X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 02

Cerita Silat Mandarin Serial Mestika Burung Hong Kemala episode Kisah Si Pedang Terbang Jilid 02 Karya Kho Ping Hoo

Kisah Si Pedang Terbang

Karya : Kho Ping Hoo
Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Jilid 02
WAJAH hwesio itu berseri. “Omitohud semua agaknya telah digariskan dengan lurus dan tepat! Pinceng akan merasa senang sekali, nyonya, dan sebelumnya, pinceng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nyonya."

Ucapan hwesio tua itu bukan sekedar untuk menyenangkan hati Liu Ma. Ketika dia melakukan perantauan dan tiba di daerah itu, hatinya sudah merasa tertarik sekali akan keindahan alam di situ. Dia merasa dirinya sudah terlalu tua untuk mengembara Iagi, dan timbul keinginannya tinggal di daerah yang amat indah itu, untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Selain itu, juga dia ingin sekali meninggalkan ilmu-ilmunya kepada seorang murid yang berbakat, di samping apa yang telah dia ajarkan kepada Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi. Maka, dapat dibayangkan betapa senang rasa hatinya bahwa semua keinginan hatinya itu ternyata terkabul sedemikian mudahnya.

Tanpa disengaja, ketika dia menikmati keindahan alam di dekat hutan bambu, dia bertemu dengan Han Lin yang segera dipilihnya sebagai calon muridnya. Kemudian dia bertemu ibu anak itu yang dengan senang hati hendak memperbaiki kuil tua untuk menjadi tempat tinggalnya!

Semua begitu kebetulan, begitu tepat memenuhi kebutuhannya. Ketika ditanya pendapatnya, Han Lin menyambut dengan gembira sekali keinginan Kong Hwi Hosiang yang hendak mengangkat dia sebagai muridnya.

Segera dia menjatuhkan diri berlutut didepan kaki hwesio itu dan menyebut suhu berkali-kali. Hwesio tua itu tertawa bergelak, dan Liu Ma juga tertawa senang karena ia percaya bahwa dibawah bimbingan seorang hwesio tua yang demikian ramah dan baik, tentu Han Lin kelak akan menjadi seorang yang berguna.

Dengan demikian, tentu ia akan merasa berbahagia dan puas bahwa ia telah dapat memenuhi kewajiban dengan baik. Kuil tua itu ternyata masih memiliki dinding yang kokoh. Hanya lantai dan atapnya saja yang membutuhkan perbaikan.

Liu Ma menjual beberapa buah perhiasan yang ia terima dari orang tua Han Lin, dijualnya ke kota dan ia pun memperbaiki kuil itu sehingga menjadi perhatian yang menggembirakan bagi para penduduk Li-bun. Akan tetapi ketika perbaikan atap mulai dilakukan, terjadilah hal-hal yang mendatangkan perasaan ngeri dan takut kepada para pekerja yang terdiri dari penghuni dusun Li-bun sendiri.

Memang hal-hal yang amat aneh terjadi. Begitu atap di pugar, dua orang pekerja jatuh dari atas atap dan keduanya menceritakan pengalamannya yang sama, yaitu bahwa mereka didorong oleh seorang berpakaian tosu dari atas atap. Untung mereka hanya menderita patah tulang kaki saja, tidak sampai tewas.

Mula-mula, peristiwa itu masih dianggap sebagai hal yang terjadi karena kekurang hati-hatian dua orang pekerja itu. Akan tetapi ketika mereka hendak memasang atap baru, seorang pekerja tiba-tiba saja terkulai dan berkelojotan seperti orang sedang sekarat. Ketika teman-temannya datang menolong, orang itu menjadi beringas, matanya melotot, mututnya berbuih dan diapun berteriak-teriak kacau, dan suaranya terdengar parau.

"Pergi kalian semua! Pergi jangan mengganggu tempatku! Akan kucekik kalian semua!" demikian orang itu berteriak-teriak dan meronta-ronta karena kaki tangannya dipegangi banyak orang.

Para penduduk dusun yang masih mudah sekali dipengaruhi tahyul itu menjadi ketakutan dan segera Kong Hwi Hosiang diundang. Hwesio itu datang diikuti oleh Liu Ma dan juga Han Lin. Ketika Kong Hwi Hosiang memasuki kuil itu dan melihat seorang pekerja rebah di atas lantai, kaki tangannya dipegangi banyak orang dan semua pekerja berhenti bekerja dan merubung orang itu yang berteriak-teriak mengusir mereka, dia lalu mendekati, diikuti oleh Liu Ma yang takut-takut dan Han Lin yang terheran-heran.

"Omitohud.... saudara sekalian, harap lepaskan saja dia," katanya dengan lembut.

Para pekerja melepaskan orang itu dan cepat mundur ketakutan, khawatir kalau orang yang mereka tahu kesurupan (kemasukan roh jahat) itu akan mengamuk. Ketika orang itu dilepaskan, dia pun meloncat bangkit, matanya melotot liar, mulutnya berbuih, dan dia memandang kepada Kong Hwi Hosiang lalu bertolak pinggang, sikapnya menantang!

"Huh, kiranya ini biang keladinya. Hwesio gendut tua bangka, engkau menggunduli kepala dan mengenakan jubah kuning, akan tetapi masih bertindak semenamena, mengganggu dan hendak merampas tempatku, ya?"

Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan depan dada dan berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran, "Omitohud, tuduhanmu itu menjadi kebalikan dari kenyataannya. Tidak ada seorangpun manusia yang mengganggumu, dan bangunan ini sama sekali bukan menjadi tempat tinggalmu. Bangunan ini tempat tinggal manusia yang masih mempunyai badan jasmani. Engkaulah yang salah memilih tempat. Sebaiknya engkau mencari tempat yang jauh dari manusia, dan mohon ampunlah kepada Yang Maha Kasih agar engkau dapat memperoleh kebebasan kesempurnaan."

Akan tetapi, pekerja yang masih muda dan tubuhnya kekar itu kelihatan semakin marah. Dia mengeluarkan suara yang serak dan tidak begitu jelas, akan tetapi dia membuat gerakan seolah hendak mencekik Kong Hwi Hosiang.

Melihat ini, Liu Ma yang berada di belakang hwesio itu menjadi gemetar ketakutan, dan Han Lin memegang tangannya. Anak ini juga merasa ngeri, akan tetapi dia tidak takut, percaya bahwa gurunya tentu akan mampu mengalahkan iblis yang memasuki tubuh pekerja itu.

Kong Hwi Hosiang dengan sikap tenang, memandang wajah pekerja itu. Suaranya masih lembut, namun menggetar penuh kewibawaan ketika dia berkata, "Roh penasaran! Perbuatanmu ini akan menambah dosamu dan memberatkan penderitaanmu. Pergilah engkau!"

Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantra dan menggerakkan kedua tangannya seperti mendorong dan pekerja itu mengeluarkan teriakan nyaring, lalu terkulai roboh. Akan tetapi begitu roboh, dia bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri dengan keheranan.

"Aih, apa yang telah terjadi? Kenapa aku? Dan kalian mengapa berhenti bekerja?" Setelah melihat bahwa pekerja itu sudah biasa lagi menunjukkan bahwa roh penasaran yang tadi menyusup ke dalam dirinya telah pergi, teman-temannya berani menghampiri dan ada yang memberinya minum sebelum menceritakan bahwa dia tadi kesurupan.

Pekerja kuil itu bergidik, lalu meninggal kan pekerjaannya itu, pulang dan tidak berani kembali lagi, dan perbuatannya ini dan beberapa orang yang merasa ketakutan. Biarkan mereka pulang kata Kong Hwi Hosiang kepada Li Ma yang hendak menegur mereka. Kalau mereka memang takut, lebih baik tidak usah ikut membantu dan kita mencari saja orang yang tidak takut.

Demikianlah, perbaikan kuiI itu dilanjutkan dan yang bekerja adalah orang-orang yang tidak gentar terhadap gangguan roh jahat. Dan anehnya, sejak peristiwa itu, tidak ada lagi gangguan sampai pembangunan itu selesai. Berdirilah sebuah kelenteng baru di dekat puncak itu. Dan mulailah Kong Hwi Hosiang menyebarkan keagamaan dan kelenteng itu mulai dikunjungi orang, untuk mempelajari agama, juga untuk bersembahyang.

Han Lin tinggal di kelenteng itu sebagai murid Kong Hwi Hosiang, dan anak yang ingin mengetahui Han Lin pada suatu hari bertanya tentang peristiwa kesurupan yang membuat banyak orang ketakutan. “Suhu, apa sih artinya peristiwa itu? Benarkah roh halus itu bias memasuki tubuh manusia?”

Kong Hwi Hosiang tersenyum, girang bahwa muridnya, biarpun masih kanak-kanak, tidak takut dan tidak dicengkeram tahyul, hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang memiliki dasar watak yang kuat. "Engkau telah melihat sendiri, Han Lin. Orang itu jelas tidak berpura-pura, dan tidak pula sakit. Dia memang telah dirasuki roh penasaran yang tidak ingin kuil itu diperbaiki karena kuil itu telah menjadi tempat tinggalnya."

"Suhu, apakah setiap orang manusia dapat dimasuki roh seperti itu?"

Kong Hwi Hosiang menggeleng kepala. "Omitohud, tidak begitu mudah bagi roh jahat untuk memasuki diri seorang manusia, Han Lin. Hanya manusia yang lemah batinnya, manusia yang percaya dan tunduk kepada kekuasaan setan, dan manusia yang berada pada saat-saat lemah batinnya seperti kalau dia sedang dikuasai nafsu, sedang marah, sedang bersedih, pendeknya dicengkeram nafsu, dialah yang seolah-olah terbuka bagi roh jahat unttk memasukinya. Sebaliknya dia yang kuat batinnya, yang tidak sedikitpun mau menyerah terhadap kekuasaan nafsu, tidak tunduk terhadap pengaruh roh jahat, dia yang menyadari bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari pada roh-roh jahat, dia yang menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kasih, tidak mungkin dapat dimasuki roh jahat."

"Suhu, apakah mantram-mantram itu dapat mengusir roh jahat?" tanya pula Han Lin.

"Mantram adalah doa keyakinan manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa, namun bukan mantranya itu yang ampuh, melainkan batin manusianya. Segala kekuatan datang dari kekuasaan Yang Maha Kuasa, kalau kita menyerah dengan penuh kepasrahan, kita akan terlindung oleh Kekuasaan itu, dan tidak ada kekuasaan gelap manapun yang akan mampu mengganggu kita."

Dengan penuh kasih sayang, Kong Hwi Hosiang mulai mengajarkan iImu kepada Han Lin yang baru berusia tujuh tahun. Dia digembleng dengan dasar ilmu silat tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga sinkang tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuhnya, juga dia disuruh membaca banyak kitab kuno dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam pengetahuannya tentang sastra.

Dan seperti yang dapat nampak oleh hwesio tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Han Lin memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat. Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan.

Biarpun Han Lin tinggal di kelenteng, namun Liu Ma tidak merasa kehilangan. Ia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja ia kehendaki dan sering ia datang berkunjung, bahkan Han Lin selalu mendapat perkenan suhunya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya. Tiga tahun kemudian, pada suatu pagi, Kong Hwi Hosiang sudah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak.

Usianya sudah tujuhpuluh tiga tahun lebih, dan biarpun dia masih nampak segar, namun harus diakuinya bahwa usia telah menggerogoti kekuatan tubuhnya. SegaIa sesuatu di permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu, pikirnya sambil tersenyum ketika dia melangkah mendaki puncak bukit. Akan tetapi dia tidak pernah mau menyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu.

Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu ataupun waktu mendatang. Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan. Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi, Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya sudah berada dipuncak pula, dan agaknya telah mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Akan tetapi muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak-gerakkan ranting itu seperti orang bersilat. Bukan gerakan silat dasar seperti yang dia ajarkan, melainkan gerakan silat yang membuat hwesio tua itu terbelalak.

Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu silatnya sendiri yang dia andalkan. Kong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan)! ltulah gerakan yang dilakukan Han Lin, walaupun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna! Bagaimana mungkin anak itu dapat melakukan gerakan itu?

Padahal, dia ingat benar bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walaupun sedikit, dan dia tidak percaya di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu silat tongkat itu. Ketika Han Lin kebetulan membalikkan tubuhnya dan melihat gurunya, segera dia melepaskan ranting itu dan berlari menghampiri kakek itu.

"Suhu...! Sepagi ini suhu sudah mendaki ke puncak?"

Kong Hwi Hosiang menghapus peluh dari dahinya dengan ujung lengan bajunya yang lebar, tersenyum, Omitohud... kalau usia sudah tua mendaki sebegini saja sudah berkeringat, Han Lin apakah engkau sudah cukup mengumpulkan kayu bakar?"

"Sudah, suhu. Itu sudah teecu (murid) ikat semua." dia menuding ke arah ranting-ranting kering seikat besar.

"Bagus, dan pinceng tadi melihat engkau bersilat dengan ranting kayu. Dari mana engkau mempelajarinya?" tanya hwesio itu sambil lalu, seolah tidak menaruh perhatian.

Wajah anak itu berubah kernerahan dan dia tersenyum. "Aih, suhu, teecu hanya main-main sembarangan saja..."

"Han Lin, gerakanmu tadi bukan main-main, melainkan semacam ilmu tongkat. Nah, katakan saja sejujurnya, dari siapa engkau mempelajari ilmu tongkat itu? Atau kalau engkau meniru gerakan orang lain, siapa yang kau lihat memainkan ilmu tongkat itu?"

Han Lin nampak salah tingkah dan diam-diam hwesio tua itu merasa heran. Belum pernah selama tiga tahun ini dia melihat muridnya bersikap seperti itu, penuh keraguan, penuh kepanikan. "Teecu... ah, teecu..."

"Han Lin, engkau tentu masih ingat bahwa di antara kita tidak pernah ada rahasia, dan bahwa amat tidak baik untuk berbohong, apa lagi terhadap pinceng, bukan?"

Kini Han Lin mengambil sikap tegas. Dengan berani dia menentang lagi sinar mata suhunya. "Teecu ingat, dan teecu tidak akan pernah melanggarnya, suhu. Akan tetapi teecu juga ingat bahwa seorang laki-laki haruslah selalu memegang teguh janjinya. Mengingkari janji merupakan perbuatan yang pengecut, dan teecu yakin bahwa suhu tidak ingin melihat teecu melanggar janji.”

Hwesio itu mengangguk-angguk. Anak ini memang hebat, pikirnya. Dan kepada siapa lagi anak ini berjanji, kalau bukan kepada dia sendiri atau kepada ibunya? Hanya mereka berdua sajalah yang agaknya patut menerima janji Han Lin. Dan agaknya memang terdapat suatu rahasia antara Han Lin dan ibunya itu. Kini dia mulai melihat betapa pandang mata nyonya janda itu terhadap puteranya, selain pandang penuh kasih sayang, juga pandang yang mengandung penghormatan! Pasti ada suatu rahasia di antara mereka, dan rahasia itu pula yang menyangkut gerakan ilmu tongkat tadi!

"Sudahlah, Han Lin, kalau engkau tidak.dapat menceritakan kepada pinceng, tidak mengapa. Memang seorang laki-laki harus memegang teguh janjinya, karena itu mengenai kehormatan. Nah, mari kita kembali ke kelenteng."

Kong Hwi Hosiang yang bijaksana tidak pernah bertanya lagi kepada muridnya tentang ilmu tongkat itu, akan tetapi ketika dia mendapat kesempatan bertemu dengan Liu Ma dan bicara empat mata, diapun mengajukan pertanyaan kepada Liu Ma.

"Sebelumnya maafkan dengan pertanyaan pinceng ini. Beberapa pekan yang lalu, pinceng memergoki Han Lin bermain silat tongkat di puncak bukit dan pinceng heran sekali mengenal ilmu tongkat itu. Ketika pinceng bertanya dari mana dia mempelajari ilmu silat tongkat itu, dia tidak berani mengaku, mengatakan bahwa dia tidak boleh melanggar janjinya. Nah, sekarang pinceng mohon kepadamu, nyonya, agar suka berterus terang kepada pinceng. Pinceng tahu bahwa nyonya amat menyayangnya, juga pinceng menyayangnya. Akan tetapi, sungguh tidak baik kalau terdapat rahasia di antara kita, seolah ada jurang yang memisahkan. Pula, pinceng yakin bahwa nyonya tentu percaya kepada pinceng!"

Liu Ma menundukkan mukanya, Terjadi perang di dalam hatinya. Tentu saja ia percaya sepenuhnya kepada Kong Hwi Hosiang. Pendeta ini selama tiga tahun ini telah menunjukkan bahwa dia seorang yang berhati baik, bijaksana dan penuh belas kasihan kepada manusia lain. Sudah banyak sekali orang sakit yang diobatinya, dan dia tidak pernah mau menerima imbalan apapun.

Juga menurut pengakuan Han Lin, hwesio itu amat sayang kepada Han Lin, dan anak itupun memperoleh banyak ilmu darinya. Ia tidak akan khawatir lagi tentang pendidikan anak itu! Akan tetapi, haruskah ia membuka rahasia anak itu kepada hwesio ini? Ia masih bimbang ragu.

"Memang terdapat rahasia besar dalam diri Han Lin, losuhu. Akan tetapi perlukah losuhu mengetahuinya? Rahasia itu selama ini terpendam di dalam lubuk hati kami berdua dan sudah kami anggap terkubur. Apa gunanya kalau saya ceritakan kepada losuhu? Dan apa perlunya pula losuhu mengetahui rahasia pribadi Han Lin? Bukankah selama ini dia menjadi murid yang baik dan patuh?”

“Omitohud, pinceng bukanlah orang yang suka usil dan mencampuri urusan orang lain, bukan pula orang yang suka mengetahui urusan pribadi orang lain. Akan tetapi dalam urusan yang menyangkut pribadi Han Lin terdapat sesuatu yang pinceng yakin ada hubungannya dengan pinceng. Sebaiknya kalau pinceng katakan terus terang mengapa tiba-tiba pinceng ingin mengetahui latar belakang kehidupan atau rahasia Han Lin, nyonya Liu. Ketahuilah bahwa selama hidupku, pinceng hanya mempunyai dua orang murid dan hanya kepada mereka berdua itu saja pinceng mengajarkan ilmu tongkat pinceng. Dan nyonya tentu merasa heran sekali melihat betapa pinceng melihat Han Lin memainkan ilmu tongkat itu, walaupun tidak sempurna. Nah, pinceng yakin bahwa anak itu mempunyai hubungan, atau setidaknya pernah melihat, seorang di antara kedua orang murid pinceng itu."

Liu Ma memandang heran. Usia wanita ini sekitar limapuluh tahun, namun ia nampak lebih tua karena selama ini ia mengalami hal-hal yang menyedih kan dan menegangkan. "Losuhu, bolehkah saya mengetahui nama kedua orang murid losuhu itu?"

"Tentu saja boleh. Mereka adalah dua orang bersaudara, enci dan adik, puteri mendiang Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Utama Kaisar Beng Ong yang melarikan di kebarat. Mereka bernama Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi dan eh, nyonya, ada apakah?"

Kong Hwi Hosiang memandang penuh perhatian melihat betapa wanita itu memandang ke padanya dengan mata terbelalak lebar dan mukanya menjadi pucat.

"Nyonya Liu, tenanglah. Ada apakah?"

Akan tetapi wanita itu kini menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan ia terisak-isak. Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan depan dada dan berkemak-kemik, membiarkan wanita itu menangis dulu sepuasnya untuk mencairkan sesuatu yang membeku dan mengganjal dihatinya. Setelah hatinya terasa ringan karena tangisnya akhirnya Liu Ma dapat menghapus air matanya dan dengan mata kemerahan ia memandang kepada hwesio itu.

"Losuhu, ternyata memang benar dugaan losuhu. Ketahuilah, losuhu, bahwa sebenarnya Han Lin adalah Pangeran Sia Han Lin yang lolos dari istana ketika istana diserbu musuh. Ayahnya adalah mendiang Sia Su Beng dan ibunya adalah mendiang Permaisuri Yang Kui Bi...!"

"Omitohud!" Kong Hwi Hosiang berseru keheranan, bukan hanya heran mendengar bahwa Han Lin ternyata putera kandung muridnya sendiri, Yang Kui Bi, akan tetapi juga heran mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi isteri pemherontak Sia Su Beng yang telah mengangkat diri menjadi kaisar akan tetapi kemudian kekuasaannya dirobohkan dan dia tewas da lam pertempuran.

"Jadi kalau begitu, Han Lin adalah putera murid pinceng sendiri...? Akan tetapi, dia telah ikut denganmu, bagaimana dapat memainkan ilmu tongkat itu?"

"Kami melarikan diri dari istana ketika Han Lin berusia lima tahun, losuhu. Agaknya dia masih ingat kepada ibunya kalau ibunya berlatih silat dan sekarang, setelah dia belajar silat kepada losuhu, dia mencoba untuk memainkan ilmu silat yang pernah dilihatnya dimainkan ibunya itu."

“Omitohud.... tidak salah lagi, benar seperti yang nyonya katakan itu...!” Dia termenung dan semakin kagum. Tentu Han Lin sudah mengetahui bahwa dia adalah bekas seorang pangeran! Akan tetapi anak itu begitu pandai membawa diri, bahkan sikapnya demi kian hormat dan sayang kepada Liu Ma, memegang janji dan sama sekali tidak nampak congkak.

"Sebelum ayah ibunya maju perang, mereka menitipkan Han Lin kepada saya, losuhu. Saya adalah pelayan pengasuh keluarga itu dan saya yang mengasuh Han Lin sejak kecil. Saya mengajak Han Lin melarikan diri mengungsi dan tinggal di dusun Li-bun ini, dusun yang menjadi kampung halaman saya." Dengan jelas Liu Ma lalu menceritakan semua yang telah dialaminya semenjak ia membawa Han Lin melarikan diri dari kota raja Tiang-an dan mengungsi ke dusun itu.

Hwesio itu menghela napas panjang, "Betapa aneh jalan hidup anak itu. Tanpa disengaja seolah dia dipertemukan dengan pinceng. Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, nyonya. Sebaiknya, kita biarkan saja keadaan seperti sekarang, tidak perlu memberitahu kepada Han Lin bahwa pinceng telah mengetahui riwayatnya."

Demikianlah, mulai hari itu, dengan tekun Kong Hwi Hosiang mengajarkan ilmu silat tongkat Hong-in Sin-pang kepada Han Lin. Anak ini tentu saja girang bukan main mengenaI ilmu tongkat seperti yang dahulu sering dia lihat dimainkan ibunya, akan tetapi tentu saja ilmu ini lebih lengkap dan lebih dahsyat.

Disamping menggembleng muridnya dengan ilmu silat, juga Kong Hwi Hosiang lebih tekun mengajarkan sastra dan terutama tentang inti pelajaran agama. Dengan dongeng, perumpaan dan contoh-contoh kehidupan para bijaksana jaman dahulu, Kong Hwi Hosiang berusaha untuk menghapus dendam dari hati muridnya itu.

"Ingat baik-baik, Han Lin. Musuh utama bagi seorang pendekar adalah perasaan dendam. Dan perasaan ini memang amat sukar untuk dikalahkan, karena dendam timbul dari berkembangnya rasa diri. Begitu rasa diri disinggung dan terasa dirugikan, disakiti, dihina atau dibikin sedih karena kehilangan, maka dendam akan timbul meracuni hati dan pikiran. Dan kalau dendam sudah mencengkeram hati dan pikiran, maka tindakanmu tidak mungkin lurus melalui jalan yang harus dilalui seorang pendekar lagi. Dendam akan menyeretmu ke arah perbuatan yang semata-mata didorong kebencian dan sakit hati, dan kalau sudah begitu, sama sekali sudah tidak adil dan tidak benar lagi."

Mendengar ucapan gurunya itu, Han Lin teringat akan kematian ayah bundanya. Seringkali, kalau dia terkenang akan kematian mereka, timbul dendamnya kepada Kaisar, bahkan kepada Kerajaan. Kini, mendengar ucapan gurunya dia mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi suhu, kalau kita tidak membenci penjahat, bagaimana kita akan membasmi mereka yang jahat? Bukankah menurut dongeng sejak jaman dahulu, orang bijaksana dan para pendekar selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan? Kalau kita tidak boleh mendendam dan membenci penjahat, bagaimana kita dapat bertindak terhadap mereka?"

"Omitohud....! Kalau hati sudah diracuni dendam, bagaimana mungkin kita membela keadilan? Dendam dan kebencian menghapus keadilan, karena perbuatan yang didasari kebencian, bagaimana mungkin dapat adil lagi? Kebencian melenyapkan pertimbangan dan satu-satunya keinginan hanyalah melampiaskan dendam kebencian."

"Kalau begitu, kita tidak boleh memusuhi siapapun, suhu?"

"Omitohud, pertanyaan itu tepat sekali. Kita memang tidak boleh memusuhi siapapun! Yang ditentang seorang pendekar bukanlah manusianya, melainkan kejahatannya. Perbuatan jahat sewenang-wenang yang mengganggu orang lain patut kita tentang, akan tetapi dasarnya bukan kebencian terhadap siapapun. Mengertikah engkau?"

Melihat anak berusia belasan tahun itu masih juga belum mengerti betul, perlahan-lahan Kong Hwi Hosiang lalu memberi penjelasan tentang dendam kembencian.

Dendam kebencian memang membuat orang kehilangan pertimbangan lagi. Dendam kebencian merupakan nafsu yang selalu hanya ingin mendapat kepuasan, dan kepuasan dari nafsu dendam hanyalah membalas dan mencelakai orang yang dibenci dan didendamnya. Dendam timbul karena adanya aku yang merasa dirugikan. Aku dipukul balas memukul, aku di benci balas membenci, bahkan biasanya, pembalasan harus lebih berat, lebih hebat dari pada penyebab dendam.

Maka tImbullah dendam mendendam, balas membalas yang tiada berkesudahan, kebencian yang mendarah-daging dan terjadilah perang, pembunuhan, pembantaian dan segala macam kekejaman yang tidak layak dilakukan oleh manusia, mahluk yang katanya paling sempurna dan tinggi derajatnya itu. Mata kita selalu ditujukan kepada orang lain, menilai perbuatan orang lain sehingga segala kesalahan orang lain, betapapun kecil pun, akan nampak oleh kita.

Kalau saja kita suka membalikkan pandangan kita, mengamati diri sendiri, akan nampak bahwa kita ini tidaklah lebih baik dari pada orang lain yang kita anggap jahat atau buruk itu. Pengamatan ini akan menyadarkan kita bahwa kitapun bukan manusia sempurna, bahwa kitapun tidak lepas dari pada dosa. Kalau kita sudah merasa kotor, maka melihat orang lain kotor, tentu kita tidak akan memandang jijik.

Kalau kita sudah melihat jelas bahwa kita sendiri penuh dosa, maka melihat orang lain berdosa, tentu akan mudah sekali bagi kita untuk memaafkan orang lain. Kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan dunia ini menjadi kacau balau bukan hanya karena ulah orang lain, melainkan karena ulah kita bersama! Kita sendiri, masing-masing dari kita ikut bertanggung jawab. Hanya orang yang suka mengamati diri sendiri, hanya orang yang tahu bahwa diri nya kotor timbul usaha dalam dirinya untuk membersihkan diri dari kekotoran itu.

Sebaliknya, orang yang hanya melihat kekotoran pada diri orang lain dan merasa dirinya sendiri bersih, orang seperti ini tidak akan pernah mau melakukan usaha membersihkan dirinya dari kekotoran dan diluar kesadarannya, dia terus menumpuk kekotoran dalam dirinya sendiri. Kalau ada orang memukul kita lalu kita membalas dan memukulnya, lalu apa bedanya antara kita dan orang itu?

Kalau ada orang membunuh, lalu kita balas membunuh, berarti kita semua sama-sama menjadi pembunuh. Kalau orang menipu kita dan kita balas menipu, kita sama-sama menipu. Dendam membuat kita lupa diri, kehilangan pertimbangan, kehilangan keseimbangan dan tidak tahu membedakan lagi mana benar dan mana tidak benar.

Waktu bergerak seperti siput. Kalau kita perhatikan, merangkak lambat sekali, akan tetapi kalau tidak kita perhatikan, tahu-tahu sudah jauh! Kalau kita tidak memperhatikan, bertahun tahun lewat seperti beberapa hari saja rasanya, sebaliknya kalau kita menanti sesuatu dan selalu memperhati kan waktu, beberapa jam rasanya seperti beberapa tahun.

Lima tahun lewat bagaikan terbang saja semenjak Kong Hwi Hosiang mendengar tentang riwayat Han Lin dari Liu Ma. Dia menggembleng muridnya itu dengan penuh kesungguhan, dan Han Lin juga belajar dengan tekunnya sehingga kini, Han Lin telah menjadi seorang remaja berusia limabelas tahun yang gagah tegap dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat!

Berkat pertemuan hawa beracun dingin dan panas, lalu ditambah racun ular senduk kepala putih, didalam tubuhnya terkandung kekuatan yang aneh, dan tubuhnyapun kebal terhadap racun. Semua ini dimanfaatkan oleh Kong Hwi Hosiang yang mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya, termasuk Hong-in Sin-pang, ilmu silat tangan kosong Pat-kwa-kun, dan juga ilmu menghimpun tenaga sakti Im-yang Sin-kang.

Tentu saja karena dia masih amat muda, biarpun dia sudah menguasai semua ilmu itu dengan baik sekali, namun latihannya masih belum matang, apa lagi dia masih belum mempunyai pengalaman bertanding dengan orang lain.

Kalau Han Lin tumbuh semakin besar dan semakin kuat, sebaliknya Kong Hwi Hosiang menjadi semakin tua dan semakin lemah. Proses ketuaan ini melanda seluruh umat manusia di dunia ini. Tidak ada seorangpun manusia, betapapun kuatnva, yang akhirnya tidak tunduk kepada ketuaan dan kelemahan.

Demikian pula Kong Hwi Hosiang. Dalam usia yang hampir delapanpuluh tahun, dia mulai lemah walaupun semangatnya tidak pernah nampak merosot. Wajahnya masih nampak segar, senyumnya masih selalu membuat wajahnya berseri. Namun, di waktu dia mengajak Han Lin berlatih silat, muridnya itu melihat betapa gerakan gurunya kini semakin lambat dan tenaganyapun berkurang, terutama tenaga otot.

Pada suatu pagi yang cerah! Seperti biasa, Han Lin sudah sejak subuh bangun dari tidurnya. Gurunya mengajarkan bahwa mengawali hari sebaiknya dimulai dengan bangun yang pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, pada waktu ayam jantan berkokok. Sejak pagi tadi, Han Lin telah bangun tidur, berlatih silat lalu mandi dan kini dia sudah sibuk membantu dua orang hwesio lain yang sibuk di dapur.

Sudah dua tahun ini, di kelenteng itu terdapat dua orang hwesio lain, pendatang dari lain tempat yang menetap di situ menjadi pembantu Kong Hwi Hosiang. Cun Hwesio dan Kun Hwesio adalah dua orang hwesio berusia limapuluhan tahun yang rajin. Dari dua orang hwesio ini, Han Lin juga mendapatkan dua macam iImu yang amat berguna baginya.

Biarpun kedua orang hwesio itu tidak memiliki ilmu silat yang terlalu tinggi, namun Cun Hwe sio adalah seorang ahli gin-kang sehingga dalam hal ilmu berlari cepat dan berloncat tinggi, dia masih lebih lihai di bandingkan Kong Hwi Hosiang sekalipun. Dan Kun Hwesio adalah seorang hwesio yang memiliki keahlian dalam hal ilmu menolak dan mengusir setan juga pandai mempergunakan kekuatan sihir.

Dari kedua orang hwesio ini, yang merasa sayang pula kepada Han Lin, pemuda ini menerima gemblengan. Melihat persediaan kayu bakar menipis, tanpa diperintah lagi Han Lin lari keluar dari dapur dan menuruni puncak menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia tidak tahu betapa tak lama setelah dia meninggalkan kuil, muncul tiga orang laki-laki berusia antara limapuluh sampai enampuluh tahun dipekarangan kelenteng itu.

Seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek gendut seperti katak, mukanya kuning seperti dicat, yang tertua di antara mereka, berseru dan suaranya parau lantang seolah menggetarkan atap kelenteng itu.

"Hei!, para hwesio penghuni kelenteng! Keluarlah kalian, kami ingin bicara!" sikap dan kata-katanya sungguh kasar memerintah, tidak memakai tata susila.

Adapun dua orang temannya yang juga berdiri di situ, hanya menunggu dengan sikap congkak. Seorang di antara mereka juga gendut pendek bermuka hitarn, adapaun orang ke dua tinggi kurus bermuka putih dan usia mereka limapuluh lebih, agak lebih muda dibandingkan si gendut muka kuning.

Mendengar teriakan itu, Cun Hwesio dan Kun Hwesio bergegas keluar dan mereka berdua terheran-heran melihat tiga orang asing yang berdiri di pekarangan kelenteng itu. Akan tetapi sebagai pendeta-pendeta yang sopan dan lembut, mereka cepat mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat, dan Cun Hwesio menyambut dengan kata-kata halus.

"Omitohud.... siapakah sam-wi (anda bertiga) dan ada keperluan apa kiranya berkunjung ke kelenteng kami yang buruk?"

Si gendut muka kuning menyeringai. "Hemm, kami ingin bicara dengan ketua kelenteng. Siapa di antara kalian yang menjadi ketua kelenteng ini?"

"Ketua kami sedang bersembahyang dan bersamadhi," jawab Cun Hwesio.

"Ha-ha-ha, para hwesio gundul ini memang orang-orang pemalas. Selalu menggunakan doa dan samadhi sebagai alasan, padahal itu tidur mendengkur, ha-ha-ha!"

Dua orang iainnya juga ikut tertawa. Cun Hwesio saling pandang dengan Kun Hwesio akan tetapi mereka masih bersabar. "Omitohud, pinceng tidak tidur, sudah bangun sejak pagi tadi," tiba-tiba terdengar suara ketua mereka, membuat kedua orang hwesio pembantu itu bernapas lega.

Tiga orang itu kini berhadapan dengan Kong Hwi Hosiang yang bertopang pada tongkat bambu ular kuningnya. Karena yang berdiri paling dekat dengannya adalah laki-laki gendut bermuka hitam arang, Kong Hwi Hosiang bertanya sambil memandang kepadanya. "Siapakah sam-wi dan kepentingan apakah yang membuat sam-wi datang berkunjung?"

Si gendut muka hitam arang itu segera memperkenalkan diri dengan sikap angkuh, "Aku disebut orang Hek-bin Mo-ong!"

"Omitohud!" Kong Hwi Hosiang berseru heran dan memandang kepada mereka bertiga bergantian. "Kalau begitu, pinceng berhadapan dengan Sam Mo-ong (Tiga Raja IbIis)? Akan tetapi, pinceng pernah berjumpa dengan Hek-bin Mo-ong dan seingat pinceng, Hek-bin Mo-ong adalah seorang yang bertubuh tinggi besar tidak seperti engkau yang bertubuh pendek."

"Hwesio sombong! Kau kira tubuhmu itu tinggi ramping? Engkau pun tidak banyak bedanya dengan aku, pendek dan gendut!" Hek-bin Mo-ong berkata marah.

"Omitohud!" Kong Hwi Hosiang yang memang biasanya selalu tersenyum, kini tertawa gembira. "Bagaimanapun juga, pinceng pernah bertemu dengan Sam Mo-ong dan jelas mereka itu bukan sam-wi."

"Hwesio, ketahuilah bahwa memang kami bukan Sam Mo-ong. Akan tetapi Sam Mo-ong adalah guru-guru kami bertiga. Aku disebut orang Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan), dan aku murid mendiang suhu Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa)."

"Dan aku disebut Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih), guruku adalah mendiang Siauw-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Tertawa)," kata orang yang tinggi kurus muka putih kapur dengan mulut mewek-mewek seperti hendak menangis. Sungguh aneh orang yang mukanya seperti selalu menangis ini menjadi murid Raja Iblis Muka Tertawa, yang selalu tertawa itu.

"Mendiang guruku adalah Hek-bin, Mo-ong, dan untuk menghormati beliau, akupun menggunakan nama Julukan guruku itu!" kata yang gendut muka hitam arang.

"Omitohud, sekarang pinceng mengerti. Kiranya sam-wi adalah murid-murid Sam Mo-ong,..." diam-diam Kong Hwi Ho-siang merasa terkejut dan heran. Kalau dia tidak salah ingat akan cerita muridnya, dua orang aneh yang pernah menyerang muridnya itu agaknya Hek-bin Mo-ong dan Pek-bi-n Mo-ong, dua orang di antara mereka bertiga itu. Dan mereka semua mengaku murid-murid Sam Mo-ong. Akan tetapi, kenapa ilmu kepandaian mereka demikian hebat, melebihi tingkat Sam Mo-ong yang pernah dikenal kepandaiannya?!

"Hwesio tua, siapakah engkau dan apakah engkau ketua kelenteng ini?" tanya Kwi-jiauw Lo-mo.

Kong Hwi Hosiang tidak mau memperkenalkan namanya karena bagaimanapun, namanya sudah dikenal didunia persilatan dan dia tidak ingin dikenal tiga orang ini. "Pinceng memang pengurus kelenteng ini bersama dua orang saudara pinceng ini. Kami bertiga pengurus kelenteng ini. Akan tetapi, ada kepentingan apakah sam-wi datang berkunjung?"

"Hwesio tua, kami bertiga membutuhkan kelenteng ini, maka kami harap kalian bertiga suka pergi meninggalkan kelenteng ini. Kami memerlukan tempat dan kelenteng ini memenuhi syarat," kata Kwi-jiauw Lo-mo tanpa sungkan-sungkan lagi.

Cun Hwesio dan Kun Hwesio mengerutkan alisnya, akan tetapi Kong Hwi Hosiang bersikap tenang dan tetap sabar. "Tiga orang sahabat yang baik, kalau kalian bertiga hendak tinggal di kelenteng ini sebagai tamu kami, silakan. Dibagian belakang masih terdapat kamar-kamar yang boleh sam-wi tempati. Kami selalu menerima tamu dengan hati dan tangan terbuka."

"Hemm, kami tidak ingin menjadi tamu, melainkan ingin mengambil kelenteng ini sebagai tempat tinggal kami. Kalian bertiga harus pergi dari sini, sekarang juga!"

"Omitohud, kenapa sam-wi bersikap begini? Kelenteng ini bukan milik kami, melainkan milik penduduk dusun Li-bun, kami bertiga hanya sekedar menjadi pengurus kelenteng."

"Hwesio tua, karena melihat kalian adalah hwesio-hwesio, maka kami masih berlaku ramah dan lembut dan dengan baik-baik meminta kalian pergi. Apakah kalian menghendaki kami bersikap keras dan melempar kalian bertiga keluar dari tempat ini?" bentak Pek-bin Mo-ong yang selalu berwajah muram.

"Omitohud, kiranya kalian ini bukan hanya manusia-manusia yang menggunakan nama julukan iblis, melainkan iblis sendiri yang menyamar manusia. Jahat sekali!" bentak Cun Hwesio yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi sambil menudingkan telunjuknya kearah muka Pek-bin Mo-ong.

Sementara itu, Kun Hwesio yang juga sudah merasa penasaran sekali, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya dan melangkah maju. "Hei..., kalian bertiga murid Sam Mo-ong!" teriakan Kun Hwesio ini melengking penuh wibawa, membuat tiga orang itu mau tidak mau terpaksa menengok dan memandang kepadanya. Kun Hwesio menggerakkan kedua tangannya ke atas lalu dihadapkan kepada mereka sambil berseru lagi, kini suaranya menggetar kuat, "Kalian bertiga berlututlah!”

Terjadi keanehan. Tiga orang yang tadinya bersikap bengis dan galak itu, tiba-tiba saja menekuk kedua lutut kaki mereka dan mereka berlutut menghadap Kun Hwesio! Biarpun mereka bertiga kelihatan terkejut dan heran, terbelalak, namun mereka tetap saja berlutut dengan sikap hormat. Kalau saja Kong Hwi Hosiang dan kedua orang pembantunya merupakan orang-orang yang mencari kemenangan, ketika tiga orang itu sedang berlutut, tentu akan mudah sekali menyerang dan merobohkan mereka.

Akan tetapi, Kong Hwi Hosiang dan dua orang pembantunya adalah tiga orang pendeta yang menaati hukum agama mereka. Mereka memang tidak meninggalkan kewajiban membela diri, namun mereka sama sekali tidak berani melanggar pantangan membunuh. Membunuh hewan pun mereka pantang, apa lagi membunuh manusia. Selain hukum agama, juga mereka tidak mau melanggar hukum tak tertulis dari para pendekar yang pantang menyerang lawan yang tidak dapat melawan.

Melihat betapa tiga orang itu berada di bawah pengaruh kekuatan sihir dari Kun Hwesio, Kong Hwi Hosiang laIu berkata lembut. "Nah, harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami lagi."

Akan tetapi, tiga orang datuk itu telah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan merekapun memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat. Kalau tadi mereka dapat dipengaruhi kekuatan sihir Kun Hwesio, hal itu adalah karena mereka sama sekali tidak menyangka dan mereka tidak bersikap menyambut serangan kekuatan sihir itu. Hanya sebentar mereka terpengaruh dan ucapan lembut Kong Hwi Hosiang telah menyadarkan mereka kembali.

Hek-bin Mo-ong yang gendut bermuka hitam masih berlutut, akan tetapi matanya terangkat ke atas dan dia melirik ke arah Kun Hwesio yang tadi membentak agar mereka berlutut. Dia tahu bahwa hwesio itu yang menyerang dengan sihir, maka tiba tiba saja, kedua tangannya yang pendek besar itu didorongkan ke arah Kun Hwesio dan dia mengeluarkan bentakan nyaring.

"Hyaaaaahhhh...!" Pada detik berikutnya, Kwi-jiauw Lo-mo telah meloncat dan menyerang Kong Hwi Hosiang dengan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sepasang cakar setan yang telah disambungkan dengan kedua tangannya, dan Pek-bin Mo-ong juga sudah menyerang Cun Hwesio. Tentu saja kedua orang hwesio itu tidak sempat nenolong Kun Hwesio yang diserang oleh si muka hitam.

"Desss....!" Tubuh Kun Hwesio terlempar ke belakang ketika terkena hantaman kedua telapak tangan Hek-bin Mo-ong. Memang dalam hal iImu silat, dua orang hwesio pembantu itu kalah jauh di bandingkan para penyerang itu yang kesemuanya adalah datuk-datuk sesat yang tentu saja amat lihai. Begitu terkena hantaman kedua tangan Hek-bin Mo-ong, tubuh Kun Hwesio terbanting keras dan tubuh itu kini menggigil kedinginan, lalu tubuh itu menjadi kaku dan diapun tewas seketika karena darah di tubuhnya menjadi beku!

Tidak seperti Kun Hwesio, Cun Hwesio yang ahli gin-kang tidak mudah dirobohkan Pek-bin Mo-ong. Biarpun si kurus muka putih kapur itu menghujankan serangan, namun dengan lincah sekali Cun Hwesio dapat berloncatan kesana sini dan selalu dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu. Tubuhnya bagaikan seekor burung walet saja, gerakannya ringan dan cepat berkelebatan mengejutkan Pek-bin Mo-ong yang mengira bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Melihat ginkangnya, tentu hwesio ini jauh lebih lihai darinya. Akan tetapi, ketika diserang bertubi-tubi itu Cun Hwesio hanya mengelak saja tak pernah menangkis apa lagi balas menyerang, Pek-bin Mo-ong dapat menduga bahwa hwesio ini hanya ahli gin-kang saja akan tetapi bukan ahli silat tinggi. Maka diapun menyerang terus dengan gencar. Yang mampu mengimbangi serangan lawan hanyalah Kong Hwi Hosiang.

Dengan tongkat bambunya, hwesio tua renta ini ternyata masih tangguh bukan main. Ilmu tongkatnya. Hong-in Sin-pang membuat sepasang cakar setan di tangan Kwi-jiauw Lo-mo tak pernah berhasil mengenai sasaran, bahkan hwesio tua itu membalas tak kalah dahsyatnya, membuat Kwi-jiauw Lo-mo harus berhati-hati. Tak disangkanya bahwa hwesio tua itu demikian lihainya. Kalau saja dia tahu bahwa yang dilawannya adalah Kong Hwi Hosiang, tentu dia tidak akan merasa heran dan tidak berani memandang rendah.

Hek-bin Mo-ong tertawa melihat lawannya yang pandai sihir tadi telah tewas sedemikian mudahnya di tangannya. Dia melihat betapa lawan Pek-bin Mo-ong memiliki ginkang istimewa, akan tetapi diapun tidak bodoh. Melihat hwesio itu hanya berloncatan ke sana sini tanpa membalas, diapun dapat menduga bahwa hwesio itu hanya pandai gin-kang saja namun tidak memiliki ilmu silat yang akan membahayakan rekannya. Sebaliknya, dia melihat Kwi-jiauw Lo-mo agak repot menghadapi Kong HwiHosiang, maka diapun meloncat ke depan membantu rekan ini mengeroyok Kong Hwi Hosiang.

Tentu saja Kong Hwi Hosiang semakin repot. Melawan Kwi-jiauw Lo-mo saja, dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya, apa lagi dikeroyok oleh Hek-bin Mo-ong yang memiliki kepandaian setingkat dengan datuk pertama itu. Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang, dan napasnya juga sudah tidak setahan dahulu.

Namun, hwesio tua ini memang hebat. Karena ilmu kepandaiannya sudah matang, sudah mendarah daging, biar dikeroyok dua orang datuk yang demikian tangguhnya, dia masih mampu membela diri dan tongkatnya yang berbentuk ular kuning dari bambu yang khas itu selalu dapat menangkis sepasang cakar setan Kwi-jiauw Lo-mo dan pukulan tangan dingin Hek-bin Mo-ong.

Sampai belasan jurus, Cun Hwesio masih mampu menghindarkan diri dari serangan Pek-bin Mo-ong yang bertubi-tubi. Karena serangannya selalu luput, Pek-bin Mo-ong merasa penasaran sekali dan memperhebat serangan pukulan yang berhawa panas itu. Akan tetapi, ketika melihat betapa Kun Hwesio tewas sedangkan Kong Hwi Hosiang dikeroyok dua dan keadaannya juga terdesak, dia merasa khawatir sekali dan kegelisahannya, di tambah lagi kini dia memecah perhatian untuk melihat ke arah Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio kurang waspada dan lambungnya terkena sambaran pukulan Pek-bin Mo-ong.

“Plakk!" Sekali saja terkena pukulan ampuh itu pada lambungnya, Cun Hwes io terpelanting dan roboh berkelojotan sebentar lalu tewas dengan tubuh kehitaman seperti terbakar!

Pek-bin Mo-ong tidak lagi memperdulikan lawan yang dia yakin tentu telah tewas. Dia menoleh ke arah rekan-rekannya dan mendengus marah melihat betapa dua rekan yang mengeroyok hwesio itu masih juga belum mampu merobohkannya. Diapun meloncat dan dengan bentakan nyaring, diapun terjun kedalam perkelahian, ikut mengeroyok Kong Hwi Hosiang!

Kong Hwi Hosiang mencoba untuk melawan sekuatnya, namun dia sudah tua dan tingkat kepandaian tiga orang itu tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya, maka dikeroyok tiga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebuah tamparan tangan beracun dingin dari Hek-bin Mo-ong mengenai punggungnya. Dia terhuyung dan menggigil kedinginan, lalu datang pukulan Pek-bin Mo-ong yang berhawa panas.

Selagi Kong Hwi Hosiang terhuyung, cakaran tangan kiri Kwi-j iauw Lo-mi mengenai dadanya dan hwesio tua itupun roboh dan tidak bergerak lagi, mukanya hitam keracunan dan diapun tewas seketika. Tiga orang datuk itu memeriksa ketiga hwesio dan setelah merasa yakin bahwa mereka itu tewas semua, mereka lalu menyerbu kedalam kelenteng mencari kalau-kalau masih terdapat penghuni kelenteng yang lain. Akan tetapi ternyata tidak ada orang lain lagi di dalam kelenteng.

"Hemmm, di mana Seng Gun?" tiba-tiba Kwi-jiauw lo-mo bertanya kepada kedua orang rekannya.

"Bukankah tadi dia naik ke puncak?" kata Pek-bin Mo-ong.

"Pemandangan alam disini amat indahnya, tentu dia pergi berjalan-jalan. Biar aku mencarinya!" kata Hek-bin Mo-ong.

Ketlka Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk, Hek-bih Mo-ong tertawa lalu tubuhnya yang gendut bundar itu seperti menggelinding pergi dengan cepat sekali. Dewa maut berpesta pora dipekarangan kelenteng itu dan mengambil korban nyawa tiga orang hwesio yang selama ini hidup tenteram penuh damai dan pekerjaan mereka hanyalah berdoa dan menolong para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah itu. Akan tetapi mengapa mereka bertiga mengalami nasib sedemikian buruknya?

Sejak jaman dahulu, orang selalu bertanya-tanya tentang kenyataan ini, yaitu bahwa betapa banyaknya manusia yang semasa hidupnya nampak begitu baik hati, dermawan, suka menolong sesamanya, juga beribadat, namun kenyataannya tertimpa malapetaka, bahkan banyak juga yang tewas secara menyedihkan, baik melalui kecalakaan mengerikan, bencana alam, atau juga dibunuh orang. Banyak orang yang hidupnya nampak baik dan saleh, semua orang menganggap dia seorang budiman, namun hidupnya miskin, berpenyakitan, dan tertimpa malapetaka pula sehingga mengalami kematian yang menyedihkan.

Sebaliknya, banyak pula orang yang pada umumnya dianggap jahat, kejam, kikir, tidak pernah suka menolong sesamanya, bahkan mengingkari Tuhan, namun hidupnya nampak bergelimang kekayaan, selalu nampak senang dan bahkan berumur panjang! Kenyataan ini merupakan satu di antara rahasia-rahasia kehidupan yang tidak dapat dimengerti manusia. Banyak yang mencoba untuk mengungkap rahasia ini dengan berbagai teori dan dalih.

Ada yang menganggap bahwa hal itu merupakan hukum karma atau hukum sebab akibat atau hukum menanggung akibat perbuatan sendiri, memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri. Tanaman pohon ini mungkin dilakukan dalam kehidupan masa lalu, atau ditanam oleh orang tua, nenek moyang dan selanjutnya. Ada pula yang berpendapat bahwa semua keadaan yang tidak menyenangkan itu adalah perbuatan setan yang selalu berusaha untuk menyengsarakan manusia.

Namun, semua itu hanyalah anggapan dan perkiraan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hati akal pikiranmanusia terlalu terbatas untuk dapat mengungkap pekerjaan Tuhan yang maha besar dan maha rumit. Ada orang berpendapat bahwa segala yang menyengsarakan manusia, termasuk pekerjaan setan yang selalu ingin menyengsarakan manusia. Benarkah ini? Ada pula yang beranggapan bahwa hal ini tidak mungkin karena bukankah penyakit disebabkan kuman-kuman, dan kuman adalah mahluk hidup yang berarti ciptaan Tuhan pula?

Kalau Tuhan Maha Pencipta, berarti bahwa semua kuman dan apa saja yang dapat menyebabkan manusia sakit, baik itu hewan maupun tanaman, adalah ciptaan Tuhan. Berarti bahwa semua yang menimpa manusia dapat terjadi kalau sudah dikehendaki Tuhan. Benarkah ini? Tidak ada yang akan dapat menjawab, karena semua jawabanpun, seperti semua perkiraan tadi, hanya merupakan pendapat belaka, hanya perkiraan dan tidak akan dapat dibuktikan.

Pengertian manusia amat terbatas, terbatas untuk melayani dan mencukup kebutuhan manusia hidup di dunia saja, karena itu, alat berupa hati akal pikiran tidak dapat kita pergunakan untuk menguak dan menjenguk rahasia yang lebih dari pada kebutuhan kita. Pendapat kita, betapapun indah mengemukakannya, betapa kuat alasan-alasannya, tetap saja hanya berupa pendapat. Dan pendapat itu sudah pasti dilandasi perhitungan untung rugi.

Kita pernah mengutuk binatang ular, terutama yang berbisa, sebagai mahluk yang paling jahat, bahkan alat setan, kita kutuk dan kita menasihati anak cucu kita untuk memusuhinya, membunuhnya setiap kali melihatnya. Akan tetapi, setelah kini diketahui kegunaan bisa ular, untuk pengobatan, bahkan mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia, setelah kini daging ular dimasak dan dimakan, kulit ular dibuat dompet, tas dan sebagainya, masihkah kita mengumpat dan mengutuk binatang itu?

Semua pendapat memang tak lepas dari pada perhitungan untung rugi bagi kita. Hujanpun dianggap baik kalau menguntungkan dan buruk kalau merugikan, demikin pula panasnya matahari dan segala apa saja yang berhubungan dengan kehidupan kita.


Pembantaian yang di lakukan tiga orang datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu tidak diketahui oleh Han Lin yang sedang mengumpulkan kayu bakar dihutan. Dia sudah mengumpulkan dengan cukup dan mengikatnya. Ketika dia sudah bersiap untuk kembali ke kelehteng, tiba tiba terdengar suara suling ditiup orang. Suara suling itu demikian indah, merdu dan melengking-lengking, tanda bahwa peniupnya ahli.

Datangnya suara suling itu dari puncak bukit. Han Lin tertarik dan segera dia mendaki puncak untuk melihat siapa gerangan yang meniup suling seindah itu, Setahunya, di sekitar situ tidak ada orang yang pandai meniup suling seperti itu. Setelah tiba di puncak, Han Lin tertegun.

Dia melihat seorang anak laki-laki remaja, sebaya dengannya, berpakaian sutera putih-putih dengan pita rambut merah dan ikat pinggang sutera biru, nampak anggun dan tampan sekali, seperti seorang putera bangsawan atau hartawan. Pemuda remaja itu berwajah bundar, dengan hidung mancung besar, matanya lebar dan dia sedang meniup sebatang suling perak yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Pantas saja suara suling itu demikian nyaring melengking, tidak lembut seperti suara suling bambu, pikir Han Lin. Dia sendiri suka meniup suling, dan dia sudah mahir pula, akan tetapi biasanya dia meniup sebatang suling bambu. Melihatpun baru sekarang sebatang suling perak seperti yang sedang ditiup pemuda remaja itu. Karena tertarik, diapun mendekat. akan tetapi tidak menegurnya karena pemuda itu masih asyik meniup suling. Setelah lagu yang dimainkan pemuda itu selesai dan dia menghentikan tiupan sulingnya, barulah Han Lin bertepuk tangan memuji.

Pemuda itu, yang tadinya duduk di atas batu, bangkit berdiri dan memandang Han Lin. Pemuda itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu dihias senyum dingin dan pandang matanya membayangkan ketinggian hati.

"Bagus sekali sobat!" kata Han Lin kagum. "Tiupan sulingmu sungguh bagus dan merdu sekali!”

Sepasang mata yang lebar dan tajam itu mengamati Han Lin dari kepala sampai ke kakinya yang mengenakan sepatu kasar, alisnya berkerut, matanya yang lebar tajam itu nampak tak senang.

...Ada bagian yang hilang...

Kalau yang diserangnya benar-benar pemuda dusun yang tidak mempunyai kepandaian silat, tentu kepalanya hancur dan akan tewas seketika.

“Ahhh...!" Dia berseru dan cepat dia mengelak kebelakang sehingga sambaran suling itu lewat di depannya. Akan tetapi elakan Han Lin itu membuat pemuda itu menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang lagi, kini sulingnya menotok ke arah leher, lalu menurun ke dada dan perut! Sungguh merupakan jurus serangan maut yang amat dahsyat.

Namun, Han Lin juga memperlihatkan kemahirannya. Dengan mudah dia dapat mengelak dan totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping...
Selanjutnya,