X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 15

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su episode Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 15 karya Batara
Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara

"HA-HA-HEH-HEH-HEH! Kau cerdik dan curang hendak mengelabuhi aku, anak muda. Hok-te Sin-kang mu kau tarik agar aku terjelungup. Ha-ha-heh-heh-heh, kau tak terhasil!"

Si buta tertegun. Memang ia menarik pukulannya itu agar Si kakek terbawa dan terjelungup ke depan, dengan begitu gampang saja baginya menghantam kakek itu, tongkatnya siap bergerak. Tapi ketika ia gagal dan tahulah dia bahwa kakek di depannya ini memang betul-betul bukan sembarangan akhirnya ia membentak dan maju lagi, kali ini tak main-main atau memasang jebakan.

"Bagus, kau lihai. Sekarang coba terima lagi dan sambut pukulanku!"

Akan tetapi si kakek mengelak. Pek-gan Hui-to Jiong Bing Lip terkekeh dan tongkat menderu melewati samping kepalanya, membalik dan dikelit lagi dan terkejutlah Chi Koan lawan betul-betul lihai. Lalu ketika ia membentak dan menggerakkan tangan kiri memukul maka kakek ini menangkis dan dua tenaga kali ini beradu.

"Dess!" Chi Koan terhuyung sementara si kakek tergetar. Hok-te Sin-kang menjadi dua bagian karena yang satu dipakai dalam serangan tongkat itu, Chi Koan penasaran dan tiba-tiba ia berkelebat dengan ilmunya Lui-thian-to-jit (Kilat Menyambar Matahari), sebuah ilmu meringankan tubuh yang membuat tubuhnya bergerak secepat kilat menyambar. Namun ketika si kakek mengelak dan luput mengenai angin maka Chi Koan berubah karena si kakek berkelebatan pula dengan ilmunya yang hebat dan lincah.

"Ayo..., ayo keluarkan semua ilmu kepandaianmu. Heh-heh, ini Lui-thian-to-jit dari Go-bi. Bagus, keluarkan kepandaianmu dan lihat si tua bangka ini mampu menandingimu!"

Chi Koan terkejut dan benar-benar penasaran. Ia berkelebat menyambar-nyambar namun kakek itu mengimbangi dengan gerak tak kalah cepat. Semakin cepat ia berkelebatan semakin cepat, pula kakek itu mengimbangi. Dan ketika akhirnya tubuh mereka menjadi bayangan yang luar biasa cepatnya, saling belit dan sambar-menyambar.

Maka si buta benar-benar terkejut karena kakek yang dihadapi kali, ini memiliki kepandaian luar biasa yang tak mampu dikejarnya. Gerakan kakek itu seperti angin lesus, atau kadang-kadang seperti pipit yang lincah menyelinap dan mengelak menghilang!

Sadarlah Chi Koan bahwa kakek ini benar-benar tokoh tua seangkatan mendiang kakek gurunya. Melihat betapa ilmu meringankan tubuhnya mendapat tandingan setimpal iapun lalu memusatkan perhatian pada pukulan tongkat dan tangan kirinya.

Dua kali ia melepas Hok-te Sin-kang namun kakek itu berani menangkis, setiap menangkis menyambutlah tenaga empuk seperti kapas, menghisap atau menerima pukulannya sia-sia dan Chi Koan tentu saja terkejut bukan main. Ia tak tahu bahwa lawan mempergunakan Ban- bian-kang atau Tenaga Selaksa Kapas, semakin dipukul semakin empuk pukulan itu.

Dan karena Hok-te Sin-kang menjadi tak berdaya menghadapi pukulan seperti itu maka biarpun si buta menyerang hebat tetap saja Hok-te Sin-kangnya amblas tak berbekas. Persis seperti orang memukul air atau tumpukan kapas tebal! Pucatlah si buta. Lawan terkekeh-kekeh dan kakek itu girang bukan main. Hok-te Sin-kang, pukulan yang dahsyat itu berhasil ditawarkannya dengan Ban-bian-kang.

Tapi karena pukulan kapas ini bersifat menghisap dan menerima, iapun tak dapat membalas maka kakek itu juga tak dapat berbuat banyak kecuali menghabiskan tenaga pemuda itu sampai ia kelelahan.

"Heh-heh, ayo pukul... pukul lagi. Tenagamu kurang kuat, anak muda,. seperti tenaga anak kecil. Ayo, pukul yang kuat dan sungguh-sungguh!"

Chi Koan menjadi gentar. la tak tahu bahwa kelemahan kakek itu adalah tak mampu membalas. Ban-bian-kang hanya khusus menerima dan menghisap, semakin dipukul semakin melesak, persis kapas empuk. Dan ketika ia berpikir bagaimana hebatnya kalau kakek ini membalas akhirnya Chi Koan menjadi ngeri dan gentar. Baru kali ini Hok-te Sin-kang menjadi mandul!

Maka ketika ia tiba-tiba membentak dan mengayun tongkat di tangan kanannya, tangan kiri mendorong dan membalik maka Chi Koan menghantam kepala lawan tapi saat itu juga belasan jarum merah menyambar kakek itu. "Kau tua bangka tak punya malu, beraninya melawan anak kecil. Lain kali aku datang lagi dan awas pembalasanku!"

Kakek ini terkejut. la menghentikan tawanya ketika belasan sinar merah menyambar tubuhnya dari atas ke bawah. Tangan kiri pemuda itu terbuka dan saat itulah sinar-sinar merah meluncur. Namun karena ia bukan kakek sembarangan dan Hok-te Sin-kang telah mampu dibuat mandul maka kakek ini miringkan kepala dan hantaman tongkat diterima pundaknya, tangan bergerak dan secepat kilat tongkat dicengkeram, tangan yang lain mengebut dan memukul balik jarum-jarum beracun itu.

Dan ketika si buta terkejut ditarik tongkatnya, inilah yang tak diduga Chi Koan maka jarum menyambar tubuhnya akan tetapi si buta meniup dan runtuhlah jarum-jarum itu. Bersamaan itu adu tarik terjadi di antara mereka, tongkat tak kuat dan patah. Dan ketika masing-masing sama terhuyung memegang patahan tongkat maka Chi Koan memutar tubuhnya dan melarikan diri.

Tertegunlah kakek ini. Lawan berkelebat meninggalkan pertempuran setelah tahu tak mungkin menang. Tapi ketika ia sadar dan menggerakkan patahan tongkat tiba-tiba kakek itu terkekeh menimpukkan benda ini, disusul gerakan lain ketika dua hui-to terbangnya menyambar tanpa suara. "Hei.., senjatamu tertinggal, anak muda. Kukembalikan!"

Chi Koan mendengar kesiur angin tongkat namun tidak untuk dua hui-to kecil itu. la menangkis dan terpekik ketika dua senjata rahasia itu mengenai pundak dan belakang punggungnya. Tongkat terpental namun dua hui-to menancap, untunglah kekebalannya masih melindungi dan si buta ini terhuyung. Lalu ketika pemuda itu lari lagi membiarkan dua hui-to menancap di tubuhnya maka terdengar seruan anak kecil memanggil si buta itu.

"Suhu!" Chi Koan menyambar. Siauw Lam, muridnya muncul di sebelah kiri. Tanpa banyak bicara lagi ia meloncat di pundak muridnya, berseru agar murid itu keluar secepatnya dari tempat berbahaya itu. Dan karena Pek-gan Hui-to Jiong Bing Lip tak mengejar karena bukan maksud kakek ini untuk membunuh lawannya maka pemuda itu lenyap meninggalkan hutan sementera Kwi-bo tiba-tia melengking dan menjerit.

"Chi Koan!" Bayangan wanita inipun meluncur. Sama seperti si buta wanita inipun kewalahan menghadapi Li Ceng, apalagi nyonya itupun marah sekali kepadanya akibat perbuatannya menghancurkan rumah tangganya. Li Ceng bermaksud membunuh wanita ini akan tetapi Kwi-bo berjungkir balik melarikan diri, melihat si buta meninggalkan tempat itu dan tentu saja ia ngeri menghadapi lawan. Di sana masih ada kakek lihai yang entah siapa.

Namun ketika Li Ceng membentak dan mengejar dihadang belasan jarum beracun, menampar dan memukul balik jarum-jarum itu maka Kwi-bo sempat menjerit karena sebatang jarumnya menancap di pipi, lari lagi dan akhirnya menghilang dan berdirilah nyonya ini dengan mata berapi-api. Wajahnya memerah dan tahu-tahu berkelebatlah kakek itu di sampingnya. Dan ketika nyonya ini sadar dan membalik maka Li Ceng menegur kakek itu kenapa si buta dibiarkan lolos,

"la jahat dan keji, seharusnya locianpwe tak membiarkannya pergi!"

"Heh-heh, sudah kukatakan sejak mula. Aku tak ingin membunuh pemuda itu, Li Ceng, aku hanya menjajalnya dan menandinginya saja. Dan aku berhasil mementahkan Hok-te Sin-kang, he-he berarti aku mengungguli si keledai gundul Ji Leng Hwesio!"

"Ah...!" Li Ceng berseru. Tiba-tiba ia sadar bahwa kakek ini memang hendak menguji coba saja, dan ternyata berhasil. Hok-te Sin-kang, warisan Bu-tek-cin-keng yang dahsyat itu ternyata berhasil dihadapi kakek ini. Percayalah Li Ceng bahwa puteranya kelak dapat diandalkan. Nyonya dan kakek ini lupa bahwa lain Chi Koan lain pula Peng Houw.

Si buta itu memiliki Hok-te Sin-kang atas dasar melatih secara buru-buru, maklum waktu itu kitab curiannya dikejar-kejar. Sedang Peng Houw yang mewarisi ilmu ini langsung dari mendiang hwesio sakti itu, juga sekaligus menerima tenaga saktinya maka tentu saja tak dapat disamakan dengan si buta yang melatih ilmunya secara tak tenang.

Dua orang ini lupa bahwa mengalahkan Chi Koan belum berarti mengalahkan Si Naga Gurun Gobi. Lain Chi Koan lain pula Peng Houw. Maka ketika Li Ceng mengangguk-angguk dan terdengarlah suara si kera besar, muncul membawa Boen Siong maka nyonya ini menyambar dan melupakan kemarahannya kepada Kwi-bo.

"Bagus, kau berhasil. Aku sekarang percaya kepadamu, locianpwe, percaya penuh. Biarlah puteraku ini membunuh si buta itu dan kelak mengalahkan ayahnya pula!"

"Heh-heh, tentu. Aku juga semakin percaya kepada diriku sendiri, Li Ceng, lihat aku mampu meredam kedahsyatan Hok-te Sin- kang. Ban-bian-kang milikku ampuh, ha-ha!"

Dua orang itu puas. Li Ceng akhirnya menyadari perjanjian mereka bahwa kakek ini hanya sekedar menguji-coba. Yang kelak turun tangan adalah puteranya ini, anak laki-lakinya yang sudah diangkat murid oleh kakek sakti ini. Maka ketika kakek itu berkelebat dan mengajaknya kembali ke Kun-lun.

Maka di terowongan bawah tanah itulah nyonya ini tinggal dan mendampingi puteranya digembleng kakek perkasa Pek-gan Hui-to Jiong Bing Lip itu. Dan karena mereka bersembunyi di perut gunung ini maka Peng Houwpun tak menemukan jejak anak isterinya ini, lenyap seolah di telan bumi saja.

* * * * * * * *

Marilah kita kembali kepada Si Naga Gurun Gobi itu. Setelah tahun pertama dilewati sia-sia dan tahun kedua serta ketiga juga tak membawa hasil akhirnya Peng Houw teringat paman gurunya Giok Yang Cinjin. Dari Laut Selatan ia kembali ke utara, berbelok menuju tempat tinggalnya di tepi sungai Huang-ho itu. Dan ketika ia tiba di disambut uwak Kin dan anak-anak itu, juga supeknya Giok Yang Cinjin maka di sini bertambah seorang anak laki-laki lain yang tidak dikenalnya.

"Eh, guru kalian datang. Ha-ha, bagus Peng Houw, bagaimana kabarnya dan kenapa lama amat. Kau membuatku cemas serta bingung dan kakak beradik ini selalu bertanya di mana kau!"

Peng Houw kusut dan tidak bergairah. Tiga tahun mencari anak isteri namun gagal membuat ia benar-benar kehilangan kegembiraan. Hanya karena ingat anak-anak itu ia pulang. Janjinya kepada supeknya ini membuat ia harus kembali dan datang ke situ.

Maka ketika sambutan Po Kwan dan Siao Yen serta supeknya juga uwak Kin begitu bersemangat, cepat sekali uwak ini mengeluarkan makan minumnya maka Peng Houw justeru tertegun melihat seorang anak laki-laki sebaya muridnya berlutut di situ.

"Siapa ini?" ia bertanya, "Dari mana dan siapa namanya...?"

"Teecu Beng San, dibawa ke mari oleh totiang Giok Yang Cinjin. Maafkan teecu kalau kurang hormat, suhu. Teecu di sini atas perintah Giok Yang totiang."

Anak itu memberi hormat mendahului Giok Yang Cinjin. Dahinya lebar dengan sepasang alis golok dan langsung saja menyebut Peng Houw sebagai suhu (guru), halus dan lembut namun entah kenapa Peng Houw merasa kurang senang. Mungkin karena belum dikenal sudah berani menyebut suhu. Maka ketika Peng Houw mengerutkan kening dan Giok Yang Cinjin tertawa maka kakek inilah yang menyambung, berseru,

"Maaf, pinto menemukannya di luar kota Kwang-sin, Peng Houw, dikeroyok anjing-anjing liar. Beng San berebut makanan dan hampir mati, pinto menolongnya kemudian membawanya ke mari. Dan karena ia sebaya dengan murid-muridmu di sini dan sekalian kuajari Soan-hoan-ciang maka kukatakan kepadanya bahwa kaulah gurunya nanti. Pinto orang perantau dan tak mungkin membawanya ke mana-mana. Biarlah menolongmu dan menemani anak-anak di sini, Po Kwan dan Yen Piao rupanya cocok!"

"Hm...!" Peng Houw kurang senang, masih terbawa oleh kemurungannya. "Aku sebenarnya tak ingin mengambil murid lagi, supek, dua sudah cukup. Kenapa kau menyuruhnya begitu dan tidak tanya aku dulu. Bukankah masih ada puteraku Boen Siong yang belum kutemukan."

Giok Yang Cinjin tertegun, sadar. Namun belum ia bicara tiba-tiba anak itu maju lagi membenturkan dahinya. Totiang, sudah kuberi tahu kepadamu bagaimana kalau aku kena marah, dan hal ini sekarang benar terjadi. Kalau keberadaanku di sini mengganggu saja biarlah aku pergi. Aku juga merasa lancang menganggap diriku sebagai murid. Aku sudah terbiasa hidup menderita, kalaupun aku keluar dari sini juga tak apa-apa. Mohon totiang berdua taihiap ampunkan aku, sekarang juga aku pergi!"

Tanpa menunggu jawaban anak ini bangkit dan mengundurkan diri. Wajahnya tampak merah menahan malu karena kata-kata Peng Houw jelas tak menghendaki dirinya. la terlanjur mengaku murid padahal sang suhu tak mau, siapa tak terpukul. Dan ketika ia cepat keluar dan melompat di sana, Yen Piao meneriakinya maka Peng Houw tertegun sementara Giok Yang Cinjin juga berkelebat dan tampak tak enak. Tosu inilah yang bertanggung jawab.

"Hei, tunggu dulu. Kalau tuan rumah tak mau menerimamu biarlah kau ikut aku, Beng San. Maafkan kalau pinto terlalu percaya diri. Pinto juga lancang, tapi pinto harus membayar salah!"

Tosu ini sudah menyambar dan menangkap anak itu. Beng San berkelit namun bahu sudah dicengkeram, mana mungkin ia menghadapi tosu ini. Namun ketika ia membalik dan memberontak ternyata ia berhasil juga melepaskan diri.

"Totiang, akupun tak mau merepotkan dirimu. Lepaskan dan biar aku pergi!"

Giok Yang Cinjin membelalakkan mata. Anak itu sudah lari lagi dan kini menangis, rupanya ia terlalu sakit mendengar semuanya itu, terutama kata-kata Peng Houw tadi. Namun ketika seseorang berdiri di depannya dan tanpa terasa lagi ditabrak. terkejutlah Beng San maka ia berseru tertahan karena Naga Gurun Gobi nencegat di depannya.

"Kau anak keras hati, angkuh pula. Karena supekku Giok Yang Cinjin menerimamu baiklah kau ikut aku kalau suka, Beng San. Tapi kalau tidak boleh juga kau pergi."

Anak ini tertegun. Peng Houw, Naga Gurun Gobi itu memperbaiki kesalahannya dengan sikapnya sekarang. la telah diterima. Dan ketika ia tak kuat beradu pandang dan menjatuhkan diri berlutut maka anak ini mengeluh menyebut panggilan pertamanya tadi.

"Suhu...!"

Peng Houw menghela napas. la melihat kekerasan hati yang tak kalah dengan muridnya Po Kwan. Anak seperti ini biasanya berhasil kalau dididik ilmu silat. Maka ketika ia mengangkat bangun dan membuang perasaannya yang kurang sedap ia segera memerintahkan sampai di mana pelajaran yang diterima dari Giok Yang Cinjin.

"Coba kau mainkan Soan-hoan-ciang, sampai di mana kepandaianmu."

Anak itu girang. Tak ragu-ragu lagi ia berdiri dan menggerak-gerakkan kaki tangannya melakukan pukulan-pukulan itu. Soan-hoan-ciang adalah ilmu mendorong dan memukul serta mengibas, sesuai namanya. Dan ketika Peng Houw memperhatikan dan kagum bahwa jurus demi jurus dilakukan tanpa salah, hanya tenaga anak itu masih terlalu lemah maka ia mengangguk dan mengangkat lengannya.

"Cukup, enam puluh dua gerakannya telah kau kuasai, hanya tenagamu masih lemah. Baiklah kita kembali dan berlatihlah dengan Po Kwan dan Siao Yen."

Anak itu berlutut mengucap terima kasih. Tampak bahwa ia girang bukan main, siapa tidak bangga menjadi murid Naga Gurun Gobi. Dan ketika Peng Houw kembali ke dalam bersama Giok Yang Cinjin, yang lain diminta keluar agar leluasa bercakap-cakap maka di sini tosu itu minta maaf, sekali lagi menyesali kelancangannya.

"Kalau kau tak suka kepadanya boleh serahkan kepada pinto, Peng Houw. Pinto minta maaf bahwa tanpa persetujuanmu sudah menyatakan anak itu muridmu. Bukan apa-apa, semata karena ia sebatangkara dan pandai membawa diri. Kalau saja pinto punya tempat tinggal tentu ia kubawa."

"Sudahlah, tak usah supek sesalkan. Ia memiliki bakat seorang ahli silat, supek, hanya sebetulnya terlalu banyak kalau ada tiga murid di sini. Tapi sekarang sudahlah tak usah bicara itu, ia pandai membawa diri. disamping mempunyai harga diri. Aku kembali karena isteriku dan anakku tak kutemukan di mana beradanya. Aku putus asa!"

"Pinto akan ganti mencari. Anak-anak itu telah dua tahun pinto gembleng, Peng Houw, di tanganmu tentu lebih hebat lagi. Sekarang kau telah datang dan biarlah pinto pergi!"

"Tak usah buru-buru, betapapun aku tak ingin melatih anak-anak itu dalam waktu dekat ini. Aku ingin beristirahat dan kau lanjutkan dulu pekerjaanmu, Supek, baru setelah itu aku mengambil alih karena terus terang saja aku masih tak begitu gembira."

Tosu ini mengangguk-angguk. Memang ia tahu bahwa Naga Gurun Gobi ini murung. Kegagalannya menemukan anak isteri memang membuat pemuda ini malas, semua terasa tak menyenangkan. Namun karena tuan rumah sudah datang dan ia tak mungkin di situ, sudah ada pelindung bagi anak-anak ini maka kakek itu berkata bahwa ia akan melanjutkan kesenangannya merantau.

"Pinto orang yang tak biasa tinggal disatu tempat, apalagi sampai selama ini. Hanya semata bertanggung jawab menjaga anak-anak itu pinto menunggumu, Peng Houw, setelah kau datang tentu saja pinto ingin menikmati kebebasan. Biarlah pinto tinggal tiga hari lagi dan waktu ini kugunakan untuk memberi wejangan rohani pada anak-anak itu. Setelah itu ijinkan pinto pergi."

"Baiklah, !” Peng Houw mengerti. "Tanggung jawabku mendidik murid membuat aku terikat, supek, ini tugasku dan sekarang harus kujalankan. Kalau supek pergi tolong dengarkan di mana anak isteriku dan beritahulah aku."

Kakek itu mengangguk. Akhirnya. malam itu diisi. percakapan yang ringan-ringan, anak- anak disuruh beristirahat dan uwak Kinpun diminta mengaso. Di sini Peng Houw mencari tahu tentang muridnya, Beng San. Giok Yang Cinjin tersenyum dan memuji anak itu seorang anak yang cerdas. Beng San tahu membawa diri namun harus diakui mudah tersinggung dan perasa.

Mungkin hidup yang penuh derita membuat anak itu seperti itu, kadang terasa angkuh. Dan ketika tosu itu menutup bahwa selama ini anak itu baik-baik saja, rukun dan tak pernah bertengkar dengan Po Kwan maupun adiknya maka tosu ini seakan memberi jaminan bahwa Beng San murid yang tahu budi.

"Selama ikut dengan pinto ia tak pernah malas. Di tengah perjalanan sering mencarikan makan atau minum. Ia anak yang penurut dan sedikit manja, Peng Houw. Kadang-kadang duduk di pangkuan pinto kalau kusuruh memijat. Ha-ha, dasar anak, mungkin dulunya keturunan orang berada!"

"Tahukah supek siapa orang tuanya. Kulihat anak itu seperti bukan anak biasa, raut mukanya menunjukkan ketabahan besar!"

"Benar, ia memang tabah, dan pemberani. Lihat saja ketika ia dikeroyok anjing-anjing liar itu. Sebelas anjing menggigitnya sampai ia kesakitan, tapi sama sekali ia tak mau melepaskan bungkusan nasinya. la tabah dan siap mati membela kebenarannya!"

"Dan orang tuanya?"

"Pinto tak tahu, Peng Houw, waktu itu ia sudah menggelandang. Katanya ayah ibunya mati ketika ia berusia empat tahun!"

"Hm," Peng Houw menarik napas, teringat masa kecilnya sendiri. "Bocah seperti itu biasanya kuat menghadapi kehidupan, supek, baiklah ia menemaniku di sini tapi mungkin setahun dua kutitipkan di Go-bi!"

"Maksudmu?"

Aku akan melanjutkan pencarian anak isteriku ini, betapapun tak akan kuhentikan."

Giok Yang Cinjin mengangguk-angguk, sadar. Orang seperti pemuda di depannya ini tak akan sudah menemukan sesuutu. Kalau sekarang berhenti adalah sekedar beristirahat, atau karena adanya murid-muridnya itu. Maka ketika ia berjanji bahwa sewaktu-waktu akan kembali ke situ bila mendengar tentang isteri dan putera Si Naga Gurun Gobi ini akhirnya kakek itu beristirahat dan Peng Houw memasuki kamarnya.

Sisa waktu tiga hari dimanfaatkan betul oleh tosu ini. Ajaran, kerohanian diperdalam dan tentu saja sebagai penganut ajaran To ia pun mengarahkan wejangan-wejangannya kepada agama itu. Kebenaran dan kasih sayang berkali-kali ditekankan. Lalu ketika hari terakhir ia berkata kepada anak-anak itu bahwa waktu berpisah tiba iapun teringat kata-kata Peng Houw bahwa suatu saat anak-anak itu akan dititipkan ke Go-bi.

"Suhu kalian Peng Houw tak bisa tenang sebelum menemukan anak isterinya. Setahun dua mungkin ia akan pergi lagi, kalian akan dititipkan ke Go-bi. Kalau ini terjadi maka ingat-ingatlah bersikap yang baik di tempat orang dan jangan membuat malu nama gurumu. Pinto akan pergi karena guru kalian sudah datang, pinto hanya guru sementara saja. Nah, jaga diri baik-baik dan ingat semua nasihat pinto, anak-anak. Tiga hari ini pinto sengaja memberi pelajaran rohani agar jiwa kalian kuat. Jauhi kesesatan dan ketidakbenaran dan tanamkan kepercayaan kepada guru kalian karena pinto menyatakan kalian anak-anak yang baik. Dan kau..." kakek itu menunjuk Beng San, "kau adalah anak terakhlr yang berada di slni, gurumu cukup dengan tiga orang murid. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan buat malu pinto karena pintolah yang membawamu ke mari!"

"Teecu siap mendengarkan titah totiang," anak ini membungkuk dan berlutut, sikupnya cukup hormat. "Teecu selama hidup juga tak akan melupakan budimu, totiang. Karena kaulah teecu berumur pajang. Teecu akan melakukan seperti apa yang totiang katakan."

"Bagus, pinto lega. Sekali lagi ingatlah nasihat pinto dan kalau suatu hari kalian di Go- bi jagalah dirl balk-baik dan jangan bersikp memalukan!"'

Tiga anak itu mengangguk. Dalam perpisahan itu ketiganya berkaca-kaca, Giok Yang Cinjin mengusup kepala murid-muridnya lalu berkelebat keluar, la telah berpamlt kepada Peng Houw. Dan ketika hari itu tosu ini pergi dan guru mereka berganti orang, Naga Gurun gobi membimbing mereka ternyata Peng Houw hanya mematangkan saja apa yang telah di terima anak-anak ini yakni meneruskan ilmu Soan Hoan Ciang ( kibasan angin puyuh ) itu.

Pendekar ini membimbing muridnya selama dua tahun dan ketika ia mulai gelisah untuk mencari anak dan isterinya, maka seperti yang dikatakannya kepada Giok Yang Cinjin bahwa anak-anak itu hendak dibawanya ke gobi, tak tahu bahwa diam-diam Beng San tidak puas dihatinya.

"Aku hendak mencari subo dan sute kalian Boen Siong, karena aku tak tega meninggalkan kalian sendiri maka kalian akan kutitipkan di gobi sampai aku menjemput kalian!"

Anak anak ini mengangguk, Po Kwan sekarang berumur enambelas tahun merupakan remaja tanggung, sedangkan adiknya Siao Yen telah berumur empatbelas tahun dan mulai mekar, gadis remaja ini mengepang rambutnya di kiri kanan, pipinya mulai kemerah merahan dan kesegaran tubuhnya nampak. bibirnya tipis basah dan sepasang matanya lebar jeli, tiga empat tahun lagi gadis ini akan menjadi seorang gadis cantik jelita, tubuhnya singsat padat.

Sementara Beng San yang juga berumur enambelas tahun namun menyebut Suci (Kakak seperguruan perempuan) kepada Siao Yen telah berkembang pula menjadi remaja tanggung dengan wajah yang tampan gagah dibanding Po Kwan, anak ini justru lebih kekar, Po Kwan berkesan tinggi tegap, sementara sutenya (Adik seperguruan) itu sedikit lebih pendek dan kekar.

Dua tahun digembleng Giok Yang Cinjin, dua tahun lagi diimatangkan Peng Houw maka kini mereka hendak dititipkan di Gobi. Sang suhu hendak melanjutkan pencarian yang gagal dulu maka Po Kwan berlutut mengajukan usul apakah mereka tidak disitu saja, apa yang dikatakan Giok Yang Cinjin mulai keluar.

"Maaf suhu, untuk apa kami dititipkan ke orang, kami merasa diri kami sudah besar. Bertiga tentu dapat menjaga rumah, kalau suhu khawatir tentang diri kami agaknya kami sudah mampu menjaga diri. Bagaimana kalau kami tetap di sini saja dan menanti suhu di rumah!"

"Benar," Siao Yen menyambung, suaranya melengking nyaring. "Kami sudah cukup menguasai Soan-hoan-ciang, suhu. Siapa berani mengganggu, kami sikat. Biarlah kami di sini saja tak usah dititip-titipkan!"

Peng Houw tersenyum, mengangguk-angguk. Terhadap kakak beradik ini ia sudah merasa suka sejak dulu, sejak pertama kali mereka datang. Kegagahan dan sopan-santun anak-anak itulah yang menarik hatinya. Kakak beradik ini cinta pula kepada Boen Siong, lain dengan Beng San. Mungkin karena anak itu tak mengetahui Boen Siong maka jarang anak ini bicara tidak seperti kakak beradik itu yang tiada hentinya bertanya tentang Boen Siong.

Maklum dulu ketika bahaya datang Po Kwan dan adiknya inilah yang berjuang mati-matian mempertahankan Sute mereka yang kecil itu. Betapa mereka jatuh bangun dan merasakan benar pembelaan yang tinggi. Hal ini dapat dimengerti karena selain sebagai sute Boen Siong adalah juga majikn muda mereka, putera suhu dan subo mereka. Maka ketika Peng Houw merasa terharu mendengar itu, kakak beradik ini masih menunjukkan sikapnya yang berbakti maka dia menarik napas dalam berkata menjawab.

"Tidak, kalian harus tetap ke Go-bi. Disana aku lebih aman meninggalkan kalian, Siao Yen, kepandaian kalian memang sudah maju pesat namun tetap saja tak dapat dipercaya kalau orang seperti Chi Koan dan muridnya yang jahat itu datang. Di samping itu karena kalian hanya menguasai ilmu yang itu-itu saja, Soan-hoan-ciang dan ilmu meringankan tubuh yang diberikan supekku Giok Yang Cinjin maka aku bermaksud agar selama di sana kalian menambah ilmu yang dimiliki Go-bi. Kalian belajar di sana, akan kumintakan kepada Ji-hwesio dan yang lain agar kepandaian kalian ditambah!"

"Horee…!” Beng San tiba-tiba bersorak. "Terima kasih, suhu. Ini memang sudah lama kuidam-idamkan. Masa kita hanya menguasai ilmu yang ini ini saja!"

Po Kwan dan Siao Yen terkejut, serentak mereka memandang sute mereka itu dan anak ini tiba-tiba sadar, ia menunjukkan kegembiraannya diluar batas. Hal ini karena sesungguhnya diam diam dia kecewa, masa guru mereka itu tak pernah mengajarkan ilmu lain, ilmu mereka itu itu saja, Soan Hoan Ciang dan ilmu meringankan tubuh, maka ketija ia terlepas bicara dan tiba tiba sadar, pandang mata suheng dan sucinya membuat ia tertegun maka anak itu buru buru berlutut didepan gurunya meminta maaf.

"Suhu, ampunkan teecu, teecu tak mampu menguasai diri!"

"Hm...!" Peng Houw menarik muridnya bangun berkerut dan tiba tiba sadar akan adanya sesuatu yang lain, anak itu terasa lebih menggebu dibanding kakak beradik itu. Nafsunya tinggi. "Bangun dan duduklah yang baik. Beng San, kenapa kau demikian girang mendengar ku ajak ke gobi. Tampaknya kau kecewa hanya diajari yang itu itu saja, Jawablah!"

Anak itu pucat, ia tak berani memandang gurunya dan menunduk, tapi ketika untuk yang kedua kalinya sang duhu menyuruh ia menjawab maka ia berkata lirih juga. "Ampunkan teecu suhu, tak dapat teecu ingkari bahwa teecu pun ingin menambah kepandaian dan ilmu setinggi mungkin, Teecu teringat nasihat Giok Yang Totiang bahwa kejarlah kepandaian sampai di liang kubur sekalipun. Manusia harus selalu mnambah ilmunya mengurangi kebodohan. Ampunkan teecu kalau salah!"

Po Kwan da adiknya tertegun, memang dahulu dalam sebuah nasihatnya tosu itu pernah berkata kepada mereka bahwa selama hidup manusia harus selalu mengejar dan menambah kepandaiannya, kebodohan dan kekurangan harus dikikis, mereka harus maju dan maju. Maka ketika kakak beradik ini tak dapat bicara, apa yang dikatakan sute mereka itu memang benar. Maka Peng Houw sendiri terkejut dan tak jadi marah, hanya yang membuatnya kurang senang adalah tingkah anak itu ketika bersorak seakan gila ilmu dan haus kesombongan.

"Hm,... apa yang di katakan supekku memang tidak salah. Orang hidup memang harus selalu menambah kepandaian, Beng San, sampai di liang kubur sekalipun. Tapi kita tak boleh terjerumus oleh kesombongan dan ambisi. Aku mengakui kekuranganku mendidik kalian dan karena itulah hendak kubawa ke Gobi. Di sana kalian dapat belajar, menambah kepandaian. Tapi jangan sombong atau takabur!"

"Ampunkun teecu, suhu. Mungkin saja teeeu salah!"

"Kau tidak salah, hanya hati-hatilah terhadap ambisimu yang meluap. Kepandaian tak ada batasnya, dikejar setinggi apapun masih akan muncul yang lebih tinggi lagi. Sudahlah kalian bersiap dan ikut aku ke Gobi!"

Anak itu mengangguk. la masih ketakutan oleh pandang mata gurunya ini, juga Po Kwan dan siao Yen. Tapi ketika mereka biasa lagi dan kakak beradik itu tak ikut menegur maka hari itu ketiganya bersiap dan tahulah Peng Houw bahwa dalam hal meraih ilmu nafsu Beng San jauh lebih duhsyat dlbandlng Po Kwan dan adiknya. Anak ini memiliki gemuruh gunung berapi yang meledak-ledak!

Akan tetapi Peng Houw tak memperpanjang urusan ini. la ingin buru-buru secepatnya ke Gobi lalu mencari anak isterinya lagi. Maka ketika ia mengumpulkan anak-anak itu dan tertegun melihat uwak Kin berlutut dengan air mata bercucuran maka teringatlah ia bahwa pembantu wanitanya ini juga harus dipikirkan.

"Aku tak mau meninggalkan rumah, biar tetap di sini saja. Aku sudah tua dan tak perlu ke man-mana, siauwhiap, siapa tahu hujin nanti datang dan kusambut mereka. Jangan suruh aku pergi dan biar kujaga rumah ini.'

"Hm, maaf, tapi kau sendirian di sini, uwak Kin, bagaimana kalau bahaya datang. Tidakkah sebaiknya kau kembali ke dusun dan nanti ke sini lagi setelah aku dan anak-anak datang."

"Tidak, percuma bagiku. Rumahku telah kujual, siauw-hiap, di sini adalah penggantinya. Kecuali kau mengusirku tentu saja aku pergi!"

"Ah, siapa mengusirmu. Kau telah bertahun-tahun ikut kami, uwak Kin. Kalau begitu kehendakmu baiklah kuterima, hanya hati-hatilah mejaga diri. Aku akan menyesal kalau ada apa-apa denganmu."

"Orang tua seperti aku tak takut adanya bahaya. Kalaupun mati biarlah mati di sini, siauw-hiap. Jauh lebih bahagia daripada mati di lain tempat. Terima kasih kalau kau mengijinkan dan berangkatlah antarkan anak-anak ini."

Peng Houw terharu. Lagi untuk kesekian kali, wanita ini menunjukkan kesetiaannya. Maka ketika ia mengeluarkan sepundi uang dan meminta wanita itu berhemat sedapat mungkin tiba-tiba Siao Yen menangis dan menubruk wanita tua ini.

"Suhu, biarkan teecu di sini saja. Teecu akan menemani uwak Kin!"

"Hush, jangan bodoh. Kau pergi untuk menambah kepandaianmu, Siao Yen, mana mungkin itu. Aku tak apa-apa dan dapat sendirian di sini. Suhumu tak boleh dikacau!"

"Tapi aku tak tega meninggalkanmu, masa kau sendirian saja...!"

"Kau anak muda yang masih memiliki masa depan, Siao Yen, lain dengan diriku ini. Sudahlah kau cepat pergi jangan ganggu gurumu itu. Lihat ia menunggumu!" nenek ini bertangis-tangisan namun ia mendorong gadis remaja itu.

Peng Houw memang termangu di sana dan berkerut kening. Ia bingung juga akan pembantu perempuannya. Namun ketika Siao Yen didorong dan harus pergi, nenek itu membentak maka ia sadar bahwa murid perempuannya itu tak boleh bersikap lemah.

"Siao Yen, uwak Kin benar. Kalian memiliki masa depan lebih panjang. Kita akan kembali lagi ke sini dan mari sekarang berangkat. Jangan cengeng!"

Gadis itu mengusap air matanya. la masih tersedu-sedu namun kakaknya menekan pundak. Sang kakak berkata bahwa perintah guru lebih penting. Maka ketika gadis itu terisak-isak dan swng nenek berlari ke belakang maka Peng Houw berkelebat membawa murid-muridnya.

"Kalian pergilah... pergilah..!"

Po Kwan hampir tak dapat menahan runtuhnya air mata. Nenek itu bersembunyi di belakang agar mereka sama-sama tak melihat. Hanya Beng San yang tenang-tenang saja, anak ini seakan tak terpengaruh. Tapi ketika mereka sama-sama bergerak menyusul guru mereka maka dalam perjalanan akhirnya anak-anak ini dapat melupakan uwak Kin.

"Kuharap kalian mampu berpikir wajar. Berkumpul atau berpisah adalah kejadian biasa, Siao Yen. Mati hidup bukan sesuatu yang istimewa. Aku bermaksud mencari anak isteri dua tahun lagi dan selama itu belajarlah baik-baik di Gobi. Nanti kita kembali dan bertemu uwak Kin!"

Gadis ini telah mampu menguasai dirinya lagi. Sebagai perempuan memang perasaan wanita terlebih halus. Tapi setelah perjalanan membangkitkan semacam kegembiraan dan hutan atau gunung-gunung segar merupakan pemandangan baru maka Siao Yen melupakan nenek kin, apalagi setelah melalui gurun. Gobi masih jauh di depan.

Peng Houw membawa murid-muridnya itu tanpa henti dan inilah ujian bagi murid-muridnya. Ternyata dari tiga orang itu Beng San lah yang paling kuat. Anak itu seakan tak mengenal lelah dan paling menggebu. Setiap berlari cepat di padang pasir dialah yang paling bertenaga. Panas dan sengatan matahari seakan tak dirasa. Dan ketika Peng Houw mengakui bahwa dari tiga muridnya ini maka anak itu adalah yang paling berbakat maka diam-diam ia girang juga bahwa muridnya terbungsu itu menunjukkan tanda-tanda seorang ahli silat luar biasa.

Akan tetapi Po Kwan dan Siao Yen bukan kakak beradik yang lemah. Dalam perjalanan di atas gurun ini merekapun tak pernah mengeluh. Hanya mungkin karena watak kakak beradik ini lembut dan pengalah maka kesan mereka seperti kurang bertenaga, tidak seperti Beng San yang berlari-lari seperti kuda liar itu. Anak ini tertawa-tawa dan semangatnya di gurun yang luas membuat kagum.

Berapa kali ia berada di depan meninggalkan Po Kwan dan Siao Yen, yang tak mau mendahului guru mereka karena Peng Houw juga tak tega melatih muridnya terlampau berat. Dan ketika mereka akhirnya tiba di Gobi dan di sini anak itu kagum memandang pintu gerbang yang kokoh dan besar maka Peng Houw melihat betapa Po Kwan dan adiknya bermandi keringat sementara anak itu hanya mengusap sebagian saja peluh yang membasahi rambut, maka para murid Gobi tentu saja terkejut.

Mula-mula mereka melihat bayangan empat titik di kejauhan, akhirnya melihat dua anak lelaki dan seorang anak perempuan mendekati tempat mereka. Tapi ketika mereka melihat Peng Houw maka segera pintu gerbang dibuka dan berhamburanlah hwesio-hwesio muda dengan wajah berseri-seri.

"Suheng.!"

"Houw-sute!"

Peng Houw tersenyum. Dari tujuh hwesio penjaga maka mereka adalah saudara-saudara seperguruannya pula. Karena ia pernah menjadi murid Lu Kong Hwesio maka hwesio-hwesio penjaga itu menyebutnya sute. Akan tetapi karena ia di ambil mendiang Ji Leng Hwesio dan dedengkot Gobi ini adalah pemimpin tertinggi maka ia naik derajat dan dapat pula dipanggil suheng, bahkan bisa juga susiok atau paman guru!

Akan tetapi Peng Houw tak mempersoalkan benar sebut-menyebut ini. Sesungguhnya tak ada murid-murid Gobi yang mampu menandinginya. Ji-hwe sio sebagai pemimpin menggantikan ketua lama juga tidak. Dan karena sikapnya demikian bersahaja dan rendah hati maka banyak para murid merasa kagum dan menaruh hormat.

Ji-hwesio sendiri juga merasa dihargai karena ia tetap dipanggil susiok, hanya karena pemuda itu merasa sebagai yang lebih muda dan bekas murid Lu Kong Hwesio yang dulu menjadi suheng mereka. Tak ada sambutan berlebih yang diminta Naga Gurun Gobi ini. Siao Yen dan kakaknya merasa kagum melihat suhu mereka itu mengangguk sana-sini pada murid-murid Gobi. Siapapun disapa. Begitu rendah hatinya guru mereka ini.

Dan ketika di ruang pendopo munculah dua hwesio berjubah kuning, usia mereka enam puluhan tahun maka Peng Houw menyuruh murid-muridnya berlutut sementura dia sendiri membungkuk dan berseru,

"Selamat bertemu jiwi-susiok (dua paman guru) yang mulia. Maafkan kedatanganku yang mengganggu tanpa adanya undangan. Ini tiga muridku Po Kwan dan siao Yen, susiok, dan itu Beng San. Kami datang ada keperluan tertentu."

"Omitohud, selamat datang. Naik dan masuklah ke mari, Peng Houw. Kau bukan datang di tempat asing melainkan tempat tinggalmu sendiri. Omitohud, itu kiranya anak-anak muridmu itu, tapi kenapa tiga orang!"

"Yang ini murid baru, gemblengan supek Giok Yang Cinjin. Kami datang untuk sebuah keperluan penting."

"Ah, masuklah.... naik semua. Mari, mari selamat datang dan bagaimana kabar anak isterimu!" Ji-hwesio, yang lembut dan penyabar itu menerima tamu-tamunya dengan tergesa-gesa.

Anak-anak itu diminta masuk dan Beng San melihat betapa pimpinan Gobi ini bersikap amat hormat. Para hwesio di bawah pendopo juga membungkuk-bungkuk. Gurunya ternyata orang besar! Dan ketika anak ini berseri dan bangkit berdiri maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia mendahului dua saudaranya berjalan di belakang gurunya, sedikit pongah. Po Kwan memanggil Beng San dan bersifat menegur. Tapi ketika sutenya itu tersenyum-senyum dan tak menghiraukan ini maka Po Kwan menjadi gemas sementara adiknya juga marah.

Namun kakak beradik ini tak mau membuat ribut. Di rumah orang tak boleh mereka bertengkar, biarlah nanti saja sute mereka itu didamprat. Dan ketika semua masuk ke dalam disambut tuan rumah maka sekali lagi dua hwesio itu memandang tak-anak ini.

Sekali lihat tahu bahwa anak-anak itu adalah anak-anak berbakat, terutama anak ketiga yang matanya begitu berani menerawang. Semua ruang dalam penuh kagum. Berani dan tidak sungkan-sungkan.

"Omitohud, pinceng lupa lagi nama-nama mereka ini. Siapa mereka dan yang mana yang tertua, Peng Houw, tumben sekali datang seperti rombongan besar!"

"Ini adalah Po Kwan!" yang ditunjuk memberi hormat. "Dia yang tertua sebagai muridku, susiok, dan itu adiknya Siao Yen. Sedang yang ini..." Beng San buru-buru berlutut. "Dia adalah Beng San!"

Ketiga anak itu sudah melipat tubuh dan Peng Houw tentu saja senang. Dua hwesio itu berseri-seri dan menaruh kepercayaan kepada Peng Houw tentu saja mereka menganggap tiga anak itu adalah pilihan. Mana mungkin Naga Gurun Gobi salah mengambil murid. Maka ketika mereka tersenyum dan mengangguk-angguk maka dua hwesio itu segera hapal mana Po Kwan dan mana Beng San. Anak terakhir ini berdahi lebar dengan alis seperti golok.

"Omitohud, semuanya sudah seperti diisi. Ah, di bawah gemblenganmu tentu mereka hebat, Peng Houw. Dan terus terang pinceng kagum mereka mampu melakukan perjalanan jauh!"

"Benar, dan yang ini tampaknya tidak kelelahan. Hm, dia ini... eh, Beng San, bukan? Omitohud, cerdik dan bertenaga besar!"

Anak itu kemerah-merahan. Ia bukannya malu melainkan bangga. Siapa tidak bangga dipuji di depan guru. Dan ketika sekali lagi Siao Yen mengerutkan kening merasa tak senang, gemas maka sang kakak menjawil pinggangnya agar tak usah menunjukkan kemarahan.

"Jangan melotot nanti disangka iri. Biar dan bersikaplah tenang, Siao Yen, nanti saja di luar kita tegur dia. Agaknya nasihat Giok Yang totiang lupa diingat."

"Aku gemas, sebal sekali. Tadi ia mendahului kita, Kwan-ko, sekarang sombong dipuji orang. Ih, amit-amit anak itu. Lupa diri!"

"Sudahlah, jangan berang. Betapapun ia sute kita dan nanti dinasihati. Harus kita akui bahwa ia luar biasa, daya tahannya lebih kuat daripada kita."

"Kupikir bukan daya tahan, melainkan semangatnya yang menggebu. la ambisius sekali menambah ilmu!"

"Sst, jangan keras-keras dan lihat dua locianpwe itu memandang kita." Po Kwan cepat menunduk dan menyentuh adiknya agar tak bisik-bisik. Mereka tak tahu betapa telinga Peng Houw yang tajam mendengar ini, melirik bahwa muridnya ketiga itu memang bangga sekali.

Tapi karena kebanggaan itu memang miliknya dan Peng Houw tak melihat kesombongan seperti yang dikatakan Siao Yen maka dia tersenyum saja mendengar bisik-bisik ini, menganggp sesama anak memang suka bertengkar. Tak tahu bahwa dengan cepat Beng San memperbaiki diri dengan menahan kebanggaannya dan pura-pura tersipu, yakni ketika melihat kakak beradik itu terutama Siao Yen melotot gemas!

"Hm, sekarang ceritakan maksud kedatanganmu," Ji-hwesio kini berkata lagi, memandang Naga Gurun Gobi itu. "Bagaimana kabar di luar, Peng Houw, juga tentang Chi Koun."

"Semuanya masih gelap," Peng Houw menarik napas dalam. "Chi Koan belum kutemukan hingga sekarang, susiok, begitu juga anak isteriku. Dan kini setelah kegagalan dua tahun lalu aku hendak mencari mereka dan menitipkan anak-anak di sini."

"Omitohud, maksudmu meninggalkan mereka di Go-bi?"

"Benar, susiok, sekalian mohon pengajaran karena terus terang saja aku hanya memberikan mereka Soan-hoan-ciang dan ilmu meringankan tubuh. Di sini aku hendak memperdalam kepandaian mereka, biarlah dibimbing para suheng atau susiok sendiri yang mungkin merasa tak keberatan."

Dua hwesio itu membelalakkan mata, tak menyangka. Tapi ketika mereka sama-sama tertawa dan memandang geli maka keduanya hampir berbareng berseru bahwa kepandaian mereka tak ada artinya dibanding pemuda itu.

"Ah, jangan main-main kau. Masa muridmu kau berikan disini, Peng Houw, salah-salah ilmunya turun. Ha-ha, kau bergurau!"

"Benar, kau tentu main-main. Masa murid Naga Gurun Gobi harus kami yang mendidik, Peng Houw, tidak lucu!"

"Susiok jangan salah paham. Kepandaianku boleh tinggi namun andalanku hanyalah Hok-te Sin-kang, padahal ilmu ini tak boleh diwariskan kecuali pemilik hendak meninggalkan dunia yang fana ini. Aku tak main-main kalau meninggalkan mereka disini, susiok. Jiwi tentu maklum pantangan pewaris Hok-te Sin-kun (Silat Penakluk Dunia)!"

Dua hwesio itu tertegun. Tiba-tiba mereka sadar bahwa kehebatan pemuda ini adalah mengandalkan warisan Bu-tek-cin-keng itu. Hok-te Sin-kun adalah pemberian Ji Leng Hwesio dan bahkan tenaga sakti kakek itu diberikan kepada pemuda ini. Namun karena Silat Penakluk Dunia tak boleh diwarisi oleh lebih dua orang, padahal di sana ada Chi Koan yang memiliki ilmu itu pula maka dua hwesio ini mengangguk dan menarik napas dalam, sadar.

Percakapan ini didengar tiga anak remaja itu dan Po Kwan maupun Siao Yen tertegun. Baru sekaranglah mereka mengerti kenapa selama ini guru mereka tak memberi pelajaran lain, kiranya Hok-te Sin-kun tak boleh diwariskan, atau guru mereka akan mati! Maka tergetar menundukkan muka tiba-tiba Siao Yen dan kakaknya ngeri

Tapi lain dua anak ini lain pula Beng San. Tak dapat disangkal diam-diam anak lelaki ini kecewa terhadap gurunya kenapa pelajaran ilmu sllat yang didapat hanya itu-itu saja. Hanya karena pandainya anak ini membawa diri maka kekecewaannya tak begitu ditonjolkan, kalaupun diketahui maka segeralah alasan Giok Yang Cinjin yang dikeluarkan, yakni bahwa manusia hidup harus menambah ilmu mengurangi kebodohan.

Tak ada yang tahu bahwa Giok Yang Cinjin sesungguhnya telah bercerita kepada anak ini akan kehebatan Hok-te Sin-kun yang dimiliki Peng Houw. Betapa warisan Bu-tek-cin-keng itu amat dahsyat dan tosu itu bukan apa-apa. Tapi kalau tosu itu bermaksud memuji Peng Houw dengan penuh kebanggaan dan tulus adalah anak ini menerima dengan perasaan lain di mana tentu saja ia ingin mendapatkan ilmu itu agar ia sehebat gurunya!

Hal ini tak disadari Giok Yang Cinjin. Pujiannya yang begitu muluk membuat si anak berkhayal hebat. Perlahan-lahan bangkitlah nafsu keinginan yang besar menumpuk dan terus ditambah oleh lamunan melambung. Maka ketika dua tahun itu sang guru tak memberikan apa-apa, Peng Houw hanya mematangkan dan memoles Soan-hoan-ciang yang telah diterima murid-muridnya dari Giok Yang Cinjin sesungguhnya diam-diam timbul amarah anak ini kenapa sang guru begitu pelit!

Untunglah Peng Houw bersikap adil. Karena tidak memberi apa-apa pula kepada Po Kwan maupun Siao Yen maka anak ini memendam kekecewaannya di dalam hati. Kalau Naga Gurun Gobi itu pilih kasih entahlah apa yang terjadi, mungkin anak ini akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Namun kerena kekecewaan semakin ditumpuk dan tetap ada, inilah yang membuat Beng San menyimpan tenaga dahsyat maka akibatnya anak itu memancarkan energi di tubuhnya lewat semangat dan hasratnya yang menggebu, di mana ia seakan tak pernah lelah dan dalam perjalanan ini ia kelihatan segar dan sedikit berpeluh saja!

Ada sesuatu yang belum dilihat Peng Houw, namun sudah dirasakan dan dilihat Po Kwan, yakni betapa kadang-kadang sepasang mata anak ini bersinar-sinar mencorong bagai mata seekor harimau marah.

Diam-diam Po Kwan terkejut dan memperhatikan sutenye itu, tapi ketika sang sute sadar dan lenyaplah semua tanda-tanda aneh itu maka anak ini menjaga perasaannya dengan hati-hati di mana sang guru tak tahu gejolak perasaannya, sementara Po Kwan hanya kadang-kadang saja melihat keganjilan sutenya itu.

Po Kwan adalah anak penyabar dan lembut hati. Kedudukannya sebagai suheng meskipun usianya dengan Beng San sebaya tidak membuat anak ini tinggi hati. Justeru Beng San yang kadang-kadang meremehkan suhengnya ini seperti misalnya di tangga pendopo Go-bi itu, mendahului suhengnya mengikuti gurunya.

Dan karena hal-hal kecil begini memang luput dari pengawasan Peng Houw, di mana Po Kwan juga tak pernah memberi tahu gurunya takut dianggap iri maka loloslah sikap-sikap ganjil dari anak lelaki itu. Kini mendengar Hok-te Sin-kun bukanlah ilmu yang boleh diwariskan karena akan membahayakan pemilik lama bukannya anak ini terkejut melainkan justeru semakin bergairah dan berseri-seri. Hasrat untuk memiliki ilmu itu menggebu lagi.

Beng San memang bukan Po Kwan. Kalau anak yang dulu dihajar Siauw Lam ini terkejut dan tergetar, ngeri dan baru sekarang tahu kenapa gurunya hanya memberikan Soan-hoan-ciang dan ilmu meringankan tubuh adalah anak yang satu ini menyala dan berkobar semangatnya. Beng San justeru tertarik dan ingin sekali menguasai Hok-te Sin-kun.

Dia memang ingin menjadi orang pandai, kalau bisa tak terkalahkan seperti gurunya ini. Maka ketika diam-diam timbullah hasrat besar untuk memiliki ilmu itu maka pembicaraan antara gurunya dengan dua orang hwesio itu menjadikan anak in berkilat sepasang matanya seperti dulu Po Kwan melihatnya seperti seekor harimau marah.

Kali ini remaja tanggung itupun melihat lagi sepasang mata sutenya yang aneh ini, mencorong berkilat-kilat. Dan ketika diam-diam Po Kwan tergetar dan ngeri lalu menyentuh lengan adiknya maka segera ia memberi isyarat agar adiknya itu melihat Beng San. Dan Siao Yen tiba-tiba tertegun.

Akan tetapi sebagaimana biasanya bila seseorang diperhatikan orang lain maka getaran atau gaya kekuatan pandang mata ini mengusik sasarannya. Beng San pun terkejut ketika tanpa sadar menoleh, beradu dengan sucinya dan betapa pandang mata sucinya melotot. Cepat sekali ia membuang pancaran matanya tadi dan reduplah mata anak ini seperti biasa Kilatan mencorong itu hilang.

Lalu ketika anak itu menunduk dan firasatnya memberi tahu agar berhati-hati, dua hwesio itu memandang guru mereka sambil mengangguk-angguk maka terdengarlah kata-kata mereka bahwa mereka baru sadar akan keadaan yang dimiliki Naga Gurun Gobi itu.

"Omitohud, pinceng baru ingat. Memang yang kau andalkan selama ini adalah Hok-te Sin-kun, Peng Houw, dan ilmu itu adalah warisan mendiang supek. Dan karena supek menyerahkannya kepadamu dan mengorbankan dirinya sendiri barulah pinceng ingat bahwa ilmu itu tak boleh diwariskan orang lain. Hmm... pantas anak-anak ini hanya mendapatkan Soan-hoan-ciang dan ilmu meringankan tubuh. Ilmu itu adalah milik gurumu Giok Kee Cinjin, bukan mendiang supek Ji Leng Hwesio. Kalau mereka hendak kau titipkan di sini menerima ilmu-ilmu Gobi yang lain tentu saja pinto tidak keberatan, tapi bagaimana pendapat sam-susiok mu (paman ketiga)!"

"Pinceng rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua ilmu Gobi pun boleh dipelajari anak-anak ini, suheng, toh tak akan menang menghadapi Hok-te Sin-kun!"

Sam-hwesio, orang yang lebih berhati-hati dan mengangguk-angguk itu berkata. Dari perkataan ini tersirat bahwa tak usah takut menggembleng anak-anak itu, toh tak mungkin mengalahkan Hok-te sin-kun yang dimiliki Peng Houw. Kalau anak-anak itu berobah jahat umpamanya maka masih dapat diatasi. Peng Houw tak mungkin tinggal diam.

Dan ketika Peng Houw mengangguk-angguk sementara Ji-hwesio juga mengangguk-angguk maka didapatlah kesepakatan bahwa menambah ilmu remaja-remaja tanggung itu tak berbahaya. "Kalau susiok menerima tentu saja aku amat berterima kasih. Hanya inilah yang dapat kuberikan kepada mereka."

Peng Houw gembira, melambai kepada murid-muridnya agar mereka itu berlutut mengucap terima kasih. Telah ada pembimbing baru di situ. Dan ketika tiga anak itu serentak melipat tubuh maka Beng San yang agak berkerut kening, namun cepat disembunyikan.

"Hm, berdirilah, kalian boleh main-main di belakang. Sekarang guru kalian telah menyerahkan kalian kepada kami, anak-anak. Boleh kalian pergi dan berkenalanlah dengan para suheng di luar!"

Hwesio berkata seperti itu agar selanjutnya pembicaraan tak didengar lagi anak-anak ini. Po Kwan dan Siao Yen bangkit memberi hormat diikuti Beng San pula. Lalu ketika tiga anak itu keluar namun Beng San melompat mendekati sekelompok hwesio yang sedang berliam-keng (membaca doa) maka Siao Yen yang siap menegur sutenya untuk persoalan di pendopo menjadi gagal karena cepat sekali anak ini berbaur di tengah kelompok hwesio-hwesio itu.

Beng San memang bukan anak pendiam. Dibanding Po Kwan maka dia adalah remaja tanggung yang suka bicara. Sebenarnya tandingan anak ini adalah Siao Yen. Namun karena anak itu sudah cerdik melepaskan diri dan kini berkumpul dengan hwesio-hwesio muda, terjadi pembicaraan dan senyum serta anggukan maka para hwesio yang tahu bahwa anak-anak ini adalah murid Peng Houw segera menyibak dan memberi tempat. Duduklah anak itu tersenyum-senyum!

"Maafkan aku, cuwi-siauw-suhu sungguh merdu membacakan ayat-ayat suci. Bolehkah aku di sini dan belajar bersama kalian, siauw-suhu. Mohon maaf kalau kiranya aku ngganggu!"

"Ah, siauw-hiante (saudara cilik) sungguh ramah, juga rupanya senang mendengarkan senandung doa. Marilah duduk bersama kami namun boleh bermain-main kalau bosan."

"Ah, siauw-suhu (suhu cilik) ramah pula. Kalau aku bosan sungguh tak pantas berada di sini. Bukankah kalian membaca ayat-ayat Dhammapada yang begitu indah. Teruskanlah, aku senang mendengarkannya!"

Kalau sudah begini mana mungkin kakak beradik memanggil anak itu. Cepat sekali Beng San berbaur diri dengan amat lihai. Cerdik dan licin ia pura-pura mendengarkan ayat-ayat kitab suci, padahal sebenarnya hanyalah ingin menghindar dari kakak beradik itu. Sikap teguran mereka sudah terasa.

Maka ketika Siao Yen melotot dan pergi disambar kakaknya, mereka berkenalan dengan hwesio-hwesio disitu maka di ruang dalam Ji-hwesio dan Sam-hwesio menanyakan lebih lanjut tentang Chi Koan dan isteri serta putera pemuda itu.

"Aku tak tahu di mana mereka, juga Chi Koan. Anak isteriku lenyap seperti ditelan bumi sementara si buta itu pandai menghindarkan diri. Ah, entahlah, susiok, aku penasaran dan bingung sekali. Karena itu akan kucari lagi dan itulah sebabnya kutitipkan anak-√°nak itu di sini."

"Hm, memang benar. Pinceng juga sudah mengutus murid untuk mendengar dan menemukan jejak si buta ini, Peng Houw, dan terakhir ada berita dari Kun-lun bahwa pemuda itu ke sana. Namun ia tak ada lagi."

"Kun-lun?" pemuda ini tiba-tiba tertegun. "Hampir aku lupa itu. Ah, tolol benar aku ini, susiok, kenapa tak mencari ke sana. Bukankah isteriku murid Kun-lun!"

"Kau belum menjenguknya ke sana?"

"Belum!"

"Kalau begitu cobalah, siapa tahu ada di sana!"

"Benar, dan terima kasih atas petunjuk ini. Aku benar-benar lupa!"

"Hm, tapi tak perlu tergesa-gesa. Kau baru saja datang, Peng Houw, beristirahatlah dulu. Betapapun tempat itu amat jauh dari sini, lebih jauh dibanding sungai Huang-ho!"

Sam-hwesio mengingatkan dan lagi-lagi Ji-hwesio mengangguk. Melihat betapa pemuda itu begitu bersemangat besar kemungkinan pemuda ini akan pergi. Benar saja, pemuda itu bangkit berdiri dan wajahpun bersinar-sinar. Secercah harapan muncul. Lalu ketika Peng Houw berkata cukuplah pertemuan itu maka pemuda ini bergerak meninggalkan susioknya.

"Aku tak tenang kalau belum menemukan anak isteriku. Maaf, jiwi-susiok, sekarang juga aku pergi. Permisi dan tolong jagalah murid-muridku!"

'Heii...!" pemuda itu berkelebat lenyap.

"Tunggu dulu, Peng Houw, masa kau tak memberi pesan murid-muridmu!"

"Sudah kunasihati banyak di tengah jalan. Selamat tinggal, jiwi-susiok, terima kasih telah mengingatkan aku!" bayangan putih menyambar dan tahu-tahu pemuda itu telah melewati bangunan samping tembok yang tinggi. Peng Houw sengaja tak mau lewat depan agar tak mengejutkan murid-muridnya, juga para hwesio bisa memanggilnya kalau tahu ia pergi secepat itu.

Maka ketika ia melayang turun dan mengerahkan kepandaiannya menyeberangi gurun, Ji-hwesio dan Sam-hwesio berkelebat mengejar maka tertegunlah dua orang itu melihat titik kecil di kejauhan.

"Pinceng menyesal," Ji-hwesio mengeluh. "Kenapa pinceng harus memberi tahu secepat itu, sute. Kalau tahu begini kututup mulutku ini. Aih, ia terlampau cepat pergi!"

"Sudahlah tak perlu disesali," Sam-hwesio meredup dengan pandangan sayu. "Orang seperti dia tak mungkin ditahan juga, suheng. Kalau ia mau pergi maka tentu ia tak dapat ditahan. Sudahlah kita masuk ke dalam dan lihat anak-anak itu.!"

"Benar, tapi pinceng menyesal. Biarlah pinceng membaca doa dan kuhapus dosaku dengan memujikan pemuda itu. Semoga cepat menemukan anak isterinya!"

"Dan Chi Koan...!"

"Ya. Si buta itu. Ah, beban kita menjadi berat gara-gara penjahat ini. Biarlah pinceng berdoa dan kau awasilah anak-anak itu!" Ji-hwesio masygul dan kembali masuk ke kamarnya. la menampar mulutnya dua kali kenapa harus memberi tahu Kun-lun.

Tapi ketika ia sadar pemuda seperti itu tak mungkin dicegah, datang atau pergi tak ingin terikat maka di sana Naga Gurun Gobi itu telah meninggalkan gurun dan meluncur menuju ke barat dengan amat cepatnya. Kun-lun!

* * * * * * * *

Tempat ini seakan menghentak-hentak. Kenapa ia melupakan itu dan tak menengok ke sana? Bukankah isterinya murid Kun-lun dan patut dicari ke sana? Maka ketika pemuda itu mengerahkan kepandaiannya dan kini perjalanannya jauh lebih cepat ketimbang ia membawa murid-muridnya maka tak sampai empat hari pendekar ini tiba di pegunungan yang membujur dari barat ke timur itu. Akan tetapi apa yang didapat? Semua orang bersikap dingin!

Mula-mula Peng Houw bertemu seorang tosu Kun-lun yang dimintanya mengantar menemui ketua. Seingatnya ketua Kun-lun adalah Kim Cu Cinjin, suheng dari isterinya sendiri. Tapi ketika tosu itu terkejut memandangnya tajam, lalu acuh dan meninggalkannya sendirian maka ia mendapat jawaban bahwa Kim Cu Cinjin tak ada di situ.

"Ketua kami sudah berganti, pergilah dan turun gunung saja. Kau tak akan menemukan Kim Cu Cinjin, anak muda, ia tak ada lagi di sini."

Peng Houw melompat, membelalakkan mata menangkap pundak orang ini. "Berhenti, tahukah kau siapa yang kau ajak bicara dan kenapa sikapmu seperti itu kepada ketuamu sendiri!"

"Hm, aku tahu bahwa yang di hadapanku ini yang terhormat Naga Gurun Gobi. Suami yang demikian bijak membiarkan isterinya terlunta-lunta. Lepaskan aku, Peng-siauwhiap, atau mungkin kau akan sewenang-wenang pula kepad√° orang yang jauh di bawah kepandaianmu."

Peng Houw pucat. la melihat orang demikian meremehkan namun bersinar mendengar kata-kata tadi. Perbuatannya kepada Li Ceng telah diketahui, buktinya tosu Kun-lun ini mengejeknya. Tapi ketika ia membentak kenapa sikap tosu itu berubah terhadap Kim Cu Cinjin, orang yang dikenalnya sebagai kakek baik-baik maka tosu ini tertawa getir, melepaskan pundak dari cengkeraman pemuda itu.

"Dunia sudah berubah, yang baik belum tentu baik selamanya. Kau turunlah pergi dari sini atau lanjutkan perjalananmu ke atas kalau ingin menemui ketua."

Hampir Peng Houw mengibas tosu ini. Kalau tak ingat bahwa hubungannya dengan Pimpinan Kun-lun selalu baik-baik saja mungkin ia menampar atau melempar tosu ini membuang kemarahannya. la dilecehkan begitu dingin, siapa tidak marah. Namun ketika ia menahan dan melompat ke atas maka ia meninggalkan tosu itu untuk mencari atau bertemu Kim Cu Cinjin. Dan beberapa orang murid kembuli dijumpai. Akan tetapi bagaimana jawaban atau sikap mereka? Sama saja, acuh dan dingin!

"Ketua kami sudah berganti, kalau yang terhormat Peng-siauwhiap ingin menemui silakan naik saja ke atas. Kami tak ada urusan."

Kata-kata dan sambutan ini membuat pemuda itu terkejut. la semakin penasaran dan marah. Dan ketika ia akhirnya berada di puncak melewati tosu-tosu lain yang terpincang atau tertatih-tatih barulah Peng houw menyadari bahwa sebagian besar orang terluka. Dan akhirnya ia bertemu seorang tosu tinggi kurus yang kedua lengannya digantung, patah!

Peng Houw tertegun pucat. Tosu ini muncul menyibak anak-anak murid. Inilah Heng Bi Cinjin yang dulu dilukai Chi Koan, sementara suhengnya, Bi Wi Cin-jin berada di dalam dengan luka-luka yang masih belum sembuh. Tosu Kun-lun itu muntah darah oleh pukulan Chi Koan dulu. Maka ketika datang laporan para murid di mana tosu itu muncul di gapura dalam, berdiri dengan kedua lengan menggantung maka Peng Houw berseru tertahan teringat tosu atau kakek tinggi kurus ini.

"Heng Bi totiang!"

Tosu itu acuh. Ia tak mengangguk atau menyambut pemuda ini sebagaimana biasanya dulu. Murid-murid di situ juga acuh. Dan ketika Peng Houw meloncat dan menggigil di depan tosu ini maka tiba-tiba gemetarlah pemuda itu memandang sang tosu, bibir berketrukan tak dapat bicara.

"To... totiang, ap... apa yang terjadi?"

"Tak ada apa-apa. Kami Kun-lun tak merasa mengundangmu, Naga Gurun Gobi, untuk apa kau datang. Pergilah dan untuk apa kau ke sini. Tak ada yang dapat kubantu."

"Heng Bi totiang!" Peng Houw tiba-tiba berseru keras. "Aku mencari isteriku dan anakku yang hilang. Apakah mereka di sini. Mana Kim Cu totiang!"

"Hmh, beginikah sikapmu di rumah orang? Sudah cukup Kun-lun menderita, anak muda. Aku tak tahu di mana isterimu dan anakmu itu. Kami juga sedang prihatin."

Peng Houw sadar. Cepat ia menahan gejolak hatinya dan ditetapkanlah perasaannya yang tidak keruan. Mungkin pihak Kun-lun sudah tahu kesalahannya terhadap isteri. Maka ketika ia mengeluh dan terhuyung menangkap tosu itu maka pemuda ini terbata dengan air mata bercucuran.

"Totiang, aku datang untuk meminta maaf. Aku datang untuk mencari dan mengambil anak isteriku. Di mana mereka dan kalian rupanya sudah tahu kemelut rumah tanggaku. Beritahulah aku di mana anak isteriku, totiang, di mana aku dapat menemukan mereka, atau aku akan berteriak dan menggetarkan gunung ini memanggil mereka...!"