Menjenguk Cakrawala Bagian 09 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya Singgih Hadi Mintardja
NAMUN setelah mereka mengamati sejenak, ternyata mereka menyadari, bahwa yang dilakukan oleh orang-orang beraliran sesat itu barulah persiapan. Mereka sibuk menghias tempat persembahan dengan janur yang berwarna kekuningan, sebagaimana mereka menghias tempat peralatan perkawinan. Demikian pula regol padukuhan, dan agaknya, juga bangunan-bangunan yang ada di padukuhan kecil itu.

Tetapi orang-orang yang berada di pinggir padang rumput, dan bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu itu, tidak berani mendekat. Mereka hanya dapat mengamati semuanya itu dari kejauhan.

Dalam pada itu, Ki Ajar berbisik "Agaknya mereka telah memperkuat penjagaan. Hilangnya beberapa orang di antara mereka, telah membuat mereka menjadi sangat berhati-hati"

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun ia masih saja dibayangi oleh kecemasannya, akan segala kemungkinan yang terjadi atas Manggada dan Laksana. Keduanya bukan apa-apanya. Tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Jika keduanya menjadi korban; maka ia tentu akan menyesal sekali.

Tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Kedua anak muda itu sendiri nampaknya sudah begitu mantap untuk terjun ke gelanggang. Sebagaimana pernah mereka katakan, bahwa selain untuk menyelamatkan gadis itu, maka kepercayaan sesat itu memang harus dipadamkan.

Malam itu, mereka sempat melihat persiapan yang dilakukan oleh beberapa orang. Bahkan mereka melihat semacam gladi bagaimana upacara itu akan dilakukan besok.

Mereka yang berada di pinggir padang rumput, di balik gerumbul-gerumbul perdu itu, melihat bagaimana besok iring-iringan itu akan keluar dari regol. Ternyata gadis yang akan di korbankan, akan dibawa naik sebuah tandu, dikawal oleh empat orang bersenjata.

Sementara itu, tempat penyerahan korban telah dijaga pula oleh empat orang di setiap sudutnya. Pengawal itu bersenjata tombak panjang dengan juntai janur kuning di bawah mata tombaknya.

Gladi upacara itu agaknya dilakukan hampir utuh. Namun Ki Ajar berkata "Penjagaan kali ini memang nampak lebih cermat”

"Ki Ajar pernah melihat upacara semacam ini?” bertanya Ki Wiradadi.

"Bukankah aku pernah mengatakannya? Tetapi aku segan untuk mengingatnya lagi, karena penglihatanku itu selalu menyiksa perasaanku. Aku melihat satu tindakan yang bertentangan dengan nuraniku, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa” desis Ki Ajar.

Ki Wiradadi tidak bertanya lagi. Ia mengerti perasaan Ki Ajar yang sakit, justru karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Ketika bulan menjadi semakin tinggi, dan bahkan mencapai puncaknya, semua persiapan telah dapat diselesaikan. Bahkan beberapa rontek dan umbul-umbul telah terpasang. Upacara itu memang merupakan upacara yang termasuk besar.

Memang terkilas di dalam angan-angan Ki Wiradadi pertanyaan, apakah mereka akan berhasil dengan rencana mereka, justru menghadapi kesiagaan yang begitu tinggi.

Tetapi ia selalu mengusir keragu-raguan dari dalam hatinya. Ia sadar, bahwa Ki Ajar dan anak-anak muda yang bersedia membantunya itu, agaknya membenci keraguraguannya. Karena itu, ia harus memantapkan sikapnya, apapun yang tersirat di hatinya.

Demikianlah, ketika padang rumput itu menjadi semakin sepi, Ki Ajar berkata "Marilah. Agaknya semua persiapan telah selesai. Kita sudah mendapat gambaran apa yang akan terjadi besok. Kita sudah melihat celah-celah yang memberi kemungkinan kepada kita untuk bertindak besok malam”

"Kapan kita akan hadir di sini besok Ki Ajar?” bertanya Ki Wiradadi.

"Pada saat bulan terbit, kita harus sudah berada di sini” jawab Ki Ajar.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia kemudian mengikuti Ki Ajar, meninggalkan tempat itu Demikian juga Manggada dan Laksana. Ketika mereka sampai di rumah Ki Ajar, maka Ki Ajar telah mempersilahkan mereka langsung beristirahat.

"Kita besok memerlukan tenaga dan kemampuan kita sepenuhnya” berkata Ki Ajar.

Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka pun telah pergi ke serambi, dan membaringkan diri di amben yang cukup besar. Di serambi terasa lebih sejuk dan segar daripada mereka berada di dalam rumah yang terasa sempit dan panas. Karena itu, mereka pun merasa akan dapat lebih cepat tidur daripada jika mereka berada di dalam.

Di hari berikutnya, Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu telah melakukan persiapan terakhir. Malam nanti mereka akan bergabung di antara hidup dan mati. Tetapi apapun yang terjadi, mereka sudah bertekad untuk menghancurkan gerombolan orang yang menganut ilmu sesat. Meskipun orang-orang itu berjumlah jauh lebih banyak, namun mereka yakin, bahwa jika para pemimpinnya telah dikalahkan, yang lain tidak akan banyak memberikan perlawanan.

Ketika matahari turun, Ki Ajar telah bersiap-siap pula. Setelah memberikan pesan-pesan terakhir, maka mereka pun mulai bergerak. Tetapi mereka harus sangat berhatihati. Mereka tidak boleh datang sebelum gelap. Tetapi mereka pun tidak boleh terlambat.

Karena itu, mereka sengaja berangkat agak awal. Namun mereka harus menunggu di sebuah semak-semak yang berdaun rimbun. Baru ketika senja turun, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padang rumput yang menjadi arena penyerahan korban bagi orang-orang berilmu hitam itu.

Bagaimanapun juga, terasa debar di jantung mereka menjadi semakin keras, ketika mereka semakin dekat. Dari jarak yang agak jauh, telah nampak cahaya obor yang menjulang. Agaknya padang rumput itu memang menjadi terang dan oleh puluhan obor yang telah dinyalakan.

Pada saat hari mulai gelap, Ki Ajar dan kawan-kawannya mempersiapkan diri. Mereka tidak boleh terlambat bertindak, karena jika ia terlambat, maka segalanya akan gagal. Gadis itu tentu akan terbunuh dan bahkan mungkin mereka semuanyapun akan terbunuh pula. Tetapi jika terjadi hal yang demikian, maka itu adalah akibat yang harus mereka terima.

Sambil menunggu bulan bulat di langit, detak jantung mereka serasa menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka harus menunggu sangat lama. Namun akhirnya, langit pun menjadi semakin terang. Sesaat lagi bulan akan terbit.

Ki Ajar memberikan isyarat kepada mereka, yang bekerja bersamanya. Di saat bulan terbit, semua persiapan akan dilakukan pada tahap terakhir. Sejenak kemudian, korban pun dibawa keluar dari padukuhan, dan diarak ketempat korban dipersembahkan.

Upacara akan berlangsung beberapa lama, sehingga baru menjelang tengah malam pusaka yang akan menjadi sangat bertuah itu dihunjamkan kedada korban.

Dengan isyarat itu, maka Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah bergeser untuk mengambil jarak. Namun dalam pada itu. si. Bongkok mendekati Ki Ajar untuk menerima perintah-perintahnya.

"Kita tidak akan mendapat kesempatan lain Bongkok” berkata Ki Ajar.

"Ya Ki Ajar” jawab Bongkok "Karena itu, kita harus berhasil kali ini. Kepercayaan sesat ini harus kita hancurkan, sehingga tidak akan dapat tumbuh kembali”

"Selebihnya, kita selamatkan gadis yang akan menjadi korban itu” desis Ki Ajar.

Si Bongkok mengangguk-angguk. Namun perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada gerbang padukuhan yang terang.

"Begitu gadis itu diletakkan di atas tempat korban, kita akan bertindak” berkata Ki Ajar.

Orang bongkok itu masih saja mengangguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Perhatiannya masih saja tertuju kepada kesibukan di pintu gerbang. Agaknya benda-benda upacara sudah akan dibawa keluar, sebelum mereka membawa korban itu sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar dan orang bongkok itu pernah menyaksikan apa yang terjadi di padang rumput itu. Tetapi mereka merasa ngeri untuk mengingatkannya. Tetapi dalam keadaan yang penting itu, mereka terpaksa melihat kembali ingatan mereka tentang upacara-upacara yang pernah dilakukan di padang itu.

Beberapa saat kemudian, benda-benda upacara telah dibawa keluar. Beberapa puluh obor mendahului benda-benda upacara itu, dalam iring-iringan agak panjang. Benda-benda upacara itu kemudian dibawa ke tempat korban diserahkan. Sebagian diletakkan di atas tatanan batu, sementara yang lain diletakkan di bawah.

Manggada dan Laksana yang belum pernah menyaksikan upacara seperti itu, merasa jantungnya berdetak semakin keras. Bulu-bulu tengkuk mereka, serasa berdiri. Upacara itu nampak mengerikan. Apalagi kedua anak muda itu sudah mulai membayangkan, seorang gadis terbaring di tempat korban, kemudian sebilah keris diangkat tinggi-tinggi dan terayun menghunjam ke jantungnya.

Rasa-rasanya anak-anak muda itu mendengar jerit tinggi. Namun ternyata yang didengarnya, adalah isyarat dalam upacara yang sedang berlangsung itu dari salah seorang perempuan yang memimpin upacara itu, di antara beberapa orang perempuan yang lain.

Tiba-tiba saja, terjadi gerakan mengejutkan. Dengan serentak, semua orang di sekitar tempat itu bergerak. Berputaran sambil meneriakkan kata-kata yang tidak jelas. Semakin lama semakin cepat.

"Beri tahu anak-anak muda itu” berkata Ki Ajar "sebentar lagi korban akan dibawa keluar”

Orang bongkok itupun kemudian merangkak mendekati anak-anak muda itu untuk memberikan isyarat dengan tangannya, bahwa korban akan dibawa keluar.

Manggada dan Laksana telah bergeser lagi semakin jauh. Sementara Ki Wiradadi, tetap berada di tempatnya. Mereka akan mempergunakan anak panah untuk menyerang dari jarak jauh', sehingga akan timbul kekacauan di tempat upacara itu. Meskipun di sekitar tempat upacara itu terdapat banyak orang, tetapi kelima orang itu yakin, bahwa hanya beberapa saja di antara mereka yang bersiap untuk benar-benar bertempur dengan kemampuan yang memadai.

Mereka telah melihat beberapa orang, bukan saja menjajagi kemampuan mereka, tetapi justru telah membunuhnya. Sejenak kemudian, terdengar suara bende yang bergaung memecah keriuhan di padang rumput itu. Bende yang menjadi isyarat bahwa korban akan dibawa keluar dari pintu gerbang padukuhan, di sebelah padang itu.

Orang-orang yang menunggu diatas tanggul, di balik gerumbul itu, menjadi tegang. Terutama Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi. Ki Wiradadi yang seakan-akan telah melihat anak gadisnya diarak dalam tandu keluar pintu gerbang, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu lebih lama.

Korban yang akan dibaringkan di atas tempat korban itu, benar-benar telah ditandu keluar dari pintu gerbang. Satu iring-iringan panjang, dengan beberapa tanda upacara yang lain dari yang telah lebih dahulu dipasang. Namun dari tempat mereka bersembunyi, Ki Wiradadi dan kawan-kawannya tidak dapat melihat wajah orang yang berada di dalam tandu itu.

Tetapi mereka tidak mempedulikannya. Mereka berpegang pada rencana yang telah mereka susun. Demikian korban diletakkan di atas batu itu, mereka akan bertindak. Mereka tidak akan menunggu upacara berkepanjangan, sehingga akan dapat membuat jantung mereka semakin tegang, dan mungkin akan kehilangan keseimbangan.

"Dalam saat itu, mungkin Panembahan belum ada di padang. Tetapi itu kebetulan sekali. Kita akan menghadapi lawan-lawan yang lain. Baru kemudian, kita akan berha dapan dengan Panembahan” berkata Ki Ajar yang menjelaskan saat mereka menyusun rencana.

Dengan demikian, mereka dapat menghadapi lawan-lawan mereka bergantian. Kehadiran korban itu benar-benar bagaikan iring-iringan pengantin perempuan, dalam upacara yang besar. Bahkan suara gamelanpun telah terdengar mengiringi kor ban yang duduk di atas tandu itu. Namun sebenarnyalah, orang yang duduk di atas tandu itu seakan-akan tidak lagi; sadar akan dirinya, karena ketakutan yang mencekam.

Perempuan yang duduk di dalam tandu itu menyadari, bahwa sebentar lagi, umurnya akan dicabut di atas tempat untuk menyerahkan korban.

Ki Wiradadi rasa-rasanya tidak sabar lagi. Tetapi ia harus menunggu Ki Ajar memberikan isyarat. Dalam siraman cahaya bulan, mereka yang bersembunyi di balik gerumbul itu melihat, perempuan yang duduk di dalam tandu itu dipanggul tiga kali mengelilingi tempat yang akan dipergunakannya untuk menyerahkan korban.

Kemudian tandu itu berhenti tepat di sisi sebelah kanan. Dengan penuh hormat, beberapa orang perempuan ' telah mempersilahkan pengantin perempuan turun dari tandu dan naik ke atas tempat korban diserahkan.

Ternyata bahwa perempuan di dalam tandu itu tidak lagi mampu untuk melakukannya sendiri. Ia memerlukan pertolongan dari orang-orang yang mengiringinya, karena rasa-rasanya tulang-tulangnya tidak lagi dapat mengangkat tubuhnya. Ketakutan yang sangat, memang telah mencekam jiwanya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk menguasai kehendaknya sendiri atas tubuhnya.

Namun bagaimanapun, Ki Wiradadi tidak sempat melihat siapakah perempuan itu. Namun yang terbayang di matanya, bahwa perempuan itu adalah anak gadisnya.

Demikian perempuan itu naik, dan dibaringkan di atas tempat menyerahkan korban, upacara pun segera dimulai. Beberapa orang mulai berloncatan menari-nari di sekitar korban yang telah terbaring. Teriakan-teriakan yang tidak dapat dimengerti, menjadi semakin keras dan semakin cepat. Orang-orang yang menari-nari itu mulai bergerak di sekeliling tempat korban dibaringkan.

Ki Ajar menganggap waktunya sudah tepat. Karena itu, ia memberikan isyarat. Orang bongkok yang berada di dekatnya, telah mendapat perintah untuk melemparkan batu-batu kecil kearah Ki Wiradadi dan kedua anak muda yang membantunya berusaha membebaskan anak gadisnya itu.

Ki Wiradadi memang sudah tidak sabar lagi. Karena itu, demikian ia mendapat isyarat, sebagaimana sudah disepakati, iapun segera meletakkan ejid ong anak panahnya di lambung. Dengan tergesa-gesa Ki Wiradadi memasang anak panah pada tali busurnya, sebagaimana dilakukan oleh Manggada dan Laksana.

Sesaat kemudian, anak panah terlepas. Terdengar jerit mengoyak teriakan-teriakan upacara. Tiga orang telah jatuh dengan anak panah melekat di punggungnya. Sejenak orang-orang yang sedang menari-nari itu, bagaikan telah membeku. Namun lagi, tiga orang telah jatuh sambil menjerit kesakitan.

Upacara itupun menjadi gempar. Beberapa orang berteriak berlari-lari. Namun pemimpin upacara itu, tiba-tiba saja telah berteriak "Selamatkan ratu”

Suaranya meledak bagaiman suara guruh di langit, yang diselimuti mendung gelap. Ki Ajar menangkap isyarat itu. Yang dimaksud dengan ratu, tentu orang yang sudah siap dikorbankan itu. Karena itu, Ki Ajar berkata kepada orang bongkok "Sekarang”

Orang bongkok itupun mengangguk. Tiba-tiba saja. mulutnya melepaskan bunyi yang khusus, seperti bunyi seekor tikus. Ternyata bunyi itu adalah bunyi yang dikenali oleh dua ekor harimau yang sudah lama bersembunyi di belakang gerumbul, sebagaimana si bongkok itu sendiri. Oleh isyarat itu, kedua ekor harimau itu telah meloncat keluar dari persembunyiannya sambil mengaum keras sekali.

Suaranya memang mengejutkan. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu menyergap orang-orang yang ada di sekitar batu tempat korban akan diserahkan. Beberapa orang berlari-larian dengan penuh ketakutan. Sementara itu, anak panah Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana masih saja mengambil korban.

Beberapa saat kemudian, para pengawal berusaha menguasai keadaan. Namun mereka menjadi sangat berhati-hati, karena kehadiran dua ekor harimau yang bagaikan mengamuk di antara orang-orang yang berlari cerai-berai.

Sejenak kemudian, sekelompok pengawal hadir di tempat yangkacau itu. Dengan senjata di tangan, mereka siap menghadapi dua ekor harimau yang mengamuk itu. Tetapi ternyata mereka tidak sekedar menghadapi dua ekor harimau. Beberapa orang di antara mereka telah jatuh terjerembab dengan anak panah menghunjam di punggung.

"Setan" geram pemimpin kelompok pengawal. Dan sekali lagi terdengar perintah "Selamatkan ratu”

Beberapa orang pengawal memang berlari untuk mengambil gadis yang sudah terbaring di atas batu tempat persembahan itu. Tetapi beberapa anak panah telah menghentikan mereka. Dua orang anak muda berdiri di atas setumpuk batu yang diatur rapi itu, di bawah kaki gadis yang terbaring ketakutan.

Sementara itu, Ki Wiradadi berdiri di sebelah kepala gadis itu. Mereka bertiga telah mempergunakan anak panah mereka untuk menghentikan para pengawal yang siap menyerang mereka, sementara seluruh padang rumput itu menjadi kacau oleh dua ekor harimau yang nampak sangat liar dan garang.

Ketika para pengawal berusaha untuk menyerang dari arah yang lain. maka mereka telah menghadapi Ki Ajar dengan pedang terhunus. Dengan senjata itu, Ki Ajar tidak menunjukkan sesuatu ciri kepada para pengawal pada senjatanya.

Pertempuranpun segera terjadi. Namun dalam waktu yang singkat, jumlah para pengawal telah susut terlalu banyak. Disaat perhatian mereka tertuju kepada dua ekor harimau, maka anak panah telah mematuk punggung. Tetapi jika mereka memperhatikan anak panah itu, maka kuku harimau itu akan mengoyak tubuh mereka.

Dalam keadaan yang kacau itulah, terdengar suara Ki Ajar yang tiba-tiba saja telah berada didekat Ki Wiradadi " Lihat gadis itu. Selamatkan siapapun ia. Sukur jika gadis itulah yang kita cari”

Ki Wiradadipun segera tanggap. Dengan tangkasnya ia telah meloncat ke atas tempat persembahan itu. Setumpuk batu yang diatur dengan cermat dan di pahat meskipun agak kasar. Dalam keremangan cahaya obor, Ki Wiradadi mencoba mengamati wajah gadis yang telah dirias itu. Untuk beberapa saat Ki Wiradadi tercenung.

Namun akhirnya ia menjadi yakin ketika terdengar gadis yang lemah dan tidak lagi mampu menguasai dirinya sendiri karena ketakutan itu berdesis "Ayah”

"Kau" suara Ki Wiradadi menjadi serak. Namun ia segera sadar, ketika Ki Ajar berkata "Bawa anak itu. Kita akan menyelamatkannya”

Ki Wiradadipun segera menyangkutkan busurnya di pundaknya. Kemudian dengan tangkasnya mendukung anak itu dikedua tangannya. Dalam keadaan wajar, mungkin ia merasa agak berat membawa anak gadisnya di kedua tangannya itu. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka rasa-rasanya anak gadisnya itu masih saja seorang anak kecil yang memang sepantasnya didukungnya.

"Kita bergerak sekarang” berkata Ki Ajar.

Orang-orang itupun dengan tangkasnya telah berloncatan mundur. Manggada dan Laksana tidak henti-hentinya melepaskan anak panah mereka kearah orang-orang yang memburunya. Tetapi pengawal yang memburu mereka terlalu banyak, sehingga beberapa orang mampu mencapai orang-orang yang sedang melarikan diri itu.

Namun Ki Ajar tidak membiarkan mereka menyentuh gadis yang sedang didukung oleh Ki Wiradadi itu. Sementara dua ekor harimau itu lebih banyak mengacaukan pemusatan perhatian para pengawal daripada menyerang mereka. Namun dengan demikian, maka para pengawal yang kebingungan itu telah menjadi sasaran anak panah Manggada dan Laksana.

Beberapa saat kemudian mereka telah mendekati tanggul dipinggir jurang yang rendah. Manggadalah yang lebih dahulu berdiri dia tas tanggul itu. Kemudian ia berusaha melindungi orang-orang yang lain dengan anak panahnya disaat orang-orang itu mengundurkan diri. Sementara Laksana sambil melangkah surut masih juga selalu melepaskan anak panahnya pula.

Ternyata Ki Ajar, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah meloncat ke dalam jurang yang rendah itu Namun dalam sekilas dibawah terangnya bulan bulat, anak-anak muda itu melihat harimau yang bagaikan mengamuk dipadang rumput. Tetapi yang membuat bulu tengkuk mereka meremang, bukan hanya kedua ekor harimau itu.

Antara nampak dan tidak nampak dalam keremangan cahaya bulan bulat dan cahaya obor mereka melihat seekor harimau yang berwarna keputih-putihan dengan ujud yang lebih besar dari kedua ekor harimau yang dipelihara oleh orang bongkok itu.

Tetapi anak-anak muda itu tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi. Ki Ajar telah memberikan isyarat agar mereka segera meninggalkan tempat itu, menelusuri jurang yang rendah menuju ketempat yang rumit dan jarang disentuh kaki manusia. Apalagi dalam keremangan malam meskipun bulan terang.

Ki Wiradadi memang mengalami kesulitan karena ia harus membawa anak gadisnya. Namun terdorong oleh tekadnya untuk menyelamatkan anak gadisnya itu, maka ia rasa-rasanya tidak menemui hambatan sama sekali.

Tetapi ketika mereka menempuh jalan yang rumpil dan miring, maka Manggada dan Laksana terpaksa menolong Ki Wiradadi ikut menjaga agar Ki Wiradadi dan anaknya tidak justru terperosok kedalam jurang.

Ketika mereka menjadi semakin jauh, Manggada dan Laksana yang beberapa kali berpaling masih belum melihat orang bongkok dengan kedua ekor harimaunya. Bahkan kedua anak muda itu sempat menjadi cemas. Banyak kemungkinan dapat terjadi dalam keributan di padang rumput itu. Para pengawal tentu akan segera berdatangan. Bahkan baragkali para pemimpin dari padepokan yang besar itu telah datang pula.

Manggada yang tidak dapat menahan kegelisahannya telah bertanya "Ki Ajar. Bagaimana dengan Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya?”

"Aku harap mereka akan dapat mengatasi kesulitan mereka” jawab Ki Ajar.

Manggada hanya menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat mereka berusaha mengatasi jalan yang sulit dan kadang-kadang gelap dibawah bayangan pepohonan yang rimbun. Namun karena mereka telah beberapa kali melewati jalan itu, maka akhirnya mereka berhasil mencapai rumah Ki Ajar Pangukan.

Dengan hati-hati gadis yang ketakutan itu, dibaringkan didalam rumah kecil itu. Namun ternyata bahwa gadis Ki Wiradadi itu justru telah pingsan. Ia telah menahan goncangan-goncangan perasaan cukup lama, sehingga ketika tumbuh harapan, didalam hatinya karena kehadiran ayahnya, ia justru kehilangan seluruh penguasaan diri.

Tetapi Ki Ajar adalah seorang yang tahu benar tentang pengobatan. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan beberapa reramuan. Setelah dicairkan dengan air, maka obat itupun setitik demi setitik telah dituang kedalam mulut gadis yang pingsan itu.

Perlahan-lahan gadis itu menjadi sadar. Ia telah mulai membuka matanya dan bahkan mulai menangis. "Ayah" desisnya.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya dalam nada lembut "Jangan menangis lagi. Kau telah ditolong oleh Ki Ajar dengan seorang pembantunya”

"Bukan aku yang menolongmu anak manis. Tetapi ayahmu telah mempertaruhkan apa saja bagimu, bagi keselamatanmu” sahut Ki Ajar.

Ketika Ki Wiradadi akan menjawab lagi, maka Ki Ajar itu berkata "Kau dapat beristirahat sebaik-baiknya disini sambil menunggu seorang yang masih tertinggal di padang rumput itu. Tempat ini cukup jauh dan terpencil. Mudah-mudahan kita akan luput dari penglihatan orang-orang padepokan itu”

"Aku takut ayah" terdengar suara gadis itu lambat.

"Kau tidak perlu takut lagi sekarang” jawab ayahnya.

Gadis itu terdiam. Diamatinya ruang yang remang-remang itu. Lampu minyak sudah dinyalakan diatas ajuk-ajuk bambu disudut ruangan. Sinarnya yang lemah menggapai-gapai disentuh angin yang menyusup lewat lubang-lubang dinding.

Manggada dan Laksana duduk termangu-mangu. Sekali-sekali mereka menatap gadis yang terbaring diam itu. Kemudian dipandanginya wajah Ki Wiradadi dan Ki Ajar berganti-ganti.

"Sebutlah nama Yang Maha Agung” berkata Ki Wiradadi kepada anak gadisnya "kau telah dilindungi dari malapetaka itu”

Gadis itu kemudian memang menyebut nama Yang Maha Agung. Sementara Ki Ajar mengamati perkembangannya setelah obatnya merayap keseluruh tubuh. Keadaan gadis itu memang menjadi semakin baik. Bahkan sejenak kemudian, ia telah dapat bangkit dan duduk sambil minum beberapa teguk.

Namun dalam pada itu, pintu lereg rumah itu telah berderit. Manggada dan Laksana dengan sigapnya telah bangkit berdiri. Tetapi yang ternyata berdiri dipintu adalah Ki Pandi, orang bongkok yang mereka tinggalkan di padang rumput.

"Masuklah Bongkok” desis Ki Ajar.

Orang bongkok itupun kemudian melangkah masuk sambil menutup pintu.

"Dimana kedua ekor harimaumu itu?” bertanya Ki Ajar.

"Mereka ada diluar Ki Ajar” jawab orang bongkok.

"Bukankah mereka tidak mengalami sesuatu?” bertanya Ki Ajar pula.

"Tidak Ki Ajar” jawab orang bongkok itu.

"Sukurlah. Duduklah! Karena kau yang terakhir meninggalkan padang rumput itu, barangkali kau dapat memberikan ceritera yang tidak kami ketahui" berkata Ki Ajar.

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Untunglah kalian cepat meninggalkan padang rumput itu. Beberapa saat kemudian, beberapa orang pengawal terpilih telah datang. Bahkan Panembahan sendiri telah datang pula. Untunglah bahwa kami, maksudku aku dan kedua harimau itu sempat menghilang pula. Tetapi aku masih berusaha untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Dari kejauhan, aku dapat melihat apa yang dilakukan oleh Panembahan yang marah. Beberapa orang justru telah dibunuhnya karena korbannya telah hilang. Kemudian agaknya Panembahan telah memerintahkan memburu kita”

"Apa yang mereka lakukan kemudian?” bertanya Ki Ajar.

"Mereka telah berpencar” jawab orang bongkok itu.

"Apakah menurut dugaanmu mereka akan datang kemari?” bertanya Ki Ajar pula.

"Aku kira akhirnya mereka akan sampai kemari. Tetapi agaknya tidak malam ini” jawab orang bongkok itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Fajar besok kita akan menentukan, apa yang akan kita lakukan. Setidak-tidaknya malam ini kita dapat beristirahat”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian”

"Sudahlah” berkata Ki Ajar. Namun katanya kemudian "sebaiknya kalian beristirahat. Biarlah aku pergi sebentar. Si bongkok akan menemani kalian disini”

"Ki Ajar akan pergi ke mana?” bertanya Ki Wiradadi.

"Hanya melihat-lihat keadaan. Tetapi jangan cemas. Aku sudah berada ditempat ini untuk waktu yang lama. Karena itu, aku tidak akan mengalami kesulitan” berkata Ki Ajar. Lalu katanya kepada orang bongkok itu "Aku ajak harimaumu”

"Silahkan Ki Ajar” sahut orang bongkok itu. Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Ajar itu telah meninggalkan rumah itu, sementara orang bongkok itu berkata "Aku akan ke dapur. Air panas tentu lebih baik di malam begini”

"Sudahlah” berkata Ki Wiradadi "beristirahatlah”

Tetapi orang bongkok itu tersenyum. Katanya “Aku kedinginan. Aku akan memanaskan badan sejenak. Sementara itu diatas api aku jerang air”

Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi sempat bertanya kepada orang bongkok itu sebelum pergi ke dapur "Kemana Ki Ajar itu pergi?”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian, sambil tersenyum, ia berkata “Ki Ajar merasa perlu mengamati keadaan, justru setelah peristiwa ini. Apalagi di sini ada seorang yang dianggap sangat berharga bagi Panembahan. Gadis itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang nilainya tidak terbatas. Dengan kegagalannya kali ini, ia harus mengulangi lagi semua upacara korban yang telah dilakukannya”

"Mengalangi?” Ki Wiradadi justru terkejut.

"Ya” jawab orang bongkok itu.

"Dengan demikian berarti bahwa setiap bulan akan ada lagi gadis yang hilang?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita tentu tidak akan membiarkannya terjadi. Mungkin Ki Wiradadi berpendapat, bahwa dengan diselamatkannya anak gadis itu, maka akan berarti berpuluh lagi gadis akan menjadi gantinya, karena upacara harus diulang sejak permulaan. Mungkin sudah lebih dari sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh orang gadis”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Jika demikian, maka dengan diselamatkannya anak gadisnya, berarti lima puiuh orang gadis lain akan mati.

Namun orang bongkok itu berkata “Tetapi Ki Wiradadi tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah mulai. Dengan demikian, kita tidak boleh berhenti di saat ini. Kita harus bekerja lebih keras, dan mencegah agar tidak terjadi lagi penyerahan korban seperti ini dikemudian hari. Kematian demi kematian, menandai upacara sesaat itu, harus dihentikan untuk seterusnya. Bukan sekedar menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Iapun kemudian tidak bertanya lagi.

"Silahkan beristirahat. Aku akan pergi ke dapur” berkata orang bokok itu.

Sepeninggal orang bongkok itu, Ki Wiradadi berkata “Ternyata peristiwa ini merupakan satu permulaan dari perjuangan yang panjang. Semula aku kira, setelah anak gadisku diselamatkan, semuanya sudah selesai. Tetapi ternyata tidak”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah, Manggada berkata “Aliran sesat seperti itu memang harus dihancurkan sama sekali Ki Wiradadi. Jika tidak, maka pada suatu saat gadis yang sudah dibebaskan itu akan dapat ditangkap lagi”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya Ki Ajar juga sedang menyusun rencana”

"Ki Ajar telah membawa kedua ekor harimau itu” berkata Manggada.

Ki Wiradadi tidak menjawab. Namun nampak di dalam angan-angannya, satu perjuangan berat yang masih harus dilakukan. Ia mulai berpikir, bagaimana ia dapat membawa anak gadisnya keluar dari lingkungan itu.

Sementara Panembahan sesat itu tidak akan menyerah atas kegagalannya. Kemarahannya tentu akan meledak, dan bahkan mungkin tidak akan terkuasai lagi oleh kekuatan yang ada di dalam gubug kecil itu. Panembahan itu tentu akan mengerahkan segenap kekuatannya di malam purnama itu untuk memburu korbannya.

Beberapa saat, ternyata orang bongkok itu telah membawa minuman hangat ke ruang dalam Dengan ramah ia berkata “Marilah. Silahkan minum dengan gula kelapa”

"Terima kasih" hampir berbareng ketiga-tiganya, yang ada di ruang tengah itu, menyahut.

"Baunya sangat sedap. Wedang sere” desis Laksana.

Orang bongkok itu tertawa. Katanya “Ya. Di sini terdapat kebun sere. Bukan saja untuk minuman, tetapi Ki Ajar mempergunakan untuk ramuan obat-obatan”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian mempersilahkan orang bongkok itu untuk duduk bersama mereka.

Namun sejenak kemudian, orang bongkok itu berkata “Masih ada sisa waktu. Aku persilahkan kalian beristirahat. Mungkin kalian masih harus melakukan tugas-tugas penting. Selama anak gadis itu belum keluar dari lingkungan ini, tugas kalian masih berat sekali”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa tidak mudah baginya untuk membawa anak gadisnya keluar. Orang-orang Panembahan itu tentu sudah menutup semua jalan yang mungkin dapat dilaluinya.

Silahkan” berkata orang bongkok itu " aku akan berada di luar”

Tetapi Manggada dan Laksana menyahut hampir berbareng " Aku juga akan tidur di serambi”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Silahkan. Aku akan berjaga-jaga di halaman”

Ki Sanak pun harus beristirahat” berkata Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu tersenyum. Katanya “Sayang sekali melepaskan saat-saat bulan terang seperti ini”

Ki Wiradadi tidak menjawab, sedangkan Manggada dan Laksana telah keluar pula. Sementara orang bongkok itu berpesan,

"Jagalah anak gadis Ki Wiradadi. Beri obat sesuai dengan pesan Ki Ajar, agar ketahanan tubuhnya meningkat. Mungkin kita akan menempuh perjalanan yang berat dan panjang, untuk menghindari ujung jari Panembahan yang garang itu”

Ki Wiradadi mengangguk sambil menjawab “Baik Ki Sanak. Aku akan melakukannya”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah berbaring di serambi. Tetapi nampaknya mereka tidak akan segera dapat tidur. Sementara itu, orang bongkok itu melangkah ke regol halaman, dan hilang di balik dedaunan.

Untuk beberapa saat, Manggada dan Laksana masih saja berbincang tentang peristiwa yang baru saja mereka alami. Kemudian kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang. Itulah agaknya yang membuat kedua anak muda itu sangat berhati-hati, sehingga senjata mereka selalu berada di sisinya, agar dapat dipergunakan kapan saja.

Meskipun demikian, keduanya merasa tidak tenang untuk tidur bersama-sama. Karena itu, mereka membagi sisa malam yang pendek itu. Laksana mendapat giliran untuk tidur lebih dahulu. Baru kemudian Manggada akan tidur menjelang pagi.

Namun ternyata, sebelum keduanya dapat tidur nyenyak, Ki Ajar datang bersama orang bongkok yang telah menyongsongnya. Dengan serta merta, kedua anak muda itupun bangkit dan duduk di bibir amben.

"Kalian belum tidur?” bertanya Ki Ajar.

"Belum Ki Ajar” jawab Manggada jujur " ada semacam kegelisahan”

"Tentu” jawab Ki Ajar "Dalam keadaan seperti ini, tentu ada kegelisahan” Ia terdiam sejenak, namun kemudian katanya “Marilah kita berbicara dengan Ki Wiradadi di dalam”

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Mereka memang belum sempat tertidur ketika mereka berdua kembali lagi duduk di ruang dalam.

"Panembahan gila itu ternyata tidak tanggung-tanggung” berkata Ki Ajar "Malam ini juga ia telah menyebar orang-orangnya ke segala sudut daerah ini. Karena itu, sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari penglihatan Panembahan itu. Nanti, atau besok, tentu ada orang yang akan datang kemari. Tidak hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok pengikutnya”

Tetapi orang bongkok itu berkata “Daerah ini sangat sulit dicapai Ki Ajar. Juga tidak ada tanda-tanda bahwa daerah ini telah dihuni”

Aku melihat beberapa orang membawa burung elang. Mereka tentu melatih burung-burung itu untuk melihat tempat-tempat yang perlu mereka datangi” berkata Ki Ajar. "Tetapi nampaknya, burung itu tidak dapat segera bergerak di malam hari. Meskipun bulan terang, dan mata elang itu tajam, tetapi aku belum melihat seekor elang pun di langit malam ini”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin anak panah kita dapat menghentikan pengamatan yang dilakukan burung elang itu”

"Jika elang itu terbang merendah, aku yakin bahwa anak-anak muda yang memiliki kemampuan bidik tinggi itu akan dapat mengenainya” berkata Ki Ajar "Tetapi jika elang itu terbang tinggi, maka sulit untuk mencapainya dengan anak panah”

"Jadi Ki Ajar tadi kembali ke padang itu?” bertanya orang bongkok itu.

"Tidak. Aku belum sampai kesana. Tetapi aku sudah bertemu dengan beberapa orang yang nampaknya sedang menjelajahi tempat ini. Dua di antara mereka membawa burung elang. Mungkin kelompok lain juga dibekali burung yang sama pula” berkata Ki Ajar.

"Jadi apa yang harus kita lakukan Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

"Aku harus melihat keadaan lagi. Bersiaplah, jika perlu kita akan menyingkir. Kita akan mengadakan perlawanan pada waktu dan tempat yang tepat. Kita tidak tahu, apakah bukan Panembahan sendiri yang akan datang kemari. Jika elang itu melihat atap rumah kita, dan memberikan isyarat kepada kelompok pencari, atau bahkan Panembahan sendiri, maka kita akan mengalami kesulitan, sementara gadis itu belum berhasil kita singkirkan” berkata Ki Ajar.

"Baiklah Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

"Berjaga-jagalah di sini. Aku akan pergi lagi” berkata Ki Ajar.

"Kemana Ki Ajar?” bertanya Manggada. "Apakah kami boleh ikut?”

Ki Ajar menggeleng sambil tersenyum. Katanya “Jangan. Aku akan pergi sendiri. Tidak terlalu lama”

Demikianlah, setelah meneguk wedang sere, Ki Ajar meninggalkan tempat itu lagi sambil berpesan "Berbenah dirilah. Dan bersiaplah menghadapi segala kemungkinan”

Orang bongkok itu tidak boleh mengikuti Ki Ajar, yang pergi seorang diri. Namun sepeninggal Ki Ajar, segala persiapan dilakukan. Gadis yang ketakutan itu memang masih ketakutan. Tetapi ia sudah menjadi agak tenang, sehingga dapat diberikan beberapa pengertian tentang keadaan yang sedang mereka hadapi. Karena itu, ia pun telah bersiap-siap pula untuk meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat mereka menunggu dengan tegang. Manggada dan Laksana berada di serambi luar, sementara orang bongkok itu berjalan hilir mudik di luar pagar. Namun tiba-tiba orang bongkok itu terkejut. Dengan cepat ia berlari-lari keserambi sambil berdesis, "Elang itu”

Manggada dan Laksanapun segera turun ke halaman. Bulan memang sudah menjadi sangat rendah di Barat. Tetapi cahaya matahari sudah mulai membayanginya. Dalam keremangan fajar, dan sisa cahaya bulan, ternyata mereka melihat dikejauhan seekor burung elang terbang berputaran”

"Tetapi sasaran penglihatannya tentu bukan tempat ini” berkata Manggada "elang itu melingkari satu lingkungan tertentu”

"Tetapi jika elang itu terbang sedikit ke Barat, maka mungkin sekali rumah kita akan dilihatnya” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun agaknya perhatian burung elang itu masih tertarik terhadap sesuatu.

Meskipun demikian orang bongkok itu berkata “Amati burung elang itu. Aku akan membantu Ki Wiradadi mempersiapkan diri. Kemungkinan buruk dapat saja terjadi, jika burung itu bergeser dari putarannya. Sehingga dengan demikian, burung itu akan menuntun orang-orang gila itu datang ke tempat ini”

Namun dalam pada itu, mereka terkejut pula ketika mereka mendengar gemerisik dedaunan. Ketika mereka berpaling, ternyata mereka melihat dua ekor harimau orang bongkok itu mendekat.

"He, kau tidak ikut Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

Harimau itu termangu-mangu. Tetapi keduanya tidak memberi isyarat apapun. Orang bongkok itulah yang kemudian memberi isyarat kepada kedua ekor harimaunya untuk berjaga-jaga. Sejenak kemudian, kedua harimau itu memang telah hilang di balik pohon-pohon perdu.

Ki Wiradadi memang menjadi sangat cemas. Tetapi ia telah mempersiapkan segenap senjatanya. Mungkin ia memang harus mempertahankan anaknya dengan nyawanya. Tetapi Ki Wiradadi sendiri sama sekali tidak mencemaskan hidupnya. Ia justru masih saja memikirkan kedua anak muda yang telah terlibat ke dalam persoalannya itu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana memang menjadi cemas. Elang yang berputar-putar di langit itu memang bergeser perlahan-lahan. Bahkan sejenak kemudian, kedua anak muda itu melihat seekor elang yang lain telah ikut berputar-putar. Meskipun kedua ekor burung elang itu masih ada di atas lingkungan agak jauh, tetapi kedua anak muda itu pasti, bahwa burung elang itu akan melihat pemukiman kecil mereka. Rumah, halaman dan pepohonan.

Sebenarnyalah, ketika matahari kemudian menjadi semakin terang, burung elang itu telah bergeser semakin dekat. Sehingga akhirnya yang mereka cemaskan telah terjadi. Kedua burung elang yang berputar-putar di langit itu, telah melihat gubug Ki Ajar. Elang itu kemudian terbang berputaran tidak henti-hentinya. Bahkan beberapa saat kemudian, kedua ekor elangitu menukik merendah, kemudian kembali melambung naik tinggi.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Sementara, orang bongkok itu telah membantu Ki Wiradadi siap untuk menyingkir dari tempat itu. Manggada dan Laksana segera teringat akan senjata-senjata mereka, karena selain pedangnya yang selalu berada di lambung, yang lain mereka letakkan di dalam gubug itu.

"Kita menunggu Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

"Tetapi apakah kita tidak terlambat?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu termangu-mangu. Ia menjadi agak bimbang menghadapi perkembangan keadaan yang begitu cepat. Sementara itu, kedua ekor elang itu benar-benar telah memberikan isyarat, bahwa kedua ekor burung itu melihat satu pemukiman, betapapun kecilnya. Ternyata keduanya berganti-ganti menyambar dan menukik rendah.

Darah Manggada dan Laksana menjadi panas melihat sikap kedua ekor burung itu. Dengan gigi gemeretak, mereka berlindung di bawah gerumbul perdu sambil meletakkan anak panah pada busurnya.

"Kita bidik salah satu lebih dahulu bersama-sama” berkata Manggada " jika anak panahku luput, maka mudah-mudahan anak panahmu mengenai”

Demikianlah, keduanya telah memilih sasaran. Ketika seekor di antara burung elang itu menukik rendah di atas rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana bersama-sama melepaskan anak panahnya. Ternyata kemampuan bidik kedua orang anak muda itu memang luar biasa. Terdengar elang itu bagaikan menjerit ngeri. Kemudian burung itu masih berusaha untuk terbang naik keudara. Tetapi ternyata burung itu sudah tidak mampu lagi. Tiba-tiba saja burung itu telah terjatuh di tanah.

Ki Wiradadi yang kemudian mengetahui hal itu, sempat bertanya "Apakah kematian elang itu tidak menambah kemarahan Panembahan dan orang-orangnya?”

Namun orang bongkok itu menjawab "Apapun yang terjadi, mereka tentu akan datang kemari. Burung itu telah melihat gubug ini, dan menyampaikan isyarat kepada pemiliknya”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Sementara anak gadisnya telah menjadi semakin ketakutan lagi. "Aku tidak mau dibawa kembali ke tempat itu." minta anak gadisnya.

"Tidak ngger. Jangan takut” desis Ki Wiradadi menenangkan hati anak gadisnya, betapapun hatinya sendiri bergejolak. "Kau tidak akan pernah jatuh ketangan mereka lagi”

"Aku akan memilih mati daripada harus kembali ketempat itu ayah " tangis gadis itu.

"Jangan takut." hanya itu sajalah yang dapat dikatakan Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana yang telah membunuh burung elang itu, sempat mendekatinya. Ternyata kuku-kuku burung itu dilapisi baja-baja runcing. Dengan demikian, burung-burung itu telah dipersiapkan tidak saja untuk mengamati keadaan, tetapi juga untuk berkelahi.

"Kita sudah mulai” berkata orang bongkok itu.

"Ya” jawab Manggada" kita memang sudah mulai.

Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar pula ketika mereka melihat dua ekor burung telah muncul lagi diudara. Ketika seekor yang lain berteriak-teriak keras sekali, agaknya orang-orang Panembahan telah melepaskan lagi dua ekor yang lain.

Orang bongkok itupun kemudian berkata “Kita bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Pada waktu yang singkat, mereka tentu akan datang. Mudah-mudahan Ki Ajar datang lebih dahulu dari mereka”

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka telah mempersiapkan semua senjata yang mereka miliki, untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi. Dalam pada itu, tiga ekor burung elang beterbangan di udara. Burung-burung itu beterbangan berputaran seakan-akan membuat lingkaran-lingkaran isyarat.

Namun ternyata, burung-burung elang itu tidak hanya empat. Meskipun yang seekor telah mati, tetapi yang beterbangan di langit masih lebih banyak dari tiga ekor. Dua lagi telah datang dan ikut pula berputaran. Sekali-sekali kedua ekor burung yang datang kemudian itu menjauh. Kemudian mendekat lagi.

Orang bongkok itu ternyata cukup cerdas menanggapi keadaan. Katanya “Kalian lihat yang dua ekor itu? Keduanya tentu telah menuntun sekelompok orang untuk dibawanya kemari. Keduanya adalah petunjuk jalan. Namun dengan demikian, kitapun dapat menduga darimana mereka datang”

"Apakah kita harus menyongsong mereka?” bertanya Manggada.

"Sebentar lagi. Kita masih harus menunggu Ki Ajar. Menilik kedua ekor burung elang itu, orang-orang yang akan datang tentu masih agak jauh. Tetapi jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, maka apaboleh buat. Kita tidak dapat menunggu, di sini untuk dikepung, dan kemudian dibantai beramai-ramai” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian, Laksana berkata “Jika kita dapat memperhitungkan arah, apakah tidak lebih baik Ki Wiradadi dan anaknya kita persilahkan untuk menyingkir?”

"Itulah yang tidak dapat diperhitungkan. Kita dapat menduga arah kedatangan mereka, tetapi orang-orang Panembahan itu tentu telah berkeliaran di semua sudut lingkungan ini. Jika Ki Wiradadi bertemu dengan mereka, maka keadaannya akan menjadi sulit. Gadis itu akan mengalami malapetaka, melampaui saat-saat ia dijadikan korban” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Sementara orang bongkok itu berkata “Jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, kita justru harus maju. Kita tahan mereka di bawah tanggul sempit. Tidak ada jalan lain yang dapat dilalui kecuali lewat tanggul sempit itu. Sementara, kalian dapat mempergunakan anak panah untuk menahan mereka. Kedua ekor harimau itu justru harus berada di seberang tanggul untuk mengacaukan perhatian mereka, meskipun kedua ekor harimau itu akan dapat mengalami kesulitan jika lawannya terlalu banyak”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka tidak mengira bahwa pada saat yang gawat, orang bongkok itu dapat mengambil sikap sebagaimana Ki Ajar sendiri.

Demikianlah. Maka orang-orang yang ada di halaman gubug kecil itu telah bersiap sepenuhnya. Mereka justru berpedoman pada burung-burung elang yang menuntun kedatangan orang-orang yang beraliran sesat itu. Namun orang bongkok itu nampak sangat gelisah, ketika orang-orang itu menjadi semakin dekat, sementara Ki Ajar belum datang.

"Apa boleh buat” berkata orang bongkok itu "kita harus maju sekarang. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan anak panah”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Di luar sadar, mereka memandangi endong anak panah mereka yang tinggal berisi sedikit. Seandainya musuh terlalu banyak, maka anak panah mereka tidak akan mencukupi lagi.

Orang bongkok itu dapat membaca sikap kedua anak muda itu. Ia kemudian berkata “Cepat, ikut aku. Tidak banyak waktu”

Keduanyapun kemudian berlari-lari ke dapur. Ternyata di dapur itu tersimpan setumpuk anak panah di bawah jerami. Bukan anak panah terbuat dari ruas-ruas bambu panjang, tetapi anak panah yang cukup baik dengan bedor yang tajam dan bulu keseimbangan yang rapi. Kedua orang anak muda itu telah memenuhi endong mereka masing-masing. Demikian pula Ki Wiradadi.

Ketika kedua anak muda itu pergi bersama orang bongkok itu, maka orang bongkok itu berpesan " Hati-hatilah Ki Wiradadi. Jangan ragu-ragu. Jika ada satu dua yang luput dari anak panah kami dan mendekati rumah ini, bunuh saja sebelum mereka menjamah kalian. Lindungi anak Ki Wiradadi baik-baik. Jika tidak lagi ada kemungkinan, maka agaknya kematian adalah batas terbaik untuk menghindarkan diri. Tetapi Ki Wiradadi jangan membunuh diri seperti orang yang berputus asa. Kita akan melawan sampai mati”

Ki Wiradadi mengangguk. Ia mengerti maksud orang bongkok itu. Tetapi bagaimana dengan anak gadisnya? Ki Wiradadi tidak sempat berpikir panjang. Ia sudah bersiap dengan busur dan anak panahnya.

Sementara itu, Manggada dan Laksana masih sempat juga mengenai seekor lagi dari burung-burung elang yang sedang menukik. Nampaknya burung itu ingin melihat lebih jelas sasaran yang akan mereka datangi. Namun ketika seekor di antara mereka dengan sombong mencoba menyerang harimau Ki Pandi, kuku-kuku tajam harimau itu telah mengoyak tubuhnya. Giginya sempat menatahkan sayap dan memecahkan kepala burung elang itu.

Orang bongkok itu kemudian memerintahkan harimaunya untuk keluar dari sarang mereka. Harimau-harimau itu harus mengacaukan perhatian orang-orang beraliran sesat itu, sementara mereka akan menyerang dengan anak-panah.

Demikianlah, Manggada, Laksana dan arang bongkok itu telah mengikuti kedua ekor harimau yang berlari-lari kecil mendahului mereka, sementara Ki Wiradadi berada di rumah menunggui anak perempuannya.

Namun demikian, ketika kedua ekor harimau itu akan melintasi tanggul sempit itu, keduanya telak menggeram. Beberapa langkah mereka surut. Ternyata yang muncul adalah Ki Ajar yang nampak mulai gelisah pula.

"Ki Ajar datang tepat pada waktunya” berkata orang bongkok itu. Lalu " Kami hampir kehilangan akal”

"Mereka sudah sangat dekat. Kita akan melawan mereka di sini. Di tempat yang tidak terlalu terbuka” berkata Ki Ajar.

"Ya. Tanggul sempit itu adalah satu-satunya jalan. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan serangan-serangan anak panah” berkata orang bongkok itu.

"Bagus” jawab Ki Ajar "tetapi aku masih menunggu beberapa orang.

"Siapa?” bertanya orang bongkok itu.

"Sanak kadang sendiri” jawab Ki Ajar "aku telah memberikan isyarat”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian terdengar isyarat Ki Ajar. Beberapa orang memang telah muncul lewat tanggul yang sempit itu. Ki Ajar mengajak mereka mundur beberapa langkah. Sementara itu, Manggada dan Laksana menjadi termangu-mangu. Seorang di antara mereka tiba-tiba saja bertanya kepada.

"Manggada! Di mana orang tua yang kehilangan anaknya itu?”

Manggada termangu-mangu. Namun ia menjawab sambil mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat orang itu " Ki Wiradadi ada di rumah itu”

"Kau ingat aku?” bertanya orang itu.

Namun tiba-tiba saja Manggada berkata “Petugas sandi dari Pajang itu”

Orang itu tertawa. Katanya. “Aku yakin bahwa kalian tidak akan sabar menunggu kami. Tetapi kami sudah membuat hubungan dengan Ki Ajar sejak sebelum kalian mengenalinya. Ternyata bahwa kalianpun telah melakukan langkah-langkah penting sebelum kami, sehingga gadis itu sudah dapat dibebaskan”

Namun mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang. Tiba-tiba saja orang bongkok itu berkata “Mereka sudah datang”

Ki Ajar mengangguk. Kedua ekor harimau yang tidak jauh menyeberangi tanggul sempit itu, tetap ada di antara mereka. Tetapi mereka tidak lagi hanya berempat, lima orang termasuk Ki Wiradadi. Ternyata mereka telah mendapat sejumlah kawan lagi. Lima orang petugas sandi dari Pajang yang telah mendapat isyarat dari Ki Ajar.

Sejenak kemudian, orang-orang itu menempatkan diri dibalik gerumbul. Orang bongkok itupun telah memegang busur pula, sebagaimana Manggada dan Laksana.

Sementara itu, burung-burung elang yang tersisa telah berterbangan berputaran di atas mereka. Sekali-sekali burung itu menukik sambil menjerit. Namun kemudian, dengan cepat terbang naik tinggi-tinggi di udara. Seakan-akan mereka menyadari bahwa di bawah mereka, ujung-ujung anak panah akan dapat membunuh mereka.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian telah terdengar suara riuh. Beberapa orang tiba-tiba saja telah muncul di tanggul sempit itu tanpa menyadari apa yang mereka hadapi. Karena itu, maka demikian orang-orang itu dengan susah payah melintasi tanggul sempit itu, sebuah anak panah telah menembus dadanya. Demikian pula orang berikutnya dan berikutnya.

Terdengar teriakan-teriakan marah. Seorang di antara mereka berteriak nyaring "Pergunakan perisai. Jangan bodoh. Sebenarnyalah, orang-orang yang membawa perisai telah menempatkan diri paling depan. Tiga orang berurutan telah mendahului kawan-kawannya. Mereka telah menempatkan diri berjajar untuk melindungi kawan-kawan mereka yang merangkak melampaui tanggul sempit itu.

Meskipun demikian, anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu masih juga sempat menyambar mereka meskipun ada juga yang mampu meloloskan diri karena perlindungan perisai itu.

"Gila" geram orang bongkok itu "ada juga di antara mereka yang membawa perisai”

Namun dalam pada itu, beberapa orang telah sempat melangkahi mayat kawan-kawannya. Tiba-tiba saja, mereka telah meloncat sambil berteriak menyerang. Ketika anak-anak panah menyambar mereka, maka mereka telah mampu menangkis anak panah itu dengan pedangnya. Sementara yang lain dengan tombak pendeknya.

Demikianlah, ternyata semakin banyak orang yang sempat melintasi tanggul sempit itu, perlawanan anak panah Manggada dan Laksana semakin kurang berarti. Meskipun demikian, dalam beberapa hal, anak panah mereka masih juga sempat mengurangi jumlah lawan.

Dalam keadaan yang mulai gawat, beberapa orang yang masih bersembunyi di balik dedaunan telah mulai bergeser. Sementara itu, orang bongkok itu meneriakkan isyarat bagi kedua ekor harimaunya yang tiba-tiba saja mengaum dahsyat sekali.

Orang-orang itu terkejut. Demikian perhatian mereka tertuju kepada kedua ekor harimau itu, maka anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu telah menyambar beberapa orang lawan yang terjatuh di tanah.

Tetapi orang-orang yang mengalir dari balik tanggul sempit itu seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Namun kedua ekor harimau itu memang telah merusakkan perlawanan mereka. Kedua ekor harimau itu tiba-tiba saja telah menyergap langsung masuk ke dalam lingkaran lawan.

Namun seperti yang diduga oleh orang bongkok itu, bahwa harimaunya akan mengalami kesulitan, karena yang dihadapi adalah murid-murid Panembahan beraliran sesat. Karena itu, tiba-tiba orang bongkok itu sendiri telah meloncat keluar dari balik dedaunan. Beberapa lama ia masih berjongkok dengan busur di tangan.

Namun ternyata dua orang telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Ia sempat menghentikan seorang diantara mereka, tetapi yang lain telah mengayunkan tombak pendeknya mengarah kedadanya.

Orang bongkok itu ternyata cukup tangkas. Ia sempat melenting berdiri dan menangkis serangan itu dengan busurnya. Tetapi agaknya ia tidak dapat bertempur dalam jarak pendek dengan busur dan anak panah, sehingga karena itu, orang bongkok itu telah meletakkan busurnya dan menarik pedangnya.

Ternyata pedang orang bongkok itu adalah pedang yang khusus. Bukan saja ujudnya, tetapi juga buatannya. Pedang itu dibuat sebagaimana orang membuat keris. Terdapat pamor yang berkilat sepanjang tubuh pedang itu. Sedangkan pedang itu ternyata tajam di kedua sisinya, seperti sebilah keris yang besar.

Sejenak kemudian, orang bongkok itu telah bertempur dengan pedangnya. Ketika seorang yang lain menyerang dari belakang, maka serangan itu telah dihentikan oleh anak panah Manggada yang menyambar punggungnya.

Orang bongkok itu ternyata sempat juga berkata “Terima kasih”

Demikianlah, sejenak kemudian sembilan orang yang sedang menunggu itu telah berloncatan keluar dari balik pepohonan di belakang tanggul sempit itu. Namun dalam pada itu, ternyata di seberang tanggul sempit itu masih terdapat sepasukan orang-orang yang berilmu sesat.

Pertempuran telah terjadi di sebelah menyebelah tanggul sempit itu. Beberapa orang berilmu sesat, yang telah berhasil menyusup ke balik tanggul, telah berhadapan dengan sembilan orang yang memiliki ilmu cakup mapan. Meskipun Manggada dan Laksana masih terlalu muda untuk hadir dalam pertempuran yang rumit itu tetapi ternyata bahwa mereka memang memiliki bekal yang cukup.

Jika sekilas kedua anak muda itu sempat memperhatikan si bongkok, mereka menjadi heran. Ternyata orang bongkok itu sanggup bertempr dengan tangkas sekali. Pedangnya berputaran, sementara dengan terbongkok-bongkok, ia berloncatan dengan cepat dan kadang-kadang di luar dugaan.

Para petugas sandi dari Pajang, adalah orang-orang berpengalaman di dalam pertempuran. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung meskipun lawan mereka berada di segala tempat. Namun seorang diantara mereka perhatiannya terpecah, karena dua ekor harimau yang ikut berloncatan di medan pertempuran.

Ki Ajar berteriak "Keduanya adalah milik kami”

Petugas sandi itupun telah menjadi mantap lagi. Ia tidak lagi perlu memperhatikan harimau itu, meskipun harimau itu tentu akan sulit untuk memperhatikan, yang manakah lawan dan yang manakah kawan-kawan mereka.

Tetapi Ki Ajar kemudian berteriak pula sambil berkata “Si Bongkok telah melatih keduanya untuk tahu apa yang harus dilakukan dalam pertempuran yang kacau sekalipun. Apalagi, mereka telah memahami benar lawan-lawan mereka yang berilmu sesat”

Namun seorang diantara lawan-lawan mereka itupun berteriak pula "Kalian menjadi dengki dan iri, karena kalian tidak mampu mencapai tataran ilmu sebagaimana kami. Dengan demikian, kalian menganggap bahwa kami berilmu sesat”

Tetapi Ki Ajar tidak menanggapinya. Ia masih saja menghindar dan menangkis serangan-serangan yang datang dari segala arah. Semakin lama, lawanpun menjadi semakin banyak. Sementara itu beberapa ekor burung elang masih beterbangan di langit. Nampaknya, burung-burung itu sempat memberikan beberapa isyarat yang diajarkan kepada mereka.

Namun mungkin juga. burung-burung buas itu mulai mencium bau darah. Tetapi ketika lawan semakin berdesak, melewati tanggul, maka satu dua orang di antara mereka ada yang mulai berlari mendekati gubug Ki Ajar. Namun ternyata anak panah Ki Wiradadi telah menghentikan mereka sebelum mereka memasuki halaman.

Namun demikian, tidak hanya dua tiga orang yang telah terbaring di tanah dengan anak panah menembus jantung ketika mencoba menggapai rumah Ki Wiradadi. Tetapi beberapa orang yang lain telah mencobanya pula.

Dengan demikian, garis pertahanan Ki Ajar dan kawan-kawannya harus bergeser surut. Sementara Si Bongkok telah memberikan perintah kepada kedua ekor harimaunya untuk membantu Ki Wiradadi menahan arus orang-orang yang ingin mencapai gubug itu.

Namun sejenak kemudian, telah terdengar perintah. "Ambil gadis itu. Gadis itu tentu ada di dalam gubug kecil itu."

Perintah itu telah menggetarkan jantung Ki Wiradadi. Bahkan juga mereka yang telah berusaha menyelamatkannya. Namun dalam pada itu, terjadi sesuatu yang mengejutkan orang-orang yang telah memasuki lekuk di tanggul sempit itu.

Ternyata Ki Ajar tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mengerahkan ilmunya untuk mengurangi arus lawan yang jumlahnya tentu tidak terhitung lagi. Karena itu, Ki Ajar bergeser menjauhi arena. Beberapa orang yang tidak tahu maksudnya, telah mengejarnya. Dengan demikian, Ki Ajar meloncat naik ke sebuah gundukan tanah dan tiba-tiba saja menghentakkan tangannya.

Ternjadi sebuah ledakan kecil. Dua orang di antara lainnya telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah. Sejenak orang-orang yang bertempur itu sempat berpaling. Mereka melihat apa yang telah terjadi, sehingga orang-orang berilmu sesat itu menjadi ngeri.

Tetapi pemimpin kelompok orang berilmu sesat itu, tiba-tiba saja bersuit nyaring. Agaknya orang itu telah memberikan isyarat kepada seseorang, memberitahukan apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah, medan itu menjadi gempar. Sejenak kemudian, terdengar ledakan yang tidak dilontarkan oleh kekuatan ilmu Ki Ajar, tetapi dilontarkan oleh seseorang yang berada di luar batas tanggul yang sempit itu. Ledakan itu berasal dari seorang yang memiliki ilmu sangat tinggi.

Dengan kemampuannya orang itu menghantam tanggul sehingga menganga dan runtuh berhamburan. Batu-batu padas yang pecah, berserakan.

Dengan demikian pintu sempit itu terbuka lebar. Tetapi orang-orang yang bertempur yang bertempur di halaman itu terkejut. Dibelakang tanggul, telah terjadi pertempuran. Itulah sebabnya orang orang-orang berilmu sesat tidak mengalir terlalu deras memasuki tempat yang terpencil itu.

Hampir di luar sadarnya, Manggada yang tengah bertempur bertanya " Siapa- bertempur diluar?”

Pemimpin dari para petugas sandi itu menjawab “Kami tidak hanya datang berlima. Kami datang dengan sepasukan prajurit”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dugaannya tentang sikap para prajurit dan petugas sandi' Pajang selama ini keliru. Ia menganggap para petugas sandi Pajang yang sudah mengetahui persoalan anak gadis Ki Wiradadi, tidak dengan cepat menanggapinya.

Ternyata mereka telah bekerja keras. Tetapi Pajang tidak berpikir sekedar menyelamatkan anak Ki Wiradadi. Agaknya Pajang benar-benar ingin menghancurkan perguruan yang menyebarkan ilmu sesat itu sampai ke akar-akarnya.

Tetapi dalam pada itu, seorang.bertubuh tinggi tegap, berjanggut putih, meloncat memasuki lingkungan terpencil itu. Hampir berbareng beberapa orang telah berdesis Panembahan.

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Orang itulah yang disebut dengan Panembahan Lebdagati. Seorang Panembahan yang memiliki pengetahuan tuntas. Kawruh lahir dan batin, serta menguasai inti kekuatan alam disekitarnya.

Tiba-tiba saja, pertempuran itu telah menyibak. Namun di samping itu, di belakang Panembahan Lebdagati yang melangkah perlahan-lahan memasuki lingkungan terpencil itu, pertempuran rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Prajurit Pajang dengan segala ciri keprajuritannya, telah menghantam orang-orang berilmu sesat itu tanpa ampun. Namun orang-orang berilmu sesat itupun memiliki bekal ilmu yang kuat, meskipun kasar dan bahkan liar.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang prajurit telah memanjat tebing yang lebih tinggi. Keduanya tiba-tiba saja telah meniup sangkakala yang suaranya menggetarkan udara, mengumandang di lereng gunung itu. Gema suara sangkakala itu, seakan-akan menggaung panjang tanpa henti-hentinya. Susul menyusul membentur lereng.

Namun dalam pada itu, orang berjanggut putih yang disebut Panembahan Lebdagati, tidak senang melihat keduanya berdiri di lereng tebing yang semakin tinggi. Karenanya, Panembahan itu menghentakkan tangannya ke arah kedua orang prajurit itu.

Ternyata tebing tempat keduanya berdiri, bagaikan telah meledak. Kedua orang prajurit itu kemudian terlempar dari tebing dan berguling kedalam lekuk-lekuk batu padas.

"Setan orang-orang Pajang" geram Panembahan Lebdagati.

Bersamaan dengan itu, seseorang telah berdiri di hadapan Panembahan Lebdagati.

"Selamat datang ke gubug kami Panembahan..." sapa Ki Ajar...

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 10

Menjenguk Cakrawala Bagian 09

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya Singgih Hadi Mintardja
NAMUN setelah mereka mengamati sejenak, ternyata mereka menyadari, bahwa yang dilakukan oleh orang-orang beraliran sesat itu barulah persiapan. Mereka sibuk menghias tempat persembahan dengan janur yang berwarna kekuningan, sebagaimana mereka menghias tempat peralatan perkawinan. Demikian pula regol padukuhan, dan agaknya, juga bangunan-bangunan yang ada di padukuhan kecil itu.

Tetapi orang-orang yang berada di pinggir padang rumput, dan bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu itu, tidak berani mendekat. Mereka hanya dapat mengamati semuanya itu dari kejauhan.

Dalam pada itu, Ki Ajar berbisik "Agaknya mereka telah memperkuat penjagaan. Hilangnya beberapa orang di antara mereka, telah membuat mereka menjadi sangat berhati-hati"

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun ia masih saja dibayangi oleh kecemasannya, akan segala kemungkinan yang terjadi atas Manggada dan Laksana. Keduanya bukan apa-apanya. Tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Jika keduanya menjadi korban; maka ia tentu akan menyesal sekali.

Tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Kedua anak muda itu sendiri nampaknya sudah begitu mantap untuk terjun ke gelanggang. Sebagaimana pernah mereka katakan, bahwa selain untuk menyelamatkan gadis itu, maka kepercayaan sesat itu memang harus dipadamkan.

Malam itu, mereka sempat melihat persiapan yang dilakukan oleh beberapa orang. Bahkan mereka melihat semacam gladi bagaimana upacara itu akan dilakukan besok.

Mereka yang berada di pinggir padang rumput, di balik gerumbul-gerumbul perdu itu, melihat bagaimana besok iring-iringan itu akan keluar dari regol. Ternyata gadis yang akan di korbankan, akan dibawa naik sebuah tandu, dikawal oleh empat orang bersenjata.

Sementara itu, tempat penyerahan korban telah dijaga pula oleh empat orang di setiap sudutnya. Pengawal itu bersenjata tombak panjang dengan juntai janur kuning di bawah mata tombaknya.

Gladi upacara itu agaknya dilakukan hampir utuh. Namun Ki Ajar berkata "Penjagaan kali ini memang nampak lebih cermat”

"Ki Ajar pernah melihat upacara semacam ini?” bertanya Ki Wiradadi.

"Bukankah aku pernah mengatakannya? Tetapi aku segan untuk mengingatnya lagi, karena penglihatanku itu selalu menyiksa perasaanku. Aku melihat satu tindakan yang bertentangan dengan nuraniku, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa” desis Ki Ajar.

Ki Wiradadi tidak bertanya lagi. Ia mengerti perasaan Ki Ajar yang sakit, justru karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Ketika bulan menjadi semakin tinggi, dan bahkan mencapai puncaknya, semua persiapan telah dapat diselesaikan. Bahkan beberapa rontek dan umbul-umbul telah terpasang. Upacara itu memang merupakan upacara yang termasuk besar.

Memang terkilas di dalam angan-angan Ki Wiradadi pertanyaan, apakah mereka akan berhasil dengan rencana mereka, justru menghadapi kesiagaan yang begitu tinggi.

Tetapi ia selalu mengusir keragu-raguan dari dalam hatinya. Ia sadar, bahwa Ki Ajar dan anak-anak muda yang bersedia membantunya itu, agaknya membenci keraguraguannya. Karena itu, ia harus memantapkan sikapnya, apapun yang tersirat di hatinya.

Demikianlah, ketika padang rumput itu menjadi semakin sepi, Ki Ajar berkata "Marilah. Agaknya semua persiapan telah selesai. Kita sudah mendapat gambaran apa yang akan terjadi besok. Kita sudah melihat celah-celah yang memberi kemungkinan kepada kita untuk bertindak besok malam”

"Kapan kita akan hadir di sini besok Ki Ajar?” bertanya Ki Wiradadi.

"Pada saat bulan terbit, kita harus sudah berada di sini” jawab Ki Ajar.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia kemudian mengikuti Ki Ajar, meninggalkan tempat itu Demikian juga Manggada dan Laksana. Ketika mereka sampai di rumah Ki Ajar, maka Ki Ajar telah mempersilahkan mereka langsung beristirahat.

"Kita besok memerlukan tenaga dan kemampuan kita sepenuhnya” berkata Ki Ajar.

Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka pun telah pergi ke serambi, dan membaringkan diri di amben yang cukup besar. Di serambi terasa lebih sejuk dan segar daripada mereka berada di dalam rumah yang terasa sempit dan panas. Karena itu, mereka pun merasa akan dapat lebih cepat tidur daripada jika mereka berada di dalam.

Di hari berikutnya, Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu telah melakukan persiapan terakhir. Malam nanti mereka akan bergabung di antara hidup dan mati. Tetapi apapun yang terjadi, mereka sudah bertekad untuk menghancurkan gerombolan orang yang menganut ilmu sesat. Meskipun orang-orang itu berjumlah jauh lebih banyak, namun mereka yakin, bahwa jika para pemimpinnya telah dikalahkan, yang lain tidak akan banyak memberikan perlawanan.

Ketika matahari turun, Ki Ajar telah bersiap-siap pula. Setelah memberikan pesan-pesan terakhir, maka mereka pun mulai bergerak. Tetapi mereka harus sangat berhatihati. Mereka tidak boleh datang sebelum gelap. Tetapi mereka pun tidak boleh terlambat.

Karena itu, mereka sengaja berangkat agak awal. Namun mereka harus menunggu di sebuah semak-semak yang berdaun rimbun. Baru ketika senja turun, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padang rumput yang menjadi arena penyerahan korban bagi orang-orang berilmu hitam itu.

Bagaimanapun juga, terasa debar di jantung mereka menjadi semakin keras, ketika mereka semakin dekat. Dari jarak yang agak jauh, telah nampak cahaya obor yang menjulang. Agaknya padang rumput itu memang menjadi terang dan oleh puluhan obor yang telah dinyalakan.

Pada saat hari mulai gelap, Ki Ajar dan kawan-kawannya mempersiapkan diri. Mereka tidak boleh terlambat bertindak, karena jika ia terlambat, maka segalanya akan gagal. Gadis itu tentu akan terbunuh dan bahkan mungkin mereka semuanyapun akan terbunuh pula. Tetapi jika terjadi hal yang demikian, maka itu adalah akibat yang harus mereka terima.

Sambil menunggu bulan bulat di langit, detak jantung mereka serasa menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka harus menunggu sangat lama. Namun akhirnya, langit pun menjadi semakin terang. Sesaat lagi bulan akan terbit.

Ki Ajar memberikan isyarat kepada mereka, yang bekerja bersamanya. Di saat bulan terbit, semua persiapan akan dilakukan pada tahap terakhir. Sejenak kemudian, korban pun dibawa keluar dari padukuhan, dan diarak ketempat korban dipersembahkan.

Upacara akan berlangsung beberapa lama, sehingga baru menjelang tengah malam pusaka yang akan menjadi sangat bertuah itu dihunjamkan kedada korban.

Dengan isyarat itu, maka Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah bergeser untuk mengambil jarak. Namun dalam pada itu. si. Bongkok mendekati Ki Ajar untuk menerima perintah-perintahnya.

"Kita tidak akan mendapat kesempatan lain Bongkok” berkata Ki Ajar.

"Ya Ki Ajar” jawab Bongkok "Karena itu, kita harus berhasil kali ini. Kepercayaan sesat ini harus kita hancurkan, sehingga tidak akan dapat tumbuh kembali”

"Selebihnya, kita selamatkan gadis yang akan menjadi korban itu” desis Ki Ajar.

Si Bongkok mengangguk-angguk. Namun perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada gerbang padukuhan yang terang.

"Begitu gadis itu diletakkan di atas tempat korban, kita akan bertindak” berkata Ki Ajar.

Orang bongkok itu masih saja mengangguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Perhatiannya masih saja tertuju kepada kesibukan di pintu gerbang. Agaknya benda-benda upacara sudah akan dibawa keluar, sebelum mereka membawa korban itu sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar dan orang bongkok itu pernah menyaksikan apa yang terjadi di padang rumput itu. Tetapi mereka merasa ngeri untuk mengingatkannya. Tetapi dalam keadaan yang penting itu, mereka terpaksa melihat kembali ingatan mereka tentang upacara-upacara yang pernah dilakukan di padang itu.

Beberapa saat kemudian, benda-benda upacara telah dibawa keluar. Beberapa puluh obor mendahului benda-benda upacara itu, dalam iring-iringan agak panjang. Benda-benda upacara itu kemudian dibawa ke tempat korban diserahkan. Sebagian diletakkan di atas tatanan batu, sementara yang lain diletakkan di bawah.

Manggada dan Laksana yang belum pernah menyaksikan upacara seperti itu, merasa jantungnya berdetak semakin keras. Bulu-bulu tengkuk mereka, serasa berdiri. Upacara itu nampak mengerikan. Apalagi kedua anak muda itu sudah mulai membayangkan, seorang gadis terbaring di tempat korban, kemudian sebilah keris diangkat tinggi-tinggi dan terayun menghunjam ke jantungnya.

Rasa-rasanya anak-anak muda itu mendengar jerit tinggi. Namun ternyata yang didengarnya, adalah isyarat dalam upacara yang sedang berlangsung itu dari salah seorang perempuan yang memimpin upacara itu, di antara beberapa orang perempuan yang lain.

Tiba-tiba saja, terjadi gerakan mengejutkan. Dengan serentak, semua orang di sekitar tempat itu bergerak. Berputaran sambil meneriakkan kata-kata yang tidak jelas. Semakin lama semakin cepat.

"Beri tahu anak-anak muda itu” berkata Ki Ajar "sebentar lagi korban akan dibawa keluar”

Orang bongkok itupun kemudian merangkak mendekati anak-anak muda itu untuk memberikan isyarat dengan tangannya, bahwa korban akan dibawa keluar.

Manggada dan Laksana telah bergeser lagi semakin jauh. Sementara Ki Wiradadi, tetap berada di tempatnya. Mereka akan mempergunakan anak panah untuk menyerang dari jarak jauh', sehingga akan timbul kekacauan di tempat upacara itu. Meskipun di sekitar tempat upacara itu terdapat banyak orang, tetapi kelima orang itu yakin, bahwa hanya beberapa saja di antara mereka yang bersiap untuk benar-benar bertempur dengan kemampuan yang memadai.

Mereka telah melihat beberapa orang, bukan saja menjajagi kemampuan mereka, tetapi justru telah membunuhnya. Sejenak kemudian, terdengar suara bende yang bergaung memecah keriuhan di padang rumput itu. Bende yang menjadi isyarat bahwa korban akan dibawa keluar dari pintu gerbang padukuhan, di sebelah padang itu.

Orang-orang yang menunggu diatas tanggul, di balik gerumbul itu, menjadi tegang. Terutama Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi. Ki Wiradadi yang seakan-akan telah melihat anak gadisnya diarak dalam tandu keluar pintu gerbang, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu lebih lama.

Korban yang akan dibaringkan di atas tempat korban itu, benar-benar telah ditandu keluar dari pintu gerbang. Satu iring-iringan panjang, dengan beberapa tanda upacara yang lain dari yang telah lebih dahulu dipasang. Namun dari tempat mereka bersembunyi, Ki Wiradadi dan kawan-kawannya tidak dapat melihat wajah orang yang berada di dalam tandu itu.

Tetapi mereka tidak mempedulikannya. Mereka berpegang pada rencana yang telah mereka susun. Demikian korban diletakkan di atas batu itu, mereka akan bertindak. Mereka tidak akan menunggu upacara berkepanjangan, sehingga akan dapat membuat jantung mereka semakin tegang, dan mungkin akan kehilangan keseimbangan.

"Dalam saat itu, mungkin Panembahan belum ada di padang. Tetapi itu kebetulan sekali. Kita akan menghadapi lawan-lawan yang lain. Baru kemudian, kita akan berha dapan dengan Panembahan” berkata Ki Ajar yang menjelaskan saat mereka menyusun rencana.

Dengan demikian, mereka dapat menghadapi lawan-lawan mereka bergantian. Kehadiran korban itu benar-benar bagaikan iring-iringan pengantin perempuan, dalam upacara yang besar. Bahkan suara gamelanpun telah terdengar mengiringi kor ban yang duduk di atas tandu itu. Namun sebenarnyalah, orang yang duduk di atas tandu itu seakan-akan tidak lagi; sadar akan dirinya, karena ketakutan yang mencekam.

Perempuan yang duduk di dalam tandu itu menyadari, bahwa sebentar lagi, umurnya akan dicabut di atas tempat untuk menyerahkan korban.

Ki Wiradadi rasa-rasanya tidak sabar lagi. Tetapi ia harus menunggu Ki Ajar memberikan isyarat. Dalam siraman cahaya bulan, mereka yang bersembunyi di balik gerumbul itu melihat, perempuan yang duduk di dalam tandu itu dipanggul tiga kali mengelilingi tempat yang akan dipergunakannya untuk menyerahkan korban.

Kemudian tandu itu berhenti tepat di sisi sebelah kanan. Dengan penuh hormat, beberapa orang perempuan ' telah mempersilahkan pengantin perempuan turun dari tandu dan naik ke atas tempat korban diserahkan.

Ternyata bahwa perempuan di dalam tandu itu tidak lagi mampu untuk melakukannya sendiri. Ia memerlukan pertolongan dari orang-orang yang mengiringinya, karena rasa-rasanya tulang-tulangnya tidak lagi dapat mengangkat tubuhnya. Ketakutan yang sangat, memang telah mencekam jiwanya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk menguasai kehendaknya sendiri atas tubuhnya.

Namun bagaimanapun, Ki Wiradadi tidak sempat melihat siapakah perempuan itu. Namun yang terbayang di matanya, bahwa perempuan itu adalah anak gadisnya.

Demikian perempuan itu naik, dan dibaringkan di atas tempat menyerahkan korban, upacara pun segera dimulai. Beberapa orang mulai berloncatan menari-nari di sekitar korban yang telah terbaring. Teriakan-teriakan yang tidak dapat dimengerti, menjadi semakin keras dan semakin cepat. Orang-orang yang menari-nari itu mulai bergerak di sekeliling tempat korban dibaringkan.

Ki Ajar menganggap waktunya sudah tepat. Karena itu, ia memberikan isyarat. Orang bongkok yang berada di dekatnya, telah mendapat perintah untuk melemparkan batu-batu kecil kearah Ki Wiradadi dan kedua anak muda yang membantunya berusaha membebaskan anak gadisnya itu.

Ki Wiradadi memang sudah tidak sabar lagi. Karena itu, demikian ia mendapat isyarat, sebagaimana sudah disepakati, iapun segera meletakkan ejid ong anak panahnya di lambung. Dengan tergesa-gesa Ki Wiradadi memasang anak panah pada tali busurnya, sebagaimana dilakukan oleh Manggada dan Laksana.

Sesaat kemudian, anak panah terlepas. Terdengar jerit mengoyak teriakan-teriakan upacara. Tiga orang telah jatuh dengan anak panah melekat di punggungnya. Sejenak orang-orang yang sedang menari-nari itu, bagaikan telah membeku. Namun lagi, tiga orang telah jatuh sambil menjerit kesakitan.

Upacara itupun menjadi gempar. Beberapa orang berteriak berlari-lari. Namun pemimpin upacara itu, tiba-tiba saja telah berteriak "Selamatkan ratu”

Suaranya meledak bagaiman suara guruh di langit, yang diselimuti mendung gelap. Ki Ajar menangkap isyarat itu. Yang dimaksud dengan ratu, tentu orang yang sudah siap dikorbankan itu. Karena itu, Ki Ajar berkata kepada orang bongkok "Sekarang”

Orang bongkok itupun mengangguk. Tiba-tiba saja. mulutnya melepaskan bunyi yang khusus, seperti bunyi seekor tikus. Ternyata bunyi itu adalah bunyi yang dikenali oleh dua ekor harimau yang sudah lama bersembunyi di belakang gerumbul, sebagaimana si bongkok itu sendiri. Oleh isyarat itu, kedua ekor harimau itu telah meloncat keluar dari persembunyiannya sambil mengaum keras sekali.

Suaranya memang mengejutkan. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu menyergap orang-orang yang ada di sekitar batu tempat korban akan diserahkan. Beberapa orang berlari-larian dengan penuh ketakutan. Sementara itu, anak panah Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana masih saja mengambil korban.

Beberapa saat kemudian, para pengawal berusaha menguasai keadaan. Namun mereka menjadi sangat berhati-hati, karena kehadiran dua ekor harimau yang bagaikan mengamuk di antara orang-orang yang berlari cerai-berai.

Sejenak kemudian, sekelompok pengawal hadir di tempat yangkacau itu. Dengan senjata di tangan, mereka siap menghadapi dua ekor harimau yang mengamuk itu. Tetapi ternyata mereka tidak sekedar menghadapi dua ekor harimau. Beberapa orang di antara mereka telah jatuh terjerembab dengan anak panah menghunjam di punggung.

"Setan" geram pemimpin kelompok pengawal. Dan sekali lagi terdengar perintah "Selamatkan ratu”

Beberapa orang pengawal memang berlari untuk mengambil gadis yang sudah terbaring di atas batu tempat persembahan itu. Tetapi beberapa anak panah telah menghentikan mereka. Dua orang anak muda berdiri di atas setumpuk batu yang diatur rapi itu, di bawah kaki gadis yang terbaring ketakutan.

Sementara itu, Ki Wiradadi berdiri di sebelah kepala gadis itu. Mereka bertiga telah mempergunakan anak panah mereka untuk menghentikan para pengawal yang siap menyerang mereka, sementara seluruh padang rumput itu menjadi kacau oleh dua ekor harimau yang nampak sangat liar dan garang.

Ketika para pengawal berusaha untuk menyerang dari arah yang lain. maka mereka telah menghadapi Ki Ajar dengan pedang terhunus. Dengan senjata itu, Ki Ajar tidak menunjukkan sesuatu ciri kepada para pengawal pada senjatanya.

Pertempuranpun segera terjadi. Namun dalam waktu yang singkat, jumlah para pengawal telah susut terlalu banyak. Disaat perhatian mereka tertuju kepada dua ekor harimau, maka anak panah telah mematuk punggung. Tetapi jika mereka memperhatikan anak panah itu, maka kuku harimau itu akan mengoyak tubuh mereka.

Dalam keadaan yang kacau itulah, terdengar suara Ki Ajar yang tiba-tiba saja telah berada didekat Ki Wiradadi " Lihat gadis itu. Selamatkan siapapun ia. Sukur jika gadis itulah yang kita cari”

Ki Wiradadipun segera tanggap. Dengan tangkasnya ia telah meloncat ke atas tempat persembahan itu. Setumpuk batu yang diatur dengan cermat dan di pahat meskipun agak kasar. Dalam keremangan cahaya obor, Ki Wiradadi mencoba mengamati wajah gadis yang telah dirias itu. Untuk beberapa saat Ki Wiradadi tercenung.

Namun akhirnya ia menjadi yakin ketika terdengar gadis yang lemah dan tidak lagi mampu menguasai dirinya sendiri karena ketakutan itu berdesis "Ayah”

"Kau" suara Ki Wiradadi menjadi serak. Namun ia segera sadar, ketika Ki Ajar berkata "Bawa anak itu. Kita akan menyelamatkannya”

Ki Wiradadipun segera menyangkutkan busurnya di pundaknya. Kemudian dengan tangkasnya mendukung anak itu dikedua tangannya. Dalam keadaan wajar, mungkin ia merasa agak berat membawa anak gadisnya di kedua tangannya itu. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka rasa-rasanya anak gadisnya itu masih saja seorang anak kecil yang memang sepantasnya didukungnya.

"Kita bergerak sekarang” berkata Ki Ajar.

Orang-orang itupun dengan tangkasnya telah berloncatan mundur. Manggada dan Laksana tidak henti-hentinya melepaskan anak panah mereka kearah orang-orang yang memburunya. Tetapi pengawal yang memburu mereka terlalu banyak, sehingga beberapa orang mampu mencapai orang-orang yang sedang melarikan diri itu.

Namun Ki Ajar tidak membiarkan mereka menyentuh gadis yang sedang didukung oleh Ki Wiradadi itu. Sementara dua ekor harimau itu lebih banyak mengacaukan pemusatan perhatian para pengawal daripada menyerang mereka. Namun dengan demikian, maka para pengawal yang kebingungan itu telah menjadi sasaran anak panah Manggada dan Laksana.

Beberapa saat kemudian mereka telah mendekati tanggul dipinggir jurang yang rendah. Manggadalah yang lebih dahulu berdiri dia tas tanggul itu. Kemudian ia berusaha melindungi orang-orang yang lain dengan anak panahnya disaat orang-orang itu mengundurkan diri. Sementara Laksana sambil melangkah surut masih juga selalu melepaskan anak panahnya pula.

Ternyata Ki Ajar, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah meloncat ke dalam jurang yang rendah itu Namun dalam sekilas dibawah terangnya bulan bulat, anak-anak muda itu melihat harimau yang bagaikan mengamuk dipadang rumput. Tetapi yang membuat bulu tengkuk mereka meremang, bukan hanya kedua ekor harimau itu.

Antara nampak dan tidak nampak dalam keremangan cahaya bulan bulat dan cahaya obor mereka melihat seekor harimau yang berwarna keputih-putihan dengan ujud yang lebih besar dari kedua ekor harimau yang dipelihara oleh orang bongkok itu.

Tetapi anak-anak muda itu tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi. Ki Ajar telah memberikan isyarat agar mereka segera meninggalkan tempat itu, menelusuri jurang yang rendah menuju ketempat yang rumit dan jarang disentuh kaki manusia. Apalagi dalam keremangan malam meskipun bulan terang.

Ki Wiradadi memang mengalami kesulitan karena ia harus membawa anak gadisnya. Namun terdorong oleh tekadnya untuk menyelamatkan anak gadisnya itu, maka ia rasa-rasanya tidak menemui hambatan sama sekali.

Tetapi ketika mereka menempuh jalan yang rumpil dan miring, maka Manggada dan Laksana terpaksa menolong Ki Wiradadi ikut menjaga agar Ki Wiradadi dan anaknya tidak justru terperosok kedalam jurang.

Ketika mereka menjadi semakin jauh, Manggada dan Laksana yang beberapa kali berpaling masih belum melihat orang bongkok dengan kedua ekor harimaunya. Bahkan kedua anak muda itu sempat menjadi cemas. Banyak kemungkinan dapat terjadi dalam keributan di padang rumput itu. Para pengawal tentu akan segera berdatangan. Bahkan baragkali para pemimpin dari padepokan yang besar itu telah datang pula.

Manggada yang tidak dapat menahan kegelisahannya telah bertanya "Ki Ajar. Bagaimana dengan Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya?”

"Aku harap mereka akan dapat mengatasi kesulitan mereka” jawab Ki Ajar.

Manggada hanya menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat mereka berusaha mengatasi jalan yang sulit dan kadang-kadang gelap dibawah bayangan pepohonan yang rimbun. Namun karena mereka telah beberapa kali melewati jalan itu, maka akhirnya mereka berhasil mencapai rumah Ki Ajar Pangukan.

Dengan hati-hati gadis yang ketakutan itu, dibaringkan didalam rumah kecil itu. Namun ternyata bahwa gadis Ki Wiradadi itu justru telah pingsan. Ia telah menahan goncangan-goncangan perasaan cukup lama, sehingga ketika tumbuh harapan, didalam hatinya karena kehadiran ayahnya, ia justru kehilangan seluruh penguasaan diri.

Tetapi Ki Ajar adalah seorang yang tahu benar tentang pengobatan. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan beberapa reramuan. Setelah dicairkan dengan air, maka obat itupun setitik demi setitik telah dituang kedalam mulut gadis yang pingsan itu.

Perlahan-lahan gadis itu menjadi sadar. Ia telah mulai membuka matanya dan bahkan mulai menangis. "Ayah" desisnya.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya dalam nada lembut "Jangan menangis lagi. Kau telah ditolong oleh Ki Ajar dengan seorang pembantunya”

"Bukan aku yang menolongmu anak manis. Tetapi ayahmu telah mempertaruhkan apa saja bagimu, bagi keselamatanmu” sahut Ki Ajar.

Ketika Ki Wiradadi akan menjawab lagi, maka Ki Ajar itu berkata "Kau dapat beristirahat sebaik-baiknya disini sambil menunggu seorang yang masih tertinggal di padang rumput itu. Tempat ini cukup jauh dan terpencil. Mudah-mudahan kita akan luput dari penglihatan orang-orang padepokan itu”

"Aku takut ayah" terdengar suara gadis itu lambat.

"Kau tidak perlu takut lagi sekarang” jawab ayahnya.

Gadis itu terdiam. Diamatinya ruang yang remang-remang itu. Lampu minyak sudah dinyalakan diatas ajuk-ajuk bambu disudut ruangan. Sinarnya yang lemah menggapai-gapai disentuh angin yang menyusup lewat lubang-lubang dinding.

Manggada dan Laksana duduk termangu-mangu. Sekali-sekali mereka menatap gadis yang terbaring diam itu. Kemudian dipandanginya wajah Ki Wiradadi dan Ki Ajar berganti-ganti.

"Sebutlah nama Yang Maha Agung” berkata Ki Wiradadi kepada anak gadisnya "kau telah dilindungi dari malapetaka itu”

Gadis itu kemudian memang menyebut nama Yang Maha Agung. Sementara Ki Ajar mengamati perkembangannya setelah obatnya merayap keseluruh tubuh. Keadaan gadis itu memang menjadi semakin baik. Bahkan sejenak kemudian, ia telah dapat bangkit dan duduk sambil minum beberapa teguk.

Namun dalam pada itu, pintu lereg rumah itu telah berderit. Manggada dan Laksana dengan sigapnya telah bangkit berdiri. Tetapi yang ternyata berdiri dipintu adalah Ki Pandi, orang bongkok yang mereka tinggalkan di padang rumput.

"Masuklah Bongkok” desis Ki Ajar.

Orang bongkok itupun kemudian melangkah masuk sambil menutup pintu.

"Dimana kedua ekor harimaumu itu?” bertanya Ki Ajar.

"Mereka ada diluar Ki Ajar” jawab orang bongkok.

"Bukankah mereka tidak mengalami sesuatu?” bertanya Ki Ajar pula.

"Tidak Ki Ajar” jawab orang bongkok itu.

"Sukurlah. Duduklah! Karena kau yang terakhir meninggalkan padang rumput itu, barangkali kau dapat memberikan ceritera yang tidak kami ketahui" berkata Ki Ajar.

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Untunglah kalian cepat meninggalkan padang rumput itu. Beberapa saat kemudian, beberapa orang pengawal terpilih telah datang. Bahkan Panembahan sendiri telah datang pula. Untunglah bahwa kami, maksudku aku dan kedua harimau itu sempat menghilang pula. Tetapi aku masih berusaha untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Dari kejauhan, aku dapat melihat apa yang dilakukan oleh Panembahan yang marah. Beberapa orang justru telah dibunuhnya karena korbannya telah hilang. Kemudian agaknya Panembahan telah memerintahkan memburu kita”

"Apa yang mereka lakukan kemudian?” bertanya Ki Ajar.

"Mereka telah berpencar” jawab orang bongkok itu.

"Apakah menurut dugaanmu mereka akan datang kemari?” bertanya Ki Ajar pula.

"Aku kira akhirnya mereka akan sampai kemari. Tetapi agaknya tidak malam ini” jawab orang bongkok itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Fajar besok kita akan menentukan, apa yang akan kita lakukan. Setidak-tidaknya malam ini kita dapat beristirahat”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata "Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian”

"Sudahlah” berkata Ki Ajar. Namun katanya kemudian "sebaiknya kalian beristirahat. Biarlah aku pergi sebentar. Si bongkok akan menemani kalian disini”

"Ki Ajar akan pergi ke mana?” bertanya Ki Wiradadi.

"Hanya melihat-lihat keadaan. Tetapi jangan cemas. Aku sudah berada ditempat ini untuk waktu yang lama. Karena itu, aku tidak akan mengalami kesulitan” berkata Ki Ajar. Lalu katanya kepada orang bongkok itu "Aku ajak harimaumu”

"Silahkan Ki Ajar” sahut orang bongkok itu. Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Ajar itu telah meninggalkan rumah itu, sementara orang bongkok itu berkata "Aku akan ke dapur. Air panas tentu lebih baik di malam begini”

"Sudahlah” berkata Ki Wiradadi "beristirahatlah”

Tetapi orang bongkok itu tersenyum. Katanya “Aku kedinginan. Aku akan memanaskan badan sejenak. Sementara itu diatas api aku jerang air”

Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi sempat bertanya kepada orang bongkok itu sebelum pergi ke dapur "Kemana Ki Ajar itu pergi?”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian, sambil tersenyum, ia berkata “Ki Ajar merasa perlu mengamati keadaan, justru setelah peristiwa ini. Apalagi di sini ada seorang yang dianggap sangat berharga bagi Panembahan. Gadis itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang nilainya tidak terbatas. Dengan kegagalannya kali ini, ia harus mengulangi lagi semua upacara korban yang telah dilakukannya”

"Mengalangi?” Ki Wiradadi justru terkejut.

"Ya” jawab orang bongkok itu.

"Dengan demikian berarti bahwa setiap bulan akan ada lagi gadis yang hilang?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita tentu tidak akan membiarkannya terjadi. Mungkin Ki Wiradadi berpendapat, bahwa dengan diselamatkannya anak gadis itu, maka akan berarti berpuluh lagi gadis akan menjadi gantinya, karena upacara harus diulang sejak permulaan. Mungkin sudah lebih dari sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh orang gadis”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Jika demikian, maka dengan diselamatkannya anak gadisnya, berarti lima puiuh orang gadis lain akan mati.

Namun orang bongkok itu berkata “Tetapi Ki Wiradadi tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah mulai. Dengan demikian, kita tidak boleh berhenti di saat ini. Kita harus bekerja lebih keras, dan mencegah agar tidak terjadi lagi penyerahan korban seperti ini dikemudian hari. Kematian demi kematian, menandai upacara sesaat itu, harus dihentikan untuk seterusnya. Bukan sekedar menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Iapun kemudian tidak bertanya lagi.

"Silahkan beristirahat. Aku akan pergi ke dapur” berkata orang bokok itu.

Sepeninggal orang bongkok itu, Ki Wiradadi berkata “Ternyata peristiwa ini merupakan satu permulaan dari perjuangan yang panjang. Semula aku kira, setelah anak gadisku diselamatkan, semuanya sudah selesai. Tetapi ternyata tidak”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah, Manggada berkata “Aliran sesat seperti itu memang harus dihancurkan sama sekali Ki Wiradadi. Jika tidak, maka pada suatu saat gadis yang sudah dibebaskan itu akan dapat ditangkap lagi”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya Ki Ajar juga sedang menyusun rencana”

"Ki Ajar telah membawa kedua ekor harimau itu” berkata Manggada.

Ki Wiradadi tidak menjawab. Namun nampak di dalam angan-angannya, satu perjuangan berat yang masih harus dilakukan. Ia mulai berpikir, bagaimana ia dapat membawa anak gadisnya keluar dari lingkungan itu.

Sementara Panembahan sesat itu tidak akan menyerah atas kegagalannya. Kemarahannya tentu akan meledak, dan bahkan mungkin tidak akan terkuasai lagi oleh kekuatan yang ada di dalam gubug kecil itu. Panembahan itu tentu akan mengerahkan segenap kekuatannya di malam purnama itu untuk memburu korbannya.

Beberapa saat, ternyata orang bongkok itu telah membawa minuman hangat ke ruang dalam Dengan ramah ia berkata “Marilah. Silahkan minum dengan gula kelapa”

"Terima kasih" hampir berbareng ketiga-tiganya, yang ada di ruang tengah itu, menyahut.

"Baunya sangat sedap. Wedang sere” desis Laksana.

Orang bongkok itu tertawa. Katanya “Ya. Di sini terdapat kebun sere. Bukan saja untuk minuman, tetapi Ki Ajar mempergunakan untuk ramuan obat-obatan”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian mempersilahkan orang bongkok itu untuk duduk bersama mereka.

Namun sejenak kemudian, orang bongkok itu berkata “Masih ada sisa waktu. Aku persilahkan kalian beristirahat. Mungkin kalian masih harus melakukan tugas-tugas penting. Selama anak gadis itu belum keluar dari lingkungan ini, tugas kalian masih berat sekali”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa tidak mudah baginya untuk membawa anak gadisnya keluar. Orang-orang Panembahan itu tentu sudah menutup semua jalan yang mungkin dapat dilaluinya.

Silahkan” berkata orang bongkok itu " aku akan berada di luar”

Tetapi Manggada dan Laksana menyahut hampir berbareng " Aku juga akan tidur di serambi”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Silahkan. Aku akan berjaga-jaga di halaman”

Ki Sanak pun harus beristirahat” berkata Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu tersenyum. Katanya “Sayang sekali melepaskan saat-saat bulan terang seperti ini”

Ki Wiradadi tidak menjawab, sedangkan Manggada dan Laksana telah keluar pula. Sementara orang bongkok itu berpesan,

"Jagalah anak gadis Ki Wiradadi. Beri obat sesuai dengan pesan Ki Ajar, agar ketahanan tubuhnya meningkat. Mungkin kita akan menempuh perjalanan yang berat dan panjang, untuk menghindari ujung jari Panembahan yang garang itu”

Ki Wiradadi mengangguk sambil menjawab “Baik Ki Sanak. Aku akan melakukannya”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah berbaring di serambi. Tetapi nampaknya mereka tidak akan segera dapat tidur. Sementara itu, orang bongkok itu melangkah ke regol halaman, dan hilang di balik dedaunan.

Untuk beberapa saat, Manggada dan Laksana masih saja berbincang tentang peristiwa yang baru saja mereka alami. Kemudian kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang. Itulah agaknya yang membuat kedua anak muda itu sangat berhati-hati, sehingga senjata mereka selalu berada di sisinya, agar dapat dipergunakan kapan saja.

Meskipun demikian, keduanya merasa tidak tenang untuk tidur bersama-sama. Karena itu, mereka membagi sisa malam yang pendek itu. Laksana mendapat giliran untuk tidur lebih dahulu. Baru kemudian Manggada akan tidur menjelang pagi.

Namun ternyata, sebelum keduanya dapat tidur nyenyak, Ki Ajar datang bersama orang bongkok yang telah menyongsongnya. Dengan serta merta, kedua anak muda itupun bangkit dan duduk di bibir amben.

"Kalian belum tidur?” bertanya Ki Ajar.

"Belum Ki Ajar” jawab Manggada jujur " ada semacam kegelisahan”

"Tentu” jawab Ki Ajar "Dalam keadaan seperti ini, tentu ada kegelisahan” Ia terdiam sejenak, namun kemudian katanya “Marilah kita berbicara dengan Ki Wiradadi di dalam”

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Mereka memang belum sempat tertidur ketika mereka berdua kembali lagi duduk di ruang dalam.

"Panembahan gila itu ternyata tidak tanggung-tanggung” berkata Ki Ajar "Malam ini juga ia telah menyebar orang-orangnya ke segala sudut daerah ini. Karena itu, sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari penglihatan Panembahan itu. Nanti, atau besok, tentu ada orang yang akan datang kemari. Tidak hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok pengikutnya”

Tetapi orang bongkok itu berkata “Daerah ini sangat sulit dicapai Ki Ajar. Juga tidak ada tanda-tanda bahwa daerah ini telah dihuni”

Aku melihat beberapa orang membawa burung elang. Mereka tentu melatih burung-burung itu untuk melihat tempat-tempat yang perlu mereka datangi” berkata Ki Ajar. "Tetapi nampaknya, burung itu tidak dapat segera bergerak di malam hari. Meskipun bulan terang, dan mata elang itu tajam, tetapi aku belum melihat seekor elang pun di langit malam ini”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Mungkin anak panah kita dapat menghentikan pengamatan yang dilakukan burung elang itu”

"Jika elang itu terbang merendah, aku yakin bahwa anak-anak muda yang memiliki kemampuan bidik tinggi itu akan dapat mengenainya” berkata Ki Ajar "Tetapi jika elang itu terbang tinggi, maka sulit untuk mencapainya dengan anak panah”

"Jadi Ki Ajar tadi kembali ke padang itu?” bertanya orang bongkok itu.

"Tidak. Aku belum sampai kesana. Tetapi aku sudah bertemu dengan beberapa orang yang nampaknya sedang menjelajahi tempat ini. Dua di antara mereka membawa burung elang. Mungkin kelompok lain juga dibekali burung yang sama pula” berkata Ki Ajar.

"Jadi apa yang harus kita lakukan Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

"Aku harus melihat keadaan lagi. Bersiaplah, jika perlu kita akan menyingkir. Kita akan mengadakan perlawanan pada waktu dan tempat yang tepat. Kita tidak tahu, apakah bukan Panembahan sendiri yang akan datang kemari. Jika elang itu melihat atap rumah kita, dan memberikan isyarat kepada kelompok pencari, atau bahkan Panembahan sendiri, maka kita akan mengalami kesulitan, sementara gadis itu belum berhasil kita singkirkan” berkata Ki Ajar.

"Baiklah Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

"Berjaga-jagalah di sini. Aku akan pergi lagi” berkata Ki Ajar.

"Kemana Ki Ajar?” bertanya Manggada. "Apakah kami boleh ikut?”

Ki Ajar menggeleng sambil tersenyum. Katanya “Jangan. Aku akan pergi sendiri. Tidak terlalu lama”

Demikianlah, setelah meneguk wedang sere, Ki Ajar meninggalkan tempat itu lagi sambil berpesan "Berbenah dirilah. Dan bersiaplah menghadapi segala kemungkinan”

Orang bongkok itu tidak boleh mengikuti Ki Ajar, yang pergi seorang diri. Namun sepeninggal Ki Ajar, segala persiapan dilakukan. Gadis yang ketakutan itu memang masih ketakutan. Tetapi ia sudah menjadi agak tenang, sehingga dapat diberikan beberapa pengertian tentang keadaan yang sedang mereka hadapi. Karena itu, ia pun telah bersiap-siap pula untuk meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat mereka menunggu dengan tegang. Manggada dan Laksana berada di serambi luar, sementara orang bongkok itu berjalan hilir mudik di luar pagar. Namun tiba-tiba orang bongkok itu terkejut. Dengan cepat ia berlari-lari keserambi sambil berdesis, "Elang itu”

Manggada dan Laksanapun segera turun ke halaman. Bulan memang sudah menjadi sangat rendah di Barat. Tetapi cahaya matahari sudah mulai membayanginya. Dalam keremangan fajar, dan sisa cahaya bulan, ternyata mereka melihat dikejauhan seekor burung elang terbang berputaran”

"Tetapi sasaran penglihatannya tentu bukan tempat ini” berkata Manggada "elang itu melingkari satu lingkungan tertentu”

"Tetapi jika elang itu terbang sedikit ke Barat, maka mungkin sekali rumah kita akan dilihatnya” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun agaknya perhatian burung elang itu masih tertarik terhadap sesuatu.

Meskipun demikian orang bongkok itu berkata “Amati burung elang itu. Aku akan membantu Ki Wiradadi mempersiapkan diri. Kemungkinan buruk dapat saja terjadi, jika burung itu bergeser dari putarannya. Sehingga dengan demikian, burung itu akan menuntun orang-orang gila itu datang ke tempat ini”

Namun dalam pada itu, mereka terkejut pula ketika mereka mendengar gemerisik dedaunan. Ketika mereka berpaling, ternyata mereka melihat dua ekor harimau orang bongkok itu mendekat.

"He, kau tidak ikut Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

Harimau itu termangu-mangu. Tetapi keduanya tidak memberi isyarat apapun. Orang bongkok itulah yang kemudian memberi isyarat kepada kedua ekor harimaunya untuk berjaga-jaga. Sejenak kemudian, kedua harimau itu memang telah hilang di balik pohon-pohon perdu.

Ki Wiradadi memang menjadi sangat cemas. Tetapi ia telah mempersiapkan segenap senjatanya. Mungkin ia memang harus mempertahankan anaknya dengan nyawanya. Tetapi Ki Wiradadi sendiri sama sekali tidak mencemaskan hidupnya. Ia justru masih saja memikirkan kedua anak muda yang telah terlibat ke dalam persoalannya itu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana memang menjadi cemas. Elang yang berputar-putar di langit itu memang bergeser perlahan-lahan. Bahkan sejenak kemudian, kedua anak muda itu melihat seekor elang yang lain telah ikut berputar-putar. Meskipun kedua ekor burung elang itu masih ada di atas lingkungan agak jauh, tetapi kedua anak muda itu pasti, bahwa burung elang itu akan melihat pemukiman kecil mereka. Rumah, halaman dan pepohonan.

Sebenarnyalah, ketika matahari kemudian menjadi semakin terang, burung elang itu telah bergeser semakin dekat. Sehingga akhirnya yang mereka cemaskan telah terjadi. Kedua burung elang yang berputar-putar di langit itu, telah melihat gubug Ki Ajar. Elang itu kemudian terbang berputaran tidak henti-hentinya. Bahkan beberapa saat kemudian, kedua ekor elangitu menukik merendah, kemudian kembali melambung naik tinggi.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Sementara, orang bongkok itu telah membantu Ki Wiradadi siap untuk menyingkir dari tempat itu. Manggada dan Laksana segera teringat akan senjata-senjata mereka, karena selain pedangnya yang selalu berada di lambung, yang lain mereka letakkan di dalam gubug itu.

"Kita menunggu Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

"Tetapi apakah kita tidak terlambat?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu termangu-mangu. Ia menjadi agak bimbang menghadapi perkembangan keadaan yang begitu cepat. Sementara itu, kedua ekor elang itu benar-benar telah memberikan isyarat, bahwa kedua ekor burung itu melihat satu pemukiman, betapapun kecilnya. Ternyata keduanya berganti-ganti menyambar dan menukik rendah.

Darah Manggada dan Laksana menjadi panas melihat sikap kedua ekor burung itu. Dengan gigi gemeretak, mereka berlindung di bawah gerumbul perdu sambil meletakkan anak panah pada busurnya.

"Kita bidik salah satu lebih dahulu bersama-sama” berkata Manggada " jika anak panahku luput, maka mudah-mudahan anak panahmu mengenai”

Demikianlah, keduanya telah memilih sasaran. Ketika seekor di antara burung elang itu menukik rendah di atas rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana bersama-sama melepaskan anak panahnya. Ternyata kemampuan bidik kedua orang anak muda itu memang luar biasa. Terdengar elang itu bagaikan menjerit ngeri. Kemudian burung itu masih berusaha untuk terbang naik keudara. Tetapi ternyata burung itu sudah tidak mampu lagi. Tiba-tiba saja burung itu telah terjatuh di tanah.

Ki Wiradadi yang kemudian mengetahui hal itu, sempat bertanya "Apakah kematian elang itu tidak menambah kemarahan Panembahan dan orang-orangnya?”

Namun orang bongkok itu menjawab "Apapun yang terjadi, mereka tentu akan datang kemari. Burung itu telah melihat gubug ini, dan menyampaikan isyarat kepada pemiliknya”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Sementara anak gadisnya telah menjadi semakin ketakutan lagi. "Aku tidak mau dibawa kembali ke tempat itu." minta anak gadisnya.

"Tidak ngger. Jangan takut” desis Ki Wiradadi menenangkan hati anak gadisnya, betapapun hatinya sendiri bergejolak. "Kau tidak akan pernah jatuh ketangan mereka lagi”

"Aku akan memilih mati daripada harus kembali ketempat itu ayah " tangis gadis itu.

"Jangan takut." hanya itu sajalah yang dapat dikatakan Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana yang telah membunuh burung elang itu, sempat mendekatinya. Ternyata kuku-kuku burung itu dilapisi baja-baja runcing. Dengan demikian, burung-burung itu telah dipersiapkan tidak saja untuk mengamati keadaan, tetapi juga untuk berkelahi.

"Kita sudah mulai” berkata orang bongkok itu.

"Ya” jawab Manggada" kita memang sudah mulai.

Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar pula ketika mereka melihat dua ekor burung telah muncul lagi diudara. Ketika seekor yang lain berteriak-teriak keras sekali, agaknya orang-orang Panembahan telah melepaskan lagi dua ekor yang lain.

Orang bongkok itupun kemudian berkata “Kita bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Pada waktu yang singkat, mereka tentu akan datang. Mudah-mudahan Ki Ajar datang lebih dahulu dari mereka”

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka telah mempersiapkan semua senjata yang mereka miliki, untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi. Dalam pada itu, tiga ekor burung elang beterbangan di udara. Burung-burung itu beterbangan berputaran seakan-akan membuat lingkaran-lingkaran isyarat.

Namun ternyata, burung-burung elang itu tidak hanya empat. Meskipun yang seekor telah mati, tetapi yang beterbangan di langit masih lebih banyak dari tiga ekor. Dua lagi telah datang dan ikut pula berputaran. Sekali-sekali kedua ekor burung yang datang kemudian itu menjauh. Kemudian mendekat lagi.

Orang bongkok itu ternyata cukup cerdas menanggapi keadaan. Katanya “Kalian lihat yang dua ekor itu? Keduanya tentu telah menuntun sekelompok orang untuk dibawanya kemari. Keduanya adalah petunjuk jalan. Namun dengan demikian, kitapun dapat menduga darimana mereka datang”

"Apakah kita harus menyongsong mereka?” bertanya Manggada.

"Sebentar lagi. Kita masih harus menunggu Ki Ajar. Menilik kedua ekor burung elang itu, orang-orang yang akan datang tentu masih agak jauh. Tetapi jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, maka apaboleh buat. Kita tidak dapat menunggu, di sini untuk dikepung, dan kemudian dibantai beramai-ramai” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian, Laksana berkata “Jika kita dapat memperhitungkan arah, apakah tidak lebih baik Ki Wiradadi dan anaknya kita persilahkan untuk menyingkir?”

"Itulah yang tidak dapat diperhitungkan. Kita dapat menduga arah kedatangan mereka, tetapi orang-orang Panembahan itu tentu telah berkeliaran di semua sudut lingkungan ini. Jika Ki Wiradadi bertemu dengan mereka, maka keadaannya akan menjadi sulit. Gadis itu akan mengalami malapetaka, melampaui saat-saat ia dijadikan korban” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Sementara orang bongkok itu berkata “Jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, kita justru harus maju. Kita tahan mereka di bawah tanggul sempit. Tidak ada jalan lain yang dapat dilalui kecuali lewat tanggul sempit itu. Sementara, kalian dapat mempergunakan anak panah untuk menahan mereka. Kedua ekor harimau itu justru harus berada di seberang tanggul untuk mengacaukan perhatian mereka, meskipun kedua ekor harimau itu akan dapat mengalami kesulitan jika lawannya terlalu banyak”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka tidak mengira bahwa pada saat yang gawat, orang bongkok itu dapat mengambil sikap sebagaimana Ki Ajar sendiri.

Demikianlah. Maka orang-orang yang ada di halaman gubug kecil itu telah bersiap sepenuhnya. Mereka justru berpedoman pada burung-burung elang yang menuntun kedatangan orang-orang yang beraliran sesat itu. Namun orang bongkok itu nampak sangat gelisah, ketika orang-orang itu menjadi semakin dekat, sementara Ki Ajar belum datang.

"Apa boleh buat” berkata orang bongkok itu "kita harus maju sekarang. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan anak panah”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Di luar sadar, mereka memandangi endong anak panah mereka yang tinggal berisi sedikit. Seandainya musuh terlalu banyak, maka anak panah mereka tidak akan mencukupi lagi.

Orang bongkok itu dapat membaca sikap kedua anak muda itu. Ia kemudian berkata “Cepat, ikut aku. Tidak banyak waktu”

Keduanyapun kemudian berlari-lari ke dapur. Ternyata di dapur itu tersimpan setumpuk anak panah di bawah jerami. Bukan anak panah terbuat dari ruas-ruas bambu panjang, tetapi anak panah yang cukup baik dengan bedor yang tajam dan bulu keseimbangan yang rapi. Kedua orang anak muda itu telah memenuhi endong mereka masing-masing. Demikian pula Ki Wiradadi.

Ketika kedua anak muda itu pergi bersama orang bongkok itu, maka orang bongkok itu berpesan " Hati-hatilah Ki Wiradadi. Jangan ragu-ragu. Jika ada satu dua yang luput dari anak panah kami dan mendekati rumah ini, bunuh saja sebelum mereka menjamah kalian. Lindungi anak Ki Wiradadi baik-baik. Jika tidak lagi ada kemungkinan, maka agaknya kematian adalah batas terbaik untuk menghindarkan diri. Tetapi Ki Wiradadi jangan membunuh diri seperti orang yang berputus asa. Kita akan melawan sampai mati”

Ki Wiradadi mengangguk. Ia mengerti maksud orang bongkok itu. Tetapi bagaimana dengan anak gadisnya? Ki Wiradadi tidak sempat berpikir panjang. Ia sudah bersiap dengan busur dan anak panahnya.

Sementara itu, Manggada dan Laksana masih sempat juga mengenai seekor lagi dari burung-burung elang yang sedang menukik. Nampaknya burung itu ingin melihat lebih jelas sasaran yang akan mereka datangi. Namun ketika seekor di antara mereka dengan sombong mencoba menyerang harimau Ki Pandi, kuku-kuku tajam harimau itu telah mengoyak tubuhnya. Giginya sempat menatahkan sayap dan memecahkan kepala burung elang itu.

Orang bongkok itu kemudian memerintahkan harimaunya untuk keluar dari sarang mereka. Harimau-harimau itu harus mengacaukan perhatian orang-orang beraliran sesat itu, sementara mereka akan menyerang dengan anak-panah.

Demikianlah, Manggada, Laksana dan arang bongkok itu telah mengikuti kedua ekor harimau yang berlari-lari kecil mendahului mereka, sementara Ki Wiradadi berada di rumah menunggui anak perempuannya.

Namun demikian, ketika kedua ekor harimau itu akan melintasi tanggul sempit itu, keduanya telak menggeram. Beberapa langkah mereka surut. Ternyata yang muncul adalah Ki Ajar yang nampak mulai gelisah pula.

"Ki Ajar datang tepat pada waktunya” berkata orang bongkok itu. Lalu " Kami hampir kehilangan akal”

"Mereka sudah sangat dekat. Kita akan melawan mereka di sini. Di tempat yang tidak terlalu terbuka” berkata Ki Ajar.

"Ya. Tanggul sempit itu adalah satu-satunya jalan. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan serangan-serangan anak panah” berkata orang bongkok itu.

"Bagus” jawab Ki Ajar "tetapi aku masih menunggu beberapa orang.

"Siapa?” bertanya orang bongkok itu.

"Sanak kadang sendiri” jawab Ki Ajar "aku telah memberikan isyarat”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian terdengar isyarat Ki Ajar. Beberapa orang memang telah muncul lewat tanggul yang sempit itu. Ki Ajar mengajak mereka mundur beberapa langkah. Sementara itu, Manggada dan Laksana menjadi termangu-mangu. Seorang di antara mereka tiba-tiba saja bertanya kepada.

"Manggada! Di mana orang tua yang kehilangan anaknya itu?”

Manggada termangu-mangu. Namun ia menjawab sambil mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat orang itu " Ki Wiradadi ada di rumah itu”

"Kau ingat aku?” bertanya orang itu.

Namun tiba-tiba saja Manggada berkata “Petugas sandi dari Pajang itu”

Orang itu tertawa. Katanya. “Aku yakin bahwa kalian tidak akan sabar menunggu kami. Tetapi kami sudah membuat hubungan dengan Ki Ajar sejak sebelum kalian mengenalinya. Ternyata bahwa kalianpun telah melakukan langkah-langkah penting sebelum kami, sehingga gadis itu sudah dapat dibebaskan”

Namun mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang. Tiba-tiba saja orang bongkok itu berkata “Mereka sudah datang”

Ki Ajar mengangguk. Kedua ekor harimau yang tidak jauh menyeberangi tanggul sempit itu, tetap ada di antara mereka. Tetapi mereka tidak lagi hanya berempat, lima orang termasuk Ki Wiradadi. Ternyata mereka telah mendapat sejumlah kawan lagi. Lima orang petugas sandi dari Pajang yang telah mendapat isyarat dari Ki Ajar.

Sejenak kemudian, orang-orang itu menempatkan diri dibalik gerumbul. Orang bongkok itupun telah memegang busur pula, sebagaimana Manggada dan Laksana.

Sementara itu, burung-burung elang yang tersisa telah berterbangan berputaran di atas mereka. Sekali-sekali burung itu menukik sambil menjerit. Namun kemudian, dengan cepat terbang naik tinggi-tinggi di udara. Seakan-akan mereka menyadari bahwa di bawah mereka, ujung-ujung anak panah akan dapat membunuh mereka.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian telah terdengar suara riuh. Beberapa orang tiba-tiba saja telah muncul di tanggul sempit itu tanpa menyadari apa yang mereka hadapi. Karena itu, maka demikian orang-orang itu dengan susah payah melintasi tanggul sempit itu, sebuah anak panah telah menembus dadanya. Demikian pula orang berikutnya dan berikutnya.

Terdengar teriakan-teriakan marah. Seorang di antara mereka berteriak nyaring "Pergunakan perisai. Jangan bodoh. Sebenarnyalah, orang-orang yang membawa perisai telah menempatkan diri paling depan. Tiga orang berurutan telah mendahului kawan-kawannya. Mereka telah menempatkan diri berjajar untuk melindungi kawan-kawan mereka yang merangkak melampaui tanggul sempit itu.

Meskipun demikian, anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu masih juga sempat menyambar mereka meskipun ada juga yang mampu meloloskan diri karena perlindungan perisai itu.

"Gila" geram orang bongkok itu "ada juga di antara mereka yang membawa perisai”

Namun dalam pada itu, beberapa orang telah sempat melangkahi mayat kawan-kawannya. Tiba-tiba saja, mereka telah meloncat sambil berteriak menyerang. Ketika anak-anak panah menyambar mereka, maka mereka telah mampu menangkis anak panah itu dengan pedangnya. Sementara yang lain dengan tombak pendeknya.

Demikianlah, ternyata semakin banyak orang yang sempat melintasi tanggul sempit itu, perlawanan anak panah Manggada dan Laksana semakin kurang berarti. Meskipun demikian, dalam beberapa hal, anak panah mereka masih juga sempat mengurangi jumlah lawan.

Dalam keadaan yang mulai gawat, beberapa orang yang masih bersembunyi di balik dedaunan telah mulai bergeser. Sementara itu, orang bongkok itu meneriakkan isyarat bagi kedua ekor harimaunya yang tiba-tiba saja mengaum dahsyat sekali.

Orang-orang itu terkejut. Demikian perhatian mereka tertuju kepada kedua ekor harimau itu, maka anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu telah menyambar beberapa orang lawan yang terjatuh di tanah.

Tetapi orang-orang yang mengalir dari balik tanggul sempit itu seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Namun kedua ekor harimau itu memang telah merusakkan perlawanan mereka. Kedua ekor harimau itu tiba-tiba saja telah menyergap langsung masuk ke dalam lingkaran lawan.

Namun seperti yang diduga oleh orang bongkok itu, bahwa harimaunya akan mengalami kesulitan, karena yang dihadapi adalah murid-murid Panembahan beraliran sesat. Karena itu, tiba-tiba orang bongkok itu sendiri telah meloncat keluar dari balik dedaunan. Beberapa lama ia masih berjongkok dengan busur di tangan.

Namun ternyata dua orang telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Ia sempat menghentikan seorang diantara mereka, tetapi yang lain telah mengayunkan tombak pendeknya mengarah kedadanya.

Orang bongkok itu ternyata cukup tangkas. Ia sempat melenting berdiri dan menangkis serangan itu dengan busurnya. Tetapi agaknya ia tidak dapat bertempur dalam jarak pendek dengan busur dan anak panah, sehingga karena itu, orang bongkok itu telah meletakkan busurnya dan menarik pedangnya.

Ternyata pedang orang bongkok itu adalah pedang yang khusus. Bukan saja ujudnya, tetapi juga buatannya. Pedang itu dibuat sebagaimana orang membuat keris. Terdapat pamor yang berkilat sepanjang tubuh pedang itu. Sedangkan pedang itu ternyata tajam di kedua sisinya, seperti sebilah keris yang besar.

Sejenak kemudian, orang bongkok itu telah bertempur dengan pedangnya. Ketika seorang yang lain menyerang dari belakang, maka serangan itu telah dihentikan oleh anak panah Manggada yang menyambar punggungnya.

Orang bongkok itu ternyata sempat juga berkata “Terima kasih”

Demikianlah, sejenak kemudian sembilan orang yang sedang menunggu itu telah berloncatan keluar dari balik pepohonan di belakang tanggul sempit itu. Namun dalam pada itu, ternyata di seberang tanggul sempit itu masih terdapat sepasukan orang-orang yang berilmu sesat.

Pertempuran telah terjadi di sebelah menyebelah tanggul sempit itu. Beberapa orang berilmu sesat, yang telah berhasil menyusup ke balik tanggul, telah berhadapan dengan sembilan orang yang memiliki ilmu cakup mapan. Meskipun Manggada dan Laksana masih terlalu muda untuk hadir dalam pertempuran yang rumit itu tetapi ternyata bahwa mereka memang memiliki bekal yang cukup.

Jika sekilas kedua anak muda itu sempat memperhatikan si bongkok, mereka menjadi heran. Ternyata orang bongkok itu sanggup bertempr dengan tangkas sekali. Pedangnya berputaran, sementara dengan terbongkok-bongkok, ia berloncatan dengan cepat dan kadang-kadang di luar dugaan.

Para petugas sandi dari Pajang, adalah orang-orang berpengalaman di dalam pertempuran. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung meskipun lawan mereka berada di segala tempat. Namun seorang diantara mereka perhatiannya terpecah, karena dua ekor harimau yang ikut berloncatan di medan pertempuran.

Ki Ajar berteriak "Keduanya adalah milik kami”

Petugas sandi itupun telah menjadi mantap lagi. Ia tidak lagi perlu memperhatikan harimau itu, meskipun harimau itu tentu akan sulit untuk memperhatikan, yang manakah lawan dan yang manakah kawan-kawan mereka.

Tetapi Ki Ajar kemudian berteriak pula sambil berkata “Si Bongkok telah melatih keduanya untuk tahu apa yang harus dilakukan dalam pertempuran yang kacau sekalipun. Apalagi, mereka telah memahami benar lawan-lawan mereka yang berilmu sesat”

Namun seorang diantara lawan-lawan mereka itupun berteriak pula "Kalian menjadi dengki dan iri, karena kalian tidak mampu mencapai tataran ilmu sebagaimana kami. Dengan demikian, kalian menganggap bahwa kami berilmu sesat”

Tetapi Ki Ajar tidak menanggapinya. Ia masih saja menghindar dan menangkis serangan-serangan yang datang dari segala arah. Semakin lama, lawanpun menjadi semakin banyak. Sementara itu beberapa ekor burung elang masih beterbangan di langit. Nampaknya, burung-burung itu sempat memberikan beberapa isyarat yang diajarkan kepada mereka.

Namun mungkin juga. burung-burung buas itu mulai mencium bau darah. Tetapi ketika lawan semakin berdesak, melewati tanggul, maka satu dua orang di antara mereka ada yang mulai berlari mendekati gubug Ki Ajar. Namun ternyata anak panah Ki Wiradadi telah menghentikan mereka sebelum mereka memasuki halaman.

Namun demikian, tidak hanya dua tiga orang yang telah terbaring di tanah dengan anak panah menembus jantung ketika mencoba menggapai rumah Ki Wiradadi. Tetapi beberapa orang yang lain telah mencobanya pula.

Dengan demikian, garis pertahanan Ki Ajar dan kawan-kawannya harus bergeser surut. Sementara Si Bongkok telah memberikan perintah kepada kedua ekor harimaunya untuk membantu Ki Wiradadi menahan arus orang-orang yang ingin mencapai gubug itu.

Namun sejenak kemudian, telah terdengar perintah. "Ambil gadis itu. Gadis itu tentu ada di dalam gubug kecil itu."

Perintah itu telah menggetarkan jantung Ki Wiradadi. Bahkan juga mereka yang telah berusaha menyelamatkannya. Namun dalam pada itu, terjadi sesuatu yang mengejutkan orang-orang yang telah memasuki lekuk di tanggul sempit itu.

Ternyata Ki Ajar tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mengerahkan ilmunya untuk mengurangi arus lawan yang jumlahnya tentu tidak terhitung lagi. Karena itu, Ki Ajar bergeser menjauhi arena. Beberapa orang yang tidak tahu maksudnya, telah mengejarnya. Dengan demikian, Ki Ajar meloncat naik ke sebuah gundukan tanah dan tiba-tiba saja menghentakkan tangannya.

Ternjadi sebuah ledakan kecil. Dua orang di antara lainnya telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah. Sejenak orang-orang yang bertempur itu sempat berpaling. Mereka melihat apa yang telah terjadi, sehingga orang-orang berilmu sesat itu menjadi ngeri.

Tetapi pemimpin kelompok orang berilmu sesat itu, tiba-tiba saja bersuit nyaring. Agaknya orang itu telah memberikan isyarat kepada seseorang, memberitahukan apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah, medan itu menjadi gempar. Sejenak kemudian, terdengar ledakan yang tidak dilontarkan oleh kekuatan ilmu Ki Ajar, tetapi dilontarkan oleh seseorang yang berada di luar batas tanggul yang sempit itu. Ledakan itu berasal dari seorang yang memiliki ilmu sangat tinggi.

Dengan kemampuannya orang itu menghantam tanggul sehingga menganga dan runtuh berhamburan. Batu-batu padas yang pecah, berserakan.

Dengan demikian pintu sempit itu terbuka lebar. Tetapi orang-orang yang bertempur yang bertempur di halaman itu terkejut. Dibelakang tanggul, telah terjadi pertempuran. Itulah sebabnya orang orang-orang berilmu sesat tidak mengalir terlalu deras memasuki tempat yang terpencil itu.

Hampir di luar sadarnya, Manggada yang tengah bertempur bertanya " Siapa- bertempur diluar?”

Pemimpin dari para petugas sandi itu menjawab “Kami tidak hanya datang berlima. Kami datang dengan sepasukan prajurit”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dugaannya tentang sikap para prajurit dan petugas sandi' Pajang selama ini keliru. Ia menganggap para petugas sandi Pajang yang sudah mengetahui persoalan anak gadis Ki Wiradadi, tidak dengan cepat menanggapinya.

Ternyata mereka telah bekerja keras. Tetapi Pajang tidak berpikir sekedar menyelamatkan anak Ki Wiradadi. Agaknya Pajang benar-benar ingin menghancurkan perguruan yang menyebarkan ilmu sesat itu sampai ke akar-akarnya.

Tetapi dalam pada itu, seorang.bertubuh tinggi tegap, berjanggut putih, meloncat memasuki lingkungan terpencil itu. Hampir berbareng beberapa orang telah berdesis Panembahan.

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Orang itulah yang disebut dengan Panembahan Lebdagati. Seorang Panembahan yang memiliki pengetahuan tuntas. Kawruh lahir dan batin, serta menguasai inti kekuatan alam disekitarnya.

Tiba-tiba saja, pertempuran itu telah menyibak. Namun di samping itu, di belakang Panembahan Lebdagati yang melangkah perlahan-lahan memasuki lingkungan terpencil itu, pertempuran rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Prajurit Pajang dengan segala ciri keprajuritannya, telah menghantam orang-orang berilmu sesat itu tanpa ampun. Namun orang-orang berilmu sesat itupun memiliki bekal ilmu yang kuat, meskipun kasar dan bahkan liar.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang prajurit telah memanjat tebing yang lebih tinggi. Keduanya tiba-tiba saja telah meniup sangkakala yang suaranya menggetarkan udara, mengumandang di lereng gunung itu. Gema suara sangkakala itu, seakan-akan menggaung panjang tanpa henti-hentinya. Susul menyusul membentur lereng.

Namun dalam pada itu, orang berjanggut putih yang disebut Panembahan Lebdagati, tidak senang melihat keduanya berdiri di lereng tebing yang semakin tinggi. Karenanya, Panembahan itu menghentakkan tangannya ke arah kedua orang prajurit itu.

Ternyata tebing tempat keduanya berdiri, bagaikan telah meledak. Kedua orang prajurit itu kemudian terlempar dari tebing dan berguling kedalam lekuk-lekuk batu padas.

"Setan orang-orang Pajang" geram Panembahan Lebdagati.

Bersamaan dengan itu, seseorang telah berdiri di hadapan Panembahan Lebdagati.

"Selamat datang ke gubug kami Panembahan..." sapa Ki Ajar...

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 10