Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 08 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 08

Karya : Stevanus S P

Sikap acuh tak acuh para perajurit itu meluapkan darah Ni Keng Giau. Tiba-tiba ia melompat turun dari kuda sambil menghunus pedang. Sekali sabet, dua perajurit dirobohkannya. "Hukuman mati bagi yang tidak menghormati Bangsawan It-teng-kong!" teriaknya.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Para perajurit tidak menjadi takut, malahan mereka semua gusar. Tanpa pikir panjang merekapun meladeni Ni Keng Giau berkelahi dengan senjata. Begitulah, di situ terjadi pertempuran hebat. Dentang-denting senjata terdengar nyaring di malam sunyi itu.

Ni Keng Giau tak menduga kalau perajurit-perajurit itu malah semakin berani. Terpaksa dia pun membela diri, baik dengan pedangnya maupun dengan mulutnya yang tak henti-hentinya menyebutkan sederetan tanda pangkatnya, gelarnya jasa-jasanya. Yang tidak dipedulikan oleh para perajurit.

Ni Keng Giau adalah saudara seperguruan Kaisar Yong Ceng, sama-sama murid mendiang Pun-bu Hwe-shio yang berilmu tinggi. Mestinya kalau cuma menghadapi beberapa perajurit penjaga pintu gerbang itu Ni Keng Giau tidak perlu mengalami kesulitan. Tapi dalam beberapa tahun terakhir Ni Keng Giau tak pernah lagi latihan sungguh-sungguh, lapisan-lapisan lemak sudah bertimbun-timbun di sudut-sudut tubuhnya.

Selama ini memang ia beranggapan bahwa seorang jenderal tak perlu latihan silat, kerjanya cuma menunjuk-nunjuk di atas peta dan memberi perintah, lalu para perajuritlah yang maju. Karena itu, gerak-gerik Ni Keng Giau kini amat lamban. Sebentar saja ia sudah terengah-engah menghadapi lawan-lawannya, biarpun nama besar Pun-bu llwe-shio pernah diakui sejajar dengan mendiang Ketua Hwe-liong-pang Tong lam Hou, tapi silat adalah ketrampilan praktek, bukan mengadu nama guru siapa yang lebih terkenal.

Beberapa perajuril lagi datang dan menambah beban kesulitan Ni Keng Giau. Di antara mereka ada yang sanak keluarganya orang Tan-liu lelah menjadi korban kesewenang-wenangan Ni Keng Giau atau pengawal-pengawalnya. Ada yang adik perempuannya diperkosa pengawal Ni Keng Giau, atau pamannya dibunuh dan sebagainya. Kemarin masih tak berani membalas, tapi sekarang apa yang mereka takuti?

Ni Keng Giau tambah resah. Disela-sela napasnya yang ngos-ngosan, ia masih berteriak-teriak, "Kalian benar-benar gila, tidak tahu bagaimana menghormat seorang bangsawan! Kalau kulaporkan kepada Sribaginda, pasti lenyaplah batok kepala kalian sekeluarga!"

"Kalau mau lapor, kepada Giam-lo-ong (Raja Neraka) saja!" ejek seorang perujurit. "Senjataku bisa mengantarmu ke sana."

Berturut-turut N i Keng Giau mendapat luka dipundak dan di betisnya.Perajurit yang lain lagi berkata, “Kami di Tan-liu sudah punya pelatih sendiri yang tidak secongkak kau. Lebih baik kalau mau sewenang-wenang di Hang-ciu sana, di daerah wewenangmu sendiri!"

Kata-kata itu menghempaskan Ni Keng Giau dari langit angan-angan ke bumi kenyataan yang amat pahit. Pikirannya tiba-tiba jadi kacau, dan kembali tubuhnya mendapat beberapa luka tambahan. Untunglah, sebelum Ni Keng Giau habis dihajar perajurit-perajurir yang marah, itu, muncul tiga orang anggota Ci-ih Wi-kun dari arah jalan ke Balaikota. Di antaranya nampak Su-ma Hek-long.

"Hentikan!" perintah Su-ma Hek-long melihat perkelahian dekat pintu gerbang itu.

Para perajurit tidak berani membantah perintah para anggota Ci-ih Wi-kun, yang hari itu terasa sebagai dewa-dewa pembawa berkah bagi penduduk Tan-liu. Para perajurit pun berlompatan mundur menjauhi Ni Keng Giau yang sudah luka-luka dan kecapaian itu.

"Kenapa sampai ada ribut-ribut seperti ini?" tanya Su-ma Hek-long.

Salah seorang perajurit menjawab mewakili teman-temannya, "Dia hendak keluar kota tanpa ijin. Katanya hendak ke Pak-khia. Kami mencegah, tapi dua orang teman kami menjadi korban!"

Sementara itu, Ni Keng Giau tidak mau kalah suara oleh perajurit-perajurit itu, "Perajurit-perajurit rendah ini berani bersikap tidak tahu adat terhadap seorang bangsawan macam aku! Hukuman mati pantas buat mereka!"

Su-ma Hek-long mengerutkan alisnya ketika melihat Ni Keng Giau masih saja mengenakan jubah kebesarannya. Jawabnya, "Tak akan ada hukuman bapi perajurit-perajurit yang menjalankan tugas dengan baik. Ni Keng Giau, kau sudah membuat keributan. Maka malam ini lebih baik kau menginap di Balaikota, agar lebih gampang kami awasi sebelum berangkat ke Hang-ciu."

"Su-ma Hek-long! Kau pun ikut-ikutan kurang ajar terhadapku? Ingat siapa aku ini, seorang yang diberi gelar oleh Sribaginda sendiri, dan..."

"Apakah Titah Baginda yang dibacakan siang tadi itu masih kurang jelas bagimu, Ni Keng Giau? Kau sekarang adalah pelatih di Hang-ciu dan tidak lebih dari itu!" ucapan Su-ma hek long ibarat seember air dingin yang diguyur kan untuk menyadarkan seorang yang tengah bermimpi indah agar bangun. "Bawa dia ke Balaikota!"

Dua jago Ci-ih Wi-kun mendekati Ni Keng Ciau dengan sikap waspada, sebab Ni Keng CJiau masih memegangi pedang. Namun ternyata Ni Keng Giau masih berdiri terlongong-longong, tidak melawan ketika pedang itu diambil dari tangannya, kemudian Ni Keng Giau sendiri digandeng pergi seperti orang ling-lung.

Ternyata Su-ma Hek-long punya persamaan watak dengan Kim Seng Pa, yaitu senang menginjak-injak orang yang lagi menderita. Perintahnya kepada kedua anggota Ci-ih Wi-kun ini, "Buat apa seorang pelatih memakai jubah sebagus itu? Copot jubahnya!"

Kali ini Ni Kong Giau meronta, ketika jubah kebanggaannya hendak direnggutkan dari tubuhnya dengan cara kasar, tapi ia tak sanggup menghalangi kemauan kedua jago Ci-ih Wi-kun itu. Bahkan karena Ni Keng Giau meronta, jubahnya malah robek-robek. Ni Keng Giau menangis tanpa suara ketika jubah itu berpisah dari tubuhnya. Lalu ia diseret menuju Balaikota, dan jubahnya ditinggalkan terpuruk begitu aja di tanah, dekat pintu gerbang itu.

"Jubah, yang bagus," komentar seorang perajurit. "Kita buang sajakah?"

"Kebetulan isteriku sedang bingung karena tidak punya lap dapur, cuma sepotong kecil saja kok."

"Dan anak perempuanku butuh selimut untuk kucingnya."

"Dan anak laki-lakiku minta dibuatkan bendera-benderaan. Bagian jubah yang ada gambar sulamannya ini bagus sekali kalau dipotong segitiga, nanti tinggal kucarikan kayu tangkainya."

"Cari gunting, jangan rebutan!"

Begitulah jubah si bangsawan yang malang itu lalu digunting-gunting. Ada yang jadi lap dapur, ada yang jadi selimut kucing, bendera- bendera, ada pula yang sekedar ingin memiliki secarik kecil sebagai kenang-kenangan atas seorang tokoh kelahiran Tan-liu.

Guntingan-guntingan yang tak terpakai lalu dibiarkan bertebaran begitu saja, sebagian tersapu angin dan masuk parit di pinggir jalan. Besok kalau tempat itu mulai ramai dilewati orang, bekas jubah itu akan diinjak-injak orang, dikencingi dan diberaki sapi, kuda atau keledai yang lewat di situ. Menjadi se pihan-serpihan gombal belaka.

* * * *


Di kota sekecil Tan-liu, kabar "hebat" seperti kejatuhan Ni Keng Giau beredar lebih cepat dari jalannya angin. Bermula dari bujang-bujang orangtua Ni Keng Giau yang selama ini ‘'kenyang" dibentak, digampar atau ditendang oleh Ni Keng Giau, bahkan ada yang dibunuh. Merekalah yang menyiarkan kejadian itu.

Akhirnya seluruh penduduk Tan-liu mendengarnya dan merata pulalah kegembiraan. Bahkan perayaan Tahun Baru pun belum pernah dirayakan segembira itu, karena hari jatuhnya Ni Keng Giau dianggap sebagai “hari kemerdekaan".

Pagi itu, Ni Keng Giau dikawal delapan anggota Ci-ih Wi-kun keluar dari gedung Balaikota dan siap melakukan perjalanan ke Hang-ciu. Dua tokoh tertinggi Ci-ih Wi-kun, Kim Seng Pa dan Toh Jiat-hong, tidak ikut, sebab mereka berdua sudah lebih dulu kembali ke Pak khia untuk melaporkan hasil kerjanya kepada Kaisar Yong Ceng. Sedangkan pimpinan pengawalan itu dipegang tokoh ketiga Ci-ih Wi- kun, Sat Siau-kun yang berjulukan Tiat-jiau-hui- ho (Rubah Terbang Berkuku Besi).

Ketika mengetahui pemberangkatan itu, penduduk Tan-liu kembali berjejal-jejal di tepi jalan yang akan dilewati, tepat seperti hari kedatangan Ni Keng Giau dulu. Para perajurit terpaksa dikerahkan ke jalanan untuk menahan gejolak massa yang marah itu. Riuh-rendah suara teriakan agar Ni Keng Giau digantung, dicincang, dibakar dan entah diapakan lagi.

Dan ketika rombongan yang mengawal Ni Keng Giau lewat, beterbanganlah batu, buah- buahan busuk, telur busuk, potongan kayu, arang, sepatu bejat, bakiak, bangkai tikus dan seribu satu benda tak terhormat lainnya ke arah Ni Keng Giau. Ni Keng Giau sendiri menunggangi seekor kuda dengan mata kosong hampir tak berkedip. Bahkan ia seolah tidak sadar ketika sebutir telur busuk mengenai jidatnya dan “menetas" di mata.

Nampaknya saja wajah Ni Keng Giau dingin dan acuh tak acuh, padahal kekecewaan yang hebat melukai jiwanya amat parah. Susah-payah dia mencoba menentukan jawabnya, kenapa bisa begini? Bukan jawaban yang ditemukan, malahan kebingungan yang membuat otaknya tambah sakit.

Pengawal-pengawal Ni Keng Giau sudah menghilang semua, tak satupun muncul untuk membela junjungannya. Kalau sebatang pohon roboh, maka burung-burung yang bersarang di pohon itupun akan bubar semua untuk mencari pohon baru. Beberapa dari pengawal-pengawal itu kurang beruntung. Biarpun mereka sudah menyamar ketika berusaha keluar dari Tan-liu, namun ada juga yang ketahuan, lalu dipukuli penduduk Tan-liu sampai mati.

Sementara para jagoan Ci-ih Wi-kun yang ditugaskan membawa Ni Keng Giau sampai ke Hang-ciu itu, berkuda agak jauh dari Ni Keng Giau, supaya tidak ikut kena lemparan telur busuk dan lain-lainnya. Di antara orang-orang yang berjejalan di pinggir jalan itu, terdapat pula In Kui Liong dan Wan Lui, tapi mereka tidak ikut melempar-lempar.

"Wan-heng,perhitunganku tentang kejatuhan Ni Keng Giau tepat bukan?” bisik In Kiu Liong bangga, berusaha menimbulkan kekaguman Wan Lui.

Wan Lui yang masih agak polos itu memang sedikit kagum, "Bagaimana Toa-ko bisa memperhitungkan setepat itu?"

"Dasar perhitunganku ialah sifat dari Kaisar keparat itu. Ketika kedudukannya masih belum kokoh karena banyak musuh, ia membutuhkan banyak pembantu umuk melenyapkan musuh-musuhnya, telah musuh-musuhnya habis, ia akan ketakutan terhadap pembantu-pembantunya sendiri yang menjadi kelewat berkuasa, khawatir kalau mereka menyaingi kekuasaannya. Ni Keng Giau merasa dirinya disayangi Kaisar, makin lama makin besar kepada dan sepak-terjangnyapun tak terkendali lagi. Tanpa disadarinya kalau sikap itu seperti mengalungkan jerat ke lehernya sendiri."

"Apakah watak Kaisar selalu seperti itu? Hanya menghargai pembantunya kalau masih dibutuhkan, dan setelah tidak dibutuhkan lagi lalu disingkirkan?"

"Aku kelak tidak begitu," jawaban In Kiu l.iong terluncur begitu saja dari mulutnya, namun ketika sadar telah kelepasan bicara, buru-buru In Kiu Liong membungkam mulutnya sendiri.

Sedang Wan Lui telah menolehnya dengan wajah heran, dan In Kiu Liong jadi kikuk. "Apa tadi Toa-ko bilang? Aku tidak mendengar, karena suara orang di sini begitu ribut."

"Ah, bilang apa? Lihat, Tontonan yang menarik bukan?"

"Apa menariknya melihat seorang bekas pembesar yang turun kursi lalu dilempari telur busuk?"

"Wan-heng, berpikirlah lebih mendalam sedikit, apa yang di balik peristiwa ini? Tersingkirnya Ni Keng Giau berarti hilangnya satu pembantu tangguh bagi raja jahat itu, nah, bukankah berarti menguntungkan perjuangan kita kelak?"

Wan Lui mengangguk-angguk. "Mari, Wan heng, kita ikuti Ni Keng Giau sampai ke Hang-ciu. Kita lihat peristiwa apa lagi yang bakal terjadi di sekitar dirinya, siapa tahu peristiwa-peristiwa itu mencerminkan perkembangan di Pak-khia untuk dijadikan per hitungan langkah kita?"

Wan Lui tidak begitu berminat atau terpengaruh tiap kali In Kiu Liong bicara soal "perjuangan" karena Wan Lui tidak yakin. Kalau ia bersama In Kiu Liong, tak lain hanyalah mengharapkan bisa bertemu dengan gurunya, Pak Kiong Liong.

"Toa-ko, kalau kita ikuti mereka sampai Han-ciu, apakah ada kemungkinan bertemu dengan Kakek Pak Kiong Liong?"

"Ada kemungkinannya, Wan-heng. Sebab Ni Keng Giau itu orang penting, jatuh bangunnya dia menarik perhatian banyak pihak, dan gurumu mungkin sekali adalah salah satu dari pihak-pihak itu." In Kiu Liong mengucapkan hal itu agar Wan lui mau ikut dan bisa diperalat, namun membayangkan betapa akan bertemu dengan Pak Kiong Liong, ia jadi merinding sendiri.

"Kalau begitu, marilah Toa-ko."

Jadilah mereka berdua membuntui rombongan Ni Keng Giau dari kejauhan. Karena rombongan itu berkuda, In Kiu Liong terpaksa membeli dua ekor kuda, untuknya dan untuk Wan Lui. Hari pertama dan kedua, antara yang dibuntuti dan yang membuntuti tidak terjadi apa-apa. Juga nampaknya tidak ada pihak lain yang "berkepentingan” dengan Ni Keng Giau seperti perhitungan In Kiu Liong. Wan Lui harus menahan diri agar tidak mengeluarkan gerutuan kesalnya.

Hari ketiga. Selagi In Kiu Liong dan Wan Lui berkuda dengan santai, membuntuti rombongan Ni Keng Giau dari kejauhan, tiba-tiba dari belakang mereka berdua malah terdengar derap kuda yang dipacu kencang, makin lama makin dekat. Ketika Wan Lui menoleh, nampaklah tiga penunggang kuda dari arah yang sama dengan arahnya tadi.

Setelah lebih dekat lagi, bisa lebih jelas bahwa mereka ternyata terdiri dari dua orang pemuda yang nampaknya sepasang saudara kembar dan seorang gadis. Ketiga-tiganya memakai pakaian ringkas yang lazim dikenakan oleh kaum pendekar pengembara, bahkan dari belakang pundak-pundak mereka ju ga nampak mencuat gagang pedang-pedang mereka.

Wan Lui segera meminggirkan kudanya, namun saat itulah dia terkejut melihat kuda In Kiu Liong ternyata sudah tak berpenunggang entah sejak kapan. Entah ke mana pula perginya teman seperjalanannya, menghilang begitu saja tanpa bilang apa-apa. Maka terpaksa Wan Lui yang harus meminggirkan kuda temannya itu.

Sepasang pemuda kembar penunggang kuda itu berumur kira-kira setahun atau dua tahun lebih muda dari Wan Lui. Sedang si gadis berusia sekitar sembilanbelas atau duapuluh, caranya menguncir rambut masih seperti kanak lanak saja, dikuncir dua. Matanya bulat dan indah, keseluruhan penampilannya menimbulkan kesan lincah dan riang, namun karena menggendong pedang, jadi agak angker juga. Sesaat Wan Lui terpesona menatap gadis ini.

Ketika baru saja melewati Wan Lui, tiba-tiba salah satu pemuda kembar itu berteriak, "Berhenti!" Lalu menarik kekang kudanya kuat-kuat, sehingga kuda itu meringkik sambil mengangkat kaki depan tinggi-tinggi. Detik berikutnya kudanya sudah diputar menghadapi Wan Lui.

Kedua teman seperjalanannyapun berhenti. Mereka semua heran melihat Wan Lui yang hanya sendirian itu menuntun dua ekor kuda. Sedang Wan Lui sendiri agak menyesali dirinya, kalau tahu di tengah perjalanan bakal bertemu gadis secantik ini, mestinya tadi ia sedikit berdandan merapikan diri.

"Maaf, sobat, kami mau numpang tanya," kata salah satu pemuda kembar kepada Wan Lui sambil membungkuk hormat. Biarpun kembar, yang menanyai Wan Lui itu nampak lebih sabar, lebih tenang dari saudaranya yang kelihatan agak tidak sabaran dan selalu gelisah itu. "Sobat, apakah tadi melihat rombongan orang-orang berkuda berseragam satin ungu, mengawal seorang laki-laki?"

Tak pelak lagi, yang ditanyakan itu adalah rombongannya Ni Keng Giau. Wan Lui yang agak heran, ada hubungan apa orang-orang muda ini dengan Ni Keng Giau si "bintang yang sedang jatuh" itu? Namun dijawabnya juga, "Betul. Mereka ke arah tenggara."

"Terima kasih!" si penanya memberi hormat, lalu memutar kudanya. Sesaat kemudian, ketiga orang muda itu sudah berderap menjauh dengan meninggalkan debu yang mengepul tinggi.

Setelah ketiga orang itu jauh, In Kiu Liong melompat keluar dari balik semak-semak di pinggir jalan. Wajahnya nampak agak tegang menatap ketiga penunggang kuda yang menjauh itu, namun ketika menghadapi Wan Lui, ia kembali mencoba bersikap wajar.

"Toa-ko, kenapa tadi kau bersembunyi?" tanya Wan Lui.

"Bersembunyi? Ah, tidak. Aku tadi cuma mendadak ingin kencing, lalu pergi ke balik semak-semak itu," In Kiu Liong berdalih sambil tertawa-tawa.

Namun Wan Lui tak bisa menelan jawaban itu begitu saja. "Apakah toa-ko kenal ketiga penunggang tadi?"

"Kelihatannya cuma siswa-siswa sebuah perguruan silat yang sedang keluar untuk mencari pengalaman. Apa anehnya?"

"Mereka mengejar rombongan Ni Keng Giau."

"Mm...." cuma begitu jawaban In Kiu Liong, kelihatan benar-benar enggan membicarakan ketiga orang muda tadi.

"Jadi Toa-ko tidak kenal mereka?"

"Tidak."

"Eh, aku juga mau kencing sebentar," kata Wan-lui tiba-tiba. Diapun melompat turun dari kuda, lalu melangkah ke balik semak-semak darimana In Kiu Liong muncul tadi. Wan Lui benar-benar buang air kecil di situ, namun sambil memperhatikan tempat dibalik semak itu. Ternyata tidak ada tanah yang basah seperti habis dikencingi, kering semua. Itu artinya In Kiu Liong telah berdusta.

"Kenapa soal sekecil ini saja harus membohongi aku?” tanya Wan Lui sambil membenahi celananya. "Jangan-jangan segala hal yang dikatakannya kepadanya juga banyak bohongnya?"

Pergaulan beberapa hari dengan In Kiu Liong, memang membuat Wan Lui semakin tidak percaya, gerak-gerik In Kiu Liong terlalu terselubung. Namun untuk sementara Wan Lui merasa tidak ada salahnya bersama-sama sebagai teman seperjalanan.

Merekapun melanjutkan perjalanan dengan maksud semula, membuntuti Ni Keng Giau. In Kiu Liong ingin melihat nasib Ni Keng Giau guna meramalkan gejolak politik yang akan tiba. Seperti para ahli nujum memeriksa jatuhnya bilah-bilah bambu yang sudah dikopyok.

Ketika sore tiba, mereka tiba di sebuah desa kecil. Sebuah tempat yang cuma terdiri dari satu jalan lebar ditengah, dan deretan bangunan di kiri kanannya. Di belakang deretan rumah tak ada rumah lagi, cuma lereng pegunungan. Tapi tempat kecil itu komplit juga dengan beberapa rumah penginapan, warung makan dan beberapa toko kecil yang terutama menjual perlengkapan para musafir.

Ketika Wan Liu bertanya kepada seseorang, ia mendapat keterangan bahwa rombongan Ni Keng Giau juga berhenti di situ, memborong salah satu penginapan gaya desa. Maka ln Kiu Liong dan Wan Lui juga memutuskan untuk menginap semalam di tempat itu.

"Bagaimana kalau kita ambil penginapan yang berseberangan dengan tempat rombongan Ni Keng Giau, supaya lebih leluasa mengawasi gerak-gerik mereka?'’ usul Wan Lui sambil menuntun kudanya memasuki desa.

"Baik," sahut ln Kiu Liong tanpa pikir panjang.

Tapi setelah mereka tiba di depan penginapan yang dimaksud, niat ln Kiu Liong dibatalkan secara mendadak. Soalnya di bagian depan dari penginapan yang dimaksud, In Kiu Liong melihat tiga ekor kuda yang ditambatkan di situ dikenalinya sebagai kuda-kuda tunggangan tiga pemuda yang tadi bertemu dijalanan. Rupanya ketiga pemuda itupun mengambil tempat tepat di sebarang penginapan Ni Keng Giau dan rombongannya.

Karena itu, ketika Wan Lui hampir saja berbelok masuk, In Kiu Liong mencengkeram lengan Wan Lui sambil berdesis dengan nada panik, "Tidak, Wan-heng.... jangan di sini!"

"Kenapa?"

"Pokoknya tidak di sini!" hanya itu yang dikatakan ln Kiu Liong sambil buru-buru menuntun kudanya menjauhi tempat itu.

Terpaksa Wan Lui harus mengikutinya, sebab ia tidak mengantongi uang sepeserpun, dan semua biaya perjalanan selama ini ditanggung ln Kiu Liong. Gerak-gerik ln Kiu Liong itu juga mengherankannya. Di satu saat bersikap seperti jagoan yang gagah berani dan serba dingin menghadapi sesuatu, namun di lain saat mirip sekali maling amatiran yang baru pertama kali nyolong. Serba gugup dan ketakutan.

Mereka akhirnya mendapat penginapan yang tidak bcrseberangan, tapi bersebelahan tepat dengan tempat penginapan Ni Keng Giau. Tempat itu penuh dengan manusia-manusia seperti pedagang keliling, pesilat tanpa kelas, pengantar barang dan sebagainya.

"Toa-ko, tadi toa-ko bilang tidak kenal orang-orang muda penunggang kuda tadi, namun kulihat sebenarnya toa-ko sudah kenal mereka," dasar bocah gunung, cara Wan Lui mengutarakan keheranannya juga langsung saja, tidak berbelit-belit. Mereka berdua tengah bersantap malam di dalam kamar mereka yang ada di bagian belakang.

In Kiu Liong mengerutkan alisnya, "Bagaimana kau sampai kepada pikiran sejauh itu, Wan-heng?"

"Kusimpulkan dari sikap Toa-ko sendiri. Toa-ko seperti enggan berpapasan dengan mereka, selalu menghindar. Kalau Toa-ko benar-benar tidak kenal mereka, kenapa bersikap demikian?"

Wajah In Kiu Liong kelihatan gusar. Sama gusarnya dengan wajah seorang ayah yang kolot ketika mendengar pertanyaan anaknya yang polos "darimana datangnya adik?" Jawabnya kepada Wan Lui, "Itu urusan yang tidak ada sangkut pautnya denganmu, Wan-heng."

Wan Lui menarik napas dan berpikir. "Begitu bersemangat Toa-ko membuntuti Ni Keng Giau untuk melihat nasib akhirnya. Ini pasti bukan dorongan rasa ingin tahu biasa, pasti ada tujuan lain yang dia anggap begitu penting. Namun dia tak pernah mau berterus terang ke padaku."

Di desa kecil itu, begitu matahari tenggelam, maka kesunyian menyerbu dan mengusai suasana. Suara manusia cepat menghilang, digantikan suara serangga-serangga malam dari lereng bukit. Dari balik bukit bahkan terdengar lolongan kawanan serigala bersahutan.

Sepasang kelopak mata Wan Lui hampir saja direkat oleh kantuk, namun telinganya yang tajam tiba-tiba menangkap bunyi halus yang membuatnya terjaga kembali. Bunyi tepat di atas kepalanya. Suara telapak kaki yang dengan lembutnya menginjak genteng, begitu lembutnya, sehingga Wan Lui pun hampir tidak mendengarnya.

Perlahan-lahan Wan Lui bangkit dari pembaringannya, memasukkan kedua kakinya bergantian ke sepatunya, lalu hendak melangkah keluar. Namun terdengar suara In Kiu Liong dingin dari bawah selimutnya, "Rasanya kita tidak perlu ikut campur dalam urusan yang tidak bersangkut paut dengan kita, Wan-heng."

"Cuma sebagai penontonkan tidak ada salahnya?"

"Sebagai penonton pun sebaiknya jangan. Sering seorang penonton pun tiba-tiba terseret masuk ke dalam persoalan itu, diluar kemauannya sendiri. Tidur sajalah, Wan-heng."

Wan Lui jadi merasa tidak senang mendengar suara bernada memerintah itu. "Maaf, Toa-ko, seingatku aku belum pernah berjanji untuk menjadi bawahanmu yang lurus tunduk kepada perintahmu bukan?"

Habis berkata demikian, terus saja Wan Lui melangkah keluar. Di luar, awan mendung membuat langit jadi hitam sehitam-hitamnya, sehingga sekiranya tak ada cahaya lampion di beberapa sudut, suasana tentu akan seperti dalam peti mati yang sudah ditutup.

Begitu keluar dari kamar, Wan Lui tidak langsung ke tengah-tengah halaman terbuka, melainkan merapatkan diri kedinding, menyembunyikan kehadirannya di bawah bayangan pinggiran atap. Di dengarnya suara langkah lembut itu sekarang di atas genteng bangunan sayap kanan, maka Wan Lui menyusur tembok menuju ke kiri. Sampai akhirnya pandangan matanya bebas menyeberangi halaman dan melihat ke atas genteng bangunan sayap kanan.

Nampak tiga sosok bayangan sedang mendekam di atas genteng, ketiga-tiganya memakai ya-hing-ih (pakaian pengembara malam) yang serba hitam dan ringkas, lengan pedang-pedang tergendong di punggung mereka. Yang membangkitkan minat Wan Lui ialah ketika melihat salah satu bayangan itu biarpun membelakangi dan tak nampak wajahnya, namun ada sepasang kuncir rambutnya. Wan Lui langsung menduga kepada gadis berkuncir dua yang ditemuinya siang tadi, dan yang dua lagi pun mudah ditebak, tentunya sepasang pemuda kembar itu.

"Mungkinkah mereka sedang mengintip rombongan Ni Keng Giau?" Wan Lui menduga-duga dalam hati.

Terlihat ketiga orang itu saling bicara dengan bahasa isyarat tangan. Salah satu pemuda kembar menuding-nuding ke penginapan sebelah, namun saudara kembarnya nampak menggoyang-goyang tangan untuk mencegah. Tapi yang dicegah tidak menurut, ia malah melingkarkan kuncir rambutnya ke leher agar tidak mengganggu, lalu menghunus pedang nya. Saudara kembarnya masih berusaha mencegah, namun tidak digubris.

Pemuda yang berangasan itu tidak sekedar mengintai lagi, tapi muncul secara terang-terangan, la melompat turun ke halaman penginapan sambil ber teriak, "Ni Keng Giau, pembunuh biadab! Terimalah pembalasan kami!"

Lalu dari halaman sebelah terdengar suara pertempuran, senjata-senjata yang berdencingan gencar. Si kembar yang satu lagi dan si kuncir dua agaknya tidak tega membiarkan si kembar pertama tadi menghadapi bahaya seorang diri, maka merekapun terpaksa berlompatan masuk ke halaman penginapan sebelah, sambil menghunus pedang-pedang mereka.

Suara pertempuran di halaman penginapan sebelah itupun jadi amat ramai. Wan Lui mulai tertarik untuk melihat, tapi lebih dulu ia memperhitungkan tempat. Dilihatnya di bagian belakang bangunan sayap kanan itu ada ranting-ranting pohon berdaun rimbun yang menjulur dari luar dinding halaman. Tempat itu bagus untuk mengintai.

Sesaat Wan Lui mengatur pernapasan dan mengumpulkan semangat. Kakinya tiba-tiba tertekuk sedikit lalu menjejak tanah, melakukan gerakan Hui-niau-jip-lim (burung terbang ke hutan). Tubuhnya seperti panah lepas dari busurnya, membuat gerak lengkung di atas halaman menyeberanginya, dalam satu detik sudah mendarat ringan di belakang rimbunnya dedaunan yang menaungi genteng itu. Seandainya ada suara kakinya ketika menyentuh genteng, tentu suara itu tak lebih keras dari suara sehelai kertas yang jatuh ke permukaan meja.

Dari tempat itulah Wan Lui melihat di halaman penginapan sebelah memang telah terjadi pertempuran seru. Tiga orang muda tadi menghadapi enam orang anggota Ci-ih Wi-kun. Ni Keng Ciau juga nampak dipinggir arena, berdiri dengan sikap anggun seolah-olah masih dalam kedudukannya yang belum dilucuti.

Sementara ketiga orang muda itu masing-masing harus menghadapi dua orang lawan. Ternyata mereka bertiga menunjukkan ketangguhan silat mereka biarpun lawan-lawan mereka pun adalah anggota-anggota Ci-ih Wi-kun, orang-orang yang dipilih oleh Kaisar sendiri.

Ketika Wan Lui memperhatikan lebih cermat ilmu silat orang-orang muda itu, nampak bahwa aliran silat sepasang pemuda kembar itu berbeda dengan aliran silat si gadis berkuncir dua, padahal tadinya Wan Lui mengira mereka bertiga adalah satu perguruan. Ternyata tidak.

Dan di antara pernuda kembar itu, biarpun satu aliran ternyata masih bisa dibedakan gaya tempur mereka. Yang satu terlihat kuat dan ganas dalam menyerang, seperti gelombang lautan yang didorong badai. Serangannya bertubi-tubi dan mengalir tanpa putus, memaksa kedua lawannya lebih memusatkan diri untuk bertahan daripada menyerang.

"Kalau gaya bertempur ini bisa lama dan tidak segera menghabiskan tenaga, tentunya pemuda ini hebat juga, diam-diam Wan Lui menilai dalam hati.

Sedangkan saudara kembarnya bertempur dengan tenang, kokoh, nampak bertahan rapat dan tidak tergesa-gesa, la nampak sekokoh sebuah bukit batu, biarpun serangannya tidak segencar saudara kembarnya.

“Meskipun mereka memainkan ilmu pedang yang sama, namun kepribadian mereka menghasilkan cara bertempur yang berbeda pula," kata Wan Lui dalam hati. "Memang, di dunia ini mana ada dua manusia yang sama presis, biarpun saudara kembar sekalipun? Wajah dan perawakan boleh sama, tapi tak mungkin tepat sama dalam kepribadian yang terwujud dalam sepak terjang sehari-hari."

Lalu perhatian Wan Lui dialihkan kepada si gadis berkuncir dua. Bukan cuma cantik, ternyata caranya bertempur juga cukup istimewa. Sarung pedang si gadis ternyata adalah sebatang tongkat besi yang berlubang di bagian tengahnya. Kalau pedang dicabut, maka gadis itu berarti jadi memegang sepasang senjata, namun ternyata malah sarung pedanglah yang dimainkan lebih hebat dengan tangan kanan, sedang pedangnya malah hanya dimainkan dengan tangan kiri.

"Wah, jadi gadis itu sebenarnya lebih pintar main tongkat," pikir Wan Lui kagum. "Dan pedangnya malah cuma menjadi senjata nomor dua.”

Keistimewaan lain, gadis itu bukan kuncirnya saja yang dua, namun seakan juga punya dua otak dan dua perasaan untuk mengendalikan tangan kanan dan tangan kirinya secara terpisah. Tangan kanan yang bertongkat itu menyerang dengan hebat dan kuat, gerak-geraknya sederhana tapi berdaya gempur hebat. Seperti seekor gajah yang mengamuk, seolah bukit pun akan hancur diterjangnya. Mengherankan juga bahwa seorang gadis yatig nampak lembut bisa bertempur macam itu.

Sebaliknya lengan kirinya yang berpedang itu bergerak seperti lengan seorang penari yang gemulai, namun bukan berarti tidak berbahaya. Ujung pedangnya bergerak ringan dan cepat, gemerlapan seperti seribu lebah perak yang serempak keluar dari sarangnya. Sulit dibedakan mana yang lebih berbahaya antara tangan kanan dan tangan kiri, sama sulitnya menentukan mana yang lebih tidak disukai antara diseruduk gajah marah atau dikeroyok lebah beracun.

“Hebat gadis ini," Wah Lui tambah kagum dalam hati. Pertempuran meningkat makin seru, namun kedua pihak masih sama-sama dalam pergulatan merebut peluang. Betapapun hebatnya ketiga orang muda itu, namun para jagoan Ci-ih Wi-kun itu juga bukan jagoan-jagoan kelas kambing. Di istana, merekalah kelompok yang bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar Yong Ceng pribadi.

Salah satu pemuda kembar, yang berwatak berangasan, harus menghadapi dua anggota Ci-ih Wi-kun yang sama-sama bersenjata pedang. Kedua lawannya itu berkelahi dengan kompak, saling mengisi, dan nampak jelas mereka juga seperguruan. Yang satu bertubuh jangkung, lengannya panjang, gerak pedangnya amat cepat sehingga menimbulkan banyak bayangan yang membingungkan, sulit membedakan mana bayangan pedang palsu dan mana pedang yang asli. Kalau salah membedakan, akibatnya bisa gawat.

Sedang jago Ci-ih Wi-kun yang satu lagi bertubuh ramping, gerak langkahnya cepat berputaran seolah tubuhnya tanpa bobot. Serangan pedangnya dari segala penjuru. Tidak mengherankan kalau kedua orang itu begitu tangguh, karena merekalah Jian-ing-kiam (Pedang Seribu Bayangan) Ho Se Liang, dan Lam Thai Hong (Prahara Selatan) Au Yang Kong. Orang pertama dan kedua dari Heng-san-sam-kiam (Tiga Pedang Heng-san).

Sementara si kembar yang lain juga menghadapi dua lawan. Satunya adalah Hui-kiam-eng. (Pendekar Pedang Terbang) Teng Jiu, orang ketiga dalam Heng-san-kiam. Yang satunya adalah Wan Yen Coan yang bersenjata cambuk Liong-jiu-pian (Cambuk Moncong Naga).

Ketika Kim Seng Pa pulang dari Jing-hai dan mengetahui bahwa Heng-san kiam ikut berperan dalam menjatuhkan Ni Keng Giau dengan cara menyelidiki dan melaporkan gerak-gerik perwira-perwira pendukung Ni Keng Giau sehingga bisa dihancurkan, maka Kim seng pa amat memuji peranan ketiga orang Heng-san-sam-kiam itu. Cuma satu yang Kim Seng Pa tidak ketahui bahwa Heng-san-sam-kiam berbuat demikian demi Pangeran In Te, bukan demi Kim Seng Pa ataupun Liong Ke Toh.

Begitulah, dalam perjalanan ke Tan liu untuk menghukum Ni Keng Giau, Kim Seng Pa mengajak pula ketiga saudara seperguruan itu. Kemudian mereka juga ditugaskan ikut ke Hang-ciu untuk mengawal Ni Keng Giau sampai di sana, sementara Kim Seng Pa sendiri pulang ke Pak-khia tersama Toh Jiat liong, orang terdekatnya.

Menghadapi orang-orang muda yang bermaksud membunuh Ni Keng Giau itu, dalam hati Heng-san-sam kiam sebetulnya malah mengharapkan agar orang-orang muda itu benar-benar berhasil membunuh Ni Keng Giau. Pagi pendukung pendukung Pangeran In Te itu, lebih baik kalau Ni Keng Giau mati saja. Kalau cuma dibuang atau diturunkan pangkatnya, siapa tahu kelak bisa bangkit kembali dan pulih kedudukannya? Namun dalam rombongan pengantar Ni Keng Giau itu, Heng-san-sam-kiam sadar hanya mereka bertigalah yang sejalan dan setujuan, sedang yang lain bersikap lain pula.

Menghadapi pernuda yang beringas itu, Ho Se Liang dan Au Yang Kong sebenarnya tidak terdesak. Kalau maju satu persatu, mereka memang bisa kalah, namun kalau bergabung dua orang, untuk balik mendesakpun mereka bisa. Namun mereka tidak melakukan itu. Mereka justru pura-pura terdesak, mundurnya sengaja ke arah Ni Keng Giau yang berdiri di pinggir arena. Mereka bermaksud supaya pemuda beringas itu mendapat kesempatan untuk menyerang N i Keng Giau.

Demikianlah, di balik pertempuran yang nampak bersungguh-sungguh itu ternyata juga tersembunyi intrik berlatar belakang politik. Ho Se Liang dan Au Yang Kong memang bermain indah dan sedap dipandang, namun tidak bersungguh-sungguh. Lawannya yang tidak menyadari hal itu, masih bertempur dengan ganas.

"Anjing-anjing Kaisar, kalian menghalangi aku membunuh Ni Keng Giau, biar kubunuh kalian lebih dulu!" bentak pemuda itu sambil melancarkan gerak tipu Tai-peng-tian-ci (Garuda Mementang Sayap). Pedangnya terpecah menjadi dua jalur cahaya untuk menikam Ho Se Liang dan Au Yang Kong.

Ho Se Liang pura-pura menangkis dan kalah tenang sehingga terhuyung-huyung ke samping. Sedang Au Yang Kong juga melompat menghindari "melebihi keperluan" sehingga seolah meninggalkan penjagaannya. Dengan demikian, kedua saudara seperguruan itu seolah "mempersilahkan" si pemuda beringas itu membunuh Ni Keng Giau yang kini tak terjaga lagi dan cukup dekat.

Memang benar pemuda berangasan itu lalu menggunakan kesempatan untuk melompat secepat kilat, menikamkan pedang ke arah dada Ni Keng Giau. Tujuan utamanya memang membunuh N i Keng Giau, bukan sekedar cari perkara dengan "anjing-anjing Kaisar".

Ni Keng Giau terkejut, tak menyangka kalau kedua "pelindung" nya meninggalkan garis pertahanan secara demikian tak bertanggung- jawab, dan kini seorang musuh yang ganas sudah menerjang ke arahnya, Cepat Ni Keng Giau pun melompat mundur, sambil menyambar sebatang sapu ijuk untuk dijadikan senjata.

Sebagai murid Pun-bu Hwe-shio, harusnya Ni Keng Giau berilmu tinggi. Harusnya. Tapi sudah banyak tahun ia tidak berlatih silat, mempercayakan keselamatan dirinya kepada pengawal-pengawalnya, maka ilmu silat Ni Keng Giau pun kini kedodoran. Ketika pedang lawannya berkelebat sekali lagi, maka batang sapunya tertebas kutung, bahkan lengannyapun tergores sedikit. Ni Keng Giau lalu membalik tubuh untuk lari ke dalam, sedangkan Ho Se Liang dan Au Yang Kong sengaja berlambat- lambat untuk menolong.

Cepat Ni Keng Giau pun melompat mundur, sambil menyambar sebatang sapu ijuk untuk dijadikan senjata. Si pemuda terus memburu dengan tak kenal takut. Tapi ketika pedangnya hampir menembus punggung Ni Keng Giau, tiba-tiba tubuh Ni Keng Giau ditarik masuk ke dalam secepat kilat, oleh sebuah tangan yang kuat. Ni Keng Giau jatuh tertelungkup di dalam, namun nyawanya selamat.

Kemudian dari balik pintu muncul cahaya keperak-perakan yang memukul balik pedang si pemuda. Pemuda itu terkejut ketika pedangnya terbentur begitu keras sehingga hampir lepas dari tangannya. Cepat-cepat ia melompat menjauhi ambang pintu untuk bersiaga. Saat itu Ho Se Liang dan Au Yang Kong merasa kurang pantas dilihat kalau diam saja. Maka kembali mereka menyerang pemuda itu. kendati tetap dengan setengah hati.

Sementara itu, dari ambang pintu tadi muncul pula dua orang jagoan Ci-ih Wi-kun yang bertampang luar biasa. Yang satu tua, kurus, pucat bungkuk. tangannya memegang pipa tembakau sepanjang tiga jengkal, berwarna keperak-perakan yang tadi di gunakannya untuk menangkis pedang si Pemuda. Dialah Sat Siau Kun, tokoh nomor tiga dalam kelompok Ci-iH Wi-kun yang berjulukan Tiat-jiau-hui-hou (Rubah Terbang Berkuku Besi).

Yang satu lagi bertubuh tinggi tegap, mukanya juga pucat namun nampak bengis, ada goresan bekas luka menyilang "menyeberangi” wajahnya dari kuping kanan sampai ke rahang kiri dan hidungnya terpapas sebagian. Tak pelak, inilah wajah yang diperlukan oleh para ibu untuk menakut-nakuti anak-anak mereka yang nakal. Senjata yang dibawanyapun tidak lazim, sebuah payung hitam berujung lancip. Dia Su-ma Hek-liong, berjulukan Toat-beng-san (Payung Pencabut Nyawa), tokoh nomor empat dalam Ci-ih Wi-kun.

"Siapa kalian, berani menyerang kami yang sedang menjalankan tugas dari Kaisar?" bentak Sat Siau Kun garang. "Kalian bisa mendapat cap sebagai pemberontak-pemberontak tak berampun!"

"Kami hanya ingin membunuh Ni Keng Giau!" sahut pemuda berangasan tadi.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

“Arwah dari ribuan orang tak bersalah yang menjadi korban kelaliman Ni Keng Giau dan si raja iblis Yong Ceng! Ribuan arwah dari seluruh negeri!"

Pertempuran berlangsung terus, Su-ma Hek-long memperhatikan dengan cermat dari pinggir arena. Tiba-tiba Su ma Hek-long tertawa dan berkat, "Biarpun kalian tidak mengaku, aku tahu kalian adalah bangsat-bangsat cilik dari Hwe-liong-pang (Serikat Naga Api). Cara kalian bermain pedang sudah kelihatan. Dan gadis itu tentu ada hubungan dengan keluarga Se-bun dari Lok-yang!"

Sat Siau Kun mengangguk-angguk. "Begitukah? Bagus. Jadi si kembar itu adalah cucu Tong Lam Hou yang sudah jadi setan penasaran itu, sekaligus juga cucu Pak Kiong Liong si buronan itu. Bagus. Kalau berhasil kita tanggkap mereka, setidaknya bisa digunakan untuk memancing Pak Kiong Liong keluar dari lubang persembunyiannya yang entah di mana.

Pemuda kembar itu memang cucu-cucu mendiang Tong Lam Hou, ketua lama Hwe-liong-pang yang gugurnya karena dikhianati muridnya sendiri, Pangeran In Tong. Kedudukan ketua Hwe-liong pang kini dipegang Tong Gin Yan, ayah pemuda kembar itu. Di masa itu, Hwe-liong-pang bukan lagi sebuah kelompok kuat yang terang-terangan mendirikan markas di suatu tempat, melainkan sudah menjadi gerakan bawah tanah yang markasnya harus berpindah-pindah karena harus berhadapan dengan kekuasaan Kaisar Yong Ceng yang getol ingin menumpas mereka.

Pemuda kembar itu masing-masing bernama Tong San Hong, yang lebih tenang sikapnya, dan Tong Hai Long yang berangasan dan tadi hampir saja berhasil membunuh Ni Keng Giau. Sedangkan gadis berkuncir dua itu adalah Se-bun Hong-eng, puteri Se Bun Beng dari Lok-yang, pendekar yang menjadi sahabat suami-isteri Tong Gin Yan dan Pak Kiong Liong.

Tidak mengherankan setelah mengetahui siapa pemuda kembar itu, Sat Siau Kun dan Sti-ma Hek-long jadi bernafsu untuk menangkap mereka. Kalau berhasil, besarlah pahalanya di hadapan Kaisar. Memang anak-anak muda itu bukan buronan, tapi anak dan cucu buronan buronan penting dan bisa digunakan untuk memancing para buronannya sendiri agar keluar dari persembunyiannya.

Sebaliknya, Heng-san-sam-kiam diam-diam malah jadi mengkhawatirkan keselamatan pemuda kembar itu. Mereka tahu kalau pihak Hwe-liong-pang akrab dengan Pangeran In Te yang mereka dukung. Mereka juga menduga keras, Pangeran In Te yang dikabarkan "hilang di Jing-hai" itu bukan mustahil disembunyikan dan dilindungi oleh orang-orang Hwe-liong-pang. Maka Heng-san-sam-kiam mulai bingung bagaimana menyuruh pergi dengan selamat kepada anak-anak muda itu.

Yang juga terkejut setelah mendengar siapa sebenarnya pemuda kembar itu juga Wan Lui yang berada di persembunyiannya. Pemuda kembar itu adalah cucu-cucu gurunya. Ia jadi ingat, dulu sebelum gurunya pergi meninggalkannya, gurunya berpesan kalau bertemu anak kembar bernama Tong Hai Long dan Tong San Hong agar dianggap sebagai saudaranya sendiri. Dan kini ia sudah bertemu, justru di saat si kembar itu terancam bahaya.

“Benar kata In Toa-ko,“ pikir Wan Lui di persembunyiannya. Mula-mula maunya memang cuma menonton, tapi akhirnya harus terlibat juga."

Sementara itu, Sat Siau Kun telah masuk ke arena dengan sikap memandang rendah lawan- lawannya. Ia mendekati Tong Hai Long sambil menghisap dan mengebul-ngebulkan pipa tembakaunya yang panjang keperak-perakan itu. kepada Ho Se Liang dan Au Yang Kong yang nampaknya “amat payah" melawan pemuda itu, Sat Siau Kun rnemerintah, “Minggir kalian!"

Ho Se Liang dan Au Yang Kong cemas kalau sampai pemuda itu ditangani sendiri oleh Sat Siau Kun, barangkali akan menemui nasib amat buruk. Karena itu, mereka tidak segera minggir, malah Ho Se Liang menjawab, “Sat Tai-jin, kami masih sanggup. Sebaiknya Tai-jin awasi Ni Keng Giau saja, nanti dia lari.”

“Minggir kataku!" bentak Sat Siau Kun. Kalian saja yang mengawasi Ni Keng giau!"

Ho Se Liang dan Au Yang Kong pun terpaksa berlompatan mundur, biar pun dalam hati masih mencemaskan nasib cucu Pak Kiong Liong itu. Ingin memberi isyarat, khawatir kalau dilihat Sat Siau Kun. Sedangkan Tong Hai Long sendiri malah menunjukkan sikap tak kenal takut.

Sambil mengobat-abitkan pedangnya dengari gencar, ia berseru, "Ayo maju semua! Makin banyak begundal kaisar iblis itu yang mampus, akan makin amanlah kehidupan rakyat kecil!"

Sat Siau Kun tertawa terkekeh. "Sikap hidup yang membahayakan hidupmu sendiri itu tentunya diajarkan oleh kedua orang tuamu bukan atau oleh kakekmu Pak Kiong Liong? He- he-he.... selagi Hwe-liong-pang dipuncak kejayaan nya pun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi sekarang tinggal sisanya yang tercerai-berai dan hidup sebagai pencoleng-pencoleng kecil."

Tong Hai Long terbakar hatinya mendengar ejekan itu. Ia berseru sambil meluncur ke depan, ujung pedangnya mengarah ke leher Sat Siau Kun dengan gerak tipu Ya-long-tiau-kan (Serigala liar Melompati Parit). Ilmu pedang yang dimainkannya ialah Tiam-jong-kiam hoat ajaran kakeknya yang almarhum, Tong Lam Hou. Suatu ilmu pedang yang tidak peduli soal keindahan gerak, melainkan sepenuhnya harus diperhatikan daya gempurnya. Tak ada gerakan kembangan atau pemanis, tujuannya hanyalah memenangkan perkelahian.

Tadinya Sat Siau Kun memandang remeh pemuda yang dalam hal usia pantas menjadi cucunya itu, namun kemudian dikagetkan oleh ilmu pedang yang hebat itu. Cepat ia memiringkan tubuh sambil memukulkan pipa peraknya ke pedang lawan, sekalian mendesak maju sambil mencakar leher lawan dengan tangan kirinya. Julukannya Rubah Terbang.

Berkuku Besi, maka kekuatan jari-jarinya itu mampu meremukkan tulang leher. Tong Hai Long membiarkan pedang nya terpental sambil melompat pendek ke samping, lalu pedangnya tiba-tiba berkelebat rendah untuk membabat ke sepasang kaki lawan dengan gerak tipu Ji-kong-cam-coa (Ji Kong menebas ular).

"Kau hebat, bocah cilik!" geram Sat Siau Kun untuk menutupi rasa kagetnya. Ia melompat menyelamatkan sepasang kakinya berbareng dengan jurusnya Siok-liu-kik-ting (Petir Menyambar Kepala) yang sebenarnya adalah jurus toya, namun dimainkan dengan pipa tembakau untuk mengepruk ke kepala Tong Hai Long.

Dengan keberanian luar biasa Tong Hai Long tidak menggubris serangan itu, malah membarengi menikam ke dada lawan. Pedangnya lebih panjang dari pipa lawan, maka kalau serangan sama-sama diteruskan, jelas pedangnya yang akan lebih dulu kena sasaran. Sat Siau Kun menggeram marah untung dia lincah, la juga malu kalau sampai dipaksa mundur oleh seorang bocah kemarin sore, maka ia menangkis dengan pipanya sambil terus mendesak, maju dengan cakaran-cakaran hebatnya.

Begitulah, yang tua malu untuk mundur, yang muda berangasan dan tak kenal takut, ramailah jadinya pertempuran itu. Kemudian Su-ma Hek-Iong juga maju ke gelanggang sambil menjinjing payung hitamnya. Yang didekati ialah si kembar yang satu lagi, Tong San Hong, yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh" pulang ke Pak-khia setelah selesai mengamarkan Ni Keng Giau di Hang-ciu.

"Biar aku yang menangkap cucu pemberontak ini!" katanya kepada Liong jui- pian Wan Yen Coan dan Hui-kiam-eng Teng Jiu yang tengah menghadapi Tong San Hong.

Namun Wan Yen Coan tetap memutar kencang cambuknya, sambil menyahut. "Su-ma Toa-ko (kakak Suma), aku sendiripun sanggup meringkus setan kecil Hwe-lioug-pang ini!"

Rupanya Wan Yen Coan segan ke hilangan pahala. Tapi baru saja selesai kata-katanya, ujung pedang Tong San Hong berhasil menerobos pertahannya dan menikam pahanya. Selama ini Wan Yen Coan sanggup mengimbangi lawan karena di bantu Teng Jiu, maka ketika Teng Jiu mendadak keluar dari arena, ia tak sanggup membendung Tong San Hong se orang diri. Dengan kaki kesakitan, ter paksa ia harus melompat minggir dan memberi kempatan Su-ma Hek-long yang bakal mendirikan pahala.

"Teng Jiu, kalau mau meninggalkan arena jangan begitu mendesak, sehingga mencelakai aku,” kata Wan Yen Coan jengkel kepada Teng Jiu.

"Ah, maaf, karena aku mentaati seruan Su-ma Toa-ko agar minggir," sahut Teng Jiu dengan sikap ketolol-tololan, namun sebenarnya tertawa dalam hatinya. "Lagipula aku mengira kau benar-benar sanggup menangkap bangsat cilik itu seorang diri, seperti katamu tadi."

Sementara itu, tanpa banyak main gertak atau mengancam dengan kata-kata, Su-ma Hek-long langsung saja memainkan senjatanya. Selagi tertutup, payung hitamnya bisa dimainkan seperti gada atau tombak. Disertai deru angin kencang, digebuknya arah pinggang lawannya dengan gerak mendatar, dan ketika lawannya menghindar dengan mundur, ujung payungnya yang lancip ditusukkan ke depan dalam gaya ilmu tombak.

Tong San Hong memperkokoh kuda-kudanya, lalu memainkan Hong-kui-lok-hoa (Angin Balik Menggugurkan Kembang). Menangkis lebih dulu, lalu membacok ke depan. Tiba-tiba payung Su-ma Hek-long mengembang, dan pedang Tong San Hong seolah membentur perisai lebar. Ternyata lembaran payung itu tidak terbuat dari kertas seperti lazimnya, melainkan anyaman benang-benang baja lembut dan liat, tahan bacokan pedang biasa.

Belum lagi Tong San Hong sempat menarik pedangnya, payung hitam itu tiba-tiba diputar kencang bagaikan roda, amat bertenaga, membentuk tenaga menghisap yang mengakibatkan pedang Tong San Hong seolah masuk ke dalam sebuah pusaran air bertenaga raksasa. Cepat Tong San Hong memperkeras genggaman atas tangkai pedangnya, lalu melompat mundur.

Namun kini Su-ma Hek-long yang mengejar. Payungnya masih terkembang dan berputar kencang, seperti roda hendak melindas lawannya karena dibawa maju oleh Su-ma Hek-long dengan langkah menyamping. Kalau sampai lawan terlindasnya, sulit dibayangkan akibatnya, sebab ruji-ruji payung ternyata runcing runcing, sehingga sekeliling tepi payung seolah dipasangi pisau-pisau kecil yang sanggup merajang kulit dan daging.

Beberapa saat lamanya Tong San Hong jadi repot, la berputaran mencari sudut serangan yang bisa dilewatinya, tapi lawan tak kelihatan karena selalu berlindung di belakang payung lebar itu. Sementara payungnya terus menggulung dengan hebat. Suatu saat Tong San liong coba melompat ke belakang lawannya, yang dalam teori silat disebut "melewati Bwe-mui" namun lawan dengan tangkas memutar tubuh, tetap berada di belakang payungnya. "Bwe-mui" yang hendak dilewati Tong San Hong itu tetap dijadikan "Toa-mui" baginya. Tong San Hong juga mencoba menyerang dari atas, dan gagal pula.

Begitulah, Tong San Hung jadi sama bingungnya dengan seekor macan yang gagah perkasa, namun menghadapi seekor kura-kura yang aman bersembunyi di balik batoknya yang tebal dan kuat, tak mempan kuku ataupun gigi sang harimau. Selain itu, "kura-kura" yang satu ini tergolong istimewa juga. Tidak cuma bersembunyi, tapi juga bisa menyerang dengan hebat, baik dengan ujung runcing di ujung tangkai payung, maupun dengan ujung jeruji- jeruji tajam di sekeliling payungnya.

Namun Su-ma Hek-long sendiri pun sesungguhnya berkeringai dingin menghadapi ilmu pedang Tong San Hong. Memang ia dapat bertahan rapat di balik payungnya, namun ia tak berani membayangkan bagaimana akibatnya kalau sampai ia menguncupkan payungnya, sebab "diluar" sana ada jaringan gerakan pedang yang begitu rapat seperti air yang melingkari dari segala penjuru.

Jadi pertempuran itu bisa juga digambarkan seperti banjir besar kontra benteng batu yang kokoh kuat. Jalan buntu. Banjir tak bisa memasuki benteng, sebaliknya orang di dalam benteng juga tak bisa keluar, kalau tidak mau diseret di mampuskan oleh sang banjir.

Begitulah, sementara si kembar Tong San Hong dan Tong Hai Long "keasyikan" ketemu lawan-lawan tangguh, yang tambah berat keadaannya ialah si gadis Se-bun Hong-eng. Biarpun permainan tongkat dan pedangnya tergolong unik, namundaya tahan tubuh maupun pengalamannya tak begitu mendukung. Apalagi setelah lawannya bertambah dengan Wan Yen Coan. Hanya tiga bersaudara seperguruan Heng-san-sam-kiam yang tidak ikut maju dengan alasan ''menjaga Ni Keng Giau agar tidak kabur".

Dua lawan Se-bun Hong-eng sebelum terjunnya Wan Yen Coan, adalah dua jagoan Ci- ih Wi-kun yang masing-masing bersenjata Jit- goat-siang-lun (sepasang roda matahari dan rembulan) serta Kau-lian-jio (tombak berkait) yang masing-masing taraf ilmunya tidak di bawah Wan Yen Coan. Ketika ditambah dengan Wan Yen Coan yang biarpun sudah luka namun tetap tangguh, Se-bun Hong-eng tak sanggup lagi menghadapi gabungan tenaga ketiga jago istana itu.

Wan Yen Coan yang mengambil posisi ditengah, suatu ketika menyabetkan cambuknya bertubi-tubi dengan gerakan In-kong-ciok-eng (menembus cahaya menangkap bayangan). Bunyi cambuknya seperti petir beruntun yang menggetarkan. Sementara kedua rekannya merunduk dari kanan kiri untuk menanti peluang.

Agar repot Se-bun Hong-eng menjaga serangan dari depan, sambil membagi perhatian ke kedua arah lainnya. Ia mundur meninggalkan titik silang garis-garis serangan ketiga lawannya. Mundur sambil serong agar kerjasama segitiga antara lawan-lawannya menjadi pincang. Begitu teorinya. Tapi ketiga lawannya adalah jago-jago berpengalaman pula, mereka bergerak menempati sudut-sudut baru yang membuat Se-bun Hong-eng tetap terkurung.

Karena masih kurang pengalaman, gadis itu jadi panik. Ketika geraknya melambat, tahu- tahu pedang di tangan kirinya telah berhasil dibelit oleh cambuk Wan Yen Coan. Si gadis melepaskan pedangnya dengan cara meluruskannya sejajar dengan tarikan cambuk lawannya, sedang tongkat kanan dipakai menggempur kepala Wan Yen Coan. Namun Wan Yen Coan berkelit menyamping, cambuknya tetap dibuatnya saling menyudut de ngan pedang yang dibelitnya, tak peduli Se-bun Hong-eng berusaha meluruskannya.

Silat ternyata memang bukan sekedar adu teori "kalau lawanmu begitu kamu harus begini", tapi juga adu ketrampilan dalam praktek. Dan adu banyaknya pengalaman, dan seberapa banyak bisa menarik pelajaran dari pengalaman-pengalaman itu. Disinilah kalahnya Se-bun Hong-eng. Biarpun pelajaran dari ayahnya maupun kakeknya tergolong pelajaran silat bermutu tinggi, namun ia kalah pengalaman dari lawan-lawannya yang memang tukang-tukang berkelahi itu. Lebih parah lagi, ia mulai panik karena pedangnya seolah terkunci oleh cambuk lawannya.

Apalagi dua lawan dari kiri kanan juga mulai menyergap berbareng. Yang bersenjata Kau- lian-jio berhasil mengait tongkat Se-bun Hong-eng untuk langsung dipelintir lepas. Yang bersenjata Jit-goat siang-lun melancarkan tendangan kilat ke pinggang si gadis untuk melumpuhkannya, maka Se-bun Hong-eng benar-benar terancam.

Tapi muncullah "dewa penolong". Si pemegang Jit-goat-siang-lun itu tendangannya belum sampai ke sasaran, ketika ia tiba-tiba menjerit kesakitan karena selembar genteng deras sekali menghantam tempurung lututnya. Begitu hebat tenaga pelontarnya. Genteng itu hancur, tapi si penyerangpun roboh dengan sebelah kaki terasa lumpuh.

Serangan "genteng terbang" belum berakhir. Dua lembar lagi melayang deras ke kepala Wan Yen Coan serta rekannya yang bersenjata Kan-lian-jioi-iu. Wan Yen Coan mengangkat tinju kirinya untuk menangkis dengan meninju genteng itu. Genteng pecah berantakan, tapi tinju Wan Yen Coan menjadi bengkak dan nyeri. Rekan Wan Yen Coan menangkis dengan tombaknya, tapi cipratan pecahan genteng menyerempet pipinya sehingga berdarah. Kesimpulannya, pelempar genteng itu bukan lawan enteng.

Sementara itu, Wan Lui sendiri telah melompat keluar dari persembunyiannya, dan langsung "membagikan" pukulan kepada ketiga jago Ci-ih Wi-kun lawan-lawan Se-bun Hong-eng tadi. Sambil berseru penuh gaya kepahlawanan, "Nona, bantu saja kawan-kawanmu. Tiga kecoak ini biar menjadi urusanku!"

Wajar saja kalau seorang lelaki muda yang sedang tertarik kepada seorang gadis lalu pamer kehebatan agar mendapat sedikit pujian. Wajar pula kalau dalam pamer kehebatan itu si anak muda jadi sedikit takabur, gegabah dan tidak cermat memperhitungkan bahayanya.

Begitu pula Wan Lui. Setelah sukses dengan lemparan genteng-gentengnya tadi, timbul anggapan bahwa lawan-lawan ternyata "cuma segitu saja ilmunya" sehingga dengan besar hati ia langsung hendak "memborong" tiga lawan sekaligus untuk diri sendiri. Semangatnya tambah berkobar ketika si gadis berkuncir dua tersenyum kepadanya sambil mengucap lirih.

"Terima kasih."

Urat-urat di sekujur tubuh Wan Lui kontan dialiri semangat keberanian tanpa perhitungan lagi. Kini ia harus menghadapi Wan Yen Coan dengan cambuk Liong-jiu-piannya, dan rekannya yang bersenjata Kau-lian-Jio ilmunya tidak dibawah Wan Yan Coan. Sedang jago Ci-ih Wi-kun yang bersenjata Jit-goat-siang-lun itu belum bisa bertempur, masih terduduk di tanah sambil meringis-ringis dan mengurut-urut lututnya yang tadi kena lemparan genteng Wan Lui.

Setelah bertempur sungguh-sungguh dengan kedua lawannya itu, barulah Wan Lui sadar bahwa lawan-lawannya bukanlah jago-jago yang "cuma segitu ilmunya". Memang tadi mereka berhasil dikejutkan oleh lemparan genteng, bahkan mendapat cidera kecil, tapi hal itu terjadi hanyalah karena mereka tidak menduga serangan mendadak itu.

Setelah menghadapi mereka berdua secara langsung, barulah Wan Lui merasa bahwa ia haruslah lebih sungguh-sungguh berkelahi, tidak sempat lagi bertempur sambil jual tampang kepada si kuncir dua. Dengan bersungguh-sungguh, Wan Lui mulai bersilat tangan Thia-liong-kun hoat (pukulan Naga Langit) hasil ajaran tertulis Pak Kiong Liong dulu.

Ketika Wan Yen Coan mencambuk dibarengi tikaman tombak berkait oleh rekannya dari sudut lain, mulailah Wan Lui menunjukkan keperkasaannya. Sepasang tangannya menggempur berturutan dengan jurus Siang-liong-kui-thian (sepasang naga kembali ke langit) yang menimbulkan udara berguncang dahsyat. Juntai cambuk Wan Yen Coan sampai "berkibar” terpental kena angin pukulannya, sedang si tombak berkait dipaksanya mundur dengan tendangan jarak dekat, yang membuat lawan itu malah merasa kerepotan dengan senjatanya sendiri....
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 08

Kemelut Tahta Naga II Jilid 08

Karya : Stevanus S P

Sikap acuh tak acuh para perajurit itu meluapkan darah Ni Keng Giau. Tiba-tiba ia melompat turun dari kuda sambil menghunus pedang. Sekali sabet, dua perajurit dirobohkannya. "Hukuman mati bagi yang tidak menghormati Bangsawan It-teng-kong!" teriaknya.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Para perajurit tidak menjadi takut, malahan mereka semua gusar. Tanpa pikir panjang merekapun meladeni Ni Keng Giau berkelahi dengan senjata. Begitulah, di situ terjadi pertempuran hebat. Dentang-denting senjata terdengar nyaring di malam sunyi itu.

Ni Keng Giau tak menduga kalau perajurit-perajurit itu malah semakin berani. Terpaksa dia pun membela diri, baik dengan pedangnya maupun dengan mulutnya yang tak henti-hentinya menyebutkan sederetan tanda pangkatnya, gelarnya jasa-jasanya. Yang tidak dipedulikan oleh para perajurit.

Ni Keng Giau adalah saudara seperguruan Kaisar Yong Ceng, sama-sama murid mendiang Pun-bu Hwe-shio yang berilmu tinggi. Mestinya kalau cuma menghadapi beberapa perajurit penjaga pintu gerbang itu Ni Keng Giau tidak perlu mengalami kesulitan. Tapi dalam beberapa tahun terakhir Ni Keng Giau tak pernah lagi latihan sungguh-sungguh, lapisan-lapisan lemak sudah bertimbun-timbun di sudut-sudut tubuhnya.

Selama ini memang ia beranggapan bahwa seorang jenderal tak perlu latihan silat, kerjanya cuma menunjuk-nunjuk di atas peta dan memberi perintah, lalu para perajuritlah yang maju. Karena itu, gerak-gerik Ni Keng Giau kini amat lamban. Sebentar saja ia sudah terengah-engah menghadapi lawan-lawannya, biarpun nama besar Pun-bu llwe-shio pernah diakui sejajar dengan mendiang Ketua Hwe-liong-pang Tong lam Hou, tapi silat adalah ketrampilan praktek, bukan mengadu nama guru siapa yang lebih terkenal.

Beberapa perajuril lagi datang dan menambah beban kesulitan Ni Keng Giau. Di antara mereka ada yang sanak keluarganya orang Tan-liu lelah menjadi korban kesewenang-wenangan Ni Keng Giau atau pengawal-pengawalnya. Ada yang adik perempuannya diperkosa pengawal Ni Keng Giau, atau pamannya dibunuh dan sebagainya. Kemarin masih tak berani membalas, tapi sekarang apa yang mereka takuti?

Ni Keng Giau tambah resah. Disela-sela napasnya yang ngos-ngosan, ia masih berteriak-teriak, "Kalian benar-benar gila, tidak tahu bagaimana menghormat seorang bangsawan! Kalau kulaporkan kepada Sribaginda, pasti lenyaplah batok kepala kalian sekeluarga!"

"Kalau mau lapor, kepada Giam-lo-ong (Raja Neraka) saja!" ejek seorang perujurit. "Senjataku bisa mengantarmu ke sana."

Berturut-turut N i Keng Giau mendapat luka dipundak dan di betisnya.Perajurit yang lain lagi berkata, “Kami di Tan-liu sudah punya pelatih sendiri yang tidak secongkak kau. Lebih baik kalau mau sewenang-wenang di Hang-ciu sana, di daerah wewenangmu sendiri!"

Kata-kata itu menghempaskan Ni Keng Giau dari langit angan-angan ke bumi kenyataan yang amat pahit. Pikirannya tiba-tiba jadi kacau, dan kembali tubuhnya mendapat beberapa luka tambahan. Untunglah, sebelum Ni Keng Giau habis dihajar perajurit-perajurir yang marah, itu, muncul tiga orang anggota Ci-ih Wi-kun dari arah jalan ke Balaikota. Di antaranya nampak Su-ma Hek-long.

"Hentikan!" perintah Su-ma Hek-long melihat perkelahian dekat pintu gerbang itu.

Para perajurit tidak berani membantah perintah para anggota Ci-ih Wi-kun, yang hari itu terasa sebagai dewa-dewa pembawa berkah bagi penduduk Tan-liu. Para perajurit pun berlompatan mundur menjauhi Ni Keng Giau yang sudah luka-luka dan kecapaian itu.

"Kenapa sampai ada ribut-ribut seperti ini?" tanya Su-ma Hek-long.

Salah seorang perajurit menjawab mewakili teman-temannya, "Dia hendak keluar kota tanpa ijin. Katanya hendak ke Pak-khia. Kami mencegah, tapi dua orang teman kami menjadi korban!"

Sementara itu, Ni Keng Giau tidak mau kalah suara oleh perajurit-perajurit itu, "Perajurit-perajurit rendah ini berani bersikap tidak tahu adat terhadap seorang bangsawan macam aku! Hukuman mati pantas buat mereka!"

Su-ma Hek-long mengerutkan alisnya ketika melihat Ni Keng Giau masih saja mengenakan jubah kebesarannya. Jawabnya, "Tak akan ada hukuman bapi perajurit-perajurit yang menjalankan tugas dengan baik. Ni Keng Giau, kau sudah membuat keributan. Maka malam ini lebih baik kau menginap di Balaikota, agar lebih gampang kami awasi sebelum berangkat ke Hang-ciu."

"Su-ma Hek-long! Kau pun ikut-ikutan kurang ajar terhadapku? Ingat siapa aku ini, seorang yang diberi gelar oleh Sribaginda sendiri, dan..."

"Apakah Titah Baginda yang dibacakan siang tadi itu masih kurang jelas bagimu, Ni Keng Giau? Kau sekarang adalah pelatih di Hang-ciu dan tidak lebih dari itu!" ucapan Su-ma hek long ibarat seember air dingin yang diguyur kan untuk menyadarkan seorang yang tengah bermimpi indah agar bangun. "Bawa dia ke Balaikota!"

Dua jago Ci-ih Wi-kun mendekati Ni Keng Ciau dengan sikap waspada, sebab Ni Keng CJiau masih memegangi pedang. Namun ternyata Ni Keng Giau masih berdiri terlongong-longong, tidak melawan ketika pedang itu diambil dari tangannya, kemudian Ni Keng Giau sendiri digandeng pergi seperti orang ling-lung.

Ternyata Su-ma Hek-long punya persamaan watak dengan Kim Seng Pa, yaitu senang menginjak-injak orang yang lagi menderita. Perintahnya kepada kedua anggota Ci-ih Wi-kun ini, "Buat apa seorang pelatih memakai jubah sebagus itu? Copot jubahnya!"

Kali ini Ni Kong Giau meronta, ketika jubah kebanggaannya hendak direnggutkan dari tubuhnya dengan cara kasar, tapi ia tak sanggup menghalangi kemauan kedua jago Ci-ih Wi-kun itu. Bahkan karena Ni Keng Giau meronta, jubahnya malah robek-robek. Ni Keng Giau menangis tanpa suara ketika jubah itu berpisah dari tubuhnya. Lalu ia diseret menuju Balaikota, dan jubahnya ditinggalkan terpuruk begitu aja di tanah, dekat pintu gerbang itu.

"Jubah, yang bagus," komentar seorang perajurit. "Kita buang sajakah?"

"Kebetulan isteriku sedang bingung karena tidak punya lap dapur, cuma sepotong kecil saja kok."

"Dan anak perempuanku butuh selimut untuk kucingnya."

"Dan anak laki-lakiku minta dibuatkan bendera-benderaan. Bagian jubah yang ada gambar sulamannya ini bagus sekali kalau dipotong segitiga, nanti tinggal kucarikan kayu tangkainya."

"Cari gunting, jangan rebutan!"

Begitulah jubah si bangsawan yang malang itu lalu digunting-gunting. Ada yang jadi lap dapur, ada yang jadi selimut kucing, bendera- bendera, ada pula yang sekedar ingin memiliki secarik kecil sebagai kenang-kenangan atas seorang tokoh kelahiran Tan-liu.

Guntingan-guntingan yang tak terpakai lalu dibiarkan bertebaran begitu saja, sebagian tersapu angin dan masuk parit di pinggir jalan. Besok kalau tempat itu mulai ramai dilewati orang, bekas jubah itu akan diinjak-injak orang, dikencingi dan diberaki sapi, kuda atau keledai yang lewat di situ. Menjadi se pihan-serpihan gombal belaka.

* * * *


Di kota sekecil Tan-liu, kabar "hebat" seperti kejatuhan Ni Keng Giau beredar lebih cepat dari jalannya angin. Bermula dari bujang-bujang orangtua Ni Keng Giau yang selama ini ‘'kenyang" dibentak, digampar atau ditendang oleh Ni Keng Giau, bahkan ada yang dibunuh. Merekalah yang menyiarkan kejadian itu.

Akhirnya seluruh penduduk Tan-liu mendengarnya dan merata pulalah kegembiraan. Bahkan perayaan Tahun Baru pun belum pernah dirayakan segembira itu, karena hari jatuhnya Ni Keng Giau dianggap sebagai “hari kemerdekaan".

Pagi itu, Ni Keng Giau dikawal delapan anggota Ci-ih Wi-kun keluar dari gedung Balaikota dan siap melakukan perjalanan ke Hang-ciu. Dua tokoh tertinggi Ci-ih Wi-kun, Kim Seng Pa dan Toh Jiat-hong, tidak ikut, sebab mereka berdua sudah lebih dulu kembali ke Pak khia untuk melaporkan hasil kerjanya kepada Kaisar Yong Ceng. Sedangkan pimpinan pengawalan itu dipegang tokoh ketiga Ci-ih Wi- kun, Sat Siau-kun yang berjulukan Tiat-jiau-hui- ho (Rubah Terbang Berkuku Besi).

Ketika mengetahui pemberangkatan itu, penduduk Tan-liu kembali berjejal-jejal di tepi jalan yang akan dilewati, tepat seperti hari kedatangan Ni Keng Giau dulu. Para perajurit terpaksa dikerahkan ke jalanan untuk menahan gejolak massa yang marah itu. Riuh-rendah suara teriakan agar Ni Keng Giau digantung, dicincang, dibakar dan entah diapakan lagi.

Dan ketika rombongan yang mengawal Ni Keng Giau lewat, beterbanganlah batu, buah- buahan busuk, telur busuk, potongan kayu, arang, sepatu bejat, bakiak, bangkai tikus dan seribu satu benda tak terhormat lainnya ke arah Ni Keng Giau. Ni Keng Giau sendiri menunggangi seekor kuda dengan mata kosong hampir tak berkedip. Bahkan ia seolah tidak sadar ketika sebutir telur busuk mengenai jidatnya dan “menetas" di mata.

Nampaknya saja wajah Ni Keng Giau dingin dan acuh tak acuh, padahal kekecewaan yang hebat melukai jiwanya amat parah. Susah-payah dia mencoba menentukan jawabnya, kenapa bisa begini? Bukan jawaban yang ditemukan, malahan kebingungan yang membuat otaknya tambah sakit.

Pengawal-pengawal Ni Keng Giau sudah menghilang semua, tak satupun muncul untuk membela junjungannya. Kalau sebatang pohon roboh, maka burung-burung yang bersarang di pohon itupun akan bubar semua untuk mencari pohon baru. Beberapa dari pengawal-pengawal itu kurang beruntung. Biarpun mereka sudah menyamar ketika berusaha keluar dari Tan-liu, namun ada juga yang ketahuan, lalu dipukuli penduduk Tan-liu sampai mati.

Sementara para jagoan Ci-ih Wi-kun yang ditugaskan membawa Ni Keng Giau sampai ke Hang-ciu itu, berkuda agak jauh dari Ni Keng Giau, supaya tidak ikut kena lemparan telur busuk dan lain-lainnya. Di antara orang-orang yang berjejalan di pinggir jalan itu, terdapat pula In Kui Liong dan Wan Lui, tapi mereka tidak ikut melempar-lempar.

"Wan-heng,perhitunganku tentang kejatuhan Ni Keng Giau tepat bukan?” bisik In Kiu Liong bangga, berusaha menimbulkan kekaguman Wan Lui.

Wan Lui yang masih agak polos itu memang sedikit kagum, "Bagaimana Toa-ko bisa memperhitungkan setepat itu?"

"Dasar perhitunganku ialah sifat dari Kaisar keparat itu. Ketika kedudukannya masih belum kokoh karena banyak musuh, ia membutuhkan banyak pembantu umuk melenyapkan musuh-musuhnya, telah musuh-musuhnya habis, ia akan ketakutan terhadap pembantu-pembantunya sendiri yang menjadi kelewat berkuasa, khawatir kalau mereka menyaingi kekuasaannya. Ni Keng Giau merasa dirinya disayangi Kaisar, makin lama makin besar kepada dan sepak-terjangnyapun tak terkendali lagi. Tanpa disadarinya kalau sikap itu seperti mengalungkan jerat ke lehernya sendiri."

"Apakah watak Kaisar selalu seperti itu? Hanya menghargai pembantunya kalau masih dibutuhkan, dan setelah tidak dibutuhkan lagi lalu disingkirkan?"

"Aku kelak tidak begitu," jawaban In Kiu l.iong terluncur begitu saja dari mulutnya, namun ketika sadar telah kelepasan bicara, buru-buru In Kiu Liong membungkam mulutnya sendiri.

Sedang Wan Lui telah menolehnya dengan wajah heran, dan In Kiu Liong jadi kikuk. "Apa tadi Toa-ko bilang? Aku tidak mendengar, karena suara orang di sini begitu ribut."

"Ah, bilang apa? Lihat, Tontonan yang menarik bukan?"

"Apa menariknya melihat seorang bekas pembesar yang turun kursi lalu dilempari telur busuk?"

"Wan-heng, berpikirlah lebih mendalam sedikit, apa yang di balik peristiwa ini? Tersingkirnya Ni Keng Giau berarti hilangnya satu pembantu tangguh bagi raja jahat itu, nah, bukankah berarti menguntungkan perjuangan kita kelak?"

Wan Lui mengangguk-angguk. "Mari, Wan heng, kita ikuti Ni Keng Giau sampai ke Hang-ciu. Kita lihat peristiwa apa lagi yang bakal terjadi di sekitar dirinya, siapa tahu peristiwa-peristiwa itu mencerminkan perkembangan di Pak-khia untuk dijadikan per hitungan langkah kita?"

Wan Lui tidak begitu berminat atau terpengaruh tiap kali In Kiu Liong bicara soal "perjuangan" karena Wan Lui tidak yakin. Kalau ia bersama In Kiu Liong, tak lain hanyalah mengharapkan bisa bertemu dengan gurunya, Pak Kiong Liong.

"Toa-ko, kalau kita ikuti mereka sampai Han-ciu, apakah ada kemungkinan bertemu dengan Kakek Pak Kiong Liong?"

"Ada kemungkinannya, Wan-heng. Sebab Ni Keng Giau itu orang penting, jatuh bangunnya dia menarik perhatian banyak pihak, dan gurumu mungkin sekali adalah salah satu dari pihak-pihak itu." In Kiu Liong mengucapkan hal itu agar Wan lui mau ikut dan bisa diperalat, namun membayangkan betapa akan bertemu dengan Pak Kiong Liong, ia jadi merinding sendiri.

"Kalau begitu, marilah Toa-ko."

Jadilah mereka berdua membuntui rombongan Ni Keng Giau dari kejauhan. Karena rombongan itu berkuda, In Kiu Liong terpaksa membeli dua ekor kuda, untuknya dan untuk Wan Lui. Hari pertama dan kedua, antara yang dibuntuti dan yang membuntuti tidak terjadi apa-apa. Juga nampaknya tidak ada pihak lain yang "berkepentingan” dengan Ni Keng Giau seperti perhitungan In Kiu Liong. Wan Lui harus menahan diri agar tidak mengeluarkan gerutuan kesalnya.

Hari ketiga. Selagi In Kiu Liong dan Wan Lui berkuda dengan santai, membuntuti rombongan Ni Keng Giau dari kejauhan, tiba-tiba dari belakang mereka berdua malah terdengar derap kuda yang dipacu kencang, makin lama makin dekat. Ketika Wan Lui menoleh, nampaklah tiga penunggang kuda dari arah yang sama dengan arahnya tadi.

Setelah lebih dekat lagi, bisa lebih jelas bahwa mereka ternyata terdiri dari dua orang pemuda yang nampaknya sepasang saudara kembar dan seorang gadis. Ketiga-tiganya memakai pakaian ringkas yang lazim dikenakan oleh kaum pendekar pengembara, bahkan dari belakang pundak-pundak mereka ju ga nampak mencuat gagang pedang-pedang mereka.

Wan Lui segera meminggirkan kudanya, namun saat itulah dia terkejut melihat kuda In Kiu Liong ternyata sudah tak berpenunggang entah sejak kapan. Entah ke mana pula perginya teman seperjalanannya, menghilang begitu saja tanpa bilang apa-apa. Maka terpaksa Wan Lui yang harus meminggirkan kuda temannya itu.

Sepasang pemuda kembar penunggang kuda itu berumur kira-kira setahun atau dua tahun lebih muda dari Wan Lui. Sedang si gadis berusia sekitar sembilanbelas atau duapuluh, caranya menguncir rambut masih seperti kanak lanak saja, dikuncir dua. Matanya bulat dan indah, keseluruhan penampilannya menimbulkan kesan lincah dan riang, namun karena menggendong pedang, jadi agak angker juga. Sesaat Wan Lui terpesona menatap gadis ini.

Ketika baru saja melewati Wan Lui, tiba-tiba salah satu pemuda kembar itu berteriak, "Berhenti!" Lalu menarik kekang kudanya kuat-kuat, sehingga kuda itu meringkik sambil mengangkat kaki depan tinggi-tinggi. Detik berikutnya kudanya sudah diputar menghadapi Wan Lui.

Kedua teman seperjalanannyapun berhenti. Mereka semua heran melihat Wan Lui yang hanya sendirian itu menuntun dua ekor kuda. Sedang Wan Lui sendiri agak menyesali dirinya, kalau tahu di tengah perjalanan bakal bertemu gadis secantik ini, mestinya tadi ia sedikit berdandan merapikan diri.

"Maaf, sobat, kami mau numpang tanya," kata salah satu pemuda kembar kepada Wan Lui sambil membungkuk hormat. Biarpun kembar, yang menanyai Wan Lui itu nampak lebih sabar, lebih tenang dari saudaranya yang kelihatan agak tidak sabaran dan selalu gelisah itu. "Sobat, apakah tadi melihat rombongan orang-orang berkuda berseragam satin ungu, mengawal seorang laki-laki?"

Tak pelak lagi, yang ditanyakan itu adalah rombongannya Ni Keng Giau. Wan Lui yang agak heran, ada hubungan apa orang-orang muda ini dengan Ni Keng Giau si "bintang yang sedang jatuh" itu? Namun dijawabnya juga, "Betul. Mereka ke arah tenggara."

"Terima kasih!" si penanya memberi hormat, lalu memutar kudanya. Sesaat kemudian, ketiga orang muda itu sudah berderap menjauh dengan meninggalkan debu yang mengepul tinggi.

Setelah ketiga orang itu jauh, In Kiu Liong melompat keluar dari balik semak-semak di pinggir jalan. Wajahnya nampak agak tegang menatap ketiga penunggang kuda yang menjauh itu, namun ketika menghadapi Wan Lui, ia kembali mencoba bersikap wajar.

"Toa-ko, kenapa tadi kau bersembunyi?" tanya Wan Lui.

"Bersembunyi? Ah, tidak. Aku tadi cuma mendadak ingin kencing, lalu pergi ke balik semak-semak itu," In Kiu Liong berdalih sambil tertawa-tawa.

Namun Wan Lui tak bisa menelan jawaban itu begitu saja. "Apakah toa-ko kenal ketiga penunggang tadi?"

"Kelihatannya cuma siswa-siswa sebuah perguruan silat yang sedang keluar untuk mencari pengalaman. Apa anehnya?"

"Mereka mengejar rombongan Ni Keng Giau."

"Mm...." cuma begitu jawaban In Kiu Liong, kelihatan benar-benar enggan membicarakan ketiga orang muda tadi.

"Jadi Toa-ko tidak kenal mereka?"

"Tidak."

"Eh, aku juga mau kencing sebentar," kata Wan-lui tiba-tiba. Diapun melompat turun dari kuda, lalu melangkah ke balik semak-semak darimana In Kiu Liong muncul tadi. Wan Lui benar-benar buang air kecil di situ, namun sambil memperhatikan tempat dibalik semak itu. Ternyata tidak ada tanah yang basah seperti habis dikencingi, kering semua. Itu artinya In Kiu Liong telah berdusta.

"Kenapa soal sekecil ini saja harus membohongi aku?” tanya Wan Lui sambil membenahi celananya. "Jangan-jangan segala hal yang dikatakannya kepadanya juga banyak bohongnya?"

Pergaulan beberapa hari dengan In Kiu Liong, memang membuat Wan Lui semakin tidak percaya, gerak-gerik In Kiu Liong terlalu terselubung. Namun untuk sementara Wan Lui merasa tidak ada salahnya bersama-sama sebagai teman seperjalanan.

Merekapun melanjutkan perjalanan dengan maksud semula, membuntuti Ni Keng Giau. In Kiu Liong ingin melihat nasib Ni Keng Giau guna meramalkan gejolak politik yang akan tiba. Seperti para ahli nujum memeriksa jatuhnya bilah-bilah bambu yang sudah dikopyok.

Ketika sore tiba, mereka tiba di sebuah desa kecil. Sebuah tempat yang cuma terdiri dari satu jalan lebar ditengah, dan deretan bangunan di kiri kanannya. Di belakang deretan rumah tak ada rumah lagi, cuma lereng pegunungan. Tapi tempat kecil itu komplit juga dengan beberapa rumah penginapan, warung makan dan beberapa toko kecil yang terutama menjual perlengkapan para musafir.

Ketika Wan Liu bertanya kepada seseorang, ia mendapat keterangan bahwa rombongan Ni Keng Giau juga berhenti di situ, memborong salah satu penginapan gaya desa. Maka ln Kiu Liong dan Wan Lui juga memutuskan untuk menginap semalam di tempat itu.

"Bagaimana kalau kita ambil penginapan yang berseberangan dengan tempat rombongan Ni Keng Giau, supaya lebih leluasa mengawasi gerak-gerik mereka?'’ usul Wan Lui sambil menuntun kudanya memasuki desa.

"Baik," sahut ln Kiu Liong tanpa pikir panjang.

Tapi setelah mereka tiba di depan penginapan yang dimaksud, niat ln Kiu Liong dibatalkan secara mendadak. Soalnya di bagian depan dari penginapan yang dimaksud, In Kiu Liong melihat tiga ekor kuda yang ditambatkan di situ dikenalinya sebagai kuda-kuda tunggangan tiga pemuda yang tadi bertemu dijalanan. Rupanya ketiga pemuda itupun mengambil tempat tepat di sebarang penginapan Ni Keng Giau dan rombongannya.

Karena itu, ketika Wan Lui hampir saja berbelok masuk, In Kiu Liong mencengkeram lengan Wan Lui sambil berdesis dengan nada panik, "Tidak, Wan-heng.... jangan di sini!"

"Kenapa?"

"Pokoknya tidak di sini!" hanya itu yang dikatakan ln Kiu Liong sambil buru-buru menuntun kudanya menjauhi tempat itu.

Terpaksa Wan Lui harus mengikutinya, sebab ia tidak mengantongi uang sepeserpun, dan semua biaya perjalanan selama ini ditanggung ln Kiu Liong. Gerak-gerik ln Kiu Liong itu juga mengherankannya. Di satu saat bersikap seperti jagoan yang gagah berani dan serba dingin menghadapi sesuatu, namun di lain saat mirip sekali maling amatiran yang baru pertama kali nyolong. Serba gugup dan ketakutan.

Mereka akhirnya mendapat penginapan yang tidak bcrseberangan, tapi bersebelahan tepat dengan tempat penginapan Ni Keng Giau. Tempat itu penuh dengan manusia-manusia seperti pedagang keliling, pesilat tanpa kelas, pengantar barang dan sebagainya.

"Toa-ko, tadi toa-ko bilang tidak kenal orang-orang muda penunggang kuda tadi, namun kulihat sebenarnya toa-ko sudah kenal mereka," dasar bocah gunung, cara Wan Lui mengutarakan keheranannya juga langsung saja, tidak berbelit-belit. Mereka berdua tengah bersantap malam di dalam kamar mereka yang ada di bagian belakang.

In Kiu Liong mengerutkan alisnya, "Bagaimana kau sampai kepada pikiran sejauh itu, Wan-heng?"

"Kusimpulkan dari sikap Toa-ko sendiri. Toa-ko seperti enggan berpapasan dengan mereka, selalu menghindar. Kalau Toa-ko benar-benar tidak kenal mereka, kenapa bersikap demikian?"

Wajah In Kiu Liong kelihatan gusar. Sama gusarnya dengan wajah seorang ayah yang kolot ketika mendengar pertanyaan anaknya yang polos "darimana datangnya adik?" Jawabnya kepada Wan Lui, "Itu urusan yang tidak ada sangkut pautnya denganmu, Wan-heng."

Wan Lui menarik napas dan berpikir. "Begitu bersemangat Toa-ko membuntuti Ni Keng Giau untuk melihat nasib akhirnya. Ini pasti bukan dorongan rasa ingin tahu biasa, pasti ada tujuan lain yang dia anggap begitu penting. Namun dia tak pernah mau berterus terang ke padaku."

Di desa kecil itu, begitu matahari tenggelam, maka kesunyian menyerbu dan mengusai suasana. Suara manusia cepat menghilang, digantikan suara serangga-serangga malam dari lereng bukit. Dari balik bukit bahkan terdengar lolongan kawanan serigala bersahutan.

Sepasang kelopak mata Wan Lui hampir saja direkat oleh kantuk, namun telinganya yang tajam tiba-tiba menangkap bunyi halus yang membuatnya terjaga kembali. Bunyi tepat di atas kepalanya. Suara telapak kaki yang dengan lembutnya menginjak genteng, begitu lembutnya, sehingga Wan Lui pun hampir tidak mendengarnya.

Perlahan-lahan Wan Lui bangkit dari pembaringannya, memasukkan kedua kakinya bergantian ke sepatunya, lalu hendak melangkah keluar. Namun terdengar suara In Kiu Liong dingin dari bawah selimutnya, "Rasanya kita tidak perlu ikut campur dalam urusan yang tidak bersangkut paut dengan kita, Wan-heng."

"Cuma sebagai penontonkan tidak ada salahnya?"

"Sebagai penonton pun sebaiknya jangan. Sering seorang penonton pun tiba-tiba terseret masuk ke dalam persoalan itu, diluar kemauannya sendiri. Tidur sajalah, Wan-heng."

Wan Lui jadi merasa tidak senang mendengar suara bernada memerintah itu. "Maaf, Toa-ko, seingatku aku belum pernah berjanji untuk menjadi bawahanmu yang lurus tunduk kepada perintahmu bukan?"

Habis berkata demikian, terus saja Wan Lui melangkah keluar. Di luar, awan mendung membuat langit jadi hitam sehitam-hitamnya, sehingga sekiranya tak ada cahaya lampion di beberapa sudut, suasana tentu akan seperti dalam peti mati yang sudah ditutup.

Begitu keluar dari kamar, Wan Lui tidak langsung ke tengah-tengah halaman terbuka, melainkan merapatkan diri kedinding, menyembunyikan kehadirannya di bawah bayangan pinggiran atap. Di dengarnya suara langkah lembut itu sekarang di atas genteng bangunan sayap kanan, maka Wan Lui menyusur tembok menuju ke kiri. Sampai akhirnya pandangan matanya bebas menyeberangi halaman dan melihat ke atas genteng bangunan sayap kanan.

Nampak tiga sosok bayangan sedang mendekam di atas genteng, ketiga-tiganya memakai ya-hing-ih (pakaian pengembara malam) yang serba hitam dan ringkas, lengan pedang-pedang tergendong di punggung mereka. Yang membangkitkan minat Wan Lui ialah ketika melihat salah satu bayangan itu biarpun membelakangi dan tak nampak wajahnya, namun ada sepasang kuncir rambutnya. Wan Lui langsung menduga kepada gadis berkuncir dua yang ditemuinya siang tadi, dan yang dua lagi pun mudah ditebak, tentunya sepasang pemuda kembar itu.

"Mungkinkah mereka sedang mengintip rombongan Ni Keng Giau?" Wan Lui menduga-duga dalam hati.

Terlihat ketiga orang itu saling bicara dengan bahasa isyarat tangan. Salah satu pemuda kembar menuding-nuding ke penginapan sebelah, namun saudara kembarnya nampak menggoyang-goyang tangan untuk mencegah. Tapi yang dicegah tidak menurut, ia malah melingkarkan kuncir rambutnya ke leher agar tidak mengganggu, lalu menghunus pedang nya. Saudara kembarnya masih berusaha mencegah, namun tidak digubris.

Pemuda yang berangasan itu tidak sekedar mengintai lagi, tapi muncul secara terang-terangan, la melompat turun ke halaman penginapan sambil ber teriak, "Ni Keng Giau, pembunuh biadab! Terimalah pembalasan kami!"

Lalu dari halaman sebelah terdengar suara pertempuran, senjata-senjata yang berdencingan gencar. Si kembar yang satu lagi dan si kuncir dua agaknya tidak tega membiarkan si kembar pertama tadi menghadapi bahaya seorang diri, maka merekapun terpaksa berlompatan masuk ke halaman penginapan sebelah, sambil menghunus pedang-pedang mereka.

Suara pertempuran di halaman penginapan sebelah itupun jadi amat ramai. Wan Lui mulai tertarik untuk melihat, tapi lebih dulu ia memperhitungkan tempat. Dilihatnya di bagian belakang bangunan sayap kanan itu ada ranting-ranting pohon berdaun rimbun yang menjulur dari luar dinding halaman. Tempat itu bagus untuk mengintai.

Sesaat Wan Lui mengatur pernapasan dan mengumpulkan semangat. Kakinya tiba-tiba tertekuk sedikit lalu menjejak tanah, melakukan gerakan Hui-niau-jip-lim (burung terbang ke hutan). Tubuhnya seperti panah lepas dari busurnya, membuat gerak lengkung di atas halaman menyeberanginya, dalam satu detik sudah mendarat ringan di belakang rimbunnya dedaunan yang menaungi genteng itu. Seandainya ada suara kakinya ketika menyentuh genteng, tentu suara itu tak lebih keras dari suara sehelai kertas yang jatuh ke permukaan meja.

Dari tempat itulah Wan Lui melihat di halaman penginapan sebelah memang telah terjadi pertempuran seru. Tiga orang muda tadi menghadapi enam orang anggota Ci-ih Wi-kun. Ni Keng Ciau juga nampak dipinggir arena, berdiri dengan sikap anggun seolah-olah masih dalam kedudukannya yang belum dilucuti.

Sementara ketiga orang muda itu masing-masing harus menghadapi dua orang lawan. Ternyata mereka bertiga menunjukkan ketangguhan silat mereka biarpun lawan-lawan mereka pun adalah anggota-anggota Ci-ih Wi-kun, orang-orang yang dipilih oleh Kaisar sendiri.

Ketika Wan Lui memperhatikan lebih cermat ilmu silat orang-orang muda itu, nampak bahwa aliran silat sepasang pemuda kembar itu berbeda dengan aliran silat si gadis berkuncir dua, padahal tadinya Wan Lui mengira mereka bertiga adalah satu perguruan. Ternyata tidak.

Dan di antara pernuda kembar itu, biarpun satu aliran ternyata masih bisa dibedakan gaya tempur mereka. Yang satu terlihat kuat dan ganas dalam menyerang, seperti gelombang lautan yang didorong badai. Serangannya bertubi-tubi dan mengalir tanpa putus, memaksa kedua lawannya lebih memusatkan diri untuk bertahan daripada menyerang.

"Kalau gaya bertempur ini bisa lama dan tidak segera menghabiskan tenaga, tentunya pemuda ini hebat juga, diam-diam Wan Lui menilai dalam hati.

Sedangkan saudara kembarnya bertempur dengan tenang, kokoh, nampak bertahan rapat dan tidak tergesa-gesa, la nampak sekokoh sebuah bukit batu, biarpun serangannya tidak segencar saudara kembarnya.

“Meskipun mereka memainkan ilmu pedang yang sama, namun kepribadian mereka menghasilkan cara bertempur yang berbeda pula," kata Wan Lui dalam hati. "Memang, di dunia ini mana ada dua manusia yang sama presis, biarpun saudara kembar sekalipun? Wajah dan perawakan boleh sama, tapi tak mungkin tepat sama dalam kepribadian yang terwujud dalam sepak terjang sehari-hari."

Lalu perhatian Wan Lui dialihkan kepada si gadis berkuncir dua. Bukan cuma cantik, ternyata caranya bertempur juga cukup istimewa. Sarung pedang si gadis ternyata adalah sebatang tongkat besi yang berlubang di bagian tengahnya. Kalau pedang dicabut, maka gadis itu berarti jadi memegang sepasang senjata, namun ternyata malah sarung pedanglah yang dimainkan lebih hebat dengan tangan kanan, sedang pedangnya malah hanya dimainkan dengan tangan kiri.

"Wah, jadi gadis itu sebenarnya lebih pintar main tongkat," pikir Wan Lui kagum. "Dan pedangnya malah cuma menjadi senjata nomor dua.”

Keistimewaan lain, gadis itu bukan kuncirnya saja yang dua, namun seakan juga punya dua otak dan dua perasaan untuk mengendalikan tangan kanan dan tangan kirinya secara terpisah. Tangan kanan yang bertongkat itu menyerang dengan hebat dan kuat, gerak-geraknya sederhana tapi berdaya gempur hebat. Seperti seekor gajah yang mengamuk, seolah bukit pun akan hancur diterjangnya. Mengherankan juga bahwa seorang gadis yatig nampak lembut bisa bertempur macam itu.

Sebaliknya lengan kirinya yang berpedang itu bergerak seperti lengan seorang penari yang gemulai, namun bukan berarti tidak berbahaya. Ujung pedangnya bergerak ringan dan cepat, gemerlapan seperti seribu lebah perak yang serempak keluar dari sarangnya. Sulit dibedakan mana yang lebih berbahaya antara tangan kanan dan tangan kiri, sama sulitnya menentukan mana yang lebih tidak disukai antara diseruduk gajah marah atau dikeroyok lebah beracun.

“Hebat gadis ini," Wah Lui tambah kagum dalam hati. Pertempuran meningkat makin seru, namun kedua pihak masih sama-sama dalam pergulatan merebut peluang. Betapapun hebatnya ketiga orang muda itu, namun para jagoan Ci-ih Wi-kun itu juga bukan jagoan-jagoan kelas kambing. Di istana, merekalah kelompok yang bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar Yong Ceng pribadi.

Salah satu pemuda kembar, yang berwatak berangasan, harus menghadapi dua anggota Ci-ih Wi-kun yang sama-sama bersenjata pedang. Kedua lawannya itu berkelahi dengan kompak, saling mengisi, dan nampak jelas mereka juga seperguruan. Yang satu bertubuh jangkung, lengannya panjang, gerak pedangnya amat cepat sehingga menimbulkan banyak bayangan yang membingungkan, sulit membedakan mana bayangan pedang palsu dan mana pedang yang asli. Kalau salah membedakan, akibatnya bisa gawat.

Sedang jago Ci-ih Wi-kun yang satu lagi bertubuh ramping, gerak langkahnya cepat berputaran seolah tubuhnya tanpa bobot. Serangan pedangnya dari segala penjuru. Tidak mengherankan kalau kedua orang itu begitu tangguh, karena merekalah Jian-ing-kiam (Pedang Seribu Bayangan) Ho Se Liang, dan Lam Thai Hong (Prahara Selatan) Au Yang Kong. Orang pertama dan kedua dari Heng-san-sam-kiam (Tiga Pedang Heng-san).

Sementara si kembar yang lain juga menghadapi dua lawan. Satunya adalah Hui-kiam-eng. (Pendekar Pedang Terbang) Teng Jiu, orang ketiga dalam Heng-san-kiam. Yang satunya adalah Wan Yen Coan yang bersenjata cambuk Liong-jiu-pian (Cambuk Moncong Naga).

Ketika Kim Seng Pa pulang dari Jing-hai dan mengetahui bahwa Heng-san kiam ikut berperan dalam menjatuhkan Ni Keng Giau dengan cara menyelidiki dan melaporkan gerak-gerik perwira-perwira pendukung Ni Keng Giau sehingga bisa dihancurkan, maka Kim seng pa amat memuji peranan ketiga orang Heng-san-sam-kiam itu. Cuma satu yang Kim Seng Pa tidak ketahui bahwa Heng-san-sam-kiam berbuat demikian demi Pangeran In Te, bukan demi Kim Seng Pa ataupun Liong Ke Toh.

Begitulah, dalam perjalanan ke Tan liu untuk menghukum Ni Keng Giau, Kim Seng Pa mengajak pula ketiga saudara seperguruan itu. Kemudian mereka juga ditugaskan ikut ke Hang-ciu untuk mengawal Ni Keng Giau sampai di sana, sementara Kim Seng Pa sendiri pulang ke Pak-khia tersama Toh Jiat liong, orang terdekatnya.

Menghadapi orang-orang muda yang bermaksud membunuh Ni Keng Giau itu, dalam hati Heng-san-sam kiam sebetulnya malah mengharapkan agar orang-orang muda itu benar-benar berhasil membunuh Ni Keng Giau. Pagi pendukung pendukung Pangeran In Te itu, lebih baik kalau Ni Keng Giau mati saja. Kalau cuma dibuang atau diturunkan pangkatnya, siapa tahu kelak bisa bangkit kembali dan pulih kedudukannya? Namun dalam rombongan pengantar Ni Keng Giau itu, Heng-san-sam-kiam sadar hanya mereka bertigalah yang sejalan dan setujuan, sedang yang lain bersikap lain pula.

Menghadapi pernuda yang beringas itu, Ho Se Liang dan Au Yang Kong sebenarnya tidak terdesak. Kalau maju satu persatu, mereka memang bisa kalah, namun kalau bergabung dua orang, untuk balik mendesakpun mereka bisa. Namun mereka tidak melakukan itu. Mereka justru pura-pura terdesak, mundurnya sengaja ke arah Ni Keng Giau yang berdiri di pinggir arena. Mereka bermaksud supaya pemuda beringas itu mendapat kesempatan untuk menyerang N i Keng Giau.

Demikianlah, di balik pertempuran yang nampak bersungguh-sungguh itu ternyata juga tersembunyi intrik berlatar belakang politik. Ho Se Liang dan Au Yang Kong memang bermain indah dan sedap dipandang, namun tidak bersungguh-sungguh. Lawannya yang tidak menyadari hal itu, masih bertempur dengan ganas.

"Anjing-anjing Kaisar, kalian menghalangi aku membunuh Ni Keng Giau, biar kubunuh kalian lebih dulu!" bentak pemuda itu sambil melancarkan gerak tipu Tai-peng-tian-ci (Garuda Mementang Sayap). Pedangnya terpecah menjadi dua jalur cahaya untuk menikam Ho Se Liang dan Au Yang Kong.

Ho Se Liang pura-pura menangkis dan kalah tenang sehingga terhuyung-huyung ke samping. Sedang Au Yang Kong juga melompat menghindari "melebihi keperluan" sehingga seolah meninggalkan penjagaannya. Dengan demikian, kedua saudara seperguruan itu seolah "mempersilahkan" si pemuda beringas itu membunuh Ni Keng Giau yang kini tak terjaga lagi dan cukup dekat.

Memang benar pemuda berangasan itu lalu menggunakan kesempatan untuk melompat secepat kilat, menikamkan pedang ke arah dada Ni Keng Giau. Tujuan utamanya memang membunuh N i Keng Giau, bukan sekedar cari perkara dengan "anjing-anjing Kaisar".

Ni Keng Giau terkejut, tak menyangka kalau kedua "pelindung" nya meninggalkan garis pertahanan secara demikian tak bertanggung- jawab, dan kini seorang musuh yang ganas sudah menerjang ke arahnya, Cepat Ni Keng Giau pun melompat mundur, sambil menyambar sebatang sapu ijuk untuk dijadikan senjata.

Sebagai murid Pun-bu Hwe-shio, harusnya Ni Keng Giau berilmu tinggi. Harusnya. Tapi sudah banyak tahun ia tidak berlatih silat, mempercayakan keselamatan dirinya kepada pengawal-pengawalnya, maka ilmu silat Ni Keng Giau pun kini kedodoran. Ketika pedang lawannya berkelebat sekali lagi, maka batang sapunya tertebas kutung, bahkan lengannyapun tergores sedikit. Ni Keng Giau lalu membalik tubuh untuk lari ke dalam, sedangkan Ho Se Liang dan Au Yang Kong sengaja berlambat- lambat untuk menolong.

Cepat Ni Keng Giau pun melompat mundur, sambil menyambar sebatang sapu ijuk untuk dijadikan senjata. Si pemuda terus memburu dengan tak kenal takut. Tapi ketika pedangnya hampir menembus punggung Ni Keng Giau, tiba-tiba tubuh Ni Keng Giau ditarik masuk ke dalam secepat kilat, oleh sebuah tangan yang kuat. Ni Keng Giau jatuh tertelungkup di dalam, namun nyawanya selamat.

Kemudian dari balik pintu muncul cahaya keperak-perakan yang memukul balik pedang si pemuda. Pemuda itu terkejut ketika pedangnya terbentur begitu keras sehingga hampir lepas dari tangannya. Cepat-cepat ia melompat menjauhi ambang pintu untuk bersiaga. Saat itu Ho Se Liang dan Au Yang Kong merasa kurang pantas dilihat kalau diam saja. Maka kembali mereka menyerang pemuda itu. kendati tetap dengan setengah hati.

Sementara itu, dari ambang pintu tadi muncul pula dua orang jagoan Ci-ih Wi-kun yang bertampang luar biasa. Yang satu tua, kurus, pucat bungkuk. tangannya memegang pipa tembakau sepanjang tiga jengkal, berwarna keperak-perakan yang tadi di gunakannya untuk menangkis pedang si Pemuda. Dialah Sat Siau Kun, tokoh nomor tiga dalam kelompok Ci-iH Wi-kun yang berjulukan Tiat-jiau-hui-hou (Rubah Terbang Berkuku Besi).

Yang satu lagi bertubuh tinggi tegap, mukanya juga pucat namun nampak bengis, ada goresan bekas luka menyilang "menyeberangi” wajahnya dari kuping kanan sampai ke rahang kiri dan hidungnya terpapas sebagian. Tak pelak, inilah wajah yang diperlukan oleh para ibu untuk menakut-nakuti anak-anak mereka yang nakal. Senjata yang dibawanyapun tidak lazim, sebuah payung hitam berujung lancip. Dia Su-ma Hek-liong, berjulukan Toat-beng-san (Payung Pencabut Nyawa), tokoh nomor empat dalam Ci-ih Wi-kun.

"Siapa kalian, berani menyerang kami yang sedang menjalankan tugas dari Kaisar?" bentak Sat Siau Kun garang. "Kalian bisa mendapat cap sebagai pemberontak-pemberontak tak berampun!"

"Kami hanya ingin membunuh Ni Keng Giau!" sahut pemuda berangasan tadi.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

“Arwah dari ribuan orang tak bersalah yang menjadi korban kelaliman Ni Keng Giau dan si raja iblis Yong Ceng! Ribuan arwah dari seluruh negeri!"

Pertempuran berlangsung terus, Su-ma Hek-long memperhatikan dengan cermat dari pinggir arena. Tiba-tiba Su ma Hek-long tertawa dan berkat, "Biarpun kalian tidak mengaku, aku tahu kalian adalah bangsat-bangsat cilik dari Hwe-liong-pang (Serikat Naga Api). Cara kalian bermain pedang sudah kelihatan. Dan gadis itu tentu ada hubungan dengan keluarga Se-bun dari Lok-yang!"

Sat Siau Kun mengangguk-angguk. "Begitukah? Bagus. Jadi si kembar itu adalah cucu Tong Lam Hou yang sudah jadi setan penasaran itu, sekaligus juga cucu Pak Kiong Liong si buronan itu. Bagus. Kalau berhasil kita tanggkap mereka, setidaknya bisa digunakan untuk memancing Pak Kiong Liong keluar dari lubang persembunyiannya yang entah di mana.

Pemuda kembar itu memang cucu-cucu mendiang Tong Lam Hou, ketua lama Hwe-liong-pang yang gugurnya karena dikhianati muridnya sendiri, Pangeran In Tong. Kedudukan ketua Hwe-liong pang kini dipegang Tong Gin Yan, ayah pemuda kembar itu. Di masa itu, Hwe-liong-pang bukan lagi sebuah kelompok kuat yang terang-terangan mendirikan markas di suatu tempat, melainkan sudah menjadi gerakan bawah tanah yang markasnya harus berpindah-pindah karena harus berhadapan dengan kekuasaan Kaisar Yong Ceng yang getol ingin menumpas mereka.

Pemuda kembar itu masing-masing bernama Tong San Hong, yang lebih tenang sikapnya, dan Tong Hai Long yang berangasan dan tadi hampir saja berhasil membunuh Ni Keng Giau. Sedangkan gadis berkuncir dua itu adalah Se-bun Hong-eng, puteri Se Bun Beng dari Lok-yang, pendekar yang menjadi sahabat suami-isteri Tong Gin Yan dan Pak Kiong Liong.

Tidak mengherankan setelah mengetahui siapa pemuda kembar itu, Sat Siau Kun dan Sti-ma Hek-long jadi bernafsu untuk menangkap mereka. Kalau berhasil, besarlah pahalanya di hadapan Kaisar. Memang anak-anak muda itu bukan buronan, tapi anak dan cucu buronan buronan penting dan bisa digunakan untuk memancing para buronannya sendiri agar keluar dari persembunyiannya.

Sebaliknya, Heng-san-sam-kiam diam-diam malah jadi mengkhawatirkan keselamatan pemuda kembar itu. Mereka tahu kalau pihak Hwe-liong-pang akrab dengan Pangeran In Te yang mereka dukung. Mereka juga menduga keras, Pangeran In Te yang dikabarkan "hilang di Jing-hai" itu bukan mustahil disembunyikan dan dilindungi oleh orang-orang Hwe-liong-pang. Maka Heng-san-sam-kiam mulai bingung bagaimana menyuruh pergi dengan selamat kepada anak-anak muda itu.

Yang juga terkejut setelah mendengar siapa sebenarnya pemuda kembar itu juga Wan Lui yang berada di persembunyiannya. Pemuda kembar itu adalah cucu-cucu gurunya. Ia jadi ingat, dulu sebelum gurunya pergi meninggalkannya, gurunya berpesan kalau bertemu anak kembar bernama Tong Hai Long dan Tong San Hong agar dianggap sebagai saudaranya sendiri. Dan kini ia sudah bertemu, justru di saat si kembar itu terancam bahaya.

“Benar kata In Toa-ko,“ pikir Wan Lui di persembunyiannya. Mula-mula maunya memang cuma menonton, tapi akhirnya harus terlibat juga."

Sementara itu, Sat Siau Kun telah masuk ke arena dengan sikap memandang rendah lawan- lawannya. Ia mendekati Tong Hai Long sambil menghisap dan mengebul-ngebulkan pipa tembakaunya yang panjang keperak-perakan itu. kepada Ho Se Liang dan Au Yang Kong yang nampaknya “amat payah" melawan pemuda itu, Sat Siau Kun rnemerintah, “Minggir kalian!"

Ho Se Liang dan Au Yang Kong cemas kalau sampai pemuda itu ditangani sendiri oleh Sat Siau Kun, barangkali akan menemui nasib amat buruk. Karena itu, mereka tidak segera minggir, malah Ho Se Liang menjawab, “Sat Tai-jin, kami masih sanggup. Sebaiknya Tai-jin awasi Ni Keng Giau saja, nanti dia lari.”

“Minggir kataku!" bentak Sat Siau Kun. Kalian saja yang mengawasi Ni Keng giau!"

Ho Se Liang dan Au Yang Kong pun terpaksa berlompatan mundur, biar pun dalam hati masih mencemaskan nasib cucu Pak Kiong Liong itu. Ingin memberi isyarat, khawatir kalau dilihat Sat Siau Kun. Sedangkan Tong Hai Long sendiri malah menunjukkan sikap tak kenal takut.

Sambil mengobat-abitkan pedangnya dengari gencar, ia berseru, "Ayo maju semua! Makin banyak begundal kaisar iblis itu yang mampus, akan makin amanlah kehidupan rakyat kecil!"

Sat Siau Kun tertawa terkekeh. "Sikap hidup yang membahayakan hidupmu sendiri itu tentunya diajarkan oleh kedua orang tuamu bukan atau oleh kakekmu Pak Kiong Liong? He- he-he.... selagi Hwe-liong-pang dipuncak kejayaan nya pun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi sekarang tinggal sisanya yang tercerai-berai dan hidup sebagai pencoleng-pencoleng kecil."

Tong Hai Long terbakar hatinya mendengar ejekan itu. Ia berseru sambil meluncur ke depan, ujung pedangnya mengarah ke leher Sat Siau Kun dengan gerak tipu Ya-long-tiau-kan (Serigala liar Melompati Parit). Ilmu pedang yang dimainkannya ialah Tiam-jong-kiam hoat ajaran kakeknya yang almarhum, Tong Lam Hou. Suatu ilmu pedang yang tidak peduli soal keindahan gerak, melainkan sepenuhnya harus diperhatikan daya gempurnya. Tak ada gerakan kembangan atau pemanis, tujuannya hanyalah memenangkan perkelahian.

Tadinya Sat Siau Kun memandang remeh pemuda yang dalam hal usia pantas menjadi cucunya itu, namun kemudian dikagetkan oleh ilmu pedang yang hebat itu. Cepat ia memiringkan tubuh sambil memukulkan pipa peraknya ke pedang lawan, sekalian mendesak maju sambil mencakar leher lawan dengan tangan kirinya. Julukannya Rubah Terbang.

Berkuku Besi, maka kekuatan jari-jarinya itu mampu meremukkan tulang leher. Tong Hai Long membiarkan pedang nya terpental sambil melompat pendek ke samping, lalu pedangnya tiba-tiba berkelebat rendah untuk membabat ke sepasang kaki lawan dengan gerak tipu Ji-kong-cam-coa (Ji Kong menebas ular).

"Kau hebat, bocah cilik!" geram Sat Siau Kun untuk menutupi rasa kagetnya. Ia melompat menyelamatkan sepasang kakinya berbareng dengan jurusnya Siok-liu-kik-ting (Petir Menyambar Kepala) yang sebenarnya adalah jurus toya, namun dimainkan dengan pipa tembakau untuk mengepruk ke kepala Tong Hai Long.

Dengan keberanian luar biasa Tong Hai Long tidak menggubris serangan itu, malah membarengi menikam ke dada lawan. Pedangnya lebih panjang dari pipa lawan, maka kalau serangan sama-sama diteruskan, jelas pedangnya yang akan lebih dulu kena sasaran. Sat Siau Kun menggeram marah untung dia lincah, la juga malu kalau sampai dipaksa mundur oleh seorang bocah kemarin sore, maka ia menangkis dengan pipanya sambil terus mendesak, maju dengan cakaran-cakaran hebatnya.

Begitulah, yang tua malu untuk mundur, yang muda berangasan dan tak kenal takut, ramailah jadinya pertempuran itu. Kemudian Su-ma Hek-Iong juga maju ke gelanggang sambil menjinjing payung hitamnya. Yang didekati ialah si kembar yang satu lagi, Tong San Hong, yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh" pulang ke Pak-khia setelah selesai mengamarkan Ni Keng Giau di Hang-ciu.

"Biar aku yang menangkap cucu pemberontak ini!" katanya kepada Liong jui- pian Wan Yen Coan dan Hui-kiam-eng Teng Jiu yang tengah menghadapi Tong San Hong.

Namun Wan Yen Coan tetap memutar kencang cambuknya, sambil menyahut. "Su-ma Toa-ko (kakak Suma), aku sendiripun sanggup meringkus setan kecil Hwe-lioug-pang ini!"

Rupanya Wan Yen Coan segan ke hilangan pahala. Tapi baru saja selesai kata-katanya, ujung pedang Tong San Hong berhasil menerobos pertahannya dan menikam pahanya. Selama ini Wan Yen Coan sanggup mengimbangi lawan karena di bantu Teng Jiu, maka ketika Teng Jiu mendadak keluar dari arena, ia tak sanggup membendung Tong San Hong se orang diri. Dengan kaki kesakitan, ter paksa ia harus melompat minggir dan memberi kempatan Su-ma Hek-long yang bakal mendirikan pahala.

"Teng Jiu, kalau mau meninggalkan arena jangan begitu mendesak, sehingga mencelakai aku,” kata Wan Yen Coan jengkel kepada Teng Jiu.

"Ah, maaf, karena aku mentaati seruan Su-ma Toa-ko agar minggir," sahut Teng Jiu dengan sikap ketolol-tololan, namun sebenarnya tertawa dalam hatinya. "Lagipula aku mengira kau benar-benar sanggup menangkap bangsat cilik itu seorang diri, seperti katamu tadi."

Sementara itu, tanpa banyak main gertak atau mengancam dengan kata-kata, Su-ma Hek-long langsung saja memainkan senjatanya. Selagi tertutup, payung hitamnya bisa dimainkan seperti gada atau tombak. Disertai deru angin kencang, digebuknya arah pinggang lawannya dengan gerak mendatar, dan ketika lawannya menghindar dengan mundur, ujung payungnya yang lancip ditusukkan ke depan dalam gaya ilmu tombak.

Tong San Hong memperkokoh kuda-kudanya, lalu memainkan Hong-kui-lok-hoa (Angin Balik Menggugurkan Kembang). Menangkis lebih dulu, lalu membacok ke depan. Tiba-tiba payung Su-ma Hek-long mengembang, dan pedang Tong San Hong seolah membentur perisai lebar. Ternyata lembaran payung itu tidak terbuat dari kertas seperti lazimnya, melainkan anyaman benang-benang baja lembut dan liat, tahan bacokan pedang biasa.

Belum lagi Tong San Hong sempat menarik pedangnya, payung hitam itu tiba-tiba diputar kencang bagaikan roda, amat bertenaga, membentuk tenaga menghisap yang mengakibatkan pedang Tong San Hong seolah masuk ke dalam sebuah pusaran air bertenaga raksasa. Cepat Tong San Hong memperkeras genggaman atas tangkai pedangnya, lalu melompat mundur.

Namun kini Su-ma Hek-long yang mengejar. Payungnya masih terkembang dan berputar kencang, seperti roda hendak melindas lawannya karena dibawa maju oleh Su-ma Hek-long dengan langkah menyamping. Kalau sampai lawan terlindasnya, sulit dibayangkan akibatnya, sebab ruji-ruji payung ternyata runcing runcing, sehingga sekeliling tepi payung seolah dipasangi pisau-pisau kecil yang sanggup merajang kulit dan daging.

Beberapa saat lamanya Tong San Hong jadi repot, la berputaran mencari sudut serangan yang bisa dilewatinya, tapi lawan tak kelihatan karena selalu berlindung di belakang payung lebar itu. Sementara payungnya terus menggulung dengan hebat. Suatu saat Tong San liong coba melompat ke belakang lawannya, yang dalam teori silat disebut "melewati Bwe-mui" namun lawan dengan tangkas memutar tubuh, tetap berada di belakang payungnya. "Bwe-mui" yang hendak dilewati Tong San Hong itu tetap dijadikan "Toa-mui" baginya. Tong San Hong juga mencoba menyerang dari atas, dan gagal pula.

Begitulah, Tong San Hung jadi sama bingungnya dengan seekor macan yang gagah perkasa, namun menghadapi seekor kura-kura yang aman bersembunyi di balik batoknya yang tebal dan kuat, tak mempan kuku ataupun gigi sang harimau. Selain itu, "kura-kura" yang satu ini tergolong istimewa juga. Tidak cuma bersembunyi, tapi juga bisa menyerang dengan hebat, baik dengan ujung runcing di ujung tangkai payung, maupun dengan ujung jeruji- jeruji tajam di sekeliling payungnya.

Namun Su-ma Hek-long sendiri pun sesungguhnya berkeringai dingin menghadapi ilmu pedang Tong San Hong. Memang ia dapat bertahan rapat di balik payungnya, namun ia tak berani membayangkan bagaimana akibatnya kalau sampai ia menguncupkan payungnya, sebab "diluar" sana ada jaringan gerakan pedang yang begitu rapat seperti air yang melingkari dari segala penjuru.

Jadi pertempuran itu bisa juga digambarkan seperti banjir besar kontra benteng batu yang kokoh kuat. Jalan buntu. Banjir tak bisa memasuki benteng, sebaliknya orang di dalam benteng juga tak bisa keluar, kalau tidak mau diseret di mampuskan oleh sang banjir.

Begitulah, sementara si kembar Tong San Hong dan Tong Hai Long "keasyikan" ketemu lawan-lawan tangguh, yang tambah berat keadaannya ialah si gadis Se-bun Hong-eng. Biarpun permainan tongkat dan pedangnya tergolong unik, namundaya tahan tubuh maupun pengalamannya tak begitu mendukung. Apalagi setelah lawannya bertambah dengan Wan Yen Coan. Hanya tiga bersaudara seperguruan Heng-san-sam-kiam yang tidak ikut maju dengan alasan ''menjaga Ni Keng Giau agar tidak kabur".

Dua lawan Se-bun Hong-eng sebelum terjunnya Wan Yen Coan, adalah dua jagoan Ci- ih Wi-kun yang masing-masing bersenjata Jit- goat-siang-lun (sepasang roda matahari dan rembulan) serta Kau-lian-jio (tombak berkait) yang masing-masing taraf ilmunya tidak di bawah Wan Yen Coan. Ketika ditambah dengan Wan Yen Coan yang biarpun sudah luka namun tetap tangguh, Se-bun Hong-eng tak sanggup lagi menghadapi gabungan tenaga ketiga jago istana itu.

Wan Yen Coan yang mengambil posisi ditengah, suatu ketika menyabetkan cambuknya bertubi-tubi dengan gerakan In-kong-ciok-eng (menembus cahaya menangkap bayangan). Bunyi cambuknya seperti petir beruntun yang menggetarkan. Sementara kedua rekannya merunduk dari kanan kiri untuk menanti peluang.

Agar repot Se-bun Hong-eng menjaga serangan dari depan, sambil membagi perhatian ke kedua arah lainnya. Ia mundur meninggalkan titik silang garis-garis serangan ketiga lawannya. Mundur sambil serong agar kerjasama segitiga antara lawan-lawannya menjadi pincang. Begitu teorinya. Tapi ketiga lawannya adalah jago-jago berpengalaman pula, mereka bergerak menempati sudut-sudut baru yang membuat Se-bun Hong-eng tetap terkurung.

Karena masih kurang pengalaman, gadis itu jadi panik. Ketika geraknya melambat, tahu- tahu pedang di tangan kirinya telah berhasil dibelit oleh cambuk Wan Yen Coan. Si gadis melepaskan pedangnya dengan cara meluruskannya sejajar dengan tarikan cambuk lawannya, sedang tongkat kanan dipakai menggempur kepala Wan Yen Coan. Namun Wan Yen Coan berkelit menyamping, cambuknya tetap dibuatnya saling menyudut de ngan pedang yang dibelitnya, tak peduli Se-bun Hong-eng berusaha meluruskannya.

Silat ternyata memang bukan sekedar adu teori "kalau lawanmu begitu kamu harus begini", tapi juga adu ketrampilan dalam praktek. Dan adu banyaknya pengalaman, dan seberapa banyak bisa menarik pelajaran dari pengalaman-pengalaman itu. Disinilah kalahnya Se-bun Hong-eng. Biarpun pelajaran dari ayahnya maupun kakeknya tergolong pelajaran silat bermutu tinggi, namun ia kalah pengalaman dari lawan-lawannya yang memang tukang-tukang berkelahi itu. Lebih parah lagi, ia mulai panik karena pedangnya seolah terkunci oleh cambuk lawannya.

Apalagi dua lawan dari kiri kanan juga mulai menyergap berbareng. Yang bersenjata Kau- lian-jio berhasil mengait tongkat Se-bun Hong-eng untuk langsung dipelintir lepas. Yang bersenjata Jit-goat siang-lun melancarkan tendangan kilat ke pinggang si gadis untuk melumpuhkannya, maka Se-bun Hong-eng benar-benar terancam.

Tapi muncullah "dewa penolong". Si pemegang Jit-goat-siang-lun itu tendangannya belum sampai ke sasaran, ketika ia tiba-tiba menjerit kesakitan karena selembar genteng deras sekali menghantam tempurung lututnya. Begitu hebat tenaga pelontarnya. Genteng itu hancur, tapi si penyerangpun roboh dengan sebelah kaki terasa lumpuh.

Serangan "genteng terbang" belum berakhir. Dua lembar lagi melayang deras ke kepala Wan Yen Coan serta rekannya yang bersenjata Kan-lian-jioi-iu. Wan Yen Coan mengangkat tinju kirinya untuk menangkis dengan meninju genteng itu. Genteng pecah berantakan, tapi tinju Wan Yen Coan menjadi bengkak dan nyeri. Rekan Wan Yen Coan menangkis dengan tombaknya, tapi cipratan pecahan genteng menyerempet pipinya sehingga berdarah. Kesimpulannya, pelempar genteng itu bukan lawan enteng.

Sementara itu, Wan Lui sendiri telah melompat keluar dari persembunyiannya, dan langsung "membagikan" pukulan kepada ketiga jago Ci-ih Wi-kun lawan-lawan Se-bun Hong-eng tadi. Sambil berseru penuh gaya kepahlawanan, "Nona, bantu saja kawan-kawanmu. Tiga kecoak ini biar menjadi urusanku!"

Wajar saja kalau seorang lelaki muda yang sedang tertarik kepada seorang gadis lalu pamer kehebatan agar mendapat sedikit pujian. Wajar pula kalau dalam pamer kehebatan itu si anak muda jadi sedikit takabur, gegabah dan tidak cermat memperhitungkan bahayanya.

Begitu pula Wan Lui. Setelah sukses dengan lemparan genteng-gentengnya tadi, timbul anggapan bahwa lawan-lawan ternyata "cuma segitu saja ilmunya" sehingga dengan besar hati ia langsung hendak "memborong" tiga lawan sekaligus untuk diri sendiri. Semangatnya tambah berkobar ketika si gadis berkuncir dua tersenyum kepadanya sambil mengucap lirih.

"Terima kasih."

Urat-urat di sekujur tubuh Wan Lui kontan dialiri semangat keberanian tanpa perhitungan lagi. Kini ia harus menghadapi Wan Yen Coan dengan cambuk Liong-jiu-piannya, dan rekannya yang bersenjata Kau-lian-Jio ilmunya tidak dibawah Wan Yan Coan. Sedang jago Ci-ih Wi-kun yang bersenjata Jit-goat-siang-lun itu belum bisa bertempur, masih terduduk di tanah sambil meringis-ringis dan mengurut-urut lututnya yang tadi kena lemparan genteng Wan Lui.

Setelah bertempur sungguh-sungguh dengan kedua lawannya itu, barulah Wan Lui sadar bahwa lawan-lawannya bukanlah jago-jago yang "cuma segitu ilmunya". Memang tadi mereka berhasil dikejutkan oleh lemparan genteng, bahkan mendapat cidera kecil, tapi hal itu terjadi hanyalah karena mereka tidak menduga serangan mendadak itu.

Setelah menghadapi mereka berdua secara langsung, barulah Wan Lui merasa bahwa ia haruslah lebih sungguh-sungguh berkelahi, tidak sempat lagi bertempur sambil jual tampang kepada si kuncir dua. Dengan bersungguh-sungguh, Wan Lui mulai bersilat tangan Thia-liong-kun hoat (pukulan Naga Langit) hasil ajaran tertulis Pak Kiong Liong dulu.

Ketika Wan Yen Coan mencambuk dibarengi tikaman tombak berkait oleh rekannya dari sudut lain, mulailah Wan Lui menunjukkan keperkasaannya. Sepasang tangannya menggempur berturutan dengan jurus Siang-liong-kui-thian (sepasang naga kembali ke langit) yang menimbulkan udara berguncang dahsyat. Juntai cambuk Wan Yen Coan sampai "berkibar” terpental kena angin pukulannya, sedang si tombak berkait dipaksanya mundur dengan tendangan jarak dekat, yang membuat lawan itu malah merasa kerepotan dengan senjatanya sendiri....
Selanjutnya,