Rajawali Merah Jilid 08 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 08
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“HA-HA, enci tak mungkin berani mencubitku. Kalau kau mencubitku akan kubawa Le-twako ke utara, biar kau sendirian di sini. Hayo, pilih mana, enci? Kubawa Le-twako atau kau tinggal bersamanya?”

“Ihh!” Soat Eng gemas dan semburat. “Kau benar-benar nakal, Beng An. Biar kucubit kau dan lihat apakah Le-twako ikut denganmu atau tidak!” tapi ketika Beng An berteriak dan lari ke belakang Siang Le maka Beng An berseru agar kakak iparnya itu menghadapi sang enci. Soat Eng bergerak tapi Beng An lari berputaran, baju Siang Le ditarik ke sana ke mari. Dan ketika pemuda itu terbawa dan otomatis ikut terputar-putar maka Beng An tertawa bergelak dan Siang Le pun mau tak mau tertawa lebar, lupa kepada gak-bonya yang mengancam di situ.

“Ah, sudah... sudah. Jangan aku dipermainkan begini, An-te (adik An). Bisa seperti gasing aku nanti!”

“Ha-ha, cegah dulu enci Eng yang mau menerkam aku. Tangkap dan cekal dia!”

“Hm, kau berani melindungi si bengal ini?” Soat Eng malah menggertak. “Aku tak mau menyiapkan sarapan pagimu, Le-koko. Hayo serahkan dia kepadaku atau kau membuat sarapan sendiri!”

“Wah, jangan khawatir!” Beng An berteriak. “Aku dapat menggantikannya, Le-twako. Sarapan pagiku lebih lezat daripada enci Eng. Hayo, tangkap dia atau bokongmu kutepuk.... plak!”

Beng An benar-benar menepuk pantat Siang Le, tertawa bergelak dan kabur ke arah ibunya ketika tiba-tiba Siang Le bergerak, mau menangkapnya. Dan ketika Soat Eng berhenti dan terbelalak memandang adiknya maka si bengal sudah meloncat ke punggung Gosar dan menyuruh beruang jantan itu meloncat ke pulau.

“Hayo, lari, sahabat. Kita ke Istana Hantu dan kucing-kucingan dengannya!”

Gosar menguik panjang. Dia kabur dan lari secepat terbang ke tengah pulau, betinanya diberi tanda dan beruang pasangannya itupun menguik dan lari mengikuti. Siang Le tertawa dan hampir terpingkal-pingkal melihat itu. Beng An di punggung beruang yang lari dengan lucu hingga tak dapat dia menahan geli. Siapapun pasti terbahak-bahak. Dan ketika Soat Eng pun terkekeh dan berkelebat mengejar adiknya, lupa kepada sang ibu maka Siang Le terkejut karena dia berduaan dengan sang ibu mertua!

“Hm!” suara itu terdengar lagi, dingin dan mendebarkan jantung. “Biarkan mereka bercanda, Siang Le, tak usah kau mengejar. Aku memang ingin berbicara denganmu!” dan ketika Siang Le tertegun dan membalikkan tubuh, menghadapi gak-bonya maka sang ibu mertua bertanya melanjutkan, “Sudah berapa lama kau di sini?”

“Hampir sembilan bulan....”

“Bagus, cukup lama. Sudah cukup berbulan madu! Hm, kau sudah melaksanakan perintahku dulu, Siang Le?”

“Ini... ini...” Siang Le gugup, terkejut. “Aku belum sempat, gak-bo. Aku masih repot menemani Eng-moi di sini!”

“Hm, itu bukan alasan. Kau dapat membawanya serta. Kenapa kau tak segera berangkat, Siang Le? Kau sengaja mengulur-ulur waktu dan melupakannya?”

“Tidak!” pemuda ini mengeraskan dagu, marah. “Aku tak melupakannya, gak-bo. Aku tetap memegang janjiku. Aku memang belum dapat pergi karena belum menemukan alasan untuk Eng-moi!”

“Hm, tak perlu mencari alasan, langsung saja beri tahu bahwa kau ingin mencari gurumu. Bukankah jelas? Soat Eng tak akan menahanmu, Siang Le. Kecuali kalau kau sengaja mengulur-ulur waktu dan membiarkan aku lupa!”

Siang Le semburat. Dia merah dan tersinggung tapi tentu saja tak berani banyak cakap dengan gak-bonya ini. Wanita itu adalah ibu isterinya. Dia bukan takut melainkan sekedar rasa hormat saja. Dia tentu tak mau kalau harus bermusuhan dengan ibu mertua. Ah, biasanya perempuan dengan perempuanlah yang bermusuhan. Jarang ada menantu laki-laki harus cekcok dengan sang ibu mertua!

Tapi karena Kim-hujin ini adalah lain dan dia ibarat ratu yang tak boleh dibantah maka Siang Le yang ingin menunjukkan diri sebagai menantu yang baik tak mau banyak debat dengan ibu mertuanya itu. Tapi ini malah dianggap sang nyonya sebagai kesengajaan pemuda itu untuk tidak melaksanakan perintah!

“Bagaimana, Siang Le?” pertanyaan itu meluncur lagi, semakin berat dan dingin. “Kapan kau melaksanakannya?”

Siang Le merah padam. Sekarang dia terdesak dan waktu bulan madu yang sudah dianggap cukup agaknya harus segera dilaluinya. Sebenarnya bukan karena itulah dia tak mau meninggalkan pulau. Dia enggan dan segan semata karena rasa hormatnya kepada gurunya. See-ong adalah kakek yang telah memberi banyak budi dan kini dia harus menangkap. Ah, mau rasanya dia mati saja saat itu. Biarlah dia berikan kepalanya itu sebagai ganti gurunya! Tapi karena hal itu tak mungkin dan gak-bonya juga jelas tak mau maka pemuda ini menekan kemarahan hatinya dan berkata,

“Baiklah, akan secepatnya kulaksanakan, gak-bo. Aku akan meninggalkan pulau dan barangkali juga bersama Eng-moi!

“Bagus, kapan?”

Siang Le terkejut. Sang gak-bo mendesak dan agaknya dia harus memastikan, Siang Le menjadi gusar namun lagi-lagi menahan perasaannya. Dan ketika setelah sejenak berpikir dan mengira-ngira maka diapun memberikan kepastian. “Seminggu lagi. Aku akan berangkat dan gak-bo boleh legakan hati!”

“Terima kasih,” sinar mata itu kini berkedip gembira. “Tapi kepergianmu tentu juga harus diberi batas, Siang Le. Kapan kau akan menyelesaikannya agar aku tidak menunggu-nunggu!”

Siang Le terbelalak. Gak-bonya ini benar-benar terlalu dan dirasa menindas. Tapi ketika sinar matanya bentrok dan dia kalah kuat, sinar mata gak-bonya itu begitu penuh wibawa dan angker maka Siang Le menarik napas dalam-dalam dan menjawab, “Gak-bo tentukan saja berapa lama batas waktu itu. Aku akan menyanggupinya saja."

“Hm, bagaimana kalau enam bulan?”

“Baik, enam bulan, gak-bo. Dan berhasil atau tidak tentu aku akan melapor!”

"Bagus, kau anak baik, Siang Le. Kalau begitu biar aku juga tak perlu lama- lama di sini!” 

Dan ketika Siang Le mengerutkan kening karena gak-bonya itu tertawa aneh, perasaannya tertusuk maka gak-bonya itu berkelebat dan menuju ke tengah pulau. Siang Le sendiri akhirnya bergerak dan mengikuti sang gak-bo. Dia tahu bahwa gak-bonya itu akan menemui puterinya dan Beng An. Dan ketika di Istana Hantu mereka bertemu lagi maka tiga hari wanita itu menginap dan kemudian kembali.

“Ibu hanya sebentar saja? Tidak menemani kami lebih lama?” Soat Eng terbelalak memandang ibunya, tentu saja kaget karena jauh-jauh ibunya hanya tinggal tiga hari saja. Soat Eng tentu saja tak tahu bahwa ibunya sebenarnya memiliki keperluan dengan suaminya, pembicaraan rahasia yang sudah dicapai kata sepakat.

Dan ketika wanita itu tertawa dan menepuk pundak puterinya maka dia berkata, “Hm, aku hanya ingin melihat kalian sehat-sehat saja, Eng-ji (anak Eng). Kalau tak ada apa-apa tentu saja ibu harus kembali. Bukankah ayahmu sendirian di utara? Aku girang kalian tak ada apa-apa, dan kupikir cukup tiga hari bersama kalian. Sudahlah, tentunya kalian akan, ganti ke tempat kami dan suamimu pasti tahu itu!”

Soat Eng masih terbelalak dan tertegun. Dia tak melihat muka suaminya yang sedikit merah oleh kata-kata itu. Ibunya menyindir Siang Le. Tapi ketika wanita ini tertegun membelalakkan mata sementara Siang Le sendiri diam-diam mengharap agar gak-bonya itu cepat pergi, karena pemuda ini merasa terganggu maka Beng An yang terkejut dan terbelalak seperti encinya berseru, tak puas.

“Eh, aku masih kangen dengan enci Eng, ibu. Aku tak mau pulang!”

Sang ibu terkejut. “Apa? Kau mau tinggal di sini?”

“Benar, aku masih kangen mereka, ibu, juga sepasang gorila ini. Aku ingin bermain-main dengan mereka!”

“Ah, kalau begitu ibu tinggal juga beberapa hari. Aku juga masih kangen!”

“Hm!” sang nyonya mengerutkan kening, ganti tak puas. “Aku sudah menyatakan pulang, Eng-ji, dan aku tentu pulang. Ayahmu sendirian di sana, aku tak mau lama-lama meninggalkannya!”

“Kalau begitu ibu saja yang pulang sendiri!” Beng An kembali berseru, mengejutkan yang lain-lain. “Aku masih ingin main-main dan tinggal di sini, ibu. Atau aku akan ngambek di perjalanan kalau ibu memaksa!”

Sang nyonya tertegun. Soat Eng tiba-tiba tersenyum karena mendadak ibunya itu serasa mati kutu. Beng An memang anak yang bengal selain pemberani. Ibunya yang memanjakannya membuat anak itu tak takut. Maka ketika sang ibu kelihatan ragu dan bingung, Beng An sudah berlindung dan bersembunyi di balik punggungnya maka Soat Eng tertawa, berkata,

“Kalau begitu ibu dipaksa memilih, Tinggal di sini beberapa hari lagi atau membiarkan Beng An bersama kami!”

“Hm, anak itu tukang bikin pusing. Apakah kau tak repot dia ada di sini?”

“Aku tidak nakal, ibu!” Beng An mendahului, setengah berteriak. “Aku akan baik-baik kepada enci Eng maupun Le-twako. Aku lebih baik bersama mereka dulu dan ibu pulang sendirian!”

Soat Eng terkekeh. “Beng An, kau benar-benar nekat. Kalau ibu membawamu sungguh ibu kejam. Ah, baiklah kau di sini dan biar ibu pulang sendirian, kalau tak mau beberapa hari lagi. Bagaimana, ibu?”

Sang nyonya gemas. “Baiklah,” katanya. “Tapi kalau kau nakal di sini aku yang akan melemparmu ke laut, Beng An. Jangan keluyuran dan tinggal saja di Sam-liong-to. Kau harus berjanji!”

“Aku berjanji!” sang anak menjawab gagah, girang dan senang bukan main. “Kalau aku nakal biarlah enci Eng atau Le-twako yang melemparku ke laut, tak usah ibu!”

“Hm, bagaimana, Siang Le?” wanita itu memutar tubuhnya, menghadapi Siang Le. “Kau tak keberatan si bengal ini ada di sini?”

“Ah, kami tak keberatan. Adik Beng An tentu tak akan mengganggu kami dan justeru dapat menemani kami di sini. Biarlah dia di sini kalau gak-bo memperbolehkannya!”

“Baiklah, tapi tanggung jawabmu bertambah. Hati-hati dan awasi dia!” dan ketika Beng An bersorak dan meloncat menubruk ibunya, tak menyembunyikan diri lagi di punggung encinya maka ibunya menyambar dan mencengkeram bahu puteranya ini, mendesis, “Beng An, kau jangan membuat pusing. Kau harus baik-baik dan tetap tinggal bersama mereka, jangan jauh-jauh. Kalau kau bandel dan tidak melaksanakan kata-kata ibu maka aku akan mengurungmu setahun penuh!”

“Ah, jangan begitu,” sang anak tertawa. “Aku selamanya baik, ibu. Kalau tidak ada orang menggangguku tentu aku tak akan ke mana-mana. Sudahlah, ibu pulang dan baik-baik saja di perjalanan, Aku tentu akan bersikap manis kepada enci Eng!”

Sang ibu tersenyum. Akhirnya mau tak mau dia harus tertawa juga. Beng An adalah anak bungsu dan sebenarnya dia hanya tak mau berpisah saja. Beng An itulah yang biasanya selalu dekat dengannya sejak Soat Eng di Sam-liong-to sementara puteranya tertua, Thai Liong, entah ke mana. Maka melihat anaknya gembira dan di situpun tentu tak usah khawatir, karena Soat Eng dapat diandalkan sementara Siang Le juga bukan pemuda lemah maka nyonya itu mencium puteranya dan berkelebat keluar.

“Baik, tepatilah omonganmu dan minta antar kalau sudah rindu kepada ayah dan ibu!”

Beng An bertepuk tangan. Ibunya berkelebat dan lenyap di luar. Anak itu bersorak kagum dan memburu keluar. Dan ketika ibunya tahu-tahu sudah ada di kejauhan dan tiba di pantai, begitu cepat dan luar biasa maka Siang Le dan Soat Eng yang berkelebat mengejar sudah diganduli anak ini.

“Hei-hei, jangan tinggalkan aku, enci Eng. Aku juga ingin melihat ibu di pantai!”

Soat Eng tertawa. Dia sendiri sudah menyusul dan mengikuti ibunya. Ibunya itu sudah tidak banyak peradatan lagi dan siap meninggalkan pulau. Beng An melihat ibunya itu mendekati perahu tapi perahu yang dikira akan dipakai ibunya ini mendadak ditendang, terbalik dan tertelungkup di pasir. Dan ketika anak itu terkejut dan heran kenapa ibunya berbuat begitu maka sang nyonya sudah berjungkir balik dan hinggap di atas gelombang untuk kemudian meluncur dan pergi dengan caranya yang aneh.

“Selamat tinggal, Beng An. Selamat tinggal semuanya dan hati-hati kalian menjaga diri!”

Beng An melongo. Kiranya ibunya meninggalkan perahu itu untuk mereka, atau lebih tepat, barangkali untuk dirinya. Karena begitu ibunya berjungkir balik dan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya maka ibunya yang sakti itu sudah “terbang” atau bergerak-gerak di air dengan cepat sekali, kedua lengan mengembang seperti sayap!

“Ah, Cui-sian Gin-kang. Ah, ibu mempergunakan Cui-sian Gin-kang!”

Soat Eng dan Siang Le mengangguk-angguk. Memang wanita sakti itu mempergunakan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan karena ilmu meringankan tubuh itu sudah mencapai tingkat sempurna dan kedua kaki yang bergerak-gerak cepat seolah tak menyentuh permukaan air maka wanita itu seolah terbang atau meluncur tanpa sayap, Beng An berkali-kali bertepuk tangan dan memuji dengan mata lebar-lebar.

Enci dan iparnya bersinar-sinar memuji kagum. Apa yang diperlihatkan nyonya itu memang hebat dan luar biasa. Tapi ketika bayangan nyonya itu lenyap karena sudah jauh di tengah, hanya merupakan titik kecil yang tak dapat ditangkap mata lagi maka Soat Eng tertawa menepuk pundak adiknya.

“Nah, kau lihat kesaktian ibu. Kau sendiri sampai di mana pelajaranmu, Beng An? Apakah selalu rajin-rajin belajar?”

“Ah, aku selalu rajin. Tapi kepandaianku rasanya tak bertambah-tambah juga. Lihat, inilah jurus-jurus Khi-bal-sin-kang, enci. Mari main-main sebentar dan lihat kepandaianku!”

Soat Eng tertawa. Sang adik sudah bergerak dan mulai menerjangnya, gerakan Beng An gesit tapi dia tentu saja jauh lebih gesit, karena begitu sang adik berseru dan menyerangnya maka dia berkelebat dan terkekeh, mengelak.

“Bagus, tambah kecepatanmu, Beng An. Ayo tambah lagi dan semakin cepat.... wut-wut!” Soat Eng berkelebatan, naik ke sana ke mari menghindari pukulan-pukulan adiknya.

Sementara Beng An penasaran tak dapat menyentuh. Dia membentak dan mempercepat gerakannya lagi namun sang enci juga melakukan hal yang sama, mempercepat dan menambah keringanan tubuhnya. Dan ketika bayangan encinya seperti walet menyambar-nyambar dan Beng An tak mampu menyentuh encinya, yang bergerak begitu cepat hingga mirip bayang-bayang saja maka anak itu gemas di samping marah, berteriak, “He, kau jangan mengelak saja, enci. Hayo balas dan pukul aku!”

“Hi-hik, kaupun minta dipukul? Tidak takut?”

“Tidak, aku akan memperlihatkan Khi-bal-sin-kang yang kupunyai!”

“Bagus, kalau begitu coba ini.... buk!” dan Soat Eng yang berkelebat dan mendaratkan pukulan ringan tiba-tiba berseru kagum karena pukulannya membalik. Adiknya itu ternyata mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya dan ilmu Bola Sakti yang dipertunjukkan itu membuat pukulannya membal. Ternyata, Beng An sudah mampu menahan pukulan dan sekali lagi Soat Eng mendaratkan serangan, kali ini tamparan dan tenaganyapun ditambah. Tapi ketika serangan itu masih terpental dan tamparannya tertolak balik maka wanita itu memuji. “Bagus, kau hebat, Beng An. Kalau begitu kau sudah maju!”

“Ha-ha, pukul terus, enci. Hayo semakin kuat sampai aku tak tahan. Lagi!”

Sang enci tertawa. Soat Eng gembira dan menambah pukulan-pukulannya lagi. Setiap tambahan mempergunakan sepersepuluh bagian tenaga. Dan ketika empat kali berturut-turut Beng An masih dapat menahan dan baru pada pukulan yang ke lima anak itu terpental dan mencelat maka Soat Eng kagum dan otomatis menghentikan pukulannya.

“Dess!” Beng An kalah kuat. Baru setelah Soat Eng mengerahkan setengah bagian tenaganya adiknya itu tak tahan. Beng An mencelat dan terpental ke arah Siang Le. Tapi ketika Siang Le menerima dan tersenyum, bermaksud menolong tiba-tiba Beng An tertawa dan pukulan encinya yang terbawa itu diteruskan ke arah sang kakak ipar.

“Awas!” Beng An terbahak di antara sakitnya. “Aku akan menghantammu, twako. Tahan dan jaga ini.... bukk!”

Siang Le menerima pukulan, tak menyangka dan tiba-tiba mencelat ke tebing. Siang Le memang tidak melatih lagi Khi-bal-sin-kang atau pukulan-pukulan lain dari Pendekar Rambut Emas. Beng An juga tak mengira itu karena dulu diketahuinya kakak iparnya ini mendapat pelajaran dari ayahnya. Maka begitu pukulan encinya “dioper” kepada pemuda ini sementara Siang Le sama sekali tidak siap maka pemuda itupun terlempar dan mencelat, menumbuk dinding!

“Aihh...!” Soat Eng berkelebat berteriak tertahan.

Beng An sendiri terbanting dan terguling-guling di sudut, melihat Siang Le pucat dan menumbuk tebing. Tapi ketika anak itu terbelalak dan heran serta kaget, kenapa di tubuh kakaknya itu tidak ada tenaga Khi-bal-sin-kang sebagai perlawanan maka Soat Eng sudah menubruk dan menyambar suaminya ini.

“Le-ko, kau tak apa-apa?”

Siang Le pucat. Pemuda ini terbatuk tapi segera ditotok oleh sang isteri. Soat Eng melegakan sekaligus membebaskan bekas pukulannya tadi, yang dioper oleh Beng An. Dan ketika dia memeluk dan pucat memandang suaminya itu, tahu suaminya tak melatih Khi-bal-sin-kang dan lain-lainnya itu maka wanita ini terbelalak memandang suaminya, penuh khawatir. Tapi Siang Le yang rupanya sudah memiliki kekuatan sendiri, berkat gemblengan See-ong, gurunya itu, tiba-tiba pemuda ini menarik napas dan bangkit terhuyung, mencoba tertawa, meskipun yang muncul adalah seringai kesakitan.

“Ah, aku tak apa-apa, hanya terkejut sedikit. Ah, sudahlah, Eng-moi. Aku tadi memang salah kenapa tidak menangkis.”

“Dan ini kenakalan Beng An!”

“Tidak... tidak!” sang pemuda cepat mengulapkan lengan, mengingatkan isterinya itu. “Beng An tak tahu ini, Eng-moi. Dia tidak sengaja. Jangan salahkan dia karena dia memang tidak tahu!”

Soat Eng sadar. Akhirnya dia tahu bahwa adiknya memang tidak tahu. Juga adiknya tadi tidak sengaja. Soat Eng memang sudah diminta suaminya untuk tidak menceritakan kepada siapapun bahwa Siang Le tidak melatih atau melanjutkan Khi-bal-sin-kang dan lain-lain itu. Wanita muda ini mendapat alasan karena tak ada lagi musuh yang mengganggu maka suaminya itu tak serius melatih ilmu-ilmu pemberian ayahnya. Dan ketika Beng An berdiri dan menyambar suaminya, minta maaf, maka Soat Eng sadar bahwa dia tak perlu memarahi adiknya.

“Aneh!” Beng An berseru, setelah minta maaf. “Tubuhmu sama sekali tak terisi Khi-bal-sin-kang, Le-twako. Kau yang tak mempergunakannya atau memang kau tak melatih lagi?”

“Ah,” Siang Le tertawa. “Aku tak siap, An-te. Aku tak menyangka bahwa kau akan mengoper pukulan encimu.”

“Tapi Khi-bal-sin-kang biasanya akan otomatis melindungi tuannya, meskipun tak dikerahkan. Tapi tubuhmu tadi sama sekali tak ada apa-apa!”

“Hm, kakakmu sedang terkejut, Beng An. Dan dalam keadaan terkejut ilmu apapun bisa hilang sekejap. Akupun kalau terkejut barangkali Khi-bal-sin-kang di tubuh juga bisa tak bereaksi. Sudahlah, cukup semuanya ini dan kemajuanmu sudah ada. Kau dapat menerima pukulanku dengan tenaga setengah bagian!”

Beng An mengangguk-angguk. Suara atau kata-kata encinya ini dipercayanya begitu saja, karena encinya memang lebih tinggi kepandaiannya daripadanya. Maka ketika dia tak bertanya lagi meskipun keheranan itu masih ada selanjutnya mereka kembali ke tengah pulau karena Soat Eng hendak melanjutkan pekerjaannya di dapur sementara Siang Le menyiapkan makanan untuk binatang peliharaannya, sepasang gorila itu.

“Biar aku saja yang mencari buah-buahan untuk mereka. Le-twako istirahat saja!”

“Hm, baiklah, Beng An. Kalau begitu aku membantu encimu mengurus yang lain.”

Semua lalu kembali, Ibu mereka telah pergi dan Sam-liong-to sekarang terisi tiga orang. Beng An lega tak kena marah dan anak itu cepat bermain-main dengan sepasang gorila penghuni pulau. Dan ketika dua minggu kemudian Beng An membantu enci maupun kakak iparnya dan anak itu tampak kerasan maka suatu hari gorila itu juga menguik-nguik dan berlarian cepat ke pantai.

“Hm, siapa yang datang?” Beng An sudah mengenal gerak-gerik atau tanda-tanda binatang itu. Kalau sepasang gorila itu berlarian dan menuju pantai pasti seseorang akan bertamu. Beng An masih tak melihat apa-apa namun sepasang gorila itu sudah duduk dan menunggu. Lucu, binatang itu menguik-nguik dan menuding ke depan. 

Beng An berdebar dan menajamkan matanya. Hm, di sana masih belum ada apa-apa. Laut yang biru luas berdesir dengan halus. Ombaknya membuai lembut dan tak ada siapapun di sana. Tapi ketika beberapa menit kemudian Beng An melihat sebuah titik hitam di kejauhan, seperti sebuah perahu yang layarnya mencongak ke atas maka pemuda itu berseru kagum.

“Ah, betul. Ada orang mendatangi ke pulau!”

Dua gorila itu berdiri. Sejenak mereka mendengus-dengus namun tiba-tiba melonjak kegirangan. Beng An memperhatikan dan segera tahu bahwa yang datang adalah kawan, karena rupanya insting binatang itu sudah lebih dulu bicara daripada mata lahirnya. Dan ketika titik kecil itu sudah kian dekat dan kini tampak dua orang duduk di perahu kecil, oleng dikayuh cepat maka Beng An terbelalak melihat itulah dua orang kakek gagah di mana masing-masing juga sudah melihatnya di pantai, dua kakek bercambang dan berambut gimbal-gimbal.

“Supek-hu (paman guru)!” Beng An melonjak dan lari berteriak. Sekarang anak ini tahu bahwa kiranya dua kakek di perahu itu adalah supeknya, kakak seperguruan dari ibunya dan Beng An menghambur dengan girang. Dua kakek itu juga tertawa bergelak dan ketika perahu belum merapat benar mendadak mereka berjungkir balik dan sudah melayang turun ke pantai. Geraknya gesit dan ringan, juga cekatan. Dan ketika perahu berhenti diterpa ombak sementara dua kakek itu sudah turun dan hinggap di pasir yang lunak, berseri-seri, maka Beng An menubruk dan berseru dengan sikap girang bukan main.

“Ah, twa-supek dan ji-supek yang datang. Haii, selamat bertemu, ji-wi supek (paman berdua). Ini aku Beng An ada sini!”

“Ha-ha, benar, kau Beng An. Eh, bagaimana kau ada di sini, anak nakal? Bukankah kau bersama ibumu di utara?” kakek berambut gimbal, yang menyambar dan sudah ditubruk anak ini mengangkat anak itu tinggi-tinggi dan melontarkannya ke atas.

Beng An terbahak-bahak dan berjungkir balik ke bawah, diterima dan dilempar lagi hingga tiga kali berturut-turut. Kakek itu ingin tahu ilmu meringankan tubuh keponakannya dan kini terbelalak melihat betapa ringan dan lincahnya Beng An berjungkir balik, tak kalah dengan dirinya tadi. Dan ketika kakek itu menangkap dan tidak melempar lagi, Beng An tertawa-tawa maka kakek di sebelah juga terkekeh dan menghadapi sepasang gorila yang menubruk dan menarik-narik bajunya.

“Hei-hei, nanti dulu. Perlahan! Sobek bajuku nanti!”

Beng An tertawa gembira. Anak itu meloncat dan menubruk kakek ini pula langsung nongkrong di pundaknya. Dan ketika kakek itu terbahak karena Beng An dan gorilanya saling kerubut, masing-masing menari dan mengajak kakek ini bergembira maka kakek itu tiba-tiba melempar Beng An ke atas.

“Wah, tak sanggup aku dikeroyok bertiga. Hayo kejar aku kalau mampu!" sang kakek berkelebat, mendorong dua gorila itu dan kini mengitari sebongkah batu besar mengajak musuh-musuhnya menangkap.

Beng An sendiri sudah melayang turun dan berjungkir balik mengejar kakek itu, gorila di sampingnya juga bergerak dan lari dengan lucu mengejar kakek itu, langkahnya lucu. Tapi ketika kakek itu berkelebatan dan tak dapat disentuh, Beng An penasaran dan tiba-tiba mengerahkan jing-sian-engnya maka si kakek terkejut ketika ujung bajunya tersambar.

“Kena!” Beng An berteriak kegirangan. Si kakek terbelalak karena Beng An mampu memegang ujung bajunya, biarpun belum tubuhnya. Tapi ketika dia meloncat dan berusaha melepaskan diri maka Beng An mencengkeram dan bahkan tertawa-tawa mempererat pegangannya, maju merayap, terbawa oleh si kakek yang sudah terbang untuk melepaskan diri.

“Ha-ha, ke manapun kau pergi aku tetap mengikutimu, twa-pek (paman tertua). Aku akan coba memegang tubuhmu dan aku menang!”

“Ha-ha, anak cerdik!” si kakek berseru. “Kau rupanya pandai dan banyak akalmu, Beng An. Baiklah, coba bagaimana kalau begini aku memperlakukanmu..... des!” dan Beng An yang ditendang seperti kuda menyepak tiba-tiba terkejut karena tubuhnya mencelat terlempar. Baju yang dicengkeram sobek ujungnya dan otomatis kakek itu bebas, terbahak dan sudah berlari lagi tanpa menghiraukan Beng An yang terbelalak dan memaki karena twa-peknya itu curang.

Tapi ketika Beng An turun dan berjungkir balik indah, dipuji kagum maka anak itu sudah mengejar lagi dan si kakek menendang-nendang kalau Beng An hampir mendapatkan tubuhnya. Beng An tak merasa bahwa tendangan-tendangan itu kian lama kian berat, si bocah tak sadar. Tapi ketika kakek kedua mencelat dan memukul pundaknya, Beng An terpental barulah anak itu terkejut mendapat pujian.

“Wah, bagus. Kiranya kaupun sudah mewarisi Khi-bal-sin-kang!”

Beng An tertegun. Sekarang dia ditangkap dan balik disambar kakek pertama. Kakek itu sudah menendangnya berkali-kali tapi si anak tak apa-apa. Dua gorila sudah terlempar karena mereka tak kuat menerima tendangan kakek ini, lain dengan Beng An yang masih tegar dan selalu mengejar lagi. Dan ketika kakek itu tertawa bergelak dan memuji anak ini, juga kakek kedua yang rambutnya gimbal-gimbal maka barulah anak itu sadar bahwa sebenarnya dia sedang diuji.

“Ah, twa-pek dan ji-pek menguji aku? Kiranya kalian memukul dan menyerang untuk melihat Khi-bal-sin-kang ku?”

“Ha-ha, benar. Dan kau lihat dua gorilamu itu, Beng An. Mereka sekali saja terlempar dan menguik-nguik kesakitan. Tapi kau sudah mendapat delapan tendangan namun tetap tegar dan kuat juga. Ini tentu berkat Khi-bal-sin-kang!”

“Dan ilmu itu sudah menyatu di tubuhmu. Ah, ayah ibumu sudah menggembleng tak main-main!”

“Hm!” Beng An sadar, berseri-seri. “Tapi aku masih bodoh, supek. Aku belum sepandai atau selihai enci Eng!”

“Ha-ha, sombong. Mana mungkin menandingi encimu yang sudah lebih dulu berlatih? Kami berdua saja masih bukan tandingannya, Beng An. Dan kamipun kelak bukan tandinganmu kalau kau sudah besar dan dewasa nanti!”

“Ah, masa?” tapi ketika Beng An dilepas dan ditendang lagi, mencelat tapi kakek pertama itu terdorong maka kakek itu berseru,

“Nah, lihat. Khi-bal-sin-kangmu membuat aku terdorong, Beng An. Itu berarti ilmu sakti itu telah melindungi dirimu dengan baik. Kalau sepuluh tahun lagi kau berlatih salah-salah kakikulah yang patah, tak kuat!”

Beng An meloncat bangun. Dia melihat twapeknya itu terdorong dan terhuyung. Dia merasa agak sakit karena tendangan tadi dilakukan keras sekali, hampir dia menjerit. Tapi ketika dia berseri karena pujian itu betul, Khi-bal-sin-kangnya sedang diuji dan mendapat kekaguman maka kakek kedua yang bergerak dan mengurut punggung sepasang gorila lalu tertawa melihat berkelebatnya dua bayangan.

“Ha, tuan rumah datang. Lihat!”

Beng An menoleh. Encinya, Soat Eng, datang dan berkelebat bersama suaminya. Siang Le dan isterinya ini mendengar ribut-ribut di luar dan tentu saja terkejut, datang dan ingin melihat apa yang terjadi. Tapi begitu mereka melihat dua kakek ini tiba-tiba Soat Eng yang gembira dan menubruk maju sudah menyambar kakek gimbal-gimbal yang melihat kedatangannya tadi.

“Ah, kiranya Hauw Kam-supek dan Gwan Beng-supek yang datang. Aihh, selamat datang, supek. Selamat bertemu di Sam-liong-to!”

Kakek itu tertawa girang. Soat Eng sudah menyambarnya dan memeluk serta mencium. Itulah tanda sayang dan kasih dari nyonya muda ini. Dan ketika Siang Le juga tersenyum dan mendekati kakek pertama, memberi hormat dan merangkul maka dua kakek itu bersert-seri melihat nyonya dan tuan rumah ini.

“Wah, wajahmu makin berseri-seri, Soat Eng. Kau tampak semakin cantik dan gagah saja setelah bersuami!”

“Dan suamimu ini tambah tampan!” kakek pertama juga memuji. “Kalian sungguh kerasan dan bahagia sekali, anak-anak. Rupanya kalian betah di Sam-liong-to, meskipun sendiri!”

“Ah, kami memang tak suka tinggal di tempat yang ramai...” nyonya rumah menjawab sambil sedikit tersipu, mukanya kemerah-merahan, sedikit malu tapi juga girang. Maklum, dia dipuji terang-terangan! “Kami bahagia dengan keadaan kami, supek. Dan kami lebih bahagia lagi setelah kalian datang!”

“Ha-ha, ini sambutan yang manis. Eh, kami datang tak ada keperluan apa-apa, Siang-hujin (nyonya Siang). Malah barangkali mau minta apa-apa! Ha-ha, bagaimana pendapatmu, suheng?”

“Hm,” kakek pertama tersenyum. “Jangan menakut-nakuti nyonya rumah, sute. Siang-hujin mungkin akan berdebar kalau belum apa-apa kau sudah memberi tahu.”

“Ha-ha, aku tak takut. Nyonya rumah pasti tak menolak!” dan ketika benar saja Soat Eng dan suaminya mengerutkan alis, berdebar, maka kakek gimbal-gimbal itu berkata, “Siang-hujin....”

“Stop, aku kikuk dipanggil begitu, ji-supek. Jangan main-main dan sebut saja aku sebagaimana biasa!” Soat Eng memprotes.

“Benar,” sang suami juga tersenyum. “Jangan berkata begitu, supek. Kami rasa kalian terlalu menghormat berlebihan. Panggil saja kami seperti biasa dan kami justeru suka itu.”

“Ha-ha, aku memang main-main. Sudahlah, aku hanya menggoda saja. Baik, hmm... apa tadi kataku? Sampai di mana aku tadi bicara?” kakek ini lupa, menggaruk-garuk kepalanya dan Beng An tertawa. Anak itu merasa lucu karena dua orang supeknya ini jenaka, terutama ji-supeknya atau paman gurunya nomor dua itu. Tapi ketika Siang Le mengingatkan bahwa katanya mereka akan minta sesuatu, entah apa, maka kakek itu mengangguk dan tertawa.

“Benar... benar... kami, hmm... kami mau meminta sesuatu dari isterimu ini!”

“Minta apa?”

“Tebak dulu, Soat Eng. Baru nanti kuberi tahu!”

“Aku tak tahu,” sang nyonya gemas, “Supek biasanya suka main-main...”

“Ah, aku tak main-main. Aku serius! Jangan bilang aku main-main!” Hauw Kam, kakek itu, memotong. Rupanya dia marah dikata main-main. Tapi ketika pandang matanya bentrok dengan mata si nyonya dan kakek itu terkekeh maka dia bilang terus terang.

“Hm, begini. Kami, he-he... kami mau minta makan yang enak. Aku dan twa-supekmu itu sudah lama ingin menikmati masakan tanganmu, saos tomat kaki burung! Bukankah kau dapat menyajikannya untuk kami? Aku dan suheng ingin mengenang masa lalu, ketika kau dan suamimu ini kami tawan dan seret-seret sepanjang jalan, ha-ha!”

Soat Eng terkejut, tapi tiba-tiba tertawa lebar. Teringatlah dia akan kisah dua tahun yang lalu ketika dia dan suaminya ini, waktu itu mereka masih sama-sama jatuh cinta, ditawan dan ditangkap dua kakek ini. Waktu itu masing-masing sama tak tahu bahwa mereka sebenarnya masih memiliki hubungan saudara, atau keluarga dekat. Karena waktu itu dua supeknya ini dalam keadaan tidak waras alias gila. Dua supeknya itu dulu dicekoki racun oleh dua di antara Enam Iblis Dunia, racun yang membuat ingatan mereka terampas dan Hauw Kam serta suhengnya itu terkenal sebagai orang-orang aneh yang gila.

Namun karena mereka berkepandaian tinggi karena dua orang itu adalah murid-murid utama Hu Beng Kui, jago pedang yang akhirnya memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng maka Soat Eng yang merupakan cucu dari mendiang si jago pedang pernah bentrok dan ditangkap dua orang supeknya ini, yang waktu itu tidak waras. Dan Siang Le membela, turut tertangkap dan ditawan, diseret dan akhirnya menjadi permainan dua orang itu yang tertawa-tawa melihat ulah dua muda-mudi ini. Mula-mula Soat Eng menyumpah dan memaki-maki Siang Le, ketika pemuda itu minta agar dialah yang diseret bukan Soat Eng.

Tapi ketika Hauw Kam mengabulkan dan Siang Le diseret, menggantikan gadis itu agar Soat Eng tidak tersiksa maka si gadis akhirnya menangis dan cinta di hati yang semula disembunyikan dan dibuat dingin tak dapat menahan dirinya lagi. Soat Eng menangis dan memaki-maki Hauw Kam, minta agar Siang Le dibebaskan dan biarlah dia yang diseret. Dan ketika permintaan itu dikabulkan dan Siang Le yang ganti memaki-maki, berteriak-teriak maka Hauw Kam dan suhengnya gembira mempermainkan dua orang itu. Sampai akhirnya suatu hari Hauw Kam membebaskan Soat Eng berdua dengan syarat, yakni agar gadis itu membuatkan masakan untuk mereka seperti masakan istana.

Hauw Kam dan suhengnya memang akhirnya menjadi orang-orang yang doyan makan enak. Semasa gilanya mereka kerap ditipu putera-putera hartawan agar menurunkan ilmunya, dengan imbalan masakan enak dan anggur yang lezat-lezat. Dan arena Soat Eng mampu memenuhi permintaan itu dan kebetulan sepasang blekok ditangkap Hauw Kam untuk dijadikan santapan maka kaki burung blekok itulah yang dimasak Soat Eng dengan nama saos tomat kaki burung. Dan kini Hauw Kam rupanya ngilar!

“Ha-ha, bagaimana, bocah? Kau dapat memberikan kami apa yang kami maui?”

“Hm,” Soat Eng tertawa. “Tentu saja, supek. Tapi tak ada kuntul di sini. Yang ada hanya, semacam elang laut. Maukah kalian?”

“Ah, elang laut atau elang darat kami suka semua. Pokoknya kau buatkan saos tomat kaki burung. Burung apa terserah kau. Pokoknya jangan burung suamimu, ha-ha!”

“Hush!” sang suheng membentak. “Jangan bicara macam-macam, sute. Ada anak kecil di sini!”

“Eitt, siapa bicara macam-macam? Aku bicara benar, suheng. Yang kumaksud adalah burung peliharaan Siang Le ini. Seingatku dia dulu pernah menangkap dan merawat seekor burung beo, yang disumpit orang. Nah, burung itu yang kumaksud dan aku tidak bicara macam-macam. Tanya saja pemuda ini!”

“Hm, burung itu sudah kulepaskan,” Siang Le tersenyum tahu bahwa supeknya nomor dua ini memang sedikit nakal, suka ceplas-ceplos bicara. “Ingatanmu benar tajam, supek. Tapi burung itu tak ada lagi di tanganku. Aku tak ingin dia terkurung dan hidup menderita, maka kulepaskan dia agar terbang merdeka.”

“Nah-nah, anak yang satu ini memang welas asih dan berhati emas. Ah, apalagi yang pantas diberikan kepadanya kalau bukan pujian, suheng? Hm, aku bangga mempunyai keponakan menantu seperti ini, dan kalau saja Kim-mou-eng mempunyai puteri yang lain maka tentu aku akan girang kalau punya menantu lagi seperti Siang Le!”

“Sudahlah,” Siang Le tersipu, kemerah-merahan. “Aku tak memiliki keistimewan apa-apa, supek. Aku sama dengan orang-orang lainnya. Ayolah, kalian mau masuk atau ngobrol saja di luar?”

“Ha-ha, tentu saja aku mau masuk. Ah, Sam-liong-to cukup dingin, aku ingin berdiang. Dan tentu nikmat berdiang sambil menikmati saos tomat kaki burung, ha-ha!”

Soat Eng tersenyum. Supeknya yang nomor dua ini memang doyan bicara di samping doyan makan. Setelah mereka disembuhkan Bu-beng Sian-su dan tidak gila lagi tentu saja mereka merupakan orang-orang waras yang sehat jiwa dan lahirnya. Soat Eng mengangguk dan berkelebat ke pandai. Kebetulan saat itu tiga ekor elang laut terbang menyambar rendah, rupanya akan menyambar ikan yang muncul di permukaan air. Tapi ketika wanita itu bergerak dan tiga sinar hitam mencuat ke atas, cepat sekali, maka tiga ekor burung itu roboh dan jatuh ke air.

Namun Soat Eng sudah berjungkir balik melepas ikat pinggangnya. Cepat dan luar biasa nyonya ini sudah menjeletarkan sabuknya itu, menggubat atau menarik tiga ekor burung yang hampir tercebur di air. Dan ketika dia berjungkir balik dan melayang turun, indah dan ringan maka tiga ekor burung itu telah berada di ujung ikat pinggangnya dan sudah tak bernyawa.

“Ha-ha, bagus sekali. Luar biasa. Itu tentu Cui-sian Gin-kang!”

“Hm, mengagumkan!” Gwan Beng, sang supek nomor satu juga memuji, tepuk tangan. “Ilmu meringankan tubuhmu semakin luar biasa saja, Soat Eng, Hampir sama dengan ibumu!”

“Dan suamimu juga tentu bertambah lihai!” sang supek nomor dua kembali nimbrung, berseru. “Ah, aku ingin melihat kepandaiannya, Soat Eng. Aku gatal tangan dan ingin main-main!”

“Stop, nanti dulu!” Siang Le berubah, cepat menggoyang lengan. “Tak suka aku bertanding denganmu, supek. Tak hormat rasanya menyambut tamu dengan bertempur. Tidak, hari ini aku benar-benar gembira dan tak ada hasrat main-main. Harap supek mengerti dan mari ke rumah!”

Hauw Kam terbahak-bahak. Tentu saja dia tak tahu bahwa Siang Le menolak karena justeru tak ingin diketahui kepandaiannya. Pemuda itu disangka memiliki Khi-bal-sin-kang dan lain-lain sebagaimana pernah didengar, karena Siang Le sekarang adalah menantu Pendekar Rambut Emas. Tapi ketika kakek itu tak memaksa dan Siang Le girang, sudah mengajak tamunya ke pulau maka Hauw Kam dan suhengnya itu bergerak dan memasuki Istana Hantu.

Selanjutnya dua kakek itu menginap dan Soat Eng gembira karena setelah kepergian ibunya maka datang supek-supeknya ini. Mereka adalah kakak seperguruan ibunya meskipun ibunya tentu saja jauh lebih lihai, karena ibunya mempelajari Khi-bal-sin-kang dan lain-lain, ilmu yang diwarisi dari Bu-beng Sian-su dan bukan mendiang ayahnya. Dan ketika hari-hari berikut dipenuhi canda dan tawa, Sam-liong-to menjadi ramai maka suatu petang di saat mereka duduk-duduk di serambi depan Hauw Kam bertanya pada Siang Le apakah isterinya itu belum punya “celengan”.

“Celengan?” Siang Le terheran, tapi tiba-tiba tertawa. “Ah, kami tak butuh celengan, ji-supek. Harta di Sam-liong-to ini jauh dari cukup. Kami tak butuh menyisihkan uang!”

“Hm,” sang kakek terbelalak. “Kau begitu bodoh? Aku maksudkan bukan harta bendamu, Siang Le. Melainkan, hmm... bodoh amat kau ini!”

Siang Le terkejut. Dia melihat kakek itu uring-uringan dan Gwan Beng yang duduk di sebelah tertawa. Sebenarnya yang dimaksudkan Hauw Kam adalah apakah Soat Eng sudah “berisi”, hamil. Tapi karena Siang Le pemuda lugu dan apa yang ditanya tak ditangkap artinya maka pemuda itu mengartikannya secara harfiah dan Hauw Kam kakek gimbal-gimbal itu tentu saja geregeten!

“Apa yang salah?” Siang Le mengerutkan alisnya. “Adakah jawabanku tadi tidak benar? Kami betul-betul tidak punya celengan, ji-supek. Kami tak terlalu banyak memikirkan duniawi!”

“Bodoh, bebal!” si kakek membentak. “Aku maksudkan apakah isterimu belum hamil, Siang Le. Apakah kau belum punya turunan. Itulah yang kumaksud celengan, goblok!”

Siang Le semburat. Untuk maki-memaki memang kakek ini gudangnya, pemuda itu maklum. Tapi bahwa yang ditanyakan adalah itu, urusan bibit atau buah keturunan maka pemuda ini jengah dan tersipu.

“Bagaimana?” kakek itu bertanya lagi. “Kau cengar-cengir seperti monyet kelaparan?”

“Ah,” pemuda ini tertawa, tahu watak si kakek yang berangasan. “Kalau itu yang kau maksud maka kujawab belum punya, ji-supek. Kukira tadi celengan uang...”

“Kau memang bebal!” Hauw Kam menggerutu lagi. “Sudah begini besar masih juga tidak mengerti omongan orang-orang tua. Eh, kenapa sekian bulan kau belum juga punya turunan, Siang Le? Apakah kau tak tidur bersama isterimu itu?”

Siang Le menahan senyum. Kalau pertanyaan ini dilancarkan orang lain tentu dia akan marah dan tersinggung. Tapi dia mengenal betul watak supeknya yang satu ini. Hauw Kam memang ceplas-ceplos dan bicara tanpa tedeng aling-aling. Meskipun kedengarannya kasar tapi sesungguhnya kakek itu memperhatikan rumah tangganya, kebahagiaannya. Dan karena si kakek justeru menaruh perhatian, tanda kasih sayang maka pemuda ini menarik napas dalam-dalam dan menggeleng.

“Entahlah,” katanya. “Eng-moi memang belum menunjukkan tanda-tanda seperti itu, Aku barangkali yang goblok, supek. Atau barangkali belum waktunya.”

“Belum waktunya bagaimana?” sang kakek menyemprot lagi. “Cukup lama kau berpengantin baru, Siang Le. Seharusnya sudah ada. Tahu, aku ingin membopong anak kalian!” dan mengusap air matanya yang tiba-tiba menitik maka kakek ini menangis, disusul suhengnya karena Gwan Bengpun tiba-tiba juga begitu. Dan ketika dua kakek itu terisak dan menangis di depan Siang Le maka pemuda ini terkejut.

“Eh, ada apa kalian ini? Kenapa begitu saja menangis?”

“Hm, kamipun sebenarnya adalah juga laki-laki normal, Siang Le. Tapi karena. kami dirundung malang maka setua kami tak pernah menikah. Kami mengharap dapat menimang anak dari keponakan-keponakan kami. Beng An masih kecil, sementara Thai Liong rupanya tak pernah menjalin cinta dengan wanita. Kalau bukan kau yang kuharap lalu siapa lagi, Siang Le? Kami tua bangka tentu tak dapat memiliki turunan, tak ada wanita yang mau bersama kami. Karena itu kalau kau dapat mempunyai turunan maka kami akan bahagia dapat menimang anakmu, seperti anak sendiri!”

Siang Le terharu. Tiba-tiba dia mengerti bahwa dua kakek itu kiranya rindu anak. Mereka mendambakan keturunan dan hal itu wajar. Tapi karena masa muda mereka sudah dirusak orang-orang jahat dan akibatnya setua itu mereka tak pernah menikah maka dorongan ingin mempunyai turunan lalu dialihkan kepadanya. Mereka mengharap dia mempunyai anak dan akan bahagia membopong anaknya. Siang Le terharu. Dan ketika dua kakek itu menangis dan Hauw Kam bahkan mengguguk, eh... Siang Le mendadak saja ikut-ikutan menangis dan bercucuran air mata.

“Eh-eh!” Soat Eng tiba-tiba muncul, berkelebat membawa minuman. “Apa-apaan kalian ini, ji-wi supek? Kenapa semua menangis dan suamikupun bercucuran begitu sedih? Apa yang terjadi?”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Tentu saja mereka terkejut karena tanpa sadar sudah menangis di situ. Tangis rupanya menular dan Siang Le yang melihat mereka menangis tiba-tiba juga ikut-ikutan, Hauw Kam terbelalak dan tiba-tiba cepat menghapus air matanya. Dan ketika dia melihat suhengnya juga menyusut dengan ujung baju sementara Siang Le cepat-cepat mengeringkan air mata dengan ditiup, ah... mendadak saja kakek ini tergelak-gelak!

“Ha-ha, siapa yang gila dan lebih dulu gila? Eh, siapa menyuruhmu menangis, Siang Le? Kenapa kau seperti orang tidak waras dan membuat isterimu terkejut?”

“Hm,” Siang Le gugup, mengerling isterinya yang masih berdiri terbelalak, belum meletakkan penampan. “Aku menangis karena kau menangis, supek. Aku terharu mendengar ceritamu tadi.”

“Cerita apa?” Soat Eng berseru, mendahului. Apakah sedemikian mengharukannya hingga kalian tiga laki-laki gagah menjadi cengeng?”

“Hm,” Gwan Beng bicara, memotong dan mendahului sutenya yang juga sudah mau bicara, mengedip. “Kami tak bicara apa-apa, Soat Eng. Hanya tentang sesuatu yang kecil tapi cukup menyentuh.”

“Apakah itu,” sang nyonya ingin tahu. ”Beritahukan kepadaku atau minuman ini kubawa kembali!”

“Ah-ah, jangan. Turunkan itu!” Hauw Kam sudah meloncat, menyambar dan mendahului nyonya rumah. “Arak yang kau bawa begini harum, Soat Eng. Jangan dibawa kembali dan biar kuceritakan!” dan ha-hah-he-heh tak perduli kedipan kakek ini langsung nerocos, “Kami bertanya kepada Siang Le kenapa dia begitu goblok. Sudah sekian bulan menikahimu belum juga mempunyai keturunan. Nah, itulah yang kutanya!”

Soat Eng terkejut, tiba-tiba merah padam. Dan ketika supeknya terbahak dan menenggak arak maka dia berseru tertahan dan berkelebat ke belakang. “Ih, kalian orang laki-laki tak tahu malu!” dan lenyap menghindari pandangan akhirnya Hauw Kam tertawa bergelak menyambar minumannya lagi.

“Wah, kau yang memaksa bicara, Soat Eng. Jangan salahkan supekmu. Ha-ha, arak ini terlampau nikmat untuk ditukar dengan sebuah keterangan!” dan menenggak serta menenggak araknya lagi kakek itu tertawa-tawa dan tak menghiraukan sekeliling. Dia tak perduli si pemuda yang semburat tersipu-sipu. Dia juga tak perduli suhengnya yang menegur dengan pandangan mata. Gwan Beng tak ingin sutenya begitu blak-blakan. Tapi karena sang sute tak menghiraukan dan Soat Eng juga tak marah akhirnya kakek ini tersenyum dan menenggak araknya pula.

“Ha-ha, ayo minum, Siang Le. Kami ingin mendoakan agar malam ini terjadi keajaiban!”

Siang Le tersenyum. Akhirnya dapat juga dia tertawa dan menerima cawan araknya. Twa-supeknya yang lebih pendiam itu sudah mengajaknya minum arak. Petang itu hawa mulai dingin dan laut di pantaipun bergolak gemuruh. Memang nikmat menikmati arak hangat di saat-saat seperti itu. Dan ketika semua minum sementara nyonya rumah ada di dapur, menyiapkan makanan untuk malam nanti mendadak terdengar jerit dan pekik Beng An, yang tidur di kamarnya.

“Tolongg...!”

Siang Le dan dua supeknya melonjak. Mereka kaget bukan main karena teriakan Beng An itu demikian panjang dan mendirikan bulu roma. Beng An, bocah lelaki yang sudah mereka kenal sebagai anak atau bocah pemberani itu tiba-tiba melengking dan berteriak minta tolong. Anak itu ada di kamar belakang dan Siang Le serta dua supeknya mencelat melepas cawan-cawan di tangan. Jerit atau teriakan Beng An itu seperti ketemu hantu, bulu mereka mengkirik! Dan ketika hampir berbareng mereka meloncat dan berkelebat ke belakang, gerakan atau loncatan otomatis bagi seorang ahli-ahli silat maka bayangan kecil menabrak dan bertemu mereka di pintu dalam.

“Bress!” Siang Le dan dua pamannya terpelanting jungkir balik. Beng An muncul dan menabrak mereka, anak itu histeris dan tadi masuk tanpa memperhatikan siapa-siapa. Bocah itu tahu-tahu sudah berlari ke dalam sementara Hauw Kam dan lain-lainnya meloncat keluar. Tak ayal, mereka bertabrakan dan karena Beng An mempergunakan kaki tangannya untuk menolak atau seperti melakukan serangan maka kakak iparnya dan dua supeknya sampai terjatuh dan terpelanting di kiri kanan.

“Setan, ada setann....!”

Hauw Kam dan lain-lain terkejut. Mereka meloncat bangun dan terbeliak memandang bocah itu. Beng An menggigil dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan kaget serta heran bukan main semua orang menyaksikan tingkah anak itu. Tak biasanya Beng An bersikap seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa, yang betul-betul serius. Dan ketika anak itu jatuh terduduk dan mendeprok di lantai, seluruh mukanya penuh keringat maka Siang Le yang lebih dulu sadar dan meloncat bangun sudah menyambar adiknya itu.

“An-te, ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak? Mimpi buruk?”

“Tit... tidak!” anak itu memburu napasnya, mata meliar ke kiri kanan. “Ak... aku bertemu setan, Le-ko. Ada setan di kamarku!”

“Hm, di sini tak ada setan,” Siang Le tertawa, mencoba menghibur sekaligus menenangkan guncangan hatinya sendiri. “Kau rupanya terbangun dari mimpi yang buruk, An-te. Di sini tak ada apa-apa. Kau terpengaruh mimpimu di kamar.”

“Tidak... tidak!” anak itu berontak, meloncat bangun. “Aku tidak bermimpi, Le-ko. Aku tidak tidur dan sedang membaca kitab. Aku didatangi seseorang tapi orang itu tak dapat kusentuh tubuhnya!”

“Seperti roh?” Siang Le terkejut, teringat gurunya karena gurunya juga dapat merubah ujud menjadi badan halus. “Kau bertemu guruku?”

“Tidak..., bukan!” sang bocah berkata lagi, gigi berketrukan. “Aku tidak bertemu gurumu, Le-ko. Melainkan manusia sungguh-sungguh yang badannya tak dapat disentuh. Dia bukan roh, dia iblis!”

“Hm!” Siang Le tergetar dan ikut berubah, pucat. “Bagaimana ini, An-te? Kau dapat menerangkannya lebih jelas? Atau minum dulu, mari tenangkan hatimu dan jangan ketakutan seperti ini. Kau mengejutkan kami semua!” Siang Le mengambil arak secawan, memberikannya kepada sang adik namun saat itu berkelebat bayangan Soat Eng yang kembali muncul. Wanita muda itu terbelalak dan kaget memandang kawan-kawannya. Dan ketika dia berseru dan bertanya apakah Siang Le memasuki dapur maka Siang Le tertegun dan jadi terkejut.

“Aku tidak ke mana-mana. Aku sejak tadi ada di sini. Apa maksudmu, Eng-moi? Siapa mengganggumu di dapur?”

“Aku... aku melihat bayangan seseorang. Pisau di dapur meloncat-loncat seperti bernyawa. Tadinya kukira kau yang main-main dan hendak mengageti aku!”

“Hm, apa artinya ini?” Gwan Beng, sang supek tertua tiba-tiba menyeruak. Kakek itu sejak tadi tertegun dan mendengarkan semuanya, diam tak bergerak bagaikan arca batu. Jerit dan teriakan Beng An dinilai luar biasa dan kini Soat Eng pun muncul dan berkata bahwa bayangan seseorang muncul di dapur, pisau meloncat-loncat dan seakan hidup bagai benda bernyawa. Tentu saja mengerikan! Tapi ketika kakek itu bertanya dan Soat Eng belum menjawab tiba-tiba terdengar teriakan dan pekik sepasang gorila.

“Nguilikkk....!”

Gwan Beng dan lain-lain berkelebat. Tanpa menunggu atau menoleh lagi mendadak semuanya bergerak keluar. Soat Eng paling cepat karena wanita itulah yang lebih dulu di luar, mengerahkan Jing-sian-engnya dan tahu-tahu disambut dua bayangan hitam yang menyambar ke arahnya. Dan karena nyonya ini paling duluan dan bayangan itu tak mungkin dielakkan, karena sudah di depan hidung maka Soat Eng menggerakkan kakinya dan sekaligus menendang atau menampar.

“Des-bluk!”

Ternyata itu adalah gorila mereka. Dua hewan ini merintih dan terlempar ke dinding, roboh dan terbanting karena di sambut pukulan atau tendangan Soat Eng tadi, yang tak menyangka. Dan ketika hewan itu meringkuk dan Soat Eng berseru tertahan, kaget, maka yang lain-lain sudah di situ dan Siang Le berlutut memeriksa biruangnya.

“Mereka sudah tak bernapas, mati!”

Soat Eng terisak. Tegang dan kaget oleh semuanya itu kiranya wanita ini kelepasan berlebih tenaga. Tendangan atau pukulannya tadi rupanya membuat biruang jantan dan betina tak kuat, menguik dan tewas dengan sekali pukul. Tapi ketika Soat Eng meloncat dan berlutut, menangis melihat binatang piaraannya mati tiba-tiba nyonya ini terkejut karena melihat kepala binatang-binatang itu retak.

“Mereka mati dibunuh orang!” nyonya itu melengking, tiba-tiba meloncat bangun “Ada orang yang membunuhnya lebih dulu, Le-ko. Bukan oleh tendangan atau pukulanku!”

“Bagaimana kau yakin?” sang suami terbelalak, ragu. Tapi ketika Soat Eng menuding dan menyuruh dia mengusap kepala binatang itu, yang retak dan bukan oleh tendangan maka Siang Le sadar.

“Tendangan atau pukulanku mengenai dada, bukan kepala. Tapi justeru kepala mereka yang retak atau pecah! Ah, ada musuh di sini, Le-ko. Awas dan hati-hati...!” dan sang nyonya yang berkelebat dan marah melengking-lengking, marah mencari musuh yang bersembunyi.

Maka Hauw Kam dan suhengnya terkejut berlompatan ke kiri kanan. Mereka segera memeriksa dan Beng An menyambar lengan kakak iparnya. Bocah yang biasa pemberani itu ternyata sekarang agak pucat, takut. Siang Le merasa betapa genggaman jari-jari anak ini gemetar dan menggigil, tanda keseriusan anak itu tak dibuat-buat. Dan ketika Siang Le berkelebat dan mencari-cari, membantu teman-temannya yang lain maka Beng An berbisik bahwa yang dihadapi adalah iblis, setan jejadian.

“Aku yakin dia itu setan. Tubuh atau bentuk tubuhnya benar-benar mirip manusia, tapi tak dapat disentuh atau dipegang karena seperti asap...!”

“Ah, kau bermimpi buruk, An-te. Kau terbuai alam pikiranmu yang mengada-ada. Tak ada manusia macam begitu. Kalau bukan suhu tentu orang lain, manusia yang amat luar biasa!”

“Ah, bukan suhumu, Le-ko. Kakek itu berjanggut dan bermisai panjang. Dia seperti siluman putih dalam dongeng cerita See-yu!”

“Bermisai?” Siang Le tertegun. “Maksudmu berkumis?”

“Ah, kumis tak sepanjang itu, twako. Dia lebih tepat disebut bermisai. Panjangnya hampir ke kaki. Eh... itu dia!” dan ketika Siang Le terkejut dan menoleh, Beng An berteriak menuding ke kiri maka pemuda ini hampir melonjak karena tiba-tiba di sebelah kirinya muncul seorang kakek luar biasa yang misainya sampai ke kaki.

Kakek itu tersenyum simpul dan tahu-tahu sudah ada di sebelah kirinya seperti iblis, begitu saja, tanpa diketahui! Dan ketika Siang Le membentak dan otomatis melepas pukulan, menghantam, maka tangannya terus bergerak dan, eh... tahu-tahu menembus tubuh kakek itu sampai keluar punggung.

“Aiiihhhhh....!”

Pekik atau teriakan Siang Le ini mengetarkan Sam-liong-to. Pukulannya yang tembus dan terus melewati tubuh orang, seperti menghantam atau memukul bayang-bayang membuat Siang Le terpekik dan kaget sekali. Dia merasakan benarnya kata-kata Beng An bahwa kakek itu berjasad tapi seolah tak berjasad. Tubuhnya halus dan menyerupai roh, pukulannya otomatis tembus dan tak kena apa-apa. Kakek itu seperti siluman! Dan ketika ke Siang Le terjelungup dan roboh ke depan, menembus tubuh kakek itu pula maka si kakek tertawa dan tiba-tiba menghilang.

“Siluman! Iblis...!”

Tiga bayangan bergerak datang. Soat Eng mendengar teriakan suaminya dan cepat mendatangi tempat itu. Dua supeknya yang lain juga berkelebat dan muncul bersamaan. Tapi karena si kakek sudah menghilang sementara Siang Le meloncat terhuyung-huyung, roboh dan terjelungup lagi maka Soat Eng kaget dan menyambar suaminya itu, disusul dua supeknya.

“Ada apa! Apa yang kau lihat!”

“Ib... iblis!” Siang Le gelagapan, tak mampu bicara baik. “Aku melihat kakek itu, Eng-moi. Dia... dia bukan manusia!”

“Benar!” Beng An berseru, juga pucat dan menggigil. “Kami bertemu siluman, enci. Kakek itu muncul dan berada di sini!"

“Ah, siapa itu. Siapa yang kalian maksud!” Soat Eng melebarkan matanya, marah, tak melihat apa-apa karena dia memang tak melihat siapa pun. Tadi waktu berkelebat pun ia sudah menjelajah ke seluruh penjuru dengan matanya. Seekor belalang pun akan dilihat tanpa terlewat. Tapi ketika suaminya berkata bahwa ada seorang kakek di situ, juga adiknya berkata begitu maka wanita muda ini penasaran dan marah. “Di mana dia itu, Le-ko. Siapa kakek pengganggu itu. Tunjukkan padaku!”

“Dia... dia bukan manusia. Dia iblis!” Siang Le masih terbata-bata, pucat dan menggigil. “Kita bukan bertemu lawan biasa, Eng-moi. Melainkan roh halus!”

“Hm, gurumu?”

“Bukan.... bukan guruku, tetapi orang lain. Tapi... tapi, ah... orang itu tak pantas disebut orang. Dia roh halus, siluman!” dan ketika Siang Le menceritakan sepotong-sepotong dan Beng An juga membenarkan sambil menggigil, keduanya sama-sama pucat maka Soat Eng yang biasanya tak kenal takut mendadak juga merinding dan mengkirik!

“Kau bicara melantur, Le-ko. Kau agaknya terkena shock. Tak mungkin ada siluman atau hantu di sini!”

“Tapi kita tinggal di Sam-liong-to, di sini ada Istana Hantu!” Beng An yang tadi memegang lengan Siang Le tiba-tiba meloncat dan memegangi tangan encinya. “Aku juga melihatnya begitu, enci Eng. Kakek itu siluman dan bukan manusia. Tubuhnya tembus tak dapat dipukul!”

“Hm!” Gwan Beng tiba-tiba melangkah maju. “Apakah betul-betul bukan gurumu, Siang Le? Betulkah orang lain?”

“Betul, bukan guruku!” pemuda itu berkata tegas. “Kalau guruku tentu Beng An mengenalnya, supek. Tanya saja anak ini betulkah atau tidak!”

“Memang bukan See-ong!” Beng An terbelalak, menggeleng. “Kalau See-ong aku kenal, supek. Tapi kakek itu lain. Misainya sepanjang kaki, sampai di bawah!”

“Misai?” Soat Eng tertegun. “Sepanjang kaki?”

“Ya, sepanjang kaki, Eng-moi. Tapi wajahnya putih dan bola matanya seperti api, berpijar-pijar!”

Soat Eng tertegun. Kalau suami dan adiknya sudah bicara begitu maka mau tak mau dia harus percaya. Jantungnya berdegup dan nadi di pergelangan tangan pun serasa kencang. Dia terbelalak mendengar kakek itu berwajah putih dengan bola mata berpijar-pijar. Kalau begitu bukan manusia melainkan iblis! Tapi, adakah iblis memperlihatkan diri kepada manusia? Dan mungkinkah manusia dapat melihat iblis? Dan karena Soat Eng ragu dan kurang percaya, menganggap bahwa itu tentu manusia yang amat sakti dan luar biasa maka dia mengajak yang lain-lain masuk ke dalam dan tidak berpencar lagi. Namun tiba-tiba Hauw Kam, ji-supeknya nomor dua berteriak.

“He, ini kakek itu...!” dan menghantam serta membalik ke kanan tiba-tiba ji-supeknya itu melepas pukulan dan menyerang seseorang. Soat Eng tertegun karena tak melihat apa-apa. Apa yang dikata sebagai “kakek itu” ternyata hanyalah sebatang pisang di sebelah kanan ji-supeknya. Maka ketika pukulan itu menghantam dan pohon pisang itu roboh maka ji-supeknya terjelungup dan terpelanting sendiri.

“Bress!”

Ji-supeknya berteriak-teriak seperti orang gila. Gwan Beng dan lain-lain juga tak bergerak dan tinggal di tempat masing-masing. Mereka melihat seperti apa yang dilihat Soat Eng, tempat itu tak ada apa-apa. Dan ketika ji-supeknya berhenti menyerang karena kakek itu lenyap, begitu katanya, maka Soat Eng mengkirik dan menegur paman gurunya nomor dua itu.

“Apa yang kau lakukan, ji-supek? Mana kakek itu?”

“Wah, kau tak melihat? Kakek sebesar itu tak dapat kau lihat? Wah, tolol dan gila sekali, Soat Eng. Tanya yang lain-lain ini kalau matamu rabun!”

“Hm, aku tak melihat apa-apa,” sang suheng tiba-tiba menjawab, mendahului yang lain. “Yang kau pukul itu adalah pohon pisang, sute. Coba lihat dan saksikan."

“Benar,” Siang Le juga berseru, terheran-heran. “Kami tak melihat apa-apa, supek. Kau memukuli pohon seperti orang kesurupan!”

“Dan aku juga!” Beng An berkata. “Aku tak melihat apa-apa dan menganggap supek tidak waras!”

“Sial bangkotan!” Hauw Kam mendelik dan memaki-maki. “Aku orang tidak waras? Heh, hati-hati, Beng An. Kupukul mulutmu nanti. Aku melihat kakek itu di sebelah kananku dan tiba-tiba lenyap!”

“Kalau begitu benar siluman,” Beng An menggigil. “Sam-liong-to rupanya sudah tidak aman, supek. Mari kita tinggalkan saja dan pulang ke tempat ibu!”

“Tidak,” Soat Eng tiba-tiba penasaran. “Aku justeru ingin melihat dan mengetahui siapakah kakek itu, Beng An. Kalau dia hantu maka justeru harus diusir dari sini. Tapi kalau dia manusia, hmm... pasti kubunuh!”

Tapi baru nyonya ini berkata demikian mendadak terdengar kekeh dan tawa menyeramkan. Dari dalam rumah tampak bayangan berkelebatan seolah sinar atau lidah api menyala-nyala. Semua terkejut karena tak tahu apakah itu. Tapi Soat Eng yang sudah bergerak dan berkelebat ke dalam, melengking, tiba-tiba masuk dan meluncur lewat jendela.

Namun nyonya itu tersentak. Sinar atau lidah api yang berkelebatan menyambar-nyambar itu mendadak menabrak lampu di langit-langit ruangan, padam dan pecah! Dan ketika dia berhenti dan membelalakkan mata, berada di tempat yang gelap gulita maka Hauw Kam dan lain-lain menjerit di luar, pantat masing-masing ditepuk nyaring.

Tadinya Soat Eng mengira bahwa itu adalah pekerjaan mereka sendiri, dalam usaha memberi tahu yang lain agar tidak menabrak atau menginjak teman sendiri. Tapi ketika jerit atau teriakan mereka jelas karena dipermainkan seseorang, musuh, maka nyonya ini menjentikkan korek dan tertegun melihat kawan-kawannya itu sudah terikat menjadi satu dan dibelit-belit oleh seutas rotan yang panjang...!

Rajawali Merah Jilid 08

RAJAWALI MERAH
JILID 08
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“HA-HA, enci tak mungkin berani mencubitku. Kalau kau mencubitku akan kubawa Le-twako ke utara, biar kau sendirian di sini. Hayo, pilih mana, enci? Kubawa Le-twako atau kau tinggal bersamanya?”

“Ihh!” Soat Eng gemas dan semburat. “Kau benar-benar nakal, Beng An. Biar kucubit kau dan lihat apakah Le-twako ikut denganmu atau tidak!” tapi ketika Beng An berteriak dan lari ke belakang Siang Le maka Beng An berseru agar kakak iparnya itu menghadapi sang enci. Soat Eng bergerak tapi Beng An lari berputaran, baju Siang Le ditarik ke sana ke mari. Dan ketika pemuda itu terbawa dan otomatis ikut terputar-putar maka Beng An tertawa bergelak dan Siang Le pun mau tak mau tertawa lebar, lupa kepada gak-bonya yang mengancam di situ.

“Ah, sudah... sudah. Jangan aku dipermainkan begini, An-te (adik An). Bisa seperti gasing aku nanti!”

“Ha-ha, cegah dulu enci Eng yang mau menerkam aku. Tangkap dan cekal dia!”

“Hm, kau berani melindungi si bengal ini?” Soat Eng malah menggertak. “Aku tak mau menyiapkan sarapan pagimu, Le-koko. Hayo serahkan dia kepadaku atau kau membuat sarapan sendiri!”

“Wah, jangan khawatir!” Beng An berteriak. “Aku dapat menggantikannya, Le-twako. Sarapan pagiku lebih lezat daripada enci Eng. Hayo, tangkap dia atau bokongmu kutepuk.... plak!”

Beng An benar-benar menepuk pantat Siang Le, tertawa bergelak dan kabur ke arah ibunya ketika tiba-tiba Siang Le bergerak, mau menangkapnya. Dan ketika Soat Eng berhenti dan terbelalak memandang adiknya maka si bengal sudah meloncat ke punggung Gosar dan menyuruh beruang jantan itu meloncat ke pulau.

“Hayo, lari, sahabat. Kita ke Istana Hantu dan kucing-kucingan dengannya!”

Gosar menguik panjang. Dia kabur dan lari secepat terbang ke tengah pulau, betinanya diberi tanda dan beruang pasangannya itupun menguik dan lari mengikuti. Siang Le tertawa dan hampir terpingkal-pingkal melihat itu. Beng An di punggung beruang yang lari dengan lucu hingga tak dapat dia menahan geli. Siapapun pasti terbahak-bahak. Dan ketika Soat Eng pun terkekeh dan berkelebat mengejar adiknya, lupa kepada sang ibu maka Siang Le terkejut karena dia berduaan dengan sang ibu mertua!

“Hm!” suara itu terdengar lagi, dingin dan mendebarkan jantung. “Biarkan mereka bercanda, Siang Le, tak usah kau mengejar. Aku memang ingin berbicara denganmu!” dan ketika Siang Le tertegun dan membalikkan tubuh, menghadapi gak-bonya maka sang ibu mertua bertanya melanjutkan, “Sudah berapa lama kau di sini?”

“Hampir sembilan bulan....”

“Bagus, cukup lama. Sudah cukup berbulan madu! Hm, kau sudah melaksanakan perintahku dulu, Siang Le?”

“Ini... ini...” Siang Le gugup, terkejut. “Aku belum sempat, gak-bo. Aku masih repot menemani Eng-moi di sini!”

“Hm, itu bukan alasan. Kau dapat membawanya serta. Kenapa kau tak segera berangkat, Siang Le? Kau sengaja mengulur-ulur waktu dan melupakannya?”

“Tidak!” pemuda ini mengeraskan dagu, marah. “Aku tak melupakannya, gak-bo. Aku tetap memegang janjiku. Aku memang belum dapat pergi karena belum menemukan alasan untuk Eng-moi!”

“Hm, tak perlu mencari alasan, langsung saja beri tahu bahwa kau ingin mencari gurumu. Bukankah jelas? Soat Eng tak akan menahanmu, Siang Le. Kecuali kalau kau sengaja mengulur-ulur waktu dan membiarkan aku lupa!”

Siang Le semburat. Dia merah dan tersinggung tapi tentu saja tak berani banyak cakap dengan gak-bonya ini. Wanita itu adalah ibu isterinya. Dia bukan takut melainkan sekedar rasa hormat saja. Dia tentu tak mau kalau harus bermusuhan dengan ibu mertua. Ah, biasanya perempuan dengan perempuanlah yang bermusuhan. Jarang ada menantu laki-laki harus cekcok dengan sang ibu mertua!

Tapi karena Kim-hujin ini adalah lain dan dia ibarat ratu yang tak boleh dibantah maka Siang Le yang ingin menunjukkan diri sebagai menantu yang baik tak mau banyak debat dengan ibu mertuanya itu. Tapi ini malah dianggap sang nyonya sebagai kesengajaan pemuda itu untuk tidak melaksanakan perintah!

“Bagaimana, Siang Le?” pertanyaan itu meluncur lagi, semakin berat dan dingin. “Kapan kau melaksanakannya?”

Siang Le merah padam. Sekarang dia terdesak dan waktu bulan madu yang sudah dianggap cukup agaknya harus segera dilaluinya. Sebenarnya bukan karena itulah dia tak mau meninggalkan pulau. Dia enggan dan segan semata karena rasa hormatnya kepada gurunya. See-ong adalah kakek yang telah memberi banyak budi dan kini dia harus menangkap. Ah, mau rasanya dia mati saja saat itu. Biarlah dia berikan kepalanya itu sebagai ganti gurunya! Tapi karena hal itu tak mungkin dan gak-bonya juga jelas tak mau maka pemuda ini menekan kemarahan hatinya dan berkata,

“Baiklah, akan secepatnya kulaksanakan, gak-bo. Aku akan meninggalkan pulau dan barangkali juga bersama Eng-moi!

“Bagus, kapan?”

Siang Le terkejut. Sang gak-bo mendesak dan agaknya dia harus memastikan, Siang Le menjadi gusar namun lagi-lagi menahan perasaannya. Dan ketika setelah sejenak berpikir dan mengira-ngira maka diapun memberikan kepastian. “Seminggu lagi. Aku akan berangkat dan gak-bo boleh legakan hati!”

“Terima kasih,” sinar mata itu kini berkedip gembira. “Tapi kepergianmu tentu juga harus diberi batas, Siang Le. Kapan kau akan menyelesaikannya agar aku tidak menunggu-nunggu!”

Siang Le terbelalak. Gak-bonya ini benar-benar terlalu dan dirasa menindas. Tapi ketika sinar matanya bentrok dan dia kalah kuat, sinar mata gak-bonya itu begitu penuh wibawa dan angker maka Siang Le menarik napas dalam-dalam dan menjawab, “Gak-bo tentukan saja berapa lama batas waktu itu. Aku akan menyanggupinya saja."

“Hm, bagaimana kalau enam bulan?”

“Baik, enam bulan, gak-bo. Dan berhasil atau tidak tentu aku akan melapor!”

"Bagus, kau anak baik, Siang Le. Kalau begitu biar aku juga tak perlu lama- lama di sini!” 

Dan ketika Siang Le mengerutkan kening karena gak-bonya itu tertawa aneh, perasaannya tertusuk maka gak-bonya itu berkelebat dan menuju ke tengah pulau. Siang Le sendiri akhirnya bergerak dan mengikuti sang gak-bo. Dia tahu bahwa gak-bonya itu akan menemui puterinya dan Beng An. Dan ketika di Istana Hantu mereka bertemu lagi maka tiga hari wanita itu menginap dan kemudian kembali.

“Ibu hanya sebentar saja? Tidak menemani kami lebih lama?” Soat Eng terbelalak memandang ibunya, tentu saja kaget karena jauh-jauh ibunya hanya tinggal tiga hari saja. Soat Eng tentu saja tak tahu bahwa ibunya sebenarnya memiliki keperluan dengan suaminya, pembicaraan rahasia yang sudah dicapai kata sepakat.

Dan ketika wanita itu tertawa dan menepuk pundak puterinya maka dia berkata, “Hm, aku hanya ingin melihat kalian sehat-sehat saja, Eng-ji (anak Eng). Kalau tak ada apa-apa tentu saja ibu harus kembali. Bukankah ayahmu sendirian di utara? Aku girang kalian tak ada apa-apa, dan kupikir cukup tiga hari bersama kalian. Sudahlah, tentunya kalian akan, ganti ke tempat kami dan suamimu pasti tahu itu!”

Soat Eng masih terbelalak dan tertegun. Dia tak melihat muka suaminya yang sedikit merah oleh kata-kata itu. Ibunya menyindir Siang Le. Tapi ketika wanita ini tertegun membelalakkan mata sementara Siang Le sendiri diam-diam mengharap agar gak-bonya itu cepat pergi, karena pemuda ini merasa terganggu maka Beng An yang terkejut dan terbelalak seperti encinya berseru, tak puas.

“Eh, aku masih kangen dengan enci Eng, ibu. Aku tak mau pulang!”

Sang ibu terkejut. “Apa? Kau mau tinggal di sini?”

“Benar, aku masih kangen mereka, ibu, juga sepasang gorila ini. Aku ingin bermain-main dengan mereka!”

“Ah, kalau begitu ibu tinggal juga beberapa hari. Aku juga masih kangen!”

“Hm!” sang nyonya mengerutkan kening, ganti tak puas. “Aku sudah menyatakan pulang, Eng-ji, dan aku tentu pulang. Ayahmu sendirian di sana, aku tak mau lama-lama meninggalkannya!”

“Kalau begitu ibu saja yang pulang sendiri!” Beng An kembali berseru, mengejutkan yang lain-lain. “Aku masih ingin main-main dan tinggal di sini, ibu. Atau aku akan ngambek di perjalanan kalau ibu memaksa!”

Sang nyonya tertegun. Soat Eng tiba-tiba tersenyum karena mendadak ibunya itu serasa mati kutu. Beng An memang anak yang bengal selain pemberani. Ibunya yang memanjakannya membuat anak itu tak takut. Maka ketika sang ibu kelihatan ragu dan bingung, Beng An sudah berlindung dan bersembunyi di balik punggungnya maka Soat Eng tertawa, berkata,

“Kalau begitu ibu dipaksa memilih, Tinggal di sini beberapa hari lagi atau membiarkan Beng An bersama kami!”

“Hm, anak itu tukang bikin pusing. Apakah kau tak repot dia ada di sini?”

“Aku tidak nakal, ibu!” Beng An mendahului, setengah berteriak. “Aku akan baik-baik kepada enci Eng maupun Le-twako. Aku lebih baik bersama mereka dulu dan ibu pulang sendirian!”

Soat Eng terkekeh. “Beng An, kau benar-benar nekat. Kalau ibu membawamu sungguh ibu kejam. Ah, baiklah kau di sini dan biar ibu pulang sendirian, kalau tak mau beberapa hari lagi. Bagaimana, ibu?”

Sang nyonya gemas. “Baiklah,” katanya. “Tapi kalau kau nakal di sini aku yang akan melemparmu ke laut, Beng An. Jangan keluyuran dan tinggal saja di Sam-liong-to. Kau harus berjanji!”

“Aku berjanji!” sang anak menjawab gagah, girang dan senang bukan main. “Kalau aku nakal biarlah enci Eng atau Le-twako yang melemparku ke laut, tak usah ibu!”

“Hm, bagaimana, Siang Le?” wanita itu memutar tubuhnya, menghadapi Siang Le. “Kau tak keberatan si bengal ini ada di sini?”

“Ah, kami tak keberatan. Adik Beng An tentu tak akan mengganggu kami dan justeru dapat menemani kami di sini. Biarlah dia di sini kalau gak-bo memperbolehkannya!”

“Baiklah, tapi tanggung jawabmu bertambah. Hati-hati dan awasi dia!” dan ketika Beng An bersorak dan meloncat menubruk ibunya, tak menyembunyikan diri lagi di punggung encinya maka ibunya menyambar dan mencengkeram bahu puteranya ini, mendesis, “Beng An, kau jangan membuat pusing. Kau harus baik-baik dan tetap tinggal bersama mereka, jangan jauh-jauh. Kalau kau bandel dan tidak melaksanakan kata-kata ibu maka aku akan mengurungmu setahun penuh!”

“Ah, jangan begitu,” sang anak tertawa. “Aku selamanya baik, ibu. Kalau tidak ada orang menggangguku tentu aku tak akan ke mana-mana. Sudahlah, ibu pulang dan baik-baik saja di perjalanan, Aku tentu akan bersikap manis kepada enci Eng!”

Sang ibu tersenyum. Akhirnya mau tak mau dia harus tertawa juga. Beng An adalah anak bungsu dan sebenarnya dia hanya tak mau berpisah saja. Beng An itulah yang biasanya selalu dekat dengannya sejak Soat Eng di Sam-liong-to sementara puteranya tertua, Thai Liong, entah ke mana. Maka melihat anaknya gembira dan di situpun tentu tak usah khawatir, karena Soat Eng dapat diandalkan sementara Siang Le juga bukan pemuda lemah maka nyonya itu mencium puteranya dan berkelebat keluar.

“Baik, tepatilah omonganmu dan minta antar kalau sudah rindu kepada ayah dan ibu!”

Beng An bertepuk tangan. Ibunya berkelebat dan lenyap di luar. Anak itu bersorak kagum dan memburu keluar. Dan ketika ibunya tahu-tahu sudah ada di kejauhan dan tiba di pantai, begitu cepat dan luar biasa maka Siang Le dan Soat Eng yang berkelebat mengejar sudah diganduli anak ini.

“Hei-hei, jangan tinggalkan aku, enci Eng. Aku juga ingin melihat ibu di pantai!”

Soat Eng tertawa. Dia sendiri sudah menyusul dan mengikuti ibunya. Ibunya itu sudah tidak banyak peradatan lagi dan siap meninggalkan pulau. Beng An melihat ibunya itu mendekati perahu tapi perahu yang dikira akan dipakai ibunya ini mendadak ditendang, terbalik dan tertelungkup di pasir. Dan ketika anak itu terkejut dan heran kenapa ibunya berbuat begitu maka sang nyonya sudah berjungkir balik dan hinggap di atas gelombang untuk kemudian meluncur dan pergi dengan caranya yang aneh.

“Selamat tinggal, Beng An. Selamat tinggal semuanya dan hati-hati kalian menjaga diri!”

Beng An melongo. Kiranya ibunya meninggalkan perahu itu untuk mereka, atau lebih tepat, barangkali untuk dirinya. Karena begitu ibunya berjungkir balik dan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya maka ibunya yang sakti itu sudah “terbang” atau bergerak-gerak di air dengan cepat sekali, kedua lengan mengembang seperti sayap!

“Ah, Cui-sian Gin-kang. Ah, ibu mempergunakan Cui-sian Gin-kang!”

Soat Eng dan Siang Le mengangguk-angguk. Memang wanita sakti itu mempergunakan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan karena ilmu meringankan tubuh itu sudah mencapai tingkat sempurna dan kedua kaki yang bergerak-gerak cepat seolah tak menyentuh permukaan air maka wanita itu seolah terbang atau meluncur tanpa sayap, Beng An berkali-kali bertepuk tangan dan memuji dengan mata lebar-lebar.

Enci dan iparnya bersinar-sinar memuji kagum. Apa yang diperlihatkan nyonya itu memang hebat dan luar biasa. Tapi ketika bayangan nyonya itu lenyap karena sudah jauh di tengah, hanya merupakan titik kecil yang tak dapat ditangkap mata lagi maka Soat Eng tertawa menepuk pundak adiknya.

“Nah, kau lihat kesaktian ibu. Kau sendiri sampai di mana pelajaranmu, Beng An? Apakah selalu rajin-rajin belajar?”

“Ah, aku selalu rajin. Tapi kepandaianku rasanya tak bertambah-tambah juga. Lihat, inilah jurus-jurus Khi-bal-sin-kang, enci. Mari main-main sebentar dan lihat kepandaianku!”

Soat Eng tertawa. Sang adik sudah bergerak dan mulai menerjangnya, gerakan Beng An gesit tapi dia tentu saja jauh lebih gesit, karena begitu sang adik berseru dan menyerangnya maka dia berkelebat dan terkekeh, mengelak.

“Bagus, tambah kecepatanmu, Beng An. Ayo tambah lagi dan semakin cepat.... wut-wut!” Soat Eng berkelebatan, naik ke sana ke mari menghindari pukulan-pukulan adiknya.

Sementara Beng An penasaran tak dapat menyentuh. Dia membentak dan mempercepat gerakannya lagi namun sang enci juga melakukan hal yang sama, mempercepat dan menambah keringanan tubuhnya. Dan ketika bayangan encinya seperti walet menyambar-nyambar dan Beng An tak mampu menyentuh encinya, yang bergerak begitu cepat hingga mirip bayang-bayang saja maka anak itu gemas di samping marah, berteriak, “He, kau jangan mengelak saja, enci. Hayo balas dan pukul aku!”

“Hi-hik, kaupun minta dipukul? Tidak takut?”

“Tidak, aku akan memperlihatkan Khi-bal-sin-kang yang kupunyai!”

“Bagus, kalau begitu coba ini.... buk!” dan Soat Eng yang berkelebat dan mendaratkan pukulan ringan tiba-tiba berseru kagum karena pukulannya membalik. Adiknya itu ternyata mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya dan ilmu Bola Sakti yang dipertunjukkan itu membuat pukulannya membal. Ternyata, Beng An sudah mampu menahan pukulan dan sekali lagi Soat Eng mendaratkan serangan, kali ini tamparan dan tenaganyapun ditambah. Tapi ketika serangan itu masih terpental dan tamparannya tertolak balik maka wanita itu memuji. “Bagus, kau hebat, Beng An. Kalau begitu kau sudah maju!”

“Ha-ha, pukul terus, enci. Hayo semakin kuat sampai aku tak tahan. Lagi!”

Sang enci tertawa. Soat Eng gembira dan menambah pukulan-pukulannya lagi. Setiap tambahan mempergunakan sepersepuluh bagian tenaga. Dan ketika empat kali berturut-turut Beng An masih dapat menahan dan baru pada pukulan yang ke lima anak itu terpental dan mencelat maka Soat Eng kagum dan otomatis menghentikan pukulannya.

“Dess!” Beng An kalah kuat. Baru setelah Soat Eng mengerahkan setengah bagian tenaganya adiknya itu tak tahan. Beng An mencelat dan terpental ke arah Siang Le. Tapi ketika Siang Le menerima dan tersenyum, bermaksud menolong tiba-tiba Beng An tertawa dan pukulan encinya yang terbawa itu diteruskan ke arah sang kakak ipar.

“Awas!” Beng An terbahak di antara sakitnya. “Aku akan menghantammu, twako. Tahan dan jaga ini.... bukk!”

Siang Le menerima pukulan, tak menyangka dan tiba-tiba mencelat ke tebing. Siang Le memang tidak melatih lagi Khi-bal-sin-kang atau pukulan-pukulan lain dari Pendekar Rambut Emas. Beng An juga tak mengira itu karena dulu diketahuinya kakak iparnya ini mendapat pelajaran dari ayahnya. Maka begitu pukulan encinya “dioper” kepada pemuda ini sementara Siang Le sama sekali tidak siap maka pemuda itupun terlempar dan mencelat, menumbuk dinding!

“Aihh...!” Soat Eng berkelebat berteriak tertahan.

Beng An sendiri terbanting dan terguling-guling di sudut, melihat Siang Le pucat dan menumbuk tebing. Tapi ketika anak itu terbelalak dan heran serta kaget, kenapa di tubuh kakaknya itu tidak ada tenaga Khi-bal-sin-kang sebagai perlawanan maka Soat Eng sudah menubruk dan menyambar suaminya ini.

“Le-ko, kau tak apa-apa?”

Siang Le pucat. Pemuda ini terbatuk tapi segera ditotok oleh sang isteri. Soat Eng melegakan sekaligus membebaskan bekas pukulannya tadi, yang dioper oleh Beng An. Dan ketika dia memeluk dan pucat memandang suaminya itu, tahu suaminya tak melatih Khi-bal-sin-kang dan lain-lainnya itu maka wanita ini terbelalak memandang suaminya, penuh khawatir. Tapi Siang Le yang rupanya sudah memiliki kekuatan sendiri, berkat gemblengan See-ong, gurunya itu, tiba-tiba pemuda ini menarik napas dan bangkit terhuyung, mencoba tertawa, meskipun yang muncul adalah seringai kesakitan.

“Ah, aku tak apa-apa, hanya terkejut sedikit. Ah, sudahlah, Eng-moi. Aku tadi memang salah kenapa tidak menangkis.”

“Dan ini kenakalan Beng An!”

“Tidak... tidak!” sang pemuda cepat mengulapkan lengan, mengingatkan isterinya itu. “Beng An tak tahu ini, Eng-moi. Dia tidak sengaja. Jangan salahkan dia karena dia memang tidak tahu!”

Soat Eng sadar. Akhirnya dia tahu bahwa adiknya memang tidak tahu. Juga adiknya tadi tidak sengaja. Soat Eng memang sudah diminta suaminya untuk tidak menceritakan kepada siapapun bahwa Siang Le tidak melatih atau melanjutkan Khi-bal-sin-kang dan lain-lain itu. Wanita muda ini mendapat alasan karena tak ada lagi musuh yang mengganggu maka suaminya itu tak serius melatih ilmu-ilmu pemberian ayahnya. Dan ketika Beng An berdiri dan menyambar suaminya, minta maaf, maka Soat Eng sadar bahwa dia tak perlu memarahi adiknya.

“Aneh!” Beng An berseru, setelah minta maaf. “Tubuhmu sama sekali tak terisi Khi-bal-sin-kang, Le-twako. Kau yang tak mempergunakannya atau memang kau tak melatih lagi?”

“Ah,” Siang Le tertawa. “Aku tak siap, An-te. Aku tak menyangka bahwa kau akan mengoper pukulan encimu.”

“Tapi Khi-bal-sin-kang biasanya akan otomatis melindungi tuannya, meskipun tak dikerahkan. Tapi tubuhmu tadi sama sekali tak ada apa-apa!”

“Hm, kakakmu sedang terkejut, Beng An. Dan dalam keadaan terkejut ilmu apapun bisa hilang sekejap. Akupun kalau terkejut barangkali Khi-bal-sin-kang di tubuh juga bisa tak bereaksi. Sudahlah, cukup semuanya ini dan kemajuanmu sudah ada. Kau dapat menerima pukulanku dengan tenaga setengah bagian!”

Beng An mengangguk-angguk. Suara atau kata-kata encinya ini dipercayanya begitu saja, karena encinya memang lebih tinggi kepandaiannya daripadanya. Maka ketika dia tak bertanya lagi meskipun keheranan itu masih ada selanjutnya mereka kembali ke tengah pulau karena Soat Eng hendak melanjutkan pekerjaannya di dapur sementara Siang Le menyiapkan makanan untuk binatang peliharaannya, sepasang gorila itu.

“Biar aku saja yang mencari buah-buahan untuk mereka. Le-twako istirahat saja!”

“Hm, baiklah, Beng An. Kalau begitu aku membantu encimu mengurus yang lain.”

Semua lalu kembali, Ibu mereka telah pergi dan Sam-liong-to sekarang terisi tiga orang. Beng An lega tak kena marah dan anak itu cepat bermain-main dengan sepasang gorila penghuni pulau. Dan ketika dua minggu kemudian Beng An membantu enci maupun kakak iparnya dan anak itu tampak kerasan maka suatu hari gorila itu juga menguik-nguik dan berlarian cepat ke pantai.

“Hm, siapa yang datang?” Beng An sudah mengenal gerak-gerik atau tanda-tanda binatang itu. Kalau sepasang gorila itu berlarian dan menuju pantai pasti seseorang akan bertamu. Beng An masih tak melihat apa-apa namun sepasang gorila itu sudah duduk dan menunggu. Lucu, binatang itu menguik-nguik dan menuding ke depan. 

Beng An berdebar dan menajamkan matanya. Hm, di sana masih belum ada apa-apa. Laut yang biru luas berdesir dengan halus. Ombaknya membuai lembut dan tak ada siapapun di sana. Tapi ketika beberapa menit kemudian Beng An melihat sebuah titik hitam di kejauhan, seperti sebuah perahu yang layarnya mencongak ke atas maka pemuda itu berseru kagum.

“Ah, betul. Ada orang mendatangi ke pulau!”

Dua gorila itu berdiri. Sejenak mereka mendengus-dengus namun tiba-tiba melonjak kegirangan. Beng An memperhatikan dan segera tahu bahwa yang datang adalah kawan, karena rupanya insting binatang itu sudah lebih dulu bicara daripada mata lahirnya. Dan ketika titik kecil itu sudah kian dekat dan kini tampak dua orang duduk di perahu kecil, oleng dikayuh cepat maka Beng An terbelalak melihat itulah dua orang kakek gagah di mana masing-masing juga sudah melihatnya di pantai, dua kakek bercambang dan berambut gimbal-gimbal.

“Supek-hu (paman guru)!” Beng An melonjak dan lari berteriak. Sekarang anak ini tahu bahwa kiranya dua kakek di perahu itu adalah supeknya, kakak seperguruan dari ibunya dan Beng An menghambur dengan girang. Dua kakek itu juga tertawa bergelak dan ketika perahu belum merapat benar mendadak mereka berjungkir balik dan sudah melayang turun ke pantai. Geraknya gesit dan ringan, juga cekatan. Dan ketika perahu berhenti diterpa ombak sementara dua kakek itu sudah turun dan hinggap di pasir yang lunak, berseri-seri, maka Beng An menubruk dan berseru dengan sikap girang bukan main.

“Ah, twa-supek dan ji-supek yang datang. Haii, selamat bertemu, ji-wi supek (paman berdua). Ini aku Beng An ada sini!”

“Ha-ha, benar, kau Beng An. Eh, bagaimana kau ada di sini, anak nakal? Bukankah kau bersama ibumu di utara?” kakek berambut gimbal, yang menyambar dan sudah ditubruk anak ini mengangkat anak itu tinggi-tinggi dan melontarkannya ke atas.

Beng An terbahak-bahak dan berjungkir balik ke bawah, diterima dan dilempar lagi hingga tiga kali berturut-turut. Kakek itu ingin tahu ilmu meringankan tubuh keponakannya dan kini terbelalak melihat betapa ringan dan lincahnya Beng An berjungkir balik, tak kalah dengan dirinya tadi. Dan ketika kakek itu menangkap dan tidak melempar lagi, Beng An tertawa-tawa maka kakek di sebelah juga terkekeh dan menghadapi sepasang gorila yang menubruk dan menarik-narik bajunya.

“Hei-hei, nanti dulu. Perlahan! Sobek bajuku nanti!”

Beng An tertawa gembira. Anak itu meloncat dan menubruk kakek ini pula langsung nongkrong di pundaknya. Dan ketika kakek itu terbahak karena Beng An dan gorilanya saling kerubut, masing-masing menari dan mengajak kakek ini bergembira maka kakek itu tiba-tiba melempar Beng An ke atas.

“Wah, tak sanggup aku dikeroyok bertiga. Hayo kejar aku kalau mampu!" sang kakek berkelebat, mendorong dua gorila itu dan kini mengitari sebongkah batu besar mengajak musuh-musuhnya menangkap.

Beng An sendiri sudah melayang turun dan berjungkir balik mengejar kakek itu, gorila di sampingnya juga bergerak dan lari dengan lucu mengejar kakek itu, langkahnya lucu. Tapi ketika kakek itu berkelebatan dan tak dapat disentuh, Beng An penasaran dan tiba-tiba mengerahkan jing-sian-engnya maka si kakek terkejut ketika ujung bajunya tersambar.

“Kena!” Beng An berteriak kegirangan. Si kakek terbelalak karena Beng An mampu memegang ujung bajunya, biarpun belum tubuhnya. Tapi ketika dia meloncat dan berusaha melepaskan diri maka Beng An mencengkeram dan bahkan tertawa-tawa mempererat pegangannya, maju merayap, terbawa oleh si kakek yang sudah terbang untuk melepaskan diri.

“Ha-ha, ke manapun kau pergi aku tetap mengikutimu, twa-pek (paman tertua). Aku akan coba memegang tubuhmu dan aku menang!”

“Ha-ha, anak cerdik!” si kakek berseru. “Kau rupanya pandai dan banyak akalmu, Beng An. Baiklah, coba bagaimana kalau begini aku memperlakukanmu..... des!” dan Beng An yang ditendang seperti kuda menyepak tiba-tiba terkejut karena tubuhnya mencelat terlempar. Baju yang dicengkeram sobek ujungnya dan otomatis kakek itu bebas, terbahak dan sudah berlari lagi tanpa menghiraukan Beng An yang terbelalak dan memaki karena twa-peknya itu curang.

Tapi ketika Beng An turun dan berjungkir balik indah, dipuji kagum maka anak itu sudah mengejar lagi dan si kakek menendang-nendang kalau Beng An hampir mendapatkan tubuhnya. Beng An tak merasa bahwa tendangan-tendangan itu kian lama kian berat, si bocah tak sadar. Tapi ketika kakek kedua mencelat dan memukul pundaknya, Beng An terpental barulah anak itu terkejut mendapat pujian.

“Wah, bagus. Kiranya kaupun sudah mewarisi Khi-bal-sin-kang!”

Beng An tertegun. Sekarang dia ditangkap dan balik disambar kakek pertama. Kakek itu sudah menendangnya berkali-kali tapi si anak tak apa-apa. Dua gorila sudah terlempar karena mereka tak kuat menerima tendangan kakek ini, lain dengan Beng An yang masih tegar dan selalu mengejar lagi. Dan ketika kakek itu tertawa bergelak dan memuji anak ini, juga kakek kedua yang rambutnya gimbal-gimbal maka barulah anak itu sadar bahwa sebenarnya dia sedang diuji.

“Ah, twa-pek dan ji-pek menguji aku? Kiranya kalian memukul dan menyerang untuk melihat Khi-bal-sin-kang ku?”

“Ha-ha, benar. Dan kau lihat dua gorilamu itu, Beng An. Mereka sekali saja terlempar dan menguik-nguik kesakitan. Tapi kau sudah mendapat delapan tendangan namun tetap tegar dan kuat juga. Ini tentu berkat Khi-bal-sin-kang!”

“Dan ilmu itu sudah menyatu di tubuhmu. Ah, ayah ibumu sudah menggembleng tak main-main!”

“Hm!” Beng An sadar, berseri-seri. “Tapi aku masih bodoh, supek. Aku belum sepandai atau selihai enci Eng!”

“Ha-ha, sombong. Mana mungkin menandingi encimu yang sudah lebih dulu berlatih? Kami berdua saja masih bukan tandingannya, Beng An. Dan kamipun kelak bukan tandinganmu kalau kau sudah besar dan dewasa nanti!”

“Ah, masa?” tapi ketika Beng An dilepas dan ditendang lagi, mencelat tapi kakek pertama itu terdorong maka kakek itu berseru,

“Nah, lihat. Khi-bal-sin-kangmu membuat aku terdorong, Beng An. Itu berarti ilmu sakti itu telah melindungi dirimu dengan baik. Kalau sepuluh tahun lagi kau berlatih salah-salah kakikulah yang patah, tak kuat!”

Beng An meloncat bangun. Dia melihat twapeknya itu terdorong dan terhuyung. Dia merasa agak sakit karena tendangan tadi dilakukan keras sekali, hampir dia menjerit. Tapi ketika dia berseri karena pujian itu betul, Khi-bal-sin-kangnya sedang diuji dan mendapat kekaguman maka kakek kedua yang bergerak dan mengurut punggung sepasang gorila lalu tertawa melihat berkelebatnya dua bayangan.

“Ha, tuan rumah datang. Lihat!”

Beng An menoleh. Encinya, Soat Eng, datang dan berkelebat bersama suaminya. Siang Le dan isterinya ini mendengar ribut-ribut di luar dan tentu saja terkejut, datang dan ingin melihat apa yang terjadi. Tapi begitu mereka melihat dua kakek ini tiba-tiba Soat Eng yang gembira dan menubruk maju sudah menyambar kakek gimbal-gimbal yang melihat kedatangannya tadi.

“Ah, kiranya Hauw Kam-supek dan Gwan Beng-supek yang datang. Aihh, selamat datang, supek. Selamat bertemu di Sam-liong-to!”

Kakek itu tertawa girang. Soat Eng sudah menyambarnya dan memeluk serta mencium. Itulah tanda sayang dan kasih dari nyonya muda ini. Dan ketika Siang Le juga tersenyum dan mendekati kakek pertama, memberi hormat dan merangkul maka dua kakek itu bersert-seri melihat nyonya dan tuan rumah ini.

“Wah, wajahmu makin berseri-seri, Soat Eng. Kau tampak semakin cantik dan gagah saja setelah bersuami!”

“Dan suamimu ini tambah tampan!” kakek pertama juga memuji. “Kalian sungguh kerasan dan bahagia sekali, anak-anak. Rupanya kalian betah di Sam-liong-to, meskipun sendiri!”

“Ah, kami memang tak suka tinggal di tempat yang ramai...” nyonya rumah menjawab sambil sedikit tersipu, mukanya kemerah-merahan, sedikit malu tapi juga girang. Maklum, dia dipuji terang-terangan! “Kami bahagia dengan keadaan kami, supek. Dan kami lebih bahagia lagi setelah kalian datang!”

“Ha-ha, ini sambutan yang manis. Eh, kami datang tak ada keperluan apa-apa, Siang-hujin (nyonya Siang). Malah barangkali mau minta apa-apa! Ha-ha, bagaimana pendapatmu, suheng?”

“Hm,” kakek pertama tersenyum. “Jangan menakut-nakuti nyonya rumah, sute. Siang-hujin mungkin akan berdebar kalau belum apa-apa kau sudah memberi tahu.”

“Ha-ha, aku tak takut. Nyonya rumah pasti tak menolak!” dan ketika benar saja Soat Eng dan suaminya mengerutkan alis, berdebar, maka kakek gimbal-gimbal itu berkata, “Siang-hujin....”

“Stop, aku kikuk dipanggil begitu, ji-supek. Jangan main-main dan sebut saja aku sebagaimana biasa!” Soat Eng memprotes.

“Benar,” sang suami juga tersenyum. “Jangan berkata begitu, supek. Kami rasa kalian terlalu menghormat berlebihan. Panggil saja kami seperti biasa dan kami justeru suka itu.”

“Ha-ha, aku memang main-main. Sudahlah, aku hanya menggoda saja. Baik, hmm... apa tadi kataku? Sampai di mana aku tadi bicara?” kakek ini lupa, menggaruk-garuk kepalanya dan Beng An tertawa. Anak itu merasa lucu karena dua orang supeknya ini jenaka, terutama ji-supeknya atau paman gurunya nomor dua itu. Tapi ketika Siang Le mengingatkan bahwa katanya mereka akan minta sesuatu, entah apa, maka kakek itu mengangguk dan tertawa.

“Benar... benar... kami, hmm... kami mau meminta sesuatu dari isterimu ini!”

“Minta apa?”

“Tebak dulu, Soat Eng. Baru nanti kuberi tahu!”

“Aku tak tahu,” sang nyonya gemas, “Supek biasanya suka main-main...”

“Ah, aku tak main-main. Aku serius! Jangan bilang aku main-main!” Hauw Kam, kakek itu, memotong. Rupanya dia marah dikata main-main. Tapi ketika pandang matanya bentrok dengan mata si nyonya dan kakek itu terkekeh maka dia bilang terus terang.

“Hm, begini. Kami, he-he... kami mau minta makan yang enak. Aku dan twa-supekmu itu sudah lama ingin menikmati masakan tanganmu, saos tomat kaki burung! Bukankah kau dapat menyajikannya untuk kami? Aku dan suheng ingin mengenang masa lalu, ketika kau dan suamimu ini kami tawan dan seret-seret sepanjang jalan, ha-ha!”

Soat Eng terkejut, tapi tiba-tiba tertawa lebar. Teringatlah dia akan kisah dua tahun yang lalu ketika dia dan suaminya ini, waktu itu mereka masih sama-sama jatuh cinta, ditawan dan ditangkap dua kakek ini. Waktu itu masing-masing sama tak tahu bahwa mereka sebenarnya masih memiliki hubungan saudara, atau keluarga dekat. Karena waktu itu dua supeknya ini dalam keadaan tidak waras alias gila. Dua supeknya itu dulu dicekoki racun oleh dua di antara Enam Iblis Dunia, racun yang membuat ingatan mereka terampas dan Hauw Kam serta suhengnya itu terkenal sebagai orang-orang aneh yang gila.

Namun karena mereka berkepandaian tinggi karena dua orang itu adalah murid-murid utama Hu Beng Kui, jago pedang yang akhirnya memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng maka Soat Eng yang merupakan cucu dari mendiang si jago pedang pernah bentrok dan ditangkap dua orang supeknya ini, yang waktu itu tidak waras. Dan Siang Le membela, turut tertangkap dan ditawan, diseret dan akhirnya menjadi permainan dua orang itu yang tertawa-tawa melihat ulah dua muda-mudi ini. Mula-mula Soat Eng menyumpah dan memaki-maki Siang Le, ketika pemuda itu minta agar dialah yang diseret bukan Soat Eng.

Tapi ketika Hauw Kam mengabulkan dan Siang Le diseret, menggantikan gadis itu agar Soat Eng tidak tersiksa maka si gadis akhirnya menangis dan cinta di hati yang semula disembunyikan dan dibuat dingin tak dapat menahan dirinya lagi. Soat Eng menangis dan memaki-maki Hauw Kam, minta agar Siang Le dibebaskan dan biarlah dia yang diseret. Dan ketika permintaan itu dikabulkan dan Siang Le yang ganti memaki-maki, berteriak-teriak maka Hauw Kam dan suhengnya gembira mempermainkan dua orang itu. Sampai akhirnya suatu hari Hauw Kam membebaskan Soat Eng berdua dengan syarat, yakni agar gadis itu membuatkan masakan untuk mereka seperti masakan istana.

Hauw Kam dan suhengnya memang akhirnya menjadi orang-orang yang doyan makan enak. Semasa gilanya mereka kerap ditipu putera-putera hartawan agar menurunkan ilmunya, dengan imbalan masakan enak dan anggur yang lezat-lezat. Dan arena Soat Eng mampu memenuhi permintaan itu dan kebetulan sepasang blekok ditangkap Hauw Kam untuk dijadikan santapan maka kaki burung blekok itulah yang dimasak Soat Eng dengan nama saos tomat kaki burung. Dan kini Hauw Kam rupanya ngilar!

“Ha-ha, bagaimana, bocah? Kau dapat memberikan kami apa yang kami maui?”

“Hm,” Soat Eng tertawa. “Tentu saja, supek. Tapi tak ada kuntul di sini. Yang ada hanya, semacam elang laut. Maukah kalian?”

“Ah, elang laut atau elang darat kami suka semua. Pokoknya kau buatkan saos tomat kaki burung. Burung apa terserah kau. Pokoknya jangan burung suamimu, ha-ha!”

“Hush!” sang suheng membentak. “Jangan bicara macam-macam, sute. Ada anak kecil di sini!”

“Eitt, siapa bicara macam-macam? Aku bicara benar, suheng. Yang kumaksud adalah burung peliharaan Siang Le ini. Seingatku dia dulu pernah menangkap dan merawat seekor burung beo, yang disumpit orang. Nah, burung itu yang kumaksud dan aku tidak bicara macam-macam. Tanya saja pemuda ini!”

“Hm, burung itu sudah kulepaskan,” Siang Le tersenyum tahu bahwa supeknya nomor dua ini memang sedikit nakal, suka ceplas-ceplos bicara. “Ingatanmu benar tajam, supek. Tapi burung itu tak ada lagi di tanganku. Aku tak ingin dia terkurung dan hidup menderita, maka kulepaskan dia agar terbang merdeka.”

“Nah-nah, anak yang satu ini memang welas asih dan berhati emas. Ah, apalagi yang pantas diberikan kepadanya kalau bukan pujian, suheng? Hm, aku bangga mempunyai keponakan menantu seperti ini, dan kalau saja Kim-mou-eng mempunyai puteri yang lain maka tentu aku akan girang kalau punya menantu lagi seperti Siang Le!”

“Sudahlah,” Siang Le tersipu, kemerah-merahan. “Aku tak memiliki keistimewan apa-apa, supek. Aku sama dengan orang-orang lainnya. Ayolah, kalian mau masuk atau ngobrol saja di luar?”

“Ha-ha, tentu saja aku mau masuk. Ah, Sam-liong-to cukup dingin, aku ingin berdiang. Dan tentu nikmat berdiang sambil menikmati saos tomat kaki burung, ha-ha!”

Soat Eng tersenyum. Supeknya yang nomor dua ini memang doyan bicara di samping doyan makan. Setelah mereka disembuhkan Bu-beng Sian-su dan tidak gila lagi tentu saja mereka merupakan orang-orang waras yang sehat jiwa dan lahirnya. Soat Eng mengangguk dan berkelebat ke pandai. Kebetulan saat itu tiga ekor elang laut terbang menyambar rendah, rupanya akan menyambar ikan yang muncul di permukaan air. Tapi ketika wanita itu bergerak dan tiga sinar hitam mencuat ke atas, cepat sekali, maka tiga ekor burung itu roboh dan jatuh ke air.

Namun Soat Eng sudah berjungkir balik melepas ikat pinggangnya. Cepat dan luar biasa nyonya ini sudah menjeletarkan sabuknya itu, menggubat atau menarik tiga ekor burung yang hampir tercebur di air. Dan ketika dia berjungkir balik dan melayang turun, indah dan ringan maka tiga ekor burung itu telah berada di ujung ikat pinggangnya dan sudah tak bernyawa.

“Ha-ha, bagus sekali. Luar biasa. Itu tentu Cui-sian Gin-kang!”

“Hm, mengagumkan!” Gwan Beng, sang supek nomor satu juga memuji, tepuk tangan. “Ilmu meringankan tubuhmu semakin luar biasa saja, Soat Eng, Hampir sama dengan ibumu!”

“Dan suamimu juga tentu bertambah lihai!” sang supek nomor dua kembali nimbrung, berseru. “Ah, aku ingin melihat kepandaiannya, Soat Eng. Aku gatal tangan dan ingin main-main!”

“Stop, nanti dulu!” Siang Le berubah, cepat menggoyang lengan. “Tak suka aku bertanding denganmu, supek. Tak hormat rasanya menyambut tamu dengan bertempur. Tidak, hari ini aku benar-benar gembira dan tak ada hasrat main-main. Harap supek mengerti dan mari ke rumah!”

Hauw Kam terbahak-bahak. Tentu saja dia tak tahu bahwa Siang Le menolak karena justeru tak ingin diketahui kepandaiannya. Pemuda itu disangka memiliki Khi-bal-sin-kang dan lain-lain sebagaimana pernah didengar, karena Siang Le sekarang adalah menantu Pendekar Rambut Emas. Tapi ketika kakek itu tak memaksa dan Siang Le girang, sudah mengajak tamunya ke pulau maka Hauw Kam dan suhengnya itu bergerak dan memasuki Istana Hantu.

Selanjutnya dua kakek itu menginap dan Soat Eng gembira karena setelah kepergian ibunya maka datang supek-supeknya ini. Mereka adalah kakak seperguruan ibunya meskipun ibunya tentu saja jauh lebih lihai, karena ibunya mempelajari Khi-bal-sin-kang dan lain-lain, ilmu yang diwarisi dari Bu-beng Sian-su dan bukan mendiang ayahnya. Dan ketika hari-hari berikut dipenuhi canda dan tawa, Sam-liong-to menjadi ramai maka suatu petang di saat mereka duduk-duduk di serambi depan Hauw Kam bertanya pada Siang Le apakah isterinya itu belum punya “celengan”.

“Celengan?” Siang Le terheran, tapi tiba-tiba tertawa. “Ah, kami tak butuh celengan, ji-supek. Harta di Sam-liong-to ini jauh dari cukup. Kami tak butuh menyisihkan uang!”

“Hm,” sang kakek terbelalak. “Kau begitu bodoh? Aku maksudkan bukan harta bendamu, Siang Le. Melainkan, hmm... bodoh amat kau ini!”

Siang Le terkejut. Dia melihat kakek itu uring-uringan dan Gwan Beng yang duduk di sebelah tertawa. Sebenarnya yang dimaksudkan Hauw Kam adalah apakah Soat Eng sudah “berisi”, hamil. Tapi karena Siang Le pemuda lugu dan apa yang ditanya tak ditangkap artinya maka pemuda itu mengartikannya secara harfiah dan Hauw Kam kakek gimbal-gimbal itu tentu saja geregeten!

“Apa yang salah?” Siang Le mengerutkan alisnya. “Adakah jawabanku tadi tidak benar? Kami betul-betul tidak punya celengan, ji-supek. Kami tak terlalu banyak memikirkan duniawi!”

“Bodoh, bebal!” si kakek membentak. “Aku maksudkan apakah isterimu belum hamil, Siang Le. Apakah kau belum punya turunan. Itulah yang kumaksud celengan, goblok!”

Siang Le semburat. Untuk maki-memaki memang kakek ini gudangnya, pemuda itu maklum. Tapi bahwa yang ditanyakan adalah itu, urusan bibit atau buah keturunan maka pemuda ini jengah dan tersipu.

“Bagaimana?” kakek itu bertanya lagi. “Kau cengar-cengir seperti monyet kelaparan?”

“Ah,” pemuda ini tertawa, tahu watak si kakek yang berangasan. “Kalau itu yang kau maksud maka kujawab belum punya, ji-supek. Kukira tadi celengan uang...”

“Kau memang bebal!” Hauw Kam menggerutu lagi. “Sudah begini besar masih juga tidak mengerti omongan orang-orang tua. Eh, kenapa sekian bulan kau belum juga punya turunan, Siang Le? Apakah kau tak tidur bersama isterimu itu?”

Siang Le menahan senyum. Kalau pertanyaan ini dilancarkan orang lain tentu dia akan marah dan tersinggung. Tapi dia mengenal betul watak supeknya yang satu ini. Hauw Kam memang ceplas-ceplos dan bicara tanpa tedeng aling-aling. Meskipun kedengarannya kasar tapi sesungguhnya kakek itu memperhatikan rumah tangganya, kebahagiaannya. Dan karena si kakek justeru menaruh perhatian, tanda kasih sayang maka pemuda ini menarik napas dalam-dalam dan menggeleng.

“Entahlah,” katanya. “Eng-moi memang belum menunjukkan tanda-tanda seperti itu, Aku barangkali yang goblok, supek. Atau barangkali belum waktunya.”

“Belum waktunya bagaimana?” sang kakek menyemprot lagi. “Cukup lama kau berpengantin baru, Siang Le. Seharusnya sudah ada. Tahu, aku ingin membopong anak kalian!” dan mengusap air matanya yang tiba-tiba menitik maka kakek ini menangis, disusul suhengnya karena Gwan Bengpun tiba-tiba juga begitu. Dan ketika dua kakek itu terisak dan menangis di depan Siang Le maka pemuda ini terkejut.

“Eh, ada apa kalian ini? Kenapa begitu saja menangis?”

“Hm, kamipun sebenarnya adalah juga laki-laki normal, Siang Le. Tapi karena. kami dirundung malang maka setua kami tak pernah menikah. Kami mengharap dapat menimang anak dari keponakan-keponakan kami. Beng An masih kecil, sementara Thai Liong rupanya tak pernah menjalin cinta dengan wanita. Kalau bukan kau yang kuharap lalu siapa lagi, Siang Le? Kami tua bangka tentu tak dapat memiliki turunan, tak ada wanita yang mau bersama kami. Karena itu kalau kau dapat mempunyai turunan maka kami akan bahagia dapat menimang anakmu, seperti anak sendiri!”

Siang Le terharu. Tiba-tiba dia mengerti bahwa dua kakek itu kiranya rindu anak. Mereka mendambakan keturunan dan hal itu wajar. Tapi karena masa muda mereka sudah dirusak orang-orang jahat dan akibatnya setua itu mereka tak pernah menikah maka dorongan ingin mempunyai turunan lalu dialihkan kepadanya. Mereka mengharap dia mempunyai anak dan akan bahagia membopong anaknya. Siang Le terharu. Dan ketika dua kakek itu menangis dan Hauw Kam bahkan mengguguk, eh... Siang Le mendadak saja ikut-ikutan menangis dan bercucuran air mata.

“Eh-eh!” Soat Eng tiba-tiba muncul, berkelebat membawa minuman. “Apa-apaan kalian ini, ji-wi supek? Kenapa semua menangis dan suamikupun bercucuran begitu sedih? Apa yang terjadi?”

Siang Le dan lain-lain terkejut. Tentu saja mereka terkejut karena tanpa sadar sudah menangis di situ. Tangis rupanya menular dan Siang Le yang melihat mereka menangis tiba-tiba juga ikut-ikutan, Hauw Kam terbelalak dan tiba-tiba cepat menghapus air matanya. Dan ketika dia melihat suhengnya juga menyusut dengan ujung baju sementara Siang Le cepat-cepat mengeringkan air mata dengan ditiup, ah... mendadak saja kakek ini tergelak-gelak!

“Ha-ha, siapa yang gila dan lebih dulu gila? Eh, siapa menyuruhmu menangis, Siang Le? Kenapa kau seperti orang tidak waras dan membuat isterimu terkejut?”

“Hm,” Siang Le gugup, mengerling isterinya yang masih berdiri terbelalak, belum meletakkan penampan. “Aku menangis karena kau menangis, supek. Aku terharu mendengar ceritamu tadi.”

“Cerita apa?” Soat Eng berseru, mendahului. Apakah sedemikian mengharukannya hingga kalian tiga laki-laki gagah menjadi cengeng?”

“Hm,” Gwan Beng bicara, memotong dan mendahului sutenya yang juga sudah mau bicara, mengedip. “Kami tak bicara apa-apa, Soat Eng. Hanya tentang sesuatu yang kecil tapi cukup menyentuh.”

“Apakah itu,” sang nyonya ingin tahu. ”Beritahukan kepadaku atau minuman ini kubawa kembali!”

“Ah-ah, jangan. Turunkan itu!” Hauw Kam sudah meloncat, menyambar dan mendahului nyonya rumah. “Arak yang kau bawa begini harum, Soat Eng. Jangan dibawa kembali dan biar kuceritakan!” dan ha-hah-he-heh tak perduli kedipan kakek ini langsung nerocos, “Kami bertanya kepada Siang Le kenapa dia begitu goblok. Sudah sekian bulan menikahimu belum juga mempunyai keturunan. Nah, itulah yang kutanya!”

Soat Eng terkejut, tiba-tiba merah padam. Dan ketika supeknya terbahak dan menenggak arak maka dia berseru tertahan dan berkelebat ke belakang. “Ih, kalian orang laki-laki tak tahu malu!” dan lenyap menghindari pandangan akhirnya Hauw Kam tertawa bergelak menyambar minumannya lagi.

“Wah, kau yang memaksa bicara, Soat Eng. Jangan salahkan supekmu. Ha-ha, arak ini terlampau nikmat untuk ditukar dengan sebuah keterangan!” dan menenggak serta menenggak araknya lagi kakek itu tertawa-tawa dan tak menghiraukan sekeliling. Dia tak perduli si pemuda yang semburat tersipu-sipu. Dia juga tak perduli suhengnya yang menegur dengan pandangan mata. Gwan Beng tak ingin sutenya begitu blak-blakan. Tapi karena sang sute tak menghiraukan dan Soat Eng juga tak marah akhirnya kakek ini tersenyum dan menenggak araknya pula.

“Ha-ha, ayo minum, Siang Le. Kami ingin mendoakan agar malam ini terjadi keajaiban!”

Siang Le tersenyum. Akhirnya dapat juga dia tertawa dan menerima cawan araknya. Twa-supeknya yang lebih pendiam itu sudah mengajaknya minum arak. Petang itu hawa mulai dingin dan laut di pantaipun bergolak gemuruh. Memang nikmat menikmati arak hangat di saat-saat seperti itu. Dan ketika semua minum sementara nyonya rumah ada di dapur, menyiapkan makanan untuk malam nanti mendadak terdengar jerit dan pekik Beng An, yang tidur di kamarnya.

“Tolongg...!”

Siang Le dan dua supeknya melonjak. Mereka kaget bukan main karena teriakan Beng An itu demikian panjang dan mendirikan bulu roma. Beng An, bocah lelaki yang sudah mereka kenal sebagai anak atau bocah pemberani itu tiba-tiba melengking dan berteriak minta tolong. Anak itu ada di kamar belakang dan Siang Le serta dua supeknya mencelat melepas cawan-cawan di tangan. Jerit atau teriakan Beng An itu seperti ketemu hantu, bulu mereka mengkirik! Dan ketika hampir berbareng mereka meloncat dan berkelebat ke belakang, gerakan atau loncatan otomatis bagi seorang ahli-ahli silat maka bayangan kecil menabrak dan bertemu mereka di pintu dalam.

“Bress!” Siang Le dan dua pamannya terpelanting jungkir balik. Beng An muncul dan menabrak mereka, anak itu histeris dan tadi masuk tanpa memperhatikan siapa-siapa. Bocah itu tahu-tahu sudah berlari ke dalam sementara Hauw Kam dan lain-lainnya meloncat keluar. Tak ayal, mereka bertabrakan dan karena Beng An mempergunakan kaki tangannya untuk menolak atau seperti melakukan serangan maka kakak iparnya dan dua supeknya sampai terjatuh dan terpelanting di kiri kanan.

“Setan, ada setann....!”

Hauw Kam dan lain-lain terkejut. Mereka meloncat bangun dan terbeliak memandang bocah itu. Beng An menggigil dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan kaget serta heran bukan main semua orang menyaksikan tingkah anak itu. Tak biasanya Beng An bersikap seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa, yang betul-betul serius. Dan ketika anak itu jatuh terduduk dan mendeprok di lantai, seluruh mukanya penuh keringat maka Siang Le yang lebih dulu sadar dan meloncat bangun sudah menyambar adiknya itu.

“An-te, ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak? Mimpi buruk?”

“Tit... tidak!” anak itu memburu napasnya, mata meliar ke kiri kanan. “Ak... aku bertemu setan, Le-ko. Ada setan di kamarku!”

“Hm, di sini tak ada setan,” Siang Le tertawa, mencoba menghibur sekaligus menenangkan guncangan hatinya sendiri. “Kau rupanya terbangun dari mimpi yang buruk, An-te. Di sini tak ada apa-apa. Kau terpengaruh mimpimu di kamar.”

“Tidak... tidak!” anak itu berontak, meloncat bangun. “Aku tidak bermimpi, Le-ko. Aku tidak tidur dan sedang membaca kitab. Aku didatangi seseorang tapi orang itu tak dapat kusentuh tubuhnya!”

“Seperti roh?” Siang Le terkejut, teringat gurunya karena gurunya juga dapat merubah ujud menjadi badan halus. “Kau bertemu guruku?”

“Tidak..., bukan!” sang bocah berkata lagi, gigi berketrukan. “Aku tidak bertemu gurumu, Le-ko. Melainkan manusia sungguh-sungguh yang badannya tak dapat disentuh. Dia bukan roh, dia iblis!”

“Hm!” Siang Le tergetar dan ikut berubah, pucat. “Bagaimana ini, An-te? Kau dapat menerangkannya lebih jelas? Atau minum dulu, mari tenangkan hatimu dan jangan ketakutan seperti ini. Kau mengejutkan kami semua!” Siang Le mengambil arak secawan, memberikannya kepada sang adik namun saat itu berkelebat bayangan Soat Eng yang kembali muncul. Wanita muda itu terbelalak dan kaget memandang kawan-kawannya. Dan ketika dia berseru dan bertanya apakah Siang Le memasuki dapur maka Siang Le tertegun dan jadi terkejut.

“Aku tidak ke mana-mana. Aku sejak tadi ada di sini. Apa maksudmu, Eng-moi? Siapa mengganggumu di dapur?”

“Aku... aku melihat bayangan seseorang. Pisau di dapur meloncat-loncat seperti bernyawa. Tadinya kukira kau yang main-main dan hendak mengageti aku!”

“Hm, apa artinya ini?” Gwan Beng, sang supek tertua tiba-tiba menyeruak. Kakek itu sejak tadi tertegun dan mendengarkan semuanya, diam tak bergerak bagaikan arca batu. Jerit dan teriakan Beng An dinilai luar biasa dan kini Soat Eng pun muncul dan berkata bahwa bayangan seseorang muncul di dapur, pisau meloncat-loncat dan seakan hidup bagai benda bernyawa. Tentu saja mengerikan! Tapi ketika kakek itu bertanya dan Soat Eng belum menjawab tiba-tiba terdengar teriakan dan pekik sepasang gorila.

“Nguilikkk....!”

Gwan Beng dan lain-lain berkelebat. Tanpa menunggu atau menoleh lagi mendadak semuanya bergerak keluar. Soat Eng paling cepat karena wanita itulah yang lebih dulu di luar, mengerahkan Jing-sian-engnya dan tahu-tahu disambut dua bayangan hitam yang menyambar ke arahnya. Dan karena nyonya ini paling duluan dan bayangan itu tak mungkin dielakkan, karena sudah di depan hidung maka Soat Eng menggerakkan kakinya dan sekaligus menendang atau menampar.

“Des-bluk!”

Ternyata itu adalah gorila mereka. Dua hewan ini merintih dan terlempar ke dinding, roboh dan terbanting karena di sambut pukulan atau tendangan Soat Eng tadi, yang tak menyangka. Dan ketika hewan itu meringkuk dan Soat Eng berseru tertahan, kaget, maka yang lain-lain sudah di situ dan Siang Le berlutut memeriksa biruangnya.

“Mereka sudah tak bernapas, mati!”

Soat Eng terisak. Tegang dan kaget oleh semuanya itu kiranya wanita ini kelepasan berlebih tenaga. Tendangan atau pukulannya tadi rupanya membuat biruang jantan dan betina tak kuat, menguik dan tewas dengan sekali pukul. Tapi ketika Soat Eng meloncat dan berlutut, menangis melihat binatang piaraannya mati tiba-tiba nyonya ini terkejut karena melihat kepala binatang-binatang itu retak.

“Mereka mati dibunuh orang!” nyonya itu melengking, tiba-tiba meloncat bangun “Ada orang yang membunuhnya lebih dulu, Le-ko. Bukan oleh tendangan atau pukulanku!”

“Bagaimana kau yakin?” sang suami terbelalak, ragu. Tapi ketika Soat Eng menuding dan menyuruh dia mengusap kepala binatang itu, yang retak dan bukan oleh tendangan maka Siang Le sadar.

“Tendangan atau pukulanku mengenai dada, bukan kepala. Tapi justeru kepala mereka yang retak atau pecah! Ah, ada musuh di sini, Le-ko. Awas dan hati-hati...!” dan sang nyonya yang berkelebat dan marah melengking-lengking, marah mencari musuh yang bersembunyi.

Maka Hauw Kam dan suhengnya terkejut berlompatan ke kiri kanan. Mereka segera memeriksa dan Beng An menyambar lengan kakak iparnya. Bocah yang biasa pemberani itu ternyata sekarang agak pucat, takut. Siang Le merasa betapa genggaman jari-jari anak ini gemetar dan menggigil, tanda keseriusan anak itu tak dibuat-buat. Dan ketika Siang Le berkelebat dan mencari-cari, membantu teman-temannya yang lain maka Beng An berbisik bahwa yang dihadapi adalah iblis, setan jejadian.

“Aku yakin dia itu setan. Tubuh atau bentuk tubuhnya benar-benar mirip manusia, tapi tak dapat disentuh atau dipegang karena seperti asap...!”

“Ah, kau bermimpi buruk, An-te. Kau terbuai alam pikiranmu yang mengada-ada. Tak ada manusia macam begitu. Kalau bukan suhu tentu orang lain, manusia yang amat luar biasa!”

“Ah, bukan suhumu, Le-ko. Kakek itu berjanggut dan bermisai panjang. Dia seperti siluman putih dalam dongeng cerita See-yu!”

“Bermisai?” Siang Le tertegun. “Maksudmu berkumis?”

“Ah, kumis tak sepanjang itu, twako. Dia lebih tepat disebut bermisai. Panjangnya hampir ke kaki. Eh... itu dia!” dan ketika Siang Le terkejut dan menoleh, Beng An berteriak menuding ke kiri maka pemuda ini hampir melonjak karena tiba-tiba di sebelah kirinya muncul seorang kakek luar biasa yang misainya sampai ke kaki.

Kakek itu tersenyum simpul dan tahu-tahu sudah ada di sebelah kirinya seperti iblis, begitu saja, tanpa diketahui! Dan ketika Siang Le membentak dan otomatis melepas pukulan, menghantam, maka tangannya terus bergerak dan, eh... tahu-tahu menembus tubuh kakek itu sampai keluar punggung.

“Aiiihhhhh....!”

Pekik atau teriakan Siang Le ini mengetarkan Sam-liong-to. Pukulannya yang tembus dan terus melewati tubuh orang, seperti menghantam atau memukul bayang-bayang membuat Siang Le terpekik dan kaget sekali. Dia merasakan benarnya kata-kata Beng An bahwa kakek itu berjasad tapi seolah tak berjasad. Tubuhnya halus dan menyerupai roh, pukulannya otomatis tembus dan tak kena apa-apa. Kakek itu seperti siluman! Dan ketika ke Siang Le terjelungup dan roboh ke depan, menembus tubuh kakek itu pula maka si kakek tertawa dan tiba-tiba menghilang.

“Siluman! Iblis...!”

Tiga bayangan bergerak datang. Soat Eng mendengar teriakan suaminya dan cepat mendatangi tempat itu. Dua supeknya yang lain juga berkelebat dan muncul bersamaan. Tapi karena si kakek sudah menghilang sementara Siang Le meloncat terhuyung-huyung, roboh dan terjelungup lagi maka Soat Eng kaget dan menyambar suaminya itu, disusul dua supeknya.

“Ada apa! Apa yang kau lihat!”

“Ib... iblis!” Siang Le gelagapan, tak mampu bicara baik. “Aku melihat kakek itu, Eng-moi. Dia... dia bukan manusia!”

“Benar!” Beng An berseru, juga pucat dan menggigil. “Kami bertemu siluman, enci. Kakek itu muncul dan berada di sini!"

“Ah, siapa itu. Siapa yang kalian maksud!” Soat Eng melebarkan matanya, marah, tak melihat apa-apa karena dia memang tak melihat siapa pun. Tadi waktu berkelebat pun ia sudah menjelajah ke seluruh penjuru dengan matanya. Seekor belalang pun akan dilihat tanpa terlewat. Tapi ketika suaminya berkata bahwa ada seorang kakek di situ, juga adiknya berkata begitu maka wanita muda ini penasaran dan marah. “Di mana dia itu, Le-ko. Siapa kakek pengganggu itu. Tunjukkan padaku!”

“Dia... dia bukan manusia. Dia iblis!” Siang Le masih terbata-bata, pucat dan menggigil. “Kita bukan bertemu lawan biasa, Eng-moi. Melainkan roh halus!”

“Hm, gurumu?”

“Bukan.... bukan guruku, tetapi orang lain. Tapi... tapi, ah... orang itu tak pantas disebut orang. Dia roh halus, siluman!” dan ketika Siang Le menceritakan sepotong-sepotong dan Beng An juga membenarkan sambil menggigil, keduanya sama-sama pucat maka Soat Eng yang biasanya tak kenal takut mendadak juga merinding dan mengkirik!

“Kau bicara melantur, Le-ko. Kau agaknya terkena shock. Tak mungkin ada siluman atau hantu di sini!”

“Tapi kita tinggal di Sam-liong-to, di sini ada Istana Hantu!” Beng An yang tadi memegang lengan Siang Le tiba-tiba meloncat dan memegangi tangan encinya. “Aku juga melihatnya begitu, enci Eng. Kakek itu siluman dan bukan manusia. Tubuhnya tembus tak dapat dipukul!”

“Hm!” Gwan Beng tiba-tiba melangkah maju. “Apakah betul-betul bukan gurumu, Siang Le? Betulkah orang lain?”

“Betul, bukan guruku!” pemuda itu berkata tegas. “Kalau guruku tentu Beng An mengenalnya, supek. Tanya saja anak ini betulkah atau tidak!”

“Memang bukan See-ong!” Beng An terbelalak, menggeleng. “Kalau See-ong aku kenal, supek. Tapi kakek itu lain. Misainya sepanjang kaki, sampai di bawah!”

“Misai?” Soat Eng tertegun. “Sepanjang kaki?”

“Ya, sepanjang kaki, Eng-moi. Tapi wajahnya putih dan bola matanya seperti api, berpijar-pijar!”

Soat Eng tertegun. Kalau suami dan adiknya sudah bicara begitu maka mau tak mau dia harus percaya. Jantungnya berdegup dan nadi di pergelangan tangan pun serasa kencang. Dia terbelalak mendengar kakek itu berwajah putih dengan bola mata berpijar-pijar. Kalau begitu bukan manusia melainkan iblis! Tapi, adakah iblis memperlihatkan diri kepada manusia? Dan mungkinkah manusia dapat melihat iblis? Dan karena Soat Eng ragu dan kurang percaya, menganggap bahwa itu tentu manusia yang amat sakti dan luar biasa maka dia mengajak yang lain-lain masuk ke dalam dan tidak berpencar lagi. Namun tiba-tiba Hauw Kam, ji-supeknya nomor dua berteriak.

“He, ini kakek itu...!” dan menghantam serta membalik ke kanan tiba-tiba ji-supeknya itu melepas pukulan dan menyerang seseorang. Soat Eng tertegun karena tak melihat apa-apa. Apa yang dikata sebagai “kakek itu” ternyata hanyalah sebatang pisang di sebelah kanan ji-supeknya. Maka ketika pukulan itu menghantam dan pohon pisang itu roboh maka ji-supeknya terjelungup dan terpelanting sendiri.

“Bress!”

Ji-supeknya berteriak-teriak seperti orang gila. Gwan Beng dan lain-lain juga tak bergerak dan tinggal di tempat masing-masing. Mereka melihat seperti apa yang dilihat Soat Eng, tempat itu tak ada apa-apa. Dan ketika ji-supeknya berhenti menyerang karena kakek itu lenyap, begitu katanya, maka Soat Eng mengkirik dan menegur paman gurunya nomor dua itu.

“Apa yang kau lakukan, ji-supek? Mana kakek itu?”

“Wah, kau tak melihat? Kakek sebesar itu tak dapat kau lihat? Wah, tolol dan gila sekali, Soat Eng. Tanya yang lain-lain ini kalau matamu rabun!”

“Hm, aku tak melihat apa-apa,” sang suheng tiba-tiba menjawab, mendahului yang lain. “Yang kau pukul itu adalah pohon pisang, sute. Coba lihat dan saksikan."

“Benar,” Siang Le juga berseru, terheran-heran. “Kami tak melihat apa-apa, supek. Kau memukuli pohon seperti orang kesurupan!”

“Dan aku juga!” Beng An berkata. “Aku tak melihat apa-apa dan menganggap supek tidak waras!”

“Sial bangkotan!” Hauw Kam mendelik dan memaki-maki. “Aku orang tidak waras? Heh, hati-hati, Beng An. Kupukul mulutmu nanti. Aku melihat kakek itu di sebelah kananku dan tiba-tiba lenyap!”

“Kalau begitu benar siluman,” Beng An menggigil. “Sam-liong-to rupanya sudah tidak aman, supek. Mari kita tinggalkan saja dan pulang ke tempat ibu!”

“Tidak,” Soat Eng tiba-tiba penasaran. “Aku justeru ingin melihat dan mengetahui siapakah kakek itu, Beng An. Kalau dia hantu maka justeru harus diusir dari sini. Tapi kalau dia manusia, hmm... pasti kubunuh!”

Tapi baru nyonya ini berkata demikian mendadak terdengar kekeh dan tawa menyeramkan. Dari dalam rumah tampak bayangan berkelebatan seolah sinar atau lidah api menyala-nyala. Semua terkejut karena tak tahu apakah itu. Tapi Soat Eng yang sudah bergerak dan berkelebat ke dalam, melengking, tiba-tiba masuk dan meluncur lewat jendela.

Namun nyonya itu tersentak. Sinar atau lidah api yang berkelebatan menyambar-nyambar itu mendadak menabrak lampu di langit-langit ruangan, padam dan pecah! Dan ketika dia berhenti dan membelalakkan mata, berada di tempat yang gelap gulita maka Hauw Kam dan lain-lain menjerit di luar, pantat masing-masing ditepuk nyaring.

Tadinya Soat Eng mengira bahwa itu adalah pekerjaan mereka sendiri, dalam usaha memberi tahu yang lain agar tidak menabrak atau menginjak teman sendiri. Tapi ketika jerit atau teriakan mereka jelas karena dipermainkan seseorang, musuh, maka nyonya ini menjentikkan korek dan tertegun melihat kawan-kawannya itu sudah terikat menjadi satu dan dibelit-belit oleh seutas rotan yang panjang...!