X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Mestika Burung Hong Kemala Jilid 03

Cerita Silat Mandarin Serial Mestika Burung Hong Kemala Jilid 03 Karya Kho Ping Hoo

Mestika Burung Hong Kemala

Karya : Kho Ping Hoo
Cerita Silat Mandarin Serial Mestika Burung Hong Kemala Karya Kho Ping Hoo
Jilid 03
BIARPUN ia sudah mempelajari banyak jenis serangan, banyak macam pukulan dan tendangan yang lihai, namun belum pernah ia memukul atau menendang orang! Karena itu maka iapun masih berpikir-pikir dan memilih-milih, apa yang harus ia pergunakan untuk memukul lawan ini!

Dan tiba-tiba seorang yang bertubuh pendek dan berkepala besar, yang melihat betapa pemimpinnya tidak dapat menundukkan gadis cantik itu, sudah maju dan mengeroyok Kui Lan menghadapi pengeroyokan itu dengan tenang saja karena ia dapat mengikuti gerak-gerik mereka dengan mudah, dan dapat menghindarkan diri tanpa banyak mengeluarkan tenaga.

Berbeda dengan encinya, walaupun Kui Bi juga belum pernah mempergunakan ilmu silat untuk memukul orang, namun ia adalah seorang gadis lincah yang mudah menyesuaikan diri dengan segala macam keadaan. Karena ia maklum bahwa lima orang itu amat jahat, maka ia pun sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran keras kepada mereka, kalau perlu membunuh mereka.

Ini merupakan kewajiban, karena para penjahat seperti itu hanya akan membahayakan kehidupan orang lain, dan mengacaukan keamanan. Begitu ia menyuruh encinya untuk menghadapi si muka kuning, tubuhnya sudah berkelebat ke depan dan pertama-tama yang di serangnya adalah orang yang menggendong buntalan pakaiannya, buntalan kain merah!

Orang itu bertubuh tinggi kurus dan wajahnya bengis. Melihat dirinya diserang dengan tamparan, orang ini tersenyum mengejek. Dia memandang rendah gadis yang masih belum dewasa benar itu dan inilah kesalahannya! Dia memandang rendah lawan yang jauh lebih kuat dan lebih lihai daripada dirinya sendiri dan melihat Kui Bi menggerakkan tangan kiri menampar dari samping; dia menyambut dengan tangan kanan, bukan hanya untuk menangkis, melainkan untuk menangkap lengan yang kecil dan berkulit putih mulus itu!

Melihat ini, Kui Bi yang tidak sudi membiarkan lengannya dipegang apa lagi ditangkap, cepat menarik kembali tangan kirinya dan secepat kilat kakinya sudah masuk dan mencium perut lawan.

"Ngekk!" Ujung sepatu yang mencium perut itu kuat sekali, rasanya seperti tertusuk tombak tumpul, membuat orang tinggi besar itu merasa seperti napasnya terhenti dan otomatis ia membungkuk dan tangan kirinya memegang perut yang baru saja dicium sepatu. Ketika dia membungkuk inilah, tengkuknya disambar tangan kanan Kui Bi yang amat cepat dan kuat.

"Kekk..... !!" Tubuh itu tersungkur dan pada saat itu, tangan kiri Kui Bi sudah berhasil merenggut lepas buntalan pakaiannya dari punggung orang itu.

Dua orang anggauta gerombolan itu terkejut dan marah. Orang yang mengendong buntalan pakaian kain kuning milik Kui Lan , selain marah juga khawatir kalau-kalau buntalan di punggungnya itu akan terampas pula, maka sudah mencabut golok dari pinggangnya. Juga kawannya yang mukanya brewokan sudah mencabut golok dan mereka berdua menerjang Kui Bi dengan serangan golok yang dilakukan dengan sengit untuk membunuh. Lenyap sudah dari pandangan mereka semua kecantikan yang menggairahkan dari gadis itu, yang nampak kini hanyalah seorang gadis yang merupakan lawan berbahaya dan harus dibunuh segera!

"Singggg......!" nampak sinar menyilaukan mata dan tahu-tahu Kui Bi sudah memegang sebatang pedang. pedangnya yang diambilnya dari dari buntalan pakaiannya. Begitu pedang digerakkan, lenyaplah ujud pedang, berubah menjadi gulungan sinar yang seperti seekor naga melayang-layang dan menyambar ke arah dua orang lawannya yang memutar golok.

Terdengar suara berkerontangan dan tiba-tiba ujung pedangnya sudah melukai pundak kiri orang yang menggendong buntalan pakaian kain kuning. Ketika orang itu terhuyung memegangi pundak yang berdarah, Kui Bi sudah meloncat, menyambar dan buntalan milik encinya sudah pula dapat dirampasnya!

Ketika menengok untuk melihat keadaan encinya, Kui Bi mengerutkan alisnya. Encinya dikeroyok dua, si muka kuning dan seorang bertubuh pendek. Kedua orang itu juga menggunakan golok sedangkan encinya bertangan kosong. Sebetulnya, biar dikeroyok dua oleh mereka yang memegang senjata, encinya tidak kalah.

Hanya sayang, agaknya encinya itu merasa ragu-ragu untuk menjatuhkan lawan, maka hanya mengelak dan berloncatan ke sana sini saja menghindarkan diri dari sambaran golok dua orang lawannya, ia juga melihat betapa kini tiga orang lawannya sendiri sudah mengepungnya, dengan golok di tangan. Si bopeng, si tinggi besar dan si brewok sudah siap untuk mengeroyoknya dan wajah mereka bengis sekali.

"Enci, kaupergunakan pedangmu ini!" seru Kui Bi kepada encinya.

Mendengar ini, Kui Lan meloncat ke belakang menjauhi dua orang pengeroyoknya dan Kui Bi melemparkan buntalan kuning milik encinya. Kui Lan girang menyambut buntalan itu, mengeluarkan pedangnya dan dengan sikap tenang menggendong buntalan itu di punggungnya. Semua ini ia lakukan dengan tenang sekali walaupun dua orang lawannya kini sudah siap untuk menyerangnya dengan golok. Begitu dua orang itu, si muka kuning dan si pendek menerjang dengan sengit, Kui Lan menggerakkan pedangnya.

Terdengar bunyi berdencing nyaring dan dua orang pengeroyok itu terhuyung ke belakang. Demikian hebat gerakan pedang Kui Lan yang kini merasa lebih tabah karena ia tidak harus menggunakan tangan kosong merobohkan lawan, berarti jari-jari tangannya akan menyentuh tubuh lawan! Dan begitu ia memainkan Sian-li Kiam-sut (ilmu Pedang Dewi) yang gerakannya amat indah juga aneh, dua orang lawannya menjadi bingung dan terdesak hebat, hanya mampu mundur-mundur dan memutar golok melindungi tubuh saja.

Demikian pula dengan tiga orang pengeroyok yang melawan Kui Bi. Tadinya mereka dengan dahsyat dan bengis menerjang, akan tetapi begitu Kui Bi memainkan Ilmu Pedang Dewi, mereka bertiga juga menjadi bingung, pandang mata mereka silau oleh gerakan pedang yang cepat dan aneh, dan hanya ma mpu mundur saja.

Kui Bi berbeda dengan Kui Lan, hatinya lebih tabah dan lebih keras, maka begitu ia memegang pedang dan menyerang ia tidak mau memberi hati lagi kepada tiga orang lawannya. Juga karena tiga orang lawannya itu hanya memiliki ilmu silat biasa saja, berbeda dengan Si muka kuning lawan Kui Lan yang jauh lebih lihai dari pada anak buahnya, maka belum sampai sepuluh jurus, pedang Kui Bi telah menyambar-nyambar dan tiga orang lawannya terjungkal roboh.

Si bopeng mengaduh-aduh dengan paha kanan robek dan tidak ma mpu bangkit kembali, si tinggi besar terbacok pundaknya sehingga menembus tulang pundak yang menjadi putus, dan si brewok hampir putus pangkal lengan kirinya!

Kui Bi tersenyum dan memandang kepada tiga orang lawan yang sudah roboh itu. Kemudian ia memutar tubuhnya untuk melihat keadaan encinya. ia tidak merasa khawatir dan memang kini encinya sudah membuat dua orang lawan itu terdesak terus, akan tetapi encinya nampak masih ragu-ragu untuk melukai dua orang lawan itu.

"Lan-ci, kalau mereka mendapat kesempatan mereka yang akan membunuhmu! Cepat robohkan mereka!" katanya sambil menggeleng-geleng kepalanya. Encinya itu selalu tidak tega, pada hal ia tahu bahwa encinya lebih berbakat dari pada ia sendiri dalam hal ilmu silat. Kalau mereka berlatihpun, ia merasa berat menandingi encinya. akan tetapi encinya selalu khawatir kalau-kalau melukainya dan sengaja mengalah.

Mendengar ini, Kui Lan menoleh dan melihat adiknya telah meroboh kan tiga orang pengeroyoknya, iapun menekan perasaannya, menggigit bibirnya dan begitu pedangnya berdesing-desing, si muka kuning berteriak, pedang di tangan Kui Lan menembus bahu kanannya membuat goloknya terlepas, dan si pendek juga roboh dengan pundak terluka parah!

Pemilik kedai minuman dan para pembantunya yang tadi mengintai dengan ketakutan, kini berdiri di depan pintu, bengong memandang bagaimana dua orang gadis itu merobohkan lima orang perampok yang ganas itu dengan mudahnya! Kui Bi meloncat dan kini pedangnya menempel di leher si muka kuning.

"Kalau engkau tidak cepat menyuruh orang-orangmu mengembalikan kuda kami, aku akan menyayat-nyayat kalian berlima sampai tidak berbentuk manusia lagi!"

Si muka kuning dan kawan-kawannya merasa kecelik. Dia kini tahu bahwa mereka berhadapan dengan dua orang gadis yang hebat, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarpun mereka merasa penasaran, namun sekali ini benar benar merasa tidak berdaya. Mendengar ancaman gadis yang kecil mungil kelihatan masih remaja itu, yang menempelkan pedang di lehernya, diapun mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan rasa penasaran dan dendamnya.

"Baik, lihiap (pendekar wanita), bebaskan kami dan kami akar cepat menyuruh dua orang kami mengemba likan kuda ji-wi lihiap (pende kar wanita berdua)."

"Huh, kau kira kami bodoh? Suruh saja seorang dari temanmu yang masih dapat berlari, engkau dan tiga yang lain tinggal di sini. Kalau dalam waktu satu jam kuda kami belum kembali, kalian berempat akan kusayat-sayat!"

Si muka kuning melihat betapa empat orang kawannya semua terluka parah. Si bopeng jelas tidak dapat berlari karena paha kanannya terluka, si brewok juga hampir putus pangkal lengan kirinya, temannya si pendek terluka parah pundaknya, hanya dapat mengaduh dan merintih, dan biarpun si tinggi besar juga terbacok pundaknya sampai menembus tulang pundak yang putus, dia seoranglah yang agaknya masih dapat berlari cepat.

"Akhun, cepat engkau yang pergi melapor dan bawa kembali dua ekor kuda itu!" katanya.

Si tinggi besar bangkit berdiri dengan wajah menyeringai kesakitan, akan tetapi dia memaksa diri untuk berlari sambil memegangi lengan yang pundaknya terbacok.

Kui Bi mengajak encinya untuk kembali memasuki kedai, duduk dan memesan teh. Arak di kedai itu terla mpau keras untuk mereka yang biasanya hanya dapat minum teh dan anggur yang tidak begitu keras. Kini mereka menanti sambil duduk minum teh, menghadap ke luar agar mereka dapat mengamati empat orang yang masih merintih-rintih itu.

Kini empat orang itu saling bantu untuk mengobati luka mereka dengan obat luka yang selalu terdapat di kantung baju mereka. Kui Bi menggapai kepada kakek pemilik kedai minuman. Dengan terbongkok-bongkok kakek itu mendekat. "Paman, siapakah sebetulnya mereka?"

"Wah, celaka, lihiap... ji-wi (kalian berdua) telah bermusuhan dengan anak buah Kwi-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan). Karena ji-wi berada di sini dan keributan terjadi di sini kalau mereka datang bukan hanya ji-wi yang akan ditangkap, bahkan kedai kami inipun akan dihancurkan dan mungkin kami akan dibunuh!" Kakek itu menang tanpa suara.

"Hemm, jangan khawatir, kami dua akan membasmi mereka!" kata Kui Bi dengan gagah.

"Takkan ada gunanya andaikata ji-wi menang juga, karena setelah ji-wi pergi, kami tentu akan menjadi penumpahan dendam mereka. Kalau ji-wi lihiap kasihan kepada kami, harap ji-wi segera pergi dari sini dan mengambil sendiri kuda ji-wi. Sarang mereka berada di bukit depan itu, bukit kecil di tepi sungai yang na mpak dari sini."

Kui Lan bangkit berdiri. "Bi-moi tidak baik kalau mengalibatkan paman tertimpa malapetaka. Mari kita tinggalkan tempat ini dan mengambil sendiri kuda kita."

Kui Bi mengangguk. "Baik, marilah, enci."

Mereka keluar dari kedai menggenclong buntalan mereka. Ketika tiba cli pekarangan cli mana empat orang itu masih duduk di atas tanah, Kui Bi berkata, "Nanti dulu, Lan-ci. Aku akan membereskan mereka!"

"Adik Bi, jangan bunuh orang..!" Kui Lan berseru, alisnya berkerut ia khawatir adiknya akan membunuh empat orang yang sudah terluka itu, Kui Bi tersenyum.

"Lan-ci, para guru kita mengatakan bahwa seorang pendekar tidak akan membunuh lawan yang sudah tidak dapat melawan lagi. Tidak, aku tidak akan pembunuh mereka, hanya memberi hajaran agar mereka jera dan lain kali tidak berani mengganggu wanita!"

Melihat Kui Bi menghampiri mereka, empat orang itu menjadi ketakutan. Kui Bi tersenyum mengejek melihat mereka berempat berhimpitan dengan sikap ketakutan seperti empat ekor kelinci melihat harimau. Begitulah watak orang-orang jahat, ganas menindas kalau sedang menang, takut dan pengecut kala berhadapan dengan yang lebih kuat.

"Kau, monyet muka kuning, engkau harus antar kami menyusul orang mu yang mengambil kuda, agar lebih cepat!" kata Kui Bi.

Nampak sinar mata si muka kuning berkilat dan wajahnya membayangkan kegembiraan sekilas mendengar perintah ini. Tergopoh dia bangkit berdiri. "Baik, lihiap. Mari saya antar!"

Kui Bi menggerakkan kakinya tiga kali dan tiga orang yang lain itu mengeluh dan roboh terjengkang, pingsan disambar ujung sepatu gadis itu.

"Mari kita berangkat" kata Kui Bi dan si muka kuning tanpa dapat bicara segera melangkah ke arah timur, menyusuri sungai, menahan rasa nyeri pada bahu kanannya yang terluka, dan di belakangnya kakak beradik itu berjalan lengan sikap tenang namun waspada.

Setelah mereka pergi, pemilik kedai dan anak buahnya cepat menolong tiga orang anggauta perampok itu dan membawa mereka masuk ke dalam kedai untuk merawat mereka. Hal ini terpaksa mereka lakukan agar mereka tidak dilanda amukan para penjahat.

Diam-diam si muka kuning bergembira karena dua orang gadis ini dianggapnya sebagai dua ekor domba yang dia tuntun masuk ke dalam rumah jagal! Kalau dua orang gadis ini tiba di lereng bukit karang di depan, yang menjadi sarang dari mereka, pasti mereka akan mampu melawan.

Dan sudah saatnya dia dan kawan-kawannya membalas dendam! Kalau saja pemimpin besar mereka, Kwi-jiauw Lo-mo, tidak memborong dua orang gadis yang amat cantik jelita ini. Iblis Tua itu terkenal haus akan wanita! Akan tetapi setidaknya, seperti menjadi kebiasaannya, dia mudah bosan dan sebentar saja dua orang gadis ini tentu akan dilemparkan kepada anak buahnya. Nah, pada saat itulah dia akan membalas dendam ini!

Akan tetapi belum ada setengah jam mereka berjalan, dan mereka tiba di tepi sungai yang berada di kaki bukit karang itu, terdengar derap kaki kuda dari depan. Si muka kuning mengangkat mukanya yang nampak bergembira dan suaranya juga terdengar lantang. "Itu mereka sudah datang!"

Dua orang gadis itu sudah siap siaga. Merekapun tahu bahwa suara itu bukan hanya derap kaki dua ekor kuda, melainkan banyak! Mereka dapat menduga mengapa si muka kuning ini nampak gembira dan setelah rombongan penunggang kuda itu tiba di situ, baru mereka melihat bahwa dugaan mereka benar.

Dua orang pencuri kuda yang menjadi anak buah si muka kuning itu, bersama si tinggi besar yang tadi disuruh mengambil kuda mereka, datang bersama serombongan orang yang terdiri dari belasan orang banyaknya! Tentu si tinggi besar melapor kepada para pimpinan gerombolan tentang kekalahan lima orang perampok itu dan kini kawan-kawannya datang, bukan untuk mengembalikan kuda melainkan untuk mengeroyok!

Kui Lan dan Kui Bi Sudah siap. Mereka sudah mencabut pedang mereka dan dengan marah Kui Bi meng gerakkan pedangnya ke arah si muka kuning yang berteriak dan roboh. Pahanya disabet pedang sampai terluka parah dan diapun merintih dan mengaduh-aduh.

Belasan orang itupun sudah berloncatan dari atas kuda dan dengan golok di tangan, mereka mengepung dan mengeroyok enci dan adik itu. Kui Lan dan Kui Bi memutar pedang mereka dan memainkan Ilmu Pedang Dewi. Nampak dua gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar, membuat para pengeroyok terpaksa mundur dan melebarkan kepungan karena pedang di tangan dua orang gadis itu ampuh bukan main.

Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja, dua orang pengeroyok sudah roboh, padahal, belasan orang itu merupakan tokoh-tokoh yang paling tangguh di antara mereka. Tingkat kepandaian mereka sebanding dengan tingkat si muka kuning.

"Enci Lan, mereka ini srigala-srigala busuk, kita bunuh saja mereka semua!" teriak Kui Bi yang marah sekali. Pedangnya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Akan tetapi, Kui Lan masih membatasi tenaganya karena ia tidak bermaksud melakukan pembunuhan.

Ternyata bahwa ilmu pedang yang dikuasai dua orang kakak beradik itu merupakan ilmu yang hebat. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu silat lumayan, mereka berpengalaman dan sudah terbiasa mengguna kan kekerasan dan merekapun memiliki tenaga yang kuat.

Namun, menghadapi pedang dua orang gadis itu, mereka tidak dapat berbuat banyak bahkan mereka tidak berani mengepung terlalu ketat karena pedang di tangan kakak beradik itu bukan main ganasnya. Nampaknya lembut dan indah, seperti gerakan gadis-gadis menari-nari, akan tetapi siapa berani mendekat dia akan terbabat atau tertusuk.

"Tahan senjata! Kalian semua mundur!" terdengar seruan suara yang mengguntur dan belasan orang itu berlompatan ke belakang, lalu berdiri tegak dengan sikap menghormat.

Kui Lan dan Kui Bi berdiri tegak pula, berdampingan dan dengan pedang melintang depan dada, waspada dan siaga. Mereka melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya pendek gemuk sehingga kelihatan seperti bulat, kepalanya bulat besar dan botak, matanya, hidungnya, mulutnya, telinganya, semua berbentuk bulat-bulat sehingga dia nampak lucu seperti sebuah boneka besar.

Akan tetapi kalau orang melihat ke arah kaki dan tangannya, orang akan merasa ngeri. Kedua tangannya yang berlengan pendek besar itu disambung dua buah cakar besi yang kelihatan kebiruan dan mengkilap, runcing tajam melengkung, dan kedua kakinya mengenakan sepatu yang ujungnya dipasangi besi runcing!

Melihat kedua tangan yang dipasangi cakar itu, teringatlah Kui Lan dan Kui Bi akan keterangan pemilik kedai minuman tentang tokoh pemimpin gerombolan penjahat yang dijuluki Kwi-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan). Kui Bi menudingkan pedang dengan tangan kanannya ke arah muka si pendek gendut itu, dan tangan kirinya bertolak pinggang, mulutnya dan pandang tanya mengejek.

"Hemm, kiranya badut ini yang me makai julukan Kwi-jiauw Lo-mo?"

Mendengar ucapan itu, si pendek tidak marah, bahkan tertawa dan nampak giginya yang besar-besar dan juga bentuknya bulat-bulat! Agaknya orang memang diciptakan dengan suatu keistimewaan, yaitu serba bulat, demikian pikir Kui Bi.

"Ha-ha-ha-ha, dua orang nona manis telah memperlihatkan kepandaian. Kalian begini cantik jelita, begini halus lembut dan mulus, akan tetapi gagah memiliki kepandaian lumayan. Sungguh mengagumkan! Dan engkau sudah mengenal pula julukanku, nona manis yang lincah?"

Dia memandang kepada Kui Bi merasa betapa mata yang bulat itu seperti mengeluarkan sinar yang hendak menelannya bulat-bulat. Hati gadis ini rasa ngeri juga, akan tetapi ia sengaja mengeluarkan suara yang mendengus dari hidung dan tawa mengejek.

"Hiiih, apa sih sukarnya menebak bahwa engkau yang berjuluk Iblis Tua Muka Setan? Rupamu seperti iblis dan dua tanganmu memakai cakar baja. Engkau seperti seorang badut yang hanya dapat menakut-nakuti anak kecil saja!"

"Heh-heh, manis. Engkau dan kawanmu itu bukan anak kecil lagi maka tidak takut. Dan akupun tidak ingin kalian takut kepadaku, ha-ha-ha!"

"Sudahlah, muak perutku bicara dengan iblis macam kamu! Kwi-jiauw Lo-mo, cepat kembalikan dua ekor kuda milik kami dan kamipun akan melanjutkan perjalanan, tidak akan membunuhi anak buahmu lagi."

Ucapan Kui Bi ini memang terdengar tinggi hati sekali dan memang ini disengaja untuk memballas ucapan si. pendek yang mengandung maksud tertentu yang menjijikkan hatinya.

"Boleh, boleh! Jangankan hanya dua ekor kuda Itu, semua kuda yang kami miliki akan kuberikan kepada mu, manis, bahkan diriku ini kupersembahkan kepada kalian dua orang nona manis. Marilah kalian ikut denganku untuk menerima semua itu!"

Yang Kui Lan yang sejak tadi diam saja, tak dapat menahan kemarahanya mendengar ucapan yang maksudnya membalas dengan kata-kata tak senonoh itu. "Jahanam busuk tahan mulutmu yang kotor!" bentaknya dan Kui Bi tersenyum melihat sikap encinya. Biasanya, encinya seorang yang penyabar dan jarang marah, kalaupun marah akan diam saja dan tidak sa mpai ledak seperti sekarang.

"Nah, babi gendut, enciku sudah marah. Cepat kembalikan kuda kami atau aku tidak akan menanggung-jawab kalau lehermu akan dipancung enciku yang sudah marah!"

Kui Lan mengerling kepada adiknya sebagai teguran. Dalam keadaan seperti itu, si bengal itu masih juga sempat berkelakar. Akan tetapi ucapan bernada menge jek dan menghina itu, masih saja tidak memanaskan hati Kwi-jiauw Lo-mo. Dia adalah seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal di dunia kang-ouw, yang sudah lama tidak pernah memperlihatkan diri.

Kini, agaknya dia muncul dan memimpin gerombolan perampok. Hal yang sungguh mengherankan kalau diingat bahwa datuk sesat ini pernah memimpin gerombolan yang ratusan orang banyaknya. Semenjak gerombolannya dibasmi pasukan pemerintah yang di pimpin oleh seorang panglima yang lihai, dia menghilang dan baru sekarang, sepuluh tahun lebih kemudian, dia muncul lagi hanya sebagai pemimpin gerombolan yang terdiri dari dua puluh orang lebih saja.

"Nona-nona manis, kalian seperti dua ekor burung yang baru meninggalkan arang, terlalu berani namun kurang perhitungan sehingga kalian berani menentang Kwi-jiauw Lo-mo. Nah, majulah, akupun ingin berke nalan dengan dua orang gadis yang akan menjadi selir-selirku, heh-heh-heh!"

Ucapan ini demikian menusuk perasaan sehingga Kui Bi sendiri yang biasanya lincah Jenaka dan pandai bertengkar, menjadi bungkam, mukanya kemerahan dan matanya bersinar-sinar.

"Babi gemuk, engkau akan mampus oleh pedang kami!" bentaknya dan iapun sudah menerjang dengan pedangnya, mengirim tusukan dengan jurus Dewi mempersembahkan bunga yang amat cepat dan indah gerakannya, namun didukung tenaga dahsyat Kui Lan juga sudah menggerakkan pedangnya, membantu adiknya menyerang laki-laki pendek bundar itu.

"Trangg! Cringgg....!!"

Bunga api berpijar dan dua orang kakak beradik itu terkejut dan terhuyung ke belakang ketika pedang mereka bertemu dengan sepasang cakar setan itu. Bukan main kuatnya tenaga yang menang kis pedang mereka!

"Ha-ha-ha-ha, nona-nona manis kalian baru tahu hebatnya Kwi-jiauw Lo-mo! Ha-ha-ha!"

Dan kini, tubuh yang bulat itu menggelinding atau berputar-putar seperti bola, menerjang ke arah mereka secara aneh. Dua orang gadis itu cepat memutar pedang dan memainkan Sian-li Kiam-sut bagian pertaha nan untuk melindungi diri mereka. Dan memang hebat ilmu pedang ini. Biarpun gerakan lawan amat dahsyat, namun dengan pertahanan ilmu pedang itu, Kui Lan dan Kui Bi masih mampu melindungi diri mereka sa mpai lewat belasan jurus. Tiba-tiba si pendek gendut yang bergerak seperti bola menggelinding ke sana sini itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak sambil tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalian sungguh hebat, memiliki ilmu pedang aneh yang baik sekali. Akan tetapi, lihat jurusku ini!"

Tiba-tiba tubuhnya bergerak, tidak lagi bergulingan seperti tadi, melainkan meloncat seperti katak, dan tubuh itu berputar di udara dan menerjang ke arah Kui Bi seperti sebuah peluru besar yang berputar. Kui Bi terkejut, mencoba untuk membacokdengan pedangnya.

"Tranggg....!" pedang itu seperti bertemu bola baja yang amat kuat dan terlepas dari tangan Kui Bi karena sebetulnya, pedang Itu telah ditangkap dan direnggut oleh cakar baja dan sebelum gadis itu mampu mengelak, pinggangnya telah kena disepak oleh pinggir kaki. Untung tidak ditendang karena kalau terkena tendangan dari depan, tentu tubuhnya akan ditembusi besi runcing di ujung sepatu. Kui Bi mengeluh dan terpelanting roboh!

Kui Lan marah dan menyerang dengan dahsyat sambil mengeluarkan bentakan nyaring. "Haiiii .....!" Namun, lawannya melompat ke belakang, lalu seperti katak yang pandai membuat lompatan berganda, tubuh itu kembali meluncur balik ke arah Kui Lan dan seperti tadi, tubuhnya berputar. Kui Lan menusukkan pedangnya menyambut.

"Cringgg......!!"

Seperti halnya adiknya, pedang Kui Lan terampas dan iapun terpelanting di dekat adiknya, terkena sepakan pada bahunya. Selagi mereka bergerak hendak bangkit, tiba-tiba tubuh si pendek itu sudah berdiri di dekat mereka sambil tertawa bergeIak.

"Omitohud...! Iblis dan setan bermunculan, pertanda bahwa dunia akan mengalami kekacauan," terdengar suara lembut, namun suara itu mengandung getaran yang sedemikian kuatnya sehingga Kwi-jiauw Lo-mo sendiri terkejut bukan main dan cepat dia membalikkan tubuh memandang.

Di depannya berdiri seorang hwesio yang berkepala gundul kelimis, mukanya segar dan kemerahan seperti muka kanak-kanak, tubuhnya gemuk dengan perut besar seperti arca Ji-lai-hud, mata dan mulutnya demi kian ramah selalu tersenyum seperti muka bayi yang sedang merasa nyaman tubuhnya, dan dia mengena kan jubah kuning yang longgar, sepatu kulit kayu dan memegang sebatang tongkat bambu ular, yaitu semacam bambu kuning yang bentuknya seperti ular, demikian pula warna garis dan totol-totol seperti kulit ular.

Kwi-jiauw Lo-mo adalah seorang datuk sesat yang sepuluh tahun lalu malang melintang di dunia kang-ouw, banyak pengalamannya dan mengenal para tokoh dunia persilatan. Akan tetapi dia tidak mengenal hwesio yang usianya kurang lebih enam puluh tahun ini! Biarpun demikian, dia tahu bahwa hwesio ini seorang sakti, dan dia tahu pula bahwa orang-orang yang telah menjadi pendeta, tidak mencari kemashuran nama, kedudukan atau harta benda sehingga banyak di antara mereka yang berilmu tinggi, tidak terkenal di dunia kang-ouw.

"Hemm, hwesio yang baik, siapakah engkau dan mengapa seorang pendeta yang hanya sibuk dengan urusan nirwana, hari ini mencampuri urusan duniawi? Apakah engkau tidak takut jubahmu nanti dikotori urusan dunia?" ucapan ini bernada mengejek, akan tetapi juga cukup menghormat karena bagaimanapun juga, datuk sesat ini tidak berani memandang rendah para pendeta.

Mendengar teguran itu, hwesio gendut seperti arca Ji-lai¬hud itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan kebingungan karena memang tidak semestinya seorang pendeta mencampuri urusan orang lain, apa lagi urusan tokoh-tokoh dunia sesat.

Melihat kebimbangan sikap hwesio gendut itu, Kui Bi yang mengharapkan bantuan dan melihat adanya bahaya mengancam, segera berkata dengan suara lantang. "Heii, babi gemuk Kwi-jiauw Lo-mo, apakah engkau yang sudah setua ini tidak tahu akan pendirian seorang yang berhati suci dan mulia? Ada pendapat nenek moyang yang bijaksana begini: Membiarkan kejahatan berlangsung di depan mata tanpa mencegahnya, sama saja dengan membantu berlangsungnya kejahatan itu sendiri! Engkau dan anak buahmu merampok kami enci dan adik, dan hendak menawan dan menghina kami. Kalau losuhu ini membiarkannya saja, berarti beliau telah membantu perbuatan keji dan jahat kalian dan beliau tentu tidak mau disebut antek perampok-perampok seperti kamu!"

"Bocah setan, tutup mulutmu!" Kwi-jiauw Lo-mo dengan marah membentak dan dia menubruk maju, menyerang dengan cakar kirinya untuk membunuh agar gadis itu tidak banyak cakap.

Yang Kui Bi cepat mengelak dengan melempar tubuh ke samping, akan tetapi angin pukulan yang dahsyat membuat ia terpelating. Gadis ini tabah dan cerdik. Begitu tubuhnya terpelanting, ia sudah bergulingan ke arah hwesio gemuk sambil berseru, "Lebih baik mati gagah sebagai harimau dari pada hidup pengecut macam babi!" Jelas bahwa ucapan ini ditujukan kepada hwesio, untuk mengejeknya dengan maksud agar hati hwesio itu tersentuh.

"Hendak lari kemana kau!" bentak Kwi-jiauw Lo-mo. Dia mengejar dan memukul lagi, tidak percluli kepacla hwesio yang beracla clekat gaclis yang bergulingan itu.

"Plak! Duk!!" kedua cakar itu terpental dan tubuh Kwi-jiauw Lo-mo terhuyung ke belakang.

"Omitohud.... bukan pinceng (aku) suka usil mencampuri urusan orang lain, akan tetapi tanganku menjadi tak berguna dan batinku kotor kalau pinceng membiarkan saja orang bertindak jahat dan sewenang-wenang. Gadis ini benar, pinceng tidak ingin menjadi babi atau antek penjahat. Harap Lo-mo tidak mengganggu mereka lagi."

"Hwesio keparat!" Dengan kemarahan membuat mukanya merah clan matanya melotot, Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan) itu kini menerjang clan menyerang hwesio gendut dengan keclua cakarnya, mengerahkan seluruh tenaganya karena dia maklum bahwa lawannya adalah seorang yang tangguh.

Hwesio itupun menggerakkan tongkat bambunya untuk melindungi dirinya sambil menggeser kaki ke sana sini untuk menghinclarkan diri dari amukan Si Cakar Setan. Sementara itu, belasan orang anak buah Si Cakar Setan sudah pula mengeroyok Kui Lan dan Kui Bi. Dua orang gadis ini cepat mengambil pedang mereka dari atas tanah dan mereka berdua mengamuk.

Kini, Kui Lan tidak lagi merasa ngeri dan ia menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat, bahkan seolah tidak mau kalah dengan adiknya karena ia yakin bahwa kalau mereka berdua tidak dapat membasmi kawanan penjahat ini, mereka yang akan tertimpa malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Mereka berdua sudah memainkan Sian-li Kiam-sut, dan dengan ilmu pedang ini, belasan orang itu tidak berani menyerang terlalu dekat.

Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui merasa heran, terkejut dan kecelik bukan main ketika dia bertanding melawan hwesio bertongkat bambu kuning itu. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bahkan dapat dibilang seorang di antara para datuk persilatan yang selain memiliki nama besar, juga terkenal lihai sekali dan sukar dicari tandingannya. Sepasang cakar setan yang menyambung kedua tangannya amat tangguh dan sukar dikalahkan.

Akan tetapi sekali ini, dan baru pertama kali dialaminya, dia seperti seorang kanak-kanak saja ketika bertanding melawan hwesio yang perutnya gendut dan mirip arca Ji-lai-hud itu. Hwesio itu dengan tongkat bambunya mampu membuat kedua cakar setannya sama sekali tidak sempat menyentuh lawan.

Jangankan menyentuh kulit tubuhnya, bukan menyentuh jubahpun tidak mampu, kemanapun cakarnya menyerang, selalu terpental kalau bertemu dengan tongkat bambu, bahkan pergelangan dan siku lengannya selalu terancam totokan-totokan ujung bambu kuning yang gerakannya seperti seekor ular hidup saja! Padahal, dia tidak mengenal hwesio itu. Ini berarti bahwa hwesio gendut itu bukan seorang tokoh besar dunia persilatan, melainkan seorang pendeta yang sama sekali tidak ternama!

Saking geramnya karena sudah belasan kali semua serangannya gagal total, tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo mengeluarkan suara gerangan seperti seekor biruang dan sepasang cakarnya menyambar dari kanan kiri dengan tenaga sepenuhnya. Agaknya, satu di antara cakar itu tentu akan mengenai sasaran karena tongkat itu mana ma mpu menangkis sepasang cakar yang datang pada saat yang bersamaan dari kanan kiri? Akan tetapi, tubuh yang gembrot itu ternyata mampu bergerak dengan ringan sekali seperti seekor burung saja tubuh itu sudah melayang ke belakang.

"Tranggg...!!"

Bunga api berpijar ketika sepasang cakar itu saling berbenturan. Sungguh merupakan senjata yang mengerikan!

Sementara itu, kakak beradik Kui Lan dan Kui Bi mengamuk dengan pedang mereka dan membuat belasan orang pengeroyok mereka kocar-kacir. Banyak di antara mereka yang terluka oleh pedang kedua orang gadis itu. Setelah dua orang roboh tewas dan lima yang lain terluka, para pengeroyok itu menjadi gentar dan sambil menyeret kawan-kawan yang terluka, mereka lalu melarikan diri.

Melihat betapa anak buahnya melarikan diri dan dia sendiripun tidak mampu menandingi tongkat bambu yang amat lihai itu, Kwi-jiauw Lo-mo maklum bahwa kalau dia nekat melanjutkan perkelahian, akhirnya dia akan mendapat malu.

"Hwesio usil! Biar lain kali aku mencarimu untuk membuat perhitungan!" katanya sambil melompat ke belakang Melihat hwesio itu hanya menyeringai lebar dan tidak mengejar, diapun melompat dan melarikan diri. Dua ekor kuda milik kakak beradik itu ditinggalkan oleh kawanan perampok.

"Omitohud, hanya dengan kemampuan seperti itu sudah berani memaksakan kehendak mengganggu orang lain!" kata hwesio itu sambil tersenyum.

Kalau dia menghendaki, tidak akan terlalu suka baginya untuk merobohkan Si Cakar Setan itu tadi. Akan tetapi dia tidak mau melakukan itu dan kini dia memandang kepada dua orang gadis yang sudah menjatuh kan diri berlutut di depan kakinya.

"Locianpwe telah menyelamatkan nyawa kami!" kata Kui Lan.

"Kami menghaturkan terima kasih locianpwe,," kata pula Kui Bi, "kami akan membalas budi locianpwe dengan melayani semua kebutuhan Locianpwe kalau sudi menerima kami sebagai murid."

Hwesio itu tersenyum, memandang kepada mereka dan matanya berseri ketika dia memandang kepada Kui Bi. "Omitohud..... kalian ini gadis-gadis petualang telah memaksa pinceng sehingga terseret ke dalam perkelahian! Luar biasa sekali!"

"Maaf, locianpwe," kata Kui Bi yang memang lincah dan pandai bicara. ”Bukan kami yang memaksa Locianpwe, melainkan kemuliaan hati locianpwe sebagai seorang pendeta suci dan orang tua gagah perkasa berwatak pendekar yang memaksa locianpwe turun tangan menolong kami."

Hwesio itu menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya yang gundul dan bundar seperti bola, akan tetapi wajahnya masih berseri dan mulutnya masih tersenyum.

"Bukan itu yang menarik sekali hati dan perhatian pinceng, nona. Biasanya, pinceng tidak mau usil mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi, melihat permainan pedang kalian, pinceng merasa tertarik sekali. Bukankah ilmu pedang yang kalian mainkan itu adalah Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi)?"

Kakak beradik itu saling pandang dengan heran, lalu keduanya mengangguk. "Tepat sekali dugaan locianpwe. Memang kami tadi memainkan Sian-li Kiam-sut, akan tetapi karena kami baru saja mempelajarinya, latihan kami belum matang......" kata Kui Lan.

Hwesio itu mengangguk-angguk "Hemm, engkau benar, nona. Kalau latihan kalian sudah matang, mana mungkin Si Cakar Setan itu akan mampu mengalahkan kalian dengan mudah? Jadi kalian ini murid Sin-tung Kai-ong? Inilah yang menarik hati pinceng untuk turun tangan tadi."

Kui Bi yang cerdik hendak mengatakan benar, akan tetapi kakaknya lebih cepat, Kui Lan seorang berwatak lembut dan sama sekali tidak suka berbohong, dan ia sudah khawatir kalau adiknya berbohong. "Tidak, locianpwe kami bukan murid orang yang namanya locianpwe sebut tadi."

"Ehh? Lalu dari mana kalian dapat memainkan Sian-li Kiam-sut? Siapa yang mengajarkannya kepada kalian?"

Dengan singkat namun jelas Kui Lan menceritakan pengalaman mereka ketika bertemu dengan seorang pengemis tua yang kemudian secara rahasia mengajarkan ilmu pedang itu kepada mereka. "Kami tidak pernah mengenal siapa beliau, locianpwe, bahkan beliau memesan agar kami merahasiakan ajaran itu. Akan tetapi karena locianpwe telah mengenal ilmu pedang kami, terpaksa kami membuka rahasia ini."

"Ha-ha-ha-ha! Omitohud...! Si jembel tua itu sampai sekarang masih suka bersikap rahasia-rahasiaan! Jembel tua yang mengajarkan ilmu pedang itu kepada kalian adalah Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang di antara tokoh-tokoh sakti dalam dunia persilatan. Kalian bangkitlah. Tidak perlu berlutut, mari kita bicara dengan baik. Pinceng melihat bahwa kalian bukanlah gadis-gadis kang-ouw biasa. Pakaian kalian dan kuda kalian menunjukkan bahwa kalian adalah gadis-gadis hartawan, dan sikap serta bicara kalian juga berbau bangsawan! Bagaimana gadis-gadis seperti kalian dapat berkeliaran di sini? Pinceng Kong Hwi Ho-siang paling tidak suka melihat kepalsuan, maka kalau kalian tidak ingin pinceng tinggalkan sekarang juga, ceritakan sejujurnya siapa kalian dan mengapa pula dapat berada di tempat ini."

Melihat wajah yang cerah dan penuh senyum itu kini nampak bersungguh-sungguh, Kui Bi tidak berani main-main lagi. "locianpwe, karena locianpwe juga bersikap jujur, maka kami berjanji akan berterus terang kepada locianpwe. Kami kakak beradik, namaku Yang Kui Bi dan ini kakakku Yang Kui Lan. Kami dari kota raja...."

"She Yang dari kota raja?" Hwesio itu memotong dan kini sepasang alisnya berkerut, matanya mencorong. "Mengingatkan pinceng kepada Menteri Utama Yang Kok Tiong dan selir Kaisar Yang Kui Hui yang tersohor itu....!"

"Mereka adalah ayah dan bibi kami, locianpwe," kata Kui Lan dengan suara lirih.

Hwesio itu terbelalak, untuk beberapa detik lamanya wajahnya berubah, senyumnya hilang dan alisnya berkerut. Akan tetapi dia segera dapat menguasai dirinya dan nampak tenang kembali.

"Hemm, kalian adalah puteri Menteri Utama, bahkan keponakan selir Kaisar yang paling berpengaruh. Kalian kaya raya dan berkedudukan tinggi, berenang dalam lautan kemewahan dan kemuliaan. Kenapa dapat berkeliaran ke tempat sunyi ini tanpa pengawal?"

Kui Lan tidak dapat menjawab dan mengerling kepada adiknya, menyerahkan tugas kepada adiknya untuk menerangkan. Kui Bi tersenyum dan menatap tajam wajah hwesio itu.

"Locianpwe sendiri merasa tidak senang mendengar bahwa kami dari keluarga Yang. Hal ini kami ketahui dari pandang mata dan sikap locianpwe. Apa lagi locianpwe, bahkan kami sendiripun muak dengan segala macam kepalsuan yang berada di kota raja, terutama di istana. Justeru karena kemuakan kami itulah kami meninggalkan kota raja dan merantau, locianpwe."

"Omitohud...! Mana mungkin dapat dipercaya keterangan ini? Kalian puteri-puteri bangsawan, dekat dengan istana, bagaimana mungkin merasa muak dengan kehidupan mewah itu dan pergi meninggalkan ru mah untuk merantau? Kepalsuan-kepalsuan apa yang kalian lihat dan rasakan?"

"Locianpwe, kami adalah tiga bersaudara. Kami masih mempunyai seorang kakak kami bernama Yang Cin Han. Kami bertiga sejak kecil suka mempelajari silat dan juga kami membaca kitab kitab sejarah. Kami melihat ketidak wajaran dan kepalsuan merajalela di istana. Sribaginda Kaisar seperti boneka di tangan bibi kami Yang Kui Hui. Ayah kamipun diangkat menjadi Menteri Utama bukan karena kecakapan dan kemampuan melainkan karena jasa bibi Yang Hui. Kami muak dengan semua itu dan kami bertiga meninggalkan rumah. Kami ingin bertualang, ingin bebas merdeka seperti burung-burung di angkasa. Kami ingin meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu kami. Kebetulan kami bertemu dengan locianpwe di sini, maka kami mohon sekali lagi, sudilah kiranya locianpwe menerima kami sebagai murid."

Setelah berkata demikian, Kui Bi memegang tangan kakaknya dan kembali mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu yang duduk bersila di atas batu besar.

"Omitohud.... sungguh menakjubkan! Betapa akan bahagianya bangsa dan negara kalau semua orang muda seperti kalian ini, tidak silau oleh kesenangan melainkan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, agaknya masih sangat sukar untuk percaya begitu saja. Kalau kalian ingin menjadi murid pinceng, dapat pinceng menerima kalian namun dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, locianpwe? Kami siap memenuhinya," kata Kui Bi dengan tegas.

"Syaratnya, kalian harus taat, dan selama dua tahun penuh kalian tidak boleh meninggalkan kuil di mana kalian akan pinceng titipkan. Selama dua tahun itu, apapun yang terjadi di kota raja, kalian tidak boleh meninggal kuil dan harus melatih semua ilmu yang pinceng ajarkan dengan tekun. Nah bersediakah kalian memenuhi syarat itu?"

"Saya bersedia!" kata Kui Bi tegas.

"Saya... saya.... bagaimana kalau ayah dan ibu menjadi gelisah dan sedih karena selama itu kita tidak pulang, Bi-moi?" Kui Lan meragu.

"Lan-ci, bukankah kita sudah bertekad meninggalkan semua itu? Setelah lewat dua tahun, baru kita pulang!” bantah adiknya.

"Omitohud...., kalau kalian tidak rela, jangan memaksa diri agar kelak tidak akan menyesal dan menyalakan pinceng," kata hwesio itu dan tanpa diketahui dua orang gadis itu, dia memandang mereka dengan sinar mata yang tiba-tiba membayangkan perasaan iba yang mendalam!

"Sudahlah, Lan-ci, bagaimana kita dapat melewatkan kesempatan baik ini! Bukankah selama ini kita mendambakan seorang guru yang sakti?"

Kui Lan menyerah "Baiklah, saya bersedia melaksanakan perintah dan memenuhi syarat itu," katanya.

"Bagus! Nah, sekarang tunggangilah kuda kalian dan ikuti pinceng pergi dari sini!"

"Nanti dulu, locianpwe. Kami belum melakukan upacara pengangkatan guru." kata Kui Bi dan iapun kembali menggandeng tangan encinya untuk berlutut dan memberi hormat delapan kali ke ada hwesio itu sambil menyebut "Suhu".

Hwesio itu yang kini telah mendapatkan kembali kegembiraannya, tertawa tawa sampai perutnya yang gendut itu bergerak-gerak, seolah ada kehidupan bersendiri dalam perut yang besar itu.

"Sudahlah, pinceng senang sekali mempunyai murid-murid seperti kalian," kata Kong Hwi Ho-siang dan sekali menggerakkan tangan, ujung lengan bajunya menyentuh pundak dua orang gadis itu dan luar biasa sekali, Kui Lan dan Kui Bi merasa seperti terangkat oleh angin yang amat kuat sehingga mau tidak mau mereka bangkit berdiri dan memandang kagum karena mereka mengerti bahwa gerakan guru mereka tadi merupakan pengerahan sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat.

"Akan tetapi, suhu. Bagaimana mungkin teecu berdua menunggang kuda sedangkan suhu berjalan kaki? Biarlah teecu dan enci Kui Lan berboncengan dan suhu menunggang kuda teecu (murid)."

Hwesio itu tertawa bergelak dan mulutnya terbuka. Dua orang gadis itu memandang dengan heran melihat betapa mulut itu sama sekali tidak mempunyai gigi lagi, seperti mulut bayi! Dan tertawa seperti itu, memang wajah Kong Hwi Ho-siang mirip wajah seorang bayi.

"Ha-ha-ha-ha, pinceng telah di kurniai sepasang kaki yang kuat, kenapa mesti pinjam kaki kuda untuk berdiri? Sudahlah, kalian tunggangi saja kuda kalian dan pinceng berjalan kaki. Kau kira gurumu ini tidak akan mampu menandingi larinya kuda?"

Dua orang gadis itu saling pandang, merasa heran, kagum dan juga bangga, akan tetapi ada pula perasaan ingin membuktikan dan penasaran. Boleh jadi suhunya memiliki ilmu silat yang hebat, akan tetapi lari menandingi kuda? Melihat kedua orang murid itu nampak tertegun dan ragu, Kong Hwi Ho-siang memberi isyarat dengan tangan agar keduanya cepat meloncat ke atas punggung kuda.

"Nah, ikuti pinceng!" katanya dan tubuhnya berkelebat ke depan dan melesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya! Dua orang gadis itu terkejut dan cepat menggebrak kendali agar kuda mereka berlari cepat mengejar bayangan guru mereka yang sudah jauh itu.

Mereka membalapkan kuda, akan tetapi tetap saja tidak mampu menyusul bayangan yang bergerak meluncur menyusuri sungai. Padahal, mereka melihat betapa hwesio itu seperti melangkah biasa saja, namun jubahnya yang lebar berkibar-kibar!

Mereka tentu saja menjadi kagum bukan main dan kini lenyap pula sedikit keraguan yang masih bersisa di hati Kui Lan. Kegembiraan melihat kenyataan akan kesaktian gurunya membuat gadis ini dapat melupakan bayangan kerinduan terhadap orang tuanya. Guru seperti hwesio ini sukar ditemukan dan mereka berun tung sekali, tidak saja tadi diselamatkan dari ma lapetaka mengerikan, bahkan kini diterima menjadi murid.

Ketika akhirnya mereka menghentikan larinya kuda di pekarangan sebuah kuil yang berada di tempat sunyi, di tepi sungai dan di kaki sebuah bukit, kuda mereka terengah dan berpeluh, akan tetapi hwesio itu sama sekali tidak berkeringat, dan napasnya biasa saja, masih tersenyum lebar.

"Wah, suhu hebat sekali! Suhu lari melebihi kecepatan kuda kami!" Kui Bi berseru kagum sambil melompat turun. "Suhu harus mengajarkan ilmu berlari cepat seperti itu kepada teecu!"

"Hushh, Bi-moi, mana ada murid mengharuskan gurunya!" Kui Lan menegur, khawatir kalau guru mereka menjadi marah mendengar kelancangan adiknya.

"Omitohud....! Kakak beradik memiliki watak yang jauh berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Demikianlah segala apa yang berada di dunia ini, termasuk manusia. Ada kelebihannya pasti ada kekurangannya, ha-ha-ha. Kalian jangan khawatir. Kalau kalian tekun berlatih, dalam dua tahun pinceng akan menurunkan ilmu-ilmu simpanan pinceng kepada kalian. Ilmu berlari cepat seperti tadi bukan apa-apa, walaupun amat penting, yaitu kalau-kalau kalian terpaksa melarikan diri, tidak akan mudah, dikejar, ha-ha-ha!"

Dua orang gadis itupun tersenyum mendengar kelakar guru mereka yang kadang penampilannya tidak mirip pendeta bahkan lebih mirip kanak-kanak. Mereka memasuki kuil. Kuil yang tidak besar itu berada di tepi Sungai Wei, di kaki Bukit Bangau. Tempat yang cukup sunyi karena berada di luar dusun, bahkan jauh dari kota.

Mereka di sambut oleh seorang nikouw (pendeta wanita) yang bertubuh kurus dan nampak bersih dan rapi. Usianya sekitar lima puluh tahun, masih cantik akan tetap dirinya di bungkus kesederhanaan yang wajar, matanya lembut dan gerak-geriknya nampak ringkih.

"Susiok (paman guru)!" Nikow itu memberi hormat kepada Kong Hwi Ho-siang yang tertawa-tawa.

"Pek-lian, ini adalah murid-murid pin-ceng, namanya Yang Kui Lan dan adiknya, Yang Kui Bi. Kui Lan dan Kui Bi, ini adalah murid keponakan pinceng, namanya Pek-lian Nikouw. Kalian boleh menyebut suci (kaka k seperguruan) kepadanya dan dapat mengharapkan petunjuknya. Jangan mengira ia lemah ia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat gerakan pinceng akan nampak lamban sekali!"

Hwesio itu tertawa dan dua orang gadis itu terkejut dan kagum bukan main. Kalau guru mereka yang memiliki ilmu berlari secepat itu masih memuji ginkang nikow ini, sudah tentu ia memiliki kepandaian hebat bukan main.

"Omitohud. susiok selalu berkelakar dan terlalu memuji.," kata nikouw tua dengan lembut dan senyumnya amat ramah. "Dalam hal ilmu silat, pin-ni (saya) seperti semut dibandingkan susiok yang seperti gajah. Pin-ni hanya belajar sedikit ilmu untuk melarikan diri dari bahaya."

Kong Hwi Ho-siang tertawa terpingkal-pingkal. "Ha-ha¬heh-heh, pin-ceng seperti gajah? Ha-ha-ha, sungguh tepat. Ketahuilah, PeK-lian, pin-ceng hendak menitipkan dua orang murid pin-ceng itu di sini. Tidak, mereka tidak harus menjadi nikouw, mereka hanya pinceng titipkan selama pin-ceng mengajar ilmu silat kepada mereka."

"Tentu saja, susiok. Mereka boleh tinggal di sini selama mereka sukai, asal tempat yang sederhana ini tidak membosankan hati mereka. Mari, kedua sumoi, mari masuk dan pin-ni pilihkan ka mar yang pantas untuk kalian."

"Aih, suci, tidak perlu repot-repot mengurus kami. Sebaiknya kalau kami berkenalan dulu dengan para nikouw yang tinggal di sini," kata Kui-Bi. Mereka lalu diperkenalkan dengan lima orang nikouw lain yang tinggal di kuil Thian-bun¬tang itu.

Demikianlah, sejak hari itu, Kui Lan dan Kui Bi tinggal di kuil Thian-bun-tang dan setiap hari mereka melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang diajarkan oleh guru mereka. Kong Hwi Ho-siang sendiri tidak tinggal di kuil itu, hanya seminggu sekali datang untuk menggembleng dua orang muridnya diri pagi hingga malam. Juga mereka berdua mendapatkan petunjuk jalan ilmu meringankan tubuh dari Pek-lian Nikouw, dan mempelajari isi kitab-kitab agama dari para nikouw lain.

Atas kehendak Kong Hwi Ho-siang dua orang gadis ini tidak pernah keluar dari kuil sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa di kuil itu tinggal dua orang gadis cantik jelita Inilah sebabnya mengapa semua usaha Menteri Yang untuk mencari kedua orang puterinya itu gagal.

Karena kakak beradik ini memang berbakat baik, apa lagi di bawah bimbingan yang tekun dari Kong Hwi Ho-siang, juga lingkungan hidup yang bersih rajin dan tekun dengan para nikouw, kedua orang gadis bangsawan itu memperoleh kemajuan pesat sekali. Pelajaran keagamaan juga merupakan hiburan yang baik, sekali dan dapat mengobati kerinduan mereka terhadap orang tua.

* * *

Apa yang dikhawatirkan Yang Kok Tiong terjadilah. Setelah An Lu Shan dianggap tidak bersa lah oleh kaisar, bahkan menerima hadiah dan pujian atas kesetiaannya, memang tidak nampak tanda-tanda bahwa panglima peranakan Khitan Turki itu akan memberontak. Bahkan kaisar juga tidak menaruh curiga ketika An Lu Shan memperkuat pasukannya dengan alasan untuk memperkuat penjagaan di perbatasan utara.

Akan tetapi dua tahun kemudian An Lu Shan membuka kedoknya. Diam-diam dia bukan hanya menghim pun kekuatan pasukannya, bahkan juga mengadakan hubungan dan persekongkolan dengan suku-suku asing di utara, terutama dengan suku Khitan.

Mulailah dia menggerakkan pasukannya menuju ke selatan. Mula-mula ia tidak ada yang curiga melihat gerakan ini, karena bukankah pasukan yang dipimpin An Lu Shan merupakan pasukan Kerajaan Tang? Dan panglima An Lu Shan tentu saja memiliki pasukan pilih yang terkuat dari Kerajaan Tang.

Dia membawa pasukan besarnya menyeberang Sungai Kuning, kemudian menyerbu Lok-yang tanpa kesulitan. Pasukan yang menjaga Lok-yang yang merupakan kota raja yang kedua setelah kota raja Tiang-an dikejutkan oleh serbuan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Lok-yang diduduki dengan mudahnya.

Gegerlah kota raja ketika kaisar mendengar berita itu. Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi juga khawatir kali. Dengan tergesa-gesa Kaisar Ia mengerahkan seluruh pasukan untuk menyambut gerakan barisan pemberontak itu. Terjadilah pertempuran besar di Ling-pao yang berlangsung sampai dua pekan lebih.

Namun, akhirnya pasukan pemerintah tidak kuat bertahan dan dapat dihancurkan dan sisa pasukan mundur ke benteng pasukan pemerintah di Terusan Tiong-koan. Terjadi perang besar di benteng Tiong-koan ini. Namun, pasukan pemberontak yang sudah lama membuat persiapan penyerbuan itu dan keadaannya jauh lebih kuat, dapat menghancurkan pertahanan pasukan pemerintahan sehingga benteng Tiong-koan juga bobol.

Benteng pertahanan terakhir yang merupakan pintu gerbang ke kota raja, jatuh. Tentu saja hal ini membuat Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini menjadi gentar. Kepanikan melanda keluarga kaisar, dan dengan tergesa-gesa Kaisar melarikan diri mengungsi ke barat, menuju ke Se-cuan.

Demikianlah, pasca tahun 755, An Lu Shan memimpin pasukannya menyerbu ibu kota Tiang-an dan boleh dibilang hampir tidak mendapatkan perlawanan. Hanya ada beberapa orang panglima yang setia melakukan usaha yang sia-sia untuk melawan sampai mati, namun pasukan kecil mereka tidak ada artinya terhadap balatentara besar yang menyerbu kota raja bagaikan air bah itu. Kota raja Tiang-an diduduki oleh An Lu Shan dan terjadilah apa yang ditakuti rakyat. Yaitu perampokan, perkosaan dan pembunuhan.

Sebagian besar keluarga kaisar tertumpas, para wanitanya yang muda dan cantik dipaksa menjadi selir atau bunuh. Yang diajak pergi mengungsi. Hanya kaisar hanyalah keluarga dekat, bahkan selirnya yang tak pernah terpisah dari sisinya hanyalah Yang Kui Hui! Selain selir yang tercinta ini, juga ikut pula Menteri Utama: Yang Kok Tiong, kakak kandung selir Yang Kui Hui itu.

Yang Kok Tiong hanya seorang diri saja mengikuti kaisarnya yang melarikan diri. isterinya, berkeras tidak mau meninggalkan gedungnya karena ia akan menunggu kembalinya tiga orang anaknya yang telah menghilang selama dua tahun. Akhirnya, dalam kerusuhan itu, ketika para perajurit pemberontak merampok rumahnya dan ia akan di perlakukan tidak senonoh oleh seorang di antara mereka, nyonya yang cantik dan lembut ini memilih kematian dengan minum racun yang memang sudah ia persiapkan!

Selain Menteri Yang Kok Tiong dan Selir Yang Kui Hui, ada pula pasukan pengawal yang terdiri dari seratus orang lebih mengawal rombongan kaisar. Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Kok Cu It, panglima berusia empat puluh dua tahun yang terkenal setia kepada kaisar, Panglima Kok Cu ini pula yang mati-matian menghimpun pasukan dan melakukan perlawanan di Terusan Tung-ku-an, akan tetapi akhirnya pasukannya terpukul hancur karena memang kalah besar dan kalah persiapan.

Kini, dengan pasukan pengawal yang hanya seratus orang lebih, panglima ini tidak mau melarikan diri seperti rekan-rekannya, melain kan dengan setia dia mengawal kaisar melarikan diri ke barat. Semula, Kaisar Beng Ong yang sudah tua itu masih merasa terhibur dalam pelariannya. Selirnya tercinta berada di sampingnya. Dan di situ masih terdapat Menteri Yang Kok Tiong yang setia dan dapat menjadi penasihatnya, juga terdapat pula Panglima Kok Cu It yang dapat dipercaya akan me mbe la nya mati- mat ian.

Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa malapetaka datang bukan dari luar, melainkan dari pasukan pengawal itu sendiri. Peristiwa yang tercatat dalam sejarah itu terjadi ketika rombongan pengungsi ini tiba di pos penjagaan di Ma-wei, di Shensi sebelah barat.

Di tempat yang berada di perbatasan dengan Tibet ini, rombongan berhenti untuk beristirahat melewatkan malam. Para perajurit yang berjaga di pos itu berjumlah tiga losin orang dan mereka segera bergabung dengan pasukan pengawal yang menceritakan keadaan di timur yang telah diduduki para pemberontak.

Menteri Yang Kok Tiong tidak tinggal diam. Dia maklum bahwa rombongan telah tiba di perbatasan dengan daerah Tibet, dan untuk menyelamatkan dan mengamankan kaisarnya, sebaiknya kalau dia dapat menghubungi para tokoh di Tibet untuk mencari perlindungan bagi kaisarnya.

Oleh karena itu, diapun segera mengadakan hubungan dengan para kepala Lama, yaitu pendeta di Tibet yang memegang kekuasaan di daerah itu, agar para pendeta itu dapat menerima rombongan pengungsi sebagai sahabat.

Akan tetapi, pada saat Menteri Yang Kok Tiong mengadakan perundingan dengan beberapa tokoh pendeta Lama di tendanya, terjadi perundingan lain di antara pasukan. Para perajurit yang menderita dalam pelarian itu, lelah dan lapar, juga harapan mereka semakin tipis, masa depan demikian suram.

Kalau mula-mula mereka hanya mengeluh, kemudian mereka merasa penasaran. Para perwira yang menjadi pembantu-pembantu panglima Kok Cu mulai menyinggung tentang kelemahan kaisar yang menjadi permainan Selir Yang Kui Hui.

"Coba bayangkan, orang macam Yang Kok Tiong diangkat menjadi Menteri Utama! Hanya karena dia kakak selir itu maka dia diangkat menempati kedudukan tertinggi sesudah kaisar!"

"Dan sekarang, lihat saja! Dia malah bersekongkol dengan para pendeta Lama!"

"Jangan-jangan dia hendak mengkhianati kaisar. Melihat kaisar telah jatuh, dia kini menjilat kepada para pendeta Lama!"

"Seret pengkhianat Yang Kok Tiong!"

Segera mereka bersorak-sorak dari memaki-maki Menteri Yang Kok Tiong! Bahkan seratus dua puluh orang lebih itu kini menyerbu ke arah tenda yang menjadi tempat tinggal sementara dari Menteri Yang Kok Tiong!

Ketika itu, para pendeta Lama telah meninggalkan tenda Menteri Yang! Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar ribut-ribut di luar. Dia segera melangkah keluar, hanya untuk menghadapi amukan para perajurit. Menteri itu sama sekali tidak berdaya. Pada waktu itu, dia sudah tidak lagi dijaga oleh pengawal seperti ketika dia masih tinggal di kota raja. Dia tidak dapat melawan dan tewas seketika di bawah banyak senjata yang membuat tubuhnya hancur!

Mendengar keributan ini. Kaisar Beng Ong terkejut bukan main, demikian pula panglima Kok Cu It yang ketika peristiwa itu terjadi sedang berbincang-bincang dengan kaisar. Mereka berlari keluar dan Panglima Kok Cu sudah mencabut pedangnya untuk melindungi kasar.

Sementara itu, bagaikan srigala-srigala buas yang menjadi semakin ganas setelah merasakan sedikit darah, para perajurit pengawal setelah melumatkan tubuh Menteri Yang Kok Tiong yang mereka anggap menjadi seorang diantara mereka yang melemahkan negara dan mengakibatkan kerajaan jatuh ke tangan pemberon tak, kini berbondong-bondong menuju ke pondok darurat yang di bangun untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi Kaisar.

"Bunuh Selir Yang Kui Hui!"

"Gantung iblis betina itu...!"
Selanjutnya,