Matahari Senja Bagian 06 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Arya Manggada - Matahari Senja Bagian 06
Karya : Singgih Hadi Mintardja


Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
"KI SANAK..." berkata Ki Sambi Pitu "Agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal pula."

"Gila kau Sambi Pitu..." geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Sambi Pitu itu tidak menghiraukannya. Dengan nada rendah ia berkata selanjutnya, "Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?"

"Kiai Banyu Bening tidak membutuhkannya lagi."

"Mereka yang harus bertanggung jawab atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya."

"Kau tidak usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum perguruan Kiai Banyu Bening berdiri."

"Kau tahu, siapakah nama laki-laki itu?" bertanya Ki Sambi Pitu.

Orang itu menggeleng. Katanya "Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut dihadapanmu."

"Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan perjalanan." berkata Ki Sambi Bitu.

"Tidak...” tiba-tiba orang itu membentak "Kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.”

"Aku bunuh kau!" geram Ki Lemah Teles "Kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang tanding."

"Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang tanding?" geram orang berkumis tebal itu "Menyebut namanya saja kau harus mendapat ijin dan palilahnya."

Ki Lemah Teles tertawa. Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis tebal itu. Katanya, "Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku benar-benar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding seperti yang aku katakan itu."

"Kau tidak akan sempat melakukannya. Kau akan mati sekarang juga."

"Jangan membantah. Kau yang akan mati sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Kiai mu itu. Katakan bahwa kau masih ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang gila itu." Ki Lemah Teles berteriak semakin keras.

Wajah orang berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawab lagi, iapun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Ketika keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih berteriak,

"Kalian benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku."

Orang berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu.

Sejenak kemudian, pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya.

Agaknya orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles. Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha memecah perhatian Ki Sambi Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan. Tetapi Ki Sambi Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri diarah yang bertentangan.

Orang berkumis tebal itu tidak menduga bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang dagangan itu untuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya meskipun mereka berdua. Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles itupun berkata,

"Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan terbunuh di pertempuran ini.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata, "Marilah kita letakkan taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap hidup boleh memiliki taruhan itu."

"Setan kau!" geram yang berwajah garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu.

"Baiklah jika kau menolak.” berkata Ki Lemah Teles. “Nampaknya kau menyadari bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang kawanmu."

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang semakin cepat. Seorang kawannyapun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu. Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin lama justru semakin mendesak lawan-lawannya.

Dengan tangkasnya Ki Lemah Teles telah meloncat menghindar ketika orang berkumis tebal itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya mengarah kening.

Ki Lemah Teles dengan cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang berputar itu hampir menyambar keningnya, maka iapun segera menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari dengan tenaganya yang besar, menyapu menebas kaki lawannya yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu. Dengan derasnya, kaki itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar telah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah terbanting jatuh ditanah. Namun dengan cepat pula orang itu melenting berdiri.

Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu bangkit, maka kakinya telah menyambar dada. Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya, maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya.

Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan kesamping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama sekali. Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak. Tetapi memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian membunuh orang itu.

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu pun telah bertempur melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.

Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk membunuh, maka merekapun telah menjalankan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka berusaha, tetapi serangan-serangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran. Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitupun yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya.

Seorang dari kedua lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun tepat mengenai tengkuknya. Orang itu jatuh tersungkur dengan kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu dan tanah yang melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah.

Tetapi orang itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu mengumpat-umpat. Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang seorang lagi, ia berkata,

“He, darimana kau mendapatkan topeng yang menarik itu?"

"Aku koyak mulutmu...!" geram orang itu.

Ki Sambi Pitu tertawa semakin keras. Katanya "Jangan terlalu garang. Jagalah agar luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah."

Kemarahan orang itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Sementara kawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerang pula.

Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang terselip dipunggung.

Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut, sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram, "Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu."

"Kalian telah mendahului mempergunakan senjata" berkata Ki Sambi Pitu.

"Kau mulai menyesali tingkah lakumu." geram lawannya yang lain.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Jika kalian tergores ujung kerisku, itu bukan salahku."

Kedua orang itu justru tertegun melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan. Tetapi kedua orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu mulai berputar, maka merekapun segera menyadari, bahwa mereka benar-benar akan bertempur habis-habisan.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan pertahanannya.

Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab. Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya, seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga berdarah. Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya, maka iapun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain.

Ki Lemah Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka iapun telah menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah benar-benar sampai kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka senjata-senjata itu akan dapat membunuh.

Namun mereka yang bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan parangnya pula. Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas. Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya.

Namun tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya. Serangan yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannyapun semakin menggigit jantung. Karena itu, maka kerisnyapun menjadi semakin cepat menyambar-nyambar.

Ternyata orang yang berkumis lebat itu, mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali, orang itu meloncat mundur mengambil jarak. Namun ujung keris lawannya telah tergores dilambungnya.

Goresan itu memang tidak begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itupun sempat ikut menahan ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu panjang dan dalam.

Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah. Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu. Namun pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur setapakpun juga.

Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar lawannya menyerahkan diri. Karena itu, maka pertempuranpun segera mencapai puncaknya. Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya.

Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata. Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi basah oleh darah. Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri dan apalagi bertempur.

Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru tidak dapat mempertahankan keseimbangannya. Sedangkan yang seorang lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak menghunjam sampai ke jantung.

Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitupun kehilangan ketegarannya. Merekapun kemudian telah terluka sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya tidak lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar dipinggir jalan.

"Kenapa tidak kau bunuh aku?" teriak orang berwajah garang bermata tajam dan berkumis tebal itu.

"Apakah kematianmu ada artinya bagiku?" bertanya Ki Lemah Teles.

"Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu" geram orang itu.

"Kalau kau mampu membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau bertempur bersama dengan seorang kawanmu."

"Lain kali aku akan membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?"

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, "Kau kira aku tidak mempunyai kawan? Diseberang hutan Jatimalang kawanku ada sepadang rumput yang luas menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.”

Orang berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak. Namun Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benar-benar tidak ingin membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata, “Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang menjemputmu."

"Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku." geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak. Apalagi setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir semakin banyak dari lukanya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itupun kemudian dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan.

"Nah..." berkata Ki Lemah Teles. "Kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat ekor kuda tanpa penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari padepokanmu?"

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya. Demikianlah, sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu.

Jalan menuju ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai kebatas hutan lereng gunung yang lebat.

Kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah telah menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan melukai lawan-lawan mereka.

"Aku tidak bermaksud menantang untuk berperang tanding..." berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu, sehingga Ki Sambi Pitu itupun tertawa. Sementara Ki Lemah Telespun kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya.

Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya. "Dengan demikian, maka kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.”

"Tetapi bukan maksud kami..." berkata Ki Lemah Teles "Kami dihadapkan pada satu keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan membunuh kami atas perintah Kiai Gandawira yang ternyata lebih senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang sangat keruh."

Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi mengangguk-angguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki Ajar Pangukan itu berkata, "Orang-orang yang perlu dikasihani."

"Siapa yang perlu dikasihani?" bertanya Ki Lemah Teles.

"Orang yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu."

"Yang lain?" desak Ki Lemah Teles.

Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi iapun menjawab, "Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja."

"Tetapi Ki Ajar menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang." berkata Ki Lemah Teles kemudian.

"Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula"

"Ya..." Ki Sambi Pitu menyambung "Kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itupun segera pingsan."

Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu. Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun merekapun ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu.

Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk menyerahkan korban-korbannya.

Namun Ki Ajar Pangukan pun kemudian berkata, "Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang membakar jantungnya."

"Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan. Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah kejinya dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati." berkata Ki Pandi.

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata, "Bahwa Kiai Banyu Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu inipun nampaknya tidak sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah mendirikan sebuah padepokan pula."

Orang-orang tua yang mendengar kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun mengangguk-angguk pula. Ki Jagaprana pun segera menyahut, "Ya. Agaknya ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini."

"Kita akan mencarinya.” desis Ki Ajar Pangukan "Tetapi yang penting, kita harus menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap yang kasar itu."

"Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?” bertanya Ki Pandi kemudian.

"Agaknya cukup banyak. Tetapi selain didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan. Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan." jawab Ki Sambi Pitu.

"Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas padepokan itu." desis Ki Pandi.

"Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati." Ki Ajar Pangukan mengulangi.

Orang-orang yang sedang berkumpul itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandipun berkata, “Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu."

Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian. Upacara-uoacara yang dilakukan dibeberapa padukuhan sudah berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi ditusuk sampai mati. tetapi anak-anak binatang itu harus dibakar hidup-hidup.

Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu. Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu. Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh Panembahan Lebdagati.

Sementara menurut penglihatan yang masih harus dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati. Tetapi untuk mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima. Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki Pandi memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya diseberang sungai.

Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai, tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan. Gadis itu senang mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah diseberang hutan Jatimalang. Tentang padukuhan-padukuhan yang ramai dan tidak dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota yang pernah dikunjungi.

Namun sebenarnyalah bahwa Delima menjadi gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi. Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai mencengkam padukuhannya.

Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang menolak keyakinan pamannya itu.

Setiap kali terbayang korban yang diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan itu memang akan dapat terjadi.

Ketika Ki Pandi sempat berbicara dengan Delima di pategalannya yang di tanami jagung diantara beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki Pandipun bertanya, "Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima. Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?"

"Entahlah, kek..." jawab Delima "Kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang diserahkan itu belum dibakar, tidak seorangpun yang berani menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban perasaanku menjadi berkurang."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, "Delima. Cobalah kau bertanya kepada kawan-kawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu."

"Tetapi jika kakek ingin berbicara tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat menyinggung perasaan ayah dan ibuku."

"Akupun akan berhati-hati ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada ayah dan ibumu..." berkata Ki Pandi kemudian.

Gadis itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, "Ayah dan ibu memang jarang sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang asing seperti kakek ini."

"Tetapi aku akan mencoba, ngger. Justru karena cacadku ini." berkata Ki Pandi Kemudian.

"Apa yang akan kakek lakukan?"

"Aku akan menjual belas kasihan. He, aku akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu maksudku?"

Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum. Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima. Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal dan mata yang hampir terpejam.

Delima yang melihat orang bongkok itu dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya. "Ayah, bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan." minta Delima.

"Tetapi orang ini orang asing." berkata ayahnya.

"Siapapun juga orang itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?" berkata Delima kemudian.

Ternyata ibunya juga tidak berkeberatan, sehingga mereka telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya. Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di tengah-tengah sebidang tanah yang memang agak luas.

Dibagian depan hampir tidak terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu dihalaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang subur.

Ki Pandi duduk disebuah amben bambu. Delima memberinya semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong ketela rebus. Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik, maka ayah Delima yang kemudian duduk disebelahnya, mulai bertanya,

"Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?"

Ki Pandi yang letih itu menjawab. "Aku seorang pengembara Ki Sanak. Aku tidak datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan saja mengikuti langkah kakiku."

"Apakah kau tidak tahu, kau berada dimana sekarang?"

"Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung Lawu.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, "Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya belum terlalu lama dibuat, maka akupun telah menyuruh masuk sehingga aku sampai ditempat ini."

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik.

"Makanlah." ayah Delima itu mempersilahkannya.

“Sudah cukup Ki Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak." jawab Ki Pandi yang kemudian berkata, "Sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan."

"Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?"

"Namaku Ki Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan buruk" Ki Pandi berhenti sejenak Namun iapun kemudian bertanya "Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?"

"Namaku Krawangan" jawab ayah Delima itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan. Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan di kaki Gunung Lawu itu.”

"Kau perlu beristirahat Ki Pandi."

"Terima kasih, Ki Krawangan. Aku sudah cukup beristirahat. Tetapi pada kesempatan lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini." berkata Ki Pandi kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya "Tetapi bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?"

"Tentu..." jawab Ki Krawangan "Siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan."

“Tetapi apakah padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru membuat yang baru?" bertanya Ki Pandi.

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku melihat bangunan diluar dinding padukuhan.” jawab Ki Pandi "Jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat banjar yang baru lagi?"

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng. "Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan."

"Pemujaan?"

"Kau tidak mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan menyerahkan korban kepada penguasa api." jawab Ki Krawangan.

"Penguasa api?" bertanya Ki Pandi.

"Ya. Apakah kau tertarik? Api adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata "Jika kau tertarik, kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar disiang hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam hari."

"Maksud Ki Krawangan, matahari dan bulan?"

"Ya" jawab Ki Krawangan. "Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu"

Ki Pandi mengangguk. Katanya, "Apakah aku boleh datang dua hari lagi?"

"Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.”

"Dimana sesorah itu diselenggarakan?" bertanya Ki Pandi.

"Di sanggar pamujan itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui banjar itu."

Ki Pandi mengangguk. “Ki Krawangan. Aku tentu merasa takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon, apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?"

"Baik Ki Pandi. Aku tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi kesejahteraan hidupnya."

"Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku akan datang" berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka Ki Pandi meninggalkan rumah Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya. Dihari berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan. Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang adiknya. Kenanga.

"Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar" berkata Delima.

"Aku ingin mendengar isi sesorah itu" berkata Ki Pandi.

"Hati-hatilah kek..." pesan Delima "Paman adalah seorang yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang dianggapnya bersalah."

"Aku akan berhati-hati Delima."

Ketika rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata, "Ingat. Aku hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak akan datang bersama siapa-siapa."

Manggada dan Laksana dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak memaksanya untuk ikut bersamanya. Hari melompat ke hari. Waktu yang ditentukan itupun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan.

"Hati-hatilah Ki Pandi..." pesan Ki Ajar Pangukan.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles."

"Mudah-mudahan. Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan." berkata Ki Jagaprana "Orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua orang yang tidak mereka kenal sebelumnya."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan, serta kegagalan para pengikutnya akan membuat orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati."

Meskipun demikian, Ki Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun. Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu, tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng yang lebih tinggi.

Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung didalamnya.

Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku yang harus dijalani para pemujanya.

Ketika-orang-orang itu memasuki sanggar, maka langitpun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi memang tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya sebelumnya. Ketika mereka berjalan memasuki regol sanggar itu, maka setiap orang tiba-tiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak berkedip sementara mulut mereka terkatup rapat-rapat. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak tanpa batasan-batasan. Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan.

Delimalah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi, "Orang-orang itu belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orang-orang padepokan. Kawan-kawan pamanku."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri didepan, dibelakang deretan anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling belakang adalah orang-orang tua.

Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan, Sambil menunduk Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang lain.

Suasanapun masih tetap mencengkam. Tidak seorangpun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka.

Bahkan kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti biasanya. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka. Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki Krawangan itu berdiri.

Ki Pandi berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah yang terjadi. Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua orang selalu mengawasinya.

"Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu semakin keras bergema didalam hatinya. Tetapi Ki Pandi sudah terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya.

Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi. Namun sejenak kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya.

Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum pernah mengunjungi pertemuan serupa itu, namun ia merasakan, bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu.

Demikian kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi semakin hening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya sekalipun. Kakak Ki Krawangan itupun kemudian memandang berkeliling. Dengan lantang iapun mulai berbicara,

"Saudara-saudaraku... Aku agak terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.”

Orang itu memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam, seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka masing-masing. Baru kemudian ia berkata selanjutnya,

"Keadaan ini terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya. Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati mengikuti upacara-upacara yang telah kami selenggarakan. Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang dapat terjadi orang lain."

Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi dalam upacara korban yang sebenarnya.

Dalam pada itu, kakak Ki Krawangan itupun berkata pula "Tetapi kali ini kita tidak saja menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah yang diselenggarakan didalam sanggar ini. Sebenarnya hal seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mantap."

Jika saja orang-orang yang ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang meragukan itu? Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang bongkok itupun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata selanjutnya, "Nah, aku persilahkan Ki Sanak yang baru datang itu bersedia untuk mendekat. Aku inga berbicara dengan Ki Sanak."

Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari, bahwa memang dirinyalah yang dimaksud. Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Iapun menurut saja melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak.

Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin cepat....
Selanjutnya,
MATAHARI SENJA BAGIAN 07

Matahari Senja Bagian 06

Arya Manggada - Matahari Senja Bagian 06
Karya : Singgih Hadi Mintardja


Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
"KI SANAK..." berkata Ki Sambi Pitu "Agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal pula."

"Gila kau Sambi Pitu..." geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Sambi Pitu itu tidak menghiraukannya. Dengan nada rendah ia berkata selanjutnya, "Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?"

"Kiai Banyu Bening tidak membutuhkannya lagi."

"Mereka yang harus bertanggung jawab atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya."

"Kau tidak usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum perguruan Kiai Banyu Bening berdiri."

"Kau tahu, siapakah nama laki-laki itu?" bertanya Ki Sambi Pitu.

Orang itu menggeleng. Katanya "Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut dihadapanmu."

"Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan perjalanan." berkata Ki Sambi Bitu.

"Tidak...” tiba-tiba orang itu membentak "Kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.”

"Aku bunuh kau!" geram Ki Lemah Teles "Kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang tanding."

"Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang tanding?" geram orang berkumis tebal itu "Menyebut namanya saja kau harus mendapat ijin dan palilahnya."

Ki Lemah Teles tertawa. Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis tebal itu. Katanya, "Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku benar-benar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding seperti yang aku katakan itu."

"Kau tidak akan sempat melakukannya. Kau akan mati sekarang juga."

"Jangan membantah. Kau yang akan mati sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Kiai mu itu. Katakan bahwa kau masih ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang gila itu." Ki Lemah Teles berteriak semakin keras.

Wajah orang berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawab lagi, iapun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Ketika keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih berteriak,

"Kalian benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku."

Orang berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu.

Sejenak kemudian, pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya.

Agaknya orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles. Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha memecah perhatian Ki Sambi Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan. Tetapi Ki Sambi Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri diarah yang bertentangan.

Orang berkumis tebal itu tidak menduga bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang dagangan itu untuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya meskipun mereka berdua. Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles itupun berkata,

"Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan terbunuh di pertempuran ini.”

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata, "Marilah kita letakkan taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap hidup boleh memiliki taruhan itu."

"Setan kau!" geram yang berwajah garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu.

"Baiklah jika kau menolak.” berkata Ki Lemah Teles. “Nampaknya kau menyadari bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang kawanmu."

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang semakin cepat. Seorang kawannyapun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu. Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin lama justru semakin mendesak lawan-lawannya.

Dengan tangkasnya Ki Lemah Teles telah meloncat menghindar ketika orang berkumis tebal itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya mengarah kening.

Ki Lemah Teles dengan cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang berputar itu hampir menyambar keningnya, maka iapun segera menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari dengan tenaganya yang besar, menyapu menebas kaki lawannya yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu. Dengan derasnya, kaki itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar telah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah terbanting jatuh ditanah. Namun dengan cepat pula orang itu melenting berdiri.

Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu bangkit, maka kakinya telah menyambar dada. Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya, maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya.

Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan kesamping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama sekali. Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak. Tetapi memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian membunuh orang itu.

Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu pun telah bertempur melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.

Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk membunuh, maka merekapun telah menjalankan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka berusaha, tetapi serangan-serangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran. Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitupun yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya.

Seorang dari kedua lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun tepat mengenai tengkuknya. Orang itu jatuh tersungkur dengan kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu dan tanah yang melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah.

Tetapi orang itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu mengumpat-umpat. Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang seorang lagi, ia berkata,

“He, darimana kau mendapatkan topeng yang menarik itu?"

"Aku koyak mulutmu...!" geram orang itu.

Ki Sambi Pitu tertawa semakin keras. Katanya "Jangan terlalu garang. Jagalah agar luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah."

Kemarahan orang itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Sementara kawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerang pula.

Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang terselip dipunggung.

Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut, sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram, "Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu."

"Kalian telah mendahului mempergunakan senjata" berkata Ki Sambi Pitu.

"Kau mulai menyesali tingkah lakumu." geram lawannya yang lain.

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Jika kalian tergores ujung kerisku, itu bukan salahku."

Kedua orang itu justru tertegun melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan. Tetapi kedua orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu mulai berputar, maka merekapun segera menyadari, bahwa mereka benar-benar akan bertempur habis-habisan.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan pertahanannya.

Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab. Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya, seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga berdarah. Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya, maka iapun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain.

Ki Lemah Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka iapun telah menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah benar-benar sampai kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka senjata-senjata itu akan dapat membunuh.

Namun mereka yang bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan parangnya pula. Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas. Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya.

Namun tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya. Serangan yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannyapun semakin menggigit jantung. Karena itu, maka kerisnyapun menjadi semakin cepat menyambar-nyambar.

Ternyata orang yang berkumis lebat itu, mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali, orang itu meloncat mundur mengambil jarak. Namun ujung keris lawannya telah tergores dilambungnya.

Goresan itu memang tidak begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itupun sempat ikut menahan ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu panjang dan dalam.

Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah. Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu. Namun pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur setapakpun juga.

Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar lawannya menyerahkan diri. Karena itu, maka pertempuranpun segera mencapai puncaknya. Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya.

Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata. Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi basah oleh darah. Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri dan apalagi bertempur.

Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru tidak dapat mempertahankan keseimbangannya. Sedangkan yang seorang lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak menghunjam sampai ke jantung.

Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitupun kehilangan ketegarannya. Merekapun kemudian telah terluka sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya tidak lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar dipinggir jalan.

"Kenapa tidak kau bunuh aku?" teriak orang berwajah garang bermata tajam dan berkumis tebal itu.

"Apakah kematianmu ada artinya bagiku?" bertanya Ki Lemah Teles.

"Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu" geram orang itu.

"Kalau kau mampu membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau bertempur bersama dengan seorang kawanmu."

"Lain kali aku akan membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?"

Ki Lemah Teles tertawa. Katanya, "Kau kira aku tidak mempunyai kawan? Diseberang hutan Jatimalang kawanku ada sepadang rumput yang luas menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.”

Orang berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak. Namun Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benar-benar tidak ingin membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata, “Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang menjemputmu."

"Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku." geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak. Apalagi setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir semakin banyak dari lukanya.

Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itupun kemudian dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan.

"Nah..." berkata Ki Lemah Teles. "Kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat ekor kuda tanpa penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari padepokanmu?"

Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya. Demikianlah, sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu.

Jalan menuju ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai kebatas hutan lereng gunung yang lebat.

Kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah telah menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan melukai lawan-lawan mereka.

"Aku tidak bermaksud menantang untuk berperang tanding..." berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu, sehingga Ki Sambi Pitu itupun tertawa. Sementara Ki Lemah Telespun kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya.

Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya. "Dengan demikian, maka kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.”

"Tetapi bukan maksud kami..." berkata Ki Lemah Teles "Kami dihadapkan pada satu keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan membunuh kami atas perintah Kiai Gandawira yang ternyata lebih senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang sangat keruh."

Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi mengangguk-angguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki Ajar Pangukan itu berkata, "Orang-orang yang perlu dikasihani."

"Siapa yang perlu dikasihani?" bertanya Ki Lemah Teles.

"Orang yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu."

"Yang lain?" desak Ki Lemah Teles.

Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi iapun menjawab, "Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja."

"Tetapi Ki Ajar menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang." berkata Ki Lemah Teles kemudian.

"Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula"

"Ya..." Ki Sambi Pitu menyambung "Kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itupun segera pingsan."

Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu. Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun merekapun ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu.

Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk menyerahkan korban-korbannya.

Namun Ki Ajar Pangukan pun kemudian berkata, "Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang membakar jantungnya."

"Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan. Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah kejinya dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati." berkata Ki Pandi.

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata, "Bahwa Kiai Banyu Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu inipun nampaknya tidak sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah mendirikan sebuah padepokan pula."

Orang-orang tua yang mendengar kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun mengangguk-angguk pula. Ki Jagaprana pun segera menyahut, "Ya. Agaknya ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini."

"Kita akan mencarinya.” desis Ki Ajar Pangukan "Tetapi yang penting, kita harus menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap yang kasar itu."

"Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?” bertanya Ki Pandi kemudian.

"Agaknya cukup banyak. Tetapi selain didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan. Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan." jawab Ki Sambi Pitu.

"Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas padepokan itu." desis Ki Pandi.

"Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati." Ki Ajar Pangukan mengulangi.

Orang-orang yang sedang berkumpul itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandipun berkata, “Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu."

Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian. Upacara-uoacara yang dilakukan dibeberapa padukuhan sudah berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi ditusuk sampai mati. tetapi anak-anak binatang itu harus dibakar hidup-hidup.

Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu. Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu. Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh Panembahan Lebdagati.

Sementara menurut penglihatan yang masih harus dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati. Tetapi untuk mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima. Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki Pandi memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya diseberang sungai.

Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai, tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan. Gadis itu senang mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah diseberang hutan Jatimalang. Tentang padukuhan-padukuhan yang ramai dan tidak dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota yang pernah dikunjungi.

Namun sebenarnyalah bahwa Delima menjadi gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi. Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai mencengkam padukuhannya.

Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang menolak keyakinan pamannya itu.

Setiap kali terbayang korban yang diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan itu memang akan dapat terjadi.

Ketika Ki Pandi sempat berbicara dengan Delima di pategalannya yang di tanami jagung diantara beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki Pandipun bertanya, "Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima. Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?"

"Entahlah, kek..." jawab Delima "Kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang diserahkan itu belum dibakar, tidak seorangpun yang berani menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban perasaanku menjadi berkurang."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, "Delima. Cobalah kau bertanya kepada kawan-kawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu."

"Tetapi jika kakek ingin berbicara tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat menyinggung perasaan ayah dan ibuku."

"Akupun akan berhati-hati ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada ayah dan ibumu..." berkata Ki Pandi kemudian.

Gadis itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, "Ayah dan ibu memang jarang sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang asing seperti kakek ini."

"Tetapi aku akan mencoba, ngger. Justru karena cacadku ini." berkata Ki Pandi Kemudian.

"Apa yang akan kakek lakukan?"

"Aku akan menjual belas kasihan. He, aku akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu maksudku?"

Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum. Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima. Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal dan mata yang hampir terpejam.

Delima yang melihat orang bongkok itu dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya. "Ayah, bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan." minta Delima.

"Tetapi orang ini orang asing." berkata ayahnya.

"Siapapun juga orang itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?" berkata Delima kemudian.

Ternyata ibunya juga tidak berkeberatan, sehingga mereka telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya. Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di tengah-tengah sebidang tanah yang memang agak luas.

Dibagian depan hampir tidak terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu dihalaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang subur.

Ki Pandi duduk disebuah amben bambu. Delima memberinya semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong ketela rebus. Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik, maka ayah Delima yang kemudian duduk disebelahnya, mulai bertanya,

"Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?"

Ki Pandi yang letih itu menjawab. "Aku seorang pengembara Ki Sanak. Aku tidak datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan saja mengikuti langkah kakiku."

"Apakah kau tidak tahu, kau berada dimana sekarang?"

"Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung Lawu.”

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, "Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya belum terlalu lama dibuat, maka akupun telah menyuruh masuk sehingga aku sampai ditempat ini."

Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik.

"Makanlah." ayah Delima itu mempersilahkannya.

“Sudah cukup Ki Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak." jawab Ki Pandi yang kemudian berkata, "Sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan."

"Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?"

"Namaku Ki Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan buruk" Ki Pandi berhenti sejenak Namun iapun kemudian bertanya "Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?"

"Namaku Krawangan" jawab ayah Delima itu.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan. Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan di kaki Gunung Lawu itu.”

"Kau perlu beristirahat Ki Pandi."

"Terima kasih, Ki Krawangan. Aku sudah cukup beristirahat. Tetapi pada kesempatan lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini." berkata Ki Pandi kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya "Tetapi bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?"

"Tentu..." jawab Ki Krawangan "Siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan."

“Tetapi apakah padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru membuat yang baru?" bertanya Ki Pandi.

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Krawangan.

“Aku melihat bangunan diluar dinding padukuhan.” jawab Ki Pandi "Jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat banjar yang baru lagi?"

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng. "Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan."

"Pemujaan?"

"Kau tidak mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan menyerahkan korban kepada penguasa api." jawab Ki Krawangan.

"Penguasa api?" bertanya Ki Pandi.

"Ya. Apakah kau tertarik? Api adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata "Jika kau tertarik, kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar disiang hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam hari."

"Maksud Ki Krawangan, matahari dan bulan?"

"Ya" jawab Ki Krawangan. "Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu"

Ki Pandi mengangguk. Katanya, "Apakah aku boleh datang dua hari lagi?"

"Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.”

"Dimana sesorah itu diselenggarakan?" bertanya Ki Pandi.

"Di sanggar pamujan itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui banjar itu."

Ki Pandi mengangguk. “Ki Krawangan. Aku tentu merasa takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon, apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?"

"Baik Ki Pandi. Aku tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi kesejahteraan hidupnya."

"Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku akan datang" berkata Ki Pandi kemudian.

Demikianlah, maka Ki Pandi meninggalkan rumah Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya. Dihari berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan. Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang adiknya. Kenanga.

"Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar" berkata Delima.

"Aku ingin mendengar isi sesorah itu" berkata Ki Pandi.

"Hati-hatilah kek..." pesan Delima "Paman adalah seorang yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang dianggapnya bersalah."

"Aku akan berhati-hati Delima."

Ketika rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata, "Ingat. Aku hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak akan datang bersama siapa-siapa."

Manggada dan Laksana dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak memaksanya untuk ikut bersamanya. Hari melompat ke hari. Waktu yang ditentukan itupun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan.

"Hati-hatilah Ki Pandi..." pesan Ki Ajar Pangukan.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles."

"Mudah-mudahan. Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan." berkata Ki Jagaprana "Orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua orang yang tidak mereka kenal sebelumnya."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan, serta kegagalan para pengikutnya akan membuat orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati."

Meskipun demikian, Ki Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun. Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu, tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng yang lebih tinggi.

Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung didalamnya.

Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku yang harus dijalani para pemujanya.

Ketika-orang-orang itu memasuki sanggar, maka langitpun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu.

Ki Pandi memang tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya sebelumnya. Ketika mereka berjalan memasuki regol sanggar itu, maka setiap orang tiba-tiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak berkedip sementara mulut mereka terkatup rapat-rapat. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak tanpa batasan-batasan. Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan.

Delimalah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi, "Orang-orang itu belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orang-orang padepokan. Kawan-kawan pamanku."

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri didepan, dibelakang deretan anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling belakang adalah orang-orang tua.

Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan, Sambil menunduk Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang lain.

Suasanapun masih tetap mencengkam. Tidak seorangpun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka.

Bahkan kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti biasanya. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka. Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki Krawangan itu berdiri.

Ki Pandi berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah yang terjadi. Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua orang selalu mengawasinya.

"Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu semakin keras bergema didalam hatinya. Tetapi Ki Pandi sudah terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya.

Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi. Namun sejenak kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya.

Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum pernah mengunjungi pertemuan serupa itu, namun ia merasakan, bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu.

Demikian kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi semakin hening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya sekalipun. Kakak Ki Krawangan itupun kemudian memandang berkeliling. Dengan lantang iapun mulai berbicara,

"Saudara-saudaraku... Aku agak terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.”

Orang itu memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam, seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka masing-masing. Baru kemudian ia berkata selanjutnya,

"Keadaan ini terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya. Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati mengikuti upacara-upacara yang telah kami selenggarakan. Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang dapat terjadi orang lain."

Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi dalam upacara korban yang sebenarnya.

Dalam pada itu, kakak Ki Krawangan itupun berkata pula "Tetapi kali ini kita tidak saja menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah yang diselenggarakan didalam sanggar ini. Sebenarnya hal seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mantap."

Jika saja orang-orang yang ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang meragukan itu? Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang bongkok itupun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu.

Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata selanjutnya, "Nah, aku persilahkan Ki Sanak yang baru datang itu bersedia untuk mendekat. Aku inga berbicara dengan Ki Sanak."

Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari, bahwa memang dirinyalah yang dimaksud. Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Iapun menurut saja melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak.

Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin cepat....
Selanjutnya,
MATAHARI SENJA BAGIAN 07