Social Items

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

SI BUNTUNG tersenyum. Thai Liong mengguguk dan menerkamnya akan tetapi pemuda ini tenang-tenang saja. la menyeringai menahan sakit, darah masih mengucur dari lukanya. Akan tetapi ketika dia mendorong dan melepaskan diri maka pemuda ini berkata agar Thai Liong tak menangis tiada guna.

"Semua sudah terjadi, tak mungkin dipasang lagi. Kau berikanlah ibu jari itu dan katakan bahwa Puteri Es harus menepati janji. Suruh ia mencari Beng An pula, atau aku mendampratnya dan datang ke sana."

"Kau... kau gila," Thai Liong masih terguncang dan mencengkeram pundak si buntung ini. "Lagi-lagi kau mendahului aku, Siang Le. Kau tak pernah memberi kesempatan. Aku berhutang kepadamu!"

"Tak ada hutang, ini Semua untuk adik kita Beng An. Aku yang cacad diambil sedikit tak mengurangi cacadku, Thai Liong, lain dengan kau yang masih utuh. Kau tak boleh mengorbankan jarimu, cukup aku. Sekarang berikan itu dan kita sama-sama melaksanakan tugas!"

"Siang Le...!"

Si buntung memutar tubuh. Ia telah berkelebat meninggalkan Thai Liong dan pemuda itu melambaikan tangannya. Thai Liong tertegun dan pucat merah berganti-ganti akan tetapi si buntung itu telah pergi. Di tangannya terdapat ibu jari yang masih segar itu, Thai Liong tak kuat lagi dan menciumi ibu jari ini, mengguguk. Akan tetapi ketika ia sadar dan menghentikan keluh-kesahnya, betapapun hanya sebentar saja ia terguncang oleh peristiwa ini maka Rajawali Merah ini memandang kepergian si buntung dan menarik napas dalam-dalam penuh kagum, juga haru.

Tak disangkanya itulah yang hendak diberikan si buntung kepadanya. Teringatlah Thai Liong percakapan mereka di saat bulan purnama, bahwa Siang Le hendak memberikan sesuatu setelah nanti ayahnya datang. Dan ketika sesuatu itu di berikan dan ia terlambat, diam-diam ia sesungguhnya hendak melakukan hal serupa maka Thai Liong benar-benar terharu dan terpukul oleh kebaikan iparnya ini. Siang Le benar-benar pemuda istimewa, kemuliaan hatinya tak perlu diragukan lagi. Dan ketika sekali lagi ia mendekap dan mencium ibu jari itu akhirnya pemuda ini bergerak dan menuju Lembah Es.

* * * * * * * *

Tak sukar bagi pemuda seperti Rajawali Merah ini menemukan Puteri Es. Karena sudah hapal dan beberapa kali kesitu akhirnya Thai Liong menemukan yang dicari. Gadis itu duduk termenung di puncak gunung, matanya kosong memandang kejauhan. Sementara Lembah Es sunyi tak bergairah. Para murid yang tampak hanya mondar-mandir lesu, wajah mereka tak membayangkan kegembiraan, sementara Puteri Es sendiri tampak kurus dan pucat.

Wajahnya yang sembab jelas menunjukkan tangis yang tiada berkesudahan, apalagi karena bekas-bekas air mata masih tampak di pipi yang halus itu. Maka ketika Thai Liong tiba-tiba muncul dan berkelebat di depannya, tanpa suara maka gadis ini tersentak dan tiba-tiba meloncat bangun. Wajah yang sembab dan pucat itu mendadak menjadi beringas dan merah.

"Puteri...!"

Wei Ling memandang pemuda ini dengan mata berapi-api. Mata yang semula kosong dan tampak sendu itu tiba-tiba saja berkilat dan mengeluarkan hawa amarah. Mata itu seakan membakar hangus. Tapi ketika Thai Liong menyerahkan potongan ibu jari dan tercekik tak dapat meneruskan, menggigil membuka telapak tangannya maka gadis ini tertegun dan tiba-tiba berseru tertahan.

"Iihhhh...!"

Untuk sejenak keduanya dicekam perasaan masing-masing. Puteri Es membelalakkan mata dan akhirnya menutup mulut sementara Thai Liong gemetar dan memejamkan mata. Menyerahkan ibu jari itu mengingatkannya akan pengorbanan Siang Le yang besar, hal ini mencekik suara Thai Liong yang tak dapat melanjutkan. Akan tetapi ketika jerit kecil itu lenyap terganti sedu-sedan, Puteri Es mengguguk dan menutupi muka maka Thai Liong mémbuka matanya lagi dan dapat bicara, gemetar.

"Ini emas kawin yang kau minta. Kami kakak-kakak Beng An yang tak dapat membiarkan kehancurannya mempersembahkannya kepadamu, Puteri, terimalah dan tepati janjimu untuk menyambung kembali ikatan cinta yang putus itu. Beng An menunggumu. la... Ia meninggalkan rumah dan tolong kau cari pula...!"

Puteri Es terhuyung membuka mukanya. Air mata membanjir di kedua pipi halus yang tampak pucat itu, terbelalak ketika Thai Liong menyerahkan ibu jari itu. Tapi ketika ia tertegun melihat ibu jari yang masih utuh, di kedua tangan Thai Liong mendadak gadis ini berubah dan menjadi marah. "Thai Liong, ibu jari siapa yang kau bawa itu. Berani kau mempermainkan aku!"

"Maaf...!" Thai Liong mengangguk. "Bukan milikku, Puteri, tapi sama saja, milik kami keluarga Kim-mou-eng. Ini adalah ibu jari Siang Le yang mendahului aku memotong tangannya. la minta untuk menyerahkannya kepadamu dan menyambung kembali cinta yang terputus itu. Kami sudah memenuhi janji."

Gadis ini membelalakkan mata. "Siang Le?"

"Ya, iparku itu. Sekarang kami sudah memenuhi permintaanmu dan carilah Beng An karena ia terpukul dan terguncang jiwanya. Beng An.... Beng An sudah memutih rambutnya."

Gadis ini tersedu. Tiba-tiba ia menutupi mukanya lagi dan mengeluh. Kata demi kata yang keluar dari mulut Thai Liong seakan palu godam bertubi-tubi, meledaklah tangis itu dalam jerit melengking. Lalu ketika Thai Liong terkejut gadis itu membalikkan tubuh, berkelebat dan pergi maka Puteri Es menghilang memasuki istananya.

"Puteri...!"

Namun gadis itu tak mendengarkan. Thai Liong mengejar akan tetapi jarum-jarum halus menyambar, mengelak dan munculah anak-anak murid yang tertegun melihat pemuda itu. Dan ketika pemuda ini bingung harus berbuat apa, murid-murid Lembah Es berkelebat mengurungnya maka Thai Liong mengibas dan mendorong mundur.

"Minggir!"

Murid-murid terpelanting. Thai Liong merobos kepungan dan lenyap meninggalkan gunung, menuju istana. Tapi ketika dari dalam muncul anak-anak murid lain maka pemuda itu dihentikan dengan bentakan.

"Sang Puteri tak ingin bertemu siapa pun, harap Kim-siauwhiap berhenti!"

Tertegunlah pemuda itu melihat wajah-wajah pucat dari para murid yang dirundung duka. Dan karena tangan mereka menggenggam senjata erat-erat, jelas akan menyerangnya kalau ia nekat maka Thai Liong menarik napas panjang dan berkelebat memutar tubuhnya, pergi. "Baiklah, aku tak akan mendesak kalian. Hanya katakan kepada Puteri bahwa sekarang dituntut tanggung jawabnya untuk memenuhi janji!"

Murid-murid itu lega. Rajawali Merah lenyap dan hilanglah ketegangan yang semula memuncak. Mereka sadar siapa yang mereka hadapi namun kalau pemuda itu maju tentu mereka akan melawan mati-matian. Dan ketika semua menarik napas lega sementara isak-isak kecil terdengar di sana-sini, Thai Liong meninggalkan Lembah Es maka tanpa diduga sama sekali tahu-tahu gadis yang dicarinya itu ada di mulut lembah. Puteri Es bercucuran air mata menghadang dengan pedang di tangan!

"Katakan kepadaku bahwa ibu jari yang kau bawa betul-betul milik keluarga Kim-mou-eng. Aku ingin kau bersumpah. Dan katakan apa yang terjadi dengan Beng An, Thai Liong. Ke mana dia dan betulkah rambutnya memutih!"

"Hm," Thai Liong getir, tertawa pendek. "Sumpah bagiku tak ada perlunya, Puteri. Nama dan kehormatanku lebih dari cukup. Sebaiknya kau cari iparku itu dan cocokkan ibu jarinya. Tentang Beng An, ia gila dan terguncang. Untung pelayanmu Hwa Seng menjaganya siang malam. Adikku sekarang sembuh namun ia pergi entah ke mana."

"Ceritakan padaku apa yang terjadi, bagaimana mula-mula!"

"Hwa Seng membawanya pulang ke utara, bertemu ayah. Lalu ketika ia sembuh dan bersamadhi di makam ibu maka kemarin ia pergi dan entah ke mana. Kami sekeluarga mencari, kalau kau masih mencintainya pula harap bantu kami dan temukan dia”.

"Kau... kau tak bohong?"

Pemuda ini tertawa pahit. "Untuk apa aku bohong, Wei Ling. Lihat dan buktikan saja. Cukuplah, aku sekarang pulang!"

Gadis itu membentak. Thai Liong menyebut nama kecilnya dan berkelebat ke depan, menerobos mulut lembah. Dan ketika ia menggerakkan pedang namun ditangkis terpental, ia terhuyung maka pemuda itu sudah lenyap meninggalkan tempat itu, tak berkata-kata. Thai Liong telah melepas gemasnya dengan memanggil nama kecil gadis ini, puteri keturunan Dinasti Han itu marah. Tapi karena ia sudah lenyap dan kembali pulang maka gadis inipun tiba-tiba bergerak dan mengejarnya, melihat sebuah perahu melesat di tengah laut es dan itulah si Rajawali Merah yang tak mau banyak cakap lagi.

Puteri Es melengking dan melompat di perahu lain, menendang dan meluncurkan perahunya cepat. Namun karena Thai Liong sudah lepas di tempat bebas dan tak mungkin dikejar maka gadis ini tersedu-sedu kehilangan lawan, tak bergerak dan memasuki pula lautan luas. Lembah Es telah mereka tinggalkan jauh. Lalu ketika perahu itu bergerak dan lenyap di Semenanjung Hitam maka Thai Liong diam-diam girang karena Sang Putéri telah meninggalkan sarangnya.

Yang dilakukan Thai Liong adalah melanjutkan sisa perjalanannya mencari Beng An. Masih ada waktu baginya sebelum pulang dan melapor. Tapi ketika dalam perjalanannya ia gagal dan tak menemukan sang adik, khawatirlah pemuda ini maka tepat tujuh hari ia kembali dan pulang, sesuai perjanjian. Dan di sana telah berkumpul ayah dan adik perempuannya Soat Eng, juga Siang Le.

"Kami gagal, bagaimana dengan kau," sang ayah bertanya dan lengsung menyambut.

"Sama saja," Thai Liong menggeleng, sedih. "Aku juga tak menemukan tanda-tanda Beng An, ayah, entahlah di tempat mana dia.” Lalu memandang adiknya dan juga Siang Le, yang tampak tenang dan menyembunyikan ibu jari tangan kanannya maka Soat Eng terisak mengusap air matanya.

"Kami baru saja datang, dan kau muncul. Sebenarnya harapan kami ada padamu Liong-ko, tapi kalau kau juga gagal, entahlah di mana adikku itu. Keparat benar Puteri Es itu, gara-gara dia kita semua susah!"

"Hmn, tenang, jangan menyalahkan orang lain," sang ayah menggeleng dan mengerutkan kening tanda tak setuju. "Kita hidup selalu berteman persoalan, Soat Eng, tak ada yang sepi dan kosong dari persoalan. Sekarang bagaimana selanjutnya dan apa yang akan kita lakukan."

Thai Liong melirik si buntung ini. Dari percakapan itu segera ia tahu bahwa persoalan ibu jari belum diketahui semua orang, bahkan ayahnyapun tidak. Hal ini karena sejak tadi Siang Le menyembunyikan tangannya itu. Secara cerdik seolah tidak sengaja ia menyimpan bagian yang putus ke dalam, isteri dan gakhunya tak tahu. Dan ketika ia melihat pancaran si buntung yang bersinar aneh, ada sesuatu yang tampaknya disembunyikan maka tiba-tiba si buntung ini berkata,

"Kupikir kami berdua yang melanjutkan pencarian ini. Biarlah Eng-moi dan anak-anak pulang ke Sam-liong-to, juga Shintala kalau mau. Bagaimana menurut gak-hu kalau aku dan Thai Liong pergi? Bukankah kami lebih tepat?"

"Kupikir juga begitu," Pendekar Rambut Emas mengangguk dan ternyata setuju. "Aku merasa lelah mencari adik kalian itu, Siang Le, tenagaku sudah tidak seperti dulu. Aku sudah tua. Tepatlah kalau kalian berdua yang pergi."

"Dan bagaimana aku? Masa berpeluk tangan dan menunggu di Sam-liong-to?" Soat Eng menggeleng, menolak. "Aku ingin mencari lagi, Le-ko, tidak tinggal diam menunggu. Aku juga ingin tahu di mana adikku itu!"

"Anak-anak harus bersama ibunya," si buntung menggeleng dan menasihati. "Sudah terlalu lama Siang Hwa dan Siang Lan serta Hok Gi tak berteman orang tuanya, Eng-moi. Tak baik membiarkan mereka dan kau tak boleh ikut."

"Aku ikut!"

"Tidak!"

"Ikut!"

Tiba-tiba terdengar isak tangis dan sedu-sedan di luar. Dua bayangan anak perempuan, Siang Hwa dan Siang Lan tiba-tiba meloncat dan meninggalkan bagian depan ruangan. Mereka menunggu ayah dan ibunya ini ketika baru saja datang. Dan ketika tiba-tiba ayah ibu mereka bertengkar, sang ayah tentu saja dirasa benar maka dua anak ini mendadak kecewa dan marah kepada ibu mereka itu, menangis dan meloncat pergi dan terkejutlah Soat Eng oleh kejadian ini. Ia lupa bahwa di ruangan depan menunggu anak-anak itu, juga Bun Tiong yang duduk bersama Cao Cun. Maka ketika tiba-tiba Soat Eng berkelebat.

Siang Le juga tak tinggal diam, disambarlah anak-anak itu maka Siang Le berseru bahwa isteri-nya tak perlu berbantah lagi. "Lihat, anak-anak kecewa. Masa kau tetap keras kepala dan tak menghiraukan mereka!"

Sadarlah wanita muda ini. Pendekar Rambut Emas juga bergerak dan Bun Tiong menghambur pada ayahnya. Thai Liong atau Rajawali Merah ini memeluk kepala puteranya. Lalu ketika Shintala berkelebat maju dan terisak memandang suaminya ini maka nyonya itupun berbisik apakah ia tak boleh ikut.

"Tidak, jangan," Thai Liong menggeleng. "Urusan ini cukup ditangani kami berdua, moi-moi. Bun Tiong bersamamu dan kalian menunggu di Sam-liong-to. Aku tak akan lama."

"Bagaimana kalau dengan Bun Tiong?"

"Kau mengajak anak kecil di perjalanan yang tak tentu arahnya? Ah, tidak, moi-moi, sekali lagi tidak. Aku ingin kau di Sam-liong-to dan menunggu aku di sana!"

Shintala bukanlah isteri yang suka berdebat seperti Soat Eng. Pada dasarnya wanita ini berjiwa lembut dan penurut. Maka ketika ia memeluk puteranya dan terisak menciumi Bun Tiong akhirnya ia tak menjawab apa-apa selain mengangguk. Soat Eng memeluk anak-anak perempuannya pula dan tangis ibunya Cao Cun semakin menyadarkan. Dan ketika ayahnya batuk-batuk dan menyambar Hok Gi maka mengelus kepala anak laki-laki itu pendekar ini berkata,

"Apa yang dikata suamimu benar. Lihat mereka ini, seakan anak yatim-piatu saja. Kau dan anak-anak memang harus ke Sam-liong-to, Eng-ji, biarkan urusan adikmu diselesaikan suami dan kakakmu. Aku percaya mereka."

"Ibu tak sayang kami," Siang Lan nangis. "Biarlah kalau ibu pergi lagi, kong-kong, ada kau di sini."

"Atau kami ikut mencari paman Beng An, kami juga tidak takut!" Siang Hwa menyambung.

"Tidak tidak," Pendekar Rambut Emas menciumi dua anak itu. "Kalian harus tetap bersama orang-orang tua, Siang Hwa, tak baik bagi anak-anak kecil berkeliaran di tempat yang belum pasti. Ayah dan uwa kalian dapat mengerjakan ini, anak-anak harus tinggal dirumah."

Soat Eng mengangguk dan menghapus air matanya. Betapapun juga keharuannya timbul, ia terisak menciumi kedua anaknya pula. Lalu ketika ia meminta Hok Gi dan memeluk anak ini maka wanita itu berkata bahwa ia memenuhi perintah. "Baiklah, aku ke Sam-liong-to, juga cici Shintala. Tapi ayah harap menemani kami agar anak-anak selalu dekat kakeknya!"

"Hore!" Bun Tiong bersorak. "Kau betul, bibi. Kong-kong pengganti paman dan ayah. Aku setuju!"

"Aku juga," Siang Hwa dan Siang Lan berseru. "Kalau kong-kong tak mau ke sana biar kami tetap di sini saja!"

"Hm-hm, aku harus melindungi bangsa Tar-tar di sini, mana mungkin meninggalkan mereka. Kalau aku pergi bagaimana mereka, Bun Tiong. Bukankah tenagaku diperlukan di sini."

"Ah, kong-kong tidak selamanya, lagi pula tempat ini aman. Bukankah seringkali kong-kong meninggalkan mereka dan tak ada apa-apa!"

"Benar, kepergian kita ke Lembah Es juga tak membawa akibat apa-apa bagi mereka. Anggap saja kau berlibur sejenak kong-kong, setelah itu kembali lagi!"

"Nah, aku merasa benar," Thai Liong berkata dan memandang ayahnya bersinar-sinar. "Pendapat mereka kudukung penuh, ayah. Sebaiknya ayah ikut pula ke Sam-liong-to menemani mereka. Hitung-hitung mewakili kami!"

"Cocok," Siang Le juga mengangguk. "Mereka tak dapat berpisah denganmu, gak-hu. Biarlah kau menemani mereka dan menunggu kami di Sam-liong-to."

"Aku hanya menurut yang terbaik saja," Cao Cun mengangguk dan menanggapi tersenyum. "Kalau kita harus pulang tentu saja kami menunggunya di sana, Siang Le. Mudah-mudahan ayahmu tak keberatan dan kita semua pergi dengan tenang. Siapa nanti yang menyiapkan makan minum ayahmu kalau ia sendirian saja di sini."

Tersudutlah pendekar itu. Kim-mou-eng tertawa lebar dan menyatakan setuju. Tapi ketika urusan Beng An kembali ke permukaan maka pendekar itu berkerut kening dan murung lagi. "Baiklah, baiklah kita semua sudah membagi tugas sendiri-sendiri. Aku mengantar anak-anak ke Sam-liong-to, tapi kalian harus memberi kabar. Sebulan kupikir cukup!"

Thai Liong mengangguk. Ia melihat si buntung berseri dan melirik padanya, setuju. Lalu ketika mereka kembali dan masuk ke ruang dalam maka diambil keputusan bahwa pencarian hanya dilakukan pemuda ini dan iparnya. Malam itu semua sedih dan hilangnya ibu jari belum diketahui. Siang Le cerdik menyembunyikan lukanya hingga sang isteri tetap tak tahu. Dan karena sudah di ambil keputusan bahwa besok mereka berangkat, yang lain ke Sam-liong-to maka menjelang ditutupnya percakapan itu Thai Liong mendapat isyarat si buntung agar menemuinya di belakang.

Thai Liong mengangguk. Dan ketika pertemuan benar-benar bubar dan mereka berkelebat keluar maka di saat anak-anak ditemani ibunya Thai Liong sudah berhadapan dengan iparnya ini. Lagi-lagi bulan purnama memancarkan cahayanya yang terang di atas kepala mereka.

"Bagaimana hasilnya," begitu si buntung mendahului bertanya. "Apa kata gadis itu, Thai Liong. Sudahkah kau menyerahkan emas kawinnya."

"Semua beres," Thai Liong menjawab serak, terharu oleh luka yang ditutup tu. "Gadis itu telah meninggalkan Lembah Es, Siang Le, dan kau kutangkap sesuatu yang kau sembunyikan di matamu."

"Bagus, aku memang ingin bicara sejenak. Dan kau pandai menangkap rahasia mataku. Aku tak menemukan jejak Beng An, Thai Liong, tapi sesuatu yang luar biasa kutemukan. di Ce-bu. Aku ingin mengajakmu ke sana!"

"Ce-bu?"

"Ya...!"

"Ada apa."

"Aku sendiri tak tahu, tapi keramaian besar, tepatnya kegemparan. Kudengar seseorang malang-melintang di sana dan menantang semua orang-orang kang-ouw. Ketua-ketua persilatan besar dirobohkan, katanya akan ada pengangkatan bengcu (pemimpin persilatan). Dan yang lebih hebat semuanya ini akan dikerahkan untuk menyerbu Pulau Api dan Lembah Es!"

"Apa?"

"Itulah. Aku tak menceritakan ini kepada gak-hu maupun isteriku. Aku tak ingin mereka dengar. Aku hanya ingin kau dan aku yang tahu, lalu kita ke sana. Jangan-jangan adik kita menjadi dalang di sana!"

"Hm-hm!" Thai Liong terkejut. "Perjalananmu ke selatan rupanya membawa petunjuk, Siang Le, benar bahwa siapapun tak perlu diberi tahu. Dan agaknya inilah kehendakmu bahwa besok kita ke Ce-bu."

"Benar, dan yang lebih mencurigakan lagi adalah pusat di mana sumber keramaian itu berada. Tahukah kau!"

"Di mana?"

"Di bekas rumah Hu-taihiap!"

"Ah, kakek Beng An?"

"Benar, di situlah sumber kegemparan ini terjadi, Thai Liong. Aku tak sempat kesana karena kehabisan waktu. Di sepanjang jalan aku mendengar ini, dan aku ingin kita berdua menyelidiki!"

"Baik, menarik sekali," Thai Liong berdebar, pandang matanya bersinar. "Tentu bukan kebetulan kalau rumah itu dipakai, Siang Le. Sepengetahuanku rumah itu dikosongkan dan tak pernah dimiliki orang lain. Hanya Beng An atau isterimu yang berhak!"

"Aku juga berpikir begitu. Karena itu bersiap-siaplah besok dan kita langsung ke sana!"

"Tunggu...!" Thai Liong melihat iparnya ini hendak meloncat pergi. "Aku ingin bertanya sedikit, Siang Le, apakah persoalanmu tak diketahui isterimu."

"Persoalan apa?"

"Ibu jarimu itu!"

"Ah, tak perlu dipikirkan, Thai Liong, mudah mengatasinya..."

"Tidak, jangan pergi dulu. Jangan bicara mudah kalau akibatnya tidak semudah itu!"

"Hm, aku dapat mengatasinya. Kalau kau tak memberi tahu isteriku maka dapat kukatakan bahwa ibu jariku digigit ikan hiu!" Siang Le tertawa, begitu ringan berkata dan Thai Liong tentu saja tertegun. Begitu enak jawaban itu, begitu mudahnya!

Tapi menyambar dan mencengkeram si buntung ini Thai Liong gemetar bicara, "Siang Le, kau tak dapat bicara seperti itu. Isterimu bukan orang bodoh. Tak mungkin semua ini bertepatan dengan permintaan Puteri Es!"

"Aku sudah memperhitungkannya. Kalau Eng-moi mendesak maka kukatakan bahwa semua ini bukan paksaannya, Thai Liong. Aku rela menyerahkan itu atas keinginanku sendiri. Ini karena kecintaanku kepada Beng An. Nah, mau apa lagi!"

Rajawali Merah tertegun. Untuk kesekian kalinya lagi ia terkesima memandang iparnya ini. Jawaban itu terasa sungguh-sungguh dan tepat. Lalu ketika Siang Le melepaskan dirinya tertawa mengingatkan peristiwa di Sam-liong-to maka dia berkata bahwa pengorbanan kali ini kecil.

"Bandingkan dengan putusnya tanganku ini, mana lebih besar. Bukankah hilangnya sebuah ibu jari masih bukan apa-apa. Sudahlah, sekarang kita beristirahat, Thai Liong, besok bersiap dan pergi."

Kali ini Thai Liong melepaskan iparnya. Siang Le begitu lugu dan amat bersahaja, ia terharu bukan main. Dan ketika ia mengangguk dan menarik napas dalam maka pemuda ini menepuk bahu si buntung mengejapkan dua butir air mata yang meloncat turun. "Siang Le, kau satu-satunya keluarga kami yang amat mulia. Kau selalu mendahului aku. Baiklah terima kasih dan sampai jumpa besok!"

Si buntung mengangguk dan tertawa memutar tubuh. Ia tak menjawab kata-kata itu dan lenyap ke dalam. Lalu ketika Rajawali Merah juga bergerak dan masuk ke dalam maka keesokannya dua pemuda ini mencari Beng An, melanjutkan pencarian pertama yang gagal. Bersamaan dengan itu Pendekar Rambut Emas dan cucu serta puterinya meninggalkan lembah hijau di luar padang rumput itu, bersama Shintala dan Cao Cun, wanita setengah baya yang setia dan selalu menemani keluarga besar ini. Dan ketika masing-masing bergerak dan lenyap maka Siang Le dan Rajawali Merah ke Ce-bu. Sementara di belakang, membelok ke timur bergeraklah rombongan Pendekar Rambut Emas menuju Sam-liong-to.

* * * * * * * *

Apa yang diceritakan Siang Le memang benar. Ce-bu, kota berpenduduk padat di wilayah selatan gempar. Hal ini di mulai ketika bekas rumah Hu Beng Kui, jago pedang yang sering dijuluki Hu-taihiap dihuni seseorang yang amat lihai. Rumah kosong yang bertahun-tahun tidak dipergunakan itu mendadak berisi penghuni. Mula-mula penghuninya dua orang, seorang kakek-kakek dan seorang gadis muda yang amat lihai. Dan karena rumah itu selama ini dititipkan walikota Ce-bu, sejak Hu Beng Kui tewas melawan musuh jahat maka Siangkek-taijin yang dipercaya melindungi rumah itu tahu-tahu dibuat tak berdaya ketika kakek dan gadis lihai ini menemuinya.

Pagi itu ketika walikota habis menenggak arak hangatnya mengisi perut maka dua orang muncul di depannya bagai iblis. Siangkek-taijin tentu saja terkejut sekali ketika dua orang ini muncul. Ia akan berangkat kerja ketika tahu-tahu kakek dan gadis lihai itu berada di depannya. Dan ketika ia tertegun sementara pengawalnya berseru keras, menubruk dan menyerang dua orang itu tiba-tiba pengawalnya roboh terbanting hanya dengan satu kelitan tipis, gerakan yang dilakukan gadis di sebelah kakek itu.

"Kami datang meminta kunci rumah Hu Beng Kui. Serahkan semuanya dan umumkan rumah itu kami huni!"

Sang walikota terbelalak. Ia mendengar gadis itu bicara sementara pengawalnya membentak dan menubruk, seolah tak tahu atau acuh saja terhadap serangan itu. Tapi ketika pengawalnya roboh dan jerit atau teriakan ini mengundang pengawal lain, masuklah enam pengawal bertubuh tegap maka gadis itu tertawa dingin dan tahu-tahu bergerak kemudian menangkap leher baju pembesar ini.

"Siangkek-taijin, kami tak ingin main-main dengan para pengawalmu yang tiada guna itu. Serahkan kunci rumah Hu-taihiap atau tulang lehermu kutekuk patah!"

"Ampun, egk...! Aku..., eh, lepaskan aku, nona. Rumah itu milik pewarisnya si Pendekar Rambut Emas. Aku tak berani menyerahkan. Kalian hubungi keluarganya atau minta sendiri ke sana."

"Aku tak perduli itu, kami sudah di sini. Kami hanya menghendaki kunci dan ingin tinggal di sana. Nah, serahkan itu atau lehermu kutekuk jadi dua!"

Siangkek-taijin menjerit. Lehernya ditekuk dan tentu saja ia kesakitan. Dan ketika pengawalnya bergerak dan hendak menyerang maka gadis itu mengangkat tubuh si wallkota memutarnya menyambut tusukan golok.

"Hayo, lukailah tuanmu. Mundur atau dia mampus!"

Sang pembesar berteriak-teriak. Tak disangkanya sepagi itu ia sudah disatroni musuh. Maka membentak dan memaki pengawalnya sendiri pembesar itu menyuruh mundur. Kejadian ini memancing pengawal yang lain dan sekejap kemudian berita itu menyebar cepat, datanglah sepasukan berkuda dipimpin Wong-ciangkun, seorang perwira menengah yang menjadi komandan kota Ce-bu. Tapi ketika Wong-ciangkun meloncat dari kudanya dan melihat tubuh Siangkek-taijin dijungkir balik maka iapun mundur dan seratus lebih pengawal yang ada di situ dibuat terbengong-bengong oleh tingkah gadis ini.

"Kami tak bermaksud membunuh orang. Kami datang untuk minta kunci rumah Hu-taihiap. Nah, mundurlah kalian semua dan biarkan Siangkek-taijin menjawab!"

"Ampun, lepaskan aku!" sang pembesar merintih dan merah padam, tubuhnya dijungkir balik gadis kurang ajar itu. "Kunci ada di kamarku, nona, biarkan kuambil. Mana mungkin kuambil kalau kau memperlakukan aku seperti ini!"

"Hm, kamarmu sebelah mana?"

"Di atas, bagian kiri!"

"Baik, kuantar ke sana dan awas kalau bohong!"

Wong-ciangkun dan orang-orang laln terbelalak. Mereka melihat gadis ini menjejakkan kakinya dan tahu-tahu melayang naik ke atas. Dari bawah ia bergerak lurus, tepat dan hinggap di balkon rumah. Lalu ketika sang pembesar diturunkan dan berdiri dengan kepala di atas maka Wong-ciangkun yang mendapat bisik-bisik dari seorang pengawal tiba-tiba memberi isyarat dan kakek yang masih berdiri dengan wajah tak bergerak tahu-tahu dibabat golok dari belakang.

"Wut!" Kakek ini hilang. Si pembacok terkejut sekali dan berteriak keras. Ia tak tahu di mana lawannya berada. Tapi ketika seruan terdengar di sana-sini dan ia terlambat maka kakek itu muncul di belakangnya dan sekali kakek itu mendorong maka pengawal ini melesat dan menabrak Wong-ciangkun.

"Heiiii...bressss!"

Dua orang itu terbanting dan jatuh bergulingan. Wong-ciangkun kaget sekali namun tak dapat mengelak. Tubuh si pengawal yang meluncur ke arahnya cepat sekali, ia tertabrak dan jatuh terguling-guling, dadanya sesak. Tapi ketika perwira ini dapat meloncat bangun sementara pengawal itu kelenger, setengah pingsan maka kemarahan perwira ini tak dapat di tahan lagi dan ia memberi aba-aba menyerang, diri sendiri berkelebat dan sebatang golok lebar bersiut di tangannya, menyambar leher.

"Tua bangka dari mana berani mengacau Ce-bu. Mampuslah, serang...!"

Semua bergerak. Masing-masing tak ragu lagi bergerak dari delapan penjuru. Akan tetapi ketika semua terkejut kakek itu lenyap, orang hanya melihat ia menggerakkan kakinya sedikit maka tiba-tiba seorang di antara mereka menuding ke atas. "Dia di sana!"

Ternyata kakek itu sudah berada di dekat Siangkek-taijin, di loteng atas. Entah bagaimana ia terbang seperti burung akan tetapi kepandaiannya itu membuat orang meleletkan lidah. Dan ketika semua menghambur dan Wong-Ciangkun mengejar ke atas maka gadis cantik itu, yang bersikap dingin tertawa pendek berkata,

"Siapa mengganggu kami tikus ini mampus. Nah, majulah dan kulempar kau ke bawah!"

"Tidak jangan!" sang pembesar berteriak. "Kunci ada di kamar itu, nona, cepat ke sana 

Dan kusuruh orang-orang itu berhenti. He, jangan menyerang, berhenti. Jangan serang!" dan tergopoh menggoyang-goyang tangannya kepada semua pengawal cepat-cepat pembesar ini berlari kamar yang ditunjuk. Itu adalah kamar pribadinya dan gadis di belakangnya mengikuti, sebuah pisau berkilat di tengkuknya. Dan ketika pembesar itu mendorong pintunya dan melompat masuk, di dalam dua wanita cantik menjerit kecil maka pembesar ini membuka sebuah lemari dan menyambar seikat kunci yang berkerincingan.

"Ini, jangan bunuh aku. Terimalah!"

Gadis itu tersenyum. Ia menerima itu lalu mengangguk, kakek temannya bersinar dan mengangguk pula. Lalu ketika gadis itu berkelebat disusul sang kakek maka mereka sudah keluar bertabrakan dengan Wong-ciangkun dan para pengawalnya. "Minggir, semua minggir...!"

Terjengkanglah orang-orang ini. Wong-ciangkun berseru kaget terlempar ke dinding, jatuh dan terguling-guling sementara goloknya mencelat. Pergelangan tangannya diketuk dua jari gadis itu, disusul tendangan dan bentakan yang membuat anak buahnya berpelantingan keluar. Lalu ketika dua orang ini mengibas kiri kanan maka merekapun meloncat ke bawah dan turun dari tempat tinggi itu.

Gemparlah gedung sang walikota. Mereka yang di bawah tak berani menyerang gadis dan kakek ini. Bagaimana menyerang kalau komandan mereka saja dirobohkan begitu mudah. Maka ketika dua orang ini melenggang dan lenyap di luar pintu gerbang maka Wong-ciangkun mencak-mencak mengerahkan anak buahnya. Akan tetapi Siangkek-taijin mencegah. Walikota yang merasakan sendiri kehebatan gadis cantik itu khawatir kalau dirinya menjadi sasaran. Dia khawatir gadis itu membunuhnya. Maka ketika semua pengawal bersiap di halaman dan akan mengejar maka pembesar ini buru-buru mengangkat tangannya.

"Stop, berhenti dulu. Jangan kejar. Serahkan ini kepada Pendekar Rambut Emas. Biarkan mereka tinggal di rumah itu dan kita melapor kepada ahli warisnya!"

Semua tertegun. Tiba-tiba mereka sadar bahwa kepandaian lawan amatlah hebatnya. Baru gadis itu seorang diri mereka tunggang-langgang, belum lagi si kakek. Maka sadar dan mengangguk setuju merekapun mundur dan tak jadi mengejar. Akan tetapi Wong-ciangkun berseru marah. Perwira yang masih penasaran dan sakit dibanting itu menyatakan tidak, ia harus menyerbu. Dan karena ia pimpinan di situ maka anak buahnya tak dapat berkata apa-apa lagi.

"Ce-bu bukan kota kosong yang tak memiliki pasukan. Mereka orang-orang kurang ajar yang harus ditangkap. Kalau kita biarkan saja tentu keadaan semakin parah, tak boleh itu terjadi. Kau tinggal saja di sini menunggu kami, taijin, ini tugasku menangkap pengacau. Kalau aku gagal barulah ahli warisnya diberi tahu, Pendekar Rambut Emas boleh datang!"

Berangkatlah pasukan itu lagi. Mereka melompat di atas kuda masing-masing dan berderaplah Wong-ciangkun dan anak buahnya. Penasaran membuat perwira itu tak mau sudah. Akan tetapi ketika dia tiba di sana ternyata gadis baju putih itu menyambut di halaman depan. Jendela dan pintu rumah Hu Beng Kui sudah dibuka lebar-lebar.

"Hi-hik, bagus sekali. Tidak dihajar tak akan kenal adat. Heh, majulah, Wong-ciangkun, tapi kali ini terakhir bagimu mengganggu aku. Kalau kakekku tak melarangku membunuh tentu kau dan anak buahmu kukirim ke neraka. Majulah!"

Perwira ini gentar. Sesungguhnya ia tahu kelihaian lawan, akan tetapi karena nama baik harus dijaga dan selama ini ia selalu galak, malu kalau tunduk di depan pasukannya maka tak ayal perwira itu memberi aba-aba dan menyuruh anak buahnya menyerang. Dia sendiri bergerak dari belakang di atas kudanya. "Serang dan tangkap gadis ini. Robohkan dia!"

Pasukan bergerak maju. Mereka tetap di atas kuda masing-masing dan golok atau tombak menusuk cepat. Gadis itu sudah dikepung. Namun ketika bayangan putih berkelebat dan terbang mengelilingi mereka, tamparan jari-jari kecil mendahului semua itu maka golok dan tombak terlempar mencelat disusul tubuh yang berdebukan di atas tanah. Wong-ciangkun sendiri berteriak dan terpelanting.

"Aduh!"

Pucatlah orang-orang ini. Mereka yang ada di belakang hendak mundur namun bayangan putih yang menyambar-nyambar itu mengejar mereka, tidak berhenti sampai di situ saja karena semuapun mendapat bagian. Siapapun tak mungkin mengelak dari bayangan putih ini. Dan ketika ada yang menangkis namun malah terbanting, pingsan dan patah tulangnya maka tak sampai dua menit pertarungan selesai dan kuda meringkik terbang meninggalkan tuannya yang merintih-rintih di atas tanah. Gadis itu telah berdiri lagi dengan tangan berkacak pinggang. Pipi Wong-ciangkun bengap dan merah bengkak, terduduk di atas tanah seakan tak percaya melihat semuanya itu. Gentar!

"Nah, apa kataku. Cukup atau masih kurang. Bilang saja kalau ingin tambah. Tapi kalau kalian bertobat maka pulanglah dan jangan sekali-kali mengganggu kami lagi. Dan kau!" gadis itu menuding Wong-ciangkun. "Mulai sekarang kau ikut menjaga keamanan di rumah ini, ciang-kun. Siang dan malam kerahkan anak buahmu berjaga di regol ini. Permintaan lain akan menyusul, sekarang pergilah dan biarkan kami beristirahat!"

Komandan itu mengangguk-angguk. Setelah ia dihajar dan jatuh bangun bersama anak buahnya tentu saja nyalinya menciut, tak ada keberanian lagi. Lalu ketika hari itu rumah itu dihuni, kakek dan gadis cantik itu tinggal di situ maka beberapa hari kemudian mereka minta pelayan.

"Katakan kepada Siangkek-taijin bahwa kehidupan rumah ini akan kami pulihkan seperti jamannya mendiang Hu-tai-hiap. Datangkan pelayan dan tukang kebun di sini, kami ingin semuanya asri!"

Berdatanganlah pelayan dan tukang kebun yang diminta. Rumah yang tadinya kosong dan tidak berpenghuni mendadak menjadi ramai lagi. Pohon-pohon dipangkas dan diatur lagi, kamar demi kamar diisi mereka ini. Dan ketika lima belas orang itu takut-takut berhadapan dengan penghuni baru, jadilah kakek dan gadis cantik itu majikan mereka ternyata sesuatu yang tidak diduga malah membuat mereka girang.

"Kalian tak usah takut-takut menemani kami di sini. Asal kalian tunduk dan taat perintah maka kami bukanlah orang kejam. Mulai hari ini kalian harus belajar silat, dan aku yang langsung membimbing. Nah, siapa yang suka dan segera acungkan jari!"

Semua mengangkat telunjuk. Siapa tidak suka dan senang menerima itu. Sepuluh pelayan dan lima tukang kebun segera menjadi murid. Dan ketika hari itu juga mereka diberi pelajaran silat, tak lama kemudian sudah mampu merobohkan pengawal Wong-ciangkun maka berita ini membuat pucat sang komandan kota yang tentu saja menjadi khawatir, tak senang!

"Apa yang sebenarnya mereka kehendaki. Apakah hendak menyaingi kota raja. Kalau mereka ingin menjadi kaisar dan ratu di sini maka celakalah kita, taijin. Kenapa utusan kita belum juga datang. Apakah Pendekar Rambut Emas dan keluarganya belum dapat ditemukan!"

"Sabarlah, tenanglah. Kita sudah mengirim orang mencari Kim-mou-eng, ciangkun, kalau belum datang memang perjalanan amatlah jauh. Biarkan saja mereka bertingkah dan kelak akan tahu rasa. Berani benar mengusik warisan Pendekar Rambut Emas!"

Wong-ciangkun menahan marah. Dari orang-orangnya yang berjaga di rumah itu maka setiap kejadian dapat diikuti dari jauh. Ia sendiri kadang-kadang harus datang menjaga rumah itu. Dan ketika pelayan serta tukang kebun dapat mengalahkan pengawalnya, ia menjadi cemas maka suatu hari ia dipanggil menghadap. Gadis baju putih itu duduk di ruang dalam dengan sikap angker.

"Duduklah," begitu sapaan yang didapat. "Ada sesuatu yang ingin kumintakan tolong, ciangkun. Buatlah undangan untuk orang-orang yang kami sebut dan antarkan undangan itu kepada mereka."

"Undangan?" Wong-ciangkun tertegun. "Apakah jiwi (kalian berdua) hendak mengadakan pesta? Perkawinan atau ulang tahun?"

"Tutup mulutmu. Tak ada perkawinan atau ulang tahun di sini, ciangkun, melainkan surat tantangan kepada semua orang-orang kang-ouw. Kami hendak mengadakan pemilihan bengcu (pemimpin persilatan). Kau yang lama tinggal di sini tentu tahu siapa saja tokoh-tokoh yang pantas diundang. Nah, buatlah undangan itu dan atas namakan kami sebagai Thian-te It-hiap (Jago Tunggal Langit Bumi). Mereka yang kalah harus tunduk dan langsung di bawah perintah kami. Laksanakan itu!"

Wong-ciangkun terkejut. Setelah ia mendengar semua kata-kata ini tentu saja ia membelalakkan matanya lebar-lebar. Gadis ini, yang dikenalnya sebagai Hoa-siocia (nona Hoa) minta dibuatkan undangan menantang jago-jago kang-ouw. Diri sendiri dijuluki Thian-te It-hiap yang berkesan sombong dan tinggi hati. Tentu saja ia terkejut. Tapi girang bahwa pucuk dicinta ulam tiba, dengan ini malah jago-jago persilatan akan menghajar kakek dan cucunya ini maka cepat perwira itu mengangguk dan berseri.

"Baik, kami laksanakan perintah. Tapi bagaimana kalau mereka datang mendahului undangan, siocia. Maksudku bagaimana kalau undangan yang menggegerkan ini membuat marah mereka dan datang sebelum waktunya. Tanggal berapa pula undangan itu dijatuhkan!"

"Berapa kira-kira yang dapat kau undang."

"Ratusan orang!"

"Sebutkan jumlahnya."

"Tiga atau empat ratus orang, siocia, belum termasuk anak buah mereka. Misalnya ketua Hwa-i Kai-pang di luar Ce-bu ini, juga tokoh-tokoh bajak yang berkeliaran di sungai atau lautan!"

"Hm, orang-orang kasar begitu tak perlu diundang. Cari yang setingkat ketua-ketua partai, ciangkun, keroco-keroco seperti itu hanya mengotori rumah ini saja. Mereka jangan diundang!"

"Baik, kalau begitu kuseleksi lagi. Hanya kalau mereka datang mendengar kabar undangan ini harap siocia tidak menyalahkan aku!"

"Cukup, tak perlu banyak mulut. Sekarang buatkan undangan itu dan sebar kepada mereka yang termasuk jago-jago kelas satu. Kelas kambing bagianmu, jangan memasuki rumah ini, atau kau harus bertanggung jawab dan kupotong telingamu!"

Wajah Wong-ciangkun memerah. Ia membungkuk dan menyatakan siap tapi lagi-lagi menanyakan tanggal. Diam-diam kemarahan perwira ini bangkit. Hanya karena mengetahui kelihaian lawan ia menahan diri. Lalu ketika disebut tanggal dua belas bulan delapan maka perwira itupun berdiri dan mohon pamit. "Baiklah, aku minta diri. Kusiapkan semuanya dan mudah-mudahan siocia puas."

Gadis itu tak menjawab. Si kakek entah di mana dan orang tua yang satu ini misterius sekali. Menurut pantauan pengawal hanya gadis itulah yang sering tampak di dalam rumah. Hoa-siocia inilah yang mengatur ini-itu, kakeknya tak kelihatan lagi sejak merampas kunci di tempat Siangkek-taijin. Lalu ketika hari itu juga dibuatkan surat undangan dan disebar ke delapan penjuru, inilah tantangan Thian-te It-hiap maka dunia kang-ouw gempar dan tentu saja sebagian besar dari mereka bermuka merah.

Wong-ciangkun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia masih menaruh sakit hati dan dendam atas kekalahannya dulu. Dan karena kebetulan ia bersahabat dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang, di sinilah ia mengirim utusan khusus maka sebelum tanggal yang ditetapkan datanglah empat tokoh perkumpulan pengemis itu ke rumahnya, tentu saja secara diam-diam.

"Aku tak tahu siapa mereka namun harus diakui benar-benar lihai. Seratus pasukanku dibuat jatuh bangun. Nah, karena kalian sudah datang dan memenuhi undangan itu maka cobalah kalian uji, su-wi-enghiong (empat jagoan gagah). Aku pribadi tak dapat membantu kecuali menugaskan anak buahku membiarkan kalian masuk!"

"Siapa sebenarnya mereka itu. Sombong amat menentukan bengcu!"

"Kami semua tak tahu, hanya gadis itu bernama Hoa-siocia. Sedangkan kakeknya, ah, terlalu misterius dan tak pernah keluar!"

"Dan siapa yang menyebut diri Thian-te It-hiap? Gadis itukah?"

"Kurang jelas, yang terang di rumah itu terdapat kakek dan gadis itu, mungkin cucunya. Kalian dapat menyelidiki dan silakan menyelinap masuk. Anak buahku akan memberi jalan!"

"Baik, kami akan ke sana. Kalau kami dapat merobohkan mereka maka akan kami umumkan bahwa Thian-te It-hiap hanya pembual kosong belaka. la akan kubuat malu dan kutelanjangi di depan umum!"

Empat pengemis itu pergi. Setelah mereka mendapat keterangan cukup maka merekapun tak perlu lama-lama lagi tinggal di situ. Tangan sudah terasa gatal-gatal untuk menghajar penghuni baru itu. Ingin mereka lihat siapa orang yang berani mati menempati bekas rumah Hu Beng Kui itu. Terhadap mendiang jago pedang itu mereka menaruh hormat, apalagi setelah Kim-mou-eng menjadi menantu. Siapa tak kenal Pendekar Rambut Emas!

Akan tetapi karena keluarga itu tak pernah ke Ce-bu lagi dan tinggal di utara, berita keluarga ini tak mereka dengar lagi maka masuknya kakek dan gadis lancang itu membuat mereka marah. Apalagi dengan undangan yang berisi tantangan! Akan tetapi empat tokoh Hwa-i Kai-pang ini tidaklah berlaku sembrono. Mereka telah mendengar pula isi rumah itu, betapa pelayan dan tukang kebun belajar silat.

Dan karena mereka juga tak mau merusak rumah, tempat tinggal itu adalah milik Hu-taihiap dan keluarganya yang harus dihormati maka berkelebat memasuki rumah ini mereka masuk dengan mudah diloloskan pengawal. Penjaga seakan tak tahu atau pura-pura tak tahu akan bayangan mereka di atas tembok tinggi. Enam penjaga di regol depan memang sebelumnya telah diberi tahu Wong ciangkun.

"Jangan hiraukan pengemis-pengemis itu, biarkan mereka masuk. Bersikap blo'on sajalah!"

Maka ketikat empat bayangan melayang di tembok pagar, turun dan bergerombol di sudut tiba-tiba para penjaga ini melengos dan bersikap seakan-akan tidak tahu. Namun rumah itu bukanlah tanpa penghuni. Sejak dikeluarkannya undangan yang berupa tantangan maka sesungguhnya pelayan dan tukang-tukang kebun sudah diperintahkan berjaga di bagian dalam rumah.

Sejak menerima gemblengan ilmu silat dan kecintaan majikan baru maka pelayan dan tukang-tukang kebun ini adalah pengawal yang setia. Penjaga boleh memasukkan musuh akan tetapi mereka akan menghadang. Inilah murid-murid yang setia! Maka ketika bayangen empat pengemis itu dilihat satu di antara pelayan, kebetulan adalah Cing Cing si murid terpandai maka berkelebatlah gadis ini membentak orang-orang itu. Mereka berada di kebun belakang.

"Maling-maling hina dari mana ini berani memasuki rumah orang. Siapa kalian dan mau apa!"

Terkejutlah pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang itu. Mereka adalah sute-sute ketua Hwa-i Kai-pang yang berkepandaian tinggi. Mereka berkasak-kusuk di situ untuk menentukan langkah, masing-masing akan berpencar. Tapi ketika tuan rumah sudah mengetahui dan gadis di depan mereka itu mencabut pedang, menyeringailah keempatnya maka sang pimpinan, yang berkumis menjuntai menggerakkan tongkatnya ke depan.

"Bagus, ini agaknya pelayan yang naik pangkat. Heh, kami dari Hwa-i Kai-pang ingin bertemu tuanmu, nona, namun karena kau di sini biarlah kami menangkapmu...wut!" tongkat menyambar dan tahu-tahu tanpa banyak bicara lagi mengetuk pergelangan tangan lawan. Pengemis ini hendak merobohkan gadis itu dengan meruntuhkan pedangnya.

Tapi ketika Cing Cing mengelak dan balas menyambar maka pedang menyabet dengan deras dan tahu-tahu berkelebat ke leher pengemis itu.

"Haiya, berbahaya!" pengemis ini meloncat mundur dan menggerakkan tongkat menangkis. Pedang bertemu tongkat dan tergetarlah si pengemis, terhuyung. Dan ketika ia membelalakkan mata dengan perasaan kaget dan penasaran, sungguh tak diduganya hal itu maka gadis itu telah tegak lagi dengan senyum mengejek. Pandang matanya merendahkan.

"Kalian tikus-tikus busuk sungguh tak tahu diri. Katakan apa maksud kalian sebelum aku merobohkan dan membawa kalian ke dalam. Cepat, nonamu tak mau banyak bicara!"

Pengemis pimpinan menjadi marah. la adalah tokoh nomor tiga di Hwa-i Kai-pang, kedudukannya cukup tinggi dan di dalam perkumpulan ia adalah orang terhormat. Kini berhadapan dengan gadis pelayan saja terdorong mundur, siapa tidak panas Maka membentak dan menyuruh tiga adiknya mengepung, pengemis ini membentak agar gadis itu tidak sombong.

"Kami datang dengan maksud baik-baik, menjajal atau menguji majikanmu yang telah melepas undangan. Nah, biarkan kami bertemu atau kau kami robohkan!"

"Boleh, aku tak takut. Empat lawan satu bukan kejadian aneh, pengemis bau. Katakan siapa namamu sebelum pedangku bicara. Aku tak ingin merobohkan lawan tanpa kuketahui siapa dia!"

"Aku Sam-kai, tokoh nomor tiga dari Hwa-Kai-pang, dan mereka ini adik-adikku seperguruan yang tak puas dengan tingkah majikanmu yang sombong. Letakan pedangmu dan sekali lagi dengarlah kata-kata kami!"

"Hi-hik, kalianlah yang sombong. Hwa-i Kai-pang tak pantas mengutus orang-orangnya macam kalian, Sam-kai. Jangankan menghadapi majikan, menghadapi aku saja rasanya tak akan menang. Majulah!" gadis itu bahkan mengangkat pedang dan menantang empat orang pengemis ini. Sikapnya tenang dan kata-katanyapun tegas.

Lalu ketika empat orang itu tentu saja menjadi marah maka tak ayal lagi pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang ini membentak dan mengayun tubuh, tongkat menyambar dan menderu di kiri kanan. "Gadis sombong, baru pelayan saja sudah demikian tinggi hati!"

Akan tetapi gadis ini menjejakkan kaki dengan cepat. Ia menghilang ketika empat batang tongkat menghantam dari empat penjuru, gerakannya sebat. Lalu ketika ia turun dan lawan terkejut kehilangan , barulah sadar setelah melihat kembali maka pedang di tangan gadis itu membabat keempatnya diiringi cahaya menyilaukan.

"Crak-crak-crakk!"

Dua di antara tongkat terbabat putus. Hal ini mengejutkan mereka semua. Selanjutnya bergeraklah gadis itu bagai walet menyambar-nyambar. Ia tertawa membalas lawannya. Dan ketika Sam-kai sibuk menangkis sana-sini, membalas dan berseru agar adik-adiknya menyerang lagi ternyata bahwa dikeroyok empatpun gadis ini tak tampak kewalahan.

Pedangnya berkeredep dalam gulungan sinar putih dan cahaya menyilaukan inilah yang membuat pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang terdesak. Ujung pedang tahu-tahu berada di tenggorokan atau mata mereka, lambat berkelit artinya celaka. Dan ketika gadis itu bergerak bagai burung mengelilingi mereka, dari badan pedang keluar hawa dingin maka empat pengemis mengeluarkan keringat dingin dan tak terasa menjadi pucat. Ujung tongkat Sam-kai akhirnya terbabat juga, setelah tiga lainnya buntung. Dan ketika empat pengemis itu terdesak dan ini benar-benar diluar dugaan mereka maka berkelebat bayangan-bayangan lain dan muncullah pelayan-pelayan itu, mengepung mereka.

"Cing-cici, siapa tikus-tikus busuk ini. Ada apa malam-malam menyatroni rumah kita!"

"Hi-hik, katanya orang-orang Hwa-i Kai-pang. Mereka sombong mau bertemu majikan, Kok Li, padahal menghadapi aku saja harus keroyokan. Biarlah kalian di pinggir dan aku yang merobohkan!" Jawaban itu disusul seruan panjang mengiring kilatan pedang.

Tongkat di tangan Sam-kai sudah putus setengahnya lebih sementara yang lain tinggal sejengkal. Wajah pengemis-pengemis ini pucat. Tapi ketika mereka membentak dan menjadi nekat, ujung pedang meliuk bagai lidah rajawali menuju leher maka mendadak keempatnya merogoh kantung dan secepat kilat melemparkan kut-gi (senjata rahasia tulang) dari gigi-gigi anjing ke arah lawannya.

"Mundur!"

Namun pedang berdenting-denting. Semua senjata gelap runtuh terbabat dan ujung pedang masih menyambar leher. Beruntung karena empat pengemis itu melempar tubuh bergulingan maka pundak merekalah yang menjadi korban. Keempatnya berteriak. Dan ketika mereka hendak melarikan diri namun tiga gadis di luar berkelebat dan menodongkan pedang maka empat pengemis sial ini menggigil pucat. Wajah mereka seputih kertas, terutama Sam-kai yang tadinya menganggap enteng.

"Kalian sudah kalah, tak boleh lari keluar. Ayo masuk ke dalam dan pertanggungjawabkan perbuatan kalian kepada majikan!"

Terpaksa empat pengemis ini mengangguk. Saat itu juga mereka dibawa ke dalam, bokong kena tendangan. Dan ketika di sana sudah menunggu gadis baju putih itu, Hoa-siocia maka Sam-kai tergetar dan menundukkan mukanya. Wajah yang dingin itu disertai pandangan berkilat.

"Hwa-i Kai-pang tak tahu diri mengirim orangnya seperti kalian. Karena kami sudah mengirim undangan dan kalian berbuat kurang ajar biarlah hukuman sedikit sebagai pelajaran. Katakan kepada Hwa-i Kai-pangcu (ketua perkumpulan) bahwa kami merasa tak dihormati. Yang kami undang hanyalah para pimpinan, bukan tikus keroco. Pergilah dan laporkan ketua dan jangan main-main di rumah ini!"

Sam-kai tak tahu apa yang terjadi. Ia hanya melihat cahaya menyambar dan tahu-tahu sebelah telinganya menjadi dingin. Tapi ketika rasa dingin menjadi rasa perih maka ia terkejut karena bersamaan itu sebuah telinganya menggelinding di lantai, berdarah!

"Aahhhh...!" Tiga yang lain mengeluarkan seruan. Mereka juga melihat sinar putih panjang menyambar sisi kepala, rasa dingin disusul rasa perih. Lalu ketika masing-masing sebuah telinga dipapas buntung, mereka tak tahu kapan pedang dicabut dan masuk kembali maka empat orang ini hampir pingsan oleh kejadian itu Sam-kai sampai tak dapat berkata-kata, gemetar.

"Ampun, kami akan melapor kepada pangcu. Kalau boleh kami pergi biarlah di tempat umum Hwa-i Kai-pang memenuhi undangan!"

"Baik, tapi kalian tak perlu unjuk muka lagi. Atau aku membunuhmu dan kau tinggal nama!"

Sam-kai mandi keringat. Akhirnya ia dibawa keluar dan sebuah tendangan membuat ia dan adik-adik seperguruannya mencelat. Mereka merintih dan berdiri bangun. Lalu ketika mereka melewati penjaga maka di sini Cing Cing memandang anak buah Wong-ciangkun ini. Belum apa-apa mereka sudah menjatuhkan diri berlutut!

"Kami tak tahu-menahu, ampun, dari mana pengemis-pengemis busuk ini datang!"

Redalah kemarahan gadis itu. Sebagai murid terpandai dan paling dipercaya sikapnyapun sudah banyak berobah. Gadis ini bukan gadis pelayan dulu. Dan ketika ia mendengus dan menyuruh pintu gerbang ditutup maka empat pengemis ngeloyor pergi dengan sakit hati namun juga gentar. Namun kejadian ini tidak berhenti di situ, artinya bukan hanya Hwa-i Kai-pang yang coba menyatroni rumah ini sebelum jatuh tempo undangan.

Beberapa orang lain, para tokoh atau orang-orang yang merasa berkepandaian tinggi mendatangi rumah Hu-taihiap ini. Satu per satu di antara mereka memasuki rumah itu seperti empat pengemis pertama Hwa-i Kai-pang. Tapi ketika mereka roboh dan dihajar gadis-gadis pelayan itu, atau lima tukang kebun yang kini merupakan murid-murid lihai maka tersiarlah berita dari mulut ke mulut akan kehebatan penghuni baru itu. Sang majikan belum keluar dan baru menghadapi pelayan-pelayannya saja mereka sudah kocar kacir.

"Luar biasa, benar-benar tak dapat ku percaya. Cing Cing yang dulu merupakan pelayan di tempat Siangkek-taijin itu tiba-tiba menjadi lihai dan pandai sekali, kawan-kawan. Padahal dulu sama-Sama kita ketahui betapa gadis itu penakut dan amat lemah. Kini ia seakan harimau betina yang tumbuh taringnya. Aku dihajarnya tiga kali. Kalau tidak ingat bahwa kami berteman lama mungkin ia membunuhku!"

Seorang pemuda, berperawakan tegap dengan dahi lebar tampak bercerita di hadapan sekelompok pemuda sebayanya. Mereka adalah teman sekampung Cing Cing yang dulu suka menggoda gadis itu, tak dapat disangkal bahwa Cing Cing adalah yang tercantik di antara semuanya. Dan ketika semua mendengar seakan tak percaya, pemuda berdahi lebar itu menggoda Cing Cing ketika masuk dengan mengaku sebagai saudaranya maka yang lain memasang telinga dan kelihatan gentar.

"Bagaimana kau masuk, apa alasanmu ketika menemuinya."

"Aku mengaku sebagai saudara dari desa, kukatakan ibunya sakit."

"Lalu ia kau bawa?"

"Tentu saja, dulu aku tergila-gila kepadanya, teman-teman. Hanya setelah ia dikurung di tempat Siangkek-taijin tak ada kesempatan bertemu. Kini aku mencoba lagi, namun justeru dihajar dan babak belur!"

"Hm, kau tentu kurang ajar." yang lain tiba-tiba tertawa. "Atau kau mencoba menciumnya!"

"Benar, tapi siapa sangka. Aku sebagai murid Hek-lui-kong tak mau sudah. Akan kuminta bantuan guruku!"

"Tapi kau bersalah, kau menipu dan mengganggunya!"

"Ah, sebagai anak muda adalah wajar mengganggu gadis, Lo-tui, apalagi kalau kita suka padanya. Masa tak boleh aku menggoda!"

"Tapi kau menciumnya, kudengar itu!"

"Hmn, sedikit dari samping, luput. Kalau ia tidak marah-marah dan menamparku tak mungkin berlanjut menjadi pertengkaran. Cing Cing sekarang sombong!"

Lima pemuda mengangguk-angguk. Mereka adalah pemuda sedesa dengan gadis yang kini amat lihai itu. Berita dari mulut ke mulut menyebar cepat. Dan karena Hok Pang pemuda berdahi lebar itu merasa jatuh cinta maka yang lain mundur tapi tiba-tiba mereka mendengar betapa pemuda tegap itu dihajar sampai babak belur. Hok Pang adalah murid seorang tokoh gunung Wui-san tak jauh dari Ce-bu.

"Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang. Ada apa kau mengumpulkan kami di sini."

"Aku hendak minta bantuan...!"

"Wah, mengeroyok gadis itu?"

"Tidak, bukan. Melainkan..." pemuda ini berhenti lalu berbisik-bisik di telinga temannya.

Wajah sang teman berkerut tapi tiba-tiba tertawa. Lalu ketika ia mengangguk dan menyatakan setuju maka yang lainpun điberi tahu dan tiba-tiba ketawa serentak. "Ha-ha, bagus, tapi rejeki harus dibagi-bagi!"

"Tentu, asal aku sudah mendapatkannya maka kalian kuberi bagian, kawan-kawan. Aku menjadi benci dan ingin membalas dendamku. Tapi aku harus meminta tolong guruku, dialah yang akan merobohkan gadis sombong itu!"

"Dan kau memberi kabar penculikan itu, katakan bahwa ibunya dibawa penjahat!"

"Hm, berat juga. Tapi sebagai penympai berita baiklah kuikuti ini, Su Te. Hanya ingat bahwa tanggung jawab penuh di tangan Hok Pang!"

"Ya, kita hanya ikut-ikutan. Hok Pang yang mengajak!"

"Tak perlu khawatir, semua tanggung jawabku. Tapi masing-masing harus menjalankan tugas dan besok gadis itu harus keluar."

Mengangguklah enam pemuda bergerombol ini. Hok Pang akan menculik ibu gadis itu dan seorang di antara mereka memberi kabar. Memang Cing Cing masih mempunyai ibu kandungnya di desa. Dan ketika mereka bubar sementara keesokannya seorang pemuda meminta bertemu gadis itu maka Cing Cing tertegun karena inilah tetangganya dari desa, belum apa-apa sudah menangis dan gemetar.

"Celaka, aku membawa kabar buruk. Ibumu... ibumu diculik orang, Cing-Cing. Aku menyampaikan kabar dan maafkan berita ini. Aku tak tahu kepada siapa memberi tahu kecuali kepadamu."

"Lo-tui, apa yang terjadi. Kapan ibu diculik, dan siapa penculiknya!"

“Aku tak tahu, hanya. . hanya perawakannya tegap. Entah siapa yang berani mati melakukan itu. Apakah kau mempunyai musuh!"

"Hok Pang, ah, Keparat itu!" gadis ini tiba-tiba beringas. "Kapan terjadinya, Lo tui di bawa kemana ibuku?"

"Ke gunung Wui-san. Aku tak tahu apakah Hok Pang atau bukan kecuali perawakannya yang tegap gagah. Ada permusuhan apakah kau dengannya..?"

Namun gadis itu berkelebat mendorong. Pemuda itu terjengkang dan berteriak namun dari samping rumah muncul seorang pria pendek berkumis tipis, berkelebat dan mengejar gadis itu. Lalu ketika Cing Cing berhenti dan disambar lengannya maka Song Giam, bekas tukang kebun yang sama-sama menjadi murid di situ berseru,

"Cing Cing, mau ke mana kau. Bukankah tak boleh meninggalkan rumah tanpa ijin Hoa-siocia!" Terkejutlah gadis ini. Segera ia sadar dan menceritakan berita yang dibawa Lo tui, Dan ketika Song Giam tertegun dan berkerut kening maka lelaki pendek yang gesit langkah kakinya ini berkata,

"Kalau begitu menghadap Hoa-siocia dulu, lalu kuantar sama-sama. Kita hadapi jahanam itu!"

Cing Cing mengangguk. Berkelebat melupakan Lo-tui, ia sudah bertemu majikannya, Hoa-siocia berkerut kening. Tapi dingin berkata tenang ia pun mengangguk....

Putri Es Jilid 29

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

SI BUNTUNG tersenyum. Thai Liong mengguguk dan menerkamnya akan tetapi pemuda ini tenang-tenang saja. la menyeringai menahan sakit, darah masih mengucur dari lukanya. Akan tetapi ketika dia mendorong dan melepaskan diri maka pemuda ini berkata agar Thai Liong tak menangis tiada guna.

"Semua sudah terjadi, tak mungkin dipasang lagi. Kau berikanlah ibu jari itu dan katakan bahwa Puteri Es harus menepati janji. Suruh ia mencari Beng An pula, atau aku mendampratnya dan datang ke sana."

"Kau... kau gila," Thai Liong masih terguncang dan mencengkeram pundak si buntung ini. "Lagi-lagi kau mendahului aku, Siang Le. Kau tak pernah memberi kesempatan. Aku berhutang kepadamu!"

"Tak ada hutang, ini Semua untuk adik kita Beng An. Aku yang cacad diambil sedikit tak mengurangi cacadku, Thai Liong, lain dengan kau yang masih utuh. Kau tak boleh mengorbankan jarimu, cukup aku. Sekarang berikan itu dan kita sama-sama melaksanakan tugas!"

"Siang Le...!"

Si buntung memutar tubuh. Ia telah berkelebat meninggalkan Thai Liong dan pemuda itu melambaikan tangannya. Thai Liong tertegun dan pucat merah berganti-ganti akan tetapi si buntung itu telah pergi. Di tangannya terdapat ibu jari yang masih segar itu, Thai Liong tak kuat lagi dan menciumi ibu jari ini, mengguguk. Akan tetapi ketika ia sadar dan menghentikan keluh-kesahnya, betapapun hanya sebentar saja ia terguncang oleh peristiwa ini maka Rajawali Merah ini memandang kepergian si buntung dan menarik napas dalam-dalam penuh kagum, juga haru.

Tak disangkanya itulah yang hendak diberikan si buntung kepadanya. Teringatlah Thai Liong percakapan mereka di saat bulan purnama, bahwa Siang Le hendak memberikan sesuatu setelah nanti ayahnya datang. Dan ketika sesuatu itu di berikan dan ia terlambat, diam-diam ia sesungguhnya hendak melakukan hal serupa maka Thai Liong benar-benar terharu dan terpukul oleh kebaikan iparnya ini. Siang Le benar-benar pemuda istimewa, kemuliaan hatinya tak perlu diragukan lagi. Dan ketika sekali lagi ia mendekap dan mencium ibu jari itu akhirnya pemuda ini bergerak dan menuju Lembah Es.

* * * * * * * *

Tak sukar bagi pemuda seperti Rajawali Merah ini menemukan Puteri Es. Karena sudah hapal dan beberapa kali kesitu akhirnya Thai Liong menemukan yang dicari. Gadis itu duduk termenung di puncak gunung, matanya kosong memandang kejauhan. Sementara Lembah Es sunyi tak bergairah. Para murid yang tampak hanya mondar-mandir lesu, wajah mereka tak membayangkan kegembiraan, sementara Puteri Es sendiri tampak kurus dan pucat.

Wajahnya yang sembab jelas menunjukkan tangis yang tiada berkesudahan, apalagi karena bekas-bekas air mata masih tampak di pipi yang halus itu. Maka ketika Thai Liong tiba-tiba muncul dan berkelebat di depannya, tanpa suara maka gadis ini tersentak dan tiba-tiba meloncat bangun. Wajah yang sembab dan pucat itu mendadak menjadi beringas dan merah.

"Puteri...!"

Wei Ling memandang pemuda ini dengan mata berapi-api. Mata yang semula kosong dan tampak sendu itu tiba-tiba saja berkilat dan mengeluarkan hawa amarah. Mata itu seakan membakar hangus. Tapi ketika Thai Liong menyerahkan potongan ibu jari dan tercekik tak dapat meneruskan, menggigil membuka telapak tangannya maka gadis ini tertegun dan tiba-tiba berseru tertahan.

"Iihhhh...!"

Untuk sejenak keduanya dicekam perasaan masing-masing. Puteri Es membelalakkan mata dan akhirnya menutup mulut sementara Thai Liong gemetar dan memejamkan mata. Menyerahkan ibu jari itu mengingatkannya akan pengorbanan Siang Le yang besar, hal ini mencekik suara Thai Liong yang tak dapat melanjutkan. Akan tetapi ketika jerit kecil itu lenyap terganti sedu-sedan, Puteri Es mengguguk dan menutupi muka maka Thai Liong mémbuka matanya lagi dan dapat bicara, gemetar.

"Ini emas kawin yang kau minta. Kami kakak-kakak Beng An yang tak dapat membiarkan kehancurannya mempersembahkannya kepadamu, Puteri, terimalah dan tepati janjimu untuk menyambung kembali ikatan cinta yang putus itu. Beng An menunggumu. la... Ia meninggalkan rumah dan tolong kau cari pula...!"

Puteri Es terhuyung membuka mukanya. Air mata membanjir di kedua pipi halus yang tampak pucat itu, terbelalak ketika Thai Liong menyerahkan ibu jari itu. Tapi ketika ia tertegun melihat ibu jari yang masih utuh, di kedua tangan Thai Liong mendadak gadis ini berubah dan menjadi marah. "Thai Liong, ibu jari siapa yang kau bawa itu. Berani kau mempermainkan aku!"

"Maaf...!" Thai Liong mengangguk. "Bukan milikku, Puteri, tapi sama saja, milik kami keluarga Kim-mou-eng. Ini adalah ibu jari Siang Le yang mendahului aku memotong tangannya. la minta untuk menyerahkannya kepadamu dan menyambung kembali cinta yang terputus itu. Kami sudah memenuhi janji."

Gadis ini membelalakkan mata. "Siang Le?"

"Ya, iparku itu. Sekarang kami sudah memenuhi permintaanmu dan carilah Beng An karena ia terpukul dan terguncang jiwanya. Beng An.... Beng An sudah memutih rambutnya."

Gadis ini tersedu. Tiba-tiba ia menutupi mukanya lagi dan mengeluh. Kata demi kata yang keluar dari mulut Thai Liong seakan palu godam bertubi-tubi, meledaklah tangis itu dalam jerit melengking. Lalu ketika Thai Liong terkejut gadis itu membalikkan tubuh, berkelebat dan pergi maka Puteri Es menghilang memasuki istananya.

"Puteri...!"

Namun gadis itu tak mendengarkan. Thai Liong mengejar akan tetapi jarum-jarum halus menyambar, mengelak dan munculah anak-anak murid yang tertegun melihat pemuda itu. Dan ketika pemuda ini bingung harus berbuat apa, murid-murid Lembah Es berkelebat mengurungnya maka Thai Liong mengibas dan mendorong mundur.

"Minggir!"

Murid-murid terpelanting. Thai Liong merobos kepungan dan lenyap meninggalkan gunung, menuju istana. Tapi ketika dari dalam muncul anak-anak murid lain maka pemuda itu dihentikan dengan bentakan.

"Sang Puteri tak ingin bertemu siapa pun, harap Kim-siauwhiap berhenti!"

Tertegunlah pemuda itu melihat wajah-wajah pucat dari para murid yang dirundung duka. Dan karena tangan mereka menggenggam senjata erat-erat, jelas akan menyerangnya kalau ia nekat maka Thai Liong menarik napas panjang dan berkelebat memutar tubuhnya, pergi. "Baiklah, aku tak akan mendesak kalian. Hanya katakan kepada Puteri bahwa sekarang dituntut tanggung jawabnya untuk memenuhi janji!"

Murid-murid itu lega. Rajawali Merah lenyap dan hilanglah ketegangan yang semula memuncak. Mereka sadar siapa yang mereka hadapi namun kalau pemuda itu maju tentu mereka akan melawan mati-matian. Dan ketika semua menarik napas lega sementara isak-isak kecil terdengar di sana-sini, Thai Liong meninggalkan Lembah Es maka tanpa diduga sama sekali tahu-tahu gadis yang dicarinya itu ada di mulut lembah. Puteri Es bercucuran air mata menghadang dengan pedang di tangan!

"Katakan kepadaku bahwa ibu jari yang kau bawa betul-betul milik keluarga Kim-mou-eng. Aku ingin kau bersumpah. Dan katakan apa yang terjadi dengan Beng An, Thai Liong. Ke mana dia dan betulkah rambutnya memutih!"

"Hm," Thai Liong getir, tertawa pendek. "Sumpah bagiku tak ada perlunya, Puteri. Nama dan kehormatanku lebih dari cukup. Sebaiknya kau cari iparku itu dan cocokkan ibu jarinya. Tentang Beng An, ia gila dan terguncang. Untung pelayanmu Hwa Seng menjaganya siang malam. Adikku sekarang sembuh namun ia pergi entah ke mana."

"Ceritakan padaku apa yang terjadi, bagaimana mula-mula!"

"Hwa Seng membawanya pulang ke utara, bertemu ayah. Lalu ketika ia sembuh dan bersamadhi di makam ibu maka kemarin ia pergi dan entah ke mana. Kami sekeluarga mencari, kalau kau masih mencintainya pula harap bantu kami dan temukan dia”.

"Kau... kau tak bohong?"

Pemuda ini tertawa pahit. "Untuk apa aku bohong, Wei Ling. Lihat dan buktikan saja. Cukuplah, aku sekarang pulang!"

Gadis itu membentak. Thai Liong menyebut nama kecilnya dan berkelebat ke depan, menerobos mulut lembah. Dan ketika ia menggerakkan pedang namun ditangkis terpental, ia terhuyung maka pemuda itu sudah lenyap meninggalkan tempat itu, tak berkata-kata. Thai Liong telah melepas gemasnya dengan memanggil nama kecil gadis ini, puteri keturunan Dinasti Han itu marah. Tapi karena ia sudah lenyap dan kembali pulang maka gadis inipun tiba-tiba bergerak dan mengejarnya, melihat sebuah perahu melesat di tengah laut es dan itulah si Rajawali Merah yang tak mau banyak cakap lagi.

Puteri Es melengking dan melompat di perahu lain, menendang dan meluncurkan perahunya cepat. Namun karena Thai Liong sudah lepas di tempat bebas dan tak mungkin dikejar maka gadis ini tersedu-sedu kehilangan lawan, tak bergerak dan memasuki pula lautan luas. Lembah Es telah mereka tinggalkan jauh. Lalu ketika perahu itu bergerak dan lenyap di Semenanjung Hitam maka Thai Liong diam-diam girang karena Sang Putéri telah meninggalkan sarangnya.

Yang dilakukan Thai Liong adalah melanjutkan sisa perjalanannya mencari Beng An. Masih ada waktu baginya sebelum pulang dan melapor. Tapi ketika dalam perjalanannya ia gagal dan tak menemukan sang adik, khawatirlah pemuda ini maka tepat tujuh hari ia kembali dan pulang, sesuai perjanjian. Dan di sana telah berkumpul ayah dan adik perempuannya Soat Eng, juga Siang Le.

"Kami gagal, bagaimana dengan kau," sang ayah bertanya dan lengsung menyambut.

"Sama saja," Thai Liong menggeleng, sedih. "Aku juga tak menemukan tanda-tanda Beng An, ayah, entahlah di tempat mana dia.” Lalu memandang adiknya dan juga Siang Le, yang tampak tenang dan menyembunyikan ibu jari tangan kanannya maka Soat Eng terisak mengusap air matanya.

"Kami baru saja datang, dan kau muncul. Sebenarnya harapan kami ada padamu Liong-ko, tapi kalau kau juga gagal, entahlah di mana adikku itu. Keparat benar Puteri Es itu, gara-gara dia kita semua susah!"

"Hmn, tenang, jangan menyalahkan orang lain," sang ayah menggeleng dan mengerutkan kening tanda tak setuju. "Kita hidup selalu berteman persoalan, Soat Eng, tak ada yang sepi dan kosong dari persoalan. Sekarang bagaimana selanjutnya dan apa yang akan kita lakukan."

Thai Liong melirik si buntung ini. Dari percakapan itu segera ia tahu bahwa persoalan ibu jari belum diketahui semua orang, bahkan ayahnyapun tidak. Hal ini karena sejak tadi Siang Le menyembunyikan tangannya itu. Secara cerdik seolah tidak sengaja ia menyimpan bagian yang putus ke dalam, isteri dan gakhunya tak tahu. Dan ketika ia melihat pancaran si buntung yang bersinar aneh, ada sesuatu yang tampaknya disembunyikan maka tiba-tiba si buntung ini berkata,

"Kupikir kami berdua yang melanjutkan pencarian ini. Biarlah Eng-moi dan anak-anak pulang ke Sam-liong-to, juga Shintala kalau mau. Bagaimana menurut gak-hu kalau aku dan Thai Liong pergi? Bukankah kami lebih tepat?"

"Kupikir juga begitu," Pendekar Rambut Emas mengangguk dan ternyata setuju. "Aku merasa lelah mencari adik kalian itu, Siang Le, tenagaku sudah tidak seperti dulu. Aku sudah tua. Tepatlah kalau kalian berdua yang pergi."

"Dan bagaimana aku? Masa berpeluk tangan dan menunggu di Sam-liong-to?" Soat Eng menggeleng, menolak. "Aku ingin mencari lagi, Le-ko, tidak tinggal diam menunggu. Aku juga ingin tahu di mana adikku itu!"

"Anak-anak harus bersama ibunya," si buntung menggeleng dan menasihati. "Sudah terlalu lama Siang Hwa dan Siang Lan serta Hok Gi tak berteman orang tuanya, Eng-moi. Tak baik membiarkan mereka dan kau tak boleh ikut."

"Aku ikut!"

"Tidak!"

"Ikut!"

Tiba-tiba terdengar isak tangis dan sedu-sedan di luar. Dua bayangan anak perempuan, Siang Hwa dan Siang Lan tiba-tiba meloncat dan meninggalkan bagian depan ruangan. Mereka menunggu ayah dan ibunya ini ketika baru saja datang. Dan ketika tiba-tiba ayah ibu mereka bertengkar, sang ayah tentu saja dirasa benar maka dua anak ini mendadak kecewa dan marah kepada ibu mereka itu, menangis dan meloncat pergi dan terkejutlah Soat Eng oleh kejadian ini. Ia lupa bahwa di ruangan depan menunggu anak-anak itu, juga Bun Tiong yang duduk bersama Cao Cun. Maka ketika tiba-tiba Soat Eng berkelebat.

Siang Le juga tak tinggal diam, disambarlah anak-anak itu maka Siang Le berseru bahwa isteri-nya tak perlu berbantah lagi. "Lihat, anak-anak kecewa. Masa kau tetap keras kepala dan tak menghiraukan mereka!"

Sadarlah wanita muda ini. Pendekar Rambut Emas juga bergerak dan Bun Tiong menghambur pada ayahnya. Thai Liong atau Rajawali Merah ini memeluk kepala puteranya. Lalu ketika Shintala berkelebat maju dan terisak memandang suaminya ini maka nyonya itupun berbisik apakah ia tak boleh ikut.

"Tidak, jangan," Thai Liong menggeleng. "Urusan ini cukup ditangani kami berdua, moi-moi. Bun Tiong bersamamu dan kalian menunggu di Sam-liong-to. Aku tak akan lama."

"Bagaimana kalau dengan Bun Tiong?"

"Kau mengajak anak kecil di perjalanan yang tak tentu arahnya? Ah, tidak, moi-moi, sekali lagi tidak. Aku ingin kau di Sam-liong-to dan menunggu aku di sana!"

Shintala bukanlah isteri yang suka berdebat seperti Soat Eng. Pada dasarnya wanita ini berjiwa lembut dan penurut. Maka ketika ia memeluk puteranya dan terisak menciumi Bun Tiong akhirnya ia tak menjawab apa-apa selain mengangguk. Soat Eng memeluk anak-anak perempuannya pula dan tangis ibunya Cao Cun semakin menyadarkan. Dan ketika ayahnya batuk-batuk dan menyambar Hok Gi maka mengelus kepala anak laki-laki itu pendekar ini berkata,

"Apa yang dikata suamimu benar. Lihat mereka ini, seakan anak yatim-piatu saja. Kau dan anak-anak memang harus ke Sam-liong-to, Eng-ji, biarkan urusan adikmu diselesaikan suami dan kakakmu. Aku percaya mereka."

"Ibu tak sayang kami," Siang Lan nangis. "Biarlah kalau ibu pergi lagi, kong-kong, ada kau di sini."

"Atau kami ikut mencari paman Beng An, kami juga tidak takut!" Siang Hwa menyambung.

"Tidak tidak," Pendekar Rambut Emas menciumi dua anak itu. "Kalian harus tetap bersama orang-orang tua, Siang Hwa, tak baik bagi anak-anak kecil berkeliaran di tempat yang belum pasti. Ayah dan uwa kalian dapat mengerjakan ini, anak-anak harus tinggal dirumah."

Soat Eng mengangguk dan menghapus air matanya. Betapapun juga keharuannya timbul, ia terisak menciumi kedua anaknya pula. Lalu ketika ia meminta Hok Gi dan memeluk anak ini maka wanita itu berkata bahwa ia memenuhi perintah. "Baiklah, aku ke Sam-liong-to, juga cici Shintala. Tapi ayah harap menemani kami agar anak-anak selalu dekat kakeknya!"

"Hore!" Bun Tiong bersorak. "Kau betul, bibi. Kong-kong pengganti paman dan ayah. Aku setuju!"

"Aku juga," Siang Hwa dan Siang Lan berseru. "Kalau kong-kong tak mau ke sana biar kami tetap di sini saja!"

"Hm-hm, aku harus melindungi bangsa Tar-tar di sini, mana mungkin meninggalkan mereka. Kalau aku pergi bagaimana mereka, Bun Tiong. Bukankah tenagaku diperlukan di sini."

"Ah, kong-kong tidak selamanya, lagi pula tempat ini aman. Bukankah seringkali kong-kong meninggalkan mereka dan tak ada apa-apa!"

"Benar, kepergian kita ke Lembah Es juga tak membawa akibat apa-apa bagi mereka. Anggap saja kau berlibur sejenak kong-kong, setelah itu kembali lagi!"

"Nah, aku merasa benar," Thai Liong berkata dan memandang ayahnya bersinar-sinar. "Pendapat mereka kudukung penuh, ayah. Sebaiknya ayah ikut pula ke Sam-liong-to menemani mereka. Hitung-hitung mewakili kami!"

"Cocok," Siang Le juga mengangguk. "Mereka tak dapat berpisah denganmu, gak-hu. Biarlah kau menemani mereka dan menunggu kami di Sam-liong-to."

"Aku hanya menurut yang terbaik saja," Cao Cun mengangguk dan menanggapi tersenyum. "Kalau kita harus pulang tentu saja kami menunggunya di sana, Siang Le. Mudah-mudahan ayahmu tak keberatan dan kita semua pergi dengan tenang. Siapa nanti yang menyiapkan makan minum ayahmu kalau ia sendirian saja di sini."

Tersudutlah pendekar itu. Kim-mou-eng tertawa lebar dan menyatakan setuju. Tapi ketika urusan Beng An kembali ke permukaan maka pendekar itu berkerut kening dan murung lagi. "Baiklah, baiklah kita semua sudah membagi tugas sendiri-sendiri. Aku mengantar anak-anak ke Sam-liong-to, tapi kalian harus memberi kabar. Sebulan kupikir cukup!"

Thai Liong mengangguk. Ia melihat si buntung berseri dan melirik padanya, setuju. Lalu ketika mereka kembali dan masuk ke ruang dalam maka diambil keputusan bahwa pencarian hanya dilakukan pemuda ini dan iparnya. Malam itu semua sedih dan hilangnya ibu jari belum diketahui. Siang Le cerdik menyembunyikan lukanya hingga sang isteri tetap tak tahu. Dan karena sudah di ambil keputusan bahwa besok mereka berangkat, yang lain ke Sam-liong-to maka menjelang ditutupnya percakapan itu Thai Liong mendapat isyarat si buntung agar menemuinya di belakang.

Thai Liong mengangguk. Dan ketika pertemuan benar-benar bubar dan mereka berkelebat keluar maka di saat anak-anak ditemani ibunya Thai Liong sudah berhadapan dengan iparnya ini. Lagi-lagi bulan purnama memancarkan cahayanya yang terang di atas kepala mereka.

"Bagaimana hasilnya," begitu si buntung mendahului bertanya. "Apa kata gadis itu, Thai Liong. Sudahkah kau menyerahkan emas kawinnya."

"Semua beres," Thai Liong menjawab serak, terharu oleh luka yang ditutup tu. "Gadis itu telah meninggalkan Lembah Es, Siang Le, dan kau kutangkap sesuatu yang kau sembunyikan di matamu."

"Bagus, aku memang ingin bicara sejenak. Dan kau pandai menangkap rahasia mataku. Aku tak menemukan jejak Beng An, Thai Liong, tapi sesuatu yang luar biasa kutemukan. di Ce-bu. Aku ingin mengajakmu ke sana!"

"Ce-bu?"

"Ya...!"

"Ada apa."

"Aku sendiri tak tahu, tapi keramaian besar, tepatnya kegemparan. Kudengar seseorang malang-melintang di sana dan menantang semua orang-orang kang-ouw. Ketua-ketua persilatan besar dirobohkan, katanya akan ada pengangkatan bengcu (pemimpin persilatan). Dan yang lebih hebat semuanya ini akan dikerahkan untuk menyerbu Pulau Api dan Lembah Es!"

"Apa?"

"Itulah. Aku tak menceritakan ini kepada gak-hu maupun isteriku. Aku tak ingin mereka dengar. Aku hanya ingin kau dan aku yang tahu, lalu kita ke sana. Jangan-jangan adik kita menjadi dalang di sana!"

"Hm-hm!" Thai Liong terkejut. "Perjalananmu ke selatan rupanya membawa petunjuk, Siang Le, benar bahwa siapapun tak perlu diberi tahu. Dan agaknya inilah kehendakmu bahwa besok kita ke Ce-bu."

"Benar, dan yang lebih mencurigakan lagi adalah pusat di mana sumber keramaian itu berada. Tahukah kau!"

"Di mana?"

"Di bekas rumah Hu-taihiap!"

"Ah, kakek Beng An?"

"Benar, di situlah sumber kegemparan ini terjadi, Thai Liong. Aku tak sempat kesana karena kehabisan waktu. Di sepanjang jalan aku mendengar ini, dan aku ingin kita berdua menyelidiki!"

"Baik, menarik sekali," Thai Liong berdebar, pandang matanya bersinar. "Tentu bukan kebetulan kalau rumah itu dipakai, Siang Le. Sepengetahuanku rumah itu dikosongkan dan tak pernah dimiliki orang lain. Hanya Beng An atau isterimu yang berhak!"

"Aku juga berpikir begitu. Karena itu bersiap-siaplah besok dan kita langsung ke sana!"

"Tunggu...!" Thai Liong melihat iparnya ini hendak meloncat pergi. "Aku ingin bertanya sedikit, Siang Le, apakah persoalanmu tak diketahui isterimu."

"Persoalan apa?"

"Ibu jarimu itu!"

"Ah, tak perlu dipikirkan, Thai Liong, mudah mengatasinya..."

"Tidak, jangan pergi dulu. Jangan bicara mudah kalau akibatnya tidak semudah itu!"

"Hm, aku dapat mengatasinya. Kalau kau tak memberi tahu isteriku maka dapat kukatakan bahwa ibu jariku digigit ikan hiu!" Siang Le tertawa, begitu ringan berkata dan Thai Liong tentu saja tertegun. Begitu enak jawaban itu, begitu mudahnya!

Tapi menyambar dan mencengkeram si buntung ini Thai Liong gemetar bicara, "Siang Le, kau tak dapat bicara seperti itu. Isterimu bukan orang bodoh. Tak mungkin semua ini bertepatan dengan permintaan Puteri Es!"

"Aku sudah memperhitungkannya. Kalau Eng-moi mendesak maka kukatakan bahwa semua ini bukan paksaannya, Thai Liong. Aku rela menyerahkan itu atas keinginanku sendiri. Ini karena kecintaanku kepada Beng An. Nah, mau apa lagi!"

Rajawali Merah tertegun. Untuk kesekian kalinya lagi ia terkesima memandang iparnya ini. Jawaban itu terasa sungguh-sungguh dan tepat. Lalu ketika Siang Le melepaskan dirinya tertawa mengingatkan peristiwa di Sam-liong-to maka dia berkata bahwa pengorbanan kali ini kecil.

"Bandingkan dengan putusnya tanganku ini, mana lebih besar. Bukankah hilangnya sebuah ibu jari masih bukan apa-apa. Sudahlah, sekarang kita beristirahat, Thai Liong, besok bersiap dan pergi."

Kali ini Thai Liong melepaskan iparnya. Siang Le begitu lugu dan amat bersahaja, ia terharu bukan main. Dan ketika ia mengangguk dan menarik napas dalam maka pemuda ini menepuk bahu si buntung mengejapkan dua butir air mata yang meloncat turun. "Siang Le, kau satu-satunya keluarga kami yang amat mulia. Kau selalu mendahului aku. Baiklah terima kasih dan sampai jumpa besok!"

Si buntung mengangguk dan tertawa memutar tubuh. Ia tak menjawab kata-kata itu dan lenyap ke dalam. Lalu ketika Rajawali Merah juga bergerak dan masuk ke dalam maka keesokannya dua pemuda ini mencari Beng An, melanjutkan pencarian pertama yang gagal. Bersamaan dengan itu Pendekar Rambut Emas dan cucu serta puterinya meninggalkan lembah hijau di luar padang rumput itu, bersama Shintala dan Cao Cun, wanita setengah baya yang setia dan selalu menemani keluarga besar ini. Dan ketika masing-masing bergerak dan lenyap maka Siang Le dan Rajawali Merah ke Ce-bu. Sementara di belakang, membelok ke timur bergeraklah rombongan Pendekar Rambut Emas menuju Sam-liong-to.

* * * * * * * *

Apa yang diceritakan Siang Le memang benar. Ce-bu, kota berpenduduk padat di wilayah selatan gempar. Hal ini di mulai ketika bekas rumah Hu Beng Kui, jago pedang yang sering dijuluki Hu-taihiap dihuni seseorang yang amat lihai. Rumah kosong yang bertahun-tahun tidak dipergunakan itu mendadak berisi penghuni. Mula-mula penghuninya dua orang, seorang kakek-kakek dan seorang gadis muda yang amat lihai. Dan karena rumah itu selama ini dititipkan walikota Ce-bu, sejak Hu Beng Kui tewas melawan musuh jahat maka Siangkek-taijin yang dipercaya melindungi rumah itu tahu-tahu dibuat tak berdaya ketika kakek dan gadis lihai ini menemuinya.

Pagi itu ketika walikota habis menenggak arak hangatnya mengisi perut maka dua orang muncul di depannya bagai iblis. Siangkek-taijin tentu saja terkejut sekali ketika dua orang ini muncul. Ia akan berangkat kerja ketika tahu-tahu kakek dan gadis lihai itu berada di depannya. Dan ketika ia tertegun sementara pengawalnya berseru keras, menubruk dan menyerang dua orang itu tiba-tiba pengawalnya roboh terbanting hanya dengan satu kelitan tipis, gerakan yang dilakukan gadis di sebelah kakek itu.

"Kami datang meminta kunci rumah Hu Beng Kui. Serahkan semuanya dan umumkan rumah itu kami huni!"

Sang walikota terbelalak. Ia mendengar gadis itu bicara sementara pengawalnya membentak dan menubruk, seolah tak tahu atau acuh saja terhadap serangan itu. Tapi ketika pengawalnya roboh dan jerit atau teriakan ini mengundang pengawal lain, masuklah enam pengawal bertubuh tegap maka gadis itu tertawa dingin dan tahu-tahu bergerak kemudian menangkap leher baju pembesar ini.

"Siangkek-taijin, kami tak ingin main-main dengan para pengawalmu yang tiada guna itu. Serahkan kunci rumah Hu-taihiap atau tulang lehermu kutekuk patah!"

"Ampun, egk...! Aku..., eh, lepaskan aku, nona. Rumah itu milik pewarisnya si Pendekar Rambut Emas. Aku tak berani menyerahkan. Kalian hubungi keluarganya atau minta sendiri ke sana."

"Aku tak perduli itu, kami sudah di sini. Kami hanya menghendaki kunci dan ingin tinggal di sana. Nah, serahkan itu atau lehermu kutekuk jadi dua!"

Siangkek-taijin menjerit. Lehernya ditekuk dan tentu saja ia kesakitan. Dan ketika pengawalnya bergerak dan hendak menyerang maka gadis itu mengangkat tubuh si wallkota memutarnya menyambut tusukan golok.

"Hayo, lukailah tuanmu. Mundur atau dia mampus!"

Sang pembesar berteriak-teriak. Tak disangkanya sepagi itu ia sudah disatroni musuh. Maka membentak dan memaki pengawalnya sendiri pembesar itu menyuruh mundur. Kejadian ini memancing pengawal yang lain dan sekejap kemudian berita itu menyebar cepat, datanglah sepasukan berkuda dipimpin Wong-ciangkun, seorang perwira menengah yang menjadi komandan kota Ce-bu. Tapi ketika Wong-ciangkun meloncat dari kudanya dan melihat tubuh Siangkek-taijin dijungkir balik maka iapun mundur dan seratus lebih pengawal yang ada di situ dibuat terbengong-bengong oleh tingkah gadis ini.

"Kami tak bermaksud membunuh orang. Kami datang untuk minta kunci rumah Hu-taihiap. Nah, mundurlah kalian semua dan biarkan Siangkek-taijin menjawab!"

"Ampun, lepaskan aku!" sang pembesar merintih dan merah padam, tubuhnya dijungkir balik gadis kurang ajar itu. "Kunci ada di kamarku, nona, biarkan kuambil. Mana mungkin kuambil kalau kau memperlakukan aku seperti ini!"

"Hm, kamarmu sebelah mana?"

"Di atas, bagian kiri!"

"Baik, kuantar ke sana dan awas kalau bohong!"

Wong-ciangkun dan orang-orang laln terbelalak. Mereka melihat gadis ini menjejakkan kakinya dan tahu-tahu melayang naik ke atas. Dari bawah ia bergerak lurus, tepat dan hinggap di balkon rumah. Lalu ketika sang pembesar diturunkan dan berdiri dengan kepala di atas maka Wong-ciangkun yang mendapat bisik-bisik dari seorang pengawal tiba-tiba memberi isyarat dan kakek yang masih berdiri dengan wajah tak bergerak tahu-tahu dibabat golok dari belakang.

"Wut!" Kakek ini hilang. Si pembacok terkejut sekali dan berteriak keras. Ia tak tahu di mana lawannya berada. Tapi ketika seruan terdengar di sana-sini dan ia terlambat maka kakek itu muncul di belakangnya dan sekali kakek itu mendorong maka pengawal ini melesat dan menabrak Wong-ciangkun.

"Heiiii...bressss!"

Dua orang itu terbanting dan jatuh bergulingan. Wong-ciangkun kaget sekali namun tak dapat mengelak. Tubuh si pengawal yang meluncur ke arahnya cepat sekali, ia tertabrak dan jatuh terguling-guling, dadanya sesak. Tapi ketika perwira ini dapat meloncat bangun sementara pengawal itu kelenger, setengah pingsan maka kemarahan perwira ini tak dapat di tahan lagi dan ia memberi aba-aba menyerang, diri sendiri berkelebat dan sebatang golok lebar bersiut di tangannya, menyambar leher.

"Tua bangka dari mana berani mengacau Ce-bu. Mampuslah, serang...!"

Semua bergerak. Masing-masing tak ragu lagi bergerak dari delapan penjuru. Akan tetapi ketika semua terkejut kakek itu lenyap, orang hanya melihat ia menggerakkan kakinya sedikit maka tiba-tiba seorang di antara mereka menuding ke atas. "Dia di sana!"

Ternyata kakek itu sudah berada di dekat Siangkek-taijin, di loteng atas. Entah bagaimana ia terbang seperti burung akan tetapi kepandaiannya itu membuat orang meleletkan lidah. Dan ketika semua menghambur dan Wong-Ciangkun mengejar ke atas maka gadis cantik itu, yang bersikap dingin tertawa pendek berkata,

"Siapa mengganggu kami tikus ini mampus. Nah, majulah dan kulempar kau ke bawah!"

"Tidak jangan!" sang pembesar berteriak. "Kunci ada di kamar itu, nona, cepat ke sana 

Dan kusuruh orang-orang itu berhenti. He, jangan menyerang, berhenti. Jangan serang!" dan tergopoh menggoyang-goyang tangannya kepada semua pengawal cepat-cepat pembesar ini berlari kamar yang ditunjuk. Itu adalah kamar pribadinya dan gadis di belakangnya mengikuti, sebuah pisau berkilat di tengkuknya. Dan ketika pembesar itu mendorong pintunya dan melompat masuk, di dalam dua wanita cantik menjerit kecil maka pembesar ini membuka sebuah lemari dan menyambar seikat kunci yang berkerincingan.

"Ini, jangan bunuh aku. Terimalah!"

Gadis itu tersenyum. Ia menerima itu lalu mengangguk, kakek temannya bersinar dan mengangguk pula. Lalu ketika gadis itu berkelebat disusul sang kakek maka mereka sudah keluar bertabrakan dengan Wong-ciangkun dan para pengawalnya. "Minggir, semua minggir...!"

Terjengkanglah orang-orang ini. Wong-ciangkun berseru kaget terlempar ke dinding, jatuh dan terguling-guling sementara goloknya mencelat. Pergelangan tangannya diketuk dua jari gadis itu, disusul tendangan dan bentakan yang membuat anak buahnya berpelantingan keluar. Lalu ketika dua orang ini mengibas kiri kanan maka merekapun meloncat ke bawah dan turun dari tempat tinggi itu.

Gemparlah gedung sang walikota. Mereka yang di bawah tak berani menyerang gadis dan kakek ini. Bagaimana menyerang kalau komandan mereka saja dirobohkan begitu mudah. Maka ketika dua orang ini melenggang dan lenyap di luar pintu gerbang maka Wong-ciangkun mencak-mencak mengerahkan anak buahnya. Akan tetapi Siangkek-taijin mencegah. Walikota yang merasakan sendiri kehebatan gadis cantik itu khawatir kalau dirinya menjadi sasaran. Dia khawatir gadis itu membunuhnya. Maka ketika semua pengawal bersiap di halaman dan akan mengejar maka pembesar ini buru-buru mengangkat tangannya.

"Stop, berhenti dulu. Jangan kejar. Serahkan ini kepada Pendekar Rambut Emas. Biarkan mereka tinggal di rumah itu dan kita melapor kepada ahli warisnya!"

Semua tertegun. Tiba-tiba mereka sadar bahwa kepandaian lawan amatlah hebatnya. Baru gadis itu seorang diri mereka tunggang-langgang, belum lagi si kakek. Maka sadar dan mengangguk setuju merekapun mundur dan tak jadi mengejar. Akan tetapi Wong-ciangkun berseru marah. Perwira yang masih penasaran dan sakit dibanting itu menyatakan tidak, ia harus menyerbu. Dan karena ia pimpinan di situ maka anak buahnya tak dapat berkata apa-apa lagi.

"Ce-bu bukan kota kosong yang tak memiliki pasukan. Mereka orang-orang kurang ajar yang harus ditangkap. Kalau kita biarkan saja tentu keadaan semakin parah, tak boleh itu terjadi. Kau tinggal saja di sini menunggu kami, taijin, ini tugasku menangkap pengacau. Kalau aku gagal barulah ahli warisnya diberi tahu, Pendekar Rambut Emas boleh datang!"

Berangkatlah pasukan itu lagi. Mereka melompat di atas kuda masing-masing dan berderaplah Wong-ciangkun dan anak buahnya. Penasaran membuat perwira itu tak mau sudah. Akan tetapi ketika dia tiba di sana ternyata gadis baju putih itu menyambut di halaman depan. Jendela dan pintu rumah Hu Beng Kui sudah dibuka lebar-lebar.

"Hi-hik, bagus sekali. Tidak dihajar tak akan kenal adat. Heh, majulah, Wong-ciangkun, tapi kali ini terakhir bagimu mengganggu aku. Kalau kakekku tak melarangku membunuh tentu kau dan anak buahmu kukirim ke neraka. Majulah!"

Perwira ini gentar. Sesungguhnya ia tahu kelihaian lawan, akan tetapi karena nama baik harus dijaga dan selama ini ia selalu galak, malu kalau tunduk di depan pasukannya maka tak ayal perwira itu memberi aba-aba dan menyuruh anak buahnya menyerang. Dia sendiri bergerak dari belakang di atas kudanya. "Serang dan tangkap gadis ini. Robohkan dia!"

Pasukan bergerak maju. Mereka tetap di atas kuda masing-masing dan golok atau tombak menusuk cepat. Gadis itu sudah dikepung. Namun ketika bayangan putih berkelebat dan terbang mengelilingi mereka, tamparan jari-jari kecil mendahului semua itu maka golok dan tombak terlempar mencelat disusul tubuh yang berdebukan di atas tanah. Wong-ciangkun sendiri berteriak dan terpelanting.

"Aduh!"

Pucatlah orang-orang ini. Mereka yang ada di belakang hendak mundur namun bayangan putih yang menyambar-nyambar itu mengejar mereka, tidak berhenti sampai di situ saja karena semuapun mendapat bagian. Siapapun tak mungkin mengelak dari bayangan putih ini. Dan ketika ada yang menangkis namun malah terbanting, pingsan dan patah tulangnya maka tak sampai dua menit pertarungan selesai dan kuda meringkik terbang meninggalkan tuannya yang merintih-rintih di atas tanah. Gadis itu telah berdiri lagi dengan tangan berkacak pinggang. Pipi Wong-ciangkun bengap dan merah bengkak, terduduk di atas tanah seakan tak percaya melihat semuanya itu. Gentar!

"Nah, apa kataku. Cukup atau masih kurang. Bilang saja kalau ingin tambah. Tapi kalau kalian bertobat maka pulanglah dan jangan sekali-kali mengganggu kami lagi. Dan kau!" gadis itu menuding Wong-ciangkun. "Mulai sekarang kau ikut menjaga keamanan di rumah ini, ciang-kun. Siang dan malam kerahkan anak buahmu berjaga di regol ini. Permintaan lain akan menyusul, sekarang pergilah dan biarkan kami beristirahat!"

Komandan itu mengangguk-angguk. Setelah ia dihajar dan jatuh bangun bersama anak buahnya tentu saja nyalinya menciut, tak ada keberanian lagi. Lalu ketika hari itu rumah itu dihuni, kakek dan gadis cantik itu tinggal di situ maka beberapa hari kemudian mereka minta pelayan.

"Katakan kepada Siangkek-taijin bahwa kehidupan rumah ini akan kami pulihkan seperti jamannya mendiang Hu-tai-hiap. Datangkan pelayan dan tukang kebun di sini, kami ingin semuanya asri!"

Berdatanganlah pelayan dan tukang kebun yang diminta. Rumah yang tadinya kosong dan tidak berpenghuni mendadak menjadi ramai lagi. Pohon-pohon dipangkas dan diatur lagi, kamar demi kamar diisi mereka ini. Dan ketika lima belas orang itu takut-takut berhadapan dengan penghuni baru, jadilah kakek dan gadis cantik itu majikan mereka ternyata sesuatu yang tidak diduga malah membuat mereka girang.

"Kalian tak usah takut-takut menemani kami di sini. Asal kalian tunduk dan taat perintah maka kami bukanlah orang kejam. Mulai hari ini kalian harus belajar silat, dan aku yang langsung membimbing. Nah, siapa yang suka dan segera acungkan jari!"

Semua mengangkat telunjuk. Siapa tidak suka dan senang menerima itu. Sepuluh pelayan dan lima tukang kebun segera menjadi murid. Dan ketika hari itu juga mereka diberi pelajaran silat, tak lama kemudian sudah mampu merobohkan pengawal Wong-ciangkun maka berita ini membuat pucat sang komandan kota yang tentu saja menjadi khawatir, tak senang!

"Apa yang sebenarnya mereka kehendaki. Apakah hendak menyaingi kota raja. Kalau mereka ingin menjadi kaisar dan ratu di sini maka celakalah kita, taijin. Kenapa utusan kita belum juga datang. Apakah Pendekar Rambut Emas dan keluarganya belum dapat ditemukan!"

"Sabarlah, tenanglah. Kita sudah mengirim orang mencari Kim-mou-eng, ciangkun, kalau belum datang memang perjalanan amatlah jauh. Biarkan saja mereka bertingkah dan kelak akan tahu rasa. Berani benar mengusik warisan Pendekar Rambut Emas!"

Wong-ciangkun menahan marah. Dari orang-orangnya yang berjaga di rumah itu maka setiap kejadian dapat diikuti dari jauh. Ia sendiri kadang-kadang harus datang menjaga rumah itu. Dan ketika pelayan serta tukang kebun dapat mengalahkan pengawalnya, ia menjadi cemas maka suatu hari ia dipanggil menghadap. Gadis baju putih itu duduk di ruang dalam dengan sikap angker.

"Duduklah," begitu sapaan yang didapat. "Ada sesuatu yang ingin kumintakan tolong, ciangkun. Buatlah undangan untuk orang-orang yang kami sebut dan antarkan undangan itu kepada mereka."

"Undangan?" Wong-ciangkun tertegun. "Apakah jiwi (kalian berdua) hendak mengadakan pesta? Perkawinan atau ulang tahun?"

"Tutup mulutmu. Tak ada perkawinan atau ulang tahun di sini, ciangkun, melainkan surat tantangan kepada semua orang-orang kang-ouw. Kami hendak mengadakan pemilihan bengcu (pemimpin persilatan). Kau yang lama tinggal di sini tentu tahu siapa saja tokoh-tokoh yang pantas diundang. Nah, buatlah undangan itu dan atas namakan kami sebagai Thian-te It-hiap (Jago Tunggal Langit Bumi). Mereka yang kalah harus tunduk dan langsung di bawah perintah kami. Laksanakan itu!"

Wong-ciangkun terkejut. Setelah ia mendengar semua kata-kata ini tentu saja ia membelalakkan matanya lebar-lebar. Gadis ini, yang dikenalnya sebagai Hoa-siocia (nona Hoa) minta dibuatkan undangan menantang jago-jago kang-ouw. Diri sendiri dijuluki Thian-te It-hiap yang berkesan sombong dan tinggi hati. Tentu saja ia terkejut. Tapi girang bahwa pucuk dicinta ulam tiba, dengan ini malah jago-jago persilatan akan menghajar kakek dan cucunya ini maka cepat perwira itu mengangguk dan berseri.

"Baik, kami laksanakan perintah. Tapi bagaimana kalau mereka datang mendahului undangan, siocia. Maksudku bagaimana kalau undangan yang menggegerkan ini membuat marah mereka dan datang sebelum waktunya. Tanggal berapa pula undangan itu dijatuhkan!"

"Berapa kira-kira yang dapat kau undang."

"Ratusan orang!"

"Sebutkan jumlahnya."

"Tiga atau empat ratus orang, siocia, belum termasuk anak buah mereka. Misalnya ketua Hwa-i Kai-pang di luar Ce-bu ini, juga tokoh-tokoh bajak yang berkeliaran di sungai atau lautan!"

"Hm, orang-orang kasar begitu tak perlu diundang. Cari yang setingkat ketua-ketua partai, ciangkun, keroco-keroco seperti itu hanya mengotori rumah ini saja. Mereka jangan diundang!"

"Baik, kalau begitu kuseleksi lagi. Hanya kalau mereka datang mendengar kabar undangan ini harap siocia tidak menyalahkan aku!"

"Cukup, tak perlu banyak mulut. Sekarang buatkan undangan itu dan sebar kepada mereka yang termasuk jago-jago kelas satu. Kelas kambing bagianmu, jangan memasuki rumah ini, atau kau harus bertanggung jawab dan kupotong telingamu!"

Wajah Wong-ciangkun memerah. Ia membungkuk dan menyatakan siap tapi lagi-lagi menanyakan tanggal. Diam-diam kemarahan perwira ini bangkit. Hanya karena mengetahui kelihaian lawan ia menahan diri. Lalu ketika disebut tanggal dua belas bulan delapan maka perwira itupun berdiri dan mohon pamit. "Baiklah, aku minta diri. Kusiapkan semuanya dan mudah-mudahan siocia puas."

Gadis itu tak menjawab. Si kakek entah di mana dan orang tua yang satu ini misterius sekali. Menurut pantauan pengawal hanya gadis itulah yang sering tampak di dalam rumah. Hoa-siocia inilah yang mengatur ini-itu, kakeknya tak kelihatan lagi sejak merampas kunci di tempat Siangkek-taijin. Lalu ketika hari itu juga dibuatkan surat undangan dan disebar ke delapan penjuru, inilah tantangan Thian-te It-hiap maka dunia kang-ouw gempar dan tentu saja sebagian besar dari mereka bermuka merah.

Wong-ciangkun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia masih menaruh sakit hati dan dendam atas kekalahannya dulu. Dan karena kebetulan ia bersahabat dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang, di sinilah ia mengirim utusan khusus maka sebelum tanggal yang ditetapkan datanglah empat tokoh perkumpulan pengemis itu ke rumahnya, tentu saja secara diam-diam.

"Aku tak tahu siapa mereka namun harus diakui benar-benar lihai. Seratus pasukanku dibuat jatuh bangun. Nah, karena kalian sudah datang dan memenuhi undangan itu maka cobalah kalian uji, su-wi-enghiong (empat jagoan gagah). Aku pribadi tak dapat membantu kecuali menugaskan anak buahku membiarkan kalian masuk!"

"Siapa sebenarnya mereka itu. Sombong amat menentukan bengcu!"

"Kami semua tak tahu, hanya gadis itu bernama Hoa-siocia. Sedangkan kakeknya, ah, terlalu misterius dan tak pernah keluar!"

"Dan siapa yang menyebut diri Thian-te It-hiap? Gadis itukah?"

"Kurang jelas, yang terang di rumah itu terdapat kakek dan gadis itu, mungkin cucunya. Kalian dapat menyelidiki dan silakan menyelinap masuk. Anak buahku akan memberi jalan!"

"Baik, kami akan ke sana. Kalau kami dapat merobohkan mereka maka akan kami umumkan bahwa Thian-te It-hiap hanya pembual kosong belaka. la akan kubuat malu dan kutelanjangi di depan umum!"

Empat pengemis itu pergi. Setelah mereka mendapat keterangan cukup maka merekapun tak perlu lama-lama lagi tinggal di situ. Tangan sudah terasa gatal-gatal untuk menghajar penghuni baru itu. Ingin mereka lihat siapa orang yang berani mati menempati bekas rumah Hu Beng Kui itu. Terhadap mendiang jago pedang itu mereka menaruh hormat, apalagi setelah Kim-mou-eng menjadi menantu. Siapa tak kenal Pendekar Rambut Emas!

Akan tetapi karena keluarga itu tak pernah ke Ce-bu lagi dan tinggal di utara, berita keluarga ini tak mereka dengar lagi maka masuknya kakek dan gadis lancang itu membuat mereka marah. Apalagi dengan undangan yang berisi tantangan! Akan tetapi empat tokoh Hwa-i Kai-pang ini tidaklah berlaku sembrono. Mereka telah mendengar pula isi rumah itu, betapa pelayan dan tukang kebun belajar silat.

Dan karena mereka juga tak mau merusak rumah, tempat tinggal itu adalah milik Hu-taihiap dan keluarganya yang harus dihormati maka berkelebat memasuki rumah ini mereka masuk dengan mudah diloloskan pengawal. Penjaga seakan tak tahu atau pura-pura tak tahu akan bayangan mereka di atas tembok tinggi. Enam penjaga di regol depan memang sebelumnya telah diberi tahu Wong ciangkun.

"Jangan hiraukan pengemis-pengemis itu, biarkan mereka masuk. Bersikap blo'on sajalah!"

Maka ketikat empat bayangan melayang di tembok pagar, turun dan bergerombol di sudut tiba-tiba para penjaga ini melengos dan bersikap seakan-akan tidak tahu. Namun rumah itu bukanlah tanpa penghuni. Sejak dikeluarkannya undangan yang berupa tantangan maka sesungguhnya pelayan dan tukang-tukang kebun sudah diperintahkan berjaga di bagian dalam rumah.

Sejak menerima gemblengan ilmu silat dan kecintaan majikan baru maka pelayan dan tukang-tukang kebun ini adalah pengawal yang setia. Penjaga boleh memasukkan musuh akan tetapi mereka akan menghadang. Inilah murid-murid yang setia! Maka ketika bayangen empat pengemis itu dilihat satu di antara pelayan, kebetulan adalah Cing Cing si murid terpandai maka berkelebatlah gadis ini membentak orang-orang itu. Mereka berada di kebun belakang.

"Maling-maling hina dari mana ini berani memasuki rumah orang. Siapa kalian dan mau apa!"

Terkejutlah pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang itu. Mereka adalah sute-sute ketua Hwa-i Kai-pang yang berkepandaian tinggi. Mereka berkasak-kusuk di situ untuk menentukan langkah, masing-masing akan berpencar. Tapi ketika tuan rumah sudah mengetahui dan gadis di depan mereka itu mencabut pedang, menyeringailah keempatnya maka sang pimpinan, yang berkumis menjuntai menggerakkan tongkatnya ke depan.

"Bagus, ini agaknya pelayan yang naik pangkat. Heh, kami dari Hwa-i Kai-pang ingin bertemu tuanmu, nona, namun karena kau di sini biarlah kami menangkapmu...wut!" tongkat menyambar dan tahu-tahu tanpa banyak bicara lagi mengetuk pergelangan tangan lawan. Pengemis ini hendak merobohkan gadis itu dengan meruntuhkan pedangnya.

Tapi ketika Cing Cing mengelak dan balas menyambar maka pedang menyabet dengan deras dan tahu-tahu berkelebat ke leher pengemis itu.

"Haiya, berbahaya!" pengemis ini meloncat mundur dan menggerakkan tongkat menangkis. Pedang bertemu tongkat dan tergetarlah si pengemis, terhuyung. Dan ketika ia membelalakkan mata dengan perasaan kaget dan penasaran, sungguh tak diduganya hal itu maka gadis itu telah tegak lagi dengan senyum mengejek. Pandang matanya merendahkan.

"Kalian tikus-tikus busuk sungguh tak tahu diri. Katakan apa maksud kalian sebelum aku merobohkan dan membawa kalian ke dalam. Cepat, nonamu tak mau banyak bicara!"

Pengemis pimpinan menjadi marah. la adalah tokoh nomor tiga di Hwa-i Kai-pang, kedudukannya cukup tinggi dan di dalam perkumpulan ia adalah orang terhormat. Kini berhadapan dengan gadis pelayan saja terdorong mundur, siapa tidak panas Maka membentak dan menyuruh tiga adiknya mengepung, pengemis ini membentak agar gadis itu tidak sombong.

"Kami datang dengan maksud baik-baik, menjajal atau menguji majikanmu yang telah melepas undangan. Nah, biarkan kami bertemu atau kau kami robohkan!"

"Boleh, aku tak takut. Empat lawan satu bukan kejadian aneh, pengemis bau. Katakan siapa namamu sebelum pedangku bicara. Aku tak ingin merobohkan lawan tanpa kuketahui siapa dia!"

"Aku Sam-kai, tokoh nomor tiga dari Hwa-Kai-pang, dan mereka ini adik-adikku seperguruan yang tak puas dengan tingkah majikanmu yang sombong. Letakan pedangmu dan sekali lagi dengarlah kata-kata kami!"

"Hi-hik, kalianlah yang sombong. Hwa-i Kai-pang tak pantas mengutus orang-orangnya macam kalian, Sam-kai. Jangankan menghadapi majikan, menghadapi aku saja rasanya tak akan menang. Majulah!" gadis itu bahkan mengangkat pedang dan menantang empat orang pengemis ini. Sikapnya tenang dan kata-katanyapun tegas.

Lalu ketika empat orang itu tentu saja menjadi marah maka tak ayal lagi pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang ini membentak dan mengayun tubuh, tongkat menyambar dan menderu di kiri kanan. "Gadis sombong, baru pelayan saja sudah demikian tinggi hati!"

Akan tetapi gadis ini menjejakkan kaki dengan cepat. Ia menghilang ketika empat batang tongkat menghantam dari empat penjuru, gerakannya sebat. Lalu ketika ia turun dan lawan terkejut kehilangan , barulah sadar setelah melihat kembali maka pedang di tangan gadis itu membabat keempatnya diiringi cahaya menyilaukan.

"Crak-crak-crakk!"

Dua di antara tongkat terbabat putus. Hal ini mengejutkan mereka semua. Selanjutnya bergeraklah gadis itu bagai walet menyambar-nyambar. Ia tertawa membalas lawannya. Dan ketika Sam-kai sibuk menangkis sana-sini, membalas dan berseru agar adik-adiknya menyerang lagi ternyata bahwa dikeroyok empatpun gadis ini tak tampak kewalahan.

Pedangnya berkeredep dalam gulungan sinar putih dan cahaya menyilaukan inilah yang membuat pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang terdesak. Ujung pedang tahu-tahu berada di tenggorokan atau mata mereka, lambat berkelit artinya celaka. Dan ketika gadis itu bergerak bagai burung mengelilingi mereka, dari badan pedang keluar hawa dingin maka empat pengemis mengeluarkan keringat dingin dan tak terasa menjadi pucat. Ujung tongkat Sam-kai akhirnya terbabat juga, setelah tiga lainnya buntung. Dan ketika empat pengemis itu terdesak dan ini benar-benar diluar dugaan mereka maka berkelebat bayangan-bayangan lain dan muncullah pelayan-pelayan itu, mengepung mereka.

"Cing-cici, siapa tikus-tikus busuk ini. Ada apa malam-malam menyatroni rumah kita!"

"Hi-hik, katanya orang-orang Hwa-i Kai-pang. Mereka sombong mau bertemu majikan, Kok Li, padahal menghadapi aku saja harus keroyokan. Biarlah kalian di pinggir dan aku yang merobohkan!" Jawaban itu disusul seruan panjang mengiring kilatan pedang.

Tongkat di tangan Sam-kai sudah putus setengahnya lebih sementara yang lain tinggal sejengkal. Wajah pengemis-pengemis ini pucat. Tapi ketika mereka membentak dan menjadi nekat, ujung pedang meliuk bagai lidah rajawali menuju leher maka mendadak keempatnya merogoh kantung dan secepat kilat melemparkan kut-gi (senjata rahasia tulang) dari gigi-gigi anjing ke arah lawannya.

"Mundur!"

Namun pedang berdenting-denting. Semua senjata gelap runtuh terbabat dan ujung pedang masih menyambar leher. Beruntung karena empat pengemis itu melempar tubuh bergulingan maka pundak merekalah yang menjadi korban. Keempatnya berteriak. Dan ketika mereka hendak melarikan diri namun tiga gadis di luar berkelebat dan menodongkan pedang maka empat pengemis sial ini menggigil pucat. Wajah mereka seputih kertas, terutama Sam-kai yang tadinya menganggap enteng.

"Kalian sudah kalah, tak boleh lari keluar. Ayo masuk ke dalam dan pertanggungjawabkan perbuatan kalian kepada majikan!"

Terpaksa empat pengemis ini mengangguk. Saat itu juga mereka dibawa ke dalam, bokong kena tendangan. Dan ketika di sana sudah menunggu gadis baju putih itu, Hoa-siocia maka Sam-kai tergetar dan menundukkan mukanya. Wajah yang dingin itu disertai pandangan berkilat.

"Hwa-i Kai-pang tak tahu diri mengirim orangnya seperti kalian. Karena kami sudah mengirim undangan dan kalian berbuat kurang ajar biarlah hukuman sedikit sebagai pelajaran. Katakan kepada Hwa-i Kai-pangcu (ketua perkumpulan) bahwa kami merasa tak dihormati. Yang kami undang hanyalah para pimpinan, bukan tikus keroco. Pergilah dan laporkan ketua dan jangan main-main di rumah ini!"

Sam-kai tak tahu apa yang terjadi. Ia hanya melihat cahaya menyambar dan tahu-tahu sebelah telinganya menjadi dingin. Tapi ketika rasa dingin menjadi rasa perih maka ia terkejut karena bersamaan itu sebuah telinganya menggelinding di lantai, berdarah!

"Aahhhh...!" Tiga yang lain mengeluarkan seruan. Mereka juga melihat sinar putih panjang menyambar sisi kepala, rasa dingin disusul rasa perih. Lalu ketika masing-masing sebuah telinga dipapas buntung, mereka tak tahu kapan pedang dicabut dan masuk kembali maka empat orang ini hampir pingsan oleh kejadian itu Sam-kai sampai tak dapat berkata-kata, gemetar.

"Ampun, kami akan melapor kepada pangcu. Kalau boleh kami pergi biarlah di tempat umum Hwa-i Kai-pang memenuhi undangan!"

"Baik, tapi kalian tak perlu unjuk muka lagi. Atau aku membunuhmu dan kau tinggal nama!"

Sam-kai mandi keringat. Akhirnya ia dibawa keluar dan sebuah tendangan membuat ia dan adik-adik seperguruannya mencelat. Mereka merintih dan berdiri bangun. Lalu ketika mereka melewati penjaga maka di sini Cing Cing memandang anak buah Wong-ciangkun ini. Belum apa-apa mereka sudah menjatuhkan diri berlutut!

"Kami tak tahu-menahu, ampun, dari mana pengemis-pengemis busuk ini datang!"

Redalah kemarahan gadis itu. Sebagai murid terpandai dan paling dipercaya sikapnyapun sudah banyak berobah. Gadis ini bukan gadis pelayan dulu. Dan ketika ia mendengus dan menyuruh pintu gerbang ditutup maka empat pengemis ngeloyor pergi dengan sakit hati namun juga gentar. Namun kejadian ini tidak berhenti di situ, artinya bukan hanya Hwa-i Kai-pang yang coba menyatroni rumah ini sebelum jatuh tempo undangan.

Beberapa orang lain, para tokoh atau orang-orang yang merasa berkepandaian tinggi mendatangi rumah Hu-taihiap ini. Satu per satu di antara mereka memasuki rumah itu seperti empat pengemis pertama Hwa-i Kai-pang. Tapi ketika mereka roboh dan dihajar gadis-gadis pelayan itu, atau lima tukang kebun yang kini merupakan murid-murid lihai maka tersiarlah berita dari mulut ke mulut akan kehebatan penghuni baru itu. Sang majikan belum keluar dan baru menghadapi pelayan-pelayannya saja mereka sudah kocar kacir.

"Luar biasa, benar-benar tak dapat ku percaya. Cing Cing yang dulu merupakan pelayan di tempat Siangkek-taijin itu tiba-tiba menjadi lihai dan pandai sekali, kawan-kawan. Padahal dulu sama-Sama kita ketahui betapa gadis itu penakut dan amat lemah. Kini ia seakan harimau betina yang tumbuh taringnya. Aku dihajarnya tiga kali. Kalau tidak ingat bahwa kami berteman lama mungkin ia membunuhku!"

Seorang pemuda, berperawakan tegap dengan dahi lebar tampak bercerita di hadapan sekelompok pemuda sebayanya. Mereka adalah teman sekampung Cing Cing yang dulu suka menggoda gadis itu, tak dapat disangkal bahwa Cing Cing adalah yang tercantik di antara semuanya. Dan ketika semua mendengar seakan tak percaya, pemuda berdahi lebar itu menggoda Cing Cing ketika masuk dengan mengaku sebagai saudaranya maka yang lain memasang telinga dan kelihatan gentar.

"Bagaimana kau masuk, apa alasanmu ketika menemuinya."

"Aku mengaku sebagai saudara dari desa, kukatakan ibunya sakit."

"Lalu ia kau bawa?"

"Tentu saja, dulu aku tergila-gila kepadanya, teman-teman. Hanya setelah ia dikurung di tempat Siangkek-taijin tak ada kesempatan bertemu. Kini aku mencoba lagi, namun justeru dihajar dan babak belur!"

"Hm, kau tentu kurang ajar." yang lain tiba-tiba tertawa. "Atau kau mencoba menciumnya!"

"Benar, tapi siapa sangka. Aku sebagai murid Hek-lui-kong tak mau sudah. Akan kuminta bantuan guruku!"

"Tapi kau bersalah, kau menipu dan mengganggunya!"

"Ah, sebagai anak muda adalah wajar mengganggu gadis, Lo-tui, apalagi kalau kita suka padanya. Masa tak boleh aku menggoda!"

"Tapi kau menciumnya, kudengar itu!"

"Hmn, sedikit dari samping, luput. Kalau ia tidak marah-marah dan menamparku tak mungkin berlanjut menjadi pertengkaran. Cing Cing sekarang sombong!"

Lima pemuda mengangguk-angguk. Mereka adalah pemuda sedesa dengan gadis yang kini amat lihai itu. Berita dari mulut ke mulut menyebar cepat. Dan karena Hok Pang pemuda berdahi lebar itu merasa jatuh cinta maka yang lain mundur tapi tiba-tiba mereka mendengar betapa pemuda tegap itu dihajar sampai babak belur. Hok Pang adalah murid seorang tokoh gunung Wui-san tak jauh dari Ce-bu.

"Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang. Ada apa kau mengumpulkan kami di sini."

"Aku hendak minta bantuan...!"

"Wah, mengeroyok gadis itu?"

"Tidak, bukan. Melainkan..." pemuda ini berhenti lalu berbisik-bisik di telinga temannya.

Wajah sang teman berkerut tapi tiba-tiba tertawa. Lalu ketika ia mengangguk dan menyatakan setuju maka yang lainpun điberi tahu dan tiba-tiba ketawa serentak. "Ha-ha, bagus, tapi rejeki harus dibagi-bagi!"

"Tentu, asal aku sudah mendapatkannya maka kalian kuberi bagian, kawan-kawan. Aku menjadi benci dan ingin membalas dendamku. Tapi aku harus meminta tolong guruku, dialah yang akan merobohkan gadis sombong itu!"

"Dan kau memberi kabar penculikan itu, katakan bahwa ibunya dibawa penjahat!"

"Hm, berat juga. Tapi sebagai penympai berita baiklah kuikuti ini, Su Te. Hanya ingat bahwa tanggung jawab penuh di tangan Hok Pang!"

"Ya, kita hanya ikut-ikutan. Hok Pang yang mengajak!"

"Tak perlu khawatir, semua tanggung jawabku. Tapi masing-masing harus menjalankan tugas dan besok gadis itu harus keluar."

Mengangguklah enam pemuda bergerombol ini. Hok Pang akan menculik ibu gadis itu dan seorang di antara mereka memberi kabar. Memang Cing Cing masih mempunyai ibu kandungnya di desa. Dan ketika mereka bubar sementara keesokannya seorang pemuda meminta bertemu gadis itu maka Cing Cing tertegun karena inilah tetangganya dari desa, belum apa-apa sudah menangis dan gemetar.

"Celaka, aku membawa kabar buruk. Ibumu... ibumu diculik orang, Cing-Cing. Aku menyampaikan kabar dan maafkan berita ini. Aku tak tahu kepada siapa memberi tahu kecuali kepadamu."

"Lo-tui, apa yang terjadi. Kapan ibu diculik, dan siapa penculiknya!"

“Aku tak tahu, hanya. . hanya perawakannya tegap. Entah siapa yang berani mati melakukan itu. Apakah kau mempunyai musuh!"

"Hok Pang, ah, Keparat itu!" gadis ini tiba-tiba beringas. "Kapan terjadinya, Lo tui di bawa kemana ibuku?"

"Ke gunung Wui-san. Aku tak tahu apakah Hok Pang atau bukan kecuali perawakannya yang tegap gagah. Ada permusuhan apakah kau dengannya..?"

Namun gadis itu berkelebat mendorong. Pemuda itu terjengkang dan berteriak namun dari samping rumah muncul seorang pria pendek berkumis tipis, berkelebat dan mengejar gadis itu. Lalu ketika Cing Cing berhenti dan disambar lengannya maka Song Giam, bekas tukang kebun yang sama-sama menjadi murid di situ berseru,

"Cing Cing, mau ke mana kau. Bukankah tak boleh meninggalkan rumah tanpa ijin Hoa-siocia!" Terkejutlah gadis ini. Segera ia sadar dan menceritakan berita yang dibawa Lo tui, Dan ketika Song Giam tertegun dan berkerut kening maka lelaki pendek yang gesit langkah kakinya ini berkata,

"Kalau begitu menghadap Hoa-siocia dulu, lalu kuantar sama-sama. Kita hadapi jahanam itu!"

Cing Cing mengangguk. Berkelebat melupakan Lo-tui, ia sudah bertemu majikannya, Hoa-siocia berkerut kening. Tapi dingin berkata tenang ia pun mengangguk....