Rajawali Merah Jilid 28 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 28
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SEMUA kaget dan menoleh. Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu, tahu-tahu telah berada di belakang mereka, tersenyum dan mengangguk dan bergeraklah semua orang memutar tubuh. Pendekar Rambut Emas sendiri sudah membungkuk dan memberi hormat, Soat Eng dan Beng An bahkan sudah menjatuhkan diri berlutut. Inilah manusia dewa yang sakti! Dan ketika semua sudah memberi hormat dan Kim-hujin atau nyonya Kim menangis bertemu kakek ini maka nyonya itu gemetar.

“Sian-su, rupanya aku hendak menerima dosa. Ampunilah, aku sudah sadar!”

“Heh-heh...!” kakek itu tertawa, lembut “Kau perasa sekali, hujin. Sadar tentang apa dan minta ampun tentang apa pula. Kau tak bersalah kepadaku!”

“Tidak... tidak. Kedatanganmu pasti akan menegur aku, Sian-su, menyalahkan aku. Dan sekarang aku sadar. Aku memang bersalah!”

“Hm, menyadari akan sebuah kesalahan adalah langkah yang baik. Mengingat dan mengerti akan kesalahan itu adalah hal yang lebih baik lagi. Tapi menyadari dan tidak akan mengulangi kesalahan itu adalah yang paling baik! Bagus, kau terbawa emosimu, hujin. Aku senang tapi bicara dengan penuh emosi begini tentu tak akan enak. Tenangkanlah hatimu karena kedatanganku bukan untuk menegur atau menyalahkan dirimu. Aku datang untuk membawa terang, kalau itu kalian anggap terang. Tetapi karena kalian sedang sibuk mengurusi pemuda itu sebaiknya selesaikan dulu pekerjaan ini dan kita bertemu di atas bukit itu, bicara lagi. Kalian setuju?”

“Ah, kami senang dengan kedatanganmu, Sian-su. Tapi kalau kau hendak mengajak kami ke bukit itu tentu saja dengan gembira kami akan menyambut. Baiklah, kami akan menyelesaikan dulu pekerjaan kami dan setelah menantu kami sadar kami akan ke bukit itu. Terima kasih atas kunjungan Sian-su!”

Kakek itu tertawa. Ia mengangguk dan mengangkat tangannya dan tahu-tahu kakek itu lenyap lagi seperti siluman. Datang dan perginya sungguh tak dapat diikuti mata, biarpun oleh Pendekar Rambut Emas sendiri. Tapi ketika mereka melihat setitik bayangan putih sudah berada di puncak bukit itu, duduk dan bersila maka Pendekar Rambut Emas dan lain-lain kagum, untuk kesekian kalinya lagi mereka dibuat takjub oleh kesaktian kakek dewa itu.

“Luar biasa, Sian-su benar-benar seperti dewa!” Beng An, yang kagum dan memuji kakek ini tak habis-habisnya mengejapkan mata. Ia tak melihat kakek itu dan tahu-tahu si kakek sudah berada di puncak bukit, demikian cepatnya. Tapi ketika sang ibu terisak dan membalik menghadapi menantunya maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini gelisah.

“Suamiku, cepat sadarkan Siang Le. Aku hendak minta ampun dan mendengar wejangan Sian-su!”

“Hm, jangan tergesa-gesa. Sian-su memang hendak menemui kita, niocu. Tanpa kehendaknya tak mungkin kita bertemu. Tenang sajalah, Sian-su tak akan meninggalkan kita karena dia memang hendak bicara!”

“Dan aku takut. Tentu kena petuah!”

“Sian-su memang hendak memberi petunjuk, tapi tak pernah menyakitkan. Kalau kau merasa ketakutan begini tentu ada kesalahan besar yang kau lakukan. Aneh sekali.”

“Sudahlah, cepat kita tolong menantu kita ini, suamiku. Dan aku merasa berdosa besar sekali. Ah, Siang Le telah kusia-siakan. Aku orang tua tak bijaksana. Biar dia nanti kupanggul dan kubawa ke atas bukit. Aku benar-benar hendak minta ampun!”

Pendekar Rambut Emas heran. Isterinya tiba-tiba tampak begitu sayang dan penuh perhatian kepada Siang Le, menotok dan mengurut sana-sini hingga tak lama kemudian pemuda itupun sadar. Dan begitu sadar tiba-tiba isterinya ini menangis dan memeluk pemuda itu, menciumi.

“Siang Le, terima kasih banyak. Aduh, untung kau selamat, nak. Aku menyesal dan merasa berhutang budi kepadamu. Lihatlah, Sian-su menunggu kita!”

Siang Le tertegun. Ia baru saja sadar dan membuka matanya ketika tiba-tiba gak-bonya ini menangis dan menciumi dirinya. Air mata gak-bonya itu membasahi pipi dan sekejap kemudian wajahnya basah kuyup. Tapi ketika pemuda itu bergerak dan mendorong ibu mertuanya, jengah diciumi karena di situ ada gak-hu (ayah mertua) dan isterinya maka pemuda ini duduk dan bangkit berdiri, menekan tanah dan lupa kepada tangan kirinya yang buntung.

“Eh, kenapa gak-bo menangis. Mana jahanam Togur....augh!” dan Siang Le yang terkejut dan baru sadar akan lukanya tiba-tiba terguling lagi namun dengan cepat gak-bonya itu menyambar, penuh perhatian dan tangkas.

“Tak usah berdiri dulu. Tangan kirimu putus. Ah, ini gara-gara kau menyelamatkan aku, Siang Le. Dan aku menyesal serta merasa berdosa besar kepadamu. Jahanam Togur telah mampus, mayatnya telah disantap hiu dan putus menjadi dua. Aku berterima kasih dan berhutang budi kepadamu. Mari kita menghadap Sian-su dan kubawa kau ke sana!”

“Nanti dulu... nanti dulu...!” Siang Le gugup, sang gak-bo akan mengangkat dan membawa tubuhnya seperti anak kecil. “Aku dapat berjalan, gak-bo. Dan ada Eng-moi pula di sini. Biar aku ditolongnya!”

“Tidak, aku ingin membalas budimu Siang Le. Aku ingin membawamu ke puncak bukit itu dan bukan orang lain. Kau masih kesakitan!”

“Tapi...”

“Hm,” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba melangkah maju, heran tapi segera mengerti perasaan isterinya. “Gak-bomu terlampau besar perasaan sesalnya, Siang Le. Entah apa yang pernah dia lakuka kepadamu. Biarkanlah, ia akan menyesal dan semakin kecewa lagi kalau tidak dapat membawamu ke bukit. Sian-su menunggu kita dan mari sama-sama ke sana. Biarkan gak-bomu menuntunmu!”

Siang Le serba salah. Ia kikuk dan gugup karena ternyata gak-hunyapun menyuruhnya begitu. Dan ketika ia memandang sang isteri namun sang isteri mengangguk dan berseri ternyata isterinyapun berkata,

“Benar, apa yang dikata ayah tidak salah, Le-ko. Ibu ingin menebus rasa sesalnya dan justeru aku ingin tahu apa yang pernah dilakukan ibu kepadamu. Marilah, biarkan ia menuntunmu dan kita menghadap Sian-su!”

Terpaksa, karena gak-hu dan isterinya sudah bicara seperti itu, tak perlu ia sungkan atau kikuk lagi maka Swat Lian tiba-tiba sudah menyambar dan menangkap menantunya itu.

“Nah, semua sudah mengijinkan, Siang Le. Mari ke bukit dan kita temui Sian-su!” lalu begitu sang pemuda tersentak dan terkejut, Kim-hujin atau nyonya Kim ini sudah bergerak dan membawa Siang Le maka dicengkeramlah pemuda itu seperti seekor rajawali membawa terbang buruannya.

“Eihh, aduh... hati-hati, gak-bo. Tanganku masih sakit!”

“Jangan khawatir,” sang gak-bo berseri, tertawa. “Aku akan hati-hati memperlakukanmu, Siang Le. Aku tak akan mengulangi lagi kesalahanku kepadamu..... wut-wut!” dan sang nyonya yang terbang merobah letak cengkeramannya lalu melesat menuju bukit di mana kakek dewa Bu-beng Sian-su menunggu.

Suami dan puterinya menyusul dan Pendekar Rambut Emas pun terbang dengan wajah berseri. Ada perobahan besar di sikap isterinya itu. Ada sesuatu yang menarik yang hendak ia ketahui. Dan ketika pendekar itu bergerak dan puterinya maupun Thai Liong melejit mengikuti, masing-masing mengerahkan ilmu meringankan tubuh maka keluarga lengkap pendekar ini terbang ke atas.

Beng An disambar ayahnya dan anak lelaki yang baru sadar itupun berkali-kali mengeluarkan seruan aneh. Dia merasa tubuhnya begitu ringan hingga sang ayah dimintanya untuk melepaskan sekejap, mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sendiri dan mendadak bocah itu mampu menyusul encinya, Soat Eng, yang tadi berada di depan dan mendahului ayahnya. Dan ketika Soat Eng terbelalak karena adiknya itu mampu merendengi, sejajar mengerahkan ilmu lari cepat maka Soat Eng berseru keras dan menambah kecepatannya.

"Heii, kau jangan coba-coba menyusul aku, Beng An. Hayo kita berlomba dan lihat siapa yang menang!”

“Hm, akupun juga berpikir begitu. Aku merasa tubuhku demikian ringan dan enak sekali. Awas, aku membalap!”

Soat Eng terkejut. Adiknya yang tadi tertinggal di belakang sekonyong-konyong melesat dan terbang seperti kuda sembrani, cepat seperti kilat menyambar dan kagetlah wanita ini karena ia sekarang tertinggal. Dan ketika Pendekar Rambut Emas juga terkejut melihat gerak tubuh Beng An, yang penuh tenaga sakti maka Soat Eng melengking nyaring dan tancap gas, mengerahkan semua ilmu lari cepatnya.

“Beng An, aku tak mau kalah. Awas, aku menggabung Cui-sian Gin-kang dan Jing-sian-engku!”

Anak itu tak menjawab. Beng An juga menambah kecepatannya dan begitu sang enci melejit iapun melesat dan tetap di depan. Soat Eng yang sudah belasan tahun berlatih ginkang jadi terkejut melihat kehebatan adiknya ini. Dan ketika Beng An berseru panjang mengimbangi lengkingannya maka biarpun dikejar tetap saja anak itu ada di depan!

“Enci, aku menang!”

Soat Eng berubah. Adiknya lebih dulu tiba di puncak dan barulah dia menyusul. Dia sudah mengerahkan semua kepandaiannya namun tetap saja adiknya itu menang. Dan ketika wanita ini berjungkir balik dan turun ke bawah, menyambar atau melayang melewati kepala adiknya yang sudah lebih dulu di situ maka Pendekar Rambut Emas tertawa bergelak dan Thai Liong maupun yang lain juga berseru kagum.

“Hebat, kau memiliki tenaga sakti luar biasa, Beng An. Tubuhmu seperti karet saja yang membal seperti dilempar!”

“Hm, aku merasa tubuhku memang ringan,” sang anak berseri-seri, sama sekali tidak memburu seperti Soat Eng, encinya, yang merah padam. “Aku justeru semakin enak kalau banyak mengeluarkan tenaga, ayah, Entahlah, aku rasa-rasanya seakan terbang!”

“Ini tentu sinkang Poan-jin-poan-kwi. Kau dapat memperolehnya dengan selamat!”

“Tapi selamat setelan minurn darah Siang Le. Ah, perobahan besar terjadi di tubuhmu dan kau sungguh beruntung!” Swat Lian, yang juga melihat dan memuji puteranya itu berseri-seri. Ia girang dan bangga bahwa Beng An dapat mengungguli encinya, yang sudah berlatih lebih dulu belasan tahun tapi dapat dikalahkan. Dan ketika suaminya juga mengangguk tapi batuk-batuk di situ menyadarkan mereka, kakek dewa Bu-beng Sian-su ada di situ maka mereka cepat menahan diri dan Swat Lian melepaskan pegangannya pada Siang Le, yang tadi terpaksa memejamkan mata karena gak-bonya itu seperti rajawali kelaparan, melesat menembus langit.

“Sudahlah, ada Sian-su di sini dan mari kita duduk dengan hormat!” Pendekar Rambut Emas cepat memberi tanda, kagum dan berseri-seri.

Sementara Thai Liong sendiri juga terbelalak dan takjub akan kepandaian adik tirinya itu. Beberapa tahun lagi digembleng guru yang baik tentu Beng An akan menjadi anak luar biasa. Agaknya benar karena hawa mujijat Poan-jin-poan-kwi itu dan lebih lagi karena darah segar Siang Le, yang tadi mampu mencairkan sebatang pedang pusaka. Pek-kong-kiam leleh! Dan ketika semua berlutut dan memberi hormat kepada Sian-su, kakek ini tersenyum-senyum maka suara yang halus namun penuh tenaga juga meluncur dari kakek ini.

“Benar. Anakmu yang bungsu ini bakal menjadi manusia luar biasa, Kim-mou-eng. Tapi betapapun ia masih belum sembuh total. Coba suruh ia menarik napas dan rasakan nyeri di antara tulang dada. Pasti ada di situ!”

Beng An menurut. Tanpa diperintah lagi ia melakukan seperti apa yang dikata kakek itu, menarik napas tiga kali dan benar saja ia tiba-tiba mengeluh merasakan nyeri hebat. Ada nyeri kecil tapi menusuk tajam di situ. Tapi ketika ia menarik napas lagi dan nyeri itu hilang maka Beng An hilang pucatnya. “Benar, ada nyeri menusuk, Sian-su. Tapi kini hilang lagi!”

“Itu tandanya kau belum sembuh betul. Dan Ping-im-kangmu itu..... hm, kau harus melatihnya secara benar, Beng An. Mendiang kakekmu dulu terlampau singkat!”

“Ping-im-kang? Mendiang kakek?”

“Ya, tanya adikmu ini. Dulu Hu-taihiap, mewariskan Pukulan Inti Es itu tapi sayang tak berusia panjang. Thian Yang Agung, manusia yang berusaha tapi Tuhan pula yang menentukan!” dan ketika Soat Eng dan ayah ibunya tertegun, tak mengira bahwa mendiang Hu Beng Kui mewariskan Ping-im-kang maka Beng An kemerah- merahan mengaku.

“Ya, dulu kong-kong mengajariku ilmu ini. Tapi tak boleh memberitahukan siapapun terhadap ayah atau ibu!”

“Astaga!” sang ibu mencengkeram lengan puteranya ini. “Sudah lama, Beng An? Jadi kau memiliki Ping-im-kang?”

“Aku baru melatihnya seberapa bisa saja. Dan maaf, ibu, baru sekarang kalian tahu."

“Dan itupun dari Sian-su!” sang ibu mengomel. “Eh, lain kali jangan sembunyikan sesuatu dari ayah ibumu, Beng An. Siapa tahu ilmu silat kami nanti jadi berlawanan dengan ilmu silat kakekmu itu. Kong-kongmu sungguh terlalu!”

“Sudahlah,” Pendekar Rambut Emas melerai, tersenyum. “Betapapun mendiang ayah memang orang aneh, niocu. Dilarangpun tak mungkin bisa. Sekarang kita sudah di sini. Kupikir yang dapat menyelamatkan kita adalah Sian-su!”

“Sebagian saja benar,” kakek itu tertawa. “Selamat atau tidak tergantung juga tindak-tanduk kita, Kim-mou-eng. Kalau kita mau terjun ke jurang padahal sudah diberi tahu berbahaya tentu tak selamat juga. Sudahlah, ke mana kita hendak bicara dan dari mana kita mulai!”

Semua kagum. Kakek itu selalu berkata benar dan kata-katanyapun enak diterima. Sejak dulu sampai sekarang tetap juga begitu. Rendah hati dan tidak sombong, padahal kesaktiannya sudahlah sama seperti dewa! Dan ketika Kim-mou-eng kagum dan mengangguk, kakek ini luar biasa sekali maka isterinya maju dan berkata, mulai berdebar,

“Agaknya pembicaraan dimulai dari sini, Sian-su, dari peristiwa ini. Dan rupanya akulah tokoh tunggal yang hendak dibicarakan. Aku siap menerima hukuman!”

“Hm, siapa hendak menghukummu,” kakek itu tertawa. “Manusia terhukum oleh akibat dari perbuatannya sendiri, hujin. Seperti juga manusia berhasil dari kerja keras dan kemauan baiknya. Kau maupun yang lain dapat saja sewaktu-waktu menjadi tokoh tunggal. Tapi yang penting adalah bahwa hasil pembicaraan nanti dapat berguna bagi kalian dan semua saja. Dan sebelum kita mulai agaknya lebih baik puteramu itu tak usah menyembunyikan lagi dua temannya. Kasihan mereka terkurung di balik Beng-tau-sin-jin!”

Thai Liong terkejut. Sian-su tertawa memandangnya dan sadarlah dia bahwa di balik Beng-tau-sin-jinnya dia masih “menyimpan” dua orang lain, yakni bibinya Cao Cun dan Shintala. Dan begitu dia sadar dan tertawa masam, pemuda ini mengebut maka terloncatlah dua wanita di balik jubah sakti itu.

“Bibi, Shintala.... kalian keluar saja. Aku lupa dan maaf bahwa terlalu lama kalian di situ!”

Dua wanita ini terjerembab. Shintala sendiri berjungkir balik dan berseru perlahan dikebut dari dalam jubah. Sudah seminggu ini ia dikurung. Maka begitu dilepas dan ia girang tapi juga mendongkol, baru sekarang ia dibebaskan maka gadis tu berseru menyambar teman sekamarnya itu.

“Thai Liong, kau terlalu. Uh, panas sekali berhari-hari di dalam jubahmu!”

“Maaf,” Thai Liong tertawa, kekasihnya ini cemberut. “Aku lupa, Shintala. Berhari-hari ini aku sibuk membantu ayah. Lihat, sekarang mereka di sini dan inilah Sian-su yang dulu kusebut-sebut itu!”

Gadis itu sudah melayang turun. Ia ke luar dan muncul dari balik Beng-tau-sin-jin dan Beng An kagum memandang kesaktian kakaknya ini. Tapi lebih kagum lagi melihat kecantikan Shintala yang luar biasa, kecantikan khas dari perpaduan bangsa Timur dan Barat maka anak itu berseru, mendecak.

“Aihh, siapa cici yang cantik ini. Kenapa aku belum pernah tahu!”

“Hi-hik, itu calon kakak iparmu,” Soat Eng mendahului, tentu saja tahu bahwa adiknya memang belum tahu Shintala, karena dulu adiknya itu dalam keadaan tak sadar. “Ia cucu locianpwe Drestawala, Beng An. Kakek sakti yang terbunuh oleh Poan-jin-poan-kwi. Inilah calon keluarga baru kita dan cepat beri hormat kepada calon so-somu (kakak ipar) itu!”

Beng An terkejut. Tentu saja ia berdiri dan cepat-cepat memberi hormat, Shintala tersipu dan kemerah-merahan karena dengan blak-blakan begitu saja Soat Eng bicara, di depan banyak orang. Tapi ketika ia menepuk pundak Beng An dan memberi hormat kepada yang lain-lain, orang tua yang ada di situ maka dia berkata, lirih.

“Kakakmu Soat Eng bicara mengada-ada, Beng An. Siapa mau kepada gadis sebatangkara macam aku ini. Ih, sudahlah. Aku girang bahwa kau selamat!”

“Dan ini bibi Cao Cun!”

“Benar. Kau sudah dapat mengenal orang-orang lain, Beng An. Ah, syukur kau selamat dan puji kepada Thian Yang Agung!” Cao Cun, yang terisak dan memeluk anak laki-laki ini lalu menciumi Beng An dan teringat anaknya sendiri. Dulu seperti itulah mendiang puteranya Ituchi, gagah dan tampan.

Tapi ketika Pendekar Rambut Emas batuk-batuk dan menyuruh Soat Eng menyambut bibinya, duduk dan memberi tahu Sian-su maka wanita ini sadar dan cepat menghapus air matanya. Bu-beng Sian-su menarik napas dan bersinar-sinar memandang semuanya yang ada di situ. Kalau sudah begini maka sebuah keluarga besar tampak, dia tersenyum dan mengangguk kepada Cao Cun. Dan ketika wanita itu berlutut dan gentar memandang kakek berwajah halimun ini, kakek yang penuh perbawa meskipun memancarkan kesejukan maka kakek itu mengulapkan tangan.

“Sudahlah, kita semua sudah berkumpul. Dapatkah kita sekarang mulai bicara.”

“Tentu, dan kami sebelumnya ingin berterima kasih dahulu, Sian-su. Mudah-mudahan wejanganmu dapat kami terima. Silahkan mulai!"

Kakek itu tersenyum. Sebuah pancaran terang tiba-tiba menyorot dari sepasang matanya, bak sinar matahari yang menembus kabut atau awan tebal. Dan ketika kakek itu batuk-batuk dan berdehem perlahan maka mulailah sebuah pembicaraan menarik dimulai.

“Apa yang hendak kita bicarakan,” kakek itu bertanya. “Siapa yang akan mengajukan pertanyaan dan tentang apa.”

“Tentang peristiwa ini, tentang kejadian ini. Aku ingin mereguk hikmahnya, Sian-su. Tolong beri tahu!”

“Hm, sebenarnya sudah kuberi tahu, tapi belum dikupas. Baik, apa yang hendak kau katakan, Pendekar Rambut Emas. Agaknya kau juga ingin bicara!”

“Maaf,” pendekar ini mengangguk, bersinar-sinar. “Aku tadi telah didahului isteriku, Sian-su. Dan benar bahwa aku ingin bertanya. Dan pertanyaan ini adalah tentang syair yang dulu kau berikan kepada kami. Agaknya dari sini sumber tanya jawab akan dimulai!”

“Ha-ha, bagus!” kakek dewa itu tertawa, renyah. “Kau sudah mengenal sifat-sifatku, Kim-mou-eng. Dan benar bahwa sumber tanya jawab nanti akan berasal dari syair itu. Hm, terlalu banyak syair yang kuberikan. Baik, syair yang mana dan bicara tentang apa!”

“Kami tak tahu, tapi Sian-su memulainya dengan menghunjam sepotong pedang. Ah, nanti dulu, Sian-su. Syair itu dibawa isteriku..!” dan ketika sang isteri ingat dan tertegun, itulah yang memang dicari maka cepat dia mengeluarkan segumpal kertas yang dilipat-lipat, memberikannya kepada sang suami dan Pendekar Rambut Emaspun berseri-seri. Kakek itu adalah gurunya dan tentu saja dia mengenal segala gaya atau gerak-gerik kakek ini. Bu-beng Sian-su selalu memulai dengan syair. Dan ketika kakek itu tersenyum dan tertawa lebar, tawanya demikian enak dan empuk maka Pendekar Rambut Emas membuka lipatan kertas dari isterinya itu.

“Jangan tergesa-gesa, tak lari gunung dikejar,” kakek itu berkata, menahan tawa “Coba kau baca syair yang mana, Kim-mou-eng. Dan nanti aku akan menjawabnya.”

“Begini..... menghunjam dalam sepotong pedang, menusuk bumi luka berdarah... melepas dendam marah dan berang, tak perduli lagi iblis berulah!”

“Ha-ha, terlampau cepat. Terlampau bernafsu. Eh, tulis saja di batu ini, Kim-mou-eng. Dan biarkan semua orang melihat. Aku sekarang tahu!” kakek itu berseru, melihat Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas itu membaca terlampau cepat dan tentu saja yang lain-lain tak mudah ingat. Dibaca seperti itu hanya yang bicara saja yang tahu. Kalau tidak diulang dua tiga kali belum tentu semua hapal.

Dan ketika pendekar itu tertegun tapi mengangguk, berseri dan tertawa maka bergeraklah dia mengguratkan jari. Dan begitu pendekar ini mengerahkan tenaga maka tampaklah dua bait syair tertulis dengan gagah:

Menghunjam dalam sepotong pedang
menusuk bumi luka berdarah
melepas dendam marah dan berang
tak perduli lagi iblis berulah!

Petir dan guntur sambar-menyambar
pekak telinga dengar gelegar
nyaris maut datang menggetar
sering terlambat di waktu sadar!


“Ha-ha, cukup, sekarang aku tahu!” kakek itu. tertawa, menggetarkan bumi. “Ini kiranya yang dimaksud, Kim-mou-eng. Bagus, ini bertalian erat dengan isterimu. Hm, suruh ia maju dan membaca syair itu. Serukan dengan suara lantang dan keras!”

Swat Lian atau Kim-hujin terkejut. Dia sendiri sudah hapal dengan dua bait syair itu tapi Soat Eng dan lain-lain tertegun. Cao Cun dan Shintala juga mengerutkan kening membaca isi syair itu. Cao Cun tergetar karena dia tahu sesuatu yang hebat tentu terjadi. Akan ada kisah menarik di sini. Sebuah pelajaran yang tentu penting! Dan ketika ia terbelalak dan mengamati baris-baris kalimat itu maka Swat Lian atau Kim-hujin bangkit berdiri.

“Tak usah berdiri, duduk sajalah.” Bu-beng Sian-su tersenyum.

“Hm, rasanya kurang kuat dan lantang, Sian-su. Biarkan aku berdiri dan membaca sebentar!”

“Baik, kalau begitu silahkan,” dan ketika kakek itu tertawa karena Kim-hujin rupanya ingin berdiri, agar lantang dan nyaring maka benar saja dengan gagah nyonya itu menyerukan bait-bait yang dibuat suaminya. Ia sendiri sudah hapal dan karena itu tanpa menoleh iapun sudah membacanya dengan penuh semangat. Tegap dan tinju yang teracung membuat nyonya ini tampak semakin gagah saja. Dan ketika bait demi bait selesai dilantangkan, gagah dan penuh kejantanan seperti srikandi saja maka Bu-beng Sian-su bertepuk tangan.

“Bagus... bagus, Kim-hujin. Terima kasih. Ha-ha, kau bagai seekor harimau betina yang diganggu anaknya. Kau begitu penuh semangat dan enerji. Wah, mengagumkan!”

“Hm, tak ada yang salah kubaca, Sian-su? Semuanya benar?”

“Ha-ha, benar. Benar sekali. Tapi sekarang silahkan kau duduk dan coba suruh menantumu itu membacanya!”

“Siang Le?”

“Ya.”

Siang Le terkejut. Pemuda itu sendiri sejak tadi diam tak bergerak-gerak, mendengarkan dan sesekali mendesis merasakan sakitnya. Pergelangan tangannya yang putus sesekali masih dirasanya nyeri juga, nyeri yang menggigit. Maka begitu disebut dan ia terkejut, sang ibu mertua terbelalak dan memandangnya maka Swat Lian membungkuk dan menarik menantunya ini.

“Siang Le, Sian-su ingin kau membacakan syair. Ayolah, baca dan serukan dengan lantang!”

Terpaksa, pemuda ini bangkit berdiri. Mimik muka yang menahan sakit rupanya dilihat juga oleh semua orang, Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening dan Kim-hujin terharu. Untuk dialah pemuda itu sampai buntung. Tapi ketika Siang Le menahan rasa sakitnya dan berdiri memberi hormat, kikuk dan gugup maka pemuda itupun membaca syair itu dengan ragu-ragu.

Tidak seperti gak-bonya yang lantang dan bersuara nyaring adalah pemuda ini sedikit perlahan dengan sesekali mendesis. Sebenarnya dia tersiksa tapi ditahannya, rasa sakit itu kembali mengganggu. Namun ketika dua bait syair itu selesai dibaca dan semua mengangguk, terharu, maka Bu-beng Sian-su tiba-tiba menyentuhkan lengannya ke luka pemuda itu.

“Terima kasih. Kau sudah membacakan untukku, Siang Le. Tapi sekarang duduklah dan berhadapanlah dengan gak-bomu!”

Siang Le terkejut. Sisa sakit di pergelangan tiba-tiba lenyap. Begitu disentuh Sian-su mendadak hilang! Dan ketika ia tertegun dan semburat girang, duduk lagi maka kakek itu berseru agar pemuda ini berhadapan dengan gak-bonya, karena Siang Le duduk di tempatnya semula di samping ibu mertuanya itu.

“He, kataku duduk berhadapan, Siang Le. Jangan bersebelahan. Lihat dan tatap wajah gak-bomu!”

Pemuda itu terkejut.

“Kenapa terkejut? Ha-ha, gak-bomu sudah penuh sayang dan cinta kasih, Siang Le. Tak usah takut-takut dan duduklah berhadapan. Lihat wajah gak-bomu sudah sedemikian lembut!”

Pemuda ini merah padam. Ia jadi tak mengerti dan bingung oleh sikap aneh kakek dewa itu, seolah menggoda tapi sesungguhnya serius. Kakek itu tak main-main. Dan ketika Swat Lian juga heran tapi mempersilahkan mantunya duduk berhadapan, tahu bahwa sesuatu sedang diperlihatkan kakek itu maka sang nyonya menyambar dan mendesis,

“Siang Le, duduklah berhadapan. Tak usah kikuk. Sian-su tentu sedang menyuruh kita mempelajari sesuatu.”

Terpaksa pemuda ini menggeser duduknya. Ia jadi malu dan likat harus berhadapan dengan gak-bonya itu, hal yang tak pernah dilakukan apalagi dalam suasana seperti ini. Dan ketika ia menunduk dan tersipu-sipu, berdebar, celakanya kakek itu menyuruh dia mengangkat wajahnya, memandang sang gak-bo lekat-lekat.

“He, jangan menunduk, anak muda. Tengadahkan kepala dan pandang gak-bomu itu, lihat baik-baik. Katakan kepada semua orang bagaimana pandang matanya sekarang!”

Siang Le sungguh terkejut. Ia tak tahu apa dan mau ke mana kakek itu menyuruhnya macam-macam. Ia disuruh tengadah dan lebih gila lagi disuruh bertatapan muka dengan gak-bonya itu, sikap yang bisa dikira kurang hormat karena bagaikan menghadapi musuh saja. Dan ketika ia menoleh dan terbelalak memandang kakek itu, yang justeru terkekeh maka Bu-beng Sian-su berseru agar pemuda itu memandang ibu mertuanya, bukan orang lain.

“Hei, jangan melotot ke sini. Pandang dan tatap gak-bomu itu. Katakan bagaimana sinar matanya sekarang!”

Siang Le salah tingkah. Sebagai pemuda baik-baik dan tahu sopan santun tentu saja ia tak berani memandang gak-bonya lekat-lekat. Apa-apaan kakek dewa ini! Tapi ketika gak-bonya tertawa dan berseru agar dia memandang, lakukan saja apa yang dikata Sian-su maka Siang Le merah padam dan menahan malu.

“Gak-bo, maaf. Aku tak tahu apa yang dikehendaki kakek ini.”

“Tak apa,” Swat Lian tersenyum, mengusap dan menyentuh bahu pemuda ini mesra. “Aku juga tak tahu apa yang dikehendaki kakek ini, Siang Le. Tapi sesuatu yang penting pasti diperlihatkan.”

“Ha-ha, benar. Dan sekarang lihat pandang mata gak-bomu. itu, Siang Le. Katakan kepada semua orang bagaimana pendapatmu!” Bu-beng Sian-su kembali berseru.

“Hm, apa yang harus kukatakan?" Siang Le bingung. “Gak-bo... gak-bo tak ada apa-apa, Sian-su. Ia wajar-wajar saja baik-baik saja!”

“Ha-ha, benarkah? Coba kau lihat baik-baik pandang matanya. Katakan kepadaku bagaimana sorot mata gak-bomu itu!”

“Gak-bo baik-baik saja... pandang matanya tidak apa-apa...!”

“Benarkah?”

“Benar, Sian-su. Dan ah... apa yang kau maui ini!” Siang Le tak kuat, pandang matanya beradu dengan pandang mata yang begitu lembut dari gak-bonya. Sinar mata penuh cinta kasih tiba-tiba menyambar. Siang Le terkejut! Dan ketika ia melengos karena sinar mata gak-bonya itu sungguh luar biasa, penuh cinta kasih dan mesra maka pemuda ini membuang pandangan dan jantungnya terlonjak melihat sinar mata gak-bonya itu. Bukan sinar mata seorang kekasih melainkan sinar mata seorang ibu kepada anaknya. Lembut dan hangat dan inilah yang membuat Siang Le tak kuat.

Selama bergaul, belum pernah ia melihat sinar mata gak-bonya yang seperti ini. Biasanya, ganas dan beringas, penuh permusuhan. Kalaupun lunak maka itupun disebabkan karena adanya orang-orang lain di situ, misalkan Pendekar Rambut Emas atau Soat Eng dan Thai Liong. Selama ini tak ada yang tahu bahwa gak-bonya masih tetap membencinya, dan hal itu karena gurunya See-ong yang telah membunuh Hu Beng Kui, ayah gak-bonya itu.

Maka begitu sang gak-bo tiba-tiba bersikap lembut dan hangat, pandang matanya penuh cinta kasih karena saat itu Swat Lian atau Kim-hujin ini benar-benar merasa terpukul, Siang Le telah menolong dan menyelamatkan Beng An, juga dirinya sendiri dengan darah dan buntungan tangan itu maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini benar-benar merasa terharu memandang menantunya itu. Siang Le tiba-tiba tampak sebagai pemuda tampan yang berbudi luhur, halus dan tahu diri dan teringatlah nyonya itu akan perlakuan dan sikapnya selama ini.

Betapa ia memusuhi dan bahkan mengakibatkan Siang Le tak berani lagi melatih ilmu-ilmu warisan suaminya, karena ia memaksa dan “menjepit” pemuda itu untuk menangkap atau bahkan membunuh gurunya, See-ong yang jahat. Dan karena memang hanya nyonya ini pulalah yang tahu kenapa Siang Le tak lagi mempelajari Khi-bal-sin-kang maupun Lui-ciang-hoat, begitu pula ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang maka sang nyonya tiba-tiba merasa berdosa besar dan terharu memandang menantunya ini.

Siang Le benar-benar pemuda berwatak mulia dan tahu diri, luhur dan menjunjung tinggi masalah budi hingga terhadap mendiang See-ong pun pemuda itu tak dapat dipaksa. Lebih baik pemuda itu dibunuh daripada disuruh membunuh gurunya sendiri, begitu berkali-kali pemuda itu berkata kalau mereka bertemu dan berbicara empat mata. Dan karena memang pemuda ini tak mampu melaksanakan perintahnya karena Siang Le adalah pemuda yang tahu budi, luhur dan berwatak mulia maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini tiba-tiba merasa terharu dan berdosa besar teringat semua perbuatannya.

Siang Le tak membencinya dan justeru dialah yang membenci pemuda itu, karena teringat bayangan See-ong dan kelakuannya membunuh mendiang ayahnya. Hu Beng Kui. Dan karena terbukti hingga detik inipun pemuda itu tak membalas kebenciannya dengan benci, bahkan tadi menolong dan mengorbankan tangan sendiri untuk menangkis Pek-kong-kiam maka Kim-hujin tiba-tiba menangis dan keharuan serta penyesalannya menerbitkan pandang mata yang penuh cinta kasih itu. Pandang mata yang membuat Siang Le tak kuat dan menjadi terkejut. Sinar atau pandang mata yang memang belum pernah diterima atau dirasakan pemuda ini.

Siang Le adalah pemuda sebatangkara sejak dia diambil gurunya See-ong, tokoh sesat itu. Maka begitu pemuda ini menerima pandang mata yang luar biasa itu, pandang mata yang belum pernah diberikan gak-bonya maka pemuda ini tersentak dan membuang muka ke arah Bu-beng Sian-su. Swat Lian atau Kim-hujin ini memang secara otomatis memberikan pandang matanya itu, pandang atau sinar mata yang terjadi karena keharuan dan sesal besar, juga rasa terima kasih karena justeru dari tangkisan pemuda itulah dia selamat dari kutuk pedang pusakanya sendiri.

Dan yang lebih membahagiakan, adalah sembuhnya Beng An dari pengaruh jahat Bu-siang-sin-kang. Darah pemuda itulah yang membuat puteranya sembuh. Darah pemuda inilah yang membuat Pek-kong-kiam maupun Bu-siang-sin-kang hancur. Darah suci seorang pemuda! Maka begitu Kim-hujin memandang dan nyonya itu semakin terharu karena Siang Le tak berani menatapnya terang-terangan, sikap serta sopan santun yang tinggi ini maka nyonya ini tak terasa lagi terisak dan menangis menyambar pemuda itu.

“Siang Le, aku berhutang budi kepadamu. Ah, benar kata Sian-su bahwa kelak aku akan berhutang budi kepadamu!”

Siang Le menjadi terkejut lagi. Gak-bonya itu tiba-tiba menubruk dan merangkulnya, mengguguk dan tahu-tahu menangis di pundaknya. Dan ketika ia terkejut sementara Pendekar Rambut Emas maupun putera-puterinya juga terkejut, heran, maka wanita ini sudah tersedu-sedu dan mencengkeram atau meremas-remas bahu pemuda ini. Siang Le gugup dan jengah.

Ia kebingungan karena berkali-kali gak-bonya itu lalu berkata terima kasih kepadanya, tersendat-sendat meminta maaf dan kelakuannya sungguh berobah dengan dahulu. Ibu mertua yang dulu masih menyimpan benci dan rasa tak suka ini mendadak sekarang bersikap begitu lembut. Tangis dan kata-katanya penuh penyesalan. Dan ketika sebuah kecupan sayang mendarat di kening pemuda ini, Siang Le tersentak, maka Kim-hujin atau gak-bonya itu melepaskan diri.

“Siang Le, katakan kepada semua orang bagaimana sikap atau pandang mataku kini. Dan katakan kepada semua orang bagaimana sikap dan pandang mataku dulu. Aku sudah mulai menangkap apa yang dimaksud Sian-su!”

“Ah, kau... kau selalu baik, gak-bo. Dulu dan kini tetap sama!”

“Begitukah? Kalau begitu coba mainkan Lui-ciang-hoat atau Khi-bal-sin-kang. Bangkit dan berdirilah dan lakukan ilmu silat itu sampai selesai!”

“Aku.. aku tak dapat. Aku lupa!”

“Lupa atau sengaja tak mau berlatih? Hayo, tunjukkan kepada semua orang ilmu silat itu, Siang Le. Atau katakan sebab-sebabnya kenapa kau tak mau berlatih!”

Pemuda ini terkejut. Ia tiba-tiba menjadi pucat karena gak-bonya yang dulu tiba-tiba hidup, keras dan penuh wibawa dan tiba-tiba lenyaplah sinar mata lembut itu. Gak-bonya mendadak menjadi seperti seekor harimau galak yang siap menerkam. Ia diminta memainkan ilmu-ilmu silat itu, padahal sudah lama ia tak berlatih dan memang tak mau berlatih, enggan karena dulu dengan warisan ilmu-ilmu itu ia diminta mencari dan membunuh gurunya. Atau nanti dianggap tak “loyal” dan itulah sebabnya ia lalu tak mau melatih lagi ilmu-ilmu silat keluarga Pendekar Rambut Emas.

Daripada dengan ilmu-ilmu itu ia diharuskan mencari dan membunuh gurunya lebih baik ia meletakkan dan membuang saja ilmu-ilmu itu.Dan ketika ia kemudian tak berlatih dan akhirnya benar-benar warisan ayah mertuanya itu tak dipelajari, ia tetap seperti Siang Le yang dulu maka sekarang pemuda ini terkejut ketika tiba-tiba saja gak-bonya itu menyuruh dia bersilat atau memberitahukan kenapa ia tak mempelajari lagi ilmu-ilmu silat keluarga Pendekar Rambut Emas!

“Ayo... ayo, Siang Le. Lakukan jurus-jurus Khi-bal-sin-kang atau katakan kenapa kau tak mau lagi mempelajari ilmu-ilmu silat gak-hu mu'“

Pendekar Rambut Emas terbelalak. Ia tiba-tiba menjadi heran dan kaget kenapa urusan ini diangkat ke permukaan. Sebenarnya, ia juga heran dan aneh kenapa menantunya itu “mutung”, seolah tak bersemangat dan tak bergairah lagi mempelajari Khi-bal-sin-kang dan lain-lain, padahal itulah warisan Bu-beng Sian-su dan banyak orang tergila-gila! Dan ketika ia terkejut karena isterinya sudah meloncat bangun, tak sabar, maka lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba menantunya itu menangis.

“Gak-bo, apa yang hendak kau lakukan ini. Kenapa kau mengungkit-ungkit ini.”

“Hm, aku hendak memberi tahu suamiku dan yang lain-lain kenapa kau tak mau lagi berlatih ilmu-ilmu silat itu, Siang Le. Jujur saja dan katakan kepada mereka bahwa semua ini karena gara-gara aku!”

“Gak-bo....!”

“Tidak! Aku sekarang menyadari kekeliruanku, Siang Le. Dan aku berdosa besar kepadamu. Kalau saja kau mewarisi kepandaian suamiku belum tentu tanganmu buntung. Ayo, tunjukkan ilmu silat itu atau katakan penyebabnya kenapa kau tak mau lagi berlatih!”

Siang Le menangis. Tiba-tiba saja ia tertusuk dan luka mendengar kata-kata gak-bonya ini. Ia tak mau berlatih karena ia disuruh membunuh gurunya sendiri. Dan ketika pemuda itu menunduk dan menggeleng berulang-ulang, tak mau memberi tahu maka gak-bonya gemas mencengkeram.

“Siang Le, aku tak hendak menutup-nutupi kesalahanku lagi. Aku tak mau dikejar malu seumur hidup. Ayo katakan kepada mereka kenapa kau tak mau mewarisi kepandaian suamiku!”

“Aku... aku berotak bebal, gak-bo. Aku tak mampu menyerap ilmu-ilmu gak-hu karena daya tangkapku yang rendah...”

“Bohong! Kau mau melindungi gak-bomu ini? Kau tidak mau bicara jujur saja bahwa kau tak mau lagi melatih ilmu-ilmu itu karena dengan ilmu-ilmu itu kau akan kupaksa untuk mencari dan membunuh gurumu? Heh, tak usah menutup-nutupi kebusukan gak-bo mu ini, Siang Le. Katakan terus terang bahwa kau tak mau lagi melatih ilmu-ilmu itu karena kau bersetia dan masih menjunjung tinggi gurumu, biarpun jahat. Kau pemuda tahu budi dan berwatak luhur. Kau berjiwa mulia dan karena itu lebih baik meletakkan warisan suamiku daripada nanti disuruh membunuh gurumu akibat kedengkian dan kebencian hatiku. Nah, katakan kepada mereka bahwa untuk sebab-sebab inilah kau tak mau lagi berlatih Khi-bal-sin-kang dan lain-lainnya itu!”

“Gak-bo...!”

Swat Lian terkekeh-kekeh. Wanita ini gemas dan terharu karena didesak seperti itupun pemuda ini tak juga mau mengaku. Siang Le hendak melindungi dirinya. Siang Le hendak melindungi mukanya! Dan ketika semuanya itu membuat nyonya ini terpukul dan tertusuk-tusuk, murid See-ong yang jahat ini benar-benar suci dan bersih, sebersih ikan di laut yang tak tercemar garam atau dosa-dosa duniawi maka Swat Lian tiba-tiba bercucuran air mata dan ganjil serta luar biasa sekali melihat seseorang terkekeh-kekeh padahal menangis!

“Siang Le, katakan bahwa semua kata-kataku bohong. Katakan bahwa ini tidak benar. Hayo, mana kejujuranmu dan sangkallah kata-kataku ini!”

Pemuda buntung itu pucat pasi. Ia terhenyak dan kaget serta heran akan sikap gak-bonya ini. Di depan orang lain tak malu-malu lagi menelanjangi diri. Ah, ia terharu! Dan ketika pemuda itu berlutut dan menangis memeluk kaki gak-bonya, Swat Lian atau Kim-hujin ini juga masih bercucuran air mata dengan tawanya yang aneh maka Siang Le tak dapat bicara apa-apa kecuali mengguguk. “Aku... aku tak berani bicara apa-apa, gak-bo. Semuanya terserah kau...”

“Heh, tidak boleh begitu. Katakan kepada semua orang di sini apakah tadi kata-kataku tidak betul, Siang Le. Jawab dengan jujur apakah semuanya itu bohong!”

“Tidak... tidak, tapi.. ah, aku tak mau membuat malu dirimu!”

“Nah!” Kim-hujin atau Swat Lian ini membalik, menghadapi suaminya dan yang lain-lain di situ. “Dengar dan lihat kata-kata menantu kita ini, suamiku. Siang Le tak pernah memberi tahu atau menceritakan penderitaannya kepada orang lain. Sudah seperti inipun ia masih juga ingin melindungi aku. Aduh, aku berdosa besar kepadamu, Siang Le. Aku menyesal dan kecewa berat akan tindak-tandukku sendiri. Sian-su benar, menantu kita ini mutiara yang memukau sukma. Dan aku ingin menebus dosa dan semua kesalahanku dengan menyayang dan mencintainya seperti anak kandungku sendiri!” dan Swat Lian yang menubruk serta memeluk pemuda itu dengan sedu-sedannya yang mengguncang tubuh lalu membuat bengong dan kaget serta terbelalak semua orang.

Soat Eng dan ayahnya mendecak dengan kagum, begitu pula Shintala dan lain-lain. Tapi mengetahui dan justeru melihat sepak terjang isterinya, yang tidak bersahabat dan memusuhi Siang Le tiba-tiba Pendekar Rambut Emas bangkit berdiri dan mengerutkan kening dengan muka kemerah-merahan, malu dan juga penasaran!

“Niocu, kau telah memusuhi dan membuat menantu kita sendiri sampai menderita seperti ini? Kau yang menyebabkan hingga Siang Le tak mau lagi melatih ilmu-ilmu yang kuberikan kepadanya? Pantas! Tapi kenapa kau lakukan itu, niocu. Bukankah dulu kau sudah menerima dan berjanji bersikap baik kepada pemuda ini. Bukankah kau sudah mau menerimanya sebagai suami Soat Eng. Kenapa kau masih juga memusuhinya!”

“Ha-ha, ini karena sepotong pedang itu!” Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa, bergelak. “Dan pedang inilah yang menusuk bumi hingga luka berdarah, Kim-mou-eng. Tak usah kaget atau penasaran akan sikap isterimu. Sebagian besar manusia memang begitu. Dendam isterimu kepada mendiang See-ong amatlah besar. Dan karena dendam isterimu dibawa-bawa pula kepada pemuda ini maka isterimu tak perduli lagi iblis berulah!”

“Maksud Sian-su?”

“Dendam meracuni isterimu, Kim-mou-eng, dan dendam itu telah tertanam demikian dalam hingga susah dicabut kembali. Dalam marah dan dendamnya isterimu masih ingin membawa-bawa pemuda ini. Tapi ketika guntur dan petir sambar-menyambar, maut dan ketakutan menghampirinya maka sekarang isterimu sadar dan itulah sebagian besar watak manusia, ha-ha...!”

Kim-mou-eng tertegun, Dia coba menangkap dan mengartikan guntur dan petir yang sambar-menyambar itu, tak dapat dan akhirnya dia mengeluh memegangi kepalanya. Dan ketika ia terduduk dan jatuh kembali, perbuatan isterinya itu sungguh tak diduga maka ia menyerah. “Sian-su, aku pening. Aku tak dapat mengurai kata-katamu. Aku masih terkejut oleh tindak-tanduk isteriku ini!”

“Ha-ha, tak ada yang sulit. Dendam dan kemarahan memang merupakan momok yang menakutkan, Kim-mou-eng. Tapi isterimu sudah mengakui, kita tinggal melicinkan saja jalan yang sudah dibuatnya!”

“Aku tak dapat mengikuti jalan itu....”

“Bukan tak dapat, melainkan belum dapat. Nah, mari kita bicara lagi dan duduklah kalian dan dengar kata-kataku!” lalu meminta Kim-hujin meredakan tangisnya, melepas dan mendorong Siang Le maka kakek dewa itu berkata lagi, sungguh-sungguh, serius, “Kim-mou-eng, dan kalian semua, Kim-hujin telah mengakui kesalahannya dan ini amat mengagumkan. Melihat dan menyadari sebuah kesalahan amatlah baik. Tapi mengerti dan tak akan mengulangi lagi kesalahan itu adalah yang paling baik. Siapa dapat menyangkal ini? Tentu tak ada. Dan Kim-hujin pasti akan menuruti dalil ini. Bagus, kita mulai berjalan di atas jalan yang sudah dibuat Kim-hujin...”

“Aku tak mengerti!” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Jalan apa yang sudah dibuat ibuku, Sian-su. Dan mana pula jalan itu!”

“Ha-ha, jalan itu adalah pengakuan atau rahasia yang dibuka ibumu ini, sepak terjangnya atau tindak-tanduknya kepada Siang Le. Eh, jangan buru-buru memotong kalau belum kutanya, siauw-hujin (nyonya muda). Nanti yang lain tak dapat mengikuti!”

“Maaf,” Soat Eng tersipu, merah. “Aku tak sadar, Sian-su. Tapi sekarang aku mengerti!”

“Bagus, dan mengerti itu berarti sudah ikut memasuki persoalan. Dan persoalan itu sederhana saja, bukan lain dendam atau sakit hati ibumu kepada See-ong. Dan karena suamimu adalah bekas murid See-ong maka dibawa-bawalah suamimu itu padahal dulu sudah kuberi tahu bahwa pemuda ini bukanlah See-ong meskipun ia murid See-ong. Nah, siapa, ingat wejanganku akan laut dan ikannya!”

Pendekar Rambut Emas tersenyum, mengangguk. “Aku, Sian-su. Aku masih ingat akan itu.”

“Hm, katakan. Apa inti wejanganku itu!”

“Bahwa manusia harus mencontoh seperti ikan di laut. Air laut boleh asin tapi sang ikan sendiri tak terpengaruh oleh garam atau asinnya laut itu.”

“Dengan lain kata?”

“Manusia boleh dikelilingi debu-debu kejahatan tapi tak boleh dimasuki kejahatan itu!”

“Ha-ha, bagus. Dan kau ingat, hujin?”

“Ya, akupun ingat.”

“Tapi kau tak mengetrapkan apa yang kau ingat itu. Kau memusuhi dan menyusahkan menantumu sendiri!”

“Aku terlampau dendam terhadap See-ong, Sian-su. Aku terlampau benci,” sang nyonya terisak, menunduk.

“Tapi sekarang kebencianmu lenyap. Kau sudah tidak seperti dulu!”

“Aku berhutang budi kepada Siang Le. Ia telah menyelamatkan aku dan anakku.”

“Hanya itu?”

Sang nyonya tertegun.

“Bagaimana kalau misalnya See-ong masih hidup?”

Sang nyonya terkejut.

“Ha-ha, tidak hanya itu, hujin. Melainkan juga ditambah bahwa kematian See-ong sedikit banyak telah melarutkan dendammu. Manusia biasanya tak dapat melupakan dendam kalau sedikit atau banyak dendam itu belum terlampiaskan. Nah, karena kematian See-ong telah membuatmu sedikit puas, musuh yang kau benci itu tiada maka hutang budi dari menantumu ini dapat masuk dengan cepat apalagi menusuk langsung hal yang amat penting, nyawamu dan nyawa puteramu!”

Nyonya ini terisak, menunduk.

“Bagaimana?”

“Kau mungkin benar, Sian-su. Ah, aku memang banyak salah. Aku khilaf!”

“Hm, dan mengerti serta tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi adalah yang paling penting. Pedang kebencianmu telah dihancurkan namun masih ada pedang lain yang juga tak kalah berbahayanya. Kalian harus berhati-hati akan ini!”

“Pedang apa?” Pendekar Rambut Emas terkejut.

“Pedang bukan sembarang pedang, Kim-mou-eng. Lentur dan lemas tapi tajamnya dapat dibuat tak ulah-ulah!”

“Pedang apakah itu. Masa lemas dan lentur tapi tajamnya tak ulah-ulah.”

“Hm, kalian jangan tergesa bertanya dulu. Setiap orang mempunyai pedang ini. Lihat kejadian Pek-kong-kiam dan renungkan itu!”

Pendekar Rambut Emas tertegun. Dia mengerut-ngerutkan kening tapi kakek dewa itu terkekeh. Yang lain juga mengerut-ngerutkan kening tapi kakek ini tertawa. Dan ketika Soat Eng berseru bahwa pedang itu mungkin sejenis pedang pusaka, seperti Pek-kong-kiam atau lain-lainnya maka kakek ini terbahak.

“Ha-ha, kalau itu yang kau maksud maka tak semua orang memilikinya, siauw hujin. Kau salah. Pedang ini dimiliki setiap orang dan kau maupun siapa saja di sini mempunyainya. Hayo, tebak pedang apakah itu!”

“Sebaiknya Sian-su memberi petunjuk. Arahkan kami untuk menebak teka-teki ini.

“Eh, aku sudah mengarahkan kalian, Kim-mou-eng. Dengar apa kataku tentang Pek-kong-kiam. Renungkan itu!”

Kim-mou-eng merenung. Dia bingung dan belum dapat menangkap apa yang dimaksud kakek ini. Bu-beng Sian-su terlalu rahasia, masih dianggapnya berbelit. Tapi ketika ia mengingat-ingat dan coba mengerti, persoalan itu berat mendadak puterinya bertanya apakah nanti ada hubungannya dengan syair itu.

“Tentu saja,” kakek ini menjawab. “Nanti kita ke situ lagi, siauw-hujin. Dan jawablah apa kira-kira pedang lain yang berbahaya itu.”

“Aku sukar menebak...”

“Harus dilatih. Otak yang banyak bekerja akan menjadi tajam, siauw-hujin. Dan jangan mudah putus asa untuk menemukan ini!” kakek itu tertawa.

“Hm, baik..!” dan Soat Eng yang kembali mengerutkan kening dan berpikir keras lalu menoleh kepada kakaknya, yang tersenyum-senyum.

“Kau sudah menemukannya?” bisiknya.

“Belum.”

“Kalau begitu kenapa tersenyum-senyum?”

“Eh, apakah tidak boleh? Aku geli melihat kalian berpikir keras, Eng-moi. Padahal nanti tentu begitu sederhana dan gampang. Biar kalian dan lain-lain menebak, aku mendengarkan saja!”

“Konyoi!” dan ketika Thai Liong tertawa adiknya mendesis, mau mencubit tapi dia mengelak maka Shintala juga gemas melihat sikap kekasihnya ini.

“Kau tak usah mempermainkan kami. Tentu kau sudah tahu!”

“Ha-ha, sudah tahupun belum tentu benar, Shintala. Teka-teki ini gampang-gampang sukar. Sst, Sian-su memandang kita!” dan ketika pemuda itu mengangkat tangannya karena gadis itupun mencubit, semua menyerang maka Shintala melengos.

Dan Pendekar Rambut Emas tersenyum melihat anak-anaknya ini. Ia sudah tahu hubungan puteranya dengan cucu Drestrawala itu dan tentu saja Shintala memang calon menantunya. Mendapatkan gadis seperti ini adalah menggembirakan. Ia akan menjadi kakek dari calon cucunya lagi. Tapi ketika ia memberi isyarat agar anak-anak muda itu tak ribut, Soat Eng melotot dan memandang yang lain maka tiba-tiba ia bertemu dengan suaminya, Siang Le.

“Kau tak tahu?”

“Kupikir tidak. Tapi, hmm... barangkali saja itu!”

“Itu apa?”

“Sumpah gak-bo!”

“Sumpah ibu?”

“Ya, barangkali. Tapi, eh... nanti dulu. Aku bingung. Biarkan orang-orang tua menjawab dulu!” dan ketika suami isteri muda ini saling berbisik-bisik, Kim-mou-eng dan isterinya berpikir keras maka kakek dewa itu berseru lagi, tangan kanannya diangkat ke atas.

“Sudah terjawab?”

“Belum!”

“Ha-ha, satu di antara kalian hampir menyentuhnya, Pendekar Rambut Emas. Tanyakan menantumu apa jawabannya tadi!”

Siang Le tiba-tiba menjadi perhatian. Ia tadi saling berbisik dengan Soat Eng dan lain-lain mendengar. Tapi karena masing-masing berpikir sendiri-sendiri dan kurang memperhatikan, kini tiba-tiba pemuda itu dikatakan hampir menyerempet jawaban maka kontan saja semua menoleh.

“Kau menjawab apa?” Pendekar Rambut Emas bertanya.

“Aku, eh... aku menjawab sembarangan, gak-hu. Belum tentu benar!”

“Dia menjawab sumpah ibu!” Soat Eng berseru, nyaring. “Tadi Le-ko bicara tentang sumpah ibu, ayah. Tapi bagaimana dikata jawabannya hampir mengena!”

“Sumpah? Hmm..!” sang pendekar menepuk paha. “Barangkali itu, Eng-ji. Benar juga. Sumpah ibumu telah menjadi senjata makan tuan. Cocok, barangkali ini!” dan ketika Pendekar Rambut Emas membalik dan menghadapi lawan bicaranya maka dia berseru, “Sian-su, barangkali ini jawabannya. Benar, sumpah dapat merupakan pedang yang amat tajam kalau tak hati-hati dipakai. Ini jawaban kami!”

“Ha-ha, jawabanmu atau jawaban menantumu?”

“Sama saja, Sian-su. Jawaban kami semua!”

“Benar,” Soat Eng mendukung, berseru dengan wajah berseri. “Jawaban suamiku sama dengan jawaban kami semua, Sian-su. Kami bingung dan tak menemukan jawaban lain!”

“Ha-ha, kalau begitu kenapa suamimu menjawab seperti itu. Coba dijawab!”

“Aku sekedar mengikuti petunjuk Sian-su,” Siang Le agak tersipu. “Tadi Sian-su menyebut-nyebut tentang Pek-kong-kiam dan tiba-tiba aku teringat sumpah gak-bo ketika pedang itu menuntut dan hendak membunuh gak-bo. Tentu karena sumpah inilah maka gak-bo termakan balik. Dan aku mengira-ngira begitu, sama seperti gak-hu.”

“Ha-ha, tak ada yang lain lagi?”

Semua terbelalak.

“Kau!” Si Rajawali Merah tiba-tiba dituding. “Kau agaknya dapat menjawab lebih baik, Thai Liong. Coba sempurnakan jawaban Siang Le dan katakan di sini!”

Thai Liong terkejut. Ia tadinya berpikir sejenak dan dialog ini memancing datangnya percikan menyambar. Sama seperti ayahnya yang juga mengenal gerak-gerik kakek dewa itu maka Thai Liong pun mencari dan coba menemukan jawaban. Sebagai pemuda yang berotak encer tiba-tiba saja ia menemukan jawaban itu, teringat sebuah wejangan Sian-su agar dia hati-hati akan satu hal, menjaga kata-kata atau bicaranya agar tidak mengundang hasil buruk di kemudian hari. Dan karena Sian-su sudah menyatakan bahwa jawaban Siang Le hampir benar, hanya ia diminta untuk menyempurnakan jawaban itu tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri dan Beng An yang ada di dekatnya tiba-tiba ditotok atau ditusuk lehernya sampai menjerit.

“Maaf, barangkali ini, Sian-su. Kalau tidak salah maka inilah pedang yang kau maksud... tuk!” dan sang adik yang berteriak dan terlonjak bangun tiba-tiba kaku tubuhnya dengan lidah terjulur keluar!

“Heii...!” Swat Lian membentak, terkejut. “Apa yang kau lakukan, Thai Liong. Kenapa kau membuat adikmu seperti itu!”

“Maaf,” pemuda ini tertawa, Beng An mendelik dan ah-uh-ah-uh tak dapat menarik lidahnya, kaku seperti patung anak-anak. “Aku memperagakan jawabanku, ibu. Dan agaknya Sian-su setuju dengan cara seperti ini. Itulah jawabannya, itulah pedang yang dimaksud Sian-su!”

“Pedang? Mana?”

“Ha-ha!” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba tertawa bergelak, melompat bangun. “Benar juga, Thai Liong. Ah, pedang itu sudah kulihat. Benar, itulah pedangnya!”

Swat Lian dan puterinya terbelalak lebar. Suami dan putera mereka itu menunjuk-nunjuk Beng An dan yang ditunjuk melotot marah. Beng An merasa dipermainkan dan mendelik memandang kakak laki-lakinya itu. Tapi ketika ia melihat ayahnya terbahak-bahak dan girang memandang dirinya, yang kaku dengan lidah terjulur maka Swat Lian maupun Soat Eng terheran-heran dan menganggap dua laki-laki itu tidak waras. Gila!

“Eh, mana pedangnya. Mana pedang yang kalian katakan itu!”

“Ha-ha, itu. Di mulut Beng An. Lihat ia membawa pedang dan alangkah tepatnya kiasan Sian-su. Aihh, sekarang aku mengerti, Sian-su. Sekarang aku menemukan jawabannya dan tahulah aku. Ha-ha, pedang itu sudah kulihat!”

Pendekar Rambut Emas atau Kim-mou-eng terbahak-bahak. Ia menuding-nuding putera bungsunya namun Soat Eng maupun sang ibu tertegun. Mereka tak melihat pedang di mulut Beng An. Yang mereka lihat adalah lidah anak itu. Tapi ketika Siang Le menepuk dahi dan Shintala juga meloncat bangun, terbeliak dan berseru keras maka gadis itu berseru,

“Benar, aku juga melihat pedang itu. Aih, pedang itu di mulut Beng An!”

“Dan aku juga. Ooh, kau mengingatkan kami, Sian-su. Kau benar. Terima kasih!”

Siang Le dan Shintala tertawa-tawa girang. Soat Eng dan ibunya kian terbelalak lebar namun Kim-hujin ini mendadak menegang tubuhnya. Ada sesuatu yang dia lihat dan tiba-tiba nyonya ini merasa seram! Dan ketika ia mundur dan berseru tertahan, terbelalak memandang Beng An maka iapun tiba-tiba tersedu dan menutupi mukanya.

“Aduh, aku juga telah melihat, Sian-su. Benar, pedang itu di mulut Beng An!”

“Pedang?” Soat Eng masih bengong. “Mana pedang itu, ibu? Kalian melihat apa?”

“Duh, aku telah melihat pedang itu, Eng-ji, dan aku sadar. Ooh, pedang itu adalah lidah Beng An. Itulah pedangnya!”

Soat Eng tertegun. Ibunya sudah tersedu dan berlari menubruk Sian-su, mengguguk dan menangis di situ dan tiba-tiba nyonya ini seolah sudah menangkap segalanya. Soat Eng bengong dan bingung tapi Shintala tiba-tiba berbisik bahwa lidah adiknya itulah yang dimaksud Sian-su sebagai pedang. Lidah yang dapat dipergunakan manusia untuk menyerang dan menusuk orang lain dengan tajam dan tak kalah jahatnya. Dan ketika Soat Eng sadar dan berseru tertahan, kebingungannya tiba-tiba lenyap maka tersentaklah dia melihat ini.

Beng An sendiri sudah dibebaskan totokannya dan Thai Liong tersenyum meminta maaf. Anak itu terpaksa dijadikan alat peraga untuk membuka mata yang lain-lain, menjawab atau memecahkan teka-teki Sian-su tentang pedang yang aneh itu. Dan ketika di sana Swat Lian atau Kim-hujin ini mengguguk memeluk Sian-su, meratap di bawah kakinya maka kakek ini tersenyum berseri-seri dan tampak puas, meletakkan tangan di pundak nyonya itu.

“Bagus, kau sudah melihatnya dengan baik, hujin, dan aku girang. Agaknya tak perlu kujelaskan lagi yang lain-lain karena kau tentu mengerti!”

“Tidak... tidak, Sian-su. Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri tentang semuanya ini. Biarlah aku dan anak-anakku mendengar. Aku masih belum puas!”

“Eh, bukankah kau sudah tahu?”

“Tak puas rasanya hati ini kalau belum mendengar dari mulutmu sendiri, Sian-su. Dan mungkin masih ada lagi yang hendak kau katakan. Aku masih butuh nasihatmu!”

“Hm, baik, kalau begitu berdirilah. Sekarang pedang yang kutanyakan sudah ketemu, aku girang bahwa kalian tak bingung lagi. Kau...!” kakek ini memandang Soat Eng. “Masihkah bingung lagi, siauw-hujin? Bukankah kau sekarang juga tahu?”

“Beb... benar,” Soat Eng gemetar, jawabannya lirih. “Aku sekarang tahu, Sian-su. Tapi betul kata ibu bahwa sebaiknya kau mengulang lagi!”

“Ha-ha, boleh. Tapi ayah atau kakakmu nanti dapat melanjutkan karena mereka juga tahu apa yang menjadi inti pelajaran ini. Hm, duduklah semua. Kita bicara lagi,” dan ketika kakek itu mengebutkan lengannya dan Kim-hujin terlempar perlahan, duduk dengan lembut maka kakek ini bersinar-sinar memandang yang lain.

“Awal kejadian ini dari dendam, sakit hati atau kemarahan ibumu. Dan karena dendam itu sudah ditanamkan seperti pedang terhunus yang menancap di bumi, dalam dan kuat maka dendam itu tak dapat dicabut begitu saja tanpa melalui kejadian atau peristiwa-peristiwa berikut. Mula-mula ibumu menumpahkan kemarahannya kepada suamimu, Siang Le. Apalagi setelah suamimu mendapat warisan ilmu-ilmu dari ayahmu. Ibumu tak senang, ibumu semakin meluap. Dan ketika ia memaksa suamimu untuk mencari dan membunuh gurunya, dengan ilmu-ilmu yang didapat dari ayahmu maka suamimu memilih untuk meletakkan saja semua pelajaran ayahmu daripada dipakai membunuh gurunya. Suamimu amat menjunjung tinggi budi dan kebaikan orang lain. Suamimu tak dapat melupakan begitu saja kebaikah dan hutang yang pernah didapat dari gurunya. Dan karena ia memilih lebih baik dibunuh daripada disuruh membunuh, ibumu marah-marah maka semua kejadian ini terus berlangsung di mana kalian semua tak ada yang tahu tentang ini. Siang Le memendam saja penderitaannya ini. Dia juga tahu kebencian atau dendam di hati ibumu. Tapi karena sejahat-jahatnya mendiang See-ong kakek itu tetap gurunya, orang yang membesarkan dan memberinya kepandaian dan makan sehari-hari maka suamimu berada di persimpangan jalan dan batinnya tertekan berat. Sepak terjang gurunya juga tak disetujuinya. Berapa kali dia menentang dan melawan gurunya sendiri hingga berkali-kali hampir dibunuh juga. Tapi karena See-ong amat sayang kepada muridnya ini dan meskipun gusar kakek itu tak mampu membunuh muridnya sendiri maka dibiarkannya Siang Le hidup dan persoalan muridnya yang ditekan ibumu ini juga tak diketahuinya. Siang Le tak mau ribut-ribut. Dan ketika penderitaan demi penderitaan diterimanya dengan tabah, suamimu ini memang pendiam dan tak banyak mulut maka ibumu marah-marah dan dibuat penasaran. Kalau saja tak takut kepada kalian atau ayahmu mungkin ibumu dapat membunuh suamimu ini. Lihat saja ketika ia datang di Sam-liong-to. Bukan menantunya yang lebih dulu ditolong melainkan puterinya. Pemuda itu dibiarkan saja entah celaka atau tidak, dan ayahmu yang lalu melepaskannya dari cengkeraman Ui Kiok. Dan ketika suamimu kembali menjadi tawanan Togur karena ibumu tak sabar menunggu di pantai, asal kau selamat maka kebencian atau rasa tidak suka ibumu ini menonjol sekali. Keselamatan Siang Le sungguh tak dihiraukannya. Tanyalah ayah atau kakakmu ini ketika ibumu sama sekali tak perduli kepada suamimu ketika Togur mengancamnya untuk membunuh. Ibumu benar-benar tak acuh. Tapi ketika Pek-kong-kiam muncul dan pedang yang pernah menjadi saksi sumpah ibumu ini berada di tangan Togur, ibumu kaget dan pedang itu mengancam membunuhnya maka barulah ibumu terguncang dan rasa ngeri atau takut melandanya. Sudah menjadi sifat manusia untuk menyadari bahaya di kala bahaya itu datang. Sudah menjadi sifat manusia untuk merasa takut dan gentar menerima akibat dari perbuatannya yang salah. Dan karena ibumu juga begitu karena ia telah menarik janji atau sumpahnya kepada Pek-kong-kiam, yang kini menuntut balas maka pengorbanan atau tindakan nekat suamimu itu ketika menyelamatkannya kembali membuat jiwanya terguncang dan tergetar. Pek-kong-kiam yang hancur bertemu darah suamimu membuat kejutan dahsyat di jiwa ibumu. Tiba-tiba ibumu sadar bahwa suamimu ini adalah seorang ksatria berdarah suci. Dan ketika adikmu Beng An juga sembuh menghirup darah suamimu, yang semula terpengaruh dan kemasukan Bu-siang-sin-kang maka semuanya ini merupakan petir dan guntur yang sambar-menyambar. Itulah kiasan yang kumaksud dan ayahmu tentu mengerti apa maksudnya bait kedua itu. Peristiwa demi peristiwa yang mengguncangkan ibumu inilah yang kuartikan sebagai guntur atau petir yang sambar-menyambar. Dan karena ibumu tiba-tiba sadar oleh semuanya ini, perbuatan atau keberanian suamimu menerima Pek-kong-kiam, tak perduli atau mengingat-ingat segala kebencian ibumu kepadanya maka ibumu benar-benar terpukul dan kesembuhan Beng An semakin membuka mata hatinya lagi bahwa menantunya itu benar-benar orang baik. Ibumu menyesal dan hancurlah kesombongan atau api kebenciannya dulu. Dia sekarang benar-benar melihat bahwa suamimu bukanlah See-ong. seperti halnya See-ong bukanlah suamimu. Dan ketika ia sadar di saat maut datang menggetar, nyaris terlambat menerima akibat sumpahnya sendiri maka yang terakhir ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus hati-hati mempergunakan lidah. Inilah 'pedang' yang kumaksud lentur dan lemas. Inilah senjata yang tak kalah berbahaya dengan pedang-pedang lain. Dan karena menyadari ini berarti membuka kewaspadaan kita, di samping pengertian akan kebencian dan lain-lain itu maka sebagai manusia yang ingin meraih kebahagiaan yang lebih tinggi kita harus membuang rasa-rasa dengki atau kebencian yang bakal merugikan. Kita hanya akan menyesal saja di belakang hari, hanya memperoleh sampah-sampah busuk dari hasil perbuatan kita yang melenceng dari kebenaran. Dan karena mengerti dan sadar akan semuanya ini bakal membuat kita semakin terang dan bercahaya maka tak ada jeleknya sewaktu-waktu kalian tepekur dan mawas diri. Lidah, benda yang lemas dan lentur ini ternyata memiliki sisi lain yang gelap bagi manusia. Lihat berapa sering manusia bermusuhan dan berperang karena pedang yang satu ini. Lihat betapa kebencian dan kemarahan juga berasal dari benda yang satu ini. Dan karena iblis amat suka sekali mempergunakan organ tubuh yang satu ini, sering hinggap dan meluncur membawa keributan dan permusuhan maka kalian yang sekarang tahu dan sadar akan ini harap hati-hati mempergunakan lidah. Aku tak akan bicara banyak lagi karena semuanya sudah cukup. Kalian tentu dapat mencerna dan melihatnya lebih luas lagi. Dan karena Kim-hujin sudah sadar dan aku girang melihat ini, syukur dan selamat kuucapkan maka biarlah lain kali kita bertemu dan mengupas kejadian lain lagi dalam kesempatan berbeda!”

Semua terkejut. Bu-beng Sian-su tiba-tiba bangkit berdiri dan mengebutkan lengan bajunya. Mereka yang tadi terhanyut dan terbawa uraian panjang lebar ini mendadak tersentak. Merekapun tiba-tiba berdiri, kaget! Tapi ketika kakek itu tertawa dan berkata bahwa uraian sudah jelas, selanjutnya Kim-mou-eng atau Rajawali Merah dapat melanjutkan maka kakek itu memandang Beng An dan berkata.

“Anak ini masih belum sembuh benar. Bagaimana kalau sebulan lagi dia kubawa dan kalian melepaskan rindu dulu. Apakah disetujui.”

“Sian-su hendak membawa puteraku? Aduh, terima kasih, Sian-su, tentu saja kami setuju. Tapi bagaimana kalau jangan sebulan lagi. Bagaimana kalau dua atau tiga bulan!” Swat Lian atau Kim-hujin ini menawar.

“Hm, boleh-boleh saja, hujin. Tapi sisa penyakitnya ditubuh itu tak boleh terlampau lama dibiarkan. Bu-siang-sin-kang sudah hancur, namun darah yang pernah dijadikan tempat ilmu hitam itu dapat sewaktu-waktu bergolak, seperti bibit penyakit yang lumpuh namun tertinggal di dalam. Kalau kau tak ingin cepat-cepat tentu saja aku tak memaksa. Hanya sebaiknya sebulan cukup. Aku ingin menggembleng puteramu untuk menghadapi sesuatu di depan. Terserah kau dan suamimu.”

“Kami tak menolak,” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkata, mendahului isterinya. “Kau memiliki kewaspadaan yang jauh melebihi kami, Sian-su. Kalau itu untuk kebaikan puteraku biarlah sebulan lagi kami akan menyerahkan Beng An!”

“Hm, bukan untuk kebaikan puteramu seorang,” kakek ini tersenyum, “melainkan untuk kebaikan dunia, Kim-mou-eng. Kebaikan orang banyak. Sudahlah, kalian dapat mengantar anak ini ke Lembah Malaikat kalau cukup. Aku pergi dan selamat tinggal!” dan begitu kakek itu berkelebat dan menggerakkan kakinya sekonyong-konyong ia sudah lenyap dan menghilang dari depan semua orang.

Kim-mou-eng yang sudah berkali-kali menyaksikan kepandaian kakek ini tetap saja merasa kagum. Ia yang sudah memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi masih juga tak sanggup mengikuti. Namun ketika ia dan yang lain-lain terbelalak melihat sesosok asap di bawah bukit, asap yang bergerak dan melayang cepat di permukaan laut selatan untuk akhirnya menghilang maka Soat Eng dan Siang Le mendengar bisikan lembut, suara yang sayup-sayup sampai namun jelas terdengar di telinga.

“Siang Le, kau masih akan merasakan cobaan lagi di depan. Isterimu akan memusuhimu. Tabahlah, jadi orang baik memang sukar, anak muda. Ada-ada saja yang akan menjatuhkanmu!”

Dan ketika pemuda itu tertegun sementara isterinya terbelalak di sebelah, tidak mendengar itu maka Soat Eng mendengar kata-kata kakek ini, yang juga tak didengar suaminya.

“Siauw-hujin, hidup ibarat gelombang samudera, naik turun berganti-ganti. Sayangilah suamimu dan jagalah agar ia tak menderita!”

Dua orang muda itu sama-sama mengangguk. Soat Eng maupun Siang Le tentu saja menerima bisikan itu dengan perasaan yang berbeda-beda. Soat Eng bersinar-sinar dan penuh cinta kasih memandang suaminya sementara Siang Le dengan alis dan kening berkerut-kerut. Apalagi ini. Cobaan apalagi itu! Tapi ketika pemuda ini tersenyum dan memandang isterinya, sinar mata isterinya menarik dan mendorong dia untuk menoleh maka pemuda itu menarik napas panjang dan menerima pesan kakek dewa itu dengan tabah, tenang! Ia balas memandang isterinya dengan penuh cinta kasih. Sukar dipercaya bahwa isterinya kelak akan memusuhinya. Dan ketika isterinya bergerak dan mencekal lengannya, penuh kerinduan maka isterinya itu berkata, perlahan.

“Le-ko, sudah waktunya kita beristirahat. Badai telah berlalu. Dan Sian-su menyuruhku untuk menyayang dan menjagamu agar tidak menderita. Ih, lucu kakek itu. Masa aku harus membuat suamiku sendiri menderita!”

“Kau mendapat pesan?”

“Ya, apakah kau tidak dengar.”

“Hm, aku tak tahu. Tapi kakek itu memang luar biasa, dan aku menjadi malu!”

“Malu? Apa yang membuatmu malu?”

“Kata-katanya itu, Eng-moi, pujiannya. Aku jadi berat dan malu menerima ini. Aku manusia biasa, jangan-jangan nanti melambung dan justeru terjebak kesombongan!”

“Tidak, kau memang begitu, Le-ko. Kau pemuda luar biasa dan baik. Dan aku kagum. Apa yang dikata Sian-su memang tepat dan semua orang tentu mengakui!”

“Hm, jangan meniup kepalaku lagi. Nanti seperti balon. Sudahlah, aku jengah dan kikuk menerima pujian-pujian, Eng-moi. Sebaiknya kita persilahkan ayah dan ibu memasuki rumah. Kita di luar istana!”

Soat Eng teringat. Ia tertawa dan mengecup pipi suaminya ini tak malu-malu di depan orang lain, tanda kebahagiaan atau kebanggaan hatinya. Bu-beng Sian-su sendiri telah memuji suaminya, hal yang jarang terjadi! Dan ketika ia mempersilahkan ayah ibunya untuk turun bukit, mereka masih bengong di atas maka Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar lengan isterinya. Swat Lian sendiri menyambar Siang Le dan Siang Le menyambar Soat Eng. Empat orang itu berendeng dan tiba-tiba Thai Liong berkelebat menyambar Beng An, tertawa.

Dan ketika di sana Shintala juga bergerak dan menyambar bibinya, Cao Cun yang bengong dan mendengarkan percakapan itu maka keluarga Pendekar Rambut Emas ini meluncur di bawah bukit menuju Istana Hantu. Istana itu adalah tempat tinggal Siang Le suami isteri dan di sinilah semuanya bermalam. Swat Lian atau Kim-hujin tak henti-hentinya memegang Siang Le, memperhatikan atau mengobati pemuda buntung itu dengan amat manisnya.

Dan ketika Pendekar Rambut Emas menetapkan untuk tinggal seminggu, berkumpul dan melepas kerinduan dengan keluarga maka malam demi malam dilalui pendekar ini dengan renungan. Wejangan atau nasihat Sian-su mengena di hatinya. Kata-kata kakek dewa itu selalu terngiang kembali. Dan ketika ia menggeleng dua tiga kali melihat sikap isterinya terhadap Siang Le, perhatian dan kasih sayangnya yang luar biasa maka pendekar ini menarik napas dalam-dalam.

Sungguh tak diduganya bahwa sejauh itu isterinya memusuhi Siang Le. Sikap memusuhi yang diakibatkan dendamnya terhadap See-ong. Dan teringat betapa isterinya hampir celaka oleh pedang Pek-kong-kiam, pedang pembawa sumpah maka Pendekar Rambut Emas diam-diam bergidik. Bukan oleh sumpah itu melainkan oleh “pedang” yang dipakai isterinya, lidah yang amat berbahaya itu. Ah, dengan lidah memang manusia dapat menimbulkan apa saja. Permusuhan, dengki, iri dan sebagainya yang semua itu bersumber dari “pedang” ini. Dan karena lidah dapat dipergunakan untuk menusuk dan “membacok” orang lain, dapat menimbulkan atau menciptakan hal-hal mengerikan maka pendekar ini mengusap dada.

Bukan main. Manusia ternyata memiliki sebuah senjata ampuh untuk menghantam dan melukai manusia lainnya. Dengan senjata yang lemas dan lentur ini manusia dapat menciptakan keributan dan kekerasan. Dan ngeri oleh hasil “pedang” yang tajam ini, yang bisa berupa kutuk atau fitnah maka Pendekar Rambut Emas memejamkan mata dan menekan dalam-dalam segala ingatan buruk. Ia hampir saja kehilangan isterinya. Ia hampir saja menjadi “korban” dari pedang isterinya itu. Menjadi duda! Dan teringat bahwa gara-gara sumpah atau omongan isterinya terhadap Pek-kong-kiam, yang hendak membunuh atau mengutungi orang yang dulu membebaskan See-ong (baca: Istana Hantu) maka pendekar ini serasa teriris.

Dulu isterinya itu telah bersumpah untuk membunuh atau mengutungi orang yang melepaskan See-ong, kakek iblis yang dulu dia kurung dan hukum di Sam-liong-to. Tapi karena ternyata yang membebaskan See-ong adalah puteranya, Thai Liong, yang melakukan itu untuk melancarkan jalan bagi perjodohan adiknya maka isterinya terpukul dan pingsan. Tentu saja tak mungkin membunuh Thai Liong karena Thai Liong anak tirinya. Apalagi karena perbuatan itu dilakukan untuk membahagiakan adiknya, anak yang dilahirkan isterinya sendiri.

Dan ketika isterinya terpaksa membuang sumpah dan Pek-kong-kiam ke laut, tak menyangka urusan berlanjut maka isterinya harus menerima pembalasan dendam atau tuntutan Pek-kong-kiam. Nyaris terbunuh kalau saja tidak diselamatkan Siang Le, pemuda yang justeru selalu dimusuhi dan dibenci isterinya, hanya karena bayangan See-ong. Dan ketika isterinya bersyukur telah selamat dari bahaya maut, darah Siang Le “mencuci” dosa-dosa isterinya maka sekali lagi Pendekar Rambut Emas menarik napas dalam-dalam. Inilah karena lidah!

Kalau dulu isterinya tidak mengeluarkan sumpah atau kutuk, atau apa saja yang berasal dari “pedang” ini dan amat berbahaya tak mungkin bakal ada kejadian itu. Tapi karena gara-gara lidah dan Pek-kong-kim menuntut, isterinya terguncang maka maut hampir saja merenggut dan pendekar itu menghela napas lagi. Bukan hanya isterinya saja yang berbuat salah semacam itu. Ada banyak manusia-manusia lain yang pada intinya sama. Lihat saja pertengkaran-pertengkaran atau permusuhan di sana-sini. Lihat saja pembunuhan dan perang yang muncul di sana-sini. Bukankah karena lidah juga? Dan pahit mebayangkan ini maka Pendekar Rambut Emas mengangguk-angguk.

Benar kata Sian-su. Salah satu “tubuh” manusia yang amat lemah dan rawan dipakai iblis adalah ini: Lidah. Salah satu tempat atau sumber permusuhan-permusuhan adalah juga ini: Lidah! Ah, dapatkah manusia menekan atau mengendalikan lidahnya untuk mengurangi permusuhan atau kedengkian di sana-sini? 

Dapatkah manusia lebih waspada dan sadar akan senjatanya yang lemas dan lentur namun amat berbahaya ini? Semuanya terpulang kepada masing-masing pihak. Kalau orang itu sering mawas diri dan melakukan perobahan-perobahan ke arah yang baik tentu dapat. Tapi kalau manusia tak mampu dan membiarkan diri tenggelam dalam keburukannya maka itulah yang terjadi. Permusuhan dan pembunuhan!

Pendekar Rambut Emas tergetar. Melihat dan menyaksikan ini ia merasa seram. Lidah benar-benar dapat menjadi alat berbahaya kalau tak hati-hati mempergunakan. Buktinya sumpah isterinya itu, karena tak hati-hati mempergunakan lidah dan omongannya maka ia nyaris terbunuh. Manusia memang harus waspada akan benda lemas dan lentur yang dimilikinya ini. Sekali terjerumus maka malapetakalah yang didapat. Duh, Thian Yang Agung. Ampunilah kami!

Pendekar ini memejamkan mata. Sekarang ia mengerti bait demi bait dari syair kakek dewa itu. Bait pertama. berisikan “sepotong lidah”, yang sekali menusuk memang dapat membuat bumi luka berdarah. Dan bait kedua, hmm... apalagi kalau bukan peristiwa demi peristiwa yang mengguncangkan isterinya? Guntur dan petir memang telah sambar-menyambar, dan itu adalah kejadian demi kejadian yang memukul isterinya. Kalau tak ada guntur atau petir ini barangkali isterinya tak akan sadar. Kalau belum di ambang maut barangkali manusia-manusia lain juga tak akan sadar. Dan pahit membayangkan bahwa manusia rupanya harus digebuk atau dihajar dulu untuk merasakan sakit maka pendekar ini geleng-geleng kepala.

Gejala apakah ini? Apakah manusia termasuk mahluk yang bandel dan bodoh? Apakah manusia tak punya kecerdasan batin untuk melihat dan mengerti semuanya itu? Kalau benar maka jawabannya adalah pantas. Pantas bahwa manusia itu memang goblok! Tapi kalau tidak kenapa banyak orang tak hati-hati mempergunakan lidahnya? Apakah kurang “informasi”?

Barangkali ini. Baik. Dia akan meneruskan dan memberitahukan orang lain akan wejangan kakek dewa ini. Keluarganya sudah diberi tahu dan dia akan bergerak lebih luas, bukan ke mana-mana melainkan ke suku bangsanya dulu, baru setelah itu sahabat-sahabatnya dan orang lain. Dia akan berteriak kepada dunia bahwa mahluk yang bernama manusia ini akan diberi “penyuluhan”. Dan begitu Pendekar Rambut Emas berseri dan bangkit berdiri maka terdengarlah pekikannya yang menggelegar mengguncang Sam-liong-to.

“Hoaiyoooo....!”

Anak isterinya terkejut. Pulau berderak dan tentu saja bayangan-bayangan berkelebatan. Swat Lian dan Soat Eng serta yang lain-lain mengira ada bahaya baru. Tapi ketika mereka tertegun melihat pendekar itu berdiri gagah di atas sebuah batu karang, berseri-seri, wajahnya kemerahan sementara rambutnya berkibar-kibar di belakang bahu, rambut yang keemasan dan hidup tertimpa sinar matahari pagi maka sang nyonya terbelalak melihat sikap suaminya itu. Mata yang juga mencorong seperti mata seekor naga yang sedang gembira!

“Heii, ada apa, suamiku? Kenapa kau berteriak mengguncangkan pulau? Bikin kaget saja, kami terkejut!”

“Ha-ha, aku teringat wejangan Sian-su. Aku ingin meneruskan wejangannya dan berseru kepada dunia bahwa manusia harus hati-hati mempergunakan lidahnya!”

“Kau gila? Dengan apa kau hendak memberitahukan mereka?”

“Dengan mulutku, isteriku. Dengan tingkah laku dan tindak-tandukku. Aku akan memberitahukan anak cucuku atau murid-muridku!”

“Gila, kau tak akan berhasil. Umurmu tak sepanjang dunia. Daripada begitu lebih baik begini... wut-wut!” dan sang nyonya yang sudah bergerak dan melayang ke batu karang yang, lain tiba-tiba mengguratkan kuku-kuku jarinya dan terbelalaklah Pendekar Rambut Emas melihat apa yang dilakukan isterinya, meloncat dan berkelebat lagi ke batu karang di sebelah dan tiba-tiba Kim-hujin atau nyonya ini sudah menulis sebuah pesan pada batu-batu karang yang lain, beterbangan dan sekejap kemudian sudah sepuluh batu karang penuh guratan huruf-huruf dalam. Sebuah pesan pendek terukir di situ: JAGALAH LIDAHMU

Dan ketika Kim-hujin atau nyonya Kim ini meneruskan perbuatannya menggurat, batu-batu Sam-liong-to maka Pendekar Rambut Emas tertawa bergelak dan mengikuti gerakan isterinya.

“Ha-ha, kau betul, niocu. Dengan tulisan ini maka pesan kita akan tertinggal seumur hidup. Kau betul. Usiaku tak seumur dunia. Ah, biar kutinggalkan pesan ini dan hayo berlomba siapa paling banyak!”

Dua orang ini berkejar-kejaran. Pendekar Rambut Emas dan isterinya berebut menulis lebih banyak. Batu-batu lebih kecilpun akhirnya menjadi sasaran, yang besar-besar sudah habis. Dan ketika ratusan batu sudah penuh guratan di mana masing-masing tak mau berhenti, Soat Eng dan lain-lain tersenyum maka seperti kena magnit tiba-tiba merekapun bangkit kegembiraannya dan berkelebatan pula.

“Hi-hik, bagus, ibu. Mari kubantu. Kalahkan ayah!”

“Tidak, aku akan membantu ayah, Eng-moi. Kalian tak boleh mengeroyok!”

“Eh, laki-laki dikeroyok sudah lumrah. Hayo, aku membantu enci Eng dan siapa yang menang!”

Thai Liong terkejut. Dia tadi berkelebat membantu ayahnya karena adiknya membantu ibu. Tapi begitu Shintala berseru dan membantu adiknya, yang berarti juga ibunya maka pemuda ini tertawa dan Pendekar Rambut Emas pun terbahak-bahak. Mereka beterbangan dari satu batu ke batu yang lain dan kebahagiaan atau kegembiraan sungguh terpancar di situ. Keluarga Pendekar Rambut Emas ini merasakan perasaan yang meluap-luap. Dan ketika semuanya berlornba menggurat batu, seorang wanita lain memandang itu dari gerbang Istana Hantu, maka perlahan-lahan wanita ini menitikkan air mata dan terharu.

Dia bukan lain adalah Cao Cun dan wanita itu mengangguk-angguk melihat sikap yang sedang bergembira itu. Wejangan Bu-beng Sian-su ternyata diabadikan di Sam-liong-to. Tepat sekali itu. Tinggalan ini akan dilihat anak cucu, biarpun mereka kelak tiada. Dan ketika wanita itu mengangguk-angguk dan menangis sendiri, penuh haru, maka Cao Cun tiba-tiba tak tahan dan kembali memasuki Istana Hantu. Kegembiraan dan keutuhan keluarga Pendekar Rambut Emas mendadak menusuk jantungnya. Ada kepedihan di situ. Ada rasa nyeri yang hebat. Namun ketika ia mengguguk dan berlari memasuki kamar tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh menyergapnya.

“Bibi teringat keluarga bibi? Bibi teringat putera-puteri bibi?”

“Oohhh...!” wanita ini tersentak, kaget. “Kau, Siang Le? Kau ada di sini...?”

“Aku memperhatikanmu, bibi, dan aku juga melihat mereka. Aku terkejut melihat kau menangis!”

“Aku... aku tak tahan....!”

“Aku tahu. Mereka keluarga yang utuh, bibi. Sementara kau tidak. Kau kehilangan anak-anakmu, kau kehilangan suami dan siapa saja yang pernah dekat denganmu. Ah, aku terharu. Kita hampir senasib, bibi. Kau kehilangan anak-anakmu sementara aku kehilangan orang tua. Kau....” Siang Le tersendat, air mata tiba-tiba menitik. “....kau boleh anggap aku sebagai pengganti anakmu, bibi, kalau kau suka. Dan aku... aku akan menganggapmu sebagai ibuku!”

“Siang Le...!”

Cao Cun tak kuat dan menubruk. Wanita ini menjerit dan seketika meledaklah tangisnya yang keras. Ia terpukul dan terharu bukan main oleh kata-kata pemuda ini. Ia memang butuh keluarga, anak. Dan ketika ia tersedu-sedu dan Siang Lepun tak tahan menahan runtuhnya air mata, memeluk dan bergetar melihat tangis wanita itu maka pemuda inipun juga naik sedu-sedannya hingga berguncang.

“Bibi, aku akan memanggilmu ibu sekarang juga, kalau boleh. Apakah boleh aku memanggilmu seperti itu dan kuanggap sebagai ibu kandungku yang tak pernah kulihat!”

“Aduh, kenapa tidak, Siang Le? Aku tak keberatan. Aku justeru bangga. Aku bangga mempunyai anak seperti kau. Kau seperti ikan yang tak tercemar oleh asinnya air laut. Kau mutiara yang akan menerangi hatiku. Aduh, aku berterima kasih, Siang Le. Aku bersyukur. Sebut lagi kata-kata itu, nak.... panggillah aku dengan ibu!”

“Apa?”

“Panggillah aku sebagai ibumu!”

“Tidak, bukan.... bukan itu, ibu... melainkan panggillanmu yang terakhir tadi. Bagaimana kau memanggilku!”

“Kau anakku, kau kuanggap anakku. Duh, kenapa, Siang Le. Kenapa kau roboh. Siang Le.... anakku!”

Siang Le terjengkang. Ia roboh karena tiba-tiba wanita ini memeluk dan mendekapnya terlalu ketat, kebetulan dekat dengan lukanya yang buntung itu dan Siang Le mengeluh. Tapi ketika ibunya mengguncang-guncang dan berkali-kali menyebutnya sebagai anakku, panggilan “nak” itu demikian lembut dan penuh kasih sayang maka pemuda ini membuka matanya dan air matanya yang basah memenuhi muka bercampur dengan air mata ibunya itu, tak dapat lagi dibedakan.

Siang Le tercekik oleh kebahagiaan yang sangat dan ia tak mampu berkata-kata, sang ibu menciuminya penuh khawatir dan cemas. Tapi ketika ia bangkit duduk dan bersandar dinding, berkata bahwa ia tak apa-apa maka Cao Cun mengguguk menubruknya kembali.

“Duh, kusangka ada apa, nak. Kau mencemaskan ibumu!”

“Aku... aku terlampau bahagia. Tenggorokanku rasanya tercekik, ibu. Baru kali ini aku mendapat panggilan lembut seorang ibu!”

“Oohhh...!” dan keduanya yang saling peluk dan segera hanyut dalam keharuan akhirnya tak berkata apa-apa lagi karena pandang mata dan jari-jari mereka sudah berbicara lebih dari sekedar kata karena di situ sudah muncul getaran-getaran cinta kasih yang amat dahsyat. Masing-masing menunduk, dan membenamkan kepala di bahu yang lain. Cao Cun tersedu-sedu namun bukan oleh kedukaan melainkan justeru oleh kebahagiaan. Hanya mereka berdualah yang tahu betapa besar dan dalam kebahagiaan itu. Hanya merekalah yang tahu betapa nikmat dan bahagianya cinta kasih ini.

Dan ketika Siang Le menyandarkan kepalanya di pundak ibunya ini, diusap dan dielus-elus akhirnya tanpa sadar pemuda ini ternina-bobok. Siang Le merasakan hembusan angin semilir dan tiba-tiba iapun tertidur. Mimpi yang amat indah membuainya. Dan ketika dua tiga kali ibunya mengecup keningnya, keharuan dan semangat baru timbul dalam dada wanita ini maka Cao Cun pun tak terasa menyandarkan kepalanya di bahu anak laki-lakinya itu. Wanita inipun tertidur tanpa sadar. Hembusan angin laut yang menerpa Istana Hantu sungguh hebat. Udara tiba-tiba menjadi harum dan teruarlah bau semerbak dari bunga-bunga di Sam-liong-to.

Dan ketika ibu dan anak tertidur dibuai mimpi indah, Cao Cun menyungging senyum maka orang pasti terharu melihat adegan ini. Siang Le dirangkul ibunya dengan lembut. Cinta kasih dan perasaan sayang tak dapat disembunyikan wanita itu. Kebahagiaan jelas memancar di sini, kebahagiaan sejati. Dan ketika semerbak bunga semakin harum, laut beriak tenang seakan membisikkan kagum kepada dua manusia itu maka perlahan-lahan gerbang Istana Hantu menutup.

Layar telah diturunkan dan selesailah kisah ini. Adakah kebahagiaan yang tak menyentuh rasa haru? Adakah bunga-bunga kebahagiaan yang menebar di seluruh pulau? Hanya Sam-liong-to yang tahu.

Pembaca yang budiman, dengan berakhirnya kisah ini penulis juga hendak mohon diri. Tak ada apa-apa yang hendak dikatakan. Peristiwa di Sam-liong-to telah berakhir tapi tentu saja kisah ini masih terus akan berlanjut. Siang Le telah menemukan kebahagiaan barunya bersama ibunya itu, Cao Cun si wanita malang. Dan karena masing-masing sama menerima dan memberi, kebahagiaan tak pernah meninggalkan unsur keseimbangan maka biarlah kita temui lagi mereka di kisah berikut. Anda akan bertemu lagi dengan pemuda ini dan keluarga Pendekar Rambut Emas yang lain.

Anda akan menjumpai lagi peristiwa-peristiwa baru dalam kisah perjalan hidup mereka ini. Apakah tak ada lagi badai menimpa si buntung itu? Menyedihkan. Pemuda yang satu ini rupanya memang harus mengalami peristiwa demi peristiwa yang pahit. Kalau dulu ibu mertuanya memusuhinya habis-habisan.

Maka pada kisah Putri Es, anda akan melihat si buntung ini dimusuhi isterinya sendiri. Juga habis-habisan! Masalah apa itu? Ah, mari kita lihat saja. Yang jelas, kata-kata Bu-beng Sian-su memang terbukti. Dan Anda tentu saja kembali akan bertemu dengan kakek dewa ini. Penasaran? Memang penasaran!

Pembaca yang budiman, penulis kira cukuplah sampai di sini dulu. Mudah-mudahan hiburan ringan ini benar-benar dapat menghibur Anda. Dan sambil menunggu cerita baru itu tak lupa penulis titipkan salam untuk Anda semua. Salam bahagia...!

Rajawali Merah Jilid 28

RAJAWALI MERAH
JILID 28
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SEMUA kaget dan menoleh. Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu, tahu-tahu telah berada di belakang mereka, tersenyum dan mengangguk dan bergeraklah semua orang memutar tubuh. Pendekar Rambut Emas sendiri sudah membungkuk dan memberi hormat, Soat Eng dan Beng An bahkan sudah menjatuhkan diri berlutut. Inilah manusia dewa yang sakti! Dan ketika semua sudah memberi hormat dan Kim-hujin atau nyonya Kim menangis bertemu kakek ini maka nyonya itu gemetar.

“Sian-su, rupanya aku hendak menerima dosa. Ampunilah, aku sudah sadar!”

“Heh-heh...!” kakek itu tertawa, lembut “Kau perasa sekali, hujin. Sadar tentang apa dan minta ampun tentang apa pula. Kau tak bersalah kepadaku!”

“Tidak... tidak. Kedatanganmu pasti akan menegur aku, Sian-su, menyalahkan aku. Dan sekarang aku sadar. Aku memang bersalah!”

“Hm, menyadari akan sebuah kesalahan adalah langkah yang baik. Mengingat dan mengerti akan kesalahan itu adalah hal yang lebih baik lagi. Tapi menyadari dan tidak akan mengulangi kesalahan itu adalah yang paling baik! Bagus, kau terbawa emosimu, hujin. Aku senang tapi bicara dengan penuh emosi begini tentu tak akan enak. Tenangkanlah hatimu karena kedatanganku bukan untuk menegur atau menyalahkan dirimu. Aku datang untuk membawa terang, kalau itu kalian anggap terang. Tetapi karena kalian sedang sibuk mengurusi pemuda itu sebaiknya selesaikan dulu pekerjaan ini dan kita bertemu di atas bukit itu, bicara lagi. Kalian setuju?”

“Ah, kami senang dengan kedatanganmu, Sian-su. Tapi kalau kau hendak mengajak kami ke bukit itu tentu saja dengan gembira kami akan menyambut. Baiklah, kami akan menyelesaikan dulu pekerjaan kami dan setelah menantu kami sadar kami akan ke bukit itu. Terima kasih atas kunjungan Sian-su!”

Kakek itu tertawa. Ia mengangguk dan mengangkat tangannya dan tahu-tahu kakek itu lenyap lagi seperti siluman. Datang dan perginya sungguh tak dapat diikuti mata, biarpun oleh Pendekar Rambut Emas sendiri. Tapi ketika mereka melihat setitik bayangan putih sudah berada di puncak bukit itu, duduk dan bersila maka Pendekar Rambut Emas dan lain-lain kagum, untuk kesekian kalinya lagi mereka dibuat takjub oleh kesaktian kakek dewa itu.

“Luar biasa, Sian-su benar-benar seperti dewa!” Beng An, yang kagum dan memuji kakek ini tak habis-habisnya mengejapkan mata. Ia tak melihat kakek itu dan tahu-tahu si kakek sudah berada di puncak bukit, demikian cepatnya. Tapi ketika sang ibu terisak dan membalik menghadapi menantunya maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini gelisah.

“Suamiku, cepat sadarkan Siang Le. Aku hendak minta ampun dan mendengar wejangan Sian-su!”

“Hm, jangan tergesa-gesa. Sian-su memang hendak menemui kita, niocu. Tanpa kehendaknya tak mungkin kita bertemu. Tenang sajalah, Sian-su tak akan meninggalkan kita karena dia memang hendak bicara!”

“Dan aku takut. Tentu kena petuah!”

“Sian-su memang hendak memberi petunjuk, tapi tak pernah menyakitkan. Kalau kau merasa ketakutan begini tentu ada kesalahan besar yang kau lakukan. Aneh sekali.”

“Sudahlah, cepat kita tolong menantu kita ini, suamiku. Dan aku merasa berdosa besar sekali. Ah, Siang Le telah kusia-siakan. Aku orang tua tak bijaksana. Biar dia nanti kupanggul dan kubawa ke atas bukit. Aku benar-benar hendak minta ampun!”

Pendekar Rambut Emas heran. Isterinya tiba-tiba tampak begitu sayang dan penuh perhatian kepada Siang Le, menotok dan mengurut sana-sini hingga tak lama kemudian pemuda itupun sadar. Dan begitu sadar tiba-tiba isterinya ini menangis dan memeluk pemuda itu, menciumi.

“Siang Le, terima kasih banyak. Aduh, untung kau selamat, nak. Aku menyesal dan merasa berhutang budi kepadamu. Lihatlah, Sian-su menunggu kita!”

Siang Le tertegun. Ia baru saja sadar dan membuka matanya ketika tiba-tiba gak-bonya ini menangis dan menciumi dirinya. Air mata gak-bonya itu membasahi pipi dan sekejap kemudian wajahnya basah kuyup. Tapi ketika pemuda itu bergerak dan mendorong ibu mertuanya, jengah diciumi karena di situ ada gak-hu (ayah mertua) dan isterinya maka pemuda ini duduk dan bangkit berdiri, menekan tanah dan lupa kepada tangan kirinya yang buntung.

“Eh, kenapa gak-bo menangis. Mana jahanam Togur....augh!” dan Siang Le yang terkejut dan baru sadar akan lukanya tiba-tiba terguling lagi namun dengan cepat gak-bonya itu menyambar, penuh perhatian dan tangkas.

“Tak usah berdiri dulu. Tangan kirimu putus. Ah, ini gara-gara kau menyelamatkan aku, Siang Le. Dan aku menyesal serta merasa berdosa besar kepadamu. Jahanam Togur telah mampus, mayatnya telah disantap hiu dan putus menjadi dua. Aku berterima kasih dan berhutang budi kepadamu. Mari kita menghadap Sian-su dan kubawa kau ke sana!”

“Nanti dulu... nanti dulu...!” Siang Le gugup, sang gak-bo akan mengangkat dan membawa tubuhnya seperti anak kecil. “Aku dapat berjalan, gak-bo. Dan ada Eng-moi pula di sini. Biar aku ditolongnya!”

“Tidak, aku ingin membalas budimu Siang Le. Aku ingin membawamu ke puncak bukit itu dan bukan orang lain. Kau masih kesakitan!”

“Tapi...”

“Hm,” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba melangkah maju, heran tapi segera mengerti perasaan isterinya. “Gak-bomu terlampau besar perasaan sesalnya, Siang Le. Entah apa yang pernah dia lakuka kepadamu. Biarkanlah, ia akan menyesal dan semakin kecewa lagi kalau tidak dapat membawamu ke bukit. Sian-su menunggu kita dan mari sama-sama ke sana. Biarkan gak-bomu menuntunmu!”

Siang Le serba salah. Ia kikuk dan gugup karena ternyata gak-hunyapun menyuruhnya begitu. Dan ketika ia memandang sang isteri namun sang isteri mengangguk dan berseri ternyata isterinyapun berkata,

“Benar, apa yang dikata ayah tidak salah, Le-ko. Ibu ingin menebus rasa sesalnya dan justeru aku ingin tahu apa yang pernah dilakukan ibu kepadamu. Marilah, biarkan ia menuntunmu dan kita menghadap Sian-su!”

Terpaksa, karena gak-hu dan isterinya sudah bicara seperti itu, tak perlu ia sungkan atau kikuk lagi maka Swat Lian tiba-tiba sudah menyambar dan menangkap menantunya itu.

“Nah, semua sudah mengijinkan, Siang Le. Mari ke bukit dan kita temui Sian-su!” lalu begitu sang pemuda tersentak dan terkejut, Kim-hujin atau nyonya Kim ini sudah bergerak dan membawa Siang Le maka dicengkeramlah pemuda itu seperti seekor rajawali membawa terbang buruannya.

“Eihh, aduh... hati-hati, gak-bo. Tanganku masih sakit!”

“Jangan khawatir,” sang gak-bo berseri, tertawa. “Aku akan hati-hati memperlakukanmu, Siang Le. Aku tak akan mengulangi lagi kesalahanku kepadamu..... wut-wut!” dan sang nyonya yang terbang merobah letak cengkeramannya lalu melesat menuju bukit di mana kakek dewa Bu-beng Sian-su menunggu.

Suami dan puterinya menyusul dan Pendekar Rambut Emas pun terbang dengan wajah berseri. Ada perobahan besar di sikap isterinya itu. Ada sesuatu yang menarik yang hendak ia ketahui. Dan ketika pendekar itu bergerak dan puterinya maupun Thai Liong melejit mengikuti, masing-masing mengerahkan ilmu meringankan tubuh maka keluarga lengkap pendekar ini terbang ke atas.

Beng An disambar ayahnya dan anak lelaki yang baru sadar itupun berkali-kali mengeluarkan seruan aneh. Dia merasa tubuhnya begitu ringan hingga sang ayah dimintanya untuk melepaskan sekejap, mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sendiri dan mendadak bocah itu mampu menyusul encinya, Soat Eng, yang tadi berada di depan dan mendahului ayahnya. Dan ketika Soat Eng terbelalak karena adiknya itu mampu merendengi, sejajar mengerahkan ilmu lari cepat maka Soat Eng berseru keras dan menambah kecepatannya.

"Heii, kau jangan coba-coba menyusul aku, Beng An. Hayo kita berlomba dan lihat siapa yang menang!”

“Hm, akupun juga berpikir begitu. Aku merasa tubuhku demikian ringan dan enak sekali. Awas, aku membalap!”

Soat Eng terkejut. Adiknya yang tadi tertinggal di belakang sekonyong-konyong melesat dan terbang seperti kuda sembrani, cepat seperti kilat menyambar dan kagetlah wanita ini karena ia sekarang tertinggal. Dan ketika Pendekar Rambut Emas juga terkejut melihat gerak tubuh Beng An, yang penuh tenaga sakti maka Soat Eng melengking nyaring dan tancap gas, mengerahkan semua ilmu lari cepatnya.

“Beng An, aku tak mau kalah. Awas, aku menggabung Cui-sian Gin-kang dan Jing-sian-engku!”

Anak itu tak menjawab. Beng An juga menambah kecepatannya dan begitu sang enci melejit iapun melesat dan tetap di depan. Soat Eng yang sudah belasan tahun berlatih ginkang jadi terkejut melihat kehebatan adiknya ini. Dan ketika Beng An berseru panjang mengimbangi lengkingannya maka biarpun dikejar tetap saja anak itu ada di depan!

“Enci, aku menang!”

Soat Eng berubah. Adiknya lebih dulu tiba di puncak dan barulah dia menyusul. Dia sudah mengerahkan semua kepandaiannya namun tetap saja adiknya itu menang. Dan ketika wanita ini berjungkir balik dan turun ke bawah, menyambar atau melayang melewati kepala adiknya yang sudah lebih dulu di situ maka Pendekar Rambut Emas tertawa bergelak dan Thai Liong maupun yang lain juga berseru kagum.

“Hebat, kau memiliki tenaga sakti luar biasa, Beng An. Tubuhmu seperti karet saja yang membal seperti dilempar!”

“Hm, aku merasa tubuhku memang ringan,” sang anak berseri-seri, sama sekali tidak memburu seperti Soat Eng, encinya, yang merah padam. “Aku justeru semakin enak kalau banyak mengeluarkan tenaga, ayah, Entahlah, aku rasa-rasanya seakan terbang!”

“Ini tentu sinkang Poan-jin-poan-kwi. Kau dapat memperolehnya dengan selamat!”

“Tapi selamat setelan minurn darah Siang Le. Ah, perobahan besar terjadi di tubuhmu dan kau sungguh beruntung!” Swat Lian, yang juga melihat dan memuji puteranya itu berseri-seri. Ia girang dan bangga bahwa Beng An dapat mengungguli encinya, yang sudah berlatih lebih dulu belasan tahun tapi dapat dikalahkan. Dan ketika suaminya juga mengangguk tapi batuk-batuk di situ menyadarkan mereka, kakek dewa Bu-beng Sian-su ada di situ maka mereka cepat menahan diri dan Swat Lian melepaskan pegangannya pada Siang Le, yang tadi terpaksa memejamkan mata karena gak-bonya itu seperti rajawali kelaparan, melesat menembus langit.

“Sudahlah, ada Sian-su di sini dan mari kita duduk dengan hormat!” Pendekar Rambut Emas cepat memberi tanda, kagum dan berseri-seri.

Sementara Thai Liong sendiri juga terbelalak dan takjub akan kepandaian adik tirinya itu. Beberapa tahun lagi digembleng guru yang baik tentu Beng An akan menjadi anak luar biasa. Agaknya benar karena hawa mujijat Poan-jin-poan-kwi itu dan lebih lagi karena darah segar Siang Le, yang tadi mampu mencairkan sebatang pedang pusaka. Pek-kong-kiam leleh! Dan ketika semua berlutut dan memberi hormat kepada Sian-su, kakek ini tersenyum-senyum maka suara yang halus namun penuh tenaga juga meluncur dari kakek ini.

“Benar. Anakmu yang bungsu ini bakal menjadi manusia luar biasa, Kim-mou-eng. Tapi betapapun ia masih belum sembuh total. Coba suruh ia menarik napas dan rasakan nyeri di antara tulang dada. Pasti ada di situ!”

Beng An menurut. Tanpa diperintah lagi ia melakukan seperti apa yang dikata kakek itu, menarik napas tiga kali dan benar saja ia tiba-tiba mengeluh merasakan nyeri hebat. Ada nyeri kecil tapi menusuk tajam di situ. Tapi ketika ia menarik napas lagi dan nyeri itu hilang maka Beng An hilang pucatnya. “Benar, ada nyeri menusuk, Sian-su. Tapi kini hilang lagi!”

“Itu tandanya kau belum sembuh betul. Dan Ping-im-kangmu itu..... hm, kau harus melatihnya secara benar, Beng An. Mendiang kakekmu dulu terlampau singkat!”

“Ping-im-kang? Mendiang kakek?”

“Ya, tanya adikmu ini. Dulu Hu-taihiap, mewariskan Pukulan Inti Es itu tapi sayang tak berusia panjang. Thian Yang Agung, manusia yang berusaha tapi Tuhan pula yang menentukan!” dan ketika Soat Eng dan ayah ibunya tertegun, tak mengira bahwa mendiang Hu Beng Kui mewariskan Ping-im-kang maka Beng An kemerah- merahan mengaku.

“Ya, dulu kong-kong mengajariku ilmu ini. Tapi tak boleh memberitahukan siapapun terhadap ayah atau ibu!”

“Astaga!” sang ibu mencengkeram lengan puteranya ini. “Sudah lama, Beng An? Jadi kau memiliki Ping-im-kang?”

“Aku baru melatihnya seberapa bisa saja. Dan maaf, ibu, baru sekarang kalian tahu."

“Dan itupun dari Sian-su!” sang ibu mengomel. “Eh, lain kali jangan sembunyikan sesuatu dari ayah ibumu, Beng An. Siapa tahu ilmu silat kami nanti jadi berlawanan dengan ilmu silat kakekmu itu. Kong-kongmu sungguh terlalu!”

“Sudahlah,” Pendekar Rambut Emas melerai, tersenyum. “Betapapun mendiang ayah memang orang aneh, niocu. Dilarangpun tak mungkin bisa. Sekarang kita sudah di sini. Kupikir yang dapat menyelamatkan kita adalah Sian-su!”

“Sebagian saja benar,” kakek itu tertawa. “Selamat atau tidak tergantung juga tindak-tanduk kita, Kim-mou-eng. Kalau kita mau terjun ke jurang padahal sudah diberi tahu berbahaya tentu tak selamat juga. Sudahlah, ke mana kita hendak bicara dan dari mana kita mulai!”

Semua kagum. Kakek itu selalu berkata benar dan kata-katanyapun enak diterima. Sejak dulu sampai sekarang tetap juga begitu. Rendah hati dan tidak sombong, padahal kesaktiannya sudahlah sama seperti dewa! Dan ketika Kim-mou-eng kagum dan mengangguk, kakek ini luar biasa sekali maka isterinya maju dan berkata, mulai berdebar,

“Agaknya pembicaraan dimulai dari sini, Sian-su, dari peristiwa ini. Dan rupanya akulah tokoh tunggal yang hendak dibicarakan. Aku siap menerima hukuman!”

“Hm, siapa hendak menghukummu,” kakek itu tertawa. “Manusia terhukum oleh akibat dari perbuatannya sendiri, hujin. Seperti juga manusia berhasil dari kerja keras dan kemauan baiknya. Kau maupun yang lain dapat saja sewaktu-waktu menjadi tokoh tunggal. Tapi yang penting adalah bahwa hasil pembicaraan nanti dapat berguna bagi kalian dan semua saja. Dan sebelum kita mulai agaknya lebih baik puteramu itu tak usah menyembunyikan lagi dua temannya. Kasihan mereka terkurung di balik Beng-tau-sin-jin!”

Thai Liong terkejut. Sian-su tertawa memandangnya dan sadarlah dia bahwa di balik Beng-tau-sin-jinnya dia masih “menyimpan” dua orang lain, yakni bibinya Cao Cun dan Shintala. Dan begitu dia sadar dan tertawa masam, pemuda ini mengebut maka terloncatlah dua wanita di balik jubah sakti itu.

“Bibi, Shintala.... kalian keluar saja. Aku lupa dan maaf bahwa terlalu lama kalian di situ!”

Dua wanita ini terjerembab. Shintala sendiri berjungkir balik dan berseru perlahan dikebut dari dalam jubah. Sudah seminggu ini ia dikurung. Maka begitu dilepas dan ia girang tapi juga mendongkol, baru sekarang ia dibebaskan maka gadis tu berseru menyambar teman sekamarnya itu.

“Thai Liong, kau terlalu. Uh, panas sekali berhari-hari di dalam jubahmu!”

“Maaf,” Thai Liong tertawa, kekasihnya ini cemberut. “Aku lupa, Shintala. Berhari-hari ini aku sibuk membantu ayah. Lihat, sekarang mereka di sini dan inilah Sian-su yang dulu kusebut-sebut itu!”

Gadis itu sudah melayang turun. Ia ke luar dan muncul dari balik Beng-tau-sin-jin dan Beng An kagum memandang kesaktian kakaknya ini. Tapi lebih kagum lagi melihat kecantikan Shintala yang luar biasa, kecantikan khas dari perpaduan bangsa Timur dan Barat maka anak itu berseru, mendecak.

“Aihh, siapa cici yang cantik ini. Kenapa aku belum pernah tahu!”

“Hi-hik, itu calon kakak iparmu,” Soat Eng mendahului, tentu saja tahu bahwa adiknya memang belum tahu Shintala, karena dulu adiknya itu dalam keadaan tak sadar. “Ia cucu locianpwe Drestawala, Beng An. Kakek sakti yang terbunuh oleh Poan-jin-poan-kwi. Inilah calon keluarga baru kita dan cepat beri hormat kepada calon so-somu (kakak ipar) itu!”

Beng An terkejut. Tentu saja ia berdiri dan cepat-cepat memberi hormat, Shintala tersipu dan kemerah-merahan karena dengan blak-blakan begitu saja Soat Eng bicara, di depan banyak orang. Tapi ketika ia menepuk pundak Beng An dan memberi hormat kepada yang lain-lain, orang tua yang ada di situ maka dia berkata, lirih.

“Kakakmu Soat Eng bicara mengada-ada, Beng An. Siapa mau kepada gadis sebatangkara macam aku ini. Ih, sudahlah. Aku girang bahwa kau selamat!”

“Dan ini bibi Cao Cun!”

“Benar. Kau sudah dapat mengenal orang-orang lain, Beng An. Ah, syukur kau selamat dan puji kepada Thian Yang Agung!” Cao Cun, yang terisak dan memeluk anak laki-laki ini lalu menciumi Beng An dan teringat anaknya sendiri. Dulu seperti itulah mendiang puteranya Ituchi, gagah dan tampan.

Tapi ketika Pendekar Rambut Emas batuk-batuk dan menyuruh Soat Eng menyambut bibinya, duduk dan memberi tahu Sian-su maka wanita ini sadar dan cepat menghapus air matanya. Bu-beng Sian-su menarik napas dan bersinar-sinar memandang semuanya yang ada di situ. Kalau sudah begini maka sebuah keluarga besar tampak, dia tersenyum dan mengangguk kepada Cao Cun. Dan ketika wanita itu berlutut dan gentar memandang kakek berwajah halimun ini, kakek yang penuh perbawa meskipun memancarkan kesejukan maka kakek itu mengulapkan tangan.

“Sudahlah, kita semua sudah berkumpul. Dapatkah kita sekarang mulai bicara.”

“Tentu, dan kami sebelumnya ingin berterima kasih dahulu, Sian-su. Mudah-mudahan wejanganmu dapat kami terima. Silahkan mulai!"

Kakek itu tersenyum. Sebuah pancaran terang tiba-tiba menyorot dari sepasang matanya, bak sinar matahari yang menembus kabut atau awan tebal. Dan ketika kakek itu batuk-batuk dan berdehem perlahan maka mulailah sebuah pembicaraan menarik dimulai.

“Apa yang hendak kita bicarakan,” kakek itu bertanya. “Siapa yang akan mengajukan pertanyaan dan tentang apa.”

“Tentang peristiwa ini, tentang kejadian ini. Aku ingin mereguk hikmahnya, Sian-su. Tolong beri tahu!”

“Hm, sebenarnya sudah kuberi tahu, tapi belum dikupas. Baik, apa yang hendak kau katakan, Pendekar Rambut Emas. Agaknya kau juga ingin bicara!”

“Maaf,” pendekar ini mengangguk, bersinar-sinar. “Aku tadi telah didahului isteriku, Sian-su. Dan benar bahwa aku ingin bertanya. Dan pertanyaan ini adalah tentang syair yang dulu kau berikan kepada kami. Agaknya dari sini sumber tanya jawab akan dimulai!”

“Ha-ha, bagus!” kakek dewa itu tertawa, renyah. “Kau sudah mengenal sifat-sifatku, Kim-mou-eng. Dan benar bahwa sumber tanya jawab nanti akan berasal dari syair itu. Hm, terlalu banyak syair yang kuberikan. Baik, syair yang mana dan bicara tentang apa!”

“Kami tak tahu, tapi Sian-su memulainya dengan menghunjam sepotong pedang. Ah, nanti dulu, Sian-su. Syair itu dibawa isteriku..!” dan ketika sang isteri ingat dan tertegun, itulah yang memang dicari maka cepat dia mengeluarkan segumpal kertas yang dilipat-lipat, memberikannya kepada sang suami dan Pendekar Rambut Emaspun berseri-seri. Kakek itu adalah gurunya dan tentu saja dia mengenal segala gaya atau gerak-gerik kakek ini. Bu-beng Sian-su selalu memulai dengan syair. Dan ketika kakek itu tersenyum dan tertawa lebar, tawanya demikian enak dan empuk maka Pendekar Rambut Emas membuka lipatan kertas dari isterinya itu.

“Jangan tergesa-gesa, tak lari gunung dikejar,” kakek itu berkata, menahan tawa “Coba kau baca syair yang mana, Kim-mou-eng. Dan nanti aku akan menjawabnya.”

“Begini..... menghunjam dalam sepotong pedang, menusuk bumi luka berdarah... melepas dendam marah dan berang, tak perduli lagi iblis berulah!”

“Ha-ha, terlampau cepat. Terlampau bernafsu. Eh, tulis saja di batu ini, Kim-mou-eng. Dan biarkan semua orang melihat. Aku sekarang tahu!” kakek itu berseru, melihat Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas itu membaca terlampau cepat dan tentu saja yang lain-lain tak mudah ingat. Dibaca seperti itu hanya yang bicara saja yang tahu. Kalau tidak diulang dua tiga kali belum tentu semua hapal.

Dan ketika pendekar itu tertegun tapi mengangguk, berseri dan tertawa maka bergeraklah dia mengguratkan jari. Dan begitu pendekar ini mengerahkan tenaga maka tampaklah dua bait syair tertulis dengan gagah:

Menghunjam dalam sepotong pedang
menusuk bumi luka berdarah
melepas dendam marah dan berang
tak perduli lagi iblis berulah!

Petir dan guntur sambar-menyambar
pekak telinga dengar gelegar
nyaris maut datang menggetar
sering terlambat di waktu sadar!


“Ha-ha, cukup, sekarang aku tahu!” kakek itu. tertawa, menggetarkan bumi. “Ini kiranya yang dimaksud, Kim-mou-eng. Bagus, ini bertalian erat dengan isterimu. Hm, suruh ia maju dan membaca syair itu. Serukan dengan suara lantang dan keras!”

Swat Lian atau Kim-hujin terkejut. Dia sendiri sudah hapal dengan dua bait syair itu tapi Soat Eng dan lain-lain tertegun. Cao Cun dan Shintala juga mengerutkan kening membaca isi syair itu. Cao Cun tergetar karena dia tahu sesuatu yang hebat tentu terjadi. Akan ada kisah menarik di sini. Sebuah pelajaran yang tentu penting! Dan ketika ia terbelalak dan mengamati baris-baris kalimat itu maka Swat Lian atau Kim-hujin bangkit berdiri.

“Tak usah berdiri, duduk sajalah.” Bu-beng Sian-su tersenyum.

“Hm, rasanya kurang kuat dan lantang, Sian-su. Biarkan aku berdiri dan membaca sebentar!”

“Baik, kalau begitu silahkan,” dan ketika kakek itu tertawa karena Kim-hujin rupanya ingin berdiri, agar lantang dan nyaring maka benar saja dengan gagah nyonya itu menyerukan bait-bait yang dibuat suaminya. Ia sendiri sudah hapal dan karena itu tanpa menoleh iapun sudah membacanya dengan penuh semangat. Tegap dan tinju yang teracung membuat nyonya ini tampak semakin gagah saja. Dan ketika bait demi bait selesai dilantangkan, gagah dan penuh kejantanan seperti srikandi saja maka Bu-beng Sian-su bertepuk tangan.

“Bagus... bagus, Kim-hujin. Terima kasih. Ha-ha, kau bagai seekor harimau betina yang diganggu anaknya. Kau begitu penuh semangat dan enerji. Wah, mengagumkan!”

“Hm, tak ada yang salah kubaca, Sian-su? Semuanya benar?”

“Ha-ha, benar. Benar sekali. Tapi sekarang silahkan kau duduk dan coba suruh menantumu itu membacanya!”

“Siang Le?”

“Ya.”

Siang Le terkejut. Pemuda itu sendiri sejak tadi diam tak bergerak-gerak, mendengarkan dan sesekali mendesis merasakan sakitnya. Pergelangan tangannya yang putus sesekali masih dirasanya nyeri juga, nyeri yang menggigit. Maka begitu disebut dan ia terkejut, sang ibu mertua terbelalak dan memandangnya maka Swat Lian membungkuk dan menarik menantunya ini.

“Siang Le, Sian-su ingin kau membacakan syair. Ayolah, baca dan serukan dengan lantang!”

Terpaksa, pemuda ini bangkit berdiri. Mimik muka yang menahan sakit rupanya dilihat juga oleh semua orang, Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening dan Kim-hujin terharu. Untuk dialah pemuda itu sampai buntung. Tapi ketika Siang Le menahan rasa sakitnya dan berdiri memberi hormat, kikuk dan gugup maka pemuda itupun membaca syair itu dengan ragu-ragu.

Tidak seperti gak-bonya yang lantang dan bersuara nyaring adalah pemuda ini sedikit perlahan dengan sesekali mendesis. Sebenarnya dia tersiksa tapi ditahannya, rasa sakit itu kembali mengganggu. Namun ketika dua bait syair itu selesai dibaca dan semua mengangguk, terharu, maka Bu-beng Sian-su tiba-tiba menyentuhkan lengannya ke luka pemuda itu.

“Terima kasih. Kau sudah membacakan untukku, Siang Le. Tapi sekarang duduklah dan berhadapanlah dengan gak-bomu!”

Siang Le terkejut. Sisa sakit di pergelangan tiba-tiba lenyap. Begitu disentuh Sian-su mendadak hilang! Dan ketika ia tertegun dan semburat girang, duduk lagi maka kakek itu berseru agar pemuda ini berhadapan dengan gak-bonya, karena Siang Le duduk di tempatnya semula di samping ibu mertuanya itu.

“He, kataku duduk berhadapan, Siang Le. Jangan bersebelahan. Lihat dan tatap wajah gak-bomu!”

Pemuda itu terkejut.

“Kenapa terkejut? Ha-ha, gak-bomu sudah penuh sayang dan cinta kasih, Siang Le. Tak usah takut-takut dan duduklah berhadapan. Lihat wajah gak-bomu sudah sedemikian lembut!”

Pemuda ini merah padam. Ia jadi tak mengerti dan bingung oleh sikap aneh kakek dewa itu, seolah menggoda tapi sesungguhnya serius. Kakek itu tak main-main. Dan ketika Swat Lian juga heran tapi mempersilahkan mantunya duduk berhadapan, tahu bahwa sesuatu sedang diperlihatkan kakek itu maka sang nyonya menyambar dan mendesis,

“Siang Le, duduklah berhadapan. Tak usah kikuk. Sian-su tentu sedang menyuruh kita mempelajari sesuatu.”

Terpaksa pemuda ini menggeser duduknya. Ia jadi malu dan likat harus berhadapan dengan gak-bonya itu, hal yang tak pernah dilakukan apalagi dalam suasana seperti ini. Dan ketika ia menunduk dan tersipu-sipu, berdebar, celakanya kakek itu menyuruh dia mengangkat wajahnya, memandang sang gak-bo lekat-lekat.

“He, jangan menunduk, anak muda. Tengadahkan kepala dan pandang gak-bomu itu, lihat baik-baik. Katakan kepada semua orang bagaimana pandang matanya sekarang!”

Siang Le sungguh terkejut. Ia tak tahu apa dan mau ke mana kakek itu menyuruhnya macam-macam. Ia disuruh tengadah dan lebih gila lagi disuruh bertatapan muka dengan gak-bonya itu, sikap yang bisa dikira kurang hormat karena bagaikan menghadapi musuh saja. Dan ketika ia menoleh dan terbelalak memandang kakek itu, yang justeru terkekeh maka Bu-beng Sian-su berseru agar pemuda itu memandang ibu mertuanya, bukan orang lain.

“Hei, jangan melotot ke sini. Pandang dan tatap gak-bomu itu. Katakan bagaimana sinar matanya sekarang!”

Siang Le salah tingkah. Sebagai pemuda baik-baik dan tahu sopan santun tentu saja ia tak berani memandang gak-bonya lekat-lekat. Apa-apaan kakek dewa ini! Tapi ketika gak-bonya tertawa dan berseru agar dia memandang, lakukan saja apa yang dikata Sian-su maka Siang Le merah padam dan menahan malu.

“Gak-bo, maaf. Aku tak tahu apa yang dikehendaki kakek ini.”

“Tak apa,” Swat Lian tersenyum, mengusap dan menyentuh bahu pemuda ini mesra. “Aku juga tak tahu apa yang dikehendaki kakek ini, Siang Le. Tapi sesuatu yang penting pasti diperlihatkan.”

“Ha-ha, benar. Dan sekarang lihat pandang mata gak-bomu. itu, Siang Le. Katakan kepada semua orang bagaimana pendapatmu!” Bu-beng Sian-su kembali berseru.

“Hm, apa yang harus kukatakan?" Siang Le bingung. “Gak-bo... gak-bo tak ada apa-apa, Sian-su. Ia wajar-wajar saja baik-baik saja!”

“Ha-ha, benarkah? Coba kau lihat baik-baik pandang matanya. Katakan kepadaku bagaimana sorot mata gak-bomu itu!”

“Gak-bo baik-baik saja... pandang matanya tidak apa-apa...!”

“Benarkah?”

“Benar, Sian-su. Dan ah... apa yang kau maui ini!” Siang Le tak kuat, pandang matanya beradu dengan pandang mata yang begitu lembut dari gak-bonya. Sinar mata penuh cinta kasih tiba-tiba menyambar. Siang Le terkejut! Dan ketika ia melengos karena sinar mata gak-bonya itu sungguh luar biasa, penuh cinta kasih dan mesra maka pemuda ini membuang pandangan dan jantungnya terlonjak melihat sinar mata gak-bonya itu. Bukan sinar mata seorang kekasih melainkan sinar mata seorang ibu kepada anaknya. Lembut dan hangat dan inilah yang membuat Siang Le tak kuat.

Selama bergaul, belum pernah ia melihat sinar mata gak-bonya yang seperti ini. Biasanya, ganas dan beringas, penuh permusuhan. Kalaupun lunak maka itupun disebabkan karena adanya orang-orang lain di situ, misalkan Pendekar Rambut Emas atau Soat Eng dan Thai Liong. Selama ini tak ada yang tahu bahwa gak-bonya masih tetap membencinya, dan hal itu karena gurunya See-ong yang telah membunuh Hu Beng Kui, ayah gak-bonya itu.

Maka begitu sang gak-bo tiba-tiba bersikap lembut dan hangat, pandang matanya penuh cinta kasih karena saat itu Swat Lian atau Kim-hujin ini benar-benar merasa terpukul, Siang Le telah menolong dan menyelamatkan Beng An, juga dirinya sendiri dengan darah dan buntungan tangan itu maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini benar-benar merasa terharu memandang menantunya itu. Siang Le tiba-tiba tampak sebagai pemuda tampan yang berbudi luhur, halus dan tahu diri dan teringatlah nyonya itu akan perlakuan dan sikapnya selama ini.

Betapa ia memusuhi dan bahkan mengakibatkan Siang Le tak berani lagi melatih ilmu-ilmu warisan suaminya, karena ia memaksa dan “menjepit” pemuda itu untuk menangkap atau bahkan membunuh gurunya, See-ong yang jahat. Dan karena memang hanya nyonya ini pulalah yang tahu kenapa Siang Le tak lagi mempelajari Khi-bal-sin-kang maupun Lui-ciang-hoat, begitu pula ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang maka sang nyonya tiba-tiba merasa berdosa besar dan terharu memandang menantunya ini.

Siang Le benar-benar pemuda berwatak mulia dan tahu diri, luhur dan menjunjung tinggi masalah budi hingga terhadap mendiang See-ong pun pemuda itu tak dapat dipaksa. Lebih baik pemuda itu dibunuh daripada disuruh membunuh gurunya sendiri, begitu berkali-kali pemuda itu berkata kalau mereka bertemu dan berbicara empat mata. Dan karena memang pemuda ini tak mampu melaksanakan perintahnya karena Siang Le adalah pemuda yang tahu budi, luhur dan berwatak mulia maka Kim-hujin atau nyonya Kim ini tiba-tiba merasa terharu dan berdosa besar teringat semua perbuatannya.

Siang Le tak membencinya dan justeru dialah yang membenci pemuda itu, karena teringat bayangan See-ong dan kelakuannya membunuh mendiang ayahnya. Hu Beng Kui. Dan karena terbukti hingga detik inipun pemuda itu tak membalas kebenciannya dengan benci, bahkan tadi menolong dan mengorbankan tangan sendiri untuk menangkis Pek-kong-kiam maka Kim-hujin tiba-tiba menangis dan keharuan serta penyesalannya menerbitkan pandang mata yang penuh cinta kasih itu. Pandang mata yang membuat Siang Le tak kuat dan menjadi terkejut. Sinar atau pandang mata yang memang belum pernah diterima atau dirasakan pemuda ini.

Siang Le adalah pemuda sebatangkara sejak dia diambil gurunya See-ong, tokoh sesat itu. Maka begitu pemuda ini menerima pandang mata yang luar biasa itu, pandang mata yang belum pernah diberikan gak-bonya maka pemuda ini tersentak dan membuang muka ke arah Bu-beng Sian-su. Swat Lian atau Kim-hujin ini memang secara otomatis memberikan pandang matanya itu, pandang atau sinar mata yang terjadi karena keharuan dan sesal besar, juga rasa terima kasih karena justeru dari tangkisan pemuda itulah dia selamat dari kutuk pedang pusakanya sendiri.

Dan yang lebih membahagiakan, adalah sembuhnya Beng An dari pengaruh jahat Bu-siang-sin-kang. Darah pemuda itulah yang membuat puteranya sembuh. Darah pemuda inilah yang membuat Pek-kong-kiam maupun Bu-siang-sin-kang hancur. Darah suci seorang pemuda! Maka begitu Kim-hujin memandang dan nyonya itu semakin terharu karena Siang Le tak berani menatapnya terang-terangan, sikap serta sopan santun yang tinggi ini maka nyonya ini tak terasa lagi terisak dan menangis menyambar pemuda itu.

“Siang Le, aku berhutang budi kepadamu. Ah, benar kata Sian-su bahwa kelak aku akan berhutang budi kepadamu!”

Siang Le menjadi terkejut lagi. Gak-bonya itu tiba-tiba menubruk dan merangkulnya, mengguguk dan tahu-tahu menangis di pundaknya. Dan ketika ia terkejut sementara Pendekar Rambut Emas maupun putera-puterinya juga terkejut, heran, maka wanita ini sudah tersedu-sedu dan mencengkeram atau meremas-remas bahu pemuda ini. Siang Le gugup dan jengah.

Ia kebingungan karena berkali-kali gak-bonya itu lalu berkata terima kasih kepadanya, tersendat-sendat meminta maaf dan kelakuannya sungguh berobah dengan dahulu. Ibu mertua yang dulu masih menyimpan benci dan rasa tak suka ini mendadak sekarang bersikap begitu lembut. Tangis dan kata-katanya penuh penyesalan. Dan ketika sebuah kecupan sayang mendarat di kening pemuda ini, Siang Le tersentak, maka Kim-hujin atau gak-bonya itu melepaskan diri.

“Siang Le, katakan kepada semua orang bagaimana sikap atau pandang mataku kini. Dan katakan kepada semua orang bagaimana sikap dan pandang mataku dulu. Aku sudah mulai menangkap apa yang dimaksud Sian-su!”

“Ah, kau... kau selalu baik, gak-bo. Dulu dan kini tetap sama!”

“Begitukah? Kalau begitu coba mainkan Lui-ciang-hoat atau Khi-bal-sin-kang. Bangkit dan berdirilah dan lakukan ilmu silat itu sampai selesai!”

“Aku.. aku tak dapat. Aku lupa!”

“Lupa atau sengaja tak mau berlatih? Hayo, tunjukkan kepada semua orang ilmu silat itu, Siang Le. Atau katakan sebab-sebabnya kenapa kau tak mau berlatih!”

Pemuda ini terkejut. Ia tiba-tiba menjadi pucat karena gak-bonya yang dulu tiba-tiba hidup, keras dan penuh wibawa dan tiba-tiba lenyaplah sinar mata lembut itu. Gak-bonya mendadak menjadi seperti seekor harimau galak yang siap menerkam. Ia diminta memainkan ilmu-ilmu silat itu, padahal sudah lama ia tak berlatih dan memang tak mau berlatih, enggan karena dulu dengan warisan ilmu-ilmu itu ia diminta mencari dan membunuh gurunya. Atau nanti dianggap tak “loyal” dan itulah sebabnya ia lalu tak mau melatih lagi ilmu-ilmu silat keluarga Pendekar Rambut Emas.

Daripada dengan ilmu-ilmu itu ia diharuskan mencari dan membunuh gurunya lebih baik ia meletakkan dan membuang saja ilmu-ilmu itu.Dan ketika ia kemudian tak berlatih dan akhirnya benar-benar warisan ayah mertuanya itu tak dipelajari, ia tetap seperti Siang Le yang dulu maka sekarang pemuda ini terkejut ketika tiba-tiba saja gak-bonya itu menyuruh dia bersilat atau memberitahukan kenapa ia tak mempelajari lagi ilmu-ilmu silat keluarga Pendekar Rambut Emas!

“Ayo... ayo, Siang Le. Lakukan jurus-jurus Khi-bal-sin-kang atau katakan kenapa kau tak mau lagi mempelajari ilmu-ilmu silat gak-hu mu'“

Pendekar Rambut Emas terbelalak. Ia tiba-tiba menjadi heran dan kaget kenapa urusan ini diangkat ke permukaan. Sebenarnya, ia juga heran dan aneh kenapa menantunya itu “mutung”, seolah tak bersemangat dan tak bergairah lagi mempelajari Khi-bal-sin-kang dan lain-lain, padahal itulah warisan Bu-beng Sian-su dan banyak orang tergila-gila! Dan ketika ia terkejut karena isterinya sudah meloncat bangun, tak sabar, maka lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba menantunya itu menangis.

“Gak-bo, apa yang hendak kau lakukan ini. Kenapa kau mengungkit-ungkit ini.”

“Hm, aku hendak memberi tahu suamiku dan yang lain-lain kenapa kau tak mau lagi berlatih ilmu-ilmu silat itu, Siang Le. Jujur saja dan katakan kepada mereka bahwa semua ini karena gara-gara aku!”

“Gak-bo....!”

“Tidak! Aku sekarang menyadari kekeliruanku, Siang Le. Dan aku berdosa besar kepadamu. Kalau saja kau mewarisi kepandaian suamiku belum tentu tanganmu buntung. Ayo, tunjukkan ilmu silat itu atau katakan penyebabnya kenapa kau tak mau lagi berlatih!”

Siang Le menangis. Tiba-tiba saja ia tertusuk dan luka mendengar kata-kata gak-bonya ini. Ia tak mau berlatih karena ia disuruh membunuh gurunya sendiri. Dan ketika pemuda itu menunduk dan menggeleng berulang-ulang, tak mau memberi tahu maka gak-bonya gemas mencengkeram.

“Siang Le, aku tak hendak menutup-nutupi kesalahanku lagi. Aku tak mau dikejar malu seumur hidup. Ayo katakan kepada mereka kenapa kau tak mau mewarisi kepandaian suamiku!”

“Aku... aku berotak bebal, gak-bo. Aku tak mampu menyerap ilmu-ilmu gak-hu karena daya tangkapku yang rendah...”

“Bohong! Kau mau melindungi gak-bomu ini? Kau tidak mau bicara jujur saja bahwa kau tak mau lagi melatih ilmu-ilmu itu karena dengan ilmu-ilmu itu kau akan kupaksa untuk mencari dan membunuh gurumu? Heh, tak usah menutup-nutupi kebusukan gak-bo mu ini, Siang Le. Katakan terus terang bahwa kau tak mau lagi melatih ilmu-ilmu itu karena kau bersetia dan masih menjunjung tinggi gurumu, biarpun jahat. Kau pemuda tahu budi dan berwatak luhur. Kau berjiwa mulia dan karena itu lebih baik meletakkan warisan suamiku daripada nanti disuruh membunuh gurumu akibat kedengkian dan kebencian hatiku. Nah, katakan kepada mereka bahwa untuk sebab-sebab inilah kau tak mau lagi berlatih Khi-bal-sin-kang dan lain-lainnya itu!”

“Gak-bo...!”

Swat Lian terkekeh-kekeh. Wanita ini gemas dan terharu karena didesak seperti itupun pemuda ini tak juga mau mengaku. Siang Le hendak melindungi dirinya. Siang Le hendak melindungi mukanya! Dan ketika semuanya itu membuat nyonya ini terpukul dan tertusuk-tusuk, murid See-ong yang jahat ini benar-benar suci dan bersih, sebersih ikan di laut yang tak tercemar garam atau dosa-dosa duniawi maka Swat Lian tiba-tiba bercucuran air mata dan ganjil serta luar biasa sekali melihat seseorang terkekeh-kekeh padahal menangis!

“Siang Le, katakan bahwa semua kata-kataku bohong. Katakan bahwa ini tidak benar. Hayo, mana kejujuranmu dan sangkallah kata-kataku ini!”

Pemuda buntung itu pucat pasi. Ia terhenyak dan kaget serta heran akan sikap gak-bonya ini. Di depan orang lain tak malu-malu lagi menelanjangi diri. Ah, ia terharu! Dan ketika pemuda itu berlutut dan menangis memeluk kaki gak-bonya, Swat Lian atau Kim-hujin ini juga masih bercucuran air mata dengan tawanya yang aneh maka Siang Le tak dapat bicara apa-apa kecuali mengguguk. “Aku... aku tak berani bicara apa-apa, gak-bo. Semuanya terserah kau...”

“Heh, tidak boleh begitu. Katakan kepada semua orang di sini apakah tadi kata-kataku tidak betul, Siang Le. Jawab dengan jujur apakah semuanya itu bohong!”

“Tidak... tidak, tapi.. ah, aku tak mau membuat malu dirimu!”

“Nah!” Kim-hujin atau Swat Lian ini membalik, menghadapi suaminya dan yang lain-lain di situ. “Dengar dan lihat kata-kata menantu kita ini, suamiku. Siang Le tak pernah memberi tahu atau menceritakan penderitaannya kepada orang lain. Sudah seperti inipun ia masih juga ingin melindungi aku. Aduh, aku berdosa besar kepadamu, Siang Le. Aku menyesal dan kecewa berat akan tindak-tandukku sendiri. Sian-su benar, menantu kita ini mutiara yang memukau sukma. Dan aku ingin menebus dosa dan semua kesalahanku dengan menyayang dan mencintainya seperti anak kandungku sendiri!” dan Swat Lian yang menubruk serta memeluk pemuda itu dengan sedu-sedannya yang mengguncang tubuh lalu membuat bengong dan kaget serta terbelalak semua orang.

Soat Eng dan ayahnya mendecak dengan kagum, begitu pula Shintala dan lain-lain. Tapi mengetahui dan justeru melihat sepak terjang isterinya, yang tidak bersahabat dan memusuhi Siang Le tiba-tiba Pendekar Rambut Emas bangkit berdiri dan mengerutkan kening dengan muka kemerah-merahan, malu dan juga penasaran!

“Niocu, kau telah memusuhi dan membuat menantu kita sendiri sampai menderita seperti ini? Kau yang menyebabkan hingga Siang Le tak mau lagi melatih ilmu-ilmu yang kuberikan kepadanya? Pantas! Tapi kenapa kau lakukan itu, niocu. Bukankah dulu kau sudah menerima dan berjanji bersikap baik kepada pemuda ini. Bukankah kau sudah mau menerimanya sebagai suami Soat Eng. Kenapa kau masih juga memusuhinya!”

“Ha-ha, ini karena sepotong pedang itu!” Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa, bergelak. “Dan pedang inilah yang menusuk bumi hingga luka berdarah, Kim-mou-eng. Tak usah kaget atau penasaran akan sikap isterimu. Sebagian besar manusia memang begitu. Dendam isterimu kepada mendiang See-ong amatlah besar. Dan karena dendam isterimu dibawa-bawa pula kepada pemuda ini maka isterimu tak perduli lagi iblis berulah!”

“Maksud Sian-su?”

“Dendam meracuni isterimu, Kim-mou-eng, dan dendam itu telah tertanam demikian dalam hingga susah dicabut kembali. Dalam marah dan dendamnya isterimu masih ingin membawa-bawa pemuda ini. Tapi ketika guntur dan petir sambar-menyambar, maut dan ketakutan menghampirinya maka sekarang isterimu sadar dan itulah sebagian besar watak manusia, ha-ha...!”

Kim-mou-eng tertegun, Dia coba menangkap dan mengartikan guntur dan petir yang sambar-menyambar itu, tak dapat dan akhirnya dia mengeluh memegangi kepalanya. Dan ketika ia terduduk dan jatuh kembali, perbuatan isterinya itu sungguh tak diduga maka ia menyerah. “Sian-su, aku pening. Aku tak dapat mengurai kata-katamu. Aku masih terkejut oleh tindak-tanduk isteriku ini!”

“Ha-ha, tak ada yang sulit. Dendam dan kemarahan memang merupakan momok yang menakutkan, Kim-mou-eng. Tapi isterimu sudah mengakui, kita tinggal melicinkan saja jalan yang sudah dibuatnya!”

“Aku tak dapat mengikuti jalan itu....”

“Bukan tak dapat, melainkan belum dapat. Nah, mari kita bicara lagi dan duduklah kalian dan dengar kata-kataku!” lalu meminta Kim-hujin meredakan tangisnya, melepas dan mendorong Siang Le maka kakek dewa itu berkata lagi, sungguh-sungguh, serius, “Kim-mou-eng, dan kalian semua, Kim-hujin telah mengakui kesalahannya dan ini amat mengagumkan. Melihat dan menyadari sebuah kesalahan amatlah baik. Tapi mengerti dan tak akan mengulangi lagi kesalahan itu adalah yang paling baik. Siapa dapat menyangkal ini? Tentu tak ada. Dan Kim-hujin pasti akan menuruti dalil ini. Bagus, kita mulai berjalan di atas jalan yang sudah dibuat Kim-hujin...”

“Aku tak mengerti!” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Jalan apa yang sudah dibuat ibuku, Sian-su. Dan mana pula jalan itu!”

“Ha-ha, jalan itu adalah pengakuan atau rahasia yang dibuka ibumu ini, sepak terjangnya atau tindak-tanduknya kepada Siang Le. Eh, jangan buru-buru memotong kalau belum kutanya, siauw-hujin (nyonya muda). Nanti yang lain tak dapat mengikuti!”

“Maaf,” Soat Eng tersipu, merah. “Aku tak sadar, Sian-su. Tapi sekarang aku mengerti!”

“Bagus, dan mengerti itu berarti sudah ikut memasuki persoalan. Dan persoalan itu sederhana saja, bukan lain dendam atau sakit hati ibumu kepada See-ong. Dan karena suamimu adalah bekas murid See-ong maka dibawa-bawalah suamimu itu padahal dulu sudah kuberi tahu bahwa pemuda ini bukanlah See-ong meskipun ia murid See-ong. Nah, siapa, ingat wejanganku akan laut dan ikannya!”

Pendekar Rambut Emas tersenyum, mengangguk. “Aku, Sian-su. Aku masih ingat akan itu.”

“Hm, katakan. Apa inti wejanganku itu!”

“Bahwa manusia harus mencontoh seperti ikan di laut. Air laut boleh asin tapi sang ikan sendiri tak terpengaruh oleh garam atau asinnya laut itu.”

“Dengan lain kata?”

“Manusia boleh dikelilingi debu-debu kejahatan tapi tak boleh dimasuki kejahatan itu!”

“Ha-ha, bagus. Dan kau ingat, hujin?”

“Ya, akupun ingat.”

“Tapi kau tak mengetrapkan apa yang kau ingat itu. Kau memusuhi dan menyusahkan menantumu sendiri!”

“Aku terlampau dendam terhadap See-ong, Sian-su. Aku terlampau benci,” sang nyonya terisak, menunduk.

“Tapi sekarang kebencianmu lenyap. Kau sudah tidak seperti dulu!”

“Aku berhutang budi kepada Siang Le. Ia telah menyelamatkan aku dan anakku.”

“Hanya itu?”

Sang nyonya tertegun.

“Bagaimana kalau misalnya See-ong masih hidup?”

Sang nyonya terkejut.

“Ha-ha, tidak hanya itu, hujin. Melainkan juga ditambah bahwa kematian See-ong sedikit banyak telah melarutkan dendammu. Manusia biasanya tak dapat melupakan dendam kalau sedikit atau banyak dendam itu belum terlampiaskan. Nah, karena kematian See-ong telah membuatmu sedikit puas, musuh yang kau benci itu tiada maka hutang budi dari menantumu ini dapat masuk dengan cepat apalagi menusuk langsung hal yang amat penting, nyawamu dan nyawa puteramu!”

Nyonya ini terisak, menunduk.

“Bagaimana?”

“Kau mungkin benar, Sian-su. Ah, aku memang banyak salah. Aku khilaf!”

“Hm, dan mengerti serta tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi adalah yang paling penting. Pedang kebencianmu telah dihancurkan namun masih ada pedang lain yang juga tak kalah berbahayanya. Kalian harus berhati-hati akan ini!”

“Pedang apa?” Pendekar Rambut Emas terkejut.

“Pedang bukan sembarang pedang, Kim-mou-eng. Lentur dan lemas tapi tajamnya dapat dibuat tak ulah-ulah!”

“Pedang apakah itu. Masa lemas dan lentur tapi tajamnya tak ulah-ulah.”

“Hm, kalian jangan tergesa bertanya dulu. Setiap orang mempunyai pedang ini. Lihat kejadian Pek-kong-kiam dan renungkan itu!”

Pendekar Rambut Emas tertegun. Dia mengerut-ngerutkan kening tapi kakek dewa itu terkekeh. Yang lain juga mengerut-ngerutkan kening tapi kakek ini tertawa. Dan ketika Soat Eng berseru bahwa pedang itu mungkin sejenis pedang pusaka, seperti Pek-kong-kiam atau lain-lainnya maka kakek ini terbahak.

“Ha-ha, kalau itu yang kau maksud maka tak semua orang memilikinya, siauw hujin. Kau salah. Pedang ini dimiliki setiap orang dan kau maupun siapa saja di sini mempunyainya. Hayo, tebak pedang apakah itu!”

“Sebaiknya Sian-su memberi petunjuk. Arahkan kami untuk menebak teka-teki ini.

“Eh, aku sudah mengarahkan kalian, Kim-mou-eng. Dengar apa kataku tentang Pek-kong-kiam. Renungkan itu!”

Kim-mou-eng merenung. Dia bingung dan belum dapat menangkap apa yang dimaksud kakek ini. Bu-beng Sian-su terlalu rahasia, masih dianggapnya berbelit. Tapi ketika ia mengingat-ingat dan coba mengerti, persoalan itu berat mendadak puterinya bertanya apakah nanti ada hubungannya dengan syair itu.

“Tentu saja,” kakek ini menjawab. “Nanti kita ke situ lagi, siauw-hujin. Dan jawablah apa kira-kira pedang lain yang berbahaya itu.”

“Aku sukar menebak...”

“Harus dilatih. Otak yang banyak bekerja akan menjadi tajam, siauw-hujin. Dan jangan mudah putus asa untuk menemukan ini!” kakek itu tertawa.

“Hm, baik..!” dan Soat Eng yang kembali mengerutkan kening dan berpikir keras lalu menoleh kepada kakaknya, yang tersenyum-senyum.

“Kau sudah menemukannya?” bisiknya.

“Belum.”

“Kalau begitu kenapa tersenyum-senyum?”

“Eh, apakah tidak boleh? Aku geli melihat kalian berpikir keras, Eng-moi. Padahal nanti tentu begitu sederhana dan gampang. Biar kalian dan lain-lain menebak, aku mendengarkan saja!”

“Konyoi!” dan ketika Thai Liong tertawa adiknya mendesis, mau mencubit tapi dia mengelak maka Shintala juga gemas melihat sikap kekasihnya ini.

“Kau tak usah mempermainkan kami. Tentu kau sudah tahu!”

“Ha-ha, sudah tahupun belum tentu benar, Shintala. Teka-teki ini gampang-gampang sukar. Sst, Sian-su memandang kita!” dan ketika pemuda itu mengangkat tangannya karena gadis itupun mencubit, semua menyerang maka Shintala melengos.

Dan Pendekar Rambut Emas tersenyum melihat anak-anaknya ini. Ia sudah tahu hubungan puteranya dengan cucu Drestrawala itu dan tentu saja Shintala memang calon menantunya. Mendapatkan gadis seperti ini adalah menggembirakan. Ia akan menjadi kakek dari calon cucunya lagi. Tapi ketika ia memberi isyarat agar anak-anak muda itu tak ribut, Soat Eng melotot dan memandang yang lain maka tiba-tiba ia bertemu dengan suaminya, Siang Le.

“Kau tak tahu?”

“Kupikir tidak. Tapi, hmm... barangkali saja itu!”

“Itu apa?”

“Sumpah gak-bo!”

“Sumpah ibu?”

“Ya, barangkali. Tapi, eh... nanti dulu. Aku bingung. Biarkan orang-orang tua menjawab dulu!” dan ketika suami isteri muda ini saling berbisik-bisik, Kim-mou-eng dan isterinya berpikir keras maka kakek dewa itu berseru lagi, tangan kanannya diangkat ke atas.

“Sudah terjawab?”

“Belum!”

“Ha-ha, satu di antara kalian hampir menyentuhnya, Pendekar Rambut Emas. Tanyakan menantumu apa jawabannya tadi!”

Siang Le tiba-tiba menjadi perhatian. Ia tadi saling berbisik dengan Soat Eng dan lain-lain mendengar. Tapi karena masing-masing berpikir sendiri-sendiri dan kurang memperhatikan, kini tiba-tiba pemuda itu dikatakan hampir menyerempet jawaban maka kontan saja semua menoleh.

“Kau menjawab apa?” Pendekar Rambut Emas bertanya.

“Aku, eh... aku menjawab sembarangan, gak-hu. Belum tentu benar!”

“Dia menjawab sumpah ibu!” Soat Eng berseru, nyaring. “Tadi Le-ko bicara tentang sumpah ibu, ayah. Tapi bagaimana dikata jawabannya hampir mengena!”

“Sumpah? Hmm..!” sang pendekar menepuk paha. “Barangkali itu, Eng-ji. Benar juga. Sumpah ibumu telah menjadi senjata makan tuan. Cocok, barangkali ini!” dan ketika Pendekar Rambut Emas membalik dan menghadapi lawan bicaranya maka dia berseru, “Sian-su, barangkali ini jawabannya. Benar, sumpah dapat merupakan pedang yang amat tajam kalau tak hati-hati dipakai. Ini jawaban kami!”

“Ha-ha, jawabanmu atau jawaban menantumu?”

“Sama saja, Sian-su. Jawaban kami semua!”

“Benar,” Soat Eng mendukung, berseru dengan wajah berseri. “Jawaban suamiku sama dengan jawaban kami semua, Sian-su. Kami bingung dan tak menemukan jawaban lain!”

“Ha-ha, kalau begitu kenapa suamimu menjawab seperti itu. Coba dijawab!”

“Aku sekedar mengikuti petunjuk Sian-su,” Siang Le agak tersipu. “Tadi Sian-su menyebut-nyebut tentang Pek-kong-kiam dan tiba-tiba aku teringat sumpah gak-bo ketika pedang itu menuntut dan hendak membunuh gak-bo. Tentu karena sumpah inilah maka gak-bo termakan balik. Dan aku mengira-ngira begitu, sama seperti gak-hu.”

“Ha-ha, tak ada yang lain lagi?”

Semua terbelalak.

“Kau!” Si Rajawali Merah tiba-tiba dituding. “Kau agaknya dapat menjawab lebih baik, Thai Liong. Coba sempurnakan jawaban Siang Le dan katakan di sini!”

Thai Liong terkejut. Ia tadinya berpikir sejenak dan dialog ini memancing datangnya percikan menyambar. Sama seperti ayahnya yang juga mengenal gerak-gerik kakek dewa itu maka Thai Liong pun mencari dan coba menemukan jawaban. Sebagai pemuda yang berotak encer tiba-tiba saja ia menemukan jawaban itu, teringat sebuah wejangan Sian-su agar dia hati-hati akan satu hal, menjaga kata-kata atau bicaranya agar tidak mengundang hasil buruk di kemudian hari. Dan karena Sian-su sudah menyatakan bahwa jawaban Siang Le hampir benar, hanya ia diminta untuk menyempurnakan jawaban itu tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri dan Beng An yang ada di dekatnya tiba-tiba ditotok atau ditusuk lehernya sampai menjerit.

“Maaf, barangkali ini, Sian-su. Kalau tidak salah maka inilah pedang yang kau maksud... tuk!” dan sang adik yang berteriak dan terlonjak bangun tiba-tiba kaku tubuhnya dengan lidah terjulur keluar!

“Heii...!” Swat Lian membentak, terkejut. “Apa yang kau lakukan, Thai Liong. Kenapa kau membuat adikmu seperti itu!”

“Maaf,” pemuda ini tertawa, Beng An mendelik dan ah-uh-ah-uh tak dapat menarik lidahnya, kaku seperti patung anak-anak. “Aku memperagakan jawabanku, ibu. Dan agaknya Sian-su setuju dengan cara seperti ini. Itulah jawabannya, itulah pedang yang dimaksud Sian-su!”

“Pedang? Mana?”

“Ha-ha!” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba tertawa bergelak, melompat bangun. “Benar juga, Thai Liong. Ah, pedang itu sudah kulihat. Benar, itulah pedangnya!”

Swat Lian dan puterinya terbelalak lebar. Suami dan putera mereka itu menunjuk-nunjuk Beng An dan yang ditunjuk melotot marah. Beng An merasa dipermainkan dan mendelik memandang kakak laki-lakinya itu. Tapi ketika ia melihat ayahnya terbahak-bahak dan girang memandang dirinya, yang kaku dengan lidah terjulur maka Swat Lian maupun Soat Eng terheran-heran dan menganggap dua laki-laki itu tidak waras. Gila!

“Eh, mana pedangnya. Mana pedang yang kalian katakan itu!”

“Ha-ha, itu. Di mulut Beng An. Lihat ia membawa pedang dan alangkah tepatnya kiasan Sian-su. Aihh, sekarang aku mengerti, Sian-su. Sekarang aku menemukan jawabannya dan tahulah aku. Ha-ha, pedang itu sudah kulihat!”

Pendekar Rambut Emas atau Kim-mou-eng terbahak-bahak. Ia menuding-nuding putera bungsunya namun Soat Eng maupun sang ibu tertegun. Mereka tak melihat pedang di mulut Beng An. Yang mereka lihat adalah lidah anak itu. Tapi ketika Siang Le menepuk dahi dan Shintala juga meloncat bangun, terbeliak dan berseru keras maka gadis itu berseru,

“Benar, aku juga melihat pedang itu. Aih, pedang itu di mulut Beng An!”

“Dan aku juga. Ooh, kau mengingatkan kami, Sian-su. Kau benar. Terima kasih!”

Siang Le dan Shintala tertawa-tawa girang. Soat Eng dan ibunya kian terbelalak lebar namun Kim-hujin ini mendadak menegang tubuhnya. Ada sesuatu yang dia lihat dan tiba-tiba nyonya ini merasa seram! Dan ketika ia mundur dan berseru tertahan, terbelalak memandang Beng An maka iapun tiba-tiba tersedu dan menutupi mukanya.

“Aduh, aku juga telah melihat, Sian-su. Benar, pedang itu di mulut Beng An!”

“Pedang?” Soat Eng masih bengong. “Mana pedang itu, ibu? Kalian melihat apa?”

“Duh, aku telah melihat pedang itu, Eng-ji, dan aku sadar. Ooh, pedang itu adalah lidah Beng An. Itulah pedangnya!”

Soat Eng tertegun. Ibunya sudah tersedu dan berlari menubruk Sian-su, mengguguk dan menangis di situ dan tiba-tiba nyonya ini seolah sudah menangkap segalanya. Soat Eng bengong dan bingung tapi Shintala tiba-tiba berbisik bahwa lidah adiknya itulah yang dimaksud Sian-su sebagai pedang. Lidah yang dapat dipergunakan manusia untuk menyerang dan menusuk orang lain dengan tajam dan tak kalah jahatnya. Dan ketika Soat Eng sadar dan berseru tertahan, kebingungannya tiba-tiba lenyap maka tersentaklah dia melihat ini.

Beng An sendiri sudah dibebaskan totokannya dan Thai Liong tersenyum meminta maaf. Anak itu terpaksa dijadikan alat peraga untuk membuka mata yang lain-lain, menjawab atau memecahkan teka-teki Sian-su tentang pedang yang aneh itu. Dan ketika di sana Swat Lian atau Kim-hujin ini mengguguk memeluk Sian-su, meratap di bawah kakinya maka kakek ini tersenyum berseri-seri dan tampak puas, meletakkan tangan di pundak nyonya itu.

“Bagus, kau sudah melihatnya dengan baik, hujin, dan aku girang. Agaknya tak perlu kujelaskan lagi yang lain-lain karena kau tentu mengerti!”

“Tidak... tidak, Sian-su. Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri tentang semuanya ini. Biarlah aku dan anak-anakku mendengar. Aku masih belum puas!”

“Eh, bukankah kau sudah tahu?”

“Tak puas rasanya hati ini kalau belum mendengar dari mulutmu sendiri, Sian-su. Dan mungkin masih ada lagi yang hendak kau katakan. Aku masih butuh nasihatmu!”

“Hm, baik, kalau begitu berdirilah. Sekarang pedang yang kutanyakan sudah ketemu, aku girang bahwa kalian tak bingung lagi. Kau...!” kakek ini memandang Soat Eng. “Masihkah bingung lagi, siauw-hujin? Bukankah kau sekarang juga tahu?”

“Beb... benar,” Soat Eng gemetar, jawabannya lirih. “Aku sekarang tahu, Sian-su. Tapi betul kata ibu bahwa sebaiknya kau mengulang lagi!”

“Ha-ha, boleh. Tapi ayah atau kakakmu nanti dapat melanjutkan karena mereka juga tahu apa yang menjadi inti pelajaran ini. Hm, duduklah semua. Kita bicara lagi,” dan ketika kakek itu mengebutkan lengannya dan Kim-hujin terlempar perlahan, duduk dengan lembut maka kakek ini bersinar-sinar memandang yang lain.

“Awal kejadian ini dari dendam, sakit hati atau kemarahan ibumu. Dan karena dendam itu sudah ditanamkan seperti pedang terhunus yang menancap di bumi, dalam dan kuat maka dendam itu tak dapat dicabut begitu saja tanpa melalui kejadian atau peristiwa-peristiwa berikut. Mula-mula ibumu menumpahkan kemarahannya kepada suamimu, Siang Le. Apalagi setelah suamimu mendapat warisan ilmu-ilmu dari ayahmu. Ibumu tak senang, ibumu semakin meluap. Dan ketika ia memaksa suamimu untuk mencari dan membunuh gurunya, dengan ilmu-ilmu yang didapat dari ayahmu maka suamimu memilih untuk meletakkan saja semua pelajaran ayahmu daripada dipakai membunuh gurunya. Suamimu amat menjunjung tinggi budi dan kebaikan orang lain. Suamimu tak dapat melupakan begitu saja kebaikah dan hutang yang pernah didapat dari gurunya. Dan karena ia memilih lebih baik dibunuh daripada disuruh membunuh, ibumu marah-marah maka semua kejadian ini terus berlangsung di mana kalian semua tak ada yang tahu tentang ini. Siang Le memendam saja penderitaannya ini. Dia juga tahu kebencian atau dendam di hati ibumu. Tapi karena sejahat-jahatnya mendiang See-ong kakek itu tetap gurunya, orang yang membesarkan dan memberinya kepandaian dan makan sehari-hari maka suamimu berada di persimpangan jalan dan batinnya tertekan berat. Sepak terjang gurunya juga tak disetujuinya. Berapa kali dia menentang dan melawan gurunya sendiri hingga berkali-kali hampir dibunuh juga. Tapi karena See-ong amat sayang kepada muridnya ini dan meskipun gusar kakek itu tak mampu membunuh muridnya sendiri maka dibiarkannya Siang Le hidup dan persoalan muridnya yang ditekan ibumu ini juga tak diketahuinya. Siang Le tak mau ribut-ribut. Dan ketika penderitaan demi penderitaan diterimanya dengan tabah, suamimu ini memang pendiam dan tak banyak mulut maka ibumu marah-marah dan dibuat penasaran. Kalau saja tak takut kepada kalian atau ayahmu mungkin ibumu dapat membunuh suamimu ini. Lihat saja ketika ia datang di Sam-liong-to. Bukan menantunya yang lebih dulu ditolong melainkan puterinya. Pemuda itu dibiarkan saja entah celaka atau tidak, dan ayahmu yang lalu melepaskannya dari cengkeraman Ui Kiok. Dan ketika suamimu kembali menjadi tawanan Togur karena ibumu tak sabar menunggu di pantai, asal kau selamat maka kebencian atau rasa tidak suka ibumu ini menonjol sekali. Keselamatan Siang Le sungguh tak dihiraukannya. Tanyalah ayah atau kakakmu ini ketika ibumu sama sekali tak perduli kepada suamimu ketika Togur mengancamnya untuk membunuh. Ibumu benar-benar tak acuh. Tapi ketika Pek-kong-kiam muncul dan pedang yang pernah menjadi saksi sumpah ibumu ini berada di tangan Togur, ibumu kaget dan pedang itu mengancam membunuhnya maka barulah ibumu terguncang dan rasa ngeri atau takut melandanya. Sudah menjadi sifat manusia untuk menyadari bahaya di kala bahaya itu datang. Sudah menjadi sifat manusia untuk merasa takut dan gentar menerima akibat dari perbuatannya yang salah. Dan karena ibumu juga begitu karena ia telah menarik janji atau sumpahnya kepada Pek-kong-kiam, yang kini menuntut balas maka pengorbanan atau tindakan nekat suamimu itu ketika menyelamatkannya kembali membuat jiwanya terguncang dan tergetar. Pek-kong-kiam yang hancur bertemu darah suamimu membuat kejutan dahsyat di jiwa ibumu. Tiba-tiba ibumu sadar bahwa suamimu ini adalah seorang ksatria berdarah suci. Dan ketika adikmu Beng An juga sembuh menghirup darah suamimu, yang semula terpengaruh dan kemasukan Bu-siang-sin-kang maka semuanya ini merupakan petir dan guntur yang sambar-menyambar. Itulah kiasan yang kumaksud dan ayahmu tentu mengerti apa maksudnya bait kedua itu. Peristiwa demi peristiwa yang mengguncangkan ibumu inilah yang kuartikan sebagai guntur atau petir yang sambar-menyambar. Dan karena ibumu tiba-tiba sadar oleh semuanya ini, perbuatan atau keberanian suamimu menerima Pek-kong-kiam, tak perduli atau mengingat-ingat segala kebencian ibumu kepadanya maka ibumu benar-benar terpukul dan kesembuhan Beng An semakin membuka mata hatinya lagi bahwa menantunya itu benar-benar orang baik. Ibumu menyesal dan hancurlah kesombongan atau api kebenciannya dulu. Dia sekarang benar-benar melihat bahwa suamimu bukanlah See-ong. seperti halnya See-ong bukanlah suamimu. Dan ketika ia sadar di saat maut datang menggetar, nyaris terlambat menerima akibat sumpahnya sendiri maka yang terakhir ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus hati-hati mempergunakan lidah. Inilah 'pedang' yang kumaksud lentur dan lemas. Inilah senjata yang tak kalah berbahaya dengan pedang-pedang lain. Dan karena menyadari ini berarti membuka kewaspadaan kita, di samping pengertian akan kebencian dan lain-lain itu maka sebagai manusia yang ingin meraih kebahagiaan yang lebih tinggi kita harus membuang rasa-rasa dengki atau kebencian yang bakal merugikan. Kita hanya akan menyesal saja di belakang hari, hanya memperoleh sampah-sampah busuk dari hasil perbuatan kita yang melenceng dari kebenaran. Dan karena mengerti dan sadar akan semuanya ini bakal membuat kita semakin terang dan bercahaya maka tak ada jeleknya sewaktu-waktu kalian tepekur dan mawas diri. Lidah, benda yang lemas dan lentur ini ternyata memiliki sisi lain yang gelap bagi manusia. Lihat berapa sering manusia bermusuhan dan berperang karena pedang yang satu ini. Lihat betapa kebencian dan kemarahan juga berasal dari benda yang satu ini. Dan karena iblis amat suka sekali mempergunakan organ tubuh yang satu ini, sering hinggap dan meluncur membawa keributan dan permusuhan maka kalian yang sekarang tahu dan sadar akan ini harap hati-hati mempergunakan lidah. Aku tak akan bicara banyak lagi karena semuanya sudah cukup. Kalian tentu dapat mencerna dan melihatnya lebih luas lagi. Dan karena Kim-hujin sudah sadar dan aku girang melihat ini, syukur dan selamat kuucapkan maka biarlah lain kali kita bertemu dan mengupas kejadian lain lagi dalam kesempatan berbeda!”

Semua terkejut. Bu-beng Sian-su tiba-tiba bangkit berdiri dan mengebutkan lengan bajunya. Mereka yang tadi terhanyut dan terbawa uraian panjang lebar ini mendadak tersentak. Merekapun tiba-tiba berdiri, kaget! Tapi ketika kakek itu tertawa dan berkata bahwa uraian sudah jelas, selanjutnya Kim-mou-eng atau Rajawali Merah dapat melanjutkan maka kakek itu memandang Beng An dan berkata.

“Anak ini masih belum sembuh benar. Bagaimana kalau sebulan lagi dia kubawa dan kalian melepaskan rindu dulu. Apakah disetujui.”

“Sian-su hendak membawa puteraku? Aduh, terima kasih, Sian-su, tentu saja kami setuju. Tapi bagaimana kalau jangan sebulan lagi. Bagaimana kalau dua atau tiga bulan!” Swat Lian atau Kim-hujin ini menawar.

“Hm, boleh-boleh saja, hujin. Tapi sisa penyakitnya ditubuh itu tak boleh terlampau lama dibiarkan. Bu-siang-sin-kang sudah hancur, namun darah yang pernah dijadikan tempat ilmu hitam itu dapat sewaktu-waktu bergolak, seperti bibit penyakit yang lumpuh namun tertinggal di dalam. Kalau kau tak ingin cepat-cepat tentu saja aku tak memaksa. Hanya sebaiknya sebulan cukup. Aku ingin menggembleng puteramu untuk menghadapi sesuatu di depan. Terserah kau dan suamimu.”

“Kami tak menolak,” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkata, mendahului isterinya. “Kau memiliki kewaspadaan yang jauh melebihi kami, Sian-su. Kalau itu untuk kebaikan puteraku biarlah sebulan lagi kami akan menyerahkan Beng An!”

“Hm, bukan untuk kebaikan puteramu seorang,” kakek ini tersenyum, “melainkan untuk kebaikan dunia, Kim-mou-eng. Kebaikan orang banyak. Sudahlah, kalian dapat mengantar anak ini ke Lembah Malaikat kalau cukup. Aku pergi dan selamat tinggal!” dan begitu kakek itu berkelebat dan menggerakkan kakinya sekonyong-konyong ia sudah lenyap dan menghilang dari depan semua orang.

Kim-mou-eng yang sudah berkali-kali menyaksikan kepandaian kakek ini tetap saja merasa kagum. Ia yang sudah memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi masih juga tak sanggup mengikuti. Namun ketika ia dan yang lain-lain terbelalak melihat sesosok asap di bawah bukit, asap yang bergerak dan melayang cepat di permukaan laut selatan untuk akhirnya menghilang maka Soat Eng dan Siang Le mendengar bisikan lembut, suara yang sayup-sayup sampai namun jelas terdengar di telinga.

“Siang Le, kau masih akan merasakan cobaan lagi di depan. Isterimu akan memusuhimu. Tabahlah, jadi orang baik memang sukar, anak muda. Ada-ada saja yang akan menjatuhkanmu!”

Dan ketika pemuda itu tertegun sementara isterinya terbelalak di sebelah, tidak mendengar itu maka Soat Eng mendengar kata-kata kakek ini, yang juga tak didengar suaminya.

“Siauw-hujin, hidup ibarat gelombang samudera, naik turun berganti-ganti. Sayangilah suamimu dan jagalah agar ia tak menderita!”

Dua orang muda itu sama-sama mengangguk. Soat Eng maupun Siang Le tentu saja menerima bisikan itu dengan perasaan yang berbeda-beda. Soat Eng bersinar-sinar dan penuh cinta kasih memandang suaminya sementara Siang Le dengan alis dan kening berkerut-kerut. Apalagi ini. Cobaan apalagi itu! Tapi ketika pemuda ini tersenyum dan memandang isterinya, sinar mata isterinya menarik dan mendorong dia untuk menoleh maka pemuda itu menarik napas panjang dan menerima pesan kakek dewa itu dengan tabah, tenang! Ia balas memandang isterinya dengan penuh cinta kasih. Sukar dipercaya bahwa isterinya kelak akan memusuhinya. Dan ketika isterinya bergerak dan mencekal lengannya, penuh kerinduan maka isterinya itu berkata, perlahan.

“Le-ko, sudah waktunya kita beristirahat. Badai telah berlalu. Dan Sian-su menyuruhku untuk menyayang dan menjagamu agar tidak menderita. Ih, lucu kakek itu. Masa aku harus membuat suamiku sendiri menderita!”

“Kau mendapat pesan?”

“Ya, apakah kau tidak dengar.”

“Hm, aku tak tahu. Tapi kakek itu memang luar biasa, dan aku menjadi malu!”

“Malu? Apa yang membuatmu malu?”

“Kata-katanya itu, Eng-moi, pujiannya. Aku jadi berat dan malu menerima ini. Aku manusia biasa, jangan-jangan nanti melambung dan justeru terjebak kesombongan!”

“Tidak, kau memang begitu, Le-ko. Kau pemuda luar biasa dan baik. Dan aku kagum. Apa yang dikata Sian-su memang tepat dan semua orang tentu mengakui!”

“Hm, jangan meniup kepalaku lagi. Nanti seperti balon. Sudahlah, aku jengah dan kikuk menerima pujian-pujian, Eng-moi. Sebaiknya kita persilahkan ayah dan ibu memasuki rumah. Kita di luar istana!”

Soat Eng teringat. Ia tertawa dan mengecup pipi suaminya ini tak malu-malu di depan orang lain, tanda kebahagiaan atau kebanggaan hatinya. Bu-beng Sian-su sendiri telah memuji suaminya, hal yang jarang terjadi! Dan ketika ia mempersilahkan ayah ibunya untuk turun bukit, mereka masih bengong di atas maka Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar lengan isterinya. Swat Lian sendiri menyambar Siang Le dan Siang Le menyambar Soat Eng. Empat orang itu berendeng dan tiba-tiba Thai Liong berkelebat menyambar Beng An, tertawa.

Dan ketika di sana Shintala juga bergerak dan menyambar bibinya, Cao Cun yang bengong dan mendengarkan percakapan itu maka keluarga Pendekar Rambut Emas ini meluncur di bawah bukit menuju Istana Hantu. Istana itu adalah tempat tinggal Siang Le suami isteri dan di sinilah semuanya bermalam. Swat Lian atau Kim-hujin tak henti-hentinya memegang Siang Le, memperhatikan atau mengobati pemuda buntung itu dengan amat manisnya.

Dan ketika Pendekar Rambut Emas menetapkan untuk tinggal seminggu, berkumpul dan melepas kerinduan dengan keluarga maka malam demi malam dilalui pendekar ini dengan renungan. Wejangan atau nasihat Sian-su mengena di hatinya. Kata-kata kakek dewa itu selalu terngiang kembali. Dan ketika ia menggeleng dua tiga kali melihat sikap isterinya terhadap Siang Le, perhatian dan kasih sayangnya yang luar biasa maka pendekar ini menarik napas dalam-dalam.

Sungguh tak diduganya bahwa sejauh itu isterinya memusuhi Siang Le. Sikap memusuhi yang diakibatkan dendamnya terhadap See-ong. Dan teringat betapa isterinya hampir celaka oleh pedang Pek-kong-kiam, pedang pembawa sumpah maka Pendekar Rambut Emas diam-diam bergidik. Bukan oleh sumpah itu melainkan oleh “pedang” yang dipakai isterinya, lidah yang amat berbahaya itu. Ah, dengan lidah memang manusia dapat menimbulkan apa saja. Permusuhan, dengki, iri dan sebagainya yang semua itu bersumber dari “pedang” ini. Dan karena lidah dapat dipergunakan untuk menusuk dan “membacok” orang lain, dapat menimbulkan atau menciptakan hal-hal mengerikan maka pendekar ini mengusap dada.

Bukan main. Manusia ternyata memiliki sebuah senjata ampuh untuk menghantam dan melukai manusia lainnya. Dengan senjata yang lemas dan lentur ini manusia dapat menciptakan keributan dan kekerasan. Dan ngeri oleh hasil “pedang” yang tajam ini, yang bisa berupa kutuk atau fitnah maka Pendekar Rambut Emas memejamkan mata dan menekan dalam-dalam segala ingatan buruk. Ia hampir saja kehilangan isterinya. Ia hampir saja menjadi “korban” dari pedang isterinya itu. Menjadi duda! Dan teringat bahwa gara-gara sumpah atau omongan isterinya terhadap Pek-kong-kiam, yang hendak membunuh atau mengutungi orang yang dulu membebaskan See-ong (baca: Istana Hantu) maka pendekar ini serasa teriris.

Dulu isterinya itu telah bersumpah untuk membunuh atau mengutungi orang yang melepaskan See-ong, kakek iblis yang dulu dia kurung dan hukum di Sam-liong-to. Tapi karena ternyata yang membebaskan See-ong adalah puteranya, Thai Liong, yang melakukan itu untuk melancarkan jalan bagi perjodohan adiknya maka isterinya terpukul dan pingsan. Tentu saja tak mungkin membunuh Thai Liong karena Thai Liong anak tirinya. Apalagi karena perbuatan itu dilakukan untuk membahagiakan adiknya, anak yang dilahirkan isterinya sendiri.

Dan ketika isterinya terpaksa membuang sumpah dan Pek-kong-kiam ke laut, tak menyangka urusan berlanjut maka isterinya harus menerima pembalasan dendam atau tuntutan Pek-kong-kiam. Nyaris terbunuh kalau saja tidak diselamatkan Siang Le, pemuda yang justeru selalu dimusuhi dan dibenci isterinya, hanya karena bayangan See-ong. Dan ketika isterinya bersyukur telah selamat dari bahaya maut, darah Siang Le “mencuci” dosa-dosa isterinya maka sekali lagi Pendekar Rambut Emas menarik napas dalam-dalam. Inilah karena lidah!

Kalau dulu isterinya tidak mengeluarkan sumpah atau kutuk, atau apa saja yang berasal dari “pedang” ini dan amat berbahaya tak mungkin bakal ada kejadian itu. Tapi karena gara-gara lidah dan Pek-kong-kim menuntut, isterinya terguncang maka maut hampir saja merenggut dan pendekar itu menghela napas lagi. Bukan hanya isterinya saja yang berbuat salah semacam itu. Ada banyak manusia-manusia lain yang pada intinya sama. Lihat saja pertengkaran-pertengkaran atau permusuhan di sana-sini. Lihat saja pembunuhan dan perang yang muncul di sana-sini. Bukankah karena lidah juga? Dan pahit mebayangkan ini maka Pendekar Rambut Emas mengangguk-angguk.

Benar kata Sian-su. Salah satu “tubuh” manusia yang amat lemah dan rawan dipakai iblis adalah ini: Lidah. Salah satu tempat atau sumber permusuhan-permusuhan adalah juga ini: Lidah! Ah, dapatkah manusia menekan atau mengendalikan lidahnya untuk mengurangi permusuhan atau kedengkian di sana-sini? 

Dapatkah manusia lebih waspada dan sadar akan senjatanya yang lemas dan lentur namun amat berbahaya ini? Semuanya terpulang kepada masing-masing pihak. Kalau orang itu sering mawas diri dan melakukan perobahan-perobahan ke arah yang baik tentu dapat. Tapi kalau manusia tak mampu dan membiarkan diri tenggelam dalam keburukannya maka itulah yang terjadi. Permusuhan dan pembunuhan!

Pendekar Rambut Emas tergetar. Melihat dan menyaksikan ini ia merasa seram. Lidah benar-benar dapat menjadi alat berbahaya kalau tak hati-hati mempergunakan. Buktinya sumpah isterinya itu, karena tak hati-hati mempergunakan lidah dan omongannya maka ia nyaris terbunuh. Manusia memang harus waspada akan benda lemas dan lentur yang dimilikinya ini. Sekali terjerumus maka malapetakalah yang didapat. Duh, Thian Yang Agung. Ampunilah kami!

Pendekar ini memejamkan mata. Sekarang ia mengerti bait demi bait dari syair kakek dewa itu. Bait pertama. berisikan “sepotong lidah”, yang sekali menusuk memang dapat membuat bumi luka berdarah. Dan bait kedua, hmm... apalagi kalau bukan peristiwa demi peristiwa yang mengguncangkan isterinya? Guntur dan petir memang telah sambar-menyambar, dan itu adalah kejadian demi kejadian yang memukul isterinya. Kalau tak ada guntur atau petir ini barangkali isterinya tak akan sadar. Kalau belum di ambang maut barangkali manusia-manusia lain juga tak akan sadar. Dan pahit membayangkan bahwa manusia rupanya harus digebuk atau dihajar dulu untuk merasakan sakit maka pendekar ini geleng-geleng kepala.

Gejala apakah ini? Apakah manusia termasuk mahluk yang bandel dan bodoh? Apakah manusia tak punya kecerdasan batin untuk melihat dan mengerti semuanya itu? Kalau benar maka jawabannya adalah pantas. Pantas bahwa manusia itu memang goblok! Tapi kalau tidak kenapa banyak orang tak hati-hati mempergunakan lidahnya? Apakah kurang “informasi”?

Barangkali ini. Baik. Dia akan meneruskan dan memberitahukan orang lain akan wejangan kakek dewa ini. Keluarganya sudah diberi tahu dan dia akan bergerak lebih luas, bukan ke mana-mana melainkan ke suku bangsanya dulu, baru setelah itu sahabat-sahabatnya dan orang lain. Dia akan berteriak kepada dunia bahwa mahluk yang bernama manusia ini akan diberi “penyuluhan”. Dan begitu Pendekar Rambut Emas berseri dan bangkit berdiri maka terdengarlah pekikannya yang menggelegar mengguncang Sam-liong-to.

“Hoaiyoooo....!”

Anak isterinya terkejut. Pulau berderak dan tentu saja bayangan-bayangan berkelebatan. Swat Lian dan Soat Eng serta yang lain-lain mengira ada bahaya baru. Tapi ketika mereka tertegun melihat pendekar itu berdiri gagah di atas sebuah batu karang, berseri-seri, wajahnya kemerahan sementara rambutnya berkibar-kibar di belakang bahu, rambut yang keemasan dan hidup tertimpa sinar matahari pagi maka sang nyonya terbelalak melihat sikap suaminya itu. Mata yang juga mencorong seperti mata seekor naga yang sedang gembira!

“Heii, ada apa, suamiku? Kenapa kau berteriak mengguncangkan pulau? Bikin kaget saja, kami terkejut!”

“Ha-ha, aku teringat wejangan Sian-su. Aku ingin meneruskan wejangannya dan berseru kepada dunia bahwa manusia harus hati-hati mempergunakan lidahnya!”

“Kau gila? Dengan apa kau hendak memberitahukan mereka?”

“Dengan mulutku, isteriku. Dengan tingkah laku dan tindak-tandukku. Aku akan memberitahukan anak cucuku atau murid-muridku!”

“Gila, kau tak akan berhasil. Umurmu tak sepanjang dunia. Daripada begitu lebih baik begini... wut-wut!” dan sang nyonya yang sudah bergerak dan melayang ke batu karang yang, lain tiba-tiba mengguratkan kuku-kuku jarinya dan terbelalaklah Pendekar Rambut Emas melihat apa yang dilakukan isterinya, meloncat dan berkelebat lagi ke batu karang di sebelah dan tiba-tiba Kim-hujin atau nyonya ini sudah menulis sebuah pesan pada batu-batu karang yang lain, beterbangan dan sekejap kemudian sudah sepuluh batu karang penuh guratan huruf-huruf dalam. Sebuah pesan pendek terukir di situ: JAGALAH LIDAHMU

Dan ketika Kim-hujin atau nyonya Kim ini meneruskan perbuatannya menggurat, batu-batu Sam-liong-to maka Pendekar Rambut Emas tertawa bergelak dan mengikuti gerakan isterinya.

“Ha-ha, kau betul, niocu. Dengan tulisan ini maka pesan kita akan tertinggal seumur hidup. Kau betul. Usiaku tak seumur dunia. Ah, biar kutinggalkan pesan ini dan hayo berlomba siapa paling banyak!”

Dua orang ini berkejar-kejaran. Pendekar Rambut Emas dan isterinya berebut menulis lebih banyak. Batu-batu lebih kecilpun akhirnya menjadi sasaran, yang besar-besar sudah habis. Dan ketika ratusan batu sudah penuh guratan di mana masing-masing tak mau berhenti, Soat Eng dan lain-lain tersenyum maka seperti kena magnit tiba-tiba merekapun bangkit kegembiraannya dan berkelebatan pula.

“Hi-hik, bagus, ibu. Mari kubantu. Kalahkan ayah!”

“Tidak, aku akan membantu ayah, Eng-moi. Kalian tak boleh mengeroyok!”

“Eh, laki-laki dikeroyok sudah lumrah. Hayo, aku membantu enci Eng dan siapa yang menang!”

Thai Liong terkejut. Dia tadi berkelebat membantu ayahnya karena adiknya membantu ibu. Tapi begitu Shintala berseru dan membantu adiknya, yang berarti juga ibunya maka pemuda ini tertawa dan Pendekar Rambut Emas pun terbahak-bahak. Mereka beterbangan dari satu batu ke batu yang lain dan kebahagiaan atau kegembiraan sungguh terpancar di situ. Keluarga Pendekar Rambut Emas ini merasakan perasaan yang meluap-luap. Dan ketika semuanya berlornba menggurat batu, seorang wanita lain memandang itu dari gerbang Istana Hantu, maka perlahan-lahan wanita ini menitikkan air mata dan terharu.

Dia bukan lain adalah Cao Cun dan wanita itu mengangguk-angguk melihat sikap yang sedang bergembira itu. Wejangan Bu-beng Sian-su ternyata diabadikan di Sam-liong-to. Tepat sekali itu. Tinggalan ini akan dilihat anak cucu, biarpun mereka kelak tiada. Dan ketika wanita itu mengangguk-angguk dan menangis sendiri, penuh haru, maka Cao Cun tiba-tiba tak tahan dan kembali memasuki Istana Hantu. Kegembiraan dan keutuhan keluarga Pendekar Rambut Emas mendadak menusuk jantungnya. Ada kepedihan di situ. Ada rasa nyeri yang hebat. Namun ketika ia mengguguk dan berlari memasuki kamar tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh menyergapnya.

“Bibi teringat keluarga bibi? Bibi teringat putera-puteri bibi?”

“Oohhh...!” wanita ini tersentak, kaget. “Kau, Siang Le? Kau ada di sini...?”

“Aku memperhatikanmu, bibi, dan aku juga melihat mereka. Aku terkejut melihat kau menangis!”

“Aku... aku tak tahan....!”

“Aku tahu. Mereka keluarga yang utuh, bibi. Sementara kau tidak. Kau kehilangan anak-anakmu, kau kehilangan suami dan siapa saja yang pernah dekat denganmu. Ah, aku terharu. Kita hampir senasib, bibi. Kau kehilangan anak-anakmu sementara aku kehilangan orang tua. Kau....” Siang Le tersendat, air mata tiba-tiba menitik. “....kau boleh anggap aku sebagai pengganti anakmu, bibi, kalau kau suka. Dan aku... aku akan menganggapmu sebagai ibuku!”

“Siang Le...!”

Cao Cun tak kuat dan menubruk. Wanita ini menjerit dan seketika meledaklah tangisnya yang keras. Ia terpukul dan terharu bukan main oleh kata-kata pemuda ini. Ia memang butuh keluarga, anak. Dan ketika ia tersedu-sedu dan Siang Lepun tak tahan menahan runtuhnya air mata, memeluk dan bergetar melihat tangis wanita itu maka pemuda inipun juga naik sedu-sedannya hingga berguncang.

“Bibi, aku akan memanggilmu ibu sekarang juga, kalau boleh. Apakah boleh aku memanggilmu seperti itu dan kuanggap sebagai ibu kandungku yang tak pernah kulihat!”

“Aduh, kenapa tidak, Siang Le? Aku tak keberatan. Aku justeru bangga. Aku bangga mempunyai anak seperti kau. Kau seperti ikan yang tak tercemar oleh asinnya air laut. Kau mutiara yang akan menerangi hatiku. Aduh, aku berterima kasih, Siang Le. Aku bersyukur. Sebut lagi kata-kata itu, nak.... panggillah aku dengan ibu!”

“Apa?”

“Panggillah aku sebagai ibumu!”

“Tidak, bukan.... bukan itu, ibu... melainkan panggillanmu yang terakhir tadi. Bagaimana kau memanggilku!”

“Kau anakku, kau kuanggap anakku. Duh, kenapa, Siang Le. Kenapa kau roboh. Siang Le.... anakku!”

Siang Le terjengkang. Ia roboh karena tiba-tiba wanita ini memeluk dan mendekapnya terlalu ketat, kebetulan dekat dengan lukanya yang buntung itu dan Siang Le mengeluh. Tapi ketika ibunya mengguncang-guncang dan berkali-kali menyebutnya sebagai anakku, panggilan “nak” itu demikian lembut dan penuh kasih sayang maka pemuda ini membuka matanya dan air matanya yang basah memenuhi muka bercampur dengan air mata ibunya itu, tak dapat lagi dibedakan.

Siang Le tercekik oleh kebahagiaan yang sangat dan ia tak mampu berkata-kata, sang ibu menciuminya penuh khawatir dan cemas. Tapi ketika ia bangkit duduk dan bersandar dinding, berkata bahwa ia tak apa-apa maka Cao Cun mengguguk menubruknya kembali.

“Duh, kusangka ada apa, nak. Kau mencemaskan ibumu!”

“Aku... aku terlampau bahagia. Tenggorokanku rasanya tercekik, ibu. Baru kali ini aku mendapat panggilan lembut seorang ibu!”

“Oohhh...!” dan keduanya yang saling peluk dan segera hanyut dalam keharuan akhirnya tak berkata apa-apa lagi karena pandang mata dan jari-jari mereka sudah berbicara lebih dari sekedar kata karena di situ sudah muncul getaran-getaran cinta kasih yang amat dahsyat. Masing-masing menunduk, dan membenamkan kepala di bahu yang lain. Cao Cun tersedu-sedu namun bukan oleh kedukaan melainkan justeru oleh kebahagiaan. Hanya mereka berdualah yang tahu betapa besar dan dalam kebahagiaan itu. Hanya merekalah yang tahu betapa nikmat dan bahagianya cinta kasih ini.

Dan ketika Siang Le menyandarkan kepalanya di pundak ibunya ini, diusap dan dielus-elus akhirnya tanpa sadar pemuda ini ternina-bobok. Siang Le merasakan hembusan angin semilir dan tiba-tiba iapun tertidur. Mimpi yang amat indah membuainya. Dan ketika dua tiga kali ibunya mengecup keningnya, keharuan dan semangat baru timbul dalam dada wanita ini maka Cao Cun pun tak terasa menyandarkan kepalanya di bahu anak laki-lakinya itu. Wanita inipun tertidur tanpa sadar. Hembusan angin laut yang menerpa Istana Hantu sungguh hebat. Udara tiba-tiba menjadi harum dan teruarlah bau semerbak dari bunga-bunga di Sam-liong-to.

Dan ketika ibu dan anak tertidur dibuai mimpi indah, Cao Cun menyungging senyum maka orang pasti terharu melihat adegan ini. Siang Le dirangkul ibunya dengan lembut. Cinta kasih dan perasaan sayang tak dapat disembunyikan wanita itu. Kebahagiaan jelas memancar di sini, kebahagiaan sejati. Dan ketika semerbak bunga semakin harum, laut beriak tenang seakan membisikkan kagum kepada dua manusia itu maka perlahan-lahan gerbang Istana Hantu menutup.

Layar telah diturunkan dan selesailah kisah ini. Adakah kebahagiaan yang tak menyentuh rasa haru? Adakah bunga-bunga kebahagiaan yang menebar di seluruh pulau? Hanya Sam-liong-to yang tahu.

Pembaca yang budiman, dengan berakhirnya kisah ini penulis juga hendak mohon diri. Tak ada apa-apa yang hendak dikatakan. Peristiwa di Sam-liong-to telah berakhir tapi tentu saja kisah ini masih terus akan berlanjut. Siang Le telah menemukan kebahagiaan barunya bersama ibunya itu, Cao Cun si wanita malang. Dan karena masing-masing sama menerima dan memberi, kebahagiaan tak pernah meninggalkan unsur keseimbangan maka biarlah kita temui lagi mereka di kisah berikut. Anda akan bertemu lagi dengan pemuda ini dan keluarga Pendekar Rambut Emas yang lain.

Anda akan menjumpai lagi peristiwa-peristiwa baru dalam kisah perjalan hidup mereka ini. Apakah tak ada lagi badai menimpa si buntung itu? Menyedihkan. Pemuda yang satu ini rupanya memang harus mengalami peristiwa demi peristiwa yang pahit. Kalau dulu ibu mertuanya memusuhinya habis-habisan.

Maka pada kisah Putri Es, anda akan melihat si buntung ini dimusuhi isterinya sendiri. Juga habis-habisan! Masalah apa itu? Ah, mari kita lihat saja. Yang jelas, kata-kata Bu-beng Sian-su memang terbukti. Dan Anda tentu saja kembali akan bertemu dengan kakek dewa ini. Penasaran? Memang penasaran!

Pembaca yang budiman, penulis kira cukuplah sampai di sini dulu. Mudah-mudahan hiburan ringan ini benar-benar dapat menghibur Anda. Dan sambil menunggu cerita baru itu tak lupa penulis titipkan salam untuk Anda semua. Salam bahagia...!