Rajawali Merah Jilid 09 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 09
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“AH!” nyonya ini berkelebat keluar, kaget bukan main. “Apa yang terjadi, Beng An? Apa yang kalian alami?”

“Aku tak tahu. Kami semua tahu-tahu serasa dipukul orang dan dililit. Pantat kami digebuki, kita bertemu iblis!”

“Tak mungkin, itu tentu orang luar biasa yang mencoba mempermainkan kita. Keparat!” dan Soat Eng yang melepas serta mengurai tali rotan itu lalu terbelalak dan marah memandang ke sana ke mari. Suami dan adik serta supek-supeknya dihajar orang secepat itu, ketika dia memasuki rumah. Dan kaget bahwa kejadian berlangsung demikian cepat, secepat kilat menyambar maka Soat Eng maklum bahwa seorang sakti yang kepandaiannya sukar diukur sedang menyatroni rumahnya.

Soat Eng bergidik bahwa dia kalah cepat. Dia memperhitungkan bahwa waktu yang dipergunakan tadi tak lebih dari sepersepuluh detik, dan untuk waktu yang demikian singkat adik dan yang lain-lainnya ini diikat orang. Betapa luar biasanya! Tapi Soat Eng yang tentu saja tak takut dan justeru marah oleh semuanya ini lalu mengajak yang lain-lain untuk memeriksa lagi.

Lampu sudah mereka nyalakan dan bayangan yang berkelebatan seperti siluman itu juga sudah tak ada lagi. Tawa yang aneh dan menyeramkan juga sudah tak terdengar. Beng An dan yang lain-lain diam tak bersuara, mereka mencari sementara mata melirik gentar, muka pucat. Dan ketika pintu-pintu akhirnya ditutup dan malam itu Soat Eng mengajak ke dalam, ke ruangan besar di mana tiga kamar berdiri saling berhadapan maka dia berkata bahwa sebaiknya semua tidur.

“Kita sudah penat mencari, namun siluman itu tak ada. Rupanya kalau bukan atas kehendaknya sendiri jahanam itu tak muncul. Biarlah, biar kita istirahat di kamar kita masing-masing, supek. Kamar kita berhadap-hadapan dan kalau ada apa-apa tentu yang lain akan mendengar. Kalian tidurlah, biarkan siluman itu membangunkan kita!”

“Aku di mana?” Beng An tiba-tiba bertanya. “Apakah sendirian saja?”

“Kau di samping kamarku, Beng An. Pintu dan jendela sudah kututup rapat-rapat. Kalau siluman itu masuk tentu harus memecahkan kaca atau jendela.”

“Tapi kakek itu seperti roh. Dia agaknya dapat menembus dinding atau daun-daun pintu dengan mudah! Masa aku harus sendirian, enci?”

“Hm, kau tidak sendirian, Beng An. Ada aku dan lain-lain di sini...”

“Sama saja, itu tetap aku sendiri. Aku di kamar sendirian!”

“Kalau begitu aku menemanimu,” Siang Le tiba-tiba berkata, juga menggigil dan pucat. “Atau kau bersama kami di kamar kami, Beng An. Biar bertiga!”

“Hm, tak baik,” Gwan Beng, orang tertua di situ berkata. “Kamar suami isteri tak boleh dimasuki siapapun, Siang Le. Kalau Beng An tak mau sendirian di kamarnya biarlah dia bersama kami!”

“Tapi dia adik isteriku sendiri...”

“Tetap saja tak boleh! Kamar suami isteri harus khusus, Siang Le, tak boleh dimasuki siapapun. Itu kamar pribadi. Biarlah Beng An bersama kami dan kami akan melindunginya kalau ada apa-apa!”

Siang Le tak dapat berbuat apa-apa. Beng An sendiri akhirnya dapat melihat kebenaran itu dan tak memaksa, meskipun sebenarnya ia memang berdekatan dengan enci dan kakak iparnya itu. Bagi Beng An, Siang Le selihai encinya karena pemuda itu sudah diberi Khi-bal-sin-kang dan lain-lain oleh ayahnya, tak, tahu bahwa semua itu sudah “dibuang” oleh Siang Le alias tak dipelajari, gara-gara ibu mertuanya. Dan ketika Soat Eng mengangguk dan merasa bahwa kamar suami isteri memang tak boleh dimasuki siapapun, biarpun saudara sendiri maka dia merelakan Beng An bersama supeknya, apalagi kamar itu juga berhadapan.

“Baiklah, kalian semua tidur, atau berjaga-jaga.....”

“Aku tak mungkin tidur. Aku pasti berjaga-jaga!” Beng An berseru mengepal tinju, marah, meskipun takut. “Aku akan memanggilmu begitu kakek siluman itu datang, enci. Aku akan bersama twa-subek di kamar mereka!”

Soat Eng mengangguk. Memang itu cara terbaik dan sekali lagi dia memeriksa pintu dan jendela. Mereka sudah di ruangan paling bawah dari Istana Hantu. Ista na itu luas dan memiliki puluhan ruangan. Kalau tak biasa tidur di tempat ini tentu merasa seram, apalagi sendirian! Tapi karena Soat Eng bukan wanita lemah dan nyonya muda itu adalah puteri Pendekar Rambut Emas yang gagah maka Soat Eng sudah menutup pintu kamarnya sendiri ketika adiknya sudah dibawa dan masuk ke kamar supeknya.

Siang Le sang suami tampak termangu dan pucat. Masih terbayang di benak pemuda ini betapa seseorang seperti iblis telah mempermainkan dan mengikat dia berempat. Pantat mereka ditepuk satu-satu dan usapan yang dingin membuat bulu tengkuk meremang. Tawa yang aneh dan usapan yang aneh cukup membayangkan bahwa yang mempermainkan itu adalah iblis. Atau, mungkin, roh penasaran yang ada di Istana Hantu!

Namun karena roh-roh di situ sudah diusir gurunya dan dulu See-ong telah menggebah mahluk-mahluk halus agar tidak tinggal di istana itu maka Siang Le agak ragu juga bahwa masih ada, sebuah roh yang tertinggal, mungkin dulu bersembunyi dan tidak konangan gurunya!

Tapi, mungkinkah itu? Siang Le ragu. Urusan roh-roh halus adalah urusan yang sudah menjadi pekerjaan gurunya. See-ong memiliki ilmu-ilmu hitam yang kuat pengaruhnya untuk mengusir roh-roh jahat, meskipun kakek itu sendiri adalah orang jahat! Tapi karena mungkin saja ada sebuah roh yang sakti dan luar biasa yang tak dapat ditangani gurunya maka Siang Le bergidik jangan-jangan roh inilah yang sekarang mengganggu!

“Kau melamun apa? Takut?”

Siang Le terkejut. Teguran atau seruan isterinya ini membuat ia sadar bahwa mereka masih di luar kamar. Yang lain-lain sudah masuk sementara dia sendiri masih menjublak di situ, ngeri. Maka begitu isterinya menegur dan Siang Le ditarik ke dalam maka pemuda ini bergerak dan sudah bersama isterinya menutup pintu kamar.

* * * * * * * *

Tak ada apa-apa malam itu. Maksudnya, setelah bulan condong ke barat dan malam telah lewat dari titik pusatnya maka tak ada suara atau apapun yang mencurigakan hati. Siang Le menahan kantuk dan duduk bersandar meja. Isterinya sendiri bersila di tengah pembaringan sambil mengumpulkan tenaga.

Siang Le diajak bersila namum pemuda ini menggeleng. Dalam saat-saat seperti itu maka tak ada gairah atau keinginan untuk bersamadhi. Maunya hanya tidur dan melepaskan ketegangan. Namun karena sesuatu mengganggu mereka dan pemuda ini tak dapat bersiulian (bersamadhi) maka dia duduk di kursi dan menyandarkan tubuh di situ.

Malam semakin larut dan sunyi. Beberapa jam lagi matahari akan muncul dan nikmat rasanya membayangkan suasana yang cerah. Malam yang gelap seakan membuat pikiran pepat. Kalau saja tak ada gangguan itu mungkin tak akan ada perasaan yang lain. Namun karena seseorang atau sesuatu mahluk halus telah mengganggu mereka, bahkan membunuh dua gorila jantan dan betina maka Siang Le bergidik teringat betapa dia dan dua supeknya serta Beng An dihajar dan diikat seseorang.

“Tolong....!”

Siang Le tersentak dari kursinya. Dia sedang melamun dan tiba-tiba mendengar teriakan itu, dari kamar Beng An. Tapi ketika dia baru bangkit berdiri dan mau bergerak ternyata isterinya telah mencelat dan mendahului tubuhnya.

“Brakk!” sang nyonya telah menghantam pintu kamar dan langsung berkelebat ke tempat Beng An. Sayup-sayup, seperti mimpi, mereka berdua mendengar seruan atau teriakan itu. Beng An menjerit dan minta tolong. Soat Eng yang bergerak lebih cepat dari suaminya telah mendahului dan melesat ke kamar itu, mendobrak dan membuka pintunya. Tapi ketika nyonya ini berada di dalam dan siap menyerang tiba-tiba dia tertegun.

Ternyata Beng An dan dua supeknya ada di dalam, tak apa-apa. Beng An tampak dipapah dan Gwan Beng serta Hauw Kam mengurut-urut pundak atau tengkuk anak itu. Dan ketika Gwan Beng terkejut oleh kedatangan Soat Eng, yang mendobrak pintu maka kakek itu menarik napas berkata perlahan,

“Maaf, tak ada apa-apa, Soat Eng. Adikmu bermimpi...”

“Ah, bermimpi? Benarkah, Beng An?” sang nyonya, yang terkejut tapi juga lega segera menangkap dan mengguncang lengan adiknya ini. Beng An tampak layap-layap dan mengantuk berat. Anak itu rupanya memang baru saja bermimpi dan mimpinya itu begitu menakutkan, sampai menjerit minta tolong tanpa sadar. Tapi ketika encinya mengguncang dan menggencet lengannya, si bocah sadar maka Beng An mengangguk dan tersipu merah.

“Benar, aku bermimpi. Maaf, enci. Aku tak apa-apa.” dan saat itu muncullah Siang Le, yang kalah dulu dengan isterinya.

“Apa yang terjadi? Ada apa?”

“Tak ada apa-apa. Beng An hanya bermimpi.”

“Ah, aku sampai terkejut. Hm, dua jam lagi sudah terang tanah, Eng-moi. Kupikir tak ada apa-apa lagi dan kita aman. Kalau begitu biarkan dia beristirahat dan kita kembali.”

“Ya, mari,” dan Beng An yang kembali minta maaf dan tersipu malu lalu mengantar encinya dan tidur lagi. Dia tadi bermimpi didatangi kakek yang menakutkan itu, ditangkap dan dipermainkan si kakek sambil tertawa-tawa. Dia meronta dan coba melepaskan diri namun tak berhasil. Dan ketika kakek itu hendak menggigit dan dia menjerit, maka itulah yang terjadi di mana dia minta tolong sampai encinya datang.

Soat Eng lega dan menutup kembali pintu kamarnya. Malam lewat tiga perempat bagian dan beberapa jam lagi liong-to akan terang tanah. Diam-diam nyonya yang juga tegang ini mengharap pagi. Kalau sampai pagi musuh tak datang menganggu maka itu adalah baik. Tapi kalau dia datang keesokan harinya, hmm... tentu juga tak apa-apa. Dia bahkan dapat melihat wajah orang dan mengetahui siapa pengganggu itu. Tapi baru nyonya ini bersila lagi, Siang Le juga bersandar di kursi tiba-tiba terdengar jerit minta tolong dan dua-duanya berkelebat ke pintu.

“Brakk!”

Hauw Kam yang kali ini menjadi biang keladi. Kakek itu yang tidur dengan pulas, rupanya tak dapat menahan kantuk tiba-tiba menjerit dan minta tolong. Seruan itulah yang membuat Siang Le dan isterinya berkelebat datang. Mereka tahu-tahu sudah ada di dalam kamar tapi kembali tertegun. Hauw Kam, si kakek, tampak diguncang dan dibangun-bangunkan oleh Beng An dan Gwan Beng. Entah bagaimana kakek inilah yang sekarang bermimpi dan menjadi korban dari mimpinya. Dan ketika dia dibangunkan dan terkejut, melihat Siang Le suami isteri ada di situ pula maka kakek ini meloncat bangun dan memaki-maki.

“Keparat, aku dicekik kakek iblis itu. Dia datang dan menyerangku!”

“Hm, di mana kau menjumpainya, supek? Apakah dalam mimpi?”

“Beb.... benar. Ah, terkutuk. Malu aku!” dan si kakek yang mendusin dan minta maaf, sadar, segera tahu bahwa kiranya dia bermimpi.

Siang Le tersenyum dan Soat Eng lega memandang supeknya. Ji-supeknya itulah yang tadi berteriak minta tolong dan disangkanya musuh benar-benar datang, tak tahunya sang supek bermimpi dan berteriak dalam mimpinya itu, sama seperti Beng An. Dan ketika Hauw Kam minta maaf dan Soat Eng kembali, hari sudah semakin mendekati pagi maka di kala nyonya ini mau tertidur diserang kantuk yang berat, lega bahwa sudah tak ada apa-apa lagi mendadak untuk yang ketiga kalinya terdengar jerit minta tolong.

“Tolong...!”

Siang Le geragapan. Isterinya sendiri sudah mencelat dan berkelebat mendorong pintu. Soat Eng yang juga layap-layap namun dapat mempertahankan diri sudah bergerak dan bereflek cepat. Nyonya ini memang termasuk yang paling berkepandaian tinggi dibanding semua. Tapi ketika Soat Eng bergerak dan membentak ke dalam kamar, mendengar twa-supeknya yang berteriak maka nyonya itu tertegun melihat twa-supeknya ini diguncang dan dibangun-bangunkan oleh Beng An dan sutenya, Hauw Kam.

“Suheng, bangun.... bangun. Kau mengigau!”

Sang nyonya terguncang. Tiga kali berturut-turut tiga orang berteriak ditakuti mimpi jelas bukanlah sesuatu yang kebetulan saja. Si kakek siluman, musuh jahanam itu, rupanya memang mengganggu dan datang lagi dengan caranya yang lain, yakni mengganggu adik dan supek-supeknya dengan menjelmakan diri dalam ujud mimpi. Dan ketika Gwan Beng tersentak dan meloncat bangun, mengucek-ucek matanya maka tampak twa-supeknya itu menggigil.

“Ma... mana kakek siluman itu? Mana, dia?”

“Hm,” Soat Eng melangkah maju, menangkap lengan supeknya ini. “Apa yang terjadi, supek? Apa yang dia lakukan kepadamu?”

“Dia... dia menggubat aku dengan misainya yang panjang. Kakek itu menjantur dan membalikkan tubuhku dengan kaki di atas kepala di bawah!”

“Hm, dalam mimpi?”

“Tidak, eh... ya. Barangkali mimpi, Soat Eng. Tapi aku merasa sungguh-sungguh terjadi! Itu... itu serasa bukan mimpi. Aku benar-benar digantung dengan misainya!”

“Tapi kau tetap bersama kami,” Hauw Kam, sang sute, maju bicara. “Tak ada apa-apa di sini, suheng. Kau bermimpi. Sama seperti aku tadi!”

“Mungkin karena kalian dibayang-bayangi takut,” Siang Le tiba-tiba muncul, berseru. “Orang yang ketakutan bisa saja mengalami itu, supek. Membawa rasa takutnya ke dalam mimpi!”

“Hm, sudahlah,” sang isteri membanting kaki, kesal. “Kakek jahanam itu jelas ingin mengganggu kita, Le-ko. Kalau dia muncul dan memperlihatkan diri tentu aku akan melabraknya habis-habisan. Sekarang bagaimana baiknya karena tiga kali berturut-turut dia mempermainkan kita!"

“Sebaiknya kau di sini saja.” Beng An tiba-tiba berseru. “Kau selama ini belum diganggunya, enci. Mungkin kakek itu takut!”

“Di sini?” Soat Eng mengerutkan kening. “Bersama kalian?”

“Tak apa,” sang suami tiba-tiba setuju, mengangguk. “Apa yang dikata Beng An rupanya betul, Eng-moi. Kakek itu belum mengganggu dirimu karena rupanya takut. Jadi, kalau kau di sini barangkali dia tak akan mengganggu lagi!”

“Hm, kami sebenarnya malu,” Gwan Beng tiba-tiba bergumam. “Sungguh kami bukan apa-apa dibanding kakek siluman itu, Soat Eng. Tapi kalau apa yang dikata suamimu dan Beng An benar maka tak ada salahnya kau di sini, daripada kami yang harus berkumpul di kamarmu.”

Soat Eng merah padam. Tak dapat dibayangkan marahnya terhadap kakek bermisai itu. Berturut-turut suami dan adik serta supek-supeknya menjadi korban. Dia sendiri memang belum diganggu dan Soat Eng gemas, tak percaya bahwa kakek itu takut kepadanya dan karena itu tak berani mengganggu. Karena, orang yang sudah mencapai tingkat kepandaian tinggi biasanya tak pernah takut kepada siapapun.

Dia hanya menduga bahwa kakek itu sengaja akan menjatuhkan gilirannya sebagai yang diganggu terakhir. Dan karena dia yakin bahwa kakek itu pasti mengganggunya, hal yang memang ditunggu maka wanita ini tak menolak lagi ketika supek dan suaminya sudah berkata begitu.

“Baiklah, aku akan tinggal di sini. Kita berlima semua berkumpul!”

Beng An dan yang lain lega. Kalau Soat Eng dan Siang Le ada di situ maka mereka merasa aman. Mereka masih menganggap Siang Le setingkat isterinya karena mendapatkan warisan Pendekar Rambut Emas, lupa bahwa tadi pemuda itupun diikat dan dirobohkan sang kakek siluman. Dan ketika semua mengangguk dan berkumpul di kamar itu, tak mau di kamar Soat Eng karena kamar suami isteri harus dihormati maka Soat Eng tak mau pintu kamar ditutup agar kakek itu dapat datang kalau dia memang ingin mengganggu.

“Biarkan saja, aku akan menunggunya di sini!”

Yang lain-lain bersinar matanya. Aneh, begitu Soat Eng ada di situ dan percaya wanita ini dapat melindungi mereka mendadak Beng An dan lain-lain menguap. Tadi berturut-turut Beng An dan Hauw Kam serta suhengnya tidur bergantian. Mereka sebenarnya sudah diserang kantuk yang hebat karena berjam-jam menahan mata. Mata yang berat dipaksa melek karena ketegangan serta kegelisahan melanda mereka. Tapi begitu Soat Eng ada di situ dan pasti melindungi mereka, eh.... tiba-tiba mereka menguap dan tidur berbareng.

“Heii...!” Soat Eng mengerutkan kening. “Jangan tidur semua, supek. Seorang atau dua di antara kalian harus menemani aku!”

“Hm, sebentar saja,” Hauw Kam menjawab, tak dapat menahan kantuk. “Aku lelah dan ingin sejenak beristirahat, Soat Eng. Kau dapat membangunkan kami kalau kakek itu muncul.”

“Benar,” suhengnya juga berkata, menguap sekali lagi. “Aku ingin tidur, Soat Eng, sebentar saja. Aku rasa terlalu lama menahan kantuk dan lemah. Mataku tak dapat dipaksa lagi.”

“Dan aku juga,” Siang Le tiba-tiba juga ikut-ikutan. “Aku ingin melepaskan sedikit ketegangan ini, Eng-moi. Kalau kaupun mengantuk silahkan tidur. Pintu ditutup.”

“Gila!” Soat Eng terkejut. “Kalian laki-laki pemalas, supek. Aku seorang diri disuruh berjaga sementara kalian tidur!”

Namun Gwan Beng sudah ngorok! Cepat sekali laki-laki itu tidur mendengkur. Hawa dingin tiba-tiba bergerak dan sesuatu yang menyeramkan terasa membangunkan bulu roma. Soat Eng mau membentak tapi mendadak iapun menguap. Dan ketika ia terkejut dan merasa ngantuk, aneh sekali, maka iapun terhuyung dan ingin beristirahat di sebelah suaminya. Tapi begitu melihat pintu masih terbuka mendadak, seperti disengat kalajengking tiba-tiba wanita itu melompat bangun dan berteriak,

“Le-ko, bangun. Jangan tidur semua!”

Namun Siang Le sudah ngorok! Sama seperti Gwan Beng dan lain-lain tiba-tiba saja pemuda itu tak dapat menahan kantuk. Angin yang semilir dingin dan bertiup aneh sekonyong-konyong membawa pengaruh mujijat untuk tidur, apalagi berjam-jam mereka ini sudah menahan kantuk dan ketegangan. Maka begitu angin itu bertiup sejuk dan hawa dingin yang menyeramkan bergerak di dalam kamar itu, hawa yang tidak wajar maka Soat Eng yang masih tahan dan mencium adanya sesuatu yang tidak beres segera menendang pintu kamar dan menutupnya.

Wanita itupun menguap dan berkali-kali mengeluh terhuyung-huyung, jatuh terduduk, namun bangkit lagi dan sekuat tenaga melawan kantuk. Malam tinggal satu setengah jam lagi dan itu sudah cukup untuk mengusir takut. Sam-liong-to akan terang kembali dan musuh tak bakal dapat menyembunyikan diri. Tapi ketika Soat Eng terhuyung dan jatuh lagi di dekat suaminya, hampir kalah melawan kantuk maka wanita itu mendengar kekeh yang aneh dan menyeramkan di luar.

“Heh-heh, tidurlah, anak manis... tidurlah. Kau sudah mengantuk dan seharusnya memang tidur. Tidurlah, dan biar aku berjaga di sini... slap!” seorang kakek tiba-tiba muncul, kakek bermisai panjang dan tahu-tahu berdiri di tengah pintu.

Soat Eng terbelalak karena pintu itu masih ditutupnya, jadi seharusnya kakek itu tak mungkin masuk. Tapi melihat kakek itu dapat masuk dan tubuhnya menembus pintu, seperti iblis, maka Soat Eng berteriak dan sekuat tenaga dia melengking menggetarkan pulau, sampai empat temannya terpental dan kaget membuka mata tapi kemudian tidur lagi!

“Keparat, iblis jahanam!” Soat Eng membentak, atau melengking menggetarkan pulau. ''Siapa kau, kakek siluman. Dan mau apa kau ke sini. Haiitttt...!” dan Soat Eng yang berkelebat serta menghantam ke depan, sudah berhasil mengusir kantuknya dengan bentakan yang menggetarkan pulau itu tiba-tiba mencelat dan menggerakkan kelima jarinya menusuk si kakek.

Tapi aneh bin ajaib, si kakek tertawa lebar. Dia tenang-tenang saja di situ dan pukulan itupun menghantam dahsyat. Soat Eng mengerahkan Pek-lui-ciangnya dan pintu itu hancur mengeluarkan suara keras, hancur berkeping-keping. Tapi ketika kakek tetap tinggal dan tegak di situ, pukulan lewat dan “menembus” tubuhnya maka Soat Eng ikut meluncur dan menembus tubuh kakek ini pula.

“Dess!” Soat Eng menjerit bagai bertemu hantu. Dia terjungkal dan terbawa oleh tenaga pukulannya sendiri tapi sudah meloncat berjungkir balik, berteriak dan kini menghadapi kakek yang sekarang membelakanginya itu. Tapi ketika si kakek menoleh dan memutar tubuhnya pula, menghadapinya, maka Soat Eng merinding dan seakan bertemu roh halus, bukan manusia!

“Kau... siapa?” nyonya muda ini mengigil, kaget bukan main. “Mau apa datang ke sini? Sengaja mengganggu dan mempermainkan orang?”

“Ha-ha!” kakek itu tiba-tiba tertawa, bola matanya berpijar dan berkilat bagaikan api, hal yang membuat Soat Eng lagi-lagi terkejut dan mundur selangkah, bagai disambar langsung! “Aku ke sini mencari seseorang, bocah. Tapi tak kudapatkan dia di sini. Apakah kau tahu di mana cecunguk yang kucari itu?”

“Siapa.... siapa yang kau cari?” Soat Eng gemetar, di samping marah juga jerih, baru kali itu dirasakan. “Kau mencari siapa dan kenapa datang ke sini? Apakah orang yang kau cari itu ada di sini?”

“Betul, begitu menurut yang kudengar. Tapi seluruh ruangan sudah kuperiksa tetap saja si busuk itu tak ada! Hm, apakah dia ngacir?”

“Siapa yang kau cari?”

“See-ong!”

“Apa, See-ong?”

“Ya, See-ong, bocah cecunguk itu. Kau tahu?”

Soat Eng tertegun. Tentu saja dia tahu siapa See-ong dan justeru karena kakek itulah dia dapat bersuamikan Siang Le, murid si kakek iblis. Tapi terkejut dan tertegun kakek itu menyebut See-ong bagai cecunguk, bocah, maka nyonya ini tak segera menjawab dan membelalakan mata lebar-lebar memandang kakek itu. Dari pembicaraan ini, tampaknya kakek itu orang yang jauh lebih tua daripada See-ong. Layaknya, orang yang berumur ratusan tahun karena menyebut See-ong yang sudah kakek-kakek itu sebagai bocah! Dan kaget serta mundur oleh pertanyaan ini maka Soat Eng tak segera menjawab hingga tiba-tiba si kakek bergerak maju, tangan diulur dan tahu-tahu sudah menggencet pundaknya!

“Kau tahu?”

Soat Eng mencelat dan kaget sekali, langsung membentak dan melepaskan dirinya.

“Di mana bocah itu, anak nakal? Di mana dia bersembunyi?”

“Aah!” Soat Eng marah, melengking dan memaki. “Jangan kau dekat-dekat aku, kakek siluman. Dan jangan coba-coba menyentuh. Sekali kau melanggar aku tak segan-segan menerbangkan nyawamu ke neraka!”

“Ha-ha-ha!” kakek itu tertawa bergelak, suaranya melingkar-lingkar. Sam-liong-to terguncang dan tergetar hebat. “Kau anak sombong yang congkak sekali, bocah. Kalau kau dapat mengantar aku ke neraka maka itu sungguh kebetulan. Aku selama ini tak mati-mati, minta mampus tapi belum juga dikabulkan! Ha-ha, lucu mendengar kau akan mengantar aku ke neraka sementara kepandaianmu masih sekuku ibu jari!” dan si kakek yang kembali bergerak dan mencengkeram Soat Eng tahu-tahu sudah meremas dan memencet pundak. “Nah, di mana cecunguk itu atau kau yang nanti kuhajar!”

Soat Eng kaget bukan main. Untuk kedua kalinya tiba-tiba dia tak dapat mengelak, atau, sudah mengelak namun masih juga kalah cepat oleh kakek ini, yang gerakannya seperti hantu. Dan ketika pundaknya dicengkeram dan dia menjerit, Soat Eng tak dapat melepaskan diri mendadak nyonya muda ini menendang dan dua jari tangannyapun menusuk.

“Cus-dess!”

Soat Eng merinding. Pukulannya tepat mengena tapi lagi-lagi seperti tadi tubuh kakek itu tak apa-apa. Jari tangannya yang menusuk bahkan terasa menembus dingin dan lewat sampai ke belakang punggung, lewat begitu saja seolah menyerang sebuah roh! Dan ketika Soat Eng berteriak karena pundaknya tahu-tahu diangkat, kakek itu marah maka dia sudah dibanting dan si kakek mengomel panjang pendek.

“Keparat, anak bau kencur!”

Dan Soat Eng yang bergulingan dibanting si kakek lalu meloncat bangun dan marah serta ngeri terbelalak dan melengking kuat untuk mencabut pedangnya. Giam-to Kiam-sut (Silat Pedang Golok Maut) tiba-tiba dikeluarkan dan menerjanglah gadis itu menyerang lawan. Si kakek mendapat tusukan dan tikaman pedang bertubi-tubi. Jurus-jurus dari silat pedang aneh sudah dikeluarkan wanita ini untuk merobohkan lawannya itu, pedang yang sebenarnya digunakan hanya sekedar untuk rasa aman dan terlindung, percaya diri. Tapi ketika babatan pedangnya masuk begitu saja dan semua tikaman atau tusukan seolah tembus menghadapi bayangan, mengeluarkan suara “crat-crat” tapi tak ada darah memuncrat maka Soat Eng ngeri dan histeris!

“Setan, kau bukan manusia!” dan si nyonya yang memekik dan mengeluarkan teriakan panjang akhirnya menyerang bukan untuk merobohkan lawan melainkan semata memberi dorongan semangat kepada dirinya sendiri. Soat Eng ngeri dan terbelalak karena tusukan-tusukan pedangnya itu tak menghasilkan apa-apa. Tubuh si kakek benar-benar seperti roh halus dan dia bukan menyerang manusia biasa, manusia yang berbadan wadag dan karena itu seharusnya dapat dirobohkan. Dan karena kakek itu hanya tertawa ha-ha-he-he dan Soat Eng ngeri, gentar, maka nyonya itu pucat dan pedang yang berkelebatan gencar sekonyong-konyong ditangkap dan dikeretak patah.

“Kau anak perempuan tak dapat mengalahkan aku. Pergilah!”

Soat Eng menjerit. Si kakek yang berupa badan halus tiba-tiba bergerak dan dapat menangkap pedangnya. Aneh sekali. Mana mungkin badan halus dapat menangkap badan kasar? Tapi karena dia sudah diperlakukan seperti itu dan pedang di tangannya dicengkeram patah, si kakek sendiri menggerakkan kaki dan dia mencelat maka nyonya ini terguling-guling tapi dapat meloncat bangun lagi, berkat Khi-bal-sin-kangnya itu.

“Eh,” si kakek merasa heran, membelalakkan mata. “Kau tak apa-apa? Kau masih dapat bangun?”

“Bedebah!” Soat Eng melengking. “Biarpun aku bukan tandinganmu tapi kaupun tak dapat merobohkan aku, kakek siluman. Hayo buktikan kata-kataku ini dan banting aku sekali lagi!”

Si kakek tercengang. Bola matanya yang berpijar bagai bola api sekonyong-konyong tak berkedip. Soat Eng menerjang tapi kakek itu meniup. Dan ketika serangkum angin dahsyat menahan dan menyambarnya, Soat Eng melawan dengan menambah tenaganya tiba-tiba dia yang terbanting lagi dan terpental serta terguling-guling lagi di tanah, tak kuat.

“Ha-ha, kubuktikan kata-katamu, bocah. Dan lihat berapa kali kau kuat bertahan!”

Soat Eng melengking lagi. Dia marah dan meloncat bangun serta menyerang lagi. Kali ini tangan kirinya ikut bergerak dengan pukulan Lui-ciang-hoat. See-ong sendiri sampai tak kuat dan harus mengakui kehebatannya, menghindar. Tapi ketika si kakek tertawa dan pukulan itu menembus barang halus, lewat begitu saja maka lagi-lagi kakek itu meniup dan Soat Eng terbanting.

“Bres-bress!”

Tiga kali Soat Eng jatuh bangun. Si kakek tertawa-tawa tapi Soat Eng dapat lagi meloncat bangun, ini berkat Khi-bal-sin-kangnya, tenaga Bola Sakti itu. Dan ketika si kakek tertegun dan mendecak kagum, terbelalak oleh ilmu ini maka kakek itu berseru dan bola apinya yang berpijar sekonyong-konyong mengeluarkan suara keras seperti petir menggelegar, disusul lidah api yang menyambar atau membelit tubuh Soat Eng.

“Aduhh...!” Soat Eng roboh terjengkang. Si nyonya tak kuat menahan panas dan lidah api yang menyambar dari mata kakek itu membelit dan melibat-libat tubuhnya. Soat Eng tak dapat menerangkan bagaimana sebuah lidah api dapat bergerak dan membelit seperti ular.

Pengalaman itu baru kali itu dialaminya seumur hidup. Nyonya ini menjerit dan berteriak. Tubuhnya tahu-tahu roboh dan dia sudah dililit bola api itu, yang terus bergerak-gerak dan akhirnya membungkus seluruh tubuhnya dari bawah sampai ke atas. Dan ketika Soat Eng terjengkang dan roboh tak berdaya, seluruh pakaiannya hangus namun tubuhnya tak apa-apa berkat Khi-bal-sin-kangnya maka kakek itu berseru kagum dan memuji dengan suara aneh.

“Luar biasa. Hanya siluman Bu-beng Sian-su yang dapat menurunkan ilmu seperti ini.... bukk!” dan Soat Eng yang roboh dan terbelit-belit lidah api, mengeluh dan memejamkan mata lalu mendengar si kakek berkelebat dan tahu-tahu desir angin yang dingin bertiup di samping tubuhnya.

“Heh!” kakek itu, yang bukan manusia biasa, bicara garang. “Kau memiliki Khi-bal-sin-kang segala, bocah. Kalau begitu apa hubunganmu dengan Kim-mou-eng!”

“Dia ayahku!” Soat Eng membentak, membuka mata. “Dan siapa kau, kakek jahanam. Beritahukan namamu dan bunuhlah aku!”

“Ha-ha, aku tak suka membunuh orang-orang biasa. Yang ingin kubunuh adalah Bu-beng Sian-su, kakek keparat itu. Apakah kau mendapat warisan Khi-bal-sin-kang darinya? Kapan kau bertemu Bu-beng Sian-su?”

Soat Eng tertegun. “Aku mendapat warisan ini dari ayah ibuku. Dan ayah ibuku dari kakekku!”

“Ha-ha, rupanya sudah turun-temurun. Hm, Bu-beng Sian-su benar-benar kakek keparat, terkutuk. Di mana dia dan kenapa menurunkan ilmu-ilmunya kepada orang lain? Eh, aku siapa baiklah kujawab, bocah. Aku adalah Poan-jin-poan-kwi. Aku susiok (paman guru) dari See-ong. Nah aku tak takut memperkenalkan diri dan boleh kau laporkan kedatanganku pada Sian-su!” dan si kakek yang tertawa bergelak dan menampar pundak Soat Eng tiba-tiba lenyap dan Soat Eng sendiri berteriak terkejut.

Wanita itu menjerit karena lidah api yang masih membelit tubuhnya mendadak menyengat begitu tajam. Soat Eng tak tahan dan langsung pingsan. Dan di Sam-liong-to terdengar tawa menggetarkan namun kemudian hilang, Istana Hantu berderak dan beberapa tiangnya roboh maka menjelang pagi barulah nyonya muda itu siuman, merasa hangatnya sinar matahari yang menyentuh pipinya. Dan begitu wanita ini melompat bangun namun terhuyung, seluruh tubuh terasa sakit-sakit maka ingatlah Soat Eng akan kejadian yang menimpanya. Dan saat itu terdengar pula rintih dan erangan seorang.

“Aduh, aku terjepit... tolong....”

Soat Eng membelalakkan mata. Di kamar itu, di depannya, tampak merangkak adiknya Beng An. Adiknya itu mencoba keluar dari tindihan tubuh tiga teman-temannya tapi tak dapat, rupanya masih lemas atau kehilangan tenaga. Dan Soat Eng yang cepat menghampiri dan limbung terhuyung lalu melihat suaminya dan Gwan Beng serta Hauw Kam membuka mata dan merintih pula.

“Aduh, kenapa ini? Bagaimana bisa tumpang-tindih?”

Soat Eng menarik Beng An dari yang lain-lain. Siang Le mengerang dan mereka semua juga mengeluh. Wanita ini pucat dan menggigil karena iapun merasa kehabisan tenaga. Guncangan dan pertandingan yang terjadi semalam rupanya benar-benar menguras kekuatan. Tapi ketika semua sudah ditarik dan tidak bertindihan lagi, Soat Eng jatuh terduduk maka wanita itu menangis dan mengepalkan tinju.

“Aku dihina seseorang. Aku dipermainkan seseorang!”

“Hm!” Siang Le, suaminya, tiba-tiba gemetar menghampiri, jatuh atau menjatuhkan diri di samping isterinya. “Apa yang terjadi, Eng-moi? Kenapa kami semua tertidur dan bermimpi buruk? Aku seolah mendengar angin menderu-deru, merasa ilmu pukulanmu Khi-bal-sin-kang itu. Tapi terakhir seolah kudengar ledakan bagai petir!”

“Benar, aku mendengar itu, Siang Le. Dan seolah ada kilatan cahaya yang terang benderang memenuhi tempat ini. Aku kaget dan terpental!”

“Dan itu rupanya yang membuat kita saling tumpang tindih. Ah, aku juga begitu, suheng. Aku seakan mimpi dan mendengar suara gemuruh dan menggelegarnya petir!”

“Hm, kalian tidak bermimpi,” Soat Eng mengepalkan tinjunya, menghentikan tangis. “Aku memang telah bertempur dengan kakek itu, supek. Tapi aku roboh dan dikalahkan!”

“Kapan?” pertanyaan itu hampir berbareng meluncur dari mulut semua orang. “Dan kenapa kami tidak tahu?”

“Kalian tidak tahu karena kalian tidur,” Soat Eng menjelaskan, berseru marah. “Tapi itu bukan kesalahan kalian karena rupanya memang perbuatan kakek itu!”

“Dia datang?”

“Ya, dan aku menyerangnya. Tapi semua sia-sia!”

“Maksudmu?”

“Maksudku pukulanku tak ada yang dapat merobohkannya, supek. Karena kakek itu tak dapat dipukul karena tak berbadan kasar. Pukulanku lewat dan tembus begitu saja, seolah menghantam roh!”

“Ih!” Beng An bergidik. “Jadi kau sudah bertemu dan bertempur dengannya, enci? Tapi kenapa dia tak mencelakai kita semua? Dan siapa kakek itu?”

“Inilah yang menarik,” Soat Eng bangkit berdiri, tiba-tiba matanya berkilat-kilat membara. “Kakek itu memperkenalkan diri sebagai Poan-jin-poan-kwi, Beng An. Dan mengaku sebagai susiok dari kakek iblis See-ong!”

“Apa?” semua orang kaget, Siang Le bahkan mencelat dari tempat duduknya. “Poan-jin-poan-kwi? Kakek itu.... kakek itu bilang begitu?”

“Ya,” Soat Eng menjawab, membalikkan tubuhnya. “Barangkali kau kenal, Le-ko. Dan aku sekarang ingin bertanya kepadamu.”

Aneh sekali, Siang Le tiba-tiba mengeluh dan jatuh terduduk. Pemuda ini mengeluarkan suara-suara tak jelas dan sekonyong-konyong berteriak. Dan ketika dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, Soat Eng dan lain-lain terkejut maka pemuda itu menumbuk pilar dan akhirnya terpelanting pingsan.

“Dukk!” Soat Eng dan lain-lain memekik. Soat Eng sendiri sudah berkelebat dan mengejar suaminya itu, kaget melihat suaminya tiba-tiba seperti orang tidak waras. Setelah bicara sendiri sekonyong-konyong meloncat dan berlari seperti gila. Tapi ketika suaminya terbanting dan pingsan menabrak pilar, rupanya tak melihat atau apa maka wanita ini sudah menyambar dan cepat menotok suaminya itu.

“Ambilkan air dingin, guyur mukanya!”

Hauw Kam sudah menyambar apa yang diminta. Seember air sudah dituang dan disiramkan ke wajah pemuda ini, Soat Eng terus menotok dan coba menolong suaminya itu. Dan ketika Siang Le membuka mata dan kaget meloncat bangun, dicengkeram dan ditahan pundaknya oleh sang isteri maka pemuda itu mengeluh.

“Ooh, celaka... kita sudah berurusan dengan roh-roh orang mati. Aku harus mencari suhu dan menemukannya. Dialah yang dapat mengatasi ini!” tapi ketika jari lembut isterinya menekan dan tak memperbolehkan pemuda itu melompat bangun, karena Siang Le rupanya mau lari dan histeris lagi maka Soat Eng menggigil berbisik di samping telinga suaminya itu.

“Le-ko, kau tak usah berpikiran macam-macam. Aku telah menetapkan bahwa kita pulang ke utara dan melapor pada ibu. Kita semua ke sana dan meminta perlindungannya. Kakek itu benar-benar luar biasa, aku sendiri tak yakin apakah dapat mengalahkannya, biarpun kita berempat. Karena itu biarlah kita ke sana dan menceritakan pada ibu dan juga ayah. Agaknya, hanya ibu dan ayah saja yang sanggup menghadapi kakek siluman itu!”

“Tak mungkin!” Siang Le berseru. “Ayahmu pun tak mampu menghadapi kakek ini, Eng-moi. Poan-jin-poan-kwi adalah mahluk setengah manusia setengah iblis. Dan mereka ada dua orang!”

“Apa?” Soat Eng terkejut. “Dua orang? Jadi masih ada seorang lagi?”

“Benar, dan mereka itu bukan mahluk-mahluk yang hidup di bumi lagi, Eng-moi. Melainkan roh-roh yang berkeliaran di alam halus. Mereka itu amat luar biasa dan sakti, sedemikian saktinya hingga kadang kala dapat kembali turun ke bumi lagi dengan mempergunakan badan yang aneh, bukan kasar tapi juga bukan halus. Itulah sebabnya ia tak dapat dipukul dan semua pukulan akan sia-sia!”

Soat Eng tertegun. “Kau tahu banyak tentang mereka?”

“Tidak banyak, tapi sebagian saja. Tapi mereka sudah bukan manusia karena sudah meninggal seratus tahun yang lalu!”

Soat Eng dan lain-lain kaget. Kalau sebelumnya tidak membuktikan sendiri bahwa kakek itu memang bukan sembarang manusia tentu mereka tak percaya. Tapi bahwa Siang Le memberitahukan kakek itu sudah tiada seratus tahun yang lalu, berarti sudah bukan manusia lagi maka tak urung mereka mengkirik dah merasa seram juga!

“Coba ceritakan bagaimana sebenarnya. Bagaimana mereka itu dapat datang ke sini dan mencari-cari gurumu!”

“Mereka mencari-cari suhu?” Siang Le tertegun. “Apakah dua orang yang sudah kau lihat?”

“Hm,” Soat Eng kelepasan bicara. “Aku belum bertemu semuanya, Le-ko. Tapi maksudku aku ingin tahu tentang mereka. Kalau yang seorang saja sudah begini hebat apalagi yang lain itu. Aku ingin tahu tentang mereka!”

“Aku tak tahu banyak,” Siang Le mengeluh. “Tapi kalau mereka datang dan mencari suhu maka pasti karena suhu melanggar sesuatu.”

“Maksudmu?”

“Setiap tahun atau paling lama dua tahun sekali suhu berhubungan secara batin dengan mereka itu, Eng-moi. Ada semacam sesajian atau korban tertentu untuk melaksanakan adanya hubungan ini. Suhu mendapat ilmu-ilmu hitam dari mereka, seperti Hek-kwi-sut atau lain-lainnya itu. Tapi karena agaknya suhu tidak melaksanakan tugasnya lagi maka dua susioknya itu datang untuk mencari tahu. Selebihnya, aku tak jelas!”

Soat Eng merinding. Bahwa See-ong memang kakek iblis dia sudah tahu. Tapi bahwa kakek itu juga masih mengadakan hubungan roh dengan orang-orang mati, seperti Poan-jin-poan-kwi itu maka dia merasa bergidik dan ngeri, seram! Sungguh See-ong bukan manusia baik-baik. Dan kalau See-ong bukan manusia baik-baik maka tentunya dua paman gurunya itu terlebih tidak baik lagi. Dan dia telah bertemu dengan seorang di antara mereka!

“Bagaimana?” suaminya bertanya. “Apakah secepatnya kita meninggalkan Sam-liong-to?”

“Tentu!” sang nyonya tak berpikir panjang lagi. “Aku ingin secepatnya menemui ayah dan ibu, Le-ko. Biarlah mereka yang memberi petunjuk atau menghadapi Poan-jin-poan-kwi ini. Kita sendiri sudah tak sanggup!”

“Baiklah,” Siang Le juga setuju. “Aku sependapat denganmu, Eng-moi. Dan mari kita pergi.”

Suami isteri itu bergerak. Beng An dan yang lain-lain tinggal mengikuti. Mereka ini di belakang dan diam-diam pucat, melangkah mengiringi suami isteri itu tapi ketika melihat tubuh dua gorila besar mendadak mereka berhenti, tertegun. Kiranya, karena tegang dan sibuk mengurusi diri sendiri mereka semua sampai terlupa akan mayat binatang itu. Sepasang gorila jantan dan betina itu telah tewas dibunuh Poan-jin-poan-kwi. Soat Eng terisak dan berlutut, memeluk serta menciumi hewan kesayangannya itu.

Tapi ketika suaminya memberi tahu bahwa mereka harus cepat-cepat pergi, siapa tahu gangguan ada di depan lagi maka wanita itu mengangguk dan bersama yang lain membuat lubang untuk mengubur mayat gorila itu. Selanjutnya mereka bergerak lagi dan menuju pantai. Sebuah perahu telah disiapkan dan mereka akan secepatnya meninggalkan pulau. Tapi ketika mereka tiba di pantai dan siap menarik perahu, yang disandarkan di sebuah batu karang mendadak di perahu itu telah ada Poan-jin-poan-kwi.

“Siluman...!”

“Iblis!”

Semua tersentak berseru kaget. Kakek itu, yang riap-riapan dengan misainya yang panjang tampak berdiri di dalam perahu sambil terkekeh. Matanya berpijar-pijar dan Hauw Kam serta suhengnya kaget bukan main, mundur dan tak kuat beradu pandang dengan bola mata yang merah membara itu. Mata si kakek seakan mengeluarkan api dan ganas sekali. Soat Eng sendiri sampai menunduk dan mengeluh terkejut, tak kuat. Dan ketika Beng An maupun Siang Le juga mundur berlindung di balik kedua tangan mereka, menutupi pandangan langsung untuk tidak beradu dengan mata si kakek maka Poan-jin-poan-kwi, kakek iblis itu, berseru terkekeh,

“Heh-heh, siapa di antara kalian yang menjadi cucu muridku? Siapa di antara kalian yang menjadi murid See-ong?”

Semua tertegun. Serentak mereka memandang Siang Le karena pemuda itulah yang menjadi murid See-ong. Tapi ketika Soat Eng sadar bahwa suaminya mungkin bisa menerima bencana, kalau mengaku, maka dia membentak mendahului dan melengking, “Di sini tak ada yang menjadi cucu muridmu. Tak ada yang menjadi murid See-ong. Enyahlah, kakek siluman. Kami akan pergi dan boleh kau menguasai pulau!”

“Ha-ha, aku akan membawa cucu muridku. Aku sudah mendengar bahwa satu di antara kalian ternyata adalah murid See-ong. Nah, mengakulah atau kalian nanti kuhajar!”

Soat Eng bergerak. Tanpa menunggu waktu lagi tiba-tiba dia membentak dan menerjang kakek itu. Khi-bal-sin-kang, pukulannya, langsung dikeluarkan dan menghantam dahsyat. Tapi karena kakek itu bukan manusia biasa melainkan mahluk halus yang memiliki kesaktian tinggi maka begitu dipukul begitu pula pukulan itu lewat dan menembus tubuhnya.

“Dess!” batu besar di belakang si kakek terhajar hebat. Batu itu roboh dan hancur berkeping-keping. Khi-bal-sin-kang telah menunjukkan kemarahannya tapi Soat Eng berkelebat dan menyerang lagi. Tangan si nyonya bergerak dan menangkap kakek itu. Tapi ketika tangannya mencengkeram sesuatu yang dingin dan lolos begitu saja, padahal jelas-jelas terlihat pundak si kakek tertangkap maka Soat Eng berteriak ngeri karena seakan menangkap atau mencengkeram bubur daging yang menjijikkan.

“Aiihhh...!”

Kakek itu tertawa bergelak. Soat Eng yang tak mampu menangkap korbannya tiba-tiba mendapat tendangan melingkar. Si kakek bergerak dan ganti menyerang nyonya itu. Dan ketika Soat Eng terlempar dan terbanting roboh, terguling-guling maka kakek itu sudah berkelebat dan menangkap Gwan Beng.

“Heh, kau cucu muridku?”

“Bukan!” Gwan Beng membentak, langsung menghantam dan menyerang kakek itu, tentu saja terkejut tapi juga ngeri. Namun ketika si kakek terbahak dan membiarkan pukulan itu, karena tembus dan tidak berakibat apa-apa maka si kakek mengangkat dan melempar tubuh laki-laki ini.

“Kau kurang ajar, perlu diberi pelajaran..... bress!” dan si kakek yang bergerak dan sekarang menangkap Hauw Kam, yang coba mengelak namun gagal maka kakek itu berseru apakah ini cucu muridnya.

“Bukan, aku murid Hu-taihiap yang gagah perkasa. Pergi kau, kakek siluman!” namun ketika si kakek terkekeh dan membiarkan pukulan itu, yang menembus tubuhnya maka Hauw Kam juga dibanting dan dilempar.

“Mungkin kau!” serunya menangkap Siang Le. “Hayo mengaku atau semua nanti kubunuh!”

“Bukan dia!” Beng An tiba-tiba berseru, berteriak menerjang kakek ini. “Akulah murid See-ong, kakek bau. Lihat ini pukulanku dan lepaskan dia.... buk!” dan pukulan Beng An yang mendarat di punggung si kakek tiba-tiba membuat kakek itu terbelalak karena Beng An berhasil menarik kolor celananya, langsung menelanjangi dan tampaklah bokong si kakek yang tepos.

Si kakek berteriak dan entah bagaimana wadag halusnya tiba-tiba menjadi wadag kasar. Itulah karena kolor celananya tadi. Beng An secara tak sengaja telah melampiaskan rasa gregetnya dengan memukul dan kemudian menarik celana si kakek. Dia bermaksud membuat kakek ini melepaskan Siang Le. Dan karena dia di belakang sementara yang ada ialah kolor celana itu, si kakek memakainya secara terbalik maka justeru simpul tali celana inilah yang disambar Beng An tapi justeru kebetulan merupakan kunci untuk membuat kakek itu kembali ke badan wadag, badan kasarnya.

“Heiii.... dess!”

Beng An mencelat. Si kakek mendupaknya seperti gaya dupakan seekor kuda. Anak itu terangkat dan terlempar tinggi, terbanting dan berdebuk di sana. Dan ke-tika Beng An mengaduh dan terguling-guling, encinya menangkap dan menolongnya bangun maka terdengarlah aum atau semacam pekik yang membuat Sam-liong-to berderak, laut tiba-tiba membuih.

“Bocah, kau telah menarikku ke bumi lagi. Keparat, aku harus mengulangi kehidupanku yang dulu dan sekarang aku dapat disentuh. Aiiiihhhhhh....!” dan pekik atau aum yang membuat pulau bergetar tiba-tiba disusul oleh gemuruh ombak yang setinggi bukit. Dan bersamaan dengan bergolaknya air laut tiba-tiba mendung hitam bergerak dari utara menuju selatan.

“Dar-dar!”

Dua kali ledakan petir menyambar tubuh kakek itu. Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba roboh dan menjerit. Kakek yang semula berpijar matanya itu mendadak lenyap, terganti dengan sinar mata biasa yang ganas dan mencorong. Dan ketika hujan turun bagai dicurahkan, Sam-liong-to tiba-tiba bergerak dan kena gempa bumi maka terjadilah badai atau prahara yang ribut.

“Menyingkir, semua kembali ke Istana Hantu!”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa tiba-tiba saja Sam-liong-to bergolak. Air laut membuih dan ombak setinggi bukit melanda tempat itu. Si kakek tergulung dan lenyap disapu ombak. Poan-jin-poan-kwi rupanya setengah pingsan, karena tadi mendapat dua kali sambaran petir berturut-turut. Tapi karena mereka sendiri lalu diserang badai dan ombak setinggi bukit itu menerjang mereka, daratan tiba-tiba tenggelam oleh laut yang membuih maka Siang Le cepat-cepat menyelamatkan diri, menyambar dua supeknya yang tadi dibanting si kakek.

“Cepat, menyingkir. Kita sembunyi di istana!”

Gwan Beng dan sutenya terbelalak gentar. Mereka melihat kedahsyatan alam dan bengong. Poan-jin-poan-kwi disapu dan digulung ombak, lenyap dan entah kini ke mana. Tapi ketika mereka diseret dan disambar Siang Le, yang bergerak dan berlari ke tengah pulau maka mereka mengikuti dan akhirnya memasuki Istana Hantu.

“Tutup pintunya, cepat. Yang rapat!”

Gwan Beng memalang pintu dengan sebongkah besi berkait. Besi itu jarang digunakan dan hanya untuk saat-,saat terpenting sajalah dipakai. Kini mereka sudah berada di dalam istana dan mendengar gemuruh atau mengamuknya air laut. Semua rata-rata basah kuyup dan Soat Eng mengajak turun ke bawah, karena pintu berkali-kali dihantam ombak dan dikhawatirkan pecah. Dan ketika mereka bersembunyi semakin jauh dan suara-suara itu sudah lemah terdengar, masing-masing merasa lega maka mereka dapat bercakap-cakap dan heran serta ngeri oleh perobahan alam yang luar biasa ini, yang seolah mengamuk atau marah-marah terhadap manusia.

“Aku tak mengerti, kenapa bisa begini. Tapi tentu karena kakek iblis itu. Poan-jin-poan-kwi!”

“Hm, benar. Aku juga menduga begitu Siang Le. Tapi kenapa kakek itu tiba-tiba melolong atau memekik begitu marah. Dia tampaknya mengalami sesuatu yang mengguncang jiwanya.”

“Dan Beng An tadi berhasil memukul punggungnya! Eh, apa yang kau lakukan, Beng An? Bagaimana kakek itu tiba-tiba terpegang olehmu? Bukankah kita semua tak mampu memegangnya? Dan aku tadi serasa memegang bubur daging yang menjijikkan!” Soat Eng, yang bergidik dan ngeri oleh ini terbelalak memandang adiknya.

Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Poan-jin-poan-kwi memiliki pantangan, yakni tak boleh diserang anak kecil dari belakang apalagi kalau sampai menarik simpul kolornya itu. Kakek yang semula berbadan halus itu akan berobah ujud, kembali ke alam kasar dan ini berarti kakek itu “hidup” kembali, mengalami masa sejarahnya yang lalu dan kematian atau rasa sakit akan menghinggapinya seperti halnya manusia-manusia lain di bumi, jadi kakek itu ditarik keluar dari alam gaibnya di sana.

Dan karena Beng An telah melakukan itu dan tali kolor si kakek dilepas kuat, bahkan nyaris membuat si kakek telanjang bulat maka pantangan atau hal yang tak disukai Poan-jin-poan-kwi terjadi di sini. Kakek itu tak akan berbadan halus lagi. Pukulan-pukulan manusia akan mengenai tubuhnya dan dia dapat berasa sakit atau pedih. Tubuh halusnya yang semula dibanggakan dan dapat membuat gentar lawan kini tak ada lagi. Dia sudah tak lagi “dapat ditembus” melainkan benar-benar sudah seperti manusia biasa. Artinya dapat dipukul atau dihantam, dipegang.

Dan karena itu berarti rasa sakit atau siksaan, si kakek tak memiliki lagi keunggulan bertubuh roh maka kakek ini menjadi manusia biasa dan itu semua ditandai dengan kejadian alam yang dahsyat, bergolaknya air laut dan datangnya mendung serta petir. Soat Eng tak tahu akan itu karena memang tidak tahu asal mulanya. Yang lain-lain pun juga tidak tahu dan karena itu terheran-heran serta ngeri oleh semuanya ini. Tapi ketika Soat Eng bertanya dan Beng An mengingat-ingat maka anak itu berkata bahwa entah bagaimana tangannya dapat menyentuh punggung si kakek.

“Aku juga tak mengerti. Tapi karena aku ingin menyelamatkan Le-twako karena Le-twako ditangkap dan akan dicelakai kakek itu maka kuserang dan kupukul dia. Dan agar dia lebih malu maka tali kolornya itu kutarik hingga bokongnya yang tepos kelihatan!”

“Ha-ha!” Hauw Kam geli melihat ini. “Kau benar, Beng An. Kakek itu tampak terkejut dan tersipu-sipu membetulkan celananya. Tapi kau didupak sampai mencelat!”

“Hm, bukan aku saja. Supek pun juga!” anak itu geli. “Kau juga ditendang dan mencelat, supek. Dan kita semua dihajar jatuh bangun!”

“Hm, jangan tertawa saja,” Soat Eng tak geli, bahkan jijik melihat pantat si kakek. “Aku muak dan benci kakek itu, Beng An. Tapi kepandaiannya luar biasa sekali hingga kita tak sanggup melawan. Kita agaknya harus menyelamatkan diri memutar Sam-liong-to kalau badai sudah reda.”

“Tapi kakek itu tertelan ombak!” Gwan Beng tiba-tiba berseru. “Apakah ini bukan berarti kakek itu sudah binasa? Agaknya kita tak perlu takut lagi, Soat Eng. Kita dapat keluar dan menyelamatkan diri dengan tenang!”

“Hm, belum tentu,” Siang Le yang merasa lebih tahu menolak anggapan itu. “Kakek itu mahluk roh, supek. Kalau dia tertelan ombak maka dapat saja dia menyelamatkan diri. Apa yang kita lihat belum tentu benar, karena mata lahir tak dapat dipakai patokan untuk melihat yang batin, yang roh. Karena mahluk roh dapat berobah ujud dan menjadi apa saja seperti apa yang dia inginkan!”

“Kalau begitu bagaimana? Apakah kita tidak jadi meninggalkan pulau?”

“Tentu jadi, tapi tak usah menentang bahaya. Maksudku, aku menyetujui pendapat isteriku tadi bahwa sebaiknya kita memutar dan meninggalkan Sam-liong-to lewat belakang!”

“Baiklah, aku setuju. Dan badai rupanya sudah reda!” Gwan Beng tak banyak omong, mengangguk dan menajamkan telinganya karena tak mendengar suara-suara gemuruh tadi. Badai atau angin topan telah berhenti, begitu rupanya. Dan karena yang lain juga tak mendengar apa-apa lagi dan Soat Eng mengajak naik ke atas, mendekati pintu yang dipalang maka benar saja buih ombak atau gelegar petir sudah lenyap.

“Nah, dugaanku benar. Mari kita lihat dan buka pintu.”

“Nanti dulu!” Soat Eng berhati-hati. “Biar aku yang membukanya, supek. Kalian mundur!” dan menyambar palang pintu sambil mendorong supeknya maka nyonya inilah yang membuka pintu. Tapi begitu pintu dibuka mendadak muncul sebuah kepala dan Poan-jin-poan-kwi ada di situ!

“Hargh, ke mari kalian, tikus-tikus cilik. Dan serahkan bocah itu kepadaku!”

Soat Eng kaget bukan main. Bahwa Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba muncul di situ dan masih hidup, menunggu dan rupanya membiarkan mereka membuka pintu membuat wanita ini mencelat berseru keras. Palang pintu di tangannya tiba-tiba menyambar ke bawah, langsung menghantam. Dan karena kakek itu menjulurkan kepalanya untuk melongok, mencari Beng An, maka tepat sekali palang besi itu mendarat telak.

”Pletak!”

Tapi palang besi itu patah menjadi tiga potong. Kepala Poan-jin-poan-kwi rupanya jauh lebih hebat dan besi itu kalah, Soat Eng kaget dan berjungkir balik melayang turun. Dan karena kakek itu akan menerobos sementara teman-temannya juga bergerak untuk mencegah maka Soat Eng yang berteriak melayang turun tiba-tiba menendang atau menjejak pintu besar itu.

“Semua mundur, awas..... bress!” dan si kakek yang tergencet dan terjepit di tengah tiba-tiba memekik karena kesakitan. Sekarang Soat Eng membelalakkan mata karena dua kali berturut-turut tubuh lawannya ini dapat dipukul, padahal tadinya kakek itu seperti roh atau siluman jahat. Dan karena dua kali serangannya dapat dirasakan si kakek, yang berteriak kesakitan maka Soat Eng menjadi girang dan tangan kirinyapun menyambar dengan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Kakek itu terpental. Soat Eng mendengar jerit dan pekik kesakitan. Khi-bal-sin-kangnya rupanya mendapat sasaran dan dia girang bahwa kakek itu dapat dipukul. Tapi ketika dia mau menerjang keluar dan menyerang lagi, mendapat harapan sekonyong-konyong suaminya menarik tangannya.

“Jangan diladeni, tak akan menang. Sebaiknya kita pergi dan tutup lagi pintu itu!”

Soat Eng tertegun. Sebenarnya dia ingin mencoba dan tak puas. Tapi karena yang lain-lain juga berseru begitu dan Gwan Beng maupun Hauw Kam sudah menutup pintu, mempergunakan palang yang lain maka mereka terbirit-birit mengajak lari.

“Ingat, sudah ditelan ombak masih juga dia dapat hidup. Apakah ini tak menunjukkan dia kakek siluman, Soat Eng? Ayo pergi, dan biarkan dia menggedor-gedor pintu!”

Soat Eng bingung. Menurutkan kata hatinya, ingin dia melabrak dan menerjang kakek itu. Tiga pukulannya sudah mengena telak dan si kakek kesakitan, meskipun agaknya juga tak apa-apa, karena dapat melompat bangun dan kini si kakek marah-marah di luar pintu besi. Pintu itu didobrak-dobrak dan digedor-gedor, istana sampai tergetar dan beberapa anak tangga sampai berderak patah. Tapi karena suaminya sudah menarik dan Gwan Beng serta yang lain-lain tampak ketakutan, jerih, maka apa boleh buat Soat Eng menahan perasaan tidak puasnya untuk melarikan diri.

“Kita menuju ke samping kanan. Menembus jalan rahasia!”

Soat Eng mengangguk geram. Dia membiarkan saja suaminya lari dan menyeret dirinya. Dan ketika terakhir kali mereka mendengar suara keras di luar, pintu besi itu agaknya jebol, hancur dipukui si kakek maka mereka berlima sudah muncul dan keluar dari tempat bawah tanah, tepat di atas bukit.

“Mari, semua ke atas. Cepat, naik..... naik....!”

Soat Eng lebih dulu berkelebat keluar. Nyonya ini tak puas melihat sikap suaminya yang begitu ketakutan, pucat. Tapi karena yang lain-lain juga begitu, dan Poan-jin-poan-kwi itu memang seperti siluman saja maka nyonya ini dapat mengurangi rasa tidak puasnya dengan mengerti akan itu. Dia sendiri sudah menarik yang lain-lain agar berlompatan keluar.

Suara geraman atau pekik marah si kakek terdengar sampai ke atas. Benda-benda di dalam istana rupanya dipukuli atau dihajar, karena terdengar ledakan-ledakan atau semacam suara patung-patung roboh yang berdentum. Di bawah sana memang banyak terdapat patung-patung batu. Dan ketika semua keluar dan lari ke pantai, Soat Eng menyambar adiknya maka suaminya dan yang lain-lain sudah mengikuti.

“Ah, kita tak memiliki perahu lagi. Perahu kita sudah hancur dihantam ombak!”

Soat Eng tertegun. Terlihat olehnya keping badan perahu yang berserakan. Itulah perahu yang tadinya hendak mereka pakai namun kini sudah hancur diserang badai. Namun ketika Gwan Beng bergerak dan melepas gulungan tali, mengikat dan merakit pecahan-pecahan papan itu menjadi sebuah getek maka terciptalah “perahu” darurat ini dalam keadaan memaksa.

“Ayolah, tak usah bingung. Kita tetap dapat mempergunakannya dan pergi dengan cepat!”

Semua kagum. Hauw Kam terbahak memuji suhengnya ini, sang suheng tak tertawa karena merasa serius. Dan ketika mereka berlompatan dan naik ke atas getek, siap didorong dan mengarungi lautan bebas maka mereka bingung karena tak ada dayung.

“Wah, tak ada yang dapat dipakai mendorong. Kita semua mempergunakan tangan. Dayung!”

Namun ketika getek digerakkan dan didorong dengan tangan, semua sudah membungkuk dan menyibak air laut mendadak getek tertahan sesuatu dan tak mau maju!

“Eh, apa ini? Kenapa tak mau jalan?”

“Seolah tertambat. Seakan ada tali yang menahan!”

“Ah, benar. Itu, lihat. Sisa tali Gwan-suheng nyangkut di kayu!”

“Hm, biar aku yang melepaskan!” dan Soat Eng yang menggerakkan tangan menabas dari jauh tiba-tiba membuat tali itu putus dan yang lain tertawa memuji kepandaian nyonya ini. Getek bergerak dan Siang Le serta yang lain-lain mendorong dengan tangan. Itulah dayung darurat yang mereka pakai. Tapi baru saja getek melaju dan melepaskan diri mendadak tertahan lagi dan sebuah tali lain menjerat kuat.

“Ah, bagaimana ini? Siapa yang mengikat ?” Hauw Kam marah-marah, meraih dan menabas putus tali itu namun aneh sekali sang tali tak dapat putus. Dibacok dan dipukul miring tali itu hanya tergetar dan membal saja, seperti karet. Tapi setelah Hauw Kam mencabut pedang pendeknya dan menghantam tali itu maka putuslah sang tali dan getek melaju lagi.

Namun kejadian lain membuat mereka terkejut. Getek mendadak berhenti lagi dan kini bergerak mundur. Semula disangka terdorong ombak namun ternyata bukan, karena seseorang terasa menarik getek itu tanpa suara. Dan ketika mereka heran dan menoleh, hampir serentak, maka terpekiklah mereka oleh munculnya seorang kakek yang misainya sampai ke kaki sementara bola matanya berpijar-pijar seperti api.

“Poan-jin-poan-kwi!”

Semua sudah hapal. Hampir serentak pula mereka semua berseru. Kakek itu ternyata sudah berdiri di pantai dan sebelah tangannya bergerak maju mundur menarik getek. Tak ada tali atau benda lain yang dipakai. Tapi ketika serangkum angin dingin menyedot perahu darurat itu dan dari daya sedot inilah getek tertarik mundur maka semua orang menjadi maklum bahwa tenaga sakti kakek itulah yang membuat semuanya begini!

“Kau!” si kakek berseru, memandang Beng An. “Ke sinilah, bocah. Tinggalkan teman-temanmu dan hinggap di pundakku!”

Aneh sekali, Beng An tiba-tiba melesat. Seperti burung atau garuda menyambar anak laki-laki ini sudah “terbang” ke arah si kakek, duduk atau hinggap di pundaknya seperti orang tidak sadar. Tapi ketika Soat Eng melengking dan menjerit panjang, kaget melihat adiknya di tangan musuh tiba-tiba nyonya ini sudah menyambar dan berjungkir balik dengan Jing-sian-engnya, menggerakkan tangan kiri melepas Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Kakek itu tak bergoyang. Pukulan si nyonya lewat dan “tembus” begitu saja.

Soat Eng tertegun dan membelalakkan matanya. Tapi begitu sadar dan melengking lagi, heran dan marah bagaimana kakek ini tiba-tiba seperti semula lagi, padahal tadi dapat dipukul dan disentuh maka wanita itu sudah berkelebatan dan melepas pukulannya lagi, bertubi-tubi dan cepat dan tiga kali wanita ini coba menyambar adiknya. Tujuan Soat Eng adalah merampas kembali adiknya di pundak musuh. Tapi ketika semua itu tak berhasil dan adiknyapun tak dapat disentuh, Beng An seolah barang halus yang tak dapat diraba maka Soat Eng terbelalak dan semakin kaget saja.

“Beng An, meloncat ke sini. Bebaskan dirimu!”

Namun Beng An diam mematung. Entah bagaimana begitu jatuh dan melekat di pundak si kakek tiba-tiba saja anak ini seolah arca. Beng An tak bergerak dan juga tak bernapas. Soat Eng tak melihat gerakan dada adiknya itu hingga menjadi pucat sekali. Maklumlah, itu berarti adiknya tak bernyawa! Dan ketika nyonya ini membentak dan melengking panjang, berkelebat di betakang si kakek untuk mencengkeram tengkuknya maka suatu benda dingin disentuh wanita ini....

Rajawali Merah Jilid 09

RAJAWALI MERAH
JILID 09
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“AH!” nyonya ini berkelebat keluar, kaget bukan main. “Apa yang terjadi, Beng An? Apa yang kalian alami?”

“Aku tak tahu. Kami semua tahu-tahu serasa dipukul orang dan dililit. Pantat kami digebuki, kita bertemu iblis!”

“Tak mungkin, itu tentu orang luar biasa yang mencoba mempermainkan kita. Keparat!” dan Soat Eng yang melepas serta mengurai tali rotan itu lalu terbelalak dan marah memandang ke sana ke mari. Suami dan adik serta supek-supeknya dihajar orang secepat itu, ketika dia memasuki rumah. Dan kaget bahwa kejadian berlangsung demikian cepat, secepat kilat menyambar maka Soat Eng maklum bahwa seorang sakti yang kepandaiannya sukar diukur sedang menyatroni rumahnya.

Soat Eng bergidik bahwa dia kalah cepat. Dia memperhitungkan bahwa waktu yang dipergunakan tadi tak lebih dari sepersepuluh detik, dan untuk waktu yang demikian singkat adik dan yang lain-lainnya ini diikat orang. Betapa luar biasanya! Tapi Soat Eng yang tentu saja tak takut dan justeru marah oleh semuanya ini lalu mengajak yang lain-lain untuk memeriksa lagi.

Lampu sudah mereka nyalakan dan bayangan yang berkelebatan seperti siluman itu juga sudah tak ada lagi. Tawa yang aneh dan menyeramkan juga sudah tak terdengar. Beng An dan yang lain-lain diam tak bersuara, mereka mencari sementara mata melirik gentar, muka pucat. Dan ketika pintu-pintu akhirnya ditutup dan malam itu Soat Eng mengajak ke dalam, ke ruangan besar di mana tiga kamar berdiri saling berhadapan maka dia berkata bahwa sebaiknya semua tidur.

“Kita sudah penat mencari, namun siluman itu tak ada. Rupanya kalau bukan atas kehendaknya sendiri jahanam itu tak muncul. Biarlah, biar kita istirahat di kamar kita masing-masing, supek. Kamar kita berhadap-hadapan dan kalau ada apa-apa tentu yang lain akan mendengar. Kalian tidurlah, biarkan siluman itu membangunkan kita!”

“Aku di mana?” Beng An tiba-tiba bertanya. “Apakah sendirian saja?”

“Kau di samping kamarku, Beng An. Pintu dan jendela sudah kututup rapat-rapat. Kalau siluman itu masuk tentu harus memecahkan kaca atau jendela.”

“Tapi kakek itu seperti roh. Dia agaknya dapat menembus dinding atau daun-daun pintu dengan mudah! Masa aku harus sendirian, enci?”

“Hm, kau tidak sendirian, Beng An. Ada aku dan lain-lain di sini...”

“Sama saja, itu tetap aku sendiri. Aku di kamar sendirian!”

“Kalau begitu aku menemanimu,” Siang Le tiba-tiba berkata, juga menggigil dan pucat. “Atau kau bersama kami di kamar kami, Beng An. Biar bertiga!”

“Hm, tak baik,” Gwan Beng, orang tertua di situ berkata. “Kamar suami isteri tak boleh dimasuki siapapun, Siang Le. Kalau Beng An tak mau sendirian di kamarnya biarlah dia bersama kami!”

“Tapi dia adik isteriku sendiri...”

“Tetap saja tak boleh! Kamar suami isteri harus khusus, Siang Le, tak boleh dimasuki siapapun. Itu kamar pribadi. Biarlah Beng An bersama kami dan kami akan melindunginya kalau ada apa-apa!”

Siang Le tak dapat berbuat apa-apa. Beng An sendiri akhirnya dapat melihat kebenaran itu dan tak memaksa, meskipun sebenarnya ia memang berdekatan dengan enci dan kakak iparnya itu. Bagi Beng An, Siang Le selihai encinya karena pemuda itu sudah diberi Khi-bal-sin-kang dan lain-lain oleh ayahnya, tak, tahu bahwa semua itu sudah “dibuang” oleh Siang Le alias tak dipelajari, gara-gara ibu mertuanya. Dan ketika Soat Eng mengangguk dan merasa bahwa kamar suami isteri memang tak boleh dimasuki siapapun, biarpun saudara sendiri maka dia merelakan Beng An bersama supeknya, apalagi kamar itu juga berhadapan.

“Baiklah, kalian semua tidur, atau berjaga-jaga.....”

“Aku tak mungkin tidur. Aku pasti berjaga-jaga!” Beng An berseru mengepal tinju, marah, meskipun takut. “Aku akan memanggilmu begitu kakek siluman itu datang, enci. Aku akan bersama twa-subek di kamar mereka!”

Soat Eng mengangguk. Memang itu cara terbaik dan sekali lagi dia memeriksa pintu dan jendela. Mereka sudah di ruangan paling bawah dari Istana Hantu. Ista na itu luas dan memiliki puluhan ruangan. Kalau tak biasa tidur di tempat ini tentu merasa seram, apalagi sendirian! Tapi karena Soat Eng bukan wanita lemah dan nyonya muda itu adalah puteri Pendekar Rambut Emas yang gagah maka Soat Eng sudah menutup pintu kamarnya sendiri ketika adiknya sudah dibawa dan masuk ke kamar supeknya.

Siang Le sang suami tampak termangu dan pucat. Masih terbayang di benak pemuda ini betapa seseorang seperti iblis telah mempermainkan dan mengikat dia berempat. Pantat mereka ditepuk satu-satu dan usapan yang dingin membuat bulu tengkuk meremang. Tawa yang aneh dan usapan yang aneh cukup membayangkan bahwa yang mempermainkan itu adalah iblis. Atau, mungkin, roh penasaran yang ada di Istana Hantu!

Namun karena roh-roh di situ sudah diusir gurunya dan dulu See-ong telah menggebah mahluk-mahluk halus agar tidak tinggal di istana itu maka Siang Le agak ragu juga bahwa masih ada, sebuah roh yang tertinggal, mungkin dulu bersembunyi dan tidak konangan gurunya!

Tapi, mungkinkah itu? Siang Le ragu. Urusan roh-roh halus adalah urusan yang sudah menjadi pekerjaan gurunya. See-ong memiliki ilmu-ilmu hitam yang kuat pengaruhnya untuk mengusir roh-roh jahat, meskipun kakek itu sendiri adalah orang jahat! Tapi karena mungkin saja ada sebuah roh yang sakti dan luar biasa yang tak dapat ditangani gurunya maka Siang Le bergidik jangan-jangan roh inilah yang sekarang mengganggu!

“Kau melamun apa? Takut?”

Siang Le terkejut. Teguran atau seruan isterinya ini membuat ia sadar bahwa mereka masih di luar kamar. Yang lain-lain sudah masuk sementara dia sendiri masih menjublak di situ, ngeri. Maka begitu isterinya menegur dan Siang Le ditarik ke dalam maka pemuda ini bergerak dan sudah bersama isterinya menutup pintu kamar.

* * * * * * * *

Tak ada apa-apa malam itu. Maksudnya, setelah bulan condong ke barat dan malam telah lewat dari titik pusatnya maka tak ada suara atau apapun yang mencurigakan hati. Siang Le menahan kantuk dan duduk bersandar meja. Isterinya sendiri bersila di tengah pembaringan sambil mengumpulkan tenaga.

Siang Le diajak bersila namum pemuda ini menggeleng. Dalam saat-saat seperti itu maka tak ada gairah atau keinginan untuk bersamadhi. Maunya hanya tidur dan melepaskan ketegangan. Namun karena sesuatu mengganggu mereka dan pemuda ini tak dapat bersiulian (bersamadhi) maka dia duduk di kursi dan menyandarkan tubuh di situ.

Malam semakin larut dan sunyi. Beberapa jam lagi matahari akan muncul dan nikmat rasanya membayangkan suasana yang cerah. Malam yang gelap seakan membuat pikiran pepat. Kalau saja tak ada gangguan itu mungkin tak akan ada perasaan yang lain. Namun karena seseorang atau sesuatu mahluk halus telah mengganggu mereka, bahkan membunuh dua gorila jantan dan betina maka Siang Le bergidik teringat betapa dia dan dua supeknya serta Beng An dihajar dan diikat seseorang.

“Tolong....!”

Siang Le tersentak dari kursinya. Dia sedang melamun dan tiba-tiba mendengar teriakan itu, dari kamar Beng An. Tapi ketika dia baru bangkit berdiri dan mau bergerak ternyata isterinya telah mencelat dan mendahului tubuhnya.

“Brakk!” sang nyonya telah menghantam pintu kamar dan langsung berkelebat ke tempat Beng An. Sayup-sayup, seperti mimpi, mereka berdua mendengar seruan atau teriakan itu. Beng An menjerit dan minta tolong. Soat Eng yang bergerak lebih cepat dari suaminya telah mendahului dan melesat ke kamar itu, mendobrak dan membuka pintunya. Tapi ketika nyonya ini berada di dalam dan siap menyerang tiba-tiba dia tertegun.

Ternyata Beng An dan dua supeknya ada di dalam, tak apa-apa. Beng An tampak dipapah dan Gwan Beng serta Hauw Kam mengurut-urut pundak atau tengkuk anak itu. Dan ketika Gwan Beng terkejut oleh kedatangan Soat Eng, yang mendobrak pintu maka kakek itu menarik napas berkata perlahan,

“Maaf, tak ada apa-apa, Soat Eng. Adikmu bermimpi...”

“Ah, bermimpi? Benarkah, Beng An?” sang nyonya, yang terkejut tapi juga lega segera menangkap dan mengguncang lengan adiknya ini. Beng An tampak layap-layap dan mengantuk berat. Anak itu rupanya memang baru saja bermimpi dan mimpinya itu begitu menakutkan, sampai menjerit minta tolong tanpa sadar. Tapi ketika encinya mengguncang dan menggencet lengannya, si bocah sadar maka Beng An mengangguk dan tersipu merah.

“Benar, aku bermimpi. Maaf, enci. Aku tak apa-apa.” dan saat itu muncullah Siang Le, yang kalah dulu dengan isterinya.

“Apa yang terjadi? Ada apa?”

“Tak ada apa-apa. Beng An hanya bermimpi.”

“Ah, aku sampai terkejut. Hm, dua jam lagi sudah terang tanah, Eng-moi. Kupikir tak ada apa-apa lagi dan kita aman. Kalau begitu biarkan dia beristirahat dan kita kembali.”

“Ya, mari,” dan Beng An yang kembali minta maaf dan tersipu malu lalu mengantar encinya dan tidur lagi. Dia tadi bermimpi didatangi kakek yang menakutkan itu, ditangkap dan dipermainkan si kakek sambil tertawa-tawa. Dia meronta dan coba melepaskan diri namun tak berhasil. Dan ketika kakek itu hendak menggigit dan dia menjerit, maka itulah yang terjadi di mana dia minta tolong sampai encinya datang.

Soat Eng lega dan menutup kembali pintu kamarnya. Malam lewat tiga perempat bagian dan beberapa jam lagi liong-to akan terang tanah. Diam-diam nyonya yang juga tegang ini mengharap pagi. Kalau sampai pagi musuh tak datang menganggu maka itu adalah baik. Tapi kalau dia datang keesokan harinya, hmm... tentu juga tak apa-apa. Dia bahkan dapat melihat wajah orang dan mengetahui siapa pengganggu itu. Tapi baru nyonya ini bersila lagi, Siang Le juga bersandar di kursi tiba-tiba terdengar jerit minta tolong dan dua-duanya berkelebat ke pintu.

“Brakk!”

Hauw Kam yang kali ini menjadi biang keladi. Kakek itu yang tidur dengan pulas, rupanya tak dapat menahan kantuk tiba-tiba menjerit dan minta tolong. Seruan itulah yang membuat Siang Le dan isterinya berkelebat datang. Mereka tahu-tahu sudah ada di dalam kamar tapi kembali tertegun. Hauw Kam, si kakek, tampak diguncang dan dibangun-bangunkan oleh Beng An dan Gwan Beng. Entah bagaimana kakek inilah yang sekarang bermimpi dan menjadi korban dari mimpinya. Dan ketika dia dibangunkan dan terkejut, melihat Siang Le suami isteri ada di situ pula maka kakek ini meloncat bangun dan memaki-maki.

“Keparat, aku dicekik kakek iblis itu. Dia datang dan menyerangku!”

“Hm, di mana kau menjumpainya, supek? Apakah dalam mimpi?”

“Beb.... benar. Ah, terkutuk. Malu aku!” dan si kakek yang mendusin dan minta maaf, sadar, segera tahu bahwa kiranya dia bermimpi.

Siang Le tersenyum dan Soat Eng lega memandang supeknya. Ji-supeknya itulah yang tadi berteriak minta tolong dan disangkanya musuh benar-benar datang, tak tahunya sang supek bermimpi dan berteriak dalam mimpinya itu, sama seperti Beng An. Dan ketika Hauw Kam minta maaf dan Soat Eng kembali, hari sudah semakin mendekati pagi maka di kala nyonya ini mau tertidur diserang kantuk yang berat, lega bahwa sudah tak ada apa-apa lagi mendadak untuk yang ketiga kalinya terdengar jerit minta tolong.

“Tolong...!”

Siang Le geragapan. Isterinya sendiri sudah mencelat dan berkelebat mendorong pintu. Soat Eng yang juga layap-layap namun dapat mempertahankan diri sudah bergerak dan bereflek cepat. Nyonya ini memang termasuk yang paling berkepandaian tinggi dibanding semua. Tapi ketika Soat Eng bergerak dan membentak ke dalam kamar, mendengar twa-supeknya yang berteriak maka nyonya itu tertegun melihat twa-supeknya ini diguncang dan dibangun-bangunkan oleh Beng An dan sutenya, Hauw Kam.

“Suheng, bangun.... bangun. Kau mengigau!”

Sang nyonya terguncang. Tiga kali berturut-turut tiga orang berteriak ditakuti mimpi jelas bukanlah sesuatu yang kebetulan saja. Si kakek siluman, musuh jahanam itu, rupanya memang mengganggu dan datang lagi dengan caranya yang lain, yakni mengganggu adik dan supek-supeknya dengan menjelmakan diri dalam ujud mimpi. Dan ketika Gwan Beng tersentak dan meloncat bangun, mengucek-ucek matanya maka tampak twa-supeknya itu menggigil.

“Ma... mana kakek siluman itu? Mana, dia?”

“Hm,” Soat Eng melangkah maju, menangkap lengan supeknya ini. “Apa yang terjadi, supek? Apa yang dia lakukan kepadamu?”

“Dia... dia menggubat aku dengan misainya yang panjang. Kakek itu menjantur dan membalikkan tubuhku dengan kaki di atas kepala di bawah!”

“Hm, dalam mimpi?”

“Tidak, eh... ya. Barangkali mimpi, Soat Eng. Tapi aku merasa sungguh-sungguh terjadi! Itu... itu serasa bukan mimpi. Aku benar-benar digantung dengan misainya!”

“Tapi kau tetap bersama kami,” Hauw Kam, sang sute, maju bicara. “Tak ada apa-apa di sini, suheng. Kau bermimpi. Sama seperti aku tadi!”

“Mungkin karena kalian dibayang-bayangi takut,” Siang Le tiba-tiba muncul, berseru. “Orang yang ketakutan bisa saja mengalami itu, supek. Membawa rasa takutnya ke dalam mimpi!”

“Hm, sudahlah,” sang isteri membanting kaki, kesal. “Kakek jahanam itu jelas ingin mengganggu kita, Le-ko. Kalau dia muncul dan memperlihatkan diri tentu aku akan melabraknya habis-habisan. Sekarang bagaimana baiknya karena tiga kali berturut-turut dia mempermainkan kita!"

“Sebaiknya kau di sini saja.” Beng An tiba-tiba berseru. “Kau selama ini belum diganggunya, enci. Mungkin kakek itu takut!”

“Di sini?” Soat Eng mengerutkan kening. “Bersama kalian?”

“Tak apa,” sang suami tiba-tiba setuju, mengangguk. “Apa yang dikata Beng An rupanya betul, Eng-moi. Kakek itu belum mengganggu dirimu karena rupanya takut. Jadi, kalau kau di sini barangkali dia tak akan mengganggu lagi!”

“Hm, kami sebenarnya malu,” Gwan Beng tiba-tiba bergumam. “Sungguh kami bukan apa-apa dibanding kakek siluman itu, Soat Eng. Tapi kalau apa yang dikata suamimu dan Beng An benar maka tak ada salahnya kau di sini, daripada kami yang harus berkumpul di kamarmu.”

Soat Eng merah padam. Tak dapat dibayangkan marahnya terhadap kakek bermisai itu. Berturut-turut suami dan adik serta supek-supeknya menjadi korban. Dia sendiri memang belum diganggu dan Soat Eng gemas, tak percaya bahwa kakek itu takut kepadanya dan karena itu tak berani mengganggu. Karena, orang yang sudah mencapai tingkat kepandaian tinggi biasanya tak pernah takut kepada siapapun.

Dia hanya menduga bahwa kakek itu sengaja akan menjatuhkan gilirannya sebagai yang diganggu terakhir. Dan karena dia yakin bahwa kakek itu pasti mengganggunya, hal yang memang ditunggu maka wanita ini tak menolak lagi ketika supek dan suaminya sudah berkata begitu.

“Baiklah, aku akan tinggal di sini. Kita berlima semua berkumpul!”

Beng An dan yang lain lega. Kalau Soat Eng dan Siang Le ada di situ maka mereka merasa aman. Mereka masih menganggap Siang Le setingkat isterinya karena mendapatkan warisan Pendekar Rambut Emas, lupa bahwa tadi pemuda itupun diikat dan dirobohkan sang kakek siluman. Dan ketika semua mengangguk dan berkumpul di kamar itu, tak mau di kamar Soat Eng karena kamar suami isteri harus dihormati maka Soat Eng tak mau pintu kamar ditutup agar kakek itu dapat datang kalau dia memang ingin mengganggu.

“Biarkan saja, aku akan menunggunya di sini!”

Yang lain-lain bersinar matanya. Aneh, begitu Soat Eng ada di situ dan percaya wanita ini dapat melindungi mereka mendadak Beng An dan lain-lain menguap. Tadi berturut-turut Beng An dan Hauw Kam serta suhengnya tidur bergantian. Mereka sebenarnya sudah diserang kantuk yang hebat karena berjam-jam menahan mata. Mata yang berat dipaksa melek karena ketegangan serta kegelisahan melanda mereka. Tapi begitu Soat Eng ada di situ dan pasti melindungi mereka, eh.... tiba-tiba mereka menguap dan tidur berbareng.

“Heii...!” Soat Eng mengerutkan kening. “Jangan tidur semua, supek. Seorang atau dua di antara kalian harus menemani aku!”

“Hm, sebentar saja,” Hauw Kam menjawab, tak dapat menahan kantuk. “Aku lelah dan ingin sejenak beristirahat, Soat Eng. Kau dapat membangunkan kami kalau kakek itu muncul.”

“Benar,” suhengnya juga berkata, menguap sekali lagi. “Aku ingin tidur, Soat Eng, sebentar saja. Aku rasa terlalu lama menahan kantuk dan lemah. Mataku tak dapat dipaksa lagi.”

“Dan aku juga,” Siang Le tiba-tiba juga ikut-ikutan. “Aku ingin melepaskan sedikit ketegangan ini, Eng-moi. Kalau kaupun mengantuk silahkan tidur. Pintu ditutup.”

“Gila!” Soat Eng terkejut. “Kalian laki-laki pemalas, supek. Aku seorang diri disuruh berjaga sementara kalian tidur!”

Namun Gwan Beng sudah ngorok! Cepat sekali laki-laki itu tidur mendengkur. Hawa dingin tiba-tiba bergerak dan sesuatu yang menyeramkan terasa membangunkan bulu roma. Soat Eng mau membentak tapi mendadak iapun menguap. Dan ketika ia terkejut dan merasa ngantuk, aneh sekali, maka iapun terhuyung dan ingin beristirahat di sebelah suaminya. Tapi begitu melihat pintu masih terbuka mendadak, seperti disengat kalajengking tiba-tiba wanita itu melompat bangun dan berteriak,

“Le-ko, bangun. Jangan tidur semua!”

Namun Siang Le sudah ngorok! Sama seperti Gwan Beng dan lain-lain tiba-tiba saja pemuda itu tak dapat menahan kantuk. Angin yang semilir dingin dan bertiup aneh sekonyong-konyong membawa pengaruh mujijat untuk tidur, apalagi berjam-jam mereka ini sudah menahan kantuk dan ketegangan. Maka begitu angin itu bertiup sejuk dan hawa dingin yang menyeramkan bergerak di dalam kamar itu, hawa yang tidak wajar maka Soat Eng yang masih tahan dan mencium adanya sesuatu yang tidak beres segera menendang pintu kamar dan menutupnya.

Wanita itupun menguap dan berkali-kali mengeluh terhuyung-huyung, jatuh terduduk, namun bangkit lagi dan sekuat tenaga melawan kantuk. Malam tinggal satu setengah jam lagi dan itu sudah cukup untuk mengusir takut. Sam-liong-to akan terang kembali dan musuh tak bakal dapat menyembunyikan diri. Tapi ketika Soat Eng terhuyung dan jatuh lagi di dekat suaminya, hampir kalah melawan kantuk maka wanita itu mendengar kekeh yang aneh dan menyeramkan di luar.

“Heh-heh, tidurlah, anak manis... tidurlah. Kau sudah mengantuk dan seharusnya memang tidur. Tidurlah, dan biar aku berjaga di sini... slap!” seorang kakek tiba-tiba muncul, kakek bermisai panjang dan tahu-tahu berdiri di tengah pintu.

Soat Eng terbelalak karena pintu itu masih ditutupnya, jadi seharusnya kakek itu tak mungkin masuk. Tapi melihat kakek itu dapat masuk dan tubuhnya menembus pintu, seperti iblis, maka Soat Eng berteriak dan sekuat tenaga dia melengking menggetarkan pulau, sampai empat temannya terpental dan kaget membuka mata tapi kemudian tidur lagi!

“Keparat, iblis jahanam!” Soat Eng membentak, atau melengking menggetarkan pulau. ''Siapa kau, kakek siluman. Dan mau apa kau ke sini. Haiitttt...!” dan Soat Eng yang berkelebat serta menghantam ke depan, sudah berhasil mengusir kantuknya dengan bentakan yang menggetarkan pulau itu tiba-tiba mencelat dan menggerakkan kelima jarinya menusuk si kakek.

Tapi aneh bin ajaib, si kakek tertawa lebar. Dia tenang-tenang saja di situ dan pukulan itupun menghantam dahsyat. Soat Eng mengerahkan Pek-lui-ciangnya dan pintu itu hancur mengeluarkan suara keras, hancur berkeping-keping. Tapi ketika kakek tetap tinggal dan tegak di situ, pukulan lewat dan “menembus” tubuhnya maka Soat Eng ikut meluncur dan menembus tubuh kakek ini pula.

“Dess!” Soat Eng menjerit bagai bertemu hantu. Dia terjungkal dan terbawa oleh tenaga pukulannya sendiri tapi sudah meloncat berjungkir balik, berteriak dan kini menghadapi kakek yang sekarang membelakanginya itu. Tapi ketika si kakek menoleh dan memutar tubuhnya pula, menghadapinya, maka Soat Eng merinding dan seakan bertemu roh halus, bukan manusia!

“Kau... siapa?” nyonya muda ini mengigil, kaget bukan main. “Mau apa datang ke sini? Sengaja mengganggu dan mempermainkan orang?”

“Ha-ha!” kakek itu tiba-tiba tertawa, bola matanya berpijar dan berkilat bagaikan api, hal yang membuat Soat Eng lagi-lagi terkejut dan mundur selangkah, bagai disambar langsung! “Aku ke sini mencari seseorang, bocah. Tapi tak kudapatkan dia di sini. Apakah kau tahu di mana cecunguk yang kucari itu?”

“Siapa.... siapa yang kau cari?” Soat Eng gemetar, di samping marah juga jerih, baru kali itu dirasakan. “Kau mencari siapa dan kenapa datang ke sini? Apakah orang yang kau cari itu ada di sini?”

“Betul, begitu menurut yang kudengar. Tapi seluruh ruangan sudah kuperiksa tetap saja si busuk itu tak ada! Hm, apakah dia ngacir?”

“Siapa yang kau cari?”

“See-ong!”

“Apa, See-ong?”

“Ya, See-ong, bocah cecunguk itu. Kau tahu?”

Soat Eng tertegun. Tentu saja dia tahu siapa See-ong dan justeru karena kakek itulah dia dapat bersuamikan Siang Le, murid si kakek iblis. Tapi terkejut dan tertegun kakek itu menyebut See-ong bagai cecunguk, bocah, maka nyonya ini tak segera menjawab dan membelalakan mata lebar-lebar memandang kakek itu. Dari pembicaraan ini, tampaknya kakek itu orang yang jauh lebih tua daripada See-ong. Layaknya, orang yang berumur ratusan tahun karena menyebut See-ong yang sudah kakek-kakek itu sebagai bocah! Dan kaget serta mundur oleh pertanyaan ini maka Soat Eng tak segera menjawab hingga tiba-tiba si kakek bergerak maju, tangan diulur dan tahu-tahu sudah menggencet pundaknya!

“Kau tahu?”

Soat Eng mencelat dan kaget sekali, langsung membentak dan melepaskan dirinya.

“Di mana bocah itu, anak nakal? Di mana dia bersembunyi?”

“Aah!” Soat Eng marah, melengking dan memaki. “Jangan kau dekat-dekat aku, kakek siluman. Dan jangan coba-coba menyentuh. Sekali kau melanggar aku tak segan-segan menerbangkan nyawamu ke neraka!”

“Ha-ha-ha!” kakek itu tertawa bergelak, suaranya melingkar-lingkar. Sam-liong-to terguncang dan tergetar hebat. “Kau anak sombong yang congkak sekali, bocah. Kalau kau dapat mengantar aku ke neraka maka itu sungguh kebetulan. Aku selama ini tak mati-mati, minta mampus tapi belum juga dikabulkan! Ha-ha, lucu mendengar kau akan mengantar aku ke neraka sementara kepandaianmu masih sekuku ibu jari!” dan si kakek yang kembali bergerak dan mencengkeram Soat Eng tahu-tahu sudah meremas dan memencet pundak. “Nah, di mana cecunguk itu atau kau yang nanti kuhajar!”

Soat Eng kaget bukan main. Untuk kedua kalinya tiba-tiba dia tak dapat mengelak, atau, sudah mengelak namun masih juga kalah cepat oleh kakek ini, yang gerakannya seperti hantu. Dan ketika pundaknya dicengkeram dan dia menjerit, Soat Eng tak dapat melepaskan diri mendadak nyonya muda ini menendang dan dua jari tangannyapun menusuk.

“Cus-dess!”

Soat Eng merinding. Pukulannya tepat mengena tapi lagi-lagi seperti tadi tubuh kakek itu tak apa-apa. Jari tangannya yang menusuk bahkan terasa menembus dingin dan lewat sampai ke belakang punggung, lewat begitu saja seolah menyerang sebuah roh! Dan ketika Soat Eng berteriak karena pundaknya tahu-tahu diangkat, kakek itu marah maka dia sudah dibanting dan si kakek mengomel panjang pendek.

“Keparat, anak bau kencur!”

Dan Soat Eng yang bergulingan dibanting si kakek lalu meloncat bangun dan marah serta ngeri terbelalak dan melengking kuat untuk mencabut pedangnya. Giam-to Kiam-sut (Silat Pedang Golok Maut) tiba-tiba dikeluarkan dan menerjanglah gadis itu menyerang lawan. Si kakek mendapat tusukan dan tikaman pedang bertubi-tubi. Jurus-jurus dari silat pedang aneh sudah dikeluarkan wanita ini untuk merobohkan lawannya itu, pedang yang sebenarnya digunakan hanya sekedar untuk rasa aman dan terlindung, percaya diri. Tapi ketika babatan pedangnya masuk begitu saja dan semua tikaman atau tusukan seolah tembus menghadapi bayangan, mengeluarkan suara “crat-crat” tapi tak ada darah memuncrat maka Soat Eng ngeri dan histeris!

“Setan, kau bukan manusia!” dan si nyonya yang memekik dan mengeluarkan teriakan panjang akhirnya menyerang bukan untuk merobohkan lawan melainkan semata memberi dorongan semangat kepada dirinya sendiri. Soat Eng ngeri dan terbelalak karena tusukan-tusukan pedangnya itu tak menghasilkan apa-apa. Tubuh si kakek benar-benar seperti roh halus dan dia bukan menyerang manusia biasa, manusia yang berbadan wadag dan karena itu seharusnya dapat dirobohkan. Dan karena kakek itu hanya tertawa ha-ha-he-he dan Soat Eng ngeri, gentar, maka nyonya itu pucat dan pedang yang berkelebatan gencar sekonyong-konyong ditangkap dan dikeretak patah.

“Kau anak perempuan tak dapat mengalahkan aku. Pergilah!”

Soat Eng menjerit. Si kakek yang berupa badan halus tiba-tiba bergerak dan dapat menangkap pedangnya. Aneh sekali. Mana mungkin badan halus dapat menangkap badan kasar? Tapi karena dia sudah diperlakukan seperti itu dan pedang di tangannya dicengkeram patah, si kakek sendiri menggerakkan kaki dan dia mencelat maka nyonya ini terguling-guling tapi dapat meloncat bangun lagi, berkat Khi-bal-sin-kangnya itu.

“Eh,” si kakek merasa heran, membelalakkan mata. “Kau tak apa-apa? Kau masih dapat bangun?”

“Bedebah!” Soat Eng melengking. “Biarpun aku bukan tandinganmu tapi kaupun tak dapat merobohkan aku, kakek siluman. Hayo buktikan kata-kataku ini dan banting aku sekali lagi!”

Si kakek tercengang. Bola matanya yang berpijar bagai bola api sekonyong-konyong tak berkedip. Soat Eng menerjang tapi kakek itu meniup. Dan ketika serangkum angin dahsyat menahan dan menyambarnya, Soat Eng melawan dengan menambah tenaganya tiba-tiba dia yang terbanting lagi dan terpental serta terguling-guling lagi di tanah, tak kuat.

“Ha-ha, kubuktikan kata-katamu, bocah. Dan lihat berapa kali kau kuat bertahan!”

Soat Eng melengking lagi. Dia marah dan meloncat bangun serta menyerang lagi. Kali ini tangan kirinya ikut bergerak dengan pukulan Lui-ciang-hoat. See-ong sendiri sampai tak kuat dan harus mengakui kehebatannya, menghindar. Tapi ketika si kakek tertawa dan pukulan itu menembus barang halus, lewat begitu saja maka lagi-lagi kakek itu meniup dan Soat Eng terbanting.

“Bres-bress!”

Tiga kali Soat Eng jatuh bangun. Si kakek tertawa-tawa tapi Soat Eng dapat lagi meloncat bangun, ini berkat Khi-bal-sin-kangnya, tenaga Bola Sakti itu. Dan ketika si kakek tertegun dan mendecak kagum, terbelalak oleh ilmu ini maka kakek itu berseru dan bola apinya yang berpijar sekonyong-konyong mengeluarkan suara keras seperti petir menggelegar, disusul lidah api yang menyambar atau membelit tubuh Soat Eng.

“Aduhh...!” Soat Eng roboh terjengkang. Si nyonya tak kuat menahan panas dan lidah api yang menyambar dari mata kakek itu membelit dan melibat-libat tubuhnya. Soat Eng tak dapat menerangkan bagaimana sebuah lidah api dapat bergerak dan membelit seperti ular.

Pengalaman itu baru kali itu dialaminya seumur hidup. Nyonya ini menjerit dan berteriak. Tubuhnya tahu-tahu roboh dan dia sudah dililit bola api itu, yang terus bergerak-gerak dan akhirnya membungkus seluruh tubuhnya dari bawah sampai ke atas. Dan ketika Soat Eng terjengkang dan roboh tak berdaya, seluruh pakaiannya hangus namun tubuhnya tak apa-apa berkat Khi-bal-sin-kangnya maka kakek itu berseru kagum dan memuji dengan suara aneh.

“Luar biasa. Hanya siluman Bu-beng Sian-su yang dapat menurunkan ilmu seperti ini.... bukk!” dan Soat Eng yang roboh dan terbelit-belit lidah api, mengeluh dan memejamkan mata lalu mendengar si kakek berkelebat dan tahu-tahu desir angin yang dingin bertiup di samping tubuhnya.

“Heh!” kakek itu, yang bukan manusia biasa, bicara garang. “Kau memiliki Khi-bal-sin-kang segala, bocah. Kalau begitu apa hubunganmu dengan Kim-mou-eng!”

“Dia ayahku!” Soat Eng membentak, membuka mata. “Dan siapa kau, kakek jahanam. Beritahukan namamu dan bunuhlah aku!”

“Ha-ha, aku tak suka membunuh orang-orang biasa. Yang ingin kubunuh adalah Bu-beng Sian-su, kakek keparat itu. Apakah kau mendapat warisan Khi-bal-sin-kang darinya? Kapan kau bertemu Bu-beng Sian-su?”

Soat Eng tertegun. “Aku mendapat warisan ini dari ayah ibuku. Dan ayah ibuku dari kakekku!”

“Ha-ha, rupanya sudah turun-temurun. Hm, Bu-beng Sian-su benar-benar kakek keparat, terkutuk. Di mana dia dan kenapa menurunkan ilmu-ilmunya kepada orang lain? Eh, aku siapa baiklah kujawab, bocah. Aku adalah Poan-jin-poan-kwi. Aku susiok (paman guru) dari See-ong. Nah aku tak takut memperkenalkan diri dan boleh kau laporkan kedatanganku pada Sian-su!” dan si kakek yang tertawa bergelak dan menampar pundak Soat Eng tiba-tiba lenyap dan Soat Eng sendiri berteriak terkejut.

Wanita itu menjerit karena lidah api yang masih membelit tubuhnya mendadak menyengat begitu tajam. Soat Eng tak tahan dan langsung pingsan. Dan di Sam-liong-to terdengar tawa menggetarkan namun kemudian hilang, Istana Hantu berderak dan beberapa tiangnya roboh maka menjelang pagi barulah nyonya muda itu siuman, merasa hangatnya sinar matahari yang menyentuh pipinya. Dan begitu wanita ini melompat bangun namun terhuyung, seluruh tubuh terasa sakit-sakit maka ingatlah Soat Eng akan kejadian yang menimpanya. Dan saat itu terdengar pula rintih dan erangan seorang.

“Aduh, aku terjepit... tolong....”

Soat Eng membelalakkan mata. Di kamar itu, di depannya, tampak merangkak adiknya Beng An. Adiknya itu mencoba keluar dari tindihan tubuh tiga teman-temannya tapi tak dapat, rupanya masih lemas atau kehilangan tenaga. Dan Soat Eng yang cepat menghampiri dan limbung terhuyung lalu melihat suaminya dan Gwan Beng serta Hauw Kam membuka mata dan merintih pula.

“Aduh, kenapa ini? Bagaimana bisa tumpang-tindih?”

Soat Eng menarik Beng An dari yang lain-lain. Siang Le mengerang dan mereka semua juga mengeluh. Wanita ini pucat dan menggigil karena iapun merasa kehabisan tenaga. Guncangan dan pertandingan yang terjadi semalam rupanya benar-benar menguras kekuatan. Tapi ketika semua sudah ditarik dan tidak bertindihan lagi, Soat Eng jatuh terduduk maka wanita itu menangis dan mengepalkan tinju.

“Aku dihina seseorang. Aku dipermainkan seseorang!”

“Hm!” Siang Le, suaminya, tiba-tiba gemetar menghampiri, jatuh atau menjatuhkan diri di samping isterinya. “Apa yang terjadi, Eng-moi? Kenapa kami semua tertidur dan bermimpi buruk? Aku seolah mendengar angin menderu-deru, merasa ilmu pukulanmu Khi-bal-sin-kang itu. Tapi terakhir seolah kudengar ledakan bagai petir!”

“Benar, aku mendengar itu, Siang Le. Dan seolah ada kilatan cahaya yang terang benderang memenuhi tempat ini. Aku kaget dan terpental!”

“Dan itu rupanya yang membuat kita saling tumpang tindih. Ah, aku juga begitu, suheng. Aku seakan mimpi dan mendengar suara gemuruh dan menggelegarnya petir!”

“Hm, kalian tidak bermimpi,” Soat Eng mengepalkan tinjunya, menghentikan tangis. “Aku memang telah bertempur dengan kakek itu, supek. Tapi aku roboh dan dikalahkan!”

“Kapan?” pertanyaan itu hampir berbareng meluncur dari mulut semua orang. “Dan kenapa kami tidak tahu?”

“Kalian tidak tahu karena kalian tidur,” Soat Eng menjelaskan, berseru marah. “Tapi itu bukan kesalahan kalian karena rupanya memang perbuatan kakek itu!”

“Dia datang?”

“Ya, dan aku menyerangnya. Tapi semua sia-sia!”

“Maksudmu?”

“Maksudku pukulanku tak ada yang dapat merobohkannya, supek. Karena kakek itu tak dapat dipukul karena tak berbadan kasar. Pukulanku lewat dan tembus begitu saja, seolah menghantam roh!”

“Ih!” Beng An bergidik. “Jadi kau sudah bertemu dan bertempur dengannya, enci? Tapi kenapa dia tak mencelakai kita semua? Dan siapa kakek itu?”

“Inilah yang menarik,” Soat Eng bangkit berdiri, tiba-tiba matanya berkilat-kilat membara. “Kakek itu memperkenalkan diri sebagai Poan-jin-poan-kwi, Beng An. Dan mengaku sebagai susiok dari kakek iblis See-ong!”

“Apa?” semua orang kaget, Siang Le bahkan mencelat dari tempat duduknya. “Poan-jin-poan-kwi? Kakek itu.... kakek itu bilang begitu?”

“Ya,” Soat Eng menjawab, membalikkan tubuhnya. “Barangkali kau kenal, Le-ko. Dan aku sekarang ingin bertanya kepadamu.”

Aneh sekali, Siang Le tiba-tiba mengeluh dan jatuh terduduk. Pemuda ini mengeluarkan suara-suara tak jelas dan sekonyong-konyong berteriak. Dan ketika dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, Soat Eng dan lain-lain terkejut maka pemuda itu menumbuk pilar dan akhirnya terpelanting pingsan.

“Dukk!” Soat Eng dan lain-lain memekik. Soat Eng sendiri sudah berkelebat dan mengejar suaminya itu, kaget melihat suaminya tiba-tiba seperti orang tidak waras. Setelah bicara sendiri sekonyong-konyong meloncat dan berlari seperti gila. Tapi ketika suaminya terbanting dan pingsan menabrak pilar, rupanya tak melihat atau apa maka wanita ini sudah menyambar dan cepat menotok suaminya itu.

“Ambilkan air dingin, guyur mukanya!”

Hauw Kam sudah menyambar apa yang diminta. Seember air sudah dituang dan disiramkan ke wajah pemuda ini, Soat Eng terus menotok dan coba menolong suaminya itu. Dan ketika Siang Le membuka mata dan kaget meloncat bangun, dicengkeram dan ditahan pundaknya oleh sang isteri maka pemuda itu mengeluh.

“Ooh, celaka... kita sudah berurusan dengan roh-roh orang mati. Aku harus mencari suhu dan menemukannya. Dialah yang dapat mengatasi ini!” tapi ketika jari lembut isterinya menekan dan tak memperbolehkan pemuda itu melompat bangun, karena Siang Le rupanya mau lari dan histeris lagi maka Soat Eng menggigil berbisik di samping telinga suaminya itu.

“Le-ko, kau tak usah berpikiran macam-macam. Aku telah menetapkan bahwa kita pulang ke utara dan melapor pada ibu. Kita semua ke sana dan meminta perlindungannya. Kakek itu benar-benar luar biasa, aku sendiri tak yakin apakah dapat mengalahkannya, biarpun kita berempat. Karena itu biarlah kita ke sana dan menceritakan pada ibu dan juga ayah. Agaknya, hanya ibu dan ayah saja yang sanggup menghadapi kakek siluman itu!”

“Tak mungkin!” Siang Le berseru. “Ayahmu pun tak mampu menghadapi kakek ini, Eng-moi. Poan-jin-poan-kwi adalah mahluk setengah manusia setengah iblis. Dan mereka ada dua orang!”

“Apa?” Soat Eng terkejut. “Dua orang? Jadi masih ada seorang lagi?”

“Benar, dan mereka itu bukan mahluk-mahluk yang hidup di bumi lagi, Eng-moi. Melainkan roh-roh yang berkeliaran di alam halus. Mereka itu amat luar biasa dan sakti, sedemikian saktinya hingga kadang kala dapat kembali turun ke bumi lagi dengan mempergunakan badan yang aneh, bukan kasar tapi juga bukan halus. Itulah sebabnya ia tak dapat dipukul dan semua pukulan akan sia-sia!”

Soat Eng tertegun. “Kau tahu banyak tentang mereka?”

“Tidak banyak, tapi sebagian saja. Tapi mereka sudah bukan manusia karena sudah meninggal seratus tahun yang lalu!”

Soat Eng dan lain-lain kaget. Kalau sebelumnya tidak membuktikan sendiri bahwa kakek itu memang bukan sembarang manusia tentu mereka tak percaya. Tapi bahwa Siang Le memberitahukan kakek itu sudah tiada seratus tahun yang lalu, berarti sudah bukan manusia lagi maka tak urung mereka mengkirik dah merasa seram juga!

“Coba ceritakan bagaimana sebenarnya. Bagaimana mereka itu dapat datang ke sini dan mencari-cari gurumu!”

“Mereka mencari-cari suhu?” Siang Le tertegun. “Apakah dua orang yang sudah kau lihat?”

“Hm,” Soat Eng kelepasan bicara. “Aku belum bertemu semuanya, Le-ko. Tapi maksudku aku ingin tahu tentang mereka. Kalau yang seorang saja sudah begini hebat apalagi yang lain itu. Aku ingin tahu tentang mereka!”

“Aku tak tahu banyak,” Siang Le mengeluh. “Tapi kalau mereka datang dan mencari suhu maka pasti karena suhu melanggar sesuatu.”

“Maksudmu?”

“Setiap tahun atau paling lama dua tahun sekali suhu berhubungan secara batin dengan mereka itu, Eng-moi. Ada semacam sesajian atau korban tertentu untuk melaksanakan adanya hubungan ini. Suhu mendapat ilmu-ilmu hitam dari mereka, seperti Hek-kwi-sut atau lain-lainnya itu. Tapi karena agaknya suhu tidak melaksanakan tugasnya lagi maka dua susioknya itu datang untuk mencari tahu. Selebihnya, aku tak jelas!”

Soat Eng merinding. Bahwa See-ong memang kakek iblis dia sudah tahu. Tapi bahwa kakek itu juga masih mengadakan hubungan roh dengan orang-orang mati, seperti Poan-jin-poan-kwi itu maka dia merasa bergidik dan ngeri, seram! Sungguh See-ong bukan manusia baik-baik. Dan kalau See-ong bukan manusia baik-baik maka tentunya dua paman gurunya itu terlebih tidak baik lagi. Dan dia telah bertemu dengan seorang di antara mereka!

“Bagaimana?” suaminya bertanya. “Apakah secepatnya kita meninggalkan Sam-liong-to?”

“Tentu!” sang nyonya tak berpikir panjang lagi. “Aku ingin secepatnya menemui ayah dan ibu, Le-ko. Biarlah mereka yang memberi petunjuk atau menghadapi Poan-jin-poan-kwi ini. Kita sendiri sudah tak sanggup!”

“Baiklah,” Siang Le juga setuju. “Aku sependapat denganmu, Eng-moi. Dan mari kita pergi.”

Suami isteri itu bergerak. Beng An dan yang lain-lain tinggal mengikuti. Mereka ini di belakang dan diam-diam pucat, melangkah mengiringi suami isteri itu tapi ketika melihat tubuh dua gorila besar mendadak mereka berhenti, tertegun. Kiranya, karena tegang dan sibuk mengurusi diri sendiri mereka semua sampai terlupa akan mayat binatang itu. Sepasang gorila jantan dan betina itu telah tewas dibunuh Poan-jin-poan-kwi. Soat Eng terisak dan berlutut, memeluk serta menciumi hewan kesayangannya itu.

Tapi ketika suaminya memberi tahu bahwa mereka harus cepat-cepat pergi, siapa tahu gangguan ada di depan lagi maka wanita itu mengangguk dan bersama yang lain membuat lubang untuk mengubur mayat gorila itu. Selanjutnya mereka bergerak lagi dan menuju pantai. Sebuah perahu telah disiapkan dan mereka akan secepatnya meninggalkan pulau. Tapi ketika mereka tiba di pantai dan siap menarik perahu, yang disandarkan di sebuah batu karang mendadak di perahu itu telah ada Poan-jin-poan-kwi.

“Siluman...!”

“Iblis!”

Semua tersentak berseru kaget. Kakek itu, yang riap-riapan dengan misainya yang panjang tampak berdiri di dalam perahu sambil terkekeh. Matanya berpijar-pijar dan Hauw Kam serta suhengnya kaget bukan main, mundur dan tak kuat beradu pandang dengan bola mata yang merah membara itu. Mata si kakek seakan mengeluarkan api dan ganas sekali. Soat Eng sendiri sampai menunduk dan mengeluh terkejut, tak kuat. Dan ketika Beng An maupun Siang Le juga mundur berlindung di balik kedua tangan mereka, menutupi pandangan langsung untuk tidak beradu dengan mata si kakek maka Poan-jin-poan-kwi, kakek iblis itu, berseru terkekeh,

“Heh-heh, siapa di antara kalian yang menjadi cucu muridku? Siapa di antara kalian yang menjadi murid See-ong?”

Semua tertegun. Serentak mereka memandang Siang Le karena pemuda itulah yang menjadi murid See-ong. Tapi ketika Soat Eng sadar bahwa suaminya mungkin bisa menerima bencana, kalau mengaku, maka dia membentak mendahului dan melengking, “Di sini tak ada yang menjadi cucu muridmu. Tak ada yang menjadi murid See-ong. Enyahlah, kakek siluman. Kami akan pergi dan boleh kau menguasai pulau!”

“Ha-ha, aku akan membawa cucu muridku. Aku sudah mendengar bahwa satu di antara kalian ternyata adalah murid See-ong. Nah, mengakulah atau kalian nanti kuhajar!”

Soat Eng bergerak. Tanpa menunggu waktu lagi tiba-tiba dia membentak dan menerjang kakek itu. Khi-bal-sin-kang, pukulannya, langsung dikeluarkan dan menghantam dahsyat. Tapi karena kakek itu bukan manusia biasa melainkan mahluk halus yang memiliki kesaktian tinggi maka begitu dipukul begitu pula pukulan itu lewat dan menembus tubuhnya.

“Dess!” batu besar di belakang si kakek terhajar hebat. Batu itu roboh dan hancur berkeping-keping. Khi-bal-sin-kang telah menunjukkan kemarahannya tapi Soat Eng berkelebat dan menyerang lagi. Tangan si nyonya bergerak dan menangkap kakek itu. Tapi ketika tangannya mencengkeram sesuatu yang dingin dan lolos begitu saja, padahal jelas-jelas terlihat pundak si kakek tertangkap maka Soat Eng berteriak ngeri karena seakan menangkap atau mencengkeram bubur daging yang menjijikkan.

“Aiihhh...!”

Kakek itu tertawa bergelak. Soat Eng yang tak mampu menangkap korbannya tiba-tiba mendapat tendangan melingkar. Si kakek bergerak dan ganti menyerang nyonya itu. Dan ketika Soat Eng terlempar dan terbanting roboh, terguling-guling maka kakek itu sudah berkelebat dan menangkap Gwan Beng.

“Heh, kau cucu muridku?”

“Bukan!” Gwan Beng membentak, langsung menghantam dan menyerang kakek itu, tentu saja terkejut tapi juga ngeri. Namun ketika si kakek terbahak dan membiarkan pukulan itu, karena tembus dan tidak berakibat apa-apa maka si kakek mengangkat dan melempar tubuh laki-laki ini.

“Kau kurang ajar, perlu diberi pelajaran..... bress!” dan si kakek yang bergerak dan sekarang menangkap Hauw Kam, yang coba mengelak namun gagal maka kakek itu berseru apakah ini cucu muridnya.

“Bukan, aku murid Hu-taihiap yang gagah perkasa. Pergi kau, kakek siluman!” namun ketika si kakek terkekeh dan membiarkan pukulan itu, yang menembus tubuhnya maka Hauw Kam juga dibanting dan dilempar.

“Mungkin kau!” serunya menangkap Siang Le. “Hayo mengaku atau semua nanti kubunuh!”

“Bukan dia!” Beng An tiba-tiba berseru, berteriak menerjang kakek ini. “Akulah murid See-ong, kakek bau. Lihat ini pukulanku dan lepaskan dia.... buk!” dan pukulan Beng An yang mendarat di punggung si kakek tiba-tiba membuat kakek itu terbelalak karena Beng An berhasil menarik kolor celananya, langsung menelanjangi dan tampaklah bokong si kakek yang tepos.

Si kakek berteriak dan entah bagaimana wadag halusnya tiba-tiba menjadi wadag kasar. Itulah karena kolor celananya tadi. Beng An secara tak sengaja telah melampiaskan rasa gregetnya dengan memukul dan kemudian menarik celana si kakek. Dia bermaksud membuat kakek ini melepaskan Siang Le. Dan karena dia di belakang sementara yang ada ialah kolor celana itu, si kakek memakainya secara terbalik maka justeru simpul tali celana inilah yang disambar Beng An tapi justeru kebetulan merupakan kunci untuk membuat kakek itu kembali ke badan wadag, badan kasarnya.

“Heiii.... dess!”

Beng An mencelat. Si kakek mendupaknya seperti gaya dupakan seekor kuda. Anak itu terangkat dan terlempar tinggi, terbanting dan berdebuk di sana. Dan ke-tika Beng An mengaduh dan terguling-guling, encinya menangkap dan menolongnya bangun maka terdengarlah aum atau semacam pekik yang membuat Sam-liong-to berderak, laut tiba-tiba membuih.

“Bocah, kau telah menarikku ke bumi lagi. Keparat, aku harus mengulangi kehidupanku yang dulu dan sekarang aku dapat disentuh. Aiiiihhhhhh....!” dan pekik atau aum yang membuat pulau bergetar tiba-tiba disusul oleh gemuruh ombak yang setinggi bukit. Dan bersamaan dengan bergolaknya air laut tiba-tiba mendung hitam bergerak dari utara menuju selatan.

“Dar-dar!”

Dua kali ledakan petir menyambar tubuh kakek itu. Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba roboh dan menjerit. Kakek yang semula berpijar matanya itu mendadak lenyap, terganti dengan sinar mata biasa yang ganas dan mencorong. Dan ketika hujan turun bagai dicurahkan, Sam-liong-to tiba-tiba bergerak dan kena gempa bumi maka terjadilah badai atau prahara yang ribut.

“Menyingkir, semua kembali ke Istana Hantu!”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa tiba-tiba saja Sam-liong-to bergolak. Air laut membuih dan ombak setinggi bukit melanda tempat itu. Si kakek tergulung dan lenyap disapu ombak. Poan-jin-poan-kwi rupanya setengah pingsan, karena tadi mendapat dua kali sambaran petir berturut-turut. Tapi karena mereka sendiri lalu diserang badai dan ombak setinggi bukit itu menerjang mereka, daratan tiba-tiba tenggelam oleh laut yang membuih maka Siang Le cepat-cepat menyelamatkan diri, menyambar dua supeknya yang tadi dibanting si kakek.

“Cepat, menyingkir. Kita sembunyi di istana!”

Gwan Beng dan sutenya terbelalak gentar. Mereka melihat kedahsyatan alam dan bengong. Poan-jin-poan-kwi disapu dan digulung ombak, lenyap dan entah kini ke mana. Tapi ketika mereka diseret dan disambar Siang Le, yang bergerak dan berlari ke tengah pulau maka mereka mengikuti dan akhirnya memasuki Istana Hantu.

“Tutup pintunya, cepat. Yang rapat!”

Gwan Beng memalang pintu dengan sebongkah besi berkait. Besi itu jarang digunakan dan hanya untuk saat-,saat terpenting sajalah dipakai. Kini mereka sudah berada di dalam istana dan mendengar gemuruh atau mengamuknya air laut. Semua rata-rata basah kuyup dan Soat Eng mengajak turun ke bawah, karena pintu berkali-kali dihantam ombak dan dikhawatirkan pecah. Dan ketika mereka bersembunyi semakin jauh dan suara-suara itu sudah lemah terdengar, masing-masing merasa lega maka mereka dapat bercakap-cakap dan heran serta ngeri oleh perobahan alam yang luar biasa ini, yang seolah mengamuk atau marah-marah terhadap manusia.

“Aku tak mengerti, kenapa bisa begini. Tapi tentu karena kakek iblis itu. Poan-jin-poan-kwi!”

“Hm, benar. Aku juga menduga begitu Siang Le. Tapi kenapa kakek itu tiba-tiba melolong atau memekik begitu marah. Dia tampaknya mengalami sesuatu yang mengguncang jiwanya.”

“Dan Beng An tadi berhasil memukul punggungnya! Eh, apa yang kau lakukan, Beng An? Bagaimana kakek itu tiba-tiba terpegang olehmu? Bukankah kita semua tak mampu memegangnya? Dan aku tadi serasa memegang bubur daging yang menjijikkan!” Soat Eng, yang bergidik dan ngeri oleh ini terbelalak memandang adiknya.

Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Poan-jin-poan-kwi memiliki pantangan, yakni tak boleh diserang anak kecil dari belakang apalagi kalau sampai menarik simpul kolornya itu. Kakek yang semula berbadan halus itu akan berobah ujud, kembali ke alam kasar dan ini berarti kakek itu “hidup” kembali, mengalami masa sejarahnya yang lalu dan kematian atau rasa sakit akan menghinggapinya seperti halnya manusia-manusia lain di bumi, jadi kakek itu ditarik keluar dari alam gaibnya di sana.

Dan karena Beng An telah melakukan itu dan tali kolor si kakek dilepas kuat, bahkan nyaris membuat si kakek telanjang bulat maka pantangan atau hal yang tak disukai Poan-jin-poan-kwi terjadi di sini. Kakek itu tak akan berbadan halus lagi. Pukulan-pukulan manusia akan mengenai tubuhnya dan dia dapat berasa sakit atau pedih. Tubuh halusnya yang semula dibanggakan dan dapat membuat gentar lawan kini tak ada lagi. Dia sudah tak lagi “dapat ditembus” melainkan benar-benar sudah seperti manusia biasa. Artinya dapat dipukul atau dihantam, dipegang.

Dan karena itu berarti rasa sakit atau siksaan, si kakek tak memiliki lagi keunggulan bertubuh roh maka kakek ini menjadi manusia biasa dan itu semua ditandai dengan kejadian alam yang dahsyat, bergolaknya air laut dan datangnya mendung serta petir. Soat Eng tak tahu akan itu karena memang tidak tahu asal mulanya. Yang lain-lain pun juga tidak tahu dan karena itu terheran-heran serta ngeri oleh semuanya ini. Tapi ketika Soat Eng bertanya dan Beng An mengingat-ingat maka anak itu berkata bahwa entah bagaimana tangannya dapat menyentuh punggung si kakek.

“Aku juga tak mengerti. Tapi karena aku ingin menyelamatkan Le-twako karena Le-twako ditangkap dan akan dicelakai kakek itu maka kuserang dan kupukul dia. Dan agar dia lebih malu maka tali kolornya itu kutarik hingga bokongnya yang tepos kelihatan!”

“Ha-ha!” Hauw Kam geli melihat ini. “Kau benar, Beng An. Kakek itu tampak terkejut dan tersipu-sipu membetulkan celananya. Tapi kau didupak sampai mencelat!”

“Hm, bukan aku saja. Supek pun juga!” anak itu geli. “Kau juga ditendang dan mencelat, supek. Dan kita semua dihajar jatuh bangun!”

“Hm, jangan tertawa saja,” Soat Eng tak geli, bahkan jijik melihat pantat si kakek. “Aku muak dan benci kakek itu, Beng An. Tapi kepandaiannya luar biasa sekali hingga kita tak sanggup melawan. Kita agaknya harus menyelamatkan diri memutar Sam-liong-to kalau badai sudah reda.”

“Tapi kakek itu tertelan ombak!” Gwan Beng tiba-tiba berseru. “Apakah ini bukan berarti kakek itu sudah binasa? Agaknya kita tak perlu takut lagi, Soat Eng. Kita dapat keluar dan menyelamatkan diri dengan tenang!”

“Hm, belum tentu,” Siang Le yang merasa lebih tahu menolak anggapan itu. “Kakek itu mahluk roh, supek. Kalau dia tertelan ombak maka dapat saja dia menyelamatkan diri. Apa yang kita lihat belum tentu benar, karena mata lahir tak dapat dipakai patokan untuk melihat yang batin, yang roh. Karena mahluk roh dapat berobah ujud dan menjadi apa saja seperti apa yang dia inginkan!”

“Kalau begitu bagaimana? Apakah kita tidak jadi meninggalkan pulau?”

“Tentu jadi, tapi tak usah menentang bahaya. Maksudku, aku menyetujui pendapat isteriku tadi bahwa sebaiknya kita memutar dan meninggalkan Sam-liong-to lewat belakang!”

“Baiklah, aku setuju. Dan badai rupanya sudah reda!” Gwan Beng tak banyak omong, mengangguk dan menajamkan telinganya karena tak mendengar suara-suara gemuruh tadi. Badai atau angin topan telah berhenti, begitu rupanya. Dan karena yang lain juga tak mendengar apa-apa lagi dan Soat Eng mengajak naik ke atas, mendekati pintu yang dipalang maka benar saja buih ombak atau gelegar petir sudah lenyap.

“Nah, dugaanku benar. Mari kita lihat dan buka pintu.”

“Nanti dulu!” Soat Eng berhati-hati. “Biar aku yang membukanya, supek. Kalian mundur!” dan menyambar palang pintu sambil mendorong supeknya maka nyonya inilah yang membuka pintu. Tapi begitu pintu dibuka mendadak muncul sebuah kepala dan Poan-jin-poan-kwi ada di situ!

“Hargh, ke mari kalian, tikus-tikus cilik. Dan serahkan bocah itu kepadaku!”

Soat Eng kaget bukan main. Bahwa Poan-jin-poan-kwi tiba-tiba muncul di situ dan masih hidup, menunggu dan rupanya membiarkan mereka membuka pintu membuat wanita ini mencelat berseru keras. Palang pintu di tangannya tiba-tiba menyambar ke bawah, langsung menghantam. Dan karena kakek itu menjulurkan kepalanya untuk melongok, mencari Beng An, maka tepat sekali palang besi itu mendarat telak.

”Pletak!”

Tapi palang besi itu patah menjadi tiga potong. Kepala Poan-jin-poan-kwi rupanya jauh lebih hebat dan besi itu kalah, Soat Eng kaget dan berjungkir balik melayang turun. Dan karena kakek itu akan menerobos sementara teman-temannya juga bergerak untuk mencegah maka Soat Eng yang berteriak melayang turun tiba-tiba menendang atau menjejak pintu besar itu.

“Semua mundur, awas..... bress!” dan si kakek yang tergencet dan terjepit di tengah tiba-tiba memekik karena kesakitan. Sekarang Soat Eng membelalakkan mata karena dua kali berturut-turut tubuh lawannya ini dapat dipukul, padahal tadinya kakek itu seperti roh atau siluman jahat. Dan karena dua kali serangannya dapat dirasakan si kakek, yang berteriak kesakitan maka Soat Eng menjadi girang dan tangan kirinyapun menyambar dengan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Kakek itu terpental. Soat Eng mendengar jerit dan pekik kesakitan. Khi-bal-sin-kangnya rupanya mendapat sasaran dan dia girang bahwa kakek itu dapat dipukul. Tapi ketika dia mau menerjang keluar dan menyerang lagi, mendapat harapan sekonyong-konyong suaminya menarik tangannya.

“Jangan diladeni, tak akan menang. Sebaiknya kita pergi dan tutup lagi pintu itu!”

Soat Eng tertegun. Sebenarnya dia ingin mencoba dan tak puas. Tapi karena yang lain-lain juga berseru begitu dan Gwan Beng maupun Hauw Kam sudah menutup pintu, mempergunakan palang yang lain maka mereka terbirit-birit mengajak lari.

“Ingat, sudah ditelan ombak masih juga dia dapat hidup. Apakah ini tak menunjukkan dia kakek siluman, Soat Eng? Ayo pergi, dan biarkan dia menggedor-gedor pintu!”

Soat Eng bingung. Menurutkan kata hatinya, ingin dia melabrak dan menerjang kakek itu. Tiga pukulannya sudah mengena telak dan si kakek kesakitan, meskipun agaknya juga tak apa-apa, karena dapat melompat bangun dan kini si kakek marah-marah di luar pintu besi. Pintu itu didobrak-dobrak dan digedor-gedor, istana sampai tergetar dan beberapa anak tangga sampai berderak patah. Tapi karena suaminya sudah menarik dan Gwan Beng serta yang lain-lain tampak ketakutan, jerih, maka apa boleh buat Soat Eng menahan perasaan tidak puasnya untuk melarikan diri.

“Kita menuju ke samping kanan. Menembus jalan rahasia!”

Soat Eng mengangguk geram. Dia membiarkan saja suaminya lari dan menyeret dirinya. Dan ketika terakhir kali mereka mendengar suara keras di luar, pintu besi itu agaknya jebol, hancur dipukui si kakek maka mereka berlima sudah muncul dan keluar dari tempat bawah tanah, tepat di atas bukit.

“Mari, semua ke atas. Cepat, naik..... naik....!”

Soat Eng lebih dulu berkelebat keluar. Nyonya ini tak puas melihat sikap suaminya yang begitu ketakutan, pucat. Tapi karena yang lain-lain juga begitu, dan Poan-jin-poan-kwi itu memang seperti siluman saja maka nyonya ini dapat mengurangi rasa tidak puasnya dengan mengerti akan itu. Dia sendiri sudah menarik yang lain-lain agar berlompatan keluar.

Suara geraman atau pekik marah si kakek terdengar sampai ke atas. Benda-benda di dalam istana rupanya dipukuli atau dihajar, karena terdengar ledakan-ledakan atau semacam suara patung-patung roboh yang berdentum. Di bawah sana memang banyak terdapat patung-patung batu. Dan ketika semua keluar dan lari ke pantai, Soat Eng menyambar adiknya maka suaminya dan yang lain-lain sudah mengikuti.

“Ah, kita tak memiliki perahu lagi. Perahu kita sudah hancur dihantam ombak!”

Soat Eng tertegun. Terlihat olehnya keping badan perahu yang berserakan. Itulah perahu yang tadinya hendak mereka pakai namun kini sudah hancur diserang badai. Namun ketika Gwan Beng bergerak dan melepas gulungan tali, mengikat dan merakit pecahan-pecahan papan itu menjadi sebuah getek maka terciptalah “perahu” darurat ini dalam keadaan memaksa.

“Ayolah, tak usah bingung. Kita tetap dapat mempergunakannya dan pergi dengan cepat!”

Semua kagum. Hauw Kam terbahak memuji suhengnya ini, sang suheng tak tertawa karena merasa serius. Dan ketika mereka berlompatan dan naik ke atas getek, siap didorong dan mengarungi lautan bebas maka mereka bingung karena tak ada dayung.

“Wah, tak ada yang dapat dipakai mendorong. Kita semua mempergunakan tangan. Dayung!”

Namun ketika getek digerakkan dan didorong dengan tangan, semua sudah membungkuk dan menyibak air laut mendadak getek tertahan sesuatu dan tak mau maju!

“Eh, apa ini? Kenapa tak mau jalan?”

“Seolah tertambat. Seakan ada tali yang menahan!”

“Ah, benar. Itu, lihat. Sisa tali Gwan-suheng nyangkut di kayu!”

“Hm, biar aku yang melepaskan!” dan Soat Eng yang menggerakkan tangan menabas dari jauh tiba-tiba membuat tali itu putus dan yang lain tertawa memuji kepandaian nyonya ini. Getek bergerak dan Siang Le serta yang lain-lain mendorong dengan tangan. Itulah dayung darurat yang mereka pakai. Tapi baru saja getek melaju dan melepaskan diri mendadak tertahan lagi dan sebuah tali lain menjerat kuat.

“Ah, bagaimana ini? Siapa yang mengikat ?” Hauw Kam marah-marah, meraih dan menabas putus tali itu namun aneh sekali sang tali tak dapat putus. Dibacok dan dipukul miring tali itu hanya tergetar dan membal saja, seperti karet. Tapi setelah Hauw Kam mencabut pedang pendeknya dan menghantam tali itu maka putuslah sang tali dan getek melaju lagi.

Namun kejadian lain membuat mereka terkejut. Getek mendadak berhenti lagi dan kini bergerak mundur. Semula disangka terdorong ombak namun ternyata bukan, karena seseorang terasa menarik getek itu tanpa suara. Dan ketika mereka heran dan menoleh, hampir serentak, maka terpekiklah mereka oleh munculnya seorang kakek yang misainya sampai ke kaki sementara bola matanya berpijar-pijar seperti api.

“Poan-jin-poan-kwi!”

Semua sudah hapal. Hampir serentak pula mereka semua berseru. Kakek itu ternyata sudah berdiri di pantai dan sebelah tangannya bergerak maju mundur menarik getek. Tak ada tali atau benda lain yang dipakai. Tapi ketika serangkum angin dingin menyedot perahu darurat itu dan dari daya sedot inilah getek tertarik mundur maka semua orang menjadi maklum bahwa tenaga sakti kakek itulah yang membuat semuanya begini!

“Kau!” si kakek berseru, memandang Beng An. “Ke sinilah, bocah. Tinggalkan teman-temanmu dan hinggap di pundakku!”

Aneh sekali, Beng An tiba-tiba melesat. Seperti burung atau garuda menyambar anak laki-laki ini sudah “terbang” ke arah si kakek, duduk atau hinggap di pundaknya seperti orang tidak sadar. Tapi ketika Soat Eng melengking dan menjerit panjang, kaget melihat adiknya di tangan musuh tiba-tiba nyonya ini sudah menyambar dan berjungkir balik dengan Jing-sian-engnya, menggerakkan tangan kiri melepas Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Kakek itu tak bergoyang. Pukulan si nyonya lewat dan “tembus” begitu saja.

Soat Eng tertegun dan membelalakkan matanya. Tapi begitu sadar dan melengking lagi, heran dan marah bagaimana kakek ini tiba-tiba seperti semula lagi, padahal tadi dapat dipukul dan disentuh maka wanita itu sudah berkelebatan dan melepas pukulannya lagi, bertubi-tubi dan cepat dan tiga kali wanita ini coba menyambar adiknya. Tujuan Soat Eng adalah merampas kembali adiknya di pundak musuh. Tapi ketika semua itu tak berhasil dan adiknyapun tak dapat disentuh, Beng An seolah barang halus yang tak dapat diraba maka Soat Eng terbelalak dan semakin kaget saja.

“Beng An, meloncat ke sini. Bebaskan dirimu!”

Namun Beng An diam mematung. Entah bagaimana begitu jatuh dan melekat di pundak si kakek tiba-tiba saja anak ini seolah arca. Beng An tak bergerak dan juga tak bernapas. Soat Eng tak melihat gerakan dada adiknya itu hingga menjadi pucat sekali. Maklumlah, itu berarti adiknya tak bernyawa! Dan ketika nyonya ini membentak dan melengking panjang, berkelebat di betakang si kakek untuk mencengkeram tengkuknya maka suatu benda dingin disentuh wanita ini....