Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 07 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 07

Karya : Stevanus S P

"Tepat. Kebanggaannya itulah yang harus diambil daripadanya, supaya ia merasa amat terhina. Angkat dulu tinggi-tinggi, lalu hempaskan ke bawah. Sekaligus juga untuk menunjukkan kepada siapa saja, betapa hebatnya seseorang, mati-hidupnya tetap tergenggam di tanganku!"

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Ketika mengucapkan ini, suara Kaisar Yong Ceng bergetar sengit. Maka tahulah Liong Ke Toh bahwa keponakannya yang jadi Kaisar ini masih terpengaruh kejengkelan dalam beberapa hari terakhir ini, saat nama Ni Keng Giau seolah memenuhi udara kota Pak-khia melebihi nama Kaisar Yong Ceng sendiri. Dan sekarang Kaisar agaknya ingin menunjukkan kalau dia berkuasa untuk sama sekali menghapus nama yang pernah jadi pujaan itu.

"Begitulah maksud hamba, Tuanku. "Apakah sore nanti Paman bisa menemui aku di Gi-si-pong?"

"Hamba selalu siap kapan saja, Tuanku."

* * * *

Tan-liu adalah sebuah kota kecil yang tenang dan damai. Roda waktu seolah berjalan lebih lambat di tempat ini, daripada di tempat-tempat lain. Itu sebuah kota yang barangkali akan terlupakan seandainya di kota kecil ini tak pernah dilahirkan seorang bernama Ni Keng Giau.

Tiba-tiba seolah ada angin topan menderu diatas kota kecil itu, kerita para pengembara yang melewati kota itu membawa kabar tentang Ni Keng Giau, jenderal penakluk Jing-hai, bergelar kbangsawanan It-teng-kong, calon mangkubumi di Siam-sai dan Se-cuan, calon saudara angkat Kaisar Yong Ceng, dan sebutan-sebutan dahsyatnya. Seluruh kota gempar dan tercengang.

Orang-orang membicarakannya di mana mana, dan bangga, karena Ni Keng Giau berasal dari Tan-liu. Lebih gempar lagi ketika mendengar berita lain, bahwa rombongan Ni Keng Giau akan lewat kota itu, menjemput sanak-keluarganya untuk diboyong ke Seng-toh, ibukota Se-cuan. tak kurang dari gubernur sendiri datang ke Tan-liu untuk menyiapkan penyambutan.

Hari yang diperhitungkan sebagai hari datangnya rombongan Ni Keng Giau pun tiba. Gubernur dan pembantuu-pembantu dekatnya sudah siap di depan gerbang kota Tan-liu. Sedang penduduk Tan-liu sendiri sudah berjejal-jejal di pinggir jalan, mulai dari pintu gerbang sampai ke rumah orang tua Ni Keng Giau yang tergolong sederhana di pusat kota kecil itu.

Tapi rumah sederhana itu sudah di dandani sebaik-baiknya, sebagai luapan rasa bangga para penghuninya. Bujang-bujang sudah memakai baju-baju yang paling bagus, biarpun tidak seragam. Wajah seisi rumah berseri-seri dan lak henti-hentinya membicarakan Ni Keng Giau yang menghadiahkan kebanggaan begitu hebat buat mereka.

Bocah nakal yang dulu gemar memimpin teman-teman kecilnya untuk main perang-perangan dengan pedang-pedang kayu atau tombak berujung kain itu, kini akan kembali dalam kedudukan yang begitu tinggi, tak terbayangkan dulu. Di antara orang-orang di pinggir jalan, tak sedikit teman sepermainan Ni Keng Ciau semasa kecil dulu. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan rombongan. Mereka siap melambaikan tangan dan meneriakkan salam untuk teman yang beruntung itu. Ah, alangkah menyenangkan nanti.

Rombongan tiba. Gubernur sendiri menyambut dengan berlutut, lalu mengiringi rombongan itu masuk ke kota. Dan sorak-sorai orang-orang penyambut di tepi jalanpun menggelegar seolah hendak meruntuhkan langit, ketika mereka melihat barisan pengawal berkuda yang berseragam indah, dengan bendera kebesaran yang berkibar-kibar, mengiringi sebuah kereta berkilauan memantulkan cahaya matahari.

Banyak bekas teman N i Keng Ciau melonjak-lonjak kegirangan dan memanggil-manggil, "A-giau! A-giau!"

Namun Ni Keng Ciau yang duduk gagah dalam keretanya itu menjadi tidak senang melihat sambutan itu. Dari jendela kereta dilihatnya orang-orang yang melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak, yang dalam pandangan Ni Keng Ciau amat tidak pantas. Maka dia pun menggeram jengkel, "Dan. Orang-orang ini kenal adat atau tidak?"

Seorang pengawal yang berkuda di samping kereta, mendengar gerutuan itu namun kurang jelas. Cepat ia mendekatkan diri ke jendela kereta dan bertanya dengan hormat, "Apakah Ong-ya memerintahkan sesuatu?"

"Ya. Orang-orang udik ini belum tahu cara yang sopan untuk menyambut kedatangan seorang bangsawan tinggi...!”

Seringai khas para penjilat muncul diwajah pengawal itu. ia segera, tahu apa yang dimaui junjungannya ini. “Perkenankanlah hamba mendidik mereka, ong-ya”

"Lakukanlah!"

Pengawal itu menderapkan kudanya ke depan umuk menjajari kuda si komandan barisan pengawal yang ada di paling depan, komandan itu di bisikinya tentang keinginan Ni Keng Ciau, dan mengangguk anggukkan kepalanya. Setelah itu, si komandan tiba-tiba menjadi beringas. Kudanya diterjangkan ke kerumunan penduduk di pinggir jalan sambil mengayun-ayunkan cambuknya, ia membentak-bentak bengis,

"Berlutut! ‘Berlutut! Kalian kira ini arak-arakan Toa-pek-kong?! Berlutut! Sambut dengan pantas Yang Mulia It-teng-kong, pemegang kuasa kedua di seluruh kekaisaran yang hanya dibawah Sang Putera langit sendiri! Ayo berlutut, orang-orang tidak tahu adat!"

Tindakan si komandan pengawal itu segera diikuti seluruh anggota pengawal lainnya, mereka berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih galak, siapa yang paling pantas menjadi pengawal "orang kedua di kekaisaran”

Penduduk Tan-liu di kedua tepi jalan kontan menjadi gempar dan panik, wajah-wajah gembira menjadi kaget dan ketakutan. Tangan-tangan yang melambai kini ditutupkan ke kepala atau muka, untuk melindungi dari cambukan para pengawal. Jeritan wanita dan anak anak terdengar riuh rendah ketakutan menghindari terjangan kaki-kaki kuda-kuda kekar itu.

Keributan berlangsung tidak lama, sebab para pengawal Ni Keng Giau menjalankan perintah tuan mereka dengan keras tanpa ragu- ragu. Para penyambut di pinggir jalan yang tak sempat melarikan diri, akhirnya berhasil dipaksa berlutut semuanya. Kesunyian mencengkam, menggantikan gejolak kegembiraan beberapa menit sebelumnya. Kini para penyambut seperti jangkrik disiram air, tak ada yang berani bercuit. Mengangkat kepala pun tidak berani, khawatir kalau kepala mereka dicambuk atau ditendang oleh para pengawal itu.

"Nah, begini barulah memadai......"

Ni Keng Giau tersenyum puas dalam keretanya. Ketika ia menjenguk keluar lewat jendela kereta, senyum puasnya pun makin lebar. Tak ada lagi orang melompat-lompat, melambaikan tangan sambil berteriak-teriak memanggil-manggil nama kecilnya. Yang nampak hanya deretan punggung-punggung yang hampir rata dengan tanah, dan kepala-kepala yang tertunduk dalam-dalam. "Bagus. Begini barulah kelihatan sedikit berbudaya, tidak seperti orang-orang liar."

Dengan rasa puas, Ni Keng Giau menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya dalam kereta. Namun entah apa lagi yang terjadi, tiba-tiba terdengar pengawal-pengawal di bagian depan berteriak-teriak dengan gusar.

"He, siapa yang berani menyeberang jalan dan tidak mau berlutut? He, berhenti! Berhenti! Dengar tidak? Kurang ajar, tangkap dia!"

Kiranya selagi semua orang berlutut, malah muncul seorang pemuda yang seenaknya berjalan menyeberangi jalan, kelihatannya memang sengaja menantang perintah Ni Keng Giau. Seorang pemuda yang berpakaian gaya Liau-tong, propinsi timur laut yang sepanjang tahun berselimut salju. Bajunya yang sederhana itu dirangkapi dengan rompi kulit binatang berbulu, kepalanya memakai topi bulu binatang pula.

Usianya sekitar dua puluh tahun, kulitnya terlalu putih untuk orang-orang pedalaman Tiong-goan, begitu pula bola matanya berwarna coklat. Dengan demikian, ditilik dari tampang maupun caranya berpakaian, pemuda ini menunjukkan benar-benar berasal dari Liau- tong, tempat asal orang Manchu.

Ketika para pengawal Ni Keng Giau meneriakinya, pemuda itu tidak cepat-cepat berlutut dengan ketakutan, malahan berdiri kokoh di tengah jalan dongan sikap menantang. Sepasang matanya menyemburkan api kemarahan, karena tadi ia sudah melihat bagaimana para pengawal bertindak bengis terhadap penduduk, sehingga banyak penduduk yang luka-luka.

Si Komandan Pengawal murka sekali melihat sikap pemuda itu. Kudanya menderap deras ke depan, berbarengan dengan cambuknya terayun ke wajah pemuda Liau-tong itu. Namun si komandan kaget ketika merasa cambuknya cuma membelah udara, sebaliknya malah lengan dan pinggangnya tercengkeram oleh sepasang tangan yang kokoh kuat. Berikutnya, ia terangkat dari pelana kudanya, "terbang" satu detik lalu terhempas setengah mati ke bumi.

Para pengawal lainnya tercengang. Namun ketika melihat pemuda itu memutar tubuh dan hendak berlalu begitu saja, merekapun mengejar sambil berteriak-teriak. "Kejar dia!"

"Dia harus mendapat hukuman berat...!" Pemuda itu berlari belasan langkah menjauhi penyerbuan berkuda itu, namun tiba-tiba berbalik dan melompat dengan tangkas, seperti seekor garuda terbang menerjang lawan-lawannya dari udara. Sepasang tangan dan sepasang kakinya bergerak tangkas nyaris tak terlihat, dan beberapa pengawal terpelanting dari kuda masing-masing. Keadaan jadi kacau tak terkendalikan.

Mendapati lawan yang begitu tangguhnya, para pengawal memutar kuda menjauhi pemuda itu, lalu membentuk jajaran rapat dalam jarak belasan langkah dari pemuda itu. Tahu-tahu mereka telah mengambil bedil yang tadinya diselipkan di pelana kuda mereka. Dengan cekatan mereka mulai memasukkan bubuk peledak lewat moncong bedil yang (di jaman itu) berbentuk seperti terompet kecil, memadatkannya dengan sebatang kawat tebal, mengisikan peluru berbentuk kelereng besi, memasang sumbu dan menyalakannya di pangkal larasnya. Semuanya dilakukan dengan cepat, karena sudah terlatih.

Ketika moncong senapan-senapan itu diarahkan kepadanya, pemuda Liau Tong itu sadar hahwa ia tak mnngkin melawan sekian hanyak senapan. Karena itu, tiba-tiba ia mengenjot tubuhnya dan melompat keatap rumah di pinggir jalan, berbarengan dengan meledaknya senapan-senapan itu. Ada untungnya juga penduduk Tan-liu tadi dipaksa berlutut, sehingga kini mereka luput dari hajaran kelereng-kelereng besi panas yang menyembur dari moncong senapan-senapan itu.

Sementara itu, Ni Keng Giau tidak tahu persis apa yang terjadi di ujung barisannya. Cuma terdengar teriakan pengawal-pengawalnya, lalu ada letusan senapan segala. Dari jendela kereta ia lalu menanya seorang pengawal yang terdekat di luar kereta, “He, ada apa?"

"Ada sedikit gangguan kecil di depan, Ong- ya."

Namun mata Ni Keng Giau tiba-tiba menyemburkan api kemarahan, "Gangguan apa? Ada orang berani main gila di depanku? Apakah pengacau itu tidak tahu siapa aku?"

"Tapi perusuhnya sudah lari Ong-ya!”

"Apa? Perusuh itu berhasil lari? jadi pengawal-pengawalku tidak sanggup menangkap orang yang telah berani memandang rendah kepadaku itu? Harusnya dia ditangkap lalu dipaku di pintu gerbang kota dan dijemur sampai mati, supaya semua orang tahu bagaimana akibatnya kalau berani menentangku!"

Pengawal yang diajak bicara itu makin gemetar suaranya, "Orang itu lari seperti terbang, Ong-ya, bisa melompati rumah. Kwa Thong-leng (komandan Kwa) tak bisa mengejarnya, karena cidera terjatuh dari kuda."

Kemarahan Ni Keng Giau memuncak, ia tidak mau menganggap hal itu sekedar "gangguan kecil" menurut istilah pengawalnya itu. Itu adalah hal sangat memalukan yang dianggap menantang kehormatannya, sangat membuatnya kehilangan muka. Bukankah terjadinya di hadapan ribuan pasang mata penduduk Tan-liu, justru pada saat ia memamerkan betapa besar kekuasaannya?

"Suruh Kwa Seng-tek kemari!" teriaknya.

Si pengawal lalu cepat-cepat memangil si komandan. Si komandan bernama Kwa Seng Tek itu melangkah mendekati pintu kereta dengan langkah terhuyung-huyung, sambil menyeringai kesakitan dan menekan-nekan pinggangnya sendiri dengan telapak tangan. Sikap itu membuat Ni Keng Giau makin malu dan marah. Kenapa tidak bisa sedikit menahan sakit dan bersikap gagah sebagai komandan pengawal Bangsawan lt t eng-kong?

Begitu tiba di depan pintu kereta yang sudah terbuka, Kwa Seng lek melapor dengan sikap hormat campur takut, tapi lebih banyak takutnya, "Hamba mohon ampun, Ong-ya. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelidiki dan menangkap perusuh tadi, serta…"

"Biar dilakukan orang lain saja," suara Ni Keng Giau dingin sekali. Pedang liong-hong Po-kiam anugerah Kaisar Yong Ceng itu dihunusnya secepat kilat dan berkelebat keluar pintu, dan menggelundunglah batok kepala Kwa Seng Tok. Pedang yang basah oleh darah itupun menghilang kembali ke dalam kereta, seperti lidah ular yang masuk kembali ke mulut ular. Lalu dari dalam kereta terdengar suara Ni Keng Giau keras, "Cek Thai-hou!"

Dengan gemetar, Cek Thai-Hou, si wakil komandan, maju ke depan pintu kereta setelah melangkahi mayat Kwa Seng tek, lalu berlutut, "Hamba di sini, Ong-ya."

"Sekarang kau menjadi komandan. Wakilmu kau pilih sendiri!"

"Hamba, Ong-ya."

"Tahu tugasmu yang pertama?"

"Hamba, Ong-ya. Hamba harus mencari perusuh tadi sampai ketemu, agar mendapat hukuman seberat-beratnya," sahut Cek Thai Hou dengan hormat sambil dalam hatinya berhitung masih berapa hari lagi kiranya batok kepalanya bertengger dikepalanya?

"Nah, jalan lagi!"

Maka iring-iringan bergerak dibawah komandan yang baru, sementara si komandan lama dibiarkan tergeletak begitu saja dengan tubuh dan kepala yang terpisah. Orang yang beberapa saat sebelumnya masih berteriak- teriak garang sambil mencambuki penduduk, kini tidak bisa apa-apa lagi. Tidak ada anggota pengawal yang berani menanyakan mau diapakan mayat itu, khawatir kalau Ni Keng Giau jadi tidak senang apa bila ada anak-buahnya yang usil mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.

Peraturan militer yang amat keras, yang dulu pernah diterapkan dalam angkatan perang penakluk Jing-hai, masih tetap diterapkan oleh Ni Keng Giau demi "menjaga kewibawaan". Antara atasan dan bawahan tidak boleh kelewat akrab, apalagi kalau bawahan sampai berani cengengesan.

Setelah rombongan itu lewat jauh, barulah penduduk yang berlutut itu berani bangkit. Dengan wajah ketakutan mereka mengerumuni mayat Kwa Seng Tek, lalu mulai berbincang dengan ribut. "Gila, tak kusangka semudah ini sekarang A-giau membunuh orang, padahal dia dulu itu anak yang manis."

"Kita semua telah salah sangka, karena mengira dia masih seperti dulu. "Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang."

"Ia benar, waktu bisa mengubah apapun. Bukankah ibu mertuamu itupun main.... eh, terpulang dicakari monyet peliharaan yang dulunya begitu disayang-sayang?"

"A-giau mirip monyet itu. Kecilnya lincah dan lucu, besarnya ganas."

"He, jangan sekeras itu bicaranya. Kalau sampai suaramu didengarnya, bukan kau saja yang dibunuh, tapi mungkin juga kita semua yang ada di sini!"

"Mudah-mudahan dia secepatnya angkat kaki dari kota ini. Dia tidak patut dibanggakan, setinggi apapun pangkatnya."

Tiba-tiba seorang pemuda mendesak di antara kerumunan orang itu, langsung menubruk dan menangisi tubuh Kwa Seng Tek. "Toa-ko.... Toa-ko, kenapa dulu kau tidak mendengar nasehat ayah dan ibu agar fidak mengabdi kepada pembesar? Sekiranya kau tidak tamak akan kedudukan dan menuruti nasehat ayah ibu, tentu tidak seperti ini nasibmu.”

Lalu menghebatlah tangis pemuda itu. Ternyata, komandan pengawal yang naas itu juga orang kelahiran Tan liu. Keberhasilannya menjadi "orang dekat" Ni Keng Giau antara lain juga karena berasal dari satu kampung halaman, alasan yang terjadi di manapun dan kapanpun. Namun alasan itu toh tak bisa menyelamatkan lehernya dari sabetan pedang Ni Keng Giau, dan pemuda yang menangisinya itu adalah adiknya.

Kesedihan si adik kemudian berubah menjadi kemarahan. Ia bangkit dan mengacungkan tinju ke arah kereta Ni Keng Giau yang sudah jauh, sambil ber teriak keras- keras, "Ni Keng Giau! Tunggulah pembalasanku!"

Seandainya ayah dan paman dari pemuda iiu tidak segera muncul untuk mencegahnya, tentu pemuda itu sudah memburu kereta Ni Keng Giau. Setengah membujuk setengah menyeret, setengah marah setengah pasrah, mereka mencegah pemuda itu agar tidak melakukan perbuatan yang membahayakan. Biarpun mereka sedih juga melihat mayat Kwa Seng Tek, namun sebagai rakyat kecil tak mungkin punya peluang untuk membalas terhadap Ni Keng Giau. Akhirnya, hanya dengan duka-cita yang mendalam, mereka pulang membawa mayat yang dua potong itu.

Sementara si "perusuh" yang gagal ditangkap pengawal-pengawal Ni Keng Giau tadi, ternyata belum pergi jauh. Dari sebuah sudut jalan, ia melihat digotongnya mayat Kwa Seng Tek. "Seandainya aku tidak bertindak dengan gegabah, tentu orang itu sekarang masih hidup," katanya dalam hati, agak menyalahkan diri sendiri. Namun muncul pikiran lain yang membuat rasa bersalah berkurang banyak. "Tapi orang itu tidak segan-segan memukuli rakyat yang tak bersalah untuk menjilat kepada atasannya. Makin lama dia hidup, makin lama pula rakyat dibuatnya menderita."

Dan di seberang jalan tempat pemuda itu berdiri, ada pula seorang lain yang juga memperhatikan peristiwa itu, namun dengan pikiran dan perasaan yang lebih dingin. Seorang lelaki setengah abad namun masih bertubuh tegap, sinar matanya tajam bahkan cenderung mengerikan, namun tersamar dalam bayangan topi rambutnya yang sengaja dipakai dengan ditekan rendah. Pakaiannya sederhana, tak ubahnya orang awam lainnya, dan tidak kelihatan membawa senjata.

Tadi ketika semua orang dipaksa berlutut, orang ini pun ikut berlutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam, takut kalau wajahnya dilihat oleh Ni Keng Giau. namun ulah si "perusuh" tadi juga tidak lolos dari pengamatan diam-diamnya.

"Asyik juga nonton Ni Keng Giau dengan lagak barunya," pikirnya sambil menyeringai sendiri. "Seperti monyet dalam tontonan topeng monyet. Tapi ini monyet itu didandani seperti manusia, dan juga bisa menirukan beberapa tingkah laku manusia, tapi monyet ya tetap monyet. Betapapun pintarnya tak kan berubah menjadi manusia. Begitu juga Ni Keng Giau. Bagaimanapun lagaknya, takkan mengubah darah keturunan rakyat jelata yang mengalir ditubuhnya. Akulah yang benar-benar berdarah bangsawan murni, biarpun saat ini harus hidup dalam buronan si bangsat In Ceng (nama kecil Kaisar Yong Geng) yang takkan puas sebelum mengunyah tulangku, tapi kelak kalau pendukungku sudah terkumpul, tibalah saatnya aku bergerak merebut tahta, dan aku yang lebih pantas disujudi orang daripada monyet dalam kereta tadi."

Wajah di bawah naungan topi rumput yang lebar itupun menyeringai sekejap, puas menikmati angan-angannya sendiri. Matanya yang tajam tiba-tiba melihat si pemuda yang tadi berkelahi dengan para pengawal Ni Keng Giau. Si topi rumput ini merasa tertarik dan cepat-cepat menyeberangi jalan untuk menyusul pemuda itu. Pikirnya, "Pemuda itu tadi sudah memperlihatkan ilmunya yang hebat, menilik pakaiannya, agaknya diapun orang Manchu seperti aku. Baiklah kucoba mengajaknya berteman, siapa tahu kelak ada gunanya."

Ketika pemuda itu berbelok menyusup kesebuah gang kecil, si topi rumput menyusulnya dan mempercepat langkahnya. Pemuda itu agaknya merasa kalau dibuntuti, maka di lorong itu ia tiba-tiba membalikkan tubuh secepat kilat. "Apa maksudmu membututi aku sejak tadi" tegurnya waspada.

Si topi rumput tertawa dan menjawab, "Tadi kulihat kau mengobrak-abrik kawanan pengawal Ni Keng Giau dengan gampang, begitu pula kulihat caramu melompat ke atas atap rumah, langsung aku tahu kau seorang pendekar yang tangguh yang pantas kujadikan sahabat. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu dan darimana asalmu, sobat?"

Pemuda yang ditanyai itu memang masih hijau dalam pengalaman. Baru satu tahun kurang ia meninggalkan Liau-tong untuk masuk kepedalaman Tiong-goan. Nyalinya juga besar, maka tanpa takut ia menjawab, "Namaku Wan Lui. Nyalinya gunung dari lereng Tiang-pek-sen."

Si topi rumput lalu tertawa lebar dan membuka topi rumputnya, sehingga tampak makin jelaslah raut wajahnya yang berbentuk agak persegi, dihiasi jenggot pendek campuran warna hitam putih, cocok dengan usianya yang ditaksir sekitar empatpuluh lima tahunan. Matanya seperti memancarkan kemauan yang hebat, dan hidungnya besar seperti singa.

"Berani dari Liau-tong kan?" sahutnya gembira. "Berarti Wan-heng (saudara Wan) ini satu suku denganku, sebab leluhurku juga berasal dari Liau-tong."

Wan Lui jadi gembira. Dalam pengembaraannya yang kesepian, siapa tidak gembira kalau tiba-tiba menemukan seorang yang mau menjadi temannya? “Siapa namamu, sobat?" ia balas bertanya.

"Namaku.... em.... In Kiu Liong. Untuk mengakrabkan kita, bagaimana kalau kau panggil aku Toa-ko (kakak) saja, biarpun umurku lebih dua kali lipat dari umurmu?"

"Baik, Toa-ko," Wan Liu tanpa pikir panjang menyambutnya. "Setuju tidak, kalau persahabatan kita ini di rayakan dengan minum-minum?"

"Setuju sekali. Di mana?"

"Di kota sekecil ini tidak ada arak baik yang dijual orang, tapi ada warung teh yang lumayan di dekat pasar. Bagaimana kalau kita ke sana?"

Begitulah, kedua sahabat baru itu-pun berjalan mencari tempat minum. Sepanjang jalan, Wan Lui agak heran melihat gerak-gerik In Kiu-liong yang seperti takut dilihat orang. Topinya dipakai rendah-rendah, berjalannya lebih sering menunduk, namun dari bawah topi itu matanya selalu tajam mengamati orang- orang yang lalu-lalang di jalanan.

Kewaspadaan yang kelewat batas, komentar Wan lui dalam hati. "Padahal mestinya aku yang harus bersikap demikian, sebab aku baru saja memukuli pengawal pengawal pembesar congkak tadi."

Tak lama kemudian, mereka sudah duduk diwarung teh dekat pasar, menghadapi dua poci teh wangi dan dua piring kacang goreng di meja. Percakapan dalam suasana santai dan sering diselingi tertawa, biarpun In Kiu Liong tiap kali kelihatan melirik waspada ke arah jendela atau pintu.

"Ada apa, Toa-ko?"

"Oh, tidak. Tidak. Wah, tehnya betul-betul wangi."

Dalam percakapan berikutnya, biar pun tetap bersuasana santai, namun In Kiu Liong secara halus berusaha, mengorek lebih banyak keterangan tentang diri Wan Lui. Juga sambil berusaha mempengaruhi agar Wan Lui berkesan baik terhadapnya. Sebaliknya Wan Lui itu benar-benar polos, benar-benar anak gunung sejati.

“llmu meringankan tubuhmu hebat, Wan-heng." sanjung In Kiu Liong. "Cara mu melompat ke atap rumah tadi begini cepat dan ringan, tak mungkin dilakukan oleh sembarangan orang. Kalau aku boleh mengetahuinya, siapa gurumu?"

"Aku memanggilnya Kakek, tapi bukan karena hubungan keluarga. Hanya seorang lelaki tua yang begitu baik kepadaku, sehingga kami merasa benar-benar seperti kakek dan cucu."

"Siapa namanya?"

Wan Lui ragu-ragu untuk menjawab terus-terang. Orang yang ditanyakan itu adalah seorang bekas jenderal kerajaan, namun kemudian menjadi buronan pemerintahan Kaisar Yong Ceng. Karena itu, menyebut namanya kepada seorang yang dikenal baru dalam waktu kurang dari satu jam, betapapun akrabnya orang itu, masih terasa berat bagi Wan Lui. "Maaf, Toa-ko. Kakek pernah berpesan kepadaku, agar setelah aku berada di daratan tengah ini, aku tidak sembarangan menyebut namanya. Kata kakek, bisa menimbulkan kesulitan buat diriku sendiri.”

Jawaban macam itu malah mengobarkan lebih hebat rasa ingin tahu dalam hati In Kiu Liong. Namun ia pun sadar, kalau terus mendesak dengan pertanyaannya, malah bisa menimbulkan rasa tidak senang Wan Lui. Maka ia cuma membatin dalam hati. "Eh, bocah gunung ini mau main rahasia-rahasiaan segala denganku? Baik. Asal ada kesempatan melihat jurus silatnya barang sepuluh jurus, pasti aku akan mengenali asal-usulnya.”

Begitu yang dipikirkan, lain pula yang keluar dari bibirnya, ”Aku minta maaf untuk pertanyaan tadi. Kalau memang Wan-heng sulit mengatakannya, tidak apa-apa. Tidak akan mempengaruhi persahabatan kita.”

“Terima kasih, Toa-ko. Mari minum.”

Tengah mereka berdua makan-minum sambil ngobrol dengan asyik, mendadak dari luar warung itu menerjang masuk sekelompok pengawal Ni Keng Giau. Jumlahnya hampir duapuluh orang. "Itulah si perusuh yang membuat Ong-ya tersinggung! Tangkap dia!” komandan regu berseru sambil menuding Wan Lui.

Dandanan Wan Lui yang khas daerah Liau-tong itu memang gampang dikenali, berbeda dengan pakaian penduduk setempat. Di seluruh kota Tan-liu saat itu, barangkali hanya ada satu orang yang berdandan macam itu. Lalu pengawal-pengawal Ni Keng Giau itu menyerbu kedalam warung, sambil menunjukkan betapa berkuasanya mereka dengan menendangi perabotan warung sehingga jungkir-balik semua, dan membuai tamu-tamu di warung itu jadi kabur semua. Kebanyakan belum membayar.

Namun Wan Lui dan In Kui Liong tetap duduk dengan tenang. Bahkan tangan mereka tidak berhenti menyentilkan butir-butir kacang goreng ke dalam mulut mereka, diselingi menghirup teh wangi. Kemudian Wan Lui menoleh ke arah para pengawal iiu dan bertanya, "Tuan-tuan yang terhormat, aku kalian sebut perusuh, tapi apa salahku? Dalam perjalananku ribuan li, belum pernah seingatku, aku melanggar undang-undang Kerajaan. Kenapa kalian hendak menang kap aku?"

"Jangan banyak cakap. Kau sudah membuat Ong-ya gusar dan harus kami tangkap untuk meredakan kegusarannya!"

"Aneh...." kata Wan Lui sambil mengunyah kacang goreng. "Sejak kapan orang yang menyeberang jalan saja harus kena hukuman? Kalau kalian memukuli orang-orang tak bersalah di pinggir jalan karena mereka tidak tahu harus berlutut, itu melanggar hukum atau tidak?"

Komandan regu itu tak mampu menjawab, maka In Kui Liong lah yang menjawab, "Sejak kapan menyeberang jalan dianggap bersalah? Ya sejak kepala Ni Keng Giau melar sebesar gentong. Sejak dia merasa dirinya jadi orang berpangkat tinggi dan boleh semaunya menghukum orang!"

Hari itu, seluruh penduduk Tan-liu sedang dicengkam ketakutan hebat oleh kedatangan Ni Keng Giau. Setiap orang yang takut mendapat kesulitan harus menjaga mulutnya baik-baik. Maka ucapan In Kiu Liong itu memang amat mengejutkan.

Si komandan pengawal segera memerintahkan anak-buahnya, "Tangkap mereka!"

Wan Lui bangkit dari duduknya sambil berkata kepada In Kiu Liong, "Toa-ko, urusan ini timbul karena ulahku, jadi biar aku yang membereskannya!"

In Kiu Liong mencomot segenggam kacang goreng sambil menjawab, "Baik, Wan-heng. Aku yakin dengan kepandaianmu yang hebat, kecoak-kecoak ini takkan mampu menyulitkanmu!"

Begitulah In Kiu Liong terus sengaja memanaskan hati pengawal-pengawal Ni Keng Giau itu agar segera berkelahi dengan Wan Lui. Dan ia dapat mengamati jurus-jurus silat Wan Lui untuk mengetahui alirannya.

Wan Lui yang lugu itu sama sekali tidak merasakan maksud tersembunyi In Kiu Liong itu. Kepada para pengawal, Wan Lui berkata, "Kalau mau melawanku mari keluar dari sini. Jangan sampai menimbulkan kerusakan dan kerugian pada orang tak bersalah."

"Kalau diluar, tentu kau akan melompat ke atap dan kabur seperti tadi, bukan?" ejek si komandan pengawal. "Jangan harap aku akan termakan tipuan gombalmu, bocak busuk!"

Lalu komandan regu itu mendahului bertindak. Ia bersenjata sebatang tombak panjang. Tangkai tombak melakukan serangan gertakan ke arah kepala, namun serangan sebenarnya ialah ujung tombak yang hendak meluncur ke bawah untuk memaku telapak kaki Wan Lui dengan tanah.

Gerak tipu itu bagus juga, tapi Wan Lui berhasil menghindarinya dengan undur selangkah. Namun Wan Lui harus cepat-cepat menunduk pula untuk menghindar tikaman ke arah leher. Ternyata perwira ini cukup tangkas dalam bermain tombak.

Melihat pemimpin mereka sudah turun tangan, para pengawal pun serempak mengembut maju. Maka Wan Lui segera mendapatkan hujan serangan dari segala arah. begitu rapat dan tak henti-hentinya, sedang In Kui liong sudah siap melihat gerak-gerik silat dari aliran yang mudah-mudahan dikenalinya.

Ternyata baik para perajurit maupun In Kui Liong sama-sama kecewa, sama-sama tidak mendapat apa-apa. Wan Lui cuma menunjukkan gerak-gerak sederhana seperti menghindar, menggeliat, menunduk, melompar, dan meskipun ruangan di situ sempit namun Wan Lui bisa bergerak seperti lalat di sela-sela lawan-lawannya.

Para pengawal Ni Keng Giau tak berhasil mengenainya dengan senjata, sedangkan In Kiu Liong tak berhasil mengenali aliran silat Wan Lui, karena gerakan-gerakan itu ada di semua perguruan. Tapi biarpun nampak sederhana, tidak sembarangan pesilat bisa melakukannya segesit Wan Lui. Setelah sekian lama Wan Lui belum juga memperlihatkan jurus khas perguruannya, In Kiu Liong menjadi tidak sabar, lalu berseru, "Wan-heng ini bukan saatnya bermain-main. Kalau kecoak-kecoak itu kedatangan teman-teman mereka lebih banyak lagi, kita akan repot."

"Baik, Toa-ko." Ketika mengucapkan kata kata itu, Wan Lui tengah merunduk untuk menghindari sabetan sebilah pedang, namun tiba-tiba tubuhnya melambung dan menendang secepat kilat. Penyerangnya tadi terlempar dan pedangnya menancap di belandar atap. Selanjutnya, gerakan Wan Lui ni secepat kilat dalam membagi-bagikan serangan. Tiap langkahnya, lompatannya Wan lui membuai lawan-lawannya bertumbangan. entah dipukul, ditendang atau dibanting.

Perlahan-lahan In Kiu Liong mulai mengenal pola serangan itu, dan tiba-tiba punggungnya pun basah oleh keringat dingin karena teringat seorang tokoh yang ditakutinya. "Ah, bocah gunung ini memainkan Thian-liong kun-hoat (silat Naga Langit). Kalau begitu, bisa jadi gurunya adalah Pak Kiong liong. Pantas juga kalau dia enggan menyebut nama Pak Kiong Liong terang-terangan, sebab Pak Kiong Liong memang seorang buronan pemerintah yang bernilai tinggi."

Pikiran tentang Pak Kiong Liong sudah membuat hati In Kiu Liong tergetar kecut. Sekilas pikirannya mulai bercabang, akan terus mendekati Wan Lui, atau harus menjauhinya demi keamanan dirinya? Akhirnya ia memutuskan, "Aku akan memperalat bocah gunung ini sejauh tidak membahayakan nyawaku. Dan bocah ini tidak boleh mengetahui siapa diriku sebenarnya,"

Sementara itu, Wan Lui benar-benar telah merobohkan semua lawannya, termasuk komandannya pula. Mereka bergelimpangan sambil merintih-rintih kesakitan. "Selesai, Toa-ko," kata Wan lui sambil tersenyum.

In Kiu l iong bangkit sambil memasang kembali topi rumputnya yang lebar. Katanya, "Kau hebat, Wan-heng, tapi kita harus segera pergi dari sini dan kalau perlu keluar kota. Keempat tangan kita tak mungkin melawan ratusan pasang tangan anjing-anjingnya Ni Keng Giau yang bakal membanjiri tempat ini."

Sekilas Wan Lui melihat pemilik warung kecil itu berjongkok ketakutan di sudut. Wan Lui jadi iba karena tahu warung-warung macam itu biasanya tak punya modal cadangan, padahal warungnya saat itu sudah berantakan. Wan Lui ingin mengganti kerugian, tapi cuma mengantongi sedikit uang, maka tanyanya kepada In Kiu Liong, “Toa-ko, ada uang?"

"Ada.... ada." sahut In Kiu Liong sambil mengeluarkan dan membuka kantong uangnya, sekilas nampaklah gemerlapnya keping-keping emas dan perak dalam kantong itu, bahkan ada juga sebutir dua permata yang mahal. Tapi yang dikeluarkan In Kiu Liong dari kantong itu hanyalah uang recehan seharga pas untuk poci teh dan dua piring kacang goreng tadi. Soal ganti rugi kerusakan warung, sama sekali tidak masuk perhitungannya.

Melihat In Kiu Liong hendak menyimpan kantongnya kembali, terpaksa Wan lui harus mengutarakan maksudnya, 'Toa-ko, mestinya pemilik warung ini mendapat ganti rugi dari diriku. Tapi karena uangku tidak cukup, tolong pinjami dulu."

Namun In Kiu Liong tetap memasuk kan kantong uangnya ke balik baju, sambil menjawab tanpa perasaan, "Tiap orang dagang punya hari naasnya masing masing. Ayo pergi, Wan-heng. Biar orang itu nanti menagih ganti rugi kepa da N i Keng Giau."

Seolah-olah mengusulkan suatu jalan keluar, namun jalan keluar yang tidak mungkin ditempuh, mana mungkin si pemilik warung berani menagih Ni Keng Giau. Dengan perasaan agak mendongkol terhadap In Kiu Liong, Wan Lui menguras habis isi kantongnya sendiri yang tidak seberapa, semuanya diletakkan di meja sambil berkata kepada si tukang warung. “Maaf, pak, aku ingin mengganti untuk semua kerugian bapak, tapi hanya ini yang kupunyai. Kelak aku akan datang lagi untuk menutup kekurangannya."

Dan kepada In Kui Liong, Wan Lui berkata, "Toa-ko, sampai jumpa lagi."

In Kui Liong cepat-cepat mengejar dan mencegah, "Nanti dulu, Wan-heng. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu."

Tanpa menggubris, Wan Lui sudah melangkah dengan cepat di luar warung. In Kiu Liong juga mempercepat langkah untuk menyusulnya, "Wan-heng, melihat jurus-jurus silatmu tadi, aku menerka bahwa gurumu yang kau panggil kakek itu adalah Goan-swe Pak Kiong Liong."

Sebenarnya sikap pelit In Kiu Liong terhadap pemilik warung tadi membuat Wan Lui agak kecewa. Tapi ketika mendengar disebutnya nama Pak Kiong Liong, perhatian Wan Lui jadi tertarik dan ia pun menghentikan langkah. "Apakah Toa-ko mengenal kakek Pak Kiong Liong?"

Tujuan Wan Lui meninggalkan Liau-tong masuk ke Tiong-goan memang untuk mencari gurunya itu. tidak heran ketika mendengar In Kiu Liong menyebutkannya, dia segera tertarik.

In Kiu Liong berjalan mendekat lalu menepuk-nepuk pundak Wan lui, sambil melepaskan kata-kata penjeratnya, "Wan heng, aku dan gurumu itu bukan hanya kenal, tapi bahkan satu garis perjuangan. Karena itu, kitapun bisa di bilang sebagai teman seperjuangan."

'Teman seperjuangan?"

"Ya, teman seperjuangan menentang kekuasaan lalim yang sekarang mengangkangi istana. Gurumu buronan Yong Ceng, aku juga. Kami berdua adalah sama-sama korban kesewenang-wenangan Kaisar keparat itu!"

Lupa akan sikap pelit In Kiu Liong tadi, Wan Lui timbul sedikit rasa simpatinya. Ia tahu Pak Kiong Liong orang baik, maka "teman seperjuangan"nya ini tentu orang baik juga, begitu anggapan. Ungkapan "sama-sama buronan" itu cukup mengesankan. Seketika kegembiraannya meluap. Selama pengembaraannya, baru kali ini didengarnya kabar dari orang yang dicarinya “kalau begitu Toa-ko tahu dimana kakek berada? Aku sungguh senang kalau bisa menemuinya dan membantu perjuangannya."

"Bagus, Wan-heng. Aku senang melihat seorang muda yang berilmu tinggi dan penuh semangat seperti kau. Tapi selama belum berhasil membantu perjuangan kakekmu, membantu perjuanganku juga sama saja. Kami kan sama-sama sedang menghimpun kekuatan untuk melawan penguasa jahat. Nah, sambil berjuang, sambil mencari jejak kakekmu."

"Lho, jadi sekarang ini Toa-ko tidak tahu dimana kakek?"

In Kiu Liong berlagak sedih dan marah, "Wan-heng, tentu kau sudah mendengar bagaimana si Kaisar keparat itu menumpas pendekar-pendekar budiman yang menentangnya. Sudah dengar belum?"

"Ya. Sudah kudengar tentang pembantaian di llong-thian-lau di mana Yong Ceng membinasakan banyak pendekar yang pernah menjadi sahabatnya di masa muda. Lalu membakar kuil Siauw-im-si, perguruannya sendiri. Menghancurkan markas Hwe-liong-pang di Tiau-im-hong sehingga serikat pembela rakyat itu jadi tercerai-berai. Tapi apa hubungannya dengan kakek? Apakah kakek menjadi korban dalam salah satu peristiwa itu?"

"Ketika pembasmian di Tiau-im-hong, aku dan kakekmu sama-sama ada disana. Tapi suasana saat itu begitu ribut, di seluruh gunung ada orang bertempur dalam jumlah banyak. Pihak kami kemudian terpukul cerai-berai, semuanya berpencaran sendiri-sendiri, maka juga kurang jelas kuketahui nasib kakekmu. Ya mudah-mudahan saja selamat."

Wajah Wan Lui bergantian pucat dan merah padam mendengar penuturan itu, geramnya. "Kalau sampai kakek menjadi korban Kaisar jahanam itu, aku bersumpah untuk mempertaruhkan nyawa membunuhnya di istananya sendiri."

"Jangkrik aduan yang ganas dan kuat," pikir In Kiu Liong dengan gembira. Sedangkan dengan mulutnya dia memuji, "Bagus. Bagus. Itulah baru seorang pendekar sejati yang tidak takut kepada apapun. Mari kita bekerja keras bersama untuk mewujudkan cita-cita luhur kita."

"Apakah kita akan tetap di kota kecil ini? Apakah kita tidak harus segera pergi untuk memulai perjuangan kita, Toa-ko?"

"Agar aman, kita memang akan berada di luar kota, tapi tidak jauh-jauh. Dan kita tidak perlu tergesa-gesa pergi, kita nonton dulu tingkah-laku Ni Keng Giau."

"Ah, buat apa menonton ulah manusia rendah yang sedang mabuk derajat macam itu? Memuakkan. Kalau Toa-ko mengajak aku membunuhnya sebagai bagian dari perjuangan kita, malah aku dengan senang hati akan mengikuti ajakan itu. Bukankah dia adalah jenderal ke sayangan si Kaisar jahanam itu?"

In Kiu Liong tersenyum. "Jenderal kesayangan memang betul, tapi itu dulu. Sekarang agaknya dia hampir tak terpakai lagi, begitu desas-desus dari sementara pihak di Pak-khia. Nah, aku ingin menonton atau membuktikan benar tidaknya desas-desus itu. Kalau benar dia sudah hampir tidak terpakai, lalu mau jadi apa? Barangkali kita juga akan melihat sebuah tontonan besar. Karena itu, sabarlah, jangan buru-buru pergi jauh dari Tan- liu." Wan Lui agak heran mendengar kata kata berbau "nujum" itu.

Selama Ni Keng Giau berada di Tan liu, selama itu pula penduduk Tan-liu dicengkam ketakutan. Rumah kedua orangtua Ni Keng Giau yang biasanya banyak dikunjungi para tetangga, karena kedua orangtua itu dikenal ramah dan baik hati, kini mendadak seperti rumah hantu yang dijauhi semua orang. Hanya untuk sekedar lewat di depan rumah itupun bagi penduduk Tan-liu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar.

Nii Keng Giau amat di takuti dan dipatuhi oleh para pengawalnya, dan para pengawalnya itu ditakuti penduduk Tan-liu, bahkan perajurit-perajurit setempat pun takut kepada pengawal-pengawal berjubah kuning emas itu.

Pada suatu hari, sepuluh orang penunggang kuda muncul di kota kecil itu, masuk kota dari arah timur. Rombongan ini kalah jauh jumlahnya jika dibandingkan rombongan Ni Keng Giau yang mencapai ratusan orang. Seragamnya jauh kalah mentereng dari pengawal-pengawal Ni Keng Giau, sebab rombongan yang ini cuma berseragam jubah pendek warna ungu. Tak ada bendera yang berkibar, tak ada kereta gemerlapan, tak ada penyambutan oleh gubernur sendiri.

Yang berkuda paling depan adalah seorang tua, namun masih ramping dan padat tubuhnya, dan sepasang matanya merah menakutkan. Kemunculan mereka menggentarkan penduduk Tan-liu, yang masih dihantui pengalaman pahit ketika menyambut Ni Keng Giau beberapa hari sebelumnya. Orang-orang yang ada di jalanan lari bersembunyi, sehingga jalananpun jadi sepi ketika rombongan itu lewat. Beberapa orang memberanikan diri mengintip dari kejauhan, dan melihat bahwa rombongan orang berkuda itu me uju ke rumah orangtua Ni Keng Giau.

"Bencana macam apa lagi yang bakal kita dapatkan?" keluh seorang penduduk. "Merajalelanya Ni Keng Giau dan anjing-anjingnya belum diketahui kapan berakhirnya, dan sekarang teman-teman mereka sudah berdatangan pula kemari. Mereka barangkali tidak kalah biadabnya membunuh dan memperkosa sewenang-wenang."

Sementara itu, pengawal-pengawal Ni Keng Giau yang berjaga di depan rumah keluarga Ni, terkejut ketika mengenali siapa-siapa saja penunggang-penung-gang kuda berjubah ungu yang sedang mendekat itu. Merekalah para pengawal istana dari kelompok Ci-ih Wi-kun, yang dipimpin sendiri oleh Kim Seng Pa, disertai jago-jago tangguh lainnya seperti Toh Jiat Hong, Sat Siau Kun, Su-ma Hek-liong, Heng-san-sam-kiam dan lain-lainnya.

Tanpa turun dari kuda, Kim Seng Pa membentak pengawal-pengawal itu, “He, Ni Keng Giau ada di rumah atau tidak? Suruh dia segera keluar!”

Kebanggaan para pengawal itu jadi tersinggung melihat sikap Kim Seng Pa tidak peduli Kim Seng Pa adalah komandan salah satu kelompok istana, karena Kaisar sendiri tidak berani bersikap kasar itu terhadap Ni Keng Giau. Pemimpin regu pengawal Ni Keng Giau lalu menjawab sambil membusungkan dada,

"Kalau Cong-koan mau menghadap Ong-ya bersikaplah yang baik. Melapor kepada kami lebih dulu, dan sementara kami menyampaikan permohonan menghadap maka kalian harus menunggu dengan tertib. Kemudian apakah Ong-ya bersedia menemui atau tidak, itupun tergantung Ong-ya, tidak bisa digugat!"

Seandainya yang menghadapi sikap garang itu adalah penduduk Tan-liu, pasti sudah ketakutan sampai terberak-berak. Namun Kim Seng Pa dan anggota rombongannya tiba-tiba malah tertawa riuh terbahak-bahak dan membuat pengawal-pengawal Ni Keng Giau salah tingkah.

Kim Seng Pa lalu mengejek, "Waduh, rumah yang seperti kandang ayam ini rupanya sekarang sudah menjadi It-teng kong-hu, lengkap dengan segala protokol tengiknya. Ha-ha, baik, baik. Nah, Bapak Pengawal yang maha terhormat. Tolong sampaikan kepada Ong-ya bahwa hamba yang hina dina ini mohon diperkenankan menghadap Ong-ya."

"Tidakkah sikap Cong-koan ini keterlaluan dan bisa menjatuhkan martabat Ong-ya di hadapan penduduk kota ini? Dengan demikian juga berarti Cong-koan mempermalukan yang menganugerahi."

Kim Seng Pa yang sudah habis kesabarannya itupun tiba-tiba menukas dengan nada bengis, "Diam! Cepat laporkan kepada Ni Keng Giau! Atau kami semua harus menerjang masuk dengan lebih dulu menumpas kalian semua?"

Para pengawal N i Keng Giau yang biasanya galak, kini jadi ciut nyalinya. Mereka tahu bahwa tiap anggota Ci-ih Wi-kun adalah pesilat-pesilat pilihan Kaisar Yong Ceng sendiri, masing-masing memiliki kepandaian yang tangguh. Kaisar tak mungkin salah memilih mereka, sebab Kaisar sendiri adalah pesilat tangguh pula keluaran Siau-lim-si. Maka rombongan yang datang itu adalah sebuah "pasukan kecil" yang daya gempurnya sungguh mengerikan. Lebih dari itu, siapa tahu mereka pun membawa suatu hal penting yang perlu disampaikan kepada sang Ong-ya. Karena itu, si komandan pengawal Ni Keng Giau terpaksa masuk untuk melapor, meskipun sambil menggerutu.

Ni Keng Giau sendiri heran ketika dilapori kedatangan Kim Seng Pa, juga tidak senang, mendengar pengaduan komandan pengawalnya, Cek Thai-hou, tentang sikap Kim Seng Pa. Namun Ni Keng Giau harus keluar menjumpainya juga, mungkin Kim Seng Pa membawa pesan penting dari Kaisar. Hanya perasaannya agak tidak enak. Kenapa Kim Seng Pa yang diutus, padahal antara dirinya dan Kim Seng Pa tak tersembunyi lagi saling membenci selama bertahun-tahun? Jangan-jangan pihak istana sedang mempraktekkan teori "kucinglah yang paling tepat untuk menguber tikus"?

Sebelum keluar, Ni Keng Giau lebih dulu memakai segala kelengkapan pakaian seragamnya, untuk dipamerkan kepada Kim Seng Pa, sekaligus mengingatkan agar Kim Seng Pa bersikap sopan. Begitu Ni Keng Giau memasuki ruangan depan, langsung dirasakan situasi yang kurang beres. Dilihatnya Kim Seng Pa dan jago-jago Ci-ih Wi-kun lainnya sudah mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dengan sikap gagah.

Sedangkan pengawal-pengawal Ni Keng Giau yang biasa gagah-gagah menginjak kepada orang kecil, kini malahan nampak di halaman dan memegangkan tali kuda-kuda tunggangan para tamu. Kontan Ni Keng Giau merasa tidak puas, mengira pengawal-pengawalnya telah digertak oleh Kim Seng Pa. Dalam hati Ni Keng Giau sudah merencanakan, pengawal-pengawal yang memalukan itu akan disusulkan saja kepada Kwa Seng Tek, komandan lama mereka.

Baru saja Ni Keng Giau hendak mengambil tempat duduk, Kim Seng Pa bangkit dari kursi dan membentak, “Ni Keng Giau! Berlutut dan dengarkan Titah Sribaginda!"

Ni Keng Giau kalah gertak, apalagi ketika melihat kedua tangan Kim Seng Pa menjunjung tinggi segulung sutera kuning bercap kekaisaran. Terpaksa Ni Keng Giau berlutut dengan agak canggung. Sejak mencapai puncak kejayaannya, hampir-hampir ia lupa bagaimana caranya berlutut.

Kim Seng Pa puas, namun lebih puas lagi ketika membeber gulungan sutera kuning itu dan membaca huruf-huruf yang tertera di situ. Huruf demi huruf dibacanya keras-keras agar Ni Keng Giau jangan salah dengar, "Perintah Yang Dipertuan Sang Putera Langit! Ni Keng Giau terbukti telah memberi laporan palsu tentang jalannya perang Jing-hai. Karena itu pemberian gelar It-teng-kong dan wilayah Siam-sian serta Se-cuan dibatalkan. Namun mengingat jasa-jasanya yang cukup besar, ia masih diberi kesempatan untuk mengabdi kepada negara, dengan menjadi pelatih tentara di Han-ciu. Diperintahkan untuk segera."

Karena kagetnya, Ni Keng Giau menjadi lupa akan tata-tertib selama pembacaan Perintah Kaisar. Belum lagi Kim Seng Pa selesai membaca, Ni Keng Giau sudah melompat bangun dengan wajah pucat dan napas tersengal-sengal. Ditudingkannya telunjuk ke muka Kim Seng Pa sambil berteriak kalap, "Bohong! Bohong!"

Lalu ia menerjang seperti seekor anjing gila, kedua tangannya terjulur untuk mencoba merampas lembaran sutera kuning itu dari tangan Kim Seng Pa. Namun dalam hal ilmu silat, mana bisa Ni Keng Giau menandingi Kim Seng Pa? Gampang saja Kim Seng Pa berkelit sambil menyapukan kakinya, dan Ni Keng Giau kontan roboh terguling.

"Ni Keng Giau! Berani kau membangkang Titah Sribaginda?!" bentak Kim tapi anehnya juga mengandung rasa gemhira yang tidak kecil.

Bentakan itu seperti seember air dingin yang diguyurkan ke kepala Ni Keng Giau, memulihkan kesadarannya, meskipun perasaannya masih terombang-ambing hebat karena jiwanya benar-henar tidak siap menerima berita macam itu. Dengan tubuh menggigil dan wajah sepucat mayat, ia memaksa kembali berlutut untuk mendengarkan pembacaan Perintah Kaisar itu sampai selesai.

Kim Seng Pa benar-benar menikmati kepuasan yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya, la meneruskan membaca huruf-huruf yang sebenarnya tinggal sedikit, "....diperintahkan untuk segera berangkat ke tempat tugasnya yang baru. Sekian.”

Ketika Kim Seng Pa sambil tersenyum lebar menggulung lembaran perintah itu, Ni Keng Giau tidak lupa menyerukan penghormatan sesuai dengan peraturan, "Banswe... Banswe.....”

Suaranya menyayat hati, mirip Banswenya Kim Seng Pa waktu di Ling-he dulu. Beberapa saat lamanya Ni Keng Giau masih sulit bangkit dari berlututnya Jiwanya ambruk. Menjadi pelatih di Hang-ciu? Pelatih perajurit? Berarti tiap hari harus mandi keringat di alun-alun, makanannya adalah makanan ransum yang harus diantri di dapur tangsi.

"Ni Kau-thau (pelatih Ni)," terdengar Kim Seng Pa berkata, sementara wajahnya berseri-seri. "Terimalah Titah baginda ini. Tak kulupakan ucapan selamat yang sehangat-hangatnya untukmu."

Hanya dengan mengerahkan segenap kekuatan lahir-batinnya, Ni Keng Giau berhasil bangkit, lalu menerima gulungan sutera kuning itu. Kemudian Kim Seng Pa dan rombongannya pun meninggalkan rumah itu untuk menuju gedung Walikota dan menginap di sana.

Ni Keng Giau yang ditinggalkan itu masih sekian lama berdiri linglung kehilangan semangat dan masih memegangi gulungan sutera kuning itu. Ia bahkan tidak merasakan ketika ibunya memeluknya dari belakang sambil berurai air-mata. "Kuatkan hatimu, nak.”

Tiba-tiba Ni Keng Giau membanting kuat-kuat gulungan itu sambil berteriak, "Tidak mungkin Sribaginda mengeluarkan perintah ini karena dorongan kemauannya sendiri! Tidak masuk akal! Aku adalah orang yang paling dikasihinya, bahkan melebihi terhadap saudara-saudaranya sendiri! Akulah yang mengokohkan singgasananya pada saat ia masih diguncang oleh Pangeran In Te, Pak Kiong Liong, Siau-lim-pai, Hwe-liong-pang, kelompok pendekar Kang-lam, Jit-goat-pang, Pek lian-kau dan entah apalagi! Akulah yang menunjukkan kesetiaan tertinggi terhadapnya! Tak mungkin Sribaginda mengeluarkan perintah ini kalau tidak dihasut oleh bangsat-bangsat yang dengki hatinya! Aku harus kembali ke Pak-khia untuk mendengar penjelasan langsung dari Sribaginda!"

Sementara itu, ayah Ni Keng Giau dengan terburu-buru telah mengambil gulungan sutera yang dibanting itu sambil berkata dengan ketakutan, "Jangan kau lempar-lempar barang ini, anakku. Nanti bisa dijadikan bahan fitnahan untuk lebih menyudutkanmu oleh orang-orang yang tidak senang kepadamu."

"Tidak! Tidak! Sribaginda takkan menghukumku, karena akulah saudara seperguruannya, jenderal kesayangannya yang bertumpuk-tumpuk jasanya, siapa yang bisa menaklukkan Jing-hai baginya, kalau bukan aku?" teriak Ni Keng Giau kalap. "He, kalian dengar tidak? Ayo semuanya berlutut! Berlutut!"

Bentakan itu ditujukan kepada para pengawal serta bujang-bujang keluarganya yang berkerumun di halaman untuk "menonton" ribut-ribut itu. Ketika Ni Keng Giau membentak dengan beringas, mereka mundur-mundur ketakutan.

"Berlutut! Kalian dengar tidak?!"

Orang-prang di halaman itupun mulai berlutut, namun dengan sikap ragu-ragu. Maklum, setelah mendengar pembacaan Perintah Kaisar tadi, mereka tahu kalau bukan lagi berlutut kepada seorang calon rajamuda Se-cuan dan Siam-sai, melainkan cuma seorang pelatih, dan barangkali si pelatih inipun mulai kacau pikirannya.

Melihat orang-orang itu berlutut, Ni Keng Giau tertawa puas, "Lihat! Lihat! Semua masih tetap menyembahku, berarti aku tetap penguasa nomor dua di kekaisaran ini! Aku berkuasa membunuh siapapun, lihat buktinya!"

Dan sungguh diluar dugaan siapapun, bahwa Ni Keng Giau tiba-tiba menyambar sebuah kursi untuk dihantamkan kepada seorang bujang yang paling dekat berlututnya. Mampuslah si bujang itu. Yang lain-lain langsung bubar ketakutan tanpa menunggu aba-aba lagi, termasuk para pengawal yang tiap-hari oleh Ni Keng Giau dicekoki ajaran tentang disiplin baja.

"Nak, tenanglah... tenanglah..." kedua orang tua Ni Keng Giau membujuk-bujuk sambil memegangi lengan Ni Keng Giau.

Namun si anak, anak gila itu, mendorong mereka keras-keras sampai terhuyung-huyung sambil berteriak, "Orang-orang tua tak tahu diri! Siapa yang kalian panggil "nak"? Aku ini saudara angkat Sribaginda, mengerti?!"

Kedua orangtua itu masih beruntung bahwa Ni Keng Giau tidak menghantamkan kursi ke kepala ubanan mereka, namun hati mereka pedih melihat apa yang terjadi pada anak mereka. Kepedihan lebih dari hari-hari sebelumnya ketika anak mereka menjadi hantu penyebar bencana bagi penduduk Tan-liu.

Kembali Ni Keng Giau tertawa seram. Tiba-tiba tubuhnya sempoyongan lalu ambruk tak sadarkan diri. Buru-buru ayah Ni Keng Giau mengumpulkan para bujang yang kabur jauh tadi, untuk membantu menggotong tubuh Ni Keng Giau sampai ke kamar tidurnya.

Sehari penuh Ni Keng Giau "tidur". Ketika malam tiba, barulah ia membuka matanya. Meskipun ia tidak lagi berteriak-teriak kalap, tapi kedua orangtuanya tak berkurang rasa sedihnya, sebab wajah Ni Keng Giau begitu pucat, sepasang matanya nampak kosong dari semangat hidup.

Ketika seorang pembantu wanita masuk kamar dengan takut-takut untuk mengantarkan makanan, Ni Keng Giau tidak menggubrisnya, biarpun seharian belum makan. Bahkan tiba-tiba ia melompat dari pembaringan, merapikan jubah kebesarannya yang agak kusut karena selama tidur tidak dilepas, mengambil pedang di dinding dan menggantungkan-nya di pinggang, lalu hendak melangkah keluar kamar.

"A-giau. mau ke mana?" tanya ibunya cemas. "Ke Pak khia!"

"Tapi kau belum..... belum makan, nanti masuk angin dan..."

"Jangan mengatur aku!"

Si ibu nekad hendak membujuk, tapi si ayah khawatir kalau isterinya itu sampai dibacok oleh Ni Kong Giau, buru-buru merangkul isterinya sambil membisiki, "Dia sedang bingung, biarkan saja dulu. Dia belum bisa menerima kata-katamu, nanti kalau sudah tenang."

Sementara itu N i Keng Giau sudah sampai ke kandang kuda di belakang rumah. Seorang bujang yang tak sempat menghindari kedatangannya, cepat-cepat berlutut dengan ketakutan, "Ong-ya hendak apa di kandang kuda ini?" tanyanya.

Ketika Ni Keng Giau tidak menjawab dan cuma melototinya, bujang itu merasa tak ada perlunya menambah satu detikpun saat-saat penuh resiko itu. la lemparkan ember yang sedang dipegangnya sambil melompat bangun dari berlututnya, lalu kabur bagaikan kilat.

Ni Keng Giau tak peduli, la sendiri memasang pelana kuda, lalu menuntunnya keluar lewat pintu belakang dan menaikinya. Tidak peduli malam sudah tiba, angan-angannya tetaplah pergi ke Pak-khia. "Sribaginda harus memberi penjelasan yang memuaskan. Kalau tidak memuaskan aku akan berontak dan kalau perlu bertahta membentuk dinasti baru," geram-sambil berkuda. "Kekuasaan militer masih bisa kugerakkan dengan perintahku"

Sampai di pintu kota, pintu gerbang sudah tertutup rapat. Sekelompok perajurit sedang berkerumun santai. Ni Keng Giau lalu membentak mereka, "Buka pintu, cepat! Aku mau menghadap Sribaginda di Pak-khia sekarang juga!"

Kalau ini terjadi sehari sebelumnya, para perajurit itu dengan ketakutan tentu akan membukakan pintu. Tapi berita "penggembosan" Ni Keng Giau sudah terdengar merata di seluruh Tan-liu Kini para perajurit di pintu gerbang itu malah mentertawakannya. Selama beberapa hari, perajurit-perajurit itu kenyang dihina dan direndahkan oleh pengawal-pengawai Ni Keng Giau, dan kini mereka merasa mendapat kesempatan untuk membalas kejengkelan selama ini...
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 07

Kemelut Tahta Naga II Jilid 07

Karya : Stevanus S P

"Tepat. Kebanggaannya itulah yang harus diambil daripadanya, supaya ia merasa amat terhina. Angkat dulu tinggi-tinggi, lalu hempaskan ke bawah. Sekaligus juga untuk menunjukkan kepada siapa saja, betapa hebatnya seseorang, mati-hidupnya tetap tergenggam di tanganku!"

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Ketika mengucapkan ini, suara Kaisar Yong Ceng bergetar sengit. Maka tahulah Liong Ke Toh bahwa keponakannya yang jadi Kaisar ini masih terpengaruh kejengkelan dalam beberapa hari terakhir ini, saat nama Ni Keng Giau seolah memenuhi udara kota Pak-khia melebihi nama Kaisar Yong Ceng sendiri. Dan sekarang Kaisar agaknya ingin menunjukkan kalau dia berkuasa untuk sama sekali menghapus nama yang pernah jadi pujaan itu.

"Begitulah maksud hamba, Tuanku. "Apakah sore nanti Paman bisa menemui aku di Gi-si-pong?"

"Hamba selalu siap kapan saja, Tuanku."

* * * *

Tan-liu adalah sebuah kota kecil yang tenang dan damai. Roda waktu seolah berjalan lebih lambat di tempat ini, daripada di tempat-tempat lain. Itu sebuah kota yang barangkali akan terlupakan seandainya di kota kecil ini tak pernah dilahirkan seorang bernama Ni Keng Giau.

Tiba-tiba seolah ada angin topan menderu diatas kota kecil itu, kerita para pengembara yang melewati kota itu membawa kabar tentang Ni Keng Giau, jenderal penakluk Jing-hai, bergelar kbangsawanan It-teng-kong, calon mangkubumi di Siam-sai dan Se-cuan, calon saudara angkat Kaisar Yong Ceng, dan sebutan-sebutan dahsyatnya. Seluruh kota gempar dan tercengang.

Orang-orang membicarakannya di mana mana, dan bangga, karena Ni Keng Giau berasal dari Tan-liu. Lebih gempar lagi ketika mendengar berita lain, bahwa rombongan Ni Keng Giau akan lewat kota itu, menjemput sanak-keluarganya untuk diboyong ke Seng-toh, ibukota Se-cuan. tak kurang dari gubernur sendiri datang ke Tan-liu untuk menyiapkan penyambutan.

Hari yang diperhitungkan sebagai hari datangnya rombongan Ni Keng Giau pun tiba. Gubernur dan pembantuu-pembantu dekatnya sudah siap di depan gerbang kota Tan-liu. Sedang penduduk Tan-liu sendiri sudah berjejal-jejal di pinggir jalan, mulai dari pintu gerbang sampai ke rumah orang tua Ni Keng Giau yang tergolong sederhana di pusat kota kecil itu.

Tapi rumah sederhana itu sudah di dandani sebaik-baiknya, sebagai luapan rasa bangga para penghuninya. Bujang-bujang sudah memakai baju-baju yang paling bagus, biarpun tidak seragam. Wajah seisi rumah berseri-seri dan lak henti-hentinya membicarakan Ni Keng Giau yang menghadiahkan kebanggaan begitu hebat buat mereka.

Bocah nakal yang dulu gemar memimpin teman-teman kecilnya untuk main perang-perangan dengan pedang-pedang kayu atau tombak berujung kain itu, kini akan kembali dalam kedudukan yang begitu tinggi, tak terbayangkan dulu. Di antara orang-orang di pinggir jalan, tak sedikit teman sepermainan Ni Keng Ciau semasa kecil dulu. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan rombongan. Mereka siap melambaikan tangan dan meneriakkan salam untuk teman yang beruntung itu. Ah, alangkah menyenangkan nanti.

Rombongan tiba. Gubernur sendiri menyambut dengan berlutut, lalu mengiringi rombongan itu masuk ke kota. Dan sorak-sorai orang-orang penyambut di tepi jalanpun menggelegar seolah hendak meruntuhkan langit, ketika mereka melihat barisan pengawal berkuda yang berseragam indah, dengan bendera kebesaran yang berkibar-kibar, mengiringi sebuah kereta berkilauan memantulkan cahaya matahari.

Banyak bekas teman N i Keng Ciau melonjak-lonjak kegirangan dan memanggil-manggil, "A-giau! A-giau!"

Namun Ni Keng Ciau yang duduk gagah dalam keretanya itu menjadi tidak senang melihat sambutan itu. Dari jendela kereta dilihatnya orang-orang yang melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak, yang dalam pandangan Ni Keng Ciau amat tidak pantas. Maka dia pun menggeram jengkel, "Dan. Orang-orang ini kenal adat atau tidak?"

Seorang pengawal yang berkuda di samping kereta, mendengar gerutuan itu namun kurang jelas. Cepat ia mendekatkan diri ke jendela kereta dan bertanya dengan hormat, "Apakah Ong-ya memerintahkan sesuatu?"

"Ya. Orang-orang udik ini belum tahu cara yang sopan untuk menyambut kedatangan seorang bangsawan tinggi...!”

Seringai khas para penjilat muncul diwajah pengawal itu. ia segera, tahu apa yang dimaui junjungannya ini. “Perkenankanlah hamba mendidik mereka, ong-ya”

"Lakukanlah!"

Pengawal itu menderapkan kudanya ke depan umuk menjajari kuda si komandan barisan pengawal yang ada di paling depan, komandan itu di bisikinya tentang keinginan Ni Keng Ciau, dan mengangguk anggukkan kepalanya. Setelah itu, si komandan tiba-tiba menjadi beringas. Kudanya diterjangkan ke kerumunan penduduk di pinggir jalan sambil mengayun-ayunkan cambuknya, ia membentak-bentak bengis,

"Berlutut! ‘Berlutut! Kalian kira ini arak-arakan Toa-pek-kong?! Berlutut! Sambut dengan pantas Yang Mulia It-teng-kong, pemegang kuasa kedua di seluruh kekaisaran yang hanya dibawah Sang Putera langit sendiri! Ayo berlutut, orang-orang tidak tahu adat!"

Tindakan si komandan pengawal itu segera diikuti seluruh anggota pengawal lainnya, mereka berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih galak, siapa yang paling pantas menjadi pengawal "orang kedua di kekaisaran”

Penduduk Tan-liu di kedua tepi jalan kontan menjadi gempar dan panik, wajah-wajah gembira menjadi kaget dan ketakutan. Tangan-tangan yang melambai kini ditutupkan ke kepala atau muka, untuk melindungi dari cambukan para pengawal. Jeritan wanita dan anak anak terdengar riuh rendah ketakutan menghindari terjangan kaki-kaki kuda-kuda kekar itu.

Keributan berlangsung tidak lama, sebab para pengawal Ni Keng Giau menjalankan perintah tuan mereka dengan keras tanpa ragu- ragu. Para penyambut di pinggir jalan yang tak sempat melarikan diri, akhirnya berhasil dipaksa berlutut semuanya. Kesunyian mencengkam, menggantikan gejolak kegembiraan beberapa menit sebelumnya. Kini para penyambut seperti jangkrik disiram air, tak ada yang berani bercuit. Mengangkat kepala pun tidak berani, khawatir kalau kepala mereka dicambuk atau ditendang oleh para pengawal itu.

"Nah, begini barulah memadai......"

Ni Keng Giau tersenyum puas dalam keretanya. Ketika ia menjenguk keluar lewat jendela kereta, senyum puasnya pun makin lebar. Tak ada lagi orang melompat-lompat, melambaikan tangan sambil berteriak-teriak memanggil-manggil nama kecilnya. Yang nampak hanya deretan punggung-punggung yang hampir rata dengan tanah, dan kepala-kepala yang tertunduk dalam-dalam. "Bagus. Begini barulah kelihatan sedikit berbudaya, tidak seperti orang-orang liar."

Dengan rasa puas, Ni Keng Giau menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya dalam kereta. Namun entah apa lagi yang terjadi, tiba-tiba terdengar pengawal-pengawal di bagian depan berteriak-teriak dengan gusar.

"He, siapa yang berani menyeberang jalan dan tidak mau berlutut? He, berhenti! Berhenti! Dengar tidak? Kurang ajar, tangkap dia!"

Kiranya selagi semua orang berlutut, malah muncul seorang pemuda yang seenaknya berjalan menyeberangi jalan, kelihatannya memang sengaja menantang perintah Ni Keng Giau. Seorang pemuda yang berpakaian gaya Liau-tong, propinsi timur laut yang sepanjang tahun berselimut salju. Bajunya yang sederhana itu dirangkapi dengan rompi kulit binatang berbulu, kepalanya memakai topi bulu binatang pula.

Usianya sekitar dua puluh tahun, kulitnya terlalu putih untuk orang-orang pedalaman Tiong-goan, begitu pula bola matanya berwarna coklat. Dengan demikian, ditilik dari tampang maupun caranya berpakaian, pemuda ini menunjukkan benar-benar berasal dari Liau- tong, tempat asal orang Manchu.

Ketika para pengawal Ni Keng Giau meneriakinya, pemuda itu tidak cepat-cepat berlutut dengan ketakutan, malahan berdiri kokoh di tengah jalan dongan sikap menantang. Sepasang matanya menyemburkan api kemarahan, karena tadi ia sudah melihat bagaimana para pengawal bertindak bengis terhadap penduduk, sehingga banyak penduduk yang luka-luka.

Si Komandan Pengawal murka sekali melihat sikap pemuda itu. Kudanya menderap deras ke depan, berbarengan dengan cambuknya terayun ke wajah pemuda Liau-tong itu. Namun si komandan kaget ketika merasa cambuknya cuma membelah udara, sebaliknya malah lengan dan pinggangnya tercengkeram oleh sepasang tangan yang kokoh kuat. Berikutnya, ia terangkat dari pelana kudanya, "terbang" satu detik lalu terhempas setengah mati ke bumi.

Para pengawal lainnya tercengang. Namun ketika melihat pemuda itu memutar tubuh dan hendak berlalu begitu saja, merekapun mengejar sambil berteriak-teriak. "Kejar dia!"

"Dia harus mendapat hukuman berat...!" Pemuda itu berlari belasan langkah menjauhi penyerbuan berkuda itu, namun tiba-tiba berbalik dan melompat dengan tangkas, seperti seekor garuda terbang menerjang lawan-lawannya dari udara. Sepasang tangan dan sepasang kakinya bergerak tangkas nyaris tak terlihat, dan beberapa pengawal terpelanting dari kuda masing-masing. Keadaan jadi kacau tak terkendalikan.

Mendapati lawan yang begitu tangguhnya, para pengawal memutar kuda menjauhi pemuda itu, lalu membentuk jajaran rapat dalam jarak belasan langkah dari pemuda itu. Tahu-tahu mereka telah mengambil bedil yang tadinya diselipkan di pelana kuda mereka. Dengan cekatan mereka mulai memasukkan bubuk peledak lewat moncong bedil yang (di jaman itu) berbentuk seperti terompet kecil, memadatkannya dengan sebatang kawat tebal, mengisikan peluru berbentuk kelereng besi, memasang sumbu dan menyalakannya di pangkal larasnya. Semuanya dilakukan dengan cepat, karena sudah terlatih.

Ketika moncong senapan-senapan itu diarahkan kepadanya, pemuda Liau Tong itu sadar hahwa ia tak mnngkin melawan sekian hanyak senapan. Karena itu, tiba-tiba ia mengenjot tubuhnya dan melompat keatap rumah di pinggir jalan, berbarengan dengan meledaknya senapan-senapan itu. Ada untungnya juga penduduk Tan-liu tadi dipaksa berlutut, sehingga kini mereka luput dari hajaran kelereng-kelereng besi panas yang menyembur dari moncong senapan-senapan itu.

Sementara itu, Ni Keng Giau tidak tahu persis apa yang terjadi di ujung barisannya. Cuma terdengar teriakan pengawal-pengawalnya, lalu ada letusan senapan segala. Dari jendela kereta ia lalu menanya seorang pengawal yang terdekat di luar kereta, “He, ada apa?"

"Ada sedikit gangguan kecil di depan, Ong- ya."

Namun mata Ni Keng Giau tiba-tiba menyemburkan api kemarahan, "Gangguan apa? Ada orang berani main gila di depanku? Apakah pengacau itu tidak tahu siapa aku?"

"Tapi perusuhnya sudah lari Ong-ya!”

"Apa? Perusuh itu berhasil lari? jadi pengawal-pengawalku tidak sanggup menangkap orang yang telah berani memandang rendah kepadaku itu? Harusnya dia ditangkap lalu dipaku di pintu gerbang kota dan dijemur sampai mati, supaya semua orang tahu bagaimana akibatnya kalau berani menentangku!"

Pengawal yang diajak bicara itu makin gemetar suaranya, "Orang itu lari seperti terbang, Ong-ya, bisa melompati rumah. Kwa Thong-leng (komandan Kwa) tak bisa mengejarnya, karena cidera terjatuh dari kuda."

Kemarahan Ni Keng Giau memuncak, ia tidak mau menganggap hal itu sekedar "gangguan kecil" menurut istilah pengawalnya itu. Itu adalah hal sangat memalukan yang dianggap menantang kehormatannya, sangat membuatnya kehilangan muka. Bukankah terjadinya di hadapan ribuan pasang mata penduduk Tan-liu, justru pada saat ia memamerkan betapa besar kekuasaannya?

"Suruh Kwa Seng-tek kemari!" teriaknya.

Si pengawal lalu cepat-cepat memangil si komandan. Si komandan bernama Kwa Seng Tek itu melangkah mendekati pintu kereta dengan langkah terhuyung-huyung, sambil menyeringai kesakitan dan menekan-nekan pinggangnya sendiri dengan telapak tangan. Sikap itu membuat Ni Keng Giau makin malu dan marah. Kenapa tidak bisa sedikit menahan sakit dan bersikap gagah sebagai komandan pengawal Bangsawan lt t eng-kong?

Begitu tiba di depan pintu kereta yang sudah terbuka, Kwa Seng lek melapor dengan sikap hormat campur takut, tapi lebih banyak takutnya, "Hamba mohon ampun, Ong-ya. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelidiki dan menangkap perusuh tadi, serta…"

"Biar dilakukan orang lain saja," suara Ni Keng Giau dingin sekali. Pedang liong-hong Po-kiam anugerah Kaisar Yong Ceng itu dihunusnya secepat kilat dan berkelebat keluar pintu, dan menggelundunglah batok kepala Kwa Seng Tok. Pedang yang basah oleh darah itupun menghilang kembali ke dalam kereta, seperti lidah ular yang masuk kembali ke mulut ular. Lalu dari dalam kereta terdengar suara Ni Keng Giau keras, "Cek Thai-hou!"

Dengan gemetar, Cek Thai-Hou, si wakil komandan, maju ke depan pintu kereta setelah melangkahi mayat Kwa Seng tek, lalu berlutut, "Hamba di sini, Ong-ya."

"Sekarang kau menjadi komandan. Wakilmu kau pilih sendiri!"

"Hamba, Ong-ya."

"Tahu tugasmu yang pertama?"

"Hamba, Ong-ya. Hamba harus mencari perusuh tadi sampai ketemu, agar mendapat hukuman seberat-beratnya," sahut Cek Thai Hou dengan hormat sambil dalam hatinya berhitung masih berapa hari lagi kiranya batok kepalanya bertengger dikepalanya?

"Nah, jalan lagi!"

Maka iring-iringan bergerak dibawah komandan yang baru, sementara si komandan lama dibiarkan tergeletak begitu saja dengan tubuh dan kepala yang terpisah. Orang yang beberapa saat sebelumnya masih berteriak- teriak garang sambil mencambuki penduduk, kini tidak bisa apa-apa lagi. Tidak ada anggota pengawal yang berani menanyakan mau diapakan mayat itu, khawatir kalau Ni Keng Giau jadi tidak senang apa bila ada anak-buahnya yang usil mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.

Peraturan militer yang amat keras, yang dulu pernah diterapkan dalam angkatan perang penakluk Jing-hai, masih tetap diterapkan oleh Ni Keng Giau demi "menjaga kewibawaan". Antara atasan dan bawahan tidak boleh kelewat akrab, apalagi kalau bawahan sampai berani cengengesan.

Setelah rombongan itu lewat jauh, barulah penduduk yang berlutut itu berani bangkit. Dengan wajah ketakutan mereka mengerumuni mayat Kwa Seng Tek, lalu mulai berbincang dengan ribut. "Gila, tak kusangka semudah ini sekarang A-giau membunuh orang, padahal dia dulu itu anak yang manis."

"Kita semua telah salah sangka, karena mengira dia masih seperti dulu. "Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang."

"Ia benar, waktu bisa mengubah apapun. Bukankah ibu mertuamu itupun main.... eh, terpulang dicakari monyet peliharaan yang dulunya begitu disayang-sayang?"

"A-giau mirip monyet itu. Kecilnya lincah dan lucu, besarnya ganas."

"He, jangan sekeras itu bicaranya. Kalau sampai suaramu didengarnya, bukan kau saja yang dibunuh, tapi mungkin juga kita semua yang ada di sini!"

"Mudah-mudahan dia secepatnya angkat kaki dari kota ini. Dia tidak patut dibanggakan, setinggi apapun pangkatnya."

Tiba-tiba seorang pemuda mendesak di antara kerumunan orang itu, langsung menubruk dan menangisi tubuh Kwa Seng Tek. "Toa-ko.... Toa-ko, kenapa dulu kau tidak mendengar nasehat ayah dan ibu agar fidak mengabdi kepada pembesar? Sekiranya kau tidak tamak akan kedudukan dan menuruti nasehat ayah ibu, tentu tidak seperti ini nasibmu.”

Lalu menghebatlah tangis pemuda itu. Ternyata, komandan pengawal yang naas itu juga orang kelahiran Tan liu. Keberhasilannya menjadi "orang dekat" Ni Keng Giau antara lain juga karena berasal dari satu kampung halaman, alasan yang terjadi di manapun dan kapanpun. Namun alasan itu toh tak bisa menyelamatkan lehernya dari sabetan pedang Ni Keng Giau, dan pemuda yang menangisinya itu adalah adiknya.

Kesedihan si adik kemudian berubah menjadi kemarahan. Ia bangkit dan mengacungkan tinju ke arah kereta Ni Keng Giau yang sudah jauh, sambil ber teriak keras- keras, "Ni Keng Giau! Tunggulah pembalasanku!"

Seandainya ayah dan paman dari pemuda iiu tidak segera muncul untuk mencegahnya, tentu pemuda itu sudah memburu kereta Ni Keng Giau. Setengah membujuk setengah menyeret, setengah marah setengah pasrah, mereka mencegah pemuda itu agar tidak melakukan perbuatan yang membahayakan. Biarpun mereka sedih juga melihat mayat Kwa Seng Tek, namun sebagai rakyat kecil tak mungkin punya peluang untuk membalas terhadap Ni Keng Giau. Akhirnya, hanya dengan duka-cita yang mendalam, mereka pulang membawa mayat yang dua potong itu.

Sementara si "perusuh" yang gagal ditangkap pengawal-pengawal Ni Keng Giau tadi, ternyata belum pergi jauh. Dari sebuah sudut jalan, ia melihat digotongnya mayat Kwa Seng Tek. "Seandainya aku tidak bertindak dengan gegabah, tentu orang itu sekarang masih hidup," katanya dalam hati, agak menyalahkan diri sendiri. Namun muncul pikiran lain yang membuat rasa bersalah berkurang banyak. "Tapi orang itu tidak segan-segan memukuli rakyat yang tak bersalah untuk menjilat kepada atasannya. Makin lama dia hidup, makin lama pula rakyat dibuatnya menderita."

Dan di seberang jalan tempat pemuda itu berdiri, ada pula seorang lain yang juga memperhatikan peristiwa itu, namun dengan pikiran dan perasaan yang lebih dingin. Seorang lelaki setengah abad namun masih bertubuh tegap, sinar matanya tajam bahkan cenderung mengerikan, namun tersamar dalam bayangan topi rambutnya yang sengaja dipakai dengan ditekan rendah. Pakaiannya sederhana, tak ubahnya orang awam lainnya, dan tidak kelihatan membawa senjata.

Tadi ketika semua orang dipaksa berlutut, orang ini pun ikut berlutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam, takut kalau wajahnya dilihat oleh Ni Keng Giau. namun ulah si "perusuh" tadi juga tidak lolos dari pengamatan diam-diamnya.

"Asyik juga nonton Ni Keng Giau dengan lagak barunya," pikirnya sambil menyeringai sendiri. "Seperti monyet dalam tontonan topeng monyet. Tapi ini monyet itu didandani seperti manusia, dan juga bisa menirukan beberapa tingkah laku manusia, tapi monyet ya tetap monyet. Betapapun pintarnya tak kan berubah menjadi manusia. Begitu juga Ni Keng Giau. Bagaimanapun lagaknya, takkan mengubah darah keturunan rakyat jelata yang mengalir ditubuhnya. Akulah yang benar-benar berdarah bangsawan murni, biarpun saat ini harus hidup dalam buronan si bangsat In Ceng (nama kecil Kaisar Yong Geng) yang takkan puas sebelum mengunyah tulangku, tapi kelak kalau pendukungku sudah terkumpul, tibalah saatnya aku bergerak merebut tahta, dan aku yang lebih pantas disujudi orang daripada monyet dalam kereta tadi."

Wajah di bawah naungan topi rumput yang lebar itupun menyeringai sekejap, puas menikmati angan-angannya sendiri. Matanya yang tajam tiba-tiba melihat si pemuda yang tadi berkelahi dengan para pengawal Ni Keng Giau. Si topi rumput ini merasa tertarik dan cepat-cepat menyeberangi jalan untuk menyusul pemuda itu. Pikirnya, "Pemuda itu tadi sudah memperlihatkan ilmunya yang hebat, menilik pakaiannya, agaknya diapun orang Manchu seperti aku. Baiklah kucoba mengajaknya berteman, siapa tahu kelak ada gunanya."

Ketika pemuda itu berbelok menyusup kesebuah gang kecil, si topi rumput menyusulnya dan mempercepat langkahnya. Pemuda itu agaknya merasa kalau dibuntuti, maka di lorong itu ia tiba-tiba membalikkan tubuh secepat kilat. "Apa maksudmu membututi aku sejak tadi" tegurnya waspada.

Si topi rumput tertawa dan menjawab, "Tadi kulihat kau mengobrak-abrik kawanan pengawal Ni Keng Giau dengan gampang, begitu pula kulihat caramu melompat ke atas atap rumah, langsung aku tahu kau seorang pendekar yang tangguh yang pantas kujadikan sahabat. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu dan darimana asalmu, sobat?"

Pemuda yang ditanyai itu memang masih hijau dalam pengalaman. Baru satu tahun kurang ia meninggalkan Liau-tong untuk masuk kepedalaman Tiong-goan. Nyalinya juga besar, maka tanpa takut ia menjawab, "Namaku Wan Lui. Nyalinya gunung dari lereng Tiang-pek-sen."

Si topi rumput lalu tertawa lebar dan membuka topi rumputnya, sehingga tampak makin jelaslah raut wajahnya yang berbentuk agak persegi, dihiasi jenggot pendek campuran warna hitam putih, cocok dengan usianya yang ditaksir sekitar empatpuluh lima tahunan. Matanya seperti memancarkan kemauan yang hebat, dan hidungnya besar seperti singa.

"Berani dari Liau-tong kan?" sahutnya gembira. "Berarti Wan-heng (saudara Wan) ini satu suku denganku, sebab leluhurku juga berasal dari Liau-tong."

Wan Lui jadi gembira. Dalam pengembaraannya yang kesepian, siapa tidak gembira kalau tiba-tiba menemukan seorang yang mau menjadi temannya? “Siapa namamu, sobat?" ia balas bertanya.

"Namaku.... em.... In Kiu Liong. Untuk mengakrabkan kita, bagaimana kalau kau panggil aku Toa-ko (kakak) saja, biarpun umurku lebih dua kali lipat dari umurmu?"

"Baik, Toa-ko," Wan Liu tanpa pikir panjang menyambutnya. "Setuju tidak, kalau persahabatan kita ini di rayakan dengan minum-minum?"

"Setuju sekali. Di mana?"

"Di kota sekecil ini tidak ada arak baik yang dijual orang, tapi ada warung teh yang lumayan di dekat pasar. Bagaimana kalau kita ke sana?"

Begitulah, kedua sahabat baru itu-pun berjalan mencari tempat minum. Sepanjang jalan, Wan Lui agak heran melihat gerak-gerik In Kiu-liong yang seperti takut dilihat orang. Topinya dipakai rendah-rendah, berjalannya lebih sering menunduk, namun dari bawah topi itu matanya selalu tajam mengamati orang- orang yang lalu-lalang di jalanan.

Kewaspadaan yang kelewat batas, komentar Wan lui dalam hati. "Padahal mestinya aku yang harus bersikap demikian, sebab aku baru saja memukuli pengawal pengawal pembesar congkak tadi."

Tak lama kemudian, mereka sudah duduk diwarung teh dekat pasar, menghadapi dua poci teh wangi dan dua piring kacang goreng di meja. Percakapan dalam suasana santai dan sering diselingi tertawa, biarpun In Kiu Liong tiap kali kelihatan melirik waspada ke arah jendela atau pintu.

"Ada apa, Toa-ko?"

"Oh, tidak. Tidak. Wah, tehnya betul-betul wangi."

Dalam percakapan berikutnya, biar pun tetap bersuasana santai, namun In Kiu Liong secara halus berusaha, mengorek lebih banyak keterangan tentang diri Wan Lui. Juga sambil berusaha mempengaruhi agar Wan Lui berkesan baik terhadapnya. Sebaliknya Wan Lui itu benar-benar polos, benar-benar anak gunung sejati.

“llmu meringankan tubuhmu hebat, Wan-heng." sanjung In Kiu Liong. "Cara mu melompat ke atap rumah tadi begini cepat dan ringan, tak mungkin dilakukan oleh sembarangan orang. Kalau aku boleh mengetahuinya, siapa gurumu?"

"Aku memanggilnya Kakek, tapi bukan karena hubungan keluarga. Hanya seorang lelaki tua yang begitu baik kepadaku, sehingga kami merasa benar-benar seperti kakek dan cucu."

"Siapa namanya?"

Wan Lui ragu-ragu untuk menjawab terus-terang. Orang yang ditanyakan itu adalah seorang bekas jenderal kerajaan, namun kemudian menjadi buronan pemerintahan Kaisar Yong Ceng. Karena itu, menyebut namanya kepada seorang yang dikenal baru dalam waktu kurang dari satu jam, betapapun akrabnya orang itu, masih terasa berat bagi Wan Lui. "Maaf, Toa-ko. Kakek pernah berpesan kepadaku, agar setelah aku berada di daratan tengah ini, aku tidak sembarangan menyebut namanya. Kata kakek, bisa menimbulkan kesulitan buat diriku sendiri.”

Jawaban macam itu malah mengobarkan lebih hebat rasa ingin tahu dalam hati In Kiu Liong. Namun ia pun sadar, kalau terus mendesak dengan pertanyaannya, malah bisa menimbulkan rasa tidak senang Wan Lui. Maka ia cuma membatin dalam hati. "Eh, bocah gunung ini mau main rahasia-rahasiaan segala denganku? Baik. Asal ada kesempatan melihat jurus silatnya barang sepuluh jurus, pasti aku akan mengenali asal-usulnya.”

Begitu yang dipikirkan, lain pula yang keluar dari bibirnya, ”Aku minta maaf untuk pertanyaan tadi. Kalau memang Wan-heng sulit mengatakannya, tidak apa-apa. Tidak akan mempengaruhi persahabatan kita.”

“Terima kasih, Toa-ko. Mari minum.”

Tengah mereka berdua makan-minum sambil ngobrol dengan asyik, mendadak dari luar warung itu menerjang masuk sekelompok pengawal Ni Keng Giau. Jumlahnya hampir duapuluh orang. "Itulah si perusuh yang membuat Ong-ya tersinggung! Tangkap dia!” komandan regu berseru sambil menuding Wan Lui.

Dandanan Wan Lui yang khas daerah Liau-tong itu memang gampang dikenali, berbeda dengan pakaian penduduk setempat. Di seluruh kota Tan-liu saat itu, barangkali hanya ada satu orang yang berdandan macam itu. Lalu pengawal-pengawal Ni Keng Giau itu menyerbu kedalam warung, sambil menunjukkan betapa berkuasanya mereka dengan menendangi perabotan warung sehingga jungkir-balik semua, dan membuai tamu-tamu di warung itu jadi kabur semua. Kebanyakan belum membayar.

Namun Wan Lui dan In Kui Liong tetap duduk dengan tenang. Bahkan tangan mereka tidak berhenti menyentilkan butir-butir kacang goreng ke dalam mulut mereka, diselingi menghirup teh wangi. Kemudian Wan Lui menoleh ke arah para pengawal iiu dan bertanya, "Tuan-tuan yang terhormat, aku kalian sebut perusuh, tapi apa salahku? Dalam perjalananku ribuan li, belum pernah seingatku, aku melanggar undang-undang Kerajaan. Kenapa kalian hendak menang kap aku?"

"Jangan banyak cakap. Kau sudah membuat Ong-ya gusar dan harus kami tangkap untuk meredakan kegusarannya!"

"Aneh...." kata Wan Lui sambil mengunyah kacang goreng. "Sejak kapan orang yang menyeberang jalan saja harus kena hukuman? Kalau kalian memukuli orang-orang tak bersalah di pinggir jalan karena mereka tidak tahu harus berlutut, itu melanggar hukum atau tidak?"

Komandan regu itu tak mampu menjawab, maka In Kui Liong lah yang menjawab, "Sejak kapan menyeberang jalan dianggap bersalah? Ya sejak kepala Ni Keng Giau melar sebesar gentong. Sejak dia merasa dirinya jadi orang berpangkat tinggi dan boleh semaunya menghukum orang!"

Hari itu, seluruh penduduk Tan-liu sedang dicengkam ketakutan hebat oleh kedatangan Ni Keng Giau. Setiap orang yang takut mendapat kesulitan harus menjaga mulutnya baik-baik. Maka ucapan In Kiu Liong itu memang amat mengejutkan.

Si komandan pengawal segera memerintahkan anak-buahnya, "Tangkap mereka!"

Wan Lui bangkit dari duduknya sambil berkata kepada In Kiu Liong, "Toa-ko, urusan ini timbul karena ulahku, jadi biar aku yang membereskannya!"

In Kiu Liong mencomot segenggam kacang goreng sambil menjawab, "Baik, Wan-heng. Aku yakin dengan kepandaianmu yang hebat, kecoak-kecoak ini takkan mampu menyulitkanmu!"

Begitulah In Kiu Liong terus sengaja memanaskan hati pengawal-pengawal Ni Keng Giau itu agar segera berkelahi dengan Wan Lui. Dan ia dapat mengamati jurus-jurus silat Wan Lui untuk mengetahui alirannya.

Wan Lui yang lugu itu sama sekali tidak merasakan maksud tersembunyi In Kiu Liong itu. Kepada para pengawal, Wan Lui berkata, "Kalau mau melawanku mari keluar dari sini. Jangan sampai menimbulkan kerusakan dan kerugian pada orang tak bersalah."

"Kalau diluar, tentu kau akan melompat ke atap dan kabur seperti tadi, bukan?" ejek si komandan pengawal. "Jangan harap aku akan termakan tipuan gombalmu, bocak busuk!"

Lalu komandan regu itu mendahului bertindak. Ia bersenjata sebatang tombak panjang. Tangkai tombak melakukan serangan gertakan ke arah kepala, namun serangan sebenarnya ialah ujung tombak yang hendak meluncur ke bawah untuk memaku telapak kaki Wan Lui dengan tanah.

Gerak tipu itu bagus juga, tapi Wan Lui berhasil menghindarinya dengan undur selangkah. Namun Wan Lui harus cepat-cepat menunduk pula untuk menghindar tikaman ke arah leher. Ternyata perwira ini cukup tangkas dalam bermain tombak.

Melihat pemimpin mereka sudah turun tangan, para pengawal pun serempak mengembut maju. Maka Wan Lui segera mendapatkan hujan serangan dari segala arah. begitu rapat dan tak henti-hentinya, sedang In Kui liong sudah siap melihat gerak-gerik silat dari aliran yang mudah-mudahan dikenalinya.

Ternyata baik para perajurit maupun In Kui Liong sama-sama kecewa, sama-sama tidak mendapat apa-apa. Wan Lui cuma menunjukkan gerak-gerak sederhana seperti menghindar, menggeliat, menunduk, melompar, dan meskipun ruangan di situ sempit namun Wan Lui bisa bergerak seperti lalat di sela-sela lawan-lawannya.

Para pengawal Ni Keng Giau tak berhasil mengenainya dengan senjata, sedangkan In Kiu Liong tak berhasil mengenali aliran silat Wan Lui, karena gerakan-gerakan itu ada di semua perguruan. Tapi biarpun nampak sederhana, tidak sembarangan pesilat bisa melakukannya segesit Wan Lui. Setelah sekian lama Wan Lui belum juga memperlihatkan jurus khas perguruannya, In Kiu Liong menjadi tidak sabar, lalu berseru, "Wan-heng ini bukan saatnya bermain-main. Kalau kecoak-kecoak itu kedatangan teman-teman mereka lebih banyak lagi, kita akan repot."

"Baik, Toa-ko." Ketika mengucapkan kata kata itu, Wan Lui tengah merunduk untuk menghindari sabetan sebilah pedang, namun tiba-tiba tubuhnya melambung dan menendang secepat kilat. Penyerangnya tadi terlempar dan pedangnya menancap di belandar atap. Selanjutnya, gerakan Wan Lui ni secepat kilat dalam membagi-bagikan serangan. Tiap langkahnya, lompatannya Wan lui membuai lawan-lawannya bertumbangan. entah dipukul, ditendang atau dibanting.

Perlahan-lahan In Kiu Liong mulai mengenal pola serangan itu, dan tiba-tiba punggungnya pun basah oleh keringat dingin karena teringat seorang tokoh yang ditakutinya. "Ah, bocah gunung ini memainkan Thian-liong kun-hoat (silat Naga Langit). Kalau begitu, bisa jadi gurunya adalah Pak Kiong liong. Pantas juga kalau dia enggan menyebut nama Pak Kiong Liong terang-terangan, sebab Pak Kiong Liong memang seorang buronan pemerintah yang bernilai tinggi."

Pikiran tentang Pak Kiong Liong sudah membuat hati In Kiu Liong tergetar kecut. Sekilas pikirannya mulai bercabang, akan terus mendekati Wan Lui, atau harus menjauhinya demi keamanan dirinya? Akhirnya ia memutuskan, "Aku akan memperalat bocah gunung ini sejauh tidak membahayakan nyawaku. Dan bocah ini tidak boleh mengetahui siapa diriku sebenarnya,"

Sementara itu, Wan Lui benar-benar telah merobohkan semua lawannya, termasuk komandannya pula. Mereka bergelimpangan sambil merintih-rintih kesakitan. "Selesai, Toa-ko," kata Wan lui sambil tersenyum.

In Kiu l iong bangkit sambil memasang kembali topi rumputnya yang lebar. Katanya, "Kau hebat, Wan-heng, tapi kita harus segera pergi dari sini dan kalau perlu keluar kota. Keempat tangan kita tak mungkin melawan ratusan pasang tangan anjing-anjingnya Ni Keng Giau yang bakal membanjiri tempat ini."

Sekilas Wan Lui melihat pemilik warung kecil itu berjongkok ketakutan di sudut. Wan Lui jadi iba karena tahu warung-warung macam itu biasanya tak punya modal cadangan, padahal warungnya saat itu sudah berantakan. Wan Lui ingin mengganti kerugian, tapi cuma mengantongi sedikit uang, maka tanyanya kepada In Kiu Liong, “Toa-ko, ada uang?"

"Ada.... ada." sahut In Kiu Liong sambil mengeluarkan dan membuka kantong uangnya, sekilas nampaklah gemerlapnya keping-keping emas dan perak dalam kantong itu, bahkan ada juga sebutir dua permata yang mahal. Tapi yang dikeluarkan In Kiu Liong dari kantong itu hanyalah uang recehan seharga pas untuk poci teh dan dua piring kacang goreng tadi. Soal ganti rugi kerusakan warung, sama sekali tidak masuk perhitungannya.

Melihat In Kiu Liong hendak menyimpan kantongnya kembali, terpaksa Wan lui harus mengutarakan maksudnya, 'Toa-ko, mestinya pemilik warung ini mendapat ganti rugi dari diriku. Tapi karena uangku tidak cukup, tolong pinjami dulu."

Namun In Kiu Liong tetap memasuk kan kantong uangnya ke balik baju, sambil menjawab tanpa perasaan, "Tiap orang dagang punya hari naasnya masing masing. Ayo pergi, Wan-heng. Biar orang itu nanti menagih ganti rugi kepa da N i Keng Giau."

Seolah-olah mengusulkan suatu jalan keluar, namun jalan keluar yang tidak mungkin ditempuh, mana mungkin si pemilik warung berani menagih Ni Keng Giau. Dengan perasaan agak mendongkol terhadap In Kiu Liong, Wan Lui menguras habis isi kantongnya sendiri yang tidak seberapa, semuanya diletakkan di meja sambil berkata kepada si tukang warung. “Maaf, pak, aku ingin mengganti untuk semua kerugian bapak, tapi hanya ini yang kupunyai. Kelak aku akan datang lagi untuk menutup kekurangannya."

Dan kepada In Kui Liong, Wan Lui berkata, "Toa-ko, sampai jumpa lagi."

In Kui Liong cepat-cepat mengejar dan mencegah, "Nanti dulu, Wan-heng. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu."

Tanpa menggubris, Wan Lui sudah melangkah dengan cepat di luar warung. In Kiu Liong juga mempercepat langkah untuk menyusulnya, "Wan-heng, melihat jurus-jurus silatmu tadi, aku menerka bahwa gurumu yang kau panggil kakek itu adalah Goan-swe Pak Kiong Liong."

Sebenarnya sikap pelit In Kiu Liong terhadap pemilik warung tadi membuat Wan Lui agak kecewa. Tapi ketika mendengar disebutnya nama Pak Kiong Liong, perhatian Wan Lui jadi tertarik dan ia pun menghentikan langkah. "Apakah Toa-ko mengenal kakek Pak Kiong Liong?"

Tujuan Wan Lui meninggalkan Liau-tong masuk ke Tiong-goan memang untuk mencari gurunya itu. tidak heran ketika mendengar In Kiu Liong menyebutkannya, dia segera tertarik.

In Kiu Liong berjalan mendekat lalu menepuk-nepuk pundak Wan lui, sambil melepaskan kata-kata penjeratnya, "Wan heng, aku dan gurumu itu bukan hanya kenal, tapi bahkan satu garis perjuangan. Karena itu, kitapun bisa di bilang sebagai teman seperjuangan."

'Teman seperjuangan?"

"Ya, teman seperjuangan menentang kekuasaan lalim yang sekarang mengangkangi istana. Gurumu buronan Yong Ceng, aku juga. Kami berdua adalah sama-sama korban kesewenang-wenangan Kaisar keparat itu!"

Lupa akan sikap pelit In Kiu Liong tadi, Wan Lui timbul sedikit rasa simpatinya. Ia tahu Pak Kiong Liong orang baik, maka "teman seperjuangan"nya ini tentu orang baik juga, begitu anggapan. Ungkapan "sama-sama buronan" itu cukup mengesankan. Seketika kegembiraannya meluap. Selama pengembaraannya, baru kali ini didengarnya kabar dari orang yang dicarinya “kalau begitu Toa-ko tahu dimana kakek berada? Aku sungguh senang kalau bisa menemuinya dan membantu perjuangannya."

"Bagus, Wan-heng. Aku senang melihat seorang muda yang berilmu tinggi dan penuh semangat seperti kau. Tapi selama belum berhasil membantu perjuangan kakekmu, membantu perjuanganku juga sama saja. Kami kan sama-sama sedang menghimpun kekuatan untuk melawan penguasa jahat. Nah, sambil berjuang, sambil mencari jejak kakekmu."

"Lho, jadi sekarang ini Toa-ko tidak tahu dimana kakek?"

In Kiu Liong berlagak sedih dan marah, "Wan-heng, tentu kau sudah mendengar bagaimana si Kaisar keparat itu menumpas pendekar-pendekar budiman yang menentangnya. Sudah dengar belum?"

"Ya. Sudah kudengar tentang pembantaian di llong-thian-lau di mana Yong Ceng membinasakan banyak pendekar yang pernah menjadi sahabatnya di masa muda. Lalu membakar kuil Siauw-im-si, perguruannya sendiri. Menghancurkan markas Hwe-liong-pang di Tiau-im-hong sehingga serikat pembela rakyat itu jadi tercerai-berai. Tapi apa hubungannya dengan kakek? Apakah kakek menjadi korban dalam salah satu peristiwa itu?"

"Ketika pembasmian di Tiau-im-hong, aku dan kakekmu sama-sama ada disana. Tapi suasana saat itu begitu ribut, di seluruh gunung ada orang bertempur dalam jumlah banyak. Pihak kami kemudian terpukul cerai-berai, semuanya berpencaran sendiri-sendiri, maka juga kurang jelas kuketahui nasib kakekmu. Ya mudah-mudahan saja selamat."

Wajah Wan Lui bergantian pucat dan merah padam mendengar penuturan itu, geramnya. "Kalau sampai kakek menjadi korban Kaisar jahanam itu, aku bersumpah untuk mempertaruhkan nyawa membunuhnya di istananya sendiri."

"Jangkrik aduan yang ganas dan kuat," pikir In Kiu Liong dengan gembira. Sedangkan dengan mulutnya dia memuji, "Bagus. Bagus. Itulah baru seorang pendekar sejati yang tidak takut kepada apapun. Mari kita bekerja keras bersama untuk mewujudkan cita-cita luhur kita."

"Apakah kita akan tetap di kota kecil ini? Apakah kita tidak harus segera pergi untuk memulai perjuangan kita, Toa-ko?"

"Agar aman, kita memang akan berada di luar kota, tapi tidak jauh-jauh. Dan kita tidak perlu tergesa-gesa pergi, kita nonton dulu tingkah-laku Ni Keng Giau."

"Ah, buat apa menonton ulah manusia rendah yang sedang mabuk derajat macam itu? Memuakkan. Kalau Toa-ko mengajak aku membunuhnya sebagai bagian dari perjuangan kita, malah aku dengan senang hati akan mengikuti ajakan itu. Bukankah dia adalah jenderal ke sayangan si Kaisar jahanam itu?"

In Kiu Liong tersenyum. "Jenderal kesayangan memang betul, tapi itu dulu. Sekarang agaknya dia hampir tak terpakai lagi, begitu desas-desus dari sementara pihak di Pak-khia. Nah, aku ingin menonton atau membuktikan benar tidaknya desas-desus itu. Kalau benar dia sudah hampir tidak terpakai, lalu mau jadi apa? Barangkali kita juga akan melihat sebuah tontonan besar. Karena itu, sabarlah, jangan buru-buru pergi jauh dari Tan- liu." Wan Lui agak heran mendengar kata kata berbau "nujum" itu.

Selama Ni Keng Giau berada di Tan liu, selama itu pula penduduk Tan-liu dicengkam ketakutan. Rumah kedua orangtua Ni Keng Giau yang biasanya banyak dikunjungi para tetangga, karena kedua orangtua itu dikenal ramah dan baik hati, kini mendadak seperti rumah hantu yang dijauhi semua orang. Hanya untuk sekedar lewat di depan rumah itupun bagi penduduk Tan-liu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar.

Nii Keng Giau amat di takuti dan dipatuhi oleh para pengawalnya, dan para pengawalnya itu ditakuti penduduk Tan-liu, bahkan perajurit-perajurit setempat pun takut kepada pengawal-pengawal berjubah kuning emas itu.

Pada suatu hari, sepuluh orang penunggang kuda muncul di kota kecil itu, masuk kota dari arah timur. Rombongan ini kalah jauh jumlahnya jika dibandingkan rombongan Ni Keng Giau yang mencapai ratusan orang. Seragamnya jauh kalah mentereng dari pengawal-pengawal Ni Keng Giau, sebab rombongan yang ini cuma berseragam jubah pendek warna ungu. Tak ada bendera yang berkibar, tak ada kereta gemerlapan, tak ada penyambutan oleh gubernur sendiri.

Yang berkuda paling depan adalah seorang tua, namun masih ramping dan padat tubuhnya, dan sepasang matanya merah menakutkan. Kemunculan mereka menggentarkan penduduk Tan-liu, yang masih dihantui pengalaman pahit ketika menyambut Ni Keng Giau beberapa hari sebelumnya. Orang-orang yang ada di jalanan lari bersembunyi, sehingga jalananpun jadi sepi ketika rombongan itu lewat. Beberapa orang memberanikan diri mengintip dari kejauhan, dan melihat bahwa rombongan orang berkuda itu me uju ke rumah orangtua Ni Keng Giau.

"Bencana macam apa lagi yang bakal kita dapatkan?" keluh seorang penduduk. "Merajalelanya Ni Keng Giau dan anjing-anjingnya belum diketahui kapan berakhirnya, dan sekarang teman-teman mereka sudah berdatangan pula kemari. Mereka barangkali tidak kalah biadabnya membunuh dan memperkosa sewenang-wenang."

Sementara itu, pengawal-pengawal Ni Keng Giau yang berjaga di depan rumah keluarga Ni, terkejut ketika mengenali siapa-siapa saja penunggang-penung-gang kuda berjubah ungu yang sedang mendekat itu. Merekalah para pengawal istana dari kelompok Ci-ih Wi-kun, yang dipimpin sendiri oleh Kim Seng Pa, disertai jago-jago tangguh lainnya seperti Toh Jiat Hong, Sat Siau Kun, Su-ma Hek-liong, Heng-san-sam-kiam dan lain-lainnya.

Tanpa turun dari kuda, Kim Seng Pa membentak pengawal-pengawal itu, “He, Ni Keng Giau ada di rumah atau tidak? Suruh dia segera keluar!”

Kebanggaan para pengawal itu jadi tersinggung melihat sikap Kim Seng Pa tidak peduli Kim Seng Pa adalah komandan salah satu kelompok istana, karena Kaisar sendiri tidak berani bersikap kasar itu terhadap Ni Keng Giau. Pemimpin regu pengawal Ni Keng Giau lalu menjawab sambil membusungkan dada,

"Kalau Cong-koan mau menghadap Ong-ya bersikaplah yang baik. Melapor kepada kami lebih dulu, dan sementara kami menyampaikan permohonan menghadap maka kalian harus menunggu dengan tertib. Kemudian apakah Ong-ya bersedia menemui atau tidak, itupun tergantung Ong-ya, tidak bisa digugat!"

Seandainya yang menghadapi sikap garang itu adalah penduduk Tan-liu, pasti sudah ketakutan sampai terberak-berak. Namun Kim Seng Pa dan anggota rombongannya tiba-tiba malah tertawa riuh terbahak-bahak dan membuat pengawal-pengawal Ni Keng Giau salah tingkah.

Kim Seng Pa lalu mengejek, "Waduh, rumah yang seperti kandang ayam ini rupanya sekarang sudah menjadi It-teng kong-hu, lengkap dengan segala protokol tengiknya. Ha-ha, baik, baik. Nah, Bapak Pengawal yang maha terhormat. Tolong sampaikan kepada Ong-ya bahwa hamba yang hina dina ini mohon diperkenankan menghadap Ong-ya."

"Tidakkah sikap Cong-koan ini keterlaluan dan bisa menjatuhkan martabat Ong-ya di hadapan penduduk kota ini? Dengan demikian juga berarti Cong-koan mempermalukan yang menganugerahi."

Kim Seng Pa yang sudah habis kesabarannya itupun tiba-tiba menukas dengan nada bengis, "Diam! Cepat laporkan kepada Ni Keng Giau! Atau kami semua harus menerjang masuk dengan lebih dulu menumpas kalian semua?"

Para pengawal N i Keng Giau yang biasanya galak, kini jadi ciut nyalinya. Mereka tahu bahwa tiap anggota Ci-ih Wi-kun adalah pesilat-pesilat pilihan Kaisar Yong Ceng sendiri, masing-masing memiliki kepandaian yang tangguh. Kaisar tak mungkin salah memilih mereka, sebab Kaisar sendiri adalah pesilat tangguh pula keluaran Siau-lim-si. Maka rombongan yang datang itu adalah sebuah "pasukan kecil" yang daya gempurnya sungguh mengerikan. Lebih dari itu, siapa tahu mereka pun membawa suatu hal penting yang perlu disampaikan kepada sang Ong-ya. Karena itu, si komandan pengawal Ni Keng Giau terpaksa masuk untuk melapor, meskipun sambil menggerutu.

Ni Keng Giau sendiri heran ketika dilapori kedatangan Kim Seng Pa, juga tidak senang, mendengar pengaduan komandan pengawalnya, Cek Thai-hou, tentang sikap Kim Seng Pa. Namun Ni Keng Giau harus keluar menjumpainya juga, mungkin Kim Seng Pa membawa pesan penting dari Kaisar. Hanya perasaannya agak tidak enak. Kenapa Kim Seng Pa yang diutus, padahal antara dirinya dan Kim Seng Pa tak tersembunyi lagi saling membenci selama bertahun-tahun? Jangan-jangan pihak istana sedang mempraktekkan teori "kucinglah yang paling tepat untuk menguber tikus"?

Sebelum keluar, Ni Keng Giau lebih dulu memakai segala kelengkapan pakaian seragamnya, untuk dipamerkan kepada Kim Seng Pa, sekaligus mengingatkan agar Kim Seng Pa bersikap sopan. Begitu Ni Keng Giau memasuki ruangan depan, langsung dirasakan situasi yang kurang beres. Dilihatnya Kim Seng Pa dan jago-jago Ci-ih Wi-kun lainnya sudah mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dengan sikap gagah.

Sedangkan pengawal-pengawal Ni Keng Giau yang biasa gagah-gagah menginjak kepada orang kecil, kini malahan nampak di halaman dan memegangkan tali kuda-kuda tunggangan para tamu. Kontan Ni Keng Giau merasa tidak puas, mengira pengawal-pengawalnya telah digertak oleh Kim Seng Pa. Dalam hati Ni Keng Giau sudah merencanakan, pengawal-pengawal yang memalukan itu akan disusulkan saja kepada Kwa Seng Tek, komandan lama mereka.

Baru saja Ni Keng Giau hendak mengambil tempat duduk, Kim Seng Pa bangkit dari kursi dan membentak, “Ni Keng Giau! Berlutut dan dengarkan Titah Sribaginda!"

Ni Keng Giau kalah gertak, apalagi ketika melihat kedua tangan Kim Seng Pa menjunjung tinggi segulung sutera kuning bercap kekaisaran. Terpaksa Ni Keng Giau berlutut dengan agak canggung. Sejak mencapai puncak kejayaannya, hampir-hampir ia lupa bagaimana caranya berlutut.

Kim Seng Pa puas, namun lebih puas lagi ketika membeber gulungan sutera kuning itu dan membaca huruf-huruf yang tertera di situ. Huruf demi huruf dibacanya keras-keras agar Ni Keng Giau jangan salah dengar, "Perintah Yang Dipertuan Sang Putera Langit! Ni Keng Giau terbukti telah memberi laporan palsu tentang jalannya perang Jing-hai. Karena itu pemberian gelar It-teng-kong dan wilayah Siam-sian serta Se-cuan dibatalkan. Namun mengingat jasa-jasanya yang cukup besar, ia masih diberi kesempatan untuk mengabdi kepada negara, dengan menjadi pelatih tentara di Han-ciu. Diperintahkan untuk segera."

Karena kagetnya, Ni Keng Giau menjadi lupa akan tata-tertib selama pembacaan Perintah Kaisar. Belum lagi Kim Seng Pa selesai membaca, Ni Keng Giau sudah melompat bangun dengan wajah pucat dan napas tersengal-sengal. Ditudingkannya telunjuk ke muka Kim Seng Pa sambil berteriak kalap, "Bohong! Bohong!"

Lalu ia menerjang seperti seekor anjing gila, kedua tangannya terjulur untuk mencoba merampas lembaran sutera kuning itu dari tangan Kim Seng Pa. Namun dalam hal ilmu silat, mana bisa Ni Keng Giau menandingi Kim Seng Pa? Gampang saja Kim Seng Pa berkelit sambil menyapukan kakinya, dan Ni Keng Giau kontan roboh terguling.

"Ni Keng Giau! Berani kau membangkang Titah Sribaginda?!" bentak Kim tapi anehnya juga mengandung rasa gemhira yang tidak kecil.

Bentakan itu seperti seember air dingin yang diguyurkan ke kepala Ni Keng Giau, memulihkan kesadarannya, meskipun perasaannya masih terombang-ambing hebat karena jiwanya benar-henar tidak siap menerima berita macam itu. Dengan tubuh menggigil dan wajah sepucat mayat, ia memaksa kembali berlutut untuk mendengarkan pembacaan Perintah Kaisar itu sampai selesai.

Kim Seng Pa benar-benar menikmati kepuasan yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya, la meneruskan membaca huruf-huruf yang sebenarnya tinggal sedikit, "....diperintahkan untuk segera berangkat ke tempat tugasnya yang baru. Sekian.”

Ketika Kim Seng Pa sambil tersenyum lebar menggulung lembaran perintah itu, Ni Keng Giau tidak lupa menyerukan penghormatan sesuai dengan peraturan, "Banswe... Banswe.....”

Suaranya menyayat hati, mirip Banswenya Kim Seng Pa waktu di Ling-he dulu. Beberapa saat lamanya Ni Keng Giau masih sulit bangkit dari berlututnya Jiwanya ambruk. Menjadi pelatih di Hang-ciu? Pelatih perajurit? Berarti tiap hari harus mandi keringat di alun-alun, makanannya adalah makanan ransum yang harus diantri di dapur tangsi.

"Ni Kau-thau (pelatih Ni)," terdengar Kim Seng Pa berkata, sementara wajahnya berseri-seri. "Terimalah Titah baginda ini. Tak kulupakan ucapan selamat yang sehangat-hangatnya untukmu."

Hanya dengan mengerahkan segenap kekuatan lahir-batinnya, Ni Keng Giau berhasil bangkit, lalu menerima gulungan sutera kuning itu. Kemudian Kim Seng Pa dan rombongannya pun meninggalkan rumah itu untuk menuju gedung Walikota dan menginap di sana.

Ni Keng Giau yang ditinggalkan itu masih sekian lama berdiri linglung kehilangan semangat dan masih memegangi gulungan sutera kuning itu. Ia bahkan tidak merasakan ketika ibunya memeluknya dari belakang sambil berurai air-mata. "Kuatkan hatimu, nak.”

Tiba-tiba Ni Keng Giau membanting kuat-kuat gulungan itu sambil berteriak, "Tidak mungkin Sribaginda mengeluarkan perintah ini karena dorongan kemauannya sendiri! Tidak masuk akal! Aku adalah orang yang paling dikasihinya, bahkan melebihi terhadap saudara-saudaranya sendiri! Akulah yang mengokohkan singgasananya pada saat ia masih diguncang oleh Pangeran In Te, Pak Kiong Liong, Siau-lim-pai, Hwe-liong-pang, kelompok pendekar Kang-lam, Jit-goat-pang, Pek lian-kau dan entah apalagi! Akulah yang menunjukkan kesetiaan tertinggi terhadapnya! Tak mungkin Sribaginda mengeluarkan perintah ini kalau tidak dihasut oleh bangsat-bangsat yang dengki hatinya! Aku harus kembali ke Pak-khia untuk mendengar penjelasan langsung dari Sribaginda!"

Sementara itu, ayah Ni Keng Giau dengan terburu-buru telah mengambil gulungan sutera yang dibanting itu sambil berkata dengan ketakutan, "Jangan kau lempar-lempar barang ini, anakku. Nanti bisa dijadikan bahan fitnahan untuk lebih menyudutkanmu oleh orang-orang yang tidak senang kepadamu."

"Tidak! Tidak! Sribaginda takkan menghukumku, karena akulah saudara seperguruannya, jenderal kesayangannya yang bertumpuk-tumpuk jasanya, siapa yang bisa menaklukkan Jing-hai baginya, kalau bukan aku?" teriak Ni Keng Giau kalap. "He, kalian dengar tidak? Ayo semuanya berlutut! Berlutut!"

Bentakan itu ditujukan kepada para pengawal serta bujang-bujang keluarganya yang berkerumun di halaman untuk "menonton" ribut-ribut itu. Ketika Ni Keng Giau membentak dengan beringas, mereka mundur-mundur ketakutan.

"Berlutut! Kalian dengar tidak?!"

Orang-prang di halaman itupun mulai berlutut, namun dengan sikap ragu-ragu. Maklum, setelah mendengar pembacaan Perintah Kaisar tadi, mereka tahu kalau bukan lagi berlutut kepada seorang calon rajamuda Se-cuan dan Siam-sai, melainkan cuma seorang pelatih, dan barangkali si pelatih inipun mulai kacau pikirannya.

Melihat orang-orang itu berlutut, Ni Keng Giau tertawa puas, "Lihat! Lihat! Semua masih tetap menyembahku, berarti aku tetap penguasa nomor dua di kekaisaran ini! Aku berkuasa membunuh siapapun, lihat buktinya!"

Dan sungguh diluar dugaan siapapun, bahwa Ni Keng Giau tiba-tiba menyambar sebuah kursi untuk dihantamkan kepada seorang bujang yang paling dekat berlututnya. Mampuslah si bujang itu. Yang lain-lain langsung bubar ketakutan tanpa menunggu aba-aba lagi, termasuk para pengawal yang tiap-hari oleh Ni Keng Giau dicekoki ajaran tentang disiplin baja.

"Nak, tenanglah... tenanglah..." kedua orang tua Ni Keng Giau membujuk-bujuk sambil memegangi lengan Ni Keng Giau.

Namun si anak, anak gila itu, mendorong mereka keras-keras sampai terhuyung-huyung sambil berteriak, "Orang-orang tua tak tahu diri! Siapa yang kalian panggil "nak"? Aku ini saudara angkat Sribaginda, mengerti?!"

Kedua orangtua itu masih beruntung bahwa Ni Keng Giau tidak menghantamkan kursi ke kepala ubanan mereka, namun hati mereka pedih melihat apa yang terjadi pada anak mereka. Kepedihan lebih dari hari-hari sebelumnya ketika anak mereka menjadi hantu penyebar bencana bagi penduduk Tan-liu.

Kembali Ni Keng Giau tertawa seram. Tiba-tiba tubuhnya sempoyongan lalu ambruk tak sadarkan diri. Buru-buru ayah Ni Keng Giau mengumpulkan para bujang yang kabur jauh tadi, untuk membantu menggotong tubuh Ni Keng Giau sampai ke kamar tidurnya.

Sehari penuh Ni Keng Giau "tidur". Ketika malam tiba, barulah ia membuka matanya. Meskipun ia tidak lagi berteriak-teriak kalap, tapi kedua orangtuanya tak berkurang rasa sedihnya, sebab wajah Ni Keng Giau begitu pucat, sepasang matanya nampak kosong dari semangat hidup.

Ketika seorang pembantu wanita masuk kamar dengan takut-takut untuk mengantarkan makanan, Ni Keng Giau tidak menggubrisnya, biarpun seharian belum makan. Bahkan tiba-tiba ia melompat dari pembaringan, merapikan jubah kebesarannya yang agak kusut karena selama tidur tidak dilepas, mengambil pedang di dinding dan menggantungkan-nya di pinggang, lalu hendak melangkah keluar kamar.

"A-giau. mau ke mana?" tanya ibunya cemas. "Ke Pak khia!"

"Tapi kau belum..... belum makan, nanti masuk angin dan..."

"Jangan mengatur aku!"

Si ibu nekad hendak membujuk, tapi si ayah khawatir kalau isterinya itu sampai dibacok oleh Ni Kong Giau, buru-buru merangkul isterinya sambil membisiki, "Dia sedang bingung, biarkan saja dulu. Dia belum bisa menerima kata-katamu, nanti kalau sudah tenang."

Sementara itu N i Keng Giau sudah sampai ke kandang kuda di belakang rumah. Seorang bujang yang tak sempat menghindari kedatangannya, cepat-cepat berlutut dengan ketakutan, "Ong-ya hendak apa di kandang kuda ini?" tanyanya.

Ketika Ni Keng Giau tidak menjawab dan cuma melototinya, bujang itu merasa tak ada perlunya menambah satu detikpun saat-saat penuh resiko itu. la lemparkan ember yang sedang dipegangnya sambil melompat bangun dari berlututnya, lalu kabur bagaikan kilat.

Ni Keng Giau tak peduli, la sendiri memasang pelana kuda, lalu menuntunnya keluar lewat pintu belakang dan menaikinya. Tidak peduli malam sudah tiba, angan-angannya tetaplah pergi ke Pak-khia. "Sribaginda harus memberi penjelasan yang memuaskan. Kalau tidak memuaskan aku akan berontak dan kalau perlu bertahta membentuk dinasti baru," geram-sambil berkuda. "Kekuasaan militer masih bisa kugerakkan dengan perintahku"

Sampai di pintu kota, pintu gerbang sudah tertutup rapat. Sekelompok perajurit sedang berkerumun santai. Ni Keng Giau lalu membentak mereka, "Buka pintu, cepat! Aku mau menghadap Sribaginda di Pak-khia sekarang juga!"

Kalau ini terjadi sehari sebelumnya, para perajurit itu dengan ketakutan tentu akan membukakan pintu. Tapi berita "penggembosan" Ni Keng Giau sudah terdengar merata di seluruh Tan-liu Kini para perajurit di pintu gerbang itu malah mentertawakannya. Selama beberapa hari, perajurit-perajurit itu kenyang dihina dan direndahkan oleh pengawal-pengawai Ni Keng Giau, dan kini mereka merasa mendapat kesempatan untuk membalas kejengkelan selama ini...
Selanjutnya,