Social Items

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

"BAGUS sekali!" kaisar berseru dan langsung menuding. "Duduk dan jawab pertanyaan-pertanyaanku, Tan Kiong. Apa yang kau lakukan dan bagaimana dengan semuanya ini!"

Tan Kiong, pangeran Tan itu, terhenyak dan memberi hormat. la dipersilakan duduk di kursi tengah di mana orang-orang lain duduk di kiri kanan. Jadi, ia dikitari, seolah pesakitan. Dan mendengar betapa kaisar menyebut namanya begitu saja, wajah merah padam sementara yang lain-lain juga membesi dan gelap maka menahan debur hatinya ia menunduk dan coba menabahkan hati.

"Maaf kalau hamba tidak mengerti akan maksud panggilan ini. Apa yang menyebabkan paduka tampak marah-marah, Sri baginda. Dan apa yang hendak hamba terima. Mohon paduka memberi petunjuk."

"Aku tidak akan memberi petunjuk, melainkan hukuman. Jawab pertanyaanku kenapa kau hendak membunuh adikmu Wan-thai-suma, Tan Kiong. Kenapa kau teluh dan main ilmu hitam!"

"Membunuh adik Wan?" pangeran ini terbelalak dan pura-pura kaget, wajahnya seolah tanpa dosa. la menekan kuat-kuat rasa kagetnya dengan perasaan bingung, blo'on. "Apa yang dimaksudkan ini, sri baginda. Hamba jadi tidak mengerti akan pembicaraan paduka."

"Jangan bohong. Wan-thai-suma menderita sakit karena perbuatanmu. Kau hendak membunuhnya lewat orang lain. Akuilah perbuatanmu ini atau nanti hukuman bertambah berat!"

"Hamba tak dapat mengaku kalau tak ada bukti. Bahkan hamba ingin bertanya dari siapa tuduhan ini paduka dengar," pangeran itu menyangkal, mata menyambar tajam ke arah adiknya.

Namun sang adik sejak tadi memandang penuh marah. Wan-thai-suma ini juga tak dapat mengendalikan rasa sabarnya lagi setelah berturut-turut dia hendak dicelaki. Kakaknya sudah menghendaki jiwanya. Dan ketika kaisar menoleh kepadanya dan Wan-thai-suma ini bangkit berdiri maka sebelum dia menjawab pertanyaan kakaknya itu Menteri Utama ini berkata,

"Hamba akan menjawab pertanyaannya.” dan membalik menghadapi kakaknya. Wan-thai-suma berseru, "Kanda, sungguh keji perbuatanmu yang hendak membunuhku. Gara-gara iri kepada kedudukan Thai- suma kau lalu melanggar peraturan main. Kau bertanya, siapakah yang melancarkan tuduhan . Nah, kujawab saja, akulah orangnya. Dan kalau kau minta bukti barangkali itu lebih dari cukup. Lihatlah!"

Menteri ini mengulapkan tangan ke balik tirai, seseorang mendorong orang-orang lain dan berturut-turut muncullah di situ Hwee-long Bong Cwan Ek dan Yauw Seng, juga enam orang lain yang semua adalah para pembantunya. Dan ketika orang-orang itu menunduk namun Wan-thai-suma membentak agar mereka bicara, tidak benarkah mereka itu sebagai orang-orang suruhan Tan Ongya untuk melakukan teluh dan pembunuhan kepada Wan-suma maka satu demi satu kepala-kepala itu mengangguk. Bong Cwan Ek berkata lirih bahwa benar dialah yang disuruh menenung Wan-thai-Suma.

"Nah, dengar," Wan-suma berseru menuding. "Inilah orang-orangmu yang kujadikan bukti, kanda. Coba dengar sekali lagi apa kata Bong Cwan Ek ini kepada kita. He...!" menteri itu berkata nyaring. "Serukan dengan keras bahwa kau yang meneluh aku. Siapakah yang menyuruhmu!"

"Hamba... hamba mengaku..." kakek itu berkata lebih keras. "Maafkan hamba, Wan-suma. Hamba hanya sekedar orang suruhan Tan-ongya. Hamba telah mengaku!"

Tak ada lagi yang dapat dielakkan Tan-Ongya yang terkejut dan bagai disambar petir melihat orang-orangnya di situ, lengkap berdelapan, tiba-tiba menggigil hebat. la tak menyangka bahwa Yauw Seng dan Cwan Ek sudah ada di situ, tertangkap. Entahlah siapa yang menangkap! Dan karena tak mungkin lagi ia mungkir dan pangeran ini merasa jiwanya melayang-layang, kepala terasa begitu ringan sementara wajahnya sudah pucat pasi maka pangeran ini ambruk dan roboh pingsan! la tak kuat lagi mendengar pengakuan orang-orangnya itu, terutama Cwan Ek dan Yauw Seng, para pembantu-pembantunya terpercaya.

Dan karena kekecewaan serta ketakutannya begitu hebat, pangeran ini terguling maka sesuai janji dua orang itu dilepaskan tapi enam pengawal yang ikut membantu Yauw Seng diberi hukuman setimpal. Mereka ini dipenjara sementara pangeran itu diasingkan di pulau buangan, hidup sendiri bertahun-tahun ditemani sepi. Dan ketika ia diasingkan dan dibuang menjalani hukuman adalah Cwan Ek dan Yauw Seng bertempur saling bunuh untuk membalaskan sakit hati.

Seperti diketahui, Yauw Seng hendak membunuh sahabatnya ini ketika Cwan Ek tertangkap tak berdaya di tempat Thio taijin, yakni dalam usahanya menutup jejak agar Cwan Ek tak dapat memberi pengakuan. Tapi karena di tempat itu bersembunyi Malaikat Api Buan Tiong Pek, tokoh yang sudah melihat gerak-gerik dan masuknya bayangan-bayangan ini maka Tiong Pek merobohkan pula laki-laki itu dan Cwak Ek si Srigala Kelabu selamat. Tukang sihir dan teluh ini dendam sekali atas perbuatan Yauw Seng. Sungguh tak berperasaan sahabatnya itu, teman sendiri-pun akan dibunuh.

Maka ketika dia memendam dendamnya ini sampai keduanya dibebaskan Wan-thai-suma yang memegang janji namun sesungguhnya itu hasil perbuatan si Malaikat Api yang tahu dan akan mengadu dua orang ini untuk saling bunuh maka begitu keluar begitu pula kakek ini mencabut tongkatnya dan dada Yauw Seng di tusuk!

Untunglah, Yauw Seng sudah curiga dan melihat pandang mata lawannya itu. Sebagai sama-sama orang sesat laki-laki ini tahu ancaman api dendam. Dia sendiripun diam-diam sudah memutuskan bahwa usaha pembunuhannya yang gagal harus kembali. Dia tak akan merasa tak enak tidur kalau Cwan Ek tak di bunuh siapa tahu dia nanti diteluh dan diserang dari jauh.

Cwan Ek ahli tenung yang dapat membunuh orang dari mana saja, dia tahu itu. Maka begitu ditusuk dan dia sudah waspada, sejak tadi matanya memperhatikan maka Yauw Seng mengelak namun Cwan Ek mengejar dan menusuknya lagi. Tak ayal, laki-laki ini menangkis dan mereka pun saling bertanding. Dan ketika Cwan Ek menjadi marah karena tusukannya gagal, di luar istana itu mereka baku hantam maka pertandingan ini malah menjadi tontonan dan para pengawal berdiri mengepung dengan wajah berseri-seri. Yauw Seng akhirnya mencabut ruyung berdurinya dan dengan ruyung ini ia menghadapi tongkat lawan.

Cwan Ek marah besar dan mempercepat gerakan. Dan ketika Yauw Seng mengimbangi dan mempercepat gerakannya pula, terdesak dan mencabut pisau-pisau kecilnya maka dengan ini ia mampu menahan rangsekan lawan. Tapi Cwan Ek berkemak-kemik. Tokoh ini, seperti diketahui, adalah ahli tenung dan sihir. Ia mengucap beberapa mantra dan keluarlah sihirnya yang hebat.

Yauw Seng terkejut ketika naga dan harimau-harimau jejadian muncul. la memang ahli silat biasa bukan ahli batin, seperti lawannya itu. maka mendapat serangan sihir dan ia kaget serta bingung, tak mampu menolak karena lawan sedikit di atas kepandaiannya maka dua kali gebukan tongkat menghajar pundaknya. Kalau bukan laki-laki ini tentu terkapar, pundak tentu remuk.

Namun karena Yauw Seng bertenaga kuat dan kekebalannya cukup tinggi, lawan gemas dan marah maka dua harimau siluman mengecoh perhatian Yauw Seng dan saat itulah tongkat menghantam dahi laki-laki ini. Yauw Seng menjerit dan terlempar dan laki-laki itu roboh. Ia tak bergerak-gerak lagi dan disangka tewas. Dari kepalanya mengalir cairan merah yang kental memanjang. Tapi ketika Cwan Ek terkekeh dan maju untuk menusukkan tongkatnya ke dada lawan, ia ingin menancapkan tongkat di jantung lawan mendadak tubuh yang tengkurap itu mendadak membalik dan dua gelang besi menyambar dahi kakek ini pula.

"Cwan Ek, mari sama-sama ke neraka!" Kakek itu terkejut bukan main. Ia sungguh tak menduga bahwa lawan yang sudah ambruk masih juga bisa mengirim serangan. la agak membungkuk ketika hendak menancapkan tongkatnya itu. Maka begitu dua gelang besi menyambar dan tak ampun mengenai dahinya, kakek ini berteriak maka iapun roboh tapi ujung tongkatnya telah menembus dada Yauw Seng.

"Plak-crep!" Tongkat dan gelang besi sama-sama mengenai sasaran. Yauw Seng yang menggeliat dan mengaduh perlahan tiba-tiba roboh dan benar-benar tak bergerak lagi. Jantungnya tertusuk. Tapi ketika di sana kakek itu juga terbanting dan menggeliat sejenak, dahinya pecah disambar gelang besi maka tukang tenung inipun tewas dan sampyuh bersama musuhnya.

Istana geger tapi Yo-ongya dan Wan-thai-suma yang melihat itu memberi tanda. Mereka tadi mendengar ribut-ribut itu dan keluar. Apa yang dibisikkan Hwe-sin Buan Tiong Pek ternyata benar. Di bebaskan tapi dua orang itu pasti akan mengadu jiwa. Cwan Ek menyimpan dendam sementara Yauw Seng ingin mengulang pembunuhannya yang gagal. Kini kenyataan itu terjadi dan mereka tewas di luar istana. Wan-thai-suma menarik napas dalam-dalam dan cepat menyuruh pengawal menyingkirkan mayat itu. Dan ketika hari itu semua sudah mendapat hukuman, Tan-ongya diasingkan dan para pembantunya saling bunuh maka istana tenteram kembali.

Namun dua bulan kemudian datang peristiwa baru. Seorang nenek dan kakek bermuka bulat, gundul pelontos datang seperti siluman memasuki istana. Mereka mencari-cari Tan-ongya dan mendapat jawaban bahwa pangeran itu tak ada lagi di istana. Lalu ketika mereka bertanya di mana Yauw Seng dan Hwe-long Bong Cwan Ek, para pengawal teringat dua orang itu yang saling bunuh maka jawaban mereka bahwa dua orang itu telah tewas membuat nenek dan kakek gundul ini mendelik.

"Bagaimana bisa saling bunuh. Kenapa begitu!”

Bentakan kakek gundul itu membuat para pengawal marah. Mereka seakan anak kecil yang enak saja dibentak-bentak, pemimpinnya marah dan balas membentak pula. Tapi begitu kakek itu berputar matanya dan mengibas ke depan, tawa aneh keluar dari mulutnya maka komandan pengawal ini terangkat dan terhempas ke tembok, disambar kibasan lengan baju kakek itu.

"Heh-heh, kalian anak-anak berani betul kurang ajar di depanku. Baik, panggil muridku di akherat dan suruh dia ke sini... bruukk!"

Tubuh komandan itu hancur dan luluh tulang-tulangnya, roboh dan lunglai seperti kain basah dan gemparlah anak buahnya melihat itu. Mereka berteriak dan mencabut senjata masing-masing tapi sebelum mereka menyerang mendadak nenek yang kurus kering itu terkekeh. Kekehnya nyaring dan menusuk gendang telinga, rambut dikibas dan tiba-tiba terlemparlah semua pengawal ke kanan kiri. Dan ketika semua roboh dan tak satupun selamat, kepala bergelindingan ke sana ke mari karena rambut itu menyabet leher mereka, putus dan berjatuhan maka istana dibuat gempar dan kacau.

Genta dipukul berdentang-dentang dan perwira atau panglima bermunculan. Seribu pasukan tiba-tiba sudah bersiap dan mengepung kakek dan nenek-nenek ini, menyerang tapi mereka terlempar ke sana sini dan alangkah kagetnya pengawal-pengawal itu karena kakek maupun nenek itu tak tembus dibacok. Mereka hanya ha-hah-he-heh saja dan berulang-ulang ingin ketemu Tan-ongya atau siapa saja kerabatnya untuk diminta tanggung jawab bagaimana Yauw Seng dan Cwan Ek binasa.

Ternyata mereka itu adalah murid kakek dan nenek-nenek ini dan yang kini datang menuntut tanggung jawab. Mereka berkata bahwa tak mungkin dua orang itu saling bunuh kalau tidak atas perbuatan seseorang. Nah, orang inilah yang dicari dan harus bertanggung jawab. Dan ketika dua ratus tubuh malang melintang bersimbah darah, Wan-thai-suma muncul bersama Thio-taijin dan Yo-ongya maka mata dua orang kakek dan nenek itu bercahaya melihat tiga orang di lantai ketiga istana.

"Heh, siapa itu. Tampaknya pembesar penting!"

"Benar, dan mungkin saudara Tan-ongya, Gwat Kong. Ayo tangkap dan ringkus mereka.. huupp!" nenek ini terkekeh panjang, rambut menjeletar menghantam dinding dan tiba-tiba dari tenaga hantaman ini muncul serangkum angin tolak besar. Nenek itu terangkat naik dan sekonyong-konyong ia sudah terangkat lurus ke lantai tiga. Luar biasa, ia melesat melewati lantai satu dan dua dengan cepat sekali. Dan ketika Gwat Kong, kakek itu terbahak dan menjungkir tubuhnya dengan kepala di bawah kaki di atas, menumbukkan kepala kuat-kuat ke bumi tiba-tiba tak kalah mentakjubkan kakek ini sudah melesat atau mencelat ke lantai tiga.

"Wuut-wuuuttt...!"

Demonstrasi kepandaian yang belum pernah dilihat ini membuat semua terbelalak. Para pengawal ternganga dan entah siapa yang lebih cepat mereka tak tahu. Dua orang itu sudah melewati lantai satu dan dua bagaikan terbang saja. Bedanya si nenek seperti orang menjejak dan meluncur ke atas dengan kaki di bawah sedangkan si kakek gundul dengan kepala di bawah kaki di atas. Aneh! 

Namun ketika masing-masing sudah tiba di lantai tiga dan masing-masing juga bergerak menyambar tiga orang itu, Wan-thai-suma dan Thio-taijin ditangkap si kakek gundul sementara Yo-ongya disambar si nenek kurus mendadak tiga orang ini lenyap dan sebagai gantinya terlihat sambaran benang jala dan suara ledakan.

"Tarr!" Kakek dan nenek-nenek itu terkejut. Terkaman mereka luput dan sebagai gantinya di tangan mereka terlihat benang, laba-laba yang pekat dan lekat. Wan-thai-suma dan lain-lain menghilang. Tapi ketika dua orang itu mengusap hilang benang laba-laba itu, sekali raup benda-benda halus itu tersapu bersih maka seorang tinggi kurus yang matanya meram melek berdiri di situ, seperti iblis!

"Hm, sungguh tak tahu malu Sin-lun Bek Gwat Kong ada di sini. Dan sungguh tak tahu malu lagi nenek buruk Kim-mo Tai-bo membantu Gwat Kong membunuh-bunuhi pengawal. Ah, kalian memang kakek nenek busuk!"

Dua orang itu berseru tertahan. Mereka terbeliak ketika tiba-tiba melihat laki-laki tinggi kurus ini, sejenak tersentak namun si kakek berkepala gundul tiba-tiba berseru marah. Dan ketika ia melompat maju sementara si nenek menjeletarkan rambut, nenek ini juga marah maka terdengar seruan si kakek gundul.

"Hwe-sin, kiranya kau. Keparat, ada apa kau di sini dan kenapa mencampuri urusan kami!"

"Hm, aku di sini karena memang aku tinggal di sini," Hwe-sin, laki-laki itu tertawa dingin. "Aku mencampuri karena kalian mengganggu tidurku, Gwat Kong. Siapa sangka kalian tua bangka busuk membuat onar di sini."

"Kau tinggal di sini? Jadi kau menjadi antek kaisar?"

"Aku sudah lama tinggal di sini menjaga ketenteraman istana. Kalau kalian menyebutku antek maka kalian adalah anjing-anjing liar yang rupanya tak mendapat makan cukup. Hm, boleh makan sepuasnya di sini kalau berlaku baik-baik tapi harap pergi kalau mau mencari setori. Aku penjaga di sini dan siap menggebuk anjing-anjing geladak kalau dia kurang ajar!"

"Keparat!" kakek itu marah bukan main. "Kalau begitu gara-gara kau di sini maka muridku dan murid Kim-mo Tai bo saling bunuh, Hwe-sin. Sekarang kami tahu siapa biang gara-garanya dan mampuslah!"

Si kakek gundul berkelebat dan menghantamkan ujung bajunya. Dia sejak tadi menggerak-gerakkan ujung bajunya ini dan para pengawal terlempar atau pecah kepalanya. Namun ketika Hwe-sin mengelak dan Malaikat Api itu mendengus, ia dikejar dan menangkis dengan lengan kirinya maka kakek itu terpental sementara Hwe-sin terhuyung mundur.

"Dukk!" Si nenek Kim-mo Tai-bo terbelalak. Ia melihat temannya terpental sementara Hwe-sin hanya terhuyung setindak. Nyata bahwa temannya kalah kuat dan tiba-tiba Sin-lun Bek Gwat Kong berseru keras, berjungkir balik dan mencabut sepasang senjatanya yakni roda-roda bergerigi seperti mata pisau, membentak dan menerjang Malaikat Api dan tampaklah cahaya berkeredep menyambar lawannya, cepat sekali dan Hwe-sin mengelak dan berlompatan ke kiri kanan. Tapi karena ia dikejar dan terus dikejar, ia menangkis dan jari-jarinya bertemu sepasang roda itu, terpental namun menyambar lagi ke bawah maka si nenek tiba-tiba terkekeh dan menerjangnya pula, rambut melecut.

"Bagus, kita bertemu lawan tangguh, Gwat Kong. Mari main-main dan lihat kepandaian si Malaikat Api ini.... tar!"

Malaikat Api mengelak dan semakin sibuk, dikeroyok dan tiba-tiba para perwira berlarian ke lantai tiga ini. Mereka bermaksud membantu dan diam-diam heran siapa laki-laki tinggi kurus yang menghadapi kakek dan nenek-nenek iblis itu. Mereka tak tahu bahwa itulah pengawal pribadi kaisar dan kini pengawal rahasia yang lihai ini memperlihatkan diri. Apa boleh buat karena Sin-lun Bek Gwat Kong dan Kim-mo Tai-bo si nenek iblis adalah orang-orang yang tak bakalan ditandingi orang-orang biasa.

Dua orang itu adalah guru dari mendiang Yauw Seng dan Cwan Ek, tak ada seorangpun yang mampu menandingi karena mereka adalah tokoh-tokoh kelas atas yang hebat sekali. Sin-lun atau Si Roda Sakti Bek Gwat Kong ini memang hebat permainan rodanya. Dengan sepasang roda di tangannya itu ia mampu menggempur gunung. Kakek ini adalah seorang ahli gwakang sekaligus lweekang yang hebat sekali. Tenaga gwakang atau tenaga luarnya, mampu membuat dia mengangkat seekor gajah bunting. Bayangkan! Sementara lweekangnya (tenaga dalam), mampu membuat rodanya itu menari dan beterbangan di udara tanpa dipegang lagi.

Kini tujuh kali menyerang dan luput selalu telah membuat kakek itu melepaskan rodanya dan roda di tangan ini mengaung-ngaung dengan suara mengerikan, tiga kali menghantam dinding loteng sampai ambrol. Dan ketika ia masih dibantu lagi dengan lompatan si nenek, Kim-mo Tai-bo atau Ratu Iblis Berpayung Emas menjeletarkan rambut dan menghantam Hwe-sin maka laki-laki itu terbanting dan dua pukulan dari kiri kanan membuat ia tak sempat mengelak dan harus menangkis tapi ia kalah posisi.

"Plak-dukk!" Malaikat Api melempar tubuh bergulingan. la mengeluh perlahan tapi ia cepat melompat bangun. Lawan mengejar dan Gwat Kong terbahak-bahak menerbangkan roda mautnya itu. Si nenek juga terkekeh dan rambut menyambar pelipis. Tapi ketika Hwe-sin menudingkan dua telunjuknya dan sinar api menyambar lawan, itulah Hwe-ci atau Jari Api yang menyambut ke depan maka dua orang itu tertahan dah rambut hangus terjilat Hwe-ci, si nenek menjerit.

"Crit-wushh!" Hwe-sin berdiri tegak. Kim-mo Tai-bo terpental mundur dan memaki-maki menyelamatkan rambutnya. Sebagian rambutnya tadi terjilat dan itu berbahaya. Kalau tidak cepat dipadamkan tentu merayap naik, salah-salah kepalanya bisa terbakar habis, gundul dan dia bakal seperti Gwat Kong, Si Roda Sakti. Dan ketika di sana Sin-lun Bek Gwat Kong juga tersentak dan mundur terhuyung-huyung, rodanya membalik dan hangus terjilat maka kakek ini mendelik melihat roda-rodanya terbakar.

"Keparat!" kakek itu meradang. "Kau mengotori senjataku, Hwe-sin. Kubunuh kau!"

"Dan kau menghanguskan rambutku. Aiihhh...!" si nenek melengking. "Ku cincang tubuhmu, Hwe-sin. Jangan sombong dan mengira kami takut.... wirr-wiirrrr!" rambut itu diputar-putar, siap diledakkan ke arah laki-laki ini lagi namun saat itu para perwira sudah berdatangan.

Mereka naik berlari-larian melalui anak tangga, lama namun akhirnya sampai dan tiga orang sudah di depan. Si nenek yang mau menyerang Hwe-sin tiba-tiba tak jadi. Kemarahannya ditumpahkan kepada tiga perwira ini. Dan begitu mereka muncul di sudut anak tangga dan masing-masing sudah siap untuk menyerang atau mendahului nenek itu mendadak nenek ini berkelebat dan rambutnya menyambar tiga orang itu.

"Tikus-tikus pengganggu, kalian enyahlah keluar!"

Hwe-sin berseru dari depan. Laki-laki itu membentak dan menggerakkan tangannya namun Bek Gwat Kong memapak. Kakek ini menerjang dan sengaja menerima gerakan tangan itu, tahu akan dipergunakan menangkis pukulan temannya tapi dia tak membiarkan. Biarlah tiga orang itu mampus dan Kim-mo Tai-bo menghajar. Dan ketika benar saja pukulan Hwe-sin di sambut kakek ini sementara ledakan rambut tak kuasa dielak, dibabat tiga golok tapi tiga senjata di tangan tiga perwira itu mencelat beterbangan, rambut meluncur dan terus menyambar leher maka bagai dibabat senjata tajam saja kepala tiga orang perwira itu putus.

"Hi-hikk crat-crat-crat!"

Tiga kepala menggelinding dan si nenek masih menggerakkan kakinya menendang tiga tubuh yang tumbang itu. Tak ada teriakan atau jeritan karena gerakan si nenek amatlah cepatnya, begitu rambut menyambar begitu pula tiga batang kepala mencelat terlempar. Dan ketika nenek itu juga menendang tiga tubuh itu, jauh dan berdebuk di bawah maka perwira-perwira lain yang justeru sedang naik dan mendaki anak tangga disambut tiga tubuh tanpa kepala ini.

"Bress! jerit dan teriakan terdengar ramai di bawah.Nenek itu terkekeh-kekeh tapi Sin-lun Bek Gwat Kong berseru kesakitan, terlempar dan membentur tembok dan seketika dinding ambrol. Kiranya tadi Hwee-ci atau Jari Api tak kuat ditahan sendirian oleh si kakek gundul ini. la terlalu berani menerima dan nekad sendirian. semata agar temannya dapat membunuh tiga perwira itu. Dan ketika nenek menoleh dan kaget melihat keadaan temannya, Hwe-sin marah dan berkelebat ke temannya itu maka Gwat Kong menjerit dua kali karena sepasang rodanya bengkok bengkok.

"Plak-plak!" Sepasang roda yang hebat itu seakan benda lembek bertemu Pukulan Api. Hawa panas menyambar dan logam di tangan si kakek gundul tak tahan, lembek dan melengkung dan kakek ini cepat melempar sepasang senjatanya itu ke atas untuk menyelamatkannya. Tib-tiba sepasang rodanya itu merah marong, bukan main! Tapi ketika roda disambar kembali dan kakek ini pucat mengerahkan Iweekang, memulihkan kembali senjatanya yang bengkok, maka temannya sudah bergerak dan Kim-mo Tai-bo siap di sampingnya, terbelalak dan kaget.

"Gwat Kong, hati-hati Pukulan Api itu luar biasa!"

"Benar," kakek ini mengangguk. "Sendirian saja rupanya berbahaya, Tai-bo. Bantu aku dan mari kita bunuh si Hwe-Sin ini!"

Kakek itu menerjang lagi. la telah dengan marahnya mengayun rodanya dan senjata yang tadi merah terbakar itu sudah putih lagi. Dengan lweekangnya kakek ini memulihkan bengkok dan panasnya roda supaya dingin, bergerak dan menerjang Hwe-sin dengan kemarahan meluap. Ada Tai-bo di sampingnya dan tak perlu ia takut. Maka ketika ia bergerak sementara nenek itu juga mengangguk dan meledakkan rambutnya, nyaring den melengking tinggi maka Tai-bo menerjang pula lawannya dengan mata terbakar. Rambutnya yang hangus tadi belum dibalas.

"Hwe-sin, mari kita mengadu jiwa!"

Malaikat Api mengelak. Tadi ia sudah merasakan gempuran lawan tapi sebaliknya lawanpun sudah menerima gempurannya. Masing-masing sama tahu kehebatan dan kelebihan lawan. Tapi karena dengan Hwe-ci ia mampu mengejutkan lawan dan kini dua orang itu mengeroyok lagi, jari Api-nya bergerak dan menyambut maka di atas lantai tiga ini terjadi pertandingan seru di mana Hwe-sin dikeroyok dua. Mula-mula bayangan tiga orang ini berkelebatan sambar-menyambar tapi setelah itu mereka lenyap beterbangan.

Para perwira atau pengawal yang menonton terbelalak. Angin menderu dan bersiutan dan akhirnya para perwira yang coba-coba naik terlempar kena deru angin pukulan ini. Entah Hwe sin maupun lawannya sama-sama mengeluarkan pukulan dahsyat. Api menyambari dan tembok-tembok mulai hangus. Setiap jari rnenuding maka seperti sinar laser saja Hwe-ci atau Jari Api pengawal kaisar ini menyambar lawan-lawannya. Dan karena mereka mengelak dan dinding atau tembok-tembok di belakang menjadi korbannya. Seperti juga deru sepasang roda yang dikelit atau dihindarkan Hwe-sin maka lantai tiga yang menjadi pusat pertempuran tiga orang sakti ini tak dapat didekati lagi dan berantakan atau bolong-bolong.

"Mundur.... mundur. Jangan naik ke atas. Yang bertanding adalah orang-orang sakti!"

Seorang panglima tua, yang maklum dan tahu hebatnya pertandingan itu berseru agar rekannya jangan mendekati atau coba-coba naik ke atas. Biarlah mereka menonton dari bawah saja karena tempat itu menjadi ajang pertempuran yang berbahaya. Sambaran roda atau Jari Api yang berdesingan menyambar-nyambar amatlah berbahaya, belum lagi ledakan atau jeletaran rambut si nenek bengis. Sekarang mereka tahu bahwa yang bertempur kiranya Sin-lun Bek Gwat Kong dan nenek iblis Kim-mo Tai-bo, melawan Hwe-sin si Malaikat Api yang sama sekali tak mereka sangka menjadi pengawal rahasia kaisar.

Maklum, bertahun-tahun ini mereka tak pernah dengar atau tahu tentang tokoh luar biasa itu. Sama sekali tak mereka sangka bahwa di dalam istana ada si Malalkat Api. Tokoh ini adalah tokoh misterius tapi kepandaiannya sudah diakui orang. Tiga puluh tahun yang lalu ia pernah malang-melintang tapi setelah itu lenyap, tak tahunya bersembunyi dan malah menjadi pengawal pribadi kaisar. Bukan main. 

Dan karena Hwe-sin ini terkenal dengan Jari Apinya yang dahsyat, bagai sinar laser dan mampu menembus bolong dinding-dinding baja, tak heran kalau Yauw Seng maupun mendiang Cwan Ek gentar melihat laki-laki ini, yang tentu saja bukan tandingannya maka Gwat Kong maupun si nenek Tai-bo harus bekerja keras kalau ingin merobohkan lawan mereka ini.

Tapi hal itu sukar. Pertandingan sudah berjalan enam puluh jurus namun si Malaikat Api ini dapat mengelak dan menangkis serangan-serangan mereka. Roda di tangan si kakek gundul kembali lembek dihantam Hwe-ci, harus cepat-cepat dipulihkan dan dikeraskan lagi untuk dipakai menyerang. Dan karena hal ini berarti membuat si kakek gundul harus mundur sejenak dulu, kalau tidak tentu senjatanya leleh dan hancur maka Tai-bo yang juga tujuh kali terpelanting bertemu Hwe-Ci berteriak dan melempar tubuh menyelamatkan diri. Sekarang pucatlah dua orang ini melihat hebatnya Hwe-sin.

Dulu, tiga puluh tahun yang lalu Hwe-sin pernah membuat kegemparan di dunia kang-ouw dengan melabrak lima datuk sesat bersaudara. Mereka dihajar laki-laki ini dan lima datuk itu luka parah, menghilang dan lenyap entah ke mana dan banyak orang tertegun. Gwat Kong, dan juga nenek ini diam-diam kagum tapi juga gatal tangan. Mereka mencari Hwe-sin dan sempat bertemu sebentar, yakni ketika laki-laki itu dihadang sekelompok lawan-lawan lain di mana ia dikeroyok tak kurang oleh sembilan tokoh atas yang mengakibatkan Hwe-sin melarikan diri setelah mampu membunuh lima dari sembilan lawannya itu.

Hwe-sin luka-luka dan laki-laki itu menghilang, dikejar dan untuk beberapa bulan kemudian Malaikat Api ini terlihat bentrok dengan ketua-ketua persilatan akibat salah paham. Tiga ketua menuntut tanggung jawab Hwe-sin yang disangka membunuh wakil-wakil mereka, padahal yang membunuh adalah musuh-musuh Hwe-sin yang dikalahkan laki-laki ini, jadi membalas dendam lewat lempar batu sembunyi tangan. Dan ketika tiga ketua itu bertanding dan dua orang ini muncul, Gwat Kong maupun Tai-bo mengeroyok terkekeh-kekeh maka Hwe-sin terkejut dan itulah pertandingannya pertama dengan dua orang ini.

Tapi tiga ketua persilatan justeru mundur. Mereka marah melihat campur tangannya kakek dan nenek-nenek ini dan membiarkan tiga orang itu bertempur. Sangka mereka kakek dan nenek-nenek itu hendak membalas dendam. Tapi ketika Hwe-sin justeru membentak dan tak mau melayani, di antara mereka tak pernah ada urusan maka dengan Jari Api laki-laki ini mendorong mundur si kakek gundul dan dengan Jari Apinya pula dia membuat Tai-bo menjerit dan melempar tubuh menyelamatkan rambutnya. Hwe-sin memutar tubuh dan pergi, cepat sekali.

Dan ketika tiga ketua terbelalak dan terkejut, coba mengejar tetapi gagal maka si kakek gundul dan nenek Tai-bo penasaran dan mencari-cari lagi tapi sejak saat itu Hwe-sin entah ke mana. Ada didengar kabar bahwa laki-laki itu bentrok dengan Tung-hai Sian-li (Dewi Laut Timur), bertanding hebat dan sehari semalam berada di pulau kecil tapi akhirnya Tung-hai Sian-li roboh. Hwe-sin mengalahkannya. Tapi karena Hwe-sin katanya juga luka-luka dan baru kali itulah malaikat Api ini menghadapi lawan tangguh, paling tangguh dari semua lawan yang pernah ada maka laki-laki itu lenyap dan bersamaan itu lenyap pula Tung-hai Sian-li yang cantik jelita ini.

Orang tak tahu apa yang terjadi tapi sesungguhnya sesuatu telah mengguncang hati laki-laki ini. Dalam pertempuran hebat itu Hwe-sin jatuh cinta. Tung-hai Sian-li, dengan ilmunya Pai-hai-jiu (Gempuran Samudera) ternyata mampu menahan Hwe-ci nya. Baru kali itu seumur hidup laki-laki gagah ini dibuat kagum. Pai-hai-jiu yang dimiliki Tung-hai Sian-li ternyata benar-benar seperti gulungan ombak samudera yang menggulung Jari Apinya.

Hanya berkat pengalaman dan kematangannya menguasai Pukulan Apinya saja Malaikat Api itu dapat menundukkan lawan. Itupun setelah bertanding sehari semalam! Dan ketika Hwe-sin jatuh cinta tapi Tung-ha Sian-li marah-marah kepadanya, menolak dan menangis maka pertandingan berakhir dengan robohnya wanita cantik itu yang paha kirinya tertusuk bolong oleh Jari Api Hwe-sin. Tung-hai Sian-li cacad dan Hw sin menyesal bukan main.

Sejak itu wanita ini pincang dan karena malu maka tak mau lagi memperlihatkan diri, menghilang dan lenyap dari dunia kang-ouw dan Hwe-sin yang coba mencarinya berkali-kali gagal. Laki-laki ini ingin menebus dosanya dengan apa saja. Dia siap menyerahkan kepalanya kalau si cantik ingin membalas dendam. Dia juga ingin menyatakan cintanya sekali lagi. Tapi karena sejak saat itu Tung-hai tak muncul lagi dan laki-laki ini juga kecewa akibat kegagalan cintanya maka iapun lalu menghilang dan tempat persembunyian yang ia pilih adalah menjadi pengawal rahasia kaisar di mana ia telah menyembunyikan diri di kota raja hampir tiga puluh tahun!

Begitulah, inilah sekelumit kisah laki-laki ini. Orang luar tentu saja tak tahu dan Gwat Kong maupun nenek Tai-bo juga tak mengerti. Tapi begitu mereka melihat tokoh ini dan rasa penasaran tiga puluh tahun lalu dapat dilampiaskan kembali, kebetulan mereka bertemu Hwe-sin maka mereka mengeroyok tapi ternyata Jari Api atau Hwe-ci yang dimiliki laki-laki itu amatlah dahsyat dan tetap menggila.

Mereka sudah mengeluarkan ilmu-ilmu mereka tapi Jari Api yang menyambar ke arah mereka amatlan ganas. Bagai sinar laser yang menusuk dan menembus apa saja Hwe-ci atau Jari Api yang dimiliki laki-laki itu membuat mereka berkali-kali melempar tubuh bergulingan. Beberapa kali sepasang roda di tangan Sin-lun Bek Gwat Kong harus dibetulkan dulu, bengkok atau penyok-penyok bertemu Jari Api itu. Kakek ini sudah mengerahkan lweekang dan melawan kedahsyatan Jari Api itu namun tetap saja rodanya lembek, merah dan akan terbakar kalau dia tidak cepat-cepat menyelamatkan senjatanya itu, meniup dan mendinginkan kembali dengan hembusan tenaga saktinya.

Dan selanjutnya kakek itu menyerang lagi, membalas namun ia benar-benar kewalahan menghadapi Jari Api itu. Dan karena inilah kesaktian Malaikat Api dan nenek Tai-bo juga bingung menghadapi Jari Api itu, tertolak dan sering bergulingan menyelamatkan diri maka pada jurus-jurus berikut mereka praktis hanya bertahan namun nenek ini mulai berkemak-kemik membaca mantra. Dan saat itu lawan mereka itu berkata, dingin,

"Gwat Kong, dan kau Tai-bo. Cukup main-main ini dan kalian pergilah. Hapuskan masalah murid karena sesungguhnya kita tak mempunyai dendam pribadi."

"Keparat” nenek itu melengking. “Boleh mengusir kami kalau kami roboh, Hwe-sin. Dulu tiga puluh tahun yang lalu kau terbirit-birit masa sekarang kami tak dapat mengalahkanmu!"

"Hm, tiga puluh tahun yang lalu aku sengaja meninggalkan kalian, bukan terbirit-birit. Kita tak mempunyai urusan apapun dan kalian hanya ingin menjajal kepandaian. Pergilah, atau nanti Jari Apíku mencelakai kalian.”

Nenek itu memekik. la menerjang dengan lecutan rambutnya dan Gwat Kong si kakek gundul tibe-tiba dibentaknya agar melepaskan serangan lebih hebat. Kakek itu diminta agar tidak menyerah sebelum roboh. Betapapun mereka masih mampu melakukan perlawanan dan belum semua kepandaian dikeluarkan. Dan karena nenek ini juga seorang ahli kebatinan yang kuat dan tiba-tiba ia menerjang sambil meledakkan rambutnya, dari mulutnye terdengar pekik atau lengking panjang maka tiba-tiba ia menepuk tangannya dan bersama dengan sambaran rambutnya itu meluncurlah asap hitam bergulung-gulung. Sebuah kesaktian telah dikeluarkan.

"Hwe-sin, kau lihat kepandaianku yang ini. Seekor naga menyerangmu!”

Pengawal dan perwira terpekik. Mereka yang ada dibawah tiba-tiba melihat semburan amat dahsyat dari lidah api seekor naga raksasa. Naga itu berkoak dan suaranya begitu dahsyat hingga mereka dibawah terpelanting. Dan ketika sepasang roda di tangan Sin-lun Bek Gwe Kong juga ditiup dan menyambar memasuki gulungan asap hitam tiba-tiba membonceng di balik ilmu sihir si nenek sepasang roda itu berubah menjadi sepasang anak naga yang juga berkoak dan terbang menyambar Hwe-sin.

"Hm!" tokoh ini terkejut dan mendengus. Dia sendiri memiliki kekuatan batin yang ditempa puluhan tahun, juga memiliki ilmu gaib seperti Selimut Sakti itu, yang dulu dipakai untuk membungkus dan menyimpan kaisar, bahkan sekarangpun ia sedang menggunakan itu untuk menggulung lenyap Thio-taijin dan Wan-thai-suma juga. Maka begitu seekor naga raksasa menyerangnya sementara sepasang naga kecil yang lain juga menyambar dan mencaplok, mereka tampak begitu ganas dan amat mengerikan tiba-tiba tokoh ini mengebutkan tangan kirinya dan dari kelima jari tangan kiri itu mendadak menyambar lima sinar putih yang mirip benang-benang jala.

"Main-main seperti ini tak usah ditunjukkan kepadaku. Lenyaplah!"

Ajaib, naga dan anaknya itu mendadak hancur. Mereka lenyap setelah terdengar ledakan mengguncang, masuk atau tertelan oleh bayang-bayang benang ajaib ini, yang mengeluarkan cahaya putih yang membungkus dan menghancurkan gulungan asap hitam. Dan ketika si nenek terpekik sementara Sin-lun Bek Gwat Kong berteriak, sepasang rodanya lenyap dan hilang di balik ilmu sakti lawan maka ia terbanting karena ilmu sakti itu masih menyambar dan memukulnya pula.

"Darrr... duk-duk-bress!"

Dua orang itu bergulingan. Tai-bo juga mengeluh dan tampaklah bahwa hiasan rambutnya lenyap. Di atas kepalanya tadi ada sebuah hiasan rambut bermata hijau yang kini tak ada lagi. la telah mempergunakan itu dalam serangan sihirnya tadi, mencipta seekor naga raksasa yang sebenarnya terbuat dari hiasan rambutnya itu.

Dan ketika Gwat Kong juga mengeluh dan kaget bahwa senjatanya dimusnahkan lawan, kesaktian batin dibalas kesaktian batin dan Malaikat Api ini benar-benar luar biasa, si kakek mulai gentar dan terhuyung bangun adalah temannya yang masih penasaran dan membentak lagi. Nenek ini masih belum yakin dan ingin mengulang kegagalannya tadi, tiga kali melempar sihir namun satu demi satu dihancurkan. Dan ketika ikat pinggang serta kancing-kancing bajunya lepas semua, ia mengeluh dan sibuk menutupi bagian badannya yang terbuka maka nenek ini baru menyadari bahwa lawan benar-benar terlalu hebat. Ia kalah sakti!

"Hwe-sin, kami mengaku kalah. Biarlah lain kali kami datang lagi dan jangan sombong atas kemenanganmu!"

Laki-laki itu mendengus. Ia terakhir kalinya menghancurkan sihir si nenek sementara Sin-lun Bek Gwat Kong melongo di sana. Kakek gundul ini tak bergerak lagi setelah sihir dilawan sihir. la bukan ahli sihir kecuali dapat membonceng saja. Ia adalah ahli lweekeh dan gwakang. Dan ketika si nenek sudah berseru seperti itu dan Hwe-sin tertawa dingin, lontaran ikat pinggang ditekuk dan disabet hancur maka Gwat Kong tersentak ketika serpihan ikat pinggang si nenek menyambar mukanya.

“Boleh.... boleh datang lagi kalau ingin mampus, Tai-bo. Dan untuk kenang-kenangan dariku bawalah ini pulang.... plak-plak!"

Gwat Kong dan nenek Tai-bo menjerit. Mereka tersabet oleh serpihan ikat pinggang itu dan pipi mereka luka. Bukan main kagetnya dua orang ini. Tapi ketika Gwat Kong melihat bahaya dan memutar tubuh, melompat dan anjlog dari tempat setinggi itu maka kakek ini berdebam ketika menginjakkan kakinya di tanah, lari dan orang-orang di sekitar terpelanting oleh getaran tanah yang keras itu.

Kakek itu bagaikan seekor gajah jatuh dari langit saja, bekas kedua kakinyapun meninggalkan tapak besar dan dalam di atas tanah. Tapi begitu ia lari dan para pengawal berserabutan, mendobrak pintu gerbang dan mengangkat engselnya sampai putus maka sambil lari kakek ini membawa pula daun pintu gerbang yang lebar dan berat, lalu dilemparkan ke arah ratusan orang yang mengepung tempat itu.

"Hayoh, kalian boleh tutup jalan keluarku. Mampuslah, kalau tak ingin minggir!"

Semua menjerit. Kalau kakek itu melemparkan daun pintu yang berat dan terbuat dari baja itu ke arah mereka siapa yang sanggup menerima. Daun pintu itu tak kurang dari seribu kilo beratnya. Menerima berarti mampus! Dan ketika mereka cerai-berai dan daun pintu itu mengeluarkan suara dahsyat jatuh di tanah, untung tak ada yang kena maka kakek itu melompat dan menghilang di luar kota raja. Tai-bo juga menyusul dan nenek ini melengking-lengking. la penuh kecewa.

Dan ketika hari itu kota raja digemparkan oleh datangnya orang-orang sakti ini, untung di situ ada Hwe-sin maka Malaikat Api yang tiga puluh tahun bersembunyi aman sekarang terpaksa dikenal. Ia dikagumi dan dipuja-puja banyak orang. Wibawa dan keangkeran istana menjadi-jadi. Tapi ketika hal itu berlangsung sebulan dan tak ada apa-apa lagi yang datang mengganggu mendadak Tai-bo dan Gwat Kong datang lagi ke istana.

Mereka sekarang tahu bahwa penyebab kematian murid mereka adalah Hwe-sin. Sekarang mereka datang ke istana bukan mencari Tan-ongya atau siapa-siapa melainkan langsung si Malaikat Api ini. Kejadiannya di tengah malam. Dan tepat kentongan berbunyi satu kali maka nenek dan kakek gundul itu menemui Hwe-sin. Mereka sudah tahu bahwa laki-laki ini .kamarnya tak jauh dengan kamar kaisar sendiri.

"Hm, berani mati mencari penyakit!" begitu suara yang mereka dengar ketika mereka melayang turun dan celingukan di ruangan ini, kaget dan menoleh dan ternyata Hwe-sin sudah di situ, dibelakang mereka. Betapa rahasianya! Tapi karena mereka memang mencari laki-laki ini dan musuh yang dicari sudah menampakkan diri, Hwe-sin bersinar marah maka Tai-bo menjeletarkan rambut berseru, wajahnya gembira.

"Hwe-sin, kami hendak berurusan denganmu lagi. Mau di sini ataukah di tempat sunyi?"

"Benar," kakek gundul Beng Gwat Kong menyambung. "Kami ingin membalas kekalahan dulu, Hwe-sin. Dan kau boleh bunuh kami kalau bisa!"

"Hm!" Hwe-sin marah namun menahan diri. "Di sini kalian tak boleh ribut-ribut. Mari keluar dan di sana nanti ku buatkan lubang kubur!"

"Jangan sombong!" nenek itu membentak. "Kaulah yang akan kami buatkan lubang kubur, Hwe-sin. Mari, tunjukkan di mana kita bertanding dan lihat apakah kau mampu mengalahkan kami!"

Malaikat ini heran juga. Ia mengerutkan kening tapi mendengus pendek, berkelebat dan mengajak keluar dan melayanglah tiga orang itu berturut-turut. laki-laki ini telah mengambil keputusan bahwa dia harus melenyapkan lawan-lawannya. Kalau tidak begitu tentu Tai-bo dan Sin-lun Bek Gwat Kong ini selalu mengganggu. Kemarahannya bangkit. Tapi ketika ia mengajak keluar kota raja dan Tai-bo mengikuti sambil terkekeh, Gwat Kong si kakek gundul juga terbahak dan gembira maka terdengarlah kesiur angin dan tujuh bayang-bayang hitam mengikuti dari belakang yang segera membuat tokoh ini tertegun, berhenti.

“Kalian membawa kawan?"

"Ha-ha, takut?" Sin-lun Bek Gwat Kong tak sembunyi-sernbunyi lagi. "Justeru karena kami datang berombongan maka kami tanya kepadamu mau bertanding di istana atau di luar, Hwe-sin. Kalau kau takut tentu saja kembalipun boleh dan mintalah bantuan kawan-kawanmu di istana dan kami akan membunuh kaisar sekaligus!"

"Hm, rupanya keliru tindakanku dulu. Kalau tahu begini tentu sebulan yang lalu kalian kubunuh. Baik, kita teruskan perjalanan, Gwat Kong. Ingin kulihat siapakah tujuh kawan kalian itu!"

Hwe-sin melanjutkan perjalanan dan menggeram. la tak tahu siapa orang-orang di belakang dua orang ini karena mereka menjaga jarak dan cukup jauh. Waktu ia berhenti maka bayangan tujuh orang itupun ikut berhenti. Jelas, rnereka tak mau dikenal. Rupanya baru mengenalkan diri kalau nanti sudah ditemukan tempat bertanding. Dan ketika laki-laki itu bergerak dan menuju hutan di luar kota raja maka ditimpa sinar bulan purnama berhentilah tokoh ini menanti dua musuhnya. Gwat Kong dan nenek Tai-bo telah ditinggal di belakang dan meskipun mereka berlarian cepat tetap saja Malaikat Api itu bergerak lebih cepat.

Bayang-bayang di belakang juga tertinggal namun begitu laki-laki itu berhenti maka Gwat Kong dan Tai-bo berkelebatan datang. Mereka mengumpat dan mengutuk habis-habisan. Dalam ilmu lari cepatpun mereka kalah! Namun ketika mereka sudah berhadapan dan tujuh bayangan juga tiba dan langsung bergerak mengurung, mereka mengenakan saputangan hitam maka Hwe-sin memandang marah dan berseru,

"Gwat Kong, tikus-tikus busuk manakah yang kalian bawa ini? Kenapa masih menutup muka dan tak berani terang-terangan? Memangnya tikus comberan yang harus dikencingi dulu?"

"Ha-ha, mereka menyembunyikan diri karena tak diminta. Kalau diminta tentu akan membuka wajah. Eh, jangan sombong. Kau tentu mengenal bekas sahabat-sahabatmu ini, Hwe-sin. Dan biar ku minta mereka untuk membuka saputangan!" dan berseru mengangkat tangannya kakek gundul itu menghadapi orang-orang bersapu tangan hitam ini.

"Jit-wi enghiong (tujuh orang gagah), silahkan buka wajah kalian agar sahabat kita Hwe-sin ini tahu. Anjing yang akan mati biasanya memang begitu, gonggongannya lebih nyaring!"

Tujuh orang itu mendengus. Secepat itu juga mereka merenggut saputangan hitam dan begitu tampak maka terkejutlah Hwe-sin. Tujuh orang itu ternyata terdiri dari dua pihak. Pihak pertama adalah kakek-kakek yang dahinya gosong terbakar, lima orang jumlahnya sedang sisanya yang dua lagi adalah dua laki-laki yang kehilangan hidung dan tampak mengerikan seolah tengkorak hidup. Mereka inilah lima datuk sesat yang dulu dihajarnya sedang dua kakek terakhir adalah sisa dari sembilan tokoh hitam yang pernah dibunuh Malaikat Api ini, di mana dari sembilan orang lima di antaranya binasa.

Empat yang lain luka-luka tapi kini yang adalah dua dari empat orang sisanya itu. Dan karena luka atau tanda-tanda di wajah ketujuh orang ini semuanya dikenal Hwe-Sin, yang hilang hidungnya itu adalah dua dari sembilan tokoh hitam sementara lima datuk bersaudara yang hangus dahinya itu adalah akibat dari pukulannya Hwe-ci, laki-laki ini terkejut maka dua kakek berhidung growong berseru, kata-katanya bindeng, sengau,

"Hwe-sin, kau tentu ingat kami Pak Heng dan Pak Wi. Kami sudah lama mencari-carimu tapi tidak nyana bahwa kau bersembunyi dan bekerja sebagai pengawal rahasia. Apakah kau siap mampus menghadapi kami?"

"Dan kami Ngo-mo-hengte (Lima Iblis Bersaudara) yang dulu kau beri tanda mata. Tentu kau tak lupa pula kepada kami dan tak nyana bahwa kau bersembunyi di kota raja. Pantas, kami tak dapat mencari-carimu. Sekarang kami ingin membayar hutang lama, Hwe-sin. Siapkah kau menghadap Giam-lo-ong dan sudahkah menyediakan nyawa cadangan agar dapat menandingi kami!"

"Hm-hmm!" laki-laki ini tertegun dan membelalakkan mata, diam-diam tergetar juga. "Kiranya kalian, Ngo-mo-hengte. Dan juga Pak Heng serta Pak Wi. Hm, bagus sekali. Kalian tahu alamatku atas jasa baik Gwat Kong. Ah, kalian hendak mengeroyok dan bersembilan menghadapi aku. Bagus, tak usah banyak cakap dan kalian majulah. Aku akan membereskan kalian dan jangan minta ampun karena kali ini aku akan membasmi kalian!"

"Jangan sombong!" Ngo-mo-hengte membentak. "Lain dulu lain sekarang, Hwe sin. Lihat pukulan kami dan coba keluarkan Jari Apimu lagi... wut!"

Satu di antara Ngo-mo-hengte bergerak memulai, maju menyerang tapi Hwe-sin mengelak dan menghindar. Malaikat Api ini waspada akan delapan orang yang lain. Dan ketika benar saja orang kedua dan ketiga bergerak, disusul oleh orang keempat dan kelima di mana Ngo-mo-hengte tiba-tiba sudah bergerak dan menyerang susul-menyusul maka tak mungkin laki-laki ini mengelak saja dan iapun menangkis.

"Plak-plak-plakk!" Lima orang itu tergetar dan terhuyung. Mereka terkejut dan diam-diam memuji. Ternyata, Hwe-sin masih setangguh dulu dan gagah. Tadi dalam adu lari cepat saja diam-diam mereka khawatir. Lawan mereka itu ternyata masih hebat! Namun karena tak mungkin mereka berhenti dan maksud balas dendam harus terus jalan, di situ ada teman-teman mereka yang lain dan juga lihai maka Ngo-mo-hengte tiba-tiba bergerak lebih cepat dan Hwe-sin juga berseru keras melayani mereka. Pukulan ditangkis pukulan dan lima orang itu tergetar. Gwat Kong dan tiga yang lain belum bergerak, mereka masih menonton.

Namun begitu Ngo-mo-hengte berseru memberi aba-aba dan barisan Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Unsur silih berganti mengaburkan pandangan, mereka itu bergerak dan terbang mengelilingi lawan maka "dak-duk-dak-duk" suara pukulan menyertai bayangan lima orang ini. Hwe-sin belum mengeluarkan Jari Apinya karena waspada terhadap empat yang lain. Lawan-lawannya adalah tokoh-tokoh yang licik dan dia harus waspada. Dan ketika Ngo-mo-hengte menjadi gemas dan marah karena Malaikat itu dapat bertahan, berteriak dan berseru keras maka lima senjata sabit mencuat keluar dan lima cahaya berkeredep menyambar Malaikat Api itu.

"Mampuslah, dan coba tangkis senjata ini!"

Hwe-sin terkejut. Sudah dia duga bahwa lawan pasti akan mengeluarkan senjatanya. Sabit-sabit itu sudah dikenal tapi gerakan sabit yang demikian cepat dan bagai kilat menyambar menggetarkan hatinya juga. Lima sabit silang-menyilang dan inilah kepandaian baru, dulu dia belum melihat itu. Dan ketika dia menangkis dan apa boleh buat Jari Apinya harus bekerja maka sinar merah mencicit dan cahaya seperti laser ini menyambut.

"Crik-crik-cranggg!"

Lima senjata terpental tapi menukik turun lagi. Hwe-sin mengelak namun orang di sebelah kiri memapak, ditangkis namun sabit ditarik cepat untuk kemudian diganti gerakan sabit di tangan orang sebelah kanan. Dan ketika sabit pertama masih terus meluncur sementara sabit nomor tiga ini dijentik tapi ditarik untuk diganti dengan sabit keempat dan kelima, cepat dan luar biasa Ngo-mo-hengte ini sudah berganti-ganti serangan maka Hwe-sin berseru keras karena empat kali berturut-turut ia kecele dan sabit pertama itu menyambar ubun-ubunnya.

"Bret!" Hwe-ci memapak namun cepat bagai kilat sabit itu melesat ke kanan dan menghajar pundaknya. Hwe-sin terbeliak dan lawan terkekeh. Jurus baru yang diperlihatkan orang pertama dari Ngo-mo-hengte itu memang istimewa. Untung, berkat kekebalan Hwe-kang (Tenaga Api) Malaikat Api itu dapat bertahan. Sabit terpental meskipun membacok pundaknya, baju yang robek dan empat Ngo-mo-hengte yang lain sudah tertawa bergelak dan menyerang lagi.

Dan ketika Hwe-sin didesak karena jurus-jurus aneh diperlihatkan lawan, rupanya selama puluhan tahun ini mereka menemukan jurus-jurus baru, sabit silang-menyilang menyambar tubuhnya maka pengawal rahasia yang mulai gusar itu berseru keras. la mengeluarkan langkah-langkah aneh untuk mengimbangi gerakan sabit yang naik turun, kakinya menotol-notol tanah dan mulailah tokoh ini mengeluarkan ilmunya yang lain.

Tujuh puluh Dua Langkah Sakti di mana tubuhnya doyong ke sana ke mari mengikuti gerakan ujung kaki yang lincah menotol-notol. Hebat karena segera bacokan sabit yang menyambar-nyambar selalu tak mengenai dirinya. Laki-laki ini seakan bola yang mental-mental dengan ajaib sekali. Dan ketika semua serangan luput dan Hwe-sin membalas dengan tusukan Jari Apinya, lawan berteriak dan berseru kaget maka Hwe-sin yang semula didesak sekarang ganti mendesak.

"Iblis! Siluman jahanam. Hwe-sin memiliki Jit-cap-ji-poh-kun!"

"Benar, dan ia mahir sekali, suheng. Celaka, awas sabitmu!"

Teriakan susul-menyusul dari lima 0rang ini mengguncangkan yang lain-lain. Gwat Kong dan nenek Tai-bo yang melihat itu berseru pucat. Hwe-sin, yang meloncat-loncat seperti bola amatlah cepat luar biasa mengelak serangan sabit. Ngo-mo-hengte yang tadi girang dapat membacok pundak lawan ternyata sekarang ganti kebingungan. Lawan acap kali lenyap dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Gerakannya begitu luar biasa dan mentakjubkan.

Dan karena sabit selalu mengenai angin kosong, sementara Hwe-ci atau Jari Api menyambar mereka, mendesis dan menyala-nyala maka Ngo-mo-hengte kocar-kacir dan dua di antara mereka terpelanting berteriak. Sabit membalik dan hampir mengenai kepala sendiri dan apa boleh buat mereka ltu membanting tubuh bergulingan. Dan ketika Hwe-sin tertawa dingin karena lawan berkurang dua orang, disinilah dia bergerak dan mempercepat Tujuh puluh Dua langkah Saktinya maka tiga orang itu terbanting ketika Jari Api menjilat dan menyambar mereka.

"Augh...crtt-sshhh!"

Baju di atas dada terbakar. Cepat dan mengerikan tahu-tahu jilatan api itu berkobar, tiga orang ini berteriak dan empat yang lain tentu saja terbelalak. Tiga di antara Ngo-mo-hengte itu menjadi manusia api. Tapi ketika mereka membanting tubuh di atas tanah dan memadamkan api itu dengan cepat, muka merah kehitam-hitaman maka dua kakek berhidung growong berkelebat maju. Tangan mereka memegang siang-kauw (sepasang gaetan) dan gunting besar.

"Gwat Kong, jangan tunda waktu lagi. Serang lawan kita ini!"

Sepasang gaetan dan gunting besar menyambar dari kiri, kanan. Hwe-sin tak mengejar kelima lawannya karena menjaga bokongan, benar saja diserang dan kalau tadi ta mengejar Ngo-mo-hengte tentu gaetan den gunting itu menyerangnya dari belakang. Dan ketika ia mengelak dan langkah sakti Jit-cap-ji-poh-kun digerakkan secara lihai, tubuh mendoyong dan meliuk ke sana ke mari maka dua senjata ttu menyambar di kiri kanan tubuhnya, lewat dengan cepat.

"Wut-siuuutttt!!"

Gunting dan gaetan menyambar bagaikan setan. Senjata maut itu mengenai angin kosong tapi Hwe-sin mengangkat lututnya ke perut lawan. Dua kakek itu terbungkuk ke depan oleh dorongan tenaga mereka sendiri, jadi terbawa maju. Dan karena gerakan ini amatlah cepat dan Hwe-sin tak menyia-nyiakan kesempatan, lutut itu mendongak maka....ngek-ngek!! Dua orang itu terlempar dan terbanting bergulingan, isi perut seakan berantakan.

"Awas, jangan serang sendiri-sendiri. Sapu dari delapan penjuru!"

Inilah bentakan nenek Tai-bo yang terbeliak dan kaget melihat kepandaian Hwe-Sin. Sekarang setelah laki-laki itu mengeluarkan Tujuh puluh Dua Langkah Saktinya tlba-tiba dia sadar bahwa dulu Malaikat Api itu menaruh banyak kemurahan. Tanpa ilmu itu saja dia dan Gwat Kong tak mampu menandingi. Bagaimana kalau seandainya dia dulu menghadapi Hwe-sin seperti sekarang ini. Tentu cepat roboh! Dan malu bahwa dia masih jauh di bawah lawan, Hwe-sin mengeluarkan kesaktiannya dan tampak betapa hebatnya laki-laki itu maka malu dan marah membuat nenek ini mata gelap.

Ia tak mau pusing-pusing lagi dan Hwe-sin harus cepat dibunuh. Kesalahan teman-temannya adalah mereka tak maju serentak. Tadi Ngo-mo-hengte sementara sekarang hanya Pak Wi dan Pak Heng itu, bukan mereka semua. Maka begitu membentak dan ia menjeletarkan rambut, Ngo-mo-hengte sudah meloncat bangun dan menggigil dengan senjata di tangan maka nenek itu menyerbu dan Gwat Kong sudah menyambar dengan sepasang rodanya yang baru.

"Wiirrr-plak-plak-plakk!"

Rambut dan sepasang roda mencelat bertemu jari-jari Hwe-sin. itu mencorong matanya dan pandangannya ini mengeluarkan sinar membunuh. Gara-gara dua orang inilah dia ketahuan orang banyak. Namanya dikenal tapi justeru itu mengundang musuh. Itulah sebabnya kenapa ia selama tiga puluh tahun ini tak pernah menampakkan diri. Di samping karena kegagalan cintanya juga karena tak mau dicari-cari bekas lawan-lawannya yang banyak. Hwe-sin adalah orang aneh yang sukar dimasukkan golongan apa, tidak jahat tidak baik. Ia sering acuh melihat kekejaman-kekejaman di sekitar, tapi akan marah kalau diri sendiri diganggu.

Dan karena kadang-kadang ia juga memusuhl orang-orang golongan hitam, yang merendahkan dan sengaja mencari setori maka terhadap wang-orang ini ia kadang-kadang telengas. Maka begitu sekarang ia diganggu dan tak pelak dia pasti bakal di cari musuh lain gara-gara Gwat Kong dan nenek Tai-bo sungguh pembuat perkara maka dua orang itulah yang lebih dulu akan dihabisi. Hal ini tampak dari pandang matanya yang dingin dan menusuk, kejam.

"Gwat Kong, dan kau Tai-bo. Sungguh kecewa hati ini membiarkan kalian hidup. Hmm, jagalah. Kalian yang pertama kali mati!" Suara itu disusul oleh gerakan Jari Api yang menyambar mereka. Ngo-mo-neng te dan dua saudara Pak Wi dan Pak Heng tak dihiraukan di muka belakang. Sabit meluncur namun diterimanya dengan kekebalan. Dan ketika gaetan maupun gunting raksasa juga dibiarkan menusuk dari samping, Hwe-kang melindungi laki-laki itu maka Tai-bo maupun si gundul Gwat Kong tersentak melihat senjata mereka ditangkap dan diterima.

"Aiihhhh "Awas!"

Terlambat. Sepasang roda di tangan Gwat Kong ditangkap dan disambar, langsung dikepal tinju laki-laki ini sehingga roda-roda itu leleh. Hwe-kang atau Tenaga Api juga memenuhi telapak Malaikat Api ini, apapun yang dipegang pasti meleleh dan terbakar. Dan ketika benar saja sepasang roda yang ditangkap Hwe-sin membara dan leleh, GWat Kong terkejut bukan main maka nenek Tai-bo juga tersentak kaget karena rambut yang melilit leher lawan juga hangus dan putus.

"Pletak!" Suara ini disusul bak-bik-buk datangnya sabit. Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak Heng terbelalak melihat betapa senjata-senjata di tangan mereka mental bertemu tubuh Hwe-sin. Dan ketika roda di cengkeram Hwe-sin hancur memerah, persis dipanggang api maka laki-laki itu melempar tangannya dan cairan logam panas yang menyala-nyala disiramkan ke muka Gwat Kong berdua.

"Aduhh...!" Tak ayal dua orang ini berteriak ngeri. Tai-bo maupun Gwat Kong menjerit ketika wajah mereka disiram logam meleleh. Panasnya bukan main, juga sakitnya. Serasa menusuk tulang menembus jantung!

Dan ketika dua orang itu melempar tubuh bergulingan sambil meraung-raung mencakari wajah mereka, yang bersimbah darah maka Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak terkejut. Mereka melihat betapa teman mereka itu memekik-mekik dan menjerit histeris. Cairan logam panas yang menyambar muka seketika lengket dan mendidih di situ, kulit terkelupas dan seketika wajah itu rusak. Bukan main mengerikannya! Tapi ketika Gwat Kong maupun nenek Tai-bo merobek baju mereka, membebat dan menutup luka itu maka mereka meloncat bangun dan wajah keduanya yang bagai iblis-iblis dari kubur mengerikan bagi siapa pun. Gwat Kong dan Tai-bo marah besar.

"Hwe-sin, kau jahanam keparat. Aih, aku akan mengadu jiwa!"

"Benar," Gwat Kong juga berseru. "Aku juga akan mengadu jiwa, Tai-bo. Biar dia atau aku yang mati!"

Lalu ketika keduanya menubruk dan menerjang lagi, dua orang ini membantu tujuh teman mereka yang lain maka Hwe-sin dikeroyok tapi dengan langkah-langkah saktinya Jit-cap-ji-poh-kun laki-laki ini berhasil menghindari serangan-serangan berbahaya, membiarkan tubuh dibacok atau digunting kalau tidak sempat dan kekebalan Hwe-kangnya menjaga. Hebat laki-laki ini. Dan ketika tokoh yang amat hebat ini membalas dan menudingkan telunjuknya, Jari Api mendesis dan menyambar lawan-lawannya maka justeru lawan-lawannya itu tak ada yang berani menyambut karena tusukan Jari Api itu memang amat berbahaya sekali.

Ngo-mo-hengte te-lah mencoba namun mereka menjerit kesakitan. Kekebalan mereka ternyata tembus juga. Dan ketika Pak-hengte (dua sau-dara Pak) juga coba-coba menerima tapi menjerit memadamkan api yang amat panas itu, Malaikat Api benar-benar perkasa akhirnya pertandingan berjalan seru dan sembilan bayangan berseliweran naik turun mengelilingi Hwe-sin. Akan tetapi sembilan orang ini harus mengakui kelihaian lawan. Karena Jari Api sering mereka hindarkan sementara pukulan atau serangan senjata mereka tak banyak berdaya, kekebalan Tenaga Api benar:benar melindungi lawan mereka maka Tujuh puluh Dua Langkah Sakti yang dimiliki laki-laki ini mengejar dan mengimbangi gerakan-gerakan mereka.

Dua kali Ngo-mo-hengte kembali menjerit dan dua kali pula dua saudara Pak berteriak. Gwat Kong, yang menyerang di balik punggung-punggung temannya hampir saja menjadi korban Hwe-ci tapi untung ia mengelak dan selamat, menggigil dan marah tapi juga bingung bagaimana merobohkan Malaikat ini. Dikeroyok sembilan masih juga laki-laki ini tangguh. Dan ketika nenek Tai-bo juga melengking-lengking sementara rasa perih dan panas tetap menggigit wajahnya, luka itu hanya dibalut seadanya dulu.

Maka perlahan-lahan Hwe-sin menguasai lawan dengan langkah saktinya Jit-cap-ji-poh-kun. Ujung kakinya yang lincah menotol ke sana-sini membuat tubuhnya sebentar di sana dan sebentar di sini pula. Lawan gentar. Dan ketika sabit dan gunting kembali menyambar, sepasang gaetan juga mencangkol dari samping maka Hwe-sin berseru keras menangkap senjata di tangan dua saudara Pak ini. Telapak tangannya sudah merah marong!

"Awas!"

Teriakan itu datang dari Gwat Kong dan nenek Tai-bo. Mereka ingat kejadian tadi tapi Pek-hengte terlanjur gemas. Mereka penasaran oleh gagalnya serangan berkali-kali dan kini mengayun senjata dengan amat hebatnya. Dan karena inilah yang memang ditunggu karena tak mungkin dua saudara itu menarik senjata, atau menghentikannya di tengah jalan maka Hwe-sin menangkap dan menerima. Sambaran sabit ke tubuhnya dibiarkan saja kecuali yang ke arah mata, dielakkan dan membacok lehernya sebelah kiri dan senjata itu mental. Dan begitu ia menangkap sepasang gaetan dan gunting raksasa, mengerahkan tenaganya maka "cess...!" senjata di tangan dua Pak-hengte itu leleh dan hancur di tangannya.

Lawan tentu saja terkejut tapi tak ada kesempatan lagi. Hwe-sin sudah membuka telapaknya dan menyiramkan cairan panas dari logam yang merah membara itu, bukan hanya ke arah Pak-hengte saja melainkan juga lima iblis bersaudara, Ngo-mo-hengte, melempar dan menyebar rata cairan logam ke Segala penjuru. Dan ketika jerit dan pekik terdengar di sana-sini, kejadian berulang maka tujuh orang tersiram cairan panas dan hanya Gwat Kong serta nenek Tai-bo yang selamat. Mereka telah mendapat pengalaman tadi dan cepat-cepat melompat mundur. Tapi begitu Ngo-mo-hengte dan Pak-hengte bergulingan di sana, mengaduh-aduh maka Hwe-sin bergerak dan tahu-tahu mendekati dua orang ini.

"Tai-bo, dan kau Gwat Kong. Marilah kalian ku antar ke akherat!"

Dua orang itu terkejut bukan main. Kiranya raupan logam panas yang membuat Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak memang sengaja dilakukan Malaikat Api ini agar dapat bebas mendekati nenek dan kakek gundul itu. Selama ini dua orang itu hanya menyerang di belakang dan licik berbuat curang. Hwe-sin diam-diam marah dan menunggu kesempatan. Dan ketika kesempatan itu terbuka dengan bergulingannya tujuh orang itu, Gwat Kong dan Tai-bo sendirian menyingkir maka di sinilah Hwe-sin bekerja dan tahu-tahu dengan langkah saktinya yang hebat ia telah mendekati dua orang itu.

Si kakek gundul terbelalak sementara si nenek melotot. Kecepatan gerakan langkah Hwe-sin sungguh luar biasa, tak mungkin mereka menjauh. Dan ketika dua tangan laki-laki itu menyambar mereka, melepas cengkeraman maka Gwat Kong dan Tai-bo menangkis namun begitu mereka menggerakkan lengan maka secepat itu juga Hwe-sin menangkap. Dapat dibayangkan betapa ngeri dan kagetnya dua orang ini.

Hwe-sin sedang penuh dengan tenaga Hwe-kang dan telapak laki-laki itu merah marong bagai api yang amat panas. Logam saja dapat dipegang hancur apalagi kulit daging manusia. Dan Gwat Kong serta nenek Tai-bo telah melakukan itu. Dan begitu mereka menangkis dan inilah kesalahan utama, dua orang itu berteriak maka meskipun telah mengerahkan lweekang atau tenaga sakti tetap saja lengan dua orang itu leleh, persis mentega dimasukkan minyak mendidih.

"Auugghhhh...."

Dua lengking atau jerit kesakitan ini mendirikan bulu roma. Tai-bo masih dapat melecutkan rambutnya namun rambut yang tinggal sedikit itu lengket dan terbakar pula. Dua orang ini pucat seputih kertas. Dan ketika terdengar suara berkerat dari tulang dan daging yang hancur, bau tak enak juga menyambar maka Hwe-sin menarik lalu melempar tubuh dua orang itu....

Putri Es Jilid 04

Cerita Silat Mandarin Karya Batara

"BAGUS sekali!" kaisar berseru dan langsung menuding. "Duduk dan jawab pertanyaan-pertanyaanku, Tan Kiong. Apa yang kau lakukan dan bagaimana dengan semuanya ini!"

Tan Kiong, pangeran Tan itu, terhenyak dan memberi hormat. la dipersilakan duduk di kursi tengah di mana orang-orang lain duduk di kiri kanan. Jadi, ia dikitari, seolah pesakitan. Dan mendengar betapa kaisar menyebut namanya begitu saja, wajah merah padam sementara yang lain-lain juga membesi dan gelap maka menahan debur hatinya ia menunduk dan coba menabahkan hati.

"Maaf kalau hamba tidak mengerti akan maksud panggilan ini. Apa yang menyebabkan paduka tampak marah-marah, Sri baginda. Dan apa yang hendak hamba terima. Mohon paduka memberi petunjuk."

"Aku tidak akan memberi petunjuk, melainkan hukuman. Jawab pertanyaanku kenapa kau hendak membunuh adikmu Wan-thai-suma, Tan Kiong. Kenapa kau teluh dan main ilmu hitam!"

"Membunuh adik Wan?" pangeran ini terbelalak dan pura-pura kaget, wajahnya seolah tanpa dosa. la menekan kuat-kuat rasa kagetnya dengan perasaan bingung, blo'on. "Apa yang dimaksudkan ini, sri baginda. Hamba jadi tidak mengerti akan pembicaraan paduka."

"Jangan bohong. Wan-thai-suma menderita sakit karena perbuatanmu. Kau hendak membunuhnya lewat orang lain. Akuilah perbuatanmu ini atau nanti hukuman bertambah berat!"

"Hamba tak dapat mengaku kalau tak ada bukti. Bahkan hamba ingin bertanya dari siapa tuduhan ini paduka dengar," pangeran itu menyangkal, mata menyambar tajam ke arah adiknya.

Namun sang adik sejak tadi memandang penuh marah. Wan-thai-suma ini juga tak dapat mengendalikan rasa sabarnya lagi setelah berturut-turut dia hendak dicelaki. Kakaknya sudah menghendaki jiwanya. Dan ketika kaisar menoleh kepadanya dan Wan-thai-suma ini bangkit berdiri maka sebelum dia menjawab pertanyaan kakaknya itu Menteri Utama ini berkata,

"Hamba akan menjawab pertanyaannya.” dan membalik menghadapi kakaknya. Wan-thai-suma berseru, "Kanda, sungguh keji perbuatanmu yang hendak membunuhku. Gara-gara iri kepada kedudukan Thai- suma kau lalu melanggar peraturan main. Kau bertanya, siapakah yang melancarkan tuduhan . Nah, kujawab saja, akulah orangnya. Dan kalau kau minta bukti barangkali itu lebih dari cukup. Lihatlah!"

Menteri ini mengulapkan tangan ke balik tirai, seseorang mendorong orang-orang lain dan berturut-turut muncullah di situ Hwee-long Bong Cwan Ek dan Yauw Seng, juga enam orang lain yang semua adalah para pembantunya. Dan ketika orang-orang itu menunduk namun Wan-thai-suma membentak agar mereka bicara, tidak benarkah mereka itu sebagai orang-orang suruhan Tan Ongya untuk melakukan teluh dan pembunuhan kepada Wan-suma maka satu demi satu kepala-kepala itu mengangguk. Bong Cwan Ek berkata lirih bahwa benar dialah yang disuruh menenung Wan-thai-Suma.

"Nah, dengar," Wan-suma berseru menuding. "Inilah orang-orangmu yang kujadikan bukti, kanda. Coba dengar sekali lagi apa kata Bong Cwan Ek ini kepada kita. He...!" menteri itu berkata nyaring. "Serukan dengan keras bahwa kau yang meneluh aku. Siapakah yang menyuruhmu!"

"Hamba... hamba mengaku..." kakek itu berkata lebih keras. "Maafkan hamba, Wan-suma. Hamba hanya sekedar orang suruhan Tan-ongya. Hamba telah mengaku!"

Tak ada lagi yang dapat dielakkan Tan-Ongya yang terkejut dan bagai disambar petir melihat orang-orangnya di situ, lengkap berdelapan, tiba-tiba menggigil hebat. la tak menyangka bahwa Yauw Seng dan Cwan Ek sudah ada di situ, tertangkap. Entahlah siapa yang menangkap! Dan karena tak mungkin lagi ia mungkir dan pangeran ini merasa jiwanya melayang-layang, kepala terasa begitu ringan sementara wajahnya sudah pucat pasi maka pangeran ini ambruk dan roboh pingsan! la tak kuat lagi mendengar pengakuan orang-orangnya itu, terutama Cwan Ek dan Yauw Seng, para pembantu-pembantunya terpercaya.

Dan karena kekecewaan serta ketakutannya begitu hebat, pangeran ini terguling maka sesuai janji dua orang itu dilepaskan tapi enam pengawal yang ikut membantu Yauw Seng diberi hukuman setimpal. Mereka ini dipenjara sementara pangeran itu diasingkan di pulau buangan, hidup sendiri bertahun-tahun ditemani sepi. Dan ketika ia diasingkan dan dibuang menjalani hukuman adalah Cwan Ek dan Yauw Seng bertempur saling bunuh untuk membalaskan sakit hati.

Seperti diketahui, Yauw Seng hendak membunuh sahabatnya ini ketika Cwan Ek tertangkap tak berdaya di tempat Thio taijin, yakni dalam usahanya menutup jejak agar Cwan Ek tak dapat memberi pengakuan. Tapi karena di tempat itu bersembunyi Malaikat Api Buan Tiong Pek, tokoh yang sudah melihat gerak-gerik dan masuknya bayangan-bayangan ini maka Tiong Pek merobohkan pula laki-laki itu dan Cwak Ek si Srigala Kelabu selamat. Tukang sihir dan teluh ini dendam sekali atas perbuatan Yauw Seng. Sungguh tak berperasaan sahabatnya itu, teman sendiri-pun akan dibunuh.

Maka ketika dia memendam dendamnya ini sampai keduanya dibebaskan Wan-thai-suma yang memegang janji namun sesungguhnya itu hasil perbuatan si Malaikat Api yang tahu dan akan mengadu dua orang ini untuk saling bunuh maka begitu keluar begitu pula kakek ini mencabut tongkatnya dan dada Yauw Seng di tusuk!

Untunglah, Yauw Seng sudah curiga dan melihat pandang mata lawannya itu. Sebagai sama-sama orang sesat laki-laki ini tahu ancaman api dendam. Dia sendiripun diam-diam sudah memutuskan bahwa usaha pembunuhannya yang gagal harus kembali. Dia tak akan merasa tak enak tidur kalau Cwan Ek tak di bunuh siapa tahu dia nanti diteluh dan diserang dari jauh.

Cwan Ek ahli tenung yang dapat membunuh orang dari mana saja, dia tahu itu. Maka begitu ditusuk dan dia sudah waspada, sejak tadi matanya memperhatikan maka Yauw Seng mengelak namun Cwan Ek mengejar dan menusuknya lagi. Tak ayal, laki-laki ini menangkis dan mereka pun saling bertanding. Dan ketika Cwan Ek menjadi marah karena tusukannya gagal, di luar istana itu mereka baku hantam maka pertandingan ini malah menjadi tontonan dan para pengawal berdiri mengepung dengan wajah berseri-seri. Yauw Seng akhirnya mencabut ruyung berdurinya dan dengan ruyung ini ia menghadapi tongkat lawan.

Cwan Ek marah besar dan mempercepat gerakan. Dan ketika Yauw Seng mengimbangi dan mempercepat gerakannya pula, terdesak dan mencabut pisau-pisau kecilnya maka dengan ini ia mampu menahan rangsekan lawan. Tapi Cwan Ek berkemak-kemik. Tokoh ini, seperti diketahui, adalah ahli tenung dan sihir. Ia mengucap beberapa mantra dan keluarlah sihirnya yang hebat.

Yauw Seng terkejut ketika naga dan harimau-harimau jejadian muncul. la memang ahli silat biasa bukan ahli batin, seperti lawannya itu. maka mendapat serangan sihir dan ia kaget serta bingung, tak mampu menolak karena lawan sedikit di atas kepandaiannya maka dua kali gebukan tongkat menghajar pundaknya. Kalau bukan laki-laki ini tentu terkapar, pundak tentu remuk.

Namun karena Yauw Seng bertenaga kuat dan kekebalannya cukup tinggi, lawan gemas dan marah maka dua harimau siluman mengecoh perhatian Yauw Seng dan saat itulah tongkat menghantam dahi laki-laki ini. Yauw Seng menjerit dan terlempar dan laki-laki itu roboh. Ia tak bergerak-gerak lagi dan disangka tewas. Dari kepalanya mengalir cairan merah yang kental memanjang. Tapi ketika Cwan Ek terkekeh dan maju untuk menusukkan tongkatnya ke dada lawan, ia ingin menancapkan tongkat di jantung lawan mendadak tubuh yang tengkurap itu mendadak membalik dan dua gelang besi menyambar dahi kakek ini pula.

"Cwan Ek, mari sama-sama ke neraka!" Kakek itu terkejut bukan main. Ia sungguh tak menduga bahwa lawan yang sudah ambruk masih juga bisa mengirim serangan. la agak membungkuk ketika hendak menancapkan tongkatnya itu. Maka begitu dua gelang besi menyambar dan tak ampun mengenai dahinya, kakek ini berteriak maka iapun roboh tapi ujung tongkatnya telah menembus dada Yauw Seng.

"Plak-crep!" Tongkat dan gelang besi sama-sama mengenai sasaran. Yauw Seng yang menggeliat dan mengaduh perlahan tiba-tiba roboh dan benar-benar tak bergerak lagi. Jantungnya tertusuk. Tapi ketika di sana kakek itu juga terbanting dan menggeliat sejenak, dahinya pecah disambar gelang besi maka tukang tenung inipun tewas dan sampyuh bersama musuhnya.

Istana geger tapi Yo-ongya dan Wan-thai-suma yang melihat itu memberi tanda. Mereka tadi mendengar ribut-ribut itu dan keluar. Apa yang dibisikkan Hwe-sin Buan Tiong Pek ternyata benar. Di bebaskan tapi dua orang itu pasti akan mengadu jiwa. Cwan Ek menyimpan dendam sementara Yauw Seng ingin mengulang pembunuhannya yang gagal. Kini kenyataan itu terjadi dan mereka tewas di luar istana. Wan-thai-suma menarik napas dalam-dalam dan cepat menyuruh pengawal menyingkirkan mayat itu. Dan ketika hari itu semua sudah mendapat hukuman, Tan-ongya diasingkan dan para pembantunya saling bunuh maka istana tenteram kembali.

Namun dua bulan kemudian datang peristiwa baru. Seorang nenek dan kakek bermuka bulat, gundul pelontos datang seperti siluman memasuki istana. Mereka mencari-cari Tan-ongya dan mendapat jawaban bahwa pangeran itu tak ada lagi di istana. Lalu ketika mereka bertanya di mana Yauw Seng dan Hwe-long Bong Cwan Ek, para pengawal teringat dua orang itu yang saling bunuh maka jawaban mereka bahwa dua orang itu telah tewas membuat nenek dan kakek gundul ini mendelik.

"Bagaimana bisa saling bunuh. Kenapa begitu!”

Bentakan kakek gundul itu membuat para pengawal marah. Mereka seakan anak kecil yang enak saja dibentak-bentak, pemimpinnya marah dan balas membentak pula. Tapi begitu kakek itu berputar matanya dan mengibas ke depan, tawa aneh keluar dari mulutnya maka komandan pengawal ini terangkat dan terhempas ke tembok, disambar kibasan lengan baju kakek itu.

"Heh-heh, kalian anak-anak berani betul kurang ajar di depanku. Baik, panggil muridku di akherat dan suruh dia ke sini... bruukk!"

Tubuh komandan itu hancur dan luluh tulang-tulangnya, roboh dan lunglai seperti kain basah dan gemparlah anak buahnya melihat itu. Mereka berteriak dan mencabut senjata masing-masing tapi sebelum mereka menyerang mendadak nenek yang kurus kering itu terkekeh. Kekehnya nyaring dan menusuk gendang telinga, rambut dikibas dan tiba-tiba terlemparlah semua pengawal ke kanan kiri. Dan ketika semua roboh dan tak satupun selamat, kepala bergelindingan ke sana ke mari karena rambut itu menyabet leher mereka, putus dan berjatuhan maka istana dibuat gempar dan kacau.

Genta dipukul berdentang-dentang dan perwira atau panglima bermunculan. Seribu pasukan tiba-tiba sudah bersiap dan mengepung kakek dan nenek-nenek ini, menyerang tapi mereka terlempar ke sana sini dan alangkah kagetnya pengawal-pengawal itu karena kakek maupun nenek itu tak tembus dibacok. Mereka hanya ha-hah-he-heh saja dan berulang-ulang ingin ketemu Tan-ongya atau siapa saja kerabatnya untuk diminta tanggung jawab bagaimana Yauw Seng dan Cwan Ek binasa.

Ternyata mereka itu adalah murid kakek dan nenek-nenek ini dan yang kini datang menuntut tanggung jawab. Mereka berkata bahwa tak mungkin dua orang itu saling bunuh kalau tidak atas perbuatan seseorang. Nah, orang inilah yang dicari dan harus bertanggung jawab. Dan ketika dua ratus tubuh malang melintang bersimbah darah, Wan-thai-suma muncul bersama Thio-taijin dan Yo-ongya maka mata dua orang kakek dan nenek itu bercahaya melihat tiga orang di lantai ketiga istana.

"Heh, siapa itu. Tampaknya pembesar penting!"

"Benar, dan mungkin saudara Tan-ongya, Gwat Kong. Ayo tangkap dan ringkus mereka.. huupp!" nenek ini terkekeh panjang, rambut menjeletar menghantam dinding dan tiba-tiba dari tenaga hantaman ini muncul serangkum angin tolak besar. Nenek itu terangkat naik dan sekonyong-konyong ia sudah terangkat lurus ke lantai tiga. Luar biasa, ia melesat melewati lantai satu dan dua dengan cepat sekali. Dan ketika Gwat Kong, kakek itu terbahak dan menjungkir tubuhnya dengan kepala di bawah kaki di atas, menumbukkan kepala kuat-kuat ke bumi tiba-tiba tak kalah mentakjubkan kakek ini sudah melesat atau mencelat ke lantai tiga.

"Wuut-wuuuttt...!"

Demonstrasi kepandaian yang belum pernah dilihat ini membuat semua terbelalak. Para pengawal ternganga dan entah siapa yang lebih cepat mereka tak tahu. Dua orang itu sudah melewati lantai satu dan dua bagaikan terbang saja. Bedanya si nenek seperti orang menjejak dan meluncur ke atas dengan kaki di bawah sedangkan si kakek gundul dengan kepala di bawah kaki di atas. Aneh! 

Namun ketika masing-masing sudah tiba di lantai tiga dan masing-masing juga bergerak menyambar tiga orang itu, Wan-thai-suma dan Thio-taijin ditangkap si kakek gundul sementara Yo-ongya disambar si nenek kurus mendadak tiga orang ini lenyap dan sebagai gantinya terlihat sambaran benang jala dan suara ledakan.

"Tarr!" Kakek dan nenek-nenek itu terkejut. Terkaman mereka luput dan sebagai gantinya di tangan mereka terlihat benang, laba-laba yang pekat dan lekat. Wan-thai-suma dan lain-lain menghilang. Tapi ketika dua orang itu mengusap hilang benang laba-laba itu, sekali raup benda-benda halus itu tersapu bersih maka seorang tinggi kurus yang matanya meram melek berdiri di situ, seperti iblis!

"Hm, sungguh tak tahu malu Sin-lun Bek Gwat Kong ada di sini. Dan sungguh tak tahu malu lagi nenek buruk Kim-mo Tai-bo membantu Gwat Kong membunuh-bunuhi pengawal. Ah, kalian memang kakek nenek busuk!"

Dua orang itu berseru tertahan. Mereka terbeliak ketika tiba-tiba melihat laki-laki tinggi kurus ini, sejenak tersentak namun si kakek berkepala gundul tiba-tiba berseru marah. Dan ketika ia melompat maju sementara si nenek menjeletarkan rambut, nenek ini juga marah maka terdengar seruan si kakek gundul.

"Hwe-sin, kiranya kau. Keparat, ada apa kau di sini dan kenapa mencampuri urusan kami!"

"Hm, aku di sini karena memang aku tinggal di sini," Hwe-sin, laki-laki itu tertawa dingin. "Aku mencampuri karena kalian mengganggu tidurku, Gwat Kong. Siapa sangka kalian tua bangka busuk membuat onar di sini."

"Kau tinggal di sini? Jadi kau menjadi antek kaisar?"

"Aku sudah lama tinggal di sini menjaga ketenteraman istana. Kalau kalian menyebutku antek maka kalian adalah anjing-anjing liar yang rupanya tak mendapat makan cukup. Hm, boleh makan sepuasnya di sini kalau berlaku baik-baik tapi harap pergi kalau mau mencari setori. Aku penjaga di sini dan siap menggebuk anjing-anjing geladak kalau dia kurang ajar!"

"Keparat!" kakek itu marah bukan main. "Kalau begitu gara-gara kau di sini maka muridku dan murid Kim-mo Tai bo saling bunuh, Hwe-sin. Sekarang kami tahu siapa biang gara-garanya dan mampuslah!"

Si kakek gundul berkelebat dan menghantamkan ujung bajunya. Dia sejak tadi menggerak-gerakkan ujung bajunya ini dan para pengawal terlempar atau pecah kepalanya. Namun ketika Hwe-sin mengelak dan Malaikat Api itu mendengus, ia dikejar dan menangkis dengan lengan kirinya maka kakek itu terpental sementara Hwe-sin terhuyung mundur.

"Dukk!" Si nenek Kim-mo Tai-bo terbelalak. Ia melihat temannya terpental sementara Hwe-sin hanya terhuyung setindak. Nyata bahwa temannya kalah kuat dan tiba-tiba Sin-lun Bek Gwat Kong berseru keras, berjungkir balik dan mencabut sepasang senjatanya yakni roda-roda bergerigi seperti mata pisau, membentak dan menerjang Malaikat Api dan tampaklah cahaya berkeredep menyambar lawannya, cepat sekali dan Hwe-sin mengelak dan berlompatan ke kiri kanan. Tapi karena ia dikejar dan terus dikejar, ia menangkis dan jari-jarinya bertemu sepasang roda itu, terpental namun menyambar lagi ke bawah maka si nenek tiba-tiba terkekeh dan menerjangnya pula, rambut melecut.

"Bagus, kita bertemu lawan tangguh, Gwat Kong. Mari main-main dan lihat kepandaian si Malaikat Api ini.... tar!"

Malaikat Api mengelak dan semakin sibuk, dikeroyok dan tiba-tiba para perwira berlarian ke lantai tiga ini. Mereka bermaksud membantu dan diam-diam heran siapa laki-laki tinggi kurus yang menghadapi kakek dan nenek-nenek iblis itu. Mereka tak tahu bahwa itulah pengawal pribadi kaisar dan kini pengawal rahasia yang lihai ini memperlihatkan diri. Apa boleh buat karena Sin-lun Bek Gwat Kong dan Kim-mo Tai-bo si nenek iblis adalah orang-orang yang tak bakalan ditandingi orang-orang biasa.

Dua orang itu adalah guru dari mendiang Yauw Seng dan Cwan Ek, tak ada seorangpun yang mampu menandingi karena mereka adalah tokoh-tokoh kelas atas yang hebat sekali. Sin-lun atau Si Roda Sakti Bek Gwat Kong ini memang hebat permainan rodanya. Dengan sepasang roda di tangannya itu ia mampu menggempur gunung. Kakek ini adalah seorang ahli gwakang sekaligus lweekang yang hebat sekali. Tenaga gwakang atau tenaga luarnya, mampu membuat dia mengangkat seekor gajah bunting. Bayangkan! Sementara lweekangnya (tenaga dalam), mampu membuat rodanya itu menari dan beterbangan di udara tanpa dipegang lagi.

Kini tujuh kali menyerang dan luput selalu telah membuat kakek itu melepaskan rodanya dan roda di tangan ini mengaung-ngaung dengan suara mengerikan, tiga kali menghantam dinding loteng sampai ambrol. Dan ketika ia masih dibantu lagi dengan lompatan si nenek, Kim-mo Tai-bo atau Ratu Iblis Berpayung Emas menjeletarkan rambut dan menghantam Hwe-sin maka laki-laki itu terbanting dan dua pukulan dari kiri kanan membuat ia tak sempat mengelak dan harus menangkis tapi ia kalah posisi.

"Plak-dukk!" Malaikat Api melempar tubuh bergulingan. la mengeluh perlahan tapi ia cepat melompat bangun. Lawan mengejar dan Gwat Kong terbahak-bahak menerbangkan roda mautnya itu. Si nenek juga terkekeh dan rambut menyambar pelipis. Tapi ketika Hwe-sin menudingkan dua telunjuknya dan sinar api menyambar lawan, itulah Hwe-ci atau Jari Api yang menyambut ke depan maka dua orang itu tertahan dah rambut hangus terjilat Hwe-ci, si nenek menjerit.

"Crit-wushh!" Hwe-sin berdiri tegak. Kim-mo Tai-bo terpental mundur dan memaki-maki menyelamatkan rambutnya. Sebagian rambutnya tadi terjilat dan itu berbahaya. Kalau tidak cepat dipadamkan tentu merayap naik, salah-salah kepalanya bisa terbakar habis, gundul dan dia bakal seperti Gwat Kong, Si Roda Sakti. Dan ketika di sana Sin-lun Bek Gwat Kong juga tersentak dan mundur terhuyung-huyung, rodanya membalik dan hangus terjilat maka kakek ini mendelik melihat roda-rodanya terbakar.

"Keparat!" kakek itu meradang. "Kau mengotori senjataku, Hwe-sin. Kubunuh kau!"

"Dan kau menghanguskan rambutku. Aiihhh...!" si nenek melengking. "Ku cincang tubuhmu, Hwe-sin. Jangan sombong dan mengira kami takut.... wirr-wiirrrr!" rambut itu diputar-putar, siap diledakkan ke arah laki-laki ini lagi namun saat itu para perwira sudah berdatangan.

Mereka naik berlari-larian melalui anak tangga, lama namun akhirnya sampai dan tiga orang sudah di depan. Si nenek yang mau menyerang Hwe-sin tiba-tiba tak jadi. Kemarahannya ditumpahkan kepada tiga perwira ini. Dan begitu mereka muncul di sudut anak tangga dan masing-masing sudah siap untuk menyerang atau mendahului nenek itu mendadak nenek ini berkelebat dan rambutnya menyambar tiga orang itu.

"Tikus-tikus pengganggu, kalian enyahlah keluar!"

Hwe-sin berseru dari depan. Laki-laki itu membentak dan menggerakkan tangannya namun Bek Gwat Kong memapak. Kakek ini menerjang dan sengaja menerima gerakan tangan itu, tahu akan dipergunakan menangkis pukulan temannya tapi dia tak membiarkan. Biarlah tiga orang itu mampus dan Kim-mo Tai-bo menghajar. Dan ketika benar saja pukulan Hwe-sin di sambut kakek ini sementara ledakan rambut tak kuasa dielak, dibabat tiga golok tapi tiga senjata di tangan tiga perwira itu mencelat beterbangan, rambut meluncur dan terus menyambar leher maka bagai dibabat senjata tajam saja kepala tiga orang perwira itu putus.

"Hi-hikk crat-crat-crat!"

Tiga kepala menggelinding dan si nenek masih menggerakkan kakinya menendang tiga tubuh yang tumbang itu. Tak ada teriakan atau jeritan karena gerakan si nenek amatlah cepatnya, begitu rambut menyambar begitu pula tiga batang kepala mencelat terlempar. Dan ketika nenek itu juga menendang tiga tubuh itu, jauh dan berdebuk di bawah maka perwira-perwira lain yang justeru sedang naik dan mendaki anak tangga disambut tiga tubuh tanpa kepala ini.

"Bress! jerit dan teriakan terdengar ramai di bawah.Nenek itu terkekeh-kekeh tapi Sin-lun Bek Gwat Kong berseru kesakitan, terlempar dan membentur tembok dan seketika dinding ambrol. Kiranya tadi Hwee-ci atau Jari Api tak kuat ditahan sendirian oleh si kakek gundul ini. la terlalu berani menerima dan nekad sendirian. semata agar temannya dapat membunuh tiga perwira itu. Dan ketika nenek menoleh dan kaget melihat keadaan temannya, Hwe-sin marah dan berkelebat ke temannya itu maka Gwat Kong menjerit dua kali karena sepasang rodanya bengkok bengkok.

"Plak-plak!" Sepasang roda yang hebat itu seakan benda lembek bertemu Pukulan Api. Hawa panas menyambar dan logam di tangan si kakek gundul tak tahan, lembek dan melengkung dan kakek ini cepat melempar sepasang senjatanya itu ke atas untuk menyelamatkannya. Tib-tiba sepasang rodanya itu merah marong, bukan main! Tapi ketika roda disambar kembali dan kakek ini pucat mengerahkan Iweekang, memulihkan kembali senjatanya yang bengkok, maka temannya sudah bergerak dan Kim-mo Tai-bo siap di sampingnya, terbelalak dan kaget.

"Gwat Kong, hati-hati Pukulan Api itu luar biasa!"

"Benar," kakek ini mengangguk. "Sendirian saja rupanya berbahaya, Tai-bo. Bantu aku dan mari kita bunuh si Hwe-Sin ini!"

Kakek itu menerjang lagi. la telah dengan marahnya mengayun rodanya dan senjata yang tadi merah terbakar itu sudah putih lagi. Dengan lweekangnya kakek ini memulihkan bengkok dan panasnya roda supaya dingin, bergerak dan menerjang Hwe-sin dengan kemarahan meluap. Ada Tai-bo di sampingnya dan tak perlu ia takut. Maka ketika ia bergerak sementara nenek itu juga mengangguk dan meledakkan rambutnya, nyaring den melengking tinggi maka Tai-bo menerjang pula lawannya dengan mata terbakar. Rambutnya yang hangus tadi belum dibalas.

"Hwe-sin, mari kita mengadu jiwa!"

Malaikat Api mengelak. Tadi ia sudah merasakan gempuran lawan tapi sebaliknya lawanpun sudah menerima gempurannya. Masing-masing sama tahu kehebatan dan kelebihan lawan. Tapi karena dengan Hwe-ci ia mampu mengejutkan lawan dan kini dua orang itu mengeroyok lagi, jari Api-nya bergerak dan menyambut maka di atas lantai tiga ini terjadi pertandingan seru di mana Hwe-sin dikeroyok dua. Mula-mula bayangan tiga orang ini berkelebatan sambar-menyambar tapi setelah itu mereka lenyap beterbangan.

Para perwira atau pengawal yang menonton terbelalak. Angin menderu dan bersiutan dan akhirnya para perwira yang coba-coba naik terlempar kena deru angin pukulan ini. Entah Hwe sin maupun lawannya sama-sama mengeluarkan pukulan dahsyat. Api menyambari dan tembok-tembok mulai hangus. Setiap jari rnenuding maka seperti sinar laser saja Hwe-ci atau Jari Api pengawal kaisar ini menyambar lawan-lawannya. Dan karena mereka mengelak dan dinding atau tembok-tembok di belakang menjadi korbannya. Seperti juga deru sepasang roda yang dikelit atau dihindarkan Hwe-sin maka lantai tiga yang menjadi pusat pertempuran tiga orang sakti ini tak dapat didekati lagi dan berantakan atau bolong-bolong.

"Mundur.... mundur. Jangan naik ke atas. Yang bertanding adalah orang-orang sakti!"

Seorang panglima tua, yang maklum dan tahu hebatnya pertandingan itu berseru agar rekannya jangan mendekati atau coba-coba naik ke atas. Biarlah mereka menonton dari bawah saja karena tempat itu menjadi ajang pertempuran yang berbahaya. Sambaran roda atau Jari Api yang berdesingan menyambar-nyambar amatlah berbahaya, belum lagi ledakan atau jeletaran rambut si nenek bengis. Sekarang mereka tahu bahwa yang bertempur kiranya Sin-lun Bek Gwat Kong dan nenek iblis Kim-mo Tai-bo, melawan Hwe-sin si Malaikat Api yang sama sekali tak mereka sangka menjadi pengawal rahasia kaisar.

Maklum, bertahun-tahun ini mereka tak pernah dengar atau tahu tentang tokoh luar biasa itu. Sama sekali tak mereka sangka bahwa di dalam istana ada si Malalkat Api. Tokoh ini adalah tokoh misterius tapi kepandaiannya sudah diakui orang. Tiga puluh tahun yang lalu ia pernah malang-melintang tapi setelah itu lenyap, tak tahunya bersembunyi dan malah menjadi pengawal pribadi kaisar. Bukan main. 

Dan karena Hwe-sin ini terkenal dengan Jari Apinya yang dahsyat, bagai sinar laser dan mampu menembus bolong dinding-dinding baja, tak heran kalau Yauw Seng maupun mendiang Cwan Ek gentar melihat laki-laki ini, yang tentu saja bukan tandingannya maka Gwat Kong maupun si nenek Tai-bo harus bekerja keras kalau ingin merobohkan lawan mereka ini.

Tapi hal itu sukar. Pertandingan sudah berjalan enam puluh jurus namun si Malaikat Api ini dapat mengelak dan menangkis serangan-serangan mereka. Roda di tangan si kakek gundul kembali lembek dihantam Hwe-ci, harus cepat-cepat dipulihkan dan dikeraskan lagi untuk dipakai menyerang. Dan karena hal ini berarti membuat si kakek gundul harus mundur sejenak dulu, kalau tidak tentu senjatanya leleh dan hancur maka Tai-bo yang juga tujuh kali terpelanting bertemu Hwe-Ci berteriak dan melempar tubuh menyelamatkan diri. Sekarang pucatlah dua orang ini melihat hebatnya Hwe-sin.

Dulu, tiga puluh tahun yang lalu Hwe-sin pernah membuat kegemparan di dunia kang-ouw dengan melabrak lima datuk sesat bersaudara. Mereka dihajar laki-laki ini dan lima datuk itu luka parah, menghilang dan lenyap entah ke mana dan banyak orang tertegun. Gwat Kong, dan juga nenek ini diam-diam kagum tapi juga gatal tangan. Mereka mencari Hwe-sin dan sempat bertemu sebentar, yakni ketika laki-laki itu dihadang sekelompok lawan-lawan lain di mana ia dikeroyok tak kurang oleh sembilan tokoh atas yang mengakibatkan Hwe-sin melarikan diri setelah mampu membunuh lima dari sembilan lawannya itu.

Hwe-sin luka-luka dan laki-laki itu menghilang, dikejar dan untuk beberapa bulan kemudian Malaikat Api ini terlihat bentrok dengan ketua-ketua persilatan akibat salah paham. Tiga ketua menuntut tanggung jawab Hwe-sin yang disangka membunuh wakil-wakil mereka, padahal yang membunuh adalah musuh-musuh Hwe-sin yang dikalahkan laki-laki ini, jadi membalas dendam lewat lempar batu sembunyi tangan. Dan ketika tiga ketua itu bertanding dan dua orang ini muncul, Gwat Kong maupun Tai-bo mengeroyok terkekeh-kekeh maka Hwe-sin terkejut dan itulah pertandingannya pertama dengan dua orang ini.

Tapi tiga ketua persilatan justeru mundur. Mereka marah melihat campur tangannya kakek dan nenek-nenek ini dan membiarkan tiga orang itu bertempur. Sangka mereka kakek dan nenek-nenek itu hendak membalas dendam. Tapi ketika Hwe-sin justeru membentak dan tak mau melayani, di antara mereka tak pernah ada urusan maka dengan Jari Api laki-laki ini mendorong mundur si kakek gundul dan dengan Jari Apinya pula dia membuat Tai-bo menjerit dan melempar tubuh menyelamatkan rambutnya. Hwe-sin memutar tubuh dan pergi, cepat sekali.

Dan ketika tiga ketua terbelalak dan terkejut, coba mengejar tetapi gagal maka si kakek gundul dan nenek Tai-bo penasaran dan mencari-cari lagi tapi sejak saat itu Hwe-sin entah ke mana. Ada didengar kabar bahwa laki-laki itu bentrok dengan Tung-hai Sian-li (Dewi Laut Timur), bertanding hebat dan sehari semalam berada di pulau kecil tapi akhirnya Tung-hai Sian-li roboh. Hwe-sin mengalahkannya. Tapi karena Hwe-sin katanya juga luka-luka dan baru kali itulah malaikat Api ini menghadapi lawan tangguh, paling tangguh dari semua lawan yang pernah ada maka laki-laki itu lenyap dan bersamaan itu lenyap pula Tung-hai Sian-li yang cantik jelita ini.

Orang tak tahu apa yang terjadi tapi sesungguhnya sesuatu telah mengguncang hati laki-laki ini. Dalam pertempuran hebat itu Hwe-sin jatuh cinta. Tung-hai Sian-li, dengan ilmunya Pai-hai-jiu (Gempuran Samudera) ternyata mampu menahan Hwe-ci nya. Baru kali itu seumur hidup laki-laki gagah ini dibuat kagum. Pai-hai-jiu yang dimiliki Tung-hai Sian-li ternyata benar-benar seperti gulungan ombak samudera yang menggulung Jari Apinya.

Hanya berkat pengalaman dan kematangannya menguasai Pukulan Apinya saja Malaikat Api itu dapat menundukkan lawan. Itupun setelah bertanding sehari semalam! Dan ketika Hwe-sin jatuh cinta tapi Tung-ha Sian-li marah-marah kepadanya, menolak dan menangis maka pertandingan berakhir dengan robohnya wanita cantik itu yang paha kirinya tertusuk bolong oleh Jari Api Hwe-sin. Tung-hai Sian-li cacad dan Hw sin menyesal bukan main.

Sejak itu wanita ini pincang dan karena malu maka tak mau lagi memperlihatkan diri, menghilang dan lenyap dari dunia kang-ouw dan Hwe-sin yang coba mencarinya berkali-kali gagal. Laki-laki ini ingin menebus dosanya dengan apa saja. Dia siap menyerahkan kepalanya kalau si cantik ingin membalas dendam. Dia juga ingin menyatakan cintanya sekali lagi. Tapi karena sejak saat itu Tung-hai tak muncul lagi dan laki-laki ini juga kecewa akibat kegagalan cintanya maka iapun lalu menghilang dan tempat persembunyian yang ia pilih adalah menjadi pengawal rahasia kaisar di mana ia telah menyembunyikan diri di kota raja hampir tiga puluh tahun!

Begitulah, inilah sekelumit kisah laki-laki ini. Orang luar tentu saja tak tahu dan Gwat Kong maupun nenek Tai-bo juga tak mengerti. Tapi begitu mereka melihat tokoh ini dan rasa penasaran tiga puluh tahun lalu dapat dilampiaskan kembali, kebetulan mereka bertemu Hwe-sin maka mereka mengeroyok tapi ternyata Jari Api atau Hwe-ci yang dimiliki laki-laki itu amatlah dahsyat dan tetap menggila.

Mereka sudah mengeluarkan ilmu-ilmu mereka tapi Jari Api yang menyambar ke arah mereka amatlan ganas. Bagai sinar laser yang menusuk dan menembus apa saja Hwe-ci atau Jari Api yang dimiliki laki-laki itu membuat mereka berkali-kali melempar tubuh bergulingan. Beberapa kali sepasang roda di tangan Sin-lun Bek Gwat Kong harus dibetulkan dulu, bengkok atau penyok-penyok bertemu Jari Api itu. Kakek ini sudah mengerahkan lweekang dan melawan kedahsyatan Jari Api itu namun tetap saja rodanya lembek, merah dan akan terbakar kalau dia tidak cepat-cepat menyelamatkan senjatanya itu, meniup dan mendinginkan kembali dengan hembusan tenaga saktinya.

Dan selanjutnya kakek itu menyerang lagi, membalas namun ia benar-benar kewalahan menghadapi Jari Api itu. Dan karena inilah kesaktian Malaikat Api dan nenek Tai-bo juga bingung menghadapi Jari Api itu, tertolak dan sering bergulingan menyelamatkan diri maka pada jurus-jurus berikut mereka praktis hanya bertahan namun nenek ini mulai berkemak-kemik membaca mantra. Dan saat itu lawan mereka itu berkata, dingin,

"Gwat Kong, dan kau Tai-bo. Cukup main-main ini dan kalian pergilah. Hapuskan masalah murid karena sesungguhnya kita tak mempunyai dendam pribadi."

"Keparat” nenek itu melengking. “Boleh mengusir kami kalau kami roboh, Hwe-sin. Dulu tiga puluh tahun yang lalu kau terbirit-birit masa sekarang kami tak dapat mengalahkanmu!"

"Hm, tiga puluh tahun yang lalu aku sengaja meninggalkan kalian, bukan terbirit-birit. Kita tak mempunyai urusan apapun dan kalian hanya ingin menjajal kepandaian. Pergilah, atau nanti Jari Apíku mencelakai kalian.”

Nenek itu memekik. la menerjang dengan lecutan rambutnya dan Gwat Kong si kakek gundul tibe-tiba dibentaknya agar melepaskan serangan lebih hebat. Kakek itu diminta agar tidak menyerah sebelum roboh. Betapapun mereka masih mampu melakukan perlawanan dan belum semua kepandaian dikeluarkan. Dan karena nenek ini juga seorang ahli kebatinan yang kuat dan tiba-tiba ia menerjang sambil meledakkan rambutnya, dari mulutnye terdengar pekik atau lengking panjang maka tiba-tiba ia menepuk tangannya dan bersama dengan sambaran rambutnya itu meluncurlah asap hitam bergulung-gulung. Sebuah kesaktian telah dikeluarkan.

"Hwe-sin, kau lihat kepandaianku yang ini. Seekor naga menyerangmu!”

Pengawal dan perwira terpekik. Mereka yang ada dibawah tiba-tiba melihat semburan amat dahsyat dari lidah api seekor naga raksasa. Naga itu berkoak dan suaranya begitu dahsyat hingga mereka dibawah terpelanting. Dan ketika sepasang roda di tangan Sin-lun Bek Gwe Kong juga ditiup dan menyambar memasuki gulungan asap hitam tiba-tiba membonceng di balik ilmu sihir si nenek sepasang roda itu berubah menjadi sepasang anak naga yang juga berkoak dan terbang menyambar Hwe-sin.

"Hm!" tokoh ini terkejut dan mendengus. Dia sendiri memiliki kekuatan batin yang ditempa puluhan tahun, juga memiliki ilmu gaib seperti Selimut Sakti itu, yang dulu dipakai untuk membungkus dan menyimpan kaisar, bahkan sekarangpun ia sedang menggunakan itu untuk menggulung lenyap Thio-taijin dan Wan-thai-suma juga. Maka begitu seekor naga raksasa menyerangnya sementara sepasang naga kecil yang lain juga menyambar dan mencaplok, mereka tampak begitu ganas dan amat mengerikan tiba-tiba tokoh ini mengebutkan tangan kirinya dan dari kelima jari tangan kiri itu mendadak menyambar lima sinar putih yang mirip benang-benang jala.

"Main-main seperti ini tak usah ditunjukkan kepadaku. Lenyaplah!"

Ajaib, naga dan anaknya itu mendadak hancur. Mereka lenyap setelah terdengar ledakan mengguncang, masuk atau tertelan oleh bayang-bayang benang ajaib ini, yang mengeluarkan cahaya putih yang membungkus dan menghancurkan gulungan asap hitam. Dan ketika si nenek terpekik sementara Sin-lun Bek Gwat Kong berteriak, sepasang rodanya lenyap dan hilang di balik ilmu sakti lawan maka ia terbanting karena ilmu sakti itu masih menyambar dan memukulnya pula.

"Darrr... duk-duk-bress!"

Dua orang itu bergulingan. Tai-bo juga mengeluh dan tampaklah bahwa hiasan rambutnya lenyap. Di atas kepalanya tadi ada sebuah hiasan rambut bermata hijau yang kini tak ada lagi. la telah mempergunakan itu dalam serangan sihirnya tadi, mencipta seekor naga raksasa yang sebenarnya terbuat dari hiasan rambutnya itu.

Dan ketika Gwat Kong juga mengeluh dan kaget bahwa senjatanya dimusnahkan lawan, kesaktian batin dibalas kesaktian batin dan Malaikat Api ini benar-benar luar biasa, si kakek mulai gentar dan terhuyung bangun adalah temannya yang masih penasaran dan membentak lagi. Nenek ini masih belum yakin dan ingin mengulang kegagalannya tadi, tiga kali melempar sihir namun satu demi satu dihancurkan. Dan ketika ikat pinggang serta kancing-kancing bajunya lepas semua, ia mengeluh dan sibuk menutupi bagian badannya yang terbuka maka nenek ini baru menyadari bahwa lawan benar-benar terlalu hebat. Ia kalah sakti!

"Hwe-sin, kami mengaku kalah. Biarlah lain kali kami datang lagi dan jangan sombong atas kemenanganmu!"

Laki-laki itu mendengus. Ia terakhir kalinya menghancurkan sihir si nenek sementara Sin-lun Bek Gwat Kong melongo di sana. Kakek gundul ini tak bergerak lagi setelah sihir dilawan sihir. la bukan ahli sihir kecuali dapat membonceng saja. Ia adalah ahli lweekeh dan gwakang. Dan ketika si nenek sudah berseru seperti itu dan Hwe-sin tertawa dingin, lontaran ikat pinggang ditekuk dan disabet hancur maka Gwat Kong tersentak ketika serpihan ikat pinggang si nenek menyambar mukanya.

“Boleh.... boleh datang lagi kalau ingin mampus, Tai-bo. Dan untuk kenang-kenangan dariku bawalah ini pulang.... plak-plak!"

Gwat Kong dan nenek Tai-bo menjerit. Mereka tersabet oleh serpihan ikat pinggang itu dan pipi mereka luka. Bukan main kagetnya dua orang ini. Tapi ketika Gwat Kong melihat bahaya dan memutar tubuh, melompat dan anjlog dari tempat setinggi itu maka kakek ini berdebam ketika menginjakkan kakinya di tanah, lari dan orang-orang di sekitar terpelanting oleh getaran tanah yang keras itu.

Kakek itu bagaikan seekor gajah jatuh dari langit saja, bekas kedua kakinyapun meninggalkan tapak besar dan dalam di atas tanah. Tapi begitu ia lari dan para pengawal berserabutan, mendobrak pintu gerbang dan mengangkat engselnya sampai putus maka sambil lari kakek ini membawa pula daun pintu gerbang yang lebar dan berat, lalu dilemparkan ke arah ratusan orang yang mengepung tempat itu.

"Hayoh, kalian boleh tutup jalan keluarku. Mampuslah, kalau tak ingin minggir!"

Semua menjerit. Kalau kakek itu melemparkan daun pintu yang berat dan terbuat dari baja itu ke arah mereka siapa yang sanggup menerima. Daun pintu itu tak kurang dari seribu kilo beratnya. Menerima berarti mampus! Dan ketika mereka cerai-berai dan daun pintu itu mengeluarkan suara dahsyat jatuh di tanah, untung tak ada yang kena maka kakek itu melompat dan menghilang di luar kota raja. Tai-bo juga menyusul dan nenek ini melengking-lengking. la penuh kecewa.

Dan ketika hari itu kota raja digemparkan oleh datangnya orang-orang sakti ini, untung di situ ada Hwe-sin maka Malaikat Api yang tiga puluh tahun bersembunyi aman sekarang terpaksa dikenal. Ia dikagumi dan dipuja-puja banyak orang. Wibawa dan keangkeran istana menjadi-jadi. Tapi ketika hal itu berlangsung sebulan dan tak ada apa-apa lagi yang datang mengganggu mendadak Tai-bo dan Gwat Kong datang lagi ke istana.

Mereka sekarang tahu bahwa penyebab kematian murid mereka adalah Hwe-sin. Sekarang mereka datang ke istana bukan mencari Tan-ongya atau siapa-siapa melainkan langsung si Malaikat Api ini. Kejadiannya di tengah malam. Dan tepat kentongan berbunyi satu kali maka nenek dan kakek gundul itu menemui Hwe-sin. Mereka sudah tahu bahwa laki-laki ini .kamarnya tak jauh dengan kamar kaisar sendiri.

"Hm, berani mati mencari penyakit!" begitu suara yang mereka dengar ketika mereka melayang turun dan celingukan di ruangan ini, kaget dan menoleh dan ternyata Hwe-sin sudah di situ, dibelakang mereka. Betapa rahasianya! Tapi karena mereka memang mencari laki-laki ini dan musuh yang dicari sudah menampakkan diri, Hwe-sin bersinar marah maka Tai-bo menjeletarkan rambut berseru, wajahnya gembira.

"Hwe-sin, kami hendak berurusan denganmu lagi. Mau di sini ataukah di tempat sunyi?"

"Benar," kakek gundul Beng Gwat Kong menyambung. "Kami ingin membalas kekalahan dulu, Hwe-sin. Dan kau boleh bunuh kami kalau bisa!"

"Hm!" Hwe-sin marah namun menahan diri. "Di sini kalian tak boleh ribut-ribut. Mari keluar dan di sana nanti ku buatkan lubang kubur!"

"Jangan sombong!" nenek itu membentak. "Kaulah yang akan kami buatkan lubang kubur, Hwe-sin. Mari, tunjukkan di mana kita bertanding dan lihat apakah kau mampu mengalahkan kami!"

Malaikat ini heran juga. Ia mengerutkan kening tapi mendengus pendek, berkelebat dan mengajak keluar dan melayanglah tiga orang itu berturut-turut. laki-laki ini telah mengambil keputusan bahwa dia harus melenyapkan lawan-lawannya. Kalau tidak begitu tentu Tai-bo dan Sin-lun Bek Gwat Kong ini selalu mengganggu. Kemarahannya bangkit. Tapi ketika ia mengajak keluar kota raja dan Tai-bo mengikuti sambil terkekeh, Gwat Kong si kakek gundul juga terbahak dan gembira maka terdengarlah kesiur angin dan tujuh bayang-bayang hitam mengikuti dari belakang yang segera membuat tokoh ini tertegun, berhenti.

“Kalian membawa kawan?"

"Ha-ha, takut?" Sin-lun Bek Gwat Kong tak sembunyi-sernbunyi lagi. "Justeru karena kami datang berombongan maka kami tanya kepadamu mau bertanding di istana atau di luar, Hwe-sin. Kalau kau takut tentu saja kembalipun boleh dan mintalah bantuan kawan-kawanmu di istana dan kami akan membunuh kaisar sekaligus!"

"Hm, rupanya keliru tindakanku dulu. Kalau tahu begini tentu sebulan yang lalu kalian kubunuh. Baik, kita teruskan perjalanan, Gwat Kong. Ingin kulihat siapakah tujuh kawan kalian itu!"

Hwe-sin melanjutkan perjalanan dan menggeram. la tak tahu siapa orang-orang di belakang dua orang ini karena mereka menjaga jarak dan cukup jauh. Waktu ia berhenti maka bayangan tujuh orang itupun ikut berhenti. Jelas, rnereka tak mau dikenal. Rupanya baru mengenalkan diri kalau nanti sudah ditemukan tempat bertanding. Dan ketika laki-laki itu bergerak dan menuju hutan di luar kota raja maka ditimpa sinar bulan purnama berhentilah tokoh ini menanti dua musuhnya. Gwat Kong dan nenek Tai-bo telah ditinggal di belakang dan meskipun mereka berlarian cepat tetap saja Malaikat Api itu bergerak lebih cepat.

Bayang-bayang di belakang juga tertinggal namun begitu laki-laki itu berhenti maka Gwat Kong dan Tai-bo berkelebatan datang. Mereka mengumpat dan mengutuk habis-habisan. Dalam ilmu lari cepatpun mereka kalah! Namun ketika mereka sudah berhadapan dan tujuh bayangan juga tiba dan langsung bergerak mengurung, mereka mengenakan saputangan hitam maka Hwe-sin memandang marah dan berseru,

"Gwat Kong, tikus-tikus busuk manakah yang kalian bawa ini? Kenapa masih menutup muka dan tak berani terang-terangan? Memangnya tikus comberan yang harus dikencingi dulu?"

"Ha-ha, mereka menyembunyikan diri karena tak diminta. Kalau diminta tentu akan membuka wajah. Eh, jangan sombong. Kau tentu mengenal bekas sahabat-sahabatmu ini, Hwe-sin. Dan biar ku minta mereka untuk membuka saputangan!" dan berseru mengangkat tangannya kakek gundul itu menghadapi orang-orang bersapu tangan hitam ini.

"Jit-wi enghiong (tujuh orang gagah), silahkan buka wajah kalian agar sahabat kita Hwe-sin ini tahu. Anjing yang akan mati biasanya memang begitu, gonggongannya lebih nyaring!"

Tujuh orang itu mendengus. Secepat itu juga mereka merenggut saputangan hitam dan begitu tampak maka terkejutlah Hwe-sin. Tujuh orang itu ternyata terdiri dari dua pihak. Pihak pertama adalah kakek-kakek yang dahinya gosong terbakar, lima orang jumlahnya sedang sisanya yang dua lagi adalah dua laki-laki yang kehilangan hidung dan tampak mengerikan seolah tengkorak hidup. Mereka inilah lima datuk sesat yang dulu dihajarnya sedang dua kakek terakhir adalah sisa dari sembilan tokoh hitam yang pernah dibunuh Malaikat Api ini, di mana dari sembilan orang lima di antaranya binasa.

Empat yang lain luka-luka tapi kini yang adalah dua dari empat orang sisanya itu. Dan karena luka atau tanda-tanda di wajah ketujuh orang ini semuanya dikenal Hwe-Sin, yang hilang hidungnya itu adalah dua dari sembilan tokoh hitam sementara lima datuk bersaudara yang hangus dahinya itu adalah akibat dari pukulannya Hwe-ci, laki-laki ini terkejut maka dua kakek berhidung growong berseru, kata-katanya bindeng, sengau,

"Hwe-sin, kau tentu ingat kami Pak Heng dan Pak Wi. Kami sudah lama mencari-carimu tapi tidak nyana bahwa kau bersembunyi dan bekerja sebagai pengawal rahasia. Apakah kau siap mampus menghadapi kami?"

"Dan kami Ngo-mo-hengte (Lima Iblis Bersaudara) yang dulu kau beri tanda mata. Tentu kau tak lupa pula kepada kami dan tak nyana bahwa kau bersembunyi di kota raja. Pantas, kami tak dapat mencari-carimu. Sekarang kami ingin membayar hutang lama, Hwe-sin. Siapkah kau menghadap Giam-lo-ong dan sudahkah menyediakan nyawa cadangan agar dapat menandingi kami!"

"Hm-hmm!" laki-laki ini tertegun dan membelalakkan mata, diam-diam tergetar juga. "Kiranya kalian, Ngo-mo-hengte. Dan juga Pak Heng serta Pak Wi. Hm, bagus sekali. Kalian tahu alamatku atas jasa baik Gwat Kong. Ah, kalian hendak mengeroyok dan bersembilan menghadapi aku. Bagus, tak usah banyak cakap dan kalian majulah. Aku akan membereskan kalian dan jangan minta ampun karena kali ini aku akan membasmi kalian!"

"Jangan sombong!" Ngo-mo-hengte membentak. "Lain dulu lain sekarang, Hwe sin. Lihat pukulan kami dan coba keluarkan Jari Apimu lagi... wut!"

Satu di antara Ngo-mo-hengte bergerak memulai, maju menyerang tapi Hwe-sin mengelak dan menghindar. Malaikat Api ini waspada akan delapan orang yang lain. Dan ketika benar saja orang kedua dan ketiga bergerak, disusul oleh orang keempat dan kelima di mana Ngo-mo-hengte tiba-tiba sudah bergerak dan menyerang susul-menyusul maka tak mungkin laki-laki ini mengelak saja dan iapun menangkis.

"Plak-plak-plakk!" Lima orang itu tergetar dan terhuyung. Mereka terkejut dan diam-diam memuji. Ternyata, Hwe-sin masih setangguh dulu dan gagah. Tadi dalam adu lari cepat saja diam-diam mereka khawatir. Lawan mereka itu ternyata masih hebat! Namun karena tak mungkin mereka berhenti dan maksud balas dendam harus terus jalan, di situ ada teman-teman mereka yang lain dan juga lihai maka Ngo-mo-hengte tiba-tiba bergerak lebih cepat dan Hwe-sin juga berseru keras melayani mereka. Pukulan ditangkis pukulan dan lima orang itu tergetar. Gwat Kong dan tiga yang lain belum bergerak, mereka masih menonton.

Namun begitu Ngo-mo-hengte berseru memberi aba-aba dan barisan Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Unsur silih berganti mengaburkan pandangan, mereka itu bergerak dan terbang mengelilingi lawan maka "dak-duk-dak-duk" suara pukulan menyertai bayangan lima orang ini. Hwe-sin belum mengeluarkan Jari Apinya karena waspada terhadap empat yang lain. Lawan-lawannya adalah tokoh-tokoh yang licik dan dia harus waspada. Dan ketika Ngo-mo-hengte menjadi gemas dan marah karena Malaikat itu dapat bertahan, berteriak dan berseru keras maka lima senjata sabit mencuat keluar dan lima cahaya berkeredep menyambar Malaikat Api itu.

"Mampuslah, dan coba tangkis senjata ini!"

Hwe-sin terkejut. Sudah dia duga bahwa lawan pasti akan mengeluarkan senjatanya. Sabit-sabit itu sudah dikenal tapi gerakan sabit yang demikian cepat dan bagai kilat menyambar menggetarkan hatinya juga. Lima sabit silang-menyilang dan inilah kepandaian baru, dulu dia belum melihat itu. Dan ketika dia menangkis dan apa boleh buat Jari Apinya harus bekerja maka sinar merah mencicit dan cahaya seperti laser ini menyambut.

"Crik-crik-cranggg!"

Lima senjata terpental tapi menukik turun lagi. Hwe-sin mengelak namun orang di sebelah kiri memapak, ditangkis namun sabit ditarik cepat untuk kemudian diganti gerakan sabit di tangan orang sebelah kanan. Dan ketika sabit pertama masih terus meluncur sementara sabit nomor tiga ini dijentik tapi ditarik untuk diganti dengan sabit keempat dan kelima, cepat dan luar biasa Ngo-mo-hengte ini sudah berganti-ganti serangan maka Hwe-sin berseru keras karena empat kali berturut-turut ia kecele dan sabit pertama itu menyambar ubun-ubunnya.

"Bret!" Hwe-ci memapak namun cepat bagai kilat sabit itu melesat ke kanan dan menghajar pundaknya. Hwe-sin terbeliak dan lawan terkekeh. Jurus baru yang diperlihatkan orang pertama dari Ngo-mo-hengte itu memang istimewa. Untung, berkat kekebalan Hwe-kang (Tenaga Api) Malaikat Api itu dapat bertahan. Sabit terpental meskipun membacok pundaknya, baju yang robek dan empat Ngo-mo-hengte yang lain sudah tertawa bergelak dan menyerang lagi.

Dan ketika Hwe-sin didesak karena jurus-jurus aneh diperlihatkan lawan, rupanya selama puluhan tahun ini mereka menemukan jurus-jurus baru, sabit silang-menyilang menyambar tubuhnya maka pengawal rahasia yang mulai gusar itu berseru keras. la mengeluarkan langkah-langkah aneh untuk mengimbangi gerakan sabit yang naik turun, kakinya menotol-notol tanah dan mulailah tokoh ini mengeluarkan ilmunya yang lain.

Tujuh puluh Dua Langkah Sakti di mana tubuhnya doyong ke sana ke mari mengikuti gerakan ujung kaki yang lincah menotol-notol. Hebat karena segera bacokan sabit yang menyambar-nyambar selalu tak mengenai dirinya. Laki-laki ini seakan bola yang mental-mental dengan ajaib sekali. Dan ketika semua serangan luput dan Hwe-sin membalas dengan tusukan Jari Apinya, lawan berteriak dan berseru kaget maka Hwe-sin yang semula didesak sekarang ganti mendesak.

"Iblis! Siluman jahanam. Hwe-sin memiliki Jit-cap-ji-poh-kun!"

"Benar, dan ia mahir sekali, suheng. Celaka, awas sabitmu!"

Teriakan susul-menyusul dari lima 0rang ini mengguncangkan yang lain-lain. Gwat Kong dan nenek Tai-bo yang melihat itu berseru pucat. Hwe-sin, yang meloncat-loncat seperti bola amatlah cepat luar biasa mengelak serangan sabit. Ngo-mo-hengte yang tadi girang dapat membacok pundak lawan ternyata sekarang ganti kebingungan. Lawan acap kali lenyap dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Gerakannya begitu luar biasa dan mentakjubkan.

Dan karena sabit selalu mengenai angin kosong, sementara Hwe-ci atau Jari Api menyambar mereka, mendesis dan menyala-nyala maka Ngo-mo-hengte kocar-kacir dan dua di antara mereka terpelanting berteriak. Sabit membalik dan hampir mengenai kepala sendiri dan apa boleh buat mereka ltu membanting tubuh bergulingan. Dan ketika Hwe-sin tertawa dingin karena lawan berkurang dua orang, disinilah dia bergerak dan mempercepat Tujuh puluh Dua langkah Saktinya maka tiga orang itu terbanting ketika Jari Api menjilat dan menyambar mereka.

"Augh...crtt-sshhh!"

Baju di atas dada terbakar. Cepat dan mengerikan tahu-tahu jilatan api itu berkobar, tiga orang ini berteriak dan empat yang lain tentu saja terbelalak. Tiga di antara Ngo-mo-hengte itu menjadi manusia api. Tapi ketika mereka membanting tubuh di atas tanah dan memadamkan api itu dengan cepat, muka merah kehitam-hitaman maka dua kakek berhidung growong berkelebat maju. Tangan mereka memegang siang-kauw (sepasang gaetan) dan gunting besar.

"Gwat Kong, jangan tunda waktu lagi. Serang lawan kita ini!"

Sepasang gaetan dan gunting besar menyambar dari kiri, kanan. Hwe-sin tak mengejar kelima lawannya karena menjaga bokongan, benar saja diserang dan kalau tadi ta mengejar Ngo-mo-hengte tentu gaetan den gunting itu menyerangnya dari belakang. Dan ketika ia mengelak dan langkah sakti Jit-cap-ji-poh-kun digerakkan secara lihai, tubuh mendoyong dan meliuk ke sana ke mari maka dua senjata ttu menyambar di kiri kanan tubuhnya, lewat dengan cepat.

"Wut-siuuutttt!!"

Gunting dan gaetan menyambar bagaikan setan. Senjata maut itu mengenai angin kosong tapi Hwe-sin mengangkat lututnya ke perut lawan. Dua kakek itu terbungkuk ke depan oleh dorongan tenaga mereka sendiri, jadi terbawa maju. Dan karena gerakan ini amatlah cepat dan Hwe-sin tak menyia-nyiakan kesempatan, lutut itu mendongak maka....ngek-ngek!! Dua orang itu terlempar dan terbanting bergulingan, isi perut seakan berantakan.

"Awas, jangan serang sendiri-sendiri. Sapu dari delapan penjuru!"

Inilah bentakan nenek Tai-bo yang terbeliak dan kaget melihat kepandaian Hwe-Sin. Sekarang setelah laki-laki itu mengeluarkan Tujuh puluh Dua Langkah Saktinya tlba-tiba dia sadar bahwa dulu Malaikat Api itu menaruh banyak kemurahan. Tanpa ilmu itu saja dia dan Gwat Kong tak mampu menandingi. Bagaimana kalau seandainya dia dulu menghadapi Hwe-sin seperti sekarang ini. Tentu cepat roboh! Dan malu bahwa dia masih jauh di bawah lawan, Hwe-sin mengeluarkan kesaktiannya dan tampak betapa hebatnya laki-laki itu maka malu dan marah membuat nenek ini mata gelap.

Ia tak mau pusing-pusing lagi dan Hwe-sin harus cepat dibunuh. Kesalahan teman-temannya adalah mereka tak maju serentak. Tadi Ngo-mo-hengte sementara sekarang hanya Pak Wi dan Pak Heng itu, bukan mereka semua. Maka begitu membentak dan ia menjeletarkan rambut, Ngo-mo-hengte sudah meloncat bangun dan menggigil dengan senjata di tangan maka nenek itu menyerbu dan Gwat Kong sudah menyambar dengan sepasang rodanya yang baru.

"Wiirrr-plak-plak-plakk!"

Rambut dan sepasang roda mencelat bertemu jari-jari Hwe-sin. itu mencorong matanya dan pandangannya ini mengeluarkan sinar membunuh. Gara-gara dua orang inilah dia ketahuan orang banyak. Namanya dikenal tapi justeru itu mengundang musuh. Itulah sebabnya kenapa ia selama tiga puluh tahun ini tak pernah menampakkan diri. Di samping karena kegagalan cintanya juga karena tak mau dicari-cari bekas lawan-lawannya yang banyak. Hwe-sin adalah orang aneh yang sukar dimasukkan golongan apa, tidak jahat tidak baik. Ia sering acuh melihat kekejaman-kekejaman di sekitar, tapi akan marah kalau diri sendiri diganggu.

Dan karena kadang-kadang ia juga memusuhl orang-orang golongan hitam, yang merendahkan dan sengaja mencari setori maka terhadap wang-orang ini ia kadang-kadang telengas. Maka begitu sekarang ia diganggu dan tak pelak dia pasti bakal di cari musuh lain gara-gara Gwat Kong dan nenek Tai-bo sungguh pembuat perkara maka dua orang itulah yang lebih dulu akan dihabisi. Hal ini tampak dari pandang matanya yang dingin dan menusuk, kejam.

"Gwat Kong, dan kau Tai-bo. Sungguh kecewa hati ini membiarkan kalian hidup. Hmm, jagalah. Kalian yang pertama kali mati!" Suara itu disusul oleh gerakan Jari Api yang menyambar mereka. Ngo-mo-neng te dan dua saudara Pak Wi dan Pak Heng tak dihiraukan di muka belakang. Sabit meluncur namun diterimanya dengan kekebalan. Dan ketika gaetan maupun gunting raksasa juga dibiarkan menusuk dari samping, Hwe-kang melindungi laki-laki itu maka Tai-bo maupun si gundul Gwat Kong tersentak melihat senjata mereka ditangkap dan diterima.

"Aiihhhh "Awas!"

Terlambat. Sepasang roda di tangan Gwat Kong ditangkap dan disambar, langsung dikepal tinju laki-laki ini sehingga roda-roda itu leleh. Hwe-kang atau Tenaga Api juga memenuhi telapak Malaikat Api ini, apapun yang dipegang pasti meleleh dan terbakar. Dan ketika benar saja sepasang roda yang ditangkap Hwe-sin membara dan leleh, GWat Kong terkejut bukan main maka nenek Tai-bo juga tersentak kaget karena rambut yang melilit leher lawan juga hangus dan putus.

"Pletak!" Suara ini disusul bak-bik-buk datangnya sabit. Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak Heng terbelalak melihat betapa senjata-senjata di tangan mereka mental bertemu tubuh Hwe-sin. Dan ketika roda di cengkeram Hwe-sin hancur memerah, persis dipanggang api maka laki-laki itu melempar tangannya dan cairan logam panas yang menyala-nyala disiramkan ke muka Gwat Kong berdua.

"Aduhh...!" Tak ayal dua orang ini berteriak ngeri. Tai-bo maupun Gwat Kong menjerit ketika wajah mereka disiram logam meleleh. Panasnya bukan main, juga sakitnya. Serasa menusuk tulang menembus jantung!

Dan ketika dua orang itu melempar tubuh bergulingan sambil meraung-raung mencakari wajah mereka, yang bersimbah darah maka Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak terkejut. Mereka melihat betapa teman mereka itu memekik-mekik dan menjerit histeris. Cairan logam panas yang menyambar muka seketika lengket dan mendidih di situ, kulit terkelupas dan seketika wajah itu rusak. Bukan main mengerikannya! Tapi ketika Gwat Kong maupun nenek Tai-bo merobek baju mereka, membebat dan menutup luka itu maka mereka meloncat bangun dan wajah keduanya yang bagai iblis-iblis dari kubur mengerikan bagi siapa pun. Gwat Kong dan Tai-bo marah besar.

"Hwe-sin, kau jahanam keparat. Aih, aku akan mengadu jiwa!"

"Benar," Gwat Kong juga berseru. "Aku juga akan mengadu jiwa, Tai-bo. Biar dia atau aku yang mati!"

Lalu ketika keduanya menubruk dan menerjang lagi, dua orang ini membantu tujuh teman mereka yang lain maka Hwe-sin dikeroyok tapi dengan langkah-langkah saktinya Jit-cap-ji-poh-kun laki-laki ini berhasil menghindari serangan-serangan berbahaya, membiarkan tubuh dibacok atau digunting kalau tidak sempat dan kekebalan Hwe-kangnya menjaga. Hebat laki-laki ini. Dan ketika tokoh yang amat hebat ini membalas dan menudingkan telunjuknya, Jari Api mendesis dan menyambar lawan-lawannya maka justeru lawan-lawannya itu tak ada yang berani menyambut karena tusukan Jari Api itu memang amat berbahaya sekali.

Ngo-mo-hengte te-lah mencoba namun mereka menjerit kesakitan. Kekebalan mereka ternyata tembus juga. Dan ketika Pak-hengte (dua sau-dara Pak) juga coba-coba menerima tapi menjerit memadamkan api yang amat panas itu, Malaikat Api benar-benar perkasa akhirnya pertandingan berjalan seru dan sembilan bayangan berseliweran naik turun mengelilingi Hwe-sin. Akan tetapi sembilan orang ini harus mengakui kelihaian lawan. Karena Jari Api sering mereka hindarkan sementara pukulan atau serangan senjata mereka tak banyak berdaya, kekebalan Tenaga Api benar:benar melindungi lawan mereka maka Tujuh puluh Dua Langkah Sakti yang dimiliki laki-laki ini mengejar dan mengimbangi gerakan-gerakan mereka.

Dua kali Ngo-mo-hengte kembali menjerit dan dua kali pula dua saudara Pak berteriak. Gwat Kong, yang menyerang di balik punggung-punggung temannya hampir saja menjadi korban Hwe-ci tapi untung ia mengelak dan selamat, menggigil dan marah tapi juga bingung bagaimana merobohkan Malaikat ini. Dikeroyok sembilan masih juga laki-laki ini tangguh. Dan ketika nenek Tai-bo juga melengking-lengking sementara rasa perih dan panas tetap menggigit wajahnya, luka itu hanya dibalut seadanya dulu.

Maka perlahan-lahan Hwe-sin menguasai lawan dengan langkah saktinya Jit-cap-ji-poh-kun. Ujung kakinya yang lincah menotol ke sana-sini membuat tubuhnya sebentar di sana dan sebentar di sini pula. Lawan gentar. Dan ketika sabit dan gunting kembali menyambar, sepasang gaetan juga mencangkol dari samping maka Hwe-sin berseru keras menangkap senjata di tangan dua saudara Pak ini. Telapak tangannya sudah merah marong!

"Awas!"

Teriakan itu datang dari Gwat Kong dan nenek Tai-bo. Mereka ingat kejadian tadi tapi Pek-hengte terlanjur gemas. Mereka penasaran oleh gagalnya serangan berkali-kali dan kini mengayun senjata dengan amat hebatnya. Dan karena inilah yang memang ditunggu karena tak mungkin dua saudara itu menarik senjata, atau menghentikannya di tengah jalan maka Hwe-sin menangkap dan menerima. Sambaran sabit ke tubuhnya dibiarkan saja kecuali yang ke arah mata, dielakkan dan membacok lehernya sebelah kiri dan senjata itu mental. Dan begitu ia menangkap sepasang gaetan dan gunting raksasa, mengerahkan tenaganya maka "cess...!" senjata di tangan dua Pak-hengte itu leleh dan hancur di tangannya.

Lawan tentu saja terkejut tapi tak ada kesempatan lagi. Hwe-sin sudah membuka telapaknya dan menyiramkan cairan panas dari logam yang merah membara itu, bukan hanya ke arah Pak-hengte saja melainkan juga lima iblis bersaudara, Ngo-mo-hengte, melempar dan menyebar rata cairan logam ke Segala penjuru. Dan ketika jerit dan pekik terdengar di sana-sini, kejadian berulang maka tujuh orang tersiram cairan panas dan hanya Gwat Kong serta nenek Tai-bo yang selamat. Mereka telah mendapat pengalaman tadi dan cepat-cepat melompat mundur. Tapi begitu Ngo-mo-hengte dan Pak-hengte bergulingan di sana, mengaduh-aduh maka Hwe-sin bergerak dan tahu-tahu mendekati dua orang ini.

"Tai-bo, dan kau Gwat Kong. Marilah kalian ku antar ke akherat!"

Dua orang itu terkejut bukan main. Kiranya raupan logam panas yang membuat Ngo-mo-hengte dan dua saudara Pak memang sengaja dilakukan Malaikat Api ini agar dapat bebas mendekati nenek dan kakek gundul itu. Selama ini dua orang itu hanya menyerang di belakang dan licik berbuat curang. Hwe-sin diam-diam marah dan menunggu kesempatan. Dan ketika kesempatan itu terbuka dengan bergulingannya tujuh orang itu, Gwat Kong dan Tai-bo sendirian menyingkir maka di sinilah Hwe-sin bekerja dan tahu-tahu dengan langkah saktinya yang hebat ia telah mendekati dua orang itu.

Si kakek gundul terbelalak sementara si nenek melotot. Kecepatan gerakan langkah Hwe-sin sungguh luar biasa, tak mungkin mereka menjauh. Dan ketika dua tangan laki-laki itu menyambar mereka, melepas cengkeraman maka Gwat Kong dan Tai-bo menangkis namun begitu mereka menggerakkan lengan maka secepat itu juga Hwe-sin menangkap. Dapat dibayangkan betapa ngeri dan kagetnya dua orang ini.

Hwe-sin sedang penuh dengan tenaga Hwe-kang dan telapak laki-laki itu merah marong bagai api yang amat panas. Logam saja dapat dipegang hancur apalagi kulit daging manusia. Dan Gwat Kong serta nenek Tai-bo telah melakukan itu. Dan begitu mereka menangkis dan inilah kesalahan utama, dua orang itu berteriak maka meskipun telah mengerahkan lweekang atau tenaga sakti tetap saja lengan dua orang itu leleh, persis mentega dimasukkan minyak mendidih.

"Auugghhhh...."

Dua lengking atau jerit kesakitan ini mendirikan bulu roma. Tai-bo masih dapat melecutkan rambutnya namun rambut yang tinggal sedikit itu lengket dan terbakar pula. Dua orang ini pucat seputih kertas. Dan ketika terdengar suara berkerat dari tulang dan daging yang hancur, bau tak enak juga menyambar maka Hwe-sin menarik lalu melempar tubuh dua orang itu....