Social Items

Cerita Silat Mandarin Serial Prahara Di Gurun Gobi Karya Batara

CHI KOAN terbenam dan naik turun lagi. Pemuda ini harus berjuang keras keluar dari tempat itu. Dinding jurang yang terus berguguran membuatnya repot. Berkali-kali ia terbenam dan keluar lagi. Ada tempat-tempat lembut yang begitu dipijak langsung amblong. Inilah tanah kosong yang tertimbun secara lunak. Debu atau pasır lembut yang mengisi tempat itu membuat tubuhnya berkali-kali melesak, susah.

Dan ketika ia jatuh bangun dan terus merayap naik, berhasil namun kelelahan yang sangat membuatnya pingsan maka dua hari kemudian datanglah kakek gurunya itu dan menolongnya dari reruntuhan bebatuan, mendengar keluhannya tadi. Chi Koan terbenam dan terkubur hidup-hidup.

"Begitulah," pemuda ini mengusap air mata, bagian pengkhianatan tentu saja tak diceritakan. “Teecu dan suhu terkubur hidup-hidup di tengah jurang itu, sukong. Dan karena suhu sudah terluka dan hancur kakinya maka ia tak dapat menyelamatkan diri sementara teecu berhasil keluar tapi roboh di tempat ini, kehabisan tenaga."

"Hm, hebat, kau termasuk hebat. Tapi di mana kira-kira mayat gurumu, Chi Koan. Pinceng harus mengambilnya.”

"Mengambilnya?" pemuda ini terbelalak. "Di bawah jurang, sukong, jauh di bawah sana. Mana mungkin mengambilnya!"

"Di situ?" hwesio ini menuding, jurang di bawah terasa dalam.

"Benar, sukong. Tapi tak mungkin ketemu. Suhu terkubur sedalam puluhan meter, tak mungkin diambil!”

"Hm, kau dapat membantuku. Pinceng akan mencoba!”

Chi Koan terkejut. Kakek gurunya itu tiba-tiba mengebutkan ujung jubah dan meluncur turun. Jurang yang dalam itu dimasukinya demikian mudah dan tahu-tahu sudah di sana, dalam sekali. Dan ketika hwesio itu mengebut dan menggerakkan tangannya berulang-ulang, Chi Koan terbelalak maka batu-batu besar dan debu terlempar ke kiri kanan. Hwesio itu mulai menggali!

"Sukong...!" Chi Koan pucat dan kaget. "Kau... kau hendak menggali tempat ini?"

"Hm, jenasah gurumu harus diambil, Chi Koan. Seorang tokoh Go-bi tak boleh begitu saja hilang dan musnah mayatnya. Harus diambil, dibawa dan disemayamkan di Go-bi!"

Pemuda ini terkejut. Dia menjadi ngeri dan kaget melihat perbuatan hwesio sakti ini. Dengan mudah dan ringan batu-batu besar dilempar ke atas. Tempat yang tertimbun puluhan meter itu hendak digali. Tak masuk akal! Tapi karena kesaktian hwesio ini memang luar biasa dan sebentar kemudian lubang sedalam empat meter sudah dibuat, hwesio itu terus bekerja dan melempar-lempar pasir dan bebatuan maka Chi Koan menjadi pucat kalau mayat gurunya ditemukan, apalagi kalau masih hidup. Dan karena bayangan ini membuat dia takut, gelisah.

Maka Chi Koan meloncat turun dan terjun memasuki tempat itu. Dia sudah pulih meskipun tak sekuat biasanya, dapat membantu kakek gurunya namun bukan menggali lubang melainkan memindah batu dan apa saja di situ ke kiri kanan, menumpuk dan akibatnya tentu saja benda-benda ini berguguran lagi ke tengah. Ji Leng menggali di tengah sementara cucu muridnya menimbun bahan-bahan galian di tepi lubang, tentu saja sang hwesio tertegun, berhenti. Dan ketika ia mengerutkan kening dan menoleh kepada pemuda itu, yang terus menumpuk dan menimbuni kiri kanan maka hwesio ini berseru,

“Chi Koan, apa yang kau lakukan? Lubang yang pinceng buat tertutup lagi!”

"Ah," Chi Koan pura-pura kaget, mengangkat mukanya. "Jadi bagaimana sukong. Teecu hanya ingin membantu."

"Kau harus melempar batu-batu ini ke atas, jangan di kiri kanan. Nanti kembali lagi ke tengah!"

"Ke atas?” pemuda ini menggeleng. "Tak mungkin, sukong, terlalu tinggi. Teecu tak kuat!”

“Hm, kalau begitu minggirlah, biar pinceng sendirian dulu!”

"Sukong hendak menggali tanah ribuan Kubik ini?”

"Aku harus menemukan mayat gurumu, Chi Koan, membawanya kembali ke Go-bi. Jasad seorang tokoh Go-bi harus dimakamkan di Go-bi!”

Chi Koan terbelalak. Ia ngeri tapi juga kagum mendengar tekad ini. Bukan main, reruntuhan jurang akan digali. Dan ketika dia mundur dan sang hwesio menyuruhnya mencari sekop, alat untuk melempar tanah maka ketika benda itu didapat Chi Koan melihat betapa dengan sekop ini sang hwesio melempar-lempar tanah ke atas jurang yang tingginya ada dua puluh meter di atas. Sekali, dua kali... tiga kali... tujuh... delapan... sepuluh.... dua puluh... tiga puluh dan akhirnya Chi Koan tak dapat menghitung lagi karena dengan gerakannya yang luar biasa hwesio itu bekerja sendirian membuka tempat itu untuk mencari mayat Beng Kong Hwesio.

Kakek ini dapat mengetahui keadaan Chi Koan dan empat jam itu lubang sedalam dua puluh meter tergali. Dan ketika Chi Koan terbelalak namun dia diperintahkan untuk meratakan bahan galian, yang menggunung dan membukit di atas jurang maka sehari itu hwesio ini sudah "menguras" setengah lebih dari ribuan kubik bahan-bahan ledakan dinamit. Chi Koan pucat. Untunglah, karena malam tíba dan sang hwesio harus beristirahat maka hwesio itu naik dan seperti tidak berbobot saja dia melayang ke atas dan menepuk-nepuk jubahnya yang penuh debu dan kotoran melekat.

"Besok selesai, biar pinceng beristirahat dulu.”

Chi Koan takjub tak berkedip. Dia hampir tak percaya bahwa kakek setua ini masih dapat bekerja sehebat itu. Seorang diri mampu memindahkan ribuan kubik tanah dari dalam jurang. Agaknya, gunung pun mampu dipindah hwesio ini. Betapa saktinya! Dan ketika malam itu hwesio ini beristirahat sementara Chi Koan menjadi cemas dan gelisah maka dalam percakapan menjelang tidur Chi Koan dibuat tersentak dan gentar.

"Pinceng menaruh harapan gurumu masih hidup. Karena itu besok pinceng akan melihatnya dan harap kau bantu pinceng menyingkirkan tanah-tanah di atas, jauh dari tepi jurang. Jangan terlalu dekat dengan pinceng, Chi Koan. Kalau mendengar apa-apa jangan melongok ke bawah."

"Sukong... sukong merasa suhu masih hidup?”

"Ya, tak ada tanda-tanda kematian. Getar dari Hok-te Sin-kun masih kurasa dan gurumu masih hidup. Pinceng yakin."

Pemuda ini terbelalak. Mendengar gurunya masih hidup bukan kegembiraan yang ada melainkan cemas, cemas dan gelisah. Bagaimana kalau itu benar dan gurunya masih hidup, tentu dia akan dibunuh! Dan ketika Chi Koan berubah dan sang kakek memandangnya heran, wajah pemuda itu pucat maka hwesio ini bertanya,

"Ada apa dengan kau. Kenapa pucat mendengar ini."

“Ti... tidak. Teecu.... teecu ngeri melihat kedahsyatan Hok-te Sin-kun, sukong. Tadi kau juga mempergunakannya dan alangkah hebatnya. Suhu juga mempergunakannya dan hanya dengan ini ia mampu merobohkan Siang Kek Cinjin!"

“Hm, tentu saja. Tapi jangan bicara tentang permusuhan, Chi Koan, pinceng tak suka."

"Maaf, teecu tak sengaja, sukong, Tapi.... tapi bolehkah teecu bertanya sesuatu?"

"Kau mau bertanya apa?"

"Tentang Hok-te Sin-kun itu. Suhu pernah bicara dan....”

Sang hwesio mengerutkan kening. Chi Koan menghentikan bicaranya dan menelan ludah, menangis. Lalu ketika dia menunduk dan menutupi mukanya maka dia tak jadi meneruskan pertanyaannya. “Eh, apa..., ada apa. Apa saja yang kau dengar dari suhumu?”

"Teecu... teecu... ah, tidak. Teecu tak berani bicara, sukong. Nanti salah paham. Teecu menarik pertanyaan teecu!" pemuda itu mengguguk dan menutupi mukanya dengan sedih. Chi Koan berguncang-guncang.

Ji Leng Hwesiopun tentu saja terkejut, berkerut kening. Namun ketika hwesio ini berdehem dan mengebutkan jubah maka dia menepuk pundak pemuda itu dan berseru penasaran, “Chi Koan, pinceng tak senang melihat laki-laki menangis. Kau ternyata cengeng. Ada apa dan apa yang hendak kau bicarakan?”

“Teecu... teecu... ah, tak jadi, sukong. Teecu tak ingin menyakiti hatimu. Lagi pula suhu sudah tiada, tak baik membuka omongan lama yang teecu tidak percaya. Aku tak berani meneruskan pertanyaanku, kucabut!"

"Hm!" sang hwesio tergelitik, penasarannya semakin besar, marah. "Kau kuanggap mengada-ada justeru kalau tidak jadi bicara, Chi Koan. Mengapa dengan suhumu dan apa yang pernah dia bilang?"

“Teecu tidak berani...”

“Takut apa? Omongan sudah kau keluarkan, Chi Koan. Tak usah ditelan!”

Chi Koan mengangkat mukanya. Sekarang ia mendengar bentakan dan begitu beradu pandang iapun terkejut. Mata hwesio itu mencorong, sinarnya menusuk dan tembus memasuki jantungnya. Ngeri dia. Dan ketika pemuda ini gemetar dan seperti bingung, sikap ini malah membangkitkan penasaran maka pemuda itu menoleh ke kiri kanan, sebelum menjawab. “Suhu... roh suhu... tak akan marah? Teecu takut, sukong, jangan-jangan kena kutuk!”

"Hm, suhumu tak akan marah. Kalau dia marah aku melindungimu!"

"Benarkah?"

"Kau kira pinceng bohong? Jawab, apa katanya tentang Hok-te Sin-kun, Chi Koan. Ada apa dengan ini?"

“Maaf...” pemuda itu memberanikan diri, menekan rasa takut-takut. “Suhu bilang, eh... Hok-te Sin-kun, eh... katanya dari curian, sukong. Tak boleh dimiliki lebih dari dua orang karena nanti kuwalat pada pemiliknya yang sah!"

"Apa?”

"Ampun... maaf!" Chi Koan melihat mata itu mengeluarkan api, terkejut bukan main. Dia seakan dibakar! “Teecu.... teecu bilang tak usah saja, sukong. Sekarang kau marah. Ampun... ini kata suhu!”

Hwesio itu mengebut hancur batu besar di belakang Chi Koan. Pemuda ini mendengar suara berdetak dan ketika dia menoleh maka dia tertegun. Batu besar di belakangnya tak apa-apa, utuh, padahal baru saja dihantam pukulan dahsyat. Tapi ketika angin bertiup dan batu bergoyang maka “pyur”.... batu itu menjadi bubuk dan roboh seperti semangkok tepung. Tepung hitam!

"Omitohud...!” sang hwesio bersuara menggetarkan udara malam. "Lancang mulutmu, Chi Koan, tapi busuk mulut suhumu itu. Ah, pinceng akan menuntut pertanggungjawabannya kelak!"

"Maaf... ampun...” Chi Koan berlutut dan menempelkan dahi ke tanah. "Kau akan berbuat apa, sukong? Kalau kau mengganggunya harap tidak di depan mataku, karena jelek-jelek aku tak dapat membiarkan itu. Teecu tidak percaya namun sikap sukong mendukung itu!"

"Omitohud, kau menyangka pinceng pencuri?” Chi Koan berteriak kaget. Tubuhnya tahu-tahu terangkat ke atas dan tiba-tiba tergantung di udara, meronta dan menendang-nendang namun tak bisa turun. Ia seakan digantung tali gaib, tangan iblis! Namun ketika hwesio itu meniupkan mulutnya dan ia roboh, terjengkang maka hwesio itu bertanya sikap apa yang dimaksud anak muda itu, sikap bagaimana yang dimaksud mendukung itu hingga iapun dikira mencuri.

"Ampun, teecu... ah, teecu tak usah bicara, sukong. Kau tahu sendiri. Teecu tak mau menambah hatimu bertambah sakit lagi!”

"Kau anak muda busuk. Lidahmu tajam dan menyengat, Chi Koan. Kau membuat kemarahan pinceng bangkit. Hayo, sikap apa yang mendukung itu hingga kaupun mencurigai pinceng. Jawab, atau nanti pinceng menghajarmu!"

Chi Koan mengusap mulutnya yang berdarah. Ia tadi terbanting dan terguling-guling dilepas hwesio itu entah dengan ilmu apa. Sang hwesio tampak mengangkat jari telunjuknya dan iapun terbawa naik, itu saja yang dimengerti. Namun ketika ia duduk dan gemetar mengusap mulut, sikapnya tiba-tiba berani maka ia berkata seolah membela gurunya.

"Sukong selalu menutup dan menyembunyikan diri. Kalau bukan karena kitab curian kenapa berbuat begitu? Maaf, omongan suhu kupikir benar, sukong. Kau tampaknya takut dan enggan bertemu orang. Bu-tek-cin-keng itu hasil curian. Kau... dess!”

Chi Koan mencelat dan terlempar menjerit. Anak muda ini menerima kibasan angin taufan dan sang kakekpun mendelik. Wajah yang biasa sabar dengan mata seakan terpejam itu sekarang mendelik. Ia dianggap mencuri oleh murid dan cucu muridnya. Dan ketika ia membentak dan anak muda itu terlempar, Chi Koan mengaduh maka ia bangkit berdiri dan matanya berkilat mencorong ketika berseru, suaranya ditahan-tahan, dinding dan pohon berderak-derak,

“Chi Koan, kalau gurumu benar bicara seperti itu maka ia akan pinceng hukum berat. Sedangkan kau, yang menuduh dan berani menyangka begini juga harus menerima hukuman. Omitohud, siapa takut menyembunyikan kitab? Pinceng tidak menyembunyikannya seperti katamu, bocah. Bu-tek-cin-keng pinceng ditaruh di bawah batu hitam tempat pinceng biasa duduk. Dan masalah pinceng tak pernah keluar, Hmm... itu karena pinceng akan mengadu ilmu dengan seseorang. Pinceng mempersiapkan diri. Pinceng bertaruh akan sesuatu dan kelak menentukan siapa kalah siapa menang!”

“Ah, sukong... sukong melatih ilmu untuk bertanding dengan seseorang? Sukong yang sudah sedemikian hebat masih perlu mempersiapkan diri menghadapi sebuah pibu (adu kepandaian silat)? Maaf, siapa orang itu, sukong. Kenapa demikian hebat kau bertapa seakan manusia itu dewa!"

Chi Koan sampai lupa kepada pokok permasalahannya tadi. Ia kaget dan bengong bahwa hwesio sakti yang sudah demikian hebat ini ternyata mengurung diri untuk beradu ilmu dengan seseorang. Kalau begitu dapat dibayangkan betapa hebatnya orang itu, karena hwesio ini sudah termasuk paling jago di dunia dan ilmunya Hok-te Sin-kun itu membuat gempar. Dedengkot Heng-san saja roboh, apalagi orang-orang macam Tujuh Siluman Langit seperti Coa-ong dan kawan-kawannya itu.

Maka ketika ia tertegun dan lupa kepada sakitnya, ia terlempar dan terbanting tapi bangun lagi, meringis, maka pertanyaannya disambut kerut dalam di wajah hwesio itu. Sang tokoh Go-bi tampak ragu menjawab, bimbang. Namun karena Chi Koan telah menuduhnya yang tidak-tidak dan ia marah kepada anak ini maka kakek itu mendesis.

"Chi Koan, besok setelah gurumu didapat maka kau dan dia harus mempertanggungjawabkan omongan ini. Kalian kurang ajar dengan menuduh pinceng. Malam ini tak usah bicara dan kaupun tak usah kemana-mana!”

Chi Koan roboh dan meringkuk. Tiba-tiba dia ditotok dan pemuda itu mengeluh. Sang kakek marah dan dia harus menghadapi akibatnya, inilah resiko. Dan ketika malam itu Ji Leng Hwesio duduk bersila sementara cucu muridnya tak mungkin lari, Chi Koan cemas dan gelisah maka semalam dia tak dapat tidur dan membayangkan apa yang bakal terjadi besok.

Tentu saja dia menjual omongan kosong kepada kakek gurunya itu. Beng Kong Hwesio tak pernah menuduh tentang curian dan semua itu hanya buah pikirannya sendiri, hasil kecurigaannya kepada sang kakek guru sekaligus ingin tahu tentang kitab amat hebat itu. Maka ketika Chi Koan berhasil memancing dan kini dia tahu di mana Bu-tek-cin-keng berada, di bawah batu hitam di mana biasanya kakek itu duduk bertapa maka inilah sebenarnya yang dicari dan Chi Koan girang tapi sekaligus juga kaget bahwa dia ditotok!

Sesungguhnya sudah ada semacam pikiran licik di hati pemuda ini. Dia akan kabur begitu hwesio itu lengah. Kalau perlu, malam itu juga minggat! Tapi begitu ditotok dan inilah yang membuat Chi Koan tak berkutik, dia penasaran tapi juga marah kepada kakek gurunya itu maka sekarang yang ada ialah akal bagaimana menghadapi besok.

Kalau benar gurunya masih hidup maka dua ancaman sekaligus menunggunya, yakni dari gurunya sendiri dan kakek gurünya itu. Tentu gurunya akan marah bukan main difitnah dan dijelek-jelekkan. Kakek gurunya tentu akan menanya gurunya itu dan dapat dibayangkan kemarahan gurunya ini. Betapa gurunya dianggap menyangka kakek gurunya menyimpan kitab curian. Masa seorang hwesio, tokoh Go-bi lagi, mencuri kitab. Chi Koan mengkirik membayangkan ini. Dan karena dia juga telah mencelakai gurunya, sengaja ingin membunuh dan kini gurunya itu teruruk reruntuhan tebing dan bebatuan besar maka hukuman yang akan diterima tentu dapat dibayangkan. Pasti satu: Mati!

Namun Chi Koan ragu. Ji Leng Hwesio berkata bahwa gurunya masih hidup. Dia setengah percaya setengah tidak karena mana mungkin gurunya itu hidup. Ditimbun dan diuruk ribuan kubik tanah dan batu sukar dipercaya bahwa gurunya masih hidup. Tapi yang bicara begitu adalah Ji Leng Hwesio, dedengkot Go-bi. Masa ia tidak percaya? Maka ketika malam itu dia dibiarkan kedinginan dan tak dapat tidur, tubuhnya tertotok dan lumpuh tak berdaya maka Chi Koan memutar otak bagaimana melepaskan diri dari semua ancaman ini.

Lepas dari hwesio sakti itu agaknya tak mungkin, kecuali hwesio itu lengah dan melepaskannya. Tapi, siapa tahu? Chi Koan teringat bahwa tadi kakek gurunya itu berkata bahwa besok dia diminta bantuannya untuk menjauhkan tanah-tanah galian di atas bibir jurang sana. Kalau tanah itu terus menumpuk dan meninggi seperti gunung tentu sukar bagi hwesio itu melontarkan tanah galian lewat sekop di tangannya yang dahsyat. Sehebat-hebatnya hwesio itu tentu ada rasa capai juga, betapa pun kakek ini adalah manusia biasa.

Maka ketika Chi Koan agak tenang karena besok tentu dibebaskan, malam itu dia ditotok agar tidak lari saja maka dengan adanya harapan ini pemuda itu mencoba tidur tenang. Dan benar saja, baru dua jam layap-layap tiba-tiba dia dibangunkan. Ayam hutan berkokok dan Chi Koan merasa punggungnya dingin. Jalan darahnya dibebaskan dan angin tamparan jubah mengebut mukanya. Dia geragapan, meloncat bangun. Dan ketika dia terhuyung berdiri tegak maka matahari kemerah-merahan di ufuk timur di balik puncak gunung.

"Cukup, kau boleh bangun dan bantu pinceng!"

Chi Koan menguap dan masih mengantuk. Dia baru saja menikmati tidurnya yang sejenak ketika tiba-tiba kakek gurunya ini membangunkan. Dia benar, kakek gurunya membebaskan. Dan ketika pagi itu hwesio ini meluncur ke bawah jurang dan kembali bekerja, sekop di tangan menusuk dan mengungkit berkali-kali maka gumpalan tanah atau bebatuan melontar dengan kuat ke atas bibir jurang. Galian semakin dalam dan tempat itu tentu saja semakin tinggi. Chi Koan bergerak dan ragu. Tapi ketika sekopnya belum bekerja dan dia melamun maka terdengar bentakan agar dia cepat bekerja.

"Pinceng tak ada waktu banyak. Gunakan sekopmu dan singkirkan batu-batu itu ke tempat lebih jauh!”

Chi Koan terkejut. Sebenarnya, dalam keadaan seperti itu adalah kesempatan bagus untuk melarikan diri. Tapi mungkinkah itu? Hwesio ini amat sakti, telinganya luar biasa tajam. Bukti bahwa dia belum bekerja dan diam di tempat diketahui hwesio itu. Maka ketika Chi Koan bergerak dan hati-hati menggerakkan sekop, perlahan dan agak ayal-ayalan bekerja dua kali dia berhenti tapi dua kali pula mendapat teguran.

"Jangan berhenti, pinceng juga masih terus bekerja!"

Chi Koan kagum. Jarak di antara dirinya dengan kakek itu cukup dalam, tapi tetap juga hwesio ini tahu. Dan ketika untuk ketiga kalinya dia berhenti dan sengaja menguji tiba-tiba segumpal tanah dan batu menyambar dari bawah menghantam mukanya.“Crot!” Pemuda ini terbanting. Dia sudah berkepandaian tinggi namun tetap juga tak mampu mengelak. Dari bawah terdengar gumam kakek itu dan sang hwesio berkata bahwa kalau dia berhenti maka segumpal tanah akan menyambar mukanya lagi, sebagai hukuman.

Dan ketika Chi Koan terkejut dan pucat, jerih, maka apa boleh buat dia menggerakkan sekopnya sungguh-sungguh dan menyingkirkan tanah dan batu sesuai perintah, bekerja dan srak-srok srak-srok menusuk dan melempar tanah-tanah galian ke pinggir. Tapi karena dia mendongkol dan marah kepada hwesio itu, dan juga semakin takut kalau benar-benar suhunya masih hidup maka Chi Koan tidak melempar tanah-tanah ini ke tempat jauh melainkan justeru di bibir jurang! Ia menumpuk dan menimbuni tempat itu dengan cepat, membuang dan menyekopi tanah-tanah galian kakek gurunya tanpa menoleh.

Sepintas seolah tanpa sengaja. Dan ketika ia terus bekerja dan bekerja sementara Ji Leng Hwesio juga tidak mendongak ke atas karena suara sekop di tangan Chi Koan juga terus terdengar, jadi dia tidak curiga maka tahu-tahu bibir jurang sudah penuh dengan galian yang dilempar hwesio ini. Hwesio itupun juga tidak memperhatikan karena tak mungkin si pemuda berani main gila. Kalau Chi Koan berhenti umpamanya, atau kabur, tentu dia tahu dan akan memberi pelajaran.

Sama sekali hwesio ini tak menyangka bahwa pikiran keji berjalan di benak pemuda itu, apalagi setelah kian lama kian dalam dan dasar jurang mulai tampak. Bebatuan keras dan lantai dingin mulai teraba. Ujung sekop hwesio itu menusuk tempat liat, keras. Dan ketika ia mulai girang dan tiba-tiba tertegun melihat adanya semacam guha di dinding jurang, di lantai dasar maka saat itulah tumpukan di bibir jurang setinggi gunung dan roboh!

Chi Koan telah melaksanakan rencana kejinya dengan perhitungan cermat. Dia membuat tanah yang digali hwesio itu membukit di tepi jurang, bergerak dan turun dan akhirnya dengan satu dorongan kuat tanah dan bebatuan itu gugur. Suaranya mengejutkan sang hwesio dan Ji Leng terbelalak, mendongak tapi pasir dan debu berjatuhan. Dan ketika dia kaget dan kelilipan, masih tak tahu apa yang terjadi maka Chi Koan sudah mendorong semua material di atas jurang berjatuhan ke bawah.

“Buummm...!”

Batu dan apa saja berdentum dan jatuh menerbitkan suara keras. Galian yang sudah digali hwesio itu kembali ke bawah dan Ji Leng Hwesio tentu saja kaget bukan main. Dia berteriak namun disambut gugurnya tanah sebukit itu, ambruk dan tentu saja hwesio ini marah. Baru sekarang ia sadar bahwa Chi Koan hendak membunuhnya, mengubur hidup-hidup. Dan ketika ia mendorong dan mengebutkan lengan bajunya berulang-ulang, teruruk tapi meloncat dan teruruk lagi akhirnya hwesio ini terpendam dan gugurnya bebatuan di atas jurang yang tak disangkanya itu betul-betul membuat hwesio ini kaget.

Dia terus menghantam dan melepas pukulan-pukulan dahsyat tapi dinding jurang malah tak kuat, runtuh dan menimpa hwesio ini pula dan tentu saja keadaan itu membahayakan. Dan ketika hwesio ini terus ditimbuni dan menerima apa saja dari atas, memekik namun pekikannya juga membuat dinding yang lain roboh maka sekejap kemudian hwesio ini sudah terkubur dan lenyap di balik tumpukan batu dan tanah serta pasir. Ji Leng Hwesio tak dapat meloncat karena debu dan pasir menutupi matanya. Hwesio ini buta sejenak dan waktu itu cukup buat Chi Koan, yang memang hendak menguburnya hidup-hidup.

Dan ketika geram atau suara hwesio itu tak terdengar lagi, pekerjaan dua hari menjadi sia-sia maka jurang itu tertimbun lagi dan tertawalah Chi Koan dengan amat gembiranya. Dia melongok dan tak melihat hwesio itu lagi dan pemuda ini puas. Kalaupun hwesio itu tak binasa maka ada waktu cukup baginya ke Go-bi. Bu-tek-cin-keng harus diambil dan dipelajari. Hok-te Sin-kun amat dahsyat dan dia harus memiliki itu. Maka ketika Chi Koan meninggalkan Heng-san dan di Go-bi ia membuat geger, masuk dan mengambil kitab sakti maka Ji Leng Hwesio yang terlambat dan mendapat berita itu menahan-nahan geram yang membuat dadanya serasa meledak.

Hwesio sakti ini masih hidup. Sehari semalam dia berhasil membebaskan diri dari timbunan batu dan tanah. Dengan ilmunya yang tinggi hwesio ini akhirnya menutup jalan pernapasan, membiarkan diri ditimpa bebatuan itu namun kakinya menjejak-jejak ke bawah, selalu naik dan naik meskipun amat perlahan. Dan ketika dia berhasil keluar bagai hantu dari kubur, orang tentu merasa ngeri dan seram melihat keadaannya maka terbanglah hwesio ini pulang ke Go-bi untuk menerima laporan bahwa Chi Koan telah mengambil Bu-tek-cin-keng!

Hampir saja sang hwesio mengayun tangan menghantam Ji-hwesio, murid keponakannya itu. Tapi karena di situ ada Giok Kee Cinjin dan ia sadar, kemarahan harus diredam maka hwesio itu berkelebat dan akhirnya menyuruh Giok Kee Cinjin untuk datang ke pertapaannya, bersama Peng Houw.

* * * * * * * *

"Demikianlah, baru kali ini pinceng ditipu habis seorang bocah licin. Pinceng harus malu kepada diri sendiri, Cinjin, tapi pinceng tak mau mencarinya, meskipun kitab itu penting. Pinceng akan menghadapi seseorang dan untuk ini pinceng harus bertapa di sini. Bagaimana menurut pendapatmu dengan semua kejadian ini?"

Begitu sesepuh Go-bi ini mengakhiri ceritanya. Entahlah dia ingin menumpahkan semua itu kepada orang lain, bukan kepada murid-murid Go-bi tetapi kepada orang luar. Giok Kee adalah sahabatnya dan tosu inipun dapat dipercaya, jujur, meskipun akhir-akhir ini Giok Kee merasa tak senang karena sesepuh Go-bi itu dianggapnya angkuh, kedatangannya dua kali ditolak.

Namun setelah dia mendengar semua ini dan hwesio itu tak mau menerima karena tekun mempersiapkan sebuah pertandingan, entah dengan siapa maka tosu ini menarik napas dalam-dalam dan di samping marah kepada pemuda bernama Chi Koan itu ia menjadi kagum akan lawan atau calon lawan sesepuh Go-bi ini, yang tampaknya begitu bersungguh-sungguh.

"Maaf," tosu ini seperti Chi Koan, sejenak melupakan persoalan Bu-tek-cin-keng. "Pinto jadi tertarik kepada lawan yang kau ajak bertanding itu, lo-suhu. Masakah di dunia ini ada orang lebih hebat lagi darimu. Padahal kau sudah menguasai Bu-tek-cin-keng!"

"Hm, orang ini bukan orang biasa, Cinjin. Lima tahun yang lalu pinceng masih kalah setingkat. Dia bukan manusia melainkan dewa. Pinceng penasaran, tapi ada lagi yang lebih membuat penasaran, tentang kehidupan. Ah, tak usah bicara tentang ini karena pinceng ingin mengajakmu bicara tentang bocah Chi Koan itu. Bagaimana menurut pendapatmu!"

Giok Kee Cinjin mengerutkan alis. Kalau hwesio ini penasaran akan seseorang dan lima tahun yang lalu masih kalah setingkat maka dapat dibayangkan hebatnya orang atau lawan itu. Dia tertarik tapi apa boleh buat diputus pertanyaannya, hwesio ini tak suka bicara itu. Dan ketika dia menarik napas dalam dan Peng Houw yang duduk di sebelah kiri gurunya diam mendengarkan, dia tak tahu apa maksud hwesio itu memanggilnya maka gurunya bertanya,

“Pinto tak tahu apa yang harus pinto lakukan. Pinto kalah jauh dibanding cucu muridmu itu. Lalu apa yang harus pinto lakukan dan apa yang dapat pinto lakukan? Chi Koan amat lihai dan hebat, Ji Leng lo-suhu. Setelah dia mendapatkan Bu-tek-cin-keng tentu dia bersembunyi dan kelak muncul kalau sudah luar biasa. Pinto justeru ingin bertanya apa yang kau inginkan dan ke mana sebenarnya kau hendak menuju!"

“Hm, kau dapat membantuku sedikit?”

"Apa yang kau kehendaki?"

"Pinceng kecewa dengan kejadian ini, Cinjin. Pinceng ingin seseorang menjaga guha ini di saat pinceng melanjutkan tapa....”

"Maksudmu?" tosu itu memotong.

"Pinceng butuh seorang anak muda menjaga guha. Kalau boleh, hmm... tinggalkan muridmu dan berikanlah setahun dua melayani pinceng."

"Ah, bocah ini?" Giok Kee terbelalak. "Peng Houw, kau diminta sesepuh Go-bi menunggu guha. Maukah kau dan tidakkah keberatan?”

Peng Houw terkejut. Ternyata tiba-tiba Ji Leng Hwesio memintanya. Entah nasib baik apa tapi tentu saja dia girang bukan main. Selama ini, tak pernah hwesio itu minta ditunggu. Jadi kehormatan besar kalau dia diminta berjaga di situ, dekat dengan dedengkot Go-bi ini. Dan ketika dia terkejut tapi girang, berlutut namun teringat tosu itu maka Peng Houw berdebar mengembalikan pertanyaan kepada suhunya, karena selama ini gurunya itulah yang menguasai dan membimbing hidupnya.

“Semua terserah kau, suhu. Teecu selama ini ikut kau. Teecu tak dapat menjawab selain hanya menurut kehendak suhu.”

“Ha-ha, kau murid Go-bi, bekas murid Go-bi. Aku hanya membawamu karena saat itu kau diusir paman kakek gurumu Ji Beng Hwesio, Peng Houw. Betapapun kau masih berbau Go-bi, keluarga Go-bi!”

“Tapi sekarang suhu yang menghidupi dan membimbing teecu. Teecu tak dapat menjawab, suhu, semuanya terserah kau. Hanya kalau teecu di sini bagaimana dengan kau, makan minummu. Teecu tak dapat mencucikan pakaianmu lagi kalau berpisah.”

“Wah, ha-ha... kau kira pinto seperti anak kecil? Tidak dapat mencuci pakaian dan mengatur diri sendiri? Weh, jangan rendahkan aku seperti itu, Peng Houw. Pinto dapat mengurus diri sendiri, jangan dipikirkan. Sekarang jawab pertanyaan Ji Leng lo-suhu tadi dan maukah kau menjadi penjaga guha!"

“Teecu sudah menjawab, terserah suhu. Dan Ji Leng locianpwe pun sudah menujukan pertanyaannya kepadamu."

“Wah, itu bukan jawaban. Percuma aku menyuruhmu di sini kalau kau pribadi tidak senang, Peng Houw. Ayo jawab dan biar didengar sesepuh Go-bi ini!"

“Teecu senang-senang saja, tapi kalau harus berpisah dari suhu terus terang teecu juga berat. Teecu sudah berhutang budi besar kepada suhu."

"Ha-ha, melingkar-lingkar. Eh, tanya bocah itu, Ji Leng lo-suhu. Tapi pinto pribadi tidak keberatan!"

"Hm," Ji Leng Hwesio bersinar, acuh, tapi hatinya tertarik kepada jawaban-jawaban pemuda itu. "Gurumu sudah bicara, Peng Houw. Pinceng juga sekedar meminta. Kalau kau tidak suka pinceng juga tidak memaksa. Terserah kau dan pinceng tidak akan mengulang-ulang."

Peng How melihat gurunya mengedip. Sebenarnya dia girang berdekatan dengan tokoh Go-bi ini tapi betapapun Giok Kee Cinjin adalah orang yang paling dekat selama ini, jadi bagaimana dia bisa begitu saja berpisah. Tapi ketika gurunya mengedip dan dia harus menerima, Peng Houw mengangguk maka diapun berkata lirih, "Teecu senang, dan tak akan menolak. Tapi harap diberi kelonggaran apabila suatu ketika ingin melepas kangen kepada Giok Kee suhu.”

“Ha-ha, itu mudah. Aku dapat ke sini dan menemuimu, Peng Houw. Kalau kau mencari pinto tentu tak mudah. Pinto suka kelayapan!" lalu menoleh dan berseri memandang Ji Leng Hwesio tosu itu berseru, "Lo-suhu, hari ini juga pinto serahkan Peng Houw kepadamu. Dia kembali kepada keluarga besarnya. Dan pinto, hmm... pinto pikir cukup dan akan mencari kabar tentang bocah Chi Koan itu!”

"Ah, suhu mau pergi?”

"Eh, aku bicara dengan Ji Leng lo-suhu. Jangan mendahului!"

Peng Houw terkejut. Ia memotong sebelum sesepuh Go-bi itu bicara, menunduk. Tapi ketika hwesio itu tersenyum dan mengebutkan lengan bajunya maka dia berkata, “Cinjin, terima kasih. Tapi tak usah terlalu repot. Kau sudah menyerahkan muridmu dan pinceng tentu saja gembira. Urusan anak itu barangkali kelak bukan kau yang mengurusnya. Pergilah kalau ingin pergi.”

“Ha-ha, pinto memang penasaran. Baik, pinto memang harus pergi, lo-suhu. Pinto biasanya tak betah terlalu lama tinggal di satu tempat. Hanya karena permintaanmu maka pinto di sini sampai beberapa hari,” lalu membalik dan memandang muridnya tosu itu berkata, “Dan kau, jaga dirimu baik-baik, Peng Houw. Layani lo-suhu seperti yang sudah menjadi kewajibanmu. Pinto akan sering-sering dolan (main) kesini kalau pinto kangen!”

“Suhu.... suhu mau pergi sekarang juga? Tidak nanti atau besok saja?"

"Hah! Buat apa? Pinto tak ingin terkurung dan bebas di luar, Peng Houw. Kau tahu itu. Besok atau nanti sama saja. Pinto sudah menyerahkanmu dan kau bukan milik pinto lagi. Ha-ha, jagalah guha baik-baik karena upahmu tentu besar!" dan si tosu yang meloncat dan berkelebat keluar tiba-tiba tak menoleh lagi kepada Peng Houw dan lenyap meninggalkan anak muda itu.

“Suhu...!” Peng Houw meloncat dan menyusul keluar guha. Dia melihat gurunya turun ke bawah bukit dan menoleh sambil tersenyum, melambaikan tangan. Tapi ketika dia hendak mengejar dan tangan itu digoyang, si tosu melarang maka kakek itu tertawa dan terus meloncat melewati gerbang pintu Go-bi.

"Peng Houw, kau harus belajar sendiri. Kelak setiap manusia harus sendiri. Ha-ha, kerjakan baik-baik tugasmu, anak baik. Sampai ketemu lagi kalau pinto ke sini!”

Peng Houw tertegun dan mengalirkan air mata. Gurunya, yang hampir tujuh tahun ini menggembleng dan bersamanya tiba-tiba saja begitu mudah meninggalkan dirinya. Semalam mereka masih berdua dan perpisahan ini tak disangka-sangka. Kejadian begitu cepat, alangkah mendadaknya. Dan ketika Peng Houw menggigit bibir dan bercucuran tanpa suara maka batuk-batuk di dalam mengingatkannya bahwa dia sekarang mempunyai “majikan" baru.

Peng Houw tersuruk dan masuk lagi ke guha. Ia berlutut di depan hwesio itu menunggu perintah. Tapi ketika hwesio itu berkata bahwa tugasnya adalah menjaga guha, tidak lebih maka Peng Houw berdiri karena selanjutnya hwesio itu duduk diam di atas batu hitamnya, tak mau diganggu dan kembali tapanya diteruskan, setelah terganggu oleh peristiwa Chi Koan. Dan ketika seminggu dua minggu hwesio itu tak pernah bergerak dan memejamkan mata, Peng Houw kagum maka pemuda yang hanya menjadi penjaga ini mulai bergerak mencari pekerjaan sendiri.

Dia menyapu dan membersihkan guha dari sarang laba-laba, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dan tiba-tiba saja guha itu lebih bersih daripada semula. Lantai yang semula tanah ditutupi susunan batu-batu persegi, diatur. Dinding guha yang kasar dilapisi kain-kain bersih untuk penyedap mata. Dan karena kerjanya memang menunggu guha dan sewaktu-waktu perintah hwesio sakti itu, kalau membuka mata maka Peng Houw yang bekerja dan melakukan apa saja untuk membuang sepi lalu mulai mencorat-coret dinding guha dengan syair-syair Dhammapada.

Waktu senggangnya ini diisi dengan tulisan ayat-ayat suci yang dulu pernah dihapalnya. Enam tahun mengikuti gurunya Giok Kee Cinjin juga tak membuatnya lupa akan ayat-ayat itu. Dulu ketika berkumpul dengan mendiang gurunya Lu Kong Hwesio pemuda ini setiap hari disuruh membaca ayat-ayat suci. Maka ketika kini dia menjadi penjaga guha dan kerjanya hanya menunggu dan menanti perintah, herannya hwesio itu tak pernah membuka mata dan terus bersamadhi maka Peng Houw yang semula mengira akan disuruh ini-itu ternyata menganggur dan benar-benar hanya sebagai penjaga.

Hal ini membuat pemuda itu berkerut kening dan mulai bosan. Untuk membunuh kebosanan maka mulailah dia mencorat-coret dinding-dinding guha dengan isi dari kitab suci itu. Dan ketika dia mulai dari luar untuk akhirnya terus masuk ke dalam maka setahun pemuda ini mencoret-coret dinding hingga guha penuh dengan ayat-ayat kitab suci Dhammapada. Dan selama itu hwesio sakti ini hanya dua kali membuka mata, bicara singkat,

“Aku ingin segelas air putih!" lalu tertegun melihat coret-coretan di dinding guha, juga lantai guha yang bersih dan beralas batu-batu persegi kakek itu terbelalak sebentar untuk kemudian memejamkan mata dan bertapa lagi. Air yang diminta habis sekali teguk.

Peng Houw tertegun. Dia juga tercengang oleh kehebatan tapa kakek ini. Enam bulan tak bergerak dan kemudian diisi segelas air putih, itu saja. Dan ketika dia menunggu tapi kakek itu tak pernah bangun lagi, enam bulan berikut bergerak dan memanggilnya maka dia disuruh memindah batu hitam tempat kakek itu duduk.

"Apa? Sedangkan locianpwe...?”

"Angkat dan pindahkan batu ini, Peng Houw. Duduklah di sana dan pakai!”

Peng Houw terkejut. Dia mau bicara lagi tapi kakek itu sudah memejamkan mata. Melihat gelagatnya sudah tak mau bicara lagi dan dia bingung. Bagaimana mengangkat batu itu kalau sang hwesio masih di atas, masih duduk. Tapi karena itu adalah perintah dan baru kali ini mendapat yang agak berat, juga aneh maka Peng Houw membungkuk dan mengangkat batu itu berikut hwesio ini. Tentu saja dia amat hati-hati dan tak berani sembarangan. Tapi ketika sang hwesio naik melayang, masih dalam posisi bersila maka Peng Houw tertegun dan batu itu lepas dan jatuh ke bawah.

"Bluk!”

Peng Houw terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan. Ji Leng, sang hwesio sakti masih bersila dalam posisi melayang. Bagian bawah kakek itu tak menempel batu dan tentu saja tubuhnya mengambang, persis roh! Dan ketika Peng Houw terhuyung dan jatuh terduduk, kakek itu membuka mata namun dipejamkan kembali maka terdengar suara dari perut bahwa batu itu harus dipindah dan dipakai sendiri. Peng Houw disuruh duduk di situ, menggantikan sang hwesio.

Pemuda ini pucat tak berkedip. Setahun tak diajak bicara tiba-tiba kini diajak bicara dengan cara yang amat mengejutkan. Dia diperintahkan memindahkan batu dan batu itu disuruh memakainya. Hwesio itu tak lagi duduk karena bersila mengambang di udara. Tapi karena perintah adalah perintah dan Peng Houw bangkit gemetar maka batu hitam diangkatnya dan begitu disentuh maka hawa dinginpun menyerangnya. Jari dan telapak tangannya menjadi beku.

Namun Peng Houw melawan ini dengan sinkangnya. Ia mengangkat dan membawa batu itu menuju ke tempat yang dimaksud. Tempat itu adalah tempat di pintu guha agak ke dalam sedikit. Dan ketika ia diperintahkan duduk dan berjaga di situ, tak boleh bergerak maka tahulah Peng Houw bahwa sesungguhnya ia juga diminta “bertapa"!

Peng Houw tersentak. Ia tak tahu apa maksud hwesio ini namun karena ia sudah disuruh duduk maka iapun duduk. Dan begitu duduk iapun merasa seperti disengat es dingin, langsung cess dan ada hawa dingin terserap bokongnya. Pantat atau bokongnya beku! Tapi karena ia memiliki sinkang dan dengan sinkang itu ia melawan, hawa dingin menjadi hangat maka Peng Houw sudah mendapat pekerjaan dan “pekerjaan" itu adalah duduk!

Peng Houw tertegun. Sekarang ia berjaga dengan duduk di batu hitam itu. Selama berbulan-bulan ini, membuang sepi dan bosannya ia selalu mengerjakan ini-itu di dalam guha. Ada-ada saja yang diperbuat. Kalau tidak membersihkan guha ya mengukir syair di dinding-dinding, itu caranya membuang sepi. Tapi begitu disuruh duduk dan ia duduk, batu hitam bekas Ji Leng Hwesio ini mengeluarkan hawa dingin dan ia melawan maka tiba-tiba timbul hawa hangat tapi berbareng itu Peng Houw tak mampu melepaskan pantatnya dari batu hitam itu.

Ada semacam tenaga sedot dan kalau ia berdiri maka batu itupun terangkat naik, akibatnya lucu karena bokong Peng Houw menjadi besar. Dan ketika Peng Houw terkejut dan duduk kembali, terbelalak maka ia sadar bahwa ia memang disuruh duduk, bersamadhi!

Peng Houw adalah pemuda cerdas dan iapun lalu mengikuti perasaan hati nuraninya ini, duduk memejamkan mata dan mulailah ia bersamadhi seperti hwesio tua itu. Dan karena pekerjaan ini bukan pekerjaan sukar, sesungguhnya ia juga sering bersamadhi dan duduk di luar guha maka pernapasan yang diatur dan keluar masuk lewat hidungnya sebentar saja sudah berirama secara teratur dengan lembut namun kuat.

Namun ada perbedaan di sini. Peng Houw merasa betapa batu hitam yang diduduki terus-menerus mengeluarkan hawa dinginnya itu. Ia juga terus-menerus bertahan dengan sinkangnya dan dingin serta panas berganti-ganti. Peng Houw tak tahu bahwa batu hitam yang diduduki itu sesungguhnya telah menyimpan tenaga Ji Leng Hwesio dengan amat hebatnya. Dua belas bulan duduk terus-menerus telah membuat tenaga sakti hwesio ini meresap ke bawah, masuk dihisap batu itu.

Maka ketika Peng Houw duduk di atasnya dan tenaga itu kini bekerja, Peng Houw tak tahu maka sinkangnya sendiri yang dialirkan untuk melawan hawa dingin menjadi ambyar dengan sinkang milik si hwesio sakti yang terkumpul di batu hitam. Dua tenaga bergerak dan menyatu secara perlahan-lahan. Peng Houw menjadi hangat dan dingin berganti-ganti. Dia tak tahu bahwa berkat kekuatan Ji Leng Hwesio inilah bokongnya tersedot di batu hitam, dilawan dan akhirnya sedikit demi sedikit tenaga itu memasuki tubuhnya.

Dan ketika Peng Houw merasa nikmat namun terus memusatkan perhatiannya, bersamadhi dan menemani hwesio itu maka seminggu kemudian dari lubang hidung Peng Houw keluar asap putih seperti dua naga bermain. Sin-liong-kang (Tenaga Naga Sakti) telah mulai bergerak dan timbul di tubuh pemuda ini. Peng Houw masih tak sadar dan terus duduk diam. Dia juga tak merasa lapar atau haus. Aneh, Peng Houw terbawa nikmatnya dan dua asap itu kian tebal dan kuat saja. Dan ketika seminggu kembali lewat dan Peng Houw memasuki dunia asing, ringan dan melayang-layang maka seekor ular memasuki guha dan tertegun melihat pemuda di atas batu hitam itu.

Ular ini mendesis dan mengeluar-masukkan lidahnya yang merah bercabang. Ada perasaan gentar melihat dua "ular putih" keluar masuk di lubang hidung Peng Houw. Dan karena ular itu seakan mengejeknya karena masuk dan keluar dengan cepat di lubang hidung Peng Houw maka tiba-tiba ia maju dengan cepat mematuk dua ular putih itu, yang sesungguhnya adalah Tenaga Naga Sakti.

“Tuk!” Ular ini beku dan tiba-tiba roboh. Ia menggigit ujung hidung Peng Houw namun seketika itu juga menggeliat, tubuhnya menjadi putih salju dan kaku seperti es. Dan ketika ia roboh dan tepat di pangkuan Peng Houw maka Peng Houw terkejut dan membuka matanya. Dan saat itulah samadhinya buyar.

“Ahh..!" Peng Houw terkejut dan membelalakkan mata. Ia meraba ujung hidungnya yang sakit tapi tidak berdarah, tersentak karena dua asap putih masuk keluar melalui lubang hidungnya. Dan ketika ia berseru namun asap putih juga keluar dari mulutnya, bergulung dan masuk seperti ular maka meloncatlah dia dan ular serta batu hitam itu tak melekat lagi di bokongnya!

Peng Houw membelalakkan mata lebar-lebar. Ia tentu saja ngeri melihat ini, berteriak dan lari menghambur ke dalam. Dan karena ular sudah dibuang dan ia kaget oleh "ular" di lubang hidungnya sendiri maka Ji Leng Hwesio yang bertapa dan masih mengambang di udara membuka matanya, terkejut.

"Locianpwe, tolong...!”

Pemuda itu jatuh bangun. Peng Houw baru sadar dari samadhinya dan tidak aneh kalau dia terkejut setengah mati. Ia menampar ular itu namun hilang sekejap, muncul dan datang lagi kalau ia menghembuskan napas. Dan karena "ular" itu juga masuk lewat hidungnya, Peng Houw belum pernah mengalami kejadian ini maka ia menjadi kaget sekaligus ngeri oleh peristiwa itu, berteriak memanggil sang hwesio dan ular itu keluar lagi, kini dari mulutnya. Dan karena tenaga Sin-liong-kang memang dapat keluar dari mulut atau hidung, tergantung pemiliknya maka Peng Houw yang tak sadar akan batu hitam yang terlepas itu jatuh terpelanting di bawah sang hwesio, terantuk.

"Locianpwe, tolong....!”

Ji Leng bergerak dan tiba-tiba turun ke bumi. Ia berseri melihat keadaan pemuda itu dan bukannya rasa kaget yang diperlihatkan melainkan sebuah tawa lembut. Peng Houw tersandung dan roboh di depan kaki hwesio ini. Dan ketika Peng Houw pucat melihat dua naga keluar masuk lewat hidungnya, juga mulutnya yang terengah-engah maka pemuda ini mendapat tepukan girang. "Omitohud, berhasil, Peng Houw. Kau telah memiliki tenaga Sin-liong-kang!"

"Ah... hoh... ahh!" Peng Houw tersengal dan memburu napasnya, bingung, baru saja sadar dari samadhi. "Apa maksudmu, locianpwe... ap... apa itu tenaga Sin-liong-kang?”

“Hm, tak usah cemas. Uap yang keluar masuk melalui hidungmu itu adalah tanda berhasilnya tenaga sakti mujijat. Kau telah memperoleh Sin-liong-kang. Lihat batu hitam yang tidak menempel di pantatmu itu lagi!”

Peng Houw terkejut. Tiba-tiba ia teringat bahwa dulu batu hitam bekas dudukan hwesio ini lekat di bokongnya, tak dapat dipisah. Kini batu itu tiba-tiba lepas dan ia berlari kencang, tak sadar bahwa tak ada beban lagi di bawah tubuhnya itu. Dan ketika ia terbelalak tapi masih bingung, uap tebal yang keluar masuk di hidungnya juga mengikuti dengan cepat, sesuai dengus atau napasnya yang memburu maka hwesio itu tertawa menerangkan, kegembiraan jelas terpancar di sini.

"Omitohud, kau mendapat berkah, Peng Houw. Ketahuilah bahwa tenaga sakti pinceng telah pindah di batu hitam itu dan kau sedot. Dan karena aliran sinkangmu adalah aliran bersih dan sedikit demi sedikit kau menarik tenaga itu maka sinkangku membaur dan kini menjadi satu di tubuhmu. Itulah Sin-liong Sin-kang yang amat dahsyat. Dan kau belum mampu mengendalikannya hingga lubang hidung dan mulutmu mengeluarkan tenaga itu yang keluar secara alami, tanpa sadar."

“Ah, teecu.... teecu menyedot sinkang locianpwe..?"

"Benar, Peng Houw. Dan karena jasad ini sudah tidak pinceng pergunakan lagi maka pinceng memberikan tenaga itu lewat batu hitam. Itulah sebabnya kenapa pinceng menyuruhmu duduk. Kau berhasil dan kini tinggal mengendalikan tenaga itu saja. Omitohud, mulai hari ini kau harus berlatih mendorong dan memukul!"

Peng Houw tidak mendengarkan lagi kata-kata terakhir itu. Ia mengeluh dan menjadi girang luar biasa bahwa ia diberi anugerah demikian besar. Sinkang yang amat dahsyat diberikan kepadanya dan tentu saja ia bersyukur. Maka ketika ia berlutut dan menyembah berulang- ulang, tangis dan kebahagiaannya menjadi satu maka ia tak dapat berkata apa-apa kecuali membentur-benturkan dahinya di tanah. Ia tak takut lagi kepada dua asap putih yang keluar masuk di lubang hidungnya itu.

"Bangkitlah," sang hwesio memberi tanda. "Mulai sekarang kau harus melatih pukulan dan dorongan, Peng Houw. Sinkangmu sudah lebih dari cukup untuk menerima Hok-te Sin-kun!"

"Hok-te Sin-kun?”

"Ya, Hok-te Sin-kun, Peng Houw. Karena hanya dengan pukulan ini kau dapat mencari Chi Koan. Dia juga melatih Hok-te Sin-kun tapi tenaga yang dimiliki bukan Sin-liong-kang. Sedangkan kau, hmm... Sin-liong-kang membuat Hok-te-kang seusap dibawahnya. Kau dan dia sama-sama memiliki Hok-te Sin-kun tapi dasar tenaganya lain dan inilah yang hendak pinceng ajarkan!”

Peng Houw serasa mendapat berkah segunung. Ia tak menyangka bahwa ilmu dahsyat itu bakal diperolehnya. Tapi teringat bahwa Hok-te sin-kun tak boleh dimiliki oleh lebih dua orang maka dia terkejut mengerutkan kening, wajah kegembiraannya lenyap terganti buram. "Locianpwe, nanti dulu. Kau pernah bilang bahwa Hok-te Sin-kun tak boleh dimiliki oleh lebih dua orang. Bagaimana tiba-tiba kau sekarang hendak mengajarkannya kepadaku? Bukankah melanggar larangan?”

“Omitohud, itu betul, Peng Houw. Tapi ketahuilah bahwa pinceng telah menebus dosa larangan ini. Pinceng telah tidak berjasad lagi dan sesungguhnya tinggal badan halus."

Peng Houw kaget bukan main. Dia terbelalak dan mencelat mundur dan hwesio itu diperhatikannya baik-baik. Dia melihat hwesio ini berdiri seperti biasa kecuali kakinya itu bergerak-gerak melayang di atas permukaan tanah. Hal begini dulu juga dilihatnya tapi itu adalah berkat kesaktian si hwesio. Kini mendengar hwesio itu tinggal berbadan halus dan ia tak percaya, terbelalak dengan muka pucat maka hwesio itu menarik napas dalam sebelum menjawab.

"Pinceng telah bertapa melewati batas. Pinceng telah mengosongkan jasad pinceng dari isinya. Mana mungkin harus berbadan kasar lagi? Majulah, dan mendekatlah. Pegang dan raba tubuh pinceng, Peng Houw. Pinceng sesungguhnya telah meninggal dunia!"

Peng Houw meremang dan berdiri seluruh bulu tengkuknya. Ia diminta membuktikan tapi kata-kata itu sendiri saja sudah cukup membuat bulu di sekujur tubuh terasa berdiri. Ia dinyatakan berhadapan dengan badan halus sesepuh Go-bi! Tapi ketika ia tak yakin dan ingin membuktikan, Peng Houw melangkah maju maka dengan gemetar ia menyentuh jari- jari hwesio itu yang disodorkan kepadanya.

"Sentuhlah, peganglah...!"

Peng Houw memegang telapak hwesio ini. Ia merasa kaget bukan main karena telapak yang dipegang ternyata tembus, ia memegang dan menyambar lagi namun jari-jari atau telapak itu tak terpegang. Ia benar-benar menangkap jasad halus! Dan ketika Peng Houw berseru tertahan dan mundur dengan muka pucat, jatuh terduduk maka hwesio itu maju memegangnya dan mengangkatnya bangun. Jari-jari hwesio itu begitu dingin!

“Nah, sudah kau buktikan," hwesio itu berkata, “pinceng sesungguhnya telah meninggalkan jasad pinceng, Peng Houw. Hanya karena urusan Bu-tek-cin-keng maka pinceng ijin untuk bersamamu sejenak sampai ini selesai. Satu permintaan pinceng, jangan beritahukan ini kepada siapapun demi ketenangan Go-bi.”

"Ijin?" Peng Houwte terbelalak. "Kau minta ijin kepada siapa, locianpwe?”

Hwesio ini tersenyum. “Urusan dunia halus tak perlu diketahui dunia kasar. Kau sekarang bersiaplah untuk menerima petunjuk-petunjuk pinceng. Pinceng telah melihat bahwa kaulah yang tepat untuk mewarisi sepenuhnya Bu-tek-cin-keng. Rebut kitab itu dan kelak pelajari isinya yang lain.”

Peng Houw menggigil seperti orang kedinginan. Baru kali ini dia mengalami peristiwa begitu luar biasa, menjadi murid dari orang yang telah meninggal dunia. Seram! Tapi karena dia tahu siapa hwesio itu dan sesepuh Go-bi ini bukanlah orang jahat, dia tak takut dan akhirnya menjadi tenang maka hari itu juga Peng Houw diajar untuk mengendalikan "sepasang naga" yang keluar masuk lewat hidungnya itu.

Ternyata bahwa pemuda ini benar-benar telah memiliki atau menyimpan tenaga dahsyat. Dia disuruh memukul dan mendorong dan dinding guha bergetar-getar oleh angin pukulannya ini. Dan ketika bersama dengan itu asap atau uap putih di lubang hidungnya dapat diatur, sedikit demi sedikit mulai lenyap sesuai perintahnya maka "sepasang naga" itu tidak seenaknya saja keluar tanpa perintah Peng Houw.

Dulu uap putih ini keluar secara otomatis. Ketika Peng Houw bernapas atau membuka mulut maka tenaga sakti itu keluar. Tapi setelah Ji Leng Hwesio memberi petunjuk-petunjuk dan tenaga itu dapat disimpan, hanya keluar kalau diperintah maka Sin-liong-kang atau sinkang Naga Sakti ini terpendam dahsyat di tubuh pemuda ini.

“Kalau dia keluar secara alami maka itu adalah pemborosan. Maka kendalikan dan atur kekuatan itu. Simpan di tubuhmu dan latihlah mendorong dan memukul untuk mengendalikan mereka. Kalau kau sudah dapat membentak dan meniup batu hitam itu keluar guha maka tingkat ilmumu sudah dapat diandalkan, boleh kau pergi mencari Chi Koan."

“Teecu... teecu meniup batu hitam itu?”

"Ya, kalau kau dapat melemparnya dengan tiupan mulutmu maka kau lulus menguasai Hok-te sin-kun, Peng Houw. Kalau tidak maka jangan keluar dulu."

Peng Houw tertegun. Dia akan dinyatakan lulus kalau dengan suara bentakannya saja sudah dapat mengangkat dan melempar batu hitam itu. Padahal batu hitam itu beratnya tak kurang dari seribu kati. Mustahil! Tapi karena ia menaruh harapan dan tak mungkin sesepuh Go-bi ini mengada-ada maka Peng Houw mengangguk dan justeru merasa ditantang!

Ia merasa sanggup kalau terus berlatih. Bukti bahwa angin pukulannya yang menggetar-getarkan guha dapat dijadikan pegangan. Kalau ia mengikuti petunjuk-petunjuk hwesio itu masa ia tidak mampu? Maka merasa ditantang dan ingin menunjukkan itu Peng Houw pun mulai berlatih. Ia tidak diberi banyak ilmu kecuali Hok-te Sin-kun itu. Ilmu-ilmu silat Go-bi yang lain seperti Cui-pek-po-kian atau Thai-san-ap-ting tak dipelajari. Entahlah, mengapa hwesio itu langsung pada pokok ilmu silatnya, Hok-te Sin-kun yang dahsyat.

Dan ketika Peng Houw berlatih dan gerak atau pukulannya mulai menderu dan menyambar-nyambar maka guha bukan lagi tergetar melainkan seakan roboh! Peng Houw sampai khawatir sendiri tapi Ji Leng Hwesio berseru mengulang-ulang, berseri dan wajah kakek itu tampak gembira bahwa kian lama angin pukulan pemuda itu kian kuat. Dan ketika enam bulan kemudian Peng Houw diminta berlatih di luar, guha sudah mulai bergoyang- goyang maka gunung di belakang guha menjadi sasaran, roboh puncaknya.

"Bagus, kau sekarang berlatih di sini, Peng Houw. Teruskan latihanmu, atur dan kendalikan Tenaga Naga Saktimu. Kalau akhirnya gunung ini dapat kau pukul roboh maka batu hitam di dalam guha harus dapat kau lempar dengan suara bentakanmu!"

Maka di belakang Go-bi ini sering terdengar bentakan-bentakan dan deru pukulan dahsyat. Angin pukulan Peng Houw sudah mulai menyambar-nyambar dan kalau pemuda ini bergerak maka apa saja bisa terangkat naik. Pohon dan bebatuan bisa terlempar kencang. Namun karena itu belum apa-apa, Peng Houw baru dinyatakan lulus kalau dapat meniup batu hitam dengan bentakan mulutnya maka daerah di belakang Go-bi ini menjadi daerah angker di mana anak-anak murid sering terbelalak dan ngeri dari kejauhan.

Mereka masih yakin bahwa dedengkot mereka masih ada di situ. Perihal Peng Houw telah mereka dengar, yakni pemuda itu diambil sesepuh mereka untuk menjaga guha. Dan karena sejak itu Go-bi tak pernah diganggu orang, suara-suara di belakang gunung ini adalah suara Peng Houw yang mereka kenal, tak terlihat karena cukup jauh dan hanya suara-suara itu yang mereka tahu.

Maka anak-anak murid menjadi terkejut karena kian hari suara atau bentakan Peng Houw kian dahsyat. Terakhir genteng di kuil belakang terbang dan pecah. Dan ketika di pagi yang tenang mereka mendengar bentakan dahsyat, gedung tergetar dan bumi berguncang maka anak-anak murid yang masih tidur terangkat naik dan terbanting menjerit-jerit. Mereka menyangka diserang siluman!

Apa yang terjadi? Kiranya keberhasilan Peng Houw. Pagi itu, tepat setahun setelah berlatih tak kenal lelah maka Peng Houw melatih bentakan-bentakan. Angin pukulannya sudah merobohkan gunung dan bukit atau gunung setinggi dua ratus kaki itu rata dengan tanah. Setiap hari Peng Houw menggempur gunung ini dengan angin pukulannya yang menderu-deru. Angin pukulan itulah yang dulu menerbangkan genteng di tempat para hwesio, padahal jaraknya ratusan meter. Dan ketika Peng Houw merasa cukup sementara gurunya selalu membimbing dan mengawasi maka pagi itu Peng Houw mencoba suara bentakannya.

Dia diminta meniup batu hitam di dalam guha. Tujuh hari ini Peng Houw sudah mencoba tapi batu hitam itu hanya terangkat sedikit, jatuh dan terangkat lagi namun belum terlempar. Maka ketika pagi itu dia menjadi penasaran sekaligus gembira, dia memperkuat tiupannya maka, hampir tak dapat dipercaya batu itu terbang dan menyambar keluar guha.

"Wuuttt....!” batu itu melesat secepat sambaran anak panah. Peng Houw mengerahkan tenaga saktinya di tan-tian (pusar) dan alangkah hebatnya hasil tenaga sakti itu. Tiupan mulut Peng Houw bukan hanya mengangkat dan mendorong batu itu melainkan melemparnya, terbang dan menabrak batu gunung besar di luar guha. Dan ketika keberhasilan ini disambut bentakan dahsyat Peng Houw, yang girang dan bangga bukan main maka bentakan atau suara Peng Houw itu menjalar ke tempat para anak murid Go-bi di mana mereka yang sedang tidur terpental dari tidurnya.

Ji-hwesio, yang selama ini mengamati dari jauh dan duduk bersamadhi tiba-tiba juga terangkat naik. Hwesio itu terkejut sekali dan dua sutenya yang lain juga begitu, terlempar namun mereka berjungkir balik turun dengan wajah pucat. Dan karena bentakan kali itu adalah yang paling dahsyat, hwesio ini berkelebat dan memandang belakang Go-bi maka dia meloncat dan terbang menuju tempat itu, kaget mungkin ada bahaya.

"Omitohud, gunung sudah roboh. Ah, ini tentu perbuatan Peng Houw, suheng. Lihat pukuian pemuda itu menggempur habis gunung di belakang guha!"

"Benar, dan tampaknya Peng Houw mewarisi kepandaian supek. Aih, mari kita lihat dan apa yang terjadi!"

Dua hwesio lain, adik-adik seperguruan Ji- hwesio berkelebat dan menyambar keluar pula. Mereka melihat bayangan suheng mereka itu dan kebetulan masing-masing juga ingin tahu apa yang terjadi. Bentakan Peng Houw terakhir itu amat dahsyat dan paling menggetarkan. Mereka sendiri sampai terguncang. Dan sementara tiga hwesio itu berkelebat menuju guha pertapaan maka Peng Houw sendiri sudah berlutut dan menghadap Ji Leng Hwesio, gurunya, orang yang tak mau dipanggil suhu (guru).

"Pinceng tak mau terikat oleh hubungan guru dan murid. Pinceng telah cukup memiliki dua murid pinceng pertama, guru dan paman gurumu itu, mendiang Lu Kong dan Beng Kong. Kau boleh panggil pinceng seperti biasa, Peng Houw, tak usah merobah sebutan.” begitulah dulu kakek ini pernah bicara. Karena itu Peng Houw tetap memanggilnya locianpwe dan karena iapun hanya mewarisi sebuah ilmu, sang kakek tak memberinya ilmu-ilmu lain maka Peng Houw tetap menyebut atau memanggilnya locianpwe. Aneh juga memang, tapi itulah yang dikehendaki kakek ini. Dan ketika pagi itu Peng Houw berhasil meniup batu hitam, terbang dan menabrak batu besar di luar guha maka Peng Houw melihat bayangan gurunya itu dan maju berlutut. Dan wajah kakek ini tampak berseri-seri.

“Kau telah lulus. Omitohud... kau telah berhasil!" kakek itu bertepuk tangan. "Hm, sekarang kau boleh melaksanakan tugasmu, Peng Houw. Cari dan rebut kembali Bu-tek-cin-keng itu. Tapi sebelum pinceng merestui dirimu maka ada beberapa hal yang harus kau perhatikan."

Peng Houw mengangguk-angguk, wajahnya berseri gembira, kemerah-merahan. Tapi ketika kakek itu hendak bicara dan bayangan Ji-hwesio tampak maka kakek itu mengerutkan alisnya dan berhenti bicara. Peng Houw menoleh dan melihat bayangan hwesio itu.

"Ada apa dia ke mari. Tanyakan."

Peng Houw bangkit berdiri. Ji-hwesio berkelebat dan sudah berada di luar pagar kawat berduri. Sejak pengrusakan yang dulu dilakukan Chi Koan maka tempat ini sudah dibetulkan lagi, termasuk kawat berduri itu. Dan ketika dua bayangan lain juga berkelebat dan itulah sute dari hwesio ini, Peng Houw menyambut maka pemuda itu menjura dan bertanya, "Susiok, kalian mau apakah? Ji Leng lo-suhu menanyakan maksud kalian.”

Ji-hwesio tertegun. Ia terbelalak memandang Peng Houw lalu keadaan sekeliling. Sudah ada peraturan di situ bahwa tak boleh sembarangan orang masuk. Peng Houw adalah penjaga pertapaan dan sepantasnya pemuda itu bertanya. Maka tertegun tak melihat apa-apa, kecuali batu besar yang pecah ditabrak batu hitam maka hwesio ini bertanya, tak menjawab pertanyaan Peng Houw,

"Supek ada? Ada apa ribut-ribut di sini? Kami datang karena khawatir sesuatu, Peng Houw. Misalnya serbuan orang jahat atau kekacauan lain. Bentakanmu tadi megejutkan kami!"

Peng Houw heran. Supek? Hwesio ini menanyakan Ji Leng Hwesio? Kakek itu ada di situ, berdirí memandang mereka, tersenyum! Maka lupa bahwa kakek itu berujud jasad halus, Peng Houw menuding maka pemuda ini berseru, "Ji-locianpwe ada di situ, masa susiok tidak melihat!"

Giliran Ji-hwesio yang menjadi heran. Peng Houw menunjuk ke satu tempat tapi dia tak melihat apa-apa. Dan ketika dia tertegun dan memandang dua sutenya yang lain maka dua sutenya itu juga menggeleng dan merasa heran. "Peng Houw, pinceng tak melihat apa-apa!”

"Ah, maaf," Peng Houw sadar. “Ji Leng lo-suhu mempergunakan kesaktiannya untuk tidak dilihat kalian, susiok. Maaf bahwa kalian tak tahu. Tapi biar kalian dengar suaranya kalau tidak percaya."

Ji Leng Hwesio mengangguk. Murid-murid keponakannya itu tak boleh tahu dulu bahwa dia telah "wafat". Peng Houw harus menjaga pula rahasia itu. Maka tersenyum dan mengangguk kakek itupun lalu berkata, tentu saja bersuara tanpa rupa, "Ji Kak, di sini tak ada apa-apa. Kalian kembalilah dan pulang. Pinceng akan bercakap-cakap dengan Peng Houw yang sebentar lagi akan pinceng utus untuk mencari Chi Koan.”

Hwesio itu kaget. Suara itu jelas terdengar dan arahnyapun adalah arah yang ditunjuk Peng Houw, jadi pemuda itu benar. Tapi karena suara itu tanpa rupa dan mereka meremang seolah menghadapi roh halus, Ji-hwesio berlutut maka hwesio itu bersama dua adiknya lalu mengangguk dan minta maaf. Mereka kemudian berdiri dan bangun lagi. Dan ketika sekali lagi mereka terbelalak memandang tempat itu, lalu Peng Houw maka mereka bergerak dan kembali turun pulang ke tempat masing-masing. Peng Houw yang dapat melihat supek mereka itu dianggap seperti hantu pula yang lebih tinggi dari mereka!

"Peng Houw, pinceng kembali. Syukur kalau tak ada apa-apa dan biarlah kami berlega hati.”

Peng Houw mengangguk. Ia tersenyum dan mengantar kepergian tiga orang itu dengan pandang matanya. Peng Houw masih bersikap hormat seperti itu. Dan ketika tiga orang itu pergi sementara Ji-hwesio dan lain-lain kagum maka Peng Houw kembali berlutut dan siap mendengarkan kata-kata sesepuh Go-bi ini. Dia sudah akan menerima tugas untuk mencari Chi Koan, merebut Bu-tek-cin-keng....!

Prahara Di Gurun Gobi Jilid 21

Cerita Silat Mandarin Serial Prahara Di Gurun Gobi Karya Batara

CHI KOAN terbenam dan naik turun lagi. Pemuda ini harus berjuang keras keluar dari tempat itu. Dinding jurang yang terus berguguran membuatnya repot. Berkali-kali ia terbenam dan keluar lagi. Ada tempat-tempat lembut yang begitu dipijak langsung amblong. Inilah tanah kosong yang tertimbun secara lunak. Debu atau pasır lembut yang mengisi tempat itu membuat tubuhnya berkali-kali melesak, susah.

Dan ketika ia jatuh bangun dan terus merayap naik, berhasil namun kelelahan yang sangat membuatnya pingsan maka dua hari kemudian datanglah kakek gurunya itu dan menolongnya dari reruntuhan bebatuan, mendengar keluhannya tadi. Chi Koan terbenam dan terkubur hidup-hidup.

"Begitulah," pemuda ini mengusap air mata, bagian pengkhianatan tentu saja tak diceritakan. “Teecu dan suhu terkubur hidup-hidup di tengah jurang itu, sukong. Dan karena suhu sudah terluka dan hancur kakinya maka ia tak dapat menyelamatkan diri sementara teecu berhasil keluar tapi roboh di tempat ini, kehabisan tenaga."

"Hm, hebat, kau termasuk hebat. Tapi di mana kira-kira mayat gurumu, Chi Koan. Pinceng harus mengambilnya.”

"Mengambilnya?" pemuda ini terbelalak. "Di bawah jurang, sukong, jauh di bawah sana. Mana mungkin mengambilnya!"

"Di situ?" hwesio ini menuding, jurang di bawah terasa dalam.

"Benar, sukong. Tapi tak mungkin ketemu. Suhu terkubur sedalam puluhan meter, tak mungkin diambil!”

"Hm, kau dapat membantuku. Pinceng akan mencoba!”

Chi Koan terkejut. Kakek gurunya itu tiba-tiba mengebutkan ujung jubah dan meluncur turun. Jurang yang dalam itu dimasukinya demikian mudah dan tahu-tahu sudah di sana, dalam sekali. Dan ketika hwesio itu mengebut dan menggerakkan tangannya berulang-ulang, Chi Koan terbelalak maka batu-batu besar dan debu terlempar ke kiri kanan. Hwesio itu mulai menggali!

"Sukong...!" Chi Koan pucat dan kaget. "Kau... kau hendak menggali tempat ini?"

"Hm, jenasah gurumu harus diambil, Chi Koan. Seorang tokoh Go-bi tak boleh begitu saja hilang dan musnah mayatnya. Harus diambil, dibawa dan disemayamkan di Go-bi!"

Pemuda ini terkejut. Dia menjadi ngeri dan kaget melihat perbuatan hwesio sakti ini. Dengan mudah dan ringan batu-batu besar dilempar ke atas. Tempat yang tertimbun puluhan meter itu hendak digali. Tak masuk akal! Tapi karena kesaktian hwesio ini memang luar biasa dan sebentar kemudian lubang sedalam empat meter sudah dibuat, hwesio itu terus bekerja dan melempar-lempar pasir dan bebatuan maka Chi Koan menjadi pucat kalau mayat gurunya ditemukan, apalagi kalau masih hidup. Dan karena bayangan ini membuat dia takut, gelisah.

Maka Chi Koan meloncat turun dan terjun memasuki tempat itu. Dia sudah pulih meskipun tak sekuat biasanya, dapat membantu kakek gurunya namun bukan menggali lubang melainkan memindah batu dan apa saja di situ ke kiri kanan, menumpuk dan akibatnya tentu saja benda-benda ini berguguran lagi ke tengah. Ji Leng menggali di tengah sementara cucu muridnya menimbun bahan-bahan galian di tepi lubang, tentu saja sang hwesio tertegun, berhenti. Dan ketika ia mengerutkan kening dan menoleh kepada pemuda itu, yang terus menumpuk dan menimbuni kiri kanan maka hwesio ini berseru,

“Chi Koan, apa yang kau lakukan? Lubang yang pinceng buat tertutup lagi!”

"Ah," Chi Koan pura-pura kaget, mengangkat mukanya. "Jadi bagaimana sukong. Teecu hanya ingin membantu."

"Kau harus melempar batu-batu ini ke atas, jangan di kiri kanan. Nanti kembali lagi ke tengah!"

"Ke atas?” pemuda ini menggeleng. "Tak mungkin, sukong, terlalu tinggi. Teecu tak kuat!”

“Hm, kalau begitu minggirlah, biar pinceng sendirian dulu!”

"Sukong hendak menggali tanah ribuan Kubik ini?”

"Aku harus menemukan mayat gurumu, Chi Koan, membawanya kembali ke Go-bi. Jasad seorang tokoh Go-bi harus dimakamkan di Go-bi!”

Chi Koan terbelalak. Ia ngeri tapi juga kagum mendengar tekad ini. Bukan main, reruntuhan jurang akan digali. Dan ketika dia mundur dan sang hwesio menyuruhnya mencari sekop, alat untuk melempar tanah maka ketika benda itu didapat Chi Koan melihat betapa dengan sekop ini sang hwesio melempar-lempar tanah ke atas jurang yang tingginya ada dua puluh meter di atas. Sekali, dua kali... tiga kali... tujuh... delapan... sepuluh.... dua puluh... tiga puluh dan akhirnya Chi Koan tak dapat menghitung lagi karena dengan gerakannya yang luar biasa hwesio itu bekerja sendirian membuka tempat itu untuk mencari mayat Beng Kong Hwesio.

Kakek ini dapat mengetahui keadaan Chi Koan dan empat jam itu lubang sedalam dua puluh meter tergali. Dan ketika Chi Koan terbelalak namun dia diperintahkan untuk meratakan bahan galian, yang menggunung dan membukit di atas jurang maka sehari itu hwesio ini sudah "menguras" setengah lebih dari ribuan kubik bahan-bahan ledakan dinamit. Chi Koan pucat. Untunglah, karena malam tíba dan sang hwesio harus beristirahat maka hwesio itu naik dan seperti tidak berbobot saja dia melayang ke atas dan menepuk-nepuk jubahnya yang penuh debu dan kotoran melekat.

"Besok selesai, biar pinceng beristirahat dulu.”

Chi Koan takjub tak berkedip. Dia hampir tak percaya bahwa kakek setua ini masih dapat bekerja sehebat itu. Seorang diri mampu memindahkan ribuan kubik tanah dari dalam jurang. Agaknya, gunung pun mampu dipindah hwesio ini. Betapa saktinya! Dan ketika malam itu hwesio ini beristirahat sementara Chi Koan menjadi cemas dan gelisah maka dalam percakapan menjelang tidur Chi Koan dibuat tersentak dan gentar.

"Pinceng menaruh harapan gurumu masih hidup. Karena itu besok pinceng akan melihatnya dan harap kau bantu pinceng menyingkirkan tanah-tanah di atas, jauh dari tepi jurang. Jangan terlalu dekat dengan pinceng, Chi Koan. Kalau mendengar apa-apa jangan melongok ke bawah."

"Sukong... sukong merasa suhu masih hidup?”

"Ya, tak ada tanda-tanda kematian. Getar dari Hok-te Sin-kun masih kurasa dan gurumu masih hidup. Pinceng yakin."

Pemuda ini terbelalak. Mendengar gurunya masih hidup bukan kegembiraan yang ada melainkan cemas, cemas dan gelisah. Bagaimana kalau itu benar dan gurunya masih hidup, tentu dia akan dibunuh! Dan ketika Chi Koan berubah dan sang kakek memandangnya heran, wajah pemuda itu pucat maka hwesio ini bertanya,

"Ada apa dengan kau. Kenapa pucat mendengar ini."

“Ti... tidak. Teecu.... teecu ngeri melihat kedahsyatan Hok-te Sin-kun, sukong. Tadi kau juga mempergunakannya dan alangkah hebatnya. Suhu juga mempergunakannya dan hanya dengan ini ia mampu merobohkan Siang Kek Cinjin!"

“Hm, tentu saja. Tapi jangan bicara tentang permusuhan, Chi Koan, pinceng tak suka."

"Maaf, teecu tak sengaja, sukong, Tapi.... tapi bolehkah teecu bertanya sesuatu?"

"Kau mau bertanya apa?"

"Tentang Hok-te Sin-kun itu. Suhu pernah bicara dan....”

Sang hwesio mengerutkan kening. Chi Koan menghentikan bicaranya dan menelan ludah, menangis. Lalu ketika dia menunduk dan menutupi mukanya maka dia tak jadi meneruskan pertanyaannya. “Eh, apa..., ada apa. Apa saja yang kau dengar dari suhumu?”

"Teecu... teecu... ah, tidak. Teecu tak berani bicara, sukong. Nanti salah paham. Teecu menarik pertanyaan teecu!" pemuda itu mengguguk dan menutupi mukanya dengan sedih. Chi Koan berguncang-guncang.

Ji Leng Hwesiopun tentu saja terkejut, berkerut kening. Namun ketika hwesio ini berdehem dan mengebutkan jubah maka dia menepuk pundak pemuda itu dan berseru penasaran, “Chi Koan, pinceng tak senang melihat laki-laki menangis. Kau ternyata cengeng. Ada apa dan apa yang hendak kau bicarakan?”

“Teecu... teecu... ah, tak jadi, sukong. Teecu tak ingin menyakiti hatimu. Lagi pula suhu sudah tiada, tak baik membuka omongan lama yang teecu tidak percaya. Aku tak berani meneruskan pertanyaanku, kucabut!"

"Hm!" sang hwesio tergelitik, penasarannya semakin besar, marah. "Kau kuanggap mengada-ada justeru kalau tidak jadi bicara, Chi Koan. Mengapa dengan suhumu dan apa yang pernah dia bilang?"

“Teecu tidak berani...”

“Takut apa? Omongan sudah kau keluarkan, Chi Koan. Tak usah ditelan!”

Chi Koan mengangkat mukanya. Sekarang ia mendengar bentakan dan begitu beradu pandang iapun terkejut. Mata hwesio itu mencorong, sinarnya menusuk dan tembus memasuki jantungnya. Ngeri dia. Dan ketika pemuda ini gemetar dan seperti bingung, sikap ini malah membangkitkan penasaran maka pemuda itu menoleh ke kiri kanan, sebelum menjawab. “Suhu... roh suhu... tak akan marah? Teecu takut, sukong, jangan-jangan kena kutuk!”

"Hm, suhumu tak akan marah. Kalau dia marah aku melindungimu!"

"Benarkah?"

"Kau kira pinceng bohong? Jawab, apa katanya tentang Hok-te Sin-kun, Chi Koan. Ada apa dengan ini?"

“Maaf...” pemuda itu memberanikan diri, menekan rasa takut-takut. “Suhu bilang, eh... Hok-te Sin-kun, eh... katanya dari curian, sukong. Tak boleh dimiliki lebih dari dua orang karena nanti kuwalat pada pemiliknya yang sah!"

"Apa?”

"Ampun... maaf!" Chi Koan melihat mata itu mengeluarkan api, terkejut bukan main. Dia seakan dibakar! “Teecu.... teecu bilang tak usah saja, sukong. Sekarang kau marah. Ampun... ini kata suhu!”

Hwesio itu mengebut hancur batu besar di belakang Chi Koan. Pemuda ini mendengar suara berdetak dan ketika dia menoleh maka dia tertegun. Batu besar di belakangnya tak apa-apa, utuh, padahal baru saja dihantam pukulan dahsyat. Tapi ketika angin bertiup dan batu bergoyang maka “pyur”.... batu itu menjadi bubuk dan roboh seperti semangkok tepung. Tepung hitam!

"Omitohud...!” sang hwesio bersuara menggetarkan udara malam. "Lancang mulutmu, Chi Koan, tapi busuk mulut suhumu itu. Ah, pinceng akan menuntut pertanggungjawabannya kelak!"

"Maaf... ampun...” Chi Koan berlutut dan menempelkan dahi ke tanah. "Kau akan berbuat apa, sukong? Kalau kau mengganggunya harap tidak di depan mataku, karena jelek-jelek aku tak dapat membiarkan itu. Teecu tidak percaya namun sikap sukong mendukung itu!"

"Omitohud, kau menyangka pinceng pencuri?” Chi Koan berteriak kaget. Tubuhnya tahu-tahu terangkat ke atas dan tiba-tiba tergantung di udara, meronta dan menendang-nendang namun tak bisa turun. Ia seakan digantung tali gaib, tangan iblis! Namun ketika hwesio itu meniupkan mulutnya dan ia roboh, terjengkang maka hwesio itu bertanya sikap apa yang dimaksud anak muda itu, sikap bagaimana yang dimaksud mendukung itu hingga iapun dikira mencuri.

"Ampun, teecu... ah, teecu tak usah bicara, sukong. Kau tahu sendiri. Teecu tak mau menambah hatimu bertambah sakit lagi!”

"Kau anak muda busuk. Lidahmu tajam dan menyengat, Chi Koan. Kau membuat kemarahan pinceng bangkit. Hayo, sikap apa yang mendukung itu hingga kaupun mencurigai pinceng. Jawab, atau nanti pinceng menghajarmu!"

Chi Koan mengusap mulutnya yang berdarah. Ia tadi terbanting dan terguling-guling dilepas hwesio itu entah dengan ilmu apa. Sang hwesio tampak mengangkat jari telunjuknya dan iapun terbawa naik, itu saja yang dimengerti. Namun ketika ia duduk dan gemetar mengusap mulut, sikapnya tiba-tiba berani maka ia berkata seolah membela gurunya.

"Sukong selalu menutup dan menyembunyikan diri. Kalau bukan karena kitab curian kenapa berbuat begitu? Maaf, omongan suhu kupikir benar, sukong. Kau tampaknya takut dan enggan bertemu orang. Bu-tek-cin-keng itu hasil curian. Kau... dess!”

Chi Koan mencelat dan terlempar menjerit. Anak muda ini menerima kibasan angin taufan dan sang kakekpun mendelik. Wajah yang biasa sabar dengan mata seakan terpejam itu sekarang mendelik. Ia dianggap mencuri oleh murid dan cucu muridnya. Dan ketika ia membentak dan anak muda itu terlempar, Chi Koan mengaduh maka ia bangkit berdiri dan matanya berkilat mencorong ketika berseru, suaranya ditahan-tahan, dinding dan pohon berderak-derak,

“Chi Koan, kalau gurumu benar bicara seperti itu maka ia akan pinceng hukum berat. Sedangkan kau, yang menuduh dan berani menyangka begini juga harus menerima hukuman. Omitohud, siapa takut menyembunyikan kitab? Pinceng tidak menyembunyikannya seperti katamu, bocah. Bu-tek-cin-keng pinceng ditaruh di bawah batu hitam tempat pinceng biasa duduk. Dan masalah pinceng tak pernah keluar, Hmm... itu karena pinceng akan mengadu ilmu dengan seseorang. Pinceng mempersiapkan diri. Pinceng bertaruh akan sesuatu dan kelak menentukan siapa kalah siapa menang!”

“Ah, sukong... sukong melatih ilmu untuk bertanding dengan seseorang? Sukong yang sudah sedemikian hebat masih perlu mempersiapkan diri menghadapi sebuah pibu (adu kepandaian silat)? Maaf, siapa orang itu, sukong. Kenapa demikian hebat kau bertapa seakan manusia itu dewa!"

Chi Koan sampai lupa kepada pokok permasalahannya tadi. Ia kaget dan bengong bahwa hwesio sakti yang sudah demikian hebat ini ternyata mengurung diri untuk beradu ilmu dengan seseorang. Kalau begitu dapat dibayangkan betapa hebatnya orang itu, karena hwesio ini sudah termasuk paling jago di dunia dan ilmunya Hok-te Sin-kun itu membuat gempar. Dedengkot Heng-san saja roboh, apalagi orang-orang macam Tujuh Siluman Langit seperti Coa-ong dan kawan-kawannya itu.

Maka ketika ia tertegun dan lupa kepada sakitnya, ia terlempar dan terbanting tapi bangun lagi, meringis, maka pertanyaannya disambut kerut dalam di wajah hwesio itu. Sang tokoh Go-bi tampak ragu menjawab, bimbang. Namun karena Chi Koan telah menuduhnya yang tidak-tidak dan ia marah kepada anak ini maka kakek itu mendesis.

"Chi Koan, besok setelah gurumu didapat maka kau dan dia harus mempertanggungjawabkan omongan ini. Kalian kurang ajar dengan menuduh pinceng. Malam ini tak usah bicara dan kaupun tak usah kemana-mana!”

Chi Koan roboh dan meringkuk. Tiba-tiba dia ditotok dan pemuda itu mengeluh. Sang kakek marah dan dia harus menghadapi akibatnya, inilah resiko. Dan ketika malam itu Ji Leng Hwesio duduk bersila sementara cucu muridnya tak mungkin lari, Chi Koan cemas dan gelisah maka semalam dia tak dapat tidur dan membayangkan apa yang bakal terjadi besok.

Tentu saja dia menjual omongan kosong kepada kakek gurunya itu. Beng Kong Hwesio tak pernah menuduh tentang curian dan semua itu hanya buah pikirannya sendiri, hasil kecurigaannya kepada sang kakek guru sekaligus ingin tahu tentang kitab amat hebat itu. Maka ketika Chi Koan berhasil memancing dan kini dia tahu di mana Bu-tek-cin-keng berada, di bawah batu hitam di mana biasanya kakek itu duduk bertapa maka inilah sebenarnya yang dicari dan Chi Koan girang tapi sekaligus juga kaget bahwa dia ditotok!

Sesungguhnya sudah ada semacam pikiran licik di hati pemuda ini. Dia akan kabur begitu hwesio itu lengah. Kalau perlu, malam itu juga minggat! Tapi begitu ditotok dan inilah yang membuat Chi Koan tak berkutik, dia penasaran tapi juga marah kepada kakek gurunya itu maka sekarang yang ada ialah akal bagaimana menghadapi besok.

Kalau benar gurunya masih hidup maka dua ancaman sekaligus menunggunya, yakni dari gurunya sendiri dan kakek gurünya itu. Tentu gurunya akan marah bukan main difitnah dan dijelek-jelekkan. Kakek gurunya tentu akan menanya gurunya itu dan dapat dibayangkan kemarahan gurunya ini. Betapa gurunya dianggap menyangka kakek gurunya menyimpan kitab curian. Masa seorang hwesio, tokoh Go-bi lagi, mencuri kitab. Chi Koan mengkirik membayangkan ini. Dan karena dia juga telah mencelakai gurunya, sengaja ingin membunuh dan kini gurunya itu teruruk reruntuhan tebing dan bebatuan besar maka hukuman yang akan diterima tentu dapat dibayangkan. Pasti satu: Mati!

Namun Chi Koan ragu. Ji Leng Hwesio berkata bahwa gurunya masih hidup. Dia setengah percaya setengah tidak karena mana mungkin gurunya itu hidup. Ditimbun dan diuruk ribuan kubik tanah dan batu sukar dipercaya bahwa gurunya masih hidup. Tapi yang bicara begitu adalah Ji Leng Hwesio, dedengkot Go-bi. Masa ia tidak percaya? Maka ketika malam itu dia dibiarkan kedinginan dan tak dapat tidur, tubuhnya tertotok dan lumpuh tak berdaya maka Chi Koan memutar otak bagaimana melepaskan diri dari semua ancaman ini.

Lepas dari hwesio sakti itu agaknya tak mungkin, kecuali hwesio itu lengah dan melepaskannya. Tapi, siapa tahu? Chi Koan teringat bahwa tadi kakek gurunya itu berkata bahwa besok dia diminta bantuannya untuk menjauhkan tanah-tanah galian di atas bibir jurang sana. Kalau tanah itu terus menumpuk dan meninggi seperti gunung tentu sukar bagi hwesio itu melontarkan tanah galian lewat sekop di tangannya yang dahsyat. Sehebat-hebatnya hwesio itu tentu ada rasa capai juga, betapa pun kakek ini adalah manusia biasa.

Maka ketika Chi Koan agak tenang karena besok tentu dibebaskan, malam itu dia ditotok agar tidak lari saja maka dengan adanya harapan ini pemuda itu mencoba tidur tenang. Dan benar saja, baru dua jam layap-layap tiba-tiba dia dibangunkan. Ayam hutan berkokok dan Chi Koan merasa punggungnya dingin. Jalan darahnya dibebaskan dan angin tamparan jubah mengebut mukanya. Dia geragapan, meloncat bangun. Dan ketika dia terhuyung berdiri tegak maka matahari kemerah-merahan di ufuk timur di balik puncak gunung.

"Cukup, kau boleh bangun dan bantu pinceng!"

Chi Koan menguap dan masih mengantuk. Dia baru saja menikmati tidurnya yang sejenak ketika tiba-tiba kakek gurunya ini membangunkan. Dia benar, kakek gurunya membebaskan. Dan ketika pagi itu hwesio ini meluncur ke bawah jurang dan kembali bekerja, sekop di tangan menusuk dan mengungkit berkali-kali maka gumpalan tanah atau bebatuan melontar dengan kuat ke atas bibir jurang. Galian semakin dalam dan tempat itu tentu saja semakin tinggi. Chi Koan bergerak dan ragu. Tapi ketika sekopnya belum bekerja dan dia melamun maka terdengar bentakan agar dia cepat bekerja.

"Pinceng tak ada waktu banyak. Gunakan sekopmu dan singkirkan batu-batu itu ke tempat lebih jauh!”

Chi Koan terkejut. Sebenarnya, dalam keadaan seperti itu adalah kesempatan bagus untuk melarikan diri. Tapi mungkinkah itu? Hwesio ini amat sakti, telinganya luar biasa tajam. Bukti bahwa dia belum bekerja dan diam di tempat diketahui hwesio itu. Maka ketika Chi Koan bergerak dan hati-hati menggerakkan sekop, perlahan dan agak ayal-ayalan bekerja dua kali dia berhenti tapi dua kali pula mendapat teguran.

"Jangan berhenti, pinceng juga masih terus bekerja!"

Chi Koan kagum. Jarak di antara dirinya dengan kakek itu cukup dalam, tapi tetap juga hwesio ini tahu. Dan ketika untuk ketiga kalinya dia berhenti dan sengaja menguji tiba-tiba segumpal tanah dan batu menyambar dari bawah menghantam mukanya.“Crot!” Pemuda ini terbanting. Dia sudah berkepandaian tinggi namun tetap juga tak mampu mengelak. Dari bawah terdengar gumam kakek itu dan sang hwesio berkata bahwa kalau dia berhenti maka segumpal tanah akan menyambar mukanya lagi, sebagai hukuman.

Dan ketika Chi Koan terkejut dan pucat, jerih, maka apa boleh buat dia menggerakkan sekopnya sungguh-sungguh dan menyingkirkan tanah dan batu sesuai perintah, bekerja dan srak-srok srak-srok menusuk dan melempar tanah-tanah galian ke pinggir. Tapi karena dia mendongkol dan marah kepada hwesio itu, dan juga semakin takut kalau benar-benar suhunya masih hidup maka Chi Koan tidak melempar tanah-tanah ini ke tempat jauh melainkan justeru di bibir jurang! Ia menumpuk dan menimbuni tempat itu dengan cepat, membuang dan menyekopi tanah-tanah galian kakek gurunya tanpa menoleh.

Sepintas seolah tanpa sengaja. Dan ketika ia terus bekerja dan bekerja sementara Ji Leng Hwesio juga tidak mendongak ke atas karena suara sekop di tangan Chi Koan juga terus terdengar, jadi dia tidak curiga maka tahu-tahu bibir jurang sudah penuh dengan galian yang dilempar hwesio ini. Hwesio itupun juga tidak memperhatikan karena tak mungkin si pemuda berani main gila. Kalau Chi Koan berhenti umpamanya, atau kabur, tentu dia tahu dan akan memberi pelajaran.

Sama sekali hwesio ini tak menyangka bahwa pikiran keji berjalan di benak pemuda itu, apalagi setelah kian lama kian dalam dan dasar jurang mulai tampak. Bebatuan keras dan lantai dingin mulai teraba. Ujung sekop hwesio itu menusuk tempat liat, keras. Dan ketika ia mulai girang dan tiba-tiba tertegun melihat adanya semacam guha di dinding jurang, di lantai dasar maka saat itulah tumpukan di bibir jurang setinggi gunung dan roboh!

Chi Koan telah melaksanakan rencana kejinya dengan perhitungan cermat. Dia membuat tanah yang digali hwesio itu membukit di tepi jurang, bergerak dan turun dan akhirnya dengan satu dorongan kuat tanah dan bebatuan itu gugur. Suaranya mengejutkan sang hwesio dan Ji Leng terbelalak, mendongak tapi pasir dan debu berjatuhan. Dan ketika dia kaget dan kelilipan, masih tak tahu apa yang terjadi maka Chi Koan sudah mendorong semua material di atas jurang berjatuhan ke bawah.

“Buummm...!”

Batu dan apa saja berdentum dan jatuh menerbitkan suara keras. Galian yang sudah digali hwesio itu kembali ke bawah dan Ji Leng Hwesio tentu saja kaget bukan main. Dia berteriak namun disambut gugurnya tanah sebukit itu, ambruk dan tentu saja hwesio ini marah. Baru sekarang ia sadar bahwa Chi Koan hendak membunuhnya, mengubur hidup-hidup. Dan ketika ia mendorong dan mengebutkan lengan bajunya berulang-ulang, teruruk tapi meloncat dan teruruk lagi akhirnya hwesio ini terpendam dan gugurnya bebatuan di atas jurang yang tak disangkanya itu betul-betul membuat hwesio ini kaget.

Dia terus menghantam dan melepas pukulan-pukulan dahsyat tapi dinding jurang malah tak kuat, runtuh dan menimpa hwesio ini pula dan tentu saja keadaan itu membahayakan. Dan ketika hwesio ini terus ditimbuni dan menerima apa saja dari atas, memekik namun pekikannya juga membuat dinding yang lain roboh maka sekejap kemudian hwesio ini sudah terkubur dan lenyap di balik tumpukan batu dan tanah serta pasir. Ji Leng Hwesio tak dapat meloncat karena debu dan pasir menutupi matanya. Hwesio ini buta sejenak dan waktu itu cukup buat Chi Koan, yang memang hendak menguburnya hidup-hidup.

Dan ketika geram atau suara hwesio itu tak terdengar lagi, pekerjaan dua hari menjadi sia-sia maka jurang itu tertimbun lagi dan tertawalah Chi Koan dengan amat gembiranya. Dia melongok dan tak melihat hwesio itu lagi dan pemuda ini puas. Kalaupun hwesio itu tak binasa maka ada waktu cukup baginya ke Go-bi. Bu-tek-cin-keng harus diambil dan dipelajari. Hok-te Sin-kun amat dahsyat dan dia harus memiliki itu. Maka ketika Chi Koan meninggalkan Heng-san dan di Go-bi ia membuat geger, masuk dan mengambil kitab sakti maka Ji Leng Hwesio yang terlambat dan mendapat berita itu menahan-nahan geram yang membuat dadanya serasa meledak.

Hwesio sakti ini masih hidup. Sehari semalam dia berhasil membebaskan diri dari timbunan batu dan tanah. Dengan ilmunya yang tinggi hwesio ini akhirnya menutup jalan pernapasan, membiarkan diri ditimpa bebatuan itu namun kakinya menjejak-jejak ke bawah, selalu naik dan naik meskipun amat perlahan. Dan ketika dia berhasil keluar bagai hantu dari kubur, orang tentu merasa ngeri dan seram melihat keadaannya maka terbanglah hwesio ini pulang ke Go-bi untuk menerima laporan bahwa Chi Koan telah mengambil Bu-tek-cin-keng!

Hampir saja sang hwesio mengayun tangan menghantam Ji-hwesio, murid keponakannya itu. Tapi karena di situ ada Giok Kee Cinjin dan ia sadar, kemarahan harus diredam maka hwesio itu berkelebat dan akhirnya menyuruh Giok Kee Cinjin untuk datang ke pertapaannya, bersama Peng Houw.

* * * * * * * *

"Demikianlah, baru kali ini pinceng ditipu habis seorang bocah licin. Pinceng harus malu kepada diri sendiri, Cinjin, tapi pinceng tak mau mencarinya, meskipun kitab itu penting. Pinceng akan menghadapi seseorang dan untuk ini pinceng harus bertapa di sini. Bagaimana menurut pendapatmu dengan semua kejadian ini?"

Begitu sesepuh Go-bi ini mengakhiri ceritanya. Entahlah dia ingin menumpahkan semua itu kepada orang lain, bukan kepada murid-murid Go-bi tetapi kepada orang luar. Giok Kee adalah sahabatnya dan tosu inipun dapat dipercaya, jujur, meskipun akhir-akhir ini Giok Kee merasa tak senang karena sesepuh Go-bi itu dianggapnya angkuh, kedatangannya dua kali ditolak.

Namun setelah dia mendengar semua ini dan hwesio itu tak mau menerima karena tekun mempersiapkan sebuah pertandingan, entah dengan siapa maka tosu ini menarik napas dalam-dalam dan di samping marah kepada pemuda bernama Chi Koan itu ia menjadi kagum akan lawan atau calon lawan sesepuh Go-bi ini, yang tampaknya begitu bersungguh-sungguh.

"Maaf," tosu ini seperti Chi Koan, sejenak melupakan persoalan Bu-tek-cin-keng. "Pinto jadi tertarik kepada lawan yang kau ajak bertanding itu, lo-suhu. Masakah di dunia ini ada orang lebih hebat lagi darimu. Padahal kau sudah menguasai Bu-tek-cin-keng!"

"Hm, orang ini bukan orang biasa, Cinjin. Lima tahun yang lalu pinceng masih kalah setingkat. Dia bukan manusia melainkan dewa. Pinceng penasaran, tapi ada lagi yang lebih membuat penasaran, tentang kehidupan. Ah, tak usah bicara tentang ini karena pinceng ingin mengajakmu bicara tentang bocah Chi Koan itu. Bagaimana menurut pendapatmu!"

Giok Kee Cinjin mengerutkan alis. Kalau hwesio ini penasaran akan seseorang dan lima tahun yang lalu masih kalah setingkat maka dapat dibayangkan hebatnya orang atau lawan itu. Dia tertarik tapi apa boleh buat diputus pertanyaannya, hwesio ini tak suka bicara itu. Dan ketika dia menarik napas dalam dan Peng Houw yang duduk di sebelah kiri gurunya diam mendengarkan, dia tak tahu apa maksud hwesio itu memanggilnya maka gurunya bertanya,

“Pinto tak tahu apa yang harus pinto lakukan. Pinto kalah jauh dibanding cucu muridmu itu. Lalu apa yang harus pinto lakukan dan apa yang dapat pinto lakukan? Chi Koan amat lihai dan hebat, Ji Leng lo-suhu. Setelah dia mendapatkan Bu-tek-cin-keng tentu dia bersembunyi dan kelak muncul kalau sudah luar biasa. Pinto justeru ingin bertanya apa yang kau inginkan dan ke mana sebenarnya kau hendak menuju!"

“Hm, kau dapat membantuku sedikit?”

"Apa yang kau kehendaki?"

"Pinceng kecewa dengan kejadian ini, Cinjin. Pinceng ingin seseorang menjaga guha ini di saat pinceng melanjutkan tapa....”

"Maksudmu?" tosu itu memotong.

"Pinceng butuh seorang anak muda menjaga guha. Kalau boleh, hmm... tinggalkan muridmu dan berikanlah setahun dua melayani pinceng."

"Ah, bocah ini?" Giok Kee terbelalak. "Peng Houw, kau diminta sesepuh Go-bi menunggu guha. Maukah kau dan tidakkah keberatan?”

Peng Houw terkejut. Ternyata tiba-tiba Ji Leng Hwesio memintanya. Entah nasib baik apa tapi tentu saja dia girang bukan main. Selama ini, tak pernah hwesio itu minta ditunggu. Jadi kehormatan besar kalau dia diminta berjaga di situ, dekat dengan dedengkot Go-bi ini. Dan ketika dia terkejut tapi girang, berlutut namun teringat tosu itu maka Peng Houw berdebar mengembalikan pertanyaan kepada suhunya, karena selama ini gurunya itulah yang menguasai dan membimbing hidupnya.

“Semua terserah kau, suhu. Teecu selama ini ikut kau. Teecu tak dapat menjawab selain hanya menurut kehendak suhu.”

“Ha-ha, kau murid Go-bi, bekas murid Go-bi. Aku hanya membawamu karena saat itu kau diusir paman kakek gurumu Ji Beng Hwesio, Peng Houw. Betapapun kau masih berbau Go-bi, keluarga Go-bi!”

“Tapi sekarang suhu yang menghidupi dan membimbing teecu. Teecu tak dapat menjawab, suhu, semuanya terserah kau. Hanya kalau teecu di sini bagaimana dengan kau, makan minummu. Teecu tak dapat mencucikan pakaianmu lagi kalau berpisah.”

“Wah, ha-ha... kau kira pinto seperti anak kecil? Tidak dapat mencuci pakaian dan mengatur diri sendiri? Weh, jangan rendahkan aku seperti itu, Peng Houw. Pinto dapat mengurus diri sendiri, jangan dipikirkan. Sekarang jawab pertanyaan Ji Leng lo-suhu tadi dan maukah kau menjadi penjaga guha!"

“Teecu sudah menjawab, terserah suhu. Dan Ji Leng locianpwe pun sudah menujukan pertanyaannya kepadamu."

“Wah, itu bukan jawaban. Percuma aku menyuruhmu di sini kalau kau pribadi tidak senang, Peng Houw. Ayo jawab dan biar didengar sesepuh Go-bi ini!"

“Teecu senang-senang saja, tapi kalau harus berpisah dari suhu terus terang teecu juga berat. Teecu sudah berhutang budi besar kepada suhu."

"Ha-ha, melingkar-lingkar. Eh, tanya bocah itu, Ji Leng lo-suhu. Tapi pinto pribadi tidak keberatan!"

"Hm," Ji Leng Hwesio bersinar, acuh, tapi hatinya tertarik kepada jawaban-jawaban pemuda itu. "Gurumu sudah bicara, Peng Houw. Pinceng juga sekedar meminta. Kalau kau tidak suka pinceng juga tidak memaksa. Terserah kau dan pinceng tidak akan mengulang-ulang."

Peng How melihat gurunya mengedip. Sebenarnya dia girang berdekatan dengan tokoh Go-bi ini tapi betapapun Giok Kee Cinjin adalah orang yang paling dekat selama ini, jadi bagaimana dia bisa begitu saja berpisah. Tapi ketika gurunya mengedip dan dia harus menerima, Peng Houw mengangguk maka diapun berkata lirih, "Teecu senang, dan tak akan menolak. Tapi harap diberi kelonggaran apabila suatu ketika ingin melepas kangen kepada Giok Kee suhu.”

“Ha-ha, itu mudah. Aku dapat ke sini dan menemuimu, Peng Houw. Kalau kau mencari pinto tentu tak mudah. Pinto suka kelayapan!" lalu menoleh dan berseri memandang Ji Leng Hwesio tosu itu berseru, "Lo-suhu, hari ini juga pinto serahkan Peng Houw kepadamu. Dia kembali kepada keluarga besarnya. Dan pinto, hmm... pinto pikir cukup dan akan mencari kabar tentang bocah Chi Koan itu!”

"Ah, suhu mau pergi?”

"Eh, aku bicara dengan Ji Leng lo-suhu. Jangan mendahului!"

Peng Houw terkejut. Ia memotong sebelum sesepuh Go-bi itu bicara, menunduk. Tapi ketika hwesio itu tersenyum dan mengebutkan lengan bajunya maka dia berkata, “Cinjin, terima kasih. Tapi tak usah terlalu repot. Kau sudah menyerahkan muridmu dan pinceng tentu saja gembira. Urusan anak itu barangkali kelak bukan kau yang mengurusnya. Pergilah kalau ingin pergi.”

“Ha-ha, pinto memang penasaran. Baik, pinto memang harus pergi, lo-suhu. Pinto biasanya tak betah terlalu lama tinggal di satu tempat. Hanya karena permintaanmu maka pinto di sini sampai beberapa hari,” lalu membalik dan memandang muridnya tosu itu berkata, “Dan kau, jaga dirimu baik-baik, Peng Houw. Layani lo-suhu seperti yang sudah menjadi kewajibanmu. Pinto akan sering-sering dolan (main) kesini kalau pinto kangen!”

“Suhu.... suhu mau pergi sekarang juga? Tidak nanti atau besok saja?"

"Hah! Buat apa? Pinto tak ingin terkurung dan bebas di luar, Peng Houw. Kau tahu itu. Besok atau nanti sama saja. Pinto sudah menyerahkanmu dan kau bukan milik pinto lagi. Ha-ha, jagalah guha baik-baik karena upahmu tentu besar!" dan si tosu yang meloncat dan berkelebat keluar tiba-tiba tak menoleh lagi kepada Peng Houw dan lenyap meninggalkan anak muda itu.

“Suhu...!” Peng Houw meloncat dan menyusul keluar guha. Dia melihat gurunya turun ke bawah bukit dan menoleh sambil tersenyum, melambaikan tangan. Tapi ketika dia hendak mengejar dan tangan itu digoyang, si tosu melarang maka kakek itu tertawa dan terus meloncat melewati gerbang pintu Go-bi.

"Peng Houw, kau harus belajar sendiri. Kelak setiap manusia harus sendiri. Ha-ha, kerjakan baik-baik tugasmu, anak baik. Sampai ketemu lagi kalau pinto ke sini!”

Peng Houw tertegun dan mengalirkan air mata. Gurunya, yang hampir tujuh tahun ini menggembleng dan bersamanya tiba-tiba saja begitu mudah meninggalkan dirinya. Semalam mereka masih berdua dan perpisahan ini tak disangka-sangka. Kejadian begitu cepat, alangkah mendadaknya. Dan ketika Peng Houw menggigit bibir dan bercucuran tanpa suara maka batuk-batuk di dalam mengingatkannya bahwa dia sekarang mempunyai “majikan" baru.

Peng Houw tersuruk dan masuk lagi ke guha. Ia berlutut di depan hwesio itu menunggu perintah. Tapi ketika hwesio itu berkata bahwa tugasnya adalah menjaga guha, tidak lebih maka Peng Houw berdiri karena selanjutnya hwesio itu duduk diam di atas batu hitamnya, tak mau diganggu dan kembali tapanya diteruskan, setelah terganggu oleh peristiwa Chi Koan. Dan ketika seminggu dua minggu hwesio itu tak pernah bergerak dan memejamkan mata, Peng Houw kagum maka pemuda yang hanya menjadi penjaga ini mulai bergerak mencari pekerjaan sendiri.

Dia menyapu dan membersihkan guha dari sarang laba-laba, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dan tiba-tiba saja guha itu lebih bersih daripada semula. Lantai yang semula tanah ditutupi susunan batu-batu persegi, diatur. Dinding guha yang kasar dilapisi kain-kain bersih untuk penyedap mata. Dan karena kerjanya memang menunggu guha dan sewaktu-waktu perintah hwesio sakti itu, kalau membuka mata maka Peng Houw yang bekerja dan melakukan apa saja untuk membuang sepi lalu mulai mencorat-coret dinding guha dengan syair-syair Dhammapada.

Waktu senggangnya ini diisi dengan tulisan ayat-ayat suci yang dulu pernah dihapalnya. Enam tahun mengikuti gurunya Giok Kee Cinjin juga tak membuatnya lupa akan ayat-ayat itu. Dulu ketika berkumpul dengan mendiang gurunya Lu Kong Hwesio pemuda ini setiap hari disuruh membaca ayat-ayat suci. Maka ketika kini dia menjadi penjaga guha dan kerjanya hanya menunggu dan menanti perintah, herannya hwesio itu tak pernah membuka mata dan terus bersamadhi maka Peng Houw yang semula mengira akan disuruh ini-itu ternyata menganggur dan benar-benar hanya sebagai penjaga.

Hal ini membuat pemuda itu berkerut kening dan mulai bosan. Untuk membunuh kebosanan maka mulailah dia mencorat-coret dinding-dinding guha dengan isi dari kitab suci itu. Dan ketika dia mulai dari luar untuk akhirnya terus masuk ke dalam maka setahun pemuda ini mencoret-coret dinding hingga guha penuh dengan ayat-ayat kitab suci Dhammapada. Dan selama itu hwesio sakti ini hanya dua kali membuka mata, bicara singkat,

“Aku ingin segelas air putih!" lalu tertegun melihat coret-coretan di dinding guha, juga lantai guha yang bersih dan beralas batu-batu persegi kakek itu terbelalak sebentar untuk kemudian memejamkan mata dan bertapa lagi. Air yang diminta habis sekali teguk.

Peng Houw tertegun. Dia juga tercengang oleh kehebatan tapa kakek ini. Enam bulan tak bergerak dan kemudian diisi segelas air putih, itu saja. Dan ketika dia menunggu tapi kakek itu tak pernah bangun lagi, enam bulan berikut bergerak dan memanggilnya maka dia disuruh memindah batu hitam tempat kakek itu duduk.

"Apa? Sedangkan locianpwe...?”

"Angkat dan pindahkan batu ini, Peng Houw. Duduklah di sana dan pakai!”

Peng Houw terkejut. Dia mau bicara lagi tapi kakek itu sudah memejamkan mata. Melihat gelagatnya sudah tak mau bicara lagi dan dia bingung. Bagaimana mengangkat batu itu kalau sang hwesio masih di atas, masih duduk. Tapi karena itu adalah perintah dan baru kali ini mendapat yang agak berat, juga aneh maka Peng Houw membungkuk dan mengangkat batu itu berikut hwesio ini. Tentu saja dia amat hati-hati dan tak berani sembarangan. Tapi ketika sang hwesio naik melayang, masih dalam posisi bersila maka Peng Houw tertegun dan batu itu lepas dan jatuh ke bawah.

"Bluk!”

Peng Houw terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan. Ji Leng, sang hwesio sakti masih bersila dalam posisi melayang. Bagian bawah kakek itu tak menempel batu dan tentu saja tubuhnya mengambang, persis roh! Dan ketika Peng Houw terhuyung dan jatuh terduduk, kakek itu membuka mata namun dipejamkan kembali maka terdengar suara dari perut bahwa batu itu harus dipindah dan dipakai sendiri. Peng Houw disuruh duduk di situ, menggantikan sang hwesio.

Pemuda ini pucat tak berkedip. Setahun tak diajak bicara tiba-tiba kini diajak bicara dengan cara yang amat mengejutkan. Dia diperintahkan memindahkan batu dan batu itu disuruh memakainya. Hwesio itu tak lagi duduk karena bersila mengambang di udara. Tapi karena perintah adalah perintah dan Peng Houw bangkit gemetar maka batu hitam diangkatnya dan begitu disentuh maka hawa dinginpun menyerangnya. Jari dan telapak tangannya menjadi beku.

Namun Peng Houw melawan ini dengan sinkangnya. Ia mengangkat dan membawa batu itu menuju ke tempat yang dimaksud. Tempat itu adalah tempat di pintu guha agak ke dalam sedikit. Dan ketika ia diperintahkan duduk dan berjaga di situ, tak boleh bergerak maka tahulah Peng Houw bahwa sesungguhnya ia juga diminta “bertapa"!

Peng Houw tersentak. Ia tak tahu apa maksud hwesio ini namun karena ia sudah disuruh duduk maka iapun duduk. Dan begitu duduk iapun merasa seperti disengat es dingin, langsung cess dan ada hawa dingin terserap bokongnya. Pantat atau bokongnya beku! Tapi karena ia memiliki sinkang dan dengan sinkang itu ia melawan, hawa dingin menjadi hangat maka Peng Houw sudah mendapat pekerjaan dan “pekerjaan" itu adalah duduk!

Peng Houw tertegun. Sekarang ia berjaga dengan duduk di batu hitam itu. Selama berbulan-bulan ini, membuang sepi dan bosannya ia selalu mengerjakan ini-itu di dalam guha. Ada-ada saja yang diperbuat. Kalau tidak membersihkan guha ya mengukir syair di dinding-dinding, itu caranya membuang sepi. Tapi begitu disuruh duduk dan ia duduk, batu hitam bekas Ji Leng Hwesio ini mengeluarkan hawa dingin dan ia melawan maka tiba-tiba timbul hawa hangat tapi berbareng itu Peng Houw tak mampu melepaskan pantatnya dari batu hitam itu.

Ada semacam tenaga sedot dan kalau ia berdiri maka batu itupun terangkat naik, akibatnya lucu karena bokong Peng Houw menjadi besar. Dan ketika Peng Houw terkejut dan duduk kembali, terbelalak maka ia sadar bahwa ia memang disuruh duduk, bersamadhi!

Peng Houw adalah pemuda cerdas dan iapun lalu mengikuti perasaan hati nuraninya ini, duduk memejamkan mata dan mulailah ia bersamadhi seperti hwesio tua itu. Dan karena pekerjaan ini bukan pekerjaan sukar, sesungguhnya ia juga sering bersamadhi dan duduk di luar guha maka pernapasan yang diatur dan keluar masuk lewat hidungnya sebentar saja sudah berirama secara teratur dengan lembut namun kuat.

Namun ada perbedaan di sini. Peng Houw merasa betapa batu hitam yang diduduki terus-menerus mengeluarkan hawa dinginnya itu. Ia juga terus-menerus bertahan dengan sinkangnya dan dingin serta panas berganti-ganti. Peng Houw tak tahu bahwa batu hitam yang diduduki itu sesungguhnya telah menyimpan tenaga Ji Leng Hwesio dengan amat hebatnya. Dua belas bulan duduk terus-menerus telah membuat tenaga sakti hwesio ini meresap ke bawah, masuk dihisap batu itu.

Maka ketika Peng Houw duduk di atasnya dan tenaga itu kini bekerja, Peng Houw tak tahu maka sinkangnya sendiri yang dialirkan untuk melawan hawa dingin menjadi ambyar dengan sinkang milik si hwesio sakti yang terkumpul di batu hitam. Dua tenaga bergerak dan menyatu secara perlahan-lahan. Peng Houw menjadi hangat dan dingin berganti-ganti. Dia tak tahu bahwa berkat kekuatan Ji Leng Hwesio inilah bokongnya tersedot di batu hitam, dilawan dan akhirnya sedikit demi sedikit tenaga itu memasuki tubuhnya.

Dan ketika Peng Houw merasa nikmat namun terus memusatkan perhatiannya, bersamadhi dan menemani hwesio itu maka seminggu kemudian dari lubang hidung Peng Houw keluar asap putih seperti dua naga bermain. Sin-liong-kang (Tenaga Naga Sakti) telah mulai bergerak dan timbul di tubuh pemuda ini. Peng Houw masih tak sadar dan terus duduk diam. Dia juga tak merasa lapar atau haus. Aneh, Peng Houw terbawa nikmatnya dan dua asap itu kian tebal dan kuat saja. Dan ketika seminggu kembali lewat dan Peng Houw memasuki dunia asing, ringan dan melayang-layang maka seekor ular memasuki guha dan tertegun melihat pemuda di atas batu hitam itu.

Ular ini mendesis dan mengeluar-masukkan lidahnya yang merah bercabang. Ada perasaan gentar melihat dua "ular putih" keluar masuk di lubang hidung Peng Houw. Dan karena ular itu seakan mengejeknya karena masuk dan keluar dengan cepat di lubang hidung Peng Houw maka tiba-tiba ia maju dengan cepat mematuk dua ular putih itu, yang sesungguhnya adalah Tenaga Naga Sakti.

“Tuk!” Ular ini beku dan tiba-tiba roboh. Ia menggigit ujung hidung Peng Houw namun seketika itu juga menggeliat, tubuhnya menjadi putih salju dan kaku seperti es. Dan ketika ia roboh dan tepat di pangkuan Peng Houw maka Peng Houw terkejut dan membuka matanya. Dan saat itulah samadhinya buyar.

“Ahh..!" Peng Houw terkejut dan membelalakkan mata. Ia meraba ujung hidungnya yang sakit tapi tidak berdarah, tersentak karena dua asap putih masuk keluar melalui lubang hidungnya. Dan ketika ia berseru namun asap putih juga keluar dari mulutnya, bergulung dan masuk seperti ular maka meloncatlah dia dan ular serta batu hitam itu tak melekat lagi di bokongnya!

Peng Houw membelalakkan mata lebar-lebar. Ia tentu saja ngeri melihat ini, berteriak dan lari menghambur ke dalam. Dan karena ular sudah dibuang dan ia kaget oleh "ular" di lubang hidungnya sendiri maka Ji Leng Hwesio yang bertapa dan masih mengambang di udara membuka matanya, terkejut.

"Locianpwe, tolong...!”

Pemuda itu jatuh bangun. Peng Houw baru sadar dari samadhinya dan tidak aneh kalau dia terkejut setengah mati. Ia menampar ular itu namun hilang sekejap, muncul dan datang lagi kalau ia menghembuskan napas. Dan karena "ular" itu juga masuk lewat hidungnya, Peng Houw belum pernah mengalami kejadian ini maka ia menjadi kaget sekaligus ngeri oleh peristiwa itu, berteriak memanggil sang hwesio dan ular itu keluar lagi, kini dari mulutnya. Dan karena tenaga Sin-liong-kang memang dapat keluar dari mulut atau hidung, tergantung pemiliknya maka Peng Houw yang tak sadar akan batu hitam yang terlepas itu jatuh terpelanting di bawah sang hwesio, terantuk.

"Locianpwe, tolong....!”

Ji Leng bergerak dan tiba-tiba turun ke bumi. Ia berseri melihat keadaan pemuda itu dan bukannya rasa kaget yang diperlihatkan melainkan sebuah tawa lembut. Peng Houw tersandung dan roboh di depan kaki hwesio ini. Dan ketika Peng Houw pucat melihat dua naga keluar masuk lewat hidungnya, juga mulutnya yang terengah-engah maka pemuda ini mendapat tepukan girang. "Omitohud, berhasil, Peng Houw. Kau telah memiliki tenaga Sin-liong-kang!"

"Ah... hoh... ahh!" Peng Houw tersengal dan memburu napasnya, bingung, baru saja sadar dari samadhi. "Apa maksudmu, locianpwe... ap... apa itu tenaga Sin-liong-kang?”

“Hm, tak usah cemas. Uap yang keluar masuk melalui hidungmu itu adalah tanda berhasilnya tenaga sakti mujijat. Kau telah memperoleh Sin-liong-kang. Lihat batu hitam yang tidak menempel di pantatmu itu lagi!”

Peng Houw terkejut. Tiba-tiba ia teringat bahwa dulu batu hitam bekas dudukan hwesio ini lekat di bokongnya, tak dapat dipisah. Kini batu itu tiba-tiba lepas dan ia berlari kencang, tak sadar bahwa tak ada beban lagi di bawah tubuhnya itu. Dan ketika ia terbelalak tapi masih bingung, uap tebal yang keluar masuk di hidungnya juga mengikuti dengan cepat, sesuai dengus atau napasnya yang memburu maka hwesio itu tertawa menerangkan, kegembiraan jelas terpancar di sini.

"Omitohud, kau mendapat berkah, Peng Houw. Ketahuilah bahwa tenaga sakti pinceng telah pindah di batu hitam itu dan kau sedot. Dan karena aliran sinkangmu adalah aliran bersih dan sedikit demi sedikit kau menarik tenaga itu maka sinkangku membaur dan kini menjadi satu di tubuhmu. Itulah Sin-liong Sin-kang yang amat dahsyat. Dan kau belum mampu mengendalikannya hingga lubang hidung dan mulutmu mengeluarkan tenaga itu yang keluar secara alami, tanpa sadar."

“Ah, teecu.... teecu menyedot sinkang locianpwe..?"

"Benar, Peng Houw. Dan karena jasad ini sudah tidak pinceng pergunakan lagi maka pinceng memberikan tenaga itu lewat batu hitam. Itulah sebabnya kenapa pinceng menyuruhmu duduk. Kau berhasil dan kini tinggal mengendalikan tenaga itu saja. Omitohud, mulai hari ini kau harus berlatih mendorong dan memukul!"

Peng Houw tidak mendengarkan lagi kata-kata terakhir itu. Ia mengeluh dan menjadi girang luar biasa bahwa ia diberi anugerah demikian besar. Sinkang yang amat dahsyat diberikan kepadanya dan tentu saja ia bersyukur. Maka ketika ia berlutut dan menyembah berulang- ulang, tangis dan kebahagiaannya menjadi satu maka ia tak dapat berkata apa-apa kecuali membentur-benturkan dahinya di tanah. Ia tak takut lagi kepada dua asap putih yang keluar masuk di lubang hidungnya itu.

"Bangkitlah," sang hwesio memberi tanda. "Mulai sekarang kau harus melatih pukulan dan dorongan, Peng Houw. Sinkangmu sudah lebih dari cukup untuk menerima Hok-te Sin-kun!"

"Hok-te Sin-kun?”

"Ya, Hok-te Sin-kun, Peng Houw. Karena hanya dengan pukulan ini kau dapat mencari Chi Koan. Dia juga melatih Hok-te Sin-kun tapi tenaga yang dimiliki bukan Sin-liong-kang. Sedangkan kau, hmm... Sin-liong-kang membuat Hok-te-kang seusap dibawahnya. Kau dan dia sama-sama memiliki Hok-te Sin-kun tapi dasar tenaganya lain dan inilah yang hendak pinceng ajarkan!”

Peng Houw serasa mendapat berkah segunung. Ia tak menyangka bahwa ilmu dahsyat itu bakal diperolehnya. Tapi teringat bahwa Hok-te sin-kun tak boleh dimiliki oleh lebih dua orang maka dia terkejut mengerutkan kening, wajah kegembiraannya lenyap terganti buram. "Locianpwe, nanti dulu. Kau pernah bilang bahwa Hok-te Sin-kun tak boleh dimiliki oleh lebih dua orang. Bagaimana tiba-tiba kau sekarang hendak mengajarkannya kepadaku? Bukankah melanggar larangan?”

“Omitohud, itu betul, Peng Houw. Tapi ketahuilah bahwa pinceng telah menebus dosa larangan ini. Pinceng telah tidak berjasad lagi dan sesungguhnya tinggal badan halus."

Peng Houw kaget bukan main. Dia terbelalak dan mencelat mundur dan hwesio itu diperhatikannya baik-baik. Dia melihat hwesio ini berdiri seperti biasa kecuali kakinya itu bergerak-gerak melayang di atas permukaan tanah. Hal begini dulu juga dilihatnya tapi itu adalah berkat kesaktian si hwesio. Kini mendengar hwesio itu tinggal berbadan halus dan ia tak percaya, terbelalak dengan muka pucat maka hwesio itu menarik napas dalam sebelum menjawab.

"Pinceng telah bertapa melewati batas. Pinceng telah mengosongkan jasad pinceng dari isinya. Mana mungkin harus berbadan kasar lagi? Majulah, dan mendekatlah. Pegang dan raba tubuh pinceng, Peng Houw. Pinceng sesungguhnya telah meninggal dunia!"

Peng Houw meremang dan berdiri seluruh bulu tengkuknya. Ia diminta membuktikan tapi kata-kata itu sendiri saja sudah cukup membuat bulu di sekujur tubuh terasa berdiri. Ia dinyatakan berhadapan dengan badan halus sesepuh Go-bi! Tapi ketika ia tak yakin dan ingin membuktikan, Peng Houw melangkah maju maka dengan gemetar ia menyentuh jari- jari hwesio itu yang disodorkan kepadanya.

"Sentuhlah, peganglah...!"

Peng Houw memegang telapak hwesio ini. Ia merasa kaget bukan main karena telapak yang dipegang ternyata tembus, ia memegang dan menyambar lagi namun jari-jari atau telapak itu tak terpegang. Ia benar-benar menangkap jasad halus! Dan ketika Peng Houw berseru tertahan dan mundur dengan muka pucat, jatuh terduduk maka hwesio itu maju memegangnya dan mengangkatnya bangun. Jari-jari hwesio itu begitu dingin!

“Nah, sudah kau buktikan," hwesio itu berkata, “pinceng sesungguhnya telah meninggalkan jasad pinceng, Peng Houw. Hanya karena urusan Bu-tek-cin-keng maka pinceng ijin untuk bersamamu sejenak sampai ini selesai. Satu permintaan pinceng, jangan beritahukan ini kepada siapapun demi ketenangan Go-bi.”

"Ijin?" Peng Houwte terbelalak. "Kau minta ijin kepada siapa, locianpwe?”

Hwesio ini tersenyum. “Urusan dunia halus tak perlu diketahui dunia kasar. Kau sekarang bersiaplah untuk menerima petunjuk-petunjuk pinceng. Pinceng telah melihat bahwa kaulah yang tepat untuk mewarisi sepenuhnya Bu-tek-cin-keng. Rebut kitab itu dan kelak pelajari isinya yang lain.”

Peng Houw menggigil seperti orang kedinginan. Baru kali ini dia mengalami peristiwa begitu luar biasa, menjadi murid dari orang yang telah meninggal dunia. Seram! Tapi karena dia tahu siapa hwesio itu dan sesepuh Go-bi ini bukanlah orang jahat, dia tak takut dan akhirnya menjadi tenang maka hari itu juga Peng Houw diajar untuk mengendalikan "sepasang naga" yang keluar masuk lewat hidungnya itu.

Ternyata bahwa pemuda ini benar-benar telah memiliki atau menyimpan tenaga dahsyat. Dia disuruh memukul dan mendorong dan dinding guha bergetar-getar oleh angin pukulannya ini. Dan ketika bersama dengan itu asap atau uap putih di lubang hidungnya dapat diatur, sedikit demi sedikit mulai lenyap sesuai perintahnya maka "sepasang naga" itu tidak seenaknya saja keluar tanpa perintah Peng Houw.

Dulu uap putih ini keluar secara otomatis. Ketika Peng Houw bernapas atau membuka mulut maka tenaga sakti itu keluar. Tapi setelah Ji Leng Hwesio memberi petunjuk-petunjuk dan tenaga itu dapat disimpan, hanya keluar kalau diperintah maka Sin-liong-kang atau sinkang Naga Sakti ini terpendam dahsyat di tubuh pemuda ini.

“Kalau dia keluar secara alami maka itu adalah pemborosan. Maka kendalikan dan atur kekuatan itu. Simpan di tubuhmu dan latihlah mendorong dan memukul untuk mengendalikan mereka. Kalau kau sudah dapat membentak dan meniup batu hitam itu keluar guha maka tingkat ilmumu sudah dapat diandalkan, boleh kau pergi mencari Chi Koan."

“Teecu... teecu meniup batu hitam itu?”

"Ya, kalau kau dapat melemparnya dengan tiupan mulutmu maka kau lulus menguasai Hok-te sin-kun, Peng Houw. Kalau tidak maka jangan keluar dulu."

Peng Houw tertegun. Dia akan dinyatakan lulus kalau dengan suara bentakannya saja sudah dapat mengangkat dan melempar batu hitam itu. Padahal batu hitam itu beratnya tak kurang dari seribu kati. Mustahil! Tapi karena ia menaruh harapan dan tak mungkin sesepuh Go-bi ini mengada-ada maka Peng Houw mengangguk dan justeru merasa ditantang!

Ia merasa sanggup kalau terus berlatih. Bukti bahwa angin pukulannya yang menggetar-getarkan guha dapat dijadikan pegangan. Kalau ia mengikuti petunjuk-petunjuk hwesio itu masa ia tidak mampu? Maka merasa ditantang dan ingin menunjukkan itu Peng Houw pun mulai berlatih. Ia tidak diberi banyak ilmu kecuali Hok-te Sin-kun itu. Ilmu-ilmu silat Go-bi yang lain seperti Cui-pek-po-kian atau Thai-san-ap-ting tak dipelajari. Entahlah, mengapa hwesio itu langsung pada pokok ilmu silatnya, Hok-te Sin-kun yang dahsyat.

Dan ketika Peng Houw berlatih dan gerak atau pukulannya mulai menderu dan menyambar-nyambar maka guha bukan lagi tergetar melainkan seakan roboh! Peng Houw sampai khawatir sendiri tapi Ji Leng Hwesio berseru mengulang-ulang, berseri dan wajah kakek itu tampak gembira bahwa kian lama angin pukulan pemuda itu kian kuat. Dan ketika enam bulan kemudian Peng Houw diminta berlatih di luar, guha sudah mulai bergoyang- goyang maka gunung di belakang guha menjadi sasaran, roboh puncaknya.

"Bagus, kau sekarang berlatih di sini, Peng Houw. Teruskan latihanmu, atur dan kendalikan Tenaga Naga Saktimu. Kalau akhirnya gunung ini dapat kau pukul roboh maka batu hitam di dalam guha harus dapat kau lempar dengan suara bentakanmu!"

Maka di belakang Go-bi ini sering terdengar bentakan-bentakan dan deru pukulan dahsyat. Angin pukulan Peng Houw sudah mulai menyambar-nyambar dan kalau pemuda ini bergerak maka apa saja bisa terangkat naik. Pohon dan bebatuan bisa terlempar kencang. Namun karena itu belum apa-apa, Peng Houw baru dinyatakan lulus kalau dapat meniup batu hitam dengan bentakan mulutnya maka daerah di belakang Go-bi ini menjadi daerah angker di mana anak-anak murid sering terbelalak dan ngeri dari kejauhan.

Mereka masih yakin bahwa dedengkot mereka masih ada di situ. Perihal Peng Houw telah mereka dengar, yakni pemuda itu diambil sesepuh mereka untuk menjaga guha. Dan karena sejak itu Go-bi tak pernah diganggu orang, suara-suara di belakang gunung ini adalah suara Peng Houw yang mereka kenal, tak terlihat karena cukup jauh dan hanya suara-suara itu yang mereka tahu.

Maka anak-anak murid menjadi terkejut karena kian hari suara atau bentakan Peng Houw kian dahsyat. Terakhir genteng di kuil belakang terbang dan pecah. Dan ketika di pagi yang tenang mereka mendengar bentakan dahsyat, gedung tergetar dan bumi berguncang maka anak-anak murid yang masih tidur terangkat naik dan terbanting menjerit-jerit. Mereka menyangka diserang siluman!

Apa yang terjadi? Kiranya keberhasilan Peng Houw. Pagi itu, tepat setahun setelah berlatih tak kenal lelah maka Peng Houw melatih bentakan-bentakan. Angin pukulannya sudah merobohkan gunung dan bukit atau gunung setinggi dua ratus kaki itu rata dengan tanah. Setiap hari Peng Houw menggempur gunung ini dengan angin pukulannya yang menderu-deru. Angin pukulan itulah yang dulu menerbangkan genteng di tempat para hwesio, padahal jaraknya ratusan meter. Dan ketika Peng Houw merasa cukup sementara gurunya selalu membimbing dan mengawasi maka pagi itu Peng Houw mencoba suara bentakannya.

Dia diminta meniup batu hitam di dalam guha. Tujuh hari ini Peng Houw sudah mencoba tapi batu hitam itu hanya terangkat sedikit, jatuh dan terangkat lagi namun belum terlempar. Maka ketika pagi itu dia menjadi penasaran sekaligus gembira, dia memperkuat tiupannya maka, hampir tak dapat dipercaya batu itu terbang dan menyambar keluar guha.

"Wuuttt....!” batu itu melesat secepat sambaran anak panah. Peng Houw mengerahkan tenaga saktinya di tan-tian (pusar) dan alangkah hebatnya hasil tenaga sakti itu. Tiupan mulut Peng Houw bukan hanya mengangkat dan mendorong batu itu melainkan melemparnya, terbang dan menabrak batu gunung besar di luar guha. Dan ketika keberhasilan ini disambut bentakan dahsyat Peng Houw, yang girang dan bangga bukan main maka bentakan atau suara Peng Houw itu menjalar ke tempat para anak murid Go-bi di mana mereka yang sedang tidur terpental dari tidurnya.

Ji-hwesio, yang selama ini mengamati dari jauh dan duduk bersamadhi tiba-tiba juga terangkat naik. Hwesio itu terkejut sekali dan dua sutenya yang lain juga begitu, terlempar namun mereka berjungkir balik turun dengan wajah pucat. Dan karena bentakan kali itu adalah yang paling dahsyat, hwesio ini berkelebat dan memandang belakang Go-bi maka dia meloncat dan terbang menuju tempat itu, kaget mungkin ada bahaya.

"Omitohud, gunung sudah roboh. Ah, ini tentu perbuatan Peng Houw, suheng. Lihat pukuian pemuda itu menggempur habis gunung di belakang guha!"

"Benar, dan tampaknya Peng Houw mewarisi kepandaian supek. Aih, mari kita lihat dan apa yang terjadi!"

Dua hwesio lain, adik-adik seperguruan Ji- hwesio berkelebat dan menyambar keluar pula. Mereka melihat bayangan suheng mereka itu dan kebetulan masing-masing juga ingin tahu apa yang terjadi. Bentakan Peng Houw terakhir itu amat dahsyat dan paling menggetarkan. Mereka sendiri sampai terguncang. Dan sementara tiga hwesio itu berkelebat menuju guha pertapaan maka Peng Houw sendiri sudah berlutut dan menghadap Ji Leng Hwesio, gurunya, orang yang tak mau dipanggil suhu (guru).

"Pinceng tak mau terikat oleh hubungan guru dan murid. Pinceng telah cukup memiliki dua murid pinceng pertama, guru dan paman gurumu itu, mendiang Lu Kong dan Beng Kong. Kau boleh panggil pinceng seperti biasa, Peng Houw, tak usah merobah sebutan.” begitulah dulu kakek ini pernah bicara. Karena itu Peng Houw tetap memanggilnya locianpwe dan karena iapun hanya mewarisi sebuah ilmu, sang kakek tak memberinya ilmu-ilmu lain maka Peng Houw tetap menyebut atau memanggilnya locianpwe. Aneh juga memang, tapi itulah yang dikehendaki kakek ini. Dan ketika pagi itu Peng Houw berhasil meniup batu hitam, terbang dan menabrak batu besar di luar guha maka Peng Houw melihat bayangan gurunya itu dan maju berlutut. Dan wajah kakek ini tampak berseri-seri.

“Kau telah lulus. Omitohud... kau telah berhasil!" kakek itu bertepuk tangan. "Hm, sekarang kau boleh melaksanakan tugasmu, Peng Houw. Cari dan rebut kembali Bu-tek-cin-keng itu. Tapi sebelum pinceng merestui dirimu maka ada beberapa hal yang harus kau perhatikan."

Peng Houw mengangguk-angguk, wajahnya berseri gembira, kemerah-merahan. Tapi ketika kakek itu hendak bicara dan bayangan Ji-hwesio tampak maka kakek itu mengerutkan alisnya dan berhenti bicara. Peng Houw menoleh dan melihat bayangan hwesio itu.

"Ada apa dia ke mari. Tanyakan."

Peng Houw bangkit berdiri. Ji-hwesio berkelebat dan sudah berada di luar pagar kawat berduri. Sejak pengrusakan yang dulu dilakukan Chi Koan maka tempat ini sudah dibetulkan lagi, termasuk kawat berduri itu. Dan ketika dua bayangan lain juga berkelebat dan itulah sute dari hwesio ini, Peng Houw menyambut maka pemuda itu menjura dan bertanya, "Susiok, kalian mau apakah? Ji Leng lo-suhu menanyakan maksud kalian.”

Ji-hwesio tertegun. Ia terbelalak memandang Peng Houw lalu keadaan sekeliling. Sudah ada peraturan di situ bahwa tak boleh sembarangan orang masuk. Peng Houw adalah penjaga pertapaan dan sepantasnya pemuda itu bertanya. Maka tertegun tak melihat apa-apa, kecuali batu besar yang pecah ditabrak batu hitam maka hwesio ini bertanya, tak menjawab pertanyaan Peng Houw,

"Supek ada? Ada apa ribut-ribut di sini? Kami datang karena khawatir sesuatu, Peng Houw. Misalnya serbuan orang jahat atau kekacauan lain. Bentakanmu tadi megejutkan kami!"

Peng Houw heran. Supek? Hwesio ini menanyakan Ji Leng Hwesio? Kakek itu ada di situ, berdirí memandang mereka, tersenyum! Maka lupa bahwa kakek itu berujud jasad halus, Peng Houw menuding maka pemuda ini berseru, "Ji-locianpwe ada di situ, masa susiok tidak melihat!"

Giliran Ji-hwesio yang menjadi heran. Peng Houw menunjuk ke satu tempat tapi dia tak melihat apa-apa. Dan ketika dia tertegun dan memandang dua sutenya yang lain maka dua sutenya itu juga menggeleng dan merasa heran. "Peng Houw, pinceng tak melihat apa-apa!”

"Ah, maaf," Peng Houw sadar. “Ji Leng lo-suhu mempergunakan kesaktiannya untuk tidak dilihat kalian, susiok. Maaf bahwa kalian tak tahu. Tapi biar kalian dengar suaranya kalau tidak percaya."

Ji Leng Hwesio mengangguk. Murid-murid keponakannya itu tak boleh tahu dulu bahwa dia telah "wafat". Peng Houw harus menjaga pula rahasia itu. Maka tersenyum dan mengangguk kakek itupun lalu berkata, tentu saja bersuara tanpa rupa, "Ji Kak, di sini tak ada apa-apa. Kalian kembalilah dan pulang. Pinceng akan bercakap-cakap dengan Peng Houw yang sebentar lagi akan pinceng utus untuk mencari Chi Koan.”

Hwesio itu kaget. Suara itu jelas terdengar dan arahnyapun adalah arah yang ditunjuk Peng Houw, jadi pemuda itu benar. Tapi karena suara itu tanpa rupa dan mereka meremang seolah menghadapi roh halus, Ji-hwesio berlutut maka hwesio itu bersama dua adiknya lalu mengangguk dan minta maaf. Mereka kemudian berdiri dan bangun lagi. Dan ketika sekali lagi mereka terbelalak memandang tempat itu, lalu Peng Houw maka mereka bergerak dan kembali turun pulang ke tempat masing-masing. Peng Houw yang dapat melihat supek mereka itu dianggap seperti hantu pula yang lebih tinggi dari mereka!

"Peng Houw, pinceng kembali. Syukur kalau tak ada apa-apa dan biarlah kami berlega hati.”

Peng Houw mengangguk. Ia tersenyum dan mengantar kepergian tiga orang itu dengan pandang matanya. Peng Houw masih bersikap hormat seperti itu. Dan ketika tiga orang itu pergi sementara Ji-hwesio dan lain-lain kagum maka Peng Houw kembali berlutut dan siap mendengarkan kata-kata sesepuh Go-bi ini. Dia sudah akan menerima tugas untuk mencari Chi Koan, merebut Bu-tek-cin-keng....!