Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara
Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 17
Karya : Batara

"HEI, itu Beng San!"

"Ia membawa lari tawanan!"

Terkejutlah hwesio penjaga menuding-nuding. Mereka berteriak dan membentak, akan tetapi anak itu sudah meloncat dan berlari cepat. Seruan para hwesio tentu saja tak didengar dan mereka marah, seorang di antaranya menyambar anak panah, membidik dan Beng San terkejut ketika sebatang anak panah menancap di sebelah kirinya. Akan tetapi ketika ia menoleh sejenak dan sudah meneruskan larinya lagi, tujuh hwesio berkelebatan mengejar dan memotong maka anak ini diminta agar berhenti.

"Beng San, kau berkhianat. Serahkan dirimu dan berhentilah!"

"Atau kami menyerangmu. Berhenti, dan serahkan tawanan!"

Beng San menjadi gugup. la telah melewati pagar pembatas dan menginjakkan kakinya di tepi gurun. Ilmu lari cepatnya dikerahkan akan tetapi dua batang panah kali ini menyambar. Itulah bidikan Kam-lo-suhu yang kemarin diajaknya bercakap-cakap, hwesio kepala itu ada di menara ketika ia lolos, berkelebat dan kini melepas anak panahnya itu.

Hwesio ini memang seorang ahli panah. Dan ketika Beng San terkejut panah itu menancap di depannya, ia membentak meloncat tinggi maka Kam-hwesio itu berseru kepadanya agar ia berhenti atau panah menyambar tubuhnya.

"Beng San, pinceng tiga kali memberi peringatan. Berhenti atau panah pinceng meluncur ke tubuhmu!"

Beng San pucat. la menengok dan melihat hwesio itu sudah mementang gendewanya lagi dengan tiga anak panah sekaligus. Sekali dilepas tentu tiga anak panah itu meluncur berbareng. Tapi ketika ia dibentak agar terus lari, Hui Bin tak mau tertangkap maka Beng San teringat si buta Chi Koan, calon gurunya.

"Kalau kau gagal maka gagal pula menjadi muridku. Bawa orang ini sampai selamat dan kutunggu di luar."

Kata-kata atau ingatan ini membuat ia menggigit bibir. Beng San maklum bahwa inilah ujian untuknya. Kalau saja gurunya Peng Houw menurunkan ilmu-ilmu lain mungkin ia tak akan membelot. Tapi, ah, Naga Gurun Gobi itu membuat panas hatinya. Sékian tahun tak diberi pelajaran apa-apa kecuali, ginkang dan Soan-hoan-ciang.

Maka ketika Ia membentak dan mengeraskan hatinya mendadak ia berlari semakin kencang dan terdengar desing anak panah ketika menyambar dan lewat di samping tubuhnya, yang satu malah melampaui atas kepala dan nyaris memangkas rambutnya.

"Beng San, berhenti sekali lagi, atau pinceng mengarahkan anak panah ke tubuhmu!"

"Seranglah, lepaskan anak panahmu. Aku tak takut, Kam-lo-suhu, aku akan melawan kalian!"

Hwesio ini marah. Beng San berlari secara kelak-kelok hingga ia sukar memanah. Lari anak itu sebenarnya cepat sekali akan tetapi karena ia memanggul seseorang maka hwesio- hwesio muda kewalahan, hanya dialah yang mampu mendekati, biarpun jarak mereka tak cukup dekat. Maka ketika ia membentak dan menjepret lagi maka belasan anak panah meluncur tapi yang diserang hwesio itu adalah tanah di sekeliling Beng San, menancap dan membentuk pagar.

Beng San terkejut oleh cara serangan ini. Itu memaksanya melompat. Akan tetapi baru saja ia menggerakkan kaki maka mendesing lagi panah-panah lain dan cepat serta luar biasa dua lapis pagar panah mengepungnya lagi setengah lingkaran.

Pemuda ini terkejut dan saat itu berkelebatlah bayangan si hwesio. Sebelum ia keluar masuklah hwesio itu di dalam pagar panahnya sendiri, dan ketika ia terkejut berseru keras Kam-hwesio menotoknya dengan ujung gendewa. Hwesio ini ternyata masih merasa sayang kepada pemuda itu,

"Berhenti dan menyerahlah, serahkan tawanan!'

Beng San membalik dan menangkis serangan itu. Tentu saja ia tak mau ditotok dan Hui Bin juga tak mau diam. Hwesio tawanan 1ni menangkis pula serangan. itu. Dan ketika Kam-hwesio terhuyung akan tetapi anak buahnya sudah mengejar di situ maka Beng San menjadi sibuk diserang dari delapan penjuru.

"Lepaskan aku, biar kubantu!"

Beng San girang. Tawanan minta dilepaskan dan iapun menurunkan hwesio muka hitam itu. Tanpa banyak bicara lagi dengan borgol yang dibawa hwesio ini maka dia menyerang, ia membentak dan memaki-maki hwesio-hwesio muda itu. Dan karena tingkatnya memang lebih tinggi sementara Beng San sendiri mendorong mundur Kam hwesio maka hwesio limapuluhan itu merah mukanya, terhuyung.

Akan tetapi suara genta dipukul. Di pagi yang baru bersinar itu ternyata perbuatan Beng San menyebar dengan cepat. Lolosnya tawanan diberitahukan dengan seruan mulut ke mulut, menyebar dan akhirnya masuk ke dalam. Para pimpinan terkejut dan terhenyak keheranan. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa satu di antara murid Naga Gurun Gobi melakukan pengacauan, Beng San telah berani memasuki bukit larangan.

Akan tetapi begitu mereka menjadi marah dan Ji-hwe sio berkelebat disusul wakilnya, melihat di tengah gurun itu terjadi pertandingan sengit maka Beng San benar-benar pucat mukanya karena dengan cepat sekali ia sudah dikepung dan diserang puluhan hwesio penjaga, yakni mereka yang berada di atas menara dan kini turun berhamburan.

"Kau pengacau, pengkhianat. Apa maksudmu membawa lari tawanan dan pergi seperti ini!"

"Benar, tak kami sangka bahwa sebagai murid Go-bi kau melanggar larangan. Dosamu berat, Beng San, tapi menyerahlah dan jangan lindungi terhukum ini. Hui Bin tak bermanfaat bagimu!"

Akan tetapi Beng San sudah terlanjur mati hidup meneruskan rencananya. bercita-cita menjadi murid si buta Chi Koan dan untuk itu ia diuji. Gagal mempertahankan ini berarti hancurlah cita-citanya. Maka ketika ia membentak dan mendorongkan tangannya ke kiri kanan ia membuat lawan terhuyung dan beberapa di antaranya terpelanting. Akan tetapi yang paling kuat adalah Kam-hwesio itu.

Hwesio ini adalah hwesio kepala dan ia memegang senjatanya yang aneh, Gendewa itu. Dan karena setiap ia mengibas tentu gendewanya berdengung mengeluarkan kesiur angin dahsyat, Beng San terhuyung maka keroyokan hwesio lain membuat pemuda itu kewalahan dan untunglah karena semata mengingat Naga Gurun Gobi Peng Houw para hwesio itu tak berani berlaku terlalu keras, kecuali terhadap tawanan di mana mereka menyabetkan toya atau golok tajam.

"Menyerahlah, atau kami melukaimu!"

Beng San tak memperdulikan ini. Ia benar-benar nekat dan ketika terdengar teriakan iapun menjadi terkejut melihat Hui Bin terpelanting. Hwesio muka hitam itu terkena hantaman toya dan ia menjerit, roboh dan bergulingan dikejar lawan-lawannya dan Beng San mengeretak gigi. Kalau hwesio ini sampai terluka tentu celakalah dia.

Maka ketíka ia membentak dan mendorong Kam-hwesio yang terpaksa minggir mendadak pemuda ini melompat dan dengan gerakan cepat ia merampas sebuah golok dari seorang hwesio muda. Gerakan atau tindakannya ini tak diduga dan hwesio yang memegang golok berteriak, ia roboh ditampar pemuda itu. Lalu ketika Beng San menyerang dan membabat pengeroyok Hui Bin dua orang roboh terkena goloknya.

"Aduh!" Kam-hwesio dan yang lain melotot. Dua hwesio muda terluka oleh golok pemuda itu dan Beng San berseru agar hwesio itu melarikan diri. Dia akan bertahan dan terang-terangan melawan hwesio-hwesio Gobi ini. Tawanan sudah meloncat bangun dan gentar serta pucat, apalagi ketika dari belakang muncul pula bayangan Ji-hwesio dan Sam-hwesio, tokoh atau pimpinan-pimpinan Gobi.

Dan karena pemuda itu sudah memutar goloknya dan tangan yang lain melepas Thai-san-ap-ting atau Cui-pek-po-kian maka hwesio muka hitam yang intinya ingin cepat meninggalkan tempat itu segera melarikan diri tak menghiraukan Beng San lagi.

"Baik, kau tahan mereka, jangan sampai mengejar. Aku pergi, anak baik, akan kupanggil Siauw Lam agar ia membantumu."

Beng San membentak menyerang mereka yang hendak mencegah larinya Hui Bin. Saat itu bayangan Ji-hwesio dan wakilnya sudah kian dekat, pimpinan Gobi inipun membentak dan Beng San berubah. Di belakang hwesio ini menyambar pula bayangan langsing Siao Yen.

Dan ketika gadis itu melengking sementara di belakangnya berkelebat pula Po Kwan yang marah maka Beng San benar-benar gelisah akan tetapi hebatnya pemuda ini melindungi tawanan mati- matian. Dia memang bertekad menyelamatkan hwesio itu atau diri sendiri roboh!

"Beng San, kau jahanam keparat. Apa yang kau lakukan ini. Berani benar melepaskan tawanan!"

"Omitohud, kau kemasukan setan. Dua tahun kami menggemblengmu tapi sekarang begini sikapmu, Beng San. Lihat apa kata gurumu kalau pinceng melapor!"

Beng San memutar golok dan Thai-san-ap-tingnya. la melihat hwesio muka hitam melompat jauh dan berlari kencang, beberapa saat lagi akan lenyap dan itulah saatnya dia lari pula. Akan tetapi karena Ji-hwesio dan Sam-hwesio sudah berkelebat di situ dan Siao Yen serta kakaknya juga menyusul di belakang maka habislah harapan pemuda ini untuk menyelematkan diri sendiri. Dan saat itu ketua Gobi dan wakilnya menghantam.

"Bresss!" pemuda ini terguling-guling tak mampu bertahan. Dua serangan itu menggencetnya dari kiri kanan dan tak kuatlah dia, betapapun wakil dan ketua Gobi itu terlalu kuat. Tapi ketika ia bangun lagi dan golok tetap di tangan, marahlah dua hwesio itu maka Siao Yen sudah lebih dulu menerjang dan Po Kwan juga membentak sutenya ini.

"Kau memalukan kami sebagai murid suhu, robohlah!"

Beng San mata gelap. Dihajar dua hwesio pimpinan membuatnya kesakitan. Hanya karena keras hati dan keras kepala ia mampu bangun lagi. Maka ketika Siao Yen berkelebat membentaknya sementara Po Kwan menampar tengkuknya maka untuk tamparan ini ia membabatkan goloknya dan serangan Siao Yen ditangkis dengan tangan kirinya.

"Plak-dess!" Po Kwan terkejut menarik serangannya akan tetapi kakinya berpindah cepat, mengelak golok akan tetapi menendang lawannya. Dan ketika adiknya terhuyung bertemu Thai-san-ap-ting, Beng San juga mendesis ditendang suhengnya maka dua hwesio itu tiba-tiba bergerak dan sepasang tangan mereka sudah mencengkeram pemuda ini. Beng San sedang terhuyung dan kali ini tak mungkin mengelak.

"Des-dess!"

Sebatang tongkat tiba-tiba berkelebat di tengah dan itulah si buta Chi Koan. Entah bagain si buta ini muncul dan terkaman atau tubrukan dua hwesio itu dihalanginya. Sam-hwesio maupun suhengnya terkejut karena seseorang tiba-tiba berkelebat di depan mereka, sebatang tongkat menyambar dan cengkeraman atau terkaman mereka itu disambut benda ini.

Otomatis mereka menghantam akan tetapi mereka berteriak, dari tongkat panjang itu keluar daya mujijat yang membuat cengkeraman membalik, mereka bagai dilempar saja oleh tenaga yang keluar dari tongkat panjang ini. Dan ketika mereka bergulingan dan meloncat bangun maka Chi Koan si buta itu telah berdiri tersenyum-senyum di depan pemuda ini, melindungi Beng San dari segala bahaya.

"Hm, siapapun tak boleh mengganggu muridku. Siapa menyerang pemuda ini berarti menyerang aku, Ji-susiok. Aku tak mengambil apa-apa kecuali hendak membawa pemuda ini pergi."

"Suhu...!" Beng San tiba-tiba bersorak, girang dan langsung menjatuhkan diri berlutut. "Terima kasih atas pertolonganmu dan mereka hwesio-hwesio bau ini hampir membunuhku!"

"Bangunlah...!" Chi Koan menyentuh pundak muridnya dengan ujung tongkat. "Kau telah lulus ujian, Beng San, kau sekarang menjadi muridku. Jangan takut karena setahun dua lagi orang-orang ini bukan tandinganmu."

Beng San tertawa dan bangkit berdiri. Tak dapat disembunyikan lagi kegirangannya diterima murid. Perjuangannya tidak sia-sia. Dan ketika semua tertegun mendengar kata- kata itu, Ji-hwesio dan Sam-hwesio hampir tak percaya maka Siaow Yen tiba-tiba membentak dan menerjang ke depan. Tadi terhenti sejenak ketika dua pimpinan Gobi terlempar dan terguling-guling.

"Kau murid murtad, kiranya sudah berpindah guru dan pantas sikapmu kurang ajar!"

Akan tetapi di depan gadis ini adalah Chi Koan. Beng San masih di belakang gurunya dan terjangan Siao Yen berarti harus melewati si buta ini. Maka ketika Chi Koan tersenyum mendengar seruan nyaring itu, inilah kiranya gadis murid Peng Houw itu maka Ia amemalangkan tongkatnya dan dengan sekali dorong Ia membuat gadis itu terbanting.

"Jangan mengganggu Beng San, Ia muridku. Pergilah!"

Siao Yen berteriak dan terlempar bergulingan. Begitu tongkat bergerak menyambarlah tenaga amat kuatnya. Angin dingin menerpa dan ia tak tahan, Bahkan Ketua dan wakil Gobi saja roboh. Maka ketika ia terbanting dan berseru mengaduh maka Po Kwan berkelebat menolong adiknya itu. Siao Yen merah padam dan berapi-api.

"Keparat, jahanam itu... ia berkhianat!"

"Sudahlah, tenang. Kita berhadapan dengan musuh yang lihai, Yen-moi, jangan sembrono dan coba kita dengarkan kata-kata Ji-suhu. Beng San sudah berbalik haluan dan bukan sute kita lagi."

"Omitohud, benar!" Ji-hwesio mengebutkan ujung bajunya dan melangkah mendekati si buta ini, toya baja sudah di tangan dan siap-siap beradu jiwa. "Urusan Beng San urusan pribadi, Chi Koan, kalau ia ikut dirimu terserah. Pinceng hanya melapor kepada Peng Houw. Akan tetapi Hui Bin tawanan itu harus kembali kepada kita, ia masih merupakan hukuman!"

"Hm, Hui Bin urusan muridku Siauw Lam. Kalau kalian ingin ia kembali maka bicaralah kepada muridku, Ji-susiok, lihat itu dia!"

Tudingan tongkat ini disusul bayangan siauw Lam. Tawa mengejek terdengar dan tahu- tahu anak itu sudah di situ, berdiri di dekat gurunya. Lalu ketika Siauw Lam menuding Ji- hwesio dan berkata menghina maka ia membuat wajah semua, orang merah padam.

"Ji-hwesio, Hui Bin adalah pamanku. Kalian hwesio bau sudah cukup mengeramnya bertahun-tahun. Kini aku membebaskannya, kalau tidak puas boleh hadapi aku!"

"Omitohud..." Sam-hwesio bergerak dan tiba-tiba menyerang anak ini, langsung melepas Thai-san-ap-ting. "Kau tak tahu adat menghormati ketua Go-bi anak setan, pinceng menerima tantanganmu dan biarlah pinceng hadapi kau...wutt!"

Thai-san-ap-ting bukanlah pukulan sembarangan apalagi kalau dilepas wakil pimpinan Gobi ini. Sam-hwesio adalah murid Ji Beng Hwesio dan hanya karena ia tak memiliki warisan Bu-tek-cin-keng maka kepandaiannya tidak sehebat mendiang Beng Kong Hwesio, guru si buta Chi Koan, suhengnya yang murtad itu. Akan tetapi karena ia tokoh Gobi dan betapapun merupakan orang nomor dua maka Thai-san-ap-ting yang meluncur dari kedua lengan bajunya itu menimbulkan angin kuat yang membuat murid lain terdorong mundur.

"Plak!" Siauw Lam tertawa dan menangkis pukulan hwesio ini. Sama seperti yang dilakukan lawannya maka pemuda inipun mengeluarkan Thai-san-ap-ting, dan begitu dua tenaga bertemu ternyata hwesio itu tertolak ke belakang dan hampir terpelanting kalau tidak ditahan Ji-hwesio, ketua Gobi.

"Omitohud, sungguh sombong. Kalau begitu pinceng turun tangan!" Ji-hwesio menjadi marah dan ia maju ke depan.

Toya di tangan meluncur dengan sodokan cepat sementara tangan kiri melepas Thai-pek-po-kian. Inipun bukan ilmu sembarangan karena dulu Kwi-bo dan Tujuh Siluman Langit tak mampu melawan. Mendiang Ji Beng Hwesio mengandalkan ilmu ilmu untuk menghalau musuh-musuh Go-bi. Akan tetapi ketika lagi-lagi Siauw Lam menggerakkan lengannya dan menangkis toya serta pukulan kiri maka Ji-hwesio tergetar dan terhuyung-huyung.

"Dukk!"

Pucatlah para murid yang lain. Mereka telah melihat dua pimpinan mereka terpukul mundur oleh murid si buta ini. Akan tetapi karena nama baik Gobi harus dipertahankan dan Kam-hwesio membentak membawa anak buahnya maka hwesio ini sudah menerjang dan dengan gendewanya ia membela pimpinan dan nama Gobi tanpa takut.

"Serang anak ini!"

Murid Gobi berhamburan. Gendewa di tangan hwesio itu menderu namun Siauw Lam mengelak, diterjang yang lain dan tanganpun mendorong. Dan karena ia adalah murid Chi Koan serta sinkangnya kuat benar maka murid-murid Gobi terlempar bergulingan dan majulah Siao Yen melengking nyaring, disusul kakaknya dan Sam-hwesio maupun Ji-hwesio membentak menerjang. Mereka diancam nasib buruk oleh pemuda delapant belas tahun ini.

Dan ketika pemuda itu tertawa berkelebatan cepat, Lui-thian-to-jit atau Kilat Menyambar Matahari merupakan ginkang yang hanya dimiliki Chi Koan dan muridnya saja maka ilmu meringankan tubuh ini membuat pemuda itu lenyap dan berteriaklah para murid ketika bayangan pemuda itu berkelebatan cepat di antara mereka, menampar dan menendang dan satu per satu murid-murid Gobi roboh.

Chi Koan berseru agar pemuda itu tidak membunuh, Siauw Lam mengangguk dan tertawa membagi-bagi pukulannya ini. Dan ketika ia dikeroyok namun hilang di balik bayang-bayang cepat, begitu cepatnya hingga tak dapat dikuti mata maka Ji-hwesio maupun Sam-hwesio mengeluh terhuyung mundur, toya atau pukulan tak banyak berguna sementara tamparan atau dorongan pemuda itu amat hebatnya.

Beng San yang menonton ini menjadi kagum dan pemuda itu bersorak-sorak, lupa sudah akan hubungannya dengan hwesio Gobi dan ini membuat Siao Yen terbakar. Gadis itu baru saja terpelanting oleh kibasan Siauw Lam dan ia meloncat bangun menerjang bekas sute ini, tak perduli si buta yang ada di depannya. Dan ketika Chi Koan berkelit dan membiarkan muridnya berhadapan dengan gadis itu, Beng San mengelak dan menangkis maka pemuda ini sudah bertanding namun tampaklah bahwa ia masih lebih unggul dibanding Siao Yen.

Hal ini terlihat sang kakak dan Po Kwan membentak maju. Pemuda ni memaki bekas sute itu dan membantu adiknya. Dan ketika kakak beradik itu mengeroyok Beng San dan di sini barulah pertandingan menjadi imbang maka Chi Koan tersenyum-senyum dan mendengarkan semua itu dengan kepala sedikit dimiringkan sebagaimana kebiasaannya mendengarkan suara pertempuran.

Seseorang berindap di bawah pohon. Hui Bin, hwesio muka hitam itu terbelalak dan kagum melihat betapa keponakannya sudah menjadi manusia lihai. Tentu saja ia kagum dan girang. Akan tetapi ketika gerakannya dilihat sepasang mata sam-hwesio yang tajam, hwesio yang marah dan keluar meninggalkan Siauw Lam tiba-tiba hwesio itu membidik dan tanpa banyak bicara lagi sebatang anak panahnya melesat menyambar dahi di balik pohon itu, dahi yang melongok keluar menonton pertempuran.

"Cep-augh!" Hwesio ini adalah ahli panah jempolan. Jerit di belakang pohon itu didengar Siauw Lam dan pemuda itu terkejut. Alangkah kagetnya melihat sang paman roboh, dahi tertembus panah. Dan ketika ia memekik dan melihat hwesio itu, Kam-hwesio menyeringai puas mendadak Ia berkelebat dan menghantam kepala hwesio ini.

"Keparat, kau membunuh pamanku!"

Kam-hwesio terkejut. la melihat bayangan menyambar akan tetapi géndewanya diangkat. la menerima pukulan jtu dengan kaget dan perasaan terkesiap. Akan tetapi karena kemarahan Siauw Lam ini amatlah hebat dan pukulan tangan kanannya mengandung sinkang sepenuh tenaga, kejadian itu tak sempat dicegah maka gendewa di tangan hwesio ini patah untuk selanjutnya pukulan lawan menerobos menghantam dahinya.

"Prakk!" sial hwesio ini. Ia roboh dengan kepala pecah dan kagetlah murid-murid Gobi. Siauw Lam melakukan pembunuhan. Dan ketika mereka berteriak dan menerjang pemuda itu, Siauw Lam membalik dan tak ingat pesan gurunya lagi maka dua murid lagi menjadi korban pukulannya dan gusarlah pimpinan Gobi melihat keganasannya.

"Mundur, cukup!" Chi Koan membentak dan tiba-tiba berkelebat menggerakkan tongkatnya. Kalau muridnya tidak di cegah salah-salah pimpinan dan wakil Gobi menjadi korban. Hal ini tak baik bagi mereka karena sahabat atau rekan-rekan Gobi bakal memusuhi mereka. Chi Koan tak mau muridnya bertindak lebih jauh lagi dan menangkis pukulan muridnya itu. Dan ketika Siauw Lam terkejut terhuyung mundur maka gurunya berseru agar semuanya pergi.

"Bawa mayat pamanmu yang sembrono itu. Kenapa ia mendekati tempat ini. Hayo pergi dan cukup semua ini!" si buta melakukan gerakan di mana pimpinan dan murid-murid Gobi terpelanting.

Mereka dikibas sapuan tongkat dan semua terbanting, Siao Yen dan Po Kwan yang sedang bertanding juga tersambar angin tongkat ini, begitu kuatnya sapuan itu. Dan ketika semua terguling-guling dan berteriak kaget maka Chi Koan menyambar muridnya dan Beng San murid baru.

"Pergi dan kita tinggalkan tempat ini. Cukup!”

Beng San berdesir dibawa terbang melewati begitu banyak orang. Bagai burung atau rajawali melayang gurunya keluar kepungan, cepat sekali mereka sudah di luar jangkauan orang-orang itu. Dan ketika Siauw Lam melepaskan diri menyambar. pamannya, Hui Bin yang tewas maka si buta menyuruh Beng San berjongkok dan ia tahu-tahu telah hinggap di pundak pemuda ini,

"Lari sekencang-kencangmu. Kita ke Telaga See-ouw!"

Beng San terkejut. la mula-mula menyangka berat akan tetapi tiba-tiba tercengang. Gurunya ini seakan tak berbobot, ringan seringan daun kering. Maka ketika ia tertawa dan kagum meloncat ke depan, lari sepesat kijang muda maka Si buta masih membantunya dengan totolan tongkat di mana Beng San melambung tinggi dan melesat jauh lebih cepat lagi.

"Ha-ha, hebat. Kau hebat, suhu, mengagumkan sekali. Ah, betul-betul mengagumkan!"

Chi Koan tersenyum-senyum. Ia telah mendapatkan pengganti Siauw Lam untuk duduk dipundak murid yang lain. Inilah keinginannya. Maka ketika ia membantu dan menggerak-gerakkan tongkat ke bawah, Siauw Lam menyusul membawa mayat pamannya maka tiga orang ini sudah menghilang dan mereka hanya meninggalkan debu di gurun.

Ji-hwesio pimpinan Gobi termangu-mangu. Si buta benar-benar muncul dan kini tambah berbahaya lagi. Siauw Lam bocah cilik itu telah menjadi pemuda lihai. Ia dan yang lain-lain tak mampu menghadapi. Dan ketika hwesio ini begitu sedih hingga meneteskan air mata duka, apalagi ketika kematian Kam-hwesio membuat ia berduka maka pimpinan Gobi ini menangis dan tiba-tiba ia berkelebat meninggalkan tempat itu, kembali ke kuil.

Sam-hwesio menarik napas memegang toya bengkok. lapun termangu-mangu dan sedih. Dalam pertandingan tadi Siauw Lam memuntir dan menekuk senjatanya. Bagai barang lembek saja toya itu bengkok. Maka ketika ia menggigit bibir dan sedih serta marah maka hwesio inipun menyusul suhengnya dan berkata agar semua murid kembali.

"Bawa yang luka-luka dan semayamkan yang tewas di Pendopo Besar. Kita sembahyangi arwah mereka agar terbebas dari dosa!"

Murid-murid mencucurkan air mata. Mereka juga sedih dan berduka oleh kejadian pagi itu. Semua berasal dari Beng San. Tak akan mereka lupakan anak itu. Awas nanti! Lalu ketika semua bergerak dan membersihkan tempat itu, awan kelabu menggantung di Gobi maka untuk yang kesekian kalinya partai persilatan ini dirundung duka.

Po Kwan dan Siao Yen merasa tak enak. Sute mereka telah membuat peristiwa berdarah di Gobi. Dan ketika mereka meminta maaf dan berulang-ulang menyatakan kemarahan dan penyesalannya, sungguh dua kakak beradik ini gusar sekali maka Siao Yen menuding betapa Beng San telah menjadi manusia busuk.

"Lihat apa kataku dulu, sekarang kau tak perlu membelanya lagi. Sejak dulu ia telah menunjukkan tanda-tanda tak baik Kwan-ko. Sifatnya sombong dan rakus ilmu. Sekarang apa yang ia lakukan setelah bertemu si buta. Tak malu ia meninggalkan kita hanya untuk meraih yang lain!"

"Sudahlah, aku tahu. Aku juga kecewa dan menyesal, Yen-moi, tapi nasi telah menjadi bubur. Tak kusangka ia sampai berkhianat hanya untuk berguru kepada si buta itu. Hm, kita laporkan suhu dan tunggu sampai ia datang."

"Benar, dan aku tak sabar. Apa saja yang dilakukan suhu hingga ia melewati janji. Sudah sekian tahun kita menunggu!"

"Sabar dan kendalikan kemarahanmu. Suhu juga sedang ditimpa duka kehilangan anak isterinya, Yen-moi, kita harus menyadari ini dan jangan terlampau menyalahkannya. Sudahlah kita tunggu kedatangannya dan sebagai murid yang setia kita harus bersabar."

Hari itu Gobi berkabung. Untunglah yang tewas hanya seorang hwesio kepala dan dua orang murid, mereka disembahyangi dan akhirnya dimakamkan. Dan ketika beberapa hari kemudian datanglah Giok Yang Cinjin maka terkejutlah tosu ini mendengar berita itu. Wajahnya berubah mendengar sepak terjang Beng San, dialah yang membawa anak itu dan merasa bertanggung jawab!

"Beng San, anak itu... dia. dia pergi meninggalkan kalian? Dia menjadi murid Chi Koan?"

"Benar, dan betapa buruknya watak anak itu. Aku menyesal dan malu berada di sini locianpwe. Kalau saja suhu sudah pulang dan kita melapor mau rasanya cepat-cepat pergi dari sini. Anak itu jahanam keparat!" Siao Yen yang berwatak keras dan tak mampu mengendalikan hatinya langsung saja bicara. Di balik kata-katanya tersirat penyesalannya kepada tosu ini. Inilah tosu yang membawa anak itu. Dan ketika wajah si tosu menjadi merah akan tetapi Ji-hwesio dan Sam-hwesio batuk-batuk maka dua pimpinan Gobi itu merendahkan nada bicara Siao Yen.

"Omitohud, kami pihak Gobi tidak menyalahkan siapa-siapa kecuali Si buta dan muridnya itu. Urusan ini tak perlu dipikir panjang, Giok Yang Cinjin, ini urusan kami. Ringankanlah hatimu dan satu-satunya yang akan kami kerjakan adalah menunggu Peng Houw. Biarlah dia nanti yang menyelesaikan ini."

"Hm. pinto jadi tak enak. Pintolah yang membawa anak itu pertama kali, Ji-suhu. kalau sekarang meleset dari arahan maka pinto ikut bertanggung jawab. Sungguh celaka, anak yang pinto kagumi membuat ulah. Pinto akan mencari dan membalasnya. Pinto akan mengadu jiwa!"

"Bukan hanya totiang saja. Ia bekas sute kami, locianpwe, kami juga tak akan tinggal diam. Kami telah dibuat malu dan tak enak kepada jiwi-losuhu ini. Kami akan mencari dan menuntut tanggung jawabnya kelak!"

Po Kwan bicara dan anak muda inipun mengepalkan tinju. Giok Yang Cinjin memandang kakak beradik ini dan diam-diam ia kagum. Anak-anak ini sudah berobah dewasa dan wajah mereka begitu bersih. Kesabaran dan kejujuran terpancar di situ, sang kakak lebih mengagumkan karena sikapnya lebih tenang dan kalem, meskipun saat itu pemuda itu merasa marah oleh perbuatan bekas sutenya. Dan ketika sekali lagi kakek ini menarik napas dalam dan menyesal di hati ia berkata bahwa ia tak akan tinggal diam saja.

"Pinto telah tiba di Sini, sebenarnya hanya untuk melihat anak-anak ini melepas kangen. Kalau satu di antara mereka melenceng dari kebenaran pinto juga turut menyesal, Po Kwan, pinto juga malu kepada sahabat dari Gobi. Pinto segera saja pamit mundur dan maaf bahwa kedatangan pinto mengganggu kalian!"

"Omitohud, jangan terburu. Tinggalah di sini dua tiga hari, totiang, kasihan anak-anak itu kalau begini cepat kau pergi. Kami dari Gobi tak menyalahkanmu sama sekali, percayalah!"

"Benar, ini tak ada sangkut-pautnya denganmu. Persoalan ini pribadi kami dengan Chi Koan dan muridnya, Giok Yang Cinjin. Tinggallah di sini sehari dua menemani anak-anak ini, Siapa tahu Peng Houw segera datang!"

Giok Yang Cinjin menarik napas lagi. Dua pimpinan Gobi itu memang orang-orang baik dan ia harus mengakui itu. Meskipun ia tidak salah akan tetapi tanggung jawab moralnya berat, telah membawa anak yang membuat bencana.

Dan ketika Po Kwan juga berkata agar ia tinggal dulu di situ pengganti suhunya yang belum datang akhirnya tosu ini menyerah juga dan mengucapkan terima kasih. Giok Yang Cinjin tinggal tiga hari di tempat ini sesuai kehendak pimpinan Gobi ia lebih banyak menemani Siao Yen dan kakaknya daripada tuan rumah.

Hal ini karena anak-anak itu memang butuh seseorang, suhu mereka masih belum datang. Namun ketika tiga hari kemudian tosu ini minta diri maka Siao Yen dan kakaknya tak dapat mencegah lagi karena secara moral tosu itu tak enak berlama-lama di Gobi.

"Terlalu lama di sini hanya membuat pinto tak nyaman. Rasanya semua orang menyalahkan pinto juga. Beng San memang pinto yang membawa. Jaga diri baik-baik dan kucari guru kalian itu, Siao Yen. Kukabarkan tentang ini dan kuharap ia cepat kembali. Sekarang pinto permisi dan pinto telah pamit kepada pimpinan Gobi."

"Totiang tolong cari dan temukan suhu. Kami bingung sendirian di sini, totiang, kami juga tak enak kepada para lo-suhu di sini. Kalau saja kami tak diperintahkan menunggu tentu kami keluar dan lebih baik kembali pulang!"

"Bersabarlah, itupun dapat kumaklumi. Tugas kalian menunggu guru, Siao Yen, tapi aku yakin guru kalian segera datang. Sudahlah jaga diri baik-baik dan urusan tentu selesai kalau guru kalian datang!"

"Harap locianpwe berhati-hati pula," Po Kwan berseru dan memperingatkan tosu ini. "Sute kami Beng San lebih lihai daripada dulu, locianpwe, kami berdua harus mengeroyoknya kalau ingin bertanding imbang. Apalagi kini, tentu ia lebih hebat!"

"Terima kasih, pinto akan mengingat-ingatnya, Po Kwan, tapi pinto tak perlu takut. Kebenaran akhirnya pasti menang juga. Sudahlah selamat tinggal sampai ketemu lagi!" tosu itu berkelebat dan akhirnya meninggalkan Gobi.

Po Kwan dan adiknya memandang namun tosu itu lenyap di luar pintu gerbang. Lalu ketika mereka kembali dan hari-hari selanjutnya dilewatkan dengan murung maka seminggu kemudian datanglah Peng Houw yang lama ditunggu-tunggu!

Tak ampun lagi kakak beradik ini menubruk girang. Po Kwan melihat wajah gurunya yang murung dan cepat menjatuhkan diri berlutut. Namun adiknya yang tak dapat menahan perasaan sudah menangis tersedu-sedu.

"Suhu, Beng San telah menjadi pengkhianat. la meninggalkan kita. la berguru kepada Chi Koan!"

"Stt, suhu baru datang. Jangan bicara yang mengguncang emosi, Siao Yen, biarkan suhu tenang dan kita suruh minum teh dulu." Po Kwan terkejut dan gagal mencegah adiknya itu. la sudah melarang adiknya untuk tidak melapor dan biarlah setelan nanti gurunya tenang mereka bicara. Atau, mungkin pimpinan Gobi yang lebih baik menceritakan itu, mereka anak-anak muda yang harus menghormati Orang tua lebih dulu.

Tapi karena adiknya sudah mengguguk dan dua bayangan berkelebat di belakang mereka maka Ji-hwesio dan Sam-hwesio muncul merangkapkan lengan. Dua pimpinan Gobi ini telah menerima laporan dari para murid bahwa sang Naga telah datang.

"Omitohud, selamat datang. Lama sekali kau ditunggu-tunggu muridmu, Peng Houw. Pinceng juga merasa kangen. Ah, apa kabar dan bagaimana berita anak isterimu?"

"Benar, bagaimana berita anak isterimu. Sudahkah kau temukan mereka, Peng Houw, dan apa kabar?"

Peng Houw cepat membalas hormat dan Po Kwan kagum akan sikap atau kata-kata pimpinan Gobi itu. Mereka bukan mengurusi diri sendiri melainkan bertanya dan mengurusi orang lain dulu, inilah sopan-santun yang tinggi. Namun karena pendekar itu sudah dikejutkan lebih dulu oleh tangis dan berita muridnya maka, wajah Peng Houw yang gelap tampak semakin keruh. Sesungguhnya Naga Gurun Gobi ini sedang banyak persoalan. la diganggu lagi oleh urusan Hong Cu, gadis Sin-hong-pang itu!

"Hm, susiok sudah di sini, terima kasih. Apa yang terjadi dengan muridku Beng San, susiok. Bagaimana ia meninggalkan kita?"

"Omitohud, bagaimana dengan anak isterimu dulu. Urusan ini dapat dibicarakan nanti dan silakan kau bertemu muridmu dulu!"

"Benar, Siao Yen atau Po Kwan dapat menceritakannya kepadamu, Peng Houw, bagaimana dengan anak isterimu dulu."

"Mereka hilang, aku tak menemukannya lagi!"

"Omitohud, pinceng menyesal. Ah. Sudahlah kau temui dulu murid-muridmu ini dan nanti kita bicara lagi."

Ji-hwesio dan Sam-hwesio saling memberi isyarat dan Po Kwan lagi-lagi kagum. Dan pimpinan Gobi itu benar-benar tahu sopan-santun pergaulan dan mengalah untuk mengesampingkan urusan sendiri. Mereka berkelebat dan kembali ketempatnya. Lalu ketika Po Kwan diminta berdiri dan Siao Yen juga disentuh gurunya maka Peng Houw bertanya apa yang telah terjadi.

"Sebaiknya suhu masuk dulu ke kamar, kita bicara di dalam...!" Po Kwan berhati-hati.

"Baik, marilah, Po Kwan, dan ceritakan semuanya kepadaku!"

Peng Houw berkelebat. Disusul dua muridnya, pendekar ini telah memasuki kamarnya sendiri. Po Kwan dan Siao Yen mendapat kamar lain namun tak jauh dari kamar gurunya. Dan ketika pintu dibuka dan bau harum menyambar, bunga melati semerbak memenuhi tempat itu maka pendekar ini tampak tertegun dan melirik Siao Yen.

"Maaf, suhu, teecu teringat kebiasaan subo (ibu guru) di rumah sendiri. Teecu menjaga dan membersihkannya!"

"Terima kasih. Kalian ternyata merawat kamar ini, Siao Yen. Aku senang dan mari masuk!"

Kamar bersih dan harum itu membuat perasaan nyaman. Meskipun Naga Gurun Gobi ini membawa persoalan berat akan tetapi suasana dan isi kamar yang harum menyejukkan kepala. Ia menghisap dalam-dalam bau kembang melati itu. Dan ketika pintu kamar ditutup dan keduanya berlutut di depan guru mereka maka Peng Houw. mengulang pertanyaannya tadi dengan suara menahan marah.

"Ceritakan apa yang dilakukan Beng San, dan apa yang telah terjadi di sini."

"Dia... dia berkhianat. Beng San membalik. Ia melepaskan tawanan dan melarikan diri, suhu. Chi Koan si buta itu ada bersama dan kini mengambilnya murid!"

"Tawanan? Maksudmu Hui Bin si hwesio di atas bukit itu?"

"Benar, suhu, dan Beng San telah berani datang ke sana. la melanggar larangan, membawa lari tawanan membebaskan hwesio itu. Kami dibuat malu habis-habisan."

"Hm... coba ceritakan dan urutlah secara runtut. Bagaimana mula-mula kejadian itu. Tak mungkin Chi Koan datang tanpa bermaksud apa-apa."

"Ini dimulai ketika teecu selesai mandi!"

"Mandi?"

'Ya,," gadis itu semburat. "Di belakang kuil teecu digoda si Beng San itu suhu, dan tahu-tahu muncul Siauw Lam bocah keparat itu!"

"Hm, ceritakanlah...!" Naga Gurun Gobi ini tiba-tiba sadar bahwa murid perempuannya yang cilik ini telah berkembang dewasa. la mulai memperhatikan bahwa muridnya perempuan ini telah menjadi gadis enam belas tahun yang cantik dan gagah. Sepasang pipi kemerah-merahan dan bibir yang lembut basah itu telah merupakan daya tarik sendiri. Tak aneh kalau Beng San menggoda gadis ini. Siao Yen memang telah mekar den tumbuh dewasa. Terlalu lama Ia meninggalkan kakak beradik ini.

Maka ketika ia bersinar-sinar dan mulai mendengarkan dan memperhatikan cerita itu maka mulailah gadis ini menceritakan peristiwa di kamar mandi betapa Beng San menggodanya dan ia marah-marah. Betapa Siauw Lam muncul dan itulah sumber malapetaka.

Lalu ketika ia menceritakan betapa sutenya itu menghilang dan muncul membawa lari tawanan Gobi, mengejar dan akhirnya menyerang maka Peng Houw berkerut-kerut karena ia tertampar dan terpukul oleh sepak terjang muridnya yang murtad itu.

"Kalau saja si buta Chi Koan tak ada tentu Beng San roboh. Kami berdua sanggup menghadapinya, suhu, apalagi Ji-losuhu dan Sam-losuhu membantu pula akan tetapi musuh bebuyutan suhu itu muncul, dan hebatnya lagi ia telah mengangkat Beng San sebagai murid. Beng San sendiri menyebutnya suhu. Keparat anak itu!"

Peng Houw mengeratakkan giginya mendengar cerita berapi-api itu. Po Kwan hanya mengangguk-angguk dan sesekali menambah ini-itu. Cerita yang dibawa Siao Yen memang penuh emosi, siapapun mudah terbakar. Dan ketika cerita ditutup dengan datangnya Giok Yeng Cinjin, Peng Houw tertegun maka gadis itu menutup dengan isak tertahan.

"Giok Yang locianpwe merasa bertanggung jawab, ia dibuat malu juga. Namun karena suhu tak datang juga maka ia pergi dan kami diminta menunggumu di sini, penantian yang terasa berat bagi kami."

"Hm, maafkan. Ada persoalan yang membelit hatiku, Siao Yen, ada peristiwa yang membuatku, pusíng. Aku bentrok dengan Sin-hong-pang."

"Sin-hong-pang?"

"Ya, Sin-hong-pang. Di tempat itu aku dimusuhi orang habis-habisan. Mereka, ah... ini gara-gara Hong Cu!"

"Siapa Hong Cu itu...!"

"Siao Yen" Po Kwan tiba-tiba membentak. "Tahan mulutmu dan jangan bertanya urusan pribadi suhu!"

Gadis ini terkejut, sadar. Suhunya menyebut nama seorang perempuan dan tiba-tiba saja la tertarik. Wanita mana tak tertarik kalau seorang pria menyebut nama perempuan lain. Tapi begitu ia dibentak dan sadar maka ia menunduk dan tidak bertanya lagi.

"Hm, adikmu tak terlalu lancang. Kalaupun ia tak bertanya maka aku nanti yang akan menceritakannya, Po Kwan, sudahlah jangan marah kepada adikmu dan sekarang aku akan menghadap pimpinan Gobi. Cerita ini sudah cukup."

Siao Yen lega dan Po Kwan menyesal membentak adiknya. Betapapun ia sayang kepada adiknya itu, inilah adik perempuan satu-satunya. Maka ketika sang suhu pergi dan ia memegang lengan adiknya maka ia meminta maaf telah bersikap kasar tadi.

"Aku takut suhu marah. Kau bisa dianggap lancang. Maafkan aku membentakmu tadi, Yen-moi, tapi lain kali harap berhati-hati jangan keburu mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi suhu kita!"

"Aku tak sengaja," gadis itu menghela napas. "Tapi untung suhu tak marah, Kwan-ko, betapapun aku akan menjaga diri bila lain kali bertemu seperti ini lagi"

"Dan sekarang kita menunggu suhu, pulang atau masih tinggal di sini."

Gadis itu mengangguk. Sang kakak benar dan ia membenahi kamar itu lebih rapi lagi. Sepasang pot bunga ditaruh penyedap pandang mata. Po Kwan mengatur ini itu membantu adiknya pula. Lalu ketika kakak beradik ini menunggu guru mereka maka Naga Gurun Gobi itu telah menghadap susioknya di bagian paling dalam di belakang Pendopo Besar.

Ji-hwesio bersila tenang. Sutenya duduk tak kalah tenang dan mereka berdua ini sengaja menunggu Peng Houw datang. Lalu ketika pendekar itu muncul dan mereka mempersilakan duduk maka pembicaraan langsung pada pokok persoalan.

"Aku ingin minta maaf kepada jiwi-susiok (paman guru berdua). Siao Yen dan Po Kwan telah menceritakan semuanya kepadaku, susiok, dan menyesal sekali bahwa semua itu terjadi di saat aku tak ada di sini. Aku berjanji akan mencari dan membekuk anak itu untuk minta pertanggung jawabannya mengacau Go-bi!"

"Omitohud, tenangkan pikiran redakan kemarahan. Kalau kau sudah mendengar semuanya maka kami tak perlu mengulang, Peng Houw. Tapi mencari dan membekuk anak itu bukanlah tugas utama karena di balik semua ini sesungguhnya Chi Koan yang paling bertanggung jawab. Baru sekarang pinceng tahu bahwa Siauw Lam adalah keponakan Hui Bin, dan si buta itu datang memenuhi permintaan muridnya. Hm, bocah itu lihai sekali hingga kami berdua tak mampu melawan!"

Ji hwesio yang muram dan tampak khawatir menjawab kata-kata Naga Gurun Gobi itu. Sam-hwesio mengangguk-angguk dan menarik napas dalam pula. Lalu ketika hwesio ini menyambung bahwa apa yang dikatakan suhengnya benar maka ia memberi tahu bahwa Gobi mendapat ancaman bahaya baru.

"Sekarang Chi Koan memiliki dua orang murid, dan Beng San tak kalah berbahaya empat lima tahun lagi. Anak itu cerdas dan luar biasa, Peng Houw, Thai-san-ap-ting dan Cui-pek-po-kian dilalap habis sebelum muridmu Siao Yen maupun Po Kwan menguasainya dengan baik!"

"Omitohud, benar sekali yang satu ini lain dari yang lain. Pinceng juga harus mengakui bahwa ia lebih cerdas dibanding suci dan suhengnya."

"Dan ia pun bisa lebih hebat daripada Siauw Lam, mungkin lebih hebat daripada Chi Koan sendiri!"

"Hm-hm, Beng San memang anak luar biasa. Tengkorak kepalanya dan susunan tulang belakangnya lebih baik daripada Siao Yen maupun kakaknya, susiok, akan tetapi hal itu bukan berarti harus membuat kita cemas. Aku akan mencari dan menghajarnya dan mungkin besok pergi!"

"Omitohud, inilah yang hendak kami beritahukan kepadamu! Kami berdua telah berunding dan mendapat kesepakatan, Peng Houw, akan tetapi entahlah bagaimana dengan dirimu. Begini, maukah Sementara ini kau tinggal bersama kami melindungi Gobi. Kalau muridmu dan anak-anak di sini tak mampu menghadapi iblis-iblis itu bagaimana kami berbuat lebih jauh. Kau adalah andalan kami di sini, Peng Houw, terus terang kami merasa tak dapat berbuat apa-apa kalau si buta dan muridnya itu muncul. Kami sepakat untuk minta bantuanmu dan urusan isterimu akan kami bantu dengan menyebar anak-anak murid ke delapan penjuru. Percuma kau mencari-carinya kalau tidak ketemu juga. Kami akan membantumu dan sebaliknya kau bantulah kami di sini terutama menghadapi si buta itu. Bagaimana pendapatmu setujukah atau tidak!"

Peng Houw tertegun. la mengerutkan kening dan terkejut. la tiba-tiba saja diminta tinggal di situ melindungi Gobi. Tentu saja hal ini tak dapat dijawab cepat dan ia termangu.

"Tapi ketika ia ditunggu dan harus menjawab akhirnya berkata, Jiwi-susiok telah menaruh kepercayaan kepadaku, dan seharusnya kuterima. Tapi karena ada dua muridku yang kini merupakan orang-orang terdekat denganku biarlah kutanya mereka dulu, Susiok. Sebenarnya aku hendak mengajak, mereka pergi dan mencari subo dan sutenya itu"

"Omitohud, benar! Kau tidak salah, Peng Houw, dan mereka adalah anak-anak baik yang setia dan hormat kepadamu. Baiklah boleh kau tanya mereka dan tolong pertimbangkan ini. Tapi setuju atau tidak kami akan menyebar anak-anak murid mencari anak isterimu yang hilang. Pinceng ikut prihatin."

Peng Houw terharu. Pembicaraan akhirnya berkisar pada itu dan ia melihat serta merenungkan. Dua pimpinan Gobi itu benar-benar merasa tak berdaya menghadapi Chi Koan yang lihai, sekarang ada pula Siauw Lam dan Beng San. Dan ketika akhirnya ia mengangguk untuk kembali pada muridnya maka malam itu Siao Yen dan kakaknya mendengarkan dengan khidmat.

"Ternyata Ji-losuhu dan Sam-losuhu menghendaki aku di sini. Aku diminta melindungi Gobi kalau Chi Koan atau murid-muridnya mengganggu. Bagaimana pendapat kalian berdua, Po Kwan. Aku tak memberi jawaban karena menunggu jawaban kalian. Sekarang hanya kalianlah orang paling dekat denganku. Coba kalian pikir dan bagaimana menghadapi permintaan ini."

"Kalau teecu sebaiknya pergi. Tak enak berlama-lama di sini, suhu, pulang dan kembali saja ke tempat asal. Teecu tak tahan harus mondok di rumah orang!"

"Hm, aku juga berpikir begitu. Cukup lama kalian kutitipkan di sini, Siao Yen, tapi bagaimana pendapat kakakmu."

"Maaf...!" pemuda ini ternyata lain. "Keinginan pribadi agaknya harus dikesampingkan, suhu, persoalan umum dan penting rupanya harus didahulukan. Siao Yen tidak salah, karena ia satu-satunya wanita di sini dan mungkin risi. Akan tetapi permintaan Ji-locianpwe rupanya tak patut ditolak. Justeru teecu menerima ini hitung-hitung sebagai perasaan tebus dosa. Bukankah adanya Beng San karena kita. Kalau ia muncul dan mengacau lagi maka Gobi benar-benar terancam bencana. Sebaiknya suhu tinggal di sini karena bukankah rumah kita di Huang-ho juga tidak terpakai lagi. Kecuali kalau suhu sudah menemukan subo dan sute maka Gobi boleh ditinggalkan. Demikianlah pendapat teecu."

Peng Houw mengangguk-angguk. Ternyata muridnya laki-laki ini berpikiran jauh ke depan dan dewasa. Mau tidak mau ia kagum juga. Beng San adalah bekas muridnya, dan bekas murid itu telah melakukan kekacauan di sini. Kalau ia tinggal di situ menjaga dan melindungi Gobi bukankah sikapnya ini sebagai balas hutang atau tebus dosa? Maka ketika ia mengangguk-angguk sementara Siao Yen cemberut mengerutkan kening akhirnya ia berkata,

"Jawabanmu benar. Perbuatan Beng San mencoreng nama kita, Po Kwan, dan kita harus membayarnya dengan menjaga tempat ini. Baiklah, pendapatmu kuterima!"

"Nanti dulut" Siao Yen tiba-tiba menukas. "Bagaimana kalau mereka tak datang lagi, suhu. Masa seumur hidup menjaga tempat orang!"

"Hm, sebenarnya ini tempat suhu juga. Kalau kau menganggapnya tempat asing dan orang lain maka pendapatmu salah, Siao yen. Bukankah selama ini suhu dibesarkan dan dididik di sini. Ini tempat tinggalnya pula. Hanya setelah suhu menikah ia keluar."

Po Kwan mendahului suhunya dan Peng Houw lagi-lagi mengangguk. Kalau mau dihitung maka Gobi adalah tempatnya sejak kecil, tempat di mana ia digembleng dan dibesarkan. Sebelum menikah maka tempat inilah tinggalnya. Dan ketika ia tersenyum dan mengangguk-angguk maka gadis itu merah merasa dikalahkan, penasaran.

"Kakakmu benar, Gobi bukan tempat asing bagiku. Bahkan di sini mereka adalah saudara-saudaraku, Siao Yen, hanya karena aku membawa kalian maka aku sungkan berlama-lama. Sekarang mereka sendiri yang minta kepadaku, agaknya tak dapat kutolak. Menjaga tempat ini tiada ubahnya menjaga rumahku sendiri. Kakakmu betul."

"Akan tetapi aku rikuh sendirian disini. Aku satu-satunya perempuan!"

"Kau adalah murid suhu, siapa berani mengganggu. Lihat selama ini para hwesio hormat kepada kita, Siao Yen, lagi pula aku di sini. Aku nenemanimu!”

"Tapi kau laki-laki, aku perempuun!"

"Kalau begitu apakah suhu perlu mencarikan teman perempuan? Bawa saja uwak Kim ke mari, pasti beres!"

"Hm, benar," Peng Houw tersenyum menahan tawa. "Kakakmu tidak salah, Siao Yen. Kalau kau merasa sendirian di sini maka uwak Kin dapat kuambil. Baik, bagaimana kalau begitu."

"Terserah suhu!" gadis ini akhirnya mengalah, melirik kakaknya dengan dongkol.

"Begitu juga boleh, suhu. Tapi sesekali teecu ingin juga keluar dan mencari suasana lain."

"Benar," Po Kwan mengangguk dan memandang gurunya. Terlalu lama di balik tembok mengundang kejemuan juga suhu, mohon kebijaksanaan suhu kalau satu saat kami diajak main-main keluar!"

"Hm, aku lupa ini. Kalian bukan kucing atau katak di balik kurungan, Po kwan. Aku menjanjikan kepada kalian untuk satu saat berpesiar dan mencari udara baru!"

"Terima kasih!" gadis itu melonjak. "Kalau begitu boleh ambil uwak Kin!"

"Dan kau tak sendirian lagi. Hanya aneh bahwa tempat para hwesio dihuni wanita pula. Apakah pimpinan Gobi tak keberatan!"

"Aku akan bicara kepada mereka. Ini bersifat khusus, Po Kwan, tapi tentu Ji-lo-suhu tak akan menolak. Baiklah besok kutemui dan sekarang aku ingin menceritakan kenapa perjalananku begitu lama. Harap kalian jangan ceritakan orang lain karena mungkin di lain hari kalian dimusuhi orang pula!"

Dua muda-mudi itu mengerutkan kening. Siao Yen yang baru saja bersorak mendadak menarik alisnya tinggi-tinggi, ia merasa berdebar. Namun karena sudah lama ia menunggu dan ingin mendengarkan ini tentu saja ia tertarik dan tanpa diminta lagi ia sudah menggeser duduknya lebih dekat dengan sang suhu.

Dan begitu Po Kwan mengangguk dan ikut berdebar pula maka kakak beradik ini Sudah mendengarkan cerita suhunya dengan penuh perhatian. Malam telah semakin dingin dan suara angin gurun kadang-kadang bertiup dan menderu, bagai deru cerita itu yang ternyata menegangkan dan juge mencemaskan.

* * * * * * * *

Seperti diketahui akhirnya Peng Houw meninggalkan Kun-lun dengan perasaan bingung dan marah. la tak menemukan Kim Cu Cinjin di situ karena tosu itu pergi turun gunung. Kedudukan ketua juga sudah dipegang orang lain dan Naga Gurun Gobi ini mendengar cerita tentang Chi Koan, betapa si buta itu muncul dan mencelakai tokoh-tokoh Kun-lun. Memang tak ada orang lain yang mampu menundukkan si buta itu kecuali dirinya. Maka ketika putus asa dan tinggalkan tempat itu segera Peng Houw menuju ketimur.

Ke manakahi ia pergi? Tak ada tujuannya. Naga Gurun Gobi ini melangkahkan kakinya ke mana ia suka dan berbulan-bulan ia naik turun gunung masuk keluar kota. Di tengah jalan tentu saja ia bertanya dan mencari-cari, pakaiannya mulai kotor dan wajahpun seringkali berdebu. Wajahnya cepat menua dan orang akan pangling melihat pendekar sakti ini.

Peng Houw tak merawat tubuhnya sampai suatu hari ia jatuh sakit. Bukan fisik yang mendera melainkan tekanan batinnya. la rindu anak isteri. Dan ketika pagi itu ia jatuh terduduk di mulut sebuah hutan, mengeluh dan lupa makan minum tiba-tiba berkelebatlah beberapa bayangan dan harum tubuh menyambar disusul bentakan.

"Benar ini Naga Gurun Gobi. He, kemana sumoiku Hong Cu, Peng Houw. Kau biang keladi hilangnya sumoiku, tar-tar...!" seorang wanita empat puluhan telah berdirį di situ dan di belakang wanita ini menyusul bayangan-bayangan langsing berjumlah belasan.

Peng Houw terkejut karena itulah Siang-mauw Sian-li (Dewi Rambut Harum), Wanita yang meledakkan rambutnya dan merupakan senjata-senjata hebat yang ampuh dan mengerikan. Rambut itu dupat lemas dun kaku tergantung pemiliknya, dapat melibat dan memotong kalau sudah diisi sinkang. Maka ketika ia berdirii dan tahu-tahu sudah dikepung tak kurang dari sembilanbelas wanita cantik maka Peng Houw tertawa getir dikenal lawan.

"Siang-maw Sian-li kiranya, datang melepas penasaran. Hm... aku tak tahu-menahu di mana sumoinu berada, Sian-li masa kujaga seperti anak kecil kehilangan induknya. Aku tak tahu, maaf jangan ganggu!"

"Keparat, enak sekali. Kami menemukan jejak bahwa ia bersamamu, Peng Houw. Ada beberapa saksi yang memberi tahu kami. Nah, jangan bohong dan bicara baik-baik saja, atau kami menyerangmu dan biarpun kau lihai akan tetapi mati hidup akan kami pertaruhkan!"

Peng Houw terkejut, matanya berkunang-kunang. Sebetulnya ia meriang tak enak badan dan ingin istirahat. Kalau saja tak ada ketua Sin-hong-pang ini tentu ia mencoba tidur pulas. Segulung rumput tebal telah ia siapkan, bahkan iapun telah melonggarkan bajunya untuk tidur. Maka ketika tiba-tiba ia diganggu dan Wanita itu begitu serius, terkejutlah ia mendengar saksi segala maka ia memijit tengkuknya menghilangkan pandangan kabur akibat rasa meriang.

"Siang-mauw Sian-Ii, siapa saksi yang kau sebutkan itu. Dari mana kau tahu. Aku tak mengerti dan justeru heran atas sikapmu ini. Pergilah dan jangan ganggu aku atau aku yang pergi dan tak akan mengganggumu."

"Tunggu, jangan pergi!" bentakan itu disusul gerakan wanita cantik ini beserta delapan belas muridnya. "Sikapmu justeru memperberat dugaanku, Peng Houw, kau hendak melarikan diri!"

"Hm, aku tak melarikan diri, hanya tak enak badan. Sekali lagi aku tak tahu di mana dan ke mana sumoimu Hong Cu, Sian-li. Minggirlah dan beri aku jalan. Aku berani sumpah."

"Sumpahmu sumpah bohong. Lihat siapa mereka itu, Peng Houw, dan beranikah kau menyangkal!"

Peng Houw membalik dan menoleh. La hampir terlambat ketika sebatang hui-to (Golok terbang) menyambar tengkuknya. Dari balik pohon muncul orang-orang lain tersenyum- senyum, satu di antaranya adalah seorang kakek tinggi kurus berusia limapuluhan tahun. Kakek inilah yang melepas hui-tonya dan menyambar amat cepat, nyaris tanpa suara. Tapi ketika Peng Houw menoleh dan menangkis itu maka senjata gelap ini runtuh dan patah menjadi dua.

"Plak!" Berkelebatlah bayangan-bayangan itu. Kekeh dan tawa segera terdengar dan jumlah pengepung tehu-tahu telah bertambah sembilan orang. Tujuh sudah dikenal sementara dua yang terakhir membuat Peng Houw berkerut kening. Itu adalah seorang wanita cantik dan seorang pemuda gagah bermulut sombong. Pakaian wanita itu serba merah sementara di belakang punggungnya terselip sebatang pedang.

Si pemuda juga begitu dan pedangnya bergagang mutiara menempel di belakang tubuhnya. Alisnya hitam pendek dan tarikan bibirnya pongah sekali, sekilas bentuk hidungnya sama dengan wanita baju merah itu, yang usianya sekitar empatpuluh enam tahun dan bibirnya yang berjebi membayangkan keangkuhan besar.

Dan ketika Peng Houw tertegun dan mengamati dua orang terakhir ini, satu di antaranya tiba-tiba terkekeh serak dan menyodok-nyodokkan tongkatnya maka kakek ini, yang sudah berdiri di dekat Sian-mau Sian-li berseru, serak melengking.

"Heh, Naga Gurun Gobi sedang sakit, hampir kita pangling. Kalau Sian-li tak tajam dan awas matanya bisa-bisa kita terkecoh bahwa ia seorang anggautamu, Hek-sai Lo-kai. Bagaimana pendapatmu bukankah pemuda ini seperti jembel. Ha-ha, wajahnya berdebu dan pakalannyapun kotor, lusuh!"

"Benar, aku tidak menyangka. Dulu malam itu ia gagah dan tampan, Ban-tok Wi Lo, sedangkan sekarang begini dekil dan kotor. Mau aku menyangkanya sebagai pengemis dan masuk kelompok anggautaku, heh-heh"

Seorang tinggi besar brewok dan berkulit hitam tertawa menyambut omongan kakek bertongkat itu. Ia bukan lain Hek-sai Lo-kai alias ketua Hek-i Kai-pang. Inilah pengemis yang amat dendam sekali kepada Peng Houw, markasnya diobrak-abrik dan kini tahu-tahu ia bergabung dengan Ban-tok Wi Lo yang lihai itu, suheng dari mendiang Coa-ong tokoh dari Tujuh Siluman Langit.

Dan ketika Peng Houw tertegun namun sadar mendengus pendek, Si pelempar hui-to terkekeh menyambung maka ia direndahkan lagi dengan cemoohan tajam.

"Kabarnya pemuda ini kehilangan anak isteri, namun tak malu juga mengganggu murid Sin-hong-pang. Heh-heh, entah bagaimana kalau isterinya tahu, Wi Lo, apakah kita semua perlu mengumumkannya ke penjuru delapan mata angin. Murid Gobi menculik gadis Sin-hong-pang!"

"Dan kami saksinya," pengemis agak pendek menimpali. Kami melihatmu membawa gadis itu, Peng Houw. Di markas kami kau membuat kekacauan dan kesombongan. Mana gadis itu dan tak kami sangka bahwa ia adalah sumoi yang terhormat ketua Sin-hong-pang. Tahu begitu kami akan merebutnya mati hidup!"

"Heh-heh, benar. Agaknya tak mampu menemukan isterinya lalu menubruk perempuan lain sembarangan saja. Ah, kau memalukan mendiang gurumu kalau tingkahmu seperti itu, Naga Gurun Gobi. Lebaih baik bergabung saja dengan orang-orang sesat hingga tak perlu menyebut nama sebagai pendekar!"

"Nah," Siang-mauw Sian-li membentak dan menudingkan telunjuknya kepada pemuda ini. "Semua orang sudah berkata, Peng Houw. Apa jawabmu dan masihkah kau mungkir!"

"Dan ia sahabat Kim Cu Cinjin. Kalau pemuda ini bergaul dengan tosu sebusuk itu maka tentu wataknya ketularan, Siang-mauw Sian-Li. Kim Cu adalah laki-laki hidung belang yang dulu mengganggu dan mempermainkan aku. Sekarang ia tak bertanggung jawab!"

"Hm!" Peng Houw memutar dan menghadapi semua orang-orang itu. matanya berkilat-kilat. "Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Kim Cu Cinjin, kouwnio. Kenapa kau bisa bicara setajam itu dan menjelek-jelekkan aku pula!"

"Heh-heh, dia adalah Si Pedang Merah Leng Nio, itu puteranya Leng Houw. Dia ini kekasih Kim Cu Cinjin yang akhirnya ditipu, Peng Houw, dan kau lihat tidakkah pantas dia marah- marah. Kim Cu memang seorang tosu busuk, tak pantas menjadi ketua Kun-lun-pai. Kami akan melabraknya ke sana!"

Ban-tok Wi Lo yang agaknya bertugas memanasi dan memperkeruh suasana menjawab lebih dulu. Peng Houw terkejut dan memandang wanita itu dan Si Pedeng Merah membalas dengan pendang mata mengejek. Mata itu tertawa, menghinanya. Dan ketika pemuda Inl menjadi panas dan terbakar maka la dibentak lagi untuk segera menunjukkan Hong Cu. Siang-mauw Sian-li yakin betul dan tampaknya percaya omongan orang-orang itu.

"Sekarang tak perlu berputar-putar. Di mana sumoiku Hong Cu atau kami membunuhmu!"

"Hm..!"Peng Houw naik darah. "Sudah kubilang aku bukan penjaga sumoimu, sian-li. Cari sendiri dan aku tak tahu!"

"Kalau begitu kau mencari kematianmu, serang!" wanita ini meledakkan rambutnya dan tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi ia menghantam Peng Houw dengan lecutan kilat. Rambut itu menyambar dan berubah kaku seperti segulung kawat baja, bercuit dan alangkah hebatnya bila mengenai tubuh. Kulit tentu luka dan daging tertusuk tembus. Akan tetapi ketika Peng Houw mengelak dan waspada akan yang lain maka benar saja dari delapan penjuru Ban-tok Wi Lo dan kawan- kawan menyergap dan memburu.

"Plak-plak-plak!"

Hujan senjata ditangkis terpental. Tongkat dan rambut membalik bertemu jari Peng Houw dan Naga Gurun Gobi itu membentak. Tentu saja la marah dan menangkis. Dan ketika la diserang dan gadis-gadis Sin-hong-pang melengking menyusul ketuanya maka delapan belas tubuh berbau harum sambar-menyambar diseling bau apek dan kecut dari tubuh Hek-sai Lo-kai atau Wi Lo, maklum mereka inilah yang berbau penguk tak pernah mandi.

"Wut-plak-dess!"

Peng Houw dipaksa membalas dan akhirnya ia mengeluarkan Hok-te Sin-kangnya itu. Sinkang atau tenaga sakti di tubuhnya ini bekerja cepat dan gadis-gadis Sin-hong-pang berteriak keget. Rambut mereka terpental dan pedas mengenai kulit sendiri. Rambut mereka itu membalik.

Namun ketika mereka mundur menutupi hidung, para kakek dan dedengkot pengemis berkelebatan sambar-menyambar maka Siang-mauw Sian-li berseru agar para muridnya berjaga di luar saja, diam-diam wanita ini juga menutupi hidung oleh bau apek laki-laki kemproh itu.

"Jangan maju semua, kalian di luar saja. Jaga kalau ia melarikan diri!"

Peng Houw marah. Ia dikatakan melarikan diri, kata-kata yang membuat telinganya panas terbakar. Maka ketika lawan kembali menerjang dan ia harus waspada terhadap tongkat ditangan Ban-tok Wi Lo, kakek bongkok itu terkekeh dengan licik maka benar saja sinar-sinar hitam mencuat dan keluarlah belasan jarum menyambar tubuhnya.

Akan tetapi Peng Houw mengibas runtuh. la sudah dikeroyok dan dikepung sementara lawan bertambah beringas. Leng Nio si Pedang Merah berkelebat mencabut senjatanya, begitu pula pemuda bermulut sombong itu. la ragu benarkah pemuda ini keturunan Kim Cu Cinjin karena sama sekali tak ada bentuk muka yang mirip dengan sahabatnya itu.

Tapi ketika ia menangkis dan bak-bik-buk senjata disusul pekik keget pemiliknya, sin-kang pemuda ini mementalkan semua serangan maka yang belum berkenalan dengan Naga Gurun Gobi itu terkejut, ini dialami Si Pedang Merah Leng Nio dan puteranya.

"Ia kebal, hati-hati. Sinkangnya kuat!"

"Tak usah takut. Cari dan tusuk bagian tubuhnya yang lemah, Leng Nio. Kalian dapat mencari mata atau lubang telinga!"

"Benar, iapun memiliki kelemahan. Serang dan bunuh pemuda ini!"

Peng Houw diterjang lagi dan sembilan orang itu susul-menyusul dengan si ketua sin-hong-pang Siang-mauw Sian-li. Wanita itu paling bernafsu meledakkan rambutnya namun setiap kali itu pula serangannya terpental balik. Peng Houw menambah tenaganya hingga kulit kepala wanita itu pedas. Dan ketika wanita ini menjerit disusul yang lain-lain, Peng Houw berkelebat dan membalas lawan maka semua tiba-tiba melompat mundur akan tetapí menerjang lagi begitu pemuda ini menghentikan serangan.

"Berputar, cari titik kelemahannya!"

Peng Houw menjadi gusar. la benar-benar seperti harimau yang dikepung dan dicari-cari kelemahannya. Semua bagian tubuhnya dihajar dan diserang. Akan tetapi ketika orang mulai menujukan serangan ke mata atau lubang telinganya, marahlah Naga Gurun Gobi ini maka tiba-tiba ia membuka mulutnya dan keluarlah suara dahsyat menggetarkan hutan. Anak murid Sin-hong-pang terpelanting...!

Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 17

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara
Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 17
Karya : Batara

"HEI, itu Beng San!"

"Ia membawa lari tawanan!"

Terkejutlah hwesio penjaga menuding-nuding. Mereka berteriak dan membentak, akan tetapi anak itu sudah meloncat dan berlari cepat. Seruan para hwesio tentu saja tak didengar dan mereka marah, seorang di antaranya menyambar anak panah, membidik dan Beng San terkejut ketika sebatang anak panah menancap di sebelah kirinya. Akan tetapi ketika ia menoleh sejenak dan sudah meneruskan larinya lagi, tujuh hwesio berkelebatan mengejar dan memotong maka anak ini diminta agar berhenti.

"Beng San, kau berkhianat. Serahkan dirimu dan berhentilah!"

"Atau kami menyerangmu. Berhenti, dan serahkan tawanan!"

Beng San menjadi gugup. la telah melewati pagar pembatas dan menginjakkan kakinya di tepi gurun. Ilmu lari cepatnya dikerahkan akan tetapi dua batang panah kali ini menyambar. Itulah bidikan Kam-lo-suhu yang kemarin diajaknya bercakap-cakap, hwesio kepala itu ada di menara ketika ia lolos, berkelebat dan kini melepas anak panahnya itu.

Hwesio ini memang seorang ahli panah. Dan ketika Beng San terkejut panah itu menancap di depannya, ia membentak meloncat tinggi maka Kam-hwesio itu berseru kepadanya agar ia berhenti atau panah menyambar tubuhnya.

"Beng San, pinceng tiga kali memberi peringatan. Berhenti atau panah pinceng meluncur ke tubuhmu!"

Beng San pucat. la menengok dan melihat hwesio itu sudah mementang gendewanya lagi dengan tiga anak panah sekaligus. Sekali dilepas tentu tiga anak panah itu meluncur berbareng. Tapi ketika ia dibentak agar terus lari, Hui Bin tak mau tertangkap maka Beng San teringat si buta Chi Koan, calon gurunya.

"Kalau kau gagal maka gagal pula menjadi muridku. Bawa orang ini sampai selamat dan kutunggu di luar."

Kata-kata atau ingatan ini membuat ia menggigit bibir. Beng San maklum bahwa inilah ujian untuknya. Kalau saja gurunya Peng Houw menurunkan ilmu-ilmu lain mungkin ia tak akan membelot. Tapi, ah, Naga Gurun Gobi itu membuat panas hatinya. Sékian tahun tak diberi pelajaran apa-apa kecuali, ginkang dan Soan-hoan-ciang.

Maka ketika Ia membentak dan mengeraskan hatinya mendadak ia berlari semakin kencang dan terdengar desing anak panah ketika menyambar dan lewat di samping tubuhnya, yang satu malah melampaui atas kepala dan nyaris memangkas rambutnya.

"Beng San, berhenti sekali lagi, atau pinceng mengarahkan anak panah ke tubuhmu!"

"Seranglah, lepaskan anak panahmu. Aku tak takut, Kam-lo-suhu, aku akan melawan kalian!"

Hwesio ini marah. Beng San berlari secara kelak-kelok hingga ia sukar memanah. Lari anak itu sebenarnya cepat sekali akan tetapi karena ia memanggul seseorang maka hwesio- hwesio muda kewalahan, hanya dialah yang mampu mendekati, biarpun jarak mereka tak cukup dekat. Maka ketika ia membentak dan menjepret lagi maka belasan anak panah meluncur tapi yang diserang hwesio itu adalah tanah di sekeliling Beng San, menancap dan membentuk pagar.

Beng San terkejut oleh cara serangan ini. Itu memaksanya melompat. Akan tetapi baru saja ia menggerakkan kaki maka mendesing lagi panah-panah lain dan cepat serta luar biasa dua lapis pagar panah mengepungnya lagi setengah lingkaran.

Pemuda ini terkejut dan saat itu berkelebatlah bayangan si hwesio. Sebelum ia keluar masuklah hwesio itu di dalam pagar panahnya sendiri, dan ketika ia terkejut berseru keras Kam-hwesio menotoknya dengan ujung gendewa. Hwesio ini ternyata masih merasa sayang kepada pemuda itu,

"Berhenti dan menyerahlah, serahkan tawanan!'

Beng San membalik dan menangkis serangan itu. Tentu saja ia tak mau ditotok dan Hui Bin juga tak mau diam. Hwesio tawanan 1ni menangkis pula serangan. itu. Dan ketika Kam-hwesio terhuyung akan tetapi anak buahnya sudah mengejar di situ maka Beng San menjadi sibuk diserang dari delapan penjuru.

"Lepaskan aku, biar kubantu!"

Beng San girang. Tawanan minta dilepaskan dan iapun menurunkan hwesio muka hitam itu. Tanpa banyak bicara lagi dengan borgol yang dibawa hwesio ini maka dia menyerang, ia membentak dan memaki-maki hwesio-hwesio muda itu. Dan karena tingkatnya memang lebih tinggi sementara Beng San sendiri mendorong mundur Kam hwesio maka hwesio limapuluhan itu merah mukanya, terhuyung.

Akan tetapi suara genta dipukul. Di pagi yang baru bersinar itu ternyata perbuatan Beng San menyebar dengan cepat. Lolosnya tawanan diberitahukan dengan seruan mulut ke mulut, menyebar dan akhirnya masuk ke dalam. Para pimpinan terkejut dan terhenyak keheranan. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa satu di antara murid Naga Gurun Gobi melakukan pengacauan, Beng San telah berani memasuki bukit larangan.

Akan tetapi begitu mereka menjadi marah dan Ji-hwe sio berkelebat disusul wakilnya, melihat di tengah gurun itu terjadi pertandingan sengit maka Beng San benar-benar pucat mukanya karena dengan cepat sekali ia sudah dikepung dan diserang puluhan hwesio penjaga, yakni mereka yang berada di atas menara dan kini turun berhamburan.

"Kau pengacau, pengkhianat. Apa maksudmu membawa lari tawanan dan pergi seperti ini!"

"Benar, tak kami sangka bahwa sebagai murid Go-bi kau melanggar larangan. Dosamu berat, Beng San, tapi menyerahlah dan jangan lindungi terhukum ini. Hui Bin tak bermanfaat bagimu!"

Akan tetapi Beng San sudah terlanjur mati hidup meneruskan rencananya. bercita-cita menjadi murid si buta Chi Koan dan untuk itu ia diuji. Gagal mempertahankan ini berarti hancurlah cita-citanya. Maka ketika ia membentak dan mendorongkan tangannya ke kiri kanan ia membuat lawan terhuyung dan beberapa di antaranya terpelanting. Akan tetapi yang paling kuat adalah Kam-hwesio itu.

Hwesio ini adalah hwesio kepala dan ia memegang senjatanya yang aneh, Gendewa itu. Dan karena setiap ia mengibas tentu gendewanya berdengung mengeluarkan kesiur angin dahsyat, Beng San terhuyung maka keroyokan hwesio lain membuat pemuda itu kewalahan dan untunglah karena semata mengingat Naga Gurun Gobi Peng Houw para hwesio itu tak berani berlaku terlalu keras, kecuali terhadap tawanan di mana mereka menyabetkan toya atau golok tajam.

"Menyerahlah, atau kami melukaimu!"

Beng San tak memperdulikan ini. Ia benar-benar nekat dan ketika terdengar teriakan iapun menjadi terkejut melihat Hui Bin terpelanting. Hwesio muka hitam itu terkena hantaman toya dan ia menjerit, roboh dan bergulingan dikejar lawan-lawannya dan Beng San mengeretak gigi. Kalau hwesio ini sampai terluka tentu celakalah dia.

Maka ketíka ia membentak dan mendorong Kam-hwesio yang terpaksa minggir mendadak pemuda ini melompat dan dengan gerakan cepat ia merampas sebuah golok dari seorang hwesio muda. Gerakan atau tindakannya ini tak diduga dan hwesio yang memegang golok berteriak, ia roboh ditampar pemuda itu. Lalu ketika Beng San menyerang dan membabat pengeroyok Hui Bin dua orang roboh terkena goloknya.

"Aduh!" Kam-hwesio dan yang lain melotot. Dua hwesio muda terluka oleh golok pemuda itu dan Beng San berseru agar hwesio itu melarikan diri. Dia akan bertahan dan terang-terangan melawan hwesio-hwesio Gobi ini. Tawanan sudah meloncat bangun dan gentar serta pucat, apalagi ketika dari belakang muncul pula bayangan Ji-hwesio dan Sam-hwesio, tokoh atau pimpinan-pimpinan Gobi.

Dan karena pemuda itu sudah memutar goloknya dan tangan yang lain melepas Thai-san-ap-ting atau Cui-pek-po-kian maka hwesio muka hitam yang intinya ingin cepat meninggalkan tempat itu segera melarikan diri tak menghiraukan Beng San lagi.

"Baik, kau tahan mereka, jangan sampai mengejar. Aku pergi, anak baik, akan kupanggil Siauw Lam agar ia membantumu."

Beng San membentak menyerang mereka yang hendak mencegah larinya Hui Bin. Saat itu bayangan Ji-hwesio dan wakilnya sudah kian dekat, pimpinan Gobi inipun membentak dan Beng San berubah. Di belakang hwesio ini menyambar pula bayangan langsing Siao Yen.

Dan ketika gadis itu melengking sementara di belakangnya berkelebat pula Po Kwan yang marah maka Beng San benar-benar gelisah akan tetapi hebatnya pemuda ini melindungi tawanan mati- matian. Dia memang bertekad menyelamatkan hwesio itu atau diri sendiri roboh!

"Beng San, kau jahanam keparat. Apa yang kau lakukan ini. Berani benar melepaskan tawanan!"

"Omitohud, kau kemasukan setan. Dua tahun kami menggemblengmu tapi sekarang begini sikapmu, Beng San. Lihat apa kata gurumu kalau pinceng melapor!"

Beng San memutar golok dan Thai-san-ap-tingnya. la melihat hwesio muka hitam melompat jauh dan berlari kencang, beberapa saat lagi akan lenyap dan itulah saatnya dia lari pula. Akan tetapi karena Ji-hwesio dan Sam-hwesio sudah berkelebat di situ dan Siao Yen serta kakaknya juga menyusul di belakang maka habislah harapan pemuda ini untuk menyelematkan diri sendiri. Dan saat itu ketua Gobi dan wakilnya menghantam.

"Bresss!" pemuda ini terguling-guling tak mampu bertahan. Dua serangan itu menggencetnya dari kiri kanan dan tak kuatlah dia, betapapun wakil dan ketua Gobi itu terlalu kuat. Tapi ketika ia bangun lagi dan golok tetap di tangan, marahlah dua hwesio itu maka Siao Yen sudah lebih dulu menerjang dan Po Kwan juga membentak sutenya ini.

"Kau memalukan kami sebagai murid suhu, robohlah!"

Beng San mata gelap. Dihajar dua hwesio pimpinan membuatnya kesakitan. Hanya karena keras hati dan keras kepala ia mampu bangun lagi. Maka ketika Siao Yen berkelebat membentaknya sementara Po Kwan menampar tengkuknya maka untuk tamparan ini ia membabatkan goloknya dan serangan Siao Yen ditangkis dengan tangan kirinya.

"Plak-dess!" Po Kwan terkejut menarik serangannya akan tetapi kakinya berpindah cepat, mengelak golok akan tetapi menendang lawannya. Dan ketika adiknya terhuyung bertemu Thai-san-ap-ting, Beng San juga mendesis ditendang suhengnya maka dua hwesio itu tiba-tiba bergerak dan sepasang tangan mereka sudah mencengkeram pemuda ini. Beng San sedang terhuyung dan kali ini tak mungkin mengelak.

"Des-dess!"

Sebatang tongkat tiba-tiba berkelebat di tengah dan itulah si buta Chi Koan. Entah bagain si buta ini muncul dan terkaman atau tubrukan dua hwesio itu dihalanginya. Sam-hwesio maupun suhengnya terkejut karena seseorang tiba-tiba berkelebat di depan mereka, sebatang tongkat menyambar dan cengkeraman atau terkaman mereka itu disambut benda ini.

Otomatis mereka menghantam akan tetapi mereka berteriak, dari tongkat panjang itu keluar daya mujijat yang membuat cengkeraman membalik, mereka bagai dilempar saja oleh tenaga yang keluar dari tongkat panjang ini. Dan ketika mereka bergulingan dan meloncat bangun maka Chi Koan si buta itu telah berdiri tersenyum-senyum di depan pemuda ini, melindungi Beng San dari segala bahaya.

"Hm, siapapun tak boleh mengganggu muridku. Siapa menyerang pemuda ini berarti menyerang aku, Ji-susiok. Aku tak mengambil apa-apa kecuali hendak membawa pemuda ini pergi."

"Suhu...!" Beng San tiba-tiba bersorak, girang dan langsung menjatuhkan diri berlutut. "Terima kasih atas pertolonganmu dan mereka hwesio-hwesio bau ini hampir membunuhku!"

"Bangunlah...!" Chi Koan menyentuh pundak muridnya dengan ujung tongkat. "Kau telah lulus ujian, Beng San, kau sekarang menjadi muridku. Jangan takut karena setahun dua lagi orang-orang ini bukan tandinganmu."

Beng San tertawa dan bangkit berdiri. Tak dapat disembunyikan lagi kegirangannya diterima murid. Perjuangannya tidak sia-sia. Dan ketika semua tertegun mendengar kata- kata itu, Ji-hwesio dan Sam-hwesio hampir tak percaya maka Siaow Yen tiba-tiba membentak dan menerjang ke depan. Tadi terhenti sejenak ketika dua pimpinan Gobi terlempar dan terguling-guling.

"Kau murid murtad, kiranya sudah berpindah guru dan pantas sikapmu kurang ajar!"

Akan tetapi di depan gadis ini adalah Chi Koan. Beng San masih di belakang gurunya dan terjangan Siao Yen berarti harus melewati si buta ini. Maka ketika Chi Koan tersenyum mendengar seruan nyaring itu, inilah kiranya gadis murid Peng Houw itu maka Ia amemalangkan tongkatnya dan dengan sekali dorong Ia membuat gadis itu terbanting.

"Jangan mengganggu Beng San, Ia muridku. Pergilah!"

Siao Yen berteriak dan terlempar bergulingan. Begitu tongkat bergerak menyambarlah tenaga amat kuatnya. Angin dingin menerpa dan ia tak tahan, Bahkan Ketua dan wakil Gobi saja roboh. Maka ketika ia terbanting dan berseru mengaduh maka Po Kwan berkelebat menolong adiknya itu. Siao Yen merah padam dan berapi-api.

"Keparat, jahanam itu... ia berkhianat!"

"Sudahlah, tenang. Kita berhadapan dengan musuh yang lihai, Yen-moi, jangan sembrono dan coba kita dengarkan kata-kata Ji-suhu. Beng San sudah berbalik haluan dan bukan sute kita lagi."

"Omitohud, benar!" Ji-hwesio mengebutkan ujung bajunya dan melangkah mendekati si buta ini, toya baja sudah di tangan dan siap-siap beradu jiwa. "Urusan Beng San urusan pribadi, Chi Koan, kalau ia ikut dirimu terserah. Pinceng hanya melapor kepada Peng Houw. Akan tetapi Hui Bin tawanan itu harus kembali kepada kita, ia masih merupakan hukuman!"

"Hm, Hui Bin urusan muridku Siauw Lam. Kalau kalian ingin ia kembali maka bicaralah kepada muridku, Ji-susiok, lihat itu dia!"

Tudingan tongkat ini disusul bayangan siauw Lam. Tawa mengejek terdengar dan tahu- tahu anak itu sudah di situ, berdiri di dekat gurunya. Lalu ketika Siauw Lam menuding Ji- hwesio dan berkata menghina maka ia membuat wajah semua, orang merah padam.

"Ji-hwesio, Hui Bin adalah pamanku. Kalian hwesio bau sudah cukup mengeramnya bertahun-tahun. Kini aku membebaskannya, kalau tidak puas boleh hadapi aku!"

"Omitohud..." Sam-hwesio bergerak dan tiba-tiba menyerang anak ini, langsung melepas Thai-san-ap-ting. "Kau tak tahu adat menghormati ketua Go-bi anak setan, pinceng menerima tantanganmu dan biarlah pinceng hadapi kau...wutt!"

Thai-san-ap-ting bukanlah pukulan sembarangan apalagi kalau dilepas wakil pimpinan Gobi ini. Sam-hwesio adalah murid Ji Beng Hwesio dan hanya karena ia tak memiliki warisan Bu-tek-cin-keng maka kepandaiannya tidak sehebat mendiang Beng Kong Hwesio, guru si buta Chi Koan, suhengnya yang murtad itu. Akan tetapi karena ia tokoh Gobi dan betapapun merupakan orang nomor dua maka Thai-san-ap-ting yang meluncur dari kedua lengan bajunya itu menimbulkan angin kuat yang membuat murid lain terdorong mundur.

"Plak!" Siauw Lam tertawa dan menangkis pukulan hwesio ini. Sama seperti yang dilakukan lawannya maka pemuda inipun mengeluarkan Thai-san-ap-ting, dan begitu dua tenaga bertemu ternyata hwesio itu tertolak ke belakang dan hampir terpelanting kalau tidak ditahan Ji-hwesio, ketua Gobi.

"Omitohud, sungguh sombong. Kalau begitu pinceng turun tangan!" Ji-hwesio menjadi marah dan ia maju ke depan.

Toya di tangan meluncur dengan sodokan cepat sementara tangan kiri melepas Thai-pek-po-kian. Inipun bukan ilmu sembarangan karena dulu Kwi-bo dan Tujuh Siluman Langit tak mampu melawan. Mendiang Ji Beng Hwesio mengandalkan ilmu ilmu untuk menghalau musuh-musuh Go-bi. Akan tetapi ketika lagi-lagi Siauw Lam menggerakkan lengannya dan menangkis toya serta pukulan kiri maka Ji-hwesio tergetar dan terhuyung-huyung.

"Dukk!"

Pucatlah para murid yang lain. Mereka telah melihat dua pimpinan mereka terpukul mundur oleh murid si buta ini. Akan tetapi karena nama baik Gobi harus dipertahankan dan Kam-hwesio membentak membawa anak buahnya maka hwesio ini sudah menerjang dan dengan gendewanya ia membela pimpinan dan nama Gobi tanpa takut.

"Serang anak ini!"

Murid Gobi berhamburan. Gendewa di tangan hwesio itu menderu namun Siauw Lam mengelak, diterjang yang lain dan tanganpun mendorong. Dan karena ia adalah murid Chi Koan serta sinkangnya kuat benar maka murid-murid Gobi terlempar bergulingan dan majulah Siao Yen melengking nyaring, disusul kakaknya dan Sam-hwesio maupun Ji-hwesio membentak menerjang. Mereka diancam nasib buruk oleh pemuda delapant belas tahun ini.

Dan ketika pemuda itu tertawa berkelebatan cepat, Lui-thian-to-jit atau Kilat Menyambar Matahari merupakan ginkang yang hanya dimiliki Chi Koan dan muridnya saja maka ilmu meringankan tubuh ini membuat pemuda itu lenyap dan berteriaklah para murid ketika bayangan pemuda itu berkelebatan cepat di antara mereka, menampar dan menendang dan satu per satu murid-murid Gobi roboh.

Chi Koan berseru agar pemuda itu tidak membunuh, Siauw Lam mengangguk dan tertawa membagi-bagi pukulannya ini. Dan ketika ia dikeroyok namun hilang di balik bayang-bayang cepat, begitu cepatnya hingga tak dapat dikuti mata maka Ji-hwesio maupun Sam-hwesio mengeluh terhuyung mundur, toya atau pukulan tak banyak berguna sementara tamparan atau dorongan pemuda itu amat hebatnya.

Beng San yang menonton ini menjadi kagum dan pemuda itu bersorak-sorak, lupa sudah akan hubungannya dengan hwesio Gobi dan ini membuat Siao Yen terbakar. Gadis itu baru saja terpelanting oleh kibasan Siauw Lam dan ia meloncat bangun menerjang bekas sute ini, tak perduli si buta yang ada di depannya. Dan ketika Chi Koan berkelit dan membiarkan muridnya berhadapan dengan gadis itu, Beng San mengelak dan menangkis maka pemuda ini sudah bertanding namun tampaklah bahwa ia masih lebih unggul dibanding Siao Yen.

Hal ini terlihat sang kakak dan Po Kwan membentak maju. Pemuda ni memaki bekas sute itu dan membantu adiknya. Dan ketika kakak beradik itu mengeroyok Beng San dan di sini barulah pertandingan menjadi imbang maka Chi Koan tersenyum-senyum dan mendengarkan semua itu dengan kepala sedikit dimiringkan sebagaimana kebiasaannya mendengarkan suara pertempuran.

Seseorang berindap di bawah pohon. Hui Bin, hwesio muka hitam itu terbelalak dan kagum melihat betapa keponakannya sudah menjadi manusia lihai. Tentu saja ia kagum dan girang. Akan tetapi ketika gerakannya dilihat sepasang mata sam-hwesio yang tajam, hwesio yang marah dan keluar meninggalkan Siauw Lam tiba-tiba hwesio itu membidik dan tanpa banyak bicara lagi sebatang anak panahnya melesat menyambar dahi di balik pohon itu, dahi yang melongok keluar menonton pertempuran.

"Cep-augh!" Hwesio ini adalah ahli panah jempolan. Jerit di belakang pohon itu didengar Siauw Lam dan pemuda itu terkejut. Alangkah kagetnya melihat sang paman roboh, dahi tertembus panah. Dan ketika ia memekik dan melihat hwesio itu, Kam-hwesio menyeringai puas mendadak Ia berkelebat dan menghantam kepala hwesio ini.

"Keparat, kau membunuh pamanku!"

Kam-hwesio terkejut. la melihat bayangan menyambar akan tetapi géndewanya diangkat. la menerima pukulan jtu dengan kaget dan perasaan terkesiap. Akan tetapi karena kemarahan Siauw Lam ini amatlah hebat dan pukulan tangan kanannya mengandung sinkang sepenuh tenaga, kejadian itu tak sempat dicegah maka gendewa di tangan hwesio ini patah untuk selanjutnya pukulan lawan menerobos menghantam dahinya.

"Prakk!" sial hwesio ini. Ia roboh dengan kepala pecah dan kagetlah murid-murid Gobi. Siauw Lam melakukan pembunuhan. Dan ketika mereka berteriak dan menerjang pemuda itu, Siauw Lam membalik dan tak ingat pesan gurunya lagi maka dua murid lagi menjadi korban pukulannya dan gusarlah pimpinan Gobi melihat keganasannya.

"Mundur, cukup!" Chi Koan membentak dan tiba-tiba berkelebat menggerakkan tongkatnya. Kalau muridnya tidak di cegah salah-salah pimpinan dan wakil Gobi menjadi korban. Hal ini tak baik bagi mereka karena sahabat atau rekan-rekan Gobi bakal memusuhi mereka. Chi Koan tak mau muridnya bertindak lebih jauh lagi dan menangkis pukulan muridnya itu. Dan ketika Siauw Lam terkejut terhuyung mundur maka gurunya berseru agar semuanya pergi.

"Bawa mayat pamanmu yang sembrono itu. Kenapa ia mendekati tempat ini. Hayo pergi dan cukup semua ini!" si buta melakukan gerakan di mana pimpinan dan murid-murid Gobi terpelanting.

Mereka dikibas sapuan tongkat dan semua terbanting, Siao Yen dan Po Kwan yang sedang bertanding juga tersambar angin tongkat ini, begitu kuatnya sapuan itu. Dan ketika semua terguling-guling dan berteriak kaget maka Chi Koan menyambar muridnya dan Beng San murid baru.

"Pergi dan kita tinggalkan tempat ini. Cukup!”

Beng San berdesir dibawa terbang melewati begitu banyak orang. Bagai burung atau rajawali melayang gurunya keluar kepungan, cepat sekali mereka sudah di luar jangkauan orang-orang itu. Dan ketika Siauw Lam melepaskan diri menyambar. pamannya, Hui Bin yang tewas maka si buta menyuruh Beng San berjongkok dan ia tahu-tahu telah hinggap di pundak pemuda ini,

"Lari sekencang-kencangmu. Kita ke Telaga See-ouw!"

Beng San terkejut. la mula-mula menyangka berat akan tetapi tiba-tiba tercengang. Gurunya ini seakan tak berbobot, ringan seringan daun kering. Maka ketika ia tertawa dan kagum meloncat ke depan, lari sepesat kijang muda maka Si buta masih membantunya dengan totolan tongkat di mana Beng San melambung tinggi dan melesat jauh lebih cepat lagi.

"Ha-ha, hebat. Kau hebat, suhu, mengagumkan sekali. Ah, betul-betul mengagumkan!"

Chi Koan tersenyum-senyum. Ia telah mendapatkan pengganti Siauw Lam untuk duduk dipundak murid yang lain. Inilah keinginannya. Maka ketika ia membantu dan menggerak-gerakkan tongkat ke bawah, Siauw Lam menyusul membawa mayat pamannya maka tiga orang ini sudah menghilang dan mereka hanya meninggalkan debu di gurun.

Ji-hwesio pimpinan Gobi termangu-mangu. Si buta benar-benar muncul dan kini tambah berbahaya lagi. Siauw Lam bocah cilik itu telah menjadi pemuda lihai. Ia dan yang lain-lain tak mampu menghadapi. Dan ketika hwesio ini begitu sedih hingga meneteskan air mata duka, apalagi ketika kematian Kam-hwesio membuat ia berduka maka pimpinan Gobi ini menangis dan tiba-tiba ia berkelebat meninggalkan tempat itu, kembali ke kuil.

Sam-hwesio menarik napas memegang toya bengkok. lapun termangu-mangu dan sedih. Dalam pertandingan tadi Siauw Lam memuntir dan menekuk senjatanya. Bagai barang lembek saja toya itu bengkok. Maka ketika ia menggigit bibir dan sedih serta marah maka hwesio inipun menyusul suhengnya dan berkata agar semua murid kembali.

"Bawa yang luka-luka dan semayamkan yang tewas di Pendopo Besar. Kita sembahyangi arwah mereka agar terbebas dari dosa!"

Murid-murid mencucurkan air mata. Mereka juga sedih dan berduka oleh kejadian pagi itu. Semua berasal dari Beng San. Tak akan mereka lupakan anak itu. Awas nanti! Lalu ketika semua bergerak dan membersihkan tempat itu, awan kelabu menggantung di Gobi maka untuk yang kesekian kalinya partai persilatan ini dirundung duka.

Po Kwan dan Siao Yen merasa tak enak. Sute mereka telah membuat peristiwa berdarah di Gobi. Dan ketika mereka meminta maaf dan berulang-ulang menyatakan kemarahan dan penyesalannya, sungguh dua kakak beradik ini gusar sekali maka Siao Yen menuding betapa Beng San telah menjadi manusia busuk.

"Lihat apa kataku dulu, sekarang kau tak perlu membelanya lagi. Sejak dulu ia telah menunjukkan tanda-tanda tak baik Kwan-ko. Sifatnya sombong dan rakus ilmu. Sekarang apa yang ia lakukan setelah bertemu si buta. Tak malu ia meninggalkan kita hanya untuk meraih yang lain!"

"Sudahlah, aku tahu. Aku juga kecewa dan menyesal, Yen-moi, tapi nasi telah menjadi bubur. Tak kusangka ia sampai berkhianat hanya untuk berguru kepada si buta itu. Hm, kita laporkan suhu dan tunggu sampai ia datang."

"Benar, dan aku tak sabar. Apa saja yang dilakukan suhu hingga ia melewati janji. Sudah sekian tahun kita menunggu!"

"Sabar dan kendalikan kemarahanmu. Suhu juga sedang ditimpa duka kehilangan anak isterinya, Yen-moi, kita harus menyadari ini dan jangan terlampau menyalahkannya. Sudahlah kita tunggu kedatangannya dan sebagai murid yang setia kita harus bersabar."

Hari itu Gobi berkabung. Untunglah yang tewas hanya seorang hwesio kepala dan dua orang murid, mereka disembahyangi dan akhirnya dimakamkan. Dan ketika beberapa hari kemudian datanglah Giok Yang Cinjin maka terkejutlah tosu ini mendengar berita itu. Wajahnya berubah mendengar sepak terjang Beng San, dialah yang membawa anak itu dan merasa bertanggung jawab!

"Beng San, anak itu... dia. dia pergi meninggalkan kalian? Dia menjadi murid Chi Koan?"

"Benar, dan betapa buruknya watak anak itu. Aku menyesal dan malu berada di sini locianpwe. Kalau saja suhu sudah pulang dan kita melapor mau rasanya cepat-cepat pergi dari sini. Anak itu jahanam keparat!" Siao Yen yang berwatak keras dan tak mampu mengendalikan hatinya langsung saja bicara. Di balik kata-katanya tersirat penyesalannya kepada tosu ini. Inilah tosu yang membawa anak itu. Dan ketika wajah si tosu menjadi merah akan tetapi Ji-hwesio dan Sam-hwesio batuk-batuk maka dua pimpinan Gobi itu merendahkan nada bicara Siao Yen.

"Omitohud, kami pihak Gobi tidak menyalahkan siapa-siapa kecuali Si buta dan muridnya itu. Urusan ini tak perlu dipikir panjang, Giok Yang Cinjin, ini urusan kami. Ringankanlah hatimu dan satu-satunya yang akan kami kerjakan adalah menunggu Peng Houw. Biarlah dia nanti yang menyelesaikan ini."

"Hm. pinto jadi tak enak. Pintolah yang membawa anak itu pertama kali, Ji-suhu. kalau sekarang meleset dari arahan maka pinto ikut bertanggung jawab. Sungguh celaka, anak yang pinto kagumi membuat ulah. Pinto akan mencari dan membalasnya. Pinto akan mengadu jiwa!"

"Bukan hanya totiang saja. Ia bekas sute kami, locianpwe, kami juga tak akan tinggal diam. Kami telah dibuat malu dan tak enak kepada jiwi-losuhu ini. Kami akan mencari dan menuntut tanggung jawabnya kelak!"

Po Kwan bicara dan anak muda inipun mengepalkan tinju. Giok Yang Cinjin memandang kakak beradik ini dan diam-diam ia kagum. Anak-anak ini sudah berobah dewasa dan wajah mereka begitu bersih. Kesabaran dan kejujuran terpancar di situ, sang kakak lebih mengagumkan karena sikapnya lebih tenang dan kalem, meskipun saat itu pemuda itu merasa marah oleh perbuatan bekas sutenya. Dan ketika sekali lagi kakek ini menarik napas dalam dan menyesal di hati ia berkata bahwa ia tak akan tinggal diam saja.

"Pinto telah tiba di Sini, sebenarnya hanya untuk melihat anak-anak ini melepas kangen. Kalau satu di antara mereka melenceng dari kebenaran pinto juga turut menyesal, Po Kwan, pinto juga malu kepada sahabat dari Gobi. Pinto segera saja pamit mundur dan maaf bahwa kedatangan pinto mengganggu kalian!"

"Omitohud, jangan terburu. Tinggalah di sini dua tiga hari, totiang, kasihan anak-anak itu kalau begini cepat kau pergi. Kami dari Gobi tak menyalahkanmu sama sekali, percayalah!"

"Benar, ini tak ada sangkut-pautnya denganmu. Persoalan ini pribadi kami dengan Chi Koan dan muridnya, Giok Yang Cinjin. Tinggallah di sini sehari dua menemani anak-anak ini, Siapa tahu Peng Houw segera datang!"

Giok Yang Cinjin menarik napas lagi. Dua pimpinan Gobi itu memang orang-orang baik dan ia harus mengakui itu. Meskipun ia tidak salah akan tetapi tanggung jawab moralnya berat, telah membawa anak yang membuat bencana.

Dan ketika Po Kwan juga berkata agar ia tinggal dulu di situ pengganti suhunya yang belum datang akhirnya tosu ini menyerah juga dan mengucapkan terima kasih. Giok Yang Cinjin tinggal tiga hari di tempat ini sesuai kehendak pimpinan Gobi ia lebih banyak menemani Siao Yen dan kakaknya daripada tuan rumah.

Hal ini karena anak-anak itu memang butuh seseorang, suhu mereka masih belum datang. Namun ketika tiga hari kemudian tosu ini minta diri maka Siao Yen dan kakaknya tak dapat mencegah lagi karena secara moral tosu itu tak enak berlama-lama di Gobi.

"Terlalu lama di sini hanya membuat pinto tak nyaman. Rasanya semua orang menyalahkan pinto juga. Beng San memang pinto yang membawa. Jaga diri baik-baik dan kucari guru kalian itu, Siao Yen. Kukabarkan tentang ini dan kuharap ia cepat kembali. Sekarang pinto permisi dan pinto telah pamit kepada pimpinan Gobi."

"Totiang tolong cari dan temukan suhu. Kami bingung sendirian di sini, totiang, kami juga tak enak kepada para lo-suhu di sini. Kalau saja kami tak diperintahkan menunggu tentu kami keluar dan lebih baik kembali pulang!"

"Bersabarlah, itupun dapat kumaklumi. Tugas kalian menunggu guru, Siao Yen, tapi aku yakin guru kalian segera datang. Sudahlah jaga diri baik-baik dan urusan tentu selesai kalau guru kalian datang!"

"Harap locianpwe berhati-hati pula," Po Kwan berseru dan memperingatkan tosu ini. "Sute kami Beng San lebih lihai daripada dulu, locianpwe, kami berdua harus mengeroyoknya kalau ingin bertanding imbang. Apalagi kini, tentu ia lebih hebat!"

"Terima kasih, pinto akan mengingat-ingatnya, Po Kwan, tapi pinto tak perlu takut. Kebenaran akhirnya pasti menang juga. Sudahlah selamat tinggal sampai ketemu lagi!" tosu itu berkelebat dan akhirnya meninggalkan Gobi.

Po Kwan dan adiknya memandang namun tosu itu lenyap di luar pintu gerbang. Lalu ketika mereka kembali dan hari-hari selanjutnya dilewatkan dengan murung maka seminggu kemudian datanglah Peng Houw yang lama ditunggu-tunggu!

Tak ampun lagi kakak beradik ini menubruk girang. Po Kwan melihat wajah gurunya yang murung dan cepat menjatuhkan diri berlutut. Namun adiknya yang tak dapat menahan perasaan sudah menangis tersedu-sedu.

"Suhu, Beng San telah menjadi pengkhianat. la meninggalkan kita. la berguru kepada Chi Koan!"

"Stt, suhu baru datang. Jangan bicara yang mengguncang emosi, Siao Yen, biarkan suhu tenang dan kita suruh minum teh dulu." Po Kwan terkejut dan gagal mencegah adiknya itu. la sudah melarang adiknya untuk tidak melapor dan biarlah setelan nanti gurunya tenang mereka bicara. Atau, mungkin pimpinan Gobi yang lebih baik menceritakan itu, mereka anak-anak muda yang harus menghormati Orang tua lebih dulu.

Tapi karena adiknya sudah mengguguk dan dua bayangan berkelebat di belakang mereka maka Ji-hwesio dan Sam-hwesio muncul merangkapkan lengan. Dua pimpinan Gobi ini telah menerima laporan dari para murid bahwa sang Naga telah datang.

"Omitohud, selamat datang. Lama sekali kau ditunggu-tunggu muridmu, Peng Houw. Pinceng juga merasa kangen. Ah, apa kabar dan bagaimana berita anak isterimu?"

"Benar, bagaimana berita anak isterimu. Sudahkah kau temukan mereka, Peng Houw, dan apa kabar?"

Peng Houw cepat membalas hormat dan Po Kwan kagum akan sikap atau kata-kata pimpinan Gobi itu. Mereka bukan mengurusi diri sendiri melainkan bertanya dan mengurusi orang lain dulu, inilah sopan-santun yang tinggi. Namun karena pendekar itu sudah dikejutkan lebih dulu oleh tangis dan berita muridnya maka, wajah Peng Houw yang gelap tampak semakin keruh. Sesungguhnya Naga Gurun Gobi ini sedang banyak persoalan. la diganggu lagi oleh urusan Hong Cu, gadis Sin-hong-pang itu!

"Hm, susiok sudah di sini, terima kasih. Apa yang terjadi dengan muridku Beng San, susiok. Bagaimana ia meninggalkan kita?"

"Omitohud, bagaimana dengan anak isterimu dulu. Urusan ini dapat dibicarakan nanti dan silakan kau bertemu muridmu dulu!"

"Benar, Siao Yen atau Po Kwan dapat menceritakannya kepadamu, Peng Houw, bagaimana dengan anak isterimu dulu."

"Mereka hilang, aku tak menemukannya lagi!"

"Omitohud, pinceng menyesal. Ah. Sudahlah kau temui dulu murid-muridmu ini dan nanti kita bicara lagi."

Ji-hwesio dan Sam-hwesio saling memberi isyarat dan Po Kwan lagi-lagi kagum. Dan pimpinan Gobi itu benar-benar tahu sopan-santun pergaulan dan mengalah untuk mengesampingkan urusan sendiri. Mereka berkelebat dan kembali ketempatnya. Lalu ketika Po Kwan diminta berdiri dan Siao Yen juga disentuh gurunya maka Peng Houw bertanya apa yang telah terjadi.

"Sebaiknya suhu masuk dulu ke kamar, kita bicara di dalam...!" Po Kwan berhati-hati.

"Baik, marilah, Po Kwan, dan ceritakan semuanya kepadaku!"

Peng Houw berkelebat. Disusul dua muridnya, pendekar ini telah memasuki kamarnya sendiri. Po Kwan dan Siao Yen mendapat kamar lain namun tak jauh dari kamar gurunya. Dan ketika pintu dibuka dan bau harum menyambar, bunga melati semerbak memenuhi tempat itu maka pendekar ini tampak tertegun dan melirik Siao Yen.

"Maaf, suhu, teecu teringat kebiasaan subo (ibu guru) di rumah sendiri. Teecu menjaga dan membersihkannya!"

"Terima kasih. Kalian ternyata merawat kamar ini, Siao Yen. Aku senang dan mari masuk!"

Kamar bersih dan harum itu membuat perasaan nyaman. Meskipun Naga Gurun Gobi ini membawa persoalan berat akan tetapi suasana dan isi kamar yang harum menyejukkan kepala. Ia menghisap dalam-dalam bau kembang melati itu. Dan ketika pintu kamar ditutup dan keduanya berlutut di depan guru mereka maka Peng Houw. mengulang pertanyaannya tadi dengan suara menahan marah.

"Ceritakan apa yang dilakukan Beng San, dan apa yang telah terjadi di sini."

"Dia... dia berkhianat. Beng San membalik. Ia melepaskan tawanan dan melarikan diri, suhu. Chi Koan si buta itu ada bersama dan kini mengambilnya murid!"

"Tawanan? Maksudmu Hui Bin si hwesio di atas bukit itu?"

"Benar, suhu, dan Beng San telah berani datang ke sana. la melanggar larangan, membawa lari tawanan membebaskan hwesio itu. Kami dibuat malu habis-habisan."

"Hm... coba ceritakan dan urutlah secara runtut. Bagaimana mula-mula kejadian itu. Tak mungkin Chi Koan datang tanpa bermaksud apa-apa."

"Ini dimulai ketika teecu selesai mandi!"

"Mandi?"

'Ya,," gadis itu semburat. "Di belakang kuil teecu digoda si Beng San itu suhu, dan tahu-tahu muncul Siauw Lam bocah keparat itu!"

"Hm, ceritakanlah...!" Naga Gurun Gobi ini tiba-tiba sadar bahwa murid perempuannya yang cilik ini telah berkembang dewasa. la mulai memperhatikan bahwa muridnya perempuan ini telah menjadi gadis enam belas tahun yang cantik dan gagah. Sepasang pipi kemerah-merahan dan bibir yang lembut basah itu telah merupakan daya tarik sendiri. Tak aneh kalau Beng San menggoda gadis ini. Siao Yen memang telah mekar den tumbuh dewasa. Terlalu lama Ia meninggalkan kakak beradik ini.

Maka ketika ia bersinar-sinar dan mulai mendengarkan dan memperhatikan cerita itu maka mulailah gadis ini menceritakan peristiwa di kamar mandi betapa Beng San menggodanya dan ia marah-marah. Betapa Siauw Lam muncul dan itulah sumber malapetaka.

Lalu ketika ia menceritakan betapa sutenya itu menghilang dan muncul membawa lari tawanan Gobi, mengejar dan akhirnya menyerang maka Peng Houw berkerut-kerut karena ia tertampar dan terpukul oleh sepak terjang muridnya yang murtad itu.

"Kalau saja si buta Chi Koan tak ada tentu Beng San roboh. Kami berdua sanggup menghadapinya, suhu, apalagi Ji-losuhu dan Sam-losuhu membantu pula akan tetapi musuh bebuyutan suhu itu muncul, dan hebatnya lagi ia telah mengangkat Beng San sebagai murid. Beng San sendiri menyebutnya suhu. Keparat anak itu!"

Peng Houw mengeratakkan giginya mendengar cerita berapi-api itu. Po Kwan hanya mengangguk-angguk dan sesekali menambah ini-itu. Cerita yang dibawa Siao Yen memang penuh emosi, siapapun mudah terbakar. Dan ketika cerita ditutup dengan datangnya Giok Yeng Cinjin, Peng Houw tertegun maka gadis itu menutup dengan isak tertahan.

"Giok Yang locianpwe merasa bertanggung jawab, ia dibuat malu juga. Namun karena suhu tak datang juga maka ia pergi dan kami diminta menunggumu di sini, penantian yang terasa berat bagi kami."

"Hm, maafkan. Ada persoalan yang membelit hatiku, Siao Yen, ada peristiwa yang membuatku, pusíng. Aku bentrok dengan Sin-hong-pang."

"Sin-hong-pang?"

"Ya, Sin-hong-pang. Di tempat itu aku dimusuhi orang habis-habisan. Mereka, ah... ini gara-gara Hong Cu!"

"Siapa Hong Cu itu...!"

"Siao Yen" Po Kwan tiba-tiba membentak. "Tahan mulutmu dan jangan bertanya urusan pribadi suhu!"

Gadis ini terkejut, sadar. Suhunya menyebut nama seorang perempuan dan tiba-tiba saja la tertarik. Wanita mana tak tertarik kalau seorang pria menyebut nama perempuan lain. Tapi begitu ia dibentak dan sadar maka ia menunduk dan tidak bertanya lagi.

"Hm, adikmu tak terlalu lancang. Kalaupun ia tak bertanya maka aku nanti yang akan menceritakannya, Po Kwan, sudahlah jangan marah kepada adikmu dan sekarang aku akan menghadap pimpinan Gobi. Cerita ini sudah cukup."

Siao Yen lega dan Po Kwan menyesal membentak adiknya. Betapapun ia sayang kepada adiknya itu, inilah adik perempuan satu-satunya. Maka ketika sang suhu pergi dan ia memegang lengan adiknya maka ia meminta maaf telah bersikap kasar tadi.

"Aku takut suhu marah. Kau bisa dianggap lancang. Maafkan aku membentakmu tadi, Yen-moi, tapi lain kali harap berhati-hati jangan keburu mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi suhu kita!"

"Aku tak sengaja," gadis itu menghela napas. "Tapi untung suhu tak marah, Kwan-ko, betapapun aku akan menjaga diri bila lain kali bertemu seperti ini lagi"

"Dan sekarang kita menunggu suhu, pulang atau masih tinggal di sini."

Gadis itu mengangguk. Sang kakak benar dan ia membenahi kamar itu lebih rapi lagi. Sepasang pot bunga ditaruh penyedap pandang mata. Po Kwan mengatur ini itu membantu adiknya pula. Lalu ketika kakak beradik ini menunggu guru mereka maka Naga Gurun Gobi itu telah menghadap susioknya di bagian paling dalam di belakang Pendopo Besar.

Ji-hwesio bersila tenang. Sutenya duduk tak kalah tenang dan mereka berdua ini sengaja menunggu Peng Houw datang. Lalu ketika pendekar itu muncul dan mereka mempersilakan duduk maka pembicaraan langsung pada pokok persoalan.

"Aku ingin minta maaf kepada jiwi-susiok (paman guru berdua). Siao Yen dan Po Kwan telah menceritakan semuanya kepadaku, susiok, dan menyesal sekali bahwa semua itu terjadi di saat aku tak ada di sini. Aku berjanji akan mencari dan membekuk anak itu untuk minta pertanggung jawabannya mengacau Go-bi!"

"Omitohud, tenangkan pikiran redakan kemarahan. Kalau kau sudah mendengar semuanya maka kami tak perlu mengulang, Peng Houw. Tapi mencari dan membekuk anak itu bukanlah tugas utama karena di balik semua ini sesungguhnya Chi Koan yang paling bertanggung jawab. Baru sekarang pinceng tahu bahwa Siauw Lam adalah keponakan Hui Bin, dan si buta itu datang memenuhi permintaan muridnya. Hm, bocah itu lihai sekali hingga kami berdua tak mampu melawan!"

Ji hwesio yang muram dan tampak khawatir menjawab kata-kata Naga Gurun Gobi itu. Sam-hwesio mengangguk-angguk dan menarik napas dalam pula. Lalu ketika hwesio ini menyambung bahwa apa yang dikatakan suhengnya benar maka ia memberi tahu bahwa Gobi mendapat ancaman bahaya baru.

"Sekarang Chi Koan memiliki dua orang murid, dan Beng San tak kalah berbahaya empat lima tahun lagi. Anak itu cerdas dan luar biasa, Peng Houw, Thai-san-ap-ting dan Cui-pek-po-kian dilalap habis sebelum muridmu Siao Yen maupun Po Kwan menguasainya dengan baik!"

"Omitohud, benar sekali yang satu ini lain dari yang lain. Pinceng juga harus mengakui bahwa ia lebih cerdas dibanding suci dan suhengnya."

"Dan ia pun bisa lebih hebat daripada Siauw Lam, mungkin lebih hebat daripada Chi Koan sendiri!"

"Hm-hm, Beng San memang anak luar biasa. Tengkorak kepalanya dan susunan tulang belakangnya lebih baik daripada Siao Yen maupun kakaknya, susiok, akan tetapi hal itu bukan berarti harus membuat kita cemas. Aku akan mencari dan menghajarnya dan mungkin besok pergi!"

"Omitohud, inilah yang hendak kami beritahukan kepadamu! Kami berdua telah berunding dan mendapat kesepakatan, Peng Houw, akan tetapi entahlah bagaimana dengan dirimu. Begini, maukah Sementara ini kau tinggal bersama kami melindungi Gobi. Kalau muridmu dan anak-anak di sini tak mampu menghadapi iblis-iblis itu bagaimana kami berbuat lebih jauh. Kau adalah andalan kami di sini, Peng Houw, terus terang kami merasa tak dapat berbuat apa-apa kalau si buta dan muridnya itu muncul. Kami sepakat untuk minta bantuanmu dan urusan isterimu akan kami bantu dengan menyebar anak-anak murid ke delapan penjuru. Percuma kau mencari-carinya kalau tidak ketemu juga. Kami akan membantumu dan sebaliknya kau bantulah kami di sini terutama menghadapi si buta itu. Bagaimana pendapatmu setujukah atau tidak!"

Peng Houw tertegun. la mengerutkan kening dan terkejut. la tiba-tiba saja diminta tinggal di situ melindungi Gobi. Tentu saja hal ini tak dapat dijawab cepat dan ia termangu.

"Tapi ketika ia ditunggu dan harus menjawab akhirnya berkata, Jiwi-susiok telah menaruh kepercayaan kepadaku, dan seharusnya kuterima. Tapi karena ada dua muridku yang kini merupakan orang-orang terdekat denganku biarlah kutanya mereka dulu, Susiok. Sebenarnya aku hendak mengajak, mereka pergi dan mencari subo dan sutenya itu"

"Omitohud, benar! Kau tidak salah, Peng Houw, dan mereka adalah anak-anak baik yang setia dan hormat kepadamu. Baiklah boleh kau tanya mereka dan tolong pertimbangkan ini. Tapi setuju atau tidak kami akan menyebar anak-anak murid mencari anak isterimu yang hilang. Pinceng ikut prihatin."

Peng Houw terharu. Pembicaraan akhirnya berkisar pada itu dan ia melihat serta merenungkan. Dua pimpinan Gobi itu benar-benar merasa tak berdaya menghadapi Chi Koan yang lihai, sekarang ada pula Siauw Lam dan Beng San. Dan ketika akhirnya ia mengangguk untuk kembali pada muridnya maka malam itu Siao Yen dan kakaknya mendengarkan dengan khidmat.

"Ternyata Ji-losuhu dan Sam-losuhu menghendaki aku di sini. Aku diminta melindungi Gobi kalau Chi Koan atau murid-muridnya mengganggu. Bagaimana pendapat kalian berdua, Po Kwan. Aku tak memberi jawaban karena menunggu jawaban kalian. Sekarang hanya kalianlah orang paling dekat denganku. Coba kalian pikir dan bagaimana menghadapi permintaan ini."

"Kalau teecu sebaiknya pergi. Tak enak berlama-lama di sini, suhu, pulang dan kembali saja ke tempat asal. Teecu tak tahan harus mondok di rumah orang!"

"Hm, aku juga berpikir begitu. Cukup lama kalian kutitipkan di sini, Siao Yen, tapi bagaimana pendapat kakakmu."

"Maaf...!" pemuda ini ternyata lain. "Keinginan pribadi agaknya harus dikesampingkan, suhu, persoalan umum dan penting rupanya harus didahulukan. Siao Yen tidak salah, karena ia satu-satunya wanita di sini dan mungkin risi. Akan tetapi permintaan Ji-locianpwe rupanya tak patut ditolak. Justeru teecu menerima ini hitung-hitung sebagai perasaan tebus dosa. Bukankah adanya Beng San karena kita. Kalau ia muncul dan mengacau lagi maka Gobi benar-benar terancam bencana. Sebaiknya suhu tinggal di sini karena bukankah rumah kita di Huang-ho juga tidak terpakai lagi. Kecuali kalau suhu sudah menemukan subo dan sute maka Gobi boleh ditinggalkan. Demikianlah pendapat teecu."

Peng Houw mengangguk-angguk. Ternyata muridnya laki-laki ini berpikiran jauh ke depan dan dewasa. Mau tidak mau ia kagum juga. Beng San adalah bekas muridnya, dan bekas murid itu telah melakukan kekacauan di sini. Kalau ia tinggal di situ menjaga dan melindungi Gobi bukankah sikapnya ini sebagai balas hutang atau tebus dosa? Maka ketika ia mengangguk-angguk sementara Siao Yen cemberut mengerutkan kening akhirnya ia berkata,

"Jawabanmu benar. Perbuatan Beng San mencoreng nama kita, Po Kwan, dan kita harus membayarnya dengan menjaga tempat ini. Baiklah, pendapatmu kuterima!"

"Nanti dulut" Siao Yen tiba-tiba menukas. "Bagaimana kalau mereka tak datang lagi, suhu. Masa seumur hidup menjaga tempat orang!"

"Hm, sebenarnya ini tempat suhu juga. Kalau kau menganggapnya tempat asing dan orang lain maka pendapatmu salah, Siao yen. Bukankah selama ini suhu dibesarkan dan dididik di sini. Ini tempat tinggalnya pula. Hanya setelah suhu menikah ia keluar."

Po Kwan mendahului suhunya dan Peng Houw lagi-lagi mengangguk. Kalau mau dihitung maka Gobi adalah tempatnya sejak kecil, tempat di mana ia digembleng dan dibesarkan. Sebelum menikah maka tempat inilah tinggalnya. Dan ketika ia tersenyum dan mengangguk-angguk maka gadis itu merah merasa dikalahkan, penasaran.

"Kakakmu benar, Gobi bukan tempat asing bagiku. Bahkan di sini mereka adalah saudara-saudaraku, Siao Yen, hanya karena aku membawa kalian maka aku sungkan berlama-lama. Sekarang mereka sendiri yang minta kepadaku, agaknya tak dapat kutolak. Menjaga tempat ini tiada ubahnya menjaga rumahku sendiri. Kakakmu betul."

"Akan tetapi aku rikuh sendirian disini. Aku satu-satunya perempuan!"

"Kau adalah murid suhu, siapa berani mengganggu. Lihat selama ini para hwesio hormat kepada kita, Siao Yen, lagi pula aku di sini. Aku nenemanimu!”

"Tapi kau laki-laki, aku perempuun!"

"Kalau begitu apakah suhu perlu mencarikan teman perempuan? Bawa saja uwak Kim ke mari, pasti beres!"

"Hm, benar," Peng Houw tersenyum menahan tawa. "Kakakmu tidak salah, Siao Yen. Kalau kau merasa sendirian di sini maka uwak Kin dapat kuambil. Baik, bagaimana kalau begitu."

"Terserah suhu!" gadis ini akhirnya mengalah, melirik kakaknya dengan dongkol.

"Begitu juga boleh, suhu. Tapi sesekali teecu ingin juga keluar dan mencari suasana lain."

"Benar," Po Kwan mengangguk dan memandang gurunya. Terlalu lama di balik tembok mengundang kejemuan juga suhu, mohon kebijaksanaan suhu kalau satu saat kami diajak main-main keluar!"

"Hm, aku lupa ini. Kalian bukan kucing atau katak di balik kurungan, Po kwan. Aku menjanjikan kepada kalian untuk satu saat berpesiar dan mencari udara baru!"

"Terima kasih!" gadis itu melonjak. "Kalau begitu boleh ambil uwak Kin!"

"Dan kau tak sendirian lagi. Hanya aneh bahwa tempat para hwesio dihuni wanita pula. Apakah pimpinan Gobi tak keberatan!"

"Aku akan bicara kepada mereka. Ini bersifat khusus, Po Kwan, tapi tentu Ji-lo-suhu tak akan menolak. Baiklah besok kutemui dan sekarang aku ingin menceritakan kenapa perjalananku begitu lama. Harap kalian jangan ceritakan orang lain karena mungkin di lain hari kalian dimusuhi orang pula!"

Dua muda-mudi itu mengerutkan kening. Siao Yen yang baru saja bersorak mendadak menarik alisnya tinggi-tinggi, ia merasa berdebar. Namun karena sudah lama ia menunggu dan ingin mendengarkan ini tentu saja ia tertarik dan tanpa diminta lagi ia sudah menggeser duduknya lebih dekat dengan sang suhu.

Dan begitu Po Kwan mengangguk dan ikut berdebar pula maka kakak beradik ini Sudah mendengarkan cerita suhunya dengan penuh perhatian. Malam telah semakin dingin dan suara angin gurun kadang-kadang bertiup dan menderu, bagai deru cerita itu yang ternyata menegangkan dan juge mencemaskan.

* * * * * * * *

Seperti diketahui akhirnya Peng Houw meninggalkan Kun-lun dengan perasaan bingung dan marah. la tak menemukan Kim Cu Cinjin di situ karena tosu itu pergi turun gunung. Kedudukan ketua juga sudah dipegang orang lain dan Naga Gurun Gobi ini mendengar cerita tentang Chi Koan, betapa si buta itu muncul dan mencelakai tokoh-tokoh Kun-lun. Memang tak ada orang lain yang mampu menundukkan si buta itu kecuali dirinya. Maka ketika putus asa dan tinggalkan tempat itu segera Peng Houw menuju ketimur.

Ke manakahi ia pergi? Tak ada tujuannya. Naga Gurun Gobi ini melangkahkan kakinya ke mana ia suka dan berbulan-bulan ia naik turun gunung masuk keluar kota. Di tengah jalan tentu saja ia bertanya dan mencari-cari, pakaiannya mulai kotor dan wajahpun seringkali berdebu. Wajahnya cepat menua dan orang akan pangling melihat pendekar sakti ini.

Peng Houw tak merawat tubuhnya sampai suatu hari ia jatuh sakit. Bukan fisik yang mendera melainkan tekanan batinnya. la rindu anak isteri. Dan ketika pagi itu ia jatuh terduduk di mulut sebuah hutan, mengeluh dan lupa makan minum tiba-tiba berkelebatlah beberapa bayangan dan harum tubuh menyambar disusul bentakan.

"Benar ini Naga Gurun Gobi. He, kemana sumoiku Hong Cu, Peng Houw. Kau biang keladi hilangnya sumoiku, tar-tar...!" seorang wanita empat puluhan telah berdirį di situ dan di belakang wanita ini menyusul bayangan-bayangan langsing berjumlah belasan.

Peng Houw terkejut karena itulah Siang-mauw Sian-li (Dewi Rambut Harum), Wanita yang meledakkan rambutnya dan merupakan senjata-senjata hebat yang ampuh dan mengerikan. Rambut itu dupat lemas dun kaku tergantung pemiliknya, dapat melibat dan memotong kalau sudah diisi sinkang. Maka ketika ia berdirii dan tahu-tahu sudah dikepung tak kurang dari sembilanbelas wanita cantik maka Peng Houw tertawa getir dikenal lawan.

"Siang-maw Sian-li kiranya, datang melepas penasaran. Hm... aku tak tahu-menahu di mana sumoinu berada, Sian-li masa kujaga seperti anak kecil kehilangan induknya. Aku tak tahu, maaf jangan ganggu!"

"Keparat, enak sekali. Kami menemukan jejak bahwa ia bersamamu, Peng Houw. Ada beberapa saksi yang memberi tahu kami. Nah, jangan bohong dan bicara baik-baik saja, atau kami menyerangmu dan biarpun kau lihai akan tetapi mati hidup akan kami pertaruhkan!"

Peng Houw terkejut, matanya berkunang-kunang. Sebetulnya ia meriang tak enak badan dan ingin istirahat. Kalau saja tak ada ketua Sin-hong-pang ini tentu ia mencoba tidur pulas. Segulung rumput tebal telah ia siapkan, bahkan iapun telah melonggarkan bajunya untuk tidur. Maka ketika tiba-tiba ia diganggu dan Wanita itu begitu serius, terkejutlah ia mendengar saksi segala maka ia memijit tengkuknya menghilangkan pandangan kabur akibat rasa meriang.

"Siang-mauw Sian-Ii, siapa saksi yang kau sebutkan itu. Dari mana kau tahu. Aku tak mengerti dan justeru heran atas sikapmu ini. Pergilah dan jangan ganggu aku atau aku yang pergi dan tak akan mengganggumu."

"Tunggu, jangan pergi!" bentakan itu disusul gerakan wanita cantik ini beserta delapan belas muridnya. "Sikapmu justeru memperberat dugaanku, Peng Houw, kau hendak melarikan diri!"

"Hm, aku tak melarikan diri, hanya tak enak badan. Sekali lagi aku tak tahu di mana dan ke mana sumoimu Hong Cu, Sian-li. Minggirlah dan beri aku jalan. Aku berani sumpah."

"Sumpahmu sumpah bohong. Lihat siapa mereka itu, Peng Houw, dan beranikah kau menyangkal!"

Peng Houw membalik dan menoleh. La hampir terlambat ketika sebatang hui-to (Golok terbang) menyambar tengkuknya. Dari balik pohon muncul orang-orang lain tersenyum- senyum, satu di antaranya adalah seorang kakek tinggi kurus berusia limapuluhan tahun. Kakek inilah yang melepas hui-tonya dan menyambar amat cepat, nyaris tanpa suara. Tapi ketika Peng Houw menoleh dan menangkis itu maka senjata gelap ini runtuh dan patah menjadi dua.

"Plak!" Berkelebatlah bayangan-bayangan itu. Kekeh dan tawa segera terdengar dan jumlah pengepung tehu-tahu telah bertambah sembilan orang. Tujuh sudah dikenal sementara dua yang terakhir membuat Peng Houw berkerut kening. Itu adalah seorang wanita cantik dan seorang pemuda gagah bermulut sombong. Pakaian wanita itu serba merah sementara di belakang punggungnya terselip sebatang pedang.

Si pemuda juga begitu dan pedangnya bergagang mutiara menempel di belakang tubuhnya. Alisnya hitam pendek dan tarikan bibirnya pongah sekali, sekilas bentuk hidungnya sama dengan wanita baju merah itu, yang usianya sekitar empatpuluh enam tahun dan bibirnya yang berjebi membayangkan keangkuhan besar.

Dan ketika Peng Houw tertegun dan mengamati dua orang terakhir ini, satu di antaranya tiba-tiba terkekeh serak dan menyodok-nyodokkan tongkatnya maka kakek ini, yang sudah berdiri di dekat Sian-mau Sian-li berseru, serak melengking.

"Heh, Naga Gurun Gobi sedang sakit, hampir kita pangling. Kalau Sian-li tak tajam dan awas matanya bisa-bisa kita terkecoh bahwa ia seorang anggautamu, Hek-sai Lo-kai. Bagaimana pendapatmu bukankah pemuda ini seperti jembel. Ha-ha, wajahnya berdebu dan pakalannyapun kotor, lusuh!"

"Benar, aku tidak menyangka. Dulu malam itu ia gagah dan tampan, Ban-tok Wi Lo, sedangkan sekarang begini dekil dan kotor. Mau aku menyangkanya sebagai pengemis dan masuk kelompok anggautaku, heh-heh"

Seorang tinggi besar brewok dan berkulit hitam tertawa menyambut omongan kakek bertongkat itu. Ia bukan lain Hek-sai Lo-kai alias ketua Hek-i Kai-pang. Inilah pengemis yang amat dendam sekali kepada Peng Houw, markasnya diobrak-abrik dan kini tahu-tahu ia bergabung dengan Ban-tok Wi Lo yang lihai itu, suheng dari mendiang Coa-ong tokoh dari Tujuh Siluman Langit.

Dan ketika Peng Houw tertegun namun sadar mendengus pendek, Si pelempar hui-to terkekeh menyambung maka ia direndahkan lagi dengan cemoohan tajam.

"Kabarnya pemuda ini kehilangan anak isteri, namun tak malu juga mengganggu murid Sin-hong-pang. Heh-heh, entah bagaimana kalau isterinya tahu, Wi Lo, apakah kita semua perlu mengumumkannya ke penjuru delapan mata angin. Murid Gobi menculik gadis Sin-hong-pang!"

"Dan kami saksinya," pengemis agak pendek menimpali. Kami melihatmu membawa gadis itu, Peng Houw. Di markas kami kau membuat kekacauan dan kesombongan. Mana gadis itu dan tak kami sangka bahwa ia adalah sumoi yang terhormat ketua Sin-hong-pang. Tahu begitu kami akan merebutnya mati hidup!"

"Heh-heh, benar. Agaknya tak mampu menemukan isterinya lalu menubruk perempuan lain sembarangan saja. Ah, kau memalukan mendiang gurumu kalau tingkahmu seperti itu, Naga Gurun Gobi. Lebaih baik bergabung saja dengan orang-orang sesat hingga tak perlu menyebut nama sebagai pendekar!"

"Nah," Siang-mauw Sian-li membentak dan menudingkan telunjuknya kepada pemuda ini. "Semua orang sudah berkata, Peng Houw. Apa jawabmu dan masihkah kau mungkir!"

"Dan ia sahabat Kim Cu Cinjin. Kalau pemuda ini bergaul dengan tosu sebusuk itu maka tentu wataknya ketularan, Siang-mauw Sian-Li. Kim Cu adalah laki-laki hidung belang yang dulu mengganggu dan mempermainkan aku. Sekarang ia tak bertanggung jawab!"

"Hm!" Peng Houw memutar dan menghadapi semua orang-orang itu. matanya berkilat-kilat. "Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Kim Cu Cinjin, kouwnio. Kenapa kau bisa bicara setajam itu dan menjelek-jelekkan aku pula!"

"Heh-heh, dia adalah Si Pedang Merah Leng Nio, itu puteranya Leng Houw. Dia ini kekasih Kim Cu Cinjin yang akhirnya ditipu, Peng Houw, dan kau lihat tidakkah pantas dia marah- marah. Kim Cu memang seorang tosu busuk, tak pantas menjadi ketua Kun-lun-pai. Kami akan melabraknya ke sana!"

Ban-tok Wi Lo yang agaknya bertugas memanasi dan memperkeruh suasana menjawab lebih dulu. Peng Houw terkejut dan memandang wanita itu dan Si Pedeng Merah membalas dengan pendang mata mengejek. Mata itu tertawa, menghinanya. Dan ketika pemuda Inl menjadi panas dan terbakar maka la dibentak lagi untuk segera menunjukkan Hong Cu. Siang-mauw Sian-li yakin betul dan tampaknya percaya omongan orang-orang itu.

"Sekarang tak perlu berputar-putar. Di mana sumoiku Hong Cu atau kami membunuhmu!"

"Hm..!"Peng Houw naik darah. "Sudah kubilang aku bukan penjaga sumoimu, sian-li. Cari sendiri dan aku tak tahu!"

"Kalau begitu kau mencari kematianmu, serang!" wanita ini meledakkan rambutnya dan tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi ia menghantam Peng Houw dengan lecutan kilat. Rambut itu menyambar dan berubah kaku seperti segulung kawat baja, bercuit dan alangkah hebatnya bila mengenai tubuh. Kulit tentu luka dan daging tertusuk tembus. Akan tetapi ketika Peng Houw mengelak dan waspada akan yang lain maka benar saja dari delapan penjuru Ban-tok Wi Lo dan kawan- kawan menyergap dan memburu.

"Plak-plak-plak!"

Hujan senjata ditangkis terpental. Tongkat dan rambut membalik bertemu jari Peng Houw dan Naga Gurun Gobi itu membentak. Tentu saja la marah dan menangkis. Dan ketika la diserang dan gadis-gadis Sin-hong-pang melengking menyusul ketuanya maka delapan belas tubuh berbau harum sambar-menyambar diseling bau apek dan kecut dari tubuh Hek-sai Lo-kai atau Wi Lo, maklum mereka inilah yang berbau penguk tak pernah mandi.

"Wut-plak-dess!"

Peng Houw dipaksa membalas dan akhirnya ia mengeluarkan Hok-te Sin-kangnya itu. Sinkang atau tenaga sakti di tubuhnya ini bekerja cepat dan gadis-gadis Sin-hong-pang berteriak keget. Rambut mereka terpental dan pedas mengenai kulit sendiri. Rambut mereka itu membalik.

Namun ketika mereka mundur menutupi hidung, para kakek dan dedengkot pengemis berkelebatan sambar-menyambar maka Siang-mauw Sian-li berseru agar para muridnya berjaga di luar saja, diam-diam wanita ini juga menutupi hidung oleh bau apek laki-laki kemproh itu.

"Jangan maju semua, kalian di luar saja. Jaga kalau ia melarikan diri!"

Peng Houw marah. Ia dikatakan melarikan diri, kata-kata yang membuat telinganya panas terbakar. Maka ketika lawan kembali menerjang dan ia harus waspada terhadap tongkat ditangan Ban-tok Wi Lo, kakek bongkok itu terkekeh dengan licik maka benar saja sinar-sinar hitam mencuat dan keluarlah belasan jarum menyambar tubuhnya.

Akan tetapi Peng Houw mengibas runtuh. la sudah dikeroyok dan dikepung sementara lawan bertambah beringas. Leng Nio si Pedang Merah berkelebat mencabut senjatanya, begitu pula pemuda bermulut sombong itu. la ragu benarkah pemuda ini keturunan Kim Cu Cinjin karena sama sekali tak ada bentuk muka yang mirip dengan sahabatnya itu.

Tapi ketika ia menangkis dan bak-bik-buk senjata disusul pekik keget pemiliknya, sin-kang pemuda ini mementalkan semua serangan maka yang belum berkenalan dengan Naga Gurun Gobi itu terkejut, ini dialami Si Pedang Merah Leng Nio dan puteranya.

"Ia kebal, hati-hati. Sinkangnya kuat!"

"Tak usah takut. Cari dan tusuk bagian tubuhnya yang lemah, Leng Nio. Kalian dapat mencari mata atau lubang telinga!"

"Benar, iapun memiliki kelemahan. Serang dan bunuh pemuda ini!"

Peng Houw diterjang lagi dan sembilan orang itu susul-menyusul dengan si ketua sin-hong-pang Siang-mauw Sian-li. Wanita itu paling bernafsu meledakkan rambutnya namun setiap kali itu pula serangannya terpental balik. Peng Houw menambah tenaganya hingga kulit kepala wanita itu pedas. Dan ketika wanita ini menjerit disusul yang lain-lain, Peng Houw berkelebat dan membalas lawan maka semua tiba-tiba melompat mundur akan tetapí menerjang lagi begitu pemuda ini menghentikan serangan.

"Berputar, cari titik kelemahannya!"

Peng Houw menjadi gusar. la benar-benar seperti harimau yang dikepung dan dicari-cari kelemahannya. Semua bagian tubuhnya dihajar dan diserang. Akan tetapi ketika orang mulai menujukan serangan ke mata atau lubang telinganya, marahlah Naga Gurun Gobi ini maka tiba-tiba ia membuka mulutnya dan keluarlah suara dahsyat menggetarkan hutan. Anak murid Sin-hong-pang terpelanting...!