Menjenguk Cakrawala Bagian 10 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SH Mintardja
Panembahan Lebdagati memandanginya dengan kerut di kening. Dengan geram ia bertanya " siapa kau yang telah mengenal aku?”

"Aku adalah Ajar Pangukan. Panembahan tentu belum pernah mengenal namaku” jawab Ki Ajar.

"Apa hubunganmu dengan hilangnya gadis yang sedang dalam upacara penobatan menjadi ratu kami semalam? Dan apa pula hubunganmu dengan prajurit prajurit Pajang itu?” bertanya Panembahan Lebdagati.

"Aku adalah salah seorang yang tersinggung karena Panembahan telah menempuh satu jalan sesat mengganggu. ketenangan hidup orang banyak. Bahkan Panembahan telah berani mengorbankan gadis-gadis tiap bulan purnama, untuk melakukan pemujaan sesat seperti yang semalam Panembahan lakukan” jawab Ki Ajar.

"Siapa yang berani menyebut aliran kepercayaanku itu sesat? Aku telah menempuh kebenaran sejati sesuai dengan perintah Dewa tertinggi kami. Dengan laku yang diperintahkannya, maka aku akan memiliki pusaka yang akan dapat membelah Gunung dan mengeringkan lautan. Aku akan menjadi orang terkuat di dunia. Tidak ada seorangpun yang akan dapat mengalahkan aku"

Panembahan itu berhenti sejenak, lalu " Dengan tingkah laku kalian, maka aku telah mundur setengah tahun lagi. Aku harus mengulanginya dan membunuh lagi enam orang gadis setiap bulan purnama, sebagai ganti gadisku yang hilang semalam, serta gagalnya upacaraku. Kematian keenam orang gadis itu, adalah tanggung jawabmu karena kau telah memaksa aku untuk melakukannya lagi”

Tetapi Ki Ajar tersenyum sambil berkata. “Itu tidak perlu Panembahan, karena hari ini Panembahan akan ditangkap”

Panembahan Lebdagati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya sambil tertawa" Ajar Pangukan. Siapakah sebenarnya kau, sehingga berani berkata seperti itu? Apa hakmu dan apakah landasan kekuatanmu menangkap aku?”

"Aku adalah Ajar Pangukan seperti yang Panembahan lihat. Tetapi aku di sini bekerja sama dengan prajurit Pajang, yang tidak berkenan menyaksikan tingkah lakumu. Kangjeng Sultan Pajang menganggap kau bersalah. Setidak-tidaknya, menduga kau melakukan kesalahan. Karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan pada Kangjeng Sultan Pajang, atau orang yang akan ditunjuk mengadilimu”

Panembahan itu masih saja tertawa. Katanya “Kau kira aku menjadi gentar mendengar nama Sultan Pajang? Kau kira Jaka Tingkir, gembala yang kebetulan dapat menarik perhatian putri Sultan Trenggana Demak, harus ditakuti?”

"Tidak Panembahan. Kau tidak usah berhadapan dengan Jaka Tingkir, atau yang lebih dikenal dengan nama Mas Karebet itu. Meski kau tidak segarang Kebo Danu dari Banyubiru, yang kepalanya pecah karena benturan tangan Mas Karebet, tapi di sini pasukan Pajang telah siap menghancurkan padepokanmu. Padepokan sesat yang mengabdikan kepercayaannya pada iblis dan kekuatan hitam lainnya” jawab Ki Ajar.

Tetapi suara tertawa Panembahan itu semakin keras. Kemudian bahkan bagaikan menggetarkan lereng Gunung. Gemanya memantul, memukul setiap jantung orang yang ada di medan pertempuran itu.

Ki Ajar harus mengerahkan daya tahannya untuk melawan getaran gema suara Panembahan yang menghentak-hentak berlipat ganda dari suara tertawanya sendiri.

Manggada, Laksana dan para petugas dari Pajang pun harus melakukannya pula. Namun ternyata getaran itu demikian kerasnya memukul setiap dada. Ki Wiradadi merasa betapa jantungnya bagaikan berhenti bekerja. Demikian pula para prajurit Pajang yang berada dimedan itu.

Para pengikut Panembahan itu telah mendapat petunjuk, apa yang harus mereka lakukan agar jantung mereka tidak rontok. Mereka telah mendapat. latihan bagaimana menutup lubang pendengaran dengan mengatur pernafasan. Dengan demikian, oleh pengaruh suara tertawa yang bergulung-gulung itu, para prajurit Pajang menjadi banyak mengalami kesulitan.

Di saat mereka harus berjuang melawan getaran suara menghentak jantung itu, mereka juga harus melawan ayunan pedang dan tombak dari para pengikut Panembahan yang berilmu sesat itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar yang tidak banyak terpengaruh oleh getaran gema suara tawa Panembahan itu, karena daya tahannya sangat tinggi, berkata “Panembahan, kau ternyata bukan seorang laki-laki sejati. Seseorang dapat saja menjadi pengikut ilmu yang benar atau seorang yang berilmu sesat, namun bersifat laki-laki sejati”

"Apa maksudmu?” bertanya Panembahan itu di sela-sela derai suara tawanya.

"Kita berhadapan sebagai laki-laki. Kau dan aku. Kau jangan mempengaruhi orang-orang yang tidak memiliki ilmu sejajar kita dengan cara licik itu” berkata Ki Ajar.

Panembahan itu tertawa semakin keras. Katanya “Kau yang licik. Kau ingin menyelamatkan orang-orangmu, dan para prajurit Pajang. Biarlah mereka musnah di padepokan ini. Dengan demikian, untuk selama-lamanya Pajang tidak akan berani melakukannya lagi”

Panembahan itu sama sekali tidak mengendorkan serangan suara tawanya. Sementara itu, para pengikutnya bertempur semakin sengit. Pada saat-saat korban di pihak prajurit Pajang mulai berjatuhan karena tekanan suara dan senjata lawan, tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking tinggi.

Sebuah lagu menyayat terlontar dari seruling itu, langsung mengguncang udara. Getaran nada tinggi itu, rasa-rasanya telah membentur gema suara tawa Panembahan yang lebih dahulu menggetarkan udara di lereng pegunungan itu.

Dua jenis getaran saling membentur. Namun dengan demikian, kedua getaran itu saling menyerap, sehingga pengaruhnya semakin lama semakin kecil. Dengan demikian, prajurit Pajang, yang hampir kehilangan kemampuan perlawanannya, telah bangkit kembali. Maka pertempuranpun menjadi bergejolak kembali. Semakin lama semakin sengit.

Panembahan Lebdagati mengumpat keras. Ia tidak tertawa lagi karena ia sadar, bahwa hal itu tidak akan ada gunanya. Ia kemudian berpaling ke arah sumber suara seruling, yang menghentak-hentak dengan nada tinggi itu. Panembahan mengerutkan keningnya. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi ikut terkejut. Bahkan Ki Ajar memandanginya dengan heran.

"Luar biasa” desis Manggada " ternyata orang bongkok itu memiliki ilmu sangat tinggi”

Sementara, Ki Ajar berkata kepada diri sendiri. "Sudah begitu lama ia bersamaku. Ternyata selama itu ia telah mampu meningkatkan ilmunya sampai tataran yang tertinggi, di luar pengamatanku. Agaknya di saat-saat aku berada di dalam sanggar, si Bongkok menempa dirinya. Ia memang telah membawa bekal ilmu ketika datang kepadaku. Namun yang tidak aku ketahui, tingkat perkembangannya kemudian”

Ki Ajar memang menganggap orang bongkok itu tidak terlalu berminat meningkatkan ilmu dasar yang telah dimilikinya. Ia pun tidak bersedia mendapat bimbingan ilmu dari Ki Ajar. Alasannya, dasar ilmu mereka memang berbeda, sehingga si Bongkok harus menempuh jalan tersendiri untuk menyesuaikan dasar-dasar ilmunya.

Terbukti, orang bongkok itu mampu menangkal getaran gema suara tawa Panembahan, yang memang dengan sengaja dipergunakan menyerang lawan-lawannya.

Panembahan itu menjadi sangat marah. Karena itu, tangannya bergerak dengan tiba-tiba. Hampir tidak dapat diikuti dengan mata wadag. Juga karena demikian mendadak.

Sebuah serangan telah menyambar orang bongkok yang sedang duduk di atas batu padas, di lereng yang agak tinggi. Seperti yang pernah dilakukan, maka batu padas itu seakan-akan telah meledak.

Tetapi orang bongkok itu tidak terlempar seperti kedua prajurit Pajang yang meniup sangkakala sebagai isyarat bagi para prajurit Pajang yang lain. Orang bongkok itu dengan tangkas telah meloncat dan berdiri di atas batu padas beberapa langkah dari tempatnya semula.

"Setan, kau bongkok!" Panembahan itu berteriak.

"Apakah kau masih ingat kepadaku?” tiba-tiba saja si Bongkok bertanya dengan nada tinggi.

"Kenapa kau belum mati?” bertanya Panembahan itu.

"Kenapa kau sekarang menyebut dirimu Panembahan? Semula aku kurang yakin bahwa Panembahan Lebdagati yang berilmu sesat itu adalah kau. Tetapi ternyata yang aku saksikan adalah benar. Kaulah yang menyebut dirimu Panembahan, yang ingin menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi. Setidak-tidaknya, diatas tanah ini” berkata orang bongkok itu.

"Sekarang aku sudah berada di sini” berkata Panembahan itu "Mau tidak mau, kau harus mengakui keberadaanku di sini sebagai penguasa yang tidak tergoyahkan. Jika kau juga berada di sini, maka kau telah menempuh satu perjalanan maut. Sebab, hanya akulah yang boleh tinggal hidup di antara kita. Kau dapat meloloskan diri saat itu, tetapi sekarang justru kematianmu, atas kemauanmu sendiri”

Si Bongkok tertawa. Katanya “Kita berbekal ilmu yang sama. Kita bersama-sama menempa diri untuk waktu yang panjang. Sepuluh tahun atau lebih. Kau tempuh jalan sesat dengan membunuh gadis-gadis. Kau kira dengan demikian, kau akan mendapatkan satu pusaka yang membuatmu menjadi orang terkuat di dunia? Semuanya akan gagal. Aku yang mencarimu selama ini, telah menempatkan diriku di bawah perlindungan Ki Ajar Pangukan. Orang yang sekarang berhadapan dengan kau. Ia memiliki ilmu yang tidak ada duanya, tanpa harus menempuh jalan sesat dan membunuh gadis-gadis”

"Setan kau" geram Panembahan itu pula "Seharusnya aku menemukan kau sebelumnya, dan menghabiskan sisa tikus-tikus busuk dari padepokan kita, sehingga akulah satu-satunya orang yang masih. Tetapi kau bersembunyi dengan rapat”

"Seandainya kita bertemu sebelumnya, belum tentu jika kau akan menjadi orang satu-satunya yang hidup. Mungkin aku yang akan tetap hidup” berkata si Bongkok itu.

Panembahan itu menggeram. Sekali lagi, tangannya bergetar. Sebuah serangan tiba-tiba telah menghantam tebing. Namun sekali lagi, si bongkok terlepas dari serangan itu. Ia telah berdiri di atas batu padas, beberapa langkah dari tempat berdirinya semula.

Sekali lagi. Panembahan itu mengumpat. Sementara itu, pertempuran telah berlangsung semakin sengit. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi tidak lagi harus berjuang sendiri. Mereka kini bersama-sama dengan dua orang berilmu sangat tinggi, serta sepasukan prajurit Pajang yang kuat.

Karena itu, hati Ki Wiradadi menjadi besar. Ia semakin berharap bahwa Yang Maha Agung akan melindungi anaknya dengan lantaran kekuatan yang sangat besar itu. Sekaligus untuk menumpas kekuatan yang beralaskan ilmu sesat.

Sebenarnyalah, bahwa para prajurit Pajang telah menemukan landasan yang kokoh untuk memecahkan perlawanan orang-orang berilmu sesat itu. Mereka telah berhasil memecah kekuatan para pengikut Panembahan menjadi kelompok-kelompok kecil yang terpencar. Terutama mereka yang masih berada di seberang tanggul sempit, yang telah dipecahkan oleh Panembahan itu.

Dengan demikian, prajurit Pajang nampaknya mulai menguasai medan. Perlawanan orang-orang berilmu sesat itu, menjadi semakin terdesak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang seakan-akan tidak berjantung. Meskipun sudah terdesak, dan terpecah-pecah, namun mereka masih saja bertempur tanpa mengenal menyerah. Bahkan rasa-rasanya, mereka bukan lagi orang-orang yang mengenal takut, tetapi benar-benar tidak berperasaan.

Orang-orang yang terluka, bahkan yang parah sekalipun, sama sekali tidak terdengar mengaduh. Hanya sekali-sekali terdengar berdesis, dan menyeringai menahan sakit.

Panembahan itupun akhirnya melihat juga, bahwa orang-orangnya semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Sementara itu sangat mengganggu perasaannya. Karena itulah, Panembahan Lebdagati berkata lantang "Kalian memang tidak mempunyai pilihan. Aku terpaksa membunuh kalian dengan caraku”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Sementara Ki Ajar yang berdiri di hadapan Panembahan itu, berkata “Panembahan. Kau sudah tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah. Para prajurit Pajang, dengan kekuatan besar, telah menguasai seluruh medan. Orang-orangmu telah terdesak dan terpecah-pecah. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh dan terluka parah. Jika kau berkeras untuk bertempur terus, maka kematian akan bertambah, sehingga kaulah yang harus bertanggung-jawab”

"Persetan. Kenapa tiba-tiba saja kau menggurui aku?” sahut Panembahan itu "bersiaplah untuk mati. Kau dan orang-orangmu. Jika orang-orangku ikut mati, itu adalah salah mereka sendiri”

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja dilihatnya Panembahan itu bergeser surut. Namun kemudian Panembahan itu telah mengambil sesuatu dari dalam kantong yang tergantung pada ikat pinggangnya yang besar. Ternyata sebuah bumbung yang agak panjang. Dengan serta merta, Panembahan itu telah membuka tutup bumbung itu dan kemudian memutar bumbung itu di udara.

Dari dalam bumbung itu, keluar asap berwarna kekuning-kuningan. Asap yang mengepul dan kemudian menghambur ke sekitarnya, semakin lama semakin meluas ke seluruh medan.

Dengan cemas, orang bongkok itu berteriak "Tahan pernafasan kalian, sejauh dapat kalian lakukan. Serbuk racun itu dapat membunuh kalian perlahan-lahan”

Sebenarnyalah, serbuk itu akan dapat membuat orang menjadi lemas. Serbuk yang berwarna kekuning-kuningan itu akan terhisap beserta tarikan nafas, dan meracuni bagian dalam tubuh.

Panembahan, itu kemudian tertawa berkepanjangan sambil berkata “Kalian tidak akan dapat menahan nafas untuk waktu yang terlalu lama. Serbuk racunku akan bekerja sehari semalam”

Dalam pada itu, orang bongkok di lereng bukit itu berteriak" Pergunakan kain apa saja untuk menutup hidungmu, setidak-tidaknya mengurangi racun yang masuk lewat pernafasanmu”

Orang yang mendengar teriakan itu telah mempergunakan kain apa saja. Kain panjangnya, ikat kepalanya, atau bajunya untuk menutupi hidung mereka. Setidak-tidaknya akan mampn memperpanjang daya tahan mereka.

Tetapi dalam pada itu, Ki Ajar tidak saja membiarkan hal itu terjadi. Ia sendiri tidak menutup hidungnya dengan apapun. Namun justru bergeser surut serta memusatkan nalar budinya. Bahkan Ki Ajar itu telah menyilangkan tangan di dadanya.

Satu pertempuran ilmu yang menggetarkan. Ternyata tanpa ada mendung dan tanpa ada angin, tiba-tiba saja telah bertiup angin pusaran. Angin pusaran yang bagaikan tumbuh dari arah rumah kecil yang di huni oleh Ki Ajar itu, dan mengalir berputaran. Asap yang kuning itupun terhisap dan ikut berputar membumbung tinggi ke langit. Sejenak kemudian, udara di medan itu menjadi bersih kembali. Angin pusaran itu kemudian lenyap mengalir hilang.

"Racun yang berbahaya” berkata Ki Ajar "aku tidak dapat meniup racunmu begitu saja, karena jika racunmu itu mengalir ke hutan, maka binatang-binatangpun akan mati. Karena itu, aku harus mengangkatnya dan menebarkannya di udara yang tinggi. Dengan demikian, jika racun itu turun dalam tebaran yang luas, maka bahayanya telah susut, karena kadarnya menjadi jauh lebih kecil”

"Gila kau Ki Ajar!" geram Panembahan yang menjadi sangat marah itu "seharusnya aku membunuhmu lebih dahulu”

Ki Ajar masih akan menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Panembahan itu telah menyerangnya, sehingga keduanya terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Panembahan itu berloncatan sambil menyerang dengan tenaga raksasa. Sementara Ki Ajar, telah mengerahkan tenaga cadangannya, sehingga ayunan tangannya rasa-rasanya akan dapat memecahkan batu hitam.

Dengan demikian, pertempuran antara kedua orang itu semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga keduanya bagaikan beterbangan di arena pertempuran yang dahsyat itu.

Orang bongakok itu masih berada di lereng yang agak tinggi. Dengan seksama, ia mengikuti pertempuran antara kedua orang tua yang semakin lama menjadi semakin seru itu. Sebagai saudara seperguruan dengan Panembahan itu, ia tahu kekuatan dan kelemahan dari Panembahan yang ternyata telah menempuh jalan sesat untuk meningkatkan ilmunya, karena ingin jadi orang terbaik di seluruh muka bumi.

Tetapi ternyata. Ki Ajar mempunyai landasan ilmu luar biasa. Meskipun Panembahan itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, ia tidak mampu mendesak, apalagi mengalahkan Ki Ajar. Akhirnya, Panembahan itu merambah ilmunya yang menggetarkan.

Ketika keduanya sedang bertempur dengan serunya, tiba-tiba saja Panembahan itu meloncat mengambil jarak. Dengan segera Ki Ajar menyadari, apa yang akan dilakukan Panembahan itu. Karena itu, Ki Ajar pun bersiap dengan landasan ilmunya pula.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Panembahan itu telah meluncurkan serangannya dengan mengacungkan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Ki Ajar.

Namun Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tanpa meloncat mengerahkan tenaga, Ki Ajar telah bergeser dari tempatnya. Seakan-akan tubuhnya terdorong menyamping beberapa langkah dengan sikap yang tidak berubah.

Serangan Panembahan yang tidak mengenai sasaran itu, meluncur dan menghantam rumpun bambu di sebelah rumah Ki Ajar. Rumpun bambu itu bagaikan telah meledak, dan pohon-pohon bambu tumbang berserakan.

"Luar biasa!" bagaimanapun juga Ki Ajar mengakui betapa dahsyatnya ilmu Panembahan itu.

Demikian pula orang bongkok yang menyaksikannya. Karena itu, ia pun meloncat semakin rendah. Jika terjadi sesuatu, ia akan dapat segera membantu Ki Ajar. Mungkin ia akan dapat membantu dalam serangan bersama-sama, untuk mematahkan perlawanan Panembahan berilmu tinggi itu. Meskipun pada suatu saat takaran ilmu Panembahan itu sama tingginya dengan orang bongkok itu, tetapi justru dengan jalan sesat, ilmu Panembahan jtu telah semakin meningkat, meskipun belum dapat dikatakan terbaik.

Tetapi Panembahan itu harus melihat kenyataan, bahwa serangannya tidak mampu membunuh orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu. Dengan mudah, Ki Ajar Pangukan mampu menghindari serangan ilmunya yang dahsyat, sebagaimana orang bongkok di lereng tebing itu.

Panembahan itu mengumpat kasar. Darahnya yang telah dialiri ilmu sesat, bagaikan mendidik. Karena itu, yang membayang di angan-angannya tidak ada lain kecuali membunuh. Karena serangan-serangannya tidak mampu membunuh Ki Ajar dan orang bongkok itu, serta racunnya sudah terhambur dan tidak berarti sama sekali, maka Panembahan berilmu sesat itu mencabut kerisnya. Keris yang setiap purnama menghisap darah gadis-gadis. Keris yang akan dijadikan pusaka untuk mendukung nafasnya menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi.

Ki Ajar menjadi berdebar-debar melihat keris yang dilekati dengan darah yang telah membeku. Darah yang semakin lama menjadi semakin tebal itu.

"Kau akan menjadi pengganti gadisku yang hilang semalam" geram Panembahan yang berilmu sesat itu "mudah-mudahan darahmu juga punya arti bagi kerisku ini. Meskipun keris ini belum sepenuhnya puas minum darah gadis-gadis, tetapi kekuatannya sudah melampaui semua keris di seluruh dunia. Karena itu, di hadapan keris ini, semua kekuatan dan kemampuanmu akan menjadi beku. Kau akan tunduk kepadaku dan membiarkan aku menikam dadamu. Kau akan berlutut dan tidak mampu melakukan perlawanan”

Ki Ajar termangu-mangu. la mendengar kata-kata Panembahan itu. Suara itu rasa-rasanya melingkar-lingkar di dadanya. Sementara Panembahan itu telah mengangkat kerisnya di atas dahinya.

"Ki Ajar” berkata Panembahan itu. "Dengar kata-kataku. Tidak ada orang yang mampu melawan kerisku. Kaupun tidak. Kau akan diam membeku dan membiarkan aku membunuhmu."

Suara itu begitu tajam menusuk telinga Ki Ajar. Kemudian, jantungnya terasa berdebar semakin cepat. Suara itu, adalah bagian dari ilmu Panembahan, yang mampu mempengaruhi dan membuat lawannya seakan-akan menjadi beku.

Selangkah demi selangkah Panembahan itu mendekat dengan keris yang masih diangkat di atas dahinya. Sementara itu, pertempuran di sekitarnya menjadi semakin seru, mendekati saat-saat terakhir. Orang-orang berilmu sesat yang putus asa, telah bertempur seperti orang mabuk, tanpa menghiraukan pengamatan-pengamatan yang diberikan oleh para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, orang bongkok itu memperhatikan sikap Ki Ajar dengan cemas. Seakan-akan Ki Ajar telah terbius oleh ilmu Panembahan yang kemudian mengangkat kerisnya semakin tinggi. Bahkan selangkah demi selangkah. Panembahan yang jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan itu menjadi semakin dekat.

Orang yang bongkok itu tiba-tiba saja telah meloncat ke atas sebongkah batu. Dilekatkannya serulingnya di bibirnya. Ia tidak mempunyai cara tertentu untuk membangunkan Ki Ajar dari kebekuannya. Dengan mengguncang jantungnya, ia berharap Ki Ajar akan terbangun.

Namun sebelum orang bongkok itu sempat meniup seruling, ia terkejut. Kedua orang berilmu tinggi itu ternyata telah menentukan bagian terakhir dari pertempuran itu. Pada saat Panembahan itu berdiri dua langkah dihadapan Ki Ajar yang nampaknya benar-benar telah membeku itu, maka diangkatnya kerisnya tinggi-tinggi. Panembahan itu sudah siap untuk membunuh lawannya dengan menghujamkan keris itu dijantung lawannya.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sebelum Panembahan itu menyarungkan kerisnya kedada lawannya, maka tiba-tiba saja Ki Ajar telah melemparkan beberapa paser kecil justru keleher Panembahan Lebdagati yang telah siap membunuhnya.

Panembahan itu benar-benar terkejut. Ia tidak mengira bahwa Ki Ajar yang disangkanya telah membeku itu masih mampu menyerangnya. Sehingga karena itu, maka Panembahan yang sudah berdiri terlalu dekat itu tidak sempat mengelak. Dua buah paser kecil menancap dilehernya. Satu lagi di dadanya dan satu dipundaknya. Selangkah Panembahan itu bergeser surut. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Dendam dan kebencian mewarnai sorot matanya.

"Kau licik Ajar gila!" geram Panembahan Lebdagati itu "Kau telah mencoba meracuniku”

Ki Ajar itu berdiri termangu-mangu. Ia melihat Panembahan itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. "Aku tidak mempunyai pilihan lain Panembahan” jawab Ki Ajar.

Tetapi Ki Ajar itu terkejut. Dengan tangan kirinya Panembahan Lebdagati telah mencabuti paser-paser kecil yang memang mengandung racun itu. Sejenak Panembahan itu seakan-akan memusatkan kekuatan lahir dan batinnya. Kemudian, Panembahan Lebdagati telah menghentakkan kekuatannya.

Dari luka-lukanya yang beracun oleh paser-paser kecil itu telah memancar darah yang berwarna kehitam-hitaman. Namun kemudian darah itu telah berubah menjadi merah. Panembahan Lebdagati itupun kemudian telah meraba daun kerisnya yang bergetar. Seakan-akan sesuatu telah mengalir dari kerisnya itu ke tubuhnya.

Sejenak kemudian darah yang mengalir itu telah berhenti dengan sendirinya. Racun didalam darahnya yang masuk lewat jarum-jarum paser itu ternyata telah dapat dihentakkan keluar. Panembahan itu tersenyum. Katanya “Usahamu yang licik itu tidak akan berarti Ki Ajar. Akan datang saatnya, aku membalasnya. Aku akan menusukmu tidak dengan paser-paser kecil. Tetapi dengan ujung kerisku”

Tetapi Ki Ajar telah menjawab. “Kau memang mampu memusnahkan racun itu dari dalam tubuhmu Panembahan. Tetapi sebagaimana kita ketahui, darah kita sangat terbatas. Kita tidak dapat membuat darah dalam waktu sekejap. Karena itu, sebanyak darahmu keluar, sebanyak itu pula kekuatanmu berkurang. Kau tidak dapat membuat aku beku seperti yang kau maksudkan, Panembahan. Jika aku diam, bukan berarti bahwa kekuatanmu mampu mencengkam jantungku” berkata Ki Ajar.

"Aku tahu.” jawab Panembahan itu "kau sengaja berdiam diri sambil menunggu aku mendekat. Itu termasuk cara licikmu untuk membunuhku. Tetapi kaupun gagal”

"Aku memang gagal Panembahan. Tetapi dalam keseluruhan kami berhasil. Kami telah dapat menghancurkan seluruh kekuatanmu. Kekuatan sesatmu. Sebentar lagi kau akan tahu sendiri. Sudah tentu kau tidak akan mampu melawan kami. Aku, orang bongkok yang ternyata saudara seperguruanmu meskipun kemudian kau meningkatkan ilmumu dengan cara yang sesat. Kemudian para perwira Pajang dan anak-anak muda yang baru mengasah ilmunya itu. Disamping itu, si Bongkok itu mempunyai dua ekor harimau yang akan dapat mengoyak kulitmu. Kau tidak dapat mempengaruhinya dengan ilmu sihirmu seandainya kau memiliki, karena harimau itu tidak mampu menangkap getaran yang mengganggu otaknya” jawab Ki Ajar.

"Persetan dengan igauanmu” jawab Panembahan itu. Namun Panembahan itu masih juga belum menyerang. Ia masih juga berkata “Kau boleh percaya atau tidak percaya bahwa aku sendiri akan dapat menaklukkan kalian semuanya tanpa orang-orangku”

"Kau mimpi” berkata Ki Ajar.

"Mimpi daradasih” jawab Panembahan Lebdagati "Kau tahu artinya mimpi daradasih. Sebagai seorang Ajar kau tentu mengetahui. Juga tanda-tanda mimpi daradasih itu”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Panembahan itu memang sudah mempersiapkan diri. Tetapi masih belum ada tanda-tanda untuk menyerang. Namun akhirnya Ki Ajar mengetahui bahwa Panembahan itu memang berusaha memperpanjang waktu. Dengan demikian, maka luka-lukanya akan benar-benar menjadi pampat.

Karena itu, maka Ki Ajarlah yang kemudian bergeser mendekat sambil berkata “Kita akan menguji, siapakah diantara kita yang terbaik. Kau dengan ilmu sesatmu atau aku!”

Panembahan Lebdagati tertawa. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi Ki Ajar tidak memberinya kesempatan. Dengan tangkasnya Ki Ajar pun telah menyerangnya.

"Iblis kau" geram Panembahan sambil mengelakkan serangan itu "Dengar. Aku masih akan memberimu beberapa penjelasan”

"Aku tidak memerlukan penjelasan” jawab Ki Ajar. Namun iapun telah meloncat sekali lagi menyerang Panembahan Labdagati.

Panembahan itu memang dengan mudah dapat mengelakkan serangan Ki Ajar. Namun serangan-serangan berikutnya adalah serangan kekuatan yang menggetarkan jantung. Selain kecepatannya yang sulit diimbangi, maka Ki Ajar juga mempunyai kekuatan bukan saja wadagnya. Tetapi kekuatan ilmu yang luar biasa besar.

Panembahan Lebdagati harus berloncatan menghindar, meskipun setiap saat pada kesempatan Panembahan itu telah mengajak berbicara. Tetapi Ki Ajar yang mengetahui maksud Panembahan itupun justru telah menyerang semakin cepat.

Akhirnya Panembahan itu terpaksa melayaninya. Iapun bergerak semakin cepat. Bahkan ketika ia tidak lagi melihat kemungkinan untuk memperpanjang waktu, maka Panembahan itu telah mengambil kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan lawannya itu secepatnya, sebelum darahnya mengucur lagi dari lukanya atau justru akan menghabiskan tenaganya.

Tetapi Ki Ajar ternyata mampu mengimbangi kecepatan gerak Panembahan Lebdagati. sehingga serangan-serangan Panembahan Lebdagati sama sekali tidak berhasil mengenainya.

Sementara itu. Panembahan Lebdagati yang marah itupun menjadi bimbang. Jika ia memaksa diri untuk melepaskan ilmunya, termasuk Gelap Ngampar. maka hentakan kekuatan ilmunya akan dapat mendorong darahnya mengalir lagi dari luka-lukanya.

Sementara itu, orang bongkok itu akan dapat menangkalnya dengan suara serulingnya. Sedangkan ilmunya yang lain, ternyata tidak mampu mengikat Ki Ajar dalam kebekuan. Karena itu. maka ia telah memikirkan kemungkinan yang lain. Ia dapat menyerang Ki Ajar dari jarak jauh. Namun hal itupun pernah dicobanya dan gagal. Bahkan orang bongkok itupun tidak dapat dikenainya dengan ilmunya itu.

Namun Panembahan itu harus berbuat sesuatu jika ia Lidak mau mati kehabisan darah. Untuk beberapa saat Panembahan Lebdagati masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. Keduanya saling menyerang. Namun seperti yang dicemaskan oleh Ki Ajar itu sendiri, darah dilukanya itu mulai mengalir lagi. Ia tidak sempat menutup luka-lukanya dengan kemampuan ilmunya, karena ia harus mengerahkannya untuk melawan Ki Ajar.

Dalam pada itu, para pengikut Panembahan itu telah benar-benar dilumpuhkan. Beberapa orang yang seperti orang kehilangan akal telah terbunuh. Beberapa orang yang lain terluka. Namun jarang sekali diantara mereka yang menyerah. Apalagi mereka yang sudah berada pada tataran yang cukup tinggi di lingkungan Panembahan Lebdagati.

Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi terpaksa dihadapi oleh beberapa orang sekaligus. Dalam pada itu Manggada dan Laksanapun telah bertemu dengan dua orang Putut dari padepokan raksasa yang tersembunyi itu. Untunglah keduanya telah membawa bekal yang cukup sehingga keduanya mampu bertahan untuk beberapa lama. Namun kemudian beberapa orang prajurit Pajang telah datang membantu.

Dalam keadaan itu, maka Panembahan Lebdagati benar-benar telah tersudut. Orang-orangnya yang justru terpercaya sekalipun tidak mampu menghadapi para perwira dari pasukan Pajang serta para petugas sandi yang memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi kemampuan orang-orangnya. Karena itu, maka sejenak kemudian Panembahan Lebdagati itu telah mengambil keputusan untuk sekali lagi mencoba menyerang lawannya dengan ilmunya yang dapat dilontarkannya dari jarak jauh.

Tetapi ternyata Panembahan Lebdagati tidak menghadapi keadaan itu dengan dada tengadah. Ketika ia menyerang Ki Ajar dengan lontaran ilmu, serta Ki Ajar bergeser menghindar, maka dengan mengerahkan tenaga cadangan didalam dirinya. Panembahan itu telah meloncat jauh-jauh surut.

Ki Ajar terkejut. Ia sadar, bahwa Panembahan Lebdagati akan menghindar dari medan. Karena itu, maka Ki ajarpun telah melakukan hal yang sama. Dengan menghentakkan tangannya, maka sebuah serangan yang dahsyat telah meluncur ke arah Panembahan yang memang mencoba menghindar dari pertempuran. Tetapi Panembahan Lebdagati mampu mengelak. Bahkan sekali lagi ia meloncat menjauhi Ki Ajar dengan loncatan panjang.

Orang Bongkok yang pernah menjadi saudara seperguruan Ki Lebdagati itupun tidak tinggal diam. Ia pun memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Sebagaimana dilakukan oleh Ki Lebdagati, maka orang bongkok itupun mampu menyerangnya dari jarak jauh.

Tetapi Panembahan itu masih mampu mengelakkan diri. Meskipun serangan datang dari dua orang yang memiliki atas perguruan yang berbeda, tetapi memiliki ilmu yang ujudnya hampir sama, namun Panembahan Lebdagati itu ternyata mampu melepaskan diri. Ia meloncat semakin jauh dan semakin tinggi pada tebing pebukitan yang seakan-akan menjadi dinding tempat terpencil itu. Bahkan akhirnya Panembahan Lebdagati itu telah menghilang.

Orang Bongkok beserta kedua ekor harimaunya telah mencoba mengejarnya. Tetapi ketika mereka sampai, ke panggung pebukitan, mereka sudah tidak melihat lagi, ke-maria Panembahan itu melarikan diri. Orang bongkok itu merasa kecewa sekali. Sumber malapetaka itu ternyata luput dari tangan orang-orang yang berusaha menghancurkannya.

Dengan menyesal ia telah kembali menemui Ki Ajar dan beberapa perwira prajurit Pajang. Merekapun merasa menyesal pula, bahwa buruan mereka berhasil melepaskan diri.

"Apa boleh buat” berkata Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya datang ketempat terpencil itu "Kita sudah berusaha sejauh mungkin. Tetapi kita ternyata kehilangan jejak”

"Aku minta maaf” berkata Ki Ajar.

"Ki Ajar sudah banyak sekali membantu” jawab Senapati itu. Tetapi katanya kemudian "Namun sebaiknya kita memasuki padepokan induk Panembahan Lebdagati. Mudah-mudahan ia singgah ke padukuhan induk itu”

Orang bongkok itu menggeleng. Katanya “Tentu tidak. lapun tahu bahwa kita tentu akan kesana. Tetapi sebaiknya kita mencobanya”

Demikianlah para prajurit Pajang telah dikumpulkan oleh Senapatinya. Para pemimpin kelompok telah melaporkan keadaan orang-orangnya. Beberapa orang korban memang telah jatuh. Senapati itu telah membagi pasukannya. Sebagian dari mereka harus tetap berada di tempat itu untuk merawat kawan-kawannya yang terluka dan mengumpulkan yang gugur di medan pertempuran. Sebagian yang lain akan dibawa ke padukuhan induk padepokan raksasa itu.

Namun tiba-tiba Ki Ajar berkata kepada Ki Wiradadi "Marilah. Sebaiknya Ki Wiradadi dan anak gadismu ikut bersama kami. Ada beberapa alasan. Mungkin Panembahan itu akan kembali mencari korbannya jika ia tahu, gadis itu kami tinggalkan disini. Kedua, anak gadis Ki Wiradadi pernah berada di padukuhan induk. Mungkin ia dapat serba sedikit menceriterakan lingkungan padukuhan untuk itu, khususnya istana Panembahan Lebdagati”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sementara itu, anak gadisnyapun setuju untuk ikut serta. "Aku takut” berkata gadis itu "Jika orang itu kembali, maka aku akan mati disini”

Ki Wiradadipun mengangguk-angguk. Iapun sadar, meskipun ada kelompok prajurit yag akan tinggal ditempat itu untuk merawat kawan-kawannya, tetapi jika Panembahan yang luput dari tangan mereka itu kembali, maka agaknya sulit bagi mereka untuk dapat melindungi anak gadis itu.

Karena itu, sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan tempat terpencil itu. Tiba-tiba saja mereka tidak lagi melihat burung elang diudara. Demikian orang-orang padepokan itu dihancurkan serta Panembahan Lebdagati meninggalkan medan, maka sisa-sisa burung elang itupun telah lenyap pula.

Beberapa saat mereka berjalan menyusuri jalan yang sulit. Mereka kadang-kadang harus menuruni tebing yang rendah, kemudian menyusuri tanggul sempit, sehingga akhirnya mereka sampai ketempat' yang diperuntukkan bagi upacara penyerahan korban itu.

Gadis itu tiba-tiba saja menjerit kecil ketika ia melihat tatanan batu di tengah-tengah padang rumput yang tidak terlalu luas itu. Ia menjadi ngeri mengingat saat ia telah terbaring ditempat itu. Hampir saja nyawanya direnggut oleh keris Panembahan Lebdagati sebagai korban yang kesekian kalinya dibawah cahaya bulan bulat.

Ki Wiradadi mendekap anaknya. Bisiknya "Kau aman sekarang anakku. Kau lihat, orang-orang berilmu tinggi itu telah menolongmu. Bahkan sepasukan prajurit Pajang telah datang pula. Bagi para prajurit itu, tujuan utamanya adalah menghancurkan sekelompok orang beraliran sesat disini. Adalah kebetulan sekali mereka hadir sekarang, sehingga jiwamu telah diselamatkan. Yang Maha Agung masih melindungimu”

Gadis itu ternyata telah terisak. Namun Ki Wiradadi berkata “Tugasmu sekarang, membalas kebaikan orang-orang berilmu tinggi itu. Tunjukkan padepokan induk itu dan apa saja yang kau lihat ada didalamnya”

"Semuanya mengerikan” desis gadis itu.

"Tetapi kau harus melakukannya” berkata ayahnya.

Gadis itu mengangguk. Ia. memang menyadari, apa yang sedang dialami. Karena itu, maka penalarannya memang mengatakan kepadanya, bahwa ia harus langsung melibatkan diri bukan saja bagi keselamatan dirinya, tetapi gadis-gadis lain di masa mendatang.

Sesaat, iring-iringan itu singgah di padukuhan yang menghadap ke padang rumput yang tidak terlalu luas itu. Mereka masih melihat beberapa macam benda upacara selain yang berserakan di dekat tempat upacara untuk menyerahkan korban itu.

"Kita harus menghancurkannya” berkata orang bongkok itu.

"Ya...” desis Ki Ajar. "Supaya tidak menimbulkan rangsangan untuk melakukannya lagi bagi para pengikut Panembahan Lebdagati yang luput dari tangan kita”

Senapati prajurit Pajang itupun ternyata sependapat. Karena itu, maka para prajuritpun telah mengumpulkan benda-benda upacara dan dikumpulkan diatas tatanan batu yang dipergunakan untuk menyerahkan korban. Dari berjenis-jenis bokor dari tembaga, pakaian yang khusus yang ada di tempat penyimpanan benda-benda upacara. Rontek, umbul-umbul dan berbagai macam senjata khusus yang hanya dipakai dalam upacara, yang dikumpulkan oleh para prajurit karena benda-benda itu sebagian berserakan di padang rumput kecil itu.

"Kita akan membakarnya” desis Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar dan orang bongkok itu sependapat. Karena itu, maka merekapun segera menyalakan api. Benda-benda upacara itupun segera telah menyala termasuk beberapa buah obor yang masih lengkap dengan sumbunya serta sisa minyak yang ada didalamnya.

Ketika api menyala dengan asap yang membumbung tinggi, Manggada dan Laksana sempat berbincang dengan Ki Ajar. Dengan nada ragu Manggada bertanya "Kita tidak menemukan sesosok mayatpun. Bukankah beberapa orang telah terbunuh disini?”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Agaknya ada orang-orang khusus disamping para pengikut yang bersenjata dan telah bertempur melawan kita”

"Tetapi tidak hanya satu dua orang yang telah terbunuh. Juga ada diantara mereka yang telah dikoyak oleh harimau Ki Pandi itu” berkata Laksana.

"Mungkin kita akan menemukan jawabnya jika kita sempat memasuki induk padepokan Panembahan Lebdagati nanti” jawab Ki Ajar.

Demikianlah, maka setelah api berkobar bagaikan menjilat langit menelan setumpuk benda-benda upacara itu, maka iring-iringan itu telah melanjutkan perjalanan, menuju ke induk padepokan raksasa yang berada di lereng Gunung itu.

Ketika iring-iringan itu melalui sebuah padukuhan, maka nampak padukuhan itu begitu sepi. Semua pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada seorangpun yang nampak dihalaman, apalagi di jalan-jalan.

Manggada dan Laksana memang ingin tahu, apakah orang-orang padukuhan itu telah pergi mengungsi atau mereka telah melakukan sesuatu yang lain berhubungan dengan upacara yang telah dilakukan oleh Panembahan Lebdagati itu.

Karena itu, tiba-tiba saja kedua orang anak muda itu telah menyelinap masuk sebuah regol halaman yang sedikit terbuka. Dengan berlari-lari kecil keduanya naik kependapa rumah itu dan langsung menuju ke pintu pringgitan.

"Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar menarik nafas panjang. Katanya “Mereka ingin tahu apa saja. Agaknya mereka ingin tahu, apakah di dalam rumah yang pintunya tertutup itu ada orangnya”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya “Agaknya aku juga akan berbuat begitu jika umurku masih semuda mereka”

Namun demikian, Ki Ajar tidak meninggalkan kedua orang anak muda itu. Bersama orang bongkok itu, keduanya berhenti diluar halaman. Ternyata Manggada dan Laksana telah mengetuk pintu pringgitan keras-keras. Beberapa kali keduanya menyapa jika ada orang didalam rumah itu. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban, sehingga Manggada dan Laksana telah mengguncang-guncang pintu.

"Buka pintu atau aku akan menghancurkannya!" tiba-tiba Laksana berkata lantang.

Sesaat keduanya menunggu. Namun ternyata ketajaman telinga mereka mampu menangkap desir lembut didalam rumah itu. Karena itu. keduanya yakin, bahwa tentu ada seseorang atau lebih didalam rumah itu.

"Aku akan menghitung sampai sepuluh " geram Laksana "Jika sampai kehitungan kesepuluh pintu tidak dibuka, maka aku akan menghancurkan pintu itu”

Sejenak kemudian maka Laksunapun telah mulai menghitung, sementara itu, keduanya telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, jika ia benar-benar harus memecahkan pintu itu.

Manggada pun telah bersiap. Ia yang mengenal Laksana dengan baik, percaya jika hitungannya sampai sepuluh dan pintu itu tidak dibuka, maka ia benar-benar akan memecahkannya. Ketika hitungan sampai keenam, dan tidak terdengar langkah mendekati pintu, Manggada jadi berdebar-debar. Tujuh, delapan, sembilan, masih juga tidak terdengar langkah.

Pada hitungan kesepuluh. Laksana benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, ia menendang pintu itu. Pintu itu berderak dan terbuka. Bahkan daun pintunya yang retak, terpelanting lepas dari uger-ugernya.

Manggada pun bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan, karena demikian pintu terbuka. Laksana yang masih belum mapan akan dapat diserang dengan cepat. Karena itu ia harus bersiap menghadapinya.

Tetapi kedua anak muda itu terkejut. Mereka memang melihat beberapa orang di dalam rumah itu, tapi tidak lebih dari seorang laki-laki tua, tiga orang perempuan dan dua orang anak-anak yang masih remaja, menggigil ketakutan.

Manggada dan Laksana saling berpandangan. Namun kemudian, Manggada bertanya "Kenapa kau tidak mau membuka pintu, he?”

"Kami takut anak-anak muda. Perang sedang berkecamuk di luar” jawab laki-laki tua itu dengan suara gemetar.

"Tetapi kau tahu akibatnya jika kau menolak perintah kami?” berkata Laksana.

"Kami tidak berniat menolak. Tetapi kami tidak berani melakukannya" suara orang itu semakin gemetar karena ketakutan.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Laki-laki tua itu kembali berkata “Marilah anak-anak muda. Aku persilahkan kalian duduk”

"Tidak” jawab Manggada "kami akan meneruskan perjalanan kami”

Keduanyapun tidak lagi menaruh banyak perhatian kepada mereka. Karena keduanya telah melangkah meninggalkan ruang dalam itu. Tetapi mencapai pintu, seseorang telah mendorong mereka dengan kuatnya, sehingga Manggada dan Laksana jatuh terguling di lantai. Namun dengan sigapnya, mereka melenting berdiri.

Baru keduanya, menyadari, bahwa mereka hampir saja terjebak. Demikian keduanya keluar dan membelakangi pintu, orang tua yang dianggap menggigil ketakutan itu telah menyerangnya. Seperti terbang, orang itu meluncur dengan kedua tangan mengembang, siap menerkam tengkuk Manggada dan Laksana, dan membentur kepala kedua anak muda itu. Tapi Ki Ajar dapat membaca apa yang akan terjadi. Ia yang tidak sampai hati meninggalkan anak-anak muda belum banyak pengalaman itu, kemudian memasuki halaman bersama si bongkok.

Orang tua yang kehilangan sasaran itu menggeram marah. Tapi ia terkejut melihat si bongkok yang berdiri beberapa langkah di sebelah anak-anak muda itu. "Kau demit bongkok?” geram orang tua itu.

"Jadi kau bersembunyi disini?” berkata orang bongkok itu "Satu firasat yang sangat tinggi telah memanggil anak-anak muda itu untuk membuka pintumu. Adalah satu kebetulan yang barangkali juga bukan kebetulan, bahwa keduanya akan menemukan tempatmu bersembunyi. Kau terlalu bodoh dengan sedikit membuka regol halamanmu, sehingga menarik perhatian mereka, atau memang sengaja kau lakukan untuk menarik perhatian, kemudian menjebak dengan licik seperti yang telah terjadi?”

"Kau iblis" geram orang tua itu "kenapa kau ikut campur dalam persoalan ini?”

“Aku kira, dari perguruan kita yang tinggal hanya aku dan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Tapi ternyata kau ada di sini juga untuk mengabdi pada orang berilmu sesat dan menodai nama perguruan kita itu” berkata orang bongkok itu.

Orang tua itu tertawa., Katanya “Kau tidak perlu mencela orang lain. Jika hal itu sudah menjadi satu keyakinan, maka takarannya adalah maut”

"Tidak” jawab orang bongkok itu. "Seseorang memang dapat memegang satu keyakinan, tapi keyakinan itu dapat berubah jika suatu saat ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan dengan keyakinannya itu. Ia dapat berpaling untuk mencari kebenaran”

"Nampaknya kau adalah jenis orang yang keyakinannya goyah. He, orang bongkok. Serahkan anak-anak muda itu kepadaku. Aku akan membunuh mereka, kemudian membunuhmu dan membunuh orang tua itu. Siapapun orang itu" geram orang tua itu.

Tetapi orang bongkok itu seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih juga bertanya "Apa alasanmu ikut bersama Panembahan yang gila itu, yang menganggap kerisnya telah berharga dari jiwa seseorang?”

"Persetan" geram orang itu "kaulah yang telah berkhianat atas perguruan kita. Panembahan Lebdagati adalah orang yang memiliki hak yang sah untuk memimpin padepokan kita."

"Kenapa? Apakah aku pernah menentang? Yang aku tentang adalah ilmu gilanya itu, yang di setiap bulan purnama harus mengorbankan seorang gadis untuk keris dan kepercayaannya itu” berkata orang bongkok itu.

"Kau sudah terlalu banyak berbicara" geram orang tua itu "Sudah saatnya aku membunuhmu”

Tetapi orang bongkok itu berkata “Kau ternyata memang bodoh. Kenapa kau tidak bergabung bersama Panembahan Lebdagati? Berdua, kalian akan menjadi kekuatan yang sulit dipatahkan. Tetapi sendiri-sendiri, kau tidak berarti apa-apa. Kita pernah berguru bersama, sebagaimana Panembahan Lebdagati. Dan kita tahu perbandingan ilmu kita, sehingga tanpa bertandingpun kita sudah dapat menentukan, siapa diantara kita yang kalah dan menang”

"Cara berpikirmu sangat sederhana” berkata orang tua itu. "Kau kira perbandingan ilmu seseorang akan tetap sama berpuluh tahun sekalipun?”

"Aku tahu bahwa kau telah terbius dengan ilmu sesat saudara seperguruan kita yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu, sehingga kau merasa bahwa ilmumu telah jauh meningkat. Tetapi kaupun harus memperhitungkan bahwa akupun telah meningkatkan ilmuku tanpa mengotori tanganku dengan darah gadis-gadis di saat bulan purnama” berkata orang bongkok itu.

"Tutup mulutmu!" geram orang tua itu "Kau kira ilmu siluman harimaumu itu menakutkan aku?”

"Aku tidak pernah berhubungan dengan siluman yang manapun juga. Aku mencoba untuk bersikap lurus. Tetapi aku memang memelihara dua ekor harimau. Kau ingin melihatnya?” bertanya orang bongkok itu.

"Jangan kau kira aku tidak tahu” berkata orang itu. "Aku memang tidak tahu bahwa kau telah memelihara harimau sesungguhnya, tapi kau sendiri adalah seekor harimau jadi-jadian sejak kau berada di perguruan kita. Nah, sekarang kita akan berhadapan. Jika kau sebut ilmuku ilmu sesat, maka ilmumu adalah ilmu siluman”

Orang bongkok itu mengerutkan keningnya. Katanya "Ternyata pengetahuanmu tentang berbagai macam ilmu sangat picik. Tapi baiklah. Sekarang menyerahlah. Kau tidak akan berarti apa-apa di hadapan Ki Ajar. Tetapi kau tidak usah berhadapan dengan Ki Ajar, karena kau tidak cukup berharga untuk melayaninya”

"Anak iblis" geram erang itu "Bersiaplah untuk mati. Semua orang akan mati”

"Sudah aku katakan, bahwa kau ternyata sangat bodoh tidak bergabung dengan Panembahan Lebdagati. Karena berdua kalian sulit untuk dikalahkan. Tetapi sekarang, kau tidak berarti lagi” sahut orang bongkok itu.

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia telah menyerang orang bongkok itu dengan garangnya. Si Bongkok sudah bersiap menghadapi serangan itu. Karenanya, demikian serangan datang ia telah meloncat menghindar. Bahkan ia bergeser dan meloncat turun ke halaman.

Sejenak kemudian, terjadi pertempuran sengit. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Dengan meningkatkan ilmu mereka, keduanya telah bertempur semakin lama semakin cepat dan keras.

Ki Ajar bersama kedua anak muda itupun turun pula ke halaman. Melihat Manggada dan Laksana berdiri terpaku, Ki Ajar berdesis "Si bongkok akan dapat mengatasinya”

Tapi tiba-tiba Manggada bertanya "Apakah benar Ki Pandi dapat menjelma menjadi seekor harimau, seperti yang dikatakan orang tua itu? Apakah benar ilmunya dapat disebut ilmu siluman?”

"Oh" Ki Ajar tersenyum "Sama sekali bukan. Ki Pandi itu tidak dapat menjelma menjadi seekor harimau, apalagi harimau putih sebesar kerbau. Ia tidak memiliki ilmu siluman seperti yang dikatakan orang tua itu. Mungkin kau pernah dibayangi ujud seekor harimau lain, kecuali kedua ekor harimau yang dipelihara oleh si bongkok itu, tapi yang kalian lihat itu adalah sekedar bayangan angan-anganmu. Bentuk-bentuk semu. Memang Ki Pandi mampu melontarkan getaran semu, sehingga kedua ekor harimaunya itu seolah-olah dapat menjadi lebih banyak. Menjadi tiga, empat atau lebih."

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Hampir tidak terdengar Manggada bergumam "Ternyata Ki Pandi adalah orang yang berilmu tinggi”

"Ya. Ia memang berilmu tinggi. Bahkan ternyata lebih tinggi dari yang aku duga. Ketika kita bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati, orang bongkok itu telah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui. Agaknya selama ini, orang bongkok itu sempat memperdalam ilmunya bersama dengan kedua ekor harimaunya” jawab Ki Ajar.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Perhatian mereka sepenuhnya terhisap pertempuran yang sengit, antara Ki Pandi melawan orang tua yang disebutnya saudara seperguruan itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, keduanya telah merambah ke ilmu puncak mereka. Tiba-tiba saja lawan Ki Pandi mengeluarkan dua potong belahan bambu kecil dari dalam bajunya. Kemudian dengan serta merta, ia memukul-mukulkan kedua potong belahan bambu itu satu dengan lainnya. Semakin lama semakin cepat, sehingga suaranya melengking mengetuk-ngetuk dada.

Ki Ajar tiba-tiba saja bergumam "Hati-hatilah. Kekuatan ilmu yang terlontar dari suara itu, sama dengan kekuatan ilmu yang dilontarkan Panembahan Lebdagati. Kalian harus berusaha untuk mengatasinya dengan pemusatan nalar budi, mengerahkan daya tahanmu”

Manggada lan Laksana memang harus melakukannya. Suara kedua potong belahan bambu itu bagaikan telah menghentak-hentak jantungnya, sehingga rasa-rasanya jantung mereka akan terlepas dari tangkainya. Meskipun keduanya adalah anak-anak muda yang telah menempa diri lahir dan batin, menguasai ilmu kanuragan serta mempertinggi tenaga cadangan dalam dirinya.

Namun keduanya mengalami kesulitan untuk bertahan mengatasi serangan yang menyusup ke dalam bagian tubuh mereka melalui indera pendengaran itu. Meskipun keduanya telah menutup telinga rapat-rapat, tetapi suara itu masih juga menghentak-hentak isi dada mereka semakin keras.

Namun sejenak kemudian, Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Sejenak kemudian, terdengar suara mengalun dari seruling itu membentur getar udara yang menghentak-hentak oleh bunyi ketukan dua potong belahan bambu di tangan lawannya.

Keduanya ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dua kekuatan yang ternyata seimbang, sehingga yang satu berhasil menyerap kekuatan yang lain, sehingga kedua-duanya justru seakan-akan tidak berdaya.

Orang tua yang ternyata adalah saudara seperguruan Ki Pandi itu, telah menghentikan serangannya, dengan mengetuk-ketukkan kedua belahan bambunya. Serangan itu dianggapnya tidak banyak berarti bagi lawannya. Demikianlah. Tiba-tiba saja ia telah menyerang Ki Pandi dengan mengibaskan tangannya.

Serangan yang ternyata dahsyat sekali, sebagaimana dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Ki Pandi yang mendapat serangan itu meloncat ke samping, secepat sambaran sinar yang seakan-akan meluncur dari telapak tangan lawannya itu.

Ki Ajar pun bersiap-siap pula menghadapi kemungkinan buruk. Jika lawan Ki Pandi itu tiba-tiba saja menyerangnya. Bahkan, ia pun telah bergeser dan berdiri dimuka Manggada dan Laksana.

Ketika beberapa kali Ki Ajar sempat melihat orang itu berpaling sekilas kepadanya, dan kedua anak muda itu, maka iapun menjadi semakin curiga. Karena itu, ia berdesis "Berhati-hatilah. Orang itu dapat dengan curang menyerang kita”

Namun orang itu masih juga memusatkan perhatiannya kepada Ki Pandi. Agaknya Ki Pandi kemudian tidak saja ingin berloncatan menghindar, tetapi iapun memiliki ilmu serupa. Karena itu, Ki Pandi pun ingin segera mengakhiri pertempuran itu, apapun yang terjadi.

Karena itu, ketika lawannya sekilas dilihatnya bersiap menyerangnya, Ki Pandi tidak lagi berniat untuk menghindar. Ia telah bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk, dengan membenturkan ilmunya yang serupa.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian saudara seperguruan Ki Pandi itu telah menyerang dengan ilmunya. Tetapi Ki Pandi sudah bertekad bulat. Karena itu yang dilakukannya kemudian adalah melontarkan serangan serupa.

Sejenak kemudian, terjadi benturan dahsyat. Ilmu yang bersumber dari mata air yang sama, yang mengalami tempaan dan pengembangan untuk waktu yang lama. sehingga ilmu kedua orang itupun telah menjadi masak.

Ternyata akibatnya mengejutkan. Kedua orang itu terpental beberapa langkah. Ki Pandi jatuh terguling beberapa kali di tanah. Namun kemudian, ia sempat bangkit berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, meskipun dadanya terasa nyeri sekali. Rasa-rasanya, nafasnya menjadi sesak dan menyumbat kerongkongannya.

Lawannyapun mengalami keadaan yang sama. Bahkan lawannya tidak lagi mampu bergerak setangkas Ki Pandi. Ketika ia sempat bangkit, terasa sendi-sendi tulangnya bagaikan terlepas. Untuk beberapa saat, Ki Pandi menunggu. Namun Ki Pandi masih harus berusaha mengatasi rasa sakitnya, sebagaimana lawannya.

Namun agaknya, kecurigaan Ki Ajar beralasan. Dalam keadaan yang belum mantap, lawan Ki Pandi itu tiba-tiba sudah mempersiapkan serangannya. Demikian cepatnya. Tidak diarahkan kepada Ki Pandi, tetapi diarahkan kepada Ki Ajar dan dua orang anak muda yang berdiri agak dibelakangnya.

Serangan itu ternyata datang begitu cepatnya. Namun Ki Ajar yang telah menjadi curiga sejak orang itu setiap kali memandang kearahnya, ternyata telah bersiap pula. Meskipun ia tidak memiliki ilmu yang sama, tetapi Ki Ajar-pun mampu melontarkan ilmunya pula, mirip dengan ujud dan ungkapan ilmu orang itu, meskipun sumber ilmu dan kekuatannya berbeda.

Karena itu, demikian saudara seperguruan orang bongkok itu menyerangnya, ia melontarkan serangannya pula dengan sepenuh kekuatan dan kemampuan ilmunya. Sekali lagi terjadi benturan dahsyat. Bahkan Ki Pandi yang terkejut melihat serangan yang curang itu, telah melepaskan serangannya pula kearah lawannya. Demikian tiba-tiba, didorong oleh kemarahan yang semakin membakar jantung, melihat kecurangan itu.

Benturan yang dahsyat itu ternyata telah menghancurkan bagian dalam saudara seperguruan Ki Pandi yang masih dalam keadaan belum siap benar, serta tubuhnya yang masih belum mapan setelah membentur ilmu Ki Pandi. Sementara itu, kecuali keadaan Ki Ajar yang masih tegar dan utuh, juga karena Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya untuk melontarkan segenap kemampuan ilmunya. Kecuali itu, ilmu Ki Ajar memang lebih tinggi dari ilmu orang itu.

Dalam keadaan yang demikian, serangan Ki Pandi, yang meskipun dengan tiba-tiba dan tidak sempat mengerahkan segenap sisa kekuatannya, ternyata ikut menentukan. Saudara seperguruan Ki Pandi yang terlempar oleh benturan ilmu yang tidak seimbang dengan ilmu Ki Ajar itu, telah pula dikenai serangan orang bongkok itu. Karena itu, demikian orang itu terjatuh ditanah, maka ia hanya sempat menggeliat. Mati.

Manggada dan Laksana yang menyaksikan pertempuran itu, menjadi berdebar-debar. Ternyata apa yang diketahuinya selama mereka berada di perguruan, baru sebagian kecil dari dunia olah kanuragan. Ketika kemudian mereka sempat menjenguk cakrawala, maka yang dilihatnya adalah raksasa-raksasa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sejenak kemudian, keduanya masih saja termangu-mangu. Ki Ajar telah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati orang bongkok yang nampak menjadi sangat lemah, setelah ia menghentakkan sisa tenaganya.

"Duduklah” berkata Ki Ajar sambil menolong orang bongkok yang terhuyung-huyung kehabisan tenaga, sehingga sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Orang bongkok itupun kemudian telah duduk bersila. Sementara Ki Ajar berkata “Pergunakan kesempatan yang pendek ini untuk memperbaiki keadaanmu."

Ki Pandi mengangguk. Iapun kemudian telah menyilangkan kedua tangannya di dada, memusatkan nalar budi serta berusaha mengatur jalan pernafasannya. Sementara itu, Ki Ajar melangkah mendekati saudara seperguruan Ki Pandi yang terbaring diam.

Manggada lan Laksana dengan ragu-ragu mendekat pula. Sementara Ki Ajar berbisik " Orang ini telah mati”

Kedua anak muda itu memang melihat tubuh saudara seperguruan Ki Paridi menjadi agak kehitam-hitaman. Benturan ilmu yang tidak seimbang melawan ilmu Ki Ajar, telah membuat bagian dalam tubuhnya bagaikan terbakar.

"Ia termasuk orang yang berilmu tinggi” desis Ki Ajar "Tetapi ia tidak mempergunakan ilmunya untuk maksud-maksud yang baik. Ia telah terdampar kedalam padepokan yang mengagungkan ilmu sesat”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka harus mengakui bahwa orang yang terbunuh itu memang orang berilmu tinggi, sebagaimana orang yang bongkok itu, yang ternyata disamping ilmunya yang telah disaksikannya, ia mampu membuat ujud-ujud semu.

"Anak-anak muda” berkata Ki Ajar kemudian "Ternyata kalian telah mendapat kesempatan untuk menyaksikan dari dekat, betapa kasarnya dunia olah kanuragan itu”

Manggada dan Laksana bagaikan terbangun dari angan-angannya yang melambung dalam putaran pengenalannya itu, ketika Ki Ajar berkata “Lihatlah, siapakah yang masih ada di dalam. Hati-hatilah.

Kedua anak itu kemudian bergerak memasuki pintu rumah itu. Yang ada di ruang dalam adalah beberapa orang perempuan dan kanak-kanak yang ketakutan. Tetapi Manggada dan Laksana tidak mau terjebak di dalam rumah itu. Karena itu maka katanya “Silahkan semua orang keluar. Rumah ini harus dikosongkan”

Orang-orang yang ada di dalam rumah itu masih gemetar ketakutan. Tetapi Laksanalah yang kemudian membentak "Cepat keluar. Jika tidak, rumah ini akan aku bakar habis”

Bagaimanapun juga, betapa mereka gemetar dan ketakutan, akhirnya perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu keluar dari ruang dalam dan berkumpul di pendapa. Mereka terkejut ketika kemudian mengetahui bahwa orang tua yang bersembunyi di antara mereka telah terbunuh di halaman rumah itu.

"Orang itu sangat berbahaya” berkata Manggada.

"Orang itu” desis seorang perempuan.

"Katakan!" desak Manggada.

Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu justru terdiam. Sementara Ki Ajar Pangukan telah mendekati mereka pula.

"Jangan takut. Kami tidak akan berbuat jahat” berkata Ki Ajar.

Namun seorang perempuan sambil gemetar berkata perlahan "Tetapi kau bunuh orang itu”

"Orang itu adalah salah seorang dari mereka yang memimpin aliran sesat ini” berkata Ki Ajar.

"Tetapi ia tidak pernah berbuat jahat kepada kami” sahut perempuan itu.

"Mungkin. Tetapi jika orang-orang sejahat orang itu tidak disingkirkan, maka dunia ini tidak akan menjadi tenang” jawab Ki Ajar.

Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu terdiam. Sementara itu, Ki Ajar memberikan beberapa penjelasan kepada mereka untuk merelakan laki-laki itu pergi.

"Apakah laki-laki itu mempunyai sahabat dan kawan-kawan dekatnya yang tinggal di sekitar tempat ini?” bertanya Ki Ajar.

Tidak seorang pun yang menjawab.

"Yang akan kami lakukan adalah untuk kepentingan kalian semuanya. Untuk kepentingan seluruh padukuhan, bahkan kepentingan seluruh daerah seberang hutan Jatimalang” berkata Ki Ajar.

Perempuan-perempuan itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata “Ia bukan penduduk padukuhan ini. Ia datang dari padepokan induk dan tinggal di sini untuk bersembunyi”

"Apakah kau kenal oang itu sebelumnya?” bertanya Ki Ajar.

"Kami belum mengenalnya. Tetapi kami pernah melihatnya. Namun selama ia berada di sini, ia tidak menunjukkan sikap jahatnya” berkata perempuan-perempuan itu.

Ki Ajar termangu-mangu. Apapun yang dikatakan mereka, masih harus diteliti latar belakang kehidupan perempuan-perempuan itu. Agaknya, mereka berada dalam pengaruh kepercayaan yang sesat itu. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat dengan mudah memberikan penjelasan tentang peristiwa yang baru saja terjadi

Karena itu, maka Ki Ajar pun kemudian berkata kepada Manggada dan Laksana "Kita memang memerlukan waktu. Lebih baik kita tinggalkan dahulu tempat ini”

"Bagaimana dengan tubuh itu?” bertanya Manggada.

"Kita letakkan saja di pendapa. Nanti, kita akan minta para prajurit menyelesaikannya” berkata Ki Ajar.

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Namun mereka harus mengangkat tubuh itu dan meletakkannya di pendapa.

"Orang ini tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi” berkata Ki Ajar "Biarlah ia di sini. Nanti kami akan mengambilnya dan menguburkannya. Tugas kami belum selesai”

Demikianlah, maka Ki Ajar, orang bongkok itu, Manggada dan Laksana, meninggalkan tempat itu. Mereka dengan tergesa-gesa menuju ke induk padepokan dengan mengikuti jejak para prajurit Pajang.

Namun ketika mereka sampai ke padukuhan induk, tempat itu telah bersih. Tidak terjadi pertempuran dan tidak terjadi kekerasan. Agaknya para penghuni padepokan induk itu sempat melarikan diri.

"Tetapi sebagian besar dari mereka tentu sudah ada di tangan para prajurit, ketika kita bertempur melawan mereka di sekitar rumah Ki Ajar” berkata pemimpin prajurit Pajang itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Bagaimana dengan padepokan induk ini? Kita tentu tidak menghendaki lambang kehadiran kepercayaan yang sesat ini.”

Pemimpin prajurit Pajang itupun mengangguk-angguk. Katanya “Kita akan menghancurkannya, sebagaimana kita menghancurkan tempat dan peralatan upacara itu”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Aku sependapat. Padepokan induk ini harus dihancurkan. Di dalam padepokan ini, masih juga terdapat alat-alat upacara dari kepercayaan sesat itu. Sanggar dan beberapa macam kelengkapannya”

Demikianlah. Sejenak kemudian, pemimpin prajurit Pajang itupun memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk menghancurkan padepokan itu.

"Tidak boleh ada satu jenis benda upacara yang boleh dimiliki oleh siapapun juga" perintah Senopati itu.

Para pemimpin kelompok telah diperintahkan untuk mengadakan pengawasan yang ketat. Di dalam beberapa ruang khusus, memang terdapat beberapa benda upacara yang mahal nilainya. Ada yang dibuat dan tembaga, perak dan bahkan ada yang dibuat dari logam yang berlapis emas.

Seorang prajurit yang sudah siap dengan obor ditangap, justru membeku diam ketika ia melihat sebuah patung kecil yang berwarna kuning mengkilap di sebuah bilik yang tertutup.

"Patung itu tentu terbuat dari emas” desisnya. Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Senopati prajurit Pajang telah berdiri di belakangnya. Nampaknya bilik tertutup di ruang yang paling dalam itu, telah menarik perhatiannya pula.

"Patung itu emas!” desis prajurit itu.

"Ya” berkata Senopati itu " Tetapi itu adalah lambang dari kesesatan. Kau lihat wajah dari patung yang mengerikan itu? Meskipun dari emas, tetapi memancarkan cahaya kegelapan. Emas itu sendiri adalah logam yang berharga. Tetapi patung itu adalah benda yang harus dimusnahkan. Patung yang oleh orang-orang berkepercayaan sesat ini telah disembah dan diagungkan. Seolah-olah patung itu mampu memberikan sesuatu kepada Panembahan Lebdagati dan penganut-penganutnya. Patung itu adalah berhala”

Prajurit itu termangu-mangu. Sementara Senopati itu berkata “Kau lihat landasan patung itu?”

Prajurit itu ternyata tidak memperhatikan sama sekali landasan patung yang terbuat dari emas itu. Baru kemudian ia sadar, bahwa landasan patung itu adalah sebuah tengkorak yang telah dibalut dengan tembaga sehingga yang nampak sepintas adalah sebuah landasan patung yang bagus buatannya.

"Tengkorak!” desis prajurit itu.

"Ya. Agaknya lambang dari kepercayaan ini adalah tengkorak” berkata Senopati itu.

"Bukan!" terdengar suara dibelakang mereka. Senopati itupun berpaling. Ki Ajar dan orang bongkok itu tejah berdiri di belakang mereka, di luar pintu.

Senopati itu menarik nafas dalam-dalam. Ruang itu terasa pengab. Sementara sebuah lampu minyak menyala di atas patung kecil itu. Bayangan di wajah patung itu, memang membayangkan cahaya hitam dari dunia kegelapan.

"Jadi, apakah lambang dari kepercayaan ini?” bertanya Senopati itu.

"Kegelapan itu sendiri. Seperti yang nampak pada wajah patung itu. Tengkorak bagi mereka adalah lambang kekuatan. Mereka percaya bahwa dengan menyimpan tengkorak yang khusus, mereka akan mendapatkan kekuatan baru di dalam dirinya. Aku justru menjadi curiga, bahwa tengkorak yang ada di ruang ini tidak hanya satu, landasan patung itu" berkata Ki Ajar.

Senopati itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Ajar ilan orang bongkok itu masuk ke dalam. Ternyata Manggada dan Laksana pun telah ada di situ pula. Tetapi mereka tetap berdiri di luar bilik yang tidak terlalu luas itu. Semen-lara itu, Ki Ajar minta agar ia tidak memasuki bilik itu.

Beberapa saat Ki Ajar meneliti isi ruangan itu. Kemudian ia mulai meraba kain putih yang menjadi alas tempat landasan patung itu diletakkan. Kain putih itu telah menyelubungi semacam peti yang besar yang nampaknya tidak pernah disentuh oleh orang lain kecuali Panembahan sendiri.

Dengan hati-hati. Ki Ajar telah menyibakkan selubung itu. Ternyata isi dari kotak yang besar itu sangat mengejutkan. Beberapa buah tengkorak. Ki Ajar segera melepaskan selubung itu. Sambil berdiri ia berdesis,

"Bukan main. Tengkorak itu mengingatkan aku kepada korban-korban yang telah terbunuh oleh keris Panembahan yang diharapkannya akan dapat menjadi pusaka terbaik di dunia ini”

Orang bongkok itu kemudian berjongkok dan sekali lagi membuka selubung itu. Bahkan ia telah mengambil sebuah di antara tengkorak-tengkorak itu dan meneranginya dengan lampu yang terdapat di ruang itu. Tetapi nampaknya orang bongkok itu tidak puas. Katanya kemudian "Bawa obor itu kemari”

Prajurit yang sudah siap dengan obor untuk membakar seluruh isi padepokan induk itupun mendekat. Dengan nyala obor yang kemerah-merahan itu diteranginya tengkorak yang diambil dari balik selubung di dalam kotak yang besar, yang menjadi alas landasan patung itu.

Terdapat beberapa goresan pada dahi tengkorak itu, yang ternyata adalah sebuah nama "Pranti”

Ketika orang bongkok itu mengambil lagi yang lain, maka di dahinya terdapat pula nama "Warsi”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Tengkorak itu adalah tengkorak gadis-gadis yang dikorbankan untuk kepentingan kepercayaan sesat ini...”

Ki Ajar mengangguk-angguk kecil sambil mengusap dadanya...

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 11

Menjenguk Cakrawala Bagian 10

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SH Mintardja
Panembahan Lebdagati memandanginya dengan kerut di kening. Dengan geram ia bertanya " siapa kau yang telah mengenal aku?”

"Aku adalah Ajar Pangukan. Panembahan tentu belum pernah mengenal namaku” jawab Ki Ajar.

"Apa hubunganmu dengan hilangnya gadis yang sedang dalam upacara penobatan menjadi ratu kami semalam? Dan apa pula hubunganmu dengan prajurit prajurit Pajang itu?” bertanya Panembahan Lebdagati.

"Aku adalah salah seorang yang tersinggung karena Panembahan telah menempuh satu jalan sesat mengganggu. ketenangan hidup orang banyak. Bahkan Panembahan telah berani mengorbankan gadis-gadis tiap bulan purnama, untuk melakukan pemujaan sesat seperti yang semalam Panembahan lakukan” jawab Ki Ajar.

"Siapa yang berani menyebut aliran kepercayaanku itu sesat? Aku telah menempuh kebenaran sejati sesuai dengan perintah Dewa tertinggi kami. Dengan laku yang diperintahkannya, maka aku akan memiliki pusaka yang akan dapat membelah Gunung dan mengeringkan lautan. Aku akan menjadi orang terkuat di dunia. Tidak ada seorangpun yang akan dapat mengalahkan aku"

Panembahan itu berhenti sejenak, lalu " Dengan tingkah laku kalian, maka aku telah mundur setengah tahun lagi. Aku harus mengulanginya dan membunuh lagi enam orang gadis setiap bulan purnama, sebagai ganti gadisku yang hilang semalam, serta gagalnya upacaraku. Kematian keenam orang gadis itu, adalah tanggung jawabmu karena kau telah memaksa aku untuk melakukannya lagi”

Tetapi Ki Ajar tersenyum sambil berkata. “Itu tidak perlu Panembahan, karena hari ini Panembahan akan ditangkap”

Panembahan Lebdagati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya sambil tertawa" Ajar Pangukan. Siapakah sebenarnya kau, sehingga berani berkata seperti itu? Apa hakmu dan apakah landasan kekuatanmu menangkap aku?”

"Aku adalah Ajar Pangukan seperti yang Panembahan lihat. Tetapi aku di sini bekerja sama dengan prajurit Pajang, yang tidak berkenan menyaksikan tingkah lakumu. Kangjeng Sultan Pajang menganggap kau bersalah. Setidak-tidaknya, menduga kau melakukan kesalahan. Karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan pada Kangjeng Sultan Pajang, atau orang yang akan ditunjuk mengadilimu”

Panembahan itu masih saja tertawa. Katanya “Kau kira aku menjadi gentar mendengar nama Sultan Pajang? Kau kira Jaka Tingkir, gembala yang kebetulan dapat menarik perhatian putri Sultan Trenggana Demak, harus ditakuti?”

"Tidak Panembahan. Kau tidak usah berhadapan dengan Jaka Tingkir, atau yang lebih dikenal dengan nama Mas Karebet itu. Meski kau tidak segarang Kebo Danu dari Banyubiru, yang kepalanya pecah karena benturan tangan Mas Karebet, tapi di sini pasukan Pajang telah siap menghancurkan padepokanmu. Padepokan sesat yang mengabdikan kepercayaannya pada iblis dan kekuatan hitam lainnya” jawab Ki Ajar.

Tetapi suara tertawa Panembahan itu semakin keras. Kemudian bahkan bagaikan menggetarkan lereng Gunung. Gemanya memantul, memukul setiap jantung orang yang ada di medan pertempuran itu.

Ki Ajar harus mengerahkan daya tahannya untuk melawan getaran gema suara Panembahan yang menghentak-hentak berlipat ganda dari suara tertawanya sendiri.

Manggada, Laksana dan para petugas dari Pajang pun harus melakukannya pula. Namun ternyata getaran itu demikian kerasnya memukul setiap dada. Ki Wiradadi merasa betapa jantungnya bagaikan berhenti bekerja. Demikian pula para prajurit Pajang yang berada dimedan itu.

Para pengikut Panembahan itu telah mendapat petunjuk, apa yang harus mereka lakukan agar jantung mereka tidak rontok. Mereka telah mendapat. latihan bagaimana menutup lubang pendengaran dengan mengatur pernafasan. Dengan demikian, oleh pengaruh suara tertawa yang bergulung-gulung itu, para prajurit Pajang menjadi banyak mengalami kesulitan.

Di saat mereka harus berjuang melawan getaran suara menghentak jantung itu, mereka juga harus melawan ayunan pedang dan tombak dari para pengikut Panembahan yang berilmu sesat itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar yang tidak banyak terpengaruh oleh getaran gema suara tawa Panembahan itu, karena daya tahannya sangat tinggi, berkata “Panembahan, kau ternyata bukan seorang laki-laki sejati. Seseorang dapat saja menjadi pengikut ilmu yang benar atau seorang yang berilmu sesat, namun bersifat laki-laki sejati”

"Apa maksudmu?” bertanya Panembahan itu di sela-sela derai suara tawanya.

"Kita berhadapan sebagai laki-laki. Kau dan aku. Kau jangan mempengaruhi orang-orang yang tidak memiliki ilmu sejajar kita dengan cara licik itu” berkata Ki Ajar.

Panembahan itu tertawa semakin keras. Katanya “Kau yang licik. Kau ingin menyelamatkan orang-orangmu, dan para prajurit Pajang. Biarlah mereka musnah di padepokan ini. Dengan demikian, untuk selama-lamanya Pajang tidak akan berani melakukannya lagi”

Panembahan itu sama sekali tidak mengendorkan serangan suara tawanya. Sementara itu, para pengikutnya bertempur semakin sengit. Pada saat-saat korban di pihak prajurit Pajang mulai berjatuhan karena tekanan suara dan senjata lawan, tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking tinggi.

Sebuah lagu menyayat terlontar dari seruling itu, langsung mengguncang udara. Getaran nada tinggi itu, rasa-rasanya telah membentur gema suara tawa Panembahan yang lebih dahulu menggetarkan udara di lereng pegunungan itu.

Dua jenis getaran saling membentur. Namun dengan demikian, kedua getaran itu saling menyerap, sehingga pengaruhnya semakin lama semakin kecil. Dengan demikian, prajurit Pajang, yang hampir kehilangan kemampuan perlawanannya, telah bangkit kembali. Maka pertempuranpun menjadi bergejolak kembali. Semakin lama semakin sengit.

Panembahan Lebdagati mengumpat keras. Ia tidak tertawa lagi karena ia sadar, bahwa hal itu tidak akan ada gunanya. Ia kemudian berpaling ke arah sumber suara seruling, yang menghentak-hentak dengan nada tinggi itu. Panembahan mengerutkan keningnya. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi ikut terkejut. Bahkan Ki Ajar memandanginya dengan heran.

"Luar biasa” desis Manggada " ternyata orang bongkok itu memiliki ilmu sangat tinggi”

Sementara, Ki Ajar berkata kepada diri sendiri. "Sudah begitu lama ia bersamaku. Ternyata selama itu ia telah mampu meningkatkan ilmunya sampai tataran yang tertinggi, di luar pengamatanku. Agaknya di saat-saat aku berada di dalam sanggar, si Bongkok menempa dirinya. Ia memang telah membawa bekal ilmu ketika datang kepadaku. Namun yang tidak aku ketahui, tingkat perkembangannya kemudian”

Ki Ajar memang menganggap orang bongkok itu tidak terlalu berminat meningkatkan ilmu dasar yang telah dimilikinya. Ia pun tidak bersedia mendapat bimbingan ilmu dari Ki Ajar. Alasannya, dasar ilmu mereka memang berbeda, sehingga si Bongkok harus menempuh jalan tersendiri untuk menyesuaikan dasar-dasar ilmunya.

Terbukti, orang bongkok itu mampu menangkal getaran gema suara tawa Panembahan, yang memang dengan sengaja dipergunakan menyerang lawan-lawannya.

Panembahan itu menjadi sangat marah. Karena itu, tangannya bergerak dengan tiba-tiba. Hampir tidak dapat diikuti dengan mata wadag. Juga karena demikian mendadak.

Sebuah serangan telah menyambar orang bongkok yang sedang duduk di atas batu padas, di lereng yang agak tinggi. Seperti yang pernah dilakukan, maka batu padas itu seakan-akan telah meledak.

Tetapi orang bongkok itu tidak terlempar seperti kedua prajurit Pajang yang meniup sangkakala sebagai isyarat bagi para prajurit Pajang yang lain. Orang bongkok itu dengan tangkas telah meloncat dan berdiri di atas batu padas beberapa langkah dari tempatnya semula.

"Setan, kau bongkok!" Panembahan itu berteriak.

"Apakah kau masih ingat kepadaku?” tiba-tiba saja si Bongkok bertanya dengan nada tinggi.

"Kenapa kau belum mati?” bertanya Panembahan itu.

"Kenapa kau sekarang menyebut dirimu Panembahan? Semula aku kurang yakin bahwa Panembahan Lebdagati yang berilmu sesat itu adalah kau. Tetapi ternyata yang aku saksikan adalah benar. Kaulah yang menyebut dirimu Panembahan, yang ingin menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi. Setidak-tidaknya, diatas tanah ini” berkata orang bongkok itu.

"Sekarang aku sudah berada di sini” berkata Panembahan itu "Mau tidak mau, kau harus mengakui keberadaanku di sini sebagai penguasa yang tidak tergoyahkan. Jika kau juga berada di sini, maka kau telah menempuh satu perjalanan maut. Sebab, hanya akulah yang boleh tinggal hidup di antara kita. Kau dapat meloloskan diri saat itu, tetapi sekarang justru kematianmu, atas kemauanmu sendiri”

Si Bongkok tertawa. Katanya “Kita berbekal ilmu yang sama. Kita bersama-sama menempa diri untuk waktu yang panjang. Sepuluh tahun atau lebih. Kau tempuh jalan sesat dengan membunuh gadis-gadis. Kau kira dengan demikian, kau akan mendapatkan satu pusaka yang membuatmu menjadi orang terkuat di dunia? Semuanya akan gagal. Aku yang mencarimu selama ini, telah menempatkan diriku di bawah perlindungan Ki Ajar Pangukan. Orang yang sekarang berhadapan dengan kau. Ia memiliki ilmu yang tidak ada duanya, tanpa harus menempuh jalan sesat dan membunuh gadis-gadis”

"Setan kau" geram Panembahan itu pula "Seharusnya aku menemukan kau sebelumnya, dan menghabiskan sisa tikus-tikus busuk dari padepokan kita, sehingga akulah satu-satunya orang yang masih. Tetapi kau bersembunyi dengan rapat”

"Seandainya kita bertemu sebelumnya, belum tentu jika kau akan menjadi orang satu-satunya yang hidup. Mungkin aku yang akan tetap hidup” berkata si Bongkok itu.

Panembahan itu menggeram. Sekali lagi, tangannya bergetar. Sebuah serangan tiba-tiba telah menghantam tebing. Namun sekali lagi, si bongkok terlepas dari serangan itu. Ia telah berdiri di atas batu padas, beberapa langkah dari tempat berdirinya semula.

Sekali lagi. Panembahan itu mengumpat. Sementara itu, pertempuran telah berlangsung semakin sengit. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi tidak lagi harus berjuang sendiri. Mereka kini bersama-sama dengan dua orang berilmu sangat tinggi, serta sepasukan prajurit Pajang yang kuat.

Karena itu, hati Ki Wiradadi menjadi besar. Ia semakin berharap bahwa Yang Maha Agung akan melindungi anaknya dengan lantaran kekuatan yang sangat besar itu. Sekaligus untuk menumpas kekuatan yang beralaskan ilmu sesat.

Sebenarnyalah, bahwa para prajurit Pajang telah menemukan landasan yang kokoh untuk memecahkan perlawanan orang-orang berilmu sesat itu. Mereka telah berhasil memecah kekuatan para pengikut Panembahan menjadi kelompok-kelompok kecil yang terpencar. Terutama mereka yang masih berada di seberang tanggul sempit, yang telah dipecahkan oleh Panembahan itu.

Dengan demikian, prajurit Pajang nampaknya mulai menguasai medan. Perlawanan orang-orang berilmu sesat itu, menjadi semakin terdesak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang seakan-akan tidak berjantung. Meskipun sudah terdesak, dan terpecah-pecah, namun mereka masih saja bertempur tanpa mengenal menyerah. Bahkan rasa-rasanya, mereka bukan lagi orang-orang yang mengenal takut, tetapi benar-benar tidak berperasaan.

Orang-orang yang terluka, bahkan yang parah sekalipun, sama sekali tidak terdengar mengaduh. Hanya sekali-sekali terdengar berdesis, dan menyeringai menahan sakit.

Panembahan itupun akhirnya melihat juga, bahwa orang-orangnya semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Sementara itu sangat mengganggu perasaannya. Karena itulah, Panembahan Lebdagati berkata lantang "Kalian memang tidak mempunyai pilihan. Aku terpaksa membunuh kalian dengan caraku”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Sementara Ki Ajar yang berdiri di hadapan Panembahan itu, berkata “Panembahan. Kau sudah tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah. Para prajurit Pajang, dengan kekuatan besar, telah menguasai seluruh medan. Orang-orangmu telah terdesak dan terpecah-pecah. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh dan terluka parah. Jika kau berkeras untuk bertempur terus, maka kematian akan bertambah, sehingga kaulah yang harus bertanggung-jawab”

"Persetan. Kenapa tiba-tiba saja kau menggurui aku?” sahut Panembahan itu "bersiaplah untuk mati. Kau dan orang-orangmu. Jika orang-orangku ikut mati, itu adalah salah mereka sendiri”

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja dilihatnya Panembahan itu bergeser surut. Namun kemudian Panembahan itu telah mengambil sesuatu dari dalam kantong yang tergantung pada ikat pinggangnya yang besar. Ternyata sebuah bumbung yang agak panjang. Dengan serta merta, Panembahan itu telah membuka tutup bumbung itu dan kemudian memutar bumbung itu di udara.

Dari dalam bumbung itu, keluar asap berwarna kekuning-kuningan. Asap yang mengepul dan kemudian menghambur ke sekitarnya, semakin lama semakin meluas ke seluruh medan.

Dengan cemas, orang bongkok itu berteriak "Tahan pernafasan kalian, sejauh dapat kalian lakukan. Serbuk racun itu dapat membunuh kalian perlahan-lahan”

Sebenarnyalah, serbuk itu akan dapat membuat orang menjadi lemas. Serbuk yang berwarna kekuning-kuningan itu akan terhisap beserta tarikan nafas, dan meracuni bagian dalam tubuh.

Panembahan, itu kemudian tertawa berkepanjangan sambil berkata “Kalian tidak akan dapat menahan nafas untuk waktu yang terlalu lama. Serbuk racunku akan bekerja sehari semalam”

Dalam pada itu, orang bongkok di lereng bukit itu berteriak" Pergunakan kain apa saja untuk menutup hidungmu, setidak-tidaknya mengurangi racun yang masuk lewat pernafasanmu”

Orang yang mendengar teriakan itu telah mempergunakan kain apa saja. Kain panjangnya, ikat kepalanya, atau bajunya untuk menutupi hidung mereka. Setidak-tidaknya akan mampn memperpanjang daya tahan mereka.

Tetapi dalam pada itu, Ki Ajar tidak saja membiarkan hal itu terjadi. Ia sendiri tidak menutup hidungnya dengan apapun. Namun justru bergeser surut serta memusatkan nalar budinya. Bahkan Ki Ajar itu telah menyilangkan tangan di dadanya.

Satu pertempuran ilmu yang menggetarkan. Ternyata tanpa ada mendung dan tanpa ada angin, tiba-tiba saja telah bertiup angin pusaran. Angin pusaran yang bagaikan tumbuh dari arah rumah kecil yang di huni oleh Ki Ajar itu, dan mengalir berputaran. Asap yang kuning itupun terhisap dan ikut berputar membumbung tinggi ke langit. Sejenak kemudian, udara di medan itu menjadi bersih kembali. Angin pusaran itu kemudian lenyap mengalir hilang.

"Racun yang berbahaya” berkata Ki Ajar "aku tidak dapat meniup racunmu begitu saja, karena jika racunmu itu mengalir ke hutan, maka binatang-binatangpun akan mati. Karena itu, aku harus mengangkatnya dan menebarkannya di udara yang tinggi. Dengan demikian, jika racun itu turun dalam tebaran yang luas, maka bahayanya telah susut, karena kadarnya menjadi jauh lebih kecil”

"Gila kau Ki Ajar!" geram Panembahan yang menjadi sangat marah itu "seharusnya aku membunuhmu lebih dahulu”

Ki Ajar masih akan menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Panembahan itu telah menyerangnya, sehingga keduanya terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Panembahan itu berloncatan sambil menyerang dengan tenaga raksasa. Sementara Ki Ajar, telah mengerahkan tenaga cadangannya, sehingga ayunan tangannya rasa-rasanya akan dapat memecahkan batu hitam.

Dengan demikian, pertempuran antara kedua orang itu semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga keduanya bagaikan beterbangan di arena pertempuran yang dahsyat itu.

Orang bongakok itu masih berada di lereng yang agak tinggi. Dengan seksama, ia mengikuti pertempuran antara kedua orang tua yang semakin lama menjadi semakin seru itu. Sebagai saudara seperguruan dengan Panembahan itu, ia tahu kekuatan dan kelemahan dari Panembahan yang ternyata telah menempuh jalan sesat untuk meningkatkan ilmunya, karena ingin jadi orang terbaik di seluruh muka bumi.

Tetapi ternyata. Ki Ajar mempunyai landasan ilmu luar biasa. Meskipun Panembahan itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, ia tidak mampu mendesak, apalagi mengalahkan Ki Ajar. Akhirnya, Panembahan itu merambah ilmunya yang menggetarkan.

Ketika keduanya sedang bertempur dengan serunya, tiba-tiba saja Panembahan itu meloncat mengambil jarak. Dengan segera Ki Ajar menyadari, apa yang akan dilakukan Panembahan itu. Karena itu, Ki Ajar pun bersiap dengan landasan ilmunya pula.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Panembahan itu telah meluncurkan serangannya dengan mengacungkan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Ki Ajar.

Namun Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tanpa meloncat mengerahkan tenaga, Ki Ajar telah bergeser dari tempatnya. Seakan-akan tubuhnya terdorong menyamping beberapa langkah dengan sikap yang tidak berubah.

Serangan Panembahan yang tidak mengenai sasaran itu, meluncur dan menghantam rumpun bambu di sebelah rumah Ki Ajar. Rumpun bambu itu bagaikan telah meledak, dan pohon-pohon bambu tumbang berserakan.

"Luar biasa!" bagaimanapun juga Ki Ajar mengakui betapa dahsyatnya ilmu Panembahan itu.

Demikian pula orang bongkok yang menyaksikannya. Karena itu, ia pun meloncat semakin rendah. Jika terjadi sesuatu, ia akan dapat segera membantu Ki Ajar. Mungkin ia akan dapat membantu dalam serangan bersama-sama, untuk mematahkan perlawanan Panembahan berilmu tinggi itu. Meskipun pada suatu saat takaran ilmu Panembahan itu sama tingginya dengan orang bongkok itu, tetapi justru dengan jalan sesat, ilmu Panembahan jtu telah semakin meningkat, meskipun belum dapat dikatakan terbaik.

Tetapi Panembahan itu harus melihat kenyataan, bahwa serangannya tidak mampu membunuh orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu. Dengan mudah, Ki Ajar Pangukan mampu menghindari serangan ilmunya yang dahsyat, sebagaimana orang bongkok di lereng tebing itu.

Panembahan itu mengumpat kasar. Darahnya yang telah dialiri ilmu sesat, bagaikan mendidik. Karena itu, yang membayang di angan-angannya tidak ada lain kecuali membunuh. Karena serangan-serangannya tidak mampu membunuh Ki Ajar dan orang bongkok itu, serta racunnya sudah terhambur dan tidak berarti sama sekali, maka Panembahan berilmu sesat itu mencabut kerisnya. Keris yang setiap purnama menghisap darah gadis-gadis. Keris yang akan dijadikan pusaka untuk mendukung nafasnya menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi.

Ki Ajar menjadi berdebar-debar melihat keris yang dilekati dengan darah yang telah membeku. Darah yang semakin lama menjadi semakin tebal itu.

"Kau akan menjadi pengganti gadisku yang hilang semalam" geram Panembahan yang berilmu sesat itu "mudah-mudahan darahmu juga punya arti bagi kerisku ini. Meskipun keris ini belum sepenuhnya puas minum darah gadis-gadis, tetapi kekuatannya sudah melampaui semua keris di seluruh dunia. Karena itu, di hadapan keris ini, semua kekuatan dan kemampuanmu akan menjadi beku. Kau akan tunduk kepadaku dan membiarkan aku menikam dadamu. Kau akan berlutut dan tidak mampu melakukan perlawanan”

Ki Ajar termangu-mangu. la mendengar kata-kata Panembahan itu. Suara itu rasa-rasanya melingkar-lingkar di dadanya. Sementara Panembahan itu telah mengangkat kerisnya di atas dahinya.

"Ki Ajar” berkata Panembahan itu. "Dengar kata-kataku. Tidak ada orang yang mampu melawan kerisku. Kaupun tidak. Kau akan diam membeku dan membiarkan aku membunuhmu."

Suara itu begitu tajam menusuk telinga Ki Ajar. Kemudian, jantungnya terasa berdebar semakin cepat. Suara itu, adalah bagian dari ilmu Panembahan, yang mampu mempengaruhi dan membuat lawannya seakan-akan menjadi beku.

Selangkah demi selangkah Panembahan itu mendekat dengan keris yang masih diangkat di atas dahinya. Sementara itu, pertempuran di sekitarnya menjadi semakin seru, mendekati saat-saat terakhir. Orang-orang berilmu sesat yang putus asa, telah bertempur seperti orang mabuk, tanpa menghiraukan pengamatan-pengamatan yang diberikan oleh para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, orang bongkok itu memperhatikan sikap Ki Ajar dengan cemas. Seakan-akan Ki Ajar telah terbius oleh ilmu Panembahan yang kemudian mengangkat kerisnya semakin tinggi. Bahkan selangkah demi selangkah. Panembahan yang jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan itu menjadi semakin dekat.

Orang yang bongkok itu tiba-tiba saja telah meloncat ke atas sebongkah batu. Dilekatkannya serulingnya di bibirnya. Ia tidak mempunyai cara tertentu untuk membangunkan Ki Ajar dari kebekuannya. Dengan mengguncang jantungnya, ia berharap Ki Ajar akan terbangun.

Namun sebelum orang bongkok itu sempat meniup seruling, ia terkejut. Kedua orang berilmu tinggi itu ternyata telah menentukan bagian terakhir dari pertempuran itu. Pada saat Panembahan itu berdiri dua langkah dihadapan Ki Ajar yang nampaknya benar-benar telah membeku itu, maka diangkatnya kerisnya tinggi-tinggi. Panembahan itu sudah siap untuk membunuh lawannya dengan menghujamkan keris itu dijantung lawannya.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sebelum Panembahan itu menyarungkan kerisnya kedada lawannya, maka tiba-tiba saja Ki Ajar telah melemparkan beberapa paser kecil justru keleher Panembahan Lebdagati yang telah siap membunuhnya.

Panembahan itu benar-benar terkejut. Ia tidak mengira bahwa Ki Ajar yang disangkanya telah membeku itu masih mampu menyerangnya. Sehingga karena itu, maka Panembahan yang sudah berdiri terlalu dekat itu tidak sempat mengelak. Dua buah paser kecil menancap dilehernya. Satu lagi di dadanya dan satu dipundaknya. Selangkah Panembahan itu bergeser surut. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Dendam dan kebencian mewarnai sorot matanya.

"Kau licik Ajar gila!" geram Panembahan Lebdagati itu "Kau telah mencoba meracuniku”

Ki Ajar itu berdiri termangu-mangu. Ia melihat Panembahan itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. "Aku tidak mempunyai pilihan lain Panembahan” jawab Ki Ajar.

Tetapi Ki Ajar itu terkejut. Dengan tangan kirinya Panembahan Lebdagati telah mencabuti paser-paser kecil yang memang mengandung racun itu. Sejenak Panembahan itu seakan-akan memusatkan kekuatan lahir dan batinnya. Kemudian, Panembahan Lebdagati telah menghentakkan kekuatannya.

Dari luka-lukanya yang beracun oleh paser-paser kecil itu telah memancar darah yang berwarna kehitam-hitaman. Namun kemudian darah itu telah berubah menjadi merah. Panembahan Lebdagati itupun kemudian telah meraba daun kerisnya yang bergetar. Seakan-akan sesuatu telah mengalir dari kerisnya itu ke tubuhnya.

Sejenak kemudian darah yang mengalir itu telah berhenti dengan sendirinya. Racun didalam darahnya yang masuk lewat jarum-jarum paser itu ternyata telah dapat dihentakkan keluar. Panembahan itu tersenyum. Katanya “Usahamu yang licik itu tidak akan berarti Ki Ajar. Akan datang saatnya, aku membalasnya. Aku akan menusukmu tidak dengan paser-paser kecil. Tetapi dengan ujung kerisku”

Tetapi Ki Ajar telah menjawab. “Kau memang mampu memusnahkan racun itu dari dalam tubuhmu Panembahan. Tetapi sebagaimana kita ketahui, darah kita sangat terbatas. Kita tidak dapat membuat darah dalam waktu sekejap. Karena itu, sebanyak darahmu keluar, sebanyak itu pula kekuatanmu berkurang. Kau tidak dapat membuat aku beku seperti yang kau maksudkan, Panembahan. Jika aku diam, bukan berarti bahwa kekuatanmu mampu mencengkam jantungku” berkata Ki Ajar.

"Aku tahu.” jawab Panembahan itu "kau sengaja berdiam diri sambil menunggu aku mendekat. Itu termasuk cara licikmu untuk membunuhku. Tetapi kaupun gagal”

"Aku memang gagal Panembahan. Tetapi dalam keseluruhan kami berhasil. Kami telah dapat menghancurkan seluruh kekuatanmu. Kekuatan sesatmu. Sebentar lagi kau akan tahu sendiri. Sudah tentu kau tidak akan mampu melawan kami. Aku, orang bongkok yang ternyata saudara seperguruanmu meskipun kemudian kau meningkatkan ilmumu dengan cara yang sesat. Kemudian para perwira Pajang dan anak-anak muda yang baru mengasah ilmunya itu. Disamping itu, si Bongkok itu mempunyai dua ekor harimau yang akan dapat mengoyak kulitmu. Kau tidak dapat mempengaruhinya dengan ilmu sihirmu seandainya kau memiliki, karena harimau itu tidak mampu menangkap getaran yang mengganggu otaknya” jawab Ki Ajar.

"Persetan dengan igauanmu” jawab Panembahan itu. Namun Panembahan itu masih juga belum menyerang. Ia masih juga berkata “Kau boleh percaya atau tidak percaya bahwa aku sendiri akan dapat menaklukkan kalian semuanya tanpa orang-orangku”

"Kau mimpi” berkata Ki Ajar.

"Mimpi daradasih” jawab Panembahan Lebdagati "Kau tahu artinya mimpi daradasih. Sebagai seorang Ajar kau tentu mengetahui. Juga tanda-tanda mimpi daradasih itu”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Panembahan itu memang sudah mempersiapkan diri. Tetapi masih belum ada tanda-tanda untuk menyerang. Namun akhirnya Ki Ajar mengetahui bahwa Panembahan itu memang berusaha memperpanjang waktu. Dengan demikian, maka luka-lukanya akan benar-benar menjadi pampat.

Karena itu, maka Ki Ajarlah yang kemudian bergeser mendekat sambil berkata “Kita akan menguji, siapakah diantara kita yang terbaik. Kau dengan ilmu sesatmu atau aku!”

Panembahan Lebdagati tertawa. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi Ki Ajar tidak memberinya kesempatan. Dengan tangkasnya Ki Ajar pun telah menyerangnya.

"Iblis kau" geram Panembahan sambil mengelakkan serangan itu "Dengar. Aku masih akan memberimu beberapa penjelasan”

"Aku tidak memerlukan penjelasan” jawab Ki Ajar. Namun iapun telah meloncat sekali lagi menyerang Panembahan Labdagati.

Panembahan itu memang dengan mudah dapat mengelakkan serangan Ki Ajar. Namun serangan-serangan berikutnya adalah serangan kekuatan yang menggetarkan jantung. Selain kecepatannya yang sulit diimbangi, maka Ki Ajar juga mempunyai kekuatan bukan saja wadagnya. Tetapi kekuatan ilmu yang luar biasa besar.

Panembahan Lebdagati harus berloncatan menghindar, meskipun setiap saat pada kesempatan Panembahan itu telah mengajak berbicara. Tetapi Ki Ajar yang mengetahui maksud Panembahan itupun justru telah menyerang semakin cepat.

Akhirnya Panembahan itu terpaksa melayaninya. Iapun bergerak semakin cepat. Bahkan ketika ia tidak lagi melihat kemungkinan untuk memperpanjang waktu, maka Panembahan itu telah mengambil kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan lawannya itu secepatnya, sebelum darahnya mengucur lagi dari lukanya atau justru akan menghabiskan tenaganya.

Tetapi Ki Ajar ternyata mampu mengimbangi kecepatan gerak Panembahan Lebdagati. sehingga serangan-serangan Panembahan Lebdagati sama sekali tidak berhasil mengenainya.

Sementara itu. Panembahan Lebdagati yang marah itupun menjadi bimbang. Jika ia memaksa diri untuk melepaskan ilmunya, termasuk Gelap Ngampar. maka hentakan kekuatan ilmunya akan dapat mendorong darahnya mengalir lagi dari luka-lukanya.

Sementara itu, orang bongkok itu akan dapat menangkalnya dengan suara serulingnya. Sedangkan ilmunya yang lain, ternyata tidak mampu mengikat Ki Ajar dalam kebekuan. Karena itu. maka ia telah memikirkan kemungkinan yang lain. Ia dapat menyerang Ki Ajar dari jarak jauh. Namun hal itupun pernah dicobanya dan gagal. Bahkan orang bongkok itupun tidak dapat dikenainya dengan ilmunya itu.

Namun Panembahan itu harus berbuat sesuatu jika ia Lidak mau mati kehabisan darah. Untuk beberapa saat Panembahan Lebdagati masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. Keduanya saling menyerang. Namun seperti yang dicemaskan oleh Ki Ajar itu sendiri, darah dilukanya itu mulai mengalir lagi. Ia tidak sempat menutup luka-lukanya dengan kemampuan ilmunya, karena ia harus mengerahkannya untuk melawan Ki Ajar.

Dalam pada itu, para pengikut Panembahan itu telah benar-benar dilumpuhkan. Beberapa orang yang seperti orang kehilangan akal telah terbunuh. Beberapa orang yang lain terluka. Namun jarang sekali diantara mereka yang menyerah. Apalagi mereka yang sudah berada pada tataran yang cukup tinggi di lingkungan Panembahan Lebdagati.

Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi terpaksa dihadapi oleh beberapa orang sekaligus. Dalam pada itu Manggada dan Laksanapun telah bertemu dengan dua orang Putut dari padepokan raksasa yang tersembunyi itu. Untunglah keduanya telah membawa bekal yang cukup sehingga keduanya mampu bertahan untuk beberapa lama. Namun kemudian beberapa orang prajurit Pajang telah datang membantu.

Dalam keadaan itu, maka Panembahan Lebdagati benar-benar telah tersudut. Orang-orangnya yang justru terpercaya sekalipun tidak mampu menghadapi para perwira dari pasukan Pajang serta para petugas sandi yang memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi kemampuan orang-orangnya. Karena itu, maka sejenak kemudian Panembahan Lebdagati itu telah mengambil keputusan untuk sekali lagi mencoba menyerang lawannya dengan ilmunya yang dapat dilontarkannya dari jarak jauh.

Tetapi ternyata Panembahan Lebdagati tidak menghadapi keadaan itu dengan dada tengadah. Ketika ia menyerang Ki Ajar dengan lontaran ilmu, serta Ki Ajar bergeser menghindar, maka dengan mengerahkan tenaga cadangan didalam dirinya. Panembahan itu telah meloncat jauh-jauh surut.

Ki Ajar terkejut. Ia sadar, bahwa Panembahan Lebdagati akan menghindar dari medan. Karena itu, maka Ki ajarpun telah melakukan hal yang sama. Dengan menghentakkan tangannya, maka sebuah serangan yang dahsyat telah meluncur ke arah Panembahan yang memang mencoba menghindar dari pertempuran. Tetapi Panembahan Lebdagati mampu mengelak. Bahkan sekali lagi ia meloncat menjauhi Ki Ajar dengan loncatan panjang.

Orang Bongkok yang pernah menjadi saudara seperguruan Ki Lebdagati itupun tidak tinggal diam. Ia pun memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Sebagaimana dilakukan oleh Ki Lebdagati, maka orang bongkok itupun mampu menyerangnya dari jarak jauh.

Tetapi Panembahan itu masih mampu mengelakkan diri. Meskipun serangan datang dari dua orang yang memiliki atas perguruan yang berbeda, tetapi memiliki ilmu yang ujudnya hampir sama, namun Panembahan Lebdagati itu ternyata mampu melepaskan diri. Ia meloncat semakin jauh dan semakin tinggi pada tebing pebukitan yang seakan-akan menjadi dinding tempat terpencil itu. Bahkan akhirnya Panembahan Lebdagati itu telah menghilang.

Orang Bongkok beserta kedua ekor harimaunya telah mencoba mengejarnya. Tetapi ketika mereka sampai, ke panggung pebukitan, mereka sudah tidak melihat lagi, ke-maria Panembahan itu melarikan diri. Orang bongkok itu merasa kecewa sekali. Sumber malapetaka itu ternyata luput dari tangan orang-orang yang berusaha menghancurkannya.

Dengan menyesal ia telah kembali menemui Ki Ajar dan beberapa perwira prajurit Pajang. Merekapun merasa menyesal pula, bahwa buruan mereka berhasil melepaskan diri.

"Apa boleh buat” berkata Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya datang ketempat terpencil itu "Kita sudah berusaha sejauh mungkin. Tetapi kita ternyata kehilangan jejak”

"Aku minta maaf” berkata Ki Ajar.

"Ki Ajar sudah banyak sekali membantu” jawab Senapati itu. Tetapi katanya kemudian "Namun sebaiknya kita memasuki padepokan induk Panembahan Lebdagati. Mudah-mudahan ia singgah ke padukuhan induk itu”

Orang bongkok itu menggeleng. Katanya “Tentu tidak. lapun tahu bahwa kita tentu akan kesana. Tetapi sebaiknya kita mencobanya”

Demikianlah para prajurit Pajang telah dikumpulkan oleh Senapatinya. Para pemimpin kelompok telah melaporkan keadaan orang-orangnya. Beberapa orang korban memang telah jatuh. Senapati itu telah membagi pasukannya. Sebagian dari mereka harus tetap berada di tempat itu untuk merawat kawan-kawannya yang terluka dan mengumpulkan yang gugur di medan pertempuran. Sebagian yang lain akan dibawa ke padukuhan induk padepokan raksasa itu.

Namun tiba-tiba Ki Ajar berkata kepada Ki Wiradadi "Marilah. Sebaiknya Ki Wiradadi dan anak gadismu ikut bersama kami. Ada beberapa alasan. Mungkin Panembahan itu akan kembali mencari korbannya jika ia tahu, gadis itu kami tinggalkan disini. Kedua, anak gadis Ki Wiradadi pernah berada di padukuhan induk. Mungkin ia dapat serba sedikit menceriterakan lingkungan padukuhan untuk itu, khususnya istana Panembahan Lebdagati”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sementara itu, anak gadisnyapun setuju untuk ikut serta. "Aku takut” berkata gadis itu "Jika orang itu kembali, maka aku akan mati disini”

Ki Wiradadipun mengangguk-angguk. Iapun sadar, meskipun ada kelompok prajurit yag akan tinggal ditempat itu untuk merawat kawan-kawannya, tetapi jika Panembahan yang luput dari tangan mereka itu kembali, maka agaknya sulit bagi mereka untuk dapat melindungi anak gadis itu.

Karena itu, sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan tempat terpencil itu. Tiba-tiba saja mereka tidak lagi melihat burung elang diudara. Demikian orang-orang padepokan itu dihancurkan serta Panembahan Lebdagati meninggalkan medan, maka sisa-sisa burung elang itupun telah lenyap pula.

Beberapa saat mereka berjalan menyusuri jalan yang sulit. Mereka kadang-kadang harus menuruni tebing yang rendah, kemudian menyusuri tanggul sempit, sehingga akhirnya mereka sampai ketempat' yang diperuntukkan bagi upacara penyerahan korban itu.

Gadis itu tiba-tiba saja menjerit kecil ketika ia melihat tatanan batu di tengah-tengah padang rumput yang tidak terlalu luas itu. Ia menjadi ngeri mengingat saat ia telah terbaring ditempat itu. Hampir saja nyawanya direnggut oleh keris Panembahan Lebdagati sebagai korban yang kesekian kalinya dibawah cahaya bulan bulat.

Ki Wiradadi mendekap anaknya. Bisiknya "Kau aman sekarang anakku. Kau lihat, orang-orang berilmu tinggi itu telah menolongmu. Bahkan sepasukan prajurit Pajang telah datang pula. Bagi para prajurit itu, tujuan utamanya adalah menghancurkan sekelompok orang beraliran sesat disini. Adalah kebetulan sekali mereka hadir sekarang, sehingga jiwamu telah diselamatkan. Yang Maha Agung masih melindungimu”

Gadis itu ternyata telah terisak. Namun Ki Wiradadi berkata “Tugasmu sekarang, membalas kebaikan orang-orang berilmu tinggi itu. Tunjukkan padepokan induk itu dan apa saja yang kau lihat ada didalamnya”

"Semuanya mengerikan” desis gadis itu.

"Tetapi kau harus melakukannya” berkata ayahnya.

Gadis itu mengangguk. Ia. memang menyadari, apa yang sedang dialami. Karena itu, maka penalarannya memang mengatakan kepadanya, bahwa ia harus langsung melibatkan diri bukan saja bagi keselamatan dirinya, tetapi gadis-gadis lain di masa mendatang.

Sesaat, iring-iringan itu singgah di padukuhan yang menghadap ke padang rumput yang tidak terlalu luas itu. Mereka masih melihat beberapa macam benda upacara selain yang berserakan di dekat tempat upacara untuk menyerahkan korban itu.

"Kita harus menghancurkannya” berkata orang bongkok itu.

"Ya...” desis Ki Ajar. "Supaya tidak menimbulkan rangsangan untuk melakukannya lagi bagi para pengikut Panembahan Lebdagati yang luput dari tangan kita”

Senapati prajurit Pajang itupun ternyata sependapat. Karena itu, maka para prajuritpun telah mengumpulkan benda-benda upacara dan dikumpulkan diatas tatanan batu yang dipergunakan untuk menyerahkan korban. Dari berjenis-jenis bokor dari tembaga, pakaian yang khusus yang ada di tempat penyimpanan benda-benda upacara. Rontek, umbul-umbul dan berbagai macam senjata khusus yang hanya dipakai dalam upacara, yang dikumpulkan oleh para prajurit karena benda-benda itu sebagian berserakan di padang rumput kecil itu.

"Kita akan membakarnya” desis Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar dan orang bongkok itu sependapat. Karena itu, maka merekapun segera menyalakan api. Benda-benda upacara itupun segera telah menyala termasuk beberapa buah obor yang masih lengkap dengan sumbunya serta sisa minyak yang ada didalamnya.

Ketika api menyala dengan asap yang membumbung tinggi, Manggada dan Laksana sempat berbincang dengan Ki Ajar. Dengan nada ragu Manggada bertanya "Kita tidak menemukan sesosok mayatpun. Bukankah beberapa orang telah terbunuh disini?”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Agaknya ada orang-orang khusus disamping para pengikut yang bersenjata dan telah bertempur melawan kita”

"Tetapi tidak hanya satu dua orang yang telah terbunuh. Juga ada diantara mereka yang telah dikoyak oleh harimau Ki Pandi itu” berkata Laksana.

"Mungkin kita akan menemukan jawabnya jika kita sempat memasuki induk padepokan Panembahan Lebdagati nanti” jawab Ki Ajar.

Demikianlah, maka setelah api berkobar bagaikan menjilat langit menelan setumpuk benda-benda upacara itu, maka iring-iringan itu telah melanjutkan perjalanan, menuju ke induk padepokan raksasa yang berada di lereng Gunung itu.

Ketika iring-iringan itu melalui sebuah padukuhan, maka nampak padukuhan itu begitu sepi. Semua pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada seorangpun yang nampak dihalaman, apalagi di jalan-jalan.

Manggada dan Laksana memang ingin tahu, apakah orang-orang padukuhan itu telah pergi mengungsi atau mereka telah melakukan sesuatu yang lain berhubungan dengan upacara yang telah dilakukan oleh Panembahan Lebdagati itu.

Karena itu, tiba-tiba saja kedua orang anak muda itu telah menyelinap masuk sebuah regol halaman yang sedikit terbuka. Dengan berlari-lari kecil keduanya naik kependapa rumah itu dan langsung menuju ke pintu pringgitan.

"Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar menarik nafas panjang. Katanya “Mereka ingin tahu apa saja. Agaknya mereka ingin tahu, apakah di dalam rumah yang pintunya tertutup itu ada orangnya”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya “Agaknya aku juga akan berbuat begitu jika umurku masih semuda mereka”

Namun demikian, Ki Ajar tidak meninggalkan kedua orang anak muda itu. Bersama orang bongkok itu, keduanya berhenti diluar halaman. Ternyata Manggada dan Laksana telah mengetuk pintu pringgitan keras-keras. Beberapa kali keduanya menyapa jika ada orang didalam rumah itu. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban, sehingga Manggada dan Laksana telah mengguncang-guncang pintu.

"Buka pintu atau aku akan menghancurkannya!" tiba-tiba Laksana berkata lantang.

Sesaat keduanya menunggu. Namun ternyata ketajaman telinga mereka mampu menangkap desir lembut didalam rumah itu. Karena itu. keduanya yakin, bahwa tentu ada seseorang atau lebih didalam rumah itu.

"Aku akan menghitung sampai sepuluh " geram Laksana "Jika sampai kehitungan kesepuluh pintu tidak dibuka, maka aku akan menghancurkan pintu itu”

Sejenak kemudian maka Laksunapun telah mulai menghitung, sementara itu, keduanya telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, jika ia benar-benar harus memecahkan pintu itu.

Manggada pun telah bersiap. Ia yang mengenal Laksana dengan baik, percaya jika hitungannya sampai sepuluh dan pintu itu tidak dibuka, maka ia benar-benar akan memecahkannya. Ketika hitungan sampai keenam, dan tidak terdengar langkah mendekati pintu, Manggada jadi berdebar-debar. Tujuh, delapan, sembilan, masih juga tidak terdengar langkah.

Pada hitungan kesepuluh. Laksana benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, ia menendang pintu itu. Pintu itu berderak dan terbuka. Bahkan daun pintunya yang retak, terpelanting lepas dari uger-ugernya.

Manggada pun bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan, karena demikian pintu terbuka. Laksana yang masih belum mapan akan dapat diserang dengan cepat. Karena itu ia harus bersiap menghadapinya.

Tetapi kedua anak muda itu terkejut. Mereka memang melihat beberapa orang di dalam rumah itu, tapi tidak lebih dari seorang laki-laki tua, tiga orang perempuan dan dua orang anak-anak yang masih remaja, menggigil ketakutan.

Manggada dan Laksana saling berpandangan. Namun kemudian, Manggada bertanya "Kenapa kau tidak mau membuka pintu, he?”

"Kami takut anak-anak muda. Perang sedang berkecamuk di luar” jawab laki-laki tua itu dengan suara gemetar.

"Tetapi kau tahu akibatnya jika kau menolak perintah kami?” berkata Laksana.

"Kami tidak berniat menolak. Tetapi kami tidak berani melakukannya" suara orang itu semakin gemetar karena ketakutan.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Laki-laki tua itu kembali berkata “Marilah anak-anak muda. Aku persilahkan kalian duduk”

"Tidak” jawab Manggada "kami akan meneruskan perjalanan kami”

Keduanyapun tidak lagi menaruh banyak perhatian kepada mereka. Karena keduanya telah melangkah meninggalkan ruang dalam itu. Tetapi mencapai pintu, seseorang telah mendorong mereka dengan kuatnya, sehingga Manggada dan Laksana jatuh terguling di lantai. Namun dengan sigapnya, mereka melenting berdiri.

Baru keduanya, menyadari, bahwa mereka hampir saja terjebak. Demikian keduanya keluar dan membelakangi pintu, orang tua yang dianggap menggigil ketakutan itu telah menyerangnya. Seperti terbang, orang itu meluncur dengan kedua tangan mengembang, siap menerkam tengkuk Manggada dan Laksana, dan membentur kepala kedua anak muda itu. Tapi Ki Ajar dapat membaca apa yang akan terjadi. Ia yang tidak sampai hati meninggalkan anak-anak muda belum banyak pengalaman itu, kemudian memasuki halaman bersama si bongkok.

Orang tua yang kehilangan sasaran itu menggeram marah. Tapi ia terkejut melihat si bongkok yang berdiri beberapa langkah di sebelah anak-anak muda itu. "Kau demit bongkok?” geram orang tua itu.

"Jadi kau bersembunyi disini?” berkata orang bongkok itu "Satu firasat yang sangat tinggi telah memanggil anak-anak muda itu untuk membuka pintumu. Adalah satu kebetulan yang barangkali juga bukan kebetulan, bahwa keduanya akan menemukan tempatmu bersembunyi. Kau terlalu bodoh dengan sedikit membuka regol halamanmu, sehingga menarik perhatian mereka, atau memang sengaja kau lakukan untuk menarik perhatian, kemudian menjebak dengan licik seperti yang telah terjadi?”

"Kau iblis" geram orang tua itu "kenapa kau ikut campur dalam persoalan ini?”

“Aku kira, dari perguruan kita yang tinggal hanya aku dan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Tapi ternyata kau ada di sini juga untuk mengabdi pada orang berilmu sesat dan menodai nama perguruan kita itu” berkata orang bongkok itu.

Orang tua itu tertawa., Katanya “Kau tidak perlu mencela orang lain. Jika hal itu sudah menjadi satu keyakinan, maka takarannya adalah maut”

"Tidak” jawab orang bongkok itu. "Seseorang memang dapat memegang satu keyakinan, tapi keyakinan itu dapat berubah jika suatu saat ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan dengan keyakinannya itu. Ia dapat berpaling untuk mencari kebenaran”

"Nampaknya kau adalah jenis orang yang keyakinannya goyah. He, orang bongkok. Serahkan anak-anak muda itu kepadaku. Aku akan membunuh mereka, kemudian membunuhmu dan membunuh orang tua itu. Siapapun orang itu" geram orang tua itu.

Tetapi orang bongkok itu seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih juga bertanya "Apa alasanmu ikut bersama Panembahan yang gila itu, yang menganggap kerisnya telah berharga dari jiwa seseorang?”

"Persetan" geram orang itu "kaulah yang telah berkhianat atas perguruan kita. Panembahan Lebdagati adalah orang yang memiliki hak yang sah untuk memimpin padepokan kita."

"Kenapa? Apakah aku pernah menentang? Yang aku tentang adalah ilmu gilanya itu, yang di setiap bulan purnama harus mengorbankan seorang gadis untuk keris dan kepercayaannya itu” berkata orang bongkok itu.

"Kau sudah terlalu banyak berbicara" geram orang tua itu "Sudah saatnya aku membunuhmu”

Tetapi orang bongkok itu berkata “Kau ternyata memang bodoh. Kenapa kau tidak bergabung bersama Panembahan Lebdagati? Berdua, kalian akan menjadi kekuatan yang sulit dipatahkan. Tetapi sendiri-sendiri, kau tidak berarti apa-apa. Kita pernah berguru bersama, sebagaimana Panembahan Lebdagati. Dan kita tahu perbandingan ilmu kita, sehingga tanpa bertandingpun kita sudah dapat menentukan, siapa diantara kita yang kalah dan menang”

"Cara berpikirmu sangat sederhana” berkata orang tua itu. "Kau kira perbandingan ilmu seseorang akan tetap sama berpuluh tahun sekalipun?”

"Aku tahu bahwa kau telah terbius dengan ilmu sesat saudara seperguruan kita yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu, sehingga kau merasa bahwa ilmumu telah jauh meningkat. Tetapi kaupun harus memperhitungkan bahwa akupun telah meningkatkan ilmuku tanpa mengotori tanganku dengan darah gadis-gadis di saat bulan purnama” berkata orang bongkok itu.

"Tutup mulutmu!" geram orang tua itu "Kau kira ilmu siluman harimaumu itu menakutkan aku?”

"Aku tidak pernah berhubungan dengan siluman yang manapun juga. Aku mencoba untuk bersikap lurus. Tetapi aku memang memelihara dua ekor harimau. Kau ingin melihatnya?” bertanya orang bongkok itu.

"Jangan kau kira aku tidak tahu” berkata orang itu. "Aku memang tidak tahu bahwa kau telah memelihara harimau sesungguhnya, tapi kau sendiri adalah seekor harimau jadi-jadian sejak kau berada di perguruan kita. Nah, sekarang kita akan berhadapan. Jika kau sebut ilmuku ilmu sesat, maka ilmumu adalah ilmu siluman”

Orang bongkok itu mengerutkan keningnya. Katanya "Ternyata pengetahuanmu tentang berbagai macam ilmu sangat picik. Tapi baiklah. Sekarang menyerahlah. Kau tidak akan berarti apa-apa di hadapan Ki Ajar. Tetapi kau tidak usah berhadapan dengan Ki Ajar, karena kau tidak cukup berharga untuk melayaninya”

"Anak iblis" geram erang itu "Bersiaplah untuk mati. Semua orang akan mati”

"Sudah aku katakan, bahwa kau ternyata sangat bodoh tidak bergabung dengan Panembahan Lebdagati. Karena berdua kalian sulit untuk dikalahkan. Tetapi sekarang, kau tidak berarti lagi” sahut orang bongkok itu.

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia telah menyerang orang bongkok itu dengan garangnya. Si Bongkok sudah bersiap menghadapi serangan itu. Karenanya, demikian serangan datang ia telah meloncat menghindar. Bahkan ia bergeser dan meloncat turun ke halaman.

Sejenak kemudian, terjadi pertempuran sengit. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Dengan meningkatkan ilmu mereka, keduanya telah bertempur semakin lama semakin cepat dan keras.

Ki Ajar bersama kedua anak muda itupun turun pula ke halaman. Melihat Manggada dan Laksana berdiri terpaku, Ki Ajar berdesis "Si bongkok akan dapat mengatasinya”

Tapi tiba-tiba Manggada bertanya "Apakah benar Ki Pandi dapat menjelma menjadi seekor harimau, seperti yang dikatakan orang tua itu? Apakah benar ilmunya dapat disebut ilmu siluman?”

"Oh" Ki Ajar tersenyum "Sama sekali bukan. Ki Pandi itu tidak dapat menjelma menjadi seekor harimau, apalagi harimau putih sebesar kerbau. Ia tidak memiliki ilmu siluman seperti yang dikatakan orang tua itu. Mungkin kau pernah dibayangi ujud seekor harimau lain, kecuali kedua ekor harimau yang dipelihara oleh si bongkok itu, tapi yang kalian lihat itu adalah sekedar bayangan angan-anganmu. Bentuk-bentuk semu. Memang Ki Pandi mampu melontarkan getaran semu, sehingga kedua ekor harimaunya itu seolah-olah dapat menjadi lebih banyak. Menjadi tiga, empat atau lebih."

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Hampir tidak terdengar Manggada bergumam "Ternyata Ki Pandi adalah orang yang berilmu tinggi”

"Ya. Ia memang berilmu tinggi. Bahkan ternyata lebih tinggi dari yang aku duga. Ketika kita bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati, orang bongkok itu telah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui. Agaknya selama ini, orang bongkok itu sempat memperdalam ilmunya bersama dengan kedua ekor harimaunya” jawab Ki Ajar.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Perhatian mereka sepenuhnya terhisap pertempuran yang sengit, antara Ki Pandi melawan orang tua yang disebutnya saudara seperguruan itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, keduanya telah merambah ke ilmu puncak mereka. Tiba-tiba saja lawan Ki Pandi mengeluarkan dua potong belahan bambu kecil dari dalam bajunya. Kemudian dengan serta merta, ia memukul-mukulkan kedua potong belahan bambu itu satu dengan lainnya. Semakin lama semakin cepat, sehingga suaranya melengking mengetuk-ngetuk dada.

Ki Ajar tiba-tiba saja bergumam "Hati-hatilah. Kekuatan ilmu yang terlontar dari suara itu, sama dengan kekuatan ilmu yang dilontarkan Panembahan Lebdagati. Kalian harus berusaha untuk mengatasinya dengan pemusatan nalar budi, mengerahkan daya tahanmu”

Manggada lan Laksana memang harus melakukannya. Suara kedua potong belahan bambu itu bagaikan telah menghentak-hentak jantungnya, sehingga rasa-rasanya jantung mereka akan terlepas dari tangkainya. Meskipun keduanya adalah anak-anak muda yang telah menempa diri lahir dan batin, menguasai ilmu kanuragan serta mempertinggi tenaga cadangan dalam dirinya.

Namun keduanya mengalami kesulitan untuk bertahan mengatasi serangan yang menyusup ke dalam bagian tubuh mereka melalui indera pendengaran itu. Meskipun keduanya telah menutup telinga rapat-rapat, tetapi suara itu masih juga menghentak-hentak isi dada mereka semakin keras.

Namun sejenak kemudian, Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Sejenak kemudian, terdengar suara mengalun dari seruling itu membentur getar udara yang menghentak-hentak oleh bunyi ketukan dua potong belahan bambu di tangan lawannya.

Keduanya ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dua kekuatan yang ternyata seimbang, sehingga yang satu berhasil menyerap kekuatan yang lain, sehingga kedua-duanya justru seakan-akan tidak berdaya.

Orang tua yang ternyata adalah saudara seperguruan Ki Pandi itu, telah menghentikan serangannya, dengan mengetuk-ketukkan kedua belahan bambunya. Serangan itu dianggapnya tidak banyak berarti bagi lawannya. Demikianlah. Tiba-tiba saja ia telah menyerang Ki Pandi dengan mengibaskan tangannya.

Serangan yang ternyata dahsyat sekali, sebagaimana dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Ki Pandi yang mendapat serangan itu meloncat ke samping, secepat sambaran sinar yang seakan-akan meluncur dari telapak tangan lawannya itu.

Ki Ajar pun bersiap-siap pula menghadapi kemungkinan buruk. Jika lawan Ki Pandi itu tiba-tiba saja menyerangnya. Bahkan, ia pun telah bergeser dan berdiri dimuka Manggada dan Laksana.

Ketika beberapa kali Ki Ajar sempat melihat orang itu berpaling sekilas kepadanya, dan kedua anak muda itu, maka iapun menjadi semakin curiga. Karena itu, ia berdesis "Berhati-hatilah. Orang itu dapat dengan curang menyerang kita”

Namun orang itu masih juga memusatkan perhatiannya kepada Ki Pandi. Agaknya Ki Pandi kemudian tidak saja ingin berloncatan menghindar, tetapi iapun memiliki ilmu serupa. Karena itu, Ki Pandi pun ingin segera mengakhiri pertempuran itu, apapun yang terjadi.

Karena itu, ketika lawannya sekilas dilihatnya bersiap menyerangnya, Ki Pandi tidak lagi berniat untuk menghindar. Ia telah bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk, dengan membenturkan ilmunya yang serupa.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian saudara seperguruan Ki Pandi itu telah menyerang dengan ilmunya. Tetapi Ki Pandi sudah bertekad bulat. Karena itu yang dilakukannya kemudian adalah melontarkan serangan serupa.

Sejenak kemudian, terjadi benturan dahsyat. Ilmu yang bersumber dari mata air yang sama, yang mengalami tempaan dan pengembangan untuk waktu yang lama. sehingga ilmu kedua orang itupun telah menjadi masak.

Ternyata akibatnya mengejutkan. Kedua orang itu terpental beberapa langkah. Ki Pandi jatuh terguling beberapa kali di tanah. Namun kemudian, ia sempat bangkit berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, meskipun dadanya terasa nyeri sekali. Rasa-rasanya, nafasnya menjadi sesak dan menyumbat kerongkongannya.

Lawannyapun mengalami keadaan yang sama. Bahkan lawannya tidak lagi mampu bergerak setangkas Ki Pandi. Ketika ia sempat bangkit, terasa sendi-sendi tulangnya bagaikan terlepas. Untuk beberapa saat, Ki Pandi menunggu. Namun Ki Pandi masih harus berusaha mengatasi rasa sakitnya, sebagaimana lawannya.

Namun agaknya, kecurigaan Ki Ajar beralasan. Dalam keadaan yang belum mantap, lawan Ki Pandi itu tiba-tiba sudah mempersiapkan serangannya. Demikian cepatnya. Tidak diarahkan kepada Ki Pandi, tetapi diarahkan kepada Ki Ajar dan dua orang anak muda yang berdiri agak dibelakangnya.

Serangan itu ternyata datang begitu cepatnya. Namun Ki Ajar yang telah menjadi curiga sejak orang itu setiap kali memandang kearahnya, ternyata telah bersiap pula. Meskipun ia tidak memiliki ilmu yang sama, tetapi Ki Ajar-pun mampu melontarkan ilmunya pula, mirip dengan ujud dan ungkapan ilmu orang itu, meskipun sumber ilmu dan kekuatannya berbeda.

Karena itu, demikian saudara seperguruan orang bongkok itu menyerangnya, ia melontarkan serangannya pula dengan sepenuh kekuatan dan kemampuan ilmunya. Sekali lagi terjadi benturan dahsyat. Bahkan Ki Pandi yang terkejut melihat serangan yang curang itu, telah melepaskan serangannya pula kearah lawannya. Demikian tiba-tiba, didorong oleh kemarahan yang semakin membakar jantung, melihat kecurangan itu.

Benturan yang dahsyat itu ternyata telah menghancurkan bagian dalam saudara seperguruan Ki Pandi yang masih dalam keadaan belum siap benar, serta tubuhnya yang masih belum mapan setelah membentur ilmu Ki Pandi. Sementara itu, kecuali keadaan Ki Ajar yang masih tegar dan utuh, juga karena Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya untuk melontarkan segenap kemampuan ilmunya. Kecuali itu, ilmu Ki Ajar memang lebih tinggi dari ilmu orang itu.

Dalam keadaan yang demikian, serangan Ki Pandi, yang meskipun dengan tiba-tiba dan tidak sempat mengerahkan segenap sisa kekuatannya, ternyata ikut menentukan. Saudara seperguruan Ki Pandi yang terlempar oleh benturan ilmu yang tidak seimbang dengan ilmu Ki Ajar itu, telah pula dikenai serangan orang bongkok itu. Karena itu, demikian orang itu terjatuh ditanah, maka ia hanya sempat menggeliat. Mati.

Manggada dan Laksana yang menyaksikan pertempuran itu, menjadi berdebar-debar. Ternyata apa yang diketahuinya selama mereka berada di perguruan, baru sebagian kecil dari dunia olah kanuragan. Ketika kemudian mereka sempat menjenguk cakrawala, maka yang dilihatnya adalah raksasa-raksasa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sejenak kemudian, keduanya masih saja termangu-mangu. Ki Ajar telah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati orang bongkok yang nampak menjadi sangat lemah, setelah ia menghentakkan sisa tenaganya.

"Duduklah” berkata Ki Ajar sambil menolong orang bongkok yang terhuyung-huyung kehabisan tenaga, sehingga sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Orang bongkok itupun kemudian telah duduk bersila. Sementara Ki Ajar berkata “Pergunakan kesempatan yang pendek ini untuk memperbaiki keadaanmu."

Ki Pandi mengangguk. Iapun kemudian telah menyilangkan kedua tangannya di dada, memusatkan nalar budi serta berusaha mengatur jalan pernafasannya. Sementara itu, Ki Ajar melangkah mendekati saudara seperguruan Ki Pandi yang terbaring diam.

Manggada lan Laksana dengan ragu-ragu mendekat pula. Sementara Ki Ajar berbisik " Orang ini telah mati”

Kedua anak muda itu memang melihat tubuh saudara seperguruan Ki Paridi menjadi agak kehitam-hitaman. Benturan ilmu yang tidak seimbang melawan ilmu Ki Ajar, telah membuat bagian dalam tubuhnya bagaikan terbakar.

"Ia termasuk orang yang berilmu tinggi” desis Ki Ajar "Tetapi ia tidak mempergunakan ilmunya untuk maksud-maksud yang baik. Ia telah terdampar kedalam padepokan yang mengagungkan ilmu sesat”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka harus mengakui bahwa orang yang terbunuh itu memang orang berilmu tinggi, sebagaimana orang yang bongkok itu, yang ternyata disamping ilmunya yang telah disaksikannya, ia mampu membuat ujud-ujud semu.

"Anak-anak muda” berkata Ki Ajar kemudian "Ternyata kalian telah mendapat kesempatan untuk menyaksikan dari dekat, betapa kasarnya dunia olah kanuragan itu”

Manggada dan Laksana bagaikan terbangun dari angan-angannya yang melambung dalam putaran pengenalannya itu, ketika Ki Ajar berkata “Lihatlah, siapakah yang masih ada di dalam. Hati-hatilah.

Kedua anak itu kemudian bergerak memasuki pintu rumah itu. Yang ada di ruang dalam adalah beberapa orang perempuan dan kanak-kanak yang ketakutan. Tetapi Manggada dan Laksana tidak mau terjebak di dalam rumah itu. Karena itu maka katanya “Silahkan semua orang keluar. Rumah ini harus dikosongkan”

Orang-orang yang ada di dalam rumah itu masih gemetar ketakutan. Tetapi Laksanalah yang kemudian membentak "Cepat keluar. Jika tidak, rumah ini akan aku bakar habis”

Bagaimanapun juga, betapa mereka gemetar dan ketakutan, akhirnya perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu keluar dari ruang dalam dan berkumpul di pendapa. Mereka terkejut ketika kemudian mengetahui bahwa orang tua yang bersembunyi di antara mereka telah terbunuh di halaman rumah itu.

"Orang itu sangat berbahaya” berkata Manggada.

"Orang itu” desis seorang perempuan.

"Katakan!" desak Manggada.

Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu justru terdiam. Sementara Ki Ajar Pangukan telah mendekati mereka pula.

"Jangan takut. Kami tidak akan berbuat jahat” berkata Ki Ajar.

Namun seorang perempuan sambil gemetar berkata perlahan "Tetapi kau bunuh orang itu”

"Orang itu adalah salah seorang dari mereka yang memimpin aliran sesat ini” berkata Ki Ajar.

"Tetapi ia tidak pernah berbuat jahat kepada kami” sahut perempuan itu.

"Mungkin. Tetapi jika orang-orang sejahat orang itu tidak disingkirkan, maka dunia ini tidak akan menjadi tenang” jawab Ki Ajar.

Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu terdiam. Sementara itu, Ki Ajar memberikan beberapa penjelasan kepada mereka untuk merelakan laki-laki itu pergi.

"Apakah laki-laki itu mempunyai sahabat dan kawan-kawan dekatnya yang tinggal di sekitar tempat ini?” bertanya Ki Ajar.

Tidak seorang pun yang menjawab.

"Yang akan kami lakukan adalah untuk kepentingan kalian semuanya. Untuk kepentingan seluruh padukuhan, bahkan kepentingan seluruh daerah seberang hutan Jatimalang” berkata Ki Ajar.

Perempuan-perempuan itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata “Ia bukan penduduk padukuhan ini. Ia datang dari padepokan induk dan tinggal di sini untuk bersembunyi”

"Apakah kau kenal oang itu sebelumnya?” bertanya Ki Ajar.

"Kami belum mengenalnya. Tetapi kami pernah melihatnya. Namun selama ia berada di sini, ia tidak menunjukkan sikap jahatnya” berkata perempuan-perempuan itu.

Ki Ajar termangu-mangu. Apapun yang dikatakan mereka, masih harus diteliti latar belakang kehidupan perempuan-perempuan itu. Agaknya, mereka berada dalam pengaruh kepercayaan yang sesat itu. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat dengan mudah memberikan penjelasan tentang peristiwa yang baru saja terjadi

Karena itu, maka Ki Ajar pun kemudian berkata kepada Manggada dan Laksana "Kita memang memerlukan waktu. Lebih baik kita tinggalkan dahulu tempat ini”

"Bagaimana dengan tubuh itu?” bertanya Manggada.

"Kita letakkan saja di pendapa. Nanti, kita akan minta para prajurit menyelesaikannya” berkata Ki Ajar.

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Namun mereka harus mengangkat tubuh itu dan meletakkannya di pendapa.

"Orang ini tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi” berkata Ki Ajar "Biarlah ia di sini. Nanti kami akan mengambilnya dan menguburkannya. Tugas kami belum selesai”

Demikianlah, maka Ki Ajar, orang bongkok itu, Manggada dan Laksana, meninggalkan tempat itu. Mereka dengan tergesa-gesa menuju ke induk padepokan dengan mengikuti jejak para prajurit Pajang.

Namun ketika mereka sampai ke padukuhan induk, tempat itu telah bersih. Tidak terjadi pertempuran dan tidak terjadi kekerasan. Agaknya para penghuni padepokan induk itu sempat melarikan diri.

"Tetapi sebagian besar dari mereka tentu sudah ada di tangan para prajurit, ketika kita bertempur melawan mereka di sekitar rumah Ki Ajar” berkata pemimpin prajurit Pajang itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Bagaimana dengan padepokan induk ini? Kita tentu tidak menghendaki lambang kehadiran kepercayaan yang sesat ini.”

Pemimpin prajurit Pajang itupun mengangguk-angguk. Katanya “Kita akan menghancurkannya, sebagaimana kita menghancurkan tempat dan peralatan upacara itu”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Aku sependapat. Padepokan induk ini harus dihancurkan. Di dalam padepokan ini, masih juga terdapat alat-alat upacara dari kepercayaan sesat itu. Sanggar dan beberapa macam kelengkapannya”

Demikianlah. Sejenak kemudian, pemimpin prajurit Pajang itupun memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk menghancurkan padepokan itu.

"Tidak boleh ada satu jenis benda upacara yang boleh dimiliki oleh siapapun juga" perintah Senopati itu.

Para pemimpin kelompok telah diperintahkan untuk mengadakan pengawasan yang ketat. Di dalam beberapa ruang khusus, memang terdapat beberapa benda upacara yang mahal nilainya. Ada yang dibuat dan tembaga, perak dan bahkan ada yang dibuat dari logam yang berlapis emas.

Seorang prajurit yang sudah siap dengan obor ditangap, justru membeku diam ketika ia melihat sebuah patung kecil yang berwarna kuning mengkilap di sebuah bilik yang tertutup.

"Patung itu tentu terbuat dari emas” desisnya. Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Senopati prajurit Pajang telah berdiri di belakangnya. Nampaknya bilik tertutup di ruang yang paling dalam itu, telah menarik perhatiannya pula.

"Patung itu emas!” desis prajurit itu.

"Ya” berkata Senopati itu " Tetapi itu adalah lambang dari kesesatan. Kau lihat wajah dari patung yang mengerikan itu? Meskipun dari emas, tetapi memancarkan cahaya kegelapan. Emas itu sendiri adalah logam yang berharga. Tetapi patung itu adalah benda yang harus dimusnahkan. Patung yang oleh orang-orang berkepercayaan sesat ini telah disembah dan diagungkan. Seolah-olah patung itu mampu memberikan sesuatu kepada Panembahan Lebdagati dan penganut-penganutnya. Patung itu adalah berhala”

Prajurit itu termangu-mangu. Sementara Senopati itu berkata “Kau lihat landasan patung itu?”

Prajurit itu ternyata tidak memperhatikan sama sekali landasan patung yang terbuat dari emas itu. Baru kemudian ia sadar, bahwa landasan patung itu adalah sebuah tengkorak yang telah dibalut dengan tembaga sehingga yang nampak sepintas adalah sebuah landasan patung yang bagus buatannya.

"Tengkorak!” desis prajurit itu.

"Ya. Agaknya lambang dari kepercayaan ini adalah tengkorak” berkata Senopati itu.

"Bukan!" terdengar suara dibelakang mereka. Senopati itupun berpaling. Ki Ajar dan orang bongkok itu tejah berdiri di belakang mereka, di luar pintu.

Senopati itu menarik nafas dalam-dalam. Ruang itu terasa pengab. Sementara sebuah lampu minyak menyala di atas patung kecil itu. Bayangan di wajah patung itu, memang membayangkan cahaya hitam dari dunia kegelapan.

"Jadi, apakah lambang dari kepercayaan ini?” bertanya Senopati itu.

"Kegelapan itu sendiri. Seperti yang nampak pada wajah patung itu. Tengkorak bagi mereka adalah lambang kekuatan. Mereka percaya bahwa dengan menyimpan tengkorak yang khusus, mereka akan mendapatkan kekuatan baru di dalam dirinya. Aku justru menjadi curiga, bahwa tengkorak yang ada di ruang ini tidak hanya satu, landasan patung itu" berkata Ki Ajar.

Senopati itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Ajar ilan orang bongkok itu masuk ke dalam. Ternyata Manggada dan Laksana pun telah ada di situ pula. Tetapi mereka tetap berdiri di luar bilik yang tidak terlalu luas itu. Semen-lara itu, Ki Ajar minta agar ia tidak memasuki bilik itu.

Beberapa saat Ki Ajar meneliti isi ruangan itu. Kemudian ia mulai meraba kain putih yang menjadi alas tempat landasan patung itu diletakkan. Kain putih itu telah menyelubungi semacam peti yang besar yang nampaknya tidak pernah disentuh oleh orang lain kecuali Panembahan sendiri.

Dengan hati-hati. Ki Ajar telah menyibakkan selubung itu. Ternyata isi dari kotak yang besar itu sangat mengejutkan. Beberapa buah tengkorak. Ki Ajar segera melepaskan selubung itu. Sambil berdiri ia berdesis,

"Bukan main. Tengkorak itu mengingatkan aku kepada korban-korban yang telah terbunuh oleh keris Panembahan yang diharapkannya akan dapat menjadi pusaka terbaik di dunia ini”

Orang bongkok itu kemudian berjongkok dan sekali lagi membuka selubung itu. Bahkan ia telah mengambil sebuah di antara tengkorak-tengkorak itu dan meneranginya dengan lampu yang terdapat di ruang itu. Tetapi nampaknya orang bongkok itu tidak puas. Katanya kemudian "Bawa obor itu kemari”

Prajurit yang sudah siap dengan obor untuk membakar seluruh isi padepokan induk itupun mendekat. Dengan nyala obor yang kemerah-merahan itu diteranginya tengkorak yang diambil dari balik selubung di dalam kotak yang besar, yang menjadi alas landasan patung itu.

Terdapat beberapa goresan pada dahi tengkorak itu, yang ternyata adalah sebuah nama "Pranti”

Ketika orang bongkok itu mengambil lagi yang lain, maka di dahinya terdapat pula nama "Warsi”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Tengkorak itu adalah tengkorak gadis-gadis yang dikorbankan untuk kepentingan kepercayaan sesat ini...”

Ki Ajar mengangguk-angguk kecil sambil mengusap dadanya...

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 11