Rajawali Merah Jilid 20 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 20
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
GADIS ini marah karena Soat Eng mulai dulu menyerangnya, mengejarnya tak membiarkan dia pergi, padahal semua itu sebenarnya adalah untuk kebaikan bersama. Dia tak dapat memusuhi putera-puteri Pendekar Rambut Emas ini setelah Thai Liong menyelamatkannya. Si buntung Togur amatlah mengerikannya dan kalau tak ada pemuda itu entahlah apa yang terjadi. Dia mengkirik membayangkan itu.

Tapi begitu Soat Eng menyerang dan memaki-makinya, ia marah dan tentu saja membalas maka mereka segera bertanding dan Shintala tiba-tiba mengeluarkan Sing-thian-sin-hoatnya dan diputarlah tongkat melindungi diri dari serangan-serangan Khi-bal-sin-kang.

“Plak-des-dess!”

Soat Eng tertegun ketika pukulan-pukulannya tertahan. Putaran tongkat yang demikian cepat sungguh membuat gadis itu tertutup rapat, akibatnya ia tak dapat menyerang dengan tepat. Dan ketika Sing-thian-sin-hoat membuat ribuan bayang- bayang di mana lawan tak dapat dilihat lagi maka Soat Eng bingung karena tak dapat menentukan arah serangan.

“Licik, pengecut!” wanita itu memaki-maki. ”Kau hanya bersembunyi di balik tongkatmu, Shintala. Hayo keluar dan rasakan pukulanku!”

“Hm, tak dapat memukul lalu bercecowetan,” Shintala membalas tak kalah pedas. “Kalau mampu merobohkan aku maka lakukan itu, Soat Eng. Atau kalau kau lelah lebih baik berhenti dan menyerah!”

“Menyerah? Ah, omongan busuk... des-dess!” dan Khi-bal-sin-kang yang kembali menyambar namun membentur bayang-bayang tongkat, yang sudah mengurung dan bergerak rapat akhirnya gagal mengenai sasaran karena cucu Drestawala itu sudah melindungi diri dengan baik.

Shintala tak berani menerima karena Khi-bal-sin-kang akan membuatnya terlempar. Satu-satunya jalan ialah membiarkan lawan terus menyerang dan lelah kehabisan tenaga, dia telah memiliki pengalaman ketika dulu bertanding dengan Kim-hujin. Dan ketika hal itu dipraktekkan di sini dan Soat Eng mencak-mencak, semua serangannya tak membawa hasil maka dia memekik dan menyuruh gadis itu membalas.

“Hayo, jangan bersembunyi saja. Pengecut! Serang aku dan coba pula robohkan aku!”

“Hm, tak usah disuruh. Kalau kau sudah tidak bercecowetan lagi tentu aku melancarkan pukulanku, Soat Eng. Awas dan hati-hati.... plak!” Shintala muncul dari balik bayang-bayang tongkatnya, melepas pukulan tapi tertolak oleh Khi-bal-sin-kang. Pukulannya masuk dan mengenai pundak Soat Eng namun ia terpental sendiri. Dan ketika Soat Eng tertawa mengejek sementara lawan cepat-cepat masuk kembali ke dalam gulungan tongkatnya, takut, maka Soat Eng berseru agar memukulnya lagi berulang-ulang.

“Ayo, ayo tunjukkan kepandaianmu. Jangan seperti tikus yang selalu bersembunyi di liangnya!”

Shintala gusar. Ia mencoba lagi ketika Soat Eng gagal membalas serangannya keluar dan menghantam lagi dan berturut-turut tengkuk atau punggung wanita itu dipukulnya. Tapi ketika serangannya membalik dan Soat Eng terkekeh, mengejeknya, maka gadis ini malu tapi juga menyemprot lawan. “Jangan terkekeh saja. Ayo robohkan aku dan coba kau tembus Sing-thian-sin-hoatku. Kaupun tak dapat mengalahkan aku!”

“Hm, kau seperti tikus bersembunyi di pecomberan. Kalau kau minta dihajar keluar dan buyarkan tongkatmu, Shintala. Nanti tentu kau tahu bahwa aku dapat merobohkanmu!”

“Licik, tak tahu malu. Beginikah watak puteri Pendekar Rambut Emas yang tak dapat merobohkan lawannya? Kalau kau pandai boleh cari dan hancurkan aku, Soat Eng. Jangan minta cuma-cuma seperti seorang bocah!”

“Keparat, mulutmu tajam!” dan ketika Soat Eng marah dan terbakar, menerjang lagi maka keduanya bertanding sengit namun harus diakui bahwa masing-masing tak ada yang kalah atau menang. Soat Eng tak mampu menerobos gulungan Sing-Thian-sin-hoat itu padahal untuk mendaratkan pukulannya haruslah mampu mendobrak pertahanan musuh. Dan karena Shintala sendiri juga bingung karena setiap memukul tentu terpental, ilmu sakti Khi-bal-sin-kang memang hebat luar biasa maka akibatnya kedua-duanya tak dapat merobohkan lawan karena masing-masing memiliki kelebihannya sendiri!

Soat Eng memaki-maki sementara Shintala juga mengejek dan membalasnya. Dua wanita itu bertanding menguras tenaga, tak terasa masing-masing akhirnya menjadi lelah dan mandi keringat. Dan ketika mereka mulai terhuyung-huyung sementara pertandingan tetap berjalan seri, tak ada yang kalah atau menang maka berkesiurlah bayangan putih dan terdengar tawa lembut disusul kibasan angin kuat.

“Sudahlah, sudah. jangan menarik urat anak-anak. Berhenti dan kalian jangan bertanding lagi!”

Soat Eng maupun Shintala tiba-tiba terlempar. Mereka diangkat sebuah tenaga raksasa dan tahu-tahu seorang kakek berwajah halimun mengibas di tengah, perlahan saja namun buktinya dua orang itu mencelat! Dan ketika Soat Eng maupun Shintala berteriak kaget, terpekik namun bergulingan meloncat bangun maka kakek itu tertawa dan tawanya sungguh menyejukkan hati. Kemarahan dan segala rasa benci lenyap!

“Sian-su...!”

“Bu-beng Sian-su!”

“Hm,” Sian-su, kakek dewa itu, tertawa lembut. “Tiada hujan tiada angin kalian bertanding seru, anak-anak. Hanya untuk sebuah persoalan remeh. Ah, betapa mudahnya mengadu jiwa hanya untuk sebuah persoalan remeh semata!”

“Dia menghinaku!” Soat Eng melengking, tiba-tiba menuding lawannya itu. “Dia menghina dan merendahkan aku, Sian-su. Aku tak terima dan tentu saja membalas!”

“Hm, semua bermula dari sebuah kesalahpahaman. Aku lebih tahu dari siapapun. Sudahlah, tak perlu diperpanjang dan nona boleh bersama kami, kalau suka,” kakek itu memandang Shintala, lembut dan memancarkan pandangan penuh kasih.

Shintala tiba-tiba terisak. Berhadapan dan beradu pandang dengan mata selembut itu tiba-tiba gadis ini merasa seolah berhadapan dengan kong-kongnya (kakek) sendiri. Maka begitu dia menangis dan teringat kakeknya mendadak gadis ini menubruk dan berseru tersedu-sedu. “Kong-kong...!”

Soat Eng terkejut. Shintala tahu-tahu memeluk dan menubruk Bu-beng Sian-su. Kakek dewa itu dianggap kakeknya sendiri dan lebih terkejut lagi ketika Bu-beng Sian-su tiba-tiba menerima, mengelus dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. Dan ketika bayangan merah berkelebat dan kakaknya juga di situ, tertegun dan membelalakkan mata melihat ini maka Bu-beng Sian-su tersenyum berkata lirih.

“Kong-kong mu telah meninggal. Sadar dan jangan mengingat-ingat lagi orang yang telah pergi, anak baik. Tak baik bagi arwahnya yang sedang melakukan perjalanan pulang. Kau tak perlu marah-marah kepada keluarga Pendekar Rambut Emas dan lihatlah aku.”

Shintala kaget. Tiba-tiba dia sadar bahwa yang ditubruk dan dipeluk adalah orang lain, bukan kakeknya. Tapi begitu pandang mata itu beradu lagi dan ia tak kuat oleh pancaran kelembutan yang demikian dalam, sejuk dan teduh di hati tiba-tiba gadis ini menangis dan bahkan menyusupkan kepalanya di dada kakek itu persis kepada kakeknya sendiri!

“Ooh, aku tak dapat, Sian-su. Aku tak sanggup. Semua orang membenciku. Aku marah dan ingin membenci mereka pula!”

“Hm, keturunan yang baik tak boleh berpikiran seperti itu. Kakekmu Drestawala adalah seorang gagah berwatak mulia. Bangkit dan sadarlah bahwa tak ada orang membencimu. Lihat keluarga Pendekar Rambut Emas ini memandangmu dengan aneh. Mereka bukan musuh!”

Shintala tertegun. Dia diusap dan ditepuk kakek itu. Bu-beng Sian-su memandang Soat Eng dan Thai Liong dan tiba-tiba dua orang ini merasakan kesejukan yang dalam pada pandang mata kakek itu. Ada senyum dan tawa hangat di situ. Ada kegembiraan dan keceriaan merangsang. Dan ketika Soat Eng tiba-tiba tersenyum dan terpengaruh oleh pandang mata ini, tak tahan, tiba-tiba ia tersenyum dan terkekeh!

“Lihat,” kakek itu menuding. “Siang-hujin ini tertawa kepadamu, Shintala, Tak ada permusuhan atau rasa benci kepadamu.”

“Siang-hujin (nyonya Siang)?” Shintala terkejut dan memandang Soat Eng, yang seketika menghentikan ketawanya karena juga terkejut sendiri. “Dia... dia ini seorang nyonya?”

“Hm, banyak persoalan yang dialami setiap manusia, anak baik, bukan hanya kau seorang. Tak perlu sedih dan beriba diri. Setiap orang memiliki persoalan dan setiap orang membutuhkan pemecahannya. Dia memang Siang-hujin tapi suaminya diculik atau dibawa Poan-jin-poan-kwi itu!”

“Tapi katanya Poan-jin-poan-kwi membawa adiknya!”

“Itu satu dari yang dibawa. Apakah kita mau bercakap-cakap?”

“Nanti dulu,” Soat Eng tiba-tiba mencoba bersikap garang dan menyembunyikan rasa malunya kenapa tadi dia tertawa. Gila! “Aku ingin bertanya kenapa dia memusuhi ayah ibuku, Sian-su. Tanpa jawaban jelas aku tak mau berbicara!”

“Hm, diapun memiliki persoalan,” kakek itu mengangguk-angguk, menarik napas dalam-dalam. “Ada akibat tentu ada sebab, Siang-hujin. Tapi pertama yang ingin kuminta adalah lenyapkan kemarahanmu dan hilangkan benci atau gusar. Kalian semua korban Poan-jin-poan-kwi.”

Soat Eng tertegun. Dia coba bersikap keras dan menatap sepasang mata lembut kakek ini. Mula-mula berhasil namun tiba-tiba dia terkejut. Mata yang dalam dan lembut itu menusuk jauh ke ujung hatinya, tembus sampai membuat dia merinding. Dan ketika mata lembut itu membius dan menerangi hatinya, yang sedang gelap, mendadak ia tak tahan dan menunduk. Wanita itu kalah!

“Maaf, Sian-su,” Soat Eng coba membela diri. “Kalau tak ada penjelasannya mungkin sukar hati ini dibersihkan dari kemarahan dan benci. Aku mohon petunjuk.”

“Tentu, aku akan memberimu petunjuk,” kakek ini tertawa, lembut. “Tapi percayakah kau kepadaku?”

Soat Eng terkejut.

“Orang yang tak percaya tak mungkin diberi petunjuk, siauw-hujin (nyonya muda). Karena di dasar hatinya masih ada kesombongan dan rasa "aku" yang besar. Nah, kalau kau benar-benar percaya maka aku dapat menjelaskannya.”

“Aku percaya...” Soat Eng tak dapat mengelak lagi, merah dan semburat. “Silahkan kau bicara, Sian-su. Dan aku dapat menerimamu!”

“Hm, semuanya bersumber dari Poan-jin-poan-kwi,” kakek itu mulai menerangkan. “Tapi semuanya bisa juga bersumber dari diri sendiri. Aku hendak menjelaskan yang pertama dan bukan yang kedua. Gadis ini marah-marah karena salah paham dengan ayah ibumu...”

“Maksud Sian-su?”

“Kakeknya terbunuh ketika bertanding dengan Poan-kwi. Dan karena ayah ibumu ada di situ dan kebetulan bertanding dengan dua kakek ini maka kakeknya yang menyelamatkan adikmu Beng An menjadi korban.”

“Beng An? Kakeknya menyelamatkan Beng An?”

“Hm, waktu itu Drestawala berhadapan dengan Poan-jin-poan-kwi, siauw-hujin. Dan tentu saja masalah Beng An ini merupakan peristiwa susulan. Drestawala terdesak hebat dan waktu itulah ayah ibumu datang. Ayah ibumu membantu dan kakek ini merasa berhutang budi, berhasil diselamatkan. Tapi karena mereka mengejar Poan-jin-poan-kwi dan dua kakek itu ganti terdesak, tak sanggup menghadapi Drestawala dan ayahmu yang bergabung maka Poan-jin-poan-kwi mempergunakan adikmu Beng An untuk mengacau...”

“Tapi bukan hanya Beng An saja yang dibawa Poan-jin-poan-kwi!” Soat Eng memotong. “Ada pula Siang Le di situ. Kenapa hanya Beng An saja!”

“Suamimu itu akhirnya sudah kembali ke ayah ibumu. Dia sudah berhasil diselamatkan.”

“Apa? Siang Le-koko sudah dirampas ayah ibu?”

“Benar, dan tinggal adikmu ini, siauw-hujin. Dan Drestawala ingin membalas budi pertolongan ayahmu dengan mengorbankan dirinya, meskipun gagal....”

“Oohh!” dan Soat Eng yang terlonjak dan tidak menghiraukan kata-kata yang terakhir lalu menyambar dan memeluk kakaknya, girang bukan main. “Ooh, Siang Le-koko sudah selamat, Liong-ko. Mari kita pulang. Kita lihat!”

“Hm,” Thai Liong mendorong dan melepaskan dirinya. “Kata-kata Sian-su belum selesai, Eng-moi. Jangan bergirang dulu sementara orang lain masih menanggung duka!”

Soat Eng terkejut. Dia merah dan malu karena tanpa sadar ia sudah menunjukkan kegembiraannya yang meluap-luap, tak menghiraukan atau perduli akan nasib Drestawala, kakek Shintala itu. Dan ketika dia menunduk dan meminta maaf, lirih, maka Bu-beng Sian-su tersenyum menggenggam Shintala karena gadis itu tertusuk oleh kegembiraan Soat Eng, teringat kematian kakeknya yang sama sekali tak dihiraukan!

“Orang hidup memang begini,” kakek itu tertawa, datar. “Suka dan duka selalu mendahulukan emosi. Sudahlah, tak perlu minta maaf, siauw-hujin. Siapapun pasti melakukan yang sama kalau sedang gembira atau berduka. Aku sekarang hendak memberi tahu bahwa Shintala pun tak perlu marah kepada keluarga Pendekar Rambut Emas. Kematian kakekmu bukan atas kehendak Pendekar Rambut Emas melainkan oleh kesengajaannya sendiri. Dan sebelum Pendekar Rambut Emas datang tentu kakekmu sudah lebih dulu binasa di laut Lam-hai. Jadi kau masih beruntung bahwa kakekmu masih mendapat tambahan umur untuk beberapa waktu!”

“Sian-su tahu semuanya ini?” gadis itu tertegun.

“Aku tahu dari jauh, nona. Dan jangan menyalahkan aku dengan mengatakan kenapa aku tidak menolong kakekmu!”

“Ooh...!” Shintala menutupi mukanya. ”Aku sedih, Sian-su. Aku menyesal!”

“Tak ada yang perlu disesali. Semua itu sudah takdir. Nah, kau masih mau memusuhi keluarga Pendekar Rambut Emas?”

Gadis ini menangis. Tiba-tiba ia mengguguk dan menubruk kakek itu, tersedu-sedu dan berguncang-guncang di dada kakek dewa ini. Dan ketika Bu-beng Sian-su mengusap dan kembali mengelus-elus rambutnya, gadis itu merasa terharu maka Thai Liong menelan ludah dan matapun tiba-tiba menjadi basah!

“Eh, kau menangis!”

Thai Liong terkejut. Adiknya, yang melihat dan memperhatikan gerak-geriknya tiba-tiba berseru tanpa perduli kepada orang lain lagi. Shintala terkejut dan menoleh. Dan ketika benar saja ia melihat pemuda itu menangis, tak tahan karena ia menangis maka Bu-beng Sian-su tertawa dan berseru.

“Thai Liong, kau perasa amat. Sebenarnya kaulah yang harus menghibur cucu Drestawala ini!”

“Ah,” Thai Liong berobah, wajah semburat merah. “Aku tak dapat menghiburnya, Sian-su. Gadis itu sedang marah dan tak suka kepada kami!”

“Hm, orang hidup pasti mati, Ada atau tidak ayahmu itu pasti Drestawala akan meninggalkan dunia juga, kalau sudah waktunya. Apakah Shintala tak dapat melihat ini karena sempit pandangannya? Tidak, kukira gadis ini dapat melihat itu, Thai Liong. Dan aku percaya bahwa ayahmu tak akan dituduh sebagai penyebab kematian kakeknya. Tanpa kehadiran ayahmupun Drestawala pasti akan tewas di tangan Poan-kwi. Kakek itu sudah menerima takdir!”

Shintala tertegun. Untuk kesekian kalinya lagi dia dibuat sadar oleh kata-kata ini. Benar, tanpa kehadiran Kim-mou-eng pun pasti kakeknya akan binasa. Poan-jin-Poan-kwi terlalu hebat dan dia maupun kakeknya bukan tandingan. Dan teringat bahwa Pendekar Rambut Emas bermaksud menolong kakeknya, gagal dan kakeknya tewas maka gadis ini menahan isak dan kemarahan atau kebenciannya terhadap Pendekar Rambut Emas atau isterinya lenyap. Kakeknya memang harus tewas, sudah takdir!

“Bagaimana?” gadis itu terkejut, Bu-beng Sian-su tiba-tiba menanyainya. “Apakah kau menerimanya, Shintala? Atau masih mau marah-marah lagi?”

Gadis ini merah. “Aku menerimanya....”

“Hm, begini saja?”

Shintala terkejut, membelalakkan mata..”Maksud Sian-su?”

“Kalau kau menerimanya berarti menghapus permusuhanmu kepada Pendekar Rambut Emas, Shintala. Jadi kau harus meminta maaf kepada keluarganya ini, orang yang tak tahu apa-apa tentang persoalanmu semula.”

“Ah, aku minta maaf!” dan Shintala yang terkejut dan sadar akan itu tiba-tiba membalik dan menghadapi Soat Eng, berseru dan mencucurkan air mata karena ia malu dan juga sedih. Soat Eng terkejut dan cepat-cepat menyambar bekas lawannya ini. Dan ketika ia berbisik bahwa iapun minta maaf, memeluk dan Shintala menubruknya tiba-tiba dua wanita itu telah saling bertangisan dan menghujani cium.

“Enci Eng, aku minta maaf...!”

“Akupun juga,” Soat Eng tak tahan, bercucuran air mata pula. “Aku juga bersalah kepadamu, Shintala, telah menyakiti hatimu.”

“Ah, tidak... tidak. Aku yang mulai dulu!”

“Tapi aku memaki-makimu, mengejarmu!”

“Tidak, aku yang salah, enci Eng. Aku yang picik dan kurang berpikiran jauh. Sudahlah, aku tak mau mengingat-ingat itu lagi dan bagaimana sekarang dengan adikmu Beng An!”

Soat Eng teringat. Tiba-tiba ia tertegun dan melepaskan diri, menoleh dan memandang Beng An yang masih dipondong kakaknya. Adiknya itu masih pingsan dan kakaknyapun tiba-tiba terkejut dan sadar. Semua pandangan tiba-tiba tertuju ke sini dan Thai Liong menarik napas dalam-dalam. Dan ketika dua wanita itu saling melepaskan diri dan bertanya tentang Beng An, masing-masing menghapus air mata maka Thai Liong memandang kakek dewa itu dan berlutut.

“Teecu tak tahu apa yang terjadi, agaknya tak mampu mengobati. Harap Sian-su memberi petunjuk dan kenapa adikku ini tak sadarkan diri sejak tadi!”

“Serahkan kepada ibumu,” Bu-beng Sian-su tiba-tiba berkata, suaranya berobah agak keren. “Darah seorang ksatria suci yang akan menyelamatkan adikmu ini, Thai Liong. Dan ibumu yang akan menjadi sebab!”

“Ibu? Ibu dapat menyembuhkan Beng An?

“Ibumu tak dapat menyembuhkan Beng An. Tapi dialah nanti yang akan menjadi sebab adikmu sembuh!”

“Teecu bingung...”

“Tak perlu bingung, Thai Liong. Serahkan dan kembali saja kepada ibumu itu. Katakan bahwa darah seorang ksatria suci yang akan menyembuhkan adikmu. Ibumu harap waspada!”

Thai Liong tertegun. Kakek dewa ini tiba-tiba bersikap keren dan agak dingin. Aneh! Dan ketika ia terbelalak sementara adiknya dan Shintala juga tertegun maka Bu-beng Sian-su menyambar sehelai lontar dan mencorat-coret di situ, menyerahkannya kepada Thai Liong, yang tentu saja kian tertegun.

“Serahkan ini kepada ibumu dan suruh dia menemukan inti jawabannya. Kalau jawabannya belum ketemu juga maka ksatria berdarah suci itu yang akan membuka matanya!”

Thai Liong terbelalak. Ia menerima dan gemetar membaca daun lontar itu. Ada dua bait syair yang membuat ia merinding karena berbau darah dan maut. Bu-beng Sian-su seakan menyuruh dia waspada karena sesuatu yang hebat akan terjadi. Dan ketika pemuda ini tertegun dan menjublak bengong, ia bingung dan tak mengerti maka kakek dewa itu memandang Soat Eng, kata-katanya membuat wanita muda ini mengkirik!

“Siauw-hujin, kau akan mengalami sesuatu yang memedihkan. Tapi semua ini obat untuk keluargamu, terutama ibumu itu. Garis nasib tak dapat dirobah dan apapun yang terjadi terimalah dengan dada lapang. Kau cari suamimu dan dekat-dekatlah selalu dengannya. Jangan ditinggal sendirian!”

Soat Eng menggigil. “Apa yang akan aku alami?”

“Nanti kau tahu sendiri, hujin. Takdir atau garis nasib tak dapat dirobah. Waspada dan jangan berpisah lagi dengan sumimu!”

“Sian-su...!”

Namun Bu-beng Sian-su yang berkelebat dan lenyap melambaikan tangan mendadak tertawa dan menghilang di bawah gunung. Kakek itu tak berkata apa-apa lagi dan tahu-tahu lenyap begitu saja, setelah menyerahkan lontar dan pesan kepada putera-puteri Pendekar Rambut Emas itu. Dan ketika Thai Liong maupun Soat Eng tertegun, mengejar namun kakek itu menghilang maka wanita ini menggigil menghadapi kakaknya.

“Liong-ko, aku merasa seram. Kakek itu menakut-nakuti aku!”

“Hm, Sian-su tak pernah menakut-nakuti siapapun. Apa yang dikata berguna bagi orang lain, Eng-moi. Begitupun nasihatnya kepadamu tadi. Kita diminta waspada untuk sesuatu yang akan terjadi!”

“Ya, dan itu rasanya menyeramkan. Bulu kudukku merinding!”

“Hm, akupun juga begitu, Eng-moi. Lihat daun lontar ini!”

“Apa yang dia berikan?”

“Kau lihat saja, baca!” dan ketika Soat Eng menerima dan membaca itu, Bu-beng Sian-su menggoreskan huruf-huruf indah di daun lontar ini maka nyonya muda itu tertegun:

Menghunjam dalam sepotong pedang
menusuk bumi luka berdarah
melepas dendam marah dan berang
tak perduli lagi iblis berulah!

Petir dan guntur sambar-menyambar
pekak telinga dengar gelegar
nyaris maut datang menggetar
sering terlambat di waktu sadar!

“Ini... ini... apa artinya itu?” Soat Eng terbelalak, gentar. “Aku merasa ngeri, Liong-ko. Seolah-olah maut dan darah!”

“Hm, akupun juga tak tahu. Tapi ibu barangkali mengerti.”

“Ibu?”

“Ya, bukankah kita disuruh menghadap ibu, Eng-moi? Dan ini disuruh menyerahkan kepada ibu pula, termasuk adik kita Beng An.”

“Kalau begitu ada hubungannya dengan ibu!”

“Jelas.”

“Kalau begitu ibu tahu!”

“Belum tentu,” sang kakak menggeleng. “Sian-su amat misterius dan aneh, Eng-moi. Apa yang diberikan kepada orang lain belum tentu langsung dapat di tangkap dan diterima. Syair-syairnya aneh dan tak mudah dicerna!”

“Tapi selalu membawa manfaat!”

“Ya, tapi selalu di akhir kejadian. Kita tak dapat mengikuti gerak-geriknya kalau belum ada peristiwa itu.”

“Ah, kalau begitu bagaimana, Liong-ko? Apakah kita selalu dihantui perasaan tidak karuan selama menanti peristiwa itu? Aku tegang!”

“Akupun juga, tapi tak guna dihantui perasaan yang tidak-tidak. Sebaiknya kita biasa-biasa saja dan bersikap wajar.”

“Apa yang kalian bicarakan,” Shintala tiba-tiba ingin tahu, dua temannya lupa tak menghiraukan dirinya. “Kenapa kalian gelisah dan demikian tak tenang, Eng-cici. Bolehkah aku tahu dan dapatkah membantu!”

Soat Eng sadar, menoleh. “Sian-su meninggalkan ini kepada kita. Dan ini selalu berharga!”

“Apa itu?”

“Dua bait syair yang membuat bulu kudukku meremang. Lihatlah!” dan ketika Soat Eng menyerahkan daun lontar itu dan Shintala membaca maka gadis inipun mengerutkan kening dengan wajah berobah.

“Rasanya seram, berbau darah dan maut!”

“Aku juga merasakannya begitu,” Soat Eng mengangguk. “Dan aku ngeri, Shintala. Sian-su menyuruhku waspada dan hati-hati. Aku harus menemui suamiku!” lalu menoleh pada Thai Liong wanita ini berseru, “Liong-ko, kita harus kembali. Ibu harus diberi tahu dan aku ingin bertemu ayah!"

“Hm, memang sebaiknya begitu. Beng An dan suamimu sudah kembali, Eng-moi. Dan kita sudah lama meninggalkan orang tua. Mari kembali dan kita pulang!”

“Dan kita bawa Shintala!”

“Ah,” gadis itu terkejut, berjengit. “Aku tak mau mengganggu, enci Eng. Kalian sedang menghadapi persoalan serius dan silahkan pergi berdua. Aku dapat pergi sendiri!”

“Tidak,” Soat Eng menyambar dan menggenggam lengan temannya ini. “Aku mungkin butuh pertolonganmu, Shintala, Kau ikutlah aku dan jangan ditolak. Aku tak ada teman wanita yang dapat diajak bercakap-cakap di jalan!”

“Tapi ada ibumu di sana,” Shintala tak enak, kecut membayangkan pertandingannya dulu dengan Kim-hujin itu, isteri Pendekar Rambut Emas yang ternyata galak dan juga keras seperti puterinya ini. “Aku tak ingin mengganggu, enci Eng. Sebaiknya kau pergi saja berdua dan aku masih akan mencari Poan-kwi.”

“Kau gila?” Soat Eng melotot, menggelengkan kepala keras-keras. “Kau tak boleh sendirian, Shintala. “Bantu aku dan jangan ditolak permintaan ini. Aku butuh teman sebaya untuk bersahabat. Aku butuh dirimu di dalam perjalanan!”

“Tapi ada kakakmu....”

“Ah, dia laki-laki, Shintala. Aku butuh yang perempuan!”

“Tapi ada pula bibimu Cao Cun.”

“Dia seusia ibuku. Aku mau yang muda! Ah, kau tak mau memenuhi permintaanku ini, Shintala? Kau keberatan?”

“Tidak, bukan begitu. Tapi kakakmu...”

“Liong-ko tak akan menolak. Dia pasti mau. Lihat kutanya dia!” dan ketika Soat Eng membalik dan menanya kakaknya, apakah kakaknya keberatan maka Thai Liong tersipu merah menjawab adiknya, hati tiba-tiba bergetar dan berguncang. Dia akan bersama gadis cantik itu berdua!

“Aku tentu saja tak keberatan kalau adik Shintala mau. Tapi kalau dia tak mau tentu saja aku tak berani memaksa.”

“Dan kau senang tidak kalau Shintala di sini?”

“Ah, tentu saja senang, Eng-moi. Siapa tak senang kalau dia di sini!”

“Nah, dengar!” Soat Eng berseri-seri, membalik dan menghadapi cucu Drestawala itu lagi. “Kakakku senang kau di sini, Shintala. Dan mungkin justeru tak akan senang kalau kau pergi. Lihat dia tersenyum dan tampak bahagia!” lalu ketika kakaknya terkejut karena kata-katanya disimpang-artikan, Soat Eng tertawa dan menyentak tangan temannya maka wanita itu berkelebat dan terbang ke utara. “Shintala, ikut aku. Kita pulang dan temui ayah ibuku!”

“Nanti dulu,” gadis itu terkejut, merah semburat karena Soat Eng nakal menggodanya. “Bagaimana kalau ayah ibumu marah, enci Eng. Aku tentu tak enak dan lebih baik pergi!”

“Ah, ibu tak akan marah. Kalau dia marah maka aku yang akan menghadapinya. Sudahlah, ikut aku dan ayah tentu gembira melihatmu!” dan Soat Eng yang tertawa menarik temannya lalu mendahului dan meninggalkan kakaknya. Tak perduli wajah kakaknya yang merah padam.

Thai Liong diam-diam memaki. Adiknya tadi memberikan kerling nakal dan tentu saja dia tahu godaan adiknya ini. Tapi begitu adiknya meluncur dan teringat Beng An, adiknya yang belum sadarkan diri tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan menyusul. “Eng-moi, tunggu!” dan begitu pemuda ini bergerak dan mengejar adiknya maka Thai Liong sudah berendeng dan mendesis di telinga adiknya itu. “Apa maksudmu dengan kerling mata itu. Kenapa kau menggoda aku!”

“Eh, siapa menggoda? Aku tak menggoda siapa-siapa, Liong-ko. Aku bicara apa adanya saja. Hei, kau laki-laki harus di depan, jangan bersama wanita. Atau aku mundur dan kau berendeng dengan Shintala!” dan ketika benar saja Soat Eng mundur dan membiarkan kakaknya berendeng di depan, dengan Shintala, maka Thai Liong terkejut dan mengurangi tenaganya, menyambar dan mencubit lengan adiknya itu.

“Kau jangan main-main, masa aku harus bersama Shintala. Ayo, kau di depan dan aku mengiring di belakang!”

“Hi-hik.... aduh!” Soat Eng berteriak, cubitan kakaknya cukup keras. “Kulaporkan kau, Liong-ko. Awas kubuat Shintala tak berani berdekatan denganmu kalau suka mencubit!”

“Ah, kau memang nakal. Awas di rumah!” dan ketika Thai Liong menjauh dan memaki adiknya, Shintala juga memperlambat lari dan berendeng dengan Soat Eng maka gadis itupun merah padam digoda temannya ini.

“Enci, kau jangan membuat aku malu, Atau nanti aku pergi!”

“Ah, jangan. Maaf, Shintala. Aku tak menggodamu melainkan menggoda kakakku itu. Baiklah, mari kita berlomba dan biar kakakku di belakang!” dan ketika wanita itu berseru dan mempercepat larinya.

Thai Liong lega dan membuntuti di belakang maka pemuda itupun berkata bahwa bukan waktunya bermain-main. Adik mereka Beng An terluka dan mereka harus cepat-cepat menolong. Dan ketika Soat Eng teringat dan tak menggoda lagi, kening berkerut, maka tiga orang itu melesat dan mengerahkan ilmu lari cepat mereka. Soat Eng khawatir dan diam-diam bertanya kenapa adiknya bisa begitu. Apa yang terjadi. Dan karena pertanyaan ini memang mengganggu sepanjang jalan maka wanita itu tak bercakap-cakap lagi dan Thai Liong maupun Shintala sama-sama memikirkan apa yang telah terjadi pada anak laki-laki ini. Bagaimana Poan-jin sampai bisa tewas dan kepalanya terpenggal!

* * * * * * * *

Mari kita ikuti apa yang menimpa putera Pendekar Rambut Emas ini, sebelum Thai Liong menemui ayah ibunya. Apakah yang terjadi pada Beng An? Bagaimana anak itu tiba-tiba membunuh Poan-jin? Ini dimulai atau diakibatkan unsur ketidaksengajaan.

Seperti kita ketahui, Beng An ditangkap atau dibawa Poan-jin-poan-kwi, diserahkan kepada Poan-jin karena kakek itulah yang akhirnya lebih berkepentingan dengan anak ini daripada Poan-kwi. Beng An telah memusnahkan ilmu gaib Bu-siang-sin-kang (Ilmu Sakti Tak Berwujud), mengakibatkan Poan-jin tak dapat lagi membentuk badan halusnya karena kolor jimatnya, benda gaib satu-satunya ditarik putus anak laki-laki itu. Dan karena Beng An pula yang akan dapat memulihkan kesaktiannya, dengan menyedot habis sumsum atau otaknya maka anak itu pula yang paling dekat dengan Poan-jin.

Bu-siang-sin-kang, seperti yang dimiliki kakek ini, adalah ilmu iblis yang amat jahat. Ilmu hitam ini mengharuskan pemiliknya melahap seratus otak anak kecil dan sumsum tulang belakangnya. Tak gampang bagi Poan-jin maupun Poan-kwi memiliki ilmu hitam ini, karena ilmu itu mengharuskan mencari bayi-bayi lelaki yang umurnya empatpuluh hari, tidak boleh lebih maupun kurang. Dan setelah bersusah payah bertahun-tahun, tak gampang mencari bayi-bayi lelaki yang usianya tepat empat puluh hari.

Maka dua kakek itu berhasil memiliki ilmu ini dan dari kulit bayi-bayi lelaki yang dibunuh itu diciptalah sebuah tali kolor yang sudah penuh pengaruh hitam. Roh atau arwah dari seratus bayi yang dibunuh itu dijadikan satu, “diikat” dan berkumpul di tali kolor itu. Maka begitu kolor ini putus, Poan-jin lengah oleh perbuatan Beng An maka kakek itu terhuyung dan lemah dan tentu saja ia terkejut karena roh seratus bayi yang sudah dihimpun sekonyong-konyong kabur dan lepas. Ia tak dapat mempergunakan badan halusnya lagi!

Kakek ini marah. Ia terkejut dan kaget sekali oleh kejadian itu. Untunglah kakaknya yang ada di situ lalu menolong dan menggantikan dirinya menghajar keluarga Pendekar Rambut Emas itu di Sam-liong-to. Soat Eng dan suaminya heran dan kaget karena lawan yang tadi lenyap sekonyong-konyong muncul lagi. Poan-jin memang telah melarikan diri tapi kakaknyalah kini yang maju membantu. Dan ketika mereka dihajar dan Beng An dirampas, disusul kemudian oleh Siang Le sendiri maka Poan-kwi menyerahkan anak laki-laki itu kepada adiknya.

“Kau bodoh, tolol. Kenapa lengah tak hati-hati? Anak ini memutuskan kolormu, sute. Tapi anak ini pula yang akan memulihkan ilmumu. Hisap dan sedot sumsumnya!”

Poan-jin terbelalak merah. Beng An diserahkan kepadanya dan kakek itu melotot. Ingin ia mengeremus dan seketika itu juga melahap otak anak ini. Namun karena ia harus bertapa dulu dan menangkap kembali seratus roh bayi-bayi lelaki itu, yang kabur ke segala penjuru maka kakek ini tak dapat membunuh Beng An dan harus bersabar. Ia harus minta bantuan kakaknya untuk menangkap seratus roh anak laki-laki itu.

Tapi karena kakaknya juga sibuk dan menghadapi lawan-lawan berat, seperti kakek Drestawala yang akhirnya dibantu Pendekar Rambut Emas itu maka seratus bayi lelaki yang kabur di alam halus baru seperempatnya saja yang dapat ditangkap. Yang lain masih berseliweran dan kakek ini jengkel. Roh bayi-bayi lelaki itu berhamburan ke segala penjuru. Mereka dikhawatirkan berbaur atau bersembunyi di balik mahluk-mahluk lain. Dan karena melakukan pekerjaan ini membutuhkan perhatian serius, konsentrasi besar maka Poan-jin minta kepada kakaknya untuk bertapa di Himalaya.

Di situ amat tenang dan jauh dari dunia ramai. Banyak puncak-puncak gunung dan dia dapat memilih. Dan akhirnya ketika puncak Naga Merah menjadi perhatiannya, memilih dan tinggal di sini maka bersama kakaknya ia “menangkap” atau mengumpulkan lagi roh seratus bayi lelaki itu, lengkap tapi celaka sekali Beng An membeku tubuhnya. Anak ini tiba-tiba duduk diam tak mau makan tak mau minum. Akibatnya tubuhnya menjadi dingin dan tentu saja otak atau sumsumnya tak dapat dihisap, beku! Dan ketika Poan-jin tertegun kenapa anak itu tiba-tiba berobah begitu, duduk seperti arca maka dia membelalakkan mata dan menggeram.

“Heh, ke sini kau, bocah. Jangan mematung dan kembalikan ilmuku Bu-siang-sin-kang!”

Beng An disambar dan dicengkeram. Anak ini diam saja dan Poan-jin terkejut karena tubuh anak itu seperti es, dingin dan seolah tak bernyawa! Dan karena tak mungkin baginya menghisap sumsum dari tubuh yang tak bernyawa, harus segar dan masih hidup maka hampir saja Poan-jin memekik oleh kecewa. Beng An disangka mati tapi tiba-tiba saja anak itu berkejap. Heii! Dan ketika kakek ini terkejut tapi tentu saja girang, Beng An masih hidup maka anak itu dicengkeram dan Beng An menutup matanya lagi.

“Ha-ha, anak siluman. Kau sedang apa, bocah. Hayo bangun dan lihat aku!”

Namun Beng An menutup matanya rapat-rapat. Anak ini berkejap dan setelah itu tak mau membuka matanya lagi-lagi, Poan-jin tak tahu bahwa anak ini sedang membekukan tubuhnya dengan ilmu yang pernah diterimanya dari mendiang kakeknya Hu Beng Kui, ilmu yang disebut Ping-im-kang (Tenaga Inti Es). Dan karena ilmu itu lama tak dilatih karena tak mendapat tempat yang tepat, ilmu itu harus dilatih di daerah pegunungan atau sumber-sumber air dingin maka tiba-tiba saja Beng An teringat dan kini melatihnya.

“Ilmu ini baru kumiliki, jangan beri tahu ayah atau ibumu. Baru saja kuciptakan. Kelak kalau kau sempat melatihnya maka tempat yang cocok adalah di daerah kutub atau puncak-puncak gunung yang amat dingin, Beng An. Di padang rumput atau tempat-tempat panas begini kurang berhasil. Kau dapat membekukan tubuhmu seperti es dan mematikan semua jalan darah seperti mayat!”

“Untuk apa ilmu ini?” anak itu pernah bertanya, kakeknya waktu itu baru saja memiliki ilmu ini, belum mahir benar.

“Wah, banyak gunanya!” sang kakek berseru, tertawa bergelak. “Dengan ilmu ini kau dapat mengecoh musuh, Beng An. Disangka mati padahal hidup. Aku menemukan bahwa ilmu ini dapat memperpanjang umur!”

“Memperpanjang umur? Berarti tak dapat mati?”

“Ha-ha, orang hidup bakal mati, Beng An. Memperpanjang umur bukan berarti tak bakalan mati. Aku belum tahu apa saja yang dapat diambil manfaatnya dari ilmu ini. Tapi melatih tubuh menjadi dingin berarti mengawetkan tubuh dan memperlama usianya!”

“Hm, anak itu mengangguk-angguk, heran tapi juga tertarik, sebagai bocah tentu saja dia suka kepada hal-hal baru. “Kalau dapat panjang umur tentunya lebih menyenangkan, kong-kong. Aku dapat menikmati makan enak dan seumur hidup bersenang-senang!”

“Ha-ha, makan dan senang-senang melulu yang kau pikirkan ini. Dasar bocah. Eh, Ping-im-kang juga dapat dipergunakan menghajar musuh, Beng An. Kau dapat membuat orang-orang lain atau mahluk hidup menjadi es, kalau kau sudah mahir!”

“Menjadikan mereka sebagai es?”

“Ya, lihat ini. Aku sendiri belum begitu mahir tapi cukup membuat burung itu beku dan tak dapat terbang!” Hu Beng Kui menggerakkan lengan bajunya, menyambar atau menangkap seekor burung dan tiba-tiba burung itu berkelepak jatuh disambar tenaga sakti kakek ini. Dan ketika burung itu beku dan benar saja tak dapat bergerak-gerak, dingin seperti es maka Beng An terkejut karena burung itu disangka mati.

“Dia mati!”

“Tidak, belum mati. Aku hanya menghentikan sejenak detik jantungnya dan masih hidup. Lihat, pukulanku masih tak berpengaruh lama!” dan ketika benar saja burung itu bergerak dan terbang, lepas meninggalkan kakek ini maka Beng An terbelalak dan kagum.

“Benar, ia masih hidup. Belum mati!”

“Hm, itu karena tingkat kepandaianku yang belum sempurna, Beng An. Kalau sudah sempurna maka mati atau hidup tergantung kita.”

“Maksud kong-kong?”

“Ping-im-kangku masih lemah, burung itu tak dapat kukuasai penuh. Sebab kalau Ping-im-kangku kuat tentu burung itu dapat kubekukan sebulan atau setahun, kalau aku mau!”

“Ah, jadi dapat berbuat sekehendak hati?”

“Ya, kalau sudah mahir, Beng An. Tapi karena aku belum mahir maka Ping-im-kangku tadi bekerja sebentar saja dan setelah itu denyut jantung burung itu bekerja lagi. Aku belum dapat membuatnya beku selama aku suka!”

“Kalau begitu burung itu pasti mati!”

“Tidak, kalau kita tidak menghendaki. Ping-im-kang hanya bersifat membuat mati semu, Beng An. Kalau kita mau membunuhnya maka tentu saja tenaga yang dikerahkan harus untuk membunuh!”

“Wah, hebat sekali. Kalau begitu aku kelak dapat membuat manusia sebeku es!”

“Ya, dan apa saja. Tapi ilmu ini tak dapat dilatih di gurun karena harus dilatih di daerah kutub atau puncak-puncak pegunungan yang dingin!”

Begitulah, Beng An pernah bercakap-cakap dengan mendiang kakeknya. Ilmu itu amat dirahasiakan dan tak seorangpun tahu akan Tenaga Inti Es ini. Pendekar Rambut Emas dan isterinyapun tidak, maklumlah, Hu Beng Kui amat menutup rapat karena pendekar itu kelak ingin mengalahkan mantunya sendiri, Kim-mou-eng atau Si Pendekar Rambut Emas. Penasaran oleh kekalahannya dulu dan tetap bersakit hati untuk “membalas dendam”. Ah, jago pedang ini memang aneh. Tapi sebelum ia menguasai ilmunya itu tiba-tiba ia harus tewas di tangan musuh, sayang. Tapi cucunya yang kini ditawan Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba melatih ilmunya itu dan kebetulan sekali puncak Himalaya yang amat dingin cocok untuk melatih Ping-im-kang!

Poan-jin, yang tentu saja tak tahu akan ini juga sama sekali tidak menduga akan rahasia si bocah. Semua ilmu-ilmu keluarga Pendekar Rambut Emas diketahui dan kakek itu tak gentar, atau takut. Dia sama sekali tak tahu akan ilmu baru Ping-im-kang ini, ilmu peninggalan si jago pedang Hu Beng Kui. Maka ketika berbulan-bulan dia bertapa dan satu demi satu roh bayi-bayi lelaki itu dikumpulkan kembali, Beng An akan disedot atau dihisap sumsumnya untuk penutup atau simpul ikat-pinggang yang baru maka kakek itu tak tahu gerak-gerik atau pekerjaan anak lelaki ini.

Beng An ditawan, atau diikat di dekat kakek itu. Berbulan-bulan mengalami perlakuan tak menyenangkan berupa hinaan atau ejekan. Anak ini mula-mula marah tapi semakin dia marah semakin kakek itu senang. Poan-jin terkekeh-kekeh kalau anak itu dapat mencak-mencak atau melotot tanpa daya, diludahi atau ditempeleng dan Beng An akhirnya menyerah, kehabisan suara. Dan ketika anak itu merasa sia-sia dan suatu hari berjengit diselomot api, si kakek terpingkal-pingkal maka Poan-jin meraba tengkoraknya dan mencecap ubun-ubunnya itu.

“Heh-heh, kau hebat dan luar biasa sekali. Darahmu bersih dan tulang-tulangmu kuat, Beng An. Sungguh tak rugi menanti berbulan-bulan. Hm, aku akan mengisap otakmu dan mencecap sumsum belakangmu!”

“Kau mau apa? Mau membunuh? Bunuhlah, aku tak takut, Poan-jin. Sudah kubilang berkali-kali bahwa sekarang juga kau boleh membunuh aku. Bunuhlah, isap atau sedot sumsum belakangku!”

“Heh-heh, kau luar biasa. Tapi tidak, tidak sekarang aku menyedot otak dan sumsummu. Masih beberapa roh bayi harus kutemukan, bocah. Setelah genap seratus barulah aku akan menyedot dan menghisap sumsummu. Ih, tentu segar. Heh-heh...!”

Beng An marah. Dia sekarang sudah tidak ngeri lagi setelah berulang-ulang kakek itu meraba atau mengelus-elus batok kepalanya. Sudah puluhan kali Poan-jin melakukan itu. Tapi ketika si kakek mengambil api dan menyelomot kakinya, Beng An berjengit maka anak itu melotot dan gusar. “Poan-jin, kau kakek tua bangka. Tak berani menghadapi ayah ibuku lalu menganggu anaknya. Cih, kau iblis pengecut!”

“Ha-ha, ayah ibumu tak akan kutakuti lagi setelah Bu-siang-sin-kang ku kembali. Kau telah menghancurkannya, dan kau pula yang harus mengembalikannya!”

“Apa yang hendak kau lakukan? Kenapa tidak segera melakukannya?”

“Hm, roh, seratus bayi lelaki yang tersimpan di kolor wasiatku kabur gara-gara kau, bocah. Dan sekarang aku mati-matian mencari dan mengumpulkan mereka. Kau harus menunggu setelah itu kudapatkan, lalu giliranmu menjadi penutup dan kulit punggungmu kukerat untuk tali kolor yang baru!”

“Apa? Kau mau menguliti aku dan membuat kolor dari kulit tubuhku?”

“Ha-ha, kau takut? Kau pucat?”

“Tidak, aku tidak takut mati, Poan-jin. Tapi apa hubungannya dengan roh bayi-bayi lelaki yang seratus jumlahnya itu!”

“Ha-ha, itu syarat melatih Bu-siang-sin-kang. Tanpa bantuan roh-roh itu aku tak dapat merubah ujudku dalam badan halus. Mereka andalanku, kusimpan susah payah selama bertahun-tahun. Tapi setelah kau mencerai-beraikannya dan mereka kabur maka kau akan menjadi pintunya dan menjaga simpul kolorku yang baru untuk mengembalikan Bu-siang-sin-kang ku. Ha-ha!”

“Kau akan mengumpulkan aku dengan mereka?”

“Ha-ha, setelah mati kaupun akan berbadan halus, Beng An. Dan karena kau yang paling besar dan gagah maka kau akan menjadi pemimpin mereka dan hidup di kolor wasiatku yang baru, kolor yang kubuat dari kulit punggungmu nanti!”

“Tidak!” Beng An tiba-tiba ngeri. “Aku tak mau bercampur dengan roh-roh bayi lelaki itu, Poan-jin. Lepaskan aku dan keparat jahanam kau!”

“Ha-ha, kau mulai takut?”

“Aku tidak takut, tapi, ah... aku ngeri!” Beng An berteriak-teriak, memaki dan mengutuk kakek itu habis-habisan namun Poan-jin justeru terpingkal-pingkal. Sekarang anak ini berhasil dibuat takut dan Beng An memang ngeri kalau harus “ngumpul” dengan roh seratus bayi itu. Poan-jin sungguh biadab! Tapi ketika si kakek terkekeh-kekeh dan bangkit menari-nari, menyambar dan menggeragoti sesuatu tiba-tiba Beng An tertegun dan berhenti memandang benda itu, sesosok tubuh mungil yang menggeliat-geliat.

“Apa itu? Apa... apa yang kau makan itu?”

“Ha-ha, kau suka? Bayi ke seratus satu, Beng An, masih hidup dan segar. Lihat tempurung kepalanya demikian lunak dan masih halus... kriusss!” dan si kakek melahap dan menggerogoti makanan itu, kepala seorang bayi maka Beng An muntah-muntah dan tiba-tiba muak!

“Augh, keparat kau, Poan-jin. Terkutuk dan biadab. Kau binatang!”

“Ha ha, boleh memaki kalau tak suka. Tapi yang jelas ini hanya pengenyang perut karena usianya sudah lebih empat puluh hari. Nikmatilah dan cicipilah kalau suka... bluk!” dan kepala bayi itu yang jatuh dan dilempar si kakek akhirnya membuat anak ini tak tahan, pusing dan pingsan dan Poan-jin terkekeh-kekeh menyambar makanannya kembali.

Sebenarnya itu bukan kepala manusia melainkan kepala bayi seekor kera, masih orok dan kakek ini menyambarnya karena sudah tak sabar untuk “menggegares” batok kepala Beng An. Roh seratus bayi belum dikumpulkan semua dan karena itu tak boleh ia membunuh Beng An, jadi sebagai pelampiasannya ia lalu mencari dan membunuh seekor bayi kera. Sepintas memang mirip bayi manusia dan Beng An dibuat muntah-muntah.

Bayi manusia atau kera sama saja karena kakek itu menggerogotinya mentah-mentah. Tak ada manusia biadab dan sebinatang kakek ini. Poan-jin memang iblis! Dan ketika kakek itu berhasil menakuti Beng An dan selanjutnya anak ini tak mau makan atau minum, mual oleh pemandangan tadi maka Poan-ji mengerutkan kening ketika hari-hari berikut Beng An menjadi kurus!

“Eh, kau harus makan. Tak boleh mati karena lapar!”

Beng An tersenyum mengejek. “Makan atau tidak makan urusanku, Poan-jin. Makan atau tidak makan tetap juga kau membunuh aku. Nah, kau makan sendiri dan jangan menyuruh aku!”

“Wah, kau benar-benar tak mau makan?”

“Tak mau.”

“Kalau begitu aku paksa!”

“Silahkan, kau tak akan berhasil!” dan ketika kakek itu marah dan benar saja membuka rahang anak ini, menjejalkan makanan maka Beng An memuntahkannya kembali setiap tertelan. Anak ini mengerahkan Khi-bal-sin-kang dan makanan itu tertahan, naik dan turun berkali-kali setiap dijejalkan. Dan ketika kakek itu terbelalak dan marah sekali, seluruh makanan akhirnya terbuang dimuntahkan maka Poan-jin pucat mengutuk anak itu.

“Bedebah, aku tak dapat menyedot otakmu kalau sudah mampus. Kau harus tetap bertahan hidup!”

“Hm, menyerah?” Beng An tertawa, mengejek. “Kau boleh cari akal lain, Poan-jin. Hayo siapa menang siapa kalah!”

“Terkutuk, keparat. Aku akan secepatnya mengumpulkan seratus roh bayi itu!” dan ketika kakek ini mencak-mencak dan bertapa lagi, mengirim getaran agar kakaknya membantu menemukan sisanya maka Beng An yang mengerutkan kening dan merasa ngeri lalu menutup mata dan melatih Ping-im-kang.

Diam-diam ia sudah mulai itu dan dua bulan ini ia dapat membekukan tubuh. Mula-mula jari tangannya dan akhirnya naik sampai pergelangan, siku dan akhirnya pundak dan hari itu ia sudah berhasil membekukan tubuhnya separoh. Dulu kakeknya dapat membuat tubuh sedingin es, dari kepala sampai ke kaki. Dan karena kini ia ditunjang hawa pegunungan yang amat dingin, setiap malam tentu butir-butir es menimpa anak ini maka Poan-jin yang bermaksud menyiksanya malah secara tidak sengaja membuat Beng An cepat sekali berhasil melatih ilmu Tenaga Inti Es itu.

Dua bulan ini Beng An dibekukan hawa pegunungan, bukan sembarang pegunungan melainkan pegunungan Himalaya, yang setiap saat tentu menurunkan hujan salju. Dan ketika semuanya itu justeru penopang yang amat baik bagi melatih Ping-im-kang, ilmu ini memang harus dilatih di tempat dingin maka Beng An yang tekun dan kuat berlatih tiba-tiba telah menguasai ilmu itu seperti dulu kakeknya menguasai Tenaga Inti Es. Beng An telah mampu membekukan seluruh tubuhnya dan tiba-tiba saja anak ini telah berobah menjadi patung es. Seluruh tubuhnya beku dan kejadian cepat yang berlangsung ini tak dilihat Poan-jin.

Kakek itu juga sedang bersamadhi menarik atau mencari seratus roh bayi lelaki yang tinggal beberapa lagi. Kurang empat dan hari itupun kakek ini bekerja keras mengumpulkan sisanya. Dan ketika bayi ke seratus sudah didapat tapi berbareng dengan itu Beng An juga berhasil menguasai Ping-im-kang, dua orang ini seakan berlomba mencapai tujuan masing-masing maka ketika membuka mata tiba-tiba kakek itu tertegun melihat tubuh anak laki-laki ini sudah tak bergeming dan berkilau-kilauan penuh butir-butir es yang dingin!

“Astaga, korbanku menjadi beku!” kakek ini mencelat dan kaget melihat kea daan Beng An. Anak itu berobah menjadi manusia es dan tentu saja dia kaget keti ka menyentuhkan tangannya, meraba sosok tubuh yang dingin dan Poan-jin terperanjat karena Beng An sudah seperti arca, kaku kedinginan! Tapi ketika ia terbelalak dan kecewa serta gusar, otak dan sumsum Beng An tak dapat disedotnya tiba-tiba Beng An membuka mata dan sekejap itu anak ini memandangnya, sekejap saja tapi sudah cukup bagi Poan-jin bahwa si anak masih hidup, meskipun jantung atau detak jantungnya berhenti!

“Ha-ha, bocah siluman. Anak yang luar biasa! Ah, kau masih hidup, Beng An. Bagus, tadi kukira mati. Ah, kau sedang berlatih apa dan apa yang kau lakukan ini!”

Beng An menutup matanya lagi. Ia terkejut dan tergetar oleh sentuhan kakek itu tadi, yang memeriksa dan menepuk-nepuk batok kepalanya. Tapi begitu ia terkejut dan sadar, Ping-im-kang dikerahkan kuat-kuat tiba-tiba ia memejamkan matanya kembali dan ingin memberi “pelajaran” kakek itu kalau berani menguyah batok kepalanya, yang sudah beku dan sekeras batu gunung. Batu es yang dingin luar biasa!

“Ha-ha-ha!” kakek itu terbahak-bahak. “Kau menipu aku dengan caramu yang licik, bocah. Kusangka mati tetapi masih hidup. Wuah, sekarang aku telah berhasil mengumpulkan seratus roh bayi lelaki itu. Kau akan kukeremus dan kusedot otakmu!”

Beng An tergetar. Salju tebal tiba-tiba turun deras dan puncak Naga Merah berderak bergoyang-goyang. Ada teriakan dan pekikan di bawah gunung dan Poan-jin mengerutkan kening karena mendengar suara pertempuran. Ledakan atau kilat di bawah disusul dentaman-dentaman kuat. Dan ketika ia tertegun dan ragu-ragu, suara kakaknya memanggil-manggil maka kakek ini bimbang sejenak memandang Beng An.

“Hm, apa yang harus kulakukan?” kakek itu berpikir. “Turun atau melahap bocah ini dulu? Kalau turun tentu sayang, ini kesempatanku terakhir. Tapi tidak turun rupanya suheng menghadapi sesuatu bahaya? Ah, siapa gerangan? Apa yang harus kulakukan?”

Kakek ini bingung dan ragu. Ia marah oleh teriakan atau panggilan suhengnya, juga gelegar atau suara benturan dahsyat dari dua orang yang sedang bertanding hebat. Tapi karena kesempatan itu adalah kesempatan yang paling akhir, ia harus cepat menyedot otak dan sumsum anak laki-laki ini untuk mengembalikan Bu-siang-sin-kangnya tiba-tiba kakek itu mengeretukkan gigi dan gerahamnya berderit oleh keputusan yang bulat.

“Aku harus mengembalikan Bu-siang sin-kang ku dulu, baru setelah itu menolong suheng. Keparat siapa musuh pengganggu itu!”

Kakek ini bergerak dan menyambar Beng An. Ia harus cepat-cepat menyedot sumsum dan otak anak itu, baru kemudian turun gunung dan memenuhi panggilan suhengnya. Tapi ketika jari tangannya mencengkeram kepala Beng An, dingin dan serasa mencengkeram es maka kakek ini tertegun. “Darahmu tak mengalir. Apa yang sedang kau lakukan!”

“Hm!” Beng An tertawa dingin, mengerahkan Ping-im-kangnya sekuat tenaga. "Kau membiarkan aku kedinginan dan beku ditimpa hujan salju, Poan-jin. Aku tak dapat berbuat apa-apa dan tinggal menunggu kematian. Kau sedotlah sumsumku kalau bisa!”

“Keparat, aku tak dapat menyedotmu kalau dingin. Otak dan sumsummu tak dapat mengalir!”

“Kalau begitu lepaskan aku, biarkan aku bebas.”

“Apa, bebas? Hidungmu itu! Aku dapat memanaskan aliran darahmu dengan sinkangku atau dipanggang hidup-hidup. Tapi aku akan memanggangmu di api unggun. Aku akan menyiksamu!” dan ketika kakek ini memanggang Beng An di api unggun, api yang menyala merah maka kakek itu akan mencairkan tubuh beku ini seperti semula.

Tapi alangkah herannya kakek ini melihat kebekuan luar biasa dari tubuh si bocah. Api itu menjilat-jilat namun tubuh si anak tidak leleh. Jangankan leleh, panas saja tidak! Dan ketika kakek itu menjublak karena api tak mampu mencairkan tubuh Beng An, maka Beng An tertawa dan butiran-butiran es tiba-tiba jatuh dan memadamkan api unggun itu!

“Ha-ha, coba sekali lagi, Poan-jin. Barangkali kurang panas... ces-cess!” api itu padam, satu demi satu ditimpa butiran-butiran es karena Beng An mengerahkan segenap Ping-im-kangnya. Tubuhnya mengeluarkan keringat tapi bukan keringat panas melainkan keringat-keringat es. Tentu saja kakek itu tertegun! Dan ketika api padam dan Beng An tetap beku seperti semula, kaku dan membujur seperti sebalok es maka kakek itu menggeram dan menyambar anak ini.

“Kalau begitu kukeremus batok kepalamu!”

Beng An terkesiap, kepala melekat di mulut kakek ini dan tahu-tahu Poan-jin menggigit. Beng An terkejut dan tentu saja mati-matian mengerahkan Tenaga Inti Es. Dan ketika gigi kakek itu berkelethuk seperti anjing menggigit tulang, keras dan alot maka kakek ini menyumpah-nyumpah karena gagal.

“Bedebah, anak haram!” Poan-jin mengulang lagi, menggigit namun tiba-tiba menjerit. Saking kuat dan gemasnya mengulang gigitannya tiba-tiba giginya itu merasa linu dan ngilu bertemu batok kepala yang dingin luar biasa. Tenaganya boleh kuat tapi giginya yang tak tahan. Poan-jin menyumpah serapah. Dan ketika kakek itu menggigit yang lain namun sama saja, anak itu benar-benar sedingin es maka Poan-jin membanting dan melempar anak ini, kaget dan penasaran!

“Jahanam, kau berlatih ilmu apa! Bagaimana tubuhmu sedingin dan sebeku ini!”

“Ha-ha!” Beng An tertawa bergelak, usahanya berhasil. “Kau seperti anjing menggigit tulang baja, Poan-jin. Ayo bunuh aku lagi dan gigit!”

“Tentu, aku akan menggigitmu, membunuhmu. Tapi jalan darahmu harus lancar kembali dan tak boleh beku. Aku akan memanaskan tubuhmu dengan sinkangku!” dan ketika kakek itu menyambar dan mencengkeram anak ini, gemeratak, maka Beng An gelisah karena tiba-tiba hawa panas meluncur dari tangan kakek itu menghangatkan tubuh dinginnya.

“Tidak, kau tak akan berhasil!” Beng An tak mau bicara lagi dan tiba-tiba mengempos semangat. Ia telah girang dan besar hati bahwa Ping-im-kangnya mampu membuat si kakek kelabakan. Gigi kakek itu bertemu tubuh es nya yang dingin dan Poan-jin berteriak-teriak. Sungguh ia ingin terpingkal kalau saja kakek ini tak berusaha mengulangi kegagalannya. Tapi begitu si kakek mengerahkan sinkang panas dan Beng An mengerahkan sinkang dingin, panas dan dingin bertemu tiba-tiba anak itu terkejut karena perlahan-lahan tubuh es nya mencair. Kalah kuat!

“Ha-ha, mampus kau, bocah. Sinkangku dapat mencairkan dirimu dan sebentar lagi aku akan menikmati otak dan sumsum segar!”

Beng An pucat. Ia baru saja dua bulan melatih Tenaga Inti Es, itupun sudah luar biasa karena ia telah mampu menyamai mendiang kakeknya, ketika dulu Hu Beng Kui mendemonstrasikan kepandaiannya. Dan ketika benar saja perlahan-lahan tubuh luarnya menghangat, sedikit demi sedikit kulit tubuh anak laki-laki ini melemas maka Poan-jin berseri-seri namun saat itu tiba-tiba terdengar bentakan suhengnya yang melengking.

Sute, cepat bantu aku. Atau aku akan membunuhmu kalau tak mau turun!”

Kakek ini terkejut. Ia sedang melancarkan sinkang mencairkan tubuh beku anak ini. Sebentar lagi Beng An mengalir jalan darahnya dan ia akan mampu menyedot, darah anak itu tak akan lagi beku. Dan ketika bentakan atau seruan suhengnya itu menggelegar menggetarkan gunung, suhengnya benar-benar berada dalam keadaan yang sulit maka kakek ini pucat dan bingung, seruan terakhir suhengnya itu membuatnya gugup.

“Awas, sekali kau pura-pura tuli aku akan menghancurkan Bu-siang-sin-kang mu itu. Aku akan menggebah seratus roh lelaki itu!”

Kakek ini gentar. Suhengnya sendiri tiba-tiba sudah mengancamnya sedemikian rupa. Keadaan tentu benar-benar gawat dan ia pucat siapakah kiranya musuh yang amat lihai itu. Apakah Pendekar Rambut Emas dan isterinya tapi kenapa suara pukulan terdengar lain. Juga bentakan-bentakan di bawah selain suhengnya terdengar suara atau bentakan seorang anak muda. Dan karena kakek ini gugup sementara suhengnya sudah seperti kambing kebakaran jenggot, sungguh ia kacau maka saat itu di puncak terdengar suara-suara gemuruh seperti barang yang akan meletus.

Kakek ini menjadi bingung dan Beng An tiba-tiba berhasil menguasai keadaan, tubuh yang cair membeku kembali dan berteriaklah kakek itu oleh bingung dan kecewa. Dan ketika Beng An tiba-tiba melihat sebuah kantung kulit di leher kakek ini, bergoyang dan melembung serta mengempis tiba-tiba anak itu bergerak dan disambar atau diraihlah kantung kulit itu.

“Heiii.... brettt!”

Beng An ditepis. Anak ini sudah berhasil menyambar atau mencengkeram kantung kulit itu, pecah dan isinya tiba-tiba berhamburan keluar. Dan ketika Beng An tertegun karena seratus cahaya tiba-tiba beterbangan dan mengelilingi kakek itu, ada suara-suara aneh seperti tawon atau lebah maka Poan-jin menjerit ketika seratus sinar warna-warni ini menggigitnya, semua di leher.

"Aughh!"

Beng An dibanting. Poan-jin berteriak ketika tiba-tiba diserang atau dikeroyok seratus cahaya warna-warni ini. Bentuknya aneh-aneh seperti balon atau gelembung busa, mencicit dan mengeluarkan suara riuh dan itulah seratus roh bayi lelaki yang lepas dari kantung kulit. Beng An tak tahu bahwa ia telah memecahkan barang keramat yang dimiliki kakek ini. Poan-jin mengumpulkan seratus roh bayi itu di kantung kulit. Dan karena mereka dapat mendendam dan marah kepada kakek ini, seratus roh itu menerjang dan menghambur ke depan maka seperti lintah mereka itu sudah hinggap dan menggigit leher kakek ini, dari segala penjuru!

Poan-jin berteriak-teriak dan menampari roh-roh itu, yang terpental tapi kembali hinggap dan menggigiti lehernya lagi. Dan ketika kakek itu meraung karena gusar, kulit lehernya sudah mulai luka-luka maka Beng An tiba-tiba terkekeh dan tertawa-tawa geli, mengira itu adalah kunang-kunang atau tawon warna-warni yang lepas dan menyerang tuannya sendiri.

“Hi-hi, kau diserang hewan piaraanmu sendiri, Poan-jin. Makanya jangan jahat-jahat agar tidak kuwalat!”

“Bedebah, ke sini kau!” kakek itu memekik, marah melihat Beng An dan tiba-tiba ia sudah menyambar atau menangkap anak ini. Dan ketika Beng An terkejut karena sudah diangkat, kakek itu mendelik maka anak ini sudah diputar dan dikebut-kebutkan ke arah seratus roh-roh bayi itu, cepat dan luar biasa namun roh-roh bayi itu mengelak dan beterbangan menghindari anak ini. Rupanya mereka tahu bahwa justeru berkat pertolongan Beng An lah mereka dapat lolos, keluar dari kantung kulit. Dan ketika suara seperti tawon itu semakin nyaring dan melengking, puncak Naga Merah tiba-tiba berderak oleh gemuruh di perut bumi maka terdengar letusan pertama dari bergolaknya gunung berapi.

“Blarr!” Asap merah membubung tinggi. Beng An dan Poan-jin sama-sama terkejut karena bumi yang mereka injak bergetar kuat. Dan ketika seratus roh itu juga berhamburan dan cerai-berai, gelegar pertama disusul oleh gelegar kedua maka Poan-jin meletup karena seratus roh yang susah payah dikumpulkannya itu menghilang ke segala penjuru.

“Kau bocah tengik. Bedebah keparat!” kakek ini tak dapat menahan marah, membentak dan menggigit Beng An dan sekonyong-konyong ia menjadi buas.

Beng An terkejut dan untung Tenaga Inti Esnya masih ada, bereaksi dan berteriaklah kakek itu menggigit sesuatu yang dingin. Dan ketika puncak bergemuruh dan Beng An pucat serta ngeri, juga marah oleh kekejaman kakek ini tiba-tiba ia menyambar leher kakek ini dan ikut menggigit seperti ”kunang warna-warni” yang tadi melakukan hal yang sama.

“Augh-argghhhh!”

Beng An dilempar. Ia pucat dan seram oleh teriakan Poan-jin yang panjang. Namun karena ia menggigit kuat-kuat dan aneh serta mengherankan bahwa kulit leher kakek ini amat lunak, sekali di gigit tiba-tiba mengucurkan darah maka Beng An yang tetap melekat mendadak saja menjadi beringas dan menyedot darah di leher kakek itu. Teringat akan maksud atau niat kakek ini yang juga akan menghisap atau menyedot otak dan sumsumnya!

“Aurgh-arghhh....!”

Teriakan atau pekik panjang itu sungguh menggetarkan hati. Beng An yang menggigit dan terus menggigit tiba-tiba tak dapat dilepaskan. Anak ini telah ditarik dan dilempar namun tetap saja melekat di leher kakek itu. Poan-jin disedot dan dihisap darahnya dan kekebalan kakek itu tiba-tiba saja punah. Beng An tak tahu bahwa kantung kulit yang dipecahkannya tadi telah membuat kesaktian kakek ini juga ikut pecah, hancur dan gigitan seratus roh bayi lelaki itu juga ikut menghancurkan kekebalan Poan-jin.

Kakek ini menerima akibat fatal dari robek atau pecahnya kantung kulit tadi. Ilmunya baru akan dikumpulkan ketika tiba tiba saja sudah didahului Beng An. Dan karena pusat kekuatan kantung kulit itu hancur, tentu saja kakek ini pucat maka hancur pula kesaktian atau ilmu-ilmunya, Beng An secara tepat menggigit pula urat besar di leher kakek itu, tempat di mana aliran darah paling deras mengalir.

Dan karena sebelumnya Poan-jin sudah dibuat gugup oleh panggilan suhengnya yang berkali-kali, juga ancamannya untuk membunuh atau membuang seratus roh bayi-bayi lelaki itu maka kakek ini benar-benar terkejut ketika tiba-tiba pusat kekuatannya di kantung kulit itu disambar anak ini. Dia sedang gugup dan panik oleh semuanya ini. Bentakan atau teriakan suhengnya sungguh membuat ia bingung. Dan karena saat itu puncak Naga Merah juga menggelegar dan membuatnya panik, gunung berapi itu mulai meletus maka kakek ini benar-benar gugup dan kacau oleh kejadian yang susul-menyusul.

Ia tak dapat mengkonsentrasikan pikirannya lagi dan perhatiannya pecah ke mana-mana. Yang paling membuat ia terkejut adalah pecahnya kantung kulit itu, pusat kesaktian di mana susah payah ia mengumpulkannya. Maka begitu kantung kulit ini pecah, roh seratus bayi lelaki itu berhamburan ke mana-mana, menyerang dan menggigit lehernya tiba-tiba kakek itu marah dan gusar bukan main, menggebah mereka namun puncak Naga Merah menyemburkan apinya...

Rajawali Merah Jilid 20

RAJAWALI MERAH
JILID 20
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
GADIS ini marah karena Soat Eng mulai dulu menyerangnya, mengejarnya tak membiarkan dia pergi, padahal semua itu sebenarnya adalah untuk kebaikan bersama. Dia tak dapat memusuhi putera-puteri Pendekar Rambut Emas ini setelah Thai Liong menyelamatkannya. Si buntung Togur amatlah mengerikannya dan kalau tak ada pemuda itu entahlah apa yang terjadi. Dia mengkirik membayangkan itu.

Tapi begitu Soat Eng menyerang dan memaki-makinya, ia marah dan tentu saja membalas maka mereka segera bertanding dan Shintala tiba-tiba mengeluarkan Sing-thian-sin-hoatnya dan diputarlah tongkat melindungi diri dari serangan-serangan Khi-bal-sin-kang.

“Plak-des-dess!”

Soat Eng tertegun ketika pukulan-pukulannya tertahan. Putaran tongkat yang demikian cepat sungguh membuat gadis itu tertutup rapat, akibatnya ia tak dapat menyerang dengan tepat. Dan ketika Sing-thian-sin-hoat membuat ribuan bayang- bayang di mana lawan tak dapat dilihat lagi maka Soat Eng bingung karena tak dapat menentukan arah serangan.

“Licik, pengecut!” wanita itu memaki-maki. ”Kau hanya bersembunyi di balik tongkatmu, Shintala. Hayo keluar dan rasakan pukulanku!”

“Hm, tak dapat memukul lalu bercecowetan,” Shintala membalas tak kalah pedas. “Kalau mampu merobohkan aku maka lakukan itu, Soat Eng. Atau kalau kau lelah lebih baik berhenti dan menyerah!”

“Menyerah? Ah, omongan busuk... des-dess!” dan Khi-bal-sin-kang yang kembali menyambar namun membentur bayang-bayang tongkat, yang sudah mengurung dan bergerak rapat akhirnya gagal mengenai sasaran karena cucu Drestawala itu sudah melindungi diri dengan baik.

Shintala tak berani menerima karena Khi-bal-sin-kang akan membuatnya terlempar. Satu-satunya jalan ialah membiarkan lawan terus menyerang dan lelah kehabisan tenaga, dia telah memiliki pengalaman ketika dulu bertanding dengan Kim-hujin. Dan ketika hal itu dipraktekkan di sini dan Soat Eng mencak-mencak, semua serangannya tak membawa hasil maka dia memekik dan menyuruh gadis itu membalas.

“Hayo, jangan bersembunyi saja. Pengecut! Serang aku dan coba pula robohkan aku!”

“Hm, tak usah disuruh. Kalau kau sudah tidak bercecowetan lagi tentu aku melancarkan pukulanku, Soat Eng. Awas dan hati-hati.... plak!” Shintala muncul dari balik bayang-bayang tongkatnya, melepas pukulan tapi tertolak oleh Khi-bal-sin-kang. Pukulannya masuk dan mengenai pundak Soat Eng namun ia terpental sendiri. Dan ketika Soat Eng tertawa mengejek sementara lawan cepat-cepat masuk kembali ke dalam gulungan tongkatnya, takut, maka Soat Eng berseru agar memukulnya lagi berulang-ulang.

“Ayo, ayo tunjukkan kepandaianmu. Jangan seperti tikus yang selalu bersembunyi di liangnya!”

Shintala gusar. Ia mencoba lagi ketika Soat Eng gagal membalas serangannya keluar dan menghantam lagi dan berturut-turut tengkuk atau punggung wanita itu dipukulnya. Tapi ketika serangannya membalik dan Soat Eng terkekeh, mengejeknya, maka gadis ini malu tapi juga menyemprot lawan. “Jangan terkekeh saja. Ayo robohkan aku dan coba kau tembus Sing-thian-sin-hoatku. Kaupun tak dapat mengalahkan aku!”

“Hm, kau seperti tikus bersembunyi di pecomberan. Kalau kau minta dihajar keluar dan buyarkan tongkatmu, Shintala. Nanti tentu kau tahu bahwa aku dapat merobohkanmu!”

“Licik, tak tahu malu. Beginikah watak puteri Pendekar Rambut Emas yang tak dapat merobohkan lawannya? Kalau kau pandai boleh cari dan hancurkan aku, Soat Eng. Jangan minta cuma-cuma seperti seorang bocah!”

“Keparat, mulutmu tajam!” dan ketika Soat Eng marah dan terbakar, menerjang lagi maka keduanya bertanding sengit namun harus diakui bahwa masing-masing tak ada yang kalah atau menang. Soat Eng tak mampu menerobos gulungan Sing-Thian-sin-hoat itu padahal untuk mendaratkan pukulannya haruslah mampu mendobrak pertahanan musuh. Dan karena Shintala sendiri juga bingung karena setiap memukul tentu terpental, ilmu sakti Khi-bal-sin-kang memang hebat luar biasa maka akibatnya kedua-duanya tak dapat merobohkan lawan karena masing-masing memiliki kelebihannya sendiri!

Soat Eng memaki-maki sementara Shintala juga mengejek dan membalasnya. Dua wanita itu bertanding menguras tenaga, tak terasa masing-masing akhirnya menjadi lelah dan mandi keringat. Dan ketika mereka mulai terhuyung-huyung sementara pertandingan tetap berjalan seri, tak ada yang kalah atau menang maka berkesiurlah bayangan putih dan terdengar tawa lembut disusul kibasan angin kuat.

“Sudahlah, sudah. jangan menarik urat anak-anak. Berhenti dan kalian jangan bertanding lagi!”

Soat Eng maupun Shintala tiba-tiba terlempar. Mereka diangkat sebuah tenaga raksasa dan tahu-tahu seorang kakek berwajah halimun mengibas di tengah, perlahan saja namun buktinya dua orang itu mencelat! Dan ketika Soat Eng maupun Shintala berteriak kaget, terpekik namun bergulingan meloncat bangun maka kakek itu tertawa dan tawanya sungguh menyejukkan hati. Kemarahan dan segala rasa benci lenyap!

“Sian-su...!”

“Bu-beng Sian-su!”

“Hm,” Sian-su, kakek dewa itu, tertawa lembut. “Tiada hujan tiada angin kalian bertanding seru, anak-anak. Hanya untuk sebuah persoalan remeh. Ah, betapa mudahnya mengadu jiwa hanya untuk sebuah persoalan remeh semata!”

“Dia menghinaku!” Soat Eng melengking, tiba-tiba menuding lawannya itu. “Dia menghina dan merendahkan aku, Sian-su. Aku tak terima dan tentu saja membalas!”

“Hm, semua bermula dari sebuah kesalahpahaman. Aku lebih tahu dari siapapun. Sudahlah, tak perlu diperpanjang dan nona boleh bersama kami, kalau suka,” kakek itu memandang Shintala, lembut dan memancarkan pandangan penuh kasih.

Shintala tiba-tiba terisak. Berhadapan dan beradu pandang dengan mata selembut itu tiba-tiba gadis ini merasa seolah berhadapan dengan kong-kongnya (kakek) sendiri. Maka begitu dia menangis dan teringat kakeknya mendadak gadis ini menubruk dan berseru tersedu-sedu. “Kong-kong...!”

Soat Eng terkejut. Shintala tahu-tahu memeluk dan menubruk Bu-beng Sian-su. Kakek dewa itu dianggap kakeknya sendiri dan lebih terkejut lagi ketika Bu-beng Sian-su tiba-tiba menerima, mengelus dan menepuk-nepuk pundak gadis itu. Dan ketika bayangan merah berkelebat dan kakaknya juga di situ, tertegun dan membelalakkan mata melihat ini maka Bu-beng Sian-su tersenyum berkata lirih.

“Kong-kong mu telah meninggal. Sadar dan jangan mengingat-ingat lagi orang yang telah pergi, anak baik. Tak baik bagi arwahnya yang sedang melakukan perjalanan pulang. Kau tak perlu marah-marah kepada keluarga Pendekar Rambut Emas dan lihatlah aku.”

Shintala kaget. Tiba-tiba dia sadar bahwa yang ditubruk dan dipeluk adalah orang lain, bukan kakeknya. Tapi begitu pandang mata itu beradu lagi dan ia tak kuat oleh pancaran kelembutan yang demikian dalam, sejuk dan teduh di hati tiba-tiba gadis ini menangis dan bahkan menyusupkan kepalanya di dada kakek itu persis kepada kakeknya sendiri!

“Ooh, aku tak dapat, Sian-su. Aku tak sanggup. Semua orang membenciku. Aku marah dan ingin membenci mereka pula!”

“Hm, keturunan yang baik tak boleh berpikiran seperti itu. Kakekmu Drestawala adalah seorang gagah berwatak mulia. Bangkit dan sadarlah bahwa tak ada orang membencimu. Lihat keluarga Pendekar Rambut Emas ini memandangmu dengan aneh. Mereka bukan musuh!”

Shintala tertegun. Dia diusap dan ditepuk kakek itu. Bu-beng Sian-su memandang Soat Eng dan Thai Liong dan tiba-tiba dua orang ini merasakan kesejukan yang dalam pada pandang mata kakek itu. Ada senyum dan tawa hangat di situ. Ada kegembiraan dan keceriaan merangsang. Dan ketika Soat Eng tiba-tiba tersenyum dan terpengaruh oleh pandang mata ini, tak tahan, tiba-tiba ia tersenyum dan terkekeh!

“Lihat,” kakek itu menuding. “Siang-hujin ini tertawa kepadamu, Shintala, Tak ada permusuhan atau rasa benci kepadamu.”

“Siang-hujin (nyonya Siang)?” Shintala terkejut dan memandang Soat Eng, yang seketika menghentikan ketawanya karena juga terkejut sendiri. “Dia... dia ini seorang nyonya?”

“Hm, banyak persoalan yang dialami setiap manusia, anak baik, bukan hanya kau seorang. Tak perlu sedih dan beriba diri. Setiap orang memiliki persoalan dan setiap orang membutuhkan pemecahannya. Dia memang Siang-hujin tapi suaminya diculik atau dibawa Poan-jin-poan-kwi itu!”

“Tapi katanya Poan-jin-poan-kwi membawa adiknya!”

“Itu satu dari yang dibawa. Apakah kita mau bercakap-cakap?”

“Nanti dulu,” Soat Eng tiba-tiba mencoba bersikap garang dan menyembunyikan rasa malunya kenapa tadi dia tertawa. Gila! “Aku ingin bertanya kenapa dia memusuhi ayah ibuku, Sian-su. Tanpa jawaban jelas aku tak mau berbicara!”

“Hm, diapun memiliki persoalan,” kakek itu mengangguk-angguk, menarik napas dalam-dalam. “Ada akibat tentu ada sebab, Siang-hujin. Tapi pertama yang ingin kuminta adalah lenyapkan kemarahanmu dan hilangkan benci atau gusar. Kalian semua korban Poan-jin-poan-kwi.”

Soat Eng tertegun. Dia coba bersikap keras dan menatap sepasang mata lembut kakek ini. Mula-mula berhasil namun tiba-tiba dia terkejut. Mata yang dalam dan lembut itu menusuk jauh ke ujung hatinya, tembus sampai membuat dia merinding. Dan ketika mata lembut itu membius dan menerangi hatinya, yang sedang gelap, mendadak ia tak tahan dan menunduk. Wanita itu kalah!

“Maaf, Sian-su,” Soat Eng coba membela diri. “Kalau tak ada penjelasannya mungkin sukar hati ini dibersihkan dari kemarahan dan benci. Aku mohon petunjuk.”

“Tentu, aku akan memberimu petunjuk,” kakek ini tertawa, lembut. “Tapi percayakah kau kepadaku?”

Soat Eng terkejut.

“Orang yang tak percaya tak mungkin diberi petunjuk, siauw-hujin (nyonya muda). Karena di dasar hatinya masih ada kesombongan dan rasa "aku" yang besar. Nah, kalau kau benar-benar percaya maka aku dapat menjelaskannya.”

“Aku percaya...” Soat Eng tak dapat mengelak lagi, merah dan semburat. “Silahkan kau bicara, Sian-su. Dan aku dapat menerimamu!”

“Hm, semuanya bersumber dari Poan-jin-poan-kwi,” kakek itu mulai menerangkan. “Tapi semuanya bisa juga bersumber dari diri sendiri. Aku hendak menjelaskan yang pertama dan bukan yang kedua. Gadis ini marah-marah karena salah paham dengan ayah ibumu...”

“Maksud Sian-su?”

“Kakeknya terbunuh ketika bertanding dengan Poan-kwi. Dan karena ayah ibumu ada di situ dan kebetulan bertanding dengan dua kakek ini maka kakeknya yang menyelamatkan adikmu Beng An menjadi korban.”

“Beng An? Kakeknya menyelamatkan Beng An?”

“Hm, waktu itu Drestawala berhadapan dengan Poan-jin-poan-kwi, siauw-hujin. Dan tentu saja masalah Beng An ini merupakan peristiwa susulan. Drestawala terdesak hebat dan waktu itulah ayah ibumu datang. Ayah ibumu membantu dan kakek ini merasa berhutang budi, berhasil diselamatkan. Tapi karena mereka mengejar Poan-jin-poan-kwi dan dua kakek itu ganti terdesak, tak sanggup menghadapi Drestawala dan ayahmu yang bergabung maka Poan-jin-poan-kwi mempergunakan adikmu Beng An untuk mengacau...”

“Tapi bukan hanya Beng An saja yang dibawa Poan-jin-poan-kwi!” Soat Eng memotong. “Ada pula Siang Le di situ. Kenapa hanya Beng An saja!”

“Suamimu itu akhirnya sudah kembali ke ayah ibumu. Dia sudah berhasil diselamatkan.”

“Apa? Siang Le-koko sudah dirampas ayah ibu?”

“Benar, dan tinggal adikmu ini, siauw-hujin. Dan Drestawala ingin membalas budi pertolongan ayahmu dengan mengorbankan dirinya, meskipun gagal....”

“Oohh!” dan Soat Eng yang terlonjak dan tidak menghiraukan kata-kata yang terakhir lalu menyambar dan memeluk kakaknya, girang bukan main. “Ooh, Siang Le-koko sudah selamat, Liong-ko. Mari kita pulang. Kita lihat!”

“Hm,” Thai Liong mendorong dan melepaskan dirinya. “Kata-kata Sian-su belum selesai, Eng-moi. Jangan bergirang dulu sementara orang lain masih menanggung duka!”

Soat Eng terkejut. Dia merah dan malu karena tanpa sadar ia sudah menunjukkan kegembiraannya yang meluap-luap, tak menghiraukan atau perduli akan nasib Drestawala, kakek Shintala itu. Dan ketika dia menunduk dan meminta maaf, lirih, maka Bu-beng Sian-su tersenyum menggenggam Shintala karena gadis itu tertusuk oleh kegembiraan Soat Eng, teringat kematian kakeknya yang sama sekali tak dihiraukan!

“Orang hidup memang begini,” kakek itu tertawa, datar. “Suka dan duka selalu mendahulukan emosi. Sudahlah, tak perlu minta maaf, siauw-hujin. Siapapun pasti melakukan yang sama kalau sedang gembira atau berduka. Aku sekarang hendak memberi tahu bahwa Shintala pun tak perlu marah kepada keluarga Pendekar Rambut Emas. Kematian kakekmu bukan atas kehendak Pendekar Rambut Emas melainkan oleh kesengajaannya sendiri. Dan sebelum Pendekar Rambut Emas datang tentu kakekmu sudah lebih dulu binasa di laut Lam-hai. Jadi kau masih beruntung bahwa kakekmu masih mendapat tambahan umur untuk beberapa waktu!”

“Sian-su tahu semuanya ini?” gadis itu tertegun.

“Aku tahu dari jauh, nona. Dan jangan menyalahkan aku dengan mengatakan kenapa aku tidak menolong kakekmu!”

“Ooh...!” Shintala menutupi mukanya. ”Aku sedih, Sian-su. Aku menyesal!”

“Tak ada yang perlu disesali. Semua itu sudah takdir. Nah, kau masih mau memusuhi keluarga Pendekar Rambut Emas?”

Gadis ini menangis. Tiba-tiba ia mengguguk dan menubruk kakek itu, tersedu-sedu dan berguncang-guncang di dada kakek dewa ini. Dan ketika Bu-beng Sian-su mengusap dan kembali mengelus-elus rambutnya, gadis itu merasa terharu maka Thai Liong menelan ludah dan matapun tiba-tiba menjadi basah!

“Eh, kau menangis!”

Thai Liong terkejut. Adiknya, yang melihat dan memperhatikan gerak-geriknya tiba-tiba berseru tanpa perduli kepada orang lain lagi. Shintala terkejut dan menoleh. Dan ketika benar saja ia melihat pemuda itu menangis, tak tahan karena ia menangis maka Bu-beng Sian-su tertawa dan berseru.

“Thai Liong, kau perasa amat. Sebenarnya kaulah yang harus menghibur cucu Drestawala ini!”

“Ah,” Thai Liong berobah, wajah semburat merah. “Aku tak dapat menghiburnya, Sian-su. Gadis itu sedang marah dan tak suka kepada kami!”

“Hm, orang hidup pasti mati, Ada atau tidak ayahmu itu pasti Drestawala akan meninggalkan dunia juga, kalau sudah waktunya. Apakah Shintala tak dapat melihat ini karena sempit pandangannya? Tidak, kukira gadis ini dapat melihat itu, Thai Liong. Dan aku percaya bahwa ayahmu tak akan dituduh sebagai penyebab kematian kakeknya. Tanpa kehadiran ayahmupun Drestawala pasti akan tewas di tangan Poan-kwi. Kakek itu sudah menerima takdir!”

Shintala tertegun. Untuk kesekian kalinya lagi dia dibuat sadar oleh kata-kata ini. Benar, tanpa kehadiran Kim-mou-eng pun pasti kakeknya akan binasa. Poan-jin-Poan-kwi terlalu hebat dan dia maupun kakeknya bukan tandingan. Dan teringat bahwa Pendekar Rambut Emas bermaksud menolong kakeknya, gagal dan kakeknya tewas maka gadis ini menahan isak dan kemarahan atau kebenciannya terhadap Pendekar Rambut Emas atau isterinya lenyap. Kakeknya memang harus tewas, sudah takdir!

“Bagaimana?” gadis itu terkejut, Bu-beng Sian-su tiba-tiba menanyainya. “Apakah kau menerimanya, Shintala? Atau masih mau marah-marah lagi?”

Gadis ini merah. “Aku menerimanya....”

“Hm, begini saja?”

Shintala terkejut, membelalakkan mata..”Maksud Sian-su?”

“Kalau kau menerimanya berarti menghapus permusuhanmu kepada Pendekar Rambut Emas, Shintala. Jadi kau harus meminta maaf kepada keluarganya ini, orang yang tak tahu apa-apa tentang persoalanmu semula.”

“Ah, aku minta maaf!” dan Shintala yang terkejut dan sadar akan itu tiba-tiba membalik dan menghadapi Soat Eng, berseru dan mencucurkan air mata karena ia malu dan juga sedih. Soat Eng terkejut dan cepat-cepat menyambar bekas lawannya ini. Dan ketika ia berbisik bahwa iapun minta maaf, memeluk dan Shintala menubruknya tiba-tiba dua wanita itu telah saling bertangisan dan menghujani cium.

“Enci Eng, aku minta maaf...!”

“Akupun juga,” Soat Eng tak tahan, bercucuran air mata pula. “Aku juga bersalah kepadamu, Shintala, telah menyakiti hatimu.”

“Ah, tidak... tidak. Aku yang mulai dulu!”

“Tapi aku memaki-makimu, mengejarmu!”

“Tidak, aku yang salah, enci Eng. Aku yang picik dan kurang berpikiran jauh. Sudahlah, aku tak mau mengingat-ingat itu lagi dan bagaimana sekarang dengan adikmu Beng An!”

Soat Eng teringat. Tiba-tiba ia tertegun dan melepaskan diri, menoleh dan memandang Beng An yang masih dipondong kakaknya. Adiknya itu masih pingsan dan kakaknyapun tiba-tiba terkejut dan sadar. Semua pandangan tiba-tiba tertuju ke sini dan Thai Liong menarik napas dalam-dalam. Dan ketika dua wanita itu saling melepaskan diri dan bertanya tentang Beng An, masing-masing menghapus air mata maka Thai Liong memandang kakek dewa itu dan berlutut.

“Teecu tak tahu apa yang terjadi, agaknya tak mampu mengobati. Harap Sian-su memberi petunjuk dan kenapa adikku ini tak sadarkan diri sejak tadi!”

“Serahkan kepada ibumu,” Bu-beng Sian-su tiba-tiba berkata, suaranya berobah agak keren. “Darah seorang ksatria suci yang akan menyelamatkan adikmu ini, Thai Liong. Dan ibumu yang akan menjadi sebab!”

“Ibu? Ibu dapat menyembuhkan Beng An?

“Ibumu tak dapat menyembuhkan Beng An. Tapi dialah nanti yang akan menjadi sebab adikmu sembuh!”

“Teecu bingung...”

“Tak perlu bingung, Thai Liong. Serahkan dan kembali saja kepada ibumu itu. Katakan bahwa darah seorang ksatria suci yang akan menyembuhkan adikmu. Ibumu harap waspada!”

Thai Liong tertegun. Kakek dewa ini tiba-tiba bersikap keren dan agak dingin. Aneh! Dan ketika ia terbelalak sementara adiknya dan Shintala juga tertegun maka Bu-beng Sian-su menyambar sehelai lontar dan mencorat-coret di situ, menyerahkannya kepada Thai Liong, yang tentu saja kian tertegun.

“Serahkan ini kepada ibumu dan suruh dia menemukan inti jawabannya. Kalau jawabannya belum ketemu juga maka ksatria berdarah suci itu yang akan membuka matanya!”

Thai Liong terbelalak. Ia menerima dan gemetar membaca daun lontar itu. Ada dua bait syair yang membuat ia merinding karena berbau darah dan maut. Bu-beng Sian-su seakan menyuruh dia waspada karena sesuatu yang hebat akan terjadi. Dan ketika pemuda ini tertegun dan menjublak bengong, ia bingung dan tak mengerti maka kakek dewa itu memandang Soat Eng, kata-katanya membuat wanita muda ini mengkirik!

“Siauw-hujin, kau akan mengalami sesuatu yang memedihkan. Tapi semua ini obat untuk keluargamu, terutama ibumu itu. Garis nasib tak dapat dirobah dan apapun yang terjadi terimalah dengan dada lapang. Kau cari suamimu dan dekat-dekatlah selalu dengannya. Jangan ditinggal sendirian!”

Soat Eng menggigil. “Apa yang akan aku alami?”

“Nanti kau tahu sendiri, hujin. Takdir atau garis nasib tak dapat dirobah. Waspada dan jangan berpisah lagi dengan sumimu!”

“Sian-su...!”

Namun Bu-beng Sian-su yang berkelebat dan lenyap melambaikan tangan mendadak tertawa dan menghilang di bawah gunung. Kakek itu tak berkata apa-apa lagi dan tahu-tahu lenyap begitu saja, setelah menyerahkan lontar dan pesan kepada putera-puteri Pendekar Rambut Emas itu. Dan ketika Thai Liong maupun Soat Eng tertegun, mengejar namun kakek itu menghilang maka wanita ini menggigil menghadapi kakaknya.

“Liong-ko, aku merasa seram. Kakek itu menakut-nakuti aku!”

“Hm, Sian-su tak pernah menakut-nakuti siapapun. Apa yang dikata berguna bagi orang lain, Eng-moi. Begitupun nasihatnya kepadamu tadi. Kita diminta waspada untuk sesuatu yang akan terjadi!”

“Ya, dan itu rasanya menyeramkan. Bulu kudukku merinding!”

“Hm, akupun juga begitu, Eng-moi. Lihat daun lontar ini!”

“Apa yang dia berikan?”

“Kau lihat saja, baca!” dan ketika Soat Eng menerima dan membaca itu, Bu-beng Sian-su menggoreskan huruf-huruf indah di daun lontar ini maka nyonya muda itu tertegun:

Menghunjam dalam sepotong pedang
menusuk bumi luka berdarah
melepas dendam marah dan berang
tak perduli lagi iblis berulah!

Petir dan guntur sambar-menyambar
pekak telinga dengar gelegar
nyaris maut datang menggetar
sering terlambat di waktu sadar!

“Ini... ini... apa artinya itu?” Soat Eng terbelalak, gentar. “Aku merasa ngeri, Liong-ko. Seolah-olah maut dan darah!”

“Hm, akupun juga tak tahu. Tapi ibu barangkali mengerti.”

“Ibu?”

“Ya, bukankah kita disuruh menghadap ibu, Eng-moi? Dan ini disuruh menyerahkan kepada ibu pula, termasuk adik kita Beng An.”

“Kalau begitu ada hubungannya dengan ibu!”

“Jelas.”

“Kalau begitu ibu tahu!”

“Belum tentu,” sang kakak menggeleng. “Sian-su amat misterius dan aneh, Eng-moi. Apa yang diberikan kepada orang lain belum tentu langsung dapat di tangkap dan diterima. Syair-syairnya aneh dan tak mudah dicerna!”

“Tapi selalu membawa manfaat!”

“Ya, tapi selalu di akhir kejadian. Kita tak dapat mengikuti gerak-geriknya kalau belum ada peristiwa itu.”

“Ah, kalau begitu bagaimana, Liong-ko? Apakah kita selalu dihantui perasaan tidak karuan selama menanti peristiwa itu? Aku tegang!”

“Akupun juga, tapi tak guna dihantui perasaan yang tidak-tidak. Sebaiknya kita biasa-biasa saja dan bersikap wajar.”

“Apa yang kalian bicarakan,” Shintala tiba-tiba ingin tahu, dua temannya lupa tak menghiraukan dirinya. “Kenapa kalian gelisah dan demikian tak tenang, Eng-cici. Bolehkah aku tahu dan dapatkah membantu!”

Soat Eng sadar, menoleh. “Sian-su meninggalkan ini kepada kita. Dan ini selalu berharga!”

“Apa itu?”

“Dua bait syair yang membuat bulu kudukku meremang. Lihatlah!” dan ketika Soat Eng menyerahkan daun lontar itu dan Shintala membaca maka gadis inipun mengerutkan kening dengan wajah berobah.

“Rasanya seram, berbau darah dan maut!”

“Aku juga merasakannya begitu,” Soat Eng mengangguk. “Dan aku ngeri, Shintala. Sian-su menyuruhku waspada dan hati-hati. Aku harus menemui suamiku!” lalu menoleh pada Thai Liong wanita ini berseru, “Liong-ko, kita harus kembali. Ibu harus diberi tahu dan aku ingin bertemu ayah!"

“Hm, memang sebaiknya begitu. Beng An dan suamimu sudah kembali, Eng-moi. Dan kita sudah lama meninggalkan orang tua. Mari kembali dan kita pulang!”

“Dan kita bawa Shintala!”

“Ah,” gadis itu terkejut, berjengit. “Aku tak mau mengganggu, enci Eng. Kalian sedang menghadapi persoalan serius dan silahkan pergi berdua. Aku dapat pergi sendiri!”

“Tidak,” Soat Eng menyambar dan menggenggam lengan temannya ini. “Aku mungkin butuh pertolonganmu, Shintala, Kau ikutlah aku dan jangan ditolak. Aku tak ada teman wanita yang dapat diajak bercakap-cakap di jalan!”

“Tapi ada ibumu di sana,” Shintala tak enak, kecut membayangkan pertandingannya dulu dengan Kim-hujin itu, isteri Pendekar Rambut Emas yang ternyata galak dan juga keras seperti puterinya ini. “Aku tak ingin mengganggu, enci Eng. Sebaiknya kau pergi saja berdua dan aku masih akan mencari Poan-kwi.”

“Kau gila?” Soat Eng melotot, menggelengkan kepala keras-keras. “Kau tak boleh sendirian, Shintala. “Bantu aku dan jangan ditolak permintaan ini. Aku butuh teman sebaya untuk bersahabat. Aku butuh dirimu di dalam perjalanan!”

“Tapi ada kakakmu....”

“Ah, dia laki-laki, Shintala. Aku butuh yang perempuan!”

“Tapi ada pula bibimu Cao Cun.”

“Dia seusia ibuku. Aku mau yang muda! Ah, kau tak mau memenuhi permintaanku ini, Shintala? Kau keberatan?”

“Tidak, bukan begitu. Tapi kakakmu...”

“Liong-ko tak akan menolak. Dia pasti mau. Lihat kutanya dia!” dan ketika Soat Eng membalik dan menanya kakaknya, apakah kakaknya keberatan maka Thai Liong tersipu merah menjawab adiknya, hati tiba-tiba bergetar dan berguncang. Dia akan bersama gadis cantik itu berdua!

“Aku tentu saja tak keberatan kalau adik Shintala mau. Tapi kalau dia tak mau tentu saja aku tak berani memaksa.”

“Dan kau senang tidak kalau Shintala di sini?”

“Ah, tentu saja senang, Eng-moi. Siapa tak senang kalau dia di sini!”

“Nah, dengar!” Soat Eng berseri-seri, membalik dan menghadapi cucu Drestawala itu lagi. “Kakakku senang kau di sini, Shintala. Dan mungkin justeru tak akan senang kalau kau pergi. Lihat dia tersenyum dan tampak bahagia!” lalu ketika kakaknya terkejut karena kata-katanya disimpang-artikan, Soat Eng tertawa dan menyentak tangan temannya maka wanita itu berkelebat dan terbang ke utara. “Shintala, ikut aku. Kita pulang dan temui ayah ibuku!”

“Nanti dulu,” gadis itu terkejut, merah semburat karena Soat Eng nakal menggodanya. “Bagaimana kalau ayah ibumu marah, enci Eng. Aku tentu tak enak dan lebih baik pergi!”

“Ah, ibu tak akan marah. Kalau dia marah maka aku yang akan menghadapinya. Sudahlah, ikut aku dan ayah tentu gembira melihatmu!” dan Soat Eng yang tertawa menarik temannya lalu mendahului dan meninggalkan kakaknya. Tak perduli wajah kakaknya yang merah padam.

Thai Liong diam-diam memaki. Adiknya tadi memberikan kerling nakal dan tentu saja dia tahu godaan adiknya ini. Tapi begitu adiknya meluncur dan teringat Beng An, adiknya yang belum sadarkan diri tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan menyusul. “Eng-moi, tunggu!” dan begitu pemuda ini bergerak dan mengejar adiknya maka Thai Liong sudah berendeng dan mendesis di telinga adiknya itu. “Apa maksudmu dengan kerling mata itu. Kenapa kau menggoda aku!”

“Eh, siapa menggoda? Aku tak menggoda siapa-siapa, Liong-ko. Aku bicara apa adanya saja. Hei, kau laki-laki harus di depan, jangan bersama wanita. Atau aku mundur dan kau berendeng dengan Shintala!” dan ketika benar saja Soat Eng mundur dan membiarkan kakaknya berendeng di depan, dengan Shintala, maka Thai Liong terkejut dan mengurangi tenaganya, menyambar dan mencubit lengan adiknya itu.

“Kau jangan main-main, masa aku harus bersama Shintala. Ayo, kau di depan dan aku mengiring di belakang!”

“Hi-hik.... aduh!” Soat Eng berteriak, cubitan kakaknya cukup keras. “Kulaporkan kau, Liong-ko. Awas kubuat Shintala tak berani berdekatan denganmu kalau suka mencubit!”

“Ah, kau memang nakal. Awas di rumah!” dan ketika Thai Liong menjauh dan memaki adiknya, Shintala juga memperlambat lari dan berendeng dengan Soat Eng maka gadis itupun merah padam digoda temannya ini.

“Enci, kau jangan membuat aku malu, Atau nanti aku pergi!”

“Ah, jangan. Maaf, Shintala. Aku tak menggodamu melainkan menggoda kakakku itu. Baiklah, mari kita berlomba dan biar kakakku di belakang!” dan ketika wanita itu berseru dan mempercepat larinya.

Thai Liong lega dan membuntuti di belakang maka pemuda itupun berkata bahwa bukan waktunya bermain-main. Adik mereka Beng An terluka dan mereka harus cepat-cepat menolong. Dan ketika Soat Eng teringat dan tak menggoda lagi, kening berkerut, maka tiga orang itu melesat dan mengerahkan ilmu lari cepat mereka. Soat Eng khawatir dan diam-diam bertanya kenapa adiknya bisa begitu. Apa yang terjadi. Dan karena pertanyaan ini memang mengganggu sepanjang jalan maka wanita itu tak bercakap-cakap lagi dan Thai Liong maupun Shintala sama-sama memikirkan apa yang telah terjadi pada anak laki-laki ini. Bagaimana Poan-jin sampai bisa tewas dan kepalanya terpenggal!

* * * * * * * *

Mari kita ikuti apa yang menimpa putera Pendekar Rambut Emas ini, sebelum Thai Liong menemui ayah ibunya. Apakah yang terjadi pada Beng An? Bagaimana anak itu tiba-tiba membunuh Poan-jin? Ini dimulai atau diakibatkan unsur ketidaksengajaan.

Seperti kita ketahui, Beng An ditangkap atau dibawa Poan-jin-poan-kwi, diserahkan kepada Poan-jin karena kakek itulah yang akhirnya lebih berkepentingan dengan anak ini daripada Poan-kwi. Beng An telah memusnahkan ilmu gaib Bu-siang-sin-kang (Ilmu Sakti Tak Berwujud), mengakibatkan Poan-jin tak dapat lagi membentuk badan halusnya karena kolor jimatnya, benda gaib satu-satunya ditarik putus anak laki-laki itu. Dan karena Beng An pula yang akan dapat memulihkan kesaktiannya, dengan menyedot habis sumsum atau otaknya maka anak itu pula yang paling dekat dengan Poan-jin.

Bu-siang-sin-kang, seperti yang dimiliki kakek ini, adalah ilmu iblis yang amat jahat. Ilmu hitam ini mengharuskan pemiliknya melahap seratus otak anak kecil dan sumsum tulang belakangnya. Tak gampang bagi Poan-jin maupun Poan-kwi memiliki ilmu hitam ini, karena ilmu itu mengharuskan mencari bayi-bayi lelaki yang umurnya empatpuluh hari, tidak boleh lebih maupun kurang. Dan setelah bersusah payah bertahun-tahun, tak gampang mencari bayi-bayi lelaki yang usianya tepat empat puluh hari.

Maka dua kakek itu berhasil memiliki ilmu ini dan dari kulit bayi-bayi lelaki yang dibunuh itu diciptalah sebuah tali kolor yang sudah penuh pengaruh hitam. Roh atau arwah dari seratus bayi yang dibunuh itu dijadikan satu, “diikat” dan berkumpul di tali kolor itu. Maka begitu kolor ini putus, Poan-jin lengah oleh perbuatan Beng An maka kakek itu terhuyung dan lemah dan tentu saja ia terkejut karena roh seratus bayi yang sudah dihimpun sekonyong-konyong kabur dan lepas. Ia tak dapat mempergunakan badan halusnya lagi!

Kakek ini marah. Ia terkejut dan kaget sekali oleh kejadian itu. Untunglah kakaknya yang ada di situ lalu menolong dan menggantikan dirinya menghajar keluarga Pendekar Rambut Emas itu di Sam-liong-to. Soat Eng dan suaminya heran dan kaget karena lawan yang tadi lenyap sekonyong-konyong muncul lagi. Poan-jin memang telah melarikan diri tapi kakaknyalah kini yang maju membantu. Dan ketika mereka dihajar dan Beng An dirampas, disusul kemudian oleh Siang Le sendiri maka Poan-kwi menyerahkan anak laki-laki itu kepada adiknya.

“Kau bodoh, tolol. Kenapa lengah tak hati-hati? Anak ini memutuskan kolormu, sute. Tapi anak ini pula yang akan memulihkan ilmumu. Hisap dan sedot sumsumnya!”

Poan-jin terbelalak merah. Beng An diserahkan kepadanya dan kakek itu melotot. Ingin ia mengeremus dan seketika itu juga melahap otak anak ini. Namun karena ia harus bertapa dulu dan menangkap kembali seratus roh bayi-bayi lelaki itu, yang kabur ke segala penjuru maka kakek ini tak dapat membunuh Beng An dan harus bersabar. Ia harus minta bantuan kakaknya untuk menangkap seratus roh anak laki-laki itu.

Tapi karena kakaknya juga sibuk dan menghadapi lawan-lawan berat, seperti kakek Drestawala yang akhirnya dibantu Pendekar Rambut Emas itu maka seratus bayi lelaki yang kabur di alam halus baru seperempatnya saja yang dapat ditangkap. Yang lain masih berseliweran dan kakek ini jengkel. Roh bayi-bayi lelaki itu berhamburan ke segala penjuru. Mereka dikhawatirkan berbaur atau bersembunyi di balik mahluk-mahluk lain. Dan karena melakukan pekerjaan ini membutuhkan perhatian serius, konsentrasi besar maka Poan-jin minta kepada kakaknya untuk bertapa di Himalaya.

Di situ amat tenang dan jauh dari dunia ramai. Banyak puncak-puncak gunung dan dia dapat memilih. Dan akhirnya ketika puncak Naga Merah menjadi perhatiannya, memilih dan tinggal di sini maka bersama kakaknya ia “menangkap” atau mengumpulkan lagi roh seratus bayi lelaki itu, lengkap tapi celaka sekali Beng An membeku tubuhnya. Anak ini tiba-tiba duduk diam tak mau makan tak mau minum. Akibatnya tubuhnya menjadi dingin dan tentu saja otak atau sumsumnya tak dapat dihisap, beku! Dan ketika Poan-jin tertegun kenapa anak itu tiba-tiba berobah begitu, duduk seperti arca maka dia membelalakkan mata dan menggeram.

“Heh, ke sini kau, bocah. Jangan mematung dan kembalikan ilmuku Bu-siang-sin-kang!”

Beng An disambar dan dicengkeram. Anak ini diam saja dan Poan-jin terkejut karena tubuh anak itu seperti es, dingin dan seolah tak bernyawa! Dan karena tak mungkin baginya menghisap sumsum dari tubuh yang tak bernyawa, harus segar dan masih hidup maka hampir saja Poan-jin memekik oleh kecewa. Beng An disangka mati tapi tiba-tiba saja anak itu berkejap. Heii! Dan ketika kakek ini terkejut tapi tentu saja girang, Beng An masih hidup maka anak itu dicengkeram dan Beng An menutup matanya lagi.

“Ha-ha, anak siluman. Kau sedang apa, bocah. Hayo bangun dan lihat aku!”

Namun Beng An menutup matanya rapat-rapat. Anak ini berkejap dan setelah itu tak mau membuka matanya lagi-lagi, Poan-jin tak tahu bahwa anak ini sedang membekukan tubuhnya dengan ilmu yang pernah diterimanya dari mendiang kakeknya Hu Beng Kui, ilmu yang disebut Ping-im-kang (Tenaga Inti Es). Dan karena ilmu itu lama tak dilatih karena tak mendapat tempat yang tepat, ilmu itu harus dilatih di daerah pegunungan atau sumber-sumber air dingin maka tiba-tiba saja Beng An teringat dan kini melatihnya.

“Ilmu ini baru kumiliki, jangan beri tahu ayah atau ibumu. Baru saja kuciptakan. Kelak kalau kau sempat melatihnya maka tempat yang cocok adalah di daerah kutub atau puncak-puncak gunung yang amat dingin, Beng An. Di padang rumput atau tempat-tempat panas begini kurang berhasil. Kau dapat membekukan tubuhmu seperti es dan mematikan semua jalan darah seperti mayat!”

“Untuk apa ilmu ini?” anak itu pernah bertanya, kakeknya waktu itu baru saja memiliki ilmu ini, belum mahir benar.

“Wah, banyak gunanya!” sang kakek berseru, tertawa bergelak. “Dengan ilmu ini kau dapat mengecoh musuh, Beng An. Disangka mati padahal hidup. Aku menemukan bahwa ilmu ini dapat memperpanjang umur!”

“Memperpanjang umur? Berarti tak dapat mati?”

“Ha-ha, orang hidup bakal mati, Beng An. Memperpanjang umur bukan berarti tak bakalan mati. Aku belum tahu apa saja yang dapat diambil manfaatnya dari ilmu ini. Tapi melatih tubuh menjadi dingin berarti mengawetkan tubuh dan memperlama usianya!”

“Hm, anak itu mengangguk-angguk, heran tapi juga tertarik, sebagai bocah tentu saja dia suka kepada hal-hal baru. “Kalau dapat panjang umur tentunya lebih menyenangkan, kong-kong. Aku dapat menikmati makan enak dan seumur hidup bersenang-senang!”

“Ha-ha, makan dan senang-senang melulu yang kau pikirkan ini. Dasar bocah. Eh, Ping-im-kang juga dapat dipergunakan menghajar musuh, Beng An. Kau dapat membuat orang-orang lain atau mahluk hidup menjadi es, kalau kau sudah mahir!”

“Menjadikan mereka sebagai es?”

“Ya, lihat ini. Aku sendiri belum begitu mahir tapi cukup membuat burung itu beku dan tak dapat terbang!” Hu Beng Kui menggerakkan lengan bajunya, menyambar atau menangkap seekor burung dan tiba-tiba burung itu berkelepak jatuh disambar tenaga sakti kakek ini. Dan ketika burung itu beku dan benar saja tak dapat bergerak-gerak, dingin seperti es maka Beng An terkejut karena burung itu disangka mati.

“Dia mati!”

“Tidak, belum mati. Aku hanya menghentikan sejenak detik jantungnya dan masih hidup. Lihat, pukulanku masih tak berpengaruh lama!” dan ketika benar saja burung itu bergerak dan terbang, lepas meninggalkan kakek ini maka Beng An terbelalak dan kagum.

“Benar, ia masih hidup. Belum mati!”

“Hm, itu karena tingkat kepandaianku yang belum sempurna, Beng An. Kalau sudah sempurna maka mati atau hidup tergantung kita.”

“Maksud kong-kong?”

“Ping-im-kangku masih lemah, burung itu tak dapat kukuasai penuh. Sebab kalau Ping-im-kangku kuat tentu burung itu dapat kubekukan sebulan atau setahun, kalau aku mau!”

“Ah, jadi dapat berbuat sekehendak hati?”

“Ya, kalau sudah mahir, Beng An. Tapi karena aku belum mahir maka Ping-im-kangku tadi bekerja sebentar saja dan setelah itu denyut jantung burung itu bekerja lagi. Aku belum dapat membuatnya beku selama aku suka!”

“Kalau begitu burung itu pasti mati!”

“Tidak, kalau kita tidak menghendaki. Ping-im-kang hanya bersifat membuat mati semu, Beng An. Kalau kita mau membunuhnya maka tentu saja tenaga yang dikerahkan harus untuk membunuh!”

“Wah, hebat sekali. Kalau begitu aku kelak dapat membuat manusia sebeku es!”

“Ya, dan apa saja. Tapi ilmu ini tak dapat dilatih di gurun karena harus dilatih di daerah kutub atau puncak-puncak pegunungan yang dingin!”

Begitulah, Beng An pernah bercakap-cakap dengan mendiang kakeknya. Ilmu itu amat dirahasiakan dan tak seorangpun tahu akan Tenaga Inti Es ini. Pendekar Rambut Emas dan isterinyapun tidak, maklumlah, Hu Beng Kui amat menutup rapat karena pendekar itu kelak ingin mengalahkan mantunya sendiri, Kim-mou-eng atau Si Pendekar Rambut Emas. Penasaran oleh kekalahannya dulu dan tetap bersakit hati untuk “membalas dendam”. Ah, jago pedang ini memang aneh. Tapi sebelum ia menguasai ilmunya itu tiba-tiba ia harus tewas di tangan musuh, sayang. Tapi cucunya yang kini ditawan Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba melatih ilmunya itu dan kebetulan sekali puncak Himalaya yang amat dingin cocok untuk melatih Ping-im-kang!

Poan-jin, yang tentu saja tak tahu akan ini juga sama sekali tidak menduga akan rahasia si bocah. Semua ilmu-ilmu keluarga Pendekar Rambut Emas diketahui dan kakek itu tak gentar, atau takut. Dia sama sekali tak tahu akan ilmu baru Ping-im-kang ini, ilmu peninggalan si jago pedang Hu Beng Kui. Maka ketika berbulan-bulan dia bertapa dan satu demi satu roh bayi-bayi lelaki itu dikumpulkan kembali, Beng An akan disedot atau dihisap sumsumnya untuk penutup atau simpul ikat-pinggang yang baru maka kakek itu tak tahu gerak-gerik atau pekerjaan anak lelaki ini.

Beng An ditawan, atau diikat di dekat kakek itu. Berbulan-bulan mengalami perlakuan tak menyenangkan berupa hinaan atau ejekan. Anak ini mula-mula marah tapi semakin dia marah semakin kakek itu senang. Poan-jin terkekeh-kekeh kalau anak itu dapat mencak-mencak atau melotot tanpa daya, diludahi atau ditempeleng dan Beng An akhirnya menyerah, kehabisan suara. Dan ketika anak itu merasa sia-sia dan suatu hari berjengit diselomot api, si kakek terpingkal-pingkal maka Poan-jin meraba tengkoraknya dan mencecap ubun-ubunnya itu.

“Heh-heh, kau hebat dan luar biasa sekali. Darahmu bersih dan tulang-tulangmu kuat, Beng An. Sungguh tak rugi menanti berbulan-bulan. Hm, aku akan mengisap otakmu dan mencecap sumsum belakangmu!”

“Kau mau apa? Mau membunuh? Bunuhlah, aku tak takut, Poan-jin. Sudah kubilang berkali-kali bahwa sekarang juga kau boleh membunuh aku. Bunuhlah, isap atau sedot sumsum belakangku!”

“Heh-heh, kau luar biasa. Tapi tidak, tidak sekarang aku menyedot otak dan sumsummu. Masih beberapa roh bayi harus kutemukan, bocah. Setelah genap seratus barulah aku akan menyedot dan menghisap sumsummu. Ih, tentu segar. Heh-heh...!”

Beng An marah. Dia sekarang sudah tidak ngeri lagi setelah berulang-ulang kakek itu meraba atau mengelus-elus batok kepalanya. Sudah puluhan kali Poan-jin melakukan itu. Tapi ketika si kakek mengambil api dan menyelomot kakinya, Beng An berjengit maka anak itu melotot dan gusar. “Poan-jin, kau kakek tua bangka. Tak berani menghadapi ayah ibuku lalu menganggu anaknya. Cih, kau iblis pengecut!”

“Ha-ha, ayah ibumu tak akan kutakuti lagi setelah Bu-siang-sin-kang ku kembali. Kau telah menghancurkannya, dan kau pula yang harus mengembalikannya!”

“Apa yang hendak kau lakukan? Kenapa tidak segera melakukannya?”

“Hm, roh, seratus bayi lelaki yang tersimpan di kolor wasiatku kabur gara-gara kau, bocah. Dan sekarang aku mati-matian mencari dan mengumpulkan mereka. Kau harus menunggu setelah itu kudapatkan, lalu giliranmu menjadi penutup dan kulit punggungmu kukerat untuk tali kolor yang baru!”

“Apa? Kau mau menguliti aku dan membuat kolor dari kulit tubuhku?”

“Ha-ha, kau takut? Kau pucat?”

“Tidak, aku tidak takut mati, Poan-jin. Tapi apa hubungannya dengan roh bayi-bayi lelaki yang seratus jumlahnya itu!”

“Ha-ha, itu syarat melatih Bu-siang-sin-kang. Tanpa bantuan roh-roh itu aku tak dapat merubah ujudku dalam badan halus. Mereka andalanku, kusimpan susah payah selama bertahun-tahun. Tapi setelah kau mencerai-beraikannya dan mereka kabur maka kau akan menjadi pintunya dan menjaga simpul kolorku yang baru untuk mengembalikan Bu-siang-sin-kang ku. Ha-ha!”

“Kau akan mengumpulkan aku dengan mereka?”

“Ha-ha, setelah mati kaupun akan berbadan halus, Beng An. Dan karena kau yang paling besar dan gagah maka kau akan menjadi pemimpin mereka dan hidup di kolor wasiatku yang baru, kolor yang kubuat dari kulit punggungmu nanti!”

“Tidak!” Beng An tiba-tiba ngeri. “Aku tak mau bercampur dengan roh-roh bayi lelaki itu, Poan-jin. Lepaskan aku dan keparat jahanam kau!”

“Ha-ha, kau mulai takut?”

“Aku tidak takut, tapi, ah... aku ngeri!” Beng An berteriak-teriak, memaki dan mengutuk kakek itu habis-habisan namun Poan-jin justeru terpingkal-pingkal. Sekarang anak ini berhasil dibuat takut dan Beng An memang ngeri kalau harus “ngumpul” dengan roh seratus bayi itu. Poan-jin sungguh biadab! Tapi ketika si kakek terkekeh-kekeh dan bangkit menari-nari, menyambar dan menggeragoti sesuatu tiba-tiba Beng An tertegun dan berhenti memandang benda itu, sesosok tubuh mungil yang menggeliat-geliat.

“Apa itu? Apa... apa yang kau makan itu?”

“Ha-ha, kau suka? Bayi ke seratus satu, Beng An, masih hidup dan segar. Lihat tempurung kepalanya demikian lunak dan masih halus... kriusss!” dan si kakek melahap dan menggerogoti makanan itu, kepala seorang bayi maka Beng An muntah-muntah dan tiba-tiba muak!

“Augh, keparat kau, Poan-jin. Terkutuk dan biadab. Kau binatang!”

“Ha ha, boleh memaki kalau tak suka. Tapi yang jelas ini hanya pengenyang perut karena usianya sudah lebih empat puluh hari. Nikmatilah dan cicipilah kalau suka... bluk!” dan kepala bayi itu yang jatuh dan dilempar si kakek akhirnya membuat anak ini tak tahan, pusing dan pingsan dan Poan-jin terkekeh-kekeh menyambar makanannya kembali.

Sebenarnya itu bukan kepala manusia melainkan kepala bayi seekor kera, masih orok dan kakek ini menyambarnya karena sudah tak sabar untuk “menggegares” batok kepala Beng An. Roh seratus bayi belum dikumpulkan semua dan karena itu tak boleh ia membunuh Beng An, jadi sebagai pelampiasannya ia lalu mencari dan membunuh seekor bayi kera. Sepintas memang mirip bayi manusia dan Beng An dibuat muntah-muntah.

Bayi manusia atau kera sama saja karena kakek itu menggerogotinya mentah-mentah. Tak ada manusia biadab dan sebinatang kakek ini. Poan-jin memang iblis! Dan ketika kakek itu berhasil menakuti Beng An dan selanjutnya anak ini tak mau makan atau minum, mual oleh pemandangan tadi maka Poan-ji mengerutkan kening ketika hari-hari berikut Beng An menjadi kurus!

“Eh, kau harus makan. Tak boleh mati karena lapar!”

Beng An tersenyum mengejek. “Makan atau tidak makan urusanku, Poan-jin. Makan atau tidak makan tetap juga kau membunuh aku. Nah, kau makan sendiri dan jangan menyuruh aku!”

“Wah, kau benar-benar tak mau makan?”

“Tak mau.”

“Kalau begitu aku paksa!”

“Silahkan, kau tak akan berhasil!” dan ketika kakek itu marah dan benar saja membuka rahang anak ini, menjejalkan makanan maka Beng An memuntahkannya kembali setiap tertelan. Anak ini mengerahkan Khi-bal-sin-kang dan makanan itu tertahan, naik dan turun berkali-kali setiap dijejalkan. Dan ketika kakek itu terbelalak dan marah sekali, seluruh makanan akhirnya terbuang dimuntahkan maka Poan-jin pucat mengutuk anak itu.

“Bedebah, aku tak dapat menyedot otakmu kalau sudah mampus. Kau harus tetap bertahan hidup!”

“Hm, menyerah?” Beng An tertawa, mengejek. “Kau boleh cari akal lain, Poan-jin. Hayo siapa menang siapa kalah!”

“Terkutuk, keparat. Aku akan secepatnya mengumpulkan seratus roh bayi itu!” dan ketika kakek ini mencak-mencak dan bertapa lagi, mengirim getaran agar kakaknya membantu menemukan sisanya maka Beng An yang mengerutkan kening dan merasa ngeri lalu menutup mata dan melatih Ping-im-kang.

Diam-diam ia sudah mulai itu dan dua bulan ini ia dapat membekukan tubuh. Mula-mula jari tangannya dan akhirnya naik sampai pergelangan, siku dan akhirnya pundak dan hari itu ia sudah berhasil membekukan tubuhnya separoh. Dulu kakeknya dapat membuat tubuh sedingin es, dari kepala sampai ke kaki. Dan karena kini ia ditunjang hawa pegunungan yang amat dingin, setiap malam tentu butir-butir es menimpa anak ini maka Poan-jin yang bermaksud menyiksanya malah secara tidak sengaja membuat Beng An cepat sekali berhasil melatih ilmu Tenaga Inti Es itu.

Dua bulan ini Beng An dibekukan hawa pegunungan, bukan sembarang pegunungan melainkan pegunungan Himalaya, yang setiap saat tentu menurunkan hujan salju. Dan ketika semuanya itu justeru penopang yang amat baik bagi melatih Ping-im-kang, ilmu ini memang harus dilatih di tempat dingin maka Beng An yang tekun dan kuat berlatih tiba-tiba telah menguasai ilmu itu seperti dulu kakeknya menguasai Tenaga Inti Es. Beng An telah mampu membekukan seluruh tubuhnya dan tiba-tiba saja anak ini telah berobah menjadi patung es. Seluruh tubuhnya beku dan kejadian cepat yang berlangsung ini tak dilihat Poan-jin.

Kakek itu juga sedang bersamadhi menarik atau mencari seratus roh bayi lelaki yang tinggal beberapa lagi. Kurang empat dan hari itupun kakek ini bekerja keras mengumpulkan sisanya. Dan ketika bayi ke seratus sudah didapat tapi berbareng dengan itu Beng An juga berhasil menguasai Ping-im-kang, dua orang ini seakan berlomba mencapai tujuan masing-masing maka ketika membuka mata tiba-tiba kakek itu tertegun melihat tubuh anak laki-laki ini sudah tak bergeming dan berkilau-kilauan penuh butir-butir es yang dingin!

“Astaga, korbanku menjadi beku!” kakek ini mencelat dan kaget melihat kea daan Beng An. Anak itu berobah menjadi manusia es dan tentu saja dia kaget keti ka menyentuhkan tangannya, meraba sosok tubuh yang dingin dan Poan-jin terperanjat karena Beng An sudah seperti arca, kaku kedinginan! Tapi ketika ia terbelalak dan kecewa serta gusar, otak dan sumsum Beng An tak dapat disedotnya tiba-tiba Beng An membuka mata dan sekejap itu anak ini memandangnya, sekejap saja tapi sudah cukup bagi Poan-jin bahwa si anak masih hidup, meskipun jantung atau detak jantungnya berhenti!

“Ha-ha, bocah siluman. Anak yang luar biasa! Ah, kau masih hidup, Beng An. Bagus, tadi kukira mati. Ah, kau sedang berlatih apa dan apa yang kau lakukan ini!”

Beng An menutup matanya lagi. Ia terkejut dan tergetar oleh sentuhan kakek itu tadi, yang memeriksa dan menepuk-nepuk batok kepalanya. Tapi begitu ia terkejut dan sadar, Ping-im-kang dikerahkan kuat-kuat tiba-tiba ia memejamkan matanya kembali dan ingin memberi “pelajaran” kakek itu kalau berani menguyah batok kepalanya, yang sudah beku dan sekeras batu gunung. Batu es yang dingin luar biasa!

“Ha-ha-ha!” kakek itu terbahak-bahak. “Kau menipu aku dengan caramu yang licik, bocah. Kusangka mati tetapi masih hidup. Wuah, sekarang aku telah berhasil mengumpulkan seratus roh bayi lelaki itu. Kau akan kukeremus dan kusedot otakmu!”

Beng An tergetar. Salju tebal tiba-tiba turun deras dan puncak Naga Merah berderak bergoyang-goyang. Ada teriakan dan pekikan di bawah gunung dan Poan-jin mengerutkan kening karena mendengar suara pertempuran. Ledakan atau kilat di bawah disusul dentaman-dentaman kuat. Dan ketika ia tertegun dan ragu-ragu, suara kakaknya memanggil-manggil maka kakek ini bimbang sejenak memandang Beng An.

“Hm, apa yang harus kulakukan?” kakek itu berpikir. “Turun atau melahap bocah ini dulu? Kalau turun tentu sayang, ini kesempatanku terakhir. Tapi tidak turun rupanya suheng menghadapi sesuatu bahaya? Ah, siapa gerangan? Apa yang harus kulakukan?”

Kakek ini bingung dan ragu. Ia marah oleh teriakan atau panggilan suhengnya, juga gelegar atau suara benturan dahsyat dari dua orang yang sedang bertanding hebat. Tapi karena kesempatan itu adalah kesempatan yang paling akhir, ia harus cepat menyedot otak dan sumsum anak laki-laki ini untuk mengembalikan Bu-siang-sin-kangnya tiba-tiba kakek itu mengeretukkan gigi dan gerahamnya berderit oleh keputusan yang bulat.

“Aku harus mengembalikan Bu-siang sin-kang ku dulu, baru setelah itu menolong suheng. Keparat siapa musuh pengganggu itu!”

Kakek ini bergerak dan menyambar Beng An. Ia harus cepat-cepat menyedot sumsum dan otak anak itu, baru kemudian turun gunung dan memenuhi panggilan suhengnya. Tapi ketika jari tangannya mencengkeram kepala Beng An, dingin dan serasa mencengkeram es maka kakek ini tertegun. “Darahmu tak mengalir. Apa yang sedang kau lakukan!”

“Hm!” Beng An tertawa dingin, mengerahkan Ping-im-kangnya sekuat tenaga. "Kau membiarkan aku kedinginan dan beku ditimpa hujan salju, Poan-jin. Aku tak dapat berbuat apa-apa dan tinggal menunggu kematian. Kau sedotlah sumsumku kalau bisa!”

“Keparat, aku tak dapat menyedotmu kalau dingin. Otak dan sumsummu tak dapat mengalir!”

“Kalau begitu lepaskan aku, biarkan aku bebas.”

“Apa, bebas? Hidungmu itu! Aku dapat memanaskan aliran darahmu dengan sinkangku atau dipanggang hidup-hidup. Tapi aku akan memanggangmu di api unggun. Aku akan menyiksamu!” dan ketika kakek ini memanggang Beng An di api unggun, api yang menyala merah maka kakek itu akan mencairkan tubuh beku ini seperti semula.

Tapi alangkah herannya kakek ini melihat kebekuan luar biasa dari tubuh si bocah. Api itu menjilat-jilat namun tubuh si anak tidak leleh. Jangankan leleh, panas saja tidak! Dan ketika kakek itu menjublak karena api tak mampu mencairkan tubuh Beng An, maka Beng An tertawa dan butiran-butiran es tiba-tiba jatuh dan memadamkan api unggun itu!

“Ha-ha, coba sekali lagi, Poan-jin. Barangkali kurang panas... ces-cess!” api itu padam, satu demi satu ditimpa butiran-butiran es karena Beng An mengerahkan segenap Ping-im-kangnya. Tubuhnya mengeluarkan keringat tapi bukan keringat panas melainkan keringat-keringat es. Tentu saja kakek itu tertegun! Dan ketika api padam dan Beng An tetap beku seperti semula, kaku dan membujur seperti sebalok es maka kakek itu menggeram dan menyambar anak ini.

“Kalau begitu kukeremus batok kepalamu!”

Beng An terkesiap, kepala melekat di mulut kakek ini dan tahu-tahu Poan-jin menggigit. Beng An terkejut dan tentu saja mati-matian mengerahkan Tenaga Inti Es. Dan ketika gigi kakek itu berkelethuk seperti anjing menggigit tulang, keras dan alot maka kakek ini menyumpah-nyumpah karena gagal.

“Bedebah, anak haram!” Poan-jin mengulang lagi, menggigit namun tiba-tiba menjerit. Saking kuat dan gemasnya mengulang gigitannya tiba-tiba giginya itu merasa linu dan ngilu bertemu batok kepala yang dingin luar biasa. Tenaganya boleh kuat tapi giginya yang tak tahan. Poan-jin menyumpah serapah. Dan ketika kakek itu menggigit yang lain namun sama saja, anak itu benar-benar sedingin es maka Poan-jin membanting dan melempar anak ini, kaget dan penasaran!

“Jahanam, kau berlatih ilmu apa! Bagaimana tubuhmu sedingin dan sebeku ini!”

“Ha-ha!” Beng An tertawa bergelak, usahanya berhasil. “Kau seperti anjing menggigit tulang baja, Poan-jin. Ayo bunuh aku lagi dan gigit!”

“Tentu, aku akan menggigitmu, membunuhmu. Tapi jalan darahmu harus lancar kembali dan tak boleh beku. Aku akan memanaskan tubuhmu dengan sinkangku!” dan ketika kakek itu menyambar dan mencengkeram anak ini, gemeratak, maka Beng An gelisah karena tiba-tiba hawa panas meluncur dari tangan kakek itu menghangatkan tubuh dinginnya.

“Tidak, kau tak akan berhasil!” Beng An tak mau bicara lagi dan tiba-tiba mengempos semangat. Ia telah girang dan besar hati bahwa Ping-im-kangnya mampu membuat si kakek kelabakan. Gigi kakek itu bertemu tubuh es nya yang dingin dan Poan-jin berteriak-teriak. Sungguh ia ingin terpingkal kalau saja kakek ini tak berusaha mengulangi kegagalannya. Tapi begitu si kakek mengerahkan sinkang panas dan Beng An mengerahkan sinkang dingin, panas dan dingin bertemu tiba-tiba anak itu terkejut karena perlahan-lahan tubuh es nya mencair. Kalah kuat!

“Ha-ha, mampus kau, bocah. Sinkangku dapat mencairkan dirimu dan sebentar lagi aku akan menikmati otak dan sumsum segar!”

Beng An pucat. Ia baru saja dua bulan melatih Tenaga Inti Es, itupun sudah luar biasa karena ia telah mampu menyamai mendiang kakeknya, ketika dulu Hu Beng Kui mendemonstrasikan kepandaiannya. Dan ketika benar saja perlahan-lahan tubuh luarnya menghangat, sedikit demi sedikit kulit tubuh anak laki-laki ini melemas maka Poan-jin berseri-seri namun saat itu tiba-tiba terdengar bentakan suhengnya yang melengking.

Sute, cepat bantu aku. Atau aku akan membunuhmu kalau tak mau turun!”

Kakek ini terkejut. Ia sedang melancarkan sinkang mencairkan tubuh beku anak ini. Sebentar lagi Beng An mengalir jalan darahnya dan ia akan mampu menyedot, darah anak itu tak akan lagi beku. Dan ketika bentakan atau seruan suhengnya itu menggelegar menggetarkan gunung, suhengnya benar-benar berada dalam keadaan yang sulit maka kakek ini pucat dan bingung, seruan terakhir suhengnya itu membuatnya gugup.

“Awas, sekali kau pura-pura tuli aku akan menghancurkan Bu-siang-sin-kang mu itu. Aku akan menggebah seratus roh lelaki itu!”

Kakek ini gentar. Suhengnya sendiri tiba-tiba sudah mengancamnya sedemikian rupa. Keadaan tentu benar-benar gawat dan ia pucat siapakah kiranya musuh yang amat lihai itu. Apakah Pendekar Rambut Emas dan isterinya tapi kenapa suara pukulan terdengar lain. Juga bentakan-bentakan di bawah selain suhengnya terdengar suara atau bentakan seorang anak muda. Dan karena kakek ini gugup sementara suhengnya sudah seperti kambing kebakaran jenggot, sungguh ia kacau maka saat itu di puncak terdengar suara-suara gemuruh seperti barang yang akan meletus.

Kakek ini menjadi bingung dan Beng An tiba-tiba berhasil menguasai keadaan, tubuh yang cair membeku kembali dan berteriaklah kakek itu oleh bingung dan kecewa. Dan ketika Beng An tiba-tiba melihat sebuah kantung kulit di leher kakek ini, bergoyang dan melembung serta mengempis tiba-tiba anak itu bergerak dan disambar atau diraihlah kantung kulit itu.

“Heiii.... brettt!”

Beng An ditepis. Anak ini sudah berhasil menyambar atau mencengkeram kantung kulit itu, pecah dan isinya tiba-tiba berhamburan keluar. Dan ketika Beng An tertegun karena seratus cahaya tiba-tiba beterbangan dan mengelilingi kakek itu, ada suara-suara aneh seperti tawon atau lebah maka Poan-jin menjerit ketika seratus sinar warna-warni ini menggigitnya, semua di leher.

"Aughh!"

Beng An dibanting. Poan-jin berteriak ketika tiba-tiba diserang atau dikeroyok seratus cahaya warna-warni ini. Bentuknya aneh-aneh seperti balon atau gelembung busa, mencicit dan mengeluarkan suara riuh dan itulah seratus roh bayi lelaki yang lepas dari kantung kulit. Beng An tak tahu bahwa ia telah memecahkan barang keramat yang dimiliki kakek ini. Poan-jin mengumpulkan seratus roh bayi itu di kantung kulit. Dan karena mereka dapat mendendam dan marah kepada kakek ini, seratus roh itu menerjang dan menghambur ke depan maka seperti lintah mereka itu sudah hinggap dan menggigit leher kakek ini, dari segala penjuru!

Poan-jin berteriak-teriak dan menampari roh-roh itu, yang terpental tapi kembali hinggap dan menggigiti lehernya lagi. Dan ketika kakek itu meraung karena gusar, kulit lehernya sudah mulai luka-luka maka Beng An tiba-tiba terkekeh dan tertawa-tawa geli, mengira itu adalah kunang-kunang atau tawon warna-warni yang lepas dan menyerang tuannya sendiri.

“Hi-hi, kau diserang hewan piaraanmu sendiri, Poan-jin. Makanya jangan jahat-jahat agar tidak kuwalat!”

“Bedebah, ke sini kau!” kakek itu memekik, marah melihat Beng An dan tiba-tiba ia sudah menyambar atau menangkap anak ini. Dan ketika Beng An terkejut karena sudah diangkat, kakek itu mendelik maka anak ini sudah diputar dan dikebut-kebutkan ke arah seratus roh-roh bayi itu, cepat dan luar biasa namun roh-roh bayi itu mengelak dan beterbangan menghindari anak ini. Rupanya mereka tahu bahwa justeru berkat pertolongan Beng An lah mereka dapat lolos, keluar dari kantung kulit. Dan ketika suara seperti tawon itu semakin nyaring dan melengking, puncak Naga Merah tiba-tiba berderak oleh gemuruh di perut bumi maka terdengar letusan pertama dari bergolaknya gunung berapi.

“Blarr!” Asap merah membubung tinggi. Beng An dan Poan-jin sama-sama terkejut karena bumi yang mereka injak bergetar kuat. Dan ketika seratus roh itu juga berhamburan dan cerai-berai, gelegar pertama disusul oleh gelegar kedua maka Poan-jin meletup karena seratus roh yang susah payah dikumpulkannya itu menghilang ke segala penjuru.

“Kau bocah tengik. Bedebah keparat!” kakek ini tak dapat menahan marah, membentak dan menggigit Beng An dan sekonyong-konyong ia menjadi buas.

Beng An terkejut dan untung Tenaga Inti Esnya masih ada, bereaksi dan berteriaklah kakek itu menggigit sesuatu yang dingin. Dan ketika puncak bergemuruh dan Beng An pucat serta ngeri, juga marah oleh kekejaman kakek ini tiba-tiba ia menyambar leher kakek ini dan ikut menggigit seperti ”kunang warna-warni” yang tadi melakukan hal yang sama.

“Augh-argghhhh!”

Beng An dilempar. Ia pucat dan seram oleh teriakan Poan-jin yang panjang. Namun karena ia menggigit kuat-kuat dan aneh serta mengherankan bahwa kulit leher kakek ini amat lunak, sekali di gigit tiba-tiba mengucurkan darah maka Beng An yang tetap melekat mendadak saja menjadi beringas dan menyedot darah di leher kakek itu. Teringat akan maksud atau niat kakek ini yang juga akan menghisap atau menyedot otak dan sumsumnya!

“Aurgh-arghhh....!”

Teriakan atau pekik panjang itu sungguh menggetarkan hati. Beng An yang menggigit dan terus menggigit tiba-tiba tak dapat dilepaskan. Anak ini telah ditarik dan dilempar namun tetap saja melekat di leher kakek itu. Poan-jin disedot dan dihisap darahnya dan kekebalan kakek itu tiba-tiba saja punah. Beng An tak tahu bahwa kantung kulit yang dipecahkannya tadi telah membuat kesaktian kakek ini juga ikut pecah, hancur dan gigitan seratus roh bayi lelaki itu juga ikut menghancurkan kekebalan Poan-jin.

Kakek ini menerima akibat fatal dari robek atau pecahnya kantung kulit tadi. Ilmunya baru akan dikumpulkan ketika tiba tiba saja sudah didahului Beng An. Dan karena pusat kekuatan kantung kulit itu hancur, tentu saja kakek ini pucat maka hancur pula kesaktian atau ilmu-ilmunya, Beng An secara tepat menggigit pula urat besar di leher kakek itu, tempat di mana aliran darah paling deras mengalir.

Dan karena sebelumnya Poan-jin sudah dibuat gugup oleh panggilan suhengnya yang berkali-kali, juga ancamannya untuk membunuh atau membuang seratus roh bayi-bayi lelaki itu maka kakek ini benar-benar terkejut ketika tiba-tiba pusat kekuatannya di kantung kulit itu disambar anak ini. Dia sedang gugup dan panik oleh semuanya ini. Bentakan atau teriakan suhengnya sungguh membuat ia bingung. Dan karena saat itu puncak Naga Merah juga menggelegar dan membuatnya panik, gunung berapi itu mulai meletus maka kakek ini benar-benar gugup dan kacau oleh kejadian yang susul-menyusul.

Ia tak dapat mengkonsentrasikan pikirannya lagi dan perhatiannya pecah ke mana-mana. Yang paling membuat ia terkejut adalah pecahnya kantung kulit itu, pusat kesaktian di mana susah payah ia mengumpulkannya. Maka begitu kantung kulit ini pecah, roh seratus bayi lelaki itu berhamburan ke mana-mana, menyerang dan menggigit lehernya tiba-tiba kakek itu marah dan gusar bukan main, menggebah mereka namun puncak Naga Merah menyemburkan apinya...