Rajawali Merah Jilid 21 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 21
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
DENTUM atau letusan gunung berapi itu mengguncangkan puncak, bumi berderak dan roh seratus bayi lelaki itu tiba-tiba cerai-berai, lari meninggalkannya. Dan ketika ia menumpahkan kemarahannya kepada Beng An namun anak laki-laki ini juga balas menumpahkan kemarahannya dengan menggigit lehernya, Beng An merasa darah yang amis namun segar tiba-tiba kakek itu memekik dan bumi dibuat tergetar oleh pekik atau bentakannya yang dahsyat ini. Beng An melekat bagai lintah dan anak itu telah menyedot hampir seperempat dari semua darah di tubuh kakek ini.

Sehebat-hebatnya Poan-jin tentu saja ia lemas, ngeri dan pucat karena Beng An tak mau melepas gigitannya. Anak itu tak perduli kepada dentuman gunung berapi dan ia terus saja menggigit dan menggigit. Beng An ingin melampiaskan kemarahannya dengan balas menyedot darah kakek itu, karena si kakek juga ingin menyedot dan menghisap sumsum atau otaknya. Dan karena kebencian Beng An juga sampai di ubun-ubun dan betapapun kakek itu melempar atau menariknya kuat tentu ia kembali, Beng An benar-benar seperti lintah yang lekat tak dapat dipisah.

Maka ketika tiba-tiba Poan-jin membetotnya sekuat tenaga mendadak leher kakek itu cuwil dan seperenam dari leher si kakek terkuak! Poan-jin menjerit dan Beng An dibanting. Kakek itu mendelik dan terhuyung-huyung. Tapi ketika Beng An tertawa-tawa dan bangun berdiri, Ping-im-kangnya melindungi maka kakek itu tergetar karena anak kecil ini sudah berobah seperti iblis cilik yang mulutnya berlepotan darah.

“Kubunuh kau, jahanam!” Poan-jin mencelat dan menubruk anak ini. Kakek ini marah besar karena ia benar-benar dilukai. Tapi ketika Beng An tertangkap ia tak dapat mengerahkan tenaganya, kakek itu habis maka Beng An terbahak dan secepat kilat menancapkan giginya di leher kakek itu lagi, menggigit dan menyedot.

“Ha-ha, mari mati bersama, Poan-jin. Ayo sedot dan hisap sumsumku!”

Poan-jin mengeluh. Ia menunduk dan menggigit batok kepala anak itu, ajakan Beng An mengingatkannya akan tujuannya semula. Tapi begitu giginya bertemu dengan Ping-im-kang, linu dan ngilu tiba-tiba kakek ini mengerang dan terhuyung-huyung. Sekarang Beng An yang mendekap tubuhnya kuat-kuat dan semakin banyak darah disedot semakin banyak tenaga kakek ini yang hilang. Poan-jin sudah tidak berdaya lagi ketika anak laki-laki itu menyerbunya. Dan ketika kakek ini limbung sementara gigitan demi gigitan merobek lehernya, Beng An bagai binatang buas yang menggeragoti korbannya tiba-tiba Poan-jin sudah roboh dengan leher putus.

Kakek itu sudah tidak ingat diri lagi begitu Beng An menyedot darahnya. Kakek ini benar-benar kehilangan kesaktian atau kekuatannya begitu kantung kulit pecah. Beng An yang hendak dipakai sebagai tumbal terakhir tiba-tiba saja malah menjadi petaka baginya. Dan ketika kakek itu roboh dengan kepala putus, Beng An merasa gelembung-gelembung aneh bergolak di tubuhnya, tak tahu bahwa darah si kakek penuh dengan hawa hitam, hawa beracun maka anak itu pusing dan tiba-tiba berdiri dengan marah, tepat ketika letusan Naga Merah berada di puncaknya.

Ia terlempar dan terbanting namun Beng An tiba-tiba memiliki semacam kekuatan gaib, berdiri dan tertawa terbahak-bahak sambil menyambar kepala Poan-jin. Dan ketika ia berdiri dengan gagah di puncak Naga Merah, menenteng kepala kakek itu maka Soat Eng dan Shintala terkejut melihatnya, bukan terkejut oleh semburan api merah di belakang anak ini melainkan terkejut bagaimana Poan-jin tiba-tiba terbunuh, oleh seorang bocah!

Tapi ketika gelegar gunung berapi itu mengguncang puncak, Shintala dan soat Eng terlempar oleh suara dahsyat ini maka Beng An sendiri terpelanting dan terguling-guling di puncak. Anak itu tiba-tiba merasa pusing dan gelap. Ia tiba-tiba marah kepada sekelilingnya. Tapi karena letusan demi letusan terdengar lagi, Beng An terhuyung dan jatuh bangun akhirnya anak ini terlempar oleh sebuah getaran dahsyat yang membuat bukit itu tiba-tiba ambrol.

Batu dan pasir menimpanya, bukan batu dan pasir biasa melainkan batu dan pasir yang panas membara! Beng An terkejut tapi tak dapat berbuat apa-apa, puncak Naga Merah sedang murka dan muntahlah lahar panas menutupi tempat itu. Dan ketika seluruh permukaan tanah disapu atau dihujani muntahan lahar panas ini, juga batu-batu besar yang merah membara maka Beng An akhirnya tak ingat apa-apa lagi tapi Ping-im-kang di tubuhnya telah menjadi penyelamat dan melindungi dirinya. Anak itu terkubur longsoran batu dan pasir-pasir berapi, panas menyala-nyala dan Soat Eng maupun Thai Liong harus menyelamatkan diri dari letusan gunung berapi ini, Naga Merah yang sedang murka.

Dan ketika Poan-kwi juga menghilang dan melarikan diri, keadaan sungguh berbahaya maka Thai Liong akhirnya menemukan adiknya itu, heran dan kaget serta kagum bahwa adiknya masih hidup. Thai Liong tentu saja tak tahu akan Ping-im-kang yang dimiliki adiknya itu, tak tahu rahansia mendiang kakeknya yang menciptakan Ping-im-kang, Tenaga Inti Es. Dan ketikap Beng An dibawa karena luka-luka anehnya, tubuh dingin seperti es maka Thai Liong maupun Soat Eng serta Shintala pergi meninggalkan gunung setelah Bu-beng Sian-su memberi tahu bahwa “obat” bagi adiknya itu adalah darah seorang ksatria, darah yang katanya ada di tempat ibunya dan untuk itu mereka diharuskan pulang!

* * * * * * * *

“Demikianlah,” Thai Liong mengakhiri ceritanya setelah hari itu mereka bertemu dengan ayah ibunya. Tiga muda-mudi ini telah tiba di utara dan Pendekar Rambut Emas maupun isterinya datang menyambut dan tentu saja mereka girang tapi terkejut melihat keadaan Beng An, juga adanya Shintala di situ. Maklum, gadis ini pernah bermusuhan dengan Swat Lian dan dua wanita itu saling pandang.

Swat Lian dengan pandangan sengit sementara Shintala menunduk dan mengerling kepada Thai Liong, berdebar. Keadaan bisa berubah kalau Thai Liong maupun Soat Eng tidak membantu! Tapi ketika Thai Liong maju ke depan dan berkata bahwa gadis itu datang atas ajakan mereka, Soat Eng juga berkata bahwa tidak memusuhi ibunya lagi maka Swat Lian tertegun mendengar kata-kata dua putera-puterinya ini.

“Kami datang atas perintah Sian-su. Adik Shintala ini juga telah membantu kami dalam menyelamatkan Beng An. Maaf, jangan memusuhi dia lagi, ibu. Adik Shintala telah insyaf akan kekeliruannya dan kami telah tahu akan semua yang telah terjadi. Adik Beng An membutuhkan pertolongan dan katanya dari ibulah pertolongan itu datang.”

“Benar,” Soat Eng menyambung, berseru menguatkan kata-kata kakaknya. “Sian-su berkata bahwa semuanya ini kaulah yang akan menyelesaikan, ibu. Dan sembuh tidaknya Beng An ada hubungannya denganmu!”

“Sian-su? Kakek dewa itu? Kalian bertemu pula dengannya?”

“Ya, kami bertemu dengannya, ibu. Dan ada titipan untukmu!”

“Ah, titipan apa!” Swat Lian terkejut, pandang matanya membelalak. “Apa lagi yang dibawa kakek itu untukku!”

“Sebuah daun lontar, dua bait syair. Ibu diminta menemukan inti jawabannya tapi mana suamiku yang katanya sudah kalian selamatkan!”

“Ah-ah, kita bicara di dalam,” Pendekar Rambut Emas berseru dan mengebutkan lengan bajunya. “Jangan keras-keras bicara di luar, Eng-ji. Dan mari semua masuk dan kita lihat dulu keadaan Beng An. Apa yang terjadi dan bagaimana bisa begini!”

“Benar,” Thai Liong lega, ibunya sudah tidak mengurusi Shintala lagi, gadis itu selamat. “Sebaiknya kita urus dulu adik Beng An, ayah. Dan mari kita lihat di dalam!”

Semuanya masuk. Kegembiraan yang semula ada tiba-tiba berobah menjadi kegelisahan dan kecemasan. Swat Lian cemas melihat puteranya kebiru-biruan dan suaminya juga mengerutkan kening melihat keadaan putera bungsunya ini. Beng An katanya sudah tidak pernah sadarkan diri lagi sejak pingsan di Himalaya. Anak itu tak bergerak-gerak dan seperti mati.

Ping-im-kang di tubuh anak ini bekerja dan tak satupun tahu bahwa ada sesuatu yang sedang bergolak di tubuh yang kaku dingin itu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas tertegun menyentuh tubuh puteranya yang dingin, detak jantung itu berdenyut lemah dan ada tanda-tanda akan berhenti maka pendekar ini terkejut dan berubah mukanya.

“Ada sesuatu yang aneh yang tidak kumengerti. Tubuhnya dingin namun di bagian dalamnya penuh hawa panas, seperti api!”

“Benar, aku juga memeriksanya begitu ayah. Dan ada tanda-tanda bahwa adik Beng An keracunan!”

“Tapi racun itu tidak mematikan. Aku mendengar gelembung-gelembung hawa di perutnya!”

“Begitulah, dan aku heran menyelidiki penyebabnya, ayah. Adik Beng An rupanya mengalami sesuatu yang kita tidak mengerti. Ia tak dapat diobati dengan ramu-ramuan atau obat biasa, juga bantuan sinkang!”

“Hm, penyakit apa ini? Berapa hari ia pingsan?”

“Tiga hari ini, dan tiga hari itu pula tubuhnya beku seperti es!”

“Tapi ia tidak mati, ia masih hidup!” Swat Lian berseru, tak mau anaknya mati dan tiba-tiba ibu ini menangis bercucuran air mata. Ia telah mendengar kematian Poan-jin namun tetap saja ia mengepal tinju dan memaki-maki kakek itu. Dan karena Poan-kwi masih hidup dan kini kakek itulah yang menjadi sasarannya maka ia beringas membanting kakinya, nyonya inipun sudah memeriksa keadaan puteranya. Beng An seolah dalam keadaan “koma”, hidup tidak matipun belum!

“Jahanam keparat kakek-kakek iblis itu. Kubunuh Poan-kwi kalau ia di sini, atau aku menukar nyawaku dengan nyawa Beng An!”

“Hm, tak guna memaki-maki,” sang suami berkata menyabarkan. “Aku dan Thai Liong akan coba mengalirkan sinkang, isteriku. Dan kita lihat bagaimana reaksinya.”

Namun sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat. Pendekar Rambut. Emas menghentikan kata-katanya karena di situ masuk pula seorang lain, pemuda gagah yang matanya tajam bersinar-sinar. Dan ketika pemuda itu tertegun melihat Thai Liong dan Soat Eng, juga Shintala yang ada di situ maka Soat Eng berteriak dan menubruk pemuda ini.

“Le-ko, ah benar kau masih hidup!”

Pemuda ini ternyata adalah Siang Le. Dia mendengar ribut-ribut di situ dan cepat datang ketika orang-orang Tar-tar memberi tahu bahwa isteri dan kakak iparnya datang. Dan karena ia sedang mengurusi pekerjaan di luar dan tentu saja gembira mendengar kabar itu, isterinya datang, maka pemuda ini masuk namun heran melihat gadis asing di situ, Shintala yang berhidung mancung dan berbibir mungil. Tapi begitu ditubruk dan dipanggil isterinya, Siang Le sadar maka pemuda inipun cepat menyambut dan balas memeluk isterinya itu, kencang.

“Eng-moi, kau datang mengejutkan aku. Ah, betapa rinduku kepadamu. Namun apa yang terjadi dan kenapa dengan adik Beng An. Siapa pula gadis asing itu!”

“Ah, hu-huuk... adik Beng An menderita luka aneh, Le-ko. Kami menyelamatkannya dari tangan Poan-kwi namun ia tak sadar seperti itu. Dan itu adalah Shintala cucu kakek Drestawala!” Soat Eng menangis, antara girang dan haru namun suaminya tiba-tiba melepaskan diri.

Siang Le terkejut dan mengerutkan kening melihat tubuh Beng An yang kebiru-biruan, tak memandang lagi kepada Shintala dan iapun tak membalas anggukan gadis itu sebagai salam hormat. Dan ketika Siang Le membungkuk dan memeriksa Beng An, berkerut kening tiba-tiba ia berseru bahwa pengaruh jahat memasuki tubuh adiknya itu, pengaruh atau hawa dari Bu-siang-sin-kang. “Adik Beng An kemasukan ilmu keji ini. Seluruh urat dan darahnya dicemari Bu-siang-sin-kang!”

“Kau tahu itu?” Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening, terkejut. “Kau merasa yakin?”

“Ya, aku tahu tanda-tanda penyakit ini, gak-hu (ayah mertua), tapi bagaimana An-te bisa seperti itu. Apakah dia menyedot darah!”

“Maksudmu?”

“Hanya orang yang menerima atau menyedot darah dari seorang pemilik Bu-siang-sin-kang yang dapat keracunan seperti ini. Tak ada obat penyembuh kecuali dengan cuci darah!”

“Cuci darah? Maksudmu darah adikmu ini harus dikuras dan diganti darah orang lain?”

“Begitulah, gak-hu. Atau seumur hidup adik Beng An menjadi seperti Poan-jin atau Poan-kwi!”

“Bedebah! Aku tak mau anakku menjadi iblis hanya karena warisan Bu-siang-sin-kang. Darah Beng An boleh dicuci dan diganti darahku!”

“Hm, tak semua darah cocok sebagai pengganti, gak-bo (ibu mertua),” Siang Le menggeleng memandang ibu mertuanya itu. “Darah pengganti tak boleh darah sembarangan karena kalau tidak cocok justeru bakal membunuh!”

“Kalau begitu bagaimana? Apakah aku harus membiarkan anakku berobah jahat hanya karena Bu-siang-sin-kang?”

“Nanti dulu,” Kim-mou-eng menyela di tengah-tengah. “Apakah ada yang melihat Beng An menerima darah kakek iblis itu. Bagaimana darah Bu-siang-sin-kang bisa masuk!”

“Tentu kakek itu yang mencekokkannya,” Swat Lian berseru marah. “Poan-jin benar-benar keji dan ingin merusak keluarga kita, suamiku. Beng An berbulan-bulan di tangannya!”

“Tapi darah yang masuk harus minimal separoh dari seluruh darah pemilik,” Siang Le memberi keterangan. “Kurang dari itu tak akan terpengaruh, gak-bo. Dan kupikir tak mungkin Poan-jin melakukan itu karena berarti bunuh diri!”

“Jadi kau pikir bagaimana? Apakah secara kebetulan saja darah sekian banyak itu tiba-tiba memasuki adikmu?”

“Aku tak tahu,” Siang Le tertegun. “Tapi barangkali dapat kutebak kalau aku tahu bagaimana mula-mula kejadiannya. Apa yang diketahui Eng-moi atau kakak ipar!”

“Hm, kami melihat Beng An tiba-tiba menenteng kepala Poan-jin di puncak Naga Merah. Anak itu tertawa-tawa membawa kepala kakek itu yang berlumuran darah!”

“Kalau begitu Beng An meminum darah Poan-jin. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi!” Siang Le kaget, heran dan tercengang dan tiba-tiba semua bingung karena bagaimana Beng An tiba-tiba bisa melakukan itu.

Tapi ketika Thai Liong maupun Soat Eng juga berkata bahwa merekapun bingung bagaimana Poan-jin bisa dibunuh Beng An, tak mengetahui apa yang terjadi di puncak maka dua orang itu berkata seraya menggeleng kepala. “Aku tak tahu bagaimana Beng An tiba-tiba bisa membunuh Poan-jin. Tapi jelas ada sesuatu yang kita tidak mengerti yang telah membantunya!”

“Benar, dan barangkali saja setan-setan di perut Naga Merah. Mereka itu murka dan Naga Merah meletus!”

“Hm,” Siang Le tak menerima atau menyanggah kata-kata dua orang ini. “Mungkin saja semuanya itu bisa terjadi, Eng-moi. Tapi sekarang kita usahakan penyembuhan adik Beng An ini. Kupikir kita harus mencari orang yang cocok untuk mengganti darahnya nanti!”

“Bagaimana caranya,” Soat Eng berseru. “Biar kucoba dan aku mulai dulu!”

“Hm, kita lukai sedikit ibu jari kita, teteskan ke mulutnya. Kalau ada pengaruh positip maka adik Beng An akan segera sadar!”

“Baik, aku akan mencoba!” dan Soat Eng yang langsung mengiris dan melukai ibu jarinya lalu meneteskan darahnya ke mulut adiknya itu. Tiga tetes cukup dan reaksinyapun ditunggu. Tapi ketika Beng An tetap tak sadar atau membuka matanya maka wanita ini mengeluh dan membanting kaki.

“Sial, darahku tak cocok!” Soat Eng hampir menangis, marah dan kecewa. Tapi ketika yang lain tertegun dan ikut kecewa, anak itu masih membujur dingin maka Shintala tiba-tiba melompat maju sudah melukai ibu jarinya pula.

“Biar aku yang coba. Siapa tahu cocok!”

Swat Lian dan Pendekar Rambut Emas tertegun. Mereka kaget tapi juga kagum ketika tiba-tiba gadis ini sudah memberikan pertolongan. Tanpa diminta lagi cucu Drestawala itu sudah memberikan darahnya kepada Beng An, juga tiga tetes. Tapi ketika Beng An tak bergeming dan tetap seperti keadaannya semula, tak bergerak maka gadis inipun mengeluh dan kecewa.

“Akupun tak cocok, sial!”

Pendekar Rambut Emas melangkah maju. Pendekar ini menyatakan terima kasih dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. Shintala yang muram dihiburnya dengan kata-kata halus. Dan ketika pendekar itu berkata biarlah dia yang mencobanya sekarang, memberikan darahnya kepada Beng An maka pendekar ini sudah mencoba tetapi ternyata gagal, disusul isterinya tetapi gagal lagi dan akhirnya tinggallah Siang Le dan Thai Liong.

Pemuda itu sudah akan melangkah maju ketika Thai Liong tiba-tiba menahannya, berseru biarlah Siang Le belakangan dan terpusatlah semua perhatian orang kepada pemuda berjubah merah ini. Thai Liong menjentik dan melukai ibu jarinya sendiri. Tapi ketika darah sudah menetes dan Beng An tetap tak bergerak, Thai Liong mengerutkan kening maka pemuda itu mundur dan benar-benar kecewa.

“Darahkupun tak cocok. Barangkali Siang Le yang dapat menyembuhkan!”

Siang Le mengerutkan kening. Semua orang sekarang berdebar memandangnya. Tinggal dialah satu-satunya yang menjadi tumpuan, kalau tidak cocok entah bagaimanalah nasib Beng An nanti! Dan ketika pemuda itu mengangguk dan melangkah maju, Siang Le menggores ibu jari kanannya maka tenang namun menegangkan semua orang menunggu bangkitnya Beng An.

“Mudah-mudahan darahku cocok, tapi kalau tidak barangkali darah semua bangsa Tar-tar harus dicoba!”

Soat Eng pucat. Ia melihat ibunya menggigil namun ibunya itu tiba-tiba bercahaya ketika mendengar kata-kata Siang Le tadi. Kalau tak ada yang cocok maka biarlah semua orang di padang rumput itu dicacah darahnya. Ribuan orang Tar-tar tak mungkin tak ada yang tak cocok! Dan ketika harapan ini menjanjikan kelegaan tapi mereka menunggu hasil terakhir Siang Le ternyata pemuda itupun sama saja dengan yang lain. Gagal!

“Kita semua tak ada yang cocok. Adik Beng An masih tak sadarkan diri!”

“Kalau begitu panggil semua orang ke sini!” Swat Lian berkelebat, tak sabar. “Ribuan bangsa Tar-tar akan kuminta darahnya, Siang Le. Tunggu dan biar kupanggil mereka!”

“Kami sudah di sini!” seruan banyak orang tiba-tiba mengejutkan nyonya itu. “Kami akan menolong Kim-kongcu, hujin. Kami siap memberikan darah demi kongcu!”

Swat Lian tertegun. Ternyata puluhan orang sudah ada di situ dan laki-laki tegap dan muda berdiri di luar rumah. Mereka adalah pemuda-pemuda Tar-tar yang telah mendengar musibah putera sang pemimpin, luka anehnya Beng An. Dan ketika Swat Lian tertegun tapi tentu saja girang, terisak, maka nyonya ini terharu menyambar mereka.

“Bagus, terima kasih, Mogul. Mari.... mari kalian semua masuk!”

Puluhan pemuda itu masuk. Mereka sudah mempersiapkan diri dan akhirnya satu demi satu dicocok darahnya, diteteskan ke mulut Beng An. Tapi ketika semuanya tak ada yang berhasil, gagal, maka Swat Lian hampir menjerit kecewa karena puteranya tak sadarkan diri juga.

“Kami masih ada, hujin. Kami juga di sini menunggu giliran!”

Pendekar Rambut Emas dan lain-lain tertegun. Mereka melihat tiba-tiba saja ratusan orang sudah ada di luar, menyusul rombongan puluhan pemuda tegap-tegap ini. Dan ketika Thai Liong maupun yang lain menjadi sibuk mempersilahkan mereka, ratusan orang itu sudah dicoba maka penyembuhan bagi Beng An sudah dilakukan tapi satu demi satu pula tak ada yang cocok. Ratusan bahkan ribuan orang sudah memberikan darahnya dan Siang Le diam-diam khawatir.

Sudah ribuan tetes darah memasuki mulut anak laki-laki itu dan pemuda ini cemas. Siang Le mengeluarkan keringat dingin karena ia khawatir akan adanya sesuatu, komplikasi dari demikian banyaknya darah yang berbeda-beda. Dan ketika tiga hari kemudian ribuan orang sudah menjadi donor, Beng An tetap juga tak bergerak maka sang ibu berteriak dan menjadi histeris.

“Keparat, anakku akan mati. Tidak, tidak.... ia tak boleh mati!” dan mengguguk serta menubruk puteranya nyonya ini lalu mengguncang-guncang Beng An dan memanggil-manggil nama anak laki-lakinya itu. Orang-orang sudah mundur dan mereka banyak yang gelisah di rumah. Kim-kongcu tak juga berhasil mereka sadarkan. Dan ketika nyonya itu mengguguk dan memanggil-manggil puteranya, Beng An diguncang-guncang maka tiba-tiba Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar atau mencengkeram pundak isterinya ini.

“Niocu, sadarlah. Anak kita tak mungkin mati!”

“Tidak, tidak. Detak jantungnya telah berhenti, suamiku. Lihat anakku tak bergerak-gerak. Ia mau meninggalkan kita!”

“Dari kemarin detak jantungnya memang tak berdenyut lagi, tapi Beng An masih hidup. Ia mengalami mati semu. Jangan berteriak-teriak dan membuat gaduh begini!”

Namun Swat Lian meronta dan menjerit-jerit. Nyonya ini tak mau melepaskan anaknya dan justeru kata-kata suaminya itu membuatnya marah. Sudah berkali-kali ia dibujuk namun berkali-kali itu pula anaknya tetap begitu. Maka ketika sang suami terkejut karena Swat Lian meronta dan menjerit panjang, Beng An yang diletakkan di pembaringan tiba-tiba disambar mendadak nyonya ini meloncat dan.... terbang membawa puteranya yang dingin dan kaku itu, Beng An yang sudah seperti mayat.

“Aku akan mencari Poan-kwi. Aku akan menyuruh kakek itu menyembuhkan puteraku atau aku akan mengadu jiwa dengannya!”

“Niocu...!” Pendekar Rambut Emas terkejut, sang isteri sudah terbang dan keluar dari lembah. Dan ketika isterinya meluncur dan cepat sekali sudah meninggalkan tempat mereka, Kim-mou-eng terkejut dan tentu saja berkelebat mengejar maka Thai Liong dan Shintala tiba-tiba juga bergerak dan melesat mengejar nyonya itu, Thai Liong bahkan sudah melewati ayahnya dan tahu-tahu bayangan merah menyambar di depan.

“Ibu, jangan bawa Beng An. Kita cari saja Sian-su!”

“Benar, kita cari saja Sian-su, locianpwe. Jangan anak itu dibawa ke mana-mana!” Shintala juga berseru, kaget dan kagum oleh gerakan Thai Liong yang luar biasa karena tahu-tahu pemuda itu sudah meluncur di depan, tepat menghadang di depan ibunya itu. Tapi ketika ibunya membentak dan mengayun lengannya, Thai Liong malah diserang maka pemuda itu terhuyung ketika menangkis.

“Minggir kau, plak...!”

Thai Liong tertegun dan membelalakkan matanya. Sang ibu sudah meluncur lagi dan matanya yang tajam tiba-tiba melihat gerakan di pelupuk mata adiknya itu. Sang ibu tak tahu dan sudah memaki-maki lagi si kakek iblis Poan-kwi, terbang dan menangis dengan air mata bercucuran. Dan ketika pemuda itu tertegun karena Beng An rupanya mulai sadar, ayahnya berkelebat dan lewat di sampingnya maka ayahnya itu membentak dan menyuruh ibunya berhenti.

“Niocu, jangan bawa-bawa anak kita. Betul kata Thai Liong, kita cari Sian-su. Berhenti dan jangan pergi!”

Namun Swat Lian sudah tidak menggubris. Ia juga sudah terlalu sering dihibur akan datangnya Sian-su. Suaminya sudah mengerahkan getaran batin namun kakek dewa yang dihubungi itu tak datang juga. Dan ketika suaminya berkelebat dan mampu menyusulnya pula, nyonya ini membalik dan marah tiba-tiba ia menghantam dan melepas pukulan menyerang suaminya itu.

“Minggir, atau kau mampus pula.... plak!” Kim-mou-eng tersentak dan kaget menangkis isterinya. Ia melihat isterinya kalap dan Swat Lian benar-benar seperti orang kesetanan, tak perduli kepada anak atau suami lagi dan wanita itu melepas Khi-bal-sin-kang. Tapi karena Pendekar Rambut Emas menangkis dan mengerahkan ilmunya pula, tidak seperti Thai Liong yang ragu menghadapi ibunya ini maka begitu ditangkis tiba-tiba wanita inilah yang terbanting, bukan Pendekar Rambut Emas!

“Aduh, keparat!” Swat Lian melempar tubuh bergulingan. Nyonya ini marah dan gusar bukan main karena dihalang-halangi. Tadi Thai Liong dan sekarang suaminya! Tapi ketika ia meloncat bangun dan menerjang lagi, suaminya berkelebat dan menghadangnya di depan tiba-tiba nyonya ini mendengar keluhan anaknya dan Beng kn sadar. Swat Lian tertegun dan tentu saja menghentikan amukannya. Wajah yang merah membara itu tiba-tiba berseri, lenyap seluruh kemarahan. Dan ketika Pendekar Rambut Emas juga tertegun dan siap menandingi isterinya, yang tentu mengamuk dan harus ditundukkan maka berturut-turut bayangan Siang Le dan Soat Eng serta Shintala sudah tiba di situ, karena merekapun mengejar dan memburu wanita ini.

“Anakku sadar! Ooh, anakku masih hidup...!”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Mereka girang setelah tadi dibuat tegang oleh amukan Swat Lian kepada suaminya maupun Thai Liong. Naga-naganya, wanita itu akan menyerang siapa saja yang berani menghalanginya. Tapi begitu Beng An membuka mata dan benar saja anak itu sadar, setelah berhari-hari pingsan maka Pendekar Rambut Emas maupun yang lain-lain girang dan melihat Swat Lian sudah menciumi anaknya, bertubi-tubi.

“Ooh, jangan tinggalkan ibumu, Beng An. Jangan kau mati! Ayo... ayo bangun, nak. Kau rupanya sembuh!”

Thai Liong dan lain-lain terharu. Beng An rupanya benar-benar sadar karena anak itu menggeliat dan bangun. Swat Lian melepaskannya dan anak itu bangkit duduk. Dan ketika matanya berputar-putar dan sang ibu tak melihat adanya keganjilan aneh, mata yang bergerak-gerak dengan amat cepat maka Swat Lian sudah memeluk dan kembali menciumi puteranya itu.

“Kau sudah sembuh, ah... kau rupanya benar-benar sudah sembuh!”

Namun tiba-tiba terdengar kekeh yang aneh. Beng An, yang dipeluk dan diciumi ibunya mendadak menerkam dan menggigit leher ibunya ini. Dan ketika Swat Lian menjerit dan tentu saja mendorong otomatis, hampir saja melepas tamparan maka anak itu sudah berdiri dan terhuyung memperlihatkan giginya yang berdarah, darah dari kulit leher ibunya.

“Heh-heh, siapa kau. Dan siapa yang lain-lain ini!”

“Beng An...!” sang ibu terkejut, membentak kaget. “Kau tidak kenal ibumu sendiri? Kau menggigit dan melukai leher ibumu?”

“Heh-heh, aku ingin minum. Aku haus, ah... siapa mau memberi minum karena tenggorokanku kering!”

Pendekar Rambut Emas dan Thai Liong serta yang lain tertegun. Mereka mendengar suara yang aneh dan Beng An mengecap-ngecapkan bibirnya, menjilat-jilat sedikit darah yang ada di mulutnya itu dan Siang Le merasa seram karena adik iparnya ini seolah bukan seorang bocah lagi, melainkan iblis cilik yang haus darah, bukan air minum! Dan ketika Swat Lian juga tertegun tapi mengambilkan air minum untuk puteranya, karena Beng An katanya haus maka ibu yang tidak waspada setelah dilukai lehernya tadi memeluk dan memberikan air minum puteranya, menganggap Beng An tadi mungkin dalam keadaan setengah mimpi.

“Kau terlalu, haus saja harus menggigit leher ibumu. Nih, minum dan puaskan hausmu!”

Beng An tertawa ganjil. Ia membelalakkan matanya bukan kepada air minum yang diberikan ibunya melainkan kepada setitik darah di leher ibunya itu, luka yang tadi sudah diusap. Dan ketika sang ibu mendekat dan memeluknya kembali, memeluk pundak maka anak ini tiba-tiba menerkam dan menggigit leher ibunya itu lagi, seperti iblis haus darah!

“Heh-heh, aku ingin minum itu!”

Swat Lian terkejut. Ia berteriak dan tentu saja kaget bukan main karena puteranya ini tahu-tahu melekat dan menggigit lehernya. Namun karena sinkang di tubuhnya bergerak otomatis dan kali ini nyonya itu mendengar bentakan suaminya maka begitu digigit begitu pula gigi Beng An bertemu kulit leher ibunya yang keras. Dan ketika anak itu terkejut karena leher itu tak dapat dilukai, Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar puteranya maka anak itu sudah dilempar dan dibanting.

“Awas!”

Swat Lian pucat pasi. Nyonya ini tertegun karena bentakan dan sambaran suaminya itu menyelamatkannya. Ia mampu menggerakkan sinkang dan Beng An terguling-guling di sana. Tapi ketika anak itu meloncat bangun dan tertawa aneh, bantingan atau sambaran ayahnya tadi memang tidak melukainya maka anak ini berkelebat dan menyerang ibunya itu lagi, yang masih tertegun kaget.

“Ha-ha, aku ingin minum darah. Heh-heh, darahmu segar!”

Swat Lian membentak. Akhirnya dia menjadi marah dan ngeri melihat kelakuan puteranya itu. Beng An seperti orang tidak waras dan tentu saja ia mengelak. Dan ketika terkaman luput sementara kakinya bergerak memutar, Beng An menerima sebuah tendangan maka anak itu mencelat tapi melompat bangun lagi, tak apa-apa. “Gila, anak ini tidak waras. Ia tidak mengenal siapa aku!”

“Benar,” Soat Eng juga berseru cemas “Beng An juga tak mengenal kita semua, ibu. Awas ia membalik dan menerkam dirimu lagi!”

Beng An sudah tertawa-tawa dan menyerang atau menubruk ibunya lagi. Darah di leher ibunya itu merangsang ia untuk menerkam dan incaran pandang mata ini sekarang membuat sang nyonya sadar, seram tapi Soat Eng sudah membentak dan menyambar adiknya itu pula. Dan ketika Beng An diangkat dan dilempar tinggi, Soat Eng juga marah dan geram kepada adiknya itu maka wanita ini membentak dan Beng An dibanting, untuk kesekian kalinya lagi.

“Beng An, jangan kurang ajar. Sadar dan berhenti kau!”

Namun Beng An bangkit lagi. Seperti tidak merasa atau apa anak ini terkekeh-kekeh dan melompat bangun. Pandang matanya kini ditujukan kepada Soat Eng, merah berputar-putar. Dan ketika anak itu melengking dan menyerang encinya, tangan diulur maka Soat Eng menangkis dan wanita ini terkejut karena sebuah lengan dingin yang penuh hawa dingin bertemu lengannya.

“Dukk!” Soat Eng berteriak. Lengannya tiba-tiba menjadi kaku dingin dan putih seperti es, beku! Dan ketika ia tak dapat menggerakkan tangannya itu karena kaget dan heran, tertegun, maka adiknya sudah menerkam dan tahu-tahu melilit atau menerkam leher encinya itu, menggigit kulit leher.

“Awas!” Kali ini Siang Le berkelebat dan menolong isterinya.

Soat Eng kaget dan heran oleh tenaga dingin yang dipunyai adiknya itu. Ia tak tahu akan Ping-im-kang dan tiba-tiba yang lainpun terkejut karena lengannya sudah putih dan beku, persis seperti balok es yang melonjor kaku. Tapi begitu Siang Le bergerak dan menyelamatkan isterinya, menghantam Beng An maka lilitan lepas dan Beng An roboh lagi terbanting.

“Dess!” Soat Eng mengeluh dan terhuyung disambar sang suami. Ia kaget dan ngeri oleh ilmu aneh yang dimiliki adiknya ini. Tadi ia menangkis tapi tiba-tiba beku oleh Ping-im-kang, wanita ini kaget. Dan ketika Beng An berdiri lagi dan sudah meloncat bangun, tertawa-tawa maka anak itu marah dan menyerang Siang Le. Ia tak mengenal siapa pun dan agaknya setiap orang dianggap musuh. Dan ketika Siang Le mengelak dan menjadi marah maka pemuda itu sudah berkelebatan dan Beng An yang bak-bik-buk menerima pukulan ternyata maju lagi dan seperti tidak merasakan semua pukulan-pukulan itu, seperti badak!

“Ia kuat sekali, dan tubuhnya amat dingin. Soat Eng dan Swat Lian mengangguk. Dua wanita inilah yang sudah merasakan keadaan Beng An, yakni ketika Beng An menubruk dan menerkam ibunya sementara Soat Eng yang sudah beku lengannya menangkis Ping-im-kang. Thai Liong berkelebat dan menolong adik perempuannya itu, mengurut atau menyalurkan hawa hangat hingga lengan Soat Eng pulih kembali. Dan ketika Beng An dihajar Siang Le namun anak laki-laki itu terhuyung dan tertawa-tawa saja, Siang Le akhirnya berteriak karena tangannya yang tak kuat bertemu tubuh Beng An yang dingin maka pemuda itu mundur-mundur dan mulai menjauh, ngeri!

“Aku tak dapat merobohkannya. Tubuh An- te seperti gunung es!”

Pendekar Rambut Emas dan Thai Liong sama-sama mengerutkan kening. Mereka sudah melihat itu dan benar saja tangan Siang Le sudah menggigil kedinginan. Percikan-percikan es memuncrat dari tubuh Beng An dan setiap dipukul tentu membuat Siang Le berteriak tertahan. Pemuda itu kedinginan! Dan ketika Siang Le menjauhkan diri dan menjadi bingung, Beng An memiliki semacam kekuatan aneh yang amat mujijat maka Beng An tiba-tiba menubruk dan ganti tertawa-tawa membalas lawannya.

“Ha-ha, kau akan kurobohkan. Kuhirup darahmu!”

Thai Liong berpandangan dengan ayahnya. Sang ibu sendiri sudah pucat dan ngeri melihat sepak terjang puteranya itu. Beng An tak mempan dipukul. Dan ketika Siang Le terdesak dan sebentar kemudian pemuda ini sudah menahan serangan-serangan Beng An, mengeluh dan semakin kedinginan maka Shintala berkelebat bersamaan dengan Soat Eng.

“Biar Le-twako mundur, aku yang merobohkannya!”

“Benar, kau mundur saja, Le-ko. Beng An tidak beres dan aku akan coba penasaranku tadi!”

Beng An terkejut. Ia tiba-tiba sudah diserang dan dipukul Shintala, juga Soat Eng yang heran dan kaget oleh kehebatan adiknya tadi. Dan ketika dua wanita itu bergerak-gerak dan berkelebatan mengelilingi Beng An, anak ini dihujani pukulan dari segala penjuru maka aneh dan luar biasa tiba-tiba Beng An menangkis dan bergerak-gerak pula menghalau semua serangan-serangan itu, sepasang lengannya tiba-tiba mengeluarkan uap dingin yang membuat kedua lawannya berketrukan menggigil!

“Keparat, anak ini memiliki ilmu siluman. Beng An memiliki pukulan-pukulan Im-kang (Dingin)!”

“Benar, aku berketrukan bertemu sepasang lengannya, Eng-cici. Bukankah itu tak ada pada keluarga kalian!”

“Kami tak mempunyai Im-kang. Beng An rupanya digembleng Poan-jin si kakek busuk, disesatkan!”

“Hm, kalian tangkap saja anak itu, totok semua jalan darahnya agar roboh!” sang ayah, Pendekar Rambut Emas, berseru dari luar. Pendekar ini juga terkejut dan kaget bahwa puteranya tiba-tiba memiliki pukulan dingin, bukan hanya pukulannya saja melainkan tubuhnya juga selalu dingin dan seperti es! Dan ketika ia menyuruh dua wanita itu menotok semua jalan darah, mencari atau menemukan kelemahan Beng An maka Soat Eng maupun Shintala juga sudah melakukan itu dan totokan-totokan gencar bertubi-tubi mengenai tubuh si anak lelaki.

Namun alangkah kaget dan herannya dua wanita ini karena jalan darah Beng An tak bergerak. Anak itu benar -benar seperti manusia es dan ke manapun totokan diketukkan ke situ pula jari mereka tergetar, mental. Anak ini tak mengalir jalan darahnya dan karena itu tak dapat ditotok. Dan ketika Soat Eng maupun Shintala kebingungan, Beng An tertawa-tawa maka anak itu tiba-tiba membalas dan sebuah cengkeraman tepat sekali mengenai pergelangan Shintala.

“Aihhh!” Pergelangan gadis ini beku. Shintala terpekik karena tiba-tiba jari-jari Beng An yang dingin sudah mencengkeram tangannya, berkerotok dan kagetlah gadis itu melihat tangannya sudah berubah putih seperti salju, beku. Namun ketika Soat Eng membentak dan menampar tengkuk adiknya dari belakang, Beng An terpelanting maka cengkeraman itu lepas dan Shintala menggigil terhuyung mundur.

“Ia seperti siluman, iblis!”

Soat Eng merah terbakar. Ia malu dan marah melihat keadaan adiknya yang tidak wajar ini, bergerak dan menyerang lagi namun semua serangan tak dapat merobohkan adiknya itu. Dan ketika adiknya tertawa-tawa dan mereka ngeri melihat sorot matanya yang liar maka tiba-tiba muncul asap hitam dan perlahan namun mengejutkan tubuh anak itu mendadak mulai hilang, seperti asap tipis.

“Bu-siang-sin-kang!”

Thai Liong bergerak dan menyambar ke depan. Ia tahu-tahu berkelebat dan sebelum adiknya itu benar-benar lenyap tahu-tahu ia mengetuk batok kepalanya. Dari telapak pemuda ini muncul getaran tenaga sakti yang membuat Beng An berteriak, ubun-ubun kepalanya seakan ditimpa palu godam. Dan ketika anak itu bergetar dan Ping-im-kangnya kacau sejenak, Thai Liong mengerahkan sinkangnya yang luar biasa maka asap hitam itu buyar dan Beng An tahu-tahu roboh di tanah, kali ini tak dapat bangun berdiri, pingsan.

“Apa yang kau lakukan!” Swat Lian tiba-tiba membentak dan berkelebat marah. Ia menyangka Thai Liong membunuh anaknya dan cepat sang suami berkelebat mengikuti, nyonya itu dapat melakukan apa saja yang mengejutkan. Tapi ketika Thai Liong menarik adiknya dan berkata bahwa adiknya tidak apa-apa, hanya pingsan maka Pendekar Rambut Emas lega dan Swat Lianpun menangis.

“Berikan ia kepadaku. Bagaimana sekarang!”

“Sekarang ia pingsan,” Thai Liong memberi keterangan. “Tapi pingsannya ini lain dengan pingsannya tadi, ibu. Sekarang ia kulumpuhkan dan kulihat bahwa ubun-ubun kepalanya merupakan kunci untuk melumpuhkannya sejenak. Adik Beng An ternyata memiliki tanda-tanda Bu-siang-sin-kang!”

“Bukan memiliki,” Sing Le tiba-tiba berkelebat maju. “Adik Beng An terpengaruh atau kemasukan Bu-siang-sin-kang, Liong-twako. Dan ilmu itu memang akan bekerja sendiri dalam saat-saat tertentu. Roh dari Poan-jin rupanya bersembunyi di tubuh anak ini!”

“Apa? Roh kakek iblis itu? Keparat, tak boleh anakku dimasuki roh siapapun Siang Le. Keluarkan kakek itu dan jangan biarkan ia mengeram!”

“Aku tak dapat melakukannya. Yang jelas roh itu ada di situ karena darah yang kotor itu. Sebelum darah itu dikuras atau dibuang bersih maka selama itu pula adik Beng An seperti ini!”

Ah, keparat. Sungguh terkutuk kakek iblis Poan-jin. Tapi apa yang dapat kalian lakukan dan bagaimana dengan anak ini!”

“Kita cari saja Sian-su,” Pendekar Rambut Emas tergetar dan melangkah maju. “Kalau kita tunggu-tunggu ia tak datang juga sebaiknya kita ke Lembah Malaikat, isteriku. Tanya apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyembuhkan Beng An!”

“Benar,” Thai Liong juga mengangguk dan putus asa. “Tak ada orang lain selain Sian-su, ibu. Mari kita ke sana dan temui Sian-su!”

“Tapi kakek dewa itu jarang di tempat,” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Bagaimana kalau nanti tak ada? Dan biasanya ia yang menemui kita, ayah. Bukan kita atau orang lain yang menemuinya. Kakek itu aneh!”

“Kita cari dulu ke sana. Dan aku bersama kakakmu akan mengontaknya lagi secara batin agar dia mau menemui kita!”

“Baiklah, tapi Sian-su sudah berkata bahwa yang dapat menyembuhkan adalah darah seorang ksatria, dan ada hubungannya dengan ibu. Siapa ksatria yang dimaksud itu dan kenapa aneh benar kakek itu!”

“Kita memang tak tahu gerak-gerik Sian-su, tapi marilah kita berusaha mencarinya di Lembah Malaikat.” dan ketika semua mengangguk dan setuju, tak ada jalan lain maka Swat Lian bercucuran air mata mendahului suaminya. Ia tahu di mana Lembah Malaikat dan tentu saja ia ke sana. Dan ketika yang lain bergerak. dan mengikuti wanita ini, Thai Liong tiba-tiba berendeng bersama Shintala karena Soat Eng bersama suaminya maka dua muda-mudi itu saling lirik secara diam-diam meskipun wajah mereka juga kelihatan muram dan gelisah.

* * * * * * * *

Pagi itu rombongan ini tiba di sana. Lembah Malaikat adalah lembah yang amat subur dan hijau. Seluruh pepohonan basah oleh butir-butir embun dan kicau burung demikian riang menyambut pagi. Sebenarnya, kalau tak ada kegelisahan tentang Beng An tentu Swat Lian maupun yang lain akan kagum dan nikmat tinggal di situ. Bayangkan, Lembah Malaikat penuh oleh buah-buah yang sedang ranum dan masak. Warna kuning kemerah-merahan hampir merata di setiap pepohonan besar, juga kelengkeng yang coklat kehitam-hitaman itu. Ah, betapa suburnya daerah ini. Dan ketika Shintala bergerak dan memetik setangkai, kelengkeng itu berat dan sarat oleh buah maka gadis ini mendecak merasakan daging buahnya yang tebal dan manis, segar!

“Aku lapar, makanlah kalau mau,” gadis itu berbisik kepada Thai Liong yang berdiri di sebelahnya. Mereka berhenti di tengah-tengah lembah karena semua memandang keatas, jauh ke dinding lembah di mana samar-samar tampak guha kecil di atas sana. Dan ketika Thai Liong tertegun dan menoleh, terkejut, maka pemuda ini tersenyum dan menggeleng, berbisik pula, lembut,

“Kau makanlah sendiri, aku tidak lapar.”

“Tapi dua hari kau tak mengisi perutmu, Liong-ko. Masa tidak lapar. Lihat, kelengkeng ini amat manis dan segar, daging buahnya tebal!”

“Hm, baiklah,” Thai Liong mengangguk, menerima setangkai. “Terima kasih, Shintala. Dan berikan juga kepada mereka itu. Siang Le maupun isterinya juga sama-sama belum mengisi perutnya!”

“Aku malu,” gadis itu tersipu. “Orang lain sedang gelisah aku malah memikirkan makanan!”

“Ah, kamilah yang salah, Shintala. Tak memikirkan orang lain kecuali keperluan diri sendiri. Sudahlah, kau makan saja dan aku serta ayah akan menghubungi Sian-su dari sini. Kalau ia ada tentu di puncak lembah akan ada sinar!”

Shintala kagum. Thai Liong sudah bergerak dan duduk bersila, Pendekar Rambut Emas juga sudah memandang puteranya dan ikut bersila pula. Dan ketika dua orang itu sama-sama memejamkan mata untuk mengontak Sian-su, pemilik lembah maka Swat Lian tak sabar dan ingin buru-buru ke atas.

“Aku ingin secepatnya menemui Sian-su. Kalian cepat hubungi dan jangan lama-lama!”

Pendekar Rambut Emas menarik napas. Sesuatu yang lain telah ia rasakan, sesuatu yang membuat kewaspadaannya timbul. Tapi mengangguk dan menyuruh isterinya tenang, Siang Le dan Soat Eng diminta menjaga lembah maka pendekar ini sudah bersila dan keningnya berkerut-kerut. Biasanya, tak sampai duduk atau memanggil Sian-su akan sudah di depan mereka. Tapi ini tidak. Guha di puncak tebing itu kelihatan sunyi dan tak ada apa-apa. Pendekar Rambut Emas berdebar karena jangan-jangan penghuninya sedang pergi. Ini tentu repot!

Tapi karena ia sudah di situ dan Lembah Malaikat bukanlah sembarang tempat yang boleh dibuat masuk keluar begitu saja maka pendekar inipun memusatkan perhatiannya dan tiba-tiba keluarlah semacam asap putih dari ubun-ubun pendekar ini, bergerak dan naik ke atas dan tampak pula hal yang sama dari kepala Thai Liong. Itulah roh atau jasad halus dari dua orang ini.

Kim-mou-eng maupun puteranya hendak ke atas dengan jasad halus mereka, bukan secara fisik karena tentu lebih hormat dengan cara begitu kalau menghadap Sian-su, hal yang biasa mereka lakukan karena kakek dewa itu juga bukan sembarang orang karena biasanya muncul kalau ditemui seperti ini. Dan ketika dua asap putih itu membubung dan menuju ke atas, melayang-layang dengan amat lambatnya maka Shintala merasa ngeri dan seram!

Kakeknya, Drestawala yang sakti, juga dapat menghilang namun tak mampu mengeluarkan jasad halusnya seperti Pendekar Rambut Emas maupun puteranya ini. Kalau dapat, tentu tak dapat kembali, alias meninggal! Dan ketika dua asap putih itu membubung dan semakin tinggi ke atas, Swat Lian tak sabar dan menunggui puteranya dengan muka gelisah maka Soat Eng dan suaminya yang menjaga di mulut lembah bercakap-cakap dengan suara perlahan.

“Bagaimana, apakah Sian-su ada di atas atau tidak!”

“Kupikir tidak,” Siang Le menggeleng, lemah. “Kalau ada tentu muncul, Eng-moi. Tapi tak ada salahnya ayah maupun Long-twako mencari ke atas!”

“Ya, aku juga berpikir begitu, Tapi bagaimana pendapatmu tentang Beng An!”

“Adikmu itu kritis. Kalau dalam sebulan ia tak dapat disembuhkan maka watak dan sepak terjangnya akan benar-benar seperti Poan-jin...”

“Maksudmu ia akan berobah jahat?”

“Ya, karena Bu-siang-sin-kang telah menyusup di situ. Beng An akan menjadi Poan-jin karena roh kakek itu agaknya telah bersembunyi di situ. Beng An telah menghirup darah si kakek iblis!”

“Bedebah,” Soat Eng menggigil. “Dari pada begitu lebih baik adikku itu mati saja!”

“Hm, nanti dulu, Eng-moi. Llhat gak-hu dan kakakmu sedang berupaya. Mereka naik ke atas. Ah, kakak dan ayahmu itu benar-benar orang mengagumkan!”

“Ayah mempergunakan Tee-jong-gannya (Ilmu Menembus Dunia), sementara Liong-ko mempergunakan Beng-tau-sin-jin...!”

“Ya, dan kuharap Sian-su dapat ditemui, Eng-moi. Tapi, he... siapa itu!” Siang Le terlonjak dan melompat kaget. Sang isteri yang sedang enak-enak diajak bicara tiba-tiba saja dibuat terkejut karena pemuda ini berteriak dan njumbul. Soat Eng sampai mencelat dari duduknya. Dan ketika nyonya itu tersentak dan meluncur turun tahu-tahu seorang pemuda telah berada di tengah-tengah antara dirinya dan suaminya, seorang pemuda bermuka kehijauan yang terkekeh-kekeh!

“Heh-heh, kalian di sini. Kebetulan sekali dan mari ikut aku!”

Siang Le terkesiap. San Tek, bekas sutenya, tiba-tiba muncul dan menyambar dirinya. Tadi pemuda itu menyambar isterinya tapi karena Soat Eng mencelat dan luput disambar maka dialah yang dijadikan sasaran dan diterkam. Pemuda gila itu terkekeh-kekeh dan pundak Siang Le tahu-tahu dicengkeram, begitu cepat. Dan ketika pemuda ini berteriak dan tentu saja kaget, memberontak dan melepaskan diri tahu-tahu San Tek menotoknya dan Siang Le pun lemas.

“Aihhh...!”

Siang Le dan Soat Eng sama-sama terkejut. San Tek sudah mengangkat suaminya dan si gila itu memutar korbannya dipukulkan ke Soat Eng. Dan ketika Soat Eng mengelak dan melengking marah, San Tek tertawa-tawa maka pemuda itu memasuki lembah dan tubuh tangkapannya dibolang-balingkan seperti mainan anak-anak.

“Ha-ha, mana Kim-mou-eng, Siang Le. Dan mana si Thai Liong itu!”

“Keparat!” Soat Eng mengejar dan tentu saja membentak marah. “Lepaskan suamiku, San Tek. Atau kau kubunuh!”

“Ha-ha, siapa dapat membunuh aku. Aku sekarang memiliki Im-kang-thai-lek-kang.... dess!” dan pukulan Soat Eng yang diterima dan ditangkis pemuda ini, tanpa menoleh, tiba-tiba membuat Soat Eng terpental tinggi dan berjungkir balik dengan kaget. Ia tadi melepas pukulan namun pukulannya itu bertemu dengan serangkum angin kuat yang menyambar dari telapak lawan. San Tek mengibas dan iapun terpental. Dan ketika Soat Eng kaget dan berobah mukanya, San Tek sekarang tidak seperti San Tek yang dulu maka pemuda itu terbang memasuki lembah dan tertawa-tawa memutar-mutar tubuh Siang Le.

“Ha-ha, mana Pendekar Rambut Emas. Ayo, mana Pendekar Rambut Emas!”

Soat Eng berubah mukanya. Ia tentu saja tak tahu akan perobahan hebat yang dimiliki si gila ini, Im-kan-thai-lek-kang atau Tenaga Inti Neraka yang dipunyai San Tek. Dan ketika pemuda itu sudah memasuki lembah dan memutar-mutar suaminya, Swat Lian tertegun dan Shintala juga terkejut maka pemuda itu sudah melihat adanya dua orang wanita ini.

“Ha-ha, ini Kim-hujin. Baik, kutangkap dulu kau!”

Swat Lian terkejut. Pemuda itu tahu-tahu menyambar dan seperti iblis saja tiba-tiba telah mencengkeram bahunya. San Tek yang tahu-tahu meluncur dan datang melancarkan serangan sungguh membuat nyonya itu terkejut. Tapi karena Swat Lian sedang marah dan kedatangan pemuda itu justeru menambah kemarahannya saja maka begitu dicengkeram begitu pula nyonya ini menangkis, tak tahu akan adanya Im-kan-thai-lek-kang yang dipunyai si pemuda.

“Kau bocah edan. Pergi!”

Namun nyonya ini berteriak. Sama seperti puterinya tadi tiba-tiba ialah yang terpental, bukannya San Tek. Dan ketika nyonya itu mencelat dan berjungkir balik, dari lengan pemuda itu muncul kesiur angin dahsyat maka Swat Lian atau Kim-hujin ini kaget dan pucat. “Iblis, kau bocah tidak genah!”

San Tek tertawa-tawa. Ia sudah membuat Kim-hujin terpekik dan berjungkir balik melayang turun, tahu-tahu berkelebat sebuah bayangan lain dan meluncurlah sebuah pukulan diiringi bentakan merdu. Dan ketika ia menangkis tanpa menoleh, tertawa-tawa, maka gadis yang menyerangnya ini juga menjerit dan terlempar atau terdorong oleh angin pukulannya itu, Shintala yang coba membantu Kim-hujin.

“Des-dess!”

Shintala menjerit dan kaget bukan kepalang. Ia tak mengenal San Tek tapi mendengar pemuda itu menyebut-nyebut Kim-mou-eng tahulah dia bahwa pemuda ini musuh, apalagi keluarga Pendekar Rambut Emas itu juga tampaknya mengenal San Tek. Dan ketika ia berjungkir balik dan menyelamatkan diri, kibasan atau pukulan pemuda itu melemparnya amat kuat maka Soat Eng sudah mengejar dan tiba di situ, langsung saja memaki-maki dan membentak agar suaminya dilepaskan.

Mereka belum menyelamatkan Beng An ketika tiba-tiba saja kini suaminya dirampas orang, begitu cepat. Namun ketika San Tek menghindar dan mengelak sana-sini, lincah dan mengagumkan maka si gila itu mengibas dan mendorong si nyonya muda, dengan angin pukulannya yang amat kuat itu.

“Ha-ha, kau bukan lawanku, Soat Eng. Mana ayahmu dan panggil dia ke mari!”

“Keparat!” Soat Eng melengking. “Kau sombong dan tak tahu diri, San Tek. Mentang-mentang menjadi murid See-ong sekarang kau banyak tingkah. Awas, aku akan menghancurkanmu!”

Namun pukulan nyonya ini diterima dan membalik. Soat Eng mengeluarkan Khi-bal-sin-kang namun ia sendiri yang terpental. Ada tenaga panas yang memancar dari tubuh pemuda itu dan sekali mengibas iapun terlempar. Dan ketika wanita itu terkejut karena San Tek sekarang sungguh luar biasa, bukan seperti San Tek beberapa bulan yang lalu maka San Tek sudah berkelebat dan ganti menyerangnya, cepat sekali.

“Ayo, aku ingin menangkap semua keluarga Pendekar Rambut Emas. Mana ayah dan kakakmu yang membuat guruku terbirit-birit itu.... des-dess!” Soat Eng berkelit dan menangkis, kaget karena gerakan lawan sungguh luar biasa cepat. Tapi ketika ia terpelanting dan terguling-guling menyelamatkan diri, San Tek mengejar dan lengan bajunya robek menampar pemuda itu maka Shintala bergerak dan sudah mencabut tongkatnya, menerjang.

“Eng-cici, siapa si gila ini. Bagaimana kau tak dapat menghadapinya!”

“Keparat, ini bekas murid See-ong, Shintala, jelek-jelek bekas sute dari suamiku itu. Tapi dia sekarang menjadi begini lihai, awas pukulannya yang memancarkan hawa panas.... brett!”

Lengan baju Shintala yang juga robek dan hancur, bahkan hangus tiba-tiba membuat gadis itu terpekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri. Dua pukulan tongkatnya diterima si pemuda tapi terpental miring, lawan membalas dan iapun mempergunakan ujung lengan bajunya untuk mengepret. Dan ketika ia terpelanting tapi melempar tubuh berjungkir balik menjauh, pemuda itu benar-benar lihai.

Maka San Tek sudah terbahak-bahak menghadapi dua lawannya, berkelebatan menyambar-nyambar dan ternyata pukulan-pukulan Soat Eng maupun Shintala tertolak balik. Tongkat di tangan gadis itu bahkan patah! Dan ketika Shintala terkejut dan heran serta kaget, si gila itu benar-benar hebat maka mereka sudah terdesak dan Soat Eng maupun gadis ini sudah di bawah angin, tertekan!

“Ha-ha, kalian menyerah saja baik-baik. Atau nanti kupukul roboh!”

“Keparat!” Soat Eng melengking-lengking. “Kau dapat dari mana semua ilmumu ini, San Tek. Kau sudah seperti Poan-jin si kakek iblis!”

“Ha-ha, kakek itupun bukan lawanku. Poan-jin-poan-kwi tak dapat mengalahkan aku sekarang. Hayo, kalian menyerah atau kubuat kalah!”

Soat Eng sibuk dan kaget bukan main. Khi-bal-sin-kang yang dimiliki ternyata membentur hawa panas yang memancar dari tubuh pemuda ini. Perlahan dan akhirnya cepat tubuh San Tekpun merah membara. Dan ketika ia memukul pemuda itu namun tangannya seperti menyentuh bara api, panas bukan main maka Soat Eng berteriak karena telapaknya terbakar!

“Aiihhhh...!” wanita itu menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Ia ngeri dan kaget sekali karena San Tek sekarang berobah seperti manusia api, panas menyala-nyala dan tentu saja membuat yang lain terpekik dan pucat. Dan ketika Shintala juga terbakar dan melepuh telapaknya, menjerit kaget maka San Tek sudah bergerak dan tangannya yang merah seperti api itu menyambar leher Soat Eng. Sekali kena tentu matang!

“Kau tak usah main-main denganku!”

Namun angin dahsyat menyambar dari samping. Swat Lian, sang nyonya, tentu saja tak membiarkan anaknya dicengkeram pemuda itu. Swat Lian kaget dan ngeri oleh kehebatan pemuda ini, bergerak dan tahu-tahu menghantam tengkuk pemuda itu dengan angin pukulannya yang dahsyat. Dan ketika pemuda itu terkejut dan terhuyung, sang nyonya tak berani menyentuh tubuh pemuda itu dengan tangannya maka sambaran ke Soat Eng luput dan nyonya muda itu meloncat bangun dengan muka kemerah-merahan, marah tapi juga gentar!

“Si gila ini memiliki tenaga Yang-kang yang dahsyat. Ia siluman api!"

“Benar, karena itu jangan sentuh tubuhnya dengan tangan kalian, Eng-ji. Hajar dan cabut saja pedangmu. Dan kau..!” Swat Lian berseru kepada Shintala. “Ambil tongkatmu yang baru, Shintala. Atau pakai pedangku dan biar aku sendiri menggunakan pedang cadangan.... wut!” sang nyonya melempar dan memberikan pedangnya, diterima dan ditangkap dan Shintala tergetar memandang si gila itu.

San Tek tertawa-tawa saja dan sudah membalik menghadapi Kim-hujin itu, membalas dan Swat Lian mengelak lalu berkelebatan. Dan ketika nyonya itu menusuk dan menyambar-nyambar bagai rajawali betina, Soat Eng menyusul dan menikam atau mempergunakan ilmu pedangnya yang ganas maka ibu dan anak berseliweran naik turun menghujani San Tek. Namun sungguh mengejutkan. Ilmu Pedang Maut, warisan mendiang Hu Beng Kui ternyata tak banyak membawa hasil.

Pedang yang menusuk atau membacok bertemu kulit pemuda itu yang merah marong, memuncrat dan berhamburanlah bunga-bunga api yang membuat ibu dan anak terkejut. Dan ketika pedang mereka sering menyambar tapi juga menjadi kemerah-merahan, terbakar, maka tak lama kemudian Soat Eng maupun ibunya sudah memegang pedang yang menyala-nyala, terpanggang atau ikut terbakar oleh tubuh San Tek yang panas!

“Ha-ha, lihat pedang kalian itu. Pedang Api! Bagus dan aku ingin memanggang tubuh kalian dengan Im-kan-thai-lek-kangku!”

Swat Lian dan puterinya pucat. San Tek mengibaskan lengannya ke kiri kanan dan tiba-tiba tubuhnya menyala-nyala. Api yang besar membungkus tubuhnya itu dan terpekiklah ibu dan anak ketika mereka diserang hawa panas, bukan panas sembarang panas melainkan panas yang bergerak dan menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Jarak sepuluh meter saja mereka sudah disambar hawa panas itu. Bukan main hebatnya! Dan ketika San Tek tak dapat didekati karena mereka harus mundur menjauh, pedang gemeratak dan akhirnya leleh maka Soat Eng maupun ibunya ngeri oleh ilmu yang dipunyai si gila ini.

“Iblis, San Tek benar-benar iblis!”

Ibu dan anak membuang pedang. Mereka bertarung melawan hawa panas yang membakar seluruh udara di situ. Pohon-pohon di sekitar juga mulai layu dan menguning dan akhirnya terbakar! Dan ketika pemuda itu tertawa tergelak-gelak dan Swat Lian maupun Soat Eng mundur dan kian mundur menjauh maka sosok merah dari tubuh pemuda ini menyambar Soat Eng.

“Kau kutangkap!”

Soat Eng mengelak. Ia melempar tubuh ke kiri namun lengan pemuda itu tiba-tiba terulur. Sin-re-ciang, ilmu karet, tiba-tiba dipergunakan pemuda ini karena jelek-jelek ia murid mendiang See-ong, guru dari Siang Le itu. Dan ketika Soat Eng terkejut dan terpekik, tangan itu tahu-tahu sudah menjulur di dadanya maka wanita ini tak dapat lagi mengelak dan tahu-tahu sudah dicengkeram dan roboh.

“Aduh!” Soat Eng seketika pingsan. Ia tak kuat lagi oleh pancaran hawa panas yang keluar dari tubuh pemuda ini. Im-kan-thai lek-kang benar-benar dahsyat hingga begitu menyambar siapapun tak dapat melindungi diri. Soat Eng telah mengerahkan sinkangnya namun tetap kalah. Dan ketika ia dicengkeram dan San Tek menotoknya, wanita itu mandi keringat dan lemas dikuras tenaganya maka sekali terkam si gila inipun telah melumpuhkannya.

Swat Lian terkejut tapi tak dapat berbuat apa-apa. Iapun melawan hawa panas yang luar biasa hebatnya hingga mandi keringat. Dan ketika ia tertegun karena puteri dan mantunya tertangkap, kulit Soat Eng hangus maka San Tekpun sudah membalik dan kini menyambar dirinya, Soat Eng dipindahkan ke tangan kiri dijadikan satu dengan suaminya.

“Kaupun robohlah!”

Nyonya ini pucat. Ia mengelak dan menghantam tapi tiba-tiba iapun menjerit. Tubuh San Tek yang dipukul membuat telapaknya pecah. Nyonya ini lupa bahwa pemuda itu sudah berobah menjadi bara alias manusia api, benda-benda apa saja akan leleh atau hangus bertemu tubuhnya. Dan ketika nyonya itu terpekik karena telapaknya pecah, terbakar maka San Tek terbahak dan sekali cengkeram iapun menyambar atau menangkap nyonya ini.

“Plak!” Sang nyonya tak sadarkan diri. Hawa panas dari pukulan itu sudah tak kuat ditahannya, apalagi setelah San Tek yang merupakan sumber api berada begitu dekat dengannya. Sungguh seperti dekat dengan neraka! Dan ketika nyonya itu roboh dan pingsan seketika, San Tek melempar dan memondongnya di pundak maka giliran Shintala yang menjadi incarannya.

“Ha-ha, kau cantik dan masih perawan. Ke sinilah, aku tak akan melukaimu!

Shintala pucat pasi. Ia melihat teman-temannya roboh dan tertangkap semua, Betapa hebatnya pemuda ini! Namun ketika gadis itu mengelak dan terhuyung jatuh, Shintala pun tak kuat oleh hawa panas yang menyambar itu maka berkelebat bayangan kuning emas dan sebuah bentakan tiba-tiba mendahului sebuah pukulan dingin....

Rajawali Merah Jilid 21

RAJAWALI MERAH
JILID 21
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
DENTUM atau letusan gunung berapi itu mengguncangkan puncak, bumi berderak dan roh seratus bayi lelaki itu tiba-tiba cerai-berai, lari meninggalkannya. Dan ketika ia menumpahkan kemarahannya kepada Beng An namun anak laki-laki ini juga balas menumpahkan kemarahannya dengan menggigit lehernya, Beng An merasa darah yang amis namun segar tiba-tiba kakek itu memekik dan bumi dibuat tergetar oleh pekik atau bentakannya yang dahsyat ini. Beng An melekat bagai lintah dan anak itu telah menyedot hampir seperempat dari semua darah di tubuh kakek ini.

Sehebat-hebatnya Poan-jin tentu saja ia lemas, ngeri dan pucat karena Beng An tak mau melepas gigitannya. Anak itu tak perduli kepada dentuman gunung berapi dan ia terus saja menggigit dan menggigit. Beng An ingin melampiaskan kemarahannya dengan balas menyedot darah kakek itu, karena si kakek juga ingin menyedot dan menghisap sumsum atau otaknya. Dan karena kebencian Beng An juga sampai di ubun-ubun dan betapapun kakek itu melempar atau menariknya kuat tentu ia kembali, Beng An benar-benar seperti lintah yang lekat tak dapat dipisah.

Maka ketika tiba-tiba Poan-jin membetotnya sekuat tenaga mendadak leher kakek itu cuwil dan seperenam dari leher si kakek terkuak! Poan-jin menjerit dan Beng An dibanting. Kakek itu mendelik dan terhuyung-huyung. Tapi ketika Beng An tertawa-tawa dan bangun berdiri, Ping-im-kangnya melindungi maka kakek itu tergetar karena anak kecil ini sudah berobah seperti iblis cilik yang mulutnya berlepotan darah.

“Kubunuh kau, jahanam!” Poan-jin mencelat dan menubruk anak ini. Kakek ini marah besar karena ia benar-benar dilukai. Tapi ketika Beng An tertangkap ia tak dapat mengerahkan tenaganya, kakek itu habis maka Beng An terbahak dan secepat kilat menancapkan giginya di leher kakek itu lagi, menggigit dan menyedot.

“Ha-ha, mari mati bersama, Poan-jin. Ayo sedot dan hisap sumsumku!”

Poan-jin mengeluh. Ia menunduk dan menggigit batok kepala anak itu, ajakan Beng An mengingatkannya akan tujuannya semula. Tapi begitu giginya bertemu dengan Ping-im-kang, linu dan ngilu tiba-tiba kakek ini mengerang dan terhuyung-huyung. Sekarang Beng An yang mendekap tubuhnya kuat-kuat dan semakin banyak darah disedot semakin banyak tenaga kakek ini yang hilang. Poan-jin sudah tidak berdaya lagi ketika anak laki-laki itu menyerbunya. Dan ketika kakek ini limbung sementara gigitan demi gigitan merobek lehernya, Beng An bagai binatang buas yang menggeragoti korbannya tiba-tiba Poan-jin sudah roboh dengan leher putus.

Kakek itu sudah tidak ingat diri lagi begitu Beng An menyedot darahnya. Kakek ini benar-benar kehilangan kesaktian atau kekuatannya begitu kantung kulit pecah. Beng An yang hendak dipakai sebagai tumbal terakhir tiba-tiba saja malah menjadi petaka baginya. Dan ketika kakek itu roboh dengan kepala putus, Beng An merasa gelembung-gelembung aneh bergolak di tubuhnya, tak tahu bahwa darah si kakek penuh dengan hawa hitam, hawa beracun maka anak itu pusing dan tiba-tiba berdiri dengan marah, tepat ketika letusan Naga Merah berada di puncaknya.

Ia terlempar dan terbanting namun Beng An tiba-tiba memiliki semacam kekuatan gaib, berdiri dan tertawa terbahak-bahak sambil menyambar kepala Poan-jin. Dan ketika ia berdiri dengan gagah di puncak Naga Merah, menenteng kepala kakek itu maka Soat Eng dan Shintala terkejut melihatnya, bukan terkejut oleh semburan api merah di belakang anak ini melainkan terkejut bagaimana Poan-jin tiba-tiba terbunuh, oleh seorang bocah!

Tapi ketika gelegar gunung berapi itu mengguncang puncak, Shintala dan soat Eng terlempar oleh suara dahsyat ini maka Beng An sendiri terpelanting dan terguling-guling di puncak. Anak itu tiba-tiba merasa pusing dan gelap. Ia tiba-tiba marah kepada sekelilingnya. Tapi karena letusan demi letusan terdengar lagi, Beng An terhuyung dan jatuh bangun akhirnya anak ini terlempar oleh sebuah getaran dahsyat yang membuat bukit itu tiba-tiba ambrol.

Batu dan pasir menimpanya, bukan batu dan pasir biasa melainkan batu dan pasir yang panas membara! Beng An terkejut tapi tak dapat berbuat apa-apa, puncak Naga Merah sedang murka dan muntahlah lahar panas menutupi tempat itu. Dan ketika seluruh permukaan tanah disapu atau dihujani muntahan lahar panas ini, juga batu-batu besar yang merah membara maka Beng An akhirnya tak ingat apa-apa lagi tapi Ping-im-kang di tubuhnya telah menjadi penyelamat dan melindungi dirinya. Anak itu terkubur longsoran batu dan pasir-pasir berapi, panas menyala-nyala dan Soat Eng maupun Thai Liong harus menyelamatkan diri dari letusan gunung berapi ini, Naga Merah yang sedang murka.

Dan ketika Poan-kwi juga menghilang dan melarikan diri, keadaan sungguh berbahaya maka Thai Liong akhirnya menemukan adiknya itu, heran dan kaget serta kagum bahwa adiknya masih hidup. Thai Liong tentu saja tak tahu akan Ping-im-kang yang dimiliki adiknya itu, tak tahu rahansia mendiang kakeknya yang menciptakan Ping-im-kang, Tenaga Inti Es. Dan ketikap Beng An dibawa karena luka-luka anehnya, tubuh dingin seperti es maka Thai Liong maupun Soat Eng serta Shintala pergi meninggalkan gunung setelah Bu-beng Sian-su memberi tahu bahwa “obat” bagi adiknya itu adalah darah seorang ksatria, darah yang katanya ada di tempat ibunya dan untuk itu mereka diharuskan pulang!

* * * * * * * *

“Demikianlah,” Thai Liong mengakhiri ceritanya setelah hari itu mereka bertemu dengan ayah ibunya. Tiga muda-mudi ini telah tiba di utara dan Pendekar Rambut Emas maupun isterinya datang menyambut dan tentu saja mereka girang tapi terkejut melihat keadaan Beng An, juga adanya Shintala di situ. Maklum, gadis ini pernah bermusuhan dengan Swat Lian dan dua wanita itu saling pandang.

Swat Lian dengan pandangan sengit sementara Shintala menunduk dan mengerling kepada Thai Liong, berdebar. Keadaan bisa berubah kalau Thai Liong maupun Soat Eng tidak membantu! Tapi ketika Thai Liong maju ke depan dan berkata bahwa gadis itu datang atas ajakan mereka, Soat Eng juga berkata bahwa tidak memusuhi ibunya lagi maka Swat Lian tertegun mendengar kata-kata dua putera-puterinya ini.

“Kami datang atas perintah Sian-su. Adik Shintala ini juga telah membantu kami dalam menyelamatkan Beng An. Maaf, jangan memusuhi dia lagi, ibu. Adik Shintala telah insyaf akan kekeliruannya dan kami telah tahu akan semua yang telah terjadi. Adik Beng An membutuhkan pertolongan dan katanya dari ibulah pertolongan itu datang.”

“Benar,” Soat Eng menyambung, berseru menguatkan kata-kata kakaknya. “Sian-su berkata bahwa semuanya ini kaulah yang akan menyelesaikan, ibu. Dan sembuh tidaknya Beng An ada hubungannya denganmu!”

“Sian-su? Kakek dewa itu? Kalian bertemu pula dengannya?”

“Ya, kami bertemu dengannya, ibu. Dan ada titipan untukmu!”

“Ah, titipan apa!” Swat Lian terkejut, pandang matanya membelalak. “Apa lagi yang dibawa kakek itu untukku!”

“Sebuah daun lontar, dua bait syair. Ibu diminta menemukan inti jawabannya tapi mana suamiku yang katanya sudah kalian selamatkan!”

“Ah-ah, kita bicara di dalam,” Pendekar Rambut Emas berseru dan mengebutkan lengan bajunya. “Jangan keras-keras bicara di luar, Eng-ji. Dan mari semua masuk dan kita lihat dulu keadaan Beng An. Apa yang terjadi dan bagaimana bisa begini!”

“Benar,” Thai Liong lega, ibunya sudah tidak mengurusi Shintala lagi, gadis itu selamat. “Sebaiknya kita urus dulu adik Beng An, ayah. Dan mari kita lihat di dalam!”

Semuanya masuk. Kegembiraan yang semula ada tiba-tiba berobah menjadi kegelisahan dan kecemasan. Swat Lian cemas melihat puteranya kebiru-biruan dan suaminya juga mengerutkan kening melihat keadaan putera bungsunya ini. Beng An katanya sudah tidak pernah sadarkan diri lagi sejak pingsan di Himalaya. Anak itu tak bergerak-gerak dan seperti mati.

Ping-im-kang di tubuh anak ini bekerja dan tak satupun tahu bahwa ada sesuatu yang sedang bergolak di tubuh yang kaku dingin itu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas tertegun menyentuh tubuh puteranya yang dingin, detak jantung itu berdenyut lemah dan ada tanda-tanda akan berhenti maka pendekar ini terkejut dan berubah mukanya.

“Ada sesuatu yang aneh yang tidak kumengerti. Tubuhnya dingin namun di bagian dalamnya penuh hawa panas, seperti api!”

“Benar, aku juga memeriksanya begitu ayah. Dan ada tanda-tanda bahwa adik Beng An keracunan!”

“Tapi racun itu tidak mematikan. Aku mendengar gelembung-gelembung hawa di perutnya!”

“Begitulah, dan aku heran menyelidiki penyebabnya, ayah. Adik Beng An rupanya mengalami sesuatu yang kita tidak mengerti. Ia tak dapat diobati dengan ramu-ramuan atau obat biasa, juga bantuan sinkang!”

“Hm, penyakit apa ini? Berapa hari ia pingsan?”

“Tiga hari ini, dan tiga hari itu pula tubuhnya beku seperti es!”

“Tapi ia tidak mati, ia masih hidup!” Swat Lian berseru, tak mau anaknya mati dan tiba-tiba ibu ini menangis bercucuran air mata. Ia telah mendengar kematian Poan-jin namun tetap saja ia mengepal tinju dan memaki-maki kakek itu. Dan karena Poan-kwi masih hidup dan kini kakek itulah yang menjadi sasarannya maka ia beringas membanting kakinya, nyonya inipun sudah memeriksa keadaan puteranya. Beng An seolah dalam keadaan “koma”, hidup tidak matipun belum!

“Jahanam keparat kakek-kakek iblis itu. Kubunuh Poan-kwi kalau ia di sini, atau aku menukar nyawaku dengan nyawa Beng An!”

“Hm, tak guna memaki-maki,” sang suami berkata menyabarkan. “Aku dan Thai Liong akan coba mengalirkan sinkang, isteriku. Dan kita lihat bagaimana reaksinya.”

Namun sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat. Pendekar Rambut. Emas menghentikan kata-katanya karena di situ masuk pula seorang lain, pemuda gagah yang matanya tajam bersinar-sinar. Dan ketika pemuda itu tertegun melihat Thai Liong dan Soat Eng, juga Shintala yang ada di situ maka Soat Eng berteriak dan menubruk pemuda ini.

“Le-ko, ah benar kau masih hidup!”

Pemuda ini ternyata adalah Siang Le. Dia mendengar ribut-ribut di situ dan cepat datang ketika orang-orang Tar-tar memberi tahu bahwa isteri dan kakak iparnya datang. Dan karena ia sedang mengurusi pekerjaan di luar dan tentu saja gembira mendengar kabar itu, isterinya datang, maka pemuda ini masuk namun heran melihat gadis asing di situ, Shintala yang berhidung mancung dan berbibir mungil. Tapi begitu ditubruk dan dipanggil isterinya, Siang Le sadar maka pemuda inipun cepat menyambut dan balas memeluk isterinya itu, kencang.

“Eng-moi, kau datang mengejutkan aku. Ah, betapa rinduku kepadamu. Namun apa yang terjadi dan kenapa dengan adik Beng An. Siapa pula gadis asing itu!”

“Ah, hu-huuk... adik Beng An menderita luka aneh, Le-ko. Kami menyelamatkannya dari tangan Poan-kwi namun ia tak sadar seperti itu. Dan itu adalah Shintala cucu kakek Drestawala!” Soat Eng menangis, antara girang dan haru namun suaminya tiba-tiba melepaskan diri.

Siang Le terkejut dan mengerutkan kening melihat tubuh Beng An yang kebiru-biruan, tak memandang lagi kepada Shintala dan iapun tak membalas anggukan gadis itu sebagai salam hormat. Dan ketika Siang Le membungkuk dan memeriksa Beng An, berkerut kening tiba-tiba ia berseru bahwa pengaruh jahat memasuki tubuh adiknya itu, pengaruh atau hawa dari Bu-siang-sin-kang. “Adik Beng An kemasukan ilmu keji ini. Seluruh urat dan darahnya dicemari Bu-siang-sin-kang!”

“Kau tahu itu?” Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening, terkejut. “Kau merasa yakin?”

“Ya, aku tahu tanda-tanda penyakit ini, gak-hu (ayah mertua), tapi bagaimana An-te bisa seperti itu. Apakah dia menyedot darah!”

“Maksudmu?”

“Hanya orang yang menerima atau menyedot darah dari seorang pemilik Bu-siang-sin-kang yang dapat keracunan seperti ini. Tak ada obat penyembuh kecuali dengan cuci darah!”

“Cuci darah? Maksudmu darah adikmu ini harus dikuras dan diganti darah orang lain?”

“Begitulah, gak-hu. Atau seumur hidup adik Beng An menjadi seperti Poan-jin atau Poan-kwi!”

“Bedebah! Aku tak mau anakku menjadi iblis hanya karena warisan Bu-siang-sin-kang. Darah Beng An boleh dicuci dan diganti darahku!”

“Hm, tak semua darah cocok sebagai pengganti, gak-bo (ibu mertua),” Siang Le menggeleng memandang ibu mertuanya itu. “Darah pengganti tak boleh darah sembarangan karena kalau tidak cocok justeru bakal membunuh!”

“Kalau begitu bagaimana? Apakah aku harus membiarkan anakku berobah jahat hanya karena Bu-siang-sin-kang?”

“Nanti dulu,” Kim-mou-eng menyela di tengah-tengah. “Apakah ada yang melihat Beng An menerima darah kakek iblis itu. Bagaimana darah Bu-siang-sin-kang bisa masuk!”

“Tentu kakek itu yang mencekokkannya,” Swat Lian berseru marah. “Poan-jin benar-benar keji dan ingin merusak keluarga kita, suamiku. Beng An berbulan-bulan di tangannya!”

“Tapi darah yang masuk harus minimal separoh dari seluruh darah pemilik,” Siang Le memberi keterangan. “Kurang dari itu tak akan terpengaruh, gak-bo. Dan kupikir tak mungkin Poan-jin melakukan itu karena berarti bunuh diri!”

“Jadi kau pikir bagaimana? Apakah secara kebetulan saja darah sekian banyak itu tiba-tiba memasuki adikmu?”

“Aku tak tahu,” Siang Le tertegun. “Tapi barangkali dapat kutebak kalau aku tahu bagaimana mula-mula kejadiannya. Apa yang diketahui Eng-moi atau kakak ipar!”

“Hm, kami melihat Beng An tiba-tiba menenteng kepala Poan-jin di puncak Naga Merah. Anak itu tertawa-tawa membawa kepala kakek itu yang berlumuran darah!”

“Kalau begitu Beng An meminum darah Poan-jin. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi!” Siang Le kaget, heran dan tercengang dan tiba-tiba semua bingung karena bagaimana Beng An tiba-tiba bisa melakukan itu.

Tapi ketika Thai Liong maupun Soat Eng juga berkata bahwa merekapun bingung bagaimana Poan-jin bisa dibunuh Beng An, tak mengetahui apa yang terjadi di puncak maka dua orang itu berkata seraya menggeleng kepala. “Aku tak tahu bagaimana Beng An tiba-tiba bisa membunuh Poan-jin. Tapi jelas ada sesuatu yang kita tidak mengerti yang telah membantunya!”

“Benar, dan barangkali saja setan-setan di perut Naga Merah. Mereka itu murka dan Naga Merah meletus!”

“Hm,” Siang Le tak menerima atau menyanggah kata-kata dua orang ini. “Mungkin saja semuanya itu bisa terjadi, Eng-moi. Tapi sekarang kita usahakan penyembuhan adik Beng An ini. Kupikir kita harus mencari orang yang cocok untuk mengganti darahnya nanti!”

“Bagaimana caranya,” Soat Eng berseru. “Biar kucoba dan aku mulai dulu!”

“Hm, kita lukai sedikit ibu jari kita, teteskan ke mulutnya. Kalau ada pengaruh positip maka adik Beng An akan segera sadar!”

“Baik, aku akan mencoba!” dan Soat Eng yang langsung mengiris dan melukai ibu jarinya lalu meneteskan darahnya ke mulut adiknya itu. Tiga tetes cukup dan reaksinyapun ditunggu. Tapi ketika Beng An tetap tak sadar atau membuka matanya maka wanita ini mengeluh dan membanting kaki.

“Sial, darahku tak cocok!” Soat Eng hampir menangis, marah dan kecewa. Tapi ketika yang lain tertegun dan ikut kecewa, anak itu masih membujur dingin maka Shintala tiba-tiba melompat maju sudah melukai ibu jarinya pula.

“Biar aku yang coba. Siapa tahu cocok!”

Swat Lian dan Pendekar Rambut Emas tertegun. Mereka kaget tapi juga kagum ketika tiba-tiba gadis ini sudah memberikan pertolongan. Tanpa diminta lagi cucu Drestawala itu sudah memberikan darahnya kepada Beng An, juga tiga tetes. Tapi ketika Beng An tak bergeming dan tetap seperti keadaannya semula, tak bergerak maka gadis inipun mengeluh dan kecewa.

“Akupun tak cocok, sial!”

Pendekar Rambut Emas melangkah maju. Pendekar ini menyatakan terima kasih dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. Shintala yang muram dihiburnya dengan kata-kata halus. Dan ketika pendekar itu berkata biarlah dia yang mencobanya sekarang, memberikan darahnya kepada Beng An maka pendekar ini sudah mencoba tetapi ternyata gagal, disusul isterinya tetapi gagal lagi dan akhirnya tinggallah Siang Le dan Thai Liong.

Pemuda itu sudah akan melangkah maju ketika Thai Liong tiba-tiba menahannya, berseru biarlah Siang Le belakangan dan terpusatlah semua perhatian orang kepada pemuda berjubah merah ini. Thai Liong menjentik dan melukai ibu jarinya sendiri. Tapi ketika darah sudah menetes dan Beng An tetap tak bergerak, Thai Liong mengerutkan kening maka pemuda itu mundur dan benar-benar kecewa.

“Darahkupun tak cocok. Barangkali Siang Le yang dapat menyembuhkan!”

Siang Le mengerutkan kening. Semua orang sekarang berdebar memandangnya. Tinggal dialah satu-satunya yang menjadi tumpuan, kalau tidak cocok entah bagaimanalah nasib Beng An nanti! Dan ketika pemuda itu mengangguk dan melangkah maju, Siang Le menggores ibu jari kanannya maka tenang namun menegangkan semua orang menunggu bangkitnya Beng An.

“Mudah-mudahan darahku cocok, tapi kalau tidak barangkali darah semua bangsa Tar-tar harus dicoba!”

Soat Eng pucat. Ia melihat ibunya menggigil namun ibunya itu tiba-tiba bercahaya ketika mendengar kata-kata Siang Le tadi. Kalau tak ada yang cocok maka biarlah semua orang di padang rumput itu dicacah darahnya. Ribuan orang Tar-tar tak mungkin tak ada yang tak cocok! Dan ketika harapan ini menjanjikan kelegaan tapi mereka menunggu hasil terakhir Siang Le ternyata pemuda itupun sama saja dengan yang lain. Gagal!

“Kita semua tak ada yang cocok. Adik Beng An masih tak sadarkan diri!”

“Kalau begitu panggil semua orang ke sini!” Swat Lian berkelebat, tak sabar. “Ribuan bangsa Tar-tar akan kuminta darahnya, Siang Le. Tunggu dan biar kupanggil mereka!”

“Kami sudah di sini!” seruan banyak orang tiba-tiba mengejutkan nyonya itu. “Kami akan menolong Kim-kongcu, hujin. Kami siap memberikan darah demi kongcu!”

Swat Lian tertegun. Ternyata puluhan orang sudah ada di situ dan laki-laki tegap dan muda berdiri di luar rumah. Mereka adalah pemuda-pemuda Tar-tar yang telah mendengar musibah putera sang pemimpin, luka anehnya Beng An. Dan ketika Swat Lian tertegun tapi tentu saja girang, terisak, maka nyonya ini terharu menyambar mereka.

“Bagus, terima kasih, Mogul. Mari.... mari kalian semua masuk!”

Puluhan pemuda itu masuk. Mereka sudah mempersiapkan diri dan akhirnya satu demi satu dicocok darahnya, diteteskan ke mulut Beng An. Tapi ketika semuanya tak ada yang berhasil, gagal, maka Swat Lian hampir menjerit kecewa karena puteranya tak sadarkan diri juga.

“Kami masih ada, hujin. Kami juga di sini menunggu giliran!”

Pendekar Rambut Emas dan lain-lain tertegun. Mereka melihat tiba-tiba saja ratusan orang sudah ada di luar, menyusul rombongan puluhan pemuda tegap-tegap ini. Dan ketika Thai Liong maupun yang lain menjadi sibuk mempersilahkan mereka, ratusan orang itu sudah dicoba maka penyembuhan bagi Beng An sudah dilakukan tapi satu demi satu pula tak ada yang cocok. Ratusan bahkan ribuan orang sudah memberikan darahnya dan Siang Le diam-diam khawatir.

Sudah ribuan tetes darah memasuki mulut anak laki-laki itu dan pemuda ini cemas. Siang Le mengeluarkan keringat dingin karena ia khawatir akan adanya sesuatu, komplikasi dari demikian banyaknya darah yang berbeda-beda. Dan ketika tiga hari kemudian ribuan orang sudah menjadi donor, Beng An tetap juga tak bergerak maka sang ibu berteriak dan menjadi histeris.

“Keparat, anakku akan mati. Tidak, tidak.... ia tak boleh mati!” dan mengguguk serta menubruk puteranya nyonya ini lalu mengguncang-guncang Beng An dan memanggil-manggil nama anak laki-lakinya itu. Orang-orang sudah mundur dan mereka banyak yang gelisah di rumah. Kim-kongcu tak juga berhasil mereka sadarkan. Dan ketika nyonya itu mengguguk dan memanggil-manggil puteranya, Beng An diguncang-guncang maka tiba-tiba Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar atau mencengkeram pundak isterinya ini.

“Niocu, sadarlah. Anak kita tak mungkin mati!”

“Tidak, tidak. Detak jantungnya telah berhenti, suamiku. Lihat anakku tak bergerak-gerak. Ia mau meninggalkan kita!”

“Dari kemarin detak jantungnya memang tak berdenyut lagi, tapi Beng An masih hidup. Ia mengalami mati semu. Jangan berteriak-teriak dan membuat gaduh begini!”

Namun Swat Lian meronta dan menjerit-jerit. Nyonya ini tak mau melepaskan anaknya dan justeru kata-kata suaminya itu membuatnya marah. Sudah berkali-kali ia dibujuk namun berkali-kali itu pula anaknya tetap begitu. Maka ketika sang suami terkejut karena Swat Lian meronta dan menjerit panjang, Beng An yang diletakkan di pembaringan tiba-tiba disambar mendadak nyonya ini meloncat dan.... terbang membawa puteranya yang dingin dan kaku itu, Beng An yang sudah seperti mayat.

“Aku akan mencari Poan-kwi. Aku akan menyuruh kakek itu menyembuhkan puteraku atau aku akan mengadu jiwa dengannya!”

“Niocu...!” Pendekar Rambut Emas terkejut, sang isteri sudah terbang dan keluar dari lembah. Dan ketika isterinya meluncur dan cepat sekali sudah meninggalkan tempat mereka, Kim-mou-eng terkejut dan tentu saja berkelebat mengejar maka Thai Liong dan Shintala tiba-tiba juga bergerak dan melesat mengejar nyonya itu, Thai Liong bahkan sudah melewati ayahnya dan tahu-tahu bayangan merah menyambar di depan.

“Ibu, jangan bawa Beng An. Kita cari saja Sian-su!”

“Benar, kita cari saja Sian-su, locianpwe. Jangan anak itu dibawa ke mana-mana!” Shintala juga berseru, kaget dan kagum oleh gerakan Thai Liong yang luar biasa karena tahu-tahu pemuda itu sudah meluncur di depan, tepat menghadang di depan ibunya itu. Tapi ketika ibunya membentak dan mengayun lengannya, Thai Liong malah diserang maka pemuda itu terhuyung ketika menangkis.

“Minggir kau, plak...!”

Thai Liong tertegun dan membelalakkan matanya. Sang ibu sudah meluncur lagi dan matanya yang tajam tiba-tiba melihat gerakan di pelupuk mata adiknya itu. Sang ibu tak tahu dan sudah memaki-maki lagi si kakek iblis Poan-kwi, terbang dan menangis dengan air mata bercucuran. Dan ketika pemuda itu tertegun karena Beng An rupanya mulai sadar, ayahnya berkelebat dan lewat di sampingnya maka ayahnya itu membentak dan menyuruh ibunya berhenti.

“Niocu, jangan bawa-bawa anak kita. Betul kata Thai Liong, kita cari Sian-su. Berhenti dan jangan pergi!”

Namun Swat Lian sudah tidak menggubris. Ia juga sudah terlalu sering dihibur akan datangnya Sian-su. Suaminya sudah mengerahkan getaran batin namun kakek dewa yang dihubungi itu tak datang juga. Dan ketika suaminya berkelebat dan mampu menyusulnya pula, nyonya ini membalik dan marah tiba-tiba ia menghantam dan melepas pukulan menyerang suaminya itu.

“Minggir, atau kau mampus pula.... plak!” Kim-mou-eng tersentak dan kaget menangkis isterinya. Ia melihat isterinya kalap dan Swat Lian benar-benar seperti orang kesetanan, tak perduli kepada anak atau suami lagi dan wanita itu melepas Khi-bal-sin-kang. Tapi karena Pendekar Rambut Emas menangkis dan mengerahkan ilmunya pula, tidak seperti Thai Liong yang ragu menghadapi ibunya ini maka begitu ditangkis tiba-tiba wanita inilah yang terbanting, bukan Pendekar Rambut Emas!

“Aduh, keparat!” Swat Lian melempar tubuh bergulingan. Nyonya ini marah dan gusar bukan main karena dihalang-halangi. Tadi Thai Liong dan sekarang suaminya! Tapi ketika ia meloncat bangun dan menerjang lagi, suaminya berkelebat dan menghadangnya di depan tiba-tiba nyonya ini mendengar keluhan anaknya dan Beng kn sadar. Swat Lian tertegun dan tentu saja menghentikan amukannya. Wajah yang merah membara itu tiba-tiba berseri, lenyap seluruh kemarahan. Dan ketika Pendekar Rambut Emas juga tertegun dan siap menandingi isterinya, yang tentu mengamuk dan harus ditundukkan maka berturut-turut bayangan Siang Le dan Soat Eng serta Shintala sudah tiba di situ, karena merekapun mengejar dan memburu wanita ini.

“Anakku sadar! Ooh, anakku masih hidup...!”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Mereka girang setelah tadi dibuat tegang oleh amukan Swat Lian kepada suaminya maupun Thai Liong. Naga-naganya, wanita itu akan menyerang siapa saja yang berani menghalanginya. Tapi begitu Beng An membuka mata dan benar saja anak itu sadar, setelah berhari-hari pingsan maka Pendekar Rambut Emas maupun yang lain-lain girang dan melihat Swat Lian sudah menciumi anaknya, bertubi-tubi.

“Ooh, jangan tinggalkan ibumu, Beng An. Jangan kau mati! Ayo... ayo bangun, nak. Kau rupanya sembuh!”

Thai Liong dan lain-lain terharu. Beng An rupanya benar-benar sadar karena anak itu menggeliat dan bangun. Swat Lian melepaskannya dan anak itu bangkit duduk. Dan ketika matanya berputar-putar dan sang ibu tak melihat adanya keganjilan aneh, mata yang bergerak-gerak dengan amat cepat maka Swat Lian sudah memeluk dan kembali menciumi puteranya itu.

“Kau sudah sembuh, ah... kau rupanya benar-benar sudah sembuh!”

Namun tiba-tiba terdengar kekeh yang aneh. Beng An, yang dipeluk dan diciumi ibunya mendadak menerkam dan menggigit leher ibunya ini. Dan ketika Swat Lian menjerit dan tentu saja mendorong otomatis, hampir saja melepas tamparan maka anak itu sudah berdiri dan terhuyung memperlihatkan giginya yang berdarah, darah dari kulit leher ibunya.

“Heh-heh, siapa kau. Dan siapa yang lain-lain ini!”

“Beng An...!” sang ibu terkejut, membentak kaget. “Kau tidak kenal ibumu sendiri? Kau menggigit dan melukai leher ibumu?”

“Heh-heh, aku ingin minum. Aku haus, ah... siapa mau memberi minum karena tenggorokanku kering!”

Pendekar Rambut Emas dan Thai Liong serta yang lain tertegun. Mereka mendengar suara yang aneh dan Beng An mengecap-ngecapkan bibirnya, menjilat-jilat sedikit darah yang ada di mulutnya itu dan Siang Le merasa seram karena adik iparnya ini seolah bukan seorang bocah lagi, melainkan iblis cilik yang haus darah, bukan air minum! Dan ketika Swat Lian juga tertegun tapi mengambilkan air minum untuk puteranya, karena Beng An katanya haus maka ibu yang tidak waspada setelah dilukai lehernya tadi memeluk dan memberikan air minum puteranya, menganggap Beng An tadi mungkin dalam keadaan setengah mimpi.

“Kau terlalu, haus saja harus menggigit leher ibumu. Nih, minum dan puaskan hausmu!”

Beng An tertawa ganjil. Ia membelalakkan matanya bukan kepada air minum yang diberikan ibunya melainkan kepada setitik darah di leher ibunya itu, luka yang tadi sudah diusap. Dan ketika sang ibu mendekat dan memeluknya kembali, memeluk pundak maka anak ini tiba-tiba menerkam dan menggigit leher ibunya itu lagi, seperti iblis haus darah!

“Heh-heh, aku ingin minum itu!”

Swat Lian terkejut. Ia berteriak dan tentu saja kaget bukan main karena puteranya ini tahu-tahu melekat dan menggigit lehernya. Namun karena sinkang di tubuhnya bergerak otomatis dan kali ini nyonya itu mendengar bentakan suaminya maka begitu digigit begitu pula gigi Beng An bertemu kulit leher ibunya yang keras. Dan ketika anak itu terkejut karena leher itu tak dapat dilukai, Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menyambar puteranya maka anak itu sudah dilempar dan dibanting.

“Awas!”

Swat Lian pucat pasi. Nyonya ini tertegun karena bentakan dan sambaran suaminya itu menyelamatkannya. Ia mampu menggerakkan sinkang dan Beng An terguling-guling di sana. Tapi ketika anak itu meloncat bangun dan tertawa aneh, bantingan atau sambaran ayahnya tadi memang tidak melukainya maka anak ini berkelebat dan menyerang ibunya itu lagi, yang masih tertegun kaget.

“Ha-ha, aku ingin minum darah. Heh-heh, darahmu segar!”

Swat Lian membentak. Akhirnya dia menjadi marah dan ngeri melihat kelakuan puteranya itu. Beng An seperti orang tidak waras dan tentu saja ia mengelak. Dan ketika terkaman luput sementara kakinya bergerak memutar, Beng An menerima sebuah tendangan maka anak itu mencelat tapi melompat bangun lagi, tak apa-apa. “Gila, anak ini tidak waras. Ia tidak mengenal siapa aku!”

“Benar,” Soat Eng juga berseru cemas “Beng An juga tak mengenal kita semua, ibu. Awas ia membalik dan menerkam dirimu lagi!”

Beng An sudah tertawa-tawa dan menyerang atau menubruk ibunya lagi. Darah di leher ibunya itu merangsang ia untuk menerkam dan incaran pandang mata ini sekarang membuat sang nyonya sadar, seram tapi Soat Eng sudah membentak dan menyambar adiknya itu pula. Dan ketika Beng An diangkat dan dilempar tinggi, Soat Eng juga marah dan geram kepada adiknya itu maka wanita ini membentak dan Beng An dibanting, untuk kesekian kalinya lagi.

“Beng An, jangan kurang ajar. Sadar dan berhenti kau!”

Namun Beng An bangkit lagi. Seperti tidak merasa atau apa anak ini terkekeh-kekeh dan melompat bangun. Pandang matanya kini ditujukan kepada Soat Eng, merah berputar-putar. Dan ketika anak itu melengking dan menyerang encinya, tangan diulur maka Soat Eng menangkis dan wanita ini terkejut karena sebuah lengan dingin yang penuh hawa dingin bertemu lengannya.

“Dukk!” Soat Eng berteriak. Lengannya tiba-tiba menjadi kaku dingin dan putih seperti es, beku! Dan ketika ia tak dapat menggerakkan tangannya itu karena kaget dan heran, tertegun, maka adiknya sudah menerkam dan tahu-tahu melilit atau menerkam leher encinya itu, menggigit kulit leher.

“Awas!” Kali ini Siang Le berkelebat dan menolong isterinya.

Soat Eng kaget dan heran oleh tenaga dingin yang dipunyai adiknya itu. Ia tak tahu akan Ping-im-kang dan tiba-tiba yang lainpun terkejut karena lengannya sudah putih dan beku, persis seperti balok es yang melonjor kaku. Tapi begitu Siang Le bergerak dan menyelamatkan isterinya, menghantam Beng An maka lilitan lepas dan Beng An roboh lagi terbanting.

“Dess!” Soat Eng mengeluh dan terhuyung disambar sang suami. Ia kaget dan ngeri oleh ilmu aneh yang dimiliki adiknya ini. Tadi ia menangkis tapi tiba-tiba beku oleh Ping-im-kang, wanita ini kaget. Dan ketika Beng An berdiri lagi dan sudah meloncat bangun, tertawa-tawa maka anak itu marah dan menyerang Siang Le. Ia tak mengenal siapa pun dan agaknya setiap orang dianggap musuh. Dan ketika Siang Le mengelak dan menjadi marah maka pemuda itu sudah berkelebatan dan Beng An yang bak-bik-buk menerima pukulan ternyata maju lagi dan seperti tidak merasakan semua pukulan-pukulan itu, seperti badak!

“Ia kuat sekali, dan tubuhnya amat dingin. Soat Eng dan Swat Lian mengangguk. Dua wanita inilah yang sudah merasakan keadaan Beng An, yakni ketika Beng An menubruk dan menerkam ibunya sementara Soat Eng yang sudah beku lengannya menangkis Ping-im-kang. Thai Liong berkelebat dan menolong adik perempuannya itu, mengurut atau menyalurkan hawa hangat hingga lengan Soat Eng pulih kembali. Dan ketika Beng An dihajar Siang Le namun anak laki-laki itu terhuyung dan tertawa-tawa saja, Siang Le akhirnya berteriak karena tangannya yang tak kuat bertemu tubuh Beng An yang dingin maka pemuda itu mundur-mundur dan mulai menjauh, ngeri!

“Aku tak dapat merobohkannya. Tubuh An- te seperti gunung es!”

Pendekar Rambut Emas dan Thai Liong sama-sama mengerutkan kening. Mereka sudah melihat itu dan benar saja tangan Siang Le sudah menggigil kedinginan. Percikan-percikan es memuncrat dari tubuh Beng An dan setiap dipukul tentu membuat Siang Le berteriak tertahan. Pemuda itu kedinginan! Dan ketika Siang Le menjauhkan diri dan menjadi bingung, Beng An memiliki semacam kekuatan aneh yang amat mujijat maka Beng An tiba-tiba menubruk dan ganti tertawa-tawa membalas lawannya.

“Ha-ha, kau akan kurobohkan. Kuhirup darahmu!”

Thai Liong berpandangan dengan ayahnya. Sang ibu sendiri sudah pucat dan ngeri melihat sepak terjang puteranya itu. Beng An tak mempan dipukul. Dan ketika Siang Le terdesak dan sebentar kemudian pemuda ini sudah menahan serangan-serangan Beng An, mengeluh dan semakin kedinginan maka Shintala berkelebat bersamaan dengan Soat Eng.

“Biar Le-twako mundur, aku yang merobohkannya!”

“Benar, kau mundur saja, Le-ko. Beng An tidak beres dan aku akan coba penasaranku tadi!”

Beng An terkejut. Ia tiba-tiba sudah diserang dan dipukul Shintala, juga Soat Eng yang heran dan kaget oleh kehebatan adiknya tadi. Dan ketika dua wanita itu bergerak-gerak dan berkelebatan mengelilingi Beng An, anak ini dihujani pukulan dari segala penjuru maka aneh dan luar biasa tiba-tiba Beng An menangkis dan bergerak-gerak pula menghalau semua serangan-serangan itu, sepasang lengannya tiba-tiba mengeluarkan uap dingin yang membuat kedua lawannya berketrukan menggigil!

“Keparat, anak ini memiliki ilmu siluman. Beng An memiliki pukulan-pukulan Im-kang (Dingin)!”

“Benar, aku berketrukan bertemu sepasang lengannya, Eng-cici. Bukankah itu tak ada pada keluarga kalian!”

“Kami tak mempunyai Im-kang. Beng An rupanya digembleng Poan-jin si kakek busuk, disesatkan!”

“Hm, kalian tangkap saja anak itu, totok semua jalan darahnya agar roboh!” sang ayah, Pendekar Rambut Emas, berseru dari luar. Pendekar ini juga terkejut dan kaget bahwa puteranya tiba-tiba memiliki pukulan dingin, bukan hanya pukulannya saja melainkan tubuhnya juga selalu dingin dan seperti es! Dan ketika ia menyuruh dua wanita itu menotok semua jalan darah, mencari atau menemukan kelemahan Beng An maka Soat Eng maupun Shintala juga sudah melakukan itu dan totokan-totokan gencar bertubi-tubi mengenai tubuh si anak lelaki.

Namun alangkah kaget dan herannya dua wanita ini karena jalan darah Beng An tak bergerak. Anak itu benar -benar seperti manusia es dan ke manapun totokan diketukkan ke situ pula jari mereka tergetar, mental. Anak ini tak mengalir jalan darahnya dan karena itu tak dapat ditotok. Dan ketika Soat Eng maupun Shintala kebingungan, Beng An tertawa-tawa maka anak itu tiba-tiba membalas dan sebuah cengkeraman tepat sekali mengenai pergelangan Shintala.

“Aihhh!” Pergelangan gadis ini beku. Shintala terpekik karena tiba-tiba jari-jari Beng An yang dingin sudah mencengkeram tangannya, berkerotok dan kagetlah gadis itu melihat tangannya sudah berubah putih seperti salju, beku. Namun ketika Soat Eng membentak dan menampar tengkuk adiknya dari belakang, Beng An terpelanting maka cengkeraman itu lepas dan Shintala menggigil terhuyung mundur.

“Ia seperti siluman, iblis!”

Soat Eng merah terbakar. Ia malu dan marah melihat keadaan adiknya yang tidak wajar ini, bergerak dan menyerang lagi namun semua serangan tak dapat merobohkan adiknya itu. Dan ketika adiknya tertawa-tawa dan mereka ngeri melihat sorot matanya yang liar maka tiba-tiba muncul asap hitam dan perlahan namun mengejutkan tubuh anak itu mendadak mulai hilang, seperti asap tipis.

“Bu-siang-sin-kang!”

Thai Liong bergerak dan menyambar ke depan. Ia tahu-tahu berkelebat dan sebelum adiknya itu benar-benar lenyap tahu-tahu ia mengetuk batok kepalanya. Dari telapak pemuda ini muncul getaran tenaga sakti yang membuat Beng An berteriak, ubun-ubun kepalanya seakan ditimpa palu godam. Dan ketika anak itu bergetar dan Ping-im-kangnya kacau sejenak, Thai Liong mengerahkan sinkangnya yang luar biasa maka asap hitam itu buyar dan Beng An tahu-tahu roboh di tanah, kali ini tak dapat bangun berdiri, pingsan.

“Apa yang kau lakukan!” Swat Lian tiba-tiba membentak dan berkelebat marah. Ia menyangka Thai Liong membunuh anaknya dan cepat sang suami berkelebat mengikuti, nyonya itu dapat melakukan apa saja yang mengejutkan. Tapi ketika Thai Liong menarik adiknya dan berkata bahwa adiknya tidak apa-apa, hanya pingsan maka Pendekar Rambut Emas lega dan Swat Lianpun menangis.

“Berikan ia kepadaku. Bagaimana sekarang!”

“Sekarang ia pingsan,” Thai Liong memberi keterangan. “Tapi pingsannya ini lain dengan pingsannya tadi, ibu. Sekarang ia kulumpuhkan dan kulihat bahwa ubun-ubun kepalanya merupakan kunci untuk melumpuhkannya sejenak. Adik Beng An ternyata memiliki tanda-tanda Bu-siang-sin-kang!”

“Bukan memiliki,” Sing Le tiba-tiba berkelebat maju. “Adik Beng An terpengaruh atau kemasukan Bu-siang-sin-kang, Liong-twako. Dan ilmu itu memang akan bekerja sendiri dalam saat-saat tertentu. Roh dari Poan-jin rupanya bersembunyi di tubuh anak ini!”

“Apa? Roh kakek iblis itu? Keparat, tak boleh anakku dimasuki roh siapapun Siang Le. Keluarkan kakek itu dan jangan biarkan ia mengeram!”

“Aku tak dapat melakukannya. Yang jelas roh itu ada di situ karena darah yang kotor itu. Sebelum darah itu dikuras atau dibuang bersih maka selama itu pula adik Beng An seperti ini!”

Ah, keparat. Sungguh terkutuk kakek iblis Poan-jin. Tapi apa yang dapat kalian lakukan dan bagaimana dengan anak ini!”

“Kita cari saja Sian-su,” Pendekar Rambut Emas tergetar dan melangkah maju. “Kalau kita tunggu-tunggu ia tak datang juga sebaiknya kita ke Lembah Malaikat, isteriku. Tanya apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyembuhkan Beng An!”

“Benar,” Thai Liong juga mengangguk dan putus asa. “Tak ada orang lain selain Sian-su, ibu. Mari kita ke sana dan temui Sian-su!”

“Tapi kakek dewa itu jarang di tempat,” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Bagaimana kalau nanti tak ada? Dan biasanya ia yang menemui kita, ayah. Bukan kita atau orang lain yang menemuinya. Kakek itu aneh!”

“Kita cari dulu ke sana. Dan aku bersama kakakmu akan mengontaknya lagi secara batin agar dia mau menemui kita!”

“Baiklah, tapi Sian-su sudah berkata bahwa yang dapat menyembuhkan adalah darah seorang ksatria, dan ada hubungannya dengan ibu. Siapa ksatria yang dimaksud itu dan kenapa aneh benar kakek itu!”

“Kita memang tak tahu gerak-gerik Sian-su, tapi marilah kita berusaha mencarinya di Lembah Malaikat.” dan ketika semua mengangguk dan setuju, tak ada jalan lain maka Swat Lian bercucuran air mata mendahului suaminya. Ia tahu di mana Lembah Malaikat dan tentu saja ia ke sana. Dan ketika yang lain bergerak. dan mengikuti wanita ini, Thai Liong tiba-tiba berendeng bersama Shintala karena Soat Eng bersama suaminya maka dua muda-mudi itu saling lirik secara diam-diam meskipun wajah mereka juga kelihatan muram dan gelisah.

* * * * * * * *

Pagi itu rombongan ini tiba di sana. Lembah Malaikat adalah lembah yang amat subur dan hijau. Seluruh pepohonan basah oleh butir-butir embun dan kicau burung demikian riang menyambut pagi. Sebenarnya, kalau tak ada kegelisahan tentang Beng An tentu Swat Lian maupun yang lain akan kagum dan nikmat tinggal di situ. Bayangkan, Lembah Malaikat penuh oleh buah-buah yang sedang ranum dan masak. Warna kuning kemerah-merahan hampir merata di setiap pepohonan besar, juga kelengkeng yang coklat kehitam-hitaman itu. Ah, betapa suburnya daerah ini. Dan ketika Shintala bergerak dan memetik setangkai, kelengkeng itu berat dan sarat oleh buah maka gadis ini mendecak merasakan daging buahnya yang tebal dan manis, segar!

“Aku lapar, makanlah kalau mau,” gadis itu berbisik kepada Thai Liong yang berdiri di sebelahnya. Mereka berhenti di tengah-tengah lembah karena semua memandang keatas, jauh ke dinding lembah di mana samar-samar tampak guha kecil di atas sana. Dan ketika Thai Liong tertegun dan menoleh, terkejut, maka pemuda ini tersenyum dan menggeleng, berbisik pula, lembut,

“Kau makanlah sendiri, aku tidak lapar.”

“Tapi dua hari kau tak mengisi perutmu, Liong-ko. Masa tidak lapar. Lihat, kelengkeng ini amat manis dan segar, daging buahnya tebal!”

“Hm, baiklah,” Thai Liong mengangguk, menerima setangkai. “Terima kasih, Shintala. Dan berikan juga kepada mereka itu. Siang Le maupun isterinya juga sama-sama belum mengisi perutnya!”

“Aku malu,” gadis itu tersipu. “Orang lain sedang gelisah aku malah memikirkan makanan!”

“Ah, kamilah yang salah, Shintala. Tak memikirkan orang lain kecuali keperluan diri sendiri. Sudahlah, kau makan saja dan aku serta ayah akan menghubungi Sian-su dari sini. Kalau ia ada tentu di puncak lembah akan ada sinar!”

Shintala kagum. Thai Liong sudah bergerak dan duduk bersila, Pendekar Rambut Emas juga sudah memandang puteranya dan ikut bersila pula. Dan ketika dua orang itu sama-sama memejamkan mata untuk mengontak Sian-su, pemilik lembah maka Swat Lian tak sabar dan ingin buru-buru ke atas.

“Aku ingin secepatnya menemui Sian-su. Kalian cepat hubungi dan jangan lama-lama!”

Pendekar Rambut Emas menarik napas. Sesuatu yang lain telah ia rasakan, sesuatu yang membuat kewaspadaannya timbul. Tapi mengangguk dan menyuruh isterinya tenang, Siang Le dan Soat Eng diminta menjaga lembah maka pendekar ini sudah bersila dan keningnya berkerut-kerut. Biasanya, tak sampai duduk atau memanggil Sian-su akan sudah di depan mereka. Tapi ini tidak. Guha di puncak tebing itu kelihatan sunyi dan tak ada apa-apa. Pendekar Rambut Emas berdebar karena jangan-jangan penghuninya sedang pergi. Ini tentu repot!

Tapi karena ia sudah di situ dan Lembah Malaikat bukanlah sembarang tempat yang boleh dibuat masuk keluar begitu saja maka pendekar inipun memusatkan perhatiannya dan tiba-tiba keluarlah semacam asap putih dari ubun-ubun pendekar ini, bergerak dan naik ke atas dan tampak pula hal yang sama dari kepala Thai Liong. Itulah roh atau jasad halus dari dua orang ini.

Kim-mou-eng maupun puteranya hendak ke atas dengan jasad halus mereka, bukan secara fisik karena tentu lebih hormat dengan cara begitu kalau menghadap Sian-su, hal yang biasa mereka lakukan karena kakek dewa itu juga bukan sembarang orang karena biasanya muncul kalau ditemui seperti ini. Dan ketika dua asap putih itu membubung dan menuju ke atas, melayang-layang dengan amat lambatnya maka Shintala merasa ngeri dan seram!

Kakeknya, Drestawala yang sakti, juga dapat menghilang namun tak mampu mengeluarkan jasad halusnya seperti Pendekar Rambut Emas maupun puteranya ini. Kalau dapat, tentu tak dapat kembali, alias meninggal! Dan ketika dua asap putih itu membubung dan semakin tinggi ke atas, Swat Lian tak sabar dan menunggui puteranya dengan muka gelisah maka Soat Eng dan suaminya yang menjaga di mulut lembah bercakap-cakap dengan suara perlahan.

“Bagaimana, apakah Sian-su ada di atas atau tidak!”

“Kupikir tidak,” Siang Le menggeleng, lemah. “Kalau ada tentu muncul, Eng-moi. Tapi tak ada salahnya ayah maupun Long-twako mencari ke atas!”

“Ya, aku juga berpikir begitu, Tapi bagaimana pendapatmu tentang Beng An!”

“Adikmu itu kritis. Kalau dalam sebulan ia tak dapat disembuhkan maka watak dan sepak terjangnya akan benar-benar seperti Poan-jin...”

“Maksudmu ia akan berobah jahat?”

“Ya, karena Bu-siang-sin-kang telah menyusup di situ. Beng An akan menjadi Poan-jin karena roh kakek itu agaknya telah bersembunyi di situ. Beng An telah menghirup darah si kakek iblis!”

“Bedebah,” Soat Eng menggigil. “Dari pada begitu lebih baik adikku itu mati saja!”

“Hm, nanti dulu, Eng-moi. Llhat gak-hu dan kakakmu sedang berupaya. Mereka naik ke atas. Ah, kakak dan ayahmu itu benar-benar orang mengagumkan!”

“Ayah mempergunakan Tee-jong-gannya (Ilmu Menembus Dunia), sementara Liong-ko mempergunakan Beng-tau-sin-jin...!”

“Ya, dan kuharap Sian-su dapat ditemui, Eng-moi. Tapi, he... siapa itu!” Siang Le terlonjak dan melompat kaget. Sang isteri yang sedang enak-enak diajak bicara tiba-tiba saja dibuat terkejut karena pemuda ini berteriak dan njumbul. Soat Eng sampai mencelat dari duduknya. Dan ketika nyonya itu tersentak dan meluncur turun tahu-tahu seorang pemuda telah berada di tengah-tengah antara dirinya dan suaminya, seorang pemuda bermuka kehijauan yang terkekeh-kekeh!

“Heh-heh, kalian di sini. Kebetulan sekali dan mari ikut aku!”

Siang Le terkesiap. San Tek, bekas sutenya, tiba-tiba muncul dan menyambar dirinya. Tadi pemuda itu menyambar isterinya tapi karena Soat Eng mencelat dan luput disambar maka dialah yang dijadikan sasaran dan diterkam. Pemuda gila itu terkekeh-kekeh dan pundak Siang Le tahu-tahu dicengkeram, begitu cepat. Dan ketika pemuda ini berteriak dan tentu saja kaget, memberontak dan melepaskan diri tahu-tahu San Tek menotoknya dan Siang Le pun lemas.

“Aihhh...!”

Siang Le dan Soat Eng sama-sama terkejut. San Tek sudah mengangkat suaminya dan si gila itu memutar korbannya dipukulkan ke Soat Eng. Dan ketika Soat Eng mengelak dan melengking marah, San Tek tertawa-tawa maka pemuda itu memasuki lembah dan tubuh tangkapannya dibolang-balingkan seperti mainan anak-anak.

“Ha-ha, mana Kim-mou-eng, Siang Le. Dan mana si Thai Liong itu!”

“Keparat!” Soat Eng mengejar dan tentu saja membentak marah. “Lepaskan suamiku, San Tek. Atau kau kubunuh!”

“Ha-ha, siapa dapat membunuh aku. Aku sekarang memiliki Im-kang-thai-lek-kang.... dess!” dan pukulan Soat Eng yang diterima dan ditangkis pemuda ini, tanpa menoleh, tiba-tiba membuat Soat Eng terpental tinggi dan berjungkir balik dengan kaget. Ia tadi melepas pukulan namun pukulannya itu bertemu dengan serangkum angin kuat yang menyambar dari telapak lawan. San Tek mengibas dan iapun terpental. Dan ketika Soat Eng kaget dan berobah mukanya, San Tek sekarang tidak seperti San Tek yang dulu maka pemuda itu terbang memasuki lembah dan tertawa-tawa memutar-mutar tubuh Siang Le.

“Ha-ha, mana Pendekar Rambut Emas. Ayo, mana Pendekar Rambut Emas!”

Soat Eng berubah mukanya. Ia tentu saja tak tahu akan perobahan hebat yang dimiliki si gila ini, Im-kan-thai-lek-kang atau Tenaga Inti Neraka yang dipunyai San Tek. Dan ketika pemuda itu sudah memasuki lembah dan memutar-mutar suaminya, Swat Lian tertegun dan Shintala juga terkejut maka pemuda itu sudah melihat adanya dua orang wanita ini.

“Ha-ha, ini Kim-hujin. Baik, kutangkap dulu kau!”

Swat Lian terkejut. Pemuda itu tahu-tahu menyambar dan seperti iblis saja tiba-tiba telah mencengkeram bahunya. San Tek yang tahu-tahu meluncur dan datang melancarkan serangan sungguh membuat nyonya itu terkejut. Tapi karena Swat Lian sedang marah dan kedatangan pemuda itu justeru menambah kemarahannya saja maka begitu dicengkeram begitu pula nyonya ini menangkis, tak tahu akan adanya Im-kan-thai-lek-kang yang dipunyai si pemuda.

“Kau bocah edan. Pergi!”

Namun nyonya ini berteriak. Sama seperti puterinya tadi tiba-tiba ialah yang terpental, bukannya San Tek. Dan ketika nyonya itu mencelat dan berjungkir balik, dari lengan pemuda itu muncul kesiur angin dahsyat maka Swat Lian atau Kim-hujin ini kaget dan pucat. “Iblis, kau bocah tidak genah!”

San Tek tertawa-tawa. Ia sudah membuat Kim-hujin terpekik dan berjungkir balik melayang turun, tahu-tahu berkelebat sebuah bayangan lain dan meluncurlah sebuah pukulan diiringi bentakan merdu. Dan ketika ia menangkis tanpa menoleh, tertawa-tawa, maka gadis yang menyerangnya ini juga menjerit dan terlempar atau terdorong oleh angin pukulannya itu, Shintala yang coba membantu Kim-hujin.

“Des-dess!”

Shintala menjerit dan kaget bukan kepalang. Ia tak mengenal San Tek tapi mendengar pemuda itu menyebut-nyebut Kim-mou-eng tahulah dia bahwa pemuda ini musuh, apalagi keluarga Pendekar Rambut Emas itu juga tampaknya mengenal San Tek. Dan ketika ia berjungkir balik dan menyelamatkan diri, kibasan atau pukulan pemuda itu melemparnya amat kuat maka Soat Eng sudah mengejar dan tiba di situ, langsung saja memaki-maki dan membentak agar suaminya dilepaskan.

Mereka belum menyelamatkan Beng An ketika tiba-tiba saja kini suaminya dirampas orang, begitu cepat. Namun ketika San Tek menghindar dan mengelak sana-sini, lincah dan mengagumkan maka si gila itu mengibas dan mendorong si nyonya muda, dengan angin pukulannya yang amat kuat itu.

“Ha-ha, kau bukan lawanku, Soat Eng. Mana ayahmu dan panggil dia ke mari!”

“Keparat!” Soat Eng melengking. “Kau sombong dan tak tahu diri, San Tek. Mentang-mentang menjadi murid See-ong sekarang kau banyak tingkah. Awas, aku akan menghancurkanmu!”

Namun pukulan nyonya ini diterima dan membalik. Soat Eng mengeluarkan Khi-bal-sin-kang namun ia sendiri yang terpental. Ada tenaga panas yang memancar dari tubuh pemuda itu dan sekali mengibas iapun terlempar. Dan ketika wanita itu terkejut karena San Tek sekarang sungguh luar biasa, bukan seperti San Tek beberapa bulan yang lalu maka San Tek sudah berkelebat dan ganti menyerangnya, cepat sekali.

“Ayo, aku ingin menangkap semua keluarga Pendekar Rambut Emas. Mana ayah dan kakakmu yang membuat guruku terbirit-birit itu.... des-dess!” Soat Eng berkelit dan menangkis, kaget karena gerakan lawan sungguh luar biasa cepat. Tapi ketika ia terpelanting dan terguling-guling menyelamatkan diri, San Tek mengejar dan lengan bajunya robek menampar pemuda itu maka Shintala bergerak dan sudah mencabut tongkatnya, menerjang.

“Eng-cici, siapa si gila ini. Bagaimana kau tak dapat menghadapinya!”

“Keparat, ini bekas murid See-ong, Shintala, jelek-jelek bekas sute dari suamiku itu. Tapi dia sekarang menjadi begini lihai, awas pukulannya yang memancarkan hawa panas.... brett!”

Lengan baju Shintala yang juga robek dan hancur, bahkan hangus tiba-tiba membuat gadis itu terpekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri. Dua pukulan tongkatnya diterima si pemuda tapi terpental miring, lawan membalas dan iapun mempergunakan ujung lengan bajunya untuk mengepret. Dan ketika ia terpelanting tapi melempar tubuh berjungkir balik menjauh, pemuda itu benar-benar lihai.

Maka San Tek sudah terbahak-bahak menghadapi dua lawannya, berkelebatan menyambar-nyambar dan ternyata pukulan-pukulan Soat Eng maupun Shintala tertolak balik. Tongkat di tangan gadis itu bahkan patah! Dan ketika Shintala terkejut dan heran serta kaget, si gila itu benar-benar hebat maka mereka sudah terdesak dan Soat Eng maupun gadis ini sudah di bawah angin, tertekan!

“Ha-ha, kalian menyerah saja baik-baik. Atau nanti kupukul roboh!”

“Keparat!” Soat Eng melengking-lengking. “Kau dapat dari mana semua ilmumu ini, San Tek. Kau sudah seperti Poan-jin si kakek iblis!”

“Ha-ha, kakek itupun bukan lawanku. Poan-jin-poan-kwi tak dapat mengalahkan aku sekarang. Hayo, kalian menyerah atau kubuat kalah!”

Soat Eng sibuk dan kaget bukan main. Khi-bal-sin-kang yang dimiliki ternyata membentur hawa panas yang memancar dari tubuh pemuda ini. Perlahan dan akhirnya cepat tubuh San Tekpun merah membara. Dan ketika ia memukul pemuda itu namun tangannya seperti menyentuh bara api, panas bukan main maka Soat Eng berteriak karena telapaknya terbakar!

“Aiihhhh...!” wanita itu menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Ia ngeri dan kaget sekali karena San Tek sekarang berobah seperti manusia api, panas menyala-nyala dan tentu saja membuat yang lain terpekik dan pucat. Dan ketika Shintala juga terbakar dan melepuh telapaknya, menjerit kaget maka San Tek sudah bergerak dan tangannya yang merah seperti api itu menyambar leher Soat Eng. Sekali kena tentu matang!

“Kau tak usah main-main denganku!”

Namun angin dahsyat menyambar dari samping. Swat Lian, sang nyonya, tentu saja tak membiarkan anaknya dicengkeram pemuda itu. Swat Lian kaget dan ngeri oleh kehebatan pemuda ini, bergerak dan tahu-tahu menghantam tengkuk pemuda itu dengan angin pukulannya yang dahsyat. Dan ketika pemuda itu terkejut dan terhuyung, sang nyonya tak berani menyentuh tubuh pemuda itu dengan tangannya maka sambaran ke Soat Eng luput dan nyonya muda itu meloncat bangun dengan muka kemerah-merahan, marah tapi juga gentar!

“Si gila ini memiliki tenaga Yang-kang yang dahsyat. Ia siluman api!"

“Benar, karena itu jangan sentuh tubuhnya dengan tangan kalian, Eng-ji. Hajar dan cabut saja pedangmu. Dan kau..!” Swat Lian berseru kepada Shintala. “Ambil tongkatmu yang baru, Shintala. Atau pakai pedangku dan biar aku sendiri menggunakan pedang cadangan.... wut!” sang nyonya melempar dan memberikan pedangnya, diterima dan ditangkap dan Shintala tergetar memandang si gila itu.

San Tek tertawa-tawa saja dan sudah membalik menghadapi Kim-hujin itu, membalas dan Swat Lian mengelak lalu berkelebatan. Dan ketika nyonya itu menusuk dan menyambar-nyambar bagai rajawali betina, Soat Eng menyusul dan menikam atau mempergunakan ilmu pedangnya yang ganas maka ibu dan anak berseliweran naik turun menghujani San Tek. Namun sungguh mengejutkan. Ilmu Pedang Maut, warisan mendiang Hu Beng Kui ternyata tak banyak membawa hasil.

Pedang yang menusuk atau membacok bertemu kulit pemuda itu yang merah marong, memuncrat dan berhamburanlah bunga-bunga api yang membuat ibu dan anak terkejut. Dan ketika pedang mereka sering menyambar tapi juga menjadi kemerah-merahan, terbakar, maka tak lama kemudian Soat Eng maupun ibunya sudah memegang pedang yang menyala-nyala, terpanggang atau ikut terbakar oleh tubuh San Tek yang panas!

“Ha-ha, lihat pedang kalian itu. Pedang Api! Bagus dan aku ingin memanggang tubuh kalian dengan Im-kan-thai-lek-kangku!”

Swat Lian dan puterinya pucat. San Tek mengibaskan lengannya ke kiri kanan dan tiba-tiba tubuhnya menyala-nyala. Api yang besar membungkus tubuhnya itu dan terpekiklah ibu dan anak ketika mereka diserang hawa panas, bukan panas sembarang panas melainkan panas yang bergerak dan menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Jarak sepuluh meter saja mereka sudah disambar hawa panas itu. Bukan main hebatnya! Dan ketika San Tek tak dapat didekati karena mereka harus mundur menjauh, pedang gemeratak dan akhirnya leleh maka Soat Eng maupun ibunya ngeri oleh ilmu yang dipunyai si gila ini.

“Iblis, San Tek benar-benar iblis!”

Ibu dan anak membuang pedang. Mereka bertarung melawan hawa panas yang membakar seluruh udara di situ. Pohon-pohon di sekitar juga mulai layu dan menguning dan akhirnya terbakar! Dan ketika pemuda itu tertawa tergelak-gelak dan Swat Lian maupun Soat Eng mundur dan kian mundur menjauh maka sosok merah dari tubuh pemuda ini menyambar Soat Eng.

“Kau kutangkap!”

Soat Eng mengelak. Ia melempar tubuh ke kiri namun lengan pemuda itu tiba-tiba terulur. Sin-re-ciang, ilmu karet, tiba-tiba dipergunakan pemuda ini karena jelek-jelek ia murid mendiang See-ong, guru dari Siang Le itu. Dan ketika Soat Eng terkejut dan terpekik, tangan itu tahu-tahu sudah menjulur di dadanya maka wanita ini tak dapat lagi mengelak dan tahu-tahu sudah dicengkeram dan roboh.

“Aduh!” Soat Eng seketika pingsan. Ia tak kuat lagi oleh pancaran hawa panas yang keluar dari tubuh pemuda ini. Im-kan-thai lek-kang benar-benar dahsyat hingga begitu menyambar siapapun tak dapat melindungi diri. Soat Eng telah mengerahkan sinkangnya namun tetap kalah. Dan ketika ia dicengkeram dan San Tek menotoknya, wanita itu mandi keringat dan lemas dikuras tenaganya maka sekali terkam si gila inipun telah melumpuhkannya.

Swat Lian terkejut tapi tak dapat berbuat apa-apa. Iapun melawan hawa panas yang luar biasa hebatnya hingga mandi keringat. Dan ketika ia tertegun karena puteri dan mantunya tertangkap, kulit Soat Eng hangus maka San Tekpun sudah membalik dan kini menyambar dirinya, Soat Eng dipindahkan ke tangan kiri dijadikan satu dengan suaminya.

“Kaupun robohlah!”

Nyonya ini pucat. Ia mengelak dan menghantam tapi tiba-tiba iapun menjerit. Tubuh San Tek yang dipukul membuat telapaknya pecah. Nyonya ini lupa bahwa pemuda itu sudah berobah menjadi bara alias manusia api, benda-benda apa saja akan leleh atau hangus bertemu tubuhnya. Dan ketika nyonya itu terpekik karena telapaknya pecah, terbakar maka San Tek terbahak dan sekali cengkeram iapun menyambar atau menangkap nyonya ini.

“Plak!” Sang nyonya tak sadarkan diri. Hawa panas dari pukulan itu sudah tak kuat ditahannya, apalagi setelah San Tek yang merupakan sumber api berada begitu dekat dengannya. Sungguh seperti dekat dengan neraka! Dan ketika nyonya itu roboh dan pingsan seketika, San Tek melempar dan memondongnya di pundak maka giliran Shintala yang menjadi incarannya.

“Ha-ha, kau cantik dan masih perawan. Ke sinilah, aku tak akan melukaimu!

Shintala pucat pasi. Ia melihat teman-temannya roboh dan tertangkap semua, Betapa hebatnya pemuda ini! Namun ketika gadis itu mengelak dan terhuyung jatuh, Shintala pun tak kuat oleh hawa panas yang menyambar itu maka berkelebat bayangan kuning emas dan sebuah bentakan tiba-tiba mendahului sebuah pukulan dingin....