X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Putri Es Jilid 35

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Episode Putri Es Jilid 35 Karya Batara
Cerita Silat Mandarin Karya Batara

"Teecu mohon ampun, akan tetapi jangan siksa Thio-cici atau Sui Keng."

"Bagus, kau datang. Sekarang jawab benarkah kau memberiken Pek-swat-kiam kepada orang itu, Wei Ling, apa artinya itu bukankah Pek-swat-kiam adalah pusaka Lembah Es!"

"Teecu, dia.... dia dan teecu saling cinta. Kami berdua telah saling memberikan, supek-bo. Teecu memberikan Pek-swat-kiam sedang dia memberikan..." gadis itu mengeluarkan seuntai kalung bermata giok akan tetapi We We Moli tak memperhatikan ini.

Nenek itu terbelalak mendengar kata-kata itu, kaget dan heran namun marah bahwa gadis secantik Wei Ling bercinta-cintaan dengan seorang kakek. Puteri Es berkasih asmara dengan seorang tua bangka! Dan ketika nenek itu melengking dan menyambar ke depan tahu-tahu ia telah merampas hancur kalung bermata giok itu, Puteri Es dicengkeram dan menjerit.

"Bedebah, tak tahu malu. Kau menghina dirimu dan Lembah Es, Wei Ling, bercinta-cintaan dengan segala macam tua bangka. Daripada dengan kakek itu lebih baik dengan Beng An atau pemuda sebayamu. Terkutuk!"

Gadis ini mengaduh dan dibanting. Ia tak melawan dan karena itu mudah saja disambar. Kalung hancur berkeping-keping sementara batu gioknya pecah berantakan. Sang puteri menjerit melihat itu. Namun ketika ia disambar dan hendak diinjak, kemarahan nenek ini rupanya benar-benar luar biasa mendadak Thio Leng dan sumoinya berkelebat. Hoa-siocia alias Hwa Seng berlari ke dekat Thien-te-hiap.

"Supek-bo, Thian-te lt-hiap adalah pemuda itu!"

"Benar, ia adalah Beng An, supek-bo. Jangan bunuh Puteri!"

Nenek itu membalik. la dipegangi kakinya dan Thio Leng maupun Sui Keng telah menubruk dirinya. Hwa Seng mengguguk dan menarik sesuatu dari wajah Thian te it-hiap, sebuah topeng amat tipis terlepas. Dan ketika gadis itu tersedu-sedu sementara di hadapan mereka tampaklah seorang pemuda berambut putih, wajah yang tampan akan tetapi seperti orang tua maka nenek itu terkejut dan ia melepaskan muridnya. Puteri Es menjerit dan menubruk pemuda itu.

"Beng An!"

Terjadilah pemandangan mengharukan. Beng An, yang masih tertotok dan tak berdaya di lantai dipeluk dan diguncang-guncang kekasihnya. Puteri Es coba membebaskan totokan namun tak berhasil. We We Moli menotok pemuda ini secara khusus. Tapi ketika berkelebat bayangan merah dan Thai Liong muncul di situ, mengusap dan membebaskan adiknya maka Beng An melompat bangun dan terhuyung memandang kekasihnya, lalu We We Mo-li.

"Kau...!" nenek ini benar-benur tak menyangka. "Kau yang menyamar sebagai Thian-te It-hiap? Rambutmu... rambutmu memutih seperti itu?"

"Dia terguncang dan terpukul oleh semua kejadian. Adikku menderita pukulan batin berat, locianpwe, maafkan kalau mengganggumu. Dan tentang Pek-swat-kiam memang benar pemberian Puteri. Sekarang terimalah perjodohan mereka sebagaimana kata-katamu tadi. Kau lebih rela muridmu menjadi isteri Beng An daripada Thian-te It-hiap."

Thai Liong, Rajawali Merah berkata setelah ia membebaskan dan melindungi adiknya. Thian-te It-hiap lenyap dan sebagai gantinya munculah pemuda itu, putera Kim-mou-eng yang gagah akan tetapi yang sayang di saat itu tampak kuyu dan letih. Rambut Beng An yang putih menjadikan pemuda ini aneh seperti seorang kakek-kakek. Hanya karena ia seorang pemuda maka wajah itu tidak penuh keriput. Puteri Es memeluk dan tersedu-sedu di pundak pemuda itu.

Akan tetapi ketika We We Moli mundur dan tertawa aneh, ia merasa kelepasan bicara mendadak ia menggeleng den berkata dingin, "Tidak, aku tak merestui mereka menjadi suami isteri, Thai Liong, kecuali kau menyerahkan Sin-tiauw-kangmu kepadaku. Kau telah menghina aku, menyakiti aku. Kalau dua orang ini ingin restuku maka syaratnya adalah kau serahkan Sin-tiauw-kangmu dan mereka boleh berjodoh!"

"Supek-bo!" sang puteri menjerit dan berkelebat ke depan. "Jangan minta apa-apa lagi kepada pemuda ini karena ia telah memberikan mas-kawinnya. Lihatlah ini dan aku menyesal minta itu. Keluarga Kim-mou-eng adalah orang baik-baik."

Semua terbelalak. Sebuah ibu jari, masih bernoda darah dikeluarkan gadis ini dari sebuah bungkusan kecil. Bersamaan itu muncullah Siang Le yang dikeluarkan dari Beng-tau-sin-jin oleh Thai Liong. Si buntung ini terhuyung dan menegur Thai Liong tanpa suara. la terkejut dan menyesal kenapa dilepaskan di tempat begitu banyak orang. Akan tetapi karena Thai liong memiliki pandangan lain dan saatnyalah mengeluarkan iparnya ini maka semua memandang Rajawali Merah itu akan tetapi terheran karena ibu jari pemuda itu lengkap. Dua-duanya masih ada.

"Itu milik saudaraku Siang Le, ia rela berkorban. Karena Puteri meminta itu maka Siang Le memberikannya, mendahuluiku. Harap locianpwe mengenal kasihan dan tidak merepotkan kami."

"Hi-hik, heh-heh-heh!" nenek itu tiba-tiba tertawa. "Puteri Es telah meminta sesuatu, Rajawali Merah, itu urusannya. Tapi kalau ia minta restuku maka akupun berhak meminta pula. Nah, bayar dengan Sin-tiauw-kang atau aku tak mengijinkan mereka."

"Supek-bo!"

"Diam!" sang nenek membentak. "Kau boleh kawin secara liar, Wei Ling, akan tetapi kau melanggar peraturan leluhur. Nah, kalau ingin minta restuku maka mintalah Sin-tiauw-kang dan baru kalian resmi sebagai penghuni Lembah Es!"

Gadis ini tersedu-sedu. Ia sudah menubruk dan memeluk kaki gurunya namun nenek itu menendang. Gadis ini mencelat, terbanting roboh. Dan ketika semua berteriak sementara Thai Liong menggigil pucat, permintaan itu sungguh luar biasa berat maka ia mengeluh dan Thio Leng serta Sui Keng menolong junjungan mereka. Hwa Seng tak dapat berbuat apa-apa kecuali tersedu dan Beng An pucat merah berganti-ganti.

Pemuda ini, Thian-te It-hiap samaran terbelalak melihat ibu jari itu. Benda ini mencelat pula ketika Sang puteri ditendang supek-bonya. Dan ketika ia terhuyung dan mengambil benda itu, membungkuk maka Beng An melirik betapa ibu jari iparnya tiada. "Le-ko, kau... kau berkorban lagi?"

Si buntung ini bergerak, menepuk-nepuk adiknya. "Perbuatanku tak ada artinya kalau gagal, An-te (adik An). Apa gunanya semua itu kalau masih ada ancaman lain. Tenanglah, aku akan menghadapi nenek itu dan kalian harus menikah!" lalu tanpa memperdulikan lainnya pemuda ini melangkah lebar, berhenti tepat di depan nenek yang sepasang matanya putih itu.

"Locianpwe sungguh tidak memiliki rasa perikemanusiaan lagi. Sadarkah akan ucapanmu tadi, locianpwe, mana mungkin kau meminta Sin-tiauw-kang. Meminta ilmu itu sama dengan membunuh saudaraku Thai Liong. Tidakkah kau ingat betapa permintaanmu ini tidak patut. Kalau saudaraku setuju umpamanya maka aku dan yang lain pasti menolak. Rajawali Merah memiliki anak isteri, tidakkah kau takut mereka menuntut tanggung jawabmu dan seumur hidup kau dikejar dosa. Hm, aku yang muda benar-benar heran akan sikapmu ini, locianpwe. Kau sesepuh Lembah Es tak menunjukkan kesepuhanmu di depan semua orang. Kau nenek yang sudah setua ini sungguh tidak menanamkan kebajikan untuk bekalmu nanti. Aku protes dan menilai permintaanmu tidak patut!"

Siang Le mengucapkan kata-kata ini dengan tegas dan tanpa takut dan We We Moli terbelalak melihat dan mendengar sikap pemuda itu. Tak ada rasa gentar atau cemas sedikitpun. Bicara dan pemuda itu bahkan seperti orang lebih tua darinya, menegur dan memberi nasihat. Dan ketika ia tentu saja menjadi marah akan tetapi adanya Thai Liong membuat nenek ini menahan diri maka nenek itu membentak dan tangannya dikebutkan ke depan.

"Kau anak kecil tahu apa. Pergi dan tak perlu berkhotbah!"

Thai Liong menahan dan mencengkeram pundak iparnya ini. Kebutan We We Moli bukan sembarang kebutan karena pemuda itu bisa terlempar. Meskipun tidak terluka namun tetap juga kesakitan, paling tidak lecet-lecet. Maka ketika cengkeraman itu membuat si nenek tertahan, Thai Liong sudah maju ke depan maka si buntung ditarik ke belakang.

"Locianpwe, apa yang dikata adikku benar, kau keterlaluan. Hanya karena dendam dan kebencianmu kukalahkan maka sekarang meminta yang macam-macam. Menyerahkan Sin-tiauw-kang sama saja dengan menyerahkan nyawaku. Meskipun kau tak merestuinya maka Puteri Es dapat menikah dengan Beng An lewat wali lain!"

"Hi-hik, dan itu berarti murtad. Tak ada murid Lembah Es yang setia kepada leluhur berani melakukan itu, Rajawali Merah. Wei Ling bukan seperti yang kau kira, tidak gampang. Menikah tanpa restu sesepuh bakal menerima kutuk selama hidup. Tak bakal ada kebahagiaan!"

"Tapi aku akan mematahkan kutuk itu. Wei Ling tak lagi menjadi murid Lembah Es!"

"Heh-heh, dan semua ilmunya harus dihancurkan, dan kecantikannya harus pula disirnakan. Tanyalah gadis itu mau atau tidak, bocah she Kim. Berani sumpah tak akan mau, hi-hik!"

Thai Liong tertegun. la menoleh dan gadis itu tersedu-sedu. Dalam tangisnya yang mengguguk ia mengangguk-angguk. Dan ketika Thai Liong terkejut dan marah maka Hwa Seng berlutut memberi tahu.

"Kim-siauwhiap, Puteri tak mungkin melakukan itu. Kepandaian dan kecantikan adalah berkah leluhur yang harus dijaga. Lenyap kecantikannya sama dengan kehilangan nyawa. Kami penghuni Lembah Es mendapat berkah para leluhur untuk selalu cantik seumur hidup. Hanya mereka yang berdosa dan melakukan pelanggaran akan menjudi tua dan buruk. Ampunkan Puteri."

Rajawali Merah tercengang. la semakin terkejut dan baru tahu sementara Beng An dan Siang Le dibuat termangu. Kiranya Lembah Es memiliki wanita yang cantik-cantik karena berkah para dewa. Pantas mereka tiada ubahnya bidadari. Dan menyadari bahwa wanita takut kehilangán kecantikannya, kehilangan itu berarti tua dan buruk maka Siang Le termangu-mangu sementara Beng An memandang kekasihnya dengan mata kian takjub. Pantas saja kekasihnya itu tampak muda dan ayu rupawan. Kiranya mujijat nenek moyang Lembah Es!

"Hm" Thai Liong akhirnya dapat juga bicara. kalau begitu peristiwanya maka terserah yang bersangkutan, locianpwe, tapi betapapun aku akan menanyai Puteri. Tanpa jawabannya langsung aku sangsi. Biarlah kutanya dan mohon Puteri menjawab, benarkah itu?"

"Benar,..." gadis ini mengangguk, tersedu-sedu. "Itulah sebabnya aku tak berdaya, Kim-twako. Aku terikat oleh budi dan segala kebaikan leluhur. Kalau aku mau tentu sudah dulu-dulu aku menikah di luar Lembah Es. Aku tak dapat menikah dengan Beng An kalau supek-bo tak merestui aku!'

"Kalau begitu baiklah, aku siap menyerahkan Sin-tiauw-kang!"

"Thai Liong!"

"Liong-ko!"

Dua teriakan kaget terdengar dari mulut Siang Le dan Beng An. Si buntung meloncat sementara Beng An menyambar dan menerkam kakaknya itu. Jawaban ini mengagetkan mereka. Dan ketika Thio Leng dan sumoinya serta yang lain juga terkejut, bahkan nenek itu tampak tercengang dan ikut terkejut maka Puteri Es mengeluh dan menutupi muka melihat Beng An menerkam kakaknya itu.

"Liong-ko, kau gila. Aku tak mau nenek ini menekanmu hanya untuk urusanku berdua. Wei Ling memiliki pandangan hidup sendiri, akupun juga punya. Daripada kau mengorbankan dirimu lebih baik kubunuh nenek ini... singgg!"

Beng An yang sudah meraih dan memungut Pek-swat-kiam tiba-tiba menyerang dan menusuk nenek ini, bukan hanya menusuk melainkan tangan kiri juga melepas Ping-im kang. Hawa dingin meluncur bersamaan sinar pedang yang menyilaukan mata. Pemuda ini adalah pewaris Hu Beng Kui dan tak aneh kalau ia menguasai Giam-lo Kiam-sut (Ilmu Pedang Maut) dengan amat baiknya.

Itulah sebabnya tak ada jago-jago pedang mampu menandinginya. Yang sekarang muncul adalah Thian-te It hiap, bukan putera Kim-mou-eng lagi. Dan ketika nenek itu terkejut dan mengelak akan tetapi dikejar dan tetap mendapat tusukan akhirnya nenek ini membentak dan kedua tangannya mengibas berbareng.

"Plak-dess!"

Pedang melenceng akan tetapi Beng An. sudah mengetahui sebelumnya. Kibasan nenek itu adalah kibasan Bu-kek-kang dan menurut tingkat ia masih kalah. Akan tetapi begitu tubuhnya tergetar dan terhuyung Beng An sudah merobah posisi kakinya, maju dengan cara melingkar dan lutut ditekuk membengkok. 

Dengan begini ia mendekati lawannya lagi dan pedang mencuat dari bawah ke atas, tadi tersampok miring dan kini dengan amat ganas menusuk tenggorokan nenek itu. Pedang di tangannya adalah Pek-swat-kiam, Serangan yang dilakukan adalah jurus-jurus Giam-lo kiam-sut pula. Maka ketika nenek itu terkejut dan berseru keras maka ujung bajunya memberebet ketika menangkis sobek.

"Brett...!" Wajah si nenek merah padam. Sebentar saja ia sudah didesak dan ditekan, guha terasa begitu sempit. Dan ketika ia melengking dan membentak gusar maka nenek ini mengeluarkan api birunya lewat pandang mata.

"Cring-trangg!"

Pedang terpental dan Beng An berseru kaget. Akan tetapi dasar Cucu Hu Beng kui dan kekerasan serta keangkuhan wataknya seperti mendiang kakeknya itu maka Beng An tak mau kalah dan pedang menyambar lagi,merangsek dan mendesak hingga nenek itu mendelik. We We Moli tentu saja semakin gusar , Dan ketika nenek itu melengking dan berkelebat lenyap maka Beng An kehilangan sasaran dan tengkuknya tahu-tahu bertemu kelima jari nenek itu yang penuh kemarahan.

"Desss!!" Beng An terbanting bergulingan. Betapapun tingkat kepandaian pemuda ini masih kalah dibanding nenek itu. Hanya karena tekad dan kekerasan hatinya saja ia memiliki kelebihan, semangatnya luar biasa dan serangan-serangannya pun menggebu-gebu. Akan tetapi ketika ia terbanting namun Pek-swat-kiam masih ditangan, keras sekali hati pemuda ini maka Beng An membentak dan sambil bergulingan ia menimpukkan pedang itu melihat bayangan si nenek berpakaian hitam-hitam.

"Terimalah pusaka Lembah Es!" Kemarahan nenek kini dibalas kemarahan yang sama pula. Pemuda itu benar-benar tak takut mati dan ia melontarkan pedangnya sepenuh tenaga. Suara mendesing mengerikan telinga, pedang menyambar amat cepat dan perbuatan itu mengejutkan semua orang. Tampak bahwa pemuda ini hendak mengadu jiwa, siap mengorbankan nyawa sendiri akan tetapi nenek itupun harus mati.

Dan ketika We We Moli juga terkejut dan sepasang matanya berkeredep kebiruan, Bu-kek-kang terasa dingin membekukan maka nenek itu mengelak akan tetapi kedua tangannya bergerak dan pedang tahu-tahu ditangkap dan dijepit dua jari telunjuk dan tengahnya.

"Crep!"

Kejadian berikut tak kalah mengejutkan. Begitu pedang tertangkap maka nenek membalikkan tangannya, Pedang Salju meluncur dan ganti menyambar pemuda itu. Dan karena Beng An baru meloncat bangun dan tak mungkin mengelak maka Puteri Es menjerit akan tetapi Thai Liong berkelebat cepat dan ujung jubahnya menangkis pedang itu. Sang Puteri menubruk dan menyelamatkan pemuda itu hingga keduanya jatuh bergulingan.

"Plak!"

We We Moli tertegun dan termangu. Thai Liong, Rajawali Merah telah berhadapan dengannya dengan wajah muram. Pemuda itu telah menyelamatkan adiknya sekaligus Puteri Es. Biarpun gadis itu dapat menyelamatkan Beng An akan tetapi kemungkinan diri sendiri yang bakal kena, ia memberikan punggungnya disambar pedang pusaka itu, mungkin akan tembus ke dada dan Beng An bakal terluka pula. Sungguh nekat puteri ini. Dan ketika nenek itu tertegun sementara Thai Liong menarik napas dalam maka pemuda itu berkata dan tiba-tiba berkelebat keluar guha.

"We We Moli, tak ada jalan bagi kita. Mari kuwakili adikku dan kita bertanding keluar."

Nenek itu gentar. Wajahnya tiba-tiba berubah dan ia pun gelisah. Tak dapat disembunyikan lagi bahwa pemuda itu adalah musuh paling tangguh baginya. Sin-tiauw-kang yang dimiliki pemuda itu amat hebatnya. Akan tetapi karena ia sudah ditantang dan iapun berkeras tak mau mengubah adat, harga dirinya sebagai tokoh tua harus dipertahankan mati-matian maka nenek ini berkelebat dan langsung menyerang pemuda itu di luar guha.

"Aku atau kau yang mampus!" Bu-kek-kang menyambar disusul pekik lengking nenek ini. Maklum bahwa pemuda ini benar-benar sakti maka We We Moli tak segan-segan lagi mengeluarkan kepandaiannya. la tahu benar siapa lawan di depannya ini . Maka begitu bergerak dan membentak penuh kemarahan nenek ini sudah mendorongkan kedua lengannya dan dari sepasang matanya itu menyambar pula inti Bu-kek-kang yang kebiru-biruan itu.

"Desss!" Benturan tenaga sakti ini menggetarkan guha. Thai Liong mengerahkan Sin-tiauw-kangnya dan sinar merah bertemu sinar biru. Pemuda itu belum sampai kepuncak kemarahannya yang bakal membuat tubuhnya menggelembung. Kalau ini terjadi maka ilmu raksasa itu akan muncul, pemuda ini dapat setinggi bukit sebagai bobot kemarahannya. Dan ketika ia mengerahkan Sin-tiauw-kang masih dalam batas wajar maka dirinya terhuyung sementera nenek itu terpental dan berjungkir balik menyerang lagi, berkelebat dan menyambar dan tubuh berpakaian serba hitam ini lenyap.

Selanjutnya yang terjadi adalah bayangan serba hitam bagai badai menderu-deru, pukulan dan sinar biru meledak menyambar pemuda itu. Namun karena Thai Liong memiliki Ang-tiauw Ginkang dan dengan ilmunya ini pemuda itu berkelebatan tak kalah cepat maka dua bayangan sambar-menyambar dan pecahlah batu-batu besar terkena ledakan pukulan mereka.

Salju berhamburan dan memuncrat ke sana-sini sementara batu guha bergoyang-goyang, kian lama kian hebat untuk akhirnya roboh. Jeritan dan pekik yang ada di dalam disusul melesatnya tubuh-tubuh itu, Thio Leng dan sumoinya serta Hwa Seng menyelamatkan diri. Namun ketika Puteri Es dan Beng An tak kelihatan keluar maka dua gadis itu berseru dan guha runtuh menggetarkan jiwa.

"Puteri...!"

"Kim-kongcu...!"

Dua kepala muncul di antara reruntuhan guha. Puteri Es, dan Beng An berdiri berpelukan tanpa menghiraukan apa-apa. Dua muda-mudi ini tampaknya terguncang oleh perasaan mereka sendiri dan gadis itu memeluk Beng An erat-erat. Sikapnya yang melindungi pemuda itu mengharukan sekali. la nyaris tertembus Pek-swat-kiam kalau Thai Liong si Rajawali Merah tak cepat menangkis. Pedang itu diambil dan diserahkan Beng An, sang pemuda termangu dan masih merah pucat berganti-ganti.

Wajah pemuda ini sebentar melunak sebentar mengeras. Geraham dan mulut itu gemeretakan. Beng An melihat sikap kekasihnya ini, kemarahan dan cinta bercampur aduk. Dan ketika guha ambruk namun ia berdiri mematung, batu dan semuanya menimbun tubuhnya maka kekasihnya juga tidak beranjak dan masing-masing terkubur setinggi leher. Puteri Es rupanya siap mati bersama dengan pemuda ini. Tak perduli.

"Puteri!"

Thio Leng mengeluh dan gadis ni berkelebat menyambar. Tubuhnya disusul sang sumoi dan Sui Keng juga memanggil dua orang itu. Tanpa banyak cakap mereka menggali dan melempar-lempar reruntuhan itu, Beng An masih mematung dan termangu ke depan, tak ada niat untuk keluar dan membiarkan dirinya terkubur hidup-hidup. Namun ketika semua batu dan tanah dikeluarkan cepat, Thio Leng menarik lengan Puteri Es sementara Sui Keng menarik pemuda itu maka dua gadis ini telah membawa dua orang ini meloncat keluar.

"Kim-kongcu, jangan mendelong seperti itu. Lihatlah Puteri kami!"

"Benar, dan kaupun jangan menyia-nyiakan hidupmu, Puteri. Masa membiarkan diri terkubur hidup-hidup. kami anak buahmu!"

Sang Puteri mengguguk. Pertandingan di sana berjalan amat hebatnya dan bayangan hitam serta merah menyambar-nyambar. Bersama bayangan hitam ini melesat sinar kebiruan Bu-kek-kang, meluncur dan menghantam hancur apa saja yang kena. Rajawali Merah mengelak dan menangkis. Dan ketika keduanya bertanding amat cepat sementara Beng An masih termangu-mangu maka Puteri ini mengguguk dan mengguncang-guncang lengan pemuda.

"Kim Beng An! Beng An...!"

Baru pemuda itu sadar setelah sebuah tangan lain mencengkeram pundaknya. Siang lee, kakak iparnya mendesis dan meniup sisi telinganya. Dengan sungguh-sungguh dan penuh kedukaan si buntung ini menepuk-nepuk adiknya. Lalu ketika pemuda itu sadar dan melihat ibu jari yang lenyap tiba-tiba Beng An mengeluh dan mengguguk menyambar suami encinya ini.

"Le-ko, kau berkorban sia-sia untukku!"

"Tidak, tenanglah. Hanya satu yang dapat kita lakukan, adikku, pasrah kepada kehendak Yang Maha Agung. Kalau kita sudah melakukan segalanya namun gagal maka terimalah itu sebagai ujian untukmu. Nenek itu keji, sungguh tak mengenal belas kasihan dan amat tidak berperasaan."

Beng An sampai mengguguk memeluk kakak iparnya ini. Tak habis-habisnya ia memandang tempat ibu jari itu dan akhirnya menciumi. Siang Le mengejap-ngejapkan matanya menahan haru, tak terasa mata itupun basah. Dan ketika mereka berpelukan dan si buntung tak kuasa mendengar tangis adiknya lagi tiba-tiba terdengar kekeh dan tawa bergelak. Dua bayangan berkelebat muncul, disusul bayangan-bayangan lain.

"Heh-heh-ha-ha kiranya kau, Beng An. Kau rupanya yang menyamar sebagai Thian-te lt-hiap. Pantas, Ping-im-kang milikmu tak dimiliki orang lain, dan kakakmu sudah bertanding dengan We We Moli."

"Dan kau menipu aku. Hoh, jelek-jelek aku bekas suhengmu, Beng An, berani kau mempermalnkan aku. Hayo bayar dosamu dan kita main-main lagi!"

"Dan supek tahan mereka itu, biarkan gadis-gadls ini bagian kami."

Lima bayangan muncul dengan cepat dan Itulah Pek-kwi serta kawan-kawannya. San Tek, si gila itu ada di situ di belakang kakek ini, disusul bayangan Tan pangcu dan sutenya, juga Tan Bong. Lima orang ini kiranya kembali ke situ setelah kakek Ini lenyap dl balik kabut. Ia menghilang dan entah bagaimana muncul membawa murid-muridnya itu. Setelah dilempar-lempar Thai Liong dan kakek serta si gila ini lenyap di balik kabut maka kakek itu mencari murid-muridnya.

Untunglah Tan-pangcu tidak terlempar begitu jauh ketika dikebut We We Moli, tenaga nenek itu masih terkendali dan kakek ini menemukan muridnya. Maka ketika ia menyambar dan akhirnya mengejak ke situ, kebetulan si gila bertemu pula maka San Tek dibujuk agar ke atas dan mencari We We Moli.

"Kau boleh takut kepada Rajawali Merah, akan tetapi nenek itu bagianmu. Kalau ia tak mau diajak bersahabat dan tetap memusuhi maka kita keroyok dia, San Tek, tapi sekarang tentu Rajawali Merah telah berhadapan dengannya. Ayo lihat keramaian dan kita ke atas, Thian-te lt-hiap juga di sana!"

Si gila itu terbujuk. Akhirnya mereka melihat betapa Thian-te It-hiap ternyata bukan lain Beng An, Pek-kwi terbelalak dan San Tek menjadi marah. Beng An adalah bekas sutenya ketika mereka masih sama-sama menjadi murid mendiang Poan-jin-poan-kwi, dulu beberapa waktu yang lalu. Maka ketika ia menjadi marah dan kaget serta terbelalak maka pemuda bermuka kehijauan ini tertawa bergelak melepas kemarahannya itu.

Beng An terkejut ketika tiba-tiba sepasang pukulan menghantamnya, cepat mendorong kakak iparnya dan Siang Le terpelanting. Lalu ketika ia menangkis dan melupakan segalanya maka Pek-kwi menerjangnya pula tak main-main.

"Bagus, sekarang kita bersungguh-sungguh. Hayo bunuh pemuda ini, San Tek, lalu keroyok Rajawali Merah itu. Keluarga Kim-mou-eng harus kita basmi!"

Beng An mengelak dan menangkis. Ia sudah diserang lawan-lawannya ini dan cepat bergerak. Pek-swat-kiam, Pedang Salju itu ada di tangannya. Puteri Es memberikannya tadi. Maka begitu membentak dan memutar serta menggerakkan pedangnya maka jurus-jurus maut Giam-lo Kiam-sut menyambar disusul Ping-im-kang di tangan kirinya.

"Des-plak!"

Lawan menangkis dan bertandinglah ketiganya. Pek-kwi terkekeh dan berkelebat menyerang lagi, Giam-lui-ciang menyambar dari kedua lengannya disusul Im-kan Thai-lek-kang dari tangan San Tek. Si gila ini tak main-main dan membalas pula. Dan ketika Beng An berkelebat mengelak serta menangkis maka tubuh mereka sudah bergerak amat cepat dan tanpa diminta lagi masing-masing mengeluarkan semua kepandaiannya.

Dan Pek-kwi kagum bukan main karena setelah pemuda itu memiliki pedang di tangan kanan maka pukulan atau serangan-serangannya menjadi berbahaya sekali, jauh lebih berbahaya dibanding ketika dulu pertemuan mereka pertama. Hal ini tak aneh karena dulu pemuda itu bersikap banyak mengalah, lagi pula tak mempergunakan Giam-lo Kiam-sut karena memang bukan maksud Beng An untuk bertempur mati hidup.

Kini, dikeroyok dan marah karena berkali-kali didesak membuat pemuda ini naik pitam, apalagi ketika kakak iparnya diserang ji-pangcu dari Pulau Api itu, membantu Sui Keng yang berhadapan dengan lawannya ini dan tampak terdesak. Sebenarnya lawan ji-pangcu itu adalah Thio Leng, bukan gadis ini. Namun karena Thio Leng membantu majikannya menghadapi Tan-pangcu yang lihai, Puteri Es telah bertanding dengan ketua Pulau Api ini maka keselamatan gadis itu lebih diutamakan daripada sumoinya, apalagi karena Siang Le ada di situ.

Si buntung membantu sumoinya akan tetapi ji-pangcu terlalu tangguh, Sui Keng bahkan terganggu dengan bantuan temannya ini. Namun karena betapapun ia harus mampu, di Sana putera Tan-pangcu itu sudah berhadapan dengan Hwa Seng maka gadis ini menggigit bibir dan ia mencabut ikat pinggang rantai peraknya untuk menerjang dan membalas.

"Siang-kongcu, sebaiknya kau mundur saja dulu. Biarkan aku menghadapi jahanam ini dan kau maju kalau nanti aku lelah!"

Siang Le ragu, ia mundur dengan cepat. Akan tetapi ketika senjata di tangan gadis itu memang butuh tempat leluasa untuk menyerang dan bergerak mengimbangi lawan maka apa boleh buat ia melompat mundur dan Sui Keng lega menyambar-nyambarkan senjatanya itu. Tak perlu lagi ia takut mengenai teman sendiri.

"Bagus, lihat dan perhatikan tempat lain. Kalau ada teman kita yang terdesak tolong maju, kongcu. Atau kau tolong adikmu Beng An karena ia dikeroyok dua!"

"Hm, kepandaianku terlampau rendah. Menghadapi kakek itu jelas bukan bagianku nona. Biar kalian saja atau aku membantu Hwa Seng."

"Tidak, pemuda ini dapat kuhadapai sendiri. Aku tak perlu dibantu, kongcu, diam saja di situ. Aku akan merobohkannya dan biar ia lihat bahwa aku sekarang bukan Hwa Seng yang dulu.... singg-plak!"

Hwa Seng mempergunakan pedangnya pula dan gadis ini menghadapi lawan dengan Bu-kek-kang dan Giam-lo Kiam-sut. Biarpun tingkat Bu-kek-kangnya belum menyamai ketua atau wakil ketua akan tetapi gadis ini berbulan-bulan mengikuti Beng An. Setelah bertapa dan menghilang dari rumahnya maka Beng An telah menjadi Thian-te It-hiap, tentu saja Hwa Seng yang setia itu ditambah ilmunya dan mendapatlah dia Giam-lo Kiam-Sut yang hebat.

Di daratan besar mendiang Hu Beng Kui adalah jago pedang ternama, belum ada jago-jago pedang lain yang mampu menumbangkan pendekar besar itu, tidak juga ketua-ketua persilatan besar. Maka ketika pelayan Lembah Es itu mendapat bimbingan lahir batin dan Hwa Seng yang sekarang bukan lagi Hwa Seng yang dulu maka Tan Bong terkagum-kagum karena gadis yang pernah tertangkap dan hendak dijadikan korban di Pulau Api itu telah menjadi lihai bukan main dan ia kewalahan serta harus mengakui bahwa tak mudah mengalahkan gadis ini, paling sedikit mereka berimbang!

Tan Bong mengeluh. Berbagai guncangan dialami. Mula-mula perasaannya yang terpikat dan jatuh hati kepada gadis ini, bukan sebagai pelayan Lembah Es melainkan sebagai cucu Thian-te It-hiap. baru tahu bahwa gadis it adalah Hwa Seng setelah Thian- lt-hiap terbuka samarannya. la tertegun dan terpukul. Gadis yang dicintanya ternyata pelayan Lembah Es. Akan tetapl karena rasa cinta telah mendalam dan ia bingung tak tahu harus berbuat apa maka dalam pertandingan ini pemuda itu banyak mengelak dan menangkis dengan sesekali saja membalas.

Hal ini tentu saja membuat keadaannya menjadi buruk dan dari semua pertandingan itu maka putera ketua Pulau Api inilah yang paling keteter. Hwa Seng heran kenapa lawannya begitu lemah, pemuda ini seakan tak begitu bersemangat. Akan tetapl karena ia terus menyerang dan Justeru bernafsu sekali, semakin menyerang semakin ganas maka satu ketika pedangnya membabat pundak pemuda itu.

"Crat!" Lawan terhuyung dan menyeringal menahan sakit. Hwa Seng masih tak mengerti bahwa pemuda Pulau Api itu mencintainya. Pemuda ini mengelak maju mundur menghindari semua serangan pedang yang berbahaya. Namun karena Tan Bong tampak tidak bersemangat dan tidak membalas maka sekall lagl pedang mengenai pangkal lengannya.

"Crat!" Terdengar teriakan, bukan dari pemuda ini melainkan dari ketua Pulau Api. Tan-pangcu, yang ternyata diam-diam memperhatikan puteranya melihat kejadian yang ganjil itu. Ketua Pulau Api terkejut dan mula-mula heran, menyangka puteranya sedang menjalankan sebuah taktik dan mungkin setelah itu baru membalas. Namun ketika dua kali pedang melukai berdarah dan puteranya tetap tak membalas maka terkejutlah laki-laki dan ketua Pulau Api berteriak membentak puteranya.

"Bong-ji, apa yang kau alami. Balas dan jangan biarkan gadis itu membunuhmu. Robohkan dia dan cepat bantu ayahmu!"

Akan tetapi jawaban pemuda ini justeru mengherankan. Tan Bong tertawa dan mengelak sana-sini sementara tangannya yang lain dipakai menutupi luka. Pedang masih menyambar ganas dan mencari-cari sasarannya lagi. Lalu ketika ia mengelak dan hampir terbabat lagi pemuda itu menjewab, getir, "Aku tak mampu melakukan perintahmu, ayah. Hati ini tak sanggup."

"Apa, kau gila?"

"Benar, aku gila. Aku tak mampu membalasnya apalagi merobohkan. Aku..crat!" pedang menyambar ganas lagi, menusuk mengenai tulang belikat dan pemuda itu menggeliat. Kata-katanya terhenti sementara Hwa Seng terbelalak. Tentu saja gadis itu akhirnya tergetar, ada sesuatu yang mengejutkannya. Akan tetapi karena ia terus menyerang dan pemuda itu terhuyung maju mundur maka Tan-pangcu melotot marah betapa puteranya itu tak mempergunakan langkah-langkah sakti Jit-cap-ji-poh-kun.

"Tan Bong, kau miring. Pergunakan Jit-cap-ji-poh-kun untuk menyelamatkan dirimu. Heii, awas pedang menyambar!"

Teriakan dan seruan ini membuat Tan pangcu panik. Konsentrasinya terpecah dan ia melihat pedang gadis itu berkelebat lagi, kali ini menikam tenggorokan. Dan ketika puteranya tak mengelak dan tertawa lagi, getir maka orang tua ini tak mampu menahan perasaannya lagi, memekik dan berkelebat keluar dan tahu-tahu ia menangkis pedang itu. Hwa Seng menjerit ketika pedangnya terpental, begitu keras hampir terlepas dari tangannya. Dan ketika ia tak menyangka ketua Pulau Api meninggalkan lawannya maka sebuah tendangan mengenai pahanya dan ia roboh terguling-guling.

"Plak-dess!"

Gadis itu mengeluh meloncat bangun. la merasa pahanya sakit bukan main sementara Tan-pangcu memaki-maki puteranya. Dalam saat berbahaya itu Tan Bong benar-benar tak menghiraukan keselamatan dirinya, bahkan cenderung membiarkan diri dibunuh. Dan ketika ayahnya memaki-maki dan menjambak rambutnya maka pemuda itu ditanya apa sebabnya dia seperti itu.

"Kau anakku satu-satunya, ahli waris tunggal. Setan apa yang menbuatmnu seperti ini, Tan Bong. Begitu mandah untuk dibunuh orang. Apa maksudmu dan apa artinya ini!"

"Entahlah, aku tak tahu. Aku tak mampu dan tak sanggup menghadapinya, ayah. Hati ini lemah..."

"Kau... kau jatuh cinta?"

"Entahlah, mungkin begitu."

"Jahanam, jatuh cinta kepada seorang pelayan!" dan sang ayah yang membentak dan malu besar tiba-tiba menendang puteranya ini hingga si pemuda mencelat dan terbanting.

Saat itu Puteri Es berkelebat maju dan Thio Leng juga membentak ketua Pulau Api. Tanya jawab sejenak membuat Puteri Es dan pembantunya tertegun. Sama sekali tak mereka sangka bahwa putera ketua Pulau Api mencintai Hwa Seng. Baru kali ini seorang tokoh muda Pulau Api mencintai gadis pelayan. Akan tetapi karena Thio Leng tak perduli itu dan mengejar serta membentak lawannya itu maka Puteri Es juga berkelebat namun gadis ini agak ragu-ragu memandang pemuda itu.

Putera ketua Pulau Api ini terhuyung bungun di sana dan tergetarlah perasaannya. Sebagai wanita yang tahu rasanya jatuh cinta gadis ini melihat benar perasaan pemuda itu. Putera ketua Pulau Api itu betul-betul mencintai Hwa Seng. Akan tetapi ketika ia mendengar benturan dan teriakan Thio Leng, gadis itu terpelanting oleh pukulan lawan. maka Puteri Es menyerang dan membentak laki-laki itu, bertanding lagi.

Hwa Seng termangu-mangu dan wajah gadis itu bersemu dadu. Kebetulan saat itu pandang mata mereka bertemu dan pemuda itu menatapnya mesra. Tan Bong menjadi sendu dan penuh kagum memandang pujaannya itu. Gadis itu bukan dianggapnya sebagai pelayan Lembah Es melainkan lebih sebagai cucu Thian-te lt-hiap. Perasaan ini menghangat di hatinya dan mesrapun timbul. Maka ketika ia tak dapat menyembunyikan itu dan memandang penuh kasih sayang, tergetarlah gadis ini tiba-tiba Hwa Seng membentak dan menerjang pemuda itu. Malu dan jengahnya dibuang dalam serangan.

"Tan-kongcu, mampus atau balaslah!"

Tan Bong mengelak. la kembali maju mundur dan memandang gadis itu penuh kasih. Tatapan ini sedemnikian mengganggu hingga Hwa Seng melengking-lengking. Gadis ini merah padam. Dan ketika sekali lagi ia membabat dan menyambarkan pedangnya namun pemuda itu tak mengelak maka gadis ini menjerit tertahan ketika ujung pedangnya melukai leher.

"Rrttt!" cukup panjang luka itu namun si pemuda malah berbunga. Tan Bong tak mengelak dan membiarkan dirinya diserang hingga nyaris saja lehernya tembus. Kalau Hwa Seng tidak menahannya dan megurangi kecepatan tentu pemuda ini roboh. Dan ketika gadis itu terbelalak dan kaget serta bingung maka pemuda ini tertawa pahit menyuruhnya menusuk lagi.

"Kau hebat, kemajuanmu pesat sekali. Bagiku kau adalah Hoa-siocia, Hwa Seng, cucu Thian-te It-hiap. Tusuklah dan seranglah lagi biar aku roboh."

"Kau. kau..." gadis ini menggigil. "Balas dan tangkis pedangku, orang she Tan. Atau aku benar-benar membunuhmu!"

"Bunuhlah, tak ada artinya hidup. Aku sudah pasrah kepadamu, nona, tusuklah. Kau adalah Hoa-siocia bagiku cucu Thian te lt-hiap."

Wanita mana yang tahan. Sehebat-hebatnya gadis ini tetap juga perasaannya amat lembut dan peka. Cinta kasih seorang pria yang terang-terangan begitu membuat gadis ini gemetar, Hwa Seng menutupi mukanya dan tiba-tiba menangis. Namun ketika ia tersedu dan diguncang berbagai perasaannya mendadak Tan pangcu menyambar dan menghantam kepala gadis itu.

"Ayah!" Tan Bong terkejut dan kaget bukan main. Di sini tiba-tiba tampak kepandaian pemuda itu, meloncat dan menarik gadis itu seraya menangkis pukulan ayahnya. Namun karena pukulan itu cepat tak terduga dan Hwa Seng membelakangi lawan maka tengkuknya tertampar dan hanya berkat kesigapan Tan Bong ia selamat meskipun terbanting jatuh.

"Dukk!"

Tan Bong mencelat menerima pukulan ayahnya dan ia mengeluh. Pangkal lengannya hangus dan dapat dilihat betapa dahsyatnya serangan itu. Tan-pangcu memang hendak membunuh gadis ini agar puteranya sadar. Tapi ketika puteranya menangkis dan justeru menyelamatkan gadis itu, Hwa Seng terpelanting dan roboh pingsan maka ketua Pulau Api itu terbelalak karena dari sini ia pun melihat betapa seriusnya pemuda itu mencintai gadis Lembah Es.

"Tan Bong, bocah itu hanya seorang pelayan. Mana harga dirimu!"

"Tidak, bagiku ia cucu Thien-te It-hiap, ayah, bukan orang lain. Kalau kau membunuhnya bunuh pula aku."

"Gila, kau bocah keparat. Minggir dan jangan lindungi atau aku betul-betul membunuhmu!"

Tan-pangcu berkelebat lagi dan menampar kepala gadis yang pingsan itu akan tetapi puteranya bangkit berdiri. Dengan tertatih namun tergopoh cepat pemuda ini membentak ayahnya. la tak perduli sakit dan luka. Namun ketika dua bayangan berkelebat dan Thio Leng serta Puteri Es menghantam ketua Pulau Api itu maka Tan-pangcu membalik dan terpaksa menangkis dua pukulan ini.

"Des-plak!"

Laki-laki itu terhuyung dan tampak merah padam. Wajahnya terbakar dan jelas sekali ia marah bukan main, sepasang matanya melotot dan seakan hendak meloncat keluar. Akan tetapi karena Puteri Es dan pembantunya bergerak lagi dan ia mengelak serta menangkis maka Tan Bong terhuyung menghampiri gadis yang pingsan itu, memondong dan membawanya ke tempat lain dan semua ini membuat kemarahan ketua Pulau Api itu mencapai puncaknya. la terhina sekali puteranya jatuh cinta kepada seorang pelayan, apalagi pelayan Lembah Es. Maka ketika ia memekik dan mendorong serta mengibaskan kedua lengannya yang membara bagai obor hidup maka Thio Leng maupun Puteri Es berseru keras memperingatkan satu sama lain.

"Awas, ia mengerahkan semua Giam-lui-ciangnya. Hati-hati, Puteri, merunduk... wherrr!"

Api berkobar dari sepasang lengan itu dan menjilat hangus pohon-pohon salju. Daun yang putih keperak-perakan menjadi hitam legam, meletik dan akhirnya terbakar. Dan ketika laki-laki itu menerjang dan mengejar lawannya maka Puteri Es cepat menggosok kedua telapaknya dan Bu-kek-kang tiba-tiba mendesis dan menyambut Giam-lui-ciang yang dahsyat itu, memapak.

"Desss!' sang puteri bergoyang-goyang dan akhirnya terpental. Dapat dibayangkan betapa hebatnya sinkang ketua Pulau Api itu karena ia sedang dipenuhi kemarahan yang sangat. Tenaganya begitu luar biasa hingga seakan berlipat ganda, Puteri Es terkejut dan cepat melempar tubuh bergulingan. Dan ketika gadis itu terkejut karena lawan benar-benar luar biasa, padahal biasanya mereka setingkat maka Thio Leng menghantam punggung lawan ketika ketua Pulau Api itu mengejar majikannya.

"Ke sini, jangan ke sana!"

Bu-kek-kang diterima dan tepat menghantam punggung laki-laki ini. Biasanya lawan akan terhuyung dan terdorong, mungkin terjungkal. Namun ketika Tan-pangcu itu hanya tergetar saja dan membalik serta membalas gadis itu maka Thio Leng berteriak karena ia seakan dihembus tiupan api neraka sebesar bukit.

"Wushhh!" gadis ini mencelat dan terguling-guling. Pakaiannya hangus dan kalau sinkang dingin di tubuhnya tidak melindungi tentu ia hangus dan terbakar pula. Dan ketika gadis itu bergulingan dan pucat meloncat bangun, untunglah Puteri Es menyerang dan berkelebat kembali maka gadis itu terbelalak namun Puteri Es berseru agar ia bersiap-siap mengeluarkan senjatanya.

"Orang ini kalap, keluarkan senjata dan jangan tinggal diam. Serang dari depan dan kiri kanan, Thio-cici, kita berputar dan mengelilinginya. Jalankan sikap angin dua arah!"

Gadis itu mengangguk. Puteri Es sudah mengeluarkan ikat pinggangnya diputar membentuk payung lebar, mengaung dan menderu dan membungkus lawannya itu. Dari bawah tangan kirinya melepas Bu-kek-kang, hati-hati dan amat cermat karena lawan sedang kesetanan. Tenaga ketua Pulau Api seakan berlipat ganda. 

Dan ketika pembantunya bergerak dan mengeluarkan sepasang roda-senjata andalan yang cepat digerakkan pula maka dua gulungan cshaya menyambar-nyambar mengiringi payung lebar dari ikat pinggang sang puteri, mematuk dan meledak dan keganasan Tan-pangcu tertahan. Payung cahaya bergulung naik turun bersama roda es yang đingin, tubuh sang puteri lenyap mengelilingi lawannya ini.

Dan ketika Thio Leng juga mengikuti dengan arah terbalik, Tan-pangcu menjadi bingung maka dua gadis itu menyambar dengan cara berlawanan bagi gelombang samudera bawah tanah, yang satu dari kiri ke kanan sementara yang lain. dari kanan ke kiri. Orang menjadi pening dikeroyok seperti ini, bayangan dua gadis itu berseliweran tiada henti dan Tan-pangcu itupun mengeluh. Sebuah sabetan ikat pinggang akhirnya meledak di pundaknya, terhuyung dan sepasang roda es menghantam pula mengenai punggung dan pinggangnya.

Akan tetapi karena ketua Pulau Api itu hebat sekali dan kemarahan membuat tenaganya berlipat maka untuk beberapa saat tubuhnya mampu bertahan dan paling-paling berjengit seperti orang terkejut digigit kalajengking, membalas namun lawan mengelak dan baik Puteri Es maupun pembantunya tak mau beradu keras. Mereka membiarkan pukulan lewat dan itu berarti pemborosan tenaga sia-sia bagi ketua Pulau Api ini.

Dan ketika taktik berhasil dengan baik dan perlahan tetapi pasti laki-laki itu mulai kelelahan maka Giam-lui-ciang di tangannya meredup dan tidak kemerah-merahan seperti obor menyala, susut akan tetapi betapapun masih hebat. Ujung baju Puteri Es ternyata terserempet hangus. Sang puteri cepat memadamkan dengan mengebut Aoi itu. Lalu ketika ia berputaran dan bergerak saling tukar dengan Thio Leng maka pening tak dapat dicegah lagi dan ketua Pulau Api memaki-maki mereka.

"Terkutuk, curang. Kalian, tak malu mengeroyok aku, Puteri, mana kegagahan kalian. Lembah Es bukan orang-orang gagah lagi!"

"Tutup mulutmu, tak perlu bercuap-cuap. Kalian sendiri orang-orang Pulau Api tak pernah jantan, Tan-pangcu. Kalau merasa mendapat kesempatan juga selalu mengeroyok. kami hanya membalas apa yang pernah kalian lakukan saja!"

"Hm... biarkan ia kuhadapi," sang puteri tiba-tiba berseru dan melihat lawan sudah mulai lemah. keluar dan bantu cici di sana, Thio Leng. Kalau Tan-pangcu sudah wajar dan tidak kesetanan lagi aku pun sanggup sendiri."

"Tapi kita sudah tanggung, sebentar lagi ia roboh!"

"Tidak, Keng-cici memerlukan bantuan. Keluarlah dan biarkan aku sendiri...wut-tar!"

Ikat pinggang meledak dan tiba-tiba payung cahaya itu menciut. Bagai kilatan menyambar ujung senjata ini menghantam pundak Tan-pangcu, lawan mengaduh dan terhuyung-huyung. Dan ketika tampak betapa laki-laki ini mandi keringat dan habis tenaga maka Thio Leng melihat betapa sumoinya terdesak dan mengeluh ketika di sana ji-pangcu mencabut rantai peraknya menghadapi ikat pinggang perak di tangan Sui Keng.

"Baiklah," gadis ini berkelebat dan keluar. "Tapi hati-hati, Puteri, dan bunuh dia!"

Sang puteri mengangguk. Suduh menjadi tekadnya untuk bertanding terakhir kalinya dengan lawan yang amat dibencinya ini. Lembah Es dan Pulau Api adalah musuh-musuh bebuyutan. Maka ketika ia mendesak dan maju lagi, tadi terpaksa di bantu karena laki-laki ini berlipat tenaganya maka Tan-pangcu pucat karena setelah bertanding dan berkali-kali memboroskan tenaga ia mulai lelah dan kehabisan tenaga. Tak ada lain jalan baginya kecuali membentak maka tongkat merah berada di tangannya, tongkat baja yang penuh tenaga Hwe-ciang.

"Baik, aku atau kau yang roboh. Mati hidup ditentukan di sini, Puteri Es, dan aku akan mengadu jiwa denganmu!"'

Gadis itu tertawa mengejek. Ia berkelebat menghilang ketika tongkat menyambar, lalu ketika ikat pinggangnya melebar dan membentuk payung lagi maka Tan-pangcu memutar senjatanya menangkis.

"Trang-trang!"

Ternyata ikat pinggang sudah menjadi keras . Kaku bagai besi putih ikat pinggang ini meluncur ke tengkuk Tan-pang Cu ditangkis dan bertemu tongkat dan bunga api berpijar. Bukan main hebatnya tenaga itu! Tapi ketika tampak betapa laki-laki ini terhuyung sementara Puteri berkelebatan lagi maka payung cahaya naik turun dan membungkus rapat tubuh Tan-pangcu, tak mungkin keluar kalau tidak menangkis lagi. Dan ketika hal itu dilakukan namun ia selalu tergetar dan terhuyung mundur maka laki-laki ini pucat karena sekarang terasa betapa lelah dan habisnya tenaga dia!

Namun ketua Pulau Api ini bukan orang lemah. la lalu mempergunakan langkah-langkah Jit-cap-ji-poh-kun, bergerak dan menghindar dan tenagapun dibatasi. Dan ketika iapun memutar tongkat sementara Giam-lui-ciang hanya sekali dua meluncur dari tangan kirínya maka Puteri Es cemberut karena lawan bersikap cerdik menghemat tenaganya. Hal ini menjadikan pertandingan berjalan lama dan ia gemas. Namun karena lawan bukanlah orang biasa dan pantangan untuk terburu-buru maka apa boleh buat gadis ini meledakkan ikat pinggangnya dan tangan kiri melancarkan Bu-kek-kang, mendesak dan terus menteter ketua Pulau Api itu sampai akhirnya meninggalkan yang lain-lain.

Tak terasa mereka berada di antara jurang-jurang dalam, kabut melayang-layang ringan di antara mereka namun selalu terhembus pergi. Pukulan dua orang itu menepis gangguan kecil itu. Dan ketika satu saat laki-laki itu berpijak di batu menjorok, jurang di belakangnya tak disadari maka giranglah Puteri Es menerjang lawannya. lkat pinggang lenyap bayangannya berobah menjadi benda lurus menusuk ke depan.

"Sekarang kau mampus!"

Laki-laki ini terbelalak. Setelah ikat pinggang tak membentuk payung cahaya maka tentu saja ia lega. la tak perlu memutar tongkat den melindungi diri. Maka ketika benda itu menusuk bagai tombak menuju perutnya tentu saja ia menangkis mempergunakan tongkatnya itu mengerahkan tenaga.

"Plak!"

Benda lurus kaku ini mendadak berobah lemas. Tanpa diduga dan disangka-sangka tiba-tiba ikat pinggang itu melingkar ke atas, geraknya mirip ular yang mematuk. Dan karena ia sudah menjadi benda lemas dan ujungnya menyambar hidung Tan-pangcu ini maka Tan-pangcu menggerakkan tangan kirinya akan tetapi secepat itu lawan menggerakkan tangannya pula melepas Bu-kek-kang, jadi ketua Pulau Api ini diserang dua serangan berbahaya sekaligus karena saat itu badan ikat pinggang membelit tongkatnya.

"Desss!" sambil miringkan muka laki-laki ini menghindarkan patukan ikat pinggang. la menjadi kaget karena saat itu tangan kiri lawan juga bergerak, hawa dingin mendahului gerakan itu. Dan karena tiada jalan lain kecuali menyambut dan mengerahkan Giam-lui-ciangnya maka ketua Pulau Api ini terdorong dan ketika Puteri Es cepat melepasken belitan ikat pinggangnya tiba-tiba tubuh Tan-pangcu itu terjerumus dan... masuk ke dalam jurang di belakangnya itu.

"Aiihhhhhh...!" Bukan main kagetnya Tan-pangcu ini. la benar-benar tak tahu bahwa tempat di belakangnya kosong. Tadi ia tertahan sejenak oleh belitan ikat pinggang, bertahan pada tongkat. Tapi begitu lawan melepaskan belitan dan otomatis tongkatpun terlepas maka ia terbanting dan jatuh di jurang amat dalam itu. Suaranya mengerikan sekali dan panjang menggema. Terdengar suara berdebuk amat jauh lalu diam. Dan ketika Puteri Es termangu-mangu dan berdiri di batu besar ini, di batu yang menjadi awal kematian lawannya tiba-tiba terdengar jeritan dan teriakan di belakang.

"Puteri, awas!"

Gadis ini terkejut. la membalik dan melihat ji-pangcu menyeringai kejam. Laki-laki itu menubruknya tanpa suara, meluncur dan menerkam punggungnya akan tetapi kini menjadi menerkam dada. Dari sepuluh jari itu terdengar suara berkerotok, angin panas baru menyambar setelah dekat. Dan ketika gadis ini menjerit dan menjadi kaget maka tiba-tiba dalam detik berbahaya itu ia merebahkan tubuhnya di atas batu hitam dan sekali kakinya mencuat, ia pun menangkis sekaligus menendang laki-laki itu.

"Bukk!" Ji-pangcu tak menyangka. la menyergap dan meluncur di tengah udara, posisinya menjadi berbahaya setelah gadis itu menjatuhkan diri telentang di batu hitam. Dan ketika kedua tangannya bertemu sepasang kaki mungil namun tumit itu menyentuh perutnya maka laki-laki ini terhenyak kesakitan akan tetapi cengkeramannya yang kuat tak melepaskan ujung kaki itu. Tubuhnya terus terlempar ke depan dan Thio-siocia serta Wan-siocia terpekik.

Puteri Es terseret dan terbawa pula. Dan ketika gadis ini juga terkejut lawan mencengkeram demikian kuat maka bersamaan meluncurnya tubuh itu terbetot pula sepasang sepatu gadis ini. Secara kebetulan kaki itu selamat karena tali sepatu menjadi longgar dan lepas, putus dicengkeram ji-pangcu Pulau Api itu.

"Aaaaaaaaa...!" Jeritan panjang dan menggema pula. Wakil ketua Pulau Api itu terjerumus dan menyusul suhengnya, setelah sekian lama melayang dan jatuh terdengarlah suara berdebuk. Setelah itu diam. Dan ketika Puteri Es bangun dan berdiri terbelalak maka dua pembantunya menyambar dan menubruknya. Tangispun pecah.

"Aduh, nyaris sekali, Puteri. Kau di ambang bahaya maut!"

"Benar, dan kami tak menduga jahanam itu menubrukmu. la licik menyerangmu secara gelap, Puteri. Untung selamat dan kami bersyukur!"

Gadis ini tertegun dan masih termangu-mangu. Wajahnya pucat dan ngeri namun tiba-tiba ia menarik napas dalam. Isak pun berhenti di tenggorokun. Dan ketika ia melepaskan dirinya dan mendorong dua pembantunya itu maka ia bertanya tentang Beng An. "Bagaimana dia..?"

Thio Leng dan Sui Keng tanggap. "Mereka masih bertempur, Puteri, dan supek-bo juga masih bertanding seru."

"Mari kita lihat!"

Sang puteri tak banyak bicara dan tiba-tiba ia berkelebat. Yang dipikir saat itu hanyalah Beng An, yang lain tak masuk hitungan. Dan ketika dua pembantunya mengangguk dan berkelebat mengikutinya ternyata di sana Beng An masih bertanding seru dengan dua orang lawannya. Puteri tertegun namun tiba-tiba melengking, ia bergerak menyambar si gila. Dan ketika San Tek terkejut diserang gadis itu maka Thio Leng memberi tanda dan masuk pula menerjang, sumoinya membantu.

"Hajar pemuda ini dan bunuh. la mengacau saja!"

"Hei, hei! Apa-apaan ini, nona. Aku hanya memusuhi Beng An, kalian bukan musuhku!"

"Jangan banyak cakup. Kim-kongcu adalah majikan kami, San Tek, kau pergilah atau mampus di sini!" si gila mengelit dan menangkis dan Im-kan-thai-lek-kangnya membuat dua gadis itu mundur. Hanya Puteri Es yang dapat bertahan. Dan ketika gadis itu membentak dan menyerang lagi maka pemuda ini sibuk dan otaknya yang miring membuat bicaranya menggelikan, kali ini berteriak kepada Beng An.

"Hei, mereka ini mengeroyokku. Suruh mereka mundur, Beng An, ingat aku suhengmu!"

Akan tetapi mana mungkin Beng An menggubris si gila itu. la membentak lawannya setelah Pek-kwi ditinggal sendiri. Pedang berkelebat semakin cepat dan kakek itu gentar. Dua kali ia merasa dadanya sesak. Lukanya belum sembuh semua. Maka ketika ia sendirian dan terkejut melihat pemuda itu mendesak dan mengurungnya maka teringatlah ia kepada We We Moli dan tiba-tiba berseru bagaimana kalau mereka saling bantu. San Tek dimaki-maki agar tetap di situ.

"Kita berdua hadapi pemuda ini, Moli. Kita saling tukar musuh dan robohkan yang lemah!" lalu membentak si gila agar tidak melayani gadis-gadis itu kakek ini. berseru, "San Tek, jangan hiraukan mereka. Melompatlah! Tinggalkan mereka dan mari bergabung dengan nenek itu. Bertiga tentu kuat!"

"Wah, Rajawali Merah bukan tandinganku. la dapat menjadi raksasa. Hi, kau saja yang hadapi pemuda itu, Pek-kwi. Aku akan menghadapi Beng An!"

"Jangan bodoh, kekasihnya itu akan menghalangimu. Hei... cepat ke sini dan tinggalkan merek, San Tek. Lihat We We Moli mendesak pemuda itu!"

Semua terkejut, menoleh. Rajawali Merah yang ditakuti itu ternyata tiba-tiba keteter. Dua kali benturan membuat ia terpental. Dan ketika Beng An juga terkejut melihat kakaknye kewalahan,samar-Samr dari tubuh kakaknya keluar uap Sin-tiauw-kang yang tersedot ke telapak nenek itu maka pemuda ini terkejut bukan main karena We We Moli entah dengan cara apa menghisap dan mengeluarkan inti Sin-tiauw-kang dari tubuh kakaknya.

"Liong-ko...!"

Bentakan itu disusul berkelebatnya pemuda ini menyambar We We Moli. Pek-kwi harus meloncat mundur kalau tak ingin terbelah Pek-swat-kiam, pedang itu menyabar amat ganasnya dan terus meluncur menuju nenek berpakaian serbn hitam itu. Dan ketika pedang menusuk dan tepat mengenai dada namun terpental 0leh sinkang amat kuat maka Beng An terbanting dan nenek itu terkekeh-kekeh, Thai Liong si Rajawali Merah mengeluh.

"Tidak.. jangan, Beng An, pergilah!"

Akan tetapi pemuda itu meloncat bangun. Beng An kaget sekali karena yang menolak pedangnya tadi adalah Sin-tiauw kang. Jelas sekali kesaktian yang dimiliki kakaknya itu berpindah ke tubuh We We Moli. Ia tahu benar karena kini tubuh nenek itupun kemerah-merahan, tau tenaga Sakti Sin-tiauw-kang masuk di tubuh itu. Dan ketika ia meloncat bangun dan menjadi marah maka Iapun menerjang lagi menusuk nenek itu, tangan kirinya bergerak mengiringi Ping-im-kang.

"Des-plak!"

Lagi-lagi untuk kedua kali pedang dan pukulannya terpental. Kali ini malah lebih keras hingga pedang mencelat dari tangannya, telapak Beng An terasa pedas dan sakit, berdarah. Namun ketika pemuda itu hendak menyerang lagi dan si kakek mencengkeram pundaknya maka ia dilempar dan tidak diperkenankan mengeroyok lawan mereka.

"Nenek ini bagianku, cegah kakek itu tak mengganggu kami di Sini. Lawanmu adalah San Tek dan kakek itu, Beng An, Jangan mencampuri dan biarkan aku menyelesaikan urusanku di sini!"

"Tapi nenek itu menyedot Sin-tiauw kangmu, kau terhuyung-huyung dan lemah. Apa yang terjadi, Liong-ko. kenapa bisa begitu!"

"Aku tak apa-apa, masih dapat bertahan dengan baik. Jangan ganggu dan membuyarkan konsentrasiku di sini, Beng An, pergilah dan turut nasihatku. Atau Pek-kwi dan San Tek membuatku celaka dan nanti semuanya gagal!"

Thai Liong bertanding lagi dengan nenek itu dan Beng An terbelalak dengan muka pucat. la tak mengerti apa yang terjadi namun tiba-tiba bayangan kakek itu dan San Tek berkelebat. Rupanya melihat si Rajawali Merah terdesak We We Moli mereka pun ingin ikut bergabung, sekali mereka masuk tentu keadaan semakin tak menguntungkan. 

Maka ketika Beng An membentak dan menyambarkan pedangnya lagi segera pemuda ini membabat dan dua orang itu dipaksa mundur, pedang bergulung naik turun dan Giam-lo Kiam-sut kembali menyambar-nyambar diiring pukulan Inti Es yang amat dingin. Beng An tak dapat lagi berpikir panjang karena dua orang itu akan mengganggu kakaknya. Dan ketika membentak dan mengelilingi dua orang ini dengan sinar pedangnya maka Puteri Es berkelebat disusul pula Thio Leng dan Sui Keng.

"Beng An, biar kubantu kau menghadapi mereka ini. Hadapilah kakek itu dan si gila ini bagianku!"

"Benar, dan kami membantumu, Puteri. Bunuh pemuda ini dan hancurkan sahabat Pulau Api!"

San Tek terkejut dan berteriak. Sang Puteri masuk dan Beng An memberikan lawannya, pedang membungkus Hantu Putih hingga kakek itu tak dapat keluar. Dan ketika kakek ini memekik dan melepaskan Giam-lui-ciangnya untuk mendorong dan membuka jalan ternyata Beng An memapaknya dengan Ping-im-kang hingga kakek itu terhuyung dan tentu saja melotot, memaki dan mempergunakan langkah-langkah saktinya akan tetapi lawannya memotong dan mencegat sana-sini.

Beng An telah mulai hapal langkah-langkah kaki ini dan mengikuti serta membayangi terus. Dan karena ia berkelebatan kian cepat sementara kakek itu mulai kehabisan napas maka dedengkot Pulau Api ini menjadi pucat dan gentar. Pemuda di depannya ini benar-benar bagai harimau tumbuh sayap setelah menggabung Ping-im-kang dengan Giam Kiam-sut, pedang itu khusus menyerang dan menyambar sementara pukulan Inti Es bersifat menahan dan menangkis pukulannya!

Hantu Putih mulai goyah. Dulu ketika bertemu pertama kali dengan pemuda ini memang harus mengakui bahwa pemuda di depannya ini luar biasa. Berdua dengan adiknya yang tewas di tangan Rajawali Merah ia akhirnya berhasil merobohkan dan menangkap pemuda ini. Akan tetapi setelah sekarang ia menghadapi sinar pedang yang bergulung-gulung sementara Ping-im-kang di tengan kiri pemuda itu menangkis dan membentur Giam lui-ciang maka ia menjadi gelisah.

Sering kali ia terhuyung mundur. Dan karena sesungguhnya luka-lukanya belum sembuh benar sementara ia seorang kakek yang cepat lelah, berbeda dengan pemuda ini yang selalu segar dan masih penuh tenaga maka kakek ini mulai ngeri dan cemas akan diri sendiri. Ia akan malu bukan main dikalahkan seorang pemuda, lebih malu lagi kalau para nenek moyang leluhurnya melihatnya di akherat.

Maka ketika ia menjadi marah dan timbul kekuatan besar untuk mengadu jiwa mendadak kakek itu melengking dan ketika pedang menyambar tubuhnya mendadak ia miringkan kepala dan secepat itu pedang menyentuh kulitnya secepat itu pula ia menerkam dan menangkap, tangan kanan dipakai untuk melepas Giam-lui-ciang sepenuh tenaga, sikap yang membuat Beng An terkejut.

"Crep-desss!"

Masing-masing saling tangkap dan dorong. Si kakek yang memukulkan tangan kanannya diterima tangan kiri Beng An, Ping-Im-kang bertemu Giam-lui-ciang yang merah membara. Sedetik lengan pemuda itu terbakar akan tetapi api tiba-tiba padam. Tenaga Inti Es menerima dan menolak Petir Neraka itu, ganti menyerang dan dua Orang ini dorong-mendorong. Lalu ketika tangan yang lain mencengkeram dan berkutat, Pek-swat-kiam diterkam jari-jari kokoh dedengkot Pulau Api itu maka sejenak pedang itu meleleh akan tetapi untunglah Beng An yang menyalurkan Ping-im-kangnya ke tubuh pedang membuat pedang itu membeku lagi dan semakin dingin.

Panas dan dingin saling serang dan kejadian ini menegangkan sekali. Pek-kwi yang mendapat kekuatan dari kemarahannya sejenak mampu mendorong. Akan tetapi karena Beng An tak mau kalah dan Ia mengerahkan inti Es nya sepenuh tenaga, maka tiba-tiba pedang bergerak maju dan jari-jari kakek itu menjadi pucat terserang Ping-im-kang.

"Krek!" kelima jari kakek ini berbunyi saling berkerotokan. Ping-im-kang mendesak dan semakin ke atas menuju pergelangan, Kakek itu mati-matian bertahan. Akan tetapi ketika sinkang lawan semakin kuat sementara kerentaannya tak seperti anak muda maka kakek itu mendelik ketika uap putih mendesak dan sampai di pangkal lengannya.

"Ugh, keparat kau. Jahanam...!"