Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 02 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 02

Karya Stevanus S P

TENGAH hari, ketika cahaya matahari jatuh tegak lurus di ubun-ubun, di padang rumput yang luas di depan perkemahan pasukan induk, dilakukan upacara Pai-ki oleh pasukan-pasukan penggempur yang akan maju berperang. Setelah upacara selesai, pasukan-pasukan itupun berangkat ke sasarannya masing-masing. Setiap perajurit menunjukkan semangat yang tinggi, terpengaruh irama genderang perang yang ditabuh untuk menghangatkan darah mereka.
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Ujung-ujung pedang, lembing dan bedil berderet rapat menyaingi banyaknya ujung rerumputan Jing-hai. Dicampur derap kaki kuda dan gemeretak roda meriam-meriam yang ditarik kuda. Di bawah bendera ke garis depan, siap saling bantai dengan mahkluk sejenis dari pihak musuh. Tidak ada kepastian siapa yang kelak masih bisa pulang dan siapa yang tidak, menjadi rabuk di padang rumput yang jauh dari kampung halaman.

Hampir empat ratus ribu perajurit berangkat ke berbagai arah, tapi di perkemahan itu masih tinggal limaratus ribu lebih. Di antaranya adalah pasukan Tiat-ki-kun yang digembleng oleh Ni Keng Giau sendiri. Ni Keng Giau amat berambisi agar pasukan kebanggaannya itu menjadi lebih hebat dan terkenal dari pasukan Hui-liong-kun yang dulu dipimpin Pak Kiong Liong dan kini sudah dibubarkan. Tiat-ki-kun belum diturunkan ke medan laga, dijaga tetap segar untuk digunakan pada pertempuran yang menentukan kelak. Tiat-ki-kun pula yang akan diatur sedemikian rupa sehingga paling besar jasanya kelak.

Setelah pasukan-pasukan penggempur itu berangkat, Ni Keng Giau masih semalam lagi mengistirahatkan pasukannya yang tertinggal. Kemudian esoknya ia perintahkan membongkar perkemahan. Pasukan induk itu maju dua ratus li dan mengambil posisi yang baru. Menyuruk semakin ke tengah-tengah kawasan kemelut, agar lebih mudah berhubungan dengan pasukan-pasukan yang telah maju lebih dulu.

Pangeran In Te memimpin pasukannya bergerak menyusuri sisi pegunungan Thian-san ke arah barat laut. Udara terasa makin dingin. Sesuai dengan kelaziman, Pangeran In Te menunjuk seorang perwira bawahannya yang berpangkat cam-ciang bernama Sun Hong Beng, untuk menjadi Sian-hong Ciang-kun (panglima perintis) maju lebih dulu dengan pasukan yang dilengkapi senapan.

Di luar dugaan, ketika menerima penunjukan itu, Sun Hong Beng tidak sekedar menjawab dengan tegas kaku gaya perajurit, tapi dengan perasaan meluap-luap, "Pangeran, hamba sungguh amat bangga mendapat kesempatan untuk kembali bertempur bersama Pangeran, di tempat yang sama. Beberapa tahun yang lalu, hamba juga ikut Pangeran menancapkan bendera kemenangan di Jing-hai ini. Sekarangpun hamba ikut penasaran terhadap ketidak-adilan yang menimpa diri Pangeran."

Pangeran In Te terkejut mendapati sikap macam itu. Sebagai seorang manusia berperasaan, yang sudah sekian tahun hidup di bawah tekanan, hinaan, di intai intrik-intrik yang mengancam nyawanya, ketika tiba-tiba menemukan seorang yang menyatakan simpati kepadanya, tentu saja amat menyenangkan.

Namun Pangeran In Te tetap waspada, jangan-jangan Sun Hong Beng ini cuma semacam perangkap yang dipasang oleh Ni Keng Giau untuk menyelidiki isi hatinya? Maka terpaksa Pangeran In Te menahan luapan perasaannya, dan menjawab dengan datar saja. "Segeralah jalankan tugasmu, cam-ciang. Kita hanya perlu memusatkan perhatian ke garis depan agar mendapat kemenangan. Jangan sampai perhatian kita diganggu oleh hal-hal yang bisa dikerjakan di lain waktu dan lain tempat."

Sun Hong Beng mengiyakan sambil bangkit dari berlututnya. Matanya nampak agak basah berkaca-kaca. Melihat kemurnian sikap itu, perasaan Pangeran In Te tergerak juga, karena hatinya tidak terbuat dari batu. Suaranya tiba-tiba melunak, jauh dari nada seorang atasan kepada bawahannya, "Cam-ciang, benarkah dulu kau pernah ikut bertempur di Jing-hai juga?"

"Benar, Pangeran. Ketika itu hamba baru berpangkat pa-cong. Tak heran kalau Pangeran tidak mengingat hamba, karena saat itu dalam pasukan ada ribuan orang yang berpangkat pa-cong."

"Waktu itu kau ada di kelompok mana?"

"Pasukan jalan kaki yang dipimpin Cong-peng Utti Hui-pa."

Utti Hui-pa. Tentu saja Pangeran In Te ingat akan perwiranya yang setia dan jujur itu, namun juga berangasan dan kurang pikir. Ketika Kaisar Yong Ceng menawan Ibu suri Tek Huai untuk menggertak agar Pangeran In Te tidak menyerbu Pak-khia, maka Utti hui-pa bersama beberapa perwira nekat lainnya telah menyelundup masuk istana untuk herusaha membawa lari Ibusuri Tek Huai. Namun mereka gagal, tertangkap dan dihukum penggal kepala di atas tembok kota Pak-khia, dipertontonkan kepada Pangeran In Te dan pasukannya yang waktu itu sudah mengurung kota raja Pak-khia.

Pangeran In Te menarik napas terkenang peristiwa itu. Ia tetap hormat kepada kesetiaan Utti Hui-pa, biarpun pengorbanannya gagal. Tetapi di hadapan Sun Hong Beng, ia cuma berkata datar, “Ya, aku memang masih ingat Utti Hui-pa. Nah, cam-ciang, jalankan tugasmu!"

"Siap, Pangeran," kali ini Sun Hong Beng menjawab cara perajurit. Pasukan itupun maju dalam dua gelombang. Sebagai Sian-hong Ciang-kun. Sung Hong Beng berjalan di depan, dan disebarkannya pengintai-pengintai untuk melihat keadaan di depan. Ia bertekat akan bertempur demi Pangeran In Te, meskipun tahu kalau Pangeran In Te belum mempercayainya. Ia anggap wajar kalau Pangeran In Te selalu harus waspada, biarpun terhadap seorang yang menunjukkan sikap baik, sebab Pangeran In Te dikelilingi musuh-musuh bersembunyi yang senantiasa memasang perangkap.

Sun Hong Beng adalah seorang perwira yang cukup tangguh. Setiap kenaikan pangkatnya selalu disertai dengan kenaikan ketrampilan silatnya, ia mahir memainkan sepasang lembing pendek. Namun sesuai dengan tuntutan jaman itu, Sun Hong Beng juga mahir menembak dengan senapan sambil berkuda. Dengan makin banyaknya orang-orang Eropa yang berkeliaran di negeri-negeri timur, maka cara-cara bertempur Eropa pun mempengaruhi negeri-negeri timur. Negeri-negeri timur yang tetap bertahan dengan cara perang kuno tanpa penyesuaian, akan terancam jatuh menjadi jajahan bangsa-bangsa Eropa yang bersenjata api.

Pasukan itu bergerak melintas dibawah udara yang dingin menggigit. Di sebelah kanan mereka adalah puncak-puncak pegunungan Thian-san yang sepanjang tahun berselimut salju, sebelah kiri adalah padang rumput yang amat luas. Sekali-sekali nampak segerombolan yak, sejenis lembu berkepala kecil yang berbulu tebal, melintas bergerombol. Diangkasa nampak beberapa burung elang melayang tenang di antara mega, sayap mereka tak bergerak seolah mengantuk. Namun bila mata mereka yang tajam itu melihat mangsa, maka mereka pun menukik turun bagaikan kilat.

Demikianlah pasukan Pangeran In Te menggeleser maju seperti ular besar, dan sehari kemudian mereka tiba di sebuah mulut selat gunung yang diperhitungkan bakal dilewati kafilah Kozak. Pangeran In Te segera memerintahkan pasukannya bersembunyi di sebuah hutan, dan menghapus jejak kaki kuda di luar hutan. Pengintai-pengintai segera membawa teropongnya untuk memanjat pohon-pohon yang tinggi guna mengawasi tempat kejauhan.

Sehari semalam lewat tanpa terjadi apa-apa. Hari kedua, seorang pengintai bergegas turun dari pohon, lalu menghadap Pangeran In Te dan melaporkan bahwa dari arah barat laut sudah terlihat suatu kafilah besar datang mendekat.

Pangeran In Te yang sedang duduk bersandar pohon, segera melompat bangun. "Siapkan pasukan!"

Semua perajurit pun menyiapkan diri, tidak tergesa-gesa namun sigap dan teliti, terutama alat-alat perang mereka.

"Pangeran, apakah kita akan menyongsong mereka di tempat terbuka?" tanya Sun Hong Beng. "Menurut yang kita ketahui, kekuatan kita dua kali lipat kekuatan mereka,"

Pangeran In Te menggelengkan kepala, "Meskipun kita unggul dalam jumlah, namun korban di pihak kita harus ditekan sesedikit mungkin. Menyongsong di tempat terbuka memang kelihatan gagah, dan mungkin pula menang, tapi akan banyak perajurit kita jadi korban. Karena itu, pertama-tama kita akan menyergap dari hutan dengan senapan dan panah. Setelah itu, barulah kita serang langsung jarak dekat."

Para perwira mengangguk, dan para perajurit bersyukur dalam hati karena Pangeran ln Te menggunakan siasat hemat nyawa" macam itu. Itu artinya Pangeran ln Te sejauh mungkin berusaha menghargai nyawa perajurit-perajuritnya sebagai sesama manusia, yang harus dihargai biarpun dalam perang. Bukan sekedar dicatat sebagai "biaya perang".

Pasukan pun bersiap di tepi hutan, di balik pepohonan. Mereka merasa agak tegang juga, sebab mereka sudah mendengar bahwa orang-orang Kozak adalah jago-jago perang yang tangguh. Nama mereka disegani dari kawasan Asia Tengah sampai Eropa Timur.

Pangeran ln Te menyusun para pemanah dan penembak menjadi dua lapis, depan dan belakang. Buat para penembak senapan, sehabis menembak satu kali tentu harus mengisi peluru dan obat ledaknya lagi, dan itu makan waktu. Maka selama mereka mengisi kembali, lapisan kedua yang akan menembak, dan setelah lapisan kedua menembak, lapisan pertama sudah siap menembak kembali sementara lapisan kedua mengisi senapannya. Begitulah bergantian seterusnya, sebab senapan di jaman masih kuno. Hanya bisa untuk menemhak satu kali setiap kali pengisian.

Jumlah senapan yang dibawa pasukan itu juga terbatas jumlahnya, sehingga tidak semua perajurit kebagian memegang senapan. Maka yang tidak kebahagian itu harus siap dengan panah dan lembing, yang biarpun jangkauannya tidak sejauh peluru bedil, tapi ada kelebihannya juga, yaitu bisa dilepaskan berturut-turut dengan jarak waktu yang lebih rapat.

Pesan Pangeran In Te kepada para pemimpin regu, "Kalian harus membidik dengan cara Siap-jin-sian-sia-ma (sebelum membidik orangnya, bidik dulu tunggangannya). Mengerti?"

Para pemimpin regu menyatakan mengerti, dan meneruskan perintah itu kepada anggaota regu masing-masing. Sementara itu, kafilah musuh sudah kelihatan tanpa memerlukan teropong lagi. Sebuah kafilah berjumlah besar, di kawal orang-orang Kozak berkuda yang bertubuh besar-besar, rambut brewok mereka berwarna coklat kemerahan, dan memakai topi-topi bulu yang tebal.

Mereka sebenarnya serdadu-serdadu kekaisaran Rusia. Namun dalam tugas kali ini, mereka tidak memakai seragam keperajuritan mereka. Bisa dimaklumi, sebab Rusia masih terikat perjanjian tahun 1689 yang ditandatangani wakil-wakil kedua kerajaan di St Peterrburg, ibukota Rusia waktu itu. Perjanjian yang ditanda-tangani setelah terjadinya perang hebat di tepi Sungai Ussuri yang menimbulkan kerugian besar di ke dua belah pihak.

Setelah Kaisar Khong Hi digantikan Kaisar Yong Ceng di tahun 1712, Rusia kembali bangkit nafsunya untuk meluaskan wilayah, tapi tidak secara terang-terangan. Kali ini dengan cara membujuk orang-orang Jing-hai yang seagama dengan mereka agar berontak terhadap pemerintahan di Pak-khia yang "kafir" kata mereka.

Sesaat Pangeran In Te memperhitungkan jarak. Setelah bagian depan kafilah musuh diperkirakan sudah bisa dijangkau peluru, maka Pangeran In Te memberi isyarat kepada pasukannya dengan lambaian tangan. Maka berletusanlah ratusan pucuk senapan dari pihak pasukan Pangeran In Te.

Kafilah itu menjadi agak kacau, tidak menduga akan menghadapi sergapan yang begitu awal. Baik manusia, onta ataupun kuda segera banyak yang bertumbangan. Teriakan orang dan ringkik kuda bercampur-aduk dengan ledakan-ledakan senapan yang bising. Pengawal kafilah yang belum kena lalu mengatur diri untuk bertahan.

Ternyata pengawal-pengawal kafilah itu memang jago-jago perang yang bakal menjadi lawan berat pasukan Pangeran In Te. Kepanikan mereka hanya sebentar, dan dalam waktu singkat barisan depan sudah berhasil membentuk posisi bertahan. Sambil berjongkok atau bertiarap di balik bangkai kuda atau onta, mereka balas menembak atau memanah.

Peluru para pengawal kafilah itu banyak yang cuma menghantam pepohonan di pinggir hutan, namun ada juga beberapa perajurit Pangeran ln Te yang menjadi korban, karena kurang rapat berlindung. Kedua pihak sudah mulai "menyicil harga" kepentingan masing-masing, dan mata uangnya ialah nyawa manusia.

Sebagian pengawal kafilah berusaha menggiring balik onta-onta pengangkut beban menjauhi jangkauan serangan pasukan Pangeran In Te, untuk menyelamatkan barang-barang kawalan mereka. Ketika sebutir peluru panas menghunjam ke dalam sebuah kantong kulit besar di punggung seekor onta, tiba-tiba kantong itu meledak menjadi kobaran api yang hebat bersama ontanya sekalian. Beberapa pengawal berkuda yang ada di dekatnya juga ikut kena ledakan. Maka berhamburanlah serpihan-serpihan daging onta, kuda atau manusia yang susah dibedakan lagi.

Rupanya kantong-kantong besar itu berisi bubuk peledak untuk mengisi senapan. Maka Pangeran In Te tiba-tiba menemukan pikiran baru. Perintahnya kepada penembak-penembak dalam pasukanannya, "Incar kantong-kantong kulit besar itu!"

Perintah dijalankan, dan beberapa ledakan hebat kembali terjadi di tengah tengah kafilah musuh. Kuda dan onta yang tidak mati menjadi kacau dan melonjak-lonjak tak keruan, merepotkan para pengawal kafilah yang berusaha menenangkan hewan-hewan itu. Tapi peluru-peluru dan panah dari pasukan Pangeran ln Te terus menghambur, memunguti korban-korban mereka.

Hanya saja, kafilah itu adalah sebuah barisan panjang. Kekacauan cuma terjadi dibagian depan. Pengawal-pengawal belakang kafilah justru menyusun diri dan maju ke depan untuk menolong teman-teman mereka. Mereka menderapkan kuda dengan kencang, menebar sambil membungkuk rapat di atas kuda untuk menyerbu ke hutan. Mereka ingin memaksa lawan-lawan mereka keluar dari hutan dan bertempur secara terbuka.

Beberapa penunggang kuda terdepan roboh tertembus peluru atau panah, setelah lebih dekat lagi maka lembing dari pihak Pangeran In Te pun ikut ambil bagian. Tapi selebihnya terus menyerbu dengan berani, bahkan dari bagian belakang kafilah menyusul lagi ratusan orang.

"Benar-benar orang-orang nekat," geram Pangeran In Te melihat iiu. "Mereka belum bisa menaksir kekuatan kami yang bersembunyi di hutan ini, tapi sudah berani menyerbu kemari."

Pangeran In Te juga sadar bahwa sifat kejutan dari serangannya sudah tidak menentukan lagi, ia lalu mengambil langkah berikutnya, la perintahkan pasukannya keluar dari hutan dan menyongsong musuh di tempat terbuka. Perajurit-perajuritnya lalu berlompat ke atas kuda, dan menyongsong keluar hutan.

Maka menderulah dataran itu oleh derap ribuan kuda. Dua gelombang manusia berkuda saling menempur langsung, tanpa berliku-liku lagi. Sorak gempita dari kedua belah pihak membuai semuanya bagaikan kemasukan setan, senjata-senjata yang berkilat-kilat sudah diangkat tinggi-tinggi, siap dijatuhkan ke tubuh lawan.

Beberapa orang dari kedua belah pihak masih coba-coba memanfaatkan bedil, panah atau lembing, dan beberapa lawan terdepan memang berjungkalan roboh dari kuda. Ada yang kakinya tidak bisa lepas dari sanggurdi sehingga tubuhnya terseret oleh kuda tunggangan nya sendiri yang berlari menggila.

Penunggang-penunggang kuda yang di belakang tidak menggubris mereka yang berjatuhan di depannya atau kuda-kuda yang berputaran kebingungan tanpa penunggang lagi. Mereka terus menerjang. Mereka lebih memperhatikan musuh yang semakin dekat. Senjata-senjata jarak jauh disimpan, dan kini berkilat-kilatlah tombak, pedang, kampak, tongkat berduri dan sebagainya.

Dengan nafsu saling membinasakan yang meluap-luap, dua gelombang "Pembunuh resmi" itu bertemu, seperti dua arus yang bertabrakan, saling menghempas dan menimbulkan gejolak yang mengerikan. Harga nyawa manusia tiba-tiba anjlok serendah- rendahnya. Sorak gemuruh membubung bersama ringkik kuda dan gemerincing ribuan senjata yang dibentur-benturkan penuh kebencian.

Pedang dan golok disabetkan, tombak disodokkan, kampak ditekakkan, tongkat, gada atau ruyung diayun-ayunkan mencari tulang kepala atau tulang pinggul. Ketangkasan berkuda, ketrampilan main senjata dan keberanian bergabung jadi satu. Usaha menyelamatkan diri dan nafsu membunuh berbaur tanpa batas. Debu mengepul tinggi, keributan memuncakk.

Masih terdengar perwira-perwira kedua belah pihak meneriakkan perintah-perintah, berusaha mengarahkan anak buahnya masing-masing. Tapi suara mereka tenggelam oleh hingar-bingar nya derap kuda, suara kulit dan daging yang terkoyak, tulang-tulang yang remuk terhantam besi-besi dingin tanpa perasaan, dan jeritan mereka yang men jadi korban.

Salah satu jago perang orang Kozak adalah Kobita Popovitch, seorang raksasa yang berambut dan berbrewok coklat kemerah-merahan. Senjatanya ialah tongkat besi sepanjang satu meter, disambung rantai satu meter, pula, dan di ujung rantai ada bola besi berduri. Senjata itu dimainkan dengan mahir dan ganas sekali, sambil menerjang-nerjangkan kudanya di seluruh arena.

Tiap kali ada perajurit-perajurit Pangeran In Te yang terlempar dari kuda dengan kepala retak, atau tubuh robek terlanggar duri-duri di permukaan bola besi yang berdesing-desing seringan terbangnya seekor lalat. Sekali-kali rantainya melibat lengan atau leher seorang lawan, lalu menyeret lawannya mendekat dengan tenaganya yang hebat, disusul tinju kirinya terayun meremukkan muka korbannya. Atau di cengkeramnya rambut atau baju lawannya untuk dibanting jatuh dari kuda, lalu diremukkan di bawah kaki kudanya yang tegar.

Begitulah jagoan Kozak ini menimbulkan korban yang tidak sedikit di antara pasukan Pangeran In Te. la jadi seperti seekor serigala yang menyuruk ke tengah kawanan domba. Seorang perwira bawahan Pangeran In Te tidak membiarkan kerusakan pasukannya lebih lanjut, la memajukan kudanya untuk menghadang amukan Kobita. Perwira itu bertubuh kurus dan pendek, bersenjata tombak berkait, maka banyak kawan maupun lawan yang heran melihatnya berani menyongsong lawannya yang bertubuh raksasa.

Ternyata si kerdil ini tidak begitu bodoh untuk menyongsong langsung dari depan, namun memotong dari samping untuk menikam lambung kiri Kobiia, sisi yang tidak bersenjata sebab lawannya memegang senjata dengan tangan kanan. Melihat lawan bertubuh sekecil itu, Kobita memandang remeh lawannya. Dengan sigap tangan kirinya menangkap batang tombak lawannya sambil memutar pinggang, siap mengayunkan bola besi berdurinya ke kepala lawan.

Lawannya memang tak sanggup menandingi kekuatan Kobita. Kalau ia tidak mau melepaskan tombaknya, pasti akan segera terseret dan di remuk kepalanya. Namun si kerdil ini ternyata punya kegesitan luar biasa dan punya senjata lain yang tak terduga oleh lawannya. Cepat ia melepaskan tombaknya dan melempar dari kuda, berguling bagaikan ular melewati bawah perut kuda Kobita untuk muncul di sebelah lain.

Betapapun tangkasnya jagoan kozak ini, namun tubuhnya yang begitu besar membuatnya tidak mungkin berputar cukup cepat, lagipula ia sudah terbiasa berhasil membunuh musuh dalam sekali gebrak, la kaget ketika lawannya tiba-tiba "hilang", dan bola berduri di ujung tongkat berantainya hanya berhasil menghantam remuk kepala kuda yang sudah takk berpenunggang.

Kobita Popoviich memutar tubuh untuk mencari lawannya, dan ketika ia melihatnya, ia tak sempat berbuat apapun kecuali meraung kesakitan. Lawannya secepat kilat telah melontarkan sebatang pedang pendek yang menyusup ke daging lehernya. Tubuh sang raksasa tumbang dari atas kudanya dan berdebum di tanah.

Perwira Pangeran In Te itu cepat menarik tombaknya yang masih digenggam Kobita, lalu mengambil alih kuda lawannya sebagai ganti kudanya sendiri yang sudah mati. Namun robohnya si jagoan Kozak tidak banyak mempengaruhi semangat para pengawal kafilah. Nyali mereka tidak goyah hanya karena melihat kematian teman-teman mereka, sebab hal itu sudah biasa bagi orang Kozak yang gemar berperang itu.

Pertempuran tetap berjalan dengan sengit. Kedua belah pihak sama-sama kehilangan banyak teman, bahkan jago-jago andalan kedua belah pihak juga silih berganti berguguran dan keberanian kedua belah pihak pun seimbang, namun akhirnya segi jumlah ikut berpengaruh juga. Pasukan Pangeran In Te jauh lebih banyak dari pengawal kafilah, maka akhirnya kelihatan juga para pengawal kafilah mulai terdesak.

Seorang jago Kozak lainnya bernama Gouma, kemasyhurannya di medan laga menyaingi Kobita. Senjatanya ialah kampak bermata ganda, bolak-balik, dan di tengahnya ada ujung yang lancip seperti tombak, bertangkai kira-kira satu meter. Puluhan perajurit Pangeran In Te telah dirobohkannya dengan ketangkasan dan kekuatannya yang mirip seekor beruang. Tiap kali senjatanya mematuk, satu lawan gugur oleh ujung tombaknya. Kalau senjatanya disabetkan bolak-balik, maka yang menjadi korban bisa dua orang sekaligus.

Melihat pengganas ini, Pangeran In Te tidak bisa tinggal diam. Ia memacu kudanya untuk mendekati Gouma. Seorang perwira bawahannya terkejut dan berteriak mencegah, “Pangeran, orang itu berbahaya sekali. Biar hamba dan beberapa teman yang menghadapinya!”

"Aku justru bosan karena sejak tadi tidak menemui lawan yang tak berarti," sahut Pangeran In Te tanpa menunda gerakannya.

Gouma tertawa terbahak-bahak ketika melihat lawan yang mendekatinya adalah seorang yang bertubuh ramping, kulit wajahnya terlalu putih seperti kulit bayi, dan pedang yang dibawanya nampak seperti pedang "hiasan dinding" yang nampak tidak pantas dibawa-bawa dalam pertempuran sebuas itu.

Namun setelah kampak tombak Gouma berbenturan beberapa kali dengan pedang Pangeran In Te, barulah Gouma sadar ia ketemu lawan tangguh. Timbul nafsunya untuk secepatnya mengalahkan lawan yang satu ini. Senjatanya terayun makin kuat dan cepat, dikerahkannya seluruh keahlian main senjata yang dipelajarinya sejak kecil.

Dalam hal silat, Pangeran In Te memang tidak setangguh kakak-kakaknya seperti Kaisar Yong Ceng, Pangeran In Gi atau Pangeran In Tong, karena perhatian Pangeran In Te lebih banyak tercurah di pelajaran kemiliteran. Tapi bukan berarti ia orang yang lemah. Sedikitnya ia pernah menerima petunjuk-petunjuk main pedang dari Pak Kiong Liong, meskipun bukan murid tetap. Dalam mengendarai kuda, Pangeran In Te juga cukup mahir.

Pertama kali pedangnya membentur senjata musuh, Pangeran In Te terkejut karena merasakan kuatnya tenaga musuhnya. Itu menjadi peringatan baginya, bahwa kali ini tidak boleh sekedar adu otot saja, melainkan harus membuat perhitungan yang cermat.

Begitulah keduanya bertempur. Sekali waktu kuda mereka saling menyambar dekat, menjauh, menyambar dekat lagi, memutarkan kuda sambil membenturkan senjata belasan kali untuk mencari kelengahan lawan. Kampak tombak Gouma berdesing-desing mengerikan. Kalau tubuh Pangeran In Te sampai kena, agaknya bukan cuma kulit dagingnya yang bakal robek, tapi sekaligus bersama tulang-tulangnya.

Sedangkan Pangeran In Te memainkan pedangnya selicin ular yang membelit dan mematuk, mengutamakan kecepatan dan incaran yang cermat, menghindari benturan sebisa-bisanya. Dengan cara itu, ternyata tiap kali Pangeran In Te berhasil memaksa lawannya untuk membela diri lebih dulu, dan Gouma mulai terdesak, kekuatannya yang besar tak mendapat kesempatan untuk dibenturkan dan mengambil keuntungan, kebanyakan serangannya yang ngotot cuma menebas angin. Sedangkan pedang Pangeran In Te biarpun tidak mengeluarkan suara menderu, namun bergerak terlalu cepat dalam menjangkau sasaran-sasaran berbahaya di tubuh lawannya.

Gouma semakin kalap dan gerakannya semakin sembrono. Suatu kali ia ayunkan senjatanya dari atas, bermaksud membelah tubuh Pangeran In Te dengan sekuat tenaga. Pangeran In Te menjepit perut kudanya dan melejitkannya ke depan, sekaligus pedangnya mematuk dan berhasil melukai siku lawannya. Gouma kehilangan kendali, senjatanya yang berat itu jatuh ke tanah. Berikutnya, Pangeran ln Te mendoyongkan tubuhnya sambil menikam, dan tembuslah dada si jagoan Kozak ini.

Perwira yang tadi mencemaskan keselamatan Pangeran ln Te, kini lega melihat Pangeran ln Te menang, meskipun nampak agak kelelahan. Pujinya, "Pangeran benar-benar hebat!"

"Kalian semua juga hebat, tapi, mari kita selesaikan dulu pertempuran ini," sahut Pangeran ln Te sambil tersenyum.

Pertempuran belum selesai. Kedua pihak belum puas menunjukkan ketangkasan dan keberanian mereka masing-masing. Orang-orang Kozak dan Jing-hai bertempur mengandalkan tubuh mereka yang besar-besar dan senjata mereka yang umumnya berbobot berat.

Sedang orang-orang Korea dalam pasukan Pangeran ln Te menunjukkan gaya tendangan warisan leluhur mereka yang disebut Tae-kyun, atau cara membanting yang disebut Su-bak. Tidak jarang, sambil berkuda, orang-orang Korea ini berhasil menendang perut atau dagu lawannya sehingga terpental roboh dari kuda. Orang-orang Manchu juga mempunyai sejenis cara membanting yang disebut Sut-ku, sedang orang Han dengan aliran silat mereka yang beraneka ragam

. "Bangsnt-bangsat Tartar ini berkelahi macam iblis!" teriak orang-orang Kozak dalam bahasa mereka. Dalam pandangan mereka, semua bangsa-bangsa dari sebelah timur asalkan berkulit kuning dan bermata sipit, mereka pukul rata dengan sebutan Tartar saja. Padahal orang-orang Rusia kulit putih diam diam juga menyebut orang-orang Kozak dengan sebutan Tartar pula, namun dengan tambahan "yang sudah tidak menyembah berhala".

Betapapun tangguh dan beraninya orang-orang Kozak itu, setelah kehilangan beberapa jagoan mereka dan kalah jumlah pula, mereka mulai merasa tak ada gunanya meneruskan pertempuran. Mereka saling meneriakkan isyarat, lalu sekelompok demi sekelompok meninggalkan arena. Bahkan mereka tak sempat lagi mengurusi onta-onta yang mengangkut barang bawaan mereka, mereka tinggalkan begitu saja.

Pasukan Pangeran In Te bersorak gemuruh, mereka masih mengejar beberapa li lagi, namun kemudian Pangeran In Te menarik pasukannya. Pangeran In Te lalu memerintahkan untuk membuka dan melihat barang-barang apa saja yang hendak diberikan orang-orang Kozak itu kepada para pemberontak di Jing-hai.

Ternyata ada hampir duaribu senapan yang lengkap dengan peluru-pelurunya yang sebesar kelereng, dan bubuk peledaknya. Dalam jumlah besar. Setelah senapan-senapan yang rusak disingkirkan, maka yang utuh masih ada sekitar seribu limaratus pucuk. Melihat senjata-senjata sebanyak itu, sesaat Pangeran In Te merasa tergoda. Bagaimana kalau senapan itu dibagikan kepada perajurit-perajuritnya yang setia kepadanya, lalu balik ke perkemahan induk untuk menggempur Ni Keng Giau dan mengambil alih pimpinan?

Pangeran In Te yakin, asal langkahnya tepat, maka sebagian besar pasukan di perkemahan induk pasti masih bisa dibujuknya untuk mengikutinya, sebab banyak yang diam-diam tidak suka kepada Ni Keng Giau yang terlalu bengis dengan tata-tertibnya. Kalau seluruh pasukan terkuasai, asal dibariskan ke Pak-khia, tentu tidak sulit mendongkel Kaisar Yong Ceng dari kedudukannya.

Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun hidup terkekang dan terancam, biarpun dalam istana, godaan dalam diri Pangeran In Te memang terasa kuat sekali. Godaan untuk memperoleh kekuatan kembali dan membalas penindas-penindasnya. Namun Pangeran In Te kemudian geleng-geleng kepala sendiri, mengusir angan-angan itu. Kalau ia melakukan itu, maka pasukan kerajaan akan pecah, bahkan mungkin terjadi perang saudara, justru di garis depan, di hadapan hidung musuh, dan tentu saja akan menguntungkan musuh.

Akhirnya Pangeran In Te memutuskan untuk tetap dalam sikapnya yang mengalah, mengutamakan keselamatan negara di atas ambisi pribadinya. Namun soal senjata-senjata rampasan itu, Pangeran In Te merasa lebih baik untuk memperkuat pasukannya, daripada tersimpan nganggur dalan kantong-kantong kulit.

"Akan kita apakan senjata-senjata ini, Pangeran?" tanya seorang perwira bawahannya, membuyarkan lamunan Pangeran In Te.

"Bagikan kepada perajurit-perajurit kita yang bisa menembak namun belum kebagian senapan," sahut Pangeran In Te. "Dan semuanya harus mengisi kantong mesiu mereka penuh-penuh!"

Perwira yang bertanya itu adalah seorang pengikut Ni Keng Giau. Makanya ia langsung berprasangka ketika mendengar perintah Pangeran In Te itu, ia nampak ragu-ragu dan tidak segera menjalankan perintah.

"Kenapa ragu-ragu? Jalankan!"

"Pangeran, kalau boleh hamba tahu, kenapa pasukan yang pulang ke perkemahan induk ini malah dipersenjatai makin lengkap seolah-olah akan menghadapi musuh? Bukankah kita sedang akan berangkat pulang untuk bergabung dengan teman-teman sendiri?"

“Bodoh benar pertanyaanmu. Kita kan sedang berada di daerah rawan. Apakah tidak mungkin dalam perjalanan pulangpun kita bertemu musuh? Apa salahnya kita memperkuat diri dengan senjata rampasan?"

"Ampun Pangeran. Apa tidak sebaiknya senjata-senjata rampasan itu tetap di bungkus saja, dan biar hamba yang mengawalnya?"

"Kenapa harus begitu?" Pangeran In Te heran, namun kemudian sambil tertawa pahit ia menjawab sendiri keheranannya, "Oh, mengertilah aku sekarang. Kau khawatir aku menggunakan senjata-senjata ini untuk memberontak kepada Ni Keng Giau?"

Wajah perwira cerewet itu jadi merah, karena isi hatinya kena ditebak Pa ngeran In Te. Dengan agak gugup ia masih mencoba berdalih juga, "Tetapi... senjata-senjaia itu adalah barang bukti keterlibatan negara asing dalam kemelut di Jing-hai ini. Kelak harus ditunjukkan kepada dutabesar Rusia di Pak-khia supaya mereka....”

"Lho, siapa yang sudah mengangkat mu menjadi pejabat dalam urusan ini?" Pangeran In Te menukas sinis.

"Hamba... hamba... hanya mengusulkan...."

"Usulmu ditolak. Jalankan perintahku."

Dengan wajah geram menahan amarah, perwira itu terpaksa beranjak pergi. Namun diam-diam ia membatin. "Goan-swe harus segera mendapat kabar agar bisa bersiap-siap. Siapa tahu dalam diri Pangeran In Te timbul pikiran untuk berkhianat."

Sementara Pangeran In Te tersenyum pahit memandang punggung perwira itu, ia tahu bahwa dalam pasukannya bersembunyi banyak kaki tangan Ni Keng Giau yang bertugas mengawasinya agar tidak "menyeleweng". Mati-matian ia mempertaruhkan nyawa dengan sungguh-sungguh demi kekaisaran, malahan diperlakukan seperti pengkhianat yang harus diawasi terus.

Perajurit-perajurit yang luka sudah diobati dan yang tewas dikuburkan di tempat itu juga. Setiap perajurit ada kemungkinan bernasib seperti itu. Terkubur di tempat terpencil yang tak diketahui sanak-keluarganya. Bahkan gundukan tanahnyapun lama-lama akan rata, ditumbuhi rumput liar, dan orang yang lewat di atasnya takkan tahu kalau di bawah kaki mereka ada manusia lainnya.

Kemudian pasukan itupun menyusun diri dalam barisan, untuk pulang ke perkemahan induk. Tugas pertama telah di selesaikan. Merebut kiriman senjata dari negeri asing yang diperuntukkan bagi para pemberontak di Jing- hai.

Ketika malam tiba, Pangeran In Te memerintahkan pasukannya untuk beristirahat. Kuda dan onta ditaruh melingkar di bagian luar, dijadikan pelindung seandainya ada serangan. Perajurit-perajurit yang kelelahan itu segera bergeletakan berbaring di rerumputan, setelah lebih dulu mengisi perut dengan ransum kering. Sebagian dari mereka mendapat tugas jaga secara bergiliran.

Pangeran In Te sendiri berbaring dengan kepala diganjal sehelai kulit domba yang dilipat-lipat, la agak sulit tidur. Lama sekali matanya berkedip-kedip menatap bintang-bintang di langit terbuka, yang seolah juga membalas kedipannya. Suasana gelap sekali, sebab Pangeran In Te melarang pasukannya menyalakan api, khawatir kalau terlihat oleh musuh yang berkeliaran di padang rumput itu.

Malam semakin larut. Penerangan hanya mengandalkan bintang-bintang yang berkelap-kelip serta sepotong rembulan yang pucat muram. Di sekitar Pangeran In Te mulai terdengar dengkur para perajurit, dengus dengus kuda dan onta, atau para perajurit yang bercakap-cakap perlahan untuk mengusir kantuk sambil berjaga. Udara di daerah itu dingin sekali, tapi apa boleh buat, api tidak boleh dinyalakan.

Namun salah seorang perajurit yang ada didekat tubuh Pangeran ln Te ternyata tidak tidur. Sambil berbaring di kegelapan, diam-diam ia terus memperhatikan Pangeran In Te secermat cermatnya. Menajamkan mata, menajamkan telinga, untuk mengetahui Pangeran ln Te sudah tidur atau belum?

Ketika dilihatnya tubuh Pangeran ln Te tidak bergerak-gerak lagi, dan suara napasnyapun melembut, maka perajurit itupun menyimpulkan bahwa Pangeran In Te sudah tidur. Orang itu menyeringai sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang dalam hati,

"Dengan belati akan lebih praktis. Sebuah tikaman ke jantung sambil membekap mulutnya, takkan banyak suara, dan habislah riwayat bangsawan yang malang itu. Besok seluruh pasukan hanya akan menemui mayatnya, tapi takkan tahu siapa pembunuhnya, sedangkan aku akan pulang disambut kenaikan pangkat dari Goan-swe Ni Keng Giau.

Tiba-tiba saja sebilah belati telah tergenggam di tangan kanannya, sementara tangan kiri mencengkeram segumpal rumput yang akan disumpalkan ke mulut Pangeran In Te agar tidak berteriak. Lalu ia bergeser perlahan, amat hati-hati, agar jangan sampai menyentuh dan membangunkan perajurit-perajurit lain yang tidur malang melintang di sekitar tubuh Pangeran In Te.

Ia berhasil sampai di samping tubuh Pangeran In Te, sesaat ia berjongkok diam untuk meredakan ketegangan hatinya. Dibuatnya tiga hitungan dalam hati untuk membulatkan semangatnya. Hitungan pertama, belati diangkat dan ujungnya diarahkan ke jantung calon korbannya. Hitungan ke dua, genggaman tangkai belati dikuatkan, tekat dibulatkan, keraguan disingkirkan. Hitungan ke tiga, belati bergerak ke sasaran.

Cuma hitungan ke tiga inilah yang tidak sesuai dengan rencana. Sebab si pembunuh ini tiba-tiba merasa punggungnya disambit kerikil, dan tahu-tahu seluruh tubuhnya menjadi kaku, setiap gerakannya terhenti mutlak, seolah-olah tubuhnya tiba-tiba dituangi semen basah yang lalu mengeras dalam satu detik.

Keruan si pembunuh jadi kebingungan heran campur takut. Kenapa tubuhnya justru tak mampu bergerak lagi ketika dalam posisi yang menunjukkan maksud membunuh seperti itu? Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun tetap gagal, seujung jaripun tak bisa.

"Celaka! Apakah Pangeran In Te di lindungi malaikat, sehingga aku kuwalat?" pikir si calon pembunuh itu ketakutan. Makin lama ia makin panik, tapi benar-benar tak berdaya.

Sementara itu, Pangeran In Te pun tiba-tiba terbangun sebab merasa ada sesuatu di lehernya. Ternyata seekor belalang rumput yang entah darimana datangnya. Matanya terbuka, dan ia terkejut melihat ada seorang berjongkok di sampingnya sambil mengacungkan belati. Digerakkan oleh naluri menyelamatkan diri, secepat kilat Pangeran In Te berguling kesamping lalu melompat bangun dengan bersiaga. Tapi ia jadi heran melihat si pemegang belati itu terus diam seperti patung dalam sikap semula.

“Siapa kau? Apa maksudmu?"

Tentu saja si "patung" tetap bungkam karena tak mampu berkata-kata. Dengan hati-hati Pangeran In Te mendorong pundak orang itu, bergoyang sedikit, tapi sikapnya tak berubah. Pangeran In Te jadi menduga-duga, orang atau patungkah yang dia hadapi itu?

Cepat Pangeran In Te mengluarkan batu api dan menyalakan segumpal rumput kering untuk mendapat sedikit cahya. Dilihatnva bahwa "patung" itu ternyata adalah seorang perwira bawahannya agaknya siap membunuhnya selagi ia tidur, namun entah kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti patung macam itu.

Lalu ingatlah Pangeran In Te, pamannya Pak Kiong Liong pernah bercerita kalau di kalangan rimba persilatan ada yang namanya tima-hiai- hoat (Ilmu Menotok jalan darah) yang kalau digunakan terhadap korbannya, antara bisa menjadikan korbannya "seperti patung" selama beberapa jam sampai keadaan korbannya pulih dengan sendirinya. Pangeran In Te pun sadar. Malam itu selain menemukan seorang pembunuh, juga seorang penolong, tapi entah siapa dan dimana penolongnya itu.

Nyala rumput kering itu membuat perajurit-perajurit di sekitarnya bangun, kaget karena mengira ada serangan. Namun yang mereka lihat cuma Pangeran In Te dan "patung" yang berjongkok sambil mengacungkan belati.

"Ampun Pangeran, ada apa?" tanya seorang perajurit.

"Dia mencoba membunuh aku agaknya!" dengan geram Pangeran In Te menunjuk si calon pembunuh yang gagal itu.

Makin banyak perajurit bangun, makin banyak obor dinyalakan, dan makin jelas pula wajah-wajah di sekitar tempat itu. Salah seorang perajurit tiba-tiba berseru mengenali si "patung" itu, “He, bukankah dia itu Pa-cong Yu Hong?"

Sun Hong Beng juga telah datang ketempat iiu, dan ketika mengetahui apa yang terjadi di situ, mukanya menjadi merah padam karena marahnya. Dicengkeramnya rambut si calon pembunuh dan diguncang keras-keras kepala orang itu, sambil membentak sengit, "keparat! Pengkhianat! Jadi kau berniat membunuh pasukanmu sendiri, he? Siapa yang menyuruhmu? Siapa?"

Tapi meskipun kepalanya digoncang goncang sampai seolah-olah sendi leher nya hampir copot, Yu Hong tentu saja tak bisa menjawab. Hanya matanya yang berkeliaran kian kemari dengan sinar ketakutan, tubuhnya tetap tak mampu bergerak, tangannya tetap teracung dengan belati tergenggam.

"Bangsat! Tetap tidak mau menjawab?" Sun Hong Beng makin gusar dan menampar keras muka Yu Hong.

"Sabar, Can-ciang...." akhirnya malah Pangeran In Te yang berusaha menyabarkan Sun Hong Beng. "Biarpun kau pukuli orang itu sampai mati, ia takkan bisa menjawab, sebab tertotok tubuhnya."

Sun Hong Beng heran, lalu melepaskan cengkeramannya pada rambut Yu Hong. "Syukurlah sebelum dia berhasil, Pangeran telah berhasil menotoknya."

"Ini yang aneh, Cam-ciang. Bukan aku yang menotoknya. Ketika aku bangun, ia sudah dalam keadaan begitu sebelum kuapa-apakan."

Keruan semua yang mendengar penjelasan itupun jadi heran. Kalau bukan Pangeran In Te sendiri yang menotok, lalu siapa? Apakah dalam pasukan itu ada seorang jago silat tersembunyi yang diam-diam telah menyelamatkan Pangeran In Te dari pembunuhan? Padahal, bagi kawanan perajurit yang cuma berlatih ilmu kemiliteran itu, ilmu menotok nyaris dipandang sebagai ilmu gaib.

Itu ilmu yang sulit, membutuhkan dasar tenaga dalam yang kuat dan ketekunan. Para perajurit cuma dilatih berbaris, menunggang kuda, memanah dan sebagainya, tapi tidak termasuk Tiam-hiat-hoat yang hanya diajarkan di perguruan-perguruan silat dan hanya kepada murid-murid yang sudah kuat dasarnya.

Pangeran In Te mengangkat pundak sambil menyapukan pandangan ke sekelilingnya, sambil berkata, “Penolongku itu sudah menampakkan diri atau tidak, aku tetap sangat berterima kasih."

Dan yang ada di sekitarnya cuma wajah para perajurit yang menampilkan keheranan tak terjawab menyaksikan peristiwa aneh itu, tak satupun tampang yang pantas diduga sebagai "penolong tersembunyi" itu. Kemudian Sun Hong Beng berkata,

"Pangeran, soal tuan penolong yang tidak mau menampakkan diri itu tidak perlu dirisaukan, setidaknya dia sudah berbuat kebaikan. Tapi bagaimana hukuman bagi seorang perajurit yang berani berkhianat kepada atasannya?"

Kini semua mata mulai diarahkan kepada si "patung" yang wajahnya mulai memucat ketakutan, takut dicincang oleh teman-temannya sendiri yang marah pada tindakannya.

Sahut Pangeran In Te, "Selama totokannya belum terbuka sendiri, aku belum bisa menanyai tentang tujuannya, dan belum bisa menetapkan hukumannya."

Namun Sun Hong Beng berkata dengan marah, “Tapi hamba rasanya tahu bahwa dia cuma seorang pembunuh suruhan.”

Wajah para perajurit di tempat itu nampak menegang di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan. Kuping mereka dipasang baik-baik, untuk mendengar suatu rahasia intrik yang barang kali terdapat di antara para pemimpin tertinggi angkatan perang.

Pangeran In Te kaget mendengar kata-kata Sun Hong Beng yang terlalu blak-blakan. Tidak baik kalau para perajurit rendahan itu mengetahui rahasia pimpinan-pimpinan tertinggi mereka, bisa timbul perpecahan dalam pasukan. Maka buru-buru ia mencegah, "Cam-ciang, kuharap kau..."

Apa mau dikata, Sun Hong Beng yang sudah kelewat muak melihat ulah pengkhianatan itu malahan bersuara makin keras dan tak tertahan lagi, "Pangeran dikhianati, tapi Pangeran terlalu sabar membiarkan para pengkhianat malang melintang semaunya! Aku tahu orang ini pasti suruhan Goan-swe Ni Keng Giau! Semalam sebelum pasukan ini meninggalkan perkemahan induk, kulihat orang ini berbisik-bisik mencurigakan dalam kemahnya bersama seorang perwira kepercayaan Ni Goan-swe! Pasti saat itulah mereka merancang tindakan pengkhianatan atas diri Pangeran!"

Pangeran In Te mengeluh dalam hati. Sekuat tenaga ia masih menjaga kehormatan pasukannya dengan cara menyembunyikan permusuhannya dengan Ni Keng Giau, tak peduli ia harus berkorban dihina dan dikhianati. Semuanya di sembunyikan, agar para perajurit rendahan tak ikut-ikutan memihak sana-sini. tapi kini malah Sun liong Hong berteriak begitu keras.

Akibatnya, tuduhan Sun Hong Hong itu langsung mendapat sambutan. Seorang perwira lain yang juga berpangkat cam-ciang, bernama Lo Peng, tiba-tiba melangkah maju dan berkata dengan keras, "Sun Hong Beng, aku keberatan dengan tuduhanmu yang ngawur itu! Tuduhan yang tak ada buktinya, cuma kau karang sendiri!"

"Lo Peng, apa kau tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu kalau Ni Goan-swe sangat menginginkan kematian Pangeran In Te? Dengan cara terang-terangan jelas tidak mungkin, sebab sepak-terjang Pangeran In Te selamanya bersih tanpa kesalahan, tak ada alasan untuk menghukum mati. Maka ya dipakailah cara kotor macam ini!"

Ucapan yang makin tidak tedeng aling-aling itu keruan membuat para perajurit jadi gempar. Dan di antara mereka terdengarlah bentakan marah Lo Peng menggelegar. "Sun Hong Beng, kau menuduh Panglima Tertinggimu dan menyebarkan keresahan diantara perajurit! Menurut tata-tertib yang ditetapkan Goan-swe Ni Keng Giau, kau sudah pantas dihukum penggal kepala!"

Kemudian Lo Peng menghunus pedangnya dan melangkah ke arah Sun Hong Beng. Namun Sun Hong Beng juga tidak gentar, tak peduli Lo Peng punya "becking" Ni Keng Giau sendiri. Dan ternyata bukan cuma mereka berdua, karena kedua perwira itu sama sama punya teman sepaham yang akan membela kelompoknya masing-masing. Yang dicemaskan oleh Pangeran In Te pun membayang di depan mata. Perpecahan. Kalau dibiarkan saja, semua tentara kekaisaran akan saling bantai selagi musuh masih di depan mata.

"Hentikan!" bentak Pangeran In Te. "Mau apa kalian? Mau berkelahi dengan teman sendiri? Sudah tidak menganggap aku sebagai pimpinan sehingga berani bertindak sendiri-sendiri?"

Ternyata Pangeran In Te masih punya kewibawaan, terutama atas diri orang-orang yang memang setia kepadanya, namun juga atas diri orang-orang yang memihak Lo Peng. Ketika Pangeran In Te membentak, semua orangpun serempak menghentikan gerakannya.

"Kembali ke tempat kalian masing-masing dan kularang bertindak sendiri-sendiri, soal pembunuh ini adalah urusanku, akan kuselesaikan sendiri dan tidak perlu campur tangan siapapun dari kalian!"

Perlahan kerumunan itupun bubar. Obor-obor dimatikan kembali, dan beberapa saat kemudian tempat itu sudah sunyi kembali karena para perajurit tidur kembali. Sebenarnya memang ada belasan orang kaki tangan Ni Keng Giau dalam pasukan Pangeran In Te itu, semuanya diberi perintah untuk membunuh Pangeran In Te secara diam-diam kalau ada kesempatan. Namun setelah kegagalan Yu Hong, pembunuh-pembunuh lain jadi takut bertindak. Mereka khawatir akan menjadi mangsa dari penolong tersembunyi yang diam-diam melindungi Pangeran In Te, dan tak diketahui siapa orangnya itu.

Beberapa saat setelah tempat itu sepi kembali, hanya dengkur para perajurit yang terdengar, maka sesosok bayangan bergerak menjauhi tempat itu. Gerakannya lebih dari sekedar seringan kucing, tapi bahkan seperti hantu karena seolah-olah bisa melayang tanpa menginjak tanah. Makin jauh dari tempat pasukan itu, makin cepatlah gerakannya. Namun di tempat yang agak jauh, tiba-tiba bayangan itu nampak menjadi dua. Sama ringannya, sama cepamya. Entah darimana munculnya yang satu lagi, yang membuntuti bayangan yang pertama tadi.

Bayangan yang di depan agaknya mulai merasa kalau sedang dibuntuti, sebab tiba-tiba ia berhenti dan memutar tubuh secepat kilat. Sambil membentak, sepasang telapak tangannya langsung menghantam ke arah penguntitnya dengan gerak tipu In-hou-kui-san (Menggiring Macan Pulang Gunung). Angin keras menderu berbareng dengan pukulannya.

Serangan mendadak itu memang hebat, tapi bayangan yang di belakang itu sanggup menangkis dengan mantap tanpa tergetar mundur, malahan sambil mengeluarkan kata-kata pujian, "Hebat, Kim Cong-koan! Liok-hap- sin-kang (Tenaga Sakti Enam Lapis) mu sudah meningkat pesat!"

Bayangan pertama terkejut, apalagi ketika merasakan sengatan hawa panas dari gerakan lawan, menyertai tenaganya sendiri yang terpantul balik. Cepat ia melompat mundur sambil menyiapkan serangan barunya. Sedangkan si bayangan kedua cepat-cepat melompat mundur pula sambil berseru, "Tahan, Kim Cong-koan, aku tak ingin berkelahi denganmu!"

Bayangan yang di depan itu, Kim Seng Pa, mengendorkan sikap tempurnya, lalu tertawa mengejek, "Kiranya kau, Pak Kiong Liong! Tentu saja kau tidak ingin bertempur, karena tidak mau mengulangi kekalahanmu dulu di tanganku, bukan?"

Bayangan yang kedua itu ternyata juga seorang kakek-kakek yang sebaya dengan Kim Seng Pa. Dialah Pak Kiong Liong, bekas Panglima Hui-liong-kun yang sejak beberapa tahun yang lalu kehilangan kedudukannya karena menentang Kaisar Yong Ceng dan tetap mendukung Pangeran In Te sebagai pewaris syah tahta.

Menghadapi ejekan Kim Seng Pa itu, Pak Kiong Liong tetap bersikap sabar, sahutnya sambil tertawa, "Benar, aku takut kalah karena ilmu Cong-koan sudah meningkat dibandingkan dulu. Sedangkan tulang-tulangku sudah semakin keropos."

Diam-diam Kim Seng Pa jadi malu sendiri menghadapi sikap merendah itu. Sikapnya sendiri jadi kelihatan kekanak-kanakan, padahal seluruh rambutnya sudah ubanan. Selain itu, dalam benturan tangan tadi, dialah yang tergetar mundur. Jadi, meskipun beberapa tahun yang lalu dia bisa mengalahkan Pak Kiong Liong, tapi sekarang belum tentu. Terpaksa ia melunakkan sikap. "Mau apa kau membuntuti aku, Pak Kiong Liong?"

"Aku hanya mau mengucapkan terima kasih kepadamu.”

"Terima kasih untuk apa?"

"Karena Cong-koan telah menyelamatkan nyawa Pangeran In Te."

Bukan bangga mendapat ucapan terima kasih itu, Kim Seng Pa malah kaget karena perbuatannya yang ingin dilakukan diam-diam itu sudah diketahui oleh Pak Kiong Liong. Memang Kim Seng Pa itulah penolong tersembunyi yang dengan lemparan kerikilnya berhasil menotok lumpuh si pembunuh yang hampir menancapkan belati di jantung Pangeran In Te. Perbuatannya itu dilakukan bukan karena ia baik hati kepada Pangeran In Te, melainkan menggagalkan tugas Ni Keng Giau agar Ni Keng Giau tidak dipercaya lagi oleh Kaisar Yong Ceng.

Tentu saja tindakan itu harus dilakukan diam-diam, sebab pembunuhan atas diri Pangeran In Te itu termasuk rencana Kaisar sendiri, menjegal rencana itu berarti juga menentang Kaisar. Maka alangkah cemasnya Kim Seng Pa ketika mengetahui bahwa undakannya tadi ternyata telah diintai oleh Pak Kiong Liong.

Seandainya yang dihadapinya bukan Pak Kiong Liong, pastilah sudah dibunuhnya tanpa ampun. Namun Pak Kiong Liong bukanlah kerupuk yang bisa dicaplok begitu saja. Dulu memang ia pernah mengalahkan Pak Kiong Liong, namun beberapa saat yang lalu ia sudah merasakan betapa Hwe-liong-sin-kang (Tenaga Sakti Naga Api) Pak Kiong Liong sudah meningkat hebat dibandingkan dulu. Kalau bertempur lagi, susah menang sudah pasti akan dialaminya.

Karena itulah Kim Seng Pa tidak mau ambil resiko. Sikapnyapun jadi semakin ramah, "Yah,. begitulah. Aku tidak tega melihat Pangeran In Te yang sudah dijatuhkan itu masih juga hendak dibunuh. Rasa kemanusiaankulah yang tak bisa membiarkan hal itu terjadi."

Pak Kiong Liong sudah kenal bagai mana watak Kim Seng Pa, maka jadi merasa agak lucu juga mendengar Kim Seng Pa omong soal "rasa kemanusiaan” segala. Namun ia mengangguk-angguk, pura-pura percaya, dan berkata setengah menggoda, "Cong-koan sungguh seorang berbudi amat luhur. Kalau Pangeran In Te kelak kuberi tahu soal ini, tentu dia akan sangat...."

Kim Seng Pa terkesiap, "Jangan! Tidak usah diberitahu! Bahkan siapapun jangan diberi tahu!"

"Lho kenapa?" tanya Pak Kiong Liong pura-pura tolol.

"Sebab... sebab kalau sampai didengar oleh Sribaginda, tentu aku akan diragukan kesetiaanku, dan mungkin juga menerima hukuman berat. Apakah kau tega melihatku yang telah menolong Pangeran ln Te ini malah mendapat bencana?"

"Oooo.... begitu? Baiklah. Aku berjanji takkan mengatakannya kepada siapapun. Tapi kumohon Cong-koan sudi menjawab pertanyaan-pertanyaanku."

"Celaka, malah aku diperas......" keluh Kim Seng Pa dalam hati. Tapi sambil tersenyum ia berkata, "Silahkan, Goan-swe."

"Ah, jangan lagi panggil aku Goan-swe (jenderal), sebab aku sudah bukan apa-apa lagi kecuali seorang gelandangan tua yang menjadi buronan pemerintah," kata Pak Kiong Liong sambil tersenyum. "Aku cuma ingin tanya, apakah kira-kira orang yang hendak membunuh Pangeran In Te itu adalah suruhan Ni Keng Giau?"

Kim Seng Pa merasa mendapat kesempatan untuk memanas-manasi hati Pak Kiong Liong demi kepentingannya sendiri. Ia menjawab sambil pura-pura menarik napas dan geleng-geleng kepala, "Kalau kau tidak mau lebih dulu bersumpah berat untuk merahasiakan pembicaraan kita ini, aku tak berani mengatakannya."

"Baik. Aku bersumpah demi Thian-hu Te-bo (Ayah Langit Ibu Bumi) untuk merahasiakannya.”

"Benar?"

Pak Kiong Liong tertawa dingin, "Kim Cong-koan, pernah kau dengar orang macam apa aku ini? Suka menjilat ludah sendiri? Suka berkhianat untuk keuntungan sendiri? Suka bersumpah kosong?"

"Baik, baik. Aku percaya sekarang. Nah, akan kujawab pertanyaanmu tadi."

Suasana sunyi sebentar. "Memang benar. Ni Keng Giau lah yang mendalangi usaha pembunuhan Pangeran In Te, dengan cara yang bermacam-macam. Di perkemahan, Ni Keng Giau selalu memancing-mancing agar Pangeran In Te berbuat kesalahan, agar bisa dijatuhi hukuman mati. Dan di tempat seperti ini, tak segan ia mengupah pembunuh-pembunuh bayaran seperti tadi."

Sebagai pendukung setia Pangeran In Te, darah Pak Kiong Liong memang menghangat mendengar hal itu. Namun ia tetap bungkam sambil pasang kuping. Sedangkan Kim Seng Pa terus berusaha membangkitkan kemarahan Pak Kiong Liong,

"Pak Kiong Liong, Pangeran In Te adalah seorang bangsawan Manchu. Kau dan aku juga orang-orang Manchu. Relakah kita melihat Pangeran In Te setiap hari harus merendahkan diri dihadapan Ni Keng Giau, tapi masih juga dicari-cari kesalahannya, diejek, dihina, dipermalukan dihadapan perwira-perwira, bahkan hendak dibunuh?"

Pak Kiong Liong masih tetap diam, dan Kim Seng Pa melanjutkan bicaranya, "Apakah pantas seorang bangsawan turunan Aishin Gioro dihina seorang Han keturunan rakyat jelata macam Ni Keng Giau itu? Pantas tidak?"

Mula-mula memang Pak Kiong Liong panas hatinya dan hampir saja kena hasutan Kim Seng Pa. Namun ketika hasutan itu menghebat, Pak Kiong Liong malahan menjadi waspada, "mendingin" dan mulai hati-hati. Kim Seng Pa memberi dalih kesukuan dalam penjelasannya, suatu dalih yang tak pernah disukai Pak Kiong Liong. Namun Pak Ki ong Liong tetap diam, membiarkan Kim Seng Pa terus berbicara agar dapat menebak apa kiranya maksudnya yang sebenarnya di balik pertolongannya kepada Pangeran In Te juga di balik hasutan nya tadi.

Melihat Pak Kiong Liong diam saja, Kim Seng Pa mengira Pak Kiong Liong sudah terpengaruh oleh ucapannya, maka usulnyapun jadi semakin berani. "Begitulah, Pak Kiong Liong. Kita memang pernah bermusuhan, tapi sekarang tibalah saatnya untuk bersatu, membela kehormatan suku kita yang diinjak-injak oleh orang Han hina Ni Keng Giau! Aku punya usul!"

"Usul apa, Cong-koan?" Pak Kiong Liong bertanya.

"Karena aku terikat oleh kedudukanku, aku amat tidak leluasa berbuat sesuatu terhadap Ni Keng Giau, biarpun sudah lama aku ingin sekali mengunyah kepalanya. Tapi kau, Pak Kiong Liong, kau dalam keadaan bebas dan ilmumu begitu tinggi. Tidak inginkah mendarma baktikan ilmumu untuk membela Pangeran In Te? Ada suatu cara, bunuhlah Ni Keng Giau! Kalau perlu, aku bisa membantumu dengan menyelundupkanmu kedalam perkemahan!"

Pak Kiong Liong merasa agak diluar dugaan. Ia memang tahu kalau diantara pembantu-pembantu dekat Kaisar Yong Ceng ada sikut-sikutan, namun tak menduga kalau Kim Seng Pa sampai begitu bernafsu mengingini kematian Ni Keng Giau. Pikirnya, "Hemm, Kim Seng Pa, kau pikir aku begitu tolol untuk menjadikan diriku alat pembunuh bagimu? Kau menyuruhku bukan untuk membela Pangeran In Te, tapi hanya untuk menyingkirkan sainganmu agar semakin rata jalanmu untuk mencapai ambisimu. Setelah aku berhasil membunuh Ni Keng Giau, jangan-jangan lalu aku dan Pangeran In Te juga akan kau bunuh untuk mencari muka terhadap si Yong Ceng itu?"

Tapi Pak Kiong Liong pura-pura mengangguk-angguk dan berlagak tolol ketika bertanya, "Tapi, Cong-koan, kalau sampai Ni Keng Giau mati, bagaimana dengan pasukan kekaisaran yang akan kehilangan pimpinan dalam perang ini? Bukankah akan kacau, dan pihak musuh yang akan memetik keuntungan?"

Kim Seng Pa menjawab dengan penuh nada percaya diri, "Pak Kiong Liong, kau pikir cuma Ni Keng Giau yang sanggup memimpin angkatan perang? Aku juga bisa! Apalagi sebagai seorang Manchu, aku lebih pantas untuk kedudukan itu!"

Pak Kiong Liong hampir tak bisa menahan tertawanya mendengar jawaban itu. Pikirnya. "Jadi inilah tujuannya, hendak merebut kedudukan Ni Keng Giau. Bukan main. Tapi meski ilmu silatnya tinggi, mengatur pasukan dalam suatu perang adalah soal yang sama sekali berbeda. Apa dikiranya mengatur pasukan itu sama dengan menggiring bebek di pinggir-pinggir sawah? Kalau pasukan ini sampai dia pimpin malah akan tak karuan jadinya...."
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 02

Kemelut Tahta Naga II Jilid 02

Karya Stevanus S P

TENGAH hari, ketika cahaya matahari jatuh tegak lurus di ubun-ubun, di padang rumput yang luas di depan perkemahan pasukan induk, dilakukan upacara Pai-ki oleh pasukan-pasukan penggempur yang akan maju berperang. Setelah upacara selesai, pasukan-pasukan itupun berangkat ke sasarannya masing-masing. Setiap perajurit menunjukkan semangat yang tinggi, terpengaruh irama genderang perang yang ditabuh untuk menghangatkan darah mereka.
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Ujung-ujung pedang, lembing dan bedil berderet rapat menyaingi banyaknya ujung rerumputan Jing-hai. Dicampur derap kaki kuda dan gemeretak roda meriam-meriam yang ditarik kuda. Di bawah bendera ke garis depan, siap saling bantai dengan mahkluk sejenis dari pihak musuh. Tidak ada kepastian siapa yang kelak masih bisa pulang dan siapa yang tidak, menjadi rabuk di padang rumput yang jauh dari kampung halaman.

Hampir empat ratus ribu perajurit berangkat ke berbagai arah, tapi di perkemahan itu masih tinggal limaratus ribu lebih. Di antaranya adalah pasukan Tiat-ki-kun yang digembleng oleh Ni Keng Giau sendiri. Ni Keng Giau amat berambisi agar pasukan kebanggaannya itu menjadi lebih hebat dan terkenal dari pasukan Hui-liong-kun yang dulu dipimpin Pak Kiong Liong dan kini sudah dibubarkan. Tiat-ki-kun belum diturunkan ke medan laga, dijaga tetap segar untuk digunakan pada pertempuran yang menentukan kelak. Tiat-ki-kun pula yang akan diatur sedemikian rupa sehingga paling besar jasanya kelak.

Setelah pasukan-pasukan penggempur itu berangkat, Ni Keng Giau masih semalam lagi mengistirahatkan pasukannya yang tertinggal. Kemudian esoknya ia perintahkan membongkar perkemahan. Pasukan induk itu maju dua ratus li dan mengambil posisi yang baru. Menyuruk semakin ke tengah-tengah kawasan kemelut, agar lebih mudah berhubungan dengan pasukan-pasukan yang telah maju lebih dulu.

Pangeran In Te memimpin pasukannya bergerak menyusuri sisi pegunungan Thian-san ke arah barat laut. Udara terasa makin dingin. Sesuai dengan kelaziman, Pangeran In Te menunjuk seorang perwira bawahannya yang berpangkat cam-ciang bernama Sun Hong Beng, untuk menjadi Sian-hong Ciang-kun (panglima perintis) maju lebih dulu dengan pasukan yang dilengkapi senapan.

Di luar dugaan, ketika menerima penunjukan itu, Sun Hong Beng tidak sekedar menjawab dengan tegas kaku gaya perajurit, tapi dengan perasaan meluap-luap, "Pangeran, hamba sungguh amat bangga mendapat kesempatan untuk kembali bertempur bersama Pangeran, di tempat yang sama. Beberapa tahun yang lalu, hamba juga ikut Pangeran menancapkan bendera kemenangan di Jing-hai ini. Sekarangpun hamba ikut penasaran terhadap ketidak-adilan yang menimpa diri Pangeran."

Pangeran In Te terkejut mendapati sikap macam itu. Sebagai seorang manusia berperasaan, yang sudah sekian tahun hidup di bawah tekanan, hinaan, di intai intrik-intrik yang mengancam nyawanya, ketika tiba-tiba menemukan seorang yang menyatakan simpati kepadanya, tentu saja amat menyenangkan.

Namun Pangeran In Te tetap waspada, jangan-jangan Sun Hong Beng ini cuma semacam perangkap yang dipasang oleh Ni Keng Giau untuk menyelidiki isi hatinya? Maka terpaksa Pangeran In Te menahan luapan perasaannya, dan menjawab dengan datar saja. "Segeralah jalankan tugasmu, cam-ciang. Kita hanya perlu memusatkan perhatian ke garis depan agar mendapat kemenangan. Jangan sampai perhatian kita diganggu oleh hal-hal yang bisa dikerjakan di lain waktu dan lain tempat."

Sun Hong Beng mengiyakan sambil bangkit dari berlututnya. Matanya nampak agak basah berkaca-kaca. Melihat kemurnian sikap itu, perasaan Pangeran In Te tergerak juga, karena hatinya tidak terbuat dari batu. Suaranya tiba-tiba melunak, jauh dari nada seorang atasan kepada bawahannya, "Cam-ciang, benarkah dulu kau pernah ikut bertempur di Jing-hai juga?"

"Benar, Pangeran. Ketika itu hamba baru berpangkat pa-cong. Tak heran kalau Pangeran tidak mengingat hamba, karena saat itu dalam pasukan ada ribuan orang yang berpangkat pa-cong."

"Waktu itu kau ada di kelompok mana?"

"Pasukan jalan kaki yang dipimpin Cong-peng Utti Hui-pa."

Utti Hui-pa. Tentu saja Pangeran In Te ingat akan perwiranya yang setia dan jujur itu, namun juga berangasan dan kurang pikir. Ketika Kaisar Yong Ceng menawan Ibu suri Tek Huai untuk menggertak agar Pangeran In Te tidak menyerbu Pak-khia, maka Utti hui-pa bersama beberapa perwira nekat lainnya telah menyelundup masuk istana untuk herusaha membawa lari Ibusuri Tek Huai. Namun mereka gagal, tertangkap dan dihukum penggal kepala di atas tembok kota Pak-khia, dipertontonkan kepada Pangeran In Te dan pasukannya yang waktu itu sudah mengurung kota raja Pak-khia.

Pangeran In Te menarik napas terkenang peristiwa itu. Ia tetap hormat kepada kesetiaan Utti Hui-pa, biarpun pengorbanannya gagal. Tetapi di hadapan Sun Hong Beng, ia cuma berkata datar, “Ya, aku memang masih ingat Utti Hui-pa. Nah, cam-ciang, jalankan tugasmu!"

"Siap, Pangeran," kali ini Sun Hong Beng menjawab cara perajurit. Pasukan itupun maju dalam dua gelombang. Sebagai Sian-hong Ciang-kun. Sung Hong Beng berjalan di depan, dan disebarkannya pengintai-pengintai untuk melihat keadaan di depan. Ia bertekat akan bertempur demi Pangeran In Te, meskipun tahu kalau Pangeran In Te belum mempercayainya. Ia anggap wajar kalau Pangeran In Te selalu harus waspada, biarpun terhadap seorang yang menunjukkan sikap baik, sebab Pangeran In Te dikelilingi musuh-musuh bersembunyi yang senantiasa memasang perangkap.

Sun Hong Beng adalah seorang perwira yang cukup tangguh. Setiap kenaikan pangkatnya selalu disertai dengan kenaikan ketrampilan silatnya, ia mahir memainkan sepasang lembing pendek. Namun sesuai dengan tuntutan jaman itu, Sun Hong Beng juga mahir menembak dengan senapan sambil berkuda. Dengan makin banyaknya orang-orang Eropa yang berkeliaran di negeri-negeri timur, maka cara-cara bertempur Eropa pun mempengaruhi negeri-negeri timur. Negeri-negeri timur yang tetap bertahan dengan cara perang kuno tanpa penyesuaian, akan terancam jatuh menjadi jajahan bangsa-bangsa Eropa yang bersenjata api.

Pasukan itu bergerak melintas dibawah udara yang dingin menggigit. Di sebelah kanan mereka adalah puncak-puncak pegunungan Thian-san yang sepanjang tahun berselimut salju, sebelah kiri adalah padang rumput yang amat luas. Sekali-sekali nampak segerombolan yak, sejenis lembu berkepala kecil yang berbulu tebal, melintas bergerombol. Diangkasa nampak beberapa burung elang melayang tenang di antara mega, sayap mereka tak bergerak seolah mengantuk. Namun bila mata mereka yang tajam itu melihat mangsa, maka mereka pun menukik turun bagaikan kilat.

Demikianlah pasukan Pangeran In Te menggeleser maju seperti ular besar, dan sehari kemudian mereka tiba di sebuah mulut selat gunung yang diperhitungkan bakal dilewati kafilah Kozak. Pangeran In Te segera memerintahkan pasukannya bersembunyi di sebuah hutan, dan menghapus jejak kaki kuda di luar hutan. Pengintai-pengintai segera membawa teropongnya untuk memanjat pohon-pohon yang tinggi guna mengawasi tempat kejauhan.

Sehari semalam lewat tanpa terjadi apa-apa. Hari kedua, seorang pengintai bergegas turun dari pohon, lalu menghadap Pangeran In Te dan melaporkan bahwa dari arah barat laut sudah terlihat suatu kafilah besar datang mendekat.

Pangeran In Te yang sedang duduk bersandar pohon, segera melompat bangun. "Siapkan pasukan!"

Semua perajurit pun menyiapkan diri, tidak tergesa-gesa namun sigap dan teliti, terutama alat-alat perang mereka.

"Pangeran, apakah kita akan menyongsong mereka di tempat terbuka?" tanya Sun Hong Beng. "Menurut yang kita ketahui, kekuatan kita dua kali lipat kekuatan mereka,"

Pangeran In Te menggelengkan kepala, "Meskipun kita unggul dalam jumlah, namun korban di pihak kita harus ditekan sesedikit mungkin. Menyongsong di tempat terbuka memang kelihatan gagah, dan mungkin pula menang, tapi akan banyak perajurit kita jadi korban. Karena itu, pertama-tama kita akan menyergap dari hutan dengan senapan dan panah. Setelah itu, barulah kita serang langsung jarak dekat."

Para perwira mengangguk, dan para perajurit bersyukur dalam hati karena Pangeran ln Te menggunakan siasat hemat nyawa" macam itu. Itu artinya Pangeran ln Te sejauh mungkin berusaha menghargai nyawa perajurit-perajuritnya sebagai sesama manusia, yang harus dihargai biarpun dalam perang. Bukan sekedar dicatat sebagai "biaya perang".

Pasukan pun bersiap di tepi hutan, di balik pepohonan. Mereka merasa agak tegang juga, sebab mereka sudah mendengar bahwa orang-orang Kozak adalah jago-jago perang yang tangguh. Nama mereka disegani dari kawasan Asia Tengah sampai Eropa Timur.

Pangeran ln Te menyusun para pemanah dan penembak menjadi dua lapis, depan dan belakang. Buat para penembak senapan, sehabis menembak satu kali tentu harus mengisi peluru dan obat ledaknya lagi, dan itu makan waktu. Maka selama mereka mengisi kembali, lapisan kedua yang akan menembak, dan setelah lapisan kedua menembak, lapisan pertama sudah siap menembak kembali sementara lapisan kedua mengisi senapannya. Begitulah bergantian seterusnya, sebab senapan di jaman masih kuno. Hanya bisa untuk menemhak satu kali setiap kali pengisian.

Jumlah senapan yang dibawa pasukan itu juga terbatas jumlahnya, sehingga tidak semua perajurit kebagian memegang senapan. Maka yang tidak kebahagian itu harus siap dengan panah dan lembing, yang biarpun jangkauannya tidak sejauh peluru bedil, tapi ada kelebihannya juga, yaitu bisa dilepaskan berturut-turut dengan jarak waktu yang lebih rapat.

Pesan Pangeran In Te kepada para pemimpin regu, "Kalian harus membidik dengan cara Siap-jin-sian-sia-ma (sebelum membidik orangnya, bidik dulu tunggangannya). Mengerti?"

Para pemimpin regu menyatakan mengerti, dan meneruskan perintah itu kepada anggaota regu masing-masing. Sementara itu, kafilah musuh sudah kelihatan tanpa memerlukan teropong lagi. Sebuah kafilah berjumlah besar, di kawal orang-orang Kozak berkuda yang bertubuh besar-besar, rambut brewok mereka berwarna coklat kemerahan, dan memakai topi-topi bulu yang tebal.

Mereka sebenarnya serdadu-serdadu kekaisaran Rusia. Namun dalam tugas kali ini, mereka tidak memakai seragam keperajuritan mereka. Bisa dimaklumi, sebab Rusia masih terikat perjanjian tahun 1689 yang ditandatangani wakil-wakil kedua kerajaan di St Peterrburg, ibukota Rusia waktu itu. Perjanjian yang ditanda-tangani setelah terjadinya perang hebat di tepi Sungai Ussuri yang menimbulkan kerugian besar di ke dua belah pihak.

Setelah Kaisar Khong Hi digantikan Kaisar Yong Ceng di tahun 1712, Rusia kembali bangkit nafsunya untuk meluaskan wilayah, tapi tidak secara terang-terangan. Kali ini dengan cara membujuk orang-orang Jing-hai yang seagama dengan mereka agar berontak terhadap pemerintahan di Pak-khia yang "kafir" kata mereka.

Sesaat Pangeran In Te memperhitungkan jarak. Setelah bagian depan kafilah musuh diperkirakan sudah bisa dijangkau peluru, maka Pangeran In Te memberi isyarat kepada pasukannya dengan lambaian tangan. Maka berletusanlah ratusan pucuk senapan dari pihak pasukan Pangeran In Te.

Kafilah itu menjadi agak kacau, tidak menduga akan menghadapi sergapan yang begitu awal. Baik manusia, onta ataupun kuda segera banyak yang bertumbangan. Teriakan orang dan ringkik kuda bercampur-aduk dengan ledakan-ledakan senapan yang bising. Pengawal kafilah yang belum kena lalu mengatur diri untuk bertahan.

Ternyata pengawal-pengawal kafilah itu memang jago-jago perang yang bakal menjadi lawan berat pasukan Pangeran In Te. Kepanikan mereka hanya sebentar, dan dalam waktu singkat barisan depan sudah berhasil membentuk posisi bertahan. Sambil berjongkok atau bertiarap di balik bangkai kuda atau onta, mereka balas menembak atau memanah.

Peluru para pengawal kafilah itu banyak yang cuma menghantam pepohonan di pinggir hutan, namun ada juga beberapa perajurit Pangeran ln Te yang menjadi korban, karena kurang rapat berlindung. Kedua pihak sudah mulai "menyicil harga" kepentingan masing-masing, dan mata uangnya ialah nyawa manusia.

Sebagian pengawal kafilah berusaha menggiring balik onta-onta pengangkut beban menjauhi jangkauan serangan pasukan Pangeran In Te, untuk menyelamatkan barang-barang kawalan mereka. Ketika sebutir peluru panas menghunjam ke dalam sebuah kantong kulit besar di punggung seekor onta, tiba-tiba kantong itu meledak menjadi kobaran api yang hebat bersama ontanya sekalian. Beberapa pengawal berkuda yang ada di dekatnya juga ikut kena ledakan. Maka berhamburanlah serpihan-serpihan daging onta, kuda atau manusia yang susah dibedakan lagi.

Rupanya kantong-kantong besar itu berisi bubuk peledak untuk mengisi senapan. Maka Pangeran In Te tiba-tiba menemukan pikiran baru. Perintahnya kepada penembak-penembak dalam pasukanannya, "Incar kantong-kantong kulit besar itu!"

Perintah dijalankan, dan beberapa ledakan hebat kembali terjadi di tengah tengah kafilah musuh. Kuda dan onta yang tidak mati menjadi kacau dan melonjak-lonjak tak keruan, merepotkan para pengawal kafilah yang berusaha menenangkan hewan-hewan itu. Tapi peluru-peluru dan panah dari pasukan Pangeran ln Te terus menghambur, memunguti korban-korban mereka.

Hanya saja, kafilah itu adalah sebuah barisan panjang. Kekacauan cuma terjadi dibagian depan. Pengawal-pengawal belakang kafilah justru menyusun diri dan maju ke depan untuk menolong teman-teman mereka. Mereka menderapkan kuda dengan kencang, menebar sambil membungkuk rapat di atas kuda untuk menyerbu ke hutan. Mereka ingin memaksa lawan-lawan mereka keluar dari hutan dan bertempur secara terbuka.

Beberapa penunggang kuda terdepan roboh tertembus peluru atau panah, setelah lebih dekat lagi maka lembing dari pihak Pangeran In Te pun ikut ambil bagian. Tapi selebihnya terus menyerbu dengan berani, bahkan dari bagian belakang kafilah menyusul lagi ratusan orang.

"Benar-benar orang-orang nekat," geram Pangeran In Te melihat iiu. "Mereka belum bisa menaksir kekuatan kami yang bersembunyi di hutan ini, tapi sudah berani menyerbu kemari."

Pangeran In Te juga sadar bahwa sifat kejutan dari serangannya sudah tidak menentukan lagi, ia lalu mengambil langkah berikutnya, la perintahkan pasukannya keluar dari hutan dan menyongsong musuh di tempat terbuka. Perajurit-perajuritnya lalu berlompat ke atas kuda, dan menyongsong keluar hutan.

Maka menderulah dataran itu oleh derap ribuan kuda. Dua gelombang manusia berkuda saling menempur langsung, tanpa berliku-liku lagi. Sorak gempita dari kedua belah pihak membuai semuanya bagaikan kemasukan setan, senjata-senjata yang berkilat-kilat sudah diangkat tinggi-tinggi, siap dijatuhkan ke tubuh lawan.

Beberapa orang dari kedua belah pihak masih coba-coba memanfaatkan bedil, panah atau lembing, dan beberapa lawan terdepan memang berjungkalan roboh dari kuda. Ada yang kakinya tidak bisa lepas dari sanggurdi sehingga tubuhnya terseret oleh kuda tunggangan nya sendiri yang berlari menggila.

Penunggang-penunggang kuda yang di belakang tidak menggubris mereka yang berjatuhan di depannya atau kuda-kuda yang berputaran kebingungan tanpa penunggang lagi. Mereka terus menerjang. Mereka lebih memperhatikan musuh yang semakin dekat. Senjata-senjata jarak jauh disimpan, dan kini berkilat-kilatlah tombak, pedang, kampak, tongkat berduri dan sebagainya.

Dengan nafsu saling membinasakan yang meluap-luap, dua gelombang "Pembunuh resmi" itu bertemu, seperti dua arus yang bertabrakan, saling menghempas dan menimbulkan gejolak yang mengerikan. Harga nyawa manusia tiba-tiba anjlok serendah- rendahnya. Sorak gemuruh membubung bersama ringkik kuda dan gemerincing ribuan senjata yang dibentur-benturkan penuh kebencian.

Pedang dan golok disabetkan, tombak disodokkan, kampak ditekakkan, tongkat, gada atau ruyung diayun-ayunkan mencari tulang kepala atau tulang pinggul. Ketangkasan berkuda, ketrampilan main senjata dan keberanian bergabung jadi satu. Usaha menyelamatkan diri dan nafsu membunuh berbaur tanpa batas. Debu mengepul tinggi, keributan memuncakk.

Masih terdengar perwira-perwira kedua belah pihak meneriakkan perintah-perintah, berusaha mengarahkan anak buahnya masing-masing. Tapi suara mereka tenggelam oleh hingar-bingar nya derap kuda, suara kulit dan daging yang terkoyak, tulang-tulang yang remuk terhantam besi-besi dingin tanpa perasaan, dan jeritan mereka yang men jadi korban.

Salah satu jago perang orang Kozak adalah Kobita Popovitch, seorang raksasa yang berambut dan berbrewok coklat kemerah-merahan. Senjatanya ialah tongkat besi sepanjang satu meter, disambung rantai satu meter, pula, dan di ujung rantai ada bola besi berduri. Senjata itu dimainkan dengan mahir dan ganas sekali, sambil menerjang-nerjangkan kudanya di seluruh arena.

Tiap kali ada perajurit-perajurit Pangeran In Te yang terlempar dari kuda dengan kepala retak, atau tubuh robek terlanggar duri-duri di permukaan bola besi yang berdesing-desing seringan terbangnya seekor lalat. Sekali-kali rantainya melibat lengan atau leher seorang lawan, lalu menyeret lawannya mendekat dengan tenaganya yang hebat, disusul tinju kirinya terayun meremukkan muka korbannya. Atau di cengkeramnya rambut atau baju lawannya untuk dibanting jatuh dari kuda, lalu diremukkan di bawah kaki kudanya yang tegar.

Begitulah jagoan Kozak ini menimbulkan korban yang tidak sedikit di antara pasukan Pangeran In Te. la jadi seperti seekor serigala yang menyuruk ke tengah kawanan domba. Seorang perwira bawahan Pangeran In Te tidak membiarkan kerusakan pasukannya lebih lanjut, la memajukan kudanya untuk menghadang amukan Kobita. Perwira itu bertubuh kurus dan pendek, bersenjata tombak berkait, maka banyak kawan maupun lawan yang heran melihatnya berani menyongsong lawannya yang bertubuh raksasa.

Ternyata si kerdil ini tidak begitu bodoh untuk menyongsong langsung dari depan, namun memotong dari samping untuk menikam lambung kiri Kobiia, sisi yang tidak bersenjata sebab lawannya memegang senjata dengan tangan kanan. Melihat lawan bertubuh sekecil itu, Kobita memandang remeh lawannya. Dengan sigap tangan kirinya menangkap batang tombak lawannya sambil memutar pinggang, siap mengayunkan bola besi berdurinya ke kepala lawan.

Lawannya memang tak sanggup menandingi kekuatan Kobita. Kalau ia tidak mau melepaskan tombaknya, pasti akan segera terseret dan di remuk kepalanya. Namun si kerdil ini ternyata punya kegesitan luar biasa dan punya senjata lain yang tak terduga oleh lawannya. Cepat ia melepaskan tombaknya dan melempar dari kuda, berguling bagaikan ular melewati bawah perut kuda Kobita untuk muncul di sebelah lain.

Betapapun tangkasnya jagoan kozak ini, namun tubuhnya yang begitu besar membuatnya tidak mungkin berputar cukup cepat, lagipula ia sudah terbiasa berhasil membunuh musuh dalam sekali gebrak, la kaget ketika lawannya tiba-tiba "hilang", dan bola berduri di ujung tongkat berantainya hanya berhasil menghantam remuk kepala kuda yang sudah takk berpenunggang.

Kobita Popoviich memutar tubuh untuk mencari lawannya, dan ketika ia melihatnya, ia tak sempat berbuat apapun kecuali meraung kesakitan. Lawannya secepat kilat telah melontarkan sebatang pedang pendek yang menyusup ke daging lehernya. Tubuh sang raksasa tumbang dari atas kudanya dan berdebum di tanah.

Perwira Pangeran In Te itu cepat menarik tombaknya yang masih digenggam Kobita, lalu mengambil alih kuda lawannya sebagai ganti kudanya sendiri yang sudah mati. Namun robohnya si jagoan Kozak tidak banyak mempengaruhi semangat para pengawal kafilah. Nyali mereka tidak goyah hanya karena melihat kematian teman-teman mereka, sebab hal itu sudah biasa bagi orang Kozak yang gemar berperang itu.

Pertempuran tetap berjalan dengan sengit. Kedua belah pihak sama-sama kehilangan banyak teman, bahkan jago-jago andalan kedua belah pihak juga silih berganti berguguran dan keberanian kedua belah pihak pun seimbang, namun akhirnya segi jumlah ikut berpengaruh juga. Pasukan Pangeran In Te jauh lebih banyak dari pengawal kafilah, maka akhirnya kelihatan juga para pengawal kafilah mulai terdesak.

Seorang jago Kozak lainnya bernama Gouma, kemasyhurannya di medan laga menyaingi Kobita. Senjatanya ialah kampak bermata ganda, bolak-balik, dan di tengahnya ada ujung yang lancip seperti tombak, bertangkai kira-kira satu meter. Puluhan perajurit Pangeran In Te telah dirobohkannya dengan ketangkasan dan kekuatannya yang mirip seekor beruang. Tiap kali senjatanya mematuk, satu lawan gugur oleh ujung tombaknya. Kalau senjatanya disabetkan bolak-balik, maka yang menjadi korban bisa dua orang sekaligus.

Melihat pengganas ini, Pangeran In Te tidak bisa tinggal diam. Ia memacu kudanya untuk mendekati Gouma. Seorang perwira bawahannya terkejut dan berteriak mencegah, “Pangeran, orang itu berbahaya sekali. Biar hamba dan beberapa teman yang menghadapinya!”

"Aku justru bosan karena sejak tadi tidak menemui lawan yang tak berarti," sahut Pangeran In Te tanpa menunda gerakannya.

Gouma tertawa terbahak-bahak ketika melihat lawan yang mendekatinya adalah seorang yang bertubuh ramping, kulit wajahnya terlalu putih seperti kulit bayi, dan pedang yang dibawanya nampak seperti pedang "hiasan dinding" yang nampak tidak pantas dibawa-bawa dalam pertempuran sebuas itu.

Namun setelah kampak tombak Gouma berbenturan beberapa kali dengan pedang Pangeran In Te, barulah Gouma sadar ia ketemu lawan tangguh. Timbul nafsunya untuk secepatnya mengalahkan lawan yang satu ini. Senjatanya terayun makin kuat dan cepat, dikerahkannya seluruh keahlian main senjata yang dipelajarinya sejak kecil.

Dalam hal silat, Pangeran In Te memang tidak setangguh kakak-kakaknya seperti Kaisar Yong Ceng, Pangeran In Gi atau Pangeran In Tong, karena perhatian Pangeran In Te lebih banyak tercurah di pelajaran kemiliteran. Tapi bukan berarti ia orang yang lemah. Sedikitnya ia pernah menerima petunjuk-petunjuk main pedang dari Pak Kiong Liong, meskipun bukan murid tetap. Dalam mengendarai kuda, Pangeran In Te juga cukup mahir.

Pertama kali pedangnya membentur senjata musuh, Pangeran In Te terkejut karena merasakan kuatnya tenaga musuhnya. Itu menjadi peringatan baginya, bahwa kali ini tidak boleh sekedar adu otot saja, melainkan harus membuat perhitungan yang cermat.

Begitulah keduanya bertempur. Sekali waktu kuda mereka saling menyambar dekat, menjauh, menyambar dekat lagi, memutarkan kuda sambil membenturkan senjata belasan kali untuk mencari kelengahan lawan. Kampak tombak Gouma berdesing-desing mengerikan. Kalau tubuh Pangeran In Te sampai kena, agaknya bukan cuma kulit dagingnya yang bakal robek, tapi sekaligus bersama tulang-tulangnya.

Sedangkan Pangeran In Te memainkan pedangnya selicin ular yang membelit dan mematuk, mengutamakan kecepatan dan incaran yang cermat, menghindari benturan sebisa-bisanya. Dengan cara itu, ternyata tiap kali Pangeran In Te berhasil memaksa lawannya untuk membela diri lebih dulu, dan Gouma mulai terdesak, kekuatannya yang besar tak mendapat kesempatan untuk dibenturkan dan mengambil keuntungan, kebanyakan serangannya yang ngotot cuma menebas angin. Sedangkan pedang Pangeran In Te biarpun tidak mengeluarkan suara menderu, namun bergerak terlalu cepat dalam menjangkau sasaran-sasaran berbahaya di tubuh lawannya.

Gouma semakin kalap dan gerakannya semakin sembrono. Suatu kali ia ayunkan senjatanya dari atas, bermaksud membelah tubuh Pangeran In Te dengan sekuat tenaga. Pangeran In Te menjepit perut kudanya dan melejitkannya ke depan, sekaligus pedangnya mematuk dan berhasil melukai siku lawannya. Gouma kehilangan kendali, senjatanya yang berat itu jatuh ke tanah. Berikutnya, Pangeran ln Te mendoyongkan tubuhnya sambil menikam, dan tembuslah dada si jagoan Kozak ini.

Perwira yang tadi mencemaskan keselamatan Pangeran ln Te, kini lega melihat Pangeran ln Te menang, meskipun nampak agak kelelahan. Pujinya, "Pangeran benar-benar hebat!"

"Kalian semua juga hebat, tapi, mari kita selesaikan dulu pertempuran ini," sahut Pangeran ln Te sambil tersenyum.

Pertempuran belum selesai. Kedua pihak belum puas menunjukkan ketangkasan dan keberanian mereka masing-masing. Orang-orang Kozak dan Jing-hai bertempur mengandalkan tubuh mereka yang besar-besar dan senjata mereka yang umumnya berbobot berat.

Sedang orang-orang Korea dalam pasukan Pangeran ln Te menunjukkan gaya tendangan warisan leluhur mereka yang disebut Tae-kyun, atau cara membanting yang disebut Su-bak. Tidak jarang, sambil berkuda, orang-orang Korea ini berhasil menendang perut atau dagu lawannya sehingga terpental roboh dari kuda. Orang-orang Manchu juga mempunyai sejenis cara membanting yang disebut Sut-ku, sedang orang Han dengan aliran silat mereka yang beraneka ragam

. "Bangsnt-bangsat Tartar ini berkelahi macam iblis!" teriak orang-orang Kozak dalam bahasa mereka. Dalam pandangan mereka, semua bangsa-bangsa dari sebelah timur asalkan berkulit kuning dan bermata sipit, mereka pukul rata dengan sebutan Tartar saja. Padahal orang-orang Rusia kulit putih diam diam juga menyebut orang-orang Kozak dengan sebutan Tartar pula, namun dengan tambahan "yang sudah tidak menyembah berhala".

Betapapun tangguh dan beraninya orang-orang Kozak itu, setelah kehilangan beberapa jagoan mereka dan kalah jumlah pula, mereka mulai merasa tak ada gunanya meneruskan pertempuran. Mereka saling meneriakkan isyarat, lalu sekelompok demi sekelompok meninggalkan arena. Bahkan mereka tak sempat lagi mengurusi onta-onta yang mengangkut barang bawaan mereka, mereka tinggalkan begitu saja.

Pasukan Pangeran In Te bersorak gemuruh, mereka masih mengejar beberapa li lagi, namun kemudian Pangeran In Te menarik pasukannya. Pangeran In Te lalu memerintahkan untuk membuka dan melihat barang-barang apa saja yang hendak diberikan orang-orang Kozak itu kepada para pemberontak di Jing-hai.

Ternyata ada hampir duaribu senapan yang lengkap dengan peluru-pelurunya yang sebesar kelereng, dan bubuk peledaknya. Dalam jumlah besar. Setelah senapan-senapan yang rusak disingkirkan, maka yang utuh masih ada sekitar seribu limaratus pucuk. Melihat senjata-senjata sebanyak itu, sesaat Pangeran In Te merasa tergoda. Bagaimana kalau senapan itu dibagikan kepada perajurit-perajuritnya yang setia kepadanya, lalu balik ke perkemahan induk untuk menggempur Ni Keng Giau dan mengambil alih pimpinan?

Pangeran In Te yakin, asal langkahnya tepat, maka sebagian besar pasukan di perkemahan induk pasti masih bisa dibujuknya untuk mengikutinya, sebab banyak yang diam-diam tidak suka kepada Ni Keng Giau yang terlalu bengis dengan tata-tertibnya. Kalau seluruh pasukan terkuasai, asal dibariskan ke Pak-khia, tentu tidak sulit mendongkel Kaisar Yong Ceng dari kedudukannya.

Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun hidup terkekang dan terancam, biarpun dalam istana, godaan dalam diri Pangeran In Te memang terasa kuat sekali. Godaan untuk memperoleh kekuatan kembali dan membalas penindas-penindasnya. Namun Pangeran In Te kemudian geleng-geleng kepala sendiri, mengusir angan-angan itu. Kalau ia melakukan itu, maka pasukan kerajaan akan pecah, bahkan mungkin terjadi perang saudara, justru di garis depan, di hadapan hidung musuh, dan tentu saja akan menguntungkan musuh.

Akhirnya Pangeran In Te memutuskan untuk tetap dalam sikapnya yang mengalah, mengutamakan keselamatan negara di atas ambisi pribadinya. Namun soal senjata-senjata rampasan itu, Pangeran In Te merasa lebih baik untuk memperkuat pasukannya, daripada tersimpan nganggur dalan kantong-kantong kulit.

"Akan kita apakan senjata-senjata ini, Pangeran?" tanya seorang perwira bawahannya, membuyarkan lamunan Pangeran In Te.

"Bagikan kepada perajurit-perajurit kita yang bisa menembak namun belum kebagian senapan," sahut Pangeran In Te. "Dan semuanya harus mengisi kantong mesiu mereka penuh-penuh!"

Perwira yang bertanya itu adalah seorang pengikut Ni Keng Giau. Makanya ia langsung berprasangka ketika mendengar perintah Pangeran In Te itu, ia nampak ragu-ragu dan tidak segera menjalankan perintah.

"Kenapa ragu-ragu? Jalankan!"

"Pangeran, kalau boleh hamba tahu, kenapa pasukan yang pulang ke perkemahan induk ini malah dipersenjatai makin lengkap seolah-olah akan menghadapi musuh? Bukankah kita sedang akan berangkat pulang untuk bergabung dengan teman-teman sendiri?"

“Bodoh benar pertanyaanmu. Kita kan sedang berada di daerah rawan. Apakah tidak mungkin dalam perjalanan pulangpun kita bertemu musuh? Apa salahnya kita memperkuat diri dengan senjata rampasan?"

"Ampun Pangeran. Apa tidak sebaiknya senjata-senjata rampasan itu tetap di bungkus saja, dan biar hamba yang mengawalnya?"

"Kenapa harus begitu?" Pangeran In Te heran, namun kemudian sambil tertawa pahit ia menjawab sendiri keheranannya, "Oh, mengertilah aku sekarang. Kau khawatir aku menggunakan senjata-senjata ini untuk memberontak kepada Ni Keng Giau?"

Wajah perwira cerewet itu jadi merah, karena isi hatinya kena ditebak Pa ngeran In Te. Dengan agak gugup ia masih mencoba berdalih juga, "Tetapi... senjata-senjaia itu adalah barang bukti keterlibatan negara asing dalam kemelut di Jing-hai ini. Kelak harus ditunjukkan kepada dutabesar Rusia di Pak-khia supaya mereka....”

"Lho, siapa yang sudah mengangkat mu menjadi pejabat dalam urusan ini?" Pangeran In Te menukas sinis.

"Hamba... hamba... hanya mengusulkan...."

"Usulmu ditolak. Jalankan perintahku."

Dengan wajah geram menahan amarah, perwira itu terpaksa beranjak pergi. Namun diam-diam ia membatin. "Goan-swe harus segera mendapat kabar agar bisa bersiap-siap. Siapa tahu dalam diri Pangeran In Te timbul pikiran untuk berkhianat."

Sementara Pangeran In Te tersenyum pahit memandang punggung perwira itu, ia tahu bahwa dalam pasukannya bersembunyi banyak kaki tangan Ni Keng Giau yang bertugas mengawasinya agar tidak "menyeleweng". Mati-matian ia mempertaruhkan nyawa dengan sungguh-sungguh demi kekaisaran, malahan diperlakukan seperti pengkhianat yang harus diawasi terus.

Perajurit-perajurit yang luka sudah diobati dan yang tewas dikuburkan di tempat itu juga. Setiap perajurit ada kemungkinan bernasib seperti itu. Terkubur di tempat terpencil yang tak diketahui sanak-keluarganya. Bahkan gundukan tanahnyapun lama-lama akan rata, ditumbuhi rumput liar, dan orang yang lewat di atasnya takkan tahu kalau di bawah kaki mereka ada manusia lainnya.

Kemudian pasukan itupun menyusun diri dalam barisan, untuk pulang ke perkemahan induk. Tugas pertama telah di selesaikan. Merebut kiriman senjata dari negeri asing yang diperuntukkan bagi para pemberontak di Jing- hai.

Ketika malam tiba, Pangeran In Te memerintahkan pasukannya untuk beristirahat. Kuda dan onta ditaruh melingkar di bagian luar, dijadikan pelindung seandainya ada serangan. Perajurit-perajurit yang kelelahan itu segera bergeletakan berbaring di rerumputan, setelah lebih dulu mengisi perut dengan ransum kering. Sebagian dari mereka mendapat tugas jaga secara bergiliran.

Pangeran In Te sendiri berbaring dengan kepala diganjal sehelai kulit domba yang dilipat-lipat, la agak sulit tidur. Lama sekali matanya berkedip-kedip menatap bintang-bintang di langit terbuka, yang seolah juga membalas kedipannya. Suasana gelap sekali, sebab Pangeran In Te melarang pasukannya menyalakan api, khawatir kalau terlihat oleh musuh yang berkeliaran di padang rumput itu.

Malam semakin larut. Penerangan hanya mengandalkan bintang-bintang yang berkelap-kelip serta sepotong rembulan yang pucat muram. Di sekitar Pangeran In Te mulai terdengar dengkur para perajurit, dengus dengus kuda dan onta, atau para perajurit yang bercakap-cakap perlahan untuk mengusir kantuk sambil berjaga. Udara di daerah itu dingin sekali, tapi apa boleh buat, api tidak boleh dinyalakan.

Namun salah seorang perajurit yang ada didekat tubuh Pangeran ln Te ternyata tidak tidur. Sambil berbaring di kegelapan, diam-diam ia terus memperhatikan Pangeran In Te secermat cermatnya. Menajamkan mata, menajamkan telinga, untuk mengetahui Pangeran ln Te sudah tidur atau belum?

Ketika dilihatnya tubuh Pangeran ln Te tidak bergerak-gerak lagi, dan suara napasnyapun melembut, maka perajurit itupun menyimpulkan bahwa Pangeran In Te sudah tidur. Orang itu menyeringai sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang dalam hati,

"Dengan belati akan lebih praktis. Sebuah tikaman ke jantung sambil membekap mulutnya, takkan banyak suara, dan habislah riwayat bangsawan yang malang itu. Besok seluruh pasukan hanya akan menemui mayatnya, tapi takkan tahu siapa pembunuhnya, sedangkan aku akan pulang disambut kenaikan pangkat dari Goan-swe Ni Keng Giau.

Tiba-tiba saja sebilah belati telah tergenggam di tangan kanannya, sementara tangan kiri mencengkeram segumpal rumput yang akan disumpalkan ke mulut Pangeran In Te agar tidak berteriak. Lalu ia bergeser perlahan, amat hati-hati, agar jangan sampai menyentuh dan membangunkan perajurit-perajurit lain yang tidur malang melintang di sekitar tubuh Pangeran In Te.

Ia berhasil sampai di samping tubuh Pangeran In Te, sesaat ia berjongkok diam untuk meredakan ketegangan hatinya. Dibuatnya tiga hitungan dalam hati untuk membulatkan semangatnya. Hitungan pertama, belati diangkat dan ujungnya diarahkan ke jantung calon korbannya. Hitungan ke dua, genggaman tangkai belati dikuatkan, tekat dibulatkan, keraguan disingkirkan. Hitungan ke tiga, belati bergerak ke sasaran.

Cuma hitungan ke tiga inilah yang tidak sesuai dengan rencana. Sebab si pembunuh ini tiba-tiba merasa punggungnya disambit kerikil, dan tahu-tahu seluruh tubuhnya menjadi kaku, setiap gerakannya terhenti mutlak, seolah-olah tubuhnya tiba-tiba dituangi semen basah yang lalu mengeras dalam satu detik.

Keruan si pembunuh jadi kebingungan heran campur takut. Kenapa tubuhnya justru tak mampu bergerak lagi ketika dalam posisi yang menunjukkan maksud membunuh seperti itu? Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun tetap gagal, seujung jaripun tak bisa.

"Celaka! Apakah Pangeran In Te di lindungi malaikat, sehingga aku kuwalat?" pikir si calon pembunuh itu ketakutan. Makin lama ia makin panik, tapi benar-benar tak berdaya.

Sementara itu, Pangeran In Te pun tiba-tiba terbangun sebab merasa ada sesuatu di lehernya. Ternyata seekor belalang rumput yang entah darimana datangnya. Matanya terbuka, dan ia terkejut melihat ada seorang berjongkok di sampingnya sambil mengacungkan belati. Digerakkan oleh naluri menyelamatkan diri, secepat kilat Pangeran In Te berguling kesamping lalu melompat bangun dengan bersiaga. Tapi ia jadi heran melihat si pemegang belati itu terus diam seperti patung dalam sikap semula.

“Siapa kau? Apa maksudmu?"

Tentu saja si "patung" tetap bungkam karena tak mampu berkata-kata. Dengan hati-hati Pangeran In Te mendorong pundak orang itu, bergoyang sedikit, tapi sikapnya tak berubah. Pangeran In Te jadi menduga-duga, orang atau patungkah yang dia hadapi itu?

Cepat Pangeran In Te mengluarkan batu api dan menyalakan segumpal rumput kering untuk mendapat sedikit cahya. Dilihatnva bahwa "patung" itu ternyata adalah seorang perwira bawahannya agaknya siap membunuhnya selagi ia tidur, namun entah kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti patung macam itu.

Lalu ingatlah Pangeran In Te, pamannya Pak Kiong Liong pernah bercerita kalau di kalangan rimba persilatan ada yang namanya tima-hiai- hoat (Ilmu Menotok jalan darah) yang kalau digunakan terhadap korbannya, antara bisa menjadikan korbannya "seperti patung" selama beberapa jam sampai keadaan korbannya pulih dengan sendirinya. Pangeran In Te pun sadar. Malam itu selain menemukan seorang pembunuh, juga seorang penolong, tapi entah siapa dan dimana penolongnya itu.

Nyala rumput kering itu membuat perajurit-perajurit di sekitarnya bangun, kaget karena mengira ada serangan. Namun yang mereka lihat cuma Pangeran In Te dan "patung" yang berjongkok sambil mengacungkan belati.

"Ampun Pangeran, ada apa?" tanya seorang perajurit.

"Dia mencoba membunuh aku agaknya!" dengan geram Pangeran In Te menunjuk si calon pembunuh yang gagal itu.

Makin banyak perajurit bangun, makin banyak obor dinyalakan, dan makin jelas pula wajah-wajah di sekitar tempat itu. Salah seorang perajurit tiba-tiba berseru mengenali si "patung" itu, “He, bukankah dia itu Pa-cong Yu Hong?"

Sun Hong Beng juga telah datang ketempat iiu, dan ketika mengetahui apa yang terjadi di situ, mukanya menjadi merah padam karena marahnya. Dicengkeramnya rambut si calon pembunuh dan diguncang keras-keras kepala orang itu, sambil membentak sengit, "keparat! Pengkhianat! Jadi kau berniat membunuh pasukanmu sendiri, he? Siapa yang menyuruhmu? Siapa?"

Tapi meskipun kepalanya digoncang goncang sampai seolah-olah sendi leher nya hampir copot, Yu Hong tentu saja tak bisa menjawab. Hanya matanya yang berkeliaran kian kemari dengan sinar ketakutan, tubuhnya tetap tak mampu bergerak, tangannya tetap teracung dengan belati tergenggam.

"Bangsat! Tetap tidak mau menjawab?" Sun Hong Beng makin gusar dan menampar keras muka Yu Hong.

"Sabar, Can-ciang...." akhirnya malah Pangeran In Te yang berusaha menyabarkan Sun Hong Beng. "Biarpun kau pukuli orang itu sampai mati, ia takkan bisa menjawab, sebab tertotok tubuhnya."

Sun Hong Beng heran, lalu melepaskan cengkeramannya pada rambut Yu Hong. "Syukurlah sebelum dia berhasil, Pangeran telah berhasil menotoknya."

"Ini yang aneh, Cam-ciang. Bukan aku yang menotoknya. Ketika aku bangun, ia sudah dalam keadaan begitu sebelum kuapa-apakan."

Keruan semua yang mendengar penjelasan itupun jadi heran. Kalau bukan Pangeran In Te sendiri yang menotok, lalu siapa? Apakah dalam pasukan itu ada seorang jago silat tersembunyi yang diam-diam telah menyelamatkan Pangeran In Te dari pembunuhan? Padahal, bagi kawanan perajurit yang cuma berlatih ilmu kemiliteran itu, ilmu menotok nyaris dipandang sebagai ilmu gaib.

Itu ilmu yang sulit, membutuhkan dasar tenaga dalam yang kuat dan ketekunan. Para perajurit cuma dilatih berbaris, menunggang kuda, memanah dan sebagainya, tapi tidak termasuk Tiam-hiat-hoat yang hanya diajarkan di perguruan-perguruan silat dan hanya kepada murid-murid yang sudah kuat dasarnya.

Pangeran In Te mengangkat pundak sambil menyapukan pandangan ke sekelilingnya, sambil berkata, “Penolongku itu sudah menampakkan diri atau tidak, aku tetap sangat berterima kasih."

Dan yang ada di sekitarnya cuma wajah para perajurit yang menampilkan keheranan tak terjawab menyaksikan peristiwa aneh itu, tak satupun tampang yang pantas diduga sebagai "penolong tersembunyi" itu. Kemudian Sun Hong Beng berkata,

"Pangeran, soal tuan penolong yang tidak mau menampakkan diri itu tidak perlu dirisaukan, setidaknya dia sudah berbuat kebaikan. Tapi bagaimana hukuman bagi seorang perajurit yang berani berkhianat kepada atasannya?"

Kini semua mata mulai diarahkan kepada si "patung" yang wajahnya mulai memucat ketakutan, takut dicincang oleh teman-temannya sendiri yang marah pada tindakannya.

Sahut Pangeran In Te, "Selama totokannya belum terbuka sendiri, aku belum bisa menanyai tentang tujuannya, dan belum bisa menetapkan hukumannya."

Namun Sun Hong Beng berkata dengan marah, “Tapi hamba rasanya tahu bahwa dia cuma seorang pembunuh suruhan.”

Wajah para perajurit di tempat itu nampak menegang di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan. Kuping mereka dipasang baik-baik, untuk mendengar suatu rahasia intrik yang barang kali terdapat di antara para pemimpin tertinggi angkatan perang.

Pangeran In Te kaget mendengar kata-kata Sun Hong Beng yang terlalu blak-blakan. Tidak baik kalau para perajurit rendahan itu mengetahui rahasia pimpinan-pimpinan tertinggi mereka, bisa timbul perpecahan dalam pasukan. Maka buru-buru ia mencegah, "Cam-ciang, kuharap kau..."

Apa mau dikata, Sun Hong Beng yang sudah kelewat muak melihat ulah pengkhianatan itu malahan bersuara makin keras dan tak tertahan lagi, "Pangeran dikhianati, tapi Pangeran terlalu sabar membiarkan para pengkhianat malang melintang semaunya! Aku tahu orang ini pasti suruhan Goan-swe Ni Keng Giau! Semalam sebelum pasukan ini meninggalkan perkemahan induk, kulihat orang ini berbisik-bisik mencurigakan dalam kemahnya bersama seorang perwira kepercayaan Ni Goan-swe! Pasti saat itulah mereka merancang tindakan pengkhianatan atas diri Pangeran!"

Pangeran In Te mengeluh dalam hati. Sekuat tenaga ia masih menjaga kehormatan pasukannya dengan cara menyembunyikan permusuhannya dengan Ni Keng Giau, tak peduli ia harus berkorban dihina dan dikhianati. Semuanya di sembunyikan, agar para perajurit rendahan tak ikut-ikutan memihak sana-sini. tapi kini malah Sun liong Hong berteriak begitu keras.

Akibatnya, tuduhan Sun Hong Hong itu langsung mendapat sambutan. Seorang perwira lain yang juga berpangkat cam-ciang, bernama Lo Peng, tiba-tiba melangkah maju dan berkata dengan keras, "Sun Hong Beng, aku keberatan dengan tuduhanmu yang ngawur itu! Tuduhan yang tak ada buktinya, cuma kau karang sendiri!"

"Lo Peng, apa kau tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu kalau Ni Goan-swe sangat menginginkan kematian Pangeran In Te? Dengan cara terang-terangan jelas tidak mungkin, sebab sepak-terjang Pangeran In Te selamanya bersih tanpa kesalahan, tak ada alasan untuk menghukum mati. Maka ya dipakailah cara kotor macam ini!"

Ucapan yang makin tidak tedeng aling-aling itu keruan membuat para perajurit jadi gempar. Dan di antara mereka terdengarlah bentakan marah Lo Peng menggelegar. "Sun Hong Beng, kau menuduh Panglima Tertinggimu dan menyebarkan keresahan diantara perajurit! Menurut tata-tertib yang ditetapkan Goan-swe Ni Keng Giau, kau sudah pantas dihukum penggal kepala!"

Kemudian Lo Peng menghunus pedangnya dan melangkah ke arah Sun Hong Beng. Namun Sun Hong Beng juga tidak gentar, tak peduli Lo Peng punya "becking" Ni Keng Giau sendiri. Dan ternyata bukan cuma mereka berdua, karena kedua perwira itu sama sama punya teman sepaham yang akan membela kelompoknya masing-masing. Yang dicemaskan oleh Pangeran In Te pun membayang di depan mata. Perpecahan. Kalau dibiarkan saja, semua tentara kekaisaran akan saling bantai selagi musuh masih di depan mata.

"Hentikan!" bentak Pangeran In Te. "Mau apa kalian? Mau berkelahi dengan teman sendiri? Sudah tidak menganggap aku sebagai pimpinan sehingga berani bertindak sendiri-sendiri?"

Ternyata Pangeran In Te masih punya kewibawaan, terutama atas diri orang-orang yang memang setia kepadanya, namun juga atas diri orang-orang yang memihak Lo Peng. Ketika Pangeran In Te membentak, semua orangpun serempak menghentikan gerakannya.

"Kembali ke tempat kalian masing-masing dan kularang bertindak sendiri-sendiri, soal pembunuh ini adalah urusanku, akan kuselesaikan sendiri dan tidak perlu campur tangan siapapun dari kalian!"

Perlahan kerumunan itupun bubar. Obor-obor dimatikan kembali, dan beberapa saat kemudian tempat itu sudah sunyi kembali karena para perajurit tidur kembali. Sebenarnya memang ada belasan orang kaki tangan Ni Keng Giau dalam pasukan Pangeran In Te itu, semuanya diberi perintah untuk membunuh Pangeran In Te secara diam-diam kalau ada kesempatan. Namun setelah kegagalan Yu Hong, pembunuh-pembunuh lain jadi takut bertindak. Mereka khawatir akan menjadi mangsa dari penolong tersembunyi yang diam-diam melindungi Pangeran In Te, dan tak diketahui siapa orangnya itu.

Beberapa saat setelah tempat itu sepi kembali, hanya dengkur para perajurit yang terdengar, maka sesosok bayangan bergerak menjauhi tempat itu. Gerakannya lebih dari sekedar seringan kucing, tapi bahkan seperti hantu karena seolah-olah bisa melayang tanpa menginjak tanah. Makin jauh dari tempat pasukan itu, makin cepatlah gerakannya. Namun di tempat yang agak jauh, tiba-tiba bayangan itu nampak menjadi dua. Sama ringannya, sama cepamya. Entah darimana munculnya yang satu lagi, yang membuntuti bayangan yang pertama tadi.

Bayangan yang di depan agaknya mulai merasa kalau sedang dibuntuti, sebab tiba-tiba ia berhenti dan memutar tubuh secepat kilat. Sambil membentak, sepasang telapak tangannya langsung menghantam ke arah penguntitnya dengan gerak tipu In-hou-kui-san (Menggiring Macan Pulang Gunung). Angin keras menderu berbareng dengan pukulannya.

Serangan mendadak itu memang hebat, tapi bayangan yang di belakang itu sanggup menangkis dengan mantap tanpa tergetar mundur, malahan sambil mengeluarkan kata-kata pujian, "Hebat, Kim Cong-koan! Liok-hap- sin-kang (Tenaga Sakti Enam Lapis) mu sudah meningkat pesat!"

Bayangan pertama terkejut, apalagi ketika merasakan sengatan hawa panas dari gerakan lawan, menyertai tenaganya sendiri yang terpantul balik. Cepat ia melompat mundur sambil menyiapkan serangan barunya. Sedangkan si bayangan kedua cepat-cepat melompat mundur pula sambil berseru, "Tahan, Kim Cong-koan, aku tak ingin berkelahi denganmu!"

Bayangan yang di depan itu, Kim Seng Pa, mengendorkan sikap tempurnya, lalu tertawa mengejek, "Kiranya kau, Pak Kiong Liong! Tentu saja kau tidak ingin bertempur, karena tidak mau mengulangi kekalahanmu dulu di tanganku, bukan?"

Bayangan yang kedua itu ternyata juga seorang kakek-kakek yang sebaya dengan Kim Seng Pa. Dialah Pak Kiong Liong, bekas Panglima Hui-liong-kun yang sejak beberapa tahun yang lalu kehilangan kedudukannya karena menentang Kaisar Yong Ceng dan tetap mendukung Pangeran In Te sebagai pewaris syah tahta.

Menghadapi ejekan Kim Seng Pa itu, Pak Kiong Liong tetap bersikap sabar, sahutnya sambil tertawa, "Benar, aku takut kalah karena ilmu Cong-koan sudah meningkat dibandingkan dulu. Sedangkan tulang-tulangku sudah semakin keropos."

Diam-diam Kim Seng Pa jadi malu sendiri menghadapi sikap merendah itu. Sikapnya sendiri jadi kelihatan kekanak-kanakan, padahal seluruh rambutnya sudah ubanan. Selain itu, dalam benturan tangan tadi, dialah yang tergetar mundur. Jadi, meskipun beberapa tahun yang lalu dia bisa mengalahkan Pak Kiong Liong, tapi sekarang belum tentu. Terpaksa ia melunakkan sikap. "Mau apa kau membuntuti aku, Pak Kiong Liong?"

"Aku hanya mau mengucapkan terima kasih kepadamu.”

"Terima kasih untuk apa?"

"Karena Cong-koan telah menyelamatkan nyawa Pangeran In Te."

Bukan bangga mendapat ucapan terima kasih itu, Kim Seng Pa malah kaget karena perbuatannya yang ingin dilakukan diam-diam itu sudah diketahui oleh Pak Kiong Liong. Memang Kim Seng Pa itulah penolong tersembunyi yang dengan lemparan kerikilnya berhasil menotok lumpuh si pembunuh yang hampir menancapkan belati di jantung Pangeran In Te. Perbuatannya itu dilakukan bukan karena ia baik hati kepada Pangeran In Te, melainkan menggagalkan tugas Ni Keng Giau agar Ni Keng Giau tidak dipercaya lagi oleh Kaisar Yong Ceng.

Tentu saja tindakan itu harus dilakukan diam-diam, sebab pembunuhan atas diri Pangeran In Te itu termasuk rencana Kaisar sendiri, menjegal rencana itu berarti juga menentang Kaisar. Maka alangkah cemasnya Kim Seng Pa ketika mengetahui bahwa undakannya tadi ternyata telah diintai oleh Pak Kiong Liong.

Seandainya yang dihadapinya bukan Pak Kiong Liong, pastilah sudah dibunuhnya tanpa ampun. Namun Pak Kiong Liong bukanlah kerupuk yang bisa dicaplok begitu saja. Dulu memang ia pernah mengalahkan Pak Kiong Liong, namun beberapa saat yang lalu ia sudah merasakan betapa Hwe-liong-sin-kang (Tenaga Sakti Naga Api) Pak Kiong Liong sudah meningkat hebat dibandingkan dulu. Kalau bertempur lagi, susah menang sudah pasti akan dialaminya.

Karena itulah Kim Seng Pa tidak mau ambil resiko. Sikapnyapun jadi semakin ramah, "Yah,. begitulah. Aku tidak tega melihat Pangeran In Te yang sudah dijatuhkan itu masih juga hendak dibunuh. Rasa kemanusiaankulah yang tak bisa membiarkan hal itu terjadi."

Pak Kiong Liong sudah kenal bagai mana watak Kim Seng Pa, maka jadi merasa agak lucu juga mendengar Kim Seng Pa omong soal "rasa kemanusiaan” segala. Namun ia mengangguk-angguk, pura-pura percaya, dan berkata setengah menggoda, "Cong-koan sungguh seorang berbudi amat luhur. Kalau Pangeran In Te kelak kuberi tahu soal ini, tentu dia akan sangat...."

Kim Seng Pa terkesiap, "Jangan! Tidak usah diberitahu! Bahkan siapapun jangan diberi tahu!"

"Lho kenapa?" tanya Pak Kiong Liong pura-pura tolol.

"Sebab... sebab kalau sampai didengar oleh Sribaginda, tentu aku akan diragukan kesetiaanku, dan mungkin juga menerima hukuman berat. Apakah kau tega melihatku yang telah menolong Pangeran ln Te ini malah mendapat bencana?"

"Oooo.... begitu? Baiklah. Aku berjanji takkan mengatakannya kepada siapapun. Tapi kumohon Cong-koan sudi menjawab pertanyaan-pertanyaanku."

"Celaka, malah aku diperas......" keluh Kim Seng Pa dalam hati. Tapi sambil tersenyum ia berkata, "Silahkan, Goan-swe."

"Ah, jangan lagi panggil aku Goan-swe (jenderal), sebab aku sudah bukan apa-apa lagi kecuali seorang gelandangan tua yang menjadi buronan pemerintah," kata Pak Kiong Liong sambil tersenyum. "Aku cuma ingin tanya, apakah kira-kira orang yang hendak membunuh Pangeran In Te itu adalah suruhan Ni Keng Giau?"

Kim Seng Pa merasa mendapat kesempatan untuk memanas-manasi hati Pak Kiong Liong demi kepentingannya sendiri. Ia menjawab sambil pura-pura menarik napas dan geleng-geleng kepala, "Kalau kau tidak mau lebih dulu bersumpah berat untuk merahasiakan pembicaraan kita ini, aku tak berani mengatakannya."

"Baik. Aku bersumpah demi Thian-hu Te-bo (Ayah Langit Ibu Bumi) untuk merahasiakannya.”

"Benar?"

Pak Kiong Liong tertawa dingin, "Kim Cong-koan, pernah kau dengar orang macam apa aku ini? Suka menjilat ludah sendiri? Suka berkhianat untuk keuntungan sendiri? Suka bersumpah kosong?"

"Baik, baik. Aku percaya sekarang. Nah, akan kujawab pertanyaanmu tadi."

Suasana sunyi sebentar. "Memang benar. Ni Keng Giau lah yang mendalangi usaha pembunuhan Pangeran In Te, dengan cara yang bermacam-macam. Di perkemahan, Ni Keng Giau selalu memancing-mancing agar Pangeran In Te berbuat kesalahan, agar bisa dijatuhi hukuman mati. Dan di tempat seperti ini, tak segan ia mengupah pembunuh-pembunuh bayaran seperti tadi."

Sebagai pendukung setia Pangeran In Te, darah Pak Kiong Liong memang menghangat mendengar hal itu. Namun ia tetap bungkam sambil pasang kuping. Sedangkan Kim Seng Pa terus berusaha membangkitkan kemarahan Pak Kiong Liong,

"Pak Kiong Liong, Pangeran In Te adalah seorang bangsawan Manchu. Kau dan aku juga orang-orang Manchu. Relakah kita melihat Pangeran In Te setiap hari harus merendahkan diri dihadapan Ni Keng Giau, tapi masih juga dicari-cari kesalahannya, diejek, dihina, dipermalukan dihadapan perwira-perwira, bahkan hendak dibunuh?"

Pak Kiong Liong masih tetap diam, dan Kim Seng Pa melanjutkan bicaranya, "Apakah pantas seorang bangsawan turunan Aishin Gioro dihina seorang Han keturunan rakyat jelata macam Ni Keng Giau itu? Pantas tidak?"

Mula-mula memang Pak Kiong Liong panas hatinya dan hampir saja kena hasutan Kim Seng Pa. Namun ketika hasutan itu menghebat, Pak Kiong Liong malahan menjadi waspada, "mendingin" dan mulai hati-hati. Kim Seng Pa memberi dalih kesukuan dalam penjelasannya, suatu dalih yang tak pernah disukai Pak Kiong Liong. Namun Pak Ki ong Liong tetap diam, membiarkan Kim Seng Pa terus berbicara agar dapat menebak apa kiranya maksudnya yang sebenarnya di balik pertolongannya kepada Pangeran In Te juga di balik hasutan nya tadi.

Melihat Pak Kiong Liong diam saja, Kim Seng Pa mengira Pak Kiong Liong sudah terpengaruh oleh ucapannya, maka usulnyapun jadi semakin berani. "Begitulah, Pak Kiong Liong. Kita memang pernah bermusuhan, tapi sekarang tibalah saatnya untuk bersatu, membela kehormatan suku kita yang diinjak-injak oleh orang Han hina Ni Keng Giau! Aku punya usul!"

"Usul apa, Cong-koan?" Pak Kiong Liong bertanya.

"Karena aku terikat oleh kedudukanku, aku amat tidak leluasa berbuat sesuatu terhadap Ni Keng Giau, biarpun sudah lama aku ingin sekali mengunyah kepalanya. Tapi kau, Pak Kiong Liong, kau dalam keadaan bebas dan ilmumu begitu tinggi. Tidak inginkah mendarma baktikan ilmumu untuk membela Pangeran In Te? Ada suatu cara, bunuhlah Ni Keng Giau! Kalau perlu, aku bisa membantumu dengan menyelundupkanmu kedalam perkemahan!"

Pak Kiong Liong merasa agak diluar dugaan. Ia memang tahu kalau diantara pembantu-pembantu dekat Kaisar Yong Ceng ada sikut-sikutan, namun tak menduga kalau Kim Seng Pa sampai begitu bernafsu mengingini kematian Ni Keng Giau. Pikirnya, "Hemm, Kim Seng Pa, kau pikir aku begitu tolol untuk menjadikan diriku alat pembunuh bagimu? Kau menyuruhku bukan untuk membela Pangeran In Te, tapi hanya untuk menyingkirkan sainganmu agar semakin rata jalanmu untuk mencapai ambisimu. Setelah aku berhasil membunuh Ni Keng Giau, jangan-jangan lalu aku dan Pangeran In Te juga akan kau bunuh untuk mencari muka terhadap si Yong Ceng itu?"

Tapi Pak Kiong Liong pura-pura mengangguk-angguk dan berlagak tolol ketika bertanya, "Tapi, Cong-koan, kalau sampai Ni Keng Giau mati, bagaimana dengan pasukan kekaisaran yang akan kehilangan pimpinan dalam perang ini? Bukankah akan kacau, dan pihak musuh yang akan memetik keuntungan?"

Kim Seng Pa menjawab dengan penuh nada percaya diri, "Pak Kiong Liong, kau pikir cuma Ni Keng Giau yang sanggup memimpin angkatan perang? Aku juga bisa! Apalagi sebagai seorang Manchu, aku lebih pantas untuk kedudukan itu!"

Pak Kiong Liong hampir tak bisa menahan tertawanya mendengar jawaban itu. Pikirnya. "Jadi inilah tujuannya, hendak merebut kedudukan Ni Keng Giau. Bukan main. Tapi meski ilmu silatnya tinggi, mengatur pasukan dalam suatu perang adalah soal yang sama sekali berbeda. Apa dikiranya mengatur pasukan itu sama dengan menggiring bebek di pinggir-pinggir sawah? Kalau pasukan ini sampai dia pimpin malah akan tak karuan jadinya...."
Selanjutnya,