanya terbalik sehingga yang nampak tinggal putihnya, tubuhnya bergetar keras, dari mulutnya keluar air liur banyak sekali. Tanpa pikir panjang lagi Toh Hun melompat dan berlari ke arah pintu keluar.

Tetapi tubuh si imam melompat dan menghadang di depan pintu, dengan sepasang tangan terjulur ke depan seolah mau mencekik Toh Hun. Apa, yang membuat Toh Hun ngeri ialah Ketika melihat sepasang kaki si imam ternyata tidak menempel di tanah, melainKan terpisah kira-kira sejengkal dari tanah Itu artinya si imam mengapung di udara, seperti lampion-lampion tadi.

Tidak peduli Toh Hun adalah jagoan tangguh, menghadapi kejadian ini dia tidak punya sisa keberanian lagi. Dengkulnya mulai bergetar keras ketika ia melangkah mundur sambil terbata-bata. "To-tiang (bapak imam), aku... aku.... minta maaf.... aku.... aku...."

Dari mulut penuh liur si imam terdengar suara menggeram, yang oleh Toh Hun dikenali sebagai bukan suara si imam lagi. Suara seorang lelaki yang sama sekali lain, bergetar seram dan dunia seberang kubur, "Tidak bisakah kau bersikap dan hormat kepada seorang Kaisar? Akulah Kaisar Cong Ceng, ahli waris syah dari negeri yang sekarang di kangkangi orang Manchu macam kau! Akulah Kaisar Cong Ceng! Berlutut!"

Toh Hun bertindak melebih perintah itu. Oleh "Kaisar Cong Ceng" cuma disuruh berlutut, tapi Toh Hun bahkan berlutut sambil kencing di dalam celana. "Hamba..... mohon ampun! Hamba mohon Sribaginda mengampuni hamba!"

Suara dari mulut si imam, suara tak dikenal, terdengar lagi, "Kau sudah menyembahku! Sudah memanggilku Sri-baginda! Kau sudah menjadi hambaku baik di dunia yang sekarang maupun di dunia yang akan datang!"

Dan mendadak tubuh si imam yang terapung itu seperti dibanting mendadak ketanah, kejang-kejang lagi sebentar, dan keadaan si imam lalu pulih seperti semula. Cuma nampak lemas sekali dan basah kuyup dengan keringat. Ketika melihat Toh Hun menyembah-nyembah, dia heran, "He, apa yang sedang kau lakukan?"

Sambil tetap menyembah-nyembah. Toh Hun menjawab dengan suara pelan "Ampun, Sribaginda... hamba tidak akan menentang kehendak Sribaginda."

Si imam tercengang semakin heran "Apa? Kau panggil aku Sribaginda!" lalu ia bangkit sambil menepuk-nepu debu dari jubahnya.

Toh Hun yang mulai agak tenang, mengangkat kepalanya, dan dilihatnya imam itu mulai pulih ke dalam keadaannya yang wajar. Agaknya arwah yang baru saja "meminjam mulut"nya telah pergi. Sambil mengusap-usap keringat dijidatnya, Toh Hun bertanya, "Oh, kau! Kau sudah.... sudah tidak kerasukan lagi?"

Pertanyaan itu langsung saja membuat si imam tahu apa yang sudah terjadi baru saja. Ia tertawa terkekeh. "Oh, jadi kau baru saja bicara dengan arwah Sribaginda? Tidak usah heran. Di antara ribuan anggota Pek-lian-kau Sekte Utara, menyampaikan pesan-pesannya. Apa saja yang Sribaginda sabdakan?"

Masih dalam cengkamari kengerian, Toh Hun tidak berani berbohong, "Sribaginda menganggapku sebagai abdinya! Apakah berarti aku.... aku harus ke dunianya sekarang?"

Sikap imam itu mendadak berubah menjadi ramah sekali. la bangunkan Toh Hun dari berlututnya, lalu menepuk-nepuk pundaknya, "Benar begitu? Kalau benar, mulai detik ini kau sudah termasuk sebagai kawan seperjuangan kami! Kau harus merasa bangga, sebab tidak semua orang bisa diterima dalam Pek-lian-kau kami dengan cara seistimewa kau tadi. Dipilih langsung oleh Sribaginda! Apalagi mengingat bahwa kau adalah seorang Manchu!"

"Ah, kawan seperjuangan yang bagaimana?"

"Lho, kok kawan seperjuangan bagaimana, ya kawan seperjuangan dalam usaha memulihkan kembali Kerajaan Beng!"

Sungguh Toh Hun amat tidak siap untuk itu. Dia yang sudah punya kedudukan mapan dalam istana, sekarang harus menjadi "kawan seperjuangan" gerombolan tukang sihir ini? Kecuali itu, sebagai orang Manchu, haruskah menumbangkan kerajaan bangsanya sendiri untuk membautu cita-cita kaum yang membenci bangsanya ini?

Melihat sikap Toh Hun yang ragu-ragu, si imam tiba-tiba menjadi bengis. "Kau ragu-ragu? Keberatan?"

"Aku.... aku...."

"Kau keberatan bukan?! Ya?!" si imam makin galak sikapnya. "Keberatan berarti menentang kemauan Sribaginda Cong Ceng! Dalam sisa umurmu, jangan harap kau lepas dari kejaran perajurit-perajurit gaib Kerajaan Beng! Baik perajurit-perajurit yang masih berujud manusia hidup maupun perajurit-perajurit dari dunia lain!"

"Perajurit-perajurit dari dunia lain" itulah yang membuat Toh Hun bergidik. Tapi, bergabung dengan Pek-lian-kau dalam perjuangan merobohkan pemerintah Marichu bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam sedetik dua detik. Ia bungkam kebingungan.

"Masih ragu-ragu? Oh, aku tahu, barangkali kau tidak percaya adanya perajurit-perajurit Kerajaan Beng dari dunia lain ya?" gertak si imam. "Baiklah. Sekarang akan segera kau lihat mereka!" Sambil berkata demikian, si imam sudah menghampiri mejanya dan mengambil selembar Hu.

Tetapi Toh Hun buru-buru berteriak mencegah, "Jangan! Jangan!"

"Ooo.... kau takut melihat perajurit perajurit gaib yang menjadi kawan-kawan seperjuanganku? Baik, baik. Bagaimana kalau kupanggilkan Ni Keng Giau saja? Barangkali dia kenal baik denganmu."

"Jangan! Jangan! Aku percaya!"

Si imam meletakkan kembali kertas Hu itu, lalu berkata dengan bengis, "Kalau begitu, kau tidak bisa ingkar lagi bahwa mulai detik ini kau adalah abdi Kerajaan Beng! Jangan harap bisa melepaskan diri, sebab kau sudah dipilih sendiri oleh Sribaginda!"

Toh Hun mengeluh dalam hati. Alangkah bangganya bisa menjadi "orang pilihan Sribaginda" asalkan "Sribaginda nya” masih hidup, tetapi ini "Sribaginda"nya sudah mati hampir seratus tahun yang lalu. Tapi ia memang tersudut, setidaknya untuk sementara waktu. Ia cuma berjanji diam-diam dalam hati, secepatnya akan segera dicarinya hwe-shio yang lihai mengusir setan, untuk membebaskan diri dari kejaran "perajurit-perajurit gaib".

Sementara itu si imam terus berkata menekan, "Kau akan tetap di dalam istana, namun harus bekerja bagi kepentingan kami. Harus! Sebulan sekali akan ada orang kami yang menghubungimu, menerima kabar-kabat penting dari dirimu, sekaligus memberi perintah-perintah untukmu. Jangan coba-coba berkhianat, atau kutenung kau dari jarak jauh sehingga kau mampus karena isi perutmu digerogoti ulat! Aku bisa melakukannya dengan gampang, sebab aku sudah punya catatan hari kelahiranmu, shiomu, bahkan bintang pelindungmu. Paham?"

"Paham. Paham."

"Baik pergilah,jangan bilang siapa-siapa!"

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Toh Hun tinggalkan kuil lumutan di puncak bukit itu. Mula-mula langkahnya masih tegap, sebab malu juga ia kalau sampai lari terbirit-birit. Tiba di luar kuil, entah benar-benar atau hanya perasaannya sendiri, ia merasa ada orang yang mengikutinya di kegelapan.

Tapi ketika ia menoleh, tidak ada apa-apa. la mempercapat langkah, tapi suara langkah yang mengikutinya itu terus terasa dibelakangnya. Maka larilah ia secepat-cepatnya ke arah kota Hang-ciu. Menerjang semak-semak, tak peduli sering jungkir-balik sehingga babak belur, namun ia terus lari. Sambil kencing di celana.

Tiba di pintu kota yang tertutup karena masih malam, ia memukul-mukul pintu dan berteriak-teriak minta dibukai. Namun sebelum pintu dibukakan, ia sudah roboh pingsan di depan pintu, karena takut campur lelah. Ketika ia sadar kembali, ia sudah ada di atas pembaringan di sebuah ruangan di gedung Cong-peng-hu Ketika matanya terbuka, dilihatnya langit-langit ruangan, dan ketika sedikit memiringkan kepalanya, dilihatnya wajah Liong Ke Toh tersenyum-senyum didampingi seorang tabib.

"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"

"Ya!" sahut Toh Hun lirih.

Liong Ke Toh tersenyum dan menepuk pundak Toh Hun satu kali. Katanya, "Cepatlah sembuh, sebab sekarang kaulah satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk selalu berhubungan dengan mereka. Sebab mulai sekarang kau sudah saling mengenal dengan mereka."

Toh Hun terkesiap, lalu pingsan kembali.

* * * *

Cerah fajar menyiram seluruh kota Hang- ciu. Namun kabut tipis sisa malam masih belum lenyap sepenuhnya, dan seolah menyaring cahaya keemasan yang sebenarnya berlimpah bagi kehidupan. Maka muncullah garis-garis emas tebal dan tipis dari sela-sela kabut itu.

Jalanan-jalanan di kota mulai sibuk, terutama oleh para pedagang kecil yang harus bergegas memulai kerja, agar rejekinya tidak keburu direbut orang lain. Pak Kiong Liong pun melangkah bergegas, namun bukan untuk rebutan rejeki. la memasuki cabang jalan yang menuju ke rumah penginapan yang disewanya, wajahnya nampak keruh. Begitu sampai di penginapan lalu masuk ke kamarnya, dijumpainya In Te yang wajahnya sama kisruhnya dengan pamannya, dan langsung menyambut dengan pertanyaan,

"Bagaimana?"

"Tidak ketemu. Anak-anak bengal itu pasti sudah meninggalkan kota ini sejak tadi malam. Ah, benar-benar orang-orang muda yang cuma menuruti emosinya saja tanpa menyadari bahayanya."

In Te semakin gelisah. Baginya Tong San Hong, Tong Hai Long dan Se-bun Hong-eng sudah dirasakannya seperti keponakan-keponakannya sendiri. Kini ketiga orang muda itu pergi tanpa pamit, dan ini sangat mencemaskan Pak Kiong Liong maupun ln Te.

"Seharusnya mereka tidak perlu ikut mendengar laporan tentang munculnya kembali Kakanda In Tong. Begitu mendengar, mereka tak dapat menahan diri lagi dan langsung minggat tanpa pamit untuk mengejar Kakanda In Tong. Mereka khawatir, kalau harus berpamitan akan kita cegah. Benar-benar tak punya perhitungan mereka itu."

"Sama gegabahnya ketika mereka nekat mencoba membunuh Ni Keng Giau. Padahal saat itu Ni Keng Giau sedang dikawal orang-orang macam Sat Siau Kun, Suma Hek-long dan sebagainya."

“Sekarang bagaimana, paman?"

"Terpaksa harus kita tinggalkan kota ini untuk menyusul mereka. Hari ini juga, mumpung masih pagi"

Kemudian Pak Kiong Liong dan In Te mulat berbenah untuk pergi. Namun, baru saja mereka selesai mengikatkan bungkusan bekal mereka di Pinggangg, di luar penginapan itu mendadak terdengar derap kaki banyak orang, disertai teriakan. "Pak Kiong Liong dan In Te! Menyerahlah, kalian sudah dikepung!"

Pak Kiong Liong sejenak mengerutkan alisnya, namun lalau tersenyum sambi! berkata, "Wah, rupanya Kang Bun-hou sudah menyiapkan sebuah upacara meriah untuk mengantar Keberangkatan kita."

Tetapi ln Te nampak lebih tegang, tidak setenang pamannya itu. Pamannya masih bisa senyum-senyum menghadapi situasi macam itu, karena ilmu silatnya memang amat tinggi, namun bagaimana dengan dirinya sendiri yang berilmu silat pas-pasan saja? Memang, sejak ia kabur dari Jing-hai dan bersembunyi ditempat orang-orang Hwe-liong-pang, In Te juga sudah mencoba mematangkan ilmu silatnya namun apa yang bisa dicapai hanya dalam beberapa bulan?

Pak Kiong Liong rupanya memahami pikiran In Te, dan ia membesarkan hannya. "Jangan berjauhan denganku. Kiia akan main kucing-kucingan dengan mereka.”

Setelah itu, ia mematahkan sebatang gagang sapu panjang sepanjang satu meter untuk digunakan sebagai senjata. Sebenarnya Pak Kiong Liong membawa pedang juga, namun setiap kali menghadapi tentara kerajaan dalam keadaan yang dianggapnya tidak begitu gawat. Pak Kiong Liong selalu tidak tega menggunakan pedang untuk bersungguh-sungguh membunuh mereka.

Pak Kiong Liong adalah bekas panglima yang mencintai perajurit-perajurit seperti ayah mencintai anak-anaknya. Dan perasaan itu tak gampang hilang, biarpun sudah bertahun-tahun menjadi buronan, tak jarang diburu oleh "anak-anak"nya sendiri.

Sedangkan In Te akan tetap menggunakan pedangnya. Ilmunya belum cukup tinggi untuk berbelas-kasihan kepada perajurit-perajurit yang akan menangkapnya.

Sementara itu, telah terdengar suara pintu depan ditendang, lalu derap langkah para perajurit membanjir masuk halaman penginapan, Pak Kiong Liong menarik tangan In untuk melompat keluar dari jendela, hendak menyeberangi halaman belakang.

Tetapi bersamaan dengan itu, belasan perajurit bersenjata bedil-sumbu telah muncul dari halaman samping, langsung mengambil posisi membidik sambil berteriak, "Berhenti!"

Kerapian gerak para perajurit itu tidak lepas dari hasil latihan oleh Ni Keng Giau selama ini. Sayang juga sang pelatih sendiri sudah tak bisa menyaksikan hasil latihannya dipraktekkan, karena sudah meninggal dalam kekecewaannya yang amat mendalam. Tanpa peduli gertakan itu. Pak Kiong Liong melesat sambil menyeret In Te. Namun sambil memperhitungkan bahwa dua detik lagi bedil-bedil itu akan meledak setelah sumbunya disulut.

Benar, tepat pada saat moncong-moncong bedil itu menyemburkan peluru, sekuat tenaga Pak Kiong Liong mengenjotkan kakinya untuk melayang naik keatas genteng sambil menarik In Te. Peluru-peluru hanya berdesing di bawah kaki mereka, terus menghantam dinding belakang.

Karena tembakan pertama luput, para perajurit jadi sibuk mengisi kembali bedil-bedil mereka yang panjang-panjang. Mengisi bubuk peledak lewat moncongnya. memadatkannya dengan sepotong kawat panjang berujung bulat. memasang sumbunya lagi. Mengisikan pelurunya yang berbentuk kelereng besi. dan semua itu memakan waktu. Tidak heran, ketika senapan siap kembali orang-orang yang mau dtembak sudah lenyap.

Pak Kiong Liong dan ln Te bagaikan terbang di atas atap. Namun penggerebekan itu dipimpin sendiri oleh Kang Bun-hou. dibantu beberapa pengawal kepercayaan Liong Ke Toh yang harus mengawasi apakah benar Kang Bun-hou bersungguh-sungguh melakukan pekerjaannya atau tidak. Untuk dilaporkan ke Pak-khia.

Kang Bun-hou si panglima Hang-ciu sudah membuat perhitungan ke arah mana saja kira-kira Pak Kiong-liong dan In Te akan melarikan diri. Tempat-tempat yang diperhitungkan itupun sudah dijaga. Karena itulah kedua buronan kelas kakap itu tidak dapat begitu saja dapat lepas dari pemburu-pemburunya.

Belum lama Pak Kion Liong dan In Te kabur lewat atap, tiba-tiba dari balik bumbungan atap didepannya muncul sederetan moncong senapan. Ketika pelatuk-pelatuk ditarik, kembali butir-butir besi panas itu berdesingan. untung Pak Kiong Liong masih sempat menarik In Te secepatnya merosot turun dari atas, dan tiba disebuah lorong sempit. Selamat, untuk sementara.

Tapi dimulut lorong, bahaya yang sama sudah menanti pula. Pak Kiong Liong mengeluh dalam hati. seandainya tidak dibebani keselamatan In Te. tentu sepak terjangnya akan lebih leluasa. Tetapi keselamatan In Te mau tidak mau adalah tanggungannya. Kesempatan berpikir hanya satu detik kurang, dan ia tiba-tiba melemparkan tubuh ln Te kebalik dinding, dan sebelum para perajurit sempat berganti kejapan mata, tubuh Pak Kiong Liong sendiri telah melompat bagaikan harimau menerjang kawanan perajurit dengan gerak melengkung ke atas.

Para perajurit tak sempat membidik lagi dan langsung menembak saja, namun Pak Kiong Liong meluncur datar di atas lintasan peluru. Ketika tongkat bekas gagang sapunya diayunkan dengan perkasa, maka perajurit-perajurit yang menyumbat lorong pun bertumbangan babak belur. Perajurit-perajurit lain berdatangan, tapi Pak Kiong Liong menerjang rapat tanpa memberi kesempatan mereka menggunakan bedil. Terlibatlah ia dalam perkelahian sengit dengan para perajurit yang memenuhi jalanan di sekitar penginapan itu.

Kang Bun-hou tahu betapa tangguh buronan kali ini, karena itu jumlah pasukan yang ditugaskannya kali inipun tidak tanggung-tanggung. Pak Kiong Liong sampai tidak dapat memperkirakan berapa banyak perajurit yang harus dihadapinya. Pak Kiong Liong bertempur sambil berlari-lari di jalanan, terus diburu para perajurit.

Sepanjang jalan, entah berapa banyak pula yang dirobohkan oleh tongkat bekas gagang sapunya. Mereka yang bersenjata jarak jauh seperti bedil atau panah, tak diberinya kesempatan untuk beraksi, sebab Pak Kiong Liong terus menyusup dekat di antara mereka, tidak membiarkan mereka mengambil jarak yang agak panjang.

Bekas jenderal tua itu benar-benar menjadikan dirinya seperti seekor naga di lautan. Sebentar menyelam, sebentar muncul untuk mengamuk. Tadi ia bilang kepada In Te akan main kucing-kucingan, ternyata lebih tepat disebut "naga-nagaan". Tapi, seperti kekang yang dipasang olehnya sendiri, Pak Kiong Liong berusaha tidak membunuh seorangpun dari perajurit-perajurit Hang-ciu itu.

Ilmunya yang amat tinggi memungkinkan pengendalian diri macam itu. Maka, biarpun korbannya berceceran di tiap sudut dan lorong, tidak ada di antara mereka yang mati. Kalau cuma benjol-benjol, keseleo atau pingsan, semuanya kebagian. Para perajurit agaknya harus merasa "beruntung" mendapat lawan seperti ini.

Tetapi juga penasaran, masa mereka yang berjumlah ribuan itu tak bisa berkutik terhadap seorang kakek ubanan, yang mestinya tinggal menikmati nyamikan sambil duduk di kursi goyang? Kalau dikejar lenyap, tahu-tahu muncul lagi di tempat lain untuk beraksi. Dicegat sana, muncul lagi di sini. Dijepit di tempat sempit, mengamuk membubarkan pengurungnya sebelum melenyapkan diri.

Pak Kiong Liong sendiri kalau mau bisa segera melarikan diri. Tapi sengaja ia berputar-putar untuk mengalihkan perhatian para perajurit dari In Te, agar In Te sendiri menemui hambatan sekecil-kecilnya untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya Pak Kiong Liong tidak cepat-cepat menghilang, melainkan seperti sengaja mengajak para perajurit main petak- umpet.

Kang Bun-hou yang memimpin sendiri operasi itu, merasa amat mendongkol, merasa dipermainkan oleh Pak Kiong Liong. Namun dalam hatinya ia kagum juga melihat ilmu silat maupun taktik jempolan bekas panglima jaman Kaisar Khong Hi itu. Dia juga sadar kalau Pak Kiong Liong belum bersungguh-sungguh mengeluarkan semua ilmu silatnya, masih seperti seorang kakek yang bercanda dengan cucu-cucunya yang nakal.

"Kalau dia benar-benar mengeluarkan ilmunya, kabarnya tangannya bisa mengeluarkan hawa amat panas yang menghanguskan," pikir Kang Bun-hou. "dan kabarnya pula yang bisa menandinginya di seluruh negeri tinggal satu orang, Kim Seng Pa masih ada Pun-bu Hwe-shio dari Siauw-lim-si dan Tong Lam Hou dari Hwe-liong-pang, namun kedua tokoh ini sudah almarhum sekarang."

Meskipun begitu, Kang Bun-hou tak berani kelihataan kurang bersungguh-sungguh dalam usaha menangkap Pak Kiong Liong. Yang bernafsu menangkap Pak Kiong Liong sebenarnya adalah Liong Ke Toh yang masih di Hang-ciu, namun Kang Bun-hou yang disuruh. Dan Kang Bun-hou tidak berani menolak permintaan Pamanda Kaisar itu. Tengah "petak-umpet" itu berlangsung seru, mendadak terlihat ada kobaran api di kejauhan.

"Tangsi utara terbakar!" teriak beberapa perajurit yang berlari-lari datang dari arah kebakaran. Sebagian perajurit yang harus menangkap Pak Kiong Liong terpaksa ditarik untuk membantu memadamkan api. Namun, beberapa saat kemudian, datang lagi laporan-laporan kepada Kang Bun-hou dari beberapa jurusan.

"Tangsi selatan terbakar!"

"Tangsi timur terbakar!"

"Tangsi barat terbakar!"

"Gudang perbekalan terbakar!"

Kang Bun-hou kaget mendengarnya kebakaran yang terjadi berturut-turut di tempat-tempat penting itu pasti bukan suatu kebetulan belaka, tapi kesengajaan. Maka sibuklah ia membagi pasukannya kesana kemari. Ada yang tetap berusaha menangkap Pak Kiong Liong, ada yang harus memadamkan api di berbagai arah, bahkan ada yang harus memperkuat penjagaan di Cong-peng-hu, di mana Pamanda Kaisar menginap. Kalau sampai Liong Ke Toh terluka biarpun seujung rambut, hebatlah akibatnya bagi Kang Bun-hou.

Di pecah-pecahnya pasukan membuat Pak Kiong Liong merasa mengendornya tekanan, dan ia siap untuk menghentikan permaianan itu. Tetapi ia heran, siapa yang telah melepaskan api yang seolah-olah jadi menolongnya secara tidak langsung itu? Cepat ia menerjang, menerobos kepungan para perajurit yang menipis jumlahnya. Dalam sekejap Pak Kiong Liong berhasil lolos, lalu melompat ke atap rumah dan melesat bagaikan seekor burung, ke arah luar kota Hang-ciu.

Para perajurit bersenjata bedil dan panah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya, tapi hasilnya hanyalah menimbulkan kerusakan lebih hebat pada atap rumah-rumah penduduk. Pak Kiong Liong sendiri melesat bagaikan anak panah dan semakin menjauh. Namun mendadak ia merasa di sampingnya ada orang lain yang berlari sama kencangnya dengan dirinya. Pak Kiong Liong terkejut, mengira seorang jagoan tangguh dari pihak musuh telah mengejarnya.

Tetapi orang itu tidak menyerangnya, cuma bergerak menjajarinya, seolah mengajak Pak Kiong Liong berlomba dalam ilmu meringankan tubuh saja. Dan alangkah herannya Pak Kiong Liong merasakan betapa orang itu tidak ketinggalan sejengkalpun dari dirinya, menanda kan ketinggian ilmunya.

Selama ini, Pak Kiong Liong tak lepas dari rasa bangga, terpengaruh oleh sanjungan kaum persilatan yang menyebut hanya ada empat tokoh di lapisan tertinggi dunia persilatan dijaman itu. Pak Kiong Liong sendiri, Kim Seng Pa,Tong Lam Hou, dan Pun-bu Hwe-shio. Karena Tong Lam Hou dan Pun-bun Hwe-shio sudah meninggal, maka Pak Kiong Liong merasa tinggal dirinya dan Kim Seng Pa sebagai tokoh puncak dunia persilatan. Bahkan Kam-hui To-jin dari Bu-tong-pai, rasanya juga masih selapis lebih rendah dibawah mereka berdua.

Tiba-tiba saja kini di Hang-ciu ia ketemu seorang yang mampu menandinginya, setidak- tidaknya dalam ilmu meringankan tubuh. Lebih mencengangkan lagi ketika melihat tampang dan dandanan orang itu sama sekali tidak istimewa. Bajunya model kampung, tubuhnya kurus, warna rambutnya memberi petunjuk bahwa usianya tidak lebih setengah abad, satu generasi di bawah Pak Kiong Liong. Sayang mukanya tidak terlihat karena ditutupi secarik kain kedok.

Sambil tetap melayang cepat tanpa mengurangi tenaganya, orang berkedok itu malah masih sempat berkata, "Lo-ciangpwe (panggilan hormat kepada angkatan yang lebih tua dalam dunia persilatan), tenanglah, Pangeran In Te sudah aman di luar kota!"

"Siapakah tuan?" tanya Pak Kiong Liong, sementara dalam hatinya timbul setitik rasa percaya terhadap orang berkedok yang belum dikenalnya itu.

"Nanti setelah tiba di luar kota, akan kuperkenalkan diriku kepada Lo-cianpwe!" sahut si kedok.

Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu kemudian lebih terlibat dalam "lomba lari" yang membuat takjub para perajurit yang melihatnya dari bawah. Para perajurit seolah melihat dua ekor burung merpati jempolan yang sedang diadu cepat terbangnya.

Sudah lama Pak Kiong Liong merasa "kesepian" dalam soal silat, kesepian sendiri di atas tanpa "teman bermain" yang memadai. Tetapi hari itu tiba-tiba gairahnya timbul, seperti anak-anak mendapatkan mainan baru. Karena itu, sambil tertawa ia berkata, "Sobat, hebat sekali ilmu meringankan tubuhmu. Bagaimana kalau kita tidak usah terburu keluar kota, tapi melihat-lihat kota Hang-ciu dulu?"

Selagi mengucapkan kalimat yang tidak panjang itu, sudah belasan atap rumah yang tinggi rendahnya tidak sama telah mereka lintasi bagaikan kilat. Orang berkedok itu menangkap adanya tantangan dalam ajakan itu. "Melihat-lihat kota Hang-ciu" yang berarti memperbandingkan ilmu meringankan tubuh. "Penyakit" kaum persilatan yang tak bisa disembuhkan ialah keinginan membandingkan ilmunya sendiri dengan ilmu orang lain.

Orang berkedok itu tertawa sambil menjawab, "Sungguh suatu kehormatan bagiku, bersama-sama menikmati kota Hang-ciu dengan Lo-cian-pwe. Dengan senang hati, Lo-cian-pwe!"

Mulailah "tamasya dalam kota" yang luar biasa itu. Keduanya seolah mampu merubah diri menjadi angin yang berhembus lewat begitu saja di atas atap-atap rumah. Berbelok selicin belut, melambung, melejit, tidak jarang memanjat pagoda-pagoda yang tinggi untuk terus meluncur dengan gerak-gerak akrobatik menakjubkan.

Para perajurit yang mestinya mengejar, kini malah jadi penonton yang asyik. Mereka sekarang "tahu diri" tak mungkin berhasil menangkap orang-orang selihai itu, maka buat apa lagi susah-susah? Lebih enak menonton, mengomentari, menjagoi dan bertaruh. Kota Hang-ciu mendapat hiburan gratis hari itu.

Perajurit-perajurit yang disuruh memadamkan api pun jadi lengah dari tugasnya. Ember-ember diletakkan dulu, dan mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk menonton pertandingan luar biasa itu.

Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu dalam waktu singkat berhasil mengelilingi kota Hang-ciu satu putaran, dalam keadaan tetap sejajar. Tetapi diam-diam Pak Kiong Liong harus mengakui kalah dalam hati. Dalam lari itu, dia berada di lingkaran yang lebih dalam dari lawannya, kalau dihitung-hitung sebenarnya menempuh jarak yang lebih pendek dan seharusnya dapat meninggalkan lawannya. Tapi toh cuma bisa sejajar, itu berarti lawannya lebih unggul.

Alangkah herannya Pak Kiong Liong menjumpai kenyataan itu, juga merasa malu sendiri. Bertahun-tahun ia merasa "kesepian" di puncak persilatan karena merasa tak ada tandingannya. Dan kini, seorang yang satu generasi dibawahnya telah muncul dengan ilmu yang bukan saja menyamai, bahkan melampauinya.

Namun sebagai seorang berdada lapang, tak setitikpun muncul rasa dengki di hatinya, malah ada perasaan gembira. "Memang beginilah seharusnya. Kalau tiap generasi dunia persilatan bisa lebih baik dari generasi sebelumnya, barulah bisa ilmu silat berkembang kearah kejayaannya. Tapi kebanyakan tokoh-tokoh tua tidak rela digantikan yang muda-muda, takut bergeser, lalu malah menghambat perkembangan orang- orang muda dengan cara yang kadang-kadang kekanak-kanakan."

Tak terasa, sampailah kedua pelomba itu ke tembok kota. "Bagaimana kalau kita keluar kota sekarang, Lo-cian-pwe?"

"Baik."

Begitu Pak Kiong Liong menjawab setuju, tubuh orang berkedok itu tiba-tiba melambung tinggi keatas tembok kota. Karena tembok itu terlalu tinggi untuk dilompati sekaligus, di tengah luncurannya, orang berkedok itu membuat gerak berputar sehingga mendapat tambahan tenaga lontaran ke atas. Maka seperti tanpa bobot saja, orang itupun mendarat ringan di atas dinding kota.

Sedangkan Pak Kiong Liong terus meluncur kedepan, seolah hendak menabarak tembok kota, namun setelah dekat dia melompat dan melangkahlah ia di permukaan tembok kota yang tegak lurus itu seolah berjalan di lantai datar saja. Gerakan macam ini sebenarnya terhitung biasa dan gampang dipahami teorinya. Asalkan ada ancang-ancang yang cukup, hampir semua pesilat bisa berjalan beberapa langkah di permukaan tembok yang tegak lurus dengan gerakan cepat.

Tapi kalau melihat yang dilakukan Pak Kiong Liong, penganut teori itu mungkin akan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bukan saja Pak Kiong Liong sanggup melangkah sampai ke puncak yang jaraknya ada puluhan langkah, tapi Pak Kiong Liong juga melakukannya dengan langkah agak perlahan! Itu artinya ancang-ancang tadi cuma "basa-basi" belaka, kini dia melangkah naik tanpa sepenuhnya mengandalkan lari acang-ancang lagi.

Para perajurit yang menontonnya tiba-tiba bersorak menggemuruh atau bertepuk tangan. Sebagian lagi cuma melongo sampai mulutnya kemasukan lalat. Sementara kedua pelomba itu sudah menghilang di bagian luar dinding kota Hang- ciu. Ketika sudah belasan li meninggalkan dinding kota, Pak Kiong Liong dan orang berkedok itu melihat In Pe berdiri di sebuah tempat belukar yang sepi. Maka Pak Kiong Liong dan orang berkedok itupun melambatkan lari mereka dan akhirnya berhenti.

Sambil mengusap keringatnya, Pak Kiong Liong berkata dengan agak terengah, "Tunas-tunas baru telah muncul untuk menggantikan pohon-pohon tua yang mulai keropos dimakan umur. Bagus, sobat, aku mengaku kalah."

In Te pun kemudian memberi hormat kepada orang berkedok itu. "Tadi belum sempat kuucapkan terima kasih kepadamu, Tuan. Sebab setelah Tuan menolongku, lalu buru-buru masuk kembali ke dalam kota. Sekarang, terimalah rasa terima kasihku."

"Jadi kau pula yang melepaskan api dalam kota, sobat?" tanya Pak Kiong Liong.

"Kawan-kawanku," sahut orang berkedok itu singkat.

Pak Kiong Liong kemudian menagih janji, "Sobat, agaknya sekarang tiba saat yang kau janjikan sendiri untuk memperkenalkan dirimu."

Orang itu membuka kedoknya, dan muncullah seraut wajah yang kira-kira lebih tua sedikit dari In Te. Kira-kira empatpuluh lima tahun. Namun wajah di balik kedok itu sungguh tidak pantas menjadi wajah pendekar, lebih cocok menjadi tampang seorang penderita penyakit panas kelas berat. Kurus, kulitnya kuning pucat, kumis dan jenggotnya jarang-jarang serta serabutan. Hanya sepasang matanyalah yang berkilau cemerlang dan bersorot tajam. Hampir-hampir Pak Kiong Liong dan In Te tidak percaya bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang demikian tinggi, bahkan sampai Pak Kiong Liong pun mengaku kalah.

"Namaku adalah Kam Hong To," kata orang itu.

Pak Kiong Liong dan In Te terkejut berbareng. Nama itu bukan nama kecil berarti, namun itulah nama seorang pendekar yang amat dihormati di wilayah Kang-lam (sebelah selatan Sungai Besar).

"Kang-lam Thai-hiap?" tegas Pak Kiong Liong yang langsung menyebut gelar pendekar kenamaan itu.

"Ah, sebutan yang diberikan oleh para sahabat itu malah terlalu membebaniku. Aku tidak berani membanggakannya dihadapan Lo-cian-pwe dan Pangeran."

Pak Kiong Liong menarik napas, ada sesuatu yang terusik dalam hatinya. Kam Hong Ti adalah sahabat Kaisar Yong Ceng ketika keduanya masih sama-sama muda. Ketika itu Kiasar Yong Ceng masih menyamar sebagai seorang pendekar pengembara di dunia persilatan, dan berhasil bersahabat dengan banyak pendekar Kang-lam yang di kemudian hari dimanfaatkan sebagai pendukung merebut tahta.

Soal inilah yang menjadi pertimbangan Pak Kiong Liong, lebih dari soal tinggi rendahnya ilmu silat Kam Hong Ti. Di masa putera-putera Kaisar Khong Hi berebut tahta dulu, Kam Hong Ti termasuk kubunya Pangeran In Ceng, yang berarti menjadi lawan Pak Kiong Liong yang mendukung Pangeran In Te. Banyak tahun sudah lewat, sekarang entah bagaimana sikap Kam Hong terhadap pemegang tahta?

Rasa was-was Pak Kiong Liong timbul, ketika mendengar Kam Hong tiba-tiba berkata, "Lo-cian-pwe dan Pangeran, pertemuan kita kali ini juga ingin kugunakan sebagai..."

Saat itulah In Te menukas dengan cepat, "Harap Kam-heng ketahui, aku sudah bukan bangsawan atau pangeran ataupun apapun lagi, namun sebagai warga biasa seperti orang-orang lain. Maka jangan lagi memanggil aku dengan sebutan Pangeran."

Kam Hong Ti tercengang mendengar kata-kata itu. Sesaat ia ragu-ragu, benarkah In Te benar-benar telah meninggalkan kedudukannya, yang berarti juga meninggalkan arena perebutan tahta? Atau cuma pura-pura minggir, dan kelak kalau melihat kesempatan terbuka lalu terjun kembali? Namun kemudian Kam Hong Ti bertekat, bagaimanapun kedudukan In Te sekarang, Pangeran atau bukan, dia tetap harus melepaskan ganjalan hatinya yang telah dipendamnya bertahun-tahun.

"Baiklah. Kau masih pangeran atau sudah bukan pangeran lagi, aku tetap wajib harus minta maaf kepadamu," kata Kam Hong Ti, dan tiba-tiba ia membungkuk hormat dalam-dalam kepada In Te.

In Te terkejut. "Apa-apaan ini, Kam-heng?"

"In-heng, dulu karena mataku buta tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, aku telah bersahabat dengan kakak ke empatmu, In Ceng, yang sekarang menduduki tahta. Karena kepandaiannya bersandiwara dan menyusun kata-katanya yang bagus, aku pun terjerat ikut dalam komplotannya dan mendukung usahanya merebut tahta. Ah, benar-benar buta aku waktu itu. Dan sekaranglah kusadari betapa keliru langkahku yang dulu itu."

Sambil tersenyum, In Te berkata, "Sudahlah, Kam-heng. Dalam kehidupan yang menyediakan banyak pilihan ini, siapa orangnya yang tidak pernah melakukan kesalahan? Seandainya dulu aku yang berhasil naik tahta, barangkali karena kelemahan dan kebodohanku, sekarang aku juga sudah mengecewakan banyak orang."

Kam Hong Ti menarik napas, beban berat rasa bersalah di dalam hatinya belum terlepas sama sekali. "Ijinkan aku menyelesaikan kata-kataku, In-heng. Aku dulu bukan sekedar pendukung biasa bagi si licik In Ceng, namun pendukung yang membabi-buta sehingga berhasil dibujuk ikut serta dalam suatu tindakan curang, yang amat merugikan In-heng serta seluruh kekasiran, seluruh pencinta keadilan...."
Selanjutnya,