Sejuknya Kampung Halaman Bagian 14 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Arya Manggada - Sejuknya Kampung Halaman Bagian 14
Karya : Singgih Hadi Mintardja


Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
WISESA menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Wisesa itupun berkata, “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan...”

“Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia melakukannya.” sahut Tantri.

“Tantri, kau jangan sekedar menuruti perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima, tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang.”

“Wisesa...” jawab Tantri “Dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan. Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau sekarang mendengarnya.”

“Tantri” sahut Wisesa “Kau mulai meremehkan aku.”

“Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini.”

“Tantri, kau jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan ada korban yang bakal jatuh.”

“Ada Wisesa...” jawab Tantri.

“Tidak. Tidak ada benturan kekerasan...”

“Korbannya setidak-tidaknya aku. Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya, perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu.”

Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya “Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa.”

“Tantri...“ keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

“Aku lebih menghormati anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau.”

“Jangan begitu Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa. Tetapi kau jangan bersikap seperti itu.”

“Setidak-tidaknya untuk sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala sesuatunya telah teratasi.”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan kepalanya.

Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata, “Aku tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas. Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang lain.”

Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang pahit baginya.

“Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah.”

Meskipun Tantri menganggap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda itu masih dapat mengerti, bahwa sebaiknya ia pulang saja. Tetapi apa yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya, yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Jika benar Laksana dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksud-maksud tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri” berkata Wisesa kepada diri sendiri.

Ternyata pikiran buruk telah tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan Gemawang.

Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanak-kanaknya, maka Manggada dan Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya. Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil, yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana.

Pertemuan Ki Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak bertemu.

“Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua, tetapi ia nampak tegar dan kuat.

“Apakah tidak dapat diketahui, kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Jika Ki Sapa Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini. Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi dengan sebutan Ki Carang Aking.

Ki Pandi itupun mengangguk-angguk. Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan, “Jika demikian, maka kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami kesulitan”

Manggada dan Laksana itupun mengangguk kecil, sementara Ki Pandipun berkata, “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian tidak terlalu lama berada disini”

“Jika mereka pergi, akupun harus pergi.” berkata Ki Carang Aking. “Jika tidak, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi.

"Meskipun termasuk orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Baiklah, Ki Carang Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandipun dengan hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk, maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka, karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang.

Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan Laksana, maka Sampurna pun mendapat keterangan tentang kedua orang anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi. Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang sekelompok perampok dan penyamun yang ganas!” berkata Ki Pandi. Namun Ki Pandi itupun berkata selanjutnya, “Tetapi untuk beberapa hari, agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak itu”

Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Aku melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru”

“Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya...“ berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel. Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit. Pengaruhnya akan menjadi cukup besar”

“Mudah-mudahan usaha Ki Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana kemudian.

Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia. Namun dengan nada dalam Sampurnapun menyatakan kecemasannya, bahwa korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan.

“Kita memang tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi”

“Bagaimana mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan”

“Kita akan memikirkan satu cara yang paling baik.” berkata Ki Kertasana “Jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidak-tidaknya bagaimana cara mereka berlindung di antara orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk menghindari korban yang bakal jatuh.”

Sampurna sependapat dengan jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang” berkata Sampurna.

Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya, Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya.

Akhirnya Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan kemantapan niat mereka.

Dengan sangat berhati-hati mereka telah menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang.

Sementara itu, sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tugas itu memang melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka, mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya, menangkis dan menghindar.

Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika keadaan memaksa, jangan nietasa malu untuk bergeser mundur, bahkan berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang sedang berlangsung. Namun merekapun memberitahukan pula, bahwa mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik mengejar lawannya.

Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman.

Memang tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu. Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu berkemampuan tinggi.

Namun demikian, maka mereka memperkenalkan jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu.

Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang mengganggu.

Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak dapat lagi disingkirkannya.

Demikianlah, ketika Wisesa melihat seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesapun telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya. Kedua orang itu terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri.

Tetapi Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti sambil membungkuk hormat.

“Ampun Ki Sanak...” berkata Wisesa “Aku tidak bermaksud apa-apa”

Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di antara mereka bertanya dengan suara serak “Kau mau apa?”

“Ampun Ki Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki Sanak.”

“Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesapun memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun ke jalan. “Ki Sanak!” berkata Wisesa “Aku ingin memberitahukan, bahwa ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana”

Kedua orang itu nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah maju mendekati Wisesa. Sikap orang itu membuat Wisesa ketakutan. Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata,

“Ampun, Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik...”

“Katakan, apa yang tidak wajar itu...” bentak orang itu.

“Menurut ceritera orang, ketika Mangada Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah berselisih dan berkelahi”

“Kau hanya menyebut namanya saja Wira Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu.

“Maksudku, paman Wira Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap.

“Teruskan...” desak orang itu.

“Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan ketiga orang pengikut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa meneruskan.

“Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?” bertanya orang itu dengan nada tinggi.

Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu. “Hanya menurut kata orang...” jawab Wisesa dengan kaki gemetar.

“Setan kau geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami”

“Itulah yang ingin aku katakan...” suara Wisesa menjadi terputus-putus. Namun ia berkata selanjutnya “Justru karena Laksana memenangkan perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus diperhatikan?”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin meneruskan,

“Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar telah terjadi?”

“Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang. Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka benar-benar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda berharga lainnya untuk melakukan rencananya”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula, “Selain daripada itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong menjadi lebih berhati-hati”

“Anak muda...” salah seorang dari kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa terlepas dari tangkainya. “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud menakut-nakuti kami?”

“Tidak, Ki Sanak. Tidak...” bukan saja suara Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya “Sudah aku katakan. Aku bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya”

“Kenapa kau sampai hati memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan darahnya serasa berhenti mengalir.

“Kenapa?” orang itu mengguncang tubuh Wisesa “Apa yang kau kehendaki sebenarnya?”

Wisesa tidak dapat berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulurnya adalah, “Ampun. Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana.”

“O. Jadi kau dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami menghukumnya...” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu. Sementara orang yang lain berkata, “Kita bawa anak itu. Biar ia berbicara di hadapan Manggada dan Laksana."

Wisesa menjadi semakin ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga iapun telah jatuh berlutut sambil merengek, “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun. Aku bermaksud baik...”

“Baik buat siapa?” bentak orang itu. Wisesa benar-benar telah menangis.

Orang yang tinggal di sebelah jalan, telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan. Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan Laksana.

Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong Wisesa, maka anak itupun telah jatuh terlentang.

“Bangun anak cengeng...” bentak orang itu.

Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah, Kepalanya tunduk, sementara ia masih saja menangis ketakutan.

“Baiklah anak cengeng...” berkata orang itu “Kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka kaulah yang akan dihukum....”

Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati Wisesa. ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri.

Sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itupun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka.

Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan Wisesa.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba, bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana.

“Gila anak itu...” desis orang di sebelah jalan. “Ia tidak memikirkan akibatnya. Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.”

Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya.

“Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu semakin gelisah.

Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya. Tetapi seperti dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Bahkan tetangganya itu berkata,

“Manggada dan Laksana juga gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak mereka itu.

Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanyapun segera melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada dan Laksana.

"Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah...” berkata salah seorang dari mereka.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura Gentong berkata, "Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa”

Wira Sabet mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mereka. Karena itu, maka keduanyapun segera minta diri, meninggalkan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata keduanyapun segera mencari Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi. Bertiga mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak,

“Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air”

Tetapi ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang itu membentak pula “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan mendapat tugas lain”

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan membawanya ke sumur. Demikian orang tua itu pergi, maka salah seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu berkata,

“Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar, bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak ini”

“Siapa namanya?” bertanya Manggada.

“Kami tidak menanyakannya. Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua”

“He?” Laksana dengan serta-merta bertanya, “gadis yang mana yang kau maksud?”

“Kami tidak tahu”

Namun Laksana pun tertawa. Katanya, “Tentu Wisesa”

“Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan beberapa orang anak muda untuk membantunya”

“Setan anak itu. Jadi apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada.

“Aku akan membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian”

Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis “Orang tua itu telah kembali”

Manggada menarik nafas. Katanya, “Kau dapat menakut-nakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun. Tetapi kau tidak usah menyakitinya.”

“Besok aku masih akan pergi ke padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi” berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun yang kemudian membawa Laksana dan Manggada ke dalam barak itu. Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat, orang itu mulai membentak lagi, “Cepat. Sebelum Pideksa melihat, kandang ini harus sudah bersih...”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian telah mengambil sapu lidi unluk membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih. Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itupun segera meninggalkan kandang kuda itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan kuda.

“Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba mengajariku” berkata orang tua itu.

“Ki Carang Aking....” desis Manggada “Ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami.”

“Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar.

Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu, sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya,

“Kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna.”

“Mudah-mudahan Ki Pandi datang malam nanti”

Ketiganya kemudian berhenti berbicara ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya. Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata, “Kalian telah bekerja dengan rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima kasih anak muda.”

Manggada mengangguk hormat sambil menjawab “Itu sudah kewajiban kami”

Orang itu tertawa. Katanya “Aku akan pergi sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya”

Manggada dan Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda orang ilu serta memasang pelananya pula. Namun demikian Laksana menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata, “Membungkuklah anak muda.”

Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali lagi orang itu berkata, “Membungkuklah disini”

Manggada tidak bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggadapun telah membungkuk di sebelah orang itu. Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil berkata, “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak”

Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa kaki orang itu menapak di punggungnya. Ternyata Manggada telah dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya.

Manggada mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya, Manggada berusaha menahan hatinya. Namun ia masih terkejut lagi ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda.

Demikian kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi Manggada tidak jatuh terguling. Suara tertawa orang itu masih terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya.

“Orang gila...” geram Manggada “Hampir saja aku patahkan lehernya”

“Kau masih harus menahan diri” berkata Ki Carang Aking.

Manggada mengangguk-angguk. Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu, “Apakah benar bahwa yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?”

Orang tua itu mengangguk. Katanya, “Ya. Ia adalah orang yang paling kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan sikap hatinya. Kita memang harus berhati-hati terhadapnya”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu. Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak bengis dan kasar.

Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi iapun tidak berbuat apa-apa ketika Laksana menyerahkan kendali kudanya. Demikian orang itu menerima kendali kudanya, maka iapun segera meloncat naik dan meninggalkan kandang kuda itu.

“Ia tidak banyak berbicara...” berkata Sampar.

“Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya” berkata Laksana.

Sampar tertawa. Katanya “Ya. Agaknya memang demikian”

Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai persediaan. Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama.

“Kita memang harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya nampak tua dan lemah itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksanapun berkata, “Tetapi apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk melakukannya?”

“Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa waktu yang panjang. Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum kembali ke kandangnya. Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali.

Tetapi ternyata Ki Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat seperti itu masih belum perlu diawasi dengan ketat.

Tetapi baik Ki Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu.

Sebenarnyalah bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Di padukuhan ada beberapa orang yang dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi.

“Berapa orang?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri”

“Selain itu ada Ki Pandi...” desis Ki Carang Aking.

“Dan Ki Carang Aking.” sahut Ki Pandi.

“Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?” bertanya Ki Carang Aking. “Bukankah keduanya dapat membantu menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula, “Ada dua orang kemenakanku disini”

“Kemanakan?” bertanya Ki Pandi.

“Mereka juga menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Carang Aking “Tetapi aku berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan gerombolan ini.”

“Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada.

“Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini” jawab Ki Carang Aking.

“Apakah aku pernah melihat mereka berdua?” bertanya Laksana ragu.

“Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini.”

“Yang mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya.

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kalian memang jarang berhubungan langsung. Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya memang agak kurang lengkap penalarannya”

“Oh...” Manggada dan Laksana hampir berbareng menyahut.

Sementara itu Laksanapun berkata, “Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali”

“Sebagaimana angger berdua...” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum.

Ki Pandipun tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kita mempunyai harapan.”

“Ya!” jawab Ki Carang Aking “Disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya. Ki Sapa Aruh yang mudah-mudahan tidak menyeret orang lain lagi di dalam barak ini.”

“Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuannya.” berkata Ki Pandi.

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu.

“Tentu Sura Gentong dan Pideksa...” berkata Ki Carang Aking. Orang tua itupun kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana, sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap untuk bersembunyi, apabila perlu.

Namun agaknya Sura Gentong dan Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat.

Demikian Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanyapun segera kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka dengan Ki Pandi.

Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu, Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang.

“Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati” berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa orang yang mendapat pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.” meskipun demikian iapun berkata pula “Tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain.”

“Aku sudah berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar dari biji sawi itu...”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari kegelisahan yang berkepanjangan.

Ki Pandipun kemudian telah minta diri. Namun Manggada pun berpesan, “Besok kami berharap Ki Pandi untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan tentang barak ini...”

“Baiklah...” berkata Ki Pandi “Besok pada saat seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat. Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti aku harus menunda beberapa saat...”

“Jadi kami harus menutup pintu bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ya...!” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kami dapat memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?”

“Berbicaralah agak keras sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika kalian bertiga dicekik hantu disini...” berkata Ki Pandi....
Selanjutnya,
SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN BAGIAN 15

Sejuknya Kampung Halaman Bagian 14

Arya Manggada - Sejuknya Kampung Halaman Bagian 14
Karya : Singgih Hadi Mintardja


Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
WISESA menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Wisesa itupun berkata, “Sudahlah. Lupakan saja bibit pohon kemuning itu. Tetapi yang aku minta kemudian, bantu aku, agar kakakmu tidak menjerumuskan kawan-kawan kita ke dalam kesulitan...”

“Aku sependapat dengan kakang Sampurna. Aku juga mendorong agar ia melakukannya.” sahut Tantri.

“Tantri, kau jangan sekedar menuruti perasaan. Aku tahu bahwa perempuan memang lebih condong kepada perasaannya dari pada penalarannya. Tetapi yang akan terjadi adalah jatuhnya korban. Tidak hanya satu atau dua orang. Mungkin lima, tujuh atau bahkan sepuluh orang anak muda Gemawang.”

“Wisesa...” jawab Tantri “Dengar baik-baik. Untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan. Jika kau sudah pernah mendengar sukurlah. Jika belum, sebaiknya kau sekarang mendengarnya.”

“Tantri” sahut Wisesa “Kau mulai meremehkan aku.”

“Itu tergantung kepada sikapmu sendiri. Apakah kau pantas dijunjung tinggi atau diremehkan. Bahkan kau selalu saja menghambat segala usaha untuk memulihkan keadaan padukuhan ini.”

“Tantri, kau jangan asal menuduh. Aku sudah melahirkan gagasan-gagasan besar yang sangat berharga bagi padukuhan kita ini. Tetapi ayahmu dan kedua anak muda yang tertangkap itu tidak mampu melaksanakannya. Itu bukan salahku. Jika gugasanku itu mampu mereka laksanakan, maka tidak akan ada korban yang bakal jatuh.”

“Ada Wisesa...” jawab Tantri.

“Tidak. Tidak ada benturan kekerasan...”

“Korbannya setidak-tidaknya aku. Kemudian keluargaku dan jika kau mempunyai kesadaran yang tinggi dan merasa ikut memiliki, adalah padukuhan Gemawang. Aku akan diambil oleh Sura Gentong, karena ia merasa kehilangan bakal isterinya, perempuan yang akan dilarikannya itu disini. Kemudian dendamnya kepada ayah dan keluarga ini. Selanjutnya, seisi padukuhan akan dimilikinya. Sementara kau bermimpi dengan gagasan-gagasanmu itu.”

Wisesa mengerutkan dahinya. Sementara Tantri berkata selanjutnya “Sebaiknya kau tidak usah datang lagi kemari, Wisesa.”

“Tantri...“ keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

“Aku lebih menghormati anak-anak muda seperti Manggada dan Laksana. Atau justru mereka yang mengungsi meninggalkan padukuhan ini daripada kau.”

“Jangan begitu Tantri. Jika kau tidak sependapat dengan aku, itu tidak apa-apa. Tetapi kau jangan bersikap seperti itu.”

“Setidak-tidaknya untuk sementara Wisesa. Aku minta maaf, bahwa dalam keadaan yang kemelut ini, jalan pikiran kita tidak sejalan. Entahlah kelak jika segala sesuatunya telah teratasi.”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Ketika sekilas ia memandang wajah Tantri, maka Tantri juga sedang memandanginya dengan tajamnya, sehingga Wisesa itu menundukkan kepalanya.

Karena Wisesa tidak menjawab, maka Tantri berkata, “Aku tidak bermaksud mengusirmu Wisesa. Tetapi jika kita berbicara lebih banyak lagi, maka perbedaan sikap kita akan menjadi semakin jelas. Karena itu, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Mudah-mudahan kau sempat merenunginya dan bangkit bersama anak-anak muda yang lain.”

Jantung Wisesa memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Nampaknya Tantri sudah mengambil keputusan yang pahit baginya.

“Jika kau akan pulang, maka aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu seketheng. Aku harap jalan pikiranmu segera berubah.”

Meskipun Tantri menganggap Wisesa tidak berperasaan, namun anak muda itu masih dapat mengerti, bahwa sebaiknya ia pulang saja. Tetapi apa yang diharapkan oleh Tantri, bahwa Wisesa akan berubah pendapatnya, yang terjadi justru sebaliknya. Wisesa merasa bahwa sebab dari sikap Tantri itu adalah kedua orang anak muda yang kini berada di tangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Jika benar Laksana dapat mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, namun kemudian keduanya telah dibawa kesarang mereka, tentu ada maksud-maksud tertentu pada Manggada dan Laksana. Bahkan mungkin mereka bekerja sama dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu sendiri” berkata Wisesa kepada diri sendiri.

Ternyata pikiran buruk telah tumbuh di dalam jantungnya. Wisesa tidak ingin bahwa Tantri mengagumi Manggada atau Laksana. Atau bahkan kedua-duanya. Karena itu, maka Wisesa berniat untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong jika mereka datang ke padukuhan itu. Menurut kata beberapa orang, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang sudah mulai berkeliaran lagi di padukuhan Gemawang.

Sementara itu, Ki Pandi yang mengikuti perkembangan keadaan barak Wira Sabet dan Sura Gentong, telah berhasil berhubungan dengan Manggada dan Laksana. Karena keduanya dinilai tidak berbahaya lagi, serta atas usaha Pideksa yang masih dipengaruhi sisa-sisa kenangan masa kanak-kanaknya, maka Manggada dan Laksana telah diperkenankan tidur di sebuah barak kecil bersama Sampar atau yang dikenal oleh Ki Pandi. Ki Carang Aking.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya. Menjelang malam, maka Manggada yang sedang menimba air disumur tidak terlalu jauh dari dinding barak, telah bersenandung dengan lagu yang dikenal benar oleh Ki Pandi. Isyarat itulah yang memungkinkan Ki Pandi dapat bertemu dengan Manggada dan Laksana tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Bahkan Ki Pandi berhasil masuk bukan saja ke dalam lingkungan dinding barak, tetapi masuk ke dalam barak kecil, yang dipergunakan bagi Sampar, Manggada dan Laksana.

Pertemuan Ki Pandi dengan Ki Carang Aking adalah pertemuan dari dua orang yang sudah saling mengenal dengan baik, namun yang sudah cukup lama tidak bertemu.

“Ki Sapa Aruh memang jarang berada di barak ini” berkata Sampar yang sehari-hari nampak tua dan lemah. Tetapi di dalam baraknya meskipun wajahnya tetap membayangkan umurnya yang tua, tetapi ia nampak tegar dan kuat.

“Apakah tidak dapat diketahui, kapan ia berada disini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Jika Ki Sapa Aruh datang ke barak ini, ia tidak akan terlalu lama disini. Untungnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu menghiraukan kami yang disebut budak-budak. Jika saja ia tertarik untuk bertemu dan berbicara dengan kami sekali dua kali, agaknya memang sulit untuk menyembunyikan diri lagi” jawab Sampar yang dikenal oleh Ki Pandi dengan sebutan Ki Carang Aking.

Ki Pandi itupun mengangguk-angguk. Kepada Manggada dan Laksana iapun berpesan, “Jika demikian, maka kalian berdua harus berhati-hati. Jika orang itu berada di barak ini, kalian berdua harus berusaha untuk menghindarinya. Aku yakin jika Ki Carang Aking masih mempunyai kemampuan untuk menghindari penglihatan Ki Sapa Aruh. Tetapi kalian berdua tentu akan mengalami kesulitan”

Manggada dan Laksana itupun mengangguk kecil, sementara Ki Pandipun berkata, “Karena kemungkinan itu, maka sebaiknya kalian tidak terlalu lama berada disini”

“Jika mereka pergi, akupun harus pergi.” berkata Ki Carang Aking. “Jika tidak, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Bagaimana dengan Wira Sabet?” bertanya Ki Pandi.

"Meskipun termasuk orang yang garang, tetapi Wira Sabet dan anaknya tidak segarang Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya”

“Baiklah, Ki Carang Aking. Mudah-mudahan Ki Jagabaya dan Sampurna berhasil membangunkan orang-orang Gemawang yang masih tertidur nyenyak” berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka lewat tengah malam, Ki Pandipun dengan hali-hati meninggalkan bilik Ki Carang Aking. Sebagaimana ia masuk, maka iapun berhasil keluar dari barak itu tanpa diketahui oleh para penjaga barak itu.

Hubungan itu telah menenangkan keluarga Manggada dan Laksana. Meskipun kecemasan masih tetap ada di antara mereka, karena setiap saat orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu akan datang.

Ketika Sampurna kemudian datang menghubungi keluarga Manggada dan Laksana, maka Sampurna pun mendapat keterangan tentang kedua orang anak muda yang berada di dalam barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Sasaran mereka kemudian bukan sekedar dendam atas padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen. Tetapi nampaknya bagi Ki Sapa Aruh dan para pemimpin yang lain, sasaran akan lebih jauh lagi. Sebagaimana sekarang ternyata bahwa barak itu telah menjadi sarang sekelompok perampok dan penyamun yang ganas!” berkata Ki Pandi. Namun Ki Pandi itupun berkata selanjutnya, “Tetapi untuk beberapa hari, agaknya masih cukup aman bagi Manggada dan Laksana berada di barak itu”

Sampurna mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Aku melihat, ada perubahan sikap dari anak-anak muda di padukuhan ini selelah Manggada dan Laksana menyerahkan diri. Meskipun ada juga sikap yang justru sebaliknya, yang menganggap bahwa sikap Manggada dan Laksana itu justru akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru”

“Pendapat di padukuhan ini untuk sementara memang akan dapat terpecah. Tetapi jika kita dapat mengatasi bayangan hitam Wira Sabet dan Sura Gentong, maka keadaannya tentu akan segera menjadi baik” berkata Ki Kertasana.

“Mudah-mudahan kita dapat segera mengatasinya...“ berkata Sampurna kemudian pagi ini ayah masih menghubungi Ki Bekel. Bagaimanapun juga ayah masih berharap, bahwa Ki Bekel dapat bangkit. Pengaruhnya akan menjadi cukup besar”

“Mudah-mudahan usaha Ki Jagabaya itu juga akan berhasil, ngger” berkata Ki Kertasana kemudian.

Dengan keterangan itu, maka Sampurna menjadi semakin mantap. Ia berharap bahwa segala usaha tidak akan menjadi sia-sia. Namun dengan nada dalam Sampurnapun menyatakan kecemasannya, bahwa korban akan banyak yang berjatuhan. Anak-anak muda Gemawang akan menjadi gampang jika mereka benar-benar harus berkelahi melawan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang sudah berpengalaman serta memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan.

“Kita memang tidak dapat membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang berilmu dalam waktu yang sangat singkat, ngger. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan jika hal seperti itu benar-benar akan terjadi”

“Bagaimana mungkin kita dapat memberikan petunjuk kepada mereka? Akhir-akhir ini, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong sudah mulai nampak lagi berkeliaran meskipun mereka belum mengambil tindakan-tindakan baru yang dapat membuat orang-orang Gemawang semakin ketakutan”

“Kita akan memikirkan satu cara yang paling baik.” berkata Ki Kertasana “Jika perlu, kita membagi diri. Kitalah yang akan datang kepada anak-anak muda yang menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang membebaskan padukuhan ini dari ketakutan dan kecemasan. Kita minta dua atau tiga orang anak muda untuk berkumpul di salah satu rumah di antara mereka. Kemudian salah seorang dari kita akan datang. Kita dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang penting. Setidak-tidaknya bagaimana cara mereka berlindung di antara orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan disaat-saat yang paling gawat dalam pertempuran. Namun dalam keadaan yang memungkinkan mereka dapat membantu mengurangi tekanan lawan. Tetapi memang tidak mungkin untuk menghindari korban yang bakal jatuh.”

Sampurna sependapat dengan jalan pikiran Ki Kertasana meskipun dengan demikian mereka akan menjadi sangat sibuk. Tetapi kesibukan itu masih akan mungkin disembunyikan dari penglihatan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Ya. Memang berbeda dengan apabila kita mengumpulkan anak-anak muda itu di satu tempat. Apalagi lebih dari sepuluh orang” berkata Sampurna.

Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Jagabaya, Sampurna telah mulai dengan langkah-langkah yang nyata. Kedua orang anak muda yang pernah datang kepadanya, telah membantunya.

Akhirnya Sampurna mendapat dukungan dari beberapa orang anak muda padukuhan Gemawang. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi justru keberanian mereka menentang pendapat sebagian besar orang-orang Gemawang, bahwa usaha untuk melawan Wira Sabet dan Sura Gentong hanya akan menimbulkan malapetaka, telah menyatakan kesungguhan dan kemantapan niat mereka.

Dengan sangat berhati-hati mereka telah menetapkan tempat-tempat berkumpul kelompok-kelompok yang sangat kecil, yang terdiri hanya oleh dua atau tiga orang.

Sementara itu, sebagaimana direncanakan, maka beberapa orang yang dianggap memiliki ilmu, justru datang kepada mereka untuk memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus mereka lakukan, jika mereka harus bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tugas itu memang melelahkan. Ki Jagabaya sendiri, Sampurna, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan bahkan Ki Pandi telah ikut pula membantu mereka, mendatangi rumah-rumah yang telah ditentukan. Mereka juga menuntun bagaimana sebaiknya mereka memegang senjata, mengayunkannya, menangkis dan menghindar.

Mereka juga memberi tahukan, bahwa jika keadaan memaksa, jangan nietasa malu untuk bergeser mundur, bahkan berlari-lari untuk mencuri perlindungan di antara pertempuran yang sedang berlangsung. Namun merekapun memberitahukan pula, bahwa mereka akan mendapat kesempatan menyerang mereka yang sedang usik mengejar lawannya.

Namun yang lebih penting lagi bagi mereka yang datang kepada kelompok-kelompok kecil itu adalah justru mendorong keberanian mereka untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman.

Memang tidak banyak yang dapat diharapkan dalam waktu yang singkat itu. Meskipun setiap hari, orang-orang yang memiliki bekal ilmu itu harus berkunjung dua tiga kali di tempat-tempat yang ditentukan, namun mereka tidak dapat dengan serta merta membuat anak-anak muda itu berkemampuan tinggi.

Namun demikian, maka mereka memperkenalkan jenis-jenis senjata dan penggunaannya, maka mereka berharap untuk dapat mengurangi korban yang jatuh dari antara anak-anak muda itu.

Sementara itu, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong telah mulai menakut-nakuti orang padukuhan Gemawang lagi. Dua orang di antara mereka telah berkeliaran di padukuhan tanpa ada orang yang mengganggu.

Dalam pada itu, Wisesa yang otaknya dicengkam oleh niat buruk terhadap Manggada dan Laksana, karena setiap kali Tantri memuji mereka, benar-benar ingin menemui kedua orang itu. Betapapun ia dicengkam ketakutan, tetapi ia telah memaksa dirinya untuk melakukannya. Perasaan dengki yang membakar jantungnya itu tidak dapat lagi disingkirkannya.

Demikianlah, ketika Wisesa melihat seseorang berjalan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa dua orang pengikut Wira Sabet datang lagi ke padukuhan mereka, maka Wisesapun telah memaksa dirinya untuk menemui keduanya. Kedua orang itu terkejut melihat seorang anak muda dengan sengaja menemuinya. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri.

Tetapi Wisesa sama sekali tidak menunjukkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Bahkan masih berjarak beberapa langkah, Wisesa berhenti sambil membungkuk hormat.

“Ampun Ki Sanak...” berkata Wisesa “Aku tidak bermaksud apa-apa”

Kedua orang itu telah mengambil jarak. Seorang di antara mereka bertanya dengan suara serak “Kau mau apa?”

“Ampun Ki Sanak. Aku ingin memberikan keterangan yang mungkin berarti bagi Ki Sanak.”

“Keterangan apa?” bertanya orang itu lagi. Wisesapun memandang keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada orang yang turun ke jalan. “Ki Sanak!” berkata Wisesa “Aku ingin memberitahukan, bahwa ada yang tidak wajar pada Manggada dan Laksana”

Kedua orang itu nampak terkejut. Bahkan seorang di antara mereka telah melangkah maju mendekati Wisesa. Sikap orang itu membuat Wisesa ketakutan. Karena itu, maka sambil terbungkuk-bungkuk hormat ia berkata,

“Ampun, Ki Sanak. Ampun. Aku bermaksud baik...”

“Katakan, apa yang tidak wajar itu...” bentak orang itu.

“Menurut ceritera orang, ketika Mangada Laksana dan Sampurna berkuda berkeliling padukuhan itu dan bertemu dengan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, mereka telah berselisih dan berkelahi”

“Kau hanya menyebut namanya saja Wira Sabet dan Sura Gentong?” geram orang itu.

“Maksudku, paman Wira Sabet dan paman Wira Gentong” Wisesa menjadi gagap.

“Teruskan...” desak orang itu.

“Dalam perkelahian itu, Laksana sendiri dapat mengalahkan ketiga orang pengikut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” Wisesa meneruskan.

“Apa? Laksana mampu mengalahkan tiga orang kawan kami?” bertanya orang itu dengan nada tinggi.

Wisesa menjadi ragu-ragu. Ia melihat seakan-akan ada nyala api di mata kedua orang itu. “Hanya menurut kata orang...” jawab Wisesa dengan kaki gemetar.

“Setan kau geram yang seorang lagi” berani benar kau mengatakan bahwa tiga orang kawan kami kalah oleh seorang anak muda. He, jika kau belum tahu, dengarlah, Laksana dan Manggada sekarang menjadi tawanan kami”

“Itulah yang ingin aku katakan...” suara Wisesa menjadi terputus-putus. Namun ia berkata selanjutnya “Justru karena Laksana memenangkan perkelahian itu, namun keduanya menjadi tawanan. Jika benar hal itu terjadi, bukankah berarti ada semacam permainan yang harus diperhatikan?”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu. Sementara Wisesa yang merasa sedikit mendapat angin meneruskan,

“Bukankah hal itu sangat tidak wajar, jika benar-benar telah terjadi?”

“Kau lihat sendiri perkelahian itu?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Tidak, Ki Sanak, tetapi demikian kata orang. Aku mohon Ki Sanak berhati-hati dengan kedua orang itu. Mereka benar-benar licik. Mungkin mereka mempergunakan uang atau benda-benda berharga lainnya untuk melakukan rencananya”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Wisesa berkata pula, “Selain daripada itu, ternyata Sampurna di padukuhan ini berhasil mempengaruhi beberapa orang anak muda. Meskipun sampai saat ini jumlahnya belum begitu banyak, tetapi semakin lama tentu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, sebaiknya paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong menjadi lebih berhati-hati”

“Anak muda...” salah seorang dari kedua orang itu menggeram sambil melangkah mendekat. Ketika orang itu kemudian memegangi baju Wisesa, maka rasa-rasanya jantung Wisesa terlepas dari tangkainya. “Kau jangan mengigau. Apakah kau bermaksud menakut-nakuti kami?”

“Tidak, Ki Sanak. Tidak...” bukan saja suara Wisesa yang gemetar, tetapi juga tubuhnya “Sudah aku katakan. Aku bermaksud baik. Aku berkata sebenarnya”

“Kenapa kau sampai hati memberi tahukan kepada kami tentang hal seperti itu? Bukankah itu berarti satu pengkhianatan bagi kawan-kawanmu sendiri?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Wajah Wisesa menjadi pucat dan darahnya serasa berhenti mengalir.

“Kenapa?” orang itu mengguncang tubuh Wisesa “Apa yang kau kehendaki sebenarnya?”

Wisesa tidak dapat berpikir lagi. Yang kemudian terlontar dari mulurnya adalah, “Ampun. Aku tidak berkhianat. Tetapi aku tidak tahan mendengar gadis yang aku inginkan selalu mengagumi Manggada dan Laksana.”

“O. Jadi kau dengan licik ingin memenangkan persainganmu untuk memperebutkan seorang gadis? Kau telah memfitnah kawan-kawanmu itu, agar kami menghukumnya...” berkata orang yang memegangi baju Wisesa itu. Sementara orang yang lain berkata, “Kita bawa anak itu. Biar ia berbicara di hadapan Manggada dan Laksana."

Wisesa menjadi semakin ketakutan. Kakinya serasa menjadi lemah, sehingga iapun telah jatuh berlutut sambil merengek, “Ampun. Jangan bawa aku. Aku mohon ampun. Aku bermaksud baik...”

“Baik buat siapa?” bentak orang itu. Wisesa benar-benar telah menangis.

Orang yang tinggal di sebelah jalan, telah mendengar tangis Wisesa. Merekapun mendengar dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong membentak-bentak meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan. Namun mereka mendengar orang-orang itu menyebut nama Manggada dan Laksana.

Namun, apapun yang terjadi, orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi akhirnya pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu melepaskan baju Wisesa. Ketika orang itu mendorong Wisesa, maka anak itupun telah jatuh terlentang.

“Bangun anak cengeng...” bentak orang itu.

Dengan susah payah Wisesa berusaha untuk bangkit dan duduk di tanah, Kepalanya tunduk, sementara ia masih saja menangis ketakutan.

“Baiklah anak cengeng...” berkata orang itu “Kami akan kembali ke tempat tinggal kami. Kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika kau berkata sebenarnya, kami akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Tetapi jika kau berbohong, maka kaulah yang akan dihukum....”

Seberkas harapan telah tumbuh lagi dihati Wisesa. ia berharap bahwa orang itu berhasil mengetahui rahasia Manggada dan Laksana, sehingga keduanya akan mendapat hukuman sehingga mereka kelak tidak akan lagi dikagumi oleh Tantri.

Sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itupun meninggalkan padukuhan Gemawang kembali ke barak mereka.

Sementara itu, salah seorang yang tinggal di sebelah jalan ternyata telah memberanikan diri, merayap mendekati dinding rumahnya yang menghadap ke jalan. Ia berusaha untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu dengan Wisesa.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi keduanya dapat meraba, bahwa Wisesa telah mengadukan Manggada dan Laksana.

“Gila anak itu...” desis orang di sebelah jalan. “Ia tidak memikirkan akibatnya. Manggada dan Laksana yang telah melakukan tindakan yang aneh itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat buruk, karena mereka sengaja menyerahkan diri justru setelah Laksana memenangkan perkelahian melawan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.”

Orang itu justru menjadi gelisah. Tetapi ketakutan yang mencengkam jantungnya, membuatnya kebingungan. Apa yang harus dilakukannya.

“Kenapa Wisesa itu memberitahukan hal itu kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” pertanyaan itu telah membuat orang itu semakin gelisah.

Dalam kegelisahan orang itu telah pergi ke rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya. Tetapi seperti dirinya sendiri, tetangganya itu juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Bahkan tetangganya itu berkata,

“Manggada dan Laksana juga gila. Kenapa ia menyerahkan dirinya jika Laksana telah memenangkan perkelahian melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Akhirnya keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu, kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu langsung kembali ke baraknya. Pemberitahuan Wisesa itu telah menjadi bahan pembicaraan keduanya di sepanjang jalan kembali ke barak mereka itu.

Ketika keduanya sampai di barak, maka keduanyapun segera melaporkan hasil pengamatan mereka atas padukuhan Gemawang. Namun keduanya masih belum melaporkan pengaduan Wisesa tentang Manggada dan Laksana.

"Nampaknya segala sesuatunya masih tidak berubah...” berkata salah seorang dari mereka.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang mendengarkan laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada keras Sura Gentong berkata, "Setiap hari kita harus melihat perkembangan keadaan di padukuhan Gemawang. Aku sudah tidak sabar lagi. Kita tinggal menunggu Ki Sapa Aruh. Demikian ia datang, maka kita akan segera bertindak. Semakin banyak kita memberi kesempatan, maka Ki Jagabaya akan menjadi semakin berani. Ia tentu mengira bahwa kita hanya banyak berbicara saja tanpa berbuat apa-apa”

Wira Sabet mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya lebih dahulu. Demikian Ki Sapa Aruh datang, maka kita sudah siap. Pagi, siang atau malam kita dapat segera berangkat”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak lagi berkepentingan dengan pembicaraan tentang persiapan para penghuni barak itu. Mereka akan berbicara dengan saudara-saudara seperguruan mereka. Karena itu, maka keduanyapun segera minta diri, meninggalkan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata keduanyapun segera mencari Manggada dan Laksana, yang dipekerjakan di kandang kuda. Namun sebelumnya keduanya telah mengajak seorang kawannya lagi. Bertiga mereka menemui Manggada dan Laksana di kandang kuda. Namun sebelum mereka berbicara, orang tua yang disebut Sampar telah diminta oleh salah seorang di antara mereka mengambil air sambil membentak,

“Beginikah caranya kalian memberi makan kuda? Jika kalian memberinya rendeng dan dedak padi, maka airnya harus lebih banyak lagi agar kuda-kuda itu tidak terlalu sulit menelannya. Kecuali jika kalian memberi makan rumput segar, maka kalian tidak perlu air”

Tetapi ketika Manggada memungut kelenting untuk mengambil air, maka orang itu membentak pula “Biar orang tua yang malas itu. Kalian akan mendapat tugas lain”

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun orang tua itulah yang kemudian mengambil kelenting itu dan membawanya ke sumur. Demikian orang tua itu pergi, maka salah seorang dari kedua orang yang kembali dari padukuhan Gemawang itu berkata,

“Manggada dan Laksana. Aku baru saja kembali dari Gemawang untuk melakukan tugas-tugasku sebagaimana biasa. Di Gemawang kami bertemu dengan seorang anak muda yang memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi dengan kalian berdua. Anak muda itu tahu benar, bahwa kalian hanya berpura-pura saja menyerah dan kami bawa ke barak ini”

“Siapa namanya?” bertanya Manggada.

“Kami tidak menanyakannya. Tetapi ia anak cengeng. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahan mendengar seorang gadis yang ia inginkan mengagumi kalian berdua”

“He?” Laksana dengan serta-merta bertanya, “gadis yang mana yang kau maksud?”

“Kami tidak tahu”

Namun Laksana pun tertawa. Katanya, “Tentu Wisesa”

“Ia juga mengatakan bahwa Sampurna telah berhasil meyakinkan beberapa orang anak muda untuk membantunya”

“Setan anak itu. Jadi apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Manggada.

“Aku akan membungkamnya. Untung ia melaporkannya kepadaku. Jika pada suatu saat ada kawan kami yang lain mendapat laporan pula, maka itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kami, tetapi juga bagi kalian”

Manggada masih akan menjawab. Tetapi orang itu berdesis “Orang tua itu telah kembali”

Manggada menarik nafas. Katanya, “Kau dapat menakut-nakutinya agar ia tidak berbicara lagi dengan siapapun. Tetapi kau tidak usah menyakitinya.”

“Besok aku masih akan pergi ke padukuhan. Tetapi pada suatu saat, tentu orang lain yang akan pergi” berkata orang itu, orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, namun yang kemudian membawa Laksana dan Manggada ke dalam barak itu. Orang itu mengangguk-angguk. Namun ketika orang tua itu mendekat, orang itu mulai membentak lagi, “Cepat. Sebelum Pideksa melihat, kandang ini harus sudah bersih...”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian telah mengambil sapu lidi unluk membersihkan kandang yang sebenarnya sudah bersih. Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itupun segera meninggalkan kandang kuda itu, sementara Sampar tengah menuang air bersih pada kotak makanan kuda.

“Aku sudah terbiasa memberi makan kuda dengan rendeng yang dipotong lembut dengan dedak. Aku sudah terbiasa dengan takaran air yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saja orang-orang dungu itu mencoba mengajariku” berkata orang tua itu.

“Ki Carang Aking....” desis Manggada “Ternyata ada sesuatu yang dikatakan orang-orang itu kepada kami.”

“Apa?” bertanya orang tua yang di barak itu dipanggil Sampar.

Manggada dan Laksanapun kemudian berceritera kepada orang tua itu, sebagaimana dikatakan oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya,

“Kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu. Sebaiknya kalian beritahukan kepada Ki Pandi, agar ia berhubungan dengan Sampurna.”

“Mudah-mudahan Ki Pandi datang malam nanti”

Ketiganya kemudian berhenti berbicara ketika seorang saudara seperguruan Wira Sabet datang. Seorang yang berwajah tampan dengan senyum yang banyak nampak menghiasi bibirnya. Sambil menepuk bahu Manggada ia berkata, “Kalian telah bekerja dengan rajin disini. Kau juga telah memelihara kudanya dengan baik. Terima kasih anak muda.”

Manggada mengangguk hormat sambil menjawab “Itu sudah kewajiban kami”

Orang itu tertawa. Katanya “Aku akan pergi sebentar. Sediakan kudaku. Pasang pula pelananya”

Manggada dan Laksanapun kemudian menjadi sibuk. Mereka segera mengeluarkan kuda orang ilu serta memasang pelananya pula. Namun demikian Laksana menuntun kuda itu mendekat, maka orang itu sambil tersenyum dan sekali lagi menepuk bahu Manggada berkata, “Membungkuklah anak muda.”

Manggada menjadi bingung. Ia tidak tahu maksud orang itu. Sekali lagi orang itu berkata, “Membungkuklah disini”

Manggada tidak bertanya. Tanpa diketahui maksudnya, Manggadapun telah membungkuk di sebelah orang itu. Tetapi orang itu menekan punggung Manggada sambil berkata, “Terlalu tinggi. Membungkuklah seperti orang yang merangkak”

Manggada telah melakukannya pula meskipun dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian Manggada melakukannya, maka ia merasa kaki orang itu menapak di punggungnya. Ternyata Manggada telah dipergunakannya alas untuk naik kepunggung kudanya.

Manggada mengumpat di dalam hati. Hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Namun ketika ia memandang wajah Ki Carang Aking serta kedip matanya, Manggada berusaha menahan hatinya. Namun ia masih terkejut lagi ketika orang itu tertawa sambil menggerakkan kendali kuda.

Demikian kudanya mulai berlari, tangan orang itu telah mendorong kepala Manggada sehingga Manggada terhuyung-huyung beberapa langkah. Tetapi Manggada tidak jatuh terguling. Suara tertawa orang itu masih terdengar, sementara kudanya berlari di antara bangunan bambu di barak itu dan kemudian hilang di belakang sudutnya.

“Orang gila...” geram Manggada “Hampir saja aku patahkan lehernya”

“Kau masih harus menahan diri” berkata Ki Carang Aking.

Manggada mengangguk-angguk. Sementara, Laksana bertanya kepada orang tua itu, “Apakah benar bahwa yang nampaknya selalu tersenyum itu adalah orang yang paling garang di antara saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong?”

Orang tua itu mengangguk. Katanya, “Ya. Ia adalah orang yang paling kasar dan paling garang. Ujud lahiriahnya ternyata tidak menunjukkan sikap hatinya. Kita memang harus berhati-hati terhadapnya”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mulai merasakan sikap yang kasar dan sama sekali tidak menghargai orang lain itu. Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak. Seorang lagi saudara seperguruan Wira Sabet telah datang ke kandang. Orang yang wajahnya nampak bengis dan kasar.

Manggada dan Laksanapun kemudian telah sibuk mempersiapkan kuda orang itu. Sementara orang itu berdiri saja tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi iapun tidak berbuat apa-apa ketika Laksana menyerahkan kendali kudanya. Demikian orang itu menerima kendali kudanya, maka iapun segera meloncat naik dan meninggalkan kandang kuda itu.

“Ia tidak banyak berbicara...” berkata Sampar.

“Seperti sebuah kedung yang airnya nampak diam. Tetapi tentu kedung yang dalam dan barangkali terdapat beberapa ekor buaya di dalamnya” berkata Laksana.

Sampar tertawa. Katanya “Ya. Agaknya memang demikian”

Sepeninggal orang itu, maka ketiganyapun lelah kembali ke dalam kerja. Membersihkan kandang dan sekitarnya. Mengisi kotak-kotak tempat makanan dan menyimpan rumput segar sebagai persediaan. Namun setelah beberapa hari di tempat itu, maka Manggada dan Laksanapun mengetahui pula, bahwa segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong itu memang segerombolan perampok yang bergerak di daerah yang luas. Sementara itu Ki Sapa Aruh agaknya telah menghubungkan kelompok itu dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki kegiatan yang sama.

“Kita memang harus menghentikannya” berkata Ki Carang Aking yang sehari-harinya nampak tua dan lemah itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksanapun berkata, “Tetapi apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk melakukannya?”

“Nanti malam, mudah-mudahan Ki Pandi benar datang. Kita akan menghitung kekuatan kita agar kita tidak terjebak dalam kesulitan” berkata Ki Carang Aking.

Manggada dan Laksana memang menanti datangnya malam dengan gelisah. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Apa saja sudah mereka kerjakan untuk melupakan kegelisahan mereka. Tetapi rasa-rasanya masih saja tersisa waktu yang panjang. Ketika senja turun, keduanya masih belum dapat beristirahat dengan tenang. Masih ada beberapa ekor kuda yang belum kembali ke kandangnya. Bahkan Pideksa dan pamannya, Sura Gentong yang pergi sejak fajar, masih juga belum kembali.

Tetapi ternyata Ki Pandi tidak menunggu sampai semua kuda terkumpul. Ia memasuki barak tidak lama setelah malam turun. Menurut Ki Pandi, justru saat-saat yang paling aman, karena para peronda menganggap bahwa saat-saat seperti itu masih belum perlu diawasi dengan ketat.

Tetapi baik Ki Pandi maupun Ki Carang Aking tidak menjadi cemas tentang orang-orang yang belum kembali. Mereka akan mendengar derap kaki kuda mendekati kandang sehingga mereka sempat keluar dari bilik mereka sementara Ki Pandi sempat bersembunyi di kolong amben jika perlu.

Sebenarnyalah bahwa Ki Pandi dan Ki Carang Aking telah membuat perhitungan, apakah mereka akan dapat menghentikan segerombolan orang yang dipimpin oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Di padukuhan ada beberapa orang yang dapat diperhitungkan” berkata Ki Pandi.

“Berapa orang?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ki Kertasana, ayah Manggada. Ki Citrabawa, ayah Laksana dan sekaligus gurunya serta guru Manggada. Ki Jagabaya dan anak-anaknya, Sampurna. Menurut beberapa keterangan sebenarnya juga Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel telah dibayangi oleh seribu satu macam keraguan dan kecemasan. Kemudian Manggada dan Laksana sendiri”

“Selain itu ada Ki Pandi...” desis Ki Carang Aking.

“Dan Ki Carang Aking.” sahut Ki Pandi.

“Bagaimana dengan harimau-harimaumu itu?” bertanya Ki Carang Aking. “Bukankah keduanya dapat membantu menakut-nakuti para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” Sambung Ki Carang Aking dan yang kemudian berkata pula, “Ada dua orang kemenakanku disini”

“Kemanakan?” bertanya Ki Pandi.

“Mereka juga menjadi budak disini sebagaimana kami” jawab Ki Carang Aking “Tetapi aku berharap bahwa keduanya akan dapat membantu menghentikan kegiatan gerombolan ini.”

“Sejak kapan mereka ada disini?” bertanya Manggada.

“Bersama dengan aku. Kami bertiga bersama-sama disekap di barak ini” jawab Ki Carang Aking.

“Apakah aku pernah melihat mereka berdua?” bertanya Laksana ragu.

“Tentunya sudah. Mereka adalah anak-anak yang mendapat tugas untuk menyabit rumput bagi kuda-kuda ini.”

“Yang mana?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya.

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kalian memang jarang berhubungan langsung. Keduanya adalah anak-anak cacat. Seorang nampaknya seperti kehilangan kekuatan di separuh tubuhnya, sedang yang lain nampaknya memang agak kurang lengkap penalarannya”

“Oh...” Manggada dan Laksana hampir berbareng menyahut.

Sementara itu Laksanapun berkata, “Ternyata anak-anak muda itu. Kami memang jarang berhubungan langsung. Tetapi mereka nampak meyakinkan sekali”

“Sebagaimana angger berdua...” berkata Ki Carang Aking sambil tersenyum.

Ki Pandipun tertawa pendek. Katanya, “Jika demikian, kita mempunyai harapan.”

“Ya!” jawab Ki Carang Aking “Disini kekuatan yang kami ketahui adalah Wira Sabet dan Sura Gentong bersama empat orang saudara seperguruannya. Ki Sapa Aruh yang mudah-mudahan tidak menyeret orang lain lagi di dalam barak ini.”

“Mudah-mudahan tidak. Aku kira ia juga tidak mau disaingi oleh orang lain yang memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuannya.” berkata Ki Pandi.

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar derap kaki kuda. Lebih dari satu.

“Tentu Sura Gentong dan Pideksa...” berkata Ki Carang Aking. Orang tua itupun kemudian keluar dari biliknya bersama Manggada dan Laksana, sementara Ki Pandi tetap berada di biliknya. Tetapi ia sudah siap untuk bersembunyi, apabila perlu.

Namun agaknya Sura Gentong dan Pideksa itu tidak sempat berlama-lama di kandang. Nampaknya keduanya sangat letih, sehingga keduanya ingin segera beristirahat.

Demikian Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana selesai menyimpan kedua ekor kuda itu serta memberinya minum dan makan, maka keduanyapun segera kembali ke dalam bilik mereka untuk meneruskan pembicaraan mereka dengan Ki Pandi.

Sebelum Ki Pandi kemudian meninggalkan bilik itu, Manggada dan Laksana sempat memberitahukan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bertemu Wisesa di padukuhan Gemawang.

“Sampaikan kepada Sampurna, agar ia menjadi lebih berhati-hati” berkata Ki Carang Aking yang mengikuti pembicaraan itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa orang yang mendapat pengaduan Wisesa adalah orang-orang yang pernah berhubungan dengan Manggada dan Laksana, sehingga pengaduan itu tidak langsung didengar oleh Wira Sabet dan Sura Gentong.” meskipun demikian iapun berkata pula “Tetapi bagaimanapun juga hal itu akan menjadi ancaman bagi persiapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Jika pengaduannya itu tidak segera mendapat tanggapan, mungkin Wisesa akan mengadu lagi. Kemungkinan buruk dapat terjadi karena Wisesa mungkin akan bertemu dan berbicara dengan orang lain.”

“Aku sudah berpesan, agar kedua orang itu besok menemui Wisesa dan mengancamnya untuk tidak berbicara lagi tentang hal itu. Mudah-mudahan mereka berhasil menakut-nakuti Wisesa yang hatinya memang tidak lebih besar dari biji sawi itu...”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun Sampurna memang harus mendapat peringatan agar menjadi lebih berhati-hati. Ki Pandi juga harus mengingat anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk membantu Ki Jagabaya menenangkan padukuhan mereka dari kegelisahan yang berkepanjangan.

Ki Pandipun kemudian telah minta diri. Namun Manggada pun berpesan, “Besok kami berharap Ki Pandi untuk datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami ceriterakan tentang barak ini...”

“Baiklah...” berkata Ki Pandi “Besok pada saat seperti ini aku akan datang lagi. Jika berbahaya, beri aku isyarat. Jika besok saat seperti ini pintu bilikmu ini terbuka lebar, berarti aku harus menunda beberapa saat...”

“Jadi kami harus menutup pintu bilik ini jika kami menganggap keadaan aman?” bertanya Ki Carang Aking.

“Ya...!” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kami dapat memberitahukan kepadamu, jika kebetulan seseorang ada di dalam bilikku dan minta agar bilik ini ditutup?”

“Berbicaralah agak keras sehingga aku dapat mendengar apa yang kalian bicarakan. Kecuali jika kalian bertiga dicekik hantu disini...” berkata Ki Pandi....
Selanjutnya,
SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN BAGIAN 15