Rajawali Merah Jilid 27 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 27
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
“TOGUR, kami tak ada akal-akalan atau licik segala. Janji kami tetaplah janji dan kalau ibuku muncul di sini maka ia adalah pihak ketiga yang tidak ikut campur urusan kita. Kau dan ayah sama-sama terikat perjanjian, begitu pula aku. Kalau ibu di sini maka ini adalah urusan baru mu dengan dia. Itu di luar kami!”

“Tapi kau berkomplot. Kalian berdua melepaskan aku tapi menyuruh wanita ini menjaga di pantai!”

“Kami tidak menyuruh, itu adalah kehendak ibuku.”

“Sama saja. Kau dan ibumu adalah keluarga, Thai Liong. Disuruh atau tidak sama saja!”

“Apakah kau takut?”

“Aku tidak takut. Tapi...”

“Tapi kalau begitu majulah!” Swat Lian, sang nyonya, membentak dan berkelebat ke depan. “Anak dan suamiku adalah orang lain, Togur. Mereka orang luar yang tidak akan membantu atau meringankan bebanku. Majulah dan lihat aku membunuhmu!”

Si buntung terkejut. Dia sudah berhadapan dengan wanita gagah ini dan sedetik mata mereka sama-sama beradu. Togur melihat sepasang mata yang penuh bahaya dan mengancam. Mata nyonya itu bagai mata seekor harimau betina yang siap menerkam. Tapi ketika ia tertawa bergelak dan melompat mundur, tongkat digoyang dan kata-kata si nyonya membuat matanya bersinar-sinar mendadak terdengar jeritan tertahan dan Ui Kiok, teman wanitanya disambar dan ditotok Pendekar Rambut Emas, lengah karena memperhatikan dua orang itu bicara.

“Aihh, tolong, Togur... auph!”

Ui Kiok roboh dan sudah di bawah kekuasaan Pendekar Rambut Emas. Kim-mou-eng yang sudah melihat kesempatan itu dan tidak banyak cakap tiba-tiba menyambar dan merobohkan wanita ini. Si buntung terkejut dan terbelalak. Dan ketika ia kaget namun marah menancapkan tongkatnya, Ui Kiok mengeluh dan pucat meminta tolong maka ia membentak pendekar itu.

“Kim-mou-eng, kau curang. Kau baru saja melepas janji bahwa tak akan mengganggu kami berdua!”

“Benar, kalau anak dan mantuku dua-duanya kau serahkan kepadaku. Tapi sekarang kau menangkap menantuku, Togur. Dan perjanjian tentu saja tak berjalan sepenuhnya. Kau licik!”

“Tapi isterimu ada di sini. Ia mengancamku!”

“Itu urusan isteriku dengannu. Aku tak ikut campur. Kalau kau menghendaki wanita ini maka serahkan menantuku dan kita berdua sama-sama menukar tawanan!”

“Ha-ha!” si buntung ini tertawa lagi, lawan ternyata cerdik. “Kau pintar dan sungguh banyak belajar, Kim-mou-eng. Tapi kupikir tawananku ini lebih berharga daripada tawananmu. Kau tak adil menukar barang!”

“Kalau begitu bagaimana maksudmu. Apa yang kurang.”

“Ha-ha, harus ditambah. Atau biar begini saja dan sewaktu-waktu aku dapat membunuh menantumu!”

Togur berkilat, pandang matanya berbahaya dan Swat Lian melengking untuk menerjang maju, Nyonya ini tak menghiraukan ujung tongkat yang diketuk-ketukkan di kepala Siang Le, memang ia tak perduli keselamatan pemuda itu asal puterinya sendiri selamat. Tapi ketika Pendekar Rambut Emas bergerak dan menahan lengan isterinya ini, berdehem melirik Thai Liong dan memberi isyarat rahasia maka pendekar itu maju, berkata,

“Togur, kau licik dan panjang akal. Heran bahwa kau tak menghargai temanmu sedemikian rupa. Baik, apa yang kau tuntut, bocah. Katakan dan coba kudengar apakah dapat kuturuti.”

“Aku tak minta macam-macam. Suruh isterimu mundur dan biarkan aku pergi dari Sam-liong-to!”

“Hm, itu urusan isteriku denganmu. Biar kutanya dan mudah-mudahan terkabul,” tapi ketika Swat Lian membentakan berseru tidak, Kim-mou-eng terkejut melihat isterinya marah tiba-tiba isterinya itu sudah berkelebat dan menerjang Togur. Tak perduli kepada Siang Le!

“Aku tak ada hubungan dengan segala macam janji, buntung. Kalau kau mau bunuh tawananmu itu silahkan bunuh. Aku tak mau banyak bicara lagi dan kau terimalah pukulanku.... dess!” dan pukulan si nyonya yang dikelit dan meledak di samping, benar-benar tak perduli dan tak menghiraukan keselamatan Siang Le tiba-tiba membuat lawan terbelalak dan berseru keras. 

Menghadapi Kim-hujin ternyata lain dengan Kim-mou-eng. Pendekar itu boleh tawar-menawar tapi Kim-hujin tidak! Dan ketika Swat Lian mengejar dan pukulan demi pukulan menghantam lawannya itu, Togur terkejut dan mengelak ke kiri kanan maka sang nyonya sudah menyerang dan sama sekali tak memberi ampun.

“Ayo, hadapi pukulanku dan bunuhlah tawananmu!”

Si buntung sibuk. Ia menggeram dan membentak karena si nyonya benar-benar tak perduli menantunya, lain dengan Pendekar Rambut Emas yang berteriak dan kaget oleh ulah isterinya ini. Dan ketika si buntung tertawa bergelak karena lagi-lagi ia melihat setitik harapan, lain sang nyonya lain pula Pendekar Rambut Emas maka Siang Le yang sudah hampir dihatam dan dipukul kepalanya ditahan dan si buntung berseru kepada Pendekar Rambut Emas, mengelak sana-sini serangan lawannya itu, yang kian dahsyat.

“Pendekar Rambut Emas, bagaimana sekarang. Dapatkah kau menyuruh mundur isterimu agar menantumu selamat!”

“Kau tak boleh mengganggu Siang Le,” Pendekar Rambut Emas membentak, suaranya menggeledek. “Atau aku membatalkan semua perjanjianku, Togur. Lihat aku bersumpah untuk membunuhmu kalau kau berani membunuh menantuku... krekk!” sebuah batu dicengkeram, hancur dan menjadi debu dan kekhawatiran atau kemarahan pendekar ini tampak dengan jelas. Ia marah melihat ulah isterinya tapi juga gusar kalau Togur mengancam Siang Le.

Pendekar ini tak mau Siang Le dibunuh hanya karena kecerobohan isterinya itu. Swat Lian menyerang lagi lawannya dengan amat hebat, benar-benar tak perduli atau menghiraukan pemuda itu, padahal pemuda itu adalah menantunya sendiri. Dan ketika Togur tertawa bergelak dan mengelak sana-sini, tongkat membentur atau menghalau serangan-serangan nyonya itu maka Thai Liong berkelebat dan tiba-tiba berbisik di dekat ayahnya ini.

“Biarkan mereka, asal kita berjanji tidak akan ikut campur tentu Togur tak akan membunuh Siang Le.”

Sang ayah terbelalak. Tampak betapa Pendekar Rambut Emas amat mengkhawatirkan menantunya itu, Thai Liong diam-diam juga terkejut dan menyesal oleh sepak terjang ibunya yang gegabah ini. Namun karena pemuda itu dapat memaklumi perasaan ibunya dan bahwa penantian selama dua hari benar-benar lebih dari cukup, orang gampang marah dengan penantian yang sia-sia maka Thai Liong bergerak dan berseru kepada si buntung,

“Togur, jangan ganggu Siang Le. Kami berjanji untuk membiarkan kau bertanding secara jantan dan hadapilah ibuku tanpa campur tangan kami berdua!”

“Ha-ha, kalian begitu ketakutan Siang Le kubunuh? Kalau aku boleh pergi dari tempat ini secara baik-baik tentu pemuda ini tak akan kuganggu, Thai Liong. Tapi sekali aku celaka tentu pemuda ini kubunuh!”

“Kau sudah mendapat kebebasan dari kami. Seharusnya pemuda itu tetap kau serahkan kepada kami!”

“Ha-ha, tidak bisa. Wanita ini menyerang. Ibumu tidak membiarkan aku pergi dari Sam-liong-to!”

“Kalau begitu kau curang. Bukankah kami sudah tidak campur tangan!"

“Ha-ha, kau licik menyembunyikan wanita ini, Thai Liong. Kalau ia sampai mencelakai aku maka pemuda inipun celaka!”

“Apakah kau takut menghadapi ibuku. Bukankah kepandaianmu lebih tinggi!”

“Itu kalau Bu-siang-sin-kangku tidak dilenyapkan, Thai Liong. Tapi ayahmu yang keparat itu menghancurkannya. Betapapun aku tetap ingin bebas kalau pemuda ini hendak kuserahkan!”

Thai Liong mengeratakkan gigi. Kalau saja ibunya tidak muncul dulu dan bertanding di pantai, sesuai rencana, tentu keadaan tak menjadi begini. Gara-gara ibunya maka semuanya berantakan. Thai Liong menyesal juga. Dan ketika ia putus asa dan ayahnyapun melotot di sana, menahan marah maka pemuda ini kembali kepada ayahnya dan mengeluh.

“Agaknya ibu harus ditarik mundur. Atau Siang Le terancam bahaya di tangan si buntung itu.”

“Benar, dan ibumu menjengkelkan, Thai Liong. Kenapa ia muncul sebelum waktunya. Ah, ia harus kutarik dan bantu aku!” dan ketika Pendekar Rambut Emas berkelebat dan membentak isterinya, menyuruh mundur maka Swat Lian terkejut ditotok suaminva. Saat itu ia melancarkan pukulan Khi-bal-sin-kang dan Togur mengelak ke kiri, dikejar dan tongkatpun menangkis dengan amat hebatnya. Dan ketika masing-masing terpental dan sang nyonya berjungkir balik, Kim-mou-eng berkelebat dan menotok isterinya ini maka perbuatan yang tak diduga-duga ini membuat nyonya itu menjerit.

“Aihhhh...!”

Sang nyonya roboh. Pendekar Rambut Emas menangkap isterinya dan Swat Lian tentu saja memaki-maki. Kepandaian dan tingkah laku isterinya ini telah dikenal, Pendekar Rambut Emas mempergunakan waktu yang tepat untuk merobohkan isterinya itu. Dan ketika Swat Lian tertotok dan tentu saja marah bukan main, Togur tertawa dan berjungkir balik di sana maka ke Pendekar Rambut Emas berseru,

“Togur, serahkan tawananmu. Cepat, atau aku akan membebaskan isteriku!”

“Tidak... keparat jahanam. Tidak! Lepaskan aku dan biar kubunuh si buntung itu, suamiku. Lepaskan aku dan jangan biarkan ia meninggalkan pulau!”

“Kau tak usah marah-marah,” Pendekar Rambut Emas berkata, setengah gemas setengah kasihan. “Siang Le harus kita selamatkan dulu, niocu. Kau merusak dan mengacau rencana. Diamlah, aku sudah tak dapat berbuat lebih kepada lawan kita itu!”

“Aku tak perduli, Siang Le boleh mampus. Tapi aku akan membunuh si buntung itu untuk membalaskan sakit hatiku!”

“Hm, kau harus tunduk kepadaku. Jangan bicara lagi atau nanti semuanya akan gagal!” Pendekar Rambut Emas terpaksa menotok urat gagu isterinya, sang isteri tak dapat bicara lagi dan tentu saja wanita ini mendelik. Suara maki-makian hanya seperti suara ngorok saja di tenggorokan. Swat Lian naik pitam. Tapi ketika ia benar-benar dibuat tak berdaya dan suaminya sudah membalikkan tubuh, menghadapi si buntung itu maka Togur berseri-seri memandang keluarga ini.

“Ha-ha, bagus. Tapi aku tak mau diperdayai lagi. Bersumpahlah bahwa kalian bertiga tak akan mencari-cari aku lagi. Tawanan akan kuserahkan dan selanjutnya aku keluar dari pulau ini.”

Kami tak perlu bersumpah,” Pendekar Rambut Emas berkata marah. “Janji kami sudah sama dengan sumpah, Togur. Lepaskan Siang Le dan terima kembali kawanmu!” Pendekar Rambut Emas menendang Ui Kiok, tak perlu wanita itu lagi karena semuanya sudah cukup. Togur menerima tapi belum juga melemparkan tawanannya, Siang Le masih di dalam cengkeramannya. Dan ketika ia tertawa melihat Thai Liong dan ayahnya terbelalak, si buntung ini memang licik maka ia berseru nyaring agar Pendekar Rambut Emas mengendalikan isterinya kalau nanti mengejar atau menyerang dirinya.

“Aku tak mau menanggung resiko. Berjanjilah pula bahwa kau akan mengendalikan dan menguasai isterimu kalau ia berani menyerang aku!”

“Baik!” Pendekar Rambut Emas hampir meledak. “Aku akan mengendalikan dan menguasainya kalau ia menyerang dan mengejar dirimu, Togur. Serahkan tawananmu dan cepatlah enyah!”

Si buntung tertawa bergelak. Sekarang ia merasa aman dan Siang Le dilemparkannya kepada lawannya itu, diterima tapi Thai Liong berkelebat menghadang bahwa ia tak boleh buru-buru pergi. Si buntung harus menunggu dulu sampai Siang Le sembuh, pemuda itu belum diobati. Dan ketika dengan tenang Rajawali Merah menuding bahwa perjanjian harus berlaku adil, boleh pergi kalau dua orang itu terancam bahaya keracunan maka si buntung ini terkejut.

“Sudah sama disepakati bahwa kedua orang ini harus dalam keadaan selamat, sehat lahir batin. Kalau kau pergi dan mereka belum selamat maka tentunya kau harus menunggu dulu memberikan obat yang lain. Kami tak akan melanggar janji dan percayalah bahwa begitu mereka sembuh begitu juga kami tak akan menahanmu lagi.”

Si buntung terbelalak. Tiba-tiba ia kecewa dan menancapkan tongkatnya sambil mengutuk Thai Liong. Tapi karena perjanjian memang begitu dan mau tak mau ia harus menunggu, ia yakin bahwa Siang Le maupun Soat Eng selamat maka iapun menggeram dan memukulkan tongkatnya. “Baiklah, janji seorang ksatria tak akan ditarik, Thai Liong. Kalau kau ingkar maka kau penjilat ludah seperti anjing buduk!

Thai Liong tersenyum. Ia mengangguk dan tak membalas hinaan itu, meminta ayahnya untuk mengobati Siang Le dan saat itu terdengar keluhan Soat Eng. Wanita itu bergerak dan mulai sadar, membuka mata. Dan ketika Pendekar Rambut Emas girang tapi mengerutkan kening melihat tindak-tanduk puteranya yang aneh, isyarat tanda mata yang menyuruh ia waspada maka Thai Liong berbisik bahwa siapapun harus dijaga di situ.

“Ayah obati saja Siang Le. Tapi harap berjaga-jaga agar ibu atau Soat Eng sampai kecolongan disambar si buntung.”

Pendekar Rambut Emas mengangguk. Ia tahu bahwa kecerobohannya tadi adalah karena tak menjaga Siang Le baik-baik, sehingga Togur dapat merampasnya kembali dan mempergunakan itu untuk menekan mereka. Dan ketika ia mengobati Siang Le dan di sana puterinya melompat bangun, sadar dan sembuh dari racun si buntung maka Soat Eng terbelalak melihal ayah dan kakaknya ada di situ, juga suaminya, Siang Le yang masih pingsan dengan wajah kehitaman.

“Eh, kalian di sini kiranya. Bagus, tapi mana si jahanam Togur. Bagaimana dengan Siang Le!”

“Dia di sana,” Thai Liong menunjuk, dengan dagunya. “Dan kami sedang mengobati suamimu, Eng-moi. Mudah-mudahan berhasil dan tak ada apa-apa.”

Soat Eng menoleh. Dia baru saja sembuh dari jarum beracun dan tidak melihat si buntung, karena si buntung berada di belakangnya. Tapi begitu dia menengok dan kaget serta marah melihat lawannya teringat semua kejadian dan perbuatan si buntung yang hampir mencemarkan namanya maka Soat Eng berkelebat dan tiba-tiba dia menerjang. “Togur, kau buntung keparat jahanam. Bagus sekali kau masih di sini, mampuslah...!”

Togur terkejut. Dia sudah merasa cemas dan khawatir begitu Soat Eng melompat bangun, sadar dan sembuh dari racun jarum hitam. Dan ketika wanita ini bergerak dan membentaknya, langsung menyerang maka ia mengelak namun lawannya itu mengejar.

“Plak!” tongkat menangkis dan apa boleh buat menghalau serangan si nyonya Soat Eng tak berbeda dengan ibunya dan watak keras yang diwarisinya kini diperlihatkannya di situ, apalagi karena Togur telah melakukan sesuatu yang rendah dan memalukan, hampir saja merenggut kehormatannya sebagai wanita dan tentu saja ia tak mau sudah dengan tangkisan itu. Karena begitu terpental iapun menyerang lagi dan bertubi-tubi pukulan demi pukulan menyambar dan menghantam dahsyat.

Si buntung berteriak dan memanggil-manggil nama Pendekar Rambut Emas, bertanya bagaimana dengan puterinya ini karena sebentar kemudian Soat Eng sudah melepas semua pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang ataupun Lui-ciang-hoat, disusul oleh gerak luar biasa dari ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng ataupun Cui-sian Gin-kang. Dan ketika si buntung sibuk dan pukulan si nyonya yang menyambar-nyambar kurang cepat dikelit, dua hantaman mengenai pelipisnya maka si buntung terbanting dan terguling-guling, marah.

“Pendekar Rambut Emas, mana janjimu. Kenapa kau membiarkan puterimu menyerang aku. Mana omonganmu sebagai seorang ksatria itu!”

“Hm,” Pendekar Rambut Emas menoleh, tapi sudah sibuk mengurus menantunya lagi, kini menyalurkan sinkang agar tenaga mantunya pulih. Wajah kehitaman itu sudah mulai lenyap. “Aku tak merasa mempunyai janji dengan puteriku, Togur. Coba kau ingat-ingat janji yang manakah yang kau katakan tidak ksatria itu!”

“Eh, bukankah kau membiarkan aku meninggalkan pulau? Bukankah kau berjanji tak akan mengganggu aku? Dan sekarang puterimu ini menyerang kesetanan. Suruh dia mundur atau kau kumaki sebagai anjing penjilat ludah!”

“Jaga omonganmu!” Thai Liong tiba-tiba membentak. “Kami tak pernah menjilat ludah, Togur. Ingat dan pakai otakmu baik-baik bahwa yang kami janjikan adalah ibuku, bukan adikku. Kalau sekarang ia menyerang dan membalas sakit hati maka itu adalah urusannya dan kami tak akan mencampuri!”

Si buntung kaget. Tiba-tiba ia terbelalak dan sadar akan ini. Ia terperangkap, Ia terjebak oleh kelengahannya sendiri, Dan karena betul Pendekar Rambut Emas maupun puteranya tak membawa-bawa nama Soat Eng, dialah yang lupa tak memasukkan wanita ini untuk ikut dalam perjanjian maka Soat Eng melengking dan berseru tak tahu-menahu akan segala macam janji.

“Tai kucing. Apa-apaan ini. Aku tak akan melepaskanmu sebelum roboh. Kau boleh berjanji dengan ayah atau kakakku, Togur. Tapi aku sendiri tak akan berjanji apa-apa kepadamu selain mengantarkan nyawamu ke akherat!”

Si buntung membentak. Akhirnya ia menyesal bahwa ia kelupaan memasukkan puteri Pendekar Rambut Emas ini. Tadi wanita itu masih pingsan dan ia tak ingat, inilah kelengahannya. Dan ketika ia diserang dan cepat serta bertubi-tubi wanita itu melepas pukulan-pukulan, semuanya ganas dan berbahaya maka si buntung mengeluarkan keringat dingin karena ia sekarang hanya mengandalkan ilmu-ilmunya yang biasa.

Bu-siang-sin-kang, ilmu yang luar biasa, telah musnah dihancurkan Pendekar Rambut Emas. Si buntung mengutuk dan memaki-maki pendekar itu. Dan ketika terdesak dan apa boleh buat tongkat diputar gencar, menangkis atau menghalau serangan maka Togur membentak agar temannya membantu, karena Ui Kiok diam-diam mundur dan mau menyelamatkan diri.

“Jangan celingak-celinguk, atau nanti kau kuhajar. Ayo, bantu aku, Ui Kiok. Cabut pedangmu dan tahan serangan wanita ini!”

Ui Kiok mengeluh. Sebenarnya ia marah dan benci ketika tadi Togur sama sekali tak menghiraukan nasibnya. Kalau Pendekar Rambut Emas orang jahat tentu sudah dibunuh. Maka begitu si buntung membentak dan ia ketahuan, tak jadi melarikan diri maka sambil memekik dan melampiaskan rasa gusar dan kecewanya terpaksa membantu si buntung itu.

“Siauw-ong, kau licik. Tadi membiarkan aku di bawah ancaman musuh dan kini kau malah minta bantuanku kalau diancam musuh!”

“Tak usah cerewet, atau nanti kulempar. Hayo kau ganggu dia dari belakang, Ui Kiok. Tusuk atau tikam punggungnya!”

Terpaksa wanita ini mengikuti perintah. Sebenarnya ia tak suka dan marah sekali kepada si buntung ini. Kalau saja tidak ingat kekejamannya tentu dia akan menolak. Namun karena si buntung itu amatlah kejam kalau sampai dilawan, padahal ia sudah berhadapan sebagai musuh dengan Pendekar Rambut Emas dan keluarganya ini maka apa boleh buat sambil menggigit bibir wanita ini menyerang Soat Eng. Namun ia malah terpelanting. Soat Eng yang marah dan sengit menghadapi Togur juga marah dan sengit pula menghadapi wanita ini.

Ui Kiok adalah wanita cabul dan merah mukanya kalau teringat suaminya pernah ditawan wanita ini. Adakah suaminya bersih dan masih dapat dipercaya? Adakah suaminya tak sampai “kotor” setelah berdekatan dengan wanita ini? Dan marah serta naik pitam oleh bayang-bayang kecemburuan, cemburu yang membakar dan memanaskan dada maka Soat Eng membalik dan satu hantamannya ke arah pedang membuat pedang di tangan wanita itu mencelat. Ui Kiok sendiri terpelanting!

“Plak-aduh!”

Togur terkejut. Ia tahu bahwa Ui Kiok bukan lawan Soat Eng. Tapi melihat temannya itu terbanting dan terguling-guling dengan pedang mencelat, dalam satu gebrakan saja maka pemuda ini memaki-maki dan menggoblok-goblokkan temannya itu. “Bodoh, kerbau betina tak punya otak. Kau jangan terlalu dekat menyerang, Ui Kiok. Ambil pedangmu dan serang lagi!”

“Kau yang bodoh!” Ui Kiok membentak, balas memaki marah. “Kalau kau cepat-cepat menolongku tentu tak mungkin aku begini, siauw-ong. Kau tidak cepat bertindak dan pandainya hanya memaki-maki saja!”

“Eh-eh,” si buntung terbeliak. “Kau berani memaki aku, Ui Kiok? Kau tidak takut kuhajar? Ayo jangan banyak mulut, bunuh lawan kita ini dan nanti kubawa keluar pulau!”

Ui Kiok mendengus. Alih-alih dia mau dibawa keluar padahal pemuda itu sendiri tak dapat keluar. Dia pucat dan gentar melihat kepandaian lawannya ini. Kalau tidak karena si buntung tentu tak sudi ia membantu. Lebih baik lari, apalagi di sana masih ada Pendekar Rambut Emas dan puteranya, Thai Liong Si Rajawali Merah yang kesaktiannya luar biasa itu. Dan ketika ia menyerang lagi namun dengan hati yang setengah-setengah, kembali ditangkis dan mencelat maka Togur gemas memandang temannya itu.

“Jangan seperti kerbau tak berotak. Jangan bertemu dengan lengannya!”

“Hm!” wanita ini tak menjawab, bergulingan meloncat bangun dan marah menyerang lagi. Ia sebenarnya tak bermaksud mengadu tenaga tetapi karena cepatnya tangkisan lawanlah ia sampai terpelanting. Togur sungguh buta! Dan ketika ia menyerang lagi namun sudah didahului oleh keder dan jerih, ia bukanlah lawan puteri Pendekar Rambut Emas itu maka Siang Le di sana bergerak dan siuman. Racun di tubuhnya lenyap.

“Ah, di mana aku ini? Dan, eh... kau, gak-hu? Mana Eng-moi?”

Pendekar Rambut Emas terharu. Begitu siuman maka yang pertama kali ditanyakan adalah sang isteri, meloncat bangun dan Siang Le tampak bingung ketika di situ menggeletak tubuh gak-bonya, ibu mertua, juga Thai Liong yang berdiri memegang bahunya dan Siang Le tergetar oleh pandang mata maupun keharuan iparnya ini. Thai Liong seperti ayahnya. Tapi ketika ia terkejut mendengar suara pertempuran, sadar dan menoleh maka ia tersentak melihat si buntung Togur.

“Itu Eng-moi...!”

“Benar.”

“Dan ia bertanding dengan Togur. Ah, jahanam busuk ini ada di sini, gak-hu. Biar aku bantu dan kenapa kalian diam saja melihat ia dikeroyok!”

Siang Le menerjang, langsung saja marah melihat Ui Kiok membantu Togur. Wanita itu tak tahu malu dan melihat Ui Kiok seakan melihat segala peristiwa menjijikkan. Siang Le heran dan kaget kenapa ipar dan ayah mertuanya tidak bergerak. Tapi karena sang isteri jelas menghadapi lawan berbahaya dan Siang Le tak tahu bahwa Togur telah kehilangan Bu-siang-sin-kangnya, ilmu sakti tak berwujud maka pemuda itu pucat, melihat isterinya bertempur dengan si buntung yang hebat ini.

Sudah berkali-kali terbukti bahwa isterinya tak pernah menang menghadapi lawannya itu, apalagi dia sendiri. Tapi karena Siang Le bukanlah pemuda penakut dan terhadap siapapun ia tak gentar, boleh mati demi kebenaran maka pemuda yang sudah masuk dan ikut dalam pertandingan ini membuat Soat Eng girang tapi menyuruh suaminya itu menghadapi Ui Kiok saja.

“Le-ko, terima kasih. Tapi biarkan si buntung ini bagianku. Kau hadapilah wanita busuk itu dan bunuh dia!”

“Kau menghadapi si buntung ini atas seorang diri?”

“Aku tak takut, Le-ko. Apalagi di sini ada ayah atau kakakku!”

“Kami tak dapat membantu!” Thai Liong tiba-tiba berseru. “Kami terikat perjanjian dengan si buntung itu, Eng-moi. Untuk menyelamatkan kalian tadi kami diikat!”

“Diikat?”

“Ya, diikat janji. Kami tak boleh menyerang atau menggangunya sebagai imbalan membebaskan kalian dari tawanannya tadi!”

“Ooh, pantas!” dan Siang Le yang mengerti dan membentak Ui Kiok lalu menghadapi lawannya ini dengan mata terbelalak. Ia baru saja sembuh tapi sinkang yang tadi diam-diam diberikan Pendekar Rambut Emas ke tubuh menantunya ini dapat membuat Siang Le sesegar dan sesehat orang waras.

Pemuda itu benar-benar tak terlihat sebagai orang yang baru sembuh dari racun jahat melainkan seperti orang segar. Begitu juga Soat Eng yang bertanding di sana. Pendekar Rambut Emas telah “mengisi” anak dan menantunya untuk melaksanakan pertandingan ini, hal yang mengejutkan Ui Kiok maupun si buntung karena lawan yang baru sembuh dan sadar itu seolah tak pernah kena penyakit saja.

Togur segera tahu bahwa ini tentu hasil kerja Pendekar Rambut Emas. Tapi karena hal itu juga tak dapat disalahkan karena setiap orang tentu juga melakukan hal yang sama, untuk mempercepat penyembuhan maka si buntung diam-diam hanya mengutuk dan marah dalam hati, Soat Eng melancarkan gabungan pukulan-pukulannya dan celaka sekali ia kerepotan, Bu-siang-sin-kang, ilmu yang dimiliki, hancur dimusnahkan Pendekar Rambut Emas.

Dan karena mau tak mau ia harus memakai ilmu-ilmu silatnya sendiri, warisan dari guru-gurunya yang lama dan Togur mencampuradukkan ilmu-ilmu itu maka Soat Eng yang seharusnya dapat mendesak atau menekan lawannya ini jadi melotot karena ia tak juga mampu mendesak, padahal lawan tidak mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya itu.

Soat Eng juga heran kenapa lawannya ini tidak mengeluarkan ilmu andalannya itu, diam-diam khawatir dan cemas kalau Togur mengeluarkan Bu-siang-sin-kang. Namun karena ia menganggap bahwa mungkin kehadiran ayah atau kakaknya membuat si buntung itu takut mengeluarkan ilmu hitamnya, ayah dan kakaknya dapat memukul hancur ilmu itu maka wanita ini tak menyangka bahwa lawan sebenarnya sudah kehilangan “taringnya” yang amat berbahaya.

Soat Eng terus saja melancarkan serangan-serangannya dan si buntung mengelak sana-sini. Tapi karena wanita itu menggabung ilmu-ilmu kepandaiannya dan dua ginkang paling hebat digunakan di situ, Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang maka Togur kalah cepat dan si buntung ini menerima empat kali tamparan yang membuatnya terpelanting roboh.

Namun hebat, si buntung ini dapat bangun kembali. Dengan bantuan tongkatnya yang tetap dicekal erat laki-laki ini mampu melenting dan bangun lagi, menghadapi serangan-serangan berikut dan Khi-bal-sin-kang yang dipunyai melindungi tubuhnya dari pukulan-pukulan Soat Eng. Wanita ini gemas dan melotot. Ilmu dari keluarganya dipakai lawan untuk memukul balik. Tapi karena ia tak putus asa dan menyerang lagi, berkelebatan dan menyambar-nyambar bagai walet beterbangan maka sekali lagi ia mampu menghantam lawannya itu, tepat di tengkuk.

“Dess!” Si buntung mengeluh. Ia dapat bangun lagi namun kali ini agak terhuyung. Tenaga Pendekar Rambut Emas, yang tadi “disimpan” di tubuh puterinya itu membuat pukulan lebih hebat daripada biasanya. Togur pening dan pucat. Namun karena lagi-lagi ia memang pemuda luar biasa dan Soat Eng gemas menyerang lagi, menghantam dan tak memberi kesempatan maka lawan terhuyung-huyung mengelak sana-sini dengan repot. Ilmu-ilmu warisan Enam Iblis Dunia sudah dilakukan namun memang ilmu-ilmu itu kalah kelas.

Khi-bal-sin-kang maupun Lui-ciang-hoat adalah ilmu yang diperoleh dari kakek dewa Bu-beng Sian-su, tentu saja setingkat di atas ilmu-ilmu yang dimiliki Enam Iblis Dunia, biarpun mereka itu memiliki pukulan-pukulan Tee-sin-kang maupun Mo-seng-ciang, juga Cam-kong-ciang yang dulu dimiliki mendiang si Pembunuh Petir yang dahsyat. Dan ketika Togur sudah mengeluarkan ilmu-ilmunya itu namun tak banyak berguna menghadapi lawan yang memang hebat, sebenarnya hanya Bu-siang-sin-kang dan ilmu-ilmu dari Poan-jin-poan-kwi yang dapat dipakai menandingi maka akhirnya pukulan-pukulan atau tamparan Soat Eng membuat si buntung ini jatuh bangun.

Togur kewalahan dan mulai pucat. Tenaga Pendekar Rambut Emas lebih menonjol di situ daripada tenaga Soat Eng. Ini akibat penyembuhan tadi. Dan ketika pemuda itu gemetar dan mulai terdesak, Soat Eng heran tapi girang bahwa lawan tak mempergunakan Bu-siang-sin-kangnya, ilmu yang paling ditakuti maka tongkat terpental ketika bertemu lengannya. Selanjutnya tenaga atau kekuatan lawan turun dengan cepat.

Si buntung tak mampu menahan tongkatnya lagi dan mencelatlah tongkat itu bertemu tamparan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika si buntung terbanting dan menggulingkan tubuh menyelamatkan diri, Soat Eng berteriak dan mengejar dengan satu pukulan maut tiba-tiba sinar putih berkelebat dan wanita ini terkejut bukan main karena sebatang pedang berhawa dingin tiba-tiba menyambar, menyambut pukulannya itu.

“Awas.... bret-plak!”

Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas sampai berseru berbareng. Mereka melihat bahaya yang mengancam Soat Eng dan begitu sinar putih berkelebat tiba-tiba saja dada mereka seakan dicoblos. Satu kekuatan gaib muncul dan Soat Eng sendiri kaget melempar tubuh karena tangannya bertemu dengan hawa dingin yang amat ganas. Dari situ saja ia tahu bahwa sebatang senjata ampuh berada di tangan lawan, tak boleh dibuat main-main namun tetap saja Soat Eng terlambat. Ujung lengan bajunya terbabat dan bergulinganlah wanita itu menyelamatkan diri. Ia otomatis menarik serangan dan kini meloncat bangun di sana, menggigil.

Si buntung terkejut dan heran. Ia mencabut pedang temuannya itu dan tiba-tiba merasa sebuah tenaga raksasa bekerja, girang dan tertawa bergelak. Dan ketika ia juga sudah berdiri dengan pedang di tangan, pedang putih yang berkeredepan menyilaukan mata maka Pendekar Rambut Emas maupun putera-puterinya berseru tertahan,

“Pek-kong-kiam!”

Ayah dan anak menjublak kaget. Swat Lian, yang menggeletak dan melihat itu tiba-tiba juga terkejut dan membelalakkan mata lebar-lebar. Pek-kong-kiam, pedang ampuhnya, tiba-tiba berada di situ, di tangan si buntung! Dan ketika nyonya ini kaget dan heran bagairnana pedang yang dulu dibuangnya itu berada di tangan Togur, sesuatu berdetak di jantungnya maka aneh bin ajaib langit tiba-tiba menggelegar dan turunlah hujan deras.

“Ha-ha!” Kim-mou-eng dan putera-puterinya terkejut. “Majulah kalian semua, Pendekar Rambut Emas. Ayo keroyok dan bunuhlah aku. Hayo, kalian maju dan tak perlu aku meninggalkan pulau!” dan si buntung yang bergerak dengan luar biasa cepat, mendapat tambahan tenaga dari pedang yang bergetar-getar mendadak menerjang dan menusuk Soat Eng.

Wanita itulah yang paling dekat dan Soat Eng mengelak, dikejar dan ditusuk lagi dan marahlah nyonya itu menangkis dengan kebutan lengan bajunya. Tapi ketika lengan bajunya robek dan ia terpelanting, tenaga mujijat menyambar dari badan pedang itu maka wanita ini melempar tubuh bergulingan dan hujan sudah membuat semua yang ada di situ basah kuyup. Petir dan guntur sahut-sahutan.

“Celaka!” Pendekar Rambut Emas menyambar dan mengangkat isterinya, “Pertanda bahaya mengancam kita, niocu, Pek-kong-kiam milikmu ada di tangan Togur!”

Swat Lian ah-uh-ah-uh. Ia tak dapat bicara karena masih ditotok suaminya, teringat dan Pendekar Rambut Emas cepat membebaskan totokan isterinya itu. Dan ketika Swat Lian dapat bicara namun masih tak dapat bergerak, ia hanya dibebaskan totokan gagunya saja maka nyonya ini menggigil, tersedak-sedak.

“Benar... benar. Itu pedang pusakaku. Pedang pembawa sumpah. Ah, bagaimana muncul di sini dan jatuh di tangan pemuda laknat itu. Bukankah dulu sudah kubuang ke laut!”

“Aku juga tak mengerti. Tapi lihat, Togur tiba-tiba mendapatkan tenaganya secara luar biasa, niocu. Dan pedang itu berkeredepan menyilaukan mata. Badan pedangnya memancarkan cahaya gaib. Ada suatu bencana!”

Sang nyonya menggigil. Tiba-tiba ia menangis karena itulah pedang pembawa sumpah. Dulu, hampir dua tahun yang lalu ia pernah marah-marah dan mengeluarkan sumpah bahwa siapa yang telah melepaskan See-ong akan dibunuh. Tapi setelah ia tahu bahwa yang melepaskan musuh besarnya itu ternyata Thai Liong, yang ingin menolong dan melicinkan jalan bagi perjodohan adiknya dengan Siang Le (baca: Istana Hantu).

Maka nyonya itu terkejut dan tentu saja tertampar. Dia tak tahu bahwa anak tirinya itulah yang melepaskan See-ong, yang dulu ditangkap dan dihukum suaminya dalam sebuah kerangkeng emas. Karena waktu itu Thai Liong tak tahan oleh kesedihan dua remaja itu dalam menggalang jodoh. Dan ketika ia tahu dan tentu saja terpukul, mencabut atau menarik kembali sumpahnya dengan melempar Pek-kong-kiam ke laut, mengubur sumpah itu.

Maka tak dinyana tak disangka tiba-tiba Pek-kong-kiam muncul kembali dan agaknya sumpahnya tak dapat dicabut. Pedang itu bergetar-getar dan petir serta guntur menggelegar-gelegar. Sam-liong-to bergerak dan seolah diguncang gempa bumi. Dan ketika Thai Liong juga terbelalak dan ngeri, tentu saja juga tahu akan sumpah ibunya dulu maka di sana Soat Eng terpekik dan melengking-lengking karena setiap dia menangkis atau menghalau Pek-kong-kiam tentu dialah yang terpental.

“Ha-ha!” tawa dan suara si buntung ini mengatasi buih laut selatan, yang kini bergolak. “Hayo kau maju dan keluarkan semua kepandaianmu, Soat Eng. Meskipun ayahmu telah menghancurkan Bu-siang-sin-kangku nanti kini aku dapat pengganti dengan sebatang pedang yang dahsyat. Ayo... ayo maju dan lawanlah aku.... bret-bret!”

Baju Soat Eng kembali robek, putus terbebat oleh ketajaman Pek-kong-kiam dan pedang yang membawa hawa dingin itu benar-benar terasa semakin mengerikan. Terdengar suara seperti orang mendesis-desis dan Soat Eng mengeluh. Entah kenapa, sinar mencorong dan perbawa gaib yang dibawa pedang itu serasa melumpuhkan semangatnya. Badai dan ombak yang bergulung-gulung dan tiba-tiba datang begitu Pek-kong-kiam muncul membuat nyali wanita ini menciut.

Dan ketika pedang perlahan-lahan berobah merah darah dan siapapun tentu ngeri melihat ini, Pek-kong-kiam sudah berobah dari putih menyilaukan menjadi merah terbakar, Togur terkejut tapi malah tertawa berseri-seri, pedang yang di tangannya sungguh pedang yang gaib maka Soat Eng menjerit ketika pangkal lengannya tertusuk. Ia sudah mengelak namun entah kenapa tiba-tiba langkah kakinya terasa berat.

“Augh.... bret!”

Soat Eng terhuyung-huyung. Khi-bal-sin-kang, yang dipunyai, tiba-tiba serasa tak berguna menghadapi pedang ini. Ada sesuatu yang gaib yang tinggal di badan pedang, dikejar dan mengelak lagi namun ia tersandung. Dan ketika Togur tertawa bergelak dan membacok penuh keji, mengejar, maka nyonya itu melempar tubuh ke kiri dan rambutnya sebagian terbabat.

“Crat!”

Pendekar Rambut Emas tak tahan. Sebagai seorang ayah tentu saja ia tak kuat melihat itu, puterinya jatuh bangun dihajar lawan. Tapi ketika ia mau membantu Thai Liong berkelebat, menangkap dan nencekal lengan ayahnya ini maka sang pendekar terkejut dan tertegun.

“Ayah tak boleh membantu. Janji seorang ksatria harus dipegang teguh!”

“Tapi... tapi...”

“Aku tahu, ayah. Tapi betapapun kita harus memegang janji. Dengarkan suara untuk kita dan lihat siapa itu!”

Pendekar Rambut Emas menoleh. Di antara buih dan debur ombak tiba-tiba muncul bayangan seorang kakek. Kakek itu naik turun di antara gelombang dan mulutnya yang tersenyum-senyum membuat pendekar ini terkejut. Dan ketika terpukau dan kakek itu menggerakkan lengannya, ia tak bergerak seperti arca batu maka isterinya yang bangkit dan meloncat bangun tiba-tiba berseru,

“Sian-su...!”

Pendekar Rambut Emas bengong. Isterinya tahu-tahu bebas dan sebelum ia bicara mendadak meloncat dan menerjang Togur. Kejadian sedetik yang amat cepat ini berlangsung luar biasa, isterinya sudah menyambar dan menghantam si buntung, yang saat itu membacok Soat Eng yang tersandung jatuh. Dan ketika si buntung berteriak dan mencelat terlempar, tenaga nyonya amat dahsyat dan juga tak di duga maka Soat Eng selamat dan wanita itu tersedu-sedu. Ia hampir saja binasa.

“Ibu, tolong.... aku takut!”

“Minggirlah!” sang ibu mendorong, Soat Eng terlempar ke dekat ayahnya, yang mendelong dan serasa menghadapi sebuah mimpi. Hujan dan petir masih sambar-menyambar. “Aku yang akan membunuh si buntung ini, Soat Eng. Dan aku akan merampas pedangku yang dibawanya!”

Luar biasa. Tandang wanita inipun tiba-tiba berobah dan Swat Lian yang semula lemas dan tak berdaya ditotok suaminya mendadak kini menjadi trengginas dan cekatan, seperti harimau kelaparan. Dan ketika wanita itu melengking dan menubruk ke depan, di sana Siang Le sudah menyelesaikan pertempurannya dan merobohkan Ui Kiok, yang pingsan dan tidak sadarkan diri maka wanita ini sudah menyerang si buntung bagai singa haus darah. Togur terkejut tapi iapun tertawa bergelak.

Pedang di tangannya itu selalu memberi tambahan tenaga sehingga ia seolah tak pernah kecapaian. Ada tenaga gaib yang selalu membuatnya segar! Dan ketika ia terlempar namun sudah meloncat bangun lagi, menyambut dan menghadapi lawannya yang seperti harimau kesetanan. maka si buntung inipun berkelebat dan pedangnya naik turun membelah bayangan lawan. Cepat dan bergulung-gulung dilatarbelakangi oleh gemuruh dan berbuihnya ombak selatan.

“Ha-ha, bagus. Kita selesaikan urusan kita, Kim-hujin. Kau atau aku yang terbunuh!”

Sang nyonya melengking-lengking. Ia membentak agar lawan menyerahkan pedangnya, tentu saja disambut ganda ketawa dan Togur bahkan melancarkan tusukannya, atau tikaman-tikaman berbahaya. Dan karena ia mendapat tambahan semangat dari perbawa pedang, Pek-kong-kiam kini sudah merah semerah darah maka bau amis juga menyambar dan pukulan-pukulan nyonya itu bertemu hawa gaib yang dingin dan aneh sekali pedang ini dapat bicara.

“Kim-hujin, mana janji dan sumpahmu dulu. Kenapa aku kau lempar dan buang ke laut. Mana janji darah dan nyawa yang akan kau berikan!”

Sang nyonya terkejut. Ia seakan tak percaya bahwa Pek-kong-kiam bisa bicara, teringat bahwa dulu ketika ia membuang sumpah terdengar suara menggelegar di langit. Dan ketika suara itu terdengar lagi dan petir serta hujan deras semakin lebat, nyonya ini pucat maka pedang itu mengancam.

"Kau tak menepati janji, kau ingkar. Kalau begitu darah dan nyawamu sebagai pengganti!”

Sang nyonya berteriak. Pedang tiba-tiba bergerak dan menusuk cepat ke dadanya. Togur yang memegang juga terkesiap karena sebuah tenaga gaib tiba-tiba menyuruhnya mengikuti. Ia terbawa dan menusuk nyonya itu dua kali. Dan ketika lawan melempar tubuh namun pedang mengejar, si buntung terbawa dan membabat nyonya itu dengan gerakan menyilang maka Swat Lian menjerit karena baju di depan dadanya robek. Perbawa atau ancaman pedang membuat ia lumpuh.

“Bret!” Sang nyonya membanting tubuh bergulingan. Ia mengeluh dan keserempet dan hampir saja celaka. Tenaga dan semangatnya tiba-tiba hilang bertemu pedang pusakanya itu, padahal ia tadi hendak merampas dan mengambil pedangnya itu. Dan ketika pedang itu marah dan kini justeru memusuhinya, ia melanggar sumpah maka nyonya ini melempar tubuh ke sana ke mari ketika dikejar, pucat dan ngeri karena nyawanya di ujung rambut.

Ilmu-ilmunya banyak tak berguna karena belum apa-apa ia sudah kalah semangat, patah oleh dosa atau perasaan bersalahnya terhadap pedangnya ini dulu, pedang yang ia simpan dan selalu menemaninya. Tapi ketika nyonya ini bergulingan ke sana ke mari sementara pedang semakin mencorong dan kemerah-merahan, Soat Eng tak tahan melihat keadaan ibunya itu maka wanita ini membentak, maju membantu.

“Pedang siluman, pedang iblis, jangan ganggu ibuku. Daripada kau membunuh ibu lebih baik membunuh aku!”

Namun, terdengar tawa bagai ringkik kuda. Soat Eng yang membentak dan menerjang menyelamatkan ibunya ternyata terpelanting oleh ledakan keras ketika pedang bertemu pukulannya. Pedang itu tak apa-apa sementara ia mencelat dan terlempar lagi seperti tadi. Dan ketika ia meloncat bangun dan menyerang lagi, terpental dan kalah oleh perbawa pedang maka Pek-kong-kiam berkata bahwa tak ada yang dapat menggantikan ibunya, kecuali ibunya sendiri.

“Heh-heh, ia melepas dan membuang sumpahnya. Dan ia menyia-nyiakan aku pula. Mana mungkin digantikan orang lain? Kau pergilah, bocah. Darah dan nyawa ibumu tak dapat ditukar!”

Soat Eng pucat. Ia menjerit dan kaget karena tujuh kali ia menyerang tujuh kali itu pula ia terpelanting. Pedang ini memiliki kekuatan gaib yang tak dapat dilawannya. Dan ketika ia ngeri tapi juga marah melihat ibunya didesak, Togur terbahak-bahak karena tiba-tiba dapat memiliki tenaga luar biasa memegang pedang itu, pedang yang ingin membalas dendam maka sang nyonya jatuh bangun mengelak serangan-serangan berbahaya.

Kim-hujin atau nyonya Pendekar Rambut Emas ini patah semangatnya dimusuhi pedangnya sendiri itu. Atau lebih tepat, jatuh semangatnya oleh janji yang ingkar tak dipenuhi. Ia telah membuang pedang dan mencabut sumpah begitu enaknya, padahal dulu sumpahnya telah didengar oleh dewa-dewa atau siapa saja yang ada di atas, mahluk-mahluk suci dan sakti yang kini menuntut pertanggungjawabannya. Dan ketika ia mengeluh karena sebentar kemudian tenaga dan semangat juangnya merosot, ia tak sanggup menghadapi pedang itu maka paha kirinya tertusuk dan ia melempar tubuh bergulingan dengan seruan tertahan.

“Cret!” Nyonya ini mengeluh. Selanjutnya ia dikejar dan mengelak sana-sini lagi, pucat dan mengeluh dan sebuah tusukan lagi mengenai pangkal lengannya. Dan ketika dua luka mengucurkan darah dan Pendekar Rambut Emas berdiri mematung, seakan mimpi dan menggigil tak dapat menggerakkan tubuhnya maka Soat Eng yang coba menolong dan menyelamatkan ibunya terlempar dan terbanting mengaduh kesakitan.

Wanita muda inipun tak berdaya menghadapi pengaruh gaib Pek-kong-kiam dan pedang yang rupanya hendak membalas dendam itu benar-benar tak tertandingi. Angin sambarannya membuat Soat Eng terpelanting dan selalu terguling-guling, tak dapat mendekati atau menyerang pedang itu, yang hendak dipukul atau dilepaskan dari tangan si buntung.

Dan ketika Togur tertawa bergelak karena Pek-kong-kiam benar-benar hanya memburu Kim-hujin, bukan yang lain maka Kim-hujin terjengkang ketika harus mengelak dari sebuah tusukan maut, berteriak dan menggulingkan tubuh ke kiri namun celaka sekali menabrak batu karang. Kim-hujin ini menggigil dan gemetaran pucat, kaget karena tiba-tiba ia lumpuh total.

Maklumlah, semangatnya sudah diporakporandakan pedang yang ganas itu. Dan ketika ia tak dapat berguling lagi karena menabrak batu karang, tawa bagai ringkik kuda terdengar maka menyambarlah Pek-kong-kiam diiring oleh ledakan dan petir yang dahsyat. Sinar merah menyambar bagai membelah langit yang hitam pekat.

“Sekarang kematianmu tiba. Serahkan darah dan nyawamu!”

Sang nyonya menjerit. Jeritnya demikian panjang dan histeris, mengguncang yang lain-lain dan Pendekar Rambut Emas tersentak dan sadar. Petir yang menggelegar di udara dan suara ledakan yang dahsyat itu benar-benar dapat mengejutkan siapa saja. Bahkan, orang matipun barangkali dapat mencelat dari kuburnya. Dan ketika Pendekar Rambut Emas bergerak namun sebuah tangan tahu-tahu mencengkeramnya, tangan Thai Liong yang kuat dan menahan maka pendekar itu bagai copot jantungnya melihat dada isterinya disambar Pek-kong-kiam.

“Apa ini, lepaskan aku!”

Namun sang putera berbisik. Thai Liong menunjuk ke angkasa dan Pendekar Rambut Emas tertegun. Di tengah-tengah langit yang gelap, yang hitam pekat dan penuh oleh gelegar dan kilat menyambar-nyambar tiba-tiba nampak barisan “kunang kunang” yang menyambar Togur. Si buntung itu tertawa bergelak mengikuti gerakan pedang yang menyambar dada lawannya. Kim-hujin terbelalak dan menjerit memanggil suaminya, menunggu maut, karena ia benar-benar tak dapat mengelak lagi menabrak batu karang itu.

Tapi ketika pedang menyambar dan ledakan dahsyat di udara menggetarkan pulau, barisan kunang-kunang itu muncul dan tahu-tahu sudah di atas kepala si buntung mendadak si buntung menjerit ketika tiba-tiba sepasang matanya tertusuk dan bayangan putih kuning yang berada di mukanya itu menghalangi pandangannya, tertegun sejenak namun Pek-kong-kiam membetot, terus meluncur dan tidak menghiraukan jeritan si buntung ini.

Orang memang tidak tahu apa yang terjadi namun Thai Liong dan ayahnya melihat. Itulah seratus roh bayi lelaki yang menemukan Togur kembali, datang dan menyerang pemuda itu di saat Pek-kong-kiam mengancam keselamatan Kim-hujin. Dan ketika pedang tertahan sejenak namun cukup membuat sesosok bayangan melompat, cepat luar biasa maka Siang Le yang tertegun dan kebetulan paling dekat dengan ibu mertuanya sudah menangkis.

“Gak-bo!”

Tindakan atau perbuatan nekat yang dilakukan pemuda ini sungguh tak disangka-sangka. Swat Lian, yang terbelalak dan lumpuh di batu karang melihat jelas bayangan pemuda ini, tangan menantunya yang menjulur ke depan dan coba mencengkeram Pek-kong-kiam. Dan ketika Pek-kong-kiam menyambar dan tentu saja bertemu tangan pemuda itu, menabas atau membacok maka jari-jari pemuda ini putus dan pergelangan tangan pemuda itupun ikut terpenggal.

“Crat!” Soat Eng menjerit tinggi. Siang Le sendiri terhuyung dan roboh menimpa gak-bonya (ibu mertua), menyelamatkan ibu mertuanya itu dan hujan tiba-tiba berhenti. Aneh bin ajaib gelegar atau petir yang dahsyat tiba-tiba juga hilang, disusul oleh langit yang putih bersih dan semarak di sana. Bagai tak ada badai! Dan ketika Soat Eng menjerit dan melesat ke depan, menolong suami dan ibunya maka pedang tiba-tiba leleh dan hancur terkena darah pemuda ini, persis seperti minyak atau air yang menguap oleh panas.

“Kau gila! Kau... kau, ah!” Soat Eng mengguguk, melihat tangan suaminya yang putus sementara ibunya tertegun di situ.

Swat Lian atau Kim-hujin ini terbelalak melihat betapa Pek-kong-kiam akhirnya lenyap, hilang setelah leleh atau menguap berlumur darah, darah Siang Le. Dan ketika ia menjublak dan puterinya sudah menolong pemuda itu, menangis dan menotok pergelangan tangan suaminya maka terjadi kejadian mengejutkan di mana seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dan tertawa menyambar potongan tangan Siang Le, mengisap atau menjilat-jilat darahnya.

“Heh-heh, manis sekali... nikmat. Ah, mana darah yang lain dan biarkan aku minum!”

Swat Lian dan puterinya terkejut. Beng An, putera mereka, tahu-tahu muncul dan dengan rakusnya menjilat-jilat darah di potongan tangan itu. Darah Siang Le seolah anggur yang segar dan diisap-isap sampai kering. Dan ketika ibu dan anak tertegun karena tak menyangka, darah akhirnya habis dan potongan tangan itu dibuang maka anak ini meloncat dan menubruk tangan Siang Le yang masih menetes-neteskan darah.

“Beng An!” Soat Eng dan ibunya tak dapat menahan marah lagi. Mereka sudah melihat anak itu menerkam dan menjilat-jilat darah di luka yang dibebat ini, bagai bocah yang tidak waras. Dan ketika Soat Eng bergerak dan ibunya juga menendang, anak itu terlempar maka Beng An tertawa-tawa meloncat bangun untuk menubruk lagi tangan Siang Le, dihalau dan mencelat lagi namun kembali anak itu menerkam Siang Le.

Empat lima kali hal ini berlangsung hingga Soat Eng dan ibunya bergidik. Mereka merasa ngeri, seram! ketika Siang Le berseru kepada isteri dan gak-bonya agar tidak menghajar anak itu, Beng An seolah anak kelaparan yang ingin menghirup darah segar maka pemuda ini berseru dengan tenang agar membiarkan saja. Ada sesuatu yang menarik wajah anak itu, sesuatu yang dilihat Siang Le.

“Biarkan saja, jangan dipukul. Lihat sinar matanya mulai hidup dan Beng An menunjukkan tanda-tanda sembuh!”

Kim-hujin, serta puterinya, terbelalak menghentikan pukulan. Beng An, yang semula pucat dan putih bagai salju tiba-tiba kemerah-merahan lagi seperti layaknya semula. Anak itu masih dengan rakus menjilat-jilat dan mengisap darah di luka Siang Le, bagai orang kelaparan. Tapi ketika ia merasa cukup sementara Siang Le menahan pening, banyak darah yang hilang maka keduanya tiba-tiba sama-sama roboh hampir berbareng.

“Bluk!” Siang Le menimpa adiknya. Sesuatu yang luar biasa terjadi karena tiba-tiba Beng An sudah kemerah-merahan lagi dengan wajah segar dan sehat. Anak yang semula putih dan pucat seperti salju itu kini berubah. Semua tak tahu bahwa darah suci pemuda ini telah menyembuhkan pengaruh Bu-sian-sin-kang, yakni ketika dulu anak laki-laki itu menggigit dan menyedot darah Poan-jin. Dan ketika Beng An roboh karena kekenyangan, bekas pengaruh darah Poan-jin bertempur dan kalah dengan darah Siang Le, yang suci dan bersih maka di sana di lain tempat terdengar jerit dan pekik Togur.

Swat Lian maupun Soat Eng lupa kepada lawan mereka itu tadi karena mereka sibuk dengan urusan sendiri, ketika Siang Le menyelamatkan gak-bonya dan Soat Eng menolong suaminya ini. Dan ketika itu masih ditambah dengan urusan Beng An, yang datang dan mereguk darah Siang Le maka ibu dan anak benar-benar tak memperhatikan Togur.

Mereka tak tahu betapa si buntung ini tiba-tiba berteriak disambar roh-roh bayi lelaki itu, melepaskan pedang dan berlarian sepanjang pulau menghindar diri. Sepasang matanya luka ditusuk benda-benda berwarna-warni itu dan kagetlah si buntung melihat pembalasan dendam. Ia menjerit dan berlarian menutupi muka, darah mengucur.

Namun karena roh-roh itu mengejar dan bekas pengaruh Bu-siang-sin-kang ini memang tak mau sudah, mereka mencicit dan mengeluarkan suara-suara aneh maka Togur menjadi sasaran dan si buntung yang menerima akibat dari ilmu hitamnya ini berteriak ketakutan sepanjang pulau. Ia berlarian ke sana ke mari namun lawan tak mau sudah.

Dan ketika benda seperti kunang-kunang itu menggigit dan merubung mukanya, persis tawon-tawon yang marah maka Togur berteriak karena wajahnya rusak dengan disengat mahluk-mahluk ganas ini. Ia menghadapi sesuatu yang halus dari alam roh, membaliknya ilmu hitam setelah Bu-siang-sin-kangnya hancur.

Dan ketika seratus benda berwarna-warni itu beterbangan dan menggigit seluruh tubuhnya, turun ke leher dan dada untuk akhirnya ke bawah maka si buntung sudah tidak menyerupai manusia lagi karena kulitnya terkupas dan benyek-benyek memperlihatkan dagingnya yang merah darah.

Selanjutnya bau busuk ikut menerjang dan si buntung melolong-lolong. Mukanya hancur dan kaki tangannyapun penuh darah. Ia seperti manusia vampir. Dan ketika ia menjerit dan berjingkrak-jingkrak tak keruan, Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas terbelalak melihat kejadian itu maka si buntung menceburkan diri ke laut dan kebetulan dua ekor hiu berenang di tepian pantai, mencium bau darah.

“Byuurr!”

Dua hiu ini menyambar. Mereka adalah hewan yang tajam penciumannya dan di manapun darah berada tentu mereka mencari. Begitu juga dengan si buntung ini, yang tadi sebagian darahnya sudah tercecer dan disambar gelombang laut. Dan ketika si buntung mencebur dan dua ikan itu berebut, membuka mulut dan menggigit maka terdengar jerit ngeri ketika tubuh pemuda itu terpotong.

“Krekk!”

Pendekar Rambut Emas memejamkan mata. Dua hiu berebut dan tepat sekali tubuh pemuda itu terpotong dua. Dan ketika masing-masing mendapat satu dan menyelam ke bawah, lenyap meninggalkan darah yang memerah di permukaan, maka hiu-hiu lain muncul dan bagai ikan-ikan kelaparan mereka itu memburu dan menyergap teman mereka.

Selanjutnya Pendekar Rambut Emas tak berani membayangkan apa yang terjadi di bawah laut itu, tubuh si buntung yang tentu dirancak dan dijadikan santapan hiu-hiu ganas. Dan ketika di sampingnya Thai Liong juga memejamkan mata, ngeri oleh peristiwa yang baru saja terjadi ini maka kunang-kunang itu lenyap bersama dengan lenyapnya si buntung di dasar laut.

Ayah dan anak membuka kembali matanya ketika mendengar isak dan tangis di sana. Soat Eng dan ibunya juga menonton adegan terakhir menutupi muka dan tiba-tiba Pendekar Rambut Emas sadar melihat puteranya di sana, putera bungsunya yang juga baru saja mengguncangkan jiwa isteri dan anaknya. Dan ketika pendekar itu berkelebat dan seolah bangun dari mimpi buruk, ia melihat Beng An karena tercekam oleh peristiwa Togur maka pendekar ini terkejut melihat putera dan menantunya saling tindih menjadi satu.

“Apa yang terjadi. Bagaimana Beng An ada di sini!”

“Aku yang membawanya,” Thai Liong berkata, lirih dan datar. “Aku tak dapat meninggalkannya sendirian di utara, yah. Dan lagi Sian-su lah yang menyuruhku begini...”

“Benar, aku tadi melihat kakek dewa itu. Ah, mana dia. Apa maksud semua kejadian, ini!”

“Sebaiknya kita menolong Siang Le, Swat Lian tiba-tiba berkata, terisak. “Ia... ia telah menyelamatkan aku, suamiku. Ia sekarang kehabisan darah gara-gara menolong aku dan putera kita Beng An. Lihat wajah anak kita telah bersih dan sehat kembali. Ia tadi menghirup darah Siang Le!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia melihat mulut puteranya berlepotan darah berlutut dan memeriksa anaknya itu dan benar saja wajah serta tubuh anaknya berubah. Tidak lagi dingin dan pucat melainkan segar kemerah-merahan. Inilah mengherankan. Dan ketika ia mendapat keterangan bahwa semua itu karena darah Siang Le, yang berkorban untuk anak isterinya maka pendekar ini tertegun mendengar Pek-kong-kiam pun leleh dan lenyap dilumuri darah pemuda ini.

“Heran, dan mengejutkan. Darah pemuda ini luar biasa mujijat dengan sirnanya Pek-kong-kiam yang berlumur darahnya. Aku tak tahu bagaimana bisa begitu dan Beng An pun tiba-tiba sembuh meminum darahnya. Aku merasa seram, merinding!”

Pendekar Rambut Emas memeriksa. Sekarang ia berlutut di dekat menantunya itu dan mimpi buruk rupanya benar-benar baru saja terjadi. Ia tertegun melihat buntungnya tangan Siang Le dan puterinya terisak-isak melihat ia memeriksa itu. Luka sudah dibebat dan darahpun kini tak mengalir. Pemuda itu masih pingsan namun tak berbahaya, meskipun harus waspada karena kehilangan banyak darah. Dan ketika pendekar itu menotok dan menjejalkan sebutir obat, bangkit dan kagum karena Pek-kong-kiam benar-benar lenyap, cair dan leleh berlumur darah pemuda ini maka seseorang mengeluh dan meratap.

“Ampun.... bebaskan aku, Pendekar Rambut Emas. Jangan bunuh dan bebaskan aku....!”

Pendekar ini menoleh. Ui Kiok, wanita cabul itu, siuman dan kiranya sudah membuka mata. Semua kejadian tak diketahui tapi tak adanya si buntung membuat wanita ini gentar. Tahulah dia bahwa si buntung pasti telah menerima hukuman dan ceceran darah di situ membuat wanita ini ngeri. Sendiriankah dia di situ? Tidak ada lagikah kawan-kawannya?

Tentu. Dia sendirian di situ. Kalaupun ada orang, maka itu adalah Pendekar Rambut Emas dan keluarganya. Ui Kiok menggigil. Tapi ketika pendekar itu mengerutkan kening dan mau bergerak sekonyong-konyong Soat Eng mendahuluinya dan wanita ini membentak.

“Ui Kiok, kau wanita hina-dina. Tak layak mendapat ampun dan biar sekalian kau menyusul Togur di dasar laut!”

Tapi Thai Liong berkelebat. Begitu adiknya berseru dan menendang wanita itu tiba-tiba pemuda ini menangkap lengan adiknya dan berkata biarlah urusan itu diselesaikan ayah mereka. Tendangan diterima Thai Liong dan Soat Eng terpelanting, disambar dan ditangkap kakaknya ini hingga tak sampai jatuh. Dan ketika Soat Eng terkejut karena kakaknya membela wanita siluman, sang ayah tersenyum dan bergerak maju maka pendekar ini berkata.

“Benar, biarkan aku yang memutuskan, Eng-ji. Kakakmu sama seperti aku. Kalau lawan sudah minta ampun maka jangan disiksa lagi. Lepaskan dia dan biarkan pergi."

“Ayah mau membiarkan siluman ini pergi? Begini saja? Tidak, sedikit banyak ia harus dihukum, ayah. Keenakan kalau bebas begitu saja. Aku tak terima. Ia menghina dan mempermainkan aku dan suamiku!”

“Apa yang mau kau lakukan?”

"Tak banyak, begini saja.... crat!” dan sebelah telinga Ui Kiok yang putus dibabat jari tiba-tiba membuat wanita itu menjerit dan kesakitan, pucat memandang lawan namun Soat Eng mendengus. Untuk perbuatannya itu kakaknya tak sempat menghalangi, karena memang tak diduga. Dan ketika ayah dan kakaknya terkejut namun sudah terlanjur, Pendekar Rambut Emas menarik napas dan memutar tubuh. maka ia berkata agar selanjutnya tawanan mereka itu disuruh pergi.

“Sudahlah, jangan lebih dari itu. Biarkan ia pergi dan jangan menyiksa lagi!”

Soat Eng menendang. Ia hendak membuat lawan tercebur di laut namun Thai Liong mengebutkan lengan baju. Dari situ muncul tamparan jarak jauh yang membuat wanita ini terlempar di batu, terbanting dan berdebuk menangis. Tapi ketika semua itu membebaskan wanita ini dan Ui Kiok meloncat bangun, terhuyung dan melarikan diri maka wanita itu lenyap memasuki celah di laut, meluncur dan tampaklah sebuah perahu didayung cepat sekali meninggalkan Sam-liong-to.

Buih dan ombak sudah berhenti dan Ui Kiok leluasa meninggalkan pulau. Dan ketika Soat Eng masih bersinar-sinar dan marah memandang lawannya itu, Thai Liong menarik napas dan menyambar adiknya maka Soat Eng diminta untuk meredakan kemarahan karena semua itu sudah lewat.

“Tak perlu marah-marah lagi. Sudahlah, kita lihat suamimu dan juga adik Beng An!”

Wanita ini mengangguk. Kalau saja tak ada ayah dan kakaknya di situ tentu ia sudah membunuh. Tapi karena Ui Kiok juga sudah dihukum dan kiranya tak perlu melampiaskan marahnya lagi, adik dan suaminya harus dilihat maka Soat Eng mengikuti kakaknya yang sudah berkelebat ke sana. Ayah dan ibunya menunggui yang pingsan dan tak lama kemudian sadarlah Beng An.

Anak laki-laki ini rupanya sadar lebih dulu dan tentu saja dia heran serta kaget melihat ayah ibunya di situ, juga kakaknya laki-laki dan perempuan. Dan ketika ia meloncat bangun dan ayah ibunya menyambar, sang ibu menangis dan memeluk puteranya ini maka Beng An bagai orang mimpi saja melihat semua keluarganya di situ.

“Ayah.... ibu....!”

Sang ibu mengguguk. Dulu puteranya ini tak mengenal sama sekali siapa dia dan orang-orang lainnya di situ, pandang matanya kosong tapi kini tiba-tiba dapat mengenal dan memanggil dirinya. Dan ketika Beng An juga dapat memanggil dan mengenali enci dan kakaknya laki-laki, menyebut dan memandang mereka itu maka Swat Lian mendekap dan terharu menciumi puteranya ini.

“Aduh, kau sudah sembuh, nak. Sudah ,sadar. Syukur kepada Thian Yang Agung dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi peristiwa semacam ini!”

“Aku... apa yang terjadi?” Beng An bingung. “Dan eh, itu Siang Le-koko, ibu. Kenapa dia tidur!”

“Hush, dia tidak tidur. Dia pingsan. Dia baru saja menolong kau dan ibumu!”

“Menolong aku? Ada apa dengan diriku?”

“Kau mengalami penyakit aneh, Ben An. Penyakit yang tak dapat disembuhkan dan baru sekarang hilang. Apakah kau tidak ingat Poan-jin-poan-kwi? Dari situlah semuanya berasal. Coba ingat baik-baik apa yang pernah terjadi dan kau lakukan terhadap kakek itu.” Pendekar Rambut Emas, yang juga terharu dan memeluk puteranya ini menjawab. Ia girang dan terharu bahwa puteranya sudah sembuh, secara aneh, secara luar biasa. Dan ketika anaknya terbelalak dan mengingat-ingat terkejut dan menoleh ke kiri kanan mendadak ia berseru,

“Benar, aku dicekik kakek itu. Aku hendak dibunuh!”

“Dan apa yang kau lakukan?”

“Ah, aku menggigit dan menghisap darahnya, ayah. Aku membunuh kakek itu. Tapi... tapi selanjutnya aku tak ingat. Rasa-rasanya seperti ada langit ambruk atau gunung meletus!”

“Hm, semuanya benar. Kau pingsan dan tak sadarkan diri setelah itu. Kau berubah menjadi anak aneh yang pendiam dan berpandangan kosong. Kau kemasukan inti pengaruh Bu-siang-sin-kang yang jahat. Darah Poan-jin yang kotor mengganggu jiwamu. Tapi sekarang kau sudah sehat dan sembuh dan dapat mengenali kami semua. Ini berkat darah kakakmu Siang Le!”

“Apa yang kulakukan?”

“Kau menyedot darah kakakmu seperti bocah tidak waras. Tapi kau justeru sembuh!”

“Padahal dulu ribuan orang telah memberikan darahnya kepadamu. Ah, tak kusangka Siang Le yang menyelamatkanmu, Beng An. Dan sekarang aku tahu siapa orang yang dimaksud Sian-su. Aku telah berdosa kepada Siang Le!” Kim-hujin, yang menangis dan melepas anaknya tiba-tiba menyambar dan menubruk Siang Le. Mantunya itu masih pingsan dan semua orang terkejut melihat kelakuannya.

Tapi ketika nyonya itu mengguguk dan tersedu-sedu, rasa ngeri menyelimuti hatinya maka terdengar suara batuk-batuk dan seorang kakek berwajah halimun tahu-tahu telah berada di belakang mereka, melayang tak menginjak tanah dan bergoyang-goyang di atas Sam-liong-to.

“Sian-su..!”

Rajawali Merah Jilid 27

RAJAWALI MERAH
JILID 27
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
“TOGUR, kami tak ada akal-akalan atau licik segala. Janji kami tetaplah janji dan kalau ibuku muncul di sini maka ia adalah pihak ketiga yang tidak ikut campur urusan kita. Kau dan ayah sama-sama terikat perjanjian, begitu pula aku. Kalau ibu di sini maka ini adalah urusan baru mu dengan dia. Itu di luar kami!”

“Tapi kau berkomplot. Kalian berdua melepaskan aku tapi menyuruh wanita ini menjaga di pantai!”

“Kami tidak menyuruh, itu adalah kehendak ibuku.”

“Sama saja. Kau dan ibumu adalah keluarga, Thai Liong. Disuruh atau tidak sama saja!”

“Apakah kau takut?”

“Aku tidak takut. Tapi...”

“Tapi kalau begitu majulah!” Swat Lian, sang nyonya, membentak dan berkelebat ke depan. “Anak dan suamiku adalah orang lain, Togur. Mereka orang luar yang tidak akan membantu atau meringankan bebanku. Majulah dan lihat aku membunuhmu!”

Si buntung terkejut. Dia sudah berhadapan dengan wanita gagah ini dan sedetik mata mereka sama-sama beradu. Togur melihat sepasang mata yang penuh bahaya dan mengancam. Mata nyonya itu bagai mata seekor harimau betina yang siap menerkam. Tapi ketika ia tertawa bergelak dan melompat mundur, tongkat digoyang dan kata-kata si nyonya membuat matanya bersinar-sinar mendadak terdengar jeritan tertahan dan Ui Kiok, teman wanitanya disambar dan ditotok Pendekar Rambut Emas, lengah karena memperhatikan dua orang itu bicara.

“Aihh, tolong, Togur... auph!”

Ui Kiok roboh dan sudah di bawah kekuasaan Pendekar Rambut Emas. Kim-mou-eng yang sudah melihat kesempatan itu dan tidak banyak cakap tiba-tiba menyambar dan merobohkan wanita ini. Si buntung terkejut dan terbelalak. Dan ketika ia kaget namun marah menancapkan tongkatnya, Ui Kiok mengeluh dan pucat meminta tolong maka ia membentak pendekar itu.

“Kim-mou-eng, kau curang. Kau baru saja melepas janji bahwa tak akan mengganggu kami berdua!”

“Benar, kalau anak dan mantuku dua-duanya kau serahkan kepadaku. Tapi sekarang kau menangkap menantuku, Togur. Dan perjanjian tentu saja tak berjalan sepenuhnya. Kau licik!”

“Tapi isterimu ada di sini. Ia mengancamku!”

“Itu urusan isteriku dengannu. Aku tak ikut campur. Kalau kau menghendaki wanita ini maka serahkan menantuku dan kita berdua sama-sama menukar tawanan!”

“Ha-ha!” si buntung ini tertawa lagi, lawan ternyata cerdik. “Kau pintar dan sungguh banyak belajar, Kim-mou-eng. Tapi kupikir tawananku ini lebih berharga daripada tawananmu. Kau tak adil menukar barang!”

“Kalau begitu bagaimana maksudmu. Apa yang kurang.”

“Ha-ha, harus ditambah. Atau biar begini saja dan sewaktu-waktu aku dapat membunuh menantumu!”

Togur berkilat, pandang matanya berbahaya dan Swat Lian melengking untuk menerjang maju, Nyonya ini tak menghiraukan ujung tongkat yang diketuk-ketukkan di kepala Siang Le, memang ia tak perduli keselamatan pemuda itu asal puterinya sendiri selamat. Tapi ketika Pendekar Rambut Emas bergerak dan menahan lengan isterinya ini, berdehem melirik Thai Liong dan memberi isyarat rahasia maka pendekar itu maju, berkata,

“Togur, kau licik dan panjang akal. Heran bahwa kau tak menghargai temanmu sedemikian rupa. Baik, apa yang kau tuntut, bocah. Katakan dan coba kudengar apakah dapat kuturuti.”

“Aku tak minta macam-macam. Suruh isterimu mundur dan biarkan aku pergi dari Sam-liong-to!”

“Hm, itu urusan isteriku denganmu. Biar kutanya dan mudah-mudahan terkabul,” tapi ketika Swat Lian membentakan berseru tidak, Kim-mou-eng terkejut melihat isterinya marah tiba-tiba isterinya itu sudah berkelebat dan menerjang Togur. Tak perduli kepada Siang Le!

“Aku tak ada hubungan dengan segala macam janji, buntung. Kalau kau mau bunuh tawananmu itu silahkan bunuh. Aku tak mau banyak bicara lagi dan kau terimalah pukulanku.... dess!” dan pukulan si nyonya yang dikelit dan meledak di samping, benar-benar tak perduli dan tak menghiraukan keselamatan Siang Le tiba-tiba membuat lawan terbelalak dan berseru keras. 

Menghadapi Kim-hujin ternyata lain dengan Kim-mou-eng. Pendekar itu boleh tawar-menawar tapi Kim-hujin tidak! Dan ketika Swat Lian mengejar dan pukulan demi pukulan menghantam lawannya itu, Togur terkejut dan mengelak ke kiri kanan maka sang nyonya sudah menyerang dan sama sekali tak memberi ampun.

“Ayo, hadapi pukulanku dan bunuhlah tawananmu!”

Si buntung sibuk. Ia menggeram dan membentak karena si nyonya benar-benar tak perduli menantunya, lain dengan Pendekar Rambut Emas yang berteriak dan kaget oleh ulah isterinya ini. Dan ketika si buntung tertawa bergelak karena lagi-lagi ia melihat setitik harapan, lain sang nyonya lain pula Pendekar Rambut Emas maka Siang Le yang sudah hampir dihatam dan dipukul kepalanya ditahan dan si buntung berseru kepada Pendekar Rambut Emas, mengelak sana-sini serangan lawannya itu, yang kian dahsyat.

“Pendekar Rambut Emas, bagaimana sekarang. Dapatkah kau menyuruh mundur isterimu agar menantumu selamat!”

“Kau tak boleh mengganggu Siang Le,” Pendekar Rambut Emas membentak, suaranya menggeledek. “Atau aku membatalkan semua perjanjianku, Togur. Lihat aku bersumpah untuk membunuhmu kalau kau berani membunuh menantuku... krekk!” sebuah batu dicengkeram, hancur dan menjadi debu dan kekhawatiran atau kemarahan pendekar ini tampak dengan jelas. Ia marah melihat ulah isterinya tapi juga gusar kalau Togur mengancam Siang Le.

Pendekar ini tak mau Siang Le dibunuh hanya karena kecerobohan isterinya itu. Swat Lian menyerang lagi lawannya dengan amat hebat, benar-benar tak perduli atau menghiraukan pemuda itu, padahal pemuda itu adalah menantunya sendiri. Dan ketika Togur tertawa bergelak dan mengelak sana-sini, tongkat membentur atau menghalau serangan-serangan nyonya itu maka Thai Liong berkelebat dan tiba-tiba berbisik di dekat ayahnya ini.

“Biarkan mereka, asal kita berjanji tidak akan ikut campur tentu Togur tak akan membunuh Siang Le.”

Sang ayah terbelalak. Tampak betapa Pendekar Rambut Emas amat mengkhawatirkan menantunya itu, Thai Liong diam-diam juga terkejut dan menyesal oleh sepak terjang ibunya yang gegabah ini. Namun karena pemuda itu dapat memaklumi perasaan ibunya dan bahwa penantian selama dua hari benar-benar lebih dari cukup, orang gampang marah dengan penantian yang sia-sia maka Thai Liong bergerak dan berseru kepada si buntung,

“Togur, jangan ganggu Siang Le. Kami berjanji untuk membiarkan kau bertanding secara jantan dan hadapilah ibuku tanpa campur tangan kami berdua!”

“Ha-ha, kalian begitu ketakutan Siang Le kubunuh? Kalau aku boleh pergi dari tempat ini secara baik-baik tentu pemuda ini tak akan kuganggu, Thai Liong. Tapi sekali aku celaka tentu pemuda ini kubunuh!”

“Kau sudah mendapat kebebasan dari kami. Seharusnya pemuda itu tetap kau serahkan kepada kami!”

“Ha-ha, tidak bisa. Wanita ini menyerang. Ibumu tidak membiarkan aku pergi dari Sam-liong-to!”

“Kalau begitu kau curang. Bukankah kami sudah tidak campur tangan!"

“Ha-ha, kau licik menyembunyikan wanita ini, Thai Liong. Kalau ia sampai mencelakai aku maka pemuda inipun celaka!”

“Apakah kau takut menghadapi ibuku. Bukankah kepandaianmu lebih tinggi!”

“Itu kalau Bu-siang-sin-kangku tidak dilenyapkan, Thai Liong. Tapi ayahmu yang keparat itu menghancurkannya. Betapapun aku tetap ingin bebas kalau pemuda ini hendak kuserahkan!”

Thai Liong mengeratakkan gigi. Kalau saja ibunya tidak muncul dulu dan bertanding di pantai, sesuai rencana, tentu keadaan tak menjadi begini. Gara-gara ibunya maka semuanya berantakan. Thai Liong menyesal juga. Dan ketika ia putus asa dan ayahnyapun melotot di sana, menahan marah maka pemuda ini kembali kepada ayahnya dan mengeluh.

“Agaknya ibu harus ditarik mundur. Atau Siang Le terancam bahaya di tangan si buntung itu.”

“Benar, dan ibumu menjengkelkan, Thai Liong. Kenapa ia muncul sebelum waktunya. Ah, ia harus kutarik dan bantu aku!” dan ketika Pendekar Rambut Emas berkelebat dan membentak isterinya, menyuruh mundur maka Swat Lian terkejut ditotok suaminva. Saat itu ia melancarkan pukulan Khi-bal-sin-kang dan Togur mengelak ke kiri, dikejar dan tongkatpun menangkis dengan amat hebatnya. Dan ketika masing-masing terpental dan sang nyonya berjungkir balik, Kim-mou-eng berkelebat dan menotok isterinya ini maka perbuatan yang tak diduga-duga ini membuat nyonya itu menjerit.

“Aihhhh...!”

Sang nyonya roboh. Pendekar Rambut Emas menangkap isterinya dan Swat Lian tentu saja memaki-maki. Kepandaian dan tingkah laku isterinya ini telah dikenal, Pendekar Rambut Emas mempergunakan waktu yang tepat untuk merobohkan isterinya itu. Dan ketika Swat Lian tertotok dan tentu saja marah bukan main, Togur tertawa dan berjungkir balik di sana maka ke Pendekar Rambut Emas berseru,

“Togur, serahkan tawananmu. Cepat, atau aku akan membebaskan isteriku!”

“Tidak... keparat jahanam. Tidak! Lepaskan aku dan biar kubunuh si buntung itu, suamiku. Lepaskan aku dan jangan biarkan ia meninggalkan pulau!”

“Kau tak usah marah-marah,” Pendekar Rambut Emas berkata, setengah gemas setengah kasihan. “Siang Le harus kita selamatkan dulu, niocu. Kau merusak dan mengacau rencana. Diamlah, aku sudah tak dapat berbuat lebih kepada lawan kita itu!”

“Aku tak perduli, Siang Le boleh mampus. Tapi aku akan membunuh si buntung itu untuk membalaskan sakit hatiku!”

“Hm, kau harus tunduk kepadaku. Jangan bicara lagi atau nanti semuanya akan gagal!” Pendekar Rambut Emas terpaksa menotok urat gagu isterinya, sang isteri tak dapat bicara lagi dan tentu saja wanita ini mendelik. Suara maki-makian hanya seperti suara ngorok saja di tenggorokan. Swat Lian naik pitam. Tapi ketika ia benar-benar dibuat tak berdaya dan suaminya sudah membalikkan tubuh, menghadapi si buntung itu maka Togur berseri-seri memandang keluarga ini.

“Ha-ha, bagus. Tapi aku tak mau diperdayai lagi. Bersumpahlah bahwa kalian bertiga tak akan mencari-cari aku lagi. Tawanan akan kuserahkan dan selanjutnya aku keluar dari pulau ini.”

Kami tak perlu bersumpah,” Pendekar Rambut Emas berkata marah. “Janji kami sudah sama dengan sumpah, Togur. Lepaskan Siang Le dan terima kembali kawanmu!” Pendekar Rambut Emas menendang Ui Kiok, tak perlu wanita itu lagi karena semuanya sudah cukup. Togur menerima tapi belum juga melemparkan tawanannya, Siang Le masih di dalam cengkeramannya. Dan ketika ia tertawa melihat Thai Liong dan ayahnya terbelalak, si buntung ini memang licik maka ia berseru nyaring agar Pendekar Rambut Emas mengendalikan isterinya kalau nanti mengejar atau menyerang dirinya.

“Aku tak mau menanggung resiko. Berjanjilah pula bahwa kau akan mengendalikan dan menguasai isterimu kalau ia berani menyerang aku!”

“Baik!” Pendekar Rambut Emas hampir meledak. “Aku akan mengendalikan dan menguasainya kalau ia menyerang dan mengejar dirimu, Togur. Serahkan tawananmu dan cepatlah enyah!”

Si buntung tertawa bergelak. Sekarang ia merasa aman dan Siang Le dilemparkannya kepada lawannya itu, diterima tapi Thai Liong berkelebat menghadang bahwa ia tak boleh buru-buru pergi. Si buntung harus menunggu dulu sampai Siang Le sembuh, pemuda itu belum diobati. Dan ketika dengan tenang Rajawali Merah menuding bahwa perjanjian harus berlaku adil, boleh pergi kalau dua orang itu terancam bahaya keracunan maka si buntung ini terkejut.

“Sudah sama disepakati bahwa kedua orang ini harus dalam keadaan selamat, sehat lahir batin. Kalau kau pergi dan mereka belum selamat maka tentunya kau harus menunggu dulu memberikan obat yang lain. Kami tak akan melanggar janji dan percayalah bahwa begitu mereka sembuh begitu juga kami tak akan menahanmu lagi.”

Si buntung terbelalak. Tiba-tiba ia kecewa dan menancapkan tongkatnya sambil mengutuk Thai Liong. Tapi karena perjanjian memang begitu dan mau tak mau ia harus menunggu, ia yakin bahwa Siang Le maupun Soat Eng selamat maka iapun menggeram dan memukulkan tongkatnya. “Baiklah, janji seorang ksatria tak akan ditarik, Thai Liong. Kalau kau ingkar maka kau penjilat ludah seperti anjing buduk!

Thai Liong tersenyum. Ia mengangguk dan tak membalas hinaan itu, meminta ayahnya untuk mengobati Siang Le dan saat itu terdengar keluhan Soat Eng. Wanita itu bergerak dan mulai sadar, membuka mata. Dan ketika Pendekar Rambut Emas girang tapi mengerutkan kening melihat tindak-tanduk puteranya yang aneh, isyarat tanda mata yang menyuruh ia waspada maka Thai Liong berbisik bahwa siapapun harus dijaga di situ.

“Ayah obati saja Siang Le. Tapi harap berjaga-jaga agar ibu atau Soat Eng sampai kecolongan disambar si buntung.”

Pendekar Rambut Emas mengangguk. Ia tahu bahwa kecerobohannya tadi adalah karena tak menjaga Siang Le baik-baik, sehingga Togur dapat merampasnya kembali dan mempergunakan itu untuk menekan mereka. Dan ketika ia mengobati Siang Le dan di sana puterinya melompat bangun, sadar dan sembuh dari racun si buntung maka Soat Eng terbelalak melihal ayah dan kakaknya ada di situ, juga suaminya, Siang Le yang masih pingsan dengan wajah kehitaman.

“Eh, kalian di sini kiranya. Bagus, tapi mana si jahanam Togur. Bagaimana dengan Siang Le!”

“Dia di sana,” Thai Liong menunjuk, dengan dagunya. “Dan kami sedang mengobati suamimu, Eng-moi. Mudah-mudahan berhasil dan tak ada apa-apa.”

Soat Eng menoleh. Dia baru saja sembuh dari jarum beracun dan tidak melihat si buntung, karena si buntung berada di belakangnya. Tapi begitu dia menengok dan kaget serta marah melihat lawannya teringat semua kejadian dan perbuatan si buntung yang hampir mencemarkan namanya maka Soat Eng berkelebat dan tiba-tiba dia menerjang. “Togur, kau buntung keparat jahanam. Bagus sekali kau masih di sini, mampuslah...!”

Togur terkejut. Dia sudah merasa cemas dan khawatir begitu Soat Eng melompat bangun, sadar dan sembuh dari racun jarum hitam. Dan ketika wanita ini bergerak dan membentaknya, langsung menyerang maka ia mengelak namun lawannya itu mengejar.

“Plak!” tongkat menangkis dan apa boleh buat menghalau serangan si nyonya Soat Eng tak berbeda dengan ibunya dan watak keras yang diwarisinya kini diperlihatkannya di situ, apalagi karena Togur telah melakukan sesuatu yang rendah dan memalukan, hampir saja merenggut kehormatannya sebagai wanita dan tentu saja ia tak mau sudah dengan tangkisan itu. Karena begitu terpental iapun menyerang lagi dan bertubi-tubi pukulan demi pukulan menyambar dan menghantam dahsyat.

Si buntung berteriak dan memanggil-manggil nama Pendekar Rambut Emas, bertanya bagaimana dengan puterinya ini karena sebentar kemudian Soat Eng sudah melepas semua pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang ataupun Lui-ciang-hoat, disusul oleh gerak luar biasa dari ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng ataupun Cui-sian Gin-kang. Dan ketika si buntung sibuk dan pukulan si nyonya yang menyambar-nyambar kurang cepat dikelit, dua hantaman mengenai pelipisnya maka si buntung terbanting dan terguling-guling, marah.

“Pendekar Rambut Emas, mana janjimu. Kenapa kau membiarkan puterimu menyerang aku. Mana omonganmu sebagai seorang ksatria itu!”

“Hm,” Pendekar Rambut Emas menoleh, tapi sudah sibuk mengurus menantunya lagi, kini menyalurkan sinkang agar tenaga mantunya pulih. Wajah kehitaman itu sudah mulai lenyap. “Aku tak merasa mempunyai janji dengan puteriku, Togur. Coba kau ingat-ingat janji yang manakah yang kau katakan tidak ksatria itu!”

“Eh, bukankah kau membiarkan aku meninggalkan pulau? Bukankah kau berjanji tak akan mengganggu aku? Dan sekarang puterimu ini menyerang kesetanan. Suruh dia mundur atau kau kumaki sebagai anjing penjilat ludah!”

“Jaga omonganmu!” Thai Liong tiba-tiba membentak. “Kami tak pernah menjilat ludah, Togur. Ingat dan pakai otakmu baik-baik bahwa yang kami janjikan adalah ibuku, bukan adikku. Kalau sekarang ia menyerang dan membalas sakit hati maka itu adalah urusannya dan kami tak akan mencampuri!”

Si buntung kaget. Tiba-tiba ia terbelalak dan sadar akan ini. Ia terperangkap, Ia terjebak oleh kelengahannya sendiri, Dan karena betul Pendekar Rambut Emas maupun puteranya tak membawa-bawa nama Soat Eng, dialah yang lupa tak memasukkan wanita ini untuk ikut dalam perjanjian maka Soat Eng melengking dan berseru tak tahu-menahu akan segala macam janji.

“Tai kucing. Apa-apaan ini. Aku tak akan melepaskanmu sebelum roboh. Kau boleh berjanji dengan ayah atau kakakku, Togur. Tapi aku sendiri tak akan berjanji apa-apa kepadamu selain mengantarkan nyawamu ke akherat!”

Si buntung membentak. Akhirnya ia menyesal bahwa ia kelupaan memasukkan puteri Pendekar Rambut Emas ini. Tadi wanita itu masih pingsan dan ia tak ingat, inilah kelengahannya. Dan ketika ia diserang dan cepat serta bertubi-tubi wanita itu melepas pukulan-pukulan, semuanya ganas dan berbahaya maka si buntung mengeluarkan keringat dingin karena ia sekarang hanya mengandalkan ilmu-ilmunya yang biasa.

Bu-siang-sin-kang, ilmu yang luar biasa, telah musnah dihancurkan Pendekar Rambut Emas. Si buntung mengutuk dan memaki-maki pendekar itu. Dan ketika terdesak dan apa boleh buat tongkat diputar gencar, menangkis atau menghalau serangan maka Togur membentak agar temannya membantu, karena Ui Kiok diam-diam mundur dan mau menyelamatkan diri.

“Jangan celingak-celinguk, atau nanti kau kuhajar. Ayo, bantu aku, Ui Kiok. Cabut pedangmu dan tahan serangan wanita ini!”

Ui Kiok mengeluh. Sebenarnya ia marah dan benci ketika tadi Togur sama sekali tak menghiraukan nasibnya. Kalau Pendekar Rambut Emas orang jahat tentu sudah dibunuh. Maka begitu si buntung membentak dan ia ketahuan, tak jadi melarikan diri maka sambil memekik dan melampiaskan rasa gusar dan kecewanya terpaksa membantu si buntung itu.

“Siauw-ong, kau licik. Tadi membiarkan aku di bawah ancaman musuh dan kini kau malah minta bantuanku kalau diancam musuh!”

“Tak usah cerewet, atau nanti kulempar. Hayo kau ganggu dia dari belakang, Ui Kiok. Tusuk atau tikam punggungnya!”

Terpaksa wanita ini mengikuti perintah. Sebenarnya ia tak suka dan marah sekali kepada si buntung ini. Kalau saja tidak ingat kekejamannya tentu dia akan menolak. Namun karena si buntung itu amatlah kejam kalau sampai dilawan, padahal ia sudah berhadapan sebagai musuh dengan Pendekar Rambut Emas dan keluarganya ini maka apa boleh buat sambil menggigit bibir wanita ini menyerang Soat Eng. Namun ia malah terpelanting. Soat Eng yang marah dan sengit menghadapi Togur juga marah dan sengit pula menghadapi wanita ini.

Ui Kiok adalah wanita cabul dan merah mukanya kalau teringat suaminya pernah ditawan wanita ini. Adakah suaminya bersih dan masih dapat dipercaya? Adakah suaminya tak sampai “kotor” setelah berdekatan dengan wanita ini? Dan marah serta naik pitam oleh bayang-bayang kecemburuan, cemburu yang membakar dan memanaskan dada maka Soat Eng membalik dan satu hantamannya ke arah pedang membuat pedang di tangan wanita itu mencelat. Ui Kiok sendiri terpelanting!

“Plak-aduh!”

Togur terkejut. Ia tahu bahwa Ui Kiok bukan lawan Soat Eng. Tapi melihat temannya itu terbanting dan terguling-guling dengan pedang mencelat, dalam satu gebrakan saja maka pemuda ini memaki-maki dan menggoblok-goblokkan temannya itu. “Bodoh, kerbau betina tak punya otak. Kau jangan terlalu dekat menyerang, Ui Kiok. Ambil pedangmu dan serang lagi!”

“Kau yang bodoh!” Ui Kiok membentak, balas memaki marah. “Kalau kau cepat-cepat menolongku tentu tak mungkin aku begini, siauw-ong. Kau tidak cepat bertindak dan pandainya hanya memaki-maki saja!”

“Eh-eh,” si buntung terbeliak. “Kau berani memaki aku, Ui Kiok? Kau tidak takut kuhajar? Ayo jangan banyak mulut, bunuh lawan kita ini dan nanti kubawa keluar pulau!”

Ui Kiok mendengus. Alih-alih dia mau dibawa keluar padahal pemuda itu sendiri tak dapat keluar. Dia pucat dan gentar melihat kepandaian lawannya ini. Kalau tidak karena si buntung tentu tak sudi ia membantu. Lebih baik lari, apalagi di sana masih ada Pendekar Rambut Emas dan puteranya, Thai Liong Si Rajawali Merah yang kesaktiannya luar biasa itu. Dan ketika ia menyerang lagi namun dengan hati yang setengah-setengah, kembali ditangkis dan mencelat maka Togur gemas memandang temannya itu.

“Jangan seperti kerbau tak berotak. Jangan bertemu dengan lengannya!”

“Hm!” wanita ini tak menjawab, bergulingan meloncat bangun dan marah menyerang lagi. Ia sebenarnya tak bermaksud mengadu tenaga tetapi karena cepatnya tangkisan lawanlah ia sampai terpelanting. Togur sungguh buta! Dan ketika ia menyerang lagi namun sudah didahului oleh keder dan jerih, ia bukanlah lawan puteri Pendekar Rambut Emas itu maka Siang Le di sana bergerak dan siuman. Racun di tubuhnya lenyap.

“Ah, di mana aku ini? Dan, eh... kau, gak-hu? Mana Eng-moi?”

Pendekar Rambut Emas terharu. Begitu siuman maka yang pertama kali ditanyakan adalah sang isteri, meloncat bangun dan Siang Le tampak bingung ketika di situ menggeletak tubuh gak-bonya, ibu mertua, juga Thai Liong yang berdiri memegang bahunya dan Siang Le tergetar oleh pandang mata maupun keharuan iparnya ini. Thai Liong seperti ayahnya. Tapi ketika ia terkejut mendengar suara pertempuran, sadar dan menoleh maka ia tersentak melihat si buntung Togur.

“Itu Eng-moi...!”

“Benar.”

“Dan ia bertanding dengan Togur. Ah, jahanam busuk ini ada di sini, gak-hu. Biar aku bantu dan kenapa kalian diam saja melihat ia dikeroyok!”

Siang Le menerjang, langsung saja marah melihat Ui Kiok membantu Togur. Wanita itu tak tahu malu dan melihat Ui Kiok seakan melihat segala peristiwa menjijikkan. Siang Le heran dan kaget kenapa ipar dan ayah mertuanya tidak bergerak. Tapi karena sang isteri jelas menghadapi lawan berbahaya dan Siang Le tak tahu bahwa Togur telah kehilangan Bu-siang-sin-kangnya, ilmu sakti tak berwujud maka pemuda itu pucat, melihat isterinya bertempur dengan si buntung yang hebat ini.

Sudah berkali-kali terbukti bahwa isterinya tak pernah menang menghadapi lawannya itu, apalagi dia sendiri. Tapi karena Siang Le bukanlah pemuda penakut dan terhadap siapapun ia tak gentar, boleh mati demi kebenaran maka pemuda yang sudah masuk dan ikut dalam pertandingan ini membuat Soat Eng girang tapi menyuruh suaminya itu menghadapi Ui Kiok saja.

“Le-ko, terima kasih. Tapi biarkan si buntung ini bagianku. Kau hadapilah wanita busuk itu dan bunuh dia!”

“Kau menghadapi si buntung ini atas seorang diri?”

“Aku tak takut, Le-ko. Apalagi di sini ada ayah atau kakakku!”

“Kami tak dapat membantu!” Thai Liong tiba-tiba berseru. “Kami terikat perjanjian dengan si buntung itu, Eng-moi. Untuk menyelamatkan kalian tadi kami diikat!”

“Diikat?”

“Ya, diikat janji. Kami tak boleh menyerang atau menggangunya sebagai imbalan membebaskan kalian dari tawanannya tadi!”

“Ooh, pantas!” dan Siang Le yang mengerti dan membentak Ui Kiok lalu menghadapi lawannya ini dengan mata terbelalak. Ia baru saja sembuh tapi sinkang yang tadi diam-diam diberikan Pendekar Rambut Emas ke tubuh menantunya ini dapat membuat Siang Le sesegar dan sesehat orang waras.

Pemuda itu benar-benar tak terlihat sebagai orang yang baru sembuh dari racun jahat melainkan seperti orang segar. Begitu juga Soat Eng yang bertanding di sana. Pendekar Rambut Emas telah “mengisi” anak dan menantunya untuk melaksanakan pertandingan ini, hal yang mengejutkan Ui Kiok maupun si buntung karena lawan yang baru sembuh dan sadar itu seolah tak pernah kena penyakit saja.

Togur segera tahu bahwa ini tentu hasil kerja Pendekar Rambut Emas. Tapi karena hal itu juga tak dapat disalahkan karena setiap orang tentu juga melakukan hal yang sama, untuk mempercepat penyembuhan maka si buntung diam-diam hanya mengutuk dan marah dalam hati, Soat Eng melancarkan gabungan pukulan-pukulannya dan celaka sekali ia kerepotan, Bu-siang-sin-kang, ilmu yang dimiliki, hancur dimusnahkan Pendekar Rambut Emas.

Dan karena mau tak mau ia harus memakai ilmu-ilmu silatnya sendiri, warisan dari guru-gurunya yang lama dan Togur mencampuradukkan ilmu-ilmu itu maka Soat Eng yang seharusnya dapat mendesak atau menekan lawannya ini jadi melotot karena ia tak juga mampu mendesak, padahal lawan tidak mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya itu.

Soat Eng juga heran kenapa lawannya ini tidak mengeluarkan ilmu andalannya itu, diam-diam khawatir dan cemas kalau Togur mengeluarkan Bu-siang-sin-kang. Namun karena ia menganggap bahwa mungkin kehadiran ayah atau kakaknya membuat si buntung itu takut mengeluarkan ilmu hitamnya, ayah dan kakaknya dapat memukul hancur ilmu itu maka wanita ini tak menyangka bahwa lawan sebenarnya sudah kehilangan “taringnya” yang amat berbahaya.

Soat Eng terus saja melancarkan serangan-serangannya dan si buntung mengelak sana-sini. Tapi karena wanita itu menggabung ilmu-ilmu kepandaiannya dan dua ginkang paling hebat digunakan di situ, Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang maka Togur kalah cepat dan si buntung ini menerima empat kali tamparan yang membuatnya terpelanting roboh.

Namun hebat, si buntung ini dapat bangun kembali. Dengan bantuan tongkatnya yang tetap dicekal erat laki-laki ini mampu melenting dan bangun lagi, menghadapi serangan-serangan berikut dan Khi-bal-sin-kang yang dipunyai melindungi tubuhnya dari pukulan-pukulan Soat Eng. Wanita ini gemas dan melotot. Ilmu dari keluarganya dipakai lawan untuk memukul balik. Tapi karena ia tak putus asa dan menyerang lagi, berkelebatan dan menyambar-nyambar bagai walet beterbangan maka sekali lagi ia mampu menghantam lawannya itu, tepat di tengkuk.

“Dess!” Si buntung mengeluh. Ia dapat bangun lagi namun kali ini agak terhuyung. Tenaga Pendekar Rambut Emas, yang tadi “disimpan” di tubuh puterinya itu membuat pukulan lebih hebat daripada biasanya. Togur pening dan pucat. Namun karena lagi-lagi ia memang pemuda luar biasa dan Soat Eng gemas menyerang lagi, menghantam dan tak memberi kesempatan maka lawan terhuyung-huyung mengelak sana-sini dengan repot. Ilmu-ilmu warisan Enam Iblis Dunia sudah dilakukan namun memang ilmu-ilmu itu kalah kelas.

Khi-bal-sin-kang maupun Lui-ciang-hoat adalah ilmu yang diperoleh dari kakek dewa Bu-beng Sian-su, tentu saja setingkat di atas ilmu-ilmu yang dimiliki Enam Iblis Dunia, biarpun mereka itu memiliki pukulan-pukulan Tee-sin-kang maupun Mo-seng-ciang, juga Cam-kong-ciang yang dulu dimiliki mendiang si Pembunuh Petir yang dahsyat. Dan ketika Togur sudah mengeluarkan ilmu-ilmunya itu namun tak banyak berguna menghadapi lawan yang memang hebat, sebenarnya hanya Bu-siang-sin-kang dan ilmu-ilmu dari Poan-jin-poan-kwi yang dapat dipakai menandingi maka akhirnya pukulan-pukulan atau tamparan Soat Eng membuat si buntung ini jatuh bangun.

Togur kewalahan dan mulai pucat. Tenaga Pendekar Rambut Emas lebih menonjol di situ daripada tenaga Soat Eng. Ini akibat penyembuhan tadi. Dan ketika pemuda itu gemetar dan mulai terdesak, Soat Eng heran tapi girang bahwa lawan tak mempergunakan Bu-siang-sin-kangnya, ilmu yang paling ditakuti maka tongkat terpental ketika bertemu lengannya. Selanjutnya tenaga atau kekuatan lawan turun dengan cepat.

Si buntung tak mampu menahan tongkatnya lagi dan mencelatlah tongkat itu bertemu tamparan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika si buntung terbanting dan menggulingkan tubuh menyelamatkan diri, Soat Eng berteriak dan mengejar dengan satu pukulan maut tiba-tiba sinar putih berkelebat dan wanita ini terkejut bukan main karena sebatang pedang berhawa dingin tiba-tiba menyambar, menyambut pukulannya itu.

“Awas.... bret-plak!”

Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas sampai berseru berbareng. Mereka melihat bahaya yang mengancam Soat Eng dan begitu sinar putih berkelebat tiba-tiba saja dada mereka seakan dicoblos. Satu kekuatan gaib muncul dan Soat Eng sendiri kaget melempar tubuh karena tangannya bertemu dengan hawa dingin yang amat ganas. Dari situ saja ia tahu bahwa sebatang senjata ampuh berada di tangan lawan, tak boleh dibuat main-main namun tetap saja Soat Eng terlambat. Ujung lengan bajunya terbabat dan bergulinganlah wanita itu menyelamatkan diri. Ia otomatis menarik serangan dan kini meloncat bangun di sana, menggigil.

Si buntung terkejut dan heran. Ia mencabut pedang temuannya itu dan tiba-tiba merasa sebuah tenaga raksasa bekerja, girang dan tertawa bergelak. Dan ketika ia juga sudah berdiri dengan pedang di tangan, pedang putih yang berkeredepan menyilaukan mata maka Pendekar Rambut Emas maupun putera-puterinya berseru tertahan,

“Pek-kong-kiam!”

Ayah dan anak menjublak kaget. Swat Lian, yang menggeletak dan melihat itu tiba-tiba juga terkejut dan membelalakkan mata lebar-lebar. Pek-kong-kiam, pedang ampuhnya, tiba-tiba berada di situ, di tangan si buntung! Dan ketika nyonya ini kaget dan heran bagairnana pedang yang dulu dibuangnya itu berada di tangan Togur, sesuatu berdetak di jantungnya maka aneh bin ajaib langit tiba-tiba menggelegar dan turunlah hujan deras.

“Ha-ha!” Kim-mou-eng dan putera-puterinya terkejut. “Majulah kalian semua, Pendekar Rambut Emas. Ayo keroyok dan bunuhlah aku. Hayo, kalian maju dan tak perlu aku meninggalkan pulau!” dan si buntung yang bergerak dengan luar biasa cepat, mendapat tambahan tenaga dari pedang yang bergetar-getar mendadak menerjang dan menusuk Soat Eng.

Wanita itulah yang paling dekat dan Soat Eng mengelak, dikejar dan ditusuk lagi dan marahlah nyonya itu menangkis dengan kebutan lengan bajunya. Tapi ketika lengan bajunya robek dan ia terpelanting, tenaga mujijat menyambar dari badan pedang itu maka wanita ini melempar tubuh bergulingan dan hujan sudah membuat semua yang ada di situ basah kuyup. Petir dan guntur sahut-sahutan.

“Celaka!” Pendekar Rambut Emas menyambar dan mengangkat isterinya, “Pertanda bahaya mengancam kita, niocu, Pek-kong-kiam milikmu ada di tangan Togur!”

Swat Lian ah-uh-ah-uh. Ia tak dapat bicara karena masih ditotok suaminya, teringat dan Pendekar Rambut Emas cepat membebaskan totokan isterinya itu. Dan ketika Swat Lian dapat bicara namun masih tak dapat bergerak, ia hanya dibebaskan totokan gagunya saja maka nyonya ini menggigil, tersedak-sedak.

“Benar... benar. Itu pedang pusakaku. Pedang pembawa sumpah. Ah, bagaimana muncul di sini dan jatuh di tangan pemuda laknat itu. Bukankah dulu sudah kubuang ke laut!”

“Aku juga tak mengerti. Tapi lihat, Togur tiba-tiba mendapatkan tenaganya secara luar biasa, niocu. Dan pedang itu berkeredepan menyilaukan mata. Badan pedangnya memancarkan cahaya gaib. Ada suatu bencana!”

Sang nyonya menggigil. Tiba-tiba ia menangis karena itulah pedang pembawa sumpah. Dulu, hampir dua tahun yang lalu ia pernah marah-marah dan mengeluarkan sumpah bahwa siapa yang telah melepaskan See-ong akan dibunuh. Tapi setelah ia tahu bahwa yang melepaskan musuh besarnya itu ternyata Thai Liong, yang ingin menolong dan melicinkan jalan bagi perjodohan adiknya dengan Siang Le (baca: Istana Hantu).

Maka nyonya itu terkejut dan tentu saja tertampar. Dia tak tahu bahwa anak tirinya itulah yang melepaskan See-ong, yang dulu ditangkap dan dihukum suaminya dalam sebuah kerangkeng emas. Karena waktu itu Thai Liong tak tahan oleh kesedihan dua remaja itu dalam menggalang jodoh. Dan ketika ia tahu dan tentu saja terpukul, mencabut atau menarik kembali sumpahnya dengan melempar Pek-kong-kiam ke laut, mengubur sumpah itu.

Maka tak dinyana tak disangka tiba-tiba Pek-kong-kiam muncul kembali dan agaknya sumpahnya tak dapat dicabut. Pedang itu bergetar-getar dan petir serta guntur menggelegar-gelegar. Sam-liong-to bergerak dan seolah diguncang gempa bumi. Dan ketika Thai Liong juga terbelalak dan ngeri, tentu saja juga tahu akan sumpah ibunya dulu maka di sana Soat Eng terpekik dan melengking-lengking karena setiap dia menangkis atau menghalau Pek-kong-kiam tentu dialah yang terpental.

“Ha-ha!” tawa dan suara si buntung ini mengatasi buih laut selatan, yang kini bergolak. “Hayo kau maju dan keluarkan semua kepandaianmu, Soat Eng. Meskipun ayahmu telah menghancurkan Bu-siang-sin-kangku nanti kini aku dapat pengganti dengan sebatang pedang yang dahsyat. Ayo... ayo maju dan lawanlah aku.... bret-bret!”

Baju Soat Eng kembali robek, putus terbebat oleh ketajaman Pek-kong-kiam dan pedang yang membawa hawa dingin itu benar-benar terasa semakin mengerikan. Terdengar suara seperti orang mendesis-desis dan Soat Eng mengeluh. Entah kenapa, sinar mencorong dan perbawa gaib yang dibawa pedang itu serasa melumpuhkan semangatnya. Badai dan ombak yang bergulung-gulung dan tiba-tiba datang begitu Pek-kong-kiam muncul membuat nyali wanita ini menciut.

Dan ketika pedang perlahan-lahan berobah merah darah dan siapapun tentu ngeri melihat ini, Pek-kong-kiam sudah berobah dari putih menyilaukan menjadi merah terbakar, Togur terkejut tapi malah tertawa berseri-seri, pedang yang di tangannya sungguh pedang yang gaib maka Soat Eng menjerit ketika pangkal lengannya tertusuk. Ia sudah mengelak namun entah kenapa tiba-tiba langkah kakinya terasa berat.

“Augh.... bret!”

Soat Eng terhuyung-huyung. Khi-bal-sin-kang, yang dipunyai, tiba-tiba serasa tak berguna menghadapi pedang ini. Ada sesuatu yang gaib yang tinggal di badan pedang, dikejar dan mengelak lagi namun ia tersandung. Dan ketika Togur tertawa bergelak dan membacok penuh keji, mengejar, maka nyonya itu melempar tubuh ke kiri dan rambutnya sebagian terbabat.

“Crat!”

Pendekar Rambut Emas tak tahan. Sebagai seorang ayah tentu saja ia tak kuat melihat itu, puterinya jatuh bangun dihajar lawan. Tapi ketika ia mau membantu Thai Liong berkelebat, menangkap dan nencekal lengan ayahnya ini maka sang pendekar terkejut dan tertegun.

“Ayah tak boleh membantu. Janji seorang ksatria harus dipegang teguh!”

“Tapi... tapi...”

“Aku tahu, ayah. Tapi betapapun kita harus memegang janji. Dengarkan suara untuk kita dan lihat siapa itu!”

Pendekar Rambut Emas menoleh. Di antara buih dan debur ombak tiba-tiba muncul bayangan seorang kakek. Kakek itu naik turun di antara gelombang dan mulutnya yang tersenyum-senyum membuat pendekar ini terkejut. Dan ketika terpukau dan kakek itu menggerakkan lengannya, ia tak bergerak seperti arca batu maka isterinya yang bangkit dan meloncat bangun tiba-tiba berseru,

“Sian-su...!”

Pendekar Rambut Emas bengong. Isterinya tahu-tahu bebas dan sebelum ia bicara mendadak meloncat dan menerjang Togur. Kejadian sedetik yang amat cepat ini berlangsung luar biasa, isterinya sudah menyambar dan menghantam si buntung, yang saat itu membacok Soat Eng yang tersandung jatuh. Dan ketika si buntung berteriak dan mencelat terlempar, tenaga nyonya amat dahsyat dan juga tak di duga maka Soat Eng selamat dan wanita itu tersedu-sedu. Ia hampir saja binasa.

“Ibu, tolong.... aku takut!”

“Minggirlah!” sang ibu mendorong, Soat Eng terlempar ke dekat ayahnya, yang mendelong dan serasa menghadapi sebuah mimpi. Hujan dan petir masih sambar-menyambar. “Aku yang akan membunuh si buntung ini, Soat Eng. Dan aku akan merampas pedangku yang dibawanya!”

Luar biasa. Tandang wanita inipun tiba-tiba berobah dan Swat Lian yang semula lemas dan tak berdaya ditotok suaminya mendadak kini menjadi trengginas dan cekatan, seperti harimau kelaparan. Dan ketika wanita itu melengking dan menubruk ke depan, di sana Siang Le sudah menyelesaikan pertempurannya dan merobohkan Ui Kiok, yang pingsan dan tidak sadarkan diri maka wanita ini sudah menyerang si buntung bagai singa haus darah. Togur terkejut tapi iapun tertawa bergelak.

Pedang di tangannya itu selalu memberi tambahan tenaga sehingga ia seolah tak pernah kecapaian. Ada tenaga gaib yang selalu membuatnya segar! Dan ketika ia terlempar namun sudah meloncat bangun lagi, menyambut dan menghadapi lawannya yang seperti harimau kesetanan. maka si buntung inipun berkelebat dan pedangnya naik turun membelah bayangan lawan. Cepat dan bergulung-gulung dilatarbelakangi oleh gemuruh dan berbuihnya ombak selatan.

“Ha-ha, bagus. Kita selesaikan urusan kita, Kim-hujin. Kau atau aku yang terbunuh!”

Sang nyonya melengking-lengking. Ia membentak agar lawan menyerahkan pedangnya, tentu saja disambut ganda ketawa dan Togur bahkan melancarkan tusukannya, atau tikaman-tikaman berbahaya. Dan karena ia mendapat tambahan semangat dari perbawa pedang, Pek-kong-kiam kini sudah merah semerah darah maka bau amis juga menyambar dan pukulan-pukulan nyonya itu bertemu hawa gaib yang dingin dan aneh sekali pedang ini dapat bicara.

“Kim-hujin, mana janji dan sumpahmu dulu. Kenapa aku kau lempar dan buang ke laut. Mana janji darah dan nyawa yang akan kau berikan!”

Sang nyonya terkejut. Ia seakan tak percaya bahwa Pek-kong-kiam bisa bicara, teringat bahwa dulu ketika ia membuang sumpah terdengar suara menggelegar di langit. Dan ketika suara itu terdengar lagi dan petir serta hujan deras semakin lebat, nyonya ini pucat maka pedang itu mengancam.

"Kau tak menepati janji, kau ingkar. Kalau begitu darah dan nyawamu sebagai pengganti!”

Sang nyonya berteriak. Pedang tiba-tiba bergerak dan menusuk cepat ke dadanya. Togur yang memegang juga terkesiap karena sebuah tenaga gaib tiba-tiba menyuruhnya mengikuti. Ia terbawa dan menusuk nyonya itu dua kali. Dan ketika lawan melempar tubuh namun pedang mengejar, si buntung terbawa dan membabat nyonya itu dengan gerakan menyilang maka Swat Lian menjerit karena baju di depan dadanya robek. Perbawa atau ancaman pedang membuat ia lumpuh.

“Bret!” Sang nyonya membanting tubuh bergulingan. Ia mengeluh dan keserempet dan hampir saja celaka. Tenaga dan semangatnya tiba-tiba hilang bertemu pedang pusakanya itu, padahal ia tadi hendak merampas dan mengambil pedangnya itu. Dan ketika pedang itu marah dan kini justeru memusuhinya, ia melanggar sumpah maka nyonya ini melempar tubuh ke sana ke mari ketika dikejar, pucat dan ngeri karena nyawanya di ujung rambut.

Ilmu-ilmunya banyak tak berguna karena belum apa-apa ia sudah kalah semangat, patah oleh dosa atau perasaan bersalahnya terhadap pedangnya ini dulu, pedang yang ia simpan dan selalu menemaninya. Tapi ketika nyonya ini bergulingan ke sana ke mari sementara pedang semakin mencorong dan kemerah-merahan, Soat Eng tak tahan melihat keadaan ibunya itu maka wanita ini membentak, maju membantu.

“Pedang siluman, pedang iblis, jangan ganggu ibuku. Daripada kau membunuh ibu lebih baik membunuh aku!”

Namun, terdengar tawa bagai ringkik kuda. Soat Eng yang membentak dan menerjang menyelamatkan ibunya ternyata terpelanting oleh ledakan keras ketika pedang bertemu pukulannya. Pedang itu tak apa-apa sementara ia mencelat dan terlempar lagi seperti tadi. Dan ketika ia meloncat bangun dan menyerang lagi, terpental dan kalah oleh perbawa pedang maka Pek-kong-kiam berkata bahwa tak ada yang dapat menggantikan ibunya, kecuali ibunya sendiri.

“Heh-heh, ia melepas dan membuang sumpahnya. Dan ia menyia-nyiakan aku pula. Mana mungkin digantikan orang lain? Kau pergilah, bocah. Darah dan nyawa ibumu tak dapat ditukar!”

Soat Eng pucat. Ia menjerit dan kaget karena tujuh kali ia menyerang tujuh kali itu pula ia terpelanting. Pedang ini memiliki kekuatan gaib yang tak dapat dilawannya. Dan ketika ia ngeri tapi juga marah melihat ibunya didesak, Togur terbahak-bahak karena tiba-tiba dapat memiliki tenaga luar biasa memegang pedang itu, pedang yang ingin membalas dendam maka sang nyonya jatuh bangun mengelak serangan-serangan berbahaya.

Kim-hujin atau nyonya Pendekar Rambut Emas ini patah semangatnya dimusuhi pedangnya sendiri itu. Atau lebih tepat, jatuh semangatnya oleh janji yang ingkar tak dipenuhi. Ia telah membuang pedang dan mencabut sumpah begitu enaknya, padahal dulu sumpahnya telah didengar oleh dewa-dewa atau siapa saja yang ada di atas, mahluk-mahluk suci dan sakti yang kini menuntut pertanggungjawabannya. Dan ketika ia mengeluh karena sebentar kemudian tenaga dan semangat juangnya merosot, ia tak sanggup menghadapi pedang itu maka paha kirinya tertusuk dan ia melempar tubuh bergulingan dengan seruan tertahan.

“Cret!” Nyonya ini mengeluh. Selanjutnya ia dikejar dan mengelak sana-sini lagi, pucat dan mengeluh dan sebuah tusukan lagi mengenai pangkal lengannya. Dan ketika dua luka mengucurkan darah dan Pendekar Rambut Emas berdiri mematung, seakan mimpi dan menggigil tak dapat menggerakkan tubuhnya maka Soat Eng yang coba menolong dan menyelamatkan ibunya terlempar dan terbanting mengaduh kesakitan.

Wanita muda inipun tak berdaya menghadapi pengaruh gaib Pek-kong-kiam dan pedang yang rupanya hendak membalas dendam itu benar-benar tak tertandingi. Angin sambarannya membuat Soat Eng terpelanting dan selalu terguling-guling, tak dapat mendekati atau menyerang pedang itu, yang hendak dipukul atau dilepaskan dari tangan si buntung.

Dan ketika Togur tertawa bergelak karena Pek-kong-kiam benar-benar hanya memburu Kim-hujin, bukan yang lain maka Kim-hujin terjengkang ketika harus mengelak dari sebuah tusukan maut, berteriak dan menggulingkan tubuh ke kiri namun celaka sekali menabrak batu karang. Kim-hujin ini menggigil dan gemetaran pucat, kaget karena tiba-tiba ia lumpuh total.

Maklumlah, semangatnya sudah diporakporandakan pedang yang ganas itu. Dan ketika ia tak dapat berguling lagi karena menabrak batu karang, tawa bagai ringkik kuda terdengar maka menyambarlah Pek-kong-kiam diiring oleh ledakan dan petir yang dahsyat. Sinar merah menyambar bagai membelah langit yang hitam pekat.

“Sekarang kematianmu tiba. Serahkan darah dan nyawamu!”

Sang nyonya menjerit. Jeritnya demikian panjang dan histeris, mengguncang yang lain-lain dan Pendekar Rambut Emas tersentak dan sadar. Petir yang menggelegar di udara dan suara ledakan yang dahsyat itu benar-benar dapat mengejutkan siapa saja. Bahkan, orang matipun barangkali dapat mencelat dari kuburnya. Dan ketika Pendekar Rambut Emas bergerak namun sebuah tangan tahu-tahu mencengkeramnya, tangan Thai Liong yang kuat dan menahan maka pendekar itu bagai copot jantungnya melihat dada isterinya disambar Pek-kong-kiam.

“Apa ini, lepaskan aku!”

Namun sang putera berbisik. Thai Liong menunjuk ke angkasa dan Pendekar Rambut Emas tertegun. Di tengah-tengah langit yang gelap, yang hitam pekat dan penuh oleh gelegar dan kilat menyambar-nyambar tiba-tiba nampak barisan “kunang kunang” yang menyambar Togur. Si buntung itu tertawa bergelak mengikuti gerakan pedang yang menyambar dada lawannya. Kim-hujin terbelalak dan menjerit memanggil suaminya, menunggu maut, karena ia benar-benar tak dapat mengelak lagi menabrak batu karang itu.

Tapi ketika pedang menyambar dan ledakan dahsyat di udara menggetarkan pulau, barisan kunang-kunang itu muncul dan tahu-tahu sudah di atas kepala si buntung mendadak si buntung menjerit ketika tiba-tiba sepasang matanya tertusuk dan bayangan putih kuning yang berada di mukanya itu menghalangi pandangannya, tertegun sejenak namun Pek-kong-kiam membetot, terus meluncur dan tidak menghiraukan jeritan si buntung ini.

Orang memang tidak tahu apa yang terjadi namun Thai Liong dan ayahnya melihat. Itulah seratus roh bayi lelaki yang menemukan Togur kembali, datang dan menyerang pemuda itu di saat Pek-kong-kiam mengancam keselamatan Kim-hujin. Dan ketika pedang tertahan sejenak namun cukup membuat sesosok bayangan melompat, cepat luar biasa maka Siang Le yang tertegun dan kebetulan paling dekat dengan ibu mertuanya sudah menangkis.

“Gak-bo!”

Tindakan atau perbuatan nekat yang dilakukan pemuda ini sungguh tak disangka-sangka. Swat Lian, yang terbelalak dan lumpuh di batu karang melihat jelas bayangan pemuda ini, tangan menantunya yang menjulur ke depan dan coba mencengkeram Pek-kong-kiam. Dan ketika Pek-kong-kiam menyambar dan tentu saja bertemu tangan pemuda itu, menabas atau membacok maka jari-jari pemuda ini putus dan pergelangan tangan pemuda itupun ikut terpenggal.

“Crat!” Soat Eng menjerit tinggi. Siang Le sendiri terhuyung dan roboh menimpa gak-bonya (ibu mertua), menyelamatkan ibu mertuanya itu dan hujan tiba-tiba berhenti. Aneh bin ajaib gelegar atau petir yang dahsyat tiba-tiba juga hilang, disusul oleh langit yang putih bersih dan semarak di sana. Bagai tak ada badai! Dan ketika Soat Eng menjerit dan melesat ke depan, menolong suami dan ibunya maka pedang tiba-tiba leleh dan hancur terkena darah pemuda ini, persis seperti minyak atau air yang menguap oleh panas.

“Kau gila! Kau... kau, ah!” Soat Eng mengguguk, melihat tangan suaminya yang putus sementara ibunya tertegun di situ.

Swat Lian atau Kim-hujin ini terbelalak melihat betapa Pek-kong-kiam akhirnya lenyap, hilang setelah leleh atau menguap berlumur darah, darah Siang Le. Dan ketika ia menjublak dan puterinya sudah menolong pemuda itu, menangis dan menotok pergelangan tangan suaminya maka terjadi kejadian mengejutkan di mana seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dan tertawa menyambar potongan tangan Siang Le, mengisap atau menjilat-jilat darahnya.

“Heh-heh, manis sekali... nikmat. Ah, mana darah yang lain dan biarkan aku minum!”

Swat Lian dan puterinya terkejut. Beng An, putera mereka, tahu-tahu muncul dan dengan rakusnya menjilat-jilat darah di potongan tangan itu. Darah Siang Le seolah anggur yang segar dan diisap-isap sampai kering. Dan ketika ibu dan anak tertegun karena tak menyangka, darah akhirnya habis dan potongan tangan itu dibuang maka anak ini meloncat dan menubruk tangan Siang Le yang masih menetes-neteskan darah.

“Beng An!” Soat Eng dan ibunya tak dapat menahan marah lagi. Mereka sudah melihat anak itu menerkam dan menjilat-jilat darah di luka yang dibebat ini, bagai bocah yang tidak waras. Dan ketika Soat Eng bergerak dan ibunya juga menendang, anak itu terlempar maka Beng An tertawa-tawa meloncat bangun untuk menubruk lagi tangan Siang Le, dihalau dan mencelat lagi namun kembali anak itu menerkam Siang Le.

Empat lima kali hal ini berlangsung hingga Soat Eng dan ibunya bergidik. Mereka merasa ngeri, seram! ketika Siang Le berseru kepada isteri dan gak-bonya agar tidak menghajar anak itu, Beng An seolah anak kelaparan yang ingin menghirup darah segar maka pemuda ini berseru dengan tenang agar membiarkan saja. Ada sesuatu yang menarik wajah anak itu, sesuatu yang dilihat Siang Le.

“Biarkan saja, jangan dipukul. Lihat sinar matanya mulai hidup dan Beng An menunjukkan tanda-tanda sembuh!”

Kim-hujin, serta puterinya, terbelalak menghentikan pukulan. Beng An, yang semula pucat dan putih bagai salju tiba-tiba kemerah-merahan lagi seperti layaknya semula. Anak itu masih dengan rakus menjilat-jilat dan mengisap darah di luka Siang Le, bagai orang kelaparan. Tapi ketika ia merasa cukup sementara Siang Le menahan pening, banyak darah yang hilang maka keduanya tiba-tiba sama-sama roboh hampir berbareng.

“Bluk!” Siang Le menimpa adiknya. Sesuatu yang luar biasa terjadi karena tiba-tiba Beng An sudah kemerah-merahan lagi dengan wajah segar dan sehat. Anak yang semula putih dan pucat seperti salju itu kini berubah. Semua tak tahu bahwa darah suci pemuda ini telah menyembuhkan pengaruh Bu-sian-sin-kang, yakni ketika dulu anak laki-laki itu menggigit dan menyedot darah Poan-jin. Dan ketika Beng An roboh karena kekenyangan, bekas pengaruh darah Poan-jin bertempur dan kalah dengan darah Siang Le, yang suci dan bersih maka di sana di lain tempat terdengar jerit dan pekik Togur.

Swat Lian maupun Soat Eng lupa kepada lawan mereka itu tadi karena mereka sibuk dengan urusan sendiri, ketika Siang Le menyelamatkan gak-bonya dan Soat Eng menolong suaminya ini. Dan ketika itu masih ditambah dengan urusan Beng An, yang datang dan mereguk darah Siang Le maka ibu dan anak benar-benar tak memperhatikan Togur.

Mereka tak tahu betapa si buntung ini tiba-tiba berteriak disambar roh-roh bayi lelaki itu, melepaskan pedang dan berlarian sepanjang pulau menghindar diri. Sepasang matanya luka ditusuk benda-benda berwarna-warni itu dan kagetlah si buntung melihat pembalasan dendam. Ia menjerit dan berlarian menutupi muka, darah mengucur.

Namun karena roh-roh itu mengejar dan bekas pengaruh Bu-siang-sin-kang ini memang tak mau sudah, mereka mencicit dan mengeluarkan suara-suara aneh maka Togur menjadi sasaran dan si buntung yang menerima akibat dari ilmu hitamnya ini berteriak ketakutan sepanjang pulau. Ia berlarian ke sana ke mari namun lawan tak mau sudah.

Dan ketika benda seperti kunang-kunang itu menggigit dan merubung mukanya, persis tawon-tawon yang marah maka Togur berteriak karena wajahnya rusak dengan disengat mahluk-mahluk ganas ini. Ia menghadapi sesuatu yang halus dari alam roh, membaliknya ilmu hitam setelah Bu-siang-sin-kangnya hancur.

Dan ketika seratus benda berwarna-warni itu beterbangan dan menggigit seluruh tubuhnya, turun ke leher dan dada untuk akhirnya ke bawah maka si buntung sudah tidak menyerupai manusia lagi karena kulitnya terkupas dan benyek-benyek memperlihatkan dagingnya yang merah darah.

Selanjutnya bau busuk ikut menerjang dan si buntung melolong-lolong. Mukanya hancur dan kaki tangannyapun penuh darah. Ia seperti manusia vampir. Dan ketika ia menjerit dan berjingkrak-jingkrak tak keruan, Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas terbelalak melihat kejadian itu maka si buntung menceburkan diri ke laut dan kebetulan dua ekor hiu berenang di tepian pantai, mencium bau darah.

“Byuurr!”

Dua hiu ini menyambar. Mereka adalah hewan yang tajam penciumannya dan di manapun darah berada tentu mereka mencari. Begitu juga dengan si buntung ini, yang tadi sebagian darahnya sudah tercecer dan disambar gelombang laut. Dan ketika si buntung mencebur dan dua ikan itu berebut, membuka mulut dan menggigit maka terdengar jerit ngeri ketika tubuh pemuda itu terpotong.

“Krekk!”

Pendekar Rambut Emas memejamkan mata. Dua hiu berebut dan tepat sekali tubuh pemuda itu terpotong dua. Dan ketika masing-masing mendapat satu dan menyelam ke bawah, lenyap meninggalkan darah yang memerah di permukaan, maka hiu-hiu lain muncul dan bagai ikan-ikan kelaparan mereka itu memburu dan menyergap teman mereka.

Selanjutnya Pendekar Rambut Emas tak berani membayangkan apa yang terjadi di bawah laut itu, tubuh si buntung yang tentu dirancak dan dijadikan santapan hiu-hiu ganas. Dan ketika di sampingnya Thai Liong juga memejamkan mata, ngeri oleh peristiwa yang baru saja terjadi ini maka kunang-kunang itu lenyap bersama dengan lenyapnya si buntung di dasar laut.

Ayah dan anak membuka kembali matanya ketika mendengar isak dan tangis di sana. Soat Eng dan ibunya juga menonton adegan terakhir menutupi muka dan tiba-tiba Pendekar Rambut Emas sadar melihat puteranya di sana, putera bungsunya yang juga baru saja mengguncangkan jiwa isteri dan anaknya. Dan ketika pendekar itu berkelebat dan seolah bangun dari mimpi buruk, ia melihat Beng An karena tercekam oleh peristiwa Togur maka pendekar ini terkejut melihat putera dan menantunya saling tindih menjadi satu.

“Apa yang terjadi. Bagaimana Beng An ada di sini!”

“Aku yang membawanya,” Thai Liong berkata, lirih dan datar. “Aku tak dapat meninggalkannya sendirian di utara, yah. Dan lagi Sian-su lah yang menyuruhku begini...”

“Benar, aku tadi melihat kakek dewa itu. Ah, mana dia. Apa maksud semua kejadian, ini!”

“Sebaiknya kita menolong Siang Le, Swat Lian tiba-tiba berkata, terisak. “Ia... ia telah menyelamatkan aku, suamiku. Ia sekarang kehabisan darah gara-gara menolong aku dan putera kita Beng An. Lihat wajah anak kita telah bersih dan sehat kembali. Ia tadi menghirup darah Siang Le!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia melihat mulut puteranya berlepotan darah berlutut dan memeriksa anaknya itu dan benar saja wajah serta tubuh anaknya berubah. Tidak lagi dingin dan pucat melainkan segar kemerah-merahan. Inilah mengherankan. Dan ketika ia mendapat keterangan bahwa semua itu karena darah Siang Le, yang berkorban untuk anak isterinya maka pendekar ini tertegun mendengar Pek-kong-kiam pun leleh dan lenyap dilumuri darah pemuda ini.

“Heran, dan mengejutkan. Darah pemuda ini luar biasa mujijat dengan sirnanya Pek-kong-kiam yang berlumur darahnya. Aku tak tahu bagaimana bisa begitu dan Beng An pun tiba-tiba sembuh meminum darahnya. Aku merasa seram, merinding!”

Pendekar Rambut Emas memeriksa. Sekarang ia berlutut di dekat menantunya itu dan mimpi buruk rupanya benar-benar baru saja terjadi. Ia tertegun melihat buntungnya tangan Siang Le dan puterinya terisak-isak melihat ia memeriksa itu. Luka sudah dibebat dan darahpun kini tak mengalir. Pemuda itu masih pingsan namun tak berbahaya, meskipun harus waspada karena kehilangan banyak darah. Dan ketika pendekar itu menotok dan menjejalkan sebutir obat, bangkit dan kagum karena Pek-kong-kiam benar-benar lenyap, cair dan leleh berlumur darah pemuda ini maka seseorang mengeluh dan meratap.

“Ampun.... bebaskan aku, Pendekar Rambut Emas. Jangan bunuh dan bebaskan aku....!”

Pendekar ini menoleh. Ui Kiok, wanita cabul itu, siuman dan kiranya sudah membuka mata. Semua kejadian tak diketahui tapi tak adanya si buntung membuat wanita ini gentar. Tahulah dia bahwa si buntung pasti telah menerima hukuman dan ceceran darah di situ membuat wanita ini ngeri. Sendiriankah dia di situ? Tidak ada lagikah kawan-kawannya?

Tentu. Dia sendirian di situ. Kalaupun ada orang, maka itu adalah Pendekar Rambut Emas dan keluarganya. Ui Kiok menggigil. Tapi ketika pendekar itu mengerutkan kening dan mau bergerak sekonyong-konyong Soat Eng mendahuluinya dan wanita ini membentak.

“Ui Kiok, kau wanita hina-dina. Tak layak mendapat ampun dan biar sekalian kau menyusul Togur di dasar laut!”

Tapi Thai Liong berkelebat. Begitu adiknya berseru dan menendang wanita itu tiba-tiba pemuda ini menangkap lengan adiknya dan berkata biarlah urusan itu diselesaikan ayah mereka. Tendangan diterima Thai Liong dan Soat Eng terpelanting, disambar dan ditangkap kakaknya ini hingga tak sampai jatuh. Dan ketika Soat Eng terkejut karena kakaknya membela wanita siluman, sang ayah tersenyum dan bergerak maju maka pendekar ini berkata.

“Benar, biarkan aku yang memutuskan, Eng-ji. Kakakmu sama seperti aku. Kalau lawan sudah minta ampun maka jangan disiksa lagi. Lepaskan dia dan biarkan pergi."

“Ayah mau membiarkan siluman ini pergi? Begini saja? Tidak, sedikit banyak ia harus dihukum, ayah. Keenakan kalau bebas begitu saja. Aku tak terima. Ia menghina dan mempermainkan aku dan suamiku!”

“Apa yang mau kau lakukan?”

"Tak banyak, begini saja.... crat!” dan sebelah telinga Ui Kiok yang putus dibabat jari tiba-tiba membuat wanita itu menjerit dan kesakitan, pucat memandang lawan namun Soat Eng mendengus. Untuk perbuatannya itu kakaknya tak sempat menghalangi, karena memang tak diduga. Dan ketika ayah dan kakaknya terkejut namun sudah terlanjur, Pendekar Rambut Emas menarik napas dan memutar tubuh. maka ia berkata agar selanjutnya tawanan mereka itu disuruh pergi.

“Sudahlah, jangan lebih dari itu. Biarkan ia pergi dan jangan menyiksa lagi!”

Soat Eng menendang. Ia hendak membuat lawan tercebur di laut namun Thai Liong mengebutkan lengan baju. Dari situ muncul tamparan jarak jauh yang membuat wanita ini terlempar di batu, terbanting dan berdebuk menangis. Tapi ketika semua itu membebaskan wanita ini dan Ui Kiok meloncat bangun, terhuyung dan melarikan diri maka wanita itu lenyap memasuki celah di laut, meluncur dan tampaklah sebuah perahu didayung cepat sekali meninggalkan Sam-liong-to.

Buih dan ombak sudah berhenti dan Ui Kiok leluasa meninggalkan pulau. Dan ketika Soat Eng masih bersinar-sinar dan marah memandang lawannya itu, Thai Liong menarik napas dan menyambar adiknya maka Soat Eng diminta untuk meredakan kemarahan karena semua itu sudah lewat.

“Tak perlu marah-marah lagi. Sudahlah, kita lihat suamimu dan juga adik Beng An!”

Wanita ini mengangguk. Kalau saja tak ada ayah dan kakaknya di situ tentu ia sudah membunuh. Tapi karena Ui Kiok juga sudah dihukum dan kiranya tak perlu melampiaskan marahnya lagi, adik dan suaminya harus dilihat maka Soat Eng mengikuti kakaknya yang sudah berkelebat ke sana. Ayah dan ibunya menunggui yang pingsan dan tak lama kemudian sadarlah Beng An.

Anak laki-laki ini rupanya sadar lebih dulu dan tentu saja dia heran serta kaget melihat ayah ibunya di situ, juga kakaknya laki-laki dan perempuan. Dan ketika ia meloncat bangun dan ayah ibunya menyambar, sang ibu menangis dan memeluk puteranya ini maka Beng An bagai orang mimpi saja melihat semua keluarganya di situ.

“Ayah.... ibu....!”

Sang ibu mengguguk. Dulu puteranya ini tak mengenal sama sekali siapa dia dan orang-orang lainnya di situ, pandang matanya kosong tapi kini tiba-tiba dapat mengenal dan memanggil dirinya. Dan ketika Beng An juga dapat memanggil dan mengenali enci dan kakaknya laki-laki, menyebut dan memandang mereka itu maka Swat Lian mendekap dan terharu menciumi puteranya ini.

“Aduh, kau sudah sembuh, nak. Sudah ,sadar. Syukur kepada Thian Yang Agung dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi peristiwa semacam ini!”

“Aku... apa yang terjadi?” Beng An bingung. “Dan eh, itu Siang Le-koko, ibu. Kenapa dia tidur!”

“Hush, dia tidak tidur. Dia pingsan. Dia baru saja menolong kau dan ibumu!”

“Menolong aku? Ada apa dengan diriku?”

“Kau mengalami penyakit aneh, Ben An. Penyakit yang tak dapat disembuhkan dan baru sekarang hilang. Apakah kau tidak ingat Poan-jin-poan-kwi? Dari situlah semuanya berasal. Coba ingat baik-baik apa yang pernah terjadi dan kau lakukan terhadap kakek itu.” Pendekar Rambut Emas, yang juga terharu dan memeluk puteranya ini menjawab. Ia girang dan terharu bahwa puteranya sudah sembuh, secara aneh, secara luar biasa. Dan ketika anaknya terbelalak dan mengingat-ingat terkejut dan menoleh ke kiri kanan mendadak ia berseru,

“Benar, aku dicekik kakek itu. Aku hendak dibunuh!”

“Dan apa yang kau lakukan?”

“Ah, aku menggigit dan menghisap darahnya, ayah. Aku membunuh kakek itu. Tapi... tapi selanjutnya aku tak ingat. Rasa-rasanya seperti ada langit ambruk atau gunung meletus!”

“Hm, semuanya benar. Kau pingsan dan tak sadarkan diri setelah itu. Kau berubah menjadi anak aneh yang pendiam dan berpandangan kosong. Kau kemasukan inti pengaruh Bu-siang-sin-kang yang jahat. Darah Poan-jin yang kotor mengganggu jiwamu. Tapi sekarang kau sudah sehat dan sembuh dan dapat mengenali kami semua. Ini berkat darah kakakmu Siang Le!”

“Apa yang kulakukan?”

“Kau menyedot darah kakakmu seperti bocah tidak waras. Tapi kau justeru sembuh!”

“Padahal dulu ribuan orang telah memberikan darahnya kepadamu. Ah, tak kusangka Siang Le yang menyelamatkanmu, Beng An. Dan sekarang aku tahu siapa orang yang dimaksud Sian-su. Aku telah berdosa kepada Siang Le!” Kim-hujin, yang menangis dan melepas anaknya tiba-tiba menyambar dan menubruk Siang Le. Mantunya itu masih pingsan dan semua orang terkejut melihat kelakuannya.

Tapi ketika nyonya itu mengguguk dan tersedu-sedu, rasa ngeri menyelimuti hatinya maka terdengar suara batuk-batuk dan seorang kakek berwajah halimun tahu-tahu telah berada di belakang mereka, melayang tak menginjak tanah dan bergoyang-goyang di atas Sam-liong-to.

“Sian-su..!”