Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 10 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 10

Karya : Stevanus S P

Kembali orang-orang itu tertawa. Setelah masuk, Lu Kan San menutup pintu, lalu tiba-tiba menegakkan punggungnya. Maka nampaklah tubuh yang sebenarnya tinggi besar dan tidak bungkuk. Rupanya ia sengaja sedikit membungkuk agar tubuhnya yang seperti "menara berjalan" itu tidak menarik perhatian orang di jalanan.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Tokoh ini adalah salah satu Tong-cu Hwe-liong-pang yang berhasil lolos ketika markas Hwe-liong-pang di Tiau-im-hong diserbu tentara kerajaan. Namanya Lu Kan San, julukannya Hui-lo-sat (Si Raksasa Terbang), karena biarpun tubuhnya amat besar namun mahir dalam ilmu meringankan tubuh.

Setelah memberi salam kepada orang-orang di ruangan itu, Lu Kan San langsung mengambil tempat duduk dan berkata dengan wajah penuh kesungguhan. "Karena pentingnya soal ini, maka aku bicara langsung saja. Jejak Pangeran In Tong sudah tercium dan kini mulai dilacak oleh kawan-kawan kami."

Semua orang dalam ruangan itu seketika menegakkan kepala. Pangeran In Tong adalah murid mendiang Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam Hou, namun juga telah mengkhianati gurunya itu dalam usahanya untuk menguasai Hwe-liong-pang, yang akan dijadikannya modal untuk merebut tahta dari Kaisar Yong Ceng.

Biarpun Tong Lam Hou terlanjur tewas, namun pengkhianatan In Tong terbongkar juga. Maka jadilah ia musuh yang paling dibenci oleh orang-orang Hwe-liong-pang. Tak heran kalau orang-orang di ruangan itu serempak bangkit minatnya begitu mendengar kabar diketemukannya jejak Pangeran In Tong.

"Di mana dia, Paman Lu?" tanya Tong Hai Long tidak sabar.

"Jejaknya mula-mula muncul di Tan-liu, lalu mengikuti jalan kearah Hang-ciu. Namun di suatu desa kecil yang merupakan semacam pos perjalanan, jejak itu tiba-tiba menghilang kembali. Tapi muncul kembali di jalan raya propinsi Ho-lam yang menuju ke kota raja Pak- khia. Cepat-cepat kuhubungi kawan-kawan dengan tanda-tanda rahasia, kusuruh mereka terus mengawasi! agar jangan kehilangan jejak lagi. Sedangkan aku cepat-cepat menuju kemari untuk memberitahu."

"Apakah teman-teman itu sudah di pesan menurut pesanku dulu?" tanya Pak Kiong Liong. "Sudah. Mereka hanya kuminta untuk mengawasi dan membuntuti, tapi tidak boleh bertindak sendiri-sendiri, karena sasaran kali ini cukup tajam perasaannya, lagi pula berbahaya."

"Bagus. Memang terhadap Pangeran In Tong, kita tidak boleh gegabah. Selain berbahaya, dia juga sudah mengenal banyak wajah anggota Hwe-liong-pang, karena dia pernah menjadi orang Hwe-liong-pang pula. Kalau kita sampai kurang hati-hati menguntitnya dan dia sampai merasa kalau sedang diawasi, aku khawatir dia akan menghilang lagi. Dan tentu akan semakin sulit diketemukan, karena tentunya semakin hati- hati dalam menyembunyikan diri."

"Benar, Goan-swe."

Banyak anggota Hwe-liong-pang masih saja memanggil Pak Kiong Liong dengan sebuatan "goan-swe" biarpun dia sudah lama tidak menjadi jenderal lagi.

"He, A-hai, mau kemana kau?" tiba-tiba Pak Kiong Liong membentak, karena melihat cucunya itu sudah menyambar pedang dan hendak melangkah keluar.

Tong Hai Long menghentikan langkah dan menjawab, "Kalau jejak si pengkhianat itu sudah diketemukan, buat apa kita tinggal lebih lama lagi disini? Kita susul dia dan suruh mempertanggung jawabkan semua kejahatannya!"

"Kau sudah lupa semua omonganku tadi?" kata Pak Kiong Liong dengan wajah angker. "Duduk!"

Betapapun bandelnya Tong Hai Long, ketika melihat kakeknya begitu marah, keder juga si cucu bandel ini. Terpaksa ia duduk kembali.

Kemudian Pak Kiong Liong berkata lagi, suaranya sudah menurun tapi masih bernada menegur. "A-hai, tidakkah kau sadari bahwa sikap berangasanmu itu bisa mengacau semua urusan? Ingat, Pangeran In Tong bukan maling ayam kaliber teri yang begitu gampangnya di hadang dan ditangkap. Semuanya harus direncanakan rapi untuk meringkusnya tanpa gagal lagi. Dia amat licin, buktinya, dalam beberapa tahun ini jejaknya kelihatan beberapa kali, tapi setelah di susul dan disergap, tahu-tahu kita cuma menubruk angin, bahkan beberapa anggota kita menjadi korban. Karena itu, bertindaklah dengan kepala dingin.”

Tong Hai Long menunduk sambil menggenggam erat-erat sarung pedangnya. Sesaat ruangan itu sunyi. Hati si kembar Tong San Hong dan Tong Hai Long bergejolak hebat, ingin segera menyusul si pembunuh kakek mereka itu. Namun merekapun tidak berani mengabaikan pertimbangan yang diucapkan Pak Kiong Liong. Itu memang kenyataan. Sudah beberapa kali Pangeran In Tong disergap dan ternyata luput terus karena licinnya.

Sementara itu, In Te bungkam dengan wajah yang muram. Bagaimanapun jahatnya Pangeran In Tong yang sedang dibicarakan itu, namun In Tong yang dulu dikenal sebagai Pangeran Ke Sembilan itu adalah kakanda In Te yang dulu disebut Pangeran Ke Empatbelas. Namun apa yang telah dilakukan oleh kakaknya itu memang sulit dimaafkan.

Yang terdengar kemudian adalah suara Pak Kiong Liong, tenang dan terkendali, mengingatkan orang akan gayanya dulu ketika masih memimpin pasukan dalam pertempuran. "Lu Tong-cu, tetap awasi dia, tapi hati-hatilah. Jangan melepaskan hubungan dengan kami lewat tanda-tanda rahasia. Jangan terlalu banyak orang yang mengikutinya, sedikit saja asal orang-orang yang benar-benar ahli. Kalau terlalu banyak orang, In Tong akan bisa merasakannya, dan kalau sampai dia lolos kembali, barangkali kita harus menunggu beberapa tahun lagi untuk menemukan jejaknya. Atau bahkan selama-lamanya takkan kita temui lagi jejaknya.”

“Akan kuperhatikan semua petunjuk Goan-swe. Sekarang juga aku berpamitan.”

“Silahkan.”

Lu Kan San pun meninggalkan penginapan itu, dan kembali ke dalam penyamarannya sebagai si pedagang buah-buahan yang bungkuk.

* * * *

Siang itu, sehabis melatih perajurit di lapangan, Ni Keng Giau tiba-tiba seperti ingat sesuatu, lalu membongkar-bongkar keranjang pakaiannya yang diseretnya dari kolong ranjangnya ditangsi. Wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri ketika menemukan apa yang dicarinya.

Sebatang pedang pendek yang sarungnya maupun tangkai pedangnya berlapis emas, pada pelindung pegangannya terhias dua butir permata yang masing-masing merah dan biru serta diukir naga dan burung hong. Indah sekali. Itulah Liong-hong Po-kiam (pedang Pusaka Naga dan Burung Hong) yang dulu dihadiahkan Kaisar Yong Ceng kepadanya.

Beberapa saat lamanya Ni Keng Giau menimang-nimang pedang itu, dan lamunannya terseret mundur kemasa lalunya yang gemilang. Tiba-tiba ia bangkit dan menyelipkan pedang itu ke ikat pinggangnya, lalu melangkah keluar. Ia akan menuju ke warung arak untuk memamerkan pedang itu.

Sejak keluar dari pintu gerbang tangsi, ia sudah tersenyum-senyum sendiri. Tegur sapa para perajurit yang berpapasan dengannya tidak digubrisnya. Para perajurit heran melihat pedang yang begitu bagus, yang belum pernah mereka lihat, terselip di pinggang Ni Keng Giau.

Setelah keluar dari pintu gerbang, tangsi, Ni Keng Giau berjalan melewati deretan pepohonan di pinggir jalan. Langkah santainya tiba-tiba berubah menjadi langkah tegap, wajahnya angker dan bersungguh-sungguh menatap deretan pohon itu sambil mengangguk-angguk dan bergumam, "Bagus... bagus... barisan yang tertib!"

Sampai di ujung deretan pepohonan itu, ia berbalik lagi, agaknya belum puas memeriksa "pasukan"nya. Beberapa orang di jalanan itu tidak heran lagi melihat tingkah lakunya, tingkah semacam itu sudah biasa. Biasanya ada anak-anak kecil yang mengikutinya sambil bersorak-sorak, tapi kali ini tidak ada, sebab anak-anak kecil agaknya takut melihat pedang pendek yang terselip di pinggang sang jenderal.

Tiba-tiba dari ujung jalan terdengar seseorang membentak, "Ni Keng Giau! Berhenti!"

Ketika Ni Keng Giau menoleh, nampaklah seorang lelaki yang tegap dan kekar, berusia kira-kira tiga puluh tahun dan bermuka kehitam-hitaman. Sambil menjinjing sebatang golok, ia berjalan mendekati Ni Keng Giau dengan sikap bermusuhan.

"Siapa kau?" tanya Ni Keng Giau.

"Tentu kau tidak kenal seorang rendahan macam aku. Aku Ma Hin, cuma seorang piau-su (pengawal perjalanan) tak bernama. Aku juga tidak tahu apakah kau masih ingat Ma Seng dan Ma Siau Lin."

Ni Keng Giau geleng-geleng kepala dengan pandangan kosong. Lelaki bernama Ma Hin itu membentak gusar. "Tentu saja kau lupa, karena korban kejahatanmu sudah tak terhitung banyaknya, bangsat! Tapi kau harus tahu, kedua orang yang kusebut tadi adalah korban-korban kebiadabanmu, mereka adik-adikku! Ma Seng seorang pemuda yang rajin, periang, dengan masa depan yang baik. Namun kau hukum mati dia di Tan-liu hanya karena terlambat berlutut di pinggir jalan ketika tandumu lewat! Ma Siau Lin adalah adik perempuanku yang juga tengah menyongsong kebahagiaannya bersama pemuda pilihannya sendiri. tapi pengawal-pengawalmu yang biadab mengambilnya dari rumah untuk dijadikan korban nafsumu, sehingga akhirnya adikku itu membunuh diri karena tak tahan menanggung noda. Sayang, saat itu aku tidak ada di Tan-liu karena tugasku, namun sekarangpun rasanya belum terlambat untuk mengorek jantung dan limpamu guna menyembahyangi arwah adik-adikku itu!"

Berikutnya, Ma Hin tak memberi kesempatan Ni Keng Giau untuk menjawab, ia langsung merangsek seperti anjing gila. Goloknya membabat berulang kali dengan sengit. Sebagai seorang piau-su yang sering bepergian jauh dan menempuh bahaya, ilmu silatnya tak bisa dipandang enteng. Beberapa kali Ni Keng Giau mundur berkelit, namun Ma Hin terus mengejar dengan sengit. Akhirnya Ni Keng Giau dipaksa mencabut pedang Liong-hong Po-kiam untuk membela diri.

Maka bertempurlah kedua orang itu di tengah jalan. Ni Keng Giau mencoba memainkan ilmu pedang Tat-mo-kiam-hoat yang pernah dipelajarinya di Siau-lim-si, seingat-ingatnya. Sedang Ma Hin kelihatan memainkan ilmu golok Kun-goan-to-hoat dari Hoa-san-pai. Golok yang menebas-nebas dengan kuat dan garang, berhadapan dengan pedang pendek yang cepat dan lincah.

Setelah puluhan jurus, mulailah Ma Hin terdesak. Bagaimanapun, yang dilawannya adalah murid Pun-bu Hwe-shio yang terkenal. Semasa jayanya dulu memang Ni Keng Giau malas latihan silat, namun sejak menjadi pelatih di Hang-ciu, kemampuan silatnya malah terasah tajam kembali. Lemak-lemak yang dulu menggumpal di sekitar perutnya, sudah banyak berkurang. Kendati otaknya rada miring, kini tubuhnya lebih ramping dan tegap sebab sering melatih para perajurit di lapangan. Tetapi Ma Hin yang tak peduli lagi mati hidupnya, tiap kali tak henti-hentinya menerjang dengan sengit.

Sementara itu, banyak orang-orang mulai menonton perkelahian itu, namun dari kejauhan. Suatu saat Ma Hin menerjang dengan nafsu. Ni Keng Giau berhasil berkelit, bersamaan dengan kelebat pedangnya membelah lambung Ma Hin, sehingga Ma Hin terhuyung-huyung. Desis kesakitan Ma Hin tertutup oleh teriakan buas Ni Keng Giau yang tanpa belas kasihan menikamkan pedang ke dada lawannya.

Ma Hin tersungkur jatuh, darahnya terserap debu jalanan, sementara arwahnya terbang menyusul arwah adik-adiknya yang hendak dibelanya. Tetapi Ni Keng Giau belum berhenti beraksi. Sambil berteriak-teriak kalap, ia mencacah-cacahkan pedang ke tubuh korbannya, dengan mata merah dan air liur menetes netes dari mulutnya. Hancurlah jasad Ma Hin.

Orang-orang yang menonton di kejauhan menjadi ngeri melihat adegan itu, serempak mereka lari bubar dengan ketakutan. Khawatir kalau Ni Keng Giau mengalihkan amukannya kepada mereka, maklum orang yang agak gila. Memang aman kalau mereka lari jauh-jauh, sebab setelah Ni Keng Giau membuat tubuh Ma Hin menjadi setumpuk daging cincang tak berujud lagi, dengan matanya yang liar Ni Keng Giau mulai menatap ke sekelilingnya. Sambil mengobat-abitkan pedangnya yang merah oleh darah, ia berteriak-teriak,

"Ayo! Siapa lagi mau menantangku?! Majulah ke sini! Inilah Ni Keng Giau, Panglima Tertinggi Penakluk Jing-hai! Penguasa wilayah Siam-sai dan Se-cuan yang bergelar It-teng-kong! Saudara angkat Kaisar! Siapa yang melawanku harus binasa dengan tubuh hancur seperti dia!"

Akibatnya, orang-orang yang berlari menjauhinya pun semakin cepat mengayun langkah. Perempuan-perempuan dan anak-anak kecil bahkan menjerit-jerit. Waktu itulah dari ujung jalan satu rombongan yang mendekat. Mereka adalah Panglima Hang-ciu, Kang Bun Hou, bersama satu regu pengawalnya.

Selama masa jabatan Kang Bun Hou, kota Hang-ciu berhasil ditingkatkan keamanan dan ketertibannya. Kang Bun Hou bukan saja kelewat rajin menguber penjahat sampai terbekuk batang lehernya, namun juga menertibkan perajurit-perajuritnya sendiri agar tidak merugikan penduduk. Kini melihat Ni Keng Giau melakukan pembunuhan kejam di siang hari bolong, lagipula di sebuah jalan ramai, kontan gusarlah Kang Bun Hou. Ia merasa peraturan yang mau ditegakkan telah ditantang terang-terangan oleh Ni Keng Giau.

"Apa yang kau lakukan, Ni Keng Giau?!"

Dalam kedudukannya yang hanya sebagai pelatih, mestinya Ni Keng Giau tunduk kepada Kang Bun Hou. Tapi saat itu otaknya masih "hangat" sehingga lupa segala tata-tertib. Ia tetap berdiri, tidak memberi hormat, pedangnya ditudingkan ke mayat Ma Hin sambil berkata, "Bangsat itu berhasrat membunuhku, dan aku telah menghukumnya!"

"Kenapa dia sampai ingin membunuh mu? Tentu ada sebabnya."

"Memang ada sebabnya, tapi bukan urusanmu!"

“Urusanku. Sebab kau lakukan di kota yang dibawah tanggung-jawabku!"

"Tidak perlu ikut campur!"

Marahlah Kang Bun Hou menghadapi sikap yang semakin liar itu. Susah payah ia menertibkan bawahannya, apakah ketertiban yang sudah mapan itu akan dikacaukan oleh si pelatih baru yang setengah waras ini? Biarpun Ni Keng Giau adalah seorang bekas jenderal yang berpangkat jauh lebih tinggi dari Kang Bun Hou? "Ni Keng Giau! Bagaimana sikapmu terhadap atasanmu?!"

Bukannya tunduk, Ni Keng Giau malah tertawa berkakakan, "Atasanku? Siapa atasanku? Hanya Sribaginda sendirilah atasanku!"

Lalu ia mengacungkan pedang Liong-hong Po-kiam tinggi-tinggi sambil berteriak, "Kang Bun Hou! Kau yang harus berlutut di hadapan lambang pribadi Kaisar ini! Kau kenal pedang ini atau tidak?!"

Kang Bun Hou kaget, dan sesaat lamanya ia memang jadi salah tingkah. Sudah jelas Ni Keng Giau bersalah, tapi mau dikata, dia memegang Liong-hong Po-kiam. Kalau Kang Bun Hou tidak mau berlutut, memang bisa dianggap tidak menghormati Kaisar sendiri, sebab tidak menghormati pula orang yang dianugerahkan lambang pribadi Kaisar itu. Karena itu, dengan amat terpaksa Kang Bun Hou berlutut, begitu pula perajurit-perajurit pengiringnya.

Ni Keng Giau tertawa puas sekali. Pedangnya disabet-sabetkan di udara, dan untungnya saja tidak disabetkan ke arah Kang Bun Hou yang berlutut di de pannya. "Nah, begitu barulah kalian bisa dibilang perajurit-perajurit yang tertib. Ketahuilah, ketika dulu aku memimpin pasukan ke Jing-hai, perwira yang berpangkat setingkat denganmu itu ada ratusan orang yang dibawah perintahku. Bahkan ada yang kusuruh mengelap sepatuku tanpa berani membantah. Sekarang ini jangan dikira aku sedang diturunkan pangkat, tidak! Aku sedang menjalani pendadaran sebelum diberi kedudukan yang lebih tinggi oleh Sribaginda! Ha-ha.... kalian tentu kaget, bahkan Sribaginda sudah merencanakan untuk mengangkat saudara denganku. Ha-ha... kaget ya? Kaget? Ayo bilang kaget!"

Masih banyak lagi ocehan Ni Keng Giau. Campuran antara kenyataan masa lalu dan hasil khayalannya sendiri. Kemudian sambil membusungkan dada, ia meninggalkan tempat itu, dan membiarkan Kang Bun Hou dan pengawal-pengawalnya tetap berlutut di atas debu jalanan. Setelah Ni Keng Giau menghilang di ujung jalan, Kang Bun Hou bangkit sambil mengepalkan tinju dengan geramnya.

"Benar-benar edan, aku yang berkedudukan penegak hukum di kota ini malah dipaksa berlutut di hadapan orang sinting, bahkan di hadapan mata banyak orang. Seandainya si otak miring itu tidak memegang Liong-hong Po-kiam."

Perwira yang mendampinginya lalu menghiburnya, "Kita tidak perlu kecil hati, semua orang tentu bisa memaklumi tindakan kita tadi. Namun kadang-kadang Ni Keng Giau juga berpikiran waras, dan melatih perajurit- perajurit kita dengan baik."

"Hanya kadang-kadang? Disiplin yang berusaha kutegakkan di kota ini ditaati oleh seorang pelatih hanya kalau waras saja? Bagaimana kalau lebih banyak sintingnya daripada warasnya? Tidak bisa kubiarkan. Secepatnya aku harus menulis surat laporan kepada Sribaginda!"

Merasa bahwa ketertiban kotanya benar-benar terganggu, Kang Bun Hou tidak berlambat-lambatan menulis surat ke Pak-khia, melaporkan segala tindak tanduk Ni Keng Giau. Lalu surat itu segera dibawa oleh seorang caraka yang menunggangi kuda tercepat ke Pak-khia.

Sementara, lagak Ni Keng Giau di Hang-ciu semakin menghebat setelah Liong-ong Po-kiam selalu terselip di pinggangnya. Sekali waktu pikiran warasnya muncul, dan sadar kalau sepak-ter-jang macam itu diterus-teruskan akan bisa mendatangkan kesulitan lebih hebat buat dirinya. Tapi kesombongan dalam kegilaannya lebih sering menguasai jiwa nya daripada akal sehatnya. Kesombongan dalam kegilaan yang sebenarnya lebih merupakan pelarian dari kekecewaannya, lebih merupakan jeritan hatinya yang di tutup-tutupi.

Beberapa hari kemudian, datanglah seorang utusan dari Pak-khia membawa Titah Kaisar Yong Ceng yang akan dibacakan di gedung Cong-peng-hu, kantor Kang Bun Hou. Sebelum pembacaan, Ni Keng Giau lebih dulu dipanggil dari tangsi, dan disuruh membawa pedang Liong-hong Po-kiam serta sebuah baju berwarna kuning bersulam naga yang dulu juga merupakan anugerah Kaisar.

Ni Keng Giau berjalan ke Cong-peng hu dengan hati melonjak-lonjak kegirangan. Ia sudah membayangkan, utusan Kaisar kali ini tentu membawa berita bahwa ia dipulihkan ke kedudukan semula. Namun tubuhnya menggigil dan dialiri keringat dingin, ketika ia sudah berlutut di lantai aula Cong-peng-hu yang dingin itu, dan mendengar Utusan dari Pak-khia itu membacakan Titah Kaisar, "Perintah Yang Dipertuan, Sang Putera Langit!

Ni Keng Giau dipersalahkan menggunakan pedang Liong- hong Po kiam dan jubah Ui-hong-ih untuk melakukan pembunuhan sewenang-wenang, menakut-nakuti penduduk, menimbulkan ke resahan di antara perajurit Hang-ciu. Karena itu, kedua anugerah Yang Dipertuan itu harus diserahkan kembali. Sedang Ni Keng Giau mendapat hukuman turun pangkat menjadi perajurit penjaga pintu gerbang Hang-ciu!"

Lemaslah seluruh tubuh Ni Keng Giau karena kagetnya, untung ia tidak melompat bangun dan mengamuk. Dalam hati ia cuma membatin, "saudara angkat" nya di Pak-khia itu benar-benar keterlaluan "bercanda" dengannya. Namun ia tetap memaksa diri untuk mempercayai bahwa itu semua hanya "ujian kesetiaan" sebelum dirinya kelak kembali ke kedudukan agungnya.

Tapi saat itu, mau tidak mau, ia harus menyerahkan jubah Ui-hong-ih dan pedang Liong-hong Po-kiam ke tangan Utusan Kaisar, dengan tangan yang gemetar. Sebelum meninggalkan aula Cong-peng-hu untuk kembali ke tangsinya, Ni Keng Giau sempat melirik geram kepada Kang Bun Hou sambil membatin dalam hati,

"Awas kau, bangsat! Kau tentu telah memfitnah aku di hadapan Sribaginda. Kelak kalau aku kembali menjadi Panglima Tertinggi, akan kuturunkan pangkatmu menjadi tukang membersihkan kakus di tangsi."

Utusan Kaisar itupun kembali ke Kota raja Pak-khia. Sedangkan Ni Keng Giau hari itu mulai dengan tugas barunya sebagai pengawal pintu gerbang. Kini, tiap siang ia memakai seragam belacu biru tua, memanggul tombak, berdiri di pintu gerbang kota bersama perajurit-perajurit lain.

* * * *

Beberapa minggu kemudian, Kang Bun Hou kembali mendapat kabar dari Pak-khia bahwa Liong Ke Toh, Pamanda Kaisar, dalam perjalanan inspeksi tahunannya ke daerah-daerah akan melewati Hang-ciu dalam beberapa hari lagi. Kang Bun Hou tahu kalau Liong Ke Toh seorang bangsawan tua yang bawel dan gila hormat, maka mendengar kabar itu, ia tak berani berlambat-lambatan dalam menyiapkan sambutan kehormatan.

Regu penjaga pintu gerbang mendapat tugas penyambutan di pintu kota, maka sibuklah si komandan regu karena tahu ada anggaota regunya yang kurang waras. Ia khawatir kalau sampai Ni Keng Giau membuat ulah dalam penyambutan, sehingga mengacaukan semuanya. Beberapa hari sebelum tanggal kedatangan Liong Ke Toh, komandan pengawal gerbang sudah gencar membujuk Ni Keng Giau agar menaati tata tertib penyambutan.

'‘Aku yakin, berani taruhan sepuluh cangkir arak, kunjungan Liong Ong-ya kali ini pasti juga sekalian untuk melihat apakah Calon Saudara Angkat Kaisar itu tertib atau tidak dalam tugasnya," kata si komandan pengawal gerbang dengan gaya seperti membujuk bocah cilik. "Kalau dia melihatmu menjalankan tugas dengan baik, dia pasti akan mengangguk-angguk sambil mengelus jenggot, dan membatin begini, "O, Ni Keng Giau menjalankan tugasnya dengan baik, itu tandanya benar-benar setia Lalu Liong Ong-ya akan melaporkannya kepada Sribaginda, nah, Sribaginda puas akan laporan itu dan kaupun akan dipanggil kembali Ke Pak- khia untuk menduduki kembali jabatanmu yang dulu."

Komandan itu dan Ni Keng Giau berbicara di kamar Ni Keng Giau yang pengab dan penuh celana-celana para perajurit bergantungan di atasnya. Sementara si komandan berbicara, Ni Keng Giau asyik dengan lem dan potongan-potongan kertas dan gunting. Seasyik anak sekolah yang mendapat tugas prakarya dari gurunya, Ni Keng Giau sedang membuat sebuah topi yang modelnya adalah topi para pejabat tinggi di pusat pemerintahan. Benang-benang merah brodolan ronce tombak yang dikumpulkannya dalam beberapa hari ini, dihiaskannya dengan telaten sehelai demi sehelai ke topi buatannya itu. Beberapa helai bulu ayam dipasangkan pula di situ untuk "menambah keindahannya."

Ketika ucapan si komandan sampai pada "kembali ke jabatanmu", Ni Keng Giau mengangkat wajahnya, matanya bersinar-sinar penuh harapan. "Benarkah begitu? Hah, benar begitu ya?"

Demi kelancaran upacara penyambutan kelak, si komandan terpaksa nekat melanjutkan kebohongannya, "Ya tentu saja benar. Siapapun di kekaisaran ini, siapa yang tidak mengetahui jasa-jasamu yang luar biasa? Ketika mengamankan Hek-liong-kang, ketika menumpas kerusuhan kaum Pek-lian-kau dan Jit-goat-pang, lebih-lebih dalam menaklukkan Jing-hai. Jasamu luar biasa. Sribaginda pasti mengutus Liong Ong-ya untuk melihat apakah kau menjalankan tugas di sini dengan baik, tapi ya dengan syarat"

"Ini hebat sekali! Benar-benar hari bersejarah buatku!" Ni Keng Giau hampir menjerit karena girangnya.

"...tapi ya ada syaratnya...." si komandan mengulang.

"Syarat apa?"

"Pada saat penyambutan Liong Ong-ya, kau harus tertib dan benar-benar menunjukkan hormatmu. Agar Liong Ong-ya mendapat kesan baik dan melaporkan kepada Sribaginda!"

"Apa? Aku harus menghormat tua bangka itu? Hemm, aku tidak sudi! Seharusnya dialah yang harus memberi hormat kepadaku!"

Si komandan terkesiap dan buru-buru berkata, "Sabar... sabar... dengan dulu kata-kataku. Memang sekarang kau harus menghormatinya, tapi kelak kalau kedudukanmu pulih, bukanlah kembali dia yang harus menghormatimu? Sekarang mengalah dulu sedikit, apa salahnya? Tapi kalau sekarang kau tidak mau mengalah, ya sulit kau kembali ke kedudukanmu. Bahkan Liong Ong-ya mungkin menjadi tidak senang, lalu dihadapan Sribaginda akan menceritakan yang buruk- buruk tentang dirimu."

Ni Keng Giau termangu-mangu sambil menggaruk- garuk tengkuknya. Tanyanya kemudian, "Kalau aku bersikap tertib, lalu Sribaginda akan segera memanggilku ke Pak-khia, begitukah?"

"Itu jelas!" sahut si komandan amat menyakinkan. "Itu jelas sekali, siapa lagi yang menyangsikan? Aku yakin Sribaginda akan segera yakin akan kesetiaanmu! Berani taruhan sepuluh bungkus kacang goreng!"

Ni Keng Giau bangkit dari duduknya dan berjalan hilir-mudik dengan kegembiraan meluap-luap, si komandan ikut bangkit pula dengan kadar kegembiraan yang sama sebab ada tanda-tanda anggota regunya ini akan dapat ditertibkan.

"Saudara Ting..." kata Ni Keng Giau kemudian kepada si komandan. "Kau sungguh baik kepadaku dengan memberikan nasehat- nasehatmu. Aku berjanji, kalau beberapa hari lagi aku dilantik menjadi Panglima Tertinggi, orang yang pertama-tama kuingat ialah dirimu. Aku akan menaikkan pangkatmu menjadi__ he, topiku jangan diduduki!"

Si komandan didengarnya Ni Keng Giau melanjutkan kata-katanya yang tadi, ".. aku akan menaikkan pangkatmu menjadi Cong-peng di Hang-ciu ini, menggantikan Kang Bun Hou si bangsat tumbak-cucukan itu yang akan kuturunkan menjadi tukang cuci kakus!"

Terharu campur ngeri si komandan mendengar ucapan itu. Ngeri, bagaimana kalau ucapan itu sampai ke telinga Panglima Kang Bun Hou? Sedang terharunya karena ia sadar bahwa caranya menghibur dan membujuk Ni Keng Giau itu berarti mendorong Ni Keng Giau semakin tenggelam ke alam khayalan, dan berarti juga memperlambat kesembuhan jiwanya. Tapi selain dengan cara itu, ia tidak tahu harus pakai cara lain yang bagaimana lagi?

"Baiklah. Tapi besok waktu penyambutan, kau jangan memakai topimu yang ini. Pakai saja topi perajuritmu yang seragam dengan teman- temanmu agar nampak rapi dan seragam.”

"Ya….. ya…… Topi ini memang khusus kupakai pada saat pelantikanku besok."

Sebelum si komandan itu pergi, lebih dulu ia melirik sekejap ke arah topi itu, sambil menggeleng-geleng kepala dan menarik napas. Pada tanggal kedatangan tamu-tamu dari Pak-khia, regu pengawal pintu gerbang sudah siap di tempatnya. Jumlah mereka lebih banyak dari hari-hari biasanya, seragam merekapun nampak lebih rapi. Tetapi karena rombongan yang disambut belum nampak, para perajurit masih bergerombol santai sambil bercakap- cakap.

Tetapi Ni Keng Giau tidak ikut dalam percakapan itu, melainkan terpisah dari mereka. Tombaknya disandarkan tembok kota, ia sendiri berjongkok sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya. Tersenyum-senyum, bahkan berbicara perlahan kepada barisan semut yang sedang merambati tembok.

Para perajurit sudah maklum dan membiarkan saja ulahnya. Ada yang geli, ada ya iba, ada yang acuh tak acuh. Sering perajurit yang iba dengan sukarela mengambilkan ransum jatah dari tangsi, dan ada pula yang sering mentraktirnya arak atau kacang goreng. Secara bisik-bisik para perajurit itu membicarakan si bekas jenderal.

"Ia pasti telah melakukan suatu kesalahan besar, sehingga mendapatkan hukuman seberat itu. Bukan hukuman tubuh, tapi hukuman batin, sehingga jiwanya diombang-ambingkan antara harapan dan kekecewaan, dari hari ke hari tanpa tahu kapan berakhirnya."

"Tentu saja yang didapati hanya ke kecewaan melulu, sebab apa yang di-angan- angankannya tak mungkin menjadi kenyataan, terlalu berkhayal. Tambah hari tambah susah ia menyesuaikan khayalannya itu dengan kenyataan, la seolah hidup di dua dunia."

"Salahnya sendiri. Kalau ia mau menerima kenyataan dengan ikhlas, jiwanya akan cepat sehat kembali."

"Enak saja kau omong, mana bias bersikap sepasrah itu kalau pernah menduduki tempat yang begitu tinggi? Dia mendapatkan itu dengan bersusah-payah, lalu tiba-tiba dilucuti tanpa dia punya persiapan mental. Nah, coba bayangkan, kalau kau yang mengalaminya., barangkali sudah kau ambil tali untuk menggantung dirimu."

"Kasihan ya? Makin hari pikirannya makin kacau, dan kita jadi seperti momong anak kecil."

"Ia masih sering berkata bahwa tidak lama lagi kedudukannya akan dipulih kan. Dan aku...." perajurit yang berbicara itu tiba-tiba tertawa kecil. "…sudah dijanjikan akan menjadi Cong- peng di Hang-ciu ini."

"Astaga, dia juga bilang begitu kepadaku!"

"Lho, aku juga dijanjikan menjadi Cong-peng di kota ini!"

"Berbahagialah rakyat Hang-ciu, bakal mempunyai tiga panglima semacam kalian."

Perajurit-perajurit lainnya tertawa, sementara Ni Keng Giau masih saja berjongkok di tempatnya dengan sikap semula. Sementara itu salah satu "calon Cong-peng" itu melirik sekejap ke arah Ni Keng Giau, lalu berkata, "Nah, kelak kalau aku sudah menjadi Cong-peng kalian minta kujadikan apa?"

Seorang perajurit yang dikenal doyan makan menjawab, "Tolonglah agar aku diangkat menjadi kepala dapur tangsi, seumur hidup."

Tertawa para perajurit itu makin keras, tapi bungkam serempak ketika Ni Keng Giau tiba-tiba berdiri dan melotot ke arah mereka. Sesaat para perajurit bungkam, dan mereka lega kembali setelah pelan-pelan Ni Keng Giau berjongkok. Meskipun dengan suara lebih perlahan, para perajurit itu masih melanjutkan membicarakan Ni Keng Giau. Kata seorang perajurit,

"Dia bukan cuma berangan-angan, tapi bahkan sudah mempersiapkan sebuah topi kebesaran, dan jubah kebesaran pula sebagai pengganti Ui-hong-ih yang dulu diminta kembali oleh Utusan Sribaginda."

"Jubah kebesaran?"

"Ssst, tidak bisakah mulutmu bicara perlahan sedikit? Nanti ia mendengarnya," berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "ya, jubah kebesaran. Kemarin siang kuantar dia membeli kain di tokonya Mao Lopan, kain katun kuning, lalu dijahitnya sendiri karena tidak punya ongkos membayar tukang jahit. Ia menyiapkan jubah itu untuk hari pelantikannya, yang menurutnya tidak lama lagi."

Beberapa perajurit menahan tertawa, beberapa lagi geleng-geleng kepala dengan rasa iba. Ketika itulah percakapan terhenti, karena seorang perajurit berkuda berderap dari luar kota, dan berseru kepada regu pengawal pintu kota itu, "Rombongan tamu dari Ibukota sebentar lagi akan lewat!"

Maka sibuklah si komandan regu mengatur barisannya, terutama membujuk Ni Keng Giau agar bisa ditertibkan. Dan legalah ia ketika melihat Ni Keng Giau ternyata gampang diatur.

Setahun sekali Liong Ke Toh memang mengadakan perjalanan ke daerah-daerah yang dinamainya sendiri "pemeriksaan tahunan", dengan dalih ingin melihat keberesan kerja para pejabat di daerah. Namun beredar desas-desus yang santer bahwa itulah sebenarnya perjalanan mengumpulkan kekayaan yang tidak tanggung-tanggung.

Para pejabat daerah yang khawatir kalau diri mereka diburuk-burukkan di depan Kaisar Yong Ceng, terpaksa harus menyediakan upeti yang pantas kepada Liong Ke Toh. Gara-gara "pemeriksaan tahunan" itulah orang jadi sulit menaksir berapa nilai isi gudang harta Liong Ke Toh di Pak-khia saat itu.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan di arah luar kota Hang-ciu nampak sebuah rombongan yang semakin dekat, nampak pula sehelai bendera yang memanjang kebawah berkibar-kibar. Komandan regu pengawal pintu kota sekali lagi berpesan kepada Ni Keng Giau.

"Ingat, nanti kau harus tertib dan bersikap hormat terhadap rombongan itu. Agar Sribaginda mendapat laporan tentang kepatuhanmu. Kalau kau tidak sopan, kami semua kasihan kalau pangkatmu diturunkan lebih rendah lagi.”

Dan jawaban Ni Keng Giau amat melegakan si komandan, "Baik... baik....aku akan mengikuti saranmu. Jangan khawatir."

Biarpun sudah agak lega, namun si komandan masih cerewet menambahkan lagi, "Biarpun sekarang kau harus berlutut kepada Liong Ong-ya, tapi apa artinya kalau kau segera kembali ke kedudukanmu?"

"Benar.... benar..." para perajurit lain ikut mendukung. Merekapun khawatir kalau penyambutan sampai kacau, jangan-jangan mereka juga akan ikut kena hukuman?

"Di dunia ini mana ada yang lebih bijaksana dari Goan-swe Ni Keng Giau, biarpun calon saudara angkat Sribaginda tetapi mau menghomati orang lain?"

"Itulah watak mulia seorang bangsawan sejati!"

"Yang berhati emas!"

"Sribaginda akan segera tahu bahwa jenderal utamanya yang amat berjasa ini ternyata bukan seorang yang sombong."

Wajah Ni Keng Giau berseri-seri mendengar sanjung-puji itu. Berulang-ulang ia berjanji akan bersikap sehormat-hormatnya. Memang adegan yang janggal, dimana seorang komandan tak mampu menyuruh bawahannya dengan perintah yang tegas, tapi harus memohon-mohon dan membujuk-bujuk, dibantu anak-buahnya yang lain. Tapi maklumlah Ni Keng Giau memang seorang anak-buah yang "istimewa" jadi ya harus ditangani secara istimewa pula.

"Sudah! Sudah!" si komandan cepat menertibkan anak-buahnya. "Rapikan barisan, rombongan tamu agung sudah dekat!"

Kelompok pengawal pintu kota itu-pun berbaris rapi dalam dua deretan di kiri-kanan jalan. Mengambil tempat agak di luar pintu gerbang, berdiri dengan tegap sempurna. Di antara rombongan itu nampak sebuah tandu indah yang dipikul empat orang. Yang mengiringi di kiri kanan tandu itu adalah pejabat-pejabat sipil dan militer kota Hang-ciu, termasuk Kang Bun-hou yang sejak pagi tadi sudi menyongsong di luar kota.

Biarpun pejabat-pejabat Hang-ciu semuanya membawa kuda, namun tidak menungganginya dan hanya dituntun saja. Di depan tandu ada pengawal- pengawal pribadi Liong Ke Toh sendiri, sedangkan di belakangnya ada satu regu perajurit dari Hang-ciu sendiri.

Begitu rombongan mendekati pintu kota, komandan pengawal pintu kota segera menyuruh pasukannya untuk berlutut. Mereka berlutut di kedua tepi jajan.

Liong Ke Toh yang duduk di dalam joli, mengangguk-angguk puas sambil mengelus jenggot putih. Sejauh ini ia puas akan penyambutan dirinya yang begitu rapi. Namun ia agak heran melihat di antara perajurit penyambut itu seorang yang cara berlututnya lain sendiri.

Di jaman Manchu itu, para perajurit berlutut dengan kaki kanan ditekuk ke belakang sehingga lututnya menyentuh tanah, kaki kiri ditekuk pula namun dengan telapak kaki tegap menapak tanah, sedang tangan kanan menyentuh tanah. Namun perajurit yang lain dari yang lain itu melipat dua kakinya ke belakang, tubuh membungkuk sampai jidatnya menyentuh tanah, pantat terangkat tinggi, dua tangan memeluk kepala.

"Berhenti!" perintah Liong Ke Toh.

Rombongan pun berhenti. Si komandan pengawal pintu kota terkesiap, kenapa rombongan tiba-tiba berhenti di pos penyambutan yang menjadi tanggung-jawab nya? Ia mulai curiga, dan diam-diam mencuri pandang dari sikap berlututnya untuk memeriksa barisannya.

Begitu melihat cara berlutut Ni Keng Giau yang "sehormat-homatnya" itu si komandan pun mulai meratap dalam hatinya. Namun tak berani berkutik dari berlututnya. Sudah membayangkan nasibnya, mungkin dirinya akan dipecat. Inilah gara-gara sanjung-puji berlebihan terhadap "jenderal yang bijaksana dan berhati-emas" tadi.

"Mati aku!" keluhnya dalam hati. Jantung si komandan hampir copot rasanya ketika mendengar Ni Keng Giau tiba-tiba berteriak tanpa disuruh,

"Ong-ya! Apakah Sribaginda masih mengingat diri hamba?"

Sekarang kepanikan juga menghinggapi diri Kang Bun Hou. Sungguh celaka kalau sampai Liong Ke Toh menjadi tidak senang oleh kejadian itu, padahal Liong Ke Toh sudah terkenal sebagai tukang fitnah yang akan menjatuhkan si apapun yang tidak disenanginya di depan Kaisar.

Liong Ke Toh menyingkapkan tirai jolinya, alisnya berkerut, dan ia memerintah, "Angkat kepalamu agar kulihat mukamu!"

Ni Keng Giau menengadahkan wajahnya sambil tersenyum lebar. Liong Ke Toh memandang sejenak, lalu tertawa terkekeh-kekeh setelah mengenalinya, “Waduh, inilah pahlawan besar yang tidak ada bandingannya itu? Hampir saja aku tidak mengenalimu, karena sekarang kau agak kurus dan kulitmu agak hitam. Tapi sehat-sehat saja kan?"

Melihat sikap Liong Ke Toh, Ni Keng Giau jadi semakin berani. Bahkan ia lalu berdiri dan berjalan mendekati joli sambil tertawa-tawa, "Ya, aku baik-baik saja, kau sendiri bagaimana? Maaf kalau agak mengganggu perjalananmu ya? Aku cuma mau tanya sedikit."

"Ni Keng Giau, jangan kurang hormat!" Kang Bun Hou dengan panik telah melangkah maju untuk menertibkan Ni Keng Giau dengan tangannya sendiri.

Tapi langkahnya terhenti ketika Liong Ke Toh memberi isyarat dari jendela joli, "Biarkan dia bicara, Cong-peng."

Sedangkan Ni Keng Giau sendiri bersikap seolah-olah ketemu sahabat lama saja. Tombaknya dibuang, dan ia berjalan mendekati joli sambil terus mengoceh, "Aku mau tanya, apakah Sribaginda masih mengingat aku, saudaranya ini? Masih sering membicarakan aku? Kapan Sribaginda mengakhiri ujian kesetiaanku ini? Aku sudah menunjukkan bahwa dirikulah abdi Sribaginda yang paling setia."

"Ujian kesetiaan?" Liong Ke Toh tercengang. "Apa maksudmu?"

"Bukankah yang kualami sekarang ini sekedar ujian kesetiaan buatku? Setelah ini berakhir, bukankah Sribaginda akan mengembalikan aku menjadi....."

Kata-kata Ni Keng Giau yang melambung penuh harapan itu, tiba-tiba terputus oleh suara tertawa Liong Ke Toh yang melengking tinggi, yang mendadak begitu geli sehingga memegangi perutnya.

Ni Keng Giau ikut tertawa pula. "Jangan main-main ah, apanya yang lucu sehingga kau sampai tertawa macam itu?"

"Kau yang lucu!" sahut Liong Ke Toh di sela-sela tertawanya. "Bahkan lucuuu sekali!"

Sejak dulu memang Liong Ke Toh memendam rasa benci luar biasa terhadap Ni Keng Giau, kini tiba-tiba terbuka sebuah peluang untuk menyiksa orang yang dibencinya ini, bukan dengan pedang, tapi dengan lidahnya. Setelah tertawanya mereda, berkatalah ia,

"Ni Keng Giau, jadi selama ini kau hibur dirimu sendiri dengan pikiran macam itu? Kau cuma mengingat-ingat jasa-jasa mu, tapi apakah lupa kesalahanmu yang lebih besar dari jasa-jasamu? Ketika kau secara kurang ajar membawa pasukanmu masuk ke Istana dan mempermalukan Kim Cong-koan, yang berarti juga tidak menghargai Sribaginda sebagai tuan rumah? Lupa? Sudah lupa kalau dari Jing-hai kau mengirim laporan palsu tentang...."

Bicara sampai sini, Liong Ke Toh tiba-tiba menutup mulutnya sendiri. Urusan "membunuh Pangeran In Te" yang hampir terluncur dari mulutnya adalah rahasia istana yang tak boleh sembarangan diucapkan, apalagi di tempat yang banyak orang itu.

Namun kata-kata Liong Ke Toh itu sudah cukup hebat akibatnya bagi Ni Keng Giau. Wajahnya yang berseri-seri itu mendadak menjadi pucat pasi, matanya terbelalak, tubuhnya seolah mendadak beku jadi patung. Penuh rasa tak percaya bibirnya bergetar, "Jadi... jadi... aku... aku terus bagaimana?"

Liong Ke Toh benar-benar menikmati detik-detik pembantaian itu, suaranya lebih dingin dan lebih tak berperasaan dari sehelai pedang, "Ni Keng Giau, lihat perajurit-perajurit di sekitarmu itu. Sekarang mereka semua adalah perajurit-perajurit rendahan, tapi kalau mereka bertugas dengan baik, kelak pangkat mereka akan merambat naik menjadi tui-thio, pa-cong, cian-bu, cam-ciang, hu-ciang, cong-peng, ciang-kun bahkan goan-swe! Tapi khusus untukmu, janganlah berharap macam-macam. Sampai mati, kau akan tetap bertugas di pintu kota ini. Orang lain merambat dari bawah ke atas, sedang kau terjun dari atas ke bawah dan takkan naik lagi. Buang saja semua mimpimu. Pasrah saja dengan kedudukanmu yang sekarang ini. Nah, selamat bertugas."

Ada algojo yang bekerja pada pemerintah, bertugas memenggal orang-orang yang dijatuhi hukuman mati. Algojo macam ini kadang-kadang masih punya rasa kemanusiaan, biarpun tak kuasa menghindari tugasnya. Ada lagi algojo liar, yaitu para pembunuh dan pelanggar hukum yang membunuh orang demi kepentingannya sendiri, tapi ruang gerak algojo-algojo sejenis inipun terbatas oleh hamba-hamba hukum.

Sayangnya, di tengah masyarakat berkeliaran jenis algojo yang ketiga, yang tak jarang bertopeng sebagai tokoh-tokoh terhormat, yang membantai tidak dengan golok tapi dengan lidah, dengan sasaran siapapun yang tidak disenangi. Mereka berkeliaran bebas, bebas pula menikmati permainan lidah mereka yang menjatuhkan serentetan korban. Lidah mereka mahir memotong dan melenyapkan harapan orang lain, orang yang seharusnya mereka hibur dan beri semangat. Algojo-algojo macam ini, kalau melihat korbannya sudah jatuh, biasanya juga pandai berkata, "Ah, kasihan ya dia?” Padahal dalam hatinya amat puas.

Tetapi khusus bagi Ni Keng Giau yang saat itu kena giliran jadi korban, ia sudah memetik buah tanamannya sendiri. Ia menanam benih kebencian, menyuburkannya dengan siraman darah, dan akhirnya juga harus memakan buahnya sendiri. Kata-kata Liong Ke Toh ibarat panah-panah beracun yang menembus jiwanya, menimbulkan kepedihan dahsyat yang sampai tak terasa sebagai kepedihan lagi, bahkan tak terasa apa-apa lagi.

Pengawal-pengawal pribadi Liong Ke Toh segera bersiaga di sekitar jo-li, siap melindungi tuan mereka kalau Ni Keng Giau mengamuk. Namun ternyata Ni Keng Giau tetap berdiri mematung, pandangan matanya kosong, padam. Khayalannya yang melangit, menemui saatnya harus turun ke bumi dan menelan kenyataan. Ambisinya yang berkobar disiram ucapan Liong Ke Toh sehingga padam. Padam. Bahkan Ni Keng Giau tidak berkutik sedikitpun ketika rombongan Liong Ke Toh kembali berkegerak masuk kota. Seolah di depan pintu kota itu sekarang diletakkan sebuah patung.

"Goan-swe.... Goan-swe..." beberapa perajurit rekannya mengguncang-guncang pundaknya sambil memanggil-manggil. Yang merasa paling bersalah ialah si komandan, sebab dialah yang paling banyak membujuk Ni Keng Giau dengan melambungkan angan-angan Ni Keng Giau setinggi langit. Meniupkan harapan yang ternyata gembos. Dia yang meniup, Liong Ke Toh yang menggemboskan.

"Tabahlah, Goan-swe. Jangan putus harapan. Ucapan Liong Ong-ya tadi pasti tidak bersungguh-sungguh, hanya untuk menguji kesabaranmu. Kau sudah bersikap bijaksana karena tidak menunjukkan kemarahan. Sribaginda akan mendapat laporan tentang sikapmu ini dan..." dan seterusnya. Begitulah, untuk memperbaiki akibat buruk suatu kebohongan, terpaksa harus menciptakan kebohongan baru.

"Betul. Kami semua yakin begitu!" para perajurit menghibur.

"Tentu saja harus begitu. Jasa Ni Goan-swe amat besar!"

Demikianlah mereka berebutan menghibur Ni Keng Giau. Tentu saja kata-kata hiburan mereka tidak mampu lebih mendalam dari ucapan-ucapan klise seperti "tabahlah selalu" atau "masih ada harapan" dan lain-lain. Tanpa mereka sadari betapa Ni Keng Giau adalah korban intrik di panggung kekuasaan, intrik yang kejam, dimana sang korban akan selalu tergilas tanpa ampun. Makin tinggi kedudukannya, makin banyak pihak yang bernafsu untuk merobohkannya.

Dan sekali roboh, orang-orang akan beramai-ramai menginjaknya kuat-kuat agar jangan bangkit kembali. Para perajurit yang menghibur itu tidak tahu, kalau Ni Keng Giau yang kini nampak mengibakan itu, dulunya adalah juga "tukang injak" yang bengis bukan kepalang. Karena itulah Ni Keng Giau paham, paham bukan karena belajar teori melainkan karena pengalamannya sendiri dulu sebagai "tukang injak", bahwa harapannya memang sudah habis. Inilah hasil sisa akal sehatnya.

la tidak sekedar sedang menjalani "ujian kesetiaan", tapi benar-benar sudah jatuh seperti korban-korban intrik politik sebelumnya. Ia merasa tak punya apa-apa lagi. Perajurit-perajurit yang menunjukkan belas kasihan itu malah semakin menyadarkan Ni Keng Giau dimana dia berdiri sekarang, sampai-sampai perajurit-perajurit rendahan pun menaruh kasihan kepadanya.

Seandainya dia sadar bahwa menjadi manusia berguna tidak harus berkedudukan tinggi, tukang sapu jalananpun manusia berguna bagi sesamanya. Hal itu dulu sering Ni Keng Giau khotbahkan kepada bawahannya, tapi tak mampu dia khotbahkan buat diri sendiri. Ia tidak sudi di bawah, tapi juga tidak mungkin naik ke atas lagi, la malas melanjutkan, biar sudah bertambah dengan sedikit kearifan. Tidak, la tidak mau kemana-mana lagi. Ia mau berhenti saja.

Perajurit-perajurit yang menghiburnya merasa lega ketika melihat wajah Ni Keng Giau tiba-tiba menjadi tenang sekali. Tidak menangis, tidak mengamuk, justru senyumnya amat jernih, sejernih senyum bayi yang belum mengenal dosa. Para perajurit lega, namun aneh, mereka juga merasa seram. Memandang mata Ni Keng Giau sama dengan menjenguk sebuah lubang yang kosong, gelap, amat dalam, tak ada apa-apanya lagi. Senyuman jernih seperti bayi itu menyeramkan.

Para perajurit bungkam, tercekik suasana aneh. Terpaku mereka melihat Ni Keng Giau tiba-tiba amat cermat merapikan pakaian seragamnya, membersihkan tiap titik debu yang melekat. Katanya dengan lembut dan kedengaran amat waras, "Setiap perajurit harus tetap rapi. Jangan sampai seperti pemabuk yang baru keluar dari warung arak. Bahkan harus tetap rapi di dalam pertempuran yang menghadapi maut sekalipun."

Mata yang kosong itu tiba-tiba ada sedikit sinarnya, seolah menyongsong sesuatu yang amat membahagiakannya. Para perajurit tetap bungkam, masih tercengkam pesona aneh dari diri N i Keng Giau.

Sementara Ni Keng Giau berkata lagi, “Dulu aku selalu menerapkan peraturan kerapian berpakaian bagi semua perajurit."

Tanpa sadar, para perajurit mulai memeriksa pakaian mereka masing-masing dan merapikannya, seolah-olah mereka benar-benar berhadapan dengan seorang jenderal yang memeriksa pasukan. Ternyata, saat itu kewibawaan Ni Keng Giau tiba-tiba mencorong kembali seperti berlian yang habis dibersihkan dari debu yang selama ini menutupnya, dan masih bisa mempengaruhi perajurit-perajurit itu. Atau, seperti nyala lilin yang menyala terang, beberapa detik se belum sumbunya habis.

Namun ketika melihat ulah perajurit perajurit itu, Ni Keng Giau tiba-tiba malah tertawa kecil. "Ah, bukan maksudku menyombongkan kedudukanku yang dulu, yang tak mungkin kembali lagi. Aku sekarang cuma perajurit penjaga pintu kota, seperti kalian, yang tentunya tidak berhak lagi memerintah kalian. Bahkan selama ini tentunya kalian sudah jemu akan sepak-terjangku dan ucapanku bukan?"

"Ah, tidak. Malah kami merasa mendapat perluasan pandangan kami yang tadinya terbatas!"

"Ya syukurlah kalau kalian merasa ada gunanya. Eh, kapan giliran tugas kelompok kita digantikan kelompok berikutnya?"

"Tidak lama lagi. Goan-swe, kenapa mukamu nampak agak pucat?"

"Aku.... aku cuma merasa lelah. Lelaaaaah sekali...."

"Oh, pulanglah dulu ke tangsi. Tidak apa-apa. Nanti kami semua akan membantu menjelaskan kepada komandan tangsi. Apakah perlu diantar?"

"Tidak usah, aku jalan sendiri saja. Terima kasih. Ingat, kalian harus tetap rapi dan berdisiplin ya? Dulu waktu aku masih.... lho, kok malah mau cerita lagi. Sudah ah. Hati-hatilah, teman-temanku, jaga diri kalian baik-baik ya?"

Sebelum pergi Ni Keng Giau masih mengucapkan serangkaian kalimat kacau, lalu melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Kembali para perajurit bergidik melihat senyumannya. Sebelum membelok di tikungan dan terlihat lagi, Ni Keng Giau masih sempat berteriak kearah para perajurit. "Kalian teman-temanku yang baik!"

Dan para perajurit memandangnya dengan terlongong-longong. "Mudah- mudahan dia sembuh...." gumam seorang perajurit.

"Ya. Kadang-kadang kepedihan yang kelewat hebat malah bisa membuat orang macam dia sadar kenyataan, lalu perlahan-lahan sembuh. Kalau angan-angan sudah tidak menguasai jiwanya lagi, kesembuhannya akan sempurna."

Tidak lama kemudian, regu yang akan menggantikan jaga telah datang. Regu yang terdahulu segera pulang ke tangsi. Biasanya, begitu selesai tugas mereka akan langsung menghambur ke warung arak. Namun kali ini mereka seperti digerakkan oleh satu perasaan, pulang semua langsung ke tangsi, tidak ada yang menyeleweng kesana kemari. Semuanya senantiasa ingat kepada Ni Keng Giau yang "hampir sembuh".

Ketika mereka masuk ke ruangan besar tempat puluhan perajurit biasanya tidur, termasuk Ni Keng Giau, para perajurit terkejut karena di ruangan yang kosong mereka tinggalkan jaga itu, mereka menjumpai mayat Ni Keng Giau!

Ni Keng Giau duduk di sebuah kursi, leher dan dadanya bersimbah darah karena lehernya tergorok pedang yang dipegangnya dengan tangan kanan, dan tangan itu kini terkulai ke samping kursi. Ia tidak lagi mengenakan seragam perajuritnya, melainkan "jubah kebesaran" nya yang dibuatnya sendiri dengan jahitan tak keruan. Kepalanya juga memakai "topi kebesaran" dari kertas berhias brodolan ronce tombak dan bulu-bulu ayam yang selama ini dikerjakan sambil berangan-angan. Dengan dandanan itulah dia menyongsong maut.

Para perajurit bungkam. Wajah mereka nampak menahan gejolak jiwa yang tertahan. Mulai oleh si komandan regu, tanpa kata-kata, para perajurit tiba-tiba mengatur diri dalam barisan yarig tertib. Lalu tanpa aba-aba pula mereka berlutut menghormat Ni Keng Giau. Mereka diliputi rasa duka dan masygul, penuh ketidak-mengertian kenapa seorang yang begitu besar jasanya harus mengakhiri hidupnya begitu tragis? Didera jiwanya, sampai digiring agar mencabut nyawanya dengan tangannya sendiri.

Kang Bun Hou segera diberi laporan. Dan sang panglima sendiri menulis surat laporan ke Pak-khia. Di Pak-khia, ketika Kaisar Yong-ceng menerima laporan dari Hang-ciu itu, ia menarik napas sedih juga. Bagaimanapun juga, Ni Keng Giau adalah saudara seperguruannya, pembantunya sejak awal perjuangannya merebut tahta dan mengamankan tahta. Kendati Ni Keng Giau kemudian dianggap terlalu menyaingi kekuasaannya, sehingga perlu disingkirkan, tapi Kaisar Yong Ceng tak membayangkan kalau begitulah akhirnya. Desahnya sambil memegangi kertas laporan dari Hang-ciu itu,

"Yah, cara ini mungkin membuatmu puas, Sute. Karena kesombonganmu, kau mau mati hanya oleh tanganmu sendiri. Seandainya kau dulu tidak menjadi besar kepala dan coba-coba menyaingi kekuasaanku, aku tidak keberatan kau terus mendampingiku selama-lamanya.”

Begitulah, kematian Ni Keng Giau setidaknya "diberi harga" satu helaan napas Sang Putera Langit Yang Agung. Lumayan. Padahal kematian ribuan orang Siau-lim-pai, Hwe-liong-pang, Pek lian-kau, Jit-goat-pang, para pendekar yang diundang ke Hong-thian- lau, bahkan ratusan ribu nyawa di Jing-hai, tidak membuat Kaisar Yong Ceng menarik napas sedih sekalipun.

Tetapi Ni Keng Giau pun segera di lupakan. Sebuah bidak catur yang sudah masuk kotak takkan berarti lagi, tak peduli bidak itu "perajurit" atau "kereta" karena sudah keluar dari papan permainan ya segera dilupakan. Sementara permaianan belum selesai, masih akan ada banyak "bidak-bidak" yang menyusul masuk kotak.

* * * *

Hang-ciu bukan cuma kota bersejarah, tapi juga kota wisata yang memiliki banyak pemandangan indah. Karena itulah Liong Ke Toh betah tinggal di Hang-ciu beberapa hari, selain itu, Liong Ke Toh juga sering menyuruh pengawal-pengawalnya untuk menyamar dan berkeliling kota, agaknya mencari sesuatu. Ketika mendengar tentang kematian Ni Keng Giau, Liong Ke Toh lalu mengadakan pesta sebagai "syukuran", begitulah.

Pada suatu malam, nampak sesosok bayangan berjalan mendekati bangunan sayap kanan gedung Cong-peng-hu, tempat menginapnya Liong Ke Toh dan rombongannya. Ketika hampir sampai ke pintu masuk, orang itupun dihadang oleh pengawal Pegawal pribadi Liong Ke Toh yang galak-galak.

Tapi orang itu nampaknya tidak gentar, malah bertanya dengan nada tidak hormat sedikitpun, "Liong Ke Toh menginap di sini?"

Sikap kurang ajar itu langsung menggusarkan para pengawal, menimbulkan rasa bermusuhan. Mereka menghunus senjata-senjata mereka dan mengurung si kurang ajar itu. "Menyerahlah, bangsat. Kekurang-ajaranmu pantas mendapat hukuman yang berat!"

Orang kurang ajar itu terkekeh dingin, "Aku tidak bermaksud jahat. Tolong bilang saja kepadanya, pihak kami sudah menyetujui usul kerjasamanya yang dulu. Dan sekarang pihak kami menanti kelanjutan urusan itu. Kami menunggu di kuil Ting-kang-bio diluar kota sebelah timur nanti waktunya tengah malam tepat. Kalau Liong Ke Toh ataupun wakilnya tidak datang disaat dan tempat itu, perjanjian batal dan kami bebas berbuat apa saja!"

Kata-kata serba kurang ajar itu membuat para pengawal pribadi Liong Ke Toh gusar. Senjata-senjaia mereka segera melayang ke arah orang itu. Orang itu cuma tertawa dingin menyambut serangan itu, tiba-tiba ia melompat mundur sambil menguraikan rambutnya, bahkan sebagian rambutnya sengaja ditutupkan kedepan wajahnya. Tubuhnya bergetar sejenak sambil memperdengarkan suara gumam rendah dan seram, kedengarannya seperti suara mantera.

Sekitar tubuh orang itu tiba-tiba diliputi asap tebal hitam. Senjata para pengawai terus menikam ke tengah-tengah asap itu, tetapi mereka heran ketika merasa senjata mereka tidak menyentuh apapun. Apalagi ketika asap itu tiba-tiba buyar dihembus angin lokal, ternyata orang tadi sudah tidak ada di tempatnya.

Para pengawal Liong Ke Toh tercengang. Mereka mengepung melingkar dengan ketat, kalau orang tadi keluar dari kepungan, tentunya akan ada yang melihatnya atau merasakannya. Nyatanya tidak satupun dari mereka bisa menyebut kapan dan bagaimana cara perginya orang itu. Padahal pengawal-pengawal Liong Ke Toh itu adalah pesilat-pesilat yang tidak lemah.

"Jangan-jangan... yang tadi itu adalah makhluk halus?" kata seorang pengawal sambil orang itu cuma tertawa dingin menyambut serangan itu, tiba-tiba ia melompat mundur sambil menguraikan rambutnya, bahkan sebagian rambutnya sengaja ditutupkan ke depan wajahnya. meraba-raba tengkuknya sendiri yang mulai merinding.

"Jangan-jangan... sahut yang lainnya ragu- ragu. "....jangan-jangan Ni Keng Giau?"

Para pengawal itu tahu, antara Ni Keng Giau dan majikan mereka Liong Ke Toh saling membenci. Kemudian mereka mendengar Ni Keng Giau mati bunuh diri, yang menurut kepercayaan arwahnya akan terus berkeliaran. Tidak heran kalau muncul dugaan berbau tahayul itu.

"Mungkinkah arwahnya masih gentayangan dan ingin mencari Ong-ya?"

"Kata-katanya tadi perlu kita sampaikan kepada Ong-ya atau tidak?"

"Saat ini Ong-ya sudah beristirahat, mana berani kita membangunkan hanya untuk memberitahu urusan aneh ini?”

"Urusannya memang aneh tapi penting bahkan mungkin gawat. Siapa tahu benar-benar ada roh gentayangan yang mengincar keselamatan Ong-ya? Kalau Kita beritahu Ong-ya, bukankah bisa di ambil tindakan pencegahan."

Para pengawal itu berunding sejenak dan kemudian menunjuk salah seorang untuk melapor kepada Liong Ke Toh...
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 10

Kemelut Tahta Naga II Jilid 10

Karya : Stevanus S P

Kembali orang-orang itu tertawa. Setelah masuk, Lu Kan San menutup pintu, lalu tiba-tiba menegakkan punggungnya. Maka nampaklah tubuh yang sebenarnya tinggi besar dan tidak bungkuk. Rupanya ia sengaja sedikit membungkuk agar tubuhnya yang seperti "menara berjalan" itu tidak menarik perhatian orang di jalanan.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Tokoh ini adalah salah satu Tong-cu Hwe-liong-pang yang berhasil lolos ketika markas Hwe-liong-pang di Tiau-im-hong diserbu tentara kerajaan. Namanya Lu Kan San, julukannya Hui-lo-sat (Si Raksasa Terbang), karena biarpun tubuhnya amat besar namun mahir dalam ilmu meringankan tubuh.

Setelah memberi salam kepada orang-orang di ruangan itu, Lu Kan San langsung mengambil tempat duduk dan berkata dengan wajah penuh kesungguhan. "Karena pentingnya soal ini, maka aku bicara langsung saja. Jejak Pangeran In Tong sudah tercium dan kini mulai dilacak oleh kawan-kawan kami."

Semua orang dalam ruangan itu seketika menegakkan kepala. Pangeran In Tong adalah murid mendiang Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam Hou, namun juga telah mengkhianati gurunya itu dalam usahanya untuk menguasai Hwe-liong-pang, yang akan dijadikannya modal untuk merebut tahta dari Kaisar Yong Ceng.

Biarpun Tong Lam Hou terlanjur tewas, namun pengkhianatan In Tong terbongkar juga. Maka jadilah ia musuh yang paling dibenci oleh orang-orang Hwe-liong-pang. Tak heran kalau orang-orang di ruangan itu serempak bangkit minatnya begitu mendengar kabar diketemukannya jejak Pangeran In Tong.

"Di mana dia, Paman Lu?" tanya Tong Hai Long tidak sabar.

"Jejaknya mula-mula muncul di Tan-liu, lalu mengikuti jalan kearah Hang-ciu. Namun di suatu desa kecil yang merupakan semacam pos perjalanan, jejak itu tiba-tiba menghilang kembali. Tapi muncul kembali di jalan raya propinsi Ho-lam yang menuju ke kota raja Pak- khia. Cepat-cepat kuhubungi kawan-kawan dengan tanda-tanda rahasia, kusuruh mereka terus mengawasi! agar jangan kehilangan jejak lagi. Sedangkan aku cepat-cepat menuju kemari untuk memberitahu."

"Apakah teman-teman itu sudah di pesan menurut pesanku dulu?" tanya Pak Kiong Liong. "Sudah. Mereka hanya kuminta untuk mengawasi dan membuntuti, tapi tidak boleh bertindak sendiri-sendiri, karena sasaran kali ini cukup tajam perasaannya, lagi pula berbahaya."

"Bagus. Memang terhadap Pangeran In Tong, kita tidak boleh gegabah. Selain berbahaya, dia juga sudah mengenal banyak wajah anggota Hwe-liong-pang, karena dia pernah menjadi orang Hwe-liong-pang pula. Kalau kita sampai kurang hati-hati menguntitnya dan dia sampai merasa kalau sedang diawasi, aku khawatir dia akan menghilang lagi. Dan tentu akan semakin sulit diketemukan, karena tentunya semakin hati- hati dalam menyembunyikan diri."

"Benar, Goan-swe."

Banyak anggota Hwe-liong-pang masih saja memanggil Pak Kiong Liong dengan sebuatan "goan-swe" biarpun dia sudah lama tidak menjadi jenderal lagi.

"He, A-hai, mau kemana kau?" tiba-tiba Pak Kiong Liong membentak, karena melihat cucunya itu sudah menyambar pedang dan hendak melangkah keluar.

Tong Hai Long menghentikan langkah dan menjawab, "Kalau jejak si pengkhianat itu sudah diketemukan, buat apa kita tinggal lebih lama lagi disini? Kita susul dia dan suruh mempertanggung jawabkan semua kejahatannya!"

"Kau sudah lupa semua omonganku tadi?" kata Pak Kiong Liong dengan wajah angker. "Duduk!"

Betapapun bandelnya Tong Hai Long, ketika melihat kakeknya begitu marah, keder juga si cucu bandel ini. Terpaksa ia duduk kembali.

Kemudian Pak Kiong Liong berkata lagi, suaranya sudah menurun tapi masih bernada menegur. "A-hai, tidakkah kau sadari bahwa sikap berangasanmu itu bisa mengacau semua urusan? Ingat, Pangeran In Tong bukan maling ayam kaliber teri yang begitu gampangnya di hadang dan ditangkap. Semuanya harus direncanakan rapi untuk meringkusnya tanpa gagal lagi. Dia amat licin, buktinya, dalam beberapa tahun ini jejaknya kelihatan beberapa kali, tapi setelah di susul dan disergap, tahu-tahu kita cuma menubruk angin, bahkan beberapa anggota kita menjadi korban. Karena itu, bertindaklah dengan kepala dingin.”

Tong Hai Long menunduk sambil menggenggam erat-erat sarung pedangnya. Sesaat ruangan itu sunyi. Hati si kembar Tong San Hong dan Tong Hai Long bergejolak hebat, ingin segera menyusul si pembunuh kakek mereka itu. Namun merekapun tidak berani mengabaikan pertimbangan yang diucapkan Pak Kiong Liong. Itu memang kenyataan. Sudah beberapa kali Pangeran In Tong disergap dan ternyata luput terus karena licinnya.

Sementara itu, In Te bungkam dengan wajah yang muram. Bagaimanapun jahatnya Pangeran In Tong yang sedang dibicarakan itu, namun In Tong yang dulu dikenal sebagai Pangeran Ke Sembilan itu adalah kakanda In Te yang dulu disebut Pangeran Ke Empatbelas. Namun apa yang telah dilakukan oleh kakaknya itu memang sulit dimaafkan.

Yang terdengar kemudian adalah suara Pak Kiong Liong, tenang dan terkendali, mengingatkan orang akan gayanya dulu ketika masih memimpin pasukan dalam pertempuran. "Lu Tong-cu, tetap awasi dia, tapi hati-hatilah. Jangan melepaskan hubungan dengan kami lewat tanda-tanda rahasia. Jangan terlalu banyak orang yang mengikutinya, sedikit saja asal orang-orang yang benar-benar ahli. Kalau terlalu banyak orang, In Tong akan bisa merasakannya, dan kalau sampai dia lolos kembali, barangkali kita harus menunggu beberapa tahun lagi untuk menemukan jejaknya. Atau bahkan selama-lamanya takkan kita temui lagi jejaknya.”

“Akan kuperhatikan semua petunjuk Goan-swe. Sekarang juga aku berpamitan.”

“Silahkan.”

Lu Kan San pun meninggalkan penginapan itu, dan kembali ke dalam penyamarannya sebagai si pedagang buah-buahan yang bungkuk.

* * * *

Siang itu, sehabis melatih perajurit di lapangan, Ni Keng Giau tiba-tiba seperti ingat sesuatu, lalu membongkar-bongkar keranjang pakaiannya yang diseretnya dari kolong ranjangnya ditangsi. Wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri ketika menemukan apa yang dicarinya.

Sebatang pedang pendek yang sarungnya maupun tangkai pedangnya berlapis emas, pada pelindung pegangannya terhias dua butir permata yang masing-masing merah dan biru serta diukir naga dan burung hong. Indah sekali. Itulah Liong-hong Po-kiam (pedang Pusaka Naga dan Burung Hong) yang dulu dihadiahkan Kaisar Yong Ceng kepadanya.

Beberapa saat lamanya Ni Keng Giau menimang-nimang pedang itu, dan lamunannya terseret mundur kemasa lalunya yang gemilang. Tiba-tiba ia bangkit dan menyelipkan pedang itu ke ikat pinggangnya, lalu melangkah keluar. Ia akan menuju ke warung arak untuk memamerkan pedang itu.

Sejak keluar dari pintu gerbang tangsi, ia sudah tersenyum-senyum sendiri. Tegur sapa para perajurit yang berpapasan dengannya tidak digubrisnya. Para perajurit heran melihat pedang yang begitu bagus, yang belum pernah mereka lihat, terselip di pinggang Ni Keng Giau.

Setelah keluar dari pintu gerbang, tangsi, Ni Keng Giau berjalan melewati deretan pepohonan di pinggir jalan. Langkah santainya tiba-tiba berubah menjadi langkah tegap, wajahnya angker dan bersungguh-sungguh menatap deretan pohon itu sambil mengangguk-angguk dan bergumam, "Bagus... bagus... barisan yang tertib!"

Sampai di ujung deretan pepohonan itu, ia berbalik lagi, agaknya belum puas memeriksa "pasukan"nya. Beberapa orang di jalanan itu tidak heran lagi melihat tingkah lakunya, tingkah semacam itu sudah biasa. Biasanya ada anak-anak kecil yang mengikutinya sambil bersorak-sorak, tapi kali ini tidak ada, sebab anak-anak kecil agaknya takut melihat pedang pendek yang terselip di pinggang sang jenderal.

Tiba-tiba dari ujung jalan terdengar seseorang membentak, "Ni Keng Giau! Berhenti!"

Ketika Ni Keng Giau menoleh, nampaklah seorang lelaki yang tegap dan kekar, berusia kira-kira tiga puluh tahun dan bermuka kehitam-hitaman. Sambil menjinjing sebatang golok, ia berjalan mendekati Ni Keng Giau dengan sikap bermusuhan.

"Siapa kau?" tanya Ni Keng Giau.

"Tentu kau tidak kenal seorang rendahan macam aku. Aku Ma Hin, cuma seorang piau-su (pengawal perjalanan) tak bernama. Aku juga tidak tahu apakah kau masih ingat Ma Seng dan Ma Siau Lin."

Ni Keng Giau geleng-geleng kepala dengan pandangan kosong. Lelaki bernama Ma Hin itu membentak gusar. "Tentu saja kau lupa, karena korban kejahatanmu sudah tak terhitung banyaknya, bangsat! Tapi kau harus tahu, kedua orang yang kusebut tadi adalah korban-korban kebiadabanmu, mereka adik-adikku! Ma Seng seorang pemuda yang rajin, periang, dengan masa depan yang baik. Namun kau hukum mati dia di Tan-liu hanya karena terlambat berlutut di pinggir jalan ketika tandumu lewat! Ma Siau Lin adalah adik perempuanku yang juga tengah menyongsong kebahagiaannya bersama pemuda pilihannya sendiri. tapi pengawal-pengawalmu yang biadab mengambilnya dari rumah untuk dijadikan korban nafsumu, sehingga akhirnya adikku itu membunuh diri karena tak tahan menanggung noda. Sayang, saat itu aku tidak ada di Tan-liu karena tugasku, namun sekarangpun rasanya belum terlambat untuk mengorek jantung dan limpamu guna menyembahyangi arwah adik-adikku itu!"

Berikutnya, Ma Hin tak memberi kesempatan Ni Keng Giau untuk menjawab, ia langsung merangsek seperti anjing gila. Goloknya membabat berulang kali dengan sengit. Sebagai seorang piau-su yang sering bepergian jauh dan menempuh bahaya, ilmu silatnya tak bisa dipandang enteng. Beberapa kali Ni Keng Giau mundur berkelit, namun Ma Hin terus mengejar dengan sengit. Akhirnya Ni Keng Giau dipaksa mencabut pedang Liong-hong Po-kiam untuk membela diri.

Maka bertempurlah kedua orang itu di tengah jalan. Ni Keng Giau mencoba memainkan ilmu pedang Tat-mo-kiam-hoat yang pernah dipelajarinya di Siau-lim-si, seingat-ingatnya. Sedang Ma Hin kelihatan memainkan ilmu golok Kun-goan-to-hoat dari Hoa-san-pai. Golok yang menebas-nebas dengan kuat dan garang, berhadapan dengan pedang pendek yang cepat dan lincah.

Setelah puluhan jurus, mulailah Ma Hin terdesak. Bagaimanapun, yang dilawannya adalah murid Pun-bu Hwe-shio yang terkenal. Semasa jayanya dulu memang Ni Keng Giau malas latihan silat, namun sejak menjadi pelatih di Hang-ciu, kemampuan silatnya malah terasah tajam kembali. Lemak-lemak yang dulu menggumpal di sekitar perutnya, sudah banyak berkurang. Kendati otaknya rada miring, kini tubuhnya lebih ramping dan tegap sebab sering melatih para perajurit di lapangan. Tetapi Ma Hin yang tak peduli lagi mati hidupnya, tiap kali tak henti-hentinya menerjang dengan sengit.

Sementara itu, banyak orang-orang mulai menonton perkelahian itu, namun dari kejauhan. Suatu saat Ma Hin menerjang dengan nafsu. Ni Keng Giau berhasil berkelit, bersamaan dengan kelebat pedangnya membelah lambung Ma Hin, sehingga Ma Hin terhuyung-huyung. Desis kesakitan Ma Hin tertutup oleh teriakan buas Ni Keng Giau yang tanpa belas kasihan menikamkan pedang ke dada lawannya.

Ma Hin tersungkur jatuh, darahnya terserap debu jalanan, sementara arwahnya terbang menyusul arwah adik-adiknya yang hendak dibelanya. Tetapi Ni Keng Giau belum berhenti beraksi. Sambil berteriak-teriak kalap, ia mencacah-cacahkan pedang ke tubuh korbannya, dengan mata merah dan air liur menetes netes dari mulutnya. Hancurlah jasad Ma Hin.

Orang-orang yang menonton di kejauhan menjadi ngeri melihat adegan itu, serempak mereka lari bubar dengan ketakutan. Khawatir kalau Ni Keng Giau mengalihkan amukannya kepada mereka, maklum orang yang agak gila. Memang aman kalau mereka lari jauh-jauh, sebab setelah Ni Keng Giau membuat tubuh Ma Hin menjadi setumpuk daging cincang tak berujud lagi, dengan matanya yang liar Ni Keng Giau mulai menatap ke sekelilingnya. Sambil mengobat-abitkan pedangnya yang merah oleh darah, ia berteriak-teriak,

"Ayo! Siapa lagi mau menantangku?! Majulah ke sini! Inilah Ni Keng Giau, Panglima Tertinggi Penakluk Jing-hai! Penguasa wilayah Siam-sai dan Se-cuan yang bergelar It-teng-kong! Saudara angkat Kaisar! Siapa yang melawanku harus binasa dengan tubuh hancur seperti dia!"

Akibatnya, orang-orang yang berlari menjauhinya pun semakin cepat mengayun langkah. Perempuan-perempuan dan anak-anak kecil bahkan menjerit-jerit. Waktu itulah dari ujung jalan satu rombongan yang mendekat. Mereka adalah Panglima Hang-ciu, Kang Bun Hou, bersama satu regu pengawalnya.

Selama masa jabatan Kang Bun Hou, kota Hang-ciu berhasil ditingkatkan keamanan dan ketertibannya. Kang Bun Hou bukan saja kelewat rajin menguber penjahat sampai terbekuk batang lehernya, namun juga menertibkan perajurit-perajuritnya sendiri agar tidak merugikan penduduk. Kini melihat Ni Keng Giau melakukan pembunuhan kejam di siang hari bolong, lagipula di sebuah jalan ramai, kontan gusarlah Kang Bun Hou. Ia merasa peraturan yang mau ditegakkan telah ditantang terang-terangan oleh Ni Keng Giau.

"Apa yang kau lakukan, Ni Keng Giau?!"

Dalam kedudukannya yang hanya sebagai pelatih, mestinya Ni Keng Giau tunduk kepada Kang Bun Hou. Tapi saat itu otaknya masih "hangat" sehingga lupa segala tata-tertib. Ia tetap berdiri, tidak memberi hormat, pedangnya ditudingkan ke mayat Ma Hin sambil berkata, "Bangsat itu berhasrat membunuhku, dan aku telah menghukumnya!"

"Kenapa dia sampai ingin membunuh mu? Tentu ada sebabnya."

"Memang ada sebabnya, tapi bukan urusanmu!"

“Urusanku. Sebab kau lakukan di kota yang dibawah tanggung-jawabku!"

"Tidak perlu ikut campur!"

Marahlah Kang Bun Hou menghadapi sikap yang semakin liar itu. Susah payah ia menertibkan bawahannya, apakah ketertiban yang sudah mapan itu akan dikacaukan oleh si pelatih baru yang setengah waras ini? Biarpun Ni Keng Giau adalah seorang bekas jenderal yang berpangkat jauh lebih tinggi dari Kang Bun Hou? "Ni Keng Giau! Bagaimana sikapmu terhadap atasanmu?!"

Bukannya tunduk, Ni Keng Giau malah tertawa berkakakan, "Atasanku? Siapa atasanku? Hanya Sribaginda sendirilah atasanku!"

Lalu ia mengacungkan pedang Liong-hong Po-kiam tinggi-tinggi sambil berteriak, "Kang Bun Hou! Kau yang harus berlutut di hadapan lambang pribadi Kaisar ini! Kau kenal pedang ini atau tidak?!"

Kang Bun Hou kaget, dan sesaat lamanya ia memang jadi salah tingkah. Sudah jelas Ni Keng Giau bersalah, tapi mau dikata, dia memegang Liong-hong Po-kiam. Kalau Kang Bun Hou tidak mau berlutut, memang bisa dianggap tidak menghormati Kaisar sendiri, sebab tidak menghormati pula orang yang dianugerahkan lambang pribadi Kaisar itu. Karena itu, dengan amat terpaksa Kang Bun Hou berlutut, begitu pula perajurit-perajurit pengiringnya.

Ni Keng Giau tertawa puas sekali. Pedangnya disabet-sabetkan di udara, dan untungnya saja tidak disabetkan ke arah Kang Bun Hou yang berlutut di de pannya. "Nah, begitu barulah kalian bisa dibilang perajurit-perajurit yang tertib. Ketahuilah, ketika dulu aku memimpin pasukan ke Jing-hai, perwira yang berpangkat setingkat denganmu itu ada ratusan orang yang dibawah perintahku. Bahkan ada yang kusuruh mengelap sepatuku tanpa berani membantah. Sekarang ini jangan dikira aku sedang diturunkan pangkat, tidak! Aku sedang menjalani pendadaran sebelum diberi kedudukan yang lebih tinggi oleh Sribaginda! Ha-ha.... kalian tentu kaget, bahkan Sribaginda sudah merencanakan untuk mengangkat saudara denganku. Ha-ha... kaget ya? Kaget? Ayo bilang kaget!"

Masih banyak lagi ocehan Ni Keng Giau. Campuran antara kenyataan masa lalu dan hasil khayalannya sendiri. Kemudian sambil membusungkan dada, ia meninggalkan tempat itu, dan membiarkan Kang Bun Hou dan pengawal-pengawalnya tetap berlutut di atas debu jalanan. Setelah Ni Keng Giau menghilang di ujung jalan, Kang Bun Hou bangkit sambil mengepalkan tinju dengan geramnya.

"Benar-benar edan, aku yang berkedudukan penegak hukum di kota ini malah dipaksa berlutut di hadapan orang sinting, bahkan di hadapan mata banyak orang. Seandainya si otak miring itu tidak memegang Liong-hong Po-kiam."

Perwira yang mendampinginya lalu menghiburnya, "Kita tidak perlu kecil hati, semua orang tentu bisa memaklumi tindakan kita tadi. Namun kadang-kadang Ni Keng Giau juga berpikiran waras, dan melatih perajurit- perajurit kita dengan baik."

"Hanya kadang-kadang? Disiplin yang berusaha kutegakkan di kota ini ditaati oleh seorang pelatih hanya kalau waras saja? Bagaimana kalau lebih banyak sintingnya daripada warasnya? Tidak bisa kubiarkan. Secepatnya aku harus menulis surat laporan kepada Sribaginda!"

Merasa bahwa ketertiban kotanya benar-benar terganggu, Kang Bun Hou tidak berlambat-lambatan menulis surat ke Pak-khia, melaporkan segala tindak tanduk Ni Keng Giau. Lalu surat itu segera dibawa oleh seorang caraka yang menunggangi kuda tercepat ke Pak-khia.

Sementara, lagak Ni Keng Giau di Hang-ciu semakin menghebat setelah Liong-ong Po-kiam selalu terselip di pinggangnya. Sekali waktu pikiran warasnya muncul, dan sadar kalau sepak-ter-jang macam itu diterus-teruskan akan bisa mendatangkan kesulitan lebih hebat buat dirinya. Tapi kesombongan dalam kegilaannya lebih sering menguasai jiwa nya daripada akal sehatnya. Kesombongan dalam kegilaan yang sebenarnya lebih merupakan pelarian dari kekecewaannya, lebih merupakan jeritan hatinya yang di tutup-tutupi.

Beberapa hari kemudian, datanglah seorang utusan dari Pak-khia membawa Titah Kaisar Yong Ceng yang akan dibacakan di gedung Cong-peng-hu, kantor Kang Bun Hou. Sebelum pembacaan, Ni Keng Giau lebih dulu dipanggil dari tangsi, dan disuruh membawa pedang Liong-hong Po-kiam serta sebuah baju berwarna kuning bersulam naga yang dulu juga merupakan anugerah Kaisar.

Ni Keng Giau berjalan ke Cong-peng hu dengan hati melonjak-lonjak kegirangan. Ia sudah membayangkan, utusan Kaisar kali ini tentu membawa berita bahwa ia dipulihkan ke kedudukan semula. Namun tubuhnya menggigil dan dialiri keringat dingin, ketika ia sudah berlutut di lantai aula Cong-peng-hu yang dingin itu, dan mendengar Utusan dari Pak-khia itu membacakan Titah Kaisar, "Perintah Yang Dipertuan, Sang Putera Langit!

Ni Keng Giau dipersalahkan menggunakan pedang Liong- hong Po kiam dan jubah Ui-hong-ih untuk melakukan pembunuhan sewenang-wenang, menakut-nakuti penduduk, menimbulkan ke resahan di antara perajurit Hang-ciu. Karena itu, kedua anugerah Yang Dipertuan itu harus diserahkan kembali. Sedang Ni Keng Giau mendapat hukuman turun pangkat menjadi perajurit penjaga pintu gerbang Hang-ciu!"

Lemaslah seluruh tubuh Ni Keng Giau karena kagetnya, untung ia tidak melompat bangun dan mengamuk. Dalam hati ia cuma membatin, "saudara angkat" nya di Pak-khia itu benar-benar keterlaluan "bercanda" dengannya. Namun ia tetap memaksa diri untuk mempercayai bahwa itu semua hanya "ujian kesetiaan" sebelum dirinya kelak kembali ke kedudukan agungnya.

Tapi saat itu, mau tidak mau, ia harus menyerahkan jubah Ui-hong-ih dan pedang Liong-hong Po-kiam ke tangan Utusan Kaisar, dengan tangan yang gemetar. Sebelum meninggalkan aula Cong-peng-hu untuk kembali ke tangsinya, Ni Keng Giau sempat melirik geram kepada Kang Bun Hou sambil membatin dalam hati,

"Awas kau, bangsat! Kau tentu telah memfitnah aku di hadapan Sribaginda. Kelak kalau aku kembali menjadi Panglima Tertinggi, akan kuturunkan pangkatmu menjadi tukang membersihkan kakus di tangsi."

Utusan Kaisar itupun kembali ke Kota raja Pak-khia. Sedangkan Ni Keng Giau hari itu mulai dengan tugas barunya sebagai pengawal pintu gerbang. Kini, tiap siang ia memakai seragam belacu biru tua, memanggul tombak, berdiri di pintu gerbang kota bersama perajurit-perajurit lain.

* * * *

Beberapa minggu kemudian, Kang Bun Hou kembali mendapat kabar dari Pak-khia bahwa Liong Ke Toh, Pamanda Kaisar, dalam perjalanan inspeksi tahunannya ke daerah-daerah akan melewati Hang-ciu dalam beberapa hari lagi. Kang Bun Hou tahu kalau Liong Ke Toh seorang bangsawan tua yang bawel dan gila hormat, maka mendengar kabar itu, ia tak berani berlambat-lambatan dalam menyiapkan sambutan kehormatan.

Regu penjaga pintu gerbang mendapat tugas penyambutan di pintu kota, maka sibuklah si komandan regu karena tahu ada anggaota regunya yang kurang waras. Ia khawatir kalau sampai Ni Keng Giau membuat ulah dalam penyambutan, sehingga mengacaukan semuanya. Beberapa hari sebelum tanggal kedatangan Liong Ke Toh, komandan pengawal gerbang sudah gencar membujuk Ni Keng Giau agar menaati tata tertib penyambutan.

'‘Aku yakin, berani taruhan sepuluh cangkir arak, kunjungan Liong Ong-ya kali ini pasti juga sekalian untuk melihat apakah Calon Saudara Angkat Kaisar itu tertib atau tidak dalam tugasnya," kata si komandan pengawal gerbang dengan gaya seperti membujuk bocah cilik. "Kalau dia melihatmu menjalankan tugas dengan baik, dia pasti akan mengangguk-angguk sambil mengelus jenggot, dan membatin begini, "O, Ni Keng Giau menjalankan tugasnya dengan baik, itu tandanya benar-benar setia Lalu Liong Ong-ya akan melaporkannya kepada Sribaginda, nah, Sribaginda puas akan laporan itu dan kaupun akan dipanggil kembali Ke Pak- khia untuk menduduki kembali jabatanmu yang dulu."

Komandan itu dan Ni Keng Giau berbicara di kamar Ni Keng Giau yang pengab dan penuh celana-celana para perajurit bergantungan di atasnya. Sementara si komandan berbicara, Ni Keng Giau asyik dengan lem dan potongan-potongan kertas dan gunting. Seasyik anak sekolah yang mendapat tugas prakarya dari gurunya, Ni Keng Giau sedang membuat sebuah topi yang modelnya adalah topi para pejabat tinggi di pusat pemerintahan. Benang-benang merah brodolan ronce tombak yang dikumpulkannya dalam beberapa hari ini, dihiaskannya dengan telaten sehelai demi sehelai ke topi buatannya itu. Beberapa helai bulu ayam dipasangkan pula di situ untuk "menambah keindahannya."

Ketika ucapan si komandan sampai pada "kembali ke jabatanmu", Ni Keng Giau mengangkat wajahnya, matanya bersinar-sinar penuh harapan. "Benarkah begitu? Hah, benar begitu ya?"

Demi kelancaran upacara penyambutan kelak, si komandan terpaksa nekat melanjutkan kebohongannya, "Ya tentu saja benar. Siapapun di kekaisaran ini, siapa yang tidak mengetahui jasa-jasamu yang luar biasa? Ketika mengamankan Hek-liong-kang, ketika menumpas kerusuhan kaum Pek-lian-kau dan Jit-goat-pang, lebih-lebih dalam menaklukkan Jing-hai. Jasamu luar biasa. Sribaginda pasti mengutus Liong Ong-ya untuk melihat apakah kau menjalankan tugas di sini dengan baik, tapi ya dengan syarat"

"Ini hebat sekali! Benar-benar hari bersejarah buatku!" Ni Keng Giau hampir menjerit karena girangnya.

"...tapi ya ada syaratnya...." si komandan mengulang.

"Syarat apa?"

"Pada saat penyambutan Liong Ong-ya, kau harus tertib dan benar-benar menunjukkan hormatmu. Agar Liong Ong-ya mendapat kesan baik dan melaporkan kepada Sribaginda!"

"Apa? Aku harus menghormat tua bangka itu? Hemm, aku tidak sudi! Seharusnya dialah yang harus memberi hormat kepadaku!"

Si komandan terkesiap dan buru-buru berkata, "Sabar... sabar... dengan dulu kata-kataku. Memang sekarang kau harus menghormatinya, tapi kelak kalau kedudukanmu pulih, bukanlah kembali dia yang harus menghormatimu? Sekarang mengalah dulu sedikit, apa salahnya? Tapi kalau sekarang kau tidak mau mengalah, ya sulit kau kembali ke kedudukanmu. Bahkan Liong Ong-ya mungkin menjadi tidak senang, lalu dihadapan Sribaginda akan menceritakan yang buruk- buruk tentang dirimu."

Ni Keng Giau termangu-mangu sambil menggaruk- garuk tengkuknya. Tanyanya kemudian, "Kalau aku bersikap tertib, lalu Sribaginda akan segera memanggilku ke Pak-khia, begitukah?"

"Itu jelas!" sahut si komandan amat menyakinkan. "Itu jelas sekali, siapa lagi yang menyangsikan? Aku yakin Sribaginda akan segera yakin akan kesetiaanmu! Berani taruhan sepuluh bungkus kacang goreng!"

Ni Keng Giau bangkit dari duduknya dan berjalan hilir-mudik dengan kegembiraan meluap-luap, si komandan ikut bangkit pula dengan kadar kegembiraan yang sama sebab ada tanda-tanda anggota regunya ini akan dapat ditertibkan.

"Saudara Ting..." kata Ni Keng Giau kemudian kepada si komandan. "Kau sungguh baik kepadaku dengan memberikan nasehat- nasehatmu. Aku berjanji, kalau beberapa hari lagi aku dilantik menjadi Panglima Tertinggi, orang yang pertama-tama kuingat ialah dirimu. Aku akan menaikkan pangkatmu menjadi__ he, topiku jangan diduduki!"

Si komandan didengarnya Ni Keng Giau melanjutkan kata-katanya yang tadi, ".. aku akan menaikkan pangkatmu menjadi Cong-peng di Hang-ciu ini, menggantikan Kang Bun Hou si bangsat tumbak-cucukan itu yang akan kuturunkan menjadi tukang cuci kakus!"

Terharu campur ngeri si komandan mendengar ucapan itu. Ngeri, bagaimana kalau ucapan itu sampai ke telinga Panglima Kang Bun Hou? Sedang terharunya karena ia sadar bahwa caranya menghibur dan membujuk Ni Keng Giau itu berarti mendorong Ni Keng Giau semakin tenggelam ke alam khayalan, dan berarti juga memperlambat kesembuhan jiwanya. Tapi selain dengan cara itu, ia tidak tahu harus pakai cara lain yang bagaimana lagi?

"Baiklah. Tapi besok waktu penyambutan, kau jangan memakai topimu yang ini. Pakai saja topi perajuritmu yang seragam dengan teman- temanmu agar nampak rapi dan seragam.”

"Ya….. ya…… Topi ini memang khusus kupakai pada saat pelantikanku besok."

Sebelum si komandan itu pergi, lebih dulu ia melirik sekejap ke arah topi itu, sambil menggeleng-geleng kepala dan menarik napas. Pada tanggal kedatangan tamu-tamu dari Pak-khia, regu pengawal pintu gerbang sudah siap di tempatnya. Jumlah mereka lebih banyak dari hari-hari biasanya, seragam merekapun nampak lebih rapi. Tetapi karena rombongan yang disambut belum nampak, para perajurit masih bergerombol santai sambil bercakap- cakap.

Tetapi Ni Keng Giau tidak ikut dalam percakapan itu, melainkan terpisah dari mereka. Tombaknya disandarkan tembok kota, ia sendiri berjongkok sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya. Tersenyum-senyum, bahkan berbicara perlahan kepada barisan semut yang sedang merambati tembok.

Para perajurit sudah maklum dan membiarkan saja ulahnya. Ada yang geli, ada ya iba, ada yang acuh tak acuh. Sering perajurit yang iba dengan sukarela mengambilkan ransum jatah dari tangsi, dan ada pula yang sering mentraktirnya arak atau kacang goreng. Secara bisik-bisik para perajurit itu membicarakan si bekas jenderal.

"Ia pasti telah melakukan suatu kesalahan besar, sehingga mendapatkan hukuman seberat itu. Bukan hukuman tubuh, tapi hukuman batin, sehingga jiwanya diombang-ambingkan antara harapan dan kekecewaan, dari hari ke hari tanpa tahu kapan berakhirnya."

"Tentu saja yang didapati hanya ke kecewaan melulu, sebab apa yang di-angan- angankannya tak mungkin menjadi kenyataan, terlalu berkhayal. Tambah hari tambah susah ia menyesuaikan khayalannya itu dengan kenyataan, la seolah hidup di dua dunia."

"Salahnya sendiri. Kalau ia mau menerima kenyataan dengan ikhlas, jiwanya akan cepat sehat kembali."

"Enak saja kau omong, mana bias bersikap sepasrah itu kalau pernah menduduki tempat yang begitu tinggi? Dia mendapatkan itu dengan bersusah-payah, lalu tiba-tiba dilucuti tanpa dia punya persiapan mental. Nah, coba bayangkan, kalau kau yang mengalaminya., barangkali sudah kau ambil tali untuk menggantung dirimu."

"Kasihan ya? Makin hari pikirannya makin kacau, dan kita jadi seperti momong anak kecil."

"Ia masih sering berkata bahwa tidak lama lagi kedudukannya akan dipulih kan. Dan aku...." perajurit yang berbicara itu tiba-tiba tertawa kecil. "…sudah dijanjikan akan menjadi Cong- peng di Hang-ciu ini."

"Astaga, dia juga bilang begitu kepadaku!"

"Lho, aku juga dijanjikan menjadi Cong-peng di kota ini!"

"Berbahagialah rakyat Hang-ciu, bakal mempunyai tiga panglima semacam kalian."

Perajurit-perajurit lainnya tertawa, sementara Ni Keng Giau masih saja berjongkok di tempatnya dengan sikap semula. Sementara itu salah satu "calon Cong-peng" itu melirik sekejap ke arah Ni Keng Giau, lalu berkata, "Nah, kelak kalau aku sudah menjadi Cong-peng kalian minta kujadikan apa?"

Seorang perajurit yang dikenal doyan makan menjawab, "Tolonglah agar aku diangkat menjadi kepala dapur tangsi, seumur hidup."

Tertawa para perajurit itu makin keras, tapi bungkam serempak ketika Ni Keng Giau tiba-tiba berdiri dan melotot ke arah mereka. Sesaat para perajurit bungkam, dan mereka lega kembali setelah pelan-pelan Ni Keng Giau berjongkok. Meskipun dengan suara lebih perlahan, para perajurit itu masih melanjutkan membicarakan Ni Keng Giau. Kata seorang perajurit,

"Dia bukan cuma berangan-angan, tapi bahkan sudah mempersiapkan sebuah topi kebesaran, dan jubah kebesaran pula sebagai pengganti Ui-hong-ih yang dulu diminta kembali oleh Utusan Sribaginda."

"Jubah kebesaran?"

"Ssst, tidak bisakah mulutmu bicara perlahan sedikit? Nanti ia mendengarnya," berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "ya, jubah kebesaran. Kemarin siang kuantar dia membeli kain di tokonya Mao Lopan, kain katun kuning, lalu dijahitnya sendiri karena tidak punya ongkos membayar tukang jahit. Ia menyiapkan jubah itu untuk hari pelantikannya, yang menurutnya tidak lama lagi."

Beberapa perajurit menahan tertawa, beberapa lagi geleng-geleng kepala dengan rasa iba. Ketika itulah percakapan terhenti, karena seorang perajurit berkuda berderap dari luar kota, dan berseru kepada regu pengawal pintu kota itu, "Rombongan tamu dari Ibukota sebentar lagi akan lewat!"

Maka sibuklah si komandan regu mengatur barisannya, terutama membujuk Ni Keng Giau agar bisa ditertibkan. Dan legalah ia ketika melihat Ni Keng Giau ternyata gampang diatur.

Setahun sekali Liong Ke Toh memang mengadakan perjalanan ke daerah-daerah yang dinamainya sendiri "pemeriksaan tahunan", dengan dalih ingin melihat keberesan kerja para pejabat di daerah. Namun beredar desas-desus yang santer bahwa itulah sebenarnya perjalanan mengumpulkan kekayaan yang tidak tanggung-tanggung.

Para pejabat daerah yang khawatir kalau diri mereka diburuk-burukkan di depan Kaisar Yong Ceng, terpaksa harus menyediakan upeti yang pantas kepada Liong Ke Toh. Gara-gara "pemeriksaan tahunan" itulah orang jadi sulit menaksir berapa nilai isi gudang harta Liong Ke Toh di Pak-khia saat itu.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan di arah luar kota Hang-ciu nampak sebuah rombongan yang semakin dekat, nampak pula sehelai bendera yang memanjang kebawah berkibar-kibar. Komandan regu pengawal pintu kota sekali lagi berpesan kepada Ni Keng Giau.

"Ingat, nanti kau harus tertib dan bersikap hormat terhadap rombongan itu. Agar Sribaginda mendapat laporan tentang kepatuhanmu. Kalau kau tidak sopan, kami semua kasihan kalau pangkatmu diturunkan lebih rendah lagi.”

Dan jawaban Ni Keng Giau amat melegakan si komandan, "Baik... baik....aku akan mengikuti saranmu. Jangan khawatir."

Biarpun sudah agak lega, namun si komandan masih cerewet menambahkan lagi, "Biarpun sekarang kau harus berlutut kepada Liong Ong-ya, tapi apa artinya kalau kau segera kembali ke kedudukanmu?"

"Benar.... benar..." para perajurit lain ikut mendukung. Merekapun khawatir kalau penyambutan sampai kacau, jangan-jangan mereka juga akan ikut kena hukuman?

"Di dunia ini mana ada yang lebih bijaksana dari Goan-swe Ni Keng Giau, biarpun calon saudara angkat Sribaginda tetapi mau menghomati orang lain?"

"Itulah watak mulia seorang bangsawan sejati!"

"Yang berhati emas!"

"Sribaginda akan segera tahu bahwa jenderal utamanya yang amat berjasa ini ternyata bukan seorang yang sombong."

Wajah Ni Keng Giau berseri-seri mendengar sanjung-puji itu. Berulang-ulang ia berjanji akan bersikap sehormat-hormatnya. Memang adegan yang janggal, dimana seorang komandan tak mampu menyuruh bawahannya dengan perintah yang tegas, tapi harus memohon-mohon dan membujuk-bujuk, dibantu anak-buahnya yang lain. Tapi maklumlah Ni Keng Giau memang seorang anak-buah yang "istimewa" jadi ya harus ditangani secara istimewa pula.

"Sudah! Sudah!" si komandan cepat menertibkan anak-buahnya. "Rapikan barisan, rombongan tamu agung sudah dekat!"

Kelompok pengawal pintu kota itu-pun berbaris rapi dalam dua deretan di kiri-kanan jalan. Mengambil tempat agak di luar pintu gerbang, berdiri dengan tegap sempurna. Di antara rombongan itu nampak sebuah tandu indah yang dipikul empat orang. Yang mengiringi di kiri kanan tandu itu adalah pejabat-pejabat sipil dan militer kota Hang-ciu, termasuk Kang Bun-hou yang sejak pagi tadi sudi menyongsong di luar kota.

Biarpun pejabat-pejabat Hang-ciu semuanya membawa kuda, namun tidak menungganginya dan hanya dituntun saja. Di depan tandu ada pengawal- pengawal pribadi Liong Ke Toh sendiri, sedangkan di belakangnya ada satu regu perajurit dari Hang-ciu sendiri.

Begitu rombongan mendekati pintu kota, komandan pengawal pintu kota segera menyuruh pasukannya untuk berlutut. Mereka berlutut di kedua tepi jajan.

Liong Ke Toh yang duduk di dalam joli, mengangguk-angguk puas sambil mengelus jenggot putih. Sejauh ini ia puas akan penyambutan dirinya yang begitu rapi. Namun ia agak heran melihat di antara perajurit penyambut itu seorang yang cara berlututnya lain sendiri.

Di jaman Manchu itu, para perajurit berlutut dengan kaki kanan ditekuk ke belakang sehingga lututnya menyentuh tanah, kaki kiri ditekuk pula namun dengan telapak kaki tegap menapak tanah, sedang tangan kanan menyentuh tanah. Namun perajurit yang lain dari yang lain itu melipat dua kakinya ke belakang, tubuh membungkuk sampai jidatnya menyentuh tanah, pantat terangkat tinggi, dua tangan memeluk kepala.

"Berhenti!" perintah Liong Ke Toh.

Rombongan pun berhenti. Si komandan pengawal pintu kota terkesiap, kenapa rombongan tiba-tiba berhenti di pos penyambutan yang menjadi tanggung-jawab nya? Ia mulai curiga, dan diam-diam mencuri pandang dari sikap berlututnya untuk memeriksa barisannya.

Begitu melihat cara berlutut Ni Keng Giau yang "sehormat-homatnya" itu si komandan pun mulai meratap dalam hatinya. Namun tak berani berkutik dari berlututnya. Sudah membayangkan nasibnya, mungkin dirinya akan dipecat. Inilah gara-gara sanjung-puji berlebihan terhadap "jenderal yang bijaksana dan berhati-emas" tadi.

"Mati aku!" keluhnya dalam hati. Jantung si komandan hampir copot rasanya ketika mendengar Ni Keng Giau tiba-tiba berteriak tanpa disuruh,

"Ong-ya! Apakah Sribaginda masih mengingat diri hamba?"

Sekarang kepanikan juga menghinggapi diri Kang Bun Hou. Sungguh celaka kalau sampai Liong Ke Toh menjadi tidak senang oleh kejadian itu, padahal Liong Ke Toh sudah terkenal sebagai tukang fitnah yang akan menjatuhkan si apapun yang tidak disenanginya di depan Kaisar.

Liong Ke Toh menyingkapkan tirai jolinya, alisnya berkerut, dan ia memerintah, "Angkat kepalamu agar kulihat mukamu!"

Ni Keng Giau menengadahkan wajahnya sambil tersenyum lebar. Liong Ke Toh memandang sejenak, lalu tertawa terkekeh-kekeh setelah mengenalinya, “Waduh, inilah pahlawan besar yang tidak ada bandingannya itu? Hampir saja aku tidak mengenalimu, karena sekarang kau agak kurus dan kulitmu agak hitam. Tapi sehat-sehat saja kan?"

Melihat sikap Liong Ke Toh, Ni Keng Giau jadi semakin berani. Bahkan ia lalu berdiri dan berjalan mendekati joli sambil tertawa-tawa, "Ya, aku baik-baik saja, kau sendiri bagaimana? Maaf kalau agak mengganggu perjalananmu ya? Aku cuma mau tanya sedikit."

"Ni Keng Giau, jangan kurang hormat!" Kang Bun Hou dengan panik telah melangkah maju untuk menertibkan Ni Keng Giau dengan tangannya sendiri.

Tapi langkahnya terhenti ketika Liong Ke Toh memberi isyarat dari jendela joli, "Biarkan dia bicara, Cong-peng."

Sedangkan Ni Keng Giau sendiri bersikap seolah-olah ketemu sahabat lama saja. Tombaknya dibuang, dan ia berjalan mendekati joli sambil terus mengoceh, "Aku mau tanya, apakah Sribaginda masih mengingat aku, saudaranya ini? Masih sering membicarakan aku? Kapan Sribaginda mengakhiri ujian kesetiaanku ini? Aku sudah menunjukkan bahwa dirikulah abdi Sribaginda yang paling setia."

"Ujian kesetiaan?" Liong Ke Toh tercengang. "Apa maksudmu?"

"Bukankah yang kualami sekarang ini sekedar ujian kesetiaan buatku? Setelah ini berakhir, bukankah Sribaginda akan mengembalikan aku menjadi....."

Kata-kata Ni Keng Giau yang melambung penuh harapan itu, tiba-tiba terputus oleh suara tertawa Liong Ke Toh yang melengking tinggi, yang mendadak begitu geli sehingga memegangi perutnya.

Ni Keng Giau ikut tertawa pula. "Jangan main-main ah, apanya yang lucu sehingga kau sampai tertawa macam itu?"

"Kau yang lucu!" sahut Liong Ke Toh di sela-sela tertawanya. "Bahkan lucuuu sekali!"

Sejak dulu memang Liong Ke Toh memendam rasa benci luar biasa terhadap Ni Keng Giau, kini tiba-tiba terbuka sebuah peluang untuk menyiksa orang yang dibencinya ini, bukan dengan pedang, tapi dengan lidahnya. Setelah tertawanya mereda, berkatalah ia,

"Ni Keng Giau, jadi selama ini kau hibur dirimu sendiri dengan pikiran macam itu? Kau cuma mengingat-ingat jasa-jasa mu, tapi apakah lupa kesalahanmu yang lebih besar dari jasa-jasamu? Ketika kau secara kurang ajar membawa pasukanmu masuk ke Istana dan mempermalukan Kim Cong-koan, yang berarti juga tidak menghargai Sribaginda sebagai tuan rumah? Lupa? Sudah lupa kalau dari Jing-hai kau mengirim laporan palsu tentang...."

Bicara sampai sini, Liong Ke Toh tiba-tiba menutup mulutnya sendiri. Urusan "membunuh Pangeran In Te" yang hampir terluncur dari mulutnya adalah rahasia istana yang tak boleh sembarangan diucapkan, apalagi di tempat yang banyak orang itu.

Namun kata-kata Liong Ke Toh itu sudah cukup hebat akibatnya bagi Ni Keng Giau. Wajahnya yang berseri-seri itu mendadak menjadi pucat pasi, matanya terbelalak, tubuhnya seolah mendadak beku jadi patung. Penuh rasa tak percaya bibirnya bergetar, "Jadi... jadi... aku... aku terus bagaimana?"

Liong Ke Toh benar-benar menikmati detik-detik pembantaian itu, suaranya lebih dingin dan lebih tak berperasaan dari sehelai pedang, "Ni Keng Giau, lihat perajurit-perajurit di sekitarmu itu. Sekarang mereka semua adalah perajurit-perajurit rendahan, tapi kalau mereka bertugas dengan baik, kelak pangkat mereka akan merambat naik menjadi tui-thio, pa-cong, cian-bu, cam-ciang, hu-ciang, cong-peng, ciang-kun bahkan goan-swe! Tapi khusus untukmu, janganlah berharap macam-macam. Sampai mati, kau akan tetap bertugas di pintu kota ini. Orang lain merambat dari bawah ke atas, sedang kau terjun dari atas ke bawah dan takkan naik lagi. Buang saja semua mimpimu. Pasrah saja dengan kedudukanmu yang sekarang ini. Nah, selamat bertugas."

Ada algojo yang bekerja pada pemerintah, bertugas memenggal orang-orang yang dijatuhi hukuman mati. Algojo macam ini kadang-kadang masih punya rasa kemanusiaan, biarpun tak kuasa menghindari tugasnya. Ada lagi algojo liar, yaitu para pembunuh dan pelanggar hukum yang membunuh orang demi kepentingannya sendiri, tapi ruang gerak algojo-algojo sejenis inipun terbatas oleh hamba-hamba hukum.

Sayangnya, di tengah masyarakat berkeliaran jenis algojo yang ketiga, yang tak jarang bertopeng sebagai tokoh-tokoh terhormat, yang membantai tidak dengan golok tapi dengan lidah, dengan sasaran siapapun yang tidak disenangi. Mereka berkeliaran bebas, bebas pula menikmati permainan lidah mereka yang menjatuhkan serentetan korban. Lidah mereka mahir memotong dan melenyapkan harapan orang lain, orang yang seharusnya mereka hibur dan beri semangat. Algojo-algojo macam ini, kalau melihat korbannya sudah jatuh, biasanya juga pandai berkata, "Ah, kasihan ya dia?” Padahal dalam hatinya amat puas.

Tetapi khusus bagi Ni Keng Giau yang saat itu kena giliran jadi korban, ia sudah memetik buah tanamannya sendiri. Ia menanam benih kebencian, menyuburkannya dengan siraman darah, dan akhirnya juga harus memakan buahnya sendiri. Kata-kata Liong Ke Toh ibarat panah-panah beracun yang menembus jiwanya, menimbulkan kepedihan dahsyat yang sampai tak terasa sebagai kepedihan lagi, bahkan tak terasa apa-apa lagi.

Pengawal-pengawal pribadi Liong Ke Toh segera bersiaga di sekitar jo-li, siap melindungi tuan mereka kalau Ni Keng Giau mengamuk. Namun ternyata Ni Keng Giau tetap berdiri mematung, pandangan matanya kosong, padam. Khayalannya yang melangit, menemui saatnya harus turun ke bumi dan menelan kenyataan. Ambisinya yang berkobar disiram ucapan Liong Ke Toh sehingga padam. Padam. Bahkan Ni Keng Giau tidak berkutik sedikitpun ketika rombongan Liong Ke Toh kembali berkegerak masuk kota. Seolah di depan pintu kota itu sekarang diletakkan sebuah patung.

"Goan-swe.... Goan-swe..." beberapa perajurit rekannya mengguncang-guncang pundaknya sambil memanggil-manggil. Yang merasa paling bersalah ialah si komandan, sebab dialah yang paling banyak membujuk Ni Keng Giau dengan melambungkan angan-angan Ni Keng Giau setinggi langit. Meniupkan harapan yang ternyata gembos. Dia yang meniup, Liong Ke Toh yang menggemboskan.

"Tabahlah, Goan-swe. Jangan putus harapan. Ucapan Liong Ong-ya tadi pasti tidak bersungguh-sungguh, hanya untuk menguji kesabaranmu. Kau sudah bersikap bijaksana karena tidak menunjukkan kemarahan. Sribaginda akan mendapat laporan tentang sikapmu ini dan..." dan seterusnya. Begitulah, untuk memperbaiki akibat buruk suatu kebohongan, terpaksa harus menciptakan kebohongan baru.

"Betul. Kami semua yakin begitu!" para perajurit menghibur.

"Tentu saja harus begitu. Jasa Ni Goan-swe amat besar!"

Demikianlah mereka berebutan menghibur Ni Keng Giau. Tentu saja kata-kata hiburan mereka tidak mampu lebih mendalam dari ucapan-ucapan klise seperti "tabahlah selalu" atau "masih ada harapan" dan lain-lain. Tanpa mereka sadari betapa Ni Keng Giau adalah korban intrik di panggung kekuasaan, intrik yang kejam, dimana sang korban akan selalu tergilas tanpa ampun. Makin tinggi kedudukannya, makin banyak pihak yang bernafsu untuk merobohkannya.

Dan sekali roboh, orang-orang akan beramai-ramai menginjaknya kuat-kuat agar jangan bangkit kembali. Para perajurit yang menghibur itu tidak tahu, kalau Ni Keng Giau yang kini nampak mengibakan itu, dulunya adalah juga "tukang injak" yang bengis bukan kepalang. Karena itulah Ni Keng Giau paham, paham bukan karena belajar teori melainkan karena pengalamannya sendiri dulu sebagai "tukang injak", bahwa harapannya memang sudah habis. Inilah hasil sisa akal sehatnya.

la tidak sekedar sedang menjalani "ujian kesetiaan", tapi benar-benar sudah jatuh seperti korban-korban intrik politik sebelumnya. Ia merasa tak punya apa-apa lagi. Perajurit-perajurit yang menunjukkan belas kasihan itu malah semakin menyadarkan Ni Keng Giau dimana dia berdiri sekarang, sampai-sampai perajurit-perajurit rendahan pun menaruh kasihan kepadanya.

Seandainya dia sadar bahwa menjadi manusia berguna tidak harus berkedudukan tinggi, tukang sapu jalananpun manusia berguna bagi sesamanya. Hal itu dulu sering Ni Keng Giau khotbahkan kepada bawahannya, tapi tak mampu dia khotbahkan buat diri sendiri. Ia tidak sudi di bawah, tapi juga tidak mungkin naik ke atas lagi, la malas melanjutkan, biar sudah bertambah dengan sedikit kearifan. Tidak, la tidak mau kemana-mana lagi. Ia mau berhenti saja.

Perajurit-perajurit yang menghiburnya merasa lega ketika melihat wajah Ni Keng Giau tiba-tiba menjadi tenang sekali. Tidak menangis, tidak mengamuk, justru senyumnya amat jernih, sejernih senyum bayi yang belum mengenal dosa. Para perajurit lega, namun aneh, mereka juga merasa seram. Memandang mata Ni Keng Giau sama dengan menjenguk sebuah lubang yang kosong, gelap, amat dalam, tak ada apa-apanya lagi. Senyuman jernih seperti bayi itu menyeramkan.

Para perajurit bungkam, tercekik suasana aneh. Terpaku mereka melihat Ni Keng Giau tiba-tiba amat cermat merapikan pakaian seragamnya, membersihkan tiap titik debu yang melekat. Katanya dengan lembut dan kedengaran amat waras, "Setiap perajurit harus tetap rapi. Jangan sampai seperti pemabuk yang baru keluar dari warung arak. Bahkan harus tetap rapi di dalam pertempuran yang menghadapi maut sekalipun."

Mata yang kosong itu tiba-tiba ada sedikit sinarnya, seolah menyongsong sesuatu yang amat membahagiakannya. Para perajurit tetap bungkam, masih tercengkam pesona aneh dari diri N i Keng Giau.

Sementara Ni Keng Giau berkata lagi, “Dulu aku selalu menerapkan peraturan kerapian berpakaian bagi semua perajurit."

Tanpa sadar, para perajurit mulai memeriksa pakaian mereka masing-masing dan merapikannya, seolah-olah mereka benar-benar berhadapan dengan seorang jenderal yang memeriksa pasukan. Ternyata, saat itu kewibawaan Ni Keng Giau tiba-tiba mencorong kembali seperti berlian yang habis dibersihkan dari debu yang selama ini menutupnya, dan masih bisa mempengaruhi perajurit-perajurit itu. Atau, seperti nyala lilin yang menyala terang, beberapa detik se belum sumbunya habis.

Namun ketika melihat ulah perajurit perajurit itu, Ni Keng Giau tiba-tiba malah tertawa kecil. "Ah, bukan maksudku menyombongkan kedudukanku yang dulu, yang tak mungkin kembali lagi. Aku sekarang cuma perajurit penjaga pintu kota, seperti kalian, yang tentunya tidak berhak lagi memerintah kalian. Bahkan selama ini tentunya kalian sudah jemu akan sepak-terjangku dan ucapanku bukan?"

"Ah, tidak. Malah kami merasa mendapat perluasan pandangan kami yang tadinya terbatas!"

"Ya syukurlah kalau kalian merasa ada gunanya. Eh, kapan giliran tugas kelompok kita digantikan kelompok berikutnya?"

"Tidak lama lagi. Goan-swe, kenapa mukamu nampak agak pucat?"

"Aku.... aku cuma merasa lelah. Lelaaaaah sekali...."

"Oh, pulanglah dulu ke tangsi. Tidak apa-apa. Nanti kami semua akan membantu menjelaskan kepada komandan tangsi. Apakah perlu diantar?"

"Tidak usah, aku jalan sendiri saja. Terima kasih. Ingat, kalian harus tetap rapi dan berdisiplin ya? Dulu waktu aku masih.... lho, kok malah mau cerita lagi. Sudah ah. Hati-hatilah, teman-temanku, jaga diri kalian baik-baik ya?"

Sebelum pergi Ni Keng Giau masih mengucapkan serangkaian kalimat kacau, lalu melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Kembali para perajurit bergidik melihat senyumannya. Sebelum membelok di tikungan dan terlihat lagi, Ni Keng Giau masih sempat berteriak kearah para perajurit. "Kalian teman-temanku yang baik!"

Dan para perajurit memandangnya dengan terlongong-longong. "Mudah- mudahan dia sembuh...." gumam seorang perajurit.

"Ya. Kadang-kadang kepedihan yang kelewat hebat malah bisa membuat orang macam dia sadar kenyataan, lalu perlahan-lahan sembuh. Kalau angan-angan sudah tidak menguasai jiwanya lagi, kesembuhannya akan sempurna."

Tidak lama kemudian, regu yang akan menggantikan jaga telah datang. Regu yang terdahulu segera pulang ke tangsi. Biasanya, begitu selesai tugas mereka akan langsung menghambur ke warung arak. Namun kali ini mereka seperti digerakkan oleh satu perasaan, pulang semua langsung ke tangsi, tidak ada yang menyeleweng kesana kemari. Semuanya senantiasa ingat kepada Ni Keng Giau yang "hampir sembuh".

Ketika mereka masuk ke ruangan besar tempat puluhan perajurit biasanya tidur, termasuk Ni Keng Giau, para perajurit terkejut karena di ruangan yang kosong mereka tinggalkan jaga itu, mereka menjumpai mayat Ni Keng Giau!

Ni Keng Giau duduk di sebuah kursi, leher dan dadanya bersimbah darah karena lehernya tergorok pedang yang dipegangnya dengan tangan kanan, dan tangan itu kini terkulai ke samping kursi. Ia tidak lagi mengenakan seragam perajuritnya, melainkan "jubah kebesaran" nya yang dibuatnya sendiri dengan jahitan tak keruan. Kepalanya juga memakai "topi kebesaran" dari kertas berhias brodolan ronce tombak dan bulu-bulu ayam yang selama ini dikerjakan sambil berangan-angan. Dengan dandanan itulah dia menyongsong maut.

Para perajurit bungkam. Wajah mereka nampak menahan gejolak jiwa yang tertahan. Mulai oleh si komandan regu, tanpa kata-kata, para perajurit tiba-tiba mengatur diri dalam barisan yarig tertib. Lalu tanpa aba-aba pula mereka berlutut menghormat Ni Keng Giau. Mereka diliputi rasa duka dan masygul, penuh ketidak-mengertian kenapa seorang yang begitu besar jasanya harus mengakhiri hidupnya begitu tragis? Didera jiwanya, sampai digiring agar mencabut nyawanya dengan tangannya sendiri.

Kang Bun Hou segera diberi laporan. Dan sang panglima sendiri menulis surat laporan ke Pak-khia. Di Pak-khia, ketika Kaisar Yong-ceng menerima laporan dari Hang-ciu itu, ia menarik napas sedih juga. Bagaimanapun juga, Ni Keng Giau adalah saudara seperguruannya, pembantunya sejak awal perjuangannya merebut tahta dan mengamankan tahta. Kendati Ni Keng Giau kemudian dianggap terlalu menyaingi kekuasaannya, sehingga perlu disingkirkan, tapi Kaisar Yong Ceng tak membayangkan kalau begitulah akhirnya. Desahnya sambil memegangi kertas laporan dari Hang-ciu itu,

"Yah, cara ini mungkin membuatmu puas, Sute. Karena kesombonganmu, kau mau mati hanya oleh tanganmu sendiri. Seandainya kau dulu tidak menjadi besar kepala dan coba-coba menyaingi kekuasaanku, aku tidak keberatan kau terus mendampingiku selama-lamanya.”

Begitulah, kematian Ni Keng Giau setidaknya "diberi harga" satu helaan napas Sang Putera Langit Yang Agung. Lumayan. Padahal kematian ribuan orang Siau-lim-pai, Hwe-liong-pang, Pek lian-kau, Jit-goat-pang, para pendekar yang diundang ke Hong-thian- lau, bahkan ratusan ribu nyawa di Jing-hai, tidak membuat Kaisar Yong Ceng menarik napas sedih sekalipun.

Tetapi Ni Keng Giau pun segera di lupakan. Sebuah bidak catur yang sudah masuk kotak takkan berarti lagi, tak peduli bidak itu "perajurit" atau "kereta" karena sudah keluar dari papan permainan ya segera dilupakan. Sementara permaianan belum selesai, masih akan ada banyak "bidak-bidak" yang menyusul masuk kotak.

* * * *

Hang-ciu bukan cuma kota bersejarah, tapi juga kota wisata yang memiliki banyak pemandangan indah. Karena itulah Liong Ke Toh betah tinggal di Hang-ciu beberapa hari, selain itu, Liong Ke Toh juga sering menyuruh pengawal-pengawalnya untuk menyamar dan berkeliling kota, agaknya mencari sesuatu. Ketika mendengar tentang kematian Ni Keng Giau, Liong Ke Toh lalu mengadakan pesta sebagai "syukuran", begitulah.

Pada suatu malam, nampak sesosok bayangan berjalan mendekati bangunan sayap kanan gedung Cong-peng-hu, tempat menginapnya Liong Ke Toh dan rombongannya. Ketika hampir sampai ke pintu masuk, orang itupun dihadang oleh pengawal Pegawal pribadi Liong Ke Toh yang galak-galak.

Tapi orang itu nampaknya tidak gentar, malah bertanya dengan nada tidak hormat sedikitpun, "Liong Ke Toh menginap di sini?"

Sikap kurang ajar itu langsung menggusarkan para pengawal, menimbulkan rasa bermusuhan. Mereka menghunus senjata-senjata mereka dan mengurung si kurang ajar itu. "Menyerahlah, bangsat. Kekurang-ajaranmu pantas mendapat hukuman yang berat!"

Orang kurang ajar itu terkekeh dingin, "Aku tidak bermaksud jahat. Tolong bilang saja kepadanya, pihak kami sudah menyetujui usul kerjasamanya yang dulu. Dan sekarang pihak kami menanti kelanjutan urusan itu. Kami menunggu di kuil Ting-kang-bio diluar kota sebelah timur nanti waktunya tengah malam tepat. Kalau Liong Ke Toh ataupun wakilnya tidak datang disaat dan tempat itu, perjanjian batal dan kami bebas berbuat apa saja!"

Kata-kata serba kurang ajar itu membuat para pengawal pribadi Liong Ke Toh gusar. Senjata-senjaia mereka segera melayang ke arah orang itu. Orang itu cuma tertawa dingin menyambut serangan itu, tiba-tiba ia melompat mundur sambil menguraikan rambutnya, bahkan sebagian rambutnya sengaja ditutupkan kedepan wajahnya. Tubuhnya bergetar sejenak sambil memperdengarkan suara gumam rendah dan seram, kedengarannya seperti suara mantera.

Sekitar tubuh orang itu tiba-tiba diliputi asap tebal hitam. Senjata para pengawai terus menikam ke tengah-tengah asap itu, tetapi mereka heran ketika merasa senjata mereka tidak menyentuh apapun. Apalagi ketika asap itu tiba-tiba buyar dihembus angin lokal, ternyata orang tadi sudah tidak ada di tempatnya.

Para pengawal Liong Ke Toh tercengang. Mereka mengepung melingkar dengan ketat, kalau orang tadi keluar dari kepungan, tentunya akan ada yang melihatnya atau merasakannya. Nyatanya tidak satupun dari mereka bisa menyebut kapan dan bagaimana cara perginya orang itu. Padahal pengawal-pengawal Liong Ke Toh itu adalah pesilat-pesilat yang tidak lemah.

"Jangan-jangan... yang tadi itu adalah makhluk halus?" kata seorang pengawal sambil orang itu cuma tertawa dingin menyambut serangan itu, tiba-tiba ia melompat mundur sambil menguraikan rambutnya, bahkan sebagian rambutnya sengaja ditutupkan ke depan wajahnya. meraba-raba tengkuknya sendiri yang mulai merinding.

"Jangan-jangan... sahut yang lainnya ragu- ragu. "....jangan-jangan Ni Keng Giau?"

Para pengawal itu tahu, antara Ni Keng Giau dan majikan mereka Liong Ke Toh saling membenci. Kemudian mereka mendengar Ni Keng Giau mati bunuh diri, yang menurut kepercayaan arwahnya akan terus berkeliaran. Tidak heran kalau muncul dugaan berbau tahayul itu.

"Mungkinkah arwahnya masih gentayangan dan ingin mencari Ong-ya?"

"Kata-katanya tadi perlu kita sampaikan kepada Ong-ya atau tidak?"

"Saat ini Ong-ya sudah beristirahat, mana berani kita membangunkan hanya untuk memberitahu urusan aneh ini?”

"Urusannya memang aneh tapi penting bahkan mungkin gawat. Siapa tahu benar-benar ada roh gentayangan yang mengincar keselamatan Ong-ya? Kalau Kita beritahu Ong-ya, bukankah bisa di ambil tindakan pencegahan."

Para pengawal itu berunding sejenak dan kemudian menunjuk salah seorang untuk melapor kepada Liong Ke Toh...
Selanjutnya,