Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 07 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga I Jilid 07

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
“PERTEMPURAN yang masih seimbang adalah antara Pak Kiong Liong dan Hattori Sho. Kadang-kadang Pak Kiong Liong terkurung pusaran angin hitam yang dinginnya seolah hendak membekukan darah. Di lain saat ia bangkit membalas dan membuat si jagoan tua dari Ryukyu itu tertekan gelombang udara yang begitu panas sehingga mencekik pernapasannya. Beberapa tombak di sekitar arena duel itu, tidak ada perajurit dari kedua belah pihak yang berani mendekat.

Bayangan senjata mereka saling menyambar, bergulung seperti gelombang atau kadang-kadang terapung-apung seperti mega, mengikuti gerak tubuh mereka. Pak Kiong Liong sebenarnya merasa tidak cocok memainkan Thian-liong Kiam hoat dengan pedang rampasannya. Pedang kaum samurai itu lebih tepat disebut "setengah pedang setengah golok", meskipun bentuknya sempit memanjang seperti pedang, tapi yang tajam hanya sebelah sisinya dan agak melengkung.

Selain itu, tangkainya yang panjangnya lebih dari satu setengah jengkal itu agak mengganggu kelenturan pergelangan tangan Pak Kiong Liong. Di Jepang, Kenjit-su (llmu Pedang) memang hampir mengabaikan kelenturan pergelangan tangan, sebab umumnya bentuk serangan adalah bacokan dimana tangkai pedang di pegang dengan dua tangan, sehingga bentuk pedangpun disesuaikan dengan gaya silat mereka.

Tapi gangguan kecil itu nyaris tak mempengaruhi keperkasaan Pak Kiong Liong dalam bertempur. Cahaya keperak-perakan pedangnya menari-nari seperti naga dilangit, hawa panas yang menyertai gerakan pedang seperti semburan api dari mulut naga.

Sementara itu Hattori Sho juga menggerakkan toya sehebat gelombang me ngamuk, kadang-kadang toya dipegang ditengahnya dan diputar sekencang roda kereta yang tengah dipacu. Udara dingin semakin tajam menusuk kuIit. la sebenarnya belum ada gejala-gejala kalah dari Pak Kiong Liong, tapi sempat dilihatnya bahwa anak buahnya mulai mengalami tekanan keras, sehingga ia merasa tidak ada untungnya kalau terus ngotot bertahan di situ.

Karena itu, sambil bertempur diapun bersuit nyaring sebagai isyarat mundur bagi anak buahnya. Suitan itu berkumandang nyaring sampai orang-orang Jepang di lereng selatanpun mendengarnya. Mereka segera bergerak mundur dengan perlindungan bedil-bedil mereka. Sedang teman-teman mereka di lereng utara mundur dengan lebih dulu melemparkan benda-benda bulat hitam yang meledak di tanah dan membentuk tabir asap sebagai pelindung mereka sewaktu mundur.

Perajurit-perajurit Manchu tidak mengejar, sebab lebih penting bagi mereka untuk tetap melindungi kereta perbekalan. Biarpun anak buah Hattori Sho tergabung dalam pasukan Jenderal Hirasaki, namun mereka bukan masuk kasta samurai, melainkan golongan yang disebut Wako, perompak atau bandit yang bersarang di Pulau Ryukyu yang dimanfaatkan tenaganya oleh Hirasaki.

Kalau kaum samurai menjunjung tinggi kehormatan dengan tidak segan-segan melakukan harakiri, maka kaum Wako ini justru tak segan melakukan apapun yang memalukan asal nyawa mereka selamat. Begitu mendengar isyarat Hattori Sho, merekapun kabur lintang-pukang tanpa malu-malu lagi. Sekejap saja mereka sudah bersih dari arena pertempuran, meninggalkan teman-teman sendiri yang mati atau terluka.

Hattori Sho sendiri sadar, kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya saja akan sulit lolos dari Pak Kiong Liong, tapi ia masih punya ilmu sihir. Biarpun tidak yakin sihirnya akan berhasil mengelabuhi mata orang selihai Pak Kiong Liong yang berjiwa kuat, namun tujuannya memang bukan untuk menang, ia hanya ingin setitik peluang untuk kabur meninggalkan gelanggang.

Tiba-tiba tubuhnya melompat mundur, keluar dari gelanggang, mulutnya berkomat- kamit membaca mantera, lalu toyanya dilemparkan ke arah Pak Kiong Liong. Pak Kiong Liong terkejut untuk beberapa detik. Menurut penglihatan mata jasmaninya, bumi merekah dan dari dalamnya keluar seekor naga hitam raksasa yang menyemburkan uap hitam pula.

Secara naluriah ia mengayunkan pedangnya sehingga berhasil memenggal kepala naga itu, tapi begitu kejernihan akalnya pulih, maka yang terpotong itu bukan "naga" melainkan hanya toya yang dilemparkan lawan tadi. Bumi juga tidak ada tanda-tanda "merekah" segala, masih tetap seperti tadi.

Kesempatan itu digunakan oleh Hattori Sho untuk kabur. Pak Kiong Liong melesat mengejar, namun langkahnya terhenti ketika melihat buruannya itu menaburkan segenggam logam berkelap-kelip di tanah. Itulah paku-paku kecil berujung empat, yang di kalangan Ninja Jepang dikenal dengan istilah Tetsu-bishi.

Kalau disebar di tanah, tiga ujung paku membentuk kuda-kuda dan satu ujung sisanya mendongak ke atas sehingga akan menjadi perintang bagi pengejarnya. Tetsu-bishi yang disebarkan Hattori Sho bukan saja tajam, tapi juga direndam racun yang amat jahat. Luka seujung rambutpun cukup untuk mengantar nyawa ke akherat.

Karena rintangan berturu-turut itulah Pak Kiong Liong gagal menangkap lawannya. Pak Kiong Liong kemudian berjongkok memunguti paku-paku itu dengan tangan terbungkus kain agar tidak kena racunnya. la khawatirkan kalau paku-paku itu dibiarkan, siapa tahu akan terinjak oleh pencari kayu atau siapapun orangnya, sehingga menimbulkan kesusahan yang tidak perlu.

Sambil melakukan hal itu, diam-diam ia berpikir tentang lawannya tadi, "Pasti orang tadi berasal dar'i kasta samurai, sebab kabarnya kasta samurai enggan, bahkan jijik menggunakan cara-cara bertempur kaum Ninja yang licik dan keji. Kaum Ninja di Jepang boleh disebandingkan dengan kaum Mo-kau (Agama lblis) di Cina, sama-sama gemar main racun, ilmu siluman dan peralatan-peralatan berbahaya lainnya..."

Segenggam Tetsu bishi kemudian dikuburkan di tanah. Namun kemudian Pak Kiong Liong tidak berniat menemui Panglima pemimpin pasukan perbekalan, siapa tahu malah akan mendapat kesulitan dan bukannya ucapan terima kasih. la sadar dirinya bukan lagi Panglima Hui-liong-kun yang disegani, melainkan "buronan pemerintah" Kaisar Yong Ceng. Oleh karena itulah ketika si panglima mencari Pak Kiong Liong untuk mengucap terima kasih, ia tidak menjumpainya. Panglima tua itu sudah menghilang.

"Aku melihat jelas tadi, Pak Kiong Goan-swe muncul membantu kita," kata Panglima itu heran. "Kenapa beliau tiba-tiba tidak kelihatan lagi?"Perwira di sampingnya menyahut. "Banyak perajurit kita tadi juga melihat Pak Kiong Goan-swe, ia bertempur disini, tetapi beliau agaknya sedang terburu-buru sehingga tidak sempat menemui kita..."

Ketika pasukan pengawal ransum itu kemudian sampai di Liao-yang, baru mereka tahu bahwa Pak Kiong Liong bukan panglima lagi melainkan buronan. Panglima pengawal perbekalan itu diam-diam heran, seorang yang sudah begitu banyak jasa dan pengabdiannya kok malah jadi buronan? Tetapi ia tidak berani merpersoaIkannya, sebab itulah urusan "orang- orang atas”.

Sementara itu, Pak Kiong Liong dalam penyamarannya berjalan kembali ke Pak-khia, untuk melihat bagainana situasi di pusat pemerintahan itu. la berhasil masuk kota dengan licin, perajurit penjaga pintu gerbang-pun tidak mengenali lagi sebab ia nyamar sebagai seorang kakek miskin yang berjalan terbungkuk-bungkuk dibantu sebatang tongkat. Situasi kota hampir tidak berubah, kecuali di tempat-tempat ramai ditempelkan kertas-kertas pengumuman berukuran besar, berlukiskan wajah Pak Kiong Liong, dengan keterangan :

“Pak Kiong Liong, kesalahan pertama : meninggalkan tentaranya dimedan perang dengan cara pengecut untuk menyelamatkan diri sendiri. Dua : membangkang kepada Jenderal Ni Keng Giau sebagai atasannya. Tiga : Menghina Kaisar. Empat : Memberi contoh buruk kepada prajurt- prajurit rendahan. Hadiah yang tersedia Selaksa tahil emas yang dapat menyerahkan hidup atau mati. Limaribu tahil emas untuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyiannya,”.

Ketika Pak Kion Liong menyusup diantara orang banyak dan ikut membaca pengumuman itu, diapun menyeringai kecut sambil bergumam, “Bukan main. Lumayan juga tarip untuk mencabut nyawa keroposku. Suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk melenyapkan aku…”

Ketika kemudian Pak Kiong Liong mencari-cari berita lebih lanjut, ia mendengar pula bahwa kedudukan Panglima Hui-liong-kun sudah diserahkan kepada Lam Kiong Siang, bukan seorang pendukung Kaisar Yong Ceng namun seorang yang "jinak". Kaisar Yong Ceng cerdik memilih tokoh ini, sebab kalau ia pilihkan seorang yang terang-terangan memihak kepadanya, perajurit-perajurit Hui-Liong-kun yang rata-rata setia kepada Pak Kiong Liong itu bisa mengamuk.

Maka dipilihilah Lam Kiong Siang, biarpun bukan sekutu namun asal "jinak". Namun ribuan perajurit-perajurit Hui-liong-kun yang berkumpul di Pakkhia itu masih membuat Yong Ceng merasa kurang tenteram, seperti paku di tempat duduknya. Maka dengan alasan untuk "membela negara", pasukan Hui-liong-kun dikirim lebih banyak lagi ke medan perang di Liao-tong.

Diam-diam pula Yong Ceng mengirim pesan rahasia kepada Ni Keng Giau agar pasukan Hui-liong-kun ditempatkan di titik peperangan yang paling banyak makan korban" alias diienyapkan dengan diumpankan ke ujung senjata orang Jepang. Membaca pesan rahasia Kaisar sekaligus kakak seperguruannya itu, Ni Keng Giau mau tidak mau bergidik juga.

Kaisar Yong Ceng tidak segan-segan menggunakan cara "lempar batu sembunyi tangan" demi melenyapkan pihak-pihak yang tidak disenanginya. Ni Keng Giau waswas, jangan-jangan dirinya suatu hari nanti juga dijadikan sasaran "pesan rahasia" macam itu? Bukan mustahil, sebab diri-nyapun tahu rahasia liku-liku Kaisar Yong Ceng dalam merebut tahta. Siapa tahu kelak Kaisar merasa perlu untuk membungkamnya sekalian.

Untuk menghibur diri, Ni Keng Giau berkata kepada dirinya sendiri, "Asal aku tetap dalam kedudukan kuat dan punya pengikut sendiri, tidak gampang kalau Kaisar hendak menyingkirkan aku dengan cara apapun. Tetapi akupun harus menunjukkan kesetiaanku dan menumpuk jasa-jasa baginya, supaya ia tidak punya alasan untuk menindak aku..."

Buat sementara waktu, Ni Keng Giau merasa cukup aman. Dikemudian hari ia harus menyesali pendapatnya itu, tapi sudah terlambat. Pemusnahan Hui-liong-kun di medan perang itu dibarengi dengan tindakan Vong Ceng atas pasukan Hui-Iiong-kun yang masih tertinggal di Pak-khia dan tak seberapa lagi jumlahnya. Sisa-sisa pasukan itu dipecah-pecah untuk digabung-gabungkan dengan pasukan-pasukan lain yang setia kepada Kaisar.

Saat itulah perajurit-perajurit Hui-liong-kun sadar bahwa mereka sedang "dipereteli” sampai menjadi kekuatan yang tak berarti lagi. Beberapa perwira dengan gusar menolak perintah itu. Akibatnya, barak Hui-Liong-kun dikepung pasukan-pasukan Yong Ceng, dipaksa menyerah tapi menolak, terjadi pertempuran di barak, dan pasukan Hui-Iiong-kun yang tinggal sedikit itupun terbunuh, tertawan atau lari berpencaran. Yang tertawan langsung dihukum penggal kepala. Yang lari dikejar, namun banyak yang berhasil lolos keluar kota Pak-khia untuk bergabung dengan angkatan perangnya Pangeran In Te.

Begitulah cara Yong Ceng melenyap kan duri dalam daging dan meperkokoh kedudukannya di pusat pemerintahan. Beberapa Panglima tidak berani melawan arus dan rnerekapun mengucapkan sumpah setia kepada Kaisar. Beberapa Panglima lainnya yang tetap tidak mau mengakui kekuasaan Kaisar Yong Ceng, di antaranya adalah Bok Eng Siang, lari meninggalkan Pak-khia sebelum mati konyol oleh regu algojo Hiat-ti-cu yang semakin ganas di bawah perintah Yong Ceng itu. Itulah yang terjadi selama Pak Kiong Liong berada di Liao-tong.

Sementara itu, pasukan-pasukan dari beberapa gubernuran telah didatangkan ke Pak-khia untuk memperkokoh kedudukan Kaisar Yong Ceng dalam rnenghadapi Pangeran In Te dan angkatan perangnya yang kian lama kian dekat ke Pak- khia, kian santer pula beritanya. Mendung ancaman perang saudara menggantung rendah di atas pusat pemerintahan, banjir darah orang- orang sebangsa sudah siap membayang di pelupuk mata.

Harapan Yong Ceng ialah agar Ni Keng Giau dapat secepatnya mengusir pasukan Jepang di Liao-tong, lalu kekuatan pasukannya bisa segera dipakai untuk menghadapi Pangeran In Te. Tepi seandainya perang dengan Jepang tidak juga selesai, Yong Ceng sudah punya rencana lain. Kalau perlu, Jepang diajak damai dengan diberi "hadiah" wilayah Liao-tong dan semenanjung Korea, dan pasukan Jepang akan diminta membantu menggempur Pangeran In Te.

Itulah politik. Orang asing diundang masuk rumah untuk disuruh menggorok saudaranya sendiri, malah diberi hadiah pula. Namun itu hanyalah rencana cadangan. Yang paling bagus ialah kalau bisa mengalahkan In Te tanpa kehilangan sejengkal wilayahpun yang harus diberikan kepada Jepang.

Di Pak-khia, Pak Kiong Liong merasa nyawanya senantiasa terancam. Dengan hadiah selaksa atau lima ribu tahil emas, seorang temanpun bisa berbalik menjadi musuh yang menikam punggung dari belakang. Namun Toh Pak Kiong Liong tetap bergentayangan di kota Pak-khia untuk tetap mengamati situasi.

Beberapa hari kemudian, sampailah kabar di Pak-khia bahwa Ni Keng Giau berhasil mengusir tentara Jepang keluar dari Liao-tong. Kabarnya, Ni Keng Giau begitu pintar sehingga dapat mengalahkan tentara Jepang yang bertempur dengan cara Eropa itu. Pasukan Jepang hebat, tapi Ni Keng Giau lebih hebat lagi. Kabar kemenangannya membuat nama Ni Keng Giau langsung mengharum di Pak-khia.

Di sebuah penginapan murahan yang menjadi "persembunyian"nya, Pak Kiong Liong tertawa sendiri mendengar berita itu. "Siasat lihai"nya Ni Keng Giau dalam mengusir musuh itu bukan lain adalah hasil pemikiran Pak Kiong Liong yang diuraikan kepada Ni Keng Giau dulu, dan sekarang Ni Keng Giau tanpa malu-malu mengakuinya sebagai gagasannya sendiri. Tetapi Pak Kiong Liong lega. Baginya yang penting bukanlah siapa yang mendapatkan pujian, melainkan terusirnya musuh itulah yang penting.

Tetapi ketika orang-orang di Pak-khia bersuka-ria mendengar kabar kemenangan itu, menyusul kabar lainnya bagaikan seribu petir menyambar. Angkatan Perang Pangeran In Tesudah tiba! Pak-khia hanya dalam waktu semalam tiba-tiba telah dikepung rapat oleh pasukan penakluk Jing-hai itu. Ketika esok harinya Kaisar Yong Ceng naik ke tembok kota untuk membuktikan sendiri laporan anakbuahnya, dilihatnya dataran luar kota sudah penuh dengan ribuan kemah tak terhitung banyaknya yang entah sampai dimana batasnya.

Bendera-bendera berkibaran megah di segala penjuru, tambur perang dan sangkakala tanduk mengalun menggetarkan udara, membuai pengawal-pengawal Kaisar Yong Ceng berkeringat dingin. Haruskah mereka bertempur melawan angkatan perang yang demikan dahsyat? Mendengar derap kaki mereka saja barangkali sudah bisa membuat si nyali kecil jadi lumpuh seketika.

Kaisar Yong Ceng yang bernyali besar itupun tergetar ketika memandang pasukan yang digelar Pangeran In Te di depan hidungnya. Akankah adiknya yang keempatbelas itu melampiaskan sakit hati atas perlakuan kasar yang pernah diterimanya dulu? Liong Ke Toh yang menjadi "gudang akal"nya Vong Ceng itupun nampak berkerut-kerut ujung matanya.

"Bagaimana ini, Paman?" tanya Kaisar.

"Hamba persilahkan Tuanku kembali ke Istana lebih dulu, Tuanku," kata Liong Ke Toh. "Kita pasti akan menemukan pemecahannya..."

Ucapan Pamannya itu menyadarkan Yong-ceng bahwa dia tidak boleh menunjukkan rasa gugup atau takutnya dihadapan pengawal- pengawalnya, itu bisa membuat semangat mereka merosot. Karena itu diapun berkata keras, sengaja diperdengarkan kepada perajurit-perajurit di atas benteng kota,

"Aku masih akan berusaha menjadi seorang Raja dan Kakak yang baik bagi In Te, akan kuingatkan bahwa pewarisan tahta sudah berjalan dengan syah, sesuai dengan. kehendak Hu Hong (ayahanda Kaisar) yang tertulis dalam Surat Wasiat, itu tak bisa diganggugugat. Mudah-mudahan adinda In Te masih bisa diajak bicara sebagai saudara, tapi kaiau ia tetap membandel, jangan dikira aku tidak bisa menandingi kekuatannya...!'

Lalu Kaisar Yong-Ceng dengan pengawal-pengawalnya kembali ke Istana. Setelah rombongan Kaisar pergi seorang prajurit ditembok kota berkata kepada temannya, “Apa yang dinaksudkan oleh Hong-siang dengan menandingi kekuatannya?"

Sahut temannya, "Perang. Kau pikir apa?" "Antara sesama perajurit kekaisaran?"

Teman-temannya hanya bisa menyeringai kecut. Pertikaian Yong Ceng dan In Te memperebutkan warisan ayahanda mereka, ternyata akan melibatkan ratusan ribu perajurit rendahan macam mereka. Sekali genderang perang ditabuh dan bendera komando dikibarkan, ratusan ribu nyawa bisa melayang didalam pertikaian sesame bangsa. Ribuan ibu kehilangan putera, isteri kehilangan suami, gadis kehilangan kekasih, anaka-anak kehilangan ayah. Tapi pernahkah mereka dipedulikan oleh sang pemegang bendera komando?

Pak Kiong Liong yang mendengar pula berita itu, menjadi gelisah. Ia memang ingin memperjuangkan In Te naik ke tahta. Tapi tidak ingin dengan cara kasar lewat peperangan terbuka. Ia ingat bagaimana Kerajaan Beng runtuh karena perang saudara, dan tidak ingin nasib yang sama dialami Kerajaan Manchu. Karena itu Pak Kiong Liong mulai memutar untuk mencegah perang terbuka.

Kekaisaran tidak boleh menjadi lemah karena pertarungan putera-puteranya sendiri, masih banyak musuh yang mengintai kelemahan dan menunggu kesempatan, Musuh dari dalam ialah sisa-sisa dinasi Beng yang masih saja mengimpikan kebangkitan kembali dinasi itu. Musuh dari luar ialah Jepang, Rusia dan Bangsa-bangsa Eropa lain yang senantiasa mengiler untuk menaklukkan “Negeri Naga” itu.

Ci-kim-shia atau "Kota Terlarang" adalah bagian kota Pak-khia yang menjadi tempat tinggal Kaisar dan Kerabat dekat istana, sebuah "kota di tengah kota" yang bertembok tinggi dan dijaga oleh tiga kelompok pasukan. Han-lim-kun yang berseragam jubah merah hitam, Lwe-teng Wi-su (Pengawal Bagian dalam Istana) yang berjubah biru laut, dan Gi-cian Si-wi (Pengawal Kaisar) yang berjubah kuning emas dengan topi bersulam.

Sejak Kaisar Yong Ceng berkuasa, dalam istana ketambahan pula kelompok berjubah ungu yang merupakan jagoan-jagoan pribadi Kaisar, juga sekawanan pendeta Lama Tibet yang menempati salah satu sudut istana, mereka kelompok agamawan yang lebih banyak membunuh dari pada membuat kebajikan. Dan sebuah kelompok lagi ialah orang-orang berpakaian hitam ringkas dengan tutup kepala hitam pula, bersenjata kantong kulit berantai yang bisa diterbangkan untuk mencaplok kepala musuh.

Mereka disebut kaum Hiat-ti-cu, sesuai dengan nama senjata mereka yang ganas, jarang menampakkan diri di istana sebab Yong Ceng ingin kelihatan sebagai seorang raja yang "adil dan penuh belas kasihan". Tapi kalau ada musuh-musuh politik yang perlu dibereskan, kaum Hiat-ti-cu ini pun keluar dari sarangnya untuk "panen kepala".

Penjagaan ketat dan berlapis-lapis di Ci-kim- shia itu ternyata berhasil juga disusupi Pak Kiong Liong yang bukan saja berilmu tinggi, tapi juga hapal liku-liku istana, la bermaksud mencari dimana Kaisar Yong Ceng berada di antara bangunan besar yang membingungkan itu Tapi Pak Kiong Liong punya ancar-ancar sendiri, asal bagian istana yang dikawal padat oleh perajurit-perajurit Gi-cian Si-wi, tentu di-si tulah Kaisar tengah berada.

Seperti seekor burung malam yang hitam, Pak Kiong Liong berlompatan dari genteng ke genteng, tanpa suara, dengan kecepatan bagai kilat, sampai akhirnya ia tiba di atas bagian istana yang bernama Tang-wan-kiong yang malam itu nampak dijaga ketat oleh kelompok Gi-cian Siwi, sehingga mudah disimpul kan bahwa Kaisar ada di situ untuk malam itu.

Biarpun Pak Kiong Liong berilmu tinggi, ia tidak berani bertindak ceroboh sebab sudah kenal ketangguhan perajurit-perajurit Gi-cian Si-wi itu. Menerobos itu gampang, tapi menerobos tanpa diketahui itulah yang sulit. Namun Pak Kiong Liong kemudian menemukan akal. Dilolosnya selembar genteng, diremasnya menjadi pecahan-pecahan kecil, lalu dilemparkannya sejauh tigapuluh langkah dari tempatnya bersembunyi. Di tempat jatuhnya, pecahan-pecahan genteng itu berkerosak keras menerjang pohon bunga-bungaan.

Suara mencurigakan itu memancing sebagian Gi-cian Si-Wi untuk memeriksa, namun pemimpin mereka cukup waspada dan menyerukan perintah, "Jangan semuanya terpancing ke sana! Sebagian tetap di sini untuk melindungi Hong Siang!”

Di tempat sembunyinya Pak Kiong Liong tersenyum sendiri meIihat kesigapan pemimpin pengawal itu dalam mengatur anak buahnya. "Sigap juga bocah itu,” pikirnya.

Lalu dengan mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu meringankan tubuhnya, Pak Kiong Liong meluncur turun dari atas atap, menyeberangi sebuah kolam teratai dengan lompatannya, dan menerobos langsung keda lam Yang-wan-ki-ong. Para pengawal Kaisar sudah tentu melihatnya, mereka berusaha merintangi namun sapuan tangan Pak Kiong Liong membuat mereka roboh bergelimpangan.

Untung tidak ada yang tewas, karena Pak Kiong Liong memang tidak bermaksud membunuh mereka. Pemimpin Gi-cian Si-wi yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar segera berteriak-teriak sambil menyusul masuk pula. Cepat juga gerakannya.

Di dalam ruangan, Yong Ceng tengah rebah santai di atas sebuah kursi panjang berlapis kasur bulu dari Persia, makan minum diladeni beberapa selirnya sambil mendengarkan musik yang dimainkan sekelompok wanita cantik. Tapi keributan diluar Yang-wan-kiong mengejutkannya, ia melompat bangun dengan gerakan tangkas sehingga seorang selir yang tengah bersandar di pundak-nya terpelanting roboh.

Kaisar Yong Ceng memiliki ilmu silat yang tinggi, karena semasa mudanya ia pernah berguru di Wihara Siau-lim-si di gunung Si ong-san, Ho-lam. Tapi betapapun lihainya, ia tak berdaya ketika Pak Kiong Liong telah meluncur secepat kilat sampai kehadapannya. Yong Ceng dengan tangkas mencoba menangkis dengan cara menyanggah tangan Pak Kiong Liong dari bawah dibarengi serangan tangan lainnya ke arah rusuk.

Namun Pak Kiong Liong berjalan seperti hantu, melejit ke samping sambil mengubah totokan menjadi cengkeraman dan tahu-tahu lengan Yong Ceng sudah tercengkeram, lalu langsung dipelintir ke belakang sehingga Kaisar Yong Ceng terbungkuk sambil menyeringai kesakitan. Selir-selir dan gadis-gadis pemain musik ketakutan lari simpang-siur, ada yang saling terguling bersama-sama.

Belasan perajurit menjerit-jerit tabrakan dan Gi-cian Si-wi menyerbu masuk ruangan dengan senjata-senjata terhunus, begitu pula belasan Lama Tibet yang berjubah merah dan kepala gundulnya dihiasai topi kecil lancip yang diikat di bawah dagu, masing-masing membawa golok Kai-to.

Melihat kaum Lama itu Pak Kiong Liong ingat ketika suatu malam rumahnya didatangi sekelompok pembunub bersenjata Hiat-ti-cu. Salah seorang Kaum Hiat-ti-cu tertangkap olehnya dan hendak diperas keterangannya tentang siapa yang menyuruhnya, tapi orang tangkapan itu keburu mati dibunuh dengan lemparan pisau oleh seorang gundul yang tak terkejar oleh Pak Kiong Liong seaat itu.

Kini melihat sekian banyan Lama muncul sebagai pelindung Kaisar. Pak Kiong Liong tidak heran lagi. Selain para Gi-cian-si-wi dan kaum Lama, muncul pula jagoan-jagoan berjubah ungu yarg merupakan rekrutan-rekrutan dari berbagai asal-usul itu. Mereka segera memenuhi ruangan, tetapi tidak berani begerak sembarangan. Ketika melihat Kaisar tertelikung oleh Pak Kiong Liong yang saat itu masih menyembunyikan wajahnya dibalik kedok. Tapi dengan tangan kirinya Pak Kiong Liong kemudian menarik kedoknya sehingga terpampanglah wajahnya.

“Pak Kiong Kiong! Kau berani bersikap sekurang-ajar itu terhadap Hong Siang?” bentak Biau Beng lama. Pemimpin para lama Tibet, sambil mengacungkan goloknya.

Yong Ceng tak dapat melihat wajah penawannya karena ia tertelikung membelakangi, namun mendengar Biau Beng lama menyebut nama Pak Kiong Liong, maka rasanya tigaperempat nyawanya sudah kabur keluar karena kagetnya. Kalau ia ingat betapa selama ini telah berusaha mencelakakan pamannya, maka ia tidak berani terlalu mengharap keselamatan nyawanya.

Apalagi dengan bertulang punggung ratusan ribu perajurit Pangeran In Te yang berbaris di ambang pintu kota Pak-khia, Pak Kiong Liong tentu berani berbuat apa saja atas dirinya. Keringat dingin seketika membasahi punggung Yong Ceng.

"Pa... paman... Pak Kiong Liong?" katanya terputus-putus. "Paman menghendaki apa?"

Pak Kiong Liong tertawa dingin, "Tuanku suruh semua pengawal mundur dari ruangan ini. Hamba ingin bicara empat mata dengan tuanku...."

Mengingat nyawanya dalam genggaman Pak Kiong Liong, Yong Ceng memberi isyarat agar semua mundur keluar. Namun tanpa terlihat oleh Pak Kiong Liong, ia sempat memberi isyarat kedipan mata kepada Biau Beng Lama, dan pendeta Tibet itu segera paham maksudnya agar di luar Yang-wan-kiong disiapkan pasukan kuat untuk menjaring "kakap” besar ini.

Setelah tinggal berdua saja dalam ruangan, Pak Kiong Liong melepaskan cengkeramannya atas Kaisar, tanpa kuatir Kaisar akan berhasiI kabur dari hadapannya. Dan Yong Ceng sendiri cukup tahu diri untuk tidak berbuat ceroboh di hadapan sang Paman yang iImunya setingkat dengan guru Yong Ceng sendiri, Pun-bu Hwe- shio dari Siau-lim-pai . Maka untuk sementara waktu Yong Ceng harus berperan sebagai "anak manis".

Tanpa sungkan-sungkan, Pak Kiong Liong duduk di kursi beludru yang tadi diduduki Yong Ceng, mencomot seiris buah pir yang lalu dikunyahnya perlahan-lahan. Katanya, "Hamba ada beberapa patah kata yang perlu disampaikan kepada Pangeran....."

Alangkah mendongkolnya Yong Ceng karena ia dipanggil "Pangeran" meskipun di hadapan pengawal-pengawal tadi Pak Kiong Liong masih memanggilnya "Tuanku". Rasa bencinya kepada Pamannya ini membumbung sampai hampir menjebol ubun-ubunnya. la masih berusaha menegakkan wibawa dirinya sebagai Kaisar dengan katakatanya,

"Paman, aku sadar bahwa Paman tidak suka kepadaku. Tapi setidaknya Paman harus ingat bahwa aku menjadi kaisar karena ditunjuk mendiang Hu Hong sendiri dalam Surat Wasiatnya. Apakah Paman sebagai seorang keluarga kerajaan yang cukup dihormati akan merusak sendiri tata-krama keluarga kita yang sudah berabad-abad kita...."

Tapi kata-katanya terpotong oleh ucapan Pak Kiong Liong, "Tutup mulutmu. Tingkah lakumu yang busuk itulah yang tidak mencerminkan keagungan keluarga Aishin Gioro kita yang agung! Didepanku, tidak usah kau pamerkan kedudukanmu sebagai Kaisar yang kau peroleh dengan cara curang itu! Kau tetap saja In Ceng si bocah durhaka yang penuh akal bulus!"

Hampir meledak dada Yong Ceng melihat sikap Pak Kiong Liong itu. Namun karena ia masih sayang nyawanya, maka ia berusaha menahan diri sedapatnya. Pak Kiong Liong memang sengaja bersikap garang dan kasar untuk meruntuhkan semangat Yong Ceng, agar Yong Ceng lebih mudah "diatur" menurut rencananya. Ditendangnya sebuah kursi sehingga kursi itu meluncur ke dekat Yong Ceng, lalu mernbentak,

"Duduk dan dengarkan aku baik-baik. Jangan membantah dan membuatku marah supaya aku tidak mencopot kepalamu!"

Apa boleh buat, Kaisar yang terbiasa disembah-sembah itu menurut menduduki kursi itu, seperti seorang pesakitan yang kesalahannya bertumpuk-tumpuk menghadap seorang hakim yang galak. Terdengar suara Pak Kiong Liong penuh tekanan,

"In Ceng, kau pikir kecuranganmu dalam merebut tahta itu sudah tertutup rapat? Biarpun aku temui Tabib Yo Ce Kui dalam keadaan sudah mati menggantung diri, tapi dia meninggalkan tulisan di tembok yang dapat di simpulkan bahwa kematian Sian Hong (Kaisar terdahulu) bukanlah kematian yang wajar, meskipun Yo Ce Kui tidak menyebutnya terang-terangan. Apalagi setelah kudengar pula bahwa yang berada di samping Sian Hong di saat detik-detik terakhir hidupnya hanyalah kau dan si ular tua Liong Ke Toh. Nah, hukuman apa yang pantas buat seorang anak yang mencelakakan ayahnya sendiri? Hukuman cincang saja masih terlalu ringan. la harus dibuatkan patungnya untuk diletakkan di persimpangan jalan, setiap orang yang lewat harus meludahi atau mengencinginya sambil mengutuk namanya, sehingga namanya akan membusuk sepanjang sejarah!"

Keringat dingin benar-benar telah membuat Yong Ceng basah kuyup. la menyangka Pak Kiong Liong sudah tahu semuanya, termasuk pencurian Surat Wasiat dan pengubahan huruf- hurufnya. Itu membuat nyali Yong Ceng menjadi ciut. Alangkah besar gelombang kemarahan yang bakal dihadapi dari rakyatnya sendiri, kalau hal itu sampai tersebar luas.

Sementara mulut Yong Ceng masih bungkam, Pak Kiong Liong terus memberondongkan tuduhannya, "Dan lihat apa yang sudah kaulakukan terhadap beberapa pejabat yang sudah berjasa berpuluh puluh tahun. Kau suruh algojo-algojomu untuk membunuh mereka secara diam-diam, apakah itu patut? Dan bagaimana sikapmu sendiri terhadapku? Kesalahan apa yang pernah kubuat terhadap kekaisaran sehingga kau begitu bernafsu melenyapkan aku? Apa pula kesalahan perajurit-perajurit Hui-liong-kun sehingga kau jerumuskan mereka di medan perang di Liao-tong sehingga banyak yang gugur, dibantu si bangsat cilik Ni Keng Giau?"

Yong Ceng belum mampu menjawab. Diam-diam ia sudah merasa bahwa inilah hari terakhirnya sebagai manusia, rasanya mustahil Pak Kiong Liong yang begitu marah akan mengampuninya. Namun ternyata suara Pak Kiong Liong yang tajam itu mulai terdengar lunak,

"Mengingat dosa-dosamu, tidak berlebihan kalau kau dicincang dan mayatmu dibuang ke hutan. Tetapi masih ada sebuah jalan kalau kau mau melakukannya....."

"Apa yang Paman tuduhkan tentang Wafatnya Hu Hong dan isi Surat Wasiat itu sebenarnya keliru semua. Maukah Paman mendengarkan penjelasanku? Peristiwanya terjadi...."

"Diam dulu, aku belum menyuruhmu bicara. Kau sanggup atau tidak memenuhi tuntutanku untuk mengimbangi kebusukanmu?"

Biarpun Yong Ceng merasa amat sengit dalam hati, tetapi agak lega juga mendengar kata-kata itu, itu menandakan pamannya belum bertekad benar untuk membunuhnya, mungkin hendak mengajaknya bertukar syarat. Pikirnya, "Baik, aku pura-pura menurutinya. Asalkan aku masih hidup, pada lain kesempatan masih banyak cara untuk menumpas bajingan tua ini. Maka Yong Ceng pura-pura menarik napas dengan sedih dan berkata,

"Tak kusangka Pamanpun lebih mempercayai desas-desus di luaran dari orang-orang bermulut usil yang iri kepadaku, daripada mempercayai keteranganku. Tapi kali ini baiklah kubuka telingaku untuk mendengar nasehat Paman yanq berharga.”

Pak Kiong Liong tidak peduli segala macam mimik wajah yang dlpamerkan oleh Yong Ceng. Katanya penuh tekanan, “Angkatan Perang Pangeran In Te sudah siap menyerbu kota ini untuk menuntut haknya yang syah. Aku yakin tuntutannya benar, sebab Sian Hong sendiri pernah bicara terbuka denganku tentang siapa puteranya yang dipilihnya untuk menjadi penggantinya."

"Tapi dalam Surat Wasiat itu...."

"Dengarkan dulu. Aku tidak percaya amanat dalam Surat Wasiat itu adalah amanat yang asli. Aku adalah saudara sepupu Sian Hong, sudah kukenal wataknya sejak kami sama-sama masih muda. la bukan seorang yang suka plin-plan, apalagi dalam keputusan penting tentang penggantinya. Sekali ia memilih Pangeran keempat belas, tidak mungkin ia menulis lain dalam Surat Wasiatnya. Karena itu, aku akan memperjuangkan kehendaknya agar arwahnya tenang di alam baka. Siapa berani menghalangi aku, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi. Paham?"

Alangkah panasnya hati Yong Ceng kairena merasa kedudukannya akan digusur secara terang-terangan macam itu. Biarpun ia Ingin berpura-pura tersenyum ramah, tetapi otot-otot wajahnya menolak untuk disuruh membentuk senyuman, lebih menurut kepada gejolak hati yang panas.

Pak Kiong Liong bukan tidak tahu perasaan Yong Ceng, tapi itu bukan soal penting baginya. Katanya terus, "Kalau kau serahkan tahta secara damai kepada Pangeran In Te yang memang berhak, berarti kau menyelamatkan ratusan ribu nyawa perajurit dari perang saudara. Untuk itu, kejahatan terhadap ayah mu, beberapa menteri tua dan beribu-ribu perajurit Hui-liong-kun boleh dianggap impas saja. Kebusukanmu juga akan tetap tertutupi."

Yong Ceng waspada, begitu ia menerima persyaratan itu maka sama saja secara tidak langsung mengakui kejahatannya, dan kedudukannya akan menjadi lemah dalam pembicaraan-pembicarann selanjutnya karena gampang ditekan. Tapi menolak secara langsung juqa membahayakan jiwanya, maka iapun menjawab berputar-putar,

"Rupanya di mata Paman dan adinda In Te, aku nampak begitu busuk, tapi suatu saat nanti akan terbukti bahwa semua tuduhan atas diriku itu tidak benar. Wafatnya Hu Hong benar-benar karena penyakitnya, gugurnya perajurit-perajurit Hui-liong-kun di Liao-tong itu benar-benar aku hormati sebagai gugurnya bunga-bunga bangsa. Dalam waktu dekat, aku akan menyelenggarakan sembahyang besar-besaran di Thian-an-bun untuk menghormati arwah mereka yang gugur di Liao-tong...."

"Kita balik ke masalah pokok," tukas Pak Kiong Liong sebelum Yong Ceng melantur lebih lanjut. “Bagaimana urusan penyerah-terimaan tahta itu?"

“Paman, tahta naga bukan seperti kasus umum dimana setiap orang bisa keluar masuk seenaknya setiap waktu. Serah-terima tahta harus dengan persiapan matang agar tidak terjadi kegoncangan di antara pengikut-pengikutku. Harus Paman ketahui, aku naik tahta bukannya tanpa pendukung sama sekali..Tapi kalau Adinda In Te bersedia menemui ku dan bicara sebagai orang sekeluarga, aku rasa akan ditemukan jalan kelu arnya....”

“Hem, kalau Pangeran In Te masuk ke Ci-kim-shia ini, ia sama saja dengan seekor ikan tolol yang masuk ke dalam jaring, nasibnya takkan berbeda dengan kedua kakandanya, Pangeran In Gi dan Pangeran In Tong," kata Pak Kiong Liong dingin. “Kalau kau bersedia berbicara dengan Pangeran In Te, harus dicari tempat yang cocok dan tidak membahayakan Pangeran In Te. Untuk sementara, aku bersedia sebagai perantara perundingan untuk hillir mudik dari istana ini ke perkemahan Pangeran In Te di luar kota, dan sebaliknya. Kuharap jerih payahku mendapat imbalan berupa terselamatkannya nyawa ratusan ribu perajurit kekaisaran."

“Paman, sebenarnya apa bedanya yang menjadi Kaisar itu aku atau Adinda In Te? Bukankah kami berdua sama-sama putera Hu Hong, sama-sama keponakan Paman pula? Kenapa Paman begitu membenci aku dan menjunjung-junjung Adinda In Te? Kalau Paman, aku dan Adinda In Te bisa bersatu, bukankah kekaisaran ini akan bertambah kuat? Aku sebagai Kaisar, Adinda In Te sebagai Panglima Tertinggi dan Paman sebagai Penasehat Agung yang akan selalu membimbing kami berdua, bukankah keadaan macam itu a-kan nampak manis dimata rakyat?"

Tapi Pak Kiong Liong tidak mempan disuap dengan kedudukan Penasehat Agung itu. "Bagiku, soalnya tetap pada landasan semula, yaitu terlaksananya Amanat Sian Hong yang asli, bukan Amanat yang sudah dirubah atau dipalsukan. Amanat Kaisar adalah Amanat Langit, karena Kaisar adalah Sang Putera Sorga. Kalau Amanat Sorga bisa dibengkok-bengkokkan semaunya saja, dengan alasan apapun, itu menjadi contoh buruk bagi rakyat. Nanti mereka akan terbiasa mengubah-ubah hukum seenaknya hanya untuk disesuaikan dengan kepentingan sendiri-sendiri, sehingga menimbulkan kegoncangan dan ketidak selarasan, benturan antara kepentingan-kepentingan yang tak terkendali, dan akhir-nya kekaisaran ini menjadi rimba raksasa di mana yang kuat makan yang lemah, yang besar makan yang kecil, yang sama sama kuat saling hantam. Itu langkah awaI menuju kehancuran kekaisaran ini. Itulah alasanku kenapa aku ngotot meng inginkan dilaksanakannya Amanat Sian Hong!"

"Mudah-mudahan kelak Parnan dapat percaya bahwa aku tidak menduduki tahta dengan kecurangan, tapi dengan syah," kata Yong Ceng.

“Kalau aku mendapatkan bukti dan saksi yang dapat dipercaya, kenapa tidak bisa mempercayaimu?" kata Pak Ki-ong Liong sambil tersenyum sinis. "Sayang, bukti-bukti yang kutemukan justru memberatkanmu semua."

Yong Ceng mengutuk dalam hatinya, "Bangsat tua, buat apa aku susah-susah mencari bukti untuk menyenangkanmu? Kalau mencarikan jalan lurus ke neraka, baru aku senang..."

Sementara Itu Pak Kiong Liong telah berkata lagi, "Sekarang aku akan pergi. Kalau aku sampai luka seujung rambutpun, maka dalam waktu tiga hari segala perbuatan busukmu akan tersebar ke seluruh negeri. Para Gubernur dan Panglima akan segera bangkit menghukummu...”

Yong Ceng tertawa kaku. "Paman ini suka bercanda saja. Masa Paman kira aku tidak tahu caranya berlaku hormat terhadap seorang sesepuh kerabat istana? Tanpa perlu Paman menakut-nakuti aku, aku jamin keselamatan Paman sampai keluar dari istana ini, bahkan sampai keluar Pak-khia kalau perlu. Apakah Paman perlu pengawal?"

Semakin ramah sikap yang ditunjukkan Yong Ceng, semakin ngeri Pak Kiong Liong akan kelicikannya, dan semakin berharap agar Yong Ceng lekas-lekas terjungkir dari tahtanya untuk digantikan Pangeran In Te. "Aku tidak perlu pengawal," sahut Pak Kiong Liong. "Aku tadi juga datang tanpa pengawal."

"Kalau begitu, aku sendiri akan mengantarkan Paman sampai ke pintu gerbang istana, supaya Paman percaya ketulusanku."

"Kau tidak takut ditertawakan bawahanmu karena merendahkan diri sedemikian rupa untuk mengantarkan seorang perajurit pengecut yang lari dari medan pertempuran?" Pak Kiong Liong menyindir.

Yong Ceng mengertak gigi menahan geram, tapi jawabannya masih diusahakan kedengaran tenang, "Lagi-lagi Paman bercanda. Itu hanya gara-gara kesalahan laporan dari Liao Tong. Ni Keng Giau akan aku tegur karena soal ini."

Maka para pengawal dan Lama Tibet yang mengepung di luar Yang-wan-kiong itupun tercengang ketika melihat Kaisar berjalan bersama Pak Kiong Liong, kelihatan "akrab" dan bahkan bercakap-cakap sambil tersenyum- senyum pula. Di luar Yan-wan-kiong itu bukan saja siap pasukan bersenjata tombak dan pedang, tapi juga para pemanah dan penembak bedil yang dengan satu isyarat akan siap merajang Pak Kiong Liong. Tapi ketika melihat Pak Kiong Li-long berjalan begitu dekat dengan Kaisar, semua orang menjadi ragu-ragu. Bagaimana kalau panah atau peluru bedil itu mengenai Kaisar?

Diam-diam Biau Beng Lama menduga tentu Kaisar disandera oleh Pak Kiong Liong untuk dijadikan perisai. Timbul niat Biau Beng Lama untuk mencari muka dengan menunjukkan pembelaannya terhadap Kaisar. la maju menyongsong dan berlutut di hadapan Yong Ceng sambil berkata, "Apakah keadaan Tuanku baik-baik saja? Hamba sekalian mencemaskan keselamatan Tuanku....."

Kaisar Yong Ceng berkata sambiI tertawa, "Omong kosong. Aku dan Paman Pak Kiong Liong berbicara dengan penuh rasa kekeluargaan, tidak ada yang saling merasa terancam."

Namun Biau Beng Lama yang sok tahu menganggap ucapan itu hanya sekedar untuk melengahkan Pak Kiong Liong. Diam-diam ia merencanakan untuk melakukan sedikit gerak tipu agar Kaisar terpisah beberapa langkah dari Pak Kiong Liong, setelah itu para pemanah dan penembak bisa bertindak merajam Pak kiong Liong. Begitu merasa saatnya tiba, ia melompat dari berlututnva sambil berkata, ”Tuanku, menyingkir!"

Tangan kirinya mendorong Yong Ceng menjauh dari Pak Kiong Liong, sementara kaki kanan deras terayun ke bawah pusar Pak Kiong Liong. Serangan itu cepat dan ganas. Tapi karena yang dijadikan sasaran ialah Pak Kiong Liong, maka si sasaran dengan gampang melangkah mundur, sedikit merendahkan tubuh dan tumit kaki Biau Beng lama sudah tercengkram olehnya. Langsung disentakkanya keatas sambil berseru, “Pendeta curang, menyingkir dari jalanku!”

Tubuh Biau Beng Lama yang tinggi gemuk dan amat berat itupun terlempar keatas dan langsung mencebur ke kolam teratai di depan Yang-wan-kiong. Maka Lama itupun basah kuyuplah. Sedetik ketika Pak Kiong Liong berjauhnn dengan Kaisar, pemimpin Gi-cian Si-wi segera meneriakkan isyarat untuk memanah dan menembak, tapi didahului oleh seruan Yong Ceng "Tahan...!”

Tapi dua batang panah terlanjur menjepret lepas dari busur dan sebuah bedil terlanjur ditekan pelatuknya sehingga pelurunya mendesing ke tubuh Pak Kiong Liong. Baru saja Pak Kiong liong menunjukkan kekuatan dengan melempar tubuh Biau Beng Lama hanya dengan sebelah tangan, kini giliran ia memamerkan kecepatan geraknya yang mempesona. Dua batang panah dan sebutir peluru yang jaman itu berbentuk bulat, tahu-tahu berhasil tergenggam tangannya semua.

Senjata api yang menjadi kebanggaan pelaut-pelaut Eropa itu bagi Pak Kiong Liong tidak lebih berbahnya dari lemparan sebutir Hat-tan (kelereng besi) oleh seorang jagoan persilatan kelas menengah saja, Seandainyn peluru bedil itu tidak ditembakkan, tetapi dilemparkan oleh tokoh setingkat ketua Hwe-liong pang, Ketua Bu-tong-pai atau Ketua Siau-lim-pai, barang kali Pak Kiong Liong tidak berani menangkapnya, namun lebih suka menghindarinya.

Puluhan pasang mata milik pengawal-pengawal Kaisar terbelalak kaget melihat kehebatan Pak kiong Liong. Banyak di antara mereka yang sudah pernah mendengar cerita centang Pak Kiong Liong, namun baru saat Itulah mereka lihat sendiri.

Sementara Itu, Yong Ceng justru melangkah kembali mendekati Pak Kiong Llong sambil bertanya, "Apakah Paman tidak apa-apa? Maafkan kelancangan anakbuahku..."

Pak Kiong Liong seenaknya melemparkan panah-panah itu, begitu jauhnya sehingga tak dapat diperkirakan sampai dimana jatuhnya. Sedang peluru itu dilemparkan ke sebatang pohon sehingga amblas tak terlihat lagi. Sahutnya, "hamba tidak apa-apa, Tuanku."

Di hadapan banyak orang, kembali Pak Kiong Liong membahasakan diri "hamba" dan memanggil Yong Ceng "Tuanku" agar Yong Ceng tidak kehilangan muka. Betapapun bencinya Pak Kiong Liong kepada Yong Ceng secara pribadi, namun kedudukannya sebagai Kaisar Manchu harus dihormati martabatnya. Kalau kedudukan itu dipandang rendah, maka dinasti penguasa akan kehilangan kewibawaannya.

Sedangkan Yong Ceng melarang perajuritnya menyerang Pak Kiong Liong bukan karena rasa hormat dan cinta kepada Pamannya itu, tapi karena khawatir kalau kebusukan dirinya nanti tersiar luas. la benar-benar percaya Pak Kiong Liong sudah mengambil tindakan berjaga jaga, kalau tidak dapat keluar lagi dari istana maka "orang-orang"nya akan menyiarkan rahasia Yong Ceng itu. Padahal gertakan itu cuma akal Pak Kiong Liong untuk mengamankan dirinya.

Bahkan untuk lebih menarik simpati Pak Kiong Liong kepihaknya, Yong Ceng membentak ke arah perajurit-perajuritnya, "Siapa yang memanah dan menembak tadi, meskipun sudah kuperintahkan agar jangan bergerak?"

Tiga orang perajurit maju dengan muka pucat dan berlutut di hadapan Kaisar. Mereka berharap dengan mengakui tindakan mereka, maka Kaisar akan meringankan hukuman. Daripada ditunjuk oleh teman-teman mereka sendiri.

Tetapi Yong Ceng telah menjatuhkan perintah, "Penggal kepala mereka!"

Wajah tiga perajurit itupun seputih kertas ketika mereka diseret oleh teman-teman mereka sendiri. Tadi mereka menembak dan memanah Pak Kiong Liong karena ingin menyelamatkan Kaisar, tak terduga inilah macam "hadiah"nya.

Saat itu justru Pak Kiong Liong yang berlutut memintakan ampun untuk tiga perajurit itu. "Tuanku, mereka bertiga sesungguhnya tidak bermaksud mengabaikan perintah Tuanku tadi. Mereka hanyalah tidak sempat menahan diri karena tegang, justru karena mencemaskan keselamatan Tuanku. Merekalah perajurit-perajurit yang setia...."

"Maksud Paman?"

"Hamba mohonkan ampun bagi mereka."

"Baiklah. Bebaskan mereka!"

Kemudian tiga perajurit yang nyaris menjelma jadi hantu-hantu tak berkepala itupun mengucapkan terima kasih kepada Yong Ceng dan Pak Kiong Liong. Ucapan terima kasih kepada Yong Ceng hanyalah basa-basi, dibarengi kutukan dalam hati. Sedang kepada Pak Kiong Liong, sasaran panah dan bedil mereka tadi, mereka benar-benar berterima kasih setulus hati.

Dan Yong Ceng benar-benar mengantar sendiri Pak Kiong Liong sampai ke pintu depan Yang-wan-kiong. Setiap tempat mereka jumpai perajurit-perajurit yang bersitegang dengan senjata terhunus di tangan masing-masing, namun tak seorangpun berani turun tangan kepada Pak Kiong Liong tanpa perintah Yong Ceng. Sepanjang jalan, Pak Kiong Liong tak henti-hentinya mengomentari bunga-bunga yang indah, ikan-ikan yang berenang di kolam, atau hiasan-hiasan lain nya dalam istana.

Setelah Pak Kiong Liong pergi, Kaisar bergegas masuk kembali ke dalam dan memerintahkan seorang thai-kam (pelayan kebiri), "Panggil Paman Liong Ke Toh sekarang juga kemari!"

Saat itu sudah lewat tengah malam, tetapi perintah Kaisar tetap harus dijalankan. Di gedung tempat tinggalnya yang masih termasuk lingkungan Ci-kim-shia, Liong Ke Toh belum tidur. Orangtua itu baru saja minum "obat kuat" dan sedang hendak "uji-coba" khasiat obatnya terhadap seorang selir cantik yang usianya berpuluh-puluh tahun lebih muda daripadanya. la hendak membuktikan bahwa keperkasaannya masih tidak kalah dari orang-orang muda.

Tapi saat ia sudah "siap tempur" dengan semangat berkobar-kobar, datanglah thai-kam yang disuruh kaisar untuk memanggilnya detik itu juga. Ada urusan penting yang tak bisa ditunda lagi. Liong Ke Toh mengutuk dalam hati. Alangkah sayang meninggalkan permainan yang baru mulai, tapi ia lebih sayang lagi kepada batok kepala dan kedudukannya.

Apa boleh buat. Dampak obat kuat yang belum tersalur itu dibiarkan tetap bergulung dalam tubuhnya. la agak repot memakai celananya karena ada sesuatu bagian tubuhnya yang mengganjal, sulit dibujuk untuk bersabar sedikit saja. Kemudian ia bergegas menjumpai thai-kam utusan Kaisar itu.

"Apakah urusannya tidak bisa ditunda sampai besok pagi?" tanya Liong Ke Toh mendongkol kepada si thai-kam.

Sahut si thai-kam, "Hamba tidak tahu apa-apa, Tuan, hanya menjalankan perintah Hong-siang. Baru saja Hong-siang ditemui Pak Kiong Liong, dan setelah Pak Kiong Liong pergi maka Hong-siang nampaknya marah-marah saja. Tiga orang pengawal hampir saja dijatuhi hukuman penggal kepala...."

Keterangan thai-kam itu cukup menandakan betapa marahnya Kaisar. Karena Liong Ke Toh tidak ingin dipenggal pula, maka iapun bergegas melangkah ke Yang-wan-kiong dan berusaha melupakan selir cantiknya tadi. la harus menyiapkan juga jawaban-jawaban bermutu yang bisa menenangkan Kaisar, tidak boleh asaI mangap saja supaya nyawanya awet.

"Bocah tak tahu adat," gerutunya; dalam hati, "Biarpun dia itu Kaisar, tapi aku ini kan Pamannya? Kenapa dia memanggilku seenaknya saja tanpa kenal waktu, seperti membangunkan seorang budak saja......"

Tetapi begitu tiba di depan Yong Ceng, ia tidak berani menunjukkan muka masam. la berlutut dan berkata, "Salam untuk Tuanku . Apakah Tuanku membutuhkan hamba?"

Sempat juga Yong Ceng berbasa-basi, "Bangkitlah, Paman. Maaf aku mengganggu Paman di malam selarut ini."

"Ah, tidak apa-apa Tuanku," kata, Liong Ke Toh mencari muka. "Hamba selalu siap membantu Tuanku dengan pikiran dan tenaga hamba yang tidak berarti ini.”

Lebih dulu Yong Ceng menyuruh semua pelayan dan pengawal keluar ruangan, sehingga ia tinggal berdua saja dengan Pamannya, lain berkata, "Baru saja Paman Pak Kiong Liong berkunjung kemari dengan cara seperti hantu saja."

"Hamba memang telah mendengar hal itu dari beberapa pengawal Tuanku."

"Kemungkinan besar Paman Pak Kiong Liong diutus Adinda In Te untuk menemui dan menggertak aku. Kalau aku tidak segera menyerahkan tahta, Adinda In Te akan menggerakkan Angkatan Perangnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Paman tahu, kekuatan kita di Pak-khia masih belum sanggup mengimbangi kekuatan Adinda In Te yang berlipat ganda dari kita. Sedang Ni Keng Giau yang sangat kita harapkan masih dalam perjalanan pulang dari Liao-tong. Bagaimana sekarang pikiran Paman?"

"Tuanku, apakah Pak Kiong Liong menyebutkan batas waktu penyerahan tahta itu?"

"Tidak, Paman Pak Kiong Liong cuma bilang segera. Mungkin masih akan ada beberapa perundingan dengan Adinda In Te tentang bagaimana penyerahan berlangsung dengan mulus tanpa menimbul-kan goncangan."

Wajah Liong Ke Toh yang lancip seperti serigala berkumis putih itupun tiba-tiba menyeringai terhias senyuman. Sambil memukulkan tinju ke pahanya sendiri ia berkata, "Ini sebuah peluang, Tuanku. Hamba anjurkan 0agar Tuanku pura-pura bersikap lunak seolah-o lah betul-betul akan tunduk kepada ke-mauan mereka, tetapi ini cuma siasat mengulur waktu. Tunggu sampai Ni Goan-swe kembali bersam'a dengan pasukannya dari Liao-tong. Biarpun pasukan Ni Go-an-swe lebih sedikit, namun persenjataan lebih lengkap karena kabarnya memperoleh ribuan pucuk bedil rampasan dari pasukan Jepang."

Namun Yong Ceng telah kelihatan kurang bersemangat mendengar pendapat itu. "Adinda In Te bukan orang tolol, Paman, apalagi aku yakin ia didampingi Paman Pak Kiong Liong yang cerdik sekali. Siasat mengulur waktu sambil berunding itu bisa diterapkan atas keledai tolol yang manapun juga, tetapi tidak kepada Adinda In Te dan Paman Pak Kiong Liong...."

"Siasat mengulur waktu haruslah dibarengi dengan siasat menimbulkan keretakan antara Pangeran In Te dengan Pak Kiong Liong sehingga mereka tidak saling mempercayai lagi."

"Bagaimana caranya?"

“Pak Kiong Liong punya sepasang cucu laki-laki kembar di Tiau-im-hong yang amnat di sayanginya. Culik saja mereka dan sebarkan beritanya, tentu Pak Kiong Liong akan terpancing pergi ke Tiau-im-hong untuk menolong cucunya. Nah, saat itulah disini kita mengulur waktu dan mencoba menjebak Pangeran In Te sementara kita kirim orang untuk membunuh Pak Kiong Liong di tengah jalan.

"Lagi-lagi usul yang tidak bermutu," pikir Yong Ceng. Mulutnyapun berucap, "Paman tahu Tiau-im-hong itu tempat macam apa? Apakah juga tidak tahu bahwa kedua cucu Pak Kiong Liong itu juga cucu Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam-hou yang perkasa? Menculik kedua anak itu sama saja dengan menarik-narik kumis seekor harimau yang sedang tidur. Dan tentang usaha mernbunuh Pak Kiong Liong, kita tidak boleh sembarangan lagi. Kita pernah kirimkan tiga anggota kelompok Hiat-ti-cu ke rumahnya, pernah juga menjerumuskannya ke peperangan di Liao-tong, dan usaha itu sia-sia semuanya. Kalau kali ini kita kurang perhitungan, bisa jadi kita mengulangi ketololan yang sama."

Liong Ke Toh yang baru saja berkobar-kobar mengutarakan siasatnya, menjadi gembos mendengar jawaban Kaisar itu. "Jadi.... jadi ba... bagaimana... menurut Tuanku?"

"Bagaimana kalau Adinda In Te kita bereskan dulu, Paman? Caranya ialah dengan...." Yong Ceng berhenti sejenak untuk mengamati sikap Liong Ke Toh. "Terpaksa sekali, Paman, Tuan Puteri Tek Huai haruslah kita jaga baik-baik untuk menekan Adinda In Te...."

Mendengar itu, bergidiklah Liong Ke Toh. Tuan Puteri Tek Huai adalah ibu Pangeran In Te dan juga ibu Yong Ceng sendiri, kakak perempuan dari Liong Ke Toh, namun toh Yong Ceng sampai hati untuk merencanakan ibunya sendiri dijadikan sandera untuk menekan In Te. Pikir Liong ke toh dengan berkeringat dingin, "Kalau ibunya sendiripun bisa dia perlakukan seperti itu, apalagi terhadap aku yang hanya Pamannya?"

Sementara Yong Ceng tertawa gembira sekali merasa bahwa dirinya ternyata pintar menemukan jalan keluar dari kesulitan yang mengancam kedudukannya itu. "Akalku lumayan juga bukan?" tanyanya bangga.

Liong Ke Toh mengumpulkan keberanian untuk menyanggah, "Tuanku, kalau rencana ini sampai terdengar para menteri dan gubernur, tidakkah akan menimbulkan pandangan buruk atas diri Tuanku? Ampuni ucapan hamba ini, Tuanku."

"Paman kira aku melakukannya dengan senang hati? Kita terpaksa, demi mencegah kekaisaran ini jatuh ke tangan orang bodoh seperti Adinda In Te. Terpaksa Ibunda Tek Huai juga harus ikut berkorban!"

Sesaat Yong Ceng menatap tajam-tajam wajah Pamannya yang kebingungan itu, dan melanjutkan kata-katanya, “Kitapun dituntut berkorban, Paman. Aku korban perasaan sebagai anak, dan Paman. sebagai adik. Tidak ada jalan lain. Kuharap Paman dapat melakukanya dengan baik, paman harus “mengawasi lebih ketat tempat tinggal Ibunda Tek Huai. Paham, Paman?"

Liong Ke Toh nenarik napas dalam-dalam, namun tidak berani meolak tugas itu. Menolak berarti nanti malah tempat tinggalnya akan dikunjungi topi kulit berantai pemetik kepala. ia yakin Yong Ceng akan tega melakukan itu, terhadap keluarganya sendiri yang terdekat sekalipun.

Sementara itu, Pak Kiong Liong sudah tiba di perkemahan pasukan Pangeran In Te dan disambut hangat. Pangeran In Te segera menyelenggarakan perjamuan di kemahnya untuk menghormati Paman yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Di kemah perjamuan juga hadir tokoh-tokoh pendukung Pangeran In Te lainnya.

Selain panglima-panglima yang sejak semula sudah menjadi bawahan In Te ketika menggempur Jing-hai, juga ada panglima-pangIima yang lolos dari Pak-khia ketika Kaisar Yong Ceng dulu mengadakan "pembersihan" unsur-unsur yang dianggap tidak setia kepadanya. Di antaranya Bok Eng Siang.

Untuk menunjukkan rasa hormatnya, In Te menyuguhkan sendiri tiga cawan arak kepada Pak Kiong Liong. Ketika para hadirin di perjamuan itu sudah menghangat darahnya karena pengaruh arak, maka In Te tiba-tiba menggebrak meja sambil berseru, "Saudara- saudara, dengarkan aku!"

Denting cawan dan sumpit serentak berhenti, suasana menjadi sunyi mencengkam, semua mata diarahkan kepada Pangeran In Te. Pangeran itu kemudian berkata, "Saudara-saudara, sekarang sudah tiba saatnya gerakan kita untuk menyelamatkan kekaisaran dari tangan seorang penguasa yang lalim seperti Kakanda In Ceng. Besok, begitu matahari terbit, seluruh pasukan kita haruslah siap memasuki dan menduduki Pak-khia! Sembilan pintu gerbangnya harus terbuka lebar untuk kita, kalau tidak, kita akan membuka sendiri dengan meriam-meriam kita!"

Kata kata yang membakar itu disambut oleh banyak panglima yang hadir di kemah itu. Ada yang mengangkat cawan araknya, bahkan ada yang menghunus pedang dan melambai-lambaikan seolah-olah sudah berada di medan tempur. Teriakan-teriakan penuh semangat terdengar riuh-rendah tak berakhir.

In Te puas melihat semangat berkobar anak buahnya itu, dan diapun tahu para perajuritnya bersikap serupa. Ia akan masuk kota Pak-khia dengan penuh kemegahan, kakandanya yang kini bergelar Kaisar Yong Ceng itu akan dipaksanya berlutut di tangga istana sambil menyerahkan Cap Kekaisaran dan Jubah Naga Kuningnya.

Tetapi ketika ia menoleh ke arah Pak Kiong Liong, dilihatnya Pamannya itu tidak ikut berteriak-teriak penuh semangat seperti yang lain-lainnya, malah Pak Kiong Liong meletakkan cawan araknya dan berwajah murung. Pak Kiong Liong sedang membayangkan betapa perang saudara itu akan melumpuhkan pemerintahan ratusan ribu perajurit akan bergelimpangan mampus di seluruh Pak-khia, sama banyaknya dengan daun-daun yang bertebaran di musim gugur. Itu awal ambruknya Kekaisarn Manchu yang sama sekali tidak diingini oleh Pak Kiong Liong....
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 07

Kemelut Tahta Naga I Jilid 07

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
“PERTEMPURAN yang masih seimbang adalah antara Pak Kiong Liong dan Hattori Sho. Kadang-kadang Pak Kiong Liong terkurung pusaran angin hitam yang dinginnya seolah hendak membekukan darah. Di lain saat ia bangkit membalas dan membuat si jagoan tua dari Ryukyu itu tertekan gelombang udara yang begitu panas sehingga mencekik pernapasannya. Beberapa tombak di sekitar arena duel itu, tidak ada perajurit dari kedua belah pihak yang berani mendekat.

Bayangan senjata mereka saling menyambar, bergulung seperti gelombang atau kadang-kadang terapung-apung seperti mega, mengikuti gerak tubuh mereka. Pak Kiong Liong sebenarnya merasa tidak cocok memainkan Thian-liong Kiam hoat dengan pedang rampasannya. Pedang kaum samurai itu lebih tepat disebut "setengah pedang setengah golok", meskipun bentuknya sempit memanjang seperti pedang, tapi yang tajam hanya sebelah sisinya dan agak melengkung.

Selain itu, tangkainya yang panjangnya lebih dari satu setengah jengkal itu agak mengganggu kelenturan pergelangan tangan Pak Kiong Liong. Di Jepang, Kenjit-su (llmu Pedang) memang hampir mengabaikan kelenturan pergelangan tangan, sebab umumnya bentuk serangan adalah bacokan dimana tangkai pedang di pegang dengan dua tangan, sehingga bentuk pedangpun disesuaikan dengan gaya silat mereka.

Tapi gangguan kecil itu nyaris tak mempengaruhi keperkasaan Pak Kiong Liong dalam bertempur. Cahaya keperak-perakan pedangnya menari-nari seperti naga dilangit, hawa panas yang menyertai gerakan pedang seperti semburan api dari mulut naga.

Sementara itu Hattori Sho juga menggerakkan toya sehebat gelombang me ngamuk, kadang-kadang toya dipegang ditengahnya dan diputar sekencang roda kereta yang tengah dipacu. Udara dingin semakin tajam menusuk kuIit. la sebenarnya belum ada gejala-gejala kalah dari Pak Kiong Liong, tapi sempat dilihatnya bahwa anak buahnya mulai mengalami tekanan keras, sehingga ia merasa tidak ada untungnya kalau terus ngotot bertahan di situ.

Karena itu, sambil bertempur diapun bersuit nyaring sebagai isyarat mundur bagi anak buahnya. Suitan itu berkumandang nyaring sampai orang-orang Jepang di lereng selatanpun mendengarnya. Mereka segera bergerak mundur dengan perlindungan bedil-bedil mereka. Sedang teman-teman mereka di lereng utara mundur dengan lebih dulu melemparkan benda-benda bulat hitam yang meledak di tanah dan membentuk tabir asap sebagai pelindung mereka sewaktu mundur.

Perajurit-perajurit Manchu tidak mengejar, sebab lebih penting bagi mereka untuk tetap melindungi kereta perbekalan. Biarpun anak buah Hattori Sho tergabung dalam pasukan Jenderal Hirasaki, namun mereka bukan masuk kasta samurai, melainkan golongan yang disebut Wako, perompak atau bandit yang bersarang di Pulau Ryukyu yang dimanfaatkan tenaganya oleh Hirasaki.

Kalau kaum samurai menjunjung tinggi kehormatan dengan tidak segan-segan melakukan harakiri, maka kaum Wako ini justru tak segan melakukan apapun yang memalukan asal nyawa mereka selamat. Begitu mendengar isyarat Hattori Sho, merekapun kabur lintang-pukang tanpa malu-malu lagi. Sekejap saja mereka sudah bersih dari arena pertempuran, meninggalkan teman-teman sendiri yang mati atau terluka.

Hattori Sho sendiri sadar, kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya saja akan sulit lolos dari Pak Kiong Liong, tapi ia masih punya ilmu sihir. Biarpun tidak yakin sihirnya akan berhasil mengelabuhi mata orang selihai Pak Kiong Liong yang berjiwa kuat, namun tujuannya memang bukan untuk menang, ia hanya ingin setitik peluang untuk kabur meninggalkan gelanggang.

Tiba-tiba tubuhnya melompat mundur, keluar dari gelanggang, mulutnya berkomat- kamit membaca mantera, lalu toyanya dilemparkan ke arah Pak Kiong Liong. Pak Kiong Liong terkejut untuk beberapa detik. Menurut penglihatan mata jasmaninya, bumi merekah dan dari dalamnya keluar seekor naga hitam raksasa yang menyemburkan uap hitam pula.

Secara naluriah ia mengayunkan pedangnya sehingga berhasil memenggal kepala naga itu, tapi begitu kejernihan akalnya pulih, maka yang terpotong itu bukan "naga" melainkan hanya toya yang dilemparkan lawan tadi. Bumi juga tidak ada tanda-tanda "merekah" segala, masih tetap seperti tadi.

Kesempatan itu digunakan oleh Hattori Sho untuk kabur. Pak Kiong Liong melesat mengejar, namun langkahnya terhenti ketika melihat buruannya itu menaburkan segenggam logam berkelap-kelip di tanah. Itulah paku-paku kecil berujung empat, yang di kalangan Ninja Jepang dikenal dengan istilah Tetsu-bishi.

Kalau disebar di tanah, tiga ujung paku membentuk kuda-kuda dan satu ujung sisanya mendongak ke atas sehingga akan menjadi perintang bagi pengejarnya. Tetsu-bishi yang disebarkan Hattori Sho bukan saja tajam, tapi juga direndam racun yang amat jahat. Luka seujung rambutpun cukup untuk mengantar nyawa ke akherat.

Karena rintangan berturu-turut itulah Pak Kiong Liong gagal menangkap lawannya. Pak Kiong Liong kemudian berjongkok memunguti paku-paku itu dengan tangan terbungkus kain agar tidak kena racunnya. la khawatirkan kalau paku-paku itu dibiarkan, siapa tahu akan terinjak oleh pencari kayu atau siapapun orangnya, sehingga menimbulkan kesusahan yang tidak perlu.

Sambil melakukan hal itu, diam-diam ia berpikir tentang lawannya tadi, "Pasti orang tadi berasal dar'i kasta samurai, sebab kabarnya kasta samurai enggan, bahkan jijik menggunakan cara-cara bertempur kaum Ninja yang licik dan keji. Kaum Ninja di Jepang boleh disebandingkan dengan kaum Mo-kau (Agama lblis) di Cina, sama-sama gemar main racun, ilmu siluman dan peralatan-peralatan berbahaya lainnya..."

Segenggam Tetsu bishi kemudian dikuburkan di tanah. Namun kemudian Pak Kiong Liong tidak berniat menemui Panglima pemimpin pasukan perbekalan, siapa tahu malah akan mendapat kesulitan dan bukannya ucapan terima kasih. la sadar dirinya bukan lagi Panglima Hui-liong-kun yang disegani, melainkan "buronan pemerintah" Kaisar Yong Ceng. Oleh karena itulah ketika si panglima mencari Pak Kiong Liong untuk mengucap terima kasih, ia tidak menjumpainya. Panglima tua itu sudah menghilang.

"Aku melihat jelas tadi, Pak Kiong Goan-swe muncul membantu kita," kata Panglima itu heran. "Kenapa beliau tiba-tiba tidak kelihatan lagi?"Perwira di sampingnya menyahut. "Banyak perajurit kita tadi juga melihat Pak Kiong Goan-swe, ia bertempur disini, tetapi beliau agaknya sedang terburu-buru sehingga tidak sempat menemui kita..."

Ketika pasukan pengawal ransum itu kemudian sampai di Liao-yang, baru mereka tahu bahwa Pak Kiong Liong bukan panglima lagi melainkan buronan. Panglima pengawal perbekalan itu diam-diam heran, seorang yang sudah begitu banyak jasa dan pengabdiannya kok malah jadi buronan? Tetapi ia tidak berani merpersoaIkannya, sebab itulah urusan "orang- orang atas”.

Sementara itu, Pak Kiong Liong dalam penyamarannya berjalan kembali ke Pak-khia, untuk melihat bagainana situasi di pusat pemerintahan itu. la berhasil masuk kota dengan licin, perajurit penjaga pintu gerbang-pun tidak mengenali lagi sebab ia nyamar sebagai seorang kakek miskin yang berjalan terbungkuk-bungkuk dibantu sebatang tongkat. Situasi kota hampir tidak berubah, kecuali di tempat-tempat ramai ditempelkan kertas-kertas pengumuman berukuran besar, berlukiskan wajah Pak Kiong Liong, dengan keterangan :

“Pak Kiong Liong, kesalahan pertama : meninggalkan tentaranya dimedan perang dengan cara pengecut untuk menyelamatkan diri sendiri. Dua : membangkang kepada Jenderal Ni Keng Giau sebagai atasannya. Tiga : Menghina Kaisar. Empat : Memberi contoh buruk kepada prajurt- prajurit rendahan. Hadiah yang tersedia Selaksa tahil emas yang dapat menyerahkan hidup atau mati. Limaribu tahil emas untuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyiannya,”.

Ketika Pak Kion Liong menyusup diantara orang banyak dan ikut membaca pengumuman itu, diapun menyeringai kecut sambil bergumam, “Bukan main. Lumayan juga tarip untuk mencabut nyawa keroposku. Suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk melenyapkan aku…”

Ketika kemudian Pak Kiong Liong mencari-cari berita lebih lanjut, ia mendengar pula bahwa kedudukan Panglima Hui-liong-kun sudah diserahkan kepada Lam Kiong Siang, bukan seorang pendukung Kaisar Yong Ceng namun seorang yang "jinak". Kaisar Yong Ceng cerdik memilih tokoh ini, sebab kalau ia pilihkan seorang yang terang-terangan memihak kepadanya, perajurit-perajurit Hui-Liong-kun yang rata-rata setia kepada Pak Kiong Liong itu bisa mengamuk.

Maka dipilihilah Lam Kiong Siang, biarpun bukan sekutu namun asal "jinak". Namun ribuan perajurit-perajurit Hui-liong-kun yang berkumpul di Pakkhia itu masih membuat Yong Ceng merasa kurang tenteram, seperti paku di tempat duduknya. Maka dengan alasan untuk "membela negara", pasukan Hui-liong-kun dikirim lebih banyak lagi ke medan perang di Liao-tong.

Diam-diam pula Yong Ceng mengirim pesan rahasia kepada Ni Keng Giau agar pasukan Hui-liong-kun ditempatkan di titik peperangan yang paling banyak makan korban" alias diienyapkan dengan diumpankan ke ujung senjata orang Jepang. Membaca pesan rahasia Kaisar sekaligus kakak seperguruannya itu, Ni Keng Giau mau tidak mau bergidik juga.

Kaisar Yong Ceng tidak segan-segan menggunakan cara "lempar batu sembunyi tangan" demi melenyapkan pihak-pihak yang tidak disenanginya. Ni Keng Giau waswas, jangan-jangan dirinya suatu hari nanti juga dijadikan sasaran "pesan rahasia" macam itu? Bukan mustahil, sebab diri-nyapun tahu rahasia liku-liku Kaisar Yong Ceng dalam merebut tahta. Siapa tahu kelak Kaisar merasa perlu untuk membungkamnya sekalian.

Untuk menghibur diri, Ni Keng Giau berkata kepada dirinya sendiri, "Asal aku tetap dalam kedudukan kuat dan punya pengikut sendiri, tidak gampang kalau Kaisar hendak menyingkirkan aku dengan cara apapun. Tetapi akupun harus menunjukkan kesetiaanku dan menumpuk jasa-jasa baginya, supaya ia tidak punya alasan untuk menindak aku..."

Buat sementara waktu, Ni Keng Giau merasa cukup aman. Dikemudian hari ia harus menyesali pendapatnya itu, tapi sudah terlambat. Pemusnahan Hui-liong-kun di medan perang itu dibarengi dengan tindakan Vong Ceng atas pasukan Hui-Iiong-kun yang masih tertinggal di Pak-khia dan tak seberapa lagi jumlahnya. Sisa-sisa pasukan itu dipecah-pecah untuk digabung-gabungkan dengan pasukan-pasukan lain yang setia kepada Kaisar.

Saat itulah perajurit-perajurit Hui-liong-kun sadar bahwa mereka sedang "dipereteli” sampai menjadi kekuatan yang tak berarti lagi. Beberapa perwira dengan gusar menolak perintah itu. Akibatnya, barak Hui-Liong-kun dikepung pasukan-pasukan Yong Ceng, dipaksa menyerah tapi menolak, terjadi pertempuran di barak, dan pasukan Hui-Iiong-kun yang tinggal sedikit itupun terbunuh, tertawan atau lari berpencaran. Yang tertawan langsung dihukum penggal kepala. Yang lari dikejar, namun banyak yang berhasil lolos keluar kota Pak-khia untuk bergabung dengan angkatan perangnya Pangeran In Te.

Begitulah cara Yong Ceng melenyap kan duri dalam daging dan meperkokoh kedudukannya di pusat pemerintahan. Beberapa Panglima tidak berani melawan arus dan rnerekapun mengucapkan sumpah setia kepada Kaisar. Beberapa Panglima lainnya yang tetap tidak mau mengakui kekuasaan Kaisar Yong Ceng, di antaranya adalah Bok Eng Siang, lari meninggalkan Pak-khia sebelum mati konyol oleh regu algojo Hiat-ti-cu yang semakin ganas di bawah perintah Yong Ceng itu. Itulah yang terjadi selama Pak Kiong Liong berada di Liao-tong.

Sementara itu, pasukan-pasukan dari beberapa gubernuran telah didatangkan ke Pak-khia untuk memperkokoh kedudukan Kaisar Yong Ceng dalam rnenghadapi Pangeran In Te dan angkatan perangnya yang kian lama kian dekat ke Pak- khia, kian santer pula beritanya. Mendung ancaman perang saudara menggantung rendah di atas pusat pemerintahan, banjir darah orang- orang sebangsa sudah siap membayang di pelupuk mata.

Harapan Yong Ceng ialah agar Ni Keng Giau dapat secepatnya mengusir pasukan Jepang di Liao-tong, lalu kekuatan pasukannya bisa segera dipakai untuk menghadapi Pangeran In Te. Tepi seandainya perang dengan Jepang tidak juga selesai, Yong Ceng sudah punya rencana lain. Kalau perlu, Jepang diajak damai dengan diberi "hadiah" wilayah Liao-tong dan semenanjung Korea, dan pasukan Jepang akan diminta membantu menggempur Pangeran In Te.

Itulah politik. Orang asing diundang masuk rumah untuk disuruh menggorok saudaranya sendiri, malah diberi hadiah pula. Namun itu hanyalah rencana cadangan. Yang paling bagus ialah kalau bisa mengalahkan In Te tanpa kehilangan sejengkal wilayahpun yang harus diberikan kepada Jepang.

Di Pak-khia, Pak Kiong Liong merasa nyawanya senantiasa terancam. Dengan hadiah selaksa atau lima ribu tahil emas, seorang temanpun bisa berbalik menjadi musuh yang menikam punggung dari belakang. Namun Toh Pak Kiong Liong tetap bergentayangan di kota Pak-khia untuk tetap mengamati situasi.

Beberapa hari kemudian, sampailah kabar di Pak-khia bahwa Ni Keng Giau berhasil mengusir tentara Jepang keluar dari Liao-tong. Kabarnya, Ni Keng Giau begitu pintar sehingga dapat mengalahkan tentara Jepang yang bertempur dengan cara Eropa itu. Pasukan Jepang hebat, tapi Ni Keng Giau lebih hebat lagi. Kabar kemenangannya membuat nama Ni Keng Giau langsung mengharum di Pak-khia.

Di sebuah penginapan murahan yang menjadi "persembunyian"nya, Pak Kiong Liong tertawa sendiri mendengar berita itu. "Siasat lihai"nya Ni Keng Giau dalam mengusir musuh itu bukan lain adalah hasil pemikiran Pak Kiong Liong yang diuraikan kepada Ni Keng Giau dulu, dan sekarang Ni Keng Giau tanpa malu-malu mengakuinya sebagai gagasannya sendiri. Tetapi Pak Kiong Liong lega. Baginya yang penting bukanlah siapa yang mendapatkan pujian, melainkan terusirnya musuh itulah yang penting.

Tetapi ketika orang-orang di Pak-khia bersuka-ria mendengar kabar kemenangan itu, menyusul kabar lainnya bagaikan seribu petir menyambar. Angkatan Perang Pangeran In Tesudah tiba! Pak-khia hanya dalam waktu semalam tiba-tiba telah dikepung rapat oleh pasukan penakluk Jing-hai itu. Ketika esok harinya Kaisar Yong Ceng naik ke tembok kota untuk membuktikan sendiri laporan anakbuahnya, dilihatnya dataran luar kota sudah penuh dengan ribuan kemah tak terhitung banyaknya yang entah sampai dimana batasnya.

Bendera-bendera berkibaran megah di segala penjuru, tambur perang dan sangkakala tanduk mengalun menggetarkan udara, membuai pengawal-pengawal Kaisar Yong Ceng berkeringat dingin. Haruskah mereka bertempur melawan angkatan perang yang demikan dahsyat? Mendengar derap kaki mereka saja barangkali sudah bisa membuat si nyali kecil jadi lumpuh seketika.

Kaisar Yong Ceng yang bernyali besar itupun tergetar ketika memandang pasukan yang digelar Pangeran In Te di depan hidungnya. Akankah adiknya yang keempatbelas itu melampiaskan sakit hati atas perlakuan kasar yang pernah diterimanya dulu? Liong Ke Toh yang menjadi "gudang akal"nya Vong Ceng itupun nampak berkerut-kerut ujung matanya.

"Bagaimana ini, Paman?" tanya Kaisar.

"Hamba persilahkan Tuanku kembali ke Istana lebih dulu, Tuanku," kata Liong Ke Toh. "Kita pasti akan menemukan pemecahannya..."

Ucapan Pamannya itu menyadarkan Yong-ceng bahwa dia tidak boleh menunjukkan rasa gugup atau takutnya dihadapan pengawal- pengawalnya, itu bisa membuat semangat mereka merosot. Karena itu diapun berkata keras, sengaja diperdengarkan kepada perajurit-perajurit di atas benteng kota,

"Aku masih akan berusaha menjadi seorang Raja dan Kakak yang baik bagi In Te, akan kuingatkan bahwa pewarisan tahta sudah berjalan dengan syah, sesuai dengan. kehendak Hu Hong (ayahanda Kaisar) yang tertulis dalam Surat Wasiat, itu tak bisa diganggugugat. Mudah-mudahan adinda In Te masih bisa diajak bicara sebagai saudara, tapi kaiau ia tetap membandel, jangan dikira aku tidak bisa menandingi kekuatannya...!'

Lalu Kaisar Yong-Ceng dengan pengawal-pengawalnya kembali ke Istana. Setelah rombongan Kaisar pergi seorang prajurit ditembok kota berkata kepada temannya, “Apa yang dinaksudkan oleh Hong-siang dengan menandingi kekuatannya?"

Sahut temannya, "Perang. Kau pikir apa?" "Antara sesama perajurit kekaisaran?"

Teman-temannya hanya bisa menyeringai kecut. Pertikaian Yong Ceng dan In Te memperebutkan warisan ayahanda mereka, ternyata akan melibatkan ratusan ribu perajurit rendahan macam mereka. Sekali genderang perang ditabuh dan bendera komando dikibarkan, ratusan ribu nyawa bisa melayang didalam pertikaian sesame bangsa. Ribuan ibu kehilangan putera, isteri kehilangan suami, gadis kehilangan kekasih, anaka-anak kehilangan ayah. Tapi pernahkah mereka dipedulikan oleh sang pemegang bendera komando?

Pak Kiong Liong yang mendengar pula berita itu, menjadi gelisah. Ia memang ingin memperjuangkan In Te naik ke tahta. Tapi tidak ingin dengan cara kasar lewat peperangan terbuka. Ia ingat bagaimana Kerajaan Beng runtuh karena perang saudara, dan tidak ingin nasib yang sama dialami Kerajaan Manchu. Karena itu Pak Kiong Liong mulai memutar untuk mencegah perang terbuka.

Kekaisaran tidak boleh menjadi lemah karena pertarungan putera-puteranya sendiri, masih banyak musuh yang mengintai kelemahan dan menunggu kesempatan, Musuh dari dalam ialah sisa-sisa dinasi Beng yang masih saja mengimpikan kebangkitan kembali dinasi itu. Musuh dari luar ialah Jepang, Rusia dan Bangsa-bangsa Eropa lain yang senantiasa mengiler untuk menaklukkan “Negeri Naga” itu.

Ci-kim-shia atau "Kota Terlarang" adalah bagian kota Pak-khia yang menjadi tempat tinggal Kaisar dan Kerabat dekat istana, sebuah "kota di tengah kota" yang bertembok tinggi dan dijaga oleh tiga kelompok pasukan. Han-lim-kun yang berseragam jubah merah hitam, Lwe-teng Wi-su (Pengawal Bagian dalam Istana) yang berjubah biru laut, dan Gi-cian Si-wi (Pengawal Kaisar) yang berjubah kuning emas dengan topi bersulam.

Sejak Kaisar Yong Ceng berkuasa, dalam istana ketambahan pula kelompok berjubah ungu yang merupakan jagoan-jagoan pribadi Kaisar, juga sekawanan pendeta Lama Tibet yang menempati salah satu sudut istana, mereka kelompok agamawan yang lebih banyak membunuh dari pada membuat kebajikan. Dan sebuah kelompok lagi ialah orang-orang berpakaian hitam ringkas dengan tutup kepala hitam pula, bersenjata kantong kulit berantai yang bisa diterbangkan untuk mencaplok kepala musuh.

Mereka disebut kaum Hiat-ti-cu, sesuai dengan nama senjata mereka yang ganas, jarang menampakkan diri di istana sebab Yong Ceng ingin kelihatan sebagai seorang raja yang "adil dan penuh belas kasihan". Tapi kalau ada musuh-musuh politik yang perlu dibereskan, kaum Hiat-ti-cu ini pun keluar dari sarangnya untuk "panen kepala".

Penjagaan ketat dan berlapis-lapis di Ci-kim- shia itu ternyata berhasil juga disusupi Pak Kiong Liong yang bukan saja berilmu tinggi, tapi juga hapal liku-liku istana, la bermaksud mencari dimana Kaisar Yong Ceng berada di antara bangunan besar yang membingungkan itu Tapi Pak Kiong Liong punya ancar-ancar sendiri, asal bagian istana yang dikawal padat oleh perajurit-perajurit Gi-cian Si-wi, tentu di-si tulah Kaisar tengah berada.

Seperti seekor burung malam yang hitam, Pak Kiong Liong berlompatan dari genteng ke genteng, tanpa suara, dengan kecepatan bagai kilat, sampai akhirnya ia tiba di atas bagian istana yang bernama Tang-wan-kiong yang malam itu nampak dijaga ketat oleh kelompok Gi-cian Siwi, sehingga mudah disimpul kan bahwa Kaisar ada di situ untuk malam itu.

Biarpun Pak Kiong Liong berilmu tinggi, ia tidak berani bertindak ceroboh sebab sudah kenal ketangguhan perajurit-perajurit Gi-cian Si-wi itu. Menerobos itu gampang, tapi menerobos tanpa diketahui itulah yang sulit. Namun Pak Kiong Liong kemudian menemukan akal. Dilolosnya selembar genteng, diremasnya menjadi pecahan-pecahan kecil, lalu dilemparkannya sejauh tigapuluh langkah dari tempatnya bersembunyi. Di tempat jatuhnya, pecahan-pecahan genteng itu berkerosak keras menerjang pohon bunga-bungaan.

Suara mencurigakan itu memancing sebagian Gi-cian Si-Wi untuk memeriksa, namun pemimpin mereka cukup waspada dan menyerukan perintah, "Jangan semuanya terpancing ke sana! Sebagian tetap di sini untuk melindungi Hong Siang!”

Di tempat sembunyinya Pak Kiong Liong tersenyum sendiri meIihat kesigapan pemimpin pengawal itu dalam mengatur anak buahnya. "Sigap juga bocah itu,” pikirnya.

Lalu dengan mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu meringankan tubuhnya, Pak Kiong Liong meluncur turun dari atas atap, menyeberangi sebuah kolam teratai dengan lompatannya, dan menerobos langsung keda lam Yang-wan-ki-ong. Para pengawal Kaisar sudah tentu melihatnya, mereka berusaha merintangi namun sapuan tangan Pak Kiong Liong membuat mereka roboh bergelimpangan.

Untung tidak ada yang tewas, karena Pak Kiong Liong memang tidak bermaksud membunuh mereka. Pemimpin Gi-cian Si-wi yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar segera berteriak-teriak sambil menyusul masuk pula. Cepat juga gerakannya.

Di dalam ruangan, Yong Ceng tengah rebah santai di atas sebuah kursi panjang berlapis kasur bulu dari Persia, makan minum diladeni beberapa selirnya sambil mendengarkan musik yang dimainkan sekelompok wanita cantik. Tapi keributan diluar Yang-wan-kiong mengejutkannya, ia melompat bangun dengan gerakan tangkas sehingga seorang selir yang tengah bersandar di pundak-nya terpelanting roboh.

Kaisar Yong Ceng memiliki ilmu silat yang tinggi, karena semasa mudanya ia pernah berguru di Wihara Siau-lim-si di gunung Si ong-san, Ho-lam. Tapi betapapun lihainya, ia tak berdaya ketika Pak Kiong Liong telah meluncur secepat kilat sampai kehadapannya. Yong Ceng dengan tangkas mencoba menangkis dengan cara menyanggah tangan Pak Kiong Liong dari bawah dibarengi serangan tangan lainnya ke arah rusuk.

Namun Pak Kiong Liong berjalan seperti hantu, melejit ke samping sambil mengubah totokan menjadi cengkeraman dan tahu-tahu lengan Yong Ceng sudah tercengkeram, lalu langsung dipelintir ke belakang sehingga Kaisar Yong Ceng terbungkuk sambil menyeringai kesakitan. Selir-selir dan gadis-gadis pemain musik ketakutan lari simpang-siur, ada yang saling terguling bersama-sama.

Belasan perajurit menjerit-jerit tabrakan dan Gi-cian Si-wi menyerbu masuk ruangan dengan senjata-senjata terhunus, begitu pula belasan Lama Tibet yang berjubah merah dan kepala gundulnya dihiasai topi kecil lancip yang diikat di bawah dagu, masing-masing membawa golok Kai-to.

Melihat kaum Lama itu Pak Kiong Liong ingat ketika suatu malam rumahnya didatangi sekelompok pembunub bersenjata Hiat-ti-cu. Salah seorang Kaum Hiat-ti-cu tertangkap olehnya dan hendak diperas keterangannya tentang siapa yang menyuruhnya, tapi orang tangkapan itu keburu mati dibunuh dengan lemparan pisau oleh seorang gundul yang tak terkejar oleh Pak Kiong Liong seaat itu.

Kini melihat sekian banyan Lama muncul sebagai pelindung Kaisar. Pak Kiong Liong tidak heran lagi. Selain para Gi-cian-si-wi dan kaum Lama, muncul pula jagoan-jagoan berjubah ungu yarg merupakan rekrutan-rekrutan dari berbagai asal-usul itu. Mereka segera memenuhi ruangan, tetapi tidak berani begerak sembarangan. Ketika melihat Kaisar tertelikung oleh Pak Kiong Liong yang saat itu masih menyembunyikan wajahnya dibalik kedok. Tapi dengan tangan kirinya Pak Kiong Liong kemudian menarik kedoknya sehingga terpampanglah wajahnya.

“Pak Kiong Kiong! Kau berani bersikap sekurang-ajar itu terhadap Hong Siang?” bentak Biau Beng lama. Pemimpin para lama Tibet, sambil mengacungkan goloknya.

Yong Ceng tak dapat melihat wajah penawannya karena ia tertelikung membelakangi, namun mendengar Biau Beng lama menyebut nama Pak Kiong Liong, maka rasanya tigaperempat nyawanya sudah kabur keluar karena kagetnya. Kalau ia ingat betapa selama ini telah berusaha mencelakakan pamannya, maka ia tidak berani terlalu mengharap keselamatan nyawanya.

Apalagi dengan bertulang punggung ratusan ribu perajurit Pangeran In Te yang berbaris di ambang pintu kota Pak-khia, Pak Kiong Liong tentu berani berbuat apa saja atas dirinya. Keringat dingin seketika membasahi punggung Yong Ceng.

"Pa... paman... Pak Kiong Liong?" katanya terputus-putus. "Paman menghendaki apa?"

Pak Kiong Liong tertawa dingin, "Tuanku suruh semua pengawal mundur dari ruangan ini. Hamba ingin bicara empat mata dengan tuanku...."

Mengingat nyawanya dalam genggaman Pak Kiong Liong, Yong Ceng memberi isyarat agar semua mundur keluar. Namun tanpa terlihat oleh Pak Kiong Liong, ia sempat memberi isyarat kedipan mata kepada Biau Beng Lama, dan pendeta Tibet itu segera paham maksudnya agar di luar Yang-wan-kiong disiapkan pasukan kuat untuk menjaring "kakap” besar ini.

Setelah tinggal berdua saja dalam ruangan, Pak Kiong Liong melepaskan cengkeramannya atas Kaisar, tanpa kuatir Kaisar akan berhasiI kabur dari hadapannya. Dan Yong Ceng sendiri cukup tahu diri untuk tidak berbuat ceroboh di hadapan sang Paman yang iImunya setingkat dengan guru Yong Ceng sendiri, Pun-bu Hwe- shio dari Siau-lim-pai . Maka untuk sementara waktu Yong Ceng harus berperan sebagai "anak manis".

Tanpa sungkan-sungkan, Pak Kiong Liong duduk di kursi beludru yang tadi diduduki Yong Ceng, mencomot seiris buah pir yang lalu dikunyahnya perlahan-lahan. Katanya, "Hamba ada beberapa patah kata yang perlu disampaikan kepada Pangeran....."

Alangkah mendongkolnya Yong Ceng karena ia dipanggil "Pangeran" meskipun di hadapan pengawal-pengawal tadi Pak Kiong Liong masih memanggilnya "Tuanku". Rasa bencinya kepada Pamannya ini membumbung sampai hampir menjebol ubun-ubunnya. la masih berusaha menegakkan wibawa dirinya sebagai Kaisar dengan katakatanya,

"Paman, aku sadar bahwa Paman tidak suka kepadaku. Tapi setidaknya Paman harus ingat bahwa aku menjadi kaisar karena ditunjuk mendiang Hu Hong sendiri dalam Surat Wasiatnya. Apakah Paman sebagai seorang keluarga kerajaan yang cukup dihormati akan merusak sendiri tata-krama keluarga kita yang sudah berabad-abad kita...."

Tapi kata-katanya terpotong oleh ucapan Pak Kiong Liong, "Tutup mulutmu. Tingkah lakumu yang busuk itulah yang tidak mencerminkan keagungan keluarga Aishin Gioro kita yang agung! Didepanku, tidak usah kau pamerkan kedudukanmu sebagai Kaisar yang kau peroleh dengan cara curang itu! Kau tetap saja In Ceng si bocah durhaka yang penuh akal bulus!"

Hampir meledak dada Yong Ceng melihat sikap Pak Kiong Liong itu. Namun karena ia masih sayang nyawanya, maka ia berusaha menahan diri sedapatnya. Pak Kiong Liong memang sengaja bersikap garang dan kasar untuk meruntuhkan semangat Yong Ceng, agar Yong Ceng lebih mudah "diatur" menurut rencananya. Ditendangnya sebuah kursi sehingga kursi itu meluncur ke dekat Yong Ceng, lalu mernbentak,

"Duduk dan dengarkan aku baik-baik. Jangan membantah dan membuatku marah supaya aku tidak mencopot kepalamu!"

Apa boleh buat, Kaisar yang terbiasa disembah-sembah itu menurut menduduki kursi itu, seperti seorang pesakitan yang kesalahannya bertumpuk-tumpuk menghadap seorang hakim yang galak. Terdengar suara Pak Kiong Liong penuh tekanan,

"In Ceng, kau pikir kecuranganmu dalam merebut tahta itu sudah tertutup rapat? Biarpun aku temui Tabib Yo Ce Kui dalam keadaan sudah mati menggantung diri, tapi dia meninggalkan tulisan di tembok yang dapat di simpulkan bahwa kematian Sian Hong (Kaisar terdahulu) bukanlah kematian yang wajar, meskipun Yo Ce Kui tidak menyebutnya terang-terangan. Apalagi setelah kudengar pula bahwa yang berada di samping Sian Hong di saat detik-detik terakhir hidupnya hanyalah kau dan si ular tua Liong Ke Toh. Nah, hukuman apa yang pantas buat seorang anak yang mencelakakan ayahnya sendiri? Hukuman cincang saja masih terlalu ringan. la harus dibuatkan patungnya untuk diletakkan di persimpangan jalan, setiap orang yang lewat harus meludahi atau mengencinginya sambil mengutuk namanya, sehingga namanya akan membusuk sepanjang sejarah!"

Keringat dingin benar-benar telah membuat Yong Ceng basah kuyup. la menyangka Pak Kiong Liong sudah tahu semuanya, termasuk pencurian Surat Wasiat dan pengubahan huruf- hurufnya. Itu membuat nyali Yong Ceng menjadi ciut. Alangkah besar gelombang kemarahan yang bakal dihadapi dari rakyatnya sendiri, kalau hal itu sampai tersebar luas.

Sementara mulut Yong Ceng masih bungkam, Pak Kiong Liong terus memberondongkan tuduhannya, "Dan lihat apa yang sudah kaulakukan terhadap beberapa pejabat yang sudah berjasa berpuluh puluh tahun. Kau suruh algojo-algojomu untuk membunuh mereka secara diam-diam, apakah itu patut? Dan bagaimana sikapmu sendiri terhadapku? Kesalahan apa yang pernah kubuat terhadap kekaisaran sehingga kau begitu bernafsu melenyapkan aku? Apa pula kesalahan perajurit-perajurit Hui-liong-kun sehingga kau jerumuskan mereka di medan perang di Liao-tong sehingga banyak yang gugur, dibantu si bangsat cilik Ni Keng Giau?"

Yong Ceng belum mampu menjawab. Diam-diam ia sudah merasa bahwa inilah hari terakhirnya sebagai manusia, rasanya mustahil Pak Kiong Liong yang begitu marah akan mengampuninya. Namun ternyata suara Pak Kiong Liong yang tajam itu mulai terdengar lunak,

"Mengingat dosa-dosamu, tidak berlebihan kalau kau dicincang dan mayatmu dibuang ke hutan. Tetapi masih ada sebuah jalan kalau kau mau melakukannya....."

"Apa yang Paman tuduhkan tentang Wafatnya Hu Hong dan isi Surat Wasiat itu sebenarnya keliru semua. Maukah Paman mendengarkan penjelasanku? Peristiwanya terjadi...."

"Diam dulu, aku belum menyuruhmu bicara. Kau sanggup atau tidak memenuhi tuntutanku untuk mengimbangi kebusukanmu?"

Biarpun Yong Ceng merasa amat sengit dalam hati, tetapi agak lega juga mendengar kata-kata itu, itu menandakan pamannya belum bertekad benar untuk membunuhnya, mungkin hendak mengajaknya bertukar syarat. Pikirnya, "Baik, aku pura-pura menurutinya. Asalkan aku masih hidup, pada lain kesempatan masih banyak cara untuk menumpas bajingan tua ini. Maka Yong Ceng pura-pura menarik napas dengan sedih dan berkata,

"Tak kusangka Pamanpun lebih mempercayai desas-desus di luaran dari orang-orang bermulut usil yang iri kepadaku, daripada mempercayai keteranganku. Tapi kali ini baiklah kubuka telingaku untuk mendengar nasehat Paman yanq berharga.”

Pak Kiong Liong tidak peduli segala macam mimik wajah yang dlpamerkan oleh Yong Ceng. Katanya penuh tekanan, “Angkatan Perang Pangeran In Te sudah siap menyerbu kota ini untuk menuntut haknya yang syah. Aku yakin tuntutannya benar, sebab Sian Hong sendiri pernah bicara terbuka denganku tentang siapa puteranya yang dipilihnya untuk menjadi penggantinya."

"Tapi dalam Surat Wasiat itu...."

"Dengarkan dulu. Aku tidak percaya amanat dalam Surat Wasiat itu adalah amanat yang asli. Aku adalah saudara sepupu Sian Hong, sudah kukenal wataknya sejak kami sama-sama masih muda. la bukan seorang yang suka plin-plan, apalagi dalam keputusan penting tentang penggantinya. Sekali ia memilih Pangeran keempat belas, tidak mungkin ia menulis lain dalam Surat Wasiatnya. Karena itu, aku akan memperjuangkan kehendaknya agar arwahnya tenang di alam baka. Siapa berani menghalangi aku, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi. Paham?"

Alangkah panasnya hati Yong Ceng kairena merasa kedudukannya akan digusur secara terang-terangan macam itu. Biarpun ia Ingin berpura-pura tersenyum ramah, tetapi otot-otot wajahnya menolak untuk disuruh membentuk senyuman, lebih menurut kepada gejolak hati yang panas.

Pak Kiong Liong bukan tidak tahu perasaan Yong Ceng, tapi itu bukan soal penting baginya. Katanya terus, "Kalau kau serahkan tahta secara damai kepada Pangeran In Te yang memang berhak, berarti kau menyelamatkan ratusan ribu nyawa perajurit dari perang saudara. Untuk itu, kejahatan terhadap ayah mu, beberapa menteri tua dan beribu-ribu perajurit Hui-liong-kun boleh dianggap impas saja. Kebusukanmu juga akan tetap tertutupi."

Yong Ceng waspada, begitu ia menerima persyaratan itu maka sama saja secara tidak langsung mengakui kejahatannya, dan kedudukannya akan menjadi lemah dalam pembicaraan-pembicarann selanjutnya karena gampang ditekan. Tapi menolak secara langsung juqa membahayakan jiwanya, maka iapun menjawab berputar-putar,

"Rupanya di mata Paman dan adinda In Te, aku nampak begitu busuk, tapi suatu saat nanti akan terbukti bahwa semua tuduhan atas diriku itu tidak benar. Wafatnya Hu Hong benar-benar karena penyakitnya, gugurnya perajurit-perajurit Hui-liong-kun di Liao-tong itu benar-benar aku hormati sebagai gugurnya bunga-bunga bangsa. Dalam waktu dekat, aku akan menyelenggarakan sembahyang besar-besaran di Thian-an-bun untuk menghormati arwah mereka yang gugur di Liao-tong...."

"Kita balik ke masalah pokok," tukas Pak Kiong Liong sebelum Yong Ceng melantur lebih lanjut. “Bagaimana urusan penyerah-terimaan tahta itu?"

“Paman, tahta naga bukan seperti kasus umum dimana setiap orang bisa keluar masuk seenaknya setiap waktu. Serah-terima tahta harus dengan persiapan matang agar tidak terjadi kegoncangan di antara pengikut-pengikutku. Harus Paman ketahui, aku naik tahta bukannya tanpa pendukung sama sekali..Tapi kalau Adinda In Te bersedia menemui ku dan bicara sebagai orang sekeluarga, aku rasa akan ditemukan jalan kelu arnya....”

“Hem, kalau Pangeran In Te masuk ke Ci-kim-shia ini, ia sama saja dengan seekor ikan tolol yang masuk ke dalam jaring, nasibnya takkan berbeda dengan kedua kakandanya, Pangeran In Gi dan Pangeran In Tong," kata Pak Kiong Liong dingin. “Kalau kau bersedia berbicara dengan Pangeran In Te, harus dicari tempat yang cocok dan tidak membahayakan Pangeran In Te. Untuk sementara, aku bersedia sebagai perantara perundingan untuk hillir mudik dari istana ini ke perkemahan Pangeran In Te di luar kota, dan sebaliknya. Kuharap jerih payahku mendapat imbalan berupa terselamatkannya nyawa ratusan ribu perajurit kekaisaran."

“Paman, sebenarnya apa bedanya yang menjadi Kaisar itu aku atau Adinda In Te? Bukankah kami berdua sama-sama putera Hu Hong, sama-sama keponakan Paman pula? Kenapa Paman begitu membenci aku dan menjunjung-junjung Adinda In Te? Kalau Paman, aku dan Adinda In Te bisa bersatu, bukankah kekaisaran ini akan bertambah kuat? Aku sebagai Kaisar, Adinda In Te sebagai Panglima Tertinggi dan Paman sebagai Penasehat Agung yang akan selalu membimbing kami berdua, bukankah keadaan macam itu a-kan nampak manis dimata rakyat?"

Tapi Pak Kiong Liong tidak mempan disuap dengan kedudukan Penasehat Agung itu. "Bagiku, soalnya tetap pada landasan semula, yaitu terlaksananya Amanat Sian Hong yang asli, bukan Amanat yang sudah dirubah atau dipalsukan. Amanat Kaisar adalah Amanat Langit, karena Kaisar adalah Sang Putera Sorga. Kalau Amanat Sorga bisa dibengkok-bengkokkan semaunya saja, dengan alasan apapun, itu menjadi contoh buruk bagi rakyat. Nanti mereka akan terbiasa mengubah-ubah hukum seenaknya hanya untuk disesuaikan dengan kepentingan sendiri-sendiri, sehingga menimbulkan kegoncangan dan ketidak selarasan, benturan antara kepentingan-kepentingan yang tak terkendali, dan akhir-nya kekaisaran ini menjadi rimba raksasa di mana yang kuat makan yang lemah, yang besar makan yang kecil, yang sama sama kuat saling hantam. Itu langkah awaI menuju kehancuran kekaisaran ini. Itulah alasanku kenapa aku ngotot meng inginkan dilaksanakannya Amanat Sian Hong!"

"Mudah-mudahan kelak Parnan dapat percaya bahwa aku tidak menduduki tahta dengan kecurangan, tapi dengan syah," kata Yong Ceng.

“Kalau aku mendapatkan bukti dan saksi yang dapat dipercaya, kenapa tidak bisa mempercayaimu?" kata Pak Ki-ong Liong sambil tersenyum sinis. "Sayang, bukti-bukti yang kutemukan justru memberatkanmu semua."

Yong Ceng mengutuk dalam hatinya, "Bangsat tua, buat apa aku susah-susah mencari bukti untuk menyenangkanmu? Kalau mencarikan jalan lurus ke neraka, baru aku senang..."

Sementara Itu Pak Kiong Liong telah berkata lagi, "Sekarang aku akan pergi. Kalau aku sampai luka seujung rambutpun, maka dalam waktu tiga hari segala perbuatan busukmu akan tersebar ke seluruh negeri. Para Gubernur dan Panglima akan segera bangkit menghukummu...”

Yong Ceng tertawa kaku. "Paman ini suka bercanda saja. Masa Paman kira aku tidak tahu caranya berlaku hormat terhadap seorang sesepuh kerabat istana? Tanpa perlu Paman menakut-nakuti aku, aku jamin keselamatan Paman sampai keluar dari istana ini, bahkan sampai keluar Pak-khia kalau perlu. Apakah Paman perlu pengawal?"

Semakin ramah sikap yang ditunjukkan Yong Ceng, semakin ngeri Pak Kiong Liong akan kelicikannya, dan semakin berharap agar Yong Ceng lekas-lekas terjungkir dari tahtanya untuk digantikan Pangeran In Te. "Aku tidak perlu pengawal," sahut Pak Kiong Liong. "Aku tadi juga datang tanpa pengawal."

"Kalau begitu, aku sendiri akan mengantarkan Paman sampai ke pintu gerbang istana, supaya Paman percaya ketulusanku."

"Kau tidak takut ditertawakan bawahanmu karena merendahkan diri sedemikian rupa untuk mengantarkan seorang perajurit pengecut yang lari dari medan pertempuran?" Pak Kiong Liong menyindir.

Yong Ceng mengertak gigi menahan geram, tapi jawabannya masih diusahakan kedengaran tenang, "Lagi-lagi Paman bercanda. Itu hanya gara-gara kesalahan laporan dari Liao Tong. Ni Keng Giau akan aku tegur karena soal ini."

Maka para pengawal dan Lama Tibet yang mengepung di luar Yang-wan-kiong itupun tercengang ketika melihat Kaisar berjalan bersama Pak Kiong Liong, kelihatan "akrab" dan bahkan bercakap-cakap sambil tersenyum- senyum pula. Di luar Yan-wan-kiong itu bukan saja siap pasukan bersenjata tombak dan pedang, tapi juga para pemanah dan penembak bedil yang dengan satu isyarat akan siap merajang Pak Kiong Liong. Tapi ketika melihat Pak Kiong Li-long berjalan begitu dekat dengan Kaisar, semua orang menjadi ragu-ragu. Bagaimana kalau panah atau peluru bedil itu mengenai Kaisar?

Diam-diam Biau Beng Lama menduga tentu Kaisar disandera oleh Pak Kiong Liong untuk dijadikan perisai. Timbul niat Biau Beng Lama untuk mencari muka dengan menunjukkan pembelaannya terhadap Kaisar. la maju menyongsong dan berlutut di hadapan Yong Ceng sambil berkata, "Apakah keadaan Tuanku baik-baik saja? Hamba sekalian mencemaskan keselamatan Tuanku....."

Kaisar Yong Ceng berkata sambiI tertawa, "Omong kosong. Aku dan Paman Pak Kiong Liong berbicara dengan penuh rasa kekeluargaan, tidak ada yang saling merasa terancam."

Namun Biau Beng Lama yang sok tahu menganggap ucapan itu hanya sekedar untuk melengahkan Pak Kiong Liong. Diam-diam ia merencanakan untuk melakukan sedikit gerak tipu agar Kaisar terpisah beberapa langkah dari Pak Kiong Liong, setelah itu para pemanah dan penembak bisa bertindak merajam Pak kiong Liong. Begitu merasa saatnya tiba, ia melompat dari berlututnva sambil berkata, ”Tuanku, menyingkir!"

Tangan kirinya mendorong Yong Ceng menjauh dari Pak Kiong Liong, sementara kaki kanan deras terayun ke bawah pusar Pak Kiong Liong. Serangan itu cepat dan ganas. Tapi karena yang dijadikan sasaran ialah Pak Kiong Liong, maka si sasaran dengan gampang melangkah mundur, sedikit merendahkan tubuh dan tumit kaki Biau Beng lama sudah tercengkram olehnya. Langsung disentakkanya keatas sambil berseru, “Pendeta curang, menyingkir dari jalanku!”

Tubuh Biau Beng Lama yang tinggi gemuk dan amat berat itupun terlempar keatas dan langsung mencebur ke kolam teratai di depan Yang-wan-kiong. Maka Lama itupun basah kuyuplah. Sedetik ketika Pak Kiong Liong berjauhnn dengan Kaisar, pemimpin Gi-cian Si-wi segera meneriakkan isyarat untuk memanah dan menembak, tapi didahului oleh seruan Yong Ceng "Tahan...!”

Tapi dua batang panah terlanjur menjepret lepas dari busur dan sebuah bedil terlanjur ditekan pelatuknya sehingga pelurunya mendesing ke tubuh Pak Kiong Liong. Baru saja Pak Kiong liong menunjukkan kekuatan dengan melempar tubuh Biau Beng Lama hanya dengan sebelah tangan, kini giliran ia memamerkan kecepatan geraknya yang mempesona. Dua batang panah dan sebutir peluru yang jaman itu berbentuk bulat, tahu-tahu berhasil tergenggam tangannya semua.

Senjata api yang menjadi kebanggaan pelaut-pelaut Eropa itu bagi Pak Kiong Liong tidak lebih berbahnya dari lemparan sebutir Hat-tan (kelereng besi) oleh seorang jagoan persilatan kelas menengah saja, Seandainyn peluru bedil itu tidak ditembakkan, tetapi dilemparkan oleh tokoh setingkat ketua Hwe-liong pang, Ketua Bu-tong-pai atau Ketua Siau-lim-pai, barang kali Pak Kiong Liong tidak berani menangkapnya, namun lebih suka menghindarinya.

Puluhan pasang mata milik pengawal-pengawal Kaisar terbelalak kaget melihat kehebatan Pak kiong Liong. Banyak di antara mereka yang sudah pernah mendengar cerita centang Pak Kiong Liong, namun baru saat Itulah mereka lihat sendiri.

Sementara Itu, Yong Ceng justru melangkah kembali mendekati Pak Kiong Llong sambil bertanya, "Apakah Paman tidak apa-apa? Maafkan kelancangan anakbuahku..."

Pak Kiong Liong seenaknya melemparkan panah-panah itu, begitu jauhnya sehingga tak dapat diperkirakan sampai dimana jatuhnya. Sedang peluru itu dilemparkan ke sebatang pohon sehingga amblas tak terlihat lagi. Sahutnya, "hamba tidak apa-apa, Tuanku."

Di hadapan banyak orang, kembali Pak Kiong Liong membahasakan diri "hamba" dan memanggil Yong Ceng "Tuanku" agar Yong Ceng tidak kehilangan muka. Betapapun bencinya Pak Kiong Liong kepada Yong Ceng secara pribadi, namun kedudukannya sebagai Kaisar Manchu harus dihormati martabatnya. Kalau kedudukan itu dipandang rendah, maka dinasti penguasa akan kehilangan kewibawaannya.

Sedangkan Yong Ceng melarang perajuritnya menyerang Pak Kiong Liong bukan karena rasa hormat dan cinta kepada Pamannya itu, tapi karena khawatir kalau kebusukan dirinya nanti tersiar luas. la benar-benar percaya Pak Kiong Liong sudah mengambil tindakan berjaga jaga, kalau tidak dapat keluar lagi dari istana maka "orang-orang"nya akan menyiarkan rahasia Yong Ceng itu. Padahal gertakan itu cuma akal Pak Kiong Liong untuk mengamankan dirinya.

Bahkan untuk lebih menarik simpati Pak Kiong Liong kepihaknya, Yong Ceng membentak ke arah perajurit-perajuritnya, "Siapa yang memanah dan menembak tadi, meskipun sudah kuperintahkan agar jangan bergerak?"

Tiga orang perajurit maju dengan muka pucat dan berlutut di hadapan Kaisar. Mereka berharap dengan mengakui tindakan mereka, maka Kaisar akan meringankan hukuman. Daripada ditunjuk oleh teman-teman mereka sendiri.

Tetapi Yong Ceng telah menjatuhkan perintah, "Penggal kepala mereka!"

Wajah tiga perajurit itupun seputih kertas ketika mereka diseret oleh teman-teman mereka sendiri. Tadi mereka menembak dan memanah Pak Kiong Liong karena ingin menyelamatkan Kaisar, tak terduga inilah macam "hadiah"nya.

Saat itu justru Pak Kiong Liong yang berlutut memintakan ampun untuk tiga perajurit itu. "Tuanku, mereka bertiga sesungguhnya tidak bermaksud mengabaikan perintah Tuanku tadi. Mereka hanyalah tidak sempat menahan diri karena tegang, justru karena mencemaskan keselamatan Tuanku. Merekalah perajurit-perajurit yang setia...."

"Maksud Paman?"

"Hamba mohonkan ampun bagi mereka."

"Baiklah. Bebaskan mereka!"

Kemudian tiga perajurit yang nyaris menjelma jadi hantu-hantu tak berkepala itupun mengucapkan terima kasih kepada Yong Ceng dan Pak Kiong Liong. Ucapan terima kasih kepada Yong Ceng hanyalah basa-basi, dibarengi kutukan dalam hati. Sedang kepada Pak Kiong Liong, sasaran panah dan bedil mereka tadi, mereka benar-benar berterima kasih setulus hati.

Dan Yong Ceng benar-benar mengantar sendiri Pak Kiong Liong sampai ke pintu depan Yang-wan-kiong. Setiap tempat mereka jumpai perajurit-perajurit yang bersitegang dengan senjata terhunus di tangan masing-masing, namun tak seorangpun berani turun tangan kepada Pak Kiong Liong tanpa perintah Yong Ceng. Sepanjang jalan, Pak Kiong Liong tak henti-hentinya mengomentari bunga-bunga yang indah, ikan-ikan yang berenang di kolam, atau hiasan-hiasan lain nya dalam istana.

Setelah Pak Kiong Liong pergi, Kaisar bergegas masuk kembali ke dalam dan memerintahkan seorang thai-kam (pelayan kebiri), "Panggil Paman Liong Ke Toh sekarang juga kemari!"

Saat itu sudah lewat tengah malam, tetapi perintah Kaisar tetap harus dijalankan. Di gedung tempat tinggalnya yang masih termasuk lingkungan Ci-kim-shia, Liong Ke Toh belum tidur. Orangtua itu baru saja minum "obat kuat" dan sedang hendak "uji-coba" khasiat obatnya terhadap seorang selir cantik yang usianya berpuluh-puluh tahun lebih muda daripadanya. la hendak membuktikan bahwa keperkasaannya masih tidak kalah dari orang-orang muda.

Tapi saat ia sudah "siap tempur" dengan semangat berkobar-kobar, datanglah thai-kam yang disuruh kaisar untuk memanggilnya detik itu juga. Ada urusan penting yang tak bisa ditunda lagi. Liong Ke Toh mengutuk dalam hati. Alangkah sayang meninggalkan permainan yang baru mulai, tapi ia lebih sayang lagi kepada batok kepala dan kedudukannya.

Apa boleh buat. Dampak obat kuat yang belum tersalur itu dibiarkan tetap bergulung dalam tubuhnya. la agak repot memakai celananya karena ada sesuatu bagian tubuhnya yang mengganjal, sulit dibujuk untuk bersabar sedikit saja. Kemudian ia bergegas menjumpai thai-kam utusan Kaisar itu.

"Apakah urusannya tidak bisa ditunda sampai besok pagi?" tanya Liong Ke Toh mendongkol kepada si thai-kam.

Sahut si thai-kam, "Hamba tidak tahu apa-apa, Tuan, hanya menjalankan perintah Hong-siang. Baru saja Hong-siang ditemui Pak Kiong Liong, dan setelah Pak Kiong Liong pergi maka Hong-siang nampaknya marah-marah saja. Tiga orang pengawal hampir saja dijatuhi hukuman penggal kepala...."

Keterangan thai-kam itu cukup menandakan betapa marahnya Kaisar. Karena Liong Ke Toh tidak ingin dipenggal pula, maka iapun bergegas melangkah ke Yang-wan-kiong dan berusaha melupakan selir cantiknya tadi. la harus menyiapkan juga jawaban-jawaban bermutu yang bisa menenangkan Kaisar, tidak boleh asaI mangap saja supaya nyawanya awet.

"Bocah tak tahu adat," gerutunya; dalam hati, "Biarpun dia itu Kaisar, tapi aku ini kan Pamannya? Kenapa dia memanggilku seenaknya saja tanpa kenal waktu, seperti membangunkan seorang budak saja......"

Tetapi begitu tiba di depan Yong Ceng, ia tidak berani menunjukkan muka masam. la berlutut dan berkata, "Salam untuk Tuanku . Apakah Tuanku membutuhkan hamba?"

Sempat juga Yong Ceng berbasa-basi, "Bangkitlah, Paman. Maaf aku mengganggu Paman di malam selarut ini."

"Ah, tidak apa-apa Tuanku," kata, Liong Ke Toh mencari muka. "Hamba selalu siap membantu Tuanku dengan pikiran dan tenaga hamba yang tidak berarti ini.”

Lebih dulu Yong Ceng menyuruh semua pelayan dan pengawal keluar ruangan, sehingga ia tinggal berdua saja dengan Pamannya, lain berkata, "Baru saja Paman Pak Kiong Liong berkunjung kemari dengan cara seperti hantu saja."

"Hamba memang telah mendengar hal itu dari beberapa pengawal Tuanku."

"Kemungkinan besar Paman Pak Kiong Liong diutus Adinda In Te untuk menemui dan menggertak aku. Kalau aku tidak segera menyerahkan tahta, Adinda In Te akan menggerakkan Angkatan Perangnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Paman tahu, kekuatan kita di Pak-khia masih belum sanggup mengimbangi kekuatan Adinda In Te yang berlipat ganda dari kita. Sedang Ni Keng Giau yang sangat kita harapkan masih dalam perjalanan pulang dari Liao-tong. Bagaimana sekarang pikiran Paman?"

"Tuanku, apakah Pak Kiong Liong menyebutkan batas waktu penyerahan tahta itu?"

"Tidak, Paman Pak Kiong Liong cuma bilang segera. Mungkin masih akan ada beberapa perundingan dengan Adinda In Te tentang bagaimana penyerahan berlangsung dengan mulus tanpa menimbul-kan goncangan."

Wajah Liong Ke Toh yang lancip seperti serigala berkumis putih itupun tiba-tiba menyeringai terhias senyuman. Sambil memukulkan tinju ke pahanya sendiri ia berkata, "Ini sebuah peluang, Tuanku. Hamba anjurkan 0agar Tuanku pura-pura bersikap lunak seolah-o lah betul-betul akan tunduk kepada ke-mauan mereka, tetapi ini cuma siasat mengulur waktu. Tunggu sampai Ni Goan-swe kembali bersam'a dengan pasukannya dari Liao-tong. Biarpun pasukan Ni Go-an-swe lebih sedikit, namun persenjataan lebih lengkap karena kabarnya memperoleh ribuan pucuk bedil rampasan dari pasukan Jepang."

Namun Yong Ceng telah kelihatan kurang bersemangat mendengar pendapat itu. "Adinda In Te bukan orang tolol, Paman, apalagi aku yakin ia didampingi Paman Pak Kiong Liong yang cerdik sekali. Siasat mengulur waktu sambil berunding itu bisa diterapkan atas keledai tolol yang manapun juga, tetapi tidak kepada Adinda In Te dan Paman Pak Kiong Liong...."

"Siasat mengulur waktu haruslah dibarengi dengan siasat menimbulkan keretakan antara Pangeran In Te dengan Pak Kiong Liong sehingga mereka tidak saling mempercayai lagi."

"Bagaimana caranya?"

“Pak Kiong Liong punya sepasang cucu laki-laki kembar di Tiau-im-hong yang amnat di sayanginya. Culik saja mereka dan sebarkan beritanya, tentu Pak Kiong Liong akan terpancing pergi ke Tiau-im-hong untuk menolong cucunya. Nah, saat itulah disini kita mengulur waktu dan mencoba menjebak Pangeran In Te sementara kita kirim orang untuk membunuh Pak Kiong Liong di tengah jalan.

"Lagi-lagi usul yang tidak bermutu," pikir Yong Ceng. Mulutnyapun berucap, "Paman tahu Tiau-im-hong itu tempat macam apa? Apakah juga tidak tahu bahwa kedua cucu Pak Kiong Liong itu juga cucu Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam-hou yang perkasa? Menculik kedua anak itu sama saja dengan menarik-narik kumis seekor harimau yang sedang tidur. Dan tentang usaha mernbunuh Pak Kiong Liong, kita tidak boleh sembarangan lagi. Kita pernah kirimkan tiga anggota kelompok Hiat-ti-cu ke rumahnya, pernah juga menjerumuskannya ke peperangan di Liao-tong, dan usaha itu sia-sia semuanya. Kalau kali ini kita kurang perhitungan, bisa jadi kita mengulangi ketololan yang sama."

Liong Ke Toh yang baru saja berkobar-kobar mengutarakan siasatnya, menjadi gembos mendengar jawaban Kaisar itu. "Jadi.... jadi ba... bagaimana... menurut Tuanku?"

"Bagaimana kalau Adinda In Te kita bereskan dulu, Paman? Caranya ialah dengan...." Yong Ceng berhenti sejenak untuk mengamati sikap Liong Ke Toh. "Terpaksa sekali, Paman, Tuan Puteri Tek Huai haruslah kita jaga baik-baik untuk menekan Adinda In Te...."

Mendengar itu, bergidiklah Liong Ke Toh. Tuan Puteri Tek Huai adalah ibu Pangeran In Te dan juga ibu Yong Ceng sendiri, kakak perempuan dari Liong Ke Toh, namun toh Yong Ceng sampai hati untuk merencanakan ibunya sendiri dijadikan sandera untuk menekan In Te. Pikir Liong ke toh dengan berkeringat dingin, "Kalau ibunya sendiripun bisa dia perlakukan seperti itu, apalagi terhadap aku yang hanya Pamannya?"

Sementara Yong Ceng tertawa gembira sekali merasa bahwa dirinya ternyata pintar menemukan jalan keluar dari kesulitan yang mengancam kedudukannya itu. "Akalku lumayan juga bukan?" tanyanya bangga.

Liong Ke Toh mengumpulkan keberanian untuk menyanggah, "Tuanku, kalau rencana ini sampai terdengar para menteri dan gubernur, tidakkah akan menimbulkan pandangan buruk atas diri Tuanku? Ampuni ucapan hamba ini, Tuanku."

"Paman kira aku melakukannya dengan senang hati? Kita terpaksa, demi mencegah kekaisaran ini jatuh ke tangan orang bodoh seperti Adinda In Te. Terpaksa Ibunda Tek Huai juga harus ikut berkorban!"

Sesaat Yong Ceng menatap tajam-tajam wajah Pamannya yang kebingungan itu, dan melanjutkan kata-katanya, “Kitapun dituntut berkorban, Paman. Aku korban perasaan sebagai anak, dan Paman. sebagai adik. Tidak ada jalan lain. Kuharap Paman dapat melakukanya dengan baik, paman harus “mengawasi lebih ketat tempat tinggal Ibunda Tek Huai. Paham, Paman?"

Liong Ke Toh nenarik napas dalam-dalam, namun tidak berani meolak tugas itu. Menolak berarti nanti malah tempat tinggalnya akan dikunjungi topi kulit berantai pemetik kepala. ia yakin Yong Ceng akan tega melakukan itu, terhadap keluarganya sendiri yang terdekat sekalipun.

Sementara itu, Pak Kiong Liong sudah tiba di perkemahan pasukan Pangeran In Te dan disambut hangat. Pangeran In Te segera menyelenggarakan perjamuan di kemahnya untuk menghormati Paman yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Di kemah perjamuan juga hadir tokoh-tokoh pendukung Pangeran In Te lainnya.

Selain panglima-panglima yang sejak semula sudah menjadi bawahan In Te ketika menggempur Jing-hai, juga ada panglima-pangIima yang lolos dari Pak-khia ketika Kaisar Yong Ceng dulu mengadakan "pembersihan" unsur-unsur yang dianggap tidak setia kepadanya. Di antaranya Bok Eng Siang.

Untuk menunjukkan rasa hormatnya, In Te menyuguhkan sendiri tiga cawan arak kepada Pak Kiong Liong. Ketika para hadirin di perjamuan itu sudah menghangat darahnya karena pengaruh arak, maka In Te tiba-tiba menggebrak meja sambil berseru, "Saudara- saudara, dengarkan aku!"

Denting cawan dan sumpit serentak berhenti, suasana menjadi sunyi mencengkam, semua mata diarahkan kepada Pangeran In Te. Pangeran itu kemudian berkata, "Saudara-saudara, sekarang sudah tiba saatnya gerakan kita untuk menyelamatkan kekaisaran dari tangan seorang penguasa yang lalim seperti Kakanda In Ceng. Besok, begitu matahari terbit, seluruh pasukan kita haruslah siap memasuki dan menduduki Pak-khia! Sembilan pintu gerbangnya harus terbuka lebar untuk kita, kalau tidak, kita akan membuka sendiri dengan meriam-meriam kita!"

Kata kata yang membakar itu disambut oleh banyak panglima yang hadir di kemah itu. Ada yang mengangkat cawan araknya, bahkan ada yang menghunus pedang dan melambai-lambaikan seolah-olah sudah berada di medan tempur. Teriakan-teriakan penuh semangat terdengar riuh-rendah tak berakhir.

In Te puas melihat semangat berkobar anak buahnya itu, dan diapun tahu para perajuritnya bersikap serupa. Ia akan masuk kota Pak-khia dengan penuh kemegahan, kakandanya yang kini bergelar Kaisar Yong Ceng itu akan dipaksanya berlutut di tangga istana sambil menyerahkan Cap Kekaisaran dan Jubah Naga Kuningnya.

Tetapi ketika ia menoleh ke arah Pak Kiong Liong, dilihatnya Pamannya itu tidak ikut berteriak-teriak penuh semangat seperti yang lain-lainnya, malah Pak Kiong Liong meletakkan cawan araknya dan berwajah murung. Pak Kiong Liong sedang membayangkan betapa perang saudara itu akan melumpuhkan pemerintahan ratusan ribu perajurit akan bergelimpangan mampus di seluruh Pak-khia, sama banyaknya dengan daun-daun yang bertebaran di musim gugur. Itu awal ambruknya Kekaisarn Manchu yang sama sekali tidak diingini oleh Pak Kiong Liong....
Selanjutnya,