Putri Es Jilid 09 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

BENG AN tersenyum. Masing-masing telah tahu namanya dan enaklah sebut-menyebut itu. Dia memang pantas memanggil cici kepada wanita ini, yang usianya dua tiga tahun lebih tua. Dan ketika mereka mulai bercakap-cakap sementara kewaspadaan keluar tak pernah diabaikan, berkelebatnya bayangan orang-orang Pulau Api membuat gadis itu gelisah maka gadis ini bertanya siapakah pemuda itu orang tua atau gurunya, juga asal-usulnya.

"Aku, ah... aku berasal dari utara, utara tembok besar. Sedangkan guruku adalah ayah ibuku juga. Dan kau, siapa gurumu Seng-cici? Kepandaianmu sebenarnya tinggi, tapi kau letih dan dicekam ketegangan!"

"Hm , aku tegang sejak ditangkap si Yang Tek itu. Dia.. dia pemuda keji! Aku ingin membunuhnya kelak"

"Kau masih di bawah kepandaiannya". Beng An menarik napas. "Kau bukan tandingannya, Seng-cici, menyesal bahwa kau tak akan berhasil."

"Aku bisa minta tolong majikanku membunuh pemuda itu, atau ji-suciku di Lembah Es. Tak dapat membunuhnya sendiri tak membuat aku putus asa, Beng An, aku punya banyak kawan. Dan manusia macam Yang Tek itu tak perlu ditakuti oleh para suciku bahkan majikanku sendiri!"

"Hm Menarik. Apakah majikan Lembah Es adalah juga gurumu?"

"Benar tapi hei.., ada orang Pulau Api, Beng An. Awas!"

Percakapan terhenti sejenak. Beng An terkejut karena seorang murid atau. penghuni Pulau Api berkelebat di situ, masuk, mau memeriksa atau menyelidiki tempat itu. Tapi begitu dia melihat dan sebutir batu melayang dari tangannya, mengenai dahi orang ini maka penghuni Pujau Api itu roboh dan tak sempat berteriak saking kerasnya timpukan Beng An.

"Nah, aman sekarang kita lanjutkan lagi percakapan kita dan harap cici tenang,"

Beng An tersenyum, sikapnya sungguh tenang dan wanita itu tertegun, Murid Lembah Es ini kagum dan sekali lagi wajah pemuda gagah itu ditatapnya lekat-lekat, terbelalak. Tapi ketika Beng An tertawa dan ia sadar maka wanita ini tersipu dan melengos.

"hebat sekali. Kau begini tenang dan seolah tak takut apapun!"

"Hm, apa yang ditakuti? Tak dapat keluar dari sini paling-paling mati, Seng-cici Dan orang hidup pasti mati. Ha-ha, sudahlah, kau tak usah gelisah!"

Wanita itu semburat merah. Melihat dan mendengar kata-kata itu seketika bangkit semangatnya. la menjadi malu dan tersipu sendiri karena tampak betapa ia ketakutan sekali. Orang hidup pasti mati, tidak sekarang ya kapan-kapan! Maka bersinar dan mengepalkan tinju ia mendesis berseru, "Benar, kau benar Beng An. Tapi betapapun sikapmu amat mengagumkan. Tanpa kepandaian tinggi tak mungkin kau bisa begini. Hm entah apakah kau dapat mengalahkan ketua Pulau Api. Kalau dapat..."

"Kalau dapat kenapa?" Beng An tertawa. "Berarti kita lolos dan selamat?"

"Bukan itu saja. Kalau dapat tentu saja aku ingin memperkenalkan dirimu kepa-da ketua kami, Beng An, hitung-hitung balas budi. Kau... kau tentu dikaguminya!"

"Ah, kau ini membuat aku malu saja. Apa yang harus dikagumi dari pemuda seperti aku ini. Dan masalah balas budi, hmm... aku bergerak bukan untuk dibayar dengan budi, Seng-cici. Aku membelamu semata demi kebaikan. Aku tak mengharap budi!”

"ini yang amat mengagumkan!" Hwa Seng malah berseru. "Kau boleh bicara begitu, Beng An, tapi bagiku tidak. Aku.. aku ingin membawamu ke Lembah Es kalau kita dapat selamat!"

"Sudahlah, tak usah bicara itu. Coba ceritakan apa dan bagaimana Lembah Es dan Pulau Api bisa selalu bermusuhan, barangkali ini lebih menarik!"

Hwa Seng mengangguk. Untuk pertama kalinya dia berhadapan dengan pemuda, seperti Beng An ini, jauh dibanding Yang Tek dan orang-orang Pulau Api. Dan karena Beng An telah menyelamatkan nyawanya dan budi itu amat besar, dia berterima kasih sekaligus ingin membayar budi maka berceritalah dia tentang penghuni atau kisah Lembah Es, betapa mula-mula nenek moyang mereka adalah gadis baju putih Pek Lian dan Bu Sit, murid dari tokoh-tokoh luar biasa Kim Kong Sengjin dan Han Sun Kwi, dua orang yang selalu bermusuhan dan tak mungkin berdamai dimanapun berada.

Dan ketika gadis itu bercerita dengan sengit tentang orang-orang Pulau Api, pewaris watak jahat dari Bu Sit dan keturunannya maka gadis itu mengepal tinju dengan wajah berapi-api. "Dari dulu sampai sekarang penghuni Pulau Api memang keji. Mereka tak kenal kasihan. Dan untuk penyambung keturunan, mereka selalu mencari perempuan di luar untuk diambil anaknya, laki-laki. Kalau perempuan dibunuh!"

"Dan penghuni Lembah Es?" Beng An bertanya. "Bagaimana mempertahankan keberadaannya, Seng cici? Padahal mereka juga tidak menikah!"

"Kami memang tidak menikah, karena rata-rata dari kami adalah pembenci laki-laki. Tapi kami selalu mengisi kekurangan penghuni dari kerabat istana dan bangsawan turunan sejak jaman Dinasti Han dulu!"

"Hmm, begitu. Tapi sekarang kau berdekatan dengan aku, tidak membenciku. Padahal aku adalah laki-laki. Eh, bagaimana ini, cici? Apakah kelompokmu tidak akan marah?"

Wanita ini tertegun, memerah bingung, Tapi ketika ia menggigit bibir dan menarik napas dalam maka meluncur kata-katanya, "Kau benar, Beng An, tapi kau ternyata lain dengan laki-laki penghuni Pulau Api. Kami selama ini hanya mengenal laki-laki seperti orang-orang Pulau Api itu, dan ini terlanjur membekas dalam-dalam dan menimbulkan benci, Kalau di dunia ini masih ada laki-laki atau pemuda sebaik engkau, tentu pandangan kami akan berubah!"

Beng An tertawa. "Cici, pandangan kalian orang-orang Lembah Es memang aneh. Apakah kalian kira semua laki-laki jahat? Hm, kalau laki-laki juga menganggap semua wanita jahat maka beginilah jadinya. Laki-laki atau wanita sama saja, maksudku, ya ada yang jahat dan ada yang tidak, baik laki-laki maupun perempuan. Aku tiba-tiba jadi ingin berkenalan dengan teman-temanmu di Lembah Es sana!"

Wanita ini tiba-tiba berseri. "Kau serius? Ah, mungkin kau satu-satunya lelaki yang bakal merobah keadaan Semenanjung Hitam, Beng An. Tapi hati-hati, teman-temanku tak bersahabat dengan lelaki. Mereka itu tadinya juga seperti aku yang amat membenci pria!"

"Aku tak takut," Beng An tertawa. "Aku datang dengan niat baik. CiCi, terutama mengantarmu pulang. Kalau mereka tidak menerima juga tentu saja aku tak memaksa masuk. Hanya, aku benar-benar jadi tertarik untuk melihat keadaan teman-temanmu di Lembah Es!"

"Aku dapat membantumu, tapi... heii... ada orang masuk lagi!"

Beng An bergerak dan meloncat dari tempat duduknya. la telah menangkap gerakan laki-laki itu dan secepat kilat menyerang, jari kanannya menotok. Tapi ketika laki-laki itu mampu mengelak dan menangkis, Beng An terkejut maka Hwa Seng berseru kaget,

"Ji-hu-pangcu (wakil nomor dua)...."

Dan Beng An memang harus bergerak cepat lagi ketika laki-laki itu tertawa dan membalas. Totokan Beng An disambut kepretan dan Sinar panas menyambar dari tangan laki-laki ini, bertemu jari Beng An dan dua-duanya terpental. Dan ketika Beng An terkejut karena terhuyung mundur maka laki-laki itu, wakil Pulau Api nomor dua sudah membentak dan terkekeh menyeramkan.

"Anak muda, kau bersembunyi di sini? Ha...Ha... bagus, tapi sekarang kau tak dapat lolos... duk-plakk!"

Beng An mengelak dan menangkis lagi, tergetar dan terhuyung mundur sementara See Kiat, laki-laki ini terkejut melihat dua kali pukulannya tertolak. la marah tapi juga kagum. Tapi begitu ia terdorong dan menyerang lagi maka laki-laki ini sudah berkelebat dan mendesak Beng An di dalam guha, melepas pukulan-pukulan panas dan Hwa Seng menjerit. la tak kuat menerima hawa pukulan itu dan terlempar, bukan main dahsyatnya. Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara Beng An sudah menghadapi lawan, bergerak dan berkelebatan di dalam guha yang sempit maka ji-hu-pang-cu dari Pulau Api ini menekan dan mencecar.

"Heh-heh, kau anak muda mengagumkan. Kau hebat. Tapi kau bukan tandinganku, bocah. Hayo menyerah atau mampus kubunuh.... des-dess!"

Beng An ditekan dan menerima dua pukulan panas, terkejut dan mengerahkan sinkang dan masing-masing sama terhuyung. Wakil Pulau Api itu terbelalak. Tapi ketika ia menjadi marah dan Sinar matanya yang tajam itu berkilat kejam mendadak ia merunduk dan melepas dua pukulan sekaligus dengan dorongan ke depan seperti kerbau melompat.

"Awas, Giam-lui-ciang...!"

Beng An berubah. Dengan orang-orang Pulau Api sesungguhnya ia tak berniat menanam permusuhan, ia hanya datang karena tertarik oleh cahaya pulau yang kemerah-merahan, cahaya yang dipantulkan oleh ribuan pohon Api yang ajaib itu, hal yang tentu membuat pemuda petualang seperti dia bakal ingin tahu, datang dan dilihatnya segala peristiwa di situ. Maka ketika Hwa Seng berteriak dengan seruan kaget dan wakil Pulau Api kiranya mengeluarkan Giam-lui-ciang, pukulan Petir Neraka maka dia yang terdesak dan ditekan di sudut guha menggelembungkan perutnya menerima dengan Khi-bal-sin-kang, tenaga sakti Bola Karet.

"Dessss...!" Beng An terbanting dan menabrak dinding belakang. la mencoba mengerahkan ilmunya itu sambil menguji pukulan. Biasanya lawan akan terbanting dan terlempar bertemu Khi-bal-sin-kang, IImu ini adalah warisan Pendekar Rambut Emas,ayahnya. Tapi ketika dia terbanting dan justeru terlempar, Khi-bal-sin-kang seolah tak kuat enghadapi Giam-lui-ciang maka pemuda ini jatuh terduduk dan melotot. Lawan tertegun di sana, juga melotot!

"Kau... ilmu apa itu? Kau tak mampus menerima Giam-iui-ciang? Seperti karet, keparat! Coba kau terima lagi, anak muda. Kerahkan ilmumu itu dan biar kulihat sekali lagi...wuttt!" laki-laki tinggi kurus berpakaian perlente ini menyerang lagi. la kaget dan tertegun sejenak oleh daya tahan pemuda itu, yang membuat pukulannya seakan membal tapi dengan sinkangnya yang luar biasa ia mampu menembus daya karet itu, kagum tapi juga penasaran, ada orang muda demikian hebat. Ini tak disangka.

Maka begitu dia bergerak sementara gadis Lemban Es itu menjerit melihat Beng An jatuh terduduk, diserang dan menerima Giam-lui-ciang lagi maka gadis ini membentak dan punggung laki-laki itu diserangnya dari belakang. Hwa Seng mencoba memberi pertolongan agar kawannya terluput dari bahaya. Tapi Beng An sudah bergerak menggelindingkan tubuh. la melihat bayangan-bayangan di luar guha dan itu membuatnya berubah. Hantaman Giam-lui-ciang masih membuatnya sesak, melayani orang ini berarti harus bertanding mati-matian,ini yang tidak dikehendakinya.

Maka begitu pukulan menghantam lagi dan kali ini lebih dahsyat, penasaran di hati wakil Pulau Api itu dilampiaskan dengan pukulannya yang lebih hebat maka Beng An menggelinding di bawah kaki laki-laki ini dan tepat temannya menjerit menghantam punggung lawan maka dia meloncat dan menyambar gadis itu dibawa berkelebat ke luar guha, hal yang sama sekali tak diduga ji-hu-pangcu ini.

"Desss!" Guha bergetar dan seakan ambruk. Wakil Pulau Api itu marah sekali karena pukulannya sia-sia, lawan secara cerdik dan licin memberosot di bawah kakinya. Dan ketika Beng An sudah melompat di luar guha dan laki-laki itu membalik maka puluhan penghuni pulau berteriak-tériak melihat pemuda ini ada di situ.

"Ini dia...! Heii, dia di sini!"

Beng An melompat dan menangkis atau membagi pukulan. Hwa Seng di tangan kirinya dan gadis itu juga melengking melepas serangan, tenaganya sudah pulih sebagian setelah bersembunyi lagi. Bulan semakin condong ke barat dan menjauhi titik pusat, Pulau Api masih berkobar-kobar oleh pantulan cahaya pohon ajaib, gadis itu membentak dan melengking-lengking.

Dan ketika belasan orang roboh namun dari kiri dan kanan muncul bayangan-bayangan lain, ji-hu-pangcu juga sudah berkelebat dan keluar guha maka Beng An yang dikepung dan hendak melarikan diri terpaksa bermain kucing-kucingan dengan meloncat dan mengelak Sana-Sini, Hwa Seng dipegangnya erat-erat agar tidak melepaskan diri.

"Seng-cici, agaknya kita harus melukai orang-orang ini. Ah, aku menyesal tapi rupanya apa boleh buat!"

Beng An berseru melihat bahwa tak mungkin dia bersikap ringan hati kalau penghuni pulau mendesak dan bermunculan. Mereka dikepung dari empat penjuru dan ini yang repot. Kalau tidak ada gadis Lembah Es itu mungkin dia dapat lari, tapi karena dia harus melindungi dan justeru membawa pergi gadis ini, ini yang berat maka Beng An membentak dan keluarlah pukulan-pukulan putih yang sinarnya berkelebatan menyambar-nyambar penghuni Pulau Api itu, juga tubuh pemuda ini yang sudah bergerak naik turun dengan amat cepatnya mirip cahaya bergulung-gulung.

"Des-des-desss!" Penghuni Pulau Api menjerit dan terlempar ke kiri kanan. Tiat-lui-kang, pukulan putih itu meledak dan menyambar orang-orang ini seperti sengatan lebah yang menggigit. Mereka berteriak dan tak ada satupun yang mampu melompat bangun, semua merintih. Dan ketika Beng An melihat kesempatan dan menarik tangan temannya, tinggi berjungkir balik ke atas mendadak ia terkesiap karena dari empat penjuru melayang pula bayangan-bayangan merah dan hitam dan tahu-tahu seorang kakek berkalung rantai perak berjubah merah darah menghantam di depannya dengan bentakan menggeledek.

"Anak muda, robohlah!"

Beng An terkejut dan berdesir. Bu Kok, wakil pertama dari Pulau Api melayang di depannya dengan pukulan merah. Itulah Giam-lui-ciang dan ia tahu kehebatannya. Tapi karena tak mungkin mengelak karena posisinya sedang berjungkir balik, lawan menghantam dan menyerangnya dengan dahsyat apa boleh buat iapun menangkis dan pukulan-pukulan lain dari bayangan di kiri kanan diterima tubuhnya sementara Hwa Seng menjerit, gadis Lembah Es itu tak mampu berbuat apa-apa.

"Des-dess...!" Beng An terlempar dan terbanting bergulingan. Petir Neraka, pukulan yang ditangkisnya itu benar-benar mengguncangkannya, membuatnya mengeluh sementara teman wanitanya roboh pingsan. Hwa Seng tak kuat menerima sambaran angin pukulan ini dan sudah tak sadarkan diri, napasnya sesak. Tapi ketika Beng An dapat melompat bangun dan tiga pukulan lain yang mendarat di tubuhnya dapat diterima baik, terhuyung namun dapat berdiri lagi menghadapi empat bayangan itu maka it-hu-pangcu dan ketua Pulau Api sendiri sudah berhadapan dengannya dengan mata kagum, dua yang lain adalah ji-hu-pangcu dan Yang Tek, pemuda berbaju kulit biru itu, yang melotot, tapi juga kagum!

"Anak muda," suara berat dan berpengaruh ini kembali menggelegar. "Kau hebat dan luar biasa. Tapi jangan macam-macam, kau dapat kami bunuh. Sebutkan siapa dirimu dan kenapa kau masuk ke mari!"

Bu Kok, wakil ketua yang terkejut dan marah ini mengeluarkan bentakannya yang dahsyat. Dia benar-benar kaget karena pukulannya Giam-lui-ciang tadi tak mampu membinasakan anak muda ini, yang hanya terlempar dan terbanting tapi kemudian bangkit kembali, hal yang hampir tak dapat dipercayanya. Tapi ketika anak muda itu berdiri tegak dan bersinar-sinar gagah, tak takut atau gentar berhadapan dengan tokoh-tokoh Pulau Api maka Beng An, anak muda ini menjawab, sadar bahwa tak mungkin melarikan diri lagi selama tiga pimpinan dan murid utama menghadang di situ.

"Ji-hu-pangcu, aku adalah Beng An, pemuda perantau biasa. Aku datang ke sini bukan untuk mengacau melainkan secara kebetulan saja karena tertarik melihat keanehan pulau kalian. Nah, sudah kujawab pertanyaanmu dan ijinkanlah aku pergi. Aku tak berniat mencari musuh!"

"Keparat, tidak mencari musuh tapi mengacau jalannya upacara kepada nenek moyang? Tidak mengaku salah padahal membawa tawanan Pulau Api? Heh, dengarkan, anak muda. Kami tak tahu siapa dirimu tapi kedatangan dan keberanianmu menarik kami. Berikan tawanan itu dan menyerahlah baik-baik. Kalau ketua mau mengampunimu maka kau dapat diangkat sebagai anggauta baru!"

"Benar," kini ketua yang maju dan bicara sendiri, wajahnya yang merah kehitaman tampak gembira sedikit. "Kau luar biasa dan pemberani, anak muda. Dan orang-orang Pulau Api amat menghargai keberanian. Menyerahlah, dan serahkan pula tawanan kami. Kau kuangkat menjadi wakil nomor tiga dan berhak mempelajari pukulan Giam-lui-ciang!"

Beng An tersenyum dan menggeleng. la tak tahu betapa Bu Kok dan orang-orang lain terkejut, saling pandang dan mata mereka memancarkan ragu, kaget. Tapi ketika pemuda itu menggeleng dan ini membuat hu-pangcu berseri, orang luar tak seharusnya mempelajari Giam-Iui-ciang maka pemuda itu berkata,

"Pangcu, terima kasih. Tapi maaf bahwa aku tak mungkin melakukan itu. Kalau saja kalian tak berniat jahat membunuh gadis ini tentu kuserahkan kembali gadis Lembah Es ini kepada kalian. Tapi kalian hendak membunuh, menghabisi nyawanya. Mana mungkin kuserahkan? Maaf, kalau aku dianggap lancang, kemarahan kalian siap kuhadapi, pangcu. Tapi kalau kalian mengaku orang-orang gagah hendak kutantang kalian bertanding satu lawan satu. Aku tak takut menghadapi pukulan Petir Neraka kalian yang dahsyat!"

"Bocah kurang ajar!" it-hu-pangcu membentak dan menerjang kembali, dia memang paling berangasan. "Terima pukulanku lagi, anak muda. Coba buktikan bahwa kau tak takut menghadapi Giam-lui-ciang!" Uap dan sinar merah menyambar.

Beng An tak mungkin berkelit karena mundur atau mengelak tentu diserang pula oleh tokoh atau lawan yang lain, yang berdiri mengepungnya. Maka membungkuk dan menyambut pukulan itu, keras lawan keras iapun mengerahkan sinkangnya dan seberkas cahaya putih menyambut pukulan sinar merah ini.

"Blarrr...!" Semua mundur dan terkejut. Pukulan putih itu, yang juga berhawa panas dan tak kalah dengan Giam-lui-ciang telah diterima dan beradu amat keras dengan Petir Neraka. Wakil Pulau Api telah menambah tenaganya namun tetap juga dia terhuyung, tergetar dan mundur dua langkah. Dan ketika laki-laki itu terbelalak karena hampir tak dipercayanya bahwa lawan semuda itu mampu mendorongnya mundur, pemuda itu tergetar namun tidak sampai terdorong jauh maka berubahlah wajah laki-laki ini sementara ketua dan wakil ketua yang lain terkejut dan kaget. Untuk kesekian kalinya lagi pemuda di depan mereka ini mampu menunjukan tingkat ilmunya!

"Anak muda, siapa gurumu. Dari mana kau berasal dan apa sesungguhnya yang kau cari!"

Ketua maju sendiri dan kini membentak dengan khawatir, mendahului wakilnya dan semua pucat memandang pemuda itu. Kalau pemuda ini sedemikian hebat tentu gurunya lebih hebat lagi. Dan karena tak baik bermusuhan dengan orang lihai, lawan mereka dari Lembah Es sudah cukup membuat pusing maka ketua maju sendiri dan kini menghadapi Beng An. Pemuda itu ditegurnya sementara pandang matanya bersinar-sinar, tajam, penuh tekanan dan selidik. Dan ketika Beng An menarik napas dan melihat ketua ini lebih sabar dibanding Bu Kok maka diapun memberi hormat sementara pagi sudah menjelang tiba.

"Pangcu, maafkan aku. Baiklah aku berterus terang. Aku adalah Beng An dan guruku adalah ayah ibuku sendiri. Kalau kau ingin mengenal namanya maka mereka adalah Pendekar Rambut Emas, ibuku adalah puteri dari mendiang kakekku Hu-tai-hiap!"

Beng An akan kecelik kalau mengira ayah dan ibunya ini dikenal orang-orang Pulau Api. Kalau dia menyebutkan itu pada orang-orang lain tentu sebagian besar bakal terkejut. Di daratan sana siapa tidak kenal nama besar Kim-mou-eng alias Pendekar Rambut Emas, juga mendiang Hu Beng Kui yang gagah perkasa itu. Tapi karena orang-orang Pulau Api adalah orang-orang pengasingan, mereka ini tak pernah ke daratan besar maka ketua Pulau Api tampak mengerutkan kening mendengar jawaban itu, dan Beng An juga kecewa.

"Pendekar Rambut Emas? Mendiang Hu-taihiap? Hmm, kami tak kenal nama-nama ini, anak muda. Tapi coba sebutkan siapa guru atau kakek gurumu, orang-orang yang berhubungan dengan ayah ibumu itu!"

"Baik," Beng An mendongkol juga. "Guru dari ayahku adalah Bu-beng Sian-su, sedang guru dari ibuku adalah..."

Ketua dan wakil ketua mengeluarkan teriakan kaget. Mereka mencelat mundur dan Beng An berhenti bicara, terkejut karena para pimpinan Pulau Api terkejut. Dan ketika mereka semua terbelalak sementara pemuda itu girang bahwa Bu-beng Sian-su rupanya dikenal orang-orang ini, nama kakek dewa itu ternyata dikenal juga sampai di pelosok dunia ini maka ketua tampak berubah dan saat itu para penghuni pulau juga kelihatan pucat, gentar.

"Bu-beng Sian-su? Kau... kau tidak bohong? Eh, jangan membawa-bawa nama ini, anak muda. Kakek itu adalah dewa suci yang setingkat dengan dewa kami Han Sun Kwi ataupun Kim Kong Sengjin. Tapi itu ada pada jaman seribu tahun yang lalu. Kau jangan menggertak!"

Beng An malah heran. la tidak tahu dan malah bingung dikatakan bahwa Bu-beng Sian-su adalah manusia dewa yang hidup pada jaman seribu tahun yang lalu, padahal selama bertahun-tahun terakhir ini sesungguhnya ia selalu bersama kakek itu. la dibawa kakek ini dan apa yang pernah diajarkan kepada ayahnya diajarkan juga kepadanya oleh kakek itu, karena ayahnya menyerahkan dirinya kepada kakek itu (baca: Rajawah Merah). Maka ketika dia dibentak dan dianggap main-main, Beng An heran maka ia menjawab,

"Pangcu, aku tidak main-main, juga tidak bohong. Kalau kalian tidak percaya bagaimana aku harus membuktikan. Aku bicara sungguh-sungguh, kakek dewa itu adalah juga guruku. Dia... wutttl"

Beng An mengelak, tahu-tahu disambar pukulan dahsyat dan ketua Pulau Api membentak menyerangnya. Beng An menghentikan kata-katanya dan tahu-tahu ketua berjenggot kemerahan itu sudah meledakkan tangannya dan tongkat di tangan juga menderu mengikuti tubuhnya. Cepat seperti kilat ketua ini sudah menyerang Beng An begitu pemuda ini mengaku murid Bu-beng Sian-su, nama sebesar dewa Han Sun Kwi atau Kim Kong Sengjin yang hidup pada seribu tahun yang lalu. Dan ketika semua mundur sementara Beng An harus mengelak dan berlompatan cepat, pukulan dan tongkat menyambar silih berganti maka pemuda itu terkejut karena ketua tampak beringas, sikapnya yang agak bersahabat lenyap terganti semacam rasa berang, menganggap Beng An main-main, dusta.

"Anak muda, kalau kau dapat menahan seranganku seratus jurus kuanggap kau benar-benar murid kakek dewa itu. Tapi kalau tidak kau mampus...wiirrrr-desss!"

Batu di belakang Beng An hancur, tertimpa atau terhantam tongkat dahsyat ini sementara pukulan Petir Neraka juga membuat hawa panas muncul membakar. Beng An mengelak dan berlompatan tapi ketua Pulau Api mengejar dan menyerangnya bertubi-tubi. Dan karena tubuh Hwa Seng mengganggunya dan Beng An membentak melempar tubuh itu maka gadis Lembah Es ini melayang dan jatuh di atas cabang pohon tinggi, aman. Beng An dapat menghadapi serangan-serangan ketua Pulau Api itu.

"Baik, kau telah mengeluarkan kata-katamu, pangcu, dan tadi aku juga telah mengeluarkan tantangan. Mari kita bertanding dan maaf bahwa aku mengganggu kalian....plak-dess!"

Beng An menangkis dan kini tidak berlompatan saja. Pukulan Petir Neraka kian hebat menyambar hingga anak-anak murid Pulau Api mundur. Dari telapak ketua itu muncul uap merah yang berkobar-kobar, sebentar kemudian menjadi api dan inilah yang amat mengerikan. Rumput dan batu tersambar hangus, seketika gosong.

Tapi ketika Beng An mampu menghadapi semua tekanan-tekanan itu dan pemuda inipun membalas dan berkelebatan dengan ginkangnya yang tinggi, ilmu meringankan tubuh yang membuat ia beterbangan di antara sambaran tongkat dan pukulan maka penghuni mendecak kagum sementara ketua dan para wakilnya terbelalak, marah!

"Bunuh pemuda itu, suheng. Kerahkan tingkat ilmumu sampai yang teratas!"

"Hm, aku memang akan membunuhnya. Tapi hitung jurus-jurus yang kulakukan, Bu-te. Aku tak mau dikata curang karena kita tetap memegang kegagahan!" sang ketua berseru dan memperhebat serangannya. Dia kagum tapi juga penasaran bahwa sepuluh jurus pertama pemuda itu mampu menghindari semua serangannya dengan baik.

Beng An berkelebatan naik turun di antara deru sambaran tongkat dan Giam-lui-ciang. Tongkat di tangan ketua Pulau Api itu juga mulai kemerah-merahan, terbakar! Dan ketika tongkat ini luput menyambar dan menghantam tanah maka tanah mendesis dan seketika berlubang, hangus! Beng An berhati-hati. Dia melihat betapa dahsyatnya serangan dan pukulan lawannya ini. Ketua dan wakil ketua itu hampir sama saja, tadi dia sudah merasakan dahsyatnya pukulan it-hu-pangcu dan maklum bahwa tokoh-tokoh Pulau Api ini memang hebat.

Agaknya di daratan besar tak ada jago-jago kelas satu mampu menandingi orang-orang Pulau Api ini. Dan ketika ketua semakin hebat menyerangnya sementara tubuh ketua mulai berkerotok, aneh, tubuh laki-laki itu mulai memerah seperti besi menyala maka Beng An menjadi kagum dan pada jurus kedua puluh lima tubuh itu menjadi hidup dan menyala berkobar-kobar!

"Anak muda, aku akan menghantammu dengan pukulan Petir Neraka. Awas, tiap serangan akan semakin hebat!"

Beng An tak sangsi atau ragu akan kata-kata ini. Dia terbelalak melihat betapa tubuh ketua Pulau Api sudah merah terbakar dan mirip obor berjalan, bergerak dan naik turun cepat hingga tempat itu menjadi terang-benderang. Pukulan-pukulan juga semakin dahsyat hingga para anak murid berteriak. Mereka melempar tubuh bergulingan setiap hawa panas menyambar, api menjilat mereka dan beberapa di antaranya terbakar!

Dan ketika mereka itu disuruh mundur sementara it-hu-pangcu dan ji-hu-pangcu terbelalak mundur menjauh, di sini wakil ketua dapat mengukur tingkat ilmu ketua mereka maka it-hu-pangcu Bu Kok yang semula berambisi untuk merebut kedudukan menjadi gentar dan mengakui bahwa ada sesuatu yang sudah diperoleh suhengnya itu, yakni pukulan-pukulan panas yang jarak jangkaunya dapat mencapai lebih dari seratus meter, padahal dia paling-paling sekitar limapuluh atau enampuluh meter.

"Ji-suheng, twa-suheng hebat sekali. Sinkangnya maju pesat dan kita tak tahan dalam jarak lima puluhan meter!" ji-hu-pangcu, wakil nomor dua berbisik pada laki-laki she Bu itu. It-hu-pangcu Bu Kok mengangguk dan ia mengakui. Dan ketika mereka harus menjauhkan diri dari sambaran hawa panas, pertandingan di sana semakin hebat dan seru maka Bu Kok justeru kagum kepada lawan suhengnya itu.

"Jahanam, bocah itu benar-benar hebat sekali. la mampu menghadapi suheng dan tahan genpuran-gempuran Giam-lui-ciang!"

“Dan lihat," sang sute terbelalak. "Ada perubahan pada tubuhnya, suheng. Pemuda itu mengeluarkan uap beku yang membuat tubuhnya tahan panas!"

"Seperti Bu-kek-kang!"

"Bukan, tapi sejenis itu, suheng. Lihat tubuhnya terbalut es!"

Dua tokoh Pulau Api ini terkejut. Beng An, yang bergerak dan berkelebatan di balik pukulan-pukulan Giam-lui-ciang mendadak mengeluarkan uap dingin yang beku di sekujur tubuhnya. Perlahan tetapi pasti uap itu membalut dari bawah ke atas. Dan ketika sekejap kemudian pemuda ini sudah dibungkus uap dingin hingga mirip manusia salju, kaki dan tangannya tak tampak lagi kecuali dua biji matanya itu maka Tan-pangcu atau ketua Pulau Apí yang juga terkejut dan kaget memandang pemuda itu berseru keras dan pucat mukanya.

Pertandingan sudah berjalan limapuluh jurus dan gempuran-gempuran Petir Neraka membuat Beng An terdesak. la telah mempergunakan segala ilmu yang dipelajari ayahnya namun semua tak kuat bertahan. Khi-bal-sin-kang, ilmu yang biasanya dibanggakan itu tak mampu menembus kekuatan Giam-lui-ciang. Hawa panas dari ilmu itulah yang membuat tenaga karet dari Khi-bal-sin-kang leleh, hal ini membuat Beng An bingung namun berkat Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kangnya Ia mampu berkelebatan menghindari pukulan-pukulan berbahaya.

Lawan yang semakin penasaran nmenekannya semakin hebat. Dan ketika hawa panas semakin membakar dan tempat 1tu berubah bagai neraka, apapun bakal tersembur dan menjadi api maka Beng An mengeluarkan satu ilmunya yang luar biasa yang ayahnya sendiri tak punya, yakni Ping-im-kang (Tenaga Inti Es). Ilmu ini secara kebetulan diwarisinya dari mendiang kakeknya Hu Beng Kui, yang tak sempat mengembangkan ilmu itu karena keburu tewas di Sam-liong-to.

Dan karena pemuda inilah yang mendapatkan ilmunya dan dulu di Himalaya Beng An disiksa dua kakek jahat Poan-jin-poan-kwi, hal yang membuatnya berbulan-bulan mati semu dalam kebekuan Ping-im-kang maka kini menghadapi hawa panas menggila dari pukulan-pukulan Giam-lui-ciang itu pemuda ini mengeluarkan ilmunya yang mentakjubkan ini.

Mula-mula Beng An mengerahkan tenaganya dan menyedot dalam-dalam tenaga sakti di pusar. Lalu ketika tenaga sakti itu bergerak dan ia memutarnya di dalam perut, naik dan kemudian memecahnya ke atas ke bawah maka ketika tenaga itu bergerak dan Ping-im-kang mengeluarkan butir-butir dingin maka tenaga Inti Es ini membuatnya mampu bertahan dari gempuran-gempuran Petir Neraka.

Tapi pukulan-pukulan ketua Pulau Api itu semakin dahsyat saja. la tak mungkin bertahan dan menerima serangan, ia harus juga merobah hawa udara di tempat itu dari panas menjadi dingin. Dan ketika Beng An melakukan ini dan gerakan atau kibasan tangannya mengeluarkan uap beku, yang panas didinginkan dan ketua Pulau Api terbelalak karena pukulan-pukulannya bertemu uap dingin maka perlahan tetapi pasti tekanan Giam-lui-ciang mengendor dan hawa panas di tempat itu menjadi dingin!

"Keparat, jahanam!" ketua Pulau Api membentak tak percaya, melotot. "Kau memiliki Im-kang luar biasa, bocah. Tapi jangan kira kau mampu mengalahkan aku Lihat, aku akan menambah kekuatanku... wuusssshhhh!" api menyembur dan menjilat dari kedua tangan Pulau Api ini. Hawa yang mulai beku dicairkannya kembali dengan pukulan panasnya itu. Giam-lui-ciang kali ini menyambar amat hebat, batu dan pohon-pohon leleh! Tapi ketika Beng An juga membentak dan kedua tangannya bergerak mendorong, menyambut atau menangkis pukulan lawannya itu maka ketua Pulau Api tergetar dan terjengkang.

"Dessss...!"

Semua orang seakan tak percaya. Pemuda berbalut uap salju itu mampu mendorong ketua mereka hingga terjengkang, batu dan pohon yang leleh juga seketika beku kembali disambar uap dingin ini. Tapi begitu ketua melompat lagi dan berteriak, dahsyat menggetarkan pulau maka Tan Siok atau Tan-pangcu ini menerjang dan menyerang kembali. Tongkat di tangannya menggigil dan tongkat itu sudah menjadi tongkat api pula, berkobar dan akhirnya dilontarkan kepada Beng An namun sekali tangkis Beng An membuat tongkat itu patah.

Dan ketika pemuda ini bergerak mengimbangi kecepatan Tan-pang cu dan kedua tangan ketua itu melepas Giam-lui-ciang bertubi-tubi maka Beng An memperhebat Ping-im-kangnya dan pukulan atau dorongan ketua itu selalu terpental! Hal ini mengejutkan ketua Pulau Api itu namun ketua ini terus selalu menyerang. Dia tak perduli berapa kali dia terdorong karena wajah dan tubuhnya sudah memancarkan kemarahan yang sangat.

Pulau berderak-derak dan terjadilah pemandangan aneh ketika hawa panas dan dingin silih berganti menguasai tenpat itu. Bunyi "kras-kres" terdengar mengerikan setiap hawa udara berubah. Tapi karena uap dingin akhirnya lebih unggul dibanding uap panas, Ping-im-kang mampu menekan dan menindih Giam-lui-ciang maka ketua Pulau Api itu terhuyung-huyung dan pertempuran sudah melewati seratus jurus. Pohon-pohon Api yang semula mengeluarkan cahaya kemerah-merahannya itu mulai padam dan layu, daun dan rantingnya mulai terselimuti butir-butir salju dari uap dingin Ping-im-kang.

"Pangcu, sudah seratus jurus. Kau harus menepati janjimu!"

Beng An berseru dan mengingatkan ketua Pulau Api itu. Dia juga bertempur habis-habisan menghadapi ketua pulau yang amat dahsyat ini, mengerahkan Ping-im-kangnya delapan bagian dan baru berhasil menguasai lawan. Beng An diam-diam cemas kalau dua wakil di sana akan maju pula, membantu ketua. Tapi ketika mereka berdiam diri tak bergerak, rupanya pertandingan itu juga luar biasa untuk dinikmati maka seruan Beng An ini justeru menyadarkan mereka untuk bergerak.

Ketua Pulau Api sendiri merah padam didorong mundur berkali-kali. Dia harus melawan hawa dingin yang menembus pukulan panasnya itu, beradu sinkang dan mengakui bahwa Ping-im-kang lawan lebih kuat, terbukti bahwa perlahan-lahan kedua tangannya menggigil kedinginan. Kalau dia meneruskan pertandingan ini boleh jadi dia akan mati beku, disambar dan didesak hawa dingin itu. Maka ketika lawan berteriak sementara itu kedua wakilnya juga bergerak dan hendak menyerang maka dalam adu pukulan terakhir dia membentak dan berseru keras,

"Mundur...!" Lalu jatuh terduduk dengan lengan terselaput uap dingin ia terbelalak dan kagum mernandang Beng An, terbatuk dan memejamkan mata sejenak untuk mengempos semangat memulihkan tenaga. Bentakannya tadi membuat mundur dua orang wakil ketua, yang tertegun dan merandek. Lalu ketika ketua terhuyung melompat bangun dan merah padam memandang Beng An maka laki-laki gagah itu berkata,

"Anak muda, kau benar. Kau telah mampu bertahan seratus jurus. Baiklah, kau menang tapi ketahuilah bahwa Giam-lui-ciang milikku baru tingkat delapan. Kalau aku telah sempurna menguasainya belum tentu kau mampu bertahan. Pergilah, aku menepati janjiku!"

Beng An girang dan menarik kembali semua tenaga Ping-im-kangnya. Sekali sapu bersihlah seluruh tubuhnya dari butir-butir es dingin. Sekarang la telah berdiri lagi dengan keadaan semula, bukan manusia salju. Lalu menjura dan kagum memandang ketua Pulau Api itu pemuda ini berkata,

"Pangcu, terima kasih bahwa kau telah mengijinkan aku pergi. Kau seorang ketua yang gagah, seorang laki-laki yang menepati janji. Maaf dan terima kasih sekali lagi untuk kegagahanmu ini!" dan berkelebat menyambar teman wanitanya yang dilempar di atas pohon Beng An telah membalik dan meninggalkan pulau. Ia tidak mau berlama-lama lagi setelah mendapat kesempatan. Pandang mata kagum seluruh penghuni pulau tampak tak dapat disembunyikan lagi. Tapi ketika Beng An melompat di perahu dan ketua berkelebat ternyata ketua ini menahannya dengan kata-kata,

"Anak muda, kau berani datang ke sini lagi? Kau berani berjanji untuk datang dan bertanding lagi?"

Beng An menoleh, tersenyum ringan. "Aku akan datang kalau memang kau undang, pangcu. Tapi bukan sebagai musuh melainkan sahabat!"

"Nanti dulu!" ketua mencegah lagi, pemuda itu siap menggerakkan dayung. "Kapan kau datang, anak muda. Aku menunggumu!"

"Hm, kapan pangcu mau?" Beng An mengerutkan kening. "Aku menyerahkannya kepadamu, pangcu, kapan saja aku siap!"

"Baik, kalau begitu setahun lagi. Berjanjilah bahwa setahun lagi kau datang!"

"Hmm, aku berjanji..."

"Kalau tidak?"

Kata-kata ini membuat Beng An semkin mengerutkan keningnya. Ada ancaman di situ, dia rupanya akan dikejar-kejar! Maka mendongkol tapi tak takut sedikitpun dia menjawab, "Pangcu, asal tidak ada aral melintang tentu aku datang ke sini, setahun lagi. Tapi kalau tidak kau boleh datang mencari aku!"

"Baik, sebutkan tempatmu!" kau boleh mencariku di utara, utara tembok besar. Cari saja putera mou-eng dan kau tentu mendapatkan aku!"

Beng An menggerakkan dayung dan menjadi tak senang. la tak menyangka bahwa dari kata-katanya ini kelak akan ada peristiwa panjang. Seluruh keluarganya bakal terlibat dan ibunya nanti terbunuh! Dan ketika Beng An menggerakkan perahunya sementara Hwa Seng mulai membuka mata, sadar, maka gadis Lembah Es yang tak tahu adanya pertandingan dahsyat itu melompat duduk, kaget.

"Beng An, di mana kita. Eh, itu orang-orang Pulau Api!"

"Benar, kita pergi, cici. Tan-pangcu memberikan ijin."

"Ijin? Kita dibebaskan begitu mudah? Bohong! Kau bohong, Beng An, tak mungkin itu! Eh, bagaimana sebenarnya yang terjadi!"

"Sudahlah," Beng An tersenyum, perahu meloncat dan terbang membelah laut merah. "Kau berpegang erat-erat agar tidak terjatuh, Seng-cici. Kita sudah mendapat kemurahan dan mari pergi.... slap-slap!" perahu melompat dan terbang lagi, jauh melewati ombak di bawah dan gadis ini kaget. Tapi ketika dia berpegangan erat-erat pada pinggiran perahu dan terbelalak tapi segera menjadi girang luar biasa maka ia berteriak,

"Heii, kalau begitu kau sudah menundukkan orang-orang Pulau Api itu, Beng An. Kau rupanya membuat ketua Pulau Api menyerah. Hi-hik, kau luar biasa sekali. Benar-benar luar biasa!"

Beng An tidak menanggapi kata-kata ini. Ia berseru agar gadis itu membantunya mendayung, ada sebuah dayung lain di situ. Lalu ketika gadis itu bergerak dan mendayung pula maka perahu lenyap meninggalkan Pulau Api dan Hwa Seng tak habis kagum memuji Beng An. Sekarang Beng An bertanya di mana Lembah Es karena ia ingin mengantar gadis itu sampai selamat. Dan ketika gadis itu menjawab bahwa Lembah Es berada di utara, di Semenanjung Hitam maka Hwa Seng mengemudikan perahu sementara pemuda itu membantunya di belakang.

Tanpa ragu-ragu lagi gadis ini membawa Beng An ke tempat hunian kaum hawa, tempat yang sebenarnya terlarang bagi laki-laki sebagaimana halnya Pulau Api tak boleh dimasuki kaum wanita. Dan ketika gadis itu rupanya tak perduli karena terlanjur kagum kepada Beng An, membawa dan mengajak pemuda itu ke Lembah Es.

Maka Beng An tersenyum-senyum dan diam-diam berdebar oleh rasa tertarik untuk mengetahui tempat yang satu ini. Pulau Api telah diketahui dan kini gillran Lembah Es. Entah bagaimana keadaan di sana. Yang jelas tentu semuanya wanita! Maka bersinar dan membantu gadis itu mempercepat perjalanan Beng An pun sudah membuat perahu seakan terlempar dan terbang di atas permukaan air laut.

* * * * * * * *

"Sudah sampai, kita berhenti di sini," gadis itu mendaratkan perahu di tepian daratan es yang beku. Seminggu mereka melakukan perjalanan dan setelah melampaui daerah-daerah berbahaya sampailah mereka di padang salju itu.

Beng An kagum karena di mana-mana hanya warna putih melulu, laut di bawah mereka beku sementara hawa dingin jauh melebihi puncak agung Himalaya. Ini daerah kutub! Beng An mendecak. Tapi ketika dia meloncat turun dan Hwa Seng sudah memberi petunjuk-petunjuk apa yang harus dilakukan bila berhadapan dengan penghuni Lembah, teman gadis itu kalau nanti mereka masuk maka Beng An sudah melihat berkelebatnya beberapa bayangan dan tahu-tahu di tempat itu muncul tujuh gadis cantik yang pakaian atau gayanya seperti gadis ini.

"Seng-moi, siapa yang kau bawa. Berani benar kau memasukkan laki-laki!"

Bentakan atau seruan ini mengejutkan Hwa Seng. Gadis itu, yang baru saja meloncat turun sudah siap membawa Beng An ke lembah. Perahu mereka merapat di ujung tajam pinggiran laut beku, hendak bergerak ketika tiba-tiba tujuh gadis berwajah dingin menyambutnya dengan bentakan. Dan ketika gadis itu membalik dan melihat siapa yang membentak maka tiba-tiba wajahnya berubah dan Hwa Seng tiba-tiba jatuh berlutut.

"Sam-cici...!"

Hanya ini seruan pertama yang keluar dari mulutnya. Hwa Seng telah memberanikan diri tapi begitu berhadapan dengan cicinya nomor tiga ini tak urung ia berubah dan pucat juga. lni adalah cicinya yang paling galak, keras dan berwatak kejam pula. Tapi ketika Beng An menyentuh pundaknya dan keberanian timbul lagi maka gadis itu bangkit berdiri dan berkata gemetar,

"Cici, aku dari Pulau Api. Hampir saja menjadi korban upacara orang-orang biadab itu. Beng An inilah yang menolongku dan dia ingin bertemu tocu (majikan)"

"Hm, kau dari Pulau Api? Kenapa tidak mampus sekalian di sana? Jauh lebih baik kau mati di sana dari pada mampus di sini, Hwa Seng. Kau membawa laki-laki dan ini larangan. Terimalah, dosamu tak dapat diampuni!"

Gadis berwajah dingin itu tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. la menampar dan seberkas cahaya putih menyambar, cepat sekali menuju dahi Hwa Seng. Tapi ketika gadis itu berteriak dan Beng An bergerak cepat, menarik dan mendorong gadis itu maka Hwa Seng selamat meskipun harus terlempar dan bergulingan di sana.

"Dess!" Pukulan itu membuat salju memuncrat. Hwa Seng terhuyung bangun dan tiba-tiba menangis, disambar dan menggigil di pelukan Beng An. Dan ketika Sam-cici tampak terkejut tapi berubah, mukanya yang putih menjadi merah maka ia mendengus dan pandangannya membayangkan kemarahan besar ketika beradu dengan Beng An.

"Kau... gadis ini menjadi kekasihmu? Kalian saling mencinta?"

"Hm!" Beng An menindas dan menekan debaran hatinya, gadis Lembah Es dingin-dingin, sungguh tidak seperti Hwa Seng! Tapi menggeleng dan tersenyum tenang dia berkata, "Cici, aku dan Hwa Seng adalah teman biasa. Kami berkenalan karena kebetulan aku menolongnya dari kebengisan orang-orang Pulau Api. Kalau kau hendak membunuh Seng-cici tentu sia-sia pekerjaanku di Pulau Api. Tidak, kau tak boleh marah kepadanya, cici. Bukan dia yang bersalah melainkan aku. Akulah yang datang mengajaknya ke sini, mengantarnya ke sini. Kalau kau hendak marah-marah silakan marah kepadaku. Aku memang lancang ke sini, bukan untuk membuat ribut melainkan semata didorong keinginan-tahuku berkenalan dengan kalian. Kalau kalian tidak menerimanya tentu saja aku pergi."

"Hm, begitu enak? Kau kira apa tempat ini? Baik, sebutkan namamu, bocah. Kau akan mati dengan meram karena papan namamu akan kami pasang di makammu!"

Beng An tertawa kecut. Mendapat ancaman begini ia malah geli, gadis penghuni Lembah Es ini benar-benar galak. Tapi karena ia tak ingin membuat ribut dan bukan maksudnya mencari permusuhan, lagi pula gadis itu adalah cici Hwa Seng maka dia menarik napas, menjawab tenang.

"Namaku Beng An, she Kim. Tapi namaku agaknya bukan untuk dihias di papan makam melainkan justeru untuk diingat-ingat oleh kalian sebagai sahabat. Paling tidak, aku telah menyelamatkan seorang anggauta kalian dari kekejaman Pulau Api. Apakah kalian kira kami bisa begitu gampang lolos dari ketua dan wakil ketua Pulau Api? Aku telah berjuang cukup keras, cici. Dan kuminta jangan ganggu Seng-cici. Kalau aku dianggap memasuki daerah terlarang aku siap menerima sangsinya!"

Kini kata-kata Beng An berkesan gagah dan tegar. la menunjukkan tidak takutnya dan pernyataan bahwa ia lolos dari Pulau Api membuktikan bahwa ia berkepandaian. Beng An tidak terlalu bersombong namun pernyataannya itu membuat Sam-cici tertegun juga, ingat bahwa tak gampang orang meninggalkan pulau neraka itu. Maka ketika dia terkejut dan sadar, maklum bahwa pemuda ini rupanya berkepandaian tinggi maka tiba-tiba ia ingin mencoba dan ketika Hwa Seng dipeluk pemuda itu ia membentak, mundur.

"Hwa Seng, kau diterima pulang. Nanti biar tocu yang memutuskan hukumannya sendiri. Kemarilah dan biar pemuda itu sendiri!"

Hwa Seng girang. "Cici menerimaku? Baik, terima kasih, cici. Tapi jangan kalian terlalu kasar kepada Beng An!" dan melompat meninggalkan Beng An gadis itu menghambur ke teman-temannya.

Beng An terkejut tapi gadis itu sudah di kelompoknya. Tapi begitu ia datang maka Sam-cici pun menotoknya roboh, gadis-gadis yang lain bersikap dingin dan acuh! "Jangan biarkan ia lari. Nanti kita periksa dan sekarang kalian hadapi pemuda itu!"

Enam gadis bergerak maju. Mereka berkelebat dan tahu-tahu mengurung Beng An. Pemuda ini mengerutkan kening tapi sikapnya tetap tenang. Dan ketika gadis di sebelah kiri membentak dan menyerang, dua jari menusuk dahi maka Beng An mengelak tapi gadis di belakang dan kanan menyerang pula, cepat disusul yang lain dan enam gadis itu tahu-tahu telah berkelebatan menyerangnya. Dan ketika Beng An mengelak atau menangkis mengerahkan tenaganya, enam gadis Lembah Es sudah menyerangnya bertubi-tubi maka bunyi tamparan dan pukulan disusul pekik kaget gadis-gadis itu.

"Wuttt.... plak-plak-plak!"

Beng An membuat gadis-gadis itu terpental dan menjerit terhuyung ke belakang. Mereka tak menyangka bahwa sekali tangkis pemuda ini mampu menghalau enam pukulan sekaligus. Tapi ketika mereka melengking dan membalik menerjang lagi maka tubuh-tubuh langsing itu telah berkelebatan lagi menyambar Beng An bagai walet berseliweran. Pukulan berhawa dingin menyambar dan membekukan tulang, mirip Ping-im-kang!

"Para cici, kalian memaksaku. Baik, mari kita main-main dan jangan salahkan aku!"

Beng An tersenyum dan tiba-tiba menggerakkan tubuhnya. Menghadapi gerak cepat gadis-gadis itu tak ada lain jalan kecuall bergerak lebih cepat lagi. Beng An menggunakan Jing-sian-engnya dan Bayangan Seribu Dewa ini membuat para gadis terkejut. Mereka sudah bergerak cepat tapi pemuda itu lebih cepat lagi. Dan ketika mereka silau dan Beng An berkelebatan di antara mereka, menepuk dan memukul perlahan tiba-tiba saja enam gadis itu sudah roboh berurutan dalam waktu sekejap saja.

"Bluk-bluk-bluk!"

Enam wanita muda itu mengeluh dan terbanting perlahan. Mereka tidak sampai kesakitan karena Beng An mengatur tenaganya, kini tegak berdiri tersenyum-senyum dan Sam-cici yang galak tampak kaget. Wanita itu berseru tertahan tapi ketika tubuhnya berkelebat tiba-tiba ia sudah membebaskan totokan enam saudaranya itu. Beng An memang tidak menotok-nya berat. Dan ketika enam wanita itu berdiri terhuyung, terbelalak memandang Beng An maka Sam-cici mencabut pedang dan berseru maju,

"Para sumoi, sekarang mari ikut aku. Kalian ceroboh hingga begitu mudah dikalahkan. Terlalu. Cabut pedang kalian dan hajar pemuda ini!" wanita itu sudah bergerak mendahului dan Beng An terkejut mengerutkan alis. Nyata bahwa lawan tak mau sudah, Sam cici itu terutama keras kepala. Tapi berkelit dan mengelak lagi, menghindar dan sudah diserang bertubi-tubi oleh pedang di tangan wanita itu Beng An menghadapi lagi enam wanita lain Yang membantu cicinya.

"Bocah, kami belum kalah kalau kau belum merobohkan aku. Nah, tandingi aku dan perlihatkan kepandaianmu itu... sing-singgg...!" pedang menyambar dan bergulung-gulung naik turun.

Hawa dingin semakin tajam dan Beng An mengakui bahwa kepandaian wanita ini lebih tinggi daripada enam yang lain. Namun karena ia memiliki Jing-sian-eng dan dengan ilmu meringankan tubuh itu ia merasa sanggup menghadapi gerakan pedang ini, Beng An berkelebatan cepat maka ia berseru, "Baik, kalau kau dapat merobohkan aku dalam duapuluh lima jurus aku mengaku kalah, Sam-cici. Tapi lewat dari itu aku akan merobohkanmu tak lebih dari lima jurus!"

Wanita ini membentak. Ia marah mendengar kata-kata itu tapi ketika tubuh si pemuda berkelebatan mendahului pedangnya ia kaget juga. Tubuh pemuda itu seperti kapas yang ringan terdorong angin sambaran pedangnya, tak dapat disentuh sementara adik-adik seperguruannya juga kaget dan berseru kagum. Beng An mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Tapi ketika dia melengking dan mempercepat gerakan pedangnya, enam sumoinya juga dibentak agar menyerang lebih cepat maka Beng An sibuk mengelak sana-sini dan mulutpun mulai menghitung-hitung jurus, hal yang membuat wajah wanita itu merah.

"Enam.... tujuh.... tiga belas...., hampir dua puluh, Sam-cici. Awas hampir habis....!"

Wanita itu melengking-lengking. Dua puluh jurus lewat dengan cepat tapi selama itu ujung pedangnya sama sekali tak mampu menyentuh tubuh pemuda ini. Jangankan tubuhnya, ujung pakaiannyapun tidak! Dan ketika ia memekik dan tangan kiri bergerak menghantam dengan pukulan dingin maka pada jurus kedua puluh satu ia menyuruh adik-adiknya juga melakukan pukulan itu. "Kerahkan Bu-kek-kang, robohkan pemuda ini!"

Beng An mengerutkan alis. la sudah tahu bahwa ilmu kepandaian pokok penghuni Lembah Es adalah Bu-kek-kang (Tenaga Tak Berkutub), ilmu warisan dari manusia sakti Kini Kong Sengjin, lawan dari Han Sun Kwi yang memiliki ilmu dahsyat Giam-Iui-ciang itu, yang diwarisi orang-orang Pulau Api dan sudah dirasa kehebatannya. Kalau ketua Pulau Api sudah menguasai ilmu itu sampai sepuluh bagian entahlah apakah dia mampu atau tidak menandingi tokoh gagah dari pulau yang selalu panas itu.

Dalam perjalanan dia sudah mendengar banyak tentang pernnusuhan dan kisah dari dua dedengkot ini, Hwa Seng itulah yang bercerita. Maka ketika wanita galak itu mengeluarkan Bu-kek-kangnya dan enam sumoinya yang lain juga diperintahkan untuk menghantam dengan tangan kiri mereka, sementara pedang masih menusuk dan membacok di tangan kanan maka Beng An yang tak mau main-main dan melihat kemiripan ilmu ini dengan Ping-im-kangnya tiba-tiba ingin menguji.

"Para cici, duapuluh lima jurus sudah hampir lewat. Baiklah kalian boleh pukul aku dan setelah itu aku ganti memukul kalian!"

Beng An berhenti dan tidak mengelak ketika tepat pada jurus kedua puluh lima lawan-lawannya itu menyerang, tangan kiri menghantam sementara pedang di tangan kanan menusuk dan membacok. Hebat serangan mereka itu tapi lebih hebat lagi apa yang dilakukan Beng An. Pemuda ini, yang sudah tidak bergerak dan berhenti di tengah tiba-tiba menerima semua serangan itu. Hawa Ping-im-kang dikerahkan dan tiba-tiba tubuhnya sudah dilapisi uap salju. Lalu ketika dengan cepat sekujur tubuh pemuda ini sudah dibungkus lapisan es beku, Sam-cici dan lain-lain berteriak kaget maka pukulan dan pedang mereka mengenai pemuda ini.

"Tak-tak-dess...!"

Pedang dan pukulan patah-patah. Sam-cici dan adiknya terpelanting dan semua menjerit kaget karena pedang di tangan sudah menjadi dua. Pedang itu seakan menusuk atau membacok balok es yang kuat, jauh lebih kuat daripada baja. Dan ketika mereka terpelanting sementara pedang terlepas dari tangan, Beng An bergerak dan tertawa perlahan maka berturut-turut tujuh wanita itu ditotoknya dan sambaran hawa dingin yang jauh lebih dingin dari Bu-kek-kang wanita-wanita itu membuatnya semuanya mengeluh dan roboh dengan tubuh beku pula, menggigil pucat!

"Nah," Beng An bertolak pinggang. "Bagaimana, para cici. Dapatkah kalian mengalahkan aku dan apakah ini masih kurang!"

Tujuh wanita itu terkejut. Sam-cici, pemimpinnya, terbelalak dan pucat sekali. Ia tak menduga bahwa pemuda ini begini luar biasa. Dalam sekali gebrak saja membuat dia dan enam sumoinya roboh, padahal mereka sudah menyerang duapuluh lima jurus dan tak satu kalipun mampu menyentuh pemuda ini. Maka terbelalak dan tak mampu bicara apa-apa, diam-diam mengerahkan sinkang untuk membebaskan totokan namun tak berhasil maka wanita itu memejamkan mata dan menangis, dan Hwa Seng tiba-tiba berseru,

"Beng An, bebaskan mereka. Sam-cici sudah mengakui kelihaianmu dan sekarang tentunya kau boleh memasuki lembah!"

"Hm," Beng An mengangguk, menggerakkan jarinya membebaskan totokan. "Bukan hanya mereka, Seng-cici. Kaupun harus bebas, tak boleh disakiti!" lalu ketika semua melompat terhuyung sementara wajah Sam-cici tampak merah padam, malu, tiba-tiba wanita itu membentak dan menyambar Hwa Seng diajak pergi.

Enam yang lain mengikuti dan Beng An terkejut, mengira wanita itu akan membunuh Hwa Seng namun ternyata tidak, mencekal dan membawa lari gadis itu naik turun bukit-bukit salju. Hwa Seng berseru agar Beng An mengikuti. Dan ketika pemuda itu juga bergerak dan mengintil di belakang, melampaui sebuah sungai beku untuk akhirnya menuju gunung pertama yang puncaknya putih membeku.

Maka Sam-cici bersuit dan dari puncak meluncur bayangan-bayangan langsing yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang. Hwa Seng berseru kaget tapi wanita galak itu mendengus. Gadis itu malah ditamparnya dan ketika mereka naik sementara bayangan-bayangan itu meluncur turun, sebentar kemudian sudah berpapakan maka Sam-cici membentak menuding Beng An.

"BUnuh pemuda itu!" Lalu meneruskan perjalanan, mendengus pada Beng An wanita itu naik ke atas dan Beng An sudah dikepung atau dihentikan oleh penghuni Lembah Es ini, gadis-gadis yang rata-rata cantik dan gagah.

"Berhenti, siapa kau!"

Beng An terkejut. la sudah diberi tahu Hwa Seng bahwa di Lembah Es berkumpul tak kurang dari tigaratus wanita muda, semua adalah murid atau anak buah Puteri Es, tocu atau majikan Lembah yang rata-rata berkepandaian tinggi. Dan karena Hwa Seng juga sudah memberi tahu bahwa penghuni Lembah Es amat anti kepada laki-laki, biar segagah atau setampan apapun maka pemuda ini berhenti dan karena tak ingin membuat permusuhan Beng An membiarkan diri terkepung di tengah-tengah, mata mengawasi ke atas di mana Hwa Seng akhirnya lenyap tapi berseru bahwa dirinya tak perlu dicemaskan. Dia akan dibawa menghadap tocu.

"Beng An, hati-hati. Lebih baik menyerah dan biarkan dirimu ditangkap," begitu dulu gadis itu pernah bicara. Maka ketika kini dia dikepung seratus wanita-wanita muda, dari seratus itu muncul tiga wanita berbaju biru hijau dan kuning maka Beng An kagum karena semua wanita di situ rata-rata cantik. Tapi dia mendengar bentakan yang dingin dan nyaring.

"Siapa kau! Bagaimana datang bersama Hwa Seng dan menghina Sam-cici!"

"Hm," Beng An menarik napas, menjura. "Aku bernama Beng An, cici, she Kim. Aku tak menghina siapa-siapa justeru aku menolong Hwa Seng-cici dari keganasan orang-orang Pulau Api. Aku datang mengantarnya sampai ke sini dan kalau boleh kebetulan sekali ingin berkenalan dengan majikan kalian, Puteri Es!"

"Kau manusia lancang! Kau kira begitu enak berkenalan dengan tocu? Kau tahu apa artinya kedatanganmu di sini? Lembah Es pantang dimasuki lelaki, bocah she Kim. Dan hukumannya adalah mati. Kau telah berani datang dan karena itu siaplah mampus!"

"Nanti dulu," Beng An mengangkat tangan dan buru-buru mundur, wanita baju biru itu siap menyerang. "Aku datang bukan untuk mengacau, cici, melainkan ingin bersahabat. Kalau aku ingin bermusuhan tentu tak mungkin datang secara terang-terangan. Lagi pula aku telah menolong Hwa Seng-cici, apakah kebaikanku itu tak dihargai?"

"Hwa Seng membuat kesalahan besar dengan membawa masuk dirimu. Kalaupun ia tak mampus di Pulau Api maka ia pasti mampus di sini. Kau tak usah membawa-bawa budimu itu ke sini!"

"Maaf, aku tidak bermaksud menonjolkan budi. Yang kumaksud adalah niat baikku itu, rasa persahabatan itu..."

"Hm, tak usah banyak omong, anak muda. Kau menyerah atau mati!" wanita baju biru ini berkelebat dan menyerang. Ia tak mau banyak bicara lagi dan Beng An terkejut. Ia mau menyerah, tapi jangan dengan dirobohkan. Kalau ia tidak diserang tentu ia akan menyerahkan diri baik-baik. Tapi karena ia diserang dan hendak dipukul, tentu saja ia menolak maka ia berkelit tapi lawan mengejar dan tangan kiri wanita itu tiba-tiba bergerak dan secepat kilat menghantam pelipisnya, cepat sekali!

"Plak!" Beng An tergetar dan kagum akan kecepatan gerak wanita ini. Wanita itu jauh lebih cepat dibanding Sam-cici dan angin serangannyapun lebih kuat, lebih dingin! Tapi ketika ia mengerahkan sinkangnya dan menolak dengan Khi-bal-sin-kang, pukulan Bola Karet maka ia mendapat kenyataan bahwa sama seperti Giam-lui-ciang pukulannya itupun tembus dipukul. Khi-bal sin-kang tak banyak berguna dipakai melindungi diri.

"Hm!" Beng An terkejut. "Pukulanmu kuat, cici, tapi jangan desak aku dengan serangan-serangan. Kalau kau menyuruh aku menyerah baik-baik tentu aku mau, tapi kalau kau hendak merobohkan aku terpaksa aku melawan!"

Wanita baju biru itu yang terkejut dan terbelalak oleh tangkisan Beng An tampak kaget dan heran. la adalah murid nomor tiga dari majikan Lembah, kepandaiannya dua tingkat di atas Sam-cici dan tandingannya adalah Tan Bong putera ketua Pulau Api, dua wanita baju hijau dan kuning adalah para sucinya, murid-murid nomor dua dan satu. Maka tertegun tapi menjadi marah, ia merasa ditantang tiba-tiba wanita itu berkelebat dan menyerang lagi dengan lebih cepat. 

Tiga kali ia menyerang dan menampar muka Beng An tapi tiga kali itu pula ia dikelit dan luput, lawan bergerak lebih cepat. Dan ketika ia membentak dan untuk keempat kalinya ia mendesak Beng An untuk menangkis maka Beng An mengerahkan Ping-im-kangnya dan gadis itu menjerit terpental kaget.

"Plak!" Bukan hanya gadis ini saja yang terbeliak. Dua sucinya, yang tegak dan berdiri dengan wajah beku tiba-tiba juga berubah dan terperanjat. Beng An mengeluarkan Ping-im-kangnya itu hingga telapak tangan menyambarkan pukulan salju, sedetik mengeluarkan hawa lebih dingin dan sumoi mereka gadis baju biru itu terpental. Dan ketika pemuda itu berdiri tersenyum sementara lawan berjungkir balik dengan muka pucat maka gadis baju biru mencabut pedang namun wanita baju kuning berseru dan membentak maju.

"Sumoi, tahan. Biar aku yang menghadapi!" dan berkilat memandang Beng An yang tampak tenang-tenang wanita ini berseru, hati-hati, "Bocah she Kim, kau tampaknya berisi. Pantas, kau sombong. Sekarang katakan apa arti kata-katamu tadi bahwa kau mau menyerah baik-baik!"

"Hm, aku mau menyerah baik-baik kalau kalian tidak menyerang dan menggangguku, cici. Aku mau ditawan asal tidak di sakiti. Tapi kalau kalian menyerang dan hendak membunuhku tentu saja aku melawan. Atau aku pergi kalau kalian memang tak suka kedatanganku!"

"Laki-laki yang sudah datang ke sini tak boleh pergi, kecuali mampus. Kau telah sanggup menghadapi adikku nomor dua tapi coba kau hadapi aku. Kalau kau dapat menghadapi aku barulah kau kubawa ke tempat majikan dan di sana kau dihukum atau dibebaskan!"

Lalu berkelebat dan tidak memberi kesempatan pemuda itu menjawab wanita inipun sudah menyerang dan melepas pukulan. Dia tadi melihat adiknya dipentalkan dan itu cukup membuatnya kaget. Kalau Sam-cici sampai membiarkan pemuda ini masuk dan merasa tak berdaya, tanda bahwa pemuda ini benar-benar lihai maka harus dia sendiri yang turun tangan dan mengatasi. Adiknya baju biru tadi tak kuat dan sekali gebrak itu saja dia sudah maklum. Gadis ini adalah murid nomor satu dan tandingannya di Pulau Api adalah Yang Tek.

Tapi karena Beng An mampu mengatasi Yang Tek dan terhadap gadis baju kuning ini iapun tak takut, gadis itu sudah bergerak dan menyerangnya lebih cepat maka dia mempergunakan Jing-sian-engnya dan dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa itu dia mengelak dan berlompatan cepat. Beng An naik turun bagai burung menyambar-nyambar dan pukulan-pukulan atau serangan lawan luput. Dan ketika gadis itu melengking karena lawan yang dihadapi benar-benar luar biasa, ini tak disangkanya maka tiba-tiba ia membentak dan kedua tangannya bergerak maju mundur mendorong dengan pukulan Bu-kek-kang.

"Des-dess!"

Batu dan percikan salju memuncrat. Beng An kagum tapi tiba-tiba diapun membentak. Kalau dia tidak memberi pelajaran tentu lawan akan meremehkan. Maka ketika pukulan menyambar-nyambar sementara dia naik turun berkelebatan mengelak, belum menangkis atau membalas karena ingin melihat dulu kepandaian wanita baju kuning ini maka sekarang Beng An tiba-tiba menangkis dan setengah dari naga Ping-im-kangnya diadu dengan Bu-kek-kang itu.

"Dess...!" Dan gadis atau wanita baju kuning iu terjengkang. Beng An menunjukkan kepandaiannya dan semua orang terkejut. Tapi ketika gadis baju kuning itu meloncat bangun dan memekik mencabut pedang, ia merasa kalah maka berkelebat seorang wanita berbaju merah yang tiba-tiba membuat semua anak murid Lembah Es menjatuhkan diri berlutut.

"Ui Hong, tahan. Ia bukan tandinganmu!" lalu ketika Beng An terkejut dan terpesona memandang, gadis baju merah ini sungguh luar biasa cantiknya maka gadis itu membalik menghadapi Beng An dan tak perduli terhadap para murid yang berlutut kepadanya, kata-katanya merdu namun keras ketika bicara,

"Kim Beng An, kehadiran dan ceritamu telah didengar tocu melalui mulut Hwa Seng. Kau diperkenankan menghadap nàmun harus melewati tujuh rintangan. Kalau kau bersedia dan lolos melewati rintangan-rintangan ini maka, untuk pertama kalinya majikan kami mau menerima tamu seorang pria...!"

Putri Es Jilid 09

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

BENG AN tersenyum. Masing-masing telah tahu namanya dan enaklah sebut-menyebut itu. Dia memang pantas memanggil cici kepada wanita ini, yang usianya dua tiga tahun lebih tua. Dan ketika mereka mulai bercakap-cakap sementara kewaspadaan keluar tak pernah diabaikan, berkelebatnya bayangan orang-orang Pulau Api membuat gadis itu gelisah maka gadis ini bertanya siapakah pemuda itu orang tua atau gurunya, juga asal-usulnya.

"Aku, ah... aku berasal dari utara, utara tembok besar. Sedangkan guruku adalah ayah ibuku juga. Dan kau, siapa gurumu Seng-cici? Kepandaianmu sebenarnya tinggi, tapi kau letih dan dicekam ketegangan!"

"Hm , aku tegang sejak ditangkap si Yang Tek itu. Dia.. dia pemuda keji! Aku ingin membunuhnya kelak"

"Kau masih di bawah kepandaiannya". Beng An menarik napas. "Kau bukan tandingannya, Seng-cici, menyesal bahwa kau tak akan berhasil."

"Aku bisa minta tolong majikanku membunuh pemuda itu, atau ji-suciku di Lembah Es. Tak dapat membunuhnya sendiri tak membuat aku putus asa, Beng An, aku punya banyak kawan. Dan manusia macam Yang Tek itu tak perlu ditakuti oleh para suciku bahkan majikanku sendiri!"

"Hm Menarik. Apakah majikan Lembah Es adalah juga gurumu?"

"Benar tapi hei.., ada orang Pulau Api, Beng An. Awas!"

Percakapan terhenti sejenak. Beng An terkejut karena seorang murid atau. penghuni Pulau Api berkelebat di situ, masuk, mau memeriksa atau menyelidiki tempat itu. Tapi begitu dia melihat dan sebutir batu melayang dari tangannya, mengenai dahi orang ini maka penghuni Pujau Api itu roboh dan tak sempat berteriak saking kerasnya timpukan Beng An.

"Nah, aman sekarang kita lanjutkan lagi percakapan kita dan harap cici tenang,"

Beng An tersenyum, sikapnya sungguh tenang dan wanita itu tertegun, Murid Lembah Es ini kagum dan sekali lagi wajah pemuda gagah itu ditatapnya lekat-lekat, terbelalak. Tapi ketika Beng An tertawa dan ia sadar maka wanita ini tersipu dan melengos.

"hebat sekali. Kau begini tenang dan seolah tak takut apapun!"

"Hm, apa yang ditakuti? Tak dapat keluar dari sini paling-paling mati, Seng-cici Dan orang hidup pasti mati. Ha-ha, sudahlah, kau tak usah gelisah!"

Wanita itu semburat merah. Melihat dan mendengar kata-kata itu seketika bangkit semangatnya. la menjadi malu dan tersipu sendiri karena tampak betapa ia ketakutan sekali. Orang hidup pasti mati, tidak sekarang ya kapan-kapan! Maka bersinar dan mengepalkan tinju ia mendesis berseru, "Benar, kau benar Beng An. Tapi betapapun sikapmu amat mengagumkan. Tanpa kepandaian tinggi tak mungkin kau bisa begini. Hm entah apakah kau dapat mengalahkan ketua Pulau Api. Kalau dapat..."

"Kalau dapat kenapa?" Beng An tertawa. "Berarti kita lolos dan selamat?"

"Bukan itu saja. Kalau dapat tentu saja aku ingin memperkenalkan dirimu kepa-da ketua kami, Beng An, hitung-hitung balas budi. Kau... kau tentu dikaguminya!"

"Ah, kau ini membuat aku malu saja. Apa yang harus dikagumi dari pemuda seperti aku ini. Dan masalah balas budi, hmm... aku bergerak bukan untuk dibayar dengan budi, Seng-cici. Aku membelamu semata demi kebaikan. Aku tak mengharap budi!”

"ini yang amat mengagumkan!" Hwa Seng malah berseru. "Kau boleh bicara begitu, Beng An, tapi bagiku tidak. Aku.. aku ingin membawamu ke Lembah Es kalau kita dapat selamat!"

"Sudahlah, tak usah bicara itu. Coba ceritakan apa dan bagaimana Lembah Es dan Pulau Api bisa selalu bermusuhan, barangkali ini lebih menarik!"

Hwa Seng mengangguk. Untuk pertama kalinya dia berhadapan dengan pemuda, seperti Beng An ini, jauh dibanding Yang Tek dan orang-orang Pulau Api. Dan karena Beng An telah menyelamatkan nyawanya dan budi itu amat besar, dia berterima kasih sekaligus ingin membayar budi maka berceritalah dia tentang penghuni atau kisah Lembah Es, betapa mula-mula nenek moyang mereka adalah gadis baju putih Pek Lian dan Bu Sit, murid dari tokoh-tokoh luar biasa Kim Kong Sengjin dan Han Sun Kwi, dua orang yang selalu bermusuhan dan tak mungkin berdamai dimanapun berada.

Dan ketika gadis itu bercerita dengan sengit tentang orang-orang Pulau Api, pewaris watak jahat dari Bu Sit dan keturunannya maka gadis itu mengepal tinju dengan wajah berapi-api. "Dari dulu sampai sekarang penghuni Pulau Api memang keji. Mereka tak kenal kasihan. Dan untuk penyambung keturunan, mereka selalu mencari perempuan di luar untuk diambil anaknya, laki-laki. Kalau perempuan dibunuh!"

"Dan penghuni Lembah Es?" Beng An bertanya. "Bagaimana mempertahankan keberadaannya, Seng cici? Padahal mereka juga tidak menikah!"

"Kami memang tidak menikah, karena rata-rata dari kami adalah pembenci laki-laki. Tapi kami selalu mengisi kekurangan penghuni dari kerabat istana dan bangsawan turunan sejak jaman Dinasti Han dulu!"

"Hmm, begitu. Tapi sekarang kau berdekatan dengan aku, tidak membenciku. Padahal aku adalah laki-laki. Eh, bagaimana ini, cici? Apakah kelompokmu tidak akan marah?"

Wanita ini tertegun, memerah bingung, Tapi ketika ia menggigit bibir dan menarik napas dalam maka meluncur kata-katanya, "Kau benar, Beng An, tapi kau ternyata lain dengan laki-laki penghuni Pulau Api. Kami selama ini hanya mengenal laki-laki seperti orang-orang Pulau Api itu, dan ini terlanjur membekas dalam-dalam dan menimbulkan benci, Kalau di dunia ini masih ada laki-laki atau pemuda sebaik engkau, tentu pandangan kami akan berubah!"

Beng An tertawa. "Cici, pandangan kalian orang-orang Lembah Es memang aneh. Apakah kalian kira semua laki-laki jahat? Hm, kalau laki-laki juga menganggap semua wanita jahat maka beginilah jadinya. Laki-laki atau wanita sama saja, maksudku, ya ada yang jahat dan ada yang tidak, baik laki-laki maupun perempuan. Aku tiba-tiba jadi ingin berkenalan dengan teman-temanmu di Lembah Es sana!"

Wanita ini tiba-tiba berseri. "Kau serius? Ah, mungkin kau satu-satunya lelaki yang bakal merobah keadaan Semenanjung Hitam, Beng An. Tapi hati-hati, teman-temanku tak bersahabat dengan lelaki. Mereka itu tadinya juga seperti aku yang amat membenci pria!"

"Aku tak takut," Beng An tertawa. "Aku datang dengan niat baik. CiCi, terutama mengantarmu pulang. Kalau mereka tidak menerima juga tentu saja aku tak memaksa masuk. Hanya, aku benar-benar jadi tertarik untuk melihat keadaan teman-temanmu di Lembah Es!"

"Aku dapat membantumu, tapi... heii... ada orang masuk lagi!"

Beng An bergerak dan meloncat dari tempat duduknya. la telah menangkap gerakan laki-laki itu dan secepat kilat menyerang, jari kanannya menotok. Tapi ketika laki-laki itu mampu mengelak dan menangkis, Beng An terkejut maka Hwa Seng berseru kaget,

"Ji-hu-pangcu (wakil nomor dua)...."

Dan Beng An memang harus bergerak cepat lagi ketika laki-laki itu tertawa dan membalas. Totokan Beng An disambut kepretan dan Sinar panas menyambar dari tangan laki-laki ini, bertemu jari Beng An dan dua-duanya terpental. Dan ketika Beng An terkejut karena terhuyung mundur maka laki-laki itu, wakil Pulau Api nomor dua sudah membentak dan terkekeh menyeramkan.

"Anak muda, kau bersembunyi di sini? Ha...Ha... bagus, tapi sekarang kau tak dapat lolos... duk-plakk!"

Beng An mengelak dan menangkis lagi, tergetar dan terhuyung mundur sementara See Kiat, laki-laki ini terkejut melihat dua kali pukulannya tertolak. la marah tapi juga kagum. Tapi begitu ia terdorong dan menyerang lagi maka laki-laki ini sudah berkelebat dan mendesak Beng An di dalam guha, melepas pukulan-pukulan panas dan Hwa Seng menjerit. la tak kuat menerima hawa pukulan itu dan terlempar, bukan main dahsyatnya. Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara Beng An sudah menghadapi lawan, bergerak dan berkelebatan di dalam guha yang sempit maka ji-hu-pang-cu dari Pulau Api ini menekan dan mencecar.

"Heh-heh, kau anak muda mengagumkan. Kau hebat. Tapi kau bukan tandinganku, bocah. Hayo menyerah atau mampus kubunuh.... des-dess!"

Beng An ditekan dan menerima dua pukulan panas, terkejut dan mengerahkan sinkang dan masing-masing sama terhuyung. Wakil Pulau Api itu terbelalak. Tapi ketika ia menjadi marah dan Sinar matanya yang tajam itu berkilat kejam mendadak ia merunduk dan melepas dua pukulan sekaligus dengan dorongan ke depan seperti kerbau melompat.

"Awas, Giam-lui-ciang...!"

Beng An berubah. Dengan orang-orang Pulau Api sesungguhnya ia tak berniat menanam permusuhan, ia hanya datang karena tertarik oleh cahaya pulau yang kemerah-merahan, cahaya yang dipantulkan oleh ribuan pohon Api yang ajaib itu, hal yang tentu membuat pemuda petualang seperti dia bakal ingin tahu, datang dan dilihatnya segala peristiwa di situ. Maka ketika Hwa Seng berteriak dengan seruan kaget dan wakil Pulau Api kiranya mengeluarkan Giam-lui-ciang, pukulan Petir Neraka maka dia yang terdesak dan ditekan di sudut guha menggelembungkan perutnya menerima dengan Khi-bal-sin-kang, tenaga sakti Bola Karet.

"Dessss...!" Beng An terbanting dan menabrak dinding belakang. la mencoba mengerahkan ilmunya itu sambil menguji pukulan. Biasanya lawan akan terbanting dan terlempar bertemu Khi-bal-sin-kang, IImu ini adalah warisan Pendekar Rambut Emas,ayahnya. Tapi ketika dia terbanting dan justeru terlempar, Khi-bal-sin-kang seolah tak kuat enghadapi Giam-lui-ciang maka pemuda ini jatuh terduduk dan melotot. Lawan tertegun di sana, juga melotot!

"Kau... ilmu apa itu? Kau tak mampus menerima Giam-iui-ciang? Seperti karet, keparat! Coba kau terima lagi, anak muda. Kerahkan ilmumu itu dan biar kulihat sekali lagi...wuttt!" laki-laki tinggi kurus berpakaian perlente ini menyerang lagi. la kaget dan tertegun sejenak oleh daya tahan pemuda itu, yang membuat pukulannya seakan membal tapi dengan sinkangnya yang luar biasa ia mampu menembus daya karet itu, kagum tapi juga penasaran, ada orang muda demikian hebat. Ini tak disangka.

Maka begitu dia bergerak sementara gadis Lemban Es itu menjerit melihat Beng An jatuh terduduk, diserang dan menerima Giam-lui-ciang lagi maka gadis ini membentak dan punggung laki-laki itu diserangnya dari belakang. Hwa Seng mencoba memberi pertolongan agar kawannya terluput dari bahaya. Tapi Beng An sudah bergerak menggelindingkan tubuh. la melihat bayangan-bayangan di luar guha dan itu membuatnya berubah. Hantaman Giam-lui-ciang masih membuatnya sesak, melayani orang ini berarti harus bertanding mati-matian,ini yang tidak dikehendakinya.

Maka begitu pukulan menghantam lagi dan kali ini lebih dahsyat, penasaran di hati wakil Pulau Api itu dilampiaskan dengan pukulannya yang lebih hebat maka Beng An menggelinding di bawah kaki laki-laki ini dan tepat temannya menjerit menghantam punggung lawan maka dia meloncat dan menyambar gadis itu dibawa berkelebat ke luar guha, hal yang sama sekali tak diduga ji-hu-pangcu ini.

"Desss!" Guha bergetar dan seakan ambruk. Wakil Pulau Api itu marah sekali karena pukulannya sia-sia, lawan secara cerdik dan licin memberosot di bawah kakinya. Dan ketika Beng An sudah melompat di luar guha dan laki-laki itu membalik maka puluhan penghuni pulau berteriak-tériak melihat pemuda ini ada di situ.

"Ini dia...! Heii, dia di sini!"

Beng An melompat dan menangkis atau membagi pukulan. Hwa Seng di tangan kirinya dan gadis itu juga melengking melepas serangan, tenaganya sudah pulih sebagian setelah bersembunyi lagi. Bulan semakin condong ke barat dan menjauhi titik pusat, Pulau Api masih berkobar-kobar oleh pantulan cahaya pohon ajaib, gadis itu membentak dan melengking-lengking.

Dan ketika belasan orang roboh namun dari kiri dan kanan muncul bayangan-bayangan lain, ji-hu-pangcu juga sudah berkelebat dan keluar guha maka Beng An yang dikepung dan hendak melarikan diri terpaksa bermain kucing-kucingan dengan meloncat dan mengelak Sana-Sini, Hwa Seng dipegangnya erat-erat agar tidak melepaskan diri.

"Seng-cici, agaknya kita harus melukai orang-orang ini. Ah, aku menyesal tapi rupanya apa boleh buat!"

Beng An berseru melihat bahwa tak mungkin dia bersikap ringan hati kalau penghuni pulau mendesak dan bermunculan. Mereka dikepung dari empat penjuru dan ini yang repot. Kalau tidak ada gadis Lembah Es itu mungkin dia dapat lari, tapi karena dia harus melindungi dan justeru membawa pergi gadis ini, ini yang berat maka Beng An membentak dan keluarlah pukulan-pukulan putih yang sinarnya berkelebatan menyambar-nyambar penghuni Pulau Api itu, juga tubuh pemuda ini yang sudah bergerak naik turun dengan amat cepatnya mirip cahaya bergulung-gulung.

"Des-des-desss!" Penghuni Pulau Api menjerit dan terlempar ke kiri kanan. Tiat-lui-kang, pukulan putih itu meledak dan menyambar orang-orang ini seperti sengatan lebah yang menggigit. Mereka berteriak dan tak ada satupun yang mampu melompat bangun, semua merintih. Dan ketika Beng An melihat kesempatan dan menarik tangan temannya, tinggi berjungkir balik ke atas mendadak ia terkesiap karena dari empat penjuru melayang pula bayangan-bayangan merah dan hitam dan tahu-tahu seorang kakek berkalung rantai perak berjubah merah darah menghantam di depannya dengan bentakan menggeledek.

"Anak muda, robohlah!"

Beng An terkejut dan berdesir. Bu Kok, wakil pertama dari Pulau Api melayang di depannya dengan pukulan merah. Itulah Giam-lui-ciang dan ia tahu kehebatannya. Tapi karena tak mungkin mengelak karena posisinya sedang berjungkir balik, lawan menghantam dan menyerangnya dengan dahsyat apa boleh buat iapun menangkis dan pukulan-pukulan lain dari bayangan di kiri kanan diterima tubuhnya sementara Hwa Seng menjerit, gadis Lembah Es itu tak mampu berbuat apa-apa.

"Des-dess...!" Beng An terlempar dan terbanting bergulingan. Petir Neraka, pukulan yang ditangkisnya itu benar-benar mengguncangkannya, membuatnya mengeluh sementara teman wanitanya roboh pingsan. Hwa Seng tak kuat menerima sambaran angin pukulan ini dan sudah tak sadarkan diri, napasnya sesak. Tapi ketika Beng An dapat melompat bangun dan tiga pukulan lain yang mendarat di tubuhnya dapat diterima baik, terhuyung namun dapat berdiri lagi menghadapi empat bayangan itu maka it-hu-pangcu dan ketua Pulau Api sendiri sudah berhadapan dengannya dengan mata kagum, dua yang lain adalah ji-hu-pangcu dan Yang Tek, pemuda berbaju kulit biru itu, yang melotot, tapi juga kagum!

"Anak muda," suara berat dan berpengaruh ini kembali menggelegar. "Kau hebat dan luar biasa. Tapi jangan macam-macam, kau dapat kami bunuh. Sebutkan siapa dirimu dan kenapa kau masuk ke mari!"

Bu Kok, wakil ketua yang terkejut dan marah ini mengeluarkan bentakannya yang dahsyat. Dia benar-benar kaget karena pukulannya Giam-lui-ciang tadi tak mampu membinasakan anak muda ini, yang hanya terlempar dan terbanting tapi kemudian bangkit kembali, hal yang hampir tak dapat dipercayanya. Tapi ketika anak muda itu berdiri tegak dan bersinar-sinar gagah, tak takut atau gentar berhadapan dengan tokoh-tokoh Pulau Api maka Beng An, anak muda ini menjawab, sadar bahwa tak mungkin melarikan diri lagi selama tiga pimpinan dan murid utama menghadang di situ.

"Ji-hu-pangcu, aku adalah Beng An, pemuda perantau biasa. Aku datang ke sini bukan untuk mengacau melainkan secara kebetulan saja karena tertarik melihat keanehan pulau kalian. Nah, sudah kujawab pertanyaanmu dan ijinkanlah aku pergi. Aku tak berniat mencari musuh!"

"Keparat, tidak mencari musuh tapi mengacau jalannya upacara kepada nenek moyang? Tidak mengaku salah padahal membawa tawanan Pulau Api? Heh, dengarkan, anak muda. Kami tak tahu siapa dirimu tapi kedatangan dan keberanianmu menarik kami. Berikan tawanan itu dan menyerahlah baik-baik. Kalau ketua mau mengampunimu maka kau dapat diangkat sebagai anggauta baru!"

"Benar," kini ketua yang maju dan bicara sendiri, wajahnya yang merah kehitaman tampak gembira sedikit. "Kau luar biasa dan pemberani, anak muda. Dan orang-orang Pulau Api amat menghargai keberanian. Menyerahlah, dan serahkan pula tawanan kami. Kau kuangkat menjadi wakil nomor tiga dan berhak mempelajari pukulan Giam-lui-ciang!"

Beng An tersenyum dan menggeleng. la tak tahu betapa Bu Kok dan orang-orang lain terkejut, saling pandang dan mata mereka memancarkan ragu, kaget. Tapi ketika pemuda itu menggeleng dan ini membuat hu-pangcu berseri, orang luar tak seharusnya mempelajari Giam-Iui-ciang maka pemuda itu berkata,

"Pangcu, terima kasih. Tapi maaf bahwa aku tak mungkin melakukan itu. Kalau saja kalian tak berniat jahat membunuh gadis ini tentu kuserahkan kembali gadis Lembah Es ini kepada kalian. Tapi kalian hendak membunuh, menghabisi nyawanya. Mana mungkin kuserahkan? Maaf, kalau aku dianggap lancang, kemarahan kalian siap kuhadapi, pangcu. Tapi kalau kalian mengaku orang-orang gagah hendak kutantang kalian bertanding satu lawan satu. Aku tak takut menghadapi pukulan Petir Neraka kalian yang dahsyat!"

"Bocah kurang ajar!" it-hu-pangcu membentak dan menerjang kembali, dia memang paling berangasan. "Terima pukulanku lagi, anak muda. Coba buktikan bahwa kau tak takut menghadapi Giam-lui-ciang!" Uap dan sinar merah menyambar.

Beng An tak mungkin berkelit karena mundur atau mengelak tentu diserang pula oleh tokoh atau lawan yang lain, yang berdiri mengepungnya. Maka membungkuk dan menyambut pukulan itu, keras lawan keras iapun mengerahkan sinkangnya dan seberkas cahaya putih menyambut pukulan sinar merah ini.

"Blarrr...!" Semua mundur dan terkejut. Pukulan putih itu, yang juga berhawa panas dan tak kalah dengan Giam-lui-ciang telah diterima dan beradu amat keras dengan Petir Neraka. Wakil Pulau Api telah menambah tenaganya namun tetap juga dia terhuyung, tergetar dan mundur dua langkah. Dan ketika laki-laki itu terbelalak karena hampir tak dipercayanya bahwa lawan semuda itu mampu mendorongnya mundur, pemuda itu tergetar namun tidak sampai terdorong jauh maka berubahlah wajah laki-laki ini sementara ketua dan wakil ketua yang lain terkejut dan kaget. Untuk kesekian kalinya lagi pemuda di depan mereka ini mampu menunjukan tingkat ilmunya!

"Anak muda, siapa gurumu. Dari mana kau berasal dan apa sesungguhnya yang kau cari!"

Ketua maju sendiri dan kini membentak dengan khawatir, mendahului wakilnya dan semua pucat memandang pemuda itu. Kalau pemuda ini sedemikian hebat tentu gurunya lebih hebat lagi. Dan karena tak baik bermusuhan dengan orang lihai, lawan mereka dari Lembah Es sudah cukup membuat pusing maka ketua maju sendiri dan kini menghadapi Beng An. Pemuda itu ditegurnya sementara pandang matanya bersinar-sinar, tajam, penuh tekanan dan selidik. Dan ketika Beng An menarik napas dan melihat ketua ini lebih sabar dibanding Bu Kok maka diapun memberi hormat sementara pagi sudah menjelang tiba.

"Pangcu, maafkan aku. Baiklah aku berterus terang. Aku adalah Beng An dan guruku adalah ayah ibuku sendiri. Kalau kau ingin mengenal namanya maka mereka adalah Pendekar Rambut Emas, ibuku adalah puteri dari mendiang kakekku Hu-tai-hiap!"

Beng An akan kecelik kalau mengira ayah dan ibunya ini dikenal orang-orang Pulau Api. Kalau dia menyebutkan itu pada orang-orang lain tentu sebagian besar bakal terkejut. Di daratan sana siapa tidak kenal nama besar Kim-mou-eng alias Pendekar Rambut Emas, juga mendiang Hu Beng Kui yang gagah perkasa itu. Tapi karena orang-orang Pulau Api adalah orang-orang pengasingan, mereka ini tak pernah ke daratan besar maka ketua Pulau Api tampak mengerutkan kening mendengar jawaban itu, dan Beng An juga kecewa.

"Pendekar Rambut Emas? Mendiang Hu-taihiap? Hmm, kami tak kenal nama-nama ini, anak muda. Tapi coba sebutkan siapa guru atau kakek gurumu, orang-orang yang berhubungan dengan ayah ibumu itu!"

"Baik," Beng An mendongkol juga. "Guru dari ayahku adalah Bu-beng Sian-su, sedang guru dari ibuku adalah..."

Ketua dan wakil ketua mengeluarkan teriakan kaget. Mereka mencelat mundur dan Beng An berhenti bicara, terkejut karena para pimpinan Pulau Api terkejut. Dan ketika mereka semua terbelalak sementara pemuda itu girang bahwa Bu-beng Sian-su rupanya dikenal orang-orang ini, nama kakek dewa itu ternyata dikenal juga sampai di pelosok dunia ini maka ketua tampak berubah dan saat itu para penghuni pulau juga kelihatan pucat, gentar.

"Bu-beng Sian-su? Kau... kau tidak bohong? Eh, jangan membawa-bawa nama ini, anak muda. Kakek itu adalah dewa suci yang setingkat dengan dewa kami Han Sun Kwi ataupun Kim Kong Sengjin. Tapi itu ada pada jaman seribu tahun yang lalu. Kau jangan menggertak!"

Beng An malah heran. la tidak tahu dan malah bingung dikatakan bahwa Bu-beng Sian-su adalah manusia dewa yang hidup pada jaman seribu tahun yang lalu, padahal selama bertahun-tahun terakhir ini sesungguhnya ia selalu bersama kakek itu. la dibawa kakek ini dan apa yang pernah diajarkan kepada ayahnya diajarkan juga kepadanya oleh kakek itu, karena ayahnya menyerahkan dirinya kepada kakek itu (baca: Rajawah Merah). Maka ketika dia dibentak dan dianggap main-main, Beng An heran maka ia menjawab,

"Pangcu, aku tidak main-main, juga tidak bohong. Kalau kalian tidak percaya bagaimana aku harus membuktikan. Aku bicara sungguh-sungguh, kakek dewa itu adalah juga guruku. Dia... wutttl"

Beng An mengelak, tahu-tahu disambar pukulan dahsyat dan ketua Pulau Api membentak menyerangnya. Beng An menghentikan kata-katanya dan tahu-tahu ketua berjenggot kemerahan itu sudah meledakkan tangannya dan tongkat di tangan juga menderu mengikuti tubuhnya. Cepat seperti kilat ketua ini sudah menyerang Beng An begitu pemuda ini mengaku murid Bu-beng Sian-su, nama sebesar dewa Han Sun Kwi atau Kim Kong Sengjin yang hidup pada seribu tahun yang lalu. Dan ketika semua mundur sementara Beng An harus mengelak dan berlompatan cepat, pukulan dan tongkat menyambar silih berganti maka pemuda itu terkejut karena ketua tampak beringas, sikapnya yang agak bersahabat lenyap terganti semacam rasa berang, menganggap Beng An main-main, dusta.

"Anak muda, kalau kau dapat menahan seranganku seratus jurus kuanggap kau benar-benar murid kakek dewa itu. Tapi kalau tidak kau mampus...wiirrrr-desss!"

Batu di belakang Beng An hancur, tertimpa atau terhantam tongkat dahsyat ini sementara pukulan Petir Neraka juga membuat hawa panas muncul membakar. Beng An mengelak dan berlompatan tapi ketua Pulau Api mengejar dan menyerangnya bertubi-tubi. Dan karena tubuh Hwa Seng mengganggunya dan Beng An membentak melempar tubuh itu maka gadis Lembah Es ini melayang dan jatuh di atas cabang pohon tinggi, aman. Beng An dapat menghadapi serangan-serangan ketua Pulau Api itu.

"Baik, kau telah mengeluarkan kata-katamu, pangcu, dan tadi aku juga telah mengeluarkan tantangan. Mari kita bertanding dan maaf bahwa aku mengganggu kalian....plak-dess!"

Beng An menangkis dan kini tidak berlompatan saja. Pukulan Petir Neraka kian hebat menyambar hingga anak-anak murid Pulau Api mundur. Dari telapak ketua itu muncul uap merah yang berkobar-kobar, sebentar kemudian menjadi api dan inilah yang amat mengerikan. Rumput dan batu tersambar hangus, seketika gosong.

Tapi ketika Beng An mampu menghadapi semua tekanan-tekanan itu dan pemuda inipun membalas dan berkelebatan dengan ginkangnya yang tinggi, ilmu meringankan tubuh yang membuat ia beterbangan di antara sambaran tongkat dan pukulan maka penghuni mendecak kagum sementara ketua dan para wakilnya terbelalak, marah!

"Bunuh pemuda itu, suheng. Kerahkan tingkat ilmumu sampai yang teratas!"

"Hm, aku memang akan membunuhnya. Tapi hitung jurus-jurus yang kulakukan, Bu-te. Aku tak mau dikata curang karena kita tetap memegang kegagahan!" sang ketua berseru dan memperhebat serangannya. Dia kagum tapi juga penasaran bahwa sepuluh jurus pertama pemuda itu mampu menghindari semua serangannya dengan baik.

Beng An berkelebatan naik turun di antara deru sambaran tongkat dan Giam-lui-ciang. Tongkat di tangan ketua Pulau Api itu juga mulai kemerah-merahan, terbakar! Dan ketika tongkat ini luput menyambar dan menghantam tanah maka tanah mendesis dan seketika berlubang, hangus! Beng An berhati-hati. Dia melihat betapa dahsyatnya serangan dan pukulan lawannya ini. Ketua dan wakil ketua itu hampir sama saja, tadi dia sudah merasakan dahsyatnya pukulan it-hu-pangcu dan maklum bahwa tokoh-tokoh Pulau Api ini memang hebat.

Agaknya di daratan besar tak ada jago-jago kelas satu mampu menandingi orang-orang Pulau Api ini. Dan ketika ketua semakin hebat menyerangnya sementara tubuh ketua mulai berkerotok, aneh, tubuh laki-laki itu mulai memerah seperti besi menyala maka Beng An menjadi kagum dan pada jurus kedua puluh lima tubuh itu menjadi hidup dan menyala berkobar-kobar!

"Anak muda, aku akan menghantammu dengan pukulan Petir Neraka. Awas, tiap serangan akan semakin hebat!"

Beng An tak sangsi atau ragu akan kata-kata ini. Dia terbelalak melihat betapa tubuh ketua Pulau Api sudah merah terbakar dan mirip obor berjalan, bergerak dan naik turun cepat hingga tempat itu menjadi terang-benderang. Pukulan-pukulan juga semakin dahsyat hingga para anak murid berteriak. Mereka melempar tubuh bergulingan setiap hawa panas menyambar, api menjilat mereka dan beberapa di antaranya terbakar!

Dan ketika mereka itu disuruh mundur sementara it-hu-pangcu dan ji-hu-pangcu terbelalak mundur menjauh, di sini wakil ketua dapat mengukur tingkat ilmu ketua mereka maka it-hu-pangcu Bu Kok yang semula berambisi untuk merebut kedudukan menjadi gentar dan mengakui bahwa ada sesuatu yang sudah diperoleh suhengnya itu, yakni pukulan-pukulan panas yang jarak jangkaunya dapat mencapai lebih dari seratus meter, padahal dia paling-paling sekitar limapuluh atau enampuluh meter.

"Ji-suheng, twa-suheng hebat sekali. Sinkangnya maju pesat dan kita tak tahan dalam jarak lima puluhan meter!" ji-hu-pangcu, wakil nomor dua berbisik pada laki-laki she Bu itu. It-hu-pangcu Bu Kok mengangguk dan ia mengakui. Dan ketika mereka harus menjauhkan diri dari sambaran hawa panas, pertandingan di sana semakin hebat dan seru maka Bu Kok justeru kagum kepada lawan suhengnya itu.

"Jahanam, bocah itu benar-benar hebat sekali. la mampu menghadapi suheng dan tahan genpuran-gempuran Giam-lui-ciang!"

“Dan lihat," sang sute terbelalak. "Ada perubahan pada tubuhnya, suheng. Pemuda itu mengeluarkan uap beku yang membuat tubuhnya tahan panas!"

"Seperti Bu-kek-kang!"

"Bukan, tapi sejenis itu, suheng. Lihat tubuhnya terbalut es!"

Dua tokoh Pulau Api ini terkejut. Beng An, yang bergerak dan berkelebatan di balik pukulan-pukulan Giam-lui-ciang mendadak mengeluarkan uap dingin yang beku di sekujur tubuhnya. Perlahan tetapi pasti uap itu membalut dari bawah ke atas. Dan ketika sekejap kemudian pemuda ini sudah dibungkus uap dingin hingga mirip manusia salju, kaki dan tangannya tak tampak lagi kecuali dua biji matanya itu maka Tan-pangcu atau ketua Pulau Apí yang juga terkejut dan kaget memandang pemuda itu berseru keras dan pucat mukanya.

Pertandingan sudah berjalan limapuluh jurus dan gempuran-gempuran Petir Neraka membuat Beng An terdesak. la telah mempergunakan segala ilmu yang dipelajari ayahnya namun semua tak kuat bertahan. Khi-bal-sin-kang, ilmu yang biasanya dibanggakan itu tak mampu menembus kekuatan Giam-lui-ciang. Hawa panas dari ilmu itulah yang membuat tenaga karet dari Khi-bal-sin-kang leleh, hal ini membuat Beng An bingung namun berkat Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kangnya Ia mampu berkelebatan menghindari pukulan-pukulan berbahaya.

Lawan yang semakin penasaran nmenekannya semakin hebat. Dan ketika hawa panas semakin membakar dan tempat 1tu berubah bagai neraka, apapun bakal tersembur dan menjadi api maka Beng An mengeluarkan satu ilmunya yang luar biasa yang ayahnya sendiri tak punya, yakni Ping-im-kang (Tenaga Inti Es). Ilmu ini secara kebetulan diwarisinya dari mendiang kakeknya Hu Beng Kui, yang tak sempat mengembangkan ilmu itu karena keburu tewas di Sam-liong-to.

Dan karena pemuda inilah yang mendapatkan ilmunya dan dulu di Himalaya Beng An disiksa dua kakek jahat Poan-jin-poan-kwi, hal yang membuatnya berbulan-bulan mati semu dalam kebekuan Ping-im-kang maka kini menghadapi hawa panas menggila dari pukulan-pukulan Giam-lui-ciang itu pemuda ini mengeluarkan ilmunya yang mentakjubkan ini.

Mula-mula Beng An mengerahkan tenaganya dan menyedot dalam-dalam tenaga sakti di pusar. Lalu ketika tenaga sakti itu bergerak dan ia memutarnya di dalam perut, naik dan kemudian memecahnya ke atas ke bawah maka ketika tenaga itu bergerak dan Ping-im-kang mengeluarkan butir-butir dingin maka tenaga Inti Es ini membuatnya mampu bertahan dari gempuran-gempuran Petir Neraka.

Tapi pukulan-pukulan ketua Pulau Api itu semakin dahsyat saja. la tak mungkin bertahan dan menerima serangan, ia harus juga merobah hawa udara di tempat itu dari panas menjadi dingin. Dan ketika Beng An melakukan ini dan gerakan atau kibasan tangannya mengeluarkan uap beku, yang panas didinginkan dan ketua Pulau Api terbelalak karena pukulan-pukulannya bertemu uap dingin maka perlahan tetapi pasti tekanan Giam-lui-ciang mengendor dan hawa panas di tempat itu menjadi dingin!

"Keparat, jahanam!" ketua Pulau Api membentak tak percaya, melotot. "Kau memiliki Im-kang luar biasa, bocah. Tapi jangan kira kau mampu mengalahkan aku Lihat, aku akan menambah kekuatanku... wuusssshhhh!" api menyembur dan menjilat dari kedua tangan Pulau Api ini. Hawa yang mulai beku dicairkannya kembali dengan pukulan panasnya itu. Giam-lui-ciang kali ini menyambar amat hebat, batu dan pohon-pohon leleh! Tapi ketika Beng An juga membentak dan kedua tangannya bergerak mendorong, menyambut atau menangkis pukulan lawannya itu maka ketua Pulau Api tergetar dan terjengkang.

"Dessss...!"

Semua orang seakan tak percaya. Pemuda berbalut uap salju itu mampu mendorong ketua mereka hingga terjengkang, batu dan pohon yang leleh juga seketika beku kembali disambar uap dingin ini. Tapi begitu ketua melompat lagi dan berteriak, dahsyat menggetarkan pulau maka Tan Siok atau Tan-pangcu ini menerjang dan menyerang kembali. Tongkat di tangannya menggigil dan tongkat itu sudah menjadi tongkat api pula, berkobar dan akhirnya dilontarkan kepada Beng An namun sekali tangkis Beng An membuat tongkat itu patah.

Dan ketika pemuda ini bergerak mengimbangi kecepatan Tan-pang cu dan kedua tangan ketua itu melepas Giam-lui-ciang bertubi-tubi maka Beng An memperhebat Ping-im-kangnya dan pukulan atau dorongan ketua itu selalu terpental! Hal ini mengejutkan ketua Pulau Api itu namun ketua ini terus selalu menyerang. Dia tak perduli berapa kali dia terdorong karena wajah dan tubuhnya sudah memancarkan kemarahan yang sangat.

Pulau berderak-derak dan terjadilah pemandangan aneh ketika hawa panas dan dingin silih berganti menguasai tenpat itu. Bunyi "kras-kres" terdengar mengerikan setiap hawa udara berubah. Tapi karena uap dingin akhirnya lebih unggul dibanding uap panas, Ping-im-kang mampu menekan dan menindih Giam-lui-ciang maka ketua Pulau Api itu terhuyung-huyung dan pertempuran sudah melewati seratus jurus. Pohon-pohon Api yang semula mengeluarkan cahaya kemerah-merahannya itu mulai padam dan layu, daun dan rantingnya mulai terselimuti butir-butir salju dari uap dingin Ping-im-kang.

"Pangcu, sudah seratus jurus. Kau harus menepati janjimu!"

Beng An berseru dan mengingatkan ketua Pulau Api itu. Dia juga bertempur habis-habisan menghadapi ketua pulau yang amat dahsyat ini, mengerahkan Ping-im-kangnya delapan bagian dan baru berhasil menguasai lawan. Beng An diam-diam cemas kalau dua wakil di sana akan maju pula, membantu ketua. Tapi ketika mereka berdiam diri tak bergerak, rupanya pertandingan itu juga luar biasa untuk dinikmati maka seruan Beng An ini justeru menyadarkan mereka untuk bergerak.

Ketua Pulau Api sendiri merah padam didorong mundur berkali-kali. Dia harus melawan hawa dingin yang menembus pukulan panasnya itu, beradu sinkang dan mengakui bahwa Ping-im-kang lawan lebih kuat, terbukti bahwa perlahan-lahan kedua tangannya menggigil kedinginan. Kalau dia meneruskan pertandingan ini boleh jadi dia akan mati beku, disambar dan didesak hawa dingin itu. Maka ketika lawan berteriak sementara itu kedua wakilnya juga bergerak dan hendak menyerang maka dalam adu pukulan terakhir dia membentak dan berseru keras,

"Mundur...!" Lalu jatuh terduduk dengan lengan terselaput uap dingin ia terbelalak dan kagum mernandang Beng An, terbatuk dan memejamkan mata sejenak untuk mengempos semangat memulihkan tenaga. Bentakannya tadi membuat mundur dua orang wakil ketua, yang tertegun dan merandek. Lalu ketika ketua terhuyung melompat bangun dan merah padam memandang Beng An maka laki-laki gagah itu berkata,

"Anak muda, kau benar. Kau telah mampu bertahan seratus jurus. Baiklah, kau menang tapi ketahuilah bahwa Giam-lui-ciang milikku baru tingkat delapan. Kalau aku telah sempurna menguasainya belum tentu kau mampu bertahan. Pergilah, aku menepati janjiku!"

Beng An girang dan menarik kembali semua tenaga Ping-im-kangnya. Sekali sapu bersihlah seluruh tubuhnya dari butir-butir es dingin. Sekarang la telah berdiri lagi dengan keadaan semula, bukan manusia salju. Lalu menjura dan kagum memandang ketua Pulau Api itu pemuda ini berkata,

"Pangcu, terima kasih bahwa kau telah mengijinkan aku pergi. Kau seorang ketua yang gagah, seorang laki-laki yang menepati janji. Maaf dan terima kasih sekali lagi untuk kegagahanmu ini!" dan berkelebat menyambar teman wanitanya yang dilempar di atas pohon Beng An telah membalik dan meninggalkan pulau. Ia tidak mau berlama-lama lagi setelah mendapat kesempatan. Pandang mata kagum seluruh penghuni pulau tampak tak dapat disembunyikan lagi. Tapi ketika Beng An melompat di perahu dan ketua berkelebat ternyata ketua ini menahannya dengan kata-kata,

"Anak muda, kau berani datang ke sini lagi? Kau berani berjanji untuk datang dan bertanding lagi?"

Beng An menoleh, tersenyum ringan. "Aku akan datang kalau memang kau undang, pangcu. Tapi bukan sebagai musuh melainkan sahabat!"

"Nanti dulu!" ketua mencegah lagi, pemuda itu siap menggerakkan dayung. "Kapan kau datang, anak muda. Aku menunggumu!"

"Hm, kapan pangcu mau?" Beng An mengerutkan kening. "Aku menyerahkannya kepadamu, pangcu, kapan saja aku siap!"

"Baik, kalau begitu setahun lagi. Berjanjilah bahwa setahun lagi kau datang!"

"Hmm, aku berjanji..."

"Kalau tidak?"

Kata-kata ini membuat Beng An semkin mengerutkan keningnya. Ada ancaman di situ, dia rupanya akan dikejar-kejar! Maka mendongkol tapi tak takut sedikitpun dia menjawab, "Pangcu, asal tidak ada aral melintang tentu aku datang ke sini, setahun lagi. Tapi kalau tidak kau boleh datang mencari aku!"

"Baik, sebutkan tempatmu!" kau boleh mencariku di utara, utara tembok besar. Cari saja putera mou-eng dan kau tentu mendapatkan aku!"

Beng An menggerakkan dayung dan menjadi tak senang. la tak menyangka bahwa dari kata-katanya ini kelak akan ada peristiwa panjang. Seluruh keluarganya bakal terlibat dan ibunya nanti terbunuh! Dan ketika Beng An menggerakkan perahunya sementara Hwa Seng mulai membuka mata, sadar, maka gadis Lembah Es yang tak tahu adanya pertandingan dahsyat itu melompat duduk, kaget.

"Beng An, di mana kita. Eh, itu orang-orang Pulau Api!"

"Benar, kita pergi, cici. Tan-pangcu memberikan ijin."

"Ijin? Kita dibebaskan begitu mudah? Bohong! Kau bohong, Beng An, tak mungkin itu! Eh, bagaimana sebenarnya yang terjadi!"

"Sudahlah," Beng An tersenyum, perahu meloncat dan terbang membelah laut merah. "Kau berpegang erat-erat agar tidak terjatuh, Seng-cici. Kita sudah mendapat kemurahan dan mari pergi.... slap-slap!" perahu melompat dan terbang lagi, jauh melewati ombak di bawah dan gadis ini kaget. Tapi ketika dia berpegangan erat-erat pada pinggiran perahu dan terbelalak tapi segera menjadi girang luar biasa maka ia berteriak,

"Heii, kalau begitu kau sudah menundukkan orang-orang Pulau Api itu, Beng An. Kau rupanya membuat ketua Pulau Api menyerah. Hi-hik, kau luar biasa sekali. Benar-benar luar biasa!"

Beng An tidak menanggapi kata-kata ini. Ia berseru agar gadis itu membantunya mendayung, ada sebuah dayung lain di situ. Lalu ketika gadis itu bergerak dan mendayung pula maka perahu lenyap meninggalkan Pulau Api dan Hwa Seng tak habis kagum memuji Beng An. Sekarang Beng An bertanya di mana Lembah Es karena ia ingin mengantar gadis itu sampai selamat. Dan ketika gadis itu menjawab bahwa Lembah Es berada di utara, di Semenanjung Hitam maka Hwa Seng mengemudikan perahu sementara pemuda itu membantunya di belakang.

Tanpa ragu-ragu lagi gadis ini membawa Beng An ke tempat hunian kaum hawa, tempat yang sebenarnya terlarang bagi laki-laki sebagaimana halnya Pulau Api tak boleh dimasuki kaum wanita. Dan ketika gadis itu rupanya tak perduli karena terlanjur kagum kepada Beng An, membawa dan mengajak pemuda itu ke Lembah Es.

Maka Beng An tersenyum-senyum dan diam-diam berdebar oleh rasa tertarik untuk mengetahui tempat yang satu ini. Pulau Api telah diketahui dan kini gillran Lembah Es. Entah bagaimana keadaan di sana. Yang jelas tentu semuanya wanita! Maka bersinar dan membantu gadis itu mempercepat perjalanan Beng An pun sudah membuat perahu seakan terlempar dan terbang di atas permukaan air laut.

* * * * * * * *

"Sudah sampai, kita berhenti di sini," gadis itu mendaratkan perahu di tepian daratan es yang beku. Seminggu mereka melakukan perjalanan dan setelah melampaui daerah-daerah berbahaya sampailah mereka di padang salju itu.

Beng An kagum karena di mana-mana hanya warna putih melulu, laut di bawah mereka beku sementara hawa dingin jauh melebihi puncak agung Himalaya. Ini daerah kutub! Beng An mendecak. Tapi ketika dia meloncat turun dan Hwa Seng sudah memberi petunjuk-petunjuk apa yang harus dilakukan bila berhadapan dengan penghuni Lembah, teman gadis itu kalau nanti mereka masuk maka Beng An sudah melihat berkelebatnya beberapa bayangan dan tahu-tahu di tempat itu muncul tujuh gadis cantik yang pakaian atau gayanya seperti gadis ini.

"Seng-moi, siapa yang kau bawa. Berani benar kau memasukkan laki-laki!"

Bentakan atau seruan ini mengejutkan Hwa Seng. Gadis itu, yang baru saja meloncat turun sudah siap membawa Beng An ke lembah. Perahu mereka merapat di ujung tajam pinggiran laut beku, hendak bergerak ketika tiba-tiba tujuh gadis berwajah dingin menyambutnya dengan bentakan. Dan ketika gadis itu membalik dan melihat siapa yang membentak maka tiba-tiba wajahnya berubah dan Hwa Seng tiba-tiba jatuh berlutut.

"Sam-cici...!"

Hanya ini seruan pertama yang keluar dari mulutnya. Hwa Seng telah memberanikan diri tapi begitu berhadapan dengan cicinya nomor tiga ini tak urung ia berubah dan pucat juga. lni adalah cicinya yang paling galak, keras dan berwatak kejam pula. Tapi ketika Beng An menyentuh pundaknya dan keberanian timbul lagi maka gadis itu bangkit berdiri dan berkata gemetar,

"Cici, aku dari Pulau Api. Hampir saja menjadi korban upacara orang-orang biadab itu. Beng An inilah yang menolongku dan dia ingin bertemu tocu (majikan)"

"Hm, kau dari Pulau Api? Kenapa tidak mampus sekalian di sana? Jauh lebih baik kau mati di sana dari pada mampus di sini, Hwa Seng. Kau membawa laki-laki dan ini larangan. Terimalah, dosamu tak dapat diampuni!"

Gadis berwajah dingin itu tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. la menampar dan seberkas cahaya putih menyambar, cepat sekali menuju dahi Hwa Seng. Tapi ketika gadis itu berteriak dan Beng An bergerak cepat, menarik dan mendorong gadis itu maka Hwa Seng selamat meskipun harus terlempar dan bergulingan di sana.

"Dess!" Pukulan itu membuat salju memuncrat. Hwa Seng terhuyung bangun dan tiba-tiba menangis, disambar dan menggigil di pelukan Beng An. Dan ketika Sam-cici tampak terkejut tapi berubah, mukanya yang putih menjadi merah maka ia mendengus dan pandangannya membayangkan kemarahan besar ketika beradu dengan Beng An.

"Kau... gadis ini menjadi kekasihmu? Kalian saling mencinta?"

"Hm!" Beng An menindas dan menekan debaran hatinya, gadis Lembah Es dingin-dingin, sungguh tidak seperti Hwa Seng! Tapi menggeleng dan tersenyum tenang dia berkata, "Cici, aku dan Hwa Seng adalah teman biasa. Kami berkenalan karena kebetulan aku menolongnya dari kebengisan orang-orang Pulau Api. Kalau kau hendak membunuh Seng-cici tentu sia-sia pekerjaanku di Pulau Api. Tidak, kau tak boleh marah kepadanya, cici. Bukan dia yang bersalah melainkan aku. Akulah yang datang mengajaknya ke sini, mengantarnya ke sini. Kalau kau hendak marah-marah silakan marah kepadaku. Aku memang lancang ke sini, bukan untuk membuat ribut melainkan semata didorong keinginan-tahuku berkenalan dengan kalian. Kalau kalian tidak menerimanya tentu saja aku pergi."

"Hm, begitu enak? Kau kira apa tempat ini? Baik, sebutkan namamu, bocah. Kau akan mati dengan meram karena papan namamu akan kami pasang di makammu!"

Beng An tertawa kecut. Mendapat ancaman begini ia malah geli, gadis penghuni Lembah Es ini benar-benar galak. Tapi karena ia tak ingin membuat ribut dan bukan maksudnya mencari permusuhan, lagi pula gadis itu adalah cici Hwa Seng maka dia menarik napas, menjawab tenang.

"Namaku Beng An, she Kim. Tapi namaku agaknya bukan untuk dihias di papan makam melainkan justeru untuk diingat-ingat oleh kalian sebagai sahabat. Paling tidak, aku telah menyelamatkan seorang anggauta kalian dari kekejaman Pulau Api. Apakah kalian kira kami bisa begitu gampang lolos dari ketua dan wakil ketua Pulau Api? Aku telah berjuang cukup keras, cici. Dan kuminta jangan ganggu Seng-cici. Kalau aku dianggap memasuki daerah terlarang aku siap menerima sangsinya!"

Kini kata-kata Beng An berkesan gagah dan tegar. la menunjukkan tidak takutnya dan pernyataan bahwa ia lolos dari Pulau Api membuktikan bahwa ia berkepandaian. Beng An tidak terlalu bersombong namun pernyataannya itu membuat Sam-cici tertegun juga, ingat bahwa tak gampang orang meninggalkan pulau neraka itu. Maka ketika dia terkejut dan sadar, maklum bahwa pemuda ini rupanya berkepandaian tinggi maka tiba-tiba ia ingin mencoba dan ketika Hwa Seng dipeluk pemuda itu ia membentak, mundur.

"Hwa Seng, kau diterima pulang. Nanti biar tocu yang memutuskan hukumannya sendiri. Kemarilah dan biar pemuda itu sendiri!"

Hwa Seng girang. "Cici menerimaku? Baik, terima kasih, cici. Tapi jangan kalian terlalu kasar kepada Beng An!" dan melompat meninggalkan Beng An gadis itu menghambur ke teman-temannya.

Beng An terkejut tapi gadis itu sudah di kelompoknya. Tapi begitu ia datang maka Sam-cici pun menotoknya roboh, gadis-gadis yang lain bersikap dingin dan acuh! "Jangan biarkan ia lari. Nanti kita periksa dan sekarang kalian hadapi pemuda itu!"

Enam gadis bergerak maju. Mereka berkelebat dan tahu-tahu mengurung Beng An. Pemuda ini mengerutkan kening tapi sikapnya tetap tenang. Dan ketika gadis di sebelah kiri membentak dan menyerang, dua jari menusuk dahi maka Beng An mengelak tapi gadis di belakang dan kanan menyerang pula, cepat disusul yang lain dan enam gadis itu tahu-tahu telah berkelebatan menyerangnya. Dan ketika Beng An mengelak atau menangkis mengerahkan tenaganya, enam gadis Lembah Es sudah menyerangnya bertubi-tubi maka bunyi tamparan dan pukulan disusul pekik kaget gadis-gadis itu.

"Wuttt.... plak-plak-plak!"

Beng An membuat gadis-gadis itu terpental dan menjerit terhuyung ke belakang. Mereka tak menyangka bahwa sekali tangkis pemuda ini mampu menghalau enam pukulan sekaligus. Tapi ketika mereka melengking dan membalik menerjang lagi maka tubuh-tubuh langsing itu telah berkelebatan lagi menyambar Beng An bagai walet berseliweran. Pukulan berhawa dingin menyambar dan membekukan tulang, mirip Ping-im-kang!

"Para cici, kalian memaksaku. Baik, mari kita main-main dan jangan salahkan aku!"

Beng An tersenyum dan tiba-tiba menggerakkan tubuhnya. Menghadapi gerak cepat gadis-gadis itu tak ada lain jalan kecuall bergerak lebih cepat lagi. Beng An menggunakan Jing-sian-engnya dan Bayangan Seribu Dewa ini membuat para gadis terkejut. Mereka sudah bergerak cepat tapi pemuda itu lebih cepat lagi. Dan ketika mereka silau dan Beng An berkelebatan di antara mereka, menepuk dan memukul perlahan tiba-tiba saja enam gadis itu sudah roboh berurutan dalam waktu sekejap saja.

"Bluk-bluk-bluk!"

Enam wanita muda itu mengeluh dan terbanting perlahan. Mereka tidak sampai kesakitan karena Beng An mengatur tenaganya, kini tegak berdiri tersenyum-senyum dan Sam-cici yang galak tampak kaget. Wanita itu berseru tertahan tapi ketika tubuhnya berkelebat tiba-tiba ia sudah membebaskan totokan enam saudaranya itu. Beng An memang tidak menotok-nya berat. Dan ketika enam wanita itu berdiri terhuyung, terbelalak memandang Beng An maka Sam-cici mencabut pedang dan berseru maju,

"Para sumoi, sekarang mari ikut aku. Kalian ceroboh hingga begitu mudah dikalahkan. Terlalu. Cabut pedang kalian dan hajar pemuda ini!" wanita itu sudah bergerak mendahului dan Beng An terkejut mengerutkan alis. Nyata bahwa lawan tak mau sudah, Sam cici itu terutama keras kepala. Tapi berkelit dan mengelak lagi, menghindar dan sudah diserang bertubi-tubi oleh pedang di tangan wanita itu Beng An menghadapi lagi enam wanita lain Yang membantu cicinya.

"Bocah, kami belum kalah kalau kau belum merobohkan aku. Nah, tandingi aku dan perlihatkan kepandaianmu itu... sing-singgg...!" pedang menyambar dan bergulung-gulung naik turun.

Hawa dingin semakin tajam dan Beng An mengakui bahwa kepandaian wanita ini lebih tinggi daripada enam yang lain. Namun karena ia memiliki Jing-sian-eng dan dengan ilmu meringankan tubuh itu ia merasa sanggup menghadapi gerakan pedang ini, Beng An berkelebatan cepat maka ia berseru, "Baik, kalau kau dapat merobohkan aku dalam duapuluh lima jurus aku mengaku kalah, Sam-cici. Tapi lewat dari itu aku akan merobohkanmu tak lebih dari lima jurus!"

Wanita ini membentak. Ia marah mendengar kata-kata itu tapi ketika tubuh si pemuda berkelebatan mendahului pedangnya ia kaget juga. Tubuh pemuda itu seperti kapas yang ringan terdorong angin sambaran pedangnya, tak dapat disentuh sementara adik-adik seperguruannya juga kaget dan berseru kagum. Beng An mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Tapi ketika dia melengking dan mempercepat gerakan pedangnya, enam sumoinya juga dibentak agar menyerang lebih cepat maka Beng An sibuk mengelak sana-sini dan mulutpun mulai menghitung-hitung jurus, hal yang membuat wajah wanita itu merah.

"Enam.... tujuh.... tiga belas...., hampir dua puluh, Sam-cici. Awas hampir habis....!"

Wanita itu melengking-lengking. Dua puluh jurus lewat dengan cepat tapi selama itu ujung pedangnya sama sekali tak mampu menyentuh tubuh pemuda ini. Jangankan tubuhnya, ujung pakaiannyapun tidak! Dan ketika ia memekik dan tangan kiri bergerak menghantam dengan pukulan dingin maka pada jurus kedua puluh satu ia menyuruh adik-adiknya juga melakukan pukulan itu. "Kerahkan Bu-kek-kang, robohkan pemuda ini!"

Beng An mengerutkan alis. la sudah tahu bahwa ilmu kepandaian pokok penghuni Lembah Es adalah Bu-kek-kang (Tenaga Tak Berkutub), ilmu warisan dari manusia sakti Kini Kong Sengjin, lawan dari Han Sun Kwi yang memiliki ilmu dahsyat Giam-Iui-ciang itu, yang diwarisi orang-orang Pulau Api dan sudah dirasa kehebatannya. Kalau ketua Pulau Api sudah menguasai ilmu itu sampai sepuluh bagian entahlah apakah dia mampu atau tidak menandingi tokoh gagah dari pulau yang selalu panas itu.

Dalam perjalanan dia sudah mendengar banyak tentang pernnusuhan dan kisah dari dua dedengkot ini, Hwa Seng itulah yang bercerita. Maka ketika wanita galak itu mengeluarkan Bu-kek-kangnya dan enam sumoinya yang lain juga diperintahkan untuk menghantam dengan tangan kiri mereka, sementara pedang masih menusuk dan membacok di tangan kanan maka Beng An yang tak mau main-main dan melihat kemiripan ilmu ini dengan Ping-im-kangnya tiba-tiba ingin menguji.

"Para cici, duapuluh lima jurus sudah hampir lewat. Baiklah kalian boleh pukul aku dan setelah itu aku ganti memukul kalian!"

Beng An berhenti dan tidak mengelak ketika tepat pada jurus kedua puluh lima lawan-lawannya itu menyerang, tangan kiri menghantam sementara pedang di tangan kanan menusuk dan membacok. Hebat serangan mereka itu tapi lebih hebat lagi apa yang dilakukan Beng An. Pemuda ini, yang sudah tidak bergerak dan berhenti di tengah tiba-tiba menerima semua serangan itu. Hawa Ping-im-kang dikerahkan dan tiba-tiba tubuhnya sudah dilapisi uap salju. Lalu ketika dengan cepat sekujur tubuh pemuda ini sudah dibungkus lapisan es beku, Sam-cici dan lain-lain berteriak kaget maka pukulan dan pedang mereka mengenai pemuda ini.

"Tak-tak-dess...!"

Pedang dan pukulan patah-patah. Sam-cici dan adiknya terpelanting dan semua menjerit kaget karena pedang di tangan sudah menjadi dua. Pedang itu seakan menusuk atau membacok balok es yang kuat, jauh lebih kuat daripada baja. Dan ketika mereka terpelanting sementara pedang terlepas dari tangan, Beng An bergerak dan tertawa perlahan maka berturut-turut tujuh wanita itu ditotoknya dan sambaran hawa dingin yang jauh lebih dingin dari Bu-kek-kang wanita-wanita itu membuatnya semuanya mengeluh dan roboh dengan tubuh beku pula, menggigil pucat!

"Nah," Beng An bertolak pinggang. "Bagaimana, para cici. Dapatkah kalian mengalahkan aku dan apakah ini masih kurang!"

Tujuh wanita itu terkejut. Sam-cici, pemimpinnya, terbelalak dan pucat sekali. Ia tak menduga bahwa pemuda ini begini luar biasa. Dalam sekali gebrak saja membuat dia dan enam sumoinya roboh, padahal mereka sudah menyerang duapuluh lima jurus dan tak satu kalipun mampu menyentuh pemuda ini. Maka terbelalak dan tak mampu bicara apa-apa, diam-diam mengerahkan sinkang untuk membebaskan totokan namun tak berhasil maka wanita itu memejamkan mata dan menangis, dan Hwa Seng tiba-tiba berseru,

"Beng An, bebaskan mereka. Sam-cici sudah mengakui kelihaianmu dan sekarang tentunya kau boleh memasuki lembah!"

"Hm," Beng An mengangguk, menggerakkan jarinya membebaskan totokan. "Bukan hanya mereka, Seng-cici. Kaupun harus bebas, tak boleh disakiti!" lalu ketika semua melompat terhuyung sementara wajah Sam-cici tampak merah padam, malu, tiba-tiba wanita itu membentak dan menyambar Hwa Seng diajak pergi.

Enam yang lain mengikuti dan Beng An terkejut, mengira wanita itu akan membunuh Hwa Seng namun ternyata tidak, mencekal dan membawa lari gadis itu naik turun bukit-bukit salju. Hwa Seng berseru agar Beng An mengikuti. Dan ketika pemuda itu juga bergerak dan mengintil di belakang, melampaui sebuah sungai beku untuk akhirnya menuju gunung pertama yang puncaknya putih membeku.

Maka Sam-cici bersuit dan dari puncak meluncur bayangan-bayangan langsing yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang. Hwa Seng berseru kaget tapi wanita galak itu mendengus. Gadis itu malah ditamparnya dan ketika mereka naik sementara bayangan-bayangan itu meluncur turun, sebentar kemudian sudah berpapakan maka Sam-cici membentak menuding Beng An.

"BUnuh pemuda itu!" Lalu meneruskan perjalanan, mendengus pada Beng An wanita itu naik ke atas dan Beng An sudah dikepung atau dihentikan oleh penghuni Lembah Es ini, gadis-gadis yang rata-rata cantik dan gagah.

"Berhenti, siapa kau!"

Beng An terkejut. la sudah diberi tahu Hwa Seng bahwa di Lembah Es berkumpul tak kurang dari tigaratus wanita muda, semua adalah murid atau anak buah Puteri Es, tocu atau majikan Lembah yang rata-rata berkepandaian tinggi. Dan karena Hwa Seng juga sudah memberi tahu bahwa penghuni Lembah Es amat anti kepada laki-laki, biar segagah atau setampan apapun maka pemuda ini berhenti dan karena tak ingin membuat permusuhan Beng An membiarkan diri terkepung di tengah-tengah, mata mengawasi ke atas di mana Hwa Seng akhirnya lenyap tapi berseru bahwa dirinya tak perlu dicemaskan. Dia akan dibawa menghadap tocu.

"Beng An, hati-hati. Lebih baik menyerah dan biarkan dirimu ditangkap," begitu dulu gadis itu pernah bicara. Maka ketika kini dia dikepung seratus wanita-wanita muda, dari seratus itu muncul tiga wanita berbaju biru hijau dan kuning maka Beng An kagum karena semua wanita di situ rata-rata cantik. Tapi dia mendengar bentakan yang dingin dan nyaring.

"Siapa kau! Bagaimana datang bersama Hwa Seng dan menghina Sam-cici!"

"Hm," Beng An menarik napas, menjura. "Aku bernama Beng An, cici, she Kim. Aku tak menghina siapa-siapa justeru aku menolong Hwa Seng-cici dari keganasan orang-orang Pulau Api. Aku datang mengantarnya sampai ke sini dan kalau boleh kebetulan sekali ingin berkenalan dengan majikan kalian, Puteri Es!"

"Kau manusia lancang! Kau kira begitu enak berkenalan dengan tocu? Kau tahu apa artinya kedatanganmu di sini? Lembah Es pantang dimasuki lelaki, bocah she Kim. Dan hukumannya adalah mati. Kau telah berani datang dan karena itu siaplah mampus!"

"Nanti dulu," Beng An mengangkat tangan dan buru-buru mundur, wanita baju biru itu siap menyerang. "Aku datang bukan untuk mengacau, cici, melainkan ingin bersahabat. Kalau aku ingin bermusuhan tentu tak mungkin datang secara terang-terangan. Lagi pula aku telah menolong Hwa Seng-cici, apakah kebaikanku itu tak dihargai?"

"Hwa Seng membuat kesalahan besar dengan membawa masuk dirimu. Kalaupun ia tak mampus di Pulau Api maka ia pasti mampus di sini. Kau tak usah membawa-bawa budimu itu ke sini!"

"Maaf, aku tidak bermaksud menonjolkan budi. Yang kumaksud adalah niat baikku itu, rasa persahabatan itu..."

"Hm, tak usah banyak omong, anak muda. Kau menyerah atau mati!" wanita baju biru ini berkelebat dan menyerang. Ia tak mau banyak bicara lagi dan Beng An terkejut. Ia mau menyerah, tapi jangan dengan dirobohkan. Kalau ia tidak diserang tentu ia akan menyerahkan diri baik-baik. Tapi karena ia diserang dan hendak dipukul, tentu saja ia menolak maka ia berkelit tapi lawan mengejar dan tangan kiri wanita itu tiba-tiba bergerak dan secepat kilat menghantam pelipisnya, cepat sekali!

"Plak!" Beng An tergetar dan kagum akan kecepatan gerak wanita ini. Wanita itu jauh lebih cepat dibanding Sam-cici dan angin serangannyapun lebih kuat, lebih dingin! Tapi ketika ia mengerahkan sinkangnya dan menolak dengan Khi-bal-sin-kang, pukulan Bola Karet maka ia mendapat kenyataan bahwa sama seperti Giam-lui-ciang pukulannya itupun tembus dipukul. Khi-bal sin-kang tak banyak berguna dipakai melindungi diri.

"Hm!" Beng An terkejut. "Pukulanmu kuat, cici, tapi jangan desak aku dengan serangan-serangan. Kalau kau menyuruh aku menyerah baik-baik tentu aku mau, tapi kalau kau hendak merobohkan aku terpaksa aku melawan!"

Wanita baju biru itu yang terkejut dan terbelalak oleh tangkisan Beng An tampak kaget dan heran. la adalah murid nomor tiga dari majikan Lembah, kepandaiannya dua tingkat di atas Sam-cici dan tandingannya adalah Tan Bong putera ketua Pulau Api, dua wanita baju hijau dan kuning adalah para sucinya, murid-murid nomor dua dan satu. Maka tertegun tapi menjadi marah, ia merasa ditantang tiba-tiba wanita itu berkelebat dan menyerang lagi dengan lebih cepat. 

Tiga kali ia menyerang dan menampar muka Beng An tapi tiga kali itu pula ia dikelit dan luput, lawan bergerak lebih cepat. Dan ketika ia membentak dan untuk keempat kalinya ia mendesak Beng An untuk menangkis maka Beng An mengerahkan Ping-im-kangnya dan gadis itu menjerit terpental kaget.

"Plak!" Bukan hanya gadis ini saja yang terbeliak. Dua sucinya, yang tegak dan berdiri dengan wajah beku tiba-tiba juga berubah dan terperanjat. Beng An mengeluarkan Ping-im-kangnya itu hingga telapak tangan menyambarkan pukulan salju, sedetik mengeluarkan hawa lebih dingin dan sumoi mereka gadis baju biru itu terpental. Dan ketika pemuda itu berdiri tersenyum sementara lawan berjungkir balik dengan muka pucat maka gadis baju biru mencabut pedang namun wanita baju kuning berseru dan membentak maju.

"Sumoi, tahan. Biar aku yang menghadapi!" dan berkilat memandang Beng An yang tampak tenang-tenang wanita ini berseru, hati-hati, "Bocah she Kim, kau tampaknya berisi. Pantas, kau sombong. Sekarang katakan apa arti kata-katamu tadi bahwa kau mau menyerah baik-baik!"

"Hm, aku mau menyerah baik-baik kalau kalian tidak menyerang dan menggangguku, cici. Aku mau ditawan asal tidak di sakiti. Tapi kalau kalian menyerang dan hendak membunuhku tentu saja aku melawan. Atau aku pergi kalau kalian memang tak suka kedatanganku!"

"Laki-laki yang sudah datang ke sini tak boleh pergi, kecuali mampus. Kau telah sanggup menghadapi adikku nomor dua tapi coba kau hadapi aku. Kalau kau dapat menghadapi aku barulah kau kubawa ke tempat majikan dan di sana kau dihukum atau dibebaskan!"

Lalu berkelebat dan tidak memberi kesempatan pemuda itu menjawab wanita inipun sudah menyerang dan melepas pukulan. Dia tadi melihat adiknya dipentalkan dan itu cukup membuatnya kaget. Kalau Sam-cici sampai membiarkan pemuda ini masuk dan merasa tak berdaya, tanda bahwa pemuda ini benar-benar lihai maka harus dia sendiri yang turun tangan dan mengatasi. Adiknya baju biru tadi tak kuat dan sekali gebrak itu saja dia sudah maklum. Gadis ini adalah murid nomor satu dan tandingannya di Pulau Api adalah Yang Tek.

Tapi karena Beng An mampu mengatasi Yang Tek dan terhadap gadis baju kuning ini iapun tak takut, gadis itu sudah bergerak dan menyerangnya lebih cepat maka dia mempergunakan Jing-sian-engnya dan dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa itu dia mengelak dan berlompatan cepat. Beng An naik turun bagai burung menyambar-nyambar dan pukulan-pukulan atau serangan lawan luput. Dan ketika gadis itu melengking karena lawan yang dihadapi benar-benar luar biasa, ini tak disangkanya maka tiba-tiba ia membentak dan kedua tangannya bergerak maju mundur mendorong dengan pukulan Bu-kek-kang.

"Des-dess!"

Batu dan percikan salju memuncrat. Beng An kagum tapi tiba-tiba diapun membentak. Kalau dia tidak memberi pelajaran tentu lawan akan meremehkan. Maka ketika pukulan menyambar-nyambar sementara dia naik turun berkelebatan mengelak, belum menangkis atau membalas karena ingin melihat dulu kepandaian wanita baju kuning ini maka sekarang Beng An tiba-tiba menangkis dan setengah dari naga Ping-im-kangnya diadu dengan Bu-kek-kang itu.

"Dess...!" Dan gadis atau wanita baju kuning iu terjengkang. Beng An menunjukkan kepandaiannya dan semua orang terkejut. Tapi ketika gadis baju kuning itu meloncat bangun dan memekik mencabut pedang, ia merasa kalah maka berkelebat seorang wanita berbaju merah yang tiba-tiba membuat semua anak murid Lembah Es menjatuhkan diri berlutut.

"Ui Hong, tahan. Ia bukan tandinganmu!" lalu ketika Beng An terkejut dan terpesona memandang, gadis baju merah ini sungguh luar biasa cantiknya maka gadis itu membalik menghadapi Beng An dan tak perduli terhadap para murid yang berlutut kepadanya, kata-katanya merdu namun keras ketika bicara,

"Kim Beng An, kehadiran dan ceritamu telah didengar tocu melalui mulut Hwa Seng. Kau diperkenankan menghadap nàmun harus melewati tujuh rintangan. Kalau kau bersedia dan lolos melewati rintangan-rintangan ini maka, untuk pertama kalinya majikan kami mau menerima tamu seorang pria...!"