Rajawali Merah Jilid 11 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 11
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“SIAPA mereka ini. Ada apa!”

“Ini.... ini Poan-jin-poan-kwi. Ah, inilah mereka, ibu. Inilah kakek iblis yang menculik Beng An itu!”

“Apa? Mereka ini?”

“Benar!” dan begitu ucapan itu selesai mendadak Swat Lian mencelat dan melengking menghantam kakek itu, kakek yang tadi dihantam Soat Eng. Dan ketika sang nyonya berkelebat dan dua sinar putih menyambar dengan dahsyat maka Poan-jin-poan-kwi, kakek itu, terkekeh dan cepat menangkis.

“Dess!” Kakek itu terlempar! Lain Soat Eng lain ibunya. Karena begitu Swat Lian melengking dan membentak maka dua pukul an sekaligus menghantam kakek itu. Bukan pukulan sembarang pukulan melainkan pukulan Bola Sakti (Khi-bal-sin-kang) dan Lui-ciang-hoat sekaligus, hebatnya bukan main dan kakek yang dihantamnya itu tak mengetahui kesaktian lawannya ini. Kakek itu memang belum pernah bertemu Kim-hujin ini karena selama ini dia baru pernah bertemu atau berhadapan dengan Soat Eng, sang anak.

Dan karena sang ibu memiliki sinkang jauh lebih dahsyat dan Swat Lian bukanlah sembarangan wanita maka begitu isteri Pendekar Rambut Emas itu melengking dan mengeluarkan dua pukulan sekaligus tiba-tiba, kakek itu mencelat dan terlempar terguling-guling, Cao Cun yang ada di tangannya seketika terlepas dan kakek itu kaget bukan main. Lain yang tua lain yang muda. Kim-hujin itu menyerangnya begitu dahsyat dan mengerikan. Kalau bukan dia tentu sudah hancur tubuhnya.

Tapi ketika kakek itu bergulingan dan berteriak keras, kaget dan marah maka sang nyonya sudah menerjang dan menyerangnya lagi cepat dan bertubi-tubi dan tandangnya bagai harimau betina kesetanan, atau, harimau betina haus darah. Ganas dan meluap-luap. Dan ketika kakek itu terkejut sementara sang nyonya sudah mengejar dan menyerang bertubi-tubi, Soat Eng berkelebat menyambar Cao Cun maka wanita itu menangis sementara Poan-jin-poan-kwi didesak hebat dan tak mampu bergulingan meloncat bangun.

“Des-dess!”

Poan-jin-poan-kwi kewalahan. Kakek itu berteriak dan menangkis tapi malah mencelat dan terlempar lagi, bergulingan dan dikejar lagi dan pukulan serta tendangan mengenai tubuhnya, dihajar dan sebentar saja tubuhnya babak-belur. Kakek itu kesakitan dan Swat Lian mengejar tanpa memberi ampun lagi. Nyonya itu mengamuk bagai singa kelaparan, lawannya jungkir balik. Tapi ketika kakek itu berteriak-teriak namun Lui-ciang-hoat maupun Khi-bal-sin-kang tak membuatnya roboh, Swat Lian diam-diam terbelalak maka berkesiurlah angin dingin di belakangnya disertai geraman pendek.

“Lepaskan suteku!”

Swat Lian terkejut. Dia sendiri sedang mengamuk dan menghajar kakek di depan itu, bertubi-tubi melepas Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat hingga sebentar saja tanah di situ berlubang-lubang dan hangus, terbakar. Lui-ciang-hoat memang pukulan panas di mana ledakan-ledakan seperti petir juga mengiringi pukulan itu, biasanya lawan tak akan tahan dan paling sedikit pingsan. Tapi ketika terdengar geram di belakang dan kesiur angin dingin juga menyambar punggungnya. Soat Eng berteriak memberi tahu ibunya maka Swat Lian membalik dan menangkis pukulan dingin itu.

“Bless!” Aneh dan luar biasa. Lui-ciang-hoat yang menyambar tiba-tiba seakan bertemu bongkahan es dingin, diredam dan lenyap getarannya. Dan ketika Swat Lian terhuyung tapi tak sampai terpental, kakek yang lain sudah berdiri dengan mata berpijar-pijar maka Swat Lian tersentak dan kaget berseru tertahan.

“Siapa kau!”

“Aku Poan-kwi,” kakek itu mendengus, suaranya dingin dan jauh bagai dari liang kubur. “Aku mencari Pendekar Rambut Emas dan kau siapa.”

“Aku isterinya, nyonya Kim. Kaukah yang menculik dan membawa anakku Beng An? Kalian yang mengacau dan membuat onar di Sam-liong-to? Bedebah, kembalikan anakku, kakek iblis. Atau kau akan kubunuh dan kucincang menjadi bakso!”

“Hm, kami tak dapat mati, kau tak dapat membunuhku. Mana suamimu dan kenapa tidak keluar.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku? Berani bicara dan berkata seperti itu? Haiitttt..... jahanam kau, kakek iblis. Kalau begitu mampuslah!” dan Swat Lian yang berkelebat dan menerjang kakek ini, Poan-jin-poan-kwi yang lain maka kakek itu mendengus dan tiba-tiba menggerakkan kedua jari tangannya.

“Dess!” Kakek itu lenyap! Swat Lian terkejut karena pukulannya tiba-tiba menghantam angin kosong, berteriak karena tiba-tiba terdengar dengus dan ejekan di sebelah kiri, di susul pukulan angin dingin yang entah kapan tahu-tahu menyambarnya dari situ. Dan ketika dia membalik dan melihat kakek itu, Poan-kwi (Setengah Siluman) maka nyonya ini menangkis tapi lawan tiba-tiba lenyap kembali dan pukulannya menghajar tanah.

“Blarrr!”

Swat Lian marah dan kaget bukan main. Untuk selanjutnya dia melihat kakek itu berpindah-pindah, sebentar lenyap dan muncul lagi di tempat-tempat yang berbeda, menyerang tapi ditangkis dan kakek itu selalu menghindar. Rupanya Khi-bal-sin-kangnya membuat lawan berhati-hati dan Poan-kwi tak berani berhadapan keras dengan keras. Dan karena lawan akhirnya seperti mempermainkan dirinya sementara dia sudah berkelebatan dan memukul atau mencari lawannya itu maka ledakan-ledakan segera terdengar disusul hancur atau berlubang-lubangnya tanah yang meledak.

“Keparat, jangan bersikap pengecut, Poan-kwi. Hayo hadapi aku dan jangan berputar-putar seperti kucing bertemu singa!”

“Hm!” kakek itu menghilang dan muncul lagi. “Aku mencari Pendekar Rambut Emas, hujin, bukan dirimu. Aku enggan tapi tak apa bermain-main sejenak denganmu. Ini aku, awas...!” dan si kakek yang tahu-tahu muncul di sebelah kiri dan menyambar nyonya itu tiba-tiba tidak mengelak ketika Swat Lian menghantam dan menangkisnya.

“Dess!” Bumi seakan dilanda gempa. Swat Lian terpental tapi kakek itu terhuyung mundur, wajahnya berobah dan baru sekarang dia menghadapi keras dengan keras. Ternyata kakek ini hebat, tak apa-apa. Dan ketika Swat Lian memekik dan menerjang lagi, Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat ganti-berganti menyerangnya maka kakek itu menerima dan hanya tergetar sedikit saja.

“Des-dess!”

Swat Lian akhirnya terbelalak. Lawannya itu tak apa-apa sementara dia sendiri terpental dan berjungkir balik ke atas, tertolak. Tenaga yang luar biasa kuat menahan atau mementalkan pukulannya itu, padahal Khi-bal-sin-kang biasanya akan menggempur dan menolak balik pukulan lawan! Dan ketika nyonya itu terkejut dan melengking-lengking, pertandingan berlangsung cepat karena nyonya itu sudah mengeluarkan Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kangnya, dua ilmu meringankan tubuh yang tiada bandingannya maka si kakek terkejut dan muncul serta lenyap lagi menghadapi pukulan si nyonya yang bertubi-tubi.

Soat Eng yang menonton membelalakkan matanya dan Cao Cun yang ada di cekalannya menggigil. Mereka terpaksa menyingkir karena ledakan-ledakan tanah memerciki tubuh mereka, Cao Cun yang merupakan wanita lemah bahkan menjerit kesakitan ketika sebutir kerikil kecil menghantam kulitnya, lain dengan Soat Eng yang dapat menahan semuanya itu dengan sinkang. Dan ketika pertandingan berjalan kian hebat sementara wanita itu tak mampu mendesak lawannya, Poan-kwi sering menghilang dan lenyap lagi bagai siluman maka Soat Eng mengepal tinju dan mendorong Cao Cun ke pinggir, lebih menjauh.

“Bibi jangan terlalu dekat, aku akan membantu ibu.”

“Kau.... kau mau menghadapi kakek iblis itu?”

“Benar, tapi merobohkan dulu yang satu itu, bibi. Lihat, dia akan menyerang dan berbuat curang!”

Cao Cun menoleh. Kakek yang satu memang sudah bersiap-siap dan tertawa serta menyeringai. Misainya yang panjang menjuntai ke bawah tampak bergerak-gerak seperti ular, kakek itu memang akan berkelebat dan rupanya ingin membantu temannya. Temannya tak mampu mendesak meskipun juga tak dapat didesak. Sementara ini masing-masing imbang. Atau, barangkali Poan-kwi justeru sedang mengintai dan mencari kelemahan nyonya itu, karena matanya tajam berbinar-binar dan sorot matanya yang kemerahan itu tiba-tiba mencorong lebih menakutkan.

Cao Cun tiba-tiba terpekik ketika suatu saat kakek itu menoleh padanya, memandang dan wanita ini merasakan hawa panas luar biasa pada sorot mata itu, terjengkang dan roboh! Tapi ketika Soat Eng menyambar dan menolongnya, nyonya muda itu terkejut maka Cao Cun mengguguk menutupi matanya. “Aku... aku... mataku sakit. Kakek itu menyambarku bagai tusukan api!”

“Jangan pandang matanya!” Soat Eng tahu itu, menotok dan menyembunyikan Cao Cun di balik sebatang pohon besar. “Kakek itu bermata iblis, bibi. Akupun juga tak kuat tapi aku harus membantu ibu. Temannya sudah bergerak, kau di sini saja.... wut!”

Soat Eng yang sudah berkelebat dan meninggalkan temannya tiba-tiba membentak karena kakek satunya, yang tadi dihantam tapi tidak apa-apa sekonyong-konyong terkekeh dan menyerang ibunya. Wanita muda itu marah dan Soat Eng tentu saja tak membiarkan. Ibunya sedang bertempur sengit dengan lawan, tak boleh kakek ini mengganggu. Maka begitu dia melesat dan membentak kakek itu, Soat Eng kini tahu bahwa Poan-jin-poan-kwi memang ada dua orang, seperti kata ayahnya dulu maka nyonya muda itu menghantam dan melepas pukulan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!”

Kakek itu membalik dan menangkis. Dia tadi menyerang Swat Lian karena lawan temannya itu terlampau tangguh, belum ada yang kalah dan menang sementara dia sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan pertandingan. Maka begitu dia bergerak tapi Soat Eng membentak dan menyusulnya, nyonya muda itu marah melepas pukulan maka kakek ini terpental tapi Soat Eng sendiri juga terlempar dan roboh berjungkir balik, kalah tenaga!

“Keparat!” Soat Eng melengking dan sudah meloncat bangun. “Kau boleh hadapi aku, kakek siluman. Dan sebutkan siapa kau agar aku tahu namamu!”

“Heh-heh, aku Poan-jin,” kakek ini mengaku, memperkenalkan diri. “Apakah kau juga mau membunuh dan menghabisi aku, bocah? Wouh, jangan terlalu sombong. Dua puluh tahun belajar lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan aku... dess!” dan si kakek yang kembali menangkis dan mengejek Soat Eng akhirnya tertawa-tawa dan kembali tergetar mundur namun lawannya itu mencelat dan terlempar tinggi ke atas, melayang turun dan menyerang lagi dan segera Soat Eng melepas pukulan-pukulan dahsyat.

Kakek itu berkelebatan dan tidak seperti temannya yang mampu menghilang dan muncul lagi adalah Poan-jin ini bergerak seperti orang biasa. Sekarang sadarlah Soat Eng kenapa di Sam-liong-to dulu dia dibuat bingung, sebentar kakek itu dapat menghilang seperti siluman sementara sebentar kemudian tidak. Ternyata, yang dapat menghilang dan muncul lagi itu adalah Poan-kwi, bukan kakek ini, Poan-jin. Dan karena mereka memang kembar dan masing-masing sama memelihara misai yang panjang, sehingga kalau kedua-duanya tidak muncul berbareng tak mungkin dapat dibedakan.

Maka Soat Eng sudah melepas semua kemarahannya dengan serangan-serangan dahsyat, mempergunakan Khi-bal-sin-kang dan kecepatan Jing-sian-eng namun sang ibu berteriak agar dia mengeluarkan semua ilmu-ilmu keluarga Pendekar Rambut Emas. Dan ketika Soat Eng mengangguk karena lawan memang benar-benar lihai, Poan-jin mampu menerima dan menolak pukulannya maka nyonya muda itu mengeluarkan Lui-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangnya, digabung menjadi satu.

“Blar-blarr!” Kini api dan pijaran cahaya panas menyambar dan meledak. Suaranya memekakkan telinga dan Poan-jin sibuk berkelebatan dan menghindar sana-sini. Soat Eng melengking-lengking dan berkelebatan luar biasa cepatnya hingga tak dapat dilihat tubuhnya lagi. Yang kelihatan hanya bayangan kuning dari bajunya saja, itupun sudah lenyap lagi karena berpusing amat cepatnya mengelilingi si kakek.

Siapa yang memandang tentu bakal terputar, bola mata salah-salah bisa terbalik, karena begitu cepatnya nyonya ini bergerak. Dan ketika dua pertandingan pecah di situ namun Poan-jin mampu mengimbangi dan mengikuti lawan, kakek itupun membentak dan tertawa aneh maka di lain tempat Swat Lian mulai terkejut ketika pukulan-pukulannya bertemu dengan bau busuk yang teruar dari tangan lawannya.

Cepat dan tidak terasa, entah kapan terjadinya tahu-tahu kedua lengan Poan-kwi sudah berubah kemerah-merahan. Bau busuk muncul di situ dan setiap lengan mereka bertemu tiba-tiba Swat Lian hampir muntah. Lengan itu seperti bubur daging yang jika dihantam akan berhamburan dan berpercikan ke sana ke mari, baunya menyengat busuk seperti nanah atau borok! Tapi karena lengan itu utuh lagi dan setiap luka tiba-tiba menutup sendiri, lawan tersenyum dingin maka Swat Lian bergidik karena lawan yang dihadapi itu betul-betul bukan manusia melainkan sejenis mahluk yang amat menjijikkan, entah apa!

“Kau tak dapat mengalahkan aku, justeru akulah yang nanti dapat merobohkanmu, Heh, menyerahlah, Kim-hujin, dan panggil suamimu agar dia cepat ke mari!”

“Terkutuk, keparat jahanam!” sang nyonya memaki-maki. “Kau tak perlu sombong, Poan-kwi. Kalau suamiku ada di sini tentu dia sudah keluar dan tak perlu bersembunyi. Terimalah, aku pasti membunuhmu karena kaupun tak dapat mengalahkan aku.... dess!”

Dan sang nyonya yang kembali melengking dan menghantamkan kedua lengannya tiba-tiba sudah melepas dua pukulan sekaligus, Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat dan dua sinar putih dan biru berkeredep menyilaukan mata. Dua sinar itu menyambar Poan-kwi dan kakek siluman itu mengelak, miringkan tubuh. Tapi ketika sinar tetap mengejar dan dia mendengus maka dua tangannya juga bergerak sementara misai panjang di dagunya itu melejit dan menyambar mata si nyonya.

“Aihhhh..... plak-dukk!”

Swat Lian terpental. Sang nyonya terpekik karena misai atau rambut panjang itu bukan sembarang menyambar melainkan menuju matanya, tentu saja berbahaya karena benda lemas itu tiba-tiba berobah kaku dan menusuk seperti baja. Sekali kena tentu dia buta, karena mata tak dapat dilindungi sinkang. Dan ketika nyonya itu terkejut dan perhatiannya pecah, lawan menangkis dan menyambut pukulannya maka Swat Lian terlempar dan nyonya itu berjungkir balik melayang turun, celakanya sudah dikejar dan kini lawan tertawa melepas pukulan-pukulan dingin.

Lui-ciang-hoat diredam dan setiap Swat Lian menangkis maka dia bertemu bubur daging itu, sang nyonya muntah-muntah dan akhirnya tak tahan! Dan ketika Swat Lian terdesak sementara lawan terkekeh-kekeh, suaranya dingin bagai keluar dari kubur maka di sana Soat Eng juga mengalami nasib sama karena Poan-jin, kakek satunya, dapat menindih dan membalas semua pukulan-pukulannya.

“Heh-heh, ibu dan anak akan roboh. Ah, kita akan menikmati kemenangan dan tubuh dua wanita ini. Eitt, jangan bunuh lawanmu itu, suheng. Biarkan roboh dan kita permainkan berdua!”

“Hm, aku hanya mencari dan ingin membunuh Pendekar Rambut Emas. Jangan main-main lagi, sute. Robohkan lawanmu dan kita obrak-abrik tempat bangsa Tar-tar ini!”

“Wah, tak main-main dulu dengan wanita cantik? Kita melewatkan begitu saja kesempatan bagus ini?”

“Diam, tak perlu banyak omong, sute. Robohkan dan kita cari Pendekar Rambut Emas... blarr!”

Poan-kwi yang kembali menangkis dan menerima pukulan lawannya tiba-tiba membuat lawannya mencelat dan Swat Lian terbanting roboh, ngeri dan pucat karena tiba-tiba ia tak mampu lagi mengerahkan semua tenaganya karena terlanjur jijik bertemu lengan lawan yang membubur daging, berpercikan dan muncrat ke sana-sini di mana suatu ketika cuwilan daging busuk itu mengenai hidungnya. Baunya bukan main busuk dan bacinnya.

Sang nyonya muntah-muntah dan inilah yang membuat dia tak kuat lagi bertahan, pengalaman dan pemandangan itu sungguh baru kali itu dirasakannya seumur hidup. Dan karena wanita memang lebih mudah tak tahan dibanding laki-laki, bubur daging itu berpercikan dan kian busuk saja maka Swat Lian yang terhuyung-huyung dan sering menutup hidungnya harus kerap menerima pukulan atau tamparan lawan. Untung Khi-bal-sin-kang di tubuhnya sudah sedemikian baik bekerja hingga meskipun dia terbanting atau terlempar berulang kali tetap saja nyonya ini tak apa-apa.

Poan-kwi melotot dan kakek iblis itu tampak marah, di samping kagum. Dan ketika suatu saat sang nyonya mengeluh dan terlempar kembali, Swat Lian tak mampu menahan jijik oleh tubuh lawan yang kian mengerikan saja maka sepasang sorot mata Poan-kwi tiba-tiba berkedip dan meluncur mengenai dahi sang nyonya.

“Kim-hujin, robohlah. Kau sudah tak mampu menerima pukulanku lagi!”

Swat Lian terkejut. Dahinya tiba-tiba dibentur sorot cahaya panas di mana tiba-tiba dia merasa pusing. Nyonya ini muntah-muntah karena bau dan bubur daging itu mengenai sebagian mukanya lagi, itu sungguh menjijikkan. Dan karena saat itu dia sedang terbanting dan terlempar oleh pukulan lawan, sorot cahaya merah mengenai dahinya pula maka nyonya ini tiba-tiba seakan kehilangan tenaga dan benar-benar roboh.

Dia menjerit dan mengeluarkan teriakan marah namun ajaib sekali suara yang keluar hanya berupa keluhan kecil, seolah tenggorokannya tercekik. Dan ketika nyonya itu pucat dan melihat lawan berkelebat lagi, mengusap mukanya maka Swat Lian tak mampu mengelak ketika kelima jari yang menjijikan menyentuh wajahnya.

“Robohlah, sudah kubilang kau harus roboh!”

Sang nyonya terbanting kedua kali. Swat Lian tak ingat apa-apa lagi karena kepalanya sudah pening. Lawan terlampau menjijikkan dan bau busuk itulah yang tak tahan dia rasakan. Semakin dekat dengan lawan semakin busuk juga bau itu, Swat Lian tak mampu menguasai indera ciumnya. Dan ketika mukanya diucap sementara misai panjang itu juga bergerak menotok lehernya, sang nyonya terjengkang maka Kim-hujin ini roboh pingsan dan Poan-kwi menggerakkan lagi misainya untuk menampar batok kepala. Tap ketika kepala itu tak pecah karena dilindungi Khi-bal-sin-kang, Poan-kwi penasaran dan menghantam lagi tubuh nyonya itu maka pukulannya membalik dan bahkan hampir mengenai mukanya sendiri!

“Terkutuk, benar-benar hebat!”

Poan-kwi kagum. Kakek ini bersinar-sinar dan matanya yang kemerahan itu berpijar lagi dua kali. Dengan ilmu kesaktian dia tak dapat membunuh lawan biarlah kini dengan ilmu matanya itu. Kakek ini memiliki apa yang disebut Hwi-gan-san-hui-tok (Mata Api Pembuyar Ingatan), yakni sengatan ilmu mata yang tadi sudah membuat Kim-hujin itu pening, kehilangan kesadaran. Dan ketika dua sorot cahaya merah itu kembali menyambar dan menyentuh dahi si nyonya, Swat Lian berjengit namun tetap pingsan maka hilanglah ingatan si nyonya oleh ilmu sakti ini.

Kakek itu tersenyum dingin dan mendengar lengking atau teriakan panjang, menoleh dan melihat sutenya, Poan-jin, terkekeh menerima hantaman Soat Eng, lawannya si nyonya muda itu. Tapi ketika nyonya itu terpental dan jatuh menjerit, sutenya berkelebat dan membentak dengan ilmunya Hwi-gan-san-hui-tok maka Soat Eng kehilangan kesadarannya ketika misai atau rambut si kakek menotok lehernya, sama seperti ibunya, berdepuk dan pingsan.

“Ha-ha, robohlah. Sekarang tak dapat kau bertingkah lagi!”

Soat Eng tak sadarkan diri. Sama seperti ibunya dia juga gagal melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kangnya bahkan juga Lui-ciang-hoat, karena kakek itu memiliki tenaga dingin yang mampu meredam pukulan-pukulannya itu. Dan karena tenaga si kakek ternyata jauh lebih kuat karena rupanya menang matang, Soat Eng masih muda dan kalah pengalaman dibanding kakek itu maka Poan-jin sudah memenangkan pertandingan dan nyonya muda ini roboh, terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi namun tubuh atau kulit lehernya tak apa-apa. Itulah berkat Khi-bal-sin-kang yang melindungi tuannya, Dan ketika kakek itu tertegun dan kagum, suhengnya berkelebat dan sudah di sampingnya maka Poan-jin menyeringai dan menyambar tubuh Soat Eng.

“Gadis ini hebat, suheng boleh memilikinya kalau mau!”

“Tidak,” suhengnya menampar dan menendang tubuh Soat Eng. “Kita mencari Pendekar Rambut Emas, sute. Kalau dia tak ada barangkali kita harus pergi. Tapi mungkin dia masih bersembunyi, hayo cari dan obrak-abrik tempat ini!”

”Suheng tak menikmati daun muda?”

“Tutup mulutmu! Hawa nafsu membuat kita kehilangan banyak kesaktian, sute. Lihat dirimu ini yang sudah tak mampu berbadan halus lagi!” dan ketika Poan-jin terkejut dan meleletkan lidah, suhengnya marah-marah maka kakek itu lenyap dan tidak berbadan kasar lagi.

“Suheng, tunggu. Kau mau ke mana!”

“Kita mencari Pendekar Rambut Emas!" bayangan hitam tiba-tiba meluncur dan keluar dari lembah. “Kita cari dan bunuh pendekar itu, sute. Dia telah mencelakai murid keponakan kita See-ong!”

“Wah, tapi jangan tinggalkan aku!” dan ketika Poan-jin berkelebat dan mengikuti suhengnya, meluncur dan keluar dari lembah maka bangsa Tar-tar gempar dan menjerit-jerit.

Mereka tak tahu apa yang terjadi karena kemah tiba-tiba jebol dan ambruk. Tiang-tiang besi diangkat dan dua bayangan bagai siluman membentak-bentak mencari pemimpin mereka. Tak ada yang tahu siapa bayangan itu karena Poan-jin maupun suhengnya bergerak tak dapat diikuti mata. Dua kakek siluman mengobrak-abrik bangsa Tar-tar sampai tak keruan jadinya. Laki-laki atau pemuda-pemuda tegap dilempar dan dibanting sampai melengkung-lengkung, banyak di antaranya yang tewas karena tubuh atau pungung mereka patah-patah, terlipat.

Dan ketika kegaduhan itu semakin riuh dengan tangis atau jerit anak-anak dan kaum perempuan, Poan-kwi dan Poan-jin tak menemukan Pendekar Rambut Emas maka dua kakek itu pergi setelah seluruh tempat tinggal bangsa Tar-tar diratakan dengan tanah. Kemah atau tiang-tiang besi dicabuti dan tersapulah ribuan tempat tinggal yang sudah tidak berujud rupa lagi. Bangsa Tar-tar bagai diamuk topan dan ratusan laki-laki terkapar roboh binasa, malang-melintang tak keruan dan hari itu rakyat Kim-mou-eng betul-betul menderita.

Tapi ketika dua kakek itu berlalu dan tinggallah wanita atau anak-anak yang meratap atau menjerit di tinggal suami atau ayah-ayah mereka maka lenyaplah “badai” yang menghantui ribuan orang-orang ini. Tepekur dan meratapi nasib buruk yang menimpa mereka tanpa mengetahui siapa yang melakukan.

Poan-jin-poan-kwi memang iblis yang tak mungkin dapat dilihat, apalagi oleh orang-orang biasa ini. Dan ketika semuanya lalu dan Swat Lian maupun Soat Eng masih pingsan di sana, di lembah, maka keesokannya Pendekar Rambut Emas datang didahului oleh bayangan kuning emasnya yang berkelebat di tengah-tengah suku bangsanya.

* * * * * * * *

“Apa yang terjadi? Apa ini?”

Pendekar Rambut Emas tertegun dan berobah wajahnya begitu melihat suku bangsanya porak-poranda. Kemah-kemah hancur dan tak ada satu pun yang masih berdiri tegak. Pagi itu pendekar ini datang dan melihat tempat tinggal di situ rata dengan tanah pendekar ini terkejut. Dia mengira ada topan atau badai yang mengamuk, maklumlah, sekali dua ada juga peristiwa seperti itu, karena bangsa Tar-tar berada di tempat atau daerah terbuka. Tapi ketika puluhan wanita menjerit dan menangis, kaum laki-laki bergelimpangan dan menjadi mayat maka pendekar itu tergetar karena isteri maupun puterinya juga tak ada di situ.

“Kami.... kami didatangi dua siluman. Kami tak tahu apa yang terjadi tapi mereka mengamuk dan membunuh-bunuhi suami-suami kami!”

“Mereka? Mereka siapa? Dan di mana anak isteriku?”

“Kami juga tak tahu, taihiap. Tapi kami mendengar ledakan dan suara-suara guntur di lembah!”

“Ledakan? Suara guntur?”

“Ya, kami tak tahu apa yang terjadi, taihiap. Dan kami tak berani datang mendekat karena kau melarang kami datang ke lembah!”

Pendekar ini tersentak. Dia membelalakkan mata dan mendengarkan ratap tangis di situ, dapat mengerti karena tak satu pun di antara orang-orangnya yang boleh ke lembah. Tempat itu adalah tempatnya dan hanya pembantu-pembantu dekatnya saja yang boleh ke sana, itupun kalau dia panggil. Dan ketika wanita dan anak-anak berteriak dan menubruk mayat-mayat di situ, suami atau ayah-ayah mereka maka pendekar ini berkelebat dan tiba-tiba meluncur memasuki lembah.

“Taihiap, tolong kami dulu. Suamiku tergencet batangan besi!”

“Benar, dan ayahkupun merintih di sana, taihiap. Ah, tolonglah dia dulu karena kakinya terjepit pohon besar!”

Pendekar Rambut Emas tertegun. Dia sudah mau memasuki lembah. ketika tangis dan jerit minta tolong itu menusuk telinganya. Sebagai seorang pendekar tentu saja dia harus menolong mereka-mereka itu, apalagi mereka itu adalah rakyatnya. Dan karena urusan pribadi harus dinomorduakan dan rakyat adalah segala-galanya maka pendekar ini berhenti dan terbang kembali, mengejutkan wanita-wanita itu karena seperti siluman atau hantu saja tahu-tahu dia sudah di depan wanita dan anak-anak itu. Dua wanita muda yang tadi menuding dan menyebut suami atau ayah mereka sudah membuat pendekar ini melihat apa yang dimaksudkan.

Di sana ada seorang laki-laki tergencet batangan besi, sementara ditempat yang lain tampaklah seorang kakek merintih dan mengerang terjepit sebuah pohon besar yang ambruk. Dan ketika wanita-wanita yang lain juga menuding dan dahulu-mendahului menunjuk suami-suami yang lain, ada yang tertindih dua tiga mayat dan ada pula yang terjeblos di lubang dalam tanpa dapat naik keluar maka pendekar itu berkelebatan dan suami-suami yang luka atau tergencet itu sudah dibebaskannya. Bayangan kuning emas menyambar-nyambar dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan sebentar saja para laki-laki itu sudah ditolong dan diselamatkan.

Mereka yang hanya tertindih atau tergencet batangan besi sudah ditarik keluar, mereka ini hanya lecet-lecet atau luka ringan saja. Dan ketika yang lain-lain juga ditolong dan diselamatkan, hampir semua laki-laki bangsa Tar-tar tertimpa kemalangan maka Pendekar Rambut Emas yang sudah melempar atau menendang batangan-batangan besi itu segera minta yang luka-luka ringan menolong yang luka-luka berat, sekejap saja ratusan orang itu sudah dibebaskan dari tindihan atau gencetan pohon-pohon besar.

“Yang tewas kalian kumpulkan, yang luka-luka ringan harap bekerja dan menolong yang lain!”

Pendekar itu kembali terbang ke lembah. Sekarang wanita dan anak-anak dapat berkumpul lagi dengan suami atau ayah-ayah mereka, yakni yang kebetulan tak menderita luka berat karena tertimpa atau tergencet batangan besi. Dan ketika tempat itu menjadi hiruk-pikuk karena laki-laki bangsa Tar-tar segera menolong yang lain, baik yang tewas maupun yang luka-luka berat maka Pendekar Rambut Emas sudah meluncur dan terbang memasuki lembah. Bagai siluman atau iblis saja pendekar ini sudah masuk ke lembah.

Begitu bayangan kuning emas masuk begitu pula pendekar itu lenyap tak kelihatan dari luar. Pendekar yang biasanya tenang dan kalem ini mendadak saja berobah mukanya dan menggigil. Satu peristiwa hebat pasti telah terjadi di situ, entah apa. Karena, isteri dan anak perempuannya tak kelihatan. Dan ketika pendekar itu masuk dan melihat pohon-pohon yang tumbang, bahkan juga tanah-tanah yang berlubang dan hangus maka pendekar itu bagai berhenti detak jantungnya melihat dua tubuh menggeletak di tanah.

“Niocu! Eng-ji...!”

Pendekar ini mencelat dan. berlutut. Anak isterinya ternyata ada di situ dan tubuh ibu dan anak sama-sama tergolek tak bergerak. Pendekar Rambut Emas mengira mereka tewas dan pendekar ini sudah mengeluarkan teriakan atau bentakan mengguntur. Suaranya begitu dahsyat hingga dua pohon di sebelahnya roboh, bahkan, kaum laki-laki dan perempuan di luar lembah ikut menjerit dan terlempar roboh, mereka diguncang oleh getaran suara yang amat dahsyat itu. Tapi ketika pendekar ini melihat anak isterinya masih bernapas, Swat Lian dan Soat Eng membiru wajahnya maka muncullah Cao Cun yang menggigil dan merayap di situ, bagai ular kedinginan.

“Twako, anak isterimu bertemu dengan Poan-jin-poan-kwi. Mereka.... mereka bertempur hebat. Aku sendiri pingsan dan tak tahu apa yang selanjutnya terjadi!”

“Poan-jin-poan-kwi? Mereka datang?”

“Beb.... benar. Ah, tiadakah mereka, twako? Sudah meninggalkah mereka? Ooh ...!” dan Cao Cun yang terseok dan bangkit terhuyung, berdiri dan menghampiri Pendekar Rambut Emas akhirnya roboh dan memeluk tubuh Soat Eng. “Ia.... ia masih hidup!” wanita ini terpekik, kegirangan. “Ah, tolong cepat puterimu ini, twako. Cepat, ia masih hidup!”

Pendekar Rambut Emas sadar. Ia bengong dan kaget melihat Cao Cun ada di situ, tak menyangka wanita ini ada di sini, di lembah. Tapi begitu Cao Cun berteriak dan menuding puterinya, ia mengangguk dan tahu bahwa anak isterinya masih hidup maka pendekar itu bergerak dan menotok mereka, coba menyadarkan.

“Benar, bukan hanya Eng-ji yang masih hidup, Cun-moi, melainkan isteriku juga. Diamlah, aku akan menolong!” dan ketika totokan dan tiupan diberikan berulang-ulang, Pendekar Rambut Emas menempelkan lengannya memberikan sinkang maka isterinya mula-mula mengeluh dan membuka mata, disusul kemudian oleh Soat Eng tapi Pendekar Rambut Emas terkejut melihat pandangan kosong pada anak isterinya itu. Swat Lian maupun Soat Eng seperti orang hilang ingatan, mereka itu mendelong saja melihat dirinya. Dan ketika dia menyambar dan menepuk kepala isterinya, meniupkan hawa dingin maka Pendekar Rambut Emas berseru bahwa ia datang.

“Ini aku. Apa yang terjadi, niocu? Kenapa semuanya berantakan?”

Aneh, Swat Lian bengong dan tak menjawab. Pendekar Rambut Emas mengulang pertanyaannya hingga tiga kali namun sang isteri malah menjublak, tindak-tanduknya seperti orang bingung, hilang ingatan. Dan ketika pendekar itu membentak dan sang isteri kaget tiba-tiba Swat Lian melengking dan menerjangnya.

“Heii!” sang pendekar terkejut. “Apa-apaan ini, jangan gila.... dukk!” dan lengan isterinya yang ditangkis dan terpental akhirnya disusul pula oleh Soat Eng yang berteriak dan menyerang ayahnya. Pendekar Rambut Emas tiba-tiba dikeroyok dan Swat Lian maupun anak perempuannya menerjang membabi-buta. Pendekar ini terkejut dan marah. Dan ketika dia kembali berkelebat dan menangkis pukulan-pukulan isterinya, Swat Lian terbanting karena kalah tenaga maka Soat Eng juga terjengkang karena tamparan ayahnya lebih kuat daripada dirinya, yang baru siuman.

“Hentikan, ini aku, suami dan ayah kalian!”

Dua orang itu mengeluh. Swat Lian dan Soat Eng masih terpengaruh oleh kilatan Hwi-gan-san-hui-tok dan ibu serta anak perempuannya itu tak mengenal Kim-mou-eng. Tapi ketika mereka roboh dan Kim-mou-eng menotok mereka, bentakan atau suara pendekar itu menembus ke dalam maka samar-samar mereka seakan mengenal orang yang mereka serang ini.

“Kau.... kau siapa?”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Kalau isterinya sampai bertanya seperti itu dan ini tentu saja membuat perasaannya teriris maka pendekar itu menggigil. Dia tahu bahwa sesuatu sedang terjadi pada isteri dan anak perempuannya ini. Poan-jin-poan-kwi rupanya memang iblis-iblis yang amat berbahaya sehingga anak isterinya kehilangan kesadaran. Tapi begitu pendekar ini mencari sesuatu dan mengeluarkan sebutir pil merah maka Kim-mou-eng memberikannya kepada anak isterinya.

“Kau telanlah ini, nanti akan tahu!” dan ketika dua orang itu menerima dan menelan obat itu, Kim-mou-eng menyalurkan sinkang ke ubun-ubun mereka maka tak lama kemudian bola mata ibu dan anak itu mulai berputar. Pendekar ini duduk diam dan keringat tampak membasahi mukanya.

Cao Cun terbelalak dan terheran-heran melihat itu, juga kaget. Maklumlah, Kim-mou-eng tak dikenal anak isterinya. Tapi ketika setengah jam kemudian Swat Lian mengeluarkan keluhan pendek dan Soat Eng juga mengerang dan berkedip-kedip mendadak mereka meloncat bangun dan tiba-tiba berteriak.

“Poan-kwi, aku belum mampus. Jangan pergi!”

“Poan-jin, aku juga masih hidup. Jangan lari dan mari bertanding lagi!”

Namun ketika dua orang itu berhadapan dengan Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas bangkit dan memandang anak isterinya maka mereka tertegun dan Swat Lian berteriak kegirangan.

“Kau... kau di sini? Kau sudah pulang? Ah, mana kakek-kakek iblis itu, suamiku? Di mana jahanam yang bertanding dengan aku tadi?”

“Dan mana pula Poan-jin?” Soat Eng menyusul, tak membiarkan ayahnya bicara dulu. “Mana musuhku itu, ayah? Kau mengusirnya?”

“Hm, apa yang terjadi? Kenapa kalian sampai begini?” Pendekar Rambut Emas lega bukan main, mengerutkan kening tapi tak memarahi anak isterinya itu. Mereka baru dipukul pingsan dan untung tak sampai terbunuh. Tadi pendekar ini hampir mencelat menyangka mereka tewas, suara pekikannya hampir menggelegar menggugurkan gunung.

Tapi ketika anak isterinya bertanya dan mereka pulih kembali, meskipun masih pucat dan gemetar kehilangan banyak tenaga maka pendekar itu memeluk dan menyambar keduanya, penuh haru. “Kalian baru saja kusembuhkan. Ang-tan (Pil Merah) dari Sian-su baru saja kuberikan. Apa yang terjadi, isteriku? Dan kenapa kemah-kemah roboh seperti disapu badai? Poan-jin-poan-kwi datang menemui kalian?”

“Benar, dan.... ah, mana kakek itu?”

“Tidak ada, aku baru saja datang tapi tak ada siapa-siapa di sini.”

“Dan kemah-kemah disapu badai? Apa maksudmu?”

“Aku datang dan melihat jerit tangis di mana-mana. Kemah dan semua yang ada di permukaan tanah roboh diratakan. Kalau begitu ini perbuatan Poan-jin-poan-kwi?”

“Ah, betul. Kalau begitu keparat. Biar kulihat!” dan ketika Swat Lian berkelebat dan marah membelalakkan mata maka Soat Eng juga terkejut dan kaget menyusul ibunya, akhirnya mendengar ribut-ribut di luar lembah dan ibu serta anak terbang bagai siluman.

Sebentar saja mereka sudah lenyap dan Cao Cun yang ada di situ membelalakkan mata, kagum tapi juga ngeri. Namun ketika Pendekar Rambut Emas menarik napas dalam-dalam dan menyambar lengannya, wanita ini dibetot tiba-tiba Cao Cun terpekik dan sudah dibawa terbang pula, keluar lembah.

“Kita menyusul, mari keluar!”

Cao Cun memejamkan mata. Dibawa dan disambar lengannya begini mengingatkan wanita itu akan kejadian belasan tahun yang lalu, ketika Pendekar Rambut Emas menolong dan menyelamatkannya dari tangan orang-orang jahat. Tapi ketika terdengar jerit dan ratap tangis, Cao Cun tahu-tahu telah tiba di tengah-tengah suku bangsa Tar-tar maka wanita itu tertegun melihat kesaktian Pendekar Rambut Emas, yang sekejap saja sudah membawanya ke situ, tak sampai sedetik!

“Hujin (nyonya), tolong. Suamiku terbunuh!”

“Dan anakku juga, siauw-hujin (nyonya muda). Dia tewas dan kepalanya pecah!”

Cao Cun terbelalak. Di situ tampak ratusan mayat berjajar-jajar, semuanya mati dengan cara mengerikan. Ada yang pecah batok kepalanya tapi ada pula yang tinggal lengan dan kaki, kepalanya entah ke mana, hilang! Dan ketika jerit tangis berhamburan di situ, Swat Lian dan Soat Eng sudah dikerumuni ratusan wanita dan anak-anak, yang kehilangan suami atau orang tua mereka maka dua orang itu tampak menggigil sementara Kim-mou-eng memejamkan mata, muka merah bagai dibakar!

“Kami tak tahu apa dosa kami. Tapi kenapa suami dan anak-anak kami dibunuh. Tolong, cari dan balaskan sakit hati ini, hujin. Atau kembalikan anak kami untuk menghidupi kami!”

“Atau bunuh saja kami sekalian. Biar sama-sama mati dan tinggal di alam baka. Oh, bunuhlah kami, taihiap. Bunuhlah kami sekalian agar tidak sakit hati melihat mayat suami kami!”

Kim-mou-eng dan isterinya menggigil. Poan-jin-poan-kwi ternyata menyebar maut dan seribu laki-laki muda bangsa Tar-tar atau kakek-kakek dibunuh. Bahkan, sepuluh di antaranya anak-anak! Dan ketika pendekar itu gemetar karena dua orang ibu minta dibunuh di depan kakinya, berlutut dan menangis maka Soat Eng melengking dan tiba-tiba terbang meninggalkan tempat itu.

“Poan-jin, kalian iblis-iblis biadab. Hayo, ini ayahku dan kembalilah kalian!”

“Benar,” Swat Lian tiba-tiba juga berkelebat dan menyusul puterinya, masuk ke dalam hutan. “Aku juga siap bertanding lagi, Poan-kwi. Kenapa kau tak membunuhku setelah membunuh dua suhengku pula!”

Kim-mou-eng terkejut. Anak isterinya tiba-tiba menjadi kalap dan mereka itu berteriak-teriak mencari lawan. Ibu dan anak beterbangan keluar masuk hutan dan Swat Lian bahkan menampar atau menendang-nendang isi hutan, pohon dan batu-batu besar mencelat berhamburan sementara suaranyapun hiruk-pikuk menggaduhkan suasana. Keadaan bukan bertambah tenang melainkan malah runyam, isi hutan dibabat dan harimau serta srigala melolong-lolong ketakutan.

Mereka lintang-pukang dan kalau bukan pada saat seperti itu tentu bangsa Tar-tar akan sorak dan memburu binatang-binatang buas itu, menangkapnya. Tapi karena mereka sedang berkabung dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan Poan-jin-poan-kwi sungguh menyayat perasaan, anak-anak dan wanita sama menangis tak keruan maka mereka malah menjerit-jerit dan lari ketakutan ketika harimau atau srigala-srigala itu ada yang berhamburan ke arah mereka.

“Tolong.... aduh, tolong.....!”

Kim-mou-eng bergerak. Tiba-tiba pendekar itu membentak dan mengibaskan lengan ketika binatang-binatang buas itu lari ke arah anak-anak dan wanita. Mereka sedang ketakutan dan apa saja bisa diterkam, itu berbahaya. Maka ketika pendekar ini berseru dan kedua lengannya bergerak ke sana ke mari, menghalau, maka binatang-binatang itu tunggang-langgang dan Kim-mou-eng berkelebat ke anak isterinya.

“Niocu... Eng-ji, kembali! Mereka tak ada di sini dan percuma menantang-nantang. Nanti kita cari setelah anak-anak dan wanita kita urus!”

Swat Lian dan puterinya rupanya sadar. Wanita itu menghantam sebuah batu besar yang meledak dan pecah-pecah, kemarahannya dilepaskan melalui lengkingan, nyaring memekikkan telinga hingga harimau dan srigala terjungkal, demikian hebatnya suara wanita sakti itu. Tapi ketika suaminya berkelebat dan mencengkeram lengannya, Soat Eng juga dibawa dan disadarkan ayahnya maka ibu dan anak mendengus dengan mata berapi-api, muka membara.

“Aku tak akan sudah sebelum bertemu mereka lagi. Aku siap dibunuh atau membunuh. Mereka menghancurkan dan menewaskan banyak bangsa kita!”

“Benar, dan Beng An juga dibawanya. Kita harus mencari dan menuntut balas, ibu. Apalagi Hauw Kam-supek dan Gwan Beng-supek dibunuh!” Soat Eng menyambung.

“Hm, tenanglah,” Pendekar Rambut Emas menggigil menahan marah, bola matanya berkilat-kilat, gigi berketrukan. “Aku juga tak akan mendiamkan ini, niocu. Kalau mereka mencariku maka aku juga akan mencari mereka. Nanti kita berangkat, setelah mengurus wanita dan anak-anak!”

“Dan kau sudah menemui Sian-su?”

“Sudah.”

“Apa katanya?”

“Banyak, tapi aku tak dapat menceritakannya sekarang, niocu. Mari kembali dan kita urus mereka dulu!” dan ketika Pendekar Rambut Emas mengajak anak isterinya pulang, ibu dan anak sama-sama berkobar maka Kim-mou-eng mampu membujuk mereka pulang, menemui dan kembali mengurus wanita dan anak-anak yang kehilangan suami atau anak-anak mereka dan hari itu bangsa Tar-tar benar-benar berkabung.

Seribu lebih terbunuh sementara perkemahan hancur. Yang luka-luka dirawat sementara yang meninggal dikuburkan. Keadaan menjadi mengerikan karena tangis dan jerit histeris kembali terdengar, yakni ketika isteri dan anak-anak melihat suami atau ayah mereka dimakamkan. Dan ketika banyak di antaranya yang roboh pingsan dan Kim-mou-eng gemetar menahan marah maka tiba-tiba pendekar itu teringat bahwa pembantunya yang utama, Ji Pin, tak ada di situ.

“Ke mana dia?”

“Siapa?”

“Ji Pin! Kenapa dia tak tampak? Apakah tewas juga terbunuh?”

Swat Lian tertegun. Dalam kalut dan kacaunya keadaan maka mereka sama-sama terlupa akan pembantu mereka itu. Benar, Ji Pin tak ada! Dan ketika mereka menyelidik dan mencari tahu, barangkali saja di antara mayat-mayat itu ada pembantu mereka maka Kim-mou-eng dan anak isterinya mengerutkan kening karena laki-laki itu tak ada.

“Aneh, barangkali saja sedang keluar.”

“Atau berburu! Hm, kalau begitu dia selamat, suamiku. Aku tak begitu khawatir meskipun mendongkol kenapa pergi tak memberi tahu!”

“Ah, mungkin begitu, niocu. Tapi sudahlah, nanti tentu tahu kalau benar-benar Ji Pin masih hidup. Malam ini kita berkumpul untuk meninggalkan pesan kepada orang-orang kita kalau kita tinggalkan. Dan Cao Cun....” pendekar itu mengerutkan kening. “Bagaimana kalau ditinggal sendirian?”

“Ji Pin memang menyebalkan!” Swat Lian tiba-tiba marah lagi. “Kalau dia ada tentu kita dapat menitipkan kepadanya. Ah, ke mana keparat itu?”

“Sudahlah, tak perlu naik pitam. Aku menerima getaran akan datangnya bala bantuan!” Kim-mou-eng tiba-tiba terkejut memejamkan mata dan menarik pusat indranya ke dalam karena sekonyong-konyong semacam “bel” berdering di telinganya. Pendekar itu berkerut kening dan bersedakap bagai arca, tak lama kemudian wajahnya berseri dan meronalah wajahnya oleh kegembiraan. Dan ketika di membuka mata kembali dan berkelebat masuk maka pendekar ini duduk bersila di dalam kemah darurat.

“Kita akan kedatangan seseorang yang sudah lama kita tunggu. Mari, semua masuk dan duduk berkumpul!”

“Siapa?”

“Kau akan tahu. Cobalah, terimalah isyarat itu, niocu. Perhatikan dan dengar baik-baik!”

Swat Lian tertegun. Puterinya terbelalak karena Soat Eng belum mampu melakukan seperti apa yang diterima ayah ibunya. Itu adalah getaran batin dan hanya orang-orang yang sudah memiliki tingkat batin amat tinggi saja yang dapat menangkap semacam isyarat atau “bel” yang memasuki telinga. Dan ketika ibunya bersila dan Soat Eng tertegun maka wajah ibunyapun tiba-tiba berseri.

“Ah, itu Thai Liong. Dia akan datang, pulang!”

“Liong-koko?” Soat Eng tiba-tiba berseru girang dan seketika ikut berseri-seri. “Dia datang, ibu? Pulang?”

“Ya, itu ternyata kakakmu. Tapi, ah... apa yang kau lihat itu, suamiku? Kenapa dia begitu berobah dan mencengangkan? Lihat, wajahnya agung dan bersinar-sinar. Dan pakaiannyapun kemerah-merahan. Ah dia memakai jubah!”

“Hm, aku juga tak mengerti. Tapi sesuatu yang hebat terjadi pada anak kita itu. Wajahnyapun bersinar-sinar kemerahan, dan dia mengenakan topi bulu rajawali!”

“Apa yang terjadi, ayah? Apa yang kalian lihat?” Soat Eng tak tahan, bertanya dan berseru tapi ayah ibunya menggeleng. Mereka hanya melihat itu dan selebihnya tak jelas. Suami isteri itu tampak tertegun dan takjub. Ada sesuatu yang terjadi pada putera mereka itu, keanehan yang tidak pernah mereka lihat. Dan ketika Soat Eng berdebar namun girang mendegar kakaknya akan datang, kakak yang lama ditunggu-tunggu maka malam itu mereka bertiga duduk bersila.

Wanita dan anak-anak sudah dibereskan dan bangsa Tar-tar berkabung. Mereka berpakaian hitam-hitam dan Kim-mou-eng pun juga mengenakan pakaian hitam. Anak isterinya juga begitu dan Cao Cun ikut menyatakan bela sungkawa dengan berpakaia hitam-hitam itu. Malam ini keluarga itu akan membicarakan sesuatu, karena besok mereka sudah memutuskan untuk meninggalkan suku bangsa mereka, Cao Cun kemungkinan besar akan diantar ke tempat ayah kandungnya dulu di kota Chi-cou, di tempat bupati Wang yang jujur dan keras hati itu.

Dan ketika malam itu ayah dan anak serta isterinya bersila mendengarkan Kim-mou-eng bercerita, yakni tentang pertemuannya dengan kakek dewa Bu-beng Sian-su maka di pintu kemah tiba-tiba muncul sesosok bayangan merah yang agung dan tegap, seorang muda berwajah gagah dengan jubah seperti yang biasa dipakai kaum pendeta!

“Ayah, selamat bertemu. Maafkan aku yang pergi demikian lama!”

Swat Lian dan Soat Eng menoleh. Mereka terkejut karena tak mendengar adanya langkah kaki, tahu-tahu suara dan itupun sudah di depan pintu. Entah karena mereka tertuju pada kata-kata Kim-mou-eng atau justeru orang yang di depan pintu ini memiliki kepandaian luar biasa, jejak kakinya tak terdengar siapapun. Tapi ketika mereka menoleh dan tak melihat siapa-siapa, jelas suara itu adalah suara Thai Liong maka ibu dan anak tertegun karena Pendekar Rambut Emas bangkit berdiri dan menggapai.

“Ah, kau, Liong-ji (anak Liong)? Kenapa lama amat? Masuklah, kami sudah menunggu!”

Bayangan itu, yang tak dilihat Soat Eng maupun ibunya melangkah masuk. Dia adalah Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas tampak gembira menyambut puteranya. Pendekar Rambut Emas sendiri tak tahu bahwa isteri dan puterinya tak melihat bayangan itu. Mereka justeru terbelalak dan berubah pucat, menoleh kiri kanan tapi Thai Liong tetap juga tak tampak oleh mereka. Dan ketika Pendekar Rambut Emas memeluk dan menyambar puteranya, isteri dan puterinya bingung karena tak melihat siapa-siapa maka suami mereka itu berseru pada mereka,

“Niocu, lihatlah. Bukankah Thai Liong berobah demikian banyak? Aku pangling melihat bentuknya sekarang. Kalau aku tak mengenal suaranya tentu aku tak menyangka bahwa inilah putera kita yang hilang berbulan-bulan!”

“Dia.... dia di mana?” Swat Lian dan Soat Eng tiba-tiba melompat bangun, terbelalak memandang suami atau ayah mereka itu. “Kenapa kau bilang dia ada di sini, suamiku? Mana Thai Liong itu?”

“Eh?” Kim-mou-eng tertegun. “Kalian tak melihatnya? Bukankah ia ada di sini? Lihat, Thai Liong berlutut di depan kakimu!”

Swat Lian terbelalak. Nyonya itu memandang ke depan tapi akhirnya celingukan. Dia benar-benar tak melihat apa-apa dan Soat Eng pun berseru tertahan. Nyonya muda itu mengira ayahnya main-main, karena tak ada siapapun di ruangan itu kecuali mereka bertiga. Dan ketika ibunya terkejut dan membentak marah, ayahnya dikira meledek maka Thai Liong tiba-tiba mengebutkan ujung jubahnya dan tampaklah pemuda itu di depan ibu serta adiknya, persis di depan kaki Swat Lian.

“Kau!” Swat Lian mencelat kaget, mundur dan berteriak. “Eh, kapan kau muncul, Thai Liong? Bagaimana aku tak melihat dirimu?”

“Benar,” Soat Eng juga berteriak, berseru panjang. “Kau seperti iblis, Liong-ko. Rupanya hanya ayah yang tahu dan kami tidak!” dan ketika ibu dan anak sama-sama terkejut dan bengong, wajah Swat Lian berobah maka Pendekar Rambut Emas baru sadar bahwa isteri dan anaknya benar-benar tak melihat puteranya itu, yang seolah muncul dengan ilmu sihir!

“Thai Liong, kau..?!”

“Maaf,” pemuda ini tersenyum mengebutkan ujung jubah. “Aku teringat kesalahanku kepada ibu, ayah, sengaja tak memperlihatkan diri karena takut kemarahannya. Aku datang dengan perasaan menyesal, ingin minta maaf dan melepas rindu.”

“Itu.... kau, ah!” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba membelalakkan matanya. “Bukankah itu ilmu sakti Beng-tau-sin-jin (Manusia Menembus Roh)? Kau mendapatkannya dan kini memilikinya? Ah, apa saja yang kau alami, Liong-ji? Kau membuat kami terkejut dan kaget. Ibu dan adikmu sampai pucat!”

“Maaf,” pemuda ini membungkuk, wajahnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya bersinar, mencorong dan mentakjubkan. “Aku masih ragu menghadapi ibu, ayah. Aku takut dia marah atas perbuatanku dulu!”

“Ah, kau memang jahat!” Swat Lian tiba-tiba membentak, suaranya mengejutkan. “Kau memang harus dihukum, Thai Liong. Kebetulan kau datang dan biar kulihat sampai di mana kehebatanmu sekarang..... haittt!” dan sang nyonya yang menerjang dan melepas pukulan Khi-bal-sin-kang, menghantam dan berkelebat maju tiba-tiba membuat Soat Eng dan ayahnya terkejut.

Mereka tak menyangka serangan itu tapi Swat Lian mengedip pada suaminya. Soat Eng tak tahu dan Pendekar Rambut Emas tertegun, bingung tapi segera mengerti maksud serangan itu. Dan ketika Soat Eng berteriak tertahan karena kaget melihat serangan ibunya, mau meloncat tapi sang ayah mencekal lengannya maka pukulan itu menyambar dan sudah menghantam Thai Liong.

“Dess!” Thai Liong lenyap seperti siluman. Khi-bal-sin-kang mengenai angin kosong dan kemahpun berderak hampir roboh, Soat Eng tertegun karena kakaknya tahu-tahu menghilang begitu saja, entah di mana. Tapi ketika bayangan merah tampak di luar dan ibunya melengking, mengejar, maka Thai Liong yang sudah ada di situ dan terkejut melihat pukulan ibunya segera mendapat dampratan dan pukulan lagi, bertubi-tubi.

“Rasakan, kau harus dihajar dulu, Thai Liong. Baru setelah itu boleh minta maaf kepadaku.... blar-blarr!” dan Khi-bal-sin-kang yang meledak dan menyambar lagi akhirnya bergabung dengan pukulan-pukulan lain, biru dan putih menyambar-nyambar karena itulah Lui-ciang-hoat dan pukulan Bola Sakti.

Swat Lian melengking-lengking dan bergeraklah nyonya itu luar biasa cepat untuk menghujani serangan. Swat Lian penasaran karena Thai Liong tiba-tiba berkelebat dan lenyap lagi, pukulannya menghajar tanah kosong Dan ketika pemuda itu berseru pucat untuk tidak diserang, sang ibu marah-marah dan tetap melengking melepas pukulan maka Soat Eng tak tahan dan memberontak.

“Lepaskan, aku tak dapat melihat ini ayah. Kalau ibu hendak membunuh Liong-ko biarlah dia membunuhku dulu.... haitt!” dan Soat Eng yang menyerbu dan tak tahu isyarat ibunya tiba-tiba menerjang dan marah-marah kepada ibunya itu, membela Thai Liong dan pemuda berjubah merah itu tertegun.

Thai Liong tak tahu maksud ibunya ini tapi dia segera terharu ketika adiknya maju. Soat Eng memang selalu membelanya kalau sang ibu marah-marah. Tapi ketika Soat Eng menangki dan mencelat oleh pukulan ibunya, Swat Lian terkejut dan memaki puterinya itu maka Pendekar Rambut Emas bergerak dan menyambar puterinya ini.

“Eng-ji, tak usah takut. Ibumu hanya ingin mencoba dan menjajal kesaktian kakakmu!”

“Apa? Ibu...”

“Benar,” sang ayah memotong, menarik dan membawa puterinya itu ke pinggir. “Ibumu berpura-pura saja, Eng-ji. Kakakmu sengaja dicoba karena telah memiliki Beng-tau-sin-jin!” dan ketika puterinya tertegun dan Soat Eng terbelalak, sadar, maka Thai Liong mendengar seruan ayahnya bahwa ibunya penasaran oleh cara kedatangannya tadi, kesaktian baru yang amat hebat hingga ibu maupun adiknya tak dapat melihat Thai Liong.

“Jadi ibu main-main? Tidak sungguh-sungguh? Ah, aku sampai terkejut!” dan Thai Liong yang akhirnya lega dan berkelebatan menghindari serangan ibunya akhirnya mendengar bentakan ibunya yang marah oleh pemberitahuan suaminya tadi.

“Biarpun aku main-main tapi pukulanku dapat bersungguh-sungguh, Thai Liong. Aku ingin tahu sampai di manakah kehebatanmu, dan apakah dapat menandingi Poan-jin-poan-kwi!”

“Poan-jin-poan-kwi (Setengah Manusia Setengah Siluman)? Siapakah dia ini?” namun sang ibu yang tak memberi kesempatan untuk bertanya atau menjawab sudah mendesak pemuda itu sampai ke sudut. Kemah akhirnya roboh karena tak kuat menerima pukulan-pukulan Swat Lian.

Thai Liong tak mempergunakan lagi ilmunya Beng-tau-sin-jin dan pemuda itu hanya bergerak ke sana ke mari menghindari pukulan-pukulan ibunya. Sesekali Khi-bal-sin-kang atau Lui-ciang-hoat diterima dan setiap kali itu pula ibunya terdorong. Swat Lian terkejut karena dari telapak tangan puteranya itu muncul hawa dingin yang meredam pukulan panas, akhirnya penasaran dan melengking-lengking dan Thai Liong kemudian mainkan ujung jubahnya yang meletup-letup. Mula-mula perlahan namun akhirnya nyaring dan memekakkan telinga.

Itulah ilmu silat baru yang belum pernah diajarkan oleh Kim-mou-eng, entah pemuda itu mendapatkannya dari mana. Dan ketika kedua tangan pemuda itu bergerak-gerak cepat dan kakinyapun maju mundur atau bergeser dengan geseran-geseran aneh maka Thai Liong mampu membuat ibunya terhuyung-huyung karena semua pukulan-pukulan itu tak ada yang mengenai tubuhnya, luput atau paling keras tertahan dan tertolak oleh kebutan-kebutan ujung jubah yang berkibasan bagai sepasang sayap burung!

“Iblis, ini bukan ilmu silat ayahmu!”

“Benar,” pemuda itu tertawa. “Ini ilmu silat baruku, ibu. Kudapatkan dari bertapa di puncak pegunungan Himalaya!”

“Kau ke Himalaya? Bertapa bagai pendeta? Awas, ini pukulanku terakhir, Thai Liong... jangan dihindarkan dan coba malah.... dess!” dan Swat Lian yang melengking dan berkelebat cepat, mendahului puteranya tiba-tiba sudah melepas Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat ke tengkuk pemuda itu, melakukan jurus yang disebut Awan Hitam Menyambar Bianglala, cepatnya bukan main dan Thai Liong pun kelihatannya tak sempat menghindar, atau, barangkali, pemuda itu memang tidak menghindar karena ibunya menghendaki keras lawan keras.

Betapapun ibunya itu rupanya mendongkol karena selama ini selalu dia terhuyung-huyung dan kalah tenaga oleh puteranya itu, padahal dia lebih tua. Dan ketika Thai Liong menerima dan kedua lengan pemuda itu tiba-tiba memutar menggerakkan jubahnya, angin dingin berkesiur dan menyambar maka terdengarlah ledakan mengguncangkan yang membuat Soat Eng terpental dari tempat berdirinya.

“Blarr!”

Swat Lian berjungkir balik terlempar. Thai Liong hanya tertunduk sedikit dan lengan jubahnya itu mengembang di kanan kiri tubuhnya, kepala sedikit mendongak bagai rajawali mementang sayap. Hebat dan luar biasa sekali tangkisan pemuda itu. Dan ketika Swat Lian terlempar namun berjungkir balik melayang turun, wajahnya pucat dan batuk-batuk maka wanita itu tak dapat berdiri tegak dan roboh, tak kuat oleh tenaga tolak yang demikian besarnya!

“Aduh, kau memiliki sinkang ajaib!”

Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menahan isterinya. Pertandingan itu cukup dan isterinya jelas tak dapat menghadapi puteranya itu. Thai Liong tidak mengeluarkan Beng-tau-sin-jinnya dan ini saja sudah membuat isterinya terpental, berkali-kali tertolak dan kagumlah pendekar itu oleh gerak tubuh dan kaki puteranya. Dan ketika isterinya ditahan kuat sementara Thai Liong terkejut tapi lega melihat ibunya tak apa-apa, wanita itu batuk-batuk dan sesak dadanya maka Pendekar Rambut Emas memandang dan kagum memandang puteranya itu.

“Liong-ji, kau telah menguasai gerakan-gerakan seekor burung? Kau mainkan Ang-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Merah)?”

“Benar,” pemuda itu tertegun. “Kau tahu, Ayah? Kau mengenal gerakan-gerakan ini?”

“Ah, dulu Sian-su hendak menurunkan ilmu silat itu kepadaku, tapi aku tak sempat mempelajari. Kiranya benar kalau dia sekarang menurunkannya kepadamu. Kau tentu mendapatkannya dari Sian-su!”

“Benar, aku menghilang dan pergi atas suruhan Sian-su. Dia bilang bahwa ilmu silatku perlu ditambah. Aku akan menghadapi lawan yang amat berbahaya dan masih di atas ayah!”

“Ah, kalau begitu semua yang kudengar adalah benar. Dan kau telah memiliki kepandaian batin untuk mengirim tanda kedatanganmu. Kau memiliki pula ilmu sakti Thian-jong-sin-im (Suara Batin Menembus Langit). Ah, ilmumu sungguh luar biasa, Liong-ji. Tapi betapapun aku penasaran dan ingin coba-coba denganmu, menguji sendiri!” lalu ketika puteranya terkejut dan mengerutkan kening, Pendekar Rambut Emas tak perduli dan sudah menggosok kedua telapak tangannya maka muncullah sinar kemerah-merahan yang tiba-tiba berasap dan memercikkan api, bagai dua lempeng besi diadu!

“Liong-ji, Sian-su yang terhormat telah bercerita sekilas tentang dirimu, tapi aku belum puas. Kalau sekarang kau dapat mengatasi ibumu maka marilah coba-coba main dengan aku. Bersiaplah, akupun gatal tangan!”

“Ayah mau bertanding? Padahal Liong-ko baru saja datang? Ah, tidak. Aku tak ingin menyambut seperti ini, ayah. Biar dia masuk dan beristirahat!” Soat Eng tiba-tiba berseru dan marah kepada ayahnya itu, meloncat dan menghadang di tengah dan Pendekar Rambut Emas tertawa. Dan ketika dia mengedip dan mendorongkan lengan ke kiri maka puterinya itu terpelanting dan hampir jatuh.

“Kami hanya main-main saja. Tak usah kau khawatir, Eng-ji. Kalau kakakmu sudah sehebat ini dikeroyok bertigapun tak mungkin dia capai!” dan ketika puterinya berteriak tapi disambar ibunya, Swat Lian kagum dan mengangguk-angguk maka nyonya itu mencekal anak perempuannya.

“Ayahmu benar. Poan-jin-poan-kwi yang akan kita hadapi ini bukanlah iblis sembarang iblis. Kalau Thai Liong memiliki Beng-tau-sin-jin dan dapat menghilang dan masih ditambah lagi dengan Ang-tiauw Sin-kun dan Thian-jong-sin-im segala maka biarpun ibumu membantu agaknya dia tak akan roboh. Diamlah, lihat ayahmu menguji!”

Soat Eng terbelalak. Tadinya dia ragu dan mau marah karena kakaknya akan menghadapi pertandingan berat. Pertama dengan ibunya dan kini dengan ayahnya. Tapi mendengar kata-kata ibunya dan bahwa ibunya tak mampu merobohkan kakaknya, bukan dengan ilmu-ilmu keluarga mereka melainkan dengan ilmu-ilmu aneh yang didapatkan kakaknya itu maka Soan Eng bengong dan akhirnya malah tertarik! Beng-tau-sin-jin dan Thian-jong-sin-im adalah ilmu-ilmu yang hanya didengarnya sebagai dongeng. Konon hanya para dewalah yang mampu memiliki ilmu itu.

Yang pertama dapat menghilang dan lenyap seperti roh halus sedangkan yang kedua dapat mengirim gelombang-gelombang pikiran dalam jarak yang ribuan li jauhnya. Bahkan, Thian-jong-sin-im katanya dapat dikirim dari kutub selatan ke kutub utara, atau, dari langit yang paling tinggi sampai ke dasar bumi yang paling dalam. Dengan Thian-jong-sim-im para dewa mampu mengisiki (memberi tahu) orang baik yang akan dicelakakan orang jahat. Bahkan, beberapa nabi atau orang suci ada yang memiliki ilmu ini untuk berhubungan dengan roh-roh luhur atau para malaikat.

Ilmu itu jarang dimiliki manusia karena tinggi dan sukarnya, menuntut kebersihan batin atau kesucian hati. Maka ketika kakaknya tiba-tiba dinyatakan memiliki ilmu itu dan Beng-tau-sin-jin sekaligus, dua ilmu yang sudah bersifat bukan ragawi lagi melainkan rohani, kebatinan tingkat tinggi maka Soat Eng bengong dan melihat wajah kakaknya tiba-tiba memancarkan sinar kemilau yang terang-benderang, amat terang tapi tidak menusuk atau menyakitkan mata!

“Ibu, Liong-ko... Liong-ko memiliki ilmu-ilmu yang hanya diwarisi para dewa? Liong-ko memiliki Beng-tau-sin-jin dan Thian-jong-sin-im?”

“Hm, bukan hanya itu, Eng-ji, melainkan juga silat sakti Ang-tiauw Sin-kun! Kakakmu itu dapat terbang kalau benar-benar sudah mencapai taraf sempurna!”

“Terbang? Seperti burung?”

“Ya, seperti rajawali, Rajawali Merah!” dan ketika puterinya tertegun dan takjub, membelalakkan mata maka Swat Lian berkata bahwa dalam pertandingan tadi pemuda itu belum mengeluarkan semua kepandaiannya. “Sekarang ayahmu akan memaksa kakakmu mengeluarkan semua kepandaiannya. Dan kita lihat apakah dia benar-benar dapat terbang seperti burung...!”

Rajawali Merah Jilid 11

RAJAWALI MERAH
JILID 11
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“SIAPA mereka ini. Ada apa!”

“Ini.... ini Poan-jin-poan-kwi. Ah, inilah mereka, ibu. Inilah kakek iblis yang menculik Beng An itu!”

“Apa? Mereka ini?”

“Benar!” dan begitu ucapan itu selesai mendadak Swat Lian mencelat dan melengking menghantam kakek itu, kakek yang tadi dihantam Soat Eng. Dan ketika sang nyonya berkelebat dan dua sinar putih menyambar dengan dahsyat maka Poan-jin-poan-kwi, kakek itu, terkekeh dan cepat menangkis.

“Dess!” Kakek itu terlempar! Lain Soat Eng lain ibunya. Karena begitu Swat Lian melengking dan membentak maka dua pukul an sekaligus menghantam kakek itu. Bukan pukulan sembarang pukulan melainkan pukulan Bola Sakti (Khi-bal-sin-kang) dan Lui-ciang-hoat sekaligus, hebatnya bukan main dan kakek yang dihantamnya itu tak mengetahui kesaktian lawannya ini. Kakek itu memang belum pernah bertemu Kim-hujin ini karena selama ini dia baru pernah bertemu atau berhadapan dengan Soat Eng, sang anak.

Dan karena sang ibu memiliki sinkang jauh lebih dahsyat dan Swat Lian bukanlah sembarangan wanita maka begitu isteri Pendekar Rambut Emas itu melengking dan mengeluarkan dua pukulan sekaligus tiba-tiba, kakek itu mencelat dan terlempar terguling-guling, Cao Cun yang ada di tangannya seketika terlepas dan kakek itu kaget bukan main. Lain yang tua lain yang muda. Kim-hujin itu menyerangnya begitu dahsyat dan mengerikan. Kalau bukan dia tentu sudah hancur tubuhnya.

Tapi ketika kakek itu bergulingan dan berteriak keras, kaget dan marah maka sang nyonya sudah menerjang dan menyerangnya lagi cepat dan bertubi-tubi dan tandangnya bagai harimau betina kesetanan, atau, harimau betina haus darah. Ganas dan meluap-luap. Dan ketika kakek itu terkejut sementara sang nyonya sudah mengejar dan menyerang bertubi-tubi, Soat Eng berkelebat menyambar Cao Cun maka wanita itu menangis sementara Poan-jin-poan-kwi didesak hebat dan tak mampu bergulingan meloncat bangun.

“Des-dess!”

Poan-jin-poan-kwi kewalahan. Kakek itu berteriak dan menangkis tapi malah mencelat dan terlempar lagi, bergulingan dan dikejar lagi dan pukulan serta tendangan mengenai tubuhnya, dihajar dan sebentar saja tubuhnya babak-belur. Kakek itu kesakitan dan Swat Lian mengejar tanpa memberi ampun lagi. Nyonya itu mengamuk bagai singa kelaparan, lawannya jungkir balik. Tapi ketika kakek itu berteriak-teriak namun Lui-ciang-hoat maupun Khi-bal-sin-kang tak membuatnya roboh, Swat Lian diam-diam terbelalak maka berkesiurlah angin dingin di belakangnya disertai geraman pendek.

“Lepaskan suteku!”

Swat Lian terkejut. Dia sendiri sedang mengamuk dan menghajar kakek di depan itu, bertubi-tubi melepas Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat hingga sebentar saja tanah di situ berlubang-lubang dan hangus, terbakar. Lui-ciang-hoat memang pukulan panas di mana ledakan-ledakan seperti petir juga mengiringi pukulan itu, biasanya lawan tak akan tahan dan paling sedikit pingsan. Tapi ketika terdengar geram di belakang dan kesiur angin dingin juga menyambar punggungnya. Soat Eng berteriak memberi tahu ibunya maka Swat Lian membalik dan menangkis pukulan dingin itu.

“Bless!” Aneh dan luar biasa. Lui-ciang-hoat yang menyambar tiba-tiba seakan bertemu bongkahan es dingin, diredam dan lenyap getarannya. Dan ketika Swat Lian terhuyung tapi tak sampai terpental, kakek yang lain sudah berdiri dengan mata berpijar-pijar maka Swat Lian tersentak dan kaget berseru tertahan.

“Siapa kau!”

“Aku Poan-kwi,” kakek itu mendengus, suaranya dingin dan jauh bagai dari liang kubur. “Aku mencari Pendekar Rambut Emas dan kau siapa.”

“Aku isterinya, nyonya Kim. Kaukah yang menculik dan membawa anakku Beng An? Kalian yang mengacau dan membuat onar di Sam-liong-to? Bedebah, kembalikan anakku, kakek iblis. Atau kau akan kubunuh dan kucincang menjadi bakso!”

“Hm, kami tak dapat mati, kau tak dapat membunuhku. Mana suamimu dan kenapa tidak keluar.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku? Berani bicara dan berkata seperti itu? Haiitttt..... jahanam kau, kakek iblis. Kalau begitu mampuslah!” dan Swat Lian yang berkelebat dan menerjang kakek ini, Poan-jin-poan-kwi yang lain maka kakek itu mendengus dan tiba-tiba menggerakkan kedua jari tangannya.

“Dess!” Kakek itu lenyap! Swat Lian terkejut karena pukulannya tiba-tiba menghantam angin kosong, berteriak karena tiba-tiba terdengar dengus dan ejekan di sebelah kiri, di susul pukulan angin dingin yang entah kapan tahu-tahu menyambarnya dari situ. Dan ketika dia membalik dan melihat kakek itu, Poan-kwi (Setengah Siluman) maka nyonya ini menangkis tapi lawan tiba-tiba lenyap kembali dan pukulannya menghajar tanah.

“Blarrr!”

Swat Lian marah dan kaget bukan main. Untuk selanjutnya dia melihat kakek itu berpindah-pindah, sebentar lenyap dan muncul lagi di tempat-tempat yang berbeda, menyerang tapi ditangkis dan kakek itu selalu menghindar. Rupanya Khi-bal-sin-kangnya membuat lawan berhati-hati dan Poan-kwi tak berani berhadapan keras dengan keras. Dan karena lawan akhirnya seperti mempermainkan dirinya sementara dia sudah berkelebatan dan memukul atau mencari lawannya itu maka ledakan-ledakan segera terdengar disusul hancur atau berlubang-lubangnya tanah yang meledak.

“Keparat, jangan bersikap pengecut, Poan-kwi. Hayo hadapi aku dan jangan berputar-putar seperti kucing bertemu singa!”

“Hm!” kakek itu menghilang dan muncul lagi. “Aku mencari Pendekar Rambut Emas, hujin, bukan dirimu. Aku enggan tapi tak apa bermain-main sejenak denganmu. Ini aku, awas...!” dan si kakek yang tahu-tahu muncul di sebelah kiri dan menyambar nyonya itu tiba-tiba tidak mengelak ketika Swat Lian menghantam dan menangkisnya.

“Dess!” Bumi seakan dilanda gempa. Swat Lian terpental tapi kakek itu terhuyung mundur, wajahnya berobah dan baru sekarang dia menghadapi keras dengan keras. Ternyata kakek ini hebat, tak apa-apa. Dan ketika Swat Lian memekik dan menerjang lagi, Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat ganti-berganti menyerangnya maka kakek itu menerima dan hanya tergetar sedikit saja.

“Des-dess!”

Swat Lian akhirnya terbelalak. Lawannya itu tak apa-apa sementara dia sendiri terpental dan berjungkir balik ke atas, tertolak. Tenaga yang luar biasa kuat menahan atau mementalkan pukulannya itu, padahal Khi-bal-sin-kang biasanya akan menggempur dan menolak balik pukulan lawan! Dan ketika nyonya itu terkejut dan melengking-lengking, pertandingan berlangsung cepat karena nyonya itu sudah mengeluarkan Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kangnya, dua ilmu meringankan tubuh yang tiada bandingannya maka si kakek terkejut dan muncul serta lenyap lagi menghadapi pukulan si nyonya yang bertubi-tubi.

Soat Eng yang menonton membelalakkan matanya dan Cao Cun yang ada di cekalannya menggigil. Mereka terpaksa menyingkir karena ledakan-ledakan tanah memerciki tubuh mereka, Cao Cun yang merupakan wanita lemah bahkan menjerit kesakitan ketika sebutir kerikil kecil menghantam kulitnya, lain dengan Soat Eng yang dapat menahan semuanya itu dengan sinkang. Dan ketika pertandingan berjalan kian hebat sementara wanita itu tak mampu mendesak lawannya, Poan-kwi sering menghilang dan lenyap lagi bagai siluman maka Soat Eng mengepal tinju dan mendorong Cao Cun ke pinggir, lebih menjauh.

“Bibi jangan terlalu dekat, aku akan membantu ibu.”

“Kau.... kau mau menghadapi kakek iblis itu?”

“Benar, tapi merobohkan dulu yang satu itu, bibi. Lihat, dia akan menyerang dan berbuat curang!”

Cao Cun menoleh. Kakek yang satu memang sudah bersiap-siap dan tertawa serta menyeringai. Misainya yang panjang menjuntai ke bawah tampak bergerak-gerak seperti ular, kakek itu memang akan berkelebat dan rupanya ingin membantu temannya. Temannya tak mampu mendesak meskipun juga tak dapat didesak. Sementara ini masing-masing imbang. Atau, barangkali Poan-kwi justeru sedang mengintai dan mencari kelemahan nyonya itu, karena matanya tajam berbinar-binar dan sorot matanya yang kemerahan itu tiba-tiba mencorong lebih menakutkan.

Cao Cun tiba-tiba terpekik ketika suatu saat kakek itu menoleh padanya, memandang dan wanita ini merasakan hawa panas luar biasa pada sorot mata itu, terjengkang dan roboh! Tapi ketika Soat Eng menyambar dan menolongnya, nyonya muda itu terkejut maka Cao Cun mengguguk menutupi matanya. “Aku... aku... mataku sakit. Kakek itu menyambarku bagai tusukan api!”

“Jangan pandang matanya!” Soat Eng tahu itu, menotok dan menyembunyikan Cao Cun di balik sebatang pohon besar. “Kakek itu bermata iblis, bibi. Akupun juga tak kuat tapi aku harus membantu ibu. Temannya sudah bergerak, kau di sini saja.... wut!”

Soat Eng yang sudah berkelebat dan meninggalkan temannya tiba-tiba membentak karena kakek satunya, yang tadi dihantam tapi tidak apa-apa sekonyong-konyong terkekeh dan menyerang ibunya. Wanita muda itu marah dan Soat Eng tentu saja tak membiarkan. Ibunya sedang bertempur sengit dengan lawan, tak boleh kakek ini mengganggu. Maka begitu dia melesat dan membentak kakek itu, Soat Eng kini tahu bahwa Poan-jin-poan-kwi memang ada dua orang, seperti kata ayahnya dulu maka nyonya muda itu menghantam dan melepas pukulan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!”

Kakek itu membalik dan menangkis. Dia tadi menyerang Swat Lian karena lawan temannya itu terlampau tangguh, belum ada yang kalah dan menang sementara dia sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan pertandingan. Maka begitu dia bergerak tapi Soat Eng membentak dan menyusulnya, nyonya muda itu marah melepas pukulan maka kakek ini terpental tapi Soat Eng sendiri juga terlempar dan roboh berjungkir balik, kalah tenaga!

“Keparat!” Soat Eng melengking dan sudah meloncat bangun. “Kau boleh hadapi aku, kakek siluman. Dan sebutkan siapa kau agar aku tahu namamu!”

“Heh-heh, aku Poan-jin,” kakek ini mengaku, memperkenalkan diri. “Apakah kau juga mau membunuh dan menghabisi aku, bocah? Wouh, jangan terlalu sombong. Dua puluh tahun belajar lagi tak mungkin kau dapat mengalahkan aku... dess!” dan si kakek yang kembali menangkis dan mengejek Soat Eng akhirnya tertawa-tawa dan kembali tergetar mundur namun lawannya itu mencelat dan terlempar tinggi ke atas, melayang turun dan menyerang lagi dan segera Soat Eng melepas pukulan-pukulan dahsyat.

Kakek itu berkelebatan dan tidak seperti temannya yang mampu menghilang dan muncul lagi adalah Poan-jin ini bergerak seperti orang biasa. Sekarang sadarlah Soat Eng kenapa di Sam-liong-to dulu dia dibuat bingung, sebentar kakek itu dapat menghilang seperti siluman sementara sebentar kemudian tidak. Ternyata, yang dapat menghilang dan muncul lagi itu adalah Poan-kwi, bukan kakek ini, Poan-jin. Dan karena mereka memang kembar dan masing-masing sama memelihara misai yang panjang, sehingga kalau kedua-duanya tidak muncul berbareng tak mungkin dapat dibedakan.

Maka Soat Eng sudah melepas semua kemarahannya dengan serangan-serangan dahsyat, mempergunakan Khi-bal-sin-kang dan kecepatan Jing-sian-eng namun sang ibu berteriak agar dia mengeluarkan semua ilmu-ilmu keluarga Pendekar Rambut Emas. Dan ketika Soat Eng mengangguk karena lawan memang benar-benar lihai, Poan-jin mampu menerima dan menolak pukulannya maka nyonya muda itu mengeluarkan Lui-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangnya, digabung menjadi satu.

“Blar-blarr!” Kini api dan pijaran cahaya panas menyambar dan meledak. Suaranya memekakkan telinga dan Poan-jin sibuk berkelebatan dan menghindar sana-sini. Soat Eng melengking-lengking dan berkelebatan luar biasa cepatnya hingga tak dapat dilihat tubuhnya lagi. Yang kelihatan hanya bayangan kuning dari bajunya saja, itupun sudah lenyap lagi karena berpusing amat cepatnya mengelilingi si kakek.

Siapa yang memandang tentu bakal terputar, bola mata salah-salah bisa terbalik, karena begitu cepatnya nyonya ini bergerak. Dan ketika dua pertandingan pecah di situ namun Poan-jin mampu mengimbangi dan mengikuti lawan, kakek itupun membentak dan tertawa aneh maka di lain tempat Swat Lian mulai terkejut ketika pukulan-pukulannya bertemu dengan bau busuk yang teruar dari tangan lawannya.

Cepat dan tidak terasa, entah kapan terjadinya tahu-tahu kedua lengan Poan-kwi sudah berubah kemerah-merahan. Bau busuk muncul di situ dan setiap lengan mereka bertemu tiba-tiba Swat Lian hampir muntah. Lengan itu seperti bubur daging yang jika dihantam akan berhamburan dan berpercikan ke sana ke mari, baunya menyengat busuk seperti nanah atau borok! Tapi karena lengan itu utuh lagi dan setiap luka tiba-tiba menutup sendiri, lawan tersenyum dingin maka Swat Lian bergidik karena lawan yang dihadapi itu betul-betul bukan manusia melainkan sejenis mahluk yang amat menjijikkan, entah apa!

“Kau tak dapat mengalahkan aku, justeru akulah yang nanti dapat merobohkanmu, Heh, menyerahlah, Kim-hujin, dan panggil suamimu agar dia cepat ke mari!”

“Terkutuk, keparat jahanam!” sang nyonya memaki-maki. “Kau tak perlu sombong, Poan-kwi. Kalau suamiku ada di sini tentu dia sudah keluar dan tak perlu bersembunyi. Terimalah, aku pasti membunuhmu karena kaupun tak dapat mengalahkan aku.... dess!”

Dan sang nyonya yang kembali melengking dan menghantamkan kedua lengannya tiba-tiba sudah melepas dua pukulan sekaligus, Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat dan dua sinar putih dan biru berkeredep menyilaukan mata. Dua sinar itu menyambar Poan-kwi dan kakek siluman itu mengelak, miringkan tubuh. Tapi ketika sinar tetap mengejar dan dia mendengus maka dua tangannya juga bergerak sementara misai panjang di dagunya itu melejit dan menyambar mata si nyonya.

“Aihhhh..... plak-dukk!”

Swat Lian terpental. Sang nyonya terpekik karena misai atau rambut panjang itu bukan sembarang menyambar melainkan menuju matanya, tentu saja berbahaya karena benda lemas itu tiba-tiba berobah kaku dan menusuk seperti baja. Sekali kena tentu dia buta, karena mata tak dapat dilindungi sinkang. Dan ketika nyonya itu terkejut dan perhatiannya pecah, lawan menangkis dan menyambut pukulannya maka Swat Lian terlempar dan nyonya itu berjungkir balik melayang turun, celakanya sudah dikejar dan kini lawan tertawa melepas pukulan-pukulan dingin.

Lui-ciang-hoat diredam dan setiap Swat Lian menangkis maka dia bertemu bubur daging itu, sang nyonya muntah-muntah dan akhirnya tak tahan! Dan ketika Swat Lian terdesak sementara lawan terkekeh-kekeh, suaranya dingin bagai keluar dari kubur maka di sana Soat Eng juga mengalami nasib sama karena Poan-jin, kakek satunya, dapat menindih dan membalas semua pukulan-pukulannya.

“Heh-heh, ibu dan anak akan roboh. Ah, kita akan menikmati kemenangan dan tubuh dua wanita ini. Eitt, jangan bunuh lawanmu itu, suheng. Biarkan roboh dan kita permainkan berdua!”

“Hm, aku hanya mencari dan ingin membunuh Pendekar Rambut Emas. Jangan main-main lagi, sute. Robohkan lawanmu dan kita obrak-abrik tempat bangsa Tar-tar ini!”

“Wah, tak main-main dulu dengan wanita cantik? Kita melewatkan begitu saja kesempatan bagus ini?”

“Diam, tak perlu banyak omong, sute. Robohkan dan kita cari Pendekar Rambut Emas... blarr!”

Poan-kwi yang kembali menangkis dan menerima pukulan lawannya tiba-tiba membuat lawannya mencelat dan Swat Lian terbanting roboh, ngeri dan pucat karena tiba-tiba ia tak mampu lagi mengerahkan semua tenaganya karena terlanjur jijik bertemu lengan lawan yang membubur daging, berpercikan dan muncrat ke sana-sini di mana suatu ketika cuwilan daging busuk itu mengenai hidungnya. Baunya bukan main busuk dan bacinnya.

Sang nyonya muntah-muntah dan inilah yang membuat dia tak kuat lagi bertahan, pengalaman dan pemandangan itu sungguh baru kali itu dirasakannya seumur hidup. Dan karena wanita memang lebih mudah tak tahan dibanding laki-laki, bubur daging itu berpercikan dan kian busuk saja maka Swat Lian yang terhuyung-huyung dan sering menutup hidungnya harus kerap menerima pukulan atau tamparan lawan. Untung Khi-bal-sin-kang di tubuhnya sudah sedemikian baik bekerja hingga meskipun dia terbanting atau terlempar berulang kali tetap saja nyonya ini tak apa-apa.

Poan-kwi melotot dan kakek iblis itu tampak marah, di samping kagum. Dan ketika suatu saat sang nyonya mengeluh dan terlempar kembali, Swat Lian tak mampu menahan jijik oleh tubuh lawan yang kian mengerikan saja maka sepasang sorot mata Poan-kwi tiba-tiba berkedip dan meluncur mengenai dahi sang nyonya.

“Kim-hujin, robohlah. Kau sudah tak mampu menerima pukulanku lagi!”

Swat Lian terkejut. Dahinya tiba-tiba dibentur sorot cahaya panas di mana tiba-tiba dia merasa pusing. Nyonya ini muntah-muntah karena bau dan bubur daging itu mengenai sebagian mukanya lagi, itu sungguh menjijikkan. Dan karena saat itu dia sedang terbanting dan terlempar oleh pukulan lawan, sorot cahaya merah mengenai dahinya pula maka nyonya ini tiba-tiba seakan kehilangan tenaga dan benar-benar roboh.

Dia menjerit dan mengeluarkan teriakan marah namun ajaib sekali suara yang keluar hanya berupa keluhan kecil, seolah tenggorokannya tercekik. Dan ketika nyonya itu pucat dan melihat lawan berkelebat lagi, mengusap mukanya maka Swat Lian tak mampu mengelak ketika kelima jari yang menjijikan menyentuh wajahnya.

“Robohlah, sudah kubilang kau harus roboh!”

Sang nyonya terbanting kedua kali. Swat Lian tak ingat apa-apa lagi karena kepalanya sudah pening. Lawan terlampau menjijikkan dan bau busuk itulah yang tak tahan dia rasakan. Semakin dekat dengan lawan semakin busuk juga bau itu, Swat Lian tak mampu menguasai indera ciumnya. Dan ketika mukanya diucap sementara misai panjang itu juga bergerak menotok lehernya, sang nyonya terjengkang maka Kim-hujin ini roboh pingsan dan Poan-kwi menggerakkan lagi misainya untuk menampar batok kepala. Tap ketika kepala itu tak pecah karena dilindungi Khi-bal-sin-kang, Poan-kwi penasaran dan menghantam lagi tubuh nyonya itu maka pukulannya membalik dan bahkan hampir mengenai mukanya sendiri!

“Terkutuk, benar-benar hebat!”

Poan-kwi kagum. Kakek ini bersinar-sinar dan matanya yang kemerahan itu berpijar lagi dua kali. Dengan ilmu kesaktian dia tak dapat membunuh lawan biarlah kini dengan ilmu matanya itu. Kakek ini memiliki apa yang disebut Hwi-gan-san-hui-tok (Mata Api Pembuyar Ingatan), yakni sengatan ilmu mata yang tadi sudah membuat Kim-hujin itu pening, kehilangan kesadaran. Dan ketika dua sorot cahaya merah itu kembali menyambar dan menyentuh dahi si nyonya, Swat Lian berjengit namun tetap pingsan maka hilanglah ingatan si nyonya oleh ilmu sakti ini.

Kakek itu tersenyum dingin dan mendengar lengking atau teriakan panjang, menoleh dan melihat sutenya, Poan-jin, terkekeh menerima hantaman Soat Eng, lawannya si nyonya muda itu. Tapi ketika nyonya itu terpental dan jatuh menjerit, sutenya berkelebat dan membentak dengan ilmunya Hwi-gan-san-hui-tok maka Soat Eng kehilangan kesadarannya ketika misai atau rambut si kakek menotok lehernya, sama seperti ibunya, berdepuk dan pingsan.

“Ha-ha, robohlah. Sekarang tak dapat kau bertingkah lagi!”

Soat Eng tak sadarkan diri. Sama seperti ibunya dia juga gagal melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kangnya bahkan juga Lui-ciang-hoat, karena kakek itu memiliki tenaga dingin yang mampu meredam pukulan-pukulannya itu. Dan karena tenaga si kakek ternyata jauh lebih kuat karena rupanya menang matang, Soat Eng masih muda dan kalah pengalaman dibanding kakek itu maka Poan-jin sudah memenangkan pertandingan dan nyonya muda ini roboh, terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi namun tubuh atau kulit lehernya tak apa-apa. Itulah berkat Khi-bal-sin-kang yang melindungi tuannya, Dan ketika kakek itu tertegun dan kagum, suhengnya berkelebat dan sudah di sampingnya maka Poan-jin menyeringai dan menyambar tubuh Soat Eng.

“Gadis ini hebat, suheng boleh memilikinya kalau mau!”

“Tidak,” suhengnya menampar dan menendang tubuh Soat Eng. “Kita mencari Pendekar Rambut Emas, sute. Kalau dia tak ada barangkali kita harus pergi. Tapi mungkin dia masih bersembunyi, hayo cari dan obrak-abrik tempat ini!”

”Suheng tak menikmati daun muda?”

“Tutup mulutmu! Hawa nafsu membuat kita kehilangan banyak kesaktian, sute. Lihat dirimu ini yang sudah tak mampu berbadan halus lagi!” dan ketika Poan-jin terkejut dan meleletkan lidah, suhengnya marah-marah maka kakek itu lenyap dan tidak berbadan kasar lagi.

“Suheng, tunggu. Kau mau ke mana!”

“Kita mencari Pendekar Rambut Emas!" bayangan hitam tiba-tiba meluncur dan keluar dari lembah. “Kita cari dan bunuh pendekar itu, sute. Dia telah mencelakai murid keponakan kita See-ong!”

“Wah, tapi jangan tinggalkan aku!” dan ketika Poan-jin berkelebat dan mengikuti suhengnya, meluncur dan keluar dari lembah maka bangsa Tar-tar gempar dan menjerit-jerit.

Mereka tak tahu apa yang terjadi karena kemah tiba-tiba jebol dan ambruk. Tiang-tiang besi diangkat dan dua bayangan bagai siluman membentak-bentak mencari pemimpin mereka. Tak ada yang tahu siapa bayangan itu karena Poan-jin maupun suhengnya bergerak tak dapat diikuti mata. Dua kakek siluman mengobrak-abrik bangsa Tar-tar sampai tak keruan jadinya. Laki-laki atau pemuda-pemuda tegap dilempar dan dibanting sampai melengkung-lengkung, banyak di antaranya yang tewas karena tubuh atau pungung mereka patah-patah, terlipat.

Dan ketika kegaduhan itu semakin riuh dengan tangis atau jerit anak-anak dan kaum perempuan, Poan-kwi dan Poan-jin tak menemukan Pendekar Rambut Emas maka dua kakek itu pergi setelah seluruh tempat tinggal bangsa Tar-tar diratakan dengan tanah. Kemah atau tiang-tiang besi dicabuti dan tersapulah ribuan tempat tinggal yang sudah tidak berujud rupa lagi. Bangsa Tar-tar bagai diamuk topan dan ratusan laki-laki terkapar roboh binasa, malang-melintang tak keruan dan hari itu rakyat Kim-mou-eng betul-betul menderita.

Tapi ketika dua kakek itu berlalu dan tinggallah wanita atau anak-anak yang meratap atau menjerit di tinggal suami atau ayah-ayah mereka maka lenyaplah “badai” yang menghantui ribuan orang-orang ini. Tepekur dan meratapi nasib buruk yang menimpa mereka tanpa mengetahui siapa yang melakukan.

Poan-jin-poan-kwi memang iblis yang tak mungkin dapat dilihat, apalagi oleh orang-orang biasa ini. Dan ketika semuanya lalu dan Swat Lian maupun Soat Eng masih pingsan di sana, di lembah, maka keesokannya Pendekar Rambut Emas datang didahului oleh bayangan kuning emasnya yang berkelebat di tengah-tengah suku bangsanya.

* * * * * * * *

“Apa yang terjadi? Apa ini?”

Pendekar Rambut Emas tertegun dan berobah wajahnya begitu melihat suku bangsanya porak-poranda. Kemah-kemah hancur dan tak ada satu pun yang masih berdiri tegak. Pagi itu pendekar ini datang dan melihat tempat tinggal di situ rata dengan tanah pendekar ini terkejut. Dia mengira ada topan atau badai yang mengamuk, maklumlah, sekali dua ada juga peristiwa seperti itu, karena bangsa Tar-tar berada di tempat atau daerah terbuka. Tapi ketika puluhan wanita menjerit dan menangis, kaum laki-laki bergelimpangan dan menjadi mayat maka pendekar itu tergetar karena isteri maupun puterinya juga tak ada di situ.

“Kami.... kami didatangi dua siluman. Kami tak tahu apa yang terjadi tapi mereka mengamuk dan membunuh-bunuhi suami-suami kami!”

“Mereka? Mereka siapa? Dan di mana anak isteriku?”

“Kami juga tak tahu, taihiap. Tapi kami mendengar ledakan dan suara-suara guntur di lembah!”

“Ledakan? Suara guntur?”

“Ya, kami tak tahu apa yang terjadi, taihiap. Dan kami tak berani datang mendekat karena kau melarang kami datang ke lembah!”

Pendekar ini tersentak. Dia membelalakkan mata dan mendengarkan ratap tangis di situ, dapat mengerti karena tak satu pun di antara orang-orangnya yang boleh ke lembah. Tempat itu adalah tempatnya dan hanya pembantu-pembantu dekatnya saja yang boleh ke sana, itupun kalau dia panggil. Dan ketika wanita dan anak-anak berteriak dan menubruk mayat-mayat di situ, suami atau ayah-ayah mereka maka pendekar ini berkelebat dan tiba-tiba meluncur memasuki lembah.

“Taihiap, tolong kami dulu. Suamiku tergencet batangan besi!”

“Benar, dan ayahkupun merintih di sana, taihiap. Ah, tolonglah dia dulu karena kakinya terjepit pohon besar!”

Pendekar Rambut Emas tertegun. Dia sudah mau memasuki lembah. ketika tangis dan jerit minta tolong itu menusuk telinganya. Sebagai seorang pendekar tentu saja dia harus menolong mereka-mereka itu, apalagi mereka itu adalah rakyatnya. Dan karena urusan pribadi harus dinomorduakan dan rakyat adalah segala-galanya maka pendekar ini berhenti dan terbang kembali, mengejutkan wanita-wanita itu karena seperti siluman atau hantu saja tahu-tahu dia sudah di depan wanita dan anak-anak itu. Dua wanita muda yang tadi menuding dan menyebut suami atau ayah mereka sudah membuat pendekar ini melihat apa yang dimaksudkan.

Di sana ada seorang laki-laki tergencet batangan besi, sementara ditempat yang lain tampaklah seorang kakek merintih dan mengerang terjepit sebuah pohon besar yang ambruk. Dan ketika wanita-wanita yang lain juga menuding dan dahulu-mendahului menunjuk suami-suami yang lain, ada yang tertindih dua tiga mayat dan ada pula yang terjeblos di lubang dalam tanpa dapat naik keluar maka pendekar itu berkelebatan dan suami-suami yang luka atau tergencet itu sudah dibebaskannya. Bayangan kuning emas menyambar-nyambar dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan sebentar saja para laki-laki itu sudah ditolong dan diselamatkan.

Mereka yang hanya tertindih atau tergencet batangan besi sudah ditarik keluar, mereka ini hanya lecet-lecet atau luka ringan saja. Dan ketika yang lain-lain juga ditolong dan diselamatkan, hampir semua laki-laki bangsa Tar-tar tertimpa kemalangan maka Pendekar Rambut Emas yang sudah melempar atau menendang batangan-batangan besi itu segera minta yang luka-luka ringan menolong yang luka-luka berat, sekejap saja ratusan orang itu sudah dibebaskan dari tindihan atau gencetan pohon-pohon besar.

“Yang tewas kalian kumpulkan, yang luka-luka ringan harap bekerja dan menolong yang lain!”

Pendekar itu kembali terbang ke lembah. Sekarang wanita dan anak-anak dapat berkumpul lagi dengan suami atau ayah-ayah mereka, yakni yang kebetulan tak menderita luka berat karena tertimpa atau tergencet batangan besi. Dan ketika tempat itu menjadi hiruk-pikuk karena laki-laki bangsa Tar-tar segera menolong yang lain, baik yang tewas maupun yang luka-luka berat maka Pendekar Rambut Emas sudah meluncur dan terbang memasuki lembah. Bagai siluman atau iblis saja pendekar ini sudah masuk ke lembah.

Begitu bayangan kuning emas masuk begitu pula pendekar itu lenyap tak kelihatan dari luar. Pendekar yang biasanya tenang dan kalem ini mendadak saja berobah mukanya dan menggigil. Satu peristiwa hebat pasti telah terjadi di situ, entah apa. Karena, isteri dan anak perempuannya tak kelihatan. Dan ketika pendekar itu masuk dan melihat pohon-pohon yang tumbang, bahkan juga tanah-tanah yang berlubang dan hangus maka pendekar itu bagai berhenti detak jantungnya melihat dua tubuh menggeletak di tanah.

“Niocu! Eng-ji...!”

Pendekar ini mencelat dan. berlutut. Anak isterinya ternyata ada di situ dan tubuh ibu dan anak sama-sama tergolek tak bergerak. Pendekar Rambut Emas mengira mereka tewas dan pendekar ini sudah mengeluarkan teriakan atau bentakan mengguntur. Suaranya begitu dahsyat hingga dua pohon di sebelahnya roboh, bahkan, kaum laki-laki dan perempuan di luar lembah ikut menjerit dan terlempar roboh, mereka diguncang oleh getaran suara yang amat dahsyat itu. Tapi ketika pendekar ini melihat anak isterinya masih bernapas, Swat Lian dan Soat Eng membiru wajahnya maka muncullah Cao Cun yang menggigil dan merayap di situ, bagai ular kedinginan.

“Twako, anak isterimu bertemu dengan Poan-jin-poan-kwi. Mereka.... mereka bertempur hebat. Aku sendiri pingsan dan tak tahu apa yang selanjutnya terjadi!”

“Poan-jin-poan-kwi? Mereka datang?”

“Beb.... benar. Ah, tiadakah mereka, twako? Sudah meninggalkah mereka? Ooh ...!” dan Cao Cun yang terseok dan bangkit terhuyung, berdiri dan menghampiri Pendekar Rambut Emas akhirnya roboh dan memeluk tubuh Soat Eng. “Ia.... ia masih hidup!” wanita ini terpekik, kegirangan. “Ah, tolong cepat puterimu ini, twako. Cepat, ia masih hidup!”

Pendekar Rambut Emas sadar. Ia bengong dan kaget melihat Cao Cun ada di situ, tak menyangka wanita ini ada di sini, di lembah. Tapi begitu Cao Cun berteriak dan menuding puterinya, ia mengangguk dan tahu bahwa anak isterinya masih hidup maka pendekar itu bergerak dan menotok mereka, coba menyadarkan.

“Benar, bukan hanya Eng-ji yang masih hidup, Cun-moi, melainkan isteriku juga. Diamlah, aku akan menolong!” dan ketika totokan dan tiupan diberikan berulang-ulang, Pendekar Rambut Emas menempelkan lengannya memberikan sinkang maka isterinya mula-mula mengeluh dan membuka mata, disusul kemudian oleh Soat Eng tapi Pendekar Rambut Emas terkejut melihat pandangan kosong pada anak isterinya itu. Swat Lian maupun Soat Eng seperti orang hilang ingatan, mereka itu mendelong saja melihat dirinya. Dan ketika dia menyambar dan menepuk kepala isterinya, meniupkan hawa dingin maka Pendekar Rambut Emas berseru bahwa ia datang.

“Ini aku. Apa yang terjadi, niocu? Kenapa semuanya berantakan?”

Aneh, Swat Lian bengong dan tak menjawab. Pendekar Rambut Emas mengulang pertanyaannya hingga tiga kali namun sang isteri malah menjublak, tindak-tanduknya seperti orang bingung, hilang ingatan. Dan ketika pendekar itu membentak dan sang isteri kaget tiba-tiba Swat Lian melengking dan menerjangnya.

“Heii!” sang pendekar terkejut. “Apa-apaan ini, jangan gila.... dukk!” dan lengan isterinya yang ditangkis dan terpental akhirnya disusul pula oleh Soat Eng yang berteriak dan menyerang ayahnya. Pendekar Rambut Emas tiba-tiba dikeroyok dan Swat Lian maupun anak perempuannya menerjang membabi-buta. Pendekar ini terkejut dan marah. Dan ketika dia kembali berkelebat dan menangkis pukulan-pukulan isterinya, Swat Lian terbanting karena kalah tenaga maka Soat Eng juga terjengkang karena tamparan ayahnya lebih kuat daripada dirinya, yang baru siuman.

“Hentikan, ini aku, suami dan ayah kalian!”

Dua orang itu mengeluh. Swat Lian dan Soat Eng masih terpengaruh oleh kilatan Hwi-gan-san-hui-tok dan ibu serta anak perempuannya itu tak mengenal Kim-mou-eng. Tapi ketika mereka roboh dan Kim-mou-eng menotok mereka, bentakan atau suara pendekar itu menembus ke dalam maka samar-samar mereka seakan mengenal orang yang mereka serang ini.

“Kau.... kau siapa?”

Pendekar Rambut Emas terkejut. Kalau isterinya sampai bertanya seperti itu dan ini tentu saja membuat perasaannya teriris maka pendekar itu menggigil. Dia tahu bahwa sesuatu sedang terjadi pada isteri dan anak perempuannya ini. Poan-jin-poan-kwi rupanya memang iblis-iblis yang amat berbahaya sehingga anak isterinya kehilangan kesadaran. Tapi begitu pendekar ini mencari sesuatu dan mengeluarkan sebutir pil merah maka Kim-mou-eng memberikannya kepada anak isterinya.

“Kau telanlah ini, nanti akan tahu!” dan ketika dua orang itu menerima dan menelan obat itu, Kim-mou-eng menyalurkan sinkang ke ubun-ubun mereka maka tak lama kemudian bola mata ibu dan anak itu mulai berputar. Pendekar ini duduk diam dan keringat tampak membasahi mukanya.

Cao Cun terbelalak dan terheran-heran melihat itu, juga kaget. Maklumlah, Kim-mou-eng tak dikenal anak isterinya. Tapi ketika setengah jam kemudian Swat Lian mengeluarkan keluhan pendek dan Soat Eng juga mengerang dan berkedip-kedip mendadak mereka meloncat bangun dan tiba-tiba berteriak.

“Poan-kwi, aku belum mampus. Jangan pergi!”

“Poan-jin, aku juga masih hidup. Jangan lari dan mari bertanding lagi!”

Namun ketika dua orang itu berhadapan dengan Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas bangkit dan memandang anak isterinya maka mereka tertegun dan Swat Lian berteriak kegirangan.

“Kau... kau di sini? Kau sudah pulang? Ah, mana kakek-kakek iblis itu, suamiku? Di mana jahanam yang bertanding dengan aku tadi?”

“Dan mana pula Poan-jin?” Soat Eng menyusul, tak membiarkan ayahnya bicara dulu. “Mana musuhku itu, ayah? Kau mengusirnya?”

“Hm, apa yang terjadi? Kenapa kalian sampai begini?” Pendekar Rambut Emas lega bukan main, mengerutkan kening tapi tak memarahi anak isterinya itu. Mereka baru dipukul pingsan dan untung tak sampai terbunuh. Tadi pendekar ini hampir mencelat menyangka mereka tewas, suara pekikannya hampir menggelegar menggugurkan gunung.

Tapi ketika anak isterinya bertanya dan mereka pulih kembali, meskipun masih pucat dan gemetar kehilangan banyak tenaga maka pendekar itu memeluk dan menyambar keduanya, penuh haru. “Kalian baru saja kusembuhkan. Ang-tan (Pil Merah) dari Sian-su baru saja kuberikan. Apa yang terjadi, isteriku? Dan kenapa kemah-kemah roboh seperti disapu badai? Poan-jin-poan-kwi datang menemui kalian?”

“Benar, dan.... ah, mana kakek itu?”

“Tidak ada, aku baru saja datang tapi tak ada siapa-siapa di sini.”

“Dan kemah-kemah disapu badai? Apa maksudmu?”

“Aku datang dan melihat jerit tangis di mana-mana. Kemah dan semua yang ada di permukaan tanah roboh diratakan. Kalau begitu ini perbuatan Poan-jin-poan-kwi?”

“Ah, betul. Kalau begitu keparat. Biar kulihat!” dan ketika Swat Lian berkelebat dan marah membelalakkan mata maka Soat Eng juga terkejut dan kaget menyusul ibunya, akhirnya mendengar ribut-ribut di luar lembah dan ibu serta anak terbang bagai siluman.

Sebentar saja mereka sudah lenyap dan Cao Cun yang ada di situ membelalakkan mata, kagum tapi juga ngeri. Namun ketika Pendekar Rambut Emas menarik napas dalam-dalam dan menyambar lengannya, wanita ini dibetot tiba-tiba Cao Cun terpekik dan sudah dibawa terbang pula, keluar lembah.

“Kita menyusul, mari keluar!”

Cao Cun memejamkan mata. Dibawa dan disambar lengannya begini mengingatkan wanita itu akan kejadian belasan tahun yang lalu, ketika Pendekar Rambut Emas menolong dan menyelamatkannya dari tangan orang-orang jahat. Tapi ketika terdengar jerit dan ratap tangis, Cao Cun tahu-tahu telah tiba di tengah-tengah suku bangsa Tar-tar maka wanita itu tertegun melihat kesaktian Pendekar Rambut Emas, yang sekejap saja sudah membawanya ke situ, tak sampai sedetik!

“Hujin (nyonya), tolong. Suamiku terbunuh!”

“Dan anakku juga, siauw-hujin (nyonya muda). Dia tewas dan kepalanya pecah!”

Cao Cun terbelalak. Di situ tampak ratusan mayat berjajar-jajar, semuanya mati dengan cara mengerikan. Ada yang pecah batok kepalanya tapi ada pula yang tinggal lengan dan kaki, kepalanya entah ke mana, hilang! Dan ketika jerit tangis berhamburan di situ, Swat Lian dan Soat Eng sudah dikerumuni ratusan wanita dan anak-anak, yang kehilangan suami atau orang tua mereka maka dua orang itu tampak menggigil sementara Kim-mou-eng memejamkan mata, muka merah bagai dibakar!

“Kami tak tahu apa dosa kami. Tapi kenapa suami dan anak-anak kami dibunuh. Tolong, cari dan balaskan sakit hati ini, hujin. Atau kembalikan anak kami untuk menghidupi kami!”

“Atau bunuh saja kami sekalian. Biar sama-sama mati dan tinggal di alam baka. Oh, bunuhlah kami, taihiap. Bunuhlah kami sekalian agar tidak sakit hati melihat mayat suami kami!”

Kim-mou-eng dan isterinya menggigil. Poan-jin-poan-kwi ternyata menyebar maut dan seribu laki-laki muda bangsa Tar-tar atau kakek-kakek dibunuh. Bahkan, sepuluh di antaranya anak-anak! Dan ketika pendekar itu gemetar karena dua orang ibu minta dibunuh di depan kakinya, berlutut dan menangis maka Soat Eng melengking dan tiba-tiba terbang meninggalkan tempat itu.

“Poan-jin, kalian iblis-iblis biadab. Hayo, ini ayahku dan kembalilah kalian!”

“Benar,” Swat Lian tiba-tiba juga berkelebat dan menyusul puterinya, masuk ke dalam hutan. “Aku juga siap bertanding lagi, Poan-kwi. Kenapa kau tak membunuhku setelah membunuh dua suhengku pula!”

Kim-mou-eng terkejut. Anak isterinya tiba-tiba menjadi kalap dan mereka itu berteriak-teriak mencari lawan. Ibu dan anak beterbangan keluar masuk hutan dan Swat Lian bahkan menampar atau menendang-nendang isi hutan, pohon dan batu-batu besar mencelat berhamburan sementara suaranyapun hiruk-pikuk menggaduhkan suasana. Keadaan bukan bertambah tenang melainkan malah runyam, isi hutan dibabat dan harimau serta srigala melolong-lolong ketakutan.

Mereka lintang-pukang dan kalau bukan pada saat seperti itu tentu bangsa Tar-tar akan sorak dan memburu binatang-binatang buas itu, menangkapnya. Tapi karena mereka sedang berkabung dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan Poan-jin-poan-kwi sungguh menyayat perasaan, anak-anak dan wanita sama menangis tak keruan maka mereka malah menjerit-jerit dan lari ketakutan ketika harimau atau srigala-srigala itu ada yang berhamburan ke arah mereka.

“Tolong.... aduh, tolong.....!”

Kim-mou-eng bergerak. Tiba-tiba pendekar itu membentak dan mengibaskan lengan ketika binatang-binatang buas itu lari ke arah anak-anak dan wanita. Mereka sedang ketakutan dan apa saja bisa diterkam, itu berbahaya. Maka ketika pendekar ini berseru dan kedua lengannya bergerak ke sana ke mari, menghalau, maka binatang-binatang itu tunggang-langgang dan Kim-mou-eng berkelebat ke anak isterinya.

“Niocu... Eng-ji, kembali! Mereka tak ada di sini dan percuma menantang-nantang. Nanti kita cari setelah anak-anak dan wanita kita urus!”

Swat Lian dan puterinya rupanya sadar. Wanita itu menghantam sebuah batu besar yang meledak dan pecah-pecah, kemarahannya dilepaskan melalui lengkingan, nyaring memekikkan telinga hingga harimau dan srigala terjungkal, demikian hebatnya suara wanita sakti itu. Tapi ketika suaminya berkelebat dan mencengkeram lengannya, Soat Eng juga dibawa dan disadarkan ayahnya maka ibu dan anak mendengus dengan mata berapi-api, muka membara.

“Aku tak akan sudah sebelum bertemu mereka lagi. Aku siap dibunuh atau membunuh. Mereka menghancurkan dan menewaskan banyak bangsa kita!”

“Benar, dan Beng An juga dibawanya. Kita harus mencari dan menuntut balas, ibu. Apalagi Hauw Kam-supek dan Gwan Beng-supek dibunuh!” Soat Eng menyambung.

“Hm, tenanglah,” Pendekar Rambut Emas menggigil menahan marah, bola matanya berkilat-kilat, gigi berketrukan. “Aku juga tak akan mendiamkan ini, niocu. Kalau mereka mencariku maka aku juga akan mencari mereka. Nanti kita berangkat, setelah mengurus wanita dan anak-anak!”

“Dan kau sudah menemui Sian-su?”

“Sudah.”

“Apa katanya?”

“Banyak, tapi aku tak dapat menceritakannya sekarang, niocu. Mari kembali dan kita urus mereka dulu!” dan ketika Pendekar Rambut Emas mengajak anak isterinya pulang, ibu dan anak sama-sama berkobar maka Kim-mou-eng mampu membujuk mereka pulang, menemui dan kembali mengurus wanita dan anak-anak yang kehilangan suami atau anak-anak mereka dan hari itu bangsa Tar-tar benar-benar berkabung.

Seribu lebih terbunuh sementara perkemahan hancur. Yang luka-luka dirawat sementara yang meninggal dikuburkan. Keadaan menjadi mengerikan karena tangis dan jerit histeris kembali terdengar, yakni ketika isteri dan anak-anak melihat suami atau ayah mereka dimakamkan. Dan ketika banyak di antaranya yang roboh pingsan dan Kim-mou-eng gemetar menahan marah maka tiba-tiba pendekar itu teringat bahwa pembantunya yang utama, Ji Pin, tak ada di situ.

“Ke mana dia?”

“Siapa?”

“Ji Pin! Kenapa dia tak tampak? Apakah tewas juga terbunuh?”

Swat Lian tertegun. Dalam kalut dan kacaunya keadaan maka mereka sama-sama terlupa akan pembantu mereka itu. Benar, Ji Pin tak ada! Dan ketika mereka menyelidik dan mencari tahu, barangkali saja di antara mayat-mayat itu ada pembantu mereka maka Kim-mou-eng dan anak isterinya mengerutkan kening karena laki-laki itu tak ada.

“Aneh, barangkali saja sedang keluar.”

“Atau berburu! Hm, kalau begitu dia selamat, suamiku. Aku tak begitu khawatir meskipun mendongkol kenapa pergi tak memberi tahu!”

“Ah, mungkin begitu, niocu. Tapi sudahlah, nanti tentu tahu kalau benar-benar Ji Pin masih hidup. Malam ini kita berkumpul untuk meninggalkan pesan kepada orang-orang kita kalau kita tinggalkan. Dan Cao Cun....” pendekar itu mengerutkan kening. “Bagaimana kalau ditinggal sendirian?”

“Ji Pin memang menyebalkan!” Swat Lian tiba-tiba marah lagi. “Kalau dia ada tentu kita dapat menitipkan kepadanya. Ah, ke mana keparat itu?”

“Sudahlah, tak perlu naik pitam. Aku menerima getaran akan datangnya bala bantuan!” Kim-mou-eng tiba-tiba terkejut memejamkan mata dan menarik pusat indranya ke dalam karena sekonyong-konyong semacam “bel” berdering di telinganya. Pendekar itu berkerut kening dan bersedakap bagai arca, tak lama kemudian wajahnya berseri dan meronalah wajahnya oleh kegembiraan. Dan ketika di membuka mata kembali dan berkelebat masuk maka pendekar ini duduk bersila di dalam kemah darurat.

“Kita akan kedatangan seseorang yang sudah lama kita tunggu. Mari, semua masuk dan duduk berkumpul!”

“Siapa?”

“Kau akan tahu. Cobalah, terimalah isyarat itu, niocu. Perhatikan dan dengar baik-baik!”

Swat Lian tertegun. Puterinya terbelalak karena Soat Eng belum mampu melakukan seperti apa yang diterima ayah ibunya. Itu adalah getaran batin dan hanya orang-orang yang sudah memiliki tingkat batin amat tinggi saja yang dapat menangkap semacam isyarat atau “bel” yang memasuki telinga. Dan ketika ibunya bersila dan Soat Eng tertegun maka wajah ibunyapun tiba-tiba berseri.

“Ah, itu Thai Liong. Dia akan datang, pulang!”

“Liong-koko?” Soat Eng tiba-tiba berseru girang dan seketika ikut berseri-seri. “Dia datang, ibu? Pulang?”

“Ya, itu ternyata kakakmu. Tapi, ah... apa yang kau lihat itu, suamiku? Kenapa dia begitu berobah dan mencengangkan? Lihat, wajahnya agung dan bersinar-sinar. Dan pakaiannyapun kemerah-merahan. Ah dia memakai jubah!”

“Hm, aku juga tak mengerti. Tapi sesuatu yang hebat terjadi pada anak kita itu. Wajahnyapun bersinar-sinar kemerahan, dan dia mengenakan topi bulu rajawali!”

“Apa yang terjadi, ayah? Apa yang kalian lihat?” Soat Eng tak tahan, bertanya dan berseru tapi ayah ibunya menggeleng. Mereka hanya melihat itu dan selebihnya tak jelas. Suami isteri itu tampak tertegun dan takjub. Ada sesuatu yang terjadi pada putera mereka itu, keanehan yang tidak pernah mereka lihat. Dan ketika Soat Eng berdebar namun girang mendegar kakaknya akan datang, kakak yang lama ditunggu-tunggu maka malam itu mereka bertiga duduk bersila.

Wanita dan anak-anak sudah dibereskan dan bangsa Tar-tar berkabung. Mereka berpakaian hitam-hitam dan Kim-mou-eng pun juga mengenakan pakaian hitam. Anak isterinya juga begitu dan Cao Cun ikut menyatakan bela sungkawa dengan berpakaia hitam-hitam itu. Malam ini keluarga itu akan membicarakan sesuatu, karena besok mereka sudah memutuskan untuk meninggalkan suku bangsa mereka, Cao Cun kemungkinan besar akan diantar ke tempat ayah kandungnya dulu di kota Chi-cou, di tempat bupati Wang yang jujur dan keras hati itu.

Dan ketika malam itu ayah dan anak serta isterinya bersila mendengarkan Kim-mou-eng bercerita, yakni tentang pertemuannya dengan kakek dewa Bu-beng Sian-su maka di pintu kemah tiba-tiba muncul sesosok bayangan merah yang agung dan tegap, seorang muda berwajah gagah dengan jubah seperti yang biasa dipakai kaum pendeta!

“Ayah, selamat bertemu. Maafkan aku yang pergi demikian lama!”

Swat Lian dan Soat Eng menoleh. Mereka terkejut karena tak mendengar adanya langkah kaki, tahu-tahu suara dan itupun sudah di depan pintu. Entah karena mereka tertuju pada kata-kata Kim-mou-eng atau justeru orang yang di depan pintu ini memiliki kepandaian luar biasa, jejak kakinya tak terdengar siapapun. Tapi ketika mereka menoleh dan tak melihat siapa-siapa, jelas suara itu adalah suara Thai Liong maka ibu dan anak tertegun karena Pendekar Rambut Emas bangkit berdiri dan menggapai.

“Ah, kau, Liong-ji (anak Liong)? Kenapa lama amat? Masuklah, kami sudah menunggu!”

Bayangan itu, yang tak dilihat Soat Eng maupun ibunya melangkah masuk. Dia adalah Thai Liong dan Pendekar Rambut Emas tampak gembira menyambut puteranya. Pendekar Rambut Emas sendiri tak tahu bahwa isteri dan puterinya tak melihat bayangan itu. Mereka justeru terbelalak dan berubah pucat, menoleh kiri kanan tapi Thai Liong tetap juga tak tampak oleh mereka. Dan ketika Pendekar Rambut Emas memeluk dan menyambar puteranya, isteri dan puterinya bingung karena tak melihat siapa-siapa maka suami mereka itu berseru pada mereka,

“Niocu, lihatlah. Bukankah Thai Liong berobah demikian banyak? Aku pangling melihat bentuknya sekarang. Kalau aku tak mengenal suaranya tentu aku tak menyangka bahwa inilah putera kita yang hilang berbulan-bulan!”

“Dia.... dia di mana?” Swat Lian dan Soat Eng tiba-tiba melompat bangun, terbelalak memandang suami atau ayah mereka itu. “Kenapa kau bilang dia ada di sini, suamiku? Mana Thai Liong itu?”

“Eh?” Kim-mou-eng tertegun. “Kalian tak melihatnya? Bukankah ia ada di sini? Lihat, Thai Liong berlutut di depan kakimu!”

Swat Lian terbelalak. Nyonya itu memandang ke depan tapi akhirnya celingukan. Dia benar-benar tak melihat apa-apa dan Soat Eng pun berseru tertahan. Nyonya muda itu mengira ayahnya main-main, karena tak ada siapapun di ruangan itu kecuali mereka bertiga. Dan ketika ibunya terkejut dan membentak marah, ayahnya dikira meledek maka Thai Liong tiba-tiba mengebutkan ujung jubahnya dan tampaklah pemuda itu di depan ibu serta adiknya, persis di depan kaki Swat Lian.

“Kau!” Swat Lian mencelat kaget, mundur dan berteriak. “Eh, kapan kau muncul, Thai Liong? Bagaimana aku tak melihat dirimu?”

“Benar,” Soat Eng juga berteriak, berseru panjang. “Kau seperti iblis, Liong-ko. Rupanya hanya ayah yang tahu dan kami tidak!” dan ketika ibu dan anak sama-sama terkejut dan bengong, wajah Swat Lian berobah maka Pendekar Rambut Emas baru sadar bahwa isteri dan anaknya benar-benar tak melihat puteranya itu, yang seolah muncul dengan ilmu sihir!

“Thai Liong, kau..?!”

“Maaf,” pemuda ini tersenyum mengebutkan ujung jubah. “Aku teringat kesalahanku kepada ibu, ayah, sengaja tak memperlihatkan diri karena takut kemarahannya. Aku datang dengan perasaan menyesal, ingin minta maaf dan melepas rindu.”

“Itu.... kau, ah!” Pendekar Rambut Emas tiba-tiba membelalakkan matanya. “Bukankah itu ilmu sakti Beng-tau-sin-jin (Manusia Menembus Roh)? Kau mendapatkannya dan kini memilikinya? Ah, apa saja yang kau alami, Liong-ji? Kau membuat kami terkejut dan kaget. Ibu dan adikmu sampai pucat!”

“Maaf,” pemuda ini membungkuk, wajahnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya bersinar, mencorong dan mentakjubkan. “Aku masih ragu menghadapi ibu, ayah. Aku takut dia marah atas perbuatanku dulu!”

“Ah, kau memang jahat!” Swat Lian tiba-tiba membentak, suaranya mengejutkan. “Kau memang harus dihukum, Thai Liong. Kebetulan kau datang dan biar kulihat sampai di mana kehebatanmu sekarang..... haittt!” dan sang nyonya yang menerjang dan melepas pukulan Khi-bal-sin-kang, menghantam dan berkelebat maju tiba-tiba membuat Soat Eng dan ayahnya terkejut.

Mereka tak menyangka serangan itu tapi Swat Lian mengedip pada suaminya. Soat Eng tak tahu dan Pendekar Rambut Emas tertegun, bingung tapi segera mengerti maksud serangan itu. Dan ketika Soat Eng berteriak tertahan karena kaget melihat serangan ibunya, mau meloncat tapi sang ayah mencekal lengannya maka pukulan itu menyambar dan sudah menghantam Thai Liong.

“Dess!” Thai Liong lenyap seperti siluman. Khi-bal-sin-kang mengenai angin kosong dan kemahpun berderak hampir roboh, Soat Eng tertegun karena kakaknya tahu-tahu menghilang begitu saja, entah di mana. Tapi ketika bayangan merah tampak di luar dan ibunya melengking, mengejar, maka Thai Liong yang sudah ada di situ dan terkejut melihat pukulan ibunya segera mendapat dampratan dan pukulan lagi, bertubi-tubi.

“Rasakan, kau harus dihajar dulu, Thai Liong. Baru setelah itu boleh minta maaf kepadaku.... blar-blarr!” dan Khi-bal-sin-kang yang meledak dan menyambar lagi akhirnya bergabung dengan pukulan-pukulan lain, biru dan putih menyambar-nyambar karena itulah Lui-ciang-hoat dan pukulan Bola Sakti.

Swat Lian melengking-lengking dan bergeraklah nyonya itu luar biasa cepat untuk menghujani serangan. Swat Lian penasaran karena Thai Liong tiba-tiba berkelebat dan lenyap lagi, pukulannya menghajar tanah kosong Dan ketika pemuda itu berseru pucat untuk tidak diserang, sang ibu marah-marah dan tetap melengking melepas pukulan maka Soat Eng tak tahan dan memberontak.

“Lepaskan, aku tak dapat melihat ini ayah. Kalau ibu hendak membunuh Liong-ko biarlah dia membunuhku dulu.... haitt!” dan Soat Eng yang menyerbu dan tak tahu isyarat ibunya tiba-tiba menerjang dan marah-marah kepada ibunya itu, membela Thai Liong dan pemuda berjubah merah itu tertegun.

Thai Liong tak tahu maksud ibunya ini tapi dia segera terharu ketika adiknya maju. Soat Eng memang selalu membelanya kalau sang ibu marah-marah. Tapi ketika Soat Eng menangki dan mencelat oleh pukulan ibunya, Swat Lian terkejut dan memaki puterinya itu maka Pendekar Rambut Emas bergerak dan menyambar puterinya ini.

“Eng-ji, tak usah takut. Ibumu hanya ingin mencoba dan menjajal kesaktian kakakmu!”

“Apa? Ibu...”

“Benar,” sang ayah memotong, menarik dan membawa puterinya itu ke pinggir. “Ibumu berpura-pura saja, Eng-ji. Kakakmu sengaja dicoba karena telah memiliki Beng-tau-sin-jin!” dan ketika puterinya tertegun dan Soat Eng terbelalak, sadar, maka Thai Liong mendengar seruan ayahnya bahwa ibunya penasaran oleh cara kedatangannya tadi, kesaktian baru yang amat hebat hingga ibu maupun adiknya tak dapat melihat Thai Liong.

“Jadi ibu main-main? Tidak sungguh-sungguh? Ah, aku sampai terkejut!” dan Thai Liong yang akhirnya lega dan berkelebatan menghindari serangan ibunya akhirnya mendengar bentakan ibunya yang marah oleh pemberitahuan suaminya tadi.

“Biarpun aku main-main tapi pukulanku dapat bersungguh-sungguh, Thai Liong. Aku ingin tahu sampai di manakah kehebatanmu, dan apakah dapat menandingi Poan-jin-poan-kwi!”

“Poan-jin-poan-kwi (Setengah Manusia Setengah Siluman)? Siapakah dia ini?” namun sang ibu yang tak memberi kesempatan untuk bertanya atau menjawab sudah mendesak pemuda itu sampai ke sudut. Kemah akhirnya roboh karena tak kuat menerima pukulan-pukulan Swat Lian.

Thai Liong tak mempergunakan lagi ilmunya Beng-tau-sin-jin dan pemuda itu hanya bergerak ke sana ke mari menghindari pukulan-pukulan ibunya. Sesekali Khi-bal-sin-kang atau Lui-ciang-hoat diterima dan setiap kali itu pula ibunya terdorong. Swat Lian terkejut karena dari telapak tangan puteranya itu muncul hawa dingin yang meredam pukulan panas, akhirnya penasaran dan melengking-lengking dan Thai Liong kemudian mainkan ujung jubahnya yang meletup-letup. Mula-mula perlahan namun akhirnya nyaring dan memekakkan telinga.

Itulah ilmu silat baru yang belum pernah diajarkan oleh Kim-mou-eng, entah pemuda itu mendapatkannya dari mana. Dan ketika kedua tangan pemuda itu bergerak-gerak cepat dan kakinyapun maju mundur atau bergeser dengan geseran-geseran aneh maka Thai Liong mampu membuat ibunya terhuyung-huyung karena semua pukulan-pukulan itu tak ada yang mengenai tubuhnya, luput atau paling keras tertahan dan tertolak oleh kebutan-kebutan ujung jubah yang berkibasan bagai sepasang sayap burung!

“Iblis, ini bukan ilmu silat ayahmu!”

“Benar,” pemuda itu tertawa. “Ini ilmu silat baruku, ibu. Kudapatkan dari bertapa di puncak pegunungan Himalaya!”

“Kau ke Himalaya? Bertapa bagai pendeta? Awas, ini pukulanku terakhir, Thai Liong... jangan dihindarkan dan coba malah.... dess!” dan Swat Lian yang melengking dan berkelebat cepat, mendahului puteranya tiba-tiba sudah melepas Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat ke tengkuk pemuda itu, melakukan jurus yang disebut Awan Hitam Menyambar Bianglala, cepatnya bukan main dan Thai Liong pun kelihatannya tak sempat menghindar, atau, barangkali, pemuda itu memang tidak menghindar karena ibunya menghendaki keras lawan keras.

Betapapun ibunya itu rupanya mendongkol karena selama ini selalu dia terhuyung-huyung dan kalah tenaga oleh puteranya itu, padahal dia lebih tua. Dan ketika Thai Liong menerima dan kedua lengan pemuda itu tiba-tiba memutar menggerakkan jubahnya, angin dingin berkesiur dan menyambar maka terdengarlah ledakan mengguncangkan yang membuat Soat Eng terpental dari tempat berdirinya.

“Blarr!”

Swat Lian berjungkir balik terlempar. Thai Liong hanya tertunduk sedikit dan lengan jubahnya itu mengembang di kanan kiri tubuhnya, kepala sedikit mendongak bagai rajawali mementang sayap. Hebat dan luar biasa sekali tangkisan pemuda itu. Dan ketika Swat Lian terlempar namun berjungkir balik melayang turun, wajahnya pucat dan batuk-batuk maka wanita itu tak dapat berdiri tegak dan roboh, tak kuat oleh tenaga tolak yang demikian besarnya!

“Aduh, kau memiliki sinkang ajaib!”

Pendekar Rambut Emas berkelebat dan menahan isterinya. Pertandingan itu cukup dan isterinya jelas tak dapat menghadapi puteranya itu. Thai Liong tidak mengeluarkan Beng-tau-sin-jinnya dan ini saja sudah membuat isterinya terpental, berkali-kali tertolak dan kagumlah pendekar itu oleh gerak tubuh dan kaki puteranya. Dan ketika isterinya ditahan kuat sementara Thai Liong terkejut tapi lega melihat ibunya tak apa-apa, wanita itu batuk-batuk dan sesak dadanya maka Pendekar Rambut Emas memandang dan kagum memandang puteranya itu.

“Liong-ji, kau telah menguasai gerakan-gerakan seekor burung? Kau mainkan Ang-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Merah)?”

“Benar,” pemuda itu tertegun. “Kau tahu, Ayah? Kau mengenal gerakan-gerakan ini?”

“Ah, dulu Sian-su hendak menurunkan ilmu silat itu kepadaku, tapi aku tak sempat mempelajari. Kiranya benar kalau dia sekarang menurunkannya kepadamu. Kau tentu mendapatkannya dari Sian-su!”

“Benar, aku menghilang dan pergi atas suruhan Sian-su. Dia bilang bahwa ilmu silatku perlu ditambah. Aku akan menghadapi lawan yang amat berbahaya dan masih di atas ayah!”

“Ah, kalau begitu semua yang kudengar adalah benar. Dan kau telah memiliki kepandaian batin untuk mengirim tanda kedatanganmu. Kau memiliki pula ilmu sakti Thian-jong-sin-im (Suara Batin Menembus Langit). Ah, ilmumu sungguh luar biasa, Liong-ji. Tapi betapapun aku penasaran dan ingin coba-coba denganmu, menguji sendiri!” lalu ketika puteranya terkejut dan mengerutkan kening, Pendekar Rambut Emas tak perduli dan sudah menggosok kedua telapak tangannya maka muncullah sinar kemerah-merahan yang tiba-tiba berasap dan memercikkan api, bagai dua lempeng besi diadu!

“Liong-ji, Sian-su yang terhormat telah bercerita sekilas tentang dirimu, tapi aku belum puas. Kalau sekarang kau dapat mengatasi ibumu maka marilah coba-coba main dengan aku. Bersiaplah, akupun gatal tangan!”

“Ayah mau bertanding? Padahal Liong-ko baru saja datang? Ah, tidak. Aku tak ingin menyambut seperti ini, ayah. Biar dia masuk dan beristirahat!” Soat Eng tiba-tiba berseru dan marah kepada ayahnya itu, meloncat dan menghadang di tengah dan Pendekar Rambut Emas tertawa. Dan ketika dia mengedip dan mendorongkan lengan ke kiri maka puterinya itu terpelanting dan hampir jatuh.

“Kami hanya main-main saja. Tak usah kau khawatir, Eng-ji. Kalau kakakmu sudah sehebat ini dikeroyok bertigapun tak mungkin dia capai!” dan ketika puterinya berteriak tapi disambar ibunya, Swat Lian kagum dan mengangguk-angguk maka nyonya itu mencekal anak perempuannya.

“Ayahmu benar. Poan-jin-poan-kwi yang akan kita hadapi ini bukanlah iblis sembarang iblis. Kalau Thai Liong memiliki Beng-tau-sin-jin dan dapat menghilang dan masih ditambah lagi dengan Ang-tiauw Sin-kun dan Thian-jong-sin-im segala maka biarpun ibumu membantu agaknya dia tak akan roboh. Diamlah, lihat ayahmu menguji!”

Soat Eng terbelalak. Tadinya dia ragu dan mau marah karena kakaknya akan menghadapi pertandingan berat. Pertama dengan ibunya dan kini dengan ayahnya. Tapi mendengar kata-kata ibunya dan bahwa ibunya tak mampu merobohkan kakaknya, bukan dengan ilmu-ilmu keluarga mereka melainkan dengan ilmu-ilmu aneh yang didapatkan kakaknya itu maka Soan Eng bengong dan akhirnya malah tertarik! Beng-tau-sin-jin dan Thian-jong-sin-im adalah ilmu-ilmu yang hanya didengarnya sebagai dongeng. Konon hanya para dewalah yang mampu memiliki ilmu itu.

Yang pertama dapat menghilang dan lenyap seperti roh halus sedangkan yang kedua dapat mengirim gelombang-gelombang pikiran dalam jarak yang ribuan li jauhnya. Bahkan, Thian-jong-sin-im katanya dapat dikirim dari kutub selatan ke kutub utara, atau, dari langit yang paling tinggi sampai ke dasar bumi yang paling dalam. Dengan Thian-jong-sim-im para dewa mampu mengisiki (memberi tahu) orang baik yang akan dicelakakan orang jahat. Bahkan, beberapa nabi atau orang suci ada yang memiliki ilmu ini untuk berhubungan dengan roh-roh luhur atau para malaikat.

Ilmu itu jarang dimiliki manusia karena tinggi dan sukarnya, menuntut kebersihan batin atau kesucian hati. Maka ketika kakaknya tiba-tiba dinyatakan memiliki ilmu itu dan Beng-tau-sin-jin sekaligus, dua ilmu yang sudah bersifat bukan ragawi lagi melainkan rohani, kebatinan tingkat tinggi maka Soat Eng bengong dan melihat wajah kakaknya tiba-tiba memancarkan sinar kemilau yang terang-benderang, amat terang tapi tidak menusuk atau menyakitkan mata!

“Ibu, Liong-ko... Liong-ko memiliki ilmu-ilmu yang hanya diwarisi para dewa? Liong-ko memiliki Beng-tau-sin-jin dan Thian-jong-sin-im?”

“Hm, bukan hanya itu, Eng-ji, melainkan juga silat sakti Ang-tiauw Sin-kun! Kakakmu itu dapat terbang kalau benar-benar sudah mencapai taraf sempurna!”

“Terbang? Seperti burung?”

“Ya, seperti rajawali, Rajawali Merah!” dan ketika puterinya tertegun dan takjub, membelalakkan mata maka Swat Lian berkata bahwa dalam pertandingan tadi pemuda itu belum mengeluarkan semua kepandaiannya. “Sekarang ayahmu akan memaksa kakakmu mengeluarkan semua kepandaiannya. Dan kita lihat apakah dia benar-benar dapat terbang seperti burung...!”