Rajawali Merah Jilid 19 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 19
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“Blaarr...!” Dentuman serta semburan batu dan pasir seakan dimuntahkan dari puncak gunung. Puncak Naga Merah, satu di antara puncak-puncak yang ada di pegunungan Himalaya itu mendadak mengeluarkan suara menggelegar dan api yang dahsyat.

Semua orang terkejut karena puncak Naga Merah tiba-tiba meletus, sekejap kemudian gemuruh dan semburan laharnya memenuhi sekitar. Dan ketika dentuman-dentuman disusul oleh hujan batu dan pasir-pasir panas, teriakan atau jeritan Soat Eng tak terdengar lagi maka satu di antara puncak Himalaya menggelegar dan memuntahkan asap dan jilatan api yang yang berkobar.

“Berlindung, puncak Naga Merah sedang murka!”

Bentakan atau seruan dahsyat Thai Liong menandingi kedahsyatan suara atau guntur dari puncak gunung. Thai Liong terperanjat karena puncak Naga Merah tiba-tiba menyemburkan api dan batu-batuan panas, meletus dan terjadilah kepanikan anak manusia yang ada di bawahnya. Dan ketika Shintala maupun Soat Eng terkejut dan tertegun, bengong oleh kejadian yang amat tiba-tiba dan mendadak ini maka sebuah batu besar menimpa dari atas oleh semburan Naga Merah.

“Awas!”

Dua wanita itu terkejut. Mereka sadar oleh bentakan Thai Liong dan sebuah batu sebesar bukit menyambar mereka. Yang mengerikan, batu itu kemerah-merahan dan menyala karena baru saja disemburkan dari perut bumi, datang dan menimpa mereka dengan amat cepatnya. Tapi begitu mereka tersentak dan sadar, rupanya bakal terlambat untuk mengelak maka Thai Liong menyambar dan dengan sepenuh kecepatan dia menarik dua wanita itu ke sebuah lubang perlindungan.

“Buummmm...!”

Suara amat dahsyat ini benar-benar mengguncangkan tempat itu. Lubang perlindungan yang dipakai Thai Liong tiba-tiba bergerak dan runtuh. Cairan lahar panas memuncrat ke sana-sini dan Shintala terpekik karena pundaknya terjilat, hangus dan seketika terbakar! Dan ketika gadis itu berteriak dan panik memegangi pundaknya, Thai Liong terkejut karena lubang perlindungan tiba-tiba menjadi gelap maka di luar terdengar suara bam-bum dan longsornya lahar panas di depan guha, suaranya seperti desisan ular atau naga marah.

“Tolong, kulitku terbakar!

Thai Liong sadar. Dia melihat cahaya merah di pundak gadis itu, cepat bergerak dan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika Shintala mengeluh dan menahan sakit, suara di luar kian dahsyat dan memekakkan telinga maka gadis itu menangis sementara Soat Eng tiba-tiba juga pucat dan ngeri, gentar!

“Liong-ko, lubang ini kian gelap. Kita bakal terjebak!”

“Tenang,” Thai Liong bersikap mengagumkan, menghibur dan tidak kelihatan panik, meskipun mukanya juga pucat. “Kita justeru aman, Eng-moi. Tempat perlindungan ini ternyata baik dan tidak mengganggu kita.”

“Tapi suasananya kian gelap. Batu dan lahar panas mulai menutupi guha. Aku pengap!”

“Benar, aku juga, sobat. Aku mulai tak dapat bernapas. Dadaku sesak dan kita kehilangan udara segar!” Shintala menggigil, jerih dan gentar karena sekarang berhadapan dengan kekuatan alam.

Puncak Naga Merah meletus dan letusannya menggelegar sampai berpuluh-puluh kilometer. Tanah berderak-derak dan guha perlindungan itu seakan diguncang pekikan ribuan raksasa murka. Gadis ini khawatir guha itu amblong, atau lantainya terbelah dan mereka jatuh ke lubang gelap di mana mereka bakal terkubur hidup-hidup. Maklumlah, letusan atau gelegar Naga Merah sungguh dahsyat dan tak henti-hentinya.

Batu yang berdebum dan menggetarkan lantai guha sungguh membuat orang merasa ngeri. Mereka takut terjeblos dan masuk ke lubang dalam di perut bumi. Tapi ketika Thai Liong menggerakkan ujung jubahnya dan mulut guha tiba-tiba disodok, sebuah lubang kecil tiba-tiba menganga di situ maka udara masuk dan Shintala maupun Soat Eng lega.

“Bagus, kita dapat bernapas kembali!”

Namun dua wanita ini terpekik. Baru saja mereka berkata begitu mendadak sebuah batu melayang masuk ke guha ini, tepat sekali di lubang di mana Thai Liong baru saja menyodokkan tangannyat. Dan ketika guha kembali gelap dan tempat itu pengap maka Soat Eng mengeluh namun Thai Liong menggerakkan tangannya lagi menusuk tempat yang lain.

“Jangan khawatir, aku akan memasukkan udara, Eng-moi. Tertutup yang itu aku akan membuka yang lain!”

Benar saja, pemuda ini sudah membuat lubang yang lain. Tapi baru saja lubang itu terbuka tiba-tiba dihantam kembali oleh jatuhnya batu-batu yang meledak di luar guha, gelap dan Thai Liong menusuk lagi namun jatuhnya batu-batu di luar guha banyak sekali, menutup dan akhirnya Soat Eng pucat melihat perbuatan kakaknya yang sia-sia.

Maklumlah, setiap membuat lubang udara baru tentu bakal ada batu yang menyambar yang menutup lubang itu. Dan ketika wanita ini mengeluh dan Thai Liong sendiri tampak berubah, dia tak berani membuat lubang besar karena semburan lahar tentu masuk, yang berarti membahayakan dua wanita itu tiba-tiba pemuda ini mundur dan bersila, duduk memejamkan mata.

“Eng-moi, nona, tak ada jalan lain. Kalian masuklah ke jubah ini dan bersembunyi di situ!”

Soat Eng dan Shintala tertegun. Mereka heran karena dalam keadaan seperti itu tiba-tiba saja Thai Liong duduk bersila dan memejamkan mata, seolah pasrah, atau putus asa. Tapi begitu pemuda itu mengebutkan ujung jubahnya dan Soat Eng maupun Shintala tersentuh, dua wanita itu berteriak tiba-tiba mereka tersedot dan masuk ke dalam gulungan jubah. Thai Liong mempergunakan Beng-tau-sin-jinnya.

“Maaf, aku tak berani membawa kalian keluar. Masuk dan tinggal saja di situ sampai puncak Naga Merah berhenti letusannya.”

Shintala kagum. Dia tahu-tahu telah berada di tempat yang enak di ujung jubah itu, melihat seorang wanita setengah baya yang masih cantik dan tentu saja gadis itu terkejut. Tapi ketika Soat Eng memberi tahu bahwa itulah bibi Cao Cun, bekas permaisuri Raja Hu yang banyak mengalami penderitaan maka gadis ini tertegun.

“Jangan kaget, itu bibi Cao Cun. Puteranya baru saja tewas oleh jahanam Togur. Kita bertiga aman di balik Beng-tau-sin-jin kakakku!”

“Ah,” gadis ini mulai memperkenalkan diri. “Cici adalah adik perempuan kakakmu yang hebat itu? Aku Shintala, cucu Drestawala. Kakekku juga baru saja terbunuh Poan-jin-poan-kwi!”

“Ya, aku Soat Eng, Shintala. Tapi aku belum pernah mendengar kakekmu. Tapi melihat keberanian dan kepandaianmu yang tinggi mudah kuduga bahwa kakek dan dirimu bukan orang-orang biasa!”

“Ah, tapi aku tak mampu membunuh dua kakek jahanam itu. Kepandaianku masih belum apa-apa, cici. Justeru kepandaian kakakmu itulah yang mengagumkan. Dia mampu menandingi Poan-kwi!”

“Hm, kakakku memang hebat. Tapi ceritakan bagaimana kau bertemu kakakku.”

“Aku ditipu si buntung itu, Togur jahanam keparat!”

“Lalu?”

“Lalu kami bertanding. Tapi karena dia memiliki Hek-kwi-sut maka aku terdesak dan kakakmu tiba-tiba datang, menolong!”

“Hm, Togur memang manusia keparat. Kalau kakakku tak memberiku lidi ajaib itu tentu aku juga tak dapat melawan Hek-kwi-sutnya. Dan si buntung itu bertambah lihai!”

“Dia murid Poan-jin-poan-kwi!”

“Ya, itu sekarang. Tapi dulu dia adalah murid Enam Iblis Dunia!”

“Eh, kau rupanya tahu segala tentang pemuda itu, cici. Rupanya kalian telah lama saling kenal!”

“Tentu saja, ia musuhku sejak kecil!”

“Dan cici juga memiliki kepandaian amat tinggi!”

“Ah, kaupun mengagumkan, Shintala. Aku melihat bahwa kepandaianmu tidak berada di bawah kepandaianku!”

“Tapi aku tak dapat mengalahkan si buntung keparat itu...”

“Aku juga. Sudahlah, kita sekarang berada di tempat yang aman, Shintala. Tapi lihat kakakku duduk bersamadhi!”

“Benar,” sebuah suara tiba-tiba menyela, lembut dan penuh kagum. “Kalian sama-sama hebat, Shintala. Dan kalian berdua sama-sama mengagumkan. Tapi bagaimana kalau Naga Merah masih terus meletus. Lihat Thai Liong rupanya tak bernapas!”

Shintala dan Soat Eng tertegun. Mereka melihat pemuda itu dan benar saja pemuda itu duduk seperti batu karang, tegak tak bergerak tapi tiba-tiba terdengar bisikan lirih bahwa mereka semua tak usah khawatir. Mereka diharap tenang dan sama-sama duduk diam. Letusan Naga Merah tak mungkin tak berakhir. Dan ketika mereka terbelalak karena itulah suara Thai Liong, suara yang keluar bukan dari mulut maka Shintala, mendecak sementara Soat Eng lega. Tadi khawatir kalau kakaknya benar-benar tak bernapas alias mati!

“Kita disuruh diam. Marilah kita duduk dan biar bibi Cao Cun di tengah-tengah kita!”

“Benar, mari, bibi. Duduk di tengah kami dan biar kami bersamadhi pula!”

Cao Cun tersenyum. Dia mengangguk kepada Shintala dan diam-diam suka kepada gadis yang amat cantik ini, kecantikan yang khas dan berbau harum. Kecantikan asing dan teringatlah dia akan masa remajanya dulu, betapa banyak orang tergila-gila sampai kaisar sendiri mimpi dalam tidurnya! Dan ketika dia duduk dan beringsut di tengah-tengah dua orang itu, Shintala sudah duduk dan bersamadhi memulihkan tenaga maka wanita ini menarik napas berulang-ulang karena melihat dua wanita ini membuat dia teringat kepada dua anak perempuannya sendiri, Nangi dan Salini yang belum ketemu.

“Ah, gadis-gadis ini mengingatkan aku akan anak-anakku sendiri. Oh, di mana kalian, Nangi? Bagaimana pula dengan kakakmu Salini?”

Cao Cun. menahan runtuhnya air mata. Di saat seperti itu tiba-tiba kepedihannya bangkit. Bayangkan, berbulan-bulan dia telah kehilangan anak-anak perempuannya, dan berbulan-bulan pula dia mengembara bersama Thai Liong dan Soat Eng ini. Dan sekarang, berada di Himalaya yang tinggi dan menyeramkan tiba-tiba dia duduk berhadapan dengan dua gadis-gadis cantik yang mengingatkan dia akan anak-anak perempuannya sendiri. Hati siapa tak akan sedih?

Dan memandang dua gadis itu berganti-ganti tiba-tiba membuat perasaannya luka. Ada semacam goresan dalam yang menoreh hatinya. Ada semacam keprihatinan berat. Gadis-gadis yang gagah dan lihai ini selalu diterkam bahaya, lolos dan menghadapi bahaya yang lain lagi, padahal mereka itu bukanlah gadis-gadis sembarangan dan Soat Eng justeru puteri Pendekar Rambut Emas yang lihai. Bagaimana dengan anak-anak perempuannya yang justeru tidak bisa silat dan amat lemah? Ah, membayangkan ini tiba-tiba hati wanita itu ngeri!

“Tuhan, tolonglah anak-anakku. Apakah setelah puteraku tewas mereka juga akan terbunuh? Oh, cabut nyawaku, Thian Yang Agung. Aku tak sanggup hidup lagi kalau dua permataku itu juga mengalami nasib buruk!”

Cao Cun menangis. Tiba-tiba tanpa sadar ia mencucurkan air mata. Tapi karena berbulan-bulan ini dia sudah kenyang akan tangis atau air mata, mampu menangis tanpa suara maka wanita itu sama sekali tak mengganggu Soat Eng maupun Shintala yang tak menduga bahwa menggigit bibir kuat-kuat teman mereka itu sedang dilanda kesedihannya.

Cao Cun memang tak mau mengganggu dan wanita itu akhirnya menyandarkan tubuh beristirahat, bercucuran air mata namun tak ada keluhan atau sedu-sedan terdengar. Dan ketika dua gadis itu juga terlelap dalam samadhinya, mereka juga mengusir rasa ngeri dari dentuman atau letusan Naga Merah maka wanita inipun akhirnya terpulas dan tidur!

* * * * * * * *

“Bangun, semua bangun. Kita akan keluar dari sini!”

Cao Cun dan lain-lain terkejut. Tiga wanita itu tersentak ketika tiba-tiba ujung jubah bergetar. Mereka sadar dan Soat Eng maupun Shintala membuka mata, Cao Cun berseru tertahan karena dia dipukul-pukul benda lembut. Itulah permukaan jubah yang membuatnya terbangun dan sadar. Dan ketika semua melompat bangun dan Thai Liong yang duduk bersila sudah berdiri di situ, wajahnya kemerah-merahan dan mencorong maka Thai Liong mengebutkan jubahnya lagi dan tiga wanita itu terlompat keluar, keluar dari balik Beng-tau-sin-jin.

“Kita tak perlu lagi tinggal di sini. Naga Merah sudah tidak meletus lagi!”

“Hm, benar,” Soat Eng berseri dan tak mendengar gelegar atau gemuruh gunung berapi, tanda letusan sudah selesai. “Naga Merah sudah tak marah lagi, Liong-ko. Kau benar. Mari keluar dan biarkan aku menjebol mulut guha ini!”

“Kau tak akan dapat....” tapi Soat Eng sudah bergerak dan berkelebat menghantamkan sepasang lengannya. Dengar pukulan sakti wanita itu coba akan menjebol mulut guha, tahu bahwa guha itu tertutup dari luar oleh batu-batu atau muntahan lahar. Tapi ketika pukulannya membalik dan guha tergetar seakan runtuh Cao Cun terpekik karena hal itu mengejutkan maka Soat Eng terlempar dan kaget berseru tertahan.

“Aih, terlalu tebal!”

Wanita itu berjungkir balik. Soat Eng kaget dan penasaran tapi ia mencoba lagi, menghantam dengan menambah tenaga tapi mulut guha tak apa-apa. Bahkan di luar terdengar suara hiruk-pikuk dan berdebumnya batu besar. Dan ketika tiga kali wanita itu menghantam namun kali itu pula guha bergetar dan lantainya berderak, Soat Eng pucat maka wanita ini menghentikan perbuatannya dan gentar memandang kakaknya itu.

“Kita terkubur hidup-hidup. Guha ini seperti makam berongga!”

“Benar,” Shintala juga meloncat maju, pucat dan gelisah melihat kegagalan temannya tadi. “Kita terkubur hidup-hidup, in-kong. jangan-jangan tak dapat keluar. Timbunan batu amatlah tebal!”

“Hm, jangan menyebutku in-kong (tuan penolong),” Thai Liong tersenyum, melihat gadis itu semburat. “Kau telah mengenal namaku lewat adikku, Shintala, seperti juga aku telah mendengar percakapan kalian tadi. Sebut saja namaku Thai Liong, tak apa.”

“Ah, maaf, aku... aku menyebutmu saudara Thai Liong saja. Aku masih sungkan!”

“Hi-hik!” Soat Eng tiba-tiba tertawa, geli. “Kau dan aku sudah cukup akrab, Shintala. Panggil saja kakakku seperti aku memanggilnya, Liong-ko, atau Liong-twako!”

“Benar,” Thai Liong mengangguk, melihat gadis itu semakin merah, gugup. “Kau boleh memanggilku seperti adikku, Shintala. Atau cukup Thai Liong saja karena itulah namaku!”

“Baiklah, aku... aku menyebutmu seperti adikmu saja. Terima kasih, Liong-twako. Dan sekarang bagaimana kita dapat keluar dari sini!”

Soat Eng tersenyum. Dia melirik kakaknya karena saat itu kakaknya juga melirik dirinya. Ada saling lirik di situ dan masing-masing sama tahu apa yang dipikirkan lawan. Dan ketika Thai Liong agak semburat karena lirikan atau kerling adiknya sungguh penuh arti, Shintala telah menguasai kegugupannya kembali maka pemuda ini menekan degup jantungnya dan berkata pada adiknya itu, bukan kepada Shintala.

“Aku akan membuka mulut guha ini tapi kalian harap membantuku sedikit. Ada dua batu besar menghalang di depan dan kalian memegang seorang satu supaya dua batu itu tidak merapat kembali. Sanggup?”

“Sanggup, tapi bagaimana kau tahu?”

“Benar,” Shintala juga heran, tak melihat pemuda itu keluar. “Dari mana kau tahu ada dua batu besar di luar, Liong-twako? Bukankah sejak tadi kau di sini?”

“Aku melihatnya dengan Beng-tau-sin-jinku. Batu itu sebesar bukit, tak mungkin roboh biar dihantam seratus orang. Aku akan mendorongnya minggir dan kalian menahannya agar tidak kembali lagi ke posisi semula.”

“Ah, kalau begitu lakukan. Biar aku membantumu!”

“Dan aku juga,” Soat Eng kagum, berseri karena Shintala tampak begitu bersemangat, cantik kemerah-merahan. “Shintala sudah tak sabar melihat dunia luar, Liong-ko. Dorong batu itu dan pisahkan seperti kata-katamu.”

“Baik, awas...!” dan Thai Liong yang berkelebat dan berseru keras tiba-tiba menyentuh atau meraba mulut guha. Pekerjaannya seperti orang melakukan yang biasa saja tapi begitu mulut guha tersentuh mendadak terdengar derak dan getaran hebat.

Shintala terbelalak karena hawa yang amat kuatnya tiba-tiba meluncur dari lengan pemuda itu, angin dingin yang dahsyat di mana deru atau sambarannya membuat Cao Cun terpelanting! Dan ketika gadis itu juga berteriak kaget karena kakinya tahu-tahu terangkat naik dan hendak terlempar, Soat Eng juga berseru yang sama karena mengalami hal yang juga sama maka Thai Liong berseru agar semua merapat ke dinding.

“Jangan panik, jangan kacau. Merapat ke dinding dan kalian berdua cepat ke sini menahan dua batu besar itu!”

Soat Eng terbelalak. Kakaknya mengeluarkan teriakan panjang dan mulut guha tiba-tiba terbuka. Lapisan setebal satu meter hiruk-pikuk bermuncratan ke sana ke mari dan saat itulah tampak bahwa dua buah batu sebesar bukit benar-benar saling berhimpit di sana, di luar guha. Dan ketika Thai Liong berseru agar dua temannya bergerak cepat, pemuda itu menahan di kiri kanan maka Soat Eng bergerak tapi Shintala tetap bengong oleh takjub!

“Krasakk... bummm!”

Soat Eng tak kuat. Wanita ini berkelebat dan bergerak di sebelah kanan kakaknya tapi batu yang lain jatuh kembali. Batu itu seharusnya ditahan Shintala tapi gadis itu bengong. Dan karena Thai Liong menahan di tengah tapi tergencet, tak ada bala bantuan maka pemuda itu melepaskannya kembali dan Soat Eng berseru kecewa karena batu saling berhimpitan kembali.

“Ah, gagal. Bagaimana kau ini, Shintala. Kenapa diam tak membantu!”

“Maaf,” gadis itu merah padam, terkejut. “Aku bengong, Eng-cici. Aku terkesima melihat mulut guha tiba-tiba terbuka!”

“Ah, kau terkesima oleh kekuatan kakakku, oleh sinkangnya yang luar biasa. Hayo coba lagi dan jangan terlambat!”

“Hm, sudahlah,” Thai Liong juga agak menyesal, tapi memarahi adiknya. “Kita semua belum seperasaan, Eng-moi. Mari coba lagi dan minggir dahulu!”

Soat Eng menggeser. Sekarang dia di sebelah kiri kakaknya dan Shintala di sebelah kanan. Thai Liong mundur dan mengambil posisi kuda-kuda, setengah jongkok. Lalu ketika dia berkelebat dan mengeluarkan bentakan nyaring, angin menderu dari kedua lengannya maka pemuda itu menghantam dua batu di depan dan terdengar ledakan keras ketika batu di depant guha menyibak, lubang kecil kembali terlihat.

“Awas, cepat tahan!”

Soat Eng dan Shintala bergerak berbareng. Kini mereka bersamaan meloncat dan masing-masing sama-sama mengeluarkan teriakan panjang. Untuk menambah kekuatan dua wanita itu sama-sama berseru keras. Dan ketika dua batu besar itu ditahan dan Thai Liong menambah tenaganya lagi, menggeser dan mendorong maka batu itu berderak dan Thai Liong berseru agar bibinya keluar lebih dahulu lewat celah kecil yang kian melebar itu.

“Cepat, bibi Cao Cun harap keluar!”

Cao Cun, yang terbelalak dan kagum oleh kehebatan pemuda ini tiba-tiba sadar. Tadi ia terpelanting dan menggigil di sudut guha, terbawa oleh angin sambaran Thai Liong. Tapi begitu Thai Liong mampu membuka mulut guha dan dua batu raksasa yang berhimpitan itu ditahan tiga pasang lengan yang kokoh perkasa dari lengan Thai Liong keluar uap putih kemerah-merahan maka wanita itu berseru tertahan dan meloncat keluar, bergegas dan tersandung tapi bangun lagi dengan jerit atau keluhan kecil. Lolos!

“Bagus, sekarang kau, Eng-moi. Dan Shintala!”

Soat Eng ragu-ragu. Dia sedang menahan batu di sebelah kiri tapi kakaknya membentak agar cepat melepaskan itu. Thai Liong mengerahkan sinkangnya hingga terdengar suara berkeratak. Dan ketika pemuda itu membentak lagi dan Soat Eng meloncat, berseru agar kakaknya berhati-hati maka wanita itu lolos tapi Shintala tertegun tak mau mengikuti, menahan batu di sebelah kanan.

“Eh, giliranmu, Shintala. Cepat!”

“Tapi... tapi batu ini berat. Dia akan jatuh dan berhimpitan lagi!”

“Aku menahannya!” Thai Liong berseru, muka mulai berkeringat. “Cepat dan jangan lama-lama, Shintala. Aku akan menahan dengan kedua lenganku dan selamatkan dirimu!”

Namun gadis ini bimbang. Shintala kembali ragu-ragu karena dua batu itu bergerak dan kembali mengeluarkan detak-detak mengerikan. Thai Liong ada di tengah-tengah dan pemuda itu dalam posisi terhimpit. Thai Liong telah maju dan kedua lengannya terkembang ke kiri kanan. Batu raksasa yang tingginya sebesar bukit dan beratnya jelas ratusan ton itu tentu amatlah hebatnya. Sekali tergencet tentu pemuda itu akan lumat! Dan ketika Shintala menggeleng dan berseru agar Thai Liong keluar lebih dulu, dia belakangan maka Thai Liong terkejut dan membelalakkan matanya.

“Apa? Kau gila?”

“Tidak, aku juga dapat menahan batu ini, Liong-twako. Asal dalam posisi begini tentu aku sanggup. Kau keluarlah dulu dan setelah itu aku!”

“Tapi kau tak dapat menahan dua batu sekaligus. Ini terlampau berbahaya!”

“Hm, belum dicoba, Liong-ko. Tapi aku yakin bisa. Kau keluarlah dulu, dan aku menyusul!”

Thai Liong pucat. Debat dan tanya jawab ini membuat tenaganya berkurang batu berderak dan kembali menekan. Dan ketika dia berseru agar gadis itu tak usah membantah, keluar dulu maka batu menggencet dan Shintala tiba-tiba berseru menggerakkan tangannya yang lain menahan batu yang sebelah.

“Cepat, aku kira sanggup!”

Thai Liong menjadi pucat. Dia harus memusatkan perhatiannya lagi untuk menahan dua batu raksasa itu, hal yang membuat Shintala ringan dan merasa mampu menahan beban. Dan melihat gadis itu nekat serta mengira gampang, Thai Liong tiba-tiba ingin memberi pelajaran maka pemuda itu membentak dan melepas kedua tangannya.

“Baiklah, coba kau tahan!”

Shintala terkejut. Begitu Thai Liong melepaskan tangannya mendadak batu ratusan ton itu menekan berat. Begitu beratnya hingga tiba-tiba ia berseru keras, kaget dan mengerahkan tenaga tapi sepasang batu itu tetap bergerak menekan, kian lama kian ke dalam hingga gadis itu menjadi berobah karena begitu ditinggalkan Thai Liong mendadak ia tak sanggup! Dan ketika Shintala menjadi pucat sementara Thai Liong cukup memberi pelajaran maka pemuda itu membentak dan menggerakkan sepasang lengannya lagi menahan batu raksasa itu.

“Nah, sekarang keluarlah dan jangan menawar-nawar lagi... krek!” sepasang lengan Thai Liong berbunyi, seluruh ototnya menggembung dan uap putih kemerahan itu muncul dengan cepat.

Shintala menjadi ringan dan percayalah gadis itu bahwa ia tak sanggup menahan sendirian, dua batu raksasa itu benar-benar berat. Hanya orang seperti Thai Liong inilah yang sanggup! Dan ketika ia terisak dan meloncat keluar, merah padam, maka Thai Liong bingung bahwa sekarang ia harus sendirian “mengganjal” batu raksasa ini, tak dapat keluar!

“Aih, Liong-ko terjepit!” Soat Eng juga sadar dan berseru kaget. Tadi semuanya lupa akan kemungkinan ini, menganggap satu per satu dapat keluar padahal orang terakhir bakal menjadi korban. Shintala juga tertegun dan teringat itu. Tapi begitu Soat Eng kebingungan dan gadis itu berkelebat ke depan mendadak ia mengangkat batu sebesar orang ke arah dua batu besar itu.

“Liong-twako, kuberikan pengganjal. Cepat keluar!”

Thai Liong berseri. Inilah cara yang tepat dan batu melayang ke tengah-tengah batu raksasa itu, ia mengerahkan tenaganya sejenak dan cepat lolos begitu pengganjal tiba. Dan begitu terdengar suara keras karena batu pengganjal terjepit di tengah-tengah batu raksasa maka batu sebesar orang itu hancur tergencet menggantikan Thai Liong.

“Krasakk!”

Soat Eng pucat. Batu dapat hancur digencet seperti itu, apalagi manusia! Namun ketika Thai Liong tertawa mengusap keringat, mengucap terima kasih kepada Shintala maka Soat Eng juga sadar.

“Benar, terima kasih, Shintala. Aku lupa akan cara seperti ini!”

“Sudahlah,” gadis itu lega, berseri-seri “Liong-twako amat mengagumkan, Eng-cici. Setelah aku sendirian menahan beban ternyata aku tak kuat. Aku juga berterima kasih karena disuruh keluar lebih dulu!”

“Ah, kau wanita,” Thai Liong tertawa. “Sudah sepantasnya laki-laki mengalah kepada wanita, Shintala. Itu sudah wajar dan lihat kita semua sudah selamat!”

“Benar, dan sekarang kita mencari kakek iblis Poan-kwi dan si buntung itu!”

“Hm, aku ingin mencari Beng An!” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Adikku tadi di puncak sana, Shintala. Jangan-jangan ia tewas dan bagaimana bisa membawa kepala Poan-jin!”

“Benar, anak itu... ah, dia adikmu? Bagaimana bisa di atas sana dan membawa Poan-jin yang berlumuran darah? Adikmu itu mengejutkan sekali, tawanya melengking dan nyaring menggetarkan bukit!”

“Hm, ada sesuatu padanya,” Thai Liong tiba-tiba berseru. “Kita harus mencarinya sekaligus mencari Togur atau Poan-kwi. Mari, kalian ikut aku dan biar bibi Cao Cun masuk kembali!” dan ketika Thai Liong mengebutkan lengan jubahnya dan Cao Cun tersedot masuk, lenyap dan kembali terlindung di balik Beng-tau-sin-jin maka Thai Liong sudah berkelebat dan menuju puncak.

“Hei, tunggu kami!” Soat Eng berteriak, melihat kakaknya terbang ke atas dan bukan main cepatnya. Jubah yang berkibar di kiri kanan benar-benar membuat kakaknya itu seperti seekor rajawali yang meluncur ke atas, sekejap kemudian sudah jauh meninggalkan mereka dan wanita ini berseru mengejar kakaknya. Dan ketika Shintala juga berkelebat dan ngeri melihat batu-batu besar atau lumpur panas di kiri kanan mereka maka gadis itupun berteriak dan mengejar.

Thai Liong tak memperdulikan dan teringat adiknya. Benar, tadi adiknya itu muncul di puncak Naga Merah dan membawa kepala seseorang. Soat Eng menyebut bahwa itulah Poan-jin, saudara atau pasangan Poan-kwi. Dan karena adiknya sudah lebih dulu mengenal dua kakek iblis itu dibanding dirinya, Thai Liong baru pertama kali ini bertemu maka pemuda itu bergerak cepat ke atas.

Thai Liong melewati lumpur-lumpur mendidih yang masih kemerah-merahan, lahar atau muntahan lahar dari puncak Naga Merah. Dan ketika ia juga melewati batu-batu besar yang kemerah-merahan, batu-batu panas yang menyala oleh api maka Thai Liong tiba di puncak dan tertegun tak melihat apa-apa di situ, disusul oleh Soat Eng dan Shintala yang berkelebat mengejar.

“Mana adik kita!”

“Tak ada,” pemuda ini berseru lirih, heran dan khawatir. “Di sini hanya tumpukan bara-bara raksasa, Eng-moi, juga lumpur-lumpur mendidih. Aku tak melihat di mana Beng An!”

“Atau terkubur hidup-hidup,” Soat Eng ngeri, tiba-tiba menangis. “Hayo kita cari dia, Liong-ko. Aku tak mau adikku mati!”

“Sabar,” Thai Liong mencekal adiknya ini. “Aku akan melihat dengan mata batinku, Eng-moi. Aku merasa Beng An masih hidup. Tapi entah di mana dia!”

“Kalau begitu cepat kau cari, aku tak sabar!”

“Hm, baik,” dan Thai Liong yang bersedakap dan memejamkan mata tiba-tiba berdiri tak bergeming memusatkan kekuatan batinnya. Dengan kesaktiannya yang tinggi pemuda ini melepas “radar”, mempergunakan ilmunya yang disebut Hun-kong-pat-siang-li (Memencar Sinar Ke Delapan Penjuru Mata Angin). Dan ketika dari tubuh pemuda itu memancar delapan sinar putih yang memancar ke delapan penjuru mata angin mendadak Thai Liong membuka mata karena satu dari delapan sinarnya itu berkedip-kedip ke satu arah, tepat di belakang sebuah batu besar, batu yang juga merah marong karena masih panas oleh semburan api Naga Merah!

“Dia di situ, di balik batu itu!”

Soat Eng berkelebat mendahului. Ia tak tahan oleh pemberitahuan ini dan cepat menggerakkan kakinya ke batu besar itu. Banyak batu di puncak Naga Merah dan semuanya rata-rata mengepulkan uap panas, merah menyala karena puncak Naga Merah memang masih belum dingin. Tapi ketika ia tiba di sini dan tak melihat apa-apa, kosong, maka wanita itu tertegun dan Thai Liong sudah berkesiur di sebelahnya.

“Tak ada siapa-siapa, tak ada apa-apa.”

Thai Liong juga tertegun. Isyarat Hun-kong-pat-siang-linya jelas menunjukkan ke situ namun di sini ternyata tak ada apa-apa. Lumpur panas masih mendidih dan heranlah dia oleh itu. Apakah Hun-kong-pat-siang-linya keliru? Tak mungkin! Dan ketika Shintala juga berkelebat dan tak melihat siapa-siapa di situ maka Thai Liong memejamkan matanya lagi dan mengerahkan ilmu kesaktiannya itu lagi, penasaran.

“Tit-tit-tit....” sinar putih itu tiba-tiba muncul lagi, berbunyi dan terbelalaklah Soat Eng karena tiba-tiba sinar atau cahaya Hun-kong-pat-siang-li ini menyambar ke bawah. Dan ketika terdengar suara “ces” seolah api bertemu es maka Thai Liong membuka mata dan menuding ke situ.

“Dia di bawah, di bawah batu ini!”

Soat Eng terkejut. Kakaknya tiba-tiba mengibaskan lengan dan batu besar yang merah marong itu mencelat. Dan ketika Shintala tertegun karena Thai Liong benar-benar hebat sekali, batu itu jatuh menimpa teman-temannya yang lain maka semua terbelalak karena terdapat sebuah lubang kecil di situ. Dan suara tit-tit-tit semakin keras!

“Awas, kalian minggirlah!” Thai Liong mendorong dua temannya. Soat Eng dan Shintala terhuyung karena Thai Liong sudah menggerakkan tangannya dengan cepat sekali. Lubang kecil itu digali dan sekejap kemudian sudah melebar. Dan ketika lubang itu menganga dan Soat Eng berseru tertahan karena seseorang tengkurap di situ, tampak punggung dan lengannya maka Thai Liong menarik dan tubuh tanpa kepala terlempar ke atas.

“Poan-jin!”

Thai Liong tertegun. Soat Eng berteriak karena itulah kakek iblis Poan-jin. Shintala juga berseru tertahan karena mengenal tubuh tanpa kepala itu. Tapi ketika mereka terkejut dan berteriak kaget, Thai Liong juga membelalakkan mata tiba-tiba terdengar kekeh tawa dan seseorang meloncat dari lubang yang tadi menjadi tempat tengkurap mayat itu, disusul oleh menyambarnya sebuah kepala bermisai panjang.

“Hi-hik, kalian semua mampus!”

Shintala berseru mendahului. Gadis inilah yang pertama melihat meloncatnya bayangan itu, bayangan seorang anak laki-laki yang melemparkan sebuah kepala sambil menghantam Thai Liong, karena kebetulan Thai Liong membalikkan tubuh memperhatikan mayat Poan-jin itu, mayat yang sudah tanpa kepala. Dan begitu gadis ini berkelebat dan menerima hantaman itu, menangkisnya untuk melindungi Thai Liong maka benturan keras menggetarkan tempat itu dan Shintala mencelat berjungkir balik.

“Aihh... dess!”

Shintala terkejut bukan main. Gadis ini terkejut karena serangkum angin yang amat dahsyat menyambarnya. Hal itu tak diduga karena yang menyerang hanyalah seorang anak kecil. Maka begitu menerima dan dia terlempar, tinggi berjungkir balik maka cucu Drestawala ini berseru tertahan karena anak itu terkekeh-kekeh dan tidak bergeming, padahal tangkisannya tadi amatlah kuat!

“Iblis, anak ini gila!”

Soat Eng dan Thai Liong menoleh. Mereka membalikkan tubuh dan segera melihat siapa itu, bukan lain adalah Beng An, adik mereka. Tapi begitu Shintala berseru tertahan dan kaget melayang turun, Soat Eng berteriak karena bertemu adiknya kembali mendadak adiknya itu tertawa dan berkelebat menghantamnya, pakaian compang-camping sementara rambut riap-riapan bagai bocah edan.

“Kaupun mampus!”

Soat Eng kaget. Dia melompat ke depan menubruk adiknya itu, tak tahunya disambut pukulan dan angin pukulan yang menyambarnya ini amatlah hebatnya. Beng An, adiknya itu, tiba-tiba memiliki kekuatan luar biasa yang angin pukulannya menderu, Dan ketika dia terkejut dan tentu saja berteriak, menangkis, maka Soat Eng pun terpental dan terlempar berjungkir balik.

“Ha-ha, sekarang kau!” anak ini menyambar Thai Liong, tidak banyak bicara dan berkelebat lagi dan Thai Liong berseru perlahan.

Thai Liong terkejut karena tiba-tiba melihat tindak-tanduk yang aneh dari adiknya ini, mata yang liar namun mencorong penuh tenaga sakti. Dan ketika ia berkelit namun sang adik tetap mengejar, melepas pukulan sambil terkekeh-kekeh maka ia menangkis dan terdengar suara pendek yang mengakibatkan batu di sekeliling meloncat ke atas oleh getaran atau adu pukulan itu.

“Dukk!” Beng An terhuyung. Shintala, yang tertegun dan bengong di tempat tiba-tiba dapat merasakan betapa kuatnya adu pukulan tadi. Jantung seakan dipukul palu godam dan Soat Eng sendiri juga menahan napas karena jantung terpukul kuat. Benturan atau suara bertemunya dua pukulan tadi benar-benar mengguncangkan tempat itu, meskipun pendek dan singkat. Tapi begitu Beng An terhuyung dan terbelalak lebar, Thai Liong merupakan lawan terkuat mendadak anak ini berkelebat dan menyerang Shintala, rupanya tahu bahwa lawan yang lebih lemah harus dihancurkan lebih dulu.

“Heh-heh, kau belakangan saja. Biar kubunuh dulu gadis ini!” dan Beng An yang berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu telah menyerang Shintala mendadak membuat gadis itu terdesak karena dengan cepat dan bertubi-tubi anak itu melepas serangan-serangannya.

Shintala mengelak dan menangkis namun tetap saja ia terhuyung. Pukulan-pukulan aneh menyambar dan setiap beradu lengan tentu ia menjerit, karena ia tentu terpental. Dan ketika anak itu berkelebatan cepat dan bajunya yang compang-camping melecut atau meledak-ledak persis gaya serangan Poan-jin-poan-kwi maka gadis itu berseru pucat karena lawan yang dihadapi benar-benar seolah Poan-jin-poan-kwi sendiri.

“Iblis, anak ini memiliki tenaga Poan-jin. Ia mempergunakan ujung bajunya sebagai misai!”

Benar saja, baju yang compang-camping itu melecut atau menyambar-nyambar seperti gerakan misai panjang. Poan-jin maupun Poan-kwi memang memiliki kepandaian yang khas ini, meledak-ledakan atau melecutkan misainya itu. Dan ketika Shintala kelabakan karena sinkang anak itu amatlah kuatnya, ia selalu terpental maka Beng An terkekeh-kekeh dan Soat Eng tiba-tiba berkelebat dan membentak, mencengkeram adiknya itu.

“Beng An, jangan kurang ajar. Mundur!”

Namun wanita ini berteriak kaget. Pundak Beng An tiba-tiba menjadi panas, jari-jari yang mencengkeram bagai disengat api dan Soat Eng tentu saja melepaskannya, berjengit dan berteriak. Dan ketika. anak itu membalik dan menyerangnya, terkekeh-kekeh maka Beng An ganti-berganti menyambar dua wanita ini.

“Kau curang, licik. Heh-heh, boleh mengeroyok tapi harus bilang dulu!”

Soat Eng kelabakan. Sama seperti Shintala iapun mengelak dan menangkis. Tapi ketika ia terpental dan berjungkir balik terlempar, tenaga Beng An amatlah hebatnya maka sang cici tiba-tiba menangis dan berteriak pilu.

“Beng An, jangan gila. Aku encimu sendiri Soat Eng!”

“Heh-heh, gila? Kau menganggapku gila? Kurang ajar, kaulah yang gila, siluman cantik. Kau dan temanmu ini yang edan... des-dess!”

Soat Eng yang berjungkir balik menerima sebuah serangan tiba-tiba disusul Shintala yang juga berteriak dan terlempar ke atas. Beng An menggerakkan kedua lengannya ke kiri kanan dan dua wanita itu sama-sama mencelat. Khi-bal-sin-kang, yang biasanya hebat dan amat diandalkan itu mendadak teredam oleh sebuah tenaga lunak, amblas dan tiba-tiba membalik begitu anak itu menolaknya ke atas.

Dan ketika Soat Eng berjungkir balik sementara Shintala juga terlempar bergulingan, kaget berteriak marah maka Thai Liong yang terbelalak dan memperhatikan semua itu tiba-tiba melihat kepala Poan-jin bergerak, mata yang tertutup itu tiba-tiba membuka, melotot.

“Beng An, pergunakan Hwi-gan-san-hui-tokmu. Bunuh mereka dan kunyah otaknya mentah-mentah!”

Thai Liong terkejut. Mayat yang sudah tak berdaya itu mendadak dapat “hidup” kembali, berseru tapi bukan melalui mulut melainkan melalui roh! Dan ketika Thai Liong terkejut karena adiknya di sana terkekeh-kekeh, mata yang mencorong itu mendadak tak berkedip sekonyong-konyong terdengar bentakan atau seruan penuh pengaruh, pengaruh iblis.

“Anak-anak, kalian tak dapat melawai aku. Menyerah dan lihatlah bahwa kalian tak bertenaga. Lihat bahwa kalian lemas!”

Soat Eng dan Shintala terkejut. Mereka terbelalak ketika tiba-tiba dari sepasang mata anak itu timbul kekuatan sihir yang amat kuat, hidup dan berpijar-pijar dan warnanya seperti mata setan, merah bagai api. Dan ketika mereka tersentak dan tak mampu melepaskan diri, sorot mata itu menghisap mereka mendadak keduanya merasa lemas dan benar-benat tak bertenaga.

“Ha-ha, sekarang kalian roboh. Roboh karena lemas!”

Shintala dan Soat Eng mendeprok. Mereka kena pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok (Mata Api Pembuyar Ingatan) dan tiba-tiba mengeluh tanpa daya. Mata api Beng An menembus pikiran mereka dan jatuhlah keduanya dengan posisi terduduk. Dan ketika keduanya tertegun dan bengong, Beng An berkelebat dengan kesepuluh jari mencengkeram ubun-ubun dua wanita itu maka Thai Liong bergerak dan tiba-tiba meledakkan telapak tangannya, bunyi menggelegar bagai guntur melenyapkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok.

“Beng An, jangan membunuh!”

Dua wanita itu sadar. Mereka terpekik ketika tiba-tiba sepuluh jari Beng An sudah di atas kepala, sekali mencoblos tentu kepala mereka bolong dan otaknya diambil. Bukan main mengerikannya. Tapi begitu Thai Liong berkelebat dan dengan suaranya yang dahsyat pemuda itu membuyarkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok, Beng An tertegun dan terhenti gerakannya mendadak kakaknya itu sudah menyambar pundaknya dan melempar anak laki-laki itu sampai terguling-guling, menampar pundaknya dua kali.

“Bres-bress!”

Beng An seolah disambar petir. Anak ini berteriak karena gerakan dan bentakan Thai Liong sungguh mengejutkannya. Terhadap Thai Liong memang dia jerih, selalu menyerang dua wanita ini dan tak menyerang pemuda itu. Maka begitu Thai Liong membentak dan bentakannya melenyapkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok, Thai Liong mempergunakan Thian-jong-sin-imnya (Suara Menembus Langit) sehingga langit seolah-oleh terbelah, bentakan atau seruan pemuda itu memang dahsyat maka anak laki-laki ini tertegun dan saat itu. dicengkeram dan dilempar.

Beng An tak mampu berkelit karena tujuannya adalah Shintala dan encinya, anak ini liar dan ada tanda-tanda tak waras. Poan-jin dengan keji telah menjungkirbalikkan pikiran anak ini hingga gila. Dan ketika Thai Liong bergerak dan adiknya dilempar, Soat Eng dan Shintala berteriak melempar tubuh maka pemuda itu sudah mengejar dan tidak memberi kesempatan adik laki-lakinya bangun.

“Kau kemasukan roh Poan-jin. Maaf dan biarkan aku menampar kepalamu!”

Beng An bergulingan. Cepat dan luar biasa anak ini mengelak dan melengking, tepukan atau tamparan Thai Liong luput. Dan ketika Thai Liong terkejut karena gerakan adiknya sungguh luar biasa, gerakan itu bukan gerakan seorang anak kecil melainkan gerakan seorang ahli silat tingkat atas, tanah meledak terkena tamparannya maka adiknya itu memaki-maki dan suara parau terdengar dari situ, suara Poan-jin!

“Bocah jahanam, pergi dan jangan dekati aku. Atau nanti kau kubunuh!”

“Hm!” Thai Liong berkelebat, marah. “Kau jangan mengganggu adikku, Poan-jin Rohmu tak layak menyusupi tubuhnya dan pergilah!”

“Augh, kau nekat. Awas kubunuh!” namun ketika Thai Liong mengibas dan berkelebat menghilang, mempergunakan Ang-tiauw-ginkangnya yang luar biasa maka tangannya tahu-tahu menepuk atau mendarat di ubun-ubun adiknya itu.

“Plak!” Terdengar jeritan tinggi. Beng An terlempar namun Thai Liong masih mengejarnya juga, membentak dan menghilang dan tahu-tahu muncul di belakang adiknya lagi. Dan ketika tiga tamparan kembali berturut-turut mengenai atas kepala, pekik atau lengking itu berubah keluhan maka Beng An terbanting namun tiba-tiba kepala di sana menggelinding dan mencelat menyambar pemuda ini.

“Liong-ko, awas....!”

Thai Liong membalikkan tubuh. Dia terkejut namun menggerakkan ujung lengan jubahnya. Kepala Poan-jin mendadak hidup dan melayang menghantam dirinya. Sungguh tak masuk akal. Namun karena pengaruh ilmu hitam memenuhi tempat itu dan Soat Eng maupun Shintala terhuyung-huyung mau muntah maka kepala itu disambut dan pecah bertemu jubah pemuda ini.

“Prakkk!” Jerit atau pekik kesakitan terdengar dari mulut Beng An. Anak laki-laki itu mengaduh dan memegangi kepalanya sendiri, padahal yang dihantam dan dipecahkan itu adalah kepala Poan-jin.

Dan ketika Thai Liong mengerutkan kening karena harus memukul hancur sebuah mayat, hal yang tak disenangi maka Beng An roboh dan pingsan di sana, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah dan saat itu terdengar jerit atau pekik lain. Sesosok asap hitam menyambar. Dan ketika Shintala ganti menjerit karena asap itu menyerang Thai Liong, yang sedang tertegun dan memandangi kepala Poan-jin maka ledakan memenuhi tempat itu disusul awan tebal yang bergulung-gulung.

“Blarrr!”

Thai Liong terpelanting. Poan-kwi, dalam ujud halus, tiba-tiba datang dan memekik di balik ilmu gaib. Kakek itu melihat kematian adiknya dan mengeluarkan teriakan menyeramkan. Tapi karena dia menyambar dalam ilmu hitam dan Shintala tak melihat kakek itu, begitu pula Soat Eng maka Thai Liong tersentak ketika ratusan asap hitam menyambar atau menyerangnya dari segala penjuru.Cepat dan bertubi-tubi dan tahu-tahu pemuda inipun lenyap tergulung.

Thai Liong melihat ratusan wajah-wajah setan berkelebatan di sekelilingnya, mulut dibuka lebar-lebar dan taring-taring yang amat tajam mengangga siap mencaploknya. Bau busuk juga menyambar dan puncak Naga Merah tiba-tiba menjadi gelap-gulita. Tapi ketika pemuda itu membentak dan meledakkan kedua tangannya, mengeluarkan kesaktiannya maka di tangan pemuda ini tiba-tiba memancar sebatang sapu lidi yang terang-benderang, menyerang atau menghancurkan asap-asap hitam yang bergulung-gulung amat tebal itu.

“Poan-kwi, tak perlu berbuat curang. Aku dapat menghancurkan ilmu hitammu!”

Ledakan atau guntur kembali terdengar Puncak Naga Merah disambar cahaya terang-benderang ini dan awan tebal yang bergulung-gulung mendadak lenyap. Poan-kwi tiba-tiba tampak dalam ujud aslinya dan kakek itu terhuyung-huyung memegangi misainya yang nyaris pendek, terbabat atau putus ketika dalam pertandingannya pertama melawan pemuda ini. Dan ketika Shintala dapat melihat kakek itu dan berteriak panjang tiba-tiba gadis ini menerjang dan mengeluarkan tongkatnya.

“Kakek keji, kau mampuslah!”

Namun tongkat meledak sebelum mengenai sasarannya. Poan-kwi meniup dan sinar kebiruan menyambar, seperti lidah naga, membuat gadis itu terpekik dan Shintala terbanting terguling-guling. Dan ketika gadis itu meloncat bangun dan memaki kalang-kabut, marah tapi juga gentar maka Thai Liong bergerak dan melepaskan pukulannya ke arah kakek itu, berseru agar gadis itu mundur dan menyambarlah sinar merah ke arah Poan-kwi. Dan ketika Poan-kwi membentak dan menyambut dengan sinar biru maka lagi-lagi kakek itu terpental.

“Dess!” Poan-kwi kalah kuat. Untuk kesekian kalinya lagi kakek itu merasa kalah tenaga, terhuyung dan menerima lagi serangan-serangan Thai Liong namun kini tiba-tiba ia mengelak dan berkomat-kamit. Dan ketika tangannya berkerotokan dan satu per satu, sungguh mengejutkan maka tiba-tiba sepuluh jari-jari kaku menyambar dan menyerang Thai Liong, disusul oleh siku dan pangkal lengan dan mendadak tubuh kakek itu sudah lepas sendiri-sendiri, menyambar dan kepala ataupun kaki beterbangan menyerang Thai Liong.

Sungguh ini ilmu siluman yang belum pernah dihadapi Thai Liong seumur hidupnya! Dan ketika pemuda itu terperanjat karena lawan mengeluarkan ilmunya yang paling mengerikan, rupanya juga paling rahasia maka jari atau potongan-potongan tubuh menghajar pemuda ini dari segala penjuru.

“Heh-heh, kau tak dapat mengalahkai aku, Thai Liong. Coba hadapi ilmuku Hek-kut-kang ini!”

Thai Liong pucat. Dia beterbangan namun potongan-potongan tubuh itu juga beterbangan mengikutinya. Jari atau potongan-potongan tangan menghantam seluruh tubuhnya hingga sakit-sakit, dipukul tapi terpental dan menyerang lagi. Dan karena dia belum tahu ilmu apa itu Hek-kut-kang (Melepas Sendi) maka pemuda ini jatuh bangun dan Shintala maupun Soat Eng juga berteriak karena ngeri, melihat kakaknya itu matang biru!

“Liong-ko, biar kubantu kau!”

“Benar,” Shintala juga berseru, menghilangkan rasa ngerinya. “Biar kubantu kau, Liong-twako. Atau kita sama-sama mampus menghadapi kakek siluman ini!”

Shintala maupun Soat Eng sudah menerjang maju, memberanikan diri dan menghadapi kakek itu. Namun ketika potongan-potongan tubuh itu juga menghantam atau menyerang mereka, bahkan kepala Poan-kwi melesat dan meninggalkan tubuhnya maka Soat Eng berteriak ketika dibentur pipinya.

“Aihhh... plak!” Soat Eng terbanting. Kaget dan ngerinya bukan main dan kepala itu menyambar-nyambar lagi, beterbangan di sekelilingnya dan misai yang ada di janggut tiba-tiba juga lepas satu per satu, melesat dan menyambar-nyambar wanita itu maupun Shintala.

Dan ketika Shintala juga terpekik karena lawan sungguh iblis yang amat mengerikan sekali maka Thai Liong terhuyung dihantami potongan-potongan tangan atau jari kaki, pucat dan mengebut namun bagian-bagian tubuh Poan-kwi itu pasti datang dan menyerang lagi, sungguh membuat tengkuknya merasa seram! Tapi ketika pemuda ini bingung dan pucat menghadapi lawan tiba-tiba terdengar bisikan lembut yang menyusup di telinganya.

“Thai Liong, lepas jubahmu. Tangkap dan masukkan potongan-potongan tubuh Poan-kwi ke dalam jubahmu. Incar kepala kakek itu dan ikat dengan misainya!”

Thai Liong girang. Tiba-tiba sesosok asap putih muncul di sana, bergoyang tapi kemudian lenyap. Dan ketika ia berseru keras dan melepas jubahnya, jari atau potongan-potongan tubuh Poan-kwi beterbangan menyambar-nyambar maka Thai Liong sudah membentak dan meraup semua bagian-bagian tubuh itu, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu sepuluh jari tangan sudah masuk atau terjebak di dalam jubahnya, disusul kemudian oleh siku atau paha lawan. Dan ketika semua akhirnya masuk dan meronta-ronta tak dapat keluar, tinggal kepala Poan-kwi yang berkelebatan menyambar-nyambar maka kakek itu berteriak, mata melotot.

“Heii, apa yang kau lakukan, anak muda. Mana bagian-bagian tubuhku. Keluarkan mereka!”

“Hm,” Thai Liong jijik. “Kau iblis yang keji dan tak berperasaan, Poan-kwi. Tubuh sendiri kau lepas-lepas dan tidak kau hargai. Maaf, aku menangkapnya dan sekarang tiba giliran kepalamu... plak!” dan kepala Poan-kwi yang dikebut dan terpental tiba-tiba disusul oleh jerit kakek itu yang tak dapat menyatu dengan tubuhnya.

Kakek ini pucat karena Thai Liong telah memasukkan semua bagian-bagian tubuhnya ke dalam jubah, berarti dia tak dapat normal lagi sebagai manusia dan memekiklah kakek itu oleh amarah yang sangat. Dan ketika ia coba merampas namun Thai Liong selalu menolaknya, bahkan pemuda itu meraup ribuan misai yang bergerak melalui ilmu hitam tiba-tiba misai kakek itu juga telah digenggam pemuda ini dan sekarang meledak-ledak siap menangkap tuannya.

“Augh, keparat. Kau dibantu gurumu, Thai Liong. Kau diberi tahu gurumu. Ah, Bu-beng Sian-su kakek jahanam!” Poan- kwi kalang-kabut, benar-benar tak dapat merampas bagian tubuhnya sendiri dan kelabakanlah kakek itu bagai kambing kebakaran jenggot. Hek-kut-kang akan lumpuh kalau dijadikan satu. Bagian-bagian tubuh itu tak boleh tertangkap atau ilmu hitam ini bakal tak berdaya. Dan ketika benar saja tinggal kepala itu yang sendirian menyambar-nyambar, tak ada lagi bagian tubuh yang membantu atau mengikuti maka Poan-kwi menjerit ketika tiba-tiba misainya sendiri melecut pipi.

“Augh!” kakek itu berteriak. “Kau licik, Thai Liong. Kau curang. Kembalikan tubuhku ke asal!”

“Hm,” Thai Liong mengejek. “Aku akan mengembalikanmu ke asal kalau kau masuk ke sini, Poan-kwi. Ayo kutangkap dan jangan bergerak!”

“Keparat, aku tak mau!” dan kakek itu yang berteriak dan melengking-lengking akhirnya kebingungan menyerang Thai Liong, tertolak atau terpental dan setiap kali harus mengelak cepat ketika misai menggubat atau mau melilitnya. Kakek ini bingung karena tinggal dua pilihan baginya, ditangkap dan menyatu dengan tubuhnya tapi seketika itu juga menjadi tawanan atau bebas dan melayang-layang namun hidup hanya dengan sebuah kepala saja. Tinggal mana yang dia pilih! Dan karena menjadi tawanan Thai Liong juga terasa berat, pemuda itu benar-benar amat lihai dan luar biasa akhirnya kakek ini mengeluh karena ingin bebas meskipun hanya dengan sebuah kepalanya saja, hidup sebagai mahluk tak normal!

"Baiklah, kakek itu menjerit. “Aku menyerah kalah, Thai Liong. Tapi adikmu juga mengalami nasib buruk. Biar aku pergi dan lihat siapa yang lebih menderita.... darr!” Poan-kwi meledakkan asap mulutnya, hilang dan lenyap dan Soat Eng serta Shintala terlempar di sana.

Dua wanita itu terjatuh karena mereka ngeri oleh kejadian menyeramkan ini. Poan-kwi tinggal kepalanya saja yang beterbangan bagai siluman. Thai Liong melumpuhkan lagi Hek-kut-kang dan menanglah pemuda itu menghadapi lawan yang amat luar biasa. Dan ketika puncak Naga Merah menggelegar oleh tabrakan kepala Poan-kwi, yang marah dan kecewa maka tempat itu menjadi sepi lagi dan awan hitam yang memenuhi tempat itupun sirna.

“Hebat, kakek itu luar biasa sekali. Ia benar-benar iblis!”

“Tapi kau membawa potongan-potongan tubuhnya, Liong-ko. Untuk apa benda seperti itu!”

“Benar,” Shintala tiba-tiba juga berseru. “Aku jijik melihatnya, twako. Buang saja atau lempar ke jurang!”

“Hm, kakek itu akan menyatu,” Thai Liong mengerutkan kening, menggeleng. “Hek-kut-kang ilmu yang mengerikan sekali, Shintala. Sekali aku melepas maka tubuh itu akan mencari kepalanya dan Poan-kwi muncul lagi sebagai manusia biasa. Tidak, sementara ini biarkan kepala dan tubuhnya memisah, toh bukan aku yang melakukannya melainkan kakek itu sendiri!”

“Jadi kau akan membawa-bawa potongan tubuh itu?”

“Aku akan menyimpannya di tempat aman. Selama Poan-kwi tak mau datang dan menyerahkan kepalanya maka selama itu pula aku membawa bagian tubuhnya ini sebagai tawanan. Kakek itu bukan manusia biasa, kakek itu iblis!”

“Ihh, aku ngeri dan jijik sekali. Sungguh kakek itu iblis!”

“Ya, iblis yang membuat perutku serasa mau muntah-muntah!” Soat Eng juga berseru, jijik memandang tubuh Poan-kwi yang bergerak-gerak di dalam jubah kakaknya, mau keluar tapi tak dapat. “Kalau begitu cepat simpan seperti katamu, Liong-ko. Dan bagaimana sekarang dengan adik kita Beng An. Lihat, ia pingsan di sana!"

“Hm,” Thai Liong teringat dan melihat adiknya itu, kening berkerut tebal. ”Aku akan menolongnya, Eng-moi. Dan kebetulan Sian-su tadi menengok kita. Mari menghadap dan minta petunjuknya!"

“Sian-su?” Soat Eng terkejut. “Maksudmu gurumu kakek dewa Bu-beng Sian-su itu?”

“Ya, siapa lagi? Dialah yang memberiku petunjuk menghancurkan Hek-kut-kang itu. Tanpa Sian-su mungkin aku tetap bingung!”

“Ah, kalau begitu mari. Di mana dia!” dan ketika Soat Eng berkelebat dan menyambar adiknya, terbelalak mencari-cari maka Shintala tertegun dan bertanya gugup.

“Bu-beng Sian-su ada di sini? Liong-twako ini muridnya? Ah, pantas begini lihai, Eng-cici. Kiranya Liong-twako adalah murid kakek dewa itu. Aduh, sungguh tak kusangka!”

“Hm, Sian-su tak mau menyebut diriku sebagai murid,” Thai Liong menggeleng menghela napas, mulut tersenyum getir. “Siapa saja bisa dianggap muridnya Shintala. Dan siapa saja bisa menyebut atau menganggapnya guru. Kakek itu tak mau menjadi milik orang per orang. Dia milik semuanya!”

“Ah, kalau begitu aku ingin bertemu. Sudah lama kudengar nama kakek luar biasa ini dan harap twako tunjukkan kepadaku!”

“Aku memang akan mencarinya. Mari, jangan-jangan dia sudah pergi jauh!”

Shintala mengangguk. Dia berseri-seri begitu mendengar nama ini. Bu-beng Sian-su adalah nama yang dikenal di seantero jagad dan hanya orang-orang tolol saja yang tak mendengar kakek ini. Maka begitu Thai Liong berkelebat dan Soat Eng juga menyusul kakaknya, terbang menyeberangi puncak maka gadis inipun bergerak dan heran kenapa pemuda itu meluncur di balik gunung.

Thai Liong memang melewati puncak Naga Merah untuk turun di seberang yang sana, bergerak dan tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan putih meluncur di depan. Dan ketika Thai Liong berseru bahwa itulah Sian-su, Soat Eng dan Shintala terbelalak karena bayangan itu bergerak seperti asap, melayang alias ngambang di permukaan tanah maka gadis itu berseru tertahan dan merasa pucat.

“Itu Sian-su, mari percepat gerakan kita!”

Soat Eng terbang mengerahkan segenap tenaganya. Wanita itu berseru girang sementara Shintala masih ragu-ragu dan ngeri. Itu Bu-beng Sian-su yang kesohor di seluruh jagad? Itu kakek dewa yang namanya menggetarkan dan ditakuti iblis-iblis macam Poan-jin-poan-kwi? Ah, mengerikan. Kedua kakinya tak menginjak tanah dan melayang seperti peri! Tapi ketika Soat Eng bergerak dan memanggil namanya, temannya itu tampak girang bukan main maka gadis ini memberanikan hatinya dan menjejakkan kakinya mengerahkan semua ilmunya. meringankan tubuh, Thai Liong sendiri sudah melesat dan terbang di depan, jauh meninggalkan mereka!

“Shintala, cepat. Kita tak boleh kehilangan kakek itu!”

“Baik, tapi tunggu aku, Eng-cici. Tempat ini demikian terjal dan banyak jurang-jurangnya!”

“Jangan khawatir, kau dapat melewati semuanya itu. Mari, cepatlah. Kakakku jauh di sana dan lihat hampir menempel Sian-su!”

Shintala kagum. Thai Liong, pemuda tampan itu, tiba-tiba benar saja mengejar dan berhasil menempel bayangan putih yang melayang-layang itu. Terdengar tawa lembut dan Shintala tiba-tiba berdesir dan merasa sejuk mendengar itu. Ah, itu tawa Bu-beng Sian-su. Bukan main lembut dan menyenangkannya! Dan ketika ia berkelebat dan mengerahkan semua ilmu lari cepatnya maka dia sudah berendeng dan berjajar dengan Soat Eng, temannya ini.

“Hebat sekali kakakmu. Kita tetap tak dapat mengejar!”

“Hi-hik, kakakku memang luar biasa, Shintala. Ayahku sendiripun mengakui keunggulannya. Lihat, dua orang itu memperlambat larinya dan kita menyusul!”

Shintala tertegun. Mendengar kata-kata “ayahku sendiripun mengakui keunggulannya” mendadak gadis ini sadar dan teringat sesuatu. Ingat bahwa dia belum bertanya siapa teman-teman barunya ini dan dari mana mereka. Ketegangan demi ketegangan yang mereka alami telah membuat dia lupa akan semuanya itu. Dan ketika dua orang di sana memperlambat larinya dan angin meniup kencang, tutup kepala Thai Liong tiba-tiba terangkat dan terlempar mendadak gadis ini mengeluarkan seruan tertahan melihat Thai Liong terurai berambut panjang, rambut berwarna keemasan yang selama ini memang tertutup oleh kopiah atau tutup kepala merah.

“Kim-mou-eng!”

“Bukan,” Soat Eng berseru menghentikan larinya, mereka sudah dekat dengan Sian-su dan Thai Liong, tertawa. “Kim-mou-eng adalah ayah kami, Shintala. Itu kakakku Thai Liong. Kim Thai Liong!”

“Apa? Jadi... jadi kau...”

“Benar,” Soat Eng berseri-seri, tak menduga jelek, langsung saja menerangkan. “Ayahku Kim-mou-eng adalah ayah kakakku itu juga. Kau rupanya mengenal ayahku dan pernah bertemu. Ah, itu Sian-su, Shintala. Ayo mendekat dan memberi hormat!”

Namun gadis ini membelalakkan matanya lebar-lebar. Shintala terkejut ketika tiba-tiba melihat rambut Thai Liong. Selama ini rambut itu tersembunyi di balik tutup kepala dan itupun juga tak diperhatikan gadis ini karena kejadian demi kejadian selalu menimpanya. Tapi begitu tutup kepala itu lepas dan rambut keemasan Thai Liong terurai, memang pemuda ini seperti ayahnya maka Shintala tiba-tiba terkejut dan teringat permusuhannya dengan pendekar itu, terutama isterinya, Kim-hujin! Dan begitu ia melotot dan berobah merah, Soat Eng terkejut, mendadak gadis itu memutar tubuhnya dan lari meninggalkan mereka, terbang ke arah lain!

“Soat Eng, menyesal sekali kita tak dapat bersama lagi. Maaf, aku harus pergi dan biar kita tak usah bertemu!”

“Heii..!” Soat Eng terkejut, berubah mukanya. “Apa maksudmu ini, Shintala. Kenapa kau berobah kasar!”

“Hm, tak usah tahu. Tanya saja ayah ibumu itu!” dan begitu gadis itu meluncur dan meninggalkan temannya, Thai Liong terkejut sementara Soat Eng tertegun maka Shintala sudah jauh di bawah gunung untuk sebentar kemudian lenyap di sana.

Soat Eng terbelalak dan penasaran, kaget. Cucu Drestawala itu tiba-tiba bersikap kasar dan menyebutnya begitu saja, padahal sebelumnya memanggil enci! Dan gusar atau tersinggung oleh ini tiba-tiba Soat Eng berkelebat mengejar dan melemparkan Beng An kepada kakaknya.

“Shintala, kau gadis siluman. Daripada menanya ayah ibuku lebih baik aku menanya dirimu. Berhenti, atau aku tak mau sudah!”

Dua gadis itu berkejar-kejaran. Soat Eng mengerahkan Jing-sian-engnya dan tiba-tiba sudah meluncur pula bawah gunung. Jing-sian-eng adalah ilmu meringankan tubuh yang hebat namun Shintala juga memiliki kepandaian kakeknya yang luar biasa. Dulu gadis itu pernah berkejar-kejaran dengan Kim-hujin dan merekapun imbang. Maka begitu dikejar dan Soat Eng marah memaki-maki, Shintala menoleh dan mendengus maka gadis itu berseru agar Soat Eng tak usah mengejar.

“Kau tak perlu mengejar aku. Aku masih menghargai sisa persahabatan kita!”

“Keparat!” Soat Eng melengking. “Kau memusuhi ayah ibuku, Shintala, berarti kaupun menghina aku. Jangan lari, dan tak usah mengingat sisa-sisa persahabatan!”

“Hm, aku menghormati budi kakakmu. Jangan kejar atau aku bisa melupakan segala-galanya!”

“Lupakanlah, tak usah perduli. Aku akan menghentikanmu dan kau atau aku yang mampus.... haittt!” dan Soat Eng yang berjungkir balik melewati lawan mempergunakan kesempatan selagi lawan tertegun mendadak melepas Khi-bal-sin-kang dan memukul kepala lawannya itu. Shintala marah dan tentu saja menangkis. Tapi ketika dia terpental dan berseru tertahan, Soat Eng sudah melayang turun dan tegak menghadang maka gadis itu marah dan balas membentak, jari-jari bergetar siap oleh tenaga sakti!

“Soat Eng, tak usah memancing-mancing kemarahanku. Kalau kau ingin bertanding bilang saja sejak tadi. Aku dapat membalaskan sakit hatiku kepadamu.... haiittt!” dan gadis ini yang balas menerjang dan melepas pukulan tiba-tiba dikelit dan dielak Soat Eng. Shintala membalik dan menyerang lagi. Dan karena tujuh pukulan berturut-turut menyambar silih berganti, Soat Eng tak dapat mengelak lagi maka nyonya muda inipun menangkis dan Khi-bal-sin-kang bertemu kepretan jari-jari sakti dari cucu si Drestawala itu.

“Plak-plak-plakk!”

Shintala terpelanting namun Soat Eng terhuyung mundur. Tamparan atau kepretan amatlah kuatnya dan kuda-kuda Siang-hujin (nyonya Siang) ini geser.

Namun begitu Shintala melengking da, menubruk lagi, mencabut tongkat maka gadis itu sudah menyerang lawan dan bertandinglah dua wanita ini bagai dua harimau betina yang sama-sama kelaparan. Yang satu teringat lawan lamanya sementara yang lain terhina karena orang tuanya diejek dan direndahkan!

“Haiiittttt... ciat-ciaatttt!”

Dua wanita itu bertanding seru. Mereka sama-sama berkelebatan dan baik Soat Eng maupun Shintala sama-sama mengeluarkan semua kepandaiannya. Masing-masing sama maklum bahwa lawan adalah orang-orang lihai, apalagi setelah sekarang Shintala mengetahui bahwa Soat Eng kiranya puteri Pendekar Rambut Emas. Pantas demikian lihai, juga Thai Liong pemuda yang dikaguminya itu!

Namun karena rasa marah mengalahkan segala-galanya dan perasaannya terhadap Thai Liong ditindas dalam-dalam, getaran atau api cinta mulai membakar di hatinya maka cucu Drestawala ini menumpahkannya kepada Soat Eng....

Rajawali Merah Jilid 19

RAJAWALI MERAH
JILID 19
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“Blaarr...!” Dentuman serta semburan batu dan pasir seakan dimuntahkan dari puncak gunung. Puncak Naga Merah, satu di antara puncak-puncak yang ada di pegunungan Himalaya itu mendadak mengeluarkan suara menggelegar dan api yang dahsyat.

Semua orang terkejut karena puncak Naga Merah tiba-tiba meletus, sekejap kemudian gemuruh dan semburan laharnya memenuhi sekitar. Dan ketika dentuman-dentuman disusul oleh hujan batu dan pasir-pasir panas, teriakan atau jeritan Soat Eng tak terdengar lagi maka satu di antara puncak Himalaya menggelegar dan memuntahkan asap dan jilatan api yang yang berkobar.

“Berlindung, puncak Naga Merah sedang murka!”

Bentakan atau seruan dahsyat Thai Liong menandingi kedahsyatan suara atau guntur dari puncak gunung. Thai Liong terperanjat karena puncak Naga Merah tiba-tiba menyemburkan api dan batu-batuan panas, meletus dan terjadilah kepanikan anak manusia yang ada di bawahnya. Dan ketika Shintala maupun Soat Eng terkejut dan tertegun, bengong oleh kejadian yang amat tiba-tiba dan mendadak ini maka sebuah batu besar menimpa dari atas oleh semburan Naga Merah.

“Awas!”

Dua wanita itu terkejut. Mereka sadar oleh bentakan Thai Liong dan sebuah batu sebesar bukit menyambar mereka. Yang mengerikan, batu itu kemerah-merahan dan menyala karena baru saja disemburkan dari perut bumi, datang dan menimpa mereka dengan amat cepatnya. Tapi begitu mereka tersentak dan sadar, rupanya bakal terlambat untuk mengelak maka Thai Liong menyambar dan dengan sepenuh kecepatan dia menarik dua wanita itu ke sebuah lubang perlindungan.

“Buummmm...!”

Suara amat dahsyat ini benar-benar mengguncangkan tempat itu. Lubang perlindungan yang dipakai Thai Liong tiba-tiba bergerak dan runtuh. Cairan lahar panas memuncrat ke sana-sini dan Shintala terpekik karena pundaknya terjilat, hangus dan seketika terbakar! Dan ketika gadis itu berteriak dan panik memegangi pundaknya, Thai Liong terkejut karena lubang perlindungan tiba-tiba menjadi gelap maka di luar terdengar suara bam-bum dan longsornya lahar panas di depan guha, suaranya seperti desisan ular atau naga marah.

“Tolong, kulitku terbakar!

Thai Liong sadar. Dia melihat cahaya merah di pundak gadis itu, cepat bergerak dan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika Shintala mengeluh dan menahan sakit, suara di luar kian dahsyat dan memekakkan telinga maka gadis itu menangis sementara Soat Eng tiba-tiba juga pucat dan ngeri, gentar!

“Liong-ko, lubang ini kian gelap. Kita bakal terjebak!”

“Tenang,” Thai Liong bersikap mengagumkan, menghibur dan tidak kelihatan panik, meskipun mukanya juga pucat. “Kita justeru aman, Eng-moi. Tempat perlindungan ini ternyata baik dan tidak mengganggu kita.”

“Tapi suasananya kian gelap. Batu dan lahar panas mulai menutupi guha. Aku pengap!”

“Benar, aku juga, sobat. Aku mulai tak dapat bernapas. Dadaku sesak dan kita kehilangan udara segar!” Shintala menggigil, jerih dan gentar karena sekarang berhadapan dengan kekuatan alam.

Puncak Naga Merah meletus dan letusannya menggelegar sampai berpuluh-puluh kilometer. Tanah berderak-derak dan guha perlindungan itu seakan diguncang pekikan ribuan raksasa murka. Gadis ini khawatir guha itu amblong, atau lantainya terbelah dan mereka jatuh ke lubang gelap di mana mereka bakal terkubur hidup-hidup. Maklumlah, letusan atau gelegar Naga Merah sungguh dahsyat dan tak henti-hentinya.

Batu yang berdebum dan menggetarkan lantai guha sungguh membuat orang merasa ngeri. Mereka takut terjeblos dan masuk ke lubang dalam di perut bumi. Tapi ketika Thai Liong menggerakkan ujung jubahnya dan mulut guha tiba-tiba disodok, sebuah lubang kecil tiba-tiba menganga di situ maka udara masuk dan Shintala maupun Soat Eng lega.

“Bagus, kita dapat bernapas kembali!”

Namun dua wanita ini terpekik. Baru saja mereka berkata begitu mendadak sebuah batu melayang masuk ke guha ini, tepat sekali di lubang di mana Thai Liong baru saja menyodokkan tangannyat. Dan ketika guha kembali gelap dan tempat itu pengap maka Soat Eng mengeluh namun Thai Liong menggerakkan tangannya lagi menusuk tempat yang lain.

“Jangan khawatir, aku akan memasukkan udara, Eng-moi. Tertutup yang itu aku akan membuka yang lain!”

Benar saja, pemuda ini sudah membuat lubang yang lain. Tapi baru saja lubang itu terbuka tiba-tiba dihantam kembali oleh jatuhnya batu-batu yang meledak di luar guha, gelap dan Thai Liong menusuk lagi namun jatuhnya batu-batu di luar guha banyak sekali, menutup dan akhirnya Soat Eng pucat melihat perbuatan kakaknya yang sia-sia.

Maklumlah, setiap membuat lubang udara baru tentu bakal ada batu yang menyambar yang menutup lubang itu. Dan ketika wanita ini mengeluh dan Thai Liong sendiri tampak berubah, dia tak berani membuat lubang besar karena semburan lahar tentu masuk, yang berarti membahayakan dua wanita itu tiba-tiba pemuda ini mundur dan bersila, duduk memejamkan mata.

“Eng-moi, nona, tak ada jalan lain. Kalian masuklah ke jubah ini dan bersembunyi di situ!”

Soat Eng dan Shintala tertegun. Mereka heran karena dalam keadaan seperti itu tiba-tiba saja Thai Liong duduk bersila dan memejamkan mata, seolah pasrah, atau putus asa. Tapi begitu pemuda itu mengebutkan ujung jubahnya dan Soat Eng maupun Shintala tersentuh, dua wanita itu berteriak tiba-tiba mereka tersedot dan masuk ke dalam gulungan jubah. Thai Liong mempergunakan Beng-tau-sin-jinnya.

“Maaf, aku tak berani membawa kalian keluar. Masuk dan tinggal saja di situ sampai puncak Naga Merah berhenti letusannya.”

Shintala kagum. Dia tahu-tahu telah berada di tempat yang enak di ujung jubah itu, melihat seorang wanita setengah baya yang masih cantik dan tentu saja gadis itu terkejut. Tapi ketika Soat Eng memberi tahu bahwa itulah bibi Cao Cun, bekas permaisuri Raja Hu yang banyak mengalami penderitaan maka gadis ini tertegun.

“Jangan kaget, itu bibi Cao Cun. Puteranya baru saja tewas oleh jahanam Togur. Kita bertiga aman di balik Beng-tau-sin-jin kakakku!”

“Ah,” gadis ini mulai memperkenalkan diri. “Cici adalah adik perempuan kakakmu yang hebat itu? Aku Shintala, cucu Drestawala. Kakekku juga baru saja terbunuh Poan-jin-poan-kwi!”

“Ya, aku Soat Eng, Shintala. Tapi aku belum pernah mendengar kakekmu. Tapi melihat keberanian dan kepandaianmu yang tinggi mudah kuduga bahwa kakek dan dirimu bukan orang-orang biasa!”

“Ah, tapi aku tak mampu membunuh dua kakek jahanam itu. Kepandaianku masih belum apa-apa, cici. Justeru kepandaian kakakmu itulah yang mengagumkan. Dia mampu menandingi Poan-kwi!”

“Hm, kakakku memang hebat. Tapi ceritakan bagaimana kau bertemu kakakku.”

“Aku ditipu si buntung itu, Togur jahanam keparat!”

“Lalu?”

“Lalu kami bertanding. Tapi karena dia memiliki Hek-kwi-sut maka aku terdesak dan kakakmu tiba-tiba datang, menolong!”

“Hm, Togur memang manusia keparat. Kalau kakakku tak memberiku lidi ajaib itu tentu aku juga tak dapat melawan Hek-kwi-sutnya. Dan si buntung itu bertambah lihai!”

“Dia murid Poan-jin-poan-kwi!”

“Ya, itu sekarang. Tapi dulu dia adalah murid Enam Iblis Dunia!”

“Eh, kau rupanya tahu segala tentang pemuda itu, cici. Rupanya kalian telah lama saling kenal!”

“Tentu saja, ia musuhku sejak kecil!”

“Dan cici juga memiliki kepandaian amat tinggi!”

“Ah, kaupun mengagumkan, Shintala. Aku melihat bahwa kepandaianmu tidak berada di bawah kepandaianku!”

“Tapi aku tak dapat mengalahkan si buntung keparat itu...”

“Aku juga. Sudahlah, kita sekarang berada di tempat yang aman, Shintala. Tapi lihat kakakku duduk bersamadhi!”

“Benar,” sebuah suara tiba-tiba menyela, lembut dan penuh kagum. “Kalian sama-sama hebat, Shintala. Dan kalian berdua sama-sama mengagumkan. Tapi bagaimana kalau Naga Merah masih terus meletus. Lihat Thai Liong rupanya tak bernapas!”

Shintala dan Soat Eng tertegun. Mereka melihat pemuda itu dan benar saja pemuda itu duduk seperti batu karang, tegak tak bergerak tapi tiba-tiba terdengar bisikan lirih bahwa mereka semua tak usah khawatir. Mereka diharap tenang dan sama-sama duduk diam. Letusan Naga Merah tak mungkin tak berakhir. Dan ketika mereka terbelalak karena itulah suara Thai Liong, suara yang keluar bukan dari mulut maka Shintala, mendecak sementara Soat Eng lega. Tadi khawatir kalau kakaknya benar-benar tak bernapas alias mati!

“Kita disuruh diam. Marilah kita duduk dan biar bibi Cao Cun di tengah-tengah kita!”

“Benar, mari, bibi. Duduk di tengah kami dan biar kami bersamadhi pula!”

Cao Cun tersenyum. Dia mengangguk kepada Shintala dan diam-diam suka kepada gadis yang amat cantik ini, kecantikan yang khas dan berbau harum. Kecantikan asing dan teringatlah dia akan masa remajanya dulu, betapa banyak orang tergila-gila sampai kaisar sendiri mimpi dalam tidurnya! Dan ketika dia duduk dan beringsut di tengah-tengah dua orang itu, Shintala sudah duduk dan bersamadhi memulihkan tenaga maka wanita ini menarik napas berulang-ulang karena melihat dua wanita ini membuat dia teringat kepada dua anak perempuannya sendiri, Nangi dan Salini yang belum ketemu.

“Ah, gadis-gadis ini mengingatkan aku akan anak-anakku sendiri. Oh, di mana kalian, Nangi? Bagaimana pula dengan kakakmu Salini?”

Cao Cun. menahan runtuhnya air mata. Di saat seperti itu tiba-tiba kepedihannya bangkit. Bayangkan, berbulan-bulan dia telah kehilangan anak-anak perempuannya, dan berbulan-bulan pula dia mengembara bersama Thai Liong dan Soat Eng ini. Dan sekarang, berada di Himalaya yang tinggi dan menyeramkan tiba-tiba dia duduk berhadapan dengan dua gadis-gadis cantik yang mengingatkan dia akan anak-anak perempuannya sendiri. Hati siapa tak akan sedih?

Dan memandang dua gadis itu berganti-ganti tiba-tiba membuat perasaannya luka. Ada semacam goresan dalam yang menoreh hatinya. Ada semacam keprihatinan berat. Gadis-gadis yang gagah dan lihai ini selalu diterkam bahaya, lolos dan menghadapi bahaya yang lain lagi, padahal mereka itu bukanlah gadis-gadis sembarangan dan Soat Eng justeru puteri Pendekar Rambut Emas yang lihai. Bagaimana dengan anak-anak perempuannya yang justeru tidak bisa silat dan amat lemah? Ah, membayangkan ini tiba-tiba hati wanita itu ngeri!

“Tuhan, tolonglah anak-anakku. Apakah setelah puteraku tewas mereka juga akan terbunuh? Oh, cabut nyawaku, Thian Yang Agung. Aku tak sanggup hidup lagi kalau dua permataku itu juga mengalami nasib buruk!”

Cao Cun menangis. Tiba-tiba tanpa sadar ia mencucurkan air mata. Tapi karena berbulan-bulan ini dia sudah kenyang akan tangis atau air mata, mampu menangis tanpa suara maka wanita itu sama sekali tak mengganggu Soat Eng maupun Shintala yang tak menduga bahwa menggigit bibir kuat-kuat teman mereka itu sedang dilanda kesedihannya.

Cao Cun memang tak mau mengganggu dan wanita itu akhirnya menyandarkan tubuh beristirahat, bercucuran air mata namun tak ada keluhan atau sedu-sedan terdengar. Dan ketika dua gadis itu juga terlelap dalam samadhinya, mereka juga mengusir rasa ngeri dari dentuman atau letusan Naga Merah maka wanita inipun akhirnya terpulas dan tidur!

* * * * * * * *

“Bangun, semua bangun. Kita akan keluar dari sini!”

Cao Cun dan lain-lain terkejut. Tiga wanita itu tersentak ketika tiba-tiba ujung jubah bergetar. Mereka sadar dan Soat Eng maupun Shintala membuka mata, Cao Cun berseru tertahan karena dia dipukul-pukul benda lembut. Itulah permukaan jubah yang membuatnya terbangun dan sadar. Dan ketika semua melompat bangun dan Thai Liong yang duduk bersila sudah berdiri di situ, wajahnya kemerah-merahan dan mencorong maka Thai Liong mengebutkan jubahnya lagi dan tiga wanita itu terlompat keluar, keluar dari balik Beng-tau-sin-jin.

“Kita tak perlu lagi tinggal di sini. Naga Merah sudah tidak meletus lagi!”

“Hm, benar,” Soat Eng berseri dan tak mendengar gelegar atau gemuruh gunung berapi, tanda letusan sudah selesai. “Naga Merah sudah tak marah lagi, Liong-ko. Kau benar. Mari keluar dan biarkan aku menjebol mulut guha ini!”

“Kau tak akan dapat....” tapi Soat Eng sudah bergerak dan berkelebat menghantamkan sepasang lengannya. Dengar pukulan sakti wanita itu coba akan menjebol mulut guha, tahu bahwa guha itu tertutup dari luar oleh batu-batu atau muntahan lahar. Tapi ketika pukulannya membalik dan guha tergetar seakan runtuh Cao Cun terpekik karena hal itu mengejutkan maka Soat Eng terlempar dan kaget berseru tertahan.

“Aih, terlalu tebal!”

Wanita itu berjungkir balik. Soat Eng kaget dan penasaran tapi ia mencoba lagi, menghantam dengan menambah tenaga tapi mulut guha tak apa-apa. Bahkan di luar terdengar suara hiruk-pikuk dan berdebumnya batu besar. Dan ketika tiga kali wanita itu menghantam namun kali itu pula guha bergetar dan lantainya berderak, Soat Eng pucat maka wanita ini menghentikan perbuatannya dan gentar memandang kakaknya itu.

“Kita terkubur hidup-hidup. Guha ini seperti makam berongga!”

“Benar,” Shintala juga meloncat maju, pucat dan gelisah melihat kegagalan temannya tadi. “Kita terkubur hidup-hidup, in-kong. jangan-jangan tak dapat keluar. Timbunan batu amatlah tebal!”

“Hm, jangan menyebutku in-kong (tuan penolong),” Thai Liong tersenyum, melihat gadis itu semburat. “Kau telah mengenal namaku lewat adikku, Shintala, seperti juga aku telah mendengar percakapan kalian tadi. Sebut saja namaku Thai Liong, tak apa.”

“Ah, maaf, aku... aku menyebutmu saudara Thai Liong saja. Aku masih sungkan!”

“Hi-hik!” Soat Eng tiba-tiba tertawa, geli. “Kau dan aku sudah cukup akrab, Shintala. Panggil saja kakakku seperti aku memanggilnya, Liong-ko, atau Liong-twako!”

“Benar,” Thai Liong mengangguk, melihat gadis itu semakin merah, gugup. “Kau boleh memanggilku seperti adikku, Shintala. Atau cukup Thai Liong saja karena itulah namaku!”

“Baiklah, aku... aku menyebutmu seperti adikmu saja. Terima kasih, Liong-twako. Dan sekarang bagaimana kita dapat keluar dari sini!”

Soat Eng tersenyum. Dia melirik kakaknya karena saat itu kakaknya juga melirik dirinya. Ada saling lirik di situ dan masing-masing sama tahu apa yang dipikirkan lawan. Dan ketika Thai Liong agak semburat karena lirikan atau kerling adiknya sungguh penuh arti, Shintala telah menguasai kegugupannya kembali maka pemuda ini menekan degup jantungnya dan berkata pada adiknya itu, bukan kepada Shintala.

“Aku akan membuka mulut guha ini tapi kalian harap membantuku sedikit. Ada dua batu besar menghalang di depan dan kalian memegang seorang satu supaya dua batu itu tidak merapat kembali. Sanggup?”

“Sanggup, tapi bagaimana kau tahu?”

“Benar,” Shintala juga heran, tak melihat pemuda itu keluar. “Dari mana kau tahu ada dua batu besar di luar, Liong-twako? Bukankah sejak tadi kau di sini?”

“Aku melihatnya dengan Beng-tau-sin-jinku. Batu itu sebesar bukit, tak mungkin roboh biar dihantam seratus orang. Aku akan mendorongnya minggir dan kalian menahannya agar tidak kembali lagi ke posisi semula.”

“Ah, kalau begitu lakukan. Biar aku membantumu!”

“Dan aku juga,” Soat Eng kagum, berseri karena Shintala tampak begitu bersemangat, cantik kemerah-merahan. “Shintala sudah tak sabar melihat dunia luar, Liong-ko. Dorong batu itu dan pisahkan seperti kata-katamu.”

“Baik, awas...!” dan Thai Liong yang berkelebat dan berseru keras tiba-tiba menyentuh atau meraba mulut guha. Pekerjaannya seperti orang melakukan yang biasa saja tapi begitu mulut guha tersentuh mendadak terdengar derak dan getaran hebat.

Shintala terbelalak karena hawa yang amat kuatnya tiba-tiba meluncur dari lengan pemuda itu, angin dingin yang dahsyat di mana deru atau sambarannya membuat Cao Cun terpelanting! Dan ketika gadis itu juga berteriak kaget karena kakinya tahu-tahu terangkat naik dan hendak terlempar, Soat Eng juga berseru yang sama karena mengalami hal yang juga sama maka Thai Liong berseru agar semua merapat ke dinding.

“Jangan panik, jangan kacau. Merapat ke dinding dan kalian berdua cepat ke sini menahan dua batu besar itu!”

Soat Eng terbelalak. Kakaknya mengeluarkan teriakan panjang dan mulut guha tiba-tiba terbuka. Lapisan setebal satu meter hiruk-pikuk bermuncratan ke sana ke mari dan saat itulah tampak bahwa dua buah batu sebesar bukit benar-benar saling berhimpit di sana, di luar guha. Dan ketika Thai Liong berseru agar dua temannya bergerak cepat, pemuda itu menahan di kiri kanan maka Soat Eng bergerak tapi Shintala tetap bengong oleh takjub!

“Krasakk... bummm!”

Soat Eng tak kuat. Wanita ini berkelebat dan bergerak di sebelah kanan kakaknya tapi batu yang lain jatuh kembali. Batu itu seharusnya ditahan Shintala tapi gadis itu bengong. Dan karena Thai Liong menahan di tengah tapi tergencet, tak ada bala bantuan maka pemuda itu melepaskannya kembali dan Soat Eng berseru kecewa karena batu saling berhimpitan kembali.

“Ah, gagal. Bagaimana kau ini, Shintala. Kenapa diam tak membantu!”

“Maaf,” gadis itu merah padam, terkejut. “Aku bengong, Eng-cici. Aku terkesima melihat mulut guha tiba-tiba terbuka!”

“Ah, kau terkesima oleh kekuatan kakakku, oleh sinkangnya yang luar biasa. Hayo coba lagi dan jangan terlambat!”

“Hm, sudahlah,” Thai Liong juga agak menyesal, tapi memarahi adiknya. “Kita semua belum seperasaan, Eng-moi. Mari coba lagi dan minggir dahulu!”

Soat Eng menggeser. Sekarang dia di sebelah kiri kakaknya dan Shintala di sebelah kanan. Thai Liong mundur dan mengambil posisi kuda-kuda, setengah jongkok. Lalu ketika dia berkelebat dan mengeluarkan bentakan nyaring, angin menderu dari kedua lengannya maka pemuda itu menghantam dua batu di depan dan terdengar ledakan keras ketika batu di depant guha menyibak, lubang kecil kembali terlihat.

“Awas, cepat tahan!”

Soat Eng dan Shintala bergerak berbareng. Kini mereka bersamaan meloncat dan masing-masing sama-sama mengeluarkan teriakan panjang. Untuk menambah kekuatan dua wanita itu sama-sama berseru keras. Dan ketika dua batu besar itu ditahan dan Thai Liong menambah tenaganya lagi, menggeser dan mendorong maka batu itu berderak dan Thai Liong berseru agar bibinya keluar lebih dahulu lewat celah kecil yang kian melebar itu.

“Cepat, bibi Cao Cun harap keluar!”

Cao Cun, yang terbelalak dan kagum oleh kehebatan pemuda ini tiba-tiba sadar. Tadi ia terpelanting dan menggigil di sudut guha, terbawa oleh angin sambaran Thai Liong. Tapi begitu Thai Liong mampu membuka mulut guha dan dua batu raksasa yang berhimpitan itu ditahan tiga pasang lengan yang kokoh perkasa dari lengan Thai Liong keluar uap putih kemerah-merahan maka wanita itu berseru tertahan dan meloncat keluar, bergegas dan tersandung tapi bangun lagi dengan jerit atau keluhan kecil. Lolos!

“Bagus, sekarang kau, Eng-moi. Dan Shintala!”

Soat Eng ragu-ragu. Dia sedang menahan batu di sebelah kiri tapi kakaknya membentak agar cepat melepaskan itu. Thai Liong mengerahkan sinkangnya hingga terdengar suara berkeratak. Dan ketika pemuda itu membentak lagi dan Soat Eng meloncat, berseru agar kakaknya berhati-hati maka wanita itu lolos tapi Shintala tertegun tak mau mengikuti, menahan batu di sebelah kanan.

“Eh, giliranmu, Shintala. Cepat!”

“Tapi... tapi batu ini berat. Dia akan jatuh dan berhimpitan lagi!”

“Aku menahannya!” Thai Liong berseru, muka mulai berkeringat. “Cepat dan jangan lama-lama, Shintala. Aku akan menahan dengan kedua lenganku dan selamatkan dirimu!”

Namun gadis ini bimbang. Shintala kembali ragu-ragu karena dua batu itu bergerak dan kembali mengeluarkan detak-detak mengerikan. Thai Liong ada di tengah-tengah dan pemuda itu dalam posisi terhimpit. Thai Liong telah maju dan kedua lengannya terkembang ke kiri kanan. Batu raksasa yang tingginya sebesar bukit dan beratnya jelas ratusan ton itu tentu amatlah hebatnya. Sekali tergencet tentu pemuda itu akan lumat! Dan ketika Shintala menggeleng dan berseru agar Thai Liong keluar lebih dulu, dia belakangan maka Thai Liong terkejut dan membelalakkan matanya.

“Apa? Kau gila?”

“Tidak, aku juga dapat menahan batu ini, Liong-twako. Asal dalam posisi begini tentu aku sanggup. Kau keluarlah dulu dan setelah itu aku!”

“Tapi kau tak dapat menahan dua batu sekaligus. Ini terlampau berbahaya!”

“Hm, belum dicoba, Liong-ko. Tapi aku yakin bisa. Kau keluarlah dulu, dan aku menyusul!”

Thai Liong pucat. Debat dan tanya jawab ini membuat tenaganya berkurang batu berderak dan kembali menekan. Dan ketika dia berseru agar gadis itu tak usah membantah, keluar dulu maka batu menggencet dan Shintala tiba-tiba berseru menggerakkan tangannya yang lain menahan batu yang sebelah.

“Cepat, aku kira sanggup!”

Thai Liong menjadi pucat. Dia harus memusatkan perhatiannya lagi untuk menahan dua batu raksasa itu, hal yang membuat Shintala ringan dan merasa mampu menahan beban. Dan melihat gadis itu nekat serta mengira gampang, Thai Liong tiba-tiba ingin memberi pelajaran maka pemuda itu membentak dan melepas kedua tangannya.

“Baiklah, coba kau tahan!”

Shintala terkejut. Begitu Thai Liong melepaskan tangannya mendadak batu ratusan ton itu menekan berat. Begitu beratnya hingga tiba-tiba ia berseru keras, kaget dan mengerahkan tenaga tapi sepasang batu itu tetap bergerak menekan, kian lama kian ke dalam hingga gadis itu menjadi berobah karena begitu ditinggalkan Thai Liong mendadak ia tak sanggup! Dan ketika Shintala menjadi pucat sementara Thai Liong cukup memberi pelajaran maka pemuda itu membentak dan menggerakkan sepasang lengannya lagi menahan batu raksasa itu.

“Nah, sekarang keluarlah dan jangan menawar-nawar lagi... krek!” sepasang lengan Thai Liong berbunyi, seluruh ototnya menggembung dan uap putih kemerahan itu muncul dengan cepat.

Shintala menjadi ringan dan percayalah gadis itu bahwa ia tak sanggup menahan sendirian, dua batu raksasa itu benar-benar berat. Hanya orang seperti Thai Liong inilah yang sanggup! Dan ketika ia terisak dan meloncat keluar, merah padam, maka Thai Liong bingung bahwa sekarang ia harus sendirian “mengganjal” batu raksasa ini, tak dapat keluar!

“Aih, Liong-ko terjepit!” Soat Eng juga sadar dan berseru kaget. Tadi semuanya lupa akan kemungkinan ini, menganggap satu per satu dapat keluar padahal orang terakhir bakal menjadi korban. Shintala juga tertegun dan teringat itu. Tapi begitu Soat Eng kebingungan dan gadis itu berkelebat ke depan mendadak ia mengangkat batu sebesar orang ke arah dua batu besar itu.

“Liong-twako, kuberikan pengganjal. Cepat keluar!”

Thai Liong berseri. Inilah cara yang tepat dan batu melayang ke tengah-tengah batu raksasa itu, ia mengerahkan tenaganya sejenak dan cepat lolos begitu pengganjal tiba. Dan begitu terdengar suara keras karena batu pengganjal terjepit di tengah-tengah batu raksasa maka batu sebesar orang itu hancur tergencet menggantikan Thai Liong.

“Krasakk!”

Soat Eng pucat. Batu dapat hancur digencet seperti itu, apalagi manusia! Namun ketika Thai Liong tertawa mengusap keringat, mengucap terima kasih kepada Shintala maka Soat Eng juga sadar.

“Benar, terima kasih, Shintala. Aku lupa akan cara seperti ini!”

“Sudahlah,” gadis itu lega, berseri-seri “Liong-twako amat mengagumkan, Eng-cici. Setelah aku sendirian menahan beban ternyata aku tak kuat. Aku juga berterima kasih karena disuruh keluar lebih dulu!”

“Ah, kau wanita,” Thai Liong tertawa. “Sudah sepantasnya laki-laki mengalah kepada wanita, Shintala. Itu sudah wajar dan lihat kita semua sudah selamat!”

“Benar, dan sekarang kita mencari kakek iblis Poan-kwi dan si buntung itu!”

“Hm, aku ingin mencari Beng An!” Soat Eng tiba-tiba berseru. “Adikku tadi di puncak sana, Shintala. Jangan-jangan ia tewas dan bagaimana bisa membawa kepala Poan-jin!”

“Benar, anak itu... ah, dia adikmu? Bagaimana bisa di atas sana dan membawa Poan-jin yang berlumuran darah? Adikmu itu mengejutkan sekali, tawanya melengking dan nyaring menggetarkan bukit!”

“Hm, ada sesuatu padanya,” Thai Liong tiba-tiba berseru. “Kita harus mencarinya sekaligus mencari Togur atau Poan-kwi. Mari, kalian ikut aku dan biar bibi Cao Cun masuk kembali!” dan ketika Thai Liong mengebutkan lengan jubahnya dan Cao Cun tersedot masuk, lenyap dan kembali terlindung di balik Beng-tau-sin-jin maka Thai Liong sudah berkelebat dan menuju puncak.

“Hei, tunggu kami!” Soat Eng berteriak, melihat kakaknya terbang ke atas dan bukan main cepatnya. Jubah yang berkibar di kiri kanan benar-benar membuat kakaknya itu seperti seekor rajawali yang meluncur ke atas, sekejap kemudian sudah jauh meninggalkan mereka dan wanita ini berseru mengejar kakaknya. Dan ketika Shintala juga berkelebat dan ngeri melihat batu-batu besar atau lumpur panas di kiri kanan mereka maka gadis itupun berteriak dan mengejar.

Thai Liong tak memperdulikan dan teringat adiknya. Benar, tadi adiknya itu muncul di puncak Naga Merah dan membawa kepala seseorang. Soat Eng menyebut bahwa itulah Poan-jin, saudara atau pasangan Poan-kwi. Dan karena adiknya sudah lebih dulu mengenal dua kakek iblis itu dibanding dirinya, Thai Liong baru pertama kali ini bertemu maka pemuda itu bergerak cepat ke atas.

Thai Liong melewati lumpur-lumpur mendidih yang masih kemerah-merahan, lahar atau muntahan lahar dari puncak Naga Merah. Dan ketika ia juga melewati batu-batu besar yang kemerah-merahan, batu-batu panas yang menyala oleh api maka Thai Liong tiba di puncak dan tertegun tak melihat apa-apa di situ, disusul oleh Soat Eng dan Shintala yang berkelebat mengejar.

“Mana adik kita!”

“Tak ada,” pemuda ini berseru lirih, heran dan khawatir. “Di sini hanya tumpukan bara-bara raksasa, Eng-moi, juga lumpur-lumpur mendidih. Aku tak melihat di mana Beng An!”

“Atau terkubur hidup-hidup,” Soat Eng ngeri, tiba-tiba menangis. “Hayo kita cari dia, Liong-ko. Aku tak mau adikku mati!”

“Sabar,” Thai Liong mencekal adiknya ini. “Aku akan melihat dengan mata batinku, Eng-moi. Aku merasa Beng An masih hidup. Tapi entah di mana dia!”

“Kalau begitu cepat kau cari, aku tak sabar!”

“Hm, baik,” dan Thai Liong yang bersedakap dan memejamkan mata tiba-tiba berdiri tak bergeming memusatkan kekuatan batinnya. Dengan kesaktiannya yang tinggi pemuda ini melepas “radar”, mempergunakan ilmunya yang disebut Hun-kong-pat-siang-li (Memencar Sinar Ke Delapan Penjuru Mata Angin). Dan ketika dari tubuh pemuda itu memancar delapan sinar putih yang memancar ke delapan penjuru mata angin mendadak Thai Liong membuka mata karena satu dari delapan sinarnya itu berkedip-kedip ke satu arah, tepat di belakang sebuah batu besar, batu yang juga merah marong karena masih panas oleh semburan api Naga Merah!

“Dia di situ, di balik batu itu!”

Soat Eng berkelebat mendahului. Ia tak tahan oleh pemberitahuan ini dan cepat menggerakkan kakinya ke batu besar itu. Banyak batu di puncak Naga Merah dan semuanya rata-rata mengepulkan uap panas, merah menyala karena puncak Naga Merah memang masih belum dingin. Tapi ketika ia tiba di sini dan tak melihat apa-apa, kosong, maka wanita itu tertegun dan Thai Liong sudah berkesiur di sebelahnya.

“Tak ada siapa-siapa, tak ada apa-apa.”

Thai Liong juga tertegun. Isyarat Hun-kong-pat-siang-linya jelas menunjukkan ke situ namun di sini ternyata tak ada apa-apa. Lumpur panas masih mendidih dan heranlah dia oleh itu. Apakah Hun-kong-pat-siang-linya keliru? Tak mungkin! Dan ketika Shintala juga berkelebat dan tak melihat siapa-siapa di situ maka Thai Liong memejamkan matanya lagi dan mengerahkan ilmu kesaktiannya itu lagi, penasaran.

“Tit-tit-tit....” sinar putih itu tiba-tiba muncul lagi, berbunyi dan terbelalaklah Soat Eng karena tiba-tiba sinar atau cahaya Hun-kong-pat-siang-li ini menyambar ke bawah. Dan ketika terdengar suara “ces” seolah api bertemu es maka Thai Liong membuka mata dan menuding ke situ.

“Dia di bawah, di bawah batu ini!”

Soat Eng terkejut. Kakaknya tiba-tiba mengibaskan lengan dan batu besar yang merah marong itu mencelat. Dan ketika Shintala tertegun karena Thai Liong benar-benar hebat sekali, batu itu jatuh menimpa teman-temannya yang lain maka semua terbelalak karena terdapat sebuah lubang kecil di situ. Dan suara tit-tit-tit semakin keras!

“Awas, kalian minggirlah!” Thai Liong mendorong dua temannya. Soat Eng dan Shintala terhuyung karena Thai Liong sudah menggerakkan tangannya dengan cepat sekali. Lubang kecil itu digali dan sekejap kemudian sudah melebar. Dan ketika lubang itu menganga dan Soat Eng berseru tertahan karena seseorang tengkurap di situ, tampak punggung dan lengannya maka Thai Liong menarik dan tubuh tanpa kepala terlempar ke atas.

“Poan-jin!”

Thai Liong tertegun. Soat Eng berteriak karena itulah kakek iblis Poan-jin. Shintala juga berseru tertahan karena mengenal tubuh tanpa kepala itu. Tapi ketika mereka terkejut dan berteriak kaget, Thai Liong juga membelalakkan mata tiba-tiba terdengar kekeh tawa dan seseorang meloncat dari lubang yang tadi menjadi tempat tengkurap mayat itu, disusul oleh menyambarnya sebuah kepala bermisai panjang.

“Hi-hik, kalian semua mampus!”

Shintala berseru mendahului. Gadis inilah yang pertama melihat meloncatnya bayangan itu, bayangan seorang anak laki-laki yang melemparkan sebuah kepala sambil menghantam Thai Liong, karena kebetulan Thai Liong membalikkan tubuh memperhatikan mayat Poan-jin itu, mayat yang sudah tanpa kepala. Dan begitu gadis ini berkelebat dan menerima hantaman itu, menangkisnya untuk melindungi Thai Liong maka benturan keras menggetarkan tempat itu dan Shintala mencelat berjungkir balik.

“Aihh... dess!”

Shintala terkejut bukan main. Gadis ini terkejut karena serangkum angin yang amat dahsyat menyambarnya. Hal itu tak diduga karena yang menyerang hanyalah seorang anak kecil. Maka begitu menerima dan dia terlempar, tinggi berjungkir balik maka cucu Drestawala ini berseru tertahan karena anak itu terkekeh-kekeh dan tidak bergeming, padahal tangkisannya tadi amatlah kuat!

“Iblis, anak ini gila!”

Soat Eng dan Thai Liong menoleh. Mereka membalikkan tubuh dan segera melihat siapa itu, bukan lain adalah Beng An, adik mereka. Tapi begitu Shintala berseru tertahan dan kaget melayang turun, Soat Eng berteriak karena bertemu adiknya kembali mendadak adiknya itu tertawa dan berkelebat menghantamnya, pakaian compang-camping sementara rambut riap-riapan bagai bocah edan.

“Kaupun mampus!”

Soat Eng kaget. Dia melompat ke depan menubruk adiknya itu, tak tahunya disambut pukulan dan angin pukulan yang menyambarnya ini amatlah hebatnya. Beng An, adiknya itu, tiba-tiba memiliki kekuatan luar biasa yang angin pukulannya menderu, Dan ketika dia terkejut dan tentu saja berteriak, menangkis, maka Soat Eng pun terpental dan terlempar berjungkir balik.

“Ha-ha, sekarang kau!” anak ini menyambar Thai Liong, tidak banyak bicara dan berkelebat lagi dan Thai Liong berseru perlahan.

Thai Liong terkejut karena tiba-tiba melihat tindak-tanduk yang aneh dari adiknya ini, mata yang liar namun mencorong penuh tenaga sakti. Dan ketika ia berkelit namun sang adik tetap mengejar, melepas pukulan sambil terkekeh-kekeh maka ia menangkis dan terdengar suara pendek yang mengakibatkan batu di sekeliling meloncat ke atas oleh getaran atau adu pukulan itu.

“Dukk!” Beng An terhuyung. Shintala, yang tertegun dan bengong di tempat tiba-tiba dapat merasakan betapa kuatnya adu pukulan tadi. Jantung seakan dipukul palu godam dan Soat Eng sendiri juga menahan napas karena jantung terpukul kuat. Benturan atau suara bertemunya dua pukulan tadi benar-benar mengguncangkan tempat itu, meskipun pendek dan singkat. Tapi begitu Beng An terhuyung dan terbelalak lebar, Thai Liong merupakan lawan terkuat mendadak anak ini berkelebat dan menyerang Shintala, rupanya tahu bahwa lawan yang lebih lemah harus dihancurkan lebih dulu.

“Heh-heh, kau belakangan saja. Biar kubunuh dulu gadis ini!” dan Beng An yang berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu telah menyerang Shintala mendadak membuat gadis itu terdesak karena dengan cepat dan bertubi-tubi anak itu melepas serangan-serangannya.

Shintala mengelak dan menangkis namun tetap saja ia terhuyung. Pukulan-pukulan aneh menyambar dan setiap beradu lengan tentu ia menjerit, karena ia tentu terpental. Dan ketika anak itu berkelebatan cepat dan bajunya yang compang-camping melecut atau meledak-ledak persis gaya serangan Poan-jin-poan-kwi maka gadis itu berseru pucat karena lawan yang dihadapi benar-benar seolah Poan-jin-poan-kwi sendiri.

“Iblis, anak ini memiliki tenaga Poan-jin. Ia mempergunakan ujung bajunya sebagai misai!”

Benar saja, baju yang compang-camping itu melecut atau menyambar-nyambar seperti gerakan misai panjang. Poan-jin maupun Poan-kwi memang memiliki kepandaian yang khas ini, meledak-ledakan atau melecutkan misainya itu. Dan ketika Shintala kelabakan karena sinkang anak itu amatlah kuatnya, ia selalu terpental maka Beng An terkekeh-kekeh dan Soat Eng tiba-tiba berkelebat dan membentak, mencengkeram adiknya itu.

“Beng An, jangan kurang ajar. Mundur!”

Namun wanita ini berteriak kaget. Pundak Beng An tiba-tiba menjadi panas, jari-jari yang mencengkeram bagai disengat api dan Soat Eng tentu saja melepaskannya, berjengit dan berteriak. Dan ketika. anak itu membalik dan menyerangnya, terkekeh-kekeh maka Beng An ganti-berganti menyambar dua wanita ini.

“Kau curang, licik. Heh-heh, boleh mengeroyok tapi harus bilang dulu!”

Soat Eng kelabakan. Sama seperti Shintala iapun mengelak dan menangkis. Tapi ketika ia terpental dan berjungkir balik terlempar, tenaga Beng An amatlah hebatnya maka sang cici tiba-tiba menangis dan berteriak pilu.

“Beng An, jangan gila. Aku encimu sendiri Soat Eng!”

“Heh-heh, gila? Kau menganggapku gila? Kurang ajar, kaulah yang gila, siluman cantik. Kau dan temanmu ini yang edan... des-dess!”

Soat Eng yang berjungkir balik menerima sebuah serangan tiba-tiba disusul Shintala yang juga berteriak dan terlempar ke atas. Beng An menggerakkan kedua lengannya ke kiri kanan dan dua wanita itu sama-sama mencelat. Khi-bal-sin-kang, yang biasanya hebat dan amat diandalkan itu mendadak teredam oleh sebuah tenaga lunak, amblas dan tiba-tiba membalik begitu anak itu menolaknya ke atas.

Dan ketika Soat Eng berjungkir balik sementara Shintala juga terlempar bergulingan, kaget berteriak marah maka Thai Liong yang terbelalak dan memperhatikan semua itu tiba-tiba melihat kepala Poan-jin bergerak, mata yang tertutup itu tiba-tiba membuka, melotot.

“Beng An, pergunakan Hwi-gan-san-hui-tokmu. Bunuh mereka dan kunyah otaknya mentah-mentah!”

Thai Liong terkejut. Mayat yang sudah tak berdaya itu mendadak dapat “hidup” kembali, berseru tapi bukan melalui mulut melainkan melalui roh! Dan ketika Thai Liong terkejut karena adiknya di sana terkekeh-kekeh, mata yang mencorong itu mendadak tak berkedip sekonyong-konyong terdengar bentakan atau seruan penuh pengaruh, pengaruh iblis.

“Anak-anak, kalian tak dapat melawai aku. Menyerah dan lihatlah bahwa kalian tak bertenaga. Lihat bahwa kalian lemas!”

Soat Eng dan Shintala terkejut. Mereka terbelalak ketika tiba-tiba dari sepasang mata anak itu timbul kekuatan sihir yang amat kuat, hidup dan berpijar-pijar dan warnanya seperti mata setan, merah bagai api. Dan ketika mereka tersentak dan tak mampu melepaskan diri, sorot mata itu menghisap mereka mendadak keduanya merasa lemas dan benar-benat tak bertenaga.

“Ha-ha, sekarang kalian roboh. Roboh karena lemas!”

Shintala dan Soat Eng mendeprok. Mereka kena pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok (Mata Api Pembuyar Ingatan) dan tiba-tiba mengeluh tanpa daya. Mata api Beng An menembus pikiran mereka dan jatuhlah keduanya dengan posisi terduduk. Dan ketika keduanya tertegun dan bengong, Beng An berkelebat dengan kesepuluh jari mencengkeram ubun-ubun dua wanita itu maka Thai Liong bergerak dan tiba-tiba meledakkan telapak tangannya, bunyi menggelegar bagai guntur melenyapkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok.

“Beng An, jangan membunuh!”

Dua wanita itu sadar. Mereka terpekik ketika tiba-tiba sepuluh jari Beng An sudah di atas kepala, sekali mencoblos tentu kepala mereka bolong dan otaknya diambil. Bukan main mengerikannya. Tapi begitu Thai Liong berkelebat dan dengan suaranya yang dahsyat pemuda itu membuyarkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok, Beng An tertegun dan terhenti gerakannya mendadak kakaknya itu sudah menyambar pundaknya dan melempar anak laki-laki itu sampai terguling-guling, menampar pundaknya dua kali.

“Bres-bress!”

Beng An seolah disambar petir. Anak ini berteriak karena gerakan dan bentakan Thai Liong sungguh mengejutkannya. Terhadap Thai Liong memang dia jerih, selalu menyerang dua wanita ini dan tak menyerang pemuda itu. Maka begitu Thai Liong membentak dan bentakannya melenyapkan pengaruh Hwi-gan-san-hui-tok, Thai Liong mempergunakan Thian-jong-sin-imnya (Suara Menembus Langit) sehingga langit seolah-oleh terbelah, bentakan atau seruan pemuda itu memang dahsyat maka anak laki-laki ini tertegun dan saat itu. dicengkeram dan dilempar.

Beng An tak mampu berkelit karena tujuannya adalah Shintala dan encinya, anak ini liar dan ada tanda-tanda tak waras. Poan-jin dengan keji telah menjungkirbalikkan pikiran anak ini hingga gila. Dan ketika Thai Liong bergerak dan adiknya dilempar, Soat Eng dan Shintala berteriak melempar tubuh maka pemuda itu sudah mengejar dan tidak memberi kesempatan adik laki-lakinya bangun.

“Kau kemasukan roh Poan-jin. Maaf dan biarkan aku menampar kepalamu!”

Beng An bergulingan. Cepat dan luar biasa anak ini mengelak dan melengking, tepukan atau tamparan Thai Liong luput. Dan ketika Thai Liong terkejut karena gerakan adiknya sungguh luar biasa, gerakan itu bukan gerakan seorang anak kecil melainkan gerakan seorang ahli silat tingkat atas, tanah meledak terkena tamparannya maka adiknya itu memaki-maki dan suara parau terdengar dari situ, suara Poan-jin!

“Bocah jahanam, pergi dan jangan dekati aku. Atau nanti kau kubunuh!”

“Hm!” Thai Liong berkelebat, marah. “Kau jangan mengganggu adikku, Poan-jin Rohmu tak layak menyusupi tubuhnya dan pergilah!”

“Augh, kau nekat. Awas kubunuh!” namun ketika Thai Liong mengibas dan berkelebat menghilang, mempergunakan Ang-tiauw-ginkangnya yang luar biasa maka tangannya tahu-tahu menepuk atau mendarat di ubun-ubun adiknya itu.

“Plak!” Terdengar jeritan tinggi. Beng An terlempar namun Thai Liong masih mengejarnya juga, membentak dan menghilang dan tahu-tahu muncul di belakang adiknya lagi. Dan ketika tiga tamparan kembali berturut-turut mengenai atas kepala, pekik atau lengking itu berubah keluhan maka Beng An terbanting namun tiba-tiba kepala di sana menggelinding dan mencelat menyambar pemuda ini.

“Liong-ko, awas....!”

Thai Liong membalikkan tubuh. Dia terkejut namun menggerakkan ujung lengan jubahnya. Kepala Poan-jin mendadak hidup dan melayang menghantam dirinya. Sungguh tak masuk akal. Namun karena pengaruh ilmu hitam memenuhi tempat itu dan Soat Eng maupun Shintala terhuyung-huyung mau muntah maka kepala itu disambut dan pecah bertemu jubah pemuda ini.

“Prakkk!” Jerit atau pekik kesakitan terdengar dari mulut Beng An. Anak laki-laki itu mengaduh dan memegangi kepalanya sendiri, padahal yang dihantam dan dipecahkan itu adalah kepala Poan-jin.

Dan ketika Thai Liong mengerutkan kening karena harus memukul hancur sebuah mayat, hal yang tak disenangi maka Beng An roboh dan pingsan di sana, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah dan saat itu terdengar jerit atau pekik lain. Sesosok asap hitam menyambar. Dan ketika Shintala ganti menjerit karena asap itu menyerang Thai Liong, yang sedang tertegun dan memandangi kepala Poan-jin maka ledakan memenuhi tempat itu disusul awan tebal yang bergulung-gulung.

“Blarrr!”

Thai Liong terpelanting. Poan-kwi, dalam ujud halus, tiba-tiba datang dan memekik di balik ilmu gaib. Kakek itu melihat kematian adiknya dan mengeluarkan teriakan menyeramkan. Tapi karena dia menyambar dalam ilmu hitam dan Shintala tak melihat kakek itu, begitu pula Soat Eng maka Thai Liong tersentak ketika ratusan asap hitam menyambar atau menyerangnya dari segala penjuru.Cepat dan bertubi-tubi dan tahu-tahu pemuda inipun lenyap tergulung.

Thai Liong melihat ratusan wajah-wajah setan berkelebatan di sekelilingnya, mulut dibuka lebar-lebar dan taring-taring yang amat tajam mengangga siap mencaploknya. Bau busuk juga menyambar dan puncak Naga Merah tiba-tiba menjadi gelap-gulita. Tapi ketika pemuda itu membentak dan meledakkan kedua tangannya, mengeluarkan kesaktiannya maka di tangan pemuda ini tiba-tiba memancar sebatang sapu lidi yang terang-benderang, menyerang atau menghancurkan asap-asap hitam yang bergulung-gulung amat tebal itu.

“Poan-kwi, tak perlu berbuat curang. Aku dapat menghancurkan ilmu hitammu!”

Ledakan atau guntur kembali terdengar Puncak Naga Merah disambar cahaya terang-benderang ini dan awan tebal yang bergulung-gulung mendadak lenyap. Poan-kwi tiba-tiba tampak dalam ujud aslinya dan kakek itu terhuyung-huyung memegangi misainya yang nyaris pendek, terbabat atau putus ketika dalam pertandingannya pertama melawan pemuda ini. Dan ketika Shintala dapat melihat kakek itu dan berteriak panjang tiba-tiba gadis ini menerjang dan mengeluarkan tongkatnya.

“Kakek keji, kau mampuslah!”

Namun tongkat meledak sebelum mengenai sasarannya. Poan-kwi meniup dan sinar kebiruan menyambar, seperti lidah naga, membuat gadis itu terpekik dan Shintala terbanting terguling-guling. Dan ketika gadis itu meloncat bangun dan memaki kalang-kabut, marah tapi juga gentar maka Thai Liong bergerak dan melepaskan pukulannya ke arah kakek itu, berseru agar gadis itu mundur dan menyambarlah sinar merah ke arah Poan-kwi. Dan ketika Poan-kwi membentak dan menyambut dengan sinar biru maka lagi-lagi kakek itu terpental.

“Dess!” Poan-kwi kalah kuat. Untuk kesekian kalinya lagi kakek itu merasa kalah tenaga, terhuyung dan menerima lagi serangan-serangan Thai Liong namun kini tiba-tiba ia mengelak dan berkomat-kamit. Dan ketika tangannya berkerotokan dan satu per satu, sungguh mengejutkan maka tiba-tiba sepuluh jari-jari kaku menyambar dan menyerang Thai Liong, disusul oleh siku dan pangkal lengan dan mendadak tubuh kakek itu sudah lepas sendiri-sendiri, menyambar dan kepala ataupun kaki beterbangan menyerang Thai Liong.

Sungguh ini ilmu siluman yang belum pernah dihadapi Thai Liong seumur hidupnya! Dan ketika pemuda itu terperanjat karena lawan mengeluarkan ilmunya yang paling mengerikan, rupanya juga paling rahasia maka jari atau potongan-potongan tubuh menghajar pemuda ini dari segala penjuru.

“Heh-heh, kau tak dapat mengalahkai aku, Thai Liong. Coba hadapi ilmuku Hek-kut-kang ini!”

Thai Liong pucat. Dia beterbangan namun potongan-potongan tubuh itu juga beterbangan mengikutinya. Jari atau potongan-potongan tangan menghantam seluruh tubuhnya hingga sakit-sakit, dipukul tapi terpental dan menyerang lagi. Dan karena dia belum tahu ilmu apa itu Hek-kut-kang (Melepas Sendi) maka pemuda ini jatuh bangun dan Shintala maupun Soat Eng juga berteriak karena ngeri, melihat kakaknya itu matang biru!

“Liong-ko, biar kubantu kau!”

“Benar,” Shintala juga berseru, menghilangkan rasa ngerinya. “Biar kubantu kau, Liong-twako. Atau kita sama-sama mampus menghadapi kakek siluman ini!”

Shintala maupun Soat Eng sudah menerjang maju, memberanikan diri dan menghadapi kakek itu. Namun ketika potongan-potongan tubuh itu juga menghantam atau menyerang mereka, bahkan kepala Poan-kwi melesat dan meninggalkan tubuhnya maka Soat Eng berteriak ketika dibentur pipinya.

“Aihhh... plak!” Soat Eng terbanting. Kaget dan ngerinya bukan main dan kepala itu menyambar-nyambar lagi, beterbangan di sekelilingnya dan misai yang ada di janggut tiba-tiba juga lepas satu per satu, melesat dan menyambar-nyambar wanita itu maupun Shintala.

Dan ketika Shintala juga terpekik karena lawan sungguh iblis yang amat mengerikan sekali maka Thai Liong terhuyung dihantami potongan-potongan tangan atau jari kaki, pucat dan mengebut namun bagian-bagian tubuh Poan-kwi itu pasti datang dan menyerang lagi, sungguh membuat tengkuknya merasa seram! Tapi ketika pemuda ini bingung dan pucat menghadapi lawan tiba-tiba terdengar bisikan lembut yang menyusup di telinganya.

“Thai Liong, lepas jubahmu. Tangkap dan masukkan potongan-potongan tubuh Poan-kwi ke dalam jubahmu. Incar kepala kakek itu dan ikat dengan misainya!”

Thai Liong girang. Tiba-tiba sesosok asap putih muncul di sana, bergoyang tapi kemudian lenyap. Dan ketika ia berseru keras dan melepas jubahnya, jari atau potongan-potongan tubuh Poan-kwi beterbangan menyambar-nyambar maka Thai Liong sudah membentak dan meraup semua bagian-bagian tubuh itu, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu sepuluh jari tangan sudah masuk atau terjebak di dalam jubahnya, disusul kemudian oleh siku atau paha lawan. Dan ketika semua akhirnya masuk dan meronta-ronta tak dapat keluar, tinggal kepala Poan-kwi yang berkelebatan menyambar-nyambar maka kakek itu berteriak, mata melotot.

“Heii, apa yang kau lakukan, anak muda. Mana bagian-bagian tubuhku. Keluarkan mereka!”

“Hm,” Thai Liong jijik. “Kau iblis yang keji dan tak berperasaan, Poan-kwi. Tubuh sendiri kau lepas-lepas dan tidak kau hargai. Maaf, aku menangkapnya dan sekarang tiba giliran kepalamu... plak!” dan kepala Poan-kwi yang dikebut dan terpental tiba-tiba disusul oleh jerit kakek itu yang tak dapat menyatu dengan tubuhnya.

Kakek ini pucat karena Thai Liong telah memasukkan semua bagian-bagian tubuhnya ke dalam jubah, berarti dia tak dapat normal lagi sebagai manusia dan memekiklah kakek itu oleh amarah yang sangat. Dan ketika ia coba merampas namun Thai Liong selalu menolaknya, bahkan pemuda itu meraup ribuan misai yang bergerak melalui ilmu hitam tiba-tiba misai kakek itu juga telah digenggam pemuda ini dan sekarang meledak-ledak siap menangkap tuannya.

“Augh, keparat. Kau dibantu gurumu, Thai Liong. Kau diberi tahu gurumu. Ah, Bu-beng Sian-su kakek jahanam!” Poan- kwi kalang-kabut, benar-benar tak dapat merampas bagian tubuhnya sendiri dan kelabakanlah kakek itu bagai kambing kebakaran jenggot. Hek-kut-kang akan lumpuh kalau dijadikan satu. Bagian-bagian tubuh itu tak boleh tertangkap atau ilmu hitam ini bakal tak berdaya. Dan ketika benar saja tinggal kepala itu yang sendirian menyambar-nyambar, tak ada lagi bagian tubuh yang membantu atau mengikuti maka Poan-kwi menjerit ketika tiba-tiba misainya sendiri melecut pipi.

“Augh!” kakek itu berteriak. “Kau licik, Thai Liong. Kau curang. Kembalikan tubuhku ke asal!”

“Hm,” Thai Liong mengejek. “Aku akan mengembalikanmu ke asal kalau kau masuk ke sini, Poan-kwi. Ayo kutangkap dan jangan bergerak!”

“Keparat, aku tak mau!” dan kakek itu yang berteriak dan melengking-lengking akhirnya kebingungan menyerang Thai Liong, tertolak atau terpental dan setiap kali harus mengelak cepat ketika misai menggubat atau mau melilitnya. Kakek ini bingung karena tinggal dua pilihan baginya, ditangkap dan menyatu dengan tubuhnya tapi seketika itu juga menjadi tawanan atau bebas dan melayang-layang namun hidup hanya dengan sebuah kepala saja. Tinggal mana yang dia pilih! Dan karena menjadi tawanan Thai Liong juga terasa berat, pemuda itu benar-benar amat lihai dan luar biasa akhirnya kakek ini mengeluh karena ingin bebas meskipun hanya dengan sebuah kepalanya saja, hidup sebagai mahluk tak normal!

"Baiklah, kakek itu menjerit. “Aku menyerah kalah, Thai Liong. Tapi adikmu juga mengalami nasib buruk. Biar aku pergi dan lihat siapa yang lebih menderita.... darr!” Poan-kwi meledakkan asap mulutnya, hilang dan lenyap dan Soat Eng serta Shintala terlempar di sana.

Dua wanita itu terjatuh karena mereka ngeri oleh kejadian menyeramkan ini. Poan-kwi tinggal kepalanya saja yang beterbangan bagai siluman. Thai Liong melumpuhkan lagi Hek-kut-kang dan menanglah pemuda itu menghadapi lawan yang amat luar biasa. Dan ketika puncak Naga Merah menggelegar oleh tabrakan kepala Poan-kwi, yang marah dan kecewa maka tempat itu menjadi sepi lagi dan awan hitam yang memenuhi tempat itupun sirna.

“Hebat, kakek itu luar biasa sekali. Ia benar-benar iblis!”

“Tapi kau membawa potongan-potongan tubuhnya, Liong-ko. Untuk apa benda seperti itu!”

“Benar,” Shintala tiba-tiba juga berseru. “Aku jijik melihatnya, twako. Buang saja atau lempar ke jurang!”

“Hm, kakek itu akan menyatu,” Thai Liong mengerutkan kening, menggeleng. “Hek-kut-kang ilmu yang mengerikan sekali, Shintala. Sekali aku melepas maka tubuh itu akan mencari kepalanya dan Poan-kwi muncul lagi sebagai manusia biasa. Tidak, sementara ini biarkan kepala dan tubuhnya memisah, toh bukan aku yang melakukannya melainkan kakek itu sendiri!”

“Jadi kau akan membawa-bawa potongan tubuh itu?”

“Aku akan menyimpannya di tempat aman. Selama Poan-kwi tak mau datang dan menyerahkan kepalanya maka selama itu pula aku membawa bagian tubuhnya ini sebagai tawanan. Kakek itu bukan manusia biasa, kakek itu iblis!”

“Ihh, aku ngeri dan jijik sekali. Sungguh kakek itu iblis!”

“Ya, iblis yang membuat perutku serasa mau muntah-muntah!” Soat Eng juga berseru, jijik memandang tubuh Poan-kwi yang bergerak-gerak di dalam jubah kakaknya, mau keluar tapi tak dapat. “Kalau begitu cepat simpan seperti katamu, Liong-ko. Dan bagaimana sekarang dengan adik kita Beng An. Lihat, ia pingsan di sana!"

“Hm,” Thai Liong teringat dan melihat adiknya itu, kening berkerut tebal. ”Aku akan menolongnya, Eng-moi. Dan kebetulan Sian-su tadi menengok kita. Mari menghadap dan minta petunjuknya!"

“Sian-su?” Soat Eng terkejut. “Maksudmu gurumu kakek dewa Bu-beng Sian-su itu?”

“Ya, siapa lagi? Dialah yang memberiku petunjuk menghancurkan Hek-kut-kang itu. Tanpa Sian-su mungkin aku tetap bingung!”

“Ah, kalau begitu mari. Di mana dia!” dan ketika Soat Eng berkelebat dan menyambar adiknya, terbelalak mencari-cari maka Shintala tertegun dan bertanya gugup.

“Bu-beng Sian-su ada di sini? Liong-twako ini muridnya? Ah, pantas begini lihai, Eng-cici. Kiranya Liong-twako adalah murid kakek dewa itu. Aduh, sungguh tak kusangka!”

“Hm, Sian-su tak mau menyebut diriku sebagai murid,” Thai Liong menggeleng menghela napas, mulut tersenyum getir. “Siapa saja bisa dianggap muridnya Shintala. Dan siapa saja bisa menyebut atau menganggapnya guru. Kakek itu tak mau menjadi milik orang per orang. Dia milik semuanya!”

“Ah, kalau begitu aku ingin bertemu. Sudah lama kudengar nama kakek luar biasa ini dan harap twako tunjukkan kepadaku!”

“Aku memang akan mencarinya. Mari, jangan-jangan dia sudah pergi jauh!”

Shintala mengangguk. Dia berseri-seri begitu mendengar nama ini. Bu-beng Sian-su adalah nama yang dikenal di seantero jagad dan hanya orang-orang tolol saja yang tak mendengar kakek ini. Maka begitu Thai Liong berkelebat dan Soat Eng juga menyusul kakaknya, terbang menyeberangi puncak maka gadis inipun bergerak dan heran kenapa pemuda itu meluncur di balik gunung.

Thai Liong memang melewati puncak Naga Merah untuk turun di seberang yang sana, bergerak dan tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan putih meluncur di depan. Dan ketika Thai Liong berseru bahwa itulah Sian-su, Soat Eng dan Shintala terbelalak karena bayangan itu bergerak seperti asap, melayang alias ngambang di permukaan tanah maka gadis itu berseru tertahan dan merasa pucat.

“Itu Sian-su, mari percepat gerakan kita!”

Soat Eng terbang mengerahkan segenap tenaganya. Wanita itu berseru girang sementara Shintala masih ragu-ragu dan ngeri. Itu Bu-beng Sian-su yang kesohor di seluruh jagad? Itu kakek dewa yang namanya menggetarkan dan ditakuti iblis-iblis macam Poan-jin-poan-kwi? Ah, mengerikan. Kedua kakinya tak menginjak tanah dan melayang seperti peri! Tapi ketika Soat Eng bergerak dan memanggil namanya, temannya itu tampak girang bukan main maka gadis ini memberanikan hatinya dan menjejakkan kakinya mengerahkan semua ilmunya. meringankan tubuh, Thai Liong sendiri sudah melesat dan terbang di depan, jauh meninggalkan mereka!

“Shintala, cepat. Kita tak boleh kehilangan kakek itu!”

“Baik, tapi tunggu aku, Eng-cici. Tempat ini demikian terjal dan banyak jurang-jurangnya!”

“Jangan khawatir, kau dapat melewati semuanya itu. Mari, cepatlah. Kakakku jauh di sana dan lihat hampir menempel Sian-su!”

Shintala kagum. Thai Liong, pemuda tampan itu, tiba-tiba benar saja mengejar dan berhasil menempel bayangan putih yang melayang-layang itu. Terdengar tawa lembut dan Shintala tiba-tiba berdesir dan merasa sejuk mendengar itu. Ah, itu tawa Bu-beng Sian-su. Bukan main lembut dan menyenangkannya! Dan ketika ia berkelebat dan mengerahkan semua ilmu lari cepatnya maka dia sudah berendeng dan berjajar dengan Soat Eng, temannya ini.

“Hebat sekali kakakmu. Kita tetap tak dapat mengejar!”

“Hi-hik, kakakku memang luar biasa, Shintala. Ayahku sendiripun mengakui keunggulannya. Lihat, dua orang itu memperlambat larinya dan kita menyusul!”

Shintala tertegun. Mendengar kata-kata “ayahku sendiripun mengakui keunggulannya” mendadak gadis ini sadar dan teringat sesuatu. Ingat bahwa dia belum bertanya siapa teman-teman barunya ini dan dari mana mereka. Ketegangan demi ketegangan yang mereka alami telah membuat dia lupa akan semuanya itu. Dan ketika dua orang di sana memperlambat larinya dan angin meniup kencang, tutup kepala Thai Liong tiba-tiba terangkat dan terlempar mendadak gadis ini mengeluarkan seruan tertahan melihat Thai Liong terurai berambut panjang, rambut berwarna keemasan yang selama ini memang tertutup oleh kopiah atau tutup kepala merah.

“Kim-mou-eng!”

“Bukan,” Soat Eng berseru menghentikan larinya, mereka sudah dekat dengan Sian-su dan Thai Liong, tertawa. “Kim-mou-eng adalah ayah kami, Shintala. Itu kakakku Thai Liong. Kim Thai Liong!”

“Apa? Jadi... jadi kau...”

“Benar,” Soat Eng berseri-seri, tak menduga jelek, langsung saja menerangkan. “Ayahku Kim-mou-eng adalah ayah kakakku itu juga. Kau rupanya mengenal ayahku dan pernah bertemu. Ah, itu Sian-su, Shintala. Ayo mendekat dan memberi hormat!”

Namun gadis ini membelalakkan matanya lebar-lebar. Shintala terkejut ketika tiba-tiba melihat rambut Thai Liong. Selama ini rambut itu tersembunyi di balik tutup kepala dan itupun juga tak diperhatikan gadis ini karena kejadian demi kejadian selalu menimpanya. Tapi begitu tutup kepala itu lepas dan rambut keemasan Thai Liong terurai, memang pemuda ini seperti ayahnya maka Shintala tiba-tiba terkejut dan teringat permusuhannya dengan pendekar itu, terutama isterinya, Kim-hujin! Dan begitu ia melotot dan berobah merah, Soat Eng terkejut, mendadak gadis itu memutar tubuhnya dan lari meninggalkan mereka, terbang ke arah lain!

“Soat Eng, menyesal sekali kita tak dapat bersama lagi. Maaf, aku harus pergi dan biar kita tak usah bertemu!”

“Heii..!” Soat Eng terkejut, berubah mukanya. “Apa maksudmu ini, Shintala. Kenapa kau berobah kasar!”

“Hm, tak usah tahu. Tanya saja ayah ibumu itu!” dan begitu gadis itu meluncur dan meninggalkan temannya, Thai Liong terkejut sementara Soat Eng tertegun maka Shintala sudah jauh di bawah gunung untuk sebentar kemudian lenyap di sana.

Soat Eng terbelalak dan penasaran, kaget. Cucu Drestawala itu tiba-tiba bersikap kasar dan menyebutnya begitu saja, padahal sebelumnya memanggil enci! Dan gusar atau tersinggung oleh ini tiba-tiba Soat Eng berkelebat mengejar dan melemparkan Beng An kepada kakaknya.

“Shintala, kau gadis siluman. Daripada menanya ayah ibuku lebih baik aku menanya dirimu. Berhenti, atau aku tak mau sudah!”

Dua gadis itu berkejar-kejaran. Soat Eng mengerahkan Jing-sian-engnya dan tiba-tiba sudah meluncur pula bawah gunung. Jing-sian-eng adalah ilmu meringankan tubuh yang hebat namun Shintala juga memiliki kepandaian kakeknya yang luar biasa. Dulu gadis itu pernah berkejar-kejaran dengan Kim-hujin dan merekapun imbang. Maka begitu dikejar dan Soat Eng marah memaki-maki, Shintala menoleh dan mendengus maka gadis itu berseru agar Soat Eng tak usah mengejar.

“Kau tak perlu mengejar aku. Aku masih menghargai sisa persahabatan kita!”

“Keparat!” Soat Eng melengking. “Kau memusuhi ayah ibuku, Shintala, berarti kaupun menghina aku. Jangan lari, dan tak usah mengingat sisa-sisa persahabatan!”

“Hm, aku menghormati budi kakakmu. Jangan kejar atau aku bisa melupakan segala-galanya!”

“Lupakanlah, tak usah perduli. Aku akan menghentikanmu dan kau atau aku yang mampus.... haittt!” dan Soat Eng yang berjungkir balik melewati lawan mempergunakan kesempatan selagi lawan tertegun mendadak melepas Khi-bal-sin-kang dan memukul kepala lawannya itu. Shintala marah dan tentu saja menangkis. Tapi ketika dia terpental dan berseru tertahan, Soat Eng sudah melayang turun dan tegak menghadang maka gadis itu marah dan balas membentak, jari-jari bergetar siap oleh tenaga sakti!

“Soat Eng, tak usah memancing-mancing kemarahanku. Kalau kau ingin bertanding bilang saja sejak tadi. Aku dapat membalaskan sakit hatiku kepadamu.... haiittt!” dan gadis ini yang balas menerjang dan melepas pukulan tiba-tiba dikelit dan dielak Soat Eng. Shintala membalik dan menyerang lagi. Dan karena tujuh pukulan berturut-turut menyambar silih berganti, Soat Eng tak dapat mengelak lagi maka nyonya muda inipun menangkis dan Khi-bal-sin-kang bertemu kepretan jari-jari sakti dari cucu si Drestawala itu.

“Plak-plak-plakk!”

Shintala terpelanting namun Soat Eng terhuyung mundur. Tamparan atau kepretan amatlah kuatnya dan kuda-kuda Siang-hujin (nyonya Siang) ini geser.

Namun begitu Shintala melengking da, menubruk lagi, mencabut tongkat maka gadis itu sudah menyerang lawan dan bertandinglah dua wanita ini bagai dua harimau betina yang sama-sama kelaparan. Yang satu teringat lawan lamanya sementara yang lain terhina karena orang tuanya diejek dan direndahkan!

“Haiiittttt... ciat-ciaatttt!”

Dua wanita itu bertanding seru. Mereka sama-sama berkelebatan dan baik Soat Eng maupun Shintala sama-sama mengeluarkan semua kepandaiannya. Masing-masing sama maklum bahwa lawan adalah orang-orang lihai, apalagi setelah sekarang Shintala mengetahui bahwa Soat Eng kiranya puteri Pendekar Rambut Emas. Pantas demikian lihai, juga Thai Liong pemuda yang dikaguminya itu!

Namun karena rasa marah mengalahkan segala-galanya dan perasaannya terhadap Thai Liong ditindas dalam-dalam, getaran atau api cinta mulai membakar di hatinya maka cucu Drestawala ini menumpahkannya kepada Soat Eng....