Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara

Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 05


"SELAMAT pagi...!" seruan itu bergema memasuki guha. "Apa kabar, Chi Koan, kuharap kau sehat-sehat dan tak kurang suatu apa selama ini."

Si buta membalik. Peng Houw telah berkelebat dan memasuki guha ketika melihat lawannya itu. Chi Koan menghadap dinding dan tampak bersila. Tapi begitu ia masuk dan mendengar sapaan ini, Chi Koan tak dapat menahan perasaannya maka si buta itu berseru, dingin,

"Peng Houw, aku tak kurang suatu apa selama ini. Terima kasih atas perhatianmu tapi tak usah berbasa-basi!"

"Omitohud" bayangan Ji-hwesio menyusul masuk. "Kami datang mengiringinya, Ci Koan. Ingin membuktikan kepada Peng Houw bahwa kau sudah berubah!"

"Tapi luar dalam harus sama," Sam-hwesio tak mau kalah dan berkelebat dibelakang suhengnya ini. “Barang yang sudah membaik tak akan memudar, Chi Koan. Peng Houw akan selalu waspada dan tak lupa ini!"

Ji-hwesio terkejut. Chi Koan bangkit dan menggerakkan rantai borgolnya hingga benda-benda itu berbunyi nyaring, demikian nyaring hingga memuncratkan lelatu api, menyambar kepada sutenya itu. Tapi ketika Sam-hwesio mengelak dan lelatu ini menghantam belakang dinding guha, meledak dan pecah maka hwesio itu pucat sementara Chi Koan tak dapat menahan perasaannya lagi. Kebenciannya kepada Peng Houw itulah yang membuat ia mendidih!

“Sam-susiok, tak usah bicara macam-macam. Kalau kalian ingin tetap menghukumku akupun tak dapat berbuat apa-apa. Tak perlu menyindir-nyindir aku atau menggosok Peng Houw!"

Semua orang terkejut. Jelas si buta ini marah dan wajahnya yang merah membesi itu membuat Sam-hwesio gentar. Anak ini hampir saja mencelakainya. Akan tetapi ketika Peng Houw berdehem dan maju melindungi, sesungguhnya ia diperingatkan agar selalu waspada maka Naga Gurun Gobi ini mengangkat tangannya.

"Chi Koan, kami datang secara baik-baik. Kami bukan untuk bermusuh. Kalau Sam-susiok atau Ji-susiok bicara seperti itu maka semuanya wajar. Kami berhak mengatakan apa yang kami pikirkan."

"Bagus, dan apa yang sekarang kau pikirkan? Hendak melihat perobahan Chi Koan? Omong kosong. Kau selalu membuat aku mendidih bila datang ke sini, Peng Houw. Kau mengingatkan aku akan seorang jagal terhadap binatang tangkapannya, tak segera membunuh dan mempermainkan untuk kesenangan hatimu sendiri. Enyahlah, atau kau dan aku mampus di sini!"

Peng Houw mengerutkan kening. Setelah tiba dan melihat ini maka tentu saja dia menjadi tak senang. Chi Koan masih memiliki kebencian, dendam atau api itu masih ada. Maka memandang Ji-susioknya menarik napas dalam segera pemuda ini mengangguk dan mengebutkan lengan baju.

"Susiok, belum ada perubahan berarti pada diri Chi Koan. Mari kita pulang dan biarkan dia sendiri lagi."

Ji-hwesio terguncang. Pandang mata Peng Houw kepadanya jelas pandang mata menolak. Chi Koan tiba-tiba marah dan menampakkan kekasarannya. Maka ketika ia menjadi sedih dan buram pandang matanya, mengangguk dan menarik napas dalam-dalam ia pun tak dapat berbuat apa-apa lagi dan berkelebat keluar, sutenya menyusul. Kali ini dia kalah. Dan tepat bersamaan itu tiba-tiba Chi Koan menjentikkan ujung kakinya dan menyambarlah sebutir batu hitam ke punggung hwesio itu.

"Plak!" Peng Houw berkelebat dan hancurlah batu itu oleh kebutannya. Sam-hwesio berhenti dan menoleh dan pucatlah ia oleh serangan gelap itu. Kalau saja Peng Houw tak ada di belakang mungkin ia roboh! Dan ketika hwesio itu tertegun sementara suhengnya kembali terpukul, watak jelek si buta itu belum lenyap maka Chi Koan tertawa dingin ketika mendengar kata-kata Peng Houw. Naga Gurun Gobi itu marah.

"Chi Koan, kelicikan dan kekejamanmu ternyata belum hilang. Kalau begitu perobahanmu selama ini hanya pura-pura. Hm. kau masih pantas di sini dan seumur hidup memang harus mendapat hukuman!"

"Ha-ha, hukumlah, tekanlah. Aku tak ingin belas kasihanmu, Peng Houw. Sedikit penderitaan ini sudah terbiasa bagiku. Enyahlah dan jangan perdengarkan suaramu lagi!"

Peng Houw menahan marah. la mengangkat tangan menyuruh dua susioknya berjalan lagi sementara iapun berkelebat keluar. Tapi ketika ia membalik dan membelakangi lawannya itu tiba-tiba Chi Koan menghantam dan melepas Hok-te Sin-kang dengan dua tangan mendorong ke depan. Borgol di pergelangan itu tak dapat menyembunyikan suaranya ketika digerakkan keluar.

"Awas!" Peng Houw memutar tubuh dan secepat kilat menggerakkan tangan ke depan. la tentu saja tak begitu gegabah membelakangi lawannya kalau tubuh dan urat syarafnya tidak bersiap. Ia sudah curiga oleh tawa dan sikap lawan. Maka ketika benar saja si buta itu menghantamnya dan Hok-te Sin-kang bergemuruh di dalam guha iapun secepat kilat mengeluarkan Hok-te Sin-kangnya dan tenaga warisan mendiang Ji Leng Hwesio itu bertemu tenaga lawan.

"Bress!" Chi Koan terlempar dan mencelat menghantam tembok. Demikian kuat tenaga pemuda itu hingga tubuh si buta melesak ke dinding guha. Untung rantai baja itu menahan tubuhnya! Dan ketika Chi Koan roboh dan terduduk di lantai, mengeluh. maka Ji-hwesio dan Sam-hwesio mencelat di luar oleh angin pukulan itu.

"Omitohud!" hwesio ini berseru dan bergulingan meloncat bangun. "Kau menggagalkan maksud pinceng, Chi Koan.Kau mengkandaskan semuanya. Aih, kau membuat pinceng menyesal!"

"Ha-ha, ugh... heh-heh, ugh... menyesal atau tidak terserah kau, Ji-susiok. Yang jelas aku membenci jahanam Peng Houw. Ia... lebih baik ia membunuhku sekarang!"

Peng Houw memandang dingin, mendengus mendengar kata-kata itu sementara Sam-hwesio mengusap keringat dingin. Pukulan Chi Koan itu hebat sekali dan kalau bukan Peng Houw tentu mereka tinggal nama, paling sedikit luka berat. Dan ketika hwesio ini menarik napas dalam-dalam dan marah memandang si buta itu maka hwesio ini berkata,

"Chi Koan, benar dugaanku bahwa kau hanya baik di luarnya saja. Di dalam, di batinmu kau masih jahat. Omitohud, tak mungkin kau menerima pengampunan kalau sikapmu seperti ini!"

"Pergilah, jangan banyak cakap!" si buta membentak. "Aku muak mendengar omonganmu, Sam-susiok. Jangan cerewet di sini atau biar Peng Houw membunuhku!"

Hwesio itu merah padam. Chi Koan bersikap kasar dan ini semakin membuka mata Ji-hwesio. Suhengnya itu mengeluh dan menutupi muka, orang yang dibela ternyata masih keji, dua kali melakukan kecurangan dengan serangan gelap. Dan ketika hwesio itu berkélebat sementara Peng Houw menyusul, Chi Koan rebah batuk-batuk maka di bangsal pertemuan tiga orang ini duduk lagi. Ji-hwesio malu membela si buta.

"Omitohud, kau benar. Chi Koan masih pendendam dan keruh batinnya, sute. Ia belum mendapatkan kemajuan secara rohani. Ah, pinceng keliru melihat orang!"

"Sudahlah" sang sute tepekur dan bersila dengan muka murung, ngeri. "Anak itu hanya berpura-pura saja, suheng. Dan kini tampak bahwa kebaikannya di luar hanya semu saja. Kau tak usah memperhatikannya."

"Tapi pinceng kasihan..."

"Kasihan ada tempatnya. Pemuda macam itu tak perlu dikasihani, suheng, lihat ia hampir saja membunuh kita!"

"Ini karena aku," Peng Houw menyela dan menarik napas panjang. "Chi Koan mendidih dan belum dapat melupakan kebenciannya, susiok. Tapi sudah merupakan petunjuk bahwa susiok harus lebih berha-hati kepadanya. Ia sebenarnya belum berubah."

"Ya, belum berubah. Dan pinceng, ah, kecewa sekali membelanya. Ternyata Sam- susiokmu benar, aku tak boleh terpengaruh oleh sikap dan perubahan lahiriahnya."

Hari itu Ji-hwesio mengeluh. la terpukul oleh kenyataan Chi Koan dan berulang-ulang menarik napas dalam. Sam-hwesio, yang sebenarnya menang dan boleh berbesar hati ternyata juga tidak mengejek suhengnya ini. Debat mereka berakhir dan bukti akan Chi Koan terlihat. Kedatangan Peng Houw ternyata merupakan batu ujian penting bagi menentukan sikap Si buta harus tetap menjalani hukuman. Dan ketika Peng Houw menghibur dua susioknya untuk tidak terlalu masygul, urusan sudah selesai maka Peng Houw meninggalkan susioknya ketika matahari muncul di kecsokan harinya.

"Kau, eh... mau pulang? Buru-buru amat? Omitohud, biasanya kau seminggu di sini, Peng Houw. Masa sehari saja şudah pulang."

"Maaf" Peng Houw membungkuk. "Di sana isteriku menunggu, susiok. Boen Siong tentu merepotkan ibunya kalau tidak cepat- cepat kubantu. Hari ini aku harus pulang karena isteriku tak mau lama-lama kutinggal."

"Omitohud, pinceng juga lupa," Sam- hwesio muncul dan berseru. Kau sudah memiliki putera yang cakap, Peng Houw. Tentu sebagai ayah kau cepat rindu kepada anakmu îtu. Ah, kau benar. Kami harus tahu bahwa isterimu sudah ada momongan!"

"Hm, benar," Ji-hwesio sadar dan mengebutkan lengan bajunya. "Pinceng lupa akan ini Peng Houw. Berangkatlah dan kalau begitu salam kami untuk ibu dan anak. Bawa mereka ke mari kalau berkunjung ke sini lagi!"

Peng Houw memerah. Ia sedikit malu oleh seruan Sam-susioknya karena memang secara diam-diam ia rindu puteranya itu. Entah kenapa ia tak dapat berlama-lama meninggalkan anaknya itu. Ada kebahagiaan dan kesan kuat kalau anaknya di pangkuan ibunya. Betapa isterinya terkekeh-kekeh kalau anak itu membuat gerakan lucu misalnya, atau ketika anak itu menangis minta minum.

Peng Houw menelan ludah kalau melihat puteranya menyusu demikian lahap, sang isteri akan memberi emik dan buah dada isterinya yang begitu padat tampak menjanjikan makanan penuh gizi kepada Boen Siong. Ingatan inikah yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang? Rindu kepada anak atau isteri? Dan ketika Peng Houw menjadi malu maka cepat-cepat ia memberi hormat kepada dua paman gurunya itu. Jangan-jangan nanti Sam-susioknya itu dapat membaca isi hati!

"Maaf, Sam-susiok, aku memang harus cepat-cepat pulang. Kau benar, anakku membuat rindu. Biarlah lima enam bulan lagi aku ke sini membawa mereka dan terima kasih untuk doa kalian. Harap jaga diri baik-baik dan laporkanlah kepadaku kalau ada sesuatu tentang Chi Koan."

"Hm, kau tak pernah melupakan anak itu. Baiklah, pergilah, Peng Houw, doa kami bersamamu."

Peng Houw berkelebat dan meninggalkan paman gurunya. Ia tak memberi tahu para murid yang lain dan kepergiannya ini tentu saja membuat murid-murid Go-bi melengak. Mereka terkejut bahwa pemuda yang mereka kagumi itu hanya sehari saja di Go-bi, tidak lebih. Tapi ketika mereka tahu bahwa Peng Houw dinanti anak isterinya, pemuda itu telah berputera maka mereka mengangguk-angguk dan turut tersenyum bahagia. Tapi inilah awal petaka Go-bi!

Peng Houw tak tahu bahwa percakapan itu juga didengar Chi Koan, sama ketika untuk pertama kalinya si buta itu mendengarkan percakapan Peng Houw dengan dua paman gurunya. Maka ketika Peng Houw pergi dan Chi Koan tersenyum di sana, masih mengeluh dan mengusap dadanya yang sakit maka timbullah akal jahat pemuda ini untuk membuat geger.

Chi Koan menggerak-gerakkan rantai borgolnya dengan wajah berseri-seri. Tak ada yang tahu betapa bagian kiri dari rantai baja itu retak. Benturan dua tenaga Hok-te Sin-kang dari pewaris Bu-tek-cin-keng ini telah membuat borgol pecah! Maka ketika Chi Koan tersenyum- senyum dan meraba bagian yang retak itu, mencoba dan merasa dapat mematahkannya maka si buta ini siap keluar dan lolos dari tempat itu.

Namun pemuda ini bukanlah orang yang suka tergesa-gesa. Setelah lima tahun mendekam di guha tawanan ternyata Chi Koan memiliki kesabaran yang besar. Dia hanya akan gagal kalau berhadapan dengan Peng Houw. Dengki dan dendamnya kepada pemuda itu selangit. Maka ketika ia berseri dan menggerak-gerakkan rantai baja, mendengar pembicaraan Peng Houw tiba-tiba saja timbul niat kejinya untuk menculik anak musuh besarnya itu.

"Boen Siong? Anak itu bernama Boen Siong? Hm, ha-ha! Tiba pembalasanku untuk melakukan balasan, Peng Houw. Akan kau lihat kerjaku nanti!"

Si buta ini menunggu gelap. Malam itu seorang murid akan memberinya makanan. Kejadian kemarin itu tak ada yang tahu karena Ji-hwesio maupun Sam-hwesio menyimpannya sebagai rahasia pribadi. Mereka malu kalau anak murid mendengar betapa debat tentang si buta berakhir dengan kekalahan Ji-hwesio, pimpinan di situ.

Maka ketika Sam-hwesio juga menyimpan ini sebagai urusan pribadinya saja, dia harus melindungi rahasia maka suhengnya maka akibatnya para murid tetap tenang dan berseri-seri mengantar makanan pada pemuda itu. Malam itu Lek-siauw-ma dan Hui-bin mendapatkan tugasnya.

“Selamat malam, dua hwesio muda itu menegur ramah. "Kami datang membawa ransum, suheng. Silakan makan dan nikmati masakan kami ini!"

"Hm, masuklah, terima kasih", Chi Koan tertawa dan bersikap biasa, dia sudah dekat dengan murid-murid Go-bi itu.

"Apa kabar, Lek-sute. Bagaimana ilmu langkah kakimu setelah mendapat pelajaran dari aku. Dan kau, sudahkah tanganmu lebih keras, Hui-bin. Tidakkah kesulitan menusuk-nusuk besi panas."

"Ah, kami sudah memiliki kemajuan!" Hui-bin si hwesio muka hitam berseru. "Aku tak apa-apa lagi menusuk besi panas, suheng. Bahkan kurendam pun tak apa-apa. Aku tak merasa sakit lagi!"

"Bagus, kalau begitu dapat kau tunjukkan sekarang," Chi Koan tertawa. "Coba tusuk dinding itu, Hui-bin, dapatkah kau melubanginya atau tidak."

"Tentu dapat cus!" dan si hwesio yang gembira menusukkan jarinya ternyata benar telah melubangi dinding guha itu, menusuk dan menunjukkan yang lain lagi dan Chi Koan mengangguk-angguk. Hwesio muda itu kelihatan bersemangat. Tapi ketika Chi Koan menggetarkan suaranya mempergunakan Sin-im-kang (Suara Mempengaruhi Orang) mendadak hwesio itu terkejut menerima perintah.

"Sekarang tusuk,Lek-siauw-ma. Serang perutnya dan buktikan kelihaianmu!"

Hwesio itu tersentak. Bagai orang kena hipnotis sekonyong-konyong ia menyerang kawannya. Suara Chi Koan memang demikian kuat dan penuh pengaruh. Dan ketika yang diserang terkejut dan berusaha mengelak, Chi Koan menjentikkan jarinya menotok dari jauh tiba-tiba hwesio itu terpaku dan menyambarlah jari si Hui-bin mengenai perutnya.

"Cuss!" Hui-bin berteriak kaget. Jarinya melubangi perut kawan dan robohlah Lek-siauw-ma oleh serangannya yang berbahaya. Hwesio itu berteriak dan terjengkang, ususnya melotot. Dan ketika dua-duanya terkejut namun si hwesio terkapar menuding-nuding, roboh dan tewas maka si hwesio muka hitam terbelalak dan pucat. Chi Koan miringkan kepala dan pura-pura bertanya,

"Apa yang terjadi, apakah Lek-ma tidak mengelak!"

"Ia. ia tewas... Hui-bin histeris dan meloncat-loncat. "Ah, aku membunuhnya, suheng. Aku membunuhnyá. Ia tak mengelak ketika kuserang!"

"Hmm! " Chi Koan mengebut dan tiba-tiba menyambar hwesio itu. “Kau melakukan pembunuhan, Hui-bin. Kau kejam. Kenapa harus bersungguh-sungguh menyerang kawan!"

"Ampun... aku, ah... aku tak mengira, suheng. la terpaku begitu saja. Ia diam dan seakan bengong. Dia... dia tak mempergunakan langkahnya mengelak. Aku membunuh saudaraku sendiri. Aku iblis!"

"Sst, jangan berteriak. Kalau begitu kau tak salah, Hui-bin, dan orang yang tak sengaja tak bisa diapa-apakan. Kau seret mayat saudaramu dan tanam di belakang guha. Aku menjadi saksi bahwa kau tidak berdosa!"

"Suheng... Suheng membela aku?" Aku membela kebenaran, Hui-bin. Orang benar memang patut dibela. Sudahlah tak perlu kaupikir dan kuburkan mayat itu di belakang guha. Cepat!"

Hwesio ini mengguguk tak keruan. Ia sudah takut dan pucat bahwa saudaranya terbunuh. Dialah yang membunuh. Tapi ketika Chi Koan bicara menghibur dan menepuknya lembut, Ia tersedak dan menggigil tak keruan maka ia menatap si buta itu seakan tak percaya.

"Suheng... suheng benar-benar melindungi aku. Suheng mau menjadi saksi bahwa semua ini bukan kesengajaanku?"

"Bodoh, siapa mau melaporkan ini kepada pimpinanmu, Hui-bin. Aku takkan menjadi saksi siapa-siapa. Kau tak sengaja, titik. Tanam mayat itu dan jangan bicara ini lagi. Aku bersikap seolah-olah tak tahu dan singkirkan itu."

Hwesio ini gemetar. la menghapus air matanya dan ketenangan Chi Koan membuatnya tenang pula. Gerak-gerik dan kata-kata si buta itu demikian berpengaruh, ia merasa gembira. Dan karena Chi Koan tak akan melaporkan itu dan ia bangkit berdiri, lega maka diseretnya mayat itu ditanam di belakang guha.

Chi Koan sendiri lalu makan dan minum dan disuruhnya hwesio itu kembali. Hui-bin tak boleh lekas-lekas turun. Dan ketika hwesio itu datang lagi dan pemuda ini melempar mangkok piring maka ia memegang bahu murid itu dan tersenyum.

"Kejadian malam ini tak perlu membuatmu ketakutan. Jari-jarimu benar hebat. Hm, kalau kau selangkah menerima pelajaran lagi maka Ji-susiok pun tak usah kau takuti, Hui-bin. Kaupun dapat menghadapinya kalau ia memaksamu bersalah. Sekarang maukah kau menolongku hitung-hitung sebagai tutup mulutku atas kejadian ini."

"Suheng mau minta tolong apa?"

"Mencarikan seorang anak lelaki"

"Apa?"

"Sst, jangan berseru. Aku butuh seorang anak di sini, Hui-bin, aku butuh pendamping. Nah, dapatkah kau mencarikan dan berapa lama kau berjanji!'

"Ini....ini..."

"Takut larangan Go-bi? Bodoh, anak itu dapat kau selundupkan, Hui-bin. Bawa ia masuk secara diam-diam. Atau kau bilang keberatan dan aku tak akan membantumu dalam masalah Lek-ma!'

Hwesio itu pucat. Ia merasa terancam dan gelisah, sejenak ia terbelalak memandang si buta itu. Tapi ketika senyum itu mengembang dan Chi Koan menekan pundaknya maka ia menjerit.

"Hui-bin, aku tak butuh jawabanmu lagi. Seminggu tak membawa itu maka urusanmu tanggung sendiri. Keluarlah dan cukup ini!"

Hwesio itu terdorong. la terlempar dan bergulingan di luar sambil mengeluh tertahan. Dorongan itu membuat pundaknya seakan retak-retak. Dan ketika ia meloncat bangun dan ngeri memandang guha maka Chi Koan meniup padam api lilin di dalam. Hwesio itu tak mampu berkata-kata. la tersudut dan terpojok. Si buta itu lihai. la bukan apa-apa kalau Chi Koan mengancam nyawanya. Maka ketika Ia mengeluh dan turun dari bukit, tertatih maka hari demi hari dilewati penuh kebingungan oleh hwesio ini.

Betapa tidak. Go-bi memiliki peraturan yang ketat bahwa orang luar tak boleh masuk. Dewasa maupun anak-anak harus seijin pimpinan. Tempat itu bukan losmen. Bukan pasar yang orang lain boleh masuk keluar begitu saja. Tapi ketika teringat tewasnya Lek-ma dan betapa Chi Koan satu-satunya saksi mata maka ia pun mengepal tinju dan akhirnya mencarikan anak seperti yang dimaksud pemuda buta itu.

Hui-bin tak tahu untuk apa tapi menelan saja jawaban Chi Koan bahwa si buta ingin pendamping. Kebetulan ia tahu anak yang dimaksud itu, bukan orang lain melainkan keponakannya sendiri. Maka ketika ia bergegas dan minta ijin dua hari untuk mengunjungi keluarganya, satu kebiasaan para murid di waktu-waktu tertentu maka Ji-hwesio sama sekali tak menyangka bahwa di tempatnya telah kebobolan seorang bocah!

Chi Koan tertawa lebar ketika pada hari ketujuh murid itu datang lagi, tidak sendiri melainkan bersama seorang anak lelaki kecil berusia enam tujuh tahun. Tentu saja ia girang. Dan ketika ia mengangguk dan meraba-raba kepala anak itu, bertanya siapa dan dari mana maka anak itu menjawab bahwa ia bernama Siauw Lam, anak desa.

"Siauw Lam? Ha-ha, namamu nama anak seorang nakal. Eh, siapa orang tuamu, Siauw Lam, masih hidup atau sudah mati.”

"Kedua orang tuaku sudah mati," anak itu menjawab, tabah. "Dan siapa kau, paman buta. Paman Hui-bin membawaku kesini katanya untuk memijat dan menolongmu apa saja. Berapa kau bayar dan pekerjaan apa saja yang hendak kau berikan!"

"Ha ha, anak pemberani. Belum bekerja sudah menanya upah! Eitt, upahmu tinggi, Siauw Lam, asal penurut dan cocok denganku. Hm-hmm, kepalamu kuat dan bentuknya lonjong ke belakang. Otakmu cerdik dan penuh akal. He-he Cocok untukku dan boleh kau tinggal di sini!"

"Nanti dulu, aku ingin bertanya tentang hak. Berapa upah yang kau bayar dan mampukah kau membayarnya. Kalau tidak lebih baik aku pergi dan biar paman Hui-bin mencari lain!"

Hui-bin terkejut. Hwesio muka hitam itu menjadi pucat dan ia membentak agar si bocah tak kurang ajar. Ia melotot! Tapi ketika anak itu tetap tegar dan semua ini didengar Chi Koan, dengan telinganya ia mampu melihat semuanya maka si buta itu terbahak.

"Heii, upahmu ilmu silat, Siauw Lam. Lihat apakah ini tidak berharga untukmu... wut!" Chi Koan menggerakkan jarinya dan tahu-tahu tubuh anak itu terangkat, naik dan terlempar dan segera ia menggerak-gerakkan jari tangannya itu.

Anak ini terlempar dan terputar-putar di udara, berteriak dan kaget namun tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh. Chi Koan dan anak itu sama-sama tertawa girang. Tapi ketika Chi Koan menghentikan gerakannya dan anak itu terpelanting, menjerit namun Chi Koan menangkapnya dengan kelima jari kokoh maka anak itu terbahak-bahak merangkul si buta, menciumi mukanya.

"Heh-heh, hi-hiik... Kau hebat dan luar biasa, paman. Kalau sulap itu kauberikan. kepadaku tentu saja aku suka. Hayo, lempar dan putar lagi aku ke atas. Aku ingin menjadi baling- baling!"

"Ha-ha, anak pemberani," Chi Koan kagum. "Kaulah yang hebat dam luar biasa, Siauw Lam. Kau pantas menjadi muridku. Ah, kau seperti aku!"

Chi Koan memang bicara sungguh- sungguh. Ia teringat dirinya dulu ketika kanak- kanak, pemberani dan tidak kenal takut dan anak ini mirip dirinya. Maka ketika ia menjadi girang sementara anak itu kagum bukan main, ilmu "sulap" si buta membuatnya tertarik maka tanpa sepengetahuan tokoh-tokoh Go-bi Chi Koan mengambil anak ini sebagai muridnya.

Ia benar-benar merasa cocok begitu pula si bocah, apalagi anak ini katanya yatim piatu, tidak bersanak tidak berkadang padahal Hui-bin paman kandungnya. Ada larangan dari hwesio muka hitam itu agar si bocah tak mengaku saudara, karena sesungguhnya ibu anak itu adalah kakak perempuan Hui-bin.

Maka ketika sebulan kemudian Chi Koan hidup bersama anak laki-laki itu, rencana demi rencana disusun untuk lolos dari guha tawanan maka Hui-bin yang tetap melayani makan minum dua orang ini dibuat kaget ketika suatu malam Chi Koan menerkamnya dan berkata bahwa ia akan keluar, minta dicarikan sebuah tongkat panjang.

"Sudah saatnya aku pergi, Siauw Lam dapat membantuku. Nah, carikan tongkat panjang untuk pencari jalan, Hui-bin, dan besok malam kau bantu aku mencari jalan keluar. Bersihkan pintu gerbang dan biarkan aku lewat bersama muridku ini."

"Suheng... suheng mau melarikan diri."

"Bukan melarikan diri, melainkan menemui musuhku, siapkan tongkat itu, Hui-bin, carikan yang kuat dan berongga. Besok aku pergi dan bersihkan jalanan!"

"Tapi... tapi suheng terikat. Kaki tangan suheng diborgol!"

"Ha-ha, kau kira apa? Borgol ini sudah tak berarti, Hui-bin, lama sekali. Lihat, siapa dapat membelengguku... krak-krekk! borgol patah-patah dan Siauw Lam bersorak kagum.

Memang sudah lama Chi Koan ingin membebaskan diri namun merasa belum saatnya. Ia masih harus menyiapkan Siauw Lam dasar-dasar ilmu silat untuk dipakai dalam perjalanan, karena tak mungkin ia harus terus menerus menjaga muridnya itu. Siauw Lam harus dapat menjaga diri pula, nanti setelah lolos ia akan memperdalam ilmunya.

Maka ketika ia merasa cukup dan sebulan itu berancang-ancang, Siauw Lam dapat mengganti matanya yang buta maka malam itu ia meminta Hui-bin membersihkan ranjau. Halangan ini bisa berupa penjagaan di pintu gerbang, atau penjagaan-penjagaan lain di sekeliling bangunan Go-bi.

Dan karena ia buta tak dapat melihat lawan, tentu saja ia harus amat berhati- hati maka Chi Koan tak mau mengambil resiko dan diperintahkannya hwesio muka hitam itu menyiapkan jalanan.

la tak takut keroyokan murid-murid Go-bi namun sebisa mungkin harus menghindari itu. Sekali ia mendapat kesukaran tentu muridnya itulah yang paling celaka. Dan karena ia amat menyayang muridnya ini seperti kepada anak kandung sendiri, ia dan Siauw Lam saling cocok maka besok malam ia ingin keluar dan sebatang tongkat diperlukannya untuk pengganti mata, mencari jalan.

Akan tetapi hwesio muka hitam itu terbelalak, Hui-bin terkejut sekali bahwa dengan sekali sentakan saja rantai borgol terlepas. Si buta bebas. Dan ketika ia terkejut dan bingung serta takut, berbagai perasaan mengaduk hatinya maka ia tertegun bengong ketika jari Chi Koan mencengkeramnya, menjerit ketika sakit.

"Bagaimana, bisa atau tidak. Kenapa kau diam saja, Hui-bin, apa yang kau pikirkan dan mampukah kau melaksanakan perintahku!"

"Aku. aku akan menurut. Tapi, ah bagaimana ini, suheng. Apa jawabanku kepada para pimpinan kalau kau tak ada. Bukankah aku lebih banyak di sini melayanimu!"

"Bilang saja bahwa aku pergi, kau tak tahu apa-apa. Ingat bahwa orang-orang Go-bi tak dapat mencegahku, Hui-bin. Yang dapat menandingi aku hanya Peng Houw. Katakan bahwa kau tak tahu apa-apa dan kalau perlu kurobohkan dulu!'

Chi Koan bergerak dan tiba-tiba tertawa. Belum habis bicaranya sekonyong-konyong ia melempar hwesio itu, Hui-bin memang terlebih dahulu dicengkeram. Dan ketika hwesio itu berteriak dan terguling-guling, meloncat bangun di sana maka Chi Koan berkelebat dan telah menekan punggung hwesio muda ini.

"Nah, apa kataku. Bukankah kau tak berdaya dan semuanya berjalan mudah. Siapkan besok malam dan jangan banyak cerewet!"

Hwesio itu gemetar. la pucat memandang borgol yang bergoyang-goyang di pergelangan kaki dan tangan itu. Si buta bebas. Dan ketika ia tertegun dan mengeluh bangun, Chi Koan melepaskan tekanannya maka si buta masuk kembali dan malam itu si hwesio muka hitam gelisah tak dapat tidur. Ia cemas dan ngeri bahwa tawanan lolos. Apa kata para pimpinan kalau Chi Koan tak ada di tempatnya lagi. Go-bi tentu geger.

Tapi menggigit bibir dan mengepal tinju akhirnya ia menyiapkan perintah itu sebaik mungkin. Dan sore harinya ia buru-buru mendaki bukit membawa sebuah tongkat panjang, bambu yang tua dan hitam namun amat kuat sekali, tak tahu bahwa dari bawah bukit terbelalak sepasang mata lebar Sam-hwesio. Hwesio itu kebetulan saja melihat sang murid mendaki bukit, namun bukan itu yang membuatnya heran melainkan sebatang bambu panjang itu.

Maka ketika Sam-hwesio menunggu dan menjadi curiga, tak berani naik mengingat pengalamannya yang lalu maka Hui- bin kaget bukan main ketika turun gunung. Paman gurunya mencegat.

"Tunggu, berhenti., Apa yang kau bawa ke atas tadi. Hui-bin, Mana tongkat panjang itu. Untuk apa dan kenapa tidak berada di tanganmu lagi!"

Murid lni kaget. Hui-bin sampai mendeprok namun sambil berlutut ia menjawab menggigil, bahwa tongkat itu ditaruhnya ke atas untuk sewaktu-waktu menjaga diri. Dan ketika sang susiok berkerut kening merasa heran, juga curiga maka murid muda ini berkata, menyambung.

"Teecu tak ingin menghilangkan kewaspadaan, teecu ingin menjaga diri teecu baik-baik. Maaf kalau teecu berbuat salah, susiok. Apakah tak boleh menyembunyikan senjata di atas bukit. Bagaimana kalau Chi Koan suheng tiba-tiba ganas kembali!"

"Hm-hm, begitu? Baik, ada benarnya. Tapi eh, penjaga dapur melapor kepadaku, Hui-bin, bahwa belakangan ini jatah makanan tawanan bertambah, Kau membawa ransum untuk dua orang!"

"itu.... maaf, ampun... Chi Koan suheng mengajakku makan bersama, susiok. Ia ingin ditemani. Teecu tak berani membantah!"

"Bagus, dan ada lagi laporan ganjil. Katanya Lek-siauw-ma lenyap. Eh, ke mana saudaramu itu, Hui-bin, ia paling dekat denganmu. Katakan kepadaku mengapa ia tak ada!"

Hwesio ini pucat. la paling gugup kalau sudah ditanya tentang ini. Wajah dan mata susioknya itu tajam menembus. Tapi menangis dan membentur-benturkan jidat ia justeru bermain sandiwara.

"Ampun, ini juga tak kuketahui, Susiok. Justeru teecu merasa kehilangan dan menanti-nanti. Mungkin ia pulang dusun, atau mungkin mendapat celaka ditengah perjalanan. Teecu tak tahu dan maaf teecu tak berani melapor. Teecu menunggu siapa tahu ia tiba-tiba datang!"

"Hm, dan kau akrab sekali dengan si buta itu. Hati-hati, ia bukan orang baik-baik, Hui-bin. Aku mengingatkanmu agar tidak celaka di tangannya. Chi Koan itu manusia iblis!"

"Teecu tahu, teecu akan berhati-hati, itulah sebabnya teecu menyimpan senjata di atas, susiok, untuk berjaga-jaga siapa tahu suatu saat ia mengancam jiwa teecu!" " Hmm, baiklah. Pergilah dan sekali lagi hati-hati."

Hwesio itu girang. Perobahan wajahnya yang begitu menyolok membuat sam hwesio mengerutkan kening. Murid muda itu bangun dan meloncat pergi, berseri-seri. Dan ketika Sam-hwesio mengawasi dengan pandang mata aneh mendadak sesuatu jatuh dari balik baju muridnya itu, tanpa terasa.

Hwesio ini hampir saja berseru tapi menahan mulutnya, membiarkan hwesio muda itu lenyap untuk. akhirnya bergerak dan menyambar ini, sebuah bungkusan . Lalu ketika ia ragu namun membuka itu, tak enak tiba-tiba matanya terbelalak melihat betapa di dalam bungkusan itu terdapat tiga stel pakaian anak-anak!

"Hm, apa artinya ini," Sam-hwesio tentu seja curiga, tak tahu bahwa itulah titipan Siauw Lam untuk malam nanti bersiap-siap keluar. Rahasia apa yang kau bawa, Hui-Bin. Agaknya ada sesuatu yang kau sembunyikan!"

Hwesio ini tiba-tiba marah. la merasa muridnya itu menyimpan sesuatu, hampir saja bergerak dan mengejar sang murid tapi mendadak ditahan. Untuk kedua kali ia menekan perasaan. Dan ketika hwesio ini berkelebat dan kembali ke tempatnya maka tanpa diketahui Hui-bin ia mengawasi gerak-gerik muridnya itu.

Hui-bin sendiri sudah terlampau girang lepas dari pertanyaan-pertanyaan sulit. la berbaur lagi dengan saudara-saudaranya dan mencari tahu siapa malam nanti yang bertugas jaga. Dan ketika ia, mengetahui bahwa yang bertugas adalah dua suhengnya dan seorang sute maka hwesio ini berdebar menyiapkan jalan.

Sam-hwesio mengerutkan kening melihat murid muda itu masuk keluar pintu gerbang, agaknya ada yang sedang dikerjakan. Dan ketika gerak-gerik muridnya ini semakin mencurigakan maka dilihatnya Hui-bin membawa arak dan meletakkan itu secara hati-hati di celah gapura yang bentuknya seperti meja, kecil dan datar di mana biasanya murid yang berjaga meletakkan makanan dan minuman penangkal kantuk, khususnya di malam hari.

Hwesio ini merah mukanya. la mulai dapat menduga ada sesuatu yang curang hendak dilakukan murid muda itu. Hui-bin memang hendak meloloh arak yang bercampur obat bius. Hwesio ini mendapat akal bahwa itulah satu-satunya jalan melumpuhkan penjaga. Si buta dan muridnya nanti dapat lewat.

Dan ketika ditempat yang lain murid itu juga meletalkan sebotol arak kecil, menyembunyikannya di antara celah-celah tembok maka Sam-hwesio hampir saja meloncat keluar menerkam murid durhaka itu. Go-bi tak memperkenankan murid-muridnya minum minuman keras, Tabu!

Namun hwesio ini lagi-lagi menahan diri. la telah melihat semuanya itu dari jauh, kalau terburu-buru datang jangan-jangan ia tak tahu apa kelanjutannya. Maka ketika hwesio ini terus bersembunyi dan mudah baginya mengintai murid muda itu akhirnya malam pun datang dan di sinilah wakil Go-bi ini terbelalak.

Menjelang malam, ketika angin gurun bertiup dingin maka muridnya itu naik ke bukit menuju tempat tawanan. Sam-hwesio tak berani mendekat dan bersembunyi di bawah, mengintai. Lalu ketika dua bayangan keluar dari guha, disusul seorang anak kecil maka hwesio ini kaget sekali karena si buta Chi Koan lolos!

"Omitohud, Hui-bin kiranya berkhianat!" Akan tetapi hwesio ini tertegun. Dia teringat bahwa rantai baja yang mengikat pergelangan si buta itu tak mungkin dipatahkan begitu saja. Hui-bin tak akan mampu melakukan itu. Maka ketika ia terbelalak melihat si buta dibantu tongkat, mata hwesio ini melotot maka ia sadar bahwa murid muda itu kiranya menipu.

Tongkat itu untuk Chi Koan! Sam-hwesio gemetar. Chi Koan yang dibantu tongkat dan tak-tuk-tak-tuk mencari jalan dibantu lagi oleh hwesio muda itu. Dari kejauhan hwesio ini melihat bahwa semuanya itu rupanya sudah dipersiapkan. Dan ketika di bawah sinar bintang ia melihat ketiganya cukup jelas, anak laki-laki itu memegangi ujung baju Chi Koan maka terdengarlah suaranya sayup-sayup sampai.

"Suhu, senang rasanya akan keluar dari tempat ini. Ah, aku tentu dapat menikmati makanan enak, bosan sayuran dan bubur melulu!"

"Sst, jangan keras-keras. Hui-bin menyiapkan itu untuk kita, Siauw Lam. Di luar nanti kau dapat makan sepuasmu. Ada bak-pao daging babi, juga arak."

"Arak? Ah, aku suka, suhu. Minuman itu lezat sekali, menggigit dan menyengat lidah!"

"Diamlah, awasi sekeliling dan bantu aku melihat ke depan."

Anak itu tertawa-tawa. Sam-hwesio pucat mendengar si bocah menyebut suhu, berarti Chi Koan mempunyai murid. Dan ketika mereka berjalan turun sementara Chi Koan berseri-seri, Hui-bin menggigil dan tampaknya takut melakukan pekerjaan ini maka desah napas si hwesio tiba-tiba terdengar telinga tajam si buta.

"Ada orang!" Rombongan itu berhenti. Chi Koan terkejut dan miringkan kepala.

Sam-hwesio lebih terkejut lagi. Sedikit desah napasnya saja ternyata tertangkap si buta itu, bukan main tajamnya! Dan ketika hwesio ini menahan napas dan Chi Koan miringkan kepala ke arah batu hitam hwesio itu, tadi tak mendengar apa-apa karena suara tak-tuk tongkatnya menutup semua bunyi maka tiba-tiba ia tersentak oleh desah napas itu.

"Hm...!" Chi Koan memandang hwesio muka hitam ini. "Kau bilang tak ada orang membuntutimu, Hui-bin, tapi kudengar seseorang berdesah napas pendek. Apa artinya ini dan apakah kau membohongiku!"

"Ampun.... sumpah!" si hwesio gemetar. "Aku ke sini benar-benar tak diketahui siapapun, suheng. Aku datang sendiri. Tanyalah Siauw Lam apakah ada orang di sekeliling sini!"

"Memang tak ada," anak itu menjawab, ikut terkejut. "Aku tak melihat siapapun, suhu. Mungkin kau salah dengar!"

"Hm, tak mungkin," Chi Koan juga merasa heran, di sana Sam-hwesio menahan napas kuat-kuat, tak ada suara lagi. "Telingaku tak dapat ditipu, Siauw Lam. Jarak satu li saja dapat kutangkap pembicaraan orang."

"Tapi tempat ini benar-benar sunyi, aku tak melihat siapapun."

"Baiklah, mari teruskan perjalanan," dan Chi Koan yang bergerak lagi mengajak dua temannya akhirnya tak mendengar lagi suara itu karena Sam-hwesio nyaris tak bernapas!

Hwesio ini menahan segala gerakan kuat-kuat hingga bernapas pun rasanya dicekik. Untung Chi Koan tidak melewati batu hitam itu, membawanya ke tempat lain. Tapi begitu mereka turun dan hwesio ini pucat maka Sam-hwesio berkelebat dan turun lewat punggung bukit yang lain. Siap melapor dan mengerahkan seluruh kekuatan Go-bi!

Akan tetapi gerakannya ini ternyata lagi-lagi tertangkap Chi Koan. Desir jubah hwesio itu tertangkap telinga si buta, Chi Koan berhenti dan membalik. Dan ketika secepat kilat ia menyontek sebuah batu hitam menyerang hwesio itu, membentak maka Hui-bin terkejut bahwa sesosok bayangan berlari cepat ke arah yang lain.

"Aduh!" Untung hwesio ini telah tiba di puncak. Ia melempar tubuh bergulingan dan menjerit ketika batu itu menghantam pundaknya. Sebelah lengan hwesio ini sengkleh! Tapi ketika ia terus bergulingan dan lenyap di bawah sana, menggelinding bagai trenggiling maka Chi Koan mengenal suara itu sebagai Sam-susioknya.

"Kau menipu!" Chi Koan membentak dan tiba-tiba mencengkeram bahu temannya, Hui-bin berteriak. "Kau menjebak aku, Hui-bin. Sam-susiok ada di situ. Lihat apakah telingaku salah!"

Hwesio itu menangis. Ia berseru dan menendang-nendang kakinya dan berkata bahwa dirinya tak membawa siapapun kesitu. Kalau wakil Go-bi muncul maka itu di luar tahunya. Dan ketika Chi Koan membanting dan hwesio itu menjerit tiba-tiba tongkat si buta itu bergerak dan hampir saja mencoblos dada temannya kalau Siauw Lam tak berseru mencegah.

"Suhu, tahan dulu. Paman Hui-bin agaknya benar-benar tak bersalah!"

"Hm, apa alasanmu?"

"Mudah saja, suhu. Kalau ia bohong buat apa mengantar kita sampai di sini, bukankah lebih selamat kalau tak usah datang dan menerima kemarahanmu. Aku menduga hwesio bau itu menguntit sejak awal!"

Chi Koan tertegun. Ia membiarkan hwesio itu bangun dan Hui-bin gemetaran. Hampir saja tongkat panjang itu menembus dadanya. Dan ketika ia merintih dan bingung serta takut maka Chi Koan bertanya apakah dia bertemu hwesio itu sebelumnya.

"Benar, tapi... tapi siang tadi, suheng. Tak ada apa-apa yang membuatnya curiga."

"Apa katanya? Kau ditanya apa saja?"

"Aku aku ditanya kenapa ke atas. Kukatakan bahwa aku membawa makanan siang."

"Hm!" Chi Koan menangkap suara bohong di situ, pura-pura tak tahu. "Lalu apa tanyanya lagi?"

"Tak ada, suheng. Itu saja!"

"Baik, kalau begitu mari jalan lagi. Kita turun dan lewat sebelah kanan, jangan ke pintu gerbang."

"Tapi... tapi penjaga di sana sudah kubius. Jalan itu lebih mudah!"

"Jangan sok tahu. Aku curiga jangan-jangan tua bangka itu sudah mengawasi sepak terjangmu, Hui-bin. Kita tak perlu ke sana karena jalan tentu ditutup. Bawa aku ke sebelah kanan dan di sana kujebol temboknya!"

Hwesio ini mengangguk. Tak ada banyak waktu lagi dan merekapun cepat bergerak. Chi Koan mendongkol dan diam-diam marah kepada temannya ini. Tentu saja ia tak tahu Hui- bin ditanya macam-macam, bahkan kehilangan bungkusan Siauw Lam berisi tiga stel pakaian itu. Dan ketika mereka keluar dan merunduk dengan cepat, pagar berduri itu dilalui maka benar saja genta bahaya dipukul gencar. Sam- hwesio rupanya sudah tiba di dalam dan melaporkan pelarian ini.

"Apa, Chi Koan? Dia lolos?"

"Benar, suheng, dan si buta itu dibantu Hui-bin, murid kita. Ia mempunyai murid pula dan kita tak tahu kapan kebobolan!"

Ji-hwesio terkejut bukan main. Ia kedatangan sutenya yang roboh di pintu kamar, menceritakan terbata-bata dan ambruklah hwesio itu di depannya. Sam-hwesio merintih. Namun ketika ia cepat menolong dan para murid dipanggil, genta bahaya dibunyikan maka hwesio itu berkelebat sementara Sam-hwesio sudah dibebat. Hwesio ini merah padam dan menyambar toyanya, bergerak, meskipun terhuyung.

"Kau di dalam saja, biar pinceng yang menghadang!"

"Tidak, ini urusan kita semua, suheng. Kalau aku masih dapat jalan biarlah aku membantumu sebisanya. Hati-hati dan suruh semua murid membuang arak!"

"Arak?"

"Aku lupa menceritakan ini. Hui-bin menaruh botol arak di meja batu, di celah gapura. Baru sekarang aku mengerti karena rupanya anak itu hendak membius!"

Gegerlah Go-bi. Ji-hwesio membentak dan cepat sekali menuju pintu gerbang, benar saja tiga orang sudah menggeletak di sana, teler. Dan ketika ia berkelebat ke tempat lain dan beberapa murid juga bergelimpangan, inilah murid-murid yang nakal dan melanggar aturan maka hwesio itu pucat melihat tiga bayangan bergerak cepat di bagian barat tembok tinggi.

"Itu mereka, cegat!"

Namun bayangan itu hilang lagi. Chi Koan menjadi marah dan sadar bahwa pekerjaan temannya gagal. Ia tak takut menghadapi orang-orang Go-bi ini namun karena banyak di antara mereka yang sudah baik kepadanya, membuat ia sungkan maka ia mencari jalan terbaik tanpa harus menumpahkan darah. Tapi si tolol ini luput.

Genta dipukul berulang-ulang dan lentera atau lampu besar bermunculan di mana-mana. Tempat-tempat gelap seketika menjadi terang. Dan ketika ia bertanya di mana mereka sekarang maka Hui-bin menjawab sudah di sebelah kanan tembok belakang.

"Hm, naik ke punggungku," si buta tiba-tiba berseru kepada muridnya. "Pegang dan peluk erat-erat leherku, Siauw Lam. Beri petunjuk kepadaku di mana jalanan yang baik!"

"Suhu menyuruh aku menunggang kuda?"

"Jangan cerewet, Siauw Lam. Si bodoh ini membuat kita repot. Naik dan pegang leherku kuat-kuat!"

Anak itu meloncat. Dari semua ketegangan ini ternyata Siauw Lam tak menunjukkan bingung atau takut. Anak itu bahkan berseri-seri. Maka ketika ia meloncat dan menempel di punggung gurunya anak ini mencekik Chi Koan kuat-kuat, gembira dan berseru,

"Suhu, kita sudah mendekati tembok penjagaan. Masa kau akan terbang seperti burung!"

"Hm, berapa tingginya. Arah mana yang aman."

"Kira-kira tujuh meter, arah kiri. Sebelah kanan ada pohonnya."

"Baik, hati-hati!" namun baru saja Chi Koan berseru mendadak dari samping dan belakang serta kiri kanan muncul murid-murid Go-bi itu, juga Ji-hwesio.

"Chi Koan suheng, kau tak boleh lolos. Kembalilah, kami masih sayang kepadamu!" seorang murid berseru.

"Hm, Hui-bin si bocah keparat. Kau kiranya yang membuat gara-gara, Hui-bin. Serahkan dirimu dan terimalah hukuman baik-baik!"

Hwesio muda itu pucat. Ia tiba-tiba terkepung namun membentak keras iapun menerjang ke kanan, ada suheng dan sutenya di situ. Dan ketika ia ditangkis namun dua jarinya menusuk, itulah Tiat-ci (Jari Besi) yang diajarkan Chi Koan maka dua saudaranya menjerit tak menyangka, roboh.

"Minggir!" Hal ini mengejutkan murid lain. Hui-bin mengamuk dan melarikan diri dan kepungan otomatis berubah. Murid-murid Go-bi menjadi dua. Dan ketika hwesio itu berteriak dan lari sambil menusuk sana-sini, maka Chi Koan menjejakkan kakinya dan tubuh si buta ini tiba-tiba melayang naik ke atas tembok yang tinggi itu.

"Heiiii !" Siauw Lam berteriak ngeri. Tembok tahu-tahu meluncur di bawah mereka dan tubuh Chi Koan masih melayang naik, tinggi namun tiba-tiba meluncur turun dan loloslah si buta itu di luar. Chi Koan telah menginjakkan kakinya di tanah. Dan ketika para murid menjadi ribut karena si buta lolos, hanya Ji-hwesio atau beberapa tokoh lain yang mampu melakukan seperti si buta itu maka pimpinan Go-bi ini membentak dan tiga orang melayang naik dan melewati tembok pengaman yang tinggi. Siauw Lam bersorak kagum.

"Suhu, hebat sekali. Kerbau-kerbau dungu itu di dalam. Ha-ha, kita dapat melanjutkan perjalanan tapi bagaimana paman Hui-bin!"

"Biarkan ia di sana," Chi Koan tertawa. "Manusia bodoh macam itu patut menerima pelajaran, Siauw Lam. Sekarang beritahukan padaku jalan mana yang aman."

"Lurus ke depan.... eh!" si bocah terkejut, menengok. "Ada orang mengejar kita, suhu. Tiga kerbau gundul menyuruhmu berhenti!"

"Ha-ha, biar saja. Itu pimpinan Go-bi Ji-susiokku. Ayo pergi dan kita tinggalkan mereka. Pandu aku!"

Siauw Lam tertawa gembira. la berseru menunjuk ke depan dan gurunya bergerak, terbang dan mengikuti kata-katanya di mana ia sering bilang belok kiri atau kanan. Chi Koan tak ragu lagi mengikuti kata-kata muridnya ini dan melesatlah si buta dengan amat cepatnya. Siauw Lam melihat kepandaian gurunya ini dan anak itu sering memekik.

Gurunya melesat bagai siluman saja dan pohon atau apa saja seakan-akan berlari ke arah berlawanan. Siauw Lam bahkan pening. Dan ketika di malam gelap itu si buta menghilang, sang murid benar-benar pengganti matanya maka Ji-hwesio maupun yang lain tak mampu mengejar.

Mereka terengah-engah di luar dan Hui-bin akhirnya tertangkap. Hwesio itu roboh di hajar saudara-saudaranya sendiri. Dan ketika malam itu Go-bi merasa marah, tawanan lepas maka Ji-hwesio mengutus orangnya ke tempat Peng Houw, keesokan harinya.

"Katakan kepada Peng Houw bahwa Chi Koan melarikan diri. Kami tak dapat berbuat apa-apa. Sampaikan maaf dan penyesalan kami yang besar!"

Utusan itu berangkat. Go-bi menjadi murung dan gelap, wajah semua orang menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan besar. Lalu sementara mereka menutup pintu rapat-rapat, Hui-bin didera pertanyaan maka murid sial itu dijatuhi hukuman delapan tahun di tempat Chi Koan.

"Kau," Ji-hwesio berang sekali. "Seharusnya sejak pertama kau memberitahukan kami, Hui-bin, bukan menolong dan malah membantunya. Kau melakukan dosa berat dan menerima hukuman delapan tahun. Setelah itu kau harus keluar dari Go-bi karena sejak saat ini kami tak mengakuimu lagi sebagai murid!"

Muka hwesio itu biru lebam. Ia menangis dan berlutut tapi bersyukur tak sampai dibunuh. Tentang Siauw Lam ia tak mengaku tahu. Dan karena banyak pertanyaan dijawab dengan bohong, tak ada saksi yang mampu menentangnya maka hwesio itu meringkuk di bekas tempat Chi Koan dulu. Sedangkan Chi Koan sendiri ke mana? Si buta ini ke tempat Peng Houw!

* * * * * * * *

Pagi itu guru dan murid ini membanting pantat diluar hutan. Mereka telah jauh dari Go- bi dan Siauw Lam tertawa-tawa. Tapi karena semalam suntuk mereka melakukan pérjalanan, tak pernah berhenti maka siauw Lam mengantuk dan, akhirnya tertidur di atas pundak gurunya itu. Chi Koan berhenti dan otomatis menunda perjalanannya.

"Hm, pengantuk, pemalas! Heii, kau boleh tidur hanya tiga empat jam saja, siauw Lam. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan dan bawa aku ke tempat musuh besarku!"

Anak itu mengangguk lemah. Siauw Lam tak menjawab kecuali dengan senyum menggemaskan. Kedua matanya berat tak dapat dibuka. Tapi ketika matahari naik tinggi dan sang guru membangunkannya maka ia pun mengulet dan membuka matanya. Bau harum daging panggang membuat perutnya berkeruyuk.

"He..He, suhu sudah mendapatkan makanan. Asyiik, perutku lapar!"

"Anak pemalas," Chi Koan tertawa. "Menurutimu tak bisa makan, Siauw Lam. Kerjamu tidur melulu. Lihat, apa ini dan mari sarapan."

Anak itu bangun duduk. la gembira dan mencomot sepotong daging gemuk dari kelinci bakar, suhunya bersila dan tertawa lebar. Lalu ketika mereka menikmati makanan itu, Siauw Lam teringat pakaiannya mendadak anak ini berseru meloncat bangun.

"Pakaianku!" serunya. "Eh, kau bawa dan simpan pakaianku, suhu? Paman Hui-bin sudah memberikannya kepadamu?"

"Pakaian apa," si buta bersungut, Wajah tiba-tiba gelap. "Manusia itu tolol dan bodoh, siauw Lam. Aku juga tak ingat itu tapi nanti dapat mencari di tengah jalan."

"Hm, ia tak apa-apa di Go-bi?"

"Paling-paling dihajar, lalu dihukum."

"Suhu tak menolongnya?"

"Buat apa? Tikus bodoh macam dia tak perlu dihiraukan lagi, Siauw Lam. Kita urus keperluan kita sendiri dan berangkat lagi sesudah ini. Kita ke suatu tempat di pinggiran Huang-ho."

Betapa anak itu berkerut kening dengan alis dalam, namun ketika ia tersenyum dan duduk lagi maka sisa kelinci bakar disantap lagi. Lahap. Anak ini tak terpengaruh lagi oleh nasib pamannya di sana.

"Hm-hm, hebat sekali kepandaian suhu semalam," bocah itu kagum. "Kau dapat melewati tembok demikian tinggi, suhu, seperti burung terbang saja. Ah, bagaimana belajar itu dan bisakah aku sepertimu!"

"Kau akan seperti aku. Dasar langkah- langkah kaki yang kau pelajari itu adalah dasar dari ilmu silat Lui-thian-to-jit, Siauw Lam. Kalau kau bersungguh-sungguh mempelajarinya maka beberapa tahun lagi kaupun dapat melakukan seperti aku."

"Melompat setinggi tujuh meter?"

"Bisa lebih dari itu. Pohon kelapa pun dapat kau lewati."

"Masa?"

"Lihat!" dan Chi Koan yang tiba-tiba berkelebat dan lenyap mengejutkan muridnya mendadak membuat Siauw Lam celingukan dan kaget, mendengar suara di atas. "Aku di sini, Siauw Lam!"

Bocah itu bengong. Ia mendongak dan melihat gurunya tahu-tahu berada di puncak pohon dan tiba-tiba ia bersorak. Gurunya itu terayun-ayun di pucuk ranting yang lemah, tidak jatuh dan ketika melayang turun tahu-tahu telah duduk lagi di situ, tenang, seakan tak terjadi sesuatu yang mengagumkan. Namun begitu anak ini sadar tentu saja Siauw Lam melengking.

"Hebat, seperti kecapung saja. Aih, ilmu meringankan tubuhmu tinggi, suhu. Luar biasa sekali. Hampir tak dapat kupercaya!"

"Hm, dan itu kulakukan dengan kedua mata buta. Aku hanya mendengar desir daun di atas sana, meloncat dan hinggap. Kalau aku melek aku dapat beterbangan di atas pohon-pohon yang lain, Siauw Lam, tiada ubahnya elang atau rajawali pemangsa. Hm, sayang mataku buta dan aku tak dapat berbuat lebih!"

"Itu gara-gara musuh suhu bernama Peng Houw itu. Diakah yang hendak suhu datangi? Tak usah khawatir, aku membantumu, suhu. Kubunuh dia nanti untukmu!"

Chi Koan tertawa getir. Dia menarik napas panjang dan mengusap kepala anak ini. Siauw Lam inilah harapannya. Tapi ingin tahu bagaimana anak itu menangkap dan membunuh Peng Houw maka ia bertanya, "Kau, bagaimana caramu membunuh dia nanti? Apakah dengan kaki tanganmu yang kecil ini?"

"Aku dapat menggigit dan menangkapnya dari belakang, suhu, lalu pisau ini kutancapkan ke jantungnya!"

"Ha-ha, dari mana pisau itu? Kau membawa-bawa senjata tajam?"

"Paman Hui-bin yang memberikannya kepadaku, katanya untuk menjaga diri."

"Hm, pisau itu tak berarti apa-apa. Jangankan dia, kaupun tak dapat melukaiku, Siauw Lam. Cobalah."

Anak itu terbelalak. "Suhu kebal?"

"Cobalah, dan kau akan tahu!"

Lalu ketika anak ini ragu menusukkan pisau, ke kaki gurunya maka Chi Koan berseru agar menancapkan di perut.

"Jangan pilih yang keras, pilih saja yang empuk. Nah, tusuk perutku dan boleh kau lihat!"

Anak ini gembira. Tanpa ragu ia membentak dan menusuk perut gurunya itu, mula-mula dengan tenaga ditahan namun pisau mental. lalu ketika ia mengulang dan bertubi-tubi menusukkan pisaunya tiba-tiba senjata itu patah!

"Ha-ha, bagaimana, Siauw Lam, bukankah tiada gunanya. Nah, percayalah kepadaku bahwa kau masih terlalu rendah. Kau harus belajar baik-baik untuk dapat menghadapi setiap orang. Nanti kucarikan senjata yang baik dan tak usah kecewa dengan pisau buruk itu."

Si bocah terbelalak. Siauw Lam menjadi kagum bukan main dan tentu saja pandangannya kepada sang guru tinggi sekali. Tapi heran dan teringat sesuatu diapun bertanya,

"Suhu, kau yang sehebat ini bagaimana bisa dikalahkan musuhmu. Apakah Peng Houw itu lebih sakti lagi dan tak dapat dilawan!"

"Hm, ia memiliki Hok-te Sin-kang warisan dedengkot Go-bi. Ia tak ksatria dalam menghadapiku, Siauw Lam. Itulah sebabnya aku kalah."

"Kalau begitu kenapa mencari lagi, bukankah seperti ular mendatangi gebuk!"

"Aku memang akan mendatanginya, tapi bukan untuk melawannya. Aku datang untuk membalas sakit hatiku."

"Bagaimana ini?" si bocah bingung. "Kau bilang tak melawannya, suhu, tapi kau datang ke rumahnya. Bukankah sama saja!"

"Tidak, kau tidak mengerti, Siauw Lam. Yang kumaksud adalah membuat perhitungan dengan caraku sendiri. Aku hendak mengganggu isteri dan anaknya!"

"Isteri dan anaknya?" Siauw Lam terkejut. "Aneh, suhu, bagaimana kau dapat melakukan itu. Bukankah Peng Houw akan melindungi anak isterinya!"

"Ha-ha, kali ini tidak. Peng Houw tak ada di rumah, Siauw Lam, ia sedang pergi. Dan cairkanlah otakmu yang sedikit tolol itu dengan peristiwa ini."

Anak itu bingung. Ia masih tak mengerti namun sang guru tiba-tiba mengetuk kepalanya. Dan ketika gurunya itu berkata bahwa lolosnya mereka pasti dilaporkan Peng Houw maka anak itu baru mendusin.

"Kepergian kita kali ini pasti menjadi gempar bagi Go-bi. Ji-hwesio itu pasti melapor kepada Peng Houw. Nah, ketika lawanku itu meninggalkan rumahnya maka saat itulah aku datang. Ha-ha!"

"Ah, jadi ini yang dimaksud subu? Suhu datang di saat ia tak ada?" "Benar, Siauw Lam, dan aku akan membalas dendamku dengan mengganggu anak isterinya. Kalau Peng Houw pulang lagi maka ia tak mendapatkan anak isterinya itu lagi, ha-ha!"

Anak itu bersorak. Siauw Lam memuji gurunya namun tiba-tiba berhenti. Otaknya yang kecil bekerja. Karena ketika tiba-tiba ia tak tertawa lagi dan sang guru mengerutkan kening maka sebuah pertanyaan meluncur.

"Suhu, bagaimana kalau musuhmu itu membawa anak isterinya. Bukankah maksudmu gagal!"

"Hm," Chi Koan mengerutkan kening, kelopaknya yang kosong bergerak-gerak. "Kalau itu yang terjadi adalah sial, Siau Lam. Tapi mudah-mudahan tidak. Sudahlah jangan kecilkan hatiku dan kita berangkat."

Anak itu menghela napas. Gurunya menyambar tongkat dan mulai tertatih, mencari jalan. Tapi ketika ia menuntun dan ganti disambar gurunya maka si buta itu berseru,

"Kita lakukan seperti semalam 1agi, kau di punggungku. Tunjukkan jalan dan kita ke Hutan Hijau!"

Siauw Lam girang. Kalau ia berada di punggung gurunya ini maka iapun dapat menikmati peristiwa terbang. Gurunya akan melesat dan semua pohon atau gunung-gunung berseliweran. maka ketika ia mengangguk dan berseru menuding si buta itupun mengerahkan kepandaiannya.

Benar seperti yang diduga Chi Koan di sana Peng Houw kaget sekali menerima berita Go-bi. Utusan telah datang dan menceritakan segalanya, penyesalan dan rasa marah bercampur aduk. Lalu ketika utusan itu pergi Peng Houw berjanji untuk datang dan melihat Go-bi.

"Baik, sampaikan Ji-susiok bahwa aku segera datang. Pergilah dulu dan akan kucari tawanan itu."

Li Ceng tertegun. la mendengarkan di balik kamar tapi segera keluar begitu utusan Go-bi itu pulang. Chi Koan yang buta dan harus perlahan-lahan dituntun muridnya yang kecil ternyata didahului utusan ini, tak aneh karena Siauw Lam si anak lelaki itu belum tahu persis di mana Cheng-lim (Hutan Hijau) tempat tinggal suami isteri ini.

Maka ketika si buta masih dalam perjalanannya ke mari, sering menyelinap dan menghindari Peng Houw kalau terjadi pertemuan di tengah jalan maka Li Ceng wanita muda itu berseru mengutuk.

"Keparat, Chi Koan benar-benar licik. Tak kusangka ia menekan dan mempergunakan orang dalam untuk melarikan diri. Hm, pergi dan temukan manusia jahat itu, Houw-ko. Jangan biarkan ia berlama-lama di luar. la masih tak berubah!"

"Benar, ia masih tak berubah. Tapi satu hal yang membuatku heran."

"Apa itu?"

"Lepasnya borgol. Tak mungkin Hui-bin mampu memutuskannya!”

"Atau dia sendiri?"

"Tak mungkin juga. Pengikat itu tahan pukulan dan bacokan senjata tajam, Ceng-moi, tahan remasan sinkang. Heran bagaimana bisa lepas!"

Li Ceng tertegun. Suaminya sudah memberi tahu bahwa baja di keempat kaki tangan Chi Koan amatlah kuatnya, tahan pukulan sinkang dan bacokan senjata tajam. Tapi ketika ia mengerutkan kening dan ikut merasa heran tiba-tiba suaminya itu menepuk paha sendiri, meloncat bangun, berubah.

"Ah, pasti itu. Itu kiranya! Keparat, Chi Koan ternyata licik, Ceng-moi. Ternyata ia sudah merancangkan itu lama sebelumnya!"

"Maksudmu?"

"Ingatkah kau ketika ia menyerang Sam-susiok dan aku secara curang? Ingat kah kau ceritaku dulu?"

"Ya, tapi apa hubungannya, Houw-ko, aku tak mengerti."

"Hubungannya jelas. Pukulanku dan pukulannya yang membuat borgol itu putus, atau retak. Hok-te Sin-kang yang kami miliki berdua memang bukan sembarang pukulan dan dia akhirnya lolos!"

Li Ceng terkejut. Segera dia ingat betapa suaminya dan Chi Koan itu memang sama-sama pewaris Hok-te Sin-kang, biar pun yang satu adalah mencuri. Dan karena pukulan itu amat dahsyat dan belum ada tandingannya di dunia ini, itulah kemungkinan yang bisa diterima akal maka nyonya ini mengepal tinju dan berseru gemas.

"Bisa jadi, itu yang memang paling masuk akal. Ah, Chi Koan itu benar-benar busuk, Houw-ko. Kalau begitu tangkisanmu dulu malah menyelamatkannya. Borgol itu tentu retak, dan jahanam itu tinggal memutuskannya!"

"Benar, ini yang terjadi. Ah, aku harus segera pergi dan jagalah rumah baik-baik. Chi Koan memang busuk dan banyak akal!"

Suami isteri yang sama-sama marah ini tak berpikir panjang lagi. Peng Houw tak menduga bahwa ramalan Chi Koan berjalan tepat, ia meninggalkan rumah dan anak isterinya tinggal di situ. Maka ketika empat hari kemudian nyonya rumah kedatangan tamu maka dapat dibayangkan betapa kagetnya Li Ceng melihat Chi Koan berdiri di pintu rumahnya, tersenyum-senyum.

Mula-mula si buta ini tidak muncul begitu saja. Setelah dengan susah payah menemukan tempat itu, berkali-kali Siau Lam harus bertanya-tanya maka anak itulah yang lebih dulu dilepas. Mereka telah tiba di mulut hutan.

"Kau lihat dulu adakah atau tidak rumah seperti kata kakek petani itu. Lihat apakah Peng Houw di rumah. Ia laki-laki gagah seusiaku, bermata tajam, mencorong. Pergilah dan pura- pura meminta sedekah sebagai anak miskin."

Siauw Lam mengangguk. Tiba-tiba ia merasa berdebar dan baru sekarang merasa tegang. Kalau gurunya sampai sedemikian hati-hati menghadapi musuh besarnya itu maka ia dapat membayangkan bahwa pria berjuluk Naga Gurun Gobi itu tentu benar-benar luar biasa. Ia telah mulai banyak mendengar cerita gurunya.

Maka ketika diutus dan masuk ke dalam, ia tak berani melalui jalan setapak maka anak ini menerabas jalanan di samping dan Siauw Lam heran melihat sebidang kebun terawat rapi. Kebetulan tomat dan setundun pisang ada yang masak. Dan dasar anak kecil iapun berhenti sejenak dan berseri-seri melihat pisang dan tomat masak itu, segar.

"Ha,ha.. tak ada orang. Aku akan mengisi perutku dulu dan biar kupetik buah-buah segar itu!"

Siauw Lam pun melompat gembira. la tak tahu bahwa dua anak lain mengawasi kedatangannya dari balik daun ketela, mengerutkan kening. Ini adalah Po Kwan dan adiknya, Siao Yen, dua pembantu cilik si Naga Gurun Gobi yang mendapat tugas di situ.

Mereka memang anak-anak petani yang pandai merawat kebun. Maka ketika Po Kwan melihat betapa seorang anak lelaki lain muncul dan tertawa di kebunnya, meloncat dan memetik buah-buah matang kontan saja ia keluar dan membentak...


Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 05

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara

Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 05


"SELAMAT pagi...!" seruan itu bergema memasuki guha. "Apa kabar, Chi Koan, kuharap kau sehat-sehat dan tak kurang suatu apa selama ini."

Si buta membalik. Peng Houw telah berkelebat dan memasuki guha ketika melihat lawannya itu. Chi Koan menghadap dinding dan tampak bersila. Tapi begitu ia masuk dan mendengar sapaan ini, Chi Koan tak dapat menahan perasaannya maka si buta itu berseru, dingin,

"Peng Houw, aku tak kurang suatu apa selama ini. Terima kasih atas perhatianmu tapi tak usah berbasa-basi!"

"Omitohud" bayangan Ji-hwesio menyusul masuk. "Kami datang mengiringinya, Ci Koan. Ingin membuktikan kepada Peng Houw bahwa kau sudah berubah!"

"Tapi luar dalam harus sama," Sam-hwesio tak mau kalah dan berkelebat dibelakang suhengnya ini. “Barang yang sudah membaik tak akan memudar, Chi Koan. Peng Houw akan selalu waspada dan tak lupa ini!"

Ji-hwesio terkejut. Chi Koan bangkit dan menggerakkan rantai borgolnya hingga benda-benda itu berbunyi nyaring, demikian nyaring hingga memuncratkan lelatu api, menyambar kepada sutenya itu. Tapi ketika Sam-hwesio mengelak dan lelatu ini menghantam belakang dinding guha, meledak dan pecah maka hwesio itu pucat sementara Chi Koan tak dapat menahan perasaannya lagi. Kebenciannya kepada Peng Houw itulah yang membuat ia mendidih!

“Sam-susiok, tak usah bicara macam-macam. Kalau kalian ingin tetap menghukumku akupun tak dapat berbuat apa-apa. Tak perlu menyindir-nyindir aku atau menggosok Peng Houw!"

Semua orang terkejut. Jelas si buta ini marah dan wajahnya yang merah membesi itu membuat Sam-hwesio gentar. Anak ini hampir saja mencelakainya. Akan tetapi ketika Peng Houw berdehem dan maju melindungi, sesungguhnya ia diperingatkan agar selalu waspada maka Naga Gurun Gobi ini mengangkat tangannya.

"Chi Koan, kami datang secara baik-baik. Kami bukan untuk bermusuh. Kalau Sam-susiok atau Ji-susiok bicara seperti itu maka semuanya wajar. Kami berhak mengatakan apa yang kami pikirkan."

"Bagus, dan apa yang sekarang kau pikirkan? Hendak melihat perobahan Chi Koan? Omong kosong. Kau selalu membuat aku mendidih bila datang ke sini, Peng Houw. Kau mengingatkan aku akan seorang jagal terhadap binatang tangkapannya, tak segera membunuh dan mempermainkan untuk kesenangan hatimu sendiri. Enyahlah, atau kau dan aku mampus di sini!"

Peng Houw mengerutkan kening. Setelah tiba dan melihat ini maka tentu saja dia menjadi tak senang. Chi Koan masih memiliki kebencian, dendam atau api itu masih ada. Maka memandang Ji-susioknya menarik napas dalam segera pemuda ini mengangguk dan mengebutkan lengan baju.

"Susiok, belum ada perubahan berarti pada diri Chi Koan. Mari kita pulang dan biarkan dia sendiri lagi."

Ji-hwesio terguncang. Pandang mata Peng Houw kepadanya jelas pandang mata menolak. Chi Koan tiba-tiba marah dan menampakkan kekasarannya. Maka ketika ia menjadi sedih dan buram pandang matanya, mengangguk dan menarik napas dalam-dalam ia pun tak dapat berbuat apa-apa lagi dan berkelebat keluar, sutenya menyusul. Kali ini dia kalah. Dan tepat bersamaan itu tiba-tiba Chi Koan menjentikkan ujung kakinya dan menyambarlah sebutir batu hitam ke punggung hwesio itu.

"Plak!" Peng Houw berkelebat dan hancurlah batu itu oleh kebutannya. Sam-hwesio berhenti dan menoleh dan pucatlah ia oleh serangan gelap itu. Kalau saja Peng Houw tak ada di belakang mungkin ia roboh! Dan ketika hwesio itu tertegun sementara suhengnya kembali terpukul, watak jelek si buta itu belum lenyap maka Chi Koan tertawa dingin ketika mendengar kata-kata Peng Houw. Naga Gurun Gobi itu marah.

"Chi Koan, kelicikan dan kekejamanmu ternyata belum hilang. Kalau begitu perobahanmu selama ini hanya pura-pura. Hm. kau masih pantas di sini dan seumur hidup memang harus mendapat hukuman!"

"Ha-ha, hukumlah, tekanlah. Aku tak ingin belas kasihanmu, Peng Houw. Sedikit penderitaan ini sudah terbiasa bagiku. Enyahlah dan jangan perdengarkan suaramu lagi!"

Peng Houw menahan marah. la mengangkat tangan menyuruh dua susioknya berjalan lagi sementara iapun berkelebat keluar. Tapi ketika ia membalik dan membelakangi lawannya itu tiba-tiba Chi Koan menghantam dan melepas Hok-te Sin-kang dengan dua tangan mendorong ke depan. Borgol di pergelangan itu tak dapat menyembunyikan suaranya ketika digerakkan keluar.

"Awas!" Peng Houw memutar tubuh dan secepat kilat menggerakkan tangan ke depan. la tentu saja tak begitu gegabah membelakangi lawannya kalau tubuh dan urat syarafnya tidak bersiap. Ia sudah curiga oleh tawa dan sikap lawan. Maka ketika benar saja si buta itu menghantamnya dan Hok-te Sin-kang bergemuruh di dalam guha iapun secepat kilat mengeluarkan Hok-te Sin-kangnya dan tenaga warisan mendiang Ji Leng Hwesio itu bertemu tenaga lawan.

"Bress!" Chi Koan terlempar dan mencelat menghantam tembok. Demikian kuat tenaga pemuda itu hingga tubuh si buta melesak ke dinding guha. Untung rantai baja itu menahan tubuhnya! Dan ketika Chi Koan roboh dan terduduk di lantai, mengeluh. maka Ji-hwesio dan Sam-hwesio mencelat di luar oleh angin pukulan itu.

"Omitohud!" hwesio ini berseru dan bergulingan meloncat bangun. "Kau menggagalkan maksud pinceng, Chi Koan.Kau mengkandaskan semuanya. Aih, kau membuat pinceng menyesal!"

"Ha-ha, ugh... heh-heh, ugh... menyesal atau tidak terserah kau, Ji-susiok. Yang jelas aku membenci jahanam Peng Houw. Ia... lebih baik ia membunuhku sekarang!"

Peng Houw memandang dingin, mendengus mendengar kata-kata itu sementara Sam-hwesio mengusap keringat dingin. Pukulan Chi Koan itu hebat sekali dan kalau bukan Peng Houw tentu mereka tinggal nama, paling sedikit luka berat. Dan ketika hwesio ini menarik napas dalam-dalam dan marah memandang si buta itu maka hwesio ini berkata,

"Chi Koan, benar dugaanku bahwa kau hanya baik di luarnya saja. Di dalam, di batinmu kau masih jahat. Omitohud, tak mungkin kau menerima pengampunan kalau sikapmu seperti ini!"

"Pergilah, jangan banyak cakap!" si buta membentak. "Aku muak mendengar omonganmu, Sam-susiok. Jangan cerewet di sini atau biar Peng Houw membunuhku!"

Hwesio itu merah padam. Chi Koan bersikap kasar dan ini semakin membuka mata Ji-hwesio. Suhengnya itu mengeluh dan menutupi muka, orang yang dibela ternyata masih keji, dua kali melakukan kecurangan dengan serangan gelap. Dan ketika hwesio itu berkélebat sementara Peng Houw menyusul, Chi Koan rebah batuk-batuk maka di bangsal pertemuan tiga orang ini duduk lagi. Ji-hwesio malu membela si buta.

"Omitohud, kau benar. Chi Koan masih pendendam dan keruh batinnya, sute. Ia belum mendapatkan kemajuan secara rohani. Ah, pinceng keliru melihat orang!"

"Sudahlah" sang sute tepekur dan bersila dengan muka murung, ngeri. "Anak itu hanya berpura-pura saja, suheng. Dan kini tampak bahwa kebaikannya di luar hanya semu saja. Kau tak usah memperhatikannya."

"Tapi pinceng kasihan..."

"Kasihan ada tempatnya. Pemuda macam itu tak perlu dikasihani, suheng, lihat ia hampir saja membunuh kita!"

"Ini karena aku," Peng Houw menyela dan menarik napas panjang. "Chi Koan mendidih dan belum dapat melupakan kebenciannya, susiok. Tapi sudah merupakan petunjuk bahwa susiok harus lebih berha-hati kepadanya. Ia sebenarnya belum berubah."

"Ya, belum berubah. Dan pinceng, ah, kecewa sekali membelanya. Ternyata Sam- susiokmu benar, aku tak boleh terpengaruh oleh sikap dan perubahan lahiriahnya."

Hari itu Ji-hwesio mengeluh. la terpukul oleh kenyataan Chi Koan dan berulang-ulang menarik napas dalam. Sam-hwesio, yang sebenarnya menang dan boleh berbesar hati ternyata juga tidak mengejek suhengnya ini. Debat mereka berakhir dan bukti akan Chi Koan terlihat. Kedatangan Peng Houw ternyata merupakan batu ujian penting bagi menentukan sikap Si buta harus tetap menjalani hukuman. Dan ketika Peng Houw menghibur dua susioknya untuk tidak terlalu masygul, urusan sudah selesai maka Peng Houw meninggalkan susioknya ketika matahari muncul di kecsokan harinya.

"Kau, eh... mau pulang? Buru-buru amat? Omitohud, biasanya kau seminggu di sini, Peng Houw. Masa sehari saja şudah pulang."

"Maaf" Peng Houw membungkuk. "Di sana isteriku menunggu, susiok. Boen Siong tentu merepotkan ibunya kalau tidak cepat- cepat kubantu. Hari ini aku harus pulang karena isteriku tak mau lama-lama kutinggal."

"Omitohud, pinceng juga lupa," Sam- hwesio muncul dan berseru. Kau sudah memiliki putera yang cakap, Peng Houw. Tentu sebagai ayah kau cepat rindu kepada anakmu îtu. Ah, kau benar. Kami harus tahu bahwa isterimu sudah ada momongan!"

"Hm, benar," Ji-hwesio sadar dan mengebutkan lengan bajunya. "Pinceng lupa akan ini Peng Houw. Berangkatlah dan kalau begitu salam kami untuk ibu dan anak. Bawa mereka ke mari kalau berkunjung ke sini lagi!"

Peng Houw memerah. Ia sedikit malu oleh seruan Sam-susioknya karena memang secara diam-diam ia rindu puteranya itu. Entah kenapa ia tak dapat berlama-lama meninggalkan anaknya itu. Ada kebahagiaan dan kesan kuat kalau anaknya di pangkuan ibunya. Betapa isterinya terkekeh-kekeh kalau anak itu membuat gerakan lucu misalnya, atau ketika anak itu menangis minta minum.

Peng Houw menelan ludah kalau melihat puteranya menyusu demikian lahap, sang isteri akan memberi emik dan buah dada isterinya yang begitu padat tampak menjanjikan makanan penuh gizi kepada Boen Siong. Ingatan inikah yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang? Rindu kepada anak atau isteri? Dan ketika Peng Houw menjadi malu maka cepat-cepat ia memberi hormat kepada dua paman gurunya itu. Jangan-jangan nanti Sam-susioknya itu dapat membaca isi hati!

"Maaf, Sam-susiok, aku memang harus cepat-cepat pulang. Kau benar, anakku membuat rindu. Biarlah lima enam bulan lagi aku ke sini membawa mereka dan terima kasih untuk doa kalian. Harap jaga diri baik-baik dan laporkanlah kepadaku kalau ada sesuatu tentang Chi Koan."

"Hm, kau tak pernah melupakan anak itu. Baiklah, pergilah, Peng Houw, doa kami bersamamu."

Peng Houw berkelebat dan meninggalkan paman gurunya. Ia tak memberi tahu para murid yang lain dan kepergiannya ini tentu saja membuat murid-murid Go-bi melengak. Mereka terkejut bahwa pemuda yang mereka kagumi itu hanya sehari saja di Go-bi, tidak lebih. Tapi ketika mereka tahu bahwa Peng Houw dinanti anak isterinya, pemuda itu telah berputera maka mereka mengangguk-angguk dan turut tersenyum bahagia. Tapi inilah awal petaka Go-bi!

Peng Houw tak tahu bahwa percakapan itu juga didengar Chi Koan, sama ketika untuk pertama kalinya si buta itu mendengarkan percakapan Peng Houw dengan dua paman gurunya. Maka ketika Peng Houw pergi dan Chi Koan tersenyum di sana, masih mengeluh dan mengusap dadanya yang sakit maka timbullah akal jahat pemuda ini untuk membuat geger.

Chi Koan menggerak-gerakkan rantai borgolnya dengan wajah berseri-seri. Tak ada yang tahu betapa bagian kiri dari rantai baja itu retak. Benturan dua tenaga Hok-te Sin-kang dari pewaris Bu-tek-cin-keng ini telah membuat borgol pecah! Maka ketika Chi Koan tersenyum- senyum dan meraba bagian yang retak itu, mencoba dan merasa dapat mematahkannya maka si buta ini siap keluar dan lolos dari tempat itu.

Namun pemuda ini bukanlah orang yang suka tergesa-gesa. Setelah lima tahun mendekam di guha tawanan ternyata Chi Koan memiliki kesabaran yang besar. Dia hanya akan gagal kalau berhadapan dengan Peng Houw. Dengki dan dendamnya kepada pemuda itu selangit. Maka ketika ia berseri dan menggerak-gerakkan rantai baja, mendengar pembicaraan Peng Houw tiba-tiba saja timbul niat kejinya untuk menculik anak musuh besarnya itu.

"Boen Siong? Anak itu bernama Boen Siong? Hm, ha-ha! Tiba pembalasanku untuk melakukan balasan, Peng Houw. Akan kau lihat kerjaku nanti!"

Si buta ini menunggu gelap. Malam itu seorang murid akan memberinya makanan. Kejadian kemarin itu tak ada yang tahu karena Ji-hwesio maupun Sam-hwesio menyimpannya sebagai rahasia pribadi. Mereka malu kalau anak murid mendengar betapa debat tentang si buta berakhir dengan kekalahan Ji-hwesio, pimpinan di situ.

Maka ketika Sam-hwesio juga menyimpan ini sebagai urusan pribadinya saja, dia harus melindungi rahasia maka suhengnya maka akibatnya para murid tetap tenang dan berseri-seri mengantar makanan pada pemuda itu. Malam itu Lek-siauw-ma dan Hui-bin mendapatkan tugasnya.

“Selamat malam, dua hwesio muda itu menegur ramah. "Kami datang membawa ransum, suheng. Silakan makan dan nikmati masakan kami ini!"

"Hm, masuklah, terima kasih", Chi Koan tertawa dan bersikap biasa, dia sudah dekat dengan murid-murid Go-bi itu.

"Apa kabar, Lek-sute. Bagaimana ilmu langkah kakimu setelah mendapat pelajaran dari aku. Dan kau, sudahkah tanganmu lebih keras, Hui-bin. Tidakkah kesulitan menusuk-nusuk besi panas."

"Ah, kami sudah memiliki kemajuan!" Hui-bin si hwesio muka hitam berseru. "Aku tak apa-apa lagi menusuk besi panas, suheng. Bahkan kurendam pun tak apa-apa. Aku tak merasa sakit lagi!"

"Bagus, kalau begitu dapat kau tunjukkan sekarang," Chi Koan tertawa. "Coba tusuk dinding itu, Hui-bin, dapatkah kau melubanginya atau tidak."

"Tentu dapat cus!" dan si hwesio yang gembira menusukkan jarinya ternyata benar telah melubangi dinding guha itu, menusuk dan menunjukkan yang lain lagi dan Chi Koan mengangguk-angguk. Hwesio muda itu kelihatan bersemangat. Tapi ketika Chi Koan menggetarkan suaranya mempergunakan Sin-im-kang (Suara Mempengaruhi Orang) mendadak hwesio itu terkejut menerima perintah.

"Sekarang tusuk,Lek-siauw-ma. Serang perutnya dan buktikan kelihaianmu!"

Hwesio itu tersentak. Bagai orang kena hipnotis sekonyong-konyong ia menyerang kawannya. Suara Chi Koan memang demikian kuat dan penuh pengaruh. Dan ketika yang diserang terkejut dan berusaha mengelak, Chi Koan menjentikkan jarinya menotok dari jauh tiba-tiba hwesio itu terpaku dan menyambarlah jari si Hui-bin mengenai perutnya.

"Cuss!" Hui-bin berteriak kaget. Jarinya melubangi perut kawan dan robohlah Lek-siauw-ma oleh serangannya yang berbahaya. Hwesio itu berteriak dan terjengkang, ususnya melotot. Dan ketika dua-duanya terkejut namun si hwesio terkapar menuding-nuding, roboh dan tewas maka si hwesio muka hitam terbelalak dan pucat. Chi Koan miringkan kepala dan pura-pura bertanya,

"Apa yang terjadi, apakah Lek-ma tidak mengelak!"

"Ia. ia tewas... Hui-bin histeris dan meloncat-loncat. "Ah, aku membunuhnya, suheng. Aku membunuhnyá. Ia tak mengelak ketika kuserang!"

"Hmm! " Chi Koan mengebut dan tiba-tiba menyambar hwesio itu. “Kau melakukan pembunuhan, Hui-bin. Kau kejam. Kenapa harus bersungguh-sungguh menyerang kawan!"

"Ampun... aku, ah... aku tak mengira, suheng. la terpaku begitu saja. Ia diam dan seakan bengong. Dia... dia tak mempergunakan langkahnya mengelak. Aku membunuh saudaraku sendiri. Aku iblis!"

"Sst, jangan berteriak. Kalau begitu kau tak salah, Hui-bin, dan orang yang tak sengaja tak bisa diapa-apakan. Kau seret mayat saudaramu dan tanam di belakang guha. Aku menjadi saksi bahwa kau tidak berdosa!"

"Suheng... Suheng membela aku?" Aku membela kebenaran, Hui-bin. Orang benar memang patut dibela. Sudahlah tak perlu kaupikir dan kuburkan mayat itu di belakang guha. Cepat!"

Hwesio ini mengguguk tak keruan. Ia sudah takut dan pucat bahwa saudaranya terbunuh. Dialah yang membunuh. Tapi ketika Chi Koan bicara menghibur dan menepuknya lembut, Ia tersedak dan menggigil tak keruan maka ia menatap si buta itu seakan tak percaya.

"Suheng... suheng benar-benar melindungi aku. Suheng mau menjadi saksi bahwa semua ini bukan kesengajaanku?"

"Bodoh, siapa mau melaporkan ini kepada pimpinanmu, Hui-bin. Aku takkan menjadi saksi siapa-siapa. Kau tak sengaja, titik. Tanam mayat itu dan jangan bicara ini lagi. Aku bersikap seolah-olah tak tahu dan singkirkan itu."

Hwesio ini gemetar. la menghapus air matanya dan ketenangan Chi Koan membuatnya tenang pula. Gerak-gerik dan kata-kata si buta itu demikian berpengaruh, ia merasa gembira. Dan karena Chi Koan tak akan melaporkan itu dan ia bangkit berdiri, lega maka diseretnya mayat itu ditanam di belakang guha.

Chi Koan sendiri lalu makan dan minum dan disuruhnya hwesio itu kembali. Hui-bin tak boleh lekas-lekas turun. Dan ketika hwesio itu datang lagi dan pemuda ini melempar mangkok piring maka ia memegang bahu murid itu dan tersenyum.

"Kejadian malam ini tak perlu membuatmu ketakutan. Jari-jarimu benar hebat. Hm, kalau kau selangkah menerima pelajaran lagi maka Ji-susiok pun tak usah kau takuti, Hui-bin. Kaupun dapat menghadapinya kalau ia memaksamu bersalah. Sekarang maukah kau menolongku hitung-hitung sebagai tutup mulutku atas kejadian ini."

"Suheng mau minta tolong apa?"

"Mencarikan seorang anak lelaki"

"Apa?"

"Sst, jangan berseru. Aku butuh seorang anak di sini, Hui-bin, aku butuh pendamping. Nah, dapatkah kau mencarikan dan berapa lama kau berjanji!'

"Ini....ini..."

"Takut larangan Go-bi? Bodoh, anak itu dapat kau selundupkan, Hui-bin. Bawa ia masuk secara diam-diam. Atau kau bilang keberatan dan aku tak akan membantumu dalam masalah Lek-ma!'

Hwesio itu pucat. Ia merasa terancam dan gelisah, sejenak ia terbelalak memandang si buta itu. Tapi ketika senyum itu mengembang dan Chi Koan menekan pundaknya maka ia menjerit.

"Hui-bin, aku tak butuh jawabanmu lagi. Seminggu tak membawa itu maka urusanmu tanggung sendiri. Keluarlah dan cukup ini!"

Hwesio itu terdorong. la terlempar dan bergulingan di luar sambil mengeluh tertahan. Dorongan itu membuat pundaknya seakan retak-retak. Dan ketika ia meloncat bangun dan ngeri memandang guha maka Chi Koan meniup padam api lilin di dalam. Hwesio itu tak mampu berkata-kata. la tersudut dan terpojok. Si buta itu lihai. la bukan apa-apa kalau Chi Koan mengancam nyawanya. Maka ketika Ia mengeluh dan turun dari bukit, tertatih maka hari demi hari dilewati penuh kebingungan oleh hwesio ini.

Betapa tidak. Go-bi memiliki peraturan yang ketat bahwa orang luar tak boleh masuk. Dewasa maupun anak-anak harus seijin pimpinan. Tempat itu bukan losmen. Bukan pasar yang orang lain boleh masuk keluar begitu saja. Tapi ketika teringat tewasnya Lek-ma dan betapa Chi Koan satu-satunya saksi mata maka ia pun mengepal tinju dan akhirnya mencarikan anak seperti yang dimaksud pemuda buta itu.

Hui-bin tak tahu untuk apa tapi menelan saja jawaban Chi Koan bahwa si buta ingin pendamping. Kebetulan ia tahu anak yang dimaksud itu, bukan orang lain melainkan keponakannya sendiri. Maka ketika ia bergegas dan minta ijin dua hari untuk mengunjungi keluarganya, satu kebiasaan para murid di waktu-waktu tertentu maka Ji-hwesio sama sekali tak menyangka bahwa di tempatnya telah kebobolan seorang bocah!

Chi Koan tertawa lebar ketika pada hari ketujuh murid itu datang lagi, tidak sendiri melainkan bersama seorang anak lelaki kecil berusia enam tujuh tahun. Tentu saja ia girang. Dan ketika ia mengangguk dan meraba-raba kepala anak itu, bertanya siapa dan dari mana maka anak itu menjawab bahwa ia bernama Siauw Lam, anak desa.

"Siauw Lam? Ha-ha, namamu nama anak seorang nakal. Eh, siapa orang tuamu, Siauw Lam, masih hidup atau sudah mati.”

"Kedua orang tuaku sudah mati," anak itu menjawab, tabah. "Dan siapa kau, paman buta. Paman Hui-bin membawaku kesini katanya untuk memijat dan menolongmu apa saja. Berapa kau bayar dan pekerjaan apa saja yang hendak kau berikan!"

"Ha ha, anak pemberani. Belum bekerja sudah menanya upah! Eitt, upahmu tinggi, Siauw Lam, asal penurut dan cocok denganku. Hm-hmm, kepalamu kuat dan bentuknya lonjong ke belakang. Otakmu cerdik dan penuh akal. He-he Cocok untukku dan boleh kau tinggal di sini!"

"Nanti dulu, aku ingin bertanya tentang hak. Berapa upah yang kau bayar dan mampukah kau membayarnya. Kalau tidak lebih baik aku pergi dan biar paman Hui-bin mencari lain!"

Hui-bin terkejut. Hwesio muka hitam itu menjadi pucat dan ia membentak agar si bocah tak kurang ajar. Ia melotot! Tapi ketika anak itu tetap tegar dan semua ini didengar Chi Koan, dengan telinganya ia mampu melihat semuanya maka si buta itu terbahak.

"Heii, upahmu ilmu silat, Siauw Lam. Lihat apakah ini tidak berharga untukmu... wut!" Chi Koan menggerakkan jarinya dan tahu-tahu tubuh anak itu terangkat, naik dan terlempar dan segera ia menggerak-gerakkan jari tangannya itu.

Anak ini terlempar dan terputar-putar di udara, berteriak dan kaget namun tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh. Chi Koan dan anak itu sama-sama tertawa girang. Tapi ketika Chi Koan menghentikan gerakannya dan anak itu terpelanting, menjerit namun Chi Koan menangkapnya dengan kelima jari kokoh maka anak itu terbahak-bahak merangkul si buta, menciumi mukanya.

"Heh-heh, hi-hiik... Kau hebat dan luar biasa, paman. Kalau sulap itu kauberikan. kepadaku tentu saja aku suka. Hayo, lempar dan putar lagi aku ke atas. Aku ingin menjadi baling- baling!"

"Ha-ha, anak pemberani," Chi Koan kagum. "Kaulah yang hebat dam luar biasa, Siauw Lam. Kau pantas menjadi muridku. Ah, kau seperti aku!"

Chi Koan memang bicara sungguh- sungguh. Ia teringat dirinya dulu ketika kanak- kanak, pemberani dan tidak kenal takut dan anak ini mirip dirinya. Maka ketika ia menjadi girang sementara anak itu kagum bukan main, ilmu "sulap" si buta membuatnya tertarik maka tanpa sepengetahuan tokoh-tokoh Go-bi Chi Koan mengambil anak ini sebagai muridnya.

Ia benar-benar merasa cocok begitu pula si bocah, apalagi anak ini katanya yatim piatu, tidak bersanak tidak berkadang padahal Hui-bin paman kandungnya. Ada larangan dari hwesio muka hitam itu agar si bocah tak mengaku saudara, karena sesungguhnya ibu anak itu adalah kakak perempuan Hui-bin.

Maka ketika sebulan kemudian Chi Koan hidup bersama anak laki-laki itu, rencana demi rencana disusun untuk lolos dari guha tawanan maka Hui-bin yang tetap melayani makan minum dua orang ini dibuat kaget ketika suatu malam Chi Koan menerkamnya dan berkata bahwa ia akan keluar, minta dicarikan sebuah tongkat panjang.

"Sudah saatnya aku pergi, Siauw Lam dapat membantuku. Nah, carikan tongkat panjang untuk pencari jalan, Hui-bin, dan besok malam kau bantu aku mencari jalan keluar. Bersihkan pintu gerbang dan biarkan aku lewat bersama muridku ini."

"Suheng... suheng mau melarikan diri."

"Bukan melarikan diri, melainkan menemui musuhku, siapkan tongkat itu, Hui-bin, carikan yang kuat dan berongga. Besok aku pergi dan bersihkan jalanan!"

"Tapi... tapi suheng terikat. Kaki tangan suheng diborgol!"

"Ha-ha, kau kira apa? Borgol ini sudah tak berarti, Hui-bin, lama sekali. Lihat, siapa dapat membelengguku... krak-krekk! borgol patah-patah dan Siauw Lam bersorak kagum.

Memang sudah lama Chi Koan ingin membebaskan diri namun merasa belum saatnya. Ia masih harus menyiapkan Siauw Lam dasar-dasar ilmu silat untuk dipakai dalam perjalanan, karena tak mungkin ia harus terus menerus menjaga muridnya itu. Siauw Lam harus dapat menjaga diri pula, nanti setelah lolos ia akan memperdalam ilmunya.

Maka ketika ia merasa cukup dan sebulan itu berancang-ancang, Siauw Lam dapat mengganti matanya yang buta maka malam itu ia meminta Hui-bin membersihkan ranjau. Halangan ini bisa berupa penjagaan di pintu gerbang, atau penjagaan-penjagaan lain di sekeliling bangunan Go-bi.

Dan karena ia buta tak dapat melihat lawan, tentu saja ia harus amat berhati- hati maka Chi Koan tak mau mengambil resiko dan diperintahkannya hwesio muka hitam itu menyiapkan jalanan.

la tak takut keroyokan murid-murid Go-bi namun sebisa mungkin harus menghindari itu. Sekali ia mendapat kesukaran tentu muridnya itulah yang paling celaka. Dan karena ia amat menyayang muridnya ini seperti kepada anak kandung sendiri, ia dan Siauw Lam saling cocok maka besok malam ia ingin keluar dan sebatang tongkat diperlukannya untuk pengganti mata, mencari jalan.

Akan tetapi hwesio muka hitam itu terbelalak, Hui-bin terkejut sekali bahwa dengan sekali sentakan saja rantai borgol terlepas. Si buta bebas. Dan ketika ia terkejut dan bingung serta takut, berbagai perasaan mengaduk hatinya maka ia tertegun bengong ketika jari Chi Koan mencengkeramnya, menjerit ketika sakit.

"Bagaimana, bisa atau tidak. Kenapa kau diam saja, Hui-bin, apa yang kau pikirkan dan mampukah kau melaksanakan perintahku!"

"Aku. aku akan menurut. Tapi, ah bagaimana ini, suheng. Apa jawabanku kepada para pimpinan kalau kau tak ada. Bukankah aku lebih banyak di sini melayanimu!"

"Bilang saja bahwa aku pergi, kau tak tahu apa-apa. Ingat bahwa orang-orang Go-bi tak dapat mencegahku, Hui-bin. Yang dapat menandingi aku hanya Peng Houw. Katakan bahwa kau tak tahu apa-apa dan kalau perlu kurobohkan dulu!'

Chi Koan bergerak dan tiba-tiba tertawa. Belum habis bicaranya sekonyong-konyong ia melempar hwesio itu, Hui-bin memang terlebih dahulu dicengkeram. Dan ketika hwesio itu berteriak dan terguling-guling, meloncat bangun di sana maka Chi Koan berkelebat dan telah menekan punggung hwesio muda ini.

"Nah, apa kataku. Bukankah kau tak berdaya dan semuanya berjalan mudah. Siapkan besok malam dan jangan banyak cerewet!"

Hwesio itu gemetar. la pucat memandang borgol yang bergoyang-goyang di pergelangan kaki dan tangan itu. Si buta bebas. Dan ketika ia tertegun dan mengeluh bangun, Chi Koan melepaskan tekanannya maka si buta masuk kembali dan malam itu si hwesio muka hitam gelisah tak dapat tidur. Ia cemas dan ngeri bahwa tawanan lolos. Apa kata para pimpinan kalau Chi Koan tak ada di tempatnya lagi. Go-bi tentu geger.

Tapi menggigit bibir dan mengepal tinju akhirnya ia menyiapkan perintah itu sebaik mungkin. Dan sore harinya ia buru-buru mendaki bukit membawa sebuah tongkat panjang, bambu yang tua dan hitam namun amat kuat sekali, tak tahu bahwa dari bawah bukit terbelalak sepasang mata lebar Sam-hwesio. Hwesio itu kebetulan saja melihat sang murid mendaki bukit, namun bukan itu yang membuatnya heran melainkan sebatang bambu panjang itu.

Maka ketika Sam-hwesio menunggu dan menjadi curiga, tak berani naik mengingat pengalamannya yang lalu maka Hui- bin kaget bukan main ketika turun gunung. Paman gurunya mencegat.

"Tunggu, berhenti., Apa yang kau bawa ke atas tadi. Hui-bin, Mana tongkat panjang itu. Untuk apa dan kenapa tidak berada di tanganmu lagi!"

Murid lni kaget. Hui-bin sampai mendeprok namun sambil berlutut ia menjawab menggigil, bahwa tongkat itu ditaruhnya ke atas untuk sewaktu-waktu menjaga diri. Dan ketika sang susiok berkerut kening merasa heran, juga curiga maka murid muda ini berkata, menyambung.

"Teecu tak ingin menghilangkan kewaspadaan, teecu ingin menjaga diri teecu baik-baik. Maaf kalau teecu berbuat salah, susiok. Apakah tak boleh menyembunyikan senjata di atas bukit. Bagaimana kalau Chi Koan suheng tiba-tiba ganas kembali!"

"Hm-hm, begitu? Baik, ada benarnya. Tapi eh, penjaga dapur melapor kepadaku, Hui-bin, bahwa belakangan ini jatah makanan tawanan bertambah, Kau membawa ransum untuk dua orang!"

"itu.... maaf, ampun... Chi Koan suheng mengajakku makan bersama, susiok. Ia ingin ditemani. Teecu tak berani membantah!"

"Bagus, dan ada lagi laporan ganjil. Katanya Lek-siauw-ma lenyap. Eh, ke mana saudaramu itu, Hui-bin, ia paling dekat denganmu. Katakan kepadaku mengapa ia tak ada!"

Hwesio ini pucat. la paling gugup kalau sudah ditanya tentang ini. Wajah dan mata susioknya itu tajam menembus. Tapi menangis dan membentur-benturkan jidat ia justeru bermain sandiwara.

"Ampun, ini juga tak kuketahui, Susiok. Justeru teecu merasa kehilangan dan menanti-nanti. Mungkin ia pulang dusun, atau mungkin mendapat celaka ditengah perjalanan. Teecu tak tahu dan maaf teecu tak berani melapor. Teecu menunggu siapa tahu ia tiba-tiba datang!"

"Hm, dan kau akrab sekali dengan si buta itu. Hati-hati, ia bukan orang baik-baik, Hui-bin. Aku mengingatkanmu agar tidak celaka di tangannya. Chi Koan itu manusia iblis!"

"Teecu tahu, teecu akan berhati-hati, itulah sebabnya teecu menyimpan senjata di atas, susiok, untuk berjaga-jaga siapa tahu suatu saat ia mengancam jiwa teecu!" " Hmm, baiklah. Pergilah dan sekali lagi hati-hati."

Hwesio itu girang. Perobahan wajahnya yang begitu menyolok membuat sam hwesio mengerutkan kening. Murid muda itu bangun dan meloncat pergi, berseri-seri. Dan ketika Sam-hwesio mengawasi dengan pandang mata aneh mendadak sesuatu jatuh dari balik baju muridnya itu, tanpa terasa.

Hwesio ini hampir saja berseru tapi menahan mulutnya, membiarkan hwesio muda itu lenyap untuk. akhirnya bergerak dan menyambar ini, sebuah bungkusan . Lalu ketika ia ragu namun membuka itu, tak enak tiba-tiba matanya terbelalak melihat betapa di dalam bungkusan itu terdapat tiga stel pakaian anak-anak!

"Hm, apa artinya ini," Sam-hwesio tentu seja curiga, tak tahu bahwa itulah titipan Siauw Lam untuk malam nanti bersiap-siap keluar. Rahasia apa yang kau bawa, Hui-Bin. Agaknya ada sesuatu yang kau sembunyikan!"

Hwesio ini tiba-tiba marah. la merasa muridnya itu menyimpan sesuatu, hampir saja bergerak dan mengejar sang murid tapi mendadak ditahan. Untuk kedua kali ia menekan perasaan. Dan ketika hwesio ini berkelebat dan kembali ke tempatnya maka tanpa diketahui Hui-bin ia mengawasi gerak-gerik muridnya itu.

Hui-bin sendiri sudah terlampau girang lepas dari pertanyaan-pertanyaan sulit. la berbaur lagi dengan saudara-saudaranya dan mencari tahu siapa malam nanti yang bertugas jaga. Dan ketika ia, mengetahui bahwa yang bertugas adalah dua suhengnya dan seorang sute maka hwesio ini berdebar menyiapkan jalan.

Sam-hwesio mengerutkan kening melihat murid muda itu masuk keluar pintu gerbang, agaknya ada yang sedang dikerjakan. Dan ketika gerak-gerik muridnya ini semakin mencurigakan maka dilihatnya Hui-bin membawa arak dan meletakkan itu secara hati-hati di celah gapura yang bentuknya seperti meja, kecil dan datar di mana biasanya murid yang berjaga meletakkan makanan dan minuman penangkal kantuk, khususnya di malam hari.

Hwesio ini merah mukanya. la mulai dapat menduga ada sesuatu yang curang hendak dilakukan murid muda itu. Hui-bin memang hendak meloloh arak yang bercampur obat bius. Hwesio ini mendapat akal bahwa itulah satu-satunya jalan melumpuhkan penjaga. Si buta dan muridnya nanti dapat lewat.

Dan ketika ditempat yang lain murid itu juga meletalkan sebotol arak kecil, menyembunyikannya di antara celah-celah tembok maka Sam-hwesio hampir saja meloncat keluar menerkam murid durhaka itu. Go-bi tak memperkenankan murid-muridnya minum minuman keras, Tabu!

Namun hwesio ini lagi-lagi menahan diri. la telah melihat semuanya itu dari jauh, kalau terburu-buru datang jangan-jangan ia tak tahu apa kelanjutannya. Maka ketika hwesio ini terus bersembunyi dan mudah baginya mengintai murid muda itu akhirnya malam pun datang dan di sinilah wakil Go-bi ini terbelalak.

Menjelang malam, ketika angin gurun bertiup dingin maka muridnya itu naik ke bukit menuju tempat tawanan. Sam-hwesio tak berani mendekat dan bersembunyi di bawah, mengintai. Lalu ketika dua bayangan keluar dari guha, disusul seorang anak kecil maka hwesio ini kaget sekali karena si buta Chi Koan lolos!

"Omitohud, Hui-bin kiranya berkhianat!" Akan tetapi hwesio ini tertegun. Dia teringat bahwa rantai baja yang mengikat pergelangan si buta itu tak mungkin dipatahkan begitu saja. Hui-bin tak akan mampu melakukan itu. Maka ketika ia terbelalak melihat si buta dibantu tongkat, mata hwesio ini melotot maka ia sadar bahwa murid muda itu kiranya menipu.

Tongkat itu untuk Chi Koan! Sam-hwesio gemetar. Chi Koan yang dibantu tongkat dan tak-tuk-tak-tuk mencari jalan dibantu lagi oleh hwesio muda itu. Dari kejauhan hwesio ini melihat bahwa semuanya itu rupanya sudah dipersiapkan. Dan ketika di bawah sinar bintang ia melihat ketiganya cukup jelas, anak laki-laki itu memegangi ujung baju Chi Koan maka terdengarlah suaranya sayup-sayup sampai.

"Suhu, senang rasanya akan keluar dari tempat ini. Ah, aku tentu dapat menikmati makanan enak, bosan sayuran dan bubur melulu!"

"Sst, jangan keras-keras. Hui-bin menyiapkan itu untuk kita, Siauw Lam. Di luar nanti kau dapat makan sepuasmu. Ada bak-pao daging babi, juga arak."

"Arak? Ah, aku suka, suhu. Minuman itu lezat sekali, menggigit dan menyengat lidah!"

"Diamlah, awasi sekeliling dan bantu aku melihat ke depan."

Anak itu tertawa-tawa. Sam-hwesio pucat mendengar si bocah menyebut suhu, berarti Chi Koan mempunyai murid. Dan ketika mereka berjalan turun sementara Chi Koan berseri-seri, Hui-bin menggigil dan tampaknya takut melakukan pekerjaan ini maka desah napas si hwesio tiba-tiba terdengar telinga tajam si buta.

"Ada orang!" Rombongan itu berhenti. Chi Koan terkejut dan miringkan kepala.

Sam-hwesio lebih terkejut lagi. Sedikit desah napasnya saja ternyata tertangkap si buta itu, bukan main tajamnya! Dan ketika hwesio ini menahan napas dan Chi Koan miringkan kepala ke arah batu hitam hwesio itu, tadi tak mendengar apa-apa karena suara tak-tuk tongkatnya menutup semua bunyi maka tiba-tiba ia tersentak oleh desah napas itu.

"Hm...!" Chi Koan memandang hwesio muka hitam ini. "Kau bilang tak ada orang membuntutimu, Hui-bin, tapi kudengar seseorang berdesah napas pendek. Apa artinya ini dan apakah kau membohongiku!"

"Ampun.... sumpah!" si hwesio gemetar. "Aku ke sini benar-benar tak diketahui siapapun, suheng. Aku datang sendiri. Tanyalah Siauw Lam apakah ada orang di sekeliling sini!"

"Memang tak ada," anak itu menjawab, ikut terkejut. "Aku tak melihat siapapun, suhu. Mungkin kau salah dengar!"

"Hm, tak mungkin," Chi Koan juga merasa heran, di sana Sam-hwesio menahan napas kuat-kuat, tak ada suara lagi. "Telingaku tak dapat ditipu, Siauw Lam. Jarak satu li saja dapat kutangkap pembicaraan orang."

"Tapi tempat ini benar-benar sunyi, aku tak melihat siapapun."

"Baiklah, mari teruskan perjalanan," dan Chi Koan yang bergerak lagi mengajak dua temannya akhirnya tak mendengar lagi suara itu karena Sam-hwesio nyaris tak bernapas!

Hwesio ini menahan segala gerakan kuat-kuat hingga bernapas pun rasanya dicekik. Untung Chi Koan tidak melewati batu hitam itu, membawanya ke tempat lain. Tapi begitu mereka turun dan hwesio ini pucat maka Sam-hwesio berkelebat dan turun lewat punggung bukit yang lain. Siap melapor dan mengerahkan seluruh kekuatan Go-bi!

Akan tetapi gerakannya ini ternyata lagi-lagi tertangkap Chi Koan. Desir jubah hwesio itu tertangkap telinga si buta, Chi Koan berhenti dan membalik. Dan ketika secepat kilat ia menyontek sebuah batu hitam menyerang hwesio itu, membentak maka Hui-bin terkejut bahwa sesosok bayangan berlari cepat ke arah yang lain.

"Aduh!" Untung hwesio ini telah tiba di puncak. Ia melempar tubuh bergulingan dan menjerit ketika batu itu menghantam pundaknya. Sebelah lengan hwesio ini sengkleh! Tapi ketika ia terus bergulingan dan lenyap di bawah sana, menggelinding bagai trenggiling maka Chi Koan mengenal suara itu sebagai Sam-susioknya.

"Kau menipu!" Chi Koan membentak dan tiba-tiba mencengkeram bahu temannya, Hui-bin berteriak. "Kau menjebak aku, Hui-bin. Sam-susiok ada di situ. Lihat apakah telingaku salah!"

Hwesio itu menangis. Ia berseru dan menendang-nendang kakinya dan berkata bahwa dirinya tak membawa siapapun kesitu. Kalau wakil Go-bi muncul maka itu di luar tahunya. Dan ketika Chi Koan membanting dan hwesio itu menjerit tiba-tiba tongkat si buta itu bergerak dan hampir saja mencoblos dada temannya kalau Siauw Lam tak berseru mencegah.

"Suhu, tahan dulu. Paman Hui-bin agaknya benar-benar tak bersalah!"

"Hm, apa alasanmu?"

"Mudah saja, suhu. Kalau ia bohong buat apa mengantar kita sampai di sini, bukankah lebih selamat kalau tak usah datang dan menerima kemarahanmu. Aku menduga hwesio bau itu menguntit sejak awal!"

Chi Koan tertegun. Ia membiarkan hwesio itu bangun dan Hui-bin gemetaran. Hampir saja tongkat panjang itu menembus dadanya. Dan ketika ia merintih dan bingung serta takut maka Chi Koan bertanya apakah dia bertemu hwesio itu sebelumnya.

"Benar, tapi... tapi siang tadi, suheng. Tak ada apa-apa yang membuatnya curiga."

"Apa katanya? Kau ditanya apa saja?"

"Aku aku ditanya kenapa ke atas. Kukatakan bahwa aku membawa makanan siang."

"Hm!" Chi Koan menangkap suara bohong di situ, pura-pura tak tahu. "Lalu apa tanyanya lagi?"

"Tak ada, suheng. Itu saja!"

"Baik, kalau begitu mari jalan lagi. Kita turun dan lewat sebelah kanan, jangan ke pintu gerbang."

"Tapi... tapi penjaga di sana sudah kubius. Jalan itu lebih mudah!"

"Jangan sok tahu. Aku curiga jangan-jangan tua bangka itu sudah mengawasi sepak terjangmu, Hui-bin. Kita tak perlu ke sana karena jalan tentu ditutup. Bawa aku ke sebelah kanan dan di sana kujebol temboknya!"

Hwesio ini mengangguk. Tak ada banyak waktu lagi dan merekapun cepat bergerak. Chi Koan mendongkol dan diam-diam marah kepada temannya ini. Tentu saja ia tak tahu Hui- bin ditanya macam-macam, bahkan kehilangan bungkusan Siauw Lam berisi tiga stel pakaian itu. Dan ketika mereka keluar dan merunduk dengan cepat, pagar berduri itu dilalui maka benar saja genta bahaya dipukul gencar. Sam- hwesio rupanya sudah tiba di dalam dan melaporkan pelarian ini.

"Apa, Chi Koan? Dia lolos?"

"Benar, suheng, dan si buta itu dibantu Hui-bin, murid kita. Ia mempunyai murid pula dan kita tak tahu kapan kebobolan!"

Ji-hwesio terkejut bukan main. Ia kedatangan sutenya yang roboh di pintu kamar, menceritakan terbata-bata dan ambruklah hwesio itu di depannya. Sam-hwesio merintih. Namun ketika ia cepat menolong dan para murid dipanggil, genta bahaya dibunyikan maka hwesio itu berkelebat sementara Sam-hwesio sudah dibebat. Hwesio ini merah padam dan menyambar toyanya, bergerak, meskipun terhuyung.

"Kau di dalam saja, biar pinceng yang menghadang!"

"Tidak, ini urusan kita semua, suheng. Kalau aku masih dapat jalan biarlah aku membantumu sebisanya. Hati-hati dan suruh semua murid membuang arak!"

"Arak?"

"Aku lupa menceritakan ini. Hui-bin menaruh botol arak di meja batu, di celah gapura. Baru sekarang aku mengerti karena rupanya anak itu hendak membius!"

Gegerlah Go-bi. Ji-hwesio membentak dan cepat sekali menuju pintu gerbang, benar saja tiga orang sudah menggeletak di sana, teler. Dan ketika ia berkelebat ke tempat lain dan beberapa murid juga bergelimpangan, inilah murid-murid yang nakal dan melanggar aturan maka hwesio itu pucat melihat tiga bayangan bergerak cepat di bagian barat tembok tinggi.

"Itu mereka, cegat!"

Namun bayangan itu hilang lagi. Chi Koan menjadi marah dan sadar bahwa pekerjaan temannya gagal. Ia tak takut menghadapi orang-orang Go-bi ini namun karena banyak di antara mereka yang sudah baik kepadanya, membuat ia sungkan maka ia mencari jalan terbaik tanpa harus menumpahkan darah. Tapi si tolol ini luput.

Genta dipukul berulang-ulang dan lentera atau lampu besar bermunculan di mana-mana. Tempat-tempat gelap seketika menjadi terang. Dan ketika ia bertanya di mana mereka sekarang maka Hui-bin menjawab sudah di sebelah kanan tembok belakang.

"Hm, naik ke punggungku," si buta tiba-tiba berseru kepada muridnya. "Pegang dan peluk erat-erat leherku, Siauw Lam. Beri petunjuk kepadaku di mana jalanan yang baik!"

"Suhu menyuruh aku menunggang kuda?"

"Jangan cerewet, Siauw Lam. Si bodoh ini membuat kita repot. Naik dan pegang leherku kuat-kuat!"

Anak itu meloncat. Dari semua ketegangan ini ternyata Siauw Lam tak menunjukkan bingung atau takut. Anak itu bahkan berseri-seri. Maka ketika ia meloncat dan menempel di punggung gurunya anak ini mencekik Chi Koan kuat-kuat, gembira dan berseru,

"Suhu, kita sudah mendekati tembok penjagaan. Masa kau akan terbang seperti burung!"

"Hm, berapa tingginya. Arah mana yang aman."

"Kira-kira tujuh meter, arah kiri. Sebelah kanan ada pohonnya."

"Baik, hati-hati!" namun baru saja Chi Koan berseru mendadak dari samping dan belakang serta kiri kanan muncul murid-murid Go-bi itu, juga Ji-hwesio.

"Chi Koan suheng, kau tak boleh lolos. Kembalilah, kami masih sayang kepadamu!" seorang murid berseru.

"Hm, Hui-bin si bocah keparat. Kau kiranya yang membuat gara-gara, Hui-bin. Serahkan dirimu dan terimalah hukuman baik-baik!"

Hwesio muda itu pucat. Ia tiba-tiba terkepung namun membentak keras iapun menerjang ke kanan, ada suheng dan sutenya di situ. Dan ketika ia ditangkis namun dua jarinya menusuk, itulah Tiat-ci (Jari Besi) yang diajarkan Chi Koan maka dua saudaranya menjerit tak menyangka, roboh.

"Minggir!" Hal ini mengejutkan murid lain. Hui-bin mengamuk dan melarikan diri dan kepungan otomatis berubah. Murid-murid Go-bi menjadi dua. Dan ketika hwesio itu berteriak dan lari sambil menusuk sana-sini, maka Chi Koan menjejakkan kakinya dan tubuh si buta ini tiba-tiba melayang naik ke atas tembok yang tinggi itu.

"Heiiii !" Siauw Lam berteriak ngeri. Tembok tahu-tahu meluncur di bawah mereka dan tubuh Chi Koan masih melayang naik, tinggi namun tiba-tiba meluncur turun dan loloslah si buta itu di luar. Chi Koan telah menginjakkan kakinya di tanah. Dan ketika para murid menjadi ribut karena si buta lolos, hanya Ji-hwesio atau beberapa tokoh lain yang mampu melakukan seperti si buta itu maka pimpinan Go-bi ini membentak dan tiga orang melayang naik dan melewati tembok pengaman yang tinggi. Siauw Lam bersorak kagum.

"Suhu, hebat sekali. Kerbau-kerbau dungu itu di dalam. Ha-ha, kita dapat melanjutkan perjalanan tapi bagaimana paman Hui-bin!"

"Biarkan ia di sana," Chi Koan tertawa. "Manusia bodoh macam itu patut menerima pelajaran, Siauw Lam. Sekarang beritahukan padaku jalan mana yang aman."

"Lurus ke depan.... eh!" si bocah terkejut, menengok. "Ada orang mengejar kita, suhu. Tiga kerbau gundul menyuruhmu berhenti!"

"Ha-ha, biar saja. Itu pimpinan Go-bi Ji-susiokku. Ayo pergi dan kita tinggalkan mereka. Pandu aku!"

Siauw Lam tertawa gembira. la berseru menunjuk ke depan dan gurunya bergerak, terbang dan mengikuti kata-katanya di mana ia sering bilang belok kiri atau kanan. Chi Koan tak ragu lagi mengikuti kata-kata muridnya ini dan melesatlah si buta dengan amat cepatnya. Siauw Lam melihat kepandaian gurunya ini dan anak itu sering memekik.

Gurunya melesat bagai siluman saja dan pohon atau apa saja seakan-akan berlari ke arah berlawanan. Siauw Lam bahkan pening. Dan ketika di malam gelap itu si buta menghilang, sang murid benar-benar pengganti matanya maka Ji-hwesio maupun yang lain tak mampu mengejar.

Mereka terengah-engah di luar dan Hui-bin akhirnya tertangkap. Hwesio itu roboh di hajar saudara-saudaranya sendiri. Dan ketika malam itu Go-bi merasa marah, tawanan lepas maka Ji-hwesio mengutus orangnya ke tempat Peng Houw, keesokan harinya.

"Katakan kepada Peng Houw bahwa Chi Koan melarikan diri. Kami tak dapat berbuat apa-apa. Sampaikan maaf dan penyesalan kami yang besar!"

Utusan itu berangkat. Go-bi menjadi murung dan gelap, wajah semua orang menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan besar. Lalu sementara mereka menutup pintu rapat-rapat, Hui-bin didera pertanyaan maka murid sial itu dijatuhi hukuman delapan tahun di tempat Chi Koan.

"Kau," Ji-hwesio berang sekali. "Seharusnya sejak pertama kau memberitahukan kami, Hui-bin, bukan menolong dan malah membantunya. Kau melakukan dosa berat dan menerima hukuman delapan tahun. Setelah itu kau harus keluar dari Go-bi karena sejak saat ini kami tak mengakuimu lagi sebagai murid!"

Muka hwesio itu biru lebam. Ia menangis dan berlutut tapi bersyukur tak sampai dibunuh. Tentang Siauw Lam ia tak mengaku tahu. Dan karena banyak pertanyaan dijawab dengan bohong, tak ada saksi yang mampu menentangnya maka hwesio itu meringkuk di bekas tempat Chi Koan dulu. Sedangkan Chi Koan sendiri ke mana? Si buta ini ke tempat Peng Houw!

* * * * * * * *

Pagi itu guru dan murid ini membanting pantat diluar hutan. Mereka telah jauh dari Go- bi dan Siauw Lam tertawa-tawa. Tapi karena semalam suntuk mereka melakukan pérjalanan, tak pernah berhenti maka siauw Lam mengantuk dan, akhirnya tertidur di atas pundak gurunya itu. Chi Koan berhenti dan otomatis menunda perjalanannya.

"Hm, pengantuk, pemalas! Heii, kau boleh tidur hanya tiga empat jam saja, siauw Lam. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan dan bawa aku ke tempat musuh besarku!"

Anak itu mengangguk lemah. Siauw Lam tak menjawab kecuali dengan senyum menggemaskan. Kedua matanya berat tak dapat dibuka. Tapi ketika matahari naik tinggi dan sang guru membangunkannya maka ia pun mengulet dan membuka matanya. Bau harum daging panggang membuat perutnya berkeruyuk.

"He..He, suhu sudah mendapatkan makanan. Asyiik, perutku lapar!"

"Anak pemalas," Chi Koan tertawa. "Menurutimu tak bisa makan, Siauw Lam. Kerjamu tidur melulu. Lihat, apa ini dan mari sarapan."

Anak itu bangun duduk. la gembira dan mencomot sepotong daging gemuk dari kelinci bakar, suhunya bersila dan tertawa lebar. Lalu ketika mereka menikmati makanan itu, Siauw Lam teringat pakaiannya mendadak anak ini berseru meloncat bangun.

"Pakaianku!" serunya. "Eh, kau bawa dan simpan pakaianku, suhu? Paman Hui-bin sudah memberikannya kepadamu?"

"Pakaian apa," si buta bersungut, Wajah tiba-tiba gelap. "Manusia itu tolol dan bodoh, siauw Lam. Aku juga tak ingat itu tapi nanti dapat mencari di tengah jalan."

"Hm, ia tak apa-apa di Go-bi?"

"Paling-paling dihajar, lalu dihukum."

"Suhu tak menolongnya?"

"Buat apa? Tikus bodoh macam dia tak perlu dihiraukan lagi, Siauw Lam. Kita urus keperluan kita sendiri dan berangkat lagi sesudah ini. Kita ke suatu tempat di pinggiran Huang-ho."

Betapa anak itu berkerut kening dengan alis dalam, namun ketika ia tersenyum dan duduk lagi maka sisa kelinci bakar disantap lagi. Lahap. Anak ini tak terpengaruh lagi oleh nasib pamannya di sana.

"Hm-hm, hebat sekali kepandaian suhu semalam," bocah itu kagum. "Kau dapat melewati tembok demikian tinggi, suhu, seperti burung terbang saja. Ah, bagaimana belajar itu dan bisakah aku sepertimu!"

"Kau akan seperti aku. Dasar langkah- langkah kaki yang kau pelajari itu adalah dasar dari ilmu silat Lui-thian-to-jit, Siauw Lam. Kalau kau bersungguh-sungguh mempelajarinya maka beberapa tahun lagi kaupun dapat melakukan seperti aku."

"Melompat setinggi tujuh meter?"

"Bisa lebih dari itu. Pohon kelapa pun dapat kau lewati."

"Masa?"

"Lihat!" dan Chi Koan yang tiba-tiba berkelebat dan lenyap mengejutkan muridnya mendadak membuat Siauw Lam celingukan dan kaget, mendengar suara di atas. "Aku di sini, Siauw Lam!"

Bocah itu bengong. Ia mendongak dan melihat gurunya tahu-tahu berada di puncak pohon dan tiba-tiba ia bersorak. Gurunya itu terayun-ayun di pucuk ranting yang lemah, tidak jatuh dan ketika melayang turun tahu-tahu telah duduk lagi di situ, tenang, seakan tak terjadi sesuatu yang mengagumkan. Namun begitu anak ini sadar tentu saja Siauw Lam melengking.

"Hebat, seperti kecapung saja. Aih, ilmu meringankan tubuhmu tinggi, suhu. Luar biasa sekali. Hampir tak dapat kupercaya!"

"Hm, dan itu kulakukan dengan kedua mata buta. Aku hanya mendengar desir daun di atas sana, meloncat dan hinggap. Kalau aku melek aku dapat beterbangan di atas pohon-pohon yang lain, Siauw Lam, tiada ubahnya elang atau rajawali pemangsa. Hm, sayang mataku buta dan aku tak dapat berbuat lebih!"

"Itu gara-gara musuh suhu bernama Peng Houw itu. Diakah yang hendak suhu datangi? Tak usah khawatir, aku membantumu, suhu. Kubunuh dia nanti untukmu!"

Chi Koan tertawa getir. Dia menarik napas panjang dan mengusap kepala anak ini. Siauw Lam inilah harapannya. Tapi ingin tahu bagaimana anak itu menangkap dan membunuh Peng Houw maka ia bertanya, "Kau, bagaimana caramu membunuh dia nanti? Apakah dengan kaki tanganmu yang kecil ini?"

"Aku dapat menggigit dan menangkapnya dari belakang, suhu, lalu pisau ini kutancapkan ke jantungnya!"

"Ha-ha, dari mana pisau itu? Kau membawa-bawa senjata tajam?"

"Paman Hui-bin yang memberikannya kepadaku, katanya untuk menjaga diri."

"Hm, pisau itu tak berarti apa-apa. Jangankan dia, kaupun tak dapat melukaiku, Siauw Lam. Cobalah."

Anak itu terbelalak. "Suhu kebal?"

"Cobalah, dan kau akan tahu!"

Lalu ketika anak ini ragu menusukkan pisau, ke kaki gurunya maka Chi Koan berseru agar menancapkan di perut.

"Jangan pilih yang keras, pilih saja yang empuk. Nah, tusuk perutku dan boleh kau lihat!"

Anak ini gembira. Tanpa ragu ia membentak dan menusuk perut gurunya itu, mula-mula dengan tenaga ditahan namun pisau mental. lalu ketika ia mengulang dan bertubi-tubi menusukkan pisaunya tiba-tiba senjata itu patah!

"Ha-ha, bagaimana, Siauw Lam, bukankah tiada gunanya. Nah, percayalah kepadaku bahwa kau masih terlalu rendah. Kau harus belajar baik-baik untuk dapat menghadapi setiap orang. Nanti kucarikan senjata yang baik dan tak usah kecewa dengan pisau buruk itu."

Si bocah terbelalak. Siauw Lam menjadi kagum bukan main dan tentu saja pandangannya kepada sang guru tinggi sekali. Tapi heran dan teringat sesuatu diapun bertanya,

"Suhu, kau yang sehebat ini bagaimana bisa dikalahkan musuhmu. Apakah Peng Houw itu lebih sakti lagi dan tak dapat dilawan!"

"Hm, ia memiliki Hok-te Sin-kang warisan dedengkot Go-bi. Ia tak ksatria dalam menghadapiku, Siauw Lam. Itulah sebabnya aku kalah."

"Kalau begitu kenapa mencari lagi, bukankah seperti ular mendatangi gebuk!"

"Aku memang akan mendatanginya, tapi bukan untuk melawannya. Aku datang untuk membalas sakit hatiku."

"Bagaimana ini?" si bocah bingung. "Kau bilang tak melawannya, suhu, tapi kau datang ke rumahnya. Bukankah sama saja!"

"Tidak, kau tidak mengerti, Siauw Lam. Yang kumaksud adalah membuat perhitungan dengan caraku sendiri. Aku hendak mengganggu isteri dan anaknya!"

"Isteri dan anaknya?" Siauw Lam terkejut. "Aneh, suhu, bagaimana kau dapat melakukan itu. Bukankah Peng Houw akan melindungi anak isterinya!"

"Ha-ha, kali ini tidak. Peng Houw tak ada di rumah, Siauw Lam, ia sedang pergi. Dan cairkanlah otakmu yang sedikit tolol itu dengan peristiwa ini."

Anak itu bingung. Ia masih tak mengerti namun sang guru tiba-tiba mengetuk kepalanya. Dan ketika gurunya itu berkata bahwa lolosnya mereka pasti dilaporkan Peng Houw maka anak itu baru mendusin.

"Kepergian kita kali ini pasti menjadi gempar bagi Go-bi. Ji-hwesio itu pasti melapor kepada Peng Houw. Nah, ketika lawanku itu meninggalkan rumahnya maka saat itulah aku datang. Ha-ha!"

"Ah, jadi ini yang dimaksud subu? Suhu datang di saat ia tak ada?" "Benar, Siauw Lam, dan aku akan membalas dendamku dengan mengganggu anak isterinya. Kalau Peng Houw pulang lagi maka ia tak mendapatkan anak isterinya itu lagi, ha-ha!"

Anak itu bersorak. Siauw Lam memuji gurunya namun tiba-tiba berhenti. Otaknya yang kecil bekerja. Karena ketika tiba-tiba ia tak tertawa lagi dan sang guru mengerutkan kening maka sebuah pertanyaan meluncur.

"Suhu, bagaimana kalau musuhmu itu membawa anak isterinya. Bukankah maksudmu gagal!"

"Hm," Chi Koan mengerutkan kening, kelopaknya yang kosong bergerak-gerak. "Kalau itu yang terjadi adalah sial, Siau Lam. Tapi mudah-mudahan tidak. Sudahlah jangan kecilkan hatiku dan kita berangkat."

Anak itu menghela napas. Gurunya menyambar tongkat dan mulai tertatih, mencari jalan. Tapi ketika ia menuntun dan ganti disambar gurunya maka si buta itu berseru,

"Kita lakukan seperti semalam 1agi, kau di punggungku. Tunjukkan jalan dan kita ke Hutan Hijau!"

Siauw Lam girang. Kalau ia berada di punggung gurunya ini maka iapun dapat menikmati peristiwa terbang. Gurunya akan melesat dan semua pohon atau gunung-gunung berseliweran. maka ketika ia mengangguk dan berseru menuding si buta itupun mengerahkan kepandaiannya.

Benar seperti yang diduga Chi Koan di sana Peng Houw kaget sekali menerima berita Go-bi. Utusan telah datang dan menceritakan segalanya, penyesalan dan rasa marah bercampur aduk. Lalu ketika utusan itu pergi Peng Houw berjanji untuk datang dan melihat Go-bi.

"Baik, sampaikan Ji-susiok bahwa aku segera datang. Pergilah dulu dan akan kucari tawanan itu."

Li Ceng tertegun. la mendengarkan di balik kamar tapi segera keluar begitu utusan Go-bi itu pulang. Chi Koan yang buta dan harus perlahan-lahan dituntun muridnya yang kecil ternyata didahului utusan ini, tak aneh karena Siauw Lam si anak lelaki itu belum tahu persis di mana Cheng-lim (Hutan Hijau) tempat tinggal suami isteri ini.

Maka ketika si buta masih dalam perjalanannya ke mari, sering menyelinap dan menghindari Peng Houw kalau terjadi pertemuan di tengah jalan maka Li Ceng wanita muda itu berseru mengutuk.

"Keparat, Chi Koan benar-benar licik. Tak kusangka ia menekan dan mempergunakan orang dalam untuk melarikan diri. Hm, pergi dan temukan manusia jahat itu, Houw-ko. Jangan biarkan ia berlama-lama di luar. la masih tak berubah!"

"Benar, ia masih tak berubah. Tapi satu hal yang membuatku heran."

"Apa itu?"

"Lepasnya borgol. Tak mungkin Hui-bin mampu memutuskannya!”

"Atau dia sendiri?"

"Tak mungkin juga. Pengikat itu tahan pukulan dan bacokan senjata tajam, Ceng-moi, tahan remasan sinkang. Heran bagaimana bisa lepas!"

Li Ceng tertegun. Suaminya sudah memberi tahu bahwa baja di keempat kaki tangan Chi Koan amatlah kuatnya, tahan pukulan sinkang dan bacokan senjata tajam. Tapi ketika ia mengerutkan kening dan ikut merasa heran tiba-tiba suaminya itu menepuk paha sendiri, meloncat bangun, berubah.

"Ah, pasti itu. Itu kiranya! Keparat, Chi Koan ternyata licik, Ceng-moi. Ternyata ia sudah merancangkan itu lama sebelumnya!"

"Maksudmu?"

"Ingatkah kau ketika ia menyerang Sam-susiok dan aku secara curang? Ingat kah kau ceritaku dulu?"

"Ya, tapi apa hubungannya, Houw-ko, aku tak mengerti."

"Hubungannya jelas. Pukulanku dan pukulannya yang membuat borgol itu putus, atau retak. Hok-te Sin-kang yang kami miliki berdua memang bukan sembarang pukulan dan dia akhirnya lolos!"

Li Ceng terkejut. Segera dia ingat betapa suaminya dan Chi Koan itu memang sama-sama pewaris Hok-te Sin-kang, biar pun yang satu adalah mencuri. Dan karena pukulan itu amat dahsyat dan belum ada tandingannya di dunia ini, itulah kemungkinan yang bisa diterima akal maka nyonya ini mengepal tinju dan berseru gemas.

"Bisa jadi, itu yang memang paling masuk akal. Ah, Chi Koan itu benar-benar busuk, Houw-ko. Kalau begitu tangkisanmu dulu malah menyelamatkannya. Borgol itu tentu retak, dan jahanam itu tinggal memutuskannya!"

"Benar, ini yang terjadi. Ah, aku harus segera pergi dan jagalah rumah baik-baik. Chi Koan memang busuk dan banyak akal!"

Suami isteri yang sama-sama marah ini tak berpikir panjang lagi. Peng Houw tak menduga bahwa ramalan Chi Koan berjalan tepat, ia meninggalkan rumah dan anak isterinya tinggal di situ. Maka ketika empat hari kemudian nyonya rumah kedatangan tamu maka dapat dibayangkan betapa kagetnya Li Ceng melihat Chi Koan berdiri di pintu rumahnya, tersenyum-senyum.

Mula-mula si buta ini tidak muncul begitu saja. Setelah dengan susah payah menemukan tempat itu, berkali-kali Siau Lam harus bertanya-tanya maka anak itulah yang lebih dulu dilepas. Mereka telah tiba di mulut hutan.

"Kau lihat dulu adakah atau tidak rumah seperti kata kakek petani itu. Lihat apakah Peng Houw di rumah. Ia laki-laki gagah seusiaku, bermata tajam, mencorong. Pergilah dan pura- pura meminta sedekah sebagai anak miskin."

Siauw Lam mengangguk. Tiba-tiba ia merasa berdebar dan baru sekarang merasa tegang. Kalau gurunya sampai sedemikian hati-hati menghadapi musuh besarnya itu maka ia dapat membayangkan bahwa pria berjuluk Naga Gurun Gobi itu tentu benar-benar luar biasa. Ia telah mulai banyak mendengar cerita gurunya.

Maka ketika diutus dan masuk ke dalam, ia tak berani melalui jalan setapak maka anak ini menerabas jalanan di samping dan Siauw Lam heran melihat sebidang kebun terawat rapi. Kebetulan tomat dan setundun pisang ada yang masak. Dan dasar anak kecil iapun berhenti sejenak dan berseri-seri melihat pisang dan tomat masak itu, segar.

"Ha,ha.. tak ada orang. Aku akan mengisi perutku dulu dan biar kupetik buah-buah segar itu!"

Siauw Lam pun melompat gembira. la tak tahu bahwa dua anak lain mengawasi kedatangannya dari balik daun ketela, mengerutkan kening. Ini adalah Po Kwan dan adiknya, Siao Yen, dua pembantu cilik si Naga Gurun Gobi yang mendapat tugas di situ.

Mereka memang anak-anak petani yang pandai merawat kebun. Maka ketika Po Kwan melihat betapa seorang anak lelaki lain muncul dan tertawa di kebunnya, meloncat dan memetik buah-buah matang kontan saja ia keluar dan membentak...