Rajawali Merah Jilid 25 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 25
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
“HARI ini adalah hari kebahagiaanku. Siapapun boleh turut bersenang-senang tapi jangan ribut sebelum waktunya. Duduk dan nantikan acara berikut sampai Siauw-ong datang!”

Para pemuda bersinar-sinar. Mereka kagum akan suara merdu dan bentuk tubuh Ui Kiok. Wanita itu telah naik ke atas panggung dan pakaiannya yang tipis menerawang sama saja dengan A-hwa yang berdiri di sebelahnya. Dua wanita itu sama-sama membelakangi lampu dan nafsu pemudapun bergolak. Mereka dibuat mendidih, terbakar! Tapi karena Ui Kiok adalah pimpinan di situ dan A-hwa juga bukan wanita sembarangan, mereka telah mendengar kelihaian dan juga kekejaman wanita ini, yang dapat bersikap telengas maka pemuda-pemuda itupun mendecak dan hanya kagum dari kejauhan saja.

Selanjutnya lagu Dewi Bulan dilantunkan lembut dan perlahan-lahan, Ui Kiok sudah duduk di kursi yang disediakan dan pemuda di sampingnya itupun juga duduk di sebelah kanannya. Siang Le atau Siang-kongcu ini tampak seperti orang linglung. Diam memandang semua di depannya dengan pandangan kosong. Dan ketika A-hwa berseru agar lagu dipukul keras, menuding ke Istana Hantu maka bergeraklah semua orang memutar kepala.

“Siauw-ong datang, sambut dengan iringan musik yang gencar!”

Para pemuda menengok. Dari balik gerbang Istana Hantu tiba-tiba terdengar tawa dan tepukan tangan. Seorang pemuda buntung, yang memakai kopiah dan pakaian pengantin tiba-tiba muncul dari situ, diiring empat wanita cantik namun yang luar biasa adalah wanita berpakaian putih yang berjalan di sebelahnya itu. Wanita ini hanya mengenakan pakaian dalam saja yang serba putih, menyolok di balik rambutnya yang hitam lebat dan diurai di belakang punggung.

Rambut yang tebal dan gemuk itu dibiarkan sampai ke pinggul, hampir menyentuh lutut dan wajahnya gilang-gemilang ditimpa sinar bulan yang keemasan. Dan ketika semua berdecak takjub dan sungguh kecantikannya jauh di atas Ui Kiok, yang berdiri dan menyambut di atas panggung maka para pemuda berbinar dan darah mereka jauh lebih berdesir melihat wanita muda yang digandeng si buntung ini, yang juga amat indah bentuk tubuhnya!

“Permaisuri datang, harap semua berlutut!”

Para pemuda dan semua yang ada di situ berlutut. Ui Kiok sendiri membungkuk dalam-dalam dan pemusik memainkan alat musiknya dengan gencar. Begitu aba-aba diberi mendadak mereka menabuh alat musik mereka dengan riang gembira. Siauw-ong dan permaisurinya datang. Dan ketika dengan perlahan-lahan si buntung maju dan mendekati panggung, wanita di sebelahnya juga mengikuti dan bergerak dengan pandangan kosong, sama seperti Siang-kongcu itu maka si buntung, Siauw-ong, sudah melompat dan tahu-tahu berada di atas panggung, empat wanita di belakangnya juga mumbul dan ikut terbawa!

“Ha-ha, sudahlah, Ui Kiok. Suruh mereka berdiri dan hidangkan makan minum!"

Ui Kiok, yang mengangguk dan kagum serta iri memandang permaisuri menganggukkan kepala dan mundur. Ia sendiri menyodorkan kursi agar si buntung dan permaisuri duduk, tak berani duduk sebelum si buntung itu duduk lebih dulu. Dan ketika si buntung tertawa dan duduk menerima, wanita di sampingnya disambar dan diajak duduk di kursi sebelah kiri maka Ui Kiok baru duduk di. kursinya yang tadi dan takjub memandang permaisuri, berbisik,

“Siauw-ong, hebat sekali permaisuri ini. Wajahnya gilang-gemilang ditimpa sinar bulan yang keemasan!”

“Ha-ha, Dewi Bulan menitis kepadanya, Ui Kiok. Dan malam ini aku akan mengadakan acara khusus. Aku akan membuat permaisuri tunduk dan selamanya baik kepadaku!”

“Siauw-ong mau melakukan apa?”

“Nanti kau tahu, tapi suruh pemusik menabuh lebih gembira dan hidangkan makan minum!”

Ui Kiok bertepuk tangan. Ia memanggil A-hwa dan menyuruh menghidangkan makan minum. Meja dan kursi tiba-tiba diatur, cepat sekali. Dan ketika musik dimainkan lebih keras dan suaranya memecah pulau, Sam-liong-to diguncang oleh irama gembira dari permainan musik yang panas membakar maka para pemuda disuruh berjingkrak dan masing-masing boleh menari mencari pasangannya sendiri.

“Dewi Bulan sudah naik ke atas. Sambut dengan tarian dan kalian melenggang-lenggoklah dengan pasangan masing-masing!”

Dua puluh wanita bersorak. Mereka tiba-tiba berlompatan ke atas panggung dan menari-nari. Itulah acara untuk menyambut sampai Dewi Bulan di atas kepala, meliuk dan melenggang-lenggok mengikuti tetabuhan yang gencar. Musik dipukul memekakkan telinga dan wanita-wanita itupun menari dengan riangnya. Togur menonton dan Ui Kiokpun tersenyum-senyum. Anak buahnya mulai bergerak. Dan ketika para pemuda ragu-ragu namun satu dua ditarik ke atas, wanita-wanita cantik itu telah memilih pasangannya maka panggung tiba-tiba sudah penuh oleh gebrak dan jingkrak-jingkrak para wanita ini, juga para pemuda yang mulai berani dan tidak takut-takut terhadap Siauw-ong.

“Bersenang-senanglah, menarilah. Nikmati makanan di atas meja sampai nanti Siauw-ong membagikan arak bahagia!”

Para pemuda bersorak. Setelah mereka diberi ijin dan makanan di atas meja disambar, kecuali sebotol besar arak merah yang akan dibuka sendiri oleh Siauw-ong maka mereka berlompatan dan menari-nari di atas panggung. Dekap dan cium merajalela dan suara ngak-ngik-ngok terdengar di mana-mana, lucu namun merangsang. Dan ketika Siauw-ong tertawa dan meletakkan tangan di atas paha permaisuri, yang diam dan memandang semua itu dengan sinar mata kosong maka Ui Kiok juga meremas dan menyusupkan tangannya ke paha Siang-kongcu.

“Siang Le, malam ini kita mereguk madu bahagia. Nikmatilah dan dengarkan lagu-lagu gembira itu!”

Siang Le mengangguk. Gagah dalam pakaian hitam putihnya pemuda ini memandang dan acuh terhadap semuanya itu. Bahkan, terhadap “permaisuri” di sebelah si buntung, yang bukan lain isterinya sendiri pemuda ini juga acuh dan bersikap tak mengenal. Soat Eng yang ada di samping Togur juga bersikap acuh dan dingin. Dua suami isteri ini sama-sama tak mengenal lagi, luar biasa! Dan ketika Togur tertawa bergelak karena pasangan laki-laki dan wanita itu sudah mulai panas terbakar, ada yang terjatuh dan bergulingan di atas panggung maka bulan yang bersinar keemasan juga semakin naik tinggi dan akhirnya tepat di atas kepala.

“Puncak acara akan dimulai. Mundur dan hentikan sejenak iringan musik!”

Para pemuda dan wanita-wanita mundur. Mereka tergetar oleh suara Togur yang keras penuh wibawa, si buntung itu bangkit berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dan ketika semua memandang dan si buntung menyambar permaisuri, yang diam dan menurut maka pemuda itu menuding ke atas.

“Lihat, Dewi Bulan akan memberikan berkah. Lepas pakaian kalian dan cicipi arak pengantin. Biarkan seluruh tubuh kalian ditimpa sinar keemasannya yang penuh gaib!”

Para wanita, yang sudah tahu dan terbiasa akan ini melonjak. Mereka terkekeh dan tiba-tiba semua pakaian yang melekat dilepas, tidak canggung-canggung atau malu-malu lagi. Dan ketika para pemudanya tertegun dan tentu saja melotot, di atas panggung berdiri. wanita-wanita yang tidak mengenakan sehelai kainpun maka Ui Kiok juga melepas pakaiannya dan para pemuda berjingkrak dan tiba-tiba melepas pakaiannya pula. Keadaan sungguh gila!

“Jangan ribut, jangan gaduh. Biarkan Dewi Bulan memandikan tubuh kalian dengan sinar emasnya. Tengadahkan tangan kalian ke atas dan ikuti aku berdoa!” Togur berseru dan menenangkan pemuda-pemuda itu. Dia harus menenangkan suasana karena seratus pemuda itu tiba-tiba menjadi beringas melihat tigapuluhan wanita berbugil di atas panggung. Selama hidup, belum pernah mereka melihat hal semacam ini. Tapi begitu si buntung itu berseru dan suaranya mampu menekan suara berisik, betapapun sinar mata dan sikap si buntung itu memang cukup menakutkan maka Togur meledakkan tangannya dan tampaklah asap hitam di atas kepalanya.

“Lihat, dan dengarkan aku baik-baik. Ikuti aku berdoa!”

Si biintung menengadahkan tangan tinggi-tinggi. Suaranya tiba-tiba menjadi parau dan lima ekor gagak yang tadi lenyap ke timur sekonyong-konyong muncul lagi. Asap hitam semakin tebal di atas kepala pemuda ini dan tiba-tiba menggelegarlah suara seperti petir ketika dia meledakkan tangannya. Dan ketika pemuda-pemuda itu terkejut dan ada yang terpelanting, lima ekor gagak bergaok dengan terkejut maka doa yang dalam dan berat terdengar dari mulut si buntung ini.

Togur mengerahkan khikangnya dan Sam-liong-to tiba-tiba digetarkan suaranya yang berat dan parau. Kalau singa, maka suara pemuda itu seperti singa Mongolia, dahsyat mengaum-aum. Dan ketika seratus pemuda itu bergoyang-goyang dan tigapuluhan wanita juga tak dapat berdiri tegak, bergoyang oleh getaran suara si buntung ini maka tongkat dicabut dan botol raksasa berisi arak merah tiba-tiba ditusuk, cepat dan menyilaukan mata.

“Puncak acara boleh dimulai. Dewi Bulan berkenan.... crot!” dan botol yang ditusuk dan menyemprotkan arak harum tiba-tiba disusul oleh pekik dan jerit gembira wanita-wanita muda itu. Anak buah Ui Kiok ini berhamburan ke meja kecil dan masing-masing mendekatkan mulut ke arak yang menyemprot itu. Hujan arak menimpa wajah mereka tapi dengan gembira dan penuh semangat masing-masing meneguk seberapa bisa.

Bunyi menggelogok terdengar dari mereka yang berada paling dekat dengan arak di botol raksasa ini, rakus melahap dan menikmati arak keras. Tapi karena yang lain juga tak mau kalah dan siapa yang paling banyak mendapatkan arak dialah yang akan menjadi yang paling kuat, paling lama bermain cinta maka dorong-mendorong terjadi di sini dan seratus pemuda yang terbelalak melihat itu tiba-tiba disuruh untuk minum pula.

“Arak ini telah penuh diberkati Dewi Bulan. Lihat botolnya yang kuning keemasan dan gilang-gemilang. Hayo berebut dan jadilah laki-laki perkasa!”

Seratus pemuda berhamburan. Akhirnya mereka ikut-ikutan dan gembira bukan main. Mereka menubruk dan tentu saja meremas wanita-wanita itu, yang terkekeh dan membalik kegelian karena jari-jari kurang ajar mencolek mereka dari sana-sini. Suasana seperti kuda-kuda liar di tengah hutan bebas. Dan ketika masing-masing sudah mendapat arak dan wajah-wajah tampak memerah dadu, berahipun meningkat dengan gilanya maka anak buah Ui Kiok ini balik menerkam pemuda-pemuda itu dan bergulingan dibakar nafsu. Puncak acara sudah tiba!

“A-siong, hayo kerubut aku bertiga!”

“Tidak, aku dulu, A-siong. Mana A-lun dan kalian bertujuh boleh keroyok aku!”

Kekeh dan hingar-bingar terjadi. Tigapuluhan wanita itu menerkam dan mencari pemuda-pemuda yang dimaksud. Mereka sudah menjadi gila tiada ubahnya hewan-hewan buas yang tidak bermoral lagi. Togur telah merusak wanita-wanita itu seperti binatang. Dan ketika Ui Kiok terkekeh dan bersinar memandang anak buahnya yang bergumul dengan empat atau lima pemuda maka iapun membalik dan menghadapi Siang Le.

“Siang Le, lepas pakaianmu. Biar Siauw-ong memberimu arak pengantin!”

Si buntung tertawa. Ia teringat dan tiba-tiba menggerakkan tongkatnya. Dari ujung tongkat meluncur tenaga sakti ke botol arak, yang isinya masih memancur dan tinggal sedikit. Wanita dan para pemuda itu sudah mendapatkan bagiannya. Dan ketika arak tersedot dan mengikuti gerakan tongkat, si buntung berseru agar Ui Kiok minum dulu maka wanita itu terkekeh dan membuka mulutnya.

“Kau dulu. Pengantin pria belakangan, Ui Kiok. Hayo minum seteguk dan baru setelah itu pasanganmu!”

Ui Kiok menerima arak. Ia terkekeh ketika arak terbawa ujung tongkat menuju mulutnya, lahap meneguk dan baru setelah itu Siang Le. Pemuda inipun membuka mulutnya, menerima arak. Dan ketika arak masih bergerak dan kini menuju ke Soat Eng, yang menerima dan membuka mulutnya seperti robot maka barulah si buntung mendapat bagiannya yang terakhir dan Ui Kiok maupun si buntung itu tertawa tergelak-gelak.

“Ha-ha, yang ini lebih hebat daripada yang diminum anak buahmu, Ui Kiok. Arak yang paling bawah kuberi ramuan akar kijang betina!”

“Ih, akar di perut naga sakti dari malaya?”

“Benar, dan kau rasakan hebatnya, Ui Kiok. Kita akan tahan dua hari dua malam untuk bermain cinta!”

“Aih, aku sudah merasakan hebatnya. Hi-hik, perutku panas dan matakupun berdenyar-denyar. Ah, Siang-kongcu ini tampak semakin tampan!” Ui Kiok mendengus dan tak tahan, tertawa dan menerkam pasangannya dan tiba-tiba ia pun sudah mencium dan melumat bibir si pemuda.

Togur juga terbawa dan pandang mata si buntung itupun sudah mengandung berahi. Soat Eng dan Siang Le yang tadi seperti arca mendadak juga terpengaruh dan mengeluarkan keluhan kecil. Masing-masing tiba-tiba berkedip dan Siang Le maupun Soat Eng mendadak seolah kemasukan “semangat” baru. Mereka hidup dan bergairah! Dan ketika Siang Le mendengus dan menerima ciuman Ui Kiok, mula-mula tak bergerak tapi akhirnya membalas dengan tak kalah ganasnya maka pemuda itu menerkam dan Ui Kiok sudah dibanting dan ditindih!

“Ihh..!” Ui Kiok terkejut, tapi terkekeh. “Kau benar, Siauw-ong. Pemuda inipun sudah menjadi kuda jantan!”

“Ha-ha, bawa ke kamar, Ui Kiok. Kita bermain di sana dan bersama-sama Permaisuriku inipun sudah hidup dan bergairah kembali. Lihat!”

Ui Kiok kagum, melihat Soat Eng tiba-tiba bergerak dan merangkul si buntung. Dan ketika Togur terbahak dan balas memeluk, tentu saja girang maka Soat Eng mendaratkan ciumannya dan kecupan di pipi terdengar jelas, nyaring di tengah-tengah hiruk-pikuknya tubuh-tubuh yang bergulingan. Sam-liong-to sudah berubah menjadi tempat setan, tempat pengumbar nafsu.

“Cup!”

Si buntung terbahak gembira. Dia lebih dulu dicium dan permaisuri yang semula diam dan dingin itu tiba-tiba sudah berubah seperti seekor kuda betina liar. Soat Eng mendengus dan mencengkeram lagi tubuhnya, mencium dan dua kali kecupan terdengar di pipi. Tapi ketika Soat Eng hendak mencium bibir dan Togur sudah meremas-remas tubuhnya, pakaian yang minim itu akan dilepas sekonyong-konyong terdengar bentakan dan sesosok bayangan berkelebat menghantam si buntung ini, disusul oleh bayangan lain yang melesat dan menghajar Ui Kiok, yang saat itu sudah bergulingan dan telanjang bulat bersama Siang Le.

“Togur jahanam busuk, lepaskan puteriku!”

“Wanita jalang, lepaskan menantuku!”

Togur dan Ui Kiok sama-sama terkejut. Mereka itu sudah saling peluk dengan pasangannya masing-masing. Ui Kiok terkekeh kegirangan dibanting dan ditindih Siang Le. Pemuda ini sudah menjadi buas dan jalang, itulah berkat arak pengantin yang sari patinya di ambil Togur, arak di bagian bawah botol karena itulah yang terhebat dan amat keras. Mereka akan sanggup bermain cinta sampai dua hari dua malam, tanpa berhenti. Maka begitu Togur diserang dan Ui Kiok juga mendapat tamparan seseorang, bayangan kuning emas berkelebat di sampingnya tiba-tiba wanita ini menjerit karena tubuhnya terlempar dan terlepas dari tubuh Siang Le, yang menindihnya.

“Dess!” Wanita itu tunggang-langgang di luar panggung. Ui Kiok yang tidak mengenakan secuil pakaianpun terbanting dan mencelat bergulingan di sana, tepat di tengah-tengah anak buahnya yang tentu saja terkejut dan berteriak tertahan. Mereka itu kaget tertimpa tubuh wanita ini. Dan ketika Ui Kiok menjerit namun anak buahnya saling terkam kembali, bayangan kuning emas maupun wanita yang menghantam Togur tidak menyerang mereka, semua dilanda nafsu berahi masing-masing maka semuanya acuh dan... sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri.

“Ui Kiok-cici gila, masa kita ditimpa!”

“Hush, Siang-kongcu itu menindihnya terlalu kuat, A-moi. Mereka bergulingan di tepi panggung dan tak tahu menimpa kita.”

“Sudahlah, Ui Kiok-cici akan kembali kepada suaminya dan mari kita bersenang-senang sendiri!” semua terkekeh, ditubruk atau diterkam pasangannya dan kegaduhan di atas panggung tak dihiraukan.

Waktu itu semua orang memang sedang nikmat-nikmatnya mengumbar berahi dan bentakan atau datangnya dua bayangan itu disangka bentakan atau seruan teman-teman mereka, sendiri. Pasangan yang melarikan diri akan disergap atau diburu kekasihnya, keadaan memang tidak karuan. Tapi begitu Ui Kiok meloncat bangun dan marah mendengar kata-kata anak buahnya ini, bayangan kuning emas menarik dan menyambar Siang Le maka dia menendang dan menghardik anak buahnya itu.

“Bedebah, ada musuh datang. Heii, jangan bersenang-senang dulu dan lihat itu!”

Tiga anak buahnya terlempar. Mereka ganti mendapat hajaran wanita ini namun pemuda-pemuda yang sudah menjadi pasangannya mengejar dan tak perduli. Mereka itu mendengus dan memburu pasangannya. Dan ketika tiga wanita itu kembali terkekeh dan lupa kepada tendangan pimpinannya, berahi memang naik telah sampai ke ubun-ubun maka merekapun bergulingan lagi dan meneruskan permainannya.

Ui Kiok mendelik. Dia sendiri sudah' diserang hawa arak yang membuat nafsunya mendidih. Arak yang diminum adalah inti sarinya dan wanita inipun tak tahan. Dan ketika ia membentak lagi bukan untuk menendang atau menyerang, melainkan menyergap tiga pemuda yang mengerubut seorang anak buahnya maka wanita ini mendesis dan minta agar pemuda-pemuda itu melayaninya. Siang Le di atas panggung entah sudah lenyap ke mana.

“Kalian layani aku!”

Tiga pemuda tersentak. Mereka tahu-tahu ditarik dan roboh di pelukan wanita ini. Ui Kiok sedang terbakar dan merekapun juga begitu. Tapi begitu mereka menerkam dan bergulingan menjadi satu, Ui Kiok tak perduli lagi kepada bayangan yang melemparnya itu maka si buntung alias Togur membentaknya dan suaranya yang dahsyat membuat panggung roboh.

“Ui Kiok, berhenti. Bantu aku karena ini Pendekar Rambut Emas beserta isterinya datang!”

Ui Kiok terkejut. Ia sedang terlelap sejenak oleh keroyokan tiga pemuda itu. Mereka sudah bergulingan dan tiada ubahnya hewan-hewan lapar yang tidak menghiraukan kanan kiri. Tapi karena bentakan itu dilakukan dengan seruan mengguntur dan si buntung mengerahkan tenaga saktinya, panggung roboh dan berderak menimpa yang lain-lain maka tigapuluhan wanita dan seratus pemuda yang tak keruan tingkahnya dibuat terguncang.

“Braakkkk...!”

Semua menjerit dan terpekik. Seratus tiga puluh tubuh yang tumpang tindih tiba-tiba dibuat terkejut. Pengaruh arak hilang separoh dan tampaklah pertandingan hebat di atas sana. Siauw-ong, yang bertanding dan sedang menghadapi kemarahan seorang wanita setengah baya tiba-tiba mundur-mundur dan terdesak.

Si buntung itu terpengaruh oleh araknya pula tapi dengan sinkangnya dia dapat menahan, terhuyung dan mengelak sana-sini oleh tamparan atau pukulan lawan yang gencar. Dan ketika bayangan kuning emas itu juga masuk dan menghajar pemuda ini, si buntung berteriak dan menerima pukulan maka dia terbanting dan saat itulah semua orang seolah sadar dari pengaruh arak birahi.

“Celaka, itu Kim-mou-eng..!”

“Benar, dan Kim-hujin. Ah, bantu Siauw-ong dulu, kawan-kawan. Dan mana pakaianku!”

Semua ribut dan panik. Bentakan, yang dilakukan si buntung berhasil membuyarkan pengaruh arak. Masing-masing, terutama wanita, meloncat dan menyambar pakaian masing-masing. Namun karena kebingungan sedang melanda tempat itu, semua menyambar dan mencari sekenanya maka pakaian para pemuda itulah yang didapat dan dengan pakaian kedodoran dan tingkah yang lucu tigapuluhan anak buah Ui Kiok ini naik dan meloncat ke atas panggung, yang miring.

“Serang, kita kedatangan musuh. Serang..!”

Namun Kim-hujin atau nyonya Kim sudah melengking dan menyambar wanita-wanita itu. Dengan mudah dan amat marahnya ia melepas Khi-bal-sin-kang, lawan menjerit dan seketika terlemparlah wanita-wanita itu bagai layang-layang yang putus talinya. Dan ketika tujuh tubuh terbanting dan menggeliat di sana, roboh dan tak bergerak-gerak lagi maka wanita-wanita itu tewas dan para pemuda tersentak dan terhuyung. Mereka ini masih dipengaruhi arak tapi juga ketakutan.

”Minggir, atau kuantar kalian ke neraka!”

Tiga tubuh kembali mencelat dan menjerit. Kim-hujin itu sudah berkelebatan menyambar-nyambar. Siauw-ong, yang terdesak dan menghadapi bayangan kuning emas tampak mundur-mundur dan mau melarikan diri. Si buntung ini pucat karena tiba-tiba Pendekar Rambut Emas dan isterinya muncul. Dan ketika ia mengelak sana-sini dan pukulan-pukulan nyonya itu masih dapat dihalau, Pendekar Rambut Emas maju dan menggantikan isterinya maka terhadap pendekar ini si buntung itu merasa kewalahan dan gugup, terbanting dan dikejar lagi dan pucatlah ia melihat Kim-hujin membabat anak buahnya.

Ui Kiok sendiri sudah maju namun terlempar oleh kibasan lawannya, berteriak dan terguling-guling dan anak buahnyalah yang disuruh maju sambil dibentak-bentak. Dan ketika semua menjadi gaduh dan ribut, suasana berahi terganti oleh hawa pembunuhan maka Kim-hujin yang menghajar dan mengamuk di sini berkali-kali membanting atau melempar lawan-lawan yang coba mendekat. Togur dihadapi suaminya dan ia sendiri kini memanggul Soat Eng, yang sudah ditotok roboh.

“Hayo, maju kalian semua dan kusikat habis. Keparat, kalian telah mengotori Sam-liong-to!”

Tandang atau amukan nyonya itu memang hebat. Ia berkali-kali hendak mendekati si buntung namun berkali-kali itu pula wanita-wanita itu menghalanginya, juga suaminya yang berkali-kali berseru agar ia tak usah menggubris si buntung. Togur atau si buntung itu biarlah bagiannya dan sang isteri biarlah menghadapi lawan-lawan yang lain. Ui Kiok dan anak buahnya cukup mengganggu karena wanita-wanita itu menyerang lagi setiap dibentak.

Ui Kiok takut terhadap si buntung sementara anak buahnyapun juga takut kepada si cacad yang lihai itu. Namun karena Pendekar Rambut Emas dan isterinya bukanlah orang-orang biasa dan suami isteri itu berkelebatan bagai burung menyambar-nyambar, sedikit banyak Togur masih terpengaruh pula oleh arak yang amat keras maka si buntung itu membentak dan tiba-tiba ia menangkis sebuah pukulan yang menuju kepalanya.

“Plak!” Si buntung terpelanting tapi meneruskan gerakannya dengan bergulingan menjauh. Ia memang tahu kehebatan lawan dan sengaja menangkis agar tubuh terlempar ke atas. Dan ketika benar saja ia terlempar dan terpelanting jauh, tongkat dicabut untuk menopang kaki yang buntung maka pemuda inipun sudah berjungkir balik dan turun di bawah panggung, menyelinap dan lenyap.

“Kim-mou-eng, lain kali saja kita bertemu. Atau kau boleh kejar aku kalau suka!”

Kim-mou-eng, yang tertegun dan terbelalak melihat lawan melarikan diri tiba-tiba saja menjadi marah. Ia datang terlambat karena laut Timur bergelombang besar. Buih dan riak ombak menghalang pandangan dan karena itu ia agak lambat, memutar dan baru malam itu datang. Tentu saja terkejut dan marah bukan main bahwa Togur mengadakan pesta gila-gilaan, mengotori Sam-liong-to dengan pesta cabul dan kemarahannya semakin bertambah ketika dilihatnya puteri dan menantunya dijadikan mempelai.

Sekali lihat tahulah pendekar itu bahwa anak dan menantunya berada dalam pengaruh tidak sehat. Dan ketika tak tahan lagi melihat Siang Le maupun Soat Eng menyambut cinta kotor Ui Kiok dan si buntung, pendekar ini bergerak dan menyuruh isterinya menolong Soat Eng maka ia sendiri berkelebat dan langsung menghajar Ui Kiok, menyelamatkan Siang Le. Bukan tanpa perhitungan kalau pendekar ini sengaja menolong Siang Le dengan tangannya sendiri, bukan tangan isterinya karena ia maklum bahwa isterinya bisa membunuh pemuda itu kalau disuruh menghadapi Ui Kiok, karena Siang Le sudah telanjang bulat dicekoki Ui Kiok.

Dan ketika ia mendorong isterinya dan tubuh sudah berkelebat ke arah wanita cabul itu, menampar dan menarik Siang Le maka Kim-mou-eng sudah memulai gebrakannya dan Ui Kiok maupun Togur terkejut. Dan selanjutnya pendekar itu berpindah kepada Togur. Isterinya tak akan dapat mengalahkan si buntung itu kalau ia tidak menolong. Dan ketika ia berkelebat dan ganti menyuruh isterinya menghadapi Ui Kiok, Soat Eng terlepas dan disambar selamat maka kini mereka berdua sudah menghadapi laki-laki jahat dan wanita cabul itu.

Namun Ui Kiok dan kawan-kawannya jelas bukan tandingan Swat Lian atau Kim-hujin ini, apalagi dalam keadaan nyonya itu marah besar. Swat Lian, yang malu dan merah padam melihat adegan tak senonoh di Sam-liong-to sudah melepaskan pukulan-pukulan ampuhnya kepada siapa saja yang berani mendekat. Tiga belas anak buah Ui Kiok akhirnya menjadi korban, pecah kepalanya! Dan ketika nyonya itu mengamuk dan Ui Kiok sendiri menjadi gentar, ia pergi dan menyelinap secara diam-diam maka anak buahnyalah yang menjadi sasaran dan amukan Kim-hujin ini.

“Maju... maju semua. Biar kubasmi habis kalian sundal-sundal betina!”

Wanita-wanita itu. mengeluh. Mereka terlempar dan berteriak ketika belum apa-apa sudah tersapu angin kibasan sang nyonya. Swat Lian mengeluarkan Soan-hoan-ciangnya dan Kibasan Angin Puyuh ini benar-benar menerbangkan lawan seperti daun-daun kering. Dan ketika yang lain menjadi gentar dan akhirnya memutar tubuh, Swat Lian mendelik kepada pemuda-pemuda yang menggigil telanjang bulat maka nyonya itupun memekik dan menerjang pemuda-pemuda ini, manusia-manusia tak berguna yang sudah rusak moralnya.

“Kalianpun anjing-anjing geladak yang tidak punya harga diri. Sampah masyarakat. Mampuslah!”

Delapan pemuda menjerit. Mereka berteriak dan terlempar dan seketika roboh dengan kepala pecah. Sang nyonya sudah itidak pandang bulu lagi apakah lawan-lawannya bisa silat atau tidak. Pokoknya, pengikut si buntung akan dia sikat, akan dia bunuh. Dan ketika pemuda yang lain berhamburan dan tentu saja berteriak kacau, darah dan mayat menjadi satu maka nyonya itu mengejar namun Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkelebat dan menyambar lengan isterinya, ketika lima orang pemuda kembali terlanjur roboh mati sia-sia.

“Sudahlah... sudah, niocu. Mereka ini orang-orang lemah yang bukan musuh kita. Mereka pemuda-pemuda sekitar Sam-liong-to!”

“Kau mau membela? Kau mau melindungi pemuda-pemuda bejat seperti ini. Mereka tak berguna bagi siapapun, suamiku. Sampah masyarakat yang tidak bermoral. Sebaiknya mereka kubunuh dan biar kubasmi habis... crat!” lima pemuda itu keluar otaknya, jari-jari sang nyonya telak mengenai ubun-ubun dan tentu saja mereka tewas seketika. Nyonya ini naik darah dan seluruh mukapun merah bagai api. Pemuda-pemuda seperti itu tak berguna bagi masyarakat. Mereka penyembah kecabulan, najis dan kotor! Tapi ketika suaminya membetot dan berseru bahwa biang keributan tak ada di situ, Togur si buntung melarikan diri maka nyonya itu tertegun dan membelalakkan mata, sadar.

“Togur menyelinap di balik panggung yang roboh. Aku tak mau mengejarnya kalau kau di sini. Kau tak boleh membunuh-bunuhi orang seperti ayam!”

“Si buntung itu pergi? Ia melarikan diri?”

“Betul, karena itu mari kita kejar bersama, niocu. Dan jangan hiraukan pemuda-pemuda itu karena mereka hanyalah korban dan alat.”

“Tapi mereka tak tahu malu. Cis, lihat mereka itu bertelanjang bulat!”

“Mereka dipengaruhi Togur, niocu, dipengaruhi arak. Lihat bau arak ada dimana-mana. Dan itu arak perangsang!”

“Bedebah, si buntung itu memang terkutuk. Tapi mana Siang Le yang tak tahu malu itu. Mana bocah yang juga ikut-ikutan seperti orang gila itu. Kubunuh dia!”

“Eh-eh, menantu kita itupun juga dalam keadaan tak sadar, niocu. Ia terbius birahi berat. Kau tak boleh menyalahkannya!”

“Tapi kalau imannya kuat tak mungkin terjadi itu. Siang Le juga manusia terkutuk yang harus dibunuh!”

“Dan berarti puteri kitapun harus kau bunuh. Soat Eng juga mengalami hal yang sama!”

Sang nyonya mendidih. Ia bentrok dan beradu pandang dengan suaminya. Apa yang dilihat dan disaksikan memang benar-benar membuat darah bergolak. Bayangkan, menantunya bergulingan dengan seorang wanita lain dalam keadaan tidak senonoh, tidak berpakaian. Tapi diingatkan akan keadaan puterinya dan wanita itu tersentak, Soat Eng juga melakukan sesuatu yang tak senonoh karena berpakaian begitu minim hingga nyaris telanjang pula maka nyonya ini tertegun dan tiba-tiba ia menjerit.

“Kau menghina diri sendiri!”

“Eitt..!” Pendekar Rambut Emas mengelak, pukulan isterinya menghantam dan meledak di belakang. “Kau salah paham, niocu. Aku tidak menghina siapapun tapi justeru menyadarkanmu agar bersikap adil. Menantu dan anak kita sama-sama dalam keadaan tak senonoh, tapi itu bukan atas kesadaran mereka. Dan kalau kau dapat menerima ini maka menyalahkan Siang Le harus pula berani menyalahkan Soat Eng, atau tidak sama sekali!”

Ketika sang isteri menangis namun mulai dapat dibujuk, Swat Lian membanting kaki dengan kesal maka Pendekar Rambut Emas menyambung, “Sekarang tak usah ribut-ribut sendiri. Togur melarikan diri dan wanita cabul itupun lenyap. Mana Soat Eng yang tadi kau bawa!”

“Ia... ia kutaruh di situ,” sang nyonya terkejut, tak melihat puterinya. “Eh, ke mana dia, suamiku. Bagaimana bisa hilang!”

“Nah, puteri kita malah tak ada. Bagaimana kau tadi melemparnya!”

“Aku tak melempar...”

“Sama saja. Yang jelas ia tak kau bawa lagi, niocu. Ah, di mana puteri kita itu dan jangan-jangan jatuh di tangan Togur lagi!”

“Dan kau, mana Siang Le?”

“Ia kusembunyikan di sudut, kutotok sebentar. Mari kita cari puteri kita dan si buntung itu!”

“Dan juga Siang Le!”

“Ya, tapi jangan marah-marah, niocu. Kau harus tahu bahwa yang dilakukan puteri dan menantu kita adalah di luar kesadaran mereka!”

“Baik, dan akan kucincang si buntung Togur itu. Dia bedebah dan binatang!” dan ketika Pendekar Rambut Emas lega bahwa isterinya sudah tak marah-marah kepada Siang Le, menantu mereka itu di bawah kekuasaan orang lain maka mereka berkelebat dan suami isteri ini sudah mengelilingi Sam-liong-to untuk menemukan si buntung Togur atau Ui Kiok. Tapi seluruh pulau tak ada jejaknya. Yang ada ialah lelaki atau perempuan sisa-sisa dari panggung tadi, pemuda-pemuda yang berhamburan begitu nyonya ini mengamuk. Dan jengkel serta marah melihat pemuda-pemuda itu, yang pakaiannya tak keruan maka nyonya itu mengibas dan mereka terlempar ke laut.

“Jangan!”

Namun lima pemuda sudah kecebur. Mereka itu menjadi pelampiasan nyonya ini, yang tidak menghiraukan dan melepas tamparan jarak jauhnya hingga pemuda-pemuda itu menjerit. Dan ketika mereka gelagapan tapi sang nyonya puas, ditarik dan diajak suaminya ke tempat lain maka Pendekar Rambut Emas geleng-geleng kepala melihat keganasan isterinya ini. Kalau sudah begini maka jiwa atau watak mendiang Hu Beng Kui benar-benar menurun. Keras dan ganas!

“Kita agaknya harus ke Istana Hantu. Pemuda itu pasti bersembunyi di sana.”

“Benar, kita ke sana, suamiku. Dan akan kuhancurkan kepalanya!”

“Kau jangan terlalu bernafsu, sebaiknya dekat-dekat denganku dan ingat kelicikan Togur. Ia bukan pemuda yang dulu dapat kau kalahkan dengan mudah!”

“Aku tahu, tapi aku tak takut, suamiku. Ia boleh menjadi murid seratus Poan-jin-poan-kwi dan aku akan mengadu jiwa dengannya!”

Pendekar Rambut Emas menghela napas. Kalau sudah begini sebaiknya ia diam, tak usah banyak bicara. Isterinya sedang gusar dan iapun lalu kembali ke tengah. Pintu gerbang istana yang mencuat kokoh didekatinya karena ia yakin bahwa lawan bersembunyi di situ. Togur memang licik dan cerdik. Tapi karena ia akan menangkap pemuda itu dan kalau perlu memberinya hukuman berat, seperti See-ong misalnya maka ia menggeram gemas, dan Istana Hantupun sudah di depan mereka.

“Kita masuk, namun awas senjata gelap!”

“Aku tak takut!” sang isteri sudah membentak dan mendorong pintu gerbang. Pintu itu berat dan tebal tapi dengan mudah nyonya ini berhasil menyingkirkannya. Sang suami berjaga-jaga di samping dan siap mengibas kalau ada senjata gelap. Tapi ketika tak ada apa-apa dan merekapun masuk, suasana gelap segera menyambut mereka maka Pendekar Rambut Emas mendahului dan berseru mengerahkan tenaga agar si buntung keluar.

“Togur, kau menyerahlah. Kali ini tak mungkin kau lolos!”

“Ha-ha!” suara si buntung tiba-tiba terdengar, benar saja di dalam. “Kau masuklah ke mari, Pendekar Rambut Emas, Dan cari aku lalu kita bicara baik-baik!”

“Keparat!” sang nyonya melengking, berkelebat dan menyambar ke kiri. “Kau keluar, binatang, Dan tak perlu bicara baik-baik karena kau bukan manusia... dess!” hantaman si nyonya menghantam pilar baja, bergetar tapi Togur tak ada di situ. Tawanya menggelegar dan tawa ini melingkar-lingkar, Swat Lian tertipu. Dan ketika ia melompat ke kanan namun pukulannya kembali mengenai tempat kosong, nyonya ini memekik maka Pendekar Rambut Emas bergerak dan tiba-tiba mencelat ke atas.

“Togur, turunlah!”

Terdengar teriakan kaget. Si buntung, yang bersembunyi dan kiranya mengintai di sebuah belandar tiba-tiba berteriak karena Pendekar Rambut Emas tahu tempat persembunyiannya. Sebenarnya tempat itu gelap namun karena telinga Pendekar Rambut Emas memang tajam maka dengan telinganya inilah pendekar itu tahu persembunyian lawan.

Si buntung terkesiap namun iapun mengelak sambil menggerakkan tongkatnya. Dan ketika tongkat terpental namun si buntung sudah melesat ke tempat lain, Istana Hantu mempunyai banyak belandar yang dapat dipakai bersembunyi maka si buntung itupun melarikan diri dan Pendekar Rambut Emas tiba-tiba menepuk tangannya pada sebuah pilar baja, memuncratkan bunga api dan seketika bayangan pemuda itu tampak.

“Itu dia!”

Si buntung terkejut. Kesaktian Pendekar Rambut Emas memang sudah dikenal. Pek-lui-ciang atau tepukan Petir yang tadi dilakukan pendekar itu memang memungkinkan pendekar ini membuat lelatu api. Istana yang gelap tiba-tiba terang sejenak. Dan karena pemuda itu tak dapat bersembunyi dan kebetulan ia lari ke dekat Swat Lian maka nyonya inilah yang membentak dan menghajarnya.

“Kau binatang busuk!”

Namun pemuda ini tertawa mengejek. Terhadap Kim-hujin ia tak takut, karena sudah berulang-ulang ia membuktikan bahwa nyonya ini tak lagi mampu mengalahkannya, setelah ia hampir menyerap semua ilmu Poan-jin-poan-kwi. Maka begitu ia menangkis dan tongkat mengibas dari bawah ke atas maka nyonya itulah yang terpental dan ia meneruskan larinya menerobos sebuah pintu kecil.

“Ha-ha, kau tak segalak dulu lagi, bibi Swat Lian. Kau tak dapat mengalahkan aku kalau tak dibantu suamimu.... plak!” Swat Lian menjerit, terpental tapi berjungkir balik mengejar lagi namun lawan keburu lenyap di pintu kecil itu. Nyonya ini memekik dan menerobos dengan cepat. Namun ketika lawan benar-benar menghilang dan sang nyonya minta agar suaminya menepuk pilar-pilar di situ, api memercik dan menerangi tempat-tempat gelap maka si buntung Togur diburu dan dicari-cari.

“Dia turun ke bawah. Ke patung-patung batu!”

Pendekar Rambut Emas mengangguk. Akhirnya ia melihat bahwa lawannya itu memang turun ke bawah. Istana Hantu adalah istana yang luas dengan beberapa tingkatan lantai. Semakin ke bawah semakin menurun dan tentu saja juga semakin gelap. Juga, hawanya semakin dingin karena mendekati laut. Bagian bawah akan berhubungan dengan terowongan laut dan di situlah seorang penyelam dapat keluar, kalau tak mau lewat atas. Dan ketika pendekar ini khawatir jangan-jangan si buntung akan ke tempat itu, membawanya untuk menyelam dan bertemu hiu-hiu ganas tiba-tiba saja sang isteri menuding dan berseru,

“Hei, itu dia. Namun bersama seorang lain!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia sedang mencari-cari lawannya dengan pandangan tajam karena mereka sekarang sudah tiba di daerah taman. Daerah ini adalah daerah bawah tanah dan penuh patung-patung batu. Dulu pertama kali di sinilah Thai Liong dan Soat Eng menemukan Istana Hantu, tempat yang penuh dengan patung-patung indah berupa laki-laki dan perempuan. Tapi karena semua patung-patung di situ rata-rata patung-patung “panas”, patung lelaki dan perempuan yang telanjang bulat maka pendekar itu agak merah mukanya melihat Togur nongkrong di atas kepala patung wanita sambil kencing.

“Ha-ha, maaf, Kim-mou-eng. Rasa tegangku membuat ingin kencing. Boleh lihat kalau mau tapi palingkan kepala kalau malu!”

Swat Lian menjerit. Tentu saja sebagai seorang wanita ia malu dan jengah melihat perbuatan si buntung itu. Dengan enak saja ia kencing dari atas kepala patung, terbahak dan gembira tapi suaminya justeru terkejut melihat orang lain di samping si buntung itu, seorang pemuda bermuka kehijauan yang terkekeh dan tertawa-tawa melihat perbuatan si buntung ini. Dan ketika Pendekar Rambut Emas berkelebat dan sudah di depan dua orang itu maka pendekar ini tertegun karena apa yang disangka ternyata benar.

“San Tek!”

“Ha-ha!” pemuda itu, si muka kehijauan mengangguk, bangkit berdiri. “Kau Pendekar Rambut Emas. Aku San Tek. Ada apa kau menggangguku dan benarkah kata Togur bahwa kau mencari-cari aku!”

Pendekar Rambut Emas berubah. Ia tak menyangka bahwa si gila yang amat luar biasa ini ternyata ada di sini. Togur kiranya berlindung di balik sahabatnya itu dan tentu saja pendekar ini terkesiap. Si gila ini memiliki Im-kan-thai-lek-kang yang hebat. Ia mengerikan! Namun membentak dan marah kepada Togur pendekar itu berseru, “Kau mengadu orang secara licik, Togur. Aku tak pernah mencari San Tek melainkan dirimu. Hayo, turun dan pertanggungjawabkan perbuatanmu di luar!”

Togur, yang tertawa dan mengelak serangan ini tiba-tiba berkelebat ke patung yang lain. Ia berseru kepada temannya bahwa Pendekar Rambut Emas ketakutan melihat temannya itu, terbukti ialah yang diserang dan bukan San Tek. Dan ketika Pendekar Rambut Emas mengejar namun si buntung bergerak menyembunyikan diri di punggung temannya, pendekar itu berhadapan dengan San Tek maka si gila berseru,

“Pendekar Rambut Emas, tak perlu mengejar-ngejar. Nih, aku di depanmu dan sambut pukulanku!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bentrok dengan si gila ini. Pertama, San Tek bukan musuhnya. Kedua, pemuda itu amatlah hebat hingga bermusuhan dengannya bukanlah hal ringan. Lagi pula, malu rasanya bermusuhan dengan orang gila. Salah-salah diri sendiri akan ikut-ikutan gila! Maka begitu San Tek bergerak dan ia mengelak, berkelebat dan mengejar lagi si buntung tiba-tiba si buntung itu terbahak dan menyambar isterinya, melepaskan diri.

“San Tek, Kim-mou-eng ketakutan melihat dirimu. Lihat ia selalu mengejar-ngejar aku!”

“Ha-ha,” San Tek gembira, bangga. “Ia akan kukejar pula, Togur. Lakukan tugasmu dan serang isterinya!”

“Aku memang akan menyerangnya. Awas, jaga dia baik-baik dan jangan sampai mendekati aku... dess!”

Dan pukulan Pendekar Rambut Emas yang bertemu dan disambut si gila tiba-tiba membuat pendekar itu terkejut dan membentak marah, apa boleh buat menghadapi si gila ini karena San Tek tiba-tiba mengeluarkan pukulannya yang dahsyat, Im-kan-thai-lek-kang. Dan ketika ia mengelak dan berkelebatan ke sana ke mari, lawan ganti memburunya dan tak membiarkan menyerang si buntung maka apa boleh buat pendekar ini menghadapi San Tek dan pukulannyapun membalas pukulan si gila itu.

“Des-dess!”

Togur tertawa terbahak-bahak. Pendekar Rambut Emas terhuyung dan selanjutnya San Tek sudah melepas pukulan ditangkis dan mengejar lagi dan dua orang itupun akhirnya serang-menyerang dengan hebat. Dan ketika ia benar-benar bebas dan Kim-hujin atau nyonya Kim ini menjadi bagiannya maka Swat Lian melengking-lengking dan nyonya itupun marah menyambut.

“Ha-ha, sekarang kita berhadapan satu lawan satu. Bagus, aku akan membalas sakit hatiku dan lihat aku akan merobohkanmu!”

Swat Lian beringas. Ia marah dan benci sekali kepada si buntung ini namun lawan enak saja berkelebatan menyambar-nyambar. Togur gembira karena Pendeka Rambut Emas sudah dihadapi temannya San Tek bukanlah main-main dan pukulan-pukulannya menggelegar di Istana Hantu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas megeluarkan Khi-bal-sin-kangnya dan Im-kan-thai-lek-kang bertemu dengan pukulan pendekar itu, terpental tapi maju lagi maka Kim-hujin juga sibuk menghadapi lawannya karena Togur mempergunakan kesaktiannya untuk merobohkan lawannya ini. Lawan yang membuat ia buntung kakinya!

“Awas, aku memiliki Hek-kwi-sut, hujin. Aku akan mengeluarkannya dan hati-hatilah menjaga diri!”

Slap! Swat Lian terkejut. Lawan tiba-tiba lenyap dan sebagai gantinya muncullah asap hitam yang meledak di udara. Si buntung menghilang dan tahu-tahu kesiur angin dingin menyambar belakang kepalanya. Dan ketika ia membalik dan menangkis dengan gusar, lawan sudah mulai dengan ilmu hitamnya maka Hek-kwi-sut terpental tapi dari kiri dan kanan menyambar lagi kesiur-kesiur angin dingin itu.

“Plak-plak!”

Si buntung terbahak-bahak. Kim-hujin, yang bingung dan gugup menghadapi ilmu hitamnya segera memekik-mekik karena tak mampu melihat dirinya. Ia menghilang di balik ilmunya dan tentu saja lawan membentak-bentak. Lawan tak mampu membalas serangannya dan ialah yang justeru melancarkan serangan, kiri kanan dan muka belakarg hingga lawan mencak-mencak menangkis sana-sini. Tapi karena ia bergerak lebih cepat dan Kim-hujin tak mampu mengikutinya, nyonya itu melengking dan mengeluarkan Cui-sian Gin-kangnya untuk berkelebatan menghindar.

Maka si buntung menyambar ke sana ke mari untuk mengikuti, menampar atau mencolek dan lawan merah padam. Secara kurang ajar si buntung itu menyentuh pula bagian-bagian paling pribadi yang dimiliki nyonya ini. Swat Lian gusar! Dan ketika ia terdesak karena tak mampu melihat lawan, Pendekar Rambut Emas terbelalak dan merah mukanya maka pendekar itu tiba-tiba mengebutkan lengan bajunya dan berseru dari jauh,

“Niocu, terimtlah Pek-sian-sutku. Lihat kau mampu mengetahui lawanmu!”

Benar saja, seberkas cahaya terang tiba-tiba meledak di muka nyonya ini. Kim-hujin yang semula tak mampu melihat lawan tiba-tiba dapat melihat kembali si buntung itu, yang tepat berada di belakangnya. Dan ketika ia membalik dan tentu saja berteriak marah, menghantam mendahului maka Togur terpental dan si buntung itu terpekik.

“Augh!”

Sang nyonya sudah menerjang. Sekarang Swat Lian mengejar dan benar saja Hek-kwi-sut sudah tak perlu ditakuti. Lawan boleh menghilang namun Pek-sian-sut mengikuti. Sihir yang dimiliki Pendekar Rambut Emas itu memang penangkal atau pelumpuh Hek-kwi-sut, mendiang See-ong sendiri sampai roboh dan akhirnya dikalahkan pendekar ini. Dan ketika Togur terbelalak karena Kim-hujin dapat nemelihatnya lagi, kebutan Pendekar Rambut Emas tadi membuyarkan Hek-kwi-sut maka si buntung itu mengutuk dan berkelebatan ke sana-sini, menghindar.

“Kau boleh berbuat curang lagi kalau bisa. Hayo, keluarkan semua kesaktianmu!"

Si buntung mengumpat. Apa boleh buat ia bertanding lagi dengan cara wajar. Pukulan-pukulan si nyonya dielak dan kalau berbahaya barulah ditangkis. Dan ketika mereka sama-sama terpental tapi si buntung lalu menggerakkan tongkat, mengisinya dengan kemak-kemik semacam mantra maka tongkat bergetar dan tiba-tiba si buntung itu berseru,

“Kim-hujin, aku akan mengeluarkan naga. Awas!”

Sang nyonya terkejut. Dari ujung tongkat tiba-tiba menyambar seekor naga yang berkoak menggetarkan dinding. Naga itu muncul begitu saja dan lidahnya yang berapi menjilat mukanya, tentu saja nyonya ini terpekik. Dan ketika ia melempar tubuh secara otomatis dan naga itu hilang, berubah kembali sebagai tongkat maka senjata itu mengejar dan menggebuk pantatnya.

“Dess!” Si buntung terbahak-bahak. Lawan berhasil dikelabuhi dan tentu saja nyonya itu merah padam. Dalam soal sihir-menyihir memang ia bukan orangnya. Si buntung itu licik! Tapi ketika suaminya kembali berseru dan melepas kebutan perlahan, Pendekar Rambut Emas membantu isterinya maka tongkat terlihat sebagai tongkat, bukan seekor naga lagi, meskipun digetarkan dan diiringi kemak-kemik.

“Keparat!” nyonya itu murka. “Kau licik dan curang, Togur, Persis bapakmu yang culas dan rendah itu!”

“Jangan mengungkit-ungkit nama orang mati!” si buntung membentak, rupanya terbakar. “Ayahku tak ada hubungannya dengan ini, Kim-hujin. Suamimu itulah yang justeru tak tahu malu merebut kekasih ayahku. Dan kaupun tak tahu malu merebut suami orang!”

“Jahanam, mulut busuk. Aku tak pernah merebut suami orang dan itu adalah suamiku sendiri.... plak-plak!” dan Kim-hujin yang menerjang dan memaki lawan, marah sekali, akhirnya sama-sama marah karena lawanpun juga marah karena bapaknya diungkit-ungkit!

Togur naik pitam karena mendiang ayahnya sebenarnya adalah suheng dari Pendekar Rambut Emas itu. Iapun sudah mendengar kisah ayahnya dan tentu saja ia tak senang dengan semuanya itu. Dan ketika ia membalas dan menangkis serangan-serangan lawan, Pendekar Rambut Emas berkali-kali harus menolong isterinya kalau si buntung mempergunakan ilmu hitam maka Togur tiba-tiba mengeluarkan ilmunya yang mengerikan, Bu-siang-sin-kang (Ilmu Sakti Tak Berwujud).

“Kim-hujin, sekarang kau roboh!” Swat Lian tersentak. Lawan yang mula-mula berkelebatan dan menangkis atau membalas serangannya tiba-tiba menepukkan tangan. Bau anyir menyambar dan terkejutlah nyonya ini karena ia mau muntah, pukulannya meledak dan menghantam belakang kepala pemuda itu. Dan ketika si buntung tertawa mengejek dan menggoyang pinggang, mendadak, cepat sekali tahu-tahu si buntung itu melayang dan menyambar mukanya, seperti roh.

“Aiihhhh...!” Nyonya ini menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Seketika ia terkesiap karena lawan berobah ujudnya, tidak lagi kasar melainkan halus. Dan ketika ia mengelak dan menghantam dari samping, tangannya menembus dan masuk ke dada si buntung itu, mengerikan, maka tangannya terus lolos dan tembus mencoblos daging lunak yang seakan tidak bertulang, lumer menjijikkan!

“Ha-ha!” si buntung tertawa bergelak. “Tahu rasa kau sekarang, wanita sombong. Hayo pukul dan hantam aku lagi. Ayo!” Swat Lian ngeri. Inilah yang paling ditakuti dan amat menyeramkan. Bu-siang-sin-kang, ilmu iblis itu, ternyata sekarang dikeluarkan lawannya. Ia meloncat bangun dan lawan mengejar lagi, melayang bagai roh. Dan ketika ia menghantam namun tembus memasuki tubuh pemuda itu, bau amis memuncrat ke segenap ruangan maka nyonya itu muntah-muntah dan akhirnya benar-benar tak tahan.

“Aduh, jahanam keparat. Iblis!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia tentu saja mengamati segala kejadian di sekitarnya, mengelak dan membalas sekedarnya kalau San Tek memburunya. Maklumlah, ia setengah hati melawan si gila itu karena San Tek hanya diperalat Togur. Ia sering membujuk agar San Tek mundur namun si gila justeru terkekeh memperhebat serangannya. Berkali-kali ia harus menangkis dan akibatnya ia tak dapat mendekati isterinya itu. Dan ketika isterinya bertanding dan apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi, Togur mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya yang mengerikan itu maka isterinya jatuh bangun dan setiap kali menjerit ngeri kalau pukulan atau tamparannya menembus pemuda itu.

Tembus begitu saja karena tubuh si buntung ini memang sudah tidak berwujud, artinya, berbadan kasar lagi namun roh atau sukmanya membentuk bayang-bayang seperti badan aslinya, tentu saja tak dapat dipukul! Dan ketika si buntung itu membalas dan tertawa-tawa, tangan atau kakinya mendarat di tubuh lawannya maka ngeri dan rasa jijik benar-benar membuat Kim-hujin itu jatuh bangun!

“Binatang, jahanam bedebah. Kau sungguh bukan manusia!”

“Ha-ha, aku memang iblis. Lihat, daging busukku akan muncrat ke mana-mana, Kim-hujin. Dan silakan muntah-muntah sampai isi perutmu habis!”

Sang nyonya benar-benar mengeluh. Terhadap Bu-siang-sin-kang memang ia paling ngeri. Rasa jijik membuatnya muntah-muntah karena ilmu itu mengeluarkan bau anyir yang menusuk hidung. Ilmu ini benar-benar ilmu iblis karena pemiliknya tembus dipukul. Dan karena pukulan keras bakal membuat daging lunak itu muncrat-muncrat, tidak ada ujudnya namun mampu membuat seolah benar-benar berwujud maka ilmu aneh yang luar biasa ini memang amat menjijikkan.

“Mundur!” Pendekar Rambut Emas akhirnya menangkis pukulan lawan.. San Tek yang tertawa-tawa dan tak mau dibujuk akhirnya dihantam dengan pukulan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat. Si gila terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan pendekar ini untuk berkelebat ke arah isterinya. Dan ketika saat itu isterinya jatuh terduduk dan tak kuat menahan ngeri, mual di perut benar-benar mengaduk maka pendekar ini bergerak dan meledakkan tangannya melepas sinar berkilauan.

“Des-dess!”

Bu-siang-sin-kang kena gempur. Pendekar Rambut Emas yang mengerahkan tenaga batinnya untuk menghantam ilmu itu berhasil membuat Togur berteriak. Si buntung itu berseru tertahan dan terhuyung. Dan begitu lawan terhuyung dan Pendekar Rambut Emas menyambar isterinya maka pendekar ini tak mau membuang waktu dan iapun mengeluarkan Pek-sian-sutnya untuk menghilang.

“Sekarang kau benar-benar berhadapan dengan aku!”

Seruan atau bentakan ini disusul oleh lenyapnya tubuh pendekar itu. Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas terpaksa mengeluarkan ilmunya yang luar biasa itu, mengimbangi Bu-siang-sin-kang dengan badan halusnya pula. Dan ketika ilmu gaib bertemu dengan ilmu gaib dan San Tek berteriak bengong maka Pendekar Rambut Emas menyerang lawannya itu di balik Pek-sian-sutnya, tentu saja berhasil. Dan begitu si buntung terlempar dan berteriak kaget, lawan berobah ujud dan sama-sama di alam halus maka si buntung itu kewalahan dan jatuh bangun. San Tek ditinggal di alam kasar dan si gila itu terbengong-bengong melihat bayangan-bayangan putih dan hitam bergerak-gerak.

Kim-hujin sudah diambil dan dibungkus pula dalam Pek-sian-sut itu, lenyap dan berada di alam halus hingga dapat pula menghajar lawannya. Sekarang Bu-siang-sin-kang mati kutu. Ilmu itu tak dapat dipakai kalau lawan dapat pula lenyap di alam halus! Dan ketika si buntung berteriak-teriak karena lawan menghajarnya jatuh bangun, suami isteri itu marah sekali memukulnya dengan pukulan-pukulan berat maka Togur tiba-tiba membuang Bu-siang-sin-kangnya lagi untuk kembali ke alam kasar.

“Kau ikut aku, jangan bengong saja!”

San Tek, si gila, tiba-tiba disambar dan ditepuk kepalanya dari belakang. Si gila ini sedang bengong dan terheran-heran oleh ulah tiga orang ini. Meskipun lhai namun ia tak memiliki Bu-siang-sin-kang itu, paling-paling Hek-kwi-sut namun itu masih di bawah Bu-siang-sin-kang. Maka begitu ditepuk dan ia sadar, Togur mencari bantuan maka Pendekar Rambut Emas muncul kembali di dunia kasar, bersama isterinya, mengejar.

“Togur, kau tak dapat lari!”

Si buntung pucat. Hebat dan lihainya Pendekar Rambut Emas sudah diketahui, Pendekar itu menjadi lebih hebat lagi setelah memiliki Pek-sian-sut, ilmu yang dapat membuatnya meninggalkan badan wadag untuk ke badan halus. Dan ketika ia dikejar namun menepuk temannya, diam-diam si buntung ini menyalurkan kekuatan hitam maka ia lenyap lagi di balik Bu-siang-sin-kang dan... San Tek terkekeh-kekeh karena iapun tiba-tiba tanpa bobot alias hilang di alam halus. Lenyap bersama si buntung!

“Heh, kau bawa ke mana aku ini, Togur? Ha-ha, kenapa tubuhku demikian ringan? Aih, aku dapat melayang-layang. Aku tak menginjak bumi!”

Pendekar Rambu Emas terkejut. Secara licik dan cerdik ternyata lawannya itu mengajak San Tek menyatu dalam Bu-siang-sin-kang, seperti ia sendiri yang membawa isterinya ke dalam ilmu Pek-sian-sut. Dan ketika San Tek berjingkrak karena hidup tanpa bobot, melayang dan meluncur ke sana ke mari maka apa boleh buat Pendekar Rambut Emaspun meledakkan tangannya dan masuk lagi ke alam halus, mengejar lawannya itu.

“Togur, kau licik, curang!”

“Ha-ha!” si buntung tertawa bergelak, menyelinap atau berlindung di balik temannya. “Kau boleh kejar aku kalau bisa, Pendekar Rambut Emas. Tapi hadapilah dulu temanku kalau kau berani!”

San Tek tentu saja berseru keras. Ia langsung menyambar dan menghantam Pendekar Rambut Emas dengan Im-kan-thai-lek-kangnya, dikelit dan segera mengejar pendekar itu ketika lawan memburu Togur. Dan ketika Togur meloncat dan mengejar Kim-hujin, melepas serangan dan membuat Kim-hujin melengking maka dua orang itu kembali bertanding namun Kim-hujin terpental.

“Dess!” Kim-mou-eng gelisah. Sekarang San Tek sama-sama diajak berkeliaran di alam halus dan Bu-siang-sin-kang si buntung itu menggemaskan sekali. Isterinya sudah bertanding dan iapun menghadapi San Tek, yang terbahak-bahak dan malah kelihatannya lebih hebat lagi berada di alam tanpa bobot, karena masing-masing sudah tidak berada di dunia lagi melainkan di alam roh.

Namun karena ia bertempur setengah hati dan berkali-kali melirik ke isterinya yang penasaran, bau anyir tidak tercium lagi namun sinkang atau tenaga sakti si buntung itu masih hebat luar biasa, Poan-jin-poan-kwi benar-benar menurunkan ilmunya yang luar biasa kepada pemuda itu maka isterinya tampak kewalahan dan sering terpental kalau beradu tenaga. Dan Togur mengejek gembira.

“Lihat, suamimu tak dapat menolongmu lagi, hujin. Sebentar lagi kau roboh dan kubuat patung hidup!”

“Keparat, kau boleh bunuh aku kalau bisa, Togur. Tapi aku akan mengadu jiwa denganmu sebelum mampus!”

“Ha-ha, sinkangmu masih kalah kuat. Lihat, terima pukulanku!” dan si nyonya yang menangkis dan terpental ke belakang tiba-tiba mengeluh dan bergulingan karena memang sinkangnya kalah kuat, meskipun seusap. Togur atau si buntung ini memang luar biasa karena gurunya demikian banyak. Mulai dari mendiang Enam Iblis Dunia sampai kepada See-ong dan Poan-jin-poan-kwi. Dua kakek iblis yang amat mengerikan itu telah menjadi guru terakhir bagi pemuda ini. Ilmu menjijikkan Bu-siang-sin-kang sampai diwarisi.

Dan ketika ia meloncat bangun namun lawan mengejar dan menampar pundaknya, Togur mempergunakan Khi-bal-sin-kang maka Swat Lian menjerit karena iapun terpelanting lagi. Tujuh kali nyonya itu mengaduh dan tujuh kali pula si buntung tertawa bergelak. Sorot matanya yang ganas penuh benci siap melakukan sesuatu yang mengerikan bagi nyonya ini. Inilah wanita yang membuat ia buntung kakinya, tercebur dan masuk ke laut selatan untuk akhirnya dimakan hiu. Dan ketika Kim-hujin pucat dan mengeluh menangkis sebuah tamparan lagi, mencelat dan bergulingan menjauh maka tujuh sinar hitam tiba-tiba menyambarnya.

“Awas!”

Terlambat. Seruan atau bentakan nyaring dari Pendekar Rambut Emas itu tak sempat diperhatikan nyonya ini. Swat Lian yang sedang bergulingan dan merintih menangkis pukulan lawan tak melihat sinar-sinar hitam itu. Togur melepas jarumnya. Dan ketika nyonya itu menjerit karena tujuh jarum menancap di tubuhnya, menggeliat dan kejang maka Swat Lian mendelik dan tiba-tiba roboh, pingsan.

“Terkutuk!” Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan marahnya lagi. Ia tadi telah mengibas pukulan ke arah jarum-jarum itu namun San Tek menangkisnya. Si gila itu tertawa-tawa dan benar-benar tak memperbolehkan is membantu isterinya. Maka begitu isterinya roboh dan pendekar ini membentak, kemarahan dan gusarnya benar-benar meledak sampai kepala maka pukulan merah bercuit menyambar San Tek.

“Blarr!” Si gila terlempar dan menjerit. Ia kena pukulan dahsyat dan bergulingan memaki-maki. Lui-ciang-hoat, yang baru diterimanya seolah sengatan listrik tegangan tinggi. Pemuda itu berjengit! Namun karena ia memiliki Im-kan-thai-lek-kang dan ilmunya itu melindungi, si gila meloncat bangun tapi Pendekar Rambut Emas melejit dan menyambar Togur maka tangan kiri bergerak dan si buntung itupun mendapat bagiannya.

“Dess!” Togur mengelak tapi kalah cepat. Dua kali pukulan cepat yang dilepaskan pendekar ini mengenai sasarannya. Dan karena si buntung tak memiliki Im-kan-thai-lek-kang seperti San Tek, yang meringis dan hanya kesakitan sebentar maka si buntung itu mencelat dan pundak kirinya hangus terbakar.

“Ufg!” Togur terkejut dan melempar diri bergulingan pula. Kalau Pendekar Rambut Emas sudah mengamuk dan marah seperti itu maka keadaan dalam bahaya. Ia seorang diri tentu tak sanggup dan karena itu ia melempar tubuh bergulingan ke dekat temannya. Dan ketika hampir bersamaan mereka meloncat bangun, San Tek tertawa-tawa sementara si buntung pucat dan gentar, mata mencorong dari Pendekar Rambut Emas itu serasa membakar apa saja maka Togur berseru agar cepat-cepat membunuh lawannya itu.

“Hati-hati, ia akan mengamuk. Isterinya telah kulukai dengan Hek-tok-ciam. Limabelas menit lagi tentu mampus!”

Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan marah. Ia menyambar dan memanggul isterinya itu dan benar saja seluruh tubuh isterinya telah berobah kehitaman. Kulitnya panas terbakar. Dan maklum bahwa racun berbahaya memasuki tubuh isterinya, ia tak dapat menolong karena San Tek dan si buntung sudah menerjangnya gemas maka si gila itu juga melepas Im-kan-thai-lek-kangnya hingga udara terbakar.

“Keparat, kau coba-coba memperlihatkan tenaga petirmu. Bagus, aku juga dapat mengerahkan tenaga Inti Nerakaku Pendekar Rambut Emas. Dan mari kita lihat siapa yang lebih panas.... blarr!” api menjilat besar menyambar pendekar itu merah berkobar-kobar dan si buntung Togur juga mempergunakan kesempatan untuk melepas pukulannya. Dari kiri dan kanan tiba-tiba ia digencet! Dan ketika Pendekar Rambut Emas berseru keras dan menggerakkan tangan ke kiri kanan, isteri diletakkan di atas bahu maka dentuman bagai gunung meletus terdengar di situ.

“Dess!” Swat Lian terlempar. Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan dua gempuran itu sekaligus dan ia terpental, tentu saja terkejut tapi cepat ia berjungkir balik dan menyambar isterinya itu lagi. Namun ketika lawan mengejar dan San Tek melepas Im-kan-thai-lek-kangnya lagi, Togur terbahak melepas Khi-bal-sin-kang maka untuk kedua kalinya pendekar ini herpental dan pucat. Selanjutnya, dua orang itu ganti-berganti menyerangnya.

Im-kan-thai-lek-kang semakin dahsyat sementara Togurpun memuncak nafsu membunuhnya. Pemuda itu tak akan melepaskan pendekar ini kalau belum roboh binasa. Dan bingung memikirkan isterinya yang terkena racun berbahaya, si buntung benar-benar licik dan si gila itu tak dapat dibujuk maka apa boleh buat Pendekar Rambut Emas tiba-tiba mengerahkan Tee-jong-gannya dan dengan suara penuh tenaga sakti ia memanggil puteranya, dahsyat membuat Sam-liong-to bergetar.

“Rajawali Merah, datanglah. Bantu dan tolong ayah ibumu yang dalam bahaya....!"

Rajawali Merah Jilid 25

RAJAWALI MERAH
JILID 25
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
“HARI ini adalah hari kebahagiaanku. Siapapun boleh turut bersenang-senang tapi jangan ribut sebelum waktunya. Duduk dan nantikan acara berikut sampai Siauw-ong datang!”

Para pemuda bersinar-sinar. Mereka kagum akan suara merdu dan bentuk tubuh Ui Kiok. Wanita itu telah naik ke atas panggung dan pakaiannya yang tipis menerawang sama saja dengan A-hwa yang berdiri di sebelahnya. Dua wanita itu sama-sama membelakangi lampu dan nafsu pemudapun bergolak. Mereka dibuat mendidih, terbakar! Tapi karena Ui Kiok adalah pimpinan di situ dan A-hwa juga bukan wanita sembarangan, mereka telah mendengar kelihaian dan juga kekejaman wanita ini, yang dapat bersikap telengas maka pemuda-pemuda itupun mendecak dan hanya kagum dari kejauhan saja.

Selanjutnya lagu Dewi Bulan dilantunkan lembut dan perlahan-lahan, Ui Kiok sudah duduk di kursi yang disediakan dan pemuda di sampingnya itupun juga duduk di sebelah kanannya. Siang Le atau Siang-kongcu ini tampak seperti orang linglung. Diam memandang semua di depannya dengan pandangan kosong. Dan ketika A-hwa berseru agar lagu dipukul keras, menuding ke Istana Hantu maka bergeraklah semua orang memutar kepala.

“Siauw-ong datang, sambut dengan iringan musik yang gencar!”

Para pemuda menengok. Dari balik gerbang Istana Hantu tiba-tiba terdengar tawa dan tepukan tangan. Seorang pemuda buntung, yang memakai kopiah dan pakaian pengantin tiba-tiba muncul dari situ, diiring empat wanita cantik namun yang luar biasa adalah wanita berpakaian putih yang berjalan di sebelahnya itu. Wanita ini hanya mengenakan pakaian dalam saja yang serba putih, menyolok di balik rambutnya yang hitam lebat dan diurai di belakang punggung.

Rambut yang tebal dan gemuk itu dibiarkan sampai ke pinggul, hampir menyentuh lutut dan wajahnya gilang-gemilang ditimpa sinar bulan yang keemasan. Dan ketika semua berdecak takjub dan sungguh kecantikannya jauh di atas Ui Kiok, yang berdiri dan menyambut di atas panggung maka para pemuda berbinar dan darah mereka jauh lebih berdesir melihat wanita muda yang digandeng si buntung ini, yang juga amat indah bentuk tubuhnya!

“Permaisuri datang, harap semua berlutut!”

Para pemuda dan semua yang ada di situ berlutut. Ui Kiok sendiri membungkuk dalam-dalam dan pemusik memainkan alat musiknya dengan gencar. Begitu aba-aba diberi mendadak mereka menabuh alat musik mereka dengan riang gembira. Siauw-ong dan permaisurinya datang. Dan ketika dengan perlahan-lahan si buntung maju dan mendekati panggung, wanita di sebelahnya juga mengikuti dan bergerak dengan pandangan kosong, sama seperti Siang-kongcu itu maka si buntung, Siauw-ong, sudah melompat dan tahu-tahu berada di atas panggung, empat wanita di belakangnya juga mumbul dan ikut terbawa!

“Ha-ha, sudahlah, Ui Kiok. Suruh mereka berdiri dan hidangkan makan minum!"

Ui Kiok, yang mengangguk dan kagum serta iri memandang permaisuri menganggukkan kepala dan mundur. Ia sendiri menyodorkan kursi agar si buntung dan permaisuri duduk, tak berani duduk sebelum si buntung itu duduk lebih dulu. Dan ketika si buntung tertawa dan duduk menerima, wanita di sampingnya disambar dan diajak duduk di kursi sebelah kiri maka Ui Kiok baru duduk di. kursinya yang tadi dan takjub memandang permaisuri, berbisik,

“Siauw-ong, hebat sekali permaisuri ini. Wajahnya gilang-gemilang ditimpa sinar bulan yang keemasan!”

“Ha-ha, Dewi Bulan menitis kepadanya, Ui Kiok. Dan malam ini aku akan mengadakan acara khusus. Aku akan membuat permaisuri tunduk dan selamanya baik kepadaku!”

“Siauw-ong mau melakukan apa?”

“Nanti kau tahu, tapi suruh pemusik menabuh lebih gembira dan hidangkan makan minum!”

Ui Kiok bertepuk tangan. Ia memanggil A-hwa dan menyuruh menghidangkan makan minum. Meja dan kursi tiba-tiba diatur, cepat sekali. Dan ketika musik dimainkan lebih keras dan suaranya memecah pulau, Sam-liong-to diguncang oleh irama gembira dari permainan musik yang panas membakar maka para pemuda disuruh berjingkrak dan masing-masing boleh menari mencari pasangannya sendiri.

“Dewi Bulan sudah naik ke atas. Sambut dengan tarian dan kalian melenggang-lenggoklah dengan pasangan masing-masing!”

Dua puluh wanita bersorak. Mereka tiba-tiba berlompatan ke atas panggung dan menari-nari. Itulah acara untuk menyambut sampai Dewi Bulan di atas kepala, meliuk dan melenggang-lenggok mengikuti tetabuhan yang gencar. Musik dipukul memekakkan telinga dan wanita-wanita itupun menari dengan riangnya. Togur menonton dan Ui Kiokpun tersenyum-senyum. Anak buahnya mulai bergerak. Dan ketika para pemuda ragu-ragu namun satu dua ditarik ke atas, wanita-wanita cantik itu telah memilih pasangannya maka panggung tiba-tiba sudah penuh oleh gebrak dan jingkrak-jingkrak para wanita ini, juga para pemuda yang mulai berani dan tidak takut-takut terhadap Siauw-ong.

“Bersenang-senanglah, menarilah. Nikmati makanan di atas meja sampai nanti Siauw-ong membagikan arak bahagia!”

Para pemuda bersorak. Setelah mereka diberi ijin dan makanan di atas meja disambar, kecuali sebotol besar arak merah yang akan dibuka sendiri oleh Siauw-ong maka mereka berlompatan dan menari-nari di atas panggung. Dekap dan cium merajalela dan suara ngak-ngik-ngok terdengar di mana-mana, lucu namun merangsang. Dan ketika Siauw-ong tertawa dan meletakkan tangan di atas paha permaisuri, yang diam dan memandang semua itu dengan sinar mata kosong maka Ui Kiok juga meremas dan menyusupkan tangannya ke paha Siang-kongcu.

“Siang Le, malam ini kita mereguk madu bahagia. Nikmatilah dan dengarkan lagu-lagu gembira itu!”

Siang Le mengangguk. Gagah dalam pakaian hitam putihnya pemuda ini memandang dan acuh terhadap semuanya itu. Bahkan, terhadap “permaisuri” di sebelah si buntung, yang bukan lain isterinya sendiri pemuda ini juga acuh dan bersikap tak mengenal. Soat Eng yang ada di samping Togur juga bersikap acuh dan dingin. Dua suami isteri ini sama-sama tak mengenal lagi, luar biasa! Dan ketika Togur tertawa bergelak karena pasangan laki-laki dan wanita itu sudah mulai panas terbakar, ada yang terjatuh dan bergulingan di atas panggung maka bulan yang bersinar keemasan juga semakin naik tinggi dan akhirnya tepat di atas kepala.

“Puncak acara akan dimulai. Mundur dan hentikan sejenak iringan musik!”

Para pemuda dan wanita-wanita mundur. Mereka tergetar oleh suara Togur yang keras penuh wibawa, si buntung itu bangkit berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dan ketika semua memandang dan si buntung menyambar permaisuri, yang diam dan menurut maka pemuda itu menuding ke atas.

“Lihat, Dewi Bulan akan memberikan berkah. Lepas pakaian kalian dan cicipi arak pengantin. Biarkan seluruh tubuh kalian ditimpa sinar keemasannya yang penuh gaib!”

Para wanita, yang sudah tahu dan terbiasa akan ini melonjak. Mereka terkekeh dan tiba-tiba semua pakaian yang melekat dilepas, tidak canggung-canggung atau malu-malu lagi. Dan ketika para pemudanya tertegun dan tentu saja melotot, di atas panggung berdiri. wanita-wanita yang tidak mengenakan sehelai kainpun maka Ui Kiok juga melepas pakaiannya dan para pemuda berjingkrak dan tiba-tiba melepas pakaiannya pula. Keadaan sungguh gila!

“Jangan ribut, jangan gaduh. Biarkan Dewi Bulan memandikan tubuh kalian dengan sinar emasnya. Tengadahkan tangan kalian ke atas dan ikuti aku berdoa!” Togur berseru dan menenangkan pemuda-pemuda itu. Dia harus menenangkan suasana karena seratus pemuda itu tiba-tiba menjadi beringas melihat tigapuluhan wanita berbugil di atas panggung. Selama hidup, belum pernah mereka melihat hal semacam ini. Tapi begitu si buntung itu berseru dan suaranya mampu menekan suara berisik, betapapun sinar mata dan sikap si buntung itu memang cukup menakutkan maka Togur meledakkan tangannya dan tampaklah asap hitam di atas kepalanya.

“Lihat, dan dengarkan aku baik-baik. Ikuti aku berdoa!”

Si biintung menengadahkan tangan tinggi-tinggi. Suaranya tiba-tiba menjadi parau dan lima ekor gagak yang tadi lenyap ke timur sekonyong-konyong muncul lagi. Asap hitam semakin tebal di atas kepala pemuda ini dan tiba-tiba menggelegarlah suara seperti petir ketika dia meledakkan tangannya. Dan ketika pemuda-pemuda itu terkejut dan ada yang terpelanting, lima ekor gagak bergaok dengan terkejut maka doa yang dalam dan berat terdengar dari mulut si buntung ini.

Togur mengerahkan khikangnya dan Sam-liong-to tiba-tiba digetarkan suaranya yang berat dan parau. Kalau singa, maka suara pemuda itu seperti singa Mongolia, dahsyat mengaum-aum. Dan ketika seratus pemuda itu bergoyang-goyang dan tigapuluhan wanita juga tak dapat berdiri tegak, bergoyang oleh getaran suara si buntung ini maka tongkat dicabut dan botol raksasa berisi arak merah tiba-tiba ditusuk, cepat dan menyilaukan mata.

“Puncak acara boleh dimulai. Dewi Bulan berkenan.... crot!” dan botol yang ditusuk dan menyemprotkan arak harum tiba-tiba disusul oleh pekik dan jerit gembira wanita-wanita muda itu. Anak buah Ui Kiok ini berhamburan ke meja kecil dan masing-masing mendekatkan mulut ke arak yang menyemprot itu. Hujan arak menimpa wajah mereka tapi dengan gembira dan penuh semangat masing-masing meneguk seberapa bisa.

Bunyi menggelogok terdengar dari mereka yang berada paling dekat dengan arak di botol raksasa ini, rakus melahap dan menikmati arak keras. Tapi karena yang lain juga tak mau kalah dan siapa yang paling banyak mendapatkan arak dialah yang akan menjadi yang paling kuat, paling lama bermain cinta maka dorong-mendorong terjadi di sini dan seratus pemuda yang terbelalak melihat itu tiba-tiba disuruh untuk minum pula.

“Arak ini telah penuh diberkati Dewi Bulan. Lihat botolnya yang kuning keemasan dan gilang-gemilang. Hayo berebut dan jadilah laki-laki perkasa!”

Seratus pemuda berhamburan. Akhirnya mereka ikut-ikutan dan gembira bukan main. Mereka menubruk dan tentu saja meremas wanita-wanita itu, yang terkekeh dan membalik kegelian karena jari-jari kurang ajar mencolek mereka dari sana-sini. Suasana seperti kuda-kuda liar di tengah hutan bebas. Dan ketika masing-masing sudah mendapat arak dan wajah-wajah tampak memerah dadu, berahipun meningkat dengan gilanya maka anak buah Ui Kiok ini balik menerkam pemuda-pemuda itu dan bergulingan dibakar nafsu. Puncak acara sudah tiba!

“A-siong, hayo kerubut aku bertiga!”

“Tidak, aku dulu, A-siong. Mana A-lun dan kalian bertujuh boleh keroyok aku!”

Kekeh dan hingar-bingar terjadi. Tigapuluhan wanita itu menerkam dan mencari pemuda-pemuda yang dimaksud. Mereka sudah menjadi gila tiada ubahnya hewan-hewan buas yang tidak bermoral lagi. Togur telah merusak wanita-wanita itu seperti binatang. Dan ketika Ui Kiok terkekeh dan bersinar memandang anak buahnya yang bergumul dengan empat atau lima pemuda maka iapun membalik dan menghadapi Siang Le.

“Siang Le, lepas pakaianmu. Biar Siauw-ong memberimu arak pengantin!”

Si buntung tertawa. Ia teringat dan tiba-tiba menggerakkan tongkatnya. Dari ujung tongkat meluncur tenaga sakti ke botol arak, yang isinya masih memancur dan tinggal sedikit. Wanita dan para pemuda itu sudah mendapatkan bagiannya. Dan ketika arak tersedot dan mengikuti gerakan tongkat, si buntung berseru agar Ui Kiok minum dulu maka wanita itu terkekeh dan membuka mulutnya.

“Kau dulu. Pengantin pria belakangan, Ui Kiok. Hayo minum seteguk dan baru setelah itu pasanganmu!”

Ui Kiok menerima arak. Ia terkekeh ketika arak terbawa ujung tongkat menuju mulutnya, lahap meneguk dan baru setelah itu Siang Le. Pemuda inipun membuka mulutnya, menerima arak. Dan ketika arak masih bergerak dan kini menuju ke Soat Eng, yang menerima dan membuka mulutnya seperti robot maka barulah si buntung mendapat bagiannya yang terakhir dan Ui Kiok maupun si buntung itu tertawa tergelak-gelak.

“Ha-ha, yang ini lebih hebat daripada yang diminum anak buahmu, Ui Kiok. Arak yang paling bawah kuberi ramuan akar kijang betina!”

“Ih, akar di perut naga sakti dari malaya?”

“Benar, dan kau rasakan hebatnya, Ui Kiok. Kita akan tahan dua hari dua malam untuk bermain cinta!”

“Aih, aku sudah merasakan hebatnya. Hi-hik, perutku panas dan matakupun berdenyar-denyar. Ah, Siang-kongcu ini tampak semakin tampan!” Ui Kiok mendengus dan tak tahan, tertawa dan menerkam pasangannya dan tiba-tiba ia pun sudah mencium dan melumat bibir si pemuda.

Togur juga terbawa dan pandang mata si buntung itupun sudah mengandung berahi. Soat Eng dan Siang Le yang tadi seperti arca mendadak juga terpengaruh dan mengeluarkan keluhan kecil. Masing-masing tiba-tiba berkedip dan Siang Le maupun Soat Eng mendadak seolah kemasukan “semangat” baru. Mereka hidup dan bergairah! Dan ketika Siang Le mendengus dan menerima ciuman Ui Kiok, mula-mula tak bergerak tapi akhirnya membalas dengan tak kalah ganasnya maka pemuda itu menerkam dan Ui Kiok sudah dibanting dan ditindih!

“Ihh..!” Ui Kiok terkejut, tapi terkekeh. “Kau benar, Siauw-ong. Pemuda inipun sudah menjadi kuda jantan!”

“Ha-ha, bawa ke kamar, Ui Kiok. Kita bermain di sana dan bersama-sama Permaisuriku inipun sudah hidup dan bergairah kembali. Lihat!”

Ui Kiok kagum, melihat Soat Eng tiba-tiba bergerak dan merangkul si buntung. Dan ketika Togur terbahak dan balas memeluk, tentu saja girang maka Soat Eng mendaratkan ciumannya dan kecupan di pipi terdengar jelas, nyaring di tengah-tengah hiruk-pikuknya tubuh-tubuh yang bergulingan. Sam-liong-to sudah berubah menjadi tempat setan, tempat pengumbar nafsu.

“Cup!”

Si buntung terbahak gembira. Dia lebih dulu dicium dan permaisuri yang semula diam dan dingin itu tiba-tiba sudah berubah seperti seekor kuda betina liar. Soat Eng mendengus dan mencengkeram lagi tubuhnya, mencium dan dua kali kecupan terdengar di pipi. Tapi ketika Soat Eng hendak mencium bibir dan Togur sudah meremas-remas tubuhnya, pakaian yang minim itu akan dilepas sekonyong-konyong terdengar bentakan dan sesosok bayangan berkelebat menghantam si buntung ini, disusul oleh bayangan lain yang melesat dan menghajar Ui Kiok, yang saat itu sudah bergulingan dan telanjang bulat bersama Siang Le.

“Togur jahanam busuk, lepaskan puteriku!”

“Wanita jalang, lepaskan menantuku!”

Togur dan Ui Kiok sama-sama terkejut. Mereka itu sudah saling peluk dengan pasangannya masing-masing. Ui Kiok terkekeh kegirangan dibanting dan ditindih Siang Le. Pemuda ini sudah menjadi buas dan jalang, itulah berkat arak pengantin yang sari patinya di ambil Togur, arak di bagian bawah botol karena itulah yang terhebat dan amat keras. Mereka akan sanggup bermain cinta sampai dua hari dua malam, tanpa berhenti. Maka begitu Togur diserang dan Ui Kiok juga mendapat tamparan seseorang, bayangan kuning emas berkelebat di sampingnya tiba-tiba wanita ini menjerit karena tubuhnya terlempar dan terlepas dari tubuh Siang Le, yang menindihnya.

“Dess!” Wanita itu tunggang-langgang di luar panggung. Ui Kiok yang tidak mengenakan secuil pakaianpun terbanting dan mencelat bergulingan di sana, tepat di tengah-tengah anak buahnya yang tentu saja terkejut dan berteriak tertahan. Mereka itu kaget tertimpa tubuh wanita ini. Dan ketika Ui Kiok menjerit namun anak buahnya saling terkam kembali, bayangan kuning emas maupun wanita yang menghantam Togur tidak menyerang mereka, semua dilanda nafsu berahi masing-masing maka semuanya acuh dan... sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri.

“Ui Kiok-cici gila, masa kita ditimpa!”

“Hush, Siang-kongcu itu menindihnya terlalu kuat, A-moi. Mereka bergulingan di tepi panggung dan tak tahu menimpa kita.”

“Sudahlah, Ui Kiok-cici akan kembali kepada suaminya dan mari kita bersenang-senang sendiri!” semua terkekeh, ditubruk atau diterkam pasangannya dan kegaduhan di atas panggung tak dihiraukan.

Waktu itu semua orang memang sedang nikmat-nikmatnya mengumbar berahi dan bentakan atau datangnya dua bayangan itu disangka bentakan atau seruan teman-teman mereka, sendiri. Pasangan yang melarikan diri akan disergap atau diburu kekasihnya, keadaan memang tidak karuan. Tapi begitu Ui Kiok meloncat bangun dan marah mendengar kata-kata anak buahnya ini, bayangan kuning emas menarik dan menyambar Siang Le maka dia menendang dan menghardik anak buahnya itu.

“Bedebah, ada musuh datang. Heii, jangan bersenang-senang dulu dan lihat itu!”

Tiga anak buahnya terlempar. Mereka ganti mendapat hajaran wanita ini namun pemuda-pemuda yang sudah menjadi pasangannya mengejar dan tak perduli. Mereka itu mendengus dan memburu pasangannya. Dan ketika tiga wanita itu kembali terkekeh dan lupa kepada tendangan pimpinannya, berahi memang naik telah sampai ke ubun-ubun maka merekapun bergulingan lagi dan meneruskan permainannya.

Ui Kiok mendelik. Dia sendiri sudah' diserang hawa arak yang membuat nafsunya mendidih. Arak yang diminum adalah inti sarinya dan wanita inipun tak tahan. Dan ketika ia membentak lagi bukan untuk menendang atau menyerang, melainkan menyergap tiga pemuda yang mengerubut seorang anak buahnya maka wanita ini mendesis dan minta agar pemuda-pemuda itu melayaninya. Siang Le di atas panggung entah sudah lenyap ke mana.

“Kalian layani aku!”

Tiga pemuda tersentak. Mereka tahu-tahu ditarik dan roboh di pelukan wanita ini. Ui Kiok sedang terbakar dan merekapun juga begitu. Tapi begitu mereka menerkam dan bergulingan menjadi satu, Ui Kiok tak perduli lagi kepada bayangan yang melemparnya itu maka si buntung alias Togur membentaknya dan suaranya yang dahsyat membuat panggung roboh.

“Ui Kiok, berhenti. Bantu aku karena ini Pendekar Rambut Emas beserta isterinya datang!”

Ui Kiok terkejut. Ia sedang terlelap sejenak oleh keroyokan tiga pemuda itu. Mereka sudah bergulingan dan tiada ubahnya hewan-hewan lapar yang tidak menghiraukan kanan kiri. Tapi karena bentakan itu dilakukan dengan seruan mengguntur dan si buntung mengerahkan tenaga saktinya, panggung roboh dan berderak menimpa yang lain-lain maka tigapuluhan wanita dan seratus pemuda yang tak keruan tingkahnya dibuat terguncang.

“Braakkkk...!”

Semua menjerit dan terpekik. Seratus tiga puluh tubuh yang tumpang tindih tiba-tiba dibuat terkejut. Pengaruh arak hilang separoh dan tampaklah pertandingan hebat di atas sana. Siauw-ong, yang bertanding dan sedang menghadapi kemarahan seorang wanita setengah baya tiba-tiba mundur-mundur dan terdesak.

Si buntung itu terpengaruh oleh araknya pula tapi dengan sinkangnya dia dapat menahan, terhuyung dan mengelak sana-sini oleh tamparan atau pukulan lawan yang gencar. Dan ketika bayangan kuning emas itu juga masuk dan menghajar pemuda ini, si buntung berteriak dan menerima pukulan maka dia terbanting dan saat itulah semua orang seolah sadar dari pengaruh arak birahi.

“Celaka, itu Kim-mou-eng..!”

“Benar, dan Kim-hujin. Ah, bantu Siauw-ong dulu, kawan-kawan. Dan mana pakaianku!”

Semua ribut dan panik. Bentakan, yang dilakukan si buntung berhasil membuyarkan pengaruh arak. Masing-masing, terutama wanita, meloncat dan menyambar pakaian masing-masing. Namun karena kebingungan sedang melanda tempat itu, semua menyambar dan mencari sekenanya maka pakaian para pemuda itulah yang didapat dan dengan pakaian kedodoran dan tingkah yang lucu tigapuluhan anak buah Ui Kiok ini naik dan meloncat ke atas panggung, yang miring.

“Serang, kita kedatangan musuh. Serang..!”

Namun Kim-hujin atau nyonya Kim sudah melengking dan menyambar wanita-wanita itu. Dengan mudah dan amat marahnya ia melepas Khi-bal-sin-kang, lawan menjerit dan seketika terlemparlah wanita-wanita itu bagai layang-layang yang putus talinya. Dan ketika tujuh tubuh terbanting dan menggeliat di sana, roboh dan tak bergerak-gerak lagi maka wanita-wanita itu tewas dan para pemuda tersentak dan terhuyung. Mereka ini masih dipengaruhi arak tapi juga ketakutan.

”Minggir, atau kuantar kalian ke neraka!”

Tiga tubuh kembali mencelat dan menjerit. Kim-hujin itu sudah berkelebatan menyambar-nyambar. Siauw-ong, yang terdesak dan menghadapi bayangan kuning emas tampak mundur-mundur dan mau melarikan diri. Si buntung ini pucat karena tiba-tiba Pendekar Rambut Emas dan isterinya muncul. Dan ketika ia mengelak sana-sini dan pukulan-pukulan nyonya itu masih dapat dihalau, Pendekar Rambut Emas maju dan menggantikan isterinya maka terhadap pendekar ini si buntung itu merasa kewalahan dan gugup, terbanting dan dikejar lagi dan pucatlah ia melihat Kim-hujin membabat anak buahnya.

Ui Kiok sendiri sudah maju namun terlempar oleh kibasan lawannya, berteriak dan terguling-guling dan anak buahnyalah yang disuruh maju sambil dibentak-bentak. Dan ketika semua menjadi gaduh dan ribut, suasana berahi terganti oleh hawa pembunuhan maka Kim-hujin yang menghajar dan mengamuk di sini berkali-kali membanting atau melempar lawan-lawan yang coba mendekat. Togur dihadapi suaminya dan ia sendiri kini memanggul Soat Eng, yang sudah ditotok roboh.

“Hayo, maju kalian semua dan kusikat habis. Keparat, kalian telah mengotori Sam-liong-to!”

Tandang atau amukan nyonya itu memang hebat. Ia berkali-kali hendak mendekati si buntung namun berkali-kali itu pula wanita-wanita itu menghalanginya, juga suaminya yang berkali-kali berseru agar ia tak usah menggubris si buntung. Togur atau si buntung itu biarlah bagiannya dan sang isteri biarlah menghadapi lawan-lawan yang lain. Ui Kiok dan anak buahnya cukup mengganggu karena wanita-wanita itu menyerang lagi setiap dibentak.

Ui Kiok takut terhadap si buntung sementara anak buahnyapun juga takut kepada si cacad yang lihai itu. Namun karena Pendekar Rambut Emas dan isterinya bukanlah orang-orang biasa dan suami isteri itu berkelebatan bagai burung menyambar-nyambar, sedikit banyak Togur masih terpengaruh pula oleh arak yang amat keras maka si buntung itu membentak dan tiba-tiba ia menangkis sebuah pukulan yang menuju kepalanya.

“Plak!” Si buntung terpelanting tapi meneruskan gerakannya dengan bergulingan menjauh. Ia memang tahu kehebatan lawan dan sengaja menangkis agar tubuh terlempar ke atas. Dan ketika benar saja ia terlempar dan terpelanting jauh, tongkat dicabut untuk menopang kaki yang buntung maka pemuda inipun sudah berjungkir balik dan turun di bawah panggung, menyelinap dan lenyap.

“Kim-mou-eng, lain kali saja kita bertemu. Atau kau boleh kejar aku kalau suka!”

Kim-mou-eng, yang tertegun dan terbelalak melihat lawan melarikan diri tiba-tiba saja menjadi marah. Ia datang terlambat karena laut Timur bergelombang besar. Buih dan riak ombak menghalang pandangan dan karena itu ia agak lambat, memutar dan baru malam itu datang. Tentu saja terkejut dan marah bukan main bahwa Togur mengadakan pesta gila-gilaan, mengotori Sam-liong-to dengan pesta cabul dan kemarahannya semakin bertambah ketika dilihatnya puteri dan menantunya dijadikan mempelai.

Sekali lihat tahulah pendekar itu bahwa anak dan menantunya berada dalam pengaruh tidak sehat. Dan ketika tak tahan lagi melihat Siang Le maupun Soat Eng menyambut cinta kotor Ui Kiok dan si buntung, pendekar ini bergerak dan menyuruh isterinya menolong Soat Eng maka ia sendiri berkelebat dan langsung menghajar Ui Kiok, menyelamatkan Siang Le. Bukan tanpa perhitungan kalau pendekar ini sengaja menolong Siang Le dengan tangannya sendiri, bukan tangan isterinya karena ia maklum bahwa isterinya bisa membunuh pemuda itu kalau disuruh menghadapi Ui Kiok, karena Siang Le sudah telanjang bulat dicekoki Ui Kiok.

Dan ketika ia mendorong isterinya dan tubuh sudah berkelebat ke arah wanita cabul itu, menampar dan menarik Siang Le maka Kim-mou-eng sudah memulai gebrakannya dan Ui Kiok maupun Togur terkejut. Dan selanjutnya pendekar itu berpindah kepada Togur. Isterinya tak akan dapat mengalahkan si buntung itu kalau ia tidak menolong. Dan ketika ia berkelebat dan ganti menyuruh isterinya menghadapi Ui Kiok, Soat Eng terlepas dan disambar selamat maka kini mereka berdua sudah menghadapi laki-laki jahat dan wanita cabul itu.

Namun Ui Kiok dan kawan-kawannya jelas bukan tandingan Swat Lian atau Kim-hujin ini, apalagi dalam keadaan nyonya itu marah besar. Swat Lian, yang malu dan merah padam melihat adegan tak senonoh di Sam-liong-to sudah melepaskan pukulan-pukulan ampuhnya kepada siapa saja yang berani mendekat. Tiga belas anak buah Ui Kiok akhirnya menjadi korban, pecah kepalanya! Dan ketika nyonya itu mengamuk dan Ui Kiok sendiri menjadi gentar, ia pergi dan menyelinap secara diam-diam maka anak buahnyalah yang menjadi sasaran dan amukan Kim-hujin ini.

“Maju... maju semua. Biar kubasmi habis kalian sundal-sundal betina!”

Wanita-wanita itu. mengeluh. Mereka terlempar dan berteriak ketika belum apa-apa sudah tersapu angin kibasan sang nyonya. Swat Lian mengeluarkan Soan-hoan-ciangnya dan Kibasan Angin Puyuh ini benar-benar menerbangkan lawan seperti daun-daun kering. Dan ketika yang lain menjadi gentar dan akhirnya memutar tubuh, Swat Lian mendelik kepada pemuda-pemuda yang menggigil telanjang bulat maka nyonya itupun memekik dan menerjang pemuda-pemuda ini, manusia-manusia tak berguna yang sudah rusak moralnya.

“Kalianpun anjing-anjing geladak yang tidak punya harga diri. Sampah masyarakat. Mampuslah!”

Delapan pemuda menjerit. Mereka berteriak dan terlempar dan seketika roboh dengan kepala pecah. Sang nyonya sudah itidak pandang bulu lagi apakah lawan-lawannya bisa silat atau tidak. Pokoknya, pengikut si buntung akan dia sikat, akan dia bunuh. Dan ketika pemuda yang lain berhamburan dan tentu saja berteriak kacau, darah dan mayat menjadi satu maka nyonya itu mengejar namun Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berkelebat dan menyambar lengan isterinya, ketika lima orang pemuda kembali terlanjur roboh mati sia-sia.

“Sudahlah... sudah, niocu. Mereka ini orang-orang lemah yang bukan musuh kita. Mereka pemuda-pemuda sekitar Sam-liong-to!”

“Kau mau membela? Kau mau melindungi pemuda-pemuda bejat seperti ini. Mereka tak berguna bagi siapapun, suamiku. Sampah masyarakat yang tidak bermoral. Sebaiknya mereka kubunuh dan biar kubasmi habis... crat!” lima pemuda itu keluar otaknya, jari-jari sang nyonya telak mengenai ubun-ubun dan tentu saja mereka tewas seketika. Nyonya ini naik darah dan seluruh mukapun merah bagai api. Pemuda-pemuda seperti itu tak berguna bagi masyarakat. Mereka penyembah kecabulan, najis dan kotor! Tapi ketika suaminya membetot dan berseru bahwa biang keributan tak ada di situ, Togur si buntung melarikan diri maka nyonya itu tertegun dan membelalakkan mata, sadar.

“Togur menyelinap di balik panggung yang roboh. Aku tak mau mengejarnya kalau kau di sini. Kau tak boleh membunuh-bunuhi orang seperti ayam!”

“Si buntung itu pergi? Ia melarikan diri?”

“Betul, karena itu mari kita kejar bersama, niocu. Dan jangan hiraukan pemuda-pemuda itu karena mereka hanyalah korban dan alat.”

“Tapi mereka tak tahu malu. Cis, lihat mereka itu bertelanjang bulat!”

“Mereka dipengaruhi Togur, niocu, dipengaruhi arak. Lihat bau arak ada dimana-mana. Dan itu arak perangsang!”

“Bedebah, si buntung itu memang terkutuk. Tapi mana Siang Le yang tak tahu malu itu. Mana bocah yang juga ikut-ikutan seperti orang gila itu. Kubunuh dia!”

“Eh-eh, menantu kita itupun juga dalam keadaan tak sadar, niocu. Ia terbius birahi berat. Kau tak boleh menyalahkannya!”

“Tapi kalau imannya kuat tak mungkin terjadi itu. Siang Le juga manusia terkutuk yang harus dibunuh!”

“Dan berarti puteri kitapun harus kau bunuh. Soat Eng juga mengalami hal yang sama!”

Sang nyonya mendidih. Ia bentrok dan beradu pandang dengan suaminya. Apa yang dilihat dan disaksikan memang benar-benar membuat darah bergolak. Bayangkan, menantunya bergulingan dengan seorang wanita lain dalam keadaan tidak senonoh, tidak berpakaian. Tapi diingatkan akan keadaan puterinya dan wanita itu tersentak, Soat Eng juga melakukan sesuatu yang tak senonoh karena berpakaian begitu minim hingga nyaris telanjang pula maka nyonya ini tertegun dan tiba-tiba ia menjerit.

“Kau menghina diri sendiri!”

“Eitt..!” Pendekar Rambut Emas mengelak, pukulan isterinya menghantam dan meledak di belakang. “Kau salah paham, niocu. Aku tidak menghina siapapun tapi justeru menyadarkanmu agar bersikap adil. Menantu dan anak kita sama-sama dalam keadaan tak senonoh, tapi itu bukan atas kesadaran mereka. Dan kalau kau dapat menerima ini maka menyalahkan Siang Le harus pula berani menyalahkan Soat Eng, atau tidak sama sekali!”

Ketika sang isteri menangis namun mulai dapat dibujuk, Swat Lian membanting kaki dengan kesal maka Pendekar Rambut Emas menyambung, “Sekarang tak usah ribut-ribut sendiri. Togur melarikan diri dan wanita cabul itupun lenyap. Mana Soat Eng yang tadi kau bawa!”

“Ia... ia kutaruh di situ,” sang nyonya terkejut, tak melihat puterinya. “Eh, ke mana dia, suamiku. Bagaimana bisa hilang!”

“Nah, puteri kita malah tak ada. Bagaimana kau tadi melemparnya!”

“Aku tak melempar...”

“Sama saja. Yang jelas ia tak kau bawa lagi, niocu. Ah, di mana puteri kita itu dan jangan-jangan jatuh di tangan Togur lagi!”

“Dan kau, mana Siang Le?”

“Ia kusembunyikan di sudut, kutotok sebentar. Mari kita cari puteri kita dan si buntung itu!”

“Dan juga Siang Le!”

“Ya, tapi jangan marah-marah, niocu. Kau harus tahu bahwa yang dilakukan puteri dan menantu kita adalah di luar kesadaran mereka!”

“Baik, dan akan kucincang si buntung Togur itu. Dia bedebah dan binatang!” dan ketika Pendekar Rambut Emas lega bahwa isterinya sudah tak marah-marah kepada Siang Le, menantu mereka itu di bawah kekuasaan orang lain maka mereka berkelebat dan suami isteri ini sudah mengelilingi Sam-liong-to untuk menemukan si buntung Togur atau Ui Kiok. Tapi seluruh pulau tak ada jejaknya. Yang ada ialah lelaki atau perempuan sisa-sisa dari panggung tadi, pemuda-pemuda yang berhamburan begitu nyonya ini mengamuk. Dan jengkel serta marah melihat pemuda-pemuda itu, yang pakaiannya tak keruan maka nyonya itu mengibas dan mereka terlempar ke laut.

“Jangan!”

Namun lima pemuda sudah kecebur. Mereka itu menjadi pelampiasan nyonya ini, yang tidak menghiraukan dan melepas tamparan jarak jauhnya hingga pemuda-pemuda itu menjerit. Dan ketika mereka gelagapan tapi sang nyonya puas, ditarik dan diajak suaminya ke tempat lain maka Pendekar Rambut Emas geleng-geleng kepala melihat keganasan isterinya ini. Kalau sudah begini maka jiwa atau watak mendiang Hu Beng Kui benar-benar menurun. Keras dan ganas!

“Kita agaknya harus ke Istana Hantu. Pemuda itu pasti bersembunyi di sana.”

“Benar, kita ke sana, suamiku. Dan akan kuhancurkan kepalanya!”

“Kau jangan terlalu bernafsu, sebaiknya dekat-dekat denganku dan ingat kelicikan Togur. Ia bukan pemuda yang dulu dapat kau kalahkan dengan mudah!”

“Aku tahu, tapi aku tak takut, suamiku. Ia boleh menjadi murid seratus Poan-jin-poan-kwi dan aku akan mengadu jiwa dengannya!”

Pendekar Rambut Emas menghela napas. Kalau sudah begini sebaiknya ia diam, tak usah banyak bicara. Isterinya sedang gusar dan iapun lalu kembali ke tengah. Pintu gerbang istana yang mencuat kokoh didekatinya karena ia yakin bahwa lawan bersembunyi di situ. Togur memang licik dan cerdik. Tapi karena ia akan menangkap pemuda itu dan kalau perlu memberinya hukuman berat, seperti See-ong misalnya maka ia menggeram gemas, dan Istana Hantupun sudah di depan mereka.

“Kita masuk, namun awas senjata gelap!”

“Aku tak takut!” sang isteri sudah membentak dan mendorong pintu gerbang. Pintu itu berat dan tebal tapi dengan mudah nyonya ini berhasil menyingkirkannya. Sang suami berjaga-jaga di samping dan siap mengibas kalau ada senjata gelap. Tapi ketika tak ada apa-apa dan merekapun masuk, suasana gelap segera menyambut mereka maka Pendekar Rambut Emas mendahului dan berseru mengerahkan tenaga agar si buntung keluar.

“Togur, kau menyerahlah. Kali ini tak mungkin kau lolos!”

“Ha-ha!” suara si buntung tiba-tiba terdengar, benar saja di dalam. “Kau masuklah ke mari, Pendekar Rambut Emas, Dan cari aku lalu kita bicara baik-baik!”

“Keparat!” sang nyonya melengking, berkelebat dan menyambar ke kiri. “Kau keluar, binatang, Dan tak perlu bicara baik-baik karena kau bukan manusia... dess!” hantaman si nyonya menghantam pilar baja, bergetar tapi Togur tak ada di situ. Tawanya menggelegar dan tawa ini melingkar-lingkar, Swat Lian tertipu. Dan ketika ia melompat ke kanan namun pukulannya kembali mengenai tempat kosong, nyonya ini memekik maka Pendekar Rambut Emas bergerak dan tiba-tiba mencelat ke atas.

“Togur, turunlah!”

Terdengar teriakan kaget. Si buntung, yang bersembunyi dan kiranya mengintai di sebuah belandar tiba-tiba berteriak karena Pendekar Rambut Emas tahu tempat persembunyiannya. Sebenarnya tempat itu gelap namun karena telinga Pendekar Rambut Emas memang tajam maka dengan telinganya inilah pendekar itu tahu persembunyian lawan.

Si buntung terkesiap namun iapun mengelak sambil menggerakkan tongkatnya. Dan ketika tongkat terpental namun si buntung sudah melesat ke tempat lain, Istana Hantu mempunyai banyak belandar yang dapat dipakai bersembunyi maka si buntung itupun melarikan diri dan Pendekar Rambut Emas tiba-tiba menepuk tangannya pada sebuah pilar baja, memuncratkan bunga api dan seketika bayangan pemuda itu tampak.

“Itu dia!”

Si buntung terkejut. Kesaktian Pendekar Rambut Emas memang sudah dikenal. Pek-lui-ciang atau tepukan Petir yang tadi dilakukan pendekar itu memang memungkinkan pendekar ini membuat lelatu api. Istana yang gelap tiba-tiba terang sejenak. Dan karena pemuda itu tak dapat bersembunyi dan kebetulan ia lari ke dekat Swat Lian maka nyonya inilah yang membentak dan menghajarnya.

“Kau binatang busuk!”

Namun pemuda ini tertawa mengejek. Terhadap Kim-hujin ia tak takut, karena sudah berulang-ulang ia membuktikan bahwa nyonya ini tak lagi mampu mengalahkannya, setelah ia hampir menyerap semua ilmu Poan-jin-poan-kwi. Maka begitu ia menangkis dan tongkat mengibas dari bawah ke atas maka nyonya itulah yang terpental dan ia meneruskan larinya menerobos sebuah pintu kecil.

“Ha-ha, kau tak segalak dulu lagi, bibi Swat Lian. Kau tak dapat mengalahkan aku kalau tak dibantu suamimu.... plak!” Swat Lian menjerit, terpental tapi berjungkir balik mengejar lagi namun lawan keburu lenyap di pintu kecil itu. Nyonya ini memekik dan menerobos dengan cepat. Namun ketika lawan benar-benar menghilang dan sang nyonya minta agar suaminya menepuk pilar-pilar di situ, api memercik dan menerangi tempat-tempat gelap maka si buntung Togur diburu dan dicari-cari.

“Dia turun ke bawah. Ke patung-patung batu!”

Pendekar Rambut Emas mengangguk. Akhirnya ia melihat bahwa lawannya itu memang turun ke bawah. Istana Hantu adalah istana yang luas dengan beberapa tingkatan lantai. Semakin ke bawah semakin menurun dan tentu saja juga semakin gelap. Juga, hawanya semakin dingin karena mendekati laut. Bagian bawah akan berhubungan dengan terowongan laut dan di situlah seorang penyelam dapat keluar, kalau tak mau lewat atas. Dan ketika pendekar ini khawatir jangan-jangan si buntung akan ke tempat itu, membawanya untuk menyelam dan bertemu hiu-hiu ganas tiba-tiba saja sang isteri menuding dan berseru,

“Hei, itu dia. Namun bersama seorang lain!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia sedang mencari-cari lawannya dengan pandangan tajam karena mereka sekarang sudah tiba di daerah taman. Daerah ini adalah daerah bawah tanah dan penuh patung-patung batu. Dulu pertama kali di sinilah Thai Liong dan Soat Eng menemukan Istana Hantu, tempat yang penuh dengan patung-patung indah berupa laki-laki dan perempuan. Tapi karena semua patung-patung di situ rata-rata patung-patung “panas”, patung lelaki dan perempuan yang telanjang bulat maka pendekar itu agak merah mukanya melihat Togur nongkrong di atas kepala patung wanita sambil kencing.

“Ha-ha, maaf, Kim-mou-eng. Rasa tegangku membuat ingin kencing. Boleh lihat kalau mau tapi palingkan kepala kalau malu!”

Swat Lian menjerit. Tentu saja sebagai seorang wanita ia malu dan jengah melihat perbuatan si buntung itu. Dengan enak saja ia kencing dari atas kepala patung, terbahak dan gembira tapi suaminya justeru terkejut melihat orang lain di samping si buntung itu, seorang pemuda bermuka kehijauan yang terkekeh dan tertawa-tawa melihat perbuatan si buntung ini. Dan ketika Pendekar Rambut Emas berkelebat dan sudah di depan dua orang itu maka pendekar ini tertegun karena apa yang disangka ternyata benar.

“San Tek!”

“Ha-ha!” pemuda itu, si muka kehijauan mengangguk, bangkit berdiri. “Kau Pendekar Rambut Emas. Aku San Tek. Ada apa kau menggangguku dan benarkah kata Togur bahwa kau mencari-cari aku!”

Pendekar Rambut Emas berubah. Ia tak menyangka bahwa si gila yang amat luar biasa ini ternyata ada di sini. Togur kiranya berlindung di balik sahabatnya itu dan tentu saja pendekar ini terkesiap. Si gila ini memiliki Im-kan-thai-lek-kang yang hebat. Ia mengerikan! Namun membentak dan marah kepada Togur pendekar itu berseru, “Kau mengadu orang secara licik, Togur. Aku tak pernah mencari San Tek melainkan dirimu. Hayo, turun dan pertanggungjawabkan perbuatanmu di luar!”

Togur, yang tertawa dan mengelak serangan ini tiba-tiba berkelebat ke patung yang lain. Ia berseru kepada temannya bahwa Pendekar Rambut Emas ketakutan melihat temannya itu, terbukti ialah yang diserang dan bukan San Tek. Dan ketika Pendekar Rambut Emas mengejar namun si buntung bergerak menyembunyikan diri di punggung temannya, pendekar itu berhadapan dengan San Tek maka si gila berseru,

“Pendekar Rambut Emas, tak perlu mengejar-ngejar. Nih, aku di depanmu dan sambut pukulanku!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bentrok dengan si gila ini. Pertama, San Tek bukan musuhnya. Kedua, pemuda itu amatlah hebat hingga bermusuhan dengannya bukanlah hal ringan. Lagi pula, malu rasanya bermusuhan dengan orang gila. Salah-salah diri sendiri akan ikut-ikutan gila! Maka begitu San Tek bergerak dan ia mengelak, berkelebat dan mengejar lagi si buntung tiba-tiba si buntung itu terbahak dan menyambar isterinya, melepaskan diri.

“San Tek, Kim-mou-eng ketakutan melihat dirimu. Lihat ia selalu mengejar-ngejar aku!”

“Ha-ha,” San Tek gembira, bangga. “Ia akan kukejar pula, Togur. Lakukan tugasmu dan serang isterinya!”

“Aku memang akan menyerangnya. Awas, jaga dia baik-baik dan jangan sampai mendekati aku... dess!”

Dan pukulan Pendekar Rambut Emas yang bertemu dan disambut si gila tiba-tiba membuat pendekar itu terkejut dan membentak marah, apa boleh buat menghadapi si gila ini karena San Tek tiba-tiba mengeluarkan pukulannya yang dahsyat, Im-kan-thai-lek-kang. Dan ketika ia mengelak dan berkelebatan ke sana ke mari, lawan ganti memburunya dan tak membiarkan menyerang si buntung maka apa boleh buat pendekar ini menghadapi San Tek dan pukulannyapun membalas pukulan si gila itu.

“Des-dess!”

Togur tertawa terbahak-bahak. Pendekar Rambut Emas terhuyung dan selanjutnya San Tek sudah melepas pukulan ditangkis dan mengejar lagi dan dua orang itupun akhirnya serang-menyerang dengan hebat. Dan ketika ia benar-benar bebas dan Kim-hujin atau nyonya Kim ini menjadi bagiannya maka Swat Lian melengking-lengking dan nyonya itupun marah menyambut.

“Ha-ha, sekarang kita berhadapan satu lawan satu. Bagus, aku akan membalas sakit hatiku dan lihat aku akan merobohkanmu!”

Swat Lian beringas. Ia marah dan benci sekali kepada si buntung ini namun lawan enak saja berkelebatan menyambar-nyambar. Togur gembira karena Pendeka Rambut Emas sudah dihadapi temannya San Tek bukanlah main-main dan pukulan-pukulannya menggelegar di Istana Hantu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas megeluarkan Khi-bal-sin-kangnya dan Im-kan-thai-lek-kang bertemu dengan pukulan pendekar itu, terpental tapi maju lagi maka Kim-hujin juga sibuk menghadapi lawannya karena Togur mempergunakan kesaktiannya untuk merobohkan lawannya ini. Lawan yang membuat ia buntung kakinya!

“Awas, aku memiliki Hek-kwi-sut, hujin. Aku akan mengeluarkannya dan hati-hatilah menjaga diri!”

Slap! Swat Lian terkejut. Lawan tiba-tiba lenyap dan sebagai gantinya muncullah asap hitam yang meledak di udara. Si buntung menghilang dan tahu-tahu kesiur angin dingin menyambar belakang kepalanya. Dan ketika ia membalik dan menangkis dengan gusar, lawan sudah mulai dengan ilmu hitamnya maka Hek-kwi-sut terpental tapi dari kiri dan kanan menyambar lagi kesiur-kesiur angin dingin itu.

“Plak-plak!”

Si buntung terbahak-bahak. Kim-hujin, yang bingung dan gugup menghadapi ilmu hitamnya segera memekik-mekik karena tak mampu melihat dirinya. Ia menghilang di balik ilmunya dan tentu saja lawan membentak-bentak. Lawan tak mampu membalas serangannya dan ialah yang justeru melancarkan serangan, kiri kanan dan muka belakarg hingga lawan mencak-mencak menangkis sana-sini. Tapi karena ia bergerak lebih cepat dan Kim-hujin tak mampu mengikutinya, nyonya itu melengking dan mengeluarkan Cui-sian Gin-kangnya untuk berkelebatan menghindar.

Maka si buntung menyambar ke sana ke mari untuk mengikuti, menampar atau mencolek dan lawan merah padam. Secara kurang ajar si buntung itu menyentuh pula bagian-bagian paling pribadi yang dimiliki nyonya ini. Swat Lian gusar! Dan ketika ia terdesak karena tak mampu melihat lawan, Pendekar Rambut Emas terbelalak dan merah mukanya maka pendekar itu tiba-tiba mengebutkan lengan bajunya dan berseru dari jauh,

“Niocu, terimtlah Pek-sian-sutku. Lihat kau mampu mengetahui lawanmu!”

Benar saja, seberkas cahaya terang tiba-tiba meledak di muka nyonya ini. Kim-hujin yang semula tak mampu melihat lawan tiba-tiba dapat melihat kembali si buntung itu, yang tepat berada di belakangnya. Dan ketika ia membalik dan tentu saja berteriak marah, menghantam mendahului maka Togur terpental dan si buntung itu terpekik.

“Augh!”

Sang nyonya sudah menerjang. Sekarang Swat Lian mengejar dan benar saja Hek-kwi-sut sudah tak perlu ditakuti. Lawan boleh menghilang namun Pek-sian-sut mengikuti. Sihir yang dimiliki Pendekar Rambut Emas itu memang penangkal atau pelumpuh Hek-kwi-sut, mendiang See-ong sendiri sampai roboh dan akhirnya dikalahkan pendekar ini. Dan ketika Togur terbelalak karena Kim-hujin dapat nemelihatnya lagi, kebutan Pendekar Rambut Emas tadi membuyarkan Hek-kwi-sut maka si buntung itu mengutuk dan berkelebatan ke sana-sini, menghindar.

“Kau boleh berbuat curang lagi kalau bisa. Hayo, keluarkan semua kesaktianmu!"

Si buntung mengumpat. Apa boleh buat ia bertanding lagi dengan cara wajar. Pukulan-pukulan si nyonya dielak dan kalau berbahaya barulah ditangkis. Dan ketika mereka sama-sama terpental tapi si buntung lalu menggerakkan tongkat, mengisinya dengan kemak-kemik semacam mantra maka tongkat bergetar dan tiba-tiba si buntung itu berseru,

“Kim-hujin, aku akan mengeluarkan naga. Awas!”

Sang nyonya terkejut. Dari ujung tongkat tiba-tiba menyambar seekor naga yang berkoak menggetarkan dinding. Naga itu muncul begitu saja dan lidahnya yang berapi menjilat mukanya, tentu saja nyonya ini terpekik. Dan ketika ia melempar tubuh secara otomatis dan naga itu hilang, berubah kembali sebagai tongkat maka senjata itu mengejar dan menggebuk pantatnya.

“Dess!” Si buntung terbahak-bahak. Lawan berhasil dikelabuhi dan tentu saja nyonya itu merah padam. Dalam soal sihir-menyihir memang ia bukan orangnya. Si buntung itu licik! Tapi ketika suaminya kembali berseru dan melepas kebutan perlahan, Pendekar Rambut Emas membantu isterinya maka tongkat terlihat sebagai tongkat, bukan seekor naga lagi, meskipun digetarkan dan diiringi kemak-kemik.

“Keparat!” nyonya itu murka. “Kau licik dan curang, Togur, Persis bapakmu yang culas dan rendah itu!”

“Jangan mengungkit-ungkit nama orang mati!” si buntung membentak, rupanya terbakar. “Ayahku tak ada hubungannya dengan ini, Kim-hujin. Suamimu itulah yang justeru tak tahu malu merebut kekasih ayahku. Dan kaupun tak tahu malu merebut suami orang!”

“Jahanam, mulut busuk. Aku tak pernah merebut suami orang dan itu adalah suamiku sendiri.... plak-plak!” dan Kim-hujin yang menerjang dan memaki lawan, marah sekali, akhirnya sama-sama marah karena lawanpun juga marah karena bapaknya diungkit-ungkit!

Togur naik pitam karena mendiang ayahnya sebenarnya adalah suheng dari Pendekar Rambut Emas itu. Iapun sudah mendengar kisah ayahnya dan tentu saja ia tak senang dengan semuanya itu. Dan ketika ia membalas dan menangkis serangan-serangan lawan, Pendekar Rambut Emas berkali-kali harus menolong isterinya kalau si buntung mempergunakan ilmu hitam maka Togur tiba-tiba mengeluarkan ilmunya yang mengerikan, Bu-siang-sin-kang (Ilmu Sakti Tak Berwujud).

“Kim-hujin, sekarang kau roboh!” Swat Lian tersentak. Lawan yang mula-mula berkelebatan dan menangkis atau membalas serangannya tiba-tiba menepukkan tangan. Bau anyir menyambar dan terkejutlah nyonya ini karena ia mau muntah, pukulannya meledak dan menghantam belakang kepala pemuda itu. Dan ketika si buntung tertawa mengejek dan menggoyang pinggang, mendadak, cepat sekali tahu-tahu si buntung itu melayang dan menyambar mukanya, seperti roh.

“Aiihhhh...!” Nyonya ini menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Seketika ia terkesiap karena lawan berobah ujudnya, tidak lagi kasar melainkan halus. Dan ketika ia mengelak dan menghantam dari samping, tangannya menembus dan masuk ke dada si buntung itu, mengerikan, maka tangannya terus lolos dan tembus mencoblos daging lunak yang seakan tidak bertulang, lumer menjijikkan!

“Ha-ha!” si buntung tertawa bergelak. “Tahu rasa kau sekarang, wanita sombong. Hayo pukul dan hantam aku lagi. Ayo!” Swat Lian ngeri. Inilah yang paling ditakuti dan amat menyeramkan. Bu-siang-sin-kang, ilmu iblis itu, ternyata sekarang dikeluarkan lawannya. Ia meloncat bangun dan lawan mengejar lagi, melayang bagai roh. Dan ketika ia menghantam namun tembus memasuki tubuh pemuda itu, bau amis memuncrat ke segenap ruangan maka nyonya itu muntah-muntah dan akhirnya benar-benar tak tahan.

“Aduh, jahanam keparat. Iblis!”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Ia tentu saja mengamati segala kejadian di sekitarnya, mengelak dan membalas sekedarnya kalau San Tek memburunya. Maklumlah, ia setengah hati melawan si gila itu karena San Tek hanya diperalat Togur. Ia sering membujuk agar San Tek mundur namun si gila justeru terkekeh memperhebat serangannya. Berkali-kali ia harus menangkis dan akibatnya ia tak dapat mendekati isterinya itu. Dan ketika isterinya bertanding dan apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi, Togur mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya yang mengerikan itu maka isterinya jatuh bangun dan setiap kali menjerit ngeri kalau pukulan atau tamparannya menembus pemuda itu.

Tembus begitu saja karena tubuh si buntung ini memang sudah tidak berwujud, artinya, berbadan kasar lagi namun roh atau sukmanya membentuk bayang-bayang seperti badan aslinya, tentu saja tak dapat dipukul! Dan ketika si buntung itu membalas dan tertawa-tawa, tangan atau kakinya mendarat di tubuh lawannya maka ngeri dan rasa jijik benar-benar membuat Kim-hujin itu jatuh bangun!

“Binatang, jahanam bedebah. Kau sungguh bukan manusia!”

“Ha-ha, aku memang iblis. Lihat, daging busukku akan muncrat ke mana-mana, Kim-hujin. Dan silakan muntah-muntah sampai isi perutmu habis!”

Sang nyonya benar-benar mengeluh. Terhadap Bu-siang-sin-kang memang ia paling ngeri. Rasa jijik membuatnya muntah-muntah karena ilmu itu mengeluarkan bau anyir yang menusuk hidung. Ilmu ini benar-benar ilmu iblis karena pemiliknya tembus dipukul. Dan karena pukulan keras bakal membuat daging lunak itu muncrat-muncrat, tidak ada ujudnya namun mampu membuat seolah benar-benar berwujud maka ilmu aneh yang luar biasa ini memang amat menjijikkan.

“Mundur!” Pendekar Rambut Emas akhirnya menangkis pukulan lawan.. San Tek yang tertawa-tawa dan tak mau dibujuk akhirnya dihantam dengan pukulan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat. Si gila terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan pendekar ini untuk berkelebat ke arah isterinya. Dan ketika saat itu isterinya jatuh terduduk dan tak kuat menahan ngeri, mual di perut benar-benar mengaduk maka pendekar ini bergerak dan meledakkan tangannya melepas sinar berkilauan.

“Des-dess!”

Bu-siang-sin-kang kena gempur. Pendekar Rambut Emas yang mengerahkan tenaga batinnya untuk menghantam ilmu itu berhasil membuat Togur berteriak. Si buntung itu berseru tertahan dan terhuyung. Dan begitu lawan terhuyung dan Pendekar Rambut Emas menyambar isterinya maka pendekar ini tak mau membuang waktu dan iapun mengeluarkan Pek-sian-sutnya untuk menghilang.

“Sekarang kau benar-benar berhadapan dengan aku!”

Seruan atau bentakan ini disusul oleh lenyapnya tubuh pendekar itu. Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas terpaksa mengeluarkan ilmunya yang luar biasa itu, mengimbangi Bu-siang-sin-kang dengan badan halusnya pula. Dan ketika ilmu gaib bertemu dengan ilmu gaib dan San Tek berteriak bengong maka Pendekar Rambut Emas menyerang lawannya itu di balik Pek-sian-sutnya, tentu saja berhasil. Dan begitu si buntung terlempar dan berteriak kaget, lawan berobah ujud dan sama-sama di alam halus maka si buntung itu kewalahan dan jatuh bangun. San Tek ditinggal di alam kasar dan si gila itu terbengong-bengong melihat bayangan-bayangan putih dan hitam bergerak-gerak.

Kim-hujin sudah diambil dan dibungkus pula dalam Pek-sian-sut itu, lenyap dan berada di alam halus hingga dapat pula menghajar lawannya. Sekarang Bu-siang-sin-kang mati kutu. Ilmu itu tak dapat dipakai kalau lawan dapat pula lenyap di alam halus! Dan ketika si buntung berteriak-teriak karena lawan menghajarnya jatuh bangun, suami isteri itu marah sekali memukulnya dengan pukulan-pukulan berat maka Togur tiba-tiba membuang Bu-siang-sin-kangnya lagi untuk kembali ke alam kasar.

“Kau ikut aku, jangan bengong saja!”

San Tek, si gila, tiba-tiba disambar dan ditepuk kepalanya dari belakang. Si gila ini sedang bengong dan terheran-heran oleh ulah tiga orang ini. Meskipun lhai namun ia tak memiliki Bu-siang-sin-kang itu, paling-paling Hek-kwi-sut namun itu masih di bawah Bu-siang-sin-kang. Maka begitu ditepuk dan ia sadar, Togur mencari bantuan maka Pendekar Rambut Emas muncul kembali di dunia kasar, bersama isterinya, mengejar.

“Togur, kau tak dapat lari!”

Si buntung pucat. Hebat dan lihainya Pendekar Rambut Emas sudah diketahui, Pendekar itu menjadi lebih hebat lagi setelah memiliki Pek-sian-sut, ilmu yang dapat membuatnya meninggalkan badan wadag untuk ke badan halus. Dan ketika ia dikejar namun menepuk temannya, diam-diam si buntung ini menyalurkan kekuatan hitam maka ia lenyap lagi di balik Bu-siang-sin-kang dan... San Tek terkekeh-kekeh karena iapun tiba-tiba tanpa bobot alias hilang di alam halus. Lenyap bersama si buntung!

“Heh, kau bawa ke mana aku ini, Togur? Ha-ha, kenapa tubuhku demikian ringan? Aih, aku dapat melayang-layang. Aku tak menginjak bumi!”

Pendekar Rambu Emas terkejut. Secara licik dan cerdik ternyata lawannya itu mengajak San Tek menyatu dalam Bu-siang-sin-kang, seperti ia sendiri yang membawa isterinya ke dalam ilmu Pek-sian-sut. Dan ketika San Tek berjingkrak karena hidup tanpa bobot, melayang dan meluncur ke sana ke mari maka apa boleh buat Pendekar Rambut Emaspun meledakkan tangannya dan masuk lagi ke alam halus, mengejar lawannya itu.

“Togur, kau licik, curang!”

“Ha-ha!” si buntung tertawa bergelak, menyelinap atau berlindung di balik temannya. “Kau boleh kejar aku kalau bisa, Pendekar Rambut Emas. Tapi hadapilah dulu temanku kalau kau berani!”

San Tek tentu saja berseru keras. Ia langsung menyambar dan menghantam Pendekar Rambut Emas dengan Im-kan-thai-lek-kangnya, dikelit dan segera mengejar pendekar itu ketika lawan memburu Togur. Dan ketika Togur meloncat dan mengejar Kim-hujin, melepas serangan dan membuat Kim-hujin melengking maka dua orang itu kembali bertanding namun Kim-hujin terpental.

“Dess!” Kim-mou-eng gelisah. Sekarang San Tek sama-sama diajak berkeliaran di alam halus dan Bu-siang-sin-kang si buntung itu menggemaskan sekali. Isterinya sudah bertanding dan iapun menghadapi San Tek, yang terbahak-bahak dan malah kelihatannya lebih hebat lagi berada di alam tanpa bobot, karena masing-masing sudah tidak berada di dunia lagi melainkan di alam roh.

Namun karena ia bertempur setengah hati dan berkali-kali melirik ke isterinya yang penasaran, bau anyir tidak tercium lagi namun sinkang atau tenaga sakti si buntung itu masih hebat luar biasa, Poan-jin-poan-kwi benar-benar menurunkan ilmunya yang luar biasa kepada pemuda itu maka isterinya tampak kewalahan dan sering terpental kalau beradu tenaga. Dan Togur mengejek gembira.

“Lihat, suamimu tak dapat menolongmu lagi, hujin. Sebentar lagi kau roboh dan kubuat patung hidup!”

“Keparat, kau boleh bunuh aku kalau bisa, Togur. Tapi aku akan mengadu jiwa denganmu sebelum mampus!”

“Ha-ha, sinkangmu masih kalah kuat. Lihat, terima pukulanku!” dan si nyonya yang menangkis dan terpental ke belakang tiba-tiba mengeluh dan bergulingan karena memang sinkangnya kalah kuat, meskipun seusap. Togur atau si buntung ini memang luar biasa karena gurunya demikian banyak. Mulai dari mendiang Enam Iblis Dunia sampai kepada See-ong dan Poan-jin-poan-kwi. Dua kakek iblis yang amat mengerikan itu telah menjadi guru terakhir bagi pemuda ini. Ilmu menjijikkan Bu-siang-sin-kang sampai diwarisi.

Dan ketika ia meloncat bangun namun lawan mengejar dan menampar pundaknya, Togur mempergunakan Khi-bal-sin-kang maka Swat Lian menjerit karena iapun terpelanting lagi. Tujuh kali nyonya itu mengaduh dan tujuh kali pula si buntung tertawa bergelak. Sorot matanya yang ganas penuh benci siap melakukan sesuatu yang mengerikan bagi nyonya ini. Inilah wanita yang membuat ia buntung kakinya, tercebur dan masuk ke laut selatan untuk akhirnya dimakan hiu. Dan ketika Kim-hujin pucat dan mengeluh menangkis sebuah tamparan lagi, mencelat dan bergulingan menjauh maka tujuh sinar hitam tiba-tiba menyambarnya.

“Awas!”

Terlambat. Seruan atau bentakan nyaring dari Pendekar Rambut Emas itu tak sempat diperhatikan nyonya ini. Swat Lian yang sedang bergulingan dan merintih menangkis pukulan lawan tak melihat sinar-sinar hitam itu. Togur melepas jarumnya. Dan ketika nyonya itu menjerit karena tujuh jarum menancap di tubuhnya, menggeliat dan kejang maka Swat Lian mendelik dan tiba-tiba roboh, pingsan.

“Terkutuk!” Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan marahnya lagi. Ia tadi telah mengibas pukulan ke arah jarum-jarum itu namun San Tek menangkisnya. Si gila itu tertawa-tawa dan benar-benar tak memperbolehkan is membantu isterinya. Maka begitu isterinya roboh dan pendekar ini membentak, kemarahan dan gusarnya benar-benar meledak sampai kepala maka pukulan merah bercuit menyambar San Tek.

“Blarr!” Si gila terlempar dan menjerit. Ia kena pukulan dahsyat dan bergulingan memaki-maki. Lui-ciang-hoat, yang baru diterimanya seolah sengatan listrik tegangan tinggi. Pemuda itu berjengit! Namun karena ia memiliki Im-kan-thai-lek-kang dan ilmunya itu melindungi, si gila meloncat bangun tapi Pendekar Rambut Emas melejit dan menyambar Togur maka tangan kiri bergerak dan si buntung itupun mendapat bagiannya.

“Dess!” Togur mengelak tapi kalah cepat. Dua kali pukulan cepat yang dilepaskan pendekar ini mengenai sasarannya. Dan karena si buntung tak memiliki Im-kan-thai-lek-kang seperti San Tek, yang meringis dan hanya kesakitan sebentar maka si buntung itu mencelat dan pundak kirinya hangus terbakar.

“Ufg!” Togur terkejut dan melempar diri bergulingan pula. Kalau Pendekar Rambut Emas sudah mengamuk dan marah seperti itu maka keadaan dalam bahaya. Ia seorang diri tentu tak sanggup dan karena itu ia melempar tubuh bergulingan ke dekat temannya. Dan ketika hampir bersamaan mereka meloncat bangun, San Tek tertawa-tawa sementara si buntung pucat dan gentar, mata mencorong dari Pendekar Rambut Emas itu serasa membakar apa saja maka Togur berseru agar cepat-cepat membunuh lawannya itu.

“Hati-hati, ia akan mengamuk. Isterinya telah kulukai dengan Hek-tok-ciam. Limabelas menit lagi tentu mampus!”

Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan marah. Ia menyambar dan memanggul isterinya itu dan benar saja seluruh tubuh isterinya telah berobah kehitaman. Kulitnya panas terbakar. Dan maklum bahwa racun berbahaya memasuki tubuh isterinya, ia tak dapat menolong karena San Tek dan si buntung sudah menerjangnya gemas maka si gila itu juga melepas Im-kan-thai-lek-kangnya hingga udara terbakar.

“Keparat, kau coba-coba memperlihatkan tenaga petirmu. Bagus, aku juga dapat mengerahkan tenaga Inti Nerakaku Pendekar Rambut Emas. Dan mari kita lihat siapa yang lebih panas.... blarr!” api menjilat besar menyambar pendekar itu merah berkobar-kobar dan si buntung Togur juga mempergunakan kesempatan untuk melepas pukulannya. Dari kiri dan kanan tiba-tiba ia digencet! Dan ketika Pendekar Rambut Emas berseru keras dan menggerakkan tangan ke kiri kanan, isteri diletakkan di atas bahu maka dentuman bagai gunung meletus terdengar di situ.

“Dess!” Swat Lian terlempar. Pendekar Rambut Emas tak dapat menahan dua gempuran itu sekaligus dan ia terpental, tentu saja terkejut tapi cepat ia berjungkir balik dan menyambar isterinya itu lagi. Namun ketika lawan mengejar dan San Tek melepas Im-kan-thai-lek-kangnya lagi, Togur terbahak melepas Khi-bal-sin-kang maka untuk kedua kalinya pendekar ini herpental dan pucat. Selanjutnya, dua orang itu ganti-berganti menyerangnya.

Im-kan-thai-lek-kang semakin dahsyat sementara Togurpun memuncak nafsu membunuhnya. Pemuda itu tak akan melepaskan pendekar ini kalau belum roboh binasa. Dan bingung memikirkan isterinya yang terkena racun berbahaya, si buntung benar-benar licik dan si gila itu tak dapat dibujuk maka apa boleh buat Pendekar Rambut Emas tiba-tiba mengerahkan Tee-jong-gannya dan dengan suara penuh tenaga sakti ia memanggil puteranya, dahsyat membuat Sam-liong-to bergetar.

“Rajawali Merah, datanglah. Bantu dan tolong ayah ibumu yang dalam bahaya....!"