X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 03

Cerita Silat Mandarin Serial Mestika Burung Hong Kemala episode Kisah Si Pedang Terbang Jilid 03 Karya Kho Ping Hoo

Kisah Si Pedang Terbang

Karya : Kho Ping Hoo
Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Jilid 03
KEDUANYA terkejut karena masing-masing merasa betapa tangan mereka tergetar.

"Aha, kiranya engkau bukan bocah dusun petani busuk biasa! Engkau pandai iImu siIat, keparat!" bentak pemuda itu.

“Dan engkau seorang pemuda sombong dan kejam!" kata Han Lin yang sudah mulai marah.

"Mampuslah!" Pemuda itu membentak dan kembali dia menyerang dengan sulingnya, sekarang dia menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus maut yang berbahaya karena dia tahu bahwa yang diserangnya bukan bocah dusun sembarangan.

"Engkau patut dihajar!" kata Han Lin dan diapun mengelak, lalu membalas dengan jurus pukulan dari ilmu silat Pat-kwa-kun (Silat Segi Delapan).

Namun, pemuda itupun dapat mengelak dan dengan marah sekali dia menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia bukan memegang sebatang, melainkan belasan batang suling yang menyerang Han Lin bertubi-tubi.

Biarpun dengan langkah-langkah dalam Pat-kwa-kun Han Lin mampu menghindarkan semua serangan, namun dia kewalahan dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri bergulingan, di kejar oleh lawannya. Ketika Han Lin meloncat berdiri lagi, tangannya sudah memegang sebatang ranting kayu dan inilah senjatanya yang istimewa.

Dia memang ketika dilatih Hong-in Sin-pang oleh gurunya, dibiasakan untuk menggunakan segala macam ranting kayu untuk pengganti tongkat. Ranting atau cabang kayu yang bagaimanapun menjadi senjata ampuh di tangan Han Lin yang sudah menguasai Hong-in Sin-pang cukup baik.

Segera terdengar suara nyaring berulang kali ketika suling bertemu ranting dan sekali ini, pemuda itu yang terkejut bukan main. Ranting kayu ditangan bocah dusun itu lihai bukan main, membuat permainan sulingnya menjadi kacau.

”Sing-singg....!!" Beberapa kali pemuda itu meniup dan dari suling peraknya meluncur banyak jarum halus yang menyambar ke arah seluruh tubuh Han Lin.

Namun, Han Lin yang sudah waspada, memutar tongkatnya sambil melompat ke atas dan jarum-jarum itupun runtuh ke atas tanah. Dari atas, tubuh Han Lin menukik turun dan rantingnya bergerak cepat, berhasil menotok pundak pemuda itu yang mengeluarkan seruan kaget dan terpelanting. Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali dengan muka berubah pucat karena kini dia tahu bahwa lawannya si bocah dusun itu benar-benar lihai bukan main.

Pada saat itu, selagi Han Lin menyambut serangan suling yang semakin ganas dengan rantingnya, ada angin dahsyat menyambar. Han Lin meloncat untuk mengelak dari serangan gelap yang dilakukan orang dari arah belakangnya itu, namun terlambat. Serangan itu dahsyat bukan main dan cepat sehingga punggungnya terkena sambaran hawa yang dingin sekali.

Han Lin roboh dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya sudah ditotok orang dan diapun tidak mampu bergerak lagi! Pemuda yang memegang suling itu ketika melihat Han Lin tidak mampu bergerak lagi, menggerakkan sulingnya menghantam kearah kepala Han Lin.

Pemuda ini tidak mampu bergerak, maka diapun hanya dapat memandang dengan melotot, siap menghadapi kematian. Dia sudah digembleng matang oleh Kong Hwi Hosiang sehingga tidak gentar menghadapi kematian yang dengan penuh keyakinan dikatakan gurunya itu bahwa kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan didunia ini.

"PIakk!" Suling itu terpenpal dan hampir terlepas dari tangan pemuda itu ketika tertangkis ujung lengan baju Hek-bin Mo-ong. Kiranya Hek-bin Mo-ong yang tadi datang dan merobohkan Han Lin dan kakek gendut muka hitam arang ini yang mencegah si pemuda membunuh Han Lin.

"Susiok Hek-bin (Paman Guru Muka Hitam), kenapa engkau mencegah aku membunuh jahanam dusun ini?" Pemuda itu bertanya penuh penasaran.

"Seng Gun, bagaimanapun juga, golongan kita pantang membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti pemuda dusun ini. Pula, dia masih kita perlukan Kaukira siapa yang akan menjadi pelayan kita untuk menjamu para tamu nanti? Siapa pula yang akan mencari kan tenaga pelayan dan mencarikan semua keperluan kita?"

"Hek-bin Susiok, apakah kita telah mendapatkan tempat yang baik untuk...."

"Sudah, mari kita pergi, ayahmu dan Pek-bin Susiok telah menanti disana," kata pula Hek-bin Mo-ong. Kemudian Hek-bin Mo-ong memandang kepada Han Lin.

Pemuda ini sejak tadi telah mengenalnya. Seorang di antara dua orang aneh yang pernah memukulnya tujuh delapan tahun yang lalu, pikirnya. Dan orang itu tadi menyebut-nyebut nama Pek-bin susiok untuk pemuda itu, tentu yang di maksudkan orang bermuka putih kapur itu. Dan pemuda ini adalah murid keponakannya.

"Susiok, pemuda ini cukup Iihai, dia akan membahayakan kita kalau tidak dibunuh." kata Seng Gun. Pemuda ini memang cerdik sekali. Namanya Tong Seng Gun dan dia adalah putera dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui, datuk tertua diantara tiga datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu.

"Tentu saja dia memiliki sedikit kepandaian karena dia tentulah murid hwesio pengurus kelenteng di bawah puncak itu. Bukankah benar begitu, orang muda?"

Di dalam hatinya, Han Lin marah sekali kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang jahat sekali. Akan tetapi dia teringat akan semua nasihat gurunya. Dia harus mengetahui keadaan dan bertindak sesuai dengan keadaan itu, demikian antara lain nasihat gurunya. Seorang pendekar haruslah tabah dan berani, akan tetapi bukan berani dengan nekat, melainkan berani dengan perhitungan.

Nekat melawan secara membuta dan mati konyol bukanlah keberanian namanya, melainkan kebodohan. Dan sekarang dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tidak akan mampu dia kalahkan. Berusaha menyelamatkan diri dalam keadaan seperti sekarang ini bukanlah suatu sifat pengecut, melainkan suatu kecerdikan dan tahu diri.

"Benar, locianpwe. Kong Hwi Hosiang adalah guruku," jawabnya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, juga tidak membayangkan kemarahan. Akan tetapi dia merasa heran juga melihat betapa orang gendut muka hitam arang itu menjadi terkejut mendengar jawabannya.

"Kong Hwi Hosiang, katamu? Aha, jadi dia adalah Kong Hwi Hosiang yang amat terkenal itu? Pantas dia lihai, sayang sudah tua renta, ha-ha-ha! Siapa namamu?"

"Namaku Han Lin," kata Han Lin sejujurnya, dan hatinya berdebar tegang mendengar ucapan si muka hitam ini tentang gurunya.

”Nah, Han Lin, engkau belum bosan hidup, bukan? MuIai sekarang engkau harus menaati perintah kami dan tidak melawan, dan kami tidak akan membunuhmu. Bangunlah...!”

Tangan Hek-bin Mo-ong menyambar ke arah pundaknya dan Han Lin mengeluarkan seruan tertahan. Rasa nyeri yang amat sangat menusuk pundaknya. Dia kini mampu bergerak, akan tetapi perasaan nyeri di pundaknya itu seperti menembus ke jantungnya. Dia memejamkan matanya dan seperti dalam mimpi mendengar suara Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha-ha, Han Lin. Pukulanku tadi adalah pukulan yang memasukan hawa beracun ke dalam tubuhmu. Engkau sudah keracunan dan dalam waktu sebulan, kalau tidak kuberi obat, engkau akan mati! Nah, kalau engkau bersikap baik, menaati semua perintahku, sebelum sebulan tentu engkau akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau engkau melarikan diri atau membangkang, engkau akan kubunuh, atau kalau engkau dapat lolos sekalipun, engkau akan mati karena selain aku, tidak akan ada orang yang mampu mengobatimu sampai sembuh."

Akan tetapi, dari bawah pusar di perut Han Lin muncul hawa yang hangat dan sebentar saja rasa nyeri di pundaknya itu lenyap. Han Lin adalah seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa menurut keterangan gurunya, tubuhnya kebal terhadap racun, maka hawa beracun itupun hanya sebentar saja mempengaruhinya. Namun, dia pura-pura masih kesakitan, masih menyeringai kesakitan, "Aku.... aku akan taat," katanya lirih.

Bagi dia, bahaya yang mengancam bukan datang dari hawa beracun di tubuhnya itu, melainkan dari orang-orang jahat ini. Sekali dia dapat meloloskan diri, dia tentu akan selamat. Yang penting, dia harus memperlihatkan ketaatan agar dipercaya, karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang jahat yang aneh ini.

"Han Lin, hayo kau ikut kami ke kelenteng," kata Hek-bin Mo-ong.

Dan Han Lin mengangguk, lalu mengikuti mereka kembali ke kelenteng dengan hati merasa tidak enak dan berdebar tegang. Apa yang telah terjadi dengan suhunya? Ketika mereka tiba di depan kelenteng dan memasuki pekarangan, Han Lin terbelalak melihat Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio sudah menggeletak menjadi mayat, berserakan di pekarangan itu.

"Suhu!" Dia lari menubruk jenazah suhunya. "Suhu... Cun Suhu..... Kun Suhu!" Dia meratap dan menangis.

"Heh-heh-heh, Han Lin, hentikan tangismu seperti anak perempuan yang cengeng saja. Dan kalau engkau tidak menaati kami, engkaupun akan segera menyusul mereka!" kata Seng Gun.

Han Lin mengepal tinju dan harus menekan gerahamnya agar tidak sampai didorong menjadi nekad oleh kemarahan dan dendam. Tidak, pikirnya. Sekarang bukan saatnya untuk melawan mereka. Dia akan kalah. Amukannya tidak akan ada gunanya, sama saja dengan bunuh diri. Tiga orang hwesio itu telah dibunuh mereka, hal ini saja membuktikan mereka adalah lawan yang amat tangguh, Dia bukan takut melawan mereka, bukan takut mati, hanya tidak ingin mati konyol dan sia-sia. Dia harus memperkuat dirinya untuk kelak menentang kejahatan yang luar biasa kejamnya ini.

"Cukup, Han Lin. Tidak perlu banyak menangis lagi. Sekarang, angkat ketiga jenazah itu dan bawa ke kebun belakang. Kita kubur mereka di sana," kata Hek-bin Mo-ong dan pada saat itu, muncullah Pek-bin Mo-ong yang segera dikenal oleh Han Lin.

Orang yang kurus tinggi bermuka putih kapur itu adalah orang kedua orang yang dahulu pernah menyerangnya bersama Hek-bin Mo-ong. Yang seorang lagi, lebih tua dan juga tubuhnya pendek gendut seperti katak, tidak dikenalnya, akan tetapi melihat sikapnya, agaknya dia menjadi pimpinan mereka berempat. Diapun dapat menduga bahwa Seng Gun tentulah putera dari si katak gendut itu.

“Hemm, siapa bocah itu dan mengapa engkau bawa dia ke sini, Hek-bin sute?" tanya Kwi jauw Lo-mo sambil mengerutkan alisnya. Mereka mempunyaI tugas rahasia yang penting, maka sungguh bodoh kalau sutenya itu membawa seorang pemuda asing ke situ.

"Ayah, tadi aku hendak membunuh saja bocah ini, akan tetapi Hek-bin Susiok melarangku, kata Seng Gun kepada ayahnya dan sikap ini saja menunjukkan bahwa dia seorang anak yang manja dan mengandalkan ayahnya sehingga dia tidak menghormati susioknya.

"Twa-suheng (Kakak seperguruan tertua), kata Hek-bin Mo-ong sambil tersenyum menyeringai. "Dia adalah murid hwesio tua itu dan tahukah twasuheng siapa hwesio tua yang baru saja tewas ditangan kita ini? Dia adalah Kong Hwi Hosiang!”

”Ahhh?" Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong mengeluarkan seruan kaget. "Kalau begitu, lebih perlu lagi anak itu harus segera dibunuh!n kata Kwi-jauw Lo-mo yang merasa jerih juga mendengar bahwa korban mereka adalah Kong Hwi Hosiang yang memiliki hubungan luas dan nama besar didunia persilatan. Dia khawatir kalau banyak pendekar akan membela kematian tokoh itu."

Hek-bin Mo-ong tertawa. "Ha-ha-ha jangan khawatir. Dia sudah kupukul dengan pukulan beracun. Kalau dia membangkang dan melawan, dia akan mati keracunan. Kita dapat mempergunakan dia untuk keperluan kita disini, twa-suheng. Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk-angguk.

”Baiklah, akan tetapi engkau bertanggungjawab mengawasi dia, Hek-bin sute."

Han Lin tidak memperdulikan mereka lagi, tidak memperdulikan apa-apa kecuali mengurus jenazah tiga orang hwesio itu. Mula-mula dia memondong jenazah Kong Hwi Hosiang dan sambil terisak-isak dia membawa jenazah itu ke dalam kelenteng, terus menuju ke kebun belakang seperti yang diperintahkan Hek-bin Mo-ong. Tanpa banyak cakap diapun menggali tiga buah lubang, ditonton dan dijaga oleh Hek-bin Mo-ong dan Tong Seng Gun yang tidak mau membantunya sama sekali.

Akan tetapi Han Lin merasa lebih senang tidak dibantu mereka. Sebaiknya dia sendiri, dengan kedua tangannya sendiri menggali lubang kuburan untuk tiga orang hwesio itu, tidak, dikotori tangan orang-orang jahat itu. Tanpa mengenal lelah, dia menggali lubang dan dia kadang-kadang dengan sengaja merintih seperti menahan sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua orang itu yang menyangka bahwa dia masih dipengaruhi hawa beracun pukulan Hek-bin Mo-ong tadi. Kemudian dia mengubur tiga buah jenazah itu dan setelah menguruk lubang-lubang itu dengan tanah, dia lalu berlutut sampai lama di depan kuburan gurunya.

"Sudah, cukup! Hayo ikut dengan kami ke kelenteng. Engkau harus membuatkan makanan untuk kami berempat,” kata Hek-bin Mo-ong. "Setelah itu, kau carikan tenaga bantuan dari dusun di bawah sana sebanyak lima sampai sepuluh orang. Kami akan menerima beberapa orang tamu penting malam ini di kelenteng!"

Han Lin tidak menjawab, akan tetapi diapun menurut saja, memberi hormat untuk yang penghabisan kepada makam gurunya lalu dia bangkit dan mengikuti dua orang itu kembali ke kelenteng Ketika mereka memasuki kelenteng dari pintu belakang, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lin mendengar. suara gaduh di ruangan depan, dan terdengar pula suara Liu Ma!

Sebelum melihat mereka, Han Lin dapat menduga bahwa tentu ibunya itu bersama beberapa penduduk dusun Li-bun, datang kekelenteng untuk bersembahyang seperti yang kadang mereka lakukan pada hari hari tertentu. Diapun bergegas menuju ke ruangan depan dan di situ memang sedang terjadi keributan.

"Kalian ini siapakah?" terdengar suara Ibunya berkata dan agaknya sembilan orang penghuni dusun itu tadi bercekcok dengan Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo.

"Kelenteng ini adalah milik kami penduduk dusun, dan kami hendak bersembahyang, kenapa kalian melarang dan menghalangi? Biarkan kami bertemu dengan losuhu, kami hendak bicara dengan dia!”

Ucapan ini dibenarkan oleh yang lain sehingga kembali suasana menjadi gaduh. Melihat betapa di antara para pendatang itu terdapat seorang wanita muda yang cukup manis, Hek-bin Mo-ong lalu cepat menghampiri mereka dan dengan mukanya yang selalu tertawa lebar itu dia bertanya,

“Heii, ada apa sih ribut-ribut ini?” Dia menoleh kepada kedua orang rekannya dan berkata. "Sungguh kebetulan sekali. Kita membutuhkan bantuan tenaga dan mereka ini datang secara suka rela! Dan nonamanis ini dapat menemaniku minum arak heh-heh-heh!”

Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tangan kirinya, tubuh wanita itu seperti terbetot dan tahu-tahu telah terhuyung ke arah Hek-bin Mo-ong dan dirangkulnya! Wanita muda itu menjerit-jerit dan meronta hendak melepaskan diri, menggunakan kedua tangan untuk memukul dan mencakar ketika sambil terkekeh hek-bin Mo-ong mendekatkan mukanya hendak menciuminya begitu saja di depan-banyak orang!

Melihat ini, Liu Ma menjadi marah sekali dan iapun sudah mendekati si gendut bundar muka hitam itu. "Engkau ini laki-laki biadab dan jahat! Lepaskan wanita ini! Ia sudah mempunyai suami, lepaskan!" Liu Ma hendak menarik lepas wanita muda itu, dan teman-temannya yang tadinya gentar menjadi berani. Merekapun mendekati Hek-bin Mo-ong untuk memaksanya melepaskan wanita muda yang dirangkulnya itu.

Melihat kenekatan ibunya, Han Lin terbelalak dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa ibunya terancam bahaya maut berani menentang Hek-bin Mo-ong seperti itu. Maka, diapun cepat melompat, mendekati ibunya. "Ibu, jangan,...!"

Dan dia menyambar tubuh ibunya dan dipondongnya tubuh Liu Ma dan dibawanya keluar dari kelenteng itu. Dia harus menyelamatkan ibunya, harus membawanya lari jauh-jauh dari manusia-manusia berwatak iblis itu. Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya sehingga semua orang tertegun. Tiga orang datuk itu sendiri tidak menyangka bahwa Han Lin akan berani melarikan wanita Itu.

"Hek-bin, mereka itu tanggung-jawabmu" kata Kwi-jiauw Lo-mo marah.

Mendengar ini, Hek-bin Mo-ong melepaskan wanita muda yang di rangkulnya tadi dan diapun melakukan pengejaran keluar kelenteng, diikuti pula oleh Seng Gun yang juga merasa penasaran melihat perbuatan Han Lin tadi. Han Lin maklum bahwa ibunya terancam bahaya maut, hanya itu saja yang dia perhatikan maka dia harus dapat mengajak ibunya melarikan diri. Setelah tiba di luar kelenteng, dia menurunkan ibunya yang berkeras minta diturunkan.

"Han Lin, apa-apaan engkau ini? Kenapa engkau?"

"Nanti saja, ibu, penje]asannya, Sekarang kita harus melarikan diri. Hayo cepat, bahaya maut mengancam kita" katanya dan dia menggandeng tangan ibunya, diajak lari sekuatnya, melalui kebun dan memasuki hutan yang berada di dekat situ, Dia sudah hafal dengan keadaan di situ dan dia tidak mengambil jalan umum, melainkan menerobos semak dan hutan sehingga Liu Ma beberapa kali mengaduh dan mengeluh karena kakinya tertusuk duri semak belukar.

"Han Lin, berhenti kau, keparat!" terdengar teriakan di belakang mereka itu adalah suara Seng Gun yang sudah dekat di belakang, dan disusul suara tawa Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha, bocah tolol, engkau hendak lari ke mana?" Mendengar suara mereka, Liu Ma berbisik kepada anaknya, "Han Lin, mereka siapa dan mau apa...?"

"Sstt, ibu, orang-orang jahat itu telah membunuh ketiga suhu."

Liu Ma terbelalak dan mukanya pucat sekali dan ketakutan hebat membuat wanita ini seperti mendapatkan tenaga baru untuk berlari cepat. Han Lin yang menggandeng tangan ibunya menariknya dan mereka mengambil jalan dekat jurang yang tertutup oleh ilalang tinggi. Akan tetapi, dua orang pengejarnya itu sudah cepat dapat menyusul dan kini berada di belakangnya. Han Lin maklum bahwa tidak mungkin ibunya dapat meloloskan diri, maka diapun berkata,

"Ibu, cepat ibu menyusup terus, melarikan diri dan bersembunyi, biar aku yang menahan mereka." Pemuda itu melepaskan tangan ibunya dan membalik, memasang kuda-kuda dan nekat untuk menyerang agar ibunya dapat lolos.

"Han Lin " ibunya berbisik.

"Pergilah, ibu. Dan cepat....!"

Pada saat itu, Hek-bin Moong telah datang dekat dan di belakangnya nampak Seng Gun yang tersenyum mengejek. Han Lin tidak banyak cakap iagi, lalu maju menerjang dan menyerang Hek-bin Mo-ong, menggunakan, sebatang ranting yang tadi dipungutnya dalam pelarian untuk dipakai sebagai senjata.

Ilmu tongkat Hong-in Sin-pang yang dikuasai Han Lin memang hebat dan tadi telah membuat Seng Gun kewalahan, akan tetapi menghadapi seorang datuk seperti Hek-bin Mo-ong, kepandaiannya itu belum ada artinya. Serangan tongkat Han Lin itu disambut tangan kiri Hek-bin Mo-ong yang tertawa-tawa.

"Krakkk!" Ranting itu patah-patah dan sebelum Han Lin dapat menghindar, si gendut muka hitam itu menggerakkan tangan kanan dan hawa dingin yang amat dahsyat menyambar ke arah. Han Lin. Pemuda ini, tidak mampu bertahan lagi dan diapun terlempar dan terjungkal ke dalam jurang!

Pada saat itu, Liu Ma yang tidak mau pergi meninggalkan anaknya begitu saja dan mengintai dari balik ilalang, ketika melihat Han Lin terjungkal ke dalam jurang, segera berlari keluar dan menuju tepi jurang.

"Han Liiiinnn anakkuuu...!" Dan wanita itupun melompat ke dalam jurang menyusul pemuda yang amat dikasihinya dan telah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Lengkingan teriakan Liu Ma terdengar panjang dan bergema, lalu terdiam dan disusul kesunyian yang mencekam.

Pek-bin Mo-ong dan Seng Gun menjenguk ke bawah jurang dan mereka tertawa. Mereka yakin bahwa dua orang itu sudah pasti telah tewas dengan tubuh remuk karena jurang itu amat dalam dan curam. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kelenteng.

Jauh di bawah, di lereng jurang yang curam, Han Lin bergantung kepada sebatang pohon. Dia menggigit bibir memejamkan matanya ketika Liu Ma meloncat ke dalam jurang. Air matanya bercucuran melalui kedua pipinya akan tapi dia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara tangis.

Setelah menanti agak lama, barulah dia menuruni lereng jurang yang curam itu, berpegang kepada batu-batu dan akar-akar yang menonjol keluar dan akhirnya dia tiba di dasar jurang. Dia menubruk tubuh Liu Ma yang telah menjadi mayat di dasar jurang itu dan menangis. Kadang-kadang dia mengepal tinju dan mengeluarkan suara geraman penuh kedukaan, kemarahan, sakit hati dan dendam.

Tiga orang hwesio itu telah dibunuh, dan sekarang wanita yang telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, dibunuh pula. Biarpun dia tahu bahwa ibunya mati membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, namun penyebab kematiannya adalah manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi dalam keadaan amarahnya berkobar seperti api itu, terngianglah di telinganya nasihat-nasihat Kong Hwi Hosiang bahwa dendam kebencian dan kemarahan adalah racun bagi diri sendiri. Dendam kebencian dan kemarahan adalah nafsu yang mendorong orang melakukan perbuatan kejam demi membalas dendam, dan perbuatan yang kejam, yang didasari kebencian, adalah perbuatan jahat. Perbuatan jahat bagian bibit pohon beracun yang kelak buahnya akan dimakan sendiri oleh si pembuat!

"Tidak, aku tidak boleh mendendam... ah, ibu... ibuuuu...." dia meratap-ratap, lalu dia memaksa diri menggunakan batu yang runcing untuk menggali lubang di dasar jurang itu. Dia menguburkan jenazah Liu Ma dengan sederhana namun penuh khidmat, dengan curan air mata, kemudian dia berlutut di depan makam yang hanya merupakan segundukan tanah berbatu-batu. "Liu Ma yang setia, engkau telah menjadi ibu bagiku ibu yang penuh kasih sayang, penuh kesetiaan, semoga engkau mendapatkan tempat yang layak disana."

Setelah penguburan selesai, barulah dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit, lengan kanannya nyeri bukan main kalau dia gerakkan. Agaknya lengan itu terkilir. Ketika tadi tubuhnya melayang ke bawah jurang, entah bagaimana, kebetulan sekali tangannya mencengkeram ke sana-sini dan tangan kanannya berhasil mencengkeram batang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang sehingga tertahan dan dia selamat. Kini, baru terasa betapa lengan kanannya itu agak membengkak dan nyeri sekali, terutama di bagian sambungan lengan di pundak.

Juga, pukulan Hek-bin Mo-ong tadi masih terasa, membuat dadanya terasa sesak dan dingin. Semua itu ditambah lagi pengerahan tenaganya ketika menggali tanah berbatu di dasar jurang untuk membuat lubang kuburan. Kini, dia kehabisan tenaga dan mengeluh panjang, lalu terkulai pingsan di depan gundukan tanah kuburan Liu Ma.

* * *

Sepuluh tahun yang lalu, dalam tahun 766, kekuasaan Kerajaan Tang dapat berdiri kembali di kota raja Tiang an, setelah selama sepuluh atau sebelas tahun (755 - 766) kerajaan itu dikuasai para pemberontak, dimulai dengan pemberontakan An Lu Shan, kemudian puteranya, An Kong, dan terakhir di kuasai oleh Sia Su Beng. Kaisar Hsuan Tsung (712 - 755) melarikan diri mengungsi ketika dalam tahun 755 An Lu Shan, seorang panglima yang dipercayanya dan yang bertugas menjaga perbatasan utara, melakukan pemberontakan dan menduduki ibu kota atau kota raja Tiang-an.

Kaisar Hsuan Tsung mengungsi ke barat, dan setahun kemudian menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya, pangeran mahkota yang kemudian menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Su Tsung. Dengan adanya panglima besar Kok Cu It yang setia dan pandai, maka Kerajaan Tang itu tidak pernah patah semangat.

Panglima Kok Cu It menyusun kekuatan di barat, dan dengan bantuan banyak suku bangsa barat dan utara, di antaranya bangsa Tibet, Turki dan banyak Lagi suku bangsa kecil-kecil, akhirnya dalam tahun 766, Kaisar Su Tsung berhasil menguasai kembali kota raja Tiangan dan pemberontakan dapat dipadamkan. Tentu saja semua ini adalah jasa Panglima Kok Cu It.

Namun, berhasilnya Kerajaan Tang bangkit kembali ini tidak disambut dengan gembira oleh rakyat. Banyak penyair menuliskan syair yang menggambarkan keadaan Kerajaan Tang sebagai 'mengusir harimau dengan bantuan segerombolan srigala!' Gambaran ini memang tidak terlalu berlebihan. Ketika Kerajaan Tang dijatuhkan oleh para pemberontak, maka yang berkuasa adalah pemberontak yang bagaimanapun masih merupakan gabungan bangsa Han dan bangsa Khitan. Setidaknya, yang berkuasa adalah bangsa sendiri.

Kemudian, Kerajaan Tang berkuasa kembali dengan bantuan orang orang asing dan setelah kota raja berhasil diduduki dan pemberontak dapat dibasmi, orang-orang asing ini tidak mau lagi meninggalkan daerah pedalaman yang subur, dengan kota-kotanya yang indah, dengan adanya segala macam kesenangan yang tidak dapat mereka temukan di tempat tinggal mereka yang tandus dan terbelakang!

Bagi rakyat, keadaan kehidupan mereka jauh lebih baik ketika dikuasai pemberontak An Lu Shan sampai Sia Su Beng dibandingkan sekarang karena mereka dirongrong oleh orang-orang Tibet, Gurkha, Turki, Biauw, dan masih banyak lagi. Ada pula orang-orang Mongol dan Mancu. Dan mereka ini seperti seriga-serigala kelaparan yang memasuki kandang domba. TerjadiLah kekerasan di mana-mana, perampokan, penganiayaan, perkosaan sehingga rakyat amat menderita.

Panglima Kok Cu-It sendiri kewalahan menghadapi keadaan seperti itu. Kalau ditindak dengan keras, tentu tidak enak sekali mengingat bahwa orang-orang asing itu telah berjasa nembantu Kerajaan Tang memperoleh kembali kekuasaannya. Kalau dibiarkan, rakyat yang menderita. Akhirnya, perlahan-lahan sehingga berlarut-larut sampai sepuluh tahun lebih lamanya, baru Kerajaan Tang berhasil membujuk para pimpinan suku-suku asing itu untuk meninggalkan wilayah Kerajaan Tang.

Tentu saja setelah mereka itu di berikan yang banyak berupa barang-barang berharga, bahkan gadis-gadis cantik. Kerajaan Tang sampai menguras habis kekayaannya untuk diberikan kepada mereka sebagai bekal! Biarpun gerombolan-gerombolan suku asing itu telah pergi, dan kota raja Tiang-an tidak dipenuhi lagi orang-orang asing yang berkeliaran, namun Kerajaan itu masih tidak lepas dari rongrongan para suku bangsa asing itu di sebelah barat dan utara. Terutama sekali dari bangsa Tibet dan Mongol.

Juga, kelemahan kerajaan ini membuat para pejabat tinggi daerah banyak yang bertindak sewenang-wenang, hidup sebagai raja kecil dan ada kecenderungan untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat di Tiang-an. Kelemahan pemerintah mendatangkan kekacauan pula di dunia kangouw, juga di dunia persilatan, para pendekar seolah saling bersaing dan hal ini didukung pula oleh perkumpulan-perkumpulan agama yang kini bangkit kembali secara liar setelah dahulu pernah ditertibkan oleh Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong.

Kini semua aliran agama bermunculan seperti cendawan di musim hujan, di antaranya, perkumpulan atau aliran agama yang terbesar, tidak termasuk puluhan macam yang kecil-kecil, adalah seperti berikut : Aliran agama Ru, dengan nabi atau guru pertamanya Khong-cu (Confucius, 551 - 479 sebelum Masehi), Aliran ini mengutamakan Li (upacara, aturan), menganjurkan tata-masyarakat feodal, menggolong-golongkan manusia dengan kedudukannya dan tugasnya di tempat masing-masing.

Ada atasan dan ada pula bawahan, ada pihak tua dan pihak muda dengan sikap menurut cara yang ditentu kan oleh Li. Bahkan rajapun mempunyai atasan yaitu langit sebagai pengganti kekuasaan Tuhan. Dan rajapun mendapat sebutan Putera Langit. Di samping Li, juga Khong-cu menganjurkan Jin (Kemanusiaan) dan Gi (Keadilan). Terutama sekali raja diharuskan memiliki semua ini karena raja merupakan panutan rakyat.

Biarpun aliran Ru ini bukan merupakan agama dengan upacara tertentu, tidak mempersoaLkan keadaan sesudah mati, tidak pula menyinggung tentang Ketuhanan melainkan lebih condong kepada Kemanusiaan, namun karena kebudayaan yang dibawanya telah meresap ke dalam kalangan atas, dari raja sampai kepada para bangsawan tinggi, maka tetap berpengaruh.

Aliran agama Mo menganggap Mo Ti (49O - 403 sebelum Masehi) sebagai guru besarnya. Pada dasarnya aliran Mo Ti ini mengutamakan cinta kasih sesama, mencari kebahagiaan batin bukan karena duniawi, oleh karena itu menganjurkan agar kita menjauhi kemewahan. Bahkan mereka menentang upacara-upacara yang memboroskan, menentang musik, juga menentang perang antara manusia. Mereka lebih condong untuk mengejar dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Pada umumnya, anggauta aliran ini amat setia dan taat kepada pimpinan mereka, bahkan siap mengorbankan nyawa apa bila hal itu dikehendaki sang pemimpin. Justeru karena berlumba dan bersaing dalam ilmu, termasuk ilmu silat, banyak di antara para anggautanya bahkan terperosok ke dalam pertentangan dan permusuhan dengan kelompok lain, karena tidak mau kalah. Aliran agama To, mereka menganggap Lo-cu (diperkirakan sejaman dengan Khong-cu) sebagai nabi mereka. Agama ini menganjurkan persatuan dengan alam, dan tunduk terhadap hukum alam.

Aliran ini, sebaliknya dari aliran Ru yang mengikuti ajaran Khong-cu, mengesampingkan urusan kehidupan di dunia, melainkan lebih menerawang tentang kekuasaan yang mereka hanya namakan To yang sesungguhnya tidak bernama. Mereka menamakan To sebagai yang terahasia, yang mencakup segalanya, mengatur segalanya dan hidup di dunia ini seyogianya membiarkan To bekerja. Karena To dapat diartikan mirip dengan yang kita namakan Kekuasaan Tuhan, maka agama To ini lebih condong kepada Ketuhanan.

Namun, karena banyak rahasia terkandung di dalamnya, maka dengan sendirinya berkembanglah suatu cara untuk memperoleb kekuatan yang ajaib, dan aliran ini membentuk banyak manusia aneh yang memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh pula. Mereka juga mempelajari perbintangan, dan banyak di antara mereka yang menjadi peramal, ahli sihir dan sebagainya.

Aliran agama Beng (Beng kauw) berasal dari Persia (Iran) dan pendiri nya yang dianggap guru besar mereka adalah seorang putera bangsawan Persia bernama Mani. Oleh karena itu, Bengkauw (Agama Terang) juga disebut Manichaeism. Agama ini masuk di Cina Barat setelah abad kedua Masehi. Di dalam agama ini, seperti juga keadaan pendirinya, terdapat pengaruh agama Kristen Mithraism, dan juga Magism dari Persia.

Mani sendiri menamakan dirinya Duta Terang, dan menurut ajarannya, dalam alam semesta terdapat dua kekuasaan, Terang dan Gelap yang bertentangan. Setan terlahir di Kekuasaan Gelap. Dalam aliran ini juga berkembang aturan-aturan aneh yang bagi orang biasa terasa amat ganjil. Apa lagi kalimat yang biasa mereka ucapkan, sungguh membuat orang menjadi bingung.

Memang kata-kata mereka terkadang membuat orang yang mendengar menjadi kacau. pikirannya. Mereka suka mempergunakan kalimat dengan arti yang berlawanan seperti "kuda putih bukan kuda", anjing hitam adalah putih" dan sebagainya. Namun, para penganutnya, terutama para pimpinannya, banyak yang memiliki ilmu kepandaian silat yang aneh dan tinggi, maka Bengkauw ini cukup disegani, dan oleh banyak kalangan dianggap sebagai golongan sesat karena keanehan mereka.

Aliran Im Yang (positip dan negatip) menganggap alam terbentuk. atas ngo-heng (lima unsur) yang menjadikan im-yang (positip dan negatip). Dua kekuatan ini yang membuat segala sesuatu berputar dan bergerak, yang menimbulkan kekuatan. Di antara semua aliran, aliran inilah yang melahirkan banyak sekali ahli nujum dan peramal yang kenamaan, karena aliran ini paling tekun dan mendalam mempelajari tentang peredaran matahari, bulan, bintang, musim dan gejala aneh termasuk bencana alam. Juga ilmu silat mereka dipengaruhi pelajaran ini.

Aliran Fa, juga berkembang sekitar abad ke empat sebelum Masehi, merupakan aliran yang sesuai dengan namanya, yaitu Fa (Hukum). Menurut aliran ini, seluruh alam maya pada dapat bergerak dan berjalan secara teratur dan lancar berkat adanya Hukum. Oleh karena itu, sebuah kerajaan haruslah menegakkan hukum, karena hanya hukum yang akan mampu mengatur pemerintahan sehingga berjalan dengan lancar dan baik. Dengan adanya hukum, maka kedudukan raja akan menjadi kokoh kuat, berwibawa, dan rakyat jelata hidup makmur karena semua orang menaati hukum yang berlaku.

Aliran Fa ini banyak dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan yang lalu, di antaranya Kerajaan Cin yang dikuasai oleh Tsin Shih Huang-ti (221 - 210 sebelum Masehi). Shih Huang-ti ini mempergunakan aliran Fa, dengan segala kekerasan menjalankan hukum sehingga akhirnya dia berhasil menundukkan seluruh negeri dan berhasil menggalang persatuan melalui kekerasan. Justeru disini letak kekuatan aliran Fa, yaitu menegakkan hukum dengan kekerasan.

Demikianlah beberapa di antara aliran-aliran yang besar dan berpengaruh. Masih terdapat banyak aliran yang merupakan perpecahan dari aliran-aliran besar. Tentu saja selain beberapa aliran itu, masih terdapat agama Buddha yang amat besar pengaruhnya, juga agama Kristen yang mengalami perkembangan yang bercampur dengan filsafat tradisionil. Karena Kerajaan Tang dalam keadaan lemah, dan banyak gerombolan pengacau mempergunakan kesempatan mengail di air keruh, maka aliran-aliran itupun mendapat angin.

Banyak pula di antara mereka yang dimasuki gerombolan dari suku-suku dari barat dan utara, berlumba untuk mengeduk keuntungan dan kekuasaan. Tiga orang datuk murid Sam-mo-ong juga tidak lepas dari pada pengaruh kelompok orang Mongol yang berhasil menarik mereka menjadi kaki tangan kepala suku Mongol. Karena maklum hanya mempergunakan kekuatan anak buah saja mereka tidak akan dapat menguasai pedalaman.

Maka orang-orang Mongol itu lalu mengutus tiga orang datuk untuk mengadakan hubungan dengan para pemimpin aliran Fa atau Hoat, mengharapkan bahwa aliran itu akan dapat membantu mereka menguasai daerah perbatasan di utara, untuk kemudian, kalau keadaan memungkinkan, mengembangkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka jauh ke selatan.

Demikianiah, kemunculan Kwi-jiauw Lo-mo, Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong di Bukit Ayam Emas itu ada hubungannya dengan tugas mereka mengadakan hubungan dengan para pimpinan Hoat-kauw yang berpusat di propinsi Kuang-si. Mereka mencari tempat yang aman dan cukup sepi, dan tempat itu mereka merasa cocok, jauh dari pasukan keamanan pemerintah, juga di situ mereka dapat melakukan pertemuan dengan aman, tidak diketahui oleh golongan lain.

Selain itu, juga orang-orang dusun itu mudah mereka paksa untuk membantu mereka menjamu para pimpinan Hoat-kauw. Orang-orang yang datang bersembahyang melihat betapa Liu Ma dan Han Lin lenyap, dan mereka ketakutan sekali, terutama setelah wanita muda yang tadi dirangkul Hek-bin Mo-ong, setelah dilepaskan, saking takutnya wanita itu lalu lari menubruk dinding, sengaja membenturkan kepalanya pada dinding dan iapun roboh dan tewas dengan kepala retak berlumuran darah. Kwi-jiauw Lo-mo mengerutkan alisnya, tak senang dengan adanya gangguan itu yang semua disebabkan ulah Hek-bin Mo-ong yang mata keranjang.

"Kalian semua harus menaati kami, kalau tidak, kalian semua akan kami siksa seorang demi seorang sampai mati!"

Mendengar ini, tujuh orang pengunjung kelenteng itu, dua orang wanita setengah tua dan lima orang pria, menjadi ketakutan dan mereka menjatuhkan diri berlutut. "Kami..., kami tidak berani kami akan taat...." kata seorang diantara mereka, yang laki-laki dan yang masih mampu mengeluarkan suara.

"Bagus begitu!" kata Kwi-jiauw Lo-mo. "Sekarang, kalian lima orang laki-laki cepat bawa mayat ini ke kebun belakang dan kubur di sana, dan kalian dua orang wanita, cepat pergi ke dusun dan carikan kami daging ayam dan babi, juga sayur-sayuran, beras dan minuman arak. Nih uangnya dan cepat kalian kembali ke sini, minta bantuan orang dusun untuk membawakan semua itu. Beli sebanyak yang cukup untuk menjamu sepuluh orang dan awas, jangan macam-macam. Kalau kalian tidak menaati perintah kami, kepala kalian akan menjadi seperti ini!"

Kwi-jiauw Lo-mo menepuk singa-singaan batu dengan tangan kirinya dan kepala singa-singaan batu itu hancur berkeping-keping. Tentu saja tujuh orang itu menjadi pucat dan semakin ketakutan.

"Dan kalau kalian mengajak penduduk dusun untuk menentang kami, dusun Li-bun akan kami bakar dan semua penghuninya kami lemparkan ke dalam api!"

Dua orang wanita itu hanya mengangguk-angguk, tidak berani mengeluarkan suara saking takutnya. Mereka menerima beberapa potong perak dari Kwi-jiauw Lomo lalu pergi meninggalkan kelenteng, sedangkan lima orang pria itu segera mengangkat jenazah wanita yang membunuh diri dan membawanya ke kebun belakang untuk dikubur.

Dusun Li-bun menjadi geger ketika dua orang wanita itu pulang sambil menangis dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi di kelenteng, betapa Liu Ma dan Han Lin dikejar kakek gendut muka hitam dan lenyap, betapa wanita muda itu dihina olehnya dan membunuh diri dengan membenturkan kepala kedinding, dan lima orang pria ditahan di sana dan disuruh mengubur jenazah wanita yang membunuh diri.

Suami wanita itu menangis dan hendak nekat pergi ke kelenteng, membalaskan kematian isterinya. Akan tetapi dua orang wanita itu memegangi tangannya sambil menangis, melarangnya pergi karena tiga orang kakek dan seorang pemuda yang kini menguasai kelenteng nampaknya bukan orang biasa.

"Kakek yang gendut seperti katak itu tadi menampar kepala singa-singaan batu dan kepala singa itu hancur berantakan. Kami takut sekali dan kalau engkau nekat kesana, berarti hanya mengantar nyawa!"

Kepala dusun itu segera datang dan dan mendengar laporan dua orang wanita itu, dia mengerutkan alisnya. "Dan di mana adanya tiga orang losuhu yang mengurus kelenteng?" tanyanya.

"Kami tidak tahu, mereka tidak nampak. Akan tetapi menurut pendengaran kami dari percakapan manusia-manusia iblis itu, agaknya tiga orang losuhu juga sudah mereka bunuh. Dan kamipun khawatir sekali akan nasib Liu Ma. Ia dilarikan anaknya ketika itu, kemudian dikejar oleh si gendut muka hitam dan kami mendengar teriakan mengerikan dari Liu Ma yang memanggil anaknya, kemudian tidak terdengar apa-apa lagi."

Dua orang wanita itu lalu menceritakan betapa mereka berdua diberi perak dan disuruh berbelanja untuk membuat masakan, untuk menjamu sepuluh orang di kelenteng itu. "Aku harus membalas kematian isteriku!" Suami yang kehilangan isterinya itu berseru dan teman-temannya juga mendukung nya. Kepala dusun ya.ig sudah setengah tua itu mengangkat kedua tangan minta agar warganya tenang.

"Memang kita tidakdapat. membiarkan saja orang jahat menguasai kelenteng kita itu. Akan tetapi menurut keterangan dua orang ini, mereka adalah orang-orang yang tangguh dan lihai oleh karena itu, kita tidak boleh gegabah dan menyerang begitu saja. Kita harus menghimpun tenaga yang ada, karena hanya dengan jumlah yang banyak saja kita akan mampu menandingi dan mengusir mereka dari sini."

Semua orang menyatakan setuju dan setelah semua laki-laki di dusun Li-bun dikumpulkan, jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih, dari yang berusia duapuluh sampai empatpuluh tahun. Yang usianya kurang dari duapuluh dan lewat empatpuluh, dilarang ikut pergi oleh kepala dusun. Kemudian, berbondong-bondong mereka mendaki bukit itu menuju kelenteng, dipimpin sendiri oleh kepala dusun Can.

Kepala dusun Can adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan usianya sekitar empatpuluh lima tahun, namun dia seorang pemberani dan dibandingkan para penghuni dusun lainnya, dia merupakan seorang terpelajar karena pernah lama tinggal di kota dan juga pernah mempelajari. sastera sampai cukup. Lurah ini pula yang oleh Liu Ma diminta untuk mendidik Han Lin dalam iImu sastera.
Hari telah menjelang senja ketika rombongan penghuni dusun Li-bun tiba di luar pekarangan kelenteng yang nampak sunyi itu. Akan tetapi sebetulnya tempat orang yang kini menguasai kelenteng itu memandang kepada rombongan orang itu dengan senyum mengejek, sedangkan Iima orang penduduk dusun yang tadi mengubur jenazah wanita muda yang membunuh diri, terbelalak dan khawatir sekali melihat para rekan sedusun berbondong-bondong naik ke situ.

Karena ngeri membayangkan ancaman para datuk sesat itu bahwa kalau orang dusun Li-bun berani menentang mereka, dusun Li-bun akan dibakar dan semua penghuni nya akan dibunuh, lima orang itu lalu berlari ke pekarangan dan mengangkat ke dua tangan tingi-tinggi ke atas untuk mencegah mereka melakukan penyerbuan.

"Can chung-cu (Lurah Can), perlahan dulu...!" teriak lima orang itu.

Lurah Can segera maju menghadapi mereka. "Kenapa kalian menahan kami? Kalau kelenteng kami dirampas orang, dan ada penduduk dusun yang tewas, kami tidak mungkin dapat berdiam diri saja. Sepatutnya kalian berlima juga membantu kami!"

"Tidak, Jangan..." lalu lima orang itu berbisik-bisik, memberitahu bahwa tiga orang hwesio pengurus kelenteng juga sudah tewas terbunuh dan jenazah mereka sudah dikubur di kebun kelenteng dibelakang. Juga bahwa empat orang itu bukan orang-orang sembarangan, namun memiliki ilmu kepandaian seperti iblis.

Sementara itu, Seng Gun tidak sabar melihat rombongan orang dusun berkerumun di luar pekarangan kelenteng itu. "Ayah, monyet-monyet dusun itu sudah bosan hidup, biar aku yang membasmi mereka semua!"

Akan tetapi Kwi-jiauw Lo-mo menggeleng kepala. "Mereka itu tidak ada harganya dibunuh semua, hanya orang-orang dusun dan kalau dibunuh semua hanya akan merepotkan saja Kesempatan ini baik sekali untuk menguji kepandaianmu, Seng Gun. Aku menghendaki engkau membunuh dua tiga orang pimpinan mereka saja, dan mengalahkan mereka akan tetapi tidak membunuh agar mereka semua selanjutnya patuh dan tidak berani lagi mengganggu kita."

"Baik, ayah!" kata Seng Gun gembira dan pemuda ini lalu meloncat keluar dan menyambut tigapuluh orang lebih itu di pekarangan kelenteng yang luas.

Sementara itu, para penghuni dusun ketika mendengar keterangan lima orang rekan mereka bahwa tiga orang hwesio kelenteng itu telah dibunuh oleh para penjahat yang menguasai kelenteng, menjadi semakin penasaran dan marah. Kepala dusun Can juga tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

Dia melangkah maju bersama dua orang pembantunya yang di dusun itu terkenal sebagai orang-orang yang tangguh dan bantuan mereka itulah yang membuat kepala dusun Can dapat memimpin dusunnya dengan adil. Kepala dusun agak ragu melihat bahwa yang muncul menyambut mereka ada lah seorang pemuda remaja berusia belasan tahun yang berpakaian sastrawan serba putih dan lagaknya anggun dan angkuh.

Pemuda itu berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang dan wajahnya yang tampan tersenyum mengejek. Karena pemuda remaja itu nampak tampan dan seperti bangsawan, sama sekali bukan seperti penjahat, kepala dusun Can bersikap hati-hati.

"Orang muda, siapakah engkau dan kami ingin bicara dengan mereka yang telah membunuh hwesio dan beberapa orang penduduk dusun kami."

Seng Gun tersenyum akan tetapi pandang matanya yang tajam, itu memandang dingin. "Anggap saja aku yang telah membunuhi mereka karena mereka menentang kami. Nah, kalau kalian tidak ingin mengalami nasib seperti mereka, pergilah dan jangan menentang kami!"

Tentu saja kepala dusun Can terbelalak mendengar ucapan itu. Bocah begini tampan dan nampak terpelajar, kenapa dapat bersikap begini sombong dan kejam? Dia mendengar laporan dari dua orang wanita tadi bahwa iblis-iblis itu adalah tiga orang kakek lihai, dan pemuda tampan ini tentulah murid mereka.

Tiba-tiba dia mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik. Kalau mereka menawan pemuda ini, tentu tanpa kekerasan mereka dapat menjadikan pemuda ini sebagai sandera dan minta kepada tiga orang kakek itu untuk menyerahkan diri untuk diseret ke pengadilan!

"Kita tangkap pemuda ini!' katanya kepada dua orang pembantunya.

Dua orang pembantu itu boleh diandalkan. Mereka berdua memiliki tenaga besar dan juga pandai silat. Pendeknya, untuk dusun Li-bun dan sekitarnya, dua orang pembantu kepala dusun Can ini merupakan orang-orang yang tangguh. Sambil membentak nyaring, dua orang itu menubruk dari kanan kiri untuk menangkap Seng Gun, dan kepala dusun Can juga menerjang ke depan untuk membantu mereka menangkap pemuda itu untuk dijadikan sandera.

Akan tetapi, pemuda yang mereka tubruk itu tiba-tiba saja lenyap dari depan mereka karena sudah meloncat ke atas dengan gerakan yang ringan sekali. Mereka terkejut dan cepat memandang ke atas. Tubuh Seng Gun yang tadinya meloncat ke atas, kini menukik ke bawah dan sebatang suling perak telah berada di tangannya dan ujung suling itu menempel di mulutnya.

"Srrr...!!" Tiupan itu amat kuat dan nampak sinar hitam menyambar ke bawah, ke arah kepala desa Can dan dua orang pembantunya.

Serangan itu demikian mendadak dan tidak terduga-duga. Apa lagi kepala desa Can, sedangkan dua orang pembantunya saja tidak menduga sama sekali dan sinar hitam itu menyambar dari jarak dekat, dari atas dan dengan kecepatan kilat, maka merekapun tidak sempat menghindarkan diri.

Tiga orang itu tiba-tiba saja terpelanting dan berkelojotan, lalu terdiam dan tewas dalam keadaan mengerikan karena muka mereka berubah kehitaman. Kereka telah menjadi korban jarum-jarum beracun yang ditiupkan melalui suling dan mengenai muka dan leher mereka.

Melihat betapa kepala dusun Can bersama dua orang pembantunya tewas, para penduduk dusun Li-bun terkejut dan marah bukan main. Karena merasa bersedih merekapun menjadi nekat dan sambil berteriak-teriak mereka mau mengeroyok Seng Gun dengan segala macam senjata yang mereka bawa dari rumah, yaitu alat-alat bertani dan berkebun seperti cangkul, parang, linggis, kapak dan sebagainya.

Dan Seng Gun lalu mengamuk. Pemuda ini merasa gembira sekali mendapatkan kesempatan untuk menguji kepandaiannya. Dia menaati pesan ayahnya dan tidak melakukan pembunuhan. Dengan suling peraknya di tangan, dia mengamuk, menyambut terjangan puluhan orang itu dan dia menangkis dengan pengerahan tenaga, membuat banyak senjata para pengeroyok terpental dan terlempar, dan dia merobohkan mereka satu demi satu dengan tendangan, tamparan tangan kiri, juga totokan sulingnya tanpa pengerahan tenaga yang terlalu kuat sehingga tidak ada di antara mereka yang sampai tewas.

Dalam waktu singkat saja, kurang lebih tigapuluh orang itu sudah roboh semua dan biarpun tidak ada yang menderita luka parah, namun mereka menjadi jerih dan tidak berani lagi melanjutkan pengeroyokan. Kini, tiga orang kakek itu keluar dan Kwi-jiauw Lo-mo tertawa senang melihat kemajuan puteranya.

"Bagus, Seng Gun..."

Pemuda itu berdtri dengan mulut tersenyum dan wajah berseri. Hek bin Mo-ong lalu berseru dengan suara nyaring kepada semua orang yang. masih nampak terkejut, jerih dan juga gelisah itu.

"Kalian masih diampuni, akan tetapi kalau kami melihat penduduk Li-bun masih berani menentang kami, dusun itu akan kami bakar dan kalian semua beserta seluruh keluarga kalian akan kami bunuh! Nah, bawa pergi mayat-mayat ini dan jangan sekali-kali berani ke sini kalau tidak kami panggil!"

Para penduduk dusun itu tidak berani banyak cakap lagi. Mereka menggotong mayat tiga orang itu dan menuruni bukit dengan wajah muram. Lima orang warga dusun yang pertama tidak berani pergi karena mereka telah diberi tugas untuk bekerja melayani para datuk itu, dan dua orang wanita yang menerima tugas memasak dan menyediakan bahan masakan, sudah datang dan dibantu oleh beberapa orang menggotong semua bahan masakan yang mereka beli.

Pada malam hari, setelah matahari tenggelam di kaki langit barat dan hari berubah menjadi gelap, muncullah tamu-tamu yang dinanti oleh tiga orang datuk sesat itu. Dan kemunculan lima orang tamu inipun seperti setan saja. Tahu-tahu mereka telah muncul di pekarangan kelenteng itu. Seng Gun yang oleh ayahnya ditugaskan berjaga di ruangan depan kelenteng, terkejut dan kagum.

Lima orang tamu itu benar-benar hebat, tanpa mengeluarkan suara, juga tidak nampak bayangan mereka datang, tahu-tahu sudah berdiri disitu, berjajar bagaikan patung, tidak mengeluarkan suara, namun mereka berdiri tegak dengan sikap berwibawa. Inilah lima orang yang oleh ayahnya dan dua orang susioknya disebut sebagai Bu-tek Ngo Sin-liong (Lima Naga Sakti Tanpa Tanding)!

Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari perkumpulan atau aliran Hoat-kauw dan kabarnya mereka memiliki tingkat ilmu kepandaian yang hebat, bahkan menurut ayahnya, tingkat mereka sudah sebanding tingkat ayahnya dan dua orang susioknya! Bukan main! Padahal, selama ini dia selalu beranggapan bahwa di dunia persilatan, ayahnya dan dua orang susioknya merupakan datuk-datuk tanpa tanding! Apalagi setelah melihat perwujutan mereka, hatinya meragu.

Dia sudah mendapat keterangan jelas dari ayahnya mengenai lima orang tokoh ini dan setelah kini mereka berada di pekarangan, wajah mereka disinari lampu-lampu gantung di depan kelenteng, dia dapat mengenal mereka satu demi satu. Orang pertama dari Lima Naga Sakti itu adalah Ang-sin-liong (Naga Sakti Merah) Yu Kiat, seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan, sikapnya tinggi hati dan pakaiannya serba merah. Di pinggangnya terselip sebatang goiok yang punggungnya seperti gergaji.

Orang ke dua bernama Tiat-sin-liong (Naga Sakti Besi) Lai Cin, yang berusia sekitar empatpuluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan muka pucat. Nampaknya saja orang ini berpenyakitan dan Iemah, akan tetapi sesuai dengan julukannya, dia adalah seorang manusia besi alias kebal tubuhnya, keras seperti besi. Dia memegang sebatang konce (tombak cagak) yang beronce biru.

Orang ketiga seurang wanita bernama Hwi-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa, berusia tigapuluh tahun, cantik dan anggun, dengan sikap yang angkuh galak, pandang matanya dingin, tubuhnya ramping dan di punggungnya nampak siang-kiam (sepasang pedang). Sesuai dengan julukannya, wanita ini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga ia dijuluki Naga Sakti Terbang.

Orang ke empat bernama Lam-hai Sin-liong Kwa Him, berusia duapuluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya merah, gagah sekali. Sesuai dengan julukannya Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Selatan) dia memang memiliki keahlian dalam air seperti seekor naga laut, dan di samping keahlian dalam air, juga Kwa Kim ini terkenal memiliki tenaga gajah.

Orang ke lima adalah adik dari Kwa Him ini, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang bernama Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian. Wajahnya cantik manis, terutama sekali mata dan mulutnya yang nampak menantang dan genit, tubuhnya ramping sekali dengan pinggang yang kecil dan pinggul besar. Sebatang pedang nampak di punggungnya, dengan ronce merah.

Akan tetapi melihat mereka, apa lagi orang ke tiga, ke empat dan ke lima, Seng Gun mengerutkan alisnya. Orang-orang seperti itu dikatakan amat lihai oleh ayahnya? Dia tidak percaya! Terutama sekali orang termuda, Bi-sin-liong Kwa Lian. Gadis cantik yang nampak lembut itu bagaimana mungkin dapat memiliki ilmu kepandaian tinggi? Timbul keinginan hatinya untuk menguji.

Dia lalu turun dari ruangan depan, ke pekarangan menghampiri lima orang yang berdiri bagaikan patung itu. Seng Gun mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat. Pemuda remaja yang berpakaian sutera putih ini memang tampan dan pandai membawa diri sehingga sikapnya yang menghormat itu menyenangkan. Akan tetapi lima orang itu tidak bergerak.

"Kalau boleh saya mengetahui, si apakah ngo-wi (anda berlima) dan ada keperluan apakah datang ke kelenteng ini?" tanya Seng Gun dengan sikap menjajagi.

Bin-sin-liong Kwa Li an adalah seorang gadis cantik yang memiliki satu kelemahan, yaitu dia mudah terpikat oleh pria yang halus dan tampan. Kini, melihat Seng Gun, biarpun pemuda itu masih remaja, paling banyak enambelas tahun usianya, seketika ia terpikat. Pemuda itu memang tampan menarik. Mendengar pertanyaan Seng Gun, Kwa Lian lalu melangkah maju, mewakili empat orang rekannya tanpa minta persetujuan lagi dan ia memandang kepada Seng Gun sambil tersenyum manis dan pandang matanya mengerling tajam.

"Kami Bu-tek Ngo Sin-liong, memenuhi undangan Kwi-jiauw Lo-mo. Siapakah engkau, adik tampan? Kalau Kwi-jiauw Lo-mo berada di kelenteng, tolong panggil dia keluar menemui kami. Dan engkau sendiri siapakah?"

"Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui adalah ayahku dan namaku Tong Seng Gun. Aku memang ditugaskan ayah untuk menyambut Bu-tek Ngo Sin-liong akan tetapi melihat ngo-wi, aku menjadi ragu apakah benar aku berhadapan dengan Bu-tek Ngo Sin-liong. Apa lagi melihat engkau, enci, yang masih begini muda, cantik dan kelihatan lemah. Padahal, menurut yang kudengar, Lima Naga Sakti adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat."

Kalau empat orang yang lain mengerutkan alis mereka memandang kepada Seng Gun dengan tak senang, sebaliknya Bi-sin-liong Kwa Lian terkekeh genit. "Hi-hi-hik, katakan saja engkau menguji kami, adik tampan! Baiklah, sebagai putera Kwi-jiauw Lo-mo, tentu engkaupun bukan anak sembarangan. Nah, untuk meyakinkan hatimu bahwa nama kami bukan hanya nama kosong belaka, majulah dan kalau daIam sepuluh jurus sulingmu dapat menyentuhku dan aku masih belum dapat menundukkanmu, biar aku berganti julukan saja, hi-hik!"

Kini Seng Gun yang merasa mukanya panas karena penasaran. Memang dia pernah terdesak oleh murid mendiang Kong Hwi Hosiang, akan tetapi dengan seorang diri saja dia mampu merobohkan tigapuluhan orang! Bagaimana mungkin hanya sepuluh-jurus saja dia akan kalah oleh gadis yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu?

"Baik, enci Kalau dalam sepuluh jurus engkau dapat menundukkan aku, nanti di dalam aku akan memberi hormat dan menyuguhkan tiga cawan arak kepadamu. Akan tetapi bagaimana kalau aku mampu bertahan sampai sepuluh jurus?"

Kembali wanita itu terkekeh dan kini senyumnya yang melebar membuat deretan giginya yang terpelihara rapi dan putih bersih nampak manis sekali. "Kalau engkau mampu bertahan sampai sepuluh jurus, aku mengaku kalah dan aku akan memberi ciuman tiga kali padamu!"

Wajah Seng Gun berubah kemerahan akan tetapi hatinya girang bukan main. Dicium wanita biasa, betapapun cantiknya ia, masih belum ada artinya, akan tetapi dicium Bi-sin-liong Kwa Lian? Sungguh merupakan kebanggaan tersendiri! "Baik, aku akan mulai, enci!" katanya sambil mencabut suling perak dari sabuknya.

"Bagus, aku sudah siap!" kata pula Kwa Lian gembira.

Seng Gun yang tentu saja ingin mendapatkan kemenangan segera menyerang dengan sulingnya. Suling itu menjadi sinar putih kemilauan yang menyambar diiringi suara ngaung yang nyaring, dan sudah meluncur ke arah leher wa Lian untuk menotok jalan darah.

"Bagus!" kata Kwa Lian, dan dengan gerakan ringan sekali, ia mengelak.

Seng Gun tidak melanjutkan serangannya. Dia teringat bahwa taruhannya adalah bahwa dia harus mampu bertahan sampai sepuluh jurus, maka sikap paling menguntungkan baginya adalah sikap berjaga diri dan mencurahkan seluruh daya untuk mencegah agar dia tidak sampai dikalahkan dalam sepuluh jurus.

Satu jurus telah lewat dan dia tidak mau menyia-nyiakan jurus-jurus selebihnya untuk menyerang karena dengan menyerang, penjagaan dirinya tentu kurang kuat. Setiap kali menyerang, tentu ada bagian tubuhnya yang terbuka dan pertahanannya lemah. Maka, kini dia hanya memutar suling menjadi gulungan sinar perak dan dia tidak melakukan serangan!

Melihat ini, Kwa Lian tertawa. "Heh-heh-heh, engkau adik yang tampan dan cerdik. Lihat, encimu mulai menyerang!" Mulailah wanita itu menyerang, dengan cengkeram dan totokan, sambil menghitung jurus-jurusnya. Gerakannya aneh namun indah, dan bau harum yang keluar dari kedua tangannya kalau ia menyerang, membuat Seng Gun merasa agak pening.

Dia terkejut dan mengerahkan sinkang karena maklum bahwa bau harum itu bukan sembarang bau, melainkan racun atau hawa beracun! Diapun mengelak dan menggerakkan suling untuk menangkis kelebatan tangan yang mencengkeram atau menotok. Sampai hitungan ke delapan, dia mampu bertahan dan hatinya sudah merasa qirang bukan main. Dia akan mendapat hadiah tiga kali ciuman, dan ada rasa bangga bahwa dia telah dapat membuat orang ke lima dari Bu-tek Ngo Sin-liong kalah bertaruh...!
Selanjutnya,