Rajawali Merah Jilid 26 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 26
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SAN TEK dan Togur terkejut. Bentakan atau seruan Pendekar Rambut Emas yang begitu dahsyat tiba-tiba membuat Sam-liong-to berderak dan berguncang. Laut tiba-tiba membuih dan terjadilah gelombang pasang yang hebat. Sam-liong-to diserbu. Dan ketika ombak sebesar bukit menerjang atau menghantam pulau ini, sisa-sisa anak buah Togur berteriak dan terlempar di luar istana, Lam-hai bergolak maka menjeritlah kaum wanita dan pemuda-pemuda yang tadi bersembunyi karena mereka itu disambar atau dijilat buih ombak yang setinggi pohon kelapa.

“Toloongg...!”

Jerit atau pekik itu tak berguna. Puluhan tubuh tersedot dan terlempar dari guha-guha persembunyian, laut selatan mengamuk dan kaum wanita serta pemuda yang dihantam gelombang laut ini terhisap dengan kuatnya. Mereka terbawa dan tak dapat mempertahankan diri dari guha-guha persembunyian mereka, terlempar dan lenyap di balik gulungan gelombang dahsyat. Pekikan Pendekar Rambut Emas ternyata mengguncang laut selatan.

Lam-hai rupanya terkejut dan tersentak oleh pekik atau gelegar suara pendekar ini. Kim-mou-eng berada dalam puncak kegelisahannya. Tapi ketika tubuh-tubuh terlempar dari guha-guha persembunyian dan Togur maupun San Tek terkejut oleh pekikan ini maka di laut selatan, di tengah-tengah samudera luas tiba-tiba tampak bayangan merah melayang-layang dengan amat cepatnya menuju pantai, yang sedang berbuih!

“Ayah, aku datang!”

Suara atau seruan ini menembus segala hirup-pikuk kegaduhan. Laut selatan yang bergolak dan mendidih tiba-tiba tak dapat menghalangi datangnya bayangan merah ini. Bayangan itu muncul dari tengah-tengah laut dan suaranya yang begitu nyaring melengking menandingi suara Pendekar Rambut Emas. Bedanya tidaklah menggetarkan atau mengejutkan pulau, meskipun masing-masing memiliki kelebihan sendiri karena suara yang diserukan bayangan merah itu cukup menyentak dan menyakitkan telinga, berdenging bagai seribu batang pedang atau jutaan lebah yang sedang marah. Dan ketika bayangan itu terus bergerak dan meluncur maju, ombak maupun buih-buih gelombang tak dapat menahan dirinya maka sekejap kemudian iapun sudah sampai di daratan, terbang dan menyambar ke arah pertempuran tiga orang itu.

“Ayah, aku datang...!”

Pendekar Rambut Emas girang bukan main. Bayangan merah ini sudah menyambar seperti burung dan begitu datang iapun menangkis pukulan Togur maupun San Tek. Si gila dan si buntung ini sama-sama terkejut karena begitu datang begitu pula angin berkesiur dahsyat. Dan ketika keduanya menangkis namun saat itu keduanya kurang siap, mereka baru saja menyerang Pendekar Rambut Emas maka keduanya terlempar dan mencelat bergulingan, bagai disambar angin beliung, berteriak.

“Dess!” San Tek dan Togur sama-sama memaki. Mereka terguling-guling meloncat bangun dan bayangan merah itu, yang tegak dan tidak mengejar lawan tiba-tiba berdiri tertegun melihat wanita di pondongan Pendekar Rambut Emas. Inilah Thai Liong, Si Rajawali Merah yang berkibar-kibar ujung jubahnya itu. Pemuda ini terkejut melihat keadaan ibunya yang sudah kehitam-hitaman. Wajah ibunya juga hangus.

Namun Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan mengejar lawan berseru kepada puteranya agar menangkap si buntung. Di tangan si buntung itulah terdapat obat penawar dan Thai Liong, Si Rajawali Merah tiba-tiba menggeram dan berkelebat pula. Dan ketika pemuda itu membentak agar si buntung menyerah, mengeluarkan obat penawar maka Thai Liong sudah berhadapan dengan lawannya ini dan si buntung pucat, gentar.

"San Tek, hadapi Si Rajawali Merah ini. Biarkan kita bertukar lawan!”

“Keparat!” Pendekar Rambut Emas membentak. “Kau licik dan keji, Togur. Kau tak tahu malu. Boleh kau hadapi aku dan kita bertukar lawan.... des-dess!” Pendekar Rambut Emas terhuyung dan merah padam. Ia amat marah dan benci sekali kepada si buntung ini. Tadi mengeroyok tapi sekarang tiba-tiba meminta lawan yang lebih enteng, karena puteranya memang setingkat di atas dirinya sejak menerima warisan beberapa ilmu silat hebat dari manusia dewa Bu-beng Sian-su.

Dan ketika San Tek tertawa namun si gila itu rupanya juga mengenal jerih, lebih baik dengan Pendekar Rambut Emas daripada Thai Liong maka San Tek enak saja bicara. “Eh, kita mendapat musuh yang sama berat, Togur. Kim-mou-eng maupun puteranya sama saja. Lihat, Pendekar Rambut Emas inipun masih dapat bangkit lagi menerima pukulanku!”

“Tapi Rajawali Merah ini lebih berat bagiku. Dia lebih pantas untukmu karena kepandaianmu lebih tinggi!”

“Wah, begitukah?” si gila tertawa, bangga. “Kalau begitu boleh kita bertukar pasangan, Togur. Serahkan lawanmu dan hadapi lawanku ini... des-dess!” dan San Tek yang kembali melepas Im-kan-thai-lek-kangnya hingga Kim-mou-eng terhuyung maka si gila yang senang oleh umpak atau pujian itu terkekeh-kekeh mendekati Thai Liong, berkelebat. “Rajawali Merah, kau lawanku. Kita se-tanding dan biar yang lebih rendah dengan yang lebih rendah!”

Thai Liong terbelalak. Sebenarnya baginya sama saja menghadapi dua orang itu. Togur memang sedikit di bawah San Tek namun kecerdikan atau keculasan si buntung itu justeru jauh lebih berbahaya, Siapapun mengenal si buntung ini. Maka ketika ia diserang dan lawan berganti pasangan, si gila mencengkeram dan melepas Im-kan-thai-lek-kangnya maka Thai Liong menangkis dan iapun mengeluarkan pukulan Im-kang untuk menandingi pukulan Yang-kang dari lawannya itu.

“Dess!” San Tek dan Thai Liong sama-sama terpental. Si gila berteriak marah namun ia menerjang lagi, disambut dan kembali Thai Liong mengerahkan Im-kangnya. Pemuda itu mempergunakan Im-kang dari Sin-tiauw-kang atau Rajawali Sakti dan si gila memekik. Mereka berdua kembali terpental dan Im-kang maupun Yang-kang sama-sama tertolak. Dan ketika Thai Liong berseru marah karena lawan kembali menyerbu, ayahnya di sana sudah bertanding dengan Togur maka tampak bahwa Pendekar Rambut Emas menang posisi, tenaga dan pengalamannya lebih banyak.

“Kau tak dapat mengalahkan aku, Togur. Dan kau harus menyerahkan obat penawar, atau aku membunuhmu!”

“Ha-ha, cobalah kalau bisa!” si buntung mengejek, diam-diam memutar otak. “Kalau kau dapat mengalahkan aku belurn berarti dapat menyelamatkan isterimu, Pendekar Rambut Emas. Karena begitu aku roboh begitu pula obat penawar kuhancurkan!”

“Keparat, kau keji!” dan Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan kembali melepas pukulan akhirnya mengerahkan Cui-sian Gin-kangnya dan bertubi-tubi mendesak atau menekan si buntung ini, Togur lenyap mempergunakan ilmu hitam namun dikejar dengan Pek-sian-sut, kembali lagi memperlihatkan diri.

Dan Thai Liong di sana tiba-tiba menepuk pundak San Tek melenyapkan pengaruh Bu-siang-sin-kang, yang tadi dilancarkan Togur. Dan ketika pemuda itu jatuh lagi di alam kasar dan si gila berteriak kecewa, Togur pucat dan ngeri melihat itu maka sebuah pukulan Pendekar Rambut Emas mendarat di tengkuknya dan pemuda itu terjungkal.

“Plak!” Si buntung mengeluh. Ia tahu bahwa lawan yang dihadapi sama saja. Baik Pendekar Rambut Emas maupun Thai Liong sama-sama tak dapat ditandinginya, meskipun untuk Pendekar Rambut Emas dia dapat bertahan lebih lama, lain kalau dengan Thai Liong karena Si Rajawali Merah itu lebih hebat. Thai Liong memiliki Silat Rajawali Sakti yang tak dipunyai ayahnya. Pemuda itu dapat terbang seperti rajawali melayang-layang dan sekali sambar ia akan mematuk lawannya.

Si buntung telah melirik dan benar saja ia melihat Si Rajawali Merah itu menyambar-nyambar di sana, membuat San Tek kelabakan dan hanya berkat Im-kan-thai-lek-kangnya itu saja si gila dapat bertahan. Dan ketika Pendekar Rambut Emas menghajarnya dan ia terguling-guling, tamparan di tengkuk itu demikian kuat dan dahsyat maka Togur meloncat bangun dan terhuyung ketika lawan kembali mengejar, tak memberinya ampun.

“Togur, kau boleh saja memiliki daya tahan sekuat kerbau. Tapi pukulan demi pukulanku akan membuatmu babak-belur dan kau akan meraung-raung!”

“Keparat!” si buntung marah. “Kau licik dan curang, Kim-mou-eng. Beranimu hanya mengandalkan puteramu. Coba kalau kau tidak memanggil puteramu dan kau berhadapan satu lawan satu dengan aku. Tentu kau tak akan menang mental berkat kehadiran puteramu itu!”

“Tak usah banyak mulut. Serahkan obat penawar atau kau mampus!” Pendekar Rambut Emas melotot gusar, lawan menjungkir balik omongan dan ia tak mau banyak cakap lagi. Si buntung telah meloncat bangun dan bukti ia dapat menahan pukulannya sebenarnya membuat ia kagum juga. Pemuda ini memang hebat. Tapi karena keadaan isterinya semakin memburuk dan ia harus secepatnya merobohkan pemuda itu maka Pendekar Rambut Emas melepas dua pukulannya sekaligus ketika menyambar dan berkelebat lagi, kali ini menuju tenggorokan namun di tengah jalan tiba-tiba ia menurunkan pukulannya ke pusar, hal yang tak diduga.

“Aduhh.. tobat!”

Raung atau pekik si buntung membelah angkasa. Ikat pinggangnya, yang melilit kuat dan rapat di balik pakaian tiba-tiba disambar dan direnggut Pendekar Rambut Emas. Hal itu tak diduga pemuda ini dan si buntung mengayun tongkatnya. Ia coba menghantam namun kalah cepat, gerakannya didahului. Dan ketika ikat pinggang itu putus, si buntung menjerit dan meraung menggetarkan pulau maka Kim-mou-eng telah menyabet dan ikat pinggang itu hancur mengenai kepala pemuda ini.

“Lenyapkan ilmu-ilmu hitammu!”

Togur terbanting dan terguling-guling mengaduh-aduh. Ia sama sekali tak menduga bahwa Pendekar Rambut Emas akan merenggut dan memutuskan ikat pinggangnya. Di situlah letak kekuatan Bu-siang-sin-kang karena di situ pulalah dia menyembunyikan seratus roh bayi-bayi lelaki.

Si buntung inipun mengikuti jejak gurunya dengan menguasai ilmu hitam, termasuk mencari dan membunuh bayi-bayi lelaki sebagai penguat Bu-siang-sin-kangnya, Ilmu Gaib Tak Berwujud. Maka begitu inti kekuatannya diputuskan, ikat pinggang itu disambar dan disabetkan ke kepalanya maka seratus benda-benda putih beterbangan di angkasa dan Togur terkejut setengah mati.

“Tobaat...!”

Namun Pendekar Rambut Emas tak menghiraukan jeritannya. Pendekar itu meledakkan tangannya dan ia bergerak di antara benda-benda putih yang berhamburan ini, cepat dan kuat menyambar pula kantong sebelah kanan pemuda itu. Dan ketika sebuah bungkusan tercabut, si buntung terkejut dan membelalakkan mata maka Pendekar Rambut Emas telah melompat mundur dan tidak memperdulikan lagi keadaan lawannya yang diserang oleh seratus benda-benda putih itu, berlutut dan mengobati isterinya dengan obat penawar racun, obat yang baru saja didapatnya dari kantong si buntung.

“Keparat... jahanam keparat! Kau licik dan pencuri hina, Kim-mou-eng. Kau tak tahu malu mengambil barang orang lain!"

Namun Pendekar Rambut Emas tidak menghiraukan. Ia sudah memasukkan tujuh butir obat penawar racun ke mulut isterinya dan secepat itu pula menempelkan lengan menyalurkan sinkang. Hanya ada beberapa detik lagi untuk menyelamatkan isterinya itu. Selebihnya dia akan terlambat. Dan ketika Pendekar Rambut Emas menggigil menolong isterinya dan Togur berteriak-teriak di sana, bergulingan dan meloncat bangun dikejar seratus roh bayi lelaki ini maka keadaannya hampir mirip dengan Poan-jin yang diamuk balas dendam.

“Jahanam, keparat jahanam!”

Tak ada yang memperhatikan. Pendekar Rambut Emas sedang sibuk menolong isterinya sementara Thai Liong dan lawannya juga sibuk mengeluarkan pukulan-pukulan mereka. Bu-siang-sin-kang sudah dilenyapkan namun si gila yang hebat dengan Im-kan-thai-lek-kangnya itu tak mempan dipukul. Thai Liong berkali-kali lenyap dan muncul lagi dengan Beng-tau-sin-jinnya, ilmu Menembus Roh di mana dia dapat dengan mudah melancarkan pukulan-pukulan atau tamparannya. Tapi karena lawan tak dapat dirobohkan dan selalu bangkit lagi berteriak-teriak, si gila ini memang hebat maka Thai Liong paling-paling hanya bersifat menyakiti, sampai lawan tak tahan.

“Aduh, keparat kau, Thai Liong. Keparat jahanam!”

“Kaulah yang jahanam. Kau membela orang jahat, San Tek. Kau si gila membantu orang yang lebih gila. Hayo kau pergi atau tubuhmu kubuat babak-belur!”

San Tek jingkrak-jingkrak. Ia kesakitan dan marah oleh tamparan-tamparan atau pukulan Thai Liong. Ia dapat bertahan dari semua pukulan itu tapi rasa sakit yang menyengat lama-lama menyiksanya juga, ia membalas tapi Thai Liong mempergunakan Beng-tau-sin-jinnya, lenyap dalam ilmu halus. Dan karena inilah kelebihan Rajawali Merah dan ia menjadi bulan-bulanan pukulan, tidak roboh tapi kesakitan semua maka tiba-tiba ia dibuat terkejut ketika sedang bergulingan dan meloncat bangun mendadak ia ditubruk dan diterkam Togur.

“San Tek, tolong aku. Tolong. Pendekar Rambut Emas menyebar roh-roh halus, menyerang kita!”

“Heii..!” si gila berteriak, kaget melihat benda-benda berwarna-warni mengejar dan mengikuti Togur, kini tentu saja menyambar dirinya. “Apa itu, Togur. Benda-benda apa itu!”

“Itu ilmu siluman milik Pendekar Rambut Emas. Aku dihadapkan roh-roh penasaran. Awas!” dan si buntung yang melekat dan meniup ubun-ubun si gila tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dimasukkan ke kepala temannya ini. San Tek ternganga dan tak sadar, uap hitam telah memasuki ubun-ubunnya. Tapi ketika benda berwarna-warni itu menyerbunya dan menyerang, si gila berteriak maka pemuda ini membanting tubuh bergulingan mengibaskan Im-kan-thai-lek-kangnya.

“Keparat... bress!”

Benda berwarna-warni itu terpental. Mereka tertiup oleh pukulan si gila ini dan terdengar suara mencicit seperti orang menjerit, atau tikus mencicit. Tapi ketika benda-benda yang terpental itu kembali dan menyambar lagi, Togur tertawa aneh maka si gila mencak-mencak dan saat itu Thai Liong berkelebat dan melepas Sin-tiauw-kangnya (Pukulan Rajawali Sakti).

“San Tek, pergi dan sebaiknya jangan di sini saja. Togur menipumu!”

Si gila terpekik. Ia terlempar oleh pukulan ini dan Thai Liong marah memandang si buntung. Togur selalu berada di punggung temannya itu dan ke manapun pergi selalu diikuti. Si buntung sesungguhnya berlindung dari kemarahan roh-roh halus itu. Dan ketika San Tek berteriak-teriak karena diserang oleh Thai Liong dan juga benda berwarna-warni itu, marah dan kelabakan maka Togur diam-diam menyelinap di sebuah batu besar dan menghilang.

Kesempatan telah diperoleh si buntung ini ketika San Tek bergulingan di batu karang, cepat melepaskan diri dari mara bahaya dan tinggallah si gila itu sendirian berkaok-kaok. Thai Liong terkejut tak melihat si buntung lagi yang dengan licik meninggalkan temannya. Dan ketika pemuda itu berkelebat di balik batu karang namun lawan menghilang, Togur lenyap dengan cepat maka Thai Liong marah mencari-cari.

“Togur, jangan lari. Mana watak ksatriamu dengan meninggalkan kawan!”

Namun si buntung tak menjawab. Thai Liong dengan cerdik telah memancing lawannya itu untuk bicara dan sekali menjawab tentu dia tahu di mana lawannya berada. Namun karena Togur tak kalah cerdik dan si buntung itu tentu saja tak mau menjawab, ia membiarkan Thai Liong marah-marah dan mencarinya maka adalah San Tek yang mencak-mencak dan bingung tak dapat melepaskan diri dari serbuan roh-roh halus itu. Ia tak tahu bahwa sebuah tanda telah diberikan Togur kepadanya, asap hitam itu.

Dan karena asap atau uap inilah yang menjadikan kemarahan roh-roh halus itu untuk menyerang, uap atau asap ini sebagai pemilik Bu-siang-sin-kang maka si gila kalang-kabut dan berapa kalipun ia mengibas berapa kali itu pula lawan-lawannya menyerang lagi. Roh-roh halus itu tak dapat diusir.

“Aduh, tobaat... tolong!”

Thai Liong tak tega. Ia melihat kekalutan si gila itu dan tentu saja gemas dan marah kepada Togur. Si buntung itulah yang membuat temannya celaka padahal mula-mula si gila itulah yang diandalkannya untuk menghadapi lawan. Togur benar-benar licik. Dan ketika San Tek bergulingan ke sana ke mari dan akhirnya bahkan mencebur ke laut, dikejar dan tetap diserang benda seperti kunang-kunang maka Thai Liong berkelebat dan lengan jubahnya yang merah mengebut ke ubun-ubun pemuda itu.

“San Tek, kau memang sedang sial. Togur melepaskan sisa Bu-siang-sin-kangnya kepadamu. Nah, pergilah atau nanti kau disambar roh-roh penasaran itu..... plak!” dan uap hitam yang lenyap dari ubun-ubun pemuda ini tiba-tiba membuat San Tek lega karena benda berwarna-warni yang semula menyerangnya itu mendadak lenyap dan mengikuti uap hitam terbang entah ke mana. Uap itu akan kembali lagi kepada pemiliknya dan Thai Liong bersinar-sinar.

Si gila bangkit berdiri dan mengeluarkan suara aneh. Dan ketika si gila terbelalak dan jerih menghadapi Thai Liong, jelek-jelek ia tahu terima kasih karena telah diselamatkan maka pemuda itu tertawa dan... terbang melompati laut. “Thai Liong, kau hebat sekali. Tapi kau tak dapat merobohkan aku. Heh-heh.... terima kasih dan biar lain kali kita bertemu lagi!”

Thai Liong tak mengejar. Ia kagum kepada si gila ini karena begitu melesat si gila itupun telah meluncur dan melayang-layang di atas permukaan laut, lenyap dan tak kelihatan lagi dengan ilmunya yang luar biasa. Pemuda itu memang hebat, sayang gila. Dan karena lawan telah melarikan diri dan Thai Liong bergerak mendekati ayah ibunya maka ia melihat ayahnya masih menyalurkan sinkang dan wajah tampak letih kehabisan tenaga.

"Biar kugantikan," pemuda itu berkata. ”Kau beristirahatlah dulu, ayah. Aku akan menolong ibu.”

Pendekar Rambut Emas membuka mata. Ia mengangguk dan melepaskan tangannya, puteranya itu telah menempelkan lengan di pundak isterinya. Dan ketika pendekar itu bersila dan tak bertanya atau berkata apapun, tenaganya telah dikuras oleh pertempuran yang dahsyat itu maka Thai Liong sendiri memejamkan mata dan tiba-tiba menyebar delapan sinar merah ke seluruh penjuru Sam-liong-to. Semacam jala atau perangkap batin telah dilepas pemuda ini. Siapapun tak dapat keluar atau masuk di Sam-liong-to. Dan ketika pemuda itu tersenyum karena Togur tak mungkin lolos, si buntung itu akan menabrak jalanya maka pemuda itupun duduk dengan tenang dan mengobati ibunya.

* * * * * * * *

“Keparat!” sesosok bayangan berindap dan mengumpat di bawah terowongan gelap, terbungkuk-bungkuk. “Kau jahanam dan busuk sekali, Pendekar Rambut Emas. Kau melenyapkan Bu-siang-sin-kang ku. Bedebah, terkutuk!”

Bayangan ini memaki dan mengumpat tak habis-habisnya. Ia berada di bawah Istana Hantu dan mudah diduga siapa dia. Bukan lain Togur si buntung itu. Dan ketika si buntung ini membungkuk dan harus melewati tempat-tempat basah, ia ingin lolos melalui terowongan bawah tanah maka tiba-tiba kakinya “digigit” sesuatu.

“Augh!” si buntung marah dan mencengkeram ke bawah. Ia kaget dan berjengit menyangka ular. Ia telah berada di bawah sebuah guha yang akan terus membawanya ke pantai sebelah barat. Di situ guha itu akan berakhir dan menyatu dengan dinding tebing hitam. Dari jauh orang tak akan melihat dan ia dapat bebas pergi. Tapi begitu kakinya sakit oleh sesuatu dan pemuda ini marah mengira ular, tak mungkin hiu karena tempat itu masih dangkal maka ia membungkuk dan langsung saja tangannya mencengkeram, ke bawah.

“Krek!” Si buntung tertegun. Ia meraba benda dingin dan keras yang tak dapat dihancurkan, mengangkat dan seketika tercengang karena yang dicengkeram adalah sebatang pedang, putih berkilau-kilauan dan matanya tiba-tiba bercahaya melihat temuannya ini. Bukan ular melainkan pedang, pedang yang tadi menggeletak dengan matanya yang tajam menghadap ke atas. Jadi bagian yang tajam itulah yang “menggigit” kakinya dan tentu saja si buntung ini tertawa.

Dia tak tahu pedang siapa itu tapi matanya bersinar-sinar dan kagum karena melihat pedang yang baik. Pedang itu memancarkan sesuatu yang aneh dan ada semacam bercak cahaya di badan pedangnya, diusap tapi tak mau hilang dan si buntung tertegun, heran. Tapi ketika ia tertawa dan berseri-seri, pedang itu dapat membantunya di kala dibutuhkan maka ia iseng-iseng membacok dinding guha yang keras dan ternyata dengan mudah dinding itu sobek, persis kain atau kulit yang lunak saja.

“Ha-ha, pedang yang aneh. Pedang siluman!” si buntung tertawa dan girang. Ia tertarik dan suka kepada pedang temuannya ini. Pedang itu tidak bersarung tapi tak menjadi soal baginya, diobat-abitkan lagi ke kiri kanan dan dinding-dinding guha pun tergores dengan mudah. Robekan atau goresan panjang-panjang terdapat di situ, si buntung tertawa. Dan ketika ia menggurat tanda silang dan membuat gambar tengkorak, wajah dari Pendekar Rambut Emas maka si buntung ini berseri-seri meletakkan kepala atau tengkorak itu tepat di tengah-tengah silangan dua garis melintang.

“Ha-ha, kubunuh kau kelak, Pendekar Rambut Emas. Kutaruh kepalamu nanti di sini!”

Si buntung terbahak. Untuk sekejap dia melupakan kesusahannya, mengamati gambar atau lukisan di dinding itu dengan wajah bersinar-sinar. Namun ketika ia terbatuk dan segumpal darah terlontak dari mulutnya, si buntung terhuyung dan mendekap dadanya maka ia mengutuk dan wajahpun merah padam, penuh kebencian. Ia terluka dan luka ini menyesakkan dadanya, terbatuk dan menahan lontakan darah segar lagi yang hendak meloncat keluar.

Pukulan Pendekar Rambut Emas ternyata telah menimbulkan luka dalam di dadanya, setelah ia kehilangan Bu-siang-sin-kangnya itu dengan direnggut putusnya ikat pinggang jimat. Dan ketika si buntung mengeluh dan terhuyung maju, ia tak mau kedinginan dan menggigil di bawah terowongan itu tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan seorang wanita cantik muncul, pucat dan pakaiannya compang-camping.

“Siauw-ong...!”

Si buntung tertegun. “Siapa kau?”

“Ah, kau tak mengenal aku, siauw-ong? Aku Ui Kiok, kekasihmu... oohh! dan wanita itu yang terjatuh dan terseok melangkah maju akhirnya membuat si buntung berseri dan melompat, menyambar wanita ini.

“Ah, kau kiranya!”

Namun si buntung dibuat terkejut. Ui Kiok, wanita ini, tiba-tiba tertawa aneh dan balas mencengkeramnya. Tanpa ba-bi-bu lagi tahu-tahu ia dipagut. Dan ketika sebuah ciuman panas mendarat dan wanita itu mendengus-dengus, wajah dan pipi si buntung ini menjadi sasaran maka Togur tahu-tahu dilepas celananya dan pemuda itu disuruh telanjang.

“Eh... hi-hik!” seruan atau wajah kaget si buntung ditutup oleh kekeh dan tawa aneh ini. “Aku tersiksa, siauw-ong... aku menderita. Pengaruh inti Arak Sorga membuatku tak dapat tidur. Biar aku melayanimu dan kau puaskanlah aku!”

Togur terguling, dibawa atau didorong kekasihnya ini karena seperti ular buas tahu-tahu wanita itu menyergap dan menciuminya. Ui Kiok dalam pengaruh arak bius dan arak itu tak akan lenyap dalam dua hari. Si buntung tertegun dan ingat ini. Dan ketika ia terbelalak dan tentu saja terbakar, kekasihnya itu pandai memainkan jari-jari maka mereka berdua sudah bergulingan dan Ui Kiok atau wanita cantik itu tak perduli akan air laut yang membasahi tubuh keduanya. Togur dibuat terlena namun ia mengeluh ketika dadanya tertindih. Rasa sesak kembali datang dan tiba-tiba ia mendorong wanita itu. Dan ketika wanita ini terlempar dan Ui Kiok menjerit tertahan, kaget, maka si buntung menyambar pakaiannya dan berseru,

“Ui Kiok, jangan gila. Aku terluka!”

“Oohhh...!” wanita itu merintih, seperti kucing kepanasan. “Aku tak tahan, , siauw-ong... aku menderita. Tubuhku panas!”

“Aku tak dapat melayanimu. Kita berdua harus sama-sama keluar dari tempat ini. Hayo, tahan sejenak dan bantu aku!”

Wanita itu mengeluh. Togur meloncat dan dengan terhuyung si buntung itu batuk-batuk meninggalkan lorong bawah tanah. Tadi wanita itu juga bersembunyi di situ dan ia panas dingin oleh arak berahi yang menyiksanya. Siapapun tentu akan ditubruknya dan dimintanya untuk melayani hasratnya itu. Tapi karena Togur bukanlah laki-laki sembarangan dan si buntung itu dapat membuatnya celaka, kalau ia marah maka wanita ini terhuyung dan merah padam menahan birahi.

“Siauw-ong, aku.... aku tak kuat. Hawa birahiku memuncak!”

“Hm, kita dapat mencarinya di luar, Ui Kiok. Nanti saja di luar kita cari laki-laki untukmu!”

“Tapi mereka tak akan sekuat kau...”

“Aku terluka!”

“Aku juga. Tapi, ah.. pukulan Kim-hujin itu tak seberat hawa nafsuku, siauw-ong. Aku bisa mati sesak!”

Togur tertegun. Wanita itu terjatuh dan terdengar suara “bluk” ketika Ui Kiok tak mampu berdiri. Wanita itu pening dan terbelalaklah mata si buntung ini melihat paha yang tersingkap. Pemandangan itu menggetarkan perasaannya dan darah lelakipun berkobar. Dan ketika ia berhenti dan membalik, mau tak mau menolong temannya itu maka ia menggigil dan langsung mengusap paha wanita ini. Sesuatu yang tak sengaja biasanya lebih menggairahkan lelaki daripada yang disengaja.

“Kau tolol, bodoh. Tapi, hmm... pahamu mulus sekali!”

“Oooh..!” si cantik menggeliat. “Aku baru dapat jalan kalau seluruh nafsu ini terlampiaskan, siauw-ong. Aku..... aku pening!”

“Aku tahu. Hm, kau diamlah dan biar sementara ini kita bersenang-senang dulu di sini. Aku jadi bergairah melihat kau terguling di sini!” dan menerkam atau menubruk kekasihnya itu, mendengus dan meremas-remas si cantik si buntung inipun melampiaskan hasrat kelelakiannya.

Sebenarnya ia ingin menjauh tapi apa boleh buat matanya tadi menumbuk sesuatu yang menggetarkan, paha wanita ini. Dan ketika keduanya berguling dan mencari tempat kering, Ui Kiok mengeluh dan girang maka bagai kepiting saja keduanya sudah saling belit dan terkam. Ui Kiok tak dapat menahan pengaruh arak sementara tadi si buntung itu mampu mengendalikannya sejenak. Sinkangnya lebih tinggi dan karena itu ia lebih tahan, meskipun akhirnya ia akan terbawa juga begitu ketegangannya selesai.

Pertandingannya dengan Pendekar Rambut Emas bukanlah tanpa tenaga dan ia benar-benar habis. Urusan dengan wanita sebenarnya lenyap sejenak. Tapi karena pada dasarnya pemuda ini adalah hamba nafsu berahi dan arak perangsang juga masih berada di tubuhnya, bangkit dan bekerja lagi maka si buntung ini menerkam lawannya dan merekapun sudah seperti dua ekor binatang jalang yang hanya memuaskan berahi. Nafsu kotor itu menyesakkan dada dan Ui Kiok girang melihat kesediaan si buntung ia sudah megap-megap dan berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi nafsu berahinya itu.

Maka ketika si buntung menyambut dan ini melegakan napasnya, orang itu bergulingan di terowongan bawah tanah maka sejam kemudian keduanya terhempas di sudut guha. Ui Kiok telah mendapatkan sedikit kepuasannya dan Togur begitu pula. Si buntung menyeringai dan bangkit berdiri. Tapi ketika Togur menyambar pakaiannya dan juga pedang itu, siap melangkah gontai maka Ui Kiok bergerak dan berbisik di belakang telinganya,

“Siauw-ong, kurang, Aku masih ingin lagi!”

“Hush!” si buntung mengelak, membentak. “Cukup kita bersenang-senang, Ui Kiok. Aku hendak keluar dan kita harus meninggalkan Sam-liong-to. Si Rajawali Merah ada di sini!”

”Rajawali Merah? Siapa dia?”

“Putera Pendekar Rambut Emas itu, Thai Liong!”

Ui Kiok terkejut, tapi tiba-tiba tertawa aneh. “Aku tak takut. Asal siauw-ong mau lagi maka aku akan menunjukkan sesuatu untuk menundukkan Si Rajawali Merah itu. Biarlah kita berdua di sini dulu!”

“Hm, jangan main-main. Apa yang kau maksud, Ui Kiok. Kenapa tawamu begitu aneh. Katakan dan jangan membuat aku marah!”

“Siauw-ong mau menemaniku di sini?”

“Main cinta lagi? Gila, aku capai, Ui kiok. Jangan minta yang itu!"

“Tapi aku butuh..”

“Aku tak perduli. Kita harus keluar atau biar kau tertangkap di sini!” dan si buntung yang gemas dan jengkel kepada temannya lalu membalik dan tidak mau banyak bicara lagi. Ia sudah puas dan terserah wanita itu puas atau tidak. Dadanya sesak lagi dan ia harus mencari tempat persembunyian untuk mengobati luka. Di belakang masih ada Si Rajawali Merah dan Pendekar Rambut Emas itu. Ia harus cepat-cepat menyingkir.

Tapi ketika ia melompat dan terseok maju, tak lama kemudian sudah tiba di ujung guha dan meloncat ke atas tiba-tiba sebuah benda berat menahan dan menyuruhnya kembali ke bawah.

“Bluk!” Si buntung kaget. Ia terpekik dan meloncat lagi, kembali dihantam sesuatu dan terbanting ke bawah. Dan ketika enam kali ia gagal dan Ui Kiok berkelebat muncul, tersenyum, maka wanita itu berseru,

“Aku juga sudah mencobanya seratus kali, siauw-ong. Tapi seratus kali itu juga gagal dan aku selalu terbanting ke bawah. Aku seolah membentur jala tebal atau tangan siluman. Kita terkurung!”

Si buntung pucat. Ia mendongak dan tiba-tiba matanya menangkap sesuatu semacam cahaya tipis. Cahaya itu mirip awan atau selaput luas dan tertegunlah si buntung melihat ini. Sebagai orang yang pernah memiliki ilmu-ilmu hitam tahulah dia apa yang terjadi. Pendekar Rambut Emas atau Thai Liong telah mengurung pulau dengan kekuatan batin. Kekuatan itu seperti jala sakti di mana orang tak mungkin masuk atau keluar dengan enak. Kalau pemilik ilmu tak melepas “kuncinya” maka jangan harap dapat lolos. Iapun juga begitu! Dan ketika Togur berubah dan pucat mukanya, Sam-liong-to telah ditutup maka si buntung itu membanting pantat dengan lemas dan iapun mengepal tinju, mengutuk lawan.

“Keparat, kita terperangkap, Ui Kiok. Sam-liong-to telah dijaga ilmu batin!”

“Ilmu batin? Maksudmu?”

“Thai Liong atau ayahnya telah melepas kekuatan sakti untuk menjaga pulau ini. Ayah dan anak itu melempar perangkap di pulau!”

Ui Kiok tertegun. Ia baru tahu bahwa seorang manusia dapat melepas jala batin mengepung musuh. Dengan begitu mereka tak mungkin keluar dan kaget tapi kagumlah wanita itu. Pendekar Rambut Emas atau puteranya memang hebat. Dan teringat betapa dulu ia pernah menawan Thai Liong, yang lolos dan akhirnya membuat ia dan saudaranya malah celaka si cantik ini mendecak namun ia juga mengepal tinju karena baru sekaranglah ia tahu mengapa ia tadi tak dapat keluar. Kiranya karena selaput tipis dari jala batin itu, selaput yang amat kuat dan siapapun tak mungkin lepas!

“Hm, kalau begitu bagaimana, siauw-ong? Apa yang hendak kau lakukan?”

“Kita tak dapat keluar...”

“Aku tahu, dan karena itulah aku tadi lalu masuk kembali ke guha bawah tanah. Yang hendak kutanyakan adalah bagaimana sikapmu setelah tahu ini!”

“Aku ingin membunuh ayah dan anak itu!”

“Kita bukan lawannya, siauw-ong. Dan karena itu kita sampai terbirit-birit!”

“Kau mengagul-agulkan musuh?”

“Tidak... tidak, jangan salah paham. Aku sendiri punya jalan tapi bagaimana siauw-ong dulu. Apakah ada akal!”

Si buntung terbelalak. Ia melihat Ui Kiok tersenyum aneh dan mata yang bersinar-sinar itu tidak menampakkan cemas atau takut, Ui Kiok tenang-tenang saja. Dan ketika si buntung bangkit berdiri dan meringis menahan batuk, ia merasa dadanya lagi-lagi sesak maka ia menyambar dan mencengkeram temannya ini.

“Ui Kiok, kau aneh dan menyimpan rahasia. Ha-ha, kau pasti tahu sesuatu dan tak usah bertanya kepadaku. Bagaimana kau saja dan apa jalan keluarmu itu!”

“Hi-hik, siauw-ong mau mendengar kata-kataku?”

“Tentu saja, kau pembantuku dan kekasihku yang paling cerdik. Aku sudah kehabisan akal dan kalau kau bertanya maka paling-paling kujawab bahwa aku akan bersembunyi terus di sini sampai ayah atau anak itu mencabut ilmunya!”

“Hi-hik, terlalu lama, Dan kita keburu tertangkap!”

“Ya, itu yang kukhawatirkan. Sekarang bagaimana kau dan apa jalan keluarmu!”

“Hanya begini saja?”

“Eh, maksudmu?”

“Hi-hik, aku minta upahnya, siauw-ong. Aku dapat meloloskan diri dari sini walaupun Si Rajawali Merah itu bertemu aku. Kujamin!”

Togur bergerak dan memindahkan tangannya. Kalau tadi ia menyambar mencengkeram lengan adalah tiba-tiba kini mencengkeram tengkuk wanita itu. Ui Kiok menjerit kesakitan, tentu saja kaget. Tapi ketika si buntung melepaskan tangannya dan tertawa bersinar-sinar, sesuatu sedang dirahasiakan temannya ini maka sii buntung berseru, tak sabar, “Ui Kiok, kau tak perlu main-main denganku. Upah apa yang kau inginkan dan benarkah kau dapat lolos dari tempat ini!”

“Tentu saja, aku menangkap dua muda-mudi itu. Hi-hik, Siang Le dan isterinya terjebak di satu ruang bawah tanah. Aku mendapatkan mereka!”

Togur menyentak dan mencengkeram kembali temannya. Si buntung itu tiba-tiba tertawa bergelak dan Ui Kiok menjerit. Untuk kedua kalinya wanita itu berteriak dan merontalah dia dari tangan si buntung. Dan ketika Togur berjungkir balik namun meringis ketika meloncat-loncat girang, berita yang dibawa temannya ini sungguh menggembirakan maka si buntung itu berseru,

“Hei, di mana mereka sekarang, Ui Kiok. Di mana Siang Le dan permaisuriku itu!”

“Hm, siauw-ong tak perlu lagi menganggapnya sebagai permaisuri. Siluman betina itu masih berbahaya. Ia menyebalkan!"

“Ha-ha, tak perlu cemburu. Kau akan mendapatkan pemuda itu, Ui Kiok, dan aku perempuannya!”

“Tak mungkin,” wanita ini menggeleng, mata berapi-api. ”Mereka berdua terlanjur di dalam, siauw-ong. Tapi sebelum bicara lebih lanjut kita bicarakan dulu permintaanku tadi. Apa upahmu untukku!”

“Ha-ha, kau minta apa? Tentu itu, bukan? Baik, aku meluluskannya, Ui Kiok. jangan terlampau ganas karena aku terluka. Bu-siang-sin-kangku lenyap. Pendekar Rambut Emas yang terkutuk itu menghancurkan inti ilmu hitamku!”

“Lenyap? Jadi siauw-ong tak dapat menghilang lagi?”

”Jimatku diputuskan Pendekar Rambut Emas. Ia merenggut ikat pinggangku!”

“Kalau begitu celaka, kita tak dapat masuk!”

“Masuk ke ruangan itu? Menangkap dan menyandera mereka?”

“Benar, siauw-ong. Kalau begitu bagaimana sekarang!”

“Katakan di mana ruangan itu. Dengan sisa-sisa tenagaku mungkin aku dapat menjebol pintunya!”

“Hm, siauw-ong bayar dulu upahnya. Mereka masih bersenang-senang!”

Togur terbelalak. Ia melihat wanita ini terkekeh dan gemaslah ia kepada Ui Kiok. Kalau bukan untuk kabar itu mungkin ia menyambar dan akan melempar wanita ini. Ia butuh istirahat, bukan bercinta! Tapi karena di tangan temannya ini dia mendapat jalan keluar, Ui Kiok mendesah dan sudah kembali tersengat maka apa boleh buat ia tertawa dan menancapkan tongkatnya, tongkat baru karena yang lama hancur.

“Baiklah, kau masih kepanasan oleh birahimu, Ui Kiok. Kalau tidak dituntaskan tentu kau tetap mengejar-ngejar aku. Kemarilah!”

Ui Kiok terkekeh. Togur akhirnya mengabulkan permintaannya dan dimintanya agar pemuda itu melayaninya dua hari dua malam. Nafsunya bergolak lagi dan apa boleh buat si buntung harus mengiyakan. Dan ketika mereka kembali bergulingan dan Ui Kiok berseri-seri, wajah dan tubuhnya sudah terangsang hebat maka Togur menubruknya dan sekali sambar si buntung ini membuat temannya terbanting. Selanjutnya Ui Kiok merintih dan mengerang bagai kucing kebanyakan minum.

Togur memperlihatkan keperkasaannya dengan memuaskan si cantik ini, beberapa kali batuk berat namun ditahan agar permainan mereka tak terganggu. Dan ketika dua hari kemudian birahi si cabul ini habis, pengaruh arak benar-benar luar biasa maka Togur menekan dadanya yang sesak dan diam-diam memaki temannya ini yang kesetanan. Ui Kiok melebihi kuda jalang yang dilanda birahi!

“Nah, sekarang beritahukan kepadaku di mana dua orang itu!”

Ui Kiok terkekeh. Ia bangkit berdiri dan menyambar pakaiannya yang tak keruan. Tubuhnya yang polos dan putih merangsang tak membangkitkan lagi gairah si buntung. Togur sudah terlalu kenyang. Dan ketika Ui Kiok menggeliat dan berkelebat ke belakang maka si buntung dibawa ke atas di mana sembilan kali mereka harus membelok dan naik semakin tinggi.

“Kau ke mana. Hati-hati jangan mendekati istana!”

“Hi-hik, kita dan mereka sama, siauw-ong. Kalau Kim-hujin terluka tentu suaminyapun atau puteranya harus mengobat dulu. Kau tak perlu khawatir. Kita ke ruang dapur!”

“Ke dapur?”

“Ya, Siang Le dan isterinya terkunci di sana. Mereka tentu juga seperti kita yang harus bermain cinta dua hari dua malam!”

“Ah, kalau begitu cepat ke sana, Ui Kiok. Siapa tahu Thai Liong atau yang lain mendahului. Cepat!” Togur malah terkejut, berlari dan menyambar temannya ini dan Ui Kiok diseret. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa suami isteri itu juga sudah menikmati arak perangsang. Bahkan, yang terhebat di antara yang paling hebat. Yang diminum adalah sari patinya dan itu akan membuat mereka dua hari dua malam “bertempur”. Dan ketika si buntung berkelebat tapi mengeluh dan menekan dadanya, darah tiba-tiba terlontak segar maka Ui Kiok terkejut melihat temannya ini begitu.

"Siauw-ong, lukamu kiranya cukup berat!”

“Hm, tidak kalau seumpama kau tidak mengajakku bercinta. Kau tak tahu diri, Ui Kiok. Tapi sudahlah kita tangkap dua orang itu dan jangan sampai didahului Thai Liong atau ayahnya!”

Wanita ini menyesal. Ia tak enak juga setelah mengetahui Togur luka dalam. Tapi mau dikata apalagi? Bukankah arak perangsang itu adalah buat pemuda ini dan dia korbannya? Togur pun sebenarnya minum, tapi karena sinkang pemuda itu kuat dan ia lebih dapat bertahan, pemuda itu memang hebat maka Ui Kiok tak mau banyak bicara lagi dan mengikuti temannya, tiba di sebuah ruangan hangat di mana sebuah pintu tebal tertutup dan terkunci dari luar. Togur berhenti di sini dan bersinar-sinar, bertanya dengan isyarat apakah dua orang itu benar di kamar ini, kamar yang tertutup itu. Dan ketika Ui Kiok mengangguk dan berkata benar, ia tak berani masuk maka Togur menusukkan tongkatnya dan sebuah lubang tiba-tiba terbuat.

“Aku akan mengintai, kau waspada melihat sekeliling dulu.”

Ui Kiok mengerti. Si buntung sudah mengintai dan wanita itu kagum melihat tusukan tongkat ke tembok tebal. Dengan mudah dan gampangnya si buntung membuat lubang pengintaian, padahal terluka. Dan ketika Ui Kiok berjaga di belakang dan temannya melongok, lubang itu cukup untuk melihat ke dalam maka Togur berseri-seri karena benar saja suami isteri muda itu di dalam. Hanya, sang isteri atau Soat Eng terisak-isak, mukanya pucat sementara Siang Le duduk bersadar dengan muka kelelahan.

“Ha-ha!” si buntung tak dapat menahan tawa. “Kalian bahagia sekali, Siang Le. Rupanya dua hari dua malam kalian telah menjadi pengantin baru. Tapi Soat Eng adalah permaisuriku, serahkan dia kepadaku dan robohlah kalian!”

Siang Le dan Soat Eng terkejut. Pagi itu mereka baru saja sadar dari pengaruh terkutuk. Dua hari dua malam ini mereka dipacu dan dibakar nafsu terus-menerus, tak sadar dan bagaikan gila saja menuruti dorongan birahi. Mereka secara tidak sengaja telah saling dekap ketika dilempar oleh ayah ibu mereka. Masing-masing terjatuh ke bawah panggung dan nafsu yang bergolak membuat keduanya saling cari dan butuh. Untung mereka tidak mendapatkan pasangan lain karena saat itu para pemuda atau anak buah Ui Kiok dihajar Kim-hujin yang marah. Mereka itu tunggang-langgang dan cerai-berai tak keruan.

Panggung yang ambruk yang dihantam nyonya ini membuat keadaan kacau, apalagi Pendekar Rambut Emas sendiri sudah bertanding dan menghadapi Togur. Dan ketika segala kekacauan itu disusul oleh gelombang laut selatan, banyak yang terhantam dan dibawa ombak maka dua orang ini menyingkir dan dengan napas mendengus-dengus mereka sudah saling peluk dan mencari tempat lega, bercumbu atau memuaskan gejolak birahi dan jadilah masing-masing melampiaskan hasratnya satu sama lain.

Tak terbayangkan bagaimana jadinya kalau Siang Le maupun Soat Eng jatuh di tangan orang lain, anak buah Ui Kiok atau para pemuda yang ada di pulau itu. Dan ketika masing-masing melepas pengaruh arak perangsang dan mencari tempat di dalam Istana Hantu, sedikit-sedikit suami isteri itu ingat kamar-kamar atau tempat yang aman maka keduanya sudah berada di dapur istana tapi di sini celaka sekali bertemu dengan Ui Kiok yang juga dilanda birahinya.

“Heii, kau milikku!”

Siang Le maupun Soat Eng terkejut. Ui Kiok menubruk dan Siang Le tahu-tahu dirampas, Soat Eng tentu saja marah dan memaki. Dan ketika wanita ini membentak dan Ui Kiok dipukul, wanita itu terjengkang maka Ui Kiok bangkit lagi dan terhuyung menyerang Soat Eng. Keduanya bergumul.

Namun Siang Le, yang tertegun dan mula-mula menonton itu mendadak membantu Soat Eng. Hubungan atau ikatan batin yang pernah ada di antara keduanya kiranya menuntun pemuda ini untuk lebih dekat dengan isterinya sendiri daripada Ui Kiok. Pemuda itu marah dan mendorong Ui Kiok. Dan ketika Ui Kiok terpelanting dan menjerit, wanita inipun tak dapat bertempur dengan baik akhirnya dikeroyok Soat Eng maupun Siang Le. Suami isteri itu menghajar Ui Kiok hingga wanita ini jatuh bangun. Soat Eng maupun Siang Le juga tak dapat bertempur baik karena mereka diganggu arak perangsang. Ketiganya terhuyung dan maju mundur seperti orang mabok.

Tapi karena Siang Le jelas ingin dengan Soat Eng, hubungan batin yang pernah ada membuat pemuda itu tak mau dengan Ui Kiok maka wanita ini menangis dan siksaan berahi yang akhirnya tak terlampiaskan menjadikan wanita itu meraung dan terlempar ruangan. Soat Eng menendang wanita itu dan Siang Le menutup pintunya. Jadilah wanita itu tersedu-sedu di luar. Dan ketika dengan marah Ui Kiok juga mengganjal pintu dari luar, ia memalang dua orang itu hingga tak dapat keluar maka sambil terseok dan panas dingin wanita ini turun di guha terowongan bawah tanah untuk mencari laki-laki lain.

Tapi celaka, di luar ia tak dapat keluar. Jala perangkap yang dilepas Thai Liong mengurung permukaan pulau. Kabut tipis atau semacam jala gaib menebar rata. Ui Kiok telah mencoba dua kali meloncat namun dua kali itu pula ia terbanting jatuh. Wanita ini merasa ngeri dan ketakutan. Ia menyangka ada tangan-tangan siluman yang menjaga Sam-liong-to. Dan ketika dengan putus asa ia kembali ke dalam dan sering mengeluh seperti kucing kehausan, berahi semakin menyesak dan menimbun dadanya maka bertemulah ia dengan Togur. Selanjutnya, dengan akalnya yang cerdik ia memaksa Togur melayani hasratnya.

Togur menerima dan dikatakannya bahwa ia menjebak Siang Le dan Soat Eng, padahal sebenarnya dua muda-mudi itu masuk sendiri dan dialah yang datang mengganggu. Dan ketika benar saja Togur melihat dua orang itu, Soat Eng dan Siang Le baru saja “bertempur” maka si buntung yang jahat dan keji ini tertawa dan saat itu juga ujung tongkatnya melepaskan belasan sinar hitam yang berbahaya.

Aduh....!” Siang Le terkejut.

Semalam, ia dan isterinya menyelesaikan babak akhir. Pengaruh arak demikian luar biasa hingga ia dan isterinya seperti gila. Tak habis-habisnya mereka mereguk madu cinta dan semakin direguk terasa semakin nikmat. Selalu ada perasaan kurang di situ. Mereka ingin minum sepuas-puasnya. Tapi ketika pagi menjelang tiba dan mereka sadar oleh permainan di luar batas, tenaga terkuras habis dan Siang Le maupun Soat Eng mulai teringat akan apa yang terjadi maka wanita ini menangis namun ia merasa bersyukur bahwa ia jatuh di tangan suaminya sendiri.

“Aduh, keparat jahanam. Kau kiranya, Le-ko. Ah, puji kepada Thian Yang Agung bahwa aku jatuh di tanganmu!”

“Dan kau, hmm... kau, Eng-moi? Bukan Ui Kiok si wanita jalang? Aduh, syukur kepada Tuhan. Aku juga jatuh di tanganmu!”

Dua suami isteri muda itu lega bukan main. Soat Eng terisak-isak dan ia malu bukan main teringat perbuatannya semalam. Bukan karena ia tak pernah melakukannya melainkan semata oleh rasa kerakusannya dan permintaannya yang tak pernah henti-henti. Ia selalu memaksa suaminya untuk melampiaskan birahinya. Kalau perlu, dengan cara apapun.

Cara yang selama ini belum pernah dilakukannya dan baru kali itu dikeluarkan. Semua jurus-jurus rahasia tiba-tiba didapat dan sekarang wanita ini malu akan perbuatannya sendiri. Ia jengah dan tersipu oleh perbuatannya itu. Tapi ketika sang suami mengusap-usap pundaknya, mengelus dan membelai rambutnya maka suaminya itu berkata bahwa tak usah ia menyesal.

“Semua sudah lewat, dan kita kebetulan suami isteri. Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi, Eng-moi. Betapapun aku puas karena kaulah yang menjadi pasanganku.”

“Tapi... tapi aku seperti kuda kelaparan, tak pernah kenyang. Ah, aku malu dengan perbuatanku. Aku seperti betina jalang!”

“Hush, jangan begitu, Eng-moi. Kau isteriku, kau bukan betina jalang. Sudahlah kita istirahat dan di mana kita sekarang ini.”

“Kita di dapur!”

“Di dapur? Hmm, benar. Itu piring matahari, piring kesukaan kita. Ah, biasanya dengan piring itu kau menaruh kue-kue!”

Soat Eng menyusupkan kepalanya di dada sang suami. Siang Le ternyata tak membuatnya malu dengan kejadian semalam, ia lega. Tapi ketika ia terisak dan bercakap-cakap, mereka letih dan lemas menguras banyak tenaga maka saat itulah terdengar tawa Togur dan sembilan dari di belasan sinar hitam menancap di bagian kirinya.

Soat Eng menjerit dan Siang Le melompat bangun melihat seseorang di lubang pengintaian. Tapi ketika orang atau sepasang mata di lubang itu lenyap, terganti dengan tendangan atau dobrakan kasar maka Togur, si buntung itu, berkelebat dan masuk dengan tawanya yang menyeramkan, disusul bayangan lain yang bukan lain Ui Kiok adanya, si wanita jalang.

“Ah, kalian rupanya!” Siang Le terhuyung dan pucat, isterinya roboh. “Apa yang kau lakukan, Togur. Kau binatang keparat!”

“Ha-ha, lihat lenganmu,” si buntung menuding. “Kaupun bakal roboh, Siang Le. Menyerah dan serahkan isterimu kepadaku, Ia permaisuriku!” dan bergerak mengangkat tongkat tiba-tiba angin berkesiur dan sebuah totokan jarak jauh menyambar, Siang Le mengelak namun kalah cepat, lawan memang lihai. Dan ketika ia berteriak karena roboh tertotok, terguling bersama isterinya maka si buntung itu terbahak-bahak berseru,

“Ui Kiok, angkat dan ambil mereka. Kita keluar istana!”

“Hi-hik!” Ui Kiok berkelebat dan menyambar Siang Le, Soat Eng ditendangnya. “Untuk pemuda ini boleh kubawa, siauw-ong. Tapi siluman betina itu biar bagianmu!”

“Ha-ha!” Togur bergerak, menangkap. “Cemburumu masih tinggi, Ui Kiok. Tapi tak apa, kau mendapatkan pemuda itu dan aku wanita ini!”

Soat Eng menjerit namun pingsan. Sembilan jarum hitam yang mengenai tubuhnya bukanlah main-main. Ia tak tahan dan langsung roboh. Dan karena nyonya itu juga kehabisan tenaga sementara Siang Le juga begitu, pemuda ini dengan mudah ditotok maka dua-duanya sudah menjadi tawanan dan Siang Le memekik melihat dirinya disambar Ui Kiok.

“Wanita keparat, lepaskan aku!”

“Hi-hik, kau tawananku, Siang Le, calon suamiku. Jangan banyak menentang atau nanti kututup mulutmu!”

“Kau wanita jalang, bedebah. Lepaskan aku atau isteriku itu!”

“Hm, kalau begini biar kututup mulutmu. Kau tak boleh berteriak-teriak atau nanti orang lain datang!” dan si cantik yang menotok urat gagu lalu menghentikan teriakan Siang Le yang tentu saja tak dapat diteruskan.

Pemuda itu mengeluh dan roboh, melotot dan alangkah cemasnya melihat isterinya di tangan Togur. Si buntung menyeringai dan tiba-tiba mencium pipi isterinya. Dan ketika dia tersentak namun lawan terkekeh, Ui Kiok sendiri tiba-tiba mendaratkan ciuman dan mencipok pipinya maka Siang Le pucat dan merah berganti-ganti tak kuat menahan perasaannya.

“Ha-ha, ini calon permaisuriku, sudah menikah pula. di atas panggung. Eh, kau jangan melotot di sini, Siang Le. Kekasihmu adalah Ui Kiok itu!”

“Benar, kau tak usah cemburu atau marah kepada siauw-ong, Siang Le. Kita masing-masing sudah mendapatkan pasangan dan jangan kau melotot... cup!”

Siang Le hampir pingsan. Ia melihat isterinya kembali dicium si buntung dan Ui Kiok terkekeh-kekeh. Wanita cabul itupun mencium wajahnya tapi kemudian si buntung menancapkan tongkat, berkata bahwa mereka harus secepatnya keluar dan dua tawanan ini dijadikan sandera. Untung bagi Siang Le dan Soat Eng bahwa dua orang itu tak bertindak lebih. Mereka masih kekenyangan oleh permainan cinta yang dua hari dua malam itu.

Togur hanya menggoda Siang Le dengan mencium Soat Eng empat kali. Dan ketika si buntung itu bergerak dan meloncat keluar, Ui Kiok mengikuti dan diam-diam mengelus paha Siang Le, menimbulkan rangsang tapi justeru Siang Le semakin marah maka pemuda ini tak kuat dan akhirnya pingsan pula di pelukan wanita itu.

“Sial,” si cantik mengumpat. “Pemuda ini pingsan, siauw-ong. Bagaimana aku dapat memperolehnya.”

“Ha-ha, jangan ganggu dulu. Kita sekarang mempunyai dua pilihan. Mau selamat atau tidak!”

“Maksudmu?”

“Kalau kita mengganggu dua orang ini Maka Thai Liong atau ayahnya tak akan melepas kita, Ui Kiok. Tapi kalau kita membiarkan mereka selamat maka kitapun bisa keluar dari Sam-liong-to. Pikirkan itu!”

“Ah, jadi aku tak dapat memiliki calon kekasihku ini?”

“Buang pikiran itu. Mereka sebagai jaminan untuk keluar. Aku juga hanya menggoda saja dan sementara ini merekalah harapan kita!”

Ui Kiok mengeluh. Akhirnya ia sadar bahwa dua tawanan itu benar-benar tak boleh diganggu. Mereka merupakan imbalan untuk lolos dari Sam-liong-to. Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas tentu masih di sana, di atas. Dan ketika Togur terus bergerak dan berjungkir balik keluar pintu gerbang Istana Hantu akhirnya dilewati maka benar saja ayah dan anak menunggu di situ. Bahkan, sikap Thai Lion seakan sudah tahu kalau mereka akan muncul di situ, membawa tawanan!

“Hm, selamat bertemu lagi, Togur. Kiranya kau masih hidup dan bersembunyi di dalam. Bagus, kau membawa adik dan iparku tentu untuk ganti keluar dari pulau!”

“Ha-ha!” Togur menyembunyikan kaget dan gentarnya dengan tawa bergelak. Sesungguhnya iapun pucat! “Kau lihai dan awas pandangan, Thai Liong. Benar katamu dan bagaimana sekarang. Apakah boleh aku keluar dan pergi dari Sam-liong-to!”

“Kau sudah dua hari di dalam, dan kau tentu tak betah untuk tinggal lagi di sini. Tapi setuju atau tidak biarlah kau bicara dengan ayahku karena dialah yang akan menentukan.”

“Hm!” pemuda ini menggetar-getarkan tongkat, menaruhnya di atas kepala Soat Eng. “Kupikir kau setuju, Pendekar Rambut Emas. Dua jiwa ditukar pula dengan dua jiwa. Kami ingin meminta jawabanmu!"

Pendekar Rambut Emas melangkah maju. Mukanya yang merah dan matanya yang marah jelas menunjukkan kegusarannya yang sangat. Ia memandang si buntung ini dengan pandangan berapi. Togur mundur karena mata itu seolah membakar dan melahapnya habis. Seperti mata naga! Tapi ketika ia tertawa dan kembali mengetuk-ngetukkan tongkat, di atas kepala Soat Eng maka Pendekar Rambut Emas berkata, penuh geram.

“Togur, sungguh tak kunyana bahwa beginilah watakmu. Kejahatan ayahmu semakin bertambah lagi dengan adanya kau di dunia. Hm, sayang bahwa keturunan mendiang suhengku Gurba hanya menjadi pengotor dunia saja. Kau menawan anak dan menantuku, baik, lepaskan mereka dan silahkan kau pergi. Asal mereka berdua hidup dan selamat!”

“Ha-ha, kau membiarkan kami pergi? Tak akan menyerang atau menghalangi kami berdua?”

“Keselamatan anak dan menantuku jauh di atas segala-galanya, Togur. Pergi dan tenangkan pikiranmu. Aku berjanji tak akan menyerang atau mengganggumu!”

“Tapi Si Rajawali Merah ini juga harus berjanji. Kalian berdua tak boleh mengganggu aku!”

“Akupun tak akan mengganggumu...”

“Berjanjilah, Thai Liong. Bersumpahlah.”

“Hm,” Thai Liong berkilat matanya marah. “Bukankah cukup kalau kukatakan aku tak akan mengganggumu, Togur. Di Sam-liong-to ini kau akan bebas, aku dan ayahku telah berjanji. Tak usah bersumpah!”

“Aku masih tidak percaya dengan janji. Aku lebih mantap dengan sumpah. Katakan dengan sumpah bahwa kau tak ak menggangguku, baik di Sam-liong-to maupun di luar Sam-liong-to!”

“Ini melewati batas!” Pendekar Rambut Emas membentak. “Perjanjian dilakukan sini, Togur. Berlaku di sini dan untuk di sini pula. Kau tak usah cerewet!”

“Ha-ha, kalau begitu ketahuan belangnya!” Togur tertawa terbahak, muka tiba-tiba beringas. “Kalau begini berarti kau akan menyerangku di luar Sam-liong-to, Pendekar Rambut Emas. Janjimu hanya janji semu dan sebagian!”

“Kau tak usah menghina ayah,” Thai Liong mengibas dan pemuda itu terdorong, si buntung terkejut. “Janji kami tetap janji utuh, Togur. Di luar Sam-liong-to atau di dalam Sam-liong-to kami tak akan mengganggu atau menyerangmu, asal kau tidak mulai dulu. Nah, kau tak usah banyak cakap dan serahkan dua orang itu dan enyahlah!”

Pemuda ini terbelalak. Ia merasa tertampar dan kata-kata Thai Liong lebih dari cukup. Ia hanya diminta untuk tidak mengganggu atau membuat persoalan dulu, atau semua janji akan batal dan itu berarti bahaya. Dan karena ia maklum bahwa janji atau omongan seperti Pendekar Rambut Emas dan puteranya ini dapat dipegang, ia tak akan diserang di luar atau di dalam Sam-liong-to maka Togur tertawa dan menyeringai lebar.

“Baik,” pemuda itu girang. “Janji dan kata-kata kalian melebihi jiwa sendiri Thai Liong. Seorang ksatria tak akan menarik janjinya atau lebih baik dia mati!”

“Kau tak usah banyak cakap. Pergi dan enyahlah dan serahkan adik serta iparku itu!”

Si buntung tertawa. Ia menyerahkan Soat Eng dan melemparkannya kepada pemuda luar biasa itu. Thai Liong menerima dan menangkap. Dan ketika Ui Kiok juga diminta menyerahkan Siang Le dan wanita itu melempar kecewa, ditangkap dan diterima Pendekar Rambut Emas maka Thai Liong maupun ayahnya mengerutkan kening melihat kulit kehitaman dari jarum beracun.

“Tunggu!” Thai Liong berkelebat, Togur sudah memutar tubuh. “Janjiku adalah kalau adik maupun iparku dalam keadaan selamat, Togur. Ternyata mereka pingsan oleh jarum-jarum yang kau miliki. Bagaimana sekarang!”

“Ha-ha, ayahmu membawa obat penawarnya. Perjanjian tetap berlaku!”

“Tapi mereka sakit, bagaimana kalau obatnya tidak cocok!”

“Kau mau menghalang-halangi aku pergi?”

“Hm, sebenarnya tidak juga, Togur. Tapi mestinya kau pergi kalau mereka ini sudah sadar. Kita harus melihat dulu apakah pengobatannya terlambat atau tidak. Betapapun telah kutekankan bahwa mereka harus hidup dan selamat!”

“Kau licik!”

“Tidak licik...”

“Tapi kau menghalang-halangi aku pergi. Obat yang dirampas ayahmu itu cocok pula untuk mereka. Aku sudah tidak mempunyai obat lain!”

“Kau berani membuktikannya?”

Si buntung tertegun.

“Perjanjian harus berlaku timbal balik, Togur. Jangan berat sebelah. Kalau kau ingin pergi dengan aman tentunya kau harus menunggu dulu apakah benar mereka selamat. Atau kami akan menahanmu sebentar untuk melihat cocok tidaknya obat penawar itu!”

“Curang!” si buntung menancapkan tongkat, wajah menggigil. “Kau boleh buktikan kesehatan adikmu, Thai Liong. Tapi setelah itu kau tak berhak menahanku lagi. Janji seorang ksatria tak layak dijilat!”

“Hm, aku tak bermaksud menjilat ludahku. Kalau kau berani menunggu sebentar tentunya aku lebih yakin lagi. Baiklah, maaf dan biarkan ayahku memberinya obat. Silahkan duduk!”

Si buntung mengertak gigi. Ia tak mengerti kenapa Si Rajawali Merah yang tenang dan tersenyum-senyum itu menyuruhnya begitu. Yang jelas, tak mungkin anak maupun ayah berbuat curang, menyerang dan membunuhnya di situ umpamanya. Dan ketika apa boleh buat ia menunggu, namun tetap berdiri tegak, tongkat menyangga dan Pendekar Rambut Emas bergerak maju dan membuka bungkusan obat rampasannya maka Ui Kiok mendekat dan si buntung tiba-tiba berdetak dan pucat mukanya tak melihat Kim-hujin.

“Sst, dimana Kim-hujin itu. Kenapa tak kelihatan!”

Togur bagai diingatkan. Sekonyong-konyong ia menengok ke belakang dan bagai disambar petir saja tahu-tahu Kim-hujin itu telah berada di belakangnya. Angin berkesiur perlahan tapi itu cukup membuat si buntung ini menoleh. Dan ketika ia melihat wajah dingin dan mata yang ganas, penuh dendam dan sakit hati tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan Siang Le yang ada di tanah dan menggeletak di situ tahu-tahu disambarnya dan ditodong ujung tongkat!

“Pendekar Rambut Emas, apa artinya ini. Ada apa dengan isterimu!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia menoleh dan Thai Liong pun tersentak, melihat Togur tahu-tahu sudah mengancam Siang Le. Todongan tongkatnya jelas todongan maut dan itu tidak main-main. Si buntung marah! Dan ketika Thai Liong maupun ayahnya memandang ke depan, Kim-hujin atau nyonya Kim tampak di situ maka ayah dan anak saling berpandangan dan Kim-mou-eng tiba-tiba tampak menyesal.

“Niocu, kenapa kau ada di sini?”

Swat Lian, atau Kim-hujin ini, mendegus. Ia menjawab bahwa ia tak sabar menunggu di pantai. Si buntung itu terlalu lama. Dan ketika Togur terbelalak dan seketika tahu apa yang terjadi, dirinya terjebak tiba-tiba pemuda ini tertawa bergelak dan mukapun seketika gelap dan memancarkan hawa pembunuhan!

“Ha-ha, kiranya kalian berkomplot. Tahu aku sekarang apa akalmu, Pendekar Rambut Emas. Ah, kau busuk dan licik sekali. Isterimu kiranya menggantikan kalian dan menunggu aku di pantai. Pantas kenapa ia tak ada dan aku lupa menanyakan ini. Ha-ha, kalian busuk dan jangan coba-coba menipuku!”

Pendekar Rambut Emas menyesal. Sesungguhnya ia berani melepas si buntung itu karena isterinya menunggu di pantai. Si buntung akan dicegat dan dendam atau sakit hati isterinya tak dapat ditahan. Isterinya telah menderita oleh tujuh jarum beracun dan kalau tidak atas pertolongan yang cepat tentu nyawanya melayang. Togur amat dibencinya dan dari dulu sampai sekarang pemuda ini dibencinya. Gara-gara pemuda inilah maka ayahnya tewas. Dan gara-gara pemuda ini pula anak perempuannya hampir dibuat hina. Siang Le tak dihiraukan karena diam-diam iapun juga masih membenci atau tidak menyenangi mantunya itu. Siang Le bekas murid tSee-ong!

Dan ketika ia tak sabar menunggu dan berkata akan menghadang di pantai, Togur akan diserang dan dicegatnya situ maka nyonya ini menjadi geram karena dua hari ia menunggu dua hari itu pula si buntung tak muncul. Ia gemas dan juga geram. Dan ketika ia mendengar tawa bergelak, Togur tertawa membawa Soat Eng dan Siang Le keluar Istana Hantu maka nyonya itu menyelinap dan ia tahu-tahu sudah di belakang si buntung itu setelah si buntung menyerahkan anak dan menantunya. Hal ini sebenarnya tak dikehendaki Pendekar Rambut Emas karena ia akan disudutkan lawannya nanti.

Togur akan menganggapnya licik dan tak tahu malu, padahal ia tidak bermaksud begitu karena perjanjian hanya menyangkut dirinya dan Thai Liong. Isterinya tidak ikut-ikut dan karena itu bebas di luar. Kalaupun nanti bertemu di pantai maka itu urusan isterinya dengan si buntung.

Tapi begitu sang isteri muncul dan benar saja Togur menganggapnya licik, orang jujur memang tak biasa berbohong maka Pendekar Rambut Emas mati kutu dan diam, untuk sejenak kalah suara! Tapi begitu Thai Liong bergerak dan puteranya inilah yang maju maka dengan tenang dan penuh kepercayaan diri Si Rajawali Merah ini berkata....

Rajawali Merah Jilid 26

RAJAWALI MERAH
JILID 26
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SAN TEK dan Togur terkejut. Bentakan atau seruan Pendekar Rambut Emas yang begitu dahsyat tiba-tiba membuat Sam-liong-to berderak dan berguncang. Laut tiba-tiba membuih dan terjadilah gelombang pasang yang hebat. Sam-liong-to diserbu. Dan ketika ombak sebesar bukit menerjang atau menghantam pulau ini, sisa-sisa anak buah Togur berteriak dan terlempar di luar istana, Lam-hai bergolak maka menjeritlah kaum wanita dan pemuda-pemuda yang tadi bersembunyi karena mereka itu disambar atau dijilat buih ombak yang setinggi pohon kelapa.

“Toloongg...!”

Jerit atau pekik itu tak berguna. Puluhan tubuh tersedot dan terlempar dari guha-guha persembunyian, laut selatan mengamuk dan kaum wanita serta pemuda yang dihantam gelombang laut ini terhisap dengan kuatnya. Mereka terbawa dan tak dapat mempertahankan diri dari guha-guha persembunyian mereka, terlempar dan lenyap di balik gulungan gelombang dahsyat. Pekikan Pendekar Rambut Emas ternyata mengguncang laut selatan.

Lam-hai rupanya terkejut dan tersentak oleh pekik atau gelegar suara pendekar ini. Kim-mou-eng berada dalam puncak kegelisahannya. Tapi ketika tubuh-tubuh terlempar dari guha-guha persembunyian dan Togur maupun San Tek terkejut oleh pekikan ini maka di laut selatan, di tengah-tengah samudera luas tiba-tiba tampak bayangan merah melayang-layang dengan amat cepatnya menuju pantai, yang sedang berbuih!

“Ayah, aku datang!”

Suara atau seruan ini menembus segala hirup-pikuk kegaduhan. Laut selatan yang bergolak dan mendidih tiba-tiba tak dapat menghalangi datangnya bayangan merah ini. Bayangan itu muncul dari tengah-tengah laut dan suaranya yang begitu nyaring melengking menandingi suara Pendekar Rambut Emas. Bedanya tidaklah menggetarkan atau mengejutkan pulau, meskipun masing-masing memiliki kelebihan sendiri karena suara yang diserukan bayangan merah itu cukup menyentak dan menyakitkan telinga, berdenging bagai seribu batang pedang atau jutaan lebah yang sedang marah. Dan ketika bayangan itu terus bergerak dan meluncur maju, ombak maupun buih-buih gelombang tak dapat menahan dirinya maka sekejap kemudian iapun sudah sampai di daratan, terbang dan menyambar ke arah pertempuran tiga orang itu.

“Ayah, aku datang...!”

Pendekar Rambut Emas girang bukan main. Bayangan merah ini sudah menyambar seperti burung dan begitu datang iapun menangkis pukulan Togur maupun San Tek. Si gila dan si buntung ini sama-sama terkejut karena begitu datang begitu pula angin berkesiur dahsyat. Dan ketika keduanya menangkis namun saat itu keduanya kurang siap, mereka baru saja menyerang Pendekar Rambut Emas maka keduanya terlempar dan mencelat bergulingan, bagai disambar angin beliung, berteriak.

“Dess!” San Tek dan Togur sama-sama memaki. Mereka terguling-guling meloncat bangun dan bayangan merah itu, yang tegak dan tidak mengejar lawan tiba-tiba berdiri tertegun melihat wanita di pondongan Pendekar Rambut Emas. Inilah Thai Liong, Si Rajawali Merah yang berkibar-kibar ujung jubahnya itu. Pemuda ini terkejut melihat keadaan ibunya yang sudah kehitam-hitaman. Wajah ibunya juga hangus.

Namun Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan mengejar lawan berseru kepada puteranya agar menangkap si buntung. Di tangan si buntung itulah terdapat obat penawar dan Thai Liong, Si Rajawali Merah tiba-tiba menggeram dan berkelebat pula. Dan ketika pemuda itu membentak agar si buntung menyerah, mengeluarkan obat penawar maka Thai Liong sudah berhadapan dengan lawannya ini dan si buntung pucat, gentar.

"San Tek, hadapi Si Rajawali Merah ini. Biarkan kita bertukar lawan!”

“Keparat!” Pendekar Rambut Emas membentak. “Kau licik dan keji, Togur. Kau tak tahu malu. Boleh kau hadapi aku dan kita bertukar lawan.... des-dess!” Pendekar Rambut Emas terhuyung dan merah padam. Ia amat marah dan benci sekali kepada si buntung ini. Tadi mengeroyok tapi sekarang tiba-tiba meminta lawan yang lebih enteng, karena puteranya memang setingkat di atas dirinya sejak menerima warisan beberapa ilmu silat hebat dari manusia dewa Bu-beng Sian-su.

Dan ketika San Tek tertawa namun si gila itu rupanya juga mengenal jerih, lebih baik dengan Pendekar Rambut Emas daripada Thai Liong maka San Tek enak saja bicara. “Eh, kita mendapat musuh yang sama berat, Togur. Kim-mou-eng maupun puteranya sama saja. Lihat, Pendekar Rambut Emas inipun masih dapat bangkit lagi menerima pukulanku!”

“Tapi Rajawali Merah ini lebih berat bagiku. Dia lebih pantas untukmu karena kepandaianmu lebih tinggi!”

“Wah, begitukah?” si gila tertawa, bangga. “Kalau begitu boleh kita bertukar pasangan, Togur. Serahkan lawanmu dan hadapi lawanku ini... des-dess!” dan San Tek yang kembali melepas Im-kan-thai-lek-kangnya hingga Kim-mou-eng terhuyung maka si gila yang senang oleh umpak atau pujian itu terkekeh-kekeh mendekati Thai Liong, berkelebat. “Rajawali Merah, kau lawanku. Kita se-tanding dan biar yang lebih rendah dengan yang lebih rendah!”

Thai Liong terbelalak. Sebenarnya baginya sama saja menghadapi dua orang itu. Togur memang sedikit di bawah San Tek namun kecerdikan atau keculasan si buntung itu justeru jauh lebih berbahaya, Siapapun mengenal si buntung ini. Maka ketika ia diserang dan lawan berganti pasangan, si gila mencengkeram dan melepas Im-kan-thai-lek-kangnya maka Thai Liong menangkis dan iapun mengeluarkan pukulan Im-kang untuk menandingi pukulan Yang-kang dari lawannya itu.

“Dess!” San Tek dan Thai Liong sama-sama terpental. Si gila berteriak marah namun ia menerjang lagi, disambut dan kembali Thai Liong mengerahkan Im-kangnya. Pemuda itu mempergunakan Im-kang dari Sin-tiauw-kang atau Rajawali Sakti dan si gila memekik. Mereka berdua kembali terpental dan Im-kang maupun Yang-kang sama-sama tertolak. Dan ketika Thai Liong berseru marah karena lawan kembali menyerbu, ayahnya di sana sudah bertanding dengan Togur maka tampak bahwa Pendekar Rambut Emas menang posisi, tenaga dan pengalamannya lebih banyak.

“Kau tak dapat mengalahkan aku, Togur. Dan kau harus menyerahkan obat penawar, atau aku membunuhmu!”

“Ha-ha, cobalah kalau bisa!” si buntung mengejek, diam-diam memutar otak. “Kalau kau dapat mengalahkan aku belurn berarti dapat menyelamatkan isterimu, Pendekar Rambut Emas. Karena begitu aku roboh begitu pula obat penawar kuhancurkan!”

“Keparat, kau keji!” dan Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan kembali melepas pukulan akhirnya mengerahkan Cui-sian Gin-kangnya dan bertubi-tubi mendesak atau menekan si buntung ini, Togur lenyap mempergunakan ilmu hitam namun dikejar dengan Pek-sian-sut, kembali lagi memperlihatkan diri.

Dan Thai Liong di sana tiba-tiba menepuk pundak San Tek melenyapkan pengaruh Bu-siang-sin-kang, yang tadi dilancarkan Togur. Dan ketika pemuda itu jatuh lagi di alam kasar dan si gila berteriak kecewa, Togur pucat dan ngeri melihat itu maka sebuah pukulan Pendekar Rambut Emas mendarat di tengkuknya dan pemuda itu terjungkal.

“Plak!” Si buntung mengeluh. Ia tahu bahwa lawan yang dihadapi sama saja. Baik Pendekar Rambut Emas maupun Thai Liong sama-sama tak dapat ditandinginya, meskipun untuk Pendekar Rambut Emas dia dapat bertahan lebih lama, lain kalau dengan Thai Liong karena Si Rajawali Merah itu lebih hebat. Thai Liong memiliki Silat Rajawali Sakti yang tak dipunyai ayahnya. Pemuda itu dapat terbang seperti rajawali melayang-layang dan sekali sambar ia akan mematuk lawannya.

Si buntung telah melirik dan benar saja ia melihat Si Rajawali Merah itu menyambar-nyambar di sana, membuat San Tek kelabakan dan hanya berkat Im-kan-thai-lek-kangnya itu saja si gila dapat bertahan. Dan ketika Pendekar Rambut Emas menghajarnya dan ia terguling-guling, tamparan di tengkuk itu demikian kuat dan dahsyat maka Togur meloncat bangun dan terhuyung ketika lawan kembali mengejar, tak memberinya ampun.

“Togur, kau boleh saja memiliki daya tahan sekuat kerbau. Tapi pukulan demi pukulanku akan membuatmu babak-belur dan kau akan meraung-raung!”

“Keparat!” si buntung marah. “Kau licik dan curang, Kim-mou-eng. Beranimu hanya mengandalkan puteramu. Coba kalau kau tidak memanggil puteramu dan kau berhadapan satu lawan satu dengan aku. Tentu kau tak akan menang mental berkat kehadiran puteramu itu!”

“Tak usah banyak mulut. Serahkan obat penawar atau kau mampus!” Pendekar Rambut Emas melotot gusar, lawan menjungkir balik omongan dan ia tak mau banyak cakap lagi. Si buntung telah meloncat bangun dan bukti ia dapat menahan pukulannya sebenarnya membuat ia kagum juga. Pemuda ini memang hebat. Tapi karena keadaan isterinya semakin memburuk dan ia harus secepatnya merobohkan pemuda itu maka Pendekar Rambut Emas melepas dua pukulannya sekaligus ketika menyambar dan berkelebat lagi, kali ini menuju tenggorokan namun di tengah jalan tiba-tiba ia menurunkan pukulannya ke pusar, hal yang tak diduga.

“Aduhh.. tobat!”

Raung atau pekik si buntung membelah angkasa. Ikat pinggangnya, yang melilit kuat dan rapat di balik pakaian tiba-tiba disambar dan direnggut Pendekar Rambut Emas. Hal itu tak diduga pemuda ini dan si buntung mengayun tongkatnya. Ia coba menghantam namun kalah cepat, gerakannya didahului. Dan ketika ikat pinggang itu putus, si buntung menjerit dan meraung menggetarkan pulau maka Kim-mou-eng telah menyabet dan ikat pinggang itu hancur mengenai kepala pemuda ini.

“Lenyapkan ilmu-ilmu hitammu!”

Togur terbanting dan terguling-guling mengaduh-aduh. Ia sama sekali tak menduga bahwa Pendekar Rambut Emas akan merenggut dan memutuskan ikat pinggangnya. Di situlah letak kekuatan Bu-siang-sin-kang karena di situ pulalah dia menyembunyikan seratus roh bayi-bayi lelaki.

Si buntung inipun mengikuti jejak gurunya dengan menguasai ilmu hitam, termasuk mencari dan membunuh bayi-bayi lelaki sebagai penguat Bu-siang-sin-kangnya, Ilmu Gaib Tak Berwujud. Maka begitu inti kekuatannya diputuskan, ikat pinggang itu disambar dan disabetkan ke kepalanya maka seratus benda-benda putih beterbangan di angkasa dan Togur terkejut setengah mati.

“Tobaat...!”

Namun Pendekar Rambut Emas tak menghiraukan jeritannya. Pendekar itu meledakkan tangannya dan ia bergerak di antara benda-benda putih yang berhamburan ini, cepat dan kuat menyambar pula kantong sebelah kanan pemuda itu. Dan ketika sebuah bungkusan tercabut, si buntung terkejut dan membelalakkan mata maka Pendekar Rambut Emas telah melompat mundur dan tidak memperdulikan lagi keadaan lawannya yang diserang oleh seratus benda-benda putih itu, berlutut dan mengobati isterinya dengan obat penawar racun, obat yang baru saja didapatnya dari kantong si buntung.

“Keparat... jahanam keparat! Kau licik dan pencuri hina, Kim-mou-eng. Kau tak tahu malu mengambil barang orang lain!"

Namun Pendekar Rambut Emas tidak menghiraukan. Ia sudah memasukkan tujuh butir obat penawar racun ke mulut isterinya dan secepat itu pula menempelkan lengan menyalurkan sinkang. Hanya ada beberapa detik lagi untuk menyelamatkan isterinya itu. Selebihnya dia akan terlambat. Dan ketika Pendekar Rambut Emas menggigil menolong isterinya dan Togur berteriak-teriak di sana, bergulingan dan meloncat bangun dikejar seratus roh bayi lelaki ini maka keadaannya hampir mirip dengan Poan-jin yang diamuk balas dendam.

“Jahanam, keparat jahanam!”

Tak ada yang memperhatikan. Pendekar Rambut Emas sedang sibuk menolong isterinya sementara Thai Liong dan lawannya juga sibuk mengeluarkan pukulan-pukulan mereka. Bu-siang-sin-kang sudah dilenyapkan namun si gila yang hebat dengan Im-kan-thai-lek-kangnya itu tak mempan dipukul. Thai Liong berkali-kali lenyap dan muncul lagi dengan Beng-tau-sin-jinnya, ilmu Menembus Roh di mana dia dapat dengan mudah melancarkan pukulan-pukulan atau tamparannya. Tapi karena lawan tak dapat dirobohkan dan selalu bangkit lagi berteriak-teriak, si gila ini memang hebat maka Thai Liong paling-paling hanya bersifat menyakiti, sampai lawan tak tahan.

“Aduh, keparat kau, Thai Liong. Keparat jahanam!”

“Kaulah yang jahanam. Kau membela orang jahat, San Tek. Kau si gila membantu orang yang lebih gila. Hayo kau pergi atau tubuhmu kubuat babak-belur!”

San Tek jingkrak-jingkrak. Ia kesakitan dan marah oleh tamparan-tamparan atau pukulan Thai Liong. Ia dapat bertahan dari semua pukulan itu tapi rasa sakit yang menyengat lama-lama menyiksanya juga, ia membalas tapi Thai Liong mempergunakan Beng-tau-sin-jinnya, lenyap dalam ilmu halus. Dan karena inilah kelebihan Rajawali Merah dan ia menjadi bulan-bulanan pukulan, tidak roboh tapi kesakitan semua maka tiba-tiba ia dibuat terkejut ketika sedang bergulingan dan meloncat bangun mendadak ia ditubruk dan diterkam Togur.

“San Tek, tolong aku. Tolong. Pendekar Rambut Emas menyebar roh-roh halus, menyerang kita!”

“Heii..!” si gila berteriak, kaget melihat benda-benda berwarna-warni mengejar dan mengikuti Togur, kini tentu saja menyambar dirinya. “Apa itu, Togur. Benda-benda apa itu!”

“Itu ilmu siluman milik Pendekar Rambut Emas. Aku dihadapkan roh-roh penasaran. Awas!” dan si buntung yang melekat dan meniup ubun-ubun si gila tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dimasukkan ke kepala temannya ini. San Tek ternganga dan tak sadar, uap hitam telah memasuki ubun-ubunnya. Tapi ketika benda berwarna-warni itu menyerbunya dan menyerang, si gila berteriak maka pemuda ini membanting tubuh bergulingan mengibaskan Im-kan-thai-lek-kangnya.

“Keparat... bress!”

Benda berwarna-warni itu terpental. Mereka tertiup oleh pukulan si gila ini dan terdengar suara mencicit seperti orang menjerit, atau tikus mencicit. Tapi ketika benda-benda yang terpental itu kembali dan menyambar lagi, Togur tertawa aneh maka si gila mencak-mencak dan saat itu Thai Liong berkelebat dan melepas Sin-tiauw-kangnya (Pukulan Rajawali Sakti).

“San Tek, pergi dan sebaiknya jangan di sini saja. Togur menipumu!”

Si gila terpekik. Ia terlempar oleh pukulan ini dan Thai Liong marah memandang si buntung. Togur selalu berada di punggung temannya itu dan ke manapun pergi selalu diikuti. Si buntung sesungguhnya berlindung dari kemarahan roh-roh halus itu. Dan ketika San Tek berteriak-teriak karena diserang oleh Thai Liong dan juga benda berwarna-warni itu, marah dan kelabakan maka Togur diam-diam menyelinap di sebuah batu besar dan menghilang.

Kesempatan telah diperoleh si buntung ini ketika San Tek bergulingan di batu karang, cepat melepaskan diri dari mara bahaya dan tinggallah si gila itu sendirian berkaok-kaok. Thai Liong terkejut tak melihat si buntung lagi yang dengan licik meninggalkan temannya. Dan ketika pemuda itu berkelebat di balik batu karang namun lawan menghilang, Togur lenyap dengan cepat maka Thai Liong marah mencari-cari.

“Togur, jangan lari. Mana watak ksatriamu dengan meninggalkan kawan!”

Namun si buntung tak menjawab. Thai Liong dengan cerdik telah memancing lawannya itu untuk bicara dan sekali menjawab tentu dia tahu di mana lawannya berada. Namun karena Togur tak kalah cerdik dan si buntung itu tentu saja tak mau menjawab, ia membiarkan Thai Liong marah-marah dan mencarinya maka adalah San Tek yang mencak-mencak dan bingung tak dapat melepaskan diri dari serbuan roh-roh halus itu. Ia tak tahu bahwa sebuah tanda telah diberikan Togur kepadanya, asap hitam itu.

Dan karena asap atau uap inilah yang menjadikan kemarahan roh-roh halus itu untuk menyerang, uap atau asap ini sebagai pemilik Bu-siang-sin-kang maka si gila kalang-kabut dan berapa kalipun ia mengibas berapa kali itu pula lawan-lawannya menyerang lagi. Roh-roh halus itu tak dapat diusir.

“Aduh, tobaat... tolong!”

Thai Liong tak tega. Ia melihat kekalutan si gila itu dan tentu saja gemas dan marah kepada Togur. Si buntung itulah yang membuat temannya celaka padahal mula-mula si gila itulah yang diandalkannya untuk menghadapi lawan. Togur benar-benar licik. Dan ketika San Tek bergulingan ke sana ke mari dan akhirnya bahkan mencebur ke laut, dikejar dan tetap diserang benda seperti kunang-kunang maka Thai Liong berkelebat dan lengan jubahnya yang merah mengebut ke ubun-ubun pemuda itu.

“San Tek, kau memang sedang sial. Togur melepaskan sisa Bu-siang-sin-kangnya kepadamu. Nah, pergilah atau nanti kau disambar roh-roh penasaran itu..... plak!” dan uap hitam yang lenyap dari ubun-ubun pemuda ini tiba-tiba membuat San Tek lega karena benda berwarna-warni yang semula menyerangnya itu mendadak lenyap dan mengikuti uap hitam terbang entah ke mana. Uap itu akan kembali lagi kepada pemiliknya dan Thai Liong bersinar-sinar.

Si gila bangkit berdiri dan mengeluarkan suara aneh. Dan ketika si gila terbelalak dan jerih menghadapi Thai Liong, jelek-jelek ia tahu terima kasih karena telah diselamatkan maka pemuda itu tertawa dan... terbang melompati laut. “Thai Liong, kau hebat sekali. Tapi kau tak dapat merobohkan aku. Heh-heh.... terima kasih dan biar lain kali kita bertemu lagi!”

Thai Liong tak mengejar. Ia kagum kepada si gila ini karena begitu melesat si gila itupun telah meluncur dan melayang-layang di atas permukaan laut, lenyap dan tak kelihatan lagi dengan ilmunya yang luar biasa. Pemuda itu memang hebat, sayang gila. Dan karena lawan telah melarikan diri dan Thai Liong bergerak mendekati ayah ibunya maka ia melihat ayahnya masih menyalurkan sinkang dan wajah tampak letih kehabisan tenaga.

"Biar kugantikan," pemuda itu berkata. ”Kau beristirahatlah dulu, ayah. Aku akan menolong ibu.”

Pendekar Rambut Emas membuka mata. Ia mengangguk dan melepaskan tangannya, puteranya itu telah menempelkan lengan di pundak isterinya. Dan ketika pendekar itu bersila dan tak bertanya atau berkata apapun, tenaganya telah dikuras oleh pertempuran yang dahsyat itu maka Thai Liong sendiri memejamkan mata dan tiba-tiba menyebar delapan sinar merah ke seluruh penjuru Sam-liong-to. Semacam jala atau perangkap batin telah dilepas pemuda ini. Siapapun tak dapat keluar atau masuk di Sam-liong-to. Dan ketika pemuda itu tersenyum karena Togur tak mungkin lolos, si buntung itu akan menabrak jalanya maka pemuda itupun duduk dengan tenang dan mengobati ibunya.

* * * * * * * *

“Keparat!” sesosok bayangan berindap dan mengumpat di bawah terowongan gelap, terbungkuk-bungkuk. “Kau jahanam dan busuk sekali, Pendekar Rambut Emas. Kau melenyapkan Bu-siang-sin-kang ku. Bedebah, terkutuk!”

Bayangan ini memaki dan mengumpat tak habis-habisnya. Ia berada di bawah Istana Hantu dan mudah diduga siapa dia. Bukan lain Togur si buntung itu. Dan ketika si buntung ini membungkuk dan harus melewati tempat-tempat basah, ia ingin lolos melalui terowongan bawah tanah maka tiba-tiba kakinya “digigit” sesuatu.

“Augh!” si buntung marah dan mencengkeram ke bawah. Ia kaget dan berjengit menyangka ular. Ia telah berada di bawah sebuah guha yang akan terus membawanya ke pantai sebelah barat. Di situ guha itu akan berakhir dan menyatu dengan dinding tebing hitam. Dari jauh orang tak akan melihat dan ia dapat bebas pergi. Tapi begitu kakinya sakit oleh sesuatu dan pemuda ini marah mengira ular, tak mungkin hiu karena tempat itu masih dangkal maka ia membungkuk dan langsung saja tangannya mencengkeram, ke bawah.

“Krek!” Si buntung tertegun. Ia meraba benda dingin dan keras yang tak dapat dihancurkan, mengangkat dan seketika tercengang karena yang dicengkeram adalah sebatang pedang, putih berkilau-kilauan dan matanya tiba-tiba bercahaya melihat temuannya ini. Bukan ular melainkan pedang, pedang yang tadi menggeletak dengan matanya yang tajam menghadap ke atas. Jadi bagian yang tajam itulah yang “menggigit” kakinya dan tentu saja si buntung ini tertawa.

Dia tak tahu pedang siapa itu tapi matanya bersinar-sinar dan kagum karena melihat pedang yang baik. Pedang itu memancarkan sesuatu yang aneh dan ada semacam bercak cahaya di badan pedangnya, diusap tapi tak mau hilang dan si buntung tertegun, heran. Tapi ketika ia tertawa dan berseri-seri, pedang itu dapat membantunya di kala dibutuhkan maka ia iseng-iseng membacok dinding guha yang keras dan ternyata dengan mudah dinding itu sobek, persis kain atau kulit yang lunak saja.

“Ha-ha, pedang yang aneh. Pedang siluman!” si buntung tertawa dan girang. Ia tertarik dan suka kepada pedang temuannya ini. Pedang itu tidak bersarung tapi tak menjadi soal baginya, diobat-abitkan lagi ke kiri kanan dan dinding-dinding guha pun tergores dengan mudah. Robekan atau goresan panjang-panjang terdapat di situ, si buntung tertawa. Dan ketika ia menggurat tanda silang dan membuat gambar tengkorak, wajah dari Pendekar Rambut Emas maka si buntung ini berseri-seri meletakkan kepala atau tengkorak itu tepat di tengah-tengah silangan dua garis melintang.

“Ha-ha, kubunuh kau kelak, Pendekar Rambut Emas. Kutaruh kepalamu nanti di sini!”

Si buntung terbahak. Untuk sekejap dia melupakan kesusahannya, mengamati gambar atau lukisan di dinding itu dengan wajah bersinar-sinar. Namun ketika ia terbatuk dan segumpal darah terlontak dari mulutnya, si buntung terhuyung dan mendekap dadanya maka ia mengutuk dan wajahpun merah padam, penuh kebencian. Ia terluka dan luka ini menyesakkan dadanya, terbatuk dan menahan lontakan darah segar lagi yang hendak meloncat keluar.

Pukulan Pendekar Rambut Emas ternyata telah menimbulkan luka dalam di dadanya, setelah ia kehilangan Bu-siang-sin-kangnya itu dengan direnggut putusnya ikat pinggang jimat. Dan ketika si buntung mengeluh dan terhuyung maju, ia tak mau kedinginan dan menggigil di bawah terowongan itu tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan seorang wanita cantik muncul, pucat dan pakaiannya compang-camping.

“Siauw-ong...!”

Si buntung tertegun. “Siapa kau?”

“Ah, kau tak mengenal aku, siauw-ong? Aku Ui Kiok, kekasihmu... oohh! dan wanita itu yang terjatuh dan terseok melangkah maju akhirnya membuat si buntung berseri dan melompat, menyambar wanita ini.

“Ah, kau kiranya!”

Namun si buntung dibuat terkejut. Ui Kiok, wanita ini, tiba-tiba tertawa aneh dan balas mencengkeramnya. Tanpa ba-bi-bu lagi tahu-tahu ia dipagut. Dan ketika sebuah ciuman panas mendarat dan wanita itu mendengus-dengus, wajah dan pipi si buntung ini menjadi sasaran maka Togur tahu-tahu dilepas celananya dan pemuda itu disuruh telanjang.

“Eh... hi-hik!” seruan atau wajah kaget si buntung ditutup oleh kekeh dan tawa aneh ini. “Aku tersiksa, siauw-ong... aku menderita. Pengaruh inti Arak Sorga membuatku tak dapat tidur. Biar aku melayanimu dan kau puaskanlah aku!”

Togur terguling, dibawa atau didorong kekasihnya ini karena seperti ular buas tahu-tahu wanita itu menyergap dan menciuminya. Ui Kiok dalam pengaruh arak bius dan arak itu tak akan lenyap dalam dua hari. Si buntung tertegun dan ingat ini. Dan ketika ia terbelalak dan tentu saja terbakar, kekasihnya itu pandai memainkan jari-jari maka mereka berdua sudah bergulingan dan Ui Kiok atau wanita cantik itu tak perduli akan air laut yang membasahi tubuh keduanya. Togur dibuat terlena namun ia mengeluh ketika dadanya tertindih. Rasa sesak kembali datang dan tiba-tiba ia mendorong wanita itu. Dan ketika wanita ini terlempar dan Ui Kiok menjerit tertahan, kaget, maka si buntung menyambar pakaiannya dan berseru,

“Ui Kiok, jangan gila. Aku terluka!”

“Oohhh...!” wanita itu merintih, seperti kucing kepanasan. “Aku tak tahan, , siauw-ong... aku menderita. Tubuhku panas!”

“Aku tak dapat melayanimu. Kita berdua harus sama-sama keluar dari tempat ini. Hayo, tahan sejenak dan bantu aku!”

Wanita itu mengeluh. Togur meloncat dan dengan terhuyung si buntung itu batuk-batuk meninggalkan lorong bawah tanah. Tadi wanita itu juga bersembunyi di situ dan ia panas dingin oleh arak berahi yang menyiksanya. Siapapun tentu akan ditubruknya dan dimintanya untuk melayani hasratnya itu. Tapi karena Togur bukanlah laki-laki sembarangan dan si buntung itu dapat membuatnya celaka, kalau ia marah maka wanita ini terhuyung dan merah padam menahan birahi.

“Siauw-ong, aku.... aku tak kuat. Hawa birahiku memuncak!”

“Hm, kita dapat mencarinya di luar, Ui Kiok. Nanti saja di luar kita cari laki-laki untukmu!”

“Tapi mereka tak akan sekuat kau...”

“Aku terluka!”

“Aku juga. Tapi, ah.. pukulan Kim-hujin itu tak seberat hawa nafsuku, siauw-ong. Aku bisa mati sesak!”

Togur tertegun. Wanita itu terjatuh dan terdengar suara “bluk” ketika Ui Kiok tak mampu berdiri. Wanita itu pening dan terbelalaklah mata si buntung ini melihat paha yang tersingkap. Pemandangan itu menggetarkan perasaannya dan darah lelakipun berkobar. Dan ketika ia berhenti dan membalik, mau tak mau menolong temannya itu maka ia menggigil dan langsung mengusap paha wanita ini. Sesuatu yang tak sengaja biasanya lebih menggairahkan lelaki daripada yang disengaja.

“Kau tolol, bodoh. Tapi, hmm... pahamu mulus sekali!”

“Oooh..!” si cantik menggeliat. “Aku baru dapat jalan kalau seluruh nafsu ini terlampiaskan, siauw-ong. Aku..... aku pening!”

“Aku tahu. Hm, kau diamlah dan biar sementara ini kita bersenang-senang dulu di sini. Aku jadi bergairah melihat kau terguling di sini!” dan menerkam atau menubruk kekasihnya itu, mendengus dan meremas-remas si cantik si buntung inipun melampiaskan hasrat kelelakiannya.

Sebenarnya ia ingin menjauh tapi apa boleh buat matanya tadi menumbuk sesuatu yang menggetarkan, paha wanita ini. Dan ketika keduanya berguling dan mencari tempat kering, Ui Kiok mengeluh dan girang maka bagai kepiting saja keduanya sudah saling belit dan terkam. Ui Kiok tak dapat menahan pengaruh arak sementara tadi si buntung itu mampu mengendalikannya sejenak. Sinkangnya lebih tinggi dan karena itu ia lebih tahan, meskipun akhirnya ia akan terbawa juga begitu ketegangannya selesai.

Pertandingannya dengan Pendekar Rambut Emas bukanlah tanpa tenaga dan ia benar-benar habis. Urusan dengan wanita sebenarnya lenyap sejenak. Tapi karena pada dasarnya pemuda ini adalah hamba nafsu berahi dan arak perangsang juga masih berada di tubuhnya, bangkit dan bekerja lagi maka si buntung ini menerkam lawannya dan merekapun sudah seperti dua ekor binatang jalang yang hanya memuaskan berahi. Nafsu kotor itu menyesakkan dada dan Ui Kiok girang melihat kesediaan si buntung ia sudah megap-megap dan berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi nafsu berahinya itu.

Maka ketika si buntung menyambut dan ini melegakan napasnya, orang itu bergulingan di terowongan bawah tanah maka sejam kemudian keduanya terhempas di sudut guha. Ui Kiok telah mendapatkan sedikit kepuasannya dan Togur begitu pula. Si buntung menyeringai dan bangkit berdiri. Tapi ketika Togur menyambar pakaiannya dan juga pedang itu, siap melangkah gontai maka Ui Kiok bergerak dan berbisik di belakang telinganya,

“Siauw-ong, kurang, Aku masih ingin lagi!”

“Hush!” si buntung mengelak, membentak. “Cukup kita bersenang-senang, Ui Kiok. Aku hendak keluar dan kita harus meninggalkan Sam-liong-to. Si Rajawali Merah ada di sini!”

”Rajawali Merah? Siapa dia?”

“Putera Pendekar Rambut Emas itu, Thai Liong!”

Ui Kiok terkejut, tapi tiba-tiba tertawa aneh. “Aku tak takut. Asal siauw-ong mau lagi maka aku akan menunjukkan sesuatu untuk menundukkan Si Rajawali Merah itu. Biarlah kita berdua di sini dulu!”

“Hm, jangan main-main. Apa yang kau maksud, Ui Kiok. Kenapa tawamu begitu aneh. Katakan dan jangan membuat aku marah!”

“Siauw-ong mau menemaniku di sini?”

“Main cinta lagi? Gila, aku capai, Ui kiok. Jangan minta yang itu!"

“Tapi aku butuh..”

“Aku tak perduli. Kita harus keluar atau biar kau tertangkap di sini!” dan si buntung yang gemas dan jengkel kepada temannya lalu membalik dan tidak mau banyak bicara lagi. Ia sudah puas dan terserah wanita itu puas atau tidak. Dadanya sesak lagi dan ia harus mencari tempat persembunyian untuk mengobati luka. Di belakang masih ada Si Rajawali Merah dan Pendekar Rambut Emas itu. Ia harus cepat-cepat menyingkir.

Tapi ketika ia melompat dan terseok maju, tak lama kemudian sudah tiba di ujung guha dan meloncat ke atas tiba-tiba sebuah benda berat menahan dan menyuruhnya kembali ke bawah.

“Bluk!” Si buntung kaget. Ia terpekik dan meloncat lagi, kembali dihantam sesuatu dan terbanting ke bawah. Dan ketika enam kali ia gagal dan Ui Kiok berkelebat muncul, tersenyum, maka wanita itu berseru,

“Aku juga sudah mencobanya seratus kali, siauw-ong. Tapi seratus kali itu juga gagal dan aku selalu terbanting ke bawah. Aku seolah membentur jala tebal atau tangan siluman. Kita terkurung!”

Si buntung pucat. Ia mendongak dan tiba-tiba matanya menangkap sesuatu semacam cahaya tipis. Cahaya itu mirip awan atau selaput luas dan tertegunlah si buntung melihat ini. Sebagai orang yang pernah memiliki ilmu-ilmu hitam tahulah dia apa yang terjadi. Pendekar Rambut Emas atau Thai Liong telah mengurung pulau dengan kekuatan batin. Kekuatan itu seperti jala sakti di mana orang tak mungkin masuk atau keluar dengan enak. Kalau pemilik ilmu tak melepas “kuncinya” maka jangan harap dapat lolos. Iapun juga begitu! Dan ketika Togur berubah dan pucat mukanya, Sam-liong-to telah ditutup maka si buntung itu membanting pantat dengan lemas dan iapun mengepal tinju, mengutuk lawan.

“Keparat, kita terperangkap, Ui Kiok. Sam-liong-to telah dijaga ilmu batin!”

“Ilmu batin? Maksudmu?”

“Thai Liong atau ayahnya telah melepas kekuatan sakti untuk menjaga pulau ini. Ayah dan anak itu melempar perangkap di pulau!”

Ui Kiok tertegun. Ia baru tahu bahwa seorang manusia dapat melepas jala batin mengepung musuh. Dengan begitu mereka tak mungkin keluar dan kaget tapi kagumlah wanita itu. Pendekar Rambut Emas atau puteranya memang hebat. Dan teringat betapa dulu ia pernah menawan Thai Liong, yang lolos dan akhirnya membuat ia dan saudaranya malah celaka si cantik ini mendecak namun ia juga mengepal tinju karena baru sekaranglah ia tahu mengapa ia tadi tak dapat keluar. Kiranya karena selaput tipis dari jala batin itu, selaput yang amat kuat dan siapapun tak mungkin lepas!

“Hm, kalau begitu bagaimana, siauw-ong? Apa yang hendak kau lakukan?”

“Kita tak dapat keluar...”

“Aku tahu, dan karena itulah aku tadi lalu masuk kembali ke guha bawah tanah. Yang hendak kutanyakan adalah bagaimana sikapmu setelah tahu ini!”

“Aku ingin membunuh ayah dan anak itu!”

“Kita bukan lawannya, siauw-ong. Dan karena itu kita sampai terbirit-birit!”

“Kau mengagul-agulkan musuh?”

“Tidak... tidak, jangan salah paham. Aku sendiri punya jalan tapi bagaimana siauw-ong dulu. Apakah ada akal!”

Si buntung terbelalak. Ia melihat Ui Kiok tersenyum aneh dan mata yang bersinar-sinar itu tidak menampakkan cemas atau takut, Ui Kiok tenang-tenang saja. Dan ketika si buntung bangkit berdiri dan meringis menahan batuk, ia merasa dadanya lagi-lagi sesak maka ia menyambar dan mencengkeram temannya ini.

“Ui Kiok, kau aneh dan menyimpan rahasia. Ha-ha, kau pasti tahu sesuatu dan tak usah bertanya kepadaku. Bagaimana kau saja dan apa jalan keluarmu itu!”

“Hi-hik, siauw-ong mau mendengar kata-kataku?”

“Tentu saja, kau pembantuku dan kekasihku yang paling cerdik. Aku sudah kehabisan akal dan kalau kau bertanya maka paling-paling kujawab bahwa aku akan bersembunyi terus di sini sampai ayah atau anak itu mencabut ilmunya!”

“Hi-hik, terlalu lama, Dan kita keburu tertangkap!”

“Ya, itu yang kukhawatirkan. Sekarang bagaimana kau dan apa jalan keluarmu!”

“Hanya begini saja?”

“Eh, maksudmu?”

“Hi-hik, aku minta upahnya, siauw-ong. Aku dapat meloloskan diri dari sini walaupun Si Rajawali Merah itu bertemu aku. Kujamin!”

Togur bergerak dan memindahkan tangannya. Kalau tadi ia menyambar mencengkeram lengan adalah tiba-tiba kini mencengkeram tengkuk wanita itu. Ui Kiok menjerit kesakitan, tentu saja kaget. Tapi ketika si buntung melepaskan tangannya dan tertawa bersinar-sinar, sesuatu sedang dirahasiakan temannya ini maka sii buntung berseru, tak sabar, “Ui Kiok, kau tak perlu main-main denganku. Upah apa yang kau inginkan dan benarkah kau dapat lolos dari tempat ini!”

“Tentu saja, aku menangkap dua muda-mudi itu. Hi-hik, Siang Le dan isterinya terjebak di satu ruang bawah tanah. Aku mendapatkan mereka!”

Togur menyentak dan mencengkeram kembali temannya. Si buntung itu tiba-tiba tertawa bergelak dan Ui Kiok menjerit. Untuk kedua kalinya wanita itu berteriak dan merontalah dia dari tangan si buntung. Dan ketika Togur berjungkir balik namun meringis ketika meloncat-loncat girang, berita yang dibawa temannya ini sungguh menggembirakan maka si buntung itu berseru,

“Hei, di mana mereka sekarang, Ui Kiok. Di mana Siang Le dan permaisuriku itu!”

“Hm, siauw-ong tak perlu lagi menganggapnya sebagai permaisuri. Siluman betina itu masih berbahaya. Ia menyebalkan!"

“Ha-ha, tak perlu cemburu. Kau akan mendapatkan pemuda itu, Ui Kiok, dan aku perempuannya!”

“Tak mungkin,” wanita ini menggeleng, mata berapi-api. ”Mereka berdua terlanjur di dalam, siauw-ong. Tapi sebelum bicara lebih lanjut kita bicarakan dulu permintaanku tadi. Apa upahmu untukku!”

“Ha-ha, kau minta apa? Tentu itu, bukan? Baik, aku meluluskannya, Ui Kiok. jangan terlampau ganas karena aku terluka. Bu-siang-sin-kangku lenyap. Pendekar Rambut Emas yang terkutuk itu menghancurkan inti ilmu hitamku!”

“Lenyap? Jadi siauw-ong tak dapat menghilang lagi?”

”Jimatku diputuskan Pendekar Rambut Emas. Ia merenggut ikat pinggangku!”

“Kalau begitu celaka, kita tak dapat masuk!”

“Masuk ke ruangan itu? Menangkap dan menyandera mereka?”

“Benar, siauw-ong. Kalau begitu bagaimana sekarang!”

“Katakan di mana ruangan itu. Dengan sisa-sisa tenagaku mungkin aku dapat menjebol pintunya!”

“Hm, siauw-ong bayar dulu upahnya. Mereka masih bersenang-senang!”

Togur terbelalak. Ia melihat wanita ini terkekeh dan gemaslah ia kepada Ui Kiok. Kalau bukan untuk kabar itu mungkin ia menyambar dan akan melempar wanita ini. Ia butuh istirahat, bukan bercinta! Tapi karena di tangan temannya ini dia mendapat jalan keluar, Ui Kiok mendesah dan sudah kembali tersengat maka apa boleh buat ia tertawa dan menancapkan tongkatnya, tongkat baru karena yang lama hancur.

“Baiklah, kau masih kepanasan oleh birahimu, Ui Kiok. Kalau tidak dituntaskan tentu kau tetap mengejar-ngejar aku. Kemarilah!”

Ui Kiok terkekeh. Togur akhirnya mengabulkan permintaannya dan dimintanya agar pemuda itu melayaninya dua hari dua malam. Nafsunya bergolak lagi dan apa boleh buat si buntung harus mengiyakan. Dan ketika mereka kembali bergulingan dan Ui Kiok berseri-seri, wajah dan tubuhnya sudah terangsang hebat maka Togur menubruknya dan sekali sambar si buntung ini membuat temannya terbanting. Selanjutnya Ui Kiok merintih dan mengerang bagai kucing kebanyakan minum.

Togur memperlihatkan keperkasaannya dengan memuaskan si cantik ini, beberapa kali batuk berat namun ditahan agar permainan mereka tak terganggu. Dan ketika dua hari kemudian birahi si cabul ini habis, pengaruh arak benar-benar luar biasa maka Togur menekan dadanya yang sesak dan diam-diam memaki temannya ini yang kesetanan. Ui Kiok melebihi kuda jalang yang dilanda birahi!

“Nah, sekarang beritahukan kepadaku di mana dua orang itu!”

Ui Kiok terkekeh. Ia bangkit berdiri dan menyambar pakaiannya yang tak keruan. Tubuhnya yang polos dan putih merangsang tak membangkitkan lagi gairah si buntung. Togur sudah terlalu kenyang. Dan ketika Ui Kiok menggeliat dan berkelebat ke belakang maka si buntung dibawa ke atas di mana sembilan kali mereka harus membelok dan naik semakin tinggi.

“Kau ke mana. Hati-hati jangan mendekati istana!”

“Hi-hik, kita dan mereka sama, siauw-ong. Kalau Kim-hujin terluka tentu suaminyapun atau puteranya harus mengobat dulu. Kau tak perlu khawatir. Kita ke ruang dapur!”

“Ke dapur?”

“Ya, Siang Le dan isterinya terkunci di sana. Mereka tentu juga seperti kita yang harus bermain cinta dua hari dua malam!”

“Ah, kalau begitu cepat ke sana, Ui Kiok. Siapa tahu Thai Liong atau yang lain mendahului. Cepat!” Togur malah terkejut, berlari dan menyambar temannya ini dan Ui Kiok diseret. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa suami isteri itu juga sudah menikmati arak perangsang. Bahkan, yang terhebat di antara yang paling hebat. Yang diminum adalah sari patinya dan itu akan membuat mereka dua hari dua malam “bertempur”. Dan ketika si buntung berkelebat tapi mengeluh dan menekan dadanya, darah tiba-tiba terlontak segar maka Ui Kiok terkejut melihat temannya ini begitu.

"Siauw-ong, lukamu kiranya cukup berat!”

“Hm, tidak kalau seumpama kau tidak mengajakku bercinta. Kau tak tahu diri, Ui Kiok. Tapi sudahlah kita tangkap dua orang itu dan jangan sampai didahului Thai Liong atau ayahnya!”

Wanita ini menyesal. Ia tak enak juga setelah mengetahui Togur luka dalam. Tapi mau dikata apalagi? Bukankah arak perangsang itu adalah buat pemuda ini dan dia korbannya? Togur pun sebenarnya minum, tapi karena sinkang pemuda itu kuat dan ia lebih dapat bertahan, pemuda itu memang hebat maka Ui Kiok tak mau banyak bicara lagi dan mengikuti temannya, tiba di sebuah ruangan hangat di mana sebuah pintu tebal tertutup dan terkunci dari luar. Togur berhenti di sini dan bersinar-sinar, bertanya dengan isyarat apakah dua orang itu benar di kamar ini, kamar yang tertutup itu. Dan ketika Ui Kiok mengangguk dan berkata benar, ia tak berani masuk maka Togur menusukkan tongkatnya dan sebuah lubang tiba-tiba terbuat.

“Aku akan mengintai, kau waspada melihat sekeliling dulu.”

Ui Kiok mengerti. Si buntung sudah mengintai dan wanita itu kagum melihat tusukan tongkat ke tembok tebal. Dengan mudah dan gampangnya si buntung membuat lubang pengintaian, padahal terluka. Dan ketika Ui Kiok berjaga di belakang dan temannya melongok, lubang itu cukup untuk melihat ke dalam maka Togur berseri-seri karena benar saja suami isteri muda itu di dalam. Hanya, sang isteri atau Soat Eng terisak-isak, mukanya pucat sementara Siang Le duduk bersadar dengan muka kelelahan.

“Ha-ha!” si buntung tak dapat menahan tawa. “Kalian bahagia sekali, Siang Le. Rupanya dua hari dua malam kalian telah menjadi pengantin baru. Tapi Soat Eng adalah permaisuriku, serahkan dia kepadaku dan robohlah kalian!”

Siang Le dan Soat Eng terkejut. Pagi itu mereka baru saja sadar dari pengaruh terkutuk. Dua hari dua malam ini mereka dipacu dan dibakar nafsu terus-menerus, tak sadar dan bagaikan gila saja menuruti dorongan birahi. Mereka secara tidak sengaja telah saling dekap ketika dilempar oleh ayah ibu mereka. Masing-masing terjatuh ke bawah panggung dan nafsu yang bergolak membuat keduanya saling cari dan butuh. Untung mereka tidak mendapatkan pasangan lain karena saat itu para pemuda atau anak buah Ui Kiok dihajar Kim-hujin yang marah. Mereka itu tunggang-langgang dan cerai-berai tak keruan.

Panggung yang ambruk yang dihantam nyonya ini membuat keadaan kacau, apalagi Pendekar Rambut Emas sendiri sudah bertanding dan menghadapi Togur. Dan ketika segala kekacauan itu disusul oleh gelombang laut selatan, banyak yang terhantam dan dibawa ombak maka dua orang ini menyingkir dan dengan napas mendengus-dengus mereka sudah saling peluk dan mencari tempat lega, bercumbu atau memuaskan gejolak birahi dan jadilah masing-masing melampiaskan hasratnya satu sama lain.

Tak terbayangkan bagaimana jadinya kalau Siang Le maupun Soat Eng jatuh di tangan orang lain, anak buah Ui Kiok atau para pemuda yang ada di pulau itu. Dan ketika masing-masing melepas pengaruh arak perangsang dan mencari tempat di dalam Istana Hantu, sedikit-sedikit suami isteri itu ingat kamar-kamar atau tempat yang aman maka keduanya sudah berada di dapur istana tapi di sini celaka sekali bertemu dengan Ui Kiok yang juga dilanda birahinya.

“Heii, kau milikku!”

Siang Le maupun Soat Eng terkejut. Ui Kiok menubruk dan Siang Le tahu-tahu dirampas, Soat Eng tentu saja marah dan memaki. Dan ketika wanita ini membentak dan Ui Kiok dipukul, wanita itu terjengkang maka Ui Kiok bangkit lagi dan terhuyung menyerang Soat Eng. Keduanya bergumul.

Namun Siang Le, yang tertegun dan mula-mula menonton itu mendadak membantu Soat Eng. Hubungan atau ikatan batin yang pernah ada di antara keduanya kiranya menuntun pemuda ini untuk lebih dekat dengan isterinya sendiri daripada Ui Kiok. Pemuda itu marah dan mendorong Ui Kiok. Dan ketika Ui Kiok terpelanting dan menjerit, wanita inipun tak dapat bertempur dengan baik akhirnya dikeroyok Soat Eng maupun Siang Le. Suami isteri itu menghajar Ui Kiok hingga wanita ini jatuh bangun. Soat Eng maupun Siang Le juga tak dapat bertempur baik karena mereka diganggu arak perangsang. Ketiganya terhuyung dan maju mundur seperti orang mabok.

Tapi karena Siang Le jelas ingin dengan Soat Eng, hubungan batin yang pernah ada membuat pemuda itu tak mau dengan Ui Kiok maka wanita ini menangis dan siksaan berahi yang akhirnya tak terlampiaskan menjadikan wanita itu meraung dan terlempar ruangan. Soat Eng menendang wanita itu dan Siang Le menutup pintunya. Jadilah wanita itu tersedu-sedu di luar. Dan ketika dengan marah Ui Kiok juga mengganjal pintu dari luar, ia memalang dua orang itu hingga tak dapat keluar maka sambil terseok dan panas dingin wanita ini turun di guha terowongan bawah tanah untuk mencari laki-laki lain.

Tapi celaka, di luar ia tak dapat keluar. Jala perangkap yang dilepas Thai Liong mengurung permukaan pulau. Kabut tipis atau semacam jala gaib menebar rata. Ui Kiok telah mencoba dua kali meloncat namun dua kali itu pula ia terbanting jatuh. Wanita ini merasa ngeri dan ketakutan. Ia menyangka ada tangan-tangan siluman yang menjaga Sam-liong-to. Dan ketika dengan putus asa ia kembali ke dalam dan sering mengeluh seperti kucing kehausan, berahi semakin menyesak dan menimbun dadanya maka bertemulah ia dengan Togur. Selanjutnya, dengan akalnya yang cerdik ia memaksa Togur melayani hasratnya.

Togur menerima dan dikatakannya bahwa ia menjebak Siang Le dan Soat Eng, padahal sebenarnya dua muda-mudi itu masuk sendiri dan dialah yang datang mengganggu. Dan ketika benar saja Togur melihat dua orang itu, Soat Eng dan Siang Le baru saja “bertempur” maka si buntung yang jahat dan keji ini tertawa dan saat itu juga ujung tongkatnya melepaskan belasan sinar hitam yang berbahaya.

Aduh....!” Siang Le terkejut.

Semalam, ia dan isterinya menyelesaikan babak akhir. Pengaruh arak demikian luar biasa hingga ia dan isterinya seperti gila. Tak habis-habisnya mereka mereguk madu cinta dan semakin direguk terasa semakin nikmat. Selalu ada perasaan kurang di situ. Mereka ingin minum sepuas-puasnya. Tapi ketika pagi menjelang tiba dan mereka sadar oleh permainan di luar batas, tenaga terkuras habis dan Siang Le maupun Soat Eng mulai teringat akan apa yang terjadi maka wanita ini menangis namun ia merasa bersyukur bahwa ia jatuh di tangan suaminya sendiri.

“Aduh, keparat jahanam. Kau kiranya, Le-ko. Ah, puji kepada Thian Yang Agung bahwa aku jatuh di tanganmu!”

“Dan kau, hmm... kau, Eng-moi? Bukan Ui Kiok si wanita jalang? Aduh, syukur kepada Tuhan. Aku juga jatuh di tanganmu!”

Dua suami isteri muda itu lega bukan main. Soat Eng terisak-isak dan ia malu bukan main teringat perbuatannya semalam. Bukan karena ia tak pernah melakukannya melainkan semata oleh rasa kerakusannya dan permintaannya yang tak pernah henti-henti. Ia selalu memaksa suaminya untuk melampiaskan birahinya. Kalau perlu, dengan cara apapun.

Cara yang selama ini belum pernah dilakukannya dan baru kali itu dikeluarkan. Semua jurus-jurus rahasia tiba-tiba didapat dan sekarang wanita ini malu akan perbuatannya sendiri. Ia jengah dan tersipu oleh perbuatannya itu. Tapi ketika sang suami mengusap-usap pundaknya, mengelus dan membelai rambutnya maka suaminya itu berkata bahwa tak usah ia menyesal.

“Semua sudah lewat, dan kita kebetulan suami isteri. Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi, Eng-moi. Betapapun aku puas karena kaulah yang menjadi pasanganku.”

“Tapi... tapi aku seperti kuda kelaparan, tak pernah kenyang. Ah, aku malu dengan perbuatanku. Aku seperti betina jalang!”

“Hush, jangan begitu, Eng-moi. Kau isteriku, kau bukan betina jalang. Sudahlah kita istirahat dan di mana kita sekarang ini.”

“Kita di dapur!”

“Di dapur? Hmm, benar. Itu piring matahari, piring kesukaan kita. Ah, biasanya dengan piring itu kau menaruh kue-kue!”

Soat Eng menyusupkan kepalanya di dada sang suami. Siang Le ternyata tak membuatnya malu dengan kejadian semalam, ia lega. Tapi ketika ia terisak dan bercakap-cakap, mereka letih dan lemas menguras banyak tenaga maka saat itulah terdengar tawa Togur dan sembilan dari di belasan sinar hitam menancap di bagian kirinya.

Soat Eng menjerit dan Siang Le melompat bangun melihat seseorang di lubang pengintaian. Tapi ketika orang atau sepasang mata di lubang itu lenyap, terganti dengan tendangan atau dobrakan kasar maka Togur, si buntung itu, berkelebat dan masuk dengan tawanya yang menyeramkan, disusul bayangan lain yang bukan lain Ui Kiok adanya, si wanita jalang.

“Ah, kalian rupanya!” Siang Le terhuyung dan pucat, isterinya roboh. “Apa yang kau lakukan, Togur. Kau binatang keparat!”

“Ha-ha, lihat lenganmu,” si buntung menuding. “Kaupun bakal roboh, Siang Le. Menyerah dan serahkan isterimu kepadaku, Ia permaisuriku!” dan bergerak mengangkat tongkat tiba-tiba angin berkesiur dan sebuah totokan jarak jauh menyambar, Siang Le mengelak namun kalah cepat, lawan memang lihai. Dan ketika ia berteriak karena roboh tertotok, terguling bersama isterinya maka si buntung itu terbahak-bahak berseru,

“Ui Kiok, angkat dan ambil mereka. Kita keluar istana!”

“Hi-hik!” Ui Kiok berkelebat dan menyambar Siang Le, Soat Eng ditendangnya. “Untuk pemuda ini boleh kubawa, siauw-ong. Tapi siluman betina itu biar bagianmu!”

“Ha-ha!” Togur bergerak, menangkap. “Cemburumu masih tinggi, Ui Kiok. Tapi tak apa, kau mendapatkan pemuda itu dan aku wanita ini!”

Soat Eng menjerit namun pingsan. Sembilan jarum hitam yang mengenai tubuhnya bukanlah main-main. Ia tak tahan dan langsung roboh. Dan karena nyonya itu juga kehabisan tenaga sementara Siang Le juga begitu, pemuda ini dengan mudah ditotok maka dua-duanya sudah menjadi tawanan dan Siang Le memekik melihat dirinya disambar Ui Kiok.

“Wanita keparat, lepaskan aku!”

“Hi-hik, kau tawananku, Siang Le, calon suamiku. Jangan banyak menentang atau nanti kututup mulutmu!”

“Kau wanita jalang, bedebah. Lepaskan aku atau isteriku itu!”

“Hm, kalau begini biar kututup mulutmu. Kau tak boleh berteriak-teriak atau nanti orang lain datang!” dan si cantik yang menotok urat gagu lalu menghentikan teriakan Siang Le yang tentu saja tak dapat diteruskan.

Pemuda itu mengeluh dan roboh, melotot dan alangkah cemasnya melihat isterinya di tangan Togur. Si buntung menyeringai dan tiba-tiba mencium pipi isterinya. Dan ketika dia tersentak namun lawan terkekeh, Ui Kiok sendiri tiba-tiba mendaratkan ciuman dan mencipok pipinya maka Siang Le pucat dan merah berganti-ganti tak kuat menahan perasaannya.

“Ha-ha, ini calon permaisuriku, sudah menikah pula. di atas panggung. Eh, kau jangan melotot di sini, Siang Le. Kekasihmu adalah Ui Kiok itu!”

“Benar, kau tak usah cemburu atau marah kepada siauw-ong, Siang Le. Kita masing-masing sudah mendapatkan pasangan dan jangan kau melotot... cup!”

Siang Le hampir pingsan. Ia melihat isterinya kembali dicium si buntung dan Ui Kiok terkekeh-kekeh. Wanita cabul itupun mencium wajahnya tapi kemudian si buntung menancapkan tongkat, berkata bahwa mereka harus secepatnya keluar dan dua tawanan ini dijadikan sandera. Untung bagi Siang Le dan Soat Eng bahwa dua orang itu tak bertindak lebih. Mereka masih kekenyangan oleh permainan cinta yang dua hari dua malam itu.

Togur hanya menggoda Siang Le dengan mencium Soat Eng empat kali. Dan ketika si buntung itu bergerak dan meloncat keluar, Ui Kiok mengikuti dan diam-diam mengelus paha Siang Le, menimbulkan rangsang tapi justeru Siang Le semakin marah maka pemuda ini tak kuat dan akhirnya pingsan pula di pelukan wanita itu.

“Sial,” si cantik mengumpat. “Pemuda ini pingsan, siauw-ong. Bagaimana aku dapat memperolehnya.”

“Ha-ha, jangan ganggu dulu. Kita sekarang mempunyai dua pilihan. Mau selamat atau tidak!”

“Maksudmu?”

“Kalau kita mengganggu dua orang ini Maka Thai Liong atau ayahnya tak akan melepas kita, Ui Kiok. Tapi kalau kita membiarkan mereka selamat maka kitapun bisa keluar dari Sam-liong-to. Pikirkan itu!”

“Ah, jadi aku tak dapat memiliki calon kekasihku ini?”

“Buang pikiran itu. Mereka sebagai jaminan untuk keluar. Aku juga hanya menggoda saja dan sementara ini merekalah harapan kita!”

Ui Kiok mengeluh. Akhirnya ia sadar bahwa dua tawanan itu benar-benar tak boleh diganggu. Mereka merupakan imbalan untuk lolos dari Sam-liong-to. Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas tentu masih di sana, di atas. Dan ketika Togur terus bergerak dan berjungkir balik keluar pintu gerbang Istana Hantu akhirnya dilewati maka benar saja ayah dan anak menunggu di situ. Bahkan, sikap Thai Lion seakan sudah tahu kalau mereka akan muncul di situ, membawa tawanan!

“Hm, selamat bertemu lagi, Togur. Kiranya kau masih hidup dan bersembunyi di dalam. Bagus, kau membawa adik dan iparku tentu untuk ganti keluar dari pulau!”

“Ha-ha!” Togur menyembunyikan kaget dan gentarnya dengan tawa bergelak. Sesungguhnya iapun pucat! “Kau lihai dan awas pandangan, Thai Liong. Benar katamu dan bagaimana sekarang. Apakah boleh aku keluar dan pergi dari Sam-liong-to!”

“Kau sudah dua hari di dalam, dan kau tentu tak betah untuk tinggal lagi di sini. Tapi setuju atau tidak biarlah kau bicara dengan ayahku karena dialah yang akan menentukan.”

“Hm!” pemuda ini menggetar-getarkan tongkat, menaruhnya di atas kepala Soat Eng. “Kupikir kau setuju, Pendekar Rambut Emas. Dua jiwa ditukar pula dengan dua jiwa. Kami ingin meminta jawabanmu!"

Pendekar Rambut Emas melangkah maju. Mukanya yang merah dan matanya yang marah jelas menunjukkan kegusarannya yang sangat. Ia memandang si buntung ini dengan pandangan berapi. Togur mundur karena mata itu seolah membakar dan melahapnya habis. Seperti mata naga! Tapi ketika ia tertawa dan kembali mengetuk-ngetukkan tongkat, di atas kepala Soat Eng maka Pendekar Rambut Emas berkata, penuh geram.

“Togur, sungguh tak kunyana bahwa beginilah watakmu. Kejahatan ayahmu semakin bertambah lagi dengan adanya kau di dunia. Hm, sayang bahwa keturunan mendiang suhengku Gurba hanya menjadi pengotor dunia saja. Kau menawan anak dan menantuku, baik, lepaskan mereka dan silahkan kau pergi. Asal mereka berdua hidup dan selamat!”

“Ha-ha, kau membiarkan kami pergi? Tak akan menyerang atau menghalangi kami berdua?”

“Keselamatan anak dan menantuku jauh di atas segala-galanya, Togur. Pergi dan tenangkan pikiranmu. Aku berjanji tak akan menyerang atau mengganggumu!”

“Tapi Si Rajawali Merah ini juga harus berjanji. Kalian berdua tak boleh mengganggu aku!”

“Akupun tak akan mengganggumu...”

“Berjanjilah, Thai Liong. Bersumpahlah.”

“Hm,” Thai Liong berkilat matanya marah. “Bukankah cukup kalau kukatakan aku tak akan mengganggumu, Togur. Di Sam-liong-to ini kau akan bebas, aku dan ayahku telah berjanji. Tak usah bersumpah!”

“Aku masih tidak percaya dengan janji. Aku lebih mantap dengan sumpah. Katakan dengan sumpah bahwa kau tak ak menggangguku, baik di Sam-liong-to maupun di luar Sam-liong-to!”

“Ini melewati batas!” Pendekar Rambut Emas membentak. “Perjanjian dilakukan sini, Togur. Berlaku di sini dan untuk di sini pula. Kau tak usah cerewet!”

“Ha-ha, kalau begitu ketahuan belangnya!” Togur tertawa terbahak, muka tiba-tiba beringas. “Kalau begini berarti kau akan menyerangku di luar Sam-liong-to, Pendekar Rambut Emas. Janjimu hanya janji semu dan sebagian!”

“Kau tak usah menghina ayah,” Thai Liong mengibas dan pemuda itu terdorong, si buntung terkejut. “Janji kami tetap janji utuh, Togur. Di luar Sam-liong-to atau di dalam Sam-liong-to kami tak akan mengganggu atau menyerangmu, asal kau tidak mulai dulu. Nah, kau tak usah banyak cakap dan serahkan dua orang itu dan enyahlah!”

Pemuda ini terbelalak. Ia merasa tertampar dan kata-kata Thai Liong lebih dari cukup. Ia hanya diminta untuk tidak mengganggu atau membuat persoalan dulu, atau semua janji akan batal dan itu berarti bahaya. Dan karena ia maklum bahwa janji atau omongan seperti Pendekar Rambut Emas dan puteranya ini dapat dipegang, ia tak akan diserang di luar atau di dalam Sam-liong-to maka Togur tertawa dan menyeringai lebar.

“Baik,” pemuda itu girang. “Janji dan kata-kata kalian melebihi jiwa sendiri Thai Liong. Seorang ksatria tak akan menarik janjinya atau lebih baik dia mati!”

“Kau tak usah banyak cakap. Pergi dan enyahlah dan serahkan adik serta iparku itu!”

Si buntung tertawa. Ia menyerahkan Soat Eng dan melemparkannya kepada pemuda luar biasa itu. Thai Liong menerima dan menangkap. Dan ketika Ui Kiok juga diminta menyerahkan Siang Le dan wanita itu melempar kecewa, ditangkap dan diterima Pendekar Rambut Emas maka Thai Liong maupun ayahnya mengerutkan kening melihat kulit kehitaman dari jarum beracun.

“Tunggu!” Thai Liong berkelebat, Togur sudah memutar tubuh. “Janjiku adalah kalau adik maupun iparku dalam keadaan selamat, Togur. Ternyata mereka pingsan oleh jarum-jarum yang kau miliki. Bagaimana sekarang!”

“Ha-ha, ayahmu membawa obat penawarnya. Perjanjian tetap berlaku!”

“Tapi mereka sakit, bagaimana kalau obatnya tidak cocok!”

“Kau mau menghalang-halangi aku pergi?”

“Hm, sebenarnya tidak juga, Togur. Tapi mestinya kau pergi kalau mereka ini sudah sadar. Kita harus melihat dulu apakah pengobatannya terlambat atau tidak. Betapapun telah kutekankan bahwa mereka harus hidup dan selamat!”

“Kau licik!”

“Tidak licik...”

“Tapi kau menghalang-halangi aku pergi. Obat yang dirampas ayahmu itu cocok pula untuk mereka. Aku sudah tidak mempunyai obat lain!”

“Kau berani membuktikannya?”

Si buntung tertegun.

“Perjanjian harus berlaku timbal balik, Togur. Jangan berat sebelah. Kalau kau ingin pergi dengan aman tentunya kau harus menunggu dulu apakah benar mereka selamat. Atau kami akan menahanmu sebentar untuk melihat cocok tidaknya obat penawar itu!”

“Curang!” si buntung menancapkan tongkat, wajah menggigil. “Kau boleh buktikan kesehatan adikmu, Thai Liong. Tapi setelah itu kau tak berhak menahanku lagi. Janji seorang ksatria tak layak dijilat!”

“Hm, aku tak bermaksud menjilat ludahku. Kalau kau berani menunggu sebentar tentunya aku lebih yakin lagi. Baiklah, maaf dan biarkan ayahku memberinya obat. Silahkan duduk!”

Si buntung mengertak gigi. Ia tak mengerti kenapa Si Rajawali Merah yang tenang dan tersenyum-senyum itu menyuruhnya begitu. Yang jelas, tak mungkin anak maupun ayah berbuat curang, menyerang dan membunuhnya di situ umpamanya. Dan ketika apa boleh buat ia menunggu, namun tetap berdiri tegak, tongkat menyangga dan Pendekar Rambut Emas bergerak maju dan membuka bungkusan obat rampasannya maka Ui Kiok mendekat dan si buntung tiba-tiba berdetak dan pucat mukanya tak melihat Kim-hujin.

“Sst, dimana Kim-hujin itu. Kenapa tak kelihatan!”

Togur bagai diingatkan. Sekonyong-konyong ia menengok ke belakang dan bagai disambar petir saja tahu-tahu Kim-hujin itu telah berada di belakangnya. Angin berkesiur perlahan tapi itu cukup membuat si buntung ini menoleh. Dan ketika ia melihat wajah dingin dan mata yang ganas, penuh dendam dan sakit hati tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan Siang Le yang ada di tanah dan menggeletak di situ tahu-tahu disambarnya dan ditodong ujung tongkat!

“Pendekar Rambut Emas, apa artinya ini. Ada apa dengan isterimu!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia menoleh dan Thai Liong pun tersentak, melihat Togur tahu-tahu sudah mengancam Siang Le. Todongan tongkatnya jelas todongan maut dan itu tidak main-main. Si buntung marah! Dan ketika Thai Liong maupun ayahnya memandang ke depan, Kim-hujin atau nyonya Kim tampak di situ maka ayah dan anak saling berpandangan dan Kim-mou-eng tiba-tiba tampak menyesal.

“Niocu, kenapa kau ada di sini?”

Swat Lian, atau Kim-hujin ini, mendegus. Ia menjawab bahwa ia tak sabar menunggu di pantai. Si buntung itu terlalu lama. Dan ketika Togur terbelalak dan seketika tahu apa yang terjadi, dirinya terjebak tiba-tiba pemuda ini tertawa bergelak dan mukapun seketika gelap dan memancarkan hawa pembunuhan!

“Ha-ha, kiranya kalian berkomplot. Tahu aku sekarang apa akalmu, Pendekar Rambut Emas. Ah, kau busuk dan licik sekali. Isterimu kiranya menggantikan kalian dan menunggu aku di pantai. Pantas kenapa ia tak ada dan aku lupa menanyakan ini. Ha-ha, kalian busuk dan jangan coba-coba menipuku!”

Pendekar Rambut Emas menyesal. Sesungguhnya ia berani melepas si buntung itu karena isterinya menunggu di pantai. Si buntung akan dicegat dan dendam atau sakit hati isterinya tak dapat ditahan. Isterinya telah menderita oleh tujuh jarum beracun dan kalau tidak atas pertolongan yang cepat tentu nyawanya melayang. Togur amat dibencinya dan dari dulu sampai sekarang pemuda ini dibencinya. Gara-gara pemuda inilah maka ayahnya tewas. Dan gara-gara pemuda ini pula anak perempuannya hampir dibuat hina. Siang Le tak dihiraukan karena diam-diam iapun juga masih membenci atau tidak menyenangi mantunya itu. Siang Le bekas murid tSee-ong!

Dan ketika ia tak sabar menunggu dan berkata akan menghadang di pantai, Togur akan diserang dan dicegatnya situ maka nyonya ini menjadi geram karena dua hari ia menunggu dua hari itu pula si buntung tak muncul. Ia gemas dan juga geram. Dan ketika ia mendengar tawa bergelak, Togur tertawa membawa Soat Eng dan Siang Le keluar Istana Hantu maka nyonya itu menyelinap dan ia tahu-tahu sudah di belakang si buntung itu setelah si buntung menyerahkan anak dan menantunya. Hal ini sebenarnya tak dikehendaki Pendekar Rambut Emas karena ia akan disudutkan lawannya nanti.

Togur akan menganggapnya licik dan tak tahu malu, padahal ia tidak bermaksud begitu karena perjanjian hanya menyangkut dirinya dan Thai Liong. Isterinya tidak ikut-ikut dan karena itu bebas di luar. Kalaupun nanti bertemu di pantai maka itu urusan isterinya dengan si buntung.

Tapi begitu sang isteri muncul dan benar saja Togur menganggapnya licik, orang jujur memang tak biasa berbohong maka Pendekar Rambut Emas mati kutu dan diam, untuk sejenak kalah suara! Tapi begitu Thai Liong bergerak dan puteranya inilah yang maju maka dengan tenang dan penuh kepercayaan diri Si Rajawali Merah ini berkata....