Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 10 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga I Jilid 10

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
TERNYATA penilaian Pak Kiong Liong atas kepribadian Liok Hai Hong tidak meleset, sayang Pangeran In Te tidak mengetahuinya, karena Pangeran itu hanya terpesona oleh omong besar Liok Hai Hong yang seolah-olah satu-satunya pahlawan.

Tengah Liok Hai Hong termenung-menung sendiri dengan hati condong kesana kemari, tanpa menghabiskan sisa makanan enak yang masih bertebaran di mejanya, mendadak seorang perajurit menghadap dan melapor,

"Ciangkun, Jenderal Ni Keng Giau di luar perkemahan mohon bertemu dengan Ciangkun..."

Jenderal Ni Keng Giau? Pantat Liok Hai Hong seolah disengat kalajengking ketika mendengar nama itu. Bukankah Ni Keng Giau adalah pembantu terpercaya Kaisar Yong Ceng? Buat apa ingin menemuinya? Suara Li ok Hai Hong pun menjadi gugup, "Cepat bunyikan tanda bahaya! Semua perajurit harus bersiaga."

Perajurit pelapor itu menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan senyuman gelinya. Sikap gugup Liok Hai Hong sama sekali tidak pantas sebagai pemimpin sebuah pasukan yang demikian besar, lebih mirip seorang nenek-nenek yang dilapori kalau cucu kesayangannya kecemplung sumur. Perajurit pelapor itu memberanikan diri berkata, "Ciangkun, tidak perlu menyiapkan pasukan..."

"Kenapa tidak perlu? Bukankah Ni Keng Giau datang untuk menyerang kita?"

"Ciangkun, Jenderal Ni datang hanya dengan sepuluh pengawal yang semuanya tidak bersenjata..."

"Benar? Tidak ada pasukan besar di belakang mereka?"

"Benar, Ciangkun. Juru teropong dimenara pengawas juga sudah memastikan bahwa Jenderal Ni hanya datang bersama sepuluh pengawalnya yang tak bersenjata, tak ada lainnya."

Liok Hai Hong tercengang, namun hatinya mekar kembali. Kegagahannya pun pulih dan keluarlah perintahnya, "Suruh Jenderal Ni masuk, sebelumnya panggil dulu satu regu pengawal kita untuk mengawal aku disini selama pembicaraan dengan Jenderal Ni!"

Perajurit itupun keluar menjalankan perintah. Liok Hai Hong sendiri bersiap-siap. Pakaiannya dirapikan, pedangnya di pasang di pinggang, satu regu pengawal bersenjata lengkap dipasang berbaris di kiri kanan kursinya untuk memberi kesan angker. Sebagai wakil Pangeran In Te, dia harus nampak berwibawa menghadapi ulusan Kaisar Yong Ceng.

Beberapa saat kemudian, Ni Keng Giau masuk dengan mengulum senyuman ramah, tidak menunjukkan sikap bermusuhan sedikitpun. Bahkan, blarpun pangkat nya lebih tinggi dari Liok Hai Hong dia memberi hormat lebih dulu, yang di balas oleh Liok Hai Hong dengan agak canggung.

"Selamat bertemu, saudara Liok," Ni Keng Giau langsung berusaha menciptakan suasana pembicaraan yang akrab. "Sudah kudengar bagaimana gagah perkasanya saudara Liok membantu Pangeran In Te menaklukkan para pemberontak keparat di Jing-hai, demi kejayaan kekaisaran kita..."

Umpan yang kena, sebab wajah Liok Hai Hong sedikit lebih cerah mendengar pujian itu, dan iapun membalas basa-basi itu, "Terima kasih, saudara Ni. Yang kulakukan tentu tidak sebanding dengan yang dilakukan saudara di Liau-tong, ketika mengusir balatentara Jepang. Silahkan duduk."

"Terima kasih."

"Apa maksud kedatangan saudara Ni kemari?"

"Maksud kedatanganku ialah ingin menyampaikan sebuah kabar gembira, bahwa hari ini adalah hari keberuntungan terbesar buat kekaisaran kita, yang terhindar dari perang saudara," Ni Keng Giau amat ramah.

"Kenapa saudara Ni berkata demikian?"

Sahut Ni Keng Giau, "Sebab perundingan antara Hong-siang dan Pangeran In Te ternyata berjalan amat lancar. Suatu keberuntungan bagi kekaisaran, bahwa mereka berdua di anugerahi kebijaksanaan yang tinggi dan jiwa yang lapang..."

Pada dasarnya Liok Hai Hong memang takut perang, maka tentu saja gembira mendengar kata-kata Ni Keng Giau itu. Namun masih juga ia berlagak garang, "Hem, apa maksud saudara Ni dengan mengatakan perundingan berjalan lancar?"

Ni Keng Giau tetap tersenyum ramah, "Hong- siang dan Pangeran In Te tadinya berunding dengan hati panas, tapi Iama-kelamaan mereka bisa saling mengalah untuk menyelamatkan talipersaudaraan mereka, apalagi setelah Tuan Puteri Tek Huai ikut bicara pula. Karena Hong-siang memang berhasil membuktikan bahwa dialah pewaris syah tahta ayahandanya, maka Pangeran In Te mau mengalah dengan lapang dada. Kini mereka sudah rukun kembali. Sang kakak tetap menduduki tahta, sang adik tetap dalam kedudukan sebagai Panglima Angkatan Perang, bukankah serasi sekali? Dan kerajaan kitapun akan semakin jaya!"

“Ni Goanswe, benarkah ini?"

"Tentu saja benar. Bahkan karena Hong-siang merasa amat gembira karena terhindarnya pertumpahan darah, maka orang-orang dari kedua belah pihak yanq ikut mendorong terciptanya perdamaian ini akan dinaikkan pangkatnya. Saudara Liok, di hadapan Hong-siang Pangeran In Te sudah menyebut-nyebbt namamu sebagai seorang panglima yang berpendirian teguh, tidak gampang mengikuti arus orang-orang gila kekerasan macam Au Yi Beng atau Utti Hui Pa. Aku belum tahu kedudukan apa yang akan dihadiahkan oleh Hong-siang kepadamu, tetapi kudengar Pangeran In Te sudah mengusulkan agar kau diangkat menjadi sun-bu (Gubernur) untuk Siam-si atau Oupak yang rencananya memang hendak diganti orang baru. Saudara Liok, perkenankanlah aku mengucapkan selamat kepadamu dengan tiga cawan arak!"

Sikap angker Liok Hai Hong yang seperti gunung es, sikap yang dibuat-buat itu, akhirnya lumer juga mendengar dirinya akan mendapat kedudukan setinggi itu. Tiga unsur dalam diri Liok Hai Hong ialah takut perang, mabuk pujian dan ketamakan akan pangkat yang tinggi, membuat Liok Hai Hong goyah pendiriannya. Perubahan air muka Liok Hai Hong tak lepas dari pengamatan Ni Keng Giau yang diam-diam tertawa mengejek dalam hatinya, namun wajahnya tetap kelihatan ramah, bahkan dengan tangannya sendiri dia menuangkan tiga cawan arak untuk sang "calon gubernur".

Umur Ni Keng Giau cuma separuh Liok Hai Hong, namun kecerdasannya justru dua kali lipat kecerdasan Liok Hai Hong. Keliru sekali Pangeran In Te menyerahkan pimpinan perkemahan ketangan Liok Hai Hong, sebab itulah titik balik dari perjuangannya menuju tahta yang sebenarnya tadinya sudah unggul di atas angin.

Dengan cerdiknya Ni Keng Giau terus meloloh Liok Hai Hong dengan arak dan pujian, membuatnya tidak waspada. Dan setelah suasananya matang, Ni Keng Giau berkata, "Saudara Liok, selain kabar gembira itu, akupun membawa titipan pesan dari Pangeran In Te untukmu."

"Pesan apa, saudara Ni?” tanya Li ok Hai Hong ceria.

Sahut Ni Keng Giau amat hati-hati melepaskan jerat-jerat halusnya, "Pangeran In Te berpesan, karena saat ini dia masih melepas rindu dengan keluarga istana, maka ia belum bisa menghubungi perkemahan ini. Tetapi sebentar lagi utusannya akan datang menyampaikan perintah-perintahnya untuk saudara."

"Siapa akan ditugaskan menyampaikan perintah?"

"Aku tidak tahu", sahut Ni Keng Giau pura-pura. "Namun sudah tentu Pangeran In Te akan mengirim orangnya sendiri yang dikenal di perkemahan ini agar kalian semua yakin bahwa perintah itu benar-benar perintah asli Pangeran in Te...”

Baru saja kalimat itu selesai, seorang perajurit Liok Hai Hong datang melapor, "Ciangkun, seorang utusan dari Pangeran telah tiba!"

"Siapa utusan itu? kau kenal tidak?”

"Ciangkun Ui Bok, Panglima pasukan kesebelas dari kita!" sahut si perajurit pelapor.

"Ui Bok?" Liok Hai-hong kaget. "Bukankah beberapa hari yang lalu batok kepalanya sudah dipancangkan di ujung tombak di atas tembok Pak-khia, bersama sama dengan batok-batok kepala Le Koan Ok, Au Yu Beng, Utti Hui Pa dan Iain-lainnya? Apa yang datang ini arwahnya?"

“Buru-buru Ni Keng Giau menyerobot pembicaraan, "Tentang masalah ini, kebetulan aku tahu sedikit. Ketika delapan orang bawahan Pangeran In Te menyelundup ke istana untuk menculik Tuan Puteri Tek Huai, mereka melakukan perbuatan tolol, mengira bahwa Hong-siang menyandera Tuan Puteri demi keuntungan sendiri, padahal mana mungkin Hong-siang bertindak sekeji itu? Di antara delapan orang itu, tujuh orang dihukum mati karena bersikap amat tidak sopan. Khusus Ui Bok tidak dibunuh, karena ia menyadari kesalahannya. Ketika...."

"Tunggu dulu!" tukas Liok Hai Hong. Keledai saja punya otak, apalagi Liok Hai Hong, biarpun otaknya kecil dan jarang dipakai. "Saudara Ni, kalau Ui Bok tidak dihukum mati, kenapa jumlah batok kepala di atas tembok Pak-khia dulu pas delapan butir?"

Keledai bertanya, kancil menjawab, "Harap saudara Liok ingat, saat itu hubungan Hong-siang dengan Pangeran In Te sedang panas-panasnya. Hong-siang tidak mau menunjukkan kelemahan, maka ia mencari seorang pesakitan yang berwajah mirip Ui Bok untuk dipenggal kepalanya..."

Liok Hai Hong mengangguk-angguk. "Jadi sekarang Ui Bok sudah bebas?"

"Ya. Ketika Pangeran In Te tahu Ui Bok masih hidup, dia minta agar kakandanya membebaskannya, dan dikabulkan oleh Hong-siang demi hubungan balik kekeluargaan. Lalu sekarang Pangeran In Te sengaja menyuruh Ui Bok kemari membawa pesan-pesannya, agar seluruh perkemahan ini meIihat ketulusan Hong-siang. Untuk menunjukkan bahwa kesepakatan yang tercapai adalah kesepakatan yang tulus, tanpa ada salah satu pihak yang ditekan oleh pihak yang lain..."

Ni Keng Giau tiba-tiba mengatupkan mulutnya rapat-rapat, karena sadar telah bicara terlalu banyak. Sedangkan anggukan-anggukan kepala Liok Hai Hong benar-benar mirip keledai. Kalau otaknya jalan sedikit saja, tentu akan timbul kecurigaan, kenapa Ni Keng Giau tahu begitu banyak? Namun saat itu otaknya sedang memikirkan bagaimana caranya mengatur propinsi Siamsai atau Oupak, seandainya kelak sudah jadi gubernur di Sana. Saat itulah Ui Bok muncul, dan langsung berpelukan dengan Liok Hai-Hong.

"Aku kira kepalamu sudah ditancapkan di ujung tombak beberapa hari yang lalu," kata Liok Hai Hong sambil menepuk-nepuk bahu rekannya itu.

“Berkat pembelaan Pangeran In Te dan kemurahan hati Hong-siang, aku masih hidup sampai saat ini," sahut Ui Bok. Jawabannya tepat betul dengan "naskah cerita" yang sudah dihapalnya sejak kemarin, dan ia tidak boleh keliru mengucapkannya. Cerita karangan Ni Keng Giau.

"Untunglah kalau begitu. Bagaimana keadaan Pangeran In Te dan teman-teman lainnya di Pak-khia?"

"Aku tidak melihat bagaimana mereka berunding, sebab ketika itu aku masih dalam penjara. Tapi tiba-tiba aku dibebaskan, diberi pakaian yang pantas, dan dibawa menghadap Pangeran In Te yang sedang duduk dalam perjamuan bersama Hong-siang dan kerabat istana lainnya. Pangeran In Te duduk satu meja dengan Hong-siang, tanpa ada bekas permusuhan sama sekali. Kemudian aku dengar bahwa perdamaian sudah berhasil dicapai. Pangeran In Te bersedia mengakui dan menghormati kakandanya sebagai Kaisar, sedangkan kakandanya amat menyayangi adiknya, sehingga Pangeran In Te akan tetap menduduki jabatannya sekarang sebagai Panglima Angkatan Perang. Pertumpahan darah sudah terhindari. Aku sendiri menyesali tindakkanku yang gegabah tempo hari, karena terbujuk oleh Au Yu Beng dan Utti Hui Pa, untung Hong-siang maha bijaksana sehingga mengampuni aku."

Ni Keng Giau diam saja tanpa mencampuri pembicaraan Liok Hai Hong dan Ui Bok. Namun ia sebagai "sutradara" di belakang layar diam-diam merasa puas melihat Ul Bok dapat memainkan perannnya dengan baik.

Kini Liok Hai Hong benar-benar percaya. "Mana mungkin Ui Bok membohongi aku?" pikirnya. "Bukankah dulu Ui Bok malah tergolong bawahan In Te yang paling getol menganjurkan agar menggempur Pak-khia? Bahkan dengan nekat telah mengikuti Au Yu Beng dan lain-lainnya untuk menyelundup keistana?"

"Nah, kuucapkan selamat datang kembali di perkemahan ini, saudara Ui, kata Liok Hai Hong kemudian. "Sekarang, katakan bagaimanakah perintah Pangeran In Te untukku?"

"Pesannya agak berat untuk dilaksanakan," sahut Ui Bok lancar. "Bukan karena Pangeran meragukan kesetiaan kita, namun justru karena Pangeran tahu bahwa kita terlalu setia kepadanya." Dalam hatinya Ui Bok agak malu juga mengucapkan "kita terlalu setia" itu namun wajahnya nampak biasa-biasa saja, sebab sudah terbiasa ketika "Latihan sandiwara".

Sedangkan Liok Hai Hong membusung kan dada dan menjawab dengan bersemangat, "Berat bagaimana? Kalau perintah Pangeran kita harus terjun ke samudera api atau mendaki gunung golok, kita tetap akan melaksanakannya!"

Jawab Ui Bok, "Menurut Pangeran, perdamaian yang telah terwujud haruslah dilaksanakan dalam wujud nyata oleh masing-masing pihak. Pangeran minta pasukan dibubarkan. Setiap perajurit akan dikembalikan ke pasukan asalnya masing-masing, seperti sebelum mereka berangkat ke Jing-hai."

Memang angkatan perang Pangeran In Te adalah hasil penggabungan beberapa kesatuan, ditambah pasukan dari beberapa daerah. Setelah perang selesai, pasukan dipecah-pecah untuk dikembalikan ke tempat asal masing-masing, itu hal wajar. Namun Liok Hai Hong tak urung ragu-ragu juga mendengar "pesan Pangeran In Te" itu.

Ni Keng Giau sendiri pura-pura terkejut, "Benarkah pesan Pangeran In Te seperti itu? Kalau benar demikian, alangkah luhur jiwanya..."

Seolah-olah menjawab Ni Keng Giau, namun sebenarnya Ui Bok sedang berusaha meyakinkan Liok Hai Hong, "Benar begitu. Biarpun pasukan dibubarkan, toh kedudukan Pangeran In Te sebagai Panglima Tertinggi tidak terusik seujung rambutpun. Kekekuasaan militer tetap ada di tangannya, apakah dikira dengan pembubaran ini lalu kedudukannya akan menjadi lemah? Tidak!"

Kini sang sutradara terjun pula sebagai pemain. Sambil mengangguk-angguk, Ni Keng Giau berkata, "Eh, benar juga. Bahkan kabarnya Hong-siang sendiri akan lebih mengukuhkan kedudukan adindanya itu..."

Dan disambung sendiri di dalam hati, "Yang dimaksud adindanya bukanlah In Te, melainkan adik seperguruannya, ya aku ini orangnya..."

Akhirnya Liok Hai Hong percaya. Lebih baik cepat-cepat percaya lalu cepat-cepat pula menjadi gubernur, tidak ada yunanya bertele-teIe. Hari itu juga, perkemahan dibongkar. Pasukan-pasukan dipimpin oleh Panglima masing-masing segera berangkat ke tempat asal masing-masing, setelah saling mengucapkan selamat berpisah dengan rekan seperjuangan selama perang di Jing-hai. Dalam waktu singkat, sunyilah perkemahan itu. Tak ada lagi hiruk-pikuk para perajurit, ringkik kuda, bendera yang berkibar-kibar, senjata yang berkilat-kilat. Kini tinggal bekas-bekasnya saja.

Tinggal Ni Keng Giau, Ul Bok dan sepuluh pengawalnya berdiri di atas sebuah bukit. Ni Keng Giau tersenyum menatap pasukan terakhir yang menghilang di balik lekuk bumi sana. Bendera yang melambai nampak kian keciI dan akhirnya lenyap tak terlihat. Hanya debu kuning tipis yang mengepul namun itupun kemudian buyar, senasib dengan buyar-nya kekuatan pendukung Pangeran In Te.

Pandangan sang pemenang beralih ke kota Pak-khia di kejauhan, yang bentengnya nampak seperti gerigi kecil-kecil dan menggumam sendirian, "Mampus kau, In Te. Kau patut meratapi nasibmu karena punya bawahan setolol Liok Hai Hong , dan..."

Ui Bok menyambung dibarengi senyum penjilatnya, "...dan merupakan keberuntungan besar buat Hong-siang yang mempunyai jenderal sepandai kau, Ni Goanswe..."

Sebenarnya masih banyak sanjung puji yang mirip sajak, tapi Ni Keng Guiu memotongnya dengan suara dingin, "Sebenarnya bukan begitu kelanjutan kalimatku tadi, Ui Bok."

"Lalu bagaimana?"

"... dan punya bawahan lainnya yang sepengecut dan sekhianat Ui Bok..."

Muka Ui Bok kontan pucat, kakinya tak mampu melangkah ketika Ni Keng Giau dan pengawal-pengawalnya meninggalkan bukit itu. Ui Bok memang cuma alat, kalau sudah tak terpakai maka alat itupun tak digubris lagi.

* * * *

Pak Kiong Liong sudah berjalan secepatnya menuju lapangan Thia-an-bun, namun toh terlambat juga. Lapangan itu masih dijaga ketat oleh banyak perajurit, terutama yang ke arah istana, tapi upacara sembahyang sudah bubar. Beberapa pekerja nampak sedang membersih kan kembali lapangan itu. Persengketaan antara Kaisar Yong Ceng dan Pangeran In Te memang sudah "beres".

Namun benarkah beresnya seperti semanis yang dikatakan oleh Ni Keng Giau kepada Liok Hai Hong? Dimana kedua pihak sepakat 'berdamai dengan lapang dada'? Pak Kiong Liong meringkus seorang perajurit yang sedang berjaga, menyeretnya ke tempat sepi dan memaksanya mengatakan apa yang telah terjadi. Ketika perajurit itu mengenal Pak Kiong Liong, maka iapun bercerita dengan lancar.

Kiranya, upacara penghormatan arwah berlangsung lancar, acara demi acara, biarpun nampak janggal sebab yang memimpin penghormatan itu ada dua orang, padahal seharusnya cukup Kaisar sendiri saja. Pangeran In Te tidak mau mengalah berbaris di belakang, ia senanantiasa berdiri sejajar dengan; Kairsar.

Baru saja upacara selesai, dari dalam istana muncullah seorang thai-kam (sida-sida) yang dengan suara gugup dan keras mengabarkan kepada Kaisar bahwa Ibusuri Tek Huai mendadak kambuh penyakitnya dan keadaannyapun gawat. Para kerabat istana bergegas meninggalkan Thian-an-bun kembali ke istana, termasuk Kaisar Yong Ceng sendiri.

Pangeran In Te ikut mendengar dan ikut gelisah pula. Lupa bahwa dirinya masih dalam kedudukan bermusuhan dengan Kaisar, diapun ikut-ikutan masuk ke istana untuk menengok ibundanya. Para pengawalnya tentu saja kelabakan melihat tindakan In Te itu, terutama tentang keselamatan junjungan mereka, maka dengan semangat berani mati, para pengawal In Te ikut menerobos masuk pula. Anehnya para perajurit istana tiada yang merintangi mereka masuk.

Namun begitu berada di bagian dalam istana yang tertutup, naluri perang Pangeran In Te segera memperingatkan bahwa berita tentang sakitnya Ibusuri itu agaknya hanyalah umpan untuk menjebak dirinya dan pengikut-pengikutnya. Apalagi ketika melihat sejumlah besar Lama, Jagoan Jubah Ungu dan pengikut-pengikut Kaisar lainnya tiba-tiba menutup semua lorong dan pintu, lalu menyerang pengikut-pengikut In Te.

Pertempuran sengit terjadi. Dua-ratus pengikut Pangeran In Te melawan habis- habisan, tapi tak sempat melepaskan roket asap merah, sebab mereka terkurung di tempat tertutup. Dengan melalui pengorbanan tidak sedikit pula di-pihak Kaisar Yong Ceng, anak buah Pangeran In Te pun ditumpas habis. roket asap merah itupun dirampas dan dirusak, sehingga tak bisa digunakan lagi meme- rintahkan Pasukan Pangeran In Te yang bersiaga penuh di sekitar Pak-khia Bersamaan saatnya dengan ketika Ni Keng Giau berhasil membujuk Liok Hai-Hong untuk membubarkan pasukan.

Pangeran In Te terlambat menyadari kekeliruan langkahnya. Ketika ia hendak melawan, tahu-tahu Kaisar Yong Ceng sudah ada di dekatnya dan mencengkeram urat Jing-ing-hiat di lengannya, sehingga separuh tubuhnya serasa lumpuh. Dalam hal ilmu silat, Kaisar Yong Ceng adalah murid Siau-lim-pai yang tangguh, masa mudanya pernah dihabiskan dengan menempuh gelombang dunia persilatan dengan nama samaran Si Liong-cu, dan bersahabat erat dengan pendekar-pendekar Kang-lam sekaliber Kam Hong Ti dan Pek Thai Koan. Maka tidak heran kalau Pangeran In Te langsung tidak berkutik di bawah cengkeramannya.

"Adinda, marilah kuantarkan kau menengok Ibunda," Yong Ceng menyeringai sambil memperkuat cengkeramannya. "Di mata rakyat dan ibunda kita, kita akan nampak rukun kalau bergandengan tangan seperti ini..."

Tanpa daya Pangeran In Te diseret oleh kakandanya dan menjadi tawanannya, sementara anak buahnya tak ketinggalan yang hidup seorangpun. Gugur semua. Wajah Pak Kiong Liong merah padam dan giginya gemeretak keras mendengar penuturan perajurit itu. Perajurit yang bercerita itupun diam-diam menjadi takut, jangan-jangan karena marahnya maka Pak Kiong Liong akan menghantam remuk kepalanya. Dulu, ketika masih sebagai Panglima Hui-liong-kung, memang Pak Kiong Liong bersikap ramah kepada perajurit yang pangkatnya paling rendah sekalipun, tapi di saat kemarahan dan kekecewaan menyelimuti hatinya, siapa tahu menjadi buas.

“Kemana Pangeran In Te dibawa?" tanya Pak Kiong Liong.

"Ke istana Leng-goat-kiong, bersama Tuan Puteri Tek Huai!"

"Tidak dipenjara jadi satu dengan Pangeran In Gi dan In Tong?"

Perajurit itu berusaha menjawab sebanyak mungkin untuk menyenengkan hati Pak Kiong Liong dan mengamankan nyawanya sendiri "Tidak, Goan-swe. Menurut beberapa teman yang mengetahui, Pangeran In Te akan tetap memakai semua kebangsawanannya dan menempati kediamannya yang dulu, hanya gelar-gelar kemiliterannyalah yang dicopoti semua. Sedang pengawal-pengawalnya adalah orang-orang yang ditunjuk sendiri oleh Sribaginda."

Pak Kiong Liong dapat memahami tindakan Kaisar Yong Ceng. Pangeran In Te masih punya pengaruh, karena itu ia tidak dibunuh supaya pengikut-pengikutnya tidak mengamuk, ia hanya dijadikan semacam “boneka kencana” yang ditempatkan di sangkar emas pula. Mentereng tapi terkekang, lama-kelamaan akan dilupakan orang.

Karenanya Pak Kiong Liong menganggap untuk sementara waktu keselamatan nyawa Pangeran In To tidak terancam. Kini Pak Kiong Liong mulai memikirkan hendak bertindak bagaimana? Nekad menyerbu Leng-goat-kiong untuk membebaskan Pangeran In Te? la menggeIengkan kepala merasa percuma, ia tidak yakin mampu menembus penjagaan di Leng-goat-kiong saat itu. la sebagai perajurit tua berpikiran matang takkan bertindak sebodoh itu.

Setelah melepaskan perajurit tawanannya, hati-hati sekali Pak Kiong Liong menyelundup keluar Pak-khia, menghindari pertemuan dengan pengikut-pengikut Kaisar Yong Ceng yang tengah berkeliaran di jalan karena mabuk kemenangan. Setibanya di luar kota, Pak Kiong Liong langsung menuju keperkemahan pasukan Pangeran In Te. Waktu itu matahari baru saja tenggelam di ufuk barat dan suasana sudah agak gelap.

Dan Pak Kiong Liong merasa heran melihat suasana di arah "perkemahan" sepi-sepi saja, tidak ada cahaya api, tidak ada suara apapun kecuali angin yang berdesir dan rumput gemerisik. Pak Kiong Liong memacu langkahnya, dan terkesiap melihat di tempat itu sudah tidak ada apa-apa lagi. Satu perajurit pun tidak nampak batang hidungnya.

"JenderaI Liok! Jenderal Liok!" Pak Kiong Liong berlari-lari kian kemari sambil berteriak-teriak, jarang sekali seumur hidupnya dia segugup itu. Tak ada yang menjawab teriakannya. Rasanya cuma ada satu jawaban untuk itu. Kaisar Yong Ceng telah menang! Menang mutlak! Dengan keringat dingin bercucuran, Pak Kiong Liong menjatuhkan diri direrumputan.

Matanya sayu menatap kota Pak-khia di kejauhan, membayangkan kota itu seperti sebuah kapal yang pelan-pelan tengah tenggelam ke dasar lautan sejarah, karena dikemudikan seorang nakhoda pemabuk darah macam Kaisar Yong Ceng, didampingi orang-orang macam Liong Ke Toh serta Ni Keng Giau.

Semalam suntuk Pak Kiong Liong duduk memeluk lutut, tidak peduli nyamuk dan serangga yang menggigiti tubuhnya, atau embun malam yang membasahi tubuhnya. la duduk dengan masygulnya sampai cahaya fajar nampak di seberang kota Pak-khia.

Cahaya fajar adalah cahaya semangat yang seakan menghidupkan kembali "patung" berambut putih dan berwajah keriput itu. Usianya sudah dekat liang kubur, namun selama masih tersisa satu tarikan napas saja dalam hidupnya, ia masih akan tetap berusaha menyelamatkan kekaisaran. la manusia biasa yang tidak kebal dari rasa duka dan kecewa, namun setiap kali pula semangatnva bangkit menegarkan langkah-langkah hidupnya.

Demikian pula kali ini, la bangkit dari duduknya dan menanam tekad baru dalam jiwanya. "Baik, kami kalah kali ini. Tetapi perjuangan akan kami mulai lagi, kalau perlu dari titik awal sama sekali. Kekaisaran harus bebas dari tangan tirani macam Yong Ceng dan begundal-begundalnya."

la melangkah ke barat, membelakangi cahaya fajar timur. Tujuannya adalah puncak Tiau-im-hong, jauh di propinsi Secuan sana, markas sekelompok pejuang yang disebut Hwe-Liong-pang (Serikat Naga Api). Pejuang yang tidak memperjuangkan dinasti tertentu atau suku bangsa tertentu, namun hanya memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Di sana, Pak Kiong Liong berharap titik awal perjuangannya bisa dimulai.

Ketua Hwe-Iiong-pang yang bernama Tong Lam Hou bukan saja sahabat Pak Kiong Lioru tapi juga besannya. Tetapi lebih dari itu, Tong Lam Hou dan orang-orang Hwe-liong-pang tentu takkan membiarkan sosok-sosok lalim mengangkangi tahta. Seperti leluhur mereka dulu juga tidak membiarkan kebobrokan pemerintahan dinasti Beng jaman Kaisar Cong Ceng duduk nyaman di singgasananya.

Begitu menemui tempat penjualan kuda yang pertama, Pak Kiong Liong langsung membeli seekor kuda untuk ditunggangi dalam perjalanan ke Tiau-im-hong. Dalam usia mendekati tujuhpuluh tahun, Pak Kiong Liong tetap bertubuh tegap kekar karena latihan silatnya yang rajin tak terputus-putus. Berhari hari ia menempuh perjalanan berkuda tanpa kelelahan.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah kota kecil di perbatasan propinsi Ou-lam dan Secuan. Tempat itu sebenarnya kurang cocok disebut kota, sebab hanya ada satu jalan besar membelah di tengah-tengahnya, tidak ada tembok kota yang mengelilinginya, hanya ada gapura-gapura di ujung-ujung jalan. Namun ramai sekali dengan orang berjualan di pinggir jalan, baik dalam warung-warung atau sekedar menggelar dagangan di tepi jalan.

Pak Kionq Liong tak dapat menjalankan kudanya cepat-cepat karena khawatir menabrak orang lewat. Ketika matanya melihat sebuah kedai minuman, timbullah selera minumnya. la melompat turun dari kudanya, menambatkan di patok di depan warung, dan melangkah masuk ke kedai. Kepada pelayan yang menyambutnya, Pak Kiong Liong minta disediakan sepiring makanan kecil, sepoci teh, dan juga rumput segar buat kudanya.

Beberapa saat kemudian, tengah Pak Kiong Liong menghirup tehnya dengan nyaman sambil membelakangi jendela kedai, tiba-tiba beberapa pengunjung warung menatap ke arah belakangnya dengan pandangan kaget, ada pula yang berteriak kaget. Sebuah benda berbentuk kantong kulit besar melayang cepat dari luar jendela, dan langsung hendak menungkrup ke batok kepala Pak Kiong Liong. Itulah senjata kaum Hiat-ti-cu (Setitik Darah), barisan algojo Kaisar Yong Ceng. Tanpa banyak pertimbangan lagi. Pak Kiong Liong menghindar ke samping.

Akibatnya, kantong kulit Hiat-ti-cu itu terus meluncur ke dalam warung dan menungkup salah satu pengunjung warung. Pisau-pisau dalam kantong kulit segera bergerak menjepit leher korbannya hingga putus, ketika rantai kantong kulit itu ditarik kembali, batok kepala korbannya sudah terbawa dalam kantong. Sedang tubuh korbannya menggelepar sejenak dalam warung sebelum terdiam selama-lamanya. Seisi warung jadi panik. Seorang pengunjung tua berjantung lemah, karena kagetnya oleh peristiwa ngeri di depan hidungnya, langsung jatuh dan mati saat itu juga.

Pak Kiong Liong amat menyesal melihat jatuhnya korban-korban tak berdosa itu, sedang ia sadar yang diincar oleh pembunuh itu sebenarnya adalah dirinya. Maka kemarahannya berkobar seketika, bercampur aduk dengan kekecewaan yang belum tersalur sejak Pangeran In Te terperangkap secara konyol di Pak-khia.

la melompat keluar, dan meliha si pelepas Hiat-ti-cu berdlri di atas genteng rumah dl seberang warung, ketika orang itu menarik kembaIi rantai kantong kulitnya dan melihat bahwa yang berhasil di "petik”nya bukan batok kepala Pok Kiong Liong, ia nampaik kecewa sekali.

Sementara Pok Kiong liong yang marah telah menyambar sepotong kayu pikulan dari penjual buah-buahan di tepi jalan, dan dilemparkannya seperti melempar lembing, dengan segenap kekuatannya. Kayu pikulan berdesing menyambar leher Hiat-ti-cu diatas genteng, dan si algojo yang gemar memenggal leher itu kini lehernya sendiri yang terpenggal. Kepalanya terpental ke balik wuwungan atap, sementara tubuhnya menggelantung jatuh ke jalan raya.

Suasana di jalan raya menjadi panik tak keruan. Perempuan-perempuan menjerit-jerit, para pedagang membawa lari dagangan mereka, dan tidak sedikit orang jatuh terinjak-injak. Kepanikan menghebat ketika kantung kulit kaum Hiat-ti-cu muncul dan melayang-layang diatas orang-orang itu, Pak Kiong Liong menghitungnya ada lima, namun ia yakin Kaisar Yong Ceng tentu mengirimkan jumlah yang lebih menyakinkan untuk membantainya.

Orang-orang yang lari simpang-siur Itu membuat para Hiat-ti-cu sulit menemukan sasaran mereka, Pak Kiong Liong. Mereka juga marah karena terbunuhnya seorang teman mereka, sehingga merekapun mulai membunuh membabi-buta. Seorang pedagang yang tengah membenahi dagangannya, tanpa ampun kehilangan kepalanya tersambar kantong kulit maut Itu, Hiat-ti-cu lainnya menyambar kepala seorang perempuan yang tengah berlari-lari menuntun anaknya, sehingga tubuh perempuan yang tak berkepala lagi itu pun roboh terinjak-injak orang banyak, sementara anaknya menjerit-jerit tak ada yang mempedulikan.

Sebenarnya lebih aman bagi Pak Kiong Liong kalau tempat bersembunyi, berperisaai orang banyak, namun darah Jenderal tua itu mendidih melihat jatuhnya korban-korban tak bersalah. Seperti seekor rajawali perkasa, ia melesat naik ke atas genteng sambil berseru menggeledek, "Pak Kiong Liong di sini! Hentikan kebiadaban kalian atas orang-orang tak bersalah!"

Di atas atap-atap rumah yang berpencaran, belasan lelaki berpakaian hitam ringkas dan muka berkedok hitam, sudah siap menanti munculnya Pak Kiong Liong. Merekalah algojo algojo Hiat-ti cu yang ditugaskan membereskan Pak Kiong Liong, jumlahnya deiapan belas orang, cukup berat untuk dihadapi sendiri.

Begitu Pak Kiong Liong muncul, kantong-kantong kulit yang dikendalikan rantai tipis itupun beterbangan, seolah berebutan mana yang akan lebih dulu mengambil batok kepala si jenderal tua itu. Ketika Hiat-ti-cu pertama mengincar kepalanya, Pak Kiong Liong berguling di atas genteng. Namun si algojo kali ini lebih lihai memainkan kantong mautnya daripada yang pernah menyatroni rumah Pak Kiong Liong dulu. Kantung kulitnya seperti benda hidup, dapat melayang rendah dan terus mengejar ke kepala Pak Kiong Liong.

Pak Kiong Liong lalu melompat bangun dengan gerak Le-hi-tah-teng (Ikan Gabus Melejit) dan sekaligus berhasil menginjak rantai tipis pengendali kantong kulit musuh, sia-sia pemiliknya mencoba menariknya. Tetapi dua kantong kulit lainnya menyambar datang, sehingga Pak Kiong Liong harus melepaskan injakannya untuk melompat menghindar.

Untuk sementara Pak Kiong Liong sibuk menghindari saja, tanpa berpeluang membalas menyerang, sebab musuh ada di segala penjuru. Algojo-algojo itu dengan asyik memainkan kantong-kantong terbang mereka seperti anak- anak bermain layang-layang, mengandalkan rantai pengendali yang cukup panjang, mereka aman dari jangkauan tangan atau kaki Pak Kiong Liong yang mematikan. untuk sementara Pak Kiong Liong tak sanggup menjebol kerjasama yang rapi dari pada Hiat-ti-cu terlatih itu. Perkelahian unik di atas genteng itu kini malah jadi tontonan menarik bagi orang-orang di jalanan.

"Kasihan orang tua itu," desis seorang penonton. "Apakah salahnya sehingga hendak dibunuh orang-orang berbaju hitam yang biadab itu?"

"Kakek itu tentu orang baik hati. Buktinya, ketika kantong-kantong siluman itu menyambar sembarangan orang, si kakek malah sengaja menunjukkan diri di atas genteng agar perhatian para pembunuh itu terpusat kepadanya saja. la rela menempuh bahaya demi menghindari jatuhnya korban lebih banyak."

"Ya, padahal kalau dia mau tetap bersembunyi, tentu dia akan aman. Tetapi kantong-kantong maut itu tentu akan mengganas mencabuti kepala kita. Mungkin kau atau aku saat ini sudah tidak berkepala lagi."

Di antara kerumunan orang di bawah itu, memang ada seseorang yang memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama. la seorang lelaki tegap berewokan, pakaiannya dari kulit binatang berbulu, dan diam-diam tengah membatin, "Hebat Pak Kiong Goan-swe, dalam usia setua itu masih sanggup bergerak tangkas menghadapi lawan tangguh sekian banyak. Tetapi aku harus turun tangan, karena Pak Kiong Goan-swe adalah sahabat Pang-cu (Ketua)."

Orang itu segera melepaskan mantel nya sehingga terlihat baju dalamnya yang ringkas membalut tubuhnya yang berotot kekar. Ikat pinggang kulitnya lebarnya sejengkal lebih, tempat menyelipkan kampak-kampak kecil berjumlah belasan buah yang berderet melingkari pinggangnya. Selain kampak-kampak kecilnya, di kiri kanan pinggangnya sepasang kampak besar namun bergagang pendek.

Saat itu memang Pak Kiong Liong sendiri merasa terjepit. Bagaimanapun lihai silatnya, apa gunanya kalau lawan tak bisa didekati? Namun jenderal tua itupun tidak tahu bahwa para Hiat-ti-cu juga hampir kehabisan akal. Biasanya mereka seorang diri saja dengan gampang mencomot kepala korban mereka, tetapi sekali ini mereka berdelapan belas orang sudah mengerahkan tenaga sampai barkeringat, hasilnya hanya bisa membuat Pak King Long terkepung tapi belum terluka seujung rambutpun.

Ketika Itulah sesosok tubuh melompat keatas genteng pula, biarpun tubuhnya besar namun gerakannya ringan seperti kucing, tidak kaku. Seru orang ini, “Pak Kiong Goan-Swe, biar aku bantu Goan-Swe mempercepat penyelesaian monyet-monyet ini!”

Lalu dua tangannya meraih ke pinggang dan diayunkan ke depan. Dua kampak kecil melesat ke depan, dua algojo Hiat-ti-cu yang tak menduga serangan itu terjungkal roboh. Yang satu kena punggungnya, yang lain tengkuknya. Barisan algojo Hiat-ti-cu jadi kacau dengan munculnya musuh baru itu, perhatlan Jadi terpecah, tidak lagi terpusat kepada Pak Kiong Liong melulu. Kesempataan itu digunakan oleh Pak Kiong Liong untuk membungkuk dan mengambil dua lembar genting yang diluncur kan ke arah dua Hiat-ti-cu yang agak lengah.

Dua Hiat-ti-cu menjerit dan menggelundung ke bawah genteng. Yang seorang kemasukan perutnya, yang lain-nya kena di antara dua matanya. Blarpun yang mengenai mereka hanya genting namun rasanya seperti pisau tajam atau batu gunung sebesar kambing bunting yang Jidat nya kena Itu memang kepalanya tidak sampai pecah, tetapi bagian dalam kepalanya telah terguncang jungkir-balik sehingga tak bisa dlharapkan hidup lebih lama lagi.

"Terima kasih, Ji Tong-cu (Kepala Regu Ji)!" seru Pak Kiong Liong kepada orang berbaju kulit binatang itu.

Sementara kawanan Hiat-ti-cu menjadi marah bukan main karena barisan mereka menj adi berantakan. Mereka segera membagi diri dengan sisa jumlah yang tinggal empatbelas orang itu. DeIapan orang tetap mengerubuti Pak Kiong Liong, enam orang menghadapi musuh baru yang dlpanggil Ji Tong cu oleh Pak Kiong Liong tadi.

Musuh baru itu bernama Ji Han Lim anggota Hwe-Iiong-pang yang berkedudukan sebagai Ang-ki Tong-cu (Tongcu Bendera Merah) , satu dari kelompok-kelompok dalam Hwe-Liong-pang. Julukannyn adalah Hui-po-sin (Malaikat Kampak Terbang), baik kedudukannya sebagai Tongcu maupun ilmu silatnya adalah warisan dari ayahnya almarhum yang bernama Ji Tiat dan berjulukan Siang-po-lai-san (Sepasang Kampak Pendobrak Gunung).

Ji Han Lim sadar, begitu enam algojo Hiat-ti- cu sempat menyusun kepungan, maka kedudukannya akan sulit seperti Pak Kiong Liong tadi. Maka ia tidak membiarkan musuh menyusun diri. Ketika sebuah kantong kulit hendak menyergap kepalanya, ia lemparkan dua kampaknya sekaligus, ke tengah-tengah kantong kulit itu dan ke dada pemegangnya.

Algojo Hiat-ti-cu yang diarahnya itu cukup lihai. Kakinya melakukan gerak Pai-lian-ka (Teratai Terhembus Angin), dengan gerak menyapu melengkunq keatas, kampak kecil Ji Han Lim yang meluncur ke dadanya dapat disepak pergi. Tetapi kantong kulitnya rusak dan tak bisa digunakan lagi karena kena sambitan kampak Ji Han Lim yang satu lagi. Dengan gemas Hiat-ti-cu itu membuang senjatanya, lalu melolos senjata dari pinggangnya yang berujud Jit-ciat kun (Ruyung Tujuh Ruas) yang langsung diputarnya kencang-kencang, menunjukkan lihainya orang ini.

Melihat senjata itu, Ji Han Lim tertawa mengejek, "Ha, kiranya Pa Lian Hou dari Bu-tong-pai sekarang sudah menjadi anjing pemburunya si Kaisar lalim!"

"Dan kau berteman dengan komplotan pemberontak!" Pa Lian Hou balas memaki Ji Han Lim.

Sementara itu kantong-kantong kulit pemangkas kepala lainnya telah bergantian menyambar Ji Han Lim, tetapi Tong-cu Hwe-liong-pang itu tidak mau terkepung. Dengan lincah ia terus bergerak, sambil menggunakan setiap peluang untuk membalas dengan lemparan kampak-kampak kecilnya, kadang-kadang menyerang orangnya dan kadang-kadang menyerang kantong kulitnya. Satu persatu kantong-kantong itu runtuh dan rusak, sampai habis, sehingga para Hiat-ti-cu kini harus menggunakan senjata andalan dari perguruan masing-masing.

Ji Han Lim dengan kampak-kampak kecilnya, Pak Kiong Liong dengan genting-genting rumah yang dicopotinya satu persatu, sehingga kantong-kantong pembunuh itupun akhirnya habis pula. Kini pertempuran di atas atap melulu mengandalkan iImu silat, sehingga nampaklah kegarangan Pak Kiong Liong, meskipun hanya bertangan kosong menghadapi delapan jagoan tangguh bersenjata. Sepasang tangan Pak Kiong Liong mendadak nampak berubah menjadi berpuluh-puluh pasang tangan yang menggempur dengan hebatnya, ia seperti sebuah prahara yang menggulung ke delapan lawannya.

Kedelapan pembunuh kiriman Kaisar Yong Ceng itu semakin bingung dan putus asa menghadapi lawan begitu perkasa. Mereka seperti menghadapi segumpal asap yang tak bisa dikenai dengan senjata mereka. Kalau Pak Kiong Liong sudah mulai merintis ke arah kemenangan, sebaliknya Ji Han Lim yang menghadapi enam lawannya sudah mulai kewalahan.

Sepasang kampaknya hanya dapat digunakan untuk bertahan, semua musuhnya tangguh. terutama murid Bu-tong-pai yang bersenjata Ji-ciat-kun yang pipih dan tajam itu. Ketika suatu kesempatan Ji Han Lim terbuka pertahanya, Pa Lian Hou melecutkan ruyungnya dari samping ke arah leher Ji Han Lim.

Ji Han Lim menunduk mengelakkan, kampaknya terlalu pendek untuk dapat membalas serangan tanpa melompat maju, dan saat itu seorang musuh lain yang berseniata sam-ciat-kun (Ruyung tiga Ruas) menyergap dari belakang. kearah sambungan tututnya. Ji Han Lim dapat mengelak lagi tetapi Pa Uan Hou sudah mengubah gerak senjatanya dari atas ke bawah. Biarpun Ji Han Lim berusaha mengelak dengan mencondongkan tubuh ke belakang. Namun upayanya kurang sempurna, ujung tajam ruyung Pa Lian Hou menggores panjang dari pundak sampai paha Ji Han Lim.

Pa Lian Hou tertawa dingin dan memberi semangat teman-temannya. "Mari secepatnya kita bereskan kunyuk Hwe-liong-pang ini, supaya dapat segera membantu teman-teman lain menyembelih. Pak Kiong Liong!"

Teman-temannya semakin bersemangat dan mempergencar serangan. Ji Han Lim semakin repot bertahan, tetapi tetap juga mendapat beberapa luka. Pada saat itulah Pak Kiong Liong justru berhasil mengurangi musuh, dua orang sekaligus. Seorang algojo Hiat-ti-cu tertendang rusuknya sehingga tulang-tulangnya remuk, tubuhnya mencelat ke bawah genteng dalam keadaan mampus.

Seorang lagi kena tebasan telapak tangan di tengkuknya sampai lehernya tertekuk ke depan. Rupanya Pak Kiong Liong melihat kesulitan yang dialami Ji Han Lim, dan bermaksud secepatnya merampungkan lawan-lawannya supaya bisa segera menolong Ang-ki Tong-cu Hwe-liong-pang itu.

Maka sambil menggeram hebat, Pak Kiong Liong mulai mengeluarkan Hwe-liong-sin-kang, langsung tingkat tujuh. Lawan-Iawannya dengan kaget berlompatan menjauhinya, sebab udara disekitar tubuh Pak Kiong Liong menjadi amat panas, di luar daya tahan tubuh manusia biasa. Namun Pak Kiong Liong melompat menyergap lawan yang terdekat bagaikan seekor naga terbang.

Orang yang diserang bersenjata sepasang Kang-pit, pena baja, senjata yang dirancang khusus menyerang urat darah. la bekas bandit di Ho-dak yang kepandaiannya cukup tanggi, tetapi menghadapi kemarahan Pak Kion Liong, maka pertahanannya tidak lebih dari pagar kayu rapuh yang sia-sia menahan longsoran sebuah bukit. Sepasang kan-pit yanq disilangkannya telah terpental kena sabetan tangan Pak Kiong Liong, kemudian tangan Pak kiong Liong lainnya dengan jari-jari lurus menghunjam keulu hatinya.

Tubuh orang itupun ambruk dengan kulit hangus layu. Bahkan tak sempat mengeluh sedikitpun. Sepasang Kang-pit yang disilangkannya telah terpental kena sabetan tangan Pak Kiong Liong. Kengerian melingkup hati para algojo kiriman Kaisar Yong Ceng itu, karena merasa ngerinya berada di ambang maut. Biasanya merekalah yang tertawa-tawa mempermainkan korban-korban mereka yang meratap ketakutan.

Biarpun demikian, mereka tetap tidak berani lari dari gelanggang sebelum ada perintah. Pemimpin regu algojo itu adalah seorang Manchu bernama Hap To yang amat fanatik kepada Kaisar Yong Ceng. Biarpun melihat anakbuahnya tertumpas satu demi satu, ia belum juga mengeluarkan aba-aba untuk mundur.

Senjatanya ialah sebatang tombak bermata dua yang dimainkannya dengan tangkas sekali. la masih mengharap sebuah kemenangan, yaitu kalau Ji Han Lim berhasil dibereskan dulu maka semua tenaga bisa dikerahkan untuk menundukkan Pak Kiong Liong, sebab kelihatannya Ji Han Lim hampir dapat diselesaikan.

Keadaan Ji Han Lim memang gawat. Tubuhnya sudah penuh luka yang kalau dibiarkan saja akan menghabiskan darah. Tetapi ia gigih sekali, ia mengamuk sambil sikap bertahan amat ketat. sehingga musuh- musuhnya menjadi gemas sekali. Teriak Pa Lian Hou sengit, "Kata-nya kau jagoan Hwe-Iiong-pang, kenapa berkelahi seperti perempuan macam itu? Ayo, balaslah menyerang!"

Sambil menangkis sebatang golok yang menyambar lehernya, Ji Han Lim menjawab, "Aku hanya menyesuaikan diri sebab lawan-lawanku pun berkelahi seperti perempuan-perempuan yang main keroyokan!"

la menutup kalimatnya dengan sebuah desisan pedih, karena ujung sebatang pedang musuh menggores lengannya. Namun sementara itu dua orang lagi berhasil dibereskan oleh Pak Kiong Liong. Kini jenderal tua Itu tinggal menghadapi tiga orang lawan yang perlawanannya semakin kocar-kacir karena semangat tempur sudah mulai merosot.

Saat itulah Ji Han Lim mendadak melompat keluar dari kepungan lawan-lawannya, kampak di tangan kanan dipindahkan sekalian ke tangan kiri. Semula lawan-lawannya mengira jagoan Hwe-Liong-pang itu hendak menggunakan sisa kampak-kampak kecil yang masih tergantung di pinggangnya, sehingga Pa Lian Hou dan teman-temannya bersiap-siap menghadapi kampak-kampak kecil yang tadi sudah terbukti kelihaiannya.

Tetapi Ji Han Lim ternyata tidak melemparkan kampak-kampaknya, melainkan memasukkan dua jari kemulutnya, lalu terdengarlah ia bersuit melengking. Itu lebih mengejutkan para Hiat-ti-cu. Mereka ingat bahwa saat itu mereka ada di dekat wilayah Secuan, wilayah pengaruh Hwe-liong-pang yang sangat kuat. Kalau suitan Ji Han Lim itu bermaksud memanggil teman-temannya sesama Hwe-liong-pang, itu artinya kesulitan besar bagi para Hiat-ti-cu.

Satu Pak Kiong Liong dan satu Ji Han Lim sudah membuat mereka repot, bagaimana kalau muncul lagi seorang jagoan yang setingkat dengan Ji Han Lim, atau bahkan Ketua Hwe-liong-pang sendiri, Tong Lam Hou, yang kepandaiannya setara dengan Pak Kiong Liong?

Betapapun fanatiknya Hap To kepada Kaisar Yong Ceng, dia sadar tugasnya untuk membunuh Pak Kiong Liong telah gagal kali itu, kalau diteruskan secara nekad malah akan menghancurkan pihaknya sendiri. Maka diapun mengeluarkan aba-aba untuk mundur, lalu kawanan Hiat-ti-cu itupun berhamburan lari, meninggalkan teman-teman mereka yang bergeletakan tak bernyawa.

Pak Kiong Liong yang masih men-dongkol, berteriak dari kejauhan, "Sampaikan salamku untuk Yong Ceng, keponakanku yang nakal itu. Katakan kepada nya bahwa kelak Pamannya ini akan datang kembali ke Pak-khia untuk menjewer kupingnya!"

Hap To, Pa Li an Hou dan lain-lain nya tidak menggubris ejekan itu, mereka terus saja lari seperti dikejar setan. Pak Kiong Liong kemudian mengalih kan perhatian kepada Ji Han Lim yang terluka, dilihatnya Tong-cu Hwe-liong-pang itu tengah menaburkan bubuk obat ke luka-lukanya sendiri.

"Bagaimana keadaanmu, saudara Ji?" tanya Pak Kiong Liong. "Aku sangat berterima-kasih atas pertolonganmu tadi. Kalau saudara tidak muncul, barangkali yang sampai ke Tiau-im-hong hanya arwah Pak Kiong Liong saja."

Ji Han Lim menjawab sambil tertawa, "Jangan sungkan-sungkan, Goan-swe. Kalau Goan-swe sampai berkelahi dengar orang lain, tentunya dengan orang jahat, sebab kami sudah tahu bagaimana watak Goan-swe."

"Wah, kau pintar membuatku besar kepala. Eh, bagaimana dengan luka-luka mu?"

"Hanya luka-luka kulit yang tidak berbahaya. Yang penting, kita harus segera pergi dari sini, siapa tahu orang orang baju hitam tadi akan datang kembali membawa teman-teman yang lebih ba nyak dan lebih kuat?"

"Tapi bukankah tadi saudara sudah bersuit memanggil bantuan? Buat apa takut?"

Ji Han Lim tersenyum, "Suitanku tadi hanya gertak sambal, sebab sesungguhnya tak ada orang Hwe-liong-pang di sekitar tempat ini. Dan bangsat-bangsat tadi telah lari terbirit-birit. Ha ha-ha....”

Mau tak mau Pak Kiong Liong ikut tertawa pula. Keduanya lalu melompat turun dari atas genteng, orang-orang di bawah minggir ketakutan, tetapi Pak Kiong Liong dengan ramah dan sopan memanggil mereka untuk menanyakan di mana rumah orang-orang yang menjadi korban Hiat-ti-cu tadi. Lalu Pak Kiong Liong menguras kantong uangnya sendiri, dititipkan untuk korban-korban tak berdosa tadi sambil menyatakan penyesalannya.

Lalu sambil menunggang kuda masing-masing, Pak Kiong Liong beserta Ji Han Lim meninggalkan tempat berdarah itu, menuju markas Hwe-liong-pong di Tiau-im-hong yang tinggal sehari perjalanan lagi. Ketika Ji Han Lim menanyakan kenapa Pak Kiong Liong sampai bermusuhan dengan kawanan Hiat-ti-cu, Pak Kiong Liong tanpa tedeng aling-aling telah menceritakan semua yang terjadi di Pak Khia. la sangat mempercayai orang-orang Hwe-Liong-pang.

Orang orang Hwe-liong-pang yang berdiam jauh dari Pak-khia memang terdengar juga berita simpang-siur dari ibukota kerajaan, katanya ada ketegangan politik semenjak wafatnya Kaisar Khong Hi. Namun beritanya kabur dan tidak jelas. Baru saat itu Ji Han Lim mendengar sejelas-jelasnya dari mulut Pak Kiong Liong, dan merasa diluar dugaan kalau peristiwanya ternyata dermikian hebat.

Hui- liong-kun (Pasukan Naga Terbang) sudah dipreteli sehingga lenyap kekuatannya, Panqeran In Te dan angkatan perangnya telah dilumpuhkan, dan Pak Kiong Liong bukan lagi orang terhormat di istana, melainkan seorang buronan yang batok kepalanya sangat di ingini oleh Kaisar Yong Ceng.

Ji Han Lim termangu-mangu mendengarkan cerita itu. Kejamnya Kaisar Yong Ceng tergambar dari kejamnya para Hiat-ti-cu yang sama sekali tidak menghargai nyawa rakyat, seperii disaksikkan sendiri oleh Ji Han Lim tadi.

"Agaknya Hwe-liong-pang bakal mendapat tugas berat lagi kata Ji Han Lim kemudian dengan semangat bergelora. "Selama belasan tahun terakhir ini kami bosan hanya menghadapi kawanan pencoleng kecil atau tukang menyambar jemuran."

Sejarah Hwe-Liong-pang memang tidak sembarangan. Puluhan tahun yang silam, ketika Joan-ong Li Cu-sing memberontak untuk menumbangkan kebobrokan Kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, Hwe-liong-pang punya andil membantu kemenangan Joan Ong. Ketika dunia persilatan gempar dan ketakutan karena munculnya gerombolan jahat Hek-eng-po (Benteng Elang Hitam) belasan tahun yang lalu, Hwe-liong-pang juga berada di barisan depan untuk menumpas gerombolan itu.

Kini mendengar tentang kesewenang-wenangan Kaisar Yong Ceng yang membahayakan negara dan rakyat, Ji Han Lim merasa bahwa Hwe- liong-pang agaknya akan mendapat "pekerjaan rumah" lagi . Inilah yang membuat darah Ji Har Lim menggelegak panas.

Propinsi Se-cuan sering dijuluki "gudang beras" daratan Cina karena suburnya, julukan yang membanggakan sekaligus juga mencelakakan. Mencelakakan, sebab setiap kali terjadi perang besar maka masing-masing pihak berusaha merebut Se-cuan lebih dulu, untuk menjamin perbekalan dalam perang jangka panjang.

Ketika Kerajaan Manchu mulai berkuasa, wilayah Se-cuan dan Hun-lam pernah dihadiahkan kepada Bu Sain Kui, seorang bekas Panglima Kerajaan Beng yang berjasa kepada Manchu karena memberi kesempatan balatentara Manchu masuk ke daratan tengah lewat gerbang San-hai-koan. Namun kemudian Bu Sam Kui berbalik menentang Manchu, pemberontakannya sempat meluas, Bu Sam Kui sendiri sempat mengangkat diri sebagai Kaisar di kota Hing-ciu, tetapi akhirnya tertumpas habis.

Pegunungan Bu-san memenuhi hampir seluruh Se-cuan, terbelah aliran Sungai Tiang-kang di tengahnya, dan di lambung puncak Tiau-im-hong, salah satu dari duabelas puncak pegunungan Busan, itulah tempat markas Hwe-liong-pang yang terkenal. Pak Kiong Liong dan Ji Han Lim berjalan santai mendaki lereng Tiau-im-hong sambil menikmati suasana pegunungan.

Entah berapa kali Pak Kiong Li ong sudah ke tempat itu untuk mengunjungi sahabat sekaligus besannya, puterinya, menantunya, cucu-cucunya dan kenalan-kenalan baik dari Hwe-liong-pang lainnya. tapi tiap kali kekagumannya akan kehebatan tempat itu tidak juga berkurang. Seandainya ia tidak sedang banyak urusan politik yang memusingkan kepala, ingin rasanya ia diam lama di tempat itu untuk mengendapkan hati dan pikirannya.

Tak terasa ia bergumam sendiri, "Dalam sisa umurku yang semakin sedikit ini, entah kapan aku diperkenankan menghabiskan tiap tarikan napasku ditempat tenteram damai macam ini?”

Mendengar ucapan itu, Ji Han Lim menyahut, "Memang kelihatannya menyenangkan hidup sepi dan tenang seperti dewa-dewa di pertapaannya, tidak pusing urusan orang lain. Tetapi aku ragu-ragu, benarkah Goan-swe ingin hidup seperti itu, atau hanya sekarang Goan-swe sedang menghadapi urusan ruwet sehingga berkata seperti tadi?"

Pak Kiong Liong tersenyum, "Betul juga ucapanmu, saudara Ji. Aku ini memang manusia rewel. Kalau sedang menghadapi banyak urusan, aku inginkan ketentraman. Namun kalau terlalu lama hidup tenteram, akupun mulai bosan, lalu usil mencari-cari urusan."

"Itulah gejolak jiwa yang hidup oleh gejolak perjuangan, Goan-swe, mendambakan hidup ini bermanfaat bagi orang lain. Orang yang bertapa untuk ke tenteramannya sendiri, tidak peduli urusan orang lain, apa manfaatnya dia hidup di dunia? Memang mungkin ia akan bersih dari noda-noda duniawi. Tetapi hidupnya tidak bermanfaat sedikitpun bagi sesama. Seperti sebuah cangkul yang hanya disimpan saja, ia tetap bersih dan baru, namun tidak berguna, tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya kalau cangkul itu dipakai di ladang, ia kena kotoran dan mungkin cepat rusak, tetapi ia menjadi berguna, menghasilkan buah-buah kehidupan yang manis."

"Jadi menurut saudara Ji, orang-orang yang menyepi itu keliru semuanya?"

"Ada yang benar, ada yang salah."

"Yang mana yang benar atau salah?"

"Yang salah ialah yang menyepi mencari ketenteraman diri sendiri, sepenuhnya bebaskan diri dari dunia. Yang benar ialah yang bersunyi diri untuk mencapai gagasan-gagasan luhur, sebab lebih mudah mendapat gagasan itu dalam kesunyian daripada di tengah suasana hiruk-pikuk. Tetapi pikiran luhur yang didapatkan itu hendaknya dibawa kembali ke masyarakat untuk disumbangkan kepada orang banyak, jangan dijadikan bekaI rohani buat diri sendiri saja. Berjuta-juta manusia masih haus gagasan-gagasan luhur itu dan banyak yang belum tahu kemana harus mendapatkannya. Pangeran Sidharta setelah menjadi Buddha dan mencapai Penerangan Suci, juga tidak bersembunyi saja, melainkan kembali ke masyarakat untuk menyebarkan ajarannya. Begitu pula rasul rasul dari negeri padang pasir dibarat sana, menyebarkan Kebenaran yang mereka yakini sampai kadang-kadang mengorbankan nyawa mereka."

"Bagus, saudara Ji. Tapi bagaimana saudara tahu bahwa aku takkan betah hidup sebagai pertapa seumur hidup?"

"Karena aku tahu watak Goan-swe tidak jauh berbeda dengan watak Pangcu (Ketua) kami..."

"Tetapi toh Ketuamu hidup amat santai di tempat ini, tidak bolehkah aku menggerutuinya?"

"Kenapa Goan-swe harus menggerutuinya?"

"Karena aku sering iri kepadanya. Di Pak-khia kepalaku hampir pecah memikirkan seribu satu urusan, sedang Ketuamu enak-enak saja hidup di Sini."

Ji Han Lim tiba-tiba tertawa geli, "Goan-swe, di waktu-waktu senggang aku sering berbicara santai dengan Pangcu, tahukah Goan-swe apa saja yang dikatakan oleh Pangcu?"

“Apa?”

"Pang-cu juga sering menggerutui Goan-swe, juga karena iri. la berkata Goan-swe sungguh beruntung kerana tenaga dan pikirannya masih terpakai untuk disumbangkan kepada orang banyak, sedang Pang-cu merasa hari-harinya dilalui dalam kekosongan. Kesibukannya hanya menyiram bunga, memberi makan burung dalam kurungan, kesibukan-kesibukan lain yang menurut Pang-cu sepantasnya dilakukan orang- orang jompo."

"Aneh," kata Pak Kiong Liong sambil tertawa. "Jadi Tong Lam Hou iri karena aku punya banyak kepusingan, kejengkelan dan kadang-kadang bahaya yang mengancam nyawa tuaku?"

"Dan Goan-swe iri kepada perasaan sunyi Pang-cu karena hari demi hari dilewatinya tanpa berbuat apa-apa?" sahut Ji Han Lim. ‘'Apakah Goan-swe dan Pang-cu perlu tukar tempat saja?'

Pak Kiong Liong hanya tersenyum tanpa menjawab, sementara Ji Han Lim melanjutkan kata-katanya. "Tetapi aku berani taruhan potong telinga, begitu Goan-swe dan Pang-cu bertukar tempat. Tak lama kemudian pasti Goan-swe merasa tidak betah. Sebaliknya Pang-cu akan sangat betah di Pak-khia, sebab disana ia pasti tidak sekedar menyiram bunga atau memberi makan burung dan ikan…”

“Tetapi... bukankah pekerjaan seperti Ketua Hwe-Liong-pang hanya menyirami bunga saja?"

“Semua urusan luar Sudah ditangani oleh putera Pang-cu, atau oleh para tong-cu (pemimpin kelompok) dan Hiang-cu (Hulubalang) sehingga Pang-cu sering menuduh kami kejam, merampas semua kesibukan dan menyuruh dia bertopang dagu saja di markas.”

Senyum Pak Kiong Liong semakin melebar, ketika ia ingat tujuannya hendak mengajak Tong Lam Hou menggalang kekuatan menentang kelaliman Kaisar Yong Ceng, maka diapun berkata, "Baiklah, karena dia sudah jemu menganggur, maka aku datang membawakan sebuah pekerjaan besar buatnya. Tidak sekedar menyirami bunga atau menaburkan makannan ikan ke kolam...."
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 10

Kemelut Tahta Naga I Jilid 10

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
TERNYATA penilaian Pak Kiong Liong atas kepribadian Liok Hai Hong tidak meleset, sayang Pangeran In Te tidak mengetahuinya, karena Pangeran itu hanya terpesona oleh omong besar Liok Hai Hong yang seolah-olah satu-satunya pahlawan.

Tengah Liok Hai Hong termenung-menung sendiri dengan hati condong kesana kemari, tanpa menghabiskan sisa makanan enak yang masih bertebaran di mejanya, mendadak seorang perajurit menghadap dan melapor,

"Ciangkun, Jenderal Ni Keng Giau di luar perkemahan mohon bertemu dengan Ciangkun..."

Jenderal Ni Keng Giau? Pantat Liok Hai Hong seolah disengat kalajengking ketika mendengar nama itu. Bukankah Ni Keng Giau adalah pembantu terpercaya Kaisar Yong Ceng? Buat apa ingin menemuinya? Suara Li ok Hai Hong pun menjadi gugup, "Cepat bunyikan tanda bahaya! Semua perajurit harus bersiaga."

Perajurit pelapor itu menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan senyuman gelinya. Sikap gugup Liok Hai Hong sama sekali tidak pantas sebagai pemimpin sebuah pasukan yang demikian besar, lebih mirip seorang nenek-nenek yang dilapori kalau cucu kesayangannya kecemplung sumur. Perajurit pelapor itu memberanikan diri berkata, "Ciangkun, tidak perlu menyiapkan pasukan..."

"Kenapa tidak perlu? Bukankah Ni Keng Giau datang untuk menyerang kita?"

"Ciangkun, Jenderal Ni datang hanya dengan sepuluh pengawal yang semuanya tidak bersenjata..."

"Benar? Tidak ada pasukan besar di belakang mereka?"

"Benar, Ciangkun. Juru teropong dimenara pengawas juga sudah memastikan bahwa Jenderal Ni hanya datang bersama sepuluh pengawalnya yang tak bersenjata, tak ada lainnya."

Liok Hai Hong tercengang, namun hatinya mekar kembali. Kegagahannya pun pulih dan keluarlah perintahnya, "Suruh Jenderal Ni masuk, sebelumnya panggil dulu satu regu pengawal kita untuk mengawal aku disini selama pembicaraan dengan Jenderal Ni!"

Perajurit itupun keluar menjalankan perintah. Liok Hai Hong sendiri bersiap-siap. Pakaiannya dirapikan, pedangnya di pasang di pinggang, satu regu pengawal bersenjata lengkap dipasang berbaris di kiri kanan kursinya untuk memberi kesan angker. Sebagai wakil Pangeran In Te, dia harus nampak berwibawa menghadapi ulusan Kaisar Yong Ceng.

Beberapa saat kemudian, Ni Keng Giau masuk dengan mengulum senyuman ramah, tidak menunjukkan sikap bermusuhan sedikitpun. Bahkan, blarpun pangkat nya lebih tinggi dari Liok Hai Hong dia memberi hormat lebih dulu, yang di balas oleh Liok Hai Hong dengan agak canggung.

"Selamat bertemu, saudara Liok," Ni Keng Giau langsung berusaha menciptakan suasana pembicaraan yang akrab. "Sudah kudengar bagaimana gagah perkasanya saudara Liok membantu Pangeran In Te menaklukkan para pemberontak keparat di Jing-hai, demi kejayaan kekaisaran kita..."

Umpan yang kena, sebab wajah Liok Hai Hong sedikit lebih cerah mendengar pujian itu, dan iapun membalas basa-basi itu, "Terima kasih, saudara Ni. Yang kulakukan tentu tidak sebanding dengan yang dilakukan saudara di Liau-tong, ketika mengusir balatentara Jepang. Silahkan duduk."

"Terima kasih."

"Apa maksud kedatangan saudara Ni kemari?"

"Maksud kedatanganku ialah ingin menyampaikan sebuah kabar gembira, bahwa hari ini adalah hari keberuntungan terbesar buat kekaisaran kita, yang terhindar dari perang saudara," Ni Keng Giau amat ramah.

"Kenapa saudara Ni berkata demikian?"

Sahut Ni Keng Giau, "Sebab perundingan antara Hong-siang dan Pangeran In Te ternyata berjalan amat lancar. Suatu keberuntungan bagi kekaisaran, bahwa mereka berdua di anugerahi kebijaksanaan yang tinggi dan jiwa yang lapang..."

Pada dasarnya Liok Hai Hong memang takut perang, maka tentu saja gembira mendengar kata-kata Ni Keng Giau itu. Namun masih juga ia berlagak garang, "Hem, apa maksud saudara Ni dengan mengatakan perundingan berjalan lancar?"

Ni Keng Giau tetap tersenyum ramah, "Hong- siang dan Pangeran In Te tadinya berunding dengan hati panas, tapi Iama-kelamaan mereka bisa saling mengalah untuk menyelamatkan talipersaudaraan mereka, apalagi setelah Tuan Puteri Tek Huai ikut bicara pula. Karena Hong-siang memang berhasil membuktikan bahwa dialah pewaris syah tahta ayahandanya, maka Pangeran In Te mau mengalah dengan lapang dada. Kini mereka sudah rukun kembali. Sang kakak tetap menduduki tahta, sang adik tetap dalam kedudukan sebagai Panglima Angkatan Perang, bukankah serasi sekali? Dan kerajaan kitapun akan semakin jaya!"

“Ni Goanswe, benarkah ini?"

"Tentu saja benar. Bahkan karena Hong-siang merasa amat gembira karena terhindarnya pertumpahan darah, maka orang-orang dari kedua belah pihak yanq ikut mendorong terciptanya perdamaian ini akan dinaikkan pangkatnya. Saudara Liok, di hadapan Hong-siang Pangeran In Te sudah menyebut-nyebbt namamu sebagai seorang panglima yang berpendirian teguh, tidak gampang mengikuti arus orang-orang gila kekerasan macam Au Yi Beng atau Utti Hui Pa. Aku belum tahu kedudukan apa yang akan dihadiahkan oleh Hong-siang kepadamu, tetapi kudengar Pangeran In Te sudah mengusulkan agar kau diangkat menjadi sun-bu (Gubernur) untuk Siam-si atau Oupak yang rencananya memang hendak diganti orang baru. Saudara Liok, perkenankanlah aku mengucapkan selamat kepadamu dengan tiga cawan arak!"

Sikap angker Liok Hai Hong yang seperti gunung es, sikap yang dibuat-buat itu, akhirnya lumer juga mendengar dirinya akan mendapat kedudukan setinggi itu. Tiga unsur dalam diri Liok Hai Hong ialah takut perang, mabuk pujian dan ketamakan akan pangkat yang tinggi, membuat Liok Hai Hong goyah pendiriannya. Perubahan air muka Liok Hai Hong tak lepas dari pengamatan Ni Keng Giau yang diam-diam tertawa mengejek dalam hatinya, namun wajahnya tetap kelihatan ramah, bahkan dengan tangannya sendiri dia menuangkan tiga cawan arak untuk sang "calon gubernur".

Umur Ni Keng Giau cuma separuh Liok Hai Hong, namun kecerdasannya justru dua kali lipat kecerdasan Liok Hai Hong. Keliru sekali Pangeran In Te menyerahkan pimpinan perkemahan ketangan Liok Hai Hong, sebab itulah titik balik dari perjuangannya menuju tahta yang sebenarnya tadinya sudah unggul di atas angin.

Dengan cerdiknya Ni Keng Giau terus meloloh Liok Hai Hong dengan arak dan pujian, membuatnya tidak waspada. Dan setelah suasananya matang, Ni Keng Giau berkata, "Saudara Liok, selain kabar gembira itu, akupun membawa titipan pesan dari Pangeran In Te untukmu."

"Pesan apa, saudara Ni?” tanya Li ok Hai Hong ceria.

Sahut Ni Keng Giau amat hati-hati melepaskan jerat-jerat halusnya, "Pangeran In Te berpesan, karena saat ini dia masih melepas rindu dengan keluarga istana, maka ia belum bisa menghubungi perkemahan ini. Tetapi sebentar lagi utusannya akan datang menyampaikan perintah-perintahnya untuk saudara."

"Siapa akan ditugaskan menyampaikan perintah?"

"Aku tidak tahu", sahut Ni Keng Giau pura-pura. "Namun sudah tentu Pangeran In Te akan mengirim orangnya sendiri yang dikenal di perkemahan ini agar kalian semua yakin bahwa perintah itu benar-benar perintah asli Pangeran in Te...”

Baru saja kalimat itu selesai, seorang perajurit Liok Hai Hong datang melapor, "Ciangkun, seorang utusan dari Pangeran telah tiba!"

"Siapa utusan itu? kau kenal tidak?”

"Ciangkun Ui Bok, Panglima pasukan kesebelas dari kita!" sahut si perajurit pelapor.

"Ui Bok?" Liok Hai-hong kaget. "Bukankah beberapa hari yang lalu batok kepalanya sudah dipancangkan di ujung tombak di atas tembok Pak-khia, bersama sama dengan batok-batok kepala Le Koan Ok, Au Yu Beng, Utti Hui Pa dan Iain-lainnya? Apa yang datang ini arwahnya?"

“Buru-buru Ni Keng Giau menyerobot pembicaraan, "Tentang masalah ini, kebetulan aku tahu sedikit. Ketika delapan orang bawahan Pangeran In Te menyelundup ke istana untuk menculik Tuan Puteri Tek Huai, mereka melakukan perbuatan tolol, mengira bahwa Hong-siang menyandera Tuan Puteri demi keuntungan sendiri, padahal mana mungkin Hong-siang bertindak sekeji itu? Di antara delapan orang itu, tujuh orang dihukum mati karena bersikap amat tidak sopan. Khusus Ui Bok tidak dibunuh, karena ia menyadari kesalahannya. Ketika...."

"Tunggu dulu!" tukas Liok Hai Hong. Keledai saja punya otak, apalagi Liok Hai Hong, biarpun otaknya kecil dan jarang dipakai. "Saudara Ni, kalau Ui Bok tidak dihukum mati, kenapa jumlah batok kepala di atas tembok Pak-khia dulu pas delapan butir?"

Keledai bertanya, kancil menjawab, "Harap saudara Liok ingat, saat itu hubungan Hong-siang dengan Pangeran In Te sedang panas-panasnya. Hong-siang tidak mau menunjukkan kelemahan, maka ia mencari seorang pesakitan yang berwajah mirip Ui Bok untuk dipenggal kepalanya..."

Liok Hai Hong mengangguk-angguk. "Jadi sekarang Ui Bok sudah bebas?"

"Ya. Ketika Pangeran In Te tahu Ui Bok masih hidup, dia minta agar kakandanya membebaskannya, dan dikabulkan oleh Hong-siang demi hubungan balik kekeluargaan. Lalu sekarang Pangeran In Te sengaja menyuruh Ui Bok kemari membawa pesan-pesannya, agar seluruh perkemahan ini meIihat ketulusan Hong-siang. Untuk menunjukkan bahwa kesepakatan yang tercapai adalah kesepakatan yang tulus, tanpa ada salah satu pihak yang ditekan oleh pihak yang lain..."

Ni Keng Giau tiba-tiba mengatupkan mulutnya rapat-rapat, karena sadar telah bicara terlalu banyak. Sedangkan anggukan-anggukan kepala Liok Hai Hong benar-benar mirip keledai. Kalau otaknya jalan sedikit saja, tentu akan timbul kecurigaan, kenapa Ni Keng Giau tahu begitu banyak? Namun saat itu otaknya sedang memikirkan bagaimana caranya mengatur propinsi Siamsai atau Oupak, seandainya kelak sudah jadi gubernur di Sana. Saat itulah Ui Bok muncul, dan langsung berpelukan dengan Liok Hai-Hong.

"Aku kira kepalamu sudah ditancapkan di ujung tombak beberapa hari yang lalu," kata Liok Hai Hong sambil menepuk-nepuk bahu rekannya itu.

“Berkat pembelaan Pangeran In Te dan kemurahan hati Hong-siang, aku masih hidup sampai saat ini," sahut Ui Bok. Jawabannya tepat betul dengan "naskah cerita" yang sudah dihapalnya sejak kemarin, dan ia tidak boleh keliru mengucapkannya. Cerita karangan Ni Keng Giau.

"Untunglah kalau begitu. Bagaimana keadaan Pangeran In Te dan teman-teman lainnya di Pak-khia?"

"Aku tidak melihat bagaimana mereka berunding, sebab ketika itu aku masih dalam penjara. Tapi tiba-tiba aku dibebaskan, diberi pakaian yang pantas, dan dibawa menghadap Pangeran In Te yang sedang duduk dalam perjamuan bersama Hong-siang dan kerabat istana lainnya. Pangeran In Te duduk satu meja dengan Hong-siang, tanpa ada bekas permusuhan sama sekali. Kemudian aku dengar bahwa perdamaian sudah berhasil dicapai. Pangeran In Te bersedia mengakui dan menghormati kakandanya sebagai Kaisar, sedangkan kakandanya amat menyayangi adiknya, sehingga Pangeran In Te akan tetap menduduki jabatannya sekarang sebagai Panglima Angkatan Perang. Pertumpahan darah sudah terhindari. Aku sendiri menyesali tindakkanku yang gegabah tempo hari, karena terbujuk oleh Au Yu Beng dan Utti Hui Pa, untung Hong-siang maha bijaksana sehingga mengampuni aku."

Ni Keng Giau diam saja tanpa mencampuri pembicaraan Liok Hai Hong dan Ui Bok. Namun ia sebagai "sutradara" di belakang layar diam-diam merasa puas melihat Ul Bok dapat memainkan perannnya dengan baik.

Kini Liok Hai Hong benar-benar percaya. "Mana mungkin Ui Bok membohongi aku?" pikirnya. "Bukankah dulu Ui Bok malah tergolong bawahan In Te yang paling getol menganjurkan agar menggempur Pak-khia? Bahkan dengan nekat telah mengikuti Au Yu Beng dan lain-lainnya untuk menyelundup keistana?"

"Nah, kuucapkan selamat datang kembali di perkemahan ini, saudara Ui, kata Liok Hai Hong kemudian. "Sekarang, katakan bagaimanakah perintah Pangeran In Te untukku?"

"Pesannya agak berat untuk dilaksanakan," sahut Ui Bok lancar. "Bukan karena Pangeran meragukan kesetiaan kita, namun justru karena Pangeran tahu bahwa kita terlalu setia kepadanya." Dalam hatinya Ui Bok agak malu juga mengucapkan "kita terlalu setia" itu namun wajahnya nampak biasa-biasa saja, sebab sudah terbiasa ketika "Latihan sandiwara".

Sedangkan Liok Hai Hong membusung kan dada dan menjawab dengan bersemangat, "Berat bagaimana? Kalau perintah Pangeran kita harus terjun ke samudera api atau mendaki gunung golok, kita tetap akan melaksanakannya!"

Jawab Ui Bok, "Menurut Pangeran, perdamaian yang telah terwujud haruslah dilaksanakan dalam wujud nyata oleh masing-masing pihak. Pangeran minta pasukan dibubarkan. Setiap perajurit akan dikembalikan ke pasukan asalnya masing-masing, seperti sebelum mereka berangkat ke Jing-hai."

Memang angkatan perang Pangeran In Te adalah hasil penggabungan beberapa kesatuan, ditambah pasukan dari beberapa daerah. Setelah perang selesai, pasukan dipecah-pecah untuk dikembalikan ke tempat asal masing-masing, itu hal wajar. Namun Liok Hai Hong tak urung ragu-ragu juga mendengar "pesan Pangeran In Te" itu.

Ni Keng Giau sendiri pura-pura terkejut, "Benarkah pesan Pangeran In Te seperti itu? Kalau benar demikian, alangkah luhur jiwanya..."

Seolah-olah menjawab Ni Keng Giau, namun sebenarnya Ui Bok sedang berusaha meyakinkan Liok Hai Hong, "Benar begitu. Biarpun pasukan dibubarkan, toh kedudukan Pangeran In Te sebagai Panglima Tertinggi tidak terusik seujung rambutpun. Kekekuasaan militer tetap ada di tangannya, apakah dikira dengan pembubaran ini lalu kedudukannya akan menjadi lemah? Tidak!"

Kini sang sutradara terjun pula sebagai pemain. Sambil mengangguk-angguk, Ni Keng Giau berkata, "Eh, benar juga. Bahkan kabarnya Hong-siang sendiri akan lebih mengukuhkan kedudukan adindanya itu..."

Dan disambung sendiri di dalam hati, "Yang dimaksud adindanya bukanlah In Te, melainkan adik seperguruannya, ya aku ini orangnya..."

Akhirnya Liok Hai Hong percaya. Lebih baik cepat-cepat percaya lalu cepat-cepat pula menjadi gubernur, tidak ada yunanya bertele-teIe. Hari itu juga, perkemahan dibongkar. Pasukan-pasukan dipimpin oleh Panglima masing-masing segera berangkat ke tempat asal masing-masing, setelah saling mengucapkan selamat berpisah dengan rekan seperjuangan selama perang di Jing-hai. Dalam waktu singkat, sunyilah perkemahan itu. Tak ada lagi hiruk-pikuk para perajurit, ringkik kuda, bendera yang berkibar-kibar, senjata yang berkilat-kilat. Kini tinggal bekas-bekasnya saja.

Tinggal Ni Keng Giau, Ul Bok dan sepuluh pengawalnya berdiri di atas sebuah bukit. Ni Keng Giau tersenyum menatap pasukan terakhir yang menghilang di balik lekuk bumi sana. Bendera yang melambai nampak kian keciI dan akhirnya lenyap tak terlihat. Hanya debu kuning tipis yang mengepul namun itupun kemudian buyar, senasib dengan buyar-nya kekuatan pendukung Pangeran In Te.

Pandangan sang pemenang beralih ke kota Pak-khia di kejauhan, yang bentengnya nampak seperti gerigi kecil-kecil dan menggumam sendirian, "Mampus kau, In Te. Kau patut meratapi nasibmu karena punya bawahan setolol Liok Hai Hong , dan..."

Ui Bok menyambung dibarengi senyum penjilatnya, "...dan merupakan keberuntungan besar buat Hong-siang yang mempunyai jenderal sepandai kau, Ni Goanswe..."

Sebenarnya masih banyak sanjung puji yang mirip sajak, tapi Ni Keng Guiu memotongnya dengan suara dingin, "Sebenarnya bukan begitu kelanjutan kalimatku tadi, Ui Bok."

"Lalu bagaimana?"

"... dan punya bawahan lainnya yang sepengecut dan sekhianat Ui Bok..."

Muka Ui Bok kontan pucat, kakinya tak mampu melangkah ketika Ni Keng Giau dan pengawal-pengawalnya meninggalkan bukit itu. Ui Bok memang cuma alat, kalau sudah tak terpakai maka alat itupun tak digubris lagi.

* * * *

Pak Kiong Liong sudah berjalan secepatnya menuju lapangan Thia-an-bun, namun toh terlambat juga. Lapangan itu masih dijaga ketat oleh banyak perajurit, terutama yang ke arah istana, tapi upacara sembahyang sudah bubar. Beberapa pekerja nampak sedang membersih kan kembali lapangan itu. Persengketaan antara Kaisar Yong Ceng dan Pangeran In Te memang sudah "beres".

Namun benarkah beresnya seperti semanis yang dikatakan oleh Ni Keng Giau kepada Liok Hai Hong? Dimana kedua pihak sepakat 'berdamai dengan lapang dada'? Pak Kiong Liong meringkus seorang perajurit yang sedang berjaga, menyeretnya ke tempat sepi dan memaksanya mengatakan apa yang telah terjadi. Ketika perajurit itu mengenal Pak Kiong Liong, maka iapun bercerita dengan lancar.

Kiranya, upacara penghormatan arwah berlangsung lancar, acara demi acara, biarpun nampak janggal sebab yang memimpin penghormatan itu ada dua orang, padahal seharusnya cukup Kaisar sendiri saja. Pangeran In Te tidak mau mengalah berbaris di belakang, ia senanantiasa berdiri sejajar dengan; Kairsar.

Baru saja upacara selesai, dari dalam istana muncullah seorang thai-kam (sida-sida) yang dengan suara gugup dan keras mengabarkan kepada Kaisar bahwa Ibusuri Tek Huai mendadak kambuh penyakitnya dan keadaannyapun gawat. Para kerabat istana bergegas meninggalkan Thian-an-bun kembali ke istana, termasuk Kaisar Yong Ceng sendiri.

Pangeran In Te ikut mendengar dan ikut gelisah pula. Lupa bahwa dirinya masih dalam kedudukan bermusuhan dengan Kaisar, diapun ikut-ikutan masuk ke istana untuk menengok ibundanya. Para pengawalnya tentu saja kelabakan melihat tindakan In Te itu, terutama tentang keselamatan junjungan mereka, maka dengan semangat berani mati, para pengawal In Te ikut menerobos masuk pula. Anehnya para perajurit istana tiada yang merintangi mereka masuk.

Namun begitu berada di bagian dalam istana yang tertutup, naluri perang Pangeran In Te segera memperingatkan bahwa berita tentang sakitnya Ibusuri itu agaknya hanyalah umpan untuk menjebak dirinya dan pengikut-pengikutnya. Apalagi ketika melihat sejumlah besar Lama, Jagoan Jubah Ungu dan pengikut-pengikut Kaisar lainnya tiba-tiba menutup semua lorong dan pintu, lalu menyerang pengikut-pengikut In Te.

Pertempuran sengit terjadi. Dua-ratus pengikut Pangeran In Te melawan habis- habisan, tapi tak sempat melepaskan roket asap merah, sebab mereka terkurung di tempat tertutup. Dengan melalui pengorbanan tidak sedikit pula di-pihak Kaisar Yong Ceng, anak buah Pangeran In Te pun ditumpas habis. roket asap merah itupun dirampas dan dirusak, sehingga tak bisa digunakan lagi meme- rintahkan Pasukan Pangeran In Te yang bersiaga penuh di sekitar Pak-khia Bersamaan saatnya dengan ketika Ni Keng Giau berhasil membujuk Liok Hai-Hong untuk membubarkan pasukan.

Pangeran In Te terlambat menyadari kekeliruan langkahnya. Ketika ia hendak melawan, tahu-tahu Kaisar Yong Ceng sudah ada di dekatnya dan mencengkeram urat Jing-ing-hiat di lengannya, sehingga separuh tubuhnya serasa lumpuh. Dalam hal ilmu silat, Kaisar Yong Ceng adalah murid Siau-lim-pai yang tangguh, masa mudanya pernah dihabiskan dengan menempuh gelombang dunia persilatan dengan nama samaran Si Liong-cu, dan bersahabat erat dengan pendekar-pendekar Kang-lam sekaliber Kam Hong Ti dan Pek Thai Koan. Maka tidak heran kalau Pangeran In Te langsung tidak berkutik di bawah cengkeramannya.

"Adinda, marilah kuantarkan kau menengok Ibunda," Yong Ceng menyeringai sambil memperkuat cengkeramannya. "Di mata rakyat dan ibunda kita, kita akan nampak rukun kalau bergandengan tangan seperti ini..."

Tanpa daya Pangeran In Te diseret oleh kakandanya dan menjadi tawanannya, sementara anak buahnya tak ketinggalan yang hidup seorangpun. Gugur semua. Wajah Pak Kiong Liong merah padam dan giginya gemeretak keras mendengar penuturan perajurit itu. Perajurit yang bercerita itupun diam-diam menjadi takut, jangan-jangan karena marahnya maka Pak Kiong Liong akan menghantam remuk kepalanya. Dulu, ketika masih sebagai Panglima Hui-liong-kung, memang Pak Kiong Liong bersikap ramah kepada perajurit yang pangkatnya paling rendah sekalipun, tapi di saat kemarahan dan kekecewaan menyelimuti hatinya, siapa tahu menjadi buas.

“Kemana Pangeran In Te dibawa?" tanya Pak Kiong Liong.

"Ke istana Leng-goat-kiong, bersama Tuan Puteri Tek Huai!"

"Tidak dipenjara jadi satu dengan Pangeran In Gi dan In Tong?"

Perajurit itu berusaha menjawab sebanyak mungkin untuk menyenengkan hati Pak Kiong Liong dan mengamankan nyawanya sendiri "Tidak, Goan-swe. Menurut beberapa teman yang mengetahui, Pangeran In Te akan tetap memakai semua kebangsawanannya dan menempati kediamannya yang dulu, hanya gelar-gelar kemiliterannyalah yang dicopoti semua. Sedang pengawal-pengawalnya adalah orang-orang yang ditunjuk sendiri oleh Sribaginda."

Pak Kiong Liong dapat memahami tindakan Kaisar Yong Ceng. Pangeran In Te masih punya pengaruh, karena itu ia tidak dibunuh supaya pengikut-pengikutnya tidak mengamuk, ia hanya dijadikan semacam “boneka kencana” yang ditempatkan di sangkar emas pula. Mentereng tapi terkekang, lama-kelamaan akan dilupakan orang.

Karenanya Pak Kiong Liong menganggap untuk sementara waktu keselamatan nyawa Pangeran In To tidak terancam. Kini Pak Kiong Liong mulai memikirkan hendak bertindak bagaimana? Nekad menyerbu Leng-goat-kiong untuk membebaskan Pangeran In Te? la menggeIengkan kepala merasa percuma, ia tidak yakin mampu menembus penjagaan di Leng-goat-kiong saat itu. la sebagai perajurit tua berpikiran matang takkan bertindak sebodoh itu.

Setelah melepaskan perajurit tawanannya, hati-hati sekali Pak Kiong Liong menyelundup keluar Pak-khia, menghindari pertemuan dengan pengikut-pengikut Kaisar Yong Ceng yang tengah berkeliaran di jalan karena mabuk kemenangan. Setibanya di luar kota, Pak Kiong Liong langsung menuju keperkemahan pasukan Pangeran In Te. Waktu itu matahari baru saja tenggelam di ufuk barat dan suasana sudah agak gelap.

Dan Pak Kiong Liong merasa heran melihat suasana di arah "perkemahan" sepi-sepi saja, tidak ada cahaya api, tidak ada suara apapun kecuali angin yang berdesir dan rumput gemerisik. Pak Kiong Liong memacu langkahnya, dan terkesiap melihat di tempat itu sudah tidak ada apa-apa lagi. Satu perajurit pun tidak nampak batang hidungnya.

"JenderaI Liok! Jenderal Liok!" Pak Kiong Liong berlari-lari kian kemari sambil berteriak-teriak, jarang sekali seumur hidupnya dia segugup itu. Tak ada yang menjawab teriakannya. Rasanya cuma ada satu jawaban untuk itu. Kaisar Yong Ceng telah menang! Menang mutlak! Dengan keringat dingin bercucuran, Pak Kiong Liong menjatuhkan diri direrumputan.

Matanya sayu menatap kota Pak-khia di kejauhan, membayangkan kota itu seperti sebuah kapal yang pelan-pelan tengah tenggelam ke dasar lautan sejarah, karena dikemudikan seorang nakhoda pemabuk darah macam Kaisar Yong Ceng, didampingi orang-orang macam Liong Ke Toh serta Ni Keng Giau.

Semalam suntuk Pak Kiong Liong duduk memeluk lutut, tidak peduli nyamuk dan serangga yang menggigiti tubuhnya, atau embun malam yang membasahi tubuhnya. la duduk dengan masygulnya sampai cahaya fajar nampak di seberang kota Pak-khia.

Cahaya fajar adalah cahaya semangat yang seakan menghidupkan kembali "patung" berambut putih dan berwajah keriput itu. Usianya sudah dekat liang kubur, namun selama masih tersisa satu tarikan napas saja dalam hidupnya, ia masih akan tetap berusaha menyelamatkan kekaisaran. la manusia biasa yang tidak kebal dari rasa duka dan kecewa, namun setiap kali pula semangatnva bangkit menegarkan langkah-langkah hidupnya.

Demikian pula kali ini, la bangkit dari duduknya dan menanam tekad baru dalam jiwanya. "Baik, kami kalah kali ini. Tetapi perjuangan akan kami mulai lagi, kalau perlu dari titik awal sama sekali. Kekaisaran harus bebas dari tangan tirani macam Yong Ceng dan begundal-begundalnya."

la melangkah ke barat, membelakangi cahaya fajar timur. Tujuannya adalah puncak Tiau-im-hong, jauh di propinsi Secuan sana, markas sekelompok pejuang yang disebut Hwe-Liong-pang (Serikat Naga Api). Pejuang yang tidak memperjuangkan dinasti tertentu atau suku bangsa tertentu, namun hanya memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Di sana, Pak Kiong Liong berharap titik awal perjuangannya bisa dimulai.

Ketua Hwe-Iiong-pang yang bernama Tong Lam Hou bukan saja sahabat Pak Kiong Lioru tapi juga besannya. Tetapi lebih dari itu, Tong Lam Hou dan orang-orang Hwe-liong-pang tentu takkan membiarkan sosok-sosok lalim mengangkangi tahta. Seperti leluhur mereka dulu juga tidak membiarkan kebobrokan pemerintahan dinasti Beng jaman Kaisar Cong Ceng duduk nyaman di singgasananya.

Begitu menemui tempat penjualan kuda yang pertama, Pak Kiong Liong langsung membeli seekor kuda untuk ditunggangi dalam perjalanan ke Tiau-im-hong. Dalam usia mendekati tujuhpuluh tahun, Pak Kiong Liong tetap bertubuh tegap kekar karena latihan silatnya yang rajin tak terputus-putus. Berhari hari ia menempuh perjalanan berkuda tanpa kelelahan.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah kota kecil di perbatasan propinsi Ou-lam dan Secuan. Tempat itu sebenarnya kurang cocok disebut kota, sebab hanya ada satu jalan besar membelah di tengah-tengahnya, tidak ada tembok kota yang mengelilinginya, hanya ada gapura-gapura di ujung-ujung jalan. Namun ramai sekali dengan orang berjualan di pinggir jalan, baik dalam warung-warung atau sekedar menggelar dagangan di tepi jalan.

Pak Kionq Liong tak dapat menjalankan kudanya cepat-cepat karena khawatir menabrak orang lewat. Ketika matanya melihat sebuah kedai minuman, timbullah selera minumnya. la melompat turun dari kudanya, menambatkan di patok di depan warung, dan melangkah masuk ke kedai. Kepada pelayan yang menyambutnya, Pak Kiong Liong minta disediakan sepiring makanan kecil, sepoci teh, dan juga rumput segar buat kudanya.

Beberapa saat kemudian, tengah Pak Kiong Liong menghirup tehnya dengan nyaman sambil membelakangi jendela kedai, tiba-tiba beberapa pengunjung warung menatap ke arah belakangnya dengan pandangan kaget, ada pula yang berteriak kaget. Sebuah benda berbentuk kantong kulit besar melayang cepat dari luar jendela, dan langsung hendak menungkrup ke batok kepala Pak Kiong Liong. Itulah senjata kaum Hiat-ti-cu (Setitik Darah), barisan algojo Kaisar Yong Ceng. Tanpa banyak pertimbangan lagi. Pak Kiong Liong menghindar ke samping.

Akibatnya, kantong kulit Hiat-ti-cu itu terus meluncur ke dalam warung dan menungkup salah satu pengunjung warung. Pisau-pisau dalam kantong kulit segera bergerak menjepit leher korbannya hingga putus, ketika rantai kantong kulit itu ditarik kembali, batok kepala korbannya sudah terbawa dalam kantong. Sedang tubuh korbannya menggelepar sejenak dalam warung sebelum terdiam selama-lamanya. Seisi warung jadi panik. Seorang pengunjung tua berjantung lemah, karena kagetnya oleh peristiwa ngeri di depan hidungnya, langsung jatuh dan mati saat itu juga.

Pak Kiong Liong amat menyesal melihat jatuhnya korban-korban tak berdosa itu, sedang ia sadar yang diincar oleh pembunuh itu sebenarnya adalah dirinya. Maka kemarahannya berkobar seketika, bercampur aduk dengan kekecewaan yang belum tersalur sejak Pangeran In Te terperangkap secara konyol di Pak-khia.

la melompat keluar, dan meliha si pelepas Hiat-ti-cu berdlri di atas genteng rumah dl seberang warung, ketika orang itu menarik kembaIi rantai kantong kulitnya dan melihat bahwa yang berhasil di "petik”nya bukan batok kepala Pok Kiong Liong, ia nampaik kecewa sekali.

Sementara Pok Kiong liong yang marah telah menyambar sepotong kayu pikulan dari penjual buah-buahan di tepi jalan, dan dilemparkannya seperti melempar lembing, dengan segenap kekuatannya. Kayu pikulan berdesing menyambar leher Hiat-ti-cu diatas genteng, dan si algojo yang gemar memenggal leher itu kini lehernya sendiri yang terpenggal. Kepalanya terpental ke balik wuwungan atap, sementara tubuhnya menggelantung jatuh ke jalan raya.

Suasana di jalan raya menjadi panik tak keruan. Perempuan-perempuan menjerit-jerit, para pedagang membawa lari dagangan mereka, dan tidak sedikit orang jatuh terinjak-injak. Kepanikan menghebat ketika kantung kulit kaum Hiat-ti-cu muncul dan melayang-layang diatas orang-orang itu, Pak Kiong Liong menghitungnya ada lima, namun ia yakin Kaisar Yong Ceng tentu mengirimkan jumlah yang lebih menyakinkan untuk membantainya.

Orang-orang yang lari simpang-siur Itu membuat para Hiat-ti-cu sulit menemukan sasaran mereka, Pak Kiong Liong. Mereka juga marah karena terbunuhnya seorang teman mereka, sehingga merekapun mulai membunuh membabi-buta. Seorang pedagang yang tengah membenahi dagangannya, tanpa ampun kehilangan kepalanya tersambar kantong kulit maut Itu, Hiat-ti-cu lainnya menyambar kepala seorang perempuan yang tengah berlari-lari menuntun anaknya, sehingga tubuh perempuan yang tak berkepala lagi itu pun roboh terinjak-injak orang banyak, sementara anaknya menjerit-jerit tak ada yang mempedulikan.

Sebenarnya lebih aman bagi Pak Kiong Liong kalau tempat bersembunyi, berperisaai orang banyak, namun darah Jenderal tua itu mendidih melihat jatuhnya korban-korban tak bersalah. Seperti seekor rajawali perkasa, ia melesat naik ke atas genteng sambil berseru menggeledek, "Pak Kiong Liong di sini! Hentikan kebiadaban kalian atas orang-orang tak bersalah!"

Di atas atap-atap rumah yang berpencaran, belasan lelaki berpakaian hitam ringkas dan muka berkedok hitam, sudah siap menanti munculnya Pak Kiong Liong. Merekalah algojo algojo Hiat-ti cu yang ditugaskan membereskan Pak Kiong Liong, jumlahnya deiapan belas orang, cukup berat untuk dihadapi sendiri.

Begitu Pak Kiong Liong muncul, kantong-kantong kulit yang dikendalikan rantai tipis itupun beterbangan, seolah berebutan mana yang akan lebih dulu mengambil batok kepala si jenderal tua itu. Ketika Hiat-ti-cu pertama mengincar kepalanya, Pak Kiong Liong berguling di atas genteng. Namun si algojo kali ini lebih lihai memainkan kantong mautnya daripada yang pernah menyatroni rumah Pak Kiong Liong dulu. Kantung kulitnya seperti benda hidup, dapat melayang rendah dan terus mengejar ke kepala Pak Kiong Liong.

Pak Kiong Liong lalu melompat bangun dengan gerak Le-hi-tah-teng (Ikan Gabus Melejit) dan sekaligus berhasil menginjak rantai tipis pengendali kantong kulit musuh, sia-sia pemiliknya mencoba menariknya. Tetapi dua kantong kulit lainnya menyambar datang, sehingga Pak Kiong Liong harus melepaskan injakannya untuk melompat menghindar.

Untuk sementara Pak Kiong Liong sibuk menghindari saja, tanpa berpeluang membalas menyerang, sebab musuh ada di segala penjuru. Algojo-algojo itu dengan asyik memainkan kantong-kantong terbang mereka seperti anak- anak bermain layang-layang, mengandalkan rantai pengendali yang cukup panjang, mereka aman dari jangkauan tangan atau kaki Pak Kiong Liong yang mematikan. untuk sementara Pak Kiong Liong tak sanggup menjebol kerjasama yang rapi dari pada Hiat-ti-cu terlatih itu. Perkelahian unik di atas genteng itu kini malah jadi tontonan menarik bagi orang-orang di jalanan.

"Kasihan orang tua itu," desis seorang penonton. "Apakah salahnya sehingga hendak dibunuh orang-orang berbaju hitam yang biadab itu?"

"Kakek itu tentu orang baik hati. Buktinya, ketika kantong-kantong siluman itu menyambar sembarangan orang, si kakek malah sengaja menunjukkan diri di atas genteng agar perhatian para pembunuh itu terpusat kepadanya saja. la rela menempuh bahaya demi menghindari jatuhnya korban lebih banyak."

"Ya, padahal kalau dia mau tetap bersembunyi, tentu dia akan aman. Tetapi kantong-kantong maut itu tentu akan mengganas mencabuti kepala kita. Mungkin kau atau aku saat ini sudah tidak berkepala lagi."

Di antara kerumunan orang di bawah itu, memang ada seseorang yang memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama. la seorang lelaki tegap berewokan, pakaiannya dari kulit binatang berbulu, dan diam-diam tengah membatin, "Hebat Pak Kiong Goan-swe, dalam usia setua itu masih sanggup bergerak tangkas menghadapi lawan tangguh sekian banyak. Tetapi aku harus turun tangan, karena Pak Kiong Goan-swe adalah sahabat Pang-cu (Ketua)."

Orang itu segera melepaskan mantel nya sehingga terlihat baju dalamnya yang ringkas membalut tubuhnya yang berotot kekar. Ikat pinggang kulitnya lebarnya sejengkal lebih, tempat menyelipkan kampak-kampak kecil berjumlah belasan buah yang berderet melingkari pinggangnya. Selain kampak-kampak kecilnya, di kiri kanan pinggangnya sepasang kampak besar namun bergagang pendek.

Saat itu memang Pak Kiong Liong sendiri merasa terjepit. Bagaimanapun lihai silatnya, apa gunanya kalau lawan tak bisa didekati? Namun jenderal tua itupun tidak tahu bahwa para Hiat-ti-cu juga hampir kehabisan akal. Biasanya mereka seorang diri saja dengan gampang mencomot kepala korban mereka, tetapi sekali ini mereka berdelapan belas orang sudah mengerahkan tenaga sampai barkeringat, hasilnya hanya bisa membuat Pak King Long terkepung tapi belum terluka seujung rambutpun.

Ketika Itulah sesosok tubuh melompat keatas genteng pula, biarpun tubuhnya besar namun gerakannya ringan seperti kucing, tidak kaku. Seru orang ini, “Pak Kiong Goan-Swe, biar aku bantu Goan-Swe mempercepat penyelesaian monyet-monyet ini!”

Lalu dua tangannya meraih ke pinggang dan diayunkan ke depan. Dua kampak kecil melesat ke depan, dua algojo Hiat-ti-cu yang tak menduga serangan itu terjungkal roboh. Yang satu kena punggungnya, yang lain tengkuknya. Barisan algojo Hiat-ti-cu jadi kacau dengan munculnya musuh baru itu, perhatlan Jadi terpecah, tidak lagi terpusat kepada Pak Kiong Liong melulu. Kesempataan itu digunakan oleh Pak Kiong Liong untuk membungkuk dan mengambil dua lembar genting yang diluncur kan ke arah dua Hiat-ti-cu yang agak lengah.

Dua Hiat-ti-cu menjerit dan menggelundung ke bawah genteng. Yang seorang kemasukan perutnya, yang lain-nya kena di antara dua matanya. Blarpun yang mengenai mereka hanya genting namun rasanya seperti pisau tajam atau batu gunung sebesar kambing bunting yang Jidat nya kena Itu memang kepalanya tidak sampai pecah, tetapi bagian dalam kepalanya telah terguncang jungkir-balik sehingga tak bisa dlharapkan hidup lebih lama lagi.

"Terima kasih, Ji Tong-cu (Kepala Regu Ji)!" seru Pak Kiong Liong kepada orang berbaju kulit binatang itu.

Sementara kawanan Hiat-ti-cu menjadi marah bukan main karena barisan mereka menj adi berantakan. Mereka segera membagi diri dengan sisa jumlah yang tinggal empatbelas orang itu. DeIapan orang tetap mengerubuti Pak Kiong Liong, enam orang menghadapi musuh baru yang dlpanggil Ji Tong cu oleh Pak Kiong Liong tadi.

Musuh baru itu bernama Ji Han Lim anggota Hwe-Iiong-pang yang berkedudukan sebagai Ang-ki Tong-cu (Tongcu Bendera Merah) , satu dari kelompok-kelompok dalam Hwe-Liong-pang. Julukannyn adalah Hui-po-sin (Malaikat Kampak Terbang), baik kedudukannya sebagai Tongcu maupun ilmu silatnya adalah warisan dari ayahnya almarhum yang bernama Ji Tiat dan berjulukan Siang-po-lai-san (Sepasang Kampak Pendobrak Gunung).

Ji Han Lim sadar, begitu enam algojo Hiat-ti- cu sempat menyusun kepungan, maka kedudukannya akan sulit seperti Pak Kiong Liong tadi. Maka ia tidak membiarkan musuh menyusun diri. Ketika sebuah kantong kulit hendak menyergap kepalanya, ia lemparkan dua kampaknya sekaligus, ke tengah-tengah kantong kulit itu dan ke dada pemegangnya.

Algojo Hiat-ti-cu yang diarahnya itu cukup lihai. Kakinya melakukan gerak Pai-lian-ka (Teratai Terhembus Angin), dengan gerak menyapu melengkunq keatas, kampak kecil Ji Han Lim yang meluncur ke dadanya dapat disepak pergi. Tetapi kantong kulitnya rusak dan tak bisa digunakan lagi karena kena sambitan kampak Ji Han Lim yang satu lagi. Dengan gemas Hiat-ti-cu itu membuang senjatanya, lalu melolos senjata dari pinggangnya yang berujud Jit-ciat kun (Ruyung Tujuh Ruas) yang langsung diputarnya kencang-kencang, menunjukkan lihainya orang ini.

Melihat senjata itu, Ji Han Lim tertawa mengejek, "Ha, kiranya Pa Lian Hou dari Bu-tong-pai sekarang sudah menjadi anjing pemburunya si Kaisar lalim!"

"Dan kau berteman dengan komplotan pemberontak!" Pa Lian Hou balas memaki Ji Han Lim.

Sementara itu kantong-kantong kulit pemangkas kepala lainnya telah bergantian menyambar Ji Han Lim, tetapi Tong-cu Hwe-liong-pang itu tidak mau terkepung. Dengan lincah ia terus bergerak, sambil menggunakan setiap peluang untuk membalas dengan lemparan kampak-kampak kecilnya, kadang-kadang menyerang orangnya dan kadang-kadang menyerang kantong kulitnya. Satu persatu kantong-kantong itu runtuh dan rusak, sampai habis, sehingga para Hiat-ti-cu kini harus menggunakan senjata andalan dari perguruan masing-masing.

Ji Han Lim dengan kampak-kampak kecilnya, Pak Kiong Liong dengan genting-genting rumah yang dicopotinya satu persatu, sehingga kantong-kantong pembunuh itupun akhirnya habis pula. Kini pertempuran di atas atap melulu mengandalkan iImu silat, sehingga nampaklah kegarangan Pak Kiong Liong, meskipun hanya bertangan kosong menghadapi delapan jagoan tangguh bersenjata. Sepasang tangan Pak Kiong Liong mendadak nampak berubah menjadi berpuluh-puluh pasang tangan yang menggempur dengan hebatnya, ia seperti sebuah prahara yang menggulung ke delapan lawannya.

Kedelapan pembunuh kiriman Kaisar Yong Ceng itu semakin bingung dan putus asa menghadapi lawan begitu perkasa. Mereka seperti menghadapi segumpal asap yang tak bisa dikenai dengan senjata mereka. Kalau Pak Kiong Liong sudah mulai merintis ke arah kemenangan, sebaliknya Ji Han Lim yang menghadapi enam lawannya sudah mulai kewalahan.

Sepasang kampaknya hanya dapat digunakan untuk bertahan, semua musuhnya tangguh. terutama murid Bu-tong-pai yang bersenjata Ji-ciat-kun yang pipih dan tajam itu. Ketika suatu kesempatan Ji Han Lim terbuka pertahanya, Pa Lian Hou melecutkan ruyungnya dari samping ke arah leher Ji Han Lim.

Ji Han Lim menunduk mengelakkan, kampaknya terlalu pendek untuk dapat membalas serangan tanpa melompat maju, dan saat itu seorang musuh lain yang berseniata sam-ciat-kun (Ruyung tiga Ruas) menyergap dari belakang. kearah sambungan tututnya. Ji Han Lim dapat mengelak lagi tetapi Pa Uan Hou sudah mengubah gerak senjatanya dari atas ke bawah. Biarpun Ji Han Lim berusaha mengelak dengan mencondongkan tubuh ke belakang. Namun upayanya kurang sempurna, ujung tajam ruyung Pa Lian Hou menggores panjang dari pundak sampai paha Ji Han Lim.

Pa Lian Hou tertawa dingin dan memberi semangat teman-temannya. "Mari secepatnya kita bereskan kunyuk Hwe-liong-pang ini, supaya dapat segera membantu teman-teman lain menyembelih. Pak Kiong Liong!"

Teman-temannya semakin bersemangat dan mempergencar serangan. Ji Han Lim semakin repot bertahan, tetapi tetap juga mendapat beberapa luka. Pada saat itulah Pak Kiong Liong justru berhasil mengurangi musuh, dua orang sekaligus. Seorang algojo Hiat-ti-cu tertendang rusuknya sehingga tulang-tulangnya remuk, tubuhnya mencelat ke bawah genteng dalam keadaan mampus.

Seorang lagi kena tebasan telapak tangan di tengkuknya sampai lehernya tertekuk ke depan. Rupanya Pak Kiong Liong melihat kesulitan yang dialami Ji Han Lim, dan bermaksud secepatnya merampungkan lawan-lawannya supaya bisa segera menolong Ang-ki Tong-cu Hwe-liong-pang itu.

Maka sambil menggeram hebat, Pak Kiong Liong mulai mengeluarkan Hwe-liong-sin-kang, langsung tingkat tujuh. Lawan-Iawannya dengan kaget berlompatan menjauhinya, sebab udara disekitar tubuh Pak Kiong Liong menjadi amat panas, di luar daya tahan tubuh manusia biasa. Namun Pak Kiong Liong melompat menyergap lawan yang terdekat bagaikan seekor naga terbang.

Orang yang diserang bersenjata sepasang Kang-pit, pena baja, senjata yang dirancang khusus menyerang urat darah. la bekas bandit di Ho-dak yang kepandaiannya cukup tanggi, tetapi menghadapi kemarahan Pak Kion Liong, maka pertahanannya tidak lebih dari pagar kayu rapuh yang sia-sia menahan longsoran sebuah bukit. Sepasang kan-pit yanq disilangkannya telah terpental kena sabetan tangan Pak Kiong Liong, kemudian tangan Pak kiong Liong lainnya dengan jari-jari lurus menghunjam keulu hatinya.

Tubuh orang itupun ambruk dengan kulit hangus layu. Bahkan tak sempat mengeluh sedikitpun. Sepasang Kang-pit yang disilangkannya telah terpental kena sabetan tangan Pak Kiong Liong. Kengerian melingkup hati para algojo kiriman Kaisar Yong Ceng itu, karena merasa ngerinya berada di ambang maut. Biasanya merekalah yang tertawa-tawa mempermainkan korban-korban mereka yang meratap ketakutan.

Biarpun demikian, mereka tetap tidak berani lari dari gelanggang sebelum ada perintah. Pemimpin regu algojo itu adalah seorang Manchu bernama Hap To yang amat fanatik kepada Kaisar Yong Ceng. Biarpun melihat anakbuahnya tertumpas satu demi satu, ia belum juga mengeluarkan aba-aba untuk mundur.

Senjatanya ialah sebatang tombak bermata dua yang dimainkannya dengan tangkas sekali. la masih mengharap sebuah kemenangan, yaitu kalau Ji Han Lim berhasil dibereskan dulu maka semua tenaga bisa dikerahkan untuk menundukkan Pak Kiong Liong, sebab kelihatannya Ji Han Lim hampir dapat diselesaikan.

Keadaan Ji Han Lim memang gawat. Tubuhnya sudah penuh luka yang kalau dibiarkan saja akan menghabiskan darah. Tetapi ia gigih sekali, ia mengamuk sambil sikap bertahan amat ketat. sehingga musuh- musuhnya menjadi gemas sekali. Teriak Pa Lian Hou sengit, "Kata-nya kau jagoan Hwe-Iiong-pang, kenapa berkelahi seperti perempuan macam itu? Ayo, balaslah menyerang!"

Sambil menangkis sebatang golok yang menyambar lehernya, Ji Han Lim menjawab, "Aku hanya menyesuaikan diri sebab lawan-lawanku pun berkelahi seperti perempuan-perempuan yang main keroyokan!"

la menutup kalimatnya dengan sebuah desisan pedih, karena ujung sebatang pedang musuh menggores lengannya. Namun sementara itu dua orang lagi berhasil dibereskan oleh Pak Kiong Liong. Kini jenderal tua Itu tinggal menghadapi tiga orang lawan yang perlawanannya semakin kocar-kacir karena semangat tempur sudah mulai merosot.

Saat itulah Ji Han Lim mendadak melompat keluar dari kepungan lawan-lawannya, kampak di tangan kanan dipindahkan sekalian ke tangan kiri. Semula lawan-lawannya mengira jagoan Hwe-Liong-pang itu hendak menggunakan sisa kampak-kampak kecil yang masih tergantung di pinggangnya, sehingga Pa Lian Hou dan teman-temannya bersiap-siap menghadapi kampak-kampak kecil yang tadi sudah terbukti kelihaiannya.

Tetapi Ji Han Lim ternyata tidak melemparkan kampak-kampaknya, melainkan memasukkan dua jari kemulutnya, lalu terdengarlah ia bersuit melengking. Itu lebih mengejutkan para Hiat-ti-cu. Mereka ingat bahwa saat itu mereka ada di dekat wilayah Secuan, wilayah pengaruh Hwe-liong-pang yang sangat kuat. Kalau suitan Ji Han Lim itu bermaksud memanggil teman-temannya sesama Hwe-liong-pang, itu artinya kesulitan besar bagi para Hiat-ti-cu.

Satu Pak Kiong Liong dan satu Ji Han Lim sudah membuat mereka repot, bagaimana kalau muncul lagi seorang jagoan yang setingkat dengan Ji Han Lim, atau bahkan Ketua Hwe-liong-pang sendiri, Tong Lam Hou, yang kepandaiannya setara dengan Pak Kiong Liong?

Betapapun fanatiknya Hap To kepada Kaisar Yong Ceng, dia sadar tugasnya untuk membunuh Pak Kiong Liong telah gagal kali itu, kalau diteruskan secara nekad malah akan menghancurkan pihaknya sendiri. Maka diapun mengeluarkan aba-aba untuk mundur, lalu kawanan Hiat-ti-cu itupun berhamburan lari, meninggalkan teman-teman mereka yang bergeletakan tak bernyawa.

Pak Kiong Liong yang masih men-dongkol, berteriak dari kejauhan, "Sampaikan salamku untuk Yong Ceng, keponakanku yang nakal itu. Katakan kepada nya bahwa kelak Pamannya ini akan datang kembali ke Pak-khia untuk menjewer kupingnya!"

Hap To, Pa Li an Hou dan lain-lain nya tidak menggubris ejekan itu, mereka terus saja lari seperti dikejar setan. Pak Kiong Liong kemudian mengalih kan perhatian kepada Ji Han Lim yang terluka, dilihatnya Tong-cu Hwe-liong-pang itu tengah menaburkan bubuk obat ke luka-lukanya sendiri.

"Bagaimana keadaanmu, saudara Ji?" tanya Pak Kiong Liong. "Aku sangat berterima-kasih atas pertolonganmu tadi. Kalau saudara tidak muncul, barangkali yang sampai ke Tiau-im-hong hanya arwah Pak Kiong Liong saja."

Ji Han Lim menjawab sambil tertawa, "Jangan sungkan-sungkan, Goan-swe. Kalau Goan-swe sampai berkelahi dengar orang lain, tentunya dengan orang jahat, sebab kami sudah tahu bagaimana watak Goan-swe."

"Wah, kau pintar membuatku besar kepala. Eh, bagaimana dengan luka-luka mu?"

"Hanya luka-luka kulit yang tidak berbahaya. Yang penting, kita harus segera pergi dari sini, siapa tahu orang orang baju hitam tadi akan datang kembali membawa teman-teman yang lebih ba nyak dan lebih kuat?"

"Tapi bukankah tadi saudara sudah bersuit memanggil bantuan? Buat apa takut?"

Ji Han Lim tersenyum, "Suitanku tadi hanya gertak sambal, sebab sesungguhnya tak ada orang Hwe-liong-pang di sekitar tempat ini. Dan bangsat-bangsat tadi telah lari terbirit-birit. Ha ha-ha....”

Mau tak mau Pak Kiong Liong ikut tertawa pula. Keduanya lalu melompat turun dari atas genteng, orang-orang di bawah minggir ketakutan, tetapi Pak Kiong Liong dengan ramah dan sopan memanggil mereka untuk menanyakan di mana rumah orang-orang yang menjadi korban Hiat-ti-cu tadi. Lalu Pak Kiong Liong menguras kantong uangnya sendiri, dititipkan untuk korban-korban tak berdosa tadi sambil menyatakan penyesalannya.

Lalu sambil menunggang kuda masing-masing, Pak Kiong Liong beserta Ji Han Lim meninggalkan tempat berdarah itu, menuju markas Hwe-liong-pong di Tiau-im-hong yang tinggal sehari perjalanan lagi. Ketika Ji Han Lim menanyakan kenapa Pak Kiong Liong sampai bermusuhan dengan kawanan Hiat-ti-cu, Pak Kiong Liong tanpa tedeng aling-aling telah menceritakan semua yang terjadi di Pak Khia. la sangat mempercayai orang-orang Hwe-Liong-pang.

Orang orang Hwe-liong-pang yang berdiam jauh dari Pak-khia memang terdengar juga berita simpang-siur dari ibukota kerajaan, katanya ada ketegangan politik semenjak wafatnya Kaisar Khong Hi. Namun beritanya kabur dan tidak jelas. Baru saat itu Ji Han Lim mendengar sejelas-jelasnya dari mulut Pak Kiong Liong, dan merasa diluar dugaan kalau peristiwanya ternyata dermikian hebat.

Hui- liong-kun (Pasukan Naga Terbang) sudah dipreteli sehingga lenyap kekuatannya, Panqeran In Te dan angkatan perangnya telah dilumpuhkan, dan Pak Kiong Liong bukan lagi orang terhormat di istana, melainkan seorang buronan yang batok kepalanya sangat di ingini oleh Kaisar Yong Ceng.

Ji Han Lim termangu-mangu mendengarkan cerita itu. Kejamnya Kaisar Yong Ceng tergambar dari kejamnya para Hiat-ti-cu yang sama sekali tidak menghargai nyawa rakyat, seperii disaksikkan sendiri oleh Ji Han Lim tadi.

"Agaknya Hwe-liong-pang bakal mendapat tugas berat lagi kata Ji Han Lim kemudian dengan semangat bergelora. "Selama belasan tahun terakhir ini kami bosan hanya menghadapi kawanan pencoleng kecil atau tukang menyambar jemuran."

Sejarah Hwe-Liong-pang memang tidak sembarangan. Puluhan tahun yang silam, ketika Joan-ong Li Cu-sing memberontak untuk menumbangkan kebobrokan Kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, Hwe-liong-pang punya andil membantu kemenangan Joan Ong. Ketika dunia persilatan gempar dan ketakutan karena munculnya gerombolan jahat Hek-eng-po (Benteng Elang Hitam) belasan tahun yang lalu, Hwe-liong-pang juga berada di barisan depan untuk menumpas gerombolan itu.

Kini mendengar tentang kesewenang-wenangan Kaisar Yong Ceng yang membahayakan negara dan rakyat, Ji Han Lim merasa bahwa Hwe- liong-pang agaknya akan mendapat "pekerjaan rumah" lagi . Inilah yang membuat darah Ji Har Lim menggelegak panas.

Propinsi Se-cuan sering dijuluki "gudang beras" daratan Cina karena suburnya, julukan yang membanggakan sekaligus juga mencelakakan. Mencelakakan, sebab setiap kali terjadi perang besar maka masing-masing pihak berusaha merebut Se-cuan lebih dulu, untuk menjamin perbekalan dalam perang jangka panjang.

Ketika Kerajaan Manchu mulai berkuasa, wilayah Se-cuan dan Hun-lam pernah dihadiahkan kepada Bu Sain Kui, seorang bekas Panglima Kerajaan Beng yang berjasa kepada Manchu karena memberi kesempatan balatentara Manchu masuk ke daratan tengah lewat gerbang San-hai-koan. Namun kemudian Bu Sam Kui berbalik menentang Manchu, pemberontakannya sempat meluas, Bu Sam Kui sendiri sempat mengangkat diri sebagai Kaisar di kota Hing-ciu, tetapi akhirnya tertumpas habis.

Pegunungan Bu-san memenuhi hampir seluruh Se-cuan, terbelah aliran Sungai Tiang-kang di tengahnya, dan di lambung puncak Tiau-im-hong, salah satu dari duabelas puncak pegunungan Busan, itulah tempat markas Hwe-liong-pang yang terkenal. Pak Kiong Liong dan Ji Han Lim berjalan santai mendaki lereng Tiau-im-hong sambil menikmati suasana pegunungan.

Entah berapa kali Pak Kiong Li ong sudah ke tempat itu untuk mengunjungi sahabat sekaligus besannya, puterinya, menantunya, cucu-cucunya dan kenalan-kenalan baik dari Hwe-liong-pang lainnya. tapi tiap kali kekagumannya akan kehebatan tempat itu tidak juga berkurang. Seandainya ia tidak sedang banyak urusan politik yang memusingkan kepala, ingin rasanya ia diam lama di tempat itu untuk mengendapkan hati dan pikirannya.

Tak terasa ia bergumam sendiri, "Dalam sisa umurku yang semakin sedikit ini, entah kapan aku diperkenankan menghabiskan tiap tarikan napasku ditempat tenteram damai macam ini?”

Mendengar ucapan itu, Ji Han Lim menyahut, "Memang kelihatannya menyenangkan hidup sepi dan tenang seperti dewa-dewa di pertapaannya, tidak pusing urusan orang lain. Tetapi aku ragu-ragu, benarkah Goan-swe ingin hidup seperti itu, atau hanya sekarang Goan-swe sedang menghadapi urusan ruwet sehingga berkata seperti tadi?"

Pak Kiong Liong tersenyum, "Betul juga ucapanmu, saudara Ji. Aku ini memang manusia rewel. Kalau sedang menghadapi banyak urusan, aku inginkan ketentraman. Namun kalau terlalu lama hidup tenteram, akupun mulai bosan, lalu usil mencari-cari urusan."

"Itulah gejolak jiwa yang hidup oleh gejolak perjuangan, Goan-swe, mendambakan hidup ini bermanfaat bagi orang lain. Orang yang bertapa untuk ke tenteramannya sendiri, tidak peduli urusan orang lain, apa manfaatnya dia hidup di dunia? Memang mungkin ia akan bersih dari noda-noda duniawi. Tetapi hidupnya tidak bermanfaat sedikitpun bagi sesama. Seperti sebuah cangkul yang hanya disimpan saja, ia tetap bersih dan baru, namun tidak berguna, tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya kalau cangkul itu dipakai di ladang, ia kena kotoran dan mungkin cepat rusak, tetapi ia menjadi berguna, menghasilkan buah-buah kehidupan yang manis."

"Jadi menurut saudara Ji, orang-orang yang menyepi itu keliru semuanya?"

"Ada yang benar, ada yang salah."

"Yang mana yang benar atau salah?"

"Yang salah ialah yang menyepi mencari ketenteraman diri sendiri, sepenuhnya bebaskan diri dari dunia. Yang benar ialah yang bersunyi diri untuk mencapai gagasan-gagasan luhur, sebab lebih mudah mendapat gagasan itu dalam kesunyian daripada di tengah suasana hiruk-pikuk. Tetapi pikiran luhur yang didapatkan itu hendaknya dibawa kembali ke masyarakat untuk disumbangkan kepada orang banyak, jangan dijadikan bekaI rohani buat diri sendiri saja. Berjuta-juta manusia masih haus gagasan-gagasan luhur itu dan banyak yang belum tahu kemana harus mendapatkannya. Pangeran Sidharta setelah menjadi Buddha dan mencapai Penerangan Suci, juga tidak bersembunyi saja, melainkan kembali ke masyarakat untuk menyebarkan ajarannya. Begitu pula rasul rasul dari negeri padang pasir dibarat sana, menyebarkan Kebenaran yang mereka yakini sampai kadang-kadang mengorbankan nyawa mereka."

"Bagus, saudara Ji. Tapi bagaimana saudara tahu bahwa aku takkan betah hidup sebagai pertapa seumur hidup?"

"Karena aku tahu watak Goan-swe tidak jauh berbeda dengan watak Pangcu (Ketua) kami..."

"Tetapi toh Ketuamu hidup amat santai di tempat ini, tidak bolehkah aku menggerutuinya?"

"Kenapa Goan-swe harus menggerutuinya?"

"Karena aku sering iri kepadanya. Di Pak-khia kepalaku hampir pecah memikirkan seribu satu urusan, sedang Ketuamu enak-enak saja hidup di Sini."

Ji Han Lim tiba-tiba tertawa geli, "Goan-swe, di waktu-waktu senggang aku sering berbicara santai dengan Pangcu, tahukah Goan-swe apa saja yang dikatakan oleh Pangcu?"

“Apa?”

"Pang-cu juga sering menggerutui Goan-swe, juga karena iri. la berkata Goan-swe sungguh beruntung kerana tenaga dan pikirannya masih terpakai untuk disumbangkan kepada orang banyak, sedang Pang-cu merasa hari-harinya dilalui dalam kekosongan. Kesibukannya hanya menyiram bunga, memberi makan burung dalam kurungan, kesibukan-kesibukan lain yang menurut Pang-cu sepantasnya dilakukan orang- orang jompo."

"Aneh," kata Pak Kiong Liong sambil tertawa. "Jadi Tong Lam Hou iri karena aku punya banyak kepusingan, kejengkelan dan kadang-kadang bahaya yang mengancam nyawa tuaku?"

"Dan Goan-swe iri kepada perasaan sunyi Pang-cu karena hari demi hari dilewatinya tanpa berbuat apa-apa?" sahut Ji Han Lim. ‘'Apakah Goan-swe dan Pang-cu perlu tukar tempat saja?'

Pak Kiong Liong hanya tersenyum tanpa menjawab, sementara Ji Han Lim melanjutkan kata-katanya. "Tetapi aku berani taruhan potong telinga, begitu Goan-swe dan Pang-cu bertukar tempat. Tak lama kemudian pasti Goan-swe merasa tidak betah. Sebaliknya Pang-cu akan sangat betah di Pak-khia, sebab disana ia pasti tidak sekedar menyiram bunga atau memberi makan burung dan ikan…”

“Tetapi... bukankah pekerjaan seperti Ketua Hwe-Liong-pang hanya menyirami bunga saja?"

“Semua urusan luar Sudah ditangani oleh putera Pang-cu, atau oleh para tong-cu (pemimpin kelompok) dan Hiang-cu (Hulubalang) sehingga Pang-cu sering menuduh kami kejam, merampas semua kesibukan dan menyuruh dia bertopang dagu saja di markas.”

Senyum Pak Kiong Liong semakin melebar, ketika ia ingat tujuannya hendak mengajak Tong Lam Hou menggalang kekuatan menentang kelaliman Kaisar Yong Ceng, maka diapun berkata, "Baiklah, karena dia sudah jemu menganggur, maka aku datang membawakan sebuah pekerjaan besar buatnya. Tidak sekedar menyirami bunga atau menaburkan makannan ikan ke kolam...."
Selanjutnya,