Menjenguk Cakrawala Bagian 12 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SHMintardja
Arya Manggada mengangguk, meskipun ragu-ragu. Katanya berguman "Memang bukan kita yang memulai”

Laksana tidak menjawab lagi. Perhatiannya tertambat pada tiga orang berkuda yang datang tergesa-gesa bersama anak muda yang menyusulnya.

"Untunglah ia ada dirumah" berkata anak muda itu, demikian ia meloncat dari punggung kudanya.

"Mana anak yang kau katakan itu?" bertanya orang yang kemudian juga turun dari kudanya dengan tenang, sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dua orang kawannya pun ikut pula turun, dan berdiri dibelakang Sura Gayam. Sementara itu, kudanya dibiarkan menepi sendiri, dan menunggu di bawah bayangan pepohonan.

Tetapi dalam pada itu, sikap Laksana mengejutkan mereka. Anak muda itu telah melangkah maju sambil bertanya "Inikah orang-orang upahan itu? Mana yang bernama Sura Gayam?”

Wajah Sura Gayam menjadi merah. Ia tidak terbiasa mengalami perlakuan seperti itu. Orang-orang di sekitar tempat itu, bisa jadi gemetar mendengar namanya. Tapi anak muda ini, begitu merendahkannya. Karena itu, iapun menggeram "He anak muda. Siapa kau? Nampaknya kau ingin kukoyak mulutmu”

Laksana tertawa. Katanya "Satu ciri dari orang-orang upahan. Garang dan kadang-kadang tidak mau mengerti perasaan orang lain”

"Setan kau" Sura Gayam hampir berteriak "sekali lagi kau berbicara dengan cara yang gila itu, aku akan mengoyak mulutmu. Aku tidak sekadar mengancam. Aku akan sungsuh-sungguh melakukannya.

Ternyata Laksana memang sudah memilih lawan. Ia ingin langsung berhadapan dengan orang yang namanya Sura Gayam itu. Karenanya, peringatan dan ancaman orang itu seolah-olah merangsangnya untuk melakukannya lagi. Sambil tertawa. Laksana berkata "Kau memang menyenangkan Sura Gayam. Karena itu, orang-orang kaya suka mengupahmu hanya untuk kelucuan-kelucuan yang kau buat”

Sura Gayam, orang yang ditakuti semua orang disekitarnya, benar-benar merasa terhina. Karena itu, ia meloncat, menyerang dengan garangnya. Tetapi Laksana sudah siap menghadapinya. Ia tidak berkelahi sebagaimana melawan anak-anak muda yang tidak punya daya tadi. Menghadapi orang garang dan ditakuti banyak orang itu, Laksana tidak ingin sekadar main-main.

Karena itu, Laksana mempersiapkan diri sebaik-baiknya, Demikian serangan yang mendebarkan itu datang, Laksana melenting menghindarinya, sehingga serangan garang itu sama sekali tidak mengenainya.

Tetapi Sura Gayam yang marah, tidak membiarkan Laksana terlepas dari tangannya. Dengan tangkasnya, ia segera menggeliat dan meloncat memburu. Tangannya terayun mendatar, mengarah ke kening anak muda itu.

Namun ternyata, serangannya sekali lagi tidak mengenai sasaran. Bahkan Laksana sempat berkata "Jangan tergesa-gesa. Perhitungkan setiap seranganmu, sehingga kau tidak terlalu menghamburkan tenaga sia-sia”

"Diam" bentak Sura Gayam yang menjadi semakin marah. Namun Laksana justru tertawa berkepanjangan. Laksana baru terdiam ketika dengan wajah membara Sura Gayam menyerangnya lagi.

Orang orang yang menyaksikan perkelahian itu, menjadi tegang. Sura Gayam adalah orang yang pilih tanding. Ditakuti dan semua kehendaknya harus terlaksana. Sebagai orang upahan, yang terpenting baginya adalah upah.

Demikian pula menghadapi anak-anak muda itu. Jika ia dapat memenuhi kehendak mereka, ia akan mendapat upah cukup banyak. Apalagi menyangkut wanita. Tetapi saat itu, ia menemukan lawan di luar dugaannya. Anak yang masih sangat muda itu, ternyata memiliki kecepatan gerak yang dapat mengimbangi kecepatan serangannya, sehingga beberapa kali menemui kegagalan.

Manggada yang menyaksikan sikap Laksana, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Laksana akan menguji ilmunya, dan meningkatkan kemampuannya melepaskan tenaga cadangan, setelah mendapat petunjuk dari Ki Ajar Pangukan.

Terlihat Laksana masih berloncatan dengan tangkasnya. Tubuhnya seakan-akan menjadi tidak berbobot. Kekuatan tenaga cadangan di dalam dirinya, rasa-rasanya memang menjadi berlipat.

Dalam pada itu, kedua kawan Sura Gayam menjadi heran menyaksikan perkelahian itu. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Sura Gayam yang biasanya menyelesaikan lawan-lawannya dengan cepat, harus membiarkan anak muda itu berkelahi beberapa lama.

Akhirnya, kedua orang itu melihat bahwa Sura Gayam mengalami kesulitan untuk menundukkan lawannya. Bahkan beberapa saat kemudian, mereka melihat Laksana mendesak orang yang dianggap tidak terkalahkan itu. Karena itu, keduanya di luar sadar melangkah maju. Namun mereka tertegun dan berpaling ketika melihat Manggada juga bergerak maju.

"Kau mau apa?" bertanya salah seorang dari kedua kawan Sura Gayam itu.

"Tidak apa-apa...!" jawab Manggada "Aku hanya ingin mengetahui apa yang akan kalian lakukan.”

"Kami sudah siap melibatkan diri untuk melumpuhkan anak muda yang sombong itu” jawab orang itu "Nah, sekarang terserah padamu. Kau akan membantu kawanmu atau memilih menyelamatkan diri”

Manggada tersenyum. Katanya "Kau aneh, seperti kawanmu yang bernama Sura Gayam itu. Jika orang upahan seperti kalian mengenal setia kawan, apalagi aku”

Kedua orang itu terkejut mendengar jawaban Manggada. Ternyata Manggada berhasil memancing kemarahan lawannya. Bukan sekadar untuk mendapat kesempatan berkelahi. Tapi bila kedua orang itu marah, perhitungan mereka akan menjadi kabur. Dengan demikian, mereka tidak dapat bertempur dengan baik, karena yang mereka lakukan tidak berdasar nalar bening.

Seperti yang diharapkan Manggada, kedua orang itu menjadi sangat marah. Mereka kemudian melangkah mendekati Manggada yang bergeser beberapa langkah, menjauhi Ki Wiradadi dan anak gadisnya.

"Setan kau!" geram salah seorang dari kedua orang itu "kau ingin mati lebih dulu dari kawanmu itu”

Manggada tertawa pendek. Katanya “Aku masih terlalu muda untuk mati”

"Tutup mulutmu" geram orang itu.

"Aku menjawab pertanyaanmu" sahut Manggada.

Kedua orang itu bertambah marah, dan mulai bergerak mendekat. Tetapi mereka telah memilih arah yang berbeda, sehingga Manggada harus berhati-hati menghadapinya. Ketika seorang di antaranya menyerang, Manggada meloncat menghindar. Tapi diluar dugaan, dengan cepat ia menyerang lawannya yang seorang lagi.

Yang diserang terkejut. Dengan serta merta, ia meloncat menghindar. Tapi karena tidak sempat membuat perhitungan mapan, maka waktu Manggada memburunya dengan serangan berikutnya orang itu benar-benar mengalami kesulitan. Karena tidak sempat lagi menghindari serangan itu, terpaksa ia menangkis dengan kedua belah tangannya, menahan kaki Manggada yang terjulur ke arah lambungnya.

Tetapi ternyata, kekuatan Manggada terlalu besar bagi orang itu. Karenanya, ketika terjadi benturan, orang itu tidak sanggup bertahan tegak di atas kedua kakinya. Demikian keseimbangan terguncang, iapun jatuh terguling ditanah.

Semua orang yang menyaksikan, terkejut. Kawan Sura Gayam yang ditakuti itu, dalam sekali hentak, terlempar jatuh tanpa dapat berbuat sesuatu. Meskipun dengan sigap orang itu meloncat bangkit, tapi kejadian itu telah mengguncang nyali anak-anak muda yang mengupahnya.

"Iblis kau" geram orang itu, ketika Manggada meloncat, menjauh, sekaligus menghindari serangan lawannya yang seorang lagi.

Sejenak kemudian, Manggada telah bertempur melawan kedua orang lawannya. Keduanya menyerang bergantian. Tapi kadang-kadang, mereka meloncat hampir berbareng. Sayang Manggada terlalu tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat dari lawan-lawannya, sehingga serangan-serangan yang datang beruntun itu dapat dielakkannya.

Keempat anak muda yang datang berkuda itu, menjadi tegang. Meskipun mereka tidak memahami apa yang terjadi, tetapi mereka mengerti bahwa Sura Gayam mengalami kesulitan menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu.

Karena itu, salah seorang diantara mereka berbisik, "Kita ambil gadis itu. Dengan demikian, kita dapat mengancam mereka untuk menghentikan perlawanan”

Yang lain mengangguk-angguk. Seorang yang lain bergumam "Orangtua itu tentu tidak setangkas anak-anak muda itu”

"Ya. Kita akan mengambil anak itu" desis yang lain lagi.

Keempat orang itupun kemudian bersiap-siap. Namun ternyata Ki Wiradadi dapat membaca gelagat itu. Karenanya, ia segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Perlahan-lahan didorongnya anaknya melekat dinding di sudut halaman samping kedai itu.

"Orangtua tidak tahu diri" geram salah seorang dari anak-anak muda itu. Lalu katanya pula. ”Serahkan gadismu, atau kedua orang anak laki-lakimu itu mati. Bahkan kau pun akan mati, sehingga gadismu akan kehilangan segala-galanya”

Ki Wiradadi memang tersinggung mendengar kata-kata itu. Ia telah menempuh satu perjalanan yang sangat berbahaya yang dapat merenggut jiwanya, dan jiwa kedua anak muda itu. Kini, tiba-tiba saja ia menghadapi sekelompok anak muda yang tidak bertanggung jawab, ingin mengganggu anak gadis yang telah diselamatkannya dengan bertaruh nyawa.

Karena itu, ketika keempat anak muda itu akan mengambil anaknya dengan paksa, sementara Manggada dan Laksana baru bertempur melawan orang-orang upahannya. Ki Wiradadi tidak dapat mengekang diri lagi.

Demikian anak-anak muda itu bergerak, Ki Wiradadi menarik pedangnya. Bahkan dengan lantang ia berkata "Aku tidak akan bermain-main seperti anak-anak muda itu. Kalian telah menghina anak gadisku, dan bahkan aku sendiri. Karena itu, aku tidak bertanggung jawab jika ada di antara kalian yang benar-benar mati. Aku dan anak gadisku bukan bahan olok-olok, setelah kami keluar dari garangnya orang-orang liar di balik hutan Jatimalang!”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Jantung mereka tergetar mendengar kata-kata Ki Wiradadi. Apalagi kemudian melihat sikapnya yang garang. Tapi, ketika mereka memperhatikan anak gadis itu lagi, seorang di antara mereka berkata "Kalian tidak akan dapat melawan kehendak kami”

Tetapi keempat orang itu terkejut. Ki Wiradadi tidak menjawab, langsung mengayunkan pedangnya sambil berkata "Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dulu!?”

Keempat anak muda itu bergeser mundur. Kemudian mulai menggenggam senjatanya. Sambil memencar, mereka memutar senjata masing-masing. Ki Wiradadi tidak memburu mereka. Ia tidak boleh terlalu jauh dari anak gadisnya. Jika seorang saja di antara anak-anak muda itu mampu menembus pertahanannya, dan mengancam anaknya, dia akan kehilangan kesempatan untuk melawan.

Bahkan kedua anak muda yang diaku sebagai anaknyapun, harus menghentikan pertempuran. Untuk beberapa saat, Ki Wiradadi menjadi sangat tegang. Ia memang yakin akan dapat mengalahkan keempat orang itu. tapi setiap kali ia mengingat kemungkinan licik yang dapat mereka lakukan, jantungnya selalu tersekat.

Namun dalam pada itu, karena perhatian anak-anak muda itu tertuju sepenuhnya kepada Ki Wiradadi maka mereka tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang upahan mereka. Sebenarnyalah bahwa Laksana menjadi kecewa. Orang yang disebut Sura Gayam tidak dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuannya, setelah ia meningkatkan ilmunya. Orang itu termasuk orang yang terlalu lemah untuk membuat perbandingan ilmu.

Karena itu, akhirnya Laksana cepat menjadi jemu. Sementara Manggada sudah menduga, bahwa ia tidak akan mendapat pengalaman apapun dari orang-orang itu. Karena itu, dalam waktu singkat, ia telah membuat kedua lawannya tidak berdaya.

Dengan demikian, kedua anak muda itu telah menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Sura Gayam yang ditakuti itu telah pingsan karena sisi telapak tangan Laksana. Itulah sebabnya, Ki Wiradadi yang tegang sempat menarik nafas panjang, ketika melihat kedua orang anak muda itu mendekatinya. Sementara empat anak muda yang mengganggu gadis Ki Wiradadi, membelakangi mereka.

Seorang di antara mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Laksana menggamit pundak. Demikian ia berpaling, maka ia pun bergeser surut. Dengan sigap ia menggerakkan senjatanya, tapi kaki Laksana bergerak lebih cepat mengenai pergelangan tangannya, sehingga senjatanya terloncat jatuh.

Sebelum ia menyadari keadaannya, Laksana telah memukul anak muda itu, tepat mengenai mulutnya. Demikian kerasnya, sehingga beberapa buah gigi anak muda itu terlepas. Anak muda itu memang menjadi kebingungan. Dengan sangat cemas, ia berusaha minta kawan-kawannya menolongnya.

Tetapi Manggada telah membentak, "Semuanya tinggal di tempat.”

Tidak seorang pun berani bergerak. Karenanya, anak muda yang berdarah itu menjadi semakin bingung. Dengan lengan bajunya, ia mengusap darah yang rasa-rasanya semakin banyak mengalir.

Sementara itu, terdengar suara Manggada. "Minta maaf kepada orang tua itu, atau gigi kalian semua akan aku lepaskan”

"Jangan!" sahut seorang di antara anak-anak muda itu ketakutan.

"Karena itu, cepat lakukan" bentak Manggada ”Lihat. Sura Gayam tidak berarti apa-apa. Sebagai orang upahan, ia telah melakukan pekerjaan yang sangat kotor. Ia tidak peduli akibat dari perbuatannya. Yang penting baginya, ia mendapat upah dengan langkah-langkah kotornya itu. Mereka harus mendapat hukuman jauh lebih berat dari orang-orang yang melakukannya bagi diri sendiri”

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat berbuat lain kecuali melakukannya. Anak-anak muda itupun berurutan melakukan sebagaimana dikehendaki oleh Manggada dan Laksana.

"Aku mohon maaf Kiai" berkata anak muda yang tertua di antara mereka.

"Aku juga Kiai" desis yang lain.

"Juga apa?" bentak Laksana.

Anak muda itu terkejut. Katanya "Aku juga minta maaf" berkata anak muda itu.

Demikianlah, keempat anak muda itu minta maaf. Sementara itu, Sura Gayam telah sadar dari pingsannya. Tapi begitu dia bangkit, ia segera teringat apa yang telah terjadi. lapun segera menyadari bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda itu, betapa pun dendam membara di ubun-ubunnya. Apalagi ia sadar bahwa ada beberapa orang yang telah melihatnya.

Tetapi demikian ia bangkit, maka salah seorang di antara kedua orang anak muda itu melangkah mendekatinya dan berkata dengan nada rendah "Kau tidak apa-apa Ki Sanak?”

"Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa" geram Sura Gayam "Bukankah kau telah membuat aku pingsan?”

Laksana tersenyum. Katanya. "Ya. Aku telah membuatmu pingsan, tapi aku belum membuatmu mati”

Sura Gayam tergetar jantungnya mendengar kata-kata itu. Sementara Laksana berkata "Ki Sanak. Apakah kau merasa bahwa hidupmu cukup baik dengan cara itu?”

Sura Gayam termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud Laksana. Laksana kemudian menegaskan. "Sementara lagi kami akan meninggalkan tempat ini Ki Sanak. Tetapi dalam waktu dekat, kami akan kembali. Kami mempunyai persoalan khusus dengan kau dan kawan-kawanmu. Rumah kami tidak terlalu jauh dari tempat ini. Sayang, baru sekarang kami tahu, bahwa di sini ada sekelompok orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain untuk mendapatkan nafkah bagi hidupnya”

"Kau tidak usah ikut campur..." jawab Sura Gayam.

Ketika Laksana maju selangkah, Sura Gayam tiba-tiba saja menyadari bahwa anak muda itu dapat berbuat kasar kepadanya. Karena itu, iapun berkata "Maksudku, aku tidak mempunyai pilihan lain Ki Sanak”

"Jangan bohong!" berkata Laksana "Tetapi terserah kepadamu. Kami akan kembali lagi ketempat ini, seperti yang aku katakan. Jika kami masih menjumpaimu melakukan cara ini, maka kau tidak hanya akan menjadi pingsan, tapi kau akan mati. Bersiaplah dengan kawan sebanyak-banyaknya, karena kamipun akan datang dengan kawan-kawan kami”

Demikianlah, maka Ki Wiradadi pun memberikan beberapa petunjuk kepada anak-anak muda yang telah berlaku kasar kepada anak-anaknya. Namun Ki Wiradadi sadar, bahwa dengan petunjuk-petunjuk seperti yang diberikan, anak-anak muda itu tidak akan mudah untuk menyadari kesalahannya. Karena itu, Ki Wiradadi pun berkata.

"Aku akan membawa anak gadisku pulang. Pada kesempatan lain, aku akan datang menemui orang tua kalian”

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Namun Ki Wiradadi tidak menghiraukannya lagi. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Wiradadi telah membawa anak gadisnya meninggalkan tempat itu. Manggada dan Laksana masih juga menyertainya. Bagaimanapun juga, keduanya masih mencemaskan kemungkinan buruk terjadi atas gadis itu.

Namun pengalaman yang telah memperkaya perbendaharaan hidup Manggada dan Laksana itu, sangat berkesan di hati keduanya. Sejak keduanya keluar dari lingkungan sempit, maka seakan-akan mereka telah berdiri di hadapan cakrawala yang digelar luas. Keduanya sempat menatap kehidupan ini sebagai medan perburuan yang sangat bengis.

Ketiga orang yang menyertai gadis yang hampir saja menjadi korban dari satu kepercayaan yang hitam itu, ternyata masih juga di cemaskan oleh seekor burung yang terbang di atas mereka ketika mereka berjalan dibulak panjang. Berputar-putar seakan-akan memperhatikan langkah-langkah mereka dengan seksama. Seekor burung elang.

Mereka segera teringat beberapa ekor burung yang beterbangan di atas pondok Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi yang bongkok itu. Burung-burung yang ternyata adalah milik Panembahan yang berhati kelam itu.

Semula kedua anak muda itu sama sekali tidak membayangkan bahwa mereka akan menjumpai satu gambaran dari kehidupan yang buram. Tentang sifat-sifat sesamanya yang tidak segera dapat dimengerti. Bahkan ada anak-anak muda; yang dengan kasar ingin merampas seorang gadis dari orang tuanya, sebagai barang mainan.

Mamun semuanya telah terlampaui. Yang tinggal adalah satu pengalaman menarik. Pengenalan atas kehidupan yang lebih luas dari sebuah padepokan. Kedua anak muda yang mengawani Ki Wiradadi membawa pulang anaknya itu merasa bahwa pengenalannya atas kehidupan ini terlalu sempit. Masih banyak sekali yang belum mereka lihat. Karena itu, didalam hati kedua anak muda itu tumbuh satu keinginan untuk melihat dan mendengar semakin banyak.

Karena itulah, ketika mereka sampai di rumah Ki Wiradadi, Laksana berdesis "Kakang, apakah kita akan segera kembali ke rumah paman, setelah kita meninggalkan rumah Ki Wiradadi?

"Apa maksudmu?" bertanya Manggada.

"Selagi kita mempunyai kesempatan, bagaimana jika kita melihat-lihat dunia ini lebih dulu?" berkata Laksana.

Sebenarnyalah bahwa Manggada pun sependapat. Tetapi ia masih juga bertanya "Bagaimana jika paman lebih dulu sampai kerumah ayah, sehingga ia akan menjadi sangat cemas, karena kita berdua belum sampai”

"Ah, ayah tentu mengenal keinginan anak-anak muda" berkata Laksana. "Ayah pun tentu membenarkan niat kita menyadap pengalaman sebanyak-banyaknya”

Manggada menarik nafas dalam-dalam, la masih merasa ngeri jika mengingat apa yang pernah dijumpainya di balik hutan Jatimalang. Keberaniannya waktu itu. sebagian, dilandasi oleh ketidak-tahuannya atas apa yang akan dihadapinya, sebagaimana juga Laksana.

Namun kedua anak muda itu selalu mengucap syukur didalam hati, bahwa Yang Maha Agung masih melindungi mereka, sehingga berhasil ikut membebaskan gadis Ki Wiradadi.

Ternyata bahwa Manggada tidak berkeberatan melaku kannya. Namun katanya "Aku setuju Laksana. Tetapi hal itu kita lakukan sambil menempuh perjalanan pulang. Sebenarnyalah aku ingin untuk segera menghadap ayah, dan menyampaikan hasil jerih payahku selama berguru bersamamu di tempatmu”

"Baiklah" berkata Laksana "Kita melihat-lihat di sepanjang perjalanan pulang”

Sebenarnyalah ketika kedua anak muda itu sudah yakin bahwa Ki Wiradadi selamat sampai kerumahnya, maka keduanya pun minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Ternyata Ki Wiradadi terkejut mendengarnya. Dengan serta merta Ki Wiradadi bertanya "Jadi kalian tidak tinggal di rumahku barang satu dua pekan?”

Manggada tersenyum. Katanya "Maaf Ki Wiradadi. Kami berdua harus segera pulang agar orang tua kami tidak menjadi cemas tentang kami”

"Tetapi kenapa begitu tergesa-gesa. Seluruh keluarga kami harus mengucapkan terima kasih lebih dahulu kepada kalian berdua, yang telah membebaskan anak gadis kami dari maut yang mengerikan itu” berkata Ki Wiradadi.

"Bukan aku dan bukan adikku." jawab Manggada "Justru kami hanya ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya kami hadapi”

"Apapun yang kalian lakukan, tetapi kalian telah melakukan satu langkah yang sangat berarti bagi keluarga kami. Tanpa kalian berdua, yang terjadi tentu jauh berbeda dari apa yang sekarang terjadi” berkata Ki Wiradadi.

"Yang Maha Agung lah Maha Penentu” berkata Manggada.

Ki Wiradadi mengangguk. Kemudian ia berkata “Tetapi bagaimanapun juga, kami akan menahan kalian berdua untuk setidak-tidaknya sepekan di sini”

Tetapi Manggada dan Laksana ternyata tidak merasa perlu lagi untuk berlama-lama berada di rumah Ki Wiradadi. Dengan nada rendah, Manggada berkata “Kami mengucapkan terima kasih Ki Wiradadi. Tetapi kami terpaksa mohon diri”

"Jangan sekarang" cegah Ki Wiradadi. Manggada dan Laksana memang tidak dapat memaksa.

Mereka harus menunda keberangkatan mereka. Tetapi Manggada dan Laksana hanya bersedia tinggal untuk satu malam. Ki Wiradadi mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menyatakan terima kasihnya kepada Manggada dan Laksana. Seluruh keluarga Ki Wiradadi yang dapat, dan sempat dipanggilnya, datang menemui kedua orang anak muda itu.

Bahkan salah seorang di antara keluarga Ki Wiradadi itu sempat berdesis “Sayang sekali. Jika saja salah seorang dari keduanya kau ambil menantu”

Ki Wiradadi tertawa. Katanya “Keduanya sedang berkembang. Nampaknya keduanya masih lebih senang melihat-lihat dan mengenali lingkungan kehidupan ini. Tidak ada seorangpun yang mampu mengikat mereka sekarang. Entahlah jika beberapa tahun lagi keduanya tersesat kerumah kita”

Keluarga Ki Wiradadi itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih berkata “Bukankah kau belum mencoba mengatakannya?"

"Aku sudah bersama-sama mereka untuk beberapa hari" jawab Ki Wiradadi "aku sudah mengenal keduanya cukup baik. Sifat-sifat mereka dan tingkah laku mereka”

* * *

Ternyata, ketika keringat kedua anak muda itu mulai mengalir, terasa di dalam diri mereka sesuatu yang berkembang. Ketika keduanya saling berloncatan menyerang, mereka merasa bahwa tenaga cadangan mereka telah meningkat semakin tinggi. Jika terjadi benturan, rasa-rasanya terjadi hentakan angin yang menggetarkan udara di sekitar mereka.

Kedua anak muda itu-mulai meneliti kemungkinan-kemungkinan lain di dalam diri mereka. Mereka telah mencoba mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga cadangan mereka, sehingga mereka dapat mengenali landasan kekuatan mereka sendiri.

Ternyata kekuatan mereka bukan saja meningkat, tepi juga membuat daya tahan mereka menjadi semakin tinggi. Setelah beberapa lama berlatih, kekuatan mereka sama sekali belum terpengaruh, sehingga tanpa berjanji keduanya telah berlatih terus.

Keduanya tidak merasa bahwa matahari telah menjadi semakin tinggi. Keringat telah terperas dari tubuh mereka, namun keduanya masih berlatih dengan cepat dan keras sampai matahari mencapai puncak langit.

Akhirnya, Manggada bertanya “Apakah kita akan berlatih sampai senja?”

Laksana mengerti maksud saudaranya itu. Karenanya, ia meloncat surut untuk mengambil jarak. Kedua anak muda itu kemudian berhenti berlatih, sambil menilai apa yang telah mereka lakukan, sehingga mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa kemampuan mereka memang sudah meningkat. Meskipun peningkatan itu tidak terjadi pada ilmunya, tapi pada landasan kekuatannya yang memberikan arti tersendiri.

Demikianlah. Dengan kesabaran tentang peningkatan kemampuan mereka, keduanya melanjutkan perjalanan untuk menemukan bentuk bagi diri mereka, serta arti dari hidup mereka, sebelum mereka menginjakkan kaki mereka di plataran rumah.

Namun dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Laksana berkata, “Seandainya saja”

Manggada berpaling kepadanya sambil bertanya “Apa maksudmu dengan kata-kata itu?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab “Tidak. Tidak apa-apa”

"Ah. Kau tentu akan mengatakan sesuatu" desis Manggada "tetapi jika aku satu-satunya kawanmu diperjalanan ini tidak boleh mendengar, apa boleh buat”

"Jangan merajuk" desis Laksana sambil tersenyum.

"Untuk apa aku merajuk? Tetapi untuk selanjutnya, persoalan diantara kita akan menjadi tertutup, karena akupun tidak akan mengatakan apa-apa kepadamu" jawab Manggada.

"Jangan begitu." desis Laksana kemudian. "sebenarnya, aku hampir saja mengatakan satu hal yang tentu tidak kau setujui”

"Kenapa?" bertanya Manggada.

"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang yang dapat membantu kita untuk menjajagi kemampuan kita" berkata Laksana dengan ragu-ragu.

"Ketika kita meninggalkan rumah ayahmu, maka kaupun berniat seperti itu. Tetapi aku selalu teringat pesan ayahmu, bahwa seharusnya kita tidak perlu melakukan hal itu. Kita tidak usah mencoba kemampuan kita dengan cara seperti itu” sahut Manggada sambil memandang kekejauhan.

"Akupun ingat pula. Karena itu, maka niatku untuk mengatakan hal itu aku urungkan. Tetapi kau memaksaku untuk mengatakan" desis Laksana hampir tidak terdengar.

"Sudahlah." berkata Manggada kemudian "kita akan meneruskan perjalanan. Nampaknya kita tidak menempuh jalan terdekat ke Pajang. Tetapi tidak mengapa”

Keduanya telah melangkah terus meskipun mereka tahu, bahwa mereka tidak sedang mendekati Pajang. Tetapi nampaknya kedua orang anak muda itu masih ingin melihat-lihat, apa yang tersembunyi di balik cakrawala. Namun langkah mereka ternyata tidak akan pernah sampai kekaki langit itu.

Demikianlah keduanya berjalan terus. Menjelang senja mereka masih menemukan sebuah kedai yang hampir menutup pintunya. Tetapi pemilik kedai itu masih menerima keduanya.

"Tetapi sudah tidak lengkap lagi" berkata pemilik kedai itu, tinggal nasi dengan sayur asam”

"Apa saja" jawab Manggada "asal kami tidak kelaparan”

Untuk beberapa lama keduanya berada di kedai itu. Namun sebelum gelap mereka telah meninggalkan kedai itu menuju kepadukuhan yang terdekat.

"Kita akan minta ijin untuk bermalam di banjar" berkata Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan tidak ada persoalan apapun di padukuhan itu”

Manggada tersenyum. Nampaknya Laksana ingin menunjukkan bahwa ia tidakingin mencoba kemampuannya setelah kemampuan mereka meningkat. Namun Manggada tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, merekapun telah memasuki padukuhan itu pada saat malam mulai turun.

Namun keduanya menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berada di banjar. Beberapa lampu minyak menyala di pendapa banjar, sementara beberapa buah oncor jarak menyala di regol dan halaman.

"Apa pula yang terjadi" desis Manggada "nampaknya ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini. Karena itu, kita urungkan saja niat kita untuk bermalam di banjar”

"Lalu kita akan bermalam di mana?" bertanya Laksana.

"Di banjar padukuhan berikutnya" jawab Manggada.

"Nanti terlalu malam. Kita justru dapat dicurigai" jawab Laksana. Lalu katanya “apapun yang terjadi, sebaiknya kita mencoba untuk minta ijin bermalam di banjar”

Manggada tersenyum pula. Katanya “Bukankah kau ingin tidak menjumpai persoalan apapun juga”

"Ah, kau" sahut Laksana. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia tahu bahwa Manggada sedang mengganggunya.

Namun demikian, akhirnya keduanya juga singgah di banjar itu. Dipintu gerbang halaman banjar, seorang anak muda menemuinya dan bertanya,

"Siapa yang kalian cari?"

"Kami ingin minta ijin untuk bermalam Ki Sanak”

"Siapakah kalian?" bertanya anak muda itu.

"Namaku Manggada. Ini adikku. Laksana" jawab Manggada.

"Tunggulah disini...” berkata anak muda itu. "tetapi kalian ini sedang dalam perjalanan dari mana ke mana?”

"Kami sedang menuju ke Pajang" jawab Manggada.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya pula "Tunggulah sebentar. Aku akan bertanya kepada Ki Bekel yang juga ada di banjar ini sekarang”

"Nampaknya ada kesibukan di banjar ini?" bertanya Laksana.

"Ya, Ki Bekel dan para bebahu sedang gelisah. Seorang gadis telah hilang” jawab anak muda itu.

"Seorang gadis telah hilang?" ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng.

"Ya" jawab anak muda ini.

"Kapan hal itu terjadi?" tanya Manggada.

"Kemarin” jawab anak muda itu.

"Baru kemarin?" bertanya Laksana.

"Ya, kenapa? Apakah kau mengetahui tentang gadis yang hilang?" bertanya anak muda itu.

"Ki Sanak, apakah aku diperkenankan bertemu dengan Ki Bekel untuk memberikan sedikit keterangan tentang gadis-gadis yang hilang?" bertanya Manggada.

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Marilah. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan”

Keduanyapun kemudian Lelah dibawa ke halaman banjar. Beberapa orang anak muda yang ada dipintu banjar memandangi Manggada dan Laksana dengan heran. Seorang diantara mereka bertanya kepada anak muda yang membawa keduanya masuk,

"Siapakah mereka dan untuk apa mereka datang ke banjar? Bukankah keduanya bukan anak muda dari padukuhan ini?”

"Mereka ingin bertemu dengan Ki Bekel" jawab anak muda itu.

Memang tidak ada yang bertanya lagi. Manggada dan Laksana langsung dibawa menghadap Ki Bekel yang duduk di pendapa banjar yang banyak didatangi oleh anak-anak muda padukuhan itu.

Ki Bekel memang agak heran melihat kedua orang anak muda itu.. Dengan serta merta ia bertanya "Siapa kalian? Dan apakah keperluan kalian?"

"Kami dua orang bersaudara yang menempuh perjalanan ke Pajang, Ki Bekel. Ketika diregol kami mendengar bahwa ada seorang gadis yang hilang, maka kami ingin ikut membicarakannya” jawab Manggada.

"Apakah ada hubunganmu dengan gadis yang hilang?" bertanya Ki Bekel.

"Kami baru saja membebaskan seorang gadis yang hilang dari belakang hutan Jatimalang” berkata Manggada "Tetapi menurut pengetahuan kami, sekelompok orang-orang sesat di belakang hutan Jatimalang itu sudah kami hancurkan bersama dengan sekelompok prajurit yang didahului dengan bantuan seorang pertapa yang memiliki ilmu yang tinggi”

Ki Bekel menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya "Ada apa dibelakang hutan Jatimalang”

Dengan singkat Manggada menceriterakan apa yang terjadi di hutan Jatimalang, hingga seorang gadis yang hampir menjadi korban dapat diselamatkan.

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Katanya “Apakah mungkin gadis yang hilang itu juga telah dibawa ke hutan Jatimalang?”

"Sepengetahuan kami orang-orang sesat di Jatimalang itu telah tidak berarti lagi. Tetapi pemimpinnya, memang masih belum tertangkap” berkata Manggada.

"Apakah pemimpinnya itu bergerak sendiri meskipun anak buahnya sudah tidak ada lagi?" desis Ki Bekel.

"Aku kira tidak, karena jika sekali korban itu lewat saat bulan purnama, maka segalanya harus diulangi lagi” jawab Manggada meskipun ia mulai menjadi ragu-ragu.

"Bagaimana jika pemimpin dari kelompok beraliran sesat itu mulai lagi dari gadis yang pertama” berkata Ki Bekel.

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya "Apakah Ki Bekel sudah minta keterangan dari orang-orang yang agaknya terkait dengan hilangnya gadis itu. Orang tuanya, kawan-kawannya atau orang lain yang selalu berhubungan dengan gadis itu?”

"Secara mendalam belum!" jawab Ki Bekel.

"Apakah Ki Bekel berkenan untuk membawa kami menemui orang tua gadis itu?" bertanya Manggada pula.

Ki Bekel itu termangu-mangu sejenak. Beberapa orang bebahupun nampak ragu-ragu. Namun akhirnya Ki Bekel berkata “Marilah. Kita akan menemui orang tua gadis yang hilang itu”

Sejenak kemudian, bersama Ki Bekel dan dua orang bebahu kedua orang anak muda itu telah pergi kerumah orang tua gadis yang hilang itu.

Suasana rumah itu rasa-rasanya seperti sedang berkabung karena kematian. Beberapa orang duduk dengan wajah yang buram. Sementara ibu dari gadis yang hilang itu masih saja menangis. Suaminya yang mempersilahkan Ki Bekel masuk, setiap kata yang setelah Ki Bekel memperkenalkan kedua orang pengembara itu serta sedikit pengalamannya, maka iapun bertanya kepada kedua orang tua gadis itu.

"Apakah ada seseorang yang kalian curigai? Atau mungkin sebuah dugaan?"

"Tidak Ki Bekel...” jawab ayahnya dengan suara sendat.

"Tetapi " isterinya masih terisak.

Namun suaminya segera memotongnya "Sudahlah. Kau jangan membuat persoalan ini semakin rumit”

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa Ki Sudagar Resakanti malam ini akan datang kemari” berkata isterinya disela isaknya yang tidak berkeputusan.

"Apa hubunganmu dengan Ki Sudagar Resakanti?" bertanya Ki Bekel dengan dahi berkerut.

"Anak gadisku yang hilang itu sudah terlanjur dipertunangkan dengan anak laki-laki Ki Sudagar. Ia tentu akan menjadi sangat marah jika anakku itu tidak dapat diketemukan”

"Kenapa ia menjadi marah. Seharusnya ia menjadi berprihatin seperti kalian. Seandainya ia kehilangan calon menantunya, bukankah kalian justru kehilangan anak kalian?" sahut Ki Bekel.

"Seharusnya demikian Ki Bekel" desis ibu gadis yang hilang itu. Namun katanya kemudian "Tetapi ia mencurigai kami, seolah-olah kami telah menyembunyikannya”

"Tetapi masih belum tentu Ki Bekel" sahut suaminya "kami belum bertemu dengan Ki Sudagar Resakanti. Yang kami dengar baru dugaan orang yang datang atas suruhannya menanyakan kebenaran berita bahwa anakku telah hilang”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya “Jika demikian, aku akan menunggunya disini. Aku ingin menjadi saksi pembicaraan kalian. Kedua orang anak muda ini akan dapat memberikan beberapa keterangan agar kalian tidak dituduh menyembunyikan anak gadismu sendiri”

"Tetapi apakah dengan demikian Ki Sudagar Resakanti tidak akan semakin marah kepada kami?" bertanya ayah gadis yang hilang.

"Ia tahu siapa aku" jawab Ki Bekel.

Kedua orang tua gadis yang hilang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ibu gadis itu berkata "Tidak, gadisku tidak akan dibawa ke hutan Jatimalang”

"Kami tidak mengatakan demikian. Nyi" sahut Ki Bekel "yang dibawa ke hutan Jatimalang itu bukan anakmu”

"Tetapi bagaimana dengan anakku" tangisnya.

"Kami akan membantu mencarinya. Nyi" desis Manggada hampir diluar sadarnya.

Namun sebelum tangis perempuan itu mereda, terdengar suara beberapa orang mendekat. Ternyata orang itu adalah Ki Sudagar Resakanti dan tiga orang pengiringnya. Laki-laki yang berwajah garang dan bertubuh tinggi dan besar.

Kedua orang tua gadis itu memang menjadi ketakutan. Ketika Ki Sudagar itu masuk dan melihat Ki Bekel ada di situ, maka iapun segera bertanya, "He, untuk apa Ki Bekel ada disini?”

"Aku ingin menjadi saksi atas persoalan yang sedang kalian hadapi. Aku juga membawa dua orang anak muda yang mempunyai pengalaman yang menarik tentang hutan Jatimalang yang sering menelan gadis-gadis”

"Apa hubungannya antara gadis yang hilang itu dengan kedua orang anak muda yang tidak aku kenal itu?" bertanya Ki Sudagar Resakanti dengan kerut di kening.

"Silahkan duduk, aku ingin berceritera serba sedikit" berkata Ki Bekel.

Meskipun wajahnya nampak menegang, namun Ki Sudagar itupun duduk diamben yang besar diruang dalam rumah yang tidak begitu besar itu. Ki Bekelpun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hutan Jatimalang sebagaimana diceriterakan oleh Manggada dan Laksana.

"Omong kosong" Ki Sudagar itu hampir berteriak. "Ternyata dirumah ini telah berkumpul sekelompok orang yang ingin menipuku. Tetapi aku bukan orang dungu”

"Jadi kau tuduh aku juga menipu?" bertanya Ki Bekel.

"Ya. Aku tahu Ki Bekel merasa iri, karena sebenarnya gadis yang hilang itu akan Ki Bekel ambil sebagai menantu Ki Bekel sendiri" jawab Ki Sudagar Resakanti.

"Kau jangan mengada-ada Ki Sudagar. Aku datang untuk membantu memecahkan persoalan ini. Jika Ki Sudagar menuduh yang bukan-bukan, aku dapat saja mencuci tangan” Ki Bekelpun menggeram marah.

Namun Ki Sudagar itu kemudian menjawab “Aku tahu, kedua orang tuanya memang licik. Mereka mau menerima mas kawin yang jumlahnya tidak sedikit. Aku telah memperbaiki rumah ini pula. Tetapi kemudian anaknya disuruhnya melarikan diri dengan seorang laki-laki karena anaknya tidak mau kawin dengan anakku Janjinya bahwa segala sesuatu ada ditangannya ternyata sebuah tipuan saja”

"Kenapa kau menganggap bahwa kau telah tertipu? bertanya Ki Bekel.

"Seseorang melihat sebuah pedati membawa seorang perempuan menjauhi padukuhan ini. Ketika orangku pulang berkuda dari satu urusan dagang, maka diperjalanan itu ia bertemu dengan sebuah pedati yang berisi tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Semula orangku itu tidak mengira bahwa perempuan yang ada dalam pedati itu adalah bakal menantuku. Namun ketika ia tahu bahwa calon menantuku itu hilang, maka harulah ia mencoba mengingat-ingat tentang perempuan sang dibawa dalam pedati itu”

"Dibawa dalam pedati?" bertanya Manggada tiba-tiba.

"Untuk apa kau bertanya, jika ikut menyiapkan pelariannya?" bentak Ki Sudagar.

"Tetapi aku masih ingin bertanya sekali lagi" sela Manggada "dibawa kearah mana?”

"Kearah Gunung Lawu" jawab Ki Sudagar. Tanpa sesadarnya "tetapi Gunung Lawu itu masih jauh sekali. Hanya arahnya saja”

Wajah Manggada dan Laksana menjadi tegang. Sementara itu, Ki Sudagar berkata “Kalian tidak usah berpura-pura terkejut”

Tiba-tiba Manggada berdesis "Hutan Jatimalang terletak di kaki Gunung Lawu, Ki Bekel. Kita harus menyusul mereka”

"Nanti dulu anak muda" berkata Ki Bekel "aku hargai sikap kalian. Kalian bersungguh-sungguh dan aku nilai kalian jujur. Tetapi sebelumnya aku akan bertanya kepada Ki Sudagar, apakah Ki Sudagar mencurigai seseorang?”

"Ya” jawab Ki Sudagar "aku memang mencurigai seseorang. Seseorang yang akrab dengan anak gadismu”

"Anakku tidak mempunyai kawan siapa-siapa. Anak gadisku jarang sekali keluar rumah" jawab ibu gadis yang hilang itu.

"Kau tidak usah berbohong!" bentak Ki Sudagar "Aku mempunyai mata lebih dari seribu pasang”

"Jika demikian siapa? Anak laki-laki itu?" bertanya Ki Bekel dengan nada tinggi.

"Persetan dengan anakmu. Yang aku curigai adalah anak Winduwara yang tinggal disudut padukuhan itu. Dijualnya anak itu kepadaku, tetapi kemudian anak itu dijualnya pula kepada orang lain. Kepada Winduwara. Berapa Winduwara membelinya sehingga anaknya diberikan kepada Winduwara, tidak kepadaku”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Manggada dan Laksana "Anak-anak muda. Bukan aku tidak percaya kepada kalian tentang peristiwa dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi aku ingin mendengar keterangan Winduwara lebih dahulu. Apakah anaknya ada dirumah atau tidak”

Laksana hanya mengangguk-anguk saja. Mungkin burung elang itu adalah burung elang kebanyakan yang sedang mengintai anak ayam dipadukuhan yang mereka masuki. Beberapa orang yang baru bangun dari tidurnya memang terkejut melihat iring-iringan orang berkuda itu. Tetapi karena para penunggang kuda itu tidak menghiraukan mereka, maka merekapun kemudian juga tidak menghiraukannya pula.

Dengan demikian, maka Ki Winduwarapun langsung membawa iring-iringan itu kerumah saudaranya yang memang sering dikunjungi oleh anak laki-lakinya. Ki Winduwara memang berpikir, kenapa anak laki-lakinya pada saat-saat terakhir sering berkunjung kerumah paman dan bibinya itu. Apakah memang ada hubungannya dengan rencananya membawa gadis itu untuk disembunyikan. Tetapi Ki Winduwara dan isterinya tidak pernah mengetahui hubungan anaknya dengan gadis yang hilang itu. Apalagi untuk melarikannya.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa ekor kuda itupun telah memasuki halaman rumah saudara Ki Winduwara. Kedatangan mereka memang sangat mengejutkan. Apalagi anak laki-laki Ki Winduwara yang memang ada dirumah itu sebagaimana dikatakan. Tanpa menunggu dipersilahkan masuk kedalam, Ki Winduwara yang melihat anak laki-lakinya segera memanggilnya.

"Sela Aji. Kemarilah. Aku akan berbicara denganmu”

"Ada apa kakang?" bertanya adiknya Ki Winduwara.

"Kau tidak usah melindungi anakmu" berkata Winduwara "aku datang bersama Ki Bekel di padukuhanmu serta beberapa orang bebahu. Padukuhanku menjadi gempar karena seorang gadis telah hilang. Apalagi ketika kedua orang anak muda itu datang sambil membawa berita buruk tentang hutan Jatimalang. Padukuhanku menjadi semakin ribut”

"Seorang gadis yang hilang?" bertanya adiknya.

"Aku ingin bertanya kepada Sela Aji, apakah ia memang seorang laki-laki atau bukan. Jika ia seorang laki-laki, ia akan menjawab berterus terang jika ia benar membawa seorang gadis sehingga persoalannya akan menjadi jelas”

Wajah adiknya menjadi tegang. Apalagi anaknya, Sela Aji. Jantungnya berdetak semakin keras, sementara darahnya serasa mendidih memanasi seluruh tubuhnya.

Sambil menengadahkan dadanya, Sela Aji itu menjawab "Ya. Aku telah membawa gadis itu”

"Nah, bukankah benar dugaanku" teriak Ki Sudagar Resakanti "aku tidak mau menerima keadaan ini”

Tetapi Ki Winduwara berkata “Apakah aku boleh berbicara lagi dengan anakku, Ki Bekel?”

"Apakah yang akan kau katakan? Bukankah semuanya sudah jelas? Anakmu harus dihukum karena melarikan seorang agdis. Sedangkan gadis itu harus kembali kepada orang tuanya” geram Ki Sudagar Resakanti.

"Tunggu Ki Sudagar" sahut Ki Bekel "orang tuanya saja tidak ribut sebagaimana Ki Sudagar” lalu katanya kepada Ki Winduwara "Katakan, apalagi yang ingin kau katakan”

"Katakan Sela Aji. Apakah kau melarikan gadis itu, atau kalian memang berniat untuk lari bersama-sama?" bertanya Ki Winduwara.

"Kami memang berniat lari bersama-sama" jawab Sela Aji.

"Omong kosong. Kau tentu menculiknya dan melarikannya” teriak Ki Sudagar Resakanti.

Ki Bekel tidak menghiraukannya. Tetapi katanya "Bawa gadis itu kemari. Aku ingin bertanya langsung kepadanya”

Sela Aji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Baik Ki Bekel. Aku akan mengajak Miranti kemari"

"Kau disini saja. Biar pamanmu yang memanggilnya" berkata Ki Bekel dengan wajah yang tegang.

Pamannya memang menjadi ragu-ragu. Namun Sela Aji berkata “Silahkan paman? Bawa Miranti kemari”

Sejenak kemudian, maka gadis yang hilang itu telah berada diantara mereka yang masih ada dihalaman. Wajahnya pucat dan tubuhnya menjadi gemetar.

"Jangan takut Miranti” desis Sela Aji. "cinta kita akan mengatasi segalanya. Kita juga akan mengatasi kesulitan ini”

Namun dalam pada itu, Ki Sudagar berkata lantang kepada ayah gadis itu "Ambil anakmu, bawa ia pulang”

"Tunggu" berkata Ki Bekel, yang kemudian bertanya kepada Miranti. "Apakah kau dilarikan oleh Sela Aji dengan paksa?”

Miranti yang pucat dan gemetar itu tidak menjawab.

"Katakan yang sebenarnya, jangan takut" berkata Ki Bekel.

Miranti memandang Sela Aji sejenak. Namun kemudian kepalanya menggeleng lemah.

"Jadi, kau memang sengaja lari bersamanya?" bertanya Ki Bekel dengan dahi berkerut.

"Ya" jawab Miranti hampir tidak terdengar.

"Bohong" teriak Ki Sudagar "Gadis itu tentu sudah diancam oleh anak iblis itu”

Namun ayah Miranti itu bertanya "Kenapa kau melarikan diri mendekati saat perkawinanmu?”

Wajah Miranti yang pucat itu nampaknya semakin pucat. Tetapi ia menjawab “Bukankah sudah aku katakan ayah, aku tidak mau kawin dengan anak Ki Sudagar yang sudah beristeri tiga orang”

"Tetapi aku menentukan. Kau tidak dapat memilih” geram ayahnya yang sudah terjerat oleh Ki Sudagar.

Ki Bekel itupun kemudian berkata “Jika demikian, aku sudah tahu persoalannya. Pembicaraan kita sudah memberikan gambaran tentang peristiwa yang terjadi, yang menggemparkan seluruh padukuhan kita” Lalu Ki Bekel itupun berpaling kepada Manggada dan Laksana. Katanya “Anak-anak muda. Inilah kenyataan yang kita hadapi. Meskipun tetap rumit, tetapi bersukurlah kita karena kita tidak perlu menyeberangi hutan Jatimalang”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada berkata. "Aku ikut bersukur Ki Bekel. Demikian kami mengetahui bahwa gadis itu ada disini, maka kamipun ikut menyatakan sukur. Bagaimanapun juga gadis itu tidak akan menjadi korban dari satu ajaran yang sesat itu”

"Baiklah" berkata Ki Bekel "kita akan kembali ke padukuhan. Segala sesuatunya akan kita selesaikan di padukuhan”

Tetapi tiba-tiba Miranti menjerit "Tidak. Aku tidak mau kembali. Aku tidak mau kawin dengan laki-laki itu”

"Tidak. Kau harus kembali Miranti" bentak ayahnya "pembicaraan tentang hari perkawinanmu telah di tentukan. Kau tidak berhak menolak”

"Tidak. Aku tidak mau” tangis gadis itu.

Sela Aji menjadi tidak sabar lagi. Iapun kemudian melangkah mendekati Miranti sambil berkata "Aku akan mempertahankannya. Ia tidak dapat dipaksa dengan cara apapun”

"Jangan mencari penyakit" bentak Ki Sudagar Resakanti "kau harus melepaskan gadis itu untuk dibawa kembali oleh ayahnya, karena hanya ayahnya sajalah yang berhak menentukan”

"Gadis itu sudah dewasa. Ia dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Jika ia tidak ingin pulang, maka tidak ada yang berhak memaksanya. Ayahnyapun tidak" geram Sela Aji.

Tetapi Ki Sudagar Reksakanti berkata "Jika ada yang mencoba menghalangi, aku akan mempergunakan kekerasan” Lalu katanya kepada ayah gadis itu "Ambil anakmu. Orang-orangku akan membantumu”

Ketiga orang pengiring Ki Sudagar tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Ki Sudagar berkata "Ki Bekel. Jangan turut campur. Jika Ki Bekel turut campur maka orang-orangku akan bertindak lebih kasar lagi. Juga kepada Ki Bekel”

Ki Bekel memang termangu-mangu. Namun katanya kemudian "Aku berhak mencegah seseorang yang bertindak sendiri-sendiri. Juga dalam hal ini”

"Tetapi anak itu adalah anakku Ki Bekel. Aku berhak mengajarnya sesuai dengan cara serta kemauanku tanpa campur tangan orang lain. Aku tidak bertindak sendiri atas orang lain" berkata ayah Miranti.

"Tetapi persoalan ini menyangkut hak anakmu menentukan jalan hidupnya. Jika persoalannya karena kau sudah menerima mas kawin dari Ki Sudagar Resakanti, maka persoalannya dapat kita bicarakan kemudian. Mungkin kau memang harus mengembalikannya, tetapi dengan cara yang pantas” jawab Ki Bekel.

"Aku tidak mau dengan cara apapun juga. Apa yang sudah disepakati, harus berlangsung. Gadis itu berbohong jika anakku beristeri tiga orang. Dua diantaranya sudah diceraikan. Untunglah anakku itu tidak ikut bersama kami. Jika ia ikut, maka ia tentu telah bertindak keras".

"Tentu saja anakmu tidak ikut" berkata Sela Aji "bukankah anakmu cacat setelah menderita sakit”

"Setan kau" teriak Ki Sudagar Resakanti "cepat, ambil gadis itu dan bawa kembali”

Namun Ki Bekel berpegang pada sikapnya, sehingga iapun berkata "Aku melarang kalian bertindak sewenang-wenang atas gadis itu”

Namun kata-katanya sudah tidak didengar lagi. Suasana sudah berubah menjadi semakin panas. Karena itu, maka ayah Mirantipun berusaha untuk memaksa anaknya pulang.

Tentu saja Sela Aji tidak melepaskannya, sehingga akhirnya perkelahian tidak dapat dihindarkan. Sela Aji telah berusaha untuk melindungi Miranti dari kemauan ayahnya yang telah diracuni dengan mas kawin yang memang cukup besar.

Tetapi paman Sela Aji dan Ki Bekel tidak membiarkannya. Bahkan dua orang pembantu Ki Bekel dan Ki Winduwara telah melibatkan diri pula. Tetapi yang mereka hadapi adalah tiga orang pengiring Ki Sudagar Resakanti. Tiga orang yang bertubuh raksasa dan mempunyai kemampuan serta pengalaman melakukan kekerasan.

Ternyata Ki Bekel, para bebahu dan Sela Aji dengan keluarganya tidak mampu mengimbangi ketiga orang bertubuh tinggi dan besar itu. Dengan kasar ketiga orang itu sempat melemparkan lawan-lawan mereka dan membantingnya diatas tanah. Yang keadaannya paling pahit adalah Sela Aji sendiri. Beberapa kali ia terlempar jatuh berguling-guling. Hanya karena tanggung jawabnya yang besar sajalah maka ia masih sempat bangkit dan tertatih-tatih melakukan perlawanan.

Manggada dan Laksana menjadi bingung. Untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu. Semula memang ada niat mereka untuk tidak turut campur. Namun semakin lama hati mereka mulai tergelitik. Apalagi ketika mereka melihat Ki Bekel yang tua itu beberapa kali terjatuh dan bahkan kemudian satu pukulan yang keras telah melemparkannya jatuh terkapar hampir dikaki Manggada.

Darah Manggada tersirap. Apalagi ketika ia melihat Miranti mulai meronta-ronta karena diseret oleh ayahnya dibantu oleh Ki Sudagar Resakanti. Ketika Manggada menolong Ki Bekel berdiri, maka Laksana telah berbisik ditelinganya,

"Aku telah menemukan orang yang dapat membantuku mengukur kemampuanku setelah aku mendapat peningkatan secara khusus di belakang hutan Jatimalang. Apakah kau akan ikut kakang Manggada?”

Laksana tidak menunggu jawaban Manggada. Ketiga orang bertubuh raksasa itu telah kehilangan lawan-lawan mereka. Ki Bekel sudah tidak berdaya. Demikian pula para bebahu. Sementara itu Sela Aji sendiri telah menjadi hampir pingsan.

"Aku sudah memberi peringatan kepada kalian” berkata Ki Sudagar Resakanti "tetapi apa boleh buat. Sekarang, aku akan pulang. Aku siap menghadapi segala macam tindakan yang akan diambil oleh Ki Bekel. Semakin keras ia menentang aku, maka semakin keras pula aku memberikan perlawanan. Aku mempunyai uang untuk membuat Ki Demang tidak berbuat apa-apa”

Ki Bekel memang sudah tidak berdaya. Tetapi Ki Resakanti terkejut ketika seorang anak muda melangkah mendekatinya sambil berkata “Aku berada dipihak Sela Aji”

"Setan kau. Kau telah mengacaukan pedukuhanku dengan ceritera tentang hutan Jatimalang. Sekarang kau mencoba untuk mengacau lagi disini. Kau harus sadar, jika kau ikut campur, maka kaulah yang akan mengalami nasib paling buruk. Lebih buruk dari Winduwara yang sombong itu”

Tetapi Laksana menjawab "Aku tidak dapat melihat seorang tua yang sampai hati menjual anaknya kepada seorang kaya raya yang sewenang-wenang. Karena itu, maka aku harus ikut melibatkan diri. Aku memang berniat menggugurkan jual beli ini”

Dalam pada itu, Manggadapun menarik nafas dalam-dalam. la setuju untuk menolong Miranti dan Sela Aji. Tetapi ternyata Laksana masih belum melupakan keinginannya untuk menjajagi ilmunya yang telah meningkat itu.

Ketika Manggada melangkah. Ki Bekel berkata sambil terengah-engah "Sudahlah ngger. Jangan turut campur. Aku masih mempunyai wewenang untuk bertindak dengan cara apapun juga”

Tetapi Manggada berkata "Biarlah Ki Bekel. Kami merasa wajib berbuat sesuatu menghadapi persoalan seperti ini”

Manggadapun tidak dapat dicegah lagi. Dengan demikian maka kedua orang anak muda itu sudah berhadapan dengan tiga orang pengikut Ki Sudagar Resakanti yang bertubuh raksasa itu. Namun kedua orang anak muda itu sama sekali tidak merasa takut.

Ketiga orang bertubuh raksasa itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sikap kedua orang anak muda itu rasa-rasanya telah menghina mereka. Dengan geram seorang diantara mereka berkata,

"Apakah matamu buta, he? Enam orang tidak mampu melawan kami. Apalagi dua orang anak ingusan. Agaknya kalian memang sudah jemu hidup, karena kesalahan kalian lebih besar dari yang lain!”

Manggada dan Laksana tidak menghiraukannya. Merekapun segera saja bersiap untuk berkelahi...


SELESAI

Seri Arya Manggada 2,
Mas Rara

Menjenguk Cakrawala Bagian 12

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SHMintardja
Arya Manggada mengangguk, meskipun ragu-ragu. Katanya berguman "Memang bukan kita yang memulai”

Laksana tidak menjawab lagi. Perhatiannya tertambat pada tiga orang berkuda yang datang tergesa-gesa bersama anak muda yang menyusulnya.

"Untunglah ia ada dirumah" berkata anak muda itu, demikian ia meloncat dari punggung kudanya.

"Mana anak yang kau katakan itu?" bertanya orang yang kemudian juga turun dari kudanya dengan tenang, sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dua orang kawannya pun ikut pula turun, dan berdiri dibelakang Sura Gayam. Sementara itu, kudanya dibiarkan menepi sendiri, dan menunggu di bawah bayangan pepohonan.

Tetapi dalam pada itu, sikap Laksana mengejutkan mereka. Anak muda itu telah melangkah maju sambil bertanya "Inikah orang-orang upahan itu? Mana yang bernama Sura Gayam?”

Wajah Sura Gayam menjadi merah. Ia tidak terbiasa mengalami perlakuan seperti itu. Orang-orang di sekitar tempat itu, bisa jadi gemetar mendengar namanya. Tapi anak muda ini, begitu merendahkannya. Karena itu, iapun menggeram "He anak muda. Siapa kau? Nampaknya kau ingin kukoyak mulutmu”

Laksana tertawa. Katanya "Satu ciri dari orang-orang upahan. Garang dan kadang-kadang tidak mau mengerti perasaan orang lain”

"Setan kau" Sura Gayam hampir berteriak "sekali lagi kau berbicara dengan cara yang gila itu, aku akan mengoyak mulutmu. Aku tidak sekadar mengancam. Aku akan sungsuh-sungguh melakukannya.

Ternyata Laksana memang sudah memilih lawan. Ia ingin langsung berhadapan dengan orang yang namanya Sura Gayam itu. Karenanya, peringatan dan ancaman orang itu seolah-olah merangsangnya untuk melakukannya lagi. Sambil tertawa. Laksana berkata "Kau memang menyenangkan Sura Gayam. Karena itu, orang-orang kaya suka mengupahmu hanya untuk kelucuan-kelucuan yang kau buat”

Sura Gayam, orang yang ditakuti semua orang disekitarnya, benar-benar merasa terhina. Karena itu, ia meloncat, menyerang dengan garangnya. Tetapi Laksana sudah siap menghadapinya. Ia tidak berkelahi sebagaimana melawan anak-anak muda yang tidak punya daya tadi. Menghadapi orang garang dan ditakuti banyak orang itu, Laksana tidak ingin sekadar main-main.

Karena itu, Laksana mempersiapkan diri sebaik-baiknya, Demikian serangan yang mendebarkan itu datang, Laksana melenting menghindarinya, sehingga serangan garang itu sama sekali tidak mengenainya.

Tetapi Sura Gayam yang marah, tidak membiarkan Laksana terlepas dari tangannya. Dengan tangkasnya, ia segera menggeliat dan meloncat memburu. Tangannya terayun mendatar, mengarah ke kening anak muda itu.

Namun ternyata, serangannya sekali lagi tidak mengenai sasaran. Bahkan Laksana sempat berkata "Jangan tergesa-gesa. Perhitungkan setiap seranganmu, sehingga kau tidak terlalu menghamburkan tenaga sia-sia”

"Diam" bentak Sura Gayam yang menjadi semakin marah. Namun Laksana justru tertawa berkepanjangan. Laksana baru terdiam ketika dengan wajah membara Sura Gayam menyerangnya lagi.

Orang orang yang menyaksikan perkelahian itu, menjadi tegang. Sura Gayam adalah orang yang pilih tanding. Ditakuti dan semua kehendaknya harus terlaksana. Sebagai orang upahan, yang terpenting baginya adalah upah.

Demikian pula menghadapi anak-anak muda itu. Jika ia dapat memenuhi kehendak mereka, ia akan mendapat upah cukup banyak. Apalagi menyangkut wanita. Tetapi saat itu, ia menemukan lawan di luar dugaannya. Anak yang masih sangat muda itu, ternyata memiliki kecepatan gerak yang dapat mengimbangi kecepatan serangannya, sehingga beberapa kali menemui kegagalan.

Manggada yang menyaksikan sikap Laksana, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Laksana akan menguji ilmunya, dan meningkatkan kemampuannya melepaskan tenaga cadangan, setelah mendapat petunjuk dari Ki Ajar Pangukan.

Terlihat Laksana masih berloncatan dengan tangkasnya. Tubuhnya seakan-akan menjadi tidak berbobot. Kekuatan tenaga cadangan di dalam dirinya, rasa-rasanya memang menjadi berlipat.

Dalam pada itu, kedua kawan Sura Gayam menjadi heran menyaksikan perkelahian itu. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Sura Gayam yang biasanya menyelesaikan lawan-lawannya dengan cepat, harus membiarkan anak muda itu berkelahi beberapa lama.

Akhirnya, kedua orang itu melihat bahwa Sura Gayam mengalami kesulitan untuk menundukkan lawannya. Bahkan beberapa saat kemudian, mereka melihat Laksana mendesak orang yang dianggap tidak terkalahkan itu. Karena itu, keduanya di luar sadar melangkah maju. Namun mereka tertegun dan berpaling ketika melihat Manggada juga bergerak maju.

"Kau mau apa?" bertanya salah seorang dari kedua kawan Sura Gayam itu.

"Tidak apa-apa...!" jawab Manggada "Aku hanya ingin mengetahui apa yang akan kalian lakukan.”

"Kami sudah siap melibatkan diri untuk melumpuhkan anak muda yang sombong itu” jawab orang itu "Nah, sekarang terserah padamu. Kau akan membantu kawanmu atau memilih menyelamatkan diri”

Manggada tersenyum. Katanya "Kau aneh, seperti kawanmu yang bernama Sura Gayam itu. Jika orang upahan seperti kalian mengenal setia kawan, apalagi aku”

Kedua orang itu terkejut mendengar jawaban Manggada. Ternyata Manggada berhasil memancing kemarahan lawannya. Bukan sekadar untuk mendapat kesempatan berkelahi. Tapi bila kedua orang itu marah, perhitungan mereka akan menjadi kabur. Dengan demikian, mereka tidak dapat bertempur dengan baik, karena yang mereka lakukan tidak berdasar nalar bening.

Seperti yang diharapkan Manggada, kedua orang itu menjadi sangat marah. Mereka kemudian melangkah mendekati Manggada yang bergeser beberapa langkah, menjauhi Ki Wiradadi dan anak gadisnya.

"Setan kau!" geram salah seorang dari kedua orang itu "kau ingin mati lebih dulu dari kawanmu itu”

Manggada tertawa pendek. Katanya “Aku masih terlalu muda untuk mati”

"Tutup mulutmu" geram orang itu.

"Aku menjawab pertanyaanmu" sahut Manggada.

Kedua orang itu bertambah marah, dan mulai bergerak mendekat. Tetapi mereka telah memilih arah yang berbeda, sehingga Manggada harus berhati-hati menghadapinya. Ketika seorang di antaranya menyerang, Manggada meloncat menghindar. Tapi diluar dugaan, dengan cepat ia menyerang lawannya yang seorang lagi.

Yang diserang terkejut. Dengan serta merta, ia meloncat menghindar. Tapi karena tidak sempat membuat perhitungan mapan, maka waktu Manggada memburunya dengan serangan berikutnya orang itu benar-benar mengalami kesulitan. Karena tidak sempat lagi menghindari serangan itu, terpaksa ia menangkis dengan kedua belah tangannya, menahan kaki Manggada yang terjulur ke arah lambungnya.

Tetapi ternyata, kekuatan Manggada terlalu besar bagi orang itu. Karenanya, ketika terjadi benturan, orang itu tidak sanggup bertahan tegak di atas kedua kakinya. Demikian keseimbangan terguncang, iapun jatuh terguling ditanah.

Semua orang yang menyaksikan, terkejut. Kawan Sura Gayam yang ditakuti itu, dalam sekali hentak, terlempar jatuh tanpa dapat berbuat sesuatu. Meskipun dengan sigap orang itu meloncat bangkit, tapi kejadian itu telah mengguncang nyali anak-anak muda yang mengupahnya.

"Iblis kau" geram orang itu, ketika Manggada meloncat, menjauh, sekaligus menghindari serangan lawannya yang seorang lagi.

Sejenak kemudian, Manggada telah bertempur melawan kedua orang lawannya. Keduanya menyerang bergantian. Tapi kadang-kadang, mereka meloncat hampir berbareng. Sayang Manggada terlalu tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat dari lawan-lawannya, sehingga serangan-serangan yang datang beruntun itu dapat dielakkannya.

Keempat anak muda yang datang berkuda itu, menjadi tegang. Meskipun mereka tidak memahami apa yang terjadi, tetapi mereka mengerti bahwa Sura Gayam mengalami kesulitan menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu.

Karena itu, salah seorang diantara mereka berbisik, "Kita ambil gadis itu. Dengan demikian, kita dapat mengancam mereka untuk menghentikan perlawanan”

Yang lain mengangguk-angguk. Seorang yang lain bergumam "Orangtua itu tentu tidak setangkas anak-anak muda itu”

"Ya. Kita akan mengambil anak itu" desis yang lain lagi.

Keempat orang itupun kemudian bersiap-siap. Namun ternyata Ki Wiradadi dapat membaca gelagat itu. Karenanya, ia segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Perlahan-lahan didorongnya anaknya melekat dinding di sudut halaman samping kedai itu.

"Orangtua tidak tahu diri" geram salah seorang dari anak-anak muda itu. Lalu katanya pula. ”Serahkan gadismu, atau kedua orang anak laki-lakimu itu mati. Bahkan kau pun akan mati, sehingga gadismu akan kehilangan segala-galanya”

Ki Wiradadi memang tersinggung mendengar kata-kata itu. Ia telah menempuh satu perjalanan yang sangat berbahaya yang dapat merenggut jiwanya, dan jiwa kedua anak muda itu. Kini, tiba-tiba saja ia menghadapi sekelompok anak muda yang tidak bertanggung jawab, ingin mengganggu anak gadis yang telah diselamatkannya dengan bertaruh nyawa.

Karena itu, ketika keempat anak muda itu akan mengambil anaknya dengan paksa, sementara Manggada dan Laksana baru bertempur melawan orang-orang upahannya. Ki Wiradadi tidak dapat mengekang diri lagi.

Demikian anak-anak muda itu bergerak, Ki Wiradadi menarik pedangnya. Bahkan dengan lantang ia berkata "Aku tidak akan bermain-main seperti anak-anak muda itu. Kalian telah menghina anak gadisku, dan bahkan aku sendiri. Karena itu, aku tidak bertanggung jawab jika ada di antara kalian yang benar-benar mati. Aku dan anak gadisku bukan bahan olok-olok, setelah kami keluar dari garangnya orang-orang liar di balik hutan Jatimalang!”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Jantung mereka tergetar mendengar kata-kata Ki Wiradadi. Apalagi kemudian melihat sikapnya yang garang. Tapi, ketika mereka memperhatikan anak gadis itu lagi, seorang di antara mereka berkata "Kalian tidak akan dapat melawan kehendak kami”

Tetapi keempat orang itu terkejut. Ki Wiradadi tidak menjawab, langsung mengayunkan pedangnya sambil berkata "Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dulu!?”

Keempat anak muda itu bergeser mundur. Kemudian mulai menggenggam senjatanya. Sambil memencar, mereka memutar senjata masing-masing. Ki Wiradadi tidak memburu mereka. Ia tidak boleh terlalu jauh dari anak gadisnya. Jika seorang saja di antara anak-anak muda itu mampu menembus pertahanannya, dan mengancam anaknya, dia akan kehilangan kesempatan untuk melawan.

Bahkan kedua anak muda yang diaku sebagai anaknyapun, harus menghentikan pertempuran. Untuk beberapa saat, Ki Wiradadi menjadi sangat tegang. Ia memang yakin akan dapat mengalahkan keempat orang itu. tapi setiap kali ia mengingat kemungkinan licik yang dapat mereka lakukan, jantungnya selalu tersekat.

Namun dalam pada itu, karena perhatian anak-anak muda itu tertuju sepenuhnya kepada Ki Wiradadi maka mereka tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang upahan mereka. Sebenarnyalah bahwa Laksana menjadi kecewa. Orang yang disebut Sura Gayam tidak dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuannya, setelah ia meningkatkan ilmunya. Orang itu termasuk orang yang terlalu lemah untuk membuat perbandingan ilmu.

Karena itu, akhirnya Laksana cepat menjadi jemu. Sementara Manggada sudah menduga, bahwa ia tidak akan mendapat pengalaman apapun dari orang-orang itu. Karena itu, dalam waktu singkat, ia telah membuat kedua lawannya tidak berdaya.

Dengan demikian, kedua anak muda itu telah menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Sura Gayam yang ditakuti itu telah pingsan karena sisi telapak tangan Laksana. Itulah sebabnya, Ki Wiradadi yang tegang sempat menarik nafas panjang, ketika melihat kedua orang anak muda itu mendekatinya. Sementara empat anak muda yang mengganggu gadis Ki Wiradadi, membelakangi mereka.

Seorang di antara mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Laksana menggamit pundak. Demikian ia berpaling, maka ia pun bergeser surut. Dengan sigap ia menggerakkan senjatanya, tapi kaki Laksana bergerak lebih cepat mengenai pergelangan tangannya, sehingga senjatanya terloncat jatuh.

Sebelum ia menyadari keadaannya, Laksana telah memukul anak muda itu, tepat mengenai mulutnya. Demikian kerasnya, sehingga beberapa buah gigi anak muda itu terlepas. Anak muda itu memang menjadi kebingungan. Dengan sangat cemas, ia berusaha minta kawan-kawannya menolongnya.

Tetapi Manggada telah membentak, "Semuanya tinggal di tempat.”

Tidak seorang pun berani bergerak. Karenanya, anak muda yang berdarah itu menjadi semakin bingung. Dengan lengan bajunya, ia mengusap darah yang rasa-rasanya semakin banyak mengalir.

Sementara itu, terdengar suara Manggada. "Minta maaf kepada orang tua itu, atau gigi kalian semua akan aku lepaskan”

"Jangan!" sahut seorang di antara anak-anak muda itu ketakutan.

"Karena itu, cepat lakukan" bentak Manggada ”Lihat. Sura Gayam tidak berarti apa-apa. Sebagai orang upahan, ia telah melakukan pekerjaan yang sangat kotor. Ia tidak peduli akibat dari perbuatannya. Yang penting baginya, ia mendapat upah dengan langkah-langkah kotornya itu. Mereka harus mendapat hukuman jauh lebih berat dari orang-orang yang melakukannya bagi diri sendiri”

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat berbuat lain kecuali melakukannya. Anak-anak muda itupun berurutan melakukan sebagaimana dikehendaki oleh Manggada dan Laksana.

"Aku mohon maaf Kiai" berkata anak muda yang tertua di antara mereka.

"Aku juga Kiai" desis yang lain.

"Juga apa?" bentak Laksana.

Anak muda itu terkejut. Katanya "Aku juga minta maaf" berkata anak muda itu.

Demikianlah, keempat anak muda itu minta maaf. Sementara itu, Sura Gayam telah sadar dari pingsannya. Tapi begitu dia bangkit, ia segera teringat apa yang telah terjadi. lapun segera menyadari bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda itu, betapa pun dendam membara di ubun-ubunnya. Apalagi ia sadar bahwa ada beberapa orang yang telah melihatnya.

Tetapi demikian ia bangkit, maka salah seorang di antara kedua orang anak muda itu melangkah mendekatinya dan berkata dengan nada rendah "Kau tidak apa-apa Ki Sanak?”

"Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa" geram Sura Gayam "Bukankah kau telah membuat aku pingsan?”

Laksana tersenyum. Katanya. "Ya. Aku telah membuatmu pingsan, tapi aku belum membuatmu mati”

Sura Gayam tergetar jantungnya mendengar kata-kata itu. Sementara Laksana berkata "Ki Sanak. Apakah kau merasa bahwa hidupmu cukup baik dengan cara itu?”

Sura Gayam termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud Laksana. Laksana kemudian menegaskan. "Sementara lagi kami akan meninggalkan tempat ini Ki Sanak. Tetapi dalam waktu dekat, kami akan kembali. Kami mempunyai persoalan khusus dengan kau dan kawan-kawanmu. Rumah kami tidak terlalu jauh dari tempat ini. Sayang, baru sekarang kami tahu, bahwa di sini ada sekelompok orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain untuk mendapatkan nafkah bagi hidupnya”

"Kau tidak usah ikut campur..." jawab Sura Gayam.

Ketika Laksana maju selangkah, Sura Gayam tiba-tiba saja menyadari bahwa anak muda itu dapat berbuat kasar kepadanya. Karena itu, iapun berkata "Maksudku, aku tidak mempunyai pilihan lain Ki Sanak”

"Jangan bohong!" berkata Laksana "Tetapi terserah kepadamu. Kami akan kembali lagi ketempat ini, seperti yang aku katakan. Jika kami masih menjumpaimu melakukan cara ini, maka kau tidak hanya akan menjadi pingsan, tapi kau akan mati. Bersiaplah dengan kawan sebanyak-banyaknya, karena kamipun akan datang dengan kawan-kawan kami”

Demikianlah, maka Ki Wiradadi pun memberikan beberapa petunjuk kepada anak-anak muda yang telah berlaku kasar kepada anak-anaknya. Namun Ki Wiradadi sadar, bahwa dengan petunjuk-petunjuk seperti yang diberikan, anak-anak muda itu tidak akan mudah untuk menyadari kesalahannya. Karena itu, Ki Wiradadi pun berkata.

"Aku akan membawa anak gadisku pulang. Pada kesempatan lain, aku akan datang menemui orang tua kalian”

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Namun Ki Wiradadi tidak menghiraukannya lagi. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Wiradadi telah membawa anak gadisnya meninggalkan tempat itu. Manggada dan Laksana masih juga menyertainya. Bagaimanapun juga, keduanya masih mencemaskan kemungkinan buruk terjadi atas gadis itu.

Namun pengalaman yang telah memperkaya perbendaharaan hidup Manggada dan Laksana itu, sangat berkesan di hati keduanya. Sejak keduanya keluar dari lingkungan sempit, maka seakan-akan mereka telah berdiri di hadapan cakrawala yang digelar luas. Keduanya sempat menatap kehidupan ini sebagai medan perburuan yang sangat bengis.

Ketiga orang yang menyertai gadis yang hampir saja menjadi korban dari satu kepercayaan yang hitam itu, ternyata masih juga di cemaskan oleh seekor burung yang terbang di atas mereka ketika mereka berjalan dibulak panjang. Berputar-putar seakan-akan memperhatikan langkah-langkah mereka dengan seksama. Seekor burung elang.

Mereka segera teringat beberapa ekor burung yang beterbangan di atas pondok Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi yang bongkok itu. Burung-burung yang ternyata adalah milik Panembahan yang berhati kelam itu.

Semula kedua anak muda itu sama sekali tidak membayangkan bahwa mereka akan menjumpai satu gambaran dari kehidupan yang buram. Tentang sifat-sifat sesamanya yang tidak segera dapat dimengerti. Bahkan ada anak-anak muda; yang dengan kasar ingin merampas seorang gadis dari orang tuanya, sebagai barang mainan.

Mamun semuanya telah terlampaui. Yang tinggal adalah satu pengalaman menarik. Pengenalan atas kehidupan yang lebih luas dari sebuah padepokan. Kedua anak muda yang mengawani Ki Wiradadi membawa pulang anaknya itu merasa bahwa pengenalannya atas kehidupan ini terlalu sempit. Masih banyak sekali yang belum mereka lihat. Karena itu, didalam hati kedua anak muda itu tumbuh satu keinginan untuk melihat dan mendengar semakin banyak.

Karena itulah, ketika mereka sampai di rumah Ki Wiradadi, Laksana berdesis "Kakang, apakah kita akan segera kembali ke rumah paman, setelah kita meninggalkan rumah Ki Wiradadi?

"Apa maksudmu?" bertanya Manggada.

"Selagi kita mempunyai kesempatan, bagaimana jika kita melihat-lihat dunia ini lebih dulu?" berkata Laksana.

Sebenarnyalah bahwa Manggada pun sependapat. Tetapi ia masih juga bertanya "Bagaimana jika paman lebih dulu sampai kerumah ayah, sehingga ia akan menjadi sangat cemas, karena kita berdua belum sampai”

"Ah, ayah tentu mengenal keinginan anak-anak muda" berkata Laksana. "Ayah pun tentu membenarkan niat kita menyadap pengalaman sebanyak-banyaknya”

Manggada menarik nafas dalam-dalam, la masih merasa ngeri jika mengingat apa yang pernah dijumpainya di balik hutan Jatimalang. Keberaniannya waktu itu. sebagian, dilandasi oleh ketidak-tahuannya atas apa yang akan dihadapinya, sebagaimana juga Laksana.

Namun kedua anak muda itu selalu mengucap syukur didalam hati, bahwa Yang Maha Agung masih melindungi mereka, sehingga berhasil ikut membebaskan gadis Ki Wiradadi.

Ternyata bahwa Manggada tidak berkeberatan melaku kannya. Namun katanya "Aku setuju Laksana. Tetapi hal itu kita lakukan sambil menempuh perjalanan pulang. Sebenarnyalah aku ingin untuk segera menghadap ayah, dan menyampaikan hasil jerih payahku selama berguru bersamamu di tempatmu”

"Baiklah" berkata Laksana "Kita melihat-lihat di sepanjang perjalanan pulang”

Sebenarnyalah ketika kedua anak muda itu sudah yakin bahwa Ki Wiradadi selamat sampai kerumahnya, maka keduanya pun minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Ternyata Ki Wiradadi terkejut mendengarnya. Dengan serta merta Ki Wiradadi bertanya "Jadi kalian tidak tinggal di rumahku barang satu dua pekan?”

Manggada tersenyum. Katanya "Maaf Ki Wiradadi. Kami berdua harus segera pulang agar orang tua kami tidak menjadi cemas tentang kami”

"Tetapi kenapa begitu tergesa-gesa. Seluruh keluarga kami harus mengucapkan terima kasih lebih dahulu kepada kalian berdua, yang telah membebaskan anak gadis kami dari maut yang mengerikan itu” berkata Ki Wiradadi.

"Bukan aku dan bukan adikku." jawab Manggada "Justru kami hanya ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya kami hadapi”

"Apapun yang kalian lakukan, tetapi kalian telah melakukan satu langkah yang sangat berarti bagi keluarga kami. Tanpa kalian berdua, yang terjadi tentu jauh berbeda dari apa yang sekarang terjadi” berkata Ki Wiradadi.

"Yang Maha Agung lah Maha Penentu” berkata Manggada.

Ki Wiradadi mengangguk. Kemudian ia berkata “Tetapi bagaimanapun juga, kami akan menahan kalian berdua untuk setidak-tidaknya sepekan di sini”

Tetapi Manggada dan Laksana ternyata tidak merasa perlu lagi untuk berlama-lama berada di rumah Ki Wiradadi. Dengan nada rendah, Manggada berkata “Kami mengucapkan terima kasih Ki Wiradadi. Tetapi kami terpaksa mohon diri”

"Jangan sekarang" cegah Ki Wiradadi. Manggada dan Laksana memang tidak dapat memaksa.

Mereka harus menunda keberangkatan mereka. Tetapi Manggada dan Laksana hanya bersedia tinggal untuk satu malam. Ki Wiradadi mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menyatakan terima kasihnya kepada Manggada dan Laksana. Seluruh keluarga Ki Wiradadi yang dapat, dan sempat dipanggilnya, datang menemui kedua orang anak muda itu.

Bahkan salah seorang di antara keluarga Ki Wiradadi itu sempat berdesis “Sayang sekali. Jika saja salah seorang dari keduanya kau ambil menantu”

Ki Wiradadi tertawa. Katanya “Keduanya sedang berkembang. Nampaknya keduanya masih lebih senang melihat-lihat dan mengenali lingkungan kehidupan ini. Tidak ada seorangpun yang mampu mengikat mereka sekarang. Entahlah jika beberapa tahun lagi keduanya tersesat kerumah kita”

Keluarga Ki Wiradadi itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih berkata “Bukankah kau belum mencoba mengatakannya?"

"Aku sudah bersama-sama mereka untuk beberapa hari" jawab Ki Wiradadi "aku sudah mengenal keduanya cukup baik. Sifat-sifat mereka dan tingkah laku mereka”

* * *

Ternyata, ketika keringat kedua anak muda itu mulai mengalir, terasa di dalam diri mereka sesuatu yang berkembang. Ketika keduanya saling berloncatan menyerang, mereka merasa bahwa tenaga cadangan mereka telah meningkat semakin tinggi. Jika terjadi benturan, rasa-rasanya terjadi hentakan angin yang menggetarkan udara di sekitar mereka.

Kedua anak muda itu-mulai meneliti kemungkinan-kemungkinan lain di dalam diri mereka. Mereka telah mencoba mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga cadangan mereka, sehingga mereka dapat mengenali landasan kekuatan mereka sendiri.

Ternyata kekuatan mereka bukan saja meningkat, tepi juga membuat daya tahan mereka menjadi semakin tinggi. Setelah beberapa lama berlatih, kekuatan mereka sama sekali belum terpengaruh, sehingga tanpa berjanji keduanya telah berlatih terus.

Keduanya tidak merasa bahwa matahari telah menjadi semakin tinggi. Keringat telah terperas dari tubuh mereka, namun keduanya masih berlatih dengan cepat dan keras sampai matahari mencapai puncak langit.

Akhirnya, Manggada bertanya “Apakah kita akan berlatih sampai senja?”

Laksana mengerti maksud saudaranya itu. Karenanya, ia meloncat surut untuk mengambil jarak. Kedua anak muda itu kemudian berhenti berlatih, sambil menilai apa yang telah mereka lakukan, sehingga mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa kemampuan mereka memang sudah meningkat. Meskipun peningkatan itu tidak terjadi pada ilmunya, tapi pada landasan kekuatannya yang memberikan arti tersendiri.

Demikianlah. Dengan kesabaran tentang peningkatan kemampuan mereka, keduanya melanjutkan perjalanan untuk menemukan bentuk bagi diri mereka, serta arti dari hidup mereka, sebelum mereka menginjakkan kaki mereka di plataran rumah.

Namun dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Laksana berkata, “Seandainya saja”

Manggada berpaling kepadanya sambil bertanya “Apa maksudmu dengan kata-kata itu?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab “Tidak. Tidak apa-apa”

"Ah. Kau tentu akan mengatakan sesuatu" desis Manggada "tetapi jika aku satu-satunya kawanmu diperjalanan ini tidak boleh mendengar, apa boleh buat”

"Jangan merajuk" desis Laksana sambil tersenyum.

"Untuk apa aku merajuk? Tetapi untuk selanjutnya, persoalan diantara kita akan menjadi tertutup, karena akupun tidak akan mengatakan apa-apa kepadamu" jawab Manggada.

"Jangan begitu." desis Laksana kemudian. "sebenarnya, aku hampir saja mengatakan satu hal yang tentu tidak kau setujui”

"Kenapa?" bertanya Manggada.

"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang yang dapat membantu kita untuk menjajagi kemampuan kita" berkata Laksana dengan ragu-ragu.

"Ketika kita meninggalkan rumah ayahmu, maka kaupun berniat seperti itu. Tetapi aku selalu teringat pesan ayahmu, bahwa seharusnya kita tidak perlu melakukan hal itu. Kita tidak usah mencoba kemampuan kita dengan cara seperti itu” sahut Manggada sambil memandang kekejauhan.

"Akupun ingat pula. Karena itu, maka niatku untuk mengatakan hal itu aku urungkan. Tetapi kau memaksaku untuk mengatakan" desis Laksana hampir tidak terdengar.

"Sudahlah." berkata Manggada kemudian "kita akan meneruskan perjalanan. Nampaknya kita tidak menempuh jalan terdekat ke Pajang. Tetapi tidak mengapa”

Keduanya telah melangkah terus meskipun mereka tahu, bahwa mereka tidak sedang mendekati Pajang. Tetapi nampaknya kedua orang anak muda itu masih ingin melihat-lihat, apa yang tersembunyi di balik cakrawala. Namun langkah mereka ternyata tidak akan pernah sampai kekaki langit itu.

Demikianlah keduanya berjalan terus. Menjelang senja mereka masih menemukan sebuah kedai yang hampir menutup pintunya. Tetapi pemilik kedai itu masih menerima keduanya.

"Tetapi sudah tidak lengkap lagi" berkata pemilik kedai itu, tinggal nasi dengan sayur asam”

"Apa saja" jawab Manggada "asal kami tidak kelaparan”

Untuk beberapa lama keduanya berada di kedai itu. Namun sebelum gelap mereka telah meninggalkan kedai itu menuju kepadukuhan yang terdekat.

"Kita akan minta ijin untuk bermalam di banjar" berkata Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan tidak ada persoalan apapun di padukuhan itu”

Manggada tersenyum. Nampaknya Laksana ingin menunjukkan bahwa ia tidakingin mencoba kemampuannya setelah kemampuan mereka meningkat. Namun Manggada tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, merekapun telah memasuki padukuhan itu pada saat malam mulai turun.

Namun keduanya menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berada di banjar. Beberapa lampu minyak menyala di pendapa banjar, sementara beberapa buah oncor jarak menyala di regol dan halaman.

"Apa pula yang terjadi" desis Manggada "nampaknya ada sesuatu yang terjadi di padukuhan ini. Karena itu, kita urungkan saja niat kita untuk bermalam di banjar”

"Lalu kita akan bermalam di mana?" bertanya Laksana.

"Di banjar padukuhan berikutnya" jawab Manggada.

"Nanti terlalu malam. Kita justru dapat dicurigai" jawab Laksana. Lalu katanya “apapun yang terjadi, sebaiknya kita mencoba untuk minta ijin bermalam di banjar”

Manggada tersenyum pula. Katanya “Bukankah kau ingin tidak menjumpai persoalan apapun juga”

"Ah, kau" sahut Laksana. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia tahu bahwa Manggada sedang mengganggunya.

Namun demikian, akhirnya keduanya juga singgah di banjar itu. Dipintu gerbang halaman banjar, seorang anak muda menemuinya dan bertanya,

"Siapa yang kalian cari?"

"Kami ingin minta ijin untuk bermalam Ki Sanak”

"Siapakah kalian?" bertanya anak muda itu.

"Namaku Manggada. Ini adikku. Laksana" jawab Manggada.

"Tunggulah disini...” berkata anak muda itu. "tetapi kalian ini sedang dalam perjalanan dari mana ke mana?”

"Kami sedang menuju ke Pajang" jawab Manggada.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya pula "Tunggulah sebentar. Aku akan bertanya kepada Ki Bekel yang juga ada di banjar ini sekarang”

"Nampaknya ada kesibukan di banjar ini?" bertanya Laksana.

"Ya, Ki Bekel dan para bebahu sedang gelisah. Seorang gadis telah hilang” jawab anak muda itu.

"Seorang gadis telah hilang?" ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng.

"Ya" jawab anak muda ini.

"Kapan hal itu terjadi?" tanya Manggada.

"Kemarin” jawab anak muda itu.

"Baru kemarin?" bertanya Laksana.

"Ya, kenapa? Apakah kau mengetahui tentang gadis yang hilang?" bertanya anak muda itu.

"Ki Sanak, apakah aku diperkenankan bertemu dengan Ki Bekel untuk memberikan sedikit keterangan tentang gadis-gadis yang hilang?" bertanya Manggada.

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya “Marilah. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan”

Keduanyapun kemudian Lelah dibawa ke halaman banjar. Beberapa orang anak muda yang ada dipintu banjar memandangi Manggada dan Laksana dengan heran. Seorang diantara mereka bertanya kepada anak muda yang membawa keduanya masuk,

"Siapakah mereka dan untuk apa mereka datang ke banjar? Bukankah keduanya bukan anak muda dari padukuhan ini?”

"Mereka ingin bertemu dengan Ki Bekel" jawab anak muda itu.

Memang tidak ada yang bertanya lagi. Manggada dan Laksana langsung dibawa menghadap Ki Bekel yang duduk di pendapa banjar yang banyak didatangi oleh anak-anak muda padukuhan itu.

Ki Bekel memang agak heran melihat kedua orang anak muda itu.. Dengan serta merta ia bertanya "Siapa kalian? Dan apakah keperluan kalian?"

"Kami dua orang bersaudara yang menempuh perjalanan ke Pajang, Ki Bekel. Ketika diregol kami mendengar bahwa ada seorang gadis yang hilang, maka kami ingin ikut membicarakannya” jawab Manggada.

"Apakah ada hubunganmu dengan gadis yang hilang?" bertanya Ki Bekel.

"Kami baru saja membebaskan seorang gadis yang hilang dari belakang hutan Jatimalang” berkata Manggada "Tetapi menurut pengetahuan kami, sekelompok orang-orang sesat di belakang hutan Jatimalang itu sudah kami hancurkan bersama dengan sekelompok prajurit yang didahului dengan bantuan seorang pertapa yang memiliki ilmu yang tinggi”

Ki Bekel menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya "Ada apa dibelakang hutan Jatimalang”

Dengan singkat Manggada menceriterakan apa yang terjadi di hutan Jatimalang, hingga seorang gadis yang hampir menjadi korban dapat diselamatkan.

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Katanya “Apakah mungkin gadis yang hilang itu juga telah dibawa ke hutan Jatimalang?”

"Sepengetahuan kami orang-orang sesat di Jatimalang itu telah tidak berarti lagi. Tetapi pemimpinnya, memang masih belum tertangkap” berkata Manggada.

"Apakah pemimpinnya itu bergerak sendiri meskipun anak buahnya sudah tidak ada lagi?" desis Ki Bekel.

"Aku kira tidak, karena jika sekali korban itu lewat saat bulan purnama, maka segalanya harus diulangi lagi” jawab Manggada meskipun ia mulai menjadi ragu-ragu.

"Bagaimana jika pemimpin dari kelompok beraliran sesat itu mulai lagi dari gadis yang pertama” berkata Ki Bekel.

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya "Apakah Ki Bekel sudah minta keterangan dari orang-orang yang agaknya terkait dengan hilangnya gadis itu. Orang tuanya, kawan-kawannya atau orang lain yang selalu berhubungan dengan gadis itu?”

"Secara mendalam belum!" jawab Ki Bekel.

"Apakah Ki Bekel berkenan untuk membawa kami menemui orang tua gadis itu?" bertanya Manggada pula.

Ki Bekel itu termangu-mangu sejenak. Beberapa orang bebahupun nampak ragu-ragu. Namun akhirnya Ki Bekel berkata “Marilah. Kita akan menemui orang tua gadis yang hilang itu”

Sejenak kemudian, bersama Ki Bekel dan dua orang bebahu kedua orang anak muda itu telah pergi kerumah orang tua gadis yang hilang itu.

Suasana rumah itu rasa-rasanya seperti sedang berkabung karena kematian. Beberapa orang duduk dengan wajah yang buram. Sementara ibu dari gadis yang hilang itu masih saja menangis. Suaminya yang mempersilahkan Ki Bekel masuk, setiap kata yang setelah Ki Bekel memperkenalkan kedua orang pengembara itu serta sedikit pengalamannya, maka iapun bertanya kepada kedua orang tua gadis itu.

"Apakah ada seseorang yang kalian curigai? Atau mungkin sebuah dugaan?"

"Tidak Ki Bekel...” jawab ayahnya dengan suara sendat.

"Tetapi " isterinya masih terisak.

Namun suaminya segera memotongnya "Sudahlah. Kau jangan membuat persoalan ini semakin rumit”

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa Ki Sudagar Resakanti malam ini akan datang kemari” berkata isterinya disela isaknya yang tidak berkeputusan.

"Apa hubunganmu dengan Ki Sudagar Resakanti?" bertanya Ki Bekel dengan dahi berkerut.

"Anak gadisku yang hilang itu sudah terlanjur dipertunangkan dengan anak laki-laki Ki Sudagar. Ia tentu akan menjadi sangat marah jika anakku itu tidak dapat diketemukan”

"Kenapa ia menjadi marah. Seharusnya ia menjadi berprihatin seperti kalian. Seandainya ia kehilangan calon menantunya, bukankah kalian justru kehilangan anak kalian?" sahut Ki Bekel.

"Seharusnya demikian Ki Bekel" desis ibu gadis yang hilang itu. Namun katanya kemudian "Tetapi ia mencurigai kami, seolah-olah kami telah menyembunyikannya”

"Tetapi masih belum tentu Ki Bekel" sahut suaminya "kami belum bertemu dengan Ki Sudagar Resakanti. Yang kami dengar baru dugaan orang yang datang atas suruhannya menanyakan kebenaran berita bahwa anakku telah hilang”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya “Jika demikian, aku akan menunggunya disini. Aku ingin menjadi saksi pembicaraan kalian. Kedua orang anak muda ini akan dapat memberikan beberapa keterangan agar kalian tidak dituduh menyembunyikan anak gadismu sendiri”

"Tetapi apakah dengan demikian Ki Sudagar Resakanti tidak akan semakin marah kepada kami?" bertanya ayah gadis yang hilang.

"Ia tahu siapa aku" jawab Ki Bekel.

Kedua orang tua gadis yang hilang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ibu gadis itu berkata "Tidak, gadisku tidak akan dibawa ke hutan Jatimalang”

"Kami tidak mengatakan demikian. Nyi" sahut Ki Bekel "yang dibawa ke hutan Jatimalang itu bukan anakmu”

"Tetapi bagaimana dengan anakku" tangisnya.

"Kami akan membantu mencarinya. Nyi" desis Manggada hampir diluar sadarnya.

Namun sebelum tangis perempuan itu mereda, terdengar suara beberapa orang mendekat. Ternyata orang itu adalah Ki Sudagar Resakanti dan tiga orang pengiringnya. Laki-laki yang berwajah garang dan bertubuh tinggi dan besar.

Kedua orang tua gadis itu memang menjadi ketakutan. Ketika Ki Sudagar itu masuk dan melihat Ki Bekel ada di situ, maka iapun segera bertanya, "He, untuk apa Ki Bekel ada disini?”

"Aku ingin menjadi saksi atas persoalan yang sedang kalian hadapi. Aku juga membawa dua orang anak muda yang mempunyai pengalaman yang menarik tentang hutan Jatimalang yang sering menelan gadis-gadis”

"Apa hubungannya antara gadis yang hilang itu dengan kedua orang anak muda yang tidak aku kenal itu?" bertanya Ki Sudagar Resakanti dengan kerut di kening.

"Silahkan duduk, aku ingin berceritera serba sedikit" berkata Ki Bekel.

Meskipun wajahnya nampak menegang, namun Ki Sudagar itupun duduk diamben yang besar diruang dalam rumah yang tidak begitu besar itu. Ki Bekelpun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hutan Jatimalang sebagaimana diceriterakan oleh Manggada dan Laksana.

"Omong kosong" Ki Sudagar itu hampir berteriak. "Ternyata dirumah ini telah berkumpul sekelompok orang yang ingin menipuku. Tetapi aku bukan orang dungu”

"Jadi kau tuduh aku juga menipu?" bertanya Ki Bekel.

"Ya. Aku tahu Ki Bekel merasa iri, karena sebenarnya gadis yang hilang itu akan Ki Bekel ambil sebagai menantu Ki Bekel sendiri" jawab Ki Sudagar Resakanti.

"Kau jangan mengada-ada Ki Sudagar. Aku datang untuk membantu memecahkan persoalan ini. Jika Ki Sudagar menuduh yang bukan-bukan, aku dapat saja mencuci tangan” Ki Bekelpun menggeram marah.

Namun Ki Sudagar itu kemudian menjawab “Aku tahu, kedua orang tuanya memang licik. Mereka mau menerima mas kawin yang jumlahnya tidak sedikit. Aku telah memperbaiki rumah ini pula. Tetapi kemudian anaknya disuruhnya melarikan diri dengan seorang laki-laki karena anaknya tidak mau kawin dengan anakku Janjinya bahwa segala sesuatu ada ditangannya ternyata sebuah tipuan saja”

"Kenapa kau menganggap bahwa kau telah tertipu? bertanya Ki Bekel.

"Seseorang melihat sebuah pedati membawa seorang perempuan menjauhi padukuhan ini. Ketika orangku pulang berkuda dari satu urusan dagang, maka diperjalanan itu ia bertemu dengan sebuah pedati yang berisi tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Semula orangku itu tidak mengira bahwa perempuan yang ada dalam pedati itu adalah bakal menantuku. Namun ketika ia tahu bahwa calon menantuku itu hilang, maka harulah ia mencoba mengingat-ingat tentang perempuan sang dibawa dalam pedati itu”

"Dibawa dalam pedati?" bertanya Manggada tiba-tiba.

"Untuk apa kau bertanya, jika ikut menyiapkan pelariannya?" bentak Ki Sudagar.

"Tetapi aku masih ingin bertanya sekali lagi" sela Manggada "dibawa kearah mana?”

"Kearah Gunung Lawu" jawab Ki Sudagar. Tanpa sesadarnya "tetapi Gunung Lawu itu masih jauh sekali. Hanya arahnya saja”

Wajah Manggada dan Laksana menjadi tegang. Sementara itu, Ki Sudagar berkata “Kalian tidak usah berpura-pura terkejut”

Tiba-tiba Manggada berdesis "Hutan Jatimalang terletak di kaki Gunung Lawu, Ki Bekel. Kita harus menyusul mereka”

"Nanti dulu anak muda" berkata Ki Bekel "aku hargai sikap kalian. Kalian bersungguh-sungguh dan aku nilai kalian jujur. Tetapi sebelumnya aku akan bertanya kepada Ki Sudagar, apakah Ki Sudagar mencurigai seseorang?”

"Ya” jawab Ki Sudagar "aku memang mencurigai seseorang. Seseorang yang akrab dengan anak gadismu”

"Anakku tidak mempunyai kawan siapa-siapa. Anak gadisku jarang sekali keluar rumah" jawab ibu gadis yang hilang itu.

"Kau tidak usah berbohong!" bentak Ki Sudagar "Aku mempunyai mata lebih dari seribu pasang”

"Jika demikian siapa? Anak laki-laki itu?" bertanya Ki Bekel dengan nada tinggi.

"Persetan dengan anakmu. Yang aku curigai adalah anak Winduwara yang tinggal disudut padukuhan itu. Dijualnya anak itu kepadaku, tetapi kemudian anak itu dijualnya pula kepada orang lain. Kepada Winduwara. Berapa Winduwara membelinya sehingga anaknya diberikan kepada Winduwara, tidak kepadaku”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Manggada dan Laksana "Anak-anak muda. Bukan aku tidak percaya kepada kalian tentang peristiwa dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi aku ingin mendengar keterangan Winduwara lebih dahulu. Apakah anaknya ada dirumah atau tidak”

Laksana hanya mengangguk-anguk saja. Mungkin burung elang itu adalah burung elang kebanyakan yang sedang mengintai anak ayam dipadukuhan yang mereka masuki. Beberapa orang yang baru bangun dari tidurnya memang terkejut melihat iring-iringan orang berkuda itu. Tetapi karena para penunggang kuda itu tidak menghiraukan mereka, maka merekapun kemudian juga tidak menghiraukannya pula.

Dengan demikian, maka Ki Winduwarapun langsung membawa iring-iringan itu kerumah saudaranya yang memang sering dikunjungi oleh anak laki-lakinya. Ki Winduwara memang berpikir, kenapa anak laki-lakinya pada saat-saat terakhir sering berkunjung kerumah paman dan bibinya itu. Apakah memang ada hubungannya dengan rencananya membawa gadis itu untuk disembunyikan. Tetapi Ki Winduwara dan isterinya tidak pernah mengetahui hubungan anaknya dengan gadis yang hilang itu. Apalagi untuk melarikannya.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa ekor kuda itupun telah memasuki halaman rumah saudara Ki Winduwara. Kedatangan mereka memang sangat mengejutkan. Apalagi anak laki-laki Ki Winduwara yang memang ada dirumah itu sebagaimana dikatakan. Tanpa menunggu dipersilahkan masuk kedalam, Ki Winduwara yang melihat anak laki-lakinya segera memanggilnya.

"Sela Aji. Kemarilah. Aku akan berbicara denganmu”

"Ada apa kakang?" bertanya adiknya Ki Winduwara.

"Kau tidak usah melindungi anakmu" berkata Winduwara "aku datang bersama Ki Bekel di padukuhanmu serta beberapa orang bebahu. Padukuhanku menjadi gempar karena seorang gadis telah hilang. Apalagi ketika kedua orang anak muda itu datang sambil membawa berita buruk tentang hutan Jatimalang. Padukuhanku menjadi semakin ribut”

"Seorang gadis yang hilang?" bertanya adiknya.

"Aku ingin bertanya kepada Sela Aji, apakah ia memang seorang laki-laki atau bukan. Jika ia seorang laki-laki, ia akan menjawab berterus terang jika ia benar membawa seorang gadis sehingga persoalannya akan menjadi jelas”

Wajah adiknya menjadi tegang. Apalagi anaknya, Sela Aji. Jantungnya berdetak semakin keras, sementara darahnya serasa mendidih memanasi seluruh tubuhnya.

Sambil menengadahkan dadanya, Sela Aji itu menjawab "Ya. Aku telah membawa gadis itu”

"Nah, bukankah benar dugaanku" teriak Ki Sudagar Resakanti "aku tidak mau menerima keadaan ini”

Tetapi Ki Winduwara berkata “Apakah aku boleh berbicara lagi dengan anakku, Ki Bekel?”

"Apakah yang akan kau katakan? Bukankah semuanya sudah jelas? Anakmu harus dihukum karena melarikan seorang agdis. Sedangkan gadis itu harus kembali kepada orang tuanya” geram Ki Sudagar Resakanti.

"Tunggu Ki Sudagar" sahut Ki Bekel "orang tuanya saja tidak ribut sebagaimana Ki Sudagar” lalu katanya kepada Ki Winduwara "Katakan, apalagi yang ingin kau katakan”

"Katakan Sela Aji. Apakah kau melarikan gadis itu, atau kalian memang berniat untuk lari bersama-sama?" bertanya Ki Winduwara.

"Kami memang berniat lari bersama-sama" jawab Sela Aji.

"Omong kosong. Kau tentu menculiknya dan melarikannya” teriak Ki Sudagar Resakanti.

Ki Bekel tidak menghiraukannya. Tetapi katanya "Bawa gadis itu kemari. Aku ingin bertanya langsung kepadanya”

Sela Aji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Baik Ki Bekel. Aku akan mengajak Miranti kemari"

"Kau disini saja. Biar pamanmu yang memanggilnya" berkata Ki Bekel dengan wajah yang tegang.

Pamannya memang menjadi ragu-ragu. Namun Sela Aji berkata “Silahkan paman? Bawa Miranti kemari”

Sejenak kemudian, maka gadis yang hilang itu telah berada diantara mereka yang masih ada dihalaman. Wajahnya pucat dan tubuhnya menjadi gemetar.

"Jangan takut Miranti” desis Sela Aji. "cinta kita akan mengatasi segalanya. Kita juga akan mengatasi kesulitan ini”

Namun dalam pada itu, Ki Sudagar berkata lantang kepada ayah gadis itu "Ambil anakmu, bawa ia pulang”

"Tunggu" berkata Ki Bekel, yang kemudian bertanya kepada Miranti. "Apakah kau dilarikan oleh Sela Aji dengan paksa?”

Miranti yang pucat dan gemetar itu tidak menjawab.

"Katakan yang sebenarnya, jangan takut" berkata Ki Bekel.

Miranti memandang Sela Aji sejenak. Namun kemudian kepalanya menggeleng lemah.

"Jadi, kau memang sengaja lari bersamanya?" bertanya Ki Bekel dengan dahi berkerut.

"Ya" jawab Miranti hampir tidak terdengar.

"Bohong" teriak Ki Sudagar "Gadis itu tentu sudah diancam oleh anak iblis itu”

Namun ayah Miranti itu bertanya "Kenapa kau melarikan diri mendekati saat perkawinanmu?”

Wajah Miranti yang pucat itu nampaknya semakin pucat. Tetapi ia menjawab “Bukankah sudah aku katakan ayah, aku tidak mau kawin dengan anak Ki Sudagar yang sudah beristeri tiga orang”

"Tetapi aku menentukan. Kau tidak dapat memilih” geram ayahnya yang sudah terjerat oleh Ki Sudagar.

Ki Bekel itupun kemudian berkata “Jika demikian, aku sudah tahu persoalannya. Pembicaraan kita sudah memberikan gambaran tentang peristiwa yang terjadi, yang menggemparkan seluruh padukuhan kita” Lalu Ki Bekel itupun berpaling kepada Manggada dan Laksana. Katanya “Anak-anak muda. Inilah kenyataan yang kita hadapi. Meskipun tetap rumit, tetapi bersukurlah kita karena kita tidak perlu menyeberangi hutan Jatimalang”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada berkata. "Aku ikut bersukur Ki Bekel. Demikian kami mengetahui bahwa gadis itu ada disini, maka kamipun ikut menyatakan sukur. Bagaimanapun juga gadis itu tidak akan menjadi korban dari satu ajaran yang sesat itu”

"Baiklah" berkata Ki Bekel "kita akan kembali ke padukuhan. Segala sesuatunya akan kita selesaikan di padukuhan”

Tetapi tiba-tiba Miranti menjerit "Tidak. Aku tidak mau kembali. Aku tidak mau kawin dengan laki-laki itu”

"Tidak. Kau harus kembali Miranti" bentak ayahnya "pembicaraan tentang hari perkawinanmu telah di tentukan. Kau tidak berhak menolak”

"Tidak. Aku tidak mau” tangis gadis itu.

Sela Aji menjadi tidak sabar lagi. Iapun kemudian melangkah mendekati Miranti sambil berkata "Aku akan mempertahankannya. Ia tidak dapat dipaksa dengan cara apapun”

"Jangan mencari penyakit" bentak Ki Sudagar Resakanti "kau harus melepaskan gadis itu untuk dibawa kembali oleh ayahnya, karena hanya ayahnya sajalah yang berhak menentukan”

"Gadis itu sudah dewasa. Ia dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Jika ia tidak ingin pulang, maka tidak ada yang berhak memaksanya. Ayahnyapun tidak" geram Sela Aji.

Tetapi Ki Sudagar Reksakanti berkata "Jika ada yang mencoba menghalangi, aku akan mempergunakan kekerasan” Lalu katanya kepada ayah gadis itu "Ambil anakmu. Orang-orangku akan membantumu”

Ketiga orang pengiring Ki Sudagar tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Ki Sudagar berkata "Ki Bekel. Jangan turut campur. Jika Ki Bekel turut campur maka orang-orangku akan bertindak lebih kasar lagi. Juga kepada Ki Bekel”

Ki Bekel memang termangu-mangu. Namun katanya kemudian "Aku berhak mencegah seseorang yang bertindak sendiri-sendiri. Juga dalam hal ini”

"Tetapi anak itu adalah anakku Ki Bekel. Aku berhak mengajarnya sesuai dengan cara serta kemauanku tanpa campur tangan orang lain. Aku tidak bertindak sendiri atas orang lain" berkata ayah Miranti.

"Tetapi persoalan ini menyangkut hak anakmu menentukan jalan hidupnya. Jika persoalannya karena kau sudah menerima mas kawin dari Ki Sudagar Resakanti, maka persoalannya dapat kita bicarakan kemudian. Mungkin kau memang harus mengembalikannya, tetapi dengan cara yang pantas” jawab Ki Bekel.

"Aku tidak mau dengan cara apapun juga. Apa yang sudah disepakati, harus berlangsung. Gadis itu berbohong jika anakku beristeri tiga orang. Dua diantaranya sudah diceraikan. Untunglah anakku itu tidak ikut bersama kami. Jika ia ikut, maka ia tentu telah bertindak keras".

"Tentu saja anakmu tidak ikut" berkata Sela Aji "bukankah anakmu cacat setelah menderita sakit”

"Setan kau" teriak Ki Sudagar Resakanti "cepat, ambil gadis itu dan bawa kembali”

Namun Ki Bekel berpegang pada sikapnya, sehingga iapun berkata "Aku melarang kalian bertindak sewenang-wenang atas gadis itu”

Namun kata-katanya sudah tidak didengar lagi. Suasana sudah berubah menjadi semakin panas. Karena itu, maka ayah Mirantipun berusaha untuk memaksa anaknya pulang.

Tentu saja Sela Aji tidak melepaskannya, sehingga akhirnya perkelahian tidak dapat dihindarkan. Sela Aji telah berusaha untuk melindungi Miranti dari kemauan ayahnya yang telah diracuni dengan mas kawin yang memang cukup besar.

Tetapi paman Sela Aji dan Ki Bekel tidak membiarkannya. Bahkan dua orang pembantu Ki Bekel dan Ki Winduwara telah melibatkan diri pula. Tetapi yang mereka hadapi adalah tiga orang pengiring Ki Sudagar Resakanti. Tiga orang yang bertubuh raksasa dan mempunyai kemampuan serta pengalaman melakukan kekerasan.

Ternyata Ki Bekel, para bebahu dan Sela Aji dengan keluarganya tidak mampu mengimbangi ketiga orang bertubuh tinggi dan besar itu. Dengan kasar ketiga orang itu sempat melemparkan lawan-lawan mereka dan membantingnya diatas tanah. Yang keadaannya paling pahit adalah Sela Aji sendiri. Beberapa kali ia terlempar jatuh berguling-guling. Hanya karena tanggung jawabnya yang besar sajalah maka ia masih sempat bangkit dan tertatih-tatih melakukan perlawanan.

Manggada dan Laksana menjadi bingung. Untuk beberapa saat mereka berdiri termangu-mangu. Semula memang ada niat mereka untuk tidak turut campur. Namun semakin lama hati mereka mulai tergelitik. Apalagi ketika mereka melihat Ki Bekel yang tua itu beberapa kali terjatuh dan bahkan kemudian satu pukulan yang keras telah melemparkannya jatuh terkapar hampir dikaki Manggada.

Darah Manggada tersirap. Apalagi ketika ia melihat Miranti mulai meronta-ronta karena diseret oleh ayahnya dibantu oleh Ki Sudagar Resakanti. Ketika Manggada menolong Ki Bekel berdiri, maka Laksana telah berbisik ditelinganya,

"Aku telah menemukan orang yang dapat membantuku mengukur kemampuanku setelah aku mendapat peningkatan secara khusus di belakang hutan Jatimalang. Apakah kau akan ikut kakang Manggada?”

Laksana tidak menunggu jawaban Manggada. Ketiga orang bertubuh raksasa itu telah kehilangan lawan-lawan mereka. Ki Bekel sudah tidak berdaya. Demikian pula para bebahu. Sementara itu Sela Aji sendiri telah menjadi hampir pingsan.

"Aku sudah memberi peringatan kepada kalian” berkata Ki Sudagar Resakanti "tetapi apa boleh buat. Sekarang, aku akan pulang. Aku siap menghadapi segala macam tindakan yang akan diambil oleh Ki Bekel. Semakin keras ia menentang aku, maka semakin keras pula aku memberikan perlawanan. Aku mempunyai uang untuk membuat Ki Demang tidak berbuat apa-apa”

Ki Bekel memang sudah tidak berdaya. Tetapi Ki Resakanti terkejut ketika seorang anak muda melangkah mendekatinya sambil berkata “Aku berada dipihak Sela Aji”

"Setan kau. Kau telah mengacaukan pedukuhanku dengan ceritera tentang hutan Jatimalang. Sekarang kau mencoba untuk mengacau lagi disini. Kau harus sadar, jika kau ikut campur, maka kaulah yang akan mengalami nasib paling buruk. Lebih buruk dari Winduwara yang sombong itu”

Tetapi Laksana menjawab "Aku tidak dapat melihat seorang tua yang sampai hati menjual anaknya kepada seorang kaya raya yang sewenang-wenang. Karena itu, maka aku harus ikut melibatkan diri. Aku memang berniat menggugurkan jual beli ini”

Dalam pada itu, Manggadapun menarik nafas dalam-dalam. la setuju untuk menolong Miranti dan Sela Aji. Tetapi ternyata Laksana masih belum melupakan keinginannya untuk menjajagi ilmunya yang telah meningkat itu.

Ketika Manggada melangkah. Ki Bekel berkata sambil terengah-engah "Sudahlah ngger. Jangan turut campur. Aku masih mempunyai wewenang untuk bertindak dengan cara apapun juga”

Tetapi Manggada berkata "Biarlah Ki Bekel. Kami merasa wajib berbuat sesuatu menghadapi persoalan seperti ini”

Manggadapun tidak dapat dicegah lagi. Dengan demikian maka kedua orang anak muda itu sudah berhadapan dengan tiga orang pengikut Ki Sudagar Resakanti yang bertubuh raksasa itu. Namun kedua orang anak muda itu sama sekali tidak merasa takut.

Ketiga orang bertubuh raksasa itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sikap kedua orang anak muda itu rasa-rasanya telah menghina mereka. Dengan geram seorang diantara mereka berkata,

"Apakah matamu buta, he? Enam orang tidak mampu melawan kami. Apalagi dua orang anak ingusan. Agaknya kalian memang sudah jemu hidup, karena kesalahan kalian lebih besar dari yang lain!”

Manggada dan Laksana tidak menghiraukannya. Merekapun segera saja bersiap untuk berkelahi...


SELESAI

Seri Arya Manggada 2,
Mas Rara